Tag Archives: jin

Ketika Bangsa Jin Mendengar Rasulullah Baca Quran


Rasulullah tidak pernah sekalipun membacakan Al-Qur’an (secara khusus) kepada bangsa jin dan tidak pula pernah melihat mereka. Tetapi, suatu ketika, beliau bersama beberapa orang sahabat pergi ke Pasar ‘Ukkazh dan bangsa jin sudah tidak dapat lagi mencuri dengar berita-berita dari langit. Setiap kali mereka berusaha (mencuri-curi berita wahyu), maka mereka langsung diburu oleh panah-panah api.

    Ketika para jin itu kembali kepada kaumnya, mereka lalu berkata, ‘Hal ini (terhalangnya kita dari berita langit) tidak lain karena sesuatu yang telah terjadi. Oleh karena itu, berpencarlah kalian ke seluruh penjuru bumi untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi.” Jin-jin itu pun lantas berpencar ke berbagai penjuru.

    Setelah melanglang-buana beberapa lama, sekelompok jin yang baru kembali dan daerah Tihamah lantas bertemu dengan Rasulullah . Ketika itu, beliau dan para sahabat tengah melaksanakan shalat Subuh. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mereka lantas saling berkata, ‘Demi Allah, inilah dia yang telah menghalangi kalian dari mencuri dengar berita-berita langit.’ Setelah selesai mendengarkan, merekapun lantas kembali kepada kaumnya dan berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an).’ Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah, “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwa telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan.’ (aI-Jinn: 1)

    Akhirnya, setelah sekelompok jin mendengar rasulullah membaca al-qur’an, maka mereka (sekelompok jin) pun menceritakan peristiwa ini kepada bangsanya. Lalu setelah mendengar penjelasan dari beberapa rekannya, maka segolongan jin itu pun beriman kepada rasulullah dan masuk islam.

Mahluk Ghaib Menurut Pandangan Agama Islam

wp-1496079220362.Mahluk Ghaib Menurut Pandangan Agama Islam

Makhluk ghaib, yang disebut juga Makhluk halus, Makhluk yang tak kasat mata, atau Makhluk astral adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang eksistensinya tidak dapat dijangkau oleh panca indera Manusia. Kata makhluk berasal dari kata bahasa Arab yang berarti “yang diciptakan” dan “Ghaib” yang artinya “tidak tampak”. Sehingga ghaib disini maksudnya adalah apabila dilihat dari sudut pandang (indera) Manusia terhadap makhluk-makhluk tersebut

Di dalam akidah Islam istilah ghaib mencakup banyak hal seperti kematian, rejeki, jodoh, ruh manusia, hari kiamat, Surga, dll. Beriman kepada yang ghaib adalah salah satu ciri muslim yang bertakwa. Termasuk kedalam hal ghaib adalah makhluk (ciptaan) yang tidak dapat dijangkau indera manusia seperti dari bangsa Malaikat dan Jin.

Di dalam keyakinan Islam dinyatakan keberadaan makhluk-makhluk ghaib tersebut, bahkan sebelum manusia pertama diciptakan, makhluk dari kalangan jin telah terlebih dahulu menghuni bumi. Akan tetapi dikarenakan perbuatannya yang merusak, sebagian besar dari golongan Jin tersebut dihancurkan oleh para Malaikat bersama Iblis (yang sebenarnya juga dari golongan Jin). Kemudian Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi, yang dikemudian waktu Manusia dan Jin hidup berdampingan di bumi bersama hewan, tumbuhan, dan benda.

Karakteristik Makhluk ghaib

Karateristik Makhluk ghaib dan perbandingannya dengan Manusia, diantaranya:

  • Malaikat diciptakan sebelum Jin, dan Jin diciptakan sebelum Manusia.
  • Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin dari Api, dan Manusia dari tanah, ketiganya memiliki jasad (jasmani).
  • Malaikat, Jin, dan Manusia sama-sama berakal, memiliki tingkatan, kedudukan, ilmu dan amalan yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat.
  • Malaikat tidak memiki syahwat, tidak berjenis kelamin, tidak makan, sedangkan Jin dan Manusia sama-sama memiliki syahwat, berjenis kelamin, makan dan minum, berkeluarga, bereproduksi, bekerja dan istirahat, dll.
  • Malaikat memiliki kekuatan fisik dan kecepatan yang jauh lebih kuat daripada Jin, sedangkan Jin lebih kuat daripada manusia. Jin mampu terbang hanya sebatas langit dunia sementara Malaikat sampai ke Surga. Mampu mengerjakan sesuatu yang dianggap besar oleh manusia dalam waktu singkat, kurang dari semalam atau sekejap mata misalnya membangun bangunan atau pola raksasa di ladang).
  • Para Malaikat lebih utama dari para jin baik dari sisi penciptaan, bentuk, perbuatan maupun keadaan.
  • Populasi Malaikat memiliki jumlah yang sangat banyak melebihi jumlah Jin, Manusia dan Hewan.
  • Malaikat diciptakan dengan tabiat selalu taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah dan disifati dengan sifat-sifat yang terpuji. Sedangkan Jin dan Manusia diberikan pilihan dan kehendak (free will) untuk taat atau ingkar. Jin sebagaimana Manusia diperintakan untuk menjalankan syariat Agama mengikuti nabi yang diutus, sehingga didapati ada Jin yang muslim, kafir juga atheis, ada yang baik dan ada yang jahat.
  • Komunitas Jin serupa dengan Manusia, memiliki bahasa dan negara masing-masing, memiliki Raja dan bawahan, memiliki teknologi dan bangunan-bangunan.
  • Para Malaikat tinggal di langit, sementara Jin dan Manusia di bumi
  • Jin seperti Manusia merasakan sakit, takut, kuat, lemah, lahir dan mati. Malaikat, Jin dan Manusia akan mengalami kematian, Malaikat peniup Sangkakala adalah yang paling akhir mati dihari kiamat, dan juga yang pertama kali dibangkitkan dari kematiannya untuk meniup kembali sangsakala pada tiupan kebangkitan bagi makhluk yang lain. Bagi Jin dan Manusia akan dihitung (hisab) amal perbuatannya dikala hidup di dunia, yang beriman masuk surga yang ingkar ke neraka
  • Malaikat, Jin dan Manusia tidak mengetahui perkara ghaib, seperti ajalnya, masa depan, hari kiamat, dll.
  • Para Nabi dan Rasul seluruhnya dari bangsa Manusia, bukan dari kalangan Jin dan Malaikat.

Interaksi Makhluk ghaib dengan Manusia

  • Para Malaikat bertugas mengurusi urusan Manusia, Jin, Hewan dan apa saja yang diperintahkan padanya.
  • Setiap Manusia memiliki Qarin, yaitu pendamping dari kalangan Jin dan Malaikat.
  • Malaikat mampu melihat Jin disetiap waktu, sedangkan Jin tidak dapat melihat mereka kecuali setelah Malaikat tersebut berubah menjadi bentuk lain (shapesifhting) yang dapat dijangkau oleh indera Jin.Sedangkan Manusia tidak dapat melihat Malaikat dan Jin dalam bentuk asli mereka kecuali mereka berubah menjadi bentuk yang dapat dijangkau Indera manusia, seperti berubah menjadi Hewan, suara, cahaya, api, Hantu, Benda terbang tak dikenal, bahkan meniru rupa manusia (doppleganger) yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, dalam alam nyata maupun alam mimpi. Keledai dan Anjing mampu melihat bentuk asli Jin di malam hari.
  • Jin mampu menzalimi, mencuri harta, membalas dendam, menculik, dan membunuh manusia, sebagaimana manusia juga bisa menyakiti dan membunuh Jin. Jin menjadi lebih lemah ketika menampakkan diri sehingga manusia dapat melihatnya, yang berarti juga dapat memukulnya, bahkan membunuhnya.

Kesalahan pemahaman

  • Di dalam aqidah Islam tidak dikenal adanya Roh gentayangan, Arwah penasaran maupun indera keenam. Diyakini bahwa setelah perginya para pelayat, mayit di dalam kuburnya akan ditanyai Tiga pertanyaan Kubur oleh malaikat, manusia yang jahat mengalami siksa kubur, sedangkan yang baik mengalami nikmat kubur. Roh orang yang telah meninggal tetap berada di dalam kuburnya menanti datangnya hari kebangkitan. Hal ini kadangkala dimanfaatkan oleh Jin untuk meniru wujud si mayit untuk mengambil keuntungan ataupun sekadar mempermainkan manusia.
  • Begitu pula tentang Indera keenam, bahwasanya Jin tidak dapat dilihat manusia kecuali Jin tersebut sendiri yang menampakkan dirinya. Hanya saja Jin melihat dan memilih orang-orang tertentu untuk dia tampaki, kadang secara reguler. Tujuannya supaya manusia mengira dan meyakini bahwa dia mampu melihat hal ghaib dan mulai menyatakan kepada khalayak bahwa dia mampu mengetahui hal ghaib. Pada akhirnya Jin akan berkomunikasi dengan manusia tersebut dan menipunya, mengaku sebagai arwah orang yang telah mati, atau menawarkan manusia tersebut mencari harta, atau bahkan mengajak kepada perdukunan dan kesyirikan (seperti berkurban binatang untuk selain Allah sebagai syarat terpenuhi hajatnya), dll.

Fakta Tentang Mahluk Ghaib

 

  • “Para malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no.2996 di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad dari Aisyah Ra., juga Al-Qur’an surah Al-A’raf: 12 dan Ar-Rahman: 15.
  • Disebutkan dalam Al-Qur’an tentang Jin yang mampu membawa singgasana ratu Saba di Yaman kepada Kerajaan Nabi Sulaiman di Syam (kini Suriah, Palestina, Yordan dan Libanon) dalam sekejap: “Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ….” (QS. An Naml: 39-40). Juga pada ayat “…Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS. Saba’: 13). Juga ayat “Dan kami tundukkan pula untuknya (Sulaiman) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Demikian pula setan lain yang terikat dalam belengu.” (QS. Shaad:37-38).
  • Pada malam itu para malaikat dan malaikat jibril turun dengan ijin Rabb mereka,…” (QS. Al-Qadr: 4).
  • “Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”,… Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 128).
  • “…mereka (Malaikat) menjawab: “Maha suci engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami…” (QS. Al-Baqarah: 32) juga lihat hadits Jibril
  • “…Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (QS. Saba: 14) dan “Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,…” (QS. Al-An’am: 59) juga Al-Qur’an surah Hud:31, Al-A’raf:188, Luqman: 34, Al-Jin: 26-27, Ali-Imran: 179
  • Ibnu Katsir berkata: “Tidak ada rasul dari kalangan jin seperti yang telah dinyatakan Mujahid dan Ibnu Juraij serta yang lainnya dari para ulama salaf dan khalaf (Tafsir Al-Qur’anul Azhim 2/188).
  • Disebutkan dalam surah: “Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh…” (QS Qaaf: 27). Juga dalam hadits dari Aisyah ra mengatakan: “Rasulullah S.A.W keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?” “Apakah syetan bersamaku?” Jawabku, “Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad S.A.W. “Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi. “Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya.” Jawab Nabi (HR Ahmad).
  • Malaikat merupakan hal ghaib bagi jin sehingga Jin diperintahkan untuk beriman kepada malaikat.
  • “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27).
  • Seperti Malaikat yang berubah wujud menjadi sosok manusia yang bertamu kepada Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Maryam, juga saat datangnya Nabi Jibril pada hadits Jibril.
  • Rasulullah S.A.W berkata: “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma menyerupaiku.” (Shahih Muslim No.4206 dari Abu Hurairah).
  • Rasulullah S.A.W bekata: “Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat.” (HR. Ahmad 3/306 dan 355; Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1234; Abu Dawud 2/748, no. 5103; Ibnu Hibban no. 5517 dan 5518; ath-Thabrani dalam ad-Du’a` no. 2008; al-Hakim 4/283; al-Baghawi no. 3060 dari Jabir Ra.).
  • Misalnya dengan santet (memasukan benda berbahaya kedalam tubuh manusia), merasuki (kesurupan), sihir atau membakar rumah; Rasulullah S.A.W berkata: “Apabila kalian tidur, matikanlah (api) lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas).
  • Kadang disebut Roh dengan urusan yang belum selesai, Arwah balas dendam atau Orang yang mati sebelum waktunya. Bahkan dalam keyakinan Islam orang yang mati bunuh diripun adalah orang yang mati pada waktunya, tidak ada orang yang mati di luar rencana Tuhan (takdir kauniyah) dengan mendahului ajalnya atau sebaliknya menghindari maut, meskipun pelaku telah berdosa karena melanggar larangan Allah untuk membunuh dirinya sendiri.
  • Karena Jin tidak dapat melihat Malaikat, sehingga Malaikat adalah makhluk ghaib bagi bangsa Jin.
  • “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…” QS. Al-Baqarah: 2.
  • Seluruh Jin dan derivasinya dengan berbagai nama dan jenis yang disematkan kepada mereka diseluruh dunia, misalnya: Hantu, Alien, Makhluk legenda, Monster, Peri, Kurcaci, atau Penunggu hutan. Iblis termasuk ke dalam golongan Jin, sedangkan Setan (syaithan) adalah kata sifat yang mencakup golongan Jin dan manusia yang durhaka, lihat QS. Al-An’am: 112.
  • “…maka sujudlah mereka kecuali Iblis, Dia adalah dari golongan Jin.” (QS. Al-Kahfi: 50)
  • “Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 26-27)

 

 

Jin menurut Pandangan Islam

  • Asal pembentukan kata “jin” dari huruf ‘jim’ (ج) dan ‘nun’ (ن) menunjukkan makna tertutup, Syaikh al-Islam berkata: “Ia dinamakan jin karena ketertutupannya dari pandangan manusia.”

wp-1463924778597.jpg

  • Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).
  • Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah sifat dari setiap yang durhaka dari golongan jin dan manusia.
  • Dalam anggapan orang-orang sebelum Islam datang, Jin dianggap sebagai makhluk keramat, yang harus disembah dan dihormati. Orang orang pada masa tersebut menggambarkannya dalam bentuk patung sesembahan mereka.
  • Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas, dijelaskan dalam Al-Hijr dan Ar-Rahman,
  • Bangsa Jin, sesungguhnya adalah benar-benar ada, seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an pada surat Al-Hijr ayat: 27: Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan kami telah ciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.
  • Hanya keberadaan Jin memang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Karena, seperti ditulis pada surat Al-A’rof: 27: Artinya : Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari sutatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.
  • Sebenarnya ditidaktampakkan mereka sangat menguntungkan buat manusia dan merupakan Rahmat Allah kepada manusia, karena keberadaan Jin yang jumlahnya lebih banyak daripada manusia akan membuat manusia kesulitan untuk dapat hidup berdampingan.
  • Seperti disebutkan diatas, bangsa jin termasuk makhluk ghaib, tidak bisa kita lihat tetapi sesungguhnya ada. Karena mereka gaib, tentunya mereka tidak terikat dengan unsur kemanusiaan yang bersifat materialistik, seperti penyakit dsb. Otomatis umur mereka lebih panjang daripada manusia. Sehingga populasi jin lebih banyak daripada manusia. Inilah kenapa bangsa jin lebih banyak daripada manusia. Ayat Al-Quran Al-A’rof: 179 membuktikan kalau jin juga berpopulasi seperti manusia: Kutipannya Al-A’rof: 179: ‘ Mereka (Manusia & Jin) itu seperti binatang ternak’
  • Juga karena sifat jin yang gaib, sehingga mereka tidak terikat dengan ruang (space) seperti yang manusia butuhkan. Ruangan seukuran 1 meter persegi mungkin didiami oleh ribuan jin. Mari kita kaji ayat Al-Quran surat Al-Naml: 39: Artinya : Aku (Jin Ifrit) sanggup membawanya (singasana Balqis) kepada baginda (Nabi Sulaiman) sebelum baginda berdiri dari persidangan ini. Sesungguhnya aku cukup mampu berbuat demikian lagi dipercaya. Ayat ini membuktikan bila jarak yang jauh bukanlah masalah buat bangsa jin. Karena ketidakterikatan mereka pada ruang, mudah saja mereka bepergian ketempat yang jauh dalam sekejap, atau tinggal pada ruang yang dalam ukuran manusia sangat kecil.

Golongan Jin

  • Jin berbeda dengan malaikat, dimana semua malaikat pasti beriman. Seperti juga manusia, sesungguhnya bangsa jin terdiri dari banyak golongan, tetapi dipisahkan dalam 2 kelompok besar, yaitu golongan pertama, yang beriman kepada Allah dan telah menjadi mukmin. Sedang golongan kedua yang bangkang kepada Allah, biasa disebut kafir. Mari kita lihat ayat Al-Jin: 11: Artinya : Dan bahwasanya di antara kami (bangsa Jin) ada orang-orang yang sholeh, dan adapula yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.Kewajiban jin sama dengan kewajiban manusia, yaitu menyembah Allah dan melaksanakan seluruh perintah-Nya, seperti tertuang dalam surat Adz-Dzariyat: 56: Artinya : Dan Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
  • Demikian juga balasan atas segala pengingkaran manusia dan jin lakukan, Allah akan berikan balasan kepada manusia dan jin neraka yang sama seperti dalam Al-Quran surat Al-A’rof: 179: Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia (untuk mereka yang kafir).
  • Jin yang beriman dalam proporsi yang sama dengan yang kafir, keberadaan jin yang beriman ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an diantaranya dalam surat Al-Jin: 1-2: Artinya : Katakanlah hai Muhammad, ‘Telah diwahyukan kepadaku, bahwa sekelompok jin telah mendengar Al-Qur’an, lalu mereka berkata : Kami telah mendengarkan pembacaan Al-Qur’an yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.’
  • Bahkan dalam satu hadits disebutkan, dari riwayat Ibnu Mas’ud Nabi SAW bersabda : Artinya : Aku juga diutuskakan kepada Jin.
  • Hadits lain menyebutkan Nabi SAW bersabda : Artinya : Aku diperintah membacakan (menyampaikan) Al-Quran kepada Jin. Disini sangat jelas bila ada sebagian golongan jin yang mukmin.

Wajah dan Penampakan Jin

  • Sesuai penciptaanya, sesungguhnya bangsa jin terbuat dari api, seperti yang tertulis pada surat Al-Arof: 12: Artinya : Saya (Iblis) lebih baik daripadanya (manusia). Engkau ciptakan saya dari api, dan engkau ciptakan dia dari tanah.
  • Dan bangsa jin mampu keluar masuk pada benda-benda lain termasuk manusia tanpa dapat dihambat. Dalam hadits Bukhari disebutkan Nabi bersabda : Artinya : Sesungguhnya Ifrit, sebagian dari golongan Jin semalam menggangu saya, agar saya berhenti melakukan sholat, namun Allah melindungi saya lalu saya mau mengikatnya pada teras masjid sampai pagi hari agar kamu dapat melihatnya. Tetapi saya ingat kepada nabi Sulaiman (kemampuan menguasai Jin yang Allah berikan kepadanya) yang pernah berkata : Ya Allah, ampunilah saya dan berilah saya kerajaan yang tidak pantas bagi orang-orang sesudah saya. (Lihat Saba’: 12).
  • Sedangkan penampakkan sebagian bangsa jin, yaitu iblis bisa menyerupai apa saja sesuai dengan bentuk-bentuk yang diinginkannya, ini sesuai dengan keinginannya yang tertuang dalam surat Shad: 82-83: Artinya : Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka.
  • Jadi dalam rangka menyesatkan manusia, Iblis dapat merubah dirinya kedalam bentuk apa saja yang diinginkannya

Ifrit

  • Ifrit adalah sejenis jin yang disebut dalam al-Qur’an. Ifrit disebutkan dalam surah An-Naml [27]:39-40: Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”
  • Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Termasuk dalam golongan pembangkang adalah :

  • Iblis Seperti tertuang dalam ayat Al-Qur’an surat Al-Baqaroh: 34: Artinya : Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada malaikat; Bersujudlah kepada Adam; Maka mereka bersujud selain daripada Iblis. Bangsa Iblis ini golongan jin yang sangat jahat, bahkan Allah telah menangguhkan umurnya hingga akhir zaman dalam tugasnya untuk menyesatkan manusia, seperti yang tertulis dalam Al-Quran surat Shad: 80-81: Artinya : Allah berfirman : ‘Sesungguhnya kamu (bangsa iblis) termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)’.
  • Syaitan Seperti tertuang dalam ayat Al-Qur’an surat Al-An’am: 112: Kutipannya : Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan dari bangsa manusia (orang yang memiliki sifat dasar seperti syaitan) dan dari bangsa jin.
  • Golongan lainnya seperti IfritMaradahA’wanGhawwashunThayyarunTawabi’, Qurona’, ‘Ammar dsb. Dimana mereka bertugas untuk menipu daya manusia agar mengikuti jejak mereka nantinya, yaitu menghuni neraka jahanam.

Godaan Jin Kafir

  • Saya pernah membaca buku ‘Godaan Syaitan’ karya Md. Ali Alhamidy, dimana ditulis ketika Surat Ali Imran ayat 135, 136 diturunkan, terjadilah sesuatu yang menggemparkan bagi para syaitan yang menjadi anak buah Iblis. Sang Iblis terdengar meraung-raung menggelegar sehingga terdengar keseluruh jagad raya ini. Para syaitan keheranan dan mendatangi rajanya sang Iblis tersebut. Ada hal apakah yang mengakibatkan rajanya menjadi sangat gusar ‘
  • Nabi Saw, pernah bersabda tentang hal-hal yang paling ditakuti dan menjadi musuh bagi bangsa jin pembangkang (Kafir) :
    • Takut kepada Nabi sendiri.
    • Seorang imam (pemimpin) yang adil.
    • Orang kaya yang merendah hati.
    • Pedagang yang jujur.
    • Orang alim yang menjalankan sholat dengan khusyu’.
    • Seorang mukmin yang memberikan nasehat yang baik.
    • Mukmin yang sayang kepada sesamanya.
    • Orang yang bertaubat dan konsisten dalam tobatnya
    • Orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang haram.
    • Orang yang selalu suci (berthaharoh).
    • Mukmin yang dermawan
    • Mukmin yang baik akhlaknya (tingkah lakunya).
    • Mukmin yang berguna bagi seluruh umat ciptaan Allah.
    • Orang yang hafal Al-Qur’an dan selalu membacanya.
    • Orang yang selalu sholat tengah malam, ketika orang lain tidur.
  • Setelah mereka mendatangi rajanya, akhirnya sang raja memberitahu bila telah turun ayat Al-Qur’an yang sangat merugikan golongan mereka (para jin kafir/pembangkang), yaitu bahwa seseorang yang berdosa, bila ia ingat akan Tuhan, artinya ingat dan sadar akan kesalahannya, lalu dia minta ampun kepada Allah, kemudian tidak melanjutkan lagi segala kesalahan yang telah disadarinya tersebut, maka dia akan diberi ampun oleh Tuhan. Dengan demikian maka sekarang tidak ada gunanya menggoda manusia, karena kalau manusia lantas tobat, maka sia-sialah usaha mereka.
  • Berikut adalah surat Ali Imran ayat 135 & 136 : Artinya : Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (sengaja berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah ‘ Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya dan itulah sebaiknya pahala orang yang beramal.
  • Dan pada saat itu juga mereka berkumpul dan bermusyawarah bagaimana caranya supaya turunnya ayat itu menjadi sia-sia juga bagi umat manusia. Kemudian diputuskan untuk menggoda manusia dengan cara setelah mereka berbuat dosa, supaya malas bertobat. Kemudian membisiki dengan kata-kata manis seperti : ‘Besok sajalah bertobatnya kalau hatinya sudah tenang’, karena kita masih muda, masih ingin senang-senang dan ingin menikmati hidup. Bila nanti semua keinginan kita terpuaskan, maka tentunya pintu tobat selalu terbuka bagi Allah’..’. Dan mereka juga menugaskan beberapa syaitan baik dari golongan jin maupun manusia, untuk menjaga dan meneliti kondisi orang-orang tersebut agar selalu berbuat dosa, tanpa pernah bertobat, dengan menimbulkan masalah-masalah dan kesenangan-kesenangan baru.
  • Sedang bagi golongan kafir yang ingin segera bertobat dan menjadi mukmin selalu diberikan pandangan-pandangan keliru tentang Islam, bahkan dengan jalan mem-palsu-kan bentuk Allah yang maha esa; seperti mencintai dan menyenangi ‘perwujudan’ Allah dalam bentuk-bentuk tertentu, mengganggap segala nik’mat dunia sebagai anugerah dari Allah, dsb; agar mereka semakin engan untuk menjadi mukmin.
  • Dan keputusan yang terakhir adalah agar manusia selalu menganggap terhadap dosa-dosanya sebagai hal yang baik, tidak terasa kalau salah. Maka dihiasilah amal perbuatan manusia tersebut dengan sutera halus sehingga orang yang berbuat salah itu bila diperingatkan tidak akan menyadari akan kesalahannya. Orang yang menasehati bahkan akan dianggap sebagai musuhnya, karena mereka menganggap apa yang mereka kerjakan adalah benar belaka.
  • Maka dengan keputusan ini bergembiralah hati sang Iblis dan anak buahnya, para syaitan.
  • Hati manusia, sebagai perwujudan dari roh yang telah Allah isikan kedalam jasad manusia, memiliki fitrah dan keinginan. Didalamnya terdapat malaikat dan syaitan yang saling membisiki dengan hal-hal baik dan jahat. Jika perbuatan baik kita lebih dominan, maka malaikat berperan lebih banyak dalam hidup kita, demikian juga sebaliknya.
  • Tentang adanya syaitan yang mengganggu manusia, Nabi SAW, pernah menyatakan : Artinya : Masing-masing kamu memiliki syaitan,. Lalu para sahabat bertanya: Apakah engkau juga ‘ Kemudian Nabi menjawab: Juga aku, hanya saja saya ini telah ditolong oleh Allah Ta’ala terhadap mereka (para syaitan), sehingga mereka menjadi mukmin, maka mereka tidak menyuruh kecuali hal yang baik saja. (HR. Ibnu Mas’ud dan Muslim).
  • Agar kita tidak diganggu oleh mereka (para syaitan/jin dari golongan kafir), adalah mengerjakan hal sebagai berikut :
    • Selalu ber-Taqwa dan dzikir kepada Allah, karena seperti tertulis dalam surat Al-A’rof: 201: Artinya : ‘Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, apabila ditimpa kepada mereka sesuatu gangguan was-was syaitan, mereka teringat (selalu berlindung) kepada Allah, maka ketika itu mereka menjadi orang-orang yang memiliki pemandangan.’
    • Selalu berdzikir (ingat kepada Allah), merupakan alat pembasmi yang paling ampuh untuk mengalahkan atau memperkecil pengaruhnya, seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW: Artinya : ‘Syaitan itu meletakkan belalainya pada hati anak Adam (manusia). Maka jika manusia itu berdzikir, maka syaitan itu mengendap (tidak dapat berbuat apa-apa), tetapi jika ia lengah dan tidak mengingat Allah, maka ia (syaitan) akan menelan (menguasai) hatinya (manusia).’ (HR. Ibnu Abid-Dunya)
    • Berpuasa dan makan secukupnya, berarti membentengi masuknya syaitan kedalam hati, seperti yang pernah Nabi SAW katakan : Artinya : ‘Sesungguhnya syaitan itu berjalan pada manusia lewat tempat jalannya darah. Maka sempitkanlah tempat berjalannya dengan lapar.’ (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim serta Abu Dawud dan Ibnu Majah).
    • Mengerti akan tabi’at (kebiasaan) mereka yang selalu mengganggu manusia seperti yang tertulis didalam Al-Quran, upaya syaitan menggunakan berbagai cara untuk mengganggu umat manusia : Artinya : ‘Kemudian demi Allah aku (Iblis) datangi mereka, dari belakang, kanan, maupun kirinya, dan tidaklah Engkau jumpai jumlah terbanyak dari mereka, bersyukur kepada Engkau.’ (Al-Arof: 16-17).

Surah Al-Jinn

Surah Al-Jinn (Arab: الجنّ ,”Jin”) adalah surah ke-72 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat. Dinamakan “al-Jinn” yang berarti “Jin” diambil dari kata “al-Jinn” yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan al-Qur’an dan mereka mengikuti ajaran al-Qur’an tersebut.

Pokok-Pokok terjemahanAl-Jinn.png

  1. Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya ada sekumpulan jin mendengarkan, lalu mereka berkata: “sungguh kami telah mendengar bacaan yang menakjubkan, yang membimbing menuju Kebenaran, lalu kami beriman padanya dan kami tidak mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatupun,
    dan bahwasanya Maha Luhur keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. dan sungguh orang-orang yang bodoh dari kami mengatakan secara keterlaluan tentang Allah,
    dan sungguh sebelumnya kami menduga bahwa umat manusia dan jin tidak bisa mengatakan perkataan dusta terhadap Allah.
    dan sungguh ada beberapa laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah dosa kepada mereka.
    dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana persangkaan kalian, bahwa Allah takkan membangkitkan seorang pun,
    dan sesungguhnya kami telah mencoba menyusup menuju langit, maka kami mendapati pengawasan ketat dan panah-panah kilat, dan sungguh sebelumnya kami dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan. maka barangsiapa yang sekarang ingin mendengar-dengarkan, tentulah ia akan menjumpai panah kilat yang melenyapkan.
    dan sesungguhnya kami tidaklah mengetahui keburukan apa yang dikehendaki bagi yang di bumi ataukah kebaikan apa yang Tuhan mereka kehendaki untuk mereka.
    dan sungguh di antara kami ada golongan yang berperilaku baik dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. kami menempuh cara yang berbeda-beda.
    dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami takkan sanggup melawan Allah di bumi dan kami tidak pula sanggup melawanNya dengan terbang.
    dan sungguh ketika kami mendengar bimbingan ini, kami mengimaninya.
    barangsiapa beriman pada Tuhannya, maka dia tidak perlu khawatir untuk menghadapi kesulitan dan tidak menghadapi penderitaan.
    dan sungguh di antara kami ada yang berserah diri dan ada yang membelot.
    barangsiapa yang berserah diri, maka dia itu benar-benar memilih jalan yang tepat.
    adapun orang-orang yang membelot, maka mereka adalah penyulut Jahannam. (Ayat:1-15)
  2. Dan sungguh sekiranya mereka tetap lurus pada jalan itu, tentulah Kami akan menganugerahi mereka limpahan air supaya Kami menguji mereka tentang itu.
    dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya Dia akan mencampakkan orang itu ke dalam malapetaka yang menyakitkan. (Ayat:16-17)
  3. Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah maka jangan menyembah apapun yang selain Allah disana. (Ayat:18)
  4. Katakanlah: “sungguh aku hanya menyeru Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun beserta Dia”.
    katakanlah: “sungguh aku tidak kuasa mendatangkan suatu kesukaran kepada kalian dan tiada suatu keberuntungan”.
    katakanlah: “sungguh tiada seorangpun yang dapat melindungiku terhadap Allah dan aku tiada mempunyai tempat berlindung selain daripada Dia” akan tetapi aku menyampaikan dari Allah tentang risalahNya.
    dan barangsiapa mendurhakai Allah dan UtusanNya maka sungguh neraka Jahannam untuk mereka, mereka disana selama-lamanya.
    sampai ketika mereka melihat yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sia-sia jumlahnya.
    katakanlah: “aku tidak mengetahui, apakah yang diancamkan kepada kalian itu sudah dekat ataukah Tuhanku mengadakan waktu yang lama?”.
    Dialah Yang Maha Mengetahui segala misteri, maka Dia tidak menyingkapkan misteri itu kepada satupun selain kepada yang Dia perkenan, maka sungguh Dia mengadakan penjaga-penjaga di muka dan di belakangnya; supaya Dia mengetahui, bahwasanya para Utusan itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka, yang mengiringi pada mereka, dan Dia memperhitungkan segala sesuatu. (Ayat:19-28)