Tag Archives: al quran

Doa Pilihan Dari Al Quran : Agar Tetap Istiqamah Di Jalan Allah

Doa Tetap Mendirikan Shalat
Qs.Ibrahim: 40

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Rabbij’alnii muqiimas shalaati wa min dzurriyyatii; rabbanaa wataqabbal du’aa’.
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Doa Terhindar dari Kesesatan
Qs.Ali ‘Imran: 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idzhadaitanaa wahablanaa milladunka rahmah; innaka antal wahhaab.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)

Doa Mohon Ampun dan Tetap Pendirian
Qs.Ali ‘Imran: 147

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa israafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.,

Doa Petunjuk ke Jalan yang Lurus
Qs.Al-Fatihah: 6-7

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim walad dhaaalliin
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Doa Petunjuk ke Jalan yang Lurus
Qs.Al-Fatihah: 6-7

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim walad dhaaalliin
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Doa Mohon Ampun, Surga, dan Dipelihara dari Kejahatan
Qs. Ghafir: 7-9

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ * رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Rabbanaa wasi’ta kulla syai’ir rahmataw wa ‘ilman faghfir lilladziina taabuu wattaba’uu sabiilaka waqihim ‘adzaabal jahiim. Rabbanaa wa adkhilhum jannaati adnillatii wa ‘attahum wa man shalaha min aabaaihim wa azwaajihim wa dzurriyyaatihim; innaka antal ‘aziizul hakiim. Wa qihimussayyi’aat; wa man taqissayyi’aati yaumaidzin faqad rahimtah; wadzaalika huwal fauzul ‘azhiim.
Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.

Doa Mohon Kebaikan Dunia Akhirat
Qs.Al-Baqarah: 201

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.,,

Doa Berlindung dari Salah Berdoa
Qs.Hud: 47

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbi innii a’uudzubika an as alaka maa laisa lii bihi ilm; wa illaa tagfirlii watarhamnii akum minal khaasiriin.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.

<

p style=”color:rgb(51,51,51);font-family:Helvetica, Arial, sans-serif;font-size:medium;font-style:normal;font-variant-ligatures:normal;font-variant-caps:normal;font-weight:400;letter-spacing:normal;orphans:2text-indent:0px;text-transform:none;white-space:normal;widows:2;word-spacing:0;background-color:rgb(255,255,255);text-decoration-style:initial;text-decoration-color:initial;text-align:left;”>Doa Ashabul Kahfi

Qs.Al-Kahfi: 10

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Rabbanaa aatinaa milladunka rahmah wa hayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa.
Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.,,

Doa Penutup
Qs.As-Shaffaat: 180-182

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wa salaamun ‘alal mursaliin. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Fakta Keunikan Dalam Al Al Quran Yang Harus Diketahui

Fakta Keunikan Dalam Al Al Quran Yang Harus Diketahui
Berapa jumlah Surah dalam al-Quran?

  • 114 Surah

Berapa jumlah Juz dalam al-Quran?

  • 30 Juz

Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?

  • 60 Hizb

Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran?

  • 6236 Ayat

Berapa jumlah Kata dlaam al-Quran?, dan Berapa jumlah hurufnya?

  • 77437 kata atau 77439 kata, dan 320.670 Huruf


Siapa Malaikat yang disebut dalam al-Quran?,

  • Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun Hamalatul Arsy, dan lain-lain.

Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?

  • 14 Sajdah

Berapa Jumlah para nabi yang disebut dalam Al-Quran?

  • 25 Nabi


Berapa Jumlah Surah Madaniyah dalam Al-Quran?

  • 28 Surah
  • yakni al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa” al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum’ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, dan al-Zalzalah, serta al-Nashr.

Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? 

  • 86 Surat, selain surah tersebut di atas.

Berapa Jumlah Surah yang dimulai dengan huruf dalam al-Quran?

  • 29 Surah.

Apakah yang dimaksud dengan Surah Makiyyah?

  • Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An’am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi’ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, dan al-Falaq.

Apakah yang dimaksud dengan Surah Madaniyyah? 

  • Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, dan al-Haj.

Siapakah nama para Nabi yang disebut dalam Al-Quran?

  • Adam, Nuh, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa’, Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad SAW.

Siapakah satu-satunya nama wanita yang disebut namanya dalam al-Quran?

  • Maryam binti Imran.

Siapakah satu-satunya nama Sahabat yang disebut namanya dalam al-Quran?

  • Zaid bin Haritsah RA. Rujuk dalam surah Al Ahzab ayat 37.


Apakah nama Surah yang tanpa Basmalah?

  • Surah at-Tawbah.

Apakah nama Surah yang memiliki dua Basmalah?

  • Surah al-Naml.

Apakah nama Surah yang bernilai seperempat al-Quran?

  • Surah al-Kafirun.

Apakah nama Surah yang bernilai sepertiga al-Quran?

  • Surah al-Ikhlas


Apakah nama Surah yang menyelamatkan dari siksa Qubur?

  • Surah al-Mulk

Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum’at akan menerangi sepanjang pekan?

  • Surah al-Khafi

Apakah ayat yang paling Agung dan dalam Surah apa?

  • Ayat Kursi, dalam Surah al-Baqarah ayat 255

Apakah nama Surah yang paling agung ?

  • Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

Apakah ayat yang paling bijak dan dalam surah apa?

  • Firman Allah SWT : Barang siapa yang melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)

Apakah nama Surah yang ada dua sajdahnya?

  • Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

Pada kata apakah pertengahan al-Quran itu? di Surah apa? ayat no Berapa?

  • وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.


Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dapat mengantarkannya masuk ke dalam surga?

  • Ayat Kursi.

Ayat apakah yang diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam satu Surah dan di Surah apa?

  • Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ pada Surah al-Rahman.

Ayat apakah yang diulang-ulang sebanyak 10 kali dalam satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dalam surah lainnya? Di Surah apa?

  • Ayat ويل يومئذ للمكذبين pada Surah al-Mursalat, juga ada dalm Surah al-Muthaffifiinayat 10.

Apakah Ayat terpanjang dalam al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?

  • Ayat No 282 dalam Surah al-Baqarah.

Jenis Lagu Seni Baca Al Quran 

Jenis Lagu Seni Baca Al Quran 

Lagu seni baca Al Quran menjadi nada merdu dan terindah. Itulah mengapa, kaum Muslimin gererasi awal senantiasa membaca dan mengkhatamkannya dalam periode waktu tertentu. Ada yang satu bulan sekali, dua minggu sekali, atau seminggu sekali. Membiasakan diri untuk membacanya.Al Quran yang merupakan kitab suci agama Islam. Sebagai penyempurna dari kitab-kitab yang sebelumnya, dan merupakan dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril sebagai perantaranya. Membacanya adalah tahap awal dan minimal dalam membangun interaksi dengan kitab tersebut.

Bacaan ayat suci Al Quran pada dasarnya bukan hanya sekedar deretan huruf-huruf Arab yang disatukan. Namun sebagai kalam Illahi atau perkataan langsung Allah Swt yang dikumpulkan mushaf per mushaf sehingga menjadi satu kitab. Al Quran adalah cahaya yang akan memandu manusia untuk menemukan jalan kebenaran di tengah kegelapan. Siapa pun yang menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup, tidak ada yang akan ia dapatkan selain kemuliaan yang sejati. (Al-Anbiyâ: 10).

Pada perkembangan selanjutnya, aktivitas membaca Al Quran bukan lagi sekadar membaca untuk sekadar ibadah, tetapi juga mulai memperhatikan aspek keindahan dari bacaan tersebut. Hal ini ditandai dengan munculnya beragam lagu, lagam atau gaya membaca. Akhirnya, seni membaca tumbuh dan berkembang sehingga menjadi kesenian yang digemari umat Islam di seluruh dunia.

Seni baca Al Quran ialah bacaan yang bertajwid diperindah oleh irama dan lagu. Di dalam melagukan atau taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan macam-macam lagu. 
Untuk melagukannya, para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 macam bagian, antara lain sebagai berikut:

  1. Bayati
  2. Shoba
  3. Hijaz
  4. Nahawan
  5. Rost
  6. Jiharkah
  7. Sikah

Dari 7 macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam-macam lagu dan cabangnya, antara lain:

1. Bayati
a. Qoror
b. Nawa
c. Jawab
d. Jawabul jawab
e. Nuzul (turun) – shu’ud (naik)

2. Shoba
a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam Quflah Bustanjar/Qofiyah

3. Hijaz
a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd
e. Variasi

4. Nahawand
a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq

5. Rost
a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa

6. Jiharkah
a. Nawa
b. Jawab

7. Sikah
a. Dasar
b. Iraqi
c. Turki
d. Ramal (fales)

Penggolongan Al Quran Berdasarkan Jumlah ayat


Penggolongan Al Quran Berdasarkan Jumlah ayat

Dari segi jumlah ayat, surah-surah yang ada di dalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian :

  1. As Sab’uththiwaal (tujuh surah yang panjang) yakni surah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
  2. Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Syu’ara, Hud, Yusuf, Al-Mu’min, As-Saffat, Ta Ha, An-Nahl, Al-Anbiya, Al-Isra dan Al-Kahfi.
  3. Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr. Maryam, Al-Waqi’ah, An-Naml, Az-Zukhruf, Al-Qasas, Shaad, Al-Mu’minun, Yasin dan sebagainya.
  4. Al Mufashshal (surah-surah singkat), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya0

Mengapa Najwa Shihab Tidak Pakai Jilbab ?

wp-1453692994159.jpgNajwa Shihab host terkenal pada acara mata najwa sering menjadi perbincangan umum mengapa tidak berjilbab. yg tidak berjilbab. Perbincangan itu semakin meluas ketika Najwa merupakan putri dari seorang ulama ternama, pakar tafsir, bekas rektor sekaligus eks Menteri Agama Republik Indonesia jaman Soeharto, Prof. Dr. Quraisy Shihab yang wajahnya sampai saat ini masih sering tampil di berbagai acara dakwah Islam. Dengan cara berpakaian seperti itu, katanya tidak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin menyaksikan bapak, bila di tanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari bapak saya. Bila ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya senantiasa mengatakan : ya insyaallah semoga suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok. Ternyata bila dicermati bahwa pandangan Najwa tidak aneh karena ternyata Quraisy Shihab sang Ayahanda juga berpendapat bahwa Jilbab bukan wajib bagi wanita.

Sebenarnya najwa Shihab hidup dalam lingkungan keluarga yang religius. Najwa meniti pendidikan dasarnya di instansi pendidikan berbasiskan agama, dari mulai TK Al-Quran di Makassar, selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (satu tingkat SD), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Pendidikan keagamaan juga diaplikasikan secara ketat oleh keluarganya bersama-sama lima orang saudaranya. Sudah menjadi kebiasaan, sejak magrib harus telah dirumah untuk berjamaah magrib, mengaji Al-Quran, serta membaca Ratibul Haddad bersama-sama. Baru sesudah masuk bangku kuliah, Najwa sudah diperbolehkan keluar setelah maghrib lantaran padatnya jadwal serta aktivitas perkuliahan. Itu karena keluarganya benar-benar sangat memperhatikan aspek pendidikan. Pendekatan pendidikan di keluarganya tidak dengan memakai cara-cara menyakitkan hati tetapi melalui cara yang demokratis. Meski dididik dalam lingkungan yang religius, tetapi masalah memakai jilbab tak diwajibkan oleh orang tuanya.

Kewajiban Jilbab

  • Allah swt berfirman, “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian utk menutup auratmu & pakaian indah utk perhiasan dan  pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26)
  • Nabi SAW pernah ditanya tentang aurat, maka beliau bersabda, “Jagalah auratmu, kecuali dari (penglihatan) suamimu atau budak yang kau punya.” Kemudian beliau ditanya, “Bagaimana apabila seorang perempuan bersama dgn sesama kaum perempuan ?” Maka beliau menjawab, “Apabila engkau mampu utk tak menampakkan aurat kepada siapapun maka janganlah kau tampakkan kepada siapapun.” Lalu beliau ditanya, “Lalu bagaimana apabila salah seorang dari kami (kaum perempuan) sedang bersendirian ?” Maka beliau menjawab, “Engkau lebih harus merasa malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia.” (HR. Abu Dawud [4017] & selainnya dgn sanad hasan, lihat Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 381)
  • Abu Malik berkata: “Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa para ulama telah sepakat wajibnya kaum perempuan menutup seluruh bagian tubuhnya, & sesungguhnya terjadinya perbedaan pendapat –yang teranggap- hanyalah dlm hal menutup wajah & dua telapak tangan.” (Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382) Maka dari dalil-dalil dan keterangan di atas, sangat jelaslah bahwa seorang muslimah dalam menjalankan syariat jilbab, bukan masalah “terserah”. Namun, ini adalah perintah dari Alloh. Yang menciptakan alam semesta, maka hendaknya kita bertakwa kepada Alloh, tidak bermain-main dengan perkara jilbab.

Pendapat M. Quraish Shihab

  • M. Quraish Shihab memiliki pendapat yang aneh dan ganjil mengenai ayat jilbab. Secara garis besar, pendapatnya dapat disimpulkan dalam tiga hal. Menurutnya jilbab adalah masalah khilafiyah. Dia juga menyimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi dan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut batas aurat. Ia memandang bahwa perintah jilbab itu bersifat anjuran dan bukan keharusan, serta lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama.
  • Dalam menafsirkan surat Al-Ahzab: 59, M. Quraish Shihab memiliki pandangan yang aneh dengan manyatakan bahwa Allah tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab. Pendapatnya tersebut ialah sebagai berikut: “Ayat di atas tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini. Kesan ini diperoleh dari redaksi ayat di atas yang menyatakan jilbab mereka dan yang diperintahkan adalah “Hendaklah mereka mengulurkannya.” Nah, terhadap mereka yang telah memakai jilbab, tentu lebih-lebih lagi yang belum memakainya, Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.”[M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2003), cet I, vol. 11, hal. 321.]
  • Demikianlah pendapat yang dipegang oleh M. Quraish Shihab hingga sekarang. Hal ini terbukti dari tidak adanya revisi dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Misbah, meskipun sudah banyak masukan dan bantahan terhadap pendapatnya tersebut.
  • Di samping mengulangi pandangannya tersebut ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31, M. Quraish Shihab juga mengulanginya dalam buku Wawasan Al-Qur’an. Tidak hanya itu, ia juga menulis masalah ini secara khusus dalam buku Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, yang diterbitkan oleh Pusat Studi Quran dan Lentera Hati pada Juli 2004. Ia bahkan mempertanyakan hukum jilbab dengan mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa jilbab bagi wanita adalah gambaran identitas seorang Muslimah, sebagaimana yang disebut Al-Qur’an. Tetapi apa hukumnya?[M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 171] M. Quraish Shihab juga membuat Sub bab: Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang jilbab yang menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pendapat ganjilnya tersebut.
  • Ia menulis: Di atas—semoga telah tergambar—tafsir serta pandangan ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) tentang persoalan jilbab dan batas aurat wanita. Tidak dapat disangkal bahwa pendapat tersebut didukung oleh banyak ulama kontemporer. Namun amanah ilmiah mengundang penulis untuk mengemukakan pendapat yang berbeda—dan boleh jadi dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menghadapi kenyataan yang ditampilkan oleh mayoritas wanita Muslim dewasa ini.[Ibid, hal. 178.]
  • M. Quraish Shihab menyampaikan bahwa jilbab adalah produk budaya Arab dengan menukil pendapat Muhammad Thahir bin Asyur:قوم ليست يحق لها بما هي عادات أن يحمل عليها قوم آخرون فى التشريع ولا أن يحمل عليها أصحابها كذلك (مقاصد الشريعة ص 91) Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh—dalam kedudukannya sebagai adat—untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahkan tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu. Bin Asyur kemudian memberikan beberapa contoh dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Contoh yang diangkatnya dari Al-Quran adalah surat Al-Ahzab (33): 59, yang memerintahkan kaum Mukminah agar mengulurkan Jilbabnya. Tulisnya:عادة العرب فالأقوام الذين لا يتخذون الجلابيب لا ينالهم من هذا التشريع نصيب ” مقاصد الشريعة ص 19. Di dalam Al-Quran dinyatakan, Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini.[M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1998), cet VII, hal. 178-179.]
  • Untuk mempertahankan pendapatnya, M. Quraish Shihab berargumen bahwa meskipun ayat tentang jilbab menggunakan redaksi perintah, tetapi bukan semua perintah dalam Al-Qur’an merupakan perintah wajib. Demikian pula, menurutnya hadits-hadits yang berbicara tentang perintah berjilbab bagi wanita adalah perintah dalam arti “sebaiknya” bukan seharusnya.[Ibid, hal. 179.]
  • M. Qurash Shihab juga menulis hal ini dalam Tafsir Al-Misbah ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31. Di akhir tulisan tentang jilbab, M. Qurais Shihab menyimpulkan: Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka “secara pasti telah melanggar petunjuk agama.” Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.[Ibid, hal. 179.]
  • Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa M. Quraish Shihab memiliki pendapat yang aneh dan ganjil mengenai ayat jilbab. Secara garis besar, pendapatnya dapat disimpulkan dalam tiga hal. Pertama, menurutnya jilbab adalah masalah khilafiyah. Kedua, ia menyimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi dan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut batas aurat. Ketiga, ia memandang bahwa perintah jilbab itu bersifat anjuran dan bukan keharusan, serta lebih merupakan budaya lokal Arab daripada kewajiban agama. Betulkah kesimpulannya tersebut? Tulisan ini mencoba untuk mengkritisinya.

 

 

 

Inspirasi Nabi Muhammad SAW Mengapa Harus Membaca Al Quran

Keutamaan Membaca Al Quran


Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al-Qur`an. Di antaranya :


  • عَنْ اَبيِ هُرَيْرةَ رَضِيَ اللهُ عنهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صلى الله عليهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّموا القرآنَ فأقرؤهُ فاِنَّ مَثَلَ القُرآنِ لمِنْ تَعَلمَ فَقَرأ وَقَامَ بِهِ كَمَثلِ جِرابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكاً تَفُوْحُ رِيْحُهُ كُلَّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَرَقَدَ وَهُوَ فيِ جَوفِه كَمَثلِ جِرابِ اُوْكيَ على مِسْكٍ. (رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان)  Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pelajarilah al Qur’an dan bacalah ia, karena sesungguhnya perumpamaan al Qur’an bagi orang yang mempelajarinya, lalu membacanya dan mengamalkanny adalah seperti sebuah wadah terbuka yang penuh dengan kasturi, wanginya semerbak menyebar keseluruh tempat. Dan perumpamaan orang yang belajar al Qur’an, tetapi ia tidur sementara al Qur’an berada di dalam hatinya adalah seperti sebuah wadah ayng penuh dengan kasturi tetapi tertutup.” (Hr. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban). Apabila seseorang belajar al Qur’an dan menghafalnya, kemudian terus menerus membacanya dalam shalat tahajjud, maka keadaannya bagai botol kasturi yang terbuka tutupnya sehingga semerbak harumnya memenuhi rumah itu. Dalam keadaan yang sama, seluruh rumah juga akan dipenuhi dengan nur dan keberkahan disebabkan bacaan al Qur’an seorang hafizh. Apabila seorang hafizh itu tidur dan tidak membaca al Qur’an karena lalai, maka al Qur’an yang ada didalam hatinya masih tetap semerbak bagaikan kasturi. Tetapi karena kelalaiannya, nur dan keberkahan itu akan terhalang dan tidak menyebar kepada orang lain. Meskipun demikian, dalam hatinya masih terdapat kasturi dari al Qur’an


  • عَن ابِي عَبٌاسٍ رَضَيِ اللٌهُ عَنُهمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَيِ اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ اِنَ الٌذِي لَيسَ فيِ جَوفِه شَي مِنَ القُرانِ كَالَبيتِ الخَرِبِ. (رواه الترمذي وقال هذا حديث صحيح ورواه الدارمي والحاكم وصححه) Dari Abdullah bin Abbas r. huma. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang yang tida ada sedikitpun al Qur’an dalam hatinya adalah seperti rumah kosong.” (Hr. Tirmidzi). Perumpamaan rumah kosong itu mengandung maksud yang halus, sebagaimana ungkapan peribahasa, “Otak manusia yang tidak bekerja adalah tempat syetan bekerja.” Demikian juga hati yang kosong dari kalamullah akan banyak dipengaruhi oleh syetan. Hadits diatas menyatakan betapa penting menghafal al Qur’an, sehingga hati yang tidak menyimpan kalamullah telah diumpamakan seperti rumah kosong. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rumah yang didalamnya terdapat bacaan al Qur’an, maka keluarga serta kerabatnya akan bertambah dan keberkahan serta kebaikan akan memenuhi ahli rumah tersebut. Malaikat akan turun memenuhi rumah itu, dan syetan akan keluar darinya. Sebaliknya rumah yang tidak dibacakan al Qur’an, maka akan diliputi oleh kesempitan dan ketidakberkahan, malaikat akan keluar dari rumah itu, dan syetan akan memenuhi rumah itu.”


  • عَن عَائِشَةَ رَضي اللٌهُ عَنُهَا اَنٌ النٌبِيَ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهَ وَسَلَمَ قَالَ قَرِاءَةُ القُرانِ فيِ الصَلآةِ اَفضَلُ مِن قِرَاءَةِ القُرآنِ فيِ غَيرِ الصَلآةِ وَقَرِاءَةُ القُرانِ فيِ غَيرِ الصَلآةِ اَفضَلُ مِنَ الٌتَسبِيحِ وَ التٌكبِيرِ وَ التٌسبِيحُ اَفضَلُ مِنَ الصَدَقَةَ وَ الصٌدَقَةُ اَفضَلُ مِنَ الصَومِ وَالصٌوَمُ جُنٌةٌ مِنَ النٌاَرِ . (رواه البيهقي في شعب الإيمان)  Dari Aisyah r.ha. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Membaca al Qur’an di dalam shalat lebih utama daripada membaca al Qur’an di luar shalat, membaca al Qur’an diluar shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir, tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada shaum, dan shaum adalah perisai dari api neraka.” (Hr. Baihaqi- Syu’abul Iman)


  • مَ اللٌهُ وَجهَة قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌيُ اللٌهُ عَلَيهَ وَسَلَمَ مَن قَرأ القُرانَ فَاستَظهَرَه فَحَلٌ حَلآلَه وَحَرٌمَ حَرَامَهُ اَدخَلَهُ اللٌهُ الجَنٌةَ وَشَفٌعَه فيِ عَشَرةَ مِن اَهلِ بَيِته كُلٌهٌم قَد وَجبت لَهُ النٌارُ.(رواه أحمد والترمذي وقال هذا حديث غريب وحفص بن سليمان الراوي ليس هو بالتقوى يضعف في الحديث ورواه أبن ماجه والدارمي).. Dari Ali karramallaahu wajhah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca al Qur’an dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah Swt. akan memasukannya ke dalam Surga dan allah menjaminnya untuk member syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi)


  • عَن عُقَبةَ بنِ عَامرٍ رَضَي اللٌهُ عَنهُ قَالَ : سَمِعتُ رَسُولَ اللٌهِ صَلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ يَقُولُ لَوجُعِلَ القُرانُ فيِ اِهَابٍ ثُمٌ اُلقُيِ فيِ النَارِ مَا احتَرَقَ .(رواه الدارمي). Dari Uqbah bin Amir r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika al Qur’an dijadikan kedalam kulit kemudian dilemparkan kedalam api, niscaya tidak akan terbakar.” (Hr. Darami). Ada dua pendapat dari para ahli hadits mengenai maksud hadits diatas. Sebagian berpendapat bahwa kulit yang yang dimaksud adalah kulit secara umum, yaitu kulit-kulit binatang. Dan api adalah api dunia ini. Hal menunjukan mukjizat khusus pada zaman Nabi saw. sebagaimana mukjizat para Nabi a.s. terdahulu. Sebagian lagi berpendapat bahwa maksud kulit adalah kulit manusia, dan maksud api adalah api neraka. Menurut pemahaman ini, maka hadits diatas berlaku secara umum, tidak terbatas pada waktu tertentu. Jadi, jika seorang hafizh al Qur’an disebabkan dosa-dosanya dilemparkan ke neraka, maka api neraka tidak akan membakarnya. Riwayat lain menyebutkan bahwa api neraka menyentuhnya pun tidak. Dalam Syarhus Aunnah, Mulla Ali Qari rah.a. mengutip sebuah riwayat dari Abu Umamah r.a. yang memperkuat hadits diatas yaitu, “Selalulah menghafal al Qur’an, karena Allah tidak akan menyiksa hati yang menyimpan al Qur’an.”. Hadits ini sangat jelas dan merupakan suatu ketentuan. Oleh sebab itu, mereka yang menganggap bahwa menghafal al Qur’an adalah sia-sia, maka demi Allah, hendaknya mereka merenungkan fadhilah menghafal al Qur’an dalam hadits ini. Satu fadhilah ini saja sudah cukup bagi seseorang untuk menyerahkan jiwa raganya demi menghafal al Qur’an, karena siapakah orang yang tidak berdosa dan siapakah yang dapat memastikan bahwa ia akan terhindar dari neraka?


  • عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ . ) رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه هكذا في الترغيب وعزاه الى مسلم ايضا لكن حكي الحافظ في الفضح عن ابي العلاء ان مسلما سكت عنه ). Dari Utsman r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (Hr. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah) Dalam sebagian besar kitab, hadis diriwayatkan dengan menunggukan huruf wa (artinya dan) , sebagaimana terjemahan di atas. Dengan merujuk terjemahan di atas, maka keutamaan itu diperuntukkan bagi orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Namun dalam beberap kitab lainnya, hadits itu diriwayatkan dengan menggunakan huruf aw (artinya ataw), sehingga terjemahanya adalah, “Yang terbaik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-Quraan saja ataw yang mengajarkan alquraan saja.” Dengan demikian, maka keduanya mendapatkan derajat keutamaan yang sama . Al Qur’an adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkan sama dengan menegakan agama. Karenanya sangat jelas keutamaan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Sedangkan yang terendah adalah mempelajari bacaannya saja. Hadist di atas diperkuat oleh sebuah hadist yang diriwayatkan dari Sa’id bin Sulaim r.a. secara mursal bahwa barang siapa mempelajari al Qur’an tetapi ia menganggap bahwa orang lain yang telah diberi kelebihan yang lain lebih utama darinya, berarti ia telah menghina nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya, yaitu taufik untuk mempelajari al Qur’an. Jelaskanlah, bahwa al Qur’an itu lebih tinggi daripada yang lainnya, sebagaimana akan diterangkan dalam hadist-hadist selanjutnya, sehingga harus diyakini bahwa membaca dan mengajarkannya lebih utama daripada segala-galanya. Mengenai hal ini, Mulla Ali Qari rah.a menegaskan dalam hadist yang lain bahwa barang siapa yang menghafal al Qur’an, maka ia telah menyimpan ilmu kenabian dikepalanya. Sahal Tustari rah.a. berkata, “Tanda cinta seseorang kepada Allah adalah menanamkan rasa cinta terhadap al Qur’an didalam hatinya. Dalam Syarah al Ihya diterangkan bahwa diantara golongan orang yang akan mendapatkan naungan Arasy Ilahi pada hari Kiamat yang penuh ketakutan yaitu orang yang mengajarkan al Qur’an kepada anak-anak, dan orang yang mempelajari al Qur’an pada masa kanak-kanak serta ia terus menjaganya hingga masa tua.


  • عَن اَبٍي سَعيدٍ رَضَي اللٌهُ عَنهٌ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلٌى اللٌه عَلَيهٍ وَسَلٌمَ يَقُولُ الرَبُ تَبَاَركَ وَتَعَالى مَن شَغَلَهُ الُقرُانُ عَن ذَكرِي وَمَسْئلَتيِ اَعطَيتُه اَفضَلَ مَا اُعطِي السْاَئِلينً وَفَضلُ كَلآمِ اللٌه عَلى سَائِرِ الكَلآمِ كَفَضلِ اللٌه عَلى خَلقِه (رواه الترمذي والدارمي والبيهقي في الشعب ). Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Allah berfirman, ‘barang siapa yang disibukan oleh al Qur’an daripada berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Allah diatas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Hr. Tirmidzi, DArami, dan Baihaqi) Orang yang sibuk menghafal, mempelajari, atau memehami al Qur’an sehingga tidak sempat berdo’a, maka Allah akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada yang Dia berikan kepada orang yang berdo’a. sebagaimana dalam urusan keduniaan, jika seseorang akan membagikan kue atau makanan kepada orang banyak, lalu ia menunjuk seseorang untuk membagikannya, maka bagian untuk petugas yang membagikan itu akan disisihkan lebih dulu. Mengenai ketinggian orang yang selalu sibuk membaca al Qur’an telah disebutkan di dalam hadits lain, bahwa Allah akan mengaruniakan kepadanya pahala yang lebih baik daripada pahala orang yang selalu bersyukur.Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه » “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanyaNanti pada hari Kiamat, Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan pahala membaca Al-Qur`an sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, datang memberikan syafa’at dengan seizin Allah kepada orang yang rajin membacanya.


  • Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : « … اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ».“Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.” [HR. Muslim 804]Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : « يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ». “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]. Pada hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallammemberitakan bahwa surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran akan membela orang-orang yang rajin membacanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :القرآن حجة لك أو عليك“Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah yang membelamu atau sebaliknya menjadi hujjah yang membantahmu.”[HR. Muslim] Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur`an adalah untuk diamalkan. Hal ini diperkuat oleh firman Allah subhanahu wata’ala 😦 كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولوا الألباب ) “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Shad : 29]


  • Dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhuberkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda :(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رواه البخاري . “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027] Orang yang terbaik adalah yang terkumpul padanya dua sifat tersebut, yaitu : mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. Ia mempelajari Al-Qur`an dari gurunya, kemudian ia mengajarkan Al-Qur`an tersebut kepada orang lain. Mempelajari dan mengajarkannya di sini mencakup mempelajari dan mengajarkan lafazh-lafazh Al-Qur`an; dan mencakup juga mempelajari dan mengajarkan makna-makna Al-Qur`an.Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaberkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda : ( الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ )) متفقٌ عَلَيْهِ  Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244] Orang yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus dan tepat bacaannya. Adapun orang yang tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala : pertama, pahala tilawah, dan kedua, pahala atas kecapaian dan kesulitan yang ia alami.


  • Dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ( مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ : ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ )) متفقٌ عَلَيْهِ . “Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari5427, Muslim 797] Seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah, yaitu buah yang aromanya wangi dan rasanya enak. Karena seorang mu`min itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain. Dia seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi dan harum, rasanya pun enak dan lezat. Adapun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mu’min yang rajin membaca Al-Qur`an jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Al-Qur`an. Tidak membaca Al-Qur`an artinya tidak mengerti bagaimana membaca Al-Qur`an, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya. Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir –wal’iyya dzubillah-. Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”[Al-Baqarah : 8 – 10] Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Al-Qur`an dengan bacaan yang bagus dan tartil. Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq –wal’iyyadzubillah- yang kondisi mereka ketika membaca Al-Qur`an adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam : يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم “Mereka rajin membaca Al-Qur`an, namun bacaan Al-Qur`an mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”  Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Al-Qur`an; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka. Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an, maka diumpamakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Al-Qur`an, disamping dzat dan jiwanya adalah dzat dan jiwa yang jelek dan jahat.Inilah jenis-jenis manusia terkait dengan Al-Qur`an. Maka hendaknya engkau berusaha agar menjadi orang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an dengan sebenar-benar bacaan, sehingga engkau seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi, rasanya pun enak.Dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : (( إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ ))رواه مسلم . “Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.” [HR. Muslim 269]


  • عَن عَبدِ اللٌهِ بنِ عُمَرَ رَضَى اللٌهُ عَنُهمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَي اللٌه عَلَيِه وَسَلَمَ يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرانِ اِقَرأ وَارتقٌ وَرَتٌلٌ كًما كُنتَ تُرًتٌلٍ فيِ الدُنيَا فَاِنٌ مَنزِلَكَ فيِ اخٍرِايَةُ تَقرَأهُا. (رواه أحمد والترمذي وأبو داوود والنسائي). Dari Abdullah bin Umar r.huma. berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “(pada hari Kiamat kelak) akan diseur kepada ahli al Qur’an, ‘Bacalah dan teruslah naik, bacalah dengan tartil seperti yang engkau telah membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Hr. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Haban)


  • عَن مُعَاذِنِ الجُهَنِيِ رَضَي اللٌهُ عَنَهُ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلَي اللٌهَ عَلَيهِ وَسَلَمَ مَنَ قَرَأ القُرانَ وَعَمِلَ بِمَافِيهِ اُلُبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَومَ القَيِامَةِ ضَووُهَ اَحسَنُ مِنُ ضَوءِ الشٌمسِ فيِ بُيُوُتِ الدٌنَيا فَمَا ظَنٌكُم بِالَذِيُ عَمِلَ بِهذَا (رواه احمد وابو داوود ووصححه الحاكم) Dari Mu’adz al Juharni r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “barangsiapa membaca al Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada dirumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya?” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud)

Keutamaan Membaca Al Quran


Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al-Qur`an. Di antaranya :


  • عَنْ اَبيِ هُرَيْرةَ رَضِيَ اللهُ عنهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صلى الله عليهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّموا القرآنَ فأقرؤهُ فاِنَّ مَثَلَ القُرآنِ لمِنْ تَعَلمَ فَقَرأ وَقَامَ بِهِ كَمَثلِ جِرابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكاً تَفُوْحُ رِيْحُهُ كُلَّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَرَقَدَ وَهُوَ فيِ جَوفِه كَمَثلِ جِرابِ اُوْكيَ على مِسْكٍ. (رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان)  Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pelajarilah al Qur’an dan bacalah ia, karena sesungguhnya perumpamaan al Qur’an bagi orang yang mempelajarinya, lalu membacanya dan mengamalkanny adalah seperti sebuah wadah terbuka yang penuh dengan kasturi, wanginya semerbak menyebar keseluruh tempat. Dan perumpamaan orang yang belajar al Qur’an, tetapi ia tidur sementara al Qur’an berada di dalam hatinya adalah seperti sebuah wadah ayng penuh dengan kasturi tetapi tertutup.” (Hr. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban). Apabila seseorang belajar al Qur’an dan menghafalnya, kemudian terus menerus membacanya dalam shalat tahajjud, maka keadaannya bagai botol kasturi yang terbuka tutupnya sehingga semerbak harumnya memenuhi rumah itu. Dalam keadaan yang sama, seluruh rumah juga akan dipenuhi dengan nur dan keberkahan disebabkan bacaan al Qur’an seorang hafizh. Apabila seorang hafizh itu tidur dan tidak membaca al Qur’an karena lalai, maka al Qur’an yang ada didalam hatinya masih tetap semerbak bagaikan kasturi. Tetapi karena kelalaiannya, nur dan keberkahan itu akan terhalang dan tidak menyebar kepada orang lain. Meskipun demikian, dalam hatinya masih terdapat kasturi dari al Qur’an
  • عَن ابِي عَبٌاسٍ رَضَيِ اللٌهُ عَنُهمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَيِ اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ اِنَ الٌذِي لَيسَ فيِ جَوفِه شَي مِنَ القُرانِ كَالَبيتِ الخَرِبِ. (رواه الترمذي وقال هذا حديث صحيح ورواه الدارمي والحاكم وصححه) Dari Abdullah bin Abbas r. huma. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang yang tida ada sedikitpun al Qur’an dalam hatinya adalah seperti rumah kosong.” (Hr. Tirmidzi). Perumpamaan rumah kosong itu mengandung maksud yang halus, sebagaimana ungkapan peribahasa, “Otak manusia yang tidak bekerja adalah tempat syetan bekerja.” Demikian juga hati yang kosong dari kalamullah akan banyak dipengaruhi oleh syetan. Hadits diatas menyatakan betapa penting menghafal al Qur’an, sehingga hati yang tidak menyimpan kalamullah telah diumpamakan seperti rumah kosong. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rumah yang didalamnya terdapat bacaan al Qur’an, maka keluarga serta kerabatnya akan bertambah dan keberkahan serta kebaikan akan memenuhi ahli rumah tersebut. Malaikat akan turun memenuhi rumah itu, dan syetan akan keluar darinya. Sebaliknya rumah yang tidak dibacakan al Qur’an, maka akan diliputi oleh kesempitan dan ketidakberkahan, malaikat akan keluar dari rumah itu, dan syetan akan memenuhi rumah itu.”
  • عَن عَائِشَةَ رَضي اللٌهُ عَنُهَا اَنٌ النٌبِيَ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهَ وَسَلَمَ قَالَ قَرِاءَةُ القُرانِ فيِ الصَلآةِ اَفضَلُ مِن قِرَاءَةِ القُرآنِ فيِ غَيرِ الصَلآةِ وَقَرِاءَةُ القُرانِ فيِ غَيرِ الصَلآةِ اَفضَلُ مِنَ الٌتَسبِيحِ وَ التٌكبِيرِ وَ التٌسبِيحُ اَفضَلُ مِنَ الصَدَقَةَ وَ الصٌدَقَةُ اَفضَلُ مِنَ الصَومِ وَالصٌوَمُ جُنٌةٌ مِنَ النٌاَرِ . (رواه البيهقي في شعب الإيمان)  Dari Aisyah r.ha. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Membaca al Qur’an di dalam shalat lebih utama daripada membaca al Qur’an di luar shalat, membaca al Qur’an diluar shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir, tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada shaum, dan shaum adalah perisai dari api neraka.” (Hr. Baihaqi- Syu’abul Iman)
  • مَ اللٌهُ وَجهَة قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌيُ اللٌهُ عَلَيهَ وَسَلَمَ مَن قَرأ القُرانَ فَاستَظهَرَه فَحَلٌ حَلآلَه وَحَرٌمَ حَرَامَهُ اَدخَلَهُ اللٌهُ الجَنٌةَ وَشَفٌعَه فيِ عَشَرةَ مِن اَهلِ بَيِته كُلٌهٌم قَد وَجبت لَهُ النٌارُ.(رواه أحمد والترمذي وقال هذا حديث غريب وحفص بن سليمان الراوي ليس هو بالتقوى يضعف في الحديث ورواه أبن ماجه والدارمي).. Dari Ali karramallaahu wajhah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca al Qur’an dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah Swt. akan memasukannya ke dalam Surga dan allah menjaminnya untuk member syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi)
  • عَن عُقَبةَ بنِ عَامرٍ رَضَي اللٌهُ عَنهُ قَالَ : سَمِعتُ رَسُولَ اللٌهِ صَلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ يَقُولُ لَوجُعِلَ القُرانُ فيِ اِهَابٍ ثُمٌ اُلقُيِ فيِ النَارِ مَا احتَرَقَ .(رواه الدارمي). Dari Uqbah bin Amir r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika al Qur’an dijadikan kedalam kulit kemudian dilemparkan kedalam api, niscaya tidak akan terbakar.” (Hr. Darami). Ada dua pendapat dari para ahli hadits mengenai maksud hadits diatas. Sebagian berpendapat bahwa kulit yang yang dimaksud adalah kulit secara umum, yaitu kulit-kulit binatang. Dan api adalah api dunia ini. Hal menunjukan mukjizat khusus pada zaman Nabi saw. sebagaimana mukjizat para Nabi a.s. terdahulu. Sebagian lagi berpendapat bahwa maksud kulit adalah kulit manusia, dan maksud api adalah api neraka. Menurut pemahaman ini, maka hadits diatas berlaku secara umum, tidak terbatas pada waktu tertentu. Jadi, jika seorang hafizh al Qur’an disebabkan dosa-dosanya dilemparkan ke neraka, maka api neraka tidak akan membakarnya. Riwayat lain menyebutkan bahwa api neraka menyentuhnya pun tidak. Dalam Syarhus Aunnah, Mulla Ali Qari rah.a. mengutip sebuah riwayat dari Abu Umamah r.a. yang memperkuat hadits diatas yaitu, “Selalulah menghafal al Qur’an, karena Allah tidak akan menyiksa hati yang menyimpan al Qur’an.”. Hadits ini sangat jelas dan merupakan suatu ketentuan. Oleh sebab itu, mereka yang menganggap bahwa menghafal al Qur’an adalah sia-sia, maka demi Allah, hendaknya mereka merenungkan fadhilah menghafal al Qur’an dalam hadits ini. Satu fadhilah ini saja sudah cukup bagi seseorang untuk menyerahkan jiwa raganya demi menghafal al Qur’an, karena siapakah orang yang tidak berdosa dan siapakah yang dapat memastikan bahwa ia akan terhindar dari neraka?
  • عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ . ) رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه هكذا في الترغيب وعزاه الى مسلم ايضا لكن حكي الحافظ في الفضح عن ابي العلاء ان مسلما سكت عنه ). Dari Utsman r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (Hr. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah) Dalam sebagian besar kitab, hadis diriwayatkan dengan menunggukan huruf wa (artinya dan) , sebagaimana terjemahan di atas. Dengan merujuk terjemahan di atas, maka keutamaan itu diperuntukkan bagi orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Namun dalam beberap kitab lainnya, hadits itu diriwayatkan dengan menggunakan huruf aw (artinya ataw), sehingga terjemahanya adalah, “Yang terbaik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-Quraan saja ataw yang mengajarkan alquraan saja.” Dengan demikian, maka keduanya mendapatkan derajat keutamaan yang sama . Al Qur’an adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkan sama dengan menegakan agama. Karenanya sangat jelas keutamaan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya, walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Sedangkan yang terendah adalah mempelajari bacaannya saja. Hadist di atas diperkuat oleh sebuah hadist yang diriwayatkan dari Sa’id bin Sulaim r.a. secara mursal bahwa barang siapa mempelajari al Qur’an tetapi ia menganggap bahwa orang lain yang telah diberi kelebihan yang lain lebih utama darinya, berarti ia telah menghina nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya, yaitu taufik untuk mempelajari al Qur’an. Jelaskanlah, bahwa al Qur’an itu lebih tinggi daripada yang lainnya, sebagaimana akan diterangkan dalam hadist-hadist selanjutnya, sehingga harus diyakini bahwa membaca dan mengajarkannya lebih utama daripada segala-galanya. Mengenai hal ini, Mulla Ali Qari rah.a menegaskan dalam hadist yang lain bahwa barang siapa yang menghafal al Qur’an, maka ia telah menyimpan ilmu kenabian dikepalanya. Sahal Tustari rah.a. berkata, “Tanda cinta seseorang kepada Allah adalah menanamkan rasa cinta terhadap al Qur’an didalam hatinya. Dalam Syarah al Ihya diterangkan bahwa diantara golongan orang yang akan mendapatkan naungan Arasy Ilahi pada hari Kiamat yang penuh ketakutan yaitu orang yang mengajarkan al Qur’an kepada anak-anak, dan orang yang mempelajari al Qur’an pada masa kanak-kanak serta ia terus menjaganya hingga masa tua.
  • عَن اَبٍي سَعيدٍ رَضَي اللٌهُ عَنهٌ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلٌى اللٌه عَلَيهٍ وَسَلٌمَ يَقُولُ الرَبُ تَبَاَركَ وَتَعَالى مَن شَغَلَهُ الُقرُانُ عَن ذَكرِي وَمَسْئلَتيِ اَعطَيتُه اَفضَلَ مَا اُعطِي السْاَئِلينً وَفَضلُ كَلآمِ اللٌه عَلى سَائِرِ الكَلآمِ كَفَضلِ اللٌه عَلى خَلقِه (رواه الترمذي والدارمي والبيهقي في الشعب ). Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Allah berfirman, ‘barang siapa yang disibukan oleh al Qur’an daripada berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Allah diatas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Hr. Tirmidzi, DArami, dan Baihaqi) Orang yang sibuk menghafal, mempelajari, atau memehami al Qur’an sehingga tidak sempat berdo’a, maka Allah akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada yang Dia berikan kepada orang yang berdo’a. sebagaimana dalam urusan keduniaan, jika seseorang akan membagikan kue atau makanan kepada orang banyak, lalu ia menunjuk seseorang untuk membagikannya, maka bagian untuk petugas yang membagikan itu akan disisihkan lebih dulu. Mengenai ketinggian orang yang selalu sibuk membaca al Qur’an telah disebutkan di dalam hadits lain, bahwa Allah akan mengaruniakan kepadanya pahala yang lebih baik daripada pahala orang yang selalu bersyukur.
  • Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه » “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanyaNanti pada hari Kiamat, Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan pahala membaca Al-Qur`an sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, datang memberikan syafa’at dengan seizin Allah kepada orang yang rajin membacanya.
  • Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : « … اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ».“Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.” [HR. Muslim 804]
  • Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : « يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ». “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]. Pada hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallammemberitakan bahwa surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran akan membela orang-orang yang rajin membacanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :القرآن حجة لك أو عليك“Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah yang membelamu atau sebaliknya menjadi hujjah yang membantahmu.”[HR. Muslim] Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tujuan terpenting diturunkannya Al-Qur`an adalah untuk diamalkan. Hal ini diperkuat oleh firman Allah subhanahu wata’ala 😦 كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولوا الألباب ) “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Shad : 29]
  • Dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhuberkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda :(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رواه البخاري . “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027] Orang yang terbaik adalah yang terkumpul padanya dua sifat tersebut, yaitu : mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. Ia mempelajari Al-Qur`an dari gurunya, kemudian ia mengajarkan Al-Qur`an tersebut kepada orang lain. Mempelajari dan mengajarkannya di sini mencakup mempelajari dan mengajarkan lafazh-lafazh Al-Qur`an; dan mencakup juga mempelajari dan mengajarkan makna-makna Al-Qur`an.
  • Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaberkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda : ( الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ )) متفقٌ عَلَيْهِ  Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244] Orang yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus dan tepat bacaannya. Adapun orang yang tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala : pertama, pahala tilawah, dan kedua, pahala atas kecapaian dan kesulitan yang ia alami.
  • Dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ( مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ : ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ )) متفقٌ عَلَيْهِ . “Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari5427, Muslim 797] Seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah, yaitu buah yang aromanya wangi dan rasanya enak. Karena seorang mu`min itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain. Dia seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi dan harum, rasanya pun enak dan lezat. Adapun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mu’min yang rajin membaca Al-Qur`an jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Al-Qur`an. Tidak membaca Al-Qur`an artinya tidak mengerti bagaimana membaca Al-Qur`an, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya. Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir –wal’iyya dzubillah-. Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”[Al-Baqarah : 8 – 10] Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Al-Qur`an dengan bacaan yang bagus dan tartil. Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq –wal’iyyadzubillah- yang kondisi mereka ketika membaca Al-Qur`an adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam : يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم “Mereka rajin membaca Al-Qur`an, namun bacaan Al-Qur`an mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”  Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Al-Qur`an; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka. Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an, maka diumpamakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Al-Qur`an, disamping dzat dan jiwanya adalah dzat dan jiwa yang jelek dan jahat.Inilah jenis-jenis manusia terkait dengan Al-Qur`an. Maka hendaknya engkau berusaha agar menjadi orang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an dengan sebenar-benar bacaan, sehingga engkau seperti buah Al-Atrujah, aromanya wangi, rasanya pun enak.
  • Dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : (( إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ ))رواه مسلم . “Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.” [HR. Muslim 269]
  • عَن عَبدِ اللٌهِ بنِ عُمَرَ رَضَى اللٌهُ عَنُهمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَي اللٌه عَلَيِه وَسَلَمَ يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرانِ اِقَرأ وَارتقٌ وَرَتٌلٌ كًما كُنتَ تُرًتٌلٍ فيِ الدُنيَا فَاِنٌ مَنزِلَكَ فيِ اخٍرِايَةُ تَقرَأهُا. (رواه أحمد والترمذي وأبو داوود والنسائي). Dari Abdullah bin Umar r.huma. berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “(pada hari Kiamat kelak) akan diseur kepada ahli al Qur’an, ‘Bacalah dan teruslah naik, bacalah dengan tartil seperti yang engkau telah membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Hr. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Haban)
  • عَن مُعَاذِنِ الجُهَنِيِ رَضَي اللٌهُ عَنَهُ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلَي اللٌهَ عَلَيهِ وَسَلَمَ مَنَ قَرَأ القُرانَ وَعَمِلَ بِمَافِيهِ اُلُبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَومَ القَيِامَةِ ضَووُهَ اَحسَنُ مِنُ ضَوءِ الشٌمسِ فيِ بُيُوُتِ الدٌنَيا فَمَا ظَنٌكُم بِالَذِيُ عَمِلَ بِهذَا (رواه احمد وابو داوود ووصححه الحاكم) Dari Mu’adz al Juharni r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “barangsiapa membaca al Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada dirumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya?” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud)

Daftar 39 Nabi Yang Disebut Dalam Al Quran dan Jumlah Penyebutan


Daftar 39 Nabi Yang Disebut Dalam Al Quran dan Jumlah Penyebutan

  1. 25 NabiMusa (136 kali)
  2. Ibrāhīm (69 kali)
  3. Nūħ (43 kali)
  4. Yusuf (27 kali)
  5. Luth (27 kali)
  6. Adam (25 kali)
  7. Isa (25 kali)
  8. Harun (20 kali)
  9. Isħaq (17 kali)
  10. Sulaiman (17 kali)
  11. Dāwūd (16 kali)
  12. Yaqub (16 kali)
  13. Isma’il (12 kali)
  14. Syu’aib (10 kali)
  15. Shaleh (9 kali)
  16. Zakariyya (7 kali)
  17. Hud (7 kali)
  18. Yaħyā (5 kali)
  19. Muhammad (4 kali) dan Ahmad (1 kali)
  20. Ayyub (4 kali)
  21. Yunus (4 kali)
  22. Idrīs (2 kali)
  23. Ilyās (2 kali)
  24. Ilyasa (2 kali)
  25. Zūlkifli (2 kali)
  26. Figur lainFir’aun (74 kali)
  27. Maryam (34 kali)
  28. Haman (6 kali)
  29. Jalut (4 kali)
  30. Qarūn (4 kali)
  31. Samiri (3 kali)
  32. Dzulkarnain (3 kali)
  33. Imran (3 kali)
  34. al-‘Azīz, (2 kali)
  35. Tālūt (2 kali)
  36. Azar, (1 kali)
  37. Uzayr (1 kali)
  38. Luqman (1 kali)
  39. Abu Lahab (1 kali)

Asbabun Nuzul Surat Ali Imran

image

Asbabun Nuzul Surat Ali-‘Imran memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada surat Ali-‘Imran. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa
mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an

Ali-‘Imran


Ali-‘Imran : 77

1. Imam Bukhari meriwayatkan (5/430): “… dari ‘Abdullah, dari Nabi saw, dia bersabda:”Siapa yang bersumpah untuk merampas harta seseorang dalam keadaan dia sengaja dusta, niscaya dia bertemu Allah dalam keadaan murka kepadanya.” Maka Allah ta’ala menurunkan: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit,…”[

Datanglah Al-Asy’ats lalu berkata: “Apa yang disampaikan Abu Abdirrahman kepada kalian itu tentang saya ayat ini turun. Saya dahulu punya sebuah perigi (sumur) di tanah milik anak paman saya.” Lalu Nabi berkata kepadaku: “Saksi-saksimu?” Saya katakan:”Saya tidak punya saksi-saksi.” Dia berkata lagi: “Sumpah dia (pemilik tanah)?” Sayapun berkata:” Wahai rasulullah, bahwasanya dia telah bersumpah, lalu Nabi saw menyebutkan hadits ini. Kemudian turunlah ayat itu sebagai bukti yang membenarkannya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari pada beberapa tempat dalam Shahihnya ; (6/70) dan (280) di dalamnya tersebut:” Dahulu antara aku dan seorang Yahudi ada keributan tentang sebidang tanah.” Juga (210) dan didalamnya ada:”Antara aku dengan seseorang ada pertikaian tentang sesuatu.”

2. Imam Bukhari meriwayatkan (9/280): “…dari Abdullah bin Abi Aufa, bahwasanya ada seseorang yang menjual barang di pasar, lalu dia bersumpah tentang barang itu bahwa sungguh dia telah memberi dengan barang itu, sesuatu yang belum pernah dia berikan agar menjerumuskan padanya seseorang dari kalangan muslimin, lalu turunlah:”Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”

Tidaklah bertentangan antara kedua riwayat ini, dan dapat dipahami bahwa turunnya karena dua sebab sekaligus, sementara lafazh ayat lebih umum dari itu. Meskipun Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud lebih shahih.

Ali-‘Imran : 86-89

Imam Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan (3/340): “…dari Ibnu ‘Abbas, katanya:” Ada seorang laki-laki Anshar masuk Islam kemudian murtad dan bergabung dengan orang musyrik lalu dia menyesal, maka diapun menemui kaumnya (dan berkata): “Datanglah kepada Rasulullah saw, apakah ada taubat (untukku)?” (lalu turunlah) firman Allah:”Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hadits ini para rawinya adalah rawi shahih, Dikeluarkan juga oleh Ibnu Hibban, Ath-Thahawi, Al-Hakim, dan disetujui Adz-Dzahabi.

Referensi

Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.
QS. Ali-‘Imran : 77^ QS. Ali-‘Imran : 86-89

Asbabun Nuzul Surah Luqman

image

Asbabun Nuzul Surat Luqman memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada surat Luqman. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an


Surat Luqman : 27

Imam Bukhari meriwayatkan (1/95): “..dariSyu’bah…dari Alqamah dari Abdullah, katanya ketika turun firman Allah “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),”[2]. kata para shahabat Rasulullah saw:” Siapa di antara kita yang tidak mendzalimi dirinya?” Maka Allah turunkan: “sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Hadits ini dikeluarkan juga dalam kitab Tafsir (9/363), dan Ath-Thayalisi (2/18).

Al-Hafizh dalam Al-Fath (1/95) mengatakan riwayat Syu’bah ini menegas kan bahwa pertanyaan ini merupakan sebab turunnya ayat yang lain; yang ada dalam surat Luqman. Tetapi riwayat Bukhari-Muslim dari jalur lain dari jalur A’masy yaitu Sulaiman yang disebut dalam hadits ini, maka dalam riwayat Ibnu Jarir dari dia, kata mereka:” Siapa di antara kita yang tidak mencampur keimanan dengan kedzaliman?” Dia bersabda: “Bukan demikian. Tidakkah kamu memperhatikan ucapan Luqman?”

Dalam riwayat Waki’ dari Al-A’masy, Dia bersabda:” Bukan seperti yang kamu sangka.” Dalam riwayat ‘Isa bin Yunus: “Sesungguhnya itu adalah syirik, tidakkah kamu perhatikan apa yang dikatakan Luqman?”

Secara zhahir, ayat yang ada dalam surat Luqman sudah diketahui mereka, oleh sebab itulah dia mengingatkan mereka akan surat tersebut. Dan mungkin pula turunnya pda saat itu, lalu dia bacakan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Sehingga kedua riwayat ini bersesuaian.”

Rujukan

Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i^ QS. Al-An’am : 82^ QS. Luqman : 13

NAsbabun Nuzul Surah Al Baqarah

image

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada surat Al-Baqarah. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an


Al-Baqarah : 79

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya: “… dari Ibnu Abbas : “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri”, dia berkata: “Ayat ini turun tentang ahli kitab.”

kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri”, dia berkata: “Ayat ini turun tentang ahli kitab.”

Al-Baqarah : 97

Imam Ahmad meriwayatkan (1/274): “… dari Ibnu Abbas katanya:” Serombongan Yahudi menghadap kepada Rasulullah saw lalu berkata: “Wahai Abul Qasim, sesungguhnya kami tanya an tentang lima hal. Maka kalau anda terangkan kepada kami, tahulah kami bahwa anda adalah seorang Nabi dan kami tentu mengikutimu.Lalu dia melakukan perjanjian sebagaimana dilakukan Isra’el (Nabi Ya’kub) terhadp anak-anaknya ketika mereka berkata:” Allah adalah saksi atas apa yang kita katakan ini.” Kata dia saw: “Tanyalah.” Kata mereka: “Terangkan kepada kami tentang tanda-tanda seorang Nabi.” Dia berkata:”Kedua matanya tidur tapi hatinya tidak tidur.” Kata mereka pula:”Terangkan bagaimana terjadinya anak perempuan dan anak laki-laki?” Kata dia:”Kedua air mani bertemu, maka jika air mani laki-laki naik di atas mani perempuan, maka jadilah laki-laki. Kalau mani perempuan yang naik lebih dulu di atas mani laki-laki jadilah anak perempuan.” Kata mereka lagi:” Terangkan apa yang diharamkan Isra’el atas dirinya?” Kata dia:” Dahulu dia mengeluhkan sakit rheumatik dan tidak menemukan sesuatu yang sesuai kecuali susu ini dan ini. Kata Abdullah:”Kata ayahku:”Di antaramereka ada yang mengatakan:”yaitu unta” maka diapun mengharamkan dagingnya. Kata mereka: “Engkau benar.” Mereka bertanya:”Apa guntur itu?” Kata dia: “Salah seorang malaikat Allah yang ditugaskan mengiring awan, dengan tangannya atau ditangannya terdapat pecut dari api yang dengan itu dia menggiring awan tersebut ke mana saja diperintahkan Allah.” Kata mereka:” Lalu suara apa itu?” Dia mengatakan:” Itulah suaranya.” Merekapun berkata:”Engkau benar. Tinggal satu lagi, kalau engkau terangkan kepada kami, tentu kami akan membai’atmu. Tidak ada satu Nabipun melainkan ada bersamanya malaikat yang membawa berita kepadanya, maka terangkan kepada kami siapa temanmu?” Dia berkata: “Jibril.” Kata mereka:”Jibril, yang membawa peperangan, pertempuran dan adzab, dia itu musuh kami, Seandainya engkau katakan Mikail, yang turun membawa rahmat, tumbuhan dan hujan tentulah jadi (kami akan membai’atmu).”

Maka Allah turunkan: “Katakanlah: “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Referensi

Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.
Khalqu Af’alil ‘Ibad (hal 54), karya Imam Bukhari
QS. Al-Baqarah : 79
QS. Al-Baqarah : 97

Asbabun Nuzul Surat Al-Jatsiyah

wp-1464334244004.jpg

Asbabun Nuzul Surat Al-Jatsiyah

Asbabun Nuzul Surat Al-Jatsiyah memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada Al-Qur’an surat ke-45. Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.

Ibnu Jarir meriwayatkan (25/152): “…dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, dia dulu bersabda:” Dahulu orang-orang jahiliyah mengatakan bahwa yang membinasakan kami hanyalah siang dan malam, inilah yang membinasakan kami, yang menghidupkan dan mematikan kami. Maka Allah berfirman dalam kitab-Nya:”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” Kata dia:” Mereka mencerca Dahr (Masa). Lalu Allah berfirman (Hadits Qudsi):” Ibnu Adam menyakiti-Ku denga mencerca masa, padahal aku adalah Ad-Dahr (pencipta masa); ditangan-Kulah semua urusan. Aku membolak balikan malam dan siang.”

Diriwayatkan pula oleh As-Suyuthi dan Ibnu Katsir.

Rujukan

  • Ash-Shahihul Musnad Min Asbabin Nuzul, 1415 H, Karya Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
    QS. Al-Jatsiyah :24

Asbabun Nuzul, Sebab dan Latar Belakang Turunnya Ayat Al Quran

20160918_161417.jpg

Asbabun Nuzul, Sebab dan Latar Belakang Turunnya Al Quran

Asbābun Nuzūl Sebab-sebab Turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatuayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.

Asbaabun-Nuzul adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Manfaat mengetahui asbab nuzul (Sebab-sebab turunnya) diantaranya : mengetahui segi hikmah yang mendorong penetapan hukum, mengungkap makna dan menghapuskan kemusykilannya. Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat al-qur’an dapat membantu kita memahami pesan-pesan yang dikandung ayat tersebut plus memberikan dasar yang kokoh dalam menyelami kandungan ayat. Jadi, mengetahui sebab turunnya suatu ayat adalah cara yang terbaik untuk memahami makna al-Qur’an yang komprehensip.

wp-1464334244004.jpg

Kaidahnya Berlaku Umum

Para ulama ushul fiqih berselisih pendapat: apakah yang teranggap itu keumuman lafadznya atau kekhususan sebabnya? Pendapat yang lebih kuat dan benar ialah pendapat yang pertama. Karena telah turun beberapa ayat berkenaan dengan beberapa sebab tertentu tetapi hukumnya berlaku bagi selain sebab-sebab tersebut. Seperti turunnya ayat zhihar pada kasus Salmah bin Shakhr, ayat li’an pada kasus Hilal bin Umayah dan ayat haddul qadzaf berkenaan dengan para penuduh Aisyah. Semua hukum tersebut berlaku juga untuk selain mereka di setiap zaman dan tempat. Jadi, sebabnya mungkin bersifat khusus tetapi ancamannya bersifat umum, meliputi setiap orang yang melakukan kejahatan serupa. Ibnu Abbas pernah ditanya tentang ayat: ” Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” apakah ayat ini umum atau khusus? ia menjawab: Umum.

Bersumber Dari Sahabat Yang Menyaksikan

  • Tidak boleh mengatakan tentang asbab-nuzul kecuali dengan riwayat dan mendengar dari orang yang menyaksikan penurunan dan mengetahui sebab-sebabnya. Para sahabat dapat mengetahui asbab-nuzul melalui konteks atau indikasi yang berkaitan dengan persoalan. Apabila sebagian sahabat tidak dapat memastikannya maka biasanya ia akan mengatakan: “Aku mengira ayat ini turun menyangkut masalah ini atau itu.” Dan apabila seorang sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu mengabarkan tentang suatu ayaat al-Qur’an bahwa ia turun mengenai sesuatu misalnya, maka ia merupakan hadits musnad.
  • Adanya beberapa riwayat yang menyebutkan peristiwa-peristiwa masa lalu seperti penyebutan kisah kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, Pembangunan Ka’bah dan sebagainya, tidak dapat dimasukkan ke dalam asbab-nuzul.

Jika Ada Periwayatan Lebih Dari Satu

  • Apabila para mufasir menyebutkan beberapa sebab nuzul bagi satu ayat, maka untuk memastikannya harus diperhatikan ungkapan periwayatannya. Jika disebutkan dengan ungkapan: “Ayat ini turun mengenai masalah ini” sementara riwayat lain mennyebutkan dengan ungkapan: “Ayat ini turun mengenai masalah ini dengan menyebutkan pula masalah lain”, maka yang terakhir ini dimaksudkan sebagai penafsiran, bukan menyebutkan asbab nuzul. Tetapi jika disebutkan dengan ungkapan: “Ayat ini turun mengenai masalah ini”, sementara itu riwayat lain menyebutkan sebab nuzul yang lain secara tegas, maka yang dianggap adalah yang kedua, karena yang pertama hanya merupakan istibath. Misalnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata:”Ayat (artinya): Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam,” dimaksudkan untuk orang yang mendatangi isterinya di duburnya, sementara itu riwayat dari Jabir menyebutkan sebab yang lain secara tegas. Maka yang mu’tamad dalam hal ini adalah hadits Jabir, karena ia bersifat naql, sedangkan perkataan Ibnu Umar tersebut merupakan istinbath darinya.
  • Jika ada dua riwayat yang menyebutkan sebab nuzul yang berlainan maka yang mu’tamad ialah riwayat yang sanadnya lebih shahih dan kuat ketimbang yang lain. Jika kedua sanadnya sederajat maka dikuatkan riwayat yang perawinya menyaksikan kasus dan kisah. Jika tidak mungkin dilakukan tarjih (dipilih yang lebih kuat) maka dikategorikan d dalam ayat yang memiliki beberapa sebab nuzul dengan terulangnya kasus dan peristiwa.

Nuzul Mendahului Hukum Dan Sebaliknya

wp-1464334244004.jpg

  • Ada beberapa nuzul ayat yang mendahui hukumnya, seperti firman-Nya dalam surat al-A’la:
    Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri [dengan beriman], (14) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. (15)  Ayat ini Makiyah dan berkenaan dengan zakat fitrah, padahal puasa diwajibkan di Madinah.
  • Firman Allah dalam Surat al-Balad: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini [Mekah], (1) dan kamu [Muhammad] bertempat di kota Mekah ini, (2) Surat ini Makiyyah, sedangkan “Pendudukan” tersebut baru terjadi pada Fathu Makkah di tahun ke delapan hijrah sehingga Rasulullah saw. bersabda: “Dihalalkan bagiku sesaat di siang hari”.
  • Firman Allah: Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Q.S. al-Balad: 45).
  • Umar bin Khattab berkata: “Kemudian aku bertanya: golongan yang manakah yang dimaksudkan? Maka ketika terjadi perang Badr dan kaum Musyrikin kalah, aku melihat Rasulullah saw. berada di tempat bekas peperangan itu seraya menghunus pedang dan mengucapkan (artinya): “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka kan mundur ke belakang”. Jadi, ayat ini berkenaan dengan perang Badr.
  • Contoh tentang hukum yang mendahului nuzul, misalnya ayat wudhu. Dari ‘Aisyah r.a., ia bekata: “Kalungku pernah jatuh di padang pasir padahal kami sedang memasuki kota Madinah, maka Rasulullah saw. berhenti dan turun beristirahat, kemudian beliau meletakkan kepalanya di pangkuanku seraya tidur, lalu datanglah Abu Bakar r.a. dan menamparku dengan satu kali tamparan kuat seraya berkata: kamu telah menghentikan orang-orang karena sebuah kalung”. Kemudian Rasulullah saw. terjaga ketika ketika waktu shubuh telah tiba, lalu beliau mencari air wudhu tetapi tidak mendapatkannya, maka turunlah ayat (artinya):”Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat…” sampai kepada firman-Nya:”… Supaya kamu bersyukur”. Ayat ini sesuai kesepakatan para ulama, Madaniyah, sedangkan kewajiban wudhu telah ditetapkan di makkah bersamaan dengan kewajiban shalat.

Yang Diturunkan Terpisah dan Sekaligus

  • Sebagian besar surat-surat al-Qur’an diturunkan secara terpisah, diantaranya suraat al-‘Alaq (Iqra’); surat ini diturunkan perkama kali sampai kepada ayat kelima (maa lam ya’lam). Diantara surat yang diturunkan sekalgus ialah al-Fatihah dan al-Ikhlash, bahkan surat an-Nas dan al-Falaq turun bersamaan. Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:’Surat al-An’am diturunkan kepadaku sekaligus diiringi 70 ribu Malaikat.'”.

Yang Diulang Penurunannya

  • Kadang-kadang sebuah ayat diulang-ulang penurunannya utnuk peringatan dan nasihat. Diantarnaya ialah akhir surat an-Nahl dan awal surat ar-Rum. Satu nash Qur’an kadang-kadang turun dua kali untuk mengagungkan urusannya dan mengingatkan ketika terjadi sebabnya atau kekhawatiran melupakanya, seperti ayat ruh, juga al-Ikhlas, ia diturunkan di Makah  sebagai jawaban bagi Kaum Musyrikin (Quraisy) dan diturunkan lagi di Madinah sebagai jawaban bagi kaum Yahudi.
  • Hikmah diulangnya penurunan ini ialah karena timbulnya pertanyaan aatau kasus yang menurut penurunan lagi ayat tersebut, kemudian ayat itu diturunkan kembali kepada Rasulullah saw. sebagai peringatan bagi mereka. Seperti firman Allah (artinya): Tidaklah sepatutunya bagi Nabi dan orang-orang beriman….(Q.S.at-Taubah:113).
  • Diulangnya penurunan ini berkemungkinan juga karena ia termasuk huruf-huruf (segi  qira’at yang ada-red) yang harus dibaca atas dua bacaan atau lebih. Diriwayatkan dari Nabi saw.: “Sesungguhnya Rabbku mengutus kepadaku agar aku membaca al-Qur’an atas satu huruf, kemudian aku minta kembali agar ia meringankan pada umatku, maka ia mengutus kepadaku agar aku membacanya atas dua huruf, lalu aku minta kembali agar ia meringankan kepada umatku maka ia mengutus kepadaku agar aku mamebacanya atas tujuh huruf.” (H.R.Muslim dari Ubay bin Ka’ab). Hadits ini menunjukkan bahwa al-Qur’an tidak diturunkan sekali saja tetapi ada yang diturunkan beberapa kali. Diantaranya ialah, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat terdahulu, surat al-Fatihah: ia diturunkan dua kali (di Makah dan Madinah).Ini berkemungkinan juga karena pada penurunan yang kedua ia diturunkan dengan segi-segi qira’at yang lainnya, seperti ملك  dan مالك , الصراطdan السرات.
Contoh

  • Asbaabun Nuzul Surah An-Nas dan Al-FalaqmDalam suatu riwayat dikemukakan Bahwa Rasulullah saw. pernah mengalami sakit parah, maka datanglah kepada beliau dua Malaikat, yang satu duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah Malaikat yang yang duduk di sebelah kaki beliau kepada Malaikat yang duduk di sebelah kepala beliau: “Apa yang engkau lihat?” Ia menjawab: “Beliau terkena guna-guna” Dia bertanya lagi: “Apa guna-guna itu?” Ia menjawab: “Guna-guna itu sihir!” Dia bertanya lagi: “Siapa yang membuat sihir?” Ia menjawab: “Labid bin al-A’sham al-Yahudi, yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di dalam sumur keluarga si anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah. Pada pagi harinya Rasulullah saw. mengutus ‘Amar bin Yasir dan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya, dan diangkat batunya, serta dikeluarkan gulungannya kemudian dibakar. Ternyata di dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Kedua surah ini.(Q.S. 113 dan 114) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Setiap kali Rasulullah saw. mengucapkan satu ayat, terbukalah simpulnya. [Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Dalaa-ilun Nubuwwah, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu Abbas].
  • Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi membuatkan makanan untuk Rasulullah saw., Setelah memakan makanan itu, tiba-tiba Rasulullah sakit keras, sehingga shahabat-shahabatnya mengira bahwa penyakit itu timbul akibat perbuatan Yahudi itu. Maka turunlah Jibril membawa dua surah ini (Q.S. Al-Falaq dan An-Nas) serta membacakan ta’awwudz. Seketika itu juga Rasulullah keluar menemui shahabat-shahabatny dalam keadaan sehat wal-afiat.[Diriwayatkan oleh Abu Nuaim di dalam Kitab ad-Dalaa-il, dari Abu Ja’far ar-Razi, dari ar-Rabi bin ‘Anas, yang bersumber dari Anas bin Malik].

Kajian Quran dan Keutamaan: Surah Al Mulk

image

Surah Al-Mulk (“Kerajaan”) adalahsurah ke-67 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surat Makkiyah, terdiri atas 30 ayat. Dinamakan Al Mulk yang berarti Kerajaan di ambil dari kata Al Mulk yang yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat ini disebut juga dengan At Tabaarak yang berarti Maha Suci.

Pokok Kajian

Dimuliakanlah Yang dalam TanganNya terdapat Kerajaan dan Dia terhadap segala sesuatu, adalah Kuasa, Yang menciptakan Maut beserta Kehidupan,
supaya Dia uji kalian, siapa dari kalian yang berperilaku terbaik dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun, (Ayat:1-2)

Dan untuk orang-orang yang kafir terhadap Tuhan mereka disediakan malapetaka Jahannam serta tempat kesudahan terburuk; apabila mereka dibuang ke dalamnya terdengar suara kengerian yang menggema, hampir-hampir ia meledak lantaran geram. setiap gerombolan dibuang ke dalamnya, para penjaga bertanya kepada mereka: “belumkah seorang pemberi peringatan hadir kepada kalian?” mereka berkata: “Bukan demikian, sungguh telah hadir seorang pemberi peringatan kepada kami, maka kami mendustakan dan kami berkata: “Allah tidak mengirimkan sesuatu pun; kalian tidak lain dalam kesesatan yang parah.” dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengar atau mempertimbangkan niscaya kami tidak termasuk golongan penghuni Neraka yang membara” mereka mengakui dosa-dosa mereka, lalu golongan penghuni Neraka yang membara itu dicampakkan. (Ayat:6-11)

Sungguh, orang-orang yang segan terhadap Tuhan mereka yang Tersembunyi, mereka akan memperoleh ampunan dan upah yang luar biasa. dan rahasiakan ucapan kalian atau ungkapkan, sungguh Dia Maha Mengetahui isi kalbu, Bukankah Dia Maha Mengetahui tentang yang telah Dia ciptakan? dan Dia Maha Menyelidiki, Maha Memahami. Dialah Yang menyediakan bumi supaya memungkinkan untuk kalian tinggali, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya,
dan menuju Dia, Kebangkitan. (Ayat:12-15)

Apakah kalian merasa aman terhadap Yang di langit yang sanggup menjungkirbalikkan tanah menimpa kalian ketika ia bergoncang?
atau apakah kalian merasa aman terhadap Yang di langit yang sanggup menimpakan badai keras.
kelak kalian akan mengerti seperti apa AncamanKu itu!. dan sungguh orang-orang yang sebelum mereka pun telah membantah, maka alangkah mengerikan KegeramanKu itu!. (Ayat:16-18)

Atau siapakah yang menjadi tentara untuk kalian yang sanggup menolong kalian selain daripada Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tidak lain dalam keadaan mengkhayal. Atau siapakah orang yang memberi rezeki kalian ketika Allah menahan rezekiNya? yang sebenarnya orang-orang itu tetap dalam keangkuhan dan menghindar. (Ayat:20-21)

Katakanlah: “Dialah Yang menumbuhkan kalian dan yang menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan akal untuk kalian.” betapa sedikit kalian berterimakasih!.
Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kalian berkembang biak di bumi dan kepada Dia kalian dihimpun”. (Ayat:23-24)

Dan mereka mengatakan: “Kapankah Ancaman itu terjadi jika kalian memang golongan yang benar?”
Katakanlah: “Sungguh pengetahuan tentang itu berada di sisi Allah. dan sungguh aku hanya seorang pemberi peringatan.”Maka ketika mereka menyaksikan yang demikian di hadapan mereka, muka orang-orang kafir itu menjadi muram dan dikatakan: “Inilah yang dahulunya selalu kalian tuntut.” Katakanlah: “Terangkan kepadaku jika Allah yang mematikan aku serta orang-orang yang bersama dengan aku atau Dia anugerahkan Kasih untuk kami, akan tetapi siapakah yang meluputkan golongan kafir menghadapi malapetaka yang pedih?”
Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman pada Dia dan pada Dia kami menaruh kepercayaan,
kelak kalian akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang parah”. (Ayat:25-29)Katakanlah: “Jelaskan padaku jika sumber air kalian mengering; lalu siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir untuk kalian ?”. (Ayat:30)

Hubungan dengan Surah sebelumnya

Dalam surat At Tahrim diterangkan bahwa Allah mengetahui segala rahasia, sedang pada surat Al Mulk ditegaskan lagi bahwa Allah mengetahui segala rahasia karena Allah menguasai seluruh alam.

Hubungan Dengan Surah berikutnya

1. Pada akhir surat Al Mulk, Allah mengancam orang yang tidak bersyukur kepda nikmat Allah dengan mengeringkan bumi atas mereka, sedang dalam surat Al Qalam diberikan contoh tentang azab terhadap orang-orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah.

2. Kedua surat ini sama-sama memberikan ancaman kepada orang-orang kafir.

Referensi

Departemen Agama RI.2007.Al-Qur’an dan Terjemahannya Al-Jumanatul ‘Ali Seuntai Mutiara Yang Maha Luhur.Bandung:J-Art

Kajian Quran dan Keutamaan: Surah Al Kahf (18;110)

image

Surah Al-Kahf (al-Kahf, “Gua”) disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Terdapat beberapa hadits Rasulullah
SAW yang menyatakan keutamaan
membaca surah ini. Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur’an yang membelah isi Al-Qur’an menjadi dua bagian.

Pokok-pokok terjemah

Terpujilah Allah yang telah mengirimkan Al-Kitab kepada hambaNya dan Dia tidak mengadakan penyimpangan di dalamnya; yang terlindung, supaya memperingatkan tentang malapetaka pedih dari sisiNya serta supaya menggembirakan golongan beriman yang memperbuat berbagai kebajikan; bahwasanya disediakan upah yang berkenan untuk mereka; mereka berada disana selamanya, dan supaya Dia memperingatkan orang-orang yang menyatakan: “Allah beranak” orang-orang itu tidak memiliki pemahaman tentang perkara ini, demikian pula para leluhur mereka; betapa keterlaluan ucapan yang keluar dari mulut orang-orang itu, orang-orang itu hanyalah mengucapkan dusta.  (Ayat:1-5)

Bahwasanya Kamilah yang mengadakan keindahan-keindahan di bumi sebagai perhiasan padanya, supaya Kami membuktikan diri mereka; siapakah yang berperilaku terbaik di tengah-tengah mereka dan sungguh kelak Kami jadikan yang di atasnya berpasir, tandus.  (Ayat:7-8)

Atau kamu menganggap bahwa para penghuni gua dan raqim itu termasuk pertanda-pertanda Kami yang menakjubkan?  tatkala para pemuda memasuki gua itu lalu mereka berseru: “Wahai Tuhan kami, karuniakan Kasih untuk kami dari sisiMu serta selesaikan masalah kami melalui penyelamatanMu” lalu Kami tutup
telinga mereka bertahun-tahun dalam gua itu,  kemudian Kami bangunkan mereka supaya Kami ketahui manakah di antara kedua pihak yang lebih tepat dalam memperhitungkan lama waktu mereka berdiam; Kami uraikan
kepadamu riwayat ini berdasar Kebenaran; bahwasanya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami perkuat bimbingan untuk mereka; dan Kami teguhkan kalbu mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhannya seluruh langit beserta bumi; kami takkan menyeru sembahan selain Dia, jika kami berbuat demikian, tentulah kami mengucap penghinaan” kaum kami menghendaki sembahan selain Dia sebagai para dewa; mengapakah mereka itu tidak menyerahkan bukti yang jelas kepada kami, siapa yang lebih sewenang-wenang dibanding golongan yang mengada-adakan dusta terhadap Allah? dan apabila kalian meninggalkan mereka beserta yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke gua itu, niscaya Dia limpahkan sebagian KasihNya untuk kalian dan menyelesaikan segala permasalahan kalian secara baik.  (Ayat:9-16)

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit melintasi ke sisi kanan gua mereka, dan ketika matahari terbenam menjauhi mereka ke sisi kiri sedang mereka terbaring dalam tempat luas dalam gua itu; demikianlah sebagian pertanda Allah, barangsiapa yang Allah bimbing maka orang itulah yang terbimbing; dan barangsiapa yang Dia liarkan, maka kamu takkan mendapati suatu pelindung pun yang menuntun dirinya, namun kamu menganggap mereka itu terjaga padahal mereka sedang terlelap; dan Kami membalik-balik mereka ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri, sementara anjing mereka membaringkan dua kaki pada muka pintu gua; dan jika kamu mengamati mereka tentulah kamu akan ketakutan terhadap mereka dan tentulah kamu akan dipenuhi rasa seram terhadap mereka.  (Ayat:17-18)

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya; salah seorang di tengah-tengah mereka berucap: “berapa lama kalian berdiam diri?”. mereka berkata: “kami berdiam diri selama sehari atau setengah hari” mereka berkata: “Tuhan kalian lebih mengetahui tentang keberadaan kalian maka suruhlah salah seorang di tengah-tengah kalian untuk pergi ke pusat kota dengan membawa uang perak kalian ini, dan hendaklah ia memilih makanan yang layak, lalu hendaklah ia membawa makanan itu kepada kalian, dan hendaklah ia berlaku ramah dan janganlah ia memberitahukan keadaan kalian kepada seorangpun sekiranya mereka menangkap kalian niscaya mereka akan melempari kalian menggunakan bebatuan, atau memaksa kalian kembali kepada pendirian mereka, dan jika kalian menuruti itu tentulah kalian tidak akan selamat” dan demikianlah Kami pertemukan mereka, supaya ia mengetahui, bahwa janji Allah adalah Kebenaran, dan bahwa Kemestian tiada diragukan; ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka maka mereka berseru: “dirikan bangunan diatas mereka,” Tuhan mereka mengetahui tentang mereka; orang-orang yang menyelesaikan perkara mereka berkata: “dirikan sebuah tempat bersujud di atas mereka,”.  (Ayat:19-21)

Nanti ada yang mengatakan: “tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka” dan sebagian mengatakan: “lima orang, yang keenam adalah anjing mereka” sebagai terkaan tentang perkara yang ghaib; dan ada pula yang mengatakan: “tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka”; Katakanlah: “Tuhanku yang paling mengetahui jumlah mereka; tiada yang mengetahui mereka kecuali sedikit” oleh karena itu jangan memperdebatkan permasalahan mereka sendiri kecuali perkara yang jelas dan jangan menerka-nerka tentang seorang pun dari mereka.  (Ayat:22)

Dan jangan kamu katakan tentang sesuatu hal: “aku pasti akan mengerjakan yang demikian itu pada keesokan hari”  tanpa menyebut “kalau Allah perkenan”, dan sadarilah Tuhanmu, apabila kamu terlupa maka katakanlah: “semoga Tuhanku akan membimbing diriku mendekati kebenaran tentang perkara ini”.  (Ayat:23-24)

Dan mereka berdiam dalam gua mereka selama tiga ratus tahun ditambah sembilan;  Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lama mereka berdiam diri; MilikNya segala yang misterius di langit maupun di bumi; Dia Maha Mengetahui yang demikian dan Maha Mendengar, tiada satu pelindung pun untuk mereka selain Dia; dan Dia tidak membagikan dengan sesuatu pun dalam menetapkan keputusan.”  (Ayat:25-26)

Dan sampaikan yang diwahyukan kepadamu, yang termasuk Kitab Tuhanmu; tiada yang sanggup mengganti ketetapan-ketetapanNya, dan takkan kamu dapati perisai selain Dia; dan bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di fajar dan senja hari untuk mengharap perkenanNya; serta jangan mengarahkan kedua matamu terhadap mereka yang hanya mengutamakan kemewahan kehidupan dunia ini;
dan jangan menaati orang yang memiliki kalbu telah Kami jauhkan untuk mengingati Kami, serta ia menuruti kecenderungan diri dan keadaannya itu melampaui kewajaran;
dan katakanlah: “Kebenaran berasal dari Tuhan kalian; maka barangsiapa yang menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa yang menghendaki, maka kafirlah” sungguh telah Kami sediakan Neraka untuk golongan yang berlaku sewenang-wenang itu, yang gejolaknya mengurung mereka dan apabila mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan cairan logam mendidih yang meleburkan wajah; demikianlah minuman yang buruk serta tempat kesudahan terburuk; sedangkan mereka yang beriman serta memperbuat kebajikan, Kami pasti takkan mengurangi upah orang-orang yang mengerjakan kebaikan; mereka itulah yang disediakan Surga Adn yang dialiri sungai-sungai di bawahnya; disana mereka dihiasi dengan gelang emas serta mereka memakai pakaian hijau berbahan sutera halus maupun sutera tebal, serta mereka duduk sambil bersandar pada dipan-dipan yang indah; upah terbaik, sebagai tempat kesudahan yang berkenan; (Ayat:27-31)

Dan sampaikan kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, kepada salah seorang dari keduanya Kami sediakan dua kebun anggur dan Kami kelilingi keduanya dengan pepohonan kurma dan di antara kedua tempat itu Kami jadikan sebuah ladang; kedua kebun itu menghasilkan panen dengan tiada sedikitpun yang gagal dan Kami alirkan sebuah sungai di antara kedua tempat itu, dan orang itu mempunyai kemewahan,
maka orang itu berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengannya: “aku memiliki lebih banyak harta dibandingkan dirimu dan pengikut-pengikutku lebih hebat”  dan ia memasuki kebunnya sedang ia berlaku sewenang-wenang terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “tidaklah aku terbayang bahwa yang demikian akan lenyap dan tidaklah terbayang bahwa Kemestian itu akan terlaksana, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku tentulah aku akan memperoleh yang lebih baik dibanding yang demikian”; kawannya berkata kepadanya sewaktu bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir terhadap Yang telah menciptakan kamu berbahan debu yang kemudian nutfah, lalu Dia membentuk kamu sebagai seorang laki-laki? tetapi menurutku: Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun terhadap Tuhanku; dan mengapakah kamu tidak mengatakan di waktu kamu memasuki kebunmu itu “atas perkenan Allah, tiada kuasa kecuali di tangan Allah” walau kamu menganggap diriku lebih sedikit dibandingkan dirimu dalam hal harta benda serta anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku yang lebih baik dibanding kebunmu itu; dan mudah-mudahan Dia mendatangkan petir dari langit terhadap kebunmu itu hingga menjadi tanah berlumpur;  atau airnya surut ke dalam tanah, maka kamu tidak mendapatinya lagi” dan tatkala segala kemegahannya itu lenyap; lalu ia membolak-balik kedua tangan atas segala yang ia telah perjuangkan demi hal semacam ini, sedang hal ini telah runtuh bersama penyangga-penyangganya dan ia mengatakan: “Celakalah aku! kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan sesuatu pun terhadap Tuhanku” dan tidak ada satupun yang menolong dirinya selain Allah; dan tidaklah ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri; oleh karena perlindungan itu berasal dari Allah, Yang Mutlak; Dialah Penolong terbaik serta Pemelihara terbaik, dan berilah perumpamaan kepada mereka, tentang kehidupan duniawi yang seumpama air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka tanam-tanaman tumbuh subur di muka bumi yang kemudian mengering dihempaskan angin, dan Allah terhadap segala sesuatu, adalah Kuasa.
Harta benda dan anak-anak adalah kemegahan kehidupan dunia namun berbagai kebajikan yang kekal adalah yang terbaik bagi Tuhanmu serta lebih baik sebagai pengharapan.  (Ayat:32-46)

Dan pada hari Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan menyaksikan bumi itu rata kemudian Kami himpunkan mereka, dan Kami tidak meluputkan seorang pun yang termasuk mereka dan mereka akan dipertemukan menghadap Tuhanmu sambil berbaris, “sungguh kalian menghadap kepada Kami, sebagaimana ketika Kami ciptakan kalian pada masa terdahulu; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami tiada menetapkan perjumpaan dengan kalian” dan Al-Kitab diletakkan, lalu kamu akan melihat golongan yang berdosa ketakutan terhadap yang ada di dalamnya, dan mereka berkata: “celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan perkara-perkara terkecil sekalipun maupun yang besar, melainkan tercantum seluruhnya” dan mereka dapati yang selama ini mereka perbuat disingkapkan; dan Tuhanmu tidak berlaku sewenang-wenang terhadap sesuatu pun”.  (Ayat:47-49)

Dan ketika Kami berkata kepada para malaikat: “rendahkan diri terhadap Adam, maka mereka merendah diri selain Iblis; ia termasuk golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya lalu patutkah kalian menghendaki ia beserta keturunannya sebagai pelindung selain Aku, sementara mereka adalah musuh kalian? betapa buruk ia sebagai panutan golongan yang sewenang-wenang; Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit beserta bumi maupun penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menghendaki golongan penyesat itu sebagai panutan; dan pada hari Dia berfirman: “Serulah sekutu-sekutuKu yang kalian sebut-sebut itu” lalu mereka memanggil-manggil yang demikian tetapi kelompok itu tidak menyambut seruan mereka lalu Kami adakan untuk mereka tempat kehancuran sedangkan golongan yang berdosa melihat Neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak mendapati tempat perlindungan terhadap yang demikian.  (Ayat:50-53)

Dan sungguh telah Kami ulang-ulangi dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan untuk umat manusia tetapi manusia adalah makhluk yang gemar membantah; dan tiada yang menghalangi manusia untuk beriman; sewaktu Bimbingan telah tersampaikan kepada mereka, maupun untuk memohon pengampunan kepada Tuhan mereka, kecuali sebagaimana Ketetapan terhadap umat-umat terdahulu atau kehadiran malapetaka menimpa mereka secara tiba-tiba; (Ayat:54-55)

Dan Kami tidak mengutus para Utusan selain sebagai pembawa berita gembira serta sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang kafir membantah mempergunakan kesia-siaan supaya melemahkan kebenaran, juga mereka itu menganggap pesan-pesan Kami beserta ancaman-ancaman terhadap mereka sebagai cemoohan.  (Ayat:56)

Dan siapakah yang lebih sewenang-wenang dibanding orang yang telah diperingatkan tentang pesan-pesan Tuhannya lalu ia menjauh terhadap yang demikian dan melupakan yang telah diperbuat kedua tangannya sendiri? yang sebenarnya Kami telah meletakkan tutupan pada kalbu mereka, untuk memahami yang demikian, dan di telinga mereka ada sumbatan; dan sekalipun kamu mengajak mereka menuju Bimbingan, niscaya mereka takkan terbimbing selama-lamanya, dan Tuhanmu Maha Pengampun, Mempunyai Kasih.sekiranya Dia menghukum mereka akibat segala tindakan mereka tentulah Dia akan menyegerakan malapetaka untuk mereka; tetapi ada waktu tertentu untuk mereka ketika takkan mereka dapati pelindung terhadap yang demikian.  (Ayat:57-58)

Dan ketika Musa berkata kepada pengikutnya: “Aku tidak akan berhenti hingga tiba di pertemuan kedua lautan; atau aku akan mengembara seterusnya” maka tatkala mereka sampai di pertemuan kedua lautan itu, mereka terlupa meninggalkan ikannya, lalu ikan itu menyusuri lautan; maka tatkala mereka telah menempuh jarak lebih jauh, Musa berkata kepada pengikutnya: “Bawalah kemari bekal makanan kita; sungguh kita telah letih karena perjalanan ini”, pengikutnya menjawab: “sadarkah kamu tatkala kita singgah di wilayah bebatuan tadi maka sungguh aku terlupa mengenai ikan itu dan tiada yang melupakan aku untuk menceritakan itu selain setan; akan tetapi ikan itu menempuh jalannya sendiri melalui lautan dengan cara yang mengherankan” Musa berkata: “Itulah wilayah yang kita tuju” lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka berjumpa dengan seorang hamba di antara para hamba Kami, yang telah Kami beri Kasih kepada dirinya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya Ilmu dari sisi Kami; Musa berkata kepada orang itu: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku kemampuan khusus yang telah diajarkan kepadamu?”  ia berkata: “kamu pasti takkan sanggup memiliki pengertian untuk mengiringi diriku; dan bagaimanakah kamu dapat mengerti tentang sesuatu mempergunakan pertimbangan yang buruk ?”  dia berkata: “kamu akan mendapati aku, kalau Allah perkenankan, sebagai orang yang berpengertian, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu masalah pun” ia berkata: “jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu mempertanyakan kepadaku tentang keadaan apapun, sampai aku sendiri yang menjelaskan kepadamu”  
Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya menaiki perahu tiba-tiba ia melubanginya; dia berkata: “Mengapakah kamu melubangi perahu itu yang berakibat kamu menghanyutkan penumpangnya?” kamu benar-benar telah menyebabkan masalah besar; ia berkata: “belumkah aku mengatakan: “kamu pasti takkan memiliki pengertian mengiringi diriku” dia berkata: “Janganlah menghukum diriku akibat kelupaanku dan janganlah menyudutkan diriku dengan suatu kecerobohan tindakanku”
Maka keduanya melanjutkan perjalanan; hingga tatkala keduanya menjumpai seorang pemuda, lalu ia membunuhnya, ia berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena orang itu membunuh orang lain? sungguh kamu telah melakukan hal keji” ia berkata: “belumkah aku mengatakan kepadamu, bahwa kamu pasti takkan memiliki pengertian mengiringi diriku?”  dia berkata: “Jika aku mempertanyakan kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah kamu biarkan aku mengiringimu, sungguh kamu sudah cukup memberi pemakluman untukku”.
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta makanan kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu menolak sambil menghina keduanya kemudian keduanya mendapati di negeri itu ada dinding sebuah rumah yang hampir runtuh, maka ia menopang dinding itu; dia berkata: “kalau kamu menghendaki, niscaya kamu mintai upah untuk tindakan ini” ia berkata: “Inilah perpisahan antara aku denganmu; akan kujelaskan kepadamu maksud yang tidak sanggup kamu mengerti; 
Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku hendak menghancurkan perahu itu, sebab di hadapan mereka ada seorang raja yang merampasi setiap perahu; dan adapun pemuda itu, maka kedua orang tuanya adalah golongan yang beriman, dan kami khawatirkan bahwa pemuda akan mendukakan kedua orang tuanya itu akibat kesesatan dan kekafiran dan kami berharap supaya Dia menggantikan untuk mereka berdua dengan anak lain yang lebih murni dibanding anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya; Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan untuk mereka berdua sedang sang ayah adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka tumbuh dewasa dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai Kasih dari Tuhanmu;
Dan tidaklah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri, demikian itulah tujuan perbuatan-perbuatan yang tidak sanggup kamu mengerti”.  (Ayat:60-82)Maka apakah orang-orang kafir itu menduga bahwa mereka dapat menghendaki hamba-hambaKu sebagai penyelamat selain Aku? bahwasanya telah Kami sediakan Jahanam sebagai kediaman bagi golongan kafir. (Ayat:102)Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling celaka tindakannya serta orang-orang yang perbuatannya sia-sia dalam kehidupan dunia ini sedangkan mereka menganggap bahwa mereka memperoleh keuntungan besar itulah orang-orang yang telah menyangkal pesan-pesan Tuhan mereka beserta pertemuan dengan Dia, maka perbuatan-perbuatan mereka sia-sia, dan Kami takkan menyambut mereka pada Hari Kebangkitan.”  upah mereka itu adalah Jahannam, disebabkan kekafiran mereka serta disebabkan mereka menjadikan pesan-pesanKu beserta Utusan-UtusanKu sebagai cemoohan.  (Ayat:103-106)Sungguh orang-orang yang beriman serta memperbuat berbagai kebajikan, telah disediakan Surga Firdaus untuk mereka sebagai tempat kediaman, mereka disana selamanya, sebab mereka tidak ingin berpindah dari tempat itu. (Ayat:107-108)

Katakanlah: bahwasanya aku ini adalah manusia biasa sebagaimana kalian, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwasanya Tuhan kalian itu adalah sembahan yang Tunggal” barangsiapa menantikan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia memperbuat kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan suatu pun dalam beribadah kepada Tuhan”.  (Ayat:110)

Referensi

Mukaddimah Al Qur’an versi terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia

Kajian Quran dan Keutamaan : Surah As Sajdah



image

Surah As-Sajdah adalah surah ke-32 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 30 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudahsurah Al-Mu’minun. Dinamakan As-Sajdahberhubung pada surah ini terdapat ayat Sajdah (sujud), yaitu ayat yang kelima belas.

Pokok-Pokok terjemahan

Sebuah Al-Kitab dikirimkan yang tidak diragukan lagi berasal dari Tuhannya semesta alam, sedangkan mereka mengatakan: “ia telah mengada-adakan yang semacam ini”, yang sebenarnya, Ini merupakan Kebenaran dari Tuhanmu supaya kamu peringatkan kaum yang belum ditemui pemberi peringatan sebelum dirimu; supaya mereka terbimbing. (Ayat:2-3)

Allah Yang Menciptakan langit beserta bumi maupun yang ada di antara keduanya dalam enam Hari kemudian bersemayam pada ‘Arsy, bahwa tiada satu penyelamat pun untuk kalian serta tiada seorang perantara selain DiriNya sendiri, tidakkah kalian berpikir? Dialah yang mengurus segala keadaan dari langit hingga bumi kemudian semua itu sampai kepada Dia dalam satu hari yang setara dengan seribu tahun menurut perhitungan kalian, demikian itu ialah Yang Mengetahui segala yang tersembunyi maupun yang tampak, Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang, Yang memperhitungkan segala sesuatu yang telah Dia ciptakan, serta Yang membentuk penciptaan manusia berbahan tanah liat, kemudian Dialah yang membuat keturunan manusia berbahan air hina, kemudian Dia menyelesaikan wujud manusia serta Dialah yang meresapkan ke dalam wujud itu; sebagian RohNya, bahwa Dialah yang menyediakan pendengaran, penglihatan beserta kalbu untuk kalian; betapa sedikit kalian bersyukur. (Ayat:4-9)

Dan mereka mengatakan: “Apakah ketika kami telah terpendam dalam tanah, kami akan berada dalam wujud makhluk yang baru?” yang sebenarnya mereka itu mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka, Katakanlah: “Malaikat Maut yang merenggut kalian, kemudian menuju Tuhan kalian, kalian akan berpulang”, sekiranya kalian melihat ketika golongan yang berdosa itu tertunduk di hadapan Tuhan mereka,: “Wahai Tuhan kami, kami telah melihat serta mendengar, maka kembalikan kami niscaya kami akan memperbuat berbagai kebajikan, sungguh kami adalah golongan yang meyakini”. (Ayat:10-12)

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami membimbing setiap jiwa, akan tetapi telah mutlak sebuah Firman dari DiriKu: “bahwa kelak Aku akan memenuhi Jahannam dengan golongan jin serta golongan manusia bersama-sama”. (Ayat:13)

Maka rasakan akibat kalian telah melupakan pertemuan pada Hari kalian yang semacam ini, oleh sebab itu sekarang Kami pun melupakan kalian serta rasakan Malapetaka yang abadi, akibat yang telah kalian perbuat itu. (Ayat:14)

Sungguh golongan yang benar-benar beriman terhadap pesan-pesan Kami merupakan mereka yang ketika diperingatkan dengan pesan-pesan itu mereka segera bersujud seraya memuliakan dengan memuji Tuhan mereka, sebab mereka tidak berlaku angkuh; perut mereka berada jauh dari tempat tidur serta mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan kesungguhan maupun pengharapan serta mereka menyisihkan penghidupan yang Kami berikan, tak seorang pun yang mengetahui yang disediakan untuk mereka, segala yang sedap dipandang mata sebagai upah mereka, atas segala yang telah mereka usahakan. (Ayat:15-17)

Apakah kelompok yang beriman itu setara dengan golongan yang fasik? mereka tidak setara, adapun orang-orang yang beriman serta memperbuat berbagai kebajikan, maka disediakan Surga untuk mereka sebagai tempat kesudahan, yang menjadi upah atas yang telah mereka usahakan
sedangkan orang-orang yang fasik maka kurungan mereka adalah Jahannam, setiap kali mereka ingin keluar darisana, mereka dikembalikan ke sana maka diserukan kepada mereka: “Rasakan Malapetaka Neraka yang dahulu kalian dustakan”. (Ayat:18-20)

Dan sungguh Kami timpakan mereka dengan sebagian bencana yang dekat sebelum Bencana yang lebih dahsyat supaya mereka bertaubat. (Ayat:21)

Dan siapakah yang lebih sewenang-wenang dibanding orang yang telah diperingatkan tentang Tuhannya, kemudian ia berpaling terhadap yang demikian? sungguh Kamilah yang akan menghukum golongan yang berdosa itu. (Ayat:22)

Dan sungguh Kamilah yang telah menyerahkan kepada Musa; Al-Kitab, maka janganlah meragu untuk menerima itu bahwa Kami jadikan itu sebagai Bimbingan untuk Bani Israel, serta Kami jadikan di tengah-tengah mereka itu para Imam yang membimbing atas perintah Kami ketika orang-orang tersebut bersabar serta orang-orang tersebut meyakini pesan-pesan Kami, bahwasanya Tuhanmu, Dialah yang memberikan keputusan terhadap mereka pada Hari Kebangkitan tentang perkara yang mereka perselisihkan; maka tidakkah menyadarkan mereka, berapa banyak negeri sebelum mereka yang telah Kami tumpas sementara mereka sendiri tinggal di tempat-tempat yang dahulu adalah kediaman kaum-kaum itu, sungguh dalam hal yang demikian terdapat pertanda-pertanda, tidakkah mereka mendengarkan?  (Ayat:23-26)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kamilah yang menghalau air ke tanah yang tandus, lalu Kamilah yang menumbuhkan dengan itu tumbuhan bermanfaat yang hasilnya dinikmati hewan ternak mereka maupun diri mereka sendiri, tidakkah mereka memperhatikan?  (Ayat:27)

Dan mereka bertanya: “Kapankah kejayaan itu jika kalian memang golongan yang benar?”  katakanlah: “Pada hari kejayaan itu tidaklah berguna untuk orang-orang kafir tentang keimanan mereka serta mereka tidak ditangguhkan”,  maka berpalinglah terhadap mereka serta nantikanlah, sungguh mereka pun menanti. (Ayat:28-30)

Asbabun Nuzul Surat As-Sajdah

Asbabun Nuzul Surat As-Sajdah memuat sebab-sebab turunnya sebagian ayat-ayat pada Al-Qur’an surat ke-32. Surat As-Sajdah :16. At-Tirmidzi meriwayatkan (4/161): “…dari Anas bin Malik tentang ayat ini: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya”, bahwa ayat ini turun ketika menunggu salat yang dinamakan salat ‘Atamah (Isya’).” Hadits ini shahih dan tidak diketahui kecuali dari jalan ini. Dikeluarkan juga oleh Ibnu Jarir
(12/100). Al-Hafizh Ibnu Katsir
mengatakan dalam tafsirnya, sanadnya jayyid.

Referensi

Mukaddimah terjemahan Al Qur’an versi Depag RI

Injil Kuno Barnabas Menyebut Muhammad SAW

image

Al-Qur’an surat Al-A’rof ayat 157-158 :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158)

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah: “Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al A’rof: 157-158).

Penemuan Injil kuno yang diyakini berusia 1500 tahun telah membuat heboh. Yang membuat gempar, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi. Sebagian orang memprediksi injil tersebut adalah Injil Barnabas. Menurut mailonline,  injil yang tersimpan di Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki. 

Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad:
Bab 39 Barnabas: ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya”.Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”
Bab 41 Barnabas:  “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”
Bab 44 BarnabasPada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”
Bab 97 Barnabas Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak  makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”Bab 112 BarnabasDalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net

Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut. Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).

Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad. Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya. Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama. “Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia. Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.

Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

Sumber: replubika dan sumber

Adab Terhadap Al Quran Saat Menyentuhnya

image

Adab Terhadap Al Quran Saat Menyentuhnya

Ada dua pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur’an terhadap seseorang yang sedang junub, perempuan haid dan nifas. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika seseorang sedang mengalami kondisi tersebut tidak boleh menyentuh Al-Qur’an sebelum bersuci. Sedangkan pendapat kedua mengatakan boleh dan sah saja untuk menyentuh Al-Qur’an, karena tidak ada dalil yang menguatkannya.

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Al-Waqiah 56:77-79)”

Pendapat pertama

Pendapat kelompok pertama meyakini seseorang diharuskan berwudhu sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surah Al Waaqi’ah diatas. Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur’an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur’an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.

Pendapat kedua

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud oleh surah Al Waaqi’ah di atas ialah: “Tidak ada yang dapat menyentuh Al-Qur’an yang ada di Lauhul Mahfudzsebagaimana ditegaskan oleh ayat yang sebelumnya (ayat 78) kecuali para Malaikat yang telah disucikan oleh Allah.” Pendapat ini adalah tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya. Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur’an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil.

Pendapat kedua ini menyatakan bahwa jikalau memang benar demikian maksudnya tentang firman Allah di atas, maka artinya akan menjadi: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali mereka yang suci (bersih), yakni dengan bentuk faa’il (subjek/pelaku) bukanmaf’ul (objek). Kenyataannya Allah berfirman: “Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan”, yakni dengan bentuk maf’ul (objek) bukan sebagaifaa’il (subjek). “Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” Yang dimaksud oleh hadits di atas ialah: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali orang mu’min, karena orang mu’min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Muhammad. “Sesungguhnya orang mu’min itu tidak najis”.

4 Kehebatan Al Quran, Bukan Sekedar Sastra Biasa

image

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia dan bagian dari rukun iman yangdisampaikan kepada Nabi Muhammad  melalui perantaraan Malaikat Jibril; dan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

Al-Quran bukanlah buku novel atau puisi biasa seperti buatan manusia, tapi nilai sastranya luar biasa. Terdapat kehebatan ciptaan Allah ini bila dilihat dari kata-kata dalam al-Quran sangat seimbang atau sama

  1. Kata al-hayah (KEHIDUPAN) disebut dalam al-Quran sebanyak 145 kali, ini sama dengan kata al-maut (KEMATIAN) yang jumlahnya juga 145 kali.
  2. Kata an-naf (MANFAAT) disebut 50 kali sama dengan kata al-fasad (KERUSAKAN) yang juga berjumlah 50 kali.
  3. Kata al-harr (PANAS) terdapat dalam al-Quran 4 kali, sama dengan kata al-bard (DINGIN) juga 4 kali. 
  4. Kata ash-shalihat (KEBAJIKAN) disebut 167 kali, sama dengan as-sayyiat (KEBURUKAN) yang jumlahnya juga 167 kali.

Kehebatan Lainnya

  • Alquran memuat ajaran Ketuhanan yang pernah dimuat di kitab-kitab sebelumnya.
  • Alquran berisi ajaran Allah SWT untuk memberi petunjuk dan seluruh umat manusia di segala zaman. oleh karena itu Alquran akan selalu dipelihara dari terjadinya perubahan dan akan selalu terjaga keasliaannya. Firman Allah SWT  ” Sesunguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami senantiasa melindungiNya“(Qs. Al-Hijir : 9).
  • jika kitab sebelumnya diturunkan untuk kaum tertentu, maka Alquran diturunkan untuk umat sepanjang masa sampai hari akhir tiba.
  • dari segi bahasa, alquran tidak ada yang menandingi. bahasanya mudah dan indah, sehingga banyak orang mudah menghafalkannya. hanya satu bahasa dari alquran dari dahulu sampai sekarang.

FREE DOWNLOAD VIDEO LANTUNAN 114 AYAT QURAN PALING DAHSYAT

DOWNLOAD VIDEO LANTUNAN 114 AYAT QURAN PALING DAHSYAT

No. video lantunan dahsyatnya bacaan quran pelantun Ayat Urutan Pewahyuan
1 Surah Al-Fatihah

Fatih Seferagic

7 5
2 Surah AL BAQARAH Sheikh Mishary Rashid Al-Afasy 286 87
3 Surah Ali ‘Imran Sheikh Mishary Al Afasy 200 89
4 Surah An-Nisa’ Sheikh Mishary Al Afasy 176 92
5 Surah Al-Ma’idah Sheikh Mishary Al Afasy 120 112
6 Surah Al-An’am Binatang Ternak 165 55
7 Surah Al-A’raf

Sheikh Saad Al Ghamdi

206 39
8 Surah Al-Anfal

Saad Al Ghamidi

75 88
9 Surah At-Taubah

Sheikh Mishary Rashid Alafasy

129 113
10 Surah Yunus

Abdul Rahman Al Sudais

109 51
11 Surah Hud

Abdul Rahman Al Sudais

123 52
12 Surah Yusuf

Mishary Rashid al Efasy

111 53
13 Surah Ar-Ra’d

Mishary Al-Afasy

43 96
14 Surah Ibrahim

Muhammad Taha Al-Junaid

52 72
15 Surah Al-Hijr

Sheikh Mishary Al Afasy

99 54
16 Surah An-Nahl

Maher Al Muaiqly

128 70
17 Surah Al-Isra’

Mishary bin Rashid Al-Afasy

111 50
18 Surah Al-Kahf

Mishary Rashid Alafasy

110 69
19 Surah Maryam 98 44
20 Surah Ta Ha 135 45
21 Surah Al-Anbiya Mishary Rashed al-Efasy 112 73
22 Surah Al-Hajj Mishary Rashed al-Efasy 78 103
23 Surah Al-Mu’minun Mishary Rashed al-Efasy 118 74
24 Surah An-Nur 64 102
25 Surah Al-Furqan

Mishary bin Rashid Al-Afasy

77 42
26 Surah Asy-Syu’ara’

SHAIKH MISHARY ALAFASY

227 47
27 Surah An-Naml

Abdul Rahman Al Sudais

93 48
28 Surah Al-Qasas 88 49
29 Surah Al-‘Ankabut

Abdul Rahman Al Sudais

69 85
30 Surah Ar-Rum

Sheikh Maher Al Muaiqly

60 84
31 Surah Luqman 34 57
32 Surah As-Sajdah

Abdul Rahman As Sudais

30 75
33 Surah Al-Ahzab 73 90
34 Surah Saba’

Abdul Rahman As Sudais

54 58
35 Surah Fatir 45 43
36 Surah Ya Sin Mishary Rashed al-Efasy 83 41
37 Surah As-Saffat Mishary Rashed al-Efasy 182 56
38 Surah Sad 88 38
39 Surah Az-Zumar Mishary Rashed al-Efasy 75 59
40 Surah Al-Mu’min 85 60
41 Surah Fussilat

Mishary Rashed Al-Afasy

54 61
42 Surah Asy-Syura 53 62
43 Surah Az-Zukhruf 89 63
44 Surah Ad-Dukhan 59 64
45 Surah Al-Jasiyah Mishary Rashed al-Efasy 37 65
46 Surah Al-Ahqaf Mishary Rashed al-Efasy 35 66
47 Surah Muhammad 38 95
48 Surah Al-Fath 29 111
49 Surah Al-Hujurat

Mahir al-Mu’ayqali

18 106
50 Surah Qaf 45 34
51 Surah Az-Zariyat 60 67
52 Surah At-Tur Mishary Rashed al-Efasy 49 76
53 Surah An-Najm Mishary Rashed al-Efasy 62 23
54 Surah Al-Qamar 55 37
55 Surah Ar-Rahman 78 97
56 Surah Al-Waqi’ah Mishary Rashed al-Efasy 96 46
57 Surah Al-Hadid Mishary Rashed al-Efasy 29 94
58 Surah Al-Mujadilah 22 105
59 Surah Al-Hasyr Mishary Rashed al-Efasy 24 101
60 Surah Al-Mumtahanah Mishary Rashed al-Efasy 13 91
61 Surah As-Saff 14 109
62 Surah Al-Jumu’ah 11 110
63 Surah Al-Munafiqun Mishary Rashed al-Efasy 11 104
64 Surah At-Tagabun 18 108
65 Surah At-Talaq Mishary Rashed al-Efasy 12 99
66 Surah At-Tahrim 12 107
67 Surah Al-Mulk 30 77
68 Surah Al-Qalam 52 2
69 Surah Al-Haqqah Mishary Rashed al-Efasy 52 78
70 Surah Al-Ma’arij 44 79
71 Surah Nuh 28 71
72 Surah Al-Jinn Mishary Rashed al-Efasy 28 40
73 Surah Al-Muzzammil Mishary Rashed al-Efasy 20 3
74 Surah Al-Muddassir 56 4
75 Surah Al-Qiyamah 40 31
76 Surah Al-Insan Mishary Rashed al-Efasy 31 98
77 Surah Al-Mursalat 50 33
78 Surah An-Naba’ 40 80
79 Surah An-Nazi’at

Mishary Rashed al-Efasy

46 81
80 Surah ‘Abasa 42 24
81 Surah At-Takwir 29 7
82 Surah Al-Infitar Mishary Rashed al-Efasy 19 82
83 Surah Al-Tatfif 36 86
84 Surah Al-Insyiqaq Mishary Rashed al-Efasy 25 83
85 Surah Al-Buruj 22 27
86 Surah At-Tariq Mishary Rashed al-Efasy 17 36
87 Surah Al-A’la 19 8
88 Surah Al-Gasyiyah Mishary Rashed al-Efasy 26 68
89 Surah Al-Fajr 30 10
90 Surah Al-Balad Mishary Rashed al-Efasy 20 35
91 Surah Asy-Syams 15 26
92 Surah Al-Lail Mishary Rashed al-Efasy 21 9
93 Surah Ad-Duha 11 11
94 Surah Al-Insyirah Mishary Rashed al-Efasy 8 12
95 Surah At-Tin Mishary Rashed al-Efasy 8 28
96 Surah Al-‘Alaq Mishary Rashed al-Efasy 19 1
97 Surah Al-Qadr 5 25
98 Surah Al-Bayyinah Mishary Rashed al-Efasy 8 100
99 Surah Az-Zalzalah

Mishary Al ‘Afasy

8 93
100 Surah Al-‘Adiyat

Mishary Al ‘Afasy

11 14
101 Surah Al-Qari’ah Mishary Rashed al-Efasy 11 30
102 Surah At-Takasur 8 16
103 Surah Al-‘Asr Mishary Rashed al-Efasy 3 13
104 Surah Al-Humazah Mishary Rashed al-Efasy 9 32
105 Surah Al-Fil Mishary Rashed al-Efasy 5 19
106 Surah Quraisy 4 29
107 Surah Al-Ma’un 7 17
108 Surah Al-Kausar Mishary Rashed al-Efasy 3 15
109 Surah Al-Kafirun Mishary Rashed al-Efasy 6 18
110 Surah An-Nasr Mishary Rashed al-Efasy 3 114
111 Surah Al-Lahab Mishary Rashed al-Efasy 5 6
112 Surah Al-Ikhlas Mishary Rashed al-Efasy 4 22
113 Surah Al-Falaq

Mishary Rashed al-Efasy

5 20
114 Surah An-Nas

Mishary Rashed al-Efasy

6 21

www.islamislami.com

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara
Copyright © 2015, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved

Al-Qur’an Puncak dan Penutup Wahyu Allah

image

Al-Qur’an Puncak dan Penutup Wahyu Allah

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W, melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”. (Al-Qiyāmah 75:17-18)

Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an : “Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas” Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad S.A.W, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Panel Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara

Copyright © 2015, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved