Tag Archives: Shalat

Tatacara dan Doa Lengkap Shalat Jenazah

Tatacara dan Doa Lengkap Shalat Jenazah

Rukun Shalat jenazah

  1. Niat. Setiap shalat dan ibadah lainnya kalo gak ada niat dianggap gak sah, termasuk niat melakukan Shalat jenazah. Niat dalam hati dengan tekad dan menyengaja akan melakukan shalat tertentu saat ini untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5). Hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Muttafaq Alaihi).
  2. Berdiri Bila Mampu. Shalat jenazah sah jika dilakukan dengan berdiri (seseorang mampu untuk berdiri dan gak ada uzurnya). Karena jika sambil duduk atau di atas kendaraan [hewan tunggangan], Shalat jenazah dianggap tidak sah.
  3. Takbir 4 kali. Aturan ini didapat dari hadits Jabir yang menceritakan bagaimana bentuk shalat Nabi ketika menyolatkan jenazah. Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib) dan beliau takbir 4 kali. (HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355) Najasyi dikabarkan masuk Islam setelah sebelumnya seorang pemeluk nasrani yang taat. Namun begitu mendengar berita kerasulan Muhammad SAW, beliau akhirnya menyatakan diri masuk Islam.
  4. Membaca Surat Al-Fatihah
  5. Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW
  6. Doa Untuk Jenazah Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : “Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya.” (HR. Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947). Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain : “Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi.”
  7. Doa Setelah Takbir Keempat Misalnya doa yang berbunyi : “Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana wa lahu..”
  8. Salam

Tata Cara Shalat Jenazah :

  1. Lafazh Niat Shalat Jenazah : “Ushalli ‘alaa haadzal mayyiti fardlal kifaayatin makmuuman/imaaman lillaahi ta’aalaa..”. Artinya: “Aku niat shalat atas jenazah ini, fardhu kifayah sebagai makmum/imam lillaahi ta’aalaa..”
  2. Setelah Takbir pertama membaca: Surat “Al Fatihah.”
  3. Setelah Takbir kedua membaca Shalawat kepada Nabi SAW : “Allahumma Shalli ‘Alaa Muhamad?”
  4. Setelah Takbir ketiga membaca: للَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارkkkk خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” atau bisa secara ringkas : “Allahummagh firlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu..” Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat, sejahtera dan maafkanlah dia”
  5. Setelah takbir keempat membaca: “Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu..” Artinya: “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya”
  6. “Salam” kekanan dan kekiri.
  • Jika jenazah wanita, lafazh ‘hu’ diganti ‘ha’.

Shalat Tahiyatul Masjid, Dalil, Tata Cara dan Keutamaannya

Hukum Shalat Tahiyatul Masjid
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tahiyyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan sebanyak dua Roka’at, dan dikerjakan oleh seseorang ketika masuk ke masjid. Adapun hukumnya termasuk sunnah berdasarkan konsensus karena hal itu merupakan hak setiap orang yang akan masuk ke masjid, sebagaimana dalil-dalil yang telah disebutkan.” (Fathul Bari: 2/407)
Shalat tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap saat, ketika seseorang masuk masjid dan bermaksud duduk di dalamnya. Ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i & Ahmad bin Hambal, yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz, & Ibnu Al-Utsaimin –rahimahumullah.
Dalam hadis yang diriwayatkanoleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)
Jabir bin Abdillah –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

Artinya,“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875)
Para ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat 2 rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid & mau duduk di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat shalat Tahiyatul Masjid adalah sunnah & sebagian berpendapat wajib. Yang jelas tidak sepantasnya seorang muslim meninggalkan syariat ini.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat tahiyatul masjid adalah sunnah karena ada indikasi lain yang menyoal pada status hukum sunnah dan tidak wajib. Di antaranya,
Pertama, hadis Abdullah bin Busr,

حديث أبي داود والنسائي: أن رجلاً تخطى رقاب الناس والنبي صلى الله عليه وسلم يخطب فقال له: أجلس فقد آذيت

Artinya,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang melangkahi pundak-pundak manusia sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkhutbah, maka beliau berkata, “Duduklah, sungguh engkau telah menyakiti mereka.” (Shahih, HR Abu Dawud (1118), di shahihkan oleh Syeikh Al-Albani)
Kedua, hadis Thalhah bin Ubaidullah radhiyallahu Anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

Artinya, “Seorang laki-laki dari penduduk Nejd yang rambutnya berdiri datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mendengar gumaman suaranya, namun kami tidak dapat memahami sesuatu yang dia ucapkan hingga dia dekat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,‘Islam adalah shalat lima waktu siang dan malam.‘ Dia bertanya lagi, ‘Apakah saya masih mempunyai kewajiban selain-Nya? ‘ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali kamu melakukan shalat sunnah.” (HR. Bukhari (46), Muslim (11/76))
Ketiga, hadis AbuWaqid Al Laitsi radhiyallahu Anhu, beliau berkata,

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (di depan), sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?”Adapun salah seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.”(HR. Bukhari (66) Muslim (2176))

Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat Tahiyatul Masjid


Pertama:

Disyari’atkannya untuk shalat Tahiyatul Masjid di setiap waktu (tidak ada waktu yang terlarang), karena ia termasuk shalat yang berkaitan dengan sebab (yaitu karena masuk ke masjid). Inilah pendapat yang dipilih oleh Syeikhul islam ibnu Thaimiyyah, majduddin Abul Barakat, Ibnul Jauzi, dan yang lain. (Al-inshof : 2/802, Al-Muharrar : 1/86, Nailul Authar : 3/62, Fatawa li ibni Thaimiyyah : 23/219)
Pendapat ini juga dipilih oleh Syeikh Muhammad bin Utsaimin (Syarah Mumthi’ ” (4/179)) dan juga Syeikh Ibnu Baz dalam kitab fatawa.

Kedua:
Waktu/pelaksanaan shalat Tahiyatul Masjid adalah ketika masuk ke masjid dan sebelum duduk. Adapun jika ia sengaja duduk, maka tidak di syari’atkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Hal itu dikarenakan telah kehilangan kesempatan (yaitu ketika masuk masjid dan sebelum duduk). (Ahkam Tahiyatul Masjid, 5)

Ketiga:
Adapun jikalau ia masuk masjid dan langsung duduk karena tidak tahu atau lupa dan belum mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, maka ia tetap disyari’atkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid, karena orang yang diberi uzur (karena lupa atau tidak tahu) tidak hilang kesempatan untuk megerjakan shalat tahiyatul masjid, dengan syarat jarak antara duduk dengan waktunya tidak terlalu lama. (Fathul Bari, 2/408)

Keempat:
Apabila ada orang yang masuk ke Masjid sedangkan azan dikumandangkan, maka yang sesuai syari’at adalah menjawab adzan dan menunda sebentar untuk shalat Tahiyatul Masjid, karena saat itu menjawab adzan lebih penting. Kecuali kalau ia masuk ke masjid pada hari jum’at, sedangkan adzan untuk khutbah tengah dikumandangkan, maka dalam kondisi seperti ini mendahulukan shalat tahiyatul masjid daripada menjawab azan (agar bisa mendengarkan khutbah). Karena mendengarkan khutbah lebih penting.” (Al-Inshaf, 1/427)

Kelima:
Apabila ada orang yang masuk ke masjid sedangkan imam saat itu sedang berkhutbah, maka tetap disunnahkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, dan hendaknya meringankannya/mempercepatnya (Al-Fatawa li Ibni Taimiyyah, 23/219). Hal ini sebagaimana dalam hadits Nabi, “Maka janganlah ia duduk kecuali telah mengerjakan dua raka’at” (HR Bukhari (1163) dan Muslim (714)). Begitu pula dalam hadits yang lain,´“Hendaklah ia kerjakan dua raka’at, dan hendaklah meringankanya.” (HR Bukhari (931), Muslim (875)). Jika seorang khatib hampir selesai khutbah, dan menurut dugaan kuat jika ia mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid akan ketinggalan shalat wajib (shalat jum’at), maka hendaknya ia berdiri untuk mengerjakan shalat jum’at, dan setelah selesai shalat Jumat hendaknya ia jangan sampai langsung duduk tanpa mengerjakan shalat tahiyatul masjid.

Keenam:
Penghormatan di Masjidil Haram adalah Thawaf, hal ini sebagaimana dikemukakan Jumhur Fuqaha’. Imam Nawawi berkata, “Shalat Tahiyyatul Masjidil untuk Masjidil Haram adalah Thawaf, yang dikhususkan bagi pendatang. Adapun orang yang Muqim/menetap disitu maka hukumnya sama seperti masjid-masjid yang lain (yaitu disunnahkan shalat Tahiyatul Masjid)” (Fathul Bari: 2/412)
Namun sebagai catatan, hadits yang dijadikan rujukan dalam masalah ini adalah hadits yang tidak shahih/benar. Bahkan tidak ada asalnya dari Nabi. Lafaz hadits tersebut adalah:

تحية البيت الطواف

“Tahiyat bagi Al-Bait (Ka’bah) adalah thawaf,” (Lihat Adh-Dhaifah no. 1012 karya Al-Albani –rahimahullah-),
Jadi kesimpulannya shalat Tahiyatul Masjid berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. Sehingga orang yang masuk masjidil haram tetap dianjurkan baginya untuk melakukan tahiyatul masjid jika dia ingin duduk.

Ketujuh:
Shalat qabliyah dapat menggantikan tahiyatul masjid, karena maksud dari shalat tahiyatul masjid adalah agar orang yang masuk masjid memulai dengan shalat, sedangkan ia telah melaksanakan shalat sunnah rawatib. Jika ia berniat shalat sunnah rawatib sekaligus shalat tahiyatul masjid atau berniat shalat fardhu maka ia telah mendapat pahala secara bersamaan. (Kasyful Qana’: 1/423)

Kedelapan:
Adapun seorang imam, maka cukup baginya untuk mendirikan shalat fardhu tanpa shalat Tahiyatul Masjid. Hal itu dikarenakan imam datang di akhir dan kedatangannya dijadikan sebagai tanda untuk mengumandangkan iqamat. (Subulus Salam: 1329)
Adapun jikalau imam telah datang sejak awal waktu, maka tetap disyari’atkan bagi imam untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, sebagaimana makmum. Hal itu sebagaimana keumuman dalil, “Jika salah seorang dari kalian masuk ke Masjid, maka janganlah duduk sehingga ia shalat dua raka’at terlebih dahulu.” (HR Bukhari (444), Muslim (764))
Mengenai shalat di tanah lapang (seperti shalat ied, istisqa’), maka tidak disyari’atkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, (Al-Fawakihul Adidah : 1/99)
Namun sebagian ulama’ ada yang membolehkan shalat tahiyatul Masjid di tanah lapang karena di tinjau dari segi hukumnya sama seperti shalat berjama’ah di dalam masjid. (Al-inshaf: 1/246). Namun yang lebih rajih insya Allah pendapat yang pertama, karena berbeda dari sisi tempatnya dan juga dzahirnya hadits : “Jika salah seorang dari kalian masuk ke Masjid…. (HR Bukhari dan Muslim)

Kesembilan:
Tidak dipungkiri bahwa shalat tahiyatul masjid berlaku utk siapa saja, laki-laki & perempuan yang hendak melakukan shalat berjama’ah di masjid. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib Jum’at, dimana tak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu Alaihi wassalam- shalat tahiyatul masjid sebelum beliau khutbah. Akan tetapi beliau datang & langsung naik ke mimbar (Al-Majmu’: 4/448).

Yang Dikecualikan Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid


1. Khatib Jum’at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tidak disunnahkan sholat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.

2. Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
3. Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin sholat berjamaah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan sholat berjama’ah. Karena sholat fardhu telah mencukupi dari melaksanakan tahiyatul masjid. (Lihat Subulus Salam, Imam al-Shan’ani: 1/320).

Waktu dan Rakaat Shalat Tahiyatul Masjid


Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan kapan saja selagi memasuki masjid. Sebelum duduk atau shalat lainnya, maka shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan. Ibaratnya seperti pertama masuk masjid, maka hal pertama setelah berwudhu yang bisa dilakukan adalah shalat tahiyatul masjid.

Jumlah Rakaat
Shalat tahiyatul masjid disyariatkan hanya 2 rakaat saja. Selebihnya tidak dijelaskan lagi dalam hadist, dan bisa melaksanakan shalat lainnya di shalat wajib atau sunnah selain tahiyatul masjid.

Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Tuntunan Rasulullah

Hukum Shalat Jenazah
Shalat Jenazah adalah merupakan Shalat sunnah yang dikerjakan dengan 4 kali takbir, Shalat Jenazah ini dilaksanakan ketika ada seorang muslim yang Wafat (Meninggal dunia). Dan Sebelum Jazad atau Jenazahnya di makamkan maka orang muslim yang meninggal dunia tersebut perlu dimandikan, dan perlu di Shalati terlebih dahulu.
Adapun Hukum Shalat Jenazah ini adalah Fardhu Kifayah atau kewajiban yang ditunjuk-kan bagi orang banyak (umat islam), akan tetapi apabila sebagian dari kita umat islam sudah melaksanakan Shalat Jenazah tersebut maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya.

Syarat, Rukun dan Sunnah Shalat Jenazah


Posisi Sholat Jenazah
Jika jenazah wanita imam berada ditengah Jenazah / Mayit.
Jika jenazahnya laki-laki maka imam lurus dengan kepala.

Syarat Shalat Jenazah
1. Jenazah harus tertutup auratnya.
2. Mayit harus di mandikan dan disucikan dari najis / hadas besar.
3. Mayit sudah dikafani.
4. Letak Mayit / Jenazah sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali jika shalat dikerjakan di atas kubur atau Sholat Ghaib.

Rukun Sholat Jenazah
1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu.
3. Takbir 4 kali.
4. Membaca surat Al Fatihah.
5. Membaca sholawat kepada Nabi.
6. Mendo’akan mayat.
7. Memberi salam.

Sunnah Sholat Jenazah
1. Mengangkat tangan pada tiap-tiap takbir (4 takbir)
2. Merendahkan suara bacaan (sirr)
3. Membaca ta’awudz
4. Disunnahkan banyak pengikutnya
5. Memperbanyak shaf

Bacaan dan Niat Shalat Jenazah


1.a) Bacaan niat sholat jenazah untuk jenazah Laki-laki

Niat Untuk Imam

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

usholli ‘alaa hadzal mayyiti arba’a takhbiratin fardhal kifayaati imaaman lillahi ta’alaa
Artinya :
“Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Untuk Makmum

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

usholli ‘alaa hadzal mayyiti arba’a takhbiratin fardhal kifayaati ma’muuman lillahi ta’alaa
Artinya :
“Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

1.b) Bacaan niat sholat jenazah untuk jenazah Perempuan

Niat Untuk Imam

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takhbiratin fardhal kifayaati imaaman lillahi ta’alaa
Artinya :
“Saya niat shalat atas mayit perempuan ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Untuk Makmum

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takhbiratin fardhal kifayaati ma’muuman lillahi ta’alaa
Artinya :
“Saya niat shalat atas mayit perempuan ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir pertama
Sebelum membaca basmallah pada Surat Al Fatihah, membaca Ta’awudz terlebih dahulu

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ

a’uudzubillahi minasy syaithaanirrajiim(i)
Artinya :
“Aku berlindung dari syaitan yang terkutuk”

3. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Kedua

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shallaita ‘alaa ibraahimm(a) wa ‘alaa aali ibrahimm(a) wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraahimm(a) wa ‘alaa aali ibraahimm(a) fiil’aalamiina innaka hamiidun mjiidu(un)

Artinya : “Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

4. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Ketiga

Untuk Jenazah Laki-Laki

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وأَكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَى الثَوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وأََهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ القَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
allahumma agfirlahuu warhamhuu wa ‘aafihii waa’fu ‘anhuu wa akrim nuzuulahuu wa wassi’ madkhalahuu waagsilhu bimaa-in wa tsaljin wa baradin wa naqqihii minal khathaayaa kamaa yunaqiits tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil-hu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa qihi fitnatal qabri wa ‘adazaabannaar(i)

Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan istri yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

Untuk Jenazah Perempuan

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وأَكْرِمْ نُزُوْلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِمَاءٍ وثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهَا مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَى الثَوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وأََهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْراً مِنْ زَوْجِهَا وَقِهِهَا فِتْنَةَ القَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
allahumma agfirlahaa warhamhaa wa ‘aafihaa waa’fu ‘anhaa wa akrim nuzuulahaa wa wassi’ madkhalahaa waagsilhaa bimaa-in wa tsaljin wa baradin wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa yunaqiits tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil-haa daaran khairan min daarihiaa wa ahlan khairan min ahlihaa wa zaujan khairan min zaujihaa wa qihi haa fitnatal qabri wa ‘adazaabannaar(i)

Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah suaminya dengan suami yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

5. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Keempat

اَللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنا أَجْرَهُ وَلاَتَفْتِِنَّا بَعْدَهُ

allahumma laa tahrimnaa ajrahuu wa laa taftinnaa ba’dah(u)
Artinya : “Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.”

اَللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنا أَجْرَهَا وَلاَتَفْتِِنَّا بَعْدَهَا

allahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa laa taftinnaa ba’dahaa
Artinya : “Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.”

6. Salam
Setelah membaca doa takbir ke empat, dilanjutkan dengan membaca salam ke kanan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh(u)

Artinya :
“Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua”

Tuntunan Rasulullah Angkat Tangan Saat Shalat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengangkat tangan saat shalat dilakukan 4 kali kesempatan, yaitu

  1. pada waktu takbiratul ihram
  2. Pada waktu akan ruku`
  3. Pada bangkit dari ruku`
  4. pada waktu berdiri dari raka’at ke dua.

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

  • أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ
  • Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya

Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari tasyahhud awal, ialah sebagai berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Nâfi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allâhu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Namun juga disunahkan kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada waktu setelah takbir bangkit dari raka’at ketiga menuju keempat. Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata:

  • وَكاَنَ n يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ هَذَا التَّكْبِيْرِ أَحْيَانًا
  • (Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini).

Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa mengangkat tangan dalam shalat dilakukan pada setiap turun dan bangkit. Imam Ibnul-Qayyim mengatakan di dalam al-Badâi’, juz 4, hlm. 89: “Al-Atsram menukilkan dari Imam Ahmad yang ditanya tentang mengangkat kedua tangan, beliau menjawab: ‘Pada setiap turun dan bangkit’.”

Al-Atsram mengatakan: “Aku melihat Abu ‘Abdullah (Imam Ahmad) mengangkat kedua tangannya dalam shalat pada setiap turun dan bangkit”. Hal ini juga merupakan pendapat Ibnul-Mundzir dan Abu ‘Ali dari Syafi’iyyah, dan juga satu pendapat dari Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tharhut-Tatsrîb.

Mengangkat tangan ke raka’at ke empat ini juga shahîh dari Anas, Ibnu ‘Umar, Nâfi’, Thawus, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sîrîn, dan Ayyub as-Sikh-tiyâni, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mushannaf, karya Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hlm. 106, dengan sanad-sanad yang shahîh dari mereka.

Sumber :

  • majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

Bila Shalat Idul Fitri Jatuh Pada Hari Jumat

1528938786571.jpg

Bila Hari Idul Fitri Jatuh pada Hari Jumat

Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam

Bagi umat yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini. Bagi yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

Bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied maka kewajiban Shalat Jum’at gugur darinya. Artinya dia tidak lagi wajib menghadiri Shalat Jum’at. Dia punya pilihan antara ikut menghadirinya atau tidak. Jika tidak, maka dia melaksanakan Shalat Dzuhur sesuai dengan keumuman dalil atas wajibnya Shalat Dzuhur bagi yang tidak Shalat Jum’at.

Sedangkan bagi Imam, dianjurkan agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at bersama jamaah yang ingin mengerjakannya, baik mereka yang telah ikut Shalat Ied maupun yang tidak. Kacuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan Shalat Jum’at bersamanya, maka dia Shalat Dzuhur.

Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah asy-Sya’bi, an-Nakha’i, dan al-Auza’i. Ini merupakan pendapat Umar, Utsman, Ali, Sa’id, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, ridlwanullah ‘alihim dan orang para ulama yang sependapat dengan mereka.

1528938453339.jpgDalil dalil pendapat ulama

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syaami, dia berkata: “Aku menyaksikan Mu’awiayah bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Apakah kamu pernah mengalami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dua hari raya (Shalat Ied dan Shalat Jum’at,-red) yang berkumpul dalam satu hari?’ Dia menjawab: ‘ya.’ Mu’awiyah bertanya, ‘bagaimana beliau melakukan?.’ Dia menjawab: صّلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ. Beliau shalat Ied lalu memberi rukhshah untuk jum’atnya.’ Beliau bersabda: siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat’.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad).. Imam ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil pelaksanaan Shalat Jum’at setelah Shalat Ied adalah rukhshah (keringanan). Boleh dilaksanakan dan boleh juga ditinggalkan. Ini khusus bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied, bukan untuk orang yang tidak shalat.”. Imam ‘Atha berpendapat bahwa kewajiban shalat Jum’at gugur berdasarkan sabda Nabi di atas, “Siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat.”
  2. Dalam Sunan Abi Dawud, dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عَيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجْمِعُوْنَ “Sungguh telah berkumpul pada harimu ini dua hari raya, maka siapa yang berkehendak maka telah mencukupinya dari (shalat) Jum’at, sedangkan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.” Maka hal itu menunjukkan atas rukhshah (keringanan) dalam berjum’at bagi orang yang telah shalat Ied pada hari itu. Dan diberitahukan tidak adanya rukhshah (keringanan) bagi Imam, karena sabdanya dalam hadits: وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “Sedangkan kami adalah orang-orang yang Shalat Jum’at.”
  3. Hadits riwayat Muslim dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam Shalat Jum’at dan Ied dengan surat Sabbihis (Surat Al-A’la) dan Al-Ghasyiyah. Barangkali dua hari raya itu berkumpul dalam satu hari maka beliau membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) dalam kedua Shalat (Ied dan Jum’at).”
  4. Dalam Majma’ az-Zawaid wa Mamba’ al-Fawaid, Bab fi al-Jum’ah Wa al-Ied Yakunaani fi Yaum (Bab: Jum’at dan Ied dalam satu hari),  Juz 2, hal. 230, Imam al-Haitsami  menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar Radliyallah ‘Anhuma, berkata: “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah terjadi dua hari raya, idul fitri dan Jum’at, dalam satu hari. Setelah selesai shalat Ied bersama para jama’ah, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke mereka dan bersabda:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْراً وَأَجْراً وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ مَعَنَا فَلْيُجَمِّعْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ “Wahai sekalian manusia, kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala. Sesungguhnya kami melaksanakan shalat Jum’at. Maka barangsiapa yang ingin shalat jum’at bersama kami hendaknya dia melaksanakan dan barangsiapa yang ingin kembali ke keluarganya hendaknya dia pulang”.” (HR. Thabrani dalam al-Kabiir dari riwayat Ismail bin Ibrahim at-Turki, dari Ziyad bin Rasyid Abi Muhammad as-Sammaak)..
  5. Lajnah Daimah juga memberi fatwa yang serupa, “Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam. Kewajiban Jum’at tidak gugur darinya. Kacuali tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at bersamanya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyah, Bab: Hukm al-Jum’ah wa Shalah al-Jum’ah Yaum al-‘Ied, Juz 10, hal. 164) Baca Link Fatwa: Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jumat?

Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.

Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878)

Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

  • Bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum.
  • Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’)
  • Terdapat perbedaan pendapat bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Ied pada hari itu (Jum’at) ia wajib shalat Jum’at pada hari itu juga. Karenanya bagi yang meyakini bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu tidak boleh memberikan harga mati. Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah.
  • Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah. . .
  • Arahan ini juga berlaku bagi yang berpendapat bahwa shalat Jum’at tetap wajib atas orang yang telah mengerjakan shalat Iedul Adha di hari Jum’at. Bahwa dalam pendekatan fikih terdapat pendapat yang berbeda dengan yang diyakininya. Bahkan oleh para peneliti, pendapat gugurnya kewajiban Jum’at dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu adalah lebih kuat.

1528939346706.jpg

Posisi Shaf Anak Kecil Di Masjid

Posisi Shaf Anak Kecil Di masjid

دِِّبِلَّانلا َفْلَخ اَنِتْيَػب ِ ٌميِتَ َو اَ َأ ُتْيلَّالَص َؿاَق ٍكِلاَم ِنْب ِسَ َأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – اَنَفْلَخ ٍمْيَلُس ُّـُأ ىدِّمُأَو. Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Saya shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami, kami di belakang Rasulullah Saw, ibu saya Ummu Sulaim di belakang kami”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar tentang pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini: اَىْيرَا ةَأَ ْمِا اَ َعَم ْنُكَ َْلد اَذِإ اَىدْ َو اًّفَص ةَأْ َمْلا ـاَيِقَو ، ؿاَجدِّ لا ؼوُفُص ْنَع ءاَسدِّنلا يرِخْ َتَو ، اًّفَص لُجلَّا لا َعَم ِّبِلَّاصلا ـاَيِقَو

Anak kecil bersama lelaki baligh berada satu shaf. Perempuan berada di belakang shaf laki-laki. Perempuan berdiri sati shaf sendirian, jika tidak ada perempuan lain bersamanya. Akan tetapi, jika dikhawatirkan anak kecil tersebut tidak suci, maka diposisikan pada shaf di belakang lelaki baligh: عم اوفصيلف ؿاج لا فص لمتك لد وأ لصتظا ؿا شإ م نم ي ُخ اذإ نكلو ،ؿاج لا فلخ فوفص ؿافطلأا فأ وى لضفلأا فأ ؿافطلأا وبن فأ ـاملإل ي بن و ،ديعب ن طتم يرا منهو ؿامت او ،ن طتم ن ليتؽ او ا اذإ ؼوفصلل عطق كلذ في سيلو ،ؿاج لاد ستظا في اتِاعا م بتج تيلا بادلآاو ةلاصلاو ةرا طلا ةفص لذإ .ملعأ للهاو.

Sebaiknya shaf anak-anak diposisikan di belakang shaf lelaki yang telah baligh, akan tetapi jika dikhawatirkan mereka mengganggu orang yang shalat atau shaf lelaki baligh tidak sempurna, maka anak-anak itu satu shaf dengan shaf lelaki baligh, itu tidak memutuskan shaf jika mereka telah mumayyiz dan suci, kemungkinan mereka tidak suci sangat jauh, imam mesti mengingatkan anak-anak tentang kesucian, shalat dan adab yang mesti dijaga di dalam masjid

Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

لد ـأ وتلاص خآ فا أ ءاوس ،انفصو ام ًاشترفم فوك ، تد سلا ب سولتصا ةفص ،ةيفنتضا دنع يرخلأا د تلل سولتصا ةفص ملسو ويلع للها ىّلص للها ؿوسر ةلاص ةفص في يدعاسلا ديتز بيأ ث د ليلدب ،نك « نيع ػ سلج ملسو ويلع للها ىّلص بِنلا فأوتلبق ىلع نِميلا ردصب لبقأو ،ى سيلا ولجر شترفاف ػ د تلل »( نس حيحص ث د وىو ،يراخبلا هاور(راطولأا لي :2/275 ) نب لئاو ؿاقو :« ولجر شترفا ػ د تلل نيع ػ سلج املف ، ملسو ويلع للها ىّلص لله ا ؿوسر ةلاص لذإ ف ظ لأ ،ةن دتظا تمدقنِميلا ولجر بص و ،ى سيلا ه خف ىلع ى سيلا هد عضوو ،ى سيلا »(ؿاقو ،ي مترلا وج خأ : حيحص نس ث د (ة ا لا بص :1/419راطولأا لي ، :2/273)

ةيكلاتظا ؿاقو : يرخلأاو ؿولأا د تلا في ًا روتم سليَ(ير صلا ح لا :1/329اىدعبامو ) دوعسم نبا ىور اتظ ،« للها ىّلص بِنلا فأ ًا روتم اى خآو ةلاصلا طسو في سليَ فا ملسو ويلع »(ني تظا :1/533 . )ةيعفا لاو ةلبانتضا ؿاقو: ليلدب ،ضرلأاب و رو صل و ونييَ ة ج نم ها س ج نكلو ،شاترفلاا وىو ،يرخلأا د تلا في ؾروتلا نس يدعاسلا ديتز بيأ ث د في ءاج ام :« ،ًا روتم و ش ىلع دعقو ،ى سيلا ولجر لَّا خأ ،وتلاص ا يف يض نت تيلا ةع لا ت ا اذإ تَّ ملَّالس ثُ »( ًا صتتؼ يراخبلا هاورو ،ي مترلا وححصو ،يئاسنلا لاإ ةسمتطا هاور(راطولأا لي :2/184) ةلاصلا في ؾروتلاو : دوع لافا رولاو ،ى سيلا ؾرولا ىلع :ن دضعلا ؽوف بعكلا ن خفلا ؽوف .ةلبانتضا ؿاق نكل : ٍد تب سيل و لأ ؛حبصلا د ت في ؾروت لا ،ويف هابتشا لا د او د ت لاإ ويف سيل امو ،ن د تلا ب ؽ فلل نياثلا د تلا وى ديتز بيأ ث دبِ بِنلا ويف ؾروت ي

لاو ،ٍفاثؽ فلا لذإ ةجا لاف .ةصلاتطاو :ةيفنتضا دنع ةنسب سيلو ،رو متصا دنع ةنس نياثلا د تلا في ؾروتلا فإ .Mazhab Hanafi: Bentuk duduk Tasyahhud Akhir menurut Mazhab Hanafi seperti bentuk duduk antara dua sujud, duduk Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), apakah pada Tasyahhud Awal atau pun pada Tasyahhud Akhir.

Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi dalam sifat Shalat Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk –maksudnya duduk Tasyahhud-, Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, ujung kaki kanan ke arah kiblat”. (Hadits riwayat Imam al-Bukhari, hadits shahih hasan (Nail al-Authar: 2/275). Wa’il bin Hujr berkata: “Saya sampai di Madinah untuk melihat Rasulullah Saw, ketika beliau duduk –maksudnya adalah duduk Tasyahhud- Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, Rasulullah Saw meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri, Rasulullah Saw menegakkan (telapak) kaki kanan”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”. (Nashb ar-Rayah: 1/419) dan Nail al-Authar: 2/273).

Menurut Mazhab Maliki: Duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Awal dan Akhir. (Asy-Syarh ash-Shaghir: 1/329 dan setelahnya). Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk di tengah shalat dan di akhir shalat dengan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai). (al-Mughni: 1/533).

Menurut Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Disunnatkan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Akhir, seperti Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), akan tetapi dengan mengeluarkan kaki kiri ke arah kanan dan pantat menempel ke lantai. Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi: “Hingga ketika pada rakaat ia menyelesaikan shalatnya, Rasulullah Saw memundurkan kaki kirinya, Rasulullah Saw duduk di atas sisi kirinya dengan pantat menempel ke lantai, kemudian Rasulullah Saw mengucapkan salam”. (diriwayatkan oleh lima Imam kecuali an-Nasa’i. Dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas. (Nail al-Authar: 2/184). Duduk Tawarruk (menempelkan pantat ke lantai) dalam shalat adalah: duduk dengan sisi pantat kiri menempel ke lantai. Makna al-Warikan adalah: bagian pangkal paha, seperti dua mata kaki di atas dua otot.

Pendapat Mazhab Hanbali: Akan tetapi tidak duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada duduk Tasyahhud dalam shalat Shubuh, karena duduk itu bukan Tasyahhud Kedua. Rasulullah Saw duduk Tawarruk berdasarkan hadits Abu Humaid adalah pada Tasyahhud Kedua, untuk membedakan antara dua Tasyahhud (Tasyahud Pertama dan Tasyahhud Kedua/Akhir). Adapun shalat yang hanya memiliki satu Tasyahhud, maka tidak ada kesamaran di dalamnya, maka tidak perlu perbedaan.

Kesimpulan:

duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Kedua adalah Sunnat menurut jumhur ulama, tidak sunnat menurut Mazhab Hanafi

Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Tidak sah, karena Rasulullah Saw memerintahkan agar orang yang tidak thuma’ninah mengulangi shalatnya. ِولَّاللا ُؿوُسَرَو ىدِّلَصُ َدِ ْسَمْلا َلَخَد ًلاُجَر لَّافَأ َةَ ْػ َ ُى ِبََأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – ُوَل َؿاَ َػف ِوْيَلَع َملَّالَسَف َءاَ َف ، ِدِ ْسَمْلا ِةَيِ اَ ِ « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا » . َؿاَ َػف َملَّالَس لَّاُثُ ، ىلَّالَصَف َعَجَ َػف « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا ، َكْيَلَعَو » . ِنِْمِلْعَ َف ِةَثِلالَّاثلا ِ َؿاَق . َؿاَق « ، اًعِ اَر لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْعَ ْرا لَّاُثُ ، ِفآْ ُ ْلا َنِم َكَعَم َ لَّاسَيَػت اَِبِ ْأَ ْػقاَو ، ْ دِّػبَكَف َةَلْػبِ ْلا ِلِبْ َػتْسا لَّاُثُ ، َءوُضُوْلا ِغِبْسَ َف ِةَلالَّاصلا َلذِإ َتْمُق اَذِإ لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًسِلاَج لَّانِئَمْطَتَو َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ اًدِجاَس ، لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َؿِدَتْعَػت لَّاتََّ َكَسْأَر ْعَفْرا لَّاُثُ اَ دِّلُ َكِتَلاَص ِ َكِلَذ ْلَعْػفا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ ، اًدِجاَس ».

Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, ia melaksanakan shalat, Rasulullah Saw berada di sudut masjid. Rasulullah Saw datang, mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Kembalilah, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Ia kembali dan melaksanakan shalat.

Rasulullah Saw berkata: “Engkau mesti kembali, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Pada kali yang ketiga, ia berkata: “Ajarkanlah kepada saya”.

Rasulullah Saw berkata: “Jika engkau akan melaksanakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, kemudian menghadaplah ke kiblat, bertakbirlah. Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkat kepalamu hingga engkau tegak sempurna. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau thuma’ninah duduk. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau duduk sempurna. Kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua shalatmu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Shalat Thuma’ninah

ةني مطلاو :و وى نع وعفر ًلاثم لصفن ثيبِ ت ب فوكس وأ ،ة دعب فوكس.ا لقأو : ًلاثم عو لا في ءاضعلأا تست فأةيعفا لا ؿاق ام يوتعا نع عف لا لصفن ثيبِ . ضعب ؿاق ام ،فوكس نِّدأ رد بف يسانلا امأو ،ه ا ل بجاولا لا رد ب كلذوبى تظا نم حيحصلاو ،ةلبانتضا :لق فإو فوكسلا انهأ . ام ،ام نم عف لاو ،دو سلاو عو لا في ةحيبست ردق حراوتصا كست يى وأةيفنتضا ؿاق. ةيكلاتظا ؿاق ام ،ةلاصلا فا رأ عيتر في ام ًانمز ءاضعلأا را تسا يى وأ .Thuma’ninah adalah tenang setelah satu gerakan. Atau tenang setelah dua gerakan, kira-kira terpisah antara naik dan turun. Minimal Thuma’ninah adalah anggota tubuh merasa tenang, misalnya ketika ruku’, kira-kira terpisah antara naik dan turun, sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i. Dapat diukur dengan kadar ingatan wajib bagi orang yang mengingat. Adapun orang yang lupa kira-kira pada kadar minimal tenang, sebagaimana pendapat sebagian Mazhab Hanbali. Pendapat Shahih menurut mazhab adalah: tenang, meskipun sejenak. Atau tenangnya anggota tubuh kira-kira satu sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi. sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi.

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

َـاَق لَّاُثُ ِضْرَْلأا ىَلَع َدَمَتْعاَو َسَلَج ِةَيِ الَّاثلا ِةَدْ لَّاسلا ْنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِ َف Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas: ُنِجاَعْلا ُعَضَ اَمَ ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْ َدَ َعَضَو ِوِتَلاَص ِفي َـاَق اَذإ َفاَ َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini: ِطيِسَوْلا ىَلَع ِوِمَلاَ ِفي ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق : ِوِب لَّاجَتُْ ْفَأ ُزوَُيَ َلاَو ُؼَ ْعُػ َلاَو ُّحِصَ َلا ُث ِدَْتضا اَ َى . ِبلَّا َ ُمْلا ِحْ َش ِفي ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : ِحيِ ْنلَّاػتلا ِفي َؿاَقَو ، ُوَل َلْصَأ َلا ٌلِطاَب ْوَأ ، ٌفيِعَض ٌث ِدَ اَ َى : ِحْ َش ِفي َؿاَقَو ، ٌلِطاَب ٌفيِعَض ِبلَّا َ ُمْلا : َؿاَق ، اَ ْػيَلَع اًدِمَتْعُم ُـوُ َػ َو ِوْ َدَ ُضِبْ َػ يِ لَّالا َوُىَو ُّحَصَأ ِفوُّنلاِبَو ِيالَّاللاِب َوُىَو ، ِوِسْرَد ِفي َؿاَق ُولَّا َأ دِِّلراَلَ ْلا ْنَع َلِ ُ : لَّاحَص ْوَلَو َؿاَق لَّاُثُ ِ ِ َعْلا َنِجاَع ُداَ ُمْلا َسْيَلَو ، ُيرِبَكْلا ُخْيلَّا لا َوُىَو ، ُلِجاَعْلا ُدِمَتْعَػ اَمَ ِوْ َدَ ِنْطَبِب اًدِمَتْعُم َـاَق ُهاَنْعَم َفاَكَل ُث ِدَْتضا : اَم ِنيْعَػ لَّافَأ ، ِحَلالَّاصلا ُنْبا ُهَ َ َذ. اَنْلُػق اَذإ الَّامَ َف ، ِيالَّاللاِب ُلِجاَعْلا ْوَأ ، ِفوُّنلاِب ُنِجاَعْلا َوُى ْلَى ِوِسْرَد ِفي ىَكَ لَّاِلراَلَ ْلا : ُنِجاَع َوُ َػف ِفوُّنلاِب ُولَّا إ ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق ، ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْيَػتَ اَر ُعَضَ َلاَو ُعِفَتْ َػ َو ، اَ ْػيَلَع ُئِكلَّاتَػ َو اَ ُّمُضَ َو ِوْيلَّافَ َعِباَصَأ ُضِبْ َػ ِلْبُْتطا : ْنِم ٌيرِثَ اَ َِ َلِمَعَو ِةَ ُّللا ِفي َنِجاَعْلا لَّافِ َف ، ُهاَنْعَم َكِلَذ ْنُكَ َْلد َتَبَػث ْوَلَو ، ْتُبْثَػ َْلد ٍث ِدَِبِ ، اَِ َدْ َع َلا ِةَلالَّاصلا ِفي ٍةلَّايِعْ َش ٍةَئْيَى ُتاَبْػثإ َوُىَو ، ِمَ َعْلا :

42 Dipersembahkan untuk ummat oleh Tafaqquh Study Club | Website: http://www.tafaqquhstreaming.com Silakan menyebarluaskan e-book ini dengan menyertakan sumber ُ ِعالَّا لا َؿاَق ، ُّنِسُمْلا ُلُجلَّا لا َوُى : َؿاَق َنِجاَعَو َتْنُ ِءْ َمْلا ِؿاَصِخ لَّا َ َف : ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ْنِم اًذوُخْ َم َكِلَ ِب َِبرِكْلا ُفْصَو َفاَ ْفِ َفاَ ِعِباَصَأ دِّمَض ِةلَّايِفْيَ ِفي َلا ِنْ َدَيْلا ِعْضَو َدْنِع ِداَمِتْعِلاا ِةلَّادِش ِفي ُويِبْ لَّاتلاَف Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”.

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ َنِجاَعْلا ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari

Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini: ث و نب كلام و- ًاض أ – ملسو ويلع للها ىلص بِنلا فأ ذ[و د ىلع دمتعا ـو فأ دارأ اذإ فا ] ةفص ىلع وى لى نكلويأ ،ث دتضا ا ى ةحص عوملمجا في للها وتزر يوونلا ك أ دقو ،كلذ في دراولا ث دتضا ةحص ىلع نيبن ا ف ؟لا ـأ نجاعلا 43 وححص ن خ تتظا ضعبو ،نجاعلا . ه خأو بر و لأ ؛سليَ و أ ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ظ ي لاف ٍل ىلعو كلذ فوكيل و د ىلع دمتعا ـو و ض ن فأ دارأ اذإ ثُ سليَ فاكف ،ـاي لا لذإ دو سلا نم ًاماتد ضو نلا عيطتس لا فاكف ،محللا ةسلتصا ه ى في حجا لا ؿو لا فا ا تعو ،ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ىاظلا وى ا ى ،ول ل سأ-نيعأ : ةسلجة اترسلاا – دنع دمتع فأ لذإ جات ا اذإ ثُ ،سل يلف كلذ وبشأ ام وأ ويتب ر في لدأ وأ ض م وأ ل ث وأ بركل ا يلإ جات ا فإ و أنيع ،عباصلأا رو ظ ىلع دمتعا ءاوس ،ت ا ةفص يأ ىلع دمتعيلف و د ىلع ـاي لا : ىلع وأ ا يلع دمتعاو ا كى وعباصأ عتردمتع لاف جت لد فإو ،دمتعيلف دامتعلاا لذإ جات ا اذإ م تظا ،كلذ يرا وأ ،وت ار.

Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih.

Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw.

Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu

Sumber : Imam ash-Shan’ani, Subul as-Salam: 2/152.

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ada dua hadits yang berbeda dalam masalah ini. Hadits pertama: َؿاَق َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ْنَع : َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ولَّاللا ُؿوُسَر َؿاَق :{ ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ، ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ْؾُ ْػبَػ َلاَف ، ْمُ ُدَ َأ َدَ َس اَذإ}

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu sujud, maka janganlah ia turun seperti turunnya unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud).

Hadits Kedua:

لَّاِبِلَّانلا ُتْ َأَر َؿاَق ٍ ْ ُ ِنْب ِلِئاَو ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ َعَفَر َضَ َػ اَذِإَو ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر َعَضَو َدَ َس اَذِإ. Dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Saw, ketika sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Ketika bangun ia mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

Ulama berbeda pendapat dalam mengamalkan kedua hadits ini. Imam ash-Shan’ani berkata: دِّيِعاَزْوَْلأاَو ، ٍكِلاَم ْنَع ٌةَ اَوِرَو ، ُةلَّا ِوَداَْتعا َبَىَ َف ، َكِلَذ ِفي ُءاَمَلُعْلا َفَلَػتْخا ْدَقَو : ُّيِعاَزْوَْلأا َؿاَق لَّاتََّ ، ِث ِدَْتضا اَ َِ ِلَمَعْلا َلذإ : اَنْ َرْدَأ ْمِ ِبَ ُر َلْبَػق ْمُ َػ ِدْ َأ َفوُعَضَ َسالَّانلا : دُواَد ِبيَأ نْبا َؿاَقَو : ِث ِدَْتضا ِباَحْصَأ ُؿْوَػق َوُىَو Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: al-Hadawiyah, satu riwayat dari Imam Malik dan al-Auza’i mengamalkan hadits yang menyatakan lebih mendahulukan tangan daripada lutut. Bahkan Imam al-Auza’i berkata: “Kami dapati orang banyak meletakkan tangan mereka sebelum lutut mereka”. Imam Abu Daud berkata: “Ini adalah pendapat para Ahli Hadits. ٍكِلاَم ْنَع ُةَ اَوِرَو ، ُةلَّايِفَنَْتضاَو ، ُةلَّايِعِفالَّا لا ْتَبَىَذَو : ٍلِئاَو ِث ِدَِبِ ِلَمَعْلا َلذإ

Mazhab Syafi’i, Hanafi dan satu riwayat dari Imam Malik menyebutkan bahwa mereka mengamalkan hadits riwayat Wa’il (mendahulukan lutut daripada telapan tangan). Pendapat ulama dalam masalah ini: ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : َث ِدَ اوُحلَّاجَر ِبَىْ َمْلا اَ َى َلْىَأ لَّانِكَلَو ، ِ َخْلآا ىَلَع ِْ َػبَىْ َمْلا ِدَ َأ ُحيِجْ َػت ُ َ ْظَ َلا ” ٍلِئاَو ” ِفي اوُلاَقَو ، ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ : ” ِفاَ ْمَْلأا ُوْنَع َيِوُر ْدَق ْذإ ، ٌبِ َطْضُم ُولَّا إ . َؿاَقَو اَ يِف َؿاَطَأَو ِمدِّيَ ْلا ُنْبا َ لَّا َ َو : ِث ِدَ ِفي لَّافإ ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ” َؿاَق ُثْيَ ، يِوالَّا لا ْنِم اًبْلَػق ” : ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ” ُوَلْصَأ لَّافِإَو ” : ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر ْعَضَيْلَو ” َؿاَق ، : ُوُلْوَػق َوُىَو ، ِث ِدَْتضا ُؿلَّاوَأ ِوْيَلَع ُّؿُدَ َو ” : ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ُؾُ ْػبَػ َلاَف ” ِؾوُ ُػب ْنِم َؼوُ ْعَمْلا لَّافِ َف ِْ َلْجدِّ لا ىَلَع ِنْ َدَيْلا ُ ِدْ َػت َوُى ِيرِعَبْلا

Imam an-Nawawi berkata: “Tidak kuat Tarjih antara satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam masalah ini, akan tetapi Mazhab Syafi’I menguatkan hadits Wa’il (mendahulukan lutut daripada tangan). Mereka berkata tentang hadits riwayat Abu Hurairah bahwa hadits itu Mudhtharib; karena ia meriwayat kedua cara tersebut.

Imam Ibnu al-Qayyim meneliti dan membahas secara panjang lebar, ia berkata: “Dalam hadits riwayat Abu Hurairah terdapat kalimat yang terbalik dari perawi, ia mengatakan: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut”, kalimat asalnya adalah: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”. Ini terlihat dari lafaz awal hadits: “Janganlah turun diketahui bahwa turunnya unta itu adalah dengan cara lebih mendahulukan tangan (kaki depan) daripada kaki belakang.

Pendapat Ibnu Baz: ي لا وى ا ىو ، و د لبق ويتب ر عض لب فو خآ ؿاقو ويتب ر لبق و د عض م ضعب ؿا ف ملعلا لىأ نم يرث ىلع ا ى لكش ف نب لئاو ث دتض فاوتظا وى ا ىو يرعبلا فلاخ د ف ويتب ر ىلع نم تظا ؾ ب اذ ف و ديب أدب يرعبلا ؾو ب فلأ يرعبلا ؾو ب فلا عفر اذ ف عو تظا وى ا ى ضرلأا ىلع اض أ وت بج عض ثُ ضرلأا ىلع و د عض ثُ لاوأ ويتب ر ىلع د س فأ باوصلا وى ا ىو امأو ، ث دتضا ب عمتصا وىو ملسو ويلع للها ىلص بِنلا نع ةنسلا وب تءاج ي لا عو تظا وى ا ى ض ن ثُ و د ثُ لاوأ و جو عفر ة ى بيأ ث د في ولوق : فأ باوصلا ا إ للها وتزر مي لا نبا كلذ ذ ام بلا ا و أ ملعأ للهاو ىاظلاف ويتب ر لبق و د عضيلوهانعم في ءاج امو نب لئاو ث د عم فت تَّ و ولوأ ث دتضا خآ فاو تَّ و د لبق ويتب ر عض

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits.

Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim –rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agar sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya.

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin: ولوأو ث دتضا خآ باطت فأ ا درأ اذإ باوصلا فوك ئنيحف”و د لبق ويتب ر عضيلو” تلق ام تب لا لبق ن ديلا عضو ول و لأ ؛يرعبلا ؾبر ام ؾبرل .فاضقانتم ه خآو ث دتضا ؿوأ فوك ئني و . … اىاتش ةلاسر ةوخلأا ضعب فلأ دقو(دو سلا في ن ديلا لبق تب لا عضو في دوبعتظا حتف) دافأو ويف داجأو . …و د لبق ويتب ر فاس لإا عض فأ دو سلا في ملسو ويلع للها ىلص ؿوس لا ا مأ تيلا ةنسلا ف ف ا ى ىلعو.

Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits. Adalah salah seorang ikhwah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar-Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

Pilihan Ayat Quran Dalam Bacaan Shalat

Bacaan Ayat Dalam Shalat

Rasulullah Saw memilih surat atau ayat tertentu pada shalat lima waktu atau shalat sunnat

  • Subuh dan Dzuhur. Dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi disebutkan bahwa sunnat dibaca –setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mushhaf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
  • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adhDhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas.
  • Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan).
  • Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).
  • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama pada hari Jum’ar surat Alif Lam Mim asSajadah, pada rakaat kedua surat al-Insan. Pada rakaat pertama shalat Jum’at sunnah dibaca surat alJumu’ah dan rakaat kedua surat al-Munafiqun. Atau pada rakaat pertama surat al-A’la dan rakaat kedua surat al-Ghasyiyah.
  • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama surat al-Baqarah ayat 136 dan rakaat kedua surat Al ‘Imran ayat 64. Ada pada rakaat pertama surat al-Kafirun dan rakaat kedua surat al-Ikhlas, keduanya shahih. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw melakukan itu.
  • Dalam shalat sunnat Maghrib, dua rakaat setelah Thawaf dan shalat Istikharah Rasulullah Saw membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  • Pada shalat Witir, Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat ketiga. Imam Nawawi berkata, “Semua yang kami sebutkan ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan selainnya adalah haditshadits masyhur”.

Adapun standar panjang dan pendeknya, surat-surat tersebut terbagi tiga:

  1. Thiwal al-mufashshal, dari surah Qaf/al-Hujurat ke surah an-Naba’, dibaca pada Shubuh dan Zhuhur.
  2. Ausath al-mufashshal, dari surah an-Nazi’at ke surah adh-Dhuha, dibaca pada ‘Ashar dan Isya’.
  3. Qishar al-Mufashshal, dari surah al-Insyirah ke surah an-nas, dibaca pada shalat Maghrib.
  • Keterangan lengkapnya dapat dilihat dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi: Sunnat dibaca -setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mush-haf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
  • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adh-Dhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas. Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan). Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).

Perlu diketahui bahwa pahala sunnat membaca ayat al-Qur’an diperoleh dengan membaca ayat ayat yang difahami atau sebagian ayat dari suatu surat, atau membaca satu surat atau membaca sebagian surat.

Surat yang pendek lebih afdhal daripada beberapa ayat yang dibaca dari surat yang panjang. Sunnah membaca surat menurut urutan mush-haf, jika tidak sesuai menurut urutan mush-haf maka hukumnya boleh, akan tetapi makruh. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Saya tidak menemukan dalil yang menyatakan demikian”.

Referensi

  • Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 166 [Maktabah Syamilah]
  • Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

Shalat Taraweh hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dan yang lebih utama bagi para wanita dalam qiyamul lail adalah melakukannya di rumah.

Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ. (رواه أبو داود في سننه باب ما جاء في خروج النساء إلى المسجد : باب التشديد في ذلك . وهو في صحيح الجامع 7458)
“Jangan kalian melarang isteri-isteri kalian ke masjid. Akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Daud, dalam sunannya, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami, 7458)

Salat Tasbih, Cara Shalat dan Dalilnya Menurut Berbagai Mazhab

Salat Tasbih, Cara Shalat dan Dalilnya Menurut Berbagai Mazhab

Salat tasbih merupakan salat Sunnah yang di dalamnya pelaku salat akan membaca kalimat tasbih (kalimat “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar”) sebanyak 300 kali (4 raka’at masing-masing 75 kali tasbih). Salat ini diajarkan Rasulullah SAW kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthallib. Namun beberapa ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Hikmah salat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran, tentu saja dari salattasbih yang dilakukan dengan hati yang ikhlas diharapkan akan dapat pula seseorang yang melakukannya dicegah atau terjaga dari perbuatan-perbuatan yang keji lagi mungkar.

Cara Shalat

Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati dan tidak perlu dilafalkan, tidak terdapat riwayat yang menyatakan keharusan untuk melafalkan niat akan tetapi yang terpenting adalah dengan niat hanya mengharapkan Ridho Allah Ta’alasemata dengan hati yang ikhlas dan khusyu.

Salat tasbih dilakukan 4 raka’at (jika dikerjakan siang maka 4 raka’at dengan sekali salam, jika malam 4 raka’at dengan dua salam) sebagaimana salat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat-saat berikut:

  • Setelah pembacaan Surat Al-Fatihah dan surat pendek saat berdiri15 kali
  • Setelah tasbih ruku’10 kali
  • Setelah I’tidal10 kali
  • Setelah tasbih sujud pertama10 kali
  • Setelah duduk di antara dua sujud10 kali
  • Setelah tasbih sujud kedua10 kali
  • Setelah duduk istirahat sebelum berdiri10 kali
  • Jumlah total satu raka’at75
  • Jumlah total empat raka’at4 × 75 = 300 kali

Perbedaan pendapat ulama

Para ulama berbeda pendapat mengenai salat tasbih, berikut adalah beberapa pendapat mereka:

  1. Salat tasbih adalah mustahabbah (sunnah). Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut Mazhab Syafi’i. Hadits Rasulullah SAW kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib yang berbunyi Wahai Abbas pamanku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksankan salat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku’lah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sedang ruku, kemudian sujudlah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Daud 2/67-68)
  2. Salat tasbih boleh dilaksanakan (boleh tetapi tidak disunnahkan). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama penganut Mazhab Hambali. Mereka berkata: “Tidak ada hadits yang tsabit (kuat) dan salat tersebut termasuk Fadhoilul A’maal, maka cukup berlandaskan hadits dhaif.” Ibnu Qudamah berkata: “Jika ada orang yang melakukannya maka hal tersebut tidak mengapa, karena salat nawafil dan Fadhoilul A’maal tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)^ Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata: “Perlu diteliti kembali tentang kesunahan pelaksanaan salat tasbih karena haditsnya dhoif, dan adanya perubahan susunan salat dalam salat tasbih yang berbeda dengan salat biasa. Dan hal tersebut hendaklah tidak dilakukan kalau tidak ada hadits yang menjelaskannya. Dan hadits yang menjelaskan salat tasbih tidak kuat”. Ibnu Qudamah menukil riwayat dari Imam Ahmad bahwa tidak ada hadis shahih yang menjelaskan hal tersebut. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan salat tasbih termasuk maudhu‘. Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis bahwa yang benar adalah seluruh riwayat hadits adalah dhaif meskipun hadits Ibnu Abbas mendekati syarat hasan, akan tetapi hadits itu syadz karena hanya diriwayatkan oleh satu orang rawi dan tidak ada hadits lain yang menguatkannya. Dan juga salat tasbih berbeda gerakannya dengan salat-salat yang lain. Dalam kitab-kitab fiqih mazhab Hanafiyah dan Malikiyah tidak pernah disebutkan perihal salat tasbih ini kecuali dalam Talkhis Al-Habir dari Ibnul Arabi bahwa dia berpendapat tidak ada hadits shahih maupun hasan yang menjelaskan tentang salat tasbih ini.
  3. Ketiga: salat tersebut tidak disyariatkan. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama penganut Mazhab Hambali. Mereka berkata: “Tidak ada hadits yang tsabit (kuat) dan salat tersebut termasuk Fadhoilul A’maal, maka cukup berlandaskan hadits dhaif.” Ibnu Qudamah berkata: “Jika ada orang yang melakukannya maka hal tersebut tidak mengapa, karena salat nawafil dan Fadhoilul A’maal tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)

Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

 

Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

NIAT SHALAT FARDHU

1. Gerakan Berdiri Tegak untuk Salat,

Berdiri tegak pada salat fardu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan
salah satu rukun salat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbiratul
ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.

  1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
  2. Tangan rapat di samping badan.
  3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
  4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
  5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetapberniat menghadap kiblat.

2. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan 

ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan
ulama caranya adalah sebagai berikut.

  1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
  2. Ujung jarijari sejajar dengan puncak telinga.
  3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
  4. Jarijari direnggangkan
  5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
  6. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
  7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.

Catatan: Mengangkat tangan ketika salat terdapat pada empat tempat,
yaitu saat takbiratulihram, saat hendak rukuk, saat iktidal (bangun dari
rukuk), dan saat bangun dari rakaat kedua (selesai tasyahud awal) untuk
berdiri meneruskan rakaat ketiga.

3. Gerakan Sedekap dalam Salat

Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbiratulihram. Adapun
caranya adalah sebagai berikut.

  • Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
  • Meletakkan tangan boleh di dada. Boleh juga meletakkannya di atas pusar. Boleh juga meletakkannya di bawah pusar. Ketika bersedekap, doa yang pertama dibaca adalah doa iftitah. Setelah selesai iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah. Sesudah membaca surat Al Fatihah, kemudian membaca surat pendek seperti Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.

Adapun Bacaan ada di bawah ini :

  • DOA IFTITAH: ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA..  Allah Maha Besar, Maha Sempurna KebesaranNya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang SebanyakBanyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi DanPetang.
  • INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. ..Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk OrangOrang Yang Musyrik.
  • INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN. Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
  • LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Tidak Ada Sekutu BagiNya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk OrangOrang Islam.

ALFATIHAH

  • BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
  • AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
  • ARRAHMAANIR RAHIIM. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
  • MAALIKIYAUMIDDIIN. Penguasa Hari Pembalasan. 
  • IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU. Hanya KepadaMu lah Aku Menyembah Dan Hanya KepadaMu lah Aku Memohon Pertolongan.
  • IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
  • SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN. Yaitu Jalannya OrangOrang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya OrangOrang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya OrangOrang Yang Sesat.

Setelah baca surat pendek seperti An Nas, Al Ihlas, dll

4. Gerakan Rukuk Dalam Sholat. Rukuk artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.

  1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbiratulihram.
  2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
  3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha.
  4. Jarijari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
  5. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongah ke atas.
  6. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk
  7. Pinggang direnggangkan dari paha.
  8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  9. Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu doa rukuk.
  10. Adapun bacaan Rukuk Sebagai Berikut : R U K U’: SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan MemujiNya.

5. Gerakan Iktidal dalam Sholat. Iktidal adalah bangkit dari rukuk. Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan seperti ketika takbiratulihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat “sami’allahu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri. Tangan rapat di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena beda pemaknaan terhadap hadis dalilnya. Padahal dalil yang digunakan sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat iktidal itu menyimpan tangan rapat di samping badan. Sesudah badan mantap tegak berdiri, barulah membaca salah satu doa iktidal.

Doa I’TIDAL: 

  • SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH. Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang MemujiNya ( DanMembalasnya ).
  • RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU. Wahai Tuhan Kami ! Hanya UntukMu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

6. Gerakan Sujud dalam Sholat. Sujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadis riwayat Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud, yaitu:

  1. wajah (kening dan hidung),
  2. dua telapak tangan,
  3. dua lutut, dan dua ujung telapak kaki.

Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.

  1. Turunkan badan dari posisi iktidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
  2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
  3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
  4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
  5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jarijarinya dirapatkan, dan ini satusatunya gerakan di mana jarijari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jarijari ini selalu direnggangkan.
  6. Jarijari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
  7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
  8. Renggangkan pinggang dari paha.
  9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
  10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud. Ketika bangkit dari sujud untuk berdiri ke rakaat berikutnya, disunahkan wajah lebih dulu dianggkat dari lantai, kemudian tangan, dan disusul dengan mengangkat lutut hingga berdiri tegak.

Bacaan pada waktu sujud :

SUJUD

  • SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan MemujiNya.

7. Gerakan Duduk antara Dua Sujud

Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:

  1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
  2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
  8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.

Bacaannya Sebagai Berikut :

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

  • RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
  • Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan)Ku, Angkatlah ( Derajat )Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )Ku.

8. Gerakan Tasyahud (Tahiyat) Awal. Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sama seperti duduk antara dua sujud. Ini pada salat yang lebih dari dua rakaat, yaitu pada salat zuhur, asar, magrib, dan isya. Caranya adalah sebagai berikut.

  1. Bangkit dari sujud kedua rakaat kedua sambil membaca takbir.
  2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud.

Doà TASYAHUD AWAL

  • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
  • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
  • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas HambaHamba Allah Yang Saleh.
  • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
  • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

9. Gerakan Tasyahud Akhir. Tasyahud akhir adalah duduk tawaruk. Caranya adalah.

  1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
  2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
  8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.

Bacaannya TASYAHUD AKHIR

  • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
  • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
  • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba Hamba Allah Yang Saleh.
  • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
  • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.
  • KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
  • WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.
  • KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
  • FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK. Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada AgamaMu.

10. Gerakan salam . Gerakan salam adalah menengok ke arah kanan dan kiri. Menengok dilakukan sampai kirakira searah dengan bahu. Jika jadi imam dalam salat berjamaah, salam dilakukan sampai terlihat hidung oleh makmum. Menengok

Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

 

Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

NIAT SHALAT FARDHU

1. Gerakan Berdiri Tegak untuk Salat,

Berdiri tegak pada salat fardu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan
salah satu rukun salat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbiratul
ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.

  1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
  2. Tangan rapat di samping badan.
  3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
  4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
  5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetapberniat menghadap kiblat.

2. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan 

ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan
ulama caranya adalah sebagai berikut.

  1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
  2. Ujung jarijari sejajar dengan puncak telinga.
  3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
  4. Jarijari direnggangkan
  5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
  6. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
  7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.

Catatan: Mengangkat tangan ketika salat terdapat pada empat tempat,
yaitu saat takbiratulihram, saat hendak rukuk, saat iktidal (bangun dari
rukuk), dan saat bangun dari rakaat kedua (selesai tasyahud awal) untuk
berdiri meneruskan rakaat ketiga.

3. Gerakan Sedekap dalam Salat

Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbiratulihram. Adapun
caranya adalah sebagai berikut.

  • Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
  • Meletakkan tangan boleh di dada. Boleh juga meletakkannya di atas pusar. Boleh juga meletakkannya di bawah pusar. Ketika bersedekap, doa yang pertama dibaca adalah doa iftitah. Setelah selesai iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah. Sesudah membaca surat Al Fatihah, kemudian membaca surat pendek seperti Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.

Adapun Bacaan ada di bawah ini :

  • DOA IFTITAH: ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA..  Allah Maha Besar, Maha Sempurna KebesaranNya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang SebanyakBanyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi DanPetang.
  • INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. ..Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk OrangOrang Yang Musyrik.
  • INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN. Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
  • LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Tidak Ada Sekutu BagiNya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk OrangOrang Islam.

ALFATIHAH

  • BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
  • AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
  • ARRAHMAANIR RAHIIM. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
  • MAALIKIYAUMIDDIIN. Penguasa Hari Pembalasan. 
  • IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU. Hanya KepadaMu lah Aku Menyembah Dan Hanya KepadaMu lah Aku Memohon Pertolongan.
  • IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
  • SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN. Yaitu Jalannya OrangOrang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya OrangOrang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya OrangOrang Yang Sesat.

Setelah baca surat pendek seperti An Nas, Al Ihlas, dll

4. Gerakan Rukuk Dalam Sholat. Rukuk artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.

  1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbiratulihram.
  2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
  3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha.
  4. Jarijari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
  5. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongah ke atas.
  6. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk
  7. Pinggang direnggangkan dari paha.
  8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  9. Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu doa rukuk.
  10. Adapun bacaan Rukuk Sebagai Berikut : R U K U’: SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan MemujiNya.

5. Gerakan Iktidal dalam Sholat. Iktidal adalah bangkit dari rukuk. Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan seperti ketika takbiratulihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat “sami’allahu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri. Tangan rapat di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena beda pemaknaan terhadap hadis dalilnya. Padahal dalil yang digunakan sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat iktidal itu menyimpan tangan rapat di samping badan. Sesudah badan mantap tegak berdiri, barulah membaca salah satu doa iktidal.

Doa I’TIDAL: 

  • SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH. Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang MemujiNya ( DanMembalasnya ).
  • RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU. Wahai Tuhan Kami ! Hanya UntukMu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

6. Gerakan Sujud dalam Sholat. Sujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadis riwayat Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud, yaitu:

  1. wajah (kening dan hidung),
  2. dua telapak tangan,
  3. dua lutut, dan dua ujung telapak kaki.

Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.

  1. Turunkan badan dari posisi iktidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
  2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
  3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
  4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
  5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jarijarinya dirapatkan, dan ini satusatunya gerakan di mana jarijari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jarijari ini selalu direnggangkan.
  6. Jarijari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
  7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
  8. Renggangkan pinggang dari paha.
  9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
  10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud. Ketika bangkit dari sujud untuk berdiri ke rakaat berikutnya, disunahkan wajah lebih dulu dianggkat dari lantai, kemudian tangan, dan disusul dengan mengangkat lutut hingga berdiri tegak.

Bacaan pada waktu sujud :

SUJUD

  • SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan MemujiNya.

7. Gerakan Duduk antara Dua Sujud

Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:

  1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
  2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
  8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
  9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.

Bacaannya Sebagai Berikut :

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

  • RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
  • Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan)Ku, Angkatlah ( Derajat )Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )Ku.

8. Gerakan Tasyahud (Tahiyat) Awal. Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sama seperti duduk antara dua sujud. Ini pada salat yang lebih dari dua rakaat, yaitu pada salat zuhur, asar, magrib, dan isya. Caranya adalah sebagai berikut.

  1. Bangkit dari sujud kedua rakaat kedua sambil membaca takbir.
  2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud.

Doà TASYAHUD AWAL

  • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
  • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
  • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas HambaHamba Allah Yang Saleh.
  • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
  • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !


9. Gerakan Tasyahud Akhir. Tasyahud akhir adalah duduk tawaruk. Caranya adalah.

  1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
  2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
  3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
  4. Badan tegak lurus.
  5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
  6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
  7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
  8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.

Bacaannya TASYAHUD AKHIR

  • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
  • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
  • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba Hamba Allah Yang Saleh.
  • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
  • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.
  • KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
  • WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.
  • KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
  • FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK. Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada AgamaMu



10. Gerakan salam . Gerakan salam adalah menengok ke arah kanan dan kiri. Menengok dilakukan sampai kirakira searah dengan bahu. Jika jadi imam dalam salat berjamaah, salam dilakukan sampai terlihat hidung oleh makmum. Menengok dilakukan sambil membaca salam.

Adapun bacaan salam sebagai berikut :

  • salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan: “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH, ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH (Semoga keselamatan dan rahmat Allah limpahkan kepadamu)

Tata Cara Shalat Jama’

Tata Cara Shalat Jama’

Menjama’ sholat adalah melakukan sholat Dhuhur dan Ashar dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut, atau melaksanakan sholat Maghrib dan Isya’ dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut. Maka sholat dengan cara jama’ ada dua macam:

  1. Jama’ taqdim. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu dhuhur, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu maghrib.
  2. Jama’ ta’khir. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu ashar, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu isya’.

Kondisi di bolehkannya shalat jama’

Ketentuan jama’ dan atas adalah mengacu kepada pendapat mazhab Syafii. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang diperbolehkan melakukan sholat dengan jama’ dari berbagai mazhab:

  1. Perjalanan panjang lebih dari 80,64km (Syafii dan Hambali).
  2. Perjalanan mutlak meskipun kurang 80km (Maliki).
  3. Hujan lebat sehingga menyulitkan melakukan sholat berjamaah khusus untuk sholat maghrib dan isya’ (Maliki, Hambali). Termasuk kategori ini adalah jalan yang becek, banjir dan salju yang lebat. Mazhab Syafii untuk kondisi seperti ini hanya memperbolehkan jama’ taqdim. Dalil dari pendapat ini adalah hadist Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. sholat bersama kita di Madina dhuhur dan ashar digabung dan maghrib dan isya’ digabung, bukan karena takut dan bepergian” (h.r. Bukhari Muslim).
  4. Sakit (menurut Maliki hanya boleh jama’ simbolis, yaitu melakukan solat awal di akhir waktunya dan melakukan sholar kedua di awal waktunya. Menurut Hambali sakit diperbolehkan menjama’ sholat).
  5. Saat haji yaitu di Arafah dan Muzdalifah.
  6. Menyusui, karena sulit menjaga suci, bagi ibu-ibu yang anaknya masih kecil dan tidak memakai pampers (Hambali).
  7. Saat kesulitan mendapatkan air bersih (Hambali).
  8. Saat kesulitan mengetahu waktu sholat (Hambali).
  9. Saat perempuan mengalami istihadlah, yaitu darah yang keluar di luar siklus haid. (Hambali). Pendapat ini didukung hadist Hamnah ketika meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. saat menderita istihadlah, Rasulullah s.a.w. bersabda:”Kalau kamu mampu mengakhirkan dhuhur dan menyegerakan ashar, lalu kamu mandi dan melakukan jama’ kedua sholat tersebut maka lakukanlah itu” (h.r. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
  10. Karena kebutuhan yang sangat mendesak, seperti khawatir keselamatan diri sendiri atau hartanya atau darurat mencari nafkah dan seperti para pekerja yang tidak bisa ditinggal kerjaannya. (Hambali).

Para pekerja di kota-kota besar yang pulang dengan tansportasi umum setelah sholat ashar sering menghadapi kondisi sulit untuk melaksanakan sholat maghrib secara tepat waktu karena kendaraan belum sampai di tujuan kecuali setelah masuk waktu isya’, sementara untuk turun dan melakukan sholat maghrib juga tidak mudah. Pada kondisi ini dapat mengikuti mazhab Hambali yang relatif fleksibel memperbolehkan pelaksanaan sholat jama’. Menurut mazhab Hambali asas diperbolehkannya qashar sholat adalah karena bepergian jauh, sedangkan asas diperbolehkannya jama’ adalah karena hajah atau kebutuhan. Maka ketentuan jama’ lebih fleksibel dibandingkan dengan ketentuan qashar.

Syarat sah jama’ taqdim

Syarat-Syarat Jama’ Taqdim

Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan sholat jama’ taqdim, dengan syarat sebagai berikut :

  1. Bukan berpergian maksiat.
  2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab Syafii)
  3. Berniat jama’ taqdim dalam sholat yang pertama ( Dhuhur / Maghrib).
  4. Tartib, yakni mendahulukan sholat dhuhur sebelum sholat ashar dan mendahulukan sholat maghrib sebelum sholat isya’.
  5. Wila, yakni setelah salam dari sholat pertama, segera cepat-cepat melakukan sholat kedua, tenggang waktu anatara sholat pertama dengan sholat kedua, selambat-lambatnya, kira-kira tidak cukup untuk mengerjakan dua roka’at singkat.

Cara jama’ taqdim

  • Yang dimaksud dengan sholat jama’ taqdim adalah, melakukan sholat ashar dalam waktunya sholat dhuhur, atau melakukan sholat isya’ dalam waktunya sholat maghrib. Sholat shubuh t idak dapat dijama’ dengan sholat isya’. Pelaksanaan sholat dengan jama’ taqdim antara sholat dhuhur dengan ashar, dilakukan dengan cara, setelah masuk waktu dhuhur, terlebih dahulu melakukan sholat dhuhur, dan ketika takbirotul ihram, berniat menjama’ sholat dhuhur dengan ashar. Contoh : Usholli fardlod-dhuhri jam’an bil ‘ashri taqdiman lillahi ta’ala. Artinya : “Saya berniat sholat dhuhur dengan dijama’ taqdim dengan ashar karena Allah” Niat jama’ taqdim, dapat juga dilakukan di tengah-tengah sholat dhuhur sebelum salam, dengan cara berniat didalam hati tanpa diucapkan, menjama’ taqdim antara ashar dengan dhuhur.
  • Kemudian setelah salam dari sholat dhuhur, cepat-cepat melakukan sholat ashar. Demikian juga cara sholat jama’ taqdim antara sholat maghrib dengan sholat isya’, sama dengan cara jama’ taqdim antara sholat dhuhur dengan ashar, dan lafadz dhuhur diganti dengan maghrib, lafadz ashar diganti dengan isya’.
  • Jika sholat jama’ taqdim dilakukan dengan qashar, maka sholat yang empat raka’at, yaitu dhuhur, ashar, dan isya’, diringkas menjadi dua rokaat. Contoh niat jama’ taqdim serta qashar: Usholli fardlod-dhuhri rok’ataini jam’an bil ‘ashri taqdiman wa qoshron lillahi ta’ala Artinya : “Saya berniat sholat dhuhur dua roka’at dengan dijama’ taqdim dengan ashar dan diqashar karena Allah 

Shalat Sunnat Tasbih, Keutamaan, Tatacara dan Dalilnya ?


Shalat Sunnat Tasbih, Keutamaan, Tatacara dan Dalilnya ?
Dalil pelaksanaan shalat sunnat Tasbih berdasarkan sabda Rasulullah Saw:

  • عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ « يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ». Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada al-‘Abbas bin Abdul Muththalib: “Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau aku berikan, sudikah engkau aku lakukan sesuatu terhadapmu 10 perkara jika engkau mau melakukannya; Allah mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang rahasia dan yang nyata, 10 perkara. Engkau laksanakan shalat empat rakaat, engkau baca dalam setiap rakaat al-Fatihah dan surat. Ketika selesai membaca itu, ketika engkau tegak, engkau ucapkan: ‘Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, engkau ucapkan 10 Tasbih. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, engkau ucapkan 10 kali, kemudian engkau sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau sujud (kedua), engkau ucapkan 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, engkau ucapkan 10 kali. Maka itulah 75 kali tasbih. Engkau lakukan itu sebanyak 4 rakaat. Jika engkau mampu melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”.

Ada sebagian orang yang mengatakan dalil shalat sunnat Tasbih itu tidak kuat karena haditsnya Dha’if? 

Beberapa ulama terkemuka memberikan jawaban tentang kualitas hadits tentang shalat sunnat Tasbih:

  • فإن حديث صلاة التسابيح لا ينزل عن درجة الحسن ، لكثرة طرقه ، وتنوع مصادر تخريجه. وقد أفرد جمع من الأئمة هذا الحديث بتأليف جمع فيه طرقه ، كما نقل ذلك الحافظ ابن حجر في أجوبته المشهورة على أسئلة عن أحاديث رميت بالوضع ، اشتمل عليها كتاب المصابيح للإمام البغوي. قال الحافظ في تلك الأجوبة: “وقد أخرج حديثها (يعني صلاة التسابيح) أئمة الإسلام ، وحفاظه: أبو داود في السنن ، والترمذي في الجامع ، وابن خزيمة في صحيحه ، لكن قال: إن ثبت الخبر ، والحاكم في المستدرك ، وقال صحيح الإسناد ، والدارقطني أفردها بجميع طرقها في جزء. ثم فعل ذلك الخطيب ، ثم جمع طرقها الحافظ أبو موسى المديني في جزء سماه تصحيح صلاة التسابيح …” وختم ابن حجر جوابه بقوله: “والحق أنه في درجة الحسن لكثرة طرقه التي تقوى بها الطريق الأولى”. Sesungguhnya hadits tentang shalat Tasbih tidak turun dari derajat hadits hasan, karena jalur periwayatannya banyak, demikian juga dengan sumber-sumber takhrijnya. Beberapa imam menyusun kitab khusus berkaitan dengan hadits-hadits shalat Tasbih dengan menggabungkan jalur-jalur periwayatannya, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam jawaban beliau terhadap beberapa pertanyaan seputar hadits-hadits yang dituduh sebagai hadits palsu, terangkum dalam kitab al-Mashabih karya Imam al-Baghawi. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam jawabannya tersebut: “Para ulama telah meriwayatkan tentang hadits shalat Tasbih, diantaranya adalah Imam Abu Daud dalam as-Sunan, at-Tirmidzi dalam al-Jami’, Ibnu Khuzaimah dalam as-Shahih, akan tetapi beliau mengatakan: “Jika khabar ini kuat”. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, ia berkata: “Sanadnya shahih”. Ad-Daraquthni menyusun satu kitab khusus tentang hadits shalat Tasbih dengan berbagai jalur periwayatannya. Demikian juga dengan imam al-Khathib. Al-Hafizh Abu Musa al-Madini menyusun satu kitab berjudul Tashih Shalat at-Tasbih. Al-Hafizh Ibnu Hajar menutup jawabannya dengan menyatakan: “Sebenarnya hadits-hadits tentang shalat Tasbih sampai derajat hadits Hasan karena jalur-jalur periwayatannya yang banyak yang menguatkan jaluar riwayat yang pertama”. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah, juz. 3, hal: 483).
  • Nashiruddin al-Albani menyatakan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: “Hadits Shahih li Ghairihi”. (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: juz. 1, hal. 165).


Tata cara pelaksanaan shalat sunnat Tasbih:

  • صلاة التسابيح اربع ركعات في كل ركعة خمس وسبعون تسبيحة ، توزع هذه التسبيحات ـــ وهي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ـــ على جميع اركان الصلاة وسننها على النحو التالي :
  • ــ ان يقولها بعد سورة الفاتحة وما تيسر من القرآن الكريم خمس عشرة مرة
  • ــ ان يقولها بعد اذكار الركوع عشر مرات
  • ــ ان يقولها بعد التسميع والتحميد عشر مرات
  • ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الاولى عشر مرات
  • ــ ان يقولها بعد اذكار ما بين السجدتين عشر مرات
  • ــ ان يقولها بعد اذكار السجدة الثانية عشر مرات
  • ــ ان يقولها في جلسة الاستراحة بعد تكبير القيام من السجدة الثانية عشر مرات
  • ويفعل هذا في كل ركعة ويقولها عشرا بعد التشهد الاول ، وعشرا بعد التشهد الاخير قبل السلام .

Shalat Tasbih terdiri dari empat rakaat, dalam satu rakaat terdapat 75 kali Tasbih:

  • سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Ucapan Tasbih ini tersebar dalam rukun dan sunnat shalat Tasbih, rinciannya sebagai berikut:

  • 15 kali Tasbih setelah membaca al-Fatihah dan Surat.
  • 10 kali Tasbih setelah doa pada ruku’.
  • 10 kali Tasbih setelah Tasmi’ dan Tahmid, tegak dari Ruku’.
  • 10 kali Tasbih setelah doa pada Sujud.
  • 10 kali Tasbih setelah doa diantara dua Sujud.
  • 10 kali Tasbih setelah doa pada Sujud kedua.
  • 10 kali Tasbih pada duduk istirahat setelah Sujud sebelum tegak.
  • Khusus pada Tasyahhud Awal dan Tasyahhud Akhir, dibaca 10 kali setelah Tasyahhud.

Ini tata cara yang umum dilakukan kaum muslimin, akan tetapi ada versi lain berdasarkan riwayat lain:

  • إنه يسبح ويحمد ويهلل ويكبر خمس عشرة مرة قبل القراءة وعشرا بعدها وعشرا في الركوع وفي الرفع منه وفي السجدتين وفي الجلوس بينهما ـ فيكون المجموع في كل ركعة خمسا وسبعين مرة، وهذا هو المروي عن ابن المبارك
  • 15 tasbih sebelum membaca al-Fatihah.
  • 10 tasbih setelah membaca ayat.
  • 10 tasbih ketika ruku’.
  • 10 tasbih ketika bangun dari ruku’.
  • 10 tasbih ketika sujud pertama.
  • 10 tasbih ketika duduk diantara dua sujud.
  • 10 tasbih ketika sujud kedua.

Ini riwayat dari Ibnu al-Mubarak.
Demikian juga tentang membaca tasbih pada Tasyahhud, apakah sebelum atau setelah Tasyahhud, diatas disebutkan setelah Tasyahhud, namun ada versi lain menyebut sebelum Tasyahhud:

  • القليوبي: العشرة المذكورة بعد السجود الثاني قبل القيام في جلسة الاستراحة، أو قبل التشهد. انتهى. Al-Qalyubi berkata: “10 Tasbih setelah sujud kedua dibaca pada duduk istirahat sebelum tegak, atau sebelum Tasyahhud”.

Cara menghitung jumlah tasbih tersebut

  • ان كثرة التسبيحات ، وحد الشرع العدد ، ولم تكن وسيلة لضبطها الا بعقد الاصابع فهي حينئذ من المعفوات ان شاء الله
  • Jumlah Tasbih yang banyak ditetapkan oleh syariat Islam, cara menghitungnya hanya dengan jari jemari, maka ini termasuk hal yang dimaafkan insya Allah.

Bacaan surat-surat tertentu

  • لم يرد تقييد سورة معينة تقرأ في صلاة التسابيح ، والنصوص الواردة في صلاة التسابيح نجد جلها تذكر فاتحة الكتاب وسورة ، دون تقييد بسورة معينة ، ولا بعدد معين . Tidak terdapat riwayat yang menyebutkan bacaan surat tertentu dibaca dalam shalat Tasbih. Riwayat-riwayat tentang shalat Tasbih sebagian besarnya hanya menyebutkan al-Fatihah dan membaca surat, tanpa menyebutkan surat tertentu dan jumlah tertentu.

Apakah 4 rakaat itu dilaksanakan bersambung dengan satu kali salam? atau setiap dua rakaat satu salam?

  • ظاهر الاحاديث الواردة انها تصلى بتسليمة واحة ليلا كان او نهارا
  • Zahir hadits-hadits tentang shalat Tasbih menyebutkan bahwa shalat Tasbih dengan satu salam, baik dilaksanakan di waktu siang maupun di waktu malam. 

Shalat sunnat Tasbih dilaksanakan dengan suara Sirr atau Jahr?

  • السنة الاسرار في التسبيحات سواء صليت في الليل او النهار ، اما قراءتها ففي النهار الاسرار ، وفي الليل كسائر التطوعات ، يتوسط فيها بين الجهر والاسرار
  • Menurut Sunnah, kalimat Tasbih dibaca secara sirr, baik shalat malam maupun siang. Sedangkan bacaan al-Fatihah dan surat, jika dilaksanakan pada waktu siang, maka dibaca Sirr. Jika dilaksanakan pada waktu malam, maka sama seperti shalat sunnat yang lain, dibaca pertengahan antara Jahr dan Sirr.

Shalat Sunnat Tasbih dilaksanakan sendirian atau berjamaah

  • Dilihat dari kalimat yang digunakan Rasulullah Saw kepada al-‘Abbas:
  • يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ “Wahai ‘Abbas, wahai Paman, maukah engkau, sudikah engkau aku berikan…”. Ini menunjukkan makna bahwa shalat tersebut dilaksanakan sendirian.
  • Akan tetapi jika dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah, berdasarkan pendapat Imam an-Nawawi: (الشرح) قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح علي الاصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح  (Penjelasan) para ulama Mazhab Syafi’i berkata: shalat sunnat itu terbagi dua: satu bagian shalat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah, yaitu shalat ‘Ied, shalat gerhana matahari, shalat Istisqa’ (minta turun hujan) dan shalat Tarawih menurut pendapat al-Ashahh. Satu bagian shalat yang tidak dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah, akan tetapi jika dilaksanakan secara berjamaah, maka shalat tersebut tetap sah. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: juz. 4, hal. 4).

Menurut pendapat Ibnu Taimiah:

  • صَلَاةُ التَّطَوُّعِ فِي جَمَاعَةٍ نَوْعَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَقِيَامِ رَمَضَانَ فَهَذَا يُفْعَلُ فِي الْجَمَاعَةِ دَائِمًا كَمَا مَضَتْ بِهِ السُّنَّةُ . الثَّانِي : مَا لَا تُسَنُّ لَهُ الْجَمَاعَةُ الرَّاتِبَةُ : كَقِيَامِ اللَّيْلِ وَالسُّنَنِ الرَّوَاتِبِ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . فَهَذَا إذَا فُعِلَ جَمَاعَةً أَحْيَانًا جَازَ .
  • Shalat sunnat dilaksanakan secara berjamaah ada dua jenis:
  1. Shalat sunnat yang disunnatkan dilaksanakan secara berjamaah terus menerus seperti shalat Kusuf (gerhana matahari), Istisqa’ (minta hujan), Qiyamullail Ramadhan, ini jenis shalat yang dilaksanakan berjamaah terus menerus sebagaimana yang disebutkan Sunnah.
  2. Shalat sunnat yang tidak disunnatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah secara terus menerus, seperti Qiyamullail, shalat-shalat sunnat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tahyatulmasjid, dan sejenisnya. Shalat-shalat sunnat seperti ini jika dilaksanakan secara berjamaah jarang-jarang/sekali-sekali (tidak terus menerus). (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiah: juz. 5, hal. 381).

Bilakah Waktu Pelaksanaan Shalat Sunnat Tasbih?

  • صلاة التسابيح نوع من صلاة النفل المطلق تفعل على صورة مخصوصة ، تقدم ذكرها ، ويكره اداؤها في اوقات الكراهة على الراجح . shalat Sunnat Tasbih adalah jenis shalat sunnat mutlaq (tidak terikat waktu) yang dilaksanakan dengan cara khusus –sebagaimana yang telah disebutkan di atas-. Makruh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat (setelah ‘Ashar, setelah Shubuh dan menjelang Zawal/tergelincir matahari), demikian menurut pendapat yang kuat.

Keutamaan Shalat Tasbih

  • Di awal hadits, Rasulullah Saw menyatakan: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ  “Wahai ‘Abbas, wahai paman, maukah engkau aku berikan, sudikah engkau aku lakukan sesuatu terhadapmu 10 perkara jika engkau mau melakukannya; Allah mengampuni dosamu, yang pertama dan yang terakhir, yang dahulu dan yang baru, yang tersilap dan sengaja, yang kecil dan yang besar, yang rahasia dan yang nyata, 10 perkara”.

Di akhir hadits Rasulullah Saw nyatakan:

  • إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً ». “Jika engkau mampu melaksanakannya satu kali sehari, maka laksakanlah. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah seminggu sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah satu bulan sekali. Jika engkau tidak mampu, maka laksanakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mampu, maka seumur hidup sekali”. Menunjukkan betapa pentingnya shalat sunnat Tasbih.
  • ومن الاجور في هذه الصلاة كثرة ذكر الله عز وجل فيها ، ففي كل ركعة يقول المصلي : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا اله الا الله ، والله اكبر ( هذه الاربع تسبيحات واحدة ) خمسا وسبعين مرة ، وفي الاربع ركعات يقولها ثلاث مئة مرة ، وان فرقنا التسبيحات ( وهن اربع كلمات ) يكون مجموعها في الركعات الاربع الفا ومئتين ، وهذا في اللفظ والعدد .
  • والحسنة بعشر امثالها فيكن في الاجر اثني عشر الفا ( والله يضاعف لمن يشاء 

Diantara balasan dalam shalat sunnat Tasbih adalah banyaknya zikir dalam shalat tersebut. Dalam satu rakaat diucapkan:

  • سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
  • Sebanyak 75 kali, 4 rakaat berarti 300 kali. Jika kalimat Tasbih ini dipecah menjadi empat, berarti 1200 kali. Setiap satu kebaikan diberi balasan 10 kebaikan, maka berarti 12.000 kali. Dan Allah melipatgandakan lebih banyak daripada itu, kepada orang-orang yang Ia kehendaki.

Sumber:

  • muqaddimah Syekh Masyhur Hasan terhadap kitab Dzikr Shalat at-Tasbih wa al-Ahadits allati Ruwiyat ‘an an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wa Ikhtilaf Alfazh an-Naqilin laha karya Imam al-Khathib al-Baghdadi.

Perbedaan pendapat Tentang Qunut Shubuh? Bagaimana Bila Imam Qunut Tetapi Makmum Tidak meyakini Qunut ?

Perbedaan pendapat Tentang Qunut Shubuh?

  • Mazhab Hanafi dan Hanbali: Tidak ada Qunut pada shalat Shubuh.
  • Mazhab Maliki: Ada Qunut pada shalat Shubuh, dibaca sirr, sebelum ruku’.
  • Mazhab Syafi’i: Ada Qunut pada shalat Shubuh, setelah ruku’.

Dalil hadits tentang adanya Qunut Shubuh

  • Hadits : عَنْ تُػَ لَّا مدٍ قَاؿَ قُػلْتُ لأَ سٍ ىَلْ قَػنَتَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- صَلاَةِ الصُّبْحِ قَاؿَ ػعََمْ بػعَْدَ ال وعِ سِيرًا. Dari Muhammad, ia berkata: “Saya bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah Saw membaca Qunut pada shalat Shubuh?”. Ia menjawab: “Ya, setelah ruku’, sejenak”. (HR. Muslim).
  • Hadits Kedua: عَنْ أَ سِ بْنِ مَالِكٍ قَاؿَ مَا زَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- ػ نُتُ الْفَ لَّاتَّ فَارَؽَ الدُّ ػيَا. Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Hadits ini riwayat Imam Ahmad, ad-Daraquthni dan al-Baihaqi.

Bagaimana dengan hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw membaca Qunut shubuh selama satu bulan, kemudian setelah itu Rasulullah Saw meninggalkannya. Berarti dua riwayat ini kontradiktif?

Tidak kontradiktif, karena yang dimaksud dengan meninggalkannya, bukan meninggalkan Qunut, akan tetapi meninggalkan laknat dalam Qunut. Laknatnya ditinggalkan, Qunutnya tetap dilaksanakan. Demikian riwayat al-Baihaqi:

  • عن عبد ال تزن بن م دى في د ث ا س قنت ش ا ثُ ت و قاؿ عبد ال تزن رتزو الله ا ا ت ؾ اللعن
  • Dari Abdurrahman bin Mahdi, tentang hadits Anas bin Malik: Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan, kemudian beliau meninggalkannya. Imam Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Yang ditinggalkan hanya laknat”59.

Yang dimaksud dengan laknat dalam Qunut adalah:

  • عَنْ أَ سِ بْنِ مَالِكٍ أَ لَّا ف النلَّا لَِّا بِ -صلى الله عليو وسلم- قَػنَتَ شَ ا ػلَْعَنُ رِعْلاً وَذ وَافَ وَعُصَيلَّاةَ عَصَوُا الللَّاوَ وَرَسُولَو .
  • Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan beliau melaknat (Bani) Ri’lan, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Qunut Shubuh Menurut Mazhab Syafi’i:

  • وأما ال نوت فيستحب في اعتداؿ الثا ية في الصبح تظا رواه أ س رضي الله عنو قاؿ: }ما زاؿ رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم نت في الصبح تَّ فارؽ الد يا{ رواه الإما أتزد وايره قاؿ ابن الصلاح: قد كم بصحتو اير وا د من اتضفاظ: من م اتضا م والبي ي والبلخي قاؿ البي ي: العمل بِ تضاه عن اتطلفاء الأربعة، Adapun Qunut, maka dianjurkan pada I’tidal kedua dalam shalat Shubuh berdasarkan riwayat Anas, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca doa Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan imam lainnya. Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Banyak para al-Hafizh (ahli hadits) yang menyatakan hadits ini adalah hadits shahih. Diantara mereka adalah Imam al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Balkhi”. Al-Baihaqi berkata, “Membaca doa Qunut pada shalat Shubuh ini berdasarkan tuntunan dari empat Khulafa’ Rasyidin”.
  • و وف ال نوت في الثا ية رواه البخاري في صحيحو و و و بعد رفع ال أس من ال وع فلما رواه ال يخاف عن أبي ى ة رضي الله عنو أف رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم: }تظا قنت في قصة قتلى بئ معو ة قنت بعد ال وع ف سنا عليو قنوت الصبح{ عم في الصحيح عن أ س رضي الله عنو أف رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم } اف نت قبل ال فع من ال وع{ قاؿ البي ي: لكن رواة ال نوت بعد ال فع أ ث وأ فظ ف ا أولذ فلو قنت قبل ال وع قاؿ في ال وضة: لد يَلئو على الصحيح و س د للس و على الأصح. Bahwa Qunut Shubuh itu pada rakaat kedua berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Bahwa doa Qunut itu setelah ruku’, menurut riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa ketika Rasulullah Saw membaca doa Qunut pada kisah korban pembunuhan peristiwa sumur Ma’unah, beliau membaca Qunut setelah ruku’. Maka kami Qiyaskan Qunut Shubuh kepada riwayat ini. Benar bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw membaca doa Qunut sebelum ruku’. Al-Baihaqi berkata: “Akan tetapi para periwayat hadits tentang Qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih hafizh, maka riwayat ini lebih utama”. Jika seseorang membaca Qunut sebelum ruku’, Imam Nawawi berkata dalam kitab ar-Raudhah, “Tidak sah menurut pendapat yang shahih, ia mesti sujud sahwi menurut pendapat al-Ashahh”.
  • ولفظ ال نوت }الل م اىدني فيمن ىد ت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارؾ لر فيما أعطيت وقني ش ما قضيت ف ك ت ضي ولا ضى عليك وإ و لا ؿ من واليت تبار ت ربنا وتعاليت{ ىك ا رواه أبو داود والترم ي والنسائي وايرىم ب سناد صحيح أعني ب ثبات الفاء في ف ك وبالواو في وإ و لا ؿ. قاؿ ال افعي: وزاد العلماء }ولا عل من عاد ت{ قبل }تبار ت ربنا وتعاليت{، وقد جاءت في روا ة البي ي، وبعده }فلك اتضمد على ما قضيت أست ف ؾ وأتوب إليك{. واعلم أف الصحيح أف ى ا الدعاء لا تع تَّ لو قنت بآ ة تتضمن دعاء، وقصد ال نوت ت دت السنة ب لك، Lafaz Qunut: “Ya Allah, berilah hidayah kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berikanlah kebaikan kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri kebaikan. Berikan aku kekuatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kekuatan. Berkahilah bagiku terhadap apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari kejelekan yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau menetapkan dan tidak ada sesuatu yang ditetapkan bagi-Mu. Tidak ada yang merendahkan orang yang telah Engkau beri kuasa. Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung”. Demikian diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan lainnya dengan sanad sahih. Maksud saya, dengan huruf Fa’ pada kata: ف ك dan huruf Waw pada kata: .وإ و لا ؿ Imam ar-Rafi’i berkata: “Para ulama menambahkan kalimat: ولا عل من عاد ت (Tidak ada yang dapat memuliakan orang yang telah Engkau hinakan). Sebelum kalimat: تبار ت ربنا وتعاليت (Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung).

Dalam riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan, setelah doa ini membaca doa:

  • فلك اتضمد على ما قضيت أست ف ؾ وأتوب إليك
  • (Segala puji bagi-Mu atas semua yang Engkau tetapkan. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada- Mu). Ketahuilah bahwa sebenarnya doa ini tidak tertentu. Bahkan jika seseorang membaca Qunut dengan ayat yang mengandung doa dan ia meniatkannya sebagai doa Qunut, maka sunnah telah dilaksanakan dengan itu.
  • و نت الإما بلفظ اتصمع بل ك ه تخصيص فسو بالدعاء ل ولو صلى الله عليو وسلم }لا عبد قوم اً فيخص فسو بدعوة دونهم ف ف فعل ف د خانهم{ رواه أبو داود والترم ي وقاؿ: د ث سن، ثُ سائ الأدعية في الإما لك أي ك ه لو إف اد فسو ص ح بو ال لالر في الإ ياء وىو م تضى لا الأذ ار للنووي. Imam membaca Qunut dengan lafaz jama’, bahkan makruh bagi imam mengkhususkan dirinya dalam berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Janganlah seorang hamba mengimami sekelompok orang, lalu ia mengkhususkan dirinya dengan suatu doa tanpa mengikutsertakan mereka. Jika ia melakukan itu, maka sungguh ia telah mengkhianati mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi. Imam at63 Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”. Kemudian demikian juga halnya dengan semua doa-doa, makruh bagi imam mengkhususkan dirinya saja. Demikian dinyatakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Demikian juga makna pendapat Imam Nawawi dalam al-Adzkar.
  • والسنة أف فع د و ولا يَسح وج و لأ و لد ثبت قالو البي ي ولا ستحب مسح الصدر بلا خلاؼ بل ص تراعة على اىتو قالو في ال وضة. و ستحب ال نوت في آخ وت ه وفي النصف الثاني من رمضاف ا رواه الترم ي عن علي رضي الله عنو وأبو داود عن أبي بن عب، وقيل نت ل السنة في الوت قالو النووي في التح ي ف اؿ: إ و مستحب في تريع السنة، قيل نت في تريع رمضاف، و ستحب فيو قنوت عم رضي الله عنو و كوف قبل قنوت الصبح قالو ال افعي وقاؿ النووي: الأصح بعده لأف قنوت الصبح ثابت عن النبِ صلى الله عليو وسلم في الوت فكاف ت ديَو أولذ، والله أعلم. Sunnah mengangkat kedua tangan dan tidak mengusap wajah, karena tidak ada riwayat tentang itu. Demikian dinyatakan oleh al-Baihaqi. Tidak dianjurkan mengusap dada, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Bahkan sekelompok ulama menyebutkan secara nash bahwa hukum melakukan itu makruh, demikian disebutkan Imam Nawawi dalam ar-Raudhah. Dianjurkan membaca Qunut di akhir Witir dan pada paruh kedua bulan Ramadhan. Demikian diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Imam Ali dan Abu Daud dari Ubai bin Ka’ab. Ada pendapat yang mengatakan dianjurkan membaca Qunut pada shalat Witir sepanjang tahun, demikian dinyatakan Imam Nawawi dalam at-Tahqiq, ia berkata: “Doa Qunut dianjurkan dibaca (dalam shalat Witir) sepanjang tahun”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa doa Qunut dibaca di sepanjang Ramadhan. Dianjurkan agar membaca doa Qunut riwayat Umar, sebelum Qunut Shubuh, demikian dinyatakan oleh Imam ar-Rafi’i. Imam Nawawi berkata, “Menurut pendapat al-Ashahh, doa Qunut rirwayat Umar dibaca setelah doa Qunut Shubuh. Karena riwayat Qunut Shubuh kuat dari Rasulullah Saw pada shalat Witir. Maka lebih utama untuk diamalkan. Wallahu a’lam


Jika seseorang shalat di belakang imam yang membaca Qunut, t3tapi makmum tidak meyakininya?

Pendapat Imam Ibnu Taimiah:

  • فَ ذَا افَ الْمُ لدِّدُ ػ لدِّدُ فِي مَسْ لَةٍ ػ اىَا أَصْلَحَ فِي دِ نِوِ أَوْ الْ وْؿُ ا أَرْجَحُ أَوْ تَؿْوِ ذَلِكَ جَازَ ىَ ا بِاتدِّػفَاؽِ ترََاىِيرِ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِ لدَ دِّ ْ ذَلِكَ لَا أَبُو نِيفَة وَلَا مَالِكٌ وَلَا ال لَّا افِعِيُّ وَلَا أَتزَْد . وَ لِكَ الْوِتْػ وَاَيْػ ه ػنَْبَ ي لِلْمَ مُوِ أَفْ ػتَْبَعَ فِيوِ إمَامَو فَ فْ قَػنَتَ قَػنَتَ مَعَو وَإِفْ لدَ ػ نُتْ لدَ ػ نُتْ وَإِفْ صَللَّاى بِثَلَاثِ رَ عَاتٍ مَوْصُولَةٍ فَػعَلَ ذَلِكَ وَإِفْ فَصَلَ فَصَلَ أَ ضًا . وَمِنْ النلَّااسِ مَنْ تَارُ لِلْمَ مُوِ أَفْ صِلَ إذَا فَصَلَ إمَامُو وَالْأَلَّاوؿُ أَصَحُّ وَاَلللَّاو أَعْلَمُ . Jika seorang yang bertaklid itu bertaklid dalam suatu masalah yang menurutnya baik menurut agamanya atau pendapat itu kuat atau seperti itu, maka boleh berdasarkan kesepakatan jumhur ulama muslimin, tidak diharamkan oleh Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Demikian juga dengan witir dan lainnya, selayaknya bagi makmum mengikuti imamnya. Jika imamnya membaca qunut, maka ia ikut membaca qunut bersamanya. Jika imamnya tidak berqunut, maka ia tidak berqunut. Jika imamnya shalat 3 rakaat bersambung, maka ia melakukan itu juga. Jika dipisahkan, maka ia laksanakan terpisah. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa makmum tetap menyambung jika imamnya melaksanakannya terpisah. Pendapat pertama lebih shahih. Wallahu a’lam62.

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin:

  • وسئل فضيلة ال يخ: عن كم ال نوت في صلاة الف ضة؛ والصلاة خلف إما نت في الف ضة؟ … ف جاب فضيلتو ب ولو: ال ي ى أف لا قنوت في الف ائض إلا في النوازؿ، لكن من صلى خلف إما نت فليتابعو درءاً للفتنة، وت ليفاً لل لوب. Syekh Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum Qunut pada shalat Fardhu di belakang imam yang membaca Qunut pada shalat Fardhu?
  • Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjawab: “Menurut kami, tidak ada Qunut pada shalat Fardhu, kecuali Qunut Nawazil. Akan tetapi, jika seseorang shalat di belakang imam yang membaca Qunut, maka hendaklah ia mengikuti imamnya, untuk menolak fitnah dan mempertautkan hati”

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin Lagi:

  • وسئل فضيلة ال يخ: عن كم ال نوت في الف ائض؟ وما اتضكم إذا لؿ باتظسلم ازلة؟ … ف جاب فضيلتو ب ولو: ال نوت في الف ائض ليس بِ وع ولا نب ي فعلو، لكن إف قنت الإما فتابعو لأف اتطلاؼ ش . … وإف لؿ باتظسلم ازلة فلا ب س بال نوت ينئ لس اؿ الله تعالذ رفع ا. Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum Qunut pada shalat Fardhu? Apa hukumnya apabila terjadi musibah menimpa kaum muslimin? Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjawab: “Qunut pada shalat Fardhu tidak disyariatkan, tidak layak dilaksanakan, akan tetapi jika imam membaca Qunut, maka ikutilah imam, karena berbeda dengan imam itu jelek. Jika terjadi musibah menimpa kaum muslimin, boleh berqunut untuk memohon kepada Allah Swt agar Allah mengangkatnya”

Syarat Sah Shalat

Syarat Sah Shalat

  • Agama Islam mewajibkan umatnya shalat lima waktu sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. Untuk dapat melaksanakan sholat dengan baik dan benar, tentunya ada aturan-aturan serta syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan shalat.

Syarat Sah :

  • Telah masuk waktu shalat
  • Shalat lima waktu baru sah apabila dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Misalnya, shalat dhuhur harus dilaksakan pada waktu dzuhur.

Suci dari hadats besar dan hadats kecil

  • Hadats besar adalah haid, nifas dan junub (keluar sperma). Untuk mensucikannya harus dengan mandi junub atau jinabat.
  • Hadats kecil adalah keluarnya sesuatu dari dua jalan keluar selain sperma, seperti air kencing, kotoran (buang air besar) dan kentut. Cara mensucikannya adalah dengan berwudhu.

Berdasarkan firman Allah SWT :

  • (QS.al-Maidah ayat 6) ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦ “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.
  • Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar r.a. : “Bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : “Allah tiada menerima shalat tanpa bersuci, dan tak hendak menerima sedekah dari harta ranpasan yang belum dibagi.” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari).

Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis

  • Perkara najis adalah darah, segala kotoran (tinja) hewan atau manusia, bangkai (binatang yang mati tanpa disembelih secara syariah), anjing dan babi. Cara mensucikannya adalah dengan air. Khusus najis anjing dan babi harus disucikan tujuh kali siraman air dan salah satunya dicampur dengan debu menurut madzhab Syafi’i.
  • Mengenai suci badan, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Bersucilah kamu dari air seni, karena pada umumnya azab kubur disebabkan oleh karena itu.”

Menutup Aurat :

  • Aurat (anggota badan yang harus ditutupi) laki-laki adalah antara pusar sampai lutut. Sedang aurat perempuan adalah seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.
  • Firman Allah SWT : (Q.S. Al-A’raf : 31). يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-A’raf : 31).”
  • Batas Aurat bagi Laki-laki: Aurat yang wajib ditutupi oleh laki-laki sewaktu shalat ialah kemaluan, pinggul paha pusar dan lutut.
  • Batas Aurat Bagi Wanita : Seluruh tubuh perempuan itu merupakan aurat yang wajib bagi mereka menutupinya, kecuali wajah dan telapak tangan.
  • Firman Allah SWT : (Q.S. An-Nur : 31) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖوَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚوَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur : 31).”
  • Maksud dari ayat tersebut ialah, janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan kecuali wajah dan kedua telapak tangan mereka, sebagaimana diterangkan oleh hadits dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Aisyah.
  • Dan dari Aisyah, bahwa Nabi Muhammad SAW. telah bersabda : “Allah tidak menerima shalat perempuan yang telah baligh, kecuali dengan memakai selendang.”

Menghadap Kiblat

  • Para ulama telah sepakat bahwa orang yang mengerjakan shalat itu wajib menghadap ke arah Masjidil Haram, sebagaimana Firman Allah SWT. :
  • (Q.S. Al-Baqarah : 144) دْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah : 144).”

Syarat Wajib Shalat




Syarat Wajib Shalat


Agama Islam mewajibkan umatnya shalat lima waktu sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. Untuk dapat melaksanakan sholat dengan baik dan benar, tentunya ada aturan-aturan serta syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan shalat.

Syarat wajib:

  1. Islam : Adapun orang yang tidak Islam tidak wajib atasnya sholat, berarti tidak dituntut di dunia karena meskipun dikerjakan juga tidak sah.

  2. Suci dari hadas dan najis : yang harus suci diantaranya mulai dari Badannya, Pakaiannya hingga Tempatnya.

  3. Baligh : Baligh atau telah cukup umur. Di Indonesia untuk laki-laki biasanya antara usia 7 hingga 10 tahun. Sedangkan untuk perempuan biasanya ditandai dengan dimulainya siklus mentruasi.

  4. Berakal : Orang yang tidak berakal atau sedang dalam keadaan tidak sadar (tidur) tidak wajib sholat.

  5. Telah sampai dakwah Rasulullah SAW kepadanya



Jawaban Ustadz Abdul Somad Lc MA: Ketika Shalat  akan tegak berdiri, Posisi telapak tangan ke lantai atau tangan mengepal?

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?


  • فَ ذَا رَفَعَ رَأْسَوُ مِنْ ال لَّا س دَةِ الثلَّاا يَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُُلَّا قَاَ
  • Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas:

  • أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاوُ عَلَيْوِ وَسَللَّامَ افَ إذَا قَاَ فِي صَلَاتِوِ وَضَعَ دَ وِ عَلَى الْأَرْضِ مَا ضَعُ الْعَاجِنُ
  • “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini:
  • قَاؿَ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ فِي لَامِوِ عَلَى الْوَسِيطِ : ىَ ا اتضَْدِ ثُ لَا صِحُّ وَلَا ػعُْ ؼُ وَلَا يََُوزُ أَفْ تَ لَّا ج بِوِ . وَقَاؿَ النلَّاػوَوِيُّ فِي شَ حِ الْمُ لَّا بِ : ىَ ا دِ ثٌ ضَعِيفٌ ، أَوْ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَوُ ، وَقَاؿَ فِي التلَّاػنْ يحِ : ضَعِيفٌ بَاطِلٌ ، وَقَاؿَ فِي شَ حِ الْمُ لَّا بِ : لَ عَنْ الْ لَا دِِّ لر أَ لَّاوُ قَاؿَ فِي دَرْسِوِ ، وَىُوَ بِاللَّالايِ وَبِالنُّوفِ أَصَحُّ وَىُوَ اللَّا ي ػ بِضُ دَ وِ وَ ػ وُ مُعْتَمِدًا عَلَيْػ ا ، قَاؿَ : وَلَوْ صَ لَّا ح اتضَْدِ ثُ لَكَافَ مَعْنَاهُ قَاَ مُعْتَمِدًا بِبَطْنِ دَ وِ مَا ػعَْتَمِدُ الْعَاجِلُ ، وَىُوَ ال لَّا يْخُ الْكَبِيرُ ، وَلَيْسَ الْمُ ادُ عَاجِنَ الْعَ ثُُلَّا قَاؿَ : ػعَْنِي مَا ذ هُ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ ، أَ لَّا ف . الْ لَا لَِّا لر كَى فِي دَرْسِوِ ىَلْ ىُوَ الْعَاجِنُ بِالنُّوفِ ، أَوْ الْعَاجِلُ بِاللَّالايِ ، فَ لَّاما إذَا قُػلْنَا : إ لَّاوُ بِالنُّوفِ فَػ وَ عَاجِنُ اتطُْبْلِ ػ بِضُ أَصَابِعَ لَّافيْوِ وَ ضُمُّ ا وَ ػتَلَّاكِئُ عَلَيْػ ا ، وَ ػ تَفِعُ وَلَا ضَعُ رَا تَػيْوِ عَلَى الْأَرْضِ ، قَاؿَ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ : وَعَمِلَ ا ثِيرٌ مِنْ الْعَ مِ ، وَىُوَ إثْػبَاتُ ىَيْئَةٍ شَ عِيلَّاةٍ فِي ال لَّا صلَاةِ لَا عَ دَ ا ، بَِِدِ ثٍ لدَْ ػثَْبُتْ ، وَلَوْ ثػبََتَ لدَْ كُنْ ذَلِكَ مَعْنَاهُ ، فَ لَّا ف الْعَاجِنَ فِي اللُّ ةِ : ىُوَ اللَّا جُلُ الْمُسِنُّ ، قَاؿَ ال لَّا اعِ : فَ لَّا خِصَاؿِ الْمَ ءِ نْتَ وَعَاجِنَ قَاؿَ : فَ فْ افَ وَصْفُ الْكِبَرِ بِ لِكَ مَ خُوذًا مِنْ عَاجِنِ الْعَ فَالتلَّا بِيوُ فِي شِلَّادةِ الِاعْتِمَادِ عِنْدَ وَضْعِ الْيَدَ نِ لَا فِي يْفِيلَّاةِ ضَ دِّ م أَصَابِعِ ا
  • Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ الْعَاجِلُ ] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ الْعَاجِنُ ] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ الْعَاجِنُ ] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ الْعَاجِلُ ] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ الْعَاجِنَ ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * عَاجِنِ الْعَ ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari26.

Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini:

  • و مالك بن و ث -أ ض اً- ذ أف النبِ صلى الله عليو وسلم ] اف إذا أراد أف و اعتمد على د و[ ولكن ىل ىو على صفة العاجن أ لا؟ ف ا نبني على صحة اتضد ث الوارد في ذلك، وقد أ ك النووي رتزو الله في المجموع صحة ى ا اتضد ث، أي: أ و و العاجن، وبعض اتظت خ ن صححو. وعلى لٍ فال ي ظ من اؿ النبِ صلى الله عليو وعلى آلو وسلم أ و يَلس؛ لأ و بر وأخ ه اللحم، فكاف لا ستطيع الن وض تداماً من الس ود إلذ ال يا، فكاف يَلس ثُ إذا أراد أف ن ض و و اعتمد على د و ليكوف ذلك أس ل لو، ى ا ىو الظاى من اؿ النبِ صلى الله عليو وعلى آلو وسلم، وتع ا اف ال وؿ ال اجح في ى ه اتصلسة -أعني: جلسة الاسترا ة- أ و إف ا تاج إلي ا لكبر أو ث ل أو م ض أو ألد في ر بتيو أو ما أشبو ذلك فلي لس، ثُ إذا ا تاج إلذ أف عتمد عند ال يا على د و فليعتمد على أي صفة ا ت، سواء اعتمد على ظ ور الأصابع، عني: ترع أصابعو ىك ا واعتمد علي ا أو على را تو، أو اير ذلك، اتظ م إذا ا تاج إلذ الاعتماد فليعتمد، وإف لد تج فلا عتمد.
  • Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih. Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw. Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu27.


Sumber:

  • 99 Tanya Jawab Shalat Abdul Somad Lc Ma


40 Hadits Muslim Pilihan Tentang Shalat Sesuai Tuntunan Rasulullah

HADITS MUSLIM KITAB SHALAT

1. Permulaan azan

  • Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: 
  • Dahulu, orang-orang Islam ketika tiba di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkirakan waktu salat. Tidak ada seorang pun yang menyeru untuk salat. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata: Gunakanlah lonceng seperti lonceng orang Kristen. Sebagian yang lain berkata: Gunakanlah terompet seperti terompet orang Yahudi. Kemudian Umar berkata: Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang agar berseru untuk salat? Rasulullah saw. bersabda: Hai Bilal, bangunlah dan serulah untuk salat. (Shahih Muslim No.568)

2. Perintah menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat

  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata: 
  • Bilal diperintahkan agar menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat. (Shahih Muslim No.569)

3. Sunat menunjuk dua orang muazin untuk satu mesjid

  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: 
  • Rasulullah saw. mempunyai dua muazin, Bilal dan Ibnu Ummu Maktum yang buta. (Shahih Muslim No.573)

4. Sunat membaca seperti yang dikumandangkan muazin bagi yang mendengar azan kemudian membaca selawat untuk Nabi saw. dan memohon wasilah untuknya

  • Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: 
  • Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau mendengar azan, maka bacalah seperti yang dikumandangkan muazin. (Shahih Muslim No.576)

5. Keutamaan azan dan larinya setan ketika mendengar azan

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: 
  • Dari Nabi saw., Beliau bersabda: Sesungguhnya setan, apabila mendengar azan untuk salat, ia berlari sambil terkentut-kentut sampai tidak mendengarnya lagi. Ketika azan telah berhenti, ia kembali menghasut. Apabila mendengar iqamat, ia pergi sampai tidak mendengarnya. Ketika iqamat telah berhenti, ia kembali menghasut lagi. (Shahih Muslim No.582)

6. Sunat mengangkat dua tangan sejajar pundak ketika takbiratul ihram, akan rukuk dan bangun dari rukuk serta tidak mengangkat tangan ketika bangun dari sujud

  • Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: 
  • Aku melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud. (Shahih Muslim No.586)


  • Hadis riwayat Malik bin Huwairits ra.: 
  • Dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia salat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw. dahulu berbuat seperti itu. (Shahih Muslim No.588)

7. Menetapkan takbir tiap kali turun dan bangun dalam salat, kecuali bangun dari rukuk membaca: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra. 
  • Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah salat mengimami para sahabat. Ia bertakbir tiap kali turun dan bangun. Ketika selesai ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip dengan salat Rasulullah saw.. (Shahih Muslim No.590)


  • Hadis riwayat Imran bin Hushein ra.: 
  • Dari Mutharrif bin Abdullah, ia berkata: Aku dan Imran bin Hushein salat di belakang Ali bin Abu Thalib. Saat sujud beliau bertakbir. Saat mengangkat kepalanya beliau bertakbir. Saat bangun dari dua rakaat beliau bertakbir. Selesai salat Imran memegang tanganku dan berkata: Sesungguhnya Ali telah mengimami salat kita dengan salat seperti salat Muhammad saw. atau katanya: Sesungguhnya Ali telah mengingatkan aku dengan salat Muhammad saw.. (Shahih Muslim No.594)

8. Wajib membaca surat Al-Fatihah setiap rakaat dan bagi orang yang tidak bisa dan belum mempelajarinya disarankan membaca surat lain, selain surat Fatihah

  • Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.:  Bahwa Nabi saw. bersabda: Orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah, tidak sah salatnya. (Shahih Muslim No.595)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada salat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah. (Shahih Muslim No.599)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. masuk mesjid. Lalu seorang lelaki masuk dan melakukan salat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Lelaki itu kembali salat seperti salat sebelumnya. Setelah salatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Rasulullah saw. menjawab: Wa’alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Sehingga orang itu mengulangi salatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Zat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila engkau melakukan salat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh salatmu. (Shahih Muslim No.602)

9. Dalil tidak boleh mengeraskan bacaan basmalah

  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata: 
  • Aku pernah salat bersama Rasulullah saw., bersama Abu Bakar, bersama Umar dan bersama Usman dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim. (Shahih Muslim No.605)

10. Dalil bahwa basmalah adalah awal ayat tiap surat kecuali surat At-Taubah

  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:  
  • Ketika Rasulullah saw. bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar “nikmat yang banyak”. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus. Kemudian beliau bertanya: Tahukah kalian, apakah Kautsar itu? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Itu adalah sungai yang dijanjikan Tuhanku. Sungai yang menyimpan banyak kebaikan dan merupakan telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat. Wadahnya sebanyak bilangan bintang. Ada seorang hamba yang ditarik dari kumpulan mereka. Aku berkata: Ya Tuhanku, dia termasuk umatku. Allah berfirman: Engkau tidak tahu, dia telah membuat suatu bid`ah sepeninggalmu. (Shahih Muslim No.607)

11. Tasyahhud dalam salat

  • Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra. dia berkata: 
  • Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah saw., kami membaca: “Keselamatan tetap pada Allah, keselamatan tetap pada si fulan”. Suatu hari Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi, apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: “Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkat-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba-Nya yang saleh. Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh”, baik yang di langit maupun yang di bumi. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukanya. (Shahih Muslim No.609)

12. Selawat kepada Nabi saw. sesudah tasyahhud

  • Hadis riwayat Kaab bin Ujrah ra.: 
  • Dari Abdullah bin Abu Laila, dia berkata: Kaab bin Ujrah menemuiku dan berkata: Maukah engkau aku berikan hadiah? Rasulullah saw. pernah menemui kami, lalu kami berkata: Kami telah mengetahui cara membaca salam untuk Baginda, lalu bagaimana kami membaca selawat untuk Anda? Beliau bersabda: Bacalah: “Allahumma shalli `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammad kamaa baarakta `alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammad kamaa baarakta `alaa aali Ibrahim Innaka hamiidum majiid”. (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan keluarga nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia). (Shahih Muslim No.614)
  • Hadis riwayat Abu Humaid As-Saidi ra.:  Bahwa para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami membaca selawat untuk Anda? Beliau bersabda: Bacalah: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa shallaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid.” (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan istri-istrinya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji dan mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan istri-istrinya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia). (Shahih Muslim No.615)

13. Membaca “sami`allahu liman hamidah” dan “aamiin”

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila imam membaca “sami`allahu liman hamidah”, hendaklah kalian membaca “Allahumma rabbanaa lakal hamdu”, (Ya Allah, Tuhan kami, hanya milik-Mu-lah segala pujian), karena barang siapa yang ucapannya bertepatan dengan bacaan malaikat, maka dosanya yang lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.617)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bila Imam membaca: Amin, hendaklah kalian membaca: “Aamiin”. Karena sesungguhnya barang siapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin malaikat maka dosanya yang lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.618)

14. Makmum harus mengikuti imam

  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra. dia berkata:  Nabi saw. pernah jatuh dari kuda sehingga lambung kanan beliau robek. Kami datang menjenguk. Saat tiba waktu salat, beliau salat bersama kami dengan duduk dan kami pun salat di belakang beliau dengan duduk. Usai salat beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti. Jadi, apabila dia bertakbir, bertakbirlah. Bila dia sujud, sujudlah. Bila ia bangun, bangunlah. Bila ia membaca “sami`allahu liman hamidah”, bacalah “rabbanaa lakal hamdu” dan bila ia salat dengan duduk, salatlah dengan duduk pula. (Shahih Muslim No.622)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:  Rasulullah saw. pernah sakit. Para sahabat datang menjenguk beliau. Kemudian beliau salat dengan duduk. Para sahabat bermakmum pada beliau dengan berdiri. Beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk, maka mereka pun duduk. Selesai salat beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti. Jadi apabila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia bangun, maka bangunlah kalian dan bila ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian sambil duduk. (Shahih Muslim No.623)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Karena itu, maka janganlah kalian menyalahinya. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian, bila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia membaca “sami`allahu liman hamidah”, maka bacalah “Allahumma rabbanaa lakal hamdu”, bila ia sujud, maka sujudlah dan bila ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian sambil duduk. (Shahih Muslim No.625)

15. Imam mengangkat seseorang untuk menggantikannya apabila ia uzur, seperti sakit, bepergian atau lainnya, makmum harus berdiri di belakang imam yang duduk selama ia mampu, penghapusan hukum duduk di belakang imam yang duduk bagi makmum yang mampu berdiri

  • Hadis riwayat Aisyah ra.:  Dari Ubaidillah bin Abdullah, ia berkata: Aku menemui Aisyah dan berkata: Maukah Anda menceritakan kepadaku tentang sakit Rasulullah saw? Ia berkata: Nabi saw. menderita lemah sekali, beliau bersabda: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum, mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami pun melakukannya lalu beliau mandi. Setelah itu, saat ingin bangkit beliau pingsan. Ketika siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum. Mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami mengerjakannya dan beliau mandi. Saat akan berdiri beliau pingsan lagi. Setelah siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum, mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami mengerjakannya dan beliau mandi. Ketika akan bangun beliau pingsan lagi untuk yang ketiga kalinya. Pada waktu siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum. Mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Para sahabat telah berkumpul di mesjid menunggu Rasulullah saw. untuk salat Isyak. Beliau memerintahkan seseorang menemui Abu Bakar agar ia mengimami salat. Tiba di hadapan Abu Bakar, ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan Anda untuk mengimamai salat sahabat lainnya. Abu Bakar adalah seorang yang lembut hati, ia berkata: Wahai Umar, imamilah mereka itu! Umar berkata: Anda lebih menjadi imam mereka. Akhirnya Abu Bakar mengimami salat mereka selama beberapa hari. Ketika sakit Rasulullah saw. agak ringan, beliau keluar untuk salat Zuhur, dibantu oleh dua orang, salah satunya adalah Abbas. Saat itu Abu Bakar akan mengimami sahabat. Ketika ia melihat Rasulullah saw. datang, ia mundur untuk menunda (salat). Nabi saw. memberi isyarat kepadanya agar jangan ditunda. Kemudian beliau memerintahkan kedua orang yang memapah beliau: Dudukkan aku di sampingnya. Mereka mendudukkan beliau di samping Abu Bakar. Maka Abu Bakar salat berdiri bermakmum kepada Rasulullah saw., para sahabat yang lain bermakmum kepada Abu Bakar dan Rasulullah saw. saat itu salat sambil duduk. (Shahih Muslim No.629)
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:  Bahwa Abu Bakar mengimami sahabat ketika Rasulullah saw. sakit yang membuatnya wafat, pada hari Senin, ketika berbaris dalam salat, Rasulullah saw. menyingkap tirai kamar dan memandang kami dengan berdiri. Wajah beliau putih seperti kertas, beliau tersenyum. Kami yang sedang salat terpukau karena gembira dengan keluarnya Rasulullah saw. Kemudian Abu Bakar mundur untuk ke barisan pertama. Ia mengira bahwa Rasulullah saw. keluar untuk salat. Rasulullah saw. memberi isyarat tangan kepada mereka agar terus menyempurnakan salat. Lalu beliau masuk lagi dan menurunkan tirai kamar. Pada hari itu Rasulullah saw. wafat. (Shahih Muslim No.636)
  • Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:  Rasulullah saw. sakit dan semakin bertambah parah. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang yang berhati halus. Kalau ia menempati tempat baginda, ia tidak akan mampu mengimami salat Kaum muslimin. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Kalian ini seperti teman-teman Yusuf (dalam berdebat). Abu Musa berkata: Kemudian Abu Bakar mengimami salat mereka ketika Rasulullah saw. masih hidup. (Shahih Muslim No.638)

16. Jamaah menunjuk seseorang untuk mengimami mereka bila imam yang tetap terlambat datang dan mereka tidak khawatir akan timbul masalah akibat penunjukan tersebut

  • Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi ra.:  Bahwa ketika Rasulullah saw. pergi ke Bani Amru bin Auf untuk mendamaikan pertikaian di antara mereka, maka ketika tiba waktu salat, seorang muazin datang kepada Abu Bakar lalu berkata: Maukah engkau mengimami salat orang-orang. Lalu saya mengiqamati? Abu Bakar menjawab: Ya. Kemudian Abu Bakar salat. Ketika orang-orang sedang salat, Rasulullah saw. datang. Beliau maju perlahan hingga sampai barisan awal. Melihat itu orang-orang bertepuk tangan, tetapi Abu Bakar tidak menoleh. Ketika tepuk tangan semakin riuh ia menoleh dan melihat Rasulullah saw. Beliau mengisyaratkan Abu Bakar agar tetap di tempatnya. Abu Bakar mengangkat kedua tangannya seraya memuji Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan yang diperintahkan Rasulullah saw, lalu mundur sehingga sejajar dengan barisan awal. Setelah itu Nabi saw. maju dan salat. Usai salat, beliau bersabda: Hai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk tetap di tempatmu ketika aku suruh? Abu Bakar menjawab: Tidak layak bagi anak Abu Quhafah salat di hadapan Rasulullah saw. Beliau bersabda lagi: Mengapa kalian bertepuk tangan? Barang siapa yang ingin mengingatkan sesuatu di dalam salat, hendaknya ia bertasbih, karena bila ia bertasbih, ia akan ditoleh. Tepuk tangan hanya untuk wanita. (Shahih Muslim No.639)

17. Bertasbih bagi lelaki dan tepuk tangan bagi wanita jika ingin mengingatkan sesuatu di dalam salat

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:  Rasulullah saw. pernah bersabda: Bertasbih untuk lelaki dan tepuk tangan untuk wanita. (Shahih Muslim No.641)

18. Perintah membaguskan, menyempurnakan dan khusyuk dalam salat

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: 
  • Suatu hari Rasulullah saw. mengimami salat kami. Usai salat beliau bersabda: Hai fulan, mengapa engkau tidak membaguskan salatmu? Tidakkah orang yang salat merenungkan bagaimana salatnya? Sesungguhnya ia salat untuk dirinya sendiri. Demi Allah, sungguh aku dapat melihat belakangku, sebagaimana aku melihat depanku. (Shahih Muslim No.642)
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: 
  • Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sempurnakanlah rukuk dan sujud, demi Allah, sesungguhnya aku dapat melihat engkau di belakangku (kemungkinan bersabda: yang di belakang punggungku) saat engkau rukuk atau sujud. (Shahih Muslim No.644)

19. Larangan mendahului imam dalam rukuk, sujud atau lainnya

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: 
  • Muhammad saw. pernah bersabda: Apakah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, tidak takut kepalanya diganti oleh Allah dengan kepala keledai. (Shahih Muslim No.647)

20. Meluruskan barisan dan merapikannya, berdesakan dalam barisan pertama dan berlomba mendapatkannya, mendahulukan orang-orang yang punya keutamaan dan mendekatkan mereka kepada imam

  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: 
  • Rasulullah saw. bersabda: Luruskanlah barisan kalian. Sesungguhnya kelurusan barisan salat termasuk bagian dari kesempurnaan salat. (Shahih Muslim No.656)
  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:  Rasulullah saw. bersabda: Sempurnakanlah barisan, karena sesungguhnya aku dapat melihat engkau yang ada di belakangku. (Shahih Muslim No.657)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Luruskanlah barisan dalam salat, karena lurusnya barisan itu termasuk kebaikan salat. (Shahih Muslim No.658)
  • Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sebaiknya engkau mau meluruskan barisanmu atau Allah akan menancapkan rasa permusuhan di antara engkau. (Shahih Muslim No.659)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan barisan pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Dari Nabi saw., beliau bersabda: Seandainya kalian (atau mereka) tahu apa yang ada dalam barisan depan, tentu akan diadakan undian. (Shahih Muslim No.663)

21. Perintah agar para wanita yang salat di belakang laki-laki untuk tidak mengangkat kepala mereka dari sujud sebelum laki-laki mengangkat kepalanya

  • Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:  Aku melihat orang-orang lelaki yang salat di belakang Nabi saw. mengikatkan kain mereka pada leher seperti anak kecil karena sempitnya kain mereka. Seseorang berkata: Hai para wanita, janganlah kalian mengangkat kepala kalian sebelum orang-orang lelaki mengangkat kepala mereka. (Shahih Muslim No.665)

22. Wanita boleh ke mesjid apabila tidak menimbulkan hal-hal yang negatif dan tanpa memakai wangi-wangian

  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:  Dari Nabi saw., beliau bersabda: Jika istri salah seorang dari kalian minta izin pergi ke mesjid, maka janganlah mencegahnya. (Shahih Muslim No.666)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata:  Seandainya Rasulullah saw. melihat apa yang diperbuat wanita saat ini, tentu beliau melarang mereka pergi ke mesjid, seperti dilarangnya wanita Bani Israel. Yahya berkata: Aku bertanya kepada Amrah: Apakah wanita Bani Israel dilarang pergi ke mesjid (tempat ibadah mereka)? Ia menjawab: Ya. (Shahih Muslim No.676)

23. Membaca bacaan dalam salat jahriyah (salat yang bacaannya dikeraskan) dengan suara antara keras dan pelan, apabila khawatir akan timbul hal yang tidak baik jika dikeraskan

  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:  Tentang firman Allah Taala: Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula memelankannya. Ia berkata ayat ini turun ketika Rasulullah saw. sedang bersembunyi di Mekah. Ketika beliau salat bersama para sahabat, beliau mengeraskan suaranya dalam membaca Alquran. Orang-orang musyrik yang mendengarnya menjelek-jelekan Alquran, Allah yang menurunkannya dan Nabi yang membawanya. Maka Allah Taala berfirman: Janganlah engkau mengeraskan suaramu di dalam salatmu, sehingga orang-orang musyrik mendengar bacaanmu: Dan janganlah engkau memelankannya sehingga sahabatmu tidak mendengarnya. Carilah cara di antara kedua hal itu. Akhirnya beliau membaca antara keras dan pelan. (Shahih Muslim No.677)
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:  Tentang firman Allah: Dan janganlah mengeraskan suaramu di dalam salatmu dan jangan pula memelankannya. Ia berkata: Ayat ini diturunkan berkaitan dengan doa. (Shahih Muslim No.678)

24. Mendengarkan bacaan Alquran

  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:  Tentang firman Allah: Janganlah engkau gerakkan lidahmu tergesa-gesa untuk membaca Alquran. Ia berkata: Dulu ketika malaikat Jibril turun menyampaikan wahyu, Nabi saw. sering menggerakkan lidah dan bibir beliau (untuk mengulang-ulang agar tidak lupa). Hal itu membuat beliau merasa berat. Keadaan beliau seperti itu dapat dilihat. Lalu Allah berfirman: Janganlah engkau gerakkan lidahmu terburu-buru untuk membacanya dan ingin cepat “menguasainya”. Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan di dadamu dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya, ikutilah bacaan itu. Kami menurunkannya, maka dengarkanlah baik-baik. Firman-Nya: Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya “Kami menjelaskannya melalui lidahmu”. Ketika malaikat Jibril mendatangi beliau (untuk memberi wahyu), maka beliau diam mendengarkan. Setelah Jibril pergi, beliau membacanya, sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah pada beliau. (Shahih Muslim No.679)

25. Mengeraskan bacaan dalam salat subuh dan membacakan Alquran untuk Jin

  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: 
  • Rasulullah saw. tidak membacakan kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Beliau pergi bersama para sahabat menuju pasar Ukaz. Saat itu antara setan dan berita langit telah terhalang. Mereka dilempari panah api. Setan-setan itu kembali kepada kaum mereka dan berkata: Antara kami dan berita langit telah terhalang dan kami pun dilempari panah api. Ini tidak lain pasti karena sesuatu telah terjadi. Pergilah ke belahan bumi bagian timur dan barat, telitilah apa yang menghalangi kita dengan berita langit. Mereka pun pergi ke belahan bumi bagian timur dan barat. Sebagian mengambil arah Tihamah dengan tujuan pasar Ukaz (Nabi berada di Nakhl). Saat itu beliau sedang salat Subuh dengan para sahabat. Mereka mendengar Alquran yang dibaca beliau dan memperhatikannya. Lalu kata mereka: Inilah yang membuat kita terhalang dengan berita langit. Mereka kembali kepada kaum mereka dan berkata: Hai kaumku, Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat mengantarkan kita kepada kebenaran. Maka aku beriman kepadanya, dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun. Maka Allah Taala menurunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad saw. Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan bacaan Alquran. (Shahih Muslim No.681)

26. Bacaan dalam salat Zuhur dan Asar

  • Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata:  Kami pernah salat berjamaah dengan Rasulullah saw. Dalam dua rakaat pertama salat Zuhur dan Asar, beliau membaca Fatihah dan dua buah surat, kadang-kadang memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama salat Zuhur dan memperpendek rakaat kedua. Demikian pula dalam salat Subuh. (Shahih Muslim No.685)

27. Bacaan dalam salat Subuh

  • Hadis riwayat Abu Barzah ra.: ia berkata:  Rasulullah saw. dalam salat Subuh membaca enam puluh sampai seratus ayat. (Shahih Muslim No.702)

28. Bacaan dalam salat Isyak

  • Hadis riwayat Barra’ ra.:  Dari Nabi saw. bahwa dalam suatu perjalanan beliau mengerjakan salat Isyak. Dalam salah satu dari dua rakaatnya beliau membaca Wat tiini waz zaitun. (Shahih Muslim No.706)
  • Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:  Muaz pernah salat bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia salat Isyak bersama Nabi saw. lalu pulang mengimami kaumnya. Ketika ia mulai dengan membaca surat Al-Baqarah, ada seorang lelaki yang memisahkan diri dari salat berjamaah sampai salam, selanjutnya mengerjakan salat sendiri dan pergi. Orang-orang menegurnya: Hai fulan, apakah engkau telah munafik? Ia menjawab: Tidak, demi Allah. Sungguh, aku akan menemui Rasulullah saw. dan memberitahukan hal ini. Setelah bertemu dengan Rasulullah saw., ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pemilik unta penyiram tanaman, bekerja di siang hari. Sesungguhnya Muaz setelah mengerjakan salat Isyak bersama Anda lalu pulang dan (salat bersama kami) mulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Rasulullah saw. menghadap ke arah Muaz dan bersabda: Wahai Muaz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah (kesulitan)? Bacalah (surat) ini dan itu. Sufyan berkata: Aku berkata kepada Amru bahwa Abu Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bacalah Was Syamsi wa Dhuhaaha (surat As-Syams), Wadh Dhuhaa (surat Ad-Dhuhaa), Wal laili idza Yaghsyaa (surat Al-Lail) dan Sabbihisma rabbikal a`laa (sutat Al-A`laa), maka Amru menanggapi: Ya, seperti itu. (Shahih Muslim No.709)

29. Perintah kepada imam agar mempercepat salat sambil menjaga kesempurnaan

  • Hadis riwayat Abu Masud Al-Anshari ra., ia berkata:  Seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw. dan berkata: Saya terlambat salat Subuh karena si fulan memperlambat salatnya saat mengimami kami. Kemudian aku belum pernah melihat Nabi saw. marah dalam memberikan nasehat seperti marahnya beliau (memberikan nasehat) pada hari itu. Beliau bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya di antara engkau ada yang membuat orang lari (jera). Barang siapa di antara kalian menjadi imam, maka hendaklah ia meringkas, sebab di belakangnya ada orang tua, orang lemah dan orang yang punya keperluan. (Shahih Muslim No.713)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Nabi saw. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam, maka hendaknya ia memperingan salatnya, karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Bila salat sendirian, maka salatlah sekehendak hatinya. (Shahih Muslim No.714)
  • Hadis riwayat Anas ra.:  Bahwa Nabi saw. meringkas (bacaan) salat dan menyempurnakannya. (Shahih Muslim No.719)
  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah mendengar tangis anak kecil bersama ibunya ketika sedang salat. Maka beliau membaca surat yang ringan atau surat yang pendek. (Shahih Muslim No.722)

30. Keselarasan antara rukun-rukun salat dan memperingan dengan tetap sempurna

  • Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra., ia berkata:  Aku mengamati salat Muhammad saw. Aku perhatikan berdirinya, rukuknya, iktidal setelah rukuk, sujudnya, duduk antara dua sujud, sujud kedua, duduk antara salam dan selesai salat, (aku perhatikan) satu dengan lainnya saling sama. (Shahih Muslim No.724)
  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:  Sungguh, aku tidak akan menambah-nambah, aku akan mengimami salat kalian seperti aku melihat Rasulullah saw. mengimami salat kami. Tsabit (salah seorang perawi) berkata: Anas telah melakukan sesuatu yang tidak seperti yang kalian lakukan. Ketika ia bangun dari rukuk, ia berdiri tegak hingga orang berkata: Anas telah lupa, dan ketika bangun dari sujud, ia diam (tidak bergerak) sehingga orang bilang: Anas telah lupa. (Shahih Muslim No.726)

31. Mengikuti imam dan bergerak setelah gerakan imam

  • Hadis riwayat Barra’ ra.:  Bahwa mereka (para sahabat) salat di belakang Rasulullah saw. Ketika beliau bangun dari rukuk (dan ingin sujud). aku tidak melihat seorang pun membungkukkan badannya hingga Rasulullah saw. meletakkan dahinya di tanah. Setelah itu para sahabat yang di belakang beliau ikut bersungkur sujud. (Shahih Muslim No.728)

32. Bacaan ketika rukuk dan sujud

  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:  Adalah Rasulullah saw. dalam rukuk dan sujudnya banyak membaca: “Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika, allahummaghfir li” (Maha suci Allah, ya Allah, ya Tuhan kami, dengan segala puji-Mu, ampunilah aku). Beliau menafsirkan perintah Alquran. (Shahih Muslim No.746)

33. Menjelaskan anggota tubuh untuk bersujud, larangan menahan rambut dan pakaian (saat sujud), menjalin rambut ketika salat

  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:  Nabi saw. diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian. (Shahih Muslim No.755)

34. Meluruskan badan, meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah, mengangkat kedua siku dari lambung dan menjauhkan perut dari kedua paha ketika sujud

  • Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:  Rasulullah saw. bersabda: Luruslah kalian dalam sujud dan janganlah seorang kalian melunjurkan kedua lengannya seperti anjing melunjurkan kaki depannya. (Shahih Muslim No.762)

35. Menjelaskan suatu hal yang berhubungan dengan cara salat

  • Hadis riwayat Abdullah bin Malik bin Buhainah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. merenggangkan kedua tangannya ketika salat hingga tampak putihnya ketiak beliau. (Shahih Muslim No.764)

36. Pembatas orang yang salat

  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:  Bahwa Rasulullah saw., jika keluar untuk salat hari raya, beliau minta dibawakan tombak pendek yang kemudian beliau letakkan di depannya. Lalu beliau salat menghadap tombak itu dan para sahabat berada di belakang beliau. Beliau melakukannya saat sedang dalam perjalanan. (Karena itulah kemudian banyak para pemimpin menggunakan tongkat). (Shahih Muslim No.773)
  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:  Bahwa Nabi saw. biasa menambatkan tunggangan beliau dan beliau salat menghadap ke arahnya. (Shahih Muslim No.775)
  • Hadis riwayat Abu Juhaifah ra., ia berkata:  Aku menemui Nabi saw. di Mekah. Saat itu beliau berada di Abthah (nama tempat) di dalam kemah yang terbuat dari kulit samakan milik beliau. Kemudian Bilal keluar membawa air wudu beliau. Ada orang yang mendapat air itu sedikit dan ada pula yang hanya diperciki oleh lainnya. Nabi saw. keluar dengan memakai pakaian merah, nampaknya aku dapat melihat betis beliau yang putih. Beliau berwudu dan Bilal mengumandangkan azan. Aku memperhatikan mulutnya bergerak kesana kemari ke kanan dan ke kiri, ia membaca: “Hayya `alas shalah, hayya `alal falah”, (Marilah mengerjakan salat, marilah menuju kemenangan). Sebatang tombak pendek ditancapkan untuk Nabi. Beliau melangkah maju dan mengerjakan salat Zuhur (diqasar) dua rakaat. Keledai dan anjing lewat di depan beliau tanpa dicegah. Selanjutnya beliau mengerjakan salat Asar (diqasar) dua rakaat. Demikian kemudian beliau tak henti-hentinya mengerjakan salat dua rakaat hingga kembali ke Madinah. (Shahih Muslim No.777)
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Aku datang dengan naik keledai betina. Saat itu aku hampir usia balig. Rasulullah saw. mengimami salat para sahabat di Mina, lalu aku lewat di depan barisan, lalu aku pulang dan kubiarkan keledaiku merumput, dan aku masuk ke barisan salat. Tidak ada seorang pun yang mencela perbuatanku itu. (Shahih Muslim No.780)

37. Melarang orang lewat di depan orang yang sedang salat

  • Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bila salah seorang di antara kalian sedang salat, janganlah ia membiarkan seorang pun lewat di depannya, dan hendaklah ia mencegahnya semampunya. Bila ia tidak peduli, perangilah karena sesungguhnya ia adalah setan. (Shahih Muslim No.782)
  • Hadis riwayat Abu Juhaim ra., ia berkata:  Rasulullah saw. bersabda: Seandainya orang yang lewat di depan tempat salat itu mengetahui betapa besar dosanya, pasti ia berdiri selama lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang salat Abu Nadher berkata: Aku tidak tahu, apakah ia mengatakan hari atau bulan atau tahun. (Shahih Muslim No.785)

38. Orang yang salat sebaiknya mendekatkan pembatas

  • Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi ra., ia berkata:  Jarak tempat salat Nabi saw. dan dinding seukuran jalan lewat kambing. (Shahih Muslim No.786)
  • Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra.:  Bahwa ia memilih tempat mushaf lalu mengerjakan salat di sana. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw. selalu memilih tempat tersebut. Jarak antara mimbar dan kiblat kira-kira cukup untuk lewat kambing. (Shahih Muslim No.787)

39. Melintang di depan orang salat

  • Hadis riwayat Aisyah ra.:  Bahwa Nabi saw. pernah salat di tengah malam, sedangkan aku tidur melintang di antara beliau dan kiblat seperti melintangnya jenazah. (Shahih Muslim No.791)
  • Hadis riwayat Maimunah ra., istri Nabi saw. ia berkata:  Rasulullah saw. pernah salat dan aku (berada) dekat beliau dalam keadaan haid. Kadang-kadang pakaian beliau mengenai tubuhku saat sujud. (Shahih Muslim No.797)

40. Salat dengan selembar pakaian dan cara pemakaiannya

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang salat dengan selembar pakaian. Beliau menjawab: Bukankah tiap engkau punya dua lembar pakaian. (Shahih Muslim No.799)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang dari kalian mengerjakan salat dengan memakai selembar pakaian yang tidak sedikit pun menutupi kedua pundaknya. (Shahih Muslim No.801)
  • Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra., ia berkata:  Aku melihat Rasulullah salat di rumah Ummu Salamah dengan satu lembar pakaian untuk menutupi seluruh tubuhnya (seperti selimut), kedua ujungnya diletakkan di atas pundak beliau. (Shahih Muslim No.802)
  • Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata:  Aku melihat Rasulullah saw. salat dengan berselimutkan selembar pakaian di tubuh beliau. (Shahih Muslim No.805)

Hadits Nabi Pilihan Tentang Shalat

Hadits Nabi Pilihan  Tentang Shalat

BAB SUTRAH BAGI ORANG YANG SHALAT بَـابُ سُـتْرَةِ اَلْمُصَـلِّيِِ

  • Hadits No. 242
  • Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya. Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: (lebih baik berdiri) Empat puluh tahun.
  • َعَنْ أَبِي جُهَيْمِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَوْ يَعْلَمُ اَلْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ اَلْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنْ اَلْإِثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَوَقَعَ فِي اَلْبَزَّارِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ : ( أَرْبَعِينَ خَرِيفًا 
  • Hadits No. 243
  • ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya pada waktu perang Tabuk tentang batas bagi orang yang sholat. Beliau menjawab: Seperti tiang di bagian belakang kendaraan. Dikeluarkan oleh Muslim.
  • َوَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم – فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ – عَنْ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي فَقَالَ : مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
  • Hadits No. 244
  • Dari Sabrah Ibnu Ma’bad al-Juhany bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya seseorang di antara kamu membuat batas pada waktu sholat walaupun hanya dengan anak panah. Dikeluarkan oleh Hakim.
  • َوَعَنْ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ اَلْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ وَلَوْ بِسَهْمٍ )  أَخْرَجَهُ اَلْحَاكِمُ 

  • Hadits No. 245
  • Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Yang akan memutuskan sholat seorang muslim bila tidak ada tabir di depannya seperti kayu di bagian belakang kendaraan adalah wanita keledai dan anjing hitam. Di dalam hadits disebutkan: Anjing hitam adalah setan. Dikeluarkan oleh Imam Muslim.
  • َوَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَقْطَعُ صَلَاةَ اَلْمَرْءِ اَلْمُسْلِمِ – إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ – اَلْمَرْأَةُ  وَالْحِمَارُ  وَالْكَلْبُ اَلْأَسْوَدُ  اَلْحَدِيثَ )  وَفِيهِ ( اَلْكَلْبُ اَلْأَسْوَدِ شَيْطَانٌ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ 
  • Hadits No. 246
  • Menurut riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits semisal tanpa menyebut anjing.
  • َوَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه نَحْوُهُ دُونَ : اَلْكَلْبِ

  • Hadits No. 247
  • Menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa’i dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu ada hadits semisal tanpa menyebutkan kalimat akhir (yaitu anjing) dan membatasi wanita dengan yang sedang haid.
  • َوَلِأَبِي دَاوُدَ  وَالنَّسَائِيِّ : عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- نَحْوُهُ  دُونَ آخِرِهِ وَقَيَّدَ اَلْمَرْأَةَ بِالْحَائِضِ
  • Hadits No. 248
  • Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa dia bersama setan.
  • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ  فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ  فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ  فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ : ( فَإِنَّ مَعَهُ اَلْقَرِينَ )
  • Hadits No. 249
  • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaklah ia membuat sesuatu di depannya jika ia tidak mendapatkan hendaknya ia menancapkan tongkat jika tidak memungkinkan hendaknya ia membuat garis namun hal itu tidak mengganggu orang yang lewat di depannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Shahih menurut Ibnu Hibban. Hadits ini hasan dan tidak benar jika orang menganggapnya hadits mudltorib.
  • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا  فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا  فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا  ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ  وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ  بَلْ هُوَ حَسَنٌ
  • Hadits No. 250
  • Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Tidak akan menghentikan sholat suatu apapun (jika tidak ada yang menghentikan) cegahlah sekuat tenagamu. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Dalam sanadnya ada kelemahan.
  • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَقْطَعُ اَلصَّلَاةَ شَيْءٌ  وَادْرَأْ مَا اِسْتَطَعْتَ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ  وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

Sumber

  • Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

    Tuntunan Lengkap Shalat Nabi Muhammad SAW

    Bacaan iftitah

    • إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِيْن . إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْن لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ المُسْلِمِيًن
    • “Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal-ardha, haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalaati wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘alaamiina. Laa syariika lahu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiina.”
    • Artinya : “Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan bukannya aku termasuk dalam golongan musyrik. Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, karena itu aku rela diperintah dan aku ini adalah golongan orang Islam.”

