Tag Archives: Puasa

1 Dzulhijah Jumat 2 Agustus, Idul Adha Minggu 11 Agustus 2019

Pemerintah menetapkan 1 Dzulhijah 1440 Hijriah jatuh pada Jumat, 2 Agustus 2019. Dengan demikian, 10 Dzulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada Minggu, 11 Agustus mendatang. Penetapan tersebut berdasarkan sidang isbat di kantor Kementerian Agama di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Muhammadiyah Amin mengatakan, laporan posisi hilal oleh anggota tim Kemenag ditetapkan bahwa hilal berdasarkan hisab dua derajat empat menit sampai dengan tiga derajat 57 menit. Untuk dilakukan konfirmasi, maka dilakukan rukyat ketiga yang pada saat ini 92 titik. Dia menjelaskan terdapat 10 titik yang terlihat langsung hilal.

“Kita putuskan 1 Dzulhijah hari Jumat 2 Agustus 2019 dengan begitu 10 Dzulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada Minggu 11 Agustus 2019,” kata Amin di Kantor Kementeri Agama, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019).

Turut hadir dalam sidang isbat, perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia, duta besar dari negara sahabat, anggota Komisi VIII DPR, serta pejabat dari Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Perwakilan dari Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, pakar ilmu falak dari ormas-ormas Islam, pejabat Kementerian Agama, serta Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama juga akan menghadiri sidang isbat awal Dzulhijah 1440 Hijriah.

NIAT 10 PUASA SUNAH

NIAT PUASA SUNAH

  1. Puasa hari Senin dan Kamis
    Amal perbuatan seorang hamba akan diaudit (diperiksa) setiap hari Senin dan Kamis.
    Karena itu, alangkah mulianya seorang hamba jika ketika datang hari audit keadaannya tengah berpuasa. (HR. Tirmidzi)
    Niat Puasa Senin – Kamis
    نويت صوم يوم الاثنين سنة لله تعالى
    ” NAWAITU SAUMA YAUMUL ISNAIN SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
    Artinya :
    “ Saya niat puasa hari Senin, Sunnah karena Allah ta’ala.”

  2. Puasa 6 (enam) hari dalam bulan Syawal
    Puasa ini dilaksanakan pada bulan Syawal setelah Ramadhan, yakni tanggal 2-29 Syawal (HR. Muslim).
    Puasa ini dilaksanakan selama enam hari. Tak ada satu keterangan pun yang menjelaskan apakah puasa tersebut dikerjakan berturut-turut atau terpisah-pisah. Hal ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri (apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah), itu semua bergantung pada situasi dan kondisi per individu, yang penting harus dilakukan pada bulan Syawal.
    Niat Puasa Syawwal

نويت صوم شهر شوال سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan Syawwal , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa Tasu’a dan Asyura
    Puasa Tasu’a dan Asyura dilaksanakan tanggal 9 dan 10 bulan Muharam. Puasa ini termasuk berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharam. Puasa Asyura menghapus dosa tahun lalu. Sebelumnya Rasulullah SAW telah melaksanakan shaum pada tanggal 10 Muharam (asyura). Namun sebelum meninggal, beliau berniat melaksanakan shaum pada tanggal 9. Sabda Rasulullah SAW: Apabila tahun depan telah tiba, insya Allah kita berpuasa juga pada hari kesembilan. Walaupun beliau belu sempat melaksanakannya (HR. Muslim). Sunah semacam ini dikalangan ahli fikih dinamakan sunah hamiyah (cita-cita/rencana) Nabi SAW yang tidak sempat beliau laksanakan.
    Niat Puasa Bulan Muharram (Puasa ’Asyura)

نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA LILLAHI TA’ALA

Artinya :
“ Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa selang sehari/Shaum Daud
    Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling disenangi Allah SWT ialah puasa Nabi Daud dan shalat yang paling dicintai Allah SWT adalah shalat Nabi Daud. Ia tidur separo malam, bangun untuk ibadah sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Nabi Daud puasa sehari dan berbuka sehari. Dan inilah shaum yang paling tangguh karena menuntut stamina yang sangat prima. (HR Muslim, Sahih Musim bi Syarjhi al-Nawawi)
    Niat Puasa Daud

نويت صوم داود سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya :
“ Saya niat puasa Daud , sunnah karena Allah ta’ala
Mohon koreksinya jika ada salah penulisan dari kumpulan doa-doa Niat Puasa Wajib dan sunnah baik itu niat puasa Ramadhan , niat puasa Sunnah, niat puasa Syawal, niat puasa Dzulhijjah Arofah Tarwiyah ,niat puasa Qadha , niat puasa Asyura , niat puasa Rajab , niat puasa Senin Kamis , niat puasa Sya’ban, niat puasa Daud tersebut diatas.
Semoga diberkah dan diridhoi oleh Allah SWT atas niat dan ibadah puasanya , Aamiin Yaa Robal’alamin

  1. Puasa bulan Sya’ban
    Rasulullah SAW: tidak pernah berpuasa sebanyak puasanya di bulan Sya’ban. Beliau pernah berpuasa sepenuhnya atau sebagian besar dari hari-harinya.Rasulullah SAW suka meningkatkan frekuensi shaum sunah pada bulan Sya’ban (HR. Bukhari dan Muslim).
    Sya’ban adalah bulan kedelapan pada penanggalan tahun hijriah, sementara Ramadhan bulan kesembilan. Jadi Sya’ban posisinya sebelum Ramadhan.Maksudnya Rasulullah SAW shaum secara penuh selama satu bulan hanya di bulan Ramadhan. Sementara , bulan Sya’ban adalah bulan yang paling banyak diisi dengan shaum sunnah oleh Nabi SAW, seperti shaum senin-kamis, shaum daud, dll.
    Niat Puasa Sya’ban

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN LILLAHI TA’ALA
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan sya’ban , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa pada hari-hari putih/Shaum 3 hari setiap bulan
    Yang dimaksud dengan hari-hari putih adalah hari yang siangnya memang terang dan malamnya pun terang bulan. Hari-hari putih itu adalah tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah.Shaum tiga hari setiap bulan seperti shaum sepanjang tahun (HR. Bukhari dan Muslim). Shaum ini dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, 15 setiap bulan di tahun Hijriah (HR Tirmidzi).

  2. Puasa Arafah
    Shaum Arafah adalah shaum yang dilaksanakan pada sembilan Dzulhijjah. Disebut shaum arafah karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan kaum muslim yang tengah melakukan wukuf di Arafah (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, disunahkan untuk shaum, sedangkan bagi yang tengah melaksanakan haji, dilarang shaum. Shaum arafah dapat menghapus dosa dua tahun yaitu setahun yang lalu dan yang tersisa (HR Muslim)

Niat Puasa Bulan Dzulhijjah (Puasa Tarwiyah & ‘Arafah).
نويت صوم ترويه سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”
نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
8. Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dihitung dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 9. Hari tanggal 9 Dzulhijjah itu disebut hari Arafah dan puasanya disebut puasa Arafah, karena jamaah haji pada hari itu sedang melaksanakan wuquf di Arafah. Jadi pada bulan Dzulhijjah seseorang dapat puasa 9 hari, termasuk di dalamnya puasa tarwiyah dan puasa Arafah.

  1. Puasanya orang bujangan yang belum mampu menikah
    Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang tidak kuasa untuk menikah, hendaklah ia puasa karena puasa itu menjadi penjaga baginya.
    Tambahan :
    Niat puasa Ramadhan :
    Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta‘aala.
    Artinya :
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala
    Niat Puasa Qhada’ Ramadhan

نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى .

Artinya :
“ Niat aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Bulan Rajab
نويت صوم شهر رجب سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA SYAHRI RAJAB LILLAHI TA’ALA
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan Rajab , sunnah karena Allah ta’ala.”

Berikut adalah kalender puasa-puasa sunat dalam Islam. Semoga kita dapat menjalani puasa-puasa ini sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah S.W.T dan disamping dapat mempertingkatkan ketakwaan kita kepadaNya. Amin.

PUASA SUNAT

“Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.” (Hadits riwayat Muslim)

BULAN HARI FHADILAT
Bulanan 1. Hari-hari al-Baidh ( Hari-hari Putih) = 13, 14, dan 15 hb
2. Hari-hari Hitam = pada hari yang ke 27, 28, 29 dan 30 setiap bulan.

  1. Pada 3 hari setiap Bulan Qamariah

  2. Telah bersabda kepada-ku Rasulullah saw: “Jika kamu berpuasa dalam sebulan, maka puasalah pada 13, 14 dan 15 (hari bulan bagi setiap bulan).” (HR al-Nasaie, Ibn Majah dan Ahmad)

  3. berpuasa pada tiga hari tersebut itu sebagai permohonan kepada Allah S.W.T supaya menghilangkan kegelapan pada malam-malam itu.

Mingguan Isnin & Khamis Ketika ditanya kepada Nabi saw tentang puasa Isnin dan Khamis baginda bersabda:
Maksudnya: ‘Dua hari itu dibentangkan padanya amalan kepada tuhan sekelian alam (Allah), maka aku suka dibentangkan amalan-ku sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR al-Nasaiie, Ibn Majah dan Ahmad dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih al-Jami’)

Muharram
‘Asyura

  1. Hari Tasu’a iaitu tanggal 1 hingga 9 hari bulan Muharram
  2. Hari kesepuluh (10) dlm bulan Muharram (‘Asyura) Disunatkan juga berpuasa sehari sebelumnya atau selepasnya bagi berbeza dengan Yahudi = ( 9, 10 dan 11 Muharram)

  3. Disunatkan perbanyakkan puasa di bulan ini.

Hadith:
Maksudnya: “Puasa yang paling utama selepas Ramadhan ialah puasa dalam bulan Allah al-Muharram…” (HR Muslim)

Rejab 1. Sepanjang bulan Rejab
Syaban 1. Keseluruhan bulan kecuali pada hari syak(Hari diragui (antara 30 Syaaban atau sudah masuk 1 Ramadan) berdasarkan perkataan ‘Aisyah r.’anha:
Maksudnya: “Tidak aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa sebulan melainkan dalam bulan Ramadhan dan tidak aku melihat baginda lebih banyak berpuasa berbanding Syaban, baginda puasa dalam bulan Syaban keseluruhannya, melainkan sedikit (sahaja hari yang baginda tidak berpuasa).” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Syawal 1. Puasa sunat 6 hari dalam bulan Syawal 1. Sabda Nabi saw: Maksudnya : “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diturutinya dengan 6 hari Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun.” (HR Muslim)
Zulhijjah 1. Hari yang ke-9 dalam bulan Zulhijjah bagi orang yang tidak berwuquf di Arafah. (Hari Arafah)
2, Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Zulhijjah

  1. Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari iaitu dari hari yang pertama bulan Zulhijjah hingga ke hari yang ke lapan.

  2. Sepuluh hari yang pertama pada bulan Zulhijjah ( 1 hingga 9 Zulhijjah , dan 14 Zulhijjah)

  3. Kelebihan berpuasa pada hari itu menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:
    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa di hari Arafah? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadits riwayat Muslim)

  4. Hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah R.A, daripada Nabi S.A.W bersabda:

Maksudnya: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan ibadah kepadaNya daripada sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dimana satu hari berpuasa daripadanya (sebanding) dengan puasa satu tahun dan mendirikan ibadah satu malam daripadanya (sebanding) dengan mendirikan ibadah pada lailatulqadar.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
3. “Sesungguhnya Rasulullah S.A.W adalah melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di hari ‘Asyura’ dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya.” (Hadits riwayat An-Nasa’i)

Bulan-bulan Haram 1. Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, dan Rejab
Hari yang dilarang berpuasa
(HARAM)

  1. Aidilfitri iaitu pada 1 Syawal.
  2. Aidiladha pada 10 Zulhijjah.

  3. Tiga hari Tasyriq iaitu pada 11, 12, dan 13 Zulhijjah.

  4. Hari syak atau hari diragui (antara 30 Syaaban atau sudah masuk 1 Ramadan)

Hari yang MAKRUH berpuasa 1. JUMAAT SAHAJA.- Namun begitu, jika seseorang itu berpuasa berturut-turut dimulai pada Khamis dan disambung Jumaat atau dimulai Jumaat dan disambung Sabtu, maka hukumnya dibolehkan.
Begitu juga boleh berpuasa pada Jumaat sekira-nya berpuasa berselang hari (seperti puasa Nabi Daud), dan kebetulan puasa itu jatuh pada Jumaat.
2. SABTU SAHAJA – Begitu juga, kalau berpuasa sehari sebelumnya dan sehari selepasnya, bolehlah berpuasa pada Sabtu. Begitu juga kalau kita berpuasa berselang hari, kebetulan harinya jatuh pada Sabtu, boleh berpuasa pada hari itu.

“Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk dari padanya.” (Hadits riwayat Bukhari)

“Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.” (Hadits riwayat Bukhari)

8 Permasalahan Dalam Puasa Yang Sering Terjadi

1. Suami-Istri

Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodho puasanya serta wajib membayar denda kaffarah udzma yaitu:

Membebaskan budak perempuan yang islam.
Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
Jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (sekitar 6,5 ons) dari makanan pokok.
Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki saja, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.

2. Hukum Menelan Dahak.

Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasanya.
Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasanya.
Yang dimaksud batas luar tenggorokan menurut pendapat Imam Nawawi (yang mu’tamad) adalah makhroj huruf ha’ (ح) dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama, batas luar adalah makhroj huruf kho’ (خ) dan dibawahnya adalah batas dalam.

3. Menelan Ludah Tidak Membatalkan Puasa dengan Syarat:

Murni (tidak tercampur benda lain)
Suci
Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan dalam mulut, sedangkan menelan ludah yang sudah berada pada bibir luar membatalkan puasa.
4. Hukum Masuknya Air Mandi ke Dalam Rongga Tanpa Sengaja:

Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib (janabat) maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau dengan menyelam.
Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan, maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.
5. Hukum Air Kumur yang Tertelan Tanpa Sengaja:

Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’, tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh).
Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.
6. Muntah atau Dalam Mulut Berdarah

Orang yang muntah atau dalam mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci. Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya dari sisa muntah, maka puasanya batal.

7. Membatalkan Puasa atau Tidak Niat

Orang yang sengaja membatalkan puasanya (alasan syar’i) atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (selayaknya orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodho puasanya.

8. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:

A. WAJIB QODHO’ DAN MEMBAYAR DENDA

Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
Mengakhirkan qodho’ puasanya hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada uzur.
B. WAJIB QODHO’ TANPA DENDA

Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari
Orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh)
Perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.
C. WAJIB DENDA TANPA QODHO’

Berlaku bagi orang lanjut usia tidak mampu berpuasa.
Orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, ia tidak mampu berpuasa.
D. TIDAK WAJIB QODHO’ DAN TIDAK WAJIB DENDA

Berlaku bagi orang yang kehilangan akal/ gila yang permanen atau tidak mengalami kesembuhan.
Yang dimaksud DENDA di sini adalah FIDYAH, 1 mud (6,5 ons) makanan pokok daerah setempat (beras) untuk setiap harinya.

100 Pertanyaan Puasa : Hukum Fiqih Membaca Niat Puasa

Pertanyaan:
Saya lupa berniat puasa pada waktu malam. Kemudian saya teringat setelah fajar bahwa saya belum berniat. Apakah puasa saya sah?

Jawaban:

Niat merupakan sesuatu yang mesti ada dalam puasa, puasa tidak sah tanpa adanya niat. Mayoritas ulama mensyaratkan agar setiap hari mesti berniat puasa, sebagian ulama mencukupkan satu niat saja pada awal malam bulan Ramadhan untuk niat satu bulan secara keseluruhan. Waktu berniat adalah sejak tenggelam matahari hingga terbit fajar. Jika seseorang berniat melaksanakan puasa di malam hari, maka niat itu sudah cukup, ia boleh makan atau minum setelah berniat, selama sebelum fajar. Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ لََْ جيُْمِعِ ال صيَامَ قَ بْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَه ج

“Siapa yang tidak menggabungkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”.

Tidak disyaratkan melafalkan niat, karena tempat niat itu di hati. Jika seseorang sudah bertekad di dalam hatinya untuk melaksanakan puasa, maka itu sudah cukup. Meskipun hanya sekedar bangun pada waktu sahur dan berniat akan melaksanakan puasa, itu sudah cukup, atau minum agar tidak merasakan haus pada siang hari, maka niat itu sudah cukup. Siapa yang tidak melakukan itu pada waktu malam, maka puasanya tidak sah, ia mesti meng-qadha’ puasanya. Ini berlaku pada puasa Ramadhan. Sedangkan puasa sunnat, niatnya sah dilakukan pada waktu siang hari sebelum zawal (matahari tergelincir).

Penelitian Puasa Pada Penderita Diabetes

Penelitian Puasa Pada Penderita Diabetes

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam. Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Tubuh Manusia Berdasarkan Penelitian Medis Pada Penderita Diabetes

  • Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.
  • Tidak ada masalah besar yang dihadapi dengan diabetes tipe 2 dan bahkan pasien tipe 1 yang dikendalikan selama puasa Ramadhan. Sebagian besar pasien tidak menunjukkan perubahan dalam kontrol glukosa mereka. Pada beberapa pasien, konsentrasi glukosa serum dapat turun atau naik, yang mungkin disebabkan oleh jumlah atau jenis makanan yang dikonsumsi, perubahan berat badan dan kebiasaan olahraga, keteraturan minum obat, atau makan setelah puasa rusak. Dalam sebagian besar penelitian, nilai HbAlc menunjukkan sedikit atau tidak ada perubahan selama Ramadhan. Jumlah fructosamine, insulin dan C-peptide telah dilaporkan tidak memiliki perubahan signifikan sebelum dan selama puasa Ramadhan.
  • Kreatinin serum, asam urat, nitrogen urea darah, protein, albumin, alanin amino-transferase, dan nilai amino-transferase aspartat tidak menunjukkan perubahan signifikan selama periode puasa. Jumlah asupan energi (kalori) telah dilaporkan dalam beberapa literatur, menunjukkan penurunan asupan energi. Sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2 dan diabetes tipe 1 tidak menunjukkan perubahan atau sedikit penurunan konsentrasi total kolestrol dan trigliserida. Namun, peningkatan kadar kolesterol total selama bulan Ramadhan jarang terjadi.
  • Disarankan bahwa pasien berikut harus disarankan untuk tidak berpuasa: semua pasien diabetes tipe 1 yang rapuh dan tidak terkontrol; pasien diabetes yang diketahui tidak patuh; mereka dengan komplikasi serius seperti angina tidak stabil; pasien dengan riwayat ketoasidosis diabetikum; pasien diabetes hamil; pasien lanjut usia dengan tingkat masalah kewaspadaan; dan pasien dengan episode hipoglikemia dan / atau hiperglikemia selama bulan Ramadhan.
  • Selama puasa Ramadhan, penderita diabetes harus menghindari goresan berlebihan dan harus melanjutkan olahraga yang biasa mereka lakukan terutama selama periode non-puasa. Banyak dokter menyarankan agar pasien tipe 1 tidak boleh berpuasa. Namun, dalam bentuk IDDM ringan ketika pasien bersikeras mengamati puasa, layak untuk memberikan satu dosis insulin kerja menengah sebelum Sahur, dan jika perlu, satu lagi sebelum berbuka puasa (Fatur, Iftar). Kontrol glikemik dapat meningkat dan hipoglikemia dikurangi dengan menggunakan insulin lispro. Pada pasien dengan diabetes tipe 2, dosis sulfonylurea kerja pendek harus dikurangi menjadi setengah selama Ramadhan, dan diberikan sebagai dosis tunggal sebelum Iftar atau dua dosis sebelum Sahur dan Iftar. Para penulis dari serangkaian pasien terbesar yang diobati dengan glibenclamide selama Ramadan merekomendasikan untuk mengganti dosis pagi (bersama dengan dosis tengah hari) dari obat ini dengan yang diminum saat matahari terbenam.

Referensi

  • Al-Hader AFA, Abu-Farsakh NA, Khatib SY, Hasan ZA. The effects of Ramadan fasting on certain biochemical parameters in normal subjects and in type 2 diabetic patients. Ann Saudi Med 1994; 14:139-41.
  • Bekhadir J, El Ghomari H, Klicken N, Mikou A, Sabri M. Muslims with non-insulin dependent diabetes fasting during Ramadan:treatment with glibenclamide. BMJ 1993;307:292-5.
  • Chandalia HB, Bhargav A, Kataria V. Dietary pattern during Ramadan fasting and its effect on the metabolic control of diabetes. Pract Diabetes 1987;4:287-90.
  • Sulimani RA, Laajam M, Al-Attas O, Famuyiwa FO, Bashi S, Mekki MO, et al. The effect of Ramadan fasting on diabetes control in type II diabetic patients. Nutr Res 1991;11:261-4.
  • Laajam MA. Ramadan fasting and non-insulin-dependent diabetes:effect on metabolic control. East Afr Med J 1990;67:732-6.
  • Salman H, Abdallah MA, Al Howasi M. Ramadan fasting in diabetic children in Riyadh. Diabet Med 1992;9:583-4.
  • Dehghan MR, Nafarabadi MT, Navai L, Azizi F. The effect of Ramadan fasting on blood glucose and lipids in type 2 diabetics. J Facult Med SBUMS 1994;18:42-7.
  • Mafauzy M, Mohammad WB, Anum MY, Zulkifli A, Ruhani AH. A study of fasting diabetic patients during the month of Ramadan. Med J Malaya 1990;45:14-7.
  • Latif AH, Gharieba MY, Al-Qassab HK, Sartani OM. Changes in serum lipids and electrolytes in type 2 diabetes mellitus during Ramadan. Saudi Med J 1993;14:532-5.
  • Omar MAK, Motala AA. Fasting in Ramadan and the diabetic patient. Diabetes Care 1997;20:1925-6.
  • Azizi F, Siahkolah B. Ramadan fasting and diabetes mellitus. Int J Ramadan Fast 1998;2:6-10.
  • Sulimani RA, Famuyiwa FO, Laajam M. Diabetes mellitus and Ramadan fasting:the need for a critical appraisal. Diabetes Med 1988;5:589-91.
  • Kadiri A, Al-Nakhi A, El-Ghazali S, et al. Treatment of type 1 diabetes with insulin lispro during Ramadan. Diabetes Med 2001; 27:482-6.

Penelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Metabolisme Tubuh Manusia

Penelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Metabolisme Karbohidrat

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam. Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Tubuh Manusia Berdasarkan Penelitian Medis

Keseimbangan Anabolisme dan katabolisme

  • Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

Metabolisme Karbohidrat.

  • Efek puasa jangka pendek eksperimental pada metabolisme karbohidrat telah ditinjau secara ekstensif. Masa puasa pasca-absorpsi didefinisikan sebagai 8 hingga 16 jam setelah makan, periode adaptasi yang sangat awal terhadap kelaparan. Prioritas metabolisme utama periode ini adalah penyediaan glukosa yang memadai untuk sel-sel otak, sel darah merah, saraf perifer, dan medula ginjal. Sedikit penurunan glukosa serum menjadi sekitar 3,3-3,9 mmol / L (60-70 mg / dL) terjadi beberapa jam setelah puasa pada orang dewasa normal. Namun, penurunan glukosa serum akan berhenti karena pemecahan glikogen dan peningkatan glukoneogenesis, serta penurunan sintesis glikogen dan glikolisis di hati. Perubahan-perubahan ini terjadi karena penurunan insulin dan peningkatan glukagon dan aktivitas simpatik
  • Pada tahap awal periode pasca-aborpsi, penurunan glukosa dikaitkan dengan penipisan simpanan glikogen hati. Namun, toko-toko ini tidak terbatas. Hanya ada 1.200 kalori yang disimpan sebagai karbohidrat dalam glikogen hati dan otot, dan sel-sel otot rangka kekurangan glukosa-6 fosfatase dan tidak melepaskan glukosa dari glikogen yang disimpan langsung ke dalam sirkulasi. Akhirnya, setelah sekitar 24 jam kelaparan, simpanan glikogen menjadi menipis dan satu-satunya sumber glukosa tetap menjadi glukoneogenesis, Substrat untuk glukoneogenesis adalah laktat (dan piruvat), gliserol dan asam amino. Kortisol adalah stimulus utama untuk katabolisme protein musle. Mekanisme ini akan menyediakan kebutuhan glukosa harian SSP (100-125 g) dan RBC (45-50 g). Sementara itu, penurunan insulin yang bersirkulasi dan kenaikan konsentrasi katekolamin menghasilkan lipolisis dalam jaringan adiposa dan peningkatan kadar asam lemak bebas, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar alih-alih glukosa oleh jaringan lain dari tubuh.
  • Hanya beberapa penelitian yang menunjukkan efek puasa Ramadhan terhadap glukosa serum. Satu studi menunjukkan sedikit penurunan glukosa serum pada hari-hari pertama Ramadhan, diikuti oleh normalisasi pada hari ke-20, dan sedikit peningkatan pada hari ke-29. Level glukosa serum terendah dalam penelitian ini adalah 63 mg / dL. Studi lain telah menunjukkan peningkatan ringan 8,9 atau variasi dalam konsentrasi glukosa serum. Dari studi-studi ini, orang dapat berasumsi bahwa selama hari-hari puasa yang mengikuti makan yang agak besar diambil sebelum fajar (Sahur), simpanan glikogen, bersama dengan beberapa derajat glukoneogenesis, mempertahankan glukosa serum dalam batas normal. Namun, sedikit perubahan glukosa serum dapat terjadi secara individual sesuai dengan kebiasaan makanan dan perbedaan individu dalam mekanisme yang terlibat dalam metabolisme dan regulasi energi.

Metabolisme Lipid

  • Studi tentang efek puasa Ramadhan pada lipid darah telah menghasilkan hasil yang bervariasi. Kolesterol serum dapat menurun pada hari-hari pertama puasa dan naik ke nilai sebelum puasa. Beberapa penelitian telah melaporkan peningkatan konsentrasi kolesterol, yang mungkin terkait dengan penurunan berat badan selama puasa Ramadhan. Namun, yang lain tidak menemukan perubahan, atau hanya penurunan kadar kolesterol selama puasa. Bukti terbaru bahwa peningkatan nyata kolesterol HDL plasma terjadi setelah puasa Ramadhan menjanjikan. Peningkatan Ramadhan dan konsentrasi APo A-1 pasca-Ramadhan baik normal dan penderita diabetes, dengan penurunan kadar APo B telah dilaporkan. Secara keseluruhan, perubahan lipid darah tampaknya bervariasi dan tergantung pada kualitas dan kuantitas konsumsi makanan dan tingkat perubahan berat. Perubahan-perubahan ini mungkin juga terkait dengan mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar, karena telah ditunjukkan bahwa peningkatan lipid pada individu yang mengambil satu makanan besar setiap hari, meskipun, ini tidak dikonfirmasi dalam satu studi selama puasa di bulan Ramadhan.

Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah

  • Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

Referensi

  • Azizi F. Medical aspects of Islamic fasting. Med J Islamic Rep Iran 1996;10:241-6.
  • Proceedings of the First International Congress on Health and Ramadan. 19-22 January 1994, Casablanca, Morocco.
  • Proceedings of the Second International Congress on Health and Ramadan. 1-3 December 1997, Istanbul, Turkey.
  • Chill GF, Jr. Starvation in man. N Engl J Med 1970;282:668-75.
  • Heber D. Starvation and nutrition therapy. In:DeGroot LJ, Jameson JL, editors. Endocrinology. Fourth edition, Vol. 1. Philadelphia: WB Saunders, 2001:642-5.
  • Azizi F. Rasouli HA. Serum glucose, bilirubin, calcium, phosphorus, protein and albumin concentrations during Ramadan. Med J Islamic Rep Iran 1987;1:38-41.
  • Scott TG. The effect of Muslim fast of Ramadan on routine laboratory investigation. King Abdulaziz Med J 1981;1:23-35.
  • Temizhan A, Tandogan I, Donderici O, Demirbas B. The effects of Ramadan fasting on blood lipid levels. Am J Med 2000;109:341-2.
  • Khogheer, Y, Sulaiman MI, Al-Fayez SF. Ramadan fasting state of controls. Ann Saudi Med 1987;7(Suppl.):5-6.
  • Davidson JC. Muslims, Ramadan and diabetes melitus. BMJ 1979; 2:1511-2.
  • El-Hazmi MAF, Al-Faleh FZ, Al-Mofleh IB. Effect of Ramadan fasting on the values of hematological and biochemical parameters. Saudi Med J 1987;8:171-6.
  • Gumaa KA, Mustafa KY, Mahmoud NA, Gader AM. The effect of fasting in Ramadan. 1. Serum uric acid and lipid concentration. Br J Nutr 1978;40:573-81.
  • Fedail SS, Murphy D, Salih SY, Bolton CH, Harvey RF. Changes in certain blood constituents during Ramadan. Am J Clin Nutr 1982; 36:350-3.
  • Shoukry MI. Effect of fasting in Ramadan on plasma lipoproteins and apoproteins. Saudi Med J 1986;7:561-5.
  • Hallak MH, Nomani MZA. Body weight loss and changes in blood lipid levels in normal men on hypocaloric diets during Ramadan fasting. Am J Clin Nutr 1988;48:1197-210.
  • Maislos M, Khamaysi N, Assali A, Abou-Rabiah Y, Zvili I, Shany S. Marked increase in plasma high-density lipoprotein cholesterol after prolonged fasting during Ramadan. Am J Clin Nutr 1993;57:640-2.
  • Maislos M, Abou-Rabiah Y, Zuili I, Iordash S, Shany S. Gorging and plasma HDL-cholesterol:The Ramadan model. Europ J Clin Nutr 1998;52:127-30.
  • Adlouni A, Ghalim N, Benslimane A, Lecery JM, Saile R. Fasting during Ramadan induces a marked increase in HDL and decrease in LDL-cholesterol. Ann Nutr Metab 1997;41:242-9.
  • Adlouni A, Ghalim N, Saile R, Hda N, Para HJ, Benslimane A. Beneficial effect of serum Apo Al, Apo B and LP Al levels of Ramadan fasting. Clin Chim Acta 1998;271:179-89.
  • Akanji AO, Mojiminiyi OA, Abdella N. Beneficial changes in serum Apo A-l and its ratio Apo B and HDL in stable hyperlipidemia subjects after Ramadan fasting in Kwait. Europ J Clin Nutr 2000; 54:508-13.
  • Gwinup G, Byron RC, Roush WH, et al. Effect of nibbling versus gorging on serum lipids in man. Am J Clin Nutr 1963;13:209-13.

8 Kesalahan dalam ibadah puasa

Beberapa kesalahan dalam ibadah puasa


  1. Niat puasa tidak perlu dilafalkan, karena niat adalah amalan hati. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga tidak pernah mengajarkan lafal niat puasa. Menetapkan itikad di dalam hati bahwa esok hari akan berpuasa, ini sudah niat yang sah.
  2. Berpuasa namun tidak melaksanakan shalat fardhu adalah kesalahan fatal. Diantara juga perilaku sebagian orang yang makan sahur untuk berpuasa namun tidak bangun shalat shubuh. Karena dinukil bahwa para sahabat berijma tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, sehingga tidak ada faedahnya jika ia berpuasa jika statusnya kafir. Sebagian ulama berpendapat orang yang meninggalkan shalat tidak sampai kafir namun termasuk dosa besar, yang juga bisa membatalkan pahala puasa.
  3. Berbohong tidak membatalkan puasa, namun bisa jadi membatalkan atau mengurangi pahala puasa karena berbohong adalah perbuatan maksiat.
  4. Sebagian orang menahan diri melakukan perbuatan maksiat hingga datang waktu berbuka puasa. Padahal perbuatan maksiat tidak hanya terlarang dilakukan ketika berpuasa, bahkan terlarang juga setelah berbuka puasa dan juga terlarang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Namun jika dilakukan ketika berpuasa selain berdosa juga dapat membatalkan pahala puasa walaupun tidak membatalkan puasanya.
  5. Hadits “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” adalah hadits yang lemah. tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah. Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.
  6. Tidak ada hadits “berbukalah dengan yang manis“. Pernyataan yang tersebar di tengah masyarakat dengan bunyi demikian, bukanlah hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  7. Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Lebih salah lagi jika mendahulukan makanan manis padahal ada kurma. Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma maka dengan air minum. Adapun makanan manis sebagai tambahan saja, sehingga tetap didapatkan faidah makanan manis yaitu menguatkan fisik.

100 Pertanyaan Puasa : Kumur kumur dan Istinsyaq

Kumur-Kumur dan Istinsyaq Bagi Orang Yang Berpuasa

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Pertanyaan:

Ada yang mengatakan bahwa kumur-kumur atau Istinsyaq dalam Wudhu’ berpengaruh terhadap sahnya puasa, sejauh mana kebenaran pendapat ini?

Jawaban:

Kumur-kumur dan Istinsyaq dalam wudhu’ adalah sunnat menurut Mazhab Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i. Wajib menurut Mazhab Imam Ahmad yang menganggapnya sebagai bagian dari membasuh wajah yang merupakan perintah. Apakah sunnat atau wajib, tidak selayaknya ditinggalkan ketika berwudhu’, apakah ketika berpuasa atau pun ketika tidak berpuasa.

Bagi muslim ketika sedang berpuasa agar tidak terlalu berlebihan dalam berkumur-kumur dan Istinsyaq, tidak seperti saat tidak berpuasa. Dalam hadits disebutkan: امِئاَص َ وجكَت ْ َأ َّلاِإ ْغِلاَبَ ف َ تْقَشْنَ تْسا اَذِإ “Apabila engkau istinsyaq maka lebihkanlah, kecuali jika engkau berpuasa”. (HR. Asy-Syafi’i, Ahmad, imam yang empat dan al-Baihaqi).

Jika seorang yang berpuasa berkumur-kumur atau melakukan istinsyaq ketika berwudhu’, lalu air termasuk ke kerongkongannya tanpa sengaja dan tidak karena sikap berlebihan, maka puasanya tetap sah, sama seperti masuknya debu jalanan atau butiran tepung atau lalat terbang dan masuk ke kerongkongannya, karena semua itu kekeliruan yang tidak dianggap. Meskipun sebagian imam berbeda pendapat dengan ini. Kumur-kumur yang bukan karena berwudhu’ juga tidak mempengaruhi sahnya puasa, selama air tidak sampai ke dalam perut. Wallahu a’la

.

100 Tanya Jawab Puasa: Televisi dan Puasa

Televisi dan Puasa

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Pertanyaan:

Apa pendapat agama Islam tentang menonton TV bagi orang yang sedang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan?

Jawaban:

Televisi adalah salah satu sarana, di dalamnya ada kebaikan dan hal yang tidak baik. Semua sarana mengandung hukum tujuan. Televisi sama seperti radio dan sarana informasi lainnya, di dalamnya ada yang baik dan ada yang tidak baik. Seorang muslim mesti mengambil manfaat dari yang baik dan menjauhkan diri dari yang tidak baik, apakah ia dalam keadaan berpuasa atau pun tidak sedang berpuasa. Akan tetapi dalam keadaan berpuasa ia mesti lebih hati-hati, agar puasanya tidak rusak, agar pahalanya tidak hilang sia-sia dan tidak mendapatkan balasan dari Allah Swt. Menonton TV, saya tidak katakan halal secara mutlak dan tidak pula haram secara mutlak. Akan tetapi mengikut apa yang ditonton, jika baik, maka boleh dilihat dan didengar, seperti acara-acara agama Islam, berita, acara-acara yang membawa kepada kebaikan. Jika tidak baik, seperti acara tarian yang tidak menutup aurat dan hal-hal seperti itu, maka haram untuk dilihat di setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Sebagian acara makruh ditonton, meskipun tidak sampai ke tingkat haram.

Semua sarana yang menghalangi diri dari mengingat Allah Swt, maka haram hukumnya. Jika menonton TV, atau mendengar radio dan lain sebagainya dapat melalaikan dari suatu kewajiban yang diwajibkan Allah Swt, seperti shalat, maka dalam kondisi seperti ini hukumnya haram. Semua perbuatan yang melalaikan shalat maka hukumnya haram. Ketika Allah Swt menyebutkan sebab diharamkannya khamar dan judi, Allah Swt sebutkan sebabnya:                      

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (Qs. Al-Ma’idah [5]: 91). Maka bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap acara televisi agar bertakwa kepada Allah Swt tentang apa yang layak untuk dipersembahkan kepada khalayak ramai, khususnya di bulan Ramadhan, untuk menjaga kemuliaan bulan yang penuh berkah, menolong kaum muslimin untuk taat kepada Allah Swt dan menambah amal kebaikan, agar tidak memikul dosa mereka dan dosa para penonton, seperti yang difirmankan Allah Swt:                   “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (Qs. An-Nahl [16]: 25). 27

wp-1557098166849..jpg

100 Tahya Jawab Puasa: Suntik, Obat Tetes Telinga dan Memakai Celak

Suntik, Obat Tetes Telinga dan Memakai Celak

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Pertanyaan:

Apakah orang yang sedang berpuasa boleh disuntik? Apakah boleh memasukkan obat ke dalam telinga ketika sedang berpuasa? Apakah perempuan boleh memakai celak pada waktu pagi ketika sedang berpuasa?

Jawaban:

Kami katakana kepada semua yang menggunakan jarum suntik pada bulan Ramadhan bahwa jarum suntik terdiri dari beberapa jenis, ada yang digunakan sebagai obat dan penyembuhan, apakah pada urat, atau pada otot, atau di bawah kulit. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, karena tidak sampai ke perut dan tidak memberikan makanan. Oleh sebab itu tidak membatalkan puasa dan tidak perlu dibahas.

Akan tetapi ada satu jenis jarum yang memasukkan nutrisi ke dalam tubuh, seperti jarum Glucose yang menyampaikan nutrisi ke dalam darah secara langsung. Ulama moderen berbeda pendapat tentang masalah ini, karena kalangan Salaf tidak mengenal jenis pengobatan seperti ini. Tidak terdapat tuntunan dari Rasulullah Saw, para shahabat, tabi’in dan generasi pertama tentang masalah ini. Ini perkara yang baru. Oleh sebab itu para ulama modern berbeda pendapat. Ada ulama yang berpendapat bahwa ini membatalkan puasa karena menghantarkan nutrisi ke tingkat tertinggi, karena langsung sampai ke darah. Sebagian ulama menyatakan tidak membatalkan puasa, meskipun sampai ke darah, karena yang membatalkan puasa adalah jika sampai ke perut yang membuat manusia merasa kenyang setelah mengalaminya, atau merasa segar (hilang haus). Yang diwajibkan dalam puasa adalah menahan nafsu perut dan kemaluan, artinya manusia merasakan lapar dan haus. Berdasarkan ini mereka berpendapat bahwa jarum ini tidak membatalkan puasa. Meskipun saya memilih pendapat kedua (tidak membatalkan puasa), akan tetapi menurut saya lebih bersikap hati-hati jika seorang muslim tidak menggunakan jarum ini pada siang Ramadhan, jika ada kelapangan waktu untuk menggunakannya setelah tenggelam matahari. Jika seseorang sakit, maka Allah Swt memperbolehkannya untuk berbuka. Meskipun jarum ini tidak benar-benar memberikan makanan dan minuman dan orang yang menggunakannya tidak merasa hilang lapar dan haus setelah menggunakannya seperti makan dan minum langsung, akan tetapi paling tidak merasa segar, hilang lesu yang dirasakan orang-orang yang berpuasa pada umumnya. Allah Swt ingin agar manusia merasakan lapar dan haus, agar mengetahui kadar nikmat Allah Swt kepadanya, merasakan sakitnya orang-orang yang sakit, laparnya orang-orang yang kelaparan dan penderitaan orang lain yang mengalami penderitaan. Kami khawatir jika kami membuka pintu ini, maka orang-orang kaya yang mampu akan menggunakan jarum ini pada siang hari Ramadhan agar mereka mendapatkan kekuatan dan merasa segar, agar tidak merasakan sakitnya lapar dan penderitaan puasa di siang hari bulan Ramadhan. Jika ingin menggunakannya, maka sebaiknya ditunda setelah berbuka puasa. Ini jawaban pertanyaan pertama. Adapun pertanyaan kedua dan ketiga, yaitu berkaitan dengan meletakkan obat ke telinga, juga memakai celak pada kedua mata pada siang hari bulan Ramadhan dan obat pada anus, semua ini adalah sesuatu yang mungkin sebagiannya masuk ke dalam tubuh, akan tetapi tidak sampai ke dalam perut dari rongga yang normal (rongga masuknya makanan ke dalam perut), oleh sebab itu tidak disebut memberikan makanan dan orang yang mengalaminya tidak merasa segar setelah merasakannya. Para ulama zaman dahulu dan ulama modern berbeda pendapat dalam masalah ini, antara yang sangat ketat dan yang longgar. Ada ulama yang menyatakan bahwa semua ini membatalkan puasa. Sebagian ulama berpendapat bahwa rongga-rongga ini bukanlah rongga yang normal tempat masuknya makanan ke dalam perut, oleh sebab itu tidak membatalkan puasa. Saya berpendapat bahwa penggunaan celak, tetes mata, obat tetes telinga, obat pada anus bagi penderita wasir dan sejenisnya. Menurut saya semua ini tidak membatalkan puasa. Pendapat yang saya fatwakan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dalam Majmu’ Fatawa Ibn Taimiah. Beliau menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, kemudian beliau berkata, “Menurut pendapat yang kuat, semua itu tidak membatalkan puasa. Karena ibadah puasa dari ajaran Islam yang perlu diketahui seluruh umat manusia. Jika perkara-perkara ini diharamkan Allah dan Rasul-Nya dalam ibadah puasa dan merusak ibadah puasa, pastilah Rasulullah Saw wajib menjelaskannya. Andai Rasulullah Saw menyebutkannya, pastilah diketahui para shahabat dan mereka sampaikan kepada umat sebagaimana mereka telah menyampaikan semua syariat Allah Swt. Karena tidak seorang pun ulama meriwayatkan dari mereka tentang masalah ini, tidak ada hadits shahih maupun dha’if, musnad maupun mursal, maka dapat diketahui bahwa Rasulullah Saw tidak menyebutkan masalah ini walaupun sedikit. Hadits yang diriwayatkan tentang celak adalah hadits dha’if. Yahya bin Ma’in berkata, “Hadits Munkar”. Inilah fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, fatwa ini menjelaskan dua dasar:
Pertama, bahwa hukum-hukum yang bersifat umum yang perlu diketahui oleh semua orang, maka Rasulullah Saw wajib menjelaskannya kepada umat. Karena Rasulullah Saw itu pemberi penjelasan kepada umat manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka. Allah Swt berfirman:          “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka”. (Qs. An-Nahl [16]: 44). Umat juga wajib melaksanakan penjelasan tersebut setelah Rasulullah Saw. Ini adalah dasar. Dasar kedua, bahwa memakai celak, obat tetes telinga dan sejenisnya terus digunakan oleh manusia sejak lama, termasuk kategori perkara yang bersifat umum, sama seperti mandi, memakai minyak rambut, memakai asap (harum), parfum dan sejenisnya. Andai ini membatalkan puasa, pastilah Rasulullah Saw menjelaskannya sebagaimana Rasulullah Saw menjelaskan hal-hal yang membatalkan puasa. Ketika Rasulullah Saw tidak menjelaskannya, maka dapat difahami bahwa ini termasuk jenis parfum, asap (harum), minyak rambut dan sejenisnya. Ibnu Taimiah berkata, “Terkadang asap naik ke hidung dan masuk ke otak, merasuk ke tubuh. Minyak rambut juga diserap oleh tubuh, masuk ke dalam tubuh dan tubuh menjadi segar. Parfum juga membuat tubuh menjadi segar. Rasulullah Saw tidak melarang semua itu, maka ini menunjukkan bahwa boleh memakai parfum, menggunakan asap (harum) dan minyak rambut, maka demikian juga halnya dengan celak”. Kesimpulan dari pendapat Ibnu Taimiah dalam fatwa ini bahwa celak tidak memberikan nutrisi dan tidak ada orang yang memasukkan celak ke dalam perutnya, tidak lewat hidung dan tidak pula lewat mulut. Demikian juga dengan obat pada anus, tidak memberikan nutrisi, akan tetapi mengambil tempat di dalam tubuh. Sama seperti seseorang yang mencium bau sesuatu atau merasa cemas, maka menyebabkannya mual. Padahal itu tidak sampai ke dalam perut. Ini pendapat yang baik dan pemahaman yang mendalam terhadap Fiqh Islam. Pendapat inilah yang kami pilih dan kami fatwakan. Wa billahi at-Taufiq.

3 Langkah Menjadi Umat Bertaqwa Di Bulan Ramadhan

1. Puasa Adalah Media Training Center Bagi Pola Pikir Dan Perilaku Umat Islam.
Dalam kondisi haus dan lapar di siang hari selama bulan Ramadhan, seakan semua makanan dan minuman terasa lezat dan segar. Tak ayal lagi, bayangan menikmati lezat dan segarnya berbagai makanan mendorong kita untuk membuatnya dan membelinya. Bahkan sering kali kita hanyut dalam badai ambisi untuk menguasai semuanya seorang diri. Akibat dari sikap hanyut dalam badai ambisi ini, sering kali kita lupa daratan, sehingga membuat makanan melebihi dari kebutuhan.
Namun ketika matahari telah terbenam, hanya sedikit yang kita konsumsi dan bahkan banyak dari makanan yang terlanjur dibuat atau dibeli tidak tersentuh sama sekali.
Bahkan lebih parah dari itu, sebagian kita walaupun tetap bernafsu untuk makan, hingga seluruh rongga perutnya penuh, namun tetap saja masih tersisa hidangan yang melebihi apa yang telah ia konsumsi.
Perilaku semacam inilah salah satu faktor yang menjauhkan nilai-nilai takwa dari diri kita. Andai selama bulan puasa kita meluangkan waktu sedikit saja untuk memikirkan sikap yang benar dalam hal makan dan minum, niscaya kita terhindar dari kondisi-kondisi semacam yang diungkapkan di atas.
Untuk urusan makan dan minum, sejatinya yang benar-benar kita butuhkan jauh dari yang selama ini kita makan. Dan tentunya jauh dari apa yang selama ini kita olah atau kita beli. Buktinya, setiap hari kita membuang atau paling kurang terpaksa menyingkirkan banyak makanan hingga akhirnya rusak atau basi.
Andai kita semua mengindahkan teladan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan makan dan minum, niscaya kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرَّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْب ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يَقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah ada kantung yang lebih buruk untuk engkau penuhi dibandingkan perutmu sendiri. Sejatinya engkau cukup memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang rusukmu. Andai engkau tetap ingin makan lebih banyak, maka cukuplah engkau memenuhi sepertiga perutmu dengan makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk ruang pernafasanmu.” [HR. at-Tirmidzi dan lainnya].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa dalam urusan makan, kita dihadapkan kepada tiga hal:
1. Ambisi.
2. Kemampuan memakan atau memiliki.
3. Kebutuhan yang sejati.
Hadits ini mengajarkan kepada kita agar dalam urusan makan dan minum kita mengikuti standar kebutuhan dan tidak menuruti kemampuan apalagi ambisi.
Untuk urusan kemampuan memakan, masing-masing perut kita memiliki daya tampung yang berbeda-beda, dan masing-masing kita mampu untuk memenuhi seluruh ruang perut kita. Namun, Anda juga sadar bahwa penuhnya ruang perut Anda pastilah mendatangkan masalah, bahkan menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan kita.
Demikan juga bila kita berbicara tentang ambisi, maka setiap dari kita memiliki ambisi masing-masing. Dan saya yakin Anda sendiri juga tidak memiliki batasan yang jelas apalagi menghentikan ambisi Anda terhadap makanan lezat dan minuman enak.
Kalaupun Anda telah menikmati makanan dan minuman yang paling lezat, namun tetap saja ambisi Anda terus melaju. Selama hayat masih di kandung badan, Anda pasti masih berselera dan berambisi untuk menikmati makanan dan minuman yang lezat. Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan ambisi kita, yaitu ajal alias kematian.
Kondisi serupa juga terjadi pada ambisi kita pada ambisi kita terhadap berbagai kenikmatan dunia lainnya. Karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Andai manusia telah memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih berambisi untuk memiliki lembah ketiga. Dan tiada yang daat memenuhi mulut (menghentikan ambisi) manusia selain tanah kuburannya. Sedangkan Allâh senantiasa menerima taubat setiap orang yang sadar dan kembali kepada-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih dan at-Tirmidzi].
Setiap sore hari, selama bulan puasa, Anda senantiasa berhadapan dengan ketiga hal di atas. Dan akhirnya sering kali Anda terpaksa berhenti pada batas kebutuhan Anda. Betapa tidak, setelah Anda meneguk segelas air sekejap, ambisi Anda dan kemampuan Anda seakan sirna. Ternyata segelas minuman mampu menjadikan Anda berpikir dengan jernih tentang makanan dan minuman. Sejatinya, makanan yang Anda butuhkan jauh lebih sedikit dari yang mampu Anda sajikan, apalagi dari yang Anda bayangkan.
Andai pelajaran penting ini benar-benar Anda hayati dan terapkan dalam hidup Anda, niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa. Dengan semangat puasa ini, Anda mampu membedakan antara kemampuan dan kebenaran. Ternyata dalam hidup di dunia ini, kita semua dituntut untuk membedakan antara kebenaran dengan kemampuan apalagi ambisi. Tidak semua yang kuasa kita lakukan kemudian kita lakukan. Sebagai orang yang bertakwa, kita berpikir jernih dalam setiap kondisi sehingga senantiasa bersikap dengan benar dan berguna dalam setiap kondisi.
Pendek kata, dengan semangat puasa kita senantiasa sanggup mengontrol ucapan dan perbuatan kita. Anda senantiasa menimbang ucapan dan perbuatan Anda, walaupun dalam kondisi sulit, semisal ketika emosi Anda dipancing atau harga diri Anda dinodai orang lain.
Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan kepada umatnya melalui hadits qudsi berikut:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرَؤٌ صَائِمٌ
“Ibadah puasa adalah sebuah perisai, sehingga bila engkau sedang berpuasa hendaknya engkau menghindari perbuatan keji, dan berteriak-teriak. Bila ada seseorang yang mencelamu, atau memusuhimu, hendaknya engkau (menahan diri dan) berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku orang yang sedang berpuasa”. [Muttafaqun ‘alaih].
Andai pengalaman-pengalaman yang terulang setiap kali berbuka puasa ini Anda terapkan pada setiap aspek kebutuhan Anda di dunia ini, niscaya Anda menjadi orang yang benar-benar bertakwa. Namun, apa boleh dikata bila ternyata selama ini pelajaran berharga ini selalu berlalu begitu saja, dan bahkan sering kali Anda keluhkan untuk kemudian Anda lupakan. Wallâhul Musta’ân.

2. Berpuasa Hanya Di Siang Hari.
Seluruh umat Islam di berbagai belahan bumi sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya dijalankan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, umat Islam masih tetap bebas untuk makan dan minum. Hal ini selaras dengan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:
فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allâh untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. [Al-Baqarah/2:187]
Ketentuan berpuasa pada siang hari sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada yang menggugatnya. Padahal zaman telah berkembang, dan tuntutan perkembangan zaman semakin kompleks. Walau demikian, tetap saja umat Islam sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya bisa dijalankan pada siang hari, sedangkan pada malam hari semuanya berhenti dari berpuasa. Semua umat Islam dalam urusan ini menerima dan patuh sepenuhnya dengan ketentuan yang diajarkan dalam al- Qur`ân dan Sunnah, tanpa ada rasa keberatan sedikit pun. Sebagaimana puasa wajib hanya dijalankan di bulan Ramadhan, dan pada hari pertama bulan Syawal seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri dengan menikmati makanan dan minuman alias berhenti dari berpuasa.
Maha Besar Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikan berhenti dari makan dan minum di bulan Ramadhan sebagai ibadah dan sebaliknya menjadikan makan dan minum sebagai ibadah pada hari raya. Adanya perbedaan hukum makan dan minum ini menjadi bukti dan pelajaran penting bagi umat Islam agar dalam hidup terlebih dalam urusan ibadah sepenuhnya berserah diri dan patuh kepada tuntunan syariat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Karena itu salah satu indikator ibadah puasa yang baik adalah dengan menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. Salah satu hikmah dari ketentuan ini ialah untuk semakin mengukuhkan arti kepatuhan kepada perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya n . Ketika fajar telah terbit seketika itu pula Anda berhenti dari makan dan minum, walaupun Anda masih berselera untuk makan atau minum. Sebaliknya, ketika matahari terbenam, saat itu pula Anda berhenti puasa, walau Anda masih kuat dan mungkin merasa lebih mantap atau hebat bila meneruskan puasa hingga malam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ
Umat Islam akan senantiasa berjaya selama mereka menyegerakan buka puasa mereka. [Muttafaqun ‘alaih].
Ibadah puasa Ramadhan seyogyanya menumbuhkan kesadaran untuk patuh sepenuhnya dengan syariat Allâh dalam segala aspek kehidupan kita. Hanya dengan cara inilah nilai-nilai takwa yang sejati dapat terwujud dalam diri Anda. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.[An-Nûr/24:51]

3. Berpuasa Hanya Karena Allâh Azza Wa Jalla .
Ibadah puasa dengan menahan lapar dan haus semakin membuktikan betapa besar karunia Allâh Azza wa Jalla kepada umat manusia yang telah memberikan rezki makanan dan minuman. Nikmat Allâh Azza wa Jalla berupa makanan dan minuman semakin terasa nikmat di bulan Ramadhan, sehingga wajar bila bisnis kuliner di bulan Ramadhan laris manis.
Namun senikmat apapun makanan yang Anda miliki dan sesegar apapun minuman yang ada di hadapan anda, semuanya Anda tinggalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Anda melakukan itu semua bukan karena sedang sakit, atau tidak mampu membelinya atau telah bosan mengkonsumsinya. Semua itu Anda lakukan hanya keran mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla . Inilah satu-satunya semangat dan motivasi Anda dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi berikut:
قَالَ اللهُ : “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “.
Allah berfirman, “Seluruh amalan anak manusia adalah miliknya, kecuali puasa. Sejatinya puasa adalah milik-Ku, dan hanya Aku yang mengetahui balasannya”. [Muttafaqun ‘alaih].
Demikianlah seharusnya kita bersikap selama hidup di dunia. Semua aktifitas kita, baik ucapan atau perbuatan ditujukan hanya untuk Allâh Azza wa Jalla :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allâh, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allâh)”. [Al-An’âm/6:162-163].
Anda menyadari bahwa segala bentuk keuntungan dunia hanyalah semu dan sesaat lagi pastilah Anda tinggalkan. Sebagaimana Anda juga beriman bahwa segala manfaat dan mudharat ada di Tangan Allâh Azza wa Jalla . Kesadaran ini menjadikan Anda pupus pamrih dari selain Allâh Azza wa Jalla.
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا ﴿١﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
Maha Suci Allâh yang telah menurunkan al-Furqân (al-Qur`ân) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya..” [Al-Furqân/25:1-2].
Pada saat yang sama, Anda juga beriman sepenuhnya bahwa keberadaan Anda di dunia ini untuk mengabdikan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Hanya dengan pengabdian kepada Allâh Azza wa Jalla inilah hidup Anda menjadi berarti. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. [Adz-Dzâriyât/51:56-57]

Sumber:

  • /almanhaj.or.id/4165-tiga-kunci-sukses-menjadi-orang-

100 Tanya Jawab Puasa: Apakah Hukumnya Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa ? Benarkah Tidur Ibadah ?

Tidur Sepanjang Hari di Bulan Ramadhan, Benarkah Tidur Ibadah ? Apakah Hukumnya ?

Apakah hukum tidur sepanjang hari di bulan Ramadhan? BENARKAH HUKUMNYA MENURUT HADITS NABI TIDUR ADALAH IBADAH DI BULAN PUASA ?

Jawaban:

  • Barang siapa yang menghabiskan waktu puasanya dengan tidur seharian maka puasanya sah jika dia berniat untuk puasa sebelum terbitnya fajar. Namun dia berdosa karena tidak mengerjakan shalat di waktu-waktunya dan berdosa karena tidak shalat jamaah jika ia memang termasuk orang yang wajib melaksanakan shalat jamaah. Orang tersebut telah meninggalkan dua kewajiban sehingga dosanya sangat besar. Kecuali jika hal tersebut bukan merupakan kebiasaannya dan orang tersebut berniat bangun untuk menegakkan shalat (namun ia ketiduran, pent), ketiduran ini sangat jarang terjadi, maka orang tersebut tidak berdosa.
  • Terkait dengan hal di atas, satu hal yang patut disayangkan, yaitu banyak orang yang biasa untuk bergadang di bulan Ramadhan, ketika mendekati fajar mereka makan sahur kemudian tidur sepanjang hari atau sebagian besarnya. Mereka meninggalkan shalat, padahal shalat lebih ditekankan dan lebih wajib daripada puasa. Bahkan puasa tidak sah bagi orang yang tidak shalat. Tentu, hal ini merupakan perkara yang sangat berbahaya sekali. Oleh sebab itu bergadang yang menyebabkan orang tidak bisa bangun untuk menunaikan shalat adalah bergadang yang hukumnya haram. Lebih-lebih jika bergadang tersebut di isi dengan perbuatan yang sia-sia, main-main atau perbuatan yang haram tentu perkaranya lebih berbahaya lagi. Perbuatan dosa akan lebih besar dosanya dan lebih parah bahayanya ketika dikerjakan di bulan Ramadhan, demikian juga ketika dikerjakan di waktu-waktu atau tempat-tempat yang memiliki keutamaan.
  • Hadis tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadis yang tidak benar. Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadis ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks hadisnya,
  • نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
  • “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”
  • Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadis di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”
  • Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadis dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.
  • Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadis sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,
  • إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
  • “Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Sumber:

Tafsir Ayat Quran Pilihan RAMADHAN: AL BAQARAH 183-184, Tentang Puasa

Al-Baqarah, ayat 183-184

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) }

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.

Melalui ayat ini Allah Swt. ber-khitab kepada orang-orang mukmin dari kalangan umat ini dan memerintahkan kepada mereka berpuasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta bersenggama dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Karena di dalam berpuasa terkandung hikmah membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk (bagi kesehatan tubuh) dan akhlak-akhlak yang rendah.

Allah menyebutkan, sebagaimana puasa diwajibkan atas mereka, sesungguhnya Allah pun telah mewajibkannya atas umat-umat sebelum mereka. Dengan demikian, berarti mereka mempunyai teladan dalam berpuasa, dan hal ini memberikan semangat kepada mereka dalam menunaikan kewajiban ini, yaitu dengan penunaian yang lebih sempurna dari apa yang telah ditunaikan oleh orang-orang sebelum mereka. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهاجاً وَلَوْ شاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً واحِدَةً وَلكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja); tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Al-Maidah: 48), hingga akhir ayat.

Karena itulah maka dalam ayat ini disebutkan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Al-Baqarah: 183)

Dikatakan demikian karena puasa mengandung hikmah menyucikan tubuh dan mempersempit jalan-jalan setan. Seperti yang disebutkan di dalam hadis Sahihain, yaitu:

“يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ”

Hai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu memberi nafkah, maka kawinlah; dan barang siapa yang tidak mampu (memberi nafkah), hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan peredam baginya.

Kemudian Allah Swt. menjelaskan batas hari-hari yang dilakukan padanya puasa, hal itu dilakukan bukan setiap hari agar tidak berat dikerjakan yang akibatnya nanti tubuh menjadi lemah dalam menunaikannya, melainkan hanya dalam beberapa hari tertentu. Memang demikianlah cara ibadah puasa pada permulaan Islam, yaitu mereka melakukan puasa tiga hari setiap bulan. Kemudian hal ini di-mansukh oleh perintah puasa bulan Ramadan sepenuhnya, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Sesungguhnya telah diriwayatkan bahwa ibadah puasa pada permulaan Islam dilakukan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh umat-umat terdahulu sebelum kita, yaitu setiap bulannya tiga hari. Riwayat ini dari Mu’az, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ata, Qatadah, dan Ad-Dahhak Ibnu Muzahim. Puasa demikian masih terus berlangsung sejak zaman Nabi Nuh a.s. sampai Allah me-nasakh-nya. dengan puasa bulan Ramadan.

Abbad ibnu Mansur meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (Al-Baqarah: 183-184) Maka Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Memang benar, demi Allah, sesungguhnya ibadah puasa diwajibkan atas semua umat yang telah lalu, sebagaimana diwajibkan atas kita sebulan penuh; yang dimaksud dengan ayyamam ma’dudat ialah hari-hari tertentu yang telah dimaklumi.” Dan telah diriwayatkan dari As-Saddi hal yang semisal.

وَرَوَى ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِيِّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ أَبِي الرَّبِيعِ، رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “صِيَامُ رَمَضَانَ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ..”

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari hadis Abu Abdur Rahman Al-Muqri yang mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnul Walid, dari Abur Rabi’ (seorang ulama Madinah), dari Abdullah ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Puasa bulan Ramadan diwajibkan oleh Allah atas umat-umat terdahulu.

Demikianlah nukilan dari sebuah hadis panjang, yang sengaja kami singkat seperlunya menyangkut pembahasan ini.

Abu Ja’far Ar-Razi mengatakan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari orang yang menerimanya dari Ibnu Umar yang pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. (Al-Baqarah: 183) Bahwa diwajibkan atas mereka apabila seseorang di antara mereka salat malam hari lalu tidur, maka diharamkan atasnya makan, minum, dan bersetubuh dengan istri sampai waktu yang semisal di besok malamnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Abdur Rahman ibnu Abu Laila, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Muqatil Ibnu Hayyan, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Ata Al-Khurrasani.

Ata Al-Khurrasani meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan takwil firman-Nya: Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. (Al-Baqarah: 183) Yakni atas kaum Ahli Kitab.

Telah diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, As-Saddi serta Ata Al-Khurrasani hal yang semisal.

Kemudian Allah menjelaskan hukum puasa menurut apa yang berlaku di masa permulaan Islam. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}

Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 184)

Artinya, orang yang sakit dan orang yang bepergian tidak boleh puasa di saat sakit dan bepergian, mengingat puasa memberatkan keduanya, bahkan keduanya boleh berbuka dan mengqadai puasa yang ditinggal-kannya itu di hari-hari yang lain sebanyak yang ditinggalkannya. Orang yang sehat lagi berada di tempat, tetapi berat menjalankan puasa, sesungguhnya dia boleh memilih antara puasa dan memberi makan. Dengan kata lain, jika dia suka, boleh puasa; dan jika ia suka berbuka, maka berbuka boleh baginya, tetapi dia harus memberi makan seorang miskin setiap hari. Jika dia memberi makan lebih banyak dari seorang miskin untuk setiap harinya, maka hal ini lebih baik baginya. Jika ia berpuasa, maka puasa lebih utama baginya daripada memberi makan. Demikianlah menurut Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Mujahid, Tawus, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf. Karena itulah maka Allah Swt. berfirman:

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 184)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرّة، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أُحِيلَتِ الصَّلَاةُ ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ، وَأُحِيلَ الصِّيَامُ ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ؛ فَأَمَّا أَحْوَالُ الصَّلَاةِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ، وَهُوَ يُصَلِّي سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ عَلَيْهِ: {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا} [الْبَقَرَةِ: 144] فوجهَهُ اللهُ إِلَى مَكَّةَ. هَذَا حَوْلٌ. قَالَ: وَكَانُوا يَجْتَمِعُونَ لِلصَّلَاةِ ويُؤْذِنُ بِهَا بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى نَقَسُوا أَوْ كَادُوا يَنْقُسُون. ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ، يُقَالُ لَهُ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ، أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي رَأَيْتُ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ -وَلَوْ قلتُ: إِنِّي لَمْ أَكُنْ نَائِمًا لصدقتُ -أَنِّي بَيْنَا أَنَا بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إذْ رَأَيْتُ شَخْصًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ -مَثْنَى حَتَّى فَرَغَ مِنَ الْأَذَانِ، ثُمَّ أَمْهَلَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ مِثْلَ الذِي قَالَ، غَيْرَ أَنَّهُ يَزِيدُ فِي ذَلِكَ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ -مَرَّتَيْنِ -قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَلِّمْهَا بِلَالًا فَلْيؤذن بِهَا”. فَكَانَ بِلُالٌ أَوَّلَ مَنْ أَذَّنَ بِهَا. قَالَ: وَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، [إِنَّهُ] قَدْ طَافَ بِي مِثْلَ الذِي طَافَ بِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ سَبَقَنِي، فَهَذَانِ حَالَانِ. قَالَ: وَكَانُوا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ -قَدْ سَبَقَهُمُ النَّبيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِهَا، فَكَانَ الرَّجُلُ يُشِيرُ إِلَى الرَّجُلِ إِذًا كَمْ صَلَّى، فَيَقُولُ: وَاحِدَةٌ أَوِ اثْنَتَيْنِ، فَيُصَلِّيهِمَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ. قَالَ: فَجَاءَ مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كنتُ عَلَيْهَا، ثُمَّ قضيتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقه النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِهَا، قَالَ: فثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فَقَضَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّهُ قَد سَنَّ لَكُمْ مُعَاذ، فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا”. فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ

وَأَمَّا أَحْوَالُ الصِّيَامِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ، فَجَعَلَ يصومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَصَامَ عَاشُورَاءَ، ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِ الصِّيَامَ، وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ} . إِلَى قَوْلِهِ: {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَطْعَمَ مِسْكِينًا، فَأَجْزَأَ ذَلِكَ عَنْهُ. ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الْآيَةَ الْأُخْرَى: {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ} إِلَى قَوْلِهِ: {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ} فَأَثْبَتَ اللهُ صيامَه عَلَى الْمُقِيمِ الصَّحِيحِ ورخَّصَ فِيهِ لِلْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ، وَثَبَتَ الإطعامُ لِلْكَبِيرِ الذِي لَا يَسْتَطِيعُ الصِّيَامَ، فَهَذَانَ حَالَانِ. قَالَ: وَكَانُوا يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ وَيَأْتُونَ النِّسَاءَ مَا لَمْ يَنَامُوا، فَإِذَا نَامُوا امْتَنَعُوا، ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ: صِرْمَةُ، كَانَ يَعْمَلُ صَائِمًا حَتَّى أَمْسَى، فَجَاءَ إِلَى أَهْلِهِ فَصَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ نَامَ فَلَمْ يَأْكُلْ وَلَمْ يَشْرَبْ، حَتَّى أَصْبَحَ فَأَصْبَحَ صَائِمًا، فَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ جَهِدَ جَهْدًا شَدِيدًا، فَقَالَ: مَا لِي أَرَاكَ قَدْ جَهِدْت جَهْدًا شَدِيدًا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي عَمِلْتُ أَمْسِ فجئتُ حِينَ جئتُ فألقيتُ نَفْسِي فَنِمْتُ فَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِمًا. قَالَ: وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ بَعْدَ مَا نَامَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} إِلَى قَوْلِهِ: {ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ}

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Murrah, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Mu’az ibnu Jabal r.a. yang menceritakan bahwa ibadah salat difardukan melalui tiga tahapan, dan ibadah puasa difardukan melalui tiga tahapan pula. Adapun mengenai tahapan-tahapan ibadah salat ialah ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, maka beliau Saw. salat dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis selama tujuh belas bulan. Kemudian Allah Swt. menurunkan kepadanya ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. (Al-Baqarah: 144), hingga akhir ayat. Maka Allah Swt. memalingkannya ke arah Mekah; hal ini merupakan tahapan pertama. Mu’az ibnu Jabal r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa pada mulanya mereka berkumpul menunaikan salat dengan cara sebagian dari mereka mengundang sebagian lainnya hingga akhirnya mereka membuat kentong atau hampir saja mereka membuat kentong untuk tujuan tersebut. Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Ansar —yang dikenal dengan nama Abdullah ibnu Zaid ibnu Abdu Rabbih— datang kepada Rasulullah Saw. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku suatu peristiwa yang jika aku tidak tidur, niscaya aku percaya kepada apa yang kulihat itu. Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan antara tidur dan terjaga, tiba-tiba aku melihat seseorang yang memakai baju rangkap yang kedua-duanya berwarna hijau. Lelaki itu menghadap ke arah kiblat, lalu mengucapkan. ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar), asyhadu alia ilaha illallah (aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah).’ Ia membacanya dua kali-dua kali hingga selesai azannya. Kemudian berhenti sesaat. Setelah itu ia mengucapkan hal yang sama, hanya kali ini dia menambahkan kalimat qad qamatis salah (sesungguhnya salat akan didirikan) sebanyak dua kali.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Ajarkanlah itu kepada Bilal, maka Bilal menyerukan azan dengan kalimat ini. Maka Bilal adalah orang yang mula-mula menyerukan azan dengan kalimat ini. Mu’az ibnu Jabar r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu datanglah Umar ibnul Khattab r.a. dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pun pernah bermimpi melihat seperti apa yang dilihatnya, hanya dia lebih dahulu dariku.” Hal yang telah kami sebutkan di atas merupakan dua tahapan, yaitu tahapan pertama dan kedua. Mu’az ibnu Jabal r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa pada mulanya para sahabat sering datang terlambat di tempat salat; mereka datang ketika Nabi Saw. telah menyelesaikan sebagian dari salatnya. Maka seorang lelaki dari mereka bertanya kepada salah seorang yang sedang salat melalui isyarat yang maksudnya ialah berapa rakaat salat yang telah dikerjakan. Lelaki yang ditanya menjawabnya dengan isyarat satu atau dua rakaat. Lalu dia mengerjakan salat yang tertinggal itu sendirian, setelah itu ia baru masuk ke dalam jamaah, menggabungkan diri bermakmum kepada Nabi Saw. Perawi mengatakan, lalu datanglah Mu’az dan berkata, “Tidak sekali-kali ada suatu tahapan yang baru yang dialami oleh Nabi Saw. melainkan aku terlibat di dalamnya.” Pada suatu hari ia datang, sedangkan Nabi Saw. telah mendahuluinya dengan sebagian salatnya. Maka Mu’az langsung ikut bermakmum kepada Nabi Saw. Setelah Nabi Saw. menyelesaikan salatnya, bangkitlah Mu’az melanjutkan salatnya yang ketinggalan. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Mu’az telah membuat suatu peraturan bagi kalian, maka tirulah oleh kalian perbuatannya itu (yakni langsung masuk ke dalam berjamaah; apabila imam selesai dari salatnya, baru ia menyelesaikan rakaat yang tertinggal sendirian). Hal yang ketiga ini merupakan tahapan terakhir dari salat.

Keadaan-keadaan atau tahapan yang dialami oleh ibadah puasa ialah ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah, beliau puasa tiga hari setiap bulannya, juga puasa ‘Asyura. Kemudian Allah mewajibkan puasa atasnya melalui firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa —sampai dengan firman-Nya— Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 183-184) Pada mulanya orang yang menghendaki puasa, ia boleh puasa; dan orang yang tidak ingin puasa, maka ia memberi makan seorang miskin sebagai ganti dari puasanya. Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat lain, yaitu firman-Nya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an —sampai dengan firman-Nya— Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185) Maka Allah menetapkan kewajiban puasa atas orang mukim yang sehat, dan memberikan keringanan kepada orang yang sakit dan orang yang sedang bepergian, serta ditetapkan memberi makan orang miskin bagi lansia yang tidak kuat lagi melakukan puasa. Demikianlah dua tahapan yang dialami oleh puasa. Pada mulanya mereka masih boleh makan, minum, dan mendatangi istri selagi mereka belum tidur; tetapi apabila telah tidur, mereka dilarang melakukan hal tersebut. Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Ansar yang dikenal dengan nama Sirmah. Dia bekerja di siang harinya sambil puasa hingga petang hari, lalu ia pulang ke rumah dan salat Isya, kemudian ketiduran dan belum sempat lagi makan dan minum karena terlalu lelah hingga keesokan harinya. Keesokan harinya ia melanjutkan puasa-nya, maka Rasulullah Saw. melihat dirinya dalam keadaan sangat kepayahan, lalu beliau Saw. bertanya, “Kulihat dirimu tampak sangat payah dan letih.” Sirmah menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kemarin aku bekerja, setelah datang ke rumah aku langsung merebahkan diri karena sangat lelah, tetapi aku ketiduran hingga pagi hari dan aku terus dalam keadaan puasa.” Disebutkan pula bahwa Umar telah menggauli istrinya sesudah tidur, lalu ia datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan apa yang telah dialaminya itu. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian —sampai dengan firman-Nya— kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam hari. (Al-Baqarah: 187).

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunan-nya, dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadis Al-Mas’udi dengan lafaz yang sama.

Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang mengatakan:

كَانَ عَاشُورَاءُ يُصَامُ، فَلَمَّا نَزَلَ فَرْضُ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Pada mulanya puasa ‘Asyura diwajibkan. Ketika turun wahyu yang mewajibkan puasa bulan Ramadan, maka orang yang ingin puasa ‘Asyura boleh melakukannya; dan orang yang ingin berbuka, boleh tidak puasa ‘Asyura.

Imam Bukhari sendiri meriwayatkannya pula melalui Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud dengan lafaz yang semisal.

**************

Firman Allah Swt.:

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ}

Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184)

Seperti yang dijelaskan oleh Mu’az ibnu Jabal, yaitu ‘pada mulanya barang siapa yang ingin puasa, maka ia boleh puasa; dan barang siapa yang tidak ingin puasa, maka ia harus memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya’.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari melalui Salamah ibnul Akwa’ yang menceritakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184) Maka bagi orang yang hendak berbuka, ia harus menebusnya dengan fidyah hingga turunlah ayat yang selanjutnya, yaitu berfungsi me-nasakh-nya.

Telah diriwayatkan pula melalui hadis Ubaidillah, dari Nafi, dari Ibnu Umar yang pernah mengatakan bahwa memang ayat ini di-mansukh oleh ayat sesudahnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Murrah, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184)

Yang dimaksud dengan yutiqunahu ialah mengerjakannya dengan penuh masyaqat (berat). Orang yang ingin puasa, mengerjakan puasa; dan orang yang ingin berbuka, maka ia berbuka dan memberi makan seorang miskin sebagai fidyah. Yaitu yang dimaksud dengan firman-Nya: Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan. (Al-Baqarah: 184) Yakni barang siapa yang memberi makan seorang miskin lagi, maka itulah yang lebih baik baginya, tetapi berpuasa lebih baik bagi kalian (daripada berbuka dan memberi makan seorang miskin). (Al-Baqarah: 184)

Pada mulanya mereka tetap dalam keadaan demikian hingga ayat ini di-mansukh oleh firman-Nya: Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185)

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Dinar, dari Ata; ia pernah mendengar Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184) Lalu Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini tidak di-mansukh, yaitu berkenaan bagi manula laki-laki dan perempuan yang tidak mampu mengerjakan ibadah puasa, maka keduanya harus memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.

Hal yang sama diriwayatkan pula bukan hanya oleh seorang ulama, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim ibnu Sulaiman, dari Asy’as ibnu Si war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini (yakni firman-Nya): Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah: 184) diturunkan berkenaan dengan manula yang tidak kuat puasa; jika puasa, keadaannya sangat lemah. Maka Allah memberinya keringanan boleh berbuka dengan memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad ibnu Bahran Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdullah, dari Ibnu Abu Laila yang menceritakan, “Ata masuk menemuiku dalam bulan Ramadan, sedangkan dia tidak berpuasa, lalu ia mengatakan, ‘Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa ayat ini (Al-Baqarah ayat 185) diturunkan me-nasakh ayat yang sebelumnya, kecuali orang yang sudah lanjut usia; maka jika ingin berbuka, ia boleh berbuka dengan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya’.”

Kesimpulan bahwa nasakh berlaku bagi orang sehat yang mukim di tempat tinggalnya harus puasa karena berdasarkan firman-Nya: Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah: 185)

Orang yang sudah sangat lanjut usia dan tidak mampu melakukan puasa, boleh berbuka dan tidak wajib qada baginya karena keadaannya bukanlah seperti keadaan orang yang mampu mengqadainya. Tetapi bila ia berbuka, apakah wajib baginya memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya, jika memang dia orang yang lemah kondisinya karena usia yang sudah tua? Ada dua pendapat di kalangan ulama sehubungan dengan masalah ini. Pertama, tidak wajib baginya memberi makan seorang miskin, mengingat kondisinya lemah, tidak kuat melakukan puasa karena pengaruh usia yang sudah sangat tua; maka tidak wajib baginya membayar fidyah, perihalnya sama dengan anak kecil. Karena Allah Swt. tidak sekali-kali mernbebankan kepada seseorang melainkan sebatas kemampuannya. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafii. Kedua, pendapat yang sahih dan di-jadikan pegangan oleh kebanyakan ulama, yaitu wajib baginya membayar fidyah setiap hari yang ditinggalkannya. Seperti penafsiran ibnu Abbas dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf berdasarkan qiraat orang-orang yang membacakan wa’alal lazina yufiqunahu, yakni berat menjalankannya.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Mas’ud dan lain-lain-nya. Hal ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Imam Bukhari, karena Imam Bukhari mengatakan, “Adapun orang yang berusia lanjut, bila tidak mampu mengerjakan puasa, maka dia harus memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Sesungguhnya Anas sesudah usianya sangat lanjut, setiap hari yang ditinggalkannya ia memberi makan seorang miskin berupa roti dan daging, lalu ia sendiri berbuka (tidak puasa); hal ini dilakukannya selama satu atau dua tahun.”

Riwayat yang dinilai mu’allaq oleh Imam Bukhari ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Untuk itu dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Mu’az, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Imran, dari Ayyub ibnu Abu Tamimah yang menceritakan bahwa Anas r.a. tidak mampu mengerjakan puasa karena usianya yang sangat lanjut, maka ia memasak makanan Sarid dalam panci, lalu ia memanggil tiga puluh orang miskin dan memberi mereka makan.

Asar ini diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Rauh ibnu Ubadah, dari Imran (yakni Ibnu Jarir), dari Ayyub dengan lafaz yang sama.

Abdu meriwayatkan pula melalui hadis Sittah, bersumber dari murid-murid Anas, dari Anas hal yang semakna.

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah wanita yang sedang hamil dan yang sedang menyusui, jika keduanya merasa khawatir terhadap kesehatan dirinya atau kesehatan anaknya. Sehubungan dengan keduanya para ulama berselisih pendapat. Sebagian dari mereka mengatakan, keduanya boleh berbuka, tetapi harus membayar fidyah dan qada. Menurut pendapat lainnya, keduanya hanya diwajibkan membayar fidyah, tanpa ada qada. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa yang wajib hanya qadanya saja, tanpa fidyah. Sedangkan pendapat yang lainnya lagi mengatakan bahwa keduanya boleh berbuka (tidak puasa) tanpa harus membayar fidyah dan qada. Masalah ini telah kami bahas secara rinci di dalam Kitabus Siyam yang kami pisahkan di dalam kitab yang lain.

10 Langkah Penuh Pahala di Bulan Ramadhan

  1. Shalat tarawih pada malam hari dan shalat dhuha pada pagi hari.
  2. Rutin membaca Alquran hingga khatam satu setiap hari. Dengan begitu, dalam 30 hari Ramadhan, Alquran 30 juz dapat diselesaikan.
  3. Selalu shalat lima waktu secara berjamaah.
  4. Rutin melakukan shalat sunah rawatib yakni sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu.
  5. Terkait ibadah sosial. Misalnya, mulai dari berbagi senyum kepada rekan-rekan kerja dan di rumah hingga berbuat baik kepada sesama.
  6. Rutin bersedekah setiap hari. Dalam hal ini, Naba Aji menyarankan agar seorang Muslim selalu menyiapkan uang untuk bersedekah setiap hari di bulan Ramadhan.
  7. Shalat tarawih di masjid.
  8. Memberi makan orang-orang yang berbuka puasa. Program sedekah khusus ini dapat berbagai cara. Misalnya, menyiapkan beberapa bungkus makanan sebelum maghrib tiba. Kemudian, paket-paket makanan itu dibagikan kepada orang-orang yang hendak berbuka puasa di masjid-masjid. Kalaupun paket tak bisa disiapkan, sebagai gantinya bisa berupa uang ke panitia buka puasa bersama setempat. “Misalnya untuk sepekan, uang untuk satu kali makan dikali sepekan. Jadi, selama sepekan, niat kita sudah terpenuhi untuk memberi makan orang-orang yang berbuka puasa,” jelasnya.
  9. Membagi-bagikan Alquran. Menurut Naba, mushaf Alquran dapat disedekahkan ke masjid-masjid. Di sana, Alquran biasanya diletakkan tanpa orang lain tahu. Kegiatan membagikan mushaf Alquran ini bisa dilakukan selang beberapa hari.
  10. Rutin membaca amalan doa dan surah-surah pendek Alquran sebelum tidur. Bacaan itu termasuk surah an-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Qalam, dan ayat Kursiy

Ikuti Keteladanan Kegiatan Rasulullah di Bulan Puasa

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.[al-Baqarah/2:185]

Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.

Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur’ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur’ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka.

Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, “Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !”

Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.

Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.

1556178985085.jpgKebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân:

1. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya’bân menjadi tiga puluh.

2. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.

3. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya’bân-red)

4. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.

5. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. [al-Baqarah/2:187]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.

6. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka”

7. Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat

8. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur’ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali”.

9. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga semakin meningkat lagi.

10. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.

11. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla.

12. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).

13. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.

Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sayang kepada umatnya yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.

14. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.

15. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri’tikaf, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa

16. Ramadhân adalah syahrul Qur’ân (bulan al-Qur’ân), sehingga tadarus al-Qur’ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tadarus al-Qur’ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur’ân dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

17. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.

18. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah

Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Masjid yang dibangun oleh kaum munafik untuk memecah belah kaum Muslimin

Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3139-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-di-bulan-ramadhan.html

Ucapan, PP, dan Pesan SMS Pilihan Untuk Sahabat atau Keluarga di Bulan Ramadhan

  • Welcome the month of Ramadhan with the heart filled with peace, harmony and joy. May the divine blessings of Allah protect and guide you.
  • Sambutlah bulan Ramadhan dengan hati yang penuh dengan kedamaian, harmoni dan sukacita. Semoga rahmat ilahi dari Allah senantiasa melindungi dan membimbingmu.

  • May this Ramadhan enlighten you and clear your understanding and judgment between the right and wrong, between the truths and false. Wishing you a Ramadhan Mubarak.

  • Semoga Ramadhan kali ini mencerahkanmu dan memperjelas pemahaman serta penilaianmu untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil. Semoga kamu menjalani Ramadhan yang penuh berkah.

Kata Mutiara Islami Tentang Bulan Ramadhan

Bagai hujan

  • Ramadhan is like the rain… It nourishes the seeds of good deeds.

    • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.
  • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.

Saat ramadhan tiba

  • When the month of Ramadhan starts, the gates of the heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained. – Hadits

  • Ketika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. – Hadis

Pahala puasa

  • Every deed of the son of Adam is for him except fasting; it is for Me and i will reward it. – Hadits

  • Seluruh amal perbuatan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya. – Hadis

Manual ramadhan

  • RAMADHAN MANUAL – turn TV off, eat moderately, use SOCIAL MEDIA wisely, read QURAN daily, Pray more, increase dua.

  • MANUAL RAMADHAN – matikan TV, makan secukupnya, gunakan SOSIAL MEDIA dengan bijak, baca QURAN sehari-hari, lebih banyak BERIBADAH, tingkatkan DOA.

Sedekah buka puasa

  • Whoever feeds a fasting person will have a reward like that of the fasting person, without any reduction in his reward. – Hadits

  • Barang siapa memberi makan orang yang sedang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga. –hadits

Pasca ramadhan

  • If you are going back to sinful life after Ramadhan, then you gained nothing but hunger.
  • Jika setelah bulan Ramadhan kamu kembali menjalani kehidupan yang penuh dosa, maka sesungguhnya kamu tidak mendapatkan apapun dari puasamu kecuali hanya rasa lapar.

Bukan sementara

  • Ramadhan is not about giving up bad habits temporarily. Ramadhan is a starting point to become a better Muslim and give them up for good.
  • Ramadhan bukanlah tentang berhenti dari kebiasaan buruk untuk sementara waktu. Ramadhan adalah titik awal untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik dan berusaha untuk terus selamanya menjadi baik.

Dua Kebahagiaan

  • There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord, then he will be pleased because of his fasting. – Hadits
  • Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika nanti bertemu dengan Tuhannya. – Hadis

Keutamaan puasa

  • Whoever fasts Ramadhan out of faith and with the hope of (Allah’s) reward, all his previous sins will be forgiven. – Hadits
  • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. – Hadis

Ibarat teman

  • Ramadhan is like a friend. You have seen it today, you might not see it again.
  • Ramadhan itu seperti teman. Kamu mungkin berjumpa dengannya hari ini, tapi belum tentu kamu bisa berjumpa lagi dengannya di lain waktu.

Presentase puasa

  • Fasting is only 1% of not eating and drinking, the rest of the 99% is bringing your heart and soul closer to the Allah.
  • Puasa itu hanya 1% untuk menahan diri dari makan dan minum, 99% sisanya untuk membawa hati dan jiwamu semakin dekat kepada Allah.

Perisai

  • Fasting is a shield, it will protect you from the hellfire and prevent you from sins. – Hadits
  • Puasa adalah perisai, yang akan melindungimu dari api neraka dan menjagamu dari perbuatan dosa. – Hadis

Mengosongkan perut

  • Ramadhan is time to empty your stomach to feed your soul.
  • Ramadhan adalah waktunya mengosongkan perut untuk memberi makan ruhanimu.

Mohon maaf

  • Amat merdu suara adzan, ayo shalat disegerakan. Sebentar lagi akan ramadhan, segala salah mohon dimaafkan.
  • Kata Bijak Islami Tentang Puasa dan Ramadhan

Empat kesalahan

  • 4 Mistakes to avoid in Ramadan: getting angry, sleeping all day, fasting without prayer, bad language.
  • 4 Kesalahan yang harus dihindari di bulan Ramadan: marah, tidur sepanjang hari, berpuasa tapi tidak shalat, tutur kata yang buruk.

Berdoalah

  • Make Dua.. its Ramadan, the month of forgiveness.
  • Berdoalah.. ini adalah Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan.

Titik balik

  • Make this Ramadan the turning point in your life. Break free from the deceptions of this world and indulge into the sweetness of iman.
  • Jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik balik dalam kehidupanmu. Bebaskan diri dari tipu daya dunia ini dan nikmati manisnya iman.

Bukan hamba ramadhan

  • Don’t be a servant of Ramadan, be a servant of Allah, be consistent.
  • Jangan menjadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah, dan beristiqamahlah.

Aku sedang berpuasa

  • When one of you is fasting, he should abstain from indecent acts and unnecessary talk, and if someone begins an obscene conversation or tries to pick an argument, he should simply tell him, ‘I am fasting’. – Hadits
  • Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor/keji dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. – Hadis

Bukan untuk diet

  • Ramadan is about losing sins, not weight.
  • Ramadhan itu waktunya untuk membersihkan diri dari dosa, bukan untuk menurunkan berat badan.

Izinkan kami

  • O Allah, allow us to witness Ramadan, benefit from it, use it to earn Your pleasure and mercy, and earn emancipation from the Fire. – dr. Bilal Philips
  • Ya Allah, izinkan kami untuk menjumpai bulan Ramadhan, memanfaatkannya, menggunakannya untuk mendapatkan ridha dan rahmat-Mu, dan mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka. – dr. Bilal Philips

Doa yang tidak tertolak

  • Three prayers (supplications) are not rejected: the prayer of a father, the prayer of a fasting person, and the prayer of a traveller. – Hadits
  • Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir. – Hadis

Membangun iman

  • Ramadan is a chance to build your iman.
  • Ramadhan adalah kesempatan untuk membangun imanmu.

Bunga langka

  • Ramadan is like a rare flower, that blossoms once a year, and just as you begin to smell its fragrance, it disappears for another year.
  • Ramadhan bagaikan bunga yang sangat langka, yang mekar hanya setahun sekali, dan saat kamu mulai mencium harumnya, ia menghilang selama satu tahun lagi.

Berhenti dari kemaksiatan

  • Ramadan is the ideal time to break bad habits.
  • Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk berhenti dari kebiasaan buruk.

Istimewanya ramadhan

  • 4 weeks of mercy, 30 days of worship, 720 hours of spirituality, 43.000 minutes of forgiveness, 2.592.000 seconds of happiness.
  • 4 minggu yang penuh rahmat, 30 hari yang bernilai ibadah, 720 jam yang penuh nuansa keagamaan, 43.000 menit yang penuh ampunan, 2.592.000 detik yang penuh kebahagiaan.

Terimalah

  • Dear Allah, please accept our fasts in this beautiful month of Ramadan. Ameen.
  • Ya Allah, terimalah puasa kami di bulan Ramadhan yang indah ini. Amiin.

Menyembuhkan

  • Ramadhan, let this month heal you.
  • Ramadhan, biarkan bulan ini menyembuhkanmu.

Tuhan yang sama

  • The Lord you worship in Ramadan is the same Lord you turn away from in all the other months. – Sheikh Abu Abdisalam
  • Tuhan yang engkau sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang engkau berpaling di bulan-bulan selainnya. – Sheikh Abu Abdisalam

Bulan al-Qur’an

  • The month of Ramadhan is that in which was revealed the Qur’an, a guidance for the people and clear proofs of guidance and criterion. – (QS. Al-Baqarah: 185)
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan yang bathil). – (QS. Al-Baqarah: 185)

Orang miskin

  • Poor is he who leaves ramadan the way he was before.
  • Orang miskin adalah dia yang meninggalkan ramadhan masih sama seperti sebelumnya.

Kewajiban puasa

  • O you who believe, Fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you so that hopefully you will gain taqwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)
  • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)

Menggapai takwa

  • TAQWA is the ultimate goal of our Ramadan preparations, to be among the righteous for now and forever.
  • TAQWA adalah tujuan akhir dari persiapan Ramadhan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, untuk saat ini dan selamanya.

Memperkokoh iman

  • Ramadan: strengthen your iman, heal your heart.
  • Ramadhan: mengokohkan imanmu, menyembuhkan hatimu.

Bukan akhir

  • For a true muslim ,end of Ramadan is not the end, but start of a new journey leading towards the jannah.
  • Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan baru menuju surga.

Tiap hari ramadhan

  • Live your life like everyday is Ramadan, and the Akhirah will become your Eid.
  • Jalani hidupmu seperti seolah-olah setiap harinya adalah Ramadhan, maka Akhirat akan menjadi hari rayamu.

Terus berusaha

  • Allah never expect us to be perfect during Ramadan, but He expects us to keep trying.
  • Allah tidak pernah mengharapkan kita menjadi sempurna selama Ramadhan, tetapi Dia mengharapkan kita untuk tetap terus berusaha.

Agen kebersihan

  • Fasting is a cleansing agent for the body and soul.
  • Puasa adalah agen pembersihan untuk tubuh dan jiwa.

Makna perisai

  • Puasa adalah perisai dan bukan pedang. Digunakan untuk menahan diri, bukan untuk menyerang.

Sama saja

  • Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus, maka sama saja seperti mengganti waktu makan.

Fenomena akhir ramadhan

  • Ramadhan semakin berlalu, akan tetapi masjid semakin kelabu, pusat perbelanjaan dan restoran semakin laku.

Belum tentu berjumpa lagi

  • Meski sekarang zaman sedang edan, namun ibadah di bulan ramadhan harus tetap habis-habisan, karena tahun depan belum tentu merasakan.
  • Kata Kata Islami Tentang Sahur

Ada berkah

  • Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat barakah. – Hadis

Sesuai waktunya

  • Jangan sahur sesudah waktunya, jangan berbuka sebelum waktunya, jangan menikah sebelum ada calonnya.

Memulai dengan basmalah

  • Mulailah makan sahurmu dengan ucapan bismillah agar semua makanan yang kau makan dan minuman yang kau minum menjadi berkah dan memberimu kekuatan untuk beribadah kepada Allah.

Tanpa sahur

  • Ada orang bangga berkata tanpa sahur pun dia gagah berpuasa. Padahal sahur itu sunnah dan berkah, dan dia telah rugi.

Hanya seteguk air

  • Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air. – (HR. Ahmad)

Selamat sahur

  • Kukirimkan senyum syukur, lewat doa yang tak terukur, semoga yang di sana sudah bangun tidur, sebelum waktu imsak menegur. Selamat makan sahur.

Waktunya buka

  • Sehari sudah kita menahan lapar dan dahaga, kini tibalah waktu maghrib untuk kita berbuka puasa. Selamat berbuka puasa, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Syukur dan sabar

  • Nikmatnya bersyukur, indahnya bersabar. Selamat berbuka puasa.
  • Ekspresi kebahagiaan
  • Orang berbuka memang benar mendapat kebahagiaan, tetapi jangan sampai salah mengekspresikannya dengan berbuka yang berlebihan.

Nikmat makan

  • Tiada nikmat makan yang lebih dari saat berbuka puasa. Selamat menikmati hidangan berbuka puasa.
  • Selamat berbuka untukmu
  • Jangan lupa berdoa sebelum makan, sudah kenyang ucapkan alhamdulillah. Selamat berbuka puasa kuucapkan, untukmu dengan senyumku terindah.

Menyegerakan berbuka

  • Manusia akan senantiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka senantiasa menyegerakan berbuka puasa. – (HR. Bukhari)

Meraih ridha-Mu

  • Dari pagi sampai sore-Mu, ku menahan segala rasa dan nafsu hanya untuk meraih ridha-Mu, semoga kita mendapatkan berkah di puasa hari ini. Selamat berbuka puasa.

Ucapan selamat berbuka

  • Santapan lezat sudah tersedia di atas meja, setulus hati aku ingin mengucapkan ‘Selamat berbuka puasa’.

Untuk yang dirindu

  • Gula memang manis rasanya, tapi lebih manis lagi rasa madu, ku ucapkan selamat berbuka puasa, untuk kamu yang selalu ku rindu.
  • Halal lebih baik
  • Berbukalah dengan yang halal, karena yang manis dan sayang belum tentu halal.

Kata Kata Perpisahan dengan Ramadhan

  • Kulihat ramadhan sedang berkemas. Aku tanya ia, “Hendak kemana engkau?”. Dengan lembut ia menjawab, “Aku akan pergi jauh, sangat jauh. Selama sebelas bulan ke depan aku akan menghilang darimu. Sampaikan pesanku pada semua. Terimakasih karena telah menyambut kehadiranku dengan gembira serta menghiasi hari-hariku dengan sabar dan istiqamah. Jika engkau merindukanku, maka perbanyaklah doa semoga kita bertemu lagi pada ramadhan yang akan datang.”
  • Itulah beberapa koleksi kata-kata mutiara islam terbaik, kata bijak islami, dan caption islami tentang bulan Ramadhan yang semoga bisa menjadi motivasi diri dalam menjalankan ibadah puasa dan semakin bersemangat untuk meraih kebaikan selama bulan ramadhan.

5 Keutamaan Bulan Ramadhan

5 Keutamaan Bulan Ramadhan

1) Bulan Bertebaran Amal Shaleh
Dalam bulan ini semua jenis pahala kebaikan (amal shaleh) akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sehingga seorang muslim sebaiknya benar-benar memanfaatkan bulan ini untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyak ibaratnya ia menjadi pedagang yakni pedagang akhirat dengan mencari keuntungan yang berlipatganda karena memang Allah SWT akan membeli barang dagangan seseorang (amal shaleh ) dengan harga yang bukan hanya dengan harga sama atau dua kali lipatnya tapi sampai tujuh ratus kali lipat.

  • Rosulullah SAW. Bersabda “ setiap amalan anak adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tuju ratus kali. Allah SWT berfirman:”kecuali shaum, karena shaum adalah untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya, karena orang yang shaum meninggalkan hasrat seksualnya serta makam dan minum demi mencari keridhaan-Ku….”(HR. Bhukhori dan Muslim).
  • Rosulullah SAW. Bersabda. “Barangsiapa memberi sesuatu untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dengan makanan ataupun minuman dari yang halal, maka para malaikat mendoa’akannya pada waktu-waktu bulan itu, demikian juga jibril mendoa’akannya di malam lailatul qadr.”(H.R. Thabrani).
  • Rosulullah SAW. Bersabda. ” Barangsiapa yang memberikan makanan berbuka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi dari pahalanya itu sedikit pun.”(H.R. Ahmad dan An-Nasai)
  • Rosulullah SAW. Bersabda kepada Ibnu Abid Ad-dunya ” andai kata manusia itu tahu kebaikan-kebaikan yang ada di bulan Ramadhan, mereka tentu menginginkan bulan ini terjadi sepanjang tahun.”

2) Bulan Maghfirah

  • Rosulullah SAW. Bersabda ……” Bulan Ramadhan permulaanya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, penghabisannya adalah pembebasan api neraka….”(khutbah rosulullah SAW)
  • “ Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”(H.R. Bukhari- Muslim)
  • “Barang siapa melakukan qiyamul lail pada bulan ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”
  • Rosulullah SAW.bersabda” Shalat lima waktu, shalat jum’at hingga jum’at berikutnya, Ramadhan ke ramadhan adalah penghapus (dosa) antara keduanya selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”(H.R. Muslim)
  • “ Dan aku melihat salah seorang dari ummatku terengah-engah kehausan setiap kali ia tiba di kolam air, ia dilarang meminumnya, kemudian puasa ramadhan datang padanya, memberinya air minum, dan membuatnya tidak kehausan lagi.”(H.R.Thabrani)
  • “Setiap ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.”(H.R. Muttafaqqun’alaih).

3) Bulan Turunnya Al-Qur’anul Karim dan Lailatul Qadr

  • “Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil.”(Q.S Albaqarah[2]:185
  • Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia ibaratnya ketika seseorang membeli mobil baru maka akan diberi buku petunjuk penggunaanya ketika orang tersebut menggunakan petunjuk yang ada maka semakin baik di dalam penggunakan mobil baru itu dan tidak akan menimbulkan kerusakan atau terjadi yang tidak diinginkan sama halnya dengan Al-Qur’an ini ketika seluruh ummat islam ini benar-benar menggunakan petunjuk yang ada berupa Al-Qur’an untuk seluruh aspek kehidupan maka akan memperoleh kehidupan yang baik dan hidupnya penuh dengan kebahagiaan apalagi Al-Qur’an itu bukan petunjuk biasa seperti buatan manusia akan tetapi sang pembuat adalah Allah SWT. Sang Maha Penguasa dan Maha pengatur alam raya ini.
  • Pada bulan ramadhan ini pula terdapat satu malam yang sangat utama yaitu malam laitul qadr. Rosulullah dan para sahabat sangat menantikan kedatangan malam ini sehingga rosulullah SAW. Dalam menyambut bulan ramadhan itu dua bulan sebelum datang ramadhan secara khusus berdo’a supaya bisa dipertemukan dengan ramadhan.
  • Rosulullah SAW. Bersabda “Bulan ini telah datang kepadamu di dalamnya terdapat satu malam yan lebih baik ketimbang seribu bulan. Barang siapa yang mengabaikannya, maka ia terabaikan dari segala kebaikan. Tidak ada yang mengabaikannya kecuali orang yang diabaikan.”(H.R Ibnu Majah)
  • “Sesungguhnya (Al-Qur’an) diturunkan pada malam Al-Qadr. Dan tahukan kamu apakah Al-Qadr itu? Malam Al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Robb-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”(QS.Al-Qadr:1-5)

4) Bulan saat do’a diijabah

  • Rosulullah SAW. Bersabda” sesungguhnya bagi orang yang shaum tatkala berbuka itu benar-benar ada do’a yang tidak akan ditolak.”(HR Ibnu Majah).
  • “Tiga orang yang doa mereka tidak akan tertolak; orang yang shaum tatkala (hingga berbuka), pemimpin yang adil, dan do’a orang yang didzolimi; do’a mereka diangkat Allah ke atas awan serta dibukakan baginya pinti-pintu langit. Rabb berfirman:”Demi kemuliaan dan keagungan-ku, aku benar-benar akan menolongmu sekalipun telah sekian saat.” (H.R Ahmad,Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

5) Bulan kemenangan Ummat Islam

  • Hampir seluruh peperangan ummat Islam dengan kaum kafir saat itu dimenangkan pada bulan Ramadhan seperti Fath Al-Makkah, ditaklukannya kota Makkah oleh tentara muslim dan dimusnaknnya berhala-berhala yang ada dikota itu yang terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Perang badar Kubro yang diabadikan dalam Al-Qur’an yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 hijriyah terbunuhnya raja kebatilan saat itu yakni Abu Jahal. Perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan pada tahun 9 Hijriyah, penaklukan Andalus (spanyol sekarang) dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad terjadi pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriyah.

Puasa Pada Wanita Hamil dan Menyusui

Puasa Pada Wanita Hamil dan Menyusui

Allah Swt berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183).

Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini; pendapat pertama mengatakan bahwa pada awalnya puasa itu adalah ibadah pilihan, siapa yang mampu untuk melaksanakan puasa maka dapat melaksanakan puasa atau tidak berpuasa, bagi yang tidak berpuasa maka sebagai gantinya membayar fidyah memberi makan orang miskin. Dengan pilihan ini, berpuasa lebih utama. Kemudian hukum ini di-nasakh, diwajibkan berpuasa bagi yang mampu, tidak boleh meninggalkan puasa dan memberikan makanan kepada orang miskin, berdasarkan firman Allah Swt:

مَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Yang me-nasakh hukum diatas adalah ayat ini, demikian diriwayatkan para ulama kecuali Imam Ahmad. Dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Ketika ayat ini (al-Baqarah: 183) turun, sebelumnya orang yang tidak mau berpuasa boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah, sampai ayat setelahnya turun dan menghapus hukumnya”.

Satu pendapat mengatakan bahwa puasa itu diwajibkan bagi orang-orang yang mampu saja. Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit, musafir dan orang yang berat melakukannya. Mereka menafsirkan makna al-Ithaqah dengan berat melaksanakan puasa, yaitu orang-orang yang telah lanjut

7 Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 291 [Maktabah Syamilah].

usia. Bagi orang yang sakit dan musafir diwajibkan qadha’. Sedangkan bagi orang yang lanjut usia diwajibkan membayar fidyah saja, tanpa perlu melaksanakan puasa qadha’, karena semakin tua maka semakin berat mereka melaksanakannya, demikian juga orang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak akan mampu melaksanakan puasa qadha’, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’, ia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 184). Ia berkata, “Ayat ini tidak di-nasakh. Akan tetapi ayat ini bagi orang yang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa”.

Sebagian ulama moderen seperti Syekh Muhammad Abduh meng-qiyas-kan para pekerja berat yang kehidupan mereka bergantung pada pekerjaan yang sangat berat seperti mengeluarkan batubara dari tempat tambangnya, mereka di-qiyas-kan kepada orang tua renta yang lemah dan orang yang menderita penyakit terus menerus. Demikian juga dengan para pelaku tindak kriminal yang diwajibkan melaksanakan pekerjaan berat secara terus menerus, andai mereka mampu melaksanakan puasa, maka mereka tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar fidyah, meskipun mereka memiliki harta untuk membayar fidyah.

Sedangkan wanita hamil dan ibu menyusui, jika mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri mereka, atau karena anak mereka, maka menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah saja, tidak wajib melaksanakan puasa qadha’, mereka disamakan dengan orang yang telah lanjut usia. Abu Daud dan ‘Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 184). Ibnu Abbas berkata, “Ini keringanan bagi orang yang telah lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib memberi fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan anaknya, maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah”. Diriwayatkan oleh

al-Bazzar dengan tambahan di akhir riwayat: Ibnu Abbas berkata kepada seorang ibu hamil, “Engkau seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah, tidak wajib qadha’ bagiku”. Sanadnya dinyatakan shahih oleh ad-Daraquthni. Imam Malik dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil jika mengkhawatirkan anaknya, ia menjawab, “Ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah satu orang miskin untuk satu hari, membayar satu Mudd gandum”. Dalam hadits disebutkan:

إِ الَّلََّ تَ عَالََ وَضَعَ عَنِ الْ ج مسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الحَْامِلِ أَوِ الْ ج مرْضِعِ الصَّوْم “Sesungguhnya Allah Swt tidak mewajibkan puasa bagi musafir dan menggugurkan setengah kewajiban shalat (shalat Qashar). Allah Swt menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Diriwayatkan oleh lima imam, Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan.

Berdasarkan dalil diatas maka wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa. Apakah wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah?

  • Menurut Ibnu Hazm: tidak wajib qadha’ dan fidyah.
  • Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: wajib membayar fidyah saja tanpa kewajiban qadha’.
  • Menurut Mazhab Hanafi: wajib qadha’ saja tanpa kewajiban fidyah.
  • Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali: wajib qadha’ dan fidyah, jika yang dikhawatirkan anaknya saja. Jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja, atau yang dikhawatirkan itu diri dan anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib melaksanakan qadha’ saja, tanpa wajib membayar fidyah. (Nail al-Authar, juz. 4, hal. 243 – 245).

Dalam Fiqh empat mazhab dinyatakan:

Menurut Mazhab Maliki: wanita hamil dan ibu menyusui, jika melaksanakan puasa dikhawatirkan akan sakit atau bertambah sakit, apakah yang dikhawatirkan itu dirinya, atau anaknya, atau dirinya saja, atau anaknya saja. Mereka boleh berbuka dan wajib melaksanakan qadha’, tidak wajib membayar fidyah bagi wanita hamil, berbeda dengan ibu menyusui, ia wajib membayar fidyah. Jika puasa tersebut dikhawatirkan menyebabkan kematian atau mudharat yang sangat parah bagi dirinya atau anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib tidak berpuasa.

  • Menurut Mazhab Hanafi: jika wanita hamil dan ibu menyusui mengkhawatirkan mudharat, maka boleh berbuka, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja. Wajib melaksanakan qadha’ ketika mampu, tanpa wajib membayar fidyah.
  • Menurut Mazhab Hanbali: wanita hamil dan ibu menyusui boleh berbuka, jika mengkhawatirkan mudharat terhadap diri dan anak, atau diri saja. Dalam kondisi seperti ini mereka wajib melaksanakan qadha’ tanpa membayar fidyah. Jika yang dikhawatirkan itu anaknya saja, maka wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah.
  • Menurut Mazhab Syafi’i: wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan mudharat, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja, mereka wajib berbuka dan mereka wajib melaksanakan qadha’ pada tiga kondisi diatas. Jika yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wajib melaksanakan qadha’ dan membayar fidyah.
  • Pendapat Mazhab Syafi’i sama seperti Mazhab Hanbali dalam hal qadha’ dan fidyah, hanya saja Mazhab Hanbali membolehkan berbuka jika mengkhawatirkan mudharat, sedangkan Mazhab Syafi’i mewajibkan berbuka. Dalam salah satu pendapatnya Imam Syafi’i mewajibkan fidyah bagi wanita menyusui, tidak wajib bagi ibu hamil, seperti pendapat Mazhab Maliki.

Hadits yang diriwayatkan lima imam dari Anas bin Malik al-Ka’bi. Al-Mundziri berkata, “Ada lima perawi hadits yang bernama Anas bin Malik: dua orang shahabat ini, Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari pembantu Rasulullah Saw, Anas bin Malik ayah Imam Malik bin Anas, ia meriwayatkan satu hadits, dalam sanadnya perlu diteliti. Keempat, seorang Syekh dari Himsh. Kelima, seorang dari Kufah, meriwayatkan hadits dari Hamad bin Abu Sulaiman, al-A’masy dan lainnya. Imam asy-Syaukani berkata, “Selayaknya Anas bin Malik al-Qusyairi yang disebutkan Ibnu Abi Hatim adalah Anas bin Malik yang keenam, jika ia bukan al-Ka’bi”.

ASBABUL WURUD HADITS: Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dari Ka’ab ibn ‘Ashim al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَ امْ بِرِّ، امْ صِيَامُ، فِي امْ سَفَرِ
‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).’

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasulullah saw pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki tengah dikerumuni orang banyak, dan di beri naungan di atasnya, mereka berkata: ‘Orang ini tengah berpuasa.’ Rasulullah saw pun bersabda: ‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).'”

Tahqiq ke 31

Hadits Ke-31:

Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/432;
An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyamfi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/146)), lihat Majma’ az-Zawaid 3/161. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir.”
Begitu juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’a fi as-Shiyaam fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Berbuka di dalam Perjalanan, (1/532)), dari haditsnya dan dari hadits Ibnu ‘Umar.
Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Hadits tersebut adalah lafazh milik Ahmad 3/299;
Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Qaulu an-Nabiy saw li Man Zhullila ‘alaihi wa Isytadda al-Harr Laisa min al-Birr as-Shaum fi as-Safar (Sabda Nabi saw bagi Orang yang Dinaungi Atasnya dan Udara yang Terik Bukanlah Bagian dari Kebaikan Berpuasa dalam Perjalanan, (3/44));
Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Jawazu as-Sahum wa al-Fithri fi Syahri Ramadhan li al-Musafirfi Ghairi Ma’shiyah (Bolehnya Berpuasa dan Berbuka dalam Bulan Ramadhan bagi Musafir yang Tujuannya Bukan Untuk Maksiat, (3/175));
Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/317;

Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikhiyar al-Fithr (Memilih Berbuka, (1/561))
At-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’a fi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan), secara muallaq;
An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyam fi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/148)), dengan lafazh-lafazh saling berdekatan.

Aku berkata: “Di antara penguat hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan, (2/106)), dari hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw, pernah keluar menuju Makkah pada ‘Amul Fathi (hari penaklukan Makkah), beliau berpuasa hingga sampai di daerah Kara’ al-Ghamim dan orang-orang turut berpuasa bersama beliau. Lalu disampaikan kepada beliau: ‘Orang-orang mendapatkan kepayahan dalam berpuasa, dan orang-orang menunggu apa yang engkau perbuat.’ Kemudian beliau meminta semangkuk air-setelah shalat ashar-, dan meminumnya, sedangkan orang-orang menyaksikan yang beliau (perbuat), maka berbukalah sebagian dari mereka dan sebagian lagi tetap berpuasa. Berita tentang bertahannya sebagian orang dalam berpuasa terdengar oleh beliau, lalu beliau bersabda, ‘Mereka itu adalah pendurhaka.'” Abu Isa berkata: “Hadits Jabir hasan shahih.”

Dan ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa dalam perjalanan, sebagian dari ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan begitu juga dari selain mereka berpendapat bahwa berbuka itu adalah lebih utama, hingga di antara mereka ada yang memandang bahwa puasa mesti diulangi apabila berpuasa di dalam perjalanan. Ahmad dan Ishaq memilih pendapat berbuka di dalam perjalanan.

Dan sebagian lagi ahli ilmu dari kalangan para shahabat Nabi saw dan selain mereka berpendapat: “Jika seseorang mendapatkan kekuatan dalam perjalanan maka berpuasa adalah baik, dan itu lebih utama, dan jika ia berbuka maka hal itu juga baik. Dan ini adalah pendapat yang dianut oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas ,dan Abdullah bin al-Mubarak.

Asy-Syafi’i berkata: “Adapun makna dari sabda Rasulullah saw: ‘Bukanlah termasuk dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan.’ Dan begitu juga dengan sabda beliau ketika sampai kepadanya berita bahwa orang-orang masih tetap berpuasa, beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah pendurhaka,’ tidak lain adalah bagi yang tidak ada kecondongan di dalam hatinya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Adapun orang yang memandang bahwa berbuka itu adalah hal yang mubah lalu ia berpuasa dan kuat melakukan hal itu maka itu adalah yang lebih aku sukai.” Lihat Sunan at-Tirmidzi, 2/107; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/99; dan setelahnya; serta Mu’jam al-Fiqh al-Hanbali cetakan Wazaratul Aukaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, Kuwait, 2/261.

Puasa Pada Anak, Dalam Tinjauan Perpekstif Kedokteran

wp-1525943767817..jpg

Dr Widodo judarwanto, pediatrician

Si Sandiaz sejak usia 5 tahun ternyata sudah melakukan ibadah puasa penuh selama 1 bulan. Tetapi si Udin dengan usia yang sama, jangankan untuk berpuasa terlambat makan sebentar saja sudah berteriak keras sekali. Ibadah yang cukup berat ini dilakukan baik oleh keinginan sendiri ataupun karena keinginan orangtua. Bagaimana merencanakan dan membimbing anak dalam melakukan ibadah puasa tanpa harus mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak ?

Memasuki bulan ramadhan, anak belum akil baliq tidak termasuk umat yang diwajibkan berpuasa. Tetapi pada kenyataannya banyak anak pra akil baliq sudah berpuasa “penuh” layaknya orang dewasa. Periode akil baliq biasanya terjadi saat anak sudah mulai masa pubertas atau sekitar usia 12 tahun. Anak perempuan akan mendapat menstruasi dan payudara mulai berkembang. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, bentuk fisik berubah secara cepat, dan sudah mengalami peristiwa “mimpi basah”. Sejak saat inilah anak diwajibkan untuk berpuasa.

Banyak orang tua beralasan dalam mendidik beribadah khususnya puasa harus dilakukan secara dini dan bertahap. Tak jarang puasa sudah dikenalkan pada anak sejak usia 6 atau 7 tahun meskipun baru puasa setengah hari. Menurut perspektif agama Islam bila ibadah termasuk yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan. Bila ditinjau dalam bidang kesehatan tampaknya puasa juga mungkin bisa dilakukan oleh anak usia pra akil baliq tetapi harus cermat dipertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak.
Kondisi psikobiologis anak memang berbeda dengan dewasa dalam melakukan ibadah puasa. Meskipun belum banyak dilakukan penelitian dilakukan terhadap pengaruh berpuasa pada anak dikaitkan dengan aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak. Sejauh ini belum pernah dilaporkan seorang anak yang mengalami gangguan yang berat akibat puasa.

FAKTOR PSIKOBIOLOGIS

  • Aspek kesehatan secara psikobiologis anak usia sebelum akil baliq dapat ditinjau dari aspek tumbuh kembang anak dan fungsi biologis. Aspek perkembangan meliputi perkembangan psikologis seperti perkembangan emosional, perkembangan moral dan perilaku lainnya. Fungsi biologis meliputi aspek fisiologis tubuh, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan sistem tubuh.
  • Dari aspek perkembangan khususnya kecerdasan dalam periode ini anak mulai banyak melihat dan bertanya. Fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab. Perkembangan rohani pemikiran tentang Tuhan sudah mulai timbul. Anak sudah mulai dapat memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya. Tetapi pemahaman tentang konsep ini masih terbatas, bahwa Tuhan itu ada.
  • Demikian pula dalam perkembangan moral, pada periode ini pemahaman konsep baik dan buruk masih sederhana. Makna pemahaman ini hanya sebatas sekedar tahu. Artinya kenapa kewajiban agama dan kebaikan perilaku harus dilakukan belum dipahami secara sempurna. Sehingga dalam melakukan ibadah puasa juga lebih dilatarbelakangi karena faktor fisik tidak dipahami secara moral. Kalaupun moral berperanan lebih dari sekedar hubungan manusia dan manusia. Niat ibadah puasa dikerjakan berdasarkan pengaruh hubungan keluarga atau lingkungan. Misalnya, anak berpuasa karena teman sekelas atau sepermainan sudah berpuasa. Atau, bila berpuasa penuh akan mendapat hadiah dari orang tua.
  • Dalam aspek biologis kondisi fisiologis tubuh khususnya metabolisme tubuh, fungsi hormonal dan fungsi sistem tubuh usia anak berbeda dengan usia dewasa. Bila aktifitas berpuasa merupakan beban yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologis anak dapat berakibat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak. Demikian pula dalam hal mekanisme sistem imun atau pertahanan tubuh anak dan dewasa berbeda. Ketahanan anak dalam merespon masuknya penyakit dalam tubuh lebih lemah.

PERUBAHAN KONDISI TUBUH SAAT BERPUASA

  • Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang berarti saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak mempengaruhi secara drastis metabolism lemak, karbihidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa.
  • Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein A1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa the penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia.
  • Ritme dan kualitas jam tidur malam, dan kewaspadaan sehari-hari dan kemampuan psikomotor cederung berkurang. Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan resiko terjadinya kecelakaan pada anak seperti terjatuh, terpeleset atau kecelakaan saat mengendarai sepeda. Resiko ini semakin meningkat pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan kesimbangan, regulasi dan koordinasi.

PERENCANAAN IBADAH PUASA PADA USIA ANAK

  • Melihat kondisi psikobiologis dan perubahan fisiologi tubuh saat puasa khususnya pada usia anak tertentu sebaiknya dilakukan tahapan waktu disesuaikan dengan usia dan kemamuan mental anak. Tahapan waktu mungkin bisa dilakukan dengan puasa setengah hari pada usia di bawah enam tahun. Di atas usia enam tahun mungkin diperkenalkan puasa penuh saat awal dan akhir puasa yang secara bertahap dilakukan penambahan jumlah puasa yang penuh. Tahapan waktu tersebut harus disesuaikan dengan mental seorang anak.
  • Seorang anak berusia 5 tahun yang mempunyai motivasi yang tinggi dan bermental kuat mungkin dapat berpuasa penuh. Tetapi anak lain yang bahkan dengan usia 2 tahun di atasnya mungkin untuk satu hari berpuasa penuh sudah merupakan siksaan yang luar biasa.
  • Saat berpuasa pembelanjaran mental adalah pengalaman penting yang dapat berguna dalam pembinaan moral dan mental anak. Faktor mental inilah yang tampaknya sangat berperanan penting dalam keberhasilan pelkaksanaan ibadah puasa seorang anak. Mental setiap anak berbeda dengan anak lainnya dalam melakukan ibadah puasa. Anak dengan tipe mental baja atau yang jarang mengeluh berbeda dengan anak yang bernyali rendah. Meskipun dengan kondisi fisik yang tidak optimal ternyata dapat bertahan baik untuk menutupi kelemahan fisik saat puasa. Kadang hanya dengan memotivasi dan mensuport mental anak dengan pujian maka kendala fisik dalam berpuasa dapat diabaikan. Sebaiknya dalam memotivasi mental anak tersebut bukan dengan paksaan yang dapat berakibat tergangguanya psikologis anak. Tekanan psikologis inilah dapat memperberat beban fisik yang sudah terjadi saat menjalani ibadah puasa pada anak.
  • Kegiatan puasa berpengaruh terhadap perkembangan emosi, perkembangan moral dan perkembangan psikologis anak. Tidak dapat disangkal lagi bahwa ibadah puasa mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan perkembangan anak. Tetapi harus diwaspadai bahwa aktifitas puasa juga dapat berpengaruh negatif bila tidak mempertimbangkan kondisi psikologi anak. Hal ini terjadi bila ibadah ini dilakukan dengan paksaan dan ancaman. Dalam keadaan normal emosi dan perilaku anak sangat tidak stabil. Saat puasa yang dalam kondisi lapar dan haus akan sangat mempengaruhi kestabilan emosi dan perilaku anak.
  • Mengingat fungsi psikobiologis anak berbeda dengan dewasa, maka harus dicermati pengaruh puasa terhadap anak. Pengaruh negatif yang harus diwaspadai adalah berkurangnya jam tidur anak. Saat bulan ramadhan jadwal aktifitas anak berbeda dengan sebelumnya. Dalam bulan tersebut aktifitas anak bertambah dengan kegiatan sholat tarawih, makan sahur atau kegiatan pesantren kilat. Bila jam tidur ini berkurang atau berbeda dengan sebelumnya akan mempengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh yang sebelumnya sudah terbentuk.
  • Gangguan keseimbangan fisiologis tubuh ini akan berakibat menurunkan fungsi kekebalan tubuh yang berakibat anak mudah sakit. Sebaiknya orang tua harus ikut merencanakan dan mamantau jadwal aktifitas anak termasuk jam tidur anak dengan cermat. Pada usia pra akil baliq kebutuhan tidur anak secara normal berkisar antara 10-12 jam per hari, dengan rician malam hari 10 jam siang hari 1-2 jam. Dalam bulan ramadan orang tua hendaknya dapat memodifikasi jadwal tidur ini dengan baik.
  • Pengaruh lain yang harus diamati adalah pengaruh asupan gizi pada anak. Jumlah, jadwal dan jenis gizi yang diterima akan berbeda dengan saat sebelum puasa. Dalam hal jumlah mungkin terjadi kekurangan asupan kalori, vitamin dan mineral yang diterima anak. Aktifitas yang bertambah ini juga akan meningkatkan kebutuhan kalori, vitamin dan mineral lainnya. Padahal saat puasa relatif pemenuhan kebutuhan kalori lebih rendah. Bila keseimbangan asupan gizi terganggu dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh sehingga anak mudah terserang penyakit.
  • Dalam keadaan seperti ini tampaknya pemberian suplemen vitamin cukup membantu. Parameter yang paling mudah untuk melihat asupan kalori cukup adalah dengan memantau berat badan anak. Bila berat badan anak tetap atau meningkat mungkin puasa dapat dilanjutkan. Tetapi bila berat badan menurun drastis dalam jangka pendek sebaiknya puasa harus dihentikan.
  • Demikian pula dengan jenis asupan gizi yang diterima. Variasi dan jumlah makanan yang didapatkan saat bulan puasa akan berbeda dengan sebelumnya. Saat bulan puasa variasi makanan yang tersedia biasanya lebih banyak. Pada penderita alergi pada jenis makanan tertentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap gangguan kesehatan. Menurut pengalaman praktek sehari-hari kasus alergi makanan pada anak cenderung meningkat saat bulan puasa. Sebaiknya orangtua menghindari jenis makanan ringan kemasan yang mengandung bahan pengawet dan beraroma rasa atau warna yang kuat. Minuman bersoda dan sangat pedas sebaiknya dihindarkan. Mulailah berbuka dengan bahan makanan dan minuman pembuka yang manis. Pemilihan makanan yang berkalori dan karbohidrat tinggi saat sahur lebih utama. Secara umum prinsip pemilihan menu makanan dengan gizi yang cukup dan seimbang harus diutamakan.

YANG HARUS DIWASPADAI PADA ANAK

  • Kondisi umum yang harus diwaspadai dalam melakukan puasa pada anak adalah anak yang mudah sakit (mengalami infeksi berulang), gangguan pertumbuhan, penyakit alergi atau asma serta gangguan perilaku (Autis, ADHD dll). Kegemukan apada anak juga merupakan kondisi yang harus diwaspadai. Pada penderita kegemukan pada anak seringkali terjadi perbedaan komposisi kesimbangan cairan tubuh dan perbedaan fungsi tubuh lainnya. Bila perlu pada kondisi tertentu sebaiknya dilakukan konsultasi ulang pada dokter anak sebelum melakukan ibadah puasa.
  • Keadaan yang harus dihindari berpuasa pada anak akil baliq adalah penyakit infeksi akut (batuk, pilek, panas), infeksi kronis (tuberkulosis dll), penyakit bawaan gangguan metabolisme, jantung, ginjal, kelainan darah dan keganasan. Meskipun infeksi akut virus seperti batuk, pilek atau panas yang dialami ringan, bila kondisi tubuh turun seperti berpuasa akan menimbulkan resiko komplikasi yang berat.
  • Pengeluaran kalori yang tinggi pada anak sering diakibatkan pada aktifitas bermain harus disesuaikan dengan kondisi saat berpuasa. Tidak seperti pada manusia dewasa, pada umumnya anak masih belum bisa menakar kemampuan tubuh dan aktifitas sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas pada usia anak hanya didominasi kesenangan dan keasyikan bermain. Sebaiknya orangtua membantu mencari kegiatan dan permainan yang sesuai dengan kondisi tubuh saat berpuasa. Sebaiknya dicari permainan yang lokasinya berada di dalam gedung atau tempat teduh, dan saat sore hari menjelang berbuka. Permainan yang menyita tenaga lebih sebaikknya dihindarkan. Peningkatan aktifitas belanja di pusat perbelanjaan saat menjelang lebaran, meskipun tampaknya ringan ternyata sangat menyita energi. Hal ini terjadi karena pengaruh situasi yang nyaman saat belanja. Sebaiknya anak tidak diikutsertakan dalam kegaiatan ini, kalaupun ikut dicari waktu setelah buka puasa.
  • Puasa pada anak mungkin dapat dilakukan tetapi harus cermat memperhatikan kondisi normal psikobiologisnya. Sedangkan kondisi psikobiologis setiap anak berbeda dan tidak dapat disamakan. Bila kondisi itu tidak diperhatikan maka puasa merupakan beban bagi mental dan fisik anak. Selanjutnya akan berakibat mengganggu tumbuh kembang anak. Tetapi bila puasa dilakukan dengan mempertimbangkan dengan cermat kondisi anak maka dapat merupakan pendidikan terbaik bagi perkembangan moral dan emosi anak. Buah hatiku, selamat menjalani ibadah puasa

1525939877442.jpg

 

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bercumbu Dengan Isteri Tidak Sampai Berhubungan Badan Siang Hari Di Bulan Ramadhan

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bercumbu Dengan Isteri Tidak Sampai Berhubungan Badan Siang Hari Di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

  • Bagaimanakah cara membayar hutang puasa Ramadhan yang batal karena hubungan suami isteri? Pada bulan Ramadhan khilaf bercumbu di siang hari tapi tidak melakukan hubungan suami isteri.
  • Apakah cara bayarnya sama dengan ketika hutang puasa Ramadhan karena ada udzur (haid) atau bagaimana? Terus terang saya binggung. Saya sudah membayar puasa tersebut dengan puasa yang sama dengan seperti saya bayar untuk hutang puasa karena udzur. Apakah cara bayarnya sama seperti itu atau ada yang lain?

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  • Kewajiban seorang yang sedang berpuasa Ramadahan adalah menjaga diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari.
  • Makan dan minum secara sengaja, tentu membatalkan puasa, berdosa dan untuk itu ada kewajiban untuk menggantinya dengan puasa di hari lain.
  • Sedangkan bila melakukan hubungan suami isteri, selain membatalkan puasa dan berdosa, kaffarat (tebusan)-nya adalah membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin. Sesuai sabda Rasulullah SAW:
  • Dari Abi Hurairah ra., bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku, ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ “Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak.“ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?” ”Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin? ” ”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata,”Ambilah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671)

Batas Pelanggaran

  • Namun batalnya puasa itu hanya terjadi manakala memang benar-benar terjadi persetubuhan. Sedangkan sekedar bercumbu sampai mencium, meski sampai terangsang namun tidak terjadi jima’, tidak membatalkan puasa, juga tidak mewajibkan kaffarat.
  • Bila yang terjadi hanya sekedar percumbuan, tidak sampai jima’, maka hukumnya hanya makruh saja. Tetapi tidak ada kewajiban membayar tebusan (kaffarah), bahkan tidak membatalkan puasa. Kecuali bila percumbuan itu sampai mengeluarkan mani, maka puasanya batal, tapi tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Cukup mengganti puasanya yang batal itu saja.
  • Tentang kemakruhan untuk mencumbu isteri saat puasa, karena dikhawatirkan akan kelewatan yang beresiko lebih buruk. Sedangkan bila seseorang mampu menjaga diri dan menahan gejolak syahwatnya, tidak mengapa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW menciumnya dalam keadaan sedang berpuasa. Dan beliau mencumbunya ketika sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hawa nafsunya. (HR Bukhari Muslim)

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

.

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Kapan anak diwajibkan puasa ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Kapan anak diwajibkan puasa ?

ANAK SAYA sejak TK sudah belajar puasa. Bahkan mulai kelas 1 SD sudah mulai puasa penuh. Sebenarnya menjrut tuntunan Quran dan Sunah Rasul kapan anak diwajibkan puasa ? Dan siapa saja yang diwajibkan puasa ? Apa keutamaan puasa ramadhan dengan puasa tathowwu`?

  • Puasa ramadhan diwajibkan atas setiap Muslim yang mukallaf, baik laki-laki maupun perempuan. 
  • Puasa ini dianjurkan kepada anak-anak yang sudah berumur tujuh tahun atau lebih, juga dianjurkan kepada setiap anak laki-laki atau perempuan yang mampu mengerjakannya.
  • Sedangkan para orang tua, mereka diwajibkan menyuruh putera-puteri mereka untuk mengerjakan puasa jika mereka mampu, sebagaimana mereka diperintahkan menyuruh putera-puteri mereka untuk mengerjakan shalat.
  • anak kecil baik laki-laki maupun perempuan, jika sudah berumur tujuh tahun atau lebih, mereka diperintahkan untuk berpuasa agar terbiasa dengan hal itu. Sedangkan para wali, mereka diharuskan menyuruh anak-anak untuk melakukan puasa ini, seperti menyuruh mereka mengerjakan shalat.
  • Jika mereka sudah bermimpi basah (baligh) mereka wajib berpuasa. Jika balighnya di tengah hari, maka puasa itu sah dan dibenarkan darinya pada hari itu.
  • Kalau seandainya ada anak yang genap umurnya menjadi lima belas tahun di saat tergelincir matahari (di waktu dhuhur), dan dia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya di hari itu adalah benar dan sah. Sedangkan puasa yang dilakukannya di permulaan hari termasuk puasa nafilah, dan yang dilakukannya di akhir hari tergolong puasa fardhu, jika sebelum itu ia memang belum baligh. Apakah itu dengan tumbuhnya rambut kaku di kemaluan, atau keluarnya mani dengan adanya syahwat. Dan seperti inilah yang dihukumi pada wanita, hanya saja pada wanita ada tanda keempat sebagai tanda balighnya, yaitu haidh.

    QURAN

    • “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 183-184)

    QURAN

    • “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

    Nabi Muhammad SAW

    • ((بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهاَدَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقاَمِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتاَءِ الزَّكاَةِ، وَصَوْمِ رَمَضاَنَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ)) (متفق على صحته من حديث ابن عمر)
    • “Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut diibadahi selain hanya Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, mengerjakan zakat, berpuasa di bulan ramadhan dan mengerjakan ibadah haji di baitul haram.” (Muttafaq `alaih dari Abdullah bin Umar)
    • Juga sabda beliau saat ditanya Jibril mengenai Islam, beliau menjawab, ((اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ ِإلاَََّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضاَنَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً)) (خرجه مسلم في صحيحه من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه، وأخرج معناه الشيخان من حديث أبي هريرة رضي الله عنه)  “Islam adalah: engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut diibadahi selain hanya Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan mengerjakan ibadah Haji ke baitul haram jika kamu mampu untuk itu.”(Diriwayatkan Imam Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, juga diriwayatkan dengan makna yang sama oleh Asy-Syaikhan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
    • Sedangkan dalam As-Sahihain dari Abu Hurairah, dari nabi beliau bersabda, ((مَنْ صَامَ رَمَضاَنَ إِيْماَناً وَاحْتِساَباً غُفِرَ لَـهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ))   “Barangsiapa berpuasa ramadhan karena iman dan mencari pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    NABI MUHAMMAD SAW

    • ((يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَـهُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثاَلِهاَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلاَّ الصِّياَمَ فَإِنَّهُ لِيْ، وَأَناَ أَجْزِيْ بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعاَمَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتاَنِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقاَءِ رَبِّهِ، وَلَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ)) (متفق على صحته)
    • “Allah azza wajalla berfirman, setiap perbuatan bani Adam adalah untuk dirinya sendiri. Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali hingga mencapai tujuh ratus lipat. Kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku dan Saya pasti membalasnya. Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minuman hanya karena Saya. Sungguh! Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan. Rasa bahagia saat ia berbuka dan rasa bahagia saat ia berjumpa dengan Rabbnya. Dan bau busuk mulut orang berpuasa, lebih harum di sisi Allah dari bau harum minyak kesturi.” (Muttafaq `alaih)

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Benarkah Tidur Siang Adalah Ibadah ?

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Benarkah Tidur Siang Adalah Ibadah ?

    Begitu sering kita dapati sebagian umat Islam yang banyak tidur di siang hari bulan Ramadhan, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kerja dan merusak disiplin yang telah ditetapkan perusahaan.

    Mohon dijelaskan pak Ustadz, apakah memang demikian ketentuannya dari segi syariah, yaitu bahwa di bulan Ramadhan memang waktunya untuk banyak tidur dan mengurangi kerja serta produkfitas. Adakah hal itu memang dibenarkan syariah?

    Hal ini penting karena yang saya dapati dari kebanyakan teman-teman memang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan dengan alasan malamnya tarawih, tahajud, bangun sahur dan seterusnya

    Memang benar apa yang anda sampaikan bahwa salah satu cara penyikapan yang perlu dikoreksi dari kebanyakan umat Islam adalah masalah banyak tidur di kala puasa. Seolah-olah datangnya bulan Ramadhan menjadi legitimasi untuk memperbanyak jam tidur siang. Walau pun hal itu terjadi pada jam-jam kerja sehingga menjadikan jam kerja di bulan Ramadhan menjadi kurang produktif.

    Hal seperti itu bisa kita lihat dari pemandangan yang kita lihat di masa sekarang ini, di siang hari bulan Ramadhan, di mana masjid-masijd dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelimpangan untuk tidur di jam-jam produktif. Sayangnya melakukan hal itu dengan alasan karena malamnya melakukan shalat malam atau karena bangun sahur.

    Jadwal Shalat Malam

    Sebenarnya kalau kita teliti lebih jauh, shalat malam tidak hanya dianjurkan di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi di luar Ramadhan pun sama juga dianjurkan. Rasulullah SAW dan para shahabat terbiasa bangun di tengah malam dan melakukan qiyamullail, bukan hanya di bulan Ramadhan saja tetapi juga di luar bulan Ramadhan.

    Namun kita juga tahu bahwa pada siang hari, Rasulullah SAW dan para shahabat tetap bekerja di siang hari dan tetap produktif dalam kerjanya.Hal itu dibuktikan dengan begitu banyaknya prestasi dan kemenangan yang mereka raih selama bulan Ramadhan.

    Ada banyak hal yang menyebabkannya. Tetapi ada salah satu bahan pemikiran yang barangkali berguna untuk kita renungkan.

    Begini, kalau kita teliti nash-nash tentang jadwal siklus kehidupan yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat, ternyata memang ada sedikit perbedaan cara puasa dan ibadah antara kita.

    Ternyata Rasulullah SAW tidak tidur sebelum shalat ‘Isya namun tidak suka berbicara (begadang) setelah shalat ‘Isya’. Dan itu banyak dijelaskan dalam banyak riwayat. Lalu apa yang bisa kita tarik kesimpulan dari hal ini?

    Seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat di atas, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya’ jam 19.00 atau jam 20.00 malam, kita langsung tidur, tidak nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain.

    Maka kalau kita hitung-hitung, ternyata kita akan tidur lebih awal dari biasanya. Dengan tidur di waktu sesiang itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 malam kita bangun untuk tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 7 jam lamanya. Dan tidak ada lagi alasan untuk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari.

    Sayangnya, justru yang sering kita lakukan justru sebaliknya. Kita terbiasa tidur larut malam. Setelah shalat ‘Isya’ kita sering masih keluyuran ke sana kemari, atau bahkan malah belum tiba di rumah.

    Lalu anggaplah kita tidur jam23.00 atau jam 24.00 malam, lalu kita ingin bangun shalat tahajjud atau bangun sahur, secara matematis ternyata kitabaru tidur selama 2 atau 3 jam saja.

    Secara perhitungan manusiawi normal umumnya, sangat logis kalau tubuh kita minta tambahan jam tidur di siang hari, entah ba’da shubuh atau pun ba’da shalat Dzhuhur.

    Padahal kalau kita bisa atur jadwal seperti di atas, insya Allah tidak akan ada masalah dengan jadwal tidur dan istirahat.

    Jadwal Sahur Yang Tepat

    Sebagian dari kita ada yang menjadikan bangun malam untuk makan sahur sebagai penyebab untuk dimakluminya tidur di siang hari. Padahal kalau mau ikut sunnah Rasulullah SAW, seharusnya bangun sahur tidak perlu dijadikan alasan untuk mengantuk di siang hari.

    Sebab yang disunnahkan ketika makan sahur itu adalah yang semakin dekat dengan waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sebelum masuk waktu shubuh sampai setengah jam. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yang terambil untuk sahur, paling banyak hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja.

    Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tidak ada yang berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja.

    Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 2 malam untuk sahur dan kemudian setelah itu tidak tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk. Sebab secara perhitungan manusiawi, tubuh kita masih kekurangan jam tidur.

    Masalah Cara Pandang

    Tetapi yang paling serius menyebabkan kebanyakan umat Islam tidur di siang hari bulan Ramadhan dan menjadi tidak produktif adalah masalah cara pandang yang keliru.

    Selama ini, seolah semua pihak menjadi maklum kalau siang hari bulan Ramadhan itu tidak produktif. Mereka maklum karena malam hari digunakan untuk ibadah dan juga makan sahur.

    Padahal cara pandang seperti ini tidak sepenuhnya benar. Buktinya, segudang prestasi umat di masa lalu terjadi di bulan Ramadhan. Kalau mereka kerjanya hanya ‘molor’ dan bermalas-malasan di siang hari, mustahil prestasi dan kemenangan demi kemenangan bisa diraih.

    Tetapi sekali lagi, masalahnya memang ada pada cara pandang yang keliru. Selama cara pandang keliru itu masih bersemayam di otak kita, maka selama itu pula kita aka kehilangan jam-jam produktif di siang hari selama bulan Ramadhan.

    KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH NU: Haram Menjual dan Menyajikan Makan Pada Orang Tidak Puasa

    Senin, 12 Agustus 2013

    KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH NU WILAYAH JAWA TIMUR DI PP MAMBA’UL MA’ARIF DENANYAR JOMBANG TGL 29 DHULHIJJAH – 2 MUHAROM / 6 – 8 OKTOBER 1983

    Bagaimana hukumnya orang Islam menjual / melayani makanan minuman kepada orang-oarang yang tidak puasa pada siang hari Romadhon ?

    Jawab :


    Haram, sebab terdapat unsur membantu maksiat. Demikian itu kalau diketahui bahwa orang tersebut akan makan pada waktu siangnya, atau ada tanda yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak berpuasa tanpa ada udzur.



    Dasar pengambilan :


    1.      I’anatu Al Tholibin III / 24

    وكإطعام مسلم مكلّف كافرا مكلّفا فى نهار رمضان: وبيعه طعاما علم أو ظنّ أنّه يأكله نهارا.

    Terjemah :


    Dan seperti memberi makan bagi orang Islam yang mukalaf kepada orang kafir di hari siang bulan Ramadhan (itu haram) dan menjual makanan yang diketahui atau diperkirakan pembelinya atau makan di siang hari bulan Ramadhan (itu juga haram).

    2.      Al Syarqowi II / 14

    ويعلم ذلك كما قاله: وحرمة إطعام مسلم كافرا مكلّفا فى نهار رمضان وكذا بيعه طعاما عُلِمَ أو ظنّ أنّه يأكله نهارا لأنّه تسبّب فى المعصية وإعانة عليها بناء للقول الرّاجح فى تكليف الكفّار بفروع الشّرعيّة.

    Terjemah :

     Dan sudah maklum hal tersebut apa yang dikatakan, yaitu : haram bagi orang Islam memberi makanan di siang hari bulan Ramadhan kepada orang kafir (orang tidak berpuasa). Begitu juga haram menjual makanan yang diketahui atau diperkirakan bahwa pembeli akan makan di siang hari pada bulan Ramadhan, karena itu menjadi sebabnya maksiat dan menolong pada maksiat. Berpedoman pada qoul rojah tentang taklifnya orang kafir dengan cabangan syariat.

    3.      An Nihayah III / 55

    4.      Mirqotussu’ud : 81


    7 Keutamaan Berpuasa Di Bulan Ramadhan



    1. Puasa adalah Perisai
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

    “Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’) 

    2. Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

    “Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim) 

    3. Puasa akan Memberikan Syafaat bagi Orang yang Menjalankannya

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

    “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid) 

    4. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

    5. Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Ar Rayyan

    Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

    “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

    6. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga

    7. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan

    Puasa Menurunkan Adrenalin Yang Berdampak Luarbiasa Bagi Tubuh

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.


    Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    Menurunkan adrenalin

    • Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat.
    • Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung.
    • Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

    Hormon adalah sinyal kimiawi yang di sekresikan ke dalam cairan tubuh, paling sering kedalam darah, dan mengkomunikasikan pesan ±pesan yang bersifat mengatur di dalam tubuh. Hormon bisa mencapai semua bagian tubuh, tetapi hanya untuk jenis ± jenis sel tertentu saja (sel target) yang memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap sinyal tersebut. Dengan demikian, hormon tertentu yang bersirkulasi dalam aliran darah akan menimbulkan respons spesifik (perubahan dalam metabolisme), misal nya sel ± sel target akan terseleksi sementara jenis ± jenis sel lain akan mengabaikan sinyal dari hormon tersebut.

    Di antara berbagai macam hormon yang di hasilkan di dalam tubuh manusia, salah satunya adalah adrenalin. Adrenalin ( adrenaline, epinephrine) adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Tidak hanya gerak, hormon ini juga memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau cahaya yang terang. Reaksi yang kita sering rasakan adalah frekuensi detak jantung meningkat, keringat dingin dan keterkejutan. Reaksi ini dalam batas tertentu menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan, mungkin juga menjadi sebuah hobi hingga disebut adrenaline junkie.

    Sebagian orang berutang nyawa pada suatu hormon ajaib bernama adrenalin ini. Saat orang-orang ini dalam bahaya, cairan ini membuat mereka lebih kuat,lebih cekatan,lebih cepat, dan lebih siaga. Hormon ini bahkan menggandakan kemampuan fisik seolah-olah orang-orang itu telah meminum ramuan amat mujarab untuk memberi mereka kekuatan.Misalnya, seorang pilot menyadari kerusakan mesin dipesawatnya saat terbang.Setelah kerusakan mesin, yang mengancam akan menjatuhkan pesawatnya, si pilot berjiwa pahlawan ini mendarat kan pesawat nya dengan aman di bandara, menyelamatkan nyawa ratusan penumpang. Tetapi, ada suatu hal yang sangat penting yang biasanya dilupakan wartawan, yang menyelamatkan nyawa pilot dan para penumpang adalah cairan hebat tersebut di atas. Cairan ini mengirimkan tanda bahaya ke sel -sel otak sang pilot, menyebabkan lebih banyak darah dan gula dikirimkan ke otak dan membuatnya lebih siaga. Pada saat yang sama, cairan ini meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, sehingga ia mampu bergerak lebih cepat dan lebih siaga. Daya tampung sistem pernapasannya naik sehingga ia mampu menggunakan lebih banyak oksigen (dan lebih banyak darah yang dapat mengalir ke sel -sel otak dan ototnya). Otot dan anggota badannya menjadi lebih sangat terpusat dan peningkatan kadar gula darahnya memberi nya tenaga tambahan yang dibutuhkannya

    Meski pun merupakan salah satu hormon penting, anehnya kadar adrenalin di dalam aliran darah sangat kecil dari pada kerja yang dilakukannya. Telah dihitung bahwa, misalnya, jika jumlah darah dalam tubuh kita setara dengan sebuah danau bergaris tengah 100 meter dan kedalaman dua meter, adrenalin di dalam darah kita akan sama dengan sesendok teh cairan yang dituangkan ke dalam danau.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

     

    Puasa Turunkan Glukosa Darah Dan Penurunan Berat Badan

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.

    Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait. Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    Penurunan glukosa dan berat badan.

    • Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan.
    • Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan.
    • Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    Penulis : Dr. Widodo Judarwanto pediatrician

    Penelitian Ilmiah Puasa Bermanfaat Bagi Jantung Manusia

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.


    Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    Inilah 20 Mukizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

    1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

    Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

    2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia

    Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

    4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh

    Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

    5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui

    Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

    6. Pengaruh pada janin saat ibu hami berpuasa

    Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

    Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total,low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein(VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

    7. Penurunan glukosa dan berat badan

    Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

    8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok

    Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

    9. Pengaruh pada hormon virgisteron

    Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

    10. Bermanfaat Bagi Jantung

    Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

    11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel

    Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

    12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin

    Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

    13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh

    Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

    14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang

    Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

    15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma

    Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

    16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis

    Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

    17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual

    Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya

    18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna

    Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

    19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia

    Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

    20. Menurunkan adrenalin

    Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    Penulis : Dr. Widodo Judarwanto pediatrician

    Tinjauan Medis Puasa: 7 Kondisi Medis Ini Tidak Terpengaruh Karena Puasa

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.


    Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    7 Kondisi Medis ini Tidak Terpengaruh Karena Puasa

    1. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.
    Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    2. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia

    Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

    3. Tidak Berpengaruh pada penderita diabetes tipe 2 

    Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.
    4. Tidak Berpengaruh Pada Ibu hamil dan menyusui

    Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

    5. Tidak Berpengaruh pada janin saat ibu hamil berpuasa

    Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

    Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total,low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein(VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

    6. Tidak Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok

    Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

    7. Tidak Berpengaruh pada hormon virgisteron

    Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    Penulis : Dr. Widodo Judarwanto pediatrician

    Tinjauan Medis Puasa: Memperbaiki Keseimbangan Anabolisme dan Katabolisme Tubuh

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.


    Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.
    Memperbaiki Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

    Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari.

    Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    Penulis : Dr. Widodo Judarwanto pediatrician

    Kisah Teladan Nabi: Pemuda Miskin, Anggur dan Nabi Muhammad

    wp-1462892775166.jpg

    Kisah Teladan Nabi: Pemuda Miskin, Anggur dan Nabi Muhammad
    Pada suatu hari, ada seorang miskin telah memberikan hadiah kepada Rasulullah S.A.W. iaitu sebungkus anggur. Maka Rasulullah pun memakannya dan makan yang satu lagi.

    Perlahan-lahan Anggur itu pun habis. Pemuda miskin itu pun merasakan seperti dikasihi dan berlalu pulang. Semua sahabat-sahabat Rasul di sekeliling Rasulullah S.A.W. berasa hairan, kebiasaannya Rasulullah S.A.W. akan berkongsi kepada semua yang hadir akan tetapi kali ini tidak.

    Slah seorang sahabat pun bertanya:”Ya Rasulullah, mengapakah engkau tidak memberi kami makan dan makan bersama?” Rasulullah menjawab:”Sesungguhnya aku menghabiskan semua buah ini adalah kerana rasanya pahit. Sekiranya aku memberimu makan maka kamu akan membuat wajah yang buruk, itu akan menyakitkan hati pemuda tadi itu. Jadi lebih baik aku makan kesemuanya.”

    %d blogger menyukai ini: