Category Archives: Tak Berkategori

Kisah Ashabul Kahfi Dalam Quran : 7 Pemuda dan Anjing Tertidur 309 Tahun

Kisah Ashabul Kahfi dan Anjing Dalam Al-Quran

Pada awalnya penduduk negeri Efesus beriman kepada Allah. Tapi keadaan berubah setelah Raja Diqyanus (Decius) yang menguasainya. Kekejamannya yang luar biasa telah membuat banyak rakyat sengsara. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, akan segera dibunuh. Dalam masa yang cukup lama, sebagian besar rakyat patuh kepada Raja dengan menyembah selain Allah.

Demi mempertahankan keislaman dan keimanan kepada Allah Ta’ala, 7 pemuda Ashabul Kahfi dan seekor anjing, memilih untuk mengasingkan diri serta bersembunyi dalam sebuah gua. Mereka teguh mempertahankan aqidah mereka walaupun menyadari nyawa dan diri mereka mungkin terancam dengan berbuat demikian.

Pada saat mereka beristirahat di dalam gua itulah, Allah s.w.t. menidurkan 7 pemuda tersebut selama 309 tahun. Allah s.w.t. membolik-balikkan tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit, condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri. Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari kejaran Raja Diqyanus yang kejam dan tidak mengakui adanya Allah Yang Maha Sempurna.

Ashabul Kahfi Bangun Dari Tidur

Setelah 309 tahun tersebut, Allah s.w.t. membangunkan 7 pemuda Ashabul Kahfi. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati.” Salah satu anggota Ashabul Kahfi bernama Tamlikha berkata: “Aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan”. Setibanya di sebuah pasar, ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”. “Ephesus,” sahut penjual roti.
Penjual Roti berkata kepada Tamlikha: “Alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja.” “Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini kudapatkan tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga 3 dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanus!”
Penjual roti itu marah. Tamlikha lalu ditangkap dan dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Tamlikha menjelaskan: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun!
Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”
“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu
nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan.
Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”
“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertaiku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi.
Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di
kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “ inilah rumahku!”

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut
usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan
mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Dia terperanjat
ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
“Aku Tamlikha anak Filistin!”
Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Engkau adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanus, raja durhaka.”
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja, Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua Al-Kahfi.

Pada masa itu Negeri Ephesus diatur oleh dua orang bangsawan istana. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanus datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini.
Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!” Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanus!” Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanus? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” “Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka. “Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun!

“Diqyanus sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!” Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?” “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya. “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang, cabutlah nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!” Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas.

Setelah kematian 7 pemuda dan anjing Ashabul Kahfi tersebut, dibangunlah di sisi gua tersebut sebuah bangunan masjid dan tugu sebagai peringatan demi menyembah dan membesarkan nama Allah Ta’ala.

Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Jundallah (Arab: جند الله ) adalah para malaikat perang yang membantu nabi Muhammad dan pasukannya di dalam peperangan.

Wujud Jundallah

Menurut kisah Islam, ketika Muhammad sedang melihat-lihat suasana alam Langit Pertama (ar-Rafii’ah), dikatakan bahwa ia telah melihat sosok malaikat yang sangat besar sekali ukurannya, malaikat itu sedang menunggangi kuda yang berasal dari cahaya dan berbusana cahaya. Malaikat yang besar itu dikelilingi oleh 70 ribu malaikat yang berbusanakan berbagai busana dan perhiasan, masing-masing mereka memegang tombak yang tebuat dari cahaya dan mereka itulah yang disebut sebagai Jundallah (Tentara Allah).

Sebuah hadits dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, menuliskan kisah Sa’ad bin Abi Waqqas yang telah melihat melihat dua sosok pria asing yang mengenakan pakaian putih, berada di sisi kanan dan kiri Muhammad. Kedua pria asing itu membantunya pada perang Uhud, mereka adalah Malaikat Jibril dan Mikail.[1]

Membantu peperangan

Menurut kisah Islam, pada saat itu para muslimin mendapatkan keadaan pada bulan yang sangat berat, dimana para muslim memperoleh kemenangan besar, pertempuran pertama adalah pada saat Perang Badr, yang terjadi pada 17 Ramadhan, pada saat diturunkannya Al Qur’an. “Membuat sebuah norma untuk membedakan mana yang benar dan salah.” Hari dimana dua kekuatan bertemu.

Dalam pertempuran ini, ketika jumlah para muslimin tidaklah banyak, tidak bersenjatakan dengan lengkap dan tidak ada persiapan sama sekali. Ketika itu mereka ingin menangkap sebuah kafilah Quraisy yang dalam perjalanannya kembali dari Syria, yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Penangkapan ini bertujuan untuk mengambil harta-harta yang telah dirampas oleh pihak Quraisy dan menggantikannya, secara terpaksa mereka keluar dari kampung halaman mereka dan mereka hanya percaya dengan bantuan Allah.

Ketika Abu Sufyan mengetahui bahwa para muslimin datang, dia mengubah arah kafilahnya dan melarikan diri, kemudian mengerahkan penduduk Mekkah sebanyak 950 pasukan dan 700 unta dan langsung bergerak ke arah Madinah, untuk berhadapan langsung dengan para muslimin di Badr, dengan tujuan untuk menyerang para muslimin dan menghentikan penyebaran Islam.

Ketika itu para muslimin tidak memiliki persiapan untuk perang dan Muhammad sedang berunding dengan mereka, ia mendengar kalimat-kalimat yang membuatnya senang dari pihak Muhajirin dan Anshar. Said bin Muadz seorang pemimpin Anshar berkata, “Saya bersumpah kepada Zat menggenggam jiwa ku di tangan-Nya, jika senandainya engkau (Muhammad) menyeberangi lautan, maka kami akan mengikutimu, dan jika engkau bergerak ke Barkil Ghimad (negeri yang jauh), kami akan mengikutimu dan tidak ada satupun dari kami yang akan menetap disini. Kami selalu sabar selama peperangan, serius dan jujur dalam konfrontasi dan kami berharap untuk menunjukkan niat baik kami untuk menyenangkan anda, majulah dengan rahmat Allah.”

Al Miqdad bin Amr, “Ya Rasulallah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti perkataan Bani Israel kepada Musa.” “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu, sementara kami akan duduk disini saja.” “Tetapi kami akan mengatakan, “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu dan kami akan bertarung disampingmu pula.”

Menurut syariat Islam, akhirnya pertempuran itu dimulai dengan persekutuan antara Tentara Bumi (muslimin) dengan bantuan Tentara Surga (malaikat Allah) dan banyak kejadian-kejadian yang diluar masuk akal. Para malaikat ini disebutkan dalam firman Allah diantaranya dalam surah berikut dibawah ini, yang berbunyi:

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Al-Imran 3: 125)”

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Al-Anfaal 8: 9 – 12)”

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At-Taubah 9: 26)”

“…Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri… (Al-Mudatsir 74: 31)”

Seorang prajurit muslim berkata kepada Muhammad bahwa ia telah melihat malaikat sedang bertempur disisinya, sambil menunggang kuda tetapi kaki kuda itu tidak pernah menyentuh tanah. Menurut kisah Islam, kemenangan ada dipihak tentara Islam, jatuh korban dipihak tentara Islam dinyatakan hanya 14 jiwa, sementara itu dipihak Quraisy telah jatuh korban sebanyak 70 jiwa dan 70 jiwa ditangkap sebagai tawanan perang.

Sumber

  1. Kisah dari Sa’d bin Abi Waqqash, beliau berkata: “Aku melihat dua orang laki-laki memakai baju putih di sebelah kanan dan sebelah kiri Rasulullah pada perang Uhud. Aku sama sekali belum pernah melihat kedua orang itu sebelum maupun sesudahnya, yaitu Jibril dan Mikail.” HR. Al-Bukhari no. 4054 dan Muslim no. 2306.

  2. Jatuhnya korban jiwa pihak Muslim sebanyak 14 jiwa.

Kisah Lengkap Wali Songo Dalam Penyebaran Agama islam Di Indonesia

wp-1558248245319..jpg
Kisah Wali Songo Dalam Penyebaran Agama islam Di Indonesia

Walisongo atau sembilan orang wali adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik
Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti
juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan
abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa
Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.
Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada
masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian,
kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Ilam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

  1. Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
  2. Sunan Ampel. Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang) Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
  3. Sunan Giri Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit-konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
  4. Sunan Bonang Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
  5. Sunan Kalijaga Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
  6. Sunan Gunung Jati. Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
  7. Sunan Drajat Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
  8. Sunan Kudus. Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
  9. Sunan Muria Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

wp-1558248369742..jpg

Paul Pogba si Bintang Manchester United, Ungkapkan Alasannya Masuk Islam

Bintang Manchester United, Paul Pogba, mengaku bahwa Islam telah telah membuka pikirannya dan menjadikan dirinya lebih baik. Paul Pogba adalah salah satu pesepak bola ternama yang memeluk agama Islam di Manchester, Inggris. Menjadi kaum minoritas, Paul Pogba bercerita alasan kuat yang membuat dirinya memeluk agama Islam ketika hadir dalam sebuah acara podcast bertajuk Life Times.

Pogba mengaku telah banyak merenung atas apa yang ia capai selama ini, sebelum memilih memeluk agama Islam. Menurut gelandang Manchester United itu, ia merasa lebih damai sejak memutuskan untuk menjadi mualaf.
Perasaan damai itu didapat Pogba setelah ia mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Pemain timnas Prancis itu kemudian meneliti agama dan mengikuti sejumlah temannya yang taat melaksanakan perintah ajaran Islam. Pogba mengatakan, bahwa keputusannya menjadi seorang mualaf telah mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih baik.

Paul Pogba

Paul Labilé Pogba adalah seorang pemain sepak bola profesional Prancis yang bermain untuk klub Liga Utama Inggris, Manchester United dan tim nasional Prancis. Ia berposisi sebagai gelandang tengah dan nyaman dalam bermain baik menyerang dan bertahan.

Pogba digambarkan oleh klubnya Manchester United sebagai pemain yang “kuat, terampil, dan kreatif”.[4] Setelah ia pindah ke Juventus F.C. ia mendapatkan julukan Il Polpo Paul (merujuk kepada “Paul si Gurita”) karena kakinya yang panjang dan terlihat seperti tentakel ketika melakukan tackle ataupun saat berlari. Selama berkarier di Italia, Pogba menjadi salah satu pemain muda paling menjanjikan di dunia, dan menerima penghargaan Golden Boy pada 2013 dan Penghargaan Bravo pada 2014. Pada 2016, Pogba masuk ke dalam UEFA Team of the Year 2015, serta FIFA FIFPro World XI 2015, setelah membantu Juventus mencapai Final Liga Champions UEFA 2015 untuk pertama kalinya setelah 12 tahun sebelumnya.
Setelah penampilannya yang baik bersama Juventus, dia kembali ke Manchester United pada 2016 dengan rekor biaya transfer tertinggi pada saat itu, yakni senilai €105 juta (£89,3 juta).[6] Biaya tersebut masih menjadi biaya tertinggi yang dibayar oleh suatu klub dari Inggris.[7]Pada musim pertamanya setelah kembali, dia memenangkan Piala Liga dan Liga Europa.

Pogba telah mewakili negaranya pada semua tingkatan umur tim nasional. Bersama tim nasional U-16, dia menjadi kapten bagi negaranya dalam kemenangan di Piala Aegea dan Tournoi du Val-de-Marne, dan pada level tim nasional U-17 ia bermain pada Kejuaraan Sepak Bola U-17 Eropa UEFA 2010. Dia melakukan debut untuk tim nasional senior Prancis pada 22 Maret 2013 dalam kemenangan 3–1 melawan Georgia. Dia kemudian tampil dengan baik di Piala Dunia FIFA 2014 dan memenangkan Penghargaan Pemain Muda Terbaik. Dia kemudian mewakili negaranya pada Piala Eropa 2016 yang bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara dan menjadi juara kedua, sebelum memenangkan Piala Dunia FIFA 2018 setelah mencetak gol dalam pertandingan final.

Kembali ke Manchester United

Musim 2016–2017

Pada 8 Agustus 2016, Pogba kembali ke klub lamanya, Manchester United, dengan kontrak lima tahun dan memecahkan rekor biaya transfer tertinggi pada saat itu senilai €105 juta (£89,3 juta) ditambah dengan bonus €5 juta, melampaui pemegang rekor sebelumnya Gareth Bale. Agen Paul Pogba, Mino Raiola, menerima €27 juta dari Juventus saat Pogba bergabung kembali ke Manchester United; Juventus mengungkapkan bahwa biaya tersebut merupakan biaya tambahan, sebesar €26,154 juta. The Football Associationmengumumkan bahwa Pogba terkena suspensi dari laga pembuka Premier League musim 2016–2017 melawan Bournemouth karena akumulasi dua kartu kuning dari musim sebelumnya di Coppa Italia saat membela Juventus. Pada 19 Agustus, dia memulai debutnya sejak kembali ke klub dalam pertandingan Premier League melawan Southamptondengan kemenangan kandang 2–0.

Setelah kekalahan kandang 2–1 dalam derby Manchester pertama musim ini pada 10 September, Pogba dikritik karena kurang disiplin dalam memanfaatkan posisi oleh pakar Jamie Carragher. Akan tetapi, Pogba kembali dalam kondisi terbaiknya dan mencetak gol pertama di Premier League melalui sundulan kepala ke gawang juara bertahan Leicester Citydengan kemenangan kandang 4–1 pada 24 September. Dia kemudian mencetak dua gol, yakni gol pertama dari titik penalti dan gol kedua dengan sepakan dari jauh, dalam pertandingan Liga Europa melawan Fenerbahçe dengan hasil imbang pada 20 Oktober. Manajer José Mourinho membela Pogba setelah pertandingan dan mengkritik “Einstein” sepak bola karena terlalu cepat menilai pemain.

Pogba bermain melawan FC Rostov di Rusia, Maret 2017

Pada 26 Januari 2017, Pogba mencetak gol di leg kedua melawan Hull City dengan kekalahan tandang 2–1 dalam babak semi-final, tetapi membuat Manchester United lolos ke babak final dengan skor agregat 3–2. Pada 24 Mei, Pogba mencetak gol pada menit ke-18 dalam pertandingan final Liga Europa melawan klub Belanda AFC Ajax, yang menjadi gol kemenangan saat Manchester United mengalahkan Ajax 2–0 sekaligus memenangkan trofi kontinental pertama bagi United setelah sembilan tahun terakhir. Manchester United mengakhiri musim Premier League 2016–2017 di peringkat keenam, sementara Pogba terlibat dalam 30 pertandingan, mencetak lima gol, dan memberikan empat assist.

Musim 2017–2018

Pogba mencetak gol keempat dalam kemenangan 4–0 atas West Ham United di laga pembuka musim Permier League 2017–2018.[108] Selama pertandingan Babak grup Liga Champions UEFA 2017–2018 melawan Basel dengan mengalahkan Basel 3–0, Pogba mengalami cedera hamstring kiri dan diperkirakan akan melewatkan delapan pertandingan. Dia kembali bertanding pada 18 November saat Manchester United menang 4–1 atas Newcastle United, memberi assist kepada Anthony Martial melalui umpan silang dari samping dan mencetak gol ketiga untuk United. Dalam pertandingan pertamanya pada tahun 2018, yakni pada 1 Januari, Pogba memberikan assist untuk dua gol saat Manchester United mengalahkan Everton dengan skor 2–0. Sepanjang bulan berikutnya, Pogba menjadi subjek kritikan karena kurang disiplin dan tidak menjalankan tugasnya dalam pertahanan. Dia absen dari beberapa pertandingan penting demi Scott McTominay, termasuk kemenangan 2–1 atas Liverpool dan hanya digunakan sebagai pemain pengganti saat timnya tersingkir dari Liga Champions di babak 16 besar oleh Sevilla pada bulan Maret.

Sehari sebelum derby Manchester, manajer Manchester City Pep Guardiola mengklaim bahwa agen Pogba, Mino Raiola, telah menawarkan Pogba untuk bermain di pihak Manchester City, tetapi Raiola menyangkalnya.[114] Dalam pertandingan derby di Etihad Stadium pada 7 April, Pogba mencetak dua gol segera setelah Manchester United kebobolan dua gol di babak pertama, yang berakhir dengan kemenangan Manchester United 3–2 atas rivalnya. Kemenangan ini juga mencegah Manchester City mengamankan gelar juara Premier League, walau pada akhirnya Manchester City menjadi juara Premier League dan Manchester United mengakhiri musim sebagai runner-up. Pada pertandingan Final FA Cup 2018melawan Chelsea, timnya dikalahkan 1–0. Pada saat itu, Pogba gagal memanfaatkan peluang menyeimbangkan kedudukan melalui sundulan kepala di dalam kotak penalti.

Musim 2018–2019

Karena absennya kapten tim Antonio Valencia, Pogba mengambil alih jabatan kapten tim untuk sementara waktu dalam pertandingan pembuka musim 2018–2019. Setelah serangkaian hasil pertandingan yang mengecewakan, Mourinho mengumumkan bahwa Pogba tidak akan menjadi kapten tim lagi. Di akhir September, Pogba dan Mourinho diketahui terlibat pertengkaran selama sesi latihan, meski Mourinho menyatakan bahwa “tidak ada masalah” di antara keduanya

Khotbah Jum’at Pilihan: Motivasi Agar Segera Menikah dan Mempermudah Pernikahan

Khotbah Jum’at Pilihan: Motivasi Agar Segera Menikah dan Mempermudah Pernikahan

Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، فَبَلَّغَ الرِسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَسْأَلُ اللهَ – تَعَالَى – بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنِ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ، إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، وَاشْكُرُوْهُ ﴿أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [الروم: 21].
Ayyuhal ikhwah,
Sesungguhnya pernikahan adalah kenikmatan yang besar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya baik laki-laki maupun perempuan. Allah telah menghalalkan pernikahan, memerintahkannya, dan mencintai amalan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (QS. An-Nisa: 3)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kemampuan hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membantah sekelompok orang yang mengatakan: Orang pertama mengatakan, “aku akan shalat dan tidak tidur”. Yang kedua mengatakan, “Aku akan terus berpuasa dan tidak berbuka”. Orang ketiga mengatakan, “Aku akan meninggalkan perempuan dan tidak akan menikah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Ayyuhal ikhwah,
Selain sunnah dari penutup para nabi dan rasul, menikah juga merupakan sunnah dari rasul-rasul lainnya sebelum Nabi Muhammad. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’du: 38).
Di dalam menikah terdapat manfaat yang besar dan kebaikan bagi jasmani. Menikah berarti merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya akan didapat rahmat, kesuksesan di dunia dan akhirat. Menikah adalah bukti mengikuti sunnahnya para nabi dan barangsiapa yang ketika di dunia meneladani para rasul kelak akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat. Menikah itu menunaikan kebutuhan, mewujudkan kebahagiaan jiwa, dan menyenangankan hati. Menikah bisa membentengi kemaluan, menjaga kehormatan, menundukkan pandangan, dan menjauhkan diri dari fitnah.
Menikah akan memperbanyak umat Islam, keunggulan kuantitas akan memperkuat umat dan menimbulkan kewibawaan di hadapan umat lainnya. Menikah akan mewujudkan kebanggaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat kelak dengan banyaknya umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ
“Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, karena sungguh aku angga dengan banyaknya jumlah kalian di hari kiamat kelak.” (HR. Ahmad, Annasa-i, dan Abu Dawud).
Menikah akan menjalin hubungan kekerabatan dan mempererat hubungan antar sesama, karena sesuatu yang sangat mempengaruhi kedekatan hubungan antar sesama adalah dekatnya nasab. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS. Al-Furqon: 54).
Yakni Allah menjadikan nasab sebagai pendekatan dan pelebur hubungan. Hal itu terjadi dengan sebab ikatan pernikahan. Menikah juga akan mendatangkan pahala karena memberikan hak kepada suami atau istri, dan kepada anak dengan cara memberikan nafkah kepada mereka (atau istri melayani suami). Menikah juga akan melapangkan rezeki dan menjadikan seseorang kaya, tidak seperti apa yang ditakutkan oleh orang-orang matrealis yang lemah keyakinan dan tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).

Di dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثلاثة حق على الله عونهم وذكر منهم الناكح يريد العفاف
“Tiga golongan yang pasti Allah menolong mereka (salah satunya): orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan.” (HR. Ahmad, An-Nasa-I, Ibnu Majal, dan yang lainnya).
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah Ta’ala mencintai pernikahan dan Dia menjajikan kehidupan yang cukup bagi pelakunya dengan firman-Nya,
إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (QS. An-Nur: 32).

Ayyuhal ikhwah,
Sesungguhnya maslahat dari pernikahan sangatlah banyak. Tidak cukup waktu bagi kita untuk menguraikan satu per satu pada kesempata yang sempit ini. Bagi siapa yang hendak mengetahuinya lebih jauh, maka sebaiknya ia menelah buku-buku para ulama yang membahas permasalahan ini. Sesungguhnya pernikahan itu adalah maslahat bagi individu dan masyarakat, dari sisi agama dan akhlak, dari tinjauan waktu sekarang maupun yang akan datang. Karena menikah mampu mencekah terjadinya mafsadat.
Ayyuhal ikwah,
Kita juga harus mengetahui hal-hal yang melatar-belakangi seseorang yang enggan menikah. Saat ini setidaknya ada dua faktor yang menonjol yang menyebabkan para pemuda meninggalkan pernikahan:
Pertama, para pemuda merasa pesimis dengan ikatan hubungan pernikahan.
Yakni, banyak anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan tidak suka dengan hubungan pernikahan dengan alasan menikah akan menghambat studi mereka. Alasan ini adalah alasan yang keliru dan terbantahkan karena menikah tidak menghalangi seseorang untuk menempuh pendidikannya atau menjadi seorang yang berprestasi dalam pendidikannya. Bahkan, terkadang menikah malah membantu kelancaran dan prestasi akademik seseorang. Apabila seseorang mendapatkan pasangan yang shalehah, keduanya saling menghormati dan mencintai, maka setiap mereka akan menolong yang lainnya dalam belajar dan menghadapi beban kehidupan. Banyak sekali orang yang menjadikan pernikahannya sebagai motivasi.
Betapa banyak pemuda, baik laki-laki maupun perempuan yang mendapatkan ketengantan pikiran dan jiwa dalam proses studi lantaran menikah. Bagi mereka yang tertipu dengan alasan buruk di atas hendaknya kembali berpikir ulang dan memperbaiki pandangan mereka. Sehingga pemahaman mereka yang keliru itu menjadi lurus kembali. Hendaknya mereka berkonsultasi dengan teman-teman atau orang-orang dekatnya, memintai pendapat mereka, dan bertanya tentang kebaikan dan ketenangan yang terdapat dalam pernikahan. Dengan perantara ini niscaya hilanglah penghalang ini.
Bagi para wanita hendaknya merenungi kembali apa yang ia peroleh dari sekolahnya yang tinggi? Lalu membandingkan dengan kebahagiaan yang ia korbankan karena menunda pernikahan. Apabila –wal ‘iyadzubillah- umurnya telah lewat batas lalu ia kehilangan kesempatan untuk menimang anak dan jadilah ia perempuan menua yang hidup sendiri. Bayangkan jika ia tidak berkesempatan berbahagia dengan kehidupannya (karena tidak menikah) dan tidak memiliki anak yang akan mendoakannya setelah ia wafat.
Kedua, hal yang juga menyebabkan para pemuda meninggalkan pernikahan adalah karena wali-wali yang zalim terhadap anak-anak perempuannya.
Mereka ini adalah para wali yang tidak takut kepada Allah, tidak menjalankan amanah yang Allah berikan kepada mereka, dan tidak memiliki rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah. Ketika ada seorang laki-laki yang sekufu agama dan penampilan fisiknya datang melamar, para wali ini berpikir berulang-ulang lalu menunda-nuda keputusannya. Pada akhirnya mereka mengatakan, anak saya masih belum cukup usia, belum ini dan itu, nanti kami musyawarahkan lagi, dll. padahal sebenarnya ia berdusta membuat-buat alasan. Sebenarnya ia ada obsesi pribadai yang tinggi, atau ia menginginkan harta yang ia bisa peroleh dari dari sang pelamar, atau bisa juga ia memiliki sikap permusuhan dan rasa benci dengan sang pelamar.
Ayyuhal ikhwah,
Sesungguhnya perwalian dalam pandangan agama adalah sebuah amanah yang wajib ditunaikan dengan cara yang baik. Ketika ada seseorang yang melamar, agamanya baik dan secara fisik ia tidak bermasalah, dan sang anak perempuan menyukainya, lalu ditolak dengan alasan-alasan dusta atau dengan alasan belum mapan dengan standar yang tinggi, ini adalah bentuk maksiat kepada Allah, mengkhianati amanah, dan menyia-nyiakan umur anak perempuan tersebut. Dan Allah akan menghisab perbuatan demikian di hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (88) إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).
Ayyuhal ikhwah,
Ada seseorang yang pernah menolak orang yang melamar anak perempuannya, karena hal ini anak perempuannya pun jatuh sakit. Ketika hendak meninggal, sang anak mengatakan kepada perempuan-perempuan yang menjenguknya, “Sampaikan salam kepada ayahku, tolong katakan padanya sesungguhnya antara dirinya dan Allah ada suatu hal yang ia akan dimintai pertanggung-jawaban pada hari kiamat. Dan hari kiamat itu tidaklah jauh”.
Renungkanlah! Betapa memprihatinkannya keadaan anak perempuan ini. Ia memperingatkan ayahnya di saat ia menghadapi kematiannya. Karena ayahnya menolak lamaran orang yang melamarnya dengan cara yang zalim. Apakah yang demikian ini ada kesan-kesan kasih sayang dan bagian dari agama? Apakah para wali ini merenungkan tindakan mereka menolak orang yang dicintai oleh anak mereka? Tidakkah orang-orang yang memiliki tanggung jawab dengan anak perempuan merenungkan ketika mereka menolak seseorang yang mampu untuk merintis rumah tangga, akhlaknya baik, dan agamanya bagus? Apakah harta yang banyak sebanding dengan kebaikan agama dan dunia anak perempuan?
Subhanallah! Betapa kelirunya orang-orang yang berpikir demikian dan betapa murungnya nasib anak perempuan yang berada di bawah tanggungan mereka. Seandainya orang yang melamar anaknya adalah seseorang ya kurang baik, maka wajar dan tidak ada dosa bagi walinya untuk menolak lamaran tersebut.
Jika ia menginginkan sumbangan yang mahal atau mas kawin yang mewah, maka anaknya bukanlah barang dagangan yang diukur dengan harta. Bukanlah maksud dari pernikahan itu untuk memperoleh harta. Cukuplah harta hanyalah perantara untuk mewujudkan hal itu saja. Wanita itu tidak bisa dibandingkan dengan barang dagangan, mereka jauh lebih mulia. Mereka adalah amanah yang agung dan bagian dari keluarganya. Ia adalah bagian dari sang ayah. Jika kita berpikir demikian, maka kita akan menganggap harta tidak ada apa-apanya. Dan berlebih-lebihan dalam mahar dan biaya pernikahan tidaklah membawa kebaikan untuk mereka.
Mari kita kembalikan permasalahan ini dengan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,
أَلا لا تُغَالُوا فِي صَدَقَاتِ النِّسَاءِ ، فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا وَتَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ لَكَانَ أَوْلاكُمْ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مَا أَصْدَقَ قَطُّ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلا مِنْ بَنَاتِهِ فَوْقَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً
“Janganlah kalian berlebihan dalam menetapkan mahar perempuan. Jika (mahar yang tinggi) ini adalah bentuk kemuliaan di dunia dan takwa di sisi Allah, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang pertama yang melakukannya. Namun beliau tidak memberikan mahar kepada istrinya dan tidak juga menetapkan untuk anak-anak perempuannya di atas 10 uqiyah.” 1 uqiyah sama dengan 40 dirham.
Ada seseorang yang diminta memberikan mas kawin dalam jumlah besar untuk pasangannya, lalu laki-laki itu pun memenuhinya namun dengan perasaan kesal. Sampai-sampai ia mengatakan, “Aku benar-benar terbebani karena dirimu. Sampai-sampai untuk menjalin hubungan kekerabatan pun harus membayar mahal”. Kalau kita berkaca kepada salaf ash-shalih, bagaimana mereka meringankan mahar dan memudahkan pernikahan, nisacaya keberkahan semakin banyak, kedua pasangan pun bisa mendapatkan kebaikan darinya. Berlebih-lebihan dalam mahar telah menyia-nyiakan banyak para pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, dan menjauhkan mereka dari pernikahan.
Ayyuhal ikhwah,
Sesungguhnya seorang laki-laki walaupun ia mampu membayar mahar yang tinggi yang ditetapkan keluarga perempuan, hal itu tetap menyiratkan rasa tidak enak di hatinya. Oleh karena itu, saya mengajak saudara-sadaura para wali, untuk meringankan mahar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً
“Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. (HR. Ahmad dan An-Nasa-i).
Ayyuhal ikhwah, wahai orang-orang yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
Sesungguhnya banyak dari para wali, baik dari kalangan ayah atau selainnya, mensyaratkan agar orang yang melamar memberikan materi kepada mereka. Ini adalah bentuk memakan harta dengan cara yang batil. Seluruh mahar, diperuntukkan bagi istri (calon pengantin perempuan), bukan kepada ayahnya, saudaranya, pamannya, atau siapapu dari kalangan walinya. Mereka tidak berhak. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. Annisa: 4).
Dan dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ عَلَى صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ (أَيْ: اَلْعَطِيَّةُ وَالْهِبَةُ) أَوْ عِدَّةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا، وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ، وَأَحَقَّ مَا أُكْرِمَ عَلَيْهِ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ وَأُخْتَهُ.
“Wanita manapun yang menikah dengan maskawin, pemberian, atau perbekalan sebelum akad pernikahan, maka itu adalah untuknya. Sedangkan yang diberikan sesudah akad pernikahan, maka itu untuk siapa yang diberikan kepada-nya. Dan kemuliaan yang paling berhak untuk diberikan kepada seorang laki-laki adalah berkaitan dengan puterinya dan saudara perempuannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya).
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, janganlah memberi syarat nominal mahar ataupun selainnya ketika hendak melangsungkan pernikahan. Tidak ada hak bagi para wali untuk melakukannya. Jika Anda para wali melakukan hal itu, maka Anda telah memperoleh harta dengan cara yang haram.
Dan bagi orang tua janganlah ia menyalah-gunakan amanah yang Allah berikan kepadanya berupa anak perempuan. Janganlah ia menjadikannya sebagai wasilah memperoleh harta tatkala hendak menikahkannya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 27-28).
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِيْنَنَا عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَأَنْ تُعِيْنَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا بِالْخُضُوْعِ لِأَوَامِرِكَ وَاتِّبَاعِهَا عَلَى الوَجْهِ الَّذِيْ تَرْضَاهُ، وَاجْتِنَابِ مَحَارِمِكَ وَالْاِبْتِعَادِ عَنْهَا يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، إِنَّكَ جَوَادٌ كَرِيْمٌ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا محمد، خَاتِمِ النَّبِيِّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الآخِرَةِ وَالأُوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى، وَخَلِيْلُهُ الْمُجْتَبَى، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ بِهُدَاهُمُ اهْتَدَى، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
أَمَّا بَعْدُ:
Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.
Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti Anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i).
Marilah kita meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam seluruh permasalahan agama kita, termasuk dalam permasalahan pernikahan. Karena pada merekalah sebaik-baik petunjuk.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَلَى الأَرْبَعَةِ الخُلَفَاءِ الأَئِمَّةِ الحُنَفَاءِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ،.
اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي دَوْرِنَا وَأَوْطَانِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَصْلِحْ بِطَانَتَهُ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ؛ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا ، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ .
اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَخُذْ بِنَوَاصِيْنَا لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90) وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾ [النحل: 90-91]، واذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على نِعَمِهِ يزِدْكم، ﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾ [العنكبوت: 45]

Sumber: khotbahjumat.com

Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin: Ulama Madinah Terkenal Di Arab Saudi

wp-1558247991708..jpg

 

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

wp-1558248369742..jpg

Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Jundallah (Arab: جند الله ) adalah para malaikat perang yang membantu nabi Muhammad dan pasukannya di dalam peperangan.

Wujud Jundallah

Menurut kisah Islam, ketika Muhammad sedang melihat-lihat suasana alam Langit Pertama (ar-Rafii’ah), dikatakan bahwa ia telah melihat sosok malaikat yang sangat besar sekali ukurannya, malaikat itu sedang menunggangi kuda yang berasal dari cahaya dan berbusana cahaya. Malaikat yang besar itu dikelilingi oleh 70 ribu malaikat yang berbusanakan berbagai busana dan perhiasan, masing-masing mereka memegang tombak yang tebuat dari cahaya dan mereka itulah yang disebut sebagai Jundallah (Tentara Allah).

Sebuah hadits dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, menuliskan kisah Sa’ad bin Abi Waqqas yang telah melihat melihat dua sosok pria asing yang mengenakan pakaian putih, berada di sisi kanan dan kiri Muhammad. Kedua pria asing itu membantunya pada perang Uhud, mereka adalah Malaikat Jibril dan Mikail.[1]

Membantu peperangan

Menurut kisah Islam, pada saat itu para muslimin mendapatkan keadaan pada bulan yang sangat berat, dimana para muslim memperoleh kemenangan besar, pertempuran pertama adalah pada saat Perang Badr, yang terjadi pada 17 Ramadhan, pada saat diturunkannya Al Qur’an. “Membuat sebuah norma untuk membedakan mana yang benar dan salah.” Hari dimana dua kekuatan bertemu.

Dalam pertempuran ini, ketika jumlah para muslimin tidaklah banyak, tidak bersenjatakan dengan lengkap dan tidak ada persiapan sama sekali. Ketika itu mereka ingin menangkap sebuah kafilah Quraisy yang dalam perjalanannya kembali dari Syria, yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Penangkapan ini bertujuan untuk mengambil harta-harta yang telah dirampas oleh pihak Quraisy dan menggantikannya, secara terpaksa mereka keluar dari kampung halaman mereka dan mereka hanya percaya dengan bantuan Allah.

Ketika Abu Sufyan mengetahui bahwa para muslimin datang, dia mengubah arah kafilahnya dan melarikan diri, kemudian mengerahkan penduduk Mekkah sebanyak 950 pasukan dan 700 unta dan langsung bergerak ke arah Madinah, untuk berhadapan langsung dengan para muslimin di Badr, dengan tujuan untuk menyerang para muslimin dan menghentikan penyebaran Islam.

Ketika itu para muslimin tidak memiliki persiapan untuk perang dan Muhammad sedang berunding dengan mereka, ia mendengar kalimat-kalimat yang membuatnya senang dari pihak Muhajirin dan Anshar. Said bin Muadz seorang pemimpin Anshar berkata, “Saya bersumpah kepada Zat menggenggam jiwa ku di tangan-Nya, jika senandainya engkau (Muhammad) menyeberangi lautan, maka kami akan mengikutimu, dan jika engkau bergerak ke Barkil Ghimad (negeri yang jauh), kami akan mengikutimu dan tidak ada satupun dari kami yang akan menetap disini. Kami selalu sabar selama peperangan, serius dan jujur dalam konfrontasi dan kami berharap untuk menunjukkan niat baik kami untuk menyenangkan anda, majulah dengan rahmat Allah.”

Al Miqdad bin Amr, “Ya Rasulallah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti perkataan Bani Israel kepada Musa.” “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu, sementara kami akan duduk disini saja.” “Tetapi kami akan mengatakan, “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu dan kami akan bertarung disampingmu pula.”

Menurut syariat Islam, akhirnya pertempuran itu dimulai dengan persekutuan antara Tentara Bumi (muslimin) dengan bantuan Tentara Surga (malaikat Allah) dan banyak kejadian-kejadian yang diluar masuk akal. Para malaikat ini disebutkan dalam firman Allah diantaranya dalam surah berikut dibawah ini, yang berbunyi:

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Al-Imran 3: 125)”

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Al-Anfaal 8: 9 – 12)”

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At-Taubah 9: 26)”

“…Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri… (Al-Mudatsir 74: 31)”

Seorang prajurit muslim berkata kepada Muhammad bahwa ia telah melihat malaikat sedang bertempur disisinya, sambil menunggang kuda tetapi kaki kuda itu tidak pernah menyentuh tanah. Menurut kisah Islam, kemenangan ada dipihak tentara Islam, jatuh korban dipihak tentara Islam dinyatakan hanya 14 jiwa, sementara itu dipihak Quraisy telah jatuh korban sebanyak 70 jiwa dan 70 jiwa ditangkap sebagai tawanan perang.

Referensi

  1. Kisah dari Sa’d bin Abi Waqqash, beliau berkata: “Aku melihat dua orang laki-laki memakai baju putih di sebelah kanan dan sebelah kiri Rasulullah pada perang Uhud. Aku sama sekali belum pernah melihat kedua orang itu sebelum maupun sesudahnya, yaitu Jibril dan Mikail.” HR. Al-Bukhari no. 4054 dan Muslim no. 2306.

  2. Jatuhnya korban jiwa pihak Muslim sebanyak 14 jiwa.

Inilah Malaikat Penjaga mekkah dan madinah

Inilah Malaikat Penjaga mekkah dan madinah

Penjaga Mekkah dan Madinah – Para malaikat yang menjaga Kota Mekkah dan Madinah dari kedatangan Dajjal.

Dalam sebuah hadits yang panjang dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini semenjak Alloh menciptakan keturunan Adam yang lebih besar daripada fitnah ad-Dajjal, dan sungguh tidaklah Alloh mengutus seorang nabi melainkan dia memberi peringatan kepada umatnya tentang ad-Dajjal …. (hingga sabdanya):…dan tidak ada suatu tempat yang tersisa di muka bumi ini melainkan akan dikunjungi ad-Dajjal kecuali Mekkah dan Madinah, segala penjuru kotanya dijaga para malaikat yang menghunus pedang.” (Shohih al-Jami’ 7875)

Malaikat penjaga pintu langit

Malaikat penjaga pintu langit

Penjaga pintu langit – Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu

Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA, “Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut. Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting ?”

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan.” Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, “hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau..”

Ia melanjutkan, “Suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa, “Puji syukur kehadirat Allah, Yang Maha Berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.”

Kemudian beliau SAW berkata, “sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah SWT.

“Hai, Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya.

Maka, Malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia, yang menganggap amal orang tersebut banyak, memuji amal-amal orang itu. Tapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah, “Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang cahayanya berkilauan. Ia juga memujinya lantaran begitu banyaknya amal tersebut. Namun malaikat di langit kedua mengatakan, “berhentilah, dan tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal seperti ini, jangan sampai lewat hingga hari berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah, puasa, dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai di langit ketiga berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga, “Tamparkanlan amal ini ke wajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. Allah memerintahkanku untuk tidak menerima orang sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang lain.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah. Tapi, ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah, “berhentilah, jangan dilanjutkan. Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang -orang yang suka ujub (membanggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub.

Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud (dengki, iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya..”

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat ia sampai di langit keenam, malaikat penjaga pintu ini mengatakan, “Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pada pintu berikutnya.”

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara’a. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat. Namun tatkala sampai di langit yang ketujuh, malaikat penjaga langit ketujuh mengatakan, “Aku ini penjaga sum’at (ingin terkenal / Riya). Sesungguhnya orang ini ingin dikenal dalam kumpulan, kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul disaat berkumpul, dan ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin.. Allah memerintahkanku agar amalnya itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah, itulah yang disebut Riya. Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya.”

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba : shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat Allah.

Para malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah SWT.

Namun Allah berfirman, ” Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan Akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak diikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian (para malaikat hafazhah). tapi Aku tak’kan tertipu olehnya.

Aku ini yang paling tahu akan hal-hal yang ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yagn akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terdahu-Ku sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apapun yang tersamar daripada rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.

Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali, “Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya.” Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan, “Tetapkanlah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.”

================= TAHANLAH MULUTMU ================

Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa aku selamat dari apa yang baru engkau ceritakan itu.?”

Rasulullah SAW menjawab, ” Wahai Mu’adz, ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.!”

Mu’adz berkata lagi, ‘Wahai Tuan, engkau adalah Rasulullah. sedangkan aku ini hanyalah si Mu’adz bin Jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”

Rasulullah SAW bersabda, “seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekkan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekkan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri engan menekan orang lain.

Jangan Riya dengan amalmu agar diketahui orang lain. Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik.

Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu.

Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat kebaikan.

Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain denga mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka jahannam, sebagaimana firman Allah, “Wannaasyithaati nasythaa.” (Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.)

Aku (Mu’adz) berkata : “Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini ?”
Jawab Rasulullah SAW, Wahai Mu’adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu.

Apabila seperti itu, engkau akan selamat, terhindah dari penderitaan itu.”

Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan hadits itu dari Mu’adz RA) mengatakan, “Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia membaca Al-Qur’an, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al-Qur’an dalam majelisnya.”

Kisah Malaikat pendengar bacaan Kitab Al Qur’an

Kisah Malaikat pendengar bacaan Kitab Al Qur’an

Pendengar bacaan Qur’an manusia ketika salat

  • Para malaikat yang mendengarkan dan menelan bacaan Qur’an ketika manusia salat.

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulallah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba bila bersiwak lalu berdiri mengerjakan shalat, maka berdirilah seorang malaikat dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya dengan seksama kemudian dia mendekatinya (atau beliau mengucapkan kalimat seperti itu) hingga malaikat itu meletakkan mulutnya diatas mulut orang yang membaca al-Qur’an, maka tidaklah keluar dari mulutnya bacaan al-Qur’an itu melainkan langsung ke perut malaikat, oleh sebab itu bersihkanlah mulut-mulut kalian untuk membaca al-Qur’an. (Dikeluarkan oleh Abdullah bin al-Mubarak dalam kitabnya az-Zuhd no. 1211, al-Mundziri dalam at-Targhiib dan at-Tarhiib dan al-Albani berkata: Hasan shahih, Shahih at-Tarhiib no. 215).

Pendengar bacaan sahabat nabi

  • Malaikat yang mendengarkan bacaan Qu’ran Usayd bin Hudhayr.

Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya. Putranya, Yahya, yang masih balita sudah lama terlelap di sampingnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, seekor kuda tertambat. Sehingga bila sewaktu-waktu ada perintah perang fisabilillah dari Rasulullah keluar, dia dapat dengan sigap menunggangnya. Di keheningan malam itu, Usaid membaca Al-Qur an dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Ayat demi ayat dia lantunkan dengan suara merdu. Ia membaca surah al-Baqarah ayat 1-4. Ketika melantunkan ayat-ayat suci tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Sampai di ujung ayat keempat al-Baqarah tersebut, Usaid menghentikan bacaannya, ingin tahu apa yang terjadi pada kudanya. Usaid tidak melihat apa pun. Bersamaan dengan berhentinya Usaid melantunkan ayat-ayat suci, kudanya kembali tenang. Usaid kembali melanjutkan bacaannya. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (al-Baqarah : 5). Kudanya kembali meronta, berputar-putar lebih hebat dari yang pertama. Usaid pun kembali menghentikan bacaannya. Kudanya kembali diam. Demikianlah terjadi berulang-ulang. Setiap kali Usaid membaca Alquran kudanya meronta, setiap kali Usaid diam kudanya juga diam. Khawatir dengan keselamatan anaknya, Usaid membangunkan anaknya. Ketika itulah dia melihat ke langit, terlihat awan seperti payung yang mengagumkan, belum pernah dia lihat sebelumnya. Esok paginya, hal itu dia ceritakan kepada Rasulullah. Rasul bersabda, yang artinya “Hai Usaid, itu malaikat yang turun mendengarkan engkau membaca Al-Quran. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah banyak orang akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup bagi mereka.” (Hadits riwayat Muslim no. 1327)

Malaikat Azh Zhil, Malaikat Penyelamat Nabi Ibrahim

Malaikat Azh-Zhil

Azh-Zhil – Malaikat yang mendampingi Nabi Ibrahim ketika berada dikobaran api.

As-Suddiy mengatakan: “Saat itu Ibrahim didampingi Malaikat azh-Zhil (Malaikat Pemberi Naungan), sehingga saat itu Ibrahim yang berada ditengah kobaran api, pada hakikatnya berada di taman hijau. Orang-orang melihatnya dan tidak mampu mencapai padanya dan ia pun tidak keluar untuk menemui mereka.” Kisah ini ditulis pada kitab ’’Qashash al-Anbiyaa’’ (Kisah Para Nabi dan Rasul), Kisah Nabi Ibrahim Al-Khalil, hal. 199. Karya Ibnu Katsir, tahqiq hadits Syekh Al-Albani.

images (26).jpegimages (24).jpegimages (23).jpeg

Wujud dan Tugas Malaikat Roqib dan Atid

Wujud dan Tugas Malaikat Roqib dan Atid

  • Malaikat ini sebenarnya dinamakan dengan Kiraman Katibin.
  • Kirâman Kâtibîn (Arab: كراماً كاتبين) adalah dua malaikat yang terletak di bahu kanan dan kiri setiap makhluk-Nya. Menurut syariat Islam, jika ada seseorang yang melakukan amal (perbuatan) yang lebih dominan, maka ia akan dikirim berdasarkan perbuatan semasa hidupnya di dunia, entah ke Jannah atau Jahannam. Para malaikat ini termasuk dalam golongan Hafazhah (Para Penjaga).
  • Tidak ada penjelasan lebih lanjut bahwa apakah nama-nama malaikat itu bernama Raqib dan Atid, yang dikenal sebagai Kirâman Kâtibîn. Pada akhir salat, umat muslim beraliran sunni selalu menghormati para malaikat ini
  • Kedua malaikat ini disebutkan dalam Al Qur’an pada surah Qaaf, Al Infithaar, Ar-Ra’du dan Az-Zukhruf, yang berbunyi: “Gerak-gerik manusia dan perkataannya dicatat oleh para malaikat dalam Al Quran Qaaf 50:”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf 16 – 18.)”
  • “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). (Al Infithaar 10 – 11)”
  • “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (Az-Zukhruf 80)”
  • “Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar-Ra’du 10-11) ”

Kitab amal manusia dan jin di Mahsyar

  • Kedua malaikat ini terkenal juga sebagai “Pencatat Yang Mulia”, mereka menjadi saksi dan telah menuliskan kitab amal manusia dan jin, kitab amal akan berterbangan dari ‘Arsy kearah leher tiap-tiap makhluk pada “Hari Penghakiman” di Mahsyar. Sesuai dengan beberapa surah di dalam Al-Qur’an, yaitu:“ Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (Qaaf 21) ”
  • “Inilah Kitab (catatan) Kami, yang menuturkan kepadamu dengan benar; karena sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat segala perbuatan yang pernah kamu kerjakan. (Al Jaatsiah 29)”
  • “Dan tiap-tiap manusia itu, telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetap nya kalung) pada lehernya, dan Kami keluarkan baginya di hari Kiamat satu kitab yang dijumpainya dengan terbuka. Bacalah kitabmu: cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu. (Al Israa’ 13-14)”

Lima malaikat bersama manusia

Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada lima malaikat yang menyertai manusia, yaitu:

  • Dua malaikat menjaga pada malam hari,
  • Dua malaikat menjaga pada siang hari, dan
  • Satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya.
  • Hal tersebut dijelaskan dengan firman Allah yang artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang bergantian (menjaganya), dimuka dan dibelakangnya. (Ar-Ra’d: 11)”
  • Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari setan dari golongan jin dan manusia. Kedua malaikat menulis amal kebaikan dan kejelekan di antara kedua bahunya, lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta dan ludahnya sebagai tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.
  • Allah Swt. berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin: “Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tsb. dengan berkata: “Sesungguhnya hambaMu si fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian.” Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah. Maka Allah Swt. berfirman pada malaikat Kiraman Katibin: “Apa yang diperbuat oleh hambaKu?” Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata: “Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang menutupi aib dan Engkau memerintahkan hamba-hambaMu agar menutupi aib-aib mereka. Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitabMu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya.” Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba. Allah Swt. berfirman: “Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib.”

Sumber:

  • Muttaqun OnLine – The Salah (Obligatory Prayer of the Muslim): According to Quran and Sunnah

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadhan

Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadhan

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِوَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى فَإِنَّ العَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ .
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Takwa adalah wasiat bagi orang-orang yang pertama demikian manusia yang paling akhir kelak di akhir zaman. Takwa adalah sebab seseorang sukses, bahagia, menang, dan memperoleh keuntungan di dunia dan akhirat kelak. Takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah amalan seorang hamba berdsarkan syariat yang ditetapkan Allah dengan berharap pahala dari-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah juga dengan bimbingan syariat-Nya disertai dengan perasaan takut akan siksa dari-Nya.
Ibadallah,

Telah kita lewati bersama sebuah masa yang penuh kemuliaan, suatu waktu dimana kita melihat banyak sekali orang-orang melakukan ketaatan, dan hari dimana orang-orang mengisinya dengan peribadatan. Dialah bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, yang hari-harinya penuh kemuliaan, dan malam-malamnya bertebar keutamaan.

Di bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan berlomba-lomba menuju pintu-pintu kebaikan. Sesungguhnya seorang mukmin merasa senang melihat orang-orang melaksanakan ketaatan dan berlomba-lomba di dalam beribadah, menegakkakn kebajikan di bulan yang agung tersebut.

Ibadallah,
Yang perlu diperhatikan seorang muslim adalah bahwasanya ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan serta sesuatu yang Allah ridhai tidak hanya terhenti di bulan Ramadhan saja atau ketaatan tersebut tidak terbatas di waktu-waktu tertentu saja. Walaupun bulan Ramadhan telah usai, namun ibadah kepada Allah tidak mengenal berhenti. Walaupun hari-hari yang penuh keberkahan telah berlalu, amalan kebajikan tidak mengenal masa waktu.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabb-mu hingga ajal menjemputmu.” (al-Hijr: 99).
Yang dimaksud denga yakin dalam ayat di atas adalah kematian. Seorang muslim dituntut untuk tetap senantiasa dalam ketaatan dan continu dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga Allah mewafatkannya. Allah Berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Y

aitu bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berlomba-lombalah dalam mendapatkan ridha-Nya, hingga kalian wafat dalam keadaan demikian. Kita ketahui bersama, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan akhir perjalanan hidupnya dan kapan ajal datang menjemputnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu bersiap diri untuk kematian yang datanganya tidak diketahui itu. Jadilah orang yang senantiasa menjaga dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan melaksanakan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan sesuai dengan kemampuan. Dan juga menjauhkan diri dari apa yang Allah larang dan haramkan.
Ibadallah,
Kita dapati sebagian orang ada yang sangat bersemangat beribadah ketika Ramadha, namun ketika Ramadha usai mereka berhenti dari ibadahnya atau mereka bermalas-malasan. Mereka tinggalkan pintu-pintu kebaikan seolah-olah ibadah itu hanya dituntut di bulan Ramadhan saja. Para salaf pernah ditanya tentang orang-orang yang keadaannya demikian, mereka menjawab,
بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ
“Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan.”
Ibadallah,
Sesungguhnya Rabb dari seluruh bulan adalah Rabb yang satu. Rabb nya bulan Syawal adalah Rabb nya bulan-bulan selainnya. Sebagaimana seseorang diwajibkan menaati Allah dan beribadah kepada-Nya di bulan Ramadhan, mereka juga diwajibkan untuk menjaga ketaatan kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu selain Ramadhan. Di setiap bulan, setiap tahun, hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mewafatkannya dalam keadaan Dia ridha kepada hamba tersebut.
Inilah makna dari firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah…”
Yakni mereka istiqomah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, mereka terus berada dalam ruang-ruang kebaikan hingga Allah mewafatkan mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keuntungan, kebahagian, dan keberhasilan di dunia dan akhirat. Karena itulah, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkan keadaan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan perbendaharaan yang agung dan besar di dunia dan di akhirat.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13).
Allah juga berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-33).
Semua hal itu hanya dipertunkkan bagi mereka yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya hingga maut menjemputnya. Saat ia wafat, Allah kabarkan bahwa para malaikat turun. Malaikat rahmat membawa kabar yang sangat menggembirakan dan menyambutnya dengan keberkahan dan kebaikan. Para malaikat itu turun kepada mereka sesaat sebelum wafat dengan memberikan kabar gembira tentang kehidupan setelah kematian mereka (alam barzah).
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“…maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih…”
Janganlah kalian takut dengan yang akan terjadi setelah kematian ini, karena balasan pahala yang besar telah kalian persiapkan sebelumnya dan ridha Allah telah kalian gapai. Jangan pula kalian bersedih tentang apa yang kalian tinggalkan, baik istri, anak-anak, karena Allah lah yang akan menjaga, melindungi, dan membimbing mereka dengan taufik dari-Nya. Mereka juga mendapat kabar gembira lainnya di saat wafat mereka,
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga.”
Di saat wafat, Allah berikan mereka kabar gembira akan surga. Surga yang telah mereka upayakan dalam kehidupan dunia. Yang mereka telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya di hari-hari kehidupan dunia dengan beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat mereka wafat Allah beri kabar gembira untuk mereka.
Tidak heran, banyak orang-orang yang menjaga ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam istiqomah, tersenyum saat ajal menjemput mereka. Tampak di wajah mereka kebahagiaan dan kesenangan. Tampak hasil yang telah mereka upayakan di hari kematian mereka. sebuah kabar yang begitu menggembirakan dan sambutan yang begitu mulia di saat hari pertama mereka memasuki alam akhirat.
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya agar mencatatkan kita termasuk orang yang akhir hayatnya dalam keadaan terpuji dan lurus. Dan kita memohon kepada-Nya taufik, pertolongan, dan keteguhan agar bisa memperolehnya.
Ibadallah,
Allah Tabaraka wa Ta’ala mewajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, namun ibadah puasa tidak hanya terdapat di bulan Ramadhan saja. Masih ada puasa-puasa sunnah. Di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia menyertainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).
Ibadallah,
Sungguh, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar dan manfaat yang banyak. Di antaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas taufik-Nya kita mampu menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan. Menysukuri nikmat atas nikmat lain yang ia berikan setelahnya. Mensyukuri taufik dimbimbing menuju ketaatan dan ketaatan setelah Ramadhan tersebut. Oleh karena itu, dalam rangka syukur kepada Allah hendaknya kita bersegera menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.
Di antara hikmah dari puasa Syawal adalah bahwa puasa enam hari di bulan Syawal menetapkan adanya hal-hal sunnah setelah suatu kewajiban. Sebagaimana shalat fardhu yang setelahnya diikuti oleh shalat sunnah sebagai penutup dan penyempurna kekurangan yang ada pada shalat fardhu. Oleh karena itu, puasa enam hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang memantapkan amalan kewajiban.
Tidak kita ragukan bahwa kita melakukan sedikit atau banyak hal-hal yang mengurangi puasa Ramadhan, maka hari-hari di bulan Syawal Allah siapkan untuk menyempurnakan dan menambal kekurangan puasa Ramadhan kita.
Di antara hikmah puasa Syawal juga adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Seakan-akan berpuasa satu tahun”. Ketahuilah, pahala kebaikan itu Allah lipat-gandakan 10 kali lipat. Puasa Ramadhan satu bulan penuh senilai dengan puasa 10 bulan. Jika kita menambahnya dengan 6 hari di bulan Syawal, maka ia setara dengan 2 bulan. Jadi, jika digabung dengan puasa Ramadhan menjadi puasa selama 12 bulan atau satu tahun penuh.
Ibdallah,
Termasuk hikmah puasa enam hari di bulan Syawal adalah tanda di antara tanda-tanda diterimanya ketaatan. Karena tanda diterimanya amalan ketaatan kita dimudahkan untuk melakukan ibadah yang lain setelahnya. Kita semua berharap agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menerima amalan puasa dan shalat kita di bulan Ramadhan. Dan tanda diterimanya suatu amalan adalah seseorang menjadi semakin taat setelahnya. Jika kita merasa bahwa diri kita pemalas sebelum Ramadhan, tapi setelah Ramadhan kita semakin taat dan giat beribadah, itulah tanda kebaikan. Jika sebelum Ramadhan kita merasa baik, semestinya setelah Ramadhan menjadi lebih baik lagi. Itulah tanda-tadan diterimanya amalan kita.
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menerima amalan kita semua; puasa, shalat, dan ibadah lainnya. Serta agar Dia memberikan kita taufik, menolong kita untuk istiqomah dalam ketaatan, menunjuki kita jalan yang lurus, dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk.

Inilah Bahaya Illuminati, Bagi Umat Muslim Modern

Saat ini umat Muslim Indonesia dihebohkan masjid yang dirancang dan dibangun dengan arsitektur tidak biasa yang didominasi ornamen segitiga. Ridwan Kamil gubernur Jawa barat adalah sosok di belakang yang berperanan dengan bentuk ornamen masjid itu. Adalah ustadz Ahmad Baekuni yang mengluarkan video yang menjadi viral di medsos bahwa umat Muslim harus mewaspadai lambang illuminati dalam arsitektur masjid itu. Apakah illuminati itu ? Illuminati adalah kelompok persaudaraan rahasia yang sangat tertutup. Menurut Wikipedia, Illuminati berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan, adalah nama yang diberikan kepada organisasi persaudaraan rahasia kuno yang pernah ada dan diyakini masih tetap ada sampai sekarang, walaupun tidak ditemukan bukti-bukti nyata tentang keberadaan organisasi persaudaraan ini. Illuminati diyakini merupakan suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bertujuan menguasai dunia di bawah kepemimpinan kaum Zionis dan menghapuskan semua agama yang ada, dengan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Illuminati merupakan nama yang merujuk pada beberapa kumpulan, Pada awalnya, istilah itu merujuk secara khusus kepada IlluminatiBavarian, sebuah pertubuhan rahsia era Pencerahan masyarakat yang ditubuhkan pada 1 Mei1776, Di zaman moden ini ia digunakan untuk merujuk kepada organisasi yang diiktiraf persekongkolan yang bertindak sebagai bayang-bayang “kuasa di balik takhta”, dipercayai mengendalikan urusan dunia melalui kerajaan dan syarikat hari ini. biasanya sebagai inkarnasi moden atau kelanjutan dari Bavarian Illuminati. Dalam konteks ini, Illuminati sering digunakan dalam rujukan New World Order (NWO). Banyak teori konspirasi percaya, bahawa Illuminati adalah dalang peristiwa-peristiwa yang akan mendorong pada pembentukan New World Order.

Secara historis, nama illuminati ini merujuk kepada illuminati Bavaria, yaitu sebuah kelompok rahasia pada zaman pencerahan di Eropa yang didirikan pada 1 Mei 1776 M di Ingolstadt (Bavaria Atas) dengan nama Ordo Illuminati. Anggota awalnya sebanyak lima orang dan di pelopori Adam Weishaupt, keturunan Yahudi yang lahir dan besar di Ingolstadt dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit.
Tetapi, ada juga penelitian yang menyebutkan, organisasi Illuminati ini sudah ada jauh sebelum masa Adam Weishaupt. Menurut penelitian ini, illuminati merupakan organisasi rahasia Yahudi yang bergerak di bawah tanah, menjalankan segenap agenda Zionisme yang didasarkan pada ajaran Qabala, yaitu ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun.

Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Qabala putih, yaitu salah satu ordo Qabala yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Qabala dalam me nyem bah Lucifer. Mereka merumuskan, misi Qabala adalah menentukn arah pera,jgdaban manusia guna membentuk “tatanan dunia baru” ( Novus ordo seclorum) dan “Pemerintahan Satu Dunia” ( E Pluribus Unum) di bawah kepemimpinan kaum Yahudi.

Di antara salah satu tujuan organisasi ini adalah menghapuskan semua agama yang ada. Dan menurut penelitian yang disebutkan di atas, Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion (protokol tokoh-tokoh zionisme) yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis.

Bahaya Iluminati

Dari keterangan dan gambaran ringkas tentang illuminati, merupakan suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bertujuan menguasai dunia di bawah kepemimpinan kaum Zionis dan menghapuskan semua agama yang ada, dengan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Seperti sudah menjadi rahasia umum, para tokoh illuminati menguasai sebagian besar ekonomi dunia, yang dengan itu mereka bisa mengatur dan mengarahkan pemerintahan negara-negara di dunia. Salah satu cara dan jalan mereka memengaruhi akal dan pola pikir masyarakat dunia adalah melalui industri musik dan film.

Di sinilah umat Islam harus menyadari bahayanya menjadikan artis dan penyanyi Hollywood sebagai idola dan role model dalam perilaku, fashion, dan gaya hidup karena kebanyakan mereka membawa dan menyisipkan ajaran serta gaya hidup yang diinginkan oleh kaum Zionis bagi masyarakat dunia sehingga bisa mereka kuasai.

Mereka kerap menggunakan selebritas untuk memengaruhi masyarakat dunia dengan musik, aksi panggung, dan gaya hidupnya yang mengumbar seks dan pornografi serta gaya hidup bebas nilai dan agama. Kalau umat Islam tidak waspada tentu akan sangat berbahaya terhadap generasi muda kita, yang sekarang ini kita lihat sudah begitu jauh dari ajaran Islam.

Tetapi, sebagai umat Islam yang percaya akan janji Allah SWT bahwa masa depan itu bagi kegemilangan Islam dan umatnya, kita tidak boleh takut. Yang dituntut dari kita adalah kewaspadaan sebagai umat untuk terus berusaha men jadi generasi yang selalu berada dalam kebenaran dan tidak terpengaruh dengan mereka yang mengecewakan dan menghinakan kita.

Kita pun mesti mempersiapkan diri dan keluarga agar bisa menjadi generasi rabbani yang menerapkan nilai-nilai Islam. Diriwayatkan dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berjalan di atas kebenaran, tiada sedikit pun terpengaruh orang yang menghina mereka, hingga datangnya keputusan Allah’.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Alquran menjelaskan, kaum Yahudi akan selalu menimbulkan api peperangan di antara bangsa di dunia ini dan menjerumuskan masyarakat dunia. Namun sebagai Muslim, kita meyakini jika kita beriman kepada Allah SWT maka Dia menjadikan kita berkuasa di muka bumi ini.

‘’Dan Allah telah berjanji kepada orangorang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia suguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka ber kuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.’’ (QS. Al- Nur [24]: 55).

Dari keterangan dan gambaran ringkas tentang illuminati, dapat kita ambil kesimpulan bahwa ia merupakan suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bertujuan menguasai dunia di ba wah kepemimpinan kaum Zionis dan menghapuskan semua agama yang ada, dengan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Seperti sudah menjadi rahasia umum, para tokoh illuminati menguasai sebagian besar ekonomi dunia, yang dengan itu mereka bisa mengatur dan mengarahkan pemerintahan negara-negara di dunia. Salah satu cara dan jalan mereka memengaruhi akal dan pola pikir masyarakat dunia adalah melalui industri musik dan film.

Di sinilah umat Islam harus menyadari bahayanya menjadikan artis dan penyanyi Hollywood sebagai idola dan role model dalam perilaku, fashion, dan gaya hidup karena kebanyakan mereka membawa dan menyisipkan ajaran serta gaya hidup yang diinginkan oleh kaum Zionis bagi masyarakat dunia sehingga bisa mereka kuasai.
Mereka kerap menggunakan selebritas untuk memengaruhimasyarakat dunia dengan musik, aksi panggung, dan gaya hidupnya yang mengumbar seks dan pornografi serta gaya hidup bebas nilai dan agama. Kalau umat Islam tidak waspada tentu akan sangat berbahaya terhadap generasi muda kita, yang sekarang ini kita lihat sudah begitu jauh dari ajaran Islam.

Tetapi, sebagai umat Islam yang percaya akan janji Allah SWT bahwa masa depan itu bagi -kewaspadaan sebagai umat untuk terus berusaha men jadi generasi yang selalu berada dalam kebenaran dan tidak terpengaruh dengan mereka yang mengecewakan dan menghinakan kita.

Kita pun mesti mempersiapkan diri dan keluarga agar bisa menjadi generasi rabbani yang menerapkan nilai-nilai Islam. Diriwayatkan dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berjalan di atas kebenaran, tiada sedikit pun terpengaruh orang yang menghina mereka, hingga datangnya keputusan Allah’.” (HR Bukhari dan Musllim)

Alquran menjelaskan, kaum Yahudi akan selalu menimbulkan api peperangan di antara bangsa di dunia ini dan menjerumuskan masyarakat dunia. Namun sebagai Muslim, kita meyakini jika kita beriman kepada Allah SWT maka Dia menjadikan kita berkuasa di muka bumi ini.

‘’Dan Allah telah berjanji kepada orangorang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia suguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka ber kuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.’’ (QS. Al- Nur [24]: 55).

Asbabun Nuzul Surat An Nasr: Mereka Berbondong bondong Masuk Islam

Surat An-Nasr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙiżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-ḥApabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
  2. وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙwa ra`aitan-nāsa yadkhulụna fī dīnillāhi afwājādan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
  3. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًاfa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastagfir-h, innahụ kāna tawwābāmaka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

Asbabun Nuzul

Abdurrazzaq meriwayatkan dalam kitabnya dari Muammar dari Zuhri yang berkata, “Ketika Rasulullah memasuki kota Mekkah pada hari pembebasan (yaum al-fath), beliau mengirim Khalid bin Walid dan pasukannya ke pinggir kota Mekkah untuk memerangi kaum Quraisy. Allah lalu menghancurkan orang-orang musyrik itu. Rasulullah lantas memerintahkan untuk melucuti persenjataan mereka. Selain itu, beliau memaafkan dan melepaskan mereka kembali. Akhirnya, mereka berbondong-bondong masuk Islam. Allah lalu menurunkan ayat ini.”

NIAT 10 PUASA SUNAH

NIAT PUASA SUNAH

  1. Puasa hari Senin dan Kamis
    Amal perbuatan seorang hamba akan diaudit (diperiksa) setiap hari Senin dan Kamis.
    Karena itu, alangkah mulianya seorang hamba jika ketika datang hari audit keadaannya tengah berpuasa. (HR. Tirmidzi)
    Niat Puasa Senin – Kamis
    نويت صوم يوم الاثنين سنة لله تعالى
    ” NAWAITU SAUMA YAUMUL ISNAIN SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
    Artinya :
    “ Saya niat puasa hari Senin, Sunnah karena Allah ta’ala.”

  2. Puasa 6 (enam) hari dalam bulan Syawal
    Puasa ini dilaksanakan pada bulan Syawal setelah Ramadhan, yakni tanggal 2-29 Syawal (HR. Muslim).
    Puasa ini dilaksanakan selama enam hari. Tak ada satu keterangan pun yang menjelaskan apakah puasa tersebut dikerjakan berturut-turut atau terpisah-pisah. Hal ini menunjukkan bahwa kita diberi kebebasan untuk menentukan sendiri (apakah mau berturut-turut atau terpisah-pisah), itu semua bergantung pada situasi dan kondisi per individu, yang penting harus dilakukan pada bulan Syawal.
    Niat Puasa Syawwal

نويت صوم شهر شوال سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan Syawwal , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa Tasu’a dan Asyura
    Puasa Tasu’a dan Asyura dilaksanakan tanggal 9 dan 10 bulan Muharam. Puasa ini termasuk berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharam. Puasa Asyura menghapus dosa tahun lalu. Sebelumnya Rasulullah SAW telah melaksanakan shaum pada tanggal 10 Muharam (asyura). Namun sebelum meninggal, beliau berniat melaksanakan shaum pada tanggal 9. Sabda Rasulullah SAW: Apabila tahun depan telah tiba, insya Allah kita berpuasa juga pada hari kesembilan. Walaupun beliau belu sempat melaksanakannya (HR. Muslim). Sunah semacam ini dikalangan ahli fikih dinamakan sunah hamiyah (cita-cita/rencana) Nabi SAW yang tidak sempat beliau laksanakan.
    Niat Puasa Bulan Muharram (Puasa ’Asyura)

نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA LILLAHI TA’ALA

Artinya :
“ Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa selang sehari/Shaum Daud
    Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling disenangi Allah SWT ialah puasa Nabi Daud dan shalat yang paling dicintai Allah SWT adalah shalat Nabi Daud. Ia tidur separo malam, bangun untuk ibadah sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Nabi Daud puasa sehari dan berbuka sehari. Dan inilah shaum yang paling tangguh karena menuntut stamina yang sangat prima. (HR Muslim, Sahih Musim bi Syarjhi al-Nawawi)
    Niat Puasa Daud

نويت صوم داود سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya :
“ Saya niat puasa Daud , sunnah karena Allah ta’ala
Mohon koreksinya jika ada salah penulisan dari kumpulan doa-doa Niat Puasa Wajib dan sunnah baik itu niat puasa Ramadhan , niat puasa Sunnah, niat puasa Syawal, niat puasa Dzulhijjah Arofah Tarwiyah ,niat puasa Qadha , niat puasa Asyura , niat puasa Rajab , niat puasa Senin Kamis , niat puasa Sya’ban, niat puasa Daud tersebut diatas.
Semoga diberkah dan diridhoi oleh Allah SWT atas niat dan ibadah puasanya , Aamiin Yaa Robal’alamin

  1. Puasa bulan Sya’ban
    Rasulullah SAW: tidak pernah berpuasa sebanyak puasanya di bulan Sya’ban. Beliau pernah berpuasa sepenuhnya atau sebagian besar dari hari-harinya.Rasulullah SAW suka meningkatkan frekuensi shaum sunah pada bulan Sya’ban (HR. Bukhari dan Muslim).
    Sya’ban adalah bulan kedelapan pada penanggalan tahun hijriah, sementara Ramadhan bulan kesembilan. Jadi Sya’ban posisinya sebelum Ramadhan.Maksudnya Rasulullah SAW shaum secara penuh selama satu bulan hanya di bulan Ramadhan. Sementara , bulan Sya’ban adalah bulan yang paling banyak diisi dengan shaum sunnah oleh Nabi SAW, seperti shaum senin-kamis, shaum daud, dll.
    Niat Puasa Sya’ban

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN LILLAHI TA’ALA
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan sya’ban , sunnah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa pada hari-hari putih/Shaum 3 hari setiap bulan
    Yang dimaksud dengan hari-hari putih adalah hari yang siangnya memang terang dan malamnya pun terang bulan. Hari-hari putih itu adalah tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah.Shaum tiga hari setiap bulan seperti shaum sepanjang tahun (HR. Bukhari dan Muslim). Shaum ini dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, 15 setiap bulan di tahun Hijriah (HR Tirmidzi).

  2. Puasa Arafah
    Shaum Arafah adalah shaum yang dilaksanakan pada sembilan Dzulhijjah. Disebut shaum arafah karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan kaum muslim yang tengah melakukan wukuf di Arafah (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, disunahkan untuk shaum, sedangkan bagi yang tengah melaksanakan haji, dilarang shaum. Shaum arafah dapat menghapus dosa dua tahun yaitu setahun yang lalu dan yang tersisa (HR Muslim)

Niat Puasa Bulan Dzulhijjah (Puasa Tarwiyah & ‘Arafah).
نويت صوم ترويه سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”
نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
Artinya :
“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
8. Puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dihitung dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 9. Hari tanggal 9 Dzulhijjah itu disebut hari Arafah dan puasanya disebut puasa Arafah, karena jamaah haji pada hari itu sedang melaksanakan wuquf di Arafah. Jadi pada bulan Dzulhijjah seseorang dapat puasa 9 hari, termasuk di dalamnya puasa tarwiyah dan puasa Arafah.

  1. Puasanya orang bujangan yang belum mampu menikah
    Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang tidak kuasa untuk menikah, hendaklah ia puasa karena puasa itu menjadi penjaga baginya.
    Tambahan :
    Niat puasa Ramadhan :
    Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta‘aala.
    Artinya :
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala
    Niat Puasa Qhada’ Ramadhan

نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى .

Artinya :
“ Niat aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Bulan Rajab
نويت صوم شهر رجب سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA SYAHRI RAJAB LILLAHI TA’ALA
Artinya :
“ Saya niat puasa bulan Rajab , sunnah karena Allah ta’ala.”

Berikut adalah kalender puasa-puasa sunat dalam Islam. Semoga kita dapat menjalani puasa-puasa ini sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah S.W.T dan disamping dapat mempertingkatkan ketakwaan kita kepadaNya. Amin.

PUASA SUNAT

“Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.” (Hadits riwayat Muslim)

BULAN HARI FHADILAT
Bulanan 1. Hari-hari al-Baidh ( Hari-hari Putih) = 13, 14, dan 15 hb
2. Hari-hari Hitam = pada hari yang ke 27, 28, 29 dan 30 setiap bulan.

  1. Pada 3 hari setiap Bulan Qamariah

  2. Telah bersabda kepada-ku Rasulullah saw: “Jika kamu berpuasa dalam sebulan, maka puasalah pada 13, 14 dan 15 (hari bulan bagi setiap bulan).” (HR al-Nasaie, Ibn Majah dan Ahmad)

  3. berpuasa pada tiga hari tersebut itu sebagai permohonan kepada Allah S.W.T supaya menghilangkan kegelapan pada malam-malam itu.

Mingguan Isnin & Khamis Ketika ditanya kepada Nabi saw tentang puasa Isnin dan Khamis baginda bersabda:
Maksudnya: ‘Dua hari itu dibentangkan padanya amalan kepada tuhan sekelian alam (Allah), maka aku suka dibentangkan amalan-ku sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR al-Nasaiie, Ibn Majah dan Ahmad dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih al-Jami’)

Muharram
‘Asyura

  1. Hari Tasu’a iaitu tanggal 1 hingga 9 hari bulan Muharram
  2. Hari kesepuluh (10) dlm bulan Muharram (‘Asyura) Disunatkan juga berpuasa sehari sebelumnya atau selepasnya bagi berbeza dengan Yahudi = ( 9, 10 dan 11 Muharram)

  3. Disunatkan perbanyakkan puasa di bulan ini.

Hadith:
Maksudnya: “Puasa yang paling utama selepas Ramadhan ialah puasa dalam bulan Allah al-Muharram…” (HR Muslim)

Rejab 1. Sepanjang bulan Rejab
Syaban 1. Keseluruhan bulan kecuali pada hari syak(Hari diragui (antara 30 Syaaban atau sudah masuk 1 Ramadan) berdasarkan perkataan ‘Aisyah r.’anha:
Maksudnya: “Tidak aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa sebulan melainkan dalam bulan Ramadhan dan tidak aku melihat baginda lebih banyak berpuasa berbanding Syaban, baginda puasa dalam bulan Syaban keseluruhannya, melainkan sedikit (sahaja hari yang baginda tidak berpuasa).” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Syawal 1. Puasa sunat 6 hari dalam bulan Syawal 1. Sabda Nabi saw: Maksudnya : “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diturutinya dengan 6 hari Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun.” (HR Muslim)
Zulhijjah 1. Hari yang ke-9 dalam bulan Zulhijjah bagi orang yang tidak berwuquf di Arafah. (Hari Arafah)
2, Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Zulhijjah

  1. Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari iaitu dari hari yang pertama bulan Zulhijjah hingga ke hari yang ke lapan.

  2. Sepuluh hari yang pertama pada bulan Zulhijjah ( 1 hingga 9 Zulhijjah , dan 14 Zulhijjah)

  3. Kelebihan berpuasa pada hari itu menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:
    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa di hari Arafah? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadits riwayat Muslim)

  4. Hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah R.A, daripada Nabi S.A.W bersabda:

Maksudnya: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan ibadah kepadaNya daripada sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dimana satu hari berpuasa daripadanya (sebanding) dengan puasa satu tahun dan mendirikan ibadah satu malam daripadanya (sebanding) dengan mendirikan ibadah pada lailatulqadar.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
3. “Sesungguhnya Rasulullah S.A.W adalah melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di hari ‘Asyura’ dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya.” (Hadits riwayat An-Nasa’i)

Bulan-bulan Haram 1. Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, dan Rejab
Hari yang dilarang berpuasa
(HARAM)

  1. Aidilfitri iaitu pada 1 Syawal.
  2. Aidiladha pada 10 Zulhijjah.

  3. Tiga hari Tasyriq iaitu pada 11, 12, dan 13 Zulhijjah.

  4. Hari syak atau hari diragui (antara 30 Syaaban atau sudah masuk 1 Ramadan)

Hari yang MAKRUH berpuasa 1. JUMAAT SAHAJA.- Namun begitu, jika seseorang itu berpuasa berturut-turut dimulai pada Khamis dan disambung Jumaat atau dimulai Jumaat dan disambung Sabtu, maka hukumnya dibolehkan.
Begitu juga boleh berpuasa pada Jumaat sekira-nya berpuasa berselang hari (seperti puasa Nabi Daud), dan kebetulan puasa itu jatuh pada Jumaat.
2. SABTU SAHAJA – Begitu juga, kalau berpuasa sehari sebelumnya dan sehari selepasnya, bolehlah berpuasa pada Sabtu. Begitu juga kalau kita berpuasa berselang hari, kebetulan harinya jatuh pada Sabtu, boleh berpuasa pada hari itu.

“Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk dari padanya.” (Hadits riwayat Bukhari)

“Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.” (Hadits riwayat Bukhari)

Inilah Tugas dan Wujud Malaikat Izroil, Sang Pencabut Nyawa Manusia

Inilah Tugas dan Wujud Malaikat Izroil, Sang Pencabut Nyawa Manusia

Terbagi Menjadi 2 bagian sesuai dengan Firman ALLAH SWT

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, (Surat An-Nāzi`āt 79 1-2).

Wujud Izrail

  • Malaikat Izrail diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang serupa dengan malaikat Mikail baik wajahnya, ukurannya, kekuatannya, lisannya dan sayapnya. Semuanya tidak kurang dan tidak lebih.
  • Dikatakan dia berwajah empat, satu wajah di muka, satu wajah di kepala, satu dipunggung dan satu lagi di telapak kakinya. Dia mengambil nyawa para nabi dari wajah kepalanya, nyawa orang mukmin dengan wajah mukanya, nyawa orang kafir dengan wajah punggung dan nyawa seluruh jin dengan wajah tapak kakinya.
  • Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu Za’faran dan di setiap bulu ada satu juta muka di setiap satu juta muka mempunyai satu juta mata dan satu juta mulut dan tangan. Ia memiliki 4.000 sayap dan 70.000 kaki, salah satu kakinya di langit ketujuh dan satu lagi di jembatan yang memisahkan Surga dan Neraka.
  • Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah boleh berbicara satu juta bahasa. Jika seluruh air di lautan dan sungai di dunia disiramkan di atas kepalanya, maka tidak setitik air pun akan jatuh melimpah.

Mengurus kematian

  • Disebutkan, ketika Allah SWT mencipta Al-Maut (kematian) dan menyerahkan kepada malaikat Izrail, maka berkata malaikat Izrail: “Wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?”.
  • Maka Allah SWT menyingkap rahasia Al-Maut itu dan memerintah seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat menyaksikannya Al-Maut itu, maka tersungkurlah semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu tahun.
  • Setelah para malaikat sadar kembali, bertanyalah mereka: “Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?” Kemudian Allah SWT berfirman: “Akulah yang menciptakannya dan Aku-lah yang lebih Agung dari padanya. Seluruh makhluk akan merasakan Al-Maut itu”.
  • Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail mengambil Al-Maut Allah telah menyerahkan kepadanya. Walau bagaimanapun, Malaikat Izrail khawatir jika tidak terdaya untuk mengambilnya sedangkan Al-Maut lebih agung daripadanya. Kemudian Allah SWT memberikannya kekuatan, sehinggalah Al-Maut itu menetap di tangannya.
  • Setelah itu Al-Maut berkata: “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk berseru di langit sekali saja”. Maka, setelah diizinkan, berserulah ia dengan suara yang amat keras: “Aku ini adalah Al-Maut, tugasku sebagai pemisah orang yang saling mencintai. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan antara anak dan ibunya. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan saudara lelaki dan wanita. Aku adalah Al-Maut, tugasku menghancurkan bangunan rumah dan gedung-gedung, Aku adalah Al-Maut, tugasku meramaikan kuburan. Aku adalah Al-Maut, tugasku mencari dan mendatangi kamu semuanya, walaupun kamu berada dalam lapis benteng yang amat kuat. Dan tiada satupun makhluk yang tidak merasakan kepedihanku”.
  • Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah hingga barat dan timur dapat dijangkau dengan mudah olehnya seperti seseorang yang sedang menghadap sebuah meja makan yang dipenuhi dengan pelbagai makanan yang siap untuk dimakan. Ia juga sanggup membolak-balikkan dunia sebagaimana kemampuan seseorang sanggup membolak-balikkan uang.
  • Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ia akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat `Azab. Sedangkan untuk mengetahui dimana seseorang akan menemui ajalnya Malaikat Maut bekerja sama dengan Malaikat Arham.
  • Walau bagaimanapun, Izrail bersama Jibril, Israfil dan Mikail pernah ditugaskan ketika Allah menciptakan Nabi Adam. Israil juga adalah antara Malaikat yang sering turun ke bumi untuk bertemu dengan para nabi antaranya ialah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Idris a.s

Kematian para mukmin

Sesungguhnya seorang hamba mukmin apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah putih seakan wajah mereka ibarat matahari. Mereka membawa kafan dan parfum dari surga. Mereka duduk di samping calon mayat sejauh mata memandang.

Diriwayatkan bahwa para malaikat ini mulai mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya, kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan, kemudian datanglah Malaikat maut Alaihis Salam dan duduklah di samping kepala calon mayat seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik, wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha dari Allah”.

Maka keluarlah rohnya dengan lembut seperti air yang menetes dari bibir tempat air. Malaikat maut-pun mengambilnya, setelah Malaikat mengambil ruh itu maka segera di masukkan dalam kafan yang dari surga tersebut dan diberi parfum yang dari surga itu. Lalu keluarlah dari ruh itu bau yang sangat wangi seperti bau parfum yang paling wangi di muka bumi ini.

Ketika telah keluar ruhnya maka para Malaikat di antara langit dan bumi mensalatinya, demikian pula semua Malaikat yang di langit. Dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, semua penjaga pintu tersebut berdoa kepada Allah agar ruh tersebut lewat melalui pintunya.

Para Malaikat membawa ruh itu naik ke langit, dan tiap-tiap melalui rombongan Malaikat mereka selalu bertanya: “Ruh siapa yang wangi ini???” Para Malaikat yang membawanya menjawab: “Ini ruhnya Fulan bin Fulan”, sambil menyebutkan panggilan-panggilan terbaiknya selama di dunia.

Malaikat yang membawanya menyebutkan kebaikan-kebaikannya selama di dunia, Kebaikan-kebaikannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta. Tatkala telah sampai di langit dunia para Malaikat meminta dibukakan pintunya.

Malaikat penjaga pintu langit membuka pintu itu, kemudian semua Malaikat yang ada ikut mengiringi ruh itu sampai ke langit berikutnya hingga berakhir di langit ke tujuh. Lalu Allah berfirman: “Tulislah catatan amal hamba-Ku di Illiyyiin! Tahukah kamu apakah Illiyyiin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis (untuk mencatat amal orang yang baik)” (QS. Al-Muthaffifiin: 19-20).

Ditulislah catatan amalnya di Illiyyiin. Kemudian dikatakan: “Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku telah berjanji kepada mereka bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta membangkitkan mereka darinya pula pada kali yang lain”. Roh itu-pun dikembalikan ke bumi dan ke jasadnya.

Kematian para kafir atau faji

  • Sesungguhnya seorang hamba yang kafir atau fajir (banyak dosa), apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para Malaikat dari langit yang sangat keras lagi berwajah hitam sambil membawa kain yang kasar dari neraka. Para malaikat itu duduk disamping calon mayit sejauh mata memandang.
  • Diriwayatkan bahwa para malaikat ini mulai mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya, kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan, kemudian datang Malaikat maut Alaihis Salam dan duduk di samping kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang busuk keluarlah menuju murka dan kebencian dari Allah”. Roh itupun terkejut…Lalu Malaikat mencabutnya seperti mencabut alat pemanggang yang banyak cabangnya dari kain yang basah sehingga terputuslah urat-urat dan ototnya.
  • Malaikat itupun mengambil rohnya dan langsung memasukkannya kedalam kain kasar (yang dari neraka itu). Keluar dari ruh itu bau yang sangat busuk seperti bau paling busuk yang pernah ada di muka bumi ini.
  • Para Malaikat lalu membawa roh itu naik, tiadalah melalui rombongan Malaikat melainkan mereka selalu bertanya: “Roh siapa yang busuk ini?”…Para Malaikat yang membawanya menjawab: “Ini rohnya Fulan bin Fulan”, dengan menyebut panggilan-panggilan buruknya ketika di dunia…Malaikat yang membawanya menyebutkan keburukan-keburukanya selama di dunia…Keburukan-keburukannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta.
  • Semua malaikat di antara langit dan bumi melaknatinya (mengutuknya). Ditutup untuknya pintu-pintu langit. Masing-masing penjaga pintu berdoa kepada Allah agar ruh itu tidak lewat melalui pintunya.
  • Tatkala telah sampai di langit dunia mereka meminta agar dibuka pintunya dan ternyata tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah shallallaahu alaihi wa ala alihi wa sallam membacakan: “Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (QS.Al-A?raaf: 40).
  • Lantas Allah berfirman: “Tulislah catatan amalnya di sijjiin, dibumi yang paling bawah”, Kemudian dikatakan: “Kembalikan hambaKu ke bumi karena Aku telah berjanji bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta mengeluarkan mereka darinya pula pada kali yang lain”.
  • Lalu rohnya dilempar dari langit sehingga terjatuh ke bumi, kemudian Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam membacakan ayat: “Dan barangsiapa menyekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31).

Kematian Izrail

  • Disebutkan pula, setelah seluruh makhluk hidup sudah dicabut nyawanya pada hari kiamat kelak dan makhluk yang tersisa tinggal malaikat Izrail lalu Allah SWT menyuruhnya untuk mencabut nyawanya sendiri, demi melihat dahsyatnya sakarataul maut yang sedang terjadi terhadap dirinya, beliau mengatakan “Ya Allah seandainya saya tahu ternyata pedih sekali sakaratul maut ini, tidak akan tega saya mencabut nyawa seorang mukmin”.

Perintah mencabut nyawa dari ‘Arsy

  • Menurut kisah Kabil Akbar, Malaikat Maut tidak mengetahui kapan tiap-tiap makhluk yang akan mati. Dikatakan olehnya Allah telah menciptakan sebuah pohon (Sidrat al-Muntaha) di bawah ‘Arsy yang mana jumlah daunnya sama banyak dengan bilangan makhluk yang Allah ciptakan. Jika satu makhluk itu telah diputuskan ajalnya, maka umurnya tinggal 40 hari dari hari yang diputuskan. Maka jatuhlah daun itu kepada Malaikat Maut, tahulah bahwa dia telah diperintahkan untuk mencabut nyawa orang yang tertulis pada daun tersebut. sampai ada daun dari pohon yang terletak di bawah ‘Arsy gugur.
  • Kemudian akan jatuh dua titisan dari arah ‘Arsy pada daun tersebut, titisan hijau ataupun putih. Hijau menandakan bakal si mayat akan mendapat kecelakaan sementara putih mengambarkan dia akan mendapat kebahagiaan.
  • Untuk mengetahui tempat makhluk mati, Allah telah menciptakan Malaikat Arham yang akan diperintahkan untuk memasuki sperma yang berada dalam rahim ibu dengan debu bumi yang akan diketahui di mana ia akan mati dan di situlah kelak ia pasti akan menemui ajalnya

Berapa lamakah shalat nabi ketika shalat malam?

Berapa lamakah shalat nabi ketika shalat malam?

َةَ ِئاَع ْنَع – ا نع للها ىضر – ِولَّاللا لَّاِبَِ لَّافَأ – ملسو ويلع للها ىلص – ُعَنْصَت َِلد ُةَ ِئاَع ْتَلاَ َػف ُهاَمَدَق َ لَّاطَفَػتَػت لَّاتََّ ِلْيلَّاللا َنِم ُـوُ َػ َفاَ َؿاَق َ لَّاخَ َت اَمَو َكِبْ َذ ْنِم َـلَّادَ َػت اَم َكَل ُولَّاللا َ َفَا ْدَقَو ِولَّاللا َؿوُسَر اَ اَ َى « اًروُكَش اًدْبَع َفوُ َأ ْفَأ ُّبِ ُأ َلاَفَأ ». Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan shalat malam hingga bengkak kedua kakinya.

Aisyah berkata: “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang”.

Rasulullah Saw menjawab: “Apakah tidak boleh jika aku ingin menjadi hamba yang bersyukur”. (HR. al-Bukhari).

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

َـاَق لَّاُثُ ِضْرَْلأا ىَلَع َدَمَتْعاَو َسَلَج ِةَيِ الَّاثلا ِةَدْ لَّاسلا ْنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِ َف Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas: ُنِجاَعْلا ُعَضَ اَمَ ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْ َدَ َعَضَو ِوِتَلاَص ِفي َـاَق اَذإ َفاَ َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini: ِطيِسَوْلا ىَلَع ِوِمَلاَ ِفي ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق : ِوِب لَّاجَتُْ ْفَأ ُزوَُيَ َلاَو ُؼَ ْعُػ َلاَو ُّحِصَ َلا ُث ِدَْتضا اَ َى . ِبلَّا َ ُمْلا ِحْ َش ِفي ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : ِحيِ ْنلَّاػتلا ِفي َؿاَقَو ، ُوَل َلْصَأ َلا ٌلِطاَب ْوَأ ، ٌفيِعَض ٌث ِدَ اَ َى : ِحْ َش ِفي َؿاَقَو ، ٌلِطاَب ٌفيِعَض ِبلَّا َ ُمْلا : َؿاَق ، اَ ْػيَلَع اًدِمَتْعُم ُـوُ َػ َو ِوْ َدَ ُضِبْ َػ يِ لَّالا َوُىَو ُّحَصَأ ِفوُّنلاِبَو ِيالَّاللاِب َوُىَو ، ِوِسْرَد ِفي َؿاَق ُولَّا َأ دِِّلراَلَ ْلا ْنَع َلِ ُ : لَّاحَص ْوَلَو َؿاَق لَّاُثُ ِ ِ َعْلا َنِجاَع ُداَ ُمْلا َسْيَلَو ، ُيرِبَكْلا ُخْيلَّا لا َوُىَو ، ُلِجاَعْلا ُدِمَتْعَػ اَمَ ِوْ َدَ ِنْطَبِب اًدِمَتْعُم َـاَق ُهاَنْعَم َفاَكَل ُث ِدَْتضا : اَم ِنيْعَػ لَّافَأ ، ِحَلالَّاصلا ُنْبا ُهَ َ َذ. اَنْلُػق اَذإ الَّامَ َف ، ِيالَّاللاِب ُلِجاَعْلا ْوَأ ، ِفوُّنلاِب ُنِجاَعْلا َوُى ْلَى ِوِسْرَد ِفي ىَكَ لَّاِلراَلَ ْلا : ُنِجاَع َوُ َػف ِفوُّنلاِب ُولَّا إ ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق ، ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْيَػتَ اَر ُعَضَ َلاَو ُعِفَتْ َػ َو ، اَ ْػيَلَع ُئِكلَّاتَػ َو اَ ُّمُضَ َو ِوْيلَّافَ َعِباَصَأ ُضِبْ َػ ِلْبُْتطا : ْنِم ٌيرِثَ اَ َِ َلِمَعَو ِةَ ُّللا ِفي َنِجاَعْلا لَّافِ َف ، ُهاَنْعَم َكِلَذ ْنُكَ َْلد َتَبَػث ْوَلَو ، ْتُبْثَػ َْلد ٍث ِدَِبِ ، اَِ َدْ َع َلا ِةَلالَّاصلا ِفي ٍةلَّايِعْ َش ٍةَئْيَى ُتاَبْػثإ َوُىَو ، ِمَ َعْلا :

42 Dipersembahkan untuk ummat oleh Tafaqquh Study Club | Website: http://www.tafaqquhstreaming.com Silakan menyebarluaskan e-book ini dengan menyertakan sumber ُ ِعالَّا لا َؿاَق ، ُّنِسُمْلا ُلُجلَّا لا َوُى : َؿاَق َنِجاَعَو َتْنُ ِءْ َمْلا ِؿاَصِخ لَّا َ َف : ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ْنِم اًذوُخْ َم َكِلَ ِب َِبرِكْلا ُفْصَو َفاَ ْفِ َفاَ ِعِباَصَأ دِّمَض ِةلَّايِفْيَ ِفي َلا ِنْ َدَيْلا ِعْضَو َدْنِع ِداَمِتْعِلاا ِةلَّادِش ِفي ُويِبْ لَّاتلاَف Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”.

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ َنِجاَعْلا ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari

Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini: ث و نب كلام و- ًاض أ – ملسو ويلع للها ىلص بِنلا فأ ذ[و د ىلع دمتعا ـو فأ دارأ اذإ فا ] ةفص ىلع وى لى نكلويأ ،ث دتضا ا ى ةحص عوملمجا في للها وتزر يوونلا ك أ دقو ،كلذ في دراولا ث دتضا ةحص ىلع نيبن ا ف ؟لا ـأ نجاعلا 43 وححص ن خ تتظا ضعبو ،نجاعلا . ه خأو بر و لأ ؛سليَ و أ ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ظ ي لاف ٍل ىلعو كلذ فوكيل و د ىلع دمتعا ـو و ض ن فأ دارأ اذإ ثُ سليَ فاكف ،ـاي لا لذإ دو سلا نم ًاماتد ضو نلا عيطتس لا فاكف ،محللا ةسلتصا ه ى في حجا لا ؿو لا فا ا تعو ،ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ىاظلا وى ا ى ،ول ل سأ-نيعأ : ةسلجة اترسلاا – دنع دمتع فأ لذإ جات ا اذإ ثُ ،سل يلف كلذ وبشأ ام وأ ويتب ر في لدأ وأ ض م وأ ل ث وأ بركل ا يلإ جات ا فإ و أنيع ،عباصلأا رو ظ ىلع دمتعا ءاوس ،ت ا ةفص يأ ىلع دمتعيلف و د ىلع ـاي لا : ىلع وأ ا يلع دمتعاو ا كى وعباصأ عتردمتع لاف جت لد فإو ،دمتعيلف دامتعلاا لذإ جات ا اذإ م تظا ،كلذ يرا وأ ،وت ار.

Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih.

Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw.

Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu

Sumber : Imam ash-Shan’ani, Subul as-Salam: 2/152.

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ada dua hadits yang berbeda dalam masalah ini. Hadits pertama: َؿاَق َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ْنَع : َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ولَّاللا ُؿوُسَر َؿاَق :{ ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ، ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ْؾُ ْػبَػ َلاَف ، ْمُ ُدَ َأ َدَ َس اَذإ}

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu sujud, maka janganlah ia turun seperti turunnya unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud).

Hadits Kedua:

لَّاِبِلَّانلا ُتْ َأَر َؿاَق ٍ ْ ُ ِنْب ِلِئاَو ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ َعَفَر َضَ َػ اَذِإَو ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر َعَضَو َدَ َس اَذِإ. Dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Saw, ketika sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Ketika bangun ia mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

Ulama berbeda pendapat dalam mengamalkan kedua hadits ini. Imam ash-Shan’ani berkata: دِّيِعاَزْوَْلأاَو ، ٍكِلاَم ْنَع ٌةَ اَوِرَو ، ُةلَّا ِوَداَْتعا َبَىَ َف ، َكِلَذ ِفي ُءاَمَلُعْلا َفَلَػتْخا ْدَقَو : ُّيِعاَزْوَْلأا َؿاَق لَّاتََّ ، ِث ِدَْتضا اَ َِ ِلَمَعْلا َلذإ : اَنْ َرْدَأ ْمِ ِبَ ُر َلْبَػق ْمُ َػ ِدْ َأ َفوُعَضَ َسالَّانلا : دُواَد ِبيَأ نْبا َؿاَقَو : ِث ِدَْتضا ِباَحْصَأ ُؿْوَػق َوُىَو Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: al-Hadawiyah, satu riwayat dari Imam Malik dan al-Auza’i mengamalkan hadits yang menyatakan lebih mendahulukan tangan daripada lutut. Bahkan Imam al-Auza’i berkata: “Kami dapati orang banyak meletakkan tangan mereka sebelum lutut mereka”. Imam Abu Daud berkata: “Ini adalah pendapat para Ahli Hadits. ٍكِلاَم ْنَع ُةَ اَوِرَو ، ُةلَّايِفَنَْتضاَو ، ُةلَّايِعِفالَّا لا ْتَبَىَذَو : ٍلِئاَو ِث ِدَِبِ ِلَمَعْلا َلذإ

Mazhab Syafi’i, Hanafi dan satu riwayat dari Imam Malik menyebutkan bahwa mereka mengamalkan hadits riwayat Wa’il (mendahulukan lutut daripada telapan tangan). Pendapat ulama dalam masalah ini: ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : َث ِدَ اوُحلَّاجَر ِبَىْ َمْلا اَ َى َلْىَأ لَّانِكَلَو ، ِ َخْلآا ىَلَع ِْ َػبَىْ َمْلا ِدَ َأ ُحيِجْ َػت ُ َ ْظَ َلا ” ٍلِئاَو ” ِفي اوُلاَقَو ، ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ : ” ِفاَ ْمَْلأا ُوْنَع َيِوُر ْدَق ْذإ ، ٌبِ َطْضُم ُولَّا إ . َؿاَقَو اَ يِف َؿاَطَأَو ِمدِّيَ ْلا ُنْبا َ لَّا َ َو : ِث ِدَ ِفي لَّافإ ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ” َؿاَق ُثْيَ ، يِوالَّا لا ْنِم اًبْلَػق ” : ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ” ُوَلْصَأ لَّافِإَو ” : ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر ْعَضَيْلَو ” َؿاَق ، : ُوُلْوَػق َوُىَو ، ِث ِدَْتضا ُؿلَّاوَأ ِوْيَلَع ُّؿُدَ َو ” : ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ُؾُ ْػبَػ َلاَف ” ِؾوُ ُػب ْنِم َؼوُ ْعَمْلا لَّافِ َف ِْ َلْجدِّ لا ىَلَع ِنْ َدَيْلا ُ ِدْ َػت َوُى ِيرِعَبْلا

Imam an-Nawawi berkata: “Tidak kuat Tarjih antara satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam masalah ini, akan tetapi Mazhab Syafi’I menguatkan hadits Wa’il (mendahulukan lutut daripada tangan). Mereka berkata tentang hadits riwayat Abu Hurairah bahwa hadits itu Mudhtharib; karena ia meriwayat kedua cara tersebut.

Imam Ibnu al-Qayyim meneliti dan membahas secara panjang lebar, ia berkata: “Dalam hadits riwayat Abu Hurairah terdapat kalimat yang terbalik dari perawi, ia mengatakan: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut”, kalimat asalnya adalah: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”. Ini terlihat dari lafaz awal hadits: “Janganlah turun diketahui bahwa turunnya unta itu adalah dengan cara lebih mendahulukan tangan (kaki depan) daripada kaki belakang.

Pendapat Ibnu Baz: ي لا وى ا ىو ، و د لبق ويتب ر عض لب فو خآ ؿاقو ويتب ر لبق و د عض م ضعب ؿا ف ملعلا لىأ نم يرث ىلع ا ى لكش ف نب لئاو ث دتض فاوتظا وى ا ىو يرعبلا فلاخ د ف ويتب ر ىلع نم تظا ؾ ب اذ ف و ديب أدب يرعبلا ؾو ب فلأ يرعبلا ؾو ب فلا عفر اذ ف عو تظا وى ا ى ضرلأا ىلع اض أ وت بج عض ثُ ضرلأا ىلع و د عض ثُ لاوأ ويتب ر ىلع د س فأ باوصلا وى ا ىو امأو ، ث دتضا ب عمتصا وىو ملسو ويلع للها ىلص بِنلا نع ةنسلا وب تءاج ي لا عو تظا وى ا ى ض ن ثُ و د ثُ لاوأ و جو عفر ة ى بيأ ث د في ولوق : فأ باوصلا ا إ للها وتزر مي لا نبا كلذ ذ ام بلا ا و أ ملعأ للهاو ىاظلاف ويتب ر لبق و د عضيلوهانعم في ءاج امو نب لئاو ث د عم فت تَّ و ولوأ ث دتضا خآ فاو تَّ و د لبق ويتب ر عض

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits.

Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim –rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agar sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya.

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin: ولوأو ث دتضا خآ باطت فأ ا درأ اذإ باوصلا فوك ئنيحف”و د لبق ويتب ر عضيلو” تلق ام تب لا لبق ن ديلا عضو ول و لأ ؛يرعبلا ؾبر ام ؾبرل .فاضقانتم ه خآو ث دتضا ؿوأ فوك ئني و . … اىاتش ةلاسر ةوخلأا ضعب فلأ دقو(دو سلا في ن ديلا لبق تب لا عضو في دوبعتظا حتف) دافأو ويف داجأو . …و د لبق ويتب ر فاس لإا عض فأ دو سلا في ملسو ويلع للها ىلص ؿوس لا ا مأ تيلا ةنسلا ف ف ا ى ىلعو.

Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits. Adalah salah seorang ikhwah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar-Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

Hadits Bukhari Pilihan : Kitab Keutamaan Lailatul Qadar

Bab 1: Keutamaan Lailatul Qadar Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (al-Qadr: 1-5)

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Apa yang disebutkan di dalam AI-Qur’an dengan kata ‘Maa adraaka’ ‘apakah yang telah memberitahukan kepadamu’ sesungguhnya telah diberitahukan oleh Allah. Apa yang disebutkan dengan kata kata ‘Maa yudriika’ ‘apakah yang akan memberitahukan kepadamu’, maka Allah belum memberitahukannya.”[1]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 26 di muka.”)

Bab 2: Mencari Lailatul Qadar pada Tujuh Malam yang Terakhir

Bab 3: Mencari Lailatul Qadar pada Malam yang Ganjil dalam Sepuluh Malam Terakhir

Dalam hal ini terdapat riwayat Ubadah.[2]

987. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”

988. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa,[3] tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.” (Yakni Lailatul Qadar 2/255).

989. Ibnu Abbas berkata, “Carilah pada tanggal dua puluh empat.”[4]

Bab 4: Dihilangkannya Pengetahuan tentang Tanggal Lailatul Qadar karena Adanya Orang yang Bertengkar

990. Ubadah ibnush-Shamit berkata, “Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, ‘(Sesungguhnya aku 1/18) keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.’ (Dalam satu riwayat: Carilah ia pada malam ketujuh, kesembilan, dan kelima).”[5]

Bab 5: Amalan pada Sepuluh Hari Terakhir dalam Bulan Ramadhan

991. Aisyah r.a. berkata, “Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau,[6] menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau.”


Catatan Kaki:

[1] Di-maushul-kan oleh Muhammad bin Yahya bin Abu Umar di dalam Kitab Al-Iman, “Telah diinformasikan kepada kami oleh Sufyan bin Uyainah. Lalu, ia menyebutkan riwayat itu.”

[2] Yaitu, hadits Ubadah yang maushul yang disebutkan sesudah bab ini.

[3] Sebagai badal dari perkataan ‘al-Asyr al-awaakhir’ ‘sepuluh hari terakhir’. Sembilan hari yang masih tersisa, maksudnya tanggal dua puluh satu, tujuh hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh tiga, dan lima hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh lima.

[4] Riwayat ini mauquf (yakni perkataan Ibnu Abbas sendiri), tetapi dirafakan oleh Ahmad. Hadits ini telah ditakhrij di dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah (nomor 1471). Al-Hafizh berkata, “Terdapat kesulitan mengenai perkataan ini yang di dalam riwayat lain dikatakan pada tanggal ganjil. Kesulitan ini dijawab dengan mengkompromikan bahwa lafal yang lahirnya menunjukkan genap itu adalah dihitung dari akhir bulan, sehingga malam dua puluh empat (yang genap) itu adalah malam ketujuh (dihitung dari belakang).”

[5] Al-Hafizh berkata di dalam Kitab al-Iman di dalam al-Fath, “Demikianlah dalam kebanyakan riwayat, dengan mendahulukan lafal sab ‘tujuh’ daripada tis ‘sembilan’. Hal ini mengisyaratkan bahwa harapan terjadinya Lailatul Qadar pada tanggal ketujuh (dari belakang, yakni dua puluh tiga) itu lebih kuat mengingat dipentingkannya tanggal itu dengan disebutkan di depan. Akan tetapi, di dalam riwayat Abu Nu’aim di dalam al-Mustakhraj lafal tis secara berurutan.” Saya (al-Albani) katakan bahwa terdapat riwayat penyusun (Imam Bukhari) di sini yang terluput dikomentari, sebagaimana Anda lihat. Kemudian al-Hafizh lupa mensyarah riwayat ini di sini. Ia tidak menyebutkan di sana, karena ia menyebutkan di sini bahwa riwayat lain di sisi penyusun di dalam Al-Iman dengan lafal, “Carilah ia pada malam sembilan, tujuh, dan lima.” Yakni, dengan mendahulukan lafal sembilan daripada tujuh, demikian pula syarahnya di sini. Seakan-akan terjadi kerancuan di sisinya antara riwayat Imam Bukhari di sini dengan riwayat Abu Nu’aim yang disebutkan di sana. Hanya Allahlah yang dapat memberikan perlindungan.

[6] Yakni, menjauhi hubungan biologis dengan istri beliau. Peringatan: Imam Nawawi membawakan hadits ini pada dua tempat dalam kitabnya Riyadhush Shalihin, dan pada tempat pertama ia menambahkan sesudah perkataan “lailahu” dengan “kullahu”, dan menisbatkannya kepada Muttafaq’alaih (Bukhari dan Muslim). Tetapi, tidak saya jumpai tambahan ini di dalam riwayat kedua syekh itu dan lainnya. Namun, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad (6/41).

Sumber: PeM Media

Kisah Masa Kecil Nabi Ibrahim As

Kisah Masa Kecil Nabi Ibrahim As

Kisah Masa Kecil Nabi Ibrahim ~ Pada masa kecilnya, Nabi Ibrahim tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ibu dan ayahnya. Nabi Ibrahim dilahirkan pada sekitar tahun 2295 SM di Faddam A’ram, Babilonia. Sekarang ini, Babilonia adalah wilayah Irak. Ayah Nabi Ibrahim bernama Azar.

Ia adalah seorang pemahat batu berhala. Berhala pahatan Azar telah terkenal di wilayah Babilonia. Banyak orang datang ke tempat Azar untuk membeli berhala. Wilayah Babilonia adalah wilayah yang subur karena wilayah ini diapit oleh dua sungai besar, yaitu sungai Tigris dan sungai Eufrat. Mata pencaharian penduduk Babilonia adalah dibidang pertanian dan peternakan.

Pada masa itu, penduduk Babilonia adalah orang-orang yang menyembah berhala. Mereka menempatkan berhala di sana sini. Sekalipun berada di lingkungan para penyembah berhala, Nabi Ibrahim tidak ikut menyembah berhala. Allah telah memperlihatkan kepada Ibrahim tentang bukti-bukti kekuasaan Allah. Pada awalnya, Nabi Ibrahim merasa heran dengan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala. “Mengapa mereka menyembah dan memohon pada berhala yang mereka buat sendiri ?” pikir Nabi Ibrahim.

Allah swt telah mengaruniakan iman dan tauhid kepada Nabi Ibrahim sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, dia terpelihara dari perbuatan syirik terhadap Allah swt. Saat masih kecil, Nabi Ibrahim diminta oleh ayahnya untuk menjualkan patung-patung itu. Sebagai anak yang baik dan taat, Nabi Ibrahim tidak pernah membantah perintah ayahnya. Namun, Nabi Ibrahim tidak bersemangat dalam melakukannya. Ada kalanya Nabi Ibrahim mencela dan menertawakan patung-patung yang dijualnya. Ketika menjual patung-patung itu, Nabi Ibrahim menyeru kepada para pelanggannya, “Hai penduduk Babilonia, siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna dan bodoh ini ?” Kata-kata inilah yang selalu diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika menjual patung-patung ukiran ayahnya. Sebenarnya penduduk Babilonia merasa kesal dan tersinggung melihat ulah Ibrahim berjualan. Namun demikian, mereka tidak dapat menghukum Ibrahim karena Ibrahim masih dianggap terlalu kecil. Mereka menganggap Ibrahim sedang bergurau. Padahal gurauan seorang calon Nabi tidak sama dengan gurauan orang biasa yang tanpa manfaat. Gurauan Ibrahim justru menegakkan kebenaran.

Nabi Ibrahim Menolak Berhala
Sejak kecil, Nabi Ibrahim telah mengenal cara-cara pembuatan patung dari ayahnya. Meskipun demikian, tidak sedikit pun dia percaya dengan penyembahan yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu. Nabi Ibrahim tidak pernah sekali pun melakukan penyembahan. Nabi Ibrahim juga memperhatikan makhluk-makhluk di bumi, seperti bintang, langit, tumbuhan, dan hewan. Allah telah memasukkan pikiran dan perasaan iman kepada Allah ke dalam diri Nabi Ibrahim. Hal itu telah membuat Nabi Ibrahim menjadi yakin. Dalam Surat Al-An’aam ayat 75, Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin”.

Nabi Ibrahim melakukan penentangan terhadap kebiasaan menyembah berhala. Suatu ketika, Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan ? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Inilah penentangan pertama

wp-1521795123477..jpg

Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya

Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya

Kisah Nabi Nuh Dan Kaumnya ~ Nabi Nuh adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam as. Ayahnya bernama Lamik bin Metusyalih bin Idris as. Dengan demikian, ia adalah nabi keempat sesudah Nabi Adam, Nabi Syits, Nabi Idris. Nabi Nuh adalah seorang yang saleh, sabar, dan bijaksana. Ia juga termasuk orang yang banyak bersyukur.

Allah memuji sifat Nabi Nuh yang banyak tafakur dan bersyukur. Kaum Nabi Nuh adalah kaum yang pertama kali menyembah berhala. Mereka menyembah patung-patung yang dibuat oleh mereka sendiri. Kaum Nabi Nuh dikenal sebagai Bani Rasib. Mereka tinggal di wilayah Babel Irak. Dahulunya mereka menyembah Allah Ta’ala. Mereka beribadah dan taat kepada Allah. Di antara mereka terdapat orang-orang yang saleh, rajin beribadah, berlaku adil, dan bijaksana. Orang-orang Bani Rasib sangat menghormati dan memuliakan mereka. Di antara mereka terdapat lima orang yang sangat terkenal, yaitu Wudd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Suatu ketika, lima orang tersebut meninggal dunia. Orang-orang Bani Rasib sangat bersedih. Dalam kesedihan yang mendalam, iblis berhasil memunculkan ide dalam pikiran mereka untuk membuat patung-patung kelima orang tersebut. Hal itu merupakan wujud kecintaan mereka kepada kelima orang yang meninggal itu.

Melalui patung-patung itu, mereka mengingat orang-orang yang sangat dikasihinya. Kemudian, patung-patung itu dimasukkan ke dalam rumah-rumah mereka. Lama-kelamaan, mereka juga menyucikan dan memuliakan patung-patung itu. Setelah beberapa generasi, kegiatan itu menjadi kegiatan ibadah. Akhirnya, mereka melupakan Allah SWT. Sejak saat itu, mereka menjadi kaum yang kufur dan syirik. Inilah kaum yang pertama kali menyembah berhala. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka adalah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan adalah golongan yang merugi (Al-Quran Surat Al-Mujaadilah ayat 19).

Nabi Nuh as Dituduh Sebagai Orang Pendusta
Kaum Nabi Nuh telah melakukan syirik dengan menyembah berhala. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Nuh untuk member peringatan kepada mereka. Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya untuk meninggalkan perbuatan syirik itu dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Nabi Nuh memberi peringatan adanya siksaan bagi orang yang kafir, “Wahai kaumku, janganlah kamu menyembah selain Allah. Aku khawatir kamu akan ditimpa azab di akhirat nanti”, kata Nabi Nuh.

Mereka menghina kata-kata Nabi Nuh. “Apakah kelebihanmu sehingga kamu berdakwah kepada kami ? Kami lihat kamu seperti manusia biasa. Hanya orang-orang bodoh yang percaya pada kata-kata kamu. Bagi kami, kamu adalah seorang pendusta yang ingin menyesatkan kami,” kata orang-orang kafir itu. Nabi Nuh dengan sabar menjawab, “Wahai kaumku, aku ini bukanlah orang yang sesat seperti yang kamu tuduhkan. Aku adalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk berdakwah. Hal ini untuk kebaikanmu supaya kamu tidak mendapat siksaan nanti”.

Nabi Nuh terus berdakwah tanpa mengenal lelah. Ia mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Menciptakan Alam Semesta. Akan tetapi, setelah sekian lama berdakwah, hanya sedikit yang mau menjadi pengikutnya. Mereka tetap saja ingkar dan menyembah berhala. Menghadapi kaumnya yang ingkat itu, Nabi Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kepada kaumku selama siang dan malam. Akan tetapi, seruanku itu hanya menambah mereka lari dari kebenaran”. Setiap kali Nabi Nuh berdakwah kepada mereka agar Allah mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga dan menutup wajah dengan bajunya. Kaum Nabi Nuh tetap menolak ajakan Nabi Nuh. Mereka tetap menyembah berhala yang tidak memberikan manfaat apapun.

Nabi Nuh tetap sabar dan tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai Rasul. Beratus-ratus tahun lamanya, ia menyeru kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala. Namun, mereka tidak mengindahkannya. Hanya sedikit yang menjadi pengikut Nabi Nuh. Nabi Nuh sangat kecewa. Pada umumnya, pengikut Nabi Nuh adalah orang-orang biasa atau kaum miskin. Kemudian, Nabi Nuh berdoa agar Allah menurunkan azab kepada kaum yang kafir. Ia berucap, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku ! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh : 26-27). Nabi Nuh sangat kecewa dan sedih karena dakwahnya tidak menyadarkan kaumnya. Pada akhirnya nanti, Allah benar-benar mengabulkan doa Nabi Nuh.

Usia Nabi Nuh as
Nabi Nuh telah berdakwah sangat lama. Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Nabi Nuh ialah Nabi yang paling lama berdakwah dibandingkan Nabi-Nabi yang lain. Ayat 14 surat Al-Ankabut menyatakan bahwa Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun. Namun usia Nabi Nuh hingga ia meninggal tidak diketahui secara pasti. Selama beratus-ratus tahun, Nabi Nuh tiada putus-putusnya berdakwah kepada kaumnya. Selama itu pula, ia banyak memperoleh tantangan, cemooh, hinaan, cacian, dan ejekan. Bahkan kaumnya menuduhnya sebagai orang gila dan seorang pendusta. Nabi Nuh telah lama berdakwah, tetapi pengikutnya hanya sedikit. “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu, kecuali sedikit” (QS. Surat Hud : 40). Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak berputus asa. Kesabaran Nabi Nuh ini dapat kita teladani. Nabi Nuh selalu bersabar dari

Kisah Kedurhakaan Isteri Nabi Nuh

Dunia Nabi ~ Isteri Nabi Nuh termasuk orang-orang yang sesat, musyrik, dan mengikuti kebiasaan buruk dari kaumnya. Dia mengkhianati amanah perkawinan, tidak berbakti kepada suami, dan menyesatkan anak-anaknya dari jalan Allah SWT.

Kisah Nabi Zakaria As

wp-1521795902188..jpgKisah Nabi Zakaria As

Dunia Nabi ~ Umur Nabi Zakaria as dan isterinya sudah tua, padahal sejak usia muda mereka mendambakan seorang putra yang dapat melanjutkan dakwah untuk membimbing umatnya supaya tidak tersesat. Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai tukang kayu, tetapi dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat lebih diutamakannya dari pada kepentingan pribadi.

Siang malam Ia berdoa bersama isterinya, akhirnya doanya dikabulkan. Isterinya mengandung, sesudah melahirkan anak laki-laki maka anak itu diberi nama Yahya.

Sesudah dewasa Nabi Yahya as beristeri dengan seorang wanita bernama Isya binti Faqud bin Miyal. Isya mempunyai saudara perempuan bernama Hanah. Hanah diperisteri oleh Imran, dari pasangan Hanah dan Imran ini lahirlah Maryam ibu Nabi Isa as.

Kelahiran Maryam
Pasangan suami isteri Hanah dan Imran sudah berusia lanjut namun juga belum dikaruniai anak. Siang malam mereka berdoa akhirnya Allah mengabulkan doanya. Hanah mengandung namun sayang, disaat Hanah mengandung Imran meninggal dunia.

Karena tidak mempunyai ayah, sesudah bayi itu lahir ia diasuh oleh Nabi Zakaria setelah terlebih dahulu diserahkan kepada Allah yaitu diletakkan di Masjid Baitul Aqsha.

Nabi Zakaria as dan Nabi Yahya as dikenal sebagai Nabi yang gigih memperjuangkan agama Allah. Nabi Yahya dikenal sebagai seorang pembaptis di tepi sungai Yordan. Pemandian itu bukan berarti mencuci dosa, melainkan tanda orang tersebut bertaubat.

wp-1521795123477..jpg

Letak tangan dan jari jemari saat shalat

Letak tangan dan jari jemari saat shalat

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri berdasarkan hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad: » ةلاصلا في ى سيلا وعارذ ىلع نِميلا هد لج لا عض فأ فو م سانلا فا « “Manusia diperintahkan agar laki-laki meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri ketika shalat”. (HR. alBukhari).

Adapun posisi jari-jemari, berikut pendapat beberapa mazhab: وبرا ام وأ ى سيلا عو ىلع نِميلا هد عض فأ : ةيعفا لاو ةلبانتضا دنع Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Meletakkan tangan kanan di atas lengan tangan kiri atau mendekatinya. ا د عضتف ةأ تظا امأ . غس لا ىلع ـا لإاو صنتطاب لج لا ًا لتػ ،ى سيلا ف ىاظ ىلع نِميلا ف نطاب لعيَ فأ و ف . : ةيفنتضا دنع اتع ترسأ و لأ يلتح يرا نم اىردص ىلع

  • Mazhab Hanafi: Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, bagi laki-laki melingkarkan jari kelingking dan jempol pada pergelangan tangan. Sedangkan bagi perempuan cukup meletakkan kedua tangan tersebut di atas dada (telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri) tanpa melingkarkan (jari kelingking dan jempol), karena cara ini lebih menutupi bagi perempuan. » ة سلا تتح ؿام لا ىلع ميلا عضو ةنسلا نم « : ؿاق و أ يلع نع يور اتظ ،ة ُّسلا تتح ةلبانتضاو ةيفنتضا دنع ام عض و
  • Mazhab Hanafi dan Hanbali: Meletakkan tangan di bawah pusar, berdasarkan hadits dari Ali, ia berkata: “Berdasarkan Sunnah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di bawah pusar”. (HR. Ahmad dan Abu Daud). ؼ شأ ىلع فا وكتف ،ا يف بل لا فلأ ؛راسيلا ة ج لذإ ًلائام ،ة سلا ؽوف ردصلا تتح ام لعيَ فأ باسلا اهُاد إ ،هردص ىلع و د عضوف ،يلص ملسو ويلع للها ىّلص للها ؿوسر ت أر « : : ةيعفا لا دنع بحتستظاو نب لئاو ث دبِ ًلامعو ،ءاضعلأا . ةيفيكلا ه ى ىلع ن ديلا عضو في ةيَلخ نبا دنع خآ ث د هد وى خلأا ى

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Asbabun Nuzul Surah Yasin

 

 Surah Yasin

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  1. يٰسۤ ۚyā sīnYa Sin
  2. وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙwal-qur`ānil-ḥakīmDemi Al-Qur’an yang penuh hikmah,
  3. اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙinnaka laminal-mursalīnsungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,
  4. عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ‘alā ṣirāṭim mustaqīm(yang berada) di atas jalan yang lurus,
  5. تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙtanzīlal-‘azīzir-raḥīm(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang,
  6. لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَlitunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụnagar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
  7. لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَlaqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fa hum lā yu`minụnSungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
  8. اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَinnā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụnSungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.

wp-1515891760867..jpgAsbabun Nuzul Surah Yasin 1-8

Diriwayatkan oleh Abu Nua’im di dalam kitab Ad-Dalail yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa

Ketika Rasulullah Saw. Membaca surat As-Sajdah dengan nyaring, orang-orang Quraisy merasa terganggu merasa terganggu dan mereka bersiap-siap untuk menyiksa Rasulullah Saw. Tapi tiba-tiba tangan mereka terbelenggu di pundak-pundaknya dan mereka menjadi buta sama sekali. Mereka mengharapkan pertolongan Nabi Saw. Dan berkata: “Kami sangat mengaharapkan bantuanmu atas nama Allah dan atas nama keluarga”.

Kemudia Rasulullah Saw. Berdo’a dan mereka pun sembuh, akan tetapi tak seorang pun dari mereka yang beriman. Berkenaan dengan peristiwa itu turunlah ayat ini (Surat Yasin: 1-10)

Doa Quran: Doa Berlindung dari Setan

My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small,,,,,, ,,,,,,,,

Doa Berlindung dari Setan

Qs.Al-Mu’minun: 97-98


رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Rabbi a’uudzubika min hamazaatis syayaathiin. Wa a’uudzubika rabbi ayyahdhuruun.


Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.,,

Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

wp-1503155526196.Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

Para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:

  1. Pada takbîratul ihram dirakaat yang pertama
  2. Ketika hendak ruku’
  3. Ketika mengucapkan Samiallâhu liman hamidah setelah ruku’
  4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.

Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allâhu liman hamidah”  juga mengangkat kedua tangannya. Jika berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Al-Bukhâri, no. 739 dan Muslim no. 390]

Sedangkan Sâlim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya Radhiyallahu anhu yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat dan ketika bertakbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala dari ruku’ Beliau juga mengangkat keduanya dan mengucapkan, “Sami’allâhu liman hamidah rabbanâ wa lakal hamdu” dan Beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhâri]

Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:

  1. ketika takbiratul ihram dirakaat yang pertama.
  2. ketika hendak ruku’
  3. ketika bangun dari ruku’
  4. Ketika berdiri dari tasyahud awal ”

[Lihat Syarh Manhajus Sâlikîn wa Taudhîhil Fiqh Fid Din  1/87].

Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan, “Inilah empat tempat dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu :

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ (HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahîh Fiqh Sunnah menilai hadits ini shahih). [Lihat Shahîh Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]

wp-1467639852014.jpg

Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam sholat pada 4 keadaan :

  1. Ketika hendak memulai shalat,
  2. Ketika hendak ruku’
  3. Ketika mengucapkan “sami’allâhu liman hamidah
  4. Ketika hendak berdiri dari rakaat ked

Keajaiban Quran dalam Dunia Kedokteran

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia. Fungsi al-quran bagi umat manusia adalah Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an (dan hadist shahih Rasulullah) menuntun kita kepada jalan yang benar dan diridhai Allah SWT. Segala macam permasalahan, semuanya ada jawabannya dalam Al-Qur’an. Hal ini pula yang membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari kalam Allah SWT, bukan buatan manusia. Bahkan sejak 1400 tahun lalu detik ini, Al-Qur’an tetap terjamin keaslian isinya karena Allah SWT sendiri yang memeliharanya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hijr ayat 9; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.”. Maka, hal ini merupakan salah satu daripada keajaiban Al-Qur’an sendiri. Bahkan, masih banyak lagi keajaiban-keajaiban Al-Qur’an, baik yang sudah terbukti dalam ilmu pengetahuan, maupun segala sesuatu yang masih dirahasiakan Allah akan buktinya seperti hari Kiamat. Untuk itu, berikut ini akan dijelaskan mengenai apa saja bukti keajaiban Al-Qur’an di dunia ini, terutama dalam hal bidang ilmu pengetahuan yang kesemuanya sudah terbukti seperti apa yang Allah SWT terangkan dalam Al-Qur’an.

Beberapa keajaiban al-quran dalam dunia kedokteran :

Keajaiban Al-Qur’an tentang Penciptaan Manusia

  • Allah SWT berfirman yang artinya; “Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan nutfah (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya?” (QS. Al-Waqi’ah :5 7-59).
  • Dimulai dari hal mendasar tentang adanya manusia sebagai makhluk cipataan Allah yang istimewa. Dikatakan istimewa karena jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain, hanya manusia yang memiliki akal dan pikiran (dua hal yang sangat penting). Dengan begitu, manusia pun mendapat hak istimewa dari Allah SWT berupa hak untuk memilih; memilih untuk beriman kepada-Nya, atau memilih untuk ingkar. Jika manusia memilih untuk beriman, maka manusia itu akan mendapat derajat yang lebih baik daripada malaikat (makhluk ciptaan Allah yang hanya memiliki akal). Sebaliknya, jika manusia itu memilih untuk tidak mentaati Allah, maka derajatnya sama dengan iblis dan setan (makhluk ciptaan Allah yang hanya memiliki nafsu).
  • Sebagai makhluk yang istimewa, penciptaan manusia pun bisa dikatakan juga istimewa karena melalui tahapan-tahapan yang luar biasa. Banyak ayat di dalam AL-Qur’an yang menyebutkan bagaimana proses penciptaan manusia, bahkan hal tersebut telah jelas terperinci sebelum manusia dengan ilmu kedokterannya yang mumpuni seperti sekarang ini. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan dengan detail bagaimana kiranya seorang manusia bisa terbentuk, sampai terlahir menjadi wujud seorang manusia. Bahkan hal ini telah jelas sejak 1400 tahun yang lalu, sebelum segala sesuatu telah semodern sekarang ini. Adapun beberapa poin penting mengenai penciptaan manusia yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ialah:

Manusia tercipta bukan dari seluruh sperma yang berasal dari air mani yang masuk ke dalam rahim, melainkan dari satu atau beberapa sperma saja

  • Seiring perkembangan zaman, dimana teknologi sudah semakin berkembang, sebagaimana hasil dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan bahwasanya ada sekitar 250 juta sel sperma yang masuk ke dalam rahim wanita saat melakukan hubungan seksual. Kemudian, sperma-sperma itu seakan berlomba dalam perjalanannya menuju sel telur. Sementara sel telur yang besarnya tidak lebih dari sebutir garam hanya menerima satu sperma saja untuk membuahinya. Semua ini adalah yang diketahui oleh para ilmuan dalam kurun waktu beberapa abad yang lalu saja. Sedangkan dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan hal ini sejak sekian lama (1400 tahunan), sebagaimana firman-Nya yang berarti; “Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS. Al-Qiyamah : 36-37).
  • Bayangkan saja, Allah telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwasanya manusia itu diciptakan hanya dari setitik (sebuah) sel mani, sedangkan masa di mana Al-Qur’an diturunkan, yakni sekitar 14 abad yang lalu adalah masa dimana ilmu pengetahuan bahkan alat-alat kesehatan tidak ada yang secanggih masa kini. Ini adalah salah satu bukti keajaiban Al-Qur’an yang sangat nyata.
  • Di sisi lain juga dijelaskan bahwa apa yang disebut dengan air mani sendiri, tidak hanya berisi sel sperma saja. Menurut ilmu kedokteran sendiri, ai mani terdiri dari sperma dan berbagai cairan yang berbeda. Unsur ini bermanfaat sebagai pemberi energi bagi sperma sekaligus sebagai penetral asam pada alat kelamin wanita. Bahkan cairan ini juga yang membantu melicinkan sekitar sperma agar pergerakannya semakin mudah. Maka, dalam Al-Qur’an pun Allah SWT juga telah menjelaskannya; “Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan : 2).

Jenis kelamin ditentukan oleh sel kelamin laki-laki

  • Allah SWT berfiman yang artinya; “Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (QS. An-Najm : 45-46).
  • Sebelumnya, dipercaya bahwa jenis kelamin ditentukan oleh kromosom wanita, atau paling tidak merupakan campuran daripada kromosom laki-laki dan wanita. Namun, berdasarkan ayat di atas, Allah menjelaskan bahwasanya penentu jenis kelami bayi berasal dari air mani yang dipancarkan. Air mani ini sendiri berasal dari si Ayah yakni laki-laki. Maksudnya, ialah sel kromosom yang mana dari si laki-laki yang kemudian bergabung dengan sel kromosom pada wanita yang menentukan jenis kelamin si anak. Maka, pada zaman sekarang, hal ini juga telah dibuktikan oleh penelitian para ilmuan bahwasanya benar bahwa penentu jenis kelamin bayi adalah sel kromosom laki-laki.

Janin dapat melekat pada dinding rahim ibu layaknya lintah

  • Berkat kemajuan teknologi, manusia dapat melihat bahwa zigot yang terbentuk di dalam kandung telur (rahim ibu) kemudian menempel pada dinding rahim. Dari perlekatan ini pula zigot mendapat asupan nutrisi dan secara bertahap perkembangan dan pertumbuhan dimulai hingga zigot terlebut terlahir menjadi seorang bayi. Ingat, ini adalah informasi yang diperoleh manusia saat mikroskop telah berhasil dikembangkan dengan canggih. Sementara Allah SWT telah menjelaskan semua ini dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu. Allah SWT berfirman yang artinya; “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-‘Alaq : 1-3).
  • Dalam bahasa Arab, kata “Alaq” berarti sesuatu yang menempel pada suatu tempat. Secara harfiah, kata ini diibaratkan sebagai lintah yang menempel pada tubuh manusia untuk menghisap darah. Jadi, ketika kita merujuk pada ayat di atas, jelas sudah bahwa Allah telah menjelaskan dengan serinci-rincinya bahwasanya manusia itu saat masih berbentuk segumpal darah (zigot), ia melekat erat pada dinding rahim sang Ibu layaknya lintah yang menempel pada tubuh manusia. Allah menjelaskan semua ini bahkan sebelum adanya teknologi canggih seperti sekarang.

Manusia berkembang di dalam tiga bagian yang gelap di dalam rahim

  • Allah SWT berfirman yang artinya; “… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az-Zumar : 6).
  • Dari ayat di atas Allah menerangkan bahwa selama dalam kandungan, manusia melalui tiga bagian kegelapan di dalam rahim ibu. Secara ilmiah kemudian diketahui bahwa apa yang dimaksudkan Allah dengan tiga bagian kegelapan itu ialah tiga tahapan pertumbuhan janin yang jika dijelakan adalah sebagai berikut:
  • Tahap Pre-embrionik – Zigot yang terbentuk dari pembelahan sel kemudian berkembang menjadi segumpal darah lalu menempel pada dinding rahim. Zigot ini terus berkembang sampai kemudian terbentuk tiga lapisan yang menyelubunginya.
  • Tahap Embrionik – Zigot telah berkembang menjadi embrio, dimana lapisan-lapisan tadi berkembang membentuk organ dan sistem tubuh bayi.
  • Tahap Fetus – Pada tahap ini embrio telah berkembang menjadi fetus, terus dan terus bertumbuh dan berkembang sampai akhirnya tiba waktunya melahirkan.
  • Maka, semua informasi itu baru diketahui oleh manusia setelah mereka melakukan berbagai penelitian. Sedangkan awal telah jauh-jauh hari menjelaskannya dalam Al-Qur’an. Akan tetapi, dengan adanya penelitian ini pun maka terbukti bahwa apa-apa yang Allah sampaikan dalam Al-Qur’an memang tak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Keajaiban Al-Qur’an tentang Fungsi Otak

  • Selama ini kita mengenal bahwa otak ialah pusat daripada seluruh sistem tubuh kita. Hal itu terbukti dari penelitian para ilmuan yang kemudian dituangkan dalam buku teks pelajaran di sekolah-sekolah sehingga kita mengetahui bahwa fungsi otak ialah sebagai kendali tubuh. Namun ternyata, Allah SWT telah menjelaskan semua itu lebih dulu sekali di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya yang berarti;
  • “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al-Alaq : 15-16).
  • Allah menyebutkan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka”, maka, jika kita ingin menjelaskan mengenai apa maksud dari ubun-ubun tersebut, kita bisa merujuk pada ilmu anatomi dan fisiologi mengenai otak manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam ilmu tersebut, bagian prefrontal yang mengatur fungsi khusus otak ternyata terletak pada bagian dengan tulang tengkorak. Daerah ini yang kemudian kita kenal sebagai otak besar atau serebrum. Bagian ini adalah yang terlibat dalam pengaturan fungsi perencanaan dan permulaan gerakan. Tepatnya dibagian lobi frontal dan bagian prefrontal. Dengan kata lain, serebrum atau otak besar bertugas sebagai perencana, pendorong, dan starter daripada perilaku manusia serta yang bertanggung jawab atas perkataan jujur atau dusta. Terbukti bahwa firman Allah yang menyatakan bahwa “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” ialah penggambaran bahwasanya otak besar, bagian frontal, dekat dengan ubun-ubun, ialah bagian yang berfungsi untuk menentukan ucapan jujur maupun dusta. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan baru bisa mengungkapkannya sekitar setengah abad belakangan sementara Al-Qur’an telah menjelaskannya sejak 14 abad yang lalu.

Keajaiban Al-Qur’an tentang Air Susu Ibu

  • Air Susu Ibu (ASI) ialah makanan paling sempurna bagi seorang bayi. Air susu ibu mengandung banyak gizi dan nutrisi lainnya yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tidak ada ilmu pengetahuan yang menampik hal tersebut karena secara ilmiah sekalipun air susu ibu telah terbukti manfaatnya. Begitu istimewanya ciptaan Allah yang satu ini, bahkan sebaik-baiknya sumber makanan yang dapat diciptakan manusia modern sekalipun tidak ada yang bisa menandingi kehebatan ASI. Bahkan, program ASI Eksklusif, dimana ibu menyusui dilarang memberikan makanan tambahan kepada bayinya sampai umur 6 bulan dan tetap memberikan ASI sampai bayi berumur sekitar 2 tahun baru kemudian dilakukan penyapihan, Allah SWT telah menjelaskannya sejak ratusan tahun yang lalu dalam firman-Nya yang artinya;
  • “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).

Mengapa Malaikat Tak Mau Masuk Rumah ?

Tempat yang tidak di sukai malaikat saat masuk di rumah anda

Menurut syariat Islam ada beberapa tempat dimana para malaikat tidak akan mendatangi tempat (rumah) tersebut dan ada pendapat lain yang mengatakan adanya pengecualian terhadap malaikat-malaikat tertentu yang tetap akan mengunjungi tempat-tempat tersebut. Pendapat ini telah disampaikan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya. Tempat atau rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat itu di antara lain adalah:

1. Tempat yang di dalamnya terdapat anjing, (kecuali anjing untuk kepentingan penjagaan keamanan, pertanian dan berburu);

  • “Siapa yang menjadikan anjing – kecuali anjing penjaga ternak, atau anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman- niscaya berkuranglah satu qirath pahalanya setiap hari” Hadits riwayat Al-Bukhari dengan seumpamanya dalam Adz-Dzba’ih dan Ash-Shaid (5480-5482), Muslim dalam Al-Musaqat (1574)
  • Abu Haurairah mengatakan bahwa Muhammad bersabda: “Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing.” Hadits riwayat Muslim
  • Malaikat Jibril pun enggan untuk masuk ke rumah Muhammad sewaktu ia berjanji ingin datang ke rumahnya, dikarenakan ada seekor anak anjing di bawah tempat tidur.
  • Malaikat Rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan (memelihara) anjing.
  • Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. “Kapan anjing ini masuk ?” tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : “Entahlah”. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. “Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung).” Hadits riwayat Muslim.
  • Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing”. Hadits riwayat Muslim

2. Tempat yang terdapat patung (gambar);

  • Rasulullah bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar (patung)” Hadits riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

3. Tempat yang di dalamnya ada seseorang muslim yang mengancungkan dengan senjata terhadap saudaranya sesama muslim;

  • Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengarahkan (mengancam) saudaranya (muslim) dengan benda besi (pisau misalnya), maka orang itu dilaknat oleh malaikat, sekalipun orang itu adalah saudara kandungnya sendiri.”Hadits riwayat Muslim.

4. Tempat yang memiliki bau tidak sedap atau menyengat.

  • Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan makanan tidak sedap lainnya, maka jangan sekali-kali ia mendekati (memasuki) masjid kami, oleh karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari apa-apa yang mengganggu manusia.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
  • Kesemuanya itu berdasarkan dalil dari hadits shahih yang dicatatat oleh para Imam, di antaranya adalah Ahmad, Hambali, Bukhari, Tirmidzy, Muslim dan lainnya. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Tafsir Quran Al Mu’minun 1-11

Al Mu’minun, ayat 1-11
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ سُلَيْم قَالَ: أَمْلَى عليَّ يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ الْأَيْلِيُّ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَة بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: كَانَ إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم الوحيُ، يُسْمَعُ عِنْدَ وَجْهِهِ كدَوِيّ النَّحْلِ فَمَكثنا سَاعَةً، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ، فَقَالَ:”اللَّهُمَّ، زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنا، وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمْنَا، وآثِرْنا وَلَا تُؤْثِرْ [عَلَيْنَا، وَارْضَ عَنَّا] وأرضِنا”، ثُمَّ قَالَ: “لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلِيَّ عَشْرُ آيَاتٍ، مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ”، ثُمَّ قَرَأَ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} حَتَّى خَتَمَ العَشْر.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Sulaim yang mengatakan bahwa ia telah mencatat apa yang dikatakan oleh Yunus ibnu Yazid Al-Aili, dari Ibnu Syihab, dari Urwah ibnuzZubair, dari Abdur Rahman ibnu Abdul Qari yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Khalifah Umar ibnul Khattab mengatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam apabila diturunkan wahyu kepadanya terdengar suara seperti suara lebah di dekat wajahnya. Maka kami diam sesaat, dan beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menghadap ke arah kiblat, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, berilah kami tambahan dan janganlah Engkau kurangi kami, berilah kami kemuliaan dan janganlah Engkau hinakan kami, berilah kami dan janganlah Engkau menghalangi kami dari pemberian-Mu, pilihlah kami dan janganlah Engkau ke sampingkan kami, dan ridailah kami dan jadikanlah kami puas (dengan keputusan-Mu)’.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat; barang siapa yang mengamalkannya, niscaya ia masuk surga. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membaca firman-Nya: Sesungguhnya telah beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) hingga akhir ayat kesepuluh.

Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam kitab tafsir dan Imam Nasai di dalam kitab salat melalui hadis Abdur Razzaq dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar, kami tidak mengenal ada seseorang yang meriwayatkannya dari Yunus ibnu Sulaim, sedangkan Yunus sendiri orangnya tidak kami kenal.

قَالَ النَّسَائِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ: أَنْبَأَنَا قُتَيْبَةَ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ بابَنُوس قَالَ: قُلْنَا لِعَائِشَةَ: يَا أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، كَيْفَ كَانَ خُلُق رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَتِ: كَانَ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَقَرَأَتْ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} حَتَّى انتَهَتْ إِلَى: {وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ} ، قَالَتْ: هَكَذَا كَانَ خُلُق رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Imam Nasai mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ja’far, dari Abu Imran, dari Yazid ibnu Babanus yang mengatakan, “Kami pernah bertanya kepada Siti Aisyah Ummul Mu’minin, ‘Bagaimanakah akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam’?” SitAisyah Radhiyallahu Anhu menjawab: Akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah Al-Qur’an. Kemudian Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu membaca firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) sampai dengan firman-Nya: dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9) Kemudian Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu berkata, “Demikianlah akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”

Telah diriwayatkan dari Ka’bul Ahbar, Mujahid, dan Abul Aliyah serta lain-lainnya, bahwa setelah Allah menciptakan surga ‘Adn dan memberinya tanaman dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, lalu Allah memandangnya dan berfirman kepadanya, “Berbicaralah kamu !” Maka surga ‘Adn mengucapkan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Ka’bul Ahbar mengatakan, surga ‘Adn berkata demikian karena mengingat semua kehormatan yang disediakan oleh Allah di dalamnya bagi orang-orang mukmin. Abul Aliyah mengatakan, bahwa lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyitirkan kalimat tersebut di dalam Kitab (Al-Qur’an)-Nya.

Hal tersebut telah diriwayatkan melalui Abu Sa’id Al-Khudri secara marfu’. Untuk itu Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Maslamah, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Allah menciptakan surga yang bangunannya terbuat dari batu bata emas dan batu bata perak, serta Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya tanam-tanaman. Lalu Allah berfirman kepadanya, “Berbicaralah kamu!” Lalu surga mengatakan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Maka para malaikat memasukinya dan mereka berkata, “Beruntunglah engkau sebagai tempat para raja.”

Kemudian Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan:

حَدَّثَنَا بِشْر بْنُ آدَمَ، وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ العُمَري، حَدَّثَنَا عَدِي بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا الجُرَيْرِي، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ، لَبِنَةً مِنْ ذَهَبٍ وَلَبِنَةٍ مِنْ فِضَّةٍ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ”. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَرَأَيْتُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ: “حَائِطُ الْجَنَّةِ، لَبِنَةٌ ذَهَبٌ وَلَبِنَةٌ فِضَّةٌ، ومِلاطُها الْمِسْكُ. فَقَالَ لَهَا: تَكَلَّمِي. فَقَالَتْ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: طُوبَى لَكِ، مَنْزِلَ الْمُلُوكِ! “.

telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan pula kepada kami Yunus ibnu Ubaidillah Al-Umri, telah menceritakan kepada kami Addi ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda, “Allah menciptakan surga dari batu bata emas dan batu bata perak, sedangkan plesterannya dari minyak kesturi.” Al-Bazzar mengatakan, ia melihat hadis ini di lain tempat yang bunyinya mengatakan, “Tembok surga terbuat dari batu bata emas dan batu bata perak, sedangkan plesterannya terbuat dari minyak kesturi.” Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Berbicaralah kamu!” Lalu surga mengatakan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Maka para malaikat berkata, “Beruntunglah engkau menjadi tempat raja-raja.”

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui seorang pun yang me-rafa’-kan hadis ini selain Addi ibnul Fadl, sedangkan dia orangnya tidak Hafiz, lagi pula seorang manula yang sudah dekat masa ajalnya.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، عَنِ ابْنِ جُرَيْج، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ جَنَّةَ عَدْن، خَلَقَ فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، [وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ]، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. ثُمَّ قَالَ لَهَا: تَكَلَّمِي. فَقَالَتْ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ}

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Setelah Allah menciptakan surga Adn, Allah menciptakan di dalamnya segala macam apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terdelik di dalam hati seorang manusia pun. Sesudah itu Allah berfirman kepadanya, “Berbicaralah kamu!” Maka. surga berkata: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1)

Baqiyyah menurut ulama Hijaz berpredikat daif (lemah dalam periwayatan hadis).

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا حماد ابن عِيسَى الْعَبْسِيُّ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ السُّدِّيّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -يَرْفَعُهُ-: “لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ جَنَّةَ عَدْن بِيَدِهِ، ودَلَّى فِيهَا ثِمَارَهَا، وَشَقَّ فِيهَا أَنْهَارَهَا، ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} . قَالَ: وَعِزَّتِي لَا يُجَاوِرُنِي فيك بخيل”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Minjab ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Isa Al-Absi, dari Ismail As-Saddi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang me-rafa ‘-kannya bahwa setelah Allah menciptakan surga ‘Adn dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, dan menjuntaikan buah-buahannya serta membelah sungai-sungainya, lalu Allah memandang kepadanya. Maka surga ‘Adn berkata: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1) Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak boleh ada seorang bakhilpun bertempat padamu berdampingan dengan-Ku.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ بْنُ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنَا محمد بن المثنى البَزَّار، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ الْكَلْبِيُّ، حَدَّثَنَا يَعِيشُ بْنُ حُسَيْنٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَة، عَنْ قَتادة، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “خَلَقَ اللَّهُ جَنَّةَ عَدْنٍ بِيَدِهِ، لَبِنَةً مِنْ دُرَّة بَيْضَاءَ، وَلَبِنَةً مِنْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ، وَلَبِنَةً مِنْ زَبَرْجَدَةَ خَضْرَاءَ، ملاطُها الْمِسْكُ، وحَصْباؤها اللُّؤْلُؤُ، وحَشِيشها الزَّعْفَرَانُ، ثُمَّ قَالَ لَهَا: انطِقِي. قَالَتْ: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ} فَقَالَ اللَّهُ: وَعِزَّتِي، وَجَلَالِي لَا يُجَاوِرُنِي فِيكِ بَخِيلٌ”. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

Abu Bakar ibnu Abud Dunya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Ya’isy ibnu Husain, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Anas Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Pernah bersabda: Allah menciptakan surga ‘Adn dengan tangan (kekuasaan)Nya sendiri memakai batu bata dari intan putih, batu bata yaqut merah, dan batu bata zabarjad hijau; plesterannya dari minyak kesturi, batu bata kerikilnya dari mutiara, dan rerumputannya dari za’faran. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Berbicaralah kamu!” Maka surga ‘Adn mengucapkan, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” Maka Allah Swt. berfirman, “Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak boleh ada seorang bakhil pun bertempat padamu berdampingan dengan-Ku.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membaca firman-Nya: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9)

*****

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ}

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al Mu’minun: 1)

Yakni sungguh telah beruntung, berbahagia, dan beroleh keberhasilan mereka yang beriman lagi mempunyai ciri khas seperti berikut, yaitu:

{الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ}

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al Mu’minun: 2)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, “Khasyi’un,” bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah lagi tenang. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Az-Zuhri. Telah diriwayatkan dari Ali ibnu Abu Talib Radhiyallahu Anhu bahwa khusyuk artinya ketenangan hati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha’i. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, ketenangan hati mereka membuat mereka merundukkan pandangan matanya dan merendahkan dirinya.

Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa dahulu sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selalu mengarahkan pandangan mata mereka ke langit dalam salatnya. Tetapi setelah Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al Mu’minun: 1-2) Maka mereka merundukkan pandangan matanya ke tempat sujud mereka. Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa sejak saat itu pandangan mata mereka tidak melampaui tempat sujudnya. Dan apabila ada seseorang yang telah terbiasa memandang ke arah langit, hendaklah ia memejamkan matanya. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Kemudian Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui ibnu Abbas —juga Ata ibnu Abu Rabah— secara mursal, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melakukan hal yang serupa (memandang ke arah langit) sebelum ayat ini diturunkan.

Khusyuk dalam salat itu tiada lain hanya dapat dilakukan oleh orang yang memusatkan hati kepada salatnya, menyibukkan dirinya dengan salat, dan melupakan hal yang lainnya serta lebih baik mementingkan salat daripada hal lainnya. Dalam keadaan seperti ini barulah seseorang dapat merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam salatnya, seperti yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai melalui sahabat Anas dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“حُبِّبَ إليَّ الطِّيب وَالنِّسَاءُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ”

Aku dijadikan senang kepada wewangian, wanita, dan dijadikan kesenangan hatiku bila dalam salat.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا مِسْعَر، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّة، عَنْ سَالِمِ بْنِ أبي الجَعْد، عَنْ رَجُلٍ مِنْ أسلَم، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Amr ibnu Murrah, dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari seorang lelaki dari Bani Aslam, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Hai Bilal, hiburlah kami dengan salat.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا؛ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِي، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ عثمان بن المغيرة، عن سالم ابن أَبِي الْجَعْدِ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى صِهْرٍ لَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ، فحَضَرت الصَّلَاةُ، فَقَالَ: يَا جَارِيَةُ، ائْتِنِي بوَضُوء لَعَلِّي أُصَلِّي فَأَسْتَرِيحَ. فَرَآنَا أَنْكَرْنَا عَلَيْهِ ذَلِكَ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “قُمْ يَا بِلَالُ، فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ”

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Usman ibnul Mugirah, dari Salim ibnu Abul Ja’d; Muhammad ibnul Hanafiyah pernah mengatakan bahwa ia bersama ayahnya (Ali ibnu Abu Talib Radhiyallahu Anhu) pernah berkunjung ke rumah salah seorang iparnya dari kalangan Ansar, lalu datanglah waktu salat, kemudian Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Hai budak perempuan, ambilkanlah air wudu, aku akan mengerjakan salat agar hatiku terhibur.” Ketika ia memandang ke arah kami yang merasa heran dengan ucapannya, maka ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Beriqamahlah, hai Bilal, dan hiburlah hati kami dengan salat.

*****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ}

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (Al Mu’minun: 3)

Yaitu dari hal-hal yang batil yang pengertiannya mencakup pula hal-hal yang musyrik, seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama. Juga hal-hal maksiat seperti yang dikatakan oleh sebagian lainnya. Mencakup pula semua perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}

dan apabila mereka bersua dengan (orang-orang) yang mengerja­kan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)

Qatadah mengatakan, “Demi Allah, mereka telah diberi kekuatan oleh Allah yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut.”

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ}

dan orang-orang yang menunaikan zakat. (Al Mu’minun: 4)

Menurut kebanyakan ulama, makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakat harta benda, padahal ayat ini adalah ayat Makkiyyah; dan sesungguhnya zakat itu baru difardukan setelah di Madinah, yaitu pada tahun dua Hijriah. Menurut makna lahiriahnya, zakat yang di fardukan di Madinah itu hanyalah mengenai zakat yang mempunyai nisab dan takaran khusus. Karena sesungguhnya menurut makna lahiriahnya, prinsip zakat telah difardukan sejak di Mekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam surat Al-An’am yang Makkiyyah, yaitu:

{وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ}

dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin). (Al-An’am: 141)

Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakatun nafs (membersihkan diri) dari kemusyrikan dan ke­kotoran. Sama pengertiannya dengan apa yang terdapat dalam firman-Nya:

{قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا}

sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams: 9-10)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:

{وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ. الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ}

dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang memper-sekutukan-(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat. (Fushshilat: 6-7)

Hal ini menurut salah satu di antara dua pendapat yang mengatakan tentang tafsirnya. Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud adalah kedua pengertian tersebut secara berbarengan, yaitu zakat jiwa dan zakat harta. Karena sesungguhnya termasuk di antara zakat ialah zakat diri (jiwa), dan orang mukmin yang sempurna ialah orang yang menunaikan zakat jiwa dan zakat harta bendanya. Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.

*****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ}

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 5-7)

Artinya, orang-orang yang memelihara kemaluan mereka dari perbuatan yang diharamkan. Karena itu mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti zina dan liwat. Dan mereka tidak mendekati selain dari istri-istri mereka yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka, atau budak-budak perempuan yang mereka miliki dari tawanan perangnya. Barang siapa yang melakukan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, maka tiada tercela dan tiada dosa baginya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ}

maka sesungguhnya mereka tidak tercela dalam hal ini. Barang siapa mencari yang di balik itu. (Al Mu’minun: 6-7)

Yakni selain istri dan budak perempuannya.

{فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ}

maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 7)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah men­ceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, bahwa pernah ada seorang wanita mengambil budak laki-lakinya (sebagai kekasihnya) dan mengatakan bahwa ia melakukan perbuatannya itu karena bertakwilkan kepada firman Allah yang mengatakan: atau budak yang mereka miliki. (Al Mu’minun: 6) Lalu ia ditangkap dan dihadapkan kepada Khalifah Umar ibnul Khattab Radhiyallahu Anhu, dan orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam mengatakan bahwa perempuan itu menakwilkan suatu ayat dari Kitabullah dengan takwil yang menyimpang. Kemudian budak laki-laki itu dihukum pancung, dan Khalifah Umar berkata kepada wanita itu,”Engkau sesudah dia, haram bagi setiap orang muslim.”

Asar ini berpredikat garib lagi munqati’, disebutkan oleh Ibnu Jarir di dalam tafsir permulaan surat Al-Maidah, padahal kalau dikemukakan dalam tafsir ayat ini lebih cocok. Sesungguhnya Khalifah Umar men­jatuhkan sangsi haram terhadap wanita tersebut bagi kaum laki-laki muslim, sebagai pembalasan terhadap perbuatannya, yaitu dengan menimpakan hukuman yang bertentangan dengan niat yang ditujunya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Syafii dan orang-orang yang mendukungnya telah mengambil ayat ini sebagai dalil dari pendapatnya yang mengatakan bahwa mastrubasi itu haram, yaitu firman-Nya: dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau budak yang mereka miliki. (Al Mu’minun: 5-6)

Imam Syafii mengatakan bahwa perbuatan mastrubasi itu di luar kedua perkara tersebut. Karena itu, mastrubasi haram hukumnya. Dan se­sungguhnya Allah Swt. telah berfirman: Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mu’minun: 7)

Mereka berdalilkan pula dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hasan ibnu Arafah dalam kitab Juz-nya yang terkenal.

حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ الجَزَريّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَا يَجْمَعُهُمْ مَعَ الْعَامِلِينَ، وَيُدْخِلُهُمُ النَّارَ أَوَّلَ الدَّاخِلِينَ، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، فَمَنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ: نَاكِحُ يَدِهِ، وَالْفَاعِلُ، وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالضَّارِبُ وَالِدَيْهِ حَتَّى يَسْتَغِيثَا، وَالْمُؤْذِي جِيرَانَهُ حَتَّى يَلْعَنُوهُ، وَالنَّاكِحُ حَلِيلَةَ جَارِهِ”

Ia me­ngatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Sabit Al-Jazari, dari Maslamah ibnu Ja’far, dari Hassan ibnu Humaid, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Ada tujuh macam orang yang Allah tidak mau memandang mereka kelak di hari kiamat dan tidak mau membersihkan mereka (dari dosa-dosanya), dan tidak menghimpunkan mereka bersama orang-orang yang beramal (baik), dan memasukkan mereka ke neraka bersama orang-orang yang mula-mula masuk neraka, terkecuali jika mereka bertobat; dan barang siapa yang bertobat, Allah pasti menerima tobatnya. Yaitu orang yang kawin dengan tangan­nya (mastrubasi), kedua orang yang terlibat dalam homoseks, pecandu minuman khamr, orang yang memukuli kedua orang tuanya hingga keduanya meminta tolong, orang yang meng­ganggu tetangga-tetangganya sehingga mereka melaknatinya, dan orang yang berzina dengan istri tetangganya.

Hadis berpredikat garib, di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal karena kemisteriannya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ}

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikul­nya) dan janjinya. (Al Mu’minun: 8)

Yakni apabila mereka dipercaya, tidak berkhianat; bahkan menunaikan amanat itu kepada pemiliknya. Apabila mereka berjanji atau mengadakan transaksi, maka mereka menunaikannya dengan benar, tidak seperti sikap orang-orang munafik yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mempunyai ciri khas berikut, melalui, sabdanya:

“آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّث كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وإذا اؤتمن خَانَ”.

Pertanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat.

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ}

dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9)

Maksudnya, mengerjakannya secara rutin tepat pada waktunya masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu ketika ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: “الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا”. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: “بِرُّ الْوَالِدَيْنِ”. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: “الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”.

Aku pernah bertanya; “Wahai Rasulullah amal apakah yang paling disukai oleh Allah?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Mengerjakan salat di dalam waktunya.” Saya bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Berjihad pada jalan Allah.”

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing. Di dalam kitab Mustadrak-nya Imam Hakim disebutkan seperti berikut:

“الصلاة في أول وقتها”

Mengerjakan salat pada permulaan waktunya.

Ibnu Mas’ud dan Masruq telah berkata sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al Mu’minun: 9) Yaitu memelihara waktu-waktu salat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh AbudDuha, Alqamah ibnu Qais, Sa’id ibnu Jubair, dan Ikrimah. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjaga waktu-waktunya, rukuk dan sujudnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka penyebutan sifat-sifat yang terpuji itu dengan menyebutkan salat, kemudian diakhiri pula dengan penyebutan salat. Hal ini menunjukkan keutamaan salat, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya:

“اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ”

Bersikap istiqamah (lurus)-lah, dan sekali-kali (pahala) kalian tidak akan dihitung-hitung, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah salat; dan tiada yang dapat memelihara wudu, melainkan hanya orang mukmin.

Setelah Allah menyifati orang-orang mukmin, bahwa mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji dan melakukan perbuatan-perbuatan yang terbaik, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mu’minun: 10-11)

Di dalam kitabSahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ”

Apabila kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus itu adalah surga yang tertinggi dan paling pertengahan, darinya bersumberkan semua sungai surga, dan di atasnya terdapat ‘Arasy (singgasana) Tuhan Yang Maha Pemurah.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَان، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَلَهُ مَنْزِلَانِ: مَنْزِلٌ فِي الْجَنَّةِ وَمَنْزِلٌ فِي النَّارِ، فَإِنْ مَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ وَرثَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنْزِلَهُ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: {أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ}

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Tiada seorang pun di antara kalian melainkan mempunyai dua tempat tinggal, yaitu tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Jika ia mati dan ternyata masuk nereka, maka penduduk surga mewarisi tempat tinggalnya (yang ada di surga). Yang demikian itu disebutkan dalam firman-Nya, “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi” (Al Mu’minun: 10)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Al-Lais, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Al Mu’minun: 10) Bahwa tiada seorang hamba (Allah) pun melainkan mempunyai dua tempat tinggal, yaitu tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Adapun orang mukmin, dia membangun rumahnya yang berada di dalam surga dan merobohkan rumahnya yang ada di neraka. Sedangkan orang kafir merobohkan rumahnya yang ada di dalam surga dan membangun rumahnya yang ada di neraka.

Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari.Sa’id ibnu Jubair. Orang-orang mukmin mewarisi tempat-tempat tinggal orang-orang kafir, karena pada asalnya orang-orang kafir itu diciptakan agar beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Mengingat orang-orang mukmin mengerjakan semua ibadah yang diperintahkan kepada mereka, sedangkan orang-orang kafir meninggalkan apa yang mereka diciptakan untuk mengerjakannya (yaitu beribadah kepada Allah), maka orang-orang mukmin merebut bagian orang-orang kafir seandainya mereka taat kepada Tuhannya.

Bahkan dalam keterangan yang lebih jelas lagi disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui Abu Burdah, dari Abu Musa, dari ayahnya, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَاسٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِذُنُوبٍ أَمْثَالِ الْجِبَالِ، فَيَغْفِرُهَا اللَّهُ لَهُمْ، ويضَعُها عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى”

Segolongan orang dari kalangan kaum muslim didatangkan kelak pada hari kiamat dengan membawa dosa-dosa yang sebesar-besar gunung, lalu Allah memberikan ampunan bagi mereka dan menimpakan dosa-dosa itu kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Menurut lafaz yang lain dari Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دَفَعَ اللَّهُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا، فَيُقَالُ: هَذَا فَكَاكُكَ مِنَ النَّارِ”.

Apabila hari kiamat telah terjadi, Allah menyerahkan kepada setiap orang muslim seorang Yahudi atau seorang Nasrani, lalu Allah berfirman, “Inilah tebusanmu dari neraka.”

Kemudian Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz menyumpah Abu Burdah yang menceritakan hadis ini dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia sebanyak tiga kali sumpah, yang isinya mengatakan bahwa ayahnya benar-benar menceritakan hadis ini kepadanya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maka Abu Burdah bersumpah kepadanya.

Menurut saya, makna ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا}

Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa. (Maryam: 63)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:

{وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dahulu kalian kerjakan. (Az-Zukhruf: 72)

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa surga dengan memakai bahasa Romawi berarti Firdaus (Paradis). Sebagian ulama Salaf mengatakan, taman tidak dinamakan Firdaus kecuali bila di dalamnya terdapat pohon anggur. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Bulan Ramadhan Anugerah Teragung

Bulan Ramadhan Anugerah Teragung

Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepada para hamba-Nya nikmat yang sangat banyak dan tidak terhitung. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh, kamu tidak akan dapat menghitungnya [Ibrahim/14:34]

Nikmat-nikmat itu ada yang bersifat mutlak dan ada pula yang bersifat muqayyad (terikat); ada yang bersifat keagamaan dan ada pula yang bersifat keduniaan. Allâh Azza wa Jalla menunjukkan para hamba-Nya kepada kenikmatan- kenikmatan tersebut lalu Allâh Azza wa Jalla juga membimbing mereka untuk meraih kenikmatan tersebut. Allâh Azza wa Jalla juga menyeru para hamba untuk masuk ke dalam dâris salâm (surga). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allâh menyeru (manusia) ke dârus salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). [Yûnus/10:25]

Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kesehatan akal dan fisik kepada mereka, memberikan rezeki yang halal, menundukkan untuk mereka apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Semua anugerah ini berasal Allâh Azza wa Jalla diberikan kepada para hamba-Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya, beribadah hanya kepadanya serta tidak menyekutukannya. Dengan melakukan itu semua, mereka akan meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan bisa selamat dari siksa-Nya.

Salah satu contoh nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman yaitu disyari’atkannya buat mereka puasa pada bulan yang penuh berkah yaitu Ramadhan. Allâh Azza wa Jalla menjadikan puasa ini sebagai salah satu rukun agama Islam. Oleh karena puasa itu merupakan nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada hamba-Nya, maka Allâh Azza wa Jalla menutup ayat yang mengandung perintah untuk puasa pada bulan ramadhan dengan firman-Nya:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Supaya kamu bersyukur [al-Baqarah/2:185]

Karena bersyukur merupakan tujuan dari penciptaan makhluk dan pemberian beragam kenikmatan.

Hakikat syukur adalah mengakui nikmat tersebut datang dari Allâh Azza wa Jalla dibarengi dengan ketundukan kepada-Nya, merendahkan diri dan mencintai-Nya.

Barangsiapa tidak mengetahui suatu nikmat maka dia tidak bisa bersyukur.
Barangsiapa mengetahui sebuah kenikmatan akan tetapi dia tidak mengetahui Pemberinya maka dia juga tidak akan bisa mensyukurinya.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya namun dia mengingkari kenikmatan tersebut maka itu artinya dia telah kufur terhadap nikmat tersebut.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya dan dia juga mengakui kenikmatan tersebut, hanya saja dia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mematuhi-Nya, dan tidak mencintai Pemberinya serta tidak ridha dengan-Nya, maka dia belum dianggap bersyukur.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui pemberinya lalu dia tunduk kepada-Nya, mencintai Permberi nikmat, ridha terhadap-Nya serta menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan dalam rangka menaati-Nya, maka dialah orang yang dikatakan bisa bersyukur terhadap sebuah kenikmatan.

Dari penjelasan ini, tampak jelas bahwa syukur itu terbangun di atas lima kaidah :

• Ketundukan orang yang bersyukur kepada Allâh
• Mencintai-Nya,
• Mengakui nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepadanya,
• Memuji-Nya karena Dia telah memberikan nikmat kepadanya,
• Menggunakan nikmat tersebut dalam rangka mentaat-Nya,

Lima hal ini merupakan pondasi syukur. Ketika salah satu dari lima pondasi ini hilang atau tidak ada, maka rasa syukur tersebut tidak dianggap atau nilainya berkurang. Dan semua orang yang berbicara tentang syukur serta pengertiannya, maka perkataannya tidak akan pernah keluar dari lima hal di atas[2].

Dalam upaya merealisasikan rasa syukur ini, manusia atau para hamba Allâh Azza wa Jalla terbagi menjadi berbagai tingkatan tergantung sejauh mana mereka mengenal Pencipta yang Mahaagung, Pemberi nikmat yang Mahamulia. Diantara mereka ada yang memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla secara terperinci, memahami betapa agung ciptaan-Nya dan perbutatan-NYa, mengetahui betapa indah ciptaan Allâh. Orang seperti ini hatinya akan penuh dengan kecintaan kepada Allâh, lisannya akan dipenuhi dengan pujian, anggota badannya akan selalu melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allâh. Dia mengakui semua nikmat yang diberikan kepadanya, dan mempergunakannya pada hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla. Diantara manusia juga ada yang tenggelam dalam kelalaian dan kejahilan tentang Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang seperti ini akan semakin jauh dari Allâh Azza wa Jalla dengan sebab pengingkaran yang dia lakukan terhadap nikmat Allâh, atau dia tidak mengingkarinya akan tetapi dia tidak mau tunduk dan patuh terhadap perintah dan syari’at Allâh Azza wa Jalla .

Bulan Ramadhan yang penuh berkah merupakan anugrah ilahi kepada seluruh hamba, agar mereka yang beriman bertambah keimanan mereka, sementara orang-orang yang melampui batas (yang melakukan berbagai pelanggaran-red) serta yang meremehkan syari’ah bisa bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla mengistimewakan bulan ini dengan berbagai kekhususan dan keistimewaan yang tidak ada pada bulan yang lainnya.

Berikut akan disebutkan beberapa keistimewaan bulan ini dengan harapan agar kita bisa bisa memahami betapa agung nikmat bulan Ramadhan ini supaya kita semakin tergerak untuk bersyukur dengan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya.

a. Bulan Ramadhan teristimewa dengan al-Qur’ân, karena pada bulan ini al-Qur’ân diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) [al-Baqarah/2:185]

Dalam ayat tersebut, Allâh Azza wa Jalla menyanjung bulan Ramadhan diantara bulan-bulan lainnya, dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya al-Qur’an, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa bulan Ramadhân merupakan waktu diturunkan seluruk kitab-kitab Allâh Azza wa Jalla kepada para nabi. Dalam Musnad karya Imam Ahmad dan Mu’jamul Kabîr karya Imam Thabrani dari shahabat Wâtsilah bin ‘Asqa’, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُنْزِلَتِ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Shuhuf Nabi Ibrâhim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat pada hari keenam bulan Ramadhan, sedangkan Injil pada hari ketiga belas dari bulan Ramadhan, sedangkan al-Qur’ân diturunkan pada hari kedua puluh empat dari bulan Ramadhan[3].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kitab-kitab samawiyah diturunkan kepada para rasul di bulan Ramadhan, hanya saja kitab-kitab itu diturunkan sekaligus (tidak bertahap), sementara al-Qur’ân karena kemulian dan keagungan yang dimilikinya, dia diturunkan sekaligus ke Baitil Izzah di langit dunia (pertama) dan itu terjadi saat lailatul qadar pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’ân) pada malam kemuliaan [al-Qadr/97:1]

Dan firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [ad-Dukhân/44:3]

Kemudian setelah itu, diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap. Ini menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan. Dan bulan ini menjadi istimewa dengan sebab al-Qur’ân, yang mana pada bulan ini ummat manusia mendapakan keutamaan yang besar dari Allâh, yaitu turunnya wahyu Allâh Azza wa Jalla yang membawa hidayah bagi ummat manusia, bagi kebaikan mereka di dunia maupun di akhirat. al-Qur’an juga merupakan pembeda antara petunjuk dan kesesatan, pembeda antara haq dan bathil, antara cahaya dan kegelapan.

b. Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena padanya ada lailatul qadar yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar (malam kemuliaan) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [al-Qadr/97:2-3]

Maksudnya adalah amalan yang dilakukan pada saat lailatul qadr lebih baik daripada amalan yang dilakukan pada seribu bulan selain bulan Ramadhan.

c. Bulan Ramadhan menjadi istimewa juga karena ada ibadah puasa. Puasa pada bulan ini bisa menjadi sebab terhapusnya dosa. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni [4]

Yang dimaksud dengan penuh keimanan adalah keimanan yang penuh kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari-Nya, tidak benci terhadap kewajiban puasa serta tidak ragu terhadap pahala yang akan didapatkannya. Orang seperti ini, akan diampuni semua dosa yang telah lalu oleh Allâh Azza wa Jalla. Disebutkan dalam Shahîh Muslim dari shahabat Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّراتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, antara Jumat yang satu dengan yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan yang lainnya, dosa diantara semua itu akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla , jika dosa-dosa besar telah dijauhi[5]

Pada bulan ini juga para syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan Allâh Azza wa Jalla pada setiap malam dari bulan Ramadhan membebaskan banyak orang dari api neraka.

d. Pada bulan ini juga Allâh Azza wa Jalla memenangkan kaum Muslimin atas musuh-musuh mereka diperang Badr, padahal jumlah musuh pada saat itu tiga kali lipat dari jumlah kaum Muslimin. Pada bulan ini juga, Allâh Azza wa Jalla menaklukkan kota Mekah melalui tangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mensucikan kota Mekah dari kotoran berhala, dan ada tiga ratus enam puluh patung yang berada di Ka’bah dan sekitarnya. Rasulullah menghancurkan patung-patung tersebut seraya membaca:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [al-Isrâ’/17:81]

(Dengan ini semua), maka bulan Ramadhan merupakan bulan untuk bersungguh-sungguh dan bulan untuk beramal, bulan ibadah serta jihad di jalan Allâh.

Dengan keutamaan yang dimiliki oleh bulan ini serta berbagai anugrah yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman pada bulan ini, maka sudah selayaknya para hamba mengagungkan bulan ini dan menjadikan bulan ini sebagai momen untuk beribadah serta menambah bekal akhirat.

Ya Allah Azza wa Jalla jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengerti kedudukan dan kehormatan bulan Ramadhan ini! Berikanlah taufiq kepada kami untuk melakukan amalan-amalan yang mendatang ridha-Mu! Sesungguhnya Engkau maha Mendengar doa

Keunikaan Hukum Di Bulan Ramadhan di Berbagai Negara

Di beberapa negara Muslim, gagal berpuasa atau pertengkaran terbuka terhadap perilaku semacam itu selama bulan Ramadan dianggap sebagai kejahatan dan dituntut seperti itu. Misalnya, di Aljazair, pada bulan Oktober 2008 pengadilan Biskra mengutuk enam orang sampai empat tahun di penjara dan denda berat.

  • Di Kuwait, menurut undang-undang nomor 44 tahun 1968, hukumannya adalah denda tidak lebih dari 100 dinar Kuwait, atau penjara tidak lebih dari satu bulan, atau kedua hukuman, untuk yang terlihat makan, minum atau merokok selama siang hari di bulan Ramadan.[64][65]Di beberapa tempat di Uni Emirat Arab, makan atau minum di depan umum pada siang hari di bulan Ramadan dianggap sebagai pelanggaran ringan dan akan dihukum hingga 150 jam pengabdian masyarakat. Di negara tetangga Arab Saudi, yang digambarkan oleh The Economist saat mengambil bulan Ramadan “lebih serius daripada di tempat lain”, ada hukuman yang lebih keras, sedangkan di Malaysia, tidak ada hukuman semacam itu.
  • Di Mesir, penjualan alkohol dilarang selama bulan Ramadan. Pada tahun 2014 di Kermanshah, Iran, seorang non-Muslim dihukum karena membakar sebatang rokok dan lima orang Muslim dicambuk dengan 70 garis karena makan selama bulan Ramadan.
  • Beberapa negara memiliki undang-undang yang mengubah jadwal kerja selama bulan Ramadan. Di bawah Undang-Undang Tenaga Kerja Uni Emirat Arab, jam kerja maksimal adalah 6 jam per hari dan 36 jam per minggu. Qatar, Oman, Bahrain dan Kuwait memiliki undang-undang serupa.[70]

Referensi

  • UAE: Al Nisr Publishing LLC. Diakses tanggal 17 November 2009.
  • “Ramadan in Saudi Arabia: Taking it to heart”. The Economist. 11 June 2016. Diakses tanggal 11 June 2016.
  • “Egypt’s tourism minister ‘confirms’ alcohol prohibition on Islamic holidays beyond Ramadan,” Al-Ahram, 22 July 2012.
  • “Christian sentenced by Iranian judge to have his lips burnt with a cigarette for eating during Ramadan”. Mail Online. 23 July 2014. Diakses tanggal 24 July 2014.

« Entri Lama
%d blogger menyukai ini: