Tag Archives: islam nusantara

Kontroversi Islam Nusantara: Islam Nusantara Menurut KH Ma’ruf Amin

Khitah Islam Nusantara

KH Ma’ruf Amin

Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.

Tiga pilar

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika “al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ‘urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.

Penanda Islam Nusantara

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

Ijtihad

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalahmaãlahah (kebaikan).

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: “idhã wujida nasssS fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.

Pada akhir tulian pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi

Banyak Kiai NU Tidak Setuju Islam Nusantara

Kontroversi “Islam Nusantara” sebagai tema utama Muktamar NU ke-33 terus berlanjut. Di media sosial, masalah Islam Nusantara ini banyak jadi polemik dan bahkan menuai kecaman. Bagaimana di internal NU? Ternyata banyak kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang tak setuju dengan istilah Islam Nusantara jadi tema utama Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang. Menurut mereka, istilah Islam Nusantara mempersempit ruang lingkup Islam dan cenderung eksklusif. ”Padahal NU sendiri tidak hanya di Indonesia tapi juga berkembang di luar negeri. Bagaimana dengan teman teman NU yang berada di Singapura, Malaysia dan sebagainya,” kata KH Misbahussalam, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdjatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember, seperti dikutip dari laman nugarislurus.com, Selasa (07/07).

Bahkan, menurut Misbah, ada dugaan disosialisasikannya Islam Nusantara untuk mengakomodasi ajaran yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Apalagi mulai muncul pendapat bahwa Syiah di Indonesia ada lebih dulu ketimbang Sunni. Artinya, Syiah harus diakomodasi oleh Islam Nusantara karena bagian dari khazanah atau kekayaan agama Nusantara. ”Panitia Muktamar harus mengganti istilah Islam Nusantara dengan istilah yang tidak bertentangan dengan ideologi NU,” katanya.

Tokoh lainnya, KH Muhsyiddin Abdusshomad, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Jember juga minta agar Panitia Muktamar NU ke-33 memakai Islam Rahmatan Lil Alamin yang selama ini sudah jadi jati diri NU. “Istilah Islam Rahmatan lil Alamin yang dipakai selama ini sudah benar karena ada rujukannya dalam Al Quran,” katanya, Selasa (07/07). Menurut dia, istilah Islam Nusantra tak punya sumber baik dalam Al-Quran, hadits, ijma maupun qiyas. ”Justru banyak pihak baik di internal maupun eksternal NU menyerang NU karena persoalan istilah Islam Nusantara,” kata
Kiai Muhyiddin. Tak ketinggalan, salah seorang tokoh deklarator PKB, KH Muhith Muzadi juga mengaku tak setuju dengan islah Islam Nusantara. Alasannya, Islam itu satu. Yaitu Islam yang sudah jelas ajarannya. “Rumusan khittah itu sudah jelas dan itu adalah ideologi NU. Kalau ada Islam Nusantara pasti ada mafhum mukholafah. Berarti Islam non-Nusantara,” kata kiai penggagas khittah NU 26 yang diratifikasi KH Ahmad Siddiq itu.

Sumber: http://www.nugarislurus.com

Kontroversi Islam Nusantara Menurut Berbagai Tokoh Islam

Pemunculan istilah Islam Nusantara  yang diagung agungkan sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’ telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan penganut Islam di Indonesia. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.” Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Bahkan Jokowipun ikut berkomentar “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,”. Upaya mulia para penggagas Islam Nusantara itu tidak disadari seperti dunia Barat memberikan  label bahwa Islam teroris. Secara tidak langsung para pemimpin negeri khususnya Said Aqil Siradj dan Jokowi secara tidak langsung menyiratkan bahwa Islam selama ini tidak  sopan santun, tidak tata krama, tidak  toleransi, islam tidak ramah, Islam radikal, tidak inklusif  dan tidak toleran. Islam tidak merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya dan malah memberangus budaya. Seharusnya Pendukung Islam Nusantara bukan malah merendahkan ajaran Islam dan memecah belah umat Islam di Indonesia. Seharusnya pemimpin negeri ini malahan harus segera menyerukan kembali ke ajaran Quran dan Hadist yang dijamin tidak radikal,  penuh sopan santun, penuh tata krama, penuh toleransi, ramah, tidak inklusif , toleran, merangkul budaya bahkan melestarikan budaya.

Pendukung Islam Nusantara

  • Walaupun dianggap bukan istilah baru, istilah Islam Nusantara belakangan telah dikampanyekan secara gencar oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, NU.Ketika awal mula dikampanyekan, muncul dukungan terhadap model Islam Nusantara yang disuarakan kelompok atau tokoh perorangan Islam yang berpaham moderat.
  • Dalam pembukaan acara Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan munas alim ulama NU, Minggu (14/06) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan, NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara. “Yang paling berkewajiban mengawal Islam Nusantara adalah NU,” kata Said Aqil, yang dibalas tepuk tangan ribuan anggota NU yang memadati ruangan dalam Masjid Istiqlal. Menurutnya, istilah Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.” “Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya,”  Dari pijakan sejarah itulah, menurutnya, NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.” Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Said Aqil menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”
  • Jokowipun ikut dukung Islam Nusantara. Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam membuka Munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Minggu (14/06), menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara.”Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Presiden Jokowi. Selain Presiden Jokowi, suara senada sebelumnya juga disuarakan sejumlah pejabat Indonesia lainnya, termasuk Presiden Jusuf Kalla yang lebih sering memakai istilah Islam Indonesia.
  • Sebaliknya, pemikir Islam Azyumardi Azra mengatakan model Islam Nusantara atau Islam Nusantara dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya mengedepankan “jalan tengah”. Sektarian di Indonesia itu jauh, jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab. Azyumardi Azra, pemikir Islam “Karena bersifat tawasut (moderat), jalan tengah, tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik,” kata Azyumardi Azra. Menurutnya, memang ada perbedaan antara Islam Indonesia dengan ‘Islam Timur Tengah’ dalam realisasi sosio-kultural-politik. “Sektarian di Indonesia itu jauh, jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab,” jelasnya. Dimintai komentar atas pernyataan yang menyebut Islam itu tunggal, Azyumardi menyebutnya sebagai “pemikiran normatif yang melihat Islam secara idealistis.” “(Mereka) tidak melihat kenyataannya, bagaimana Islam itu menjadi berbeda-beda, terutama aspek sosial budaya dan politiknya. Bahkan dalam tingkat agama juga berbeda-beda.” Berbeda dengan ‘Islam Arab’ Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini juga menyebut cara pandang “normatif dan idealistis atas Islam” itu sebagai “tidak historis”. “Kalau kita lihat dari dulu hingga sekarang, memang ada perbedaan-perbedaan yang tidak bisa kita hindari. Lebih lanjut Azyumardi menjelaskan, model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi. “Vernakularisasi itu adalah pembahasaan kata-kata atau konsep kunci dari Bahasa Arab ke bahasa lokal di Nusantara, yaitu bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan tentu saja bahasa Indonesia,” katanya. Kemudian proses ini diikuti pribumisasi (indigenisasi), sehingga menurutnya, Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia. “Jadi, tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Karena itu, dalam penampilan budayanya, Islam Indonesia jauh berbeda dengan Islam Arab… Telah terjadi proses akulturasi, proses adopsi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded di Indonesia,” jelas mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Kontroversi. Tetapi secara hampir bersamaan lahir pula kritikan dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara, yang diwarnai perdebatan keras terutama melalui media sosial atau dalam diskusi terbuka. Secara garis besar, penolakan pada istilah Islam Nusantara karena istilah itu seolah-olah mencerminkan bahwa ajaran Islam itu tidak tunggal.

  • ” Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-nya dan mereka menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (muhammad) terhadap mereka. Sesungguh-nya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah SWT, Selanjutnya Allah SWT akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”}. Menurut Zakir Naik Islam  terpecah-belah dan membuat group sendiri-sendiri dalam Islam hukumnya HARAM !
  • KH. Hasyim Muzadi mantan Ketua umum PBNU, Ia memberikan tanggapannya bahwa istilah yang seharusnya dipakai itu bukan ‘Islam Nusantara’, tapi yang dipakai adalah “Islam Rahmatan Lil-Alamin” sebab hal ini ada dalam Al-Quranul Karim.
  • Hizbut Tahrir mempertanyakan. Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia juga mempertanyakan sikap yang memperhadapkan konsep Islam Nusantara dengan Islam di Timur Tengah yang dianggap tidak tepat. Resolusi Jihadnya Hasyim Ashari (pendiri NU) di tahun 1945, 1949,itu ‘kan beliau mendapat inspirasi resolusi Jihad ‘kan dari Islam. Dan beliau mengkajinya dari sumber Timur Tengah. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto. “Agak kurang fair kalau membandingkan Timur Tengah sekarang dengan Indonesia pada tahun 2015,” kata Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto kepada BBC Indonesia, Minggu (14/06) malam. Menurutnya, yang terjadi saat ini di sejumlah negara di wilayah Timur Tengah, misalnya Suriah, adalah proses perlawanan melawan penguasa lalim. “Ini minus persoalan ISIS yang mencoreng peradaban Islam, spirit perubahan dan perlawanan Islam itu ada di Timur Tengah saat ini. Ingat fenomena Arab Spring,” jelasnya. Dia juga menyebut tidak ada perbedaan antara Islam di Indonesia dan Timur Tengah dalam kerangka “melawan penguasa diktator”. “Resolusi Jihadnya Hasyim Ashari (pendiri NU) di tahun 1945, 1949,itu ‘kan beliau mendapat inspirasi resolusi Jihad ‘kan dari Islam. Dan beliau mengkajinya dari sumber Timur Tengah,” kata Ismail.
  • Ulama kharismatik asal Cirebon, Buya Yahya memberikan pandangannya soal Islam Nusantara yang sedang marak dibicarakan saat ini.  Seperti dikutip dari Suara Islam Online, Buya mengatakan bahwa secara istilah Islam Nusantara sebenarnya tidak masalah, akan tetapi saat ini sedang digunakan sebagian orang untuk tujuan jahat, katanya saat ditemui di di Masjid Raya Bogor, Rabu (9/9). “Islam Nusantara yang dibangun oleh Walisongo dengan penuh kelembutan keindahan, dan Walisongo yang manhajnya kembali kepada ulama Hadromaut itu jelas indah bukan ekstrim. Cuma istilah ini sedang digunakan orang liberal, jadi ini penjahatnya,” kata Buya. Menurutnya, kalau Islam di Indonesia atau Islam di Nusantara maksudnya Islam disebarkan di Nusantara bukan berarti tidak mau dengan Arab. “Tapi manusia liberal ini memfitnah menggunakan istilah ini untuk memasukkan macam-macam yang ngaco itu,” ujar Buya. Kalau seandainya tidak ada liberalisme, tidak ada orang-orang liberal kita mengucapkan Islam Nusantara memang indah, lanjutnya. Sederhananya, menurut pengasuh lembaga dakwah Al Bahjah ini, Islam Nusantara itu ada dua makna. “Kalau menurut orang yang paham syariat itu maknanya kelembutan tapi kalau dimaknai orang-orang liberal itu jadi beda,” jelas Buya. Ia mencontohkan seperti halnya ajaran yahudi versi Nabi Musa. “Saya terima agama yahudi tetapi yahudi yang dulu sebelum ada perubahan. Jadi, kita bicaranya yahudi sesuai agamanya Nabi Musa Alaihissalam tetapi orang liberal bicaranya yahudi yang hari ini sehingga harus diterima agamanya, persis seperti itulah Islam Nusantara,” ungkapnya.  Karena itu, menurut Buya, semuanya harus jelas, karena ada sebagian masyaikh yang menerima Islam Nusantara atas dasar defisini tadi seperti halnya orang Islam menerima yahudi versi Nabi Musa. “Kita tidak menerima ajaran yahudi sekarang yang sudah rusak, tapi orang batil ini, orang liberal ini mendefinisikan Islam Nusantara itu Islam yang jauh dari Arab, tidak ada cadar, tidak ada menutup aurat, nanti bisa jadi ada Islam eropa pakai bikini,” tandasnya. “Maka lebih bijak tidak menggunakan istilah Islam Nusantara itu karena banyak penjahatnya,” tegas Buya.
  • Konsepnya belum jelas,. Hal ini bisa dilihat dari definisi saja terdapat sejumlah definisi yang berbeda tentang “Islam Nusantara”. Setidaknya ada tiga definisi yang penulis temukan terkait dengan wacana “Islam Nusantara ini. Definisi pertama datang dari itu Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. Ia mendefinisikan “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia” Definisi lain dikemukakan Katib Syuriah PBNU yang juga pengajar di Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo K.H. Afifuddin Muhajir mendefinsikan “Islam Nusantara” sebagai “faham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat”, Sedangkan Intelektual muda NU yang produktif menulis Ahmad Baso menyumbangkan definisi ketiga “Islam Nusantara”. Menurutnya “Islam Nusantara” adalah “ma’rifatul ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah” atau “majmu’atu ma’arifil -l- ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah” (al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas). Menilik beragamnya definisi “Islam Nusantara” tersebut di atas terlihat bahwa belum ada kesepakatan tentang apa yang dimaksud “Islam Nusantara” di antara para pengusungnya sendiri. Dengan kata lain, sebagai sebuah wacana “Islam Nusantara” sesungguhnya adalah wacana yang masih kabur.Jika definisinya saja belum jelas jangan heran bila ketika wacana ini dilempar ke publik banyak timbul persepsi yang beragam yang akhirnya menimbulkan perdebatan dan kegaduhan.

Kajian Islam Islamiwp-1453692994159.jpg

  • Upaya pembentuan opini dan istilah Islam Nusantara tampaknya sudah mulai menjurus pada  fakta bahwa umat Muslim zaman sekarang saling terpecah-belah. Yang menyedihkan adalah bahwa perpecahan tersebut tidak diajarkan oleh Islam sama sekali. Islam mengajarkan untuk menjaga persatuan di antara umat Muslim. Padahal persatuan umat Islam sudah diserukan Allah dalam Al-Qur’an : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Qs. Ali Imran[3]:103). Allah sudah mengingatkan agar tidak bercerai berai harus berpegang teguh tali Allah, berpegang teguh pada Al Quran dan hadist yang sahih. Faktanya banyak sekte atau ajaran kelompok agama berbeda beda tetapi sebenarnya yang boleh dipanggil hanyalah muslim. Dan semua muslim harus mengkuti Quran dan Hadist sahih. Ulama manapun yang mengatakan sesuatu sesuai ajaran Quran dan Hadist harus dikuti. Tetapi jika tidaksesuai harus dibuang jauh jauh. Untuk membuat organisasi yang berbeda orang bekerja dalam bidang pendidikan, kajian agama Islam, bidang agama, bidang sosial secara jamah tidak masalah. Tetapi sebagai agama tidak boleh tercerai berai tidak boleh ada sekte atau organisasi ekslusif. Menurut Hadist Tirmidzi Nomor 171, Nabi s.a.w diriwayatkan telah bersabda, “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan mereka semua akan berada di neraka kecuali satu golongan.”Yaitu golongan yang mengikuti sunahku dan Al Quran.
  • Bila dicermati istilah Islam Nusantara ini tidak memiliki konsep yang jelas, cermat, padu dan kokoh. Karena tidak ada referensi landasan hukum negara dan bahkan tidak mengacu pada hukum agama berdasarkan Quran dan hadist.  Istilah ini cenderung dipaksakan dengan pemikiran dan rasionalitas individu untuk kepentingan-kepentingan politis tertentu, dan ini jelas sekali akan memecah belah Umat Islam
  • Kelompok agama islam baik tradisional ataupun modern harus bersatu menyatukan pola pikir dan pola tindak berdasarkan Al Quran dan hadist sahih. Sebenarnya bila dicermati ide Islam Nusantara itu adalah ide awal kaum liberal yang selalu mengatasnamakan toleran dan demokratis. Hal itu dapat diamati dari para pendukung konsep tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Islam liberal bila tidak melanggar al Quran dan hadist atau menyalahkan kelompok lainnya. Bukan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknya paling pintar, paling benar dan menganggap kelompok lain salah dan tidak toleran. Bukannya memvonis sesama muslim sebagai islam Arab atau Islam radikal. Hal ini terus terjadi tidak ubahnya dengan  perilaku sekelompok umat yang mengkafirkan umat lainnya atau perilaku dunia Barat yang memvonis Islam teroris. Bila memang pendapat itu tidak bisa disatukan paling tidak jangan menyalahkan kelompok lainnya dan menganggap dirinya paling benar.
  • Melihat permasalahan itu bila dalam kehidupan bernegara terjadi masalah dalam intoleransi, tidak sopan, tidak ramah, radikal dan mengabaikan budaya. Sebaiknya pemimpin agama dan negeri ini bukan membuat kelompok ekslusif sendiri atau golongan Islam baru lagi seperti islam Nusantara. Seharusnya pemimpin negeri khususnya departemen Agama harus melakukan inisiasi untuk menempuh jalur komunikasi, konsultasi dan berkumpul dengan umat muslim lainnya untuk membangun Islam yang sesuai ajaran al Quran dan hadist sahih yang toleransi, sopan, ramah, tidak radikal dan menghormati  budaya. Jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka bisa ditolak atau disarankan diperbaiki secara santun, tetapi jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. “Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam,”
  • Tercerai berainya umat muslim bukan sekedar perbedaan pendapat tentang pemahaman ajaran Islam, Quran dan Hadist. Tetapi lebih karena saling menyalahkan, mengejek, menghina dan menganggap dirinya atau kelompoknya paling benar (W Judarwanto). Bila ada perbedaan pemahaman tentang Quran dan hadist maka sebaiknya dikomunikasikan bila tidak bisa disatukan sebaiknya tidak saling menyalahkan, menghina dan menganggap dirinya paling benar. Kebenaran itu adalah milik Allah semata.