Tag Archives: haji

TERLAMBAT DAN TERHALANGNYA HAJI MENURUT RASULULLAH

TERLAMBAT DAN TERHALANGNYA HAJI MENURUT RASULULLAH

بَابُ اَلْفَوَاتِ وَالْإِحْصَارِِ

Hadits No. 797
Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terhalang, lalu beliau mencukur rambut kepalanya, bercampur dengan istrinya, dan menyembelih kurbannya hingga berumrah tahun depan. Riwayat Bukhari.

ََعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( قَدْ أُحْصِرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَحَلَقَ وَجَامَعَ نِسَاءَهُ, وَنَحَرَ هَدْيَهُ, حَتَّى اِعْتَمَرَ عَامًا قَابِلًا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Hadits No. 798
‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ke rumah Dluba’ah bintu al-Zubair Ibnu Abdul Mutthalib, lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menunaikan haji, namun aku sakit. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berhajilah dan tetapkanlah syarat bahwa tempat tahallulku ialah dimana aku terhalang.” Muttafaq Alaihi.

ََوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ اَلزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي أُرِيدُ اَلْحَجَّ, وَأَنَا شَاكِيَةٌ، فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حُجِّي وَاشْتَرِطِي: أَنَّ مَحَلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Hadits No. 799
Dari Ikrimah, dari al-Hajjaj Ibnu Amar al-Anshory Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa patah kakinya atau pincang, maka ia boleh tahallul dan ia wajib haji tahun mendatang.” Ikrimah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas dan Abu Hurairah tentang hadits tersebut. Mereka menjawab: Benar. Riwayat Imam Lima. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

ََوَعَنْ عِكْرِمَةَ, عَنْ اَلْحَجَّاجِ بْنِ عَمْرٍو اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ كُسِرَ, أَوْ عُرِجَ, فَقَدَ حَلَّ وَعَلَيْهِ اَلْحَجُّ مِنْ قَابِلٍ قَالَ عِكْرِمَةُ. فَسَأَلْتُ اِبْنَ عَبَّاسٍ وَأَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ ذَلِكَ? فَقَالَا: صَدَقَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

Mina, Kota Tenda Tempat Lempar Jumrah Ibadah Haji

Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wulkuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan salat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

Keutamaan Haji Menurut Hadits Rasulullah

Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Haji merupakan amalan yang paling afdhol.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Orang yang berhaji adalah tamu Allah
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sejarah Haji Dari Zaman Nabi Ibrahim

Sejarah Haji mencakup periode yang dimulai sejak zaman nabi Ibrahim melalui dibentuknya ritus haji Islam oleh nabi Islam Muhammad, hingga haji saat ini ketika jutaan umat Islam melakukan ziarah mereka setiap tahunnya. Dalam tradisi Islam, ziarah diperkenalkan di masa nabi Ibrahim. Atas perintah Allah, dia membangun Kakbah yang menjadi tujuan ziarah. Bagi orang-orang Arab pagan di Arabia pra-Islam, Kakbah merupakan pusat kiblat mereka. Pola haji Islam saat ini didirikan oleh Muhammad, sekitar tahun 632M, yang melakukan reformasi terhadap ziarah pra-Islam orang-orang Arab pagan. Selama abad pertengahan, peziarah akan berkumpul di kota-kota besar seperti Basra, Damaskus, dan Kairo untuk pergi ke Mekkah dalam kelompok maupun karavan yang terdiri dari puluhan ribu peziarah.
Dalam sejarah haji yang cukup panjang, suku-suku nomaden padang pasir – yang dikenal sebagai Badui – telah menjadi isu keamanan yang agak ketat untuk kafilah haji. Sekali lagi, sepanjang sejarah, perjalanan ziarah ke Mekkah telah menawari para peziarah dan juga para pedagang profesional kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas perdagangan baik dalam perjalanan maupun di Mekkah, Damaskus, dan Kairo.

Zaman Nabi ibrahim

Atas perintah Tuhan, Ibrahim meninggalkan istrinya Hagar (Hajar) dan anaknya Ismael (Isma’il) sendirian di padang pasir kuno Mekkah dengan sedikit makanan dan air yang segera berakhir. Mekkah kemudian menjadi tempat yang tidak berpenghuni. Untuk mencari air, Hajar dengan putus asa berlari tujuh kali di antara dua bukit Shofa dan Marwah tapi tidak menemukan satu pun. Kembali dalam keputusasaan ke di Ismael, dia melihat ada seorang bayi sedang menggaruk tanah dengan kakinya lalu keluar air mancur di bawahnya. Karena adanya air, suku-suku mulai menetap di Mekkah, Jurhum menjadi suku pertama yang datang. Ketika dewasa, Ismail menikah di suku dan mulai tinggal bersama mereka. Quranmenyatakan bahwa Ibrahim, bersama dengan anaknya Ismail, membangun fondasi sebuah rumah yang diidentifikasi oleh kebanyakan komentator sebagai Kakbah. Setelah menempatkan Batu Hitam di sudut timur Kakbah, Ibrahim menerima sebuah wahyu dimana Allah mengatakan ke di nabi berusia lanjut bahwa dia sekarang harus pergi dan mengumumkan ziarah ke umat manusia. Quran mengacu di kejadian ini dalam Al-Baqarah:124-127 dan Al-Hajj:27-30. Ulama Islam Shibli Nomani menyebutkan bahwa rumah yang di bangun oleh Ibrahim tingginya 27 kaki, panjang 96 kaki, dan lebar 66 kaki.

Arab pra-Islam

Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam adalah pemuja berhala. Kakbah masih menjadi pusat pemujaan mereka, dan dipenuhi dengan berhala dan gambar Malaikat. Selama musim ziarah tahunan, orang-orang dari dalam dan luar negeri akan mengunjungi Kakbah. Suku Quraisy bertugas menghibur dan melayani para peziarah. Shibli Nomani menyebutkan bahwa orang-orang Arab pagan memperkenalkan beberapa ritus suci selama ziarah mereka. Tidak seperti ibadah Haji hari ini, mereka tidak berjalan di antara perbukitan Shofa dan Marwah dan tidak berkumpul di Arafah. Beberapa akan menjaga keheningan selama seluruh perjalanan ziarah. Kecuali orang-orang dari suku Quraisy, yang lain akan tampil tawaf dalam keadaan telanjang. Selama tahun-tahun awal kenabian Muhammad, musim haji menawarkan Muhammad kesempatan untuk mengkhotbahkan Islam ke di orang asing yang datang ke Mekkah untuk berziarah. dan haji

Pola Haji saat ini didirikan oleh nabi Islam Muhammadyang melakukan reformasi terhadap ziarah pra-Islam orang-orang Arab pagan. Mekkah ditaklukkan oleh umat Islam di 630 M. Muhammad kemudian membersihkan Kakbah dengan menghancurkan semua berhala pagan, dan kembali menahbiskan bangunan tersebut ke di Allah.[6] Tahun selanjutnya, ke arah Muhammad, Abu Bakrmemimpin 300 orang Muslim untuk berziarah di Mekkah di mana Ali menyampaikan sebuah khotbah yang menetapkan ritus baru haji dan membatalkan upacara pagan. Dia secara khusus menyatakan bahwa tidak ada orang yang tidak beriman, kafir, dan telanjang yang diizinkan untuk mengelilingi para Kakbah dari tahun depan. pada tahun 632 M, sesaat sebelum wafatnya, Muhammad melakukan ziarah satu-satunya dan terakhir dengan sejumlah besar pengikut, Dan mengajarkan mereka ritus haji dan tatakrama untuk melakukan hal itu. Di dataran Arafah, dia menyampaikan pidato terkenal – yang dikenal dengan Khotbah perpisahan Nabi Muhammad – ke di mereka yang hadir di sana. Sejak saat itu, haji menjadi salah satu dari Lima Rukun Islam.

Abad Pertengahan dan Utsmaniyah

Selama abad pertengahan, peziarah akan berkumpul di ibu kota Suriah, Mesir, dan Irak untuk pergi ke Mekkah dalam kelompok dan karamba terdiri dari puluhan ribu peziarah. Para penguasa Muslim akan bertanggung jawab atas Haji, dan memberikan patronase negara untuk mengorganisir kafilah ziarah tersebut.Untuk memfasilitasi perjalanan ziarah, sebuah jalan sepanjang 900 mil dibangun, membentang dari Irak ke Mekkah dan Madinah. Pembangunan jalan itu mungkin dilakukan di khalifah Abbasiyah ketiga al-Mahdi, ayah dari khalifah Abbasiyah Abbasiyah Harun al-Rashid, sekitar tahun 780 M. Ini kemudian dinamai ‘Jalan Zubayda’ (Darb Zubaidah), setelah istri Harun, karena dia terkenal melakukan perbaikan di sepanjang rute dan memberikannya dengan air dan rumah makan untuk peziarah secara berkala. Baik Harun dan Zubayda melakukan ibadah haji beberapa kali melakukan kegiatan perbaikan di Mekkah dan Madinah.

Banyak informasi tentang haji abad pertengahan berasal dari pengamatan langsung terhadap tiga pelancong Muslim – Nasir Khusraw, Ibnu Jubair, dan Ibnu Batutah – yang melakukan ziarah dan mencatat laporan rinci tentang perjalanan haji di zaman mereka. Khusraw melakukan haji pada tahun 1050 Masehi. Memulai perjalanan pertamanya dari Granada pada tahun 1183 M, Ibnu, Jubayr, penduduk asli Spanyol, melakukan ziarahnya pada tahun 1184 dan kemudian pergi ke Baghdad. Ibnu Battuta, penduduk asli Maroko, meninggalkan rumahnya pada tahun 1325 dan melakukan ziarahnya pada tahun 1326 M.[19]Setelah jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 (selama periode Mamluk), Damaskus dan Kairomenjadi poin utama bagi para peziarah. Sementara peziarah jemaah haji di Suriah, Irak, dan Iran, dan Anatolia bergabung dengan kafilah Damaskus, mereka yang berasal dari wilayah Afrika Utara dan Sub Sahara bergabung dengan kafilah Kairo.

Rute haji

Di Irak abad pertengahan, titik pusat pengumpulan untuk peziarah adalah Kufah dan Basra dimana bekas terhubung dengan wilayah Hejaz oleh Jalan Zubayda. Rute ini dimulai dari Kufah, melintasi Fayd (sebuah tempat di dekat Jabal Shammar di bagian tengah Arab Saudi), melintasi wilayah Nejd (sebuah wilayah di Arab Saudi tengah), lalu menuju Madinah, dan kemudian sampai ke Mekkah. Di Syria abad pertengahan, titik keberangkatan bagi peziarah adalah Damaskus. Rute Syria ini dimulai dari Damaskus, dan menuju ke selatan, mencapai Al-Karak dan kemudian Ma’an (keduanya berada di Yordania saat ini), menyeberang melalui Tabuk (sebuah tempat di barat laut Arab Saudi), Hijr (sekarang Madain Shaleh), Dan Al-Ula (di barat laut Arab Saudi, 380 km utara Madinah), lalu melanjutkan perjalanan ke Madinah, dan kemudian sampai ke Mekkah. Sejak pemerintahan Umayyah sampai zaman Ottoman, kota Ma’an berperan sebagai tempat pasar bagi peziarah di rute Syria. Di rute Mesir, para peziarah akan berkumpul di Kairo, dan setelah empat hari, mulailah ke tanah Ajrud (24 kilometer barat laut Suez), dan dari sana mereka akan sampai ke Suez, dan melintasi Semenanjung Sinai melalui titik Al-Nakhl, mereka Akan mencapai Aqaba (di bagian selatan Yordania sekarang), kemudian melakukan perjalanan sejajar dengan Laut Merah, mereka sampai di Yanbu, kemudian dilanjutkan ke Madinah, dan akhirnya sampai ke Mekkah. Kafilah haji akan memulai perjalanan ziarah mereka dari sana, melakukan perjalanan darat atau laut dan melalui ding pasir, dan, setelah pertunjukan ziarah, kembali ke sana. Total perjalanan memakan waktu kira-kira dua sampai tiga bulan rata-rata. Ziarah ke Mekkah terutama merupakan perjalanan darat dengan menggunakan unta sebagai sarana transportasi. Sepanjang sejarah, bagaimanapun, banyak peziarah jauh dari Maghreb, anak benua India, dan Asia Tenggara juga harus menggunakan berbagai rute laut untuk mencapai Hejaz. Jemaah haji dari Maghreb (Tunisia, Aljazair, Libya) akan melakukan perjalanan melalui pantai bawah laut Mediterania untuk mencapai dan bergabung dengan kafilah Kairo. Beberapa peziarah yang datang dari Afrika akan menyeberangi Laut Merah untuk mencapai Hijaz, dan kemudian ke Mekkah.

Di era Ottoman

Setelah Dinasti Utsmani berkuasa, sultan Kekaisaran Utsmaniyah mengkhawatirkan pengelolaan program haji, dan mengalokasikan anggaran tahunan untuk pengaturannya.[29] Selama periode ini, Damaskus dan Kairo masih menjadi poin utama dari mana kafilah utama haji akan berangkat dan kembali. Kafilah ini termasuk ribuan unta untuk membawa peziarah, pedagang, barang, bahan makanan, dan air. Banyak orang juga melakukan perjalanan ziarah mereka dengan berjalan kaki. Para penguasa akan memasok kekuatan militer yang diperlukan untuk menjamin keamanan kafilah haji. Komandan kafilah yang berangkat dari Kairo dan Damaskus ditunjuk oleh kedaulatan Muslim dan dikenal sebagai Amir al-Haji. Mereka bertanggung jawab untuk melindungi peziarah kafilah tersebut, dan mengamankan dana dan persediaan untuk perjalanan tersebut. Ahli bedah dan dokter juga dikirim dengan kafilah Suriah ke dokter para peziarah bebas biaya. Selama periode ini, sekitar 20.000 sampai 60.000 orang melakukan ziarah mereka setiap tahunnya.

Menurut Ibn Jubayr, selama Khilafah Fatimiyah (909-1171 M), pajak dikenakan di peziarah oleh penguasa lokal Hijaz dengan tarif tujuh setengah dinar per kepala. Mereka yang tidak mampu membayarnya harus mengalami penyiksaan fisik yang ekstrem.[34] Namun, mengenakan pajak di peziarah dianggap ilegal oleh para ahli hukum Islam. Setelah Saladin memerintah kekhalifahan Fatimiyah sekitar tahun 1171 dan mendirikan dinasti Ayyubiyah, usaha dilakukan oleh dia untuk menghapuskan pajak di peziarah.[34] Penghapusan pajak ilegal Saladin dipuji oleh Ibn Jubayr. Namun, tindakan Saladin terbukti tidak mencukupi, terutama di masa kemudian, sebagian karena ada pajak lain (seperti pajak karavan atau unta haji) dan juga karena keputusan administratif, yang diambil di Damaskus atau Kairo, tidak mudah diterapkan secara efektif di Hijja Karena jarak jauh. Beberapa sultan Mamluk kemudian – seperti Baybersand Hassan – melakukan usaha aktif untuk mengendalikan penguasa lokal Mekkah dari mengenakan pajak di karavan peziarah dengan memberi kompensasi ke di penguasa Mekkah dengan alokasi tahunan sejumlah uang tetap.[35] Al-Suyuti menyebutkan bahwa pada tahun 384 AH (sekitar tahun 994 M), peziarah yang datang dari Irak, Suriah, dan Yaman untuk melakukan haji kembali tidak berhasil karena mereka tidak diijinkan melakukan haji tanpa membayar pajak. Hanya peziarah Mesir yang melakukan haji tahun itu.[15]

Masalah Badui

Dalam sejarah haji yang cukup panjang, suku-suku nomaden ding pasir – yang dikenal sebagai Badui – telah menjadi isu yang agak gigih bagi kafilah haji. Mereka sering digunakan untuk menyerang kafilah – haji atau barang dagangan – yang melewati wilayah mereka, sehingga menimbulkan ancaman keamanan. Mereka harus dibayar dengan bayaran yang serampangan dengan imbalan keamanan karavan haji. Kepala rezim akan menyerahkan pembayaran ke di Amir al-Hajj – komandan yang bertanggung jawab atas kafilah haji – yang kemudian akan melakukan pembayaran ke di suku Badui sesuai dengan tuntutan situasi. Bahkan saat itu, ada korban sesekali. pada tahun 1757 M, suku Badui, Bani Sakhr, menyerang kafilah haji yang mengakibatkan kematian banyak peziarah, segera dan sesudahnya, dan korban lainnya.

Aktivitas perdagangan

Sepanjang sejarah, perjalanan ziarah ke Mekkah telah menawari para peziarah dan juga pedagang profesional melakukan kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas perdagangan baik dalam perjalanan maupun di Mekkah, Damaskus, dan Kairo. Pembebasan bea cukai di darat dan keamanan yang diberikan di kafilah haji membuat ladang yang menguntungkan untuk diperdagangkan. Banyak peziarah membawa barang, diproduksi di tanah masing-masing, untuk menjualnya, sehingga menjadi pedagang sesekali, dan mengelola beberapa biaya untuk perjalanan haji.

Menurut John Lewis Burckhardt, orang-orang Afghanistan membawa selendang kasar, manik-manik batu, sikat gigi; Orang-orang Turki Eropa membawa sepatu, sandal, tas sutra rajutan, barang bordir, dan manisan; Orang Turki Anatolia membawa selendang dan karpet Angora; Para peziarah Maghreb membawa jubah yang terbuat dari wol. Pengusaha profesional melakukan kegiatan perdangangan berskala besar yang mencakup pengangkutan barang antara Mekkah dan kota mereka sendiri serta penjualan sendiri rute haji. Barang-barang India dan barang-barang Timur lainnya, yang dibawa ke Mekkah oleh kapal-kapal, dibeli oleh pedagang besar di Kairo dan Damaskus yang, setelah kembali, kemudian menjualnya di pasar mereka sendiri. Barang-barang ini umumnya termasuk tekstil India, berbagai rempah-rempah, kopi, obat-obatan terlarang, dan batu mulia.

Tata Cara Tawaf dan Doanya

Jamaah haji yang sedang tawaf mengelilingi Ka’bah

Tawaf

Tawaf adalah kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Tawaf adalah salah satu amal ibadah yang dilakukan oleh Muslim pada saat melaksanakan haji dan umrah. Tawaf hanya dilakukan di Masjidil Haram.

Syarat Tawaf

  1. Suci dari hadas.
  2. Suci dari najis pada badan dan pakaian.
  3. Menutup aurat.
  4. Dimulai dari tempat yang sejajar dengan Hajar Aswadyang ada disalah satu sudut Ka’bah. Apabila seseorang memulai tawafnya pada sudut Kaabah yang tidak sejajar dengannya, maka putaran itu tidak dihitung hingga sampai pada sudut Hajar Aswad untuk dihitung sebagai awal tawaf.
  5. Mengirikan Ka’bah dan berjalan ke depan.
  6. Dilakukan di dalam Masjidil Haram tetapi di luar bahagian Kaabah iaitu di luar Hijir Ismail (ﺣﺠﺮ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ) dan Syazarwan (ﺷﺎﺫﺭﻭﺍﻥ).
  7. Dilakukan tujuh putaran dengan yakin.

Sunah Tawaf

Berikut adalah amalan sunah dilakukan saat bertawaf:

  1. Bertawaf dengan berjalan kaki.
  2. Memendekkan langkah.
  3. Berjalan cepat dengan berlari anak.
  4. Istilam kepada Hajar Aswad saat awal tawaf sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.
  5. Beristilam dengan tangan kanan.
  6. Mencium Hajar Aswad dan meletakkan dahi ke atasnya.
  7. Beristilam di rukun Yamani.
  8. Berittibak.
  9. Solat sunah dua rakaat setelah tawaf di belakang Maqam Ibrahim.
  10. Bertawaf berdekatan dengan Ka’bah (untuk memudahkan istilam).

Istilam –

  • Mencium Hajar Aswad atau menyentuhnya dengan tangan.
  • Jika tidak mampu, memadai dengan isyarat atau melambai dengan tangan.
  • Lebih baik dilakukan setiap putaran jika mampu.

Ittibak –

  • Meletakkan pertengahan kain selendang/ihram di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya di atas kiri dengan menjadikan bahu kanan terbuka bagi kaum pria.

Jenis Tawaf

  • Tawaf Qudum (ﻗﺪﻭﻡ ) – tawaf “selamat datang” yang dilakukan ketika baru sampai di Mekah.
  • Tawaf Ifadhah (ﺇﻓﺎﺿﻪ) – tawaf yang menjadi rukun haji dan dilakukan bagi mereka yang telah pulang dari Wukuf di Arafah. Juga dinamakan bagi tawaf rukun umrah.
  • Tawaf Sunah (ﺳﻨﺔ) – tawaf yang dilakukan semata-mata mencari ridha Allah pada waktu kapanpun.
  • Tawaf Tahiyyat (ﺗﺤﻴﺔ) – tawaf sunah yang lazim dilakukan saat memasuki Masjidl Haram.
  • Tawaf Nazar (ﻧﺬﺭ) – melakukan tawaf untuk memenuhi nazar (janji)
  • Tawaf Wada’ (ﻭﺩﺍﻉ) – tawaf “selamat tinggal” yang dilakukan sebelum meninggalkan kota Mekkah sebagai tanda penghormatan dan memuliakan Baitullah

Doa yang wajib dilafalkan saat rangkaian Tawaf

1. Doa Sebelum Minum Air Zam-zam

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أْسْأَلُكَ عِلْمً نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَآءً مِنْ كُلِّ دَآءٍ وَسَقَمٍ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, aku mohon kepadaMu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizki yang luas dan sembuh dari segala sakit dan penyakit pikun dengan rahmatMu ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

2. Doa Setelah Salat Sunat di Hijir Ismail

Salat sunat di Hijir Ismail dilakukan setelah shalat sunat Thawaf, bacaan surat pendek yang dianjurkan sama dengan salat sunat thawaf, sesudah itu dianjurkan berdoa:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ أَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.

Ya Allah, Engkaulah pemeliharaku, tiada Tuhan selain Engkau yang menjadikan daku. Aku ini hambaMu, memenuhi janji dan ikatan padaMu sejauh kemampuanku, sedapat mungkin aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang telah aku perbuat,

aku kembali padaMu membawa nikmatMu dan membawa dosa-dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain dari Engkau.

Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh hamba-hambaMu yang shaleh kepadaMu, dan aku berlindung pula padaMu seperti hamba-hambaMu yang shaleh.

3. Doa Sesudah Salat Sunat Tawaf

Salat sunat tawaf sebaiknya dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, tapi apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan di mana saja asal di dalam Masjid Haram.

Pada rakaat pertama sebaiknya membaca Surat Al Kafirun, dan pada rakaat kedua Al Ikhlas.

Salat sunat thawaf sebaiknya dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, tapi apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan di mana saja asal di dalam Masjidil Haram.

Pada rakaat pertama sebaiknya membaca Surat Al Kafirun, dan pada rakaat kedua Al Ikhlas. Sesudah itu dianjurkan berdoa:

اَللّٰهمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَا نِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِيْ سُؤَاِلِيْ وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِي ذُنُوْبِيْ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ إِنَّكَ أَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْْتُ نَفْسِيْ فَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ الَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku yang tersembunyi dan amal perbuatanku yang nyata, terimalah permohonanku, Engkau Maha Mengetahui hajatku, perkenankanlah harapanku.

Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci engkau dan Maha Terpuji namaMu. Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka rahmatilah aku karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rahmat. Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci dan Maha Terpuji namaMu.

Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka terimalah tobatku, karena Engkaulah sebaik-baik penerima tobat dan lagi Maha Rahiim.

4. Doa di Multazam Setelah Tawaf

اَللّٰهُمَّ يَا رَبَّ الْبَيْتَ الْعَتِيْقِ أَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ اٰبَآئِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَوْلَادِنَا مِنَ النَّارِ يَاذَا اْلجُوْدِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَاْلمَنِّ وَالْعَطَاءِ وَاْلإِحْسَانِ. اَللّٰهُمَّ أَحْسِنْ عَا قِبَتَنَا فِى اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلاٰخِرَةِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَاقِفٌ تَحْتَ بَابِكَ مُلْتَزِمٌ بِِأَعْتَا بِكَ مُتَذَلِّلٌ بَيْنَ يَدَيْكَ أَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَأَخْشَى عَذَابَكَ يَا قَدِيْمَ اْلإِحْسَانِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ ذِكْرِيْ وَتَضَعَ وِزْرِيْ وَ تُصْلِحَ أَمْرِيْ وَتُطَهِّرَ قَلْبِيْ وَتُنَوِّرَ لِيْ فِى قَبْرِيْ وَتَغْفِرَ لِيْ ذَنْبِيْ وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى ىفِ الْجَنَّةِ.

Ya Allah Tuhanku yang memelihara Ka’bah ini, merdekakanlah diri kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, yang mempunyai keutamaan, kelebihan, anugerah dan kebaikan.

Ya Allah Tuhanku sesungguhnya aku ini hambaMu, anak dari hambaMu tegak berdiri di bawah pintu Ka’bahMu, menundukan diri di hadapanMu, sambil mengharapkan rahmatMu, kasih sayangMu, aku takut akan siksaMu, wahai Tuhan Yang Maha Tahu yang punya segala kebaikan.

Ya Allah, Tuhanku, aku mohon padaMu, agar engkau tinggikan namaku, hapuskan dosaku, perbaiki segala urusanku, bersihkan hatiku, berilah cahaya kelak dalam kuburku. Berilah ampun dosaku dan aku mohon padaMu martabat yang tinggi di dalam syurga. Amiin.

5. Doa Tawaf Putaran Ketujuh

Doa pada tawaf putaran ketujuh sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran VII)

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً مِنْ كُلِّ ذَنْبً فَاغْفِرْ لِيْ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

Ya Allah, aku bermohon kepadaMu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, rizki yang halal lagi luas, hati yang khusyuk, lidah yang selalu berdzikir dan taubat daripada segala dosa, maka berilah aku ampun, tidak ada yang dapat memberi ampun selain Engkau.

6. Doa Tawaf Putaran Kelima dan Keenam

Doa pada tawaf putaran kelima sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran V)

َاَللّٰهُمَّ إِنَّ بَيْتَكَ عَظِيْمٌ وَوَجْهَكَ كَرِيْمٌ وَأَنْتَ يَا اَللهُ حَلِيْمٌ كَرِيْمٌ عَظِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْو فَاعْفُ عَنِّيْ.

Ya Allah, sesungguhnya rumahMu (Baitullah) ini Agung, wajahMu pun Agung, Maha Pemurah dan Engkau Maha Bijak yang sangat suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.

7. Doa Tawaf Putaran Ketiga dan Keempat

Doa pada tawaf putaran ketiga sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran III)

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيْمَهَا وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ.

Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW, dan aku berlindung padaMu dari kejahatan dan minta perlindunganMu daripada yang diminta Nabi Muhammad SAW.

Ya Allah, aku mohon padaMu surga serta nikmatNya dan apapun yang dapat mendekatkan aku padaNya dari perkataan atau perbuatan ataupun amal.

Dan aku berlindung padaMu dari neraka serta apapun yang mendekatkan aku kepadaNya, baik ucapan, perbuatan ataupun amal.

8. Doa Tawaf Putaran Kedua

Doa pada tawaf putaran kedua sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran II)

اَللّٰهُمَّ إِنَّ هٰذَا اْلبَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمْنُكَ وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدُكَ وَهٰذَا مَقَامُ الْعَائِذِبِكَ مِنْ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَنَا وَبَشَرَتَنَا عَلَى النَّارِ. اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِى الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ.

Ya Allah, sesungguhnya Baitullah ini rumahMu, Mesjid Al Haram ini MesjidMu, Negeri aman ini NegeriMu, Hamba ini hambaMu dan tempat ini adalah tempat orang berlindung padaMu dari neraka, maka peliharalah daging dan kulit kami dari neraka.

Ya Allah, cintakanlah kami pada iman dan hiaskanlah hati kami dengan iman, bencikanlah kami pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat, dan durhaka, serta masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah, peliharalah aku dari azabMu di hari kelak Engkau membangkitkan hamba-hambaMu.

Ya Allah, anugerahilah aku surga tanpa dihisab. (*)

Jadwal Lengkap Kegiatan Ibadah Haji

HARI I DI JEDDAH

  • TIBA DI MEDINAH DAN TURUN MENUJU RUANG TUNGGU DI BANDARA KING   ABDUL AZIZ, TAS KECIL YANG DIGANTUNG DILEHER BERISI PASPORT JANGAN KETINGGALAN, TAS TENTENGAN BAWA MASING-MASING 
  • MENUJU RUANG TUNGGU JIKA ADA TEMPAT LAKUKAN SUJUD SYUKUR
  • BERDOA
  • DUDUK DENGAN TENANG DI KURSI DAN SABAR
  • ANTRIAN PEMERIKSAAN PASPORT OLEH IMIGRASI ARAB SAUDI PEMERIKSAAN TAS OLEH PETUGAS BEA CUKAI ARAB SAUDI
  • SELANJUTNYA MENUJU RUANG TUNGGU KEDUA DAN MENGIKUTI GEROBAK YANG MEMBAWA TAS DAN KOPER
  • MINTA INFORMASI KEPADA PETUGAS HAJI INDONESIA DI BANDARA KING ABDUL AZIZ  JEDDAH JIKA ADA KESULITAN (PETUGAS HAJI MEMAKAI BAJU ADA LOGO BENDERA MERAH PUTIH)
  • SHALAT ZUHUR DAN ASAR JAMAK DAN QASAHAR
  • MENUNGGU PEMBERANGKATAN  KE MADINAH
  • DAPAT MAKAN SELAMA MENUNGGU
  • SIMPAN PASPORT DAN JANGAN LUPA
  • JAGA DAN URUS BARANG BAWAAN MASING-MASING
  • JIKA ADA YANG MENJUAL KARTU PERDANA UNTUK HP DI BANDARA JEDDAH  BELI DAN CATAT NOMOR HP LALU BAGI AMA KAWAN DAN CATAT JUGA NOMOR MEREKA. KALAU TIDAK ADA DI BANDARA JEDDAH BELI KARTU DI SEKITAR HOTEL LAKUKAN HAL YANG SAMA
  • BERANGKAT KE HOTEL BERSAMA ROMBONGAN YANG SUDAH DITENTUKAN

  • TIBA DI HOTEL IAITU DI MADINAH
  • ISTIRAHAT DAN DUDUK DI LOBY HOTEL MENUNGGU PEMBAGIAN KAMAR OLEH KARU DENGAN SABAR
  • KALAU ADA MAKANAN DAN MINUMAN SILAKAN DISANTAP
  • SETELAH DAPAT KAMAR URUS TAS DAN KOPER MASING-MASING
  • ISTIRAHAT SAMBIL MERENCANAKAN UNTUK SHALAT SUBUH DI MASJID NABAWI BERSAMA KAROM DAN KARU

 HARI II HOTEL MADINAH

  • MINTA KEPADA PETUGAS HOTEL KARTU MAKTAB DAN  SELALU DIBAWA JIKA PERGI KELUAR MAKTAB
  • KENALI HOTEL
  • BAGI JAMAAH YANG BELUM PUNYA KARTU HP BELILAH DAN CATAT NOMOR HP KAWAN
  • BERANGKAT KE MESJID NABAWI BERSAMA ROMBONGAN DALAM KEADAAN BERWUDHUK
  • TIBA DI MESJID NABAWI SEPAKATI TEMPAT NGUMPUL YANG MUDAH DIJANGKAU DAN DIINGAT JAMAAH UMPAMANYA NOMOR PINTU MESJID NABAWI ATAU PINTU PAGAR MASJID NABAWI
  • MASUK KE DALAM MESJID NABAWI SAMBIL MEMBACA DOA MASUK MESJID
  • SHALAT SUNAT TAHYATUL MASJID DISESUAIKAN DENGAN WAKTU MASUK KE MESJID
  • BERDOA MINTA SUPAYA DIBERIKAN KESEHATAN, KEKUATAN DAN MINTA SUPAYA KOMPAK SALING TOLONG MENOLONG
  • SHALAT  TAHAJJUD
  • SHALAT SUBUH BILANGAN ARBAIN DIMULAI
  • BACA AL-QUR’AN
  • ZIKIR
  • BERDOA
  • SHALAT ZUHUR, ASHAR, MAGHRIB, ISYA DAN SUBUH SEMUANYA DILAKUKAN DI MASJID NABAWI
  • BERDOA UNTUK: DIRI SENDIRI, AYAH BUNDA, SUAMI/ISTRI, ANAK-ANAK, KELUARGA, SAUDARA, TEMAN, GURU, SANAK SAUDARA DAN TEMAN
  • SAMBIL PULANG KE HOTEL PERHATIKAN PEDAGANG YANG JUAL MAKANAN DEKAT HOTEL
  • TIBA DI HOTEL DARI MESJID NABAWI, ISTRIHATLAH
  • JIKA BANYAK JUAL MAKANAN INDONESIA DISEKITAR HOTEL  LEBIH BAIK TIDAK MASAK DI HOTEL
  • MAKAN DI MADINAH SELAMA 9 HARI DISEDIAKAN UNTUK MAKAN SIANG DAN MALAM. SARAPAN PAGI BELI SENDIRI

HARI III. MADINAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       ZIARAH KE RAUDHAH
6.       ZIARAH KE MAKAM RASUL. SAW
7.       ZIARAH KE BAQI’
    
HARI KE IV MADINAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       ZIARAH KE SEKITAR MADINAH: JABAL UHUD, QIBLATAIN, MESJID QUBA, KHANDAQ, PERCETAKAN AL-QUR’AN, KEBUN KURMA

HARI KE V MADINAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

HARI KE VI MADINAH

1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

HARI KE V MADINAH

1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

HARI KE VII MADINAH

1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
    
HARI KE VIII MADINAH

1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

 HARI KE IX MADINAH

1.       SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DI MESJID NABAWI
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       RAPIKAN SEMUA BARANG (TAS)
6.       PERSIAPAN BERANGKAT KE MAKKAH UNTU UMRAH:
7.       MANDI SUNAT IHRAM UMRAH (SENGAJA AKU MANDI SUNAT IHRAM KARENA ALLAH TA’ALA)
8.       BERPAKAIAN IHRAM
9.       BERTOLAK KE BIR ‘ALI
10.   TIBA DI MESJID BIR ‘ALI TEMPAT MIQAT UMRAH
11.   SHALAT SUNAT IHRAM DUA RAKAAT (SENGAJA AKU SHALAT SUNAT IHRAM DUA RAKAAT KARENA ALLAH TA’ALA
12.   BERNIAT UMRAH (LABBAIK ALLAH ‘UMRATAN  WA  AHRAMTUBIHA LILLAHI TA’ALA ) (YA ALLAH AKU DATANG MEMENUHI PANGGILANMU UNTUK MENGERJAKAN IBADAH UMRAH DAN AKU BERIHRAM DENGANNYA KARENA ALLAH TA’ALA)
13.   BACA TALBIYAH
14.   BERTOLAK KE MAKKAH
15.   SAMPAI DI MAKKAH BACA DOA MASUK MAKKAH
16.   MENUJU MAKTAB
17.   TIBA DI MAKTAB I YAITU DI MAKKAH

18.   ISTIRAHAT DAN DUDUK DI LOBY MAKTAB MENUNGGU PEMBAGIAN KAMAR OLEH KARU DENGAN SABAR
19.   KALAU ADA MAKANAN DAN MINUMAN SILAKAN DISANTAP
20.   SETELAH DAPAT KAMAR URUS TAS DAN KOPER MASING-MASING
21.   ISTIRAHAT SAMBIL MERENCANAKAN UNTUK TAWAF DAN SA’I BERSAMA KAROM DAN KARU

SUNNAH UMRAH:
1.       MANDI SUNAT IHRAM
2.       SHALAT SUNAT IHRAM

RUKUN UMRAH:
1.       IHRAM (NIAT)
2.       TAWAF
3.       SA’I
4.       TAHALLUL
5.       TERTIB (BERURUTAN)

WAJIB UMRAH:
1.       BERNIAT DARI MIQOT
2.       BERPAKAIAN IHRAM
3.       MENJAGA LARANGAN IHRAM

LARANGAN SELAMA BERIHRAM:
1.    MOTONG KUKU
2.    MENCABUT ATAU MEMOTONG RAMBUT DAN BULU
3.    MENYINTUH WANGI-WANGIAN
4.    MERUSAK TANAMAN
5.    BERBURU
6.    MEMINANG
7.    NIKAH
8.    MENIKAHKAN
9.    HUBUNGAN SUAMI ISTRI ATAU BERCUMBU
10. RAFAS, FUSUQ DAN JIDAL
11. MEMBUKA AURAT

HARI KE X MAKKAH

  1. MINTA KEPADA PETUGAS HOTEL KARTU MAKTAB DAN  SELALU DIBAWA JIKA PERGI KELUAR MAKTAB
  2. KENALI MAKTAB
  3. BAGI JAMAAH YANG BELUM PUNYA KARTU HP BELILAH DAN CATAT NOMOR HP KAWAN
  4. BERANGKAT KE MESJID HARAM UNTU TAWAF DAN SA’I BERSAMA ROMBONGAN DALAM KEADAAN BERWUDHUK
  5. TIBA DI MESJID HARAM SEPAKATI TEMPAT NGUMPUL YANG MUDAH DIJANGKAU DAN DIINGAT JAMAAH UMPAMANYA NOMOR PINTU MESJID HARAM
  6. MASUK KE DALAM MESJID HARAM SAMBIL MEMBACA DOA MASUK MESJID
  7. BERDOA MELIHAT KA’BAH
  8. SHALAT SUNAT DISESUAIKAN DENGAN WAKTU MASUK KE MESJID
  9. BERDOA MINTA SUPAYA DIBERIKAN KESEHATAN, KEKUATAN DAN MINTA SUPAYA KOMPAK SALING TOLONG MENOLONG
  10. MENUJU KE AREAL HALAMAN KA’BAH SAMBIL MENGENALI, MEMANDANG KA’BAH DAN SEPAKATI TEMPAT KUMPUL SELESAI TAWAF.
  11. MULAI TAWAF DARI SUDUT HAJAR ASWAD, DENGAN MENGKIRIKAN KA’BAH, NIAT  TAWAF (SENGAJA AKU MELAKSANAKAN IBADAH TAWAF  UMRAH TUJUH KELILING KARENA ALLAH TA’ALA), LAMBAIKAN TANGAN KE HAJAR ASWAD DAN KECUP TANGANNYA, BERJALAN MENGELILINGI KA’BAH SAMBIL  BERDOA, BERZKIR  SEBANYAK TUJUH PUTARAN. SATU PUTARAN DARI HAJAR ASWAD KE HAJAR ASWAD DEMIKIAN SETERUSNYA HINGGA TUJUH PUTARAN
  12. BAGI JAMAAH YANG SUDAH SELESAI TAWAF KUMPUL SEJAJAR DI BELAKANG MAQAM IBRAHIM
  13. SHALAT  SUNAT TAWAF DUA RAKAAT DIBELAKANG MAQAM IBRAHIM (SENGAJA AKU SHALAT SUNAT TAWAF DUA RAKAAT KARENA ALLAH TA’ALA)
  14. BERDOA DIBELAKANG MAQAM IBRAHIM
  15. BERDOA DI SETENTANG MULTAZAM (ANTARA HAJAR  ASWAD DAN PINTU KA’BAH)
  16. MINUM AIR ZAM DIAWALI DENGAN BERDOA
  17. SETELAH SEMUA ROMBONGAN KUMPUL DAN SELESAI MENGERJAKAN POINT2 DI ATAS LANJUTKAN SA’I
  18. LOKASI SA’I BELAKANGKAN PINTU KA’BAH LALU MENGHADAP TIMUR LALU BERJALAN KEDEPAN MELEWATI TANGGA KIRA2 30 METER, SEBELAH KANAN BERARTI BUKIT SHAFA (SEBELAH SELATAN) DAN KIRI BUKIT MARWA (SEBALAH UTARA), LOKASI SA’I DALAM MESJID HARAM. AREAL SA’I ADALAH LURUS SEPANJANG 405 METER.
  19. MULAILAH MELAKSANAKAN IBADAH SA’I DARI BUKIT SHAFA DIAWALI DENGAN NIAT (SENGAJA AKU SA’I UMRAH TUJUH KALI PUTARAN KARENA ALLAH TA’ALA)
  20. SATU PUTARAN DIMULAI DARI BUKIT SHAFA KE MARWA. PUTARAN KEDUA DARI MARWA KE SHAFA DAN SETERUSNYA. (DIANTARA PILAR HIJAU JAMAAH LAKI-LAKI BERJALAN CEPAT SEDANGKAN JAMAAH WANITA JALAN SANTAI). PUTARAN KETUJUH BERAKHIR DI MARWA. PADA SETIAP PUTARAN BERDOA DAN BERZIKIR
  21. SELESAI TUJUH PUTARAN DI BUKIT MARWA KEMUDIAN MENGGUNTING RAMBUT SEBAGAI TANDA BERTAHALLUL
  22. SELESAI LAH IBADAH UMRAH
  23. BERKUMPUL KEMBALI BERSAMA ROMBONGAN. JIKA WAKTU SHALAT  SUDAH DEKAT SHALATLAH DULU BARU BALIK KE MAKTAB
  24. JIKA ADA KESULITAN TELPON KAWAN UNTUK DIMINTA BANTUANNYA

    
HARI KE XI MAKKAH

  1. SAMBIL PULANG KE MAKTAB PERHATIKAN PEDAGANG YANG JUAL MAKANAN DEKAT MAKTAB
  2. TIBA DI MATAB DARI MESJID HARAM, ISTRIHATLAH
  3. JIKA BANYAK JUAL MAKANAN INDONESIA DISEKITAR MAKTAB LEBIH BAIK TIDAK MASAK DI MAKTAB

HARI KE XII MAKKAH

  1. SHALAT BERJAMAAH DI MESJID HARAM
  2. BACA AL-QUR’AN
  3. ZIKIR
  4. BERDOA

HARI KE XIII MAKKAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH DI MESJID HARAM
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

HARI KE XIV MAKKAH
1.       SHALAT BERJAMAAH DI MESJID HARAM MAKTAB
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

HARI KE XV MAKKAH

1.       SHALAT BERJAMAAH DI MESJID HARAM
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
    
ZIARAH DI MAKAH:
1.       JABAL NUR
2.       JABAL TSUR
3.       TAN’IM
4.       JA’RANAH
5.       ARAFAH
6.       MUZDALIFAH
7.       MINA

18
    
07 OKT 2012 HINGGA TANGGAL 23 OKT 2012
    
MAKKAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH DI MESJID  HARAM
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA

    

19
    
24 OKT 2012
HARI  TARWIYAH BERTOLAK KE ARAFAH
    
MAKKAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH DI MESJID  TERDEKAT
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       BAWA PAKAIAN, BUKU DOA, AL-QUR’AN, TASBIH, TIKAR PLASTIK DI DALAM TAS TENTENGAN DAN BAWA JUGA MAKANAN RINGAN

    BERANGKAT MENUJU ARAFAH BERSAMA ROMBONGAN
    TIBA DI ARAFAH JAMAAH MENEMPATI KEMAH BERSAMA ROMBONGAN

8.       MANDI SUNAT IHRAM
9.       PAKAIAN IHRAM
10.   PAKAI MINYAK WANGI DIBADAN
11.   SHALAT  SUNAT IHRAM DUA RAKAAT DI HOTEL
12.   BERNIAT HAJI

(LABBAIK ALLAHUMMA HAJJAN WA AHROMTUBIHI LILLAHI TA’ALA) (YA ALLAH AKU DATANG MEMENUHI PANGGILANMU UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH HAJI DAN AKU BERIHRAM DENGANNYA KARENA ALLAH TA’ALA)

13.   BERANGKAT KE ARAFAH SESUAI KAROMNYA

RUKUN HAJI:
1.       IHRAM (NIAT)
2.       WUKUF DI ARAFAH
3.       TAWAF HAJI (IFADHAH)
4.       SA’I HAJI
5.       TAHALLUL AWAL DAN TSANI
6.       TERTIB
WAJIB HAJI:
1.       BERNIAT HAJI DI MIQAT (MAKTAB)
2.       BERPAKAIN IHRAM
3.       MENJAGA LARANGAN IHRAM
4.       MABIT DI MUZDALIFAH
5.       MABIT DI MINA
6.       MELONTAR JUMRAH: TGL 10 ZULHIJJAH HANYA JUMRAH AQOBAH
7.       TGL 11 ZULHIJJAH TIGA JUMRAH (WULA, WUSTHA DAN AQOBAH)
8.       TGL 12 ZULHIJJAH MELONTAR LAGI KETIGA JUMRAH (SUDAH BOLEH PULANG KE MAKAH NAFAR AWAL)

HARI KE XI ARAFAH
    
1.       TIBA DI ARAFAH MEMBACA
    

HARI KE XIII ARAFAH

    ISTIRAHAT
    SHALAT BERJAMAAH MAGHRIB DAN ISYA
    MAKAN MALAM
    ISTIRAHAT
    SHALAT MALAM
    SHALAT SUBUH BERJAMAAH

    
HARI KE 22 ARAFAH
    
1.       SARAPAN PAGI
2.       PERSIAPAN WUKUF: MANDI, BERWUDHUK
3.       MAKAN SIANG
4.       MENDENGAR KHUTBAH WUKUF
5.       SHALAT ZUHUR DAN ASHAR BERJAMAAH QASHAR DAN JAMAK
6.       AMALAN WUKUF: ZIKIR (1000 x), ISTIGHFAR (1000 x), BACA AL-QUR’AN, BERTALBIYAH (1000 x), BACA LA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAASYARIKA LAHU HINGGA AKHIR (1000 x), BACA LAAHAULAWALA QUWWATA ILLA BILLAHI HINGGA AKHIR (100 x), BACA SURAH FATIHA (33 x), BACA SURAH AL-IKHLAS (100 x), BACA SHALAWAT (100 x) BERTOBAT, MENGENANG DOSA-DOSA, MOHON AMPUN. BERDOA UNTUK: DIRI SENDIRI, AYAH BUNDA, SUAMI/ISTRI, ANAK-ANAK, KELUARGA, SAUDARA, TEMAN, GURU, SAHABAT
7.       KALAU BATHAL WUDHUK AMBIL LAGI WUDHUK
8.       KALAU PERLU KAMAR MANDI SILAKAN
9.       MAKAN MALAM
10.   SHALAT MAGHRIB DAN ISYA JAMAK DAN QASHAR DI ARAFAH
11.   BERTOLAK KE MUZDALIFAH SESUAI ROMBONGAN SELAMA DALAM PERJALANAN BACA TALBIYAH, ZIKIR, TAKBIR
12.   TIBA DI MUZDALIFAH: ZIKIR, TALBIYAH, BERDOA

    

HARI KE 23 MUZDALIFAH
    
1.       ZIKIR
2.       BERDOA
3.       AMBIL BATU LONTARAN JUMRAH SEBANYAK 71 BUAH (UKURAN GULI KELERENG)
4.       MENUNGGU PENGANGKUTAN KE MINA
5.       SABAR YA BAPAK/IBU
6.       KALAU WAKTU SUBUH MASUK SHALAT

HARI KE 24 MINA
    
1.       TIBA DI MINA MENUJU KEMAH
2.       SAHALAT SUBUH
3.       SARAPAN PAGI
4.       ISTIRAHAT
5.       BERTALBIYAH
6.       BERANGKAT KE JUMRAH UNTUK MELONTAR JUMRAH  AQOBAH SAJA 7 BUTIR
7.       TAHALLUL AWAL

    

HARI KE 25 MINA
    
1.       SHALAT  ZUHUR QASHAR TIDAK  JAMAK
2.       SHALAT ASHAR QASHAR TIDAK JAMAK
3.       MAKAN
4.       SHALAT MAGHRIB PADA WAKTUNYA
5.       SHALAT  ISYA PADA WAKTUNYA QASHAR
6.       ZIKIR, BACA AL-QUR’AN, BERDOA, BERTAKBIR LEBARAN
7.       ISTIRAHAT
8.       SHALAT MALAM
9.       SHALAT SUBUH
10.   MELONTAR  3 JUMRAH (ULA, WUSTHA DAN AQOBAH) MASING-MASING TUJUH BUTIR SATU PERSATU)

    

HARI KE 26
  
1.       SHALAT BERJAMAAH SUBUH
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       MELONTAR 3 JUMRAH (ULA, WUSTHA DAN AQOBAH) MASING-MASING TUJUH BUTIR SATU PERSATU)
6.       PULANG KE MAKKAH (NAFAR AWAL)

HARI KE 27 MAKKAH
    
1.       TAWAF HAJI (RUKUN HAJI)
2.       SA’I HAJI (RUKUN HAJI)
3.       TAHALLUL TSANI (RUKUN HAJI) TAHALLUL TSANI
BARANG
    

HARI KE 28 MAKKAH
    
1.       TAWAF  WADA’
2.       BAPAK IBU SUDAH BERHAJI SEMOGA HAJI MABRUR
    

HARI KE 29 MAKKAH – JEDDAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       PERSIAPAN PULANG KE JEDDAH BARANG BAWAAN HANYA 32 KG
6.       BERTOLAK KE JEDDAH
7.       BERMALAM DI JEDDAH
8.       WISATA DI JEDDAH

HARI KE 30 JEDDAH
    
1.       SHALAT BERJAMAAH
2.       BACA AL-QUR’AN
3.       ZIKIR
4.       BERDOA
5.       SELANJUTNYA MENUJU KE BANDARA KING ABDUL AZIZ JEDDAH
6.       SABAR
7.       BERTOLAK KE MEDAN
8.       BERDOA DI PESAWAT
9.       ZIKIR, TASBIH DAN TAHMID JUGA BACA AL-QUR’AN

 

https://accounts.google.com/o/oauth2/postmessageRelay?parent=http%3A%2F%2Fembuntafakkur.blogspot.co.id&jsh=m%3B%2F_%2Fscs%2Fapps-static%2F_%2Fjs%2Fk%3Doz.gapi.id.thB85hXFulY.O%2Fm%3D__features__%2Fam%3DAQ%2Frt%3Dj%2Fd%3D1%2Frs%3DAGLTcCPAIR6DKky5XYDcGYIdb13G7cjmyw#rpctoken=520298871&forcesecure=1

6 Lokasi utama dalam ibadah haji

image

Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini. Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a(tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

6 Lokasi utama dalam ibadah haji

  1. Makkah Al Mukaromah Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka’bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.
  2. Arafah Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yaitu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Zulhijah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
  3. Muzdalifah Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.
  4. Mina Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.
  5. Madinah Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini.
  6. Haji Arbain Haji Arbain (bahasa Arab: اربعين arba’in, artinya “empat puluh”) adalah ibadah haji yang disertai dengan salat fardhu sebanyak 40 kali di Masjid An-Nabawi Madinah tanpa terputus. Ibadah ini seringkali dikerjakan oleh jamaah haji dari Indonesia. Dalam pelaksanaannya, mereka setidak-tidaknya tinggal di Madinah saat haji selama 8 atau 9 hari, dan dengan perhitungan sehari akan salat wajib sebanyak 5 kali dan selama 8 atau 9 hari maka akan tercukupi jumlah 40 kali salat wajib tanpa terputus.

sumber: wikipedia dan berbagai sumber lainnya

www.islamislami.com

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara
Copyright © 2015, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved