Tag Archives: ramadhan

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadhan

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadhan

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِوَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى فَإِنَّ العَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ .
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Takwa adalah wasiat bagi orang-orang yang pertama demikian manusia yang paling akhir kelak di akhir zaman. Takwa adalah sebab seseorang sukses, bahagia, menang, dan memperoleh keuntungan di dunia dan akhirat kelak. Takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah amalan seorang hamba berdsarkan syariat yang ditetapkan Allah dengan berharap pahala dari-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah juga dengan bimbingan syariat-Nya disertai dengan perasaan takut akan siksa dari-Nya.
Ibadallah,

Telah kita lewati bersama sebuah masa yang penuh kemuliaan, suatu waktu dimana kita melihat banyak sekali orang-orang melakukan ketaatan, dan hari dimana orang-orang mengisinya dengan peribadatan. Dialah bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, yang hari-harinya penuh kemuliaan, dan malam-malamnya bertebar keutamaan.

Di bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan berlomba-lomba menuju pintu-pintu kebaikan. Sesungguhnya seorang mukmin merasa senang melihat orang-orang melaksanakan ketaatan dan berlomba-lomba di dalam beribadah, menegakkakn kebajikan di bulan yang agung tersebut.

Ibadallah,
Yang perlu diperhatikan seorang muslim adalah bahwasanya ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan serta sesuatu yang Allah ridhai tidak hanya terhenti di bulan Ramadhan saja atau ketaatan tersebut tidak terbatas di waktu-waktu tertentu saja. Walaupun bulan Ramadhan telah usai, namun ibadah kepada Allah tidak mengenal berhenti. Walaupun hari-hari yang penuh keberkahan telah berlalu, amalan kebajikan tidak mengenal masa waktu.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabb-mu hingga ajal menjemputmu.” (al-Hijr: 99).
Yang dimaksud denga yakin dalam ayat di atas adalah kematian. Seorang muslim dituntut untuk tetap senantiasa dalam ketaatan dan continu dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga Allah mewafatkannya. Allah Berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Y

aitu bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berlomba-lombalah dalam mendapatkan ridha-Nya, hingga kalian wafat dalam keadaan demikian. Kita ketahui bersama, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan akhir perjalanan hidupnya dan kapan ajal datang menjemputnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu bersiap diri untuk kematian yang datanganya tidak diketahui itu. Jadilah orang yang senantiasa menjaga dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan melaksanakan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan sesuai dengan kemampuan. Dan juga menjauhkan diri dari apa yang Allah larang dan haramkan.
Ibadallah,
Kita dapati sebagian orang ada yang sangat bersemangat beribadah ketika Ramadha, namun ketika Ramadha usai mereka berhenti dari ibadahnya atau mereka bermalas-malasan. Mereka tinggalkan pintu-pintu kebaikan seolah-olah ibadah itu hanya dituntut di bulan Ramadhan saja. Para salaf pernah ditanya tentang orang-orang yang keadaannya demikian, mereka menjawab,
بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ
“Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan.”
Ibadallah,
Sesungguhnya Rabb dari seluruh bulan adalah Rabb yang satu. Rabb nya bulan Syawal adalah Rabb nya bulan-bulan selainnya. Sebagaimana seseorang diwajibkan menaati Allah dan beribadah kepada-Nya di bulan Ramadhan, mereka juga diwajibkan untuk menjaga ketaatan kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu selain Ramadhan. Di setiap bulan, setiap tahun, hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mewafatkannya dalam keadaan Dia ridha kepada hamba tersebut.
Inilah makna dari firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah…”
Yakni mereka istiqomah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, mereka terus berada dalam ruang-ruang kebaikan hingga Allah mewafatkan mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keuntungan, kebahagian, dan keberhasilan di dunia dan akhirat. Karena itulah, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkan keadaan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan perbendaharaan yang agung dan besar di dunia dan di akhirat.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13).
Allah juga berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-33).
Semua hal itu hanya dipertunkkan bagi mereka yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya hingga maut menjemputnya. Saat ia wafat, Allah kabarkan bahwa para malaikat turun. Malaikat rahmat membawa kabar yang sangat menggembirakan dan menyambutnya dengan keberkahan dan kebaikan. Para malaikat itu turun kepada mereka sesaat sebelum wafat dengan memberikan kabar gembira tentang kehidupan setelah kematian mereka (alam barzah).
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“…maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih…”
Janganlah kalian takut dengan yang akan terjadi setelah kematian ini, karena balasan pahala yang besar telah kalian persiapkan sebelumnya dan ridha Allah telah kalian gapai. Jangan pula kalian bersedih tentang apa yang kalian tinggalkan, baik istri, anak-anak, karena Allah lah yang akan menjaga, melindungi, dan membimbing mereka dengan taufik dari-Nya. Mereka juga mendapat kabar gembira lainnya di saat wafat mereka,
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga.”
Di saat wafat, Allah berikan mereka kabar gembira akan surga. Surga yang telah mereka upayakan dalam kehidupan dunia. Yang mereka telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya di hari-hari kehidupan dunia dengan beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat mereka wafat Allah beri kabar gembira untuk mereka.
Tidak heran, banyak orang-orang yang menjaga ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam istiqomah, tersenyum saat ajal menjemput mereka. Tampak di wajah mereka kebahagiaan dan kesenangan. Tampak hasil yang telah mereka upayakan di hari kematian mereka. sebuah kabar yang begitu menggembirakan dan sambutan yang begitu mulia di saat hari pertama mereka memasuki alam akhirat.
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya agar mencatatkan kita termasuk orang yang akhir hayatnya dalam keadaan terpuji dan lurus. Dan kita memohon kepada-Nya taufik, pertolongan, dan keteguhan agar bisa memperolehnya.
Ibadallah,
Allah Tabaraka wa Ta’ala mewajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, namun ibadah puasa tidak hanya terdapat di bulan Ramadhan saja. Masih ada puasa-puasa sunnah. Di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia menyertainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).
Ibadallah,
Sungguh, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar dan manfaat yang banyak. Di antaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas taufik-Nya kita mampu menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan. Menysukuri nikmat atas nikmat lain yang ia berikan setelahnya. Mensyukuri taufik dimbimbing menuju ketaatan dan ketaatan setelah Ramadhan tersebut. Oleh karena itu, dalam rangka syukur kepada Allah hendaknya kita bersegera menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.
Di antara hikmah dari puasa Syawal adalah bahwa puasa enam hari di bulan Syawal menetapkan adanya hal-hal sunnah setelah suatu kewajiban. Sebagaimana shalat fardhu yang setelahnya diikuti oleh shalat sunnah sebagai penutup dan penyempurna kekurangan yang ada pada shalat fardhu. Oleh karena itu, puasa enam hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang memantapkan amalan kewajiban.
Tidak kita ragukan bahwa kita melakukan sedikit atau banyak hal-hal yang mengurangi puasa Ramadhan, maka hari-hari di bulan Syawal Allah siapkan untuk menyempurnakan dan menambal kekurangan puasa Ramadhan kita.
Di antara hikmah puasa Syawal juga adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Seakan-akan berpuasa satu tahun”. Ketahuilah, pahala kebaikan itu Allah lipat-gandakan 10 kali lipat. Puasa Ramadhan satu bulan penuh senilai dengan puasa 10 bulan. Jika kita menambahnya dengan 6 hari di bulan Syawal, maka ia setara dengan 2 bulan. Jadi, jika digabung dengan puasa Ramadhan menjadi puasa selama 12 bulan atau satu tahun penuh.
Ibdallah,
Termasuk hikmah puasa enam hari di bulan Syawal adalah tanda di antara tanda-tanda diterimanya ketaatan. Karena tanda diterimanya amalan ketaatan kita dimudahkan untuk melakukan ibadah yang lain setelahnya. Kita semua berharap agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menerima amalan puasa dan shalat kita di bulan Ramadhan. Dan tanda diterimanya suatu amalan adalah seseorang menjadi semakin taat setelahnya. Jika kita merasa bahwa diri kita pemalas sebelum Ramadhan, tapi setelah Ramadhan kita semakin taat dan giat beribadah, itulah tanda kebaikan. Jika sebelum Ramadhan kita merasa baik, semestinya setelah Ramadhan menjadi lebih baik lagi. Itulah tanda-tadan diterimanya amalan kita.
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menerima amalan kita semua; puasa, shalat, dan ibadah lainnya. Serta agar Dia memberikan kita taufik, menolong kita untuk istiqomah dalam ketaatan, menunjuki kita jalan yang lurus, dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk.

Kisah Inspiratif Ramadhan: Cibta Sejati Abu Bakar RA

Cinta Sejati Abu Bakar RA

Orang-orang muslim dan musyrik tahu, bahwa Abu Bakar dalam membelanjakan hartanya ke jalan Allah bukanlah semata-mata karena kehormatan dan cita-cita dunia atau kebesaran yang dibanggakan manusia. Sifat inilah yang menghiasi orang-orang muslim, seperti sahabat Abu Bakar R.a.

Suatu ketika baginda Rasulullah S.a.w. berdiri di depan Ka`bah, beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada orang-orang musyrik. Mereka lalu berdiri dan hendak memukul Nabi, namun kedahuluan Abu Bakar melihat peristiwa itu, sehingga dia buru-buru melindungi Rasulullah seraya berkata, “Apakah kalian akan membunuh setiap orang yang mengatakan, “Allah adalah Tuhanku?”

Melihat ada orang yang membela Nabi, orang-orang musyrik lalu meninggalkan Nabi S.a.w., dan mereka malah menyerang dan memukul Abu Bakar, namun Abu Bakar menerimanya dengan sabar, hingga wajahnya membengkak dan lebam.

Orang-orang musyrik tidak mengetahui lagi mana mata dan hidungnya, karena bentuk wajahnya tidak tampak secara sempurna. Mereka menyangka bahwa Abu Bakar telah tewas, lalu mereka meninggalkannya.

Kemudian Bani Taim yang merupakan kaum atau kabilah Abu Bakar datang dan membawa Abu Bakar ke rumahnya, Bani Taim bersumpah akan membunuh orang yang telah melukai Abu Bakar ini jika Abu Bakar meninggal karena luka tersebut.

Sampai di rumah Abu Bakar tersadar, dan di saat ia tersadar dari pingsannya, pertayaan yang pertama kali ditanyakannya adalah, “Apa yang terjadi pada diri Rasulullah.”

Keluarganya menjadi marah dengan pertanyaan Abu Bakar itu, karena mereka termasuk orang-orang kafir. Keluarganya berkata pada ibunya, “Suapilah ia dengan makanan dan berilah ia minuman.”

Abu Bakar berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan minum dan merasakan makanan sampai aku tahu apa yang terjadi dengan diri Rasulullah.”

Mendengar jawaban dari puteranya seperti itu, ibunya memandanginya dengan rasa sakit dan iba. Tak lama setelah itu, sang ibu pun berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang menimpa sahabatmu itu.”

Abu Bakar berkata, “Pergilah ke rumah Fatimah binti Al-Khathab dan tanyakan kepadanya apa yang terjadi dengan Rasulullah.”

Ibunya lalu beranjak pergi untuk mencari tahu keadaan Rasulullah dari Fatimah binti Al-Khathab, walaupun ia sedih karena keadaan anaknya yang darahnya selalu bercucuran dan wajahnya bengkak. Dengan langkah yang gontai, sampailah sang ibu di rumah Fatimah binti Al-Khathab. Dan di saat Fatimah melihatnya, Fatimah menyangka bahwa wanita yang mendatanginya adalah mata-mata kaum Quraisy.

Sang ibu yang sedang menginginkan kesembuhan anaknya itu berkata, “Pergilah bersamaku untuk menemui anakku.”

Mereka berdua lalu pergi untuk menemui Abu Bakar. Setelah Fatimah sampai kepada Abu Bakar dan mendapati wajahnya yang berlumuran darah dan penuh dengan luka, Fatimah berteriak dan berkata, “Aku memohon kepada Allah, semoga Allah membalaskanmu.”

Dalam benak Abu Bakar tak pernah terbesit sesuatu kecuali keadaan Rasulullah S.a.w., ia lalu bertanya kepada Fatimah, “Bagaimana keadaan Rasulullah S.a.w.?”

Fatimah menjawab, “Beliau selamat.”

Saat ibunya mendengar jawaban dari Fatimah, ia buru-buru menyodorkan minuman kepada anaknya. Saat Abu Bakar melihat ibunya menyodorkan minuman kepadanya, ia buru-buru berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan makan dan minum sampai aku melihat baginda Rasulullah dengan mataku sendiri.”

Abu Bakar lalu keluar rumah ingin menemui Rasulullah, akan tetapi ia tidak mampu membawa dirinya yang penuh luka, lalu ia bersandar pada ibunya dan dengan bantuan Fatimah sampai ia di rumah Rasulullah.

Setelah sampai dan bertatapan muka dengan Rasulullah ia berkata, “Demi ayah dan ibuku aku korbankan untukmu wahai Rasulllah, dan ini adalah seorang ibu yang telah mengasuh anaknya dengan baik, wahai Rasulullah do`akanlah dia agar Allah memberinya petunjuk.”

Mendengar ucapan Abu Bakar, hati Rasulullah S.a.w. terenyuh sampai kedua mata beliau mengeluarkan air mata, dan Abu Bakar pun menangis, mereka lalu berpelukan karena terharu.

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Kisah Inspiratif Ramadhan: Abu Bakar RA dan Peminta Maaf

Suatu hari, terjadi pertengkaran antara Abu Bakar RA dan seseorang yang juga beragama Islam bernama Rabi’ah Al-Aslami.

Dalam pertengkaran tersebut Abu Bakar mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya. Maka Abu Bakar menyesali ucapannya itu sehingga ia berkata, “Wahai Rabi`ah balaslah kata-kata yang telah membuatmu tersinggung.”

Rabi`ah menjawab, “Aku tidak mau melakukannya.”

Abu Bakar berkata lagi, “Balaslah kata-kata itu, atau aku pergi kepada Rasulullah.”

Abu Bakar pun pergi menemui Rasulullah. Kepergiannya ini diikuti kaum dan keluarga Rabi`ah. Kaum Rabi`ah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Bakar atas apa yang telah diucapkannya, lalu mengadukannya pada Rasulullah.”

Melihat hal itu, Rabi`ah berkata, “Apakah kalian tidak mengetahui, siapakah Abu Bakar ini? Dia adalah salah seorang dari dua orang yang berada dalam gua, orang yang mempunyai kematangan dalam agama, jagalah ucapan kalian jangan sampai dia marah padaku dan mengadukannya kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah marah sebab kemarahan Abu Bakar. Karena Allah akan murka sebab kemarahan Rasulullah dan kemarahan Abu Bakar.”

Sampailah Abu Bakar di hadapan Rasulullah dan menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Rabi’ah. Tak lama kemudian Rabi’ah pun datang di tempat itu. Melihat kedatangan Rabi’ah, Rasulullah pun lantas bersabada kepadanya, “Wahai Rabi’ah apa yang terjadi antara kamu dan Ash-Shiddiq?”

Rabi’ah menjawab, “Wahai Rasulullah, Abu Bakar telah berkata kepadaku begini dan begini, sampai ia mengatakan satu kata yang membuatku tersinggung. Kemudian ia mengatakan kepadaku, “Katakan sebagaimana apa yang aku katakan kepadamu.” Namun, aku menolaknya.”

Mendengar itu Rasulullah bersabda, “Jangan balas, akan tetapi katakanlah Allah telah mengampunimu wahai Abu Bakar.”

Kejadian di atas menunjukkan penghormatan Nabi kepada Abu Bakar dan bahwasanya beliau lebih mengutamakan Abu Bakar dari sahabat-sahabat yang lain. Karena beliau tahu bahwasanya Abu Bakar selalu menolongnya setelah Allah. Nabi juga pernah bersabda, “Tidak ada harta yang menyamai kemanfaatannya bagiku dari kemanfaatan harta Abu Bakar terhadapku.”

Hikmah :

Dari kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang muslim yang baik adalah apabila ia melakukan kesalahan ia akan langsung meminta maaf atas kesalahannya. Dan seorang muslim yang baik adalah apabila ia disakiti, ia tidak akan membalas dengan pembalasan yang serupa tapi justru memintakan ampunan kepada Allah SWT.

Betapa mulia sahabat-sahabat Rasulullah SAW, “Ya Allah berikanlah kepada kami kemampuan untuk meneladani akhlak-akhlak mulia mereka. Amin…”

Tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan

Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66).
Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar.
Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34).
Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224)

Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan:

1- Waktu sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

2- Saat berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

3- Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Sumber

Kisah Inspiratif Ramadhan : Abu Bakar As-Shiddiq Memeluk Agama Islam

Abu Bakar As-Shiddiq Memeluk Agama Islam

Orang-orang arab pada masa jahiliyah kebanyakan memiliki profesi sebagai pedagang, salah satunya adalah Abu Bakar. Suatu ketika saat beliau berada di kota Syam untuk berdagang, di sana beliau bermimpi ketika sedang tidur. Dalam mimpi tersebut, beliau melihat matahari dan bulan yang berada di kamar beliau. Kemudian beliau memegang dan memeluk keduanya lalu menyelimuti keduanya dengan selendang beliau.

Saat terbangun dari mimpi, Abu Bakar merasakan ada sesuatu yang istimewah dalam mimpi itu yang membuat beliau penasaran. Tak kuasa menahan rasa penasaran itu, beliau segera pergi menemui seorang rohib nasrani (pendeta) untuk menanyakan arti dari mimpi aneh itu.

Setelah Abu Bakar menceritakan mimpi beliau, sang rohib bertanya “Dari mana kamu berasal ?”, beliau menjawab “Dari Kota Mekkah”. Sang rohin bertanya kembali “Dari qobilah (suku) mana ?”, beliau menjawab “Dari qobilah Bani Taim”. Sang rohib bertanya lagi “Apa pekerjaanmu ?”, beliau menjawab “Seorang pedagang”.

Kemudian sang rohib menjelaskan kepada beliau arti mimpi tersebut “Ada seorang dari qobilah Bani Hasyim yang bernama Muhammad Al-Amin (Al-Amin adalah julukan bagi Rosulullah SAW sebagai seorang yang dapat dipercaya sebelum beliau menjadi Rosul), ia adalah seorang nabi terakhir yang diutus. Jika tidak karena Muhammad, maka Allah tidak akan menciptakan langi bumi seisinya, dan Allah tidak akan menciptakan Adam, para nabi, dan para rosul lainnya. Ia adalah sayyidul anbiya’ wal mursalin sekaligus sebagai penutup dari para nabi. Dan kamu akan memeluk agamanya, menjadi pendamping baginya, dan menjadi kholifah sesudahnya. Ini adalah arti dari mimpimu”.

Sang rohib juga menambahi perkataannya “Aku telah menemui sifat-sifatnya dalam kitab Taurot, Injil, dan Zabur. Sesunggunya aku juga sudah memeluk agamanya, dan menyimpan keislamanku karena takut kepada orang-orang nasrani”.

Setelah Abu Bakar mendapati arti dari mimpi anehnya dan mengetahui sifat-sifat Rosulullah SAW, hati beliau menjadi luluh terenyuh. Tak kunjung beliau pun semakin rindu untuk berkunjung menemui Rosulullah SAW. Setelah beliau sampai di Mekkah, beliau segera mencari seseorang yang bernama Muhammad Al-Amin.
Waktu pun berjalan menghiasi indahnya persahabatan, dan semakin hari, Abu Bakar semakin akrab dengan Rosulullah SAW. Beliau sering berkunjung menemui Rosullulah SAW dan menghabiskan waktunya bersama Rosulullah SAW, ini seolah beliau tidak kuasa tanpa melihat Rosulullah SAW.

Hingga pada suatu hari, Rosulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar “Wahai Abu Bakar, setiap hari kamu datang kepadaku dan duduk bersanding denganku, tapi mengapa kamu masih belum mau memeluk agama islam ?”. Beliau pun menjawab pertanyaan Rosulullah SAW “Jika kamu memang seorang nabi, pasti kamu memiliki mu’jizat”.
Dengan ringan, Rosulullah SAW menjawab “Apakah belum cukup bagimu mu’jizat yang kamu lihat di kota Syam, kemudian seorang rohib mengartikan mimpimu dan menceritakan keislamannya kepadamu ?”. Setelah mendengar perkataan Rosulullah, serentak Abu Bakar pun mengucapkan ikrar “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah”.

Sejak saat Abu Bakar memeluk agama islam, beliau selalu menjadi pendamping bagi Rosulullah SAW kemanapun beliau pergi, menanggung suka dan duka bersama-sama. Abu Bakar bahkan selalu membenarkan setiap perkataan Rosulullah SAW, itulah mengapa beliau mendapatkan julukan As-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan Rosulullah SAW”.
Demikian kisah tentang Abu Bakar As-Shiddiq memeluk agama islam, semoga dengan kisah ini, kita bisa mendapatkan inspirasi dan hati yang baru untuk lebih yakin kepada agama islam. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan rohmat-Nya kepada Rosulullah SAW, sahabat, keluarga, dan umat beliau.

10 Langkah Penuh Pahala di Bulan Ramadhan

  1. Shalat tarawih pada malam hari dan shalat dhuha pada pagi hari.
  2. Rutin membaca Alquran hingga khatam satu setiap hari. Dengan begitu, dalam 30 hari Ramadhan, Alquran 30 juz dapat diselesaikan.
  3. Selalu shalat lima waktu secara berjamaah.
  4. Rutin melakukan shalat sunah rawatib yakni sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu.
  5. Terkait ibadah sosial. Misalnya, mulai dari berbagi senyum kepada rekan-rekan kerja dan di rumah hingga berbuat baik kepada sesama.
  6. Rutin bersedekah setiap hari. Dalam hal ini, Naba Aji menyarankan agar seorang Muslim selalu menyiapkan uang untuk bersedekah setiap hari di bulan Ramadhan.
  7. Shalat tarawih di masjid.
  8. Memberi makan orang-orang yang berbuka puasa. Program sedekah khusus ini dapat berbagai cara. Misalnya, menyiapkan beberapa bungkus makanan sebelum maghrib tiba. Kemudian, paket-paket makanan itu dibagikan kepada orang-orang yang hendak berbuka puasa di masjid-masjid. Kalaupun paket tak bisa disiapkan, sebagai gantinya bisa berupa uang ke panitia buka puasa bersama setempat. “Misalnya untuk sepekan, uang untuk satu kali makan dikali sepekan. Jadi, selama sepekan, niat kita sudah terpenuhi untuk memberi makan orang-orang yang berbuka puasa,” jelasnya.
  9. Membagi-bagikan Alquran. Menurut Naba, mushaf Alquran dapat disedekahkan ke masjid-masjid. Di sana, Alquran biasanya diletakkan tanpa orang lain tahu. Kegiatan membagikan mushaf Alquran ini bisa dilakukan selang beberapa hari.
  10. Rutin membaca amalan doa dan surah-surah pendek Alquran sebelum tidur. Bacaan itu termasuk surah an-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Qalam, dan ayat Kursiy

Ikuti Keteladanan Kegiatan Rasulullah di Bulan Puasa

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.[al-Baqarah/2:185]

Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.

Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur’ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur’ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka.

Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, “Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !”

Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.

Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.

1556178985085.jpgKebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân:

1. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya’bân menjadi tiga puluh.

2. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.

3. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya’bân-red)

4. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.

5. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. [al-Baqarah/2:187]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.

6. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka”

7. Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat

8. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur’ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali”.

9. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga semakin meningkat lagi.

10. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.

11. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla.

12. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).

13. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.

Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sayang kepada umatnya yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.

14. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.

15. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri’tikaf, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa

16. Ramadhân adalah syahrul Qur’ân (bulan al-Qur’ân), sehingga tadarus al-Qur’ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tadarus al-Qur’ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur’ân dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

17. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.

18. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah

Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Masjid yang dibangun oleh kaum munafik untuk memecah belah kaum Muslimin

Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3139-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-di-bulan-ramadhan.html

Ucapan, PP, dan Pesan SMS Pilihan Untuk Sahabat atau Keluarga di Bulan Ramadhan

  • Welcome the month of Ramadhan with the heart filled with peace, harmony and joy. May the divine blessings of Allah protect and guide you.
  • Sambutlah bulan Ramadhan dengan hati yang penuh dengan kedamaian, harmoni dan sukacita. Semoga rahmat ilahi dari Allah senantiasa melindungi dan membimbingmu.

  • May this Ramadhan enlighten you and clear your understanding and judgment between the right and wrong, between the truths and false. Wishing you a Ramadhan Mubarak.

  • Semoga Ramadhan kali ini mencerahkanmu dan memperjelas pemahaman serta penilaianmu untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil. Semoga kamu menjalani Ramadhan yang penuh berkah.

Kata Mutiara Islami Tentang Bulan Ramadhan

Bagai hujan

  • Ramadhan is like the rain… It nourishes the seeds of good deeds.

    • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.
  • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.

Saat ramadhan tiba

  • When the month of Ramadhan starts, the gates of the heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained. – Hadits

  • Ketika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. – Hadis

Pahala puasa

  • Every deed of the son of Adam is for him except fasting; it is for Me and i will reward it. – Hadits

  • Seluruh amal perbuatan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya. – Hadis

Manual ramadhan

  • RAMADHAN MANUAL – turn TV off, eat moderately, use SOCIAL MEDIA wisely, read QURAN daily, Pray more, increase dua.

  • MANUAL RAMADHAN – matikan TV, makan secukupnya, gunakan SOSIAL MEDIA dengan bijak, baca QURAN sehari-hari, lebih banyak BERIBADAH, tingkatkan DOA.

Sedekah buka puasa

  • Whoever feeds a fasting person will have a reward like that of the fasting person, without any reduction in his reward. – Hadits

  • Barang siapa memberi makan orang yang sedang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga. –hadits

Pasca ramadhan

  • If you are going back to sinful life after Ramadhan, then you gained nothing but hunger.
  • Jika setelah bulan Ramadhan kamu kembali menjalani kehidupan yang penuh dosa, maka sesungguhnya kamu tidak mendapatkan apapun dari puasamu kecuali hanya rasa lapar.

Bukan sementara

  • Ramadhan is not about giving up bad habits temporarily. Ramadhan is a starting point to become a better Muslim and give them up for good.
  • Ramadhan bukanlah tentang berhenti dari kebiasaan buruk untuk sementara waktu. Ramadhan adalah titik awal untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik dan berusaha untuk terus selamanya menjadi baik.

Dua Kebahagiaan

  • There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord, then he will be pleased because of his fasting. – Hadits
  • Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika nanti bertemu dengan Tuhannya. – Hadis

Keutamaan puasa

  • Whoever fasts Ramadhan out of faith and with the hope of (Allah’s) reward, all his previous sins will be forgiven. – Hadits
  • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. – Hadis

Ibarat teman

  • Ramadhan is like a friend. You have seen it today, you might not see it again.
  • Ramadhan itu seperti teman. Kamu mungkin berjumpa dengannya hari ini, tapi belum tentu kamu bisa berjumpa lagi dengannya di lain waktu.

Presentase puasa

  • Fasting is only 1% of not eating and drinking, the rest of the 99% is bringing your heart and soul closer to the Allah.
  • Puasa itu hanya 1% untuk menahan diri dari makan dan minum, 99% sisanya untuk membawa hati dan jiwamu semakin dekat kepada Allah.

Perisai

  • Fasting is a shield, it will protect you from the hellfire and prevent you from sins. – Hadits
  • Puasa adalah perisai, yang akan melindungimu dari api neraka dan menjagamu dari perbuatan dosa. – Hadis

Mengosongkan perut

  • Ramadhan is time to empty your stomach to feed your soul.
  • Ramadhan adalah waktunya mengosongkan perut untuk memberi makan ruhanimu.

Mohon maaf

  • Amat merdu suara adzan, ayo shalat disegerakan. Sebentar lagi akan ramadhan, segala salah mohon dimaafkan.
  • Kata Bijak Islami Tentang Puasa dan Ramadhan

Empat kesalahan

  • 4 Mistakes to avoid in Ramadan: getting angry, sleeping all day, fasting without prayer, bad language.
  • 4 Kesalahan yang harus dihindari di bulan Ramadan: marah, tidur sepanjang hari, berpuasa tapi tidak shalat, tutur kata yang buruk.

Berdoalah

  • Make Dua.. its Ramadan, the month of forgiveness.
  • Berdoalah.. ini adalah Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan.

Titik balik

  • Make this Ramadan the turning point in your life. Break free from the deceptions of this world and indulge into the sweetness of iman.
  • Jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik balik dalam kehidupanmu. Bebaskan diri dari tipu daya dunia ini dan nikmati manisnya iman.

Bukan hamba ramadhan

  • Don’t be a servant of Ramadan, be a servant of Allah, be consistent.
  • Jangan menjadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah, dan beristiqamahlah.

Aku sedang berpuasa

  • When one of you is fasting, he should abstain from indecent acts and unnecessary talk, and if someone begins an obscene conversation or tries to pick an argument, he should simply tell him, ‘I am fasting’. – Hadits
  • Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor/keji dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. – Hadis

Bukan untuk diet

  • Ramadan is about losing sins, not weight.
  • Ramadhan itu waktunya untuk membersihkan diri dari dosa, bukan untuk menurunkan berat badan.

Izinkan kami

  • O Allah, allow us to witness Ramadan, benefit from it, use it to earn Your pleasure and mercy, and earn emancipation from the Fire. – dr. Bilal Philips
  • Ya Allah, izinkan kami untuk menjumpai bulan Ramadhan, memanfaatkannya, menggunakannya untuk mendapatkan ridha dan rahmat-Mu, dan mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka. – dr. Bilal Philips

Doa yang tidak tertolak

  • Three prayers (supplications) are not rejected: the prayer of a father, the prayer of a fasting person, and the prayer of a traveller. – Hadits
  • Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir. – Hadis

Membangun iman

  • Ramadan is a chance to build your iman.
  • Ramadhan adalah kesempatan untuk membangun imanmu.

Bunga langka

  • Ramadan is like a rare flower, that blossoms once a year, and just as you begin to smell its fragrance, it disappears for another year.
  • Ramadhan bagaikan bunga yang sangat langka, yang mekar hanya setahun sekali, dan saat kamu mulai mencium harumnya, ia menghilang selama satu tahun lagi.

Berhenti dari kemaksiatan

  • Ramadan is the ideal time to break bad habits.
  • Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk berhenti dari kebiasaan buruk.

Istimewanya ramadhan

  • 4 weeks of mercy, 30 days of worship, 720 hours of spirituality, 43.000 minutes of forgiveness, 2.592.000 seconds of happiness.
  • 4 minggu yang penuh rahmat, 30 hari yang bernilai ibadah, 720 jam yang penuh nuansa keagamaan, 43.000 menit yang penuh ampunan, 2.592.000 detik yang penuh kebahagiaan.

Terimalah

  • Dear Allah, please accept our fasts in this beautiful month of Ramadan. Ameen.
  • Ya Allah, terimalah puasa kami di bulan Ramadhan yang indah ini. Amiin.

Menyembuhkan

  • Ramadhan, let this month heal you.
  • Ramadhan, biarkan bulan ini menyembuhkanmu.

Tuhan yang sama

  • The Lord you worship in Ramadan is the same Lord you turn away from in all the other months. – Sheikh Abu Abdisalam
  • Tuhan yang engkau sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang engkau berpaling di bulan-bulan selainnya. – Sheikh Abu Abdisalam

Bulan al-Qur’an

  • The month of Ramadhan is that in which was revealed the Qur’an, a guidance for the people and clear proofs of guidance and criterion. – (QS. Al-Baqarah: 185)
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan yang bathil). – (QS. Al-Baqarah: 185)

Orang miskin

  • Poor is he who leaves ramadan the way he was before.
  • Orang miskin adalah dia yang meninggalkan ramadhan masih sama seperti sebelumnya.

Kewajiban puasa

  • O you who believe, Fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you so that hopefully you will gain taqwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)
  • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)

Menggapai takwa

  • TAQWA is the ultimate goal of our Ramadan preparations, to be among the righteous for now and forever.
  • TAQWA adalah tujuan akhir dari persiapan Ramadhan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, untuk saat ini dan selamanya.

Memperkokoh iman

  • Ramadan: strengthen your iman, heal your heart.
  • Ramadhan: mengokohkan imanmu, menyembuhkan hatimu.

Bukan akhir

  • For a true muslim ,end of Ramadan is not the end, but start of a new journey leading towards the jannah.
  • Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan baru menuju surga.

Tiap hari ramadhan

  • Live your life like everyday is Ramadan, and the Akhirah will become your Eid.
  • Jalani hidupmu seperti seolah-olah setiap harinya adalah Ramadhan, maka Akhirat akan menjadi hari rayamu.

Terus berusaha

  • Allah never expect us to be perfect during Ramadan, but He expects us to keep trying.
  • Allah tidak pernah mengharapkan kita menjadi sempurna selama Ramadhan, tetapi Dia mengharapkan kita untuk tetap terus berusaha.

Agen kebersihan

  • Fasting is a cleansing agent for the body and soul.
  • Puasa adalah agen pembersihan untuk tubuh dan jiwa.

Makna perisai

  • Puasa adalah perisai dan bukan pedang. Digunakan untuk menahan diri, bukan untuk menyerang.

Sama saja

  • Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus, maka sama saja seperti mengganti waktu makan.

Fenomena akhir ramadhan

  • Ramadhan semakin berlalu, akan tetapi masjid semakin kelabu, pusat perbelanjaan dan restoran semakin laku.

Belum tentu berjumpa lagi

  • Meski sekarang zaman sedang edan, namun ibadah di bulan ramadhan harus tetap habis-habisan, karena tahun depan belum tentu merasakan.
  • Kata Kata Islami Tentang Sahur

Ada berkah

  • Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat barakah. – Hadis

Sesuai waktunya

  • Jangan sahur sesudah waktunya, jangan berbuka sebelum waktunya, jangan menikah sebelum ada calonnya.

Memulai dengan basmalah

  • Mulailah makan sahurmu dengan ucapan bismillah agar semua makanan yang kau makan dan minuman yang kau minum menjadi berkah dan memberimu kekuatan untuk beribadah kepada Allah.

Tanpa sahur

  • Ada orang bangga berkata tanpa sahur pun dia gagah berpuasa. Padahal sahur itu sunnah dan berkah, dan dia telah rugi.

Hanya seteguk air

  • Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air. – (HR. Ahmad)

Selamat sahur

  • Kukirimkan senyum syukur, lewat doa yang tak terukur, semoga yang di sana sudah bangun tidur, sebelum waktu imsak menegur. Selamat makan sahur.

Waktunya buka

  • Sehari sudah kita menahan lapar dan dahaga, kini tibalah waktu maghrib untuk kita berbuka puasa. Selamat berbuka puasa, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Syukur dan sabar

  • Nikmatnya bersyukur, indahnya bersabar. Selamat berbuka puasa.
  • Ekspresi kebahagiaan
  • Orang berbuka memang benar mendapat kebahagiaan, tetapi jangan sampai salah mengekspresikannya dengan berbuka yang berlebihan.

Nikmat makan

  • Tiada nikmat makan yang lebih dari saat berbuka puasa. Selamat menikmati hidangan berbuka puasa.
  • Selamat berbuka untukmu
  • Jangan lupa berdoa sebelum makan, sudah kenyang ucapkan alhamdulillah. Selamat berbuka puasa kuucapkan, untukmu dengan senyumku terindah.

Menyegerakan berbuka

  • Manusia akan senantiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka senantiasa menyegerakan berbuka puasa. – (HR. Bukhari)

Meraih ridha-Mu

  • Dari pagi sampai sore-Mu, ku menahan segala rasa dan nafsu hanya untuk meraih ridha-Mu, semoga kita mendapatkan berkah di puasa hari ini. Selamat berbuka puasa.

Ucapan selamat berbuka

  • Santapan lezat sudah tersedia di atas meja, setulus hati aku ingin mengucapkan ‘Selamat berbuka puasa’.

Untuk yang dirindu

  • Gula memang manis rasanya, tapi lebih manis lagi rasa madu, ku ucapkan selamat berbuka puasa, untuk kamu yang selalu ku rindu.
  • Halal lebih baik
  • Berbukalah dengan yang halal, karena yang manis dan sayang belum tentu halal.

Kata Kata Perpisahan dengan Ramadhan

  • Kulihat ramadhan sedang berkemas. Aku tanya ia, “Hendak kemana engkau?”. Dengan lembut ia menjawab, “Aku akan pergi jauh, sangat jauh. Selama sebelas bulan ke depan aku akan menghilang darimu. Sampaikan pesanku pada semua. Terimakasih karena telah menyambut kehadiranku dengan gembira serta menghiasi hari-hariku dengan sabar dan istiqamah. Jika engkau merindukanku, maka perbanyaklah doa semoga kita bertemu lagi pada ramadhan yang akan datang.”
  • Itulah beberapa koleksi kata-kata mutiara islam terbaik, kata bijak islami, dan caption islami tentang bulan Ramadhan yang semoga bisa menjadi motivasi diri dalam menjalankan ibadah puasa dan semakin bersemangat untuk meraih kebaikan selama bulan ramadhan.

Hadits Pilihan Di Bulan Ramadhan

Datang nya Bulan Ramadhan


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, Qutaibah dan Ibnu Hujr, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil -dia adalah Ibnu Ja’far-, dari Abu Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika telah datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup dan setan-setan akan dibelenggu dengan rantai.”

[Shahiih Muslim no. 1080; Shahiih Al-Bukhaariy no. 1898]

Ramadhan Datang Setan Dan Jin di Belenggu


حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’ bin Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, dari Al-A’masy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika telah datang malam pertama di bulan Ramadhan maka setan-setan dan jin yang jahat akan dirantai, pintu-pintu neraka akan ditutup dan tidak akan terbuka darinya satu pintupun, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak akan tertutup darinya satu pintupun, dan seorang penyeru akan menyerukan, “Wahai para pencari kebaikan, bersegeralah (menuju kebaikan), wahai para pencari keburukan, berhentilah (dari keburukan), Allah membebaskan (seorang hamba) dari api neraka pada setiap malam (di bulan Ramadhan).”

[Jaami’ At-Tirmidziy no. 682; Sunan Ibnu Maajah no. 1339]

Sanadnya terdapat ‘illat dari Abu Bakr bin ‘Ayyaasy[1], namun ia hasan lighairihi dengan syawahid. Syaikh Al-Albaaniy menghasankannya dalam Shahiih At-Targhiib no. 998.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meneladankan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan.

Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‏اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل

“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Dahsyat Bersedekah di Bulan Ramadhan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3. Sedekah memberi keberkahan pada harta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

10. Pahala sedekah terus berkembang

Pahala sedekah walaupun hanya sedikit itu akan terus berkembang pahalanya hingga menjadi besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ يقبلُ الصدقةَ ، ويأخذُها بيمينِه ، فيُرَبِّيها لِأَحَدِكم ، كما يُرَبِّي أحدُكم مُهْرَه ، حتى إنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ

sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)

11. Sedekah menjauhkan diri dari api neraka

Sesungguhnya sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

12. Boleh iri kepada orang yang dermawan

Iri atau hasad adalah akhlak yang tercela, namun iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanan dia, ini adalah akhlak yang terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لا حسدَ إلا في اثنتين : رجلٌ آتاه اللهُ مالًا؛ فسلَّطَ على هَلَكَتِه في الحقِّ ، ورجلٌ آتاه اللهُ الحكمةَ؛ فهو يَقضي بها ويُعلمُها

tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudia ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816)

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bercumbu Dengan Isteri Tidak Sampai Berhubungan Badan Siang Hari Di Bulan Ramadhan

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bercumbu Dengan Isteri Tidak Sampai Berhubungan Badan Siang Hari Di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

  • Bagaimanakah cara membayar hutang puasa Ramadhan yang batal karena hubungan suami isteri? Pada bulan Ramadhan khilaf bercumbu di siang hari tapi tidak melakukan hubungan suami isteri.
  • Apakah cara bayarnya sama dengan ketika hutang puasa Ramadhan karena ada udzur (haid) atau bagaimana? Terus terang saya binggung. Saya sudah membayar puasa tersebut dengan puasa yang sama dengan seperti saya bayar untuk hutang puasa karena udzur. Apakah cara bayarnya sama seperti itu atau ada yang lain?

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  • Kewajiban seorang yang sedang berpuasa Ramadahan adalah menjaga diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari.
  • Makan dan minum secara sengaja, tentu membatalkan puasa, berdosa dan untuk itu ada kewajiban untuk menggantinya dengan puasa di hari lain.
  • Sedangkan bila melakukan hubungan suami isteri, selain membatalkan puasa dan berdosa, kaffarat (tebusan)-nya adalah membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin. Sesuai sabda Rasulullah SAW:
  • Dari Abi Hurairah ra., bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku, ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ “Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak.“ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?” ”Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin? ” ”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata,”Ambilah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671)

Batas Pelanggaran

  • Namun batalnya puasa itu hanya terjadi manakala memang benar-benar terjadi persetubuhan. Sedangkan sekedar bercumbu sampai mencium, meski sampai terangsang namun tidak terjadi jima’, tidak membatalkan puasa, juga tidak mewajibkan kaffarat.
  • Bila yang terjadi hanya sekedar percumbuan, tidak sampai jima’, maka hukumnya hanya makruh saja. Tetapi tidak ada kewajiban membayar tebusan (kaffarah), bahkan tidak membatalkan puasa. Kecuali bila percumbuan itu sampai mengeluarkan mani, maka puasanya batal, tapi tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Cukup mengganti puasanya yang batal itu saja.
  • Tentang kemakruhan untuk mencumbu isteri saat puasa, karena dikhawatirkan akan kelewatan yang beresiko lebih buruk. Sedangkan bila seseorang mampu menjaga diri dan menahan gejolak syahwatnya, tidak mengapa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW menciumnya dalam keadaan sedang berpuasa. Dan beliau mencumbunya ketika sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hawa nafsunya. (HR Bukhari Muslim)

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

.