Tag Archives: asbabul wurud

Asbabul Wurud Hadits: Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Sababul Wurud Hadits: Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ
‘Biarkan apa yang tidak aku jelaskan kepada kalian. Karena sesungguhnya orang sebelum kalian binasa karena banyaknya [1] pertanyaan mereka serta perselisihan mereka atas nabi-nabi mereka. Maka apabila aku telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah ia dengan semampu kalian. Dan apabila aku telah melarang kalian dari sesuatu, maka tinggalkanlah.'”

Sababul Wurud Hadits Ke-34:

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah berkhutbah dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kalian berhaji.” Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau pun terdiam mendengar pertanyaan itu, hingga kemudian orang itu mengulang pertanyaannya hingga tiga kali. Nabi bersabda: “Andai aku katakan, ‘ya’ pastilah menjadi wajib, andai diwajibkan (tiap tahun) maka kalian tidak akan mampu melakukannya. Biarkanlah apa yang tidak aku jelaskan (tidak diperintah atau dilarang). Sebab, yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah mereka banyak bertanya dan pertentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Apabila aku melarang kalian melakukan sesuatu maka tinggalkanlah dan jika aku memerintahkan kalian melakukan suatu urusan maka lakukanlah sesuai dengan kemampuanmu.”


Ada yang berpendapat yang dimaksud adalah membebankan diri dalam bertanya, banyak bertanya pada hal-hal yang tidak terjadi, dan tidak perlu ditanyakan. Ada yang berpendapat yang dimaksud adalah pertanyaan orang-orang mengenai harta mereka dan yang ada di tangan mereka. Ada yang berpendapat, banyaknya pertanyaan orang-orang tentang keadaan mereka dan hal-hal yang terinci dari urusan mereka.
Tahqiq ke 34

Hadits Ke-34:

Hadits tersebut adalah bagian dari hadits milik Muslim dalam kitab: al-Hajj bab: Fardhu al-Hajj Marratan fi al-‘Utnr (Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup, (3/481));
Dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab: Manasik al-Hajj, bab: Wujub al-Hajj (Wajibnya Berhaji, (5/83));
Ibnu Majah dalam Muqaddimah, bab: Ittiba Surmati Rasulullah saw (Mengikuti Sunnah Rasulullah, (1/3));
Ia juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-‘Itisham, bab: al-Iqtida’ bi Surmati Rasulullah saw wa Qaulullah Ta’ala: ‘Waj’alm li al-Muttaqin Imatna (Mengikuti Sunnah Rasulullah saw, dan firman Allah (yang artinya): ‘Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa,’ (9/117));
At-Tirmidzi dalam Abwab al-Ilm, bab: afi al-Intiha ‘amma Naha ‘anhu Rasulullah saw (Tentang Berhenti dari Apa-apa yang Dilarang oleh Rasulullah saw, 4/152 dan ia berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih dan semuanya dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan,” dan lafazh yang disebutkan di atas terdapat dalam mukaddimah bab ini adalah lafazh milik Ahmad 2/517.
Sababul Wurud Hadits Ke-34:

Hadits tersebut diriwayatkan oleh an-Nasa’i 5/83, Muslim dalam kitab: al-Hajj pada bab yang terdahulu 3/481, darinya dengan lafazh-lafazh yang berdekatan. Dan diriwayatkan oleh Ahmad 1/184 dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.

Asbabul Wurud Hadi5s Nabi Pilihan : Puasa Isteri Harus Atas Izin Suami

Puasa Istri atas izin suami

Dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ، إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ

‘Tidak boleh seorang perempuan berpuasa sedangkan suaminya berada di rumah melainkan dengan izin (suami), kecuali puasa Ramadhan.’

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu Sa’id ia berkata: “Seorang wanita datang menghadap kepada Rasulullah saw sedang kami berada di sisi beliau, lalu sang wanita berkata: ‘Ya Rasulullah, suamiku Shafwan bin al-Mu’aththal memukulku jika aku shalat, menyuruhku berbuka jika aku berpuasa, ia tidak melakukan shalat shubuh kecuali setelah matahari terbit’ Beliau menanggapi sedang Shafwan ada di sisi beliau. Beliau menanyakan hal itu kepada Shafwan tentang kebenaran yang dikatakan sang istri. Ia pun menjawab: ‘Ya Rasulullah, adapun perkataannya ‘ia memukulku jika aku shalat’ karena ia membaca dua surat, dan aku telah melarangnya. Ia (Shafwan) berkata lagi: ‘Andaikan satu surat saja maka hal itu cukup bagi orang lain.’ Adapun perkataannya, ‘ia menyuruhku berbuka’ karena ia adalah wanita yang cantik lalu berpuasa, sedang saya laki-laki yang masih berusia muda, maka saya tidak dapat bersabar.’ Rasululullah saw pun bersabda: ‘Janganlah seorang wanita berpuasa,’ -sedang lafazhnya milik Ahmad-: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian, wahai para wanita, berpuasa kecuali dengan izin suaminya.’ Sedang perkataannya ‘aku tidak shalat fajar kecuali setelah terbit matahari,’ maka (ketahuilah) sesungguhnya kami ini keluarga yang dikenal dengan hal itu, hampir-hampir kami tidak dapat bangun kecuali hingga terbit matahari.’ Nabi berkata: ‘Jika kamu telah bangun maka shalatlah.'”

Tahqiq ke 33

Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: al-Mar’atu Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya, (1/572));
  • Dan juga diriwayatkan oleh Ahmad 2/476;
  • Al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Shaumu al-Mar’ati bi Idzni Zaujiha Tathawwu’an (Wanita Berpuasa Sunnah dengan Izin Suaminya, (7/39));
  • Muslim dalam kitab: az-Zakah, bab: Fadhlu Man Dhamma ila ash-Shadaqah Ghairaha min Anwa’i al-Birr (Keutamaan bagi yang Meng-gabungkan Berbagai Macam Kebaikan kepada Shadaqah, (3/65)), dan ia adalah satu bagian hadits miliknya.
  • Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati Shaum al-Mar’ah bi Idzni Zaujiha (Hadits-hadits tentang Makruhnya Wanita Berpuasa Kecuali dengan Izin Suaminya, 2/140)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Hurairah hadits hasan shahih;”
  • Ibnu Majah dalam kitab: ash-Shiyam, bab: fi al-Mar’ah Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Larangan bagi Wanita Berpuasa (Sunnah) Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/560));
  • Ad-Darimi dalam kitab: ash-Shaum, bab: an-Nahyu ‘an Shaumi al-Mar’ah Tathawwu’an illa bi Idzni Zaujiha (Larangan Berpuasa Sunnah bagi Wanita Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/344));
  • Ahmad 2/316, semuanya dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Ibnu Majah juga meriwayatkannya 1/560 dari jalur hadits Abu Said, Ahmad 2/464 dari hadits Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang berbeda.

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud, bab: al-Mar’ah tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya), 1/572;
  • Selain itu ia juga diriwayatkan oleh Ahmad 3/80;
  • Al-Hakim 1/436 dan ia berkomentar setelahnya: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Dan dikomentari oleh adz-Dzahabi. Dengan lafazh-lafazh yang beragam.

Pada sabda Rasulullah saw: “Jika engkau telah bangun maka shalatlah’ adalah sebagai jawaban dari perkataan orang itu, ‘bahwa kami dari keluarga…’ Al-Khaththabi berkata: “Ia menyerupakan dirinya bahwa ia bagian dari keluarga itu dengan makna bahwa hal itu adalah pembawaan dasar (tabiat), dan kebiasaan itu telah mendominasi. Maka jadilah ia seperti orang yang lemah melakukannya. Hingga kemudian posisinya berada dalam kedudukan seperti orang pingsan, keadaan seperti ini diberi maaf dan tidak dihukum…” Lihat Aunul Ma’bud Syarah Abu Dawud oleh Abu ath-Thib Syamsul Haq yang dikenal dengan al-Azhim Abadi. Cetakan as-Salafiyah, Madinah al-Munawwarah 7/130.

Asbabul Wurud aHadits Nabi : Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dari Ka’ab ibn ‘Ashim al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَ امْ بِرِّ، امْ صِيَامُ، فِي امْ سَفَرِ

‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).’

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasulullah saw pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki tengah dikerumuni orang banyak, dan di beri naungan di atasnya, mereka berkata: ‘Orang ini tengah berpuasa.’ Rasulullah saw pun bersabda: ‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).'”

Tahqiq ke 31

Hadits Ke-31:

  • Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/432;
  • An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyamfi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/146)), lihat Majma’ az-Zawaid 3/161. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir.”
  • Begitu juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’a fi as-Shiyaam fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Berbuka di dalam Perjalanan, (1/532)), dari haditsnya dan dari hadits Ibnu ‘Umar.

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Ahmad 3/299;
  • Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Qaulu an-Nabiy saw li Man Zhullila ‘alaihi wa Isytadda al-Harr Laisa min al-Birr as-Shaum fi as-Safar (Sabda Nabi saw bagi Orang yang Dinaungi Atasnya dan Udara yang Terik Bukanlah Bagian dari Kebaikan Berpuasa dalam Perjalanan, (3/44));
  • Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Jawazu as-Sahum wa al-Fithri fi Syahri Ramadhan li al-Musafirfi Ghairi Ma’shiyah (Bolehnya Berpuasa dan Berbuka dalam Bulan Ramadhan bagi Musafir yang Tujuannya Bukan Untuk Maksiat, (3/175));
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/317;
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikhiyar al-Fithr (Memilih Berbuka, (1/561))
  • At-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’a fi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan), secara muallaq;
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyam fi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/148)), dengan lafazh-lafazh saling berdekatan.

Aku berkata: “Di antara penguat hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan, (2/106)), dari hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw, pernah keluar menuju Makkah pada ‘Amul Fathi (hari penaklukan Makkah), beliau berpuasa hingga sampai di daerah Kara’ al-Ghamim dan orang-orang turut berpuasa bersama beliau. Lalu disampaikan kepada beliau: ‘Orang-orang mendapatkan kepayahan dalam berpuasa, dan orang-orang menunggu apa yang engkau perbuat.’ Kemudian beliau meminta semangkuk air-setelah shalat ashar-, dan meminumnya, sedangkan orang-orang menyaksikan yang beliau (perbuat), maka berbukalah sebagian dari mereka dan sebagian lagi tetap berpuasa. Berita tentang bertahannya sebagian orang dalam berpuasa terdengar oleh beliau, lalu beliau bersabda, ‘Mereka itu adalah pendurhaka.'” Abu Isa berkata: “Hadits Jabir hasan shahih.”

Dan ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa dalam perjalanan, sebagian dari ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan begitu juga dari selain mereka berpendapat bahwa berbuka itu adalah lebih utama, hingga di antara mereka ada yang memandang bahwa puasa mesti diulangi apabila berpuasa di dalam perjalanan. Ahmad dan Ishaq memilih pendapat berbuka di dalam perjalanan.

Dan sebagian lagi ahli ilmu dari kalangan para shahabat Nabi saw dan selain mereka berpendapat: “Jika seseorang mendapatkan kekuatan dalam perjalanan maka berpuasa adalah baik, dan itu lebih utama, dan jika ia berbuka maka hal itu juga baik. Dan ini adalah pendapat yang dianut oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas ,dan Abdullah bin al-Mubarak.

Asy-Syafi’i berkata: “Adapun makna dari sabda Rasulullah saw: ‘Bukanlah termasuk dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan.’ Dan begitu juga dengan sabda beliau ketika sampai kepadanya berita bahwa orang-orang masih tetap berpuasa, beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah pendurhaka,’ tidak lain adalah bagi yang tidak ada kecondongan di dalam hatinya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Adapun orang yang memandang bahwa berbuka itu adalah hal yang mubah lalu ia berpuasa dan kuat melakukan hal itu maka itu adalah yang lebih aku sukai.” Lihat Sunan at-Tirmidzi, 2/107; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/99; dan setelahnya; serta Mu’jam al-Fiqh al-Hanbali cetakan Wazaratul Aukaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, Kuwait, 2/261.

Asbabul Wurud Hadits Nabi Pilihan Tentang Jumlah Hari Ramadhan

Satu Bulan Adalah Dua Puluh Sembilan Hari

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: “Rasulullah saw pernah menemui kami, sedang beliau memukulkan salah satu tangannya ke tangan yang lainnya, sambil bersabda:

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ نَقَصَ أُصْبُعَهُ فِي الثَّالِثَةِ

‘Bulan itu seperti ini, seperti ini, dan seperti ini, kemudian beliau mengurangi jari-jemarinya pada hitungan yang ketiga.'”

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar ia berkata: “Rasulullah saw, bersabda:

إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ، فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَاقْدُرُوا لَهُ

‘Bulan itu tidak lain berbilang dua piluh sembilan (29) hari, maka jangan berpuasa hingga kalian melihatnya (hilal), dan jangan berbuka (berhari raya Idul Fltri, penj) hingga kalian melihatnya, jika kalian terhalangi oleh awan/mendung, maka perkirakanlah.’

Sababul Wurud Hadits Ke-29:

  • Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Rasulullah saw, mengasingkan diri dari istri-istrinya selama sebulan lamanya, lalu beliau keluar menemui kami di waktu subuh pada hari yang ke-29. Lalu sebagian orang ada yang berkata: ‘Wahai Rasulullah kita baru berada di pagi hari yang ke dua puluh sembilan. Nabi saw pun bersabda ‘Sesungguhnya bulan itu bilangannya 29 hari.’ Kemudian Nabi saw, mengatupkan kedua tangannya tiga kali. Dua kali dengan seluruh jari-jemarinya dan kali yang ketiga dengan sembilan jari-jemarinya.”
  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw meng-ila’ (bersumpah untuk tidak mencampuri) istrinya selama sebulan, dan beliau duduk di tempat minum miliknya, lalu menghentikannya pada hari yang kedua puluh sembilan, lalu dikatakan kepadanya: ‘(Wahai Rasulullah), bukankah engkau meng-ila’ istrimu selama sebulan?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya satu bulan itu adalah 29 hari.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: “(Satu) bulan itu adalah 29 hari.” Lalu mereka menyebutkan hal itu kepada Aisyah. Lalu ia (Aisyah) pun berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman. Dan apakah beliau menjauhi istri-istrinya selama sebulan?” Lalu beliau menghentikannya pada hari yang 29. Lalu dikatakan kepada beliau (seperti di atas) kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya bulan itu terkadang 29 hari.”

Tahqiq ke 29

Hadits Ke-29:

Hadits Pertama:

  • Hadits yang pertama adalah hadits lafazh milik Ahmad 1/184;
  • Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: ash-Shaum, bab: Bayan anna asy-Syahra Yakunu Ti’san wa ‘Isyrin (Penjelasan Bahwa Satu Bulan itu Terkadang 29 Hari, (3/141));
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikmalu Sya’ban Talatsin Yauman (Menyempurnakan Bilangan Sya’ban Menjadi 30 Hari, (4/112));
  • Ibnu Majah dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’afi asy-Syahri Tis’un wa Isyrun (Hadits tentang Bulan itu Berjumlah 29 Hari, (1/530)), dengan lafazh-Lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Wujub as-Shaum li Ru’yati al-Hilal (Wajibnya Berpuasa Lantaran Melihat Hilal Ramadhan, (3/136));
  • Ahmad 2/28;
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: asy-Syahru Yakunu Tis’an wa Isyrin (Bulan itu Adalah 29 Hari, (1/542)) dari hadits Ibnu Umar dan diriwayatkan oleh Ahmad 1/218;
  • An-Nasa’i 4/112, secara mauquf atas Ibnu Abbas;
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 1/320, 2/5, 103, dan an-Nasa’i 4/112 dari hadits Nafi dari Ibnu Umar, dengan lafazh-Lafazh yang beragam.

Hadits Kedua:

  • Diriwayatkan oleh Ahmad 2/5 dan Muslim dalam kitab: ash-Shiyam bab: Wujub Shaum Ramadhan li Ru’yati al-Hilal wa al-Fithri li Ru’yati al-Hilal (Wajibnya Berpuasa Ramadhan Lantaran Melihat Hilal dan Berbuka (Idul Fitri) Lantaran Melihat Hilal), dan hadits tersebut adalah lafazh bagi keduanya.
  • Al-Bukhari dalam kitab: ash-Shaum, bab: Qaulu an-Nabiy saw,: Idza Raitum al-Hilal fa Shumuhu wa Idza Raitumuhafa Afthiru (Sabda Nabi saw,: Apabila Kalian Melihat Hilal Maka Berpuasalah, dan Apabila Kalian Melihatnya Maka Berbukalah, (3/44)).

Adapun makna fain ghumma ‘alaikum faqduru lahu’ dikatakan: “Hilal tidak tampak oleh kami apabila terhalang melihatnya lantaran ada mendung atau semisalnya.” Kata ghumma dari ghammat asy-syai’ apabila ia menutupinya. Pada kata ghumma ada dhamir ‘hilal’ di dalamnya. Dan hal yang boleh jika kata ghumma bersandar pada dharaf: yaitu ‘apabila kalian tertutupi/terhalangi maka perkirakanlah.’ Kata hilal tidak disebutkan lantaran kata tersebut tidak dibutuhkan. Dan asal kata ‘at-taghmiyah’ adalah menutup. Di antara contoh pemakaiannya adalah ‘ughmiya ‘alal maridh’ orang sakit itu pingsan, seakan-akan orang sakit itu menutup akalnya, an-Nihayah 3/172.

As-Suyuthi meletakkan hadits tersebut disini, padahal hadits-hadits yang mendahului dan yang akan datang setelahnya adalah tentang kemarahan Rasulullah saw kepada istri-istrinya, beliau maksudkan hal itu -wallahu a’lam-sebagai penjelasan bahwa bilangan ila’, sumpah, dan berinteraksi dengan sesama muslim seperti bilangan puasa, dalam hal terkaitnya semua permasalahan tersebut dengan hilal.

Sababul Wurud Hadits Ke-29:

Hadits pertama:

  • Adalah lafazh milik Muslim dalam kitab: ash-Shaum, bab: Bayan anna asy-Sayhr Yakunu Tis’an wa Isyrin (Bahwa Bulan itu Adalah 29 Hari, (3/140));
  • Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/329;
  • Al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Hajratu an-Nabiy saw Nisa’ahu fi Ghairi Buyutihinna (Nabi saw Mengisolir Istri-istrinya di luar Rumah Mereka), dari hadits Ummu Salamah 7/41 dengan lafazh-lafazh yang beragam.

Hadits kedua:

  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Qaulullahi Ta’aiu- Ar-Rija’u Qawwamuna ‘Alan Nisa’ (Firman Allah Ta’ala: Ar-Rijalu Qawwamuna ‘ala an-Nisa’,’ (7/41)) dan hadits tersebut juga ia riwayatkan dalam kitab: ash-Shaum, bab: Qaulu an-Nabiy saw Idza Raitum al-Hilal fa Shumuhu (Sabda Nabi saw- Apabila Kalian Melihat Hilal Maka Berpuasalah, (3/34));
  • At-Tirmidzi dalam Abwabus Shaum, bab: Ma Ja’a anna asy-Syahr Yakunu Tis’an wa Isyrin (Hadits tentang (Satu) Bulan itu Adalah 29 Hari, (2/98)), dan ia mendiamkannya;
  • Ahmad 6/10;
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Kam asy-Syahr? (Berapa Lamakah (Satu) Bulan itu?, (4/111)), semuanya dengan lafazh yang beragam.

Adapun sebab Rasulullah saw meng-ila’ istri-istrinya lantaran mereka menuntut nafkah kepada beliau. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mazhalim, bab: al-Ghurfah wa al-‘Ulyah al-Musyrafah wa Ghair al-Musyrafahfi as-Sutuh wa Ghairiha (Kamar dan Bilik yang Istimewa atau Tidak Istimewa Berada di Sotoh (Loteng) dan Lainnya, (3/174)), dari hadits Abdullah bin Abbas ia berkata: “Aku selalu bersemangat menanyai Umar tentang dua wanita di antara istri Nabi saw yang Allah komentari ‘in tatuba ilallahi faqad shaghat qulubukuma’maka aku berhaji bersamanya, kemudian ia (Umar) membetulkan kantong air miliknya dan aku juga ikut membetulkan, lalu ia buang air hingga datang kembali, kemudian aku tuangkan ke atas kedua tangannya air dari kantong kulit tadi, lalu ia pun berwudhu’. Lantas aku katakan: ‘Wahai Amirul Mukminin, siapa dari dua wanita di antara istri Nabi saw,, yang Allah berfirman tentangnya ‘in tatuba ilallahi faqad shaghat qulubukuma’?‘ Umar menjawab: “Menakjubkan sekali engkau, hai Ibnu Abbas, keduanya adalah Aisyah dan Hafshah.”

Kemudian Umar memulai ceritanya: “Dulu aku bersama tetanggaku dari Anshar Bani Umayyah bin Zaid, dan ia berasal dari dataran tinggi di Madinah, kami selalu bergantian mendatangi Nabi saw. Sehari ia yang datang dan sehari berikutnya aku yang datang. Jika aku yang datang maka aku membawakan informasi hari itu kepadanya berupa perintah atau lainnya. Sebaliknya, jika ia yang datang maka ia akan melakukan hal yang sama. Dahulu kami orang-orang Quraisy menguasai para wanita, namun di kala kami tiba di Madinah kami dapatkan kenyataan bahwa wanitalah yang mendominasi laki-laki, sehingga istri-istri kami meniru perilaku wanita-wanita Anshar. Lalu aku menegur istriku dan dia malah memprotesku, maka aku mengingkari sikap protesnya itu, ia (istriku) berkata: ‘Mengapa engkau tidak menerima jika aku memprotesmu? Demi Allah, istri-istri Nabi saw saja terkadang memprotes beliau, sampai-sampai salah seorang di antara mereka ada yang mengisolir Nabi seharian penuh hingga malam hari.’

Aku tercengang dengan berita ini. Aku katakan: Telah rugi besar orang yang melakukan seperti itu!’ Lalu aku mengemasi baju-bajuku, dan kutemui Hafshah, aku tanyakan:’Hai Hafshah, apa benar salah seorang di antara kalian ada yang marah kepada Rasulullah saw dari siang hingga malam?’ Hafshah menjawab: ‘Ya, benar!’ Aku katakan: ‘Sungguh telah rugi dan teraniaya dia! Apakah engkau merasa aman terhadap kemurkaan Allah karena kemurkaan Rasulullah saw, sehingga dirimu celaka. Janganlah engkau banyak menuntut kepada Rasulullah saw dan janganlah engkau memprotesnya dalam perkara apapun, janganlah engkau mengisolirnya, dan mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan, dan janganlah engkau merasa cemburu sekalipun tetanggamu yang lain lebih manis darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah saw, -yang dimaksud oleh Umar adalah Aisyah-.’

Kami saat itu membicarakan Bani Ghassan yang telah bersandal (telah bersiap-siap) untuk memerangi kami. Kemudian kawanku mendapat giliran untuk mendatangi Nabi, ia pun kembali waktu isya’ dan mengetuk pintu rumahku dengan keras, sambil berkata: ‘Apakah ia sedang tidur?’ Akupun terbangun lalu keluar menemuinya. Ia berkata: ‘Telah terjadi peristiwa besar!’ Aku bertanya: ‘Peristiwa apa itu? Apakah Bani Ghassan telah tiba?’ Ia menjawab: ‘Bukan, bahkan peristiwanya lebih besar dan lebih panjang dari itu. Rasulullah saw menceraikan istri-istrinya.’ Kata Umar: ‘Sungguh Hafshah telah merugi, aku sudah menyangka bahwa hal ini benar-benar akan terjadi.’ Lalu aku mengemasi pakaianku, aku shalat shubuh bersama Nabi saw. Beliau kemudian masuk ke kamar minumnya dan menyendiri. Kemudian aku temui Hafshah, ia sedang menangis. Aku bertanya kepadanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis? Bukankah aku telah memperingatkanmu? Apakah Rasulullah saw, mencerai kalian?’ Ia berkata: ‘Aku tidak tahu, ia sekarang berada di kamar minum.’

Maka aku pun keluar dan menuju ke arah mimbar, di sana di sekitar mimbar aku dapati sekelompok orang sedang menangis. Lalu aku duduk bersama mereka sejenak, kegalauanku telah menguasai diriku, maka aku pun mendatangi kamar minum yang beliau berada di dalamnya. Aku katakan kepada si budak hitam: Tolong mintakan izin untuk Umar!’ Kemudian budak itu masuk dan mengajak Nabi saw berbicara, kemudian ia keluar dan mengatakan: ‘Aku telah menyebutkan namamu padanya.’ Beliau terdiam, aku pun pergi hingga aku duduk kembali bersama orang-orang yang ada di sisi mimbar itu.

Kemudian kembali kegalauanku mengalahkanku, dan aku kembali mendatangi anak kecil itu dan berkata kepadanya: ‘Mintakan izin untuk Umar!’ Lalu si budak menyebutkan jawaban yang sama dengan sebelumnya, dikala aku hendak beranjak keluar, tiba-tiba si anak itu memanggilku sambil berkata, ‘Rasulullah telah mengizinkanmu untuk menemuinya.’ Lalu aku pun masuk menemuinya, pada waktu itu aku dapatkan beliau tengah berbaring beralaskan pasir. Antara tubuh beliau dengan pasir tidak beralaskan apa pun. Dan pasir-pasir itu benar-benar membekas di punggungnya, beliau bersandarkan bantal yang berisikan sabut kurma. Aku ucapkan salam kepadanya, dengan posisi berdiri aku berkata: ‘Apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?’ Beliau memandangku dan berkata, ‘Tidak!’ Kemudian masih dalam keadaan berdiri aku melanjutkan: ‘Ya Rasulullah, sebaiknya engkau tahu, kami semua Bangsa Quraisy adalah menguasai urusan para wanita, namun di kala kita tiba di Madinah menemui Anshar, justru wanita yang menguasai urusan laki-laki.’

Kemudian Umar kembali bercerita. “Nabi saw, lantas tersenyum. Kemudian aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, sebaiknya engkau tahu, bahwa kemarin telah aku temui Hafshah dan aku katakan kepadanya: ‘Janganlah engkau merasa cemburu sekalipun tetanggamu yang lain lebih manis darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah’ -yang Umar maksudkan adalah Aisyah-.’ Nabi kemudian kembali tersenyum. Maka kemudian aku duduk setelah melihat beliau sudah bisa tersenyum. Kemudian aku fokuskan pandanganku ke isi rumahnya, dan demi Allah, tidak kulihat di sana satu pun yang menarik selain tiga perkakas. Maka aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia melapangkan rezeki umatmu, sebab bangsa Persia dan Romawi telah dilonggarkan rezekinya dan diberi limpahan duniawi padahal mereka adalah kaum yang sama sekali tidak menyembah Allah -beliau saat itu tengah bersandar-. Beliau menanggapi: Apakah engkau masih ragu, hai Ibnul Khaththab, mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan duniawinya!’ Maka aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan untukku.’

Lalu beliau mengasingkan diri lantaran pembicaraan itu saat Hafshah memberitakannya kepada Aisyah, sedang Nabi mengatakan: Aku tidak menemui istriku selama sebulan!’ Yang demikian karena memuncaknya kejengkelan beliau kepada mereka di kala Allah menegurnya. Di hari ke-2, beliau memulai menemui Aisyah, lalu Aisyah berkata: ‘Engkau telah bersumpah untuk tidak menemui kami selama sebulan, sedang aku baru menghitung hari ini adalah hari ke-29.’ Beliau bersabda: ‘Satu bulan itu bilangannya 29 hari.’ Dan bulan pada waktu itu 29 hari. Aisyah berkata: ‘Kemudian diturunkanlah ayat takhyir, yaitu: (yang artinya: ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu… hingga …pahala yang besar.’)” (QS. al-Ahzab: 29).

Maka semoga Allah membalas dari Islam, orang-orang Islam, dan pada ibu-ibu kaum mukminin dengan sebaik-baik balasan, seperti apa yang dianugerahkan kepada orang yang bersabar atas dakwah-Nya.

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Hadits Pilihan: Asbabul Wurud Hadits Nabi, Tertidur dan Terlupa Shalat

Barangsiapa Tertidur dan Terlupa dari Shalat

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذاَ ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ، (وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي)

‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari mengerjakan shalat, maka kafarat (denda)nya adalah ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya, dan tidak ada kafaratnya selain itu, (firman Allah): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-9:

Telah berkata Abu Ahmad al-Hakim, dan nama beliau adalah Muhammad bin Ishaq al-Hafizh dalam salah satu majlis imla’nya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin al-Husain (al-Hanawy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw pada malam beliau diisra’kan, beliau tidur hingga terbit matahari, lalu beliau pun shalat dan berkata, ‘Barangsiapa yang tertidur atau lupa mendirikan shalat maka hendaknya ia mengerjakannya di saat ia mengingatnya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah (yang artinya): ‘Dirikanlah shalat untuk mengingatku., Dan aku melihat tulisan asy-Syaikh Waliyuddin al-‘Iraqy di dalam beberapa kumpulan haditsnya (jami’), di sana ia memuat hadits ini dengan teksnya sebagai berikut: ‘Telah diriwayatkan oleh Abu Ahmad al-Hakim di dalam salah satu majlis imla’nya dan ia berkata: ‘Gharib dari hadits Ma’mar dari az-Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah dengan hadits Musnad, aku tidak mengetahui seorang pun menceritakan hadits ini melainkan Khalaf bin Ayyub al-‘Amiry dari riwayat ini, dan Abban ibn Yazid al-‘Aththar darinya, yaitu dari Ma’mar. Asy-Syaikh Waliyuddin berkata: “Dan jawaban yang bagus untuk pertanyaan yang begitu masyhur, yaitu, ‘Mengapa penjelasan (waktu shalat, penj.) baru datang ketika waktu zhuhur, padahal shalat itu diwajibkan pada waktu malam?’ Maka jawabannya adalah bahwa Nabi saw tertidur waktu (shubuh), dan orang yang tidur tidak terkena beban.'” Ia berkata: “Dan ini adalah satu faedah yang besar.” Dan hadits ini sanadnya adalah shahih. Dan selesai pula ungkapan asy-Syaikh Waliyuddin. Aku berkata:” Yang benar tidaklah seperti apa yang ia katakan. Karena yang dimaksud dengan hadits di atas adalah ‘malam yang beliau di isra’kan (diperjalankan) dalam satu perjalanan’ bukan ‘malam yang di isra’kan ke langit.’ Beliau dirancukan dengan lafazh ‘di isra’kan’ ini.

Sababul Wurud Kedua:

  • Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, dan an-Nasa’i, dari Abu Qatadah ia berkata: “Mereka memberitahukan kepada Nabi saw tentang shalat mereka yang terlewat lantaran ketiduran. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian yang lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.'”
  • Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Qatadah, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw- Lalu beliau berkata: ‘Kalian jika tidak mendapatkan air, besok akan kehausan.’Lalu orang-orang pun bersegera mencari air sedang aku tetap menyertai Rasulullah saw- Lalu Rasulullah saw tampak miring dari tunggangannya, beliau saw mengantuk. Lalu aku menopangnya dan beliau pun tertopang, kemudian beliau kembali miring hingga beliau hampir-hampir terjatuh dari tunggangannya lalu aku kembali menopangnya, hingga akhirnya beliau terjaga. Lalu beliau berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku berkata: ‘Abu Qatadah.’ Beliau berkata: ‘Sejak kapan kau seperti ini?’ Aku berkata: ‘Sejak semalaman.’ Beliau berkata: ‘Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjaga rasul-Nya’. Kemudian beliau kembali berkata: ‘Sebaiknya kita tidur’, lalu beliau menuju kesebatang pohon lalu turun dan berkata: ‘Lihatlah apakah engkau melihat seseorang?’ Aku berkata: ‘Ini ada seorang penunggang, ini ada dua orang penunggang, hingga hitungannya sampai ke tujuh orang.’ Lalu beliau berkata: ‘Jagakanlah shalat kami.’ Kami pun tidur, dan tidak ada yang membangunkan kami kecuali sinar matahari, kami pun terjaga. Lalu Rasulullah saw naik ke atas tunggangannya dan berlalu, dan kami pun berlalu namun hanya sejenak. Lalu beliau turun dan berkata: ‘Apakah kalian memiliki air?” Ia (Abu Qatadah) berkata: “Aku menjawab: ‘Ya, aku punya wadah yang ada sedikit air di dalamnya.’ Beliau berkata: ‘Berikan kepadaku.’ Lalu aku pun memberikannya. Beliau berkata: ‘Sentuhlah sebagiannya darinya.’ Lalu orang-orang pun berwudhu’ hingga tersisa satu tegukan. Lalu beliau bersabda: ‘Simpanlah wadah ini, wahai Abu Qatadah, karena akan ada padanya satu berita.’ Lalu Bilal mengumandangkan adzan, dan mereka shalat dua rakaat sebelum fajar. Lalu berkatalah sebagian di antara mereka dengan sebagian yang lainnya: ‘Kita telah melakukan kecerobohan dalam shalat kita.’ Lalu Rasulullah saw, bersabda: ‘Apa yang kalian bicarakan? Jika itu urusan dunia kalian maka itu urusan kalian, dan jika itu urusan agama kalian maka kembalikan kepadaku.’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah kita telah bertindak ceroboh dalam shalat kita.’ Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur). Jika terjadi seperti itu maka lakukanlah shalat, sekalipun besok maka itulah waktunya.'”

Tahqiq ke 9

Hadits Ke-9:

  • al-Bukhari -dan lafazh ini baginya- dalam kitab: Mawaqit ash-Shalah, bab: Man Nasiya Shalatan Idza Dzakaraha, wa la Yu’idu illa tilka as-Shalah (Barangsiapa Lupa Mengerjakan Shalat maka Hendaklah Ia Mengerjakannya ketika Ia Mengingatnya, dan Ia Tidak Perlu Mengulangi Kecuali Shalat Itu, (1/154));
  • Muslim dari hadits Qatadah dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbabu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/334));
  • Abu Dawud dalam kitab: ash-Shalah, bab: Man Nama’an Shalatin aw Nasiyha (Barangsiapa yang Tertidur atau Terlupa dari Shalat, (1/105));
  • Ahmad dari hadits Anas dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Dan hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari berbagai jalur periwayatan. Jalur yang pertama, dari hadits Abu Awanah dan dalam jalur ini tidak disebutkan: ‘Tidak ada kaffaratnya melainkan itu’. Dan jalur yang kedua, dari hadits Qatadah. Yang ketiga, dari hadits al-Mutsanna dari Qatadah, dan semua jalur-jalur ini lafazh-lafazhnya saling berdekatan;
  • Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab: ash-Shalah, bab: Ma Ja’afi an-Naum ‘an ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat). Abu ‘Isa berkata: “Hadits hasan shahih;”
  • An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah, bab: Fi Man Nama’an Shalatin (Tentang Orang-orang yang Tertidur dari Shalat), 1/236;
  • Ad-Darimi, kitab: ash-Shalah bab: Man Nama’an Shalatin au Nasiyaha (Barangsiapa Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa) juga Imam Ahmad, semuanya dari hadits Anas bin Malik dengan redaksi yang hampir sama;
  • Dan Imam an-Nasa’i serta Ibnu Majah kitab: as-Shalah, bab: Man Nama ‘an as-Shalah aw Nasiyaha (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat atau Terlupa), dari Anas tanpa lafazh: “Tiada kafarat untuk shalat itu kecuali shalat (yang dikerjakan) tersebut”;
  • Dan dikeluarkan oleh Imam an-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: Fi Man Nama ‘an Shalatin (Orang yang Tertidur dari (Mengerjakan) Shalat), dari Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan. Aku (Ma’mar) berkata kepada az-Zuhri: “Apakah seperti ini yang dibaca oleh Rasulullah saw Ia berkata: “Ya!”

Aku berkata: “As-Suyuthi dalam Zahrur Ruba ‘ala al-Mujtaba 1/239, berkata: ‘Bacaan ini (yaitu bacaan lidzdzikri, pada firman Allah (yang artinya: ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku’- penj.) dengan dua lam dan menfathahkan ra’ al-maqshurah, ia berbentuk mashdar dengan makna mengingat. Yaitu pada waktu mengingatnya. Dan model bacaan ini tidak terdapat di dalam qira’ah as-sab’ah.

Penjelasan Sababul wurud pertama: tertolak dengan hadits yang diriwayatkan asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim), al-Baihaqi, dari Aisyah radiyallahu anha bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah engkau tidur sebelum witir?” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kedua mataku tertidur, namun hatiku tidak tidur.” HR. al-Bukhari dalam kitab: at-Tahajjud, bab: Qiyamu an-Nabiy bi al-Lail fi Ramadhan wa Ghairih (Qiyamnya Nabi di Malam Ramadhan dan Lainnya). Muslim dalam kitab Shalatu al-Musafirin. bab: Shalatu al-Lail (Shalat Malam). Dan dalam ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad 1/1/113, dan dalam as-Sunan al-Kubra 7/62.

Ada yang menjawab penolakan tersebut, dengan berkata: “Bahwa Rasulullah saw memiliki dua macam tidur. Pertama, hati dan kedua matanya tidur bersamaan, dan itulah tidur beliau ketika beliau berada di lembah. Kedua, adalah dua matanya tertidur sedang hatinya tidak.”

Lihat dalam Allafdhul Mukarram bi Khashaish an-Nabi lembaran 131 perpustakaan al-Azhar 2134. Dan lihat juga dalam Ma’a ar-Rasul fi Siratihi wa Siyarihi oleh pengarang dalam bab kekhususan-kekhususan Rasulullah saw.

Sababul wurud kedua: Lafazh an-Nasa’i dalam kitab: ash-Shalah bab: Man Nama ‘an ash-Shalah au Nasiyaha (Orang-orang yang Tertidur dari Shalatnya, (1/237)). Dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam bab-bab shalat, bab: Ma Ja’a fi an-Naum an’ ash-Shalah (Tentang Hadits-hadits Tertidur dari Shalat, (1/114)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Qatadah hadits hasan shahih.”

Sababul wurud ketiga: Sebagian lafazh hadits milik Ahmad 5/298, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-Mawaqit, bab: al-Adzan ba’da Dzahabi al-Waqti (Adzan Setelah Lewat Waktu). Muslim dalam kitab: al-Masajid, bab: Qadha’u ash-Shalah al-Fa’itah wa Istihbahu Ta’jili Qadha’iha (Mengqadha’ Shalat yang Terlewat dan Anjuran untuk Segera Mengqadha’nya, (2/327)) dari Abu Qatadah. Dan diriwayatkan oleh Ahmad 4/431, dan Muslim dari ‘Imran bin Husain, dengan lafazh yang beragam, dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan lafazh yang berdekatan. Terdapat di dalam riwayat Ahmad 4/441 dari ‘Imran bin Husain: “Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah tidakkah kita mengulanginya di keesokan harinya dengan (shalat) tepat pada waktunya?’ Beliau menjawab: Apakah Tuhanmu Tabarak wa Ta’ala melarangmu dari riba dan Dia menerimanya dari kalian.‘ Dan diriwayatkan oleh Ahmad 5/309, dari Abu Qatadah bahwa ketika Rasulullah saw dan para shahabatnya mendirikan shalat Ialu usai, Rasulullah saw, berkata kepada mereka: ‘Kalian melakukan shalat keesokan harinya adalah masih waktunya.'”

As-Suyuthi menukil dari Ibnu Sayyidunnas tentang penggabungan di antara dua riwayat tersebut, ia berkata: “Bentuk pengkompromiannya adalah bahwa dhamir pada kata Jal-yushalliha’ kembali kepada shalat yang keesokan harinya (shalotul ghad), maksudnya laksanakanlah shalat yang terluput itu, seperti apa yang biasa diperbuat setiap hari tanpa ada tambahan atasnya, maka dengan demikian berkesesuaianlah seluruh lafazh-lafazh tersebut pada makna yang satu yang ia tidak melampaui yang lainnya. Lihat: Zahru ar-Ruba ‘alal Mujtaba 1/238.

Kosa kata: ‘Arrasa al-musafir, maksudnya berada pada waktu akhir malam sebelum fajar. Seorang Arab wanita badui dari Bani Namir berkata:

Cahaya kemerahan telah tampak, lalu kami turun dari tunggangan

Maka setelah waktu ini berlalu, tiada lagi waktu yang cocok untuk istirahat

Lihat Lisanul Arab 8/11 dan an-Nihayah 3/80. ‘Da’ama as-Syaiu yad’umu da’mari maksudnya ia miring lalu aku meluruskannya. Sedang ad-da’mu yaitu sesuatu yang ditopang. Penyair berkata:

Tatkala aku melihatnya bahwa ia tidak lagi memiliki penopang (tua renta)

Dan aku digiring pada sebuah kebosanan (hidup),

maka aku mulai sekarat, yang mana sempat menggoncangkan kondisi harta (keuangan keluargaku)

Lihat Lisanul Arab 15/91. Makna Izdahara bihi, adalah simpanlah ia dan jadikan ia dalam ingatanmu, diambil dari ungkapan mereka: aQadhaltu minhu zahrati yaitu hajatku. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata izdihar, yang bermakna gembira. Sababul wurud pertama yang disebutkan oleh as-Suyuthy sanadnya adalah gharib shahih. Sebagaimana yang dinukil oleh pengarang dari al-Iraqi disini, dan di dalam Zahrur Ruba ala al-Mujtaba’ 1/238, dan dalam lafazh muslim disebutkan: ‘Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang tidak melaksanakan shalat lalu datang waktu shalat berikutnya.’

ASBABUL WURUD HADITS: Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dari Ka’ab ibn ‘Ashim al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَ امْ بِرِّ، امْ صِيَامُ، فِي امْ سَفَرِ
‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).’

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasulullah saw pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki tengah dikerumuni orang banyak, dan di beri naungan di atasnya, mereka berkata: ‘Orang ini tengah berpuasa.’ Rasulullah saw pun bersabda: ‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).'”

Tahqiq ke 31

Hadits Ke-31:

Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/432;
An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyamfi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/146)), lihat Majma’ az-Zawaid 3/161. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir.”
Begitu juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’a fi as-Shiyaam fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Berbuka di dalam Perjalanan, (1/532)), dari haditsnya dan dari hadits Ibnu ‘Umar.
Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Hadits tersebut adalah lafazh milik Ahmad 3/299;
Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Qaulu an-Nabiy saw li Man Zhullila ‘alaihi wa Isytadda al-Harr Laisa min al-Birr as-Shaum fi as-Safar (Sabda Nabi saw bagi Orang yang Dinaungi Atasnya dan Udara yang Terik Bukanlah Bagian dari Kebaikan Berpuasa dalam Perjalanan, (3/44));
Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Jawazu as-Sahum wa al-Fithri fi Syahri Ramadhan li al-Musafirfi Ghairi Ma’shiyah (Bolehnya Berpuasa dan Berbuka dalam Bulan Ramadhan bagi Musafir yang Tujuannya Bukan Untuk Maksiat, (3/175));
Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/317;

Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikhiyar al-Fithr (Memilih Berbuka, (1/561))
At-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’a fi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan), secara muallaq;
An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyam fi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/148)), dengan lafazh-lafazh saling berdekatan.

Aku berkata: “Di antara penguat hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan, (2/106)), dari hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw, pernah keluar menuju Makkah pada ‘Amul Fathi (hari penaklukan Makkah), beliau berpuasa hingga sampai di daerah Kara’ al-Ghamim dan orang-orang turut berpuasa bersama beliau. Lalu disampaikan kepada beliau: ‘Orang-orang mendapatkan kepayahan dalam berpuasa, dan orang-orang menunggu apa yang engkau perbuat.’ Kemudian beliau meminta semangkuk air-setelah shalat ashar-, dan meminumnya, sedangkan orang-orang menyaksikan yang beliau (perbuat), maka berbukalah sebagian dari mereka dan sebagian lagi tetap berpuasa. Berita tentang bertahannya sebagian orang dalam berpuasa terdengar oleh beliau, lalu beliau bersabda, ‘Mereka itu adalah pendurhaka.'” Abu Isa berkata: “Hadits Jabir hasan shahih.”

Dan ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa dalam perjalanan, sebagian dari ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan begitu juga dari selain mereka berpendapat bahwa berbuka itu adalah lebih utama, hingga di antara mereka ada yang memandang bahwa puasa mesti diulangi apabila berpuasa di dalam perjalanan. Ahmad dan Ishaq memilih pendapat berbuka di dalam perjalanan.

Dan sebagian lagi ahli ilmu dari kalangan para shahabat Nabi saw dan selain mereka berpendapat: “Jika seseorang mendapatkan kekuatan dalam perjalanan maka berpuasa adalah baik, dan itu lebih utama, dan jika ia berbuka maka hal itu juga baik. Dan ini adalah pendapat yang dianut oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas ,dan Abdullah bin al-Mubarak.

Asy-Syafi’i berkata: “Adapun makna dari sabda Rasulullah saw: ‘Bukanlah termasuk dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan.’ Dan begitu juga dengan sabda beliau ketika sampai kepadanya berita bahwa orang-orang masih tetap berpuasa, beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah pendurhaka,’ tidak lain adalah bagi yang tidak ada kecondongan di dalam hatinya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Adapun orang yang memandang bahwa berbuka itu adalah hal yang mubah lalu ia berpuasa dan kuat melakukan hal itu maka itu adalah yang lebih aku sukai.” Lihat Sunan at-Tirmidzi, 2/107; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/99; dan setelahnya; serta Mu’jam al-Fiqh al-Hanbali cetakan Wazaratul Aukaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, Kuwait, 2/261.