Tag Archives: taddabur

Tadabbur Surah Ibrahim Ayat 43-52

Tadabbur Surah Ibrahim Ayat 43-52

Ayat 43 – 51 meneruskan ayat 42 terkait azab yang akan menimpa orang-orang zalim dan musyrik di hari kiamat nanti. Mereka tergesa-gesa sambil menengadah sedangkan pikiran mereka kosong. Saat itu mereka berkata: Ya Allah, tangguhkanlah azab ini barang sejenak sehingga kami menerima seruan-Mu dan mengikuti rasul-rasul-Mu. Lalu Allah berkata: Bukankah saat di dunia kalian bersumpah tidak akan binasa? Kalian mendiami negeri yang telah musnah penduduknya sebelum kalian. Namun kalian tidak juga dapat mengambil pelajaran.

Kaum-kaum yang telah binasakan itu telah membuat makar untuk menghadang azab dan siksaan Allah, namun tidak bermanfaat kendati makar mereka sangat besar seakan mampu memusnahkan gunung-gunung. Sebab itu, jangan mengira Allah akan ingkar janji yang dijanjikan kepada para Rasul-Nya. Sungguh Allah itu Maha Perkasa dan dahsyat pembalasan-Nya.

Pada saat pergantian bumi dan langit dunia menjadi bumi dan langit akhirat, yakni di padang mashyar, semua manusia tampil di hadapan Allah yang Maha Esa lagi Perkasa. Pada hari itu, Nabi Muhammad Saw. akan melihat orang-orang yang membangkang dan kafir kepada-Nya sedang dibelenggu bersama-sama. Pakaian mereka dari kuningan yang dipanaskan api neraka dan wajah mereka dibakar api neraka. Azab yang mereka rasakan itu adalah balasan yang setimpal dari kejahatan dan kekufuran yang mereka lakukan saat hidup di dunia. Sungguh Allah itu amat cepat siksaan-Nya.

Ayat 52 menjelaskan fungsi al-Qur’an, yaitu penjelasan, peringatan dan sumber ilmu bagi manusia terkait menauhidkan (mengesakan) Allah. Hanya ulul albab yang dapat menjadikannya pelajaran.

Taddabur Surah Al Baqarah 142-145

Al-Baqarah, ayat 142-143

{سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143) }

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Al-Baqarah, ayat 144

{قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144) }

Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah muka kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Al-Baqarah, ayat 145

{وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145) }

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 142-145

Masih terkait dengan sikap pembangkangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) terhadap Allah. Ayat 142-145 mengabarkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah tidak akan mereka terima. Orang-orang bodoh dari kalangan mereka akan mempertanyakan perubahan kiblat itu. Padahal timur dan barat adalah milik Allah.

Allah memerintahkan perubahan Kiblat kaum Muslimin dari Baitul Maqdis ke Ka’bah atau ke arah Masjidil Haram agar diketahui siapa yang taat pada Rasul saw dan siapa yang tidak. Ahlul Kitab itu mengetahui perintah perubahan itu dari Allah. Mereka menolaknya karena dorongan hawa nafsu belaka. Allah tidak akan membiarkan apa saja yang mereka kerjakan.

Sebab itu, Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw dan juga para pengikutnya sifat keras kepala Ahlul Kitab itu. Kendati Rasul saw. membawa kepada mereka semua bukti dari Allah terkait perubahan arah shalat (kiblat) itu, mereka tidak akan mengikuti kiblat Rasul saw. Allah peringatkan Rasul saw. dan kaum Mukmin agar tidak mengikuti kiblat mereka. Mereka mengikuti kiblat mereka berdasarkan hawa nafsu belaka. Maka jangan sekali-kali meniru Ahlul Kitab dalam menjalankan agama. Mereka menjalan kannya berdasar hawa nafsu, sedangkan Nabi Muhammad saw berdasarkan wahyu Allah.

Ingatlah, sesungguhnya menjalankan agama Allah berdasarkan hawa nafsu adalah perbuatan yang amat zalim dan termasuk menyekutukan Allah dengan hawa nafsu. Pola beragama seperti ini, yakni yang sesuai dengan hawa nafsu dijalankan dan yang tidak sesuai ditolak, sangat banyak kita temukan dalam masyarakat Muslim hari ini. Allahul Musta’an.

Tadabbur Surah Al-Fatihah

Tadabbur Surah Al-Fatihah

Surah ini dinamakan dengan Al-Fatihah karena pembuka dari Al-Qur’an yang terdiri dari 114 surah. Selain dari Al-Fatihah, surah ini juga dinamakan dengan Ummul Kitab, yakni Induk Kitab. Penamaan tersebut mengandung arti yang sangat dalam, karena dalam surah ini tercantum pokok-pokok ajaran Islam, yakni :

  1. Akidah tauhid atau keimanan, dan;
  2. Syari’ah (sistem hidup) Islam.

Tauhid berarti mengesakan Allah dalam tiga hal pokok :

  1. Rububiyyah. Maksudnya ialah mengesakan Allah pada penciptaan dan perbuatan-Nya, seperti yang tercantum pada ayat 2.
  2. Uluhiyyah atau disebut juga dengan ubudiyyah. Maksudnya, ialah mengesakan Allah dalam ibadah dan sistem hidup, seperti yang tercantum pada ayat 5.
  3. Al-Asma’ dan As-Sifat. Maksudnya mentauhidkan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, seperti yang tercantum pada ayat 1, 2, 3,dan 4. Nama dan sifat Allah harus sesuai dengan apa yang dikabarkan-Nya dalam Al-Qur’an dan dikabarkan oleh Rasul saw

Terkait dengan Syari’ah (sistem) Islam penekanannya terdapat pada ayat 6 dan 7, yang berarti Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang lurus yang akan menyampaikan manusia kepada keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Keridhaan Allah di dunia berupa keberkahan hidup dan kemudahan beribadah kepada-Nya. Keridhaan di akhirat berupa surga yang mengalir di bawahnya berbagai macam sungai dan berbagai fasilitas yang tidak tergambarkan kuantitasnya, kualitasnya, dan keindahannya oleh pikiran manusia.

Sebab itu, Islam tidak boleh tercampur sedikitpun dengan ajaran lain, baik dari ajar- an Yahudi yang dimurkai Allah, maupun dari ajaran agama Nasrani yang tersesat dari jalan Allah, sebagaimana yang tertuang pada ayat 7, karena Islam itu sempurna.

Taddabur Quran: Surat Al Baqarah 1-5

Surat Al-Baqarah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. الۤمّۤ ۚalif lām mīmAlif Lam Mim.
  2. ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙżālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīnKitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
  3. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙallażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
  4. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗwallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụndan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.
  5. اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụnMerekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 1-5

Ayat 1 (الـــم) terdiri dari 3 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu, alif, lam,dan mim. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti pada awal surah Al-Baqarah ini. tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan : Allahlah yang mengetahui maksudnya. Inilah sikap yang paling baik dalam menafsirkan Al-Qur’an yang terkait dengan setiap awal surah yang dimulai dengan gabungan beberapa huruf Hijaiyyah.
Ayat 2 menjelaskan Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah manusia sepanjang masa, baik dari sisi bahasa, isi, berbagai data ilmiah dan informasi sejarah yang ada di dalamnya. Namun, yang dapat menjadikan Al-Qur’an itu sebagai petunjuk hidup hanyalah orang-orang yang bertakwa. Di antara karakter mereka dijelaskan dalam ayat 3 – 4 :
  1. Mengimani hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka dan sebagainya.
  2. Menegakkan shalat.
  3. Menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya.
  4. Mengimani Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil)
  5. Meyakini hari dan kehidupan akhirat
Sedangkan ayat 5 menjelaskan orang yang berada di atas petunjuk Al-Qur’an dijamin sukses di dunia dan akhirat

Tadabbur Surah Al-Fatihah

Tadabbur Surah Al-Fatihah

Surah ini dinamakan dengan Al-Fatihah karena pembuka dari Al-Qur’an yang terdiri dari 114 surah. Selain dari Al-Fatihah, surah ini juga dinamakan dengan Ummul Kitab, yakni Induk Kitab. Penamaan tersebut mengandung arti yang sangat dalam, karena dalam surah ini tercantum pokok-pokok ajaran Islam, yakni :

  1. Akidah tauhid atau keimanan, dan;
  2. Syari’ah (sistem hidup) Islam.

Tauhid berarti mengesakan Allah dalam tiga hal pokok :

  1. Rububiyyah. Maksudnya ialah mengesakan Allah pada penciptaan dan perbuatan-Nya, seperti yang tercantum pada ayat 2.
  2. Uluhiyyah atau disebut juga dengan ubudiyyah. Maksudnya, ialah mengesakan Allah dalam ibadah dan sistem hidup, seperti yang tercantum pada ayat 5.
  3. Al-Asma’ dan As-Sifat. Maksudnya mentauhidkan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, seperti yang tercantum pada ayat 1, 2, 3,dan 4. Nama dan sifat Allah harus sesuai dengan apa yang dikabarkan-Nya dalam Al-Qur’an dan dikabarkan oleh Rasul saw

Terkait dengan Syari’ah (sistem) Islam penekanannya terdapat pada ayat 6 dan 7, yang berarti Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang lurus yang akan menyampaikan manusia kepada keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Keridhaan Allah di dunia berupa keberkahan hidup dan kemudahan beribadah kepada-Nya. Keridhaan di akhirat berupa surga yang mengalir di bawahnya berbagai macam sungai dan berbagai fasilitas yang tidak tergambarkan kuantitasnya, kualitasnya, dan keindahannya oleh pikiran manusia.

Sebab itu, Islam tidak boleh tercampur sedikitpun dengan ajaran lain, baik dari ajar- an Yahudi yang dimurkai Allah, maupun dari ajaran agama Nasrani yang tersesat dari jalan Allah, sebagaimana yang tertuang pada ayat 7, karena Islam itu sempurna.

Taddabur Surah Al Baqarah ayat 1 – 5

Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 1-5

Ayat 1 (الـــم) terdiri dari 3 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu, alif, lam,dan mim. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti pada awal surah Al-Baqarah ini. tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan : Allahlah yang mengetahui maksudnya. Inilah sikap yang paling baik dalam menafsirkan Al-Qur’an yang terkait dengan setiap awal surah yang dimulai dengan gabungan beberapa huruf Hijaiyyah.

Ayat 2 menjelaskan Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah manusia sepanjang masa, baik dari sisi bahasa, isi, berbagai data ilmiah dan informasi sejarah yang ada di dalamnya. Namun, yang dapat menjadikan Al-Qur’an itu sebagai petunjuk hidup hanyalah orang-orang yang bertakwa. Di antara karakter mereka dijelaskan dalam ayat 3 – 4 :

  1. Mengimani hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka dan sebagainya.
  2. Menegakkan shalat.
  3. Menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya.
  4. Mengimani Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil)
  5. Meyakini hari dan kehidupan akhirat
Sedangkan ayat 5 menjelaskan orang yang berada di atas petunjuk Al-Qur’an dijamin sukses di dunia dan akhirat.

Taddabur Surah Al Baqarah ayat 1 – 5

Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 1-5

Ayat 1 (الـــم) terdiri dari 3 huruf Hijaiyyah (huruf Arab), yaitu, alif, lam,dan mim. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surah yang awalnya dimulai dengan gabungan beberapa huruf seperti pada awal surah Al-Baqarah ini. tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali hanya Allah. Rasul saw tidak pernah menjelaskan maksudnya. Demikian juga para sahabat Rasul saw yang kepada mereka Al-Qur’an diturunkan pertama kali, tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Sebab itu, jumhur ulama tidak berani menafsirkannya. Mereka hanya mengatakan : Allahlah yang mengetahui maksudnya. Inilah sikap yang paling baik dalam menafsirkan Al-Qur’an yang terkait dengan setiap awal surah yang dimulai dengan gabungan beberapa huruf Hijaiyyah.

Ayat 2 menjelaskan Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah manusia sepanjang masa, baik dari sisi bahasa, isi, berbagai data ilmiah dan informasi sejarah yang ada di dalamnya. Namun, yang dapat menjadikan Al-Qur’an itu sebagai petunjuk hidup hanyalah orang-orang yang bertakwa. Di antara karakter mereka dijelaskan dalam ayat 3 – 4 :

  1. Mengimani hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka dan sebagainya.
  2. Menegakkan shalat.
  3. Menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan padanya.
  4. Mengimani Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil)
  5. Meyakini hari dan kehidupan akhirat
Sedangkan ayat 5 menjelaskan orang yang berada di atas petunjuk Al-Qur’an dijamin sukses di dunia dan akhirat.