Tag Archives: hadits nabi

Asbabul Wurud Hadi5s Nabi Pilihan : Puasa Isteri Harus Atas Izin Suami

Puasa Istri atas izin suami

Dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ، إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ

‘Tidak boleh seorang perempuan berpuasa sedangkan suaminya berada di rumah melainkan dengan izin (suami), kecuali puasa Ramadhan.’

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu Sa’id ia berkata: “Seorang wanita datang menghadap kepada Rasulullah saw sedang kami berada di sisi beliau, lalu sang wanita berkata: ‘Ya Rasulullah, suamiku Shafwan bin al-Mu’aththal memukulku jika aku shalat, menyuruhku berbuka jika aku berpuasa, ia tidak melakukan shalat shubuh kecuali setelah matahari terbit’ Beliau menanggapi sedang Shafwan ada di sisi beliau. Beliau menanyakan hal itu kepada Shafwan tentang kebenaran yang dikatakan sang istri. Ia pun menjawab: ‘Ya Rasulullah, adapun perkataannya ‘ia memukulku jika aku shalat’ karena ia membaca dua surat, dan aku telah melarangnya. Ia (Shafwan) berkata lagi: ‘Andaikan satu surat saja maka hal itu cukup bagi orang lain.’ Adapun perkataannya, ‘ia menyuruhku berbuka’ karena ia adalah wanita yang cantik lalu berpuasa, sedang saya laki-laki yang masih berusia muda, maka saya tidak dapat bersabar.’ Rasululullah saw pun bersabda: ‘Janganlah seorang wanita berpuasa,’ -sedang lafazhnya milik Ahmad-: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian, wahai para wanita, berpuasa kecuali dengan izin suaminya.’ Sedang perkataannya ‘aku tidak shalat fajar kecuali setelah terbit matahari,’ maka (ketahuilah) sesungguhnya kami ini keluarga yang dikenal dengan hal itu, hampir-hampir kami tidak dapat bangun kecuali hingga terbit matahari.’ Nabi berkata: ‘Jika kamu telah bangun maka shalatlah.'”

Tahqiq ke 33

Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: al-Mar’atu Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya, (1/572));
  • Dan juga diriwayatkan oleh Ahmad 2/476;
  • Al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Shaumu al-Mar’ati bi Idzni Zaujiha Tathawwu’an (Wanita Berpuasa Sunnah dengan Izin Suaminya, (7/39));
  • Muslim dalam kitab: az-Zakah, bab: Fadhlu Man Dhamma ila ash-Shadaqah Ghairaha min Anwa’i al-Birr (Keutamaan bagi yang Meng-gabungkan Berbagai Macam Kebaikan kepada Shadaqah, (3/65)), dan ia adalah satu bagian hadits miliknya.
  • Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati Shaum al-Mar’ah bi Idzni Zaujiha (Hadits-hadits tentang Makruhnya Wanita Berpuasa Kecuali dengan Izin Suaminya, 2/140)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Hurairah hadits hasan shahih;”
  • Ibnu Majah dalam kitab: ash-Shiyam, bab: fi al-Mar’ah Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Larangan bagi Wanita Berpuasa (Sunnah) Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/560));
  • Ad-Darimi dalam kitab: ash-Shaum, bab: an-Nahyu ‘an Shaumi al-Mar’ah Tathawwu’an illa bi Idzni Zaujiha (Larangan Berpuasa Sunnah bagi Wanita Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/344));
  • Ahmad 2/316, semuanya dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Ibnu Majah juga meriwayatkannya 1/560 dari jalur hadits Abu Said, Ahmad 2/464 dari hadits Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang berbeda.

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud, bab: al-Mar’ah tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya), 1/572;
  • Selain itu ia juga diriwayatkan oleh Ahmad 3/80;
  • Al-Hakim 1/436 dan ia berkomentar setelahnya: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Dan dikomentari oleh adz-Dzahabi. Dengan lafazh-lafazh yang beragam.

Pada sabda Rasulullah saw: “Jika engkau telah bangun maka shalatlah’ adalah sebagai jawaban dari perkataan orang itu, ‘bahwa kami dari keluarga…’ Al-Khaththabi berkata: “Ia menyerupakan dirinya bahwa ia bagian dari keluarga itu dengan makna bahwa hal itu adalah pembawaan dasar (tabiat), dan kebiasaan itu telah mendominasi. Maka jadilah ia seperti orang yang lemah melakukannya. Hingga kemudian posisinya berada dalam kedudukan seperti orang pingsan, keadaan seperti ini diberi maaf dan tidak dihukum…” Lihat Aunul Ma’bud Syarah Abu Dawud oleh Abu ath-Thib Syamsul Haq yang dikenal dengan al-Azhim Abadi. Cetakan as-Salafiyah, Madinah al-Munawwarah 7/130.

Asbabul Wurud aHadits Nabi : Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dari Ka’ab ibn ‘Ashim al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَ امْ بِرِّ، امْ صِيَامُ، فِي امْ سَفَرِ

‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).’

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasulullah saw pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki tengah dikerumuni orang banyak, dan di beri naungan di atasnya, mereka berkata: ‘Orang ini tengah berpuasa.’ Rasulullah saw pun bersabda: ‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).'”

Tahqiq ke 31

Hadits Ke-31:

  • Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/432;
  • An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyamfi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/146)), lihat Majma’ az-Zawaid 3/161. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir.”
  • Begitu juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’a fi as-Shiyaam fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Berbuka di dalam Perjalanan, (1/532)), dari haditsnya dan dari hadits Ibnu ‘Umar.

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Ahmad 3/299;
  • Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Qaulu an-Nabiy saw li Man Zhullila ‘alaihi wa Isytadda al-Harr Laisa min al-Birr as-Shaum fi as-Safar (Sabda Nabi saw bagi Orang yang Dinaungi Atasnya dan Udara yang Terik Bukanlah Bagian dari Kebaikan Berpuasa dalam Perjalanan, (3/44));
  • Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Jawazu as-Sahum wa al-Fithri fi Syahri Ramadhan li al-Musafirfi Ghairi Ma’shiyah (Bolehnya Berpuasa dan Berbuka dalam Bulan Ramadhan bagi Musafir yang Tujuannya Bukan Untuk Maksiat, (3/175));
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/317;
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikhiyar al-Fithr (Memilih Berbuka, (1/561))
  • At-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’a fi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan), secara muallaq;
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyam fi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/148)), dengan lafazh-lafazh saling berdekatan.

Aku berkata: “Di antara penguat hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan, (2/106)), dari hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw, pernah keluar menuju Makkah pada ‘Amul Fathi (hari penaklukan Makkah), beliau berpuasa hingga sampai di daerah Kara’ al-Ghamim dan orang-orang turut berpuasa bersama beliau. Lalu disampaikan kepada beliau: ‘Orang-orang mendapatkan kepayahan dalam berpuasa, dan orang-orang menunggu apa yang engkau perbuat.’ Kemudian beliau meminta semangkuk air-setelah shalat ashar-, dan meminumnya, sedangkan orang-orang menyaksikan yang beliau (perbuat), maka berbukalah sebagian dari mereka dan sebagian lagi tetap berpuasa. Berita tentang bertahannya sebagian orang dalam berpuasa terdengar oleh beliau, lalu beliau bersabda, ‘Mereka itu adalah pendurhaka.'” Abu Isa berkata: “Hadits Jabir hasan shahih.”

Dan ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa dalam perjalanan, sebagian dari ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan begitu juga dari selain mereka berpendapat bahwa berbuka itu adalah lebih utama, hingga di antara mereka ada yang memandang bahwa puasa mesti diulangi apabila berpuasa di dalam perjalanan. Ahmad dan Ishaq memilih pendapat berbuka di dalam perjalanan.

Dan sebagian lagi ahli ilmu dari kalangan para shahabat Nabi saw dan selain mereka berpendapat: “Jika seseorang mendapatkan kekuatan dalam perjalanan maka berpuasa adalah baik, dan itu lebih utama, dan jika ia berbuka maka hal itu juga baik. Dan ini adalah pendapat yang dianut oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas ,dan Abdullah bin al-Mubarak.

Asy-Syafi’i berkata: “Adapun makna dari sabda Rasulullah saw: ‘Bukanlah termasuk dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan.’ Dan begitu juga dengan sabda beliau ketika sampai kepadanya berita bahwa orang-orang masih tetap berpuasa, beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah pendurhaka,’ tidak lain adalah bagi yang tidak ada kecondongan di dalam hatinya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Adapun orang yang memandang bahwa berbuka itu adalah hal yang mubah lalu ia berpuasa dan kuat melakukan hal itu maka itu adalah yang lebih aku sukai.” Lihat Sunan at-Tirmidzi, 2/107; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/99; dan setelahnya; serta Mu’jam al-Fiqh al-Hanbali cetakan Wazaratul Aukaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, Kuwait, 2/261.

Asbabul Wurud Hadits Nabi Pilihan Tentang Jumlah Hari Ramadhan

Satu Bulan Adalah Dua Puluh Sembilan Hari

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: “Rasulullah saw pernah menemui kami, sedang beliau memukulkan salah satu tangannya ke tangan yang lainnya, sambil bersabda:

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ نَقَصَ أُصْبُعَهُ فِي الثَّالِثَةِ

‘Bulan itu seperti ini, seperti ini, dan seperti ini, kemudian beliau mengurangi jari-jemarinya pada hitungan yang ketiga.'”

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar ia berkata: “Rasulullah saw, bersabda:

إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ، فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَاقْدُرُوا لَهُ

‘Bulan itu tidak lain berbilang dua piluh sembilan (29) hari, maka jangan berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal), dan jangan berbuka (berhari raya Idul Fltri, penj) hingga kalian melihatnya, jika kalian terhalangi oleh awan/mendung, maka perkirakanlah.’

Sababul Wurud Hadits Ke-29:

  • Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Rasulullah saw, mengasingkan diri dari istri-istrinya selama sebulan lamanya, lalu beliau keluar menemui kami di waktu subuh pada hari yang ke-29. Lalu sebagian orang ada yang berkata: ‘Wahai Rasulullah kita baru berada di pagi hari yang ke dua puluh sembilan. Nabi saw pun bersabda ‘Sesungguhnya bulan itu bilangannya 29 hari.’ Kemudian Nabi saw, mengatupkan kedua tangannya tiga kali. Dua kali dengan seluruh jari-jemarinya dan kali yang ketiga dengan sembilan jari-jemarinya.”
  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw meng-ila’ (bersumpah untuk tidak mencampuri) istrinya selama sebulan, dan beliau duduk di tempat minum miliknya, lalu menghentikannya pada hari yang kedua puluh sembilan, lalu dikatakan kepadanya: ‘(Wahai Rasulullah), bukankah engkau meng-ila’ istrimu selama sebulan?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya satu bulan itu adalah 29 hari.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: “(Satu) bulan itu adalah 29 hari.” Lalu mereka menyebutkan hal itu kepada Aisyah. Lalu ia (Aisyah) pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman. Dan apakah beliau menjauhi istri-istrinya selama sebulan?” Lalu beliau menghentikannya pada hari yang 29. Lalu dikatakan kepada beliau (seperti di atas) kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya bulan itu terkadang 29 hari.”

Tahqiq ke 29

Hadits Ke-29:

Hadits Pertama:

  • Hadits yang pertama adalah hadits lafazh milik Ahmad 1/184;
  • Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: ash-Shaum, bab: Bayan anna asy-Syahra Yakunu Ti’san wa ‘Isyrin (Penjelasan Bahwa Satu Bulan itu Terkadang 29 Hari, (3/141));
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikmalu Sya’ban Talatsin Yauman (Menyempurnakan Bilangan Sya’ban Menjadi 30 Hari, (4/112));
  • Ibnu Majah dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’afi asy-Syahri Tis’un wa Isyrun (Hadits tentang Bulan itu Berjumlah 29 Hari, (1/530)), dengan lafazh-Lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Wujub as-Shaum li Ru’yati al-Hilal (Wajibnya Berpuasa Lantaran Melihat Hilal Ramadhan, (3/136));
  • Ahmad 2/28;
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: asy-Syahru Yakunu Tis’an wa Isyrin (Bulan itu Adalah 29 Hari, (1/542)) dari hadits Ibnu Umar dan diriwayatkan oleh Ahmad 1/218;
  • An-Nasa’i 4/112, secara mauquf atas Ibnu Abbas;
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 1/320, 2/5, 103, dan an-Nasa’i 4/112 dari hadits Nafi dari Ibnu Umar, dengan lafazh-Lafazh yang beragam.

Hadits Kedua:

  • Diriwayatkan oleh Ahmad 2/5 dan Muslim dalam kitab: ash-Shiyam bab: Wujub Shaum Ramadhan li Ru’yati al-Hilal wa al-Fithri li Ru’yati al-Hilal (Wajibnya Berpuasa Ramadhan Lantaran Melihat Hilal dan Berbuka (Idul Fitri) Lantaran Melihat Hilal), dan hadits tersebut adalah lafazh bagi keduanya.
  • Al-Bukhari dalam kitab: ash-Shaum, bab: Qaulu an-Nabiy saw,: Idza Raitum al-Hilal fa Shumuhu wa Idza Raitumuhafa Afthiru (Sabda Nabi saw,: Apabila Kalian Melihat Hilal Maka Berpuasalah, dan Apabila Kalian Melihatnya Maka Berbukalah, (3/44)).

Adapun makna fain ghumma ‘alaikum faqduru lahu’ dikatakan: “Hilal tidak tampak oleh kami apabila terhalang melihatnya lantaran ada mendung atau semisalnya.” Kata ghumma dari ghammat asy-syai’ apabila ia menutupinya. Pada kata ghumma ada dhamir ‘hilal’ di dalamnya. Dan hal yang boleh jika kata ghumma bersandar pada dharaf: yaitu ‘apabila kalian tertutupi/terhalangi maka perkirakanlah.’ Kata hilal tidak disebutkan lantaran kata tersebut tidak dibutuhkan. Dan asal kata ‘at-taghmiyah’ adalah menutup. Di antara contoh pemakaiannya adalah ‘ughmiya ‘alal maridh’ orang sakit itu pingsan, seakan-akan orang sakit itu menutup akalnya, an-Nihayah 3/172.

As-Suyuthi meletakkan hadits tersebut disini, padahal hadits-hadits yang mendahului dan yang akan datang setelahnya adalah tentang kemarahan Rasulullah saw kepada istri-istrinya, beliau maksudkan hal itu -wallahu a’lam-sebagai penjelasan bahwa bilangan ila’, sumpah, dan berinteraksi dengan sesama muslim seperti bilangan puasa, dalam hal terkaitnya semua permasalahan tersebut dengan hilal.

Sababul Wurud Hadits Ke-29:

Hadits pertama:

  • Adalah lafazh milik Muslim dalam kitab: ash-Shaum, bab: Bayan anna asy-Sayhr Yakunu Tis’an wa Isyrin (Bahwa Bulan itu Adalah 29 Hari, (3/140));
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/329;
  • Al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Hajratu an-Nabiy saw Nisa’ahu fi Ghairi Buyutihinna (Nabi saw Mengisolir Istri-istrinya di luar Rumah Mereka), dari hadits Ummu Salamah 7/41 dengan lafazh-lafazh yang beragam.

Hadits kedua:

  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Qaulullahi Ta’aiu- Ar-Rija’u Qawwamuna ‘Alan Nisa’ (Firman Allah Ta’ala: Ar-Rijalu Qawwamuna ‘ala an-Nisa’,’ (7/41)) dan hadits tersebut juga ia riwayatkan dalam kitab: ash-Shaum, bab: Qaulu an-Nabiy saw Idza Raitum al-Hilal fa Shumuhu (Sabda Nabi saw- Apabila Kalian Melihat Hilal Maka Berpuasalah, (3/34));
  • At-Tirmidzi dalam Abwabus Shaum, bab: Ma Ja’a anna asy-Syahr Yakunu Tis’an wa Isyrin (Hadits tentang (Satu) Bulan itu Adalah 29 Hari, (2/98)), dan ia mendiamkannya;
  • Ahmad 6/10;
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Kam asy-Syahr? (Berapa Lamakah (Satu) Bulan itu?, (4/111)), semuanya dengan lafazh yang beragam.

Adapun sebab Rasulullah saw meng-ila’ istri-istrinya lantaran mereka menuntut nafkah kepada beliau. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mazhalim, bab: al-Ghurfah wa al-‘Ulyah al-Musyrafah wa Ghair al-Musyrafahfi as-Sutuh wa Ghairiha (Kamar dan Bilik yang Istimewa atau Tidak Istimewa Berada di Sotoh (Loteng) dan Lainnya, (3/174)), dari hadits Abdullah bin Abbas ia berkata: “Aku selalu bersemangat menanyai Umar tentang dua wanita di antara istri Nabi saw yang Allah komentari ‘in tatuba ilallahi faqad shaghat qulubukuma’maka aku berhaji bersamanya, kemudian ia (Umar) membetulkan kantong air miliknya dan aku juga ikut membetulkan, lalu ia buang air hingga datang kembali, kemudian aku tuangkan ke atas kedua tangannya air dari kantong kulit tadi, lalu ia pun berwudhu’. Lantas aku katakan: ‘Wahai Amirul Mukminin, siapa dari dua wanita di antara istri Nabi saw,, yang Allah berfirman tentangnya ‘in tatuba ilallahi faqad shaghat qulubukuma’?‘ Umar menjawab: “Menakjubkan sekali engkau, hai Ibnu Abbas, keduanya adalah Aisyah dan Hafshah.”

Kemudian Umar memulai ceritanya: “Dulu aku bersama tetanggaku dari Anshar Bani Umayyah bin Zaid, dan ia berasal dari dataran tinggi di Madinah, kami selalu bergantian mendatangi Nabi saw. Sehari ia yang datang dan sehari berikutnya aku yang datang. Jika aku yang datang maka aku membawakan informasi hari itu kepadanya berupa perintah atau lainnya. Sebaliknya, jika ia yang datang maka ia akan melakukan hal yang sama. Dahulu kami orang-orang Quraisy menguasai para wanita, namun di kala kami tiba di Madinah kami dapatkan kenyataan bahwa wanitalah yang mendominasi laki-laki, sehingga istri-istri kami meniru perilaku wanita-wanita Anshar. Lalu aku menegur istriku dan dia malah memprotesku, maka aku mengingkari sikap protesnya itu, ia (istriku) berkata: ‘Mengapa engkau tidak menerima jika aku memprotesmu? Demi Allah, istri-istri Nabi saw saja terkadang memprotes beliau, sampai-sampai salah seorang di antara mereka ada yang mengisolir Nabi seharian penuh hingga malam hari.’

Aku tercengang dengan berita ini. Aku katakan: Telah rugi besar orang yang melakukan seperti itu!’ Lalu aku mengemasi baju-bajuku, dan kutemui Hafshah, aku tanyakan:’Hai Hafshah, apa benar salah seorang di antara kalian ada yang marah kepada Rasulullah saw dari siang hingga malam?’ Hafshah menjawab: ‘Ya, benar!’ Aku katakan: ‘Sungguh telah rugi dan teraniaya dia! Apakah engkau merasa aman terhadap kemurkaan Allah karena kemurkaan Rasulullah saw, sehingga dirimu celaka. Janganlah engkau banyak menuntut kepada Rasulullah saw dan janganlah engkau memprotesnya dalam perkara apapun, janganlah engkau mengisolirnya, dan mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan, dan janganlah engkau merasa cemburu sekalipun tetanggamu yang lain lebih manis darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah saw, -yang dimaksud oleh Umar adalah Aisyah-.’

Kami saat itu membicarakan Bani Ghassan yang telah bersandal (telah bersiap-siap) untuk memerangi kami. Kemudian kawanku mendapat giliran untuk mendatangi Nabi, ia pun kembali waktu isya’ dan mengetuk pintu rumahku dengan keras, sambil berkata: ‘Apakah ia sedang tidur?’ Akupun terbangun lalu keluar menemuinya. Ia berkata: ‘Telah terjadi peristiwa besar!’ Aku bertanya: ‘Peristiwa apa itu? Apakah Bani Ghassan telah tiba?’ Ia menjawab: ‘Bukan, bahkan peristiwanya lebih besar dan lebih panjang dari itu. Rasulullah saw menceraikan istri-istrinya.’ Kata Umar: ‘Sungguh Hafshah telah merugi, aku sudah menyangka bahwa hal ini benar-benar akan terjadi.’ Lalu aku mengemasi pakaianku, aku shalat shubuh bersama Nabi saw. Beliau kemudian masuk ke kamar minumnya dan menyendiri. Kemudian aku temui Hafshah, ia sedang menangis. Aku bertanya kepadanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis? Bukankah aku telah memperingatkanmu? Apakah Rasulullah saw, mencerai kalian?’ Ia berkata: ‘Aku tidak tahu, ia sekarang berada di kamar minum.’

Maka aku pun keluar dan menuju ke arah mimbar, di sana di sekitar mimbar aku dapati sekelompok orang sedang menangis. Lalu aku duduk bersama mereka sejenak, kegalauanku telah menguasai diriku, maka aku pun mendatangi kamar minum yang beliau berada di dalamnya. Aku katakan kepada si budak hitam: Tolong mintakan izin untuk Umar!’ Kemudian budak itu masuk dan mengajak Nabi saw berbicara, kemudian ia keluar dan mengatakan: ‘Aku telah menyebutkan namamu padanya.’ Beliau terdiam, aku pun pergi hingga aku duduk kembali bersama orang-orang yang ada di sisi mimbar itu.

Kemudian kembali kegalauanku mengalahkanku, dan aku kembali mendatangi anak kecil itu dan berkata kepadanya: ‘Mintakan izin untuk Umar!’ Lalu si budak menyebutkan jawaban yang sama dengan sebelumnya, dikala aku hendak beranjak keluar, tiba-tiba si anak itu memanggilku sambil berkata, ‘Rasulullah telah mengizinkanmu untuk menemuinya.’ Lalu aku pun masuk menemuinya, pada waktu itu aku dapatkan beliau tengah berbaring beralaskan pasir. Antara tubuh beliau dengan pasir tidak beralaskan apa pun. Dan pasir-pasir itu benar-benar membekas di punggungnya, beliau bersandarkan bantal yang berisikan sabut kurma. Aku ucapkan salam kepadanya, dengan posisi berdiri aku berkata: ‘Apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?’ Beliau memandangku dan berkata, ‘Tidak!’ Kemudian masih dalam keadaan berdiri aku melanjutkan: ‘Ya Rasulullah, sebaiknya engkau tahu, kami semua Bangsa Quraisy adalah menguasai urusan para wanita, namun di kala kita tiba di Madinah menemui Anshar, justru wanita yang menguasai urusan laki-laki.’

Kemudian Umar kembali bercerita. “Nabi saw, lantas tersenyum. Kemudian aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, sebaiknya engkau tahu, bahwa kemarin telah aku temui Hafshah dan aku katakan kepadanya: ‘Janganlah engkau merasa cemburu sekalipun tetanggamu yang lain lebih manis darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah’ -yang Umar maksudkan adalah Aisyah-.’ Nabi kemudian kembali tersenyum. Maka kemudian aku duduk setelah melihat beliau sudah bisa tersenyum. Kemudian aku fokuskan pandanganku ke isi rumahnya, dan demi Allah, tidak kulihat di sana satu pun yang menarik selain tiga perkakas. Maka aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia melapangkan rezeki umatmu, sebab bangsa Persia dan Romawi telah dilonggarkan rezekinya dan diberi limpahan duniawi padahal mereka adalah kaum yang sama sekali tidak menyembah Allah -beliau saat itu tengah bersandar-. Beliau menanggapi: Apakah engkau masih ragu, hai Ibnul Khaththab, mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan duniawinya!’ Maka aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan untukku.’

Lalu beliau mengasingkan diri lantaran pembicaraan itu saat Hafshah memberitakannya kepada Aisyah, sedang Nabi mengatakan: Aku tidak menemui istriku selama sebulan!’ Yang demikian karena memuncaknya kejengkelan beliau kepada mereka di kala Allah menegurnya. Di hari ke-2, beliau memulai menemui Aisyah, lalu Aisyah berkata: ‘Engkau telah bersumpah untuk tidak menemui kami selama sebulan, sedang aku baru menghitung hari ini adalah hari ke-29.’ Beliau bersabda: ‘Satu bulan itu bilangannya 29 hari.’ Dan bulan pada waktu itu 29 hari. Aisyah berkata: ‘Kemudian diturunkanlah ayat takhyir, yaitu: (yang artinya: ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu… hingga …pahala yang besar.’)” (QS. al-Ahzab: 29).

Maka semoga Allah membalas dari Islam, orang-orang Islam, dan pada ibu-ibu kaum mukminin dengan sebaik-baik balasan, seperti apa yang dianugerahkan kepada orang yang bersabar atas dakwah-Nya.

Hadits Pilihan: Siapa Yang Keraskan Suaranya Dalam Menyampailan Ilmu

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ عَارِمُ بْنُ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
تَخَلَّفَ عَنَّا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلَاةُ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nu’man ‘Arim bin Al Fadlal berkata, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyir dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amru berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan hingga Beliau mendapatkan kami sementara waktu shalat sudah hampir habis, kami berwudlu’ dengan hanya mengusap kaki kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka. Beliau serukan hingga dua atau tiga kali.

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Barangsiapa Tertidur dan Terlupa dari Shalat

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذاَ ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ، (وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي)

‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari mengerjakan shalat, maka kafarat (denda)nya adalah ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya, dan tidak ada kafaratnya selain itu, (firman Allah): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-9:

Telah berkata Abu Ahmad al-Hakim, dan nama beliau adalah Muhammad bin Ishaq al-Hafizh dalam salah satu majlis imla’nya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin al-Husain (al-Hanawy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw pada malam beliau diisra’kan, beliau tidur hingga terbit matahari, lalu beliau pun shalat dan berkata, ‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa mendirikan shalat maka hendaknya ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah (yang artinya): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku., Dan aku melihat tulisan asy-Syaikh Waliyuddin al-‘Iraqy di dalam beberapa kumpulan haditsnya (jami’), di sana ia memuat hadits ini dengan teksnya sebagai berikut: ‘Telah diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Hakim di dalam salah satu majlis imla’nya dan ia berkata: ‘Gharib dari hadits Ma’mar dari az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dengan hadits Musnad, aku tidak mengetahui seorang pun menceritakan hadits ini melainkan Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry dari riwayat ini, dan Abban ibn Yazid al-‘Aththar darinya, yaitu dari Ma’mar. Asy-Syaikh Waliyuddin berkata: “Dan jawaban yang bagus untuk pertanyaan yang begitu masyhur, yaitu, ‘Mengapa penjelasan (waktu shalat, penj.) baru datang ketika waktu zhuhur, padahal shalat itu diwajibkan pada waktu malam?’ Maka jawabannya adalah bahwa Nabi saw tertidur waktu (shubuh), dan orang yang tidur tidak terkena beban.'” Ia berkata: “Dan ini adalah satu faedah yang besar.” Dan hadits ini sanadnya adalah shahih. Dan selesai pula ungkapan asy-Syaikh Waliyuddin. Aku berkata:” Yang benar tidaklah seperti apa yang ia katakan. Karena yang dimaksud dengan hadits di atas adalah ‘malam yang beliau di isra’kan (diperjalankan) dalam satu perjalanan’ bukan ‘malam yang di isra’kan ke langit.’ Beliau dirancukan dengan lafazh ‘di isra’kan’ ini.

Sababul Wurud Kedua:

  • Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, dan an-Nasa’i, dari Abu Qatadah ia berkata: “Mereka memberitahukan kepada Nabi saw tentang shalat mereka yang terlewat lantaran ketiduran. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian yang lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Qatadah, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw- Lalu beliau berkata: ‘Kalian jika tidak mendapatkan air, besok akan kehausan.’Lalu orang-orang pun bersegera mencari air sedang aku tetap menyertai Rasulullah saw- Lalu Rasulullah saw tampak miring dari tunggangannya, beliau saw mengantuk. Lalu aku menopangnya dan beliau pun tertopang, kemudian beliau kembali miring hingga beliau hampir-hampir terjatuh dari tunggangannya lalu aku kembali menopangnya, hingga akhirnya beliau terjaga. Lalu beliau berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Abu Qatadah.’ Beliau berkata: ‘Sejak kapan kau seperti ini?’ Aku berkata: ‘Sejak semalaman.’ Beliau berkata: ‘Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjaga rasul-Nya’. Kemudian beliau kembali berkata: ‘Sebaiknya kita tidur’, lalu beliau menuju kesebatang pohon lalu turun dan berkata: ‘Lihatlah apakah engkau melihat seseorang?’ Aku berkata: ‘Ini ada seorang penunggang, ini ada dua orang penunggang, hingga hitungannya sampai ke tujuh orang.’ Lalu beliau berkata: ‘Jagakanlah shalat kami.’ Kami pun tidur, dan tidak ada yang membangunkan kami kecuali sinar matahari, kami pun terjaga. Lalu Rasulullah saw naik ke atas tunggangannya dan berlalu, dan kami pun berlalu namun hanya sejenak. Lalu beliau turun dan berkata: ‘Apakah kalian memiliki air?” Ia (Abu Qatadah) berkata: “Aku menjawab: ‘Ya, aku punya wadah yang ada sedikit air di dalamnya.’ Beliau berkata: ‘Berikan kepadaku.’ Lalu aku pun memberikannya. Beliau berkata: ‘Sentuhlah sebagiannya darinya.’ Lalu orang-orang pun berwudhu’ hingga tersisa satu tegukan. Lalu beliau bersabda: ‘Simpanlah wadah ini, wahai Abu Qatadah, karena akan ada padanya satu berita.’ Lalu Bilal mengumandangkan adzan, dan mereka shalat dua rakaat sebelum fajar. Lalu berkatalah sebagian di antara mereka dengan sebagian yang lainnya: ‘Kita telah melakukan kecerobohan dalam shalat kita.’ Lalu Rasulullah saw, bersabda: ‘Apa yang kalian bicarakan? Jika itu urusan dunia kalian maka itu urusan kalian, dan jika itu urusan agama kalian maka kembalikan kepadaku.’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah kita telah bertindak ceroboh dalam shalat kita.’ Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur). Jika terjadi seperti itu maka lakukanlah shalat, sekalipun besok maka itulah waktunya.'”

Tahqiq ke 9

Hadits Ke-9:

  • al-Bukhari -dan lafazh ini baginya- dalam kitab: Mawaqit ash-Shalah, bab: Man Nasiya Shalatan Idza Dzakaraha, wa la Yu’idu illa tilka as-Shalah (Barangsiapa Lupa Mengerjakan Shalat maka Hendaklah Ia Mengerjakannya ketika Ia Mengingatnya, dan Ia Tidak Perlu Mengulangi Kecuali Shalat Itu, (1/154));
  • Muslim dari hadits Qatadah dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbabu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/334));
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shalah, bab: Man Nama’an Shalatin aw Nasiyha (Barangsiapa yang Tertidur atau Terlupa dari Shalat, (1/105));
  • Ahmad dari hadits Anas dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari berbagai jalur periwayatan. Jalur yang pertama, dari hadits Abu Awanah dan dalam jalur ini tidak disebutkan: ‘Tidak ada kaffaratnya melainkan itu’. Dan jalur yang kedua, dari hadits Qatadah. Yang ketiga, dari hadits al-Mutsanna dari Qatadah, dan semua jalur-jalur ini lafazh-lafazhnya saling berdekatan;
  • Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab: ash-Shalah, bab: Ma Ja’afi an-Naum ‘an ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat). Abu ‘Isa berkata: “Hadits hasan shahih;”
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah, bab: Fi Man Nama’an Shalatin (Tentang Orang-orang yang Tertidur dari Shalat), 1/236;
  • Ad-Darimi, kitab: ash-Shalah bab: Man Nama’an Shalatin au Nasiyaha (Barangsiapa Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa) juga Imam Ahmad, semuanya dari hadits Anas bin Malik dengan redaksi yang hampir sama;
  • Dan Imam an-Nasa’i serta Ibnu Majah kitab: as-Shalah, bab: Man Nama ‘an as-Shalah aw Nasiyaha (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa), dari Anas tanpa lafazh: “Tiada kafarat untuk shalat itu kecuali shalat (yang dikerjakan) tersebut”;
  • Dan dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: Fi Man Nama ‘an Shalatin (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat), dari Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan. Aku (Ma’mar) berkata kepada az-Zuhri: “Apakah seperti ini yang dibaca oleh Rasulullah saw Ia berkata: “Ya!”

Aku berkata: “As-Suyuthi dalam Zahrur Ruba ‘ala al-Mujtaba 1/239, berkata: ‘Bacaan ini (yaitu bacaan lidzdzikri, pada firman Allah (yang artinya: ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku’- penj.) dengan dua lam dan menfathahkan ra’ al-maqshurah, ia berbentuk mashdar dengan makna mengingat. Yaitu pada waktu mengingatnya. Dan model bacaan ini tidak terdapat di dalam qira’ah as-sab’ah.

Penjelasan Sababul wurud pertama: tertolak dengan hadits yang diriwayatkan asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi, dari Aisyah radiyallahu anha bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah engkau tidur sebelum witir?” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kedua mataku tertidur, namun hatiku tidak tidur.” HR. al-Bukhari dalam kitab: at-Tahajjud, bab: Qiyamu an-Nabiy bi al-Lail fi Ramadhan wa Ghairih (Qiyamnya Nabi di Malam Ramadhan dan Lainnya). Muslim dalam kitab Shalatu al-Musafirin. bab: Shalatu al-Lail (Shalat Malam). Dan dalam ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad 1/1/113, dan dalam as-Sunan al-Kubra 7/62.

Ada yang menjawab penolakan tersebut, dengan berkata: “Bahwa Rasulullah saw memiliki dua macam tidur. Pertama, hati dan kedua matanya tidur bersamaan, dan itulah tidur beliau ketika beliau berada di lembah. Kedua, adalah dua matanya tertidur sedang hatinya tidak.”

Lihat dalam Allafdhul Mukarram bi Khashaish an-Nabi lembaran 131 perpustakaan al-Azhar 2134. Dan lihat juga dalam Ma’a ar-Rasul fi Siratihi wa Siyarihi oleh pengarang dalam bab kekhususan-kekhususan Rasulullah saw.

Sababul wurud kedua: Lafazh an-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah bab: Man Nama ‘an ash-Shalah au Nasiyaha (Orang-orang yang Tertidur dari Shalatnya, (1/237)). Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab-bab shalat, bab: Ma Ja’a fi an-Naum an’ ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat, (1/114)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Qatadah hadits hasan shahih.”

Sababul wurud ketiga: Sebagian lafazh hadits milik Ahmad 5/298, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mawaqit, bab: al-Adzan ba’da Dzahabi al-Waqti (Adzan Setelah Lewat Waktu). Muslim dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbahu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/327)) dari Abu Qatadah. Dan diriwayatkan oleh Ahmad 4/431, dan Muslim dari ‘Imran bin Husain, dengan lafazh yang beragam, dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan lafazh yang berdekatan. Terdapat di dalam riwayat Ahmad 4/441 dari ‘Imran bin Husain: “Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah tidakkah kita mengulanginya di keesokan harinya dengan (shalat) tepat pada waktunya?’ Beliau menjawab: Apakah Tuhanmu Tabarak wa Ta’ala melarangmu dari riba dan Dia menerimanya dari kalian.‘ Dan diriwayatkan oleh Ahmad 5/309, dari Abu Qatadah bahwa ketika Rasulullah saw dan para shahabatnya mendirikan shalat Ialu usai, Rasulullah saw, berkata kepada mereka: ‘Kalian melakukan shalat keesokan harinya adalah masih waktunya.'”

As-Suyuthi menukil dari Ibnu Sayyidunnas tentang penggabungan di antara dua riwayat tersebut, ia berkata: “Bentuk pengkompromiannya adalah bahwa dhamir pada kata Jal-yushalliha’ kembali kepada shalat yang keesokan harinya (shalotul ghad), maksudnya laksanakanlah shalat yang terluput itu, seperti apa yang biasa diperbuat setiap hari tanpa ada tambahan atasnya, maka dengan demikian berkesesuaianlah seluruh lafazh-lafazh tersebut pada makna yang satu yang ia tidak melampaui yang lainnya. Lihat: Zahru ar-Ruba ‘alal Mujtaba 1/238.

Kosa kata: ‘Arrasa al-musafir, maksudnya berada pada waktu akhir malam sebelum fajar. Seorang Arab wanita badui dari Bani Namir berkata:

Cahaya kemerahan telah tampak, lalu kami turun dari tunggangan

Maka setelah waktu ini berlalu, tiada lagi waktu yang cocok untuk istirahat

Lihat Lisanul Arab 8/11 dan an-Nihayah 3/80. ‘Da’ama as-Syaiu yad’umu da’mari maksudnya ia miring lalu aku meluruskannya. Sedang ad-da’mu yaitu sesuatu yang ditopang. Penyair berkata:

Tatkala aku melihatnya bahwa ia tidak lagi memiliki penopang (tua renta)

Dan aku digiring pada sebuah kebosanan (hidup),

maka aku mulai sekarat, yang mana sempat menggoncangkan kondisi harta (keuangan keluargaku)

Lihat Lisanul Arab 15/91. Makna Izdahara bihi, adalah simpanlah ia dan jadikan ia dalam ingatanmu, diambil dari ungkapan mereka: aQadhaltu minhu zahrati yaitu hajatku. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata izdihar, yang bermakna gembira. Sababul wurud pertama yang disebutkan oleh as-Suyuthy sanadnya adalah gharib shahih. Sebagaimana yang dinukil oleh pengarang dari al-Iraqi disini, dan di dalam Zahrur Ruba ala al-Mujtaba’ 1/238, dan dalam lafazh muslim disebutkan: ‘Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang tidak melaksanakan shalat lalu datang waktu shalat berikutnya.’

Hadits Nabi Pilihan Perihal Masjid

Hadits Nabi Pilihan Perihal Masjid

  1. Semua lahan adalah mesjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian. (HR. Ahmad)
  2. Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
  3. Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud)
  4. Janganlah menjadikan kuburanku sebagai tempat pemujaan berhala. Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan-kuburan para nabi sebagai masjid-masjid. (HR. Bukhari dan Abu Ya’la)
  5. Mimbarku (terletak) di tepi jalur menuju surga. Antara mimbarku dan kamarku adalah taman dari taman-taman surga. (HR. Ahmad)
  6. Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim)
  7. Shalat di masjidku ini lebih afdol (utama) dari seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil Haram lebih afdol (utama) dari seratus shalat di masjidku ini. (HR. Ahmad)
  8. Apabila seorang mengantuk saat shalat Jum’at di masjid maka hendaklah pindah tempat duduknya ke tempat duduk lainnya. (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)
  9. Bila seorang masuk ke masjid hendaklah shalat (sunnat) dua rakaat sebelum duduk. (HR. Ahmad)
  10. Apabila seorang isteri minta ijin suaminya untuk pergi ke masjid maka janganlah sang suami melarangnya. (HR. Bukhari)
  11. Sebaik-baik masjid (tempat bersujud) untuk wanita ialah dalam rumahnya sendiri. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)
  12. Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, selain dalam masjid. (HR. Adarqathani)
  13. Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk masjid maka saksikanlah bahwa dia beriman karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat At taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka mereka lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  14. Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki di malam gelap-gulita menuju masjid bahwa bagi mereka cahaya yang terang-benderang di hari kiamat. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
  15. Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)
  16. Nabi Saw bertanya kepada malaikat Jibril As, “Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?” Jibril As menjawab, “Masjid-masjid dan yang paling disenangi ialah orang yang pertama masuk dan yang terakhir ke luar meninggalkannya.” Nabi Saw bertanya lagi,” Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?” Jibril menjawab, “Pasar-pasar dan orang-orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya.” (HR. Muslim)

Hadits Nabi Pilihan Perihal Masjid

Hadits Nabi Pilihan Perihal Masjid

  1. Semua lahan adalah mesjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian. (HR. Ahmad)
  2. Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
  3. Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud)
  4. Janganlah menjadikan kuburanku sebagai tempat pemujaan berhala. Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan-kuburan para nabi sebagai masjid-masjid. (HR. Bukhari dan Abu Ya’la)
  5. Mimbarku (terletak) di tepi jalur menuju surga. Antara mimbarku dan kamarku adalah taman dari taman-taman surga. (HR. Ahmad)
  6. Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim)
  7. Shalat di masjidku ini lebih afdol (utama) dari seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil Haram lebih afdol (utama) dari seratus shalat di masjidku ini. (HR. Ahmad)
  8. Apabila seorang mengantuk saat shalat Jum’at di masjid maka hendaklah pindah tempat duduknya ke tempat duduk lainnya. (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)
  9. Bila seorang masuk ke masjid hendaklah shalat (sunnat) dua rakaat sebelum duduk. (HR. Ahmad)
  10. Apabila seorang isteri minta ijin suaminya untuk pergi ke masjid maka janganlah sang suami melarangnya. (HR. Bukhari)
  11. Sebaik-baik masjid (tempat bersujud) untuk wanita ialah dalam rumahnya sendiri. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)
  12. Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, selain dalam masjid. (HR. Adarqathani)
  13. Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk masjid maka saksikanlah bahwa dia beriman karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat At taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka mereka lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  14. Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan kaki di malam gelap-gulita menuju masjid bahwa bagi mereka cahaya yang terang-benderang di hari kiamat. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
  15. Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)
  16. Nabi Saw bertanya kepada malaikat Jibril As, “Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?” Jibril As menjawab, “Masjid-masjid dan yang paling disenangi ialah orang yang pertama masuk dan yang terakhir ke luar meninggalkannya.” Nabi Saw bertanya lagi,” Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?” Jibril menjawab, “Pasar-pasar dan orang-orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya.” (HR. Muslim)

Kisah Tentang Rasulullah, Orang Munafik dan Hukum Tentang Mereka

Kitab Sifat Orang Munafik Dan Hukum Tentang Mereka

    Hadis riwayat Zaid bin Arqam ra., ia berkata: 
    Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan di mana orang-orang banyak yang tertimpa musibah. Lalu Abdullah bin Ubay berkata kepada para pengikutnya: Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang Muhajirin yang ada di sisi Rasulullah saw. supaya mereka bubar meninggalkan Rasulullah saw. dari sekitarnya Zuhair berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. Kata Zaid bin Arqam selanjutnya: Lalu aku datang melaporkan kepada Nabi saw. tentang ucapan Abdullah bin Ubay itu. Rasulullah saw. memanggil Abdullah bin Ubay untuk menanyakan hal itu. Tetapi, Abdullah bersumpah tidak pernah berkata demikian. Dia berkata: Zaid berbohong kepada Rasulullah saw. Aku merasa sangat susah mendengar perkataan itu, sampai Allah menurunkan ayat yang menyatakan kebenaranku: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. Kemudian Nabi saw. memanggil mereka (Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya) untuk dimintakan ampun, tetapi mereka membuang muka (menolak dan berpaling), Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandarkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bertubuh bagus. (Shahih Muslim No.4976)

    Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata: 
    Nabi saw. mendatangi kuburan Abdullah bin Ubay lalu mengeluarkan jasad Abdullah dari kuburannya kemudian meletakkannya di atas kedua lutut beliau dan meludahinya serta memakaikannya baju gamis beliau. Wallahu a`lam. (Shahih Muslim No.4977)

    Hadis riwayat Ibnu Masud ra., ia berkata: 
    Ada tiga orang yang berkumpul di dekat Baitullah, dua orang dari Quraisy dan seorang dari Tsaqafi atau dua orang dari Tsaqafi dan seorang Quraisy. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sedikit pemahaman agama yang selalu disibuki oleh urusan perut mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: Apakah kamu berpendapat bahwa Allah akan mendengar apa yang kita bicarakan? Seorang lagi menjawab: Allah akan mendengar apabila kita mengeraskan suara dan tidak akan mendengar jika kita merendahkan suara. Yang lain lagi membantah: Jika Allah mendengar bila kita mengeraskan suara, maka Dia pasti akan mendengar bila kita merendahkan suara pembicaraan! Lalu Allah menurunkan ayat: Dan kamu sekalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian. (Shahih Muslim No.4979)

    Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra.: 
    Bahwa Nabi saw. berangkat untuk berperang di bukit Uhud lalu kembalilah sebagian dari mereka yang ikut bersama beliau sehingga terpecahlah para pengikut Nabi saw. menjadi dua bagian. Sebagian mereka mengatakan kita akan bunuh mereka dan sebagian lagi berpendapat tidak. Lalu turunlah ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik. (Shahih Muslim No.4980)

    Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: 
    Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira-ria dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah saw. Lalu apabila Nabi saw. telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Maka turunlah ayat: Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa. (Shahih Muslim No.4981)

    Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: 
    Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya: Hai Rafi`! Pergilah kepada Ibnu Abbas dan katakan: Jika sekiranya setiap orang di antara kita akan mendapatkan siksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji dengan apa yang tidak dia kerjakan, tentu kita semua akan disiksa. Ibnu Abbas berkata: Apa hubungan ayat ini dengan kamu! Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab. Kemudian Ibnu Abbas membaca: Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab, yaitu hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kalian menyembunyikannya. Ibnu Abbas juga membaca: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Selanjutnya ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya dan memberikan jawaban yang lain kemudian mereka keluar. Mereka merasa telah memberitahukan apa yang ditanyakan kepada mereka dan mengharap pujian dengan itu. Mereka gembira dengan jawaban yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pertanyaan. (Shahih Muslim No.4982)

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: 
    Di antara kami terdapat seorang lelaki dari Bani Najjar yang telah membaca surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran serta pernah menjadi penulis wahyu Rasulullah saw. lalu dia melarikan diri dan bergabung dengan Ahli Kitab yang menyanjung-nyanjungnya. Kata mereka: Orang ini pernah menjadi penulis wahyu Muhammad. Sehingga mereka pun terkagum dengannya. Tidak berapa lama berada di antara Ahli Kitab, Allah menimpakan bencana kepada orang itu sehingga binasalah ia. Orang-orang Ahli Kitab segera menggalikan kuburan untuknya lalu menimbunkan tanah ke atas jasadnya. Keesokan harinya, bumi telah memuntahkan jasadnya ke atas permukaan. Mereka pun kembali menggali kubur dan menimbun tetapi keesokan paginya bumi telah memuntahkannya lagi ke atas permukaan. Kemudian mereka menggali dan menguburnya lagi. Namun keesokan paginya bumi kembali memuntahkannya ke atas permukaan lalu mereka pun membiarkan jasadnya terbuang. (Shahih Muslim No.4987)

Hadits Nabi Pilihan Tentang Shalat

Hadits Nabi Pilihan  Tentang Shalat

BAB SUTRAH BAGI ORANG YANG SHALAT بَـابُ سُـتْرَةِ اَلْمُصَـلِّيِِ

  • Hadits No. 242
  • Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya. Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: (lebih baik berdiri) Empat puluh tahun.
  • َعَنْ أَبِي جُهَيْمِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَوْ يَعْلَمُ اَلْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ اَلْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنْ اَلْإِثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَوَقَعَ فِي اَلْبَزَّارِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ : ( أَرْبَعِينَ خَرِيفًا 
  • Hadits No. 243
  • ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya pada waktu perang Tabuk tentang batas bagi orang yang sholat. Beliau menjawab: Seperti tiang di bagian belakang kendaraan. Dikeluarkan oleh Muslim.
  • َوَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم – فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ – عَنْ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي فَقَالَ : مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
  • Hadits No. 244
  • Dari Sabrah Ibnu Ma’bad al-Juhany bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya seseorang di antara kamu membuat batas pada waktu sholat walaupun hanya dengan anak panah. Dikeluarkan oleh Hakim.
  • َوَعَنْ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ اَلْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ وَلَوْ بِسَهْمٍ )  أَخْرَجَهُ اَلْحَاكِمُ 

  • Hadits No. 245
  • Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Yang akan memutuskan sholat seorang muslim bila tidak ada tabir di depannya seperti kayu di bagian belakang kendaraan adalah wanita keledai dan anjing hitam. Di dalam hadits disebutkan: Anjing hitam adalah setan. Dikeluarkan oleh Imam Muslim.
  • َوَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَقْطَعُ صَلَاةَ اَلْمَرْءِ اَلْمُسْلِمِ – إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ اَلرَّحْلِ – اَلْمَرْأَةُ  وَالْحِمَارُ  وَالْكَلْبُ اَلْأَسْوَدُ  اَلْحَدِيثَ )  وَفِيهِ ( اَلْكَلْبُ اَلْأَسْوَدِ شَيْطَانٌ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ 
  • Hadits No. 246
  • Menurut riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits semisal tanpa menyebut anjing.
  • َوَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه نَحْوُهُ دُونَ : اَلْكَلْبِ

  • Hadits No. 247
  • Menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa’i dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu ada hadits semisal tanpa menyebutkan kalimat akhir (yaitu anjing) dan membatasi wanita dengan yang sedang haid.
  • َوَلِأَبِي دَاوُدَ  وَالنَّسَائِيِّ : عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- نَحْوُهُ  دُونَ آخِرِهِ وَقَيَّدَ اَلْمَرْأَةَ بِالْحَائِضِ
  • Hadits No. 248
  • Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa dia bersama setan.
  • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ  فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ  فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ  فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ : ( فَإِنَّ مَعَهُ اَلْقَرِينَ )
  • Hadits No. 249
  • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaklah ia membuat sesuatu di depannya jika ia tidak mendapatkan hendaknya ia menancapkan tongkat jika tidak memungkinkan hendaknya ia membuat garis namun hal itu tidak mengganggu orang yang lewat di depannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Shahih menurut Ibnu Hibban. Hadits ini hasan dan tidak benar jika orang menganggapnya hadits mudltorib.
  • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا  فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا  فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا  ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ  وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ  وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ  بَلْ هُوَ حَسَنٌ
  • Hadits No. 250
  • Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Tidak akan menghentikan sholat suatu apapun (jika tidak ada yang menghentikan) cegahlah sekuat tenagamu. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Dalam sanadnya ada kelemahan.
  • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَقْطَعُ اَلصَّلَاةَ شَيْءٌ  وَادْرَأْ مَا اِسْتَطَعْتَ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ  وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

Sumber

  • Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

    Hadits Nabi Tentang WAKTU-WAKTU (SHALAT)

    Hadits Nabi Bulughul Maram Tentang WAKTU-WAKTU (SHALAT)

    BAB WAKTU-WAKTU (SHALAT) بَابُ اَلْمَوَاقِيتِِ

    • Hadits No. 163
    • Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim.
    • َعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ  وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ  مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ  وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ)  رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    • Hadits No. 164
    • Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. “Dan matahari masih putih bersih.”
    • َوَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: ( وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ )
    • Hadits No. 165
    • Dari hadits Abu Musa: “Dan matahari masih tinggi.”
    • َوَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ )
    • Hadits No. 166
    • Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya’ tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ  فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ  وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ  وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ  وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا  وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا  وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ  وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    • Hadits No. 167
    • Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.
    • َوَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ  وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ 
    • Hadits No. 168
    • Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.
    • َوَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا 
    • Hadits No. 169
    • Rafi’ Ibnu Kharij Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian salah seorang di antara kami pulang dan ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah miliknya. Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: ( كُنَّا نُصَلِّي اَلْمَغْرِبَ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 
    • Hadits No. 170
    • ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya’ hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat dan bersabda: “Sungguh inilah waktunya jika tidak memberatkan umatku.” Riwayat Muslim.
    • َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَعْتَمَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعَشَاءِ  حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اَللَّيْلِ  ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي” )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ 
    • Hadits No. 171
    • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila panas sangat menyengat maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا اِشْتَدَّ اَلْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ اَلْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    • Hadits No. 172
    • dari Rafi’ Ibnu Khadij Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
    • َوَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ 
    • Hadits No. 173
    • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 
    • Hadits No. 174
    • Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”
    • َوَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ: وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ 
    • Hadits No. 175
    • Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” Muttafaq Alaihi. Dalam lafadz Riwayat Muslim: “Tidak ada shalat setelah shalat fajar.”
    • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: (لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ اَلشَّمْسُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ اَلْفَجْرِ )

    • Hadits No. 176
    • Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan ketika matahari hampir terbenam.
    • َوَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ  اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ )
    • Hadits No. 177
    • Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.
    • َوَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )
    • Hadits No. 178
    • Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.
    • َوَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ 
    • Hadits No. 179
    • Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
    • َوَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ]أَ] وْ نَهَارٍ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ 
    • Hadits No. 180
    • Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaq ialah awan merah.” Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.
    • َوَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ 
    • Hadits No. 181
    • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya.
    • َوَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ)  رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ 
    • Hadits No. 182
    • Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia seperti ekor serigala.”
    • َوَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ )  وَفِي اَلْآخَرِ: ( إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )
    • Hadits No. 183
    • Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.
    • َوَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ. وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ
    • Hadits No. 184
    • Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Permulaan waktu adalah ridlo Allah pertengahannya adalah rahmat Allah dan akhir waktunya ampunan Allah.” Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.
    • َوَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ )  أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا 
    • Hadits No. 185
    • Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.
    • َوَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ دُونَ اَلْأَوْسَطِ وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا 
    • Hadits No. 186
    • Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).” Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: “Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.”
    • َوَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ )  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ. وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ )
    • Hadits No. 187
    • Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul ‘Ash r.a.
    • َوَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ 
    • Hadits No. 188
    • Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad.
    • َوَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ 
    • Hadits No. 189
    • Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari ‘Aisyah r.a.
    • َوَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ  

    Sumber:

    • Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

    Hadits Nabi: Bagi Mereka Harta Dipertuhankan

    Mari kita perhatikan dengan seksama Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

    قال رسول الله صلى الله عليه وأله وسلم: 

     سيأتي على الناس زمان بطونهم آلهتهم ونساؤهم قبلتهم ، ودنانيرهم دينهم ، وشرفهم متاعهم ، لا يبقى من الايمان إلا اسمه ، ومن الاسلام إلا رسمه ، ولا من القرآن إلا درسه ، مساجدهم معمورة ، وقلوبهم خراب من الهدى ، علماؤهم أشر خلق الله على وجه الأرض . حينئذ ابتلاهم الله بأربع خصال : جور من السلطان ، وقحط من الزمان ، وظلم من الولاة والحكام ، فتعجب الصحابة وقالوا : يا رسول الله أيعبدون الأصنام ؟ قال : نعم ، كل درهم عندهم صنم ) .متفق عليه
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

    Akan datang suatu zaman atas manusia:

    • Perut-perut mereka menjadi Tuhan-tuhan mereka.
    • Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka.
    • Dinar-dinar(uang) mereka menjadi agama mereka.
    • Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka
    • Waktu itu, tidak tersisa dari iman kecuali namanya saja.
    • Tidak tersisa dari Islam kecuali ritual-ritualnya saja.
    • Tidak tersisa Al-Quran  kecuali sebatas kajiannya saja
    • Masjid-masjid mereka makmur, akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah).
    • Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi

    Kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka empat perkara (azab):

    • Kekejaman para penguasa
    • Kekeringan pada masa
    • Kezaliman para pejabat
    • Ketidak adilan para hakim.

    Maka heranlah para sahabat mendengar penjelasan Rasulullah. Mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah mereka ini menyembah berhala ?”
    Nabi SAW menjawab, “Ya ! Bagi mereka, setiap dirham (uang) menjadi berhala (dipertuhan/disembah)…..”

    (Hadist Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Nabi Tentang Salat: Kapan Angkat Tangan Saat Salat ?

    gkat kepalanya dari ruku’.” (HR Imam Al-Bukhori no. 735 dan Imam Muslim no. 390)

    • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu, dengan lafadz : “Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau bertakbir….” (HRAbu Dawud no. 730, sanadnya shohih)
    • Dalam hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, persis sama dengan hadits Ibnu Umar di atas, akan tetapi dia berkata : “…. Sampai kedua tangan beliau  itu sejajar dengan ujung-ujung kedua telinganya.” (HR Imam Muslim no. 391) 

    Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa takbir angkat tangan itu disyari’atkan dalam tiga keadaan, yaitu : Ketika melakukan Takbirotul Ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’.

    • Juga disyari’atkan takbir dengan angkat tangan ketika bangkit (berdiri) dari melakukan tasyahhud awwal. Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma : “Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, maka beliau mengangkat dua tangannya…” (HR Imam Al-Bukhorino. 739 dan An-Nasa’i, 3/3)
    • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’ : “Adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan dua bahunya, sebagaimana beliau bertakbir ketika takbirotul ihrom.” (HR Abu Dawud no. 730 secara marfu’, sanadnya shohih)
    • Berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, sekelompok ulama berpendapat disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari tasyahhud awwal, diantaranya adalah Abu Humaid As-Sa’idi rodhiyallohu ‘anhu dan sepuluh orang lainnya dari para sahabat Nabi, juga Al-Imam Al-Bukhori, An-Nasa’i, Ahmad dalam salah satu pendapat dari beliau, Abu Bakar bin Ishaq, Ibnul Mundzir dan sekelompok sahabat Imam As-Syafi’I, diantaranya : Abu Ali At-Thobari, Al-Baihaqi, Al-Baghowi dan yang lainnya, dan pendapat inilah yang dirojihkan oleh sekelompok ulama Hanabilah.

    Tetapi jumhur ulama (pendapatbaebagoan besar ulama) berpendapat berbeda, mereka mengatakan : tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam keadaan seperti ini (bangkit dari tasyahhud awwal).

    Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama di atas, wallohu a’lamu bis showab. (lihat : Fathul Bari, Syarh Shohih Al-Bukhori (no. 739), karya Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh)

    • Tentang takbir dengan mengangkat tangan ketika akan sujud setelah berdiri I’tidal, hal ini diambil faedah dari hadits-hadits yang menjelaskan adanya sunnah disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan setiap kali akan turun ataupun naik dari gerakan-gerakan sholat.
    • Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh menyebutkan beberapa dalil hadits tentang masalah ini dalam kitab beliau Fathul Bari (penjelasan hadits no. 739), dan beliau menyebutkan cacat-cacat hadits tersebut dan mana perkara yang rojih dalam perkara ini. 
    • Diantara hadits-hadits yang disebutkan oleh beliau adalah hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam An- Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro (no. 672) dari jalan : Ibnu Abi Ady, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qotadah, dari Nashr bin ‘Ashim, dari Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu  secara marfu’, di dalamnya disebutkan : “Dan (beliau juga bertakbir dengan mengangkat tangan, edt.) apabila beliau sujud, dan bila mengangkat kepalanya dari sujud, sampai sejajar dengan ujung kedua telinga beliau.”
    • An-Nasa’i juga mengeluarkan hadits dari jalan : Abdul A’la, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah seperti tersebut di atas. Juga mengeluarkan hadits lainnya dari jalan : Mu’adz bin Hisyam Ad-Dustuwa’i, dari bapaknya, dari Qotadah, seperti hadits tersebut di atas juga. Dan kebanyakan jalan-jalan hadits tersebut di atas, tidak menyebutkan di dalamnya tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”.
    • Sekelompok perowi hadits, diantaranya : Muhammad bin Ja’far, Isma’il bin ‘Ulyah, dan Yazid bin Zurai’, meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Arubah tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, dan mencukupkan hanya pada tiga tempat seperti yang telah disebutkan di atas (yakni hanya ketika takbirotul ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’). (lihat : Musnad Al-Jami (15/29), juga dalam riwayat Ibnu Adi di sisi Muslim dan Al-Baihaqy, juga Abdulloh bin Numair di sisi Ath-Thobroni dan Ath-Thohawy)
    • Sekelompok perowi hadits yang lainnya, seperti : Abdus Shomad bin Abdil Warits, Abu ‘Amir Al-Aqdi dan Yazid bin Zuraiq,  juga meriwayatkan hadits dari Hisyam Ad-Dustuwa’i tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat : Al-Musnad Al-Jami’ (15/29) dan Ithaaful Mahroh(13/89) karya Ibnu Hibban)    
    • Hadits tersebut di atas juga diriwayatkan oleh Syu’bah, Hammam bin Yahya, Abu ‘Awanah, dan Hammad bin Salamah, semuanya dari jalan Qotadah, tanpa tambahan lafadz tersebut di atas. (lihat : Musnad Al-Jami’ (15/29), Tahqiq Al-Musnad (no. 15.600) dan Mu’jam Ath-Thobroni, 19/284 dan seterusnya)
    • Demikian pula telah meriwayatkan hadits tersebut di atas Abu Qilabah, dari Malik bin Al-Huwairits, dan tidak disebutkan tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat kitab-kitab rujukan tersebut di atas dan juga lihat pula dalam Shohih Muslim) 
    • Menurut As-Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan : “Tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, maka pendapat yang lebih dekat pada kebenaran adalah bahwa hal itu syadz (ganjil/nyleneh), wallohu a’lam bis showab.” (Fathul ‘Allam, Fii Dirosah Ahaadits Bulughil Marom, 1/703)
    • Dalil lain yang menunjukkan disunnahkannya takbir dengan mengangkat tangan ketika turun atau naik di dalam sholat (yakni “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”), adalah hadits Wa’il bin Hujr rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Musnad (4/316) karya Imam Ahmad, dan juga yang lainnya : “Bahwasannya dia (Wa’il) sholat bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun dan ketika naik, dan beliau mengangkat tangannya ketika takbir tersebut.”  Dalam sanad hadits ini ada Abdurrohman Al-Yahshibi, dia adalah perowi yang majhul (tidak diketahui keadaannya).
    • Adapun sebagian ulama, seperti sebagian ulama Dhohiriyyah, yang berpendapat disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap kali turun atau naik di dalam sholat (termasuk dalam hal ini ketika akan sujud atau bangkit dari sujud), maka ini adalah pendapat yang lemah, karena tidak dibangun di atas dalil-dalil yang shohih, wallohu a’lamu bis showab. 

    Berdasarkan uraian di atas, jumhur ulama berpendapat : tidak disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap turun atau naik di dalam sholat, kecuali tiga atau empat keadaan tersebut di atas yang didasarkan atas hadits-hadits yang shohih. Dan insya Alloh, inilah pendapat yang benar.