Tag Archives: ibadah haji

Ibadah Haji: Tatacara dan Makna Lempar Jumroh

Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dariibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah,Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah; bahasa Arab: jamarah, jamak: jamaraat) yang berada dalam satu tempat bernama kompleksJembatan Jumrah, di kota Mina yang terletak dekat Mekkah. Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Kegiatan ini adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar (mencapai lebih dari sejuta jemaah).

Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan. Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena selalu berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka dari jalan Allah SWT. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar yang menunjukkan sikap perlawanan terhadap setan.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa sewaktu Ibrahim membawa Ismail untuk disembelih, setan membujuk Hajar agar menghentikan langkah suaminya itu. Sebagi seorang ibu, menurut setan, Hajar tidak akan sampai hati mengetahui buah hatinya dikorbankan. Perkiraan setan ternyata meleset. Bukannya menuruti bisikan setan, Hajar malah mengambil batu dan melemparinya berkali-kali.

Ketika melempar tiang-tiang dalam jumrah, sesungguhnya terkandung di dalamnya kemarahan dan penghinaan kita kepada setan.

  • Waktu Pelaksanaan Jumrah Tanggal pelaksaan jumrah adalah tangga 10 Dzulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan.
  • Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam diMina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
  • Pada 11 Dzulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Tanggal 12 Dzulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Lama Pelaksaan Jumrah. Melontar jumrah sedikitnya dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijah. Ada tiga tugu jumrah yang harus dilontar masing-masing 7 kali lontaran dengan kerikil kecil yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
  • Esoknya pada tanggal 10 Dzulhijah yang juga merupakan hari Raya Qurban, jamaah haji cukup melontar satu tugu jumrah saja yaitu jumrah ketiga yang disebut Jumrah Aqobah dengan tujuh kali lontaran.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya.

Setidaknya ada 2 makna yang terkandung dalam melempar jumroh, yaitu

  1. Melempar jumrah menunjukkan secara simbolik perlawanan dan permusuhan kita kepada setan.
  2. Allah SWT berfirman Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Fathir 6)

    Foto Lengkap Suasana Kemah Mahtab Haji di Mina 

    Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

    Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan salatDzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.

    Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

    Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.


    Ibadah Haji: Dasar Hukum Tahalul dan Tatacaranya

    DEFINISI TAHALUL

    • Mencukur rambut. Tahalul ada 2 macam yaitu :
    • Tahalul awal, yaitu mencukur/ memotong rambut setelah melempar jumrah pada hari Nahar. Maka halallah bagi orang yang sedang ihram, apa-apa yang terlarang pada waktu ihram. Kita boleh berpakaian biasa, memakai parfum dll, kecuali hubungan dengan istri/suami.Tahalul akhir, yaitu mencukur/ memotong rambut setelah melakukan thawaf ifadhah(thawaf rukun haji), maka halal segala sesuatu larangan ihram termasuk hubungan dengan istri/suami.

    DASAR HUKUM TAHALUL

    • Tahalul dilakukan dalam rangka mentaati perintah Allah, agar kita menghilangkan kotoran (memotong rambut dan mengerat kuku) yang ada pada badan kita dan handaklah kita menunaikan nazar-nazar kita. Firman Allah :”Kemudian hendaklah mereka membersihkan kotoran dengan memotong rambut dan mengerat kuku, dan supaya mereka thawaf di Baitullah”.(QS.22:29) 

    KEUTAMAAN TAHALUL

    • Setiap rambut yang dicukur akan menghapus kesalahan.

    TATA CARA PELAKSANAAN TAHALUL

    • Bagi laki-laki tahalul sebaiknya dilakukan dengan mencukur gundul, namun bagi perempuan cukup dipotong sedikit ujung rambutnya.

    HAKEKAT TAHALUL DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

    • Setelah mengerjakan sai, kita memotong rambut dan kuku serta menanggalkan pakaian ihram, berarti kita telah merasa bebas dan dalam keadaan tangan hampa dan dahaga, kita tinggaalkan Marwa menuju ke Zam-zam untuk melepaskan dahaga yang bersandar pada cinta dan harapan. Cinta dan harapan akan membuat keajaiban seperti yang telah dilakukan oleh Hajar dan kita lakukan dalam sai.

    Ibadah Haji: Bermalam di Mina

    MABIT DI MINA

    Mabit di Mina adalah bermalam (singgah) di Mina, selama 2 hari atau 3 hari dan merupakan persinggahan terlama.

    DASAR HUKUM MABIT DI MINA

    • Bermalam di Mina bebas mamilih dapat sesudah 2 hari (nafar awal) atau menangguhkan keberangkatannya lebih dari 2 hari (nafar akhir). Firman Allah: “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang (11, 12, 13, Dzulhijah = hari tasyrik). Barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari 2 hari itu, tiada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa”. (QS.2: 203).
    • Mabit di Mina hukumnya wajib kecuali bagi orang yang uzur (Hadist Nabi riwayat Syarah Al Muhazzab). Yang termasuk golongan orang-orang yang uzur adalah orang yang takut hilang hartanya kalau menginap di Mina, atau takut bahaya dirinya, atau sakit yang sukar baginya untuk menginap di Mina, atau ada orang yang sakit yang harus di urusinya, atau mencari budak yang hilang, atau sibuk dengan urusan lain yang ia khawatir tidak akan terkejar lagi kalau ia Mabit di Mina, dan tidak diwajibkan membayar sesuatu. 

    KEUTAMAAN MABIT DI MINA

    • Bermalam di Mina dimaksudkan guna bertukar pikiran, berdiskusi dengan sesama jamaah haji dari berbagai negara perihal permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan agama, serta mencari solusinya.

    TATA CARA PELAKSANAAN MABIT DI MINA

    • Malam hari berkumpul beralaskan dengan tikar sampai melewati waktu tengah malam, berdiskusi antara sesama jamaah atau berdzikir.

    DO’A YANG DIPANJATKAN PADA SAAT MABIT DI MUDZDALIFAH

    • Memperbanyak dzikir kepada Allah

    HAKEKAT MABIT DI MINA DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

    • Persinggahan di Mina melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Cinta adalah tahap terakhir sesudah tahap pengetahuan dan kesadaran. Selama bermalam di Mina ini kita gunakan untuk merenungi pandangan hidup kita dan apa-apa yang telah kita lakukan serta untuk berdiskusi dengan orang lain berbagai negeri yang memiliki agama, kecintaan, kebutuhan dan ideologi yang sama dengan kita. 
    • Mina adalah lembah yang gersang, tidak ada pemandangan yang menarik, tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada taman-taman. Di Mina kita duduk bersama, membahas masalah-masalah kita dan pelajaran yang dapat dipetik dalam rangkaian ibadah thawaf, sai, wukuf di Arafah, bermalam di Mudzalifah dan melempar jumrah yang kita lakukan sebagai usaha mencari surga selalu disertai orang banyak dan bersama-sama dengan orang lain. 
    • Mina adalah negeri cinta, perjuangan dan syahid. Negeri tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah sebagai kaum yang bersatu untuk berpartisipasi dalam amal ““amal kebajikan dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini.
    • Selama 2 atau 3 hari bermalam di Mina berkumpul dengan orang banyak baik yang terpelajar maupun buta huruf, baik profesor maupun buruh pabrik, baik pemimpin spiritual termasyhur atau petani sederhana, berpatisipasi dan berhak berbicara secara terbuka karena perbedaan pangkat, jabatan, derajat dan warna kulit telah di tinggalkan di Miqat. Semuanya adalah sama sebagai hamba Allah dan mempunyai derajat yang sama sebagai haji.

    Ibadah Haji : Doa Ketika Wukuf

    Doa Wukuf

    (1) أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِى لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 100× 
    (2) لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَألمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ . 
    (3) أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ , 3× 
    (4) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, 100× 
    (5) لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ أَشْهَدُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحاَطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً . 
    (6) أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ, إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ 3× 
    (7) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , أَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ , الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ , إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ , إِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ , صِراَطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ . آمِيْنَ . 3× 
    (8) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ , أَللهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ , وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ. 100× 
    (9) صَلَّى اللهُ وَمَلاَئِكَتُهُ عَلَى النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَعَلَى أَلِهِ وعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ , 100× 
    (10) أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِوَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَجُوْدِكَ القَدِيْمِ وَبِاِسْمِكَ الأَعْظَمِ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَأَنْ تَغْفِرَ لَناَ وَلِواَلِدَيْناَ وَأَوْلاَدِناَ وَإِخْواَنِناَ وَأَقْرِباَئِناَ وَمَشاَيِخِناَ وَأَصْحاَبِناَ وَأَزْوَاجِناَ وَأَصْدِقاَئِناَ وَلِمَنْ أَوْصاَناَ بِالدُّعاَءِ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْناَ وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْناَ وَلِمَنْ ظَلَمْناَهُ أَوْ أَسَأْناَ إِلَيْهِ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ أَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ وَإِيَّاهُمْ خَيْراَتِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَنْ تَحْفَظَناَ وَإِيَّاهُمْ مِنْ جَمِيْعِ بَلاِءِ الدُّنْياَ وَأَهْواَلِ يَوْمِ القِياَمَةِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ العُلُوْمَ النَّافِعَةَ وَالأَعْماَلَ الصَّالِحَةَ وَأَنْ تَعْصِمَناَ مِنْ جَمْيِعِ المَعاَصِى الظَّاهِرَةِ وَالباَطِنَةِ وَأَنْ تُسَهِّلَ لَناَ رِزْقاً حَلاَلاً واَسِعاً وَأَنْ تَكِفِيَناَ شَرَّ الأَشْراَرِ مِنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ وَالدَّواَبِّ وَغَيْرِهاَ وَأَنْ تَخْتِمَناَ وَإِيَّاهُمْ بِحُسْنِ الخاَتِمَةِ , آمِيْنَ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

    Latin:

    1. Astaghfirullaahal ‘azhiimalladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi 100 x
    2. Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulka laa syariika laka.
    3. Allaahu akbaru Allaahu akbarau Allaahu akbaru laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru Allaahu akbaru walillaahil hamdu 3 x
    4. Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu biyadihil khairu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun 100 x
    5. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Asyhadu annallaaha ‘alaa kulli syai-in qadiirun wa annallaaha qad ahaatha bikulli syai-in ‘ilmaa.
    6. A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, innallaaha huwas samii’ul ‘aliimu 3 x
    7. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumid diin. 
      Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalliin. Aamiin 3x.
    8. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qul huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid walam yuulad.
      Walam yakun lahu kufuwan ahad 100x.
    9. Shallallaahu wa malaa-ikatuhu ‘alan nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa ‘alaihis salaamu warahmatullaahi wabarakaatuh 100x
    10. Allaahumma innii as-aluka biwajhikal kariimi wajuudikal qadiimi wabismika a’zhami an tushalliya ‘alaa
      sayyidinaa Muhammadin wa antaghfira lanaa waliwaalidainaa wa aulaadinaa wa ikhwaaninaa wa aqribaa-inaa
      wa masyaayikhinaa wa ashhaabinaa wa azwaajinaa wa ashdiqaa-inaa waliman aushaanaa bid-du’aa-i
      waliman ahsana ilainaa waliman lahu haqqun ‘alainaa waliman zhalamnaahu au asa’naa ilaihi
      walijamii’il muslimiina wal-muslimaati al-ahyaa-I minhum wal-amwaati wa an tarzuqanaa
      wa iyyaahum khairayid dunyaa wal aakhirati wa an tahfazhanaa wa iyyaahum min jamii-I balaa-id dunyaa
      wa ahwaali yaumil qiyaamati wa an tarzuqanal ‘uluuman naafi’ata wal-a’maalash shaalihaata
      wa an ta’shimanaa min jamii’il ma’aashii azh-zhaahirati wal-baathinati
      wa an tusahhila lanaa rizqan halaalan waasi’an wa an takfiyanaa syarral asraari minal insi
      wal-jinni wad-dawaabbi waghairihaa wa an takhtimanaa wa iyyaahum bihusnil khaatimati aamiin.
      Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wasallama.

     

    Artinya:

    1. Aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan yang mengatur segala makhluk-Nya dan kepada-Nya aku bertaubat. 100 x
    2. Aku datang memnuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.
    3. Allah Maha Besar, Allah Maha Beasr, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah. Allah-lah Yang Maha Besar, Allah-lah Yang Maha Besar dan hanya milik Allah segala pujian. 3 x
    4. Tiada Tuhan selain Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah-lah kerajaan dan milik Allah-lah pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 100 x
    5. Tiada daya (untuk memperoleh manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Aku bersaksi sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
    6. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. 3 x
    7. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Raja di hari kemudian. Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya ke[ada-Mu lah kami minta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Amin. 3 x.
    8. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah hai Muhammad Allah itu Maha Esa. Allah itu tempat meminta. Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak satupun yang setara dengan Dia. 100 x.
    9. Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi yang ummi serta kepada segenap keluarganya. Semoga shalawat, rahmat dan berkah dari Allah tercurah kepadanya. 100 x.
    10. Ya Allah, kami mohon dengan Dzat-Mu Yang Maha Mulia dan dengan kemurahan-Mu dan dengan nama-Mu Yang Maha Agung,
      limpahkanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Muhammad SAW. Ampunilah kami, ayah bunda kami, anak-anak kami,
      saudara-saudara kami, kaum kerabat kami, guru-guru kami, sahabat-sahabat kami, pasangan kami, teman-teman kami,
      dan orang-orang yang berpesan untuk didoakan dan semua orang yang berbuat baik kepada kami, 
      orang-orang yang pernah kami zalimi ataupun orang yang pernah kami berbuat jahat kepadanya, 
      semua orang-orang muslim dan muslimat yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Dan berilah kami rezeki, 
      juga mereka dengan kebaikan dunia dan bencana pada hari kiamat. Berilah kami ilmu yang bermanfaat
      amal perbuatan yang baik, lindungilah kami dari semua perbuatan maksiat yang nyata dan tersembunyi,
      mudahkanlah kepada kami rizki yang halal yang melimpah, lindungilah kami dari segala kejahatan manusia,
      jin, serta binatang dan lainnya, dan akhirilah hidup kami dan mereka dengan husnul khatimah. Amin.
      Semoga rahmat dan keselamatan tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

    Selain doa wukuf tersebut di atas, ada juga doa wukuf yang lazim dibaca sebagai berikut:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْ فىِ قَلْبِى نُوْراً وَفىِ سَمْعِى نُوْراً وَفىِ بَصَرِى نُوْراً وَفىِ لِساَنِى نُوْراً وَعَنْ يَمِيْنِى نُوْراً وَعَنْ يَساَرِى نُوْراً وَمِنْ فَوْقِى نُوْراً وَمِنْ أَماَمِى نُوْراً وَمِنْ خَلْفِى نُوْراً , أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِى أَمْرِى , أَللَّـهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كاَلَّذِى نَقُوْلُ وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ , أَللَّـهُمَّ لَكَ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْياَيَ وَمَماَتِى وَإِلَيْكَ مَأَبِى وَإِلَيْكَ ثَواَبِى , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَساَوِسِ الصَّدْرِ وَشَتاَتِ الأَمْرِ وَعَذاَبِ القَبْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ النَّهاَرِ وَشَرِّ ماَ تَهُبُّ بِهِ الرِّياَحُ وَمِنْ شَرِّ بَواَئِقِ الدَّهْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ تَحَوُّلِ عاَفِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ , أَللَّـهُمَّ اهْدِنِى بِالهُدَى وَاغْفِرْلىِ فىِ الأَخِرَةِ وَالأُوْلَى ياَ خَيْرَ مَقْصُوْدٍ وَأَسْنَى مَنْزُوْلٍ بِهِ وَأَكْرَمَ مَسْئُوْلٍ ماَلَدَيْهِ أَعْطِنِى العَشِيَّةَ أَفْضَلَ ماَ أَعْطَيْتَ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ وَحُجَّاجِ بَيْتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ياَراَفِعَ الدَّراَجاَتِ وَمُنَزِّلَ البَرَكاَتِ وَياَفَطِرَ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَواَتِ , ضَجَّتْ إِلَيْكَ الأَصْواَتُ بِصُنُوْفِ اللُّغاَتِ يَسْأَلُوْنَكَ الحاَجاَتِ وَحاَجَاتِى أَنْ لاَ تَنْساَنِيَ فىِ داَرِ البَلاَءِ إِذْنَسِيَنِى أَهْلُ الدُّنْياَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلاَمِى وَتَرَى مَكاَنِى وَتَعْلَمُ سِرِّى وَعَلاَنِيَّتِى وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِى , أَناَ البَائِسُ الفَقِيْرُ المُسْتَغِيْثُ المُسْتَجِيْرُ الوَجِلُ المُشْفِقُ المُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ , أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ المِسْكَيْنِ وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهاَلَ المُذْنِبِ الذَّلِيْلِ وَأَدْعُوْكَ دُعاَءَ الخاَئِفِ الضَّرِيْرِ مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ وَفاَضَتْ لَكَ عَبْرَتُهُ وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ وَرَغَمَ لَكَ أَنْفُهُ أَللَّـهُمَّ لاَ تَجْعَلْ بِدُعاَئِكَ رَبِّ شَقِيّاً وَكُنْ بِى رَءُوْفاً رَحِيْماً ياَ خَيْرَ المَسْئُوْلِيْنَ وَأَكْرَمُ المُعْطِيْنَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ ضَيْفٍ قِرًى وَنَحْنُ أَضْياَفُكَ فاَجْعَلْ قِراَناً مِنْكَ الجَنَّةَ , أَللّـهُمَّ إِنَّ لِكُلِّ وَفْدٍ جاَئِزَةً وَلِكُلِّ زاَئِرٍ كَراَمَةً وَلِكُلِّ ساَئِلٍ عَطِيَّةً وَلِكُلِّ راَجٍ ثَواَباً وَلِكُلِّ مُلْتَمِسٍ لِماَ عِنْدَكَ جَزاَءً وَلِكُلِّ مُسْتَرْحِمٍ رَحْمَةً وَلِكُلِّ راَغِبٍ إِلَيْكَ زُلْفًى وَلِكُلِّ مُتَوَسِلٍ إِلَيْكَ عَفْواً وَقَدْ وَفَدْناَ إِلىَ بَيْتِكَ الحَراَمِ وَقَفْناَ بِهَذاَ المَشاَعِرِ العِظَمِ وَشَهِدْناَ هَذاَ المَشاَهِدَ الكِراَمَ رَجاَءً لِماَعِنْدَكَ فَلاَتُخَيِّبْ رَجاَءَناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ الأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْواَتِ وَياَقَاضِيَ الحاَجاَتِ , أَللَّـهُمَّ انْتَصِرْ لَناَ انْتِصاَرَكَ ِلأَحْباَبِكَ عَلَى أَعْداَئِكَ , أَللَّـهُمَّ لاَتُمَكِّنِ الأَعْداَءَ فِيْناَ وَلاَ مِنَّا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْناَ بِذُنُوْبِناَ , أَللَّـهُمَّ أَمِنْ فىِ أَوْطاَنِناَ وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَناَ وَاجْعَلْ وُلاَةَ أُمُوْرِناَ فِيْمَنْ خاَفاَكَ وَاتَّقَاكَ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ المُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ بَلْدَةً أَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَساَئِرَ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالبَلاَءَ وَالوَباَءَ وَالفَحْشاَءَ وَالمُنْكَرَ وَألبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّداَئِدَ وَالمِحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهاَ وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَ ِلإَخْواَنِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ , رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخاَسِرِيْنَ رَبَّناَ هَبْ لَناَ مِنْ أَزْواَجِناَ وَذُرِّياَّتِناَ قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِماَماً , رَبَّناَ أَتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وِفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وِقِناَ عَذاَبَ النَّارِ , آمِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ .

    Latin:

    Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu lahul mulku walahul hamdu yuhyii
    wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil khaitu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.
    Allaahummaj’al fii qalbii nuuran wafii sam’ii nuuran wafii basharii nuuran 
    wafii lisaanii nuuranwa ‘an yamiinii nuuran wa ‘an yasaarii nuuran wamin fauqii nuuran
    wamin tahtii nuuran wamin amaamii nuuran wamin khalfii nuuran.

    Allaahummasyrah lii shadrii wayassir lii amrii. Allaahumma lakal hamdu kalladzii naquulu
    wakhairan mimmaa naquulu. Allaahumma laka shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii
    wa ilaika ma-aabii wa ilaika tsawaabii. Allaahumma innii a’uudzu bika min wasaawisish shadri
    wasyataatil amri wa ‘adzaabil qabri. Allaahumma innii a’uudzu bika min syarri 
    maa yaliju fil-laili wamin syarri maa yaliju fin-nahaari wasyarri maa tahubbu bihir riyaahu
    wamin syarri bawaa-iqid dahri. Allaahumma innii as’uudzu bika min tahawwuli ‘aafiyatika
    wa fuj-ati niqmatika wajamii’I sakhathika.

    Allaahummahdinii bil-hudaa waghfir lii fil-aakhirati wal-uulaa yaa khaira maqshuudin
    wa asnaa manzuulin bihi wa akrama mas-uulin maa ladaihi a’thinil ‘asyiyyata afdhala
    maa a’thaita ahadan min khalqika wa hijjaaji baitika yaa arhamar raahimiin. 
    Allaahumma yaa rafii’ad darajaati wamunazzilal barakaati wayaa faathiral aradhiina was-samaawaati.
    Dhajjat ilaikal ashwaatu bishunuufil lughaati yas-aluunakal haajaati wa haajatii an laa tansaanii
    fii daaril balaa-i idz nasiyanii ahlud dunyaa.


    Allaahumma innaka tasma’u kalaamii wataraa makaanii
    wata’lamu sirrii wa’alaaniyatii walaa yakhfaa ‘alaika syai-un min amrii. Anal baa-isal
    faqiirul mustaghiitsul mustajiirul wajilul musyfiqul mu’tarifu bidzanbihi as-aluka mas-alatal miskiini
    wa abtahilu ilaika ibtihaalal mudznibidz dzaliili wa ad’uuka du’aa-l khaa-ifidh dhariiri 
    man khadha’at laka raqabatuhu wafaadhat laka ‘abratuhu wadzalla laka jasaduhu
    waraghima laka anfuhu. Allahumma laa taj’al bidu’aa-ika rabbi syaqiyyan wakun bii ra-uufan
    rahiiman yaa khairal mas-uuliina wa akramal mu’thiin.

    Allaahumma innaka ja’alta likulli dhaifin qiran wanahnu adhyaafuka faj’al qiraanaa minkal jannata.
    Allaahumma inni likulli wafdin jaa-izatan walikulli zaa-irin karaamatan walikulli saa-ilin ‘athiyyatan
    walikulli raajin tsawaaban walikulli multamisin lima ‘indaka jazaa-an walikulli mustarhimin rahmatan
    walikulli raaghibin ilaika zulfaa walikulli mutawassilin ilaika ‘afwan waqad wafadnaa ilaa baitikal haraami
    waqafnaa bihaadzal masyaa’iril ‘izhaami wasyahidnaa haadzal masyaahidal kiraama raja-an lima
    ‘indaka falaa tukhayyib raja-anaa yaa arhamar raahimiin. Allaahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaati
    wal-mu’miniina wal-mu’minaati al-ahyaa-i minhum wal-amwaati innaka samii’un qariibun mujiibud
    da’awaati wayaa qaadhiyal haajaati.

    Allaahummantashir lanaa intishaaraka li-ahbaabika ‘alaa a’daa-ika. Allaahumma laa tumakkinil
    a’daa-a fiinaa walaa minnaa walaa tusallithhum ‘alainaa bidzunuubinaa.

    Allaahumma aamin fii authaaninaa wa ashlih a-immatanaa waj’al wulaata umuurinaa fiiman khaafaka
    wattaqaaka yaa rabbil ‘aalamiin.

    Allaahumma ashlih jamii’a wulaatil muslimiina wanshuril islaama wal-muslimiina wa-a’
    li kalimataka ilaa yaumid diin.

    Waj’al baldatanaa induniisiyaa baldatan aaminatan muthma-innatan wasaa-iral buldaanil muslimiin.
    Allaahummadfa’ ‘annal ghalaa-a wal-balaa-a wal-wabaa-a wal-fahsyaa-a wal-munkara wal-baghya
    was-suyuufal mukhtalifata wasy-syadaa-ida wal-mihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa
    induniisiyaa khaashshatan wamin buldaanil muslimiina ‘aammatan innaka ‘alaa kulli syainin qadiir.
    Rabbanaghfir lanaa wa li-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan
    lilladziina aamanuu rabbanaa innaka ra-uufur rahiim. Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa
    watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriina. Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata
    a’yunin waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa. Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil aakhirati
    hasanatan waqinaa ‘adzaaban naari. Aamiin. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin
    wa’alaa aalihi washshbihi wasallama wal-hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

    Artinya:

    “Tidak ada Tuhan selain Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan
    dan milik-Nya semua pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha hidup tidak mati. 
    Di tangan-Nyalah segala kebajikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Ya Allah, jadikanlah cahaya terang di kalbuku, di pendengaranku, di penglihatanku, di lidahku,
    di sisi kanan dan di sisi kiriku, di atas dan di bawahku, di hadapan dan di belakangku.

    Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah segala urusanku. Ya Allah hanya milik-Mulah
    segala puji seperti yang Kau ucapkan, dan sebaik-baiknya apa yang kami katakan. Ya Allah,
    hanya untuk-Mu shalatku, ibadahku, hidupku, matiku dan kepada Engkaulah kepulanganku 
    dan kepada Engkau pulalah tumpuan harapanku. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu 
    dari segala godaan-godaan bisikan, dalam hati kekacau balauan segala urusan dan dari siksa kubur.

    Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang menyelinap di gelap malam, dari kejahatan
    di waktu siang hari dan dari kejahatan yang dihembuskan angin serta dari kejahatan bencana masa.

    Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari berubahnya kesehatan pemberian-Mu dan dari bencana
    yang datang tiba-tiba dan dari segala murka-Mu.

    Ya Allah, tunjukilah aku dengan petunjuk Al-Qur’an. Ampunilah dosaku di dunia dan di akhirat.

    Wahai Tuhan yang sebaik-baik yang dimaksud dan sebaik-baik yang memberi tempat
    semurah-murah yang memnuhi permintaan. Anugerahkanlah kepadaku di sore hari ini
    sebaik-baiknya yang telah Engkau anugerahkan kepada salah seorang makhluk-Mu 
    dan pengunjung rumah-Mu (jamaah haji). Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, 
    lebih dari segala yang pengasih.

    Ya Allah, Maha Pengangkat derajat serta yang menurunkan berkah.
    Ya Allah, Pencipta bumi dan langit gemuruhlah suara-suara aduan kepada Engkau
    dengan aneka ragam bahasa. Mereka memohon kepada-Mu berbagai keperluan, dan keperluanku.
    Ya Allah, kiranya Engkau tidak melupakanku di tempat tujuan ketika penduduk dunia melupakanku.

    Ya Allah, Engkau Pasti mendengar perkataanku dan Engkau melihat tempatku, Engkau mengetahui
    apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku lahirkan, tiada sesuatu yang rahasia bagi Engkau
    dari urusanku, aku ini seorang yang menderita dan memerlukan bantuan, yang gemetar minta dilindungi,
    yang mengakui dosanya.

    Aku mohon kepada Engkau dengan permohonan orang-orang yang minta dikasihani, mengharap kepada Engkau
    dengan harapan orang-orang yang berdosa lagi hina. Aku mohon kepada Engkau, dengan permohonan
    orang yang sangat takut dan khawatir, ialah orang yang menundukkan kepala di hadapan Engkau,
    berlinang air matanya, lunglai jasadnya, dan dipasrahkan seluruh tubuhnya.

    Ya Allah, janganlah Engkau jadikan doaku kepada-Mu menjadikan aku sial dan celaka, 
    dan jadikanlah doaku sebagai harapan agar Engkau tetap sayang kepadaku, wahai Tuhan
    yang sebaik-baik tempat meminta dan semurah-murah pemberi. Ya Allah, Engkau telah 
    menetapkan memberi anugerah penghormatan untuk para tamu, kami ini tamu-Mu maka tetapkanlah
    surga itu anugerah penghormatan buat kami. 

    Ya Allah, Engkau sesungguhnya bagi setiap tamu
    berhak mendapatkan penghormatan dan setiap pengunjung mendapatkan kemuliaan (karomah)
    dan setiap pemohon mendapatkan pemberian dan setiap pengharap mendapatkan pahala 
    dan setiap orang yang mengharapkan sesuatu pada-Mu mendapatkan balasan 
    dan setiap pemohon kasih mendapatkan rahmat, dan setiap orang yang mempunyai keinginan
    ke hadapan-Mu mendekapatkan kedekatan dan setiap orang yang bertawassul kepada-Mu mendapatkan ampunan.
    Sekarang kami ini telah datang ziarah ke Baitullah, kami wukuf di tempat yang agung 
    dan kami telah menyaksikan pemandangan-pemandangan yang mulia karena mengharapkan sesuatu pada-Mu,
    maka janganlah menghampakan harapan kami wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

    Ya Allah, ampunilah dosa muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup
    atau sudah wafat, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar; Maha dekat lagi mengabulkan permintaan
    wahai Dzat yang mencukupi kebutuhan. Ya Allah tolonglah kami, seperti pertolongan yang Engkau
    berikan kepada orang-orang yang Engkau cintai untuk mengalahkan musuh-Mu. Ya Allah, 
    janganlah msusuh-musuh kami baik yang di luar maupun yang di dalam diberi kesempatan 
    untuk menguasai kami dengan sebab dosa-dosa kami. Ya Allah, stabilkanlah keamanan negeri kami,
    damaikanlah para pemimpin negara kami, jadikanlah mereka golongan orang yang takut 
    dan takwa kepada-Mu wahai Tuhan alam semesta.

    Ya Allah, rukunkanlah dan damaikanlah semua pemimpin umat islam, tolonglah islam dan kaum muslimin
    dan tinggikanlah kalimat-Mu sampai hari kiamat. Jadikanlah negara kami Indonesia negara yang aman
    sentosa danb penuh berkah demikian pula negara-negara Islam lainnya.

    Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana dan wabah, perbuatan keji dan munkar,
    kezaliman, serangan dan ancaman yang beraneka ragam, keganasan dan segala ujian baik yang nampak
    maupun yang tersembunyi dari negara kami Indonesia khususnya dan negara-negara Islam pada umumnya.
    Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.

    Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,
    dan janganlah Engkau menjadikan dengki dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. 
    Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, 
    kami telah menganiaya diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni 
    dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. 
    Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri/suami dan keturunan kami sebagai buah hati
    dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

    Ya Allah ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di akhirat dan hindarkan kami dari api neraka.
    Semoga salam dan sejahtera tercurah pada njunjungan kami nabi Muhammad SAW, keluarga 
    dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

    Ibadah Haji: Bermalam Mabit Di Mina

    Mabit di Mina adalah bermalam (singgah) di Mina, selama 2 hari atau 3 hari dan merupakan persinggahan terlama. Bermalam di Mina bebas mamilih dapat sesudah 2 hari (nafar awal) atau menangguhkan keberangkatannya lebih dari 2 hari (nafar akhir). Firman Allah:

    Mabit di Mina adalah bermalam (singgah) di Mina, selama 2 hari atau 3 hari dan merupakan persinggahan terlama.

    Dasar Hukum

    Bermalam di Mina bebas mamilih dapat sesudah 2 hari (nafar awal) atau menangguhkan keberangkatannya lebih dari 2 hari (nafar akhir). Firman Allah:

    Artinya: “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang (11, 12, 13, Dzulhijah = hari tasyrik). Barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari 2 hari itu, tiada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa” (QS.2: 203).

    Mabit di Mina hukumnya wajib kecuali bagi orang yang uzur (Hadist Nabi riwayat Syarah Al Muhazzab). Yang termasuk golongan orang-orang yang uzur adalah orang yang takut hilang hartanya kalau menginap di Mina, atau takut bahaya dirinya, atau sakit yang sukar baginya untuk menginap di Mina, atau ada orang yang sakit yang harus di urusinya, atau mencari budak yang hilang, atau sibuk dengan urusan lain yang ia khawatir tidak akan terkejar lagi kalau ia Mabit di Mina, dan tidak diwajibkan membayar sesuatu. 

    KEUTAMAAN 

    • Bermalam di Mina dimaksudkan guna bertukar pikiran, berdiskusi dengan sesama jamaah haji dari berbagai negara perihal permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan agama, serta mencari solusinya.

    TATA CARA PELAKSANAAN MABIT DI MINA

    • Malam hari berkumpul beralaskan dengan tikar sampai melewati waktu tengah malam, berdiskusi antara sesama jamaah atau berdzikir.

    DO’A YANG DIPANJATKAN PADA SAAT MABIT DI MUDZDALIFAH

    • Memperbanyak dzikir kepada Allah

    HAKEKAT MABIT DI MINA DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

    • Persinggahan di Mina melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Cinta adalah tahap terakhir sesudah tahap pengetahuan dan kesadaran. Selama bermalam di Mina ini kita gunakan untuk merenungi pandangan hidup kita dan apa-apa yang telah kita lakukan serta untuk berdiskusi dengan orang lain berbagai negeri yang memiliki agama, kecintaan, kebutuhan dan ideologi yang sama dengan kita. 
    • Mina adalah lembah yang gersang, tidak ada pemandangan yang menarik, tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada taman-taman. Di Mina kita duduk bersama, membahas masalah-masalah kita dan pelajaran yang dapat dipetik dalam rangkaian ibadah thawaf, sai, wukuf di Arafah, bermalam di Mudzalifah dan melempar jumrah yang kita lakukan sebagai usaha mencari surga selalu disertai orang banyak dan bersama-sama dengan orang lain. 
    • Mina adalah negeri cinta, perjuangan dan syahid. Negeri tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah sebagai kaum yang bersatu untuk berpartisipasi dalam amal ““amal kebajikan dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini.
    • Selama 2 atau 3 hari bermalam di Mina berkumpul dengan orang banyak baik yang terpelajar maupun buta huruf, baik profesor maupun buruh pabrik, baik pemimpin spiritual termasyhur atau petani sederhana, berpatisipasi dan berhak berbicara secara terbuka karena perbedaan pangkat, jabatan, derajat dan warna kulit telah di tinggalkan di Miqat. Semuanya adalah sama sebagai hamba Allah dan mempunyai derajat yang sama sebagai haji.
    • “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang (11, 12, 13, Dzulhijah = hari tasyrik). Barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari 2 hari itu, tiada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa” (QS.2: 203).
    • Mabit di Mina hukumnya wajib kecuali bagi orang yang uzur (Hadist Nabi riwayat Syarah Al Muhazzab). Yang termasuk golongan orang-orang yang uzur adalah orang yang takut hilang hartanya kalau menginap di Mina, atau takut bahaya dirinya, atau sakit yang sukar baginya untuk menginap di Mina, atau ada orang yang sakit yang harus di urusinya, atau mencari budak yang hilang, atau sibuk dengan urusan lain yang ia khawatir tidak akan terkejar lagi kalau ia Mabit di Mina, dan tidak diwajibkan membayar sesuatu. 

    KEUTAMAAN MABIT DI MINA

    • Bermalam di Mina dimaksudkan guna bertukar pikiran, berdiskusi dengan sesama jamaah haji dari berbagai negara perihal permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan agama, serta mencari solusinya.

    TATA CARA PELAKSANAAN MABIT DI MINA

    • Malam hari berkumpul beralaskan dengan tikar sampai melewati waktu tengah malam, berdiskusi antara sesama jamaah atau berdzikir.

    DO’A YANG DIPANJATKAN PADA SAAT MABIT DI MUDZDALIFAH

    • Memperbanyak dzikir kepada Allah

    HAKEKAT MABIT DI MINA DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

    • Persinggahan di Mina melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Cinta adalah tahap terakhir sesudah tahap pengetahuan dan kesadaran. Selama bermalam di Mina ini kita gunakan untuk merenungi pandangan hidup kita dan apa-apa yang telah kita lakukan serta untuk berdiskusi dengan orang lain berbagai negeri yang memiliki agama, kecintaan, kebutuhan dan ideologi yang sama dengan kita. 
    • Mina adalah lembah yang gersang, tidak ada pemandangan yang menarik, tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada taman-taman. Di Mina kita duduk bersama, membahas masalah-masalah kita dan pelajaran yang dapat dipetik dalam rangkaian ibadah thawaf, sai, wukuf di Arafah, bermalam di Mudzalifah dan melempar jumrah yang kita lakukan sebagai usaha mencari surga selalu disertai orang banyak dan bersama-sama dengan orang lain. 
    • Mina adalah negeri cinta, perjuangan dan syahid. Negeri tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah sebagai kaum yang bersatu untuk berpartisipasi dalam amal ““amal kebajikan dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini.
    • Selama 2 atau 3 hari bermalam di Mina berkumpul dengan orang banyak baik yang terpelajar maupun buta huruf, baik profesor maupun buruh pabrik, baik pemimpin spiritual termasyhur atau petani sederhana, berpatisipasi dan berhak berbicara secara terbuka karena perbedaan pangkat, jabatan, derajat dan warna kulit telah di tinggalkan di Miqat. Semuanya adalah sama sebagai hamba Allah dan mempunyai derajat yang sama sebagai haji.

    6 Lokasi utama dalam ibadah haji

    image

    Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

    Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini. Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a(tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

    6 Lokasi utama dalam ibadah haji

    1. Makkah Al Mukaromah Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka’bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.
    2. Arafah Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yaitu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Zulhijah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
    3. Muzdalifah Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.
    4. Mina Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.
    5. Madinah Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini.
    6. Haji Arbain Haji Arbain (bahasa Arab: اربعين arba’in, artinya “empat puluh”) adalah ibadah haji yang disertai dengan salat fardhu sebanyak 40 kali di Masjid An-Nabawi Madinah tanpa terputus. Ibadah ini seringkali dikerjakan oleh jamaah haji dari Indonesia. Dalam pelaksanaannya, mereka setidak-tidaknya tinggal di Madinah saat haji selama 8 atau 9 hari, dan dengan perhitungan sehari akan salat wajib sebanyak 5 kali dan selama 8 atau 9 hari maka akan tercukupi jumlah 40 kali salat wajib tanpa terputus.

    sumber: wikipedia dan berbagai sumber lainnya

    www.islamislami.com

    Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara
    Copyright © 2015, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved