Tag Archives: ulama

Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin: Ulama Madinah Terkenal Di Arab Saudi

wp-1558247991708..jpg

 

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

wp-1558248369742..jpg

Kisah Inspiratif Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur Setelah Shalat Subuh

Kisah Inspiratif Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur Setelah Subuh

Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Aku pergi ke tempat Uwais Al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat subuh.”

Aku berkata, “Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu zuhur, beliau mengerjakan shalat zuhur, dan begitu masuk waktu ashar, beliau shalat ashar. Selesai shalat ashar, beliau duduk sambil berzikir hingga tiba waktu maghrib. Setelah shalat maghrib, beliau menunggu waktu isya’, kemudian shalat isya’. Selesai shalat isya’, beliau mengerjakan shalat hingga menjelang subuh. Setelah shalat subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.’” (Az-Zuhdul Awa’il, Musthafa Hilmi, 84)

Sumber:

  • 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan â430/2009.

Apakah Jumhur Ulama Itu ?

Jumhur ulama artinya pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para pakar hukum islam yang bisa di pertanggung jawabkan ke mujtahidannya dan merupakan ulama yang jujur dan tidak pernah berdusta. dan menguasai bidang hukum masing2, seperti ilmu fikih. ilmu tauhid dan bidang ilmu yang lainnya.

Madzhab Jumhur Ulama memang bukan ijma’, tapi satu tingkat di bawah ijma’ karena bukan kesepakatan bulat, tetapi pendapat mayoritas ulama. Madzhab Jumhur didefinisikan sebagai sebuah pendapat yang tetap, tsabit, dari mayoritas ulama setelah terjadinya khilaf. Jumhur memang tidak “berisi” sejumlah ulama’ tertentu yang selalu sama dalam setiap masalah. Jika, madzhab Sunni yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) dijadikan sebagai ukuran, sering ada anggapan bahwa jika dikatakan madzhab Jumhur, maka itu bermakna selain madzhab Hanafi. Anggapan ini muncul karena madzhab Hanafi memang dikenal dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh Hanafiah (Ahlul Fiqh) dengan metode induktif, yang berbeda dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh selain Hanafiah dengan metode deduktifnya, yang dikenal dengan aliran Mutakallimin atau Jumhur. Walaupun saat ini kedua metode tersebut sudah dipadukan oleh para ulama ushul fiqh, bahkan muncul akiran-aliran baru dalam pemikiran Ushul Fiqh, akan tetapi klasifikasi kedua aliran tadi ternyata masih tetap melekat.

Jumhur di sini adalah para imam madzhab yang empat selain Syafi’iyyah. Jika kami mengatakan “Hanafiyyah berpendapat…“, lalu setelah itu kami mengatakan “Jumhur berpendapat …“, maka yang dimaksud jumhur di sini adalah para imam madzhab yang empat selain Hanafiyyah.

Demikian juga jika dalam suatu masalah ada tiga pendapat. Misalnya saya berkata “pendapat Asy Syafi’i begini, pendapat Abu Hanifah begitu, dan pendapat dua imam yang lain adalah begini..“. Maka di sini ada pendapat Asy Syafi’i, Abu Hanifah dan pendapat jumhur, dua imam yang lain yaitu Ahmad dan Malik di sini menjadi jumhur terhadap masing-masing pendapat Asy Syafi’i dan Abu Hanifah. Demikian perkaranya jika kita menemukan istilah jumhur di kitab-kitab perbandingan madzhab yang bertujuan menjelaskan khilaf diantara madzhab yang empat.

Sedangkan pada kitab-kitab yang bertujuan menjelaskan fiqih salaf yaitu pendapat para sahabat Nabi dan juga tabi’in, maka ketika disebut ‘jumhur‘ artinya adalah ‘ulama selain dari yang sudah disebutkan‘. Misalnya dikatakan “pendapat jumhur salaf begini…” lalu setelah itu dikatakan “pendapat Asy Sya’bi, Qatadahk, dan Al Hasan adalah begitu…“, maka maksud ‘jumhur’ di sini adalah selain Asy Sya’bi, Qatadah, dan Al Hasan tidak diketahui adanya khilaf. Atau misalnya dikatakan “pendapat jumhur sahabat adalah begini…” lalu setelah itu dikatakan “pendapat Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah adalah begitu…“, maka maksud ‘jumhur’ di sini adalah selain Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah tidak diketahui adanya khilaf. Sehingga para sahabat selain Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah termasuk dalam jumhur. Demikian, wallahu’alam.

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah: Orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam. Muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan ”as-Sunnah” Menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.

Bukti Ketika Ulama Berfatwa dan Berdoa, Setan dan Iblis Kepanasan

7 FITNAH TERHADAP MUI TENTANG PUNGUTAN 480 TRILYUN

Sejak MUI melaporkan Ahog
dengan delik aduan penistaan agama, secara serempak sejumlah media online abal-abal yang baru muncul sejak era Jokowi nyapres menurunkan berita yang berjudul berbeda tapi intinya sama, mempertanyakan kredibilitas MUI. Tidak bisa meragukan kredibilitas penafsiran Al-Quran oleh MUI, yang paling gampang diserang yah lewat issue korupsi, (bukankah ini jualannya Ahog katanya?).Tercatat ada media abal-abal seperti islamnkri, nkritoday, infomenia, hatree.me, sampai media syiah arrahmahnews.com pun turut menyajikan berita yang sama dengan judul yang berbeda. Intinya menuduh MUI telah melakukan pungutan sebesar 480 trilyun dari uang rakyat?


Sungguh ini fitnah keji terhadap lembaga ulama Indonesia, MUI. Mari kita bedah berita fitnah ini satu persatu :

  1. Seluruh media abal-abal, pro syiah dan akun pro Ahog mengeluarkan secara kompak sejak MUI melaporkan aduan dugaan penistaan agama kepada Ahog (ini fakta).
  2. Seluruh media abal-abal, pro syiah dan akun pro Ahog melansir berita dengan judul yang berbeda-beda tapi bila dibaca, isi beritanya sama hingga ke titik dan koma nya. Bagaimana tidak, karena mereka mengutip bulat-bulat berita yang dikeluarkan oleh beritasatu.com pada tanggal 13 November 2013, saat itu DPR tengah menggodok rancangan undang-undang Jaminan Produk Halal. Saat itu masih terjadi tarik ulur siapa yang bertanggung jawab terhadap kehalalan suatu produk. RUU ini sendiri baru disahkan menjadi Undang-undang pada tanggal 17 Oktober 2014. (fakta 2)
  3. Bodohnya media abal-abal, pro syiah dan akun pro Ahog ini tidak mengedit bagian kata rancangan untuk berita yang mereka baru lansir baru-baru ini, sementara RUU nya sendiri sudah disahkan menjadi UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. (fitnah 1).
  4. Media abal-abal, pro syiah dan akun pro Ahog menyebut angka pungutan sebesar 480 trilyun yang dilakukan oleh MUI. Padahal angka itu keluar dari perhitungan potensi pemasukan dari urusan label halal, bukan hitungan riil (fitnah 2).
  5. Hitungan potensi ini pun masih ngawur dengan menghitung angka pengusaha sebanyak 40 juta, padahal menurut HIPMI per Mei 2016 jumlah pengusaha di Indonesia baru 1,75 juta (fitnah 3).
  6. 6. Tuduhan potensi pungutan sebesar 480 trilyun itu pun masih ngaco dengan membuat perkalian 40 juta pengusaha dikalikan biaya pengurusan sebesar 12 juta. Faktanya dari 1,75 juta pengusaha tersebut, selama ini MUI baru mengeluarkan 13,000 sertifikat halal hingga tahun 2014. Jadi silahkan dikalikan saja 13,000 dikalikan 2 juta (ini tarif paling mahal loh), dikalikan 2 (hitungan masa berlaku 2 tahun) berarti hanya 52 milyar. Luar biasa kan fitnah nya? (fitnah 4)
  7. Tapi kan, tarif urus sertifikasi halal MUI mahal? Siapa bilang, itu berjenjang loh, tarifnya hanya sekitar 500,000 – 2 juta, dengan masa berlaku. Bandingkan dengan biaya yang saya harus urus tiap tahun sejuta rupiah untuk perpanjangan ijin usaha saya disini. Mahalan mana? (fitnah 5) Lagian urusan halal kok mahal, rasa aman akan produk halal jauh lebih penting bagi seorang muslim dibandingkan uang yang dikeluarkan oleh pengusaha untuk memberikan kepastian halal. Lagian jaman sekarang produsen pinter loh, menarik minat muslim dengan iklan sudah bersertifikat halal.
  8. Tapi kok sampe sekarang, masih MUI yang urus sertifikasi halal? (fitnah 6).mJustru ini yang sekarang saya bingung. Bukankah negara wajib menjalankan undang-undang yah? Dalam UU no 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal disebutkan penyelenggara jaminan produk halal akan dilaksanakan oleh BPJPH. MUI hanya berwewenang dalam hal sertifikasi auditor halal, penetapan produk halal, akreditasi lembaga penyelia halal, dan pembinaan auditor halal. Itupun sampai 2 tahun setelah UU ini disahkn, BPJPH belum terbentuk juga, maka yang berlaku adalah ketentuan peralihan, makanya masih MUI yang melaksanakan sertifikasi halal ini.
  9. Ngapain sih MUI bikin lppom MUI lagi? Bukannya udah ada BPOM? (fitnah 7) BPOM kan kewenangan nya berbeda. Lagian biarkanlah BPOM berbenah mengurusi vaksin dan obat palsu serta permen narkoba dari China dulu.
  • Jadi sudah jelas kan siapa-siapa saja yang berniat menurunkan kredibilitas ulama dalam hal ini MUI di mata umat nya?
  • Bila Anda termasuk salah satu yang menyebarkan berita fitnah tersebut, istighfar lah.
  • Bila Anda muslim, tapi masih belum sadar jug terhadap gerakan penistaan terhadap agama dan ulama Anda silahkan gunakan akal sehat Anda untuk berpikir sebelum terlambat.
  • *Bila Anda merasa tulisan ini mampu menjawab fitnah terhadap MUI, silahkan di share. Karena itu tanggung jawab kita bersama.

Sumber: Tengku Zulkarnaen, wakil ketua MUI Pusat