Category Archives: Opini

Ucapan, PP, dan Pesan SMS Pilihan Untuk Sahabat atau Keluarga di Bulan Ramadhan

  • Welcome the month of Ramadhan with the heart filled with peace, harmony and joy. May the divine blessings of Allah protect and guide you.
  • Sambutlah bulan Ramadhan dengan hati yang penuh dengan kedamaian, harmoni dan sukacita. Semoga rahmat ilahi dari Allah senantiasa melindungi dan membimbingmu.

  • May this Ramadhan enlighten you and clear your understanding and judgment between the right and wrong, between the truths and false. Wishing you a Ramadhan Mubarak.

  • Semoga Ramadhan kali ini mencerahkanmu dan memperjelas pemahaman serta penilaianmu untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil. Semoga kamu menjalani Ramadhan yang penuh berkah.

Kata Mutiara Islami Tentang Bulan Ramadhan

Bagai hujan

  • Ramadhan is like the rain… It nourishes the seeds of good deeds.

    • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.
  • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.

Saat ramadhan tiba

  • When the month of Ramadhan starts, the gates of the heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained. – Hadits

  • Ketika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. – Hadis

Pahala puasa

  • Every deed of the son of Adam is for him except fasting; it is for Me and i will reward it. – Hadits

  • Seluruh amal perbuatan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya. – Hadis

Manual ramadhan

  • RAMADHAN MANUAL – turn TV off, eat moderately, use SOCIAL MEDIA wisely, read QURAN daily, Pray more, increase dua.

  • MANUAL RAMADHAN – matikan TV, makan secukupnya, gunakan SOSIAL MEDIA dengan bijak, baca QURAN sehari-hari, lebih banyak BERIBADAH, tingkatkan DOA.

Sedekah buka puasa

  • Whoever feeds a fasting person will have a reward like that of the fasting person, without any reduction in his reward. – Hadits

  • Barang siapa memberi makan orang yang sedang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga. –hadits

Pasca ramadhan

  • If you are going back to sinful life after Ramadhan, then you gained nothing but hunger.
  • Jika setelah bulan Ramadhan kamu kembali menjalani kehidupan yang penuh dosa, maka sesungguhnya kamu tidak mendapatkan apapun dari puasamu kecuali hanya rasa lapar.

Bukan sementara

  • Ramadhan is not about giving up bad habits temporarily. Ramadhan is a starting point to become a better Muslim and give them up for good.
  • Ramadhan bukanlah tentang berhenti dari kebiasaan buruk untuk sementara waktu. Ramadhan adalah titik awal untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik dan berusaha untuk terus selamanya menjadi baik.

Dua Kebahagiaan

  • There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord, then he will be pleased because of his fasting. – Hadits
  • Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika nanti bertemu dengan Tuhannya. – Hadis

Keutamaan puasa

  • Whoever fasts Ramadhan out of faith and with the hope of (Allah’s) reward, all his previous sins will be forgiven. – Hadits
  • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. – Hadis

Ibarat teman

  • Ramadhan is like a friend. You have seen it today, you might not see it again.
  • Ramadhan itu seperti teman. Kamu mungkin berjumpa dengannya hari ini, tapi belum tentu kamu bisa berjumpa lagi dengannya di lain waktu.

Presentase puasa

  • Fasting is only 1% of not eating and drinking, the rest of the 99% is bringing your heart and soul closer to the Allah.
  • Puasa itu hanya 1% untuk menahan diri dari makan dan minum, 99% sisanya untuk membawa hati dan jiwamu semakin dekat kepada Allah.

Perisai

  • Fasting is a shield, it will protect you from the hellfire and prevent you from sins. – Hadits
  • Puasa adalah perisai, yang akan melindungimu dari api neraka dan menjagamu dari perbuatan dosa. – Hadis

Mengosongkan perut

  • Ramadhan is time to empty your stomach to feed your soul.
  • Ramadhan adalah waktunya mengosongkan perut untuk memberi makan ruhanimu.

Mohon maaf

  • Amat merdu suara adzan, ayo shalat disegerakan. Sebentar lagi akan ramadhan, segala salah mohon dimaafkan.
  • Kata Bijak Islami Tentang Puasa dan Ramadhan

Empat kesalahan

  • 4 Mistakes to avoid in Ramadan: getting angry, sleeping all day, fasting without prayer, bad language.
  • 4 Kesalahan yang harus dihindari di bulan Ramadan: marah, tidur sepanjang hari, berpuasa tapi tidak shalat, tutur kata yang buruk.

Berdoalah

  • Make Dua.. its Ramadan, the month of forgiveness.
  • Berdoalah.. ini adalah Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan.

Titik balik

  • Make this Ramadan the turning point in your life. Break free from the deceptions of this world and indulge into the sweetness of iman.
  • Jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik balik dalam kehidupanmu. Bebaskan diri dari tipu daya dunia ini dan nikmati manisnya iman.

Bukan hamba ramadhan

  • Don’t be a servant of Ramadan, be a servant of Allah, be consistent.
  • Jangan menjadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah, dan beristiqamahlah.

Aku sedang berpuasa

  • When one of you is fasting, he should abstain from indecent acts and unnecessary talk, and if someone begins an obscene conversation or tries to pick an argument, he should simply tell him, ‘I am fasting’. – Hadits
  • Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor/keji dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. – Hadis

Bukan untuk diet

  • Ramadan is about losing sins, not weight.
  • Ramadhan itu waktunya untuk membersihkan diri dari dosa, bukan untuk menurunkan berat badan.

Izinkan kami

  • O Allah, allow us to witness Ramadan, benefit from it, use it to earn Your pleasure and mercy, and earn emancipation from the Fire. – dr. Bilal Philips
  • Ya Allah, izinkan kami untuk menjumpai bulan Ramadhan, memanfaatkannya, menggunakannya untuk mendapatkan ridha dan rahmat-Mu, dan mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka. – dr. Bilal Philips

Doa yang tidak tertolak

  • Three prayers (supplications) are not rejected: the prayer of a father, the prayer of a fasting person, and the prayer of a traveller. – Hadits
  • Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir. – Hadis

Membangun iman

  • Ramadan is a chance to build your iman.
  • Ramadhan adalah kesempatan untuk membangun imanmu.

Bunga langka

  • Ramadan is like a rare flower, that blossoms once a year, and just as you begin to smell its fragrance, it disappears for another year.
  • Ramadhan bagaikan bunga yang sangat langka, yang mekar hanya setahun sekali, dan saat kamu mulai mencium harumnya, ia menghilang selama satu tahun lagi.

Berhenti dari kemaksiatan

  • Ramadan is the ideal time to break bad habits.
  • Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk berhenti dari kebiasaan buruk.

Istimewanya ramadhan

  • 4 weeks of mercy, 30 days of worship, 720 hours of spirituality, 43.000 minutes of forgiveness, 2.592.000 seconds of happiness.
  • 4 minggu yang penuh rahmat, 30 hari yang bernilai ibadah, 720 jam yang penuh nuansa keagamaan, 43.000 menit yang penuh ampunan, 2.592.000 detik yang penuh kebahagiaan.

Terimalah

  • Dear Allah, please accept our fasts in this beautiful month of Ramadan. Ameen.
  • Ya Allah, terimalah puasa kami di bulan Ramadhan yang indah ini. Amiin.

Menyembuhkan

  • Ramadhan, let this month heal you.
  • Ramadhan, biarkan bulan ini menyembuhkanmu.

Tuhan yang sama

  • The Lord you worship in Ramadan is the same Lord you turn away from in all the other months. – Sheikh Abu Abdisalam
  • Tuhan yang engkau sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang engkau berpaling di bulan-bulan selainnya. – Sheikh Abu Abdisalam

Bulan al-Qur’an

  • The month of Ramadhan is that in which was revealed the Qur’an, a guidance for the people and clear proofs of guidance and criterion. – (QS. Al-Baqarah: 185)
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan yang bathil). – (QS. Al-Baqarah: 185)

Orang miskin

  • Poor is he who leaves ramadan the way he was before.
  • Orang miskin adalah dia yang meninggalkan ramadhan masih sama seperti sebelumnya.

Kewajiban puasa

  • O you who believe, Fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you so that hopefully you will gain taqwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)
  • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)

Menggapai takwa

  • TAQWA is the ultimate goal of our Ramadan preparations, to be among the righteous for now and forever.
  • TAQWA adalah tujuan akhir dari persiapan Ramadhan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, untuk saat ini dan selamanya.

Memperkokoh iman

  • Ramadan: strengthen your iman, heal your heart.
  • Ramadhan: mengokohkan imanmu, menyembuhkan hatimu.

Bukan akhir

  • For a true muslim ,end of Ramadan is not the end, but start of a new journey leading towards the jannah.
  • Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan baru menuju surga.

Tiap hari ramadhan

  • Live your life like everyday is Ramadan, and the Akhirah will become your Eid.
  • Jalani hidupmu seperti seolah-olah setiap harinya adalah Ramadhan, maka Akhirat akan menjadi hari rayamu.

Terus berusaha

  • Allah never expect us to be perfect during Ramadan, but He expects us to keep trying.
  • Allah tidak pernah mengharapkan kita menjadi sempurna selama Ramadhan, tetapi Dia mengharapkan kita untuk tetap terus berusaha.

Agen kebersihan

  • Fasting is a cleansing agent for the body and soul.
  • Puasa adalah agen pembersihan untuk tubuh dan jiwa.

Makna perisai

  • Puasa adalah perisai dan bukan pedang. Digunakan untuk menahan diri, bukan untuk menyerang.

Sama saja

  • Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus, maka sama saja seperti mengganti waktu makan.

Fenomena akhir ramadhan

  • Ramadhan semakin berlalu, akan tetapi masjid semakin kelabu, pusat perbelanjaan dan restoran semakin laku.

Belum tentu berjumpa lagi

  • Meski sekarang zaman sedang edan, namun ibadah di bulan ramadhan harus tetap habis-habisan, karena tahun depan belum tentu merasakan.
  • Kata Kata Islami Tentang Sahur

Ada berkah

  • Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat barakah. – Hadis

Sesuai waktunya

  • Jangan sahur sesudah waktunya, jangan berbuka sebelum waktunya, jangan menikah sebelum ada calonnya.

Memulai dengan basmalah

  • Mulailah makan sahurmu dengan ucapan bismillah agar semua makanan yang kau makan dan minuman yang kau minum menjadi berkah dan memberimu kekuatan untuk beribadah kepada Allah.

Tanpa sahur

  • Ada orang bangga berkata tanpa sahur pun dia gagah berpuasa. Padahal sahur itu sunnah dan berkah, dan dia telah rugi.

Hanya seteguk air

  • Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air. – (HR. Ahmad)

Selamat sahur

  • Kukirimkan senyum syukur, lewat doa yang tak terukur, semoga yang di sana sudah bangun tidur, sebelum waktu imsak menegur. Selamat makan sahur.

Waktunya buka

  • Sehari sudah kita menahan lapar dan dahaga, kini tibalah waktu maghrib untuk kita berbuka puasa. Selamat berbuka puasa, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Syukur dan sabar

  • Nikmatnya bersyukur, indahnya bersabar. Selamat berbuka puasa.
  • Ekspresi kebahagiaan
  • Orang berbuka memang benar mendapat kebahagiaan, tetapi jangan sampai salah mengekspresikannya dengan berbuka yang berlebihan.

Nikmat makan

  • Tiada nikmat makan yang lebih dari saat berbuka puasa. Selamat menikmati hidangan berbuka puasa.
  • Selamat berbuka untukmu
  • Jangan lupa berdoa sebelum makan, sudah kenyang ucapkan alhamdulillah. Selamat berbuka puasa kuucapkan, untukmu dengan senyumku terindah.

Menyegerakan berbuka

  • Manusia akan senantiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka senantiasa menyegerakan berbuka puasa. – (HR. Bukhari)

Meraih ridha-Mu

  • Dari pagi sampai sore-Mu, ku menahan segala rasa dan nafsu hanya untuk meraih ridha-Mu, semoga kita mendapatkan berkah di puasa hari ini. Selamat berbuka puasa.

Ucapan selamat berbuka

  • Santapan lezat sudah tersedia di atas meja, setulus hati aku ingin mengucapkan ‘Selamat berbuka puasa’.

Untuk yang dirindu

  • Gula memang manis rasanya, tapi lebih manis lagi rasa madu, ku ucapkan selamat berbuka puasa, untuk kamu yang selalu ku rindu.
  • Halal lebih baik
  • Berbukalah dengan yang halal, karena yang manis dan sayang belum tentu halal.

Kata Kata Perpisahan dengan Ramadhan

  • Kulihat ramadhan sedang berkemas. Aku tanya ia, “Hendak kemana engkau?”. Dengan lembut ia menjawab, “Aku akan pergi jauh, sangat jauh. Selama sebelas bulan ke depan aku akan menghilang darimu. Sampaikan pesanku pada semua. Terimakasih karena telah menyambut kehadiranku dengan gembira serta menghiasi hari-hariku dengan sabar dan istiqamah. Jika engkau merindukanku, maka perbanyaklah doa semoga kita bertemu lagi pada ramadhan yang akan datang.”
  • Itulah beberapa koleksi kata-kata mutiara islam terbaik, kata bijak islami, dan caption islami tentang bulan Ramadhan yang semoga bisa menjadi motivasi diri dalam menjalankan ibadah puasa dan semakin bersemangat untuk meraih kebaikan selama bulan ramadhan.

Dewan Pertimbangan MUI Prof Dr HM Din Syamsuddin: Penyerangan Gereja Lidwina, Skenario Sistematis Berkaitan Peristiwa Sebelumnya

Dewan Pertimbangan MUI Prof Dr HM Din Syamsuddin: Skenario Sistematis Berkaitan Peristiwa Sebelumnya

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof Dr HM Din Syamsuddin, menilai kejadian ‘penyerangan’ terhadap jemaat Gereja Lidwina, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/18) pagi, seperti dikendalikan oleh skenario sistematik yang tidak bisa dilepaskan dari rentetan kekerasan sebelumnya.

    Dalam waktu berdekatan serangkaian peristiwa nampak di hadapan kita. Ustadz Persatuan Islam (Persis) HR Prawoto dibunuh, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri dianiaya, dan Ustadz Abdul Basit di Palmerah, Jakarta Barat dikeroyok belasan remaja, kemudian sebuah video yang viral di medsos memperlihatkan penolakan warga Kabupaten Tangerang terhadap kehadiran seorang biksu Budha yang dicurigai warga akan mengajak penduduk setempat masuk Budha.

    • Din menganggap rentetan kejadian tersebut secara logis dapat diduga tidak berdiri sendiri karena terjadi hampir bersamaan dan sama-sama menyasar lambang keagamaan. “Sama-sama menyasar lambang-lambang keagamaan, baik
    • figur-figur agama maupun tempat ibadah,” ungkap Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban ini dalam keterangan tertulis yang sampai ke meja redaksi, Senin (12/2).
    • Din juga menganggap bahwa berdasarkan hal itu rentetan kejadian tersebut seperti dikendalikan oleh skenario sistematik yang bertujuan menyebarkan rasa takut dan pertentangan antar umat beragama. “Dan akhirnya menciptakan instabilitas nasional,” kata mantan Ketum MUI ini.
    • Din mendorong aparat keamanan untuk secara serius mengusut tuntas dan mneyingkap siapa dan apa di balik kejadian-kejadian tersebut. Menurutnya, jika tidak segera diusut dan dicegah maka sangant berpotensi menimbulkan prasangka di tengah masyarakat. “Kemudian memunculkan reaksi-reaksi yg akhirnya menciptakan kekacauan,” ungkap Din. “Untuk itu kepada umat beragama dipesankan untuk tetap tenang, dapat mengendalikan diri, dan jangan terprovokasi oleh pihak yang memang sengaja ingin mengadu domba antar umat beragama,” mantan Ketum PP Muhammadiyah ini mengingatkan.

    ​NU DAN STRATEGI KAUM LIBERAL

    ​NU DAN STRATEGI KAUM LIBERAL

    Ainul Yaqin, Sekum MUI Jatim

    Wacana liberalisme Islam yang diperkenalkan ke lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) telah direspon sangat baik oleh sebagian generasi mudanya. Fenomena inilah yang oleh Shonhadji Sholeh (2004) diidentifikasikan sebagai fenomena lompatan pemikiran kaum nahdliyin dari tradisionalisme menuju postradisionalisme. Berbeda dengan generasi mudanya, di kalangan generasi tua NU, liberalisme Islam dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan. Bahkan pada muktamar NU di Boyolali sempat muncul usulan agar kepengurusan NU bersama organisasi-organisasi di bawahnya dibebaskan dari pengaruh orang-orang yang berhaluan liberal. Menyadari kenyataan tersebut, tak pelak lagi para aktivis liberal merasa perlu membuat strategi baru yang lebih halus, karena strategi lama yang terlalu menyolok bisa kontraproduktif bagi gerakan liberalisme sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, akhir-akhir ini beberapa aktivis liberal menggulirkan isu wahabisasi. Isu wahabisasi ini ditujukan kepada setiap upaya yang dilakukan oleh siapa saja atau kelompok Islam apa saja yang mempunyai faham berseberangan dengan  faham liberalisme. 

    Menurut tengarah para aktivis liberal, kelompok-kelompok tersebut adalah para aktivis wahabisme atau setidaknya terpengaruh oleh  ide wahabisme. Bahkan dalam kasus kontroversi RUU APP pun kelompok yang pro terhadap RUU APP ditengarahi sebagai wahabian. 
     Abdul Moqsith Ghazali misalnya dalam tulisannya di http://www.wahidinstitute.org mengatakan bahwa gerakan untuk mewahabikan umat Islam di Indonesia sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi bahkan tidak hanya dilakukan di kota-kota besar, tetapi juga telah masuk ke desa-desa  yang dimotori oleh para aktivis wahabisme. Moqsith juga menyebutkan banyak tokoh Wahabi Timur Tengah yang pikirannya mempunyai pengaruh kuat terhadap aktivis Islam di Indonesia, yang salah satunya adalah Abdul Qadir Zallum (yang benar Abdul Qadim Zallum pen.). Syeikh Abdul Qodim Zallum pemimpin Hizbut Tahrir di Yordania dituduh sebagai Wahabi didasarkan atas kritiknya terhadap faham demokrasi sebagai faham yang tidak sejalan dengan Islam.

     Di tempat lain, M. Mas’ud Adnan wakil ketua Balitbang  PW NU Jatim (Jawa Pos; 28/03/06) menengarahi bahwa beberapa kiyai di NU telah terpengaruh gerakan wahabisasi. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa PB NU secara resmi ikut mendukung pengesahan terhadap RUU APP serta  adanya keterlibatan beberapa kiyai NU dalam Dewan Imamah Nusantara (DIN). Menurut Mas’ud, keterjebakan beberapa kiyai dalam perangkap gerakan wahabisasi dikarenakan tiga hal antara lain; melemahnya internalisasi nilai-nilai Aswaja, kepentingan aliansi politik yang didasari atas kesamaan visi pragmatis, dan adanya beberapa kiyai NU yang mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia tetapi tidak melalui studi akademik sampai S2 atau S3 sehingga sedikit banyak terpengaruh pada faham Wahabi. Cara pandang Mas’ud menengarahi adanya wahabisasi ini sedikit banyak karena ia terpengaruh dengan opini para aktivis liberal.

     Selain menggulirkan isu wahabisasi, dalam waktu yang bersamaan para aktivis liberal juga gencar melakukan upaya pembelokan makna terhadap idiom-idiom yang biasa digunakan di NU seperti idiom kembali ke khitthah 26, idiom tawassuth, tawazun, dan tasamuh. Idiom kembali ke khitthah NU 26 pada dasarnya mempunyai makna mengembalikan NU pada arah perjuangan semula yaitu menjadi jam’iyah yang bergerak dalam bidang kemasyarakatan dan keagaamaan (jam’iyyah diniyyah wa ijtima’iyyah). Konsep ini lahir dari adanya kesadaran bahwa NU selama ini telah terlibat terlalu jauh dalam politik praktis sehingga melupakan perannya yang utama sebagai organisasi dakwah.  Para aktivis liberal membelokkan pengertian kembali ke khitthah dengan membuat tafsiran baru yaitu mengembalikan NU pada dakwah kultural. Istilah dakwah kultural telah dipertentangkan dengan istilah dakwah struktural, dengan suatu pengertian bahwa dakwah struktural adalah upaya formalisasi agama (syari’at), maka sebaliknya dakwah kultural berarti menolak formalisasi. 

    Pembelokan serupa dilakukan pula terhadap konsep tawassuth, tasamuh, dan tawazun. Ke tiga istilah tersebut sebenarnya merupakan istilah untuk mensifati teologi ahli sunnah atau Asyariyah yang dianut oleh NU yang merupakan konsep teologi tengah-tengah antara rasionalisme qadariyah dan antropomorfisme jabariyah. Menurut KH Ahmad Siddiq tawassuth (yang di dalamnya mencakup tawazun) meliputi bidang aqidah, syari’ah dan akhlaq, serta bidang lain seperti mu’asyarah antar golongan, bidang kehidupan bernegara dan bidang kebudayaan (KH Ahmad Siddiq, Khithah nahdliyyah, 2005: h. 63-67). Di bidang aqidah misalnya, tawassuth menurut KH Ahmad Siddiq adalah sikap mendudukkan secara proporsional antara dalil aqli dan naqli, dengan menempatkan dalil aqli di bawah dalil naqli serta berusaha sekuat tenaga memurnikan aqidah dari pengaruh faham luar Islam (KH Ahmad Siddiq, 2005: h. 63). Sedangkan tawassuth di bidang kehidupan bernegara antara lain sikap menempatkan pemerintah yang sah pada kedudukan yang terhormat dan ditaati sepanjang tidak menyeleweng atau memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah (KH Ahmad Siddiq, 2005: h. 66).   Para aktivis liberal telah menggeser makna idiom tawasssuth dan tawaazun sebagai sikap netral, artinya menolak terhadap upaya formalisasi syari’at Islam secara konstitusional sekalipun, karena formalisasi syari’at adalah sikap yang tidak netral atau ekstrim ke kanan. 

    Model penafsiran seperti di atas antara lain terlihat dari tulisan Mas’ud Adnan mengomentari dukungan PB NU terhadap RUU APP (Jawa Pos: 28/03/06). Menurutnya NU yang berwatak tawassuth, tasamuh, dan tawazun lebih pas memilih solusi partikelir dari pada menjadi stempel kelompok Islam formalis. Serupa dengan itu Gus Dur juga secara tegas mengatakan bahwa KH Hasyim Asy’ari adalah orang yang tidak setuju dengan formalisasi agama. (Jawa Pos: 7/04/06 )

     Tuduhan bahwa kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan dengan aktivis liberal sebagai Wahabian terlalu digeneralisasi. Memang diakui bahwa kelompok Wahabi seperti kelompok Salafi merupakan salah satu kelompok yang selama ini berseberangan dengan kelompok liberal, tetapi menuduh semua yang berseberangan dengan kelompok liberal sebagai wahabi jelas merupakan generalisasi yang dipaksakan dan tidak sesuai dengan fakta. 

    Tuduhan terhadap Syeikh Abdul Qodim Zallum sebagai wahabi misalnya, jelas tidak berdasar. Abdul Qodim Zallum merupakan tokoh yang banyak mengkritisi gerakan Wahabi. Dalam bukunya Kaifa Hudimat al-Khilafah, Syeikh Zallum mengkritik keras peran gerakan Wahabi yang terlibat dalam konspirasi meruntuhkan kekhilafahan Usmaniyah di Turki. Di pihak lain kelompok Wahabi menuduh Hizbut Tahrir yang merupakan organisasi yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Qodim Zallum sebagai neo muktazilah yang sesat. 

    Demikian pula, tuduhan terhadap beberapa kiyai NU yang nyantri di Saudi Arabia terpengaruh Wahabi juga tidak berdasar. Banyak kiyai NU yang kritis terhadap kelompok liberal mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia, tetapi mereka tidak belajar pada ulama Wahabi. Di antara mereka banyak yang belajar pada Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Ustadz Luthfi Basori misalnya, seorang kiyai muda NU asal Malang yang kritis terhadap liberal adalah murid beliau. Demikian pula tokoh FPI Habib Abdurrahman Bahlega Assegaf Pasuruan dan anggota Dewan Imamah Nusantara Habib Thohir Al-Kaff serta K.H. Najih Maimun juga murid beliau. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki adalah seorang ulama Saudi yang pendapatnya sering berseberangan dengan para ulama Wahabi. Bahkan beliau pernah divonis sebagai ulama sesat oleh tokoh-tokoh wahabi.  Abdullah bin Sulaiman bin Mani’ seorang ulama wahabi dalam bukunya Khiwar maa Al Maliki secara kasar menuduh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sebagai penyebar bid’ah dan syirik. Bahkan Dewan Hai’ah Kibar al-Ulama al-Saudiyyah yang merupakan forum ulama Wahabi telah merekomendasikan agar beliau dicekal tidak boleh mengajar di Masjid al-Haram. 

     Istilah Wahabi sendiri adalah sebutan dari orang-orang di luar Wahabi terhadap para pengikut ajaran Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka sendiri mengklaim sebagai penerus kaum salaf karena itu mereka lebih suka menyebut dirinya sebagai salafy. Sepak terjang gerakan Wahabi yang spesifik adalah membersihkan hal-hal yang menurut mereka merusak kemurnian ajaran Islam yakni masalah bid’ah, syirik, dan khurafat. Namun pada praktiknya gerakan Wahabi terjebak pada generalisasi sehingga menganggap semua yang tidak ada di masa Nabi Saw sebagai bid’ah yang harus diberantas. Maka, dalam banyak hal mereka mudah memvonis kelompok lain sesat, padahal yang dimasalahkan masih dalam kawasan furu’iyah ijtihadiyah.

    Adanya isu wahabisasi yang digeneralisasi mengesankan akal-akalan saja dari aktivis liberal. Dipilihnya isu wahabisasi dimaksudkan untuk membangkitkan sentimen lama kaum Nahdliyin karena sebagaimana diketahui, NU pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap gerakan Wahabi. Bahkan latar belakang berdirinya NU yang merupakan kelanjutan dari Komite Hejaz adalah untuk menyikapi gerakan Wahabi. Para aktivis liberal sengaja menyulut sentimen lama dengan harapan warga NU bisa disekat dari kelompok-kelompok yang menolak ide liberal. Dengan isu wahabisasi diharapkan warga NU menjadi curiga dan waspada terhadap kelompok-kelompok yang menolak ide liberal dan sebaliknya menjadi tidak kritis terhadap ide-ide kelompok liberal sendiri, sehingga dalam kesempatan ini tanpa disadari ide-ide liberalisme dapat diterima.

    Misi utama yang dibawa oleh para aktivis liberal adalah mensosialisaikan faham sekularisme. Dalam berbagai kesempatan para aktivis liberal  senantiasa menyampaikan misi ini. Penolakannya terhadap RUU APP pun dilakukan karena misi ini. Kaum liberal memandang bahwa RUU APP terlampau jauh mengatur masalah moralitas yang dalam pandangannya yang sekuler, hal tersebut merupakan wilayah privat (masalah yang bersifat pribadi). Dikotomi privat dan publik inilah merupakan ciri dari faham sekularisme.

    Berbagai upaya yang dilakukan mulai dari pengguliran isu wahabisasi, pembelokan makna khitthah NU, penggunaan idiom dakwah kultural yang dimaknai sebagai penolakan atas formalisasi, demikian pula pembelokan makna tasamuh, tawaazun, dan tawassuth, dapat dibaca sebagai strategi mensosialisasikan faham sekular khususnya yang terhadap warga NU. 

    Padahal NU sejak kelahirannya tidak berfaham sekuler dan tidak pula anti formalisasi. Khitthah NU yang sebenarnya, tidak pernah memisahkan antara dakwah kultural dan struktural. KH Ahmad Siddiq mantan Rais Am PB NU, bahkan telah mewanti-wanti tehadap bahaya yang akan mengancam kemurnian ajaran Islam yang salah satunya adalah faham sekularisme (KH. Ahmad Siddiq, 2005; hal 39-45). Bahkan, secara tidak langsung NU memandang formalisasi syari’at menjadi sebuah tujuan yang akan dicapai,  karena tujuan perjuangan NU adalah izzul Islam wal Muslimin yang menurut KH Ahmad Siddiq diartikan sebagai berlakunya ajaran Islam dalam segala segi kehidupan (yang sudah barang tentu mencakup bidang politik, hukum dan kenegaraan) (KH Ahmad Siddiq, 2005; h. 104). Hanya saja yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual, konstitusional, yang lebih mengarah pada penyadaran. Da’wah Islam adalah mengajak dengan simpatik bukan memaksa. Karena itu pula, sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti maa laa yudraku kulluh la yutraku kulluh (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua) dan kaidah dar’u al-mafasid muqaddamun ala jalbi al- mashalih (menolak kerusakan lebih didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan).

    Sejarah NU dapat menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru merupakan organisasi yang concern pada perjuangan penegakan syari’at Islam baik secara substansial maupun formal. Keputusan bahtsul masail pada Muktamar NU ke 11 di Banjarmasin tanggal 9 Juni 1936 M bertepatan dengan tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H menyatakan bahwa Indonesia adalah Negara Islam karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun telah direbut oleh kaum penjajah kafir, tetapi nama Negara Islam tetap selamanya. (lihat Solusi Hukum Islam; Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes NU 1926 – 2004 M hal 187). Keputusan ini dibuat sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia diproklamirkan, yang merupakan cita-cita dan harapan yang akan mewarnai dalam perjuangan di masa berikutnya. 

    Menjelang kemerdekaan tepatnya tanggal 22 Juni 1945 sebuah tim kecil yang dibentuk oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) berhasil membuat draft Preambule (pembukaan) UUD 1945 yang kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta.  Tim kecil ini dinamakan Panitia Sembilan, karena beranggotakan sembilan orang yaitu: Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Achmad Soebardjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Abdul Wachid Hasyim, H. Agus Salim,  dan Mr. AA. Maramis. Hal yang telah banyak diketahui, pada Piagam Jakarta ini sila pertama dasar negara dirumuskan dengan kalimat ‘Ketuhanan Dengan Menjalankan Kewajiban Syari’at Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya’. 

    Tidak seperti yang disangkakan orang, Piagam Jakarta ini merupakan keputusan resmi karena dihasilkan oleh sebuah lembaga resmi, dan merupakan keputusan yang bersifat kompromistis kendatipun dalam sekala kecil, karena dalam keanggotaan lembaga ini juga melibatkan unsur tokoh Nasionalis (Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Achmad Soebardjo), unsur tokoh Islam (Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Abdul Wachid Hasyim, H. Agus Salim), dan unsur non Islam (Mr. AA. Maramis). Dalam hal ini Soekarno menyatakan:

    Panitia kecil penyelidik usul-usul  berkeyakinan bahwa inilah Preambule yang bisa menghubungkan, mempersatukan segenap aliran yang ada di kalangan anggota-anggota Dokutirsu Zyumbi Tyoosakai. 

    Rumusan Piagam Jakarta ini setelah dibawa pada rapat BPUPKI tanggal 11 Juli 1945 memperoleh tanggapan yang berbeda-beda dari anggota BPUPKI. Pada rapat tersebut, baik di kalangan Islam maupun Kristen masih ada yang mempermasalahkan rumusan ini. Dari kelompok Islam masih ada yang menganggap rumusan ini kurang tajam mewakili Islam sebagai unsur mayoritas. Golongan Islam sebenarnya menuntut lebih dari itu, yakni negara berdasarkan syari’at Islam. Termasuk di sini kebanyakan para ulama yang tergabung dalam organisasi NU, karena sejak awal mereka berpandangan bahwa wilayah Indonsia adalah Darul Islam. Di sisi lain di kalangan Kristen ada yang mempersoalkan keberadaan tujuh kata (dengan menjalankan kewajiban syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya). Latuharhary dari Maluku kendati tidak secara tegas mewakili unsur Kristen, menyatakan bahwa jika kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya diterapkan maka mereka harus meninggalkan hukum adat yang telah diterapkan selama ini, seperti di Minangkabau dan Maluku.  Ia mencontohkan pada hak pewarisan tanah di Maluku, jika syari’at Islam diterapkan anak yang tidak beragama Islam tidak mendapatkan warisan. Latuharhary mempertegas; “jadi kalimat semacaam ini dapat membawa kekacauan yang bukan kecil terhadap adat istiadat”.

    Menghadapi pro kontra terkait dengan Piagam Jakarta ini, para anggota panitia sembilan yang menyadari bahwa rumusan Piagam Jakarta merupakan keputusan kompromistis, berusaha memberikan penjelasan kepada para peserta sidang BPUPKI. Haji Agus Salim yang berasal dari Minangkabau menyikapi pernyataan Latuharharay mencoba memberikan membantah dengan menyampaikan pernyataan bahwa bagi umat Islam kewajiban menjalankan syari’at berlaku kapanpun biarpun tidak ada Indonesia merdeka, biarpun tidak ada hukum dasar Indonesia.

    KH Abdul Wachid Hasyim yang merupakan tokoh NU yang juga ayah Gus Dur, menyikapi penolakan Latuharhary tersebut menyampaikan tanggapannya bahwa rumusan Piagam Jakarta tidak akan menimbulkan masalah seperti yang dikhawatirkan. Bahkan secara tegas  KH Abdul Wachid Hasyim menyatakan; 

    “Jika masih ada yang kurang puas karena seakan-akan masih terlalu tajam, saya katakan bahwa masih ada yang berfikir sebaliknya, sampai ada yang menanyakan kepada saya apakah dengan ketetapan yang demikian itu orang Islam sudah boleh berjuang menyeburkan jiwanya untuk negara yang kita dirikan ini”. 

    Rumusan Piagam Jakarta ini pun akhirnya disepakati sebagai rumusan Preambule (pembukaan) UUD 1945. Pada rapat-rapat BPUPKI berikutnya dibahas rumusan pasal demi pasal UUD 1945.  Pada rapat BPUPKI tanggal 13 Juli 1945 KH A Wachid Hasyim mengusulkan rumusan agar Presiden Indonesia adalah orang Indonesia Asli dan beragama Islam.  Usulan ini merupakan usulan beliau yang kemudian ditetapkan sebagai bagian dari draf naskah UUD 1945 yang disepakati. Disamping itu, KH Abdul Wahid Hasyim juga mengusulkan perubahan atas draf pasal 29 agar diubah menjadi “Agama Negara ialah agama Islam, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”

    Usulan KHA Wachid Hasyim ini didukung oleh Soekiman.  Tetapi, Haji Agus Salim memberi catatan bahwa usulan ini bisa mementahkan kesepakaatan yang telah dibuat antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. Usul ini pun akhirnya kandas. 

    Masih berkaitan dengan sidang BPUPKI, pada sidang tanggal 15 Juli 1945 kembali muncul perdebatan panas. KH Masjkoer yang juga tokoh NU menyampaikan usulan pasal 28 yang menyatakan bahwa agama resmi bagi Republik Indonesia ialah agama Islam. Senada dengan itu, Ki Bagoes Hadikoesoemo tokoh Muhammadiyah juga menegaskan bahwa Islam mengandung idiologi negara, karena itu tidak bisa negara dipisahkan dari Islam.

    Sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945 yakni pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, kaum Kristen ternyata membuat strategi mengejutkan, disaat suasana yang genting ini mereka melakukan tekanan-tekanan dan ultimatum agar semua kesepakatan yang ada di rapat-rapat BPUPKI khususnya yang ada hubungannya dengan dasar negara dibatalkan, jika tidak mereka akan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu ini merupakan cara-cara yang tidak demokratis, karena dimunculkan saat kondisi genting, sementara disaat sebelumnya mereka ikut menyepakati. Ini adalah benih-benih tirani minoritas. Namun demi keutuhan NKRI dan karena kecintaannya pada kemerdekaan yang telah diperjuangkan selama ratusan tahun, akhirnya para tokoh Islam menerima tekanan itu. Di sinilah dapat difahami bahwa keputusan ini merupakan hadiah terbesar umat Islam kepada bangsa Indonesia. Betapa besarnya jiwa para pemimpin-pemimpin Islam ketika itu, mereka telah bersusah payah merumuskan gagasan yang begitu baik dan sudah melalui cara-cara kompromistis, namun kemudian dimentahkan secara sefihak. Tapi anehnya pada perjalanan berikutnya yang dituduh menggoyang keutuhan NKRI adalah umat Islam. Umat Islam selalu dipojokkan, dikuyo-kuyo, dicurigai sebagai warga yang tidak loyal pada NKRI, bukankah ini pemutarbalikan sejarah? Andai saja para pemimpin Islam ketika itu ngotot mempertahankan pendiriannya tentu kenyataan bisa berjalan lain.

    Dalam hal ini KH Saifuddin Zuhri yang juga tokoh NU berkomentar:

    Dihapusnya 7 kata dalam Piagam Jakarta itu boleh dibilang tidak diributkan oleh Umat Islam demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi Bangsa Indonesia, althans untuk menjaga kekompakan seluruh potensi nasional mempertahan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang baru berusia 1 hari. Apakah ini bukan suatu toleransi terbesar dari Umat Islam Indonesia? Jika pada saat tanggal 18 Agustus 1945 yaitu tatkala UUD 1945 disahkan Umat Islam ngotot mempertahankan 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta, barangkali sejarah akan menjadi lain. Tetapi segalanya telah terjadi. Umat Islam hanya mengharapkan prospek-prospek di masa depan, semoga segalanya akan menjadi hikmah” (KH Saifuddin Zuhri, 1982; hal 51-52) 

    Satu hal yang menjadi catatan di sini adalah konsistensi tokoh-tokoh NU dalam memperjuangkan eksistensi syari’at Islam yang tidak diragukan. Khususnya KHA Wachid Hasyim, beliau sangat concern memperjuangkan eksistensi syari’at Islam. Beliau bukanlah kontra formalisasi seperti yang ingin dicitrakan oleh orang-orang liberal akhir-akhir ini. Bahkan rumusan Pancasila yang sangat bernuansa Islam tidak lepas dari peran tokoh-tokoh Islam yang masuk dalam panitia sembilan termasuk di antaranya KH A. Wachid Hasyim.  Rumusan Pancasila yang ada saat ini adalah berasal dari rumusan Piagam Jakarta, hanya ada perubahan pada sila pertama yang semula berbunyi: Ketuhanan dengan menjalankan kewajiban syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Rumusan ini bisa dikatakan sangat bernuansa Islam. Misalnya sila ke-dua terdapat kata ‘adil dan beradab’. Kosa kata adil dan beradab adalah berasal dari bahasa Arab dan merupakan idiom Islam. Demikian pula sila ke-empat terdapat kata ‘hikmah kebijaksanaan’ yang juga kosa kata yang berasal dari Islam. Rumusan ini berbeda dengan rumusan yang pertama kali diajukan oleh Ir Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yaitu: (1) Kebangsan Indonesia; (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan; (3) Mufakat atau Demokrasi; (4) Kesejahteraan Sosial; (5) Ketuhanan. 

    Sikap NU terkait dengan eksistensi syari’at Islam selanjutnya dapat dicermati keputusan bahtsul masa’il pada Muktamar NU ke 20 di Surabaya 8-13 September 1954 yang menyatakan bahwa keputusan Konferensi Alim Ulama di Cipanas yang mengukuhkan pemerintah Soekarno sebagai waliyy al-amri al-dlarui bi al-syaukah (pemegang kekuasaan temporer yang defakto berkuasa) adalah sah (lihat Solusi Hukum Islam, hal 285). Adanya pengukuhan ini merupakan kebutuhan syar’i yang terkait dengan masalah perwalian pernikahan khususnya wali hakim, di mana hanya sah apabila diangkat oleh pemerintah yang sah pula secara syari’i.  Dalam kasus ini pemerintah Soekarno dalam batas-batas tertentu masih dapat ditolelir sebagai pemerintah yang sah secara syari’i karena masih memberikan kebebasan bagi orang Islam untuk menjalankan syari’at. Namun, karena sifatnya yang belum kaffah (totaliter) maka dikatakan al-dlaruri.

    Penggunaan kata al-dlaruri (mendesak/temporer) yang disifatkan pada kata walyy al-amri menunjukkan adanya pengakuan bahwa proses perjuangan menegakkan syari’at belum selesai. Maka upaya menuju ke arah yang lebih sempurna masih terus dilakukan. Hal ini dapat dicermati dari sepak terjang NU pada masa-masa berikutnya, antara lain keterlibatan para pemimpin NU dalam Majelis Konstituante antara tahun 1956 – 1959,  perjuangan NU dipimpin KH Bisri Syansuri melalui fraksi PPP menggolkan UU Perkawinan serta menolak penetapan aliran kepercayaan untuk disejajarkan dengan agama, demikian pula keterlibatan tokoh-tokoh NU dalam pengusulan UU Peradilan Agama, serta perumusan kompilasi hukum Islam.

    Akhirnya patut ditegaskan bahwa berbagai upaya-upaya yang dilakukan oleh aktivis liberal tidak lebih hanya merupakan akal-akalan yang perlu dicermati secara kritis. Umat Islam utamanya warga NU perlu hati-hati jangan sampai tergiring dengan opini-opini yang menyesatkan seperti ini.

     

    Emha Ainun Nadjib: SAYA ANTI DEMOKRASI, ISLAM Selalu Salah dan Kalah

    SAYA ANTI DEMOKRASI
    Emha Ainun Nadjib

    Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentangUmmat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

    Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

    “Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

    Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

    Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

    Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

    Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

    Lho kok Arab bukan etnis? Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

    Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

    Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

    “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin“. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.

    Heboh Ketika Jokowi Salah Ucapkan Kalimat Haqoulah

    Pembukaan pidato itu menuai sorotan karena jika didengar seksama, pelafalan la kalawakalakata ila bililah terdengar asing. Mungkin yang dimaksud adalah ucap La Hawla Wala Quwwata Illa Billah, yang memiliki arti ‘tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang salah ucap kalimat La Hawla Wala Quwwa Illa Billah menandakan Allah menunjukkan pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) salah ucap. “La Hawla Wala Quwwa Illa Billah adalah kalimat hauqolah. Yang artinya tiada daya dan upaya kecuali dengan bantuan dari Allah. Dan Jokowi salah ucap, ini menunjukkan kepada rakyat Indonesia seorang pemimpin yang salah ucap kalimat hauqolah itu mengandung berbagai makna. Kata Ibnu Masduki, beberapa pendukung Ahok pernah salah ucap seperti Megawati yang kesulitan mengucapkan Allah Subhanahu Wata’ala. “Djan Farid kesulitan mengungkap kalimat Nahi Mungkar diucap Nahi Mangkur. Dan Allah akan perlihatkan para pelindung penista terlihat nista di hadapan manusia dan umat Islam,” jelas Ibnu Masduki.   Ibnu Masduki mengatakan, kesalahan Jokowi dalam mengungkapkan La Hawla Wala Quwwata Illa Billah telah memperlihatkan kepada rakyat Indonesia sosok pemimpin dari kalangan abangan. Beberapa pengamat mengatakan harusnya Jokowi belajar lagi tentang Islam terutama bacaan Al Quran. Dalam video “‘LIVE Ambon’ Pidato Luar Biasa Pak Jokowi Di Acara Tanwir Muhammadiyah 2017” terlihat sekitar pada detik 34 mantan Wali Kota Solo tidak bisa mengucapkan kalimat La Hawla Wala Quwwata Illa Billah. Beberapa netizen di medsos menyayangkan terhadap presidennya yang tidak bisa mengucapkan kalimat hauqolah.

    Fenomena Ibu Saeni, Anomali Emosi dan Pola Pikir Pemimpin dan Masyarakat

    Fenomena Ibu Saeni, Anomali Emosi dan Pola Pikir Pemimpin dan Masyarakat

    Kasus penutupan warteg ibu Saeni di Serang bila dicermati menunjukkan anomali emosi psikologis dan pola pikir sosial yang luar biasa aneh dari masyarakat bahkan parablemimpin di Indonesia. Saat ibu tua Saeni yang melanggar peraturan pemerintah dan etika kearifan lokal masyarakat yang sudah terjadi lama mendapat dukungan luar biasa dari warga masyarakat, bahkan dari Mendagri dan Presiden. Sumbangan ratusan juta rupiahpun terkumpul dalam beberapa jam untuk ibu yang menerima tindakan sewenang wenang itu. Mengapa masyarakat dan para pejabat tidak pernah memberikan simpati dan sumbangan uang ratusan juta pada para pedagang kaki lima di monas dan Tanah Abang. Padahal mereka hampir sama sebagai pelanggar hukum perda. Hampir sama menerima penertiban dengan kasar dan keras  dan sebagian sama sama renta bahkan sebagian pedagang kaki lima tersebut mempunyai modal yang lebih kecil dibandingkan ibu Saeni. Mengapa justru para pedagang lainnya yang telah berkorban kehilangan penghasilannya dengan mengikuti aturan Perda Serang dan menghormati etika kearifan lokal masyarakat Serang justru tidak pernah mendapat presiasi dan simpati. Berapa anomali emosi dan pola pikir masyarakat tersebut tampaknya telah disihir oleh media masa dan media sosial bahwa di negeri ini para pelanggar hukum dan pelanggar etika kearifan lokal masyarakat dihargai. Tetapi para penurut Hukum dan para toleran kearifan lokal tidak pernah mendapatkan simpati. Apakah penyebab anomali masyarakat itu ? Sistem Hukum Perda yang salah, kepentingan kelompok tertentu atau pola pikir masyarakat sudah terjadi transformasi dengan mengabaikan etika kearifan lokal.

    Anomali emosi masyarakat itu tersentuh karena beberapa pihak khususnya media masa tertentu atau kelompok tertentu dalam media sosial secara terus menerus dan berlebihan secara luar biasa menggalang opini bahwa Ibu Saeni tidak bersalah dan patut diberi apresiasi. Isu tersebut menjadi komoditas kelompok tertentu karena masalah Perda Aturan Berdagang di bulan Puasa adalah masalah yang sangat sensitif. Bahkan sebagian pengamat sosial mengatakan bahwa masyarakat, petinggi dan kelompok tertentu tersebut adalah kelompok yang biasa mendiskriditkan dan membenturkan masalah yang sangat rawan khususnya agama islam dan umat muslim.

    Sikap simpati masyarakat itu bisa disebut Anomali emosidan anomali pola pikir karena terjadi ironisme. Ketika terjadi pada para pedagang kaki lima yang digusur paksa oleh pemda DKI di sekitar Monas dan di kawasan Tanah Abang hingga saat ini tidak ada masyarakat, mendagri bahkan presiden memberikan simpati. Padahal pelaku, jenis pelanggaran hukum dan cara penertiban yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan yang diterima Ibu Saeni. Banyak juga pedagang kaki lima usia renta seperti ibu Saeni digusur secara kasar dan paksa saat berjualan di kaki lima di Monas dan Tanah Abang. Banyak juga para pedagang di kaki lima Monas dan Tanah Abang mungkin lebih tidak mampu dan lebih renta dari ibu Saeni dengan dagangan lebih sederhana dirampas dengan cara lebih kasar oleh Satpol PP Pemprov DKI. Bahkan beberapa pedagang di Monas dan Tanah Abangpun menagis lebih histeris dan lebih keras dibanding ibu Saeni. Tetapi  tidak ada tayangan berulang ulang dari televisi, sangat jarang media sosial memperhatikan dan tidak ada sumbangan ratusan juta dari masyarakat. Apalagi perhatian dan simpati dari mendagri dan Presiden.

    Memang tidak ada yang bisa memungkiri bahwa tindakan yang diterima seorang renta seperti ibu Saeni tidