Tag Archives: asbabun nuzul

Asbabun Nuzul Al Kahfi Ayat 6

Asbabun Nuzul Al Kahfi Ayat 6

Ibnu Jarir meriwayatkan dari ibnu ishaq dari seorang kakek penduduk mesir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa kaum Quraisy mengutus an-Nadhr ibnul Haris dan Uqbah bin Abi Muith untuk menemui pendeta yahudi di Madinah dengan pesan,”Tanyakan kepada mereka tentang diri Muhammad, berikan gambaran tentang dirinya. Dan beri tahu mereka tentang perkataannya, sebab mereka adalah pemeluk al-Kitab dan mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tiada kita miliki.” Kedua utusan itu pun berangkat. Setibanya di Madinah, mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah. Mereka gambarkan keadaan serta ucapan beliau. Maka para pendeta itu berkata,” tanyai dia tentang tiga hal. Kalau dia memberi jawaban semuanya, berarti dia memang Nabi yang diutus. Kalau tidak, berarti dia hanya mengada-ada. Tanyai dia tentang segolongan pemuda di masa lampau yang amat menakjubkan kisahnya, tanyai dia tentang seorang pria pengembara yang telah mencapai ujung timur dan barat dan tanyai dia tentang ruh. Setelah mereka kembali dan bertemu dengan kaum quraisy, mereka berkat, “kami datang membawa keputusan antara kita dan Muhammad.” Lalu mereka mendatangi Rasulullah dan menanyakan ketiga hal itu. Beliau menjawab,” aku akan beritahu kalian jawabannya besok”, tanpa mengucapkan Insya Allah. Orang-orang itu pun pergi. Akan tetapi sampai lima belas hari lamanya Allah tidak meurunkan wahyu mengenai hal yang ditanyakan itu, jibril pun tidak menemui beliau sehinga penduduk Mekah gempar. Tidak turunnya wahyu itu membuat sedih Rasulullah, dan perbincangan penduduk mekah memberatkan beliau. Hingga akhirnya jibril diutus untuk menurunkan surat ashabul kahfi, yang di dalamnya Allah menegur kesedihan beliau atas penduduk mekah, juga bersisi jawaban atas pertanyaan mereka.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Uthbah bin Rabiah, Syaibah bin rabiah, abu jahal, an-Nadhr bin Haris, Umayyah bin khalaf, al-Ash bin wail, al-Aswad ibnul Muththalib, abul bakhtari dan sejumlah orang quraisy berkumpul . ketika itu Rasulullah sudah merasa amat sedih menyaksiakan permusuhan kaumnya kepad beliau dan pengingkaran mereka terhadap nasihat yang beliau bawa, maka allah menurunkan ayat ini.

Asbabun Nuzul Surat An Nasr: Mereka Berbondong bondong Masuk Islam

Surat An-Nasr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙiżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥApabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
  2. وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙwa ra`aitan-nāsa yadkhulụna fī dīnillāhi afwājādan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
  3. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًاfa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastagfir-h, innahụ kāna tawwābāmaka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

Asbabun Nuzul

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam kitabnya dari Muammar dari Zuhri yang berkata, “Ketika Rasulullah memasuki kota Mekkah pada hari pembebasan (yaum al-fath), beliau mengirim Khalid bin Walid dan pasukannya ke pinggir kota Mekkah untuk memerangi kaum Quraisy. Allah lalu menghancurkan orang-orang musyrik itu. Rasulullah lantas memerintahkan untuk melucuti persenjataan mereka. Selain itu, beliau memaafkan dan melepaskan mereka kembali. Akhirnya, mereka berbondong-bondong masuk Islam. Allah lalu menurunkan ayat ini.”

Asbabun Nuzul Al Quran: Surat Al Kausar

Surat Al-Kausar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗinnā a’ṭainākal-kauṡarSungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
  2. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗfa ṣalli lirabbika wan-ḥarMaka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
  3. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُinna syāni`aka huwal-abtarSungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Asbabun Nuzul

  • Al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika, Ka’ab bin Asyraf datang ke Mekkah. Orang-orang Quraisy lalu berkata kepadanya, ‘Engkau adalah pembesar diantara mereka (penduduk Madinah). Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang memisahkan diri serta memutuskan hubungan dengan kaumnya seraya mendakwahkan bahwa ia lebih baik dari kami, padahall kami adalah para pelayan jama’ah haji, yaitu yang bertanggung jawab member minum jamaah dan melayani mereka?’Ka’ab lantas berkata, ‘Kalian jauh lebih baik dari dia.’ Tidak lama kemudian, turunlah ayat, “Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari (rahmat Allah).’ “
  • Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Mushannaf, demikian juga Ibnul Mundzir, dari Ikrimah yang berkata, “Pada saat Nabi saw. Mulai menerima wahyu, orang-orang Quraisy berkata, ‘Muhammad telah terputus (hubungannya) dari kita.’ Setelah itu, turunlah ayat, “Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
  • Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Suddi yang berkata, “Jika anak laki-laki seseorang meninggal dunia maka orang-orang Quraisy biasa mengatakan, “Si Fulan telah terputus.’ Demikianlah, tatkala anak laki-laki-laki Nabi Saw meninggal, Al-‘Ash bin Wa’il lantas berkata, ‘Muhammd telah terputus.’ Setelah itu, turunlah ayat ini.”
  • Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hal senada dalam kitab ad-Dalail dari Muhammad bin Ali, tetapi di dalam riwayat itu disebutkan bahwa anak Nabi saw yang meninggal adalah Qasim.
  • Dari Mujahid diriwayatkan, “ayat ini turun berkenaan dengan Al-‘Ash bin Wa’il, yaitu karena ia berkata, ‘Saya adalah musuh Muhammad.’ “
  • Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abi Ayyub yang berkata, “Tatkala Ibrahim, putra Rasulullah, meninggal dunia, orang-orang musyrik saling mengabarkan kepada yang lain seraya berkata, ‘Sesungguhnya Ash-Shabi’ (panggilan orang musyrik kepada Nabi saw) ini telah terputus pada malam ini. ‘ Allah lantas menurunkan surah ini secara keseluruhan.” Tentang sebab turunnya ayat 2, “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah),”
  • Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Jubair yang berkata, “Ayat ini turun di Hudaibiyyah. Ketika itu, Jibril turun seraya berkata, ‘Sembelihlah kurban engkau lantas pulanglah!’ Rasulullah lantas berdiri untuk melaksanakan khutbah hari raya lalu shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau mengambil kambingnya lalu menyembelihnya.” Riwayat terakhir ini sangat ganjil.
  • Dari Syamar bin Athiyah diriwayatkan bahwa suatu ketika Uqbah bin Abi Mu’ith bekrata, “Nabi Saw sudah tidak memiliki anak lagi. Dengan demikian, ia adalah seorang yang terputus.” Allah lalu menurunkan ayat 3, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
  • Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkata, “Diinformasikan kepada saya bahwa ketika Ibrahim, putra Nabi Saw wafat maka orang-orang Quraisy berkata, “Sekarang, Muhammad telah terputus.’ Ucapan tersebut membuat Nabi saw. tersinggung. Selanjutnya, turunlah surat ini sebagai hiburan terhadap beliau.”

Asbabun Nuzul Al-Kausar (الكوثر) / 108:1

Asbabun Nuzul Al-Kausar (الكوثر) / 108:1

اِنَّاۤ اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Al-Kausar (الكوثر) / 108:2

فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

Al-Kausar (الكوثر) / 108:3

اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Asbabun Nuzul

Al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika, Ka’ab bin Asyraf datang ke Mekkah. Orang-orang Quraisy lalu berkata kepadanya, ‘Engkau adalah pembesar diantara mereka (penduduk Madinah). Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang memisahkan diri serta memutuskan hubungan dengan kaumnya seraya mendakwahkan bahwa ia lebih baik dari kami, padahall kami adalah para pelayan jama’ah haji, yaitu yang bertanggung jawab member minum jamaah dan melayani mereka?’Ka’ab lantas berkata, ‘Kalian jauh lebih baik dari dia.’ Tidak lama kemudian, turunlah ayat, “Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari (rahmat Allah).’

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Mushannaf, demikian juga Ibnul Mundzir, dari Ikrimah yang berkata, “Pada saat Nabi saw. Mulai menerima wahyu, orang-orang Quraisy berkata, ‘Muhammad telah terputus (hubungannya) dari kita.’ Setelah itu, turunlah ayat, “Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Suddi yang berkata, “Jika anak laki-laki seseorang meninggal dunia maka orang-orang Quraisy biasa mengatakan, “Si Fulan telah terputus.’ Demikianlah, tatkala anak laki-laki-laki Nabi Saw meninggal, Al-‘Ash bin Wa’il lantas berkata, ‘Muhammd telah terputus.’ Setelah itu, turunlah ayat ini.”

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hal senada dalam kitab ad-Dalail dari Muhammad bin Ali, tetapi di dalam riwayat itu disebutkan bahwa anak Nabi saw yang meninggal adalah Qasim.

Dari Mujahid diriwayatkan, “ayat ini turun berkenaan dengan Al-‘Ash bin Wa’il, yaitu karena ia berkata, ‘Saya adalah musuh Muhammad.’

Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abi Ayyub yang berkata, “Tatkala Ibrahim, putra Rasulullah, meninggal dunia, orang-orang musyrik saling mengabarkan kepada yang lain seraya berkata, ‘Sesungguhnya Ash-Shabi’ (panggilan orang musyrik kepada Nabi saw) ini telah terputus pada malam ini. ‘ Allah lantas menurunkan surah ini secara keseluruhan.” Tentang sebab turunnya ayat 2, “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah),”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Jubair yang berkata, “Ayat ini turun di Hudaibiyyah. Ketika itu, Jibril turun seraya berkata, ‘Sembelihlah kurban engkau lantas pulanglah!’Rasulullah lantas berdiri untuk melaksanakan khutbah hari raya lalu shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau mengambil kambingnya lalu menyembelihnya.” Riwayat terakhir ini sangat ganjil.

Dari Syamar bin Athiyah diriwayatkan bahwa suatu ketika Uqbah bin Abi Mu’ith bekrata, “Nabi Saw sudah tidak memiliki anak lagi. Dengan demikian, ia adalah seorang yang terputus.” Allah lalu menurunkan ayat 3, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkata, “Diinformasikan kepada saya bahwa ketika Ibrahim, putra Nabi Saw wafat maka orang-orang Quraisy berkata, “Sekarang, Muhammad telah terputus.’ Ucapan tersebut membuat Nabi saw. tersinggung. Selanjutnya, turunlah surat ini sebagai hiburan terhadap beliau.”

Asbabun Nuzul Quran Al Baqarah 196 : Haji, Umrah dan Puasa

Al-Baqarah (البقرة) / 2:196

وَ اَتِمُّوا الۡحَجَّ وَ الۡعُمۡرَۃَ لِلّٰہِ ؕ فَاِنۡ اُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ وَ لَا تَحۡلِقُوۡا رُءُوۡسَکُمۡ حَتّٰی یَبۡلُغَ الۡہَدۡیُ مَحِلَّہٗ ؕ فَمَنۡ کَانَ مِنۡکُمۡ مَّرِیۡضًا اَوۡ بِہٖۤ اَذًی مِّنۡ رَّاۡسِہٖ فَفِدۡیَۃٌ مِّنۡ صِیَامٍ اَوۡ صَدَقَۃٍ اَوۡ نُسُکٍ ۚ فَاِذَاۤ اَمِنۡتُمۡ ٝ فَمَنۡ تَمَتَّعَ بِالۡعُمۡرَۃِ اِلَی الۡحَجِّ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ فَمَنۡ لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ ثَلٰثَۃِ اَیَّامٍ فِی الۡحَجِّ وَ سَبۡعَۃٍ اِذَا رَجَعۡتُمۡ ؕ تِلۡکَ عَشَرَۃٌ کَامِلَۃٌ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ اَہۡلُہٗ حَاضِرِی الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ٪

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

Asbabun Nuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Shafwan bin Umayyah. Seorang laki-laki berjubah yang semerbak dengan minyak za’faran menghadap kepada Nabi SAW dan berkata. “Ya Rasulullah, apa yang harus saya lakukan dalam menunaikan umrah?” Maka turunlah “Wa atimmulhajja wal ‘umrata lillah.” Rasulullah bersabda: “Mana orang yang tadi bertanya tentang umrah itu?” Orang itu menjawab: “Saya ya Rasulullah.” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda. “Tanggalkan bajumu, bersihkan hidung dan mandilah dengan sempurna, kemudian kerjakan apa yang biasa kau kerjakan pada waktu haji.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ka’b bin ‘Ujrah. Ketika sedang melakukan umrah, saya merasa kepayahan, karena di rambut dan di muka saya bertebaran kutu. Ketika itu Rasulullah SAW melihat aku kepayahan karena penyakit pada rambutku itu. Maka turunlah “fafidyatum min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk” khusus tentang aku dan berlaku bagi semua. Rasulullah bersabda: “Apakah kamu punya biri-biri untuk fidyah?” Aku menjawab bahwa aku tidak memilikinya. Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu tiga hari, atau beri makanlah enam orang miskin. Tiap orang setengah sha’ makanan, dan bercukurlah kamu

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ka’b. ketika Rasulullah SAW beserta shahabat berada di Hudaibiyah sedang berihram, kaum musyrikin melarang mereka meneruskan umrah. Salah seorang shahabat, yaitu Ka’b bin Ujrah, kepalanya penuh kutu hingga bertebaran ke mukanya. Ketika itu Rasulullah SAW lewat di hadapannya dan melihat Ka’b bin ‘Ujrah kepayahan. lalu Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kutu-kutu itu mengganggu?” Rasulullah menyuruh agar orang itu bercukur dan membayar fidyah.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari ‘Atha dari Ibnu Abbas. Ketika Rasulullah SAW dan para shahabat berhenti di Hudaibiahdatanglah Ka’ab bin ‘Ujrah yang di kepala dan mukanya bertebaran kutu karena banyaknya. Ia berkata: “Ya Rasulullah, kutukutu ini sangat menyakitkanku.” Maka turunlah ayat ini.

Asbabun Nuzul Quran Surah An Nashr

Surah An-Nasr (bahasa Arab:النصر) adalah surah ke-110 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 3 ayat dan termasuk surah Madaniyah. An Nasr berarti “Pertolongan”, nama surah ini berkaitan dengan topik surah ini yakni janji bahwa pertolongan Allah akan datang dan Islamakan memperoleh kemenangan

Terjemahan

  1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  2. Apabila Pertolongan Allah dan Kemenangan telah tiba dan kamu saksikan umat manusia berbondong-bondong menganut agama Allah,
  3. maka semarakkanlah puji-pujian untuk Tuhanmu dan mohonlah pengampunanNya, sungguh Dialah Yang Maha Mengasihani.

Asbabun Nuzul

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam kitabnya dari Muammar dari Zuhri yang berkata, “Ketika Rasulullah memasuki kota Mekkah pada hari pembebasan (yaum al-fath), beliau mengirim Khalid bin Walid dan pasukannya ke pinggir kota Mekkah untuk memerangi kaum Quraisy. Allah lalu menghancurkan orang-orang musyrik itu. Rasulullah lantas memerintahkan untuk melucuti persenjataan mereka. Selain itu, beliau memaafkan dan melepaskan mereka kembali. Akhirnya, mereka berbondong-bondong masuk Islam. Allah lalu menurunkan ayat ini.”

Asbabun Nuzul QS Al Qadar. MALAM lailatul Qadar MALAM Seribu Bulan

Al-Qadar, ayat 1-5

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Asbabun Nuzul QS Al Qadar. MALAM lailatul Qadar MALAM Seribu Bulan

  • Imam At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hasan bin Ali yang berkata, “Suatu ketika, diperlihatkan kepada Nabi orang-orang dari Bani Umayyah berdiri di atas mimbar beliau. Hal tersebut membuat beliau sedih. Setelah itu, turunlah ayat, “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.” (Al-Kautsar: 1) dan ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar…” (Al-Qadr: 1-3) Yaitu lamanya masa kekuasaan Bani Umayyah sepeninggal Nabi.” Qasim Al-Harani berkata, “Ketika kami menghitungnya, ternyata ia benar-benar seribu bulan persis, tidak kurang dan tidak lebih.” Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini ganjil.” Al-Muzni dan Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini sangat lemah.”
  • Ibnu Abi Hatim dan Al-Wahidi meriwayatkan dari Mujahid bahwa suatu ketika Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki dari Bani Israel yang tidak henti-hentinya berjihad di jalan Allah selama seribu bulan. Kaum muslimin lantas terkagum-kagum dengan hal itu. Allah lalu menurunkan ayat, Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Artinya, lebih baik dari seribu bulan yang dihabiskan oleh laki-laki itu dalam berjihad di jalan Allah swt.
  • Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid yang berkata, “Dahulu, di antara Bani Israel hidup seorang laki-laki yang senantiasa melakukan shalat malam hingga subuh tiba, sementara di pagi harinya berjihad menumpas musuh hingga sore hari. Ia terus menerus melakukan hal tersebut selama seribu bulan. Allah lalu menurunkan ayat, ‘Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.’ Artinya, melaksanakan shalat di malam itu lebih baik dari amalan yang dilakukan laki-laki Bani Israel tadi.

Asbabun Nuzul Surah Al Ikhlas: Ketika Yahudi Minta Rasukullah Gambarkn Allah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un).

Translate:
1). Say : He is Allah , the One!
2). Allah , the eternally Besought of all!
3). He begetteth not nor was begotten
4). And there is none comparable unto Him

Artinya:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

surah Al-Ikhlas (Arab:الإخلاص, “Memurnikan Keesaan Allah”) adalah surah ke-112 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan keesaan Allah sembari menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kalimat inti dari surah ini, “Allahu ahad, Allahus shamad” (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung), sering muncul dalam uang dinar emas pada zaman Kekhalifahan dahulu. Sehingga, kadang kala kalimat ini dianggap sebagai slogan negara Khilafah Islamiyah, bersama dengan dua kalimat Syahadat.
idth=”960″ height=”960″>

Asbabun Nuzul

Imam At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Aliyah dari Ubai bin Ka’ab bahwa suatu ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah, “Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau?” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Imam Ath-Thabrani dan Ibnu Jarir meriwayatkan riwayat senada dari Jabir bin Abdillah. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Makkiyyah.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika kelompok Yahudi datang kepada Nabi saw, diantara rombongan tersebut terdapat Ka’ab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka lalu berkata, “Wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami cirri-ciri Tuhan yang mengutus engkau itu?!” Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, demikian pula Ibnul Mundzir dari Said bin Jubair riwayat yang mirip dengan diatas. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Madaniyyah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Aliyah yang berkata, “Qatadah berkata, ‘Sesungguhnya pasukan koalisi (kaum kafir) pernah berkata kepada Nabi saw, ‘Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau itu?’ Jibril lalu turun dengan membawa surah ini.”
Jadi, inilah yang dimaksud dengan “orang-orang musyrik” seperti yang disebut dalam riwayat Ubai bin Ka’ab. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa surah ini adalah Madaniyyah, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh hadits dari Ibnu Abbas. Dengan demikian, kontradiksi antara kedua hadits diatas telah dapat diatasi.

Tetapi, Abusy Syaikh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Azhamah dari Aban dari Anas yang berkata, “Suatu ketika, roang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Abal Qasim, Allah telah menciptakan para Malaikat dari cahaya tirai-Nya, Adam dari tanah liat yang diberi bentuk, Iblis dari kobaran api, langit dari awan dan bumi dari buih air. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami bagaimana hakikat Tuhanmu itu? Rasulullah belum menjawab pertanyaan tersebut hingga Jibril datang dengan membawa surah ini.”

Asbabun Nuzul Al Falaq : Ketika Rasulullah Sakit Keras Terkena Sihir Yahudi


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿﴾٥ Surat Al-Falaq Teks Latin 1. Qul a’udzu birobbil falaq 2. Min syarri ma kholaq 3. Wamin syarri ghosiqin idza waqob 4. Wamin syarrin naffatsati fiil ‘uqad 5. Wamin syiarri haasidin idza hasad Arti Bahasa Indonesia Qs Al-Falaq 1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 2. dari kejahatan makhluk-Nya, 3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , 5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Surah Al-Falaq adalah surah ke-113 dalam Al-Qur’an. Nama Al-Falaq diambil dari kata Al-Falaq yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya waktu subuh. Surat ini tergolong surah Makkiyah. Inti dari Surah ini adalah perintah agar umat manusia senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT menghadapi segala keburukan yang tersembunyi.

Asbabun Nuzul

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah dari Al-Kalbi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika Rasulullah menderita sakit parah. Dua malaikat lantas mendatangi beliau . yang satu duduk diarah kepala sementara yang satu lagi diarah kaki. Malaikat yang berada di sebelah kaki lalu bertanya kepada malaikat yang di sebelah kepala, ‘Apa yang sedang menimpanya?’ Malaikat yang di sebelah kepala menjawab, ‘Disihir orang’

Malaikat yang di sebelah kaki bertanya lagi, ‘Siapa yang menyihir?’ Dijawab, ‘Labid Ibnul A’sham, seorang Yahudi.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Dimana diletakkan (sihirnya itu)?’ Dijawab, ‘Di sebuah sumur milik si Fulan, di bawah batu. Oleh sebab itu, hendaklah Muhammad pergi ke sumur itu kemudian keringkan airnya lalu angkat batunya. Setelah itu ambillah kotak yang berada dibawahnya kemudian bakarlah.’ Pada pagi harinya, Rasulullah mengutus Ammar bin Yasir serta beberapa sahabat untuk pergi ke sumur tersebut. Ketika sampai, mereka melihat airnya berubah warna menjadi merah kecoklatan seperti air pacar / inai. Mereka lantas menimba airnya, mengangkat batunya, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berada didalamnya lalu membakarnya. Ternyata di dalamnya terdapat seutas tali yang memiliki sebelas simpul. Selanjutnya Allah menurunkan kedua surah ini. Setiap kali Rasulullah membaca satu ayat maka terurailah satu simpul.”

Riwayat yang hampir sama dengan yang di atas terdapat dalam Shahih Bukhari dan shahih Muslim, namun tanpa menyebutkan turunnya kedua surah. Akan tetapi, juga terdapat riwayat serupa yang disertai penyebutan kedua surah.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab ad-dalail dari Abu Ja’far Ar-razi dari Rabi’ bin Anas bin Malik yang berkata, “Seorang laki-laki Yahudi membuatkan sesuatu terhadap Rasulullah sehingga beliau menderita sakit parah. Tatkala para sahabat menjenguk, mereka meyakini bahwa Rasulullah telah terkena sihir. Malaikat Jibril kemudian turun membawa mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Nas) untuk mengobatinya. Akhirnya, Rasulullah pun kembali sehat.”

Asbabun Nuzul Surah Luqman

image

Asbabun Nuzul Surat Luqman memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada surat Luqman. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an


Surat Luqman : 27

Imam Bukhari meriwayatkan (1/95): “..dariSyu’bah…dari Alqamah dari Abdullah, katanya ketika turun firman Allah “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),”[2]. kata para shahabat Rasulullah saw:” Siapa di antara kita yang tidak mendzalimi dirinya?” Maka Allah turunkan: “sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Hadits ini dikeluarkan juga dalam kitab Tafsir (9/363), dan Ath-Thayalisi (2/18).

Al-Hafizh dalam Al-Fath (1/95) mengatakan riwayat Syu’bah ini menegas kan bahwa pertanyaan ini merupakan sebab turunnya ayat yang lain; yang ada dalam surat Luqman. Tetapi riwayat Bukhari-Muslim dari jalur lain dari jalur A’masy yaitu Sulaiman yang disebut dalam hadits ini, maka dalam riwayat Ibnu Jarir dari dia, kata mereka:” Siapa di antara kita yang tidak mencampur keimanan dengan kedzaliman?” Dia bersabda: “Bukan demikian. Tidakkah kamu memperhatikan ucapan Luqman?”

Dalam riwayat Waki’ dari Al-A’masy, Dia bersabda:” Bukan seperti yang kamu sangka.” Dalam riwayat ‘Isa bin Yunus: “Sesungguhnya itu adalah syirik, tidakkah kamu perhatikan apa yang dikatakan Luqman?”

Secara zhahir, ayat yang ada dalam surat Luqman sudah diketahui mereka, oleh sebab itulah dia mengingatkan mereka akan surat tersebut. Dan mungkin pula turunnya pda saat itu, lalu dia bacakan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Sehingga kedua riwayat ini bersesuaian.”

Rujukan

Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i^ QS. Al-An’am : 82^ QS. Luqman : 13

NAsbabun Nuzul Surah Al Baqarah

image

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada surat Al-Baqarah. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an


Al-Baqarah : 79

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya: “… dari Ibnu Abbas : “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri”, dia berkata: “Ayat ini turun tentang ahli kitab.”

kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri”, dia berkata: “Ayat ini turun tentang ahli kitab.”

Al-Baqarah : 97

Imam Ahmad meriwayatkan (1/274): “… dari Ibnu Abbas katanya:” Serombongan Yahudi menghadap kepada Rasulullah saw lalu berkata: “Wahai Abul Qasim, sesungguhnya kami tanya an tentang lima hal. Maka kalau anda terangkan kepada kami, tahulah kami bahwa anda adalah seorang Nabi dan kami tentu mengikutimu.Lalu dia melakukan perjanjian sebagaimana dilakukan Isra’el (Nabi Ya’kub) terhadp anak-anaknya ketika mereka berkata:” Allah adalah saksi atas apa yang kita katakan ini.” Kata dia saw: “Tanyalah.” Kata mereka: “Terangkan kepada kami tentang tanda-tanda seorang Nabi.” Dia berkata:”Kedua matanya tidur tapi hatinya tidak tidur.” Kata mereka pula:”Terangkan bagaimana terjadinya anak perempuan dan anak laki-laki?” Kata dia:”Kedua air mani bertemu, maka jika air mani laki-laki naik di atas mani perempuan, maka jadilah laki-laki. Kalau mani perempuan yang naik lebih dulu di atas mani laki-laki jadilah anak perempuan.” Kata mereka lagi:” Terangkan apa yang diharamkan Isra’el atas dirinya?” Kata dia:” Dahulu dia mengeluhkan sakit rheumatik dan tidak menemukan sesuatu yang sesuai kecuali susu ini dan ini. Kata Abdullah:”Kata ayahku:”Di antaramereka ada yang mengatakan:”yaitu unta” maka diapun mengharamkan dagingnya. Kata mereka: “Engkau benar.” Mereka bertanya:”Apa guntur itu?” Kata dia: “Salah seorang malaikat Allah yang ditugaskan mengiring awan, dengan tangannya atau ditangannya terdapat pecut dari api yang dengan itu dia menggiring awan tersebut ke mana saja diperintahkan Allah.” Kata mereka:” Lalu suara apa itu?” Dia mengatakan:” Itulah suaranya.” Merekapun berkata:”Engkau benar. Tinggal satu lagi, kalau engkau terangkan kepada kami, tentu kami akan membai’atmu. Tidak ada satu Nabipun melainkan ada bersamanya malaikat yang membawa berita kepadanya, maka terangkan kepada kami siapa temanmu?” Dia berkata: “Jibril.” Kata mereka:”Jibril, yang membawa peperangan, pertempuran dan adzab, dia itu musuh kami, Seandainya engkau katakan Mikail, yang turun membawa rahmat, tumbuhan dan hujan tentulah jadi (kami akan membai’atmu).”

Maka Allah turunkan: “Katakanlah: “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Referensi

Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.
Khalqu Af’alil ‘Ibad (hal 54), karya Imam Bukhari
QS. Al-Baqarah : 79
QS. Al-Baqarah : 97