Tag Archives: muhammad

Shirah Nabawiyah: Nabi Sakit Jelang Kewafatannya

Nabi mulai sakit

Sekarang Usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak jauh dari Medinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina. Tetapi, dalam pada mereka sedang bersiap-siap itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

Bisa jadi orang akan bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang persiapan dan keberangkatannya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak jadi berangkat karena dia sakit? Ya, Perjalanan pasukan ke Syam yang akan mengarungi sahara dan daerah tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan, dan tidak pula mudah buat kaum Muslimin – dengan Nabi yang sangat mereka cintai melebihi cinta mereka kepada diri sendiri – akan meninggaIkan Medinah sedang Nabi dalam keadaan sakit, dan yang sudah mereka sadari pula apa sebenarnya dibalik sakitnya itu. Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi mengeluh karena sesuatu penyakit yang berarti. Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan yang pernah dialaminya dalam tahun keenam Hijrah, tatkala ada tersiar berita bohong bahwa ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam, yaitu setelah termakan daging beracun dalam tahun ketujuh Hijrah. Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya. Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit; kesederhanaannya dalam berpakaian dan cara hidup; kebersihannya yang dipeliharanya luar biasa dengan mengharuskan wudu yang sangat disukainya, sampai pernah ia berkata: kalau tidak karena kuatir akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak2 lima kali sehari, – kegiatannya yang tiada pernah berhenti, kegiatan beribadat dari satu segi dan kegiatan olah-raga dari segi lain, kesederhanaan dalam segalanya – terutama dalam kesenangan; keluhurannya yang jauh dari segala hawa nafsu, dengan jiwa yang begitu tinggi tiada taranya; komunikasinya dengan kehidupan dan dengan alam dalam bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, – semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit dan dapat memelihara kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad, akan jauh selalu dari penyakit.

Jadi kalau sekarang ia jatuh sakit, wajar sekali menjadi kekuatiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintainya.

Wajar sekali mereka merasa kuatir, menyatakan betapa ia pernah mengalami kesulitan dan penderitaan hidup selarna duapuluh tahun terus-menerus. Sejak ia terang-terangan berdakwah di Mekah mengajak orang menyembah Allah Yang tiada bersekutu dan meninggalkan semua berhala yang pernah disembah nenek-moyang mereka, ia sudah mengalami pahit getirnya penderitaan-penderitaan yang sungguh menekan jiwa, sehingga ia terpisah dari sahabat-sahabatnya yang kemudian disuruhnya hijrah ke Abisinia, dan dia sendiri yang terpaksa berlindung di celah-celah gunung tatkala pihak Quraisy mengumumkan pemboikotannya. Juga ketika ia berangkat hijrah dari Mekah ke Medinah – setelah Ikrar ‘Aqaba – ia hijrah dalam keadaan yang gawat dan sangat berbahaya, ia hijrah tanpa ia ketahui lagi apa yang akan terjadi terhadap dirinya di Medinah kelak. Pada tahun-tahun pertama ia tinggal di sana, ia telah menjadi sasaran kongkalikong dan intrik orang-orang Yahudi.

Kemudian, dengan adanya pertolongan Tuhan orang di seluruh jazirah itu datang berbondong-bondong menerima agama ini, tugas dan pekerjaannya telah bertambah jadi berlipat ganda banyaknya dan untuk penjagaannya sangat memerlukan tenaga dan daya upaya yang sungguh berat. Begitu juga Nabi a.s. telah menghadapi sendiri beberapa peperangan yang sungguh dahsyat dan mengerikan sekali. Mana pula saat yang lebih mengerikan daripada peristiwa Uhud, ketika kaum Muslimin dalam keadaan kucar-kacir, ia berJalan mendaki gunung, dengan terus-menerus secara ketat diintai oleh Quraisy, dihujani serangan sehingga gigi gerahamnya pecah! Mana pula saat yang lebih dahsyat kiranya daripada peristiwa Hunain, ketika kaum Muslimin dalam pagi buta itu kembali mundur dan lari tunggang-langgang, sehingga kata Abu Sufyan: Hanya laut saja yang akan menghentikan mereka. Sedang Muhammad berdiri tegak, tidak beranjak surut dari tempatnya, seraya ia berseru kepada kaum-Muslimin: Mau ke mana, mau ke mana! Kemarilah kemari! Kemudian mereka kembali sampai mendapat

Shirah Nabawiyah : Nabi Muhammad Sampai usia 50 tahun hanya beristerikan Khadijah

Sampai usia 50 tahun hanya beristerikan Khadijah

Ia kawin dengan Khadijah dalam usia duapuluh tiga tahun, usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka yang begitu tampan, gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu Khadijah adalah tetap isteri satu-satunya, selama duapuluh delapan tahun, sampai melampaui usia limapuluhan. Padahal masalah poligami ialah masalah yang umum sekali di kalangan masyarakat Arab waktu itu. Di samping itu Muhammad pun bebas kawin dengan Khadijah atau dengan yang lain, dalam hal ia dengan isterinya tidak beroleh anak laki-laki yang hidup, sedang anak perempuan pada waktu itu dikubur hidup-hidup dan yang dapat dianggap sebagai keturunan pengganti hanyalah anak laki-laki.

Muhammad hidup hanya dengan Khadijah selama tujuh belas tahun sebelum kerasulannya dan sebelas tahun sesudah itu; dan dalam pada itu pun sama sekali tak terlintas dalam pikirannya ia ingin kawin lagi dengan wanita lain. Baik pada masa Khadijah masih hidup, atau pun pada waktu ia belum kawin dengan Khadijah, belum pernah terdengar bahwa ia termasuk orang yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita-wanita yang pada waktu itu justeru wanita-wanita belum tertutup. Bahkan mereka itu suka memamerkan diri dan memamerkan segala macam perhiasan, yang kemudian dilarang oleh Islam. Sudah tentu tidak wajar sekali apabila akan kita lihat, sesudah lampau limapuluh tahun, mendadak sontak ia berubah demikian rupa sehingga begitu ia melihat Zainab bint Jahsy – padahal waktu itu isterinya sudah lima orang diantaranya Aisyah yang selalu dicintainya – tiba-tiba ia tertarik sampai ia hanyut siang-malam memikirkannya. Juga tidak wajar sekali apabila kita lihat, sesudah lampau limapuluh tahun usianya, yang selama lima tahun sudah beristerikan lebih dari tujuh orang, dan dalam tujuh tahun sembilan orang isteri. Semuanya itu, motifnya hanya karena dia terdorong oleh nafsu kepada wanita, sehingga ada beberapa penulis Muslim – dan juga penulis-penulis Barat mengikuti jejaknya – melukiskannya sedemikian rupa, demikian merendahkan yang bagi seorang materialis sekalipun sudah tidak layak, apalagi buat orang besar, yang ajarannya dapat mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih selalu akan mengubah dunia sekali lagi, dan akan mengubah jalannya roda sejarah sekali lagi.

Shirah Nabawiyah: Kisah Luarbiasa Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad Saat Balita

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada

Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.”

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan – seperti cerita Halimah kepada Aminah – ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata:

Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya. Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu. Demikian juga cerita yang dibawa oleh Tabari, tapi ini masih di ragukan; sebab dia menyebutkan Muhammad dalam usianya itu, lalu kembali menyebutkan bahwa hal itu terjadi tidak lama sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.

Shirah Nabawiyah : Kisah Lengkap Kelahiran Muhammad

Muhammad Lahir

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa’d (Banu Sa’d), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur l’Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd’l-Muttalib.

Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Nasab atau Garis Keturunan Nabi Muhammad

Nasab atau Garis Keturunan Nabi Muhammad

Nasab atau garis keturunan adalah sesuatu yang sangat dijaga dan diperhatikan oleh Islam. Demikian kuatnya Islam dalam memperhatikan nasab, ia pun dijadikan salah satu dari lima hal yang wajib dijaga dalam Islam. Karena itu Islam melarang perzinahan, salah satu hikmahnya agar nasab terjaga.

Perhatian Islam terhadap nasab juga dengan menjadikannya salah satu indikator kedudukan seseorang. Apabila seorang laki-laki hendak menikahi seorang wanita, maka salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah nasabnya. Walaupun nasab bukan segalanya karena kedudukannya masih kalah dibanding faktor ketakwaan.

Demikian juga dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau juga memiliki keutamaan nasab. Beliau merupakan keturunan orang-orang pilihan di setiap generasinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ان الله اصطفى من ولد ابراهيم اسماعيل . واصطفى من ولد اسماعيل بنى كنانة . واصطفى من بنى كنانة قريشا . واصطفى من قريش بنى هاشم . واصطفانى من بنى هاشم

“Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak-anak keturunan Ibrahim. Dan memilih Kinanah dari anak-anak keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy dari anak-anak keturunan Kinanah. Kemudian memilih Hasyim dari anak-anak keturunan Quraisy. Dan memilihku dari anak keturunan Hasyim.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagai umat Nabi Muhammad kita pun selayaknya mengenal nasab beliau. Berikut ini nasab lengkap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasab Nabi Muhammad

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:1) kemudian para sejarawan menyebutkan ada empat nama di atasnya hingga sampai ke Nabi Ismail bin Ibrahim.

Tidak ada perselisihan di kalangan ahli sejarah bahwa Adnan adalah anak dari Nabi Ismail ‘alaihissalam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Arab Adnaniyah atau al-Arab al-Musta’rabah.

Para ahli sejarah membagi orang-orang Arab menjadi tiga golongan:

  1. Pertama: al-Arab al-Baidah (العرب البائدة) mereka adalah orang-orang Arab kuno yang sudah punah. Seperti kaum ‘Aad, Tsamud, Kan’an, dll.
  2. Kedua: al-Arab al-‘Aribah (العرب العاربة) mereka adalah orang Arab asli dari keturunan Ya’rib bin Yasyjub bin Qahthan. Karena itu, mereka juga disebut Arab Qahthaniyah. Mereka berasal dari Yaman.
  3. Ketiga: al-Arab al-Musta’robah (العرب المستعربة) mereka adalah orang yang ter-arabkan dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam. Mereka dikenal dengan Arab Adnaniyah (al-Mubarakfury: ar-Rahiq al-Makhtum, Hal: 16).

Mengapa Arab Adnaniyah disebut al-Arab al-Musta’robah, orang yang ter-arabkan, karena nenek moyang mereka Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam bukanlah seorang yang berasal dari Jazirah Arab. Nabi Ibrahim berasal dari Irak (Utsman al-Khomis: Fabihudahum Iqtadir, Hal:113). Kemudian beliau membawa anaknya Ismail ke Jazirah Arab. Nabi Ismail menetap di sana, menikah dengan orang-orang setempat, dan memiliki keturunan. Inilah yang menyebabkan keturunan Nabi Ismail ini disebut dengan al-Arab al-Musta’robah.

Para ulama berpendapat siapapun yang nasabnya sampai kepada Hasyim, maka dia adalah keluarga ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda dengan orang-orang Syiah yang hanya mengkategorikan ahlul bait Nabi hanya dari anak keturunan Ali dan Fatimah saja.

Ayah dan Ibu Nabi Muhammad

Ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf. Kakek Nabi, Abdul Muthalib, awalnya memiliki anak yang sedikit dan kaumnya meremehkannya. Sebagaiseorang yang ditokohkan namun memiliki anak yang sedikit, padahal parameter kemuliaan di zaman itu adalah banyaknya anak, terutama anak laki-laki. Karena hal itu, Abdul Muthalib bernadzar seandainya dikaruniai 10 orang anak lagi, maka ia akan mengorbankan (menyembelih) salah satu anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah.

Saat ia mengundi nama-nama anaknya yang keluar adalah nama Abdullah, padahal Abdullah adalah anak kesayangannya. Orang-orang Quraisy, paman-paman Abdullah dari Bani Makhzum melarang Abdul Muthalib merealisasikan nadzarnya. Akhirnya disepakati 100 onta dikorbankan sebagai ganti Abdullah.

Setelah cukup usia, Abdullah dinikahkan dengan Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Ia adalah perempuan yang paling mulia di kalangan Quraisy, baik dari segi nasab maupun kedudukan sosial.

Beberapa waktu setelah pernikahan keduanya, Abdullah pergi menuju Syam untuk berdagang. Ketika hendak kembali ke Mekah, ia jatuh sakit sehingga ia pun tinggal di tempat paman-pamannya di Madinah. Kemudian Abdullah wafat di kota yang kelak menjadi tempat hijrah anaknya ini. Ia dimakamkan di rumah an-Nabighah al-Ja’di. Saat itu usia Abdullah baru 25 tahun dan ia sedang menanti kelahiran anak pertamanya.

Beberapa tahun kemudian, Aminah menyusul kepergian sang suami. Saat itu anak pertama mereka Muhammad bin Abdullah baru menginjak usia 6 tahun (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:156).

Paman dan Bibi Nabi

Abdul Muthalib memiliki 12 orang anak, enam laki-laki dan enam perempuan. Anak-anak Abdul Muthalib yang laki-laki adalah Abbas, Abdullah, Hamzah, Abu Thalib, az-Zubair, al-Harits, Hajl, al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab (namanya adalah Abdul Uzza). Dari nama-nama ini, kita ketahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki 6 orang paman.

Empat orang paman beliau menjumpai masa-masa Islam. Mereka adalah Abu Thalib, Abu Lahab, namun keduanya tetap dalam kekufuran mereka, tidak memeluk Islam hingga mereka wafat. Dua orang lainnya adalah Hamzah dan Abbas, keduanya memeluk Islam dan wafat sebagai seorang muslim, radhiallahu ‘anhuma.

Adapun anak-anak perempuan Abdul Muthalib ada enam orang. Mereka adalah Shafiyah, Ummu Hakim al-Baidha, ‘Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah (Ibnu Hisyam: Sirah an-Nabawiyah, 1:108-110).

Oleh Nurfitri Hadi

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Barangsiapa Tertidur dan Terlupa dari Shalat

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذاَ ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ، (وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي)

‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari mengerjakan shalat, maka kafarat (denda)nya adalah ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya, dan tidak ada kafaratnya selain itu, (firman Allah): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-9:

Telah berkata Abu Ahmad al-Hakim, dan nama beliau adalah Muhammad bin Ishaq al-Hafizh dalam salah satu majlis imla’nya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin al-Husain (al-Hanawy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw pada malam beliau diisra’kan, beliau tidur hingga terbit matahari, lalu beliau pun shalat dan berkata, ‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa mendirikan shalat maka hendaknya ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah (yang artinya): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku., Dan aku melihat tulisan asy-Syaikh Waliyuddin al-‘Iraqy di dalam beberapa kumpulan haditsnya (jami’), di sana ia memuat hadits ini dengan teksnya sebagai berikut: ‘Telah diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Hakim di dalam salah satu majlis imla’nya dan ia berkata: ‘Gharib dari hadits Ma’mar dari az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dengan hadits Musnad, aku tidak mengetahui seorang pun menceritakan hadits ini melainkan Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry dari riwayat ini, dan Abban ibn Yazid al-‘Aththar darinya, yaitu dari Ma’mar. Asy-Syaikh Waliyuddin berkata: “Dan jawaban yang bagus untuk pertanyaan yang begitu masyhur, yaitu, ‘Mengapa penjelasan (waktu shalat, penj.) baru datang ketika waktu zhuhur, padahal shalat itu diwajibkan pada waktu malam?’ Maka jawabannya adalah bahwa Nabi saw tertidur waktu (shubuh), dan orang yang tidur tidak terkena beban.'” Ia berkata: “Dan ini adalah satu faedah yang besar.” Dan hadits ini sanadnya adalah shahih. Dan selesai pula ungkapan asy-Syaikh Waliyuddin. Aku berkata:” Yang benar tidaklah seperti apa yang ia katakan. Karena yang dimaksud dengan hadits di atas adalah ‘malam yang beliau di isra’kan (diperjalankan) dalam satu perjalanan’ bukan ‘malam yang di isra’kan ke langit.’ Beliau dirancukan dengan lafazh ‘di isra’kan’ ini.

Sababul Wurud Kedua:

  • Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, dan an-Nasa’i, dari Abu Qatadah ia berkata: “Mereka memberitahukan kepada Nabi saw tentang shalat mereka yang terlewat lantaran ketiduran. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian yang lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Qatadah, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw- Lalu beliau berkata: ‘Kalian jika tidak mendapatkan air, besok akan kehausan.’Lalu orang-orang pun bersegera mencari air sedang aku tetap menyertai Rasulullah saw- Lalu Rasulullah saw tampak miring dari tunggangannya, beliau saw mengantuk. Lalu aku menopangnya dan beliau pun tertopang, kemudian beliau kembali miring hingga beliau hampir-hampir terjatuh dari tunggangannya lalu aku kembali menopangnya, hingga akhirnya beliau terjaga. Lalu beliau berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Abu Qatadah.’ Beliau berkata: ‘Sejak kapan kau seperti ini?’ Aku berkata: ‘Sejak semalaman.’ Beliau berkata: ‘Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjaga rasul-Nya’. Kemudian beliau kembali berkata: ‘Sebaiknya kita tidur’, lalu beliau menuju kesebatang pohon lalu turun dan berkata: ‘Lihatlah apakah engkau melihat seseorang?’ Aku berkata: ‘Ini ada seorang penunggang, ini ada dua orang penunggang, hingga hitungannya sampai ke tujuh orang.’ Lalu beliau berkata: ‘Jagakanlah shalat kami.’ Kami pun tidur, dan tidak ada yang membangunkan kami kecuali sinar matahari, kami pun terjaga. Lalu Rasulullah saw naik ke atas tunggangannya dan berlalu, dan kami pun berlalu namun hanya sejenak. Lalu beliau turun dan berkata: ‘Apakah kalian memiliki air?” Ia (Abu Qatadah) berkata: “Aku menjawab: ‘Ya, aku punya wadah yang ada sedikit air di dalamnya.’ Beliau berkata: ‘Berikan kepadaku.’ Lalu aku pun memberikannya. Beliau berkata: ‘Sentuhlah sebagiannya darinya.’ Lalu orang-orang pun berwudhu’ hingga tersisa satu tegukan. Lalu beliau bersabda: ‘Simpanlah wadah ini, wahai Abu Qatadah, karena akan ada padanya satu berita.’ Lalu Bilal mengumandangkan adzan, dan mereka shalat dua rakaat sebelum fajar. Lalu berkatalah sebagian di antara mereka dengan sebagian yang lainnya: ‘Kita telah melakukan kecerobohan dalam shalat kita.’ Lalu Rasulullah saw, bersabda: ‘Apa yang kalian bicarakan? Jika itu urusan dunia kalian maka itu urusan kalian, dan jika itu urusan agama kalian maka kembalikan kepadaku.’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah kita telah bertindak ceroboh dalam shalat kita.’ Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur). Jika terjadi seperti itu maka lakukanlah shalat, sekalipun besok maka itulah waktunya.'”

Tahqiq ke 9

Hadits Ke-9:

  • al-Bukhari -dan lafazh ini baginya- dalam kitab: Mawaqit ash-Shalah, bab: Man Nasiya Shalatan Idza Dzakaraha, wa la Yu’idu illa tilka as-Shalah (Barangsiapa Lupa Mengerjakan Shalat maka Hendaklah Ia Mengerjakannya ketika Ia Mengingatnya, dan Ia Tidak Perlu Mengulangi Kecuali Shalat Itu, (1/154));
  • Muslim dari hadits Qatadah dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbabu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/334));
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shalah, bab: Man Nama’an Shalatin aw Nasiyha (Barangsiapa yang Tertidur atau Terlupa dari Shalat, (1/105));
  • Ahmad dari hadits Anas dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari berbagai jalur periwayatan. Jalur yang pertama, dari hadits Abu Awanah dan dalam jalur ini tidak disebutkan: ‘Tidak ada kaffaratnya melainkan itu’. Dan jalur yang kedua, dari hadits Qatadah. Yang ketiga, dari hadits al-Mutsanna dari Qatadah, dan semua jalur-jalur ini lafazh-lafazhnya saling berdekatan;
  • Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab: ash-Shalah, bab: Ma Ja’afi an-Naum ‘an ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat). Abu ‘Isa berkata: “Hadits hasan shahih;”
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah, bab: Fi Man Nama’an Shalatin (Tentang Orang-orang yang Tertidur dari Shalat), 1/236;
  • Ad-Darimi, kitab: ash-Shalah bab: Man Nama’an Shalatin au Nasiyaha (Barangsiapa Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa) juga Imam Ahmad, semuanya dari hadits Anas bin Malik dengan redaksi yang hampir sama;
  • Dan Imam an-Nasa’i serta Ibnu Majah kitab: as-Shalah, bab: Man Nama ‘an as-Shalah aw Nasiyaha (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa), dari Anas tanpa lafazh: “Tiada kafarat untuk shalat itu kecuali shalat (yang dikerjakan) tersebut”;
  • Dan dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: Fi Man Nama ‘an Shalatin (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat), dari Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan. Aku (Ma’mar) berkata kepada az-Zuhri: “Apakah seperti ini yang dibaca oleh Rasulullah saw Ia berkata: “Ya!”

Aku berkata: “As-Suyuthi dalam Zahrur Ruba ‘ala al-Mujtaba 1/239, berkata: ‘Bacaan ini (yaitu bacaan lidzdzikri, pada firman Allah (yang artinya: ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku’- penj.) dengan dua lam dan menfathahkan ra’ al-maqshurah, ia berbentuk mashdar dengan makna mengingat. Yaitu pada waktu mengingatnya. Dan model bacaan ini tidak terdapat di dalam qira’ah as-sab’ah.

Penjelasan Sababul wurud pertama: tertolak dengan hadits yang diriwayatkan asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi, dari Aisyah radiyallahu anha bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah engkau tidur sebelum witir?” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kedua mataku tertidur, namun hatiku tidak tidur.” HR. al-Bukhari dalam kitab: at-Tahajjud, bab: Qiyamu an-Nabiy bi al-Lail fi Ramadhan wa Ghairih (Qiyamnya Nabi di Malam Ramadhan dan Lainnya). Muslim dalam kitab Shalatu al-Musafirin. bab: Shalatu al-Lail (Shalat Malam). Dan dalam ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad 1/1/113, dan dalam as-Sunan al-Kubra 7/62.

Ada yang menjawab penolakan tersebut, dengan berkata: “Bahwa Rasulullah saw memiliki dua macam tidur. Pertama, hati dan kedua matanya tidur bersamaan, dan itulah tidur beliau ketika beliau berada di lembah. Kedua, adalah dua matanya tertidur sedang hatinya tidak.”

Lihat dalam Allafdhul Mukarram bi Khashaish an-Nabi lembaran 131 perpustakaan al-Azhar 2134. Dan lihat juga dalam Ma’a ar-Rasul fi Siratihi wa Siyarihi oleh pengarang dalam bab kekhususan-kekhususan Rasulullah saw.

Sababul wurud kedua: Lafazh an-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah bab: Man Nama ‘an ash-Shalah au Nasiyaha (Orang-orang yang Tertidur dari Shalatnya, (1/237)). Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab-bab shalat, bab: Ma Ja’a fi an-Naum an’ ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat, (1/114)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Qatadah hadits hasan shahih.”

Sababul wurud ketiga: Sebagian lafazh hadits milik Ahmad 5/298, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mawaqit, bab: al-Adzan ba’da Dzahabi al-Waqti (Adzan Setelah Lewat Waktu). Muslim dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbahu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/327)) dari Abu Qatadah. Dan diriwayatkan oleh Ahmad 4/431, dan Muslim dari ‘Imran bin Husain, dengan lafazh yang beragam, dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan lafazh yang berdekatan. Terdapat di dalam riwayat Ahmad 4/441 dari ‘Imran bin Husain: “Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah tidakkah kita mengulanginya di keesokan harinya dengan (shalat) tepat pada waktunya?’ Beliau menjawab: Apakah Tuhanmu Tabarak wa Ta’ala melarangmu dari riba dan Dia menerimanya dari kalian.‘ Dan diriwayatkan oleh Ahmad 5/309, dari Abu Qatadah bahwa ketika Rasulullah saw dan para shahabatnya mendirikan shalat Ialu usai, Rasulullah saw, berkata kepada mereka: ‘Kalian melakukan shalat keesokan harinya adalah masih waktunya.'”

As-Suyuthi menukil dari Ibnu Sayyidunnas tentang penggabungan di antara dua riwayat tersebut, ia berkata: “Bentuk pengkompromiannya adalah bahwa dhamir pada kata Jal-yushalliha’ kembali kepada shalat yang keesokan harinya (shalotul ghad), maksudnya laksanakanlah shalat yang terluput itu, seperti apa yang biasa diperbuat setiap hari tanpa ada tambahan atasnya, maka dengan demikian berkesesuaianlah seluruh lafazh-lafazh tersebut pada makna yang satu yang ia tidak melampaui yang lainnya. Lihat: Zahru ar-Ruba ‘alal Mujtaba 1/238.

Kosa kata: ‘Arrasa al-musafir, maksudnya berada pada waktu akhir malam sebelum fajar. Seorang Arab wanita badui dari Bani Namir berkata:

Cahaya kemerahan telah tampak, lalu kami turun dari tunggangan

Maka setelah waktu ini berlalu, tiada lagi waktu yang cocok untuk istirahat

Lihat Lisanul Arab 8/11 dan an-Nihayah 3/80. ‘Da’ama as-Syaiu yad’umu da’mari maksudnya ia miring lalu aku meluruskannya. Sedang ad-da’mu yaitu sesuatu yang ditopang. Penyair berkata:

Tatkala aku melihatnya bahwa ia tidak lagi memiliki penopang (tua renta)

Dan aku digiring pada sebuah kebosanan (hidup),

maka aku mulai sekarat, yang mana sempat menggoncangkan kondisi harta (keuangan keluargaku)

Lihat Lisanul Arab 15/91. Makna Izdahara bihi, adalah simpanlah ia dan jadikan ia dalam ingatanmu, diambil dari ungkapan mereka: aQadhaltu minhu zahrati yaitu hajatku. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata izdihar, yang bermakna gembira. Sababul wurud pertama yang disebutkan oleh as-Suyuthy sanadnya adalah gharib shahih. Sebagaimana yang dinukil oleh pengarang dari al-Iraqi disini, dan di dalam Zahrur Ruba ala al-Mujtaba’ 1/238, dan dalam lafazh muslim disebutkan: ‘Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang tidak melaksanakan shalat lalu datang waktu shalat berikutnya.’