    Bacaan ruku

    • سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
    • “Subhaana rabbiyal ‘azhiimi wabihamdih”Artinya : “Maha Suci Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Terpuji.”

    Bacaan i’tidal.

    • سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
    • “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu.”
    • Artinya : ” Allah mendengar akan sesiapa yang memuji-Nya. Hai Tuhan kami, kepada Engkaulah segala pujian.”

    Bacaan sujud

    • سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
    • “Subhaana rabbiyal a’laa wabihamdih”
    • Artinya : “Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Terpuji”

    Bacaan duduk antara 2 sujud

    • رَبِ ّاِغْفِرْلِيِ وَارْحَمْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَاِفِنيْ وَاعْفُ عَنِّيْ
    • “Rabbighfirlii warhamnii warfa’nii wajburnii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu ‘annii”
    • Artinya : ” Ya Allah ! ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, dan angkatlah darjatku dan cukuplah segala kekuranganku dan berilah rezeki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan sejahterakanlah aku dan berilah keampunan padaku.”


      Bacaan Tasyahud Awal

      • التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد
      • “Attahiyyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thayyibatul lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allahhumma sholli ‘alaa Muhammad.”
      • Artinya : ” Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Ya Allah aku bersumpah dan berjanji bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau ya Allah, dan aku bersumpah dan berjanji sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Mu Ya Allah. Ya Allah, limpahkan shalawat-Mu kepada Nabi Muhammad.

      Bacaan tasyahud akhir dan doa

      • التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وعلى آلِ مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. اَلْلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَجَّالِ.
      • “Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibatul lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allahhumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid. Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wamin ‘adzaabil qabri wamin fitnatil mahyaa wamamaati wamin fitnatil masiihid dajjaal.”
      • Artinya : ” Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah! Limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. “ Sebagimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. “ Diseluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia.” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahanam dan siksa kubur serta dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari kejahatan fitnahnya dajal.”

      Bacaan salam

      • اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله
      • “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.”
      • Artinya : “Keselamatan dan rahmat buat Anda sekalian.”

        Perbedaan Salat Para Ulama 4 mazhab

        Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban shalat wajib lima waktu atau meragukannya, ia bukan termasuk orang Islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun Islam. (Mughniyah; 2001)
        Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan, dan ia meyakini bahwa shalat itu wajib. (Mughniyah; 2001)

        • Syafi’i, Maliki dan Hambali : Harus dibunuh, Hanafi : ia aharus ditahan selama-lamanya, atau sampai ia shalat. (Mughniyah; 2001)

        Rukun-rukun dan fardhu-fardhu shalat : (Mughniyah; 2001)

        • Niat : semua ulama mazhab sepakat bahwa mengungkapkan niat dengan kata-kata tidaklah diminta. (Mughniyah; 2001)
        • Ibnu Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma’ad, sebagaimana yang dijelaskan dalam jilid pertama dari buku Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, sebagai berikut : Nabi Muhammad saw bila menegakkan shalat, beliau langsung mengucapkan “Allahu akbar” dan beliau tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya, dan tidak melafalkan niat sama sekali. (Mughniyah; 2001)

        Takbiratul Ihram : shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram. Nama takbiratul ihram ini berdasarkan sabda Rasulullah saw : (Mughniyah; 2001)
        “Kunci shalat adalah bersuci, dan yang mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain perbuatan-perbuatan shalat) adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam.”

        • Maliki dan Hambali : kalimat takbiratul ihram adalah “Allah Akbar” (Allah Maha Besar) tidak boleh menggunakan kata-kata lainnya. (Mughniyah; 2001)
        • Syafi’i : boleh mengganti “Allahu Akbar” dengan ”Allahu Al-Akbar”, ditambah dengan alif dan lam pada kata “Akbar”. (Mughniyah; 2001)
        • Hanafi : boleh dengan kata-kata lain yang sesuai atau sama artinya dengan kata-kata tersebut, seperti “Allah Al-A’dzam” dan “Allahu Al-Ajall” (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia). (Mughniyah; 2001)
        • Syafi’i, Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah wajib, walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam (bukan orang Arab). (Mughniyah; 2001)
        • Hanafi : Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang bersangkutan bisa bahasa Arab. (Mughniyah; 2001)

        Semua ulama mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan dalam shalat. Kalau bisa melakukannya dengan berdiri; dan dalam mengucapkan kata “Allahu Akbar” itu harus didengar sendiri, baik terdengar secara keras oleh dirinya, atau dengan perkiraan jika ia tuli. (Mughniyah; 2001)

        • Berdiri : semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu wajib sejak mulai dari takbiratul ihram sampai ruku’, harus tegap, bila tidak mampu ia boleh shalat dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, ia boleh shalat dengan miring pada bagian kanan, seperti letak orang yang meninggal di liang lahat, menghadapi kiblat di hadapan badannya, menurut kesepakatan semua ulama mazhab selain Hanafi. Hanafi berpendapat : siapa yang tidak bisa duduk, ia boleh shalat terlentang dan menghadap kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku’ dan sujud tetap menghadap kiblat. (Mughniyah; 2001)
        • Dan bila tidak mampu miring ke kanan, maka menurut Syafi’i dan Hambali ia boleh shalat terlentang dan kepalanya menghadap ke kiblat. Bila tidak mampu juga, ia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya. (Mughniyah; 2001)
        • Hanafi : bila sampai pada tingkat ini tetapi tidak mampu, maka gugurlah perintah shalat baginya, hanya ia harus melaksanakannya (meng-qadha’-nya) bila telah sembuh dan hilang sesuatu yang menghalanginya. (Mughniyah; 2001)
        • Maliki : bila sampai seperti ini, maka gugur perintah shalat terhadapnya dan tidak diwajibkan meng-qadha’-nya. (Mughniyah; 2001)
        • Syafi’i dan Hambali : shalat itu tidaklah gugur dalam keadaan apa pun. Maka bila tidak mampu mengisyaratkan dengan kelopak matanya (kedipan mata), maka ia harus shalat dengan hatinya dan menggerakkan lisannya dengan dzikir dan membacanya. Bila juga tidak mampu untuk menggerakkan lisannya, maka ia harus menggambarkan tentang melakukan shalat di dalam hatinya selama akalnya masih berfungsi. (Mughniyah; 2001)

        Bacaan : ulama mazhab berbeda pendapat.

        • Hanafi : membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan, dan membaca bacaan apa saja dari Al-Quran itu boleh, berdasarkan Al-Quran surat Muzammil ayat 20 : (Mughniyah; 2001) ”Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran,” (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 122, dan Mizanul Sya’rani, dalam bab shifatus shalah). Boleh meninggalkan basmalah, karena ia tidak termasuk bagian dari surat. Dan tidak disunnahkan membacanya dengan keras atau pelan. Orang yang shalat sendiri ia boleh memilih apakah mau didengar sendiri (membaca dengan perlahan) atau mau didengar oleh orang lain (membaca dengan keras), dan bila suka membaca dengan sembunyi-sembunyi, bacalah dengannya. Dalam shalat itu tidak ada qunut kecuali pada shalat witir. Sedangkan menyilangkan dua tangan aalah sunnah bukan wajib. Bagi lelaki adalah lebih utama bila meletakkan telapak tangannya yang kanan di atas belakang telapak tangan yang kiri di bawah pusarnya, sedangkan bagi wanita yang lebih utama adalah meletakkan dua tangannya di atas dadanya. (Mughniyah; 2001)
        • Syafi’i : membaca Al-Fatihah adalah wajib pada setiap rakaat tidak ada bedanya, baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah. Basmalah itu merupakan bagian dari surat, yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. Dan harus dibaca dengan suara keras pada shalat subuh, dan dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’, selain rakaat tersebut harus dibaca dengan pelan. Pad shlat subuh disunnahkan membaca qunut setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ pad rakaat kedua sebagaimana juga disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama saja. Sedangkan menyilangkan dua tangan bukanlah wajib, hanya disunnahkan bagi lelaki dan wanita. Dan yang paling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan di belakang telapak tangannya yang kiri di bawah dadanya tapi di atas pusar dan agak miring ke kiri. (Mughniyah; 2001)
        • Maliki : membaca Al-Fatihah itu harus pada setipa rakaat, tak ada bedanya, baik pada rakaat-rakaat pertama maupun pada rakaat-rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah, sebagaimana pendapat Syafi’i, dan disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama. Basmalah bukan termasuk bagian dari surat, bahkan disunnahkan untuk ditinggalkan. Disunnahkan menyaringkan bacaan pad shalat subuh dan dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’, serta qunut pada shalat subuh saja. Sedangkan menyilangkan kedua tangan adalah boleh, tetapi disunnahkan untuk mengulurkan dua tangan pada shalat fardhu. (Mughniyah; 2001)
        • Hambali : wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya disunnahkan membaca surat Al-Quran pada dua rakaat yang pertama. Dan pada shalat subuh, serta dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’ disunnahkan membacanya dengan nyaring. Basmalah merupakan bagian dari surat, tetapi cara membacanya harus pelan-pelan dan tidak boleh dengan keras. Qunut hanya pada shalat witir bukan pada shalat-shalat lainnya. Sedangkan menyilangkan dua tangan disunahkan bagi lelaki dan wanita, hanya yang paling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan pada belakang telapak tangannya yang kiri, dan meletakkan di bawah pusar. (Mughniyah; 2001)

        Empat mazhab menyatakan bahwa membaca amin adalah sunnah, berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda : (Mughniyah; 2001)
        ”kalau ingin mengucapkan Ghairil maghdzubi ’alaihim waladzdzaallin, maka kalian harus mengucapkan amin.”
        Ruku’ : semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku’ adalah wajib di dalam shalat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya ber-thuma’ninah di dalam ruku’, yakni ketika ruku’ semua anggota badan harus diam, tidak bergerak. (Mughniyah; 2001)

        • Hanafi : yang diwajibkan hanya semata-mata membungkukkan badan dengan lurus, dan tidak wajib thuma’ninah. Mazhab-mazhab yang lain : wajib membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat itu berada pada dua lututnya dan juga diwajibkan ber-thuma’ninah dan diam (tidak bergerak) ketika ruku’. (Mughniyah; 2001)
        • Syafi’i, Hanafi, dan Maliki : tidak wajib berdzikir ketika shalat, hanya disunnahkan saja mengucapkan : (Mughniyah; 2001)

        Subhaana rabbiyal ’adziim
        ”Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”

        • Hambali : membaca tasbih ketika ruku’ adalah wajib. (Mughniyah; 2001)Kalimatnya menurut Hambali : Subhaana rabbiyal ’adziim ”Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”
        • Hanafi : tidak wajib mengangkat kepala dari ruku’ yakni i’tidal (dalam keadaan berdiri). (Mughniyah; 2001) Dibolehkan untuk langsung sujud, namun hal itu makruh. Mazhab-mazhab yang lain : wajib mengangkat kepalanya dan ber-i’tidal, serta disunnahkan membaca tasmi’, yaitu mengucapkan : Sami’allahuliman hamidah ”Allah mendengar orang yang memuji-Nya”

        Sujud : semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilakukan dua kali pada setipa rakaat. Mereka berbeda pendapat tentang batasnya. (Mughniyah; 2001)

        • Maliki, Syafi’i, dan Hanafi : yang wajib (menempel) hanya dahi, sedangkan yang lain-lainnya adalah sunnah. (Mughniyah; 2001)
        • Hambali : yang diwajibkan itu semua anggota yang tujuh (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ibu jari dua kaki) secara sempurna. Bahkan Hambali menambahi hidung, sehingga menjadi delapan. (Mughniyah; 2001)

        Perbedaan juga terjadi pada tasbih dan thuma’ninah di dalam sujud, sebagaimana dalam ruku’. Maka mazhab yang mewajibkannya di dalam ruku’ juga mewajibkannya di dalam sujud. Hanafi : tidak diwajibkan duduk di antara dua sujud itu. Mazhab-mazhab yang lain : wajib duduk di antara dua sujud. (Mughniyah; 2001)
        Tahiyyat : tahiyyat di dalam shalat dibagi menjadi dua bagian : pertama yaitu tahiyyat yang terjadi setelah dua rakaat pertama dari shalat maghrib, isya’, dzuhur, dan ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah tahiyyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat yang dua rakaat, tiga, atau empat rakaat. (Mughniyah; 2001)

        • Hambali : tahiyyat pertama itu wajib. Mazhab-mazhab lain : hanya sunnah.
        • Syafi’i, dan Hambali : tahiyyat terakhir adalah wajib. Maliki dan Hanafi : hanya sunnah, bukan wajib. (Mughniyah; 2001)

        Kalimat (lafadz) tahiyyat menurut Hanafi :
        Attahiyatu lillahi washolawaatu waththoyyibaatu wassalaamu
        ”Kehormatan itu kepunyaan Allah, shalawat dan kebaikan serta salam sejahtera”
        ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
        ”Kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya”
        Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
        ”Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”
        Asyhadu anlaa ilaaha illallah
        ”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”
        Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
        ”Dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya”

        • Menurut Maliki (Mughniyah; 2001) Attahiyyatu lillaahi azzaakiyaatu lillaahi aththoyyibaatu ashsholawaatu lillah. ”Kehormatan itu kepunyaan Allah, kesucian bagi Allah, kebaikan dan shalawat juga bagi Allah”

        Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
        ”Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya”
        Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
        ”Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”
        Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah
        ”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya”
        Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
        ”Dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya”

        • Menurut Syafi’i : (Mughniyah; 2001). Attahiyyatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. ”Kehormatan, barakah-barakah, shalawat, dan kebaikan adalah kepunyaan Allah”

        Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
        ”Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya”
        Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
        ”Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”
        Asyhadu anlaa ilaaha illallah
        ”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”
        Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
        ”Dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya”

        • Menurut Hambali : (Mughniyah; 2001). Attahiyyatu lillahi washsholawaatu waththoyyibaatu. ”Kehormatan itu kepunyaan Allah, juga shalawat dan kebaikan”

        Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
        ”Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya”
        Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
        ”Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”
        Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah
        ”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya”
        Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
        ”Dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya”
        Allahumma sholli ’alaa muhammad
        ”Ya Allah, berikanlah shalawat kepada muhammad”
        Mengucapkan salam (Mughniyah; 2001)

        • Syafi’i, Maliki, dan Hambali : mengucapkan salam adalah wajib. Hanafi : tidak wajib. (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 126).

        Menurut empat mazhab, kalimatnya sama yaitu :
        Assalaamu’alaikum warahmatullaah
        ”Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian”

        • Hambali : wajib mengucapkan salam dua kali, sedangakan yang lain hanya mencukupkan satu kali saja yang wajib. (Mughniyah; 2001)

        Tertib : diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. Maka takbiratul Ihram wajib didahulukan dari bacaan Al-Quran (salam atau Al-Fatihah), sedangkan membaca Al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku’, dan ruku’ didahulukan daru sujud, begitu seterusnya. (Mughniyah; 2001)
        10. Berturut-turut : diwajibkan mengerjakan bagian-bagian shalat secara berurutan dan langsung, juga antara satu bagian dengan bagian yang lain. Artinya membaca Al-Fatihah langsung setelah bertakbir tanpa ada selingan. Dan mulai ruku’ setelah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran, tanpa selingan, begitu seterusnya. Juga tidak boleh ada selingan lain, antara ayat-ayat, kalimat-kalimat, dan huruf-huruf. (Mughniyah; 2001)

        Daftar Pustaka

        • As’ad, Aliy. 1980. ”Fathul Mu’in”. Kudus: Menara Kudus.
        • Mughniyah, Muhammad Jawad. 2001. ”Fiqih Lima Mazhab”. Jakarta: Lentera.
        • Muttaqin, Zainal, dkk. 1987. ”Pendidikan Agama Islam Fiqh”. Semarang: PT Karya tiga Putra.
        • Rasjid, Sulaiman. 2010. ”Fiqh Islam”. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
        • Ridlwan, Dahlan, dkk. 2005. ”Fiqh”. Jakarta : Media Ilmu.
        • Rifa’i, Mohammad. 1976. ”Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”. Semarang : PT. Karya Toha Putra.

        <http: ajaranalqurandansunnah.blogspot.com>

        Tips dan cara paling ampuh agar anak disiplin salat

        Mengajari anak disiplin salat tidak mudah. Seorang tua mengeluh ketika sulit mengajarkannya pada anak. Sudah dilakukan banyak cara dan tip agar anak rajin salat. Mulai dengan memberi contoh atau teladan. Mengingatkan dengan kasihbsayang dan sabar, hingga sampai dengan mencubit ternyata tidak ampuh juga. Tetapi dia heran ketika seorang sahabatnya mengatakan tidak memakai berbagai cara dan tip tetapi dengan kekuata doa ternyata anaknya rajin salat. Benarkah demilikan?


        Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah

        “”Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya, ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah

        Ia berkata :
        Aku berkata padanya “Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan .. ?

        “Ia menjawab :
        Demi Allah, aku hanya ingin
        mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO’A
        ini .. dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdo’a dg DO’A tersebut.

        Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do’a ini ..
        Dalam sujudku ..
        Saat sebelum salam .. Ketika witir ..
        Dan disetiap waktu2 mustajab ..

        Demi Allah wahai saudara2ku ..
        Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA ..
        Sejak aku memulai berdoa dg doa itu,anakku lah
        yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan
        kami untuk sholat ..
        Dan adik2nya, Alhamdulillah .. mereka semua selalu menjaga sholatnya
        Sampai2 .. saat ibuku berkunjung dan menginap
        dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat

        Aku tahu anda semua penasaran ingin
        mengetahui doa apakah itu?
        Yaaa .. doa ini ada di QS.Ibrahim : 40

        رب اجعلني مقيم الصلاة ِﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀ )

        Rabbij’alni muqimas salati wamin zurriyati rabbana wataqobbal du’a

        “Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan
        sholat .. Ya Robb kami , perkenankanlah doaku”
        (QS. Ibrahim : 40 )

        Yaa .. Doa .. Doa .. dan Doa ..
        Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa
        adalah senjata seorang mukmin
        “Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat ..

        Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah Ta’ala .. Aamiin Allaahumma Aamiin

        Hadits Nabi Tentang Salat: Kapan Angkat Tangan Saat Salat ?

        gkat kepalanya dari ruku’.” (HR Imam Al-Bukhori no. 735 dan Imam Muslim no. 390)

        • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu, dengan lafadz : “Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau bertakbir….” (HRAbu Dawud no. 730, sanadnya shohih)
        • Dalam hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, persis sama dengan hadits Ibnu Umar di atas, akan tetapi dia berkata : “…. Sampai kedua tangan beliau  itu sejajar dengan ujung-ujung kedua telinganya.” (HR Imam Muslim no. 391) 

        Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa takbir angkat tangan itu disyari’atkan dalam tiga keadaan, yaitu : Ketika melakukan Takbirotul Ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’.

        • Juga disyari’atkan takbir dengan angkat tangan ketika bangkit (berdiri) dari melakukan tasyahhud awwal. Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma : “Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, maka beliau mengangkat dua tangannya…” (HR Imam Al-Bukhorino. 739 dan An-Nasa’i, 3/3)
        • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’ : “Adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan dua bahunya, sebagaimana beliau bertakbir ketika takbirotul ihrom.” (HR Abu Dawud no. 730 secara marfu’, sanadnya shohih)
        • Berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, sekelompok ulama berpendapat disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari tasyahhud awwal, diantaranya adalah Abu Humaid As-Sa’idi rodhiyallohu ‘anhu dan sepuluh orang lainnya dari para sahabat Nabi, juga Al-Imam Al-Bukhori, An-Nasa’i, Ahmad dalam salah satu pendapat dari beliau, Abu Bakar bin Ishaq, Ibnul Mundzir dan sekelompok sahabat Imam As-Syafi’I, diantaranya : Abu Ali At-Thobari, Al-Baihaqi, Al-Baghowi dan yang lainnya, dan pendapat inilah yang dirojihkan oleh sekelompok ulama Hanabilah.

        Tetapi jumhur ulama (pendapatbaebagoan besar ulama) berpendapat berbeda, mereka mengatakan : tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam keadaan seperti ini (bangkit dari tasyahhud awwal).

        Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama di atas, wallohu a’lamu bis showab. (lihat : Fathul Bari, Syarh Shohih Al-Bukhori (no. 739), karya Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh)

        • Tentang takbir dengan mengangkat tangan ketika akan sujud setelah berdiri I’tidal, hal ini diambil faedah dari hadits-hadits yang menjelaskan adanya sunnah disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan setiap kali akan turun ataupun naik dari gerakan-gerakan sholat.
        • Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh menyebutkan beberapa dalil hadits tentang masalah ini dalam kitab beliau Fathul Bari (penjelasan hadits no. 739), dan beliau menyebutkan cacat-cacat hadits tersebut dan mana perkara yang rojih dalam perkara ini. 
        • Diantara hadits-hadits yang disebutkan oleh beliau adalah hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam An- Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro (no. 672) dari jalan : Ibnu Abi Ady, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qotadah, dari Nashr bin ‘Ashim, dari Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu  secara marfu’, di dalamnya disebutkan : “Dan (beliau juga bertakbir dengan mengangkat tangan, edt.) apabila beliau sujud, dan bila mengangkat kepalanya dari sujud, sampai sejajar dengan ujung kedua telinga beliau.”
        • An-Nasa’i juga mengeluarkan hadits dari jalan : Abdul A’la, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah seperti tersebut di atas. Juga mengeluarkan hadits lainnya dari jalan : Mu’adz bin Hisyam Ad-Dustuwa’i, dari bapaknya, dari Qotadah, seperti hadits tersebut di atas juga. Dan kebanyakan jalan-jalan hadits tersebut di atas, tidak menyebutkan di dalamnya tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”.
        • Sekelompok perowi hadits, diantaranya : Muhammad bin Ja’far, Isma’il bin ‘Ulyah, dan Yazid bin Zurai’, meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Arubah tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, dan mencukupkan hanya pada tiga tempat seperti yang telah disebutkan di atas (yakni hanya ketika takbirotul ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’). (lihat : Musnad Al-Jami (15/29), juga dalam riwayat Ibnu Adi di sisi Muslim dan Al-Baihaqy, juga Abdulloh bin Numair di sisi Ath-Thobroni dan Ath-Thohawy)
        • Sekelompok perowi hadits yang lainnya, seperti : Abdus Shomad bin Abdil Warits, Abu ‘Amir Al-Aqdi dan Yazid bin Zuraiq,  juga meriwayatkan hadits dari Hisyam Ad-Dustuwa’i tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat : Al-Musnad Al-Jami’ (15/29) dan Ithaaful Mahroh(13/89) karya Ibnu Hibban)    
        • Hadits tersebut di atas juga diriwayatkan oleh Syu’bah, Hammam bin Yahya, Abu ‘Awanah, dan Hammad bin Salamah, semuanya dari jalan Qotadah, tanpa tambahan lafadz tersebut di atas. (lihat : Musnad Al-Jami’ (15/29), Tahqiq Al-Musnad (no. 15.600) dan Mu’jam Ath-Thobroni, 19/284 dan seterusnya)
        • Demikian pula telah meriwayatkan hadits tersebut di atas Abu Qilabah, dari Malik bin Al-Huwairits, dan tidak disebutkan tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat kitab-kitab rujukan tersebut di atas dan juga lihat pula dalam Shohih Muslim) 
        • Menurut As-Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan : “Tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, maka pendapat yang lebih dekat pada kebenaran adalah bahwa hal itu syadz (ganjil/nyleneh), wallohu a’lam bis showab.” (Fathul ‘Allam, Fii Dirosah Ahaadits Bulughil Marom, 1/703)
        • Dalil lain yang menunjukkan disunnahkannya takbir dengan mengangkat tangan ketika turun atau naik di dalam sholat (yakni “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”), adalah hadits Wa’il bin Hujr rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Musnad (4/316) karya Imam Ahmad, dan juga yang lainnya : “Bahwasannya dia (Wa’il) sholat bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun dan ketika naik, dan beliau mengangkat tangannya ketika takbir tersebut.”  Dalam sanad hadits ini ada Abdurrohman Al-Yahshibi, dia adalah perowi yang majhul (tidak diketahui keadaannya).
        • Adapun sebagian ulama, seperti sebagian ulama Dhohiriyyah, yang berpendapat disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap kali turun atau naik di dalam sholat (termasuk dalam hal ini ketika akan sujud atau bangkit dari sujud), maka ini adalah pendapat yang lemah, karena tidak dibangun di atas dalil-dalil yang shohih, wallohu a’lamu bis showab. 

        Berdasarkan uraian di atas, jumhur ulama berpendapat : tidak disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap turun atau naik di dalam sholat, kecuali tiga atau empat keadaan tersebut di atas yang didasarkan atas hadits-hadits yang shohih. Dan insya Alloh, inilah pendapat yang benar.

        Mengapa Perjalanan Pulang Setelah Shalat Ied Harus Berbeda Rute

        Hal ini berdasarkan hadits:

        عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ

        • Dari Jabir, ia berkata:” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila di hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda. (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Man Khalafa Thariq Idza Raja’a…, Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2/472986, karya Ibnu Rajab, 6/163 no. 986)
        • Ibnu Rajab berkata: “Banyak ulama menganggap sunnah bagi imam atau selainnya, bila pergi melalui suatu jalan menuju Shalat Id maka pulang dari jalan yang lainnya. Dan itu adalah pendapat Al-Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i dan Ahmad… Dan seandainya pulang dari jalan itu, maka tidak dimakruhkan.”
        • Para ulama menyebutkan beberapa hikmahnya, di antaranya agar lebih banyak bertemu sesama muslimin untuk memberi salam dan menumbuhkan rasa cinta. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/166-167. Lihat pula Zadul Ma’ad, 1/433)

        Dahsyatnya Doa Diantara Dua Sujud, Sering Dibaca Sering Diremehkan

        wp-1465702969857.jpg
        Dahsyatnya Doa Diantara Dua Sujud, Sering Dibaca Sering Diremehkan

        “Do’a apakah yang paling sering dibaca oleh seorang muslim?”. Mungkin banyak yang menjawabnya dengan salah. Begitu seringnya do’a itu dibaca, sehingga ketika sedang membaca do’a banyak yang tidak merasa berdo’a. Padahal do’a itu sangat dahsyat, mencakup kebutuhan kita di dunia dan akhirat. Dan dibaca minimal 17 kali setiap hari.

        • * RABIGHFIRLI
        • * WARHAMNI
        • * WAJBURNI
        • * WARFA’NI
        • * WARZUQNI
        • * WAHDINI
        • * WA’AAFINI
        • * WA’FUANNI

        Do’a itu adalah DO’A DIANTARA DUA SUJUD marilah kita renungi maknanya :

        RABIGHFIRLI. Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridho اللّهُ Dosa adalah kotoran hati yang membuat hati kelam sehingga hati kita merasa berat untuk melakukan kebaikan.

        WARHAMNI. Sayangilah diriku. Kalau kita disayang Allah hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih Sayang akan dapat dicapai semua cita2. Dengan kasih Sayang Allah nafsu kita akan terbimbing utk selalu di jalan yg benar.

        WAJBURNI. Tutuplah segala kekuranganku. Banyak sekali kekurangan kita, kurang bersyukur, kurang sabar, kurang bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam dll. Kalau kekurangan kita ditutup/diperbaiki اللّهُ , maka kita akan menjadi manusia yg sejati.

        WARFA’NI. Tinggikanlah derajatku. 

        Kalau Allah sudah meninggikan derajat kita, maka pasti tidak ada manusia yang bisa menghinakan kita.

        WARZUQNI. Berikanlah aku rizki. Sebagai hamba Allah kita membutuhkan rizki. Hanya Allahnyang mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan (wayarzuqhu limay yasyak u bighairi hisab).

        WAHDINI. Berikanlah aku petunjuk/bimbinglah aku ke jalan kebahagiaan. Kita tidak hanya minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan akhirat, tetapi kita juga minta petunjuk agar terhindar dari mengambil keputusan yang salah utk kebahagiaan di dunia.

        WA’AAFINI. Berikanlah aku kesehatan. Kesehatan adalah kebutuhananusia yang utama dan mahal harganya. Dengan kesehatan manysia bisa berkarya, mencari rizku dan mendapatkan kebaikan dan manfa’at serta tidak menjadi beban orang lain

        WA’FUANNI. Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan. 

        Dari do’a tsb diawali do’a dengan mohon ampun dan kita akhiri dengan permohonan ampunan utk menghapus dosa. Sehingga kita berharap benar-benar bersih dari dosa.

        ALLAH SWT memerintahkan kita untuk membaca do’a itu, Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita.

        TERKADANG YG JADI PERSOALAN DI MANA HATI DAN  PIKIRAN KITA KETIKA KITA MEMBACA DO’A ITU

        Padahal begitu dahsyatnya makna  do’a tsb, tapi masih banyak orang sering tergesa-gesa membacanya. Seharusnya  thuma’nina dengan meresapi dan benar2 meminta kepada ALLAH SWT.

        Penentuan Waktu Salat Berdasarkan Kajian Astronomi

        wp-1465701884313.jpgSalat lima waktu adalah salat yang dikerjakan pada waktu tertentu, sebanyak lima kali sehari. Salat ini hukumnya fardhu ‘ain (wajib), yakni wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah menginjak usia dewasa (pubertas), kecuali berhalangan karena sebab tertentu. Waktu salat dari hari ke hari, dan antara tempat satu dan lainnya bervariasi. Waktu salat sangat berkaitan dengan peristiwa peredaran semu matahari relatif terhadap bumi. Pada dasarnya, secara astronomi untuk menentukan waktu salat, diperlukan letak geografis, waktu (tanggal), dan ketinggian.

        Salat lima waktu merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Allah menurunkan perintah salat lima waktu ini ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Salat lima waktu tersebut adalah sebagai berikut:

        • Subuh, terdiri dari 2 rakaat. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.
        • Zuhur, terdiri dari 4 rakaat. Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.
        • Asar, terdiri dari 4 rakaat. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Asar berakhir dengan terbenamnya matahari.
        • Magrib, terdiri dari 3 rakaat. Waktu Magrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya.
        • Isya, terdiri dari 4 rakaat. Waktu Isya diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam Syi’ah, Salat Isya boleh dilakukan setelah mengerjakan Salat Magrib.
        • Khusus pada hari Jumat, laki-laki muslim wajib melaksanakan salat Jumat di masjid secara berjamaah (bersama-sama) sebagai pengganti Salat Zhuhur. Salat Jumat tidak wajib dilakukan oleh perempuan, atau bagi mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir).

        Penentuan Waktu Salat

        Waktu salat Waktu salat dari hari ke hari, dan antara tempat satu dan lainnya bervariasi. Waktu salat sangat berkaitan dengan peristiwa peredaran semu matahari relatif terhadap bumi. Pada dasarnya, untuk menentukan waktu salat, diperlukan letak geografis, waktu (tanggal), dan ketinggian. urutan waktu salat (dari pagi sampai malam) yaitu imsak, Subuh, syuruq, Zuhur, Asar, Maghrib dan Isya.

        • Syuruq Syuruq adalah terbitnya matahari, waktu syuruq menandakan berakhirnya waktu Subuh. Waktu terbit matahari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu.
        • Zuhur Waktu istiwa’ (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa’ juga dikenal dengan sebutan “tengah hari” (bahasa Inggris: midday/noon). Pada saat istiwa’, mengerjakan ibadah salat (baik wajib maupun sunah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah istiwa’, yakni ketika matahari telah condong ke arah barat. Waktu “tengah hari” dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi “piringan” matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (istiwa’). Secara teoretis, antara istiwa’ dengan masuknya zhuhur membutuhkan waktu 2,5 menit, dan untuk faktor keamanan, biasanya pada jadwal salat, waktu Zuhur adalah 5 menit setelah istiwa’.[butuh rujukan]
        • Asar Menurut mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, waktu Asar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara mazhab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Asar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Asar dapat dihitung dengan algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi. Waktu salat relatif terhadap peredaran semu matahari Waktu salat dari hari ke hari, dan antara tempat satu dan lainnya bervariasi. Waktu salat sangat berkaitan dengan peristiwa peredaran semu matahari relatif terhadap bumi. Pada dasarnya, untuk menentukan waktu salat, diperlukan letak geografis, waktu (tanggal), dan ketinggian.
        • Magrib Waktu Magrib diawali ketika terbenamnya matahari. Terbenam matahari di sini berarti seluruh “piringan” matahari telah “masuk” di bawah horizon (cakrawala).
        • Isya dan Subuh Waktu Isya didefinisikan dengan ketika hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit, hingga terbitnya fajar shaddiq. Sedangkan waktu Subuh diawali ketika terbitnya fajar shaddiq, hingga sesaat sebelum terbitnya matahari (syuruq). Perlu diketahui, bahwa sesaat setelah matahari terbenam, langit kita tidak langsung gelap, karena bumi kita memiliki atmosfer sehingga meskipun Matahari berada di bawah horizon (ufuk barat), masih ada cahaya Matahari yang direfraksikan di langit. Dari sisi astronomis, cahaya di langit yang terdapat sebelum terbitnya matahari dan setelah terbenamnya matahari dinamakan twilight, yang secara harfiah artinya “cahaya di antara dua”, yakni antara siang dan malam. Dalam bahasa Arab, “twilight” disebut syafaq. Secara astronomis, terdapat tiga definisi twilight:
          • Twilight Sipil, yakni ketika matahari berada 6° di bawah horizon
          • Twilight Nautikal, yakni ketika matahari berada 12° di bawah horizon
          • Twilight Astronomis, yakni ketika matahari berada 18° di bawah horizon
            • Astronom menganggap “Twilight Astronomis Petang” menandakan dimulainya malam hari; namun definisi ini adalah untuk keperluan praktis saja.
            • Secara astronomis, waktu Subuh merupakan kebalikan dari waktu Isya. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya yang menjulang tinggi (vertikal) di ufuk timur; Ini dinamakan “fajar kadzib”. Cahaya tersebut kemudian menyebar di cakrawala (secara horizontal), dan ini dinamakan “fajar shaddiq”.
            • Bagi penentuan jadwal waktu salat (yakni munculnya “fajar shaddiq” dan hilangnya syafaq di petang hari), terdapat variasi penentuan sudut “twilight” oleh berbagai organisasi. Banyak di antara umat Islam menggunakan Twilight Astronomis (yakni ketika matahari berada 18° di bawah horizon) sebagai waktu fajar shaddiq. Sebagian yang lain menetapkan kriteria fajar shaddiq atau syafaq terjadi ketika matahari berada 17°, 19°, 20°, dan bahkan 21°. Sebagian yang lain bahkan menggunakan kriteria penambahan 90 menit, 75 menit, atau 60 menit.
            • Sebuah penelitian dan observasi di berbagai tempat di dunia menunjukkan bahwa penentuan sudut twilight tertentu ternyata tidak valid (tidak bisa berlaku) untuk seluruh tempat di bumi ini terhadap peristiwa fajar shaddiq dan hilangnya syafaq [1]. Peristiwa tersebut merupakan fungsi dari letak lintang dan musim yang bervariasi di tempat satu dan lainnya.
        • Imsak Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Subuh menandakan dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor “keamanan”, ditetapkan waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Subuh.

        Salat Tahajjud, Tuntunan dan Keistimewaannya

        image

        Salat tahajjud adalah salat sunnat yang dikerjakan di malam hari setelah terjaga dari tidur. Salat tahajjud termasuk salat sunnat mu’akad (salat yang dikuatkan oleh syara’). Salat tahajjud dikerjakan sedikitnya dua rakaat dan sebanyak-banyaknya tidak terbatas.

        Sholat tahajud merupakan sholat sunnah yang dilakukan pada waktu malam hari dalam satuan dua rakaat satu kali sala, pada waktu malam hari yaitu pada sepertiga malam akhir, atau setengah malam akhir, atau mendekati dua pertiga malam hingga waktu menjelang sholat subuh. Sholat sunnah tahajud dalam bahasa arab disebut Sholatun Lail yang artinya sholat di malam hari. Mengenai waktu pelaksanaan sholat tahajud para ulama memiliki pendapat yang berbeda ada yang mengatakan bahwa sholat tahajud mesti setelah terbangun dari tidur di malam hari, namun ada juga yang berbendapat bahwa sholat tahajud tidak mesti harus tidur terlebih dahulu.

        Dalam Al-Qur’an

        • Dalam karyanya yang terkenal, Fiqh As-Sunnah, Sayyid Sabiq Sheikh menguraikan tentang subjek tahajjud sebagai berikut:
        • Suruhan untuk Nabi Muhammad, Allah swt berfirman sebagai berikut: Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjudlah kamu sebagaimana ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji— Al-Isra’ 17:79
        • Perintah ini, meskipun secara khusus ditujukan kepada Muhammad, juga mengacu pada semua Muslim, karena Muhammad adalah menjadi contoh sempurna dan panduan bagi mereka dalam segala hal.
        • Selain itu, melakukan shalat Tahajjud teratur memenuhi syarat sebagai salah satu dari orang-orang benar dan seseorang yang mendapatkan karunia dan kemurahan Allah. Dalam memuji mereka yang melakukan sholat malam, Allah berfirman: Dan orang-orang yang melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk tuhan mereka — Al-Furqan 25:64

        image

        Dalam Hadits

        • “Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal sepertiga akhir dari waktu malam, lalu berseru:Adakah orang-orang yang memohon (berdo’a), pasti akan Kukabulkan, adakah orang-orang yang meminta, pasti akan Kuberi dan adakah yang mengharap/memohon ampunan, pasti akan Kuampuni baginya. Sampai tiba waktu Shubuh.” (Al Hadits).
        • Salat tahajjud dapat dilakukan kapanpun pada malam hari. Namun waktu paling utama untuk melakukannya adalah pada sepertiga akhir malam.

        Hukum

        • Pada mula-mula, sembahyang ini diwajibkan oleh Allah, pada firmannya di Surah Al-Muzzammil: Bangun lah pada malam hari (untuk sembahyang) kecuali sedikit (daripadanya)— Al-Muzzammil 73:20
        • Namun, setelah turunnya ayat 20 dalam surat ini,Allah Yang Maha Adil memberi keringanan. Hukumnya menjadi sunah.

        image

        Keistimewaan salat tahajjud

        • Salat tahajjud merupakan kehormatan bagi seorangmuslim, sebab mendatangkan kesehatan, menghapus dosa-dosa yang dilakukan siang hari, menghindarkannya dari kesepian dialam kubur, mengharumkan bau tubuh, menjaminkan baginya kebutuhan hidup, dan juga menjadi hiasan surga. Selain itu, salat tahajjud juga dipercaya memiliki keistimewaan lain, dimana bagi orang yang mendirikan salat tahajjud diberikan manfaat, yaitu keselamatan dan kesenangan di dunia dan akhirat, antara lain wajahnya akan memancarkan cahayakeimanan, akan dipelihara oleh Allah dirinya dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung arti dan dituruti oleh orang lain, akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalinya, dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang bercahaya, diberi kitab amalnya ditangan kanannya, dimudahkan hisabnya, berjalan di atas shirat bagaikan kilat.
        • Ketika menerangkan salat tahajjud, Nabi MuhammadSAW bersabda, Salat tahajjud adalah sarana (meraih) keridhaan Tuhan, kecintaan para malaikat, sunah paranabi, cahaya pengetahuan, pokok keimanan, istirahat untuk tubuh, kebencian para setan, senjata untuk (melawan) musuh, (sarana) terkabulnya doa, (sarana) diterimanya amal, keberkatan bagi rezeki, pemberi syafaat di antara yang melaksanakannya dan di antara malaikat maut, cahaya di kuburan (pelaksananya), ranjang dari bawah sisi (pelaksananya), menjadi jawaban bagi Munkar dan Nakir, teman dan penjenguk di kubur (pelaksananya) hingga hari kiamat, ketika di hari kiamat salat tahajud itu akan menjadi pelindung di atas (pelaksananya), mahkota di kepalanya, busana bagi tubuhnya, cahaya yang menyebar didepannya, penghalang di antaranya dan neraka, hujah (dalil) bagi mukmin dihadapan Allah SWT, pemberat bagi timbangan, izin untuk melewati Shirath al-Mustaqim, kunci surga.
        • Dikabulkannya doa-doa kita. Dari Jabir radliyallahu’anhu, ia berkata, “aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam” (HR Muslim dan Ahmad)
        • Shalat yang paling utama. Bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasaalam, “seutama-utama shalat sesudah shalat fardu ialah shalat sunnat di waktu malam (HR Muslim)
        • Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang melakukan qiyamul lail. Abdullah bin salam mengatakan, bahwa nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah di waktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk surga dengan selamat” (HR Tirmidzi)
        • Akan mendapatkan tempat yang terpuji. Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ke tempat yang terpuji (qs. Al Isra: 79)

        image

        Tuntunan dan Doa Salat Tahajjud

        Niat Sholat Tahajud

        Untuk niat sholat tahajud tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan sholat sunnah lainnya, cukup pendek dan mudah untuk diingat.  Niat sholat tahajud adalah sebagai berikut :

        • bahasa latin : Ushollii sunnatat tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
        • arti dalam bahasa Indonesia-nya : Aku (niat). shalat sunat tahajud 2 rakaat, karena Allah Ta’ala

        Tata Cara Sholat Tahajud

        Mengenai cara sholat tahajud tidak jauh berbeda dengan sholat sunnah umumnya yaitu sebagai berikut :

        1. Membaca niat sholat tahajud seperti yang terlah tertulis di atas dengan suara yang pelan saja, diikuti dengan artinya di baca dalam hati.
        2. setelah membaca niat dilanjutkan dengan membaca takbir, (membaca Allahhuakbar) sambil tangannya di angkat ke atas
        3. Kemudian membaca doa iftitah (sunah)
        4. Lalu membaca surat alfatihah, setelah alfatihah membaca surat pendek yang ada dalam Al Qur’an yang telah dihafal, seperti surat Al Ikhlas, Annas, Alfalaq, dan lain-lain
        5. Kemudian lanjutkan seperti pada langkah langkah sholat pada umumnya. Seperti rukuk, sujud, hingga salam.
        6. Setelah salam disunahkan membaca bacaan wirid, tasbih, tahmid, takbir, sholawat, istigfar, kemudian membaca doa sholat tahajud.

        Doa Sholat tahajud

        ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQAA’UKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WAL JANNATU HAQQUN, WANNAARU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAMA HAQQUN WASSAA’ATU HAQQUN. ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHAASHAMTU, WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIRLII MAA QADDAMTU, WA MAA AKH-KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHIMINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MU’AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

        Arti Doa Sholat Tahajud:

        “Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itu benar(ada). Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

        Jumlah Rakaat sholat Tahajud

        • Jumlah rakaat rakaat sholat tahajud minimal adalah dua rakaat dua kali salam, dan paling banyak atau maksimal bisa sebanyak-sebanyaknya sesuai dengan kemampuan. Nabi Junjungan kita yaitu Muhammad SAW saw, beliau pernah mengerjakan shalat tahajud sebanyak 10 rakaat ditambah 1 rakaat sunat witir,  pernah juga 8 rakaat ditambah 1 rakaat sunat witir, dan dan pernah juga 8 rakaat ditambah 3 rakaat sunat witir.
        • Jadi dalam melaksanakan shalat tahajud sebaiknya ditambah dengan shalat sunat witir. Shalat tahajud ini hendaknya dikerjakan dua rakaat satu salam, sementara itu untuk shalat sunat witirnya, jika dikerjakan lebih dari satu rakaat, misalnya 3 rakaat, boleh dikerjakan sekaligus dengan satu salam, boleh pula dikerjakan 2 rakaat dahulu kemudian salam, dilanjutkan 1 rakaat lalu salam

        Waktu Sholat Tahajud

        • Untuk waktu pelaksanaan shalat tahajud adalah ketika setelah bangun dari tidur dan setelah shalat isya, baik di awal malam (sepertiga malam pertama antara waktu Isya dan pukul 22.00 WIB), tengah malam (sepertiga malam kedua, antara pukul 22.00 dan pukul 01.0.0 WIB), maupun akhir malam (sepertiga malam yang terakhir, antara pukul 01.00 dan menjelang subuh). Sepertiga malam yang terakhir inilah waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud. Karena menurut hadits nabi, pada waktu itu rahmat Allah turun, sehingga barang siapa berdoa akan dikabulkan, barang siapa meminta akan diberikan, dan barang siapa memohon ampun akan diampuni oleh Allah. Aamiin
        • Itulah ulasan kami mengenai Panduan sholat Tahajud lengkap dengan bacaan niat, doa sholat tahajud dan artinya. Semoga bisa bermanfaat bagi kamu yang membutuhkan. perliharalah sholat tahajud pada tengah malam, Selain semakin dekat dan disayang Allah, ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dari sholat Tahajud. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita, melindungi diri  kita dari godaan syetan yang terkutut, dan semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.