Category Archives: Tanya Jawab

100 Tanya Jawab Puasa: Apakah Hukumnya Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa ? Benarkah Tidur Ibadah ?

Tidur Sepanjang Hari di Bulan Ramadhan, Benarkah Tidur Ibadah ? Apakah Hukumnya ?

Apakah hukum tidur sepanjang hari di bulan Ramadhan? BENARKAH HUKUMNYA MENURUT HADITS NABI TIDUR ADALAH IBADAH DI BULAN PUASA ?

Jawaban:

  • Barang siapa yang menghabiskan waktu puasanya dengan tidur seharian maka puasanya sah jika dia berniat untuk puasa sebelum terbitnya fajar. Namun dia berdosa karena tidak mengerjakan shalat di waktu-waktunya dan berdosa karena tidak shalat jamaah jika ia memang termasuk orang yang wajib melaksanakan shalat jamaah. Orang tersebut telah meninggalkan dua kewajiban sehingga dosanya sangat besar. Kecuali jika hal tersebut bukan merupakan kebiasaannya dan orang tersebut berniat bangun untuk menegakkan shalat (namun ia ketiduran, pent), ketiduran ini sangat jarang terjadi, maka orang tersebut tidak berdosa.
  • Terkait dengan hal di atas, satu hal yang patut disayangkan, yaitu banyak orang yang biasa untuk bergadang di bulan Ramadhan, ketika mendekati fajar mereka makan sahur kemudian tidur sepanjang hari atau sebagian besarnya. Mereka meninggalkan shalat, padahal shalat lebih ditekankan dan lebih wajib daripada puasa. Bahkan puasa tidak sah bagi orang yang tidak shalat. Tentu, hal ini merupakan perkara yang sangat berbahaya sekali. Oleh sebab itu bergadang yang menyebabkan orang tidak bisa bangun untuk menunaikan shalat adalah bergadang yang hukumnya haram. Lebih-lebih jika bergadang tersebut di isi dengan perbuatan yang sia-sia, main-main atau perbuatan yang haram tentu perkaranya lebih berbahaya lagi. Perbuatan dosa akan lebih besar dosanya dan lebih parah bahayanya ketika dikerjakan di bulan Ramadhan, demikian juga ketika dikerjakan di waktu-waktu atau tempat-tempat yang memiliki keutamaan.
  • Hadis tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadis yang tidak benar. Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadis ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks hadisnya,
  • نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
  • “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”
  • Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadis di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”
  • Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadis dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.
  • Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadis sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,
  • إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
  • “Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Sumber:

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

Assalammu”alaikum Ustadz

  • Di saat bulan ramadhan terdapat jadwal Imsak tetapi di beberapa negara tidak mengumumkan atau bahkan memakainya kecuali di Indonesia? Apa maksuda jadwal Imsak itu, pentingkH digunakan dalan beribadah puasa ?

Wassalammu”alaikum

Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  • Istilah ”imsak” yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan ”bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi”. Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak terlalu penting amat, setidaknya buat sebagian orang. Penting untuk diluruskan bahwa waktu ”imsak”bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.
  • Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ”imsak”, melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.
  • Mengapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara di mana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini. Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksdunya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ”imsak” yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu. Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.
  • Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.
  • Salah satu istilah yang unik saat ramadhan di Indonesia adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti merasa asing mendengar istilah ini. Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini.

Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh

wp-1557098166849..jpg

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bagi Musafir Apakah Berbuka atau Terus Berpuasa


  • Apa yang lebih utama bagi musafir, berbuka atau terus berpuasa? 
  • Terutama pada safar (bepergian) yang tak ada kepenatan, seperti dalam pesawat atau alat-alat transportasi modern lainnya?

  • Yang afdhal bagi orang berpuasa adalah berbuka saat bepergian, bagaimana pun keadaannya. Tetapi orang yang tetap berpuasa maka tidak ada dosa baginya, karena rasulullah pernah melakukan ini dan itu, demikian pula para sahabatnya.
  • Jika panas sangat menyengat, dan kecapaian semakin meningkat, maka berbuka di saat ini sangat diharuskan. Adapun alasan kenapa berpuasa bagi seorang musafir sangat dimakruhkan (dibenci), yaitu karena rasulullah pernah melihat seorang lelaki dalam safar yang sangat kecapaian dan tetap berpuasa, beliau berkata kepadanya, ((لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ)) “Bukan termasuk kebaikan, jika tetap berpuasa saat bepergian.”
  • Juga karena sabda beliau yang berbunyi, (إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَماَ يُكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ))  “Sesungguhnya Allah senang jika rukhsahnya dikerjakan, sebagaimana Dia Membenci jika kemaksiatan dikerjakan.”
  • Dalam lafadh lain, ((كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ)) “Sebagaimana Dia senang jika azimah-azimahnya[3] dikerjakan.”
  • Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara para musafir, apakah itu yang bepergian dengan mobil, unta, perahu, kapal, atau orang yang bepergian dengan pesawat. Karena semua orang diatas, tetap dinamakan sebagai musafir, sehingga berhak mendapatkan keringanan yang diberikan Allah kepada mereka.
  • Allah Subhaanahu wa Ta`ala telah mensyariatkan hukum safar (bepergian) dan iqamah (menetap) bagi para hamba-Nya di zaman nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam, dan hukum ini terus berlaku bagi hamba lainnya setelah masa itu hingga hari kiamat. Dia (Allah) Maha tahu apa yang bakal terjadi dari berbagai perubahan dan menjadi bermacam-macamnya jenis alat tranportasi. Seandainya hukum akan berbeda, tentunya Allah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya, sebagaimana Ia Menjelaskan dalam surat An-Nahl yang berbunyi,
  • “Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu sebagai penjelas atas berbagai hal, juga petunjuk, rahmat dan pemberi kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An-Nahl: 89)
  • Juga berfirman dalam surat yang sama, “Dan Dia Menciptakan kuda, bagal[4] dan keledai, agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8)

Jawaban Ustadz Shomad: Letak Tangan Saat Shalat


Bagaimanakah letak tangan dan jari jemari saat sialat ?

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri berdasarkan hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad:

  • » اف الناس م وف أف ضع ال جل ده اليمنِ على ذراعو اليس ى في الصلاة «
  • “Manusia diperintahkan agar laki-laki meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri ketika shalat”. (HR. al- Bukhari).

Adapun posisi jari-jemari, berikut pendapat beberapa mazhab:

  • عند اتضنابلة وال افعية: أف ضع ده اليمنِ على وع اليس ى أو ما اربو
  • Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Meletakkan tangan kanan di atas lengan tangan kiri atau mendekatinya.
  • عند اتضنفية: ف و أف يَعل باطن ف اليمنِ على ظاى ف اليس ى، تػل اً ال جل باتطنص والإ ا على ال سغ. أما اتظ أة فتضع د ا على صدرىا من اير تحلي لأ و أستر تعا.
  • Mazhab Hanafi: Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, bagi laki-laki melingkarkan jari kelingking dan jempol pada pergelangan tangan. Sedangkan bagi perempuan cukup meletakkan kedua tangan tersebut di atas dada (telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri) tanpa melingkarkan (jari kelingking dan jempol), karena cara ini lebih menutupi bagi perempuan.
  • » من السنة وضع اليم على ال ماؿ تحت الس ة « : و ضع ما عند اتضنفية واتضنابلة تحت السُّ ة، تظا روي عن علي أ و قاؿ
  • Mazhab Hanafi dan Hanbali: Meletakkan tangan di bawah pusar, berdasarkan hadits dari Ali, ia berkata: “Berdasarkan Sunnah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di bawah pusar”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
  • واتظستحب عند ال افعية: أف يَعل ما تحت الصدر فوؽ الس ة، مائلاً إلذ ج ة اليسار؛ لأف ال لب في ا، فتكو اف على أش ؼ رأ ت رسوؿ الله صلّى الله عليو وسلم صلي، فوضع د و على صدره، إ داهُا « : الأعضاء، وعملاً بِد ث وائل بن الساب و ده د ث آخ عند ابن خليَة في وضع اليد ن على ى ه الكيفية. » على الأخ ى
  • Mazhab Syafi’i: Dianjurkan memposisikan kedua tangan tersebut di bawah dada di atas pusar, miring ke kiri, karena hati berada pada posisi tersebut, maka kedua tangan berada pada anggota tubuh yang paling mulia, mengamalkan hadits Wa’il bin Hujr: “Saya melihat Rasulullah Saw shalat, ia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, salah satu tangannya di atas yang lain”. Didukung hadits lain riwayat Ibnu Khuzaimah tentang meletakkan kedua tangan menurut cara ini.
  • وقاؿ اتظالكية: ندب إرساؿ اليد ن في الصلاة بوقار، لا ب وة، ولا دفع ما من أمامو تظنافاتو للخ وع. ويَوز قبض اليد ن على الصدر في صلاة النفل تصواز الاعتماد فيو بلا ض ورة، و ك ه ال بض في صلاة الف ض تظا فيو من الاعتماد أي و مستند، فلو فعلو لا للاعتماد، بل استنا اً لد ك ه، و ا إذا لد صد شيئاً فيما ظ .
  • Mazhab Maliki: Dianjurkan melepaskan tangan (tidak bersedekap) dalam shalat, dengan lentur, bukan dengan kuat, tidak pula mendorong orang yang berada di depan karena akan menghilangkan khusyu’. Boleh bersedekap dengan memposisikan tangan di atas dada pada shalat Sunnat, karena boleh bersandar tanpa darurat. Makruh bersedekap pada shalat wajib, karena orang yang bersedekap itu seperti seolah-olah ia bersandar, jika seseorang melakukannya bukan untuk bersandar akan tetapi karena ingin mengikuti sunnah, maka tidak makruh. Demikian juga jika ia melakukannya tidak dengan niat apa-apa.
  • وال اجح اتظتع لدي ىو قوؿ اتصم ور بوضع اليد اليمنِ على اليس ى، وىو اتظتف مع ي ة م ىب مالك ال ي ق ره لمحاربة عمل اير مسنوف: وىو قصد الاعتماد، أي الاستناد، أو لمحاربة اعت اد فاسد: وىو ظن العامي وجوب ذلك.
  • Pendapat yang Rajih (kuat) dan terpilih bagi saya (Syekh Wahbah az-Zuhaili) adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama: meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, inilah yang disepakati. Adapun hakikat Mazhab Maliki yang ditetapkan itu adalah untuk memerangi perbuatan orang yang tidak mengikuti sunnah yaitu perbuatan mereka yang bersedekap untuk tujuan bersandar, atau untuk memerangi keyakinan yang rusak yaitu prasangka orang awam bahwa bersedekap itu hukumnya wajib

Sumber: 99 tanya jawab shalat

Jawaban H Ustadz Abdul Somad: Ketika membaca al-Fatihah, apakah Basmalah dibaca Jahr atau Sirr?


Ketika membaca al-Fatihah, apakah Basmalah dibaca Jahr atau Sirr?


Yang membaca Sirr berdalil dengan hadits:

  • عَنْ أَ سِ بْنِ مَالِكٍ أَ لَّاوُ لَّادثَوُ قَاؿَ صَ(للَّايْتُ خَلْفَ النلَّا دِِّ بِ -صلى الله عليو وسلم- وَأَبَِ بَكْ وَعُمَ وَعُثْمَافَ فَكَا وا سْتَػفْتِحُوفَ بِ )اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ( لاَ وفَ بِسْمِ الللَّاوِ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ أَلَّاوؿِ قِ اءَةٍ وَلاَ آخِ ىَا.
  • Dari Anas bin Malik, ia meriwayatkan: “Saya shalat di belakang Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mereka memulai dengan ‘Alhamdulillah Rabbil’alamin’. Mereka tidak menyebutkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ pada awal bacaan dan di akhir bacaan. (HR. Muslim).

Akan tetapi dalil ini dijawab oleh para ulama yang mengatakan Basmalah dibaca jahr.

  1. Hadits ini mengandung ‘Illat, kalimat: [ . [ لاَ وفَ بِسْمِ الللَّاوِ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ أَلَّاوؿِ قِ اءَةٍ وَلاَ آخِ ىَا (Mereka tidak menyebutkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ pada awal bacaan dan di akhir bacaan). Kalimat ini bukan ucapan Anas bin Malik, akan tetapi ucapan tambahan dari periwayat yang memahami bahwa makna kalimat: [ فَكَا وا سْتَػفْتِحُوفَ بِ )اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ + (Mereka memulai dengan ‘Alhamdulillah Rabbil’alamin’), ia fahami membaca Alhamdulillahi Rabbil’alamin tanpa Basmalah. Padahal yang dimaksud Anas dengan kalimat: [ فَكَا وا سْتَػفْتِحُوفَ بِ )اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] (Mereka memulai dengan ‘Alhamdulillah Rabbil’alamin’). Maka makna hadits di atas adalah: mereka memulai dengan surat Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Bukan memulai dengan Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Ini didukung hadits:] إذا ق أتم : } اتضمد لله { فاق ؤا : } بسم الله ال تزن ال يم { إنها أ ال آف وأ الكتاب والسبع اتظثاني و } بسم الله ال تزن ال يم { إ داىا [ “Jika kamu membaca Alhamdulillah, maka bacalah: Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya al-Fatihah itu adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, as-Sab’u al-Matsani dan Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah dan Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir. عن أبي ى ة ، عن النبِ صلى الله عليو وسلم ، أ و اف وؿ : اتضمد لله رب العاتظ سبع آ ات إ داىن : )بسم الله ال تزن ال يم( ، وىي السبع اتظثاني ، وال آف العظيم ، وىي أ ال آف ، وفاتحة الكتاب Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Alhamdulillah Rabbil’alamin itu tujuh ayat, salah satunya adalah: Bismillahirrahmanirrahim. Dialah tujuh ayat yang diulang-ulang, al-Qur’an yang Agung, Ummul Qur’an dan pembuka kitab (Fatihah al-Kitab)”. Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Haitsami berkata: رواه الطبراني في الأوسط ورجالو ث ات. Diriwayatkan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, para periwayatnya adalah Tsiqat (para periwayat yang terpercaya)13. Maka makna ucapan Anas bin Malik: سْتَػفْتِحُوفَ بِ )اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. Mereka memulai dengan surat Alhamdulillahi Rabbil’alamin.
  2. Para ahli hadits menjadikan hadits riwayat Anas diatas sebagai contoh hadits yang mengandung ‘Illat pada matn, hadits yang mengandung ‘Illat tidak dapat dijadikan dalil. وقد مثلو ابن الصلاح والل ن بِد ث أ س ابن مالك في البسملة وىو مثاؿ العلة في اتظتن. Imam Ibnu ash-Shalah dan Imam Zainuddin memberikan contoh hadits riwayat Anas tentang Bismillah, hadits tersebut adalah contoh ‘Illat pada matn
  3. Riwayat Anas di atas bertentangan dengan riwayat lain yang juga diriwayatkan Anas bin Malik: عَنْ قَػتَادَةَ قَاؿَ سُئِلَ أَ سٌ يْفَ ا تْ قِ اءَةُ النلَّا دِِّ بِ – صلى الله عليو وسلم – . فَػ اؿَ ا تْ مَدًّا . ثُُلَّا قَػ أَ بِسْمِ الللَّاوِ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ، يََُدُّ بِبِسْمِ الللَّاوِ ، وَيََُدُّ بِاللَّا تزَْنِ ، وَيََُدُّ بِاللَّا يمِ. Dari Qatadah, ia berkata: “Anas bin Malik ditanya tentang bacaan Rasulullah Saw”. Anas menjawab: “Menggunakan Madd”. Kemudian ia membaca Bismillahirrahmanirrahim, menggunakan madd pada Bismillah. Menggunakan madd pada ar-Rahman. Dan menggunakan madd pada ar-Rahim. (HR. al- Bukhari).
  4. Hadit riwayat Anas bin Malik terdapat perbedaan, antara yang menetapkan dan menafikan, kaedah menyatakan: اتظثبت م د على النافي Yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikan.
  5. Salah satu alasan yang membaca Basmalah secara sirr adalah karena Basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, maka dibaca Sirr. Sedangkan riwayat menyebutkan: ] إذا ق أتم : } اتضمد لله { فاق ؤا : } بسم الله ال تزن ال يم { إنها أ ال آف وأ الكتاب والسبع اتظثاني و } بسم الله ال تزن ال يم { إ داىا [ “Jika kamu membaca Alhamdulillah, maka bacalah: Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya al-Fatihah itu adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, as-Sab’u al-Matsani dan Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah dan Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir. Jika Basmalah itu adalah bagian dari al-Fatihah berdasarkan hadits yang shahih, mengapa dibaca Sirr?!15 Adapun hadits yang menyatakan Rasulullah Saw membaca jahr, Imam an-Nawawi berkata: وأما أ اد ث اتص فاتض ة قائمة بِا د لو بالصحة )من ا( وىو ما روى عن ستة من الصحابة أبي ى أ سلمة وابن عباس وأ س وعلى بن أبَ طالب وتش ة بن جندب رضي الله عن م

  • Adapun hadits-hadits membaca Basmalah dengan cara Jahr adalah hujjah yang kuat terbukti keshahihannya (diantaranya) adalah hadits-hadits yang diriwayatkan dari enam orang shahabat Rasulullah Saw; Abu Hurairah, Ummu Salamah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Samurah bin Jundub semoga Allah Swt meridhai mereka semua

Sumber: 99 pertanyaan shalat



Jawaban Ustadz Abdul Somad Lc MA: Bagaimanakah cara shalat khusyu’?



Bagaimanakah cara shalat khusyu’?


Inti dari shalat adalah zikir mengingat Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt.

  • وَأَقِمِ ال لَّا صلَاةَ لِ ي
  • “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (Qs. Thaha *20+: 14).

Oleh sebab itu Allah Swt mengecam orang yang shalat tetapi tidak mengingat Allah:

  • ) فَػوَ لٌ لِلْمُصَلدِّ ) 4( اللَّا نَ ىُمْ عَنْ صَلَاتِِِمْ سَاىُوفَ ) 5
  • “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (Qs. al-Ma’un *107+: 4-5).

Zikir mengingat Allah Swt dalam shalat tidak dibangun sejak Takbiratul-Ihram, akan tetapi jauh sebelum itu. Rasulullah Saw sudah mengajarkan kekhusyu’an hati sejak berwudhu’. Dalam hadits disebutkan:

  • مَنْ تَػوَ لَّا ض فَمَضْمَضَ وَاسْتَػنْ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ فَمِوِ وَأَ فِوِ فَ ذَا اَسَلَ وَجْ وُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ وَجْ وِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْػنَػيْوِ فَ ذَا اَسَلَ دَ وِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ دَ وِ فَ ذَا مَسَحَ رَأْسَوُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رَأْسِوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ أُذُ ػيَْوِ فَ ذَا اَسَلَ رِجْلَيْوِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رِجْلَيْوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْوِ وَ ا تْ صَلاَتُوُ وَمَ يُوُ إِلَذ الْمَسْ دِ افِلَة
  • “Siapa yang berwudhu’, ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan”. (HR. Ibnu Majah).

Wudhu’ bukan sekedar kebersihan fisik, tapi juga telah mengajak hati untuk khusyu’ kepada Allah Swt dan meninggalkan semua keduniawian yang dapat melalaikan hati dari Allah Swt, meskipun hal kecil, oleh sebab itu Rasulullah Saw melarang menjalinkan jari-jemari dan membunyikannya setelah berwudhu’ menjelang shalat:

  • إِذَا تَػوَ لَّا ض أَ دُ مْ فَ سَنَ وُضُوءَهُ ثُُلَّا خَ جَ عَامِدًا إِلَذ الْمَسْ دِ فَلاَ « عَنْ عْبِ بْنِ عُ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ بدِّكَ لَّا ن بػ أَصَابِعِوِ فَ لَّاوُ صَلاَةٍ .
  • Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu berwudhu’, ia berwudhu’ dengan baik, kemudian ia pergi ke masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam shalat”. (HR. at-Tirmidzi).

Menunggu dan menantikan kehadiran shalat dengan persiapan hati untuk memasukinya. Rasulullah Saw bersabda:

  • قَالُوا بػلََى ا .» أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ « رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ
  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ pada saat tidak menyenangkan, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ikatan (dalam kebaikan)”. (HR. Muslim).

Menjawab seruan azan. Rasulullah Saw bersabda:

  • إِذَا قَاؿَ الْمُ ذدِّفُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . فَػ اؿَ أَ دُ مُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ « – قَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاوُ ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . .» قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . مِنْ قَػلْبِوِ دَخَلَ اتصَْنلَّاةَ

Rasulullah Saw bersabda:

  • “Apabila mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Salah seorang kamu menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Kemudian mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة ] (Marilah melaksanakan shalat). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ ] (Marilah menuju kemenangan). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Ia menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Mu’adzin mengucapkan: * لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab: : [ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو + (tiada tuhan selain Allah), dari hatinya, maka ia masuk surga”. (HR. Muslim).

Menjawab ucapan mu’adzin dari hati membimbing hati ke dalam kekhusyu’an shalat. Menutup dengan doa wasilah. Rasulullah Saw bersabda:

  • مَنْ قَاؿَ سْمَعُ الندِّدَاء الللَّا لَّا م رَ لَّا ب ىَ هِ اللَّادعْوَةِ التلَّاالَّامةِ وَال لَّا صلاَةِ الْ ائِمَةِ آتِ تُػَ لَّا مدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْػعَثْوُ مَ امًا تَػْمُودًا اللَّا ى وَعَدْتَو للَّاتْ لَوُ شَفَاعَتَِّ ػوََْ الْ يَامَةِ

Siapa yang ketika mendengar seruan azan mengucapkan:

  • “Ya Allah Rabb Pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad Saw al-Wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”. Maka layaklah ia mendapat syafaatku pada hari kiamat”. (HR. al-Bukhari.

Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat. Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati. Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:

  • إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ
  • “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan:
  • قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى – وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى – فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ
  • Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.

Ketika hamba-Ku itu mengucapkan: [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab: [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab: [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] (hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ] (Raja di hari pembalasan). Allah menjawab: [ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] (hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] (kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong). Allah menjawab: [ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini antara Aku dan hamba-Ku, ia mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab: [ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).

Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.

Jawaban  Ustadz Abdul Somad Lc MA: Shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?

Jika terlambat melaksanakan shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?


قضاء سنة الف بعد صلاة الف لا ب س بو على ال وؿ ال اجح، ولا عارض ذلك د ث الن ي عن الصلاة بعد صلاة الف ؛ لأف اتظن ي عنو الصلاة التي لا سبب تعا، ولكن إف أخ قضاءىا إلذ الضحى، ولد ش من سيانها، أو الا اؿ عن ا ف و أولذ.

Qadha’ sunnat Fajar (Qabliyah Shubuh) setelah shalat Shubuh hukumnya boleh menurut pendapat yang kuat (rajih). Tidak bertentangan dengan hadits larangan melaksanakan shalat setelah shalat Shubuh, karena yang dilarang adalah shalat yang tidak ada sebabnya. Akan tetapi jika qadha’, sunnat fajar tersebut ditunda pelaksanaannya hingga waktu Dhuha, tidak khawatir terlupa, atau sibuk, maka itu lebih baik


Jawaban Ustadz H Abdul Somad Lc MA: Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib

Jawaban Ustadz H Abdul Somad Lc MA: Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib

  • Adakah dua rakaat shalat sunnat Qabliyah maghrib?

Dalam tanya jawab Mufti Syekh ‘Athiyyah Shaqar (Ketua Majlis Fatwa Al-Azhar Mesir pernah juga ditanya hal ini

Ada beberapa hadits yang bersifat umum yang mengandung makna bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan, juga ada beberapa hadits yang bersifat khusus yang menyatakan bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan.

Diantara hadits-hadits yang bersifat umum tersebut adalah:

  • Hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Diantara adzan dan iqamat itu ada shalat (Qabliyah), bagi yang mau melaksanakannya”
  • Hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, “Setiap shalat fardhu itu didahului shalat (Qabliyah) dua rakaat”.

Diantara hadits-hadits yang bersifat khusus:

  • Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwa para shahabat nabi melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib sebelum Rasulullah SAW keluar rumah menemui mereka. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Anas berkata, “Rasulullah SAW melihat kami, beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami”. ‘Uqbah berkata, “Kami melaksanakannya pada masa Rasulullah SAW”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Ahmad dan Abu Daud, “Shalatlah kamu dua rakaat sebelum Maghrib, bagi yang mau melaksanakannya”.
  • Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu disyariatkan berdasarkan ucapan dan Iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Bahwa Rasulullah SAW tidak melaksanakannya, itu tidak menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakannya. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib disyariatkan berdasarkan perbuatan Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban.
  • Sebagian ulama ahli Fiqh tidak menganggap shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa beliau tidak pernah melihat ada shahabat nabi yang melaksanakannya. Akan tetapi riwayat yang menetapkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu ada adalah riwayat Anas. Riwayat Anas ini lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Umar yang menafikannya. Disamping itu terdapat beberapa hadits lain sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Tidak ada hadits yang menghapuskan hukumnya, oleh sebab itu tetap dijadikan dasar hukum pelaksanaannya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu menyebabkan terlambat melaksanakan shalat Maghrib, pendapat ini ditolak, karena Rasulullah SAW memerintahkan agar melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, juga berdasarkan iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Lagi pula waktu untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu singkat, tidak menyebabkan pelaksanaan shalat Maghrib tertunda dari awal waktunya. (Nail al-Authar, Imam Asy-Syaukani, juz. 2, hal. 8).
  • Disebutkan dalam kitab Al-Mawahib Al-Ladunniyyah karya Imam Al-Qasthallani, juz. 2, hal. 272-273. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan menurut Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan para ulama ahli hadits. Diriwayatkan dari Khulafa’ Rasyidin yang empat dan dari sekelompok shahabat nabi bahwa mereka tidak melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, yang meriwayatkan riwayat ini adalah Muhammad bin Nashr dan lainnya dari jalur riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari mereka, riwayat ini terputus, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az-Zarqani pensyarah kitab Al-Mawahib. Sebagian ulama Mazhab Maliki menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib telah mansukh, akan tetapi pendapat ini ditolak karena pendapat yang menyatakan mansukh tidak berdasarkan dalil.
  • Dari Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata, “Merupakan kebenaran bagi setiap mukmin, apabila mu’azin telah mengumandangkan adzan, maka melaksanakan shalat dua rakaat. Imam Al-Qasthallani menyambung pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, “Diriwayatkan pendapat lain dari Imam Malik bahwa beliau menyatakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakan. Menurut pendapat dari kalangan ulama Mazhab Syafi’i ada satu pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi dan ulama yang mengikutinya. Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarh Muslim, “Semua dalil menunjukkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan”. Al-Muhibb Ath-Thabari berkata, “Tidak ada dalil yang menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, karena tidak mungkin Rasulullah SAW memerintahkan sesuatu yang tidak dianjurkan. Bahkan hadits ini adalah dalil pertama yang menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu sunnat untuk dilaksanakan”.
  • Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, “Kami di Madinah, apabila mu’adzin mengumandangkan adzan shalat Maghrib, maka kaum muslimin segera mendekat ke tiang masjid, mereka melaksanakan shalat dua rakaat, hingga ada seorang musafir yang memasuki masjid, ia menyangka bahwa shalat Maghrib telah dilaksanakan, karena banyaknya kaum muslimin yang melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu”.
  • Akhirnya, saya mengharapkan kepada kaum muslimin agar tidak mengobarkan fitnah disebabkan fanatisme terhadap masalah-masalah khilafiyahyang bersifat furu’. Siapa yang mau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, silahkan untuk melaksanakannya, dan bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya saya harap jangan terlalu tergesa-gesa menghukum terhadap sesuatu sebelum mengkajinya secara mendalam dan mengetahui pendapat para ulama tentang masalah tersebut. Agar seruan yang diserukan itu berdasarkan hikmah dan suri tauladan yang baik.

 

Tanya Jawab Shalat: Kapan Berakhirnya waktu Shalat Isyak ?

Tanya Jawab Shalat: Kapan Berakhurnya waktu Shalat Isyak ?

Kapan berakhirnya  waktu sembahyang isyak

  • Para ulama membagikan waktu solat dalam waktu ikhtiariy (الإختياري) dan waktu al-Idhtiroriy (الإضطراري). Waktu al-Ikhtiyari bagi solat ‘isya ialah sehingga sebahagian malam. Manakala waktu al-Idhtiroriy pula berlanjutan sehingga terbitnya fajar sidik.
  • Al-Ikhtiariy: ialah waktu yang dibenarkan solat di dalamnya tanpa makruh, samaada di awal waktu ikhtiyari ini atau di akhirnya.
  • Al-Idhtiroriy: ialah waktu yang tidak boleh dilewatkan solat sehingga masuk waktunya melainkan bagi orang-orang yang berada dalam keuzuran seperti orang gila yang normal setelah berlalunya waktu al-Ikhtiyariy, wanita haid, orang yang tertidur, terlupa, org kafir yang baru memeluk islam atau budak yang baru baligh.
  • Ini menunjukkan tidak boleh melewatkan solat ‘isya sehingga habisnya waktu al-Ikhtiyari melainkan bagi orang-orang yang memiliki keuzuran seperti yang disebut di atas.

  • Perkara ini berdasarkan hadith Nabi S.A.W. وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ. Artinya : “Dan waktu solat ‘isya ialah sehingga sebahagian malam yang pertengahan.”
  • Al-Imam al-Nawawi di dalam Syarh Sahih Muslim menyebut, maksudnya hadith ini ialah: “waktu menunaikannya dlm waktu al-Ikhtiyariy.” (5/111)
  • Badan Fatwa Arab Saudi di dalam fatwa mereka menyebut: ووقت العشاء من غيبوبة الشفق الأحمر إلى نصف الليل ، وهذا وقت الاختيار لها ، ووقت الاضطرار من نصف الليل إلى طلوع الفجر artinyanya: “Waktu ‘isya itu bermula dari luputnya awan merah (habis waktu maghrib) sehingga pertengahan malam, ini adalah waktu al-Ikhtiyar, manakala waktu al-Idhthiror bermula dari sebahagian malam sehingga terbitnya fajar.” (6/113)
  • Al-Syeikh Abdul Aziz Abdillah bin Baz menyebut: فإذا غاب الشفق – وهو : الحمرة في جهة المغرب – انتهى وقت المغرب ، ودخل وقت العشاء إلى نصف الليل ، وما بعد نصف الليل وقت ضرورة لوقت العشاء ، فلا يجوز التأخير لما بعد نصف الليل ولكن ما بين غروب الشفق إلى نصف الليل كله وقت اختياري للعشاء ، فلو صلاها بعد نصف الليل أداها في الوقت ، لكن يأثم ؛ لأنه أخرها إلى وقت الضرورة Artinya: “Apabila telah hilangnya awan merah – iaitu awan merah sebelah barat – tamatlah waktu maghrib dan masuknya waktu ‘isya sehingga pertengahan malam. Dan apa yang selepas pertengahan malam adalah waktu dhorurah (al-Idhthirar) bagi solat ‘isya, tidak boleh melewatkan solat ‘isya sehingga selepas pertengahan malam, antara hilangnya awan merah sehingga pertengahan malam itu adalah waktu al-Ikhtiyariy bagi solat ‘isya, jika seseorang menunaikan solat ‘isya selepas pertengahan malam (selepas tamatnya waktu al-Ikhtiyariy) dia telah menunaikan solat itu di dalam waktunya, akan tetapi dia dikira berdosa, kerana melewatkan solat ‘isya sehingga masuk waktu dharurah.” (Fatwa Bin Baz 10/384)



    Hukum Shalat Salah Sebutan Tajwid dan Mahrajnya

    Hukum seorang imam yang membaca ayat-ayat quran ketika solat dengan salah sebutan, tajwid dan makhrajnya. Adakah ia membatalkan solat. ?

    • Mazhab Hanafi dan kebanyakan ulama Syafie berpandangan dengan pandangan yang agak keras apabila mereka berijtihad bahawa solat si imam adalah batal, terutamanya apabila makna ayat itu berubah atau tiada makna. Malah sekiranya si imam itu beri’tiqad dengan bacaan salah itu, maka ia boleh menjadi kufur. Tetapi jika tersilap dan diulangi maka solat adalah sah.( Ad-Durrul Mukhtar, 1/589; Rawdah at-Tolibin, hlm 109, cet Dar Ibn Hazm)
    • Manakala kebanyakan ulama mutaakhir menyebut kesilapan dalam tajwid dan makhraj serta tatabahasa di dalam bacaan ayat quran, tidak membatalkan solat. Bagaimanapun sekiranya bertukar huruf yang mudah disebut kepada huruf yang lain seperti “solehat” kepada “tolehat”, maka solat adalah batal secara sepakat ulama. Adapun, jika huruf yang sememangnya agak sukar di lafazkan seperti ‘sin’ dengan ‘shim’ atau bertukar ‘shod’ kepada ‘sin’ dalam bacaan fatihah. Ia tidak membatalakn solat kerana umum al-balwa (perkara silap yang sukar dielakkan).
    • Tidak membaca “tasydid” pada bacaan al-fatihah seperti (iyyaka na’budu) dibaca (iyaka na’budu) atau (rabbil ‘alamin) dibaca ( rabil ‘alamin) akan merosakkan solat.
    • Manakala Mazhab Hanbali berijtihad bahawa sebarang kesilapan di dalam bacaan imam yang menukar erti ayat selain pada bacaan al-Fatihah tidak membatalkan solat. Silap dalam fatihah pasti membatalkan solat. ( Al-Mughni, 2/198) 
    • Bagi mengelakkan masalah ini berbangkit, setelah melihat yang paling mengetahui ilmu tentang hukum solat, Nabi SAW amat menggalakkan individu yang layak menjadi imam adalah paling baik bacaannya di samping syarat-syarat yang lain. Berdasarkan hadith : ertinya ” “menjadi imam bagi sesuatu kaum adalah yang paling baik bacaan al-Qurannya, sekiranya bacaannya sama, maka yang lebih mengathui perihal sunnah” ( Riwayat al-Jamaah kecuali al-Bukhari, Nasb ar-Rayah, 2/24) 

    APAKAH WAJIB MAKAN KURMA BERJUMLAH GANJIL TATKALA BERBUKA

    APAKAH WAJIB MAKAN KURMA BERJUMLAH GANJIL TATKALA BERBUKA

    Apakah wajib orang yang berpuasa ketika berbuka wajib mengkonsumsi kurma dengan bilangan ganjil, yakni lima, tujuh butir demikian. 

    • TIDAK WAJIB, BAHKAN SUNNAH SAJA TIDAK untuk seorang insan berbuka dengan bilangan (kurma) ganjil, tiga, lima, tujuh, sembilan. 
    • Kecuali pada hari Iedul Fithri, telah pasti bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak berangkat ke shalat  Iedul Fithri sampai makan beberapa butir kurma, dan memakannya dalam jumlah ganjil. Adapun selain dari itu, maka sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyengaja untuk memakan kurmanya dengan jumlah ganjil.

    Sumber :Minhaj as-Salaf as-Shalih

    100 PERTANYA AN RAMADHAN: Di bulan Ramadhan setan dibelenggu,  tetapi masih ada saja yang bermaksiat ?

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Di bulan Ramadhan setan dibelenggu… Tetapi mengapa masih ada saja yang bermaksiat ?

    • Dibelenggunya setan di bulan Ramadhan adalah hakekat yang telah disabdakan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. [Riwayat sahihnya di Sunan Annasa’i: 2106, Musnad Ahmad: 7148].

    Tetapi mengapa masih ada orang yang bermaksiat, maka ada beberapa jawaban, diantaranya:

    • Meskipun setan telah dibelenggu, tapi pada asalnya manusia memiliki nafsu syahwat, ini tidaklah hilang dengan dibelenggunya setan di bulan Ramadhan, hanya saja pengaruhnya akan semakin lemah.
    • Sebagian ulama, mengkhususkan belenggu itu hanya pada setan-setan kelas kakapnya saja, sehingga setan-setan kroconya tidak demikian, mereka mengambil pengkhususan ini dari riwayat Imam Nasa’i dalam Sunannya: 2106.
    • Sebagian ulama memberikan jawaban, bahwa belenggu tersebut tidak melumpuhkan setan secara total dalam mengganggu manusia, namun melemahkannya.
    • Tingkat lemahnya setan dalam menggoda manusia, sangat tergantung pada kualitas puasa orang tersebut, semakin tinggi kualitas puasanya; semakin kuat belenggunya dan semakin lemah godaannya.. semakin rendah kualitas puasanya; semakin lemah pula belenggunya dan semakin kuat godaannya.
    • Tapi karena dia tetap terbelenggu di bulan Ramadhan; sehingga godaannya di bulan itu lebih lemah daripada godaannya di bulan lainnya. (Majmu’ Fatawa 25/246, dan Fathul Bari 4/114].

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukumnya Berpuasa Saat lupa Makan atau Minum 

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukumnya Berpuasa Saat lupa Makan atau Minum 

    • Bagaimana jika seseorang makan dan minum karena lupa di siang hari saat berpuasa?

    • Hukumnya tidak apa-apa, dan puasanya tetap sah. Karena sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “Wahai Rabb kami! Jangan Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)
    • Dan ditegaskan dalam sebuah hadits sahih bahwa Allah menjawab, “Saya telah melakukannya.”
    • Juga sesuai dengan hadits Abu Hurairah dari nabi, bahwa beliau bersabda, (مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صاَئِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُـتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّماَ أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقاَهُ)) (متفق على صحته)  “Barangsiapa lupa saat berpuasa, lalu makan dan minum, maka tetaplah meneruskan puasanya, karena yang memberi makan dan minum kepadanya adalah Allah.” (Muttafaq alaih)
    • Dan demikian halnya jika ia menyetubuhi isterinya karena lupa, maka puasanya tetap sah. Ini menurut pendapat para ulama` yang paling sahih. Karena berdasarkan pada ayat dan hadits di atas, juga karena sabda nabi dibawah ini, ((مَنْ أَفْطَرَ نَاسِياً فَلاَ قَضاَءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَّارَةَ)) (خرجه الحاكم وصححه) “Barangsiapa berbuka karena lupa, maka tak ada qadha` atasnya dan tak ada pula kaffarat (penebus).” (HR. Al-Hakim dan ia mensahihkannya)
    • Lafadh hadits diatas umum pada masalah bersetubuh dan masalah lainnya yang membatalkan puasa, yang seseorang melakukannya karena lupa. Ini adalah bentuk rahmat, keutamaan dan kebijakan Allah kepada para hamba, maka segala puji dan syukur hanyalah kepada Allah atas semua kebaikan itu.


    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukumnya Berpuasa Saat lupa Makan atau Minum 

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukumnya Berpuasa Saat lupa Makan atau Minum 

    • Bagaimana jika seseorang makan dan minum karena lupa di siang hari saat berpuasa?

    • Hukumnya tidak apa-apa, dan puasanya tetap sah. Karena sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “Wahai Rabb kami! Jangan Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau tersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)
    • Dan ditegaskan dalam sebuah hadits sahih bahwa Allah menjawab, “Saya telah melakukannya.”
    • Juga sesuai dengan hadits Abu Hurairah dari nabi, bahwa beliau bersabda, (مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صاَئِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُـتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّماَ أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقاَهُ)) (متفق على صحته)  “Barangsiapa lupa saat berpuasa, lalu makan dan minum, maka tetaplah meneruskan puasanya, karena yang memberi makan dan minum kepadanya adalah Allah.” (Muttafaq alaih)
    • Dan demikian halnya jika ia menyetubuhi isterinya karena lupa, maka puasanya tetap sah. Ini menurut pendapat para ulama` yang paling sahih. Karena berdasarkan pada ayat dan hadits di atas, juga karena sabda nabi dibawah ini, ((مَنْ أَفْطَرَ نَاسِياً فَلاَ قَضاَءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَّارَةَ)) (خرجه الحاكم وصححه) “Barangsiapa berbuka karena lupa, maka tak ada qadha` atasnya dan tak ada pula kaffarat (penebus).” (HR. Al-Hakim dan ia mensahihkannya)
    • Lafadh hadits diatas umum pada masalah bersetubuh dan masalah lainnya yang membatalkan puasa, yang seseorang melakukannya karena lupa. Ini adalah bentuk rahmat, keutamaan dan kebijakan Allah kepada para hamba, maka segala puji dan syukur hanyalah kepada Allah atas semua kebaikan itu.


    Kumpulan 100 Pertanyaan Ramadhan www.islamislami.com



    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bila Tidak Mau Mengqadha ?

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bila Tidak Mau Mengqadha ?

    • Bagaimana hukum seseorang yang tidak mau mengqadha` puasa sampai masuk ramadhan berikutnya, padahal ia tak ada udzur sama sekali. 
    • Apakah ia cukup bertaubat dengan mengqadha` atau harus membayar kaffarat?

    • Ia wajib bertaubat kepada Allah dan memberi makan orang miskin untuk setiap harinya, disertai mengqadha`. Yaitu memberikan setengah sha` makanan pokok yang ada di negerinya, apakah itu berupa kurma, gandum, beras atau yang lain. Sha` ini adalah sha` nabiShallallahu `alaihi wa Sallam, yang ukurannya kurang lebih satu kilo setengah, tak ada kaffarat lain selain hal itu. Hal ini sebagaimana difatwakan beberapa sahabat, diantaranya Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma.
    • Tetapi jika orang tersebut memang ada udzursyar`i seperti sakit atau bepergian, atau jika seorang wanita, ia terkena udzur karena hamil dan menyusui, sehingga dengan berpuasa mereka malah mendapati banyak kesulitan, maka tidak ada kewajiban lain bagi mereka kecuali hanya mengqadha

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bila Tidak Mau Mengqadha ?

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bila Tidak Mau Mengqadha ?

    • Bagaimana hukum seseorang yang tidak mau mengqadha` puasa sampai masuk ramadhan berikutnya, padahal ia tak ada udzur sama sekali. 
    • Apakah ia cukup bertaubat dengan mengqadha` atau harus membayar kaffarat?

    • Ia wajib bertaubat kepada Allah dan memberi makan orang miskin untuk setiap harinya, disertai mengqadha`. Yaitu memberikan setengah sha` makanan pokok yang ada di negerinya, apakah itu berupa kurma, gandum, beras atau yang lain. Sha` ini adalah sha` nabiShallallahu `alaihi wa Sallam, yang ukurannya kurang lebih satu kilo setengah, tak ada kaffarat lain selain hal itu. Hal ini sebagaimana difatwakan beberapa sahabat, diantaranya Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma.
    • Tetapi jika orang tersebut memang ada udzursyar`i seperti sakit atau bepergian, atau jika seorang wanita, ia terkena udzur karena hamil dan menyusui, sehingga dengan berpuasa mereka malah mendapati banyak kesulitan, maka tidak ada kewajiban lain bagi mereka kecuali hanya mengqadha

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Puasa Tatawwu, Tapi Belum Mengqadha Puasa Ramadhan

    100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Puasa Tatawwu, Tapi Belum Mengqadha Puasa Ramadhan

    • Apa hukum puasa tatawwu` seperti: puasa enam hari di bulan Syawal, puasa sepuluh hari di bulan dzul Hijjah, dan puasa Asyura`, bagi orang yang mempunyai hutang puasa ramadhan dan belum mengqadha`nya?

    • Yang wajib bagi orang yang memiliki kewajiban mengqadha` puasa ramadhan, hendaklah membayar puasa ramadhan terlebih dahulu sebelum berpuasa nafilah. Karena fardhu (wajib) lebih penting daripada nafilah (sunnah), ini menurut pendapat para ulama` yang paling sahih.

      100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Hukum Puasa Bagi Wanita Haid dan Nifas ?

      100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Hukum Puasa Bagi Wanita Haid dan Nifas ?

      • Apa hukum puasa bagi wanita haid dan nifas? 
      • Jika keduanya mengakhirkan qadha` sampai ramadhan berikutnya, apa yang harus diperbuat mereka berdua?

      • Wanita haidh dan nifas, harus berbuka saat haid dan nifas mendatangi mereka, mereka tidak boleh berpuasa atau mengerjakan shalat saat kedatangan haid dan nifas ini. Jika mereka tetap melakukannya, maka shalat dan puasa itu tidak sah. Mereka wajib mengqadha` puasa dan tidak mengqadha` shalat. 
      • Sesuai hadits Aisyah dibawah ini, (أَنَّهَا سُئِلَتْ: هَلْ تَقْضِي الْحاَئِضُ الصَّوْمَ وَالصَّلاَةَ؟ فَقاَلَتْ: كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضاَءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضاَءِ الصَّلاَةِ)) (متفق عليه) “Sesungguhnya Aisyah ditanya, “Apakah wanita haidh mengqadha` puasa dan shalat?” Ia menjawab, “Kami dulu disuruh mengqadha` puasa dan tidak disuruh mengqadha` shalat”.”(Muttafaq alaih)
      • Sedangkan para ulama`, mereka telah berijma` (bersepakat) sesuai dengan yang diucapkan Aisyah, yaitu wajib mengqadha` puasa dan tidak perlu mengqadha` shalat bagi wanita haid dan nifas. Ini sebagai kemudahan dari Allah terhadap mereka. Karena shalat jumlahnya sangat banyak dan berulang-ulang, pada setiap hari sampai lima kali. Jadi dalam mengqadha`nya, seorang wanita akan menghadapi banyak kepayahan.
      • Beda dengan puasa, ia wajib diqadha`, karena ia setahun hanya sekali saja, yaitu puasa ramadhan, jadi tak ada kepayahan dalam mengqadha`nya.
      • Adapun siapa saja yang menunda mengqadha` sampai setelah ramadhan berikutnya tanpa adanya udzur (alasan) syar`i, maka ia harus bertaubat kepada Allah dari perbuatan ini, dibarengi dengan mengqadha` dan memberi makan orang miskin pada setiap hari yang ia tidak berpuasa padanya.
      • Demikian halnya seorang musafir dan orang sakit. Jika keduanya menunda mengqadha` sampai setelah ramadhan berikutnya tanpa adanya udzur syar`i, maka keduanya wajib mengqadha`, bertaubat, dan memberi makan orang miskin dari tiap-tiap hari yang ia tidak berpuasa di hari-hari tersebut.
      • Tetapi jika sakit atau bepergian itu terus berlangsung sampai ramadhan berikutnya, maka wajib bagi keduanya untuk mengqadha` saja tanpa memberi makan orang miskin, yaitu setelah ia sembuh dari penyakit, atau setelah datang dari bepergian.

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bagi Orang Sakit Berpuasa, Meninggal Sebelum Mengqadha ?

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bagi Orang Sakit Berpuasa, Meninggal Sebelum Mengqadha ?

        • Apa hukum seseorang yang mengidap penyakit, kemudian masuk bulan ramadhan dan ia tidak berpuasa, lalu ia meninggal setelah bulan ramadhan, apakah walinya harus mengqadha` puasanya, atau hanya memberi makan saja?

        • Jika seorang muslim meninggal dunia karena penyakit yang menimpanya setelah bulan ramadhan, maka ia tidak wajib mengqadha` dan tidak wajib pula memberi makan, karena ia memang mempunyai udzur syar`i. 
        • Demikian pula seorang musafir jika meninggal dalam perjalanan, atau meninggal langsung setelah kepulangannya ke kampung halaman, ia tidak wajib mengqadha` dan tidak pula memberi makan, karena ia mempunyai udzur syar`i.
        • Orang yang sudah sembuh dari penyakitnya, tetapi ia meremehkan urusan mengqadha` sampai ia meninggal dunia, atau seorang musafir yang datang dari safar dan malas mengqadha` sampai meninggal dunia, maka disyariatkan bagi walinya –mereka adalah sanak kerabat- untuk mengqadha`kan buatnya. Karena sabda nabi yang berbunyi,  ((مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِياَمٌ، صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ)) (متفق على صحته)  “Barangsiapa meninggal dunia, sementara ia memiliki kewajiban berpuasa, maka walinya harus berpuasa untuknya.” (Muttafaq alaih)
        • Jika tidak ada seorang pun yang bisa berpuasa untuk mereka, maka diambil dari harta warisannya makanan yang diberikan kepada orang miskin, sebanyak setengah sha` perharinya. Yang ukurannya kira-kira satu kilo setengah.
        • Hal ini juga berlaku pada orang tua yang tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak mungkin sembuh, sebagaimana disebutkan pada jawaban pertanyaan no: sembilan.
        • Dan seperti ini pula keadaan seorang wanita haid dan nifas jika keduanya meremehkan qadha` sampai meninggal dunia, maka walinya harus memberi makan seorang miskin pada setiap hari yang harus dibayarnya, jika tidak ada seorang pun yang berpuasa untuk mereka.
        • Sedangkan siapa pun yang tidak memiliki harta peninggalan, sehingga tidak bisa dikeluarkan darinya makanan yang diberikan kepada orang miskin, maka tidak apa baginya. Karena Allah Berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
        • Quran: “Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bagi Orang Sakit Berpuasa, Meninggal Sebelum Mengqadha ?

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Bagi Orang Sakit Berpuasa, Meninggal Sebelum Mengqadha ?

        • Apa hukum seseorang yang mengidap penyakit, kemudian masuk bulan ramadhan dan ia tidak berpuasa, lalu ia meninggal setelah bulan ramadhan, apakah walinya harus mengqadha` puasanya, atau hanya memberi makan saja?

        • Jika seorang muslim meninggal dunia karena penyakit yang menimpanya setelah bulan ramadhan, maka ia tidak wajib mengqadha` dan tidak wajib pula memberi makan, karena ia memang mempunyai udzur syar`i. 
        • Demikian pula seorang musafir jika meninggal dalam perjalanan, atau meninggal langsung setelah kepulangannya ke kampung halaman, ia tidak wajib mengqadha` dan tidak pula memberi makan, karena ia mempunyai udzur syar`i.
        • Orang yang sudah sembuh dari penyakitnya, tetapi ia meremehkan urusan mengqadha` sampai ia meninggal dunia, atau seorang musafir yang datang dari safar dan malas mengqadha` sampai meninggal dunia, maka disyariatkan bagi walinya –mereka adalah sanak kerabat- untuk mengqadha`kan buatnya. Karena sabda nabi yang berbunyi,  ((مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِياَمٌ، صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ)) (متفق على صحته)  “Barangsiapa meninggal dunia, sementara ia memiliki kewajiban berpuasa, maka walinya harus berpuasa untuknya.” (Muttafaq alaih)
        • Jika tidak ada seorang pun yang bisa berpuasa untuk mereka, maka diambil dari harta warisannya makanan yang diberikan kepada orang miskin, sebanyak setengah sha` perharinya. Yang ukurannya kira-kira satu kilo setengah.
        • Hal ini juga berlaku pada orang tua yang tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak mungkin sembuh, sebagaimana disebutkan pada jawaban pertanyaan no: sembilan.
        • Dan seperti ini pula keadaan seorang wanita haid dan nifas jika keduanya meremehkan qadha` sampai meninggal dunia, maka walinya harus memberi makan seorang miskin pada setiap hari yang harus dibayarnya, jika tidak ada seorang pun yang berpuasa untuk mereka.
        • Sedangkan siapa pun yang tidak memiliki harta peninggalan, sehingga tidak bisa dikeluarkan darinya makanan yang diberikan kepada orang miskin, maka tidak apa baginya. Karena Allah Berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
        • Quran: “Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Berpuasa Bila Menerima Pengobatan Suntik dan Bekam ?

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Berpuasa Bila Menerima Pengobatan Suntik dan Bekam ?

        • Bagaimana hukum menggunakan suntikan pada pembuluh darah dan otot ?
        • Bagaimana Hukum Orang Berpuasa yang melakukan pengobatan bekam 

        • Pengobatan suntik tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa khusus pada jarum infus, yang berfungsi sebagai pengganti makanan saja. Demikian pula tidak membatalkan puasa, jika seseorang mengambil darahnya untuk dibawah ke laboratorium, karena pengambilan darah ini bukan seperti berbekam.
        • Adapun bekam, maka yang benar menurut pendapat para ulama, sesungguhnya orang yang dibekam dan yang membekam, keduanya telah batal puasanya. Sesuai sabda nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam yang berbunyi, ((أَفْطَرَ الْحاَجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ)) “Orang yang membekam dan dibekam harus berbuka.”

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Berpuasa Bila Menerima Pengobatan Suntik dan Bekam ?

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Hukum Berpuasa Bila Menerima Pengobatan Suntik dan Bekam ?

        • Bagaimana hukum menggunakan suntikan pada pembuluh darah dan otot ?
        • Bagaimana Hukum Orang Berpuasa yang melakukan pengobatan bekam 

        • Pengobatan suntik tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa khusus pada jarum infus, yang berfungsi sebagai pengganti makanan saja. Demikian pula tidak membatalkan puasa, jika seseorang mengambil darahnya untuk dibawah ke laboratorium, karena pengambilan darah ini bukan seperti berbekam.
        • Adapun bekam, maka yang benar menurut pendapat para ulama, sesungguhnya orang yang dibekam dan yang membekam, keduanya telah batal puasanya. Sesuai sabda nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam yang berbunyi, ((أَفْطَرَ الْحاَجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ)) “Orang yang membekam dan dibekam harus berbuka.”

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Batalkah Pasta Gigi, Obat Tetes Mata dan Tetes Hidung Saat Berpuasa

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Batalkah Pasta Gigi, Obat Tetes Mata dan Tetes Hidung Saat Berpuasa ?

        • Bagaimana hukum menggunakan pasta gigi, dan obat tetes pada telinga, hidung, juga mata bagi orang berpuasa? 
        • Jika orang yang berpuasa merasakan obat tersebut di tenggorokannya, apa yang harus dikerjakannya?

        • Membersihkan gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, ia seperti siwak. Tetapi seseorang harus berhati-hati, jangan sampai ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokannya, jika ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan tanpa disengajanya, maka tidak apa-apa dan ia tak perlu mengqadha` puasa.
        • Demikian pula obat tetes pada mata dan telinga, seseorang tidak menjadi batal puasanya karena hal itu, ini menurut pendapat para ulama` yang paling sahih.
        • Jika seseorang mendapati rasa obat tetes itu pada tenggorokan, maka mengqadha` puasa adalah lebih baik, tapi tidak diwajibkan. Karena mata dan telinga bukan tempat masuknya makanan dan minuman.
        • Sedangkan obat tetes pada hidung, maka hal itu tidak boleh dilakukan orang yang berpuasa, karena hidung termasuk lobang masuknya makanan dan minuman. Karena itulah rasulullah bersabda, ((وَباَلِغْ فِي اْلاِسْتِنْشاَقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً)) “Dan keraskan saat menarik air ke dalam hidung, kecuali jika kamu berpuasa.”
        • Jadi, siapa pun yang meneteskan obat ke dalam hidung, maka ia wajib mengqadha` puasa sesuai hadits di atas. Dan apa pun yang serupa dengan obat tetes pada hidung, jika seseorang mendapati rasanya dalam tenggorokan, maka ia wajib mengqadha` pula. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Batalkah Pasta Gigi, Obat Tetes Mata dan Tetes Hidung Saat Berpuasa

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Batalkah Pasta Gigi, Obat Tetes Mata dan Tetes Hidung Saat Berpuasa ?

        • Bagaimana hukum menggunakan pasta gigi, dan obat tetes pada telinga, hidung, juga mata bagi orang berpuasa? 
        • Jika orang yang berpuasa merasakan obat tersebut di tenggorokannya, apa yang harus dikerjakannya?

        • Membersihkan gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, ia seperti siwak. Tetapi seseorang harus berhati-hati, jangan sampai ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokannya, jika ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan tanpa disengajanya, maka tidak apa-apa dan ia tak perlu mengqadha` puasa.
        • Demikian pula obat tetes pada mata dan telinga, seseorang tidak menjadi batal puasanya karena hal itu, ini menurut pendapat para ulama` yang paling sahih.
        • Jika seseorang mendapati rasa obat tetes itu pada tenggorokan, maka mengqadha` puasa adalah lebih baik, tapi tidak diwajibkan. Karena mata dan telinga bukan tempat masuknya makanan dan minuman.
        • Sedangkan obat tetes pada hidung, maka hal itu tidak boleh dilakukan orang yang berpuasa, karena hidung termasuk lobang masuknya makanan dan minuman. Karena itulah rasulullah bersabda, ((وَباَلِغْ فِي اْلاِسْتِنْشاَقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً)) “Dan keraskan saat menarik air ke dalam hidung, kecuali jika kamu berpuasa.”
        • Siapa pun yang meneteskan obat ke dalam hidung, maka ia wajib mengqadha` puasa sesuai hadits di atas. Dan apa pun yang serupa dengan obat tetes pada hidung, jika seseorang mendapati rasanya dalam tenggorokan, maka ia wajib mengqadha` pula. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Sahkah puasa bagi seseorang yang meninggalkan shalat ?

        100 PERTANYAAN RAMADHAN: Sahkah puasa bagi seseorang yang meninggalkan shalat ?

        • Pendapat ulama berneda tentang hal itu. Pendapat pertama, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, ia menjadi kafir dengan kekufuran yang nyata. Karena itu, puasanya tidak sah, demikian pula ibadah-ibadah lain yang dilakukannya sampai ia bertaubat kepada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyi,
        • “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An`am: 88)
        • Tetapi ada beberapa ulama` yang mengatakan; bahwa orang yang meninggalkan shalat, ia tidak menjadi kafir karenanya, sehingga puasanya tidak batal, demikian pula ibadah-ibadah lainnya. Dengan ketentuan, saat meninggalkannya ia tetap meyakini kewajiban shalat tersebut, dan meninggalkannya hanya karena malas dan meremehkan.
        • Namun, yang benar adalah pendapat pertama, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, ia menjadi kafir meskipun ia meyakini kewajiban shalat tersebut. Pendapat ini berdasar pada banyak dalil, diantaranya sabda nabi yang berbunyi, ((بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ)) [خرجه الإمام مسلم في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله رضي الله عنهما] “Garis yang memisahkan antara seorang lelaki dengan syirik atau kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (Diriwayatkan Imam Muslim dalam sahihnya dari Jabir bin Abdillah)
        • Nabi Muhammad SAW ((اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهاَ فَقَدْ ك) [أخرجه الإمام أحمد وأهل السنن الأربع بإسناد صحيح من حديث بريدة بن الحصيب الأسلمي]   “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah mengerjakan shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.”(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahlus sunan yang empat dengan sanad yang sahih dari Buraidah bin Hushoib Al-Aslami)
        • Ibnul Qayyim telah menjelaskan dengan detail masalah meninggalkan shalat ini dalam sebuah buku yang khusus membahas tentang hukum-hukum shalat dan meninggalkannya, buku ini bermanfaat sekali bagi kita, juga sangat bagus untuk dijadikan rujukan.

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Saat Makan Sahur Berhenti Makan Setelah ADzan Selesai ?


          Apakah kita wajib menghentikan sahur saat adzan subuh berkumandang, ataukah kita diperbolehkan makan dan minum sampai muadzin selesai dari adzannya?

          • Jika sang muadzin diketahui, bahwa ia tidak mengumandangkan adzan kecuali karena datangnya waktu subuh, maka di saat itu kita wajib menghentikan makan minum dan segala pembatal puasa, sejak ia mulai beradzan.
          • Tetapi jika adzan itu berdasar pada dugaan dan terkaan, maka tidak mengapa jika terus makan dan minum saat adzan berlangsung. Ini berdasarkan hadits nabi yang berbunyi, (إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلوُا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يُناَدِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ)) قَالَ الرَّاوِيْ فِي آخِرِ هَذَا الْحَدِيْثِ: ((وَكاَنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ رَجُلاً أَعْمَى، لاَ يُناَدِيْ حَتَّى يُقاَلَ لَهُ: أَصْبَحْتَ، أَصْبَحْتَ)) (متفق عليه)  “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam. Maka, makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan.” Sang perawi berkata di akhir hadits ini, “Dan adalah Abdullah bin Ummi Maktum seorang lelaki yang buta, ia tidak beradzan sampai dikatakan padanya, “Telah datang waktu subuh, telah datang waktu subuh”.” (Muttafaq alaih)
          • Tapi yang lebih selamat bagi seorang mukmin dan mukminah, adalah menyelesaikan sahur sebelum datang fajar, karena rasulullah bersabda, ((دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلىَ مَا لاَ يَرِيْـبُكَ)) “Tinggalkan hal-hal yang meragukan dan ambillah yang tidak meragukan.”
          • Nabi Muhammad SAW, (مَنِ اتَّقَى الشُّبـُهاَتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ)) “Barangsiapa menjauhi barang-barang syubhat, maka ia telah terbebas dari tuduhan dalam agama dan kehormatannya.”
          • Adapun, jika kita tahu bahwa sang muadzin beradzan di waktu malam untuk memperingatkan manusia dengan dekatnya waktu subuh, seperti yang dikerjakan Bilal, maka tidak masalah jika kita memakan atau meminum sampai para muadzin mengumandangkan adzan subuh.

          wp-1557190382277..jpgwp-1557098166849..jpg

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bermaaf maafan Sebelum Puasa apakah Tuntunan Rasulullah ?

          100 PERTANAYAAN RAMADHAN: Bermaaf maafan Sebelum Puasa apakah Tuntunan Rasulullah ?

          Assalamualaikum wr wb ustadz,

          Apakah bermaaf-mafan sebelum memasuki bulan Ramadhan sejalan dengan Sumah Rasulullah

          Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          • Sampai saat ini masih belum menemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya pada saat menjelang masuknya bulan Ramadhan.
          • Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengn masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini: فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah: 109)
          • Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa. وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَالَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 132-133)
          • Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat taqwa. Dan taqwa adalah tujuan dari kita berpuasa. وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Baqarah: 237)
          • Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah wajib ‘ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A’raf: 199)
          • Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah.
          • وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nuur: 22)
          • Meski pun seorang yang dizalimi dibenarkan untuk membalas, namun memaafkanjauh lebih baik, di mana Allah akan memberi ganjaran dan pahalatersendiri.
          • وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.(QS. Asy-Syura: 40)
          • عن أَبي هريرة أنَّ رسول الله ، قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ متفقٌ عَلَيْهِ. Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
          • Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?
          • Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.
          • Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadha, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.
          • Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.
          • Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.
          • Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Tidurnya Orang Puasa Ibadah ?

           

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Tidurnya Orang Puasa Ibadah ?

          Hingga sekarang masih banyak orang beranggapan bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah.  Kalau memang benar, apakah itu sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW?

          Jawaban

          Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
          Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.
          Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.
          Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu’ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).
          Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu).
          Hadits Palsu
          Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.
          Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.
          Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.
          Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah “manusia paling pendusta di muka bumi ini!”
          Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.
          Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.
          Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, “Sulaiman bin AmrAn-Nakha’i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu’afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitabMizanul I’tidal.
          Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.
          Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.
          Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.
          Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bagaimanakah Ciri Lailatul Qodar dan Ciri Orang Yang Telah Mendapatkannya

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bagaimanakah Ciri Lailatul Qodar dan Ciri Orang Yang Telah Mendapatkannya

          Assalaamua’laikum Wr.Wb

          • Ciri-ciri akan/turunnya malam Lailatul Qadar dan sesudahnya turunnya Lailatul Qadar
          • Perbedaan waktu/jam dengan negara lain tentang turunnya Lailatul Qodar.
          • Ciri-ciri orang yang mendapatkan curahan rahmat Malam Lailatul Qodar 

          Wassalaamua’laikum Wr.Wb

          Waalaikumussalam Wr Wb

          • Ciri-ciri Lailatul Qodr. Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt : Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)
          • Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman Allah ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

          Tanda lallilatul Qadar menurt Hadits

          • Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
          • Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
          • Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
          • Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
          • Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

          Perbedaan Waktu Antar Negara

          • Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
          • Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)
          • Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”
          • Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
          • Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.
          • Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

          Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

          • Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”
          • Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)
          • Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Pemerintah Yang Paling Berwenang Menetapkan 1 Syawal ?

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Pemerintah Yang Paling Berwenang Menetapkan 1 Syawal ?

          Assalamu”alaikum wr. Wb

          • Seringkali terjadi perbedaan penetapan 1 syawal, sehingga umatenjadi bingung. Karena banyak metode penentuan 1 syawal.
          • Siapakah yang berwenang untuk menetapkan 1 syawal(tentunya menurut al-Qur”an & hadits)?
          • Bolehkah seorang pemimpin kelompok menetapkan itu dengan mendasarkan pada ayat yang artinya: Hai orang-orang muslim, taatlah kamu kepada Allah, dan rasulnya dan Ulil Amri di antara kamu.
          • Apakah pemimpin kelompok bisa juga disebut “Ulil Ammri”

          Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          • Karena sudah pasti ada perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid dalam menetapkan jatuhnya tanggal 1 Syawwal, maka khusus untuk masalah ini, harus ada penengah yang perkataannya ditaati oleh semua mujtahid tersebut.
          • Apalagi mengingat urusan jatuhnya lebaran ini menyangkut kepentingan orang banyak, maka kesepakatan harus diambil dan persatuan harus lebih diutamakan.
          • Kita bisa maklum kalau ada perbedaan pendapat yang didiamkan saja, karena memang tidak ada solusi. Misalnya, perbedaan pendapat tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih, atau perbedaan pandangan tentang kesunnahan qunut shalat shubuh dan kebid”ahannya.
          • Demikian juga perbedaan pendapat dalam hukum penyelenggaraan hari besar seperti maulid nabi, isra” mi”raj, nuzulul quran dan seterusnya. Biarlah masing-masing mujtahid berpendapat sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran.
          • Asalkan satu sama lain tidak saling mengejek, mencemooh, mencaci atau memerangi dengan jalan memboikot, tidak mau bertegur sapa hingga menuduhnya sebagai calon penghuni neraka jahannam.
          • Perbedaan pendapat dalam banyak masalah cabang syariah adalah sebuah kepastian, tidak mungkin ditampik dan mustahil dihilangkan. Demikian secara umum yang berlaku untuk setiap masalah furu”iyah dalam masalah kajian fiqih.
          • Namun khusus untuk penetapan tanggal 1 Syawwal, 1 Ramadhan atau pun 1 Dzulhijjah, seharusnya ada kesepakatan di antara para mujtahid. Tidak diserahkan kepada masing-masing orang untuk menetapkan sendiri-sendiri.
          • Sejarah agama kita sejak 14 abad yang lampau, baik selama masih ada khilafah Islamiyah atau pada periode setelah keruntuhannya, tidak pernah ada mujtahid yang menetapkan sendiri jatuhnya hari raya itu.
          • Ilmu hisab dan ilmu rukyatul hilal boleh berkembang dan dipelajari oleh orang banyak, akan tetapi urusan penanggalan dan jatuhnya jadwal puasa serta lebaran, tetap harus diserahkan kepada satu pihak di dalam dunia Islam.
          • Di masa khilafah masih ada dulu, seorang khalifah adalah pengambil keputusan terakhir untuk masalah ini. Itu merupakan hak preogratifnya karena memang demikian yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai kepala negara tertinggi di masa lalu.
          • Dan hal yang sama selalu dilakukan oleh para khalifah pengganti beliau, baik Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali ridhwanullahi ”alaihim ajma”in, keputusan ada di tangan khalifah sebagai otoritas tertinggi umat Islam.
          • Dan semua khalifah dari berbagai dinasti Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah juga melakukan hal yang sama. Tidak ada satu pun elemen umat Islam yang secara lancang menetapkan jadwal Ramadhan dan Syawwal sendiri. Meski mereka ahli di bidang astronomi, hisab bahkan rukyatulhilal, namun biar bagaiamana pun mereka sangat menghormati khalifah.
          • Pasca Runtuhnya khilafah. Di masa kita sekarang ini di mana khilafah sudah tidak ada lagi, tradisi menyerahkan urusan jadwal Ramadhan dan Syawwal kepada otoritas penguasa tertinggi yang ada di tengah umat Islam tetap berlangsung.
          • Rakyat Mesir yang merupakan gudang ulama dan ilmuwan, tetap saja menyerahkan masalah ini kepada satu pihak. Bersama dengan pemerintah yang resmi mereka sepakat menyerahkan masalah ini kepada Grand Master Al-Azhar (Syaikhul Azhar). Dan yang menarik, begitu Syaikhul Azhar menetapkan keputusannya, semua jamaah di Mesir baik Ikhwanul Muslimin, Ansharussunnah, Takfir wal jihad, Salafi sampai kepada kelompok-kelompok sekuler sepakat untuk taat, tunduk dan patuh kepada satu pihak.
          • Hal yang sama juga kita saksikan di Saudi Arabia. Meski di sana ada banyak jamaah, kelompok, dan aktifis yang sering kali saling menyalahkan dan berbeda pendapat, tetapi khusus untuk jadwal Ramadhan dan Syawwal, mereka bisa akur dan patuh kepada keputusan mufti Kerajaan. Dan hal yang sama terjadi di semua negeri Islam, mereka semua kompak untuk menyerahkan urusan ini kepada satu pihak, yaitu pemerintah muslim.
          • Tetapi di negeri kita yang negeri terbesar dengan jumlah penduduk muslim di dunia, justru setiap pihak tidak bisa berbesar hati untuk menyerahkan masalah ini ke satu tangan saja. Setiap ormas merasa punya hak 100% untuk menetapkan jatuhnya jadwal ibadah itu. Bahkan tanpa malu-malu melarang otoritas tertinggi yaitu pemerintah untuk bersikap dan menjalankan tugasnya. Padahal yang diperselisihkan hanya urusan ijtihad yang mungkin benar dan mungkin salah. Nyaris tidak ada kebenaran mutlak dalam masalah ini. Sebab sesama yang rukyat sudah pasti berbeda. Dan sesama yang berhisab juga berbeda. Dan perbedaan itu akan selalu ada. Padahal maslalah ini adalah masalah nasional dan menyangkut kepentingan orang banyak. Seharusnya 200 juta umat Islam menyerahkan masalah ini kepada satu pihak yang dipercaya dan konsekuen untuk patuh dan tunduk.
          • Satu pihak itu seharusnya adalah pihak yang netral, tidak punya kepentingan kelompok, ahli di bidang rukyat dan hisab serta punya legitimasi. Dan menurut kami, pihak itu adalah pemerintah sah negeri ini. Karena dalam hal ini pemerintah adalah pihak yang merupakan otoritas tertinggi umat Islam. Dan direpresentasikan sebagai Menteri Agama RI.
          • Kalau hukum hudud diberlakukan di negeri ini, maka beliau pula yang punya hak untuk merajam pezina, memotong tangan pencuri, mencambuk peminum khamar. Dan selama ini, beliau pula yang memiliki hak secara sah untuk menikahkan wanita yang tidak punya wali.
          • Sebuah ormas tidak punya hak apapun untuk mengeksekusi hukum hudud, sebagaimana tidak punya hak untuk menikahkan wanita tak berwali. Maka logika sederhananya, seharusnya juga tidak punya hak untuk menetapan secara nasional tentang jatuhnya puasa dan lebaran. Sepintar apa pun orang yang ada di dalam ormas itu.

          Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Makan Sahur Sudah Termasuk Niat Puasa, Tidak Perlu Baca Niat Lagi ?

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Makan Sahur Sudah Termasuk Niat Puasa, Tidak Perlu Baca Niat Lagi ?

          Assalamu”alaikum wr. Wb

          • Ketika seseorang bangun makan sahur, bukankah dalam hatinya secara nyata dia berniat untuk melaksanakan puasa ?
          • Adanya perbedaan penafsiran di antara muslim bahwa niat harus diucapkan dan muslim yang lain berpendapat bahwa niat itu dari dalam hati kita masing-masing dan tidak perlu diucapkan. 

          Wassalamu”alaikum wr. Wb

          Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          • Sebenarnya secara syarat, ketika seseorang bangun untuk makan sahur, pastilah di dalam hatinya sudah terbersit niat puasa. Coba saja tanyakan kepada mereka yang sedang makan sahur, mau apa kok bangun dan makan di pagi buta begini? Pasti jawabannya, “Kan kita mau puasa besok.” Jawabannya jelas, mereka mau puasa. Dan itu saja sebenarnya sudah cukup untuk menegaskan bahwa di dalam hati mereka sudah ada niat untuk puasa.
          • Bahkan sebenarnya, jangankan bangun sahur, sekedar terbersit di dalam hati untuk berpuasa, sebenarnya sudah merupakan niat. Karena sebagaimana perkataan semua ulama bahwa niat itu memang adanya di dalam hati, bukan di lisan.
          • Dan tidak ada satu pun ulama baik dari kalangan mazhab Asy-Syafi”i maupun dari mazhab manapun yang mengatakan bahwa niat itu di lidah. Semua ulama dari ujung barat Maroko sampai ujung timur Maraoke, sepakat bulat-bulat bahwa niat itu bukan di lidah tetapi di dalam hati.
          • Lalu bagaimana dengan lafadz niat puasa yang sangat terkenal itu? Apakah wajib dilafadzkan? Apakah puasa kita sah bila kita tidak melafadzkan niat?
          • Lafadz niat yang sering kita dengar atau banyak dibaca di masjid-masjid terutama selesai shalat tarawih sebenarnya bukan syarat sah puasa. Lafadz itu sendiri pun tidak ada dasarnya dari Rasululllah SAW. Kita tidak pernah menemukan ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melafadzkan niat puasa di malam hari selesai shalat tarawih.
          • Jangankan melafadzkan niat, shalat tarawih pun tidak pernah beliau lakukan seumur hidupnya, kecuali hanya 2 kali saja. Dan penjelasan tentang hal ini sudah berulang kali dibahas di rubrik ini.
          • Maka puasa kita sah selama kita sudah berniat sejak malamnya sebelum masuknya waktu shubuh, meski tanpa melafadzkan niat itu di lidah kita.
          • Lalusekarang pertanyaan di balik, apakah melafadzkan niat itu lantas menjadi bid”ah, haram dan mendatangkan dosa?
          • Di sini para ulama berbeda pendapat seperti biasanya. Sebagian dari mereka yang sangat sensitif dan hati-hati dengan urusan perbid”ahan, umumnya memang langsung to the point mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya bid”ah, haram dan berdosa.
          • Alasannya, karena tidak ada ajarannya dari Rasulullah SAW. Padahal urusan puasa itu merupakan ibadhah mahdhah, sehingga haram hukumnya bila ditambah-tambahi sendiri sesuai selera.
          • Atas fatwa yang seperti ini, ada yang kurang sabarkemudian memvonis bahwa praktek melafadzkan niat yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di masjid-masijd itu haram dan berdosa. Bahkan sebagian dari mereka mengharamkan hadir di masjid itu lantaran menganggap masjid itu masjid ahlul bid”ah.
          • Mau dibilang apa lagi, memang begitu lah tipologi sebagian umat kita. Mudah sekali menjatuhkan vonis kepada sesuatu yang dirasa sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya.
          • Lalu apa hujjah dari mereka yang tetap melafadzkan niat puasa? Adakah dasar argumentasi yang bisa diterima secara syar”i sehingga membebaskan mereka dari tuduhan sebagai ahli bid”ah tadi?
          • Jawabnya ada tentu saja. Logikanya, kalau pun melafadzkan niat itu memang mutlak kebid”ahannya, pasti tidak ada lagi orang yang mau melakukannya. Sebagaimana tidak ada orang yang mau shalat shubuh 8 rakaat, karena memang tidak ada ajarannya.
          • Bagi kalangan ini, melafadzkan niat puasa itu meski tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukannya, berguna besar untuk menguatkan niat. Rupanya di masa lalu, ada orang yang hatinya mudah was-was, selalu ragu dan kurang percaya diri.
          • Di dalam hatinya selalu ada gejolak, apakah saya sudah siap melakukan ibadhah ini atau belum ya? Nah, kepada kalangan yang seperti ini, muncullah fatwa untuk melafadzkan niat. Dengan dilafadzkan, maka rasa was-was di dalam hati akan sirna berganti dengan keyakinan.
          • Kira-kira mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang yang sudah lama diincar, tetapi ada rasa ragu, takut, malu, was-was untuk menyatakan rasa cinta itu dalam bentuk kata-kata. Maka sejuta perasaan ragu tidak karuan itu akan pecah begitu dinyatakan rasa cinta itu dengan kata-kata.

          Maka menurut ulama yang mendukung pelafadzan niat, kalau ragu-ragu, ucapkan saja niat itu. biar plong dan selesai masalahnya.

          Pendapat para ulama salaf tentang melafadzkan niat:

          • Mazhab Al-Hanafiyah. Kita mulai dari mazhab Abu Hanifah. Para ulama di kalangan mazhab ini terpecah pendapatnya ketika menghukumi pelafadzkan niat. Sebagian dari mereka mengatakan hukumnya bid”ah, namun sebagian lain mengatakan hukumnya jaiz atau boleh. Tidak merupakan bid”ah yang merusak shalat. Bahkan sebagian dari mereka itu menyunnahkan pelafadzan niat terutama bagi mereka yang di dalam hatinya ada was-was. Dengan melafadzkan niat, maka was-was itu akan hilang. Sehingga pelafadzan niat itu justru membantu menguatkan niat.
          • Mazhab Al-Malikiyah. Melafadzkan niat menyalahi yang utama, kecuali bagi mereka yang was-was. Maka melafadzkan niat bagi mereka yang was-was justru hukumnya mandub (semacam sunnah) agar rasa was-was itu menjadi hilang. Ungkapan ini bisa kita baca dalam kitab Al-Fiqhu ”ala mazahibil arba”ah.
          • Mazhab As-Syafi”i. Umumnya para ulama di dalam mazhab ini menyunnahkan kita untuk melafadzkan niat. Setidaknya mengatakan tidak mengapa bila kita melafadzkannya. Lantaran hal itu membantu hati. Namun mereka pun sepakat bahwa melafazkan niat itu bukan niat itu sendiri. Jadi seandainya seseorang beribadah tanpa melafadzkan niat, maka ibadahnya tetap sah dan diterima Allah SWT secara hukum.
          • Pendapat Imam Ibnu Taimiyah. Niat untuk bertaharah, wudhu” mandi, shalat, puasa dan lainnya sama sekali tidak membutuhkan pelafazhan niat. Itu merupakan kesepakatan para imam mazhab. Karena tempat niat itu hati, bukan lisan.
          • Seandainya seseorang melafazkan suatu lafadz niat yang ternyata berbeda dengan apa yang terbersit di dalam hati, maka yang berlaku sah adalah yang ada di dalam hati, bukan yang diucapkan di lisan. Tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari hal ini.
          • Namun memang ada sebagian ulama dari kalangan mazhab As-syafi”i di masa-mas berikutnya yang berijtihad untuk melafadzkan niat. Namun sepertinya mereka agak rancu dalam memahami nash dari Imam mereka, Asy-Syafi”i.
          • Imam Ibnu Taimyah kemudian mengatakan bahwa urusan melafazkan niat itu para ulama terpecah dua. Menurut sebagain ulama dari mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Al-Imam ASy-Syafi”i dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya mustahab (lebih disukai), lantaran menguatkan niat di dalam hati.
          • Sementara sebagian lainnya dari ulama kalangan mazhab Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya mengatakan bahwa melafazhkan niat itu tidak mustahab, bahkan hukumnya bid”ah. Lantaran tidak ada contoh dari nabi Muhammad SAW, para shahabat dan tabi”in.

          Kerancuan Sebagian Ulama Asy-Syafi”i

          • Menurut Ibnu Al-Qayyim, sebagian ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab Asy-Syafi”i telah rancu dalam memahami nash Imam mereka sendiri tentang melafadzkan niat.
          • Di dalam nash As-Syafi”i memang menyebutkan bahwa seseorang tidak sah memulai shalat kecuali dengan zikir. Itulah nash dari Imam As-Syafi”i yang asli.
          • Namun nash ini dipahami menjadi tidak sah shalat itu kecuali dengan melafadzkan niat. Mereka memahami bahwa zikir yang dimaksud oleh Al-Imam As-Syafi”i adalah lafazh ushalli. Padahal menurut Ibnul Qayyim, yang dimaksud dengan dzikir oleh Asy-Syafi”i adalah takbiratul ihram, bukan melafadzkan niat.
          • Dalam hal ini kelihatan bahwa Ibnu Qayyim membela dan tidak menyalahkan Al-Imam ASy-Syafi”i, namun beranggapan bahwa para ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhan ini yang salah paham terhadap nash dari imam mereka.
          • Masalah melafazkan niat adalah masalah khilafiyah di kalangan ulama. Sebagian membid”ahkannya, sebagian membolehkannya, sebagian lain bahkan menganggapnya mustahab, terutama bagi yang merasa was-was. Bahkan para ulama dalam satu mazhab pun punya pendapat yang berbeda-beda dalam masalah ini.
          • Maka sikap saling menyalahkan apalagi sampai bermusuhan dengan sesama muslim untuk urusan seperti ini justru merupakan sikap yang kurang dewasa. Kita sebaiknya tidak terjebak kepada permusuhan, apalagi sampai saling mengejek, saling melecehkan atau saling memboikot saudara kita sendiri.
          • Serahkan urusan ini kepada ulama yang ahli di bidangnya. Kalau ternyata mereka pun berbeda pendapat, memang demikian lah keterbatasan kita. Sebagai muqallid (orang yang bertaqlid) kepada para ulama, maka kita tetap harus bersikap santun, hormat, dan menghargai berbagai perbedaan pendapat di kalangan mereka.

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Yang Sebenarnya Harus Diucapkan Saat Idul Fitri ?

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Yang Sebenarnya Harus Diucapkan Saat Idul Fitri ?

          Assalamualaikum wr wb

          • Setiap menyambut hari raya idul fitri, kebanyakan kaum muslim mengirimkan ucapan selamat Lebaran berbunyi ” Taqabalallahu Minna waminkum, shiyamana washiyamakum. Minal aidin wal faidzin.” 
          • APA SEBENARNYA MAKNA DAN ARTI arti kata-kata di atas.
          • Bagaimanakah yang seharusnya diucapkan swsuai tuntunan Rasulullah

          Wassalam wr wb

          Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh

          • Taqabballahu itu artinya semoga Allah mengabulkan. Minaa wa minkum berarti dari kami dan dari anda. Shiyamana wa shiyamakum berarti puasa kami dan puasa anda
          • Lafadz minal a’idin wal faidzin merupakan doa yang terpotong, arti secara harfiyahnya adalah: termasuk orang yang kembali dan menang. Lafadz ini terpotong, seharusnya ada lafadz tambahan di depannya meski sudah lazim lafadz tambahan itu memang tidak diucapkan. Lengkapnya ja”alanallahu minal a”idin wal faidzin, yang bermakna semoga Allah menjadi kita termasuk orang yang kembali dan orang yang menang. Sering kali orang salah paham, dikiranya lafadz itu merupakan bahasa arab dari ungkapanmohon maaf lahir dan batin. Padahal bukan dan merupakan dua hal yang jauh berbeda.
          • Lafadz taqabbalallahu minna wa minkum merupakan lafadz doa yang intinya kita saling berdoa agar semua amal kita diterima Allah SWT. Lafadz doa ini adalah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita selesai melewati Ramadhan.
          • Sebenatnya  yang diajarkan sebenarnya bukan bermaaf-maafan seperti yang selama ini dilakukan oleh kebanyakan bangsa Indonesia. Tetapi yang lebih ditekankan adalah tahni”ah yaitu ucapan selamat serta doa agar amal dikabulkan. Meski tidak diajarkan atau diperintahkan secara khusus, namun bermaaf-maafan dan silaturrahim di hari Idul Fithri juga tidak terlarang, boleh-boleh saja dan merupakan ”urf (kebiasaan) yang baik. Di luar Indonesia, belum tentu ada budaya seperti ini, di mana semua orang sibuk untuk saling mendatangi sekedar bisa berziarah dan silaturrahim, lalu masing-masing saling meminta maaf. Sungguh sebuah tradisi yang baik dan sejalan dengan syariah Islam.

          Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Ramadhan Syaitan Dibelenggu apa maknanya ?

          100 PERTANYAAN RAMADHAN: Ramadhan Syaitan Dibelenggu apa maknanya ?

          Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

          • Apakah malam Lailatur Qadar itu sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan Atau sepanjang malam bulan Ramadhan? 
          • Apakah maknanya bahwa Syetan pada bulan Ramadhan diikat atau dibelenggu? Apa maknanya secara haqiqi atau kias? 
          • Memang secara otomatis orang yang berpuasa lebih cenderung untuk tidak melakukan perbuatan yang berdosa karena merasa terikat dengan keadaan mereka yang sedang berpuasa? 
          • Walaupun tidak dipungkiri tetap ada yang melakukannya, walhasil yang tanpa disadari fasilitas-fasilitas syetan untuk menggoda manusia yang berpuasa itu menjadi berkurang.

          Wassalamu alaikum wr. wb.

          Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          • Hadis-hadis yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan Ramadhan adalah hadis shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain.
          • Dari Abu Hurairah Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari No. 1898 dan Muslim 1079)
          • Sedangkan mengenai maknanya, ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadhan:
          1. Tidak Bisa Leluasa Mengganggu dan Mencelakakan Manusia.  Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan terbelenggunya syetan adalah bahwa syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya. Karena di bulan Ramadha umumnya orang-orang sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Dan kegiatan mereka ini membuat syetan menjadi terbelenggu untuk leluasa menggoda dan mencelakakan manusia. Ruang gerak mereka menjadi lebih terbatas, dibandingkan dengan har-hari di luar bulan Ramadhan.
          2. Yang Dibelenggu Hanya Syetan yang Membangkang. Sedangkan pendapat lain lagi mengatakan bahwa yang dibelenggu bukan semua syetan, melainkan hanya sebagiannya saja. Mereka adalah syetan-syetan yang membangkang, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang.”
          3. Ketidak-mampuan Syetan Menggoda dan Menyesatkan Manusia. Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidak-mampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban. Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan. Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas. Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya. Dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia. (Fathul Bari IV/ 114-115, ‘Umdatul Qari X/386 dan Ikmalul Mu’lim IV/6)
          4. Terhalangi dari Mencuri Dengar Berita dari Langit. Sedangkan pendapat lainnya lagi seperti apa yang dikatakan oleh Al-Hulaimi, di mana beliauberpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit. Malam bulan Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an, mereka pun terhalangi untuk melakukan dengan adanya “belenggu” tersebut. Maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).

          Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

          « Entri Lama