Category Archives: Tempat Bersejarah

Mina, Kota Tenda Tempat Lempar Jumrah Ibadah Haji

Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wulkuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan salat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.
Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

Masjid Bibi Khanym di Samarkand, Uzbekistan, Bangunan Tertinggi Di Dunia Di Zamannya Tahun 1939

Masjid Bibi Khanym di Samarkand, Uzbekistan.

Pada zamannya, Masjid Bibi Khanym pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia. Yulianto Sumalyo dalam buku Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim menulis, masjid berukuran raksasa ini berbentuk segi empat dengan ukuran 109 x 167 meter persegi dan bagian minaret menempel pada portal (pintu gerbang utama) yang sangat besar. Ketinggian minaretnya mencapai 19 meter, sedang pintu gerbangnya setinggi 35 meter.

Masjid Bibi Khanym dibangun pada masa pemerintahan Timur Lenk. Pada 1399, ia memerintahkan untuk membangun masjid jami yang megah, besar, indah, dan pantas untuk ibu kota pemerintahannya. Pembangunan masjid ini selesai lima tahun pada 1404. Oleh penguasa Timurid ini, masjid yang baru dibangun tersebut diberi nama Masjid Bibi Khanym. Nama yang tersemat pada bangunan masjid ini diambil dari nama istri Timur Lenk yang berasal dari negeri Tiongkok. Sebagai lambang cintanya untuk sang permaisuri tersayang, Timur Lenk mendirikan masjid tersebut.

Bangunan masjid ini terdiri dari sahn (halaman terbuka). Di dalam sahn terdapat tulisan ayat Alquran yang diukir di atas sebuah marmer yang berdiri tegak di tengah-tengah. Bagian sahn ini dikelilingi oleh empat iwan, yaitu: dua iwan lateral, sebuah iwan pada pintu gerbang utama, dan iwan pada bagian mihrab.

Kedua iwan lateral mengarah ke ruang-ruang segi empat yang berada di bawah atap bulbous domes, yaitu kubah berbentuk bawang, bagian atas meruncing, bagian tengah menggelembung, dan bawahnya mengecil. Iwan pada bagian portal diapit oleh minaret yang mengarah ke kubah ketiga yang paling besar. Ketinggian kubah utama ini mencapai 40 meter. Namun, kubah ini runtuh pada abad ke-15 M.

Kubah masjid berbentuk kembar dengan tambur silindris tinggi untuk menetralisasi interiornya yang rendah di bawah kubah bulat. Semua kubah dilapis dengan keramik kebiruan yang menggambarkan kekayaan variasi seni dekorasi Timurid. Bagian dinding-dinding masjid juga dilapis dengan keramik dan mozaik, namun dalam aneka warna.

Meskipun rancangan empat iwan sudah menjadi tradisi pada bangunan masjid-masjid di Iran sejak abad ke-12 M, ruang-ruang di bawah kubah di balik iwan adalah baru. Skala bangunan Masjid Bibi Khanym sama dengan bangunan berarsitektur Timurid lainnya.

Samarkand

Samarkand merupakan nama kota di Uzbekistan. Letaknya di bagian tengah. Tepatnya di Provinsi Samarqand, Uzbekistan. Pada tahun 2005, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 412.300 jiwa. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Uzbekistan.

Samarkand adalah kota yang sangat tua, yang didirikan hampir 3 ribu tahun. Alexander Agung menaklukkan kota itu pada tahun 329 SM. Yunani menyebutnya “Marakanda”. Pada saat itu, dan juga kemudian Samarkand adalah sebuah kota penting di Jalur Sutera dari Cina ke barat.

Pada periode awal Islam dari abad ke-7 kota ini berkembang pesat sampai perusakan oleh Genghis Khan pada tahun 1220. Pada abad ke-14 Timur Leng menjadikan Samarkand sebagai ibu kota kerajaan yang besar.
Pada tahun 1868, Samarkand menjadi bagian dari kekaisaran Rusia, dan dari 1925 sampai tahun 1930 kota ini adalah ibu kota Republik Sosialis Uzbekistan.

Di kota Samarkand ada beberapa peninggalan terbesar dari arsitektur Islam.

  • Masjid Bibi-Khanum
  • Madrasah Ulugbek (1417-1420)
  • Madrasah-Sher-Dor (1619-1636)
  • Madrasah Tilya-Kori (1646-1660)
  • Museum dan situs arkeologi Afrasiab
  • Gur Emir Mausoleum-
  • Shahi-Zinda Ensemble
  • Khodja Mausoleum-Doniyor
  • Observatorium Ulugbek
  • Hodja-Abdu-Darun

Kisah Gua dan 7 Pemuda Dalam Surat al Kahfi

Perkataan Ar-Raqim juga disebut di dalam Al-Quran dan Ahli Tafsir menafsirkan Ar-Raqim sebagai nama anjing dan ada yang menyatakan ia sebagai batu bersurat. Kahf Ahlil Kahf merupakan lokasi sejarah yang membuktikan kebenaran kisah di dalam Al-Quran yaitu terdapat dalam Surah Al-Kahfi mulai ayat 9 sampai ayat 26. Ayat di dalam Surah tersebut menceritakan bagaimana 7 orang pemuda yang beriman kepada Allah melarikan diri ke sebuah gua dan Allah menidurkan mereka selama 309 tahun Qamariah (ayat 25) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apapun (ayat 11). Kisah 7 pemuda ini bermula ketika mereka berhadapan dengan raja yang zalim pada masa itu dan mengakui bahwa mereka hanya beriman kepada Allah yang menguasai langit dan bumi. 7 orang pemuda tersebut melarikan diri dari raja yang zalim bersama seekor anjing mereka ke sebuah gua dan bersembunyi di situ dan kemudian mereka ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun Qamariah. Ketika terbangun, salah seorang dari mereka keluar untuk membeli makanan dan mendapati zaman tersebut telah berubah dari zaman saat mereka memasuki gua. Hal ini disadari ketika uang yang mereka gunakan sudah tidak laku lagi pada zaman itu. (zaman mereka dibangkitkan). Kemudian pemuda tersebut kembali ke gua sampai akhirnya semua meninggal di dalam gua

Ashabul Kahfi adalah kisah 7 pemuda yang tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun, Kisah ini terjadi sebelum zaman nabi Muhammad SAW. Para pemuda bersembunyi di dalam gua untuk melarikan diri dari kekejaman raja Dikyanus. Kisah ini bersumber dari Al Qur’andalam Surah Al Kahfi.

Menurut beberapa sejarahwan Islam, ketujuh pemuda tersebut bernama: Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Serta seekor anjing bernama Kithmir, yang dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga. Banyak yang berpendapat sejarah ini terjadi di Suriah, tetapi ada beberapa ahli Al Qur’an dan Injil berpendapat mereka berasal dari Yordania.

Puluhan tahun berlalu. Setelah beberapa lama — pada masa pemerintahan Teodosius (379 – 395) — pemilik tanah itu memutuskan untuk membuka mulut gua yang disegel itu, untuk dijadikan kandang sapinya. Setelah dibuka, ia menemukan ketujuh pemuda itu sedang tidur di dalamnya. Mereka terbangun, dan merasa baru tertidur satu hari saja. Salah seorang dari mereka kembali ke Efesus. ia tercenang menyaksikan bangunan-bangunan dengan tanda-tanda salib di atasnya. Orang-orang yang ditemuinya tercengan ketika pemuda itu berusaha menggunakan mata uang lama dari pemerintahan Desius. Uskup dipanggil untuk mewawancarai ketujuh pemuda itu. Mereka menceritakan kisah ajaib itu, lalu meninggal sambil memuji Allah.

Sebuah hari peringatan dirayakan untuk ketujuh pemuda itu dan dinamai sebagai hari pesta Santo “Maximianus, Malchus, Martinianus, Dionisius, Yoannes, Serapion, dan Konstantinus” pada 27 Juli. Nama-nama lain dari ketujuh pemuda ini diberikan dalam sumber-sumber lain. Perayaan ini dihapuskan dan dianggap sebagai mitos setelah pembaruan liturgi Katolik Roma pada 1969. Pesta di kalangan Ortodoks Timur tetap diperingati pada 22 Oktober.

Pengembangan legenda

Sementara versi-versi paling awal dari legenda ini menyebar dari Efesus, sebuah katakumbe Kristen perdana dihubungkan dengannya, sehingga mengundang para peziarah. Di kaki Gunung Pion (Gunung Coelian) dekat Efesus (kini Selcuk, Turki, ‘Gua’ dari Ketujuh Pemuda yang Tertidur dengan reruntuhan gereja yang dibangun di atasnya digali pada 1927-1928. Penggalian itu mengungkapkan pula beberapa ratus makam yang berasal dari abad ke-5 dan ke-6. Terdapat pula tulisan-tulisan yang dipersembahkan kepada Ketujuh Pemuda itu di dinding-dinding gereja dan di makam-makam tersebut. ‘Gua’ tersebut masih diperlihatkan kepada para wisatawan.

Asal usul Suriah

Legenda ini muncul dalam beberapa sumber berbahasa Suriah sebelum masa Gregorius. Kisah ini diceritakan kembali oleh Simeon Metafrastes.
Kisah Ketujuh Pemuda ini menjadi pokok sebuah homili dalam bentuk syair oleh seorang penyair Edesa, Yakub dari Saruq (‘Sarugh’) (meninggal 521), yang diterbitkan di Acta Sanctorum. Sebuah versi abad ke-6, dalam sebuah manuskrip Suriah di British Museum (Cat. Syr. Mss, hlm. 1090), menceritakan delapan orang yang tertidur.

Ada variasi yang besar tentang nama-nama mereka.
Sebuah versi Suriah lainnya dicetak dalam Land’s Anecdota, iii. 87ff; lihat pula Barhebraeus, Chron. eccles. i. 142ff., dan cf Assemani, Bib. Or. i. 335ff. Penyebaran
Legenda ini dengan cepat menyebar luas di seluruh Dunia Kristen, dipopulerkan di barat oleh Gregorius dari Tours, dalam kumpulan kisah mujizatnya dari abad ke-6 akhir, De gloria martyrum (Kemuliaan para Syuhada). Gregorius mengatakan bahwa ia memperoleh legenda itu dari “seorang Suriah tertentu.”
Pada abad ke-7, mitos ini semakin luas dibaca ketika kisahnya masuk ke dalam Al Qur’an dalam Surah 18, Al-Kahfi, ayat 9-14. Berikut ini disebutkan tulisan di gua itu:
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (Versi Dep. Agama RI)

Pada abad berikutnya, Paulus sang Diakon menceritakan kisah ini dalam bukunya Sejarah Orang-orang Lombard (i.7) namun memberikan konteks yang berbeda:
Di perbatasan Jerman yang paling jauh di sebelah barat-barat laut, di pantai samudra sendiri, sebuah gua tampak di sebuah batu karang yang menjorok; di sana selama masa yang tidak diketahui, tujuh orang pemuda tertidur lama sekali.
Pakaiaan mereka menunjukkan bahwa mereka orang Romawi, demikian Paulus, dan tak ada seorang barbar setempatpun yang berani menyentuh mereka.
Selama masa Perang Salib, tulang-tulang dari kuburan dekat Efesus, yang diidentifikasikan sebagai relikui dari Ketujuh Pemuda ini, dipindahkan ke Marseille, Prancis, dalam sebuah peti mati dari batu yang besar, yang hingga kini merupakan pusaka yang sangat dihargai di Gereja Saint Victoire, Marseille.
Ketujuh Pemuda ini dimasukkan dalam kumpulan cerita Legenda Emas, buku yang paling populer pada Abad Pertengahan Akhir, yang menetapkan tanggal kebangkitan mereka, tahun 478 M, pada masa pemerintahan Teodosius.

Versi Al-Quran

Firman Allah dalam Al-Quran (Surah Al-Kahf ayat 1 hingga ayat 26) yang artinya:

  1. “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok”. [18:1]
  2. “Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik”. [18:2]
  3. “Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya”. [18:3]
  4. “Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak”. [18:4]
  5. “Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka”. [18:5]
  6. “Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)”. [18:6]
  7. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya”. [18:7]
  8. “Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering”. [18:8]
  9. “Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?”. [18:9]
  10. “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.[18:10]
  11. “Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyaknya dalam gua itu, bertahun-tahun, yang banyak bilangannya”.[18:11]
  12. “Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya), untuk Kami menguji; siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)”.[18:12]
  13. “Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”.[18:13]
  14. “Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), semasa mereka bangun (menegaskan tauhid) lalu berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.[18:14]
  15. “(Mereka berkata pula sesama sendiri): “Kaum kita itu, menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah; sepatutnya mereka mengemukakan keterangan yang nyata yang membuktikan ketuhanan makhluk-makhluk yang mereka sembah itu?(Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian); Maka tidak ada yang lebih zalim dari orang-orang yang berdusta terhadap Allah.[18:15]
  16. “Dan oleh kerana kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah yang lain dari Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari RahmatNya kepada kamu, dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk (menjayakan) urusan kamu dengan memberikan bantuan yang berguna”.[18:16]
  17. “Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, cenderung ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam satu lapangan gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dialah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan beroleh sebarang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya”.[18:17]
  18. “Dan engkau sangka mereka sedar, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri (supaya badan mereka tidak dimakan tanah); sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua; jika engkau melihat mereka, tentulah engkau akan berpaling melarikan diri dari mereka, dan tentulah engkau akan merasa sepenuh-penuh gerun takut kepada mereka”.[18:18]
  19. “Dan demikian pula Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya) supaya mereka bertanya-tanyaan sesama sendiri. Salah seorang di antaranya bertanya: “Berapa lama kamu tidur?” (Sebahagian dari) mereka menjawab: “Kita telah tidur selama sehari atau sebahagian dari sehari”. (Sebahagian lagi dari) mereka berkata: “Tuhan kamu lebih mengetahui tentang lamanya kamu tidur; sekarang utuslah salah seorang dari kamu, membawa wang perak kamu ini ke bandar; kemudian biarlah dia memilih mana-mana jenis makanan yang lebih baik lagi halal (yang dijual di situ); kemudian hendaklah ia membawa untuk kamu sedikit habuan daripadanya; dan hendaklah ia berlemah-lembut dengan bersungguh-sungguh (semasa di bandar); dan janganlah dia melakukan sesuatu yang menyebabkan sesiapapun menyedari akan hal kamu.[18:19]
  20. “Sesungguhnya, kalaulah mereka mengetahui hal kamu, tentulah mereka akan merejam dan membunuh kamu, atau mereka akan mengembalikan kamu kepada agama mereka (secara paksa); dan jika berlaku demikian, kamu tidak sesekali akan berjaya selama-lamanya”.[18:20]
  21. “Dan demikian Kami dedahkan hal mereka kepada orang ramai supaya oang-orang itu mengetahui bahawa janji Allah menghidupkan semula orang mati adalah benar, dan bahawa hari kiamat itu tidak ada sebarang syak padanya;pendedahan itu berlaku semasa orang-orang itu berbantah sesama sendiri mengenai perkara hidupnya semula orang mati. Setelah itu maka (sebahagian dari) mereka berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di sisi gua mereka, Allah jualah yang mengetahui akan hal ehwal mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka (pihak raja) pula berkata: “Sebenarnya kami hendak membina sebuah masjid (tempat ibadah) di sisi gua mereka”.[18:21]
  22. “(Sebahagian dari) mereka akan berkata: “Bilangan Ashabul Kahfi itu tiga orang, yang keempatnya ialah anjing mereka”; dan setengahnya pula berkata bilangan mereka lima orang, yang keenamnya ialah anjing mereka”, secara meraba-raba dalam gelap akan sesuatu yang tidak diketahui; dan setengahnya yang lain berkata: “Bilangan mereka tujuh orang dan kelapannya ialah anjing mereka”. “Katakanlah (wahai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui akan bilangan mereka, tiada yang mengetahui bilangannya melainkan sedikit”. Oleh itu janganlah engkau berbahas dengan sesiapapun mengenai mereka melainkan dengan bahasan (secara sederhana) yang nyata (keterangannya di dalam al-Quran), dan janganlah engkau meminta penjelasan mengenai hal mereka kepada seseorang pun dari golongan (yang membincangkannya)”.[18:22]
  23. “Dan janganlah engkau berkata mengenai sesuatu (yang hendak dikerjakan): “Bahawa aku akan lakukan yang demikian itu, kemudian nanti”.[18:23]
  24. “Melainkan (hendaklah disertakan dengan berkata): “InsyaAllah”. Dan ingatlah serta sebutlah akan Tuhanmu jika engkau lupa; dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan petunjuk yang lebih dekat dan lebih terang dari ini”.[18:24]
  25. “Dan mereka telah tinggal tidur dalam gua mereka:tiga ratus tahun (dengan kiraan ahli kitab) dan sembilan lagi (dengan kiraan kamu)”.[18:25]
  26. “Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah jua yang mengetahui tentang masa mereka tidur; bagiNya-lah tertentu ilmu pengetahuan segala rahasia langit dan bumi; terang sungguh penglihatanNya dan jelas sungguh pendengaranNya (terhadap segala-galanya)! Tidak ada bagi penduduk langit dan bumi pengurus selain daripadaNya) dan ia tidak menjadikan sesiapapun masuk campur dalam hukumNya”.[18:26]

Lokasi

Terdapat banyak sekali pendapat mengenai di mana letak gua Ashabul Kahfi berada. Paling tidak ada 33 lokasi di dunia yang diklaim sebagai gua Al Kahfi. Dan sedikitnya sudah ada 104 penelitian mengenai masalah ini. Yang paling banyak dikaji dari berbagai situs tersebut adalah gua yang berada di kota Amman. Tepatnya di wilayah Abu Alanda, sebelah Timur Amman. Lokasi Gua Ashabul Kahfi atau dalam GPS mobil kami tercatat berada di jalan Ahel Al Kahef terletak di daerah Abdoun Amman, Yordania.

Menurut literatur, situs bersejarah ini dikenal dengan nama Ar-Raqim. Seorang arkeolog, Dr. Muhammad Wahib berkesimpulan bahwa gua yang berada di situs bersejarah Ar-Raqim adalah gua tempat Ashab Al Kahfi bersembunyi. Sangat beruntung rasanya kami berkesempatan tinggal di Amman yang sangat kaya akan sejarah khususnya situs-situs religi.

Detail Gua Ashabul Kahfi:

Ternyata detail gua yang dijelaskan dalam ayat-ayat Surah Al Kahfi masih dapat jelas terlihat dikondisi yang sekarang. Bentuk gua yang di sekitarnya terdapat bekas reruntuhan ini sebenarnya tidak terlalu besar dan dalam namun cukup tinggi di bagian dalam gua, sedangkan pintunya setinggi orang dewasa. Demikian juga di bagian atas gua terdapat sebuah lubang dari atasnya dapat dimasuki udara dan cahaya sesuai dengan ayat 17 di atas.

Lupang ventilasi untuk udara dan cahaya

Tepat di atas gua terdapat teras reruntuhan seperti bekas tempat peribadatan. Tempat ibadat yang dimaksudkan adalah rumah ibadat penganut Nasrani. Ketika zaman kerajaan Umaiyah, rumah ibadat tersebut telah dijadikan masjid. (ayat 21). Terdapat tulisan pada lengkungan pintu di dinding sebelah Timur yang menyatakan ‘Masjid diperbaharui pada tahun 117 Hijriah yang merujuk kepada zaman Hisham bin Abdul Malik bin Marwan. Ini membuktikan bahwa ketika zaman kerajaan Umaiyah mereka sudah memperharui masjid yang sebelum itu menjadi rumah ibadat umat Nasrani. Kesan yang dapat dilihat ialah petunjuk arah kiblat yang terdapat di atas gua tersebut, seperti halnya kepala atau bagian arah kiblat masjid umumnya.

Tulisan khat Kufi turut ditemui yang mengisyaratkan bahawa masjid kedua di Ashabul Kahfi diperbaharui pada zaman Khomarumiah bin Ahmad Tholun dari kerajaan Abasiah. Masjid kedua yang dimaksudkan ialah masjid yang dibangun berhadapan dengan gua Ashabul Kahfi setelah masjid pertama diwujudkan di atas gua ketika zaman Umaiyah.

Di dalam gua terdapat dua tempat yang berbentuk makam atau kuburan yang diletakkan mayat di dalamnya. Di sisi pojok sebelah kirinya ditutupi kaca yang dapat dilihat dalam ada tulang belulang manusia. Sedangkan pada makam sebelah kanan terdapat pahatan bintang bersegi delapan, yang menurut Abdullah membuktikan tanda zaman kerajaan Romawi Timur pada zaman ke-3 Masehi. Menjadi adat pada ketika itu, mayat-mayat akan dikuburkan di dalam bekas batu. Ini tidak mustahil bahawa mereka yang telah menguruskan mayat pemuda tersebut telah menguburkan mereka dengan cara dan adat mereka pada ketika itu.

Sisi kanan gua terdapat dua makam, makam di sebelah kiri terdapat lubang ditutup kaca yang dapat melihat tulang belulang

Di sisi sebelah kiri pintu masuk gua terdapat sudut yang memajang koleksi benda sangat antik yang terbuat dari tembikar, uang tembaga dan perak, lampu dari berbagai zaman (Umaiyah, Abasiah, Turki Utsmaniyyah) di dalam gua tersebut dan sekitarnya. Ini berarti bahwa tempat itu telah dijaga oleh berbagai zaman.

Sebelum meninggalkan kami, Abdullah juga menceritakan bahwa pohon zaitun yang terletak di sisi kanan pintu masuk gua merupakan anak pohon zaitun yang sudah sangat tua yang diperkirakan sudah ratusan tahun, namun itu hanya “anaknya” saja, sedangkan pohon zaitun yang asli sudah hilang tertelan zaman.

Hikmah Kisah Ashabul Kahfi

  • Itulah kisah nyata di dunia yang diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi setiap umat manusia. Logika dan ilmu pengetahuan manusia tidak akan mampu menjangkau peristiwa itu, namun itu nyata terjadi.
  • Jika Allah telah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Maka yakinlah, bahwa jika kita menginginkan sesuatu yang baik dan itu semua kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, janganlah mengatakan tidak mungkin, Allah berkehendak atas segala sesuatu, termasuk segala hal dalam hidup kita. Allah mengetahui apa yang kita tidak tahu, mengerti apa yang kita tidak mengerti, dan memberi yang terbaik kepada kita meski mungkin tak sesuai dengan apa yang kita harapkan

4 Tempat Bersejarah dan Tujuan Wisata Di Arafah

4 Tempat Bersejarah dan Tujuan Wisata Di Arafah

  • Jabal Rahmah. Bukit kecil yang terletak di bagian timur Arafah, dinamai Jabal Rahmah karena kasih sayang Allah SWT kepada seluruh hambanya. Dinamai juga an-Nabitah yang berarti tertanam, seolah-olah bukit ini tertanam di bumi. Dinamai juga Jabal ad-Du’a (Gunung Pengharapan). Di bawah kaki bukit tersebut terdapat bebatuan besar dan terjal. Ketinggian bukit ini sekitar 65 meter, panjang lingkaran 640 meter, lebar sebelah timur 170 meter, lebar sebelah barat 100 meter, panjang sebelah utara 200 meter, panjang sebelah selatan 17 meter, tinggi dari permukaan laut 132 meter. Bukit ini berada di antara Jalan Nomor 7 dan 8, kurang lebih dari 1,5 kilometer dari arah Masjid Namirah. Di bagian puncaknya dikelilingi dinding dengan ukuran 57 sentimeter, di tengahnya terdapat teras tinggi (dekkah) sekitar 40 sentimeter. Sedangkan, di bagian bawah masjid ini terdapat Masjid Shakhrat, di sana terdapat mata air Zubaidah yang menyemprotkan air dengan ketinggian empat meter, berfungsi sebagai penyejuk udara di sekitar lokasi. Jabal Rahmah berada di bagian timur Padang Arafah di kota Makkah. Sesuai dengan namanya, jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai namanya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antarar Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari Syurga oleh Allah SWT. Selama bertahun-tahun Nabi Adam dan Siti Hawa setelah melakukan kesalahan memakan buah khuldi yang terlarang diturunkan oleh Allah ke dunia. Berdasarkan kajian para Ulama, dilasir dari ‘Haji dari Masa ke Masa’, kemungkinan Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Hawa diturunkan di Irak. Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas ijin Allah SWT mereka dipertemukan di Puncak Bukit Jabal Rahmah ini. Setelah pertemuan tersebut, Nabi Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang. Jabal Rahmah sendiri merupakan bukit batu. Tingginya hanya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga sampai ke monumen Adam dan Hawa biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja. Di Puncak Jabal Rahmah, saat ini dibangun sebuah monumen dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya delapan meter. Menuju puncak bukit ini, dibangun infrastruktur yang memadai sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk mencapainya. Infrasktruktur ini berupa jalanan berbentuk tangga dengan 168 anak tangga menuju puncak Jabal Rahmah. Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW, tatkala melakukan wukuf. Wahyu tersebut termuat dalam Al Quran surah Al Maidah ayat 3, “…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Meski Ulama Saudi sendiri sudah menegaskan berziarah ke Jabal Rahmah bukanlah hal yang disunnahkan apalagi diwajibkan, nyatanya banyak peziarah berdatangan dan berdoa menengadahkan tangan di sana saat wukuf. Jamaah haji dari berbagai dunia termasuk Indonesia, selain memadati bukit ini saat wukuf 9 Dzulhijjah. Tidak sedikit mereka menulis nama-nama agar diberikan kelancaran jodoh dan dan kelanggengan pasangan. Selain itu, tempat ini juga digunakan untuk bermunajat dan berdo’a, serta sebagai tempat wisata sejarah dan keislaman. Di sini juga terdapat pedagang suvenir berbagai barang, mulai batu cincin, peci, tasbih, sorban dan pernak-pernik lain. Umumnya para pedagang ini adalah para pendatang yang berasal dari Afrika. Di lokasi Jabal Rahmah ini juga terdapat unta bagi para wisatawan yang ingin mencoba menaiki unta. Para pemilik unta akan mendatangi para wisatawan untuk menawarkan unta mereka sambil befoto. Tarif menaiki unta ini anta lima sampai 10 real.
  • Masjid Namirah. Masjid Namirah pada mulanya adalah sebuah masjid kecil yang dinamai Masjid Arafah atau Masjid Ibrahim. Masjid ini pernah menjadi tempat shalat oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW. Dinamai Namirah atau Namrah, dinisbatkan kepada sebuah gunung yang berada di sebelah barat masjid. Pada saat itu Rasulullah SAW membangun kemah. Setelah tergelincir matahari, beliau berpindah ke lembah Uranah untuk berkhutbah dan melakukan shalat Zhuhur dan Ashar di sana. Selanjutnya, beliau berkhutbah di masjid yang terletak di perbatasan tanah Arafah dan tanah di luar Arafah (hanya bagian belakangnya saja yang termasuk Padang Arafah, sedangkan bagian depan Masjid Namirah bukan bagian dari Arafah). Sejarah mencatat, perluasan masjid dilakukan secara terus-menerus. Pada masa Pemerintahan Raja Qatyinbay 873-901 Hijriyah, masjid ini diperluas dan terus direnovasi. Sampai kini, masjid tersebut dapat menampung 350 ribu jamaah. Luas area masjid sekitar 124 ribu meter persegi. Bagian belakang masjid ini terdiri atas dua lantai, luasnya sekitar 27 ribu meter persegi. Masjid ini mempunyai enam menara, masing-masing berketinggian 60 meter dan mempunyai tiga kubah, 10 jalan masuk utama, 64 buah pintu, serta terdapat sekitar 1.000 kamar mandi dan toilet.
  • Wadi Uranah Lokasi lembah berada di perbatasan antara tanah Arafah dan di luar Arafah. Tepatnya di sebelah barat Arafah. Lembah ini menjadi lokasi Khutbah Wada.
  • Masjid Shukhairat. Letaknya di kaki Jabal rahmah. Sebelah kanan jalan naik menuju puncaknya. Di sinilah tempat Rasulullah SAW wukuf di Arafah. Lokasi ini merupakan tempat berhentinya unta Quswa milik Rasulullah SAW. Beliau menghadap ke arah kiblat sampai terbenam matahari, lalu bergerak ke arah Muzdalifah.

Modern independent views on origin of Kaaba

Modern independent views on origin of Kaaba

  • Ptolemy. Writing in the Encyclopedia of Islam, Wensinck identifies Mecca with a place called Macoraba mentioned by Ptolemy and found in a 3rd-century BC map which suggests that Macoraba was Mecca. G. E. von Grunebaum states: “Mecca is mentioned by Ptolemy. The name he gives it allows us to identify it as a South Arabian foundation created around a sanctuary. In Meccan Trade and the Rise of Islam, Patricia Crone argues that the identification of Macoraba with Mecca is false and that Macoraba was a town in southern Arabia in what was then known as Arabia Felix. Her point of view was supported by some Islamic scholars and challenged by others.
  • Diodorus Siculus The Greek historian Diodorus Siculus is believed to have mentioned the Kaabah in 60–30 BC while describing the coast of Jeddah and its surrounding areas mentioned: The inhabitants of the land about the gulf, who are known as Banizomenes, find their food by hunting the land animals and eating their meat. And a temple has been set up there, which is very holy and exceedingly revered by all Arabians. *  Diodorus Siculus, Bibliotheca Historica, Book 3 Chapter 44[40]
  • Edward Gibbon suggested that the Kaaba was mentioned by ancient Greek writer, Diodorus Siculus, before the Christian era:
  • The genuine antiquity of Caaba ascends beyond the Christian era: in describing the coast of the Red sea the Greek historian Diodorus has remarked, between the Thamudites and the Sabeans, a famous temple, whose superior sanctity was revered by all the Arabians; the linen or silken veil, which is annually renewed by the Turkish emperor, was first offered by the Homerites, who reigned seven hundred years before the time of Mohammad. .Edward Gibbon, Decline And Fall Of The Roman Empire, Volume V, pp. 223–24

Others

  • Imoti contends that there were numerous such “Kaaba” sanctuaries in Arabia at one time, but this was the only one built of stone. The others also allegedly had counterparts of the Black Stone. There was a “red stone”, the deity of the south Arabian city of Ghaiman, and the “white stone” in the Kaaba of al-Abalat (near the city of Tabala, south of Mecca). Grunebaum in Classical Islam points out that the experience of divinity of that period was often associated with stone fetishes, mountains, special rock formations, or “trees of strange growth.”
  • The Kaaba was thought to be at the center of the world, with the Gate of Heaven directly above it. The Kaaba marked the location where the sacred world intersected with the profane; the embedded Black Stone was a further symbol of this as a meteorite that had fallen from the sky and linked heaven and earth.
  • According to Sarwar, about 400 years before the birth of Muhammad, a man named “Amr bin Lahyo bin Harath bin Amr ul-Qais bin Thalaba bin Azd bin Khalan bin Babalyun bin Saba”, who was descended from Qahtan and was the king of Hijaz had placed a Hubal idol onto the roof of the Kaaba. This idol was one of the chief deities of the ruling tribe Quraysh. The idol was made of red agate and shaped like a human, but with the right hand broken off and replaced with a golden hand. When the idol was moved inside the Kaaba, it had seven arrows in front of it, which were used for divination.
  • To maintain peace among the perpetually warring tribes, Mecca was declared a sanctuary where no violence was allowed within 20 miles (32 km) of the Kaaba. This combat-free zone allowed Mecca to thrive not only as a place of pilgrimage, but also as a trading center.
  • Many Muslim and academic historians stress the power and importance of the pre-Islamic Mecca. They depict it as a city grown rich on the proceeds of the spice trade. Crone believes that this is an exaggeration and that Mecca may only have been an outpost trading with nomads for leather, cloth, and camel butter. Crone argues that if Mecca had been a well-known center of trade, it would have been mentioned by later authors such as Procopius, Nonnosus, or the Syrian church chroniclers writing in Syriac. The town is absent, however, from any geographies or histories written in the three centuries before the rise of Islam.
  • According to the Encyclopædia Britannica, “before the rise of Islam it was revered as a sacred sanctuary and was a site of pilgrimage.” According to German historian Eduard Glaser, the name “Kaaba” may have been related to the southern Arabian or Ethiopian word “mikrab”, signifying a temple.[m Again, Crone disputes this etymology.
  • In Samaritan literature, the Samaritan Book of the Secrets of Moses (Asatir) claims that Ishmael and his eldest son Nebaioth built the Kaaba as well as the city of Mecca. “The Secrets of Moses” or Asatir book was suggested by some opinion to have been compiled in the 10th century, while another opinion in 1927 suggested that it was written no later than the second half of the 3rd century BCE.

Keutamaan Pemakaman Al-Baqi’

Keutamaan Pemakaman Al-Baqi’ di Madinah

  • Area pemakaman Al-Baqi’ adalah suatu area pemakaman para sahabzat Nabi, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, dan para ulama serta orang saleh sesudahnya.
  • Sering Nabi mengunjunginya pada waktu malam dan berdoa dan memohon ampunan untuk mereka yang dikebumikan di pemakaman ini
  • Di antara doa dia yang diajarkan kepada kita untuk Ahli al-Baqi’ : “Kesejahteraan atas kamu wahai penghuni-penghuni Makam dari kalangan mukminin dan muslimin. Allah merahmati mereka yang terdahulu dan kemudian dari kalangan kami dan sesungguhnya kami dengan izin Allah akan mengikuti kamu” “Kesejahteraan atas kamu tempat tinggal orang-orang yang beriman, dan telah datang pada kamu barang apa yang telah dijanjikan untukmu, kamu ditangguhkan hingga hari esok dan dengan izin Allah kami akan mengikuti kamu, wahai Allah, ampunilah penghuni-penghuni Baqi’ Al-Gharqod”
  • Jenazah yang dimakamkan di Baqi’ akan dibangkitkan pertama di Padang Mahsyar
  • 70.000 dari penghuni Baqi’ dibangkitkan dan masuk Surga tanpa hisab

    Shalahuddin Al Ayyubi seorang panglima tentera islam paling fenomenal

    Shalahuddin Al Ayyubi seorang panglima tentera islam tidak menghendaki Mesir jatuh ke tangan tentara Salib, maka dengan sigapnya Shalahuddin mengadakan serangan ke Mesir unutk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fathimiyyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan tentara Salib. Menyadari kelemahannya Dinasti Fathimiyyah tidak banyak memberikan perlawanan, mereka lebih rela kekuasaannya diserahkan kepada Shalahuddin daripada diperbudak Tentara Salib yang kafir, maka sejak saat itu selesailah kekuasaan Dinasti Fathimiyyah di Mesir, berpindah tangan ke Shalahuddin Al Ayyubi.

    Shalahuddin Al Ayyubi panglima perang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerussalem pada Perang Slaib itu tak hanya dikenal didunia Islam, tetapi juga peradaban Barat. Sosoknya begiu mempesona. Ia adalah pemimpin yang dihormati kawan dan dikagumi lawan. Pada akhir 1169 M, Shalahuddin mendirikan sebuah kerajaan Islam yang bernama Ayyubiyah.

    A.    Biografi Salahuddin Al Ayyubi

    Salahuddin Al Ayyubi lahir pada tahun 532 H/1138 M di Tikrit, Tigris, sebuah kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Adapun nama lengkapnya adalah Abdul Muzaifar Yusuf bin Najmuddi bin Ayyub. Nama pendeknya Salahuddin Al Ayyubi. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub, seorang penguasa Benteng Tikrit yang berasal dari Suku Kurdi Azerbaijan.

    Pendidikan Salahuddin Al Ayyubi dimulai dengan mempelajari Al Quran, hadits, fikih, bahasa, nahwu, tarikh, dan adab di Syiria. Dia gemar berolahraga seperti menunggang kuda, dan berburu.

    Pada mulanya, Salahuddin kurang begitu dikenal oleh masyarakat, namun ketika Nuruddin Zanki menguasai Damaskus, ayahnya memperkenalkannya kepada Nurudin Zanki. Mulai saat itulah ia muncul di depan publik dan dikenal oleh masyarakat. Terlebih setelah ia terjun kedunia militer. Dia memperoleh pendidikan militer yang amat baik, mengabdi mengiringi pamannya Syirkuh, jenderal utama Nuruddin.

    Karier Salahuddin mulai terlihat ketika ia pergi ke Mesir, mendampingi pamannya Asaduddin Syirkuh pada tahun 1164 M. Mereka menyerang Mesir tiga kali pada  tahun 1160-an. Dalam serangan ketiga ke Mesir, Salahuddin membantu pamannya menggulingkan Wazir Fathimiyyah, Shawar, menjadikan Shirkuh wazir dan kemudian menggantikan sang paman saat pamannya meninggal tiga bulan kemudian.

    Sejak itu, timbullah dua keinginan (ambisi) terbesarnya yaitu mengganti paham Syiah di Mesir dengan paham Sunni dan mengusir tentara Salib dari wilayah Islam. Setelah Salahuddin diangkat sebagai Perdana Menteri dengan gelar Al Malik An Nashir, Khalifah Abbassiyah kemudian menyerahkan wilayah Mesir, Naubah, Yaman, Tripoli, Palestina, Syiria, Maroko ke bawah kekuasaan Salahuddin.

    Khalifah Abbassiyah juga memberinya gelar Al Mu’izz Li Amiril Mu’minin (penguat  kedudukan Amirul Mu’minin). Hal ini dilakukan setelah Salahuddin menyebut nama Khalifah Abassiyah dalam setiap khotbah jumat disetiap masjid di wilayah Mesir.

    Setelah Salahuddin menguasai Mesir uoaya selanjutnya adalah mewujudkan kedaulatannya atas wilayah Syiria, dimana Nurudin Zanki pada tahun 1174 M, Salahuddin memproklamasikan kemerdekaan Mesir. Beberapa pertikaian dan peperangan harus dilaluinya, dan pundaknya adalah pertempuran Qurun Hamah. Pada pertempuran ini Salahuddin berhasil merebur Syiria dari tangan Ismail Al Malik As Salih, anak anak sekaligus pengganti Nuruddin Zanki. Waktu itu Ismail baru berumur tujuh tahun.

    Pada bulan Mei 1175 M Slahudin meminta Khalifah Abassiyah untuk melantiknya sebagai Sultan (penguasa) atsa wilayah Mesir, Syiria bagian tengh, Maroko, Nubia, Palestina, Arab Barat. Selanjutnya, Salahuddin memproklamasikan dirinya sebagai Sultan (penguasa) tunggal untuk wilayah tersebut. Usaha perluasan wilayah terus dilakukan. Sepuluh tahun kemudian, Mesopotamia berhasil ditaklukkan sekaligus menjadikan beberapa raja di wilayah tersebut sebagai pengikutnya.

    Sejarah kehidupan Salahuddin Al Ayyub penuh dengan perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakukannya dalam rangka menunaikan tugas negara untuk memadamkan pemberontakan dan menghadapi tentara Salib yang berusaha menyerang wilayah-wilayah Silam. Semua peperangan yang dialaminya berhasil ia menangkan. Salah satu keistimewaan yang dimiliki Salahuddin Al Ayyubi adalah meskipun ia selalu menang dalam setiap peperangan namun ia bukanlah pemimpin yang tamak., ambisius, haus kekuasaan dan kekayaan. Pereng hanya ia lakukan untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Selain itu, Salahuddin Al Ayyubi juga memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap umat agama lain. Sebagi contoh ketika ia menguasai kota Iskandariyah ia selalu mengunjungi orang-orang Kristen dan ketika perdamaian tercapai antara pasukannya dengan tentara Salib, ia mengizinkan orang-orang Kristen utnuk berziarah ke Baitul Maqdis.

    Perang Salib

    • Selain menghadapi pemberontakan dari kalangan sendiri, Salahuddin al Ayyubi juga menghadapi ancaman yang besar dari Tentara Salib. Mereka adalah orang-orang Kristen Franka (nenek moyang bangsa Prancis saat ini). Kekuasaan Salahuddin al Ayyubi yang makin besar dan luas membuat meraka terancam. Kemudian mereka meminta bantuan kepada bangsa Perancis, Jerman, Inggris, Bizantium, dan Paus untuk membantu mereka mengusasai kembali daerah-daerah mereka yang telah dikuasai Salahuddin al Ayyubi, termasuk Baitul Maqdis (Yerussalem).

    Perang melawan Tentara Salib terjadi beberapa kali, yaitu :

    • Perang pertama melawan Amalic I (Raja Yerussalem)
    • Perang kedua melawan Badwin IV (Putra Amalic I)
    • Perang ketiga melawan Reginald de Chatilon (Penguasa Benteng Karak di sebelah timur Laut Mati)
    • Perang keempat melawan Raja Baldwin II

    Dalam setiap pertempuran Salahuddin selalu mendapat kemenangan, sehingga ia dapat menguasai kota-kota penting diantaranya Kota Tiberas, Nasirah, Samaria, Sudan, Beirut, Batun, Gaza, Hebron, Baitul Maqdis, Bail al Lahn, dan Gunug Zaitun. Kota-kota tersebut dapat ditaklukkan pada tahun 1187 M dan setelah dikuasai, kemudian Salahuddin al Ayyubi membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, serta membangun kembali Masjidil Aqsha dan menurunkan salib yang terpasang di atas kubah batu.

    Setelah kota Baitul Maqdis (Yerussalem) dikuasai oleh Salahuddin al Ayyubi pada tanggal 2 Oktober 1187 M maka Paus Gregory mengumandangkan Perang Salib untuk merebut kembali kota-kota yng dikuasai oleh Salahuddin al Ayyubi terutama Kota Baitul Maqdis (Yerussalem). Selanjutnya seruan perang diteruskan oleh Clement II yang menggantikan Paus Gregory. Seruan ini disambut oleh para penguasa di Eropa. Diantara penguasa/raja Eropa yang terlibat/membantu dalam Perang Salib melawan Salahuddin al Ayyubi adalah 

    1. Raja Philip II (Perancis)
    2. Raja Richard I (Inggris), sebutan lainnya adalan Richard The Lion Heart (Richard yang berhati Singa)
    3. Raja William (Sissilia)
    4. Kaisar Frederick Barbarussa (Jerman)

    Mereka bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam.

    Dari keempat musuh Salahuddin al Ayyubi di atas, pertempuran yang paling dahsyat adalah ketika komando tertinggi tentara salib berada di tangan Raja Richard. Pertempuran terjadi di darat dan di laut, berlangsung dalam waktu yang cukup lama, yaitu mulai tanggal 27 agustus 1187 sampai 12 juli 1191 M. Pertempuran inilah yang disebut dalam sejarah sebagai Operasi Militer terbesar sepanjang abad pertengahan.

    Dampak yag ditimbulkan akibat perang Salib, antara lain

    • Kehancuran kaum muslimin beserta kota-kotanya, kehancuran bagi kaum Kristen Timur dan gereja-gerajanya termasuk Konstatinopel serta kehancuran bagi kaum Yahudi di sepanjang jalur Perang Salib.
    • Kebencian antara kaum Kristen Eropa dan kaum Yahudi, Islam dan Kristen di Timur. Sehingga terbentuk gambaran yang buruk tentang Islam di mata umat Kristen Eropa.
    • Terjadinya arus budaya masuk dari Timur ke Barat (dari Islam ke Eropa) Pasukan Salib membawa pulang ilmu kedokteran, astronomi, geometri, rumah sakit, seni sastra, peralatan musik, ilmu militer, serta hasil peradaban yang berkembang di dunia Islam pada waktu itu, kemudian dikembangkan oleh ilmuwan Barat hingga sekarang.

    Setelah pertempuran berjalan bertahun-tahun, usaha menuju perdamaian akhirnya dilakukan. Perdamaian dimulai dari dinikahkannya adik Raja Richard I dengan adik Salahuddin al Ayyubi yang bernama al Malikul Adil. Keduanya dinikahkan dengan menerima Baitul Maqdis (Yerussalem) sebagai hadiah pernikahan. Pernikahan ini mengakhiri perselisihan antara Kristen dan Islam pada waktu itu. Pada 2 September 1192 M/588 H, ditandatanganilah  perjanjian di antara pihak Muslim dan Salib yang dikenalisebagai “Perjanjian Damai Ramallah” di mana Salahuddin al-Ayubi diwakili olehdua orang puteranya yaitu al-Afdhal dan juga al-Zahir, selain dari saudarakandungnya sendiri yaitu Adil.Sebaliknya, Raja Richard pula diwakili oleh Henry de Champagne, Balian II de Ibelin, Unfroy de IV de Torun

    Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Yerussalem tetap di bawah kekuasaan Islam dan umat Kristen yang akan berziarah ke Yerussalem tidak boleh diganggu
    2. Daerah pesisir Syiria mulai Tyre sampai Jaffa dikuasai oleh Pasukan Salib
    3. Harta rampasan perang umat Kristen harus dikembalikan kepada mereka.

    Setelah perang melawan Tentara Salib selesai, kemudian Salahuddin al Ayyubi memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus.

     Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke rahmatullah pada usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas ia jatuh sakit, ia telah menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja’afar seorang yang wara’ telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika ia nazak, bacaan Qur’an dan syahadah boleh diperdengarkan kepadanya.

    Pada malam itu telah terlihat tanda-tanda berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar duduk disamping tempat tidurnya semenjak 3 hari danmembacakan Qur’an. Salahuddin seringpingsan dan sadar dalam waktu singkat. Apabila Syeikh Au Jaafar membacakan ayat, “Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata” (Al-Hasyr: 22), Salahuddin membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan dengannada yang gembira ia berkata, “Memang benar”. Setelah ia mengucapkan kata-kata itu rohnya pun kembali ke rahmatullah. Pada waktu itu adalahsebelum subuh, 27 Safar. Beliaudimakamkan di Syiria dekat Masjid Umayyah.

    Seterusnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untukbiaya pemakamannya. Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk menanggung biaya pemakamannya ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.

    C.     Contoh Sikap Keperwiraan Salahuddin Al Ayyubi

    Salahuddin Al Ayyubi merupakan pemimpin yang memiliki kepribadian dan jiwa keperwiraan yang sempurna. Karena kepribadian dan jiwa keperwiraannya inilah, ia menjadi salah satu tokoh muslim yang disegani baik oleh kawan maupun lawan. Ia termasuk dalam jajaran pemimpin teladan di dunia hingga saat ini. Kepribadian dan keperwiraan Salahuddin dapat kita lihat melalui catatan-catatan dan fakta-fakta sejarah sebagai berikut :

    1.      Salahuddin Al Ayyubi dikenal memiliki jiwa pemurah dan penyayang terhadap pihak yang lemah

    Ini terlihat ketika ia rela membebaskan para tawanannya dalam Perang Salib, tanpa meminta tebuasan sama sekali. Berbeda dengan Richard, raja Inggris pada waktu itu, untuk membebaskan tawanan maka harus dipenuhi dua syarat, yaitu membayar tebusan sebesar 200.000 keping emas, dan tawanan muslim harus memperbaiki salib suci. Ketika sampai akhir bulan (waktu yang ditentukan) uang tebusan tidak dibayar, maka Raja Richard memerintahakn 2.700 tawanan itu unutk dibunuh. Tindakan Richard ini jauh berbeda dengan perlakuan Salahuddin terhadap para tawanannya di Yerussalem.

    Pada mulanya Salahuddin meminta tebusan bagi beberapa ribu tawanan miskin yang tidak bisa menebus dirinya sendiri. Namun atas permintaan saudaranya, Salahuddin membebaskan ribuan tawanan miskin. Kemudian atas permmintaan Uskup, tawanan yang lain juga dibebaskan. Mengingat bahwa saudaranya dan Uskup telah berbuat kebaikan, maka ia pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya Salahuddin membebaskan sisa tawanan termasuk wanita dan anak-anak, tanpa tebusan sama sekali.

    Salahuddin Al Ayyubi dalam usaha membangun pemerintahannya lebih mengutamakan kepentingan negara dan agama yaitu dengan cara mengganti pejabat yang melakukan korupsi dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, ia mampu mengendalikan pemeintahan selama kurang lebih 22 tahun dengan baik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

    Dengan demikian terdapat ibrah/pelajaran yang dapat diambil dari mempelajari sejarah dan biografi Salahuddin Al Ayyubi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya sebagai berikut :

    • Kita harus memiliki sifat as saja’ah (pemberani), terlebih dalam menegakkan kebenaran
    • Kita harus memiliki jiwa pemurah dan penyayang terhadap siapa saja, terutama kepada orang-orang lemah
    • Kita harus bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran
    • Kita harus mencintai ilmu baik ilmu pengetahuan maupun ilmu agama denagn cara belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun
    • Kita harus memiliki sikap toleransi terhadap siapa saja, selama dalam batas-batas yang diperbolehkan agama
    • Kita harus bersikap adil terhadap siapa saja
    • Kita harus memiliki jiwa perwira dan ksatria
    • Kita harus menanamkan pada diri kita bahwa semua yang kita lakukan dalam kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah SWT
    • Salahuddin Al Ayyubi adalah seorang perwira yang pemberani, adail, tegas, serta memiliki jiwa kesatria

    Terhadap orang yang lemah atau mengaku kalah, ia akan menghormati dan melindunginya. Namun sebaliknya, ia selalu tegas dalam menyikapi segala bentuk pembangkangan dan pengkhianatan. Sifat ini terlihat ketika Salahuddin memperlakukan para tawanannnya pada masa kota Yerussalem (Baitul Maqdis) jatuh ke tangan umat Islam. Raja Yerussalem, Guy de Lusignan, menjadi salah satu tawanan bersama pengusan Chattilom bernama Reginald yang terkenal dengan “si perusak perdamaian”. Salahuddin memperlakukan secara berbeda. Hal ini dikarenakan Reginald melanggar perjanjian.

    • Salahuddin adalah perwira sejati yang mencurahkan segala upayanya semata-mata demi kejayaan agama Allah SWT dan negara

    Ia bukanlah tipe penguasa yang gila harta. Hal ini dapat dilihat setelah penggulingan Dinasti Fathmiyyah, Salahuddin membagikan harta benda yang dikumpulkan pemerintahannya kepada para nelayan dan tentara. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia tidak menimpan harta apapun. Pada saat meninggal ia hanya memiliki 17 dirham dan satu keping emas.

    4.      Salahuddin adalah pemimpin yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan

    Hal ini dapat dilihat dari perhatiannya terhadap pendidikan, yaitu dengan mendirikan madrasah-madrasah di negara yangia pimpin. Ia juga dikenal sebagai pelindung para sarjana, intelektual dan ilmuwan serta selalu menyokong setiap kajian yang dilakukan para ilmuwan dan ulama.

    5.      Salahuddin dikenal memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat agama lain

    Hal ini dapat kita lihat ketika ia telah berhasil menguasai kota Iskandariyah  dan Yerussalem, ia selalu mengunjungi orang-orang Kristen dan setelah tercipta perdamaian, ia memberi kesempatan dan mengizinkan orang-orang Kristen untuk berziarah ke Yerussalem (Baitul Maqdis).

    Potret sejarah diatas merupakan cerminan nyata bahwa Salahuddin adalah sosok pemimpin yang memiliki jiwa perwira. Kebesaran namanya tidak membuatnya bersikap semena-mena, meski terhadap musuh-musuhnya sekalipun. Tak diragukan lagi, kita harus berupaya meneladaninya dengan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.

    D.    Meneladani Kepribadian dan Keperwiraan Salahuddin Al Ayyubi dalam Kehidupan Sehari-hari

    Ada hal penting yang dapat diperoleh dari mempelajai sejarah dan riwayat hidup Salahuddin Al Ayyubi. Diantaranya adalah mengikui jejaknya sebagai seorang pemberani, bijaksana, toleransi, dan mencintai ilmu pengetahuan.

    Seperti diketahui bahwa Salahuddin Al Ayyubi kehidupannya penuh dengan perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakukan dalam menunaikan tugas negara dan membela agama. Keberhasilannya diawali dengan menjadi seorang tentara militer, perdana menteri, sampai menjadi penguasa Dinasti Ayyubiyah.

    Salahuddin Al Ayyubi dalam usaha membangun pemerintahan lebih mengutamakan kepentingan negara dan agama dengan cara mengganti pejabat yang melakukan korupsi dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendirikan madrasah-madrasah.

    Melalui bekal pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, Salahuddin Al Ayyubi mampu mengendalikan pemerintahan selama kurang lebih 22 tahun (1171 M – 1193 M) dengan baik dan mendapat dukungan dari banyak kalangan.

    Dengan demikian terdapat ibrah yang dapat diambil dari mempelajari biografi Salahuddin Al Ayyubi. Diantaranya adalah kita harus mengikuti jejak langkah yang pernah dilakukan yaitu seorag pemberani menegakkan kebenaran dan belajar berbagai ilmu, kita akan selamat didunia dan akhirat.

    Selain itu jangan melupakan Yang Maha Kuasa karena semuanya berasal dari Allah SWT. Jangan mengenal putus asa dan jangan sombong. Jangan terjebak dengan materi keduniaan dan kemewahan hidup. Tokoh seperti Salahuddin Al Ayyubi yang perlu diteladani oleh kita semua.

    Al-Qur’an Puncak dan Penutup Wahyu Allah

    image

    Al-Qur’an Puncak dan Penutup Wahyu Allah

    Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W, melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5.

    Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”. (Al-Qiyāmah 75:17-18)

    Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an : “Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas” Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad S.A.W, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.

    Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Panel Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara

    Copyright © 2015, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved