Tag Archives: rasulullah

Panduan I’tikaf Sesuai Tuntunan Rasulullah

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. I’tikaf (Itikaf, iktikaf, iqtikaf, i’tiqaf, itiqaf), berasal dari bahasa Arab akafa[1] yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islamadalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang sedang beriktikaf disebut juga mutakif.

Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua macam: iktikaf sunat dan wajib.

  • Iktikaf sunnat adalah iktikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.
  • Iktikaf wajib adalah iktikaf yang dikarenakan bernazar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

  • Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.” Dari Abu Hurairah, ia berkata,كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

Waktu I’tikaf

  • Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang beri’tikaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Muslim
  • Niat
  • Baligh/Berakal
  • Suci dari hadats (junub), haid dan nifas
  • Dilakukan di dalam masjid.
  • Oleh karena itu, iktikaf tidak sah bagi orang yang bukan muslim, anak-anak yang belum dewasa, orang yang terganggu kewarasannya, orang yang dalam keadaan junub, wanita dalam masa haid dan nifas

wp-1558918201380..jpgRukun-rukun iktikaf

  • Niat
  • Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187) Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang digunakan untuk salat berjamaah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan salat jamaah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk membuat salat Jumat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk salat Jumat. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang utama yaitu iktikaf di masjid jami’, kerana Rasulullah saw iktikaf di masjid jami’. Lebih utama di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa.

Tempat I’tikaf

  • I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid
  • Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”[6] Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.[7]
  • I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja
  • Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.
  • Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”
  • Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksud. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?
  • Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.[12] Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.
  • Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”

Wanita Boleh Beri’tikaf

  • Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”
  • Dari ‘Aisyah, ia berkata,أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
  • Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.

Lama Waktu Berdiam di Masjid

  • Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf.
  • Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.
  • Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[20] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”
  • Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
    Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf.”

Yang Membatalkan I’tikaf

  • Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.
  • Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)

Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf

  • Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
  • Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
  • Mandi dan berwudhu di masjid.
  • Membawa kasur untuk tidur di masjid.
  • Mulai Masuk dan Keluar Masjid
  • Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”
  • Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Adab I’tikaf

  • Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat

wp-1558918397680..jpg

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

َـاَق لَّاُثُ ِضْرَْلأا ىَلَع َدَمَتْعاَو َسَلَج ِةَيِ الَّاثلا ِةَدْ لَّاسلا ْنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِ َف Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas: ُنِجاَعْلا ُعَضَ اَمَ ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْ َدَ َعَضَو ِوِتَلاَص ِفي َـاَق اَذإ َفاَ َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini: ِطيِسَوْلا ىَلَع ِوِمَلاَ ِفي ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق : ِوِب لَّاجَتُْ ْفَأ ُزوَُيَ َلاَو ُؼَ ْعُػ َلاَو ُّحِصَ َلا ُث ِدَْتضا اَ َى . ِبلَّا َ ُمْلا ِحْ َش ِفي ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : ِحيِ ْنلَّاػتلا ِفي َؿاَقَو ، ُوَل َلْصَأ َلا ٌلِطاَب ْوَأ ، ٌفيِعَض ٌث ِدَ اَ َى : ِحْ َش ِفي َؿاَقَو ، ٌلِطاَب ٌفيِعَض ِبلَّا َ ُمْلا : َؿاَق ، اَ ْػيَلَع اًدِمَتْعُم ُـوُ َػ َو ِوْ َدَ ُضِبْ َػ يِ لَّالا َوُىَو ُّحَصَأ ِفوُّنلاِبَو ِيالَّاللاِب َوُىَو ، ِوِسْرَد ِفي َؿاَق ُولَّا َأ دِِّلراَلَ ْلا ْنَع َلِ ُ : لَّاحَص ْوَلَو َؿاَق لَّاُثُ ِ ِ َعْلا َنِجاَع ُداَ ُمْلا َسْيَلَو ، ُيرِبَكْلا ُخْيلَّا لا َوُىَو ، ُلِجاَعْلا ُدِمَتْعَػ اَمَ ِوْ َدَ ِنْطَبِب اًدِمَتْعُم َـاَق ُهاَنْعَم َفاَكَل ُث ِدَْتضا : اَم ِنيْعَػ لَّافَأ ، ِحَلالَّاصلا ُنْبا ُهَ َ َذ. اَنْلُػق اَذإ الَّامَ َف ، ِيالَّاللاِب ُلِجاَعْلا ْوَأ ، ِفوُّنلاِب ُنِجاَعْلا َوُى ْلَى ِوِسْرَد ِفي ىَكَ لَّاِلراَلَ ْلا : ُنِجاَع َوُ َػف ِفوُّنلاِب ُولَّا إ ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق ، ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْيَػتَ اَر ُعَضَ َلاَو ُعِفَتْ َػ َو ، اَ ْػيَلَع ُئِكلَّاتَػ َو اَ ُّمُضَ َو ِوْيلَّافَ َعِباَصَأ ُضِبْ َػ ِلْبُْتطا : ْنِم ٌيرِثَ اَ َِ َلِمَعَو ِةَ ُّللا ِفي َنِجاَعْلا لَّافِ َف ، ُهاَنْعَم َكِلَذ ْنُكَ َْلد َتَبَػث ْوَلَو ، ْتُبْثَػ َْلد ٍث ِدَِبِ ، اَِ َدْ َع َلا ِةَلالَّاصلا ِفي ٍةلَّايِعْ َش ٍةَئْيَى ُتاَبْػثإ َوُىَو ، ِمَ َعْلا :

42 Dipersembahkan untuk ummat oleh Tafaqquh Study Club | Website: http://www.tafaqquhstreaming.com Silakan menyebarluaskan e-book ini dengan menyertakan sumber ُ ِعالَّا لا َؿاَق ، ُّنِسُمْلا ُلُجلَّا لا َوُى : َؿاَق َنِجاَعَو َتْنُ ِءْ َمْلا ِؿاَصِخ لَّا َ َف : ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ْنِم اًذوُخْ َم َكِلَ ِب َِبرِكْلا ُفْصَو َفاَ ْفِ َفاَ ِعِباَصَأ دِّمَض ِةلَّايِفْيَ ِفي َلا ِنْ َدَيْلا ِعْضَو َدْنِع ِداَمِتْعِلاا ِةلَّادِش ِفي ُويِبْ لَّاتلاَف Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”.

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ َنِجاَعْلا ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari

Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini: ث و نب كلام و- ًاض أ – ملسو ويلع للها ىلص بِنلا فأ ذ[و د ىلع دمتعا ـو فأ دارأ اذإ فا ] ةفص ىلع وى لى نكلويأ ،ث دتضا ا ى ةحص عوملمجا في للها وتزر يوونلا ك أ دقو ،كلذ في دراولا ث دتضا ةحص ىلع نيبن ا ف ؟لا ـأ نجاعلا 43 وححص ن خ تتظا ضعبو ،نجاعلا . ه خأو بر و لأ ؛سليَ و أ ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ظ ي لاف ٍل ىلعو كلذ فوكيل و د ىلع دمتعا ـو و ض ن فأ دارأ اذإ ثُ سليَ فاكف ،ـاي لا لذإ دو سلا نم ًاماتد ضو نلا عيطتس لا فاكف ،محللا ةسلتصا ه ى في حجا لا ؿو لا فا ا تعو ،ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ىاظلا وى ا ى ،ول ل سأ-نيعأ : ةسلجة اترسلاا – دنع دمتع فأ لذإ جات ا اذإ ثُ ،سل يلف كلذ وبشأ ام وأ ويتب ر في لدأ وأ ض م وأ ل ث وأ بركل ا يلإ جات ا فإ و أنيع ،عباصلأا رو ظ ىلع دمتعا ءاوس ،ت ا ةفص يأ ىلع دمتعيلف و د ىلع ـاي لا : ىلع وأ ا يلع دمتعاو ا كى وعباصأ عتردمتع لاف جت لد فإو ،دمتعيلف دامتعلاا لذإ جات ا اذإ م تظا ،كلذ يرا وأ ،وت ار.

Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih.

Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw.

Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu

Sumber : Imam ash-Shan’ani, Subul as-Salam: 2/152.

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ada dua hadits yang berbeda dalam masalah ini. Hadits pertama: َؿاَق َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ْنَع : َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ولَّاللا ُؿوُسَر َؿاَق :{ ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ، ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ْؾُ ْػبَػ َلاَف ، ْمُ ُدَ َأ َدَ َس اَذإ}

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu sujud, maka janganlah ia turun seperti turunnya unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud).

Hadits Kedua:

لَّاِبِلَّانلا ُتْ َأَر َؿاَق ٍ ْ ُ ِنْب ِلِئاَو ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ َعَفَر َضَ َػ اَذِإَو ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر َعَضَو َدَ َس اَذِإ. Dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Saw, ketika sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Ketika bangun ia mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

Ulama berbeda pendapat dalam mengamalkan kedua hadits ini. Imam ash-Shan’ani berkata: دِّيِعاَزْوَْلأاَو ، ٍكِلاَم ْنَع ٌةَ اَوِرَو ، ُةلَّا ِوَداَْتعا َبَىَ َف ، َكِلَذ ِفي ُءاَمَلُعْلا َفَلَػتْخا ْدَقَو : ُّيِعاَزْوَْلأا َؿاَق لَّاتََّ ، ِث ِدَْتضا اَ َِ ِلَمَعْلا َلذإ : اَنْ َرْدَأ ْمِ ِبَ ُر َلْبَػق ْمُ َػ ِدْ َأ َفوُعَضَ َسالَّانلا : دُواَد ِبيَأ نْبا َؿاَقَو : ِث ِدَْتضا ِباَحْصَأ ُؿْوَػق َوُىَو Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: al-Hadawiyah, satu riwayat dari Imam Malik dan al-Auza’i mengamalkan hadits yang menyatakan lebih mendahulukan tangan daripada lutut. Bahkan Imam al-Auza’i berkata: “Kami dapati orang banyak meletakkan tangan mereka sebelum lutut mereka”. Imam Abu Daud berkata: “Ini adalah pendapat para Ahli Hadits. ٍكِلاَم ْنَع ُةَ اَوِرَو ، ُةلَّايِفَنَْتضاَو ، ُةلَّايِعِفالَّا لا ْتَبَىَذَو : ٍلِئاَو ِث ِدَِبِ ِلَمَعْلا َلذإ

Mazhab Syafi’i, Hanafi dan satu riwayat dari Imam Malik menyebutkan bahwa mereka mengamalkan hadits riwayat Wa’il (mendahulukan lutut daripada telapan tangan). Pendapat ulama dalam masalah ini: ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : َث ِدَ اوُحلَّاجَر ِبَىْ َمْلا اَ َى َلْىَأ لَّانِكَلَو ، ِ َخْلآا ىَلَع ِْ َػبَىْ َمْلا ِدَ َأ ُحيِجْ َػت ُ َ ْظَ َلا ” ٍلِئاَو ” ِفي اوُلاَقَو ، ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ : ” ِفاَ ْمَْلأا ُوْنَع َيِوُر ْدَق ْذإ ، ٌبِ َطْضُم ُولَّا إ . َؿاَقَو اَ يِف َؿاَطَأَو ِمدِّيَ ْلا ُنْبا َ لَّا َ َو : ِث ِدَ ِفي لَّافإ ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ” َؿاَق ُثْيَ ، يِوالَّا لا ْنِم اًبْلَػق ” : ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ” ُوَلْصَأ لَّافِإَو ” : ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر ْعَضَيْلَو ” َؿاَق ، : ُوُلْوَػق َوُىَو ، ِث ِدَْتضا ُؿلَّاوَأ ِوْيَلَع ُّؿُدَ َو ” : ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ُؾُ ْػبَػ َلاَف ” ِؾوُ ُػب ْنِم َؼوُ ْعَمْلا لَّافِ َف ِْ َلْجدِّ لا ىَلَع ِنْ َدَيْلا ُ ِدْ َػت َوُى ِيرِعَبْلا

Imam an-Nawawi berkata: “Tidak kuat Tarjih antara satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam masalah ini, akan tetapi Mazhab Syafi’I menguatkan hadits Wa’il (mendahulukan lutut daripada tangan). Mereka berkata tentang hadits riwayat Abu Hurairah bahwa hadits itu Mudhtharib; karena ia meriwayat kedua cara tersebut.

Imam Ibnu al-Qayyim meneliti dan membahas secara panjang lebar, ia berkata: “Dalam hadits riwayat Abu Hurairah terdapat kalimat yang terbalik dari perawi, ia mengatakan: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut”, kalimat asalnya adalah: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”. Ini terlihat dari lafaz awal hadits: “Janganlah turun diketahui bahwa turunnya unta itu adalah dengan cara lebih mendahulukan tangan (kaki depan) daripada kaki belakang.

Pendapat Ibnu Baz: ي لا وى ا ىو ، و د لبق ويتب ر عض لب فو خآ ؿاقو ويتب ر لبق و د عض م ضعب ؿا ف ملعلا لىأ نم يرث ىلع ا ى لكش ف نب لئاو ث دتض فاوتظا وى ا ىو يرعبلا فلاخ د ف ويتب ر ىلع نم تظا ؾ ب اذ ف و ديب أدب يرعبلا ؾو ب فلأ يرعبلا ؾو ب فلا عفر اذ ف عو تظا وى ا ى ضرلأا ىلع اض أ وت بج عض ثُ ضرلأا ىلع و د عض ثُ لاوأ ويتب ر ىلع د س فأ باوصلا وى ا ىو امأو ، ث دتضا ب عمتصا وىو ملسو ويلع للها ىلص بِنلا نع ةنسلا وب تءاج ي لا عو تظا وى ا ى ض ن ثُ و د ثُ لاوأ و جو عفر ة ى بيأ ث د في ولوق : فأ باوصلا ا إ للها وتزر مي لا نبا كلذ ذ ام بلا ا و أ ملعأ للهاو ىاظلاف ويتب ر لبق و د عضيلوهانعم في ءاج امو نب لئاو ث د عم فت تَّ و ولوأ ث دتضا خآ فاو تَّ و د لبق ويتب ر عض

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits.

Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim –rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agar sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya.

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin: ولوأو ث دتضا خآ باطت فأ ا درأ اذإ باوصلا فوك ئنيحف”و د لبق ويتب ر عضيلو” تلق ام تب لا لبق ن ديلا عضو ول و لأ ؛يرعبلا ؾبر ام ؾبرل .فاضقانتم ه خآو ث دتضا ؿوأ فوك ئني و . … اىاتش ةلاسر ةوخلأا ضعب فلأ دقو(دو سلا في ن ديلا لبق تب لا عضو في دوبعتظا حتف) دافأو ويف داجأو . …و د لبق ويتب ر فاس لإا عض فأ دو سلا في ملسو ويلع للها ىلص ؿوس لا ا مأ تيلا ةنسلا ف ف ا ى ىلعو.

Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits. Adalah salah seorang ikhwah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar-Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

Shirah Nabawiyah : Kisah Lengkap Kelahiran Muhammad

Muhammad Lahir

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa’d (Banu Sa’d), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur l’Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd’l-Muttalib.

Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Putra Dan Putri Rasulullah

Putra Dan Putri Rasulullah

Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR Ahmad no.24864)

Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiya

Putra putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat saat berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga ath-Thayyib atau ath-Tahir karena lahir setelah kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat saat berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putri-putri Rasulullah

Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

  1. Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah. Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami. Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah. Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.
  2. Ruqayyah binti Rasulullah. Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affanradhiallahu ‘anhu. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah. Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun. Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar.
  3. Ummu Kultsum binti Rasulullah. Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.
    Fatimah binti Rasulullah. Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum. Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخار “Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد “Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri Firaun.” (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.

Putra-putra Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري

“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Ikuti Keteladanan Kegiatan Rasulullah di Bulan Puasa

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.[al-Baqarah/2:185]

Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.

Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur’ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur’ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka.

Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, “Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !”

Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.

Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.

1556178985085.jpgKebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân:

1. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya’bân menjadi tiga puluh.

2. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.

3. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya’bân-red)

4. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.

5. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. [al-Baqarah/2:187]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.

6. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka”

7. Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat

8. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur’ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali”.

9. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga semakin meningkat lagi.

10. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.

11. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla.

12. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).

13. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.

Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sayang kepada umatnya yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.

14. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.

15. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri’tikaf, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa

16. Ramadhân adalah syahrul Qur’ân (bulan al-Qur’ân), sehingga tadarus al-Qur’ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tadarus al-Qur’ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur’ân dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

17. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.

18. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah

Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Masjid yang dibangun oleh kaum munafik untuk memecah belah kaum Muslimin

Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3139-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-di-bulan-ramadhan.html

Nasab atau Garis Keturunan Nabi Muhammad

Nasab atau Garis Keturunan Nabi Muhammad

Nasab atau garis keturunan adalah sesuatu yang sangat dijaga dan diperhatikan oleh Islam. Demikian kuatnya Islam dalam memperhatikan nasab, ia pun dijadikan salah satu dari lima hal yang wajib dijaga dalam Islam. Karena itu Islam melarang perzinahan, salah satu hikmahnya agar nasab terjaga.

Perhatian Islam terhadap nasab juga dengan menjadikannya salah satu indikator kedudukan seseorang. Apabila seorang laki-laki hendak menikahi seorang wanita, maka salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah nasabnya. Walaupun nasab bukan segalanya karena kedudukannya masih kalah dibanding faktor ketakwaan.

Demikian juga dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau juga memiliki keutamaan nasab. Beliau merupakan keturunan orang-orang pilihan di setiap generasinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ان الله اصطفى من ولد ابراهيم اسماعيل . واصطفى من ولد اسماعيل بنى كنانة . واصطفى من بنى كنانة قريشا . واصطفى من قريش بنى هاشم . واصطفانى من بنى هاشم

“Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak-anak keturunan Ibrahim. Dan memilih Kinanah dari anak-anak keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy dari anak-anak keturunan Kinanah. Kemudian memilih Hasyim dari anak-anak keturunan Quraisy. Dan memilihku dari anak keturunan Hasyim.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagai umat Nabi Muhammad kita pun selayaknya mengenal nasab beliau. Berikut ini nasab lengkap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasab Nabi Muhammad

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:1) kemudian para sejarawan menyebutkan ada empat nama di atasnya hingga sampai ke Nabi Ismail bin Ibrahim.

Tidak ada perselisihan di kalangan ahli sejarah bahwa Adnan adalah anak dari Nabi Ismail ‘alaihissalam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Arab Adnaniyah atau al-Arab al-Musta’rabah.

Para ahli sejarah membagi orang-orang Arab menjadi tiga golongan:

  1. Pertama: al-Arab al-Baidah (العرب البائدة) mereka adalah orang-orang Arab kuno yang sudah punah. Seperti kaum ‘Aad, Tsamud, Kan’an, dll.
  2. Kedua: al-Arab al-‘Aribah (العرب العاربة) mereka adalah orang Arab asli dari keturunan Ya’rib bin Yasyjub bin Qahthan. Karena itu, mereka juga disebut Arab Qahthaniyah. Mereka berasal dari Yaman.
  3. Ketiga: al-Arab al-Musta’robah (العرب المستعربة) mereka adalah orang yang ter-arabkan dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam. Mereka dikenal dengan Arab Adnaniyah (al-Mubarakfury: ar-Rahiq al-Makhtum, Hal: 16).

Mengapa Arab Adnaniyah disebut al-Arab al-Musta’robah, orang yang ter-arabkan, karena nenek moyang mereka Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam bukanlah seorang yang berasal dari Jazirah Arab. Nabi Ibrahim berasal dari Irak (Utsman al-Khomis: Fabihudahum Iqtadir, Hal:113). Kemudian beliau membawa anaknya Ismail ke Jazirah Arab. Nabi Ismail menetap di sana, menikah dengan orang-orang setempat, dan memiliki keturunan. Inilah yang menyebabkan keturunan Nabi Ismail ini disebut dengan al-Arab al-Musta’robah.

Para ulama berpendapat siapapun yang nasabnya sampai kepada Hasyim, maka dia adalah keluarga ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda dengan orang-orang Syiah yang hanya mengkategorikan ahlul bait Nabi hanya dari anak keturunan Ali dan Fatimah saja.

Ayah dan Ibu Nabi Muhammad

Ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf. Kakek Nabi, Abdul Muthalib, awalnya memiliki anak yang sedikit dan kaumnya meremehkannya. Sebagaiseorang yang ditokohkan namun memiliki anak yang sedikit, padahal parameter kemuliaan di zaman itu adalah banyaknya anak, terutama anak laki-laki. Karena hal itu, Abdul Muthalib bernadzar seandainya dikaruniai 10 orang anak lagi, maka ia akan mengorbankan (menyembelih) salah satu anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah.

Saat ia mengundi nama-nama anaknya yang keluar adalah nama Abdullah, padahal Abdullah adalah anak kesayangannya. Orang-orang Quraisy, paman-paman Abdullah dari Bani Makhzum melarang Abdul Muthalib merealisasikan nadzarnya. Akhirnya disepakati 100 onta dikorbankan sebagai ganti Abdullah.

Setelah cukup usia, Abdullah dinikahkan dengan Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Ia adalah perempuan yang paling mulia di kalangan Quraisy, baik dari segi nasab maupun kedudukan sosial.

Beberapa waktu setelah pernikahan keduanya, Abdullah pergi menuju Syam untuk berdagang. Ketika hendak kembali ke Mekah, ia jatuh sakit sehingga ia pun tinggal di tempat paman-pamannya di Madinah. Kemudian Abdullah wafat di kota yang kelak menjadi tempat hijrah anaknya ini. Ia dimakamkan di rumah an-Nabighah al-Ja’di. Saat itu usia Abdullah baru 25 tahun dan ia sedang menanti kelahiran anak pertamanya.

Beberapa tahun kemudian, Aminah menyusul kepergian sang suami. Saat itu anak pertama mereka Muhammad bin Abdullah baru menginjak usia 6 tahun (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:156).

Paman dan Bibi Nabi

Abdul Muthalib memiliki 12 orang anak, enam laki-laki dan enam perempuan. Anak-anak Abdul Muthalib yang laki-laki adalah Abbas, Abdullah, Hamzah, Abu Thalib, az-Zubair, al-Harits, Hajl, al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab (namanya adalah Abdul Uzza). Dari nama-nama ini, kita ketahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki 6 orang paman.

Empat orang paman beliau menjumpai masa-masa Islam. Mereka adalah Abu Thalib, Abu Lahab, namun keduanya tetap dalam kekufuran mereka, tidak memeluk Islam hingga mereka wafat. Dua orang lainnya adalah Hamzah dan Abbas, keduanya memeluk Islam dan wafat sebagai seorang muslim, radhiallahu ‘anhuma.

Adapun anak-anak perempuan Abdul Muthalib ada enam orang. Mereka adalah Shafiyah, Ummu Hakim al-Baidha, ‘Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:108-110).

Oleh Nurfitri Hadi

Zakat Fitrah Sesuai Tuntunan Rasulullah dan Dalil Haditsnya

Setelah puasa selama satu bulan maka disempurnakan dengan menunaikan zakat fithrah Zakat Fithrah (Zakatul fitri, atau Shadaqatul Fitri),adalah zakat atau sedekah yang dihubungkan dengan idul fitri. Saat itu,setiap muslim harus membayar zakat berupa bahan makanan yang jumlahnya telah ditentukan. Zakat Fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata Fitrah yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah.

Pada prinsipnya seperti definisi di atas, setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. Berikut adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrah:

Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadan dan hidup selepas terbenam matahari.Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadan dan tetap dalam Islamnya.Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadan.

  • Hukum zakat fithrah adalah wajib berdasarkan hadits dari Ibnu Umar, dia berkata” Rosulullah SAW. Mewajibkan zakat fithrah [pada bulan Ramadhan kepada manusia] (HR.Bukhari dan Muslim tambahan dalam kurung riwayat Muslim)
  • Zakat fithrah diwajibkan atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun budak. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar.”Rosulullah SAW. Mewajibkan zakat fithrah sebanyak satu sha’ kurma atau sha’ gandum atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau besar dari kalangan kaum muslimin.”(HR.Bukhari dan Muslim)
  • Zakat fitrhah juga wajib atas orang yang masuk Islam atau bayi yang lahir sesaat sebelum terbenamnya matahari (yang besoknya adalah tanggal 1 Syawal). Adapun janin maka banyak di antara ‘ulama menyunanahkan agar dikeluarkan zakat fitrhahnya sebagaimana yang dilakukan ‘Usman dan para shahabat lainnya.

Macam Zakat Fithrah

  • Zakat fitrhah dikeluarkan berupa satu sha’ gandum, satu sha’ kurma, satu sha’ susu, satu sha’ salt atau anggur kering. berdasarkan hadits Abu sa’id Al-Khudriy: ”kami mengeluarkan zakat fitrhah (pada zaman Rosulullah SAW.) satu sha’ Makanan, satu sha’gandum, satu sha’ kurma, satu sha’ susu dan satu sha’ anggur kering.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Ukuran Zakat Fithrah

  • Disebutkan dalam hadits di atas bahwa ukuran zakat fithrah adalah satu sha’(sekitar 2,5 Kg-3,0 Kg) yang mencakup kurma,gandum, ataupun lainnya yang merupakan makanan pokok suatu negeri. Seperti di Indonesia maka zakat bisa berupa beras ataupun bahan makanan daerah setempat. Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya dan seluruh orang yang di bawah tanggungannya, baik anak kecil ataupun orang tua laki-laki dan perempuan, orang yang merdeka dan budak.
  • Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap haditsadalah sebesar satu sha’ (1 sha’=4 mud, 1 mud=675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab syafi’i dan Maliki)

Penerima Zakat

Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan/asnaf (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah/nilai zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikelurakannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya dan saling berbagi sesama umat islam.

Sumber Hadits berkenaan dengan Zakat Fitrah

  • Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
  • Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’ dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan dia memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk salat ‘ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa’i)
  • Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum salat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah salat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)
  • Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)
  • Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)
  • Artinya : Diriwayatkan dari Nafi’ t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum ‘iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)
  • Diriwayatkan dari Nafi’ : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

Hikmah disyari’atkannya Zakat Fitrah

Di antara hikmah disyari’atkannya zakat fitrah adalah:

  • Zakat fitrah merupakan zakat diri, di mana Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan nikmat-l\lya.Zakat fitrah juga merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan bersukacita dengan segala anugerah nikmat-Nya.
  • Hikmahnya yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa. (Lihat Al Irsyaad Ila Ma’rifatil Ahkaam, oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 37.)Di antara hikmahnya adalah sebagaimana yang terkandung dalam hadits Ibnu Abbas radhiAllahu ‘anhuma di atas, yaitu puasa merupakan pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, demikian pula sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.

Penyaluran zakat fithrah

  • Zakat fithrah diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu’Abbas: ”Rosulullah SAW. Mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih diri bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin”(HR.Al-Hakim).
  • Pelaksanaan pembayaran zakat yakni sebelum orang-orang keluar rumah menuju shlat ‘Id dan tidak boleh diakhirkan (setelah ) shalat ‘Id. Sebagaian ulama seperti Al-Imam Asy-Syafi’I membolehkan mengeluarkan zakat fithrah di awal ramadhan.

Asbabun Nuzul Surah Al Ikhlas: Ketika Yahudi Minta Rasukullah Gambarkn Allah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un).

Translate:
1). Say : He is Allah , the One!
2). Allah , the eternally Besought of all!
3). He begetteth not nor was begotten
4). And there is none comparable unto Him

Artinya:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

surah Al-Ikhlas (Arab:الإخلاص, “Memurnikan Keesaan Allah”) adalah surah ke-112 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan keesaan Allah sembari menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kalimat inti dari surah ini, “Allahu ahad, Allahus shamad” (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung), sering muncul dalam uang dinar emas pada zaman Kekhalifahan dahulu. Sehingga, kadang kala kalimat ini dianggap sebagai slogan negara Khilafah Islamiyah, bersama dengan dua kalimat Syahadat.
idth=”960″ height=”960″>

Asbabun Nuzul

Imam At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Aliyah dari Ubai bin Ka’ab bahwa suatu ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah, “Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau?” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Imam Ath-Thabrani dan Ibnu Jarir meriwayatkan riwayat senada dari Jabir bin Abdillah. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Makkiyyah.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika kelompok Yahudi datang kepada Nabi saw, diantara rombongan tersebut terdapat Ka’ab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka lalu berkata, “Wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami cirri-ciri Tuhan yang mengutus engkau itu?!” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, demikian pula Ibnul Mundzir dari Said bin Jubair riwayat yang mirip dengan diatas. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Madaniyyah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Aliyah yang berkata, “Qatadah berkata, ‘Sesungguhnya pasukan koalisi (kaum kafir) pernah berkata kepada Nabi saw, ‘Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau itu?’ Jibril lalu turun dengan membawa surah ini.”
Jadi, inilah yang dimaksud dengan “orang-orang musyrik” seperti yang disebut dalam riwayat Ubai bin Ka’ab. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa surah ini adalah Madaniyyah, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh hadits dari Ibnu Abbas. Dengan demikian, kontradiksi antara kedua hadits diatas telah dapat diatasi.

Tetapi, Abusy Syaikh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Azhamah dari Aban dari Anas yang berkata, “Suatu ketika, roang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Abal Qasim, Allah telah menciptakan para Malaikat dari cahaya tirai-Nya, Adam dari tanah liat yang diberi bentuk, Iblis dari kobaran api, langit dari awan dan bumi dari buih air. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami bagaimana hakikat Tuhanmu itu? Rasulullah belum menjawab pertanyaan tersebut hingga Jibril datang dengan membawa surah ini.”

Asbabun Nuzul Al Falaq : Ketika Rasulullah Sakit Keras Terkena Sihir Yahudi


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿﴾٥ Surat Al-Falaq Teks Latin 1. Qul a’udzu birobbil falaq 2. Min syarri ma kholaq 3. Wamin syarri ghosiqin idza waqob 4. Wamin syarrin naffatsati fiil ‘uqad 5. Wamin syiarri haasidin idza hasad Arti Bahasa Indonesia Qs Al-Falaq 1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 2. dari kejahatan makhluk-Nya, 3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , 5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Surah Al-Falaq adalah surah ke-113 dalam Al-Qur’an. Nama Al-Falaq diambil dari kata Al-Falaq yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya waktu subuh. Surat ini tergolong surah Makkiyah. Inti dari Surah ini adalah perintah agar umat manusia senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT menghadapi segala keburukan yang tersembunyi.

Asbabun Nuzul

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah dari Al-Kalbi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika Rasulullah menderita sakit parah. Dua malaikat lantas mendatangi beliau . yang satu duduk diarah kepala sementara yang satu lagi diarah kaki. Malaikat yang berada di sebelah kaki lalu bertanya kepada malaikat yang di sebelah kepala, ‘Apa yang sedang menimpanya?’ Malaikat yang di sebelah kepala menjawab, ‘Disihir orang’

Malaikat yang di sebelah kaki bertanya lagi, ‘Siapa yang menyihir?’ Dijawab, ‘Labid Ibnul A’sham, seorang Yahudi.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Dimana diletakkan (sihirnya itu)?’ Dijawab, ‘Di sebuah sumur milik si Fulan, di bawah batu. Oleh sebab itu, hendaklah Muhammad pergi ke sumur itu kemudian keringkan airnya lalu angkat batunya. Setelah itu ambillah kotak yang berada dibawahnya kemudian bakarlah.’ Pada pagi harinya, Rasulullah mengutus Ammar bin Yasir serta beberapa sahabat untuk pergi ke sumur tersebut. Ketika sampai, mereka melihat airnya berubah warna menjadi merah kecoklatan seperti air pacar / inai. Mereka lantas menimba airnya, mengangkat batunya, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berada didalamnya lalu membakarnya. Ternyata di dalamnya terdapat seutas tali yang memiliki sebelas simpul. Selanjutnya Allah menurunkan kedua surah ini. Setiap kali Rasulullah membaca satu ayat maka terurailah satu simpul.”

Riwayat yang hampir sama dengan yang di atas terdapat dalam Shahih Bukhari dan shahih Muslim, namun tanpa menyebutkan turunnya kedua surah. Akan tetapi, juga terdapat riwayat serupa yang disertai penyebutan kedua surah.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab ad-dalail dari Abu Ja’far Ar-razi dari Rabi’ bin Anas bin Malik yang berkata, “Seorang laki-laki Yahudi membuatkan sesuatu terhadap Rasulullah sehingga beliau menderita sakit parah. Tatkala para sahabat menjenguk, mereka meyakini bahwa Rasulullah telah terkena sihir. Malaikat Jibril kemudian turun membawa mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Nas) untuk mengobatinya. Akhirnya, Rasulullah pun kembali sehat.”

159 Kebiasaan Rasulullah Yang Harus Diteladani Umatnya

159 Kebiasaan Rasulullah Yang Harus Diteladani Umatnya

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW SEPUTAR SHALAT
1.  Selalu shalat sunnah fajar
2.  Meringankan shalat sunnah fajar
3.  Membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam shalat fajar (ayat lain yang dibaca Nabi dalam shalat sunnah fajar)
4.  Berbaring sejenak setelah shalat sunnah fajar
5.  Mengerjakan shalat sunnah di rumah
6.  Selalu shalat sunnah empat rakaat sebelum dhuhur
7.  Mengganti dengan empat rakaat setelah duhur jika tidak sempat shalat sebelumnya
8.  Shalat sunnah dua atau empat rakaat sebelum ashar
9.  Shalat sunnah dua rakaat sesudah maghrib
10. Shalat sunnah setelah Isya’
11. Mengakhirkan shalat Isya’
12. Memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan rakaat kedua
13. Selalu shalat malam (waktu shalat malam Rasulullah saw)
14. Menggosok gigi apabila bangun malam
15. Membuka shalat malam dengan 2 rakat ringan
16. Shalat malam sebelas rakaat (format shalat malam Nabi sebelas rakaat)
17. Memanjangkan shalat malamnya
18. Membaca surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam shalatwitir
19. Mengganti shalat malam di siang hari jika berhalangan
20. Shalat dhuha empat rakaat
21. Tetap duduk hingga matahari bersinar setelah shalat subuh
22. Meluruskan shaf sebelum mulai shlaat jama’ah
23. Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, akan ruku’ dan bangun dari ruku’
24. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
25. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud
26. Merenggangkan kedua tangan ketika sujud hingga tampak ketiaknya yang putih
27. Memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud dan mengarahkan pandangan ke arah jari telunjuk
28. Meringankan tasyahhud pertama
29. Meringankan shalat jika berjama’ah
30. Menghadap ke arah kanan makmum selesai shalat jama’ah
31. Bersegera ke masjid begitu masuk waktu shalat
32. Selalu memperbarui wudhu setiap kali akan shalat
33. Tidak menshalatkan jenazah yang masih berhutang
34. Menancapkan tombak sebagai pembatas jika shalat di tanah lapang
35. Mengajari shalat kepada orang yang baru masuk Islam

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI HARI JUM’AT DAN DUA HARI RAYA
36. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam shalat subuh di hari Jum’at
37. Memotong kuku dan kumis setiap hari Jum’at
38. Mandi pada hari Jum’at
39. Memakai pakaian terbaik untuk shalat jum’at
40. Memendekkan khutbah Jum’at dan memanjangkan shalat
41. Serius dalam khutbahnya dan tidak bergurau
42. Duduk di antara dua khutbah Jum’at
43. Membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jum’at
44. Shalat sunnah setelah jum’at
45. Tidak langsung shalat sunnah setelah Jum’at
46. Mandi sebelum berangkat shalat Id
47. Memakai pakaian teraik ketika shalat Id
48. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri
49. Baru makan sepulang dari melaksanakan shalat Idul Adha
50. Shalat Id di tanah lapang
51. Mengajak semua keluarganya ke tempat shalat Id
52. Memperlambat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha
53. Langsung shalat Id tanpa Adzan dan Iqomah
54. Dua kali khutbah dengan diselingi duduk
55. Pergi dan pulang melalui jalan yang berbeda
56. Berjalan kaki menuju tempat shalat Id
57. Membaca surat Qaaf dan Al-Qamar dalam shalat Id
58. Menyembelih hewan kurban di tempat pelaksanaan shalat Id

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MASALAH PUASA
59.Puasa dan berbuka secara seimbang
60.Berbuka puasa sebelum shalat maghrib
61.Berbuka dengan korma
62.Tetap puasa meskipun bangun dalam keadaan junub
63.Berpuasa jika tidak mendapatkan makanan di pagi hari
64.Membatalkan puasa sunnah jika memang ingin makan
65.Banyak puasa di bulan sya’ban
66.Puasa enam hari syawal
67.Puasa hari Arafah
68.Puasa Asyura atau sepuluh muharam
69.Puasa hari senin dan kami
70.Puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan
71.Mencium istri di siang hari

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI BULAN RAMADHAN
72.Memperbanyak sedekah
73.Memperbanyak membaca Al-Qur’an
74.Megnakhirkan waktu sahur
75.Puasa wishal
76.Memperbanyak shalat malam (menghidupkan malam ramadhan)
77.I’tikaf
78.Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganya
79.Menyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari
lailatul qadar

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MAKAN DAN MINUM
80.Tidak pernah mencela makanan
81.Tidak makan sambil bersandar
82.Makan dan minum dengan tangan kanan
83.Makan dengan tiga jari
84.Menjilati jari-jemari dan tempat makan selesai makan
85.Mengambil nafas tiga kali ketika minum
86.Minum dengan duduk dan berdiri
87.Mulai makan dari pinggir tempat makan
88.Berdo’a sebelum dan sesudah makan
89.Tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut
90.Tidak pernah makan di depan meja makan

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM TIDURNYA

91.Tidur dalam keadaan suci
92.Tidur di atas bahu sebelah kanan
93.Meletakkan tangan di bawah pipi
94.Meniup kedua tangan dan membaca do’a lalu mengusapkannya ke
badan
95.Tidak suka tidur sebelum Isya’
96.Tidur pada awal malam dan bangun di sepertiga akhir
97.Berwudlu dulu jika akan tidur dalam keadaan junub
98.Berdo’a sebelum dan setelah bangun tidur
99.Membaca do’a jika terjaga dari tidur
100.Tidur matanya namun tidak tidur hatinya
101.Menyilangkan kaki jika tidur di masjid
102.Tidur hanya beralaskan tikar
103.Tidak menyukai tidur tengkurap

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM BEPERGIAN

104.Berlindung kepada Allah dari beban perjalanan jika hendak bepergian
105.Senang bepergian pada hari kamis
106.Senang pergi pada pagi hari
107.Menyempatkan tidur dalam perjalanan di malam hari
108.Melindungi diri atau menjauh jika buang hajat
109.Berada di barisan belakang saat bepergian
110.Bertakbir tiga kali ketika telah berada di atas kendaraan
111.Bertakbir saat jalanan naik dan bertasbih saat jalanan menurun
112.Berdo’a jika tiba waktu malam
113.Berdo’a jika melihat fajar dalam perjalanan
114.Berdo’a ketika kembali dari bepergian
115.Mendatangi masjid terlebih dahulu saat baru tiba dan shalat dua
raka’at
116.Mengundi istri-istrinya jika bepergian
117.Shalat di atas kendaraan
118.Menghadap ke arah kiblat terlebih dahulu jika shalat di atas
kendaraan
119.Mendo’akan orang yang ditinggal pergi
120.Mendo’akan orang yang akan bepergian
121.Memberi bagian tersendiri kepada orang yang diutus pergi

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM DZIKIR DAN DO’ANYA

122.Senang berdoa dengan do’a yang ringkas
123.Membaca istighfar tiga kali dan berdzikir selepas shalat
124.Membaca istighfar tujuh puluh kali hingga seratus kali setiap hari
125.Membaca shalat dan salam atas dirinya jika masuk dan keluar dai
masjid
126.Membaca do’a di pagi dan sore hari
127.Membaca do’a di akhir majelis
128.Membaca do’a saat keluar rumah
129.Berdo’a jika masuk dan keluar kamar kecil
130.Berdoa jika memakai pakaian baru
131.Berdo’a jika merasa sakit
132.Berdo’a jika melihat bulan
133.Memanjatkan do’a di saat sulit
134.Berdo’a jika takut pada suatu kaum adam saat bertemu musuh
135.Berdo’a jika bertiup angin kencang

PERNIK-PERNIK KEBIASAAN NABI SAW

136.mengingat Allah di setiap waktu
137.Mengulangi perkataan hingga tiga kali dan bicara dengan suara
yang jelas
138.Selalu mendahulukan yang kanan
139.Menutup mulut dan merendahkan suara apabila bersin
140.Tidak menolak jika diberi minyak wangi
141.Tidak pernah menolak hadiah
142.Selalu memilih yang lebih mudah
143.Bersujud syukur jika mendapat kabar gembira
144.Bersujud tilawah jika membaca ayat sajdah
145.Tidak datang ke rumah pada waktu malam melainkan pada pagi dan
sore hari
146.Tidak suka berbincang-bincang setelah Isya’
147.Tidak senang menyimpan harta dan selalu memberi jika ada yang
meminta
148.Mengulang salam hingga tiga kali
149.Turut mengerjakan pekerjaan rumah
150.Pergi ke masjid Quba setiap Sabtu
151.Sangat marah jika hukum Allah dilanggar namun tidak marah jika
dirinya disakiti
152.Berubah warna mukanya jika tidak menyukai sesuatu
153.Memilih waktu yang tepat dalam menasihati
154.Tidak bohong dalam bergurau
155.Berdiri apabila melihat iringan jenazah
156.Baru mengangkat pakaian jika telah dekat dengan tanah saat
buang hajat
157.Buang air kecil dengan jongkok
158.Bermusyawarah jika membicarakan suatu masalah yang penting
159.Menyuruh istrinya agar memakai kain jika ingin menggaulinya dalam keadaan haid


Ketika Bangsa Jin Mendengar Rasulullah Baca Quran


Rasulullah tidak pernah sekalipun membacakan Al-Qur’an (secara khusus) kepada bangsa jin dan tidak pula pernah melihat mereka. Tetapi, suatu ketika, beliau bersama beberapa orang sahabat pergi ke Pasar ‘Ukkazh dan bangsa jin sudah tidak dapat lagi mencuri dengar berita-berita dari langit. Setiap kali mereka berusaha (mencuri-curi berita wahyu), maka mereka langsung diburu oleh panah-panah api.

    Ketika para jin itu kembali kepada kaumnya, mereka lalu berkata, ‘Hal ini (terhalangnya kita dari berita langit) tidak lain karena sesuatu yang telah terjadi. Oleh karena itu, berpencarlah kalian ke seluruh penjuru bumi untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi.” Jin-jin itu pun lantas berpencar ke berbagai penjuru.

    Setelah melanglang-buana beberapa lama, sekelompok jin yang baru kembali dan daerah Tihamah lantas bertemu dengan Rasulullah . Ketika itu, beliau dan para sahabat tengah melaksanakan shalat Subuh. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mereka lantas saling berkata, ‘Demi Allah, inilah dia yang telah menghalangi kalian dari mencuri dengar berita-berita langit.’ Setelah selesai mendengarkan, merekapun lantas kembali kepada kaumnya dan berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an).’ Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah, “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan.’ (aI-Jinn: 1)

    Akhirnya, setelah sekelompok jin mendengar rasulullah membaca al-qur’an, maka mereka (sekelompok jin) pun menceritakan peristiwa ini kepada bangsanya. Lalu setelah mendengar penjelasan dari beberapa rekannya, maka segolongan jin itu pun beriman kepada rasulullah dan masuk islam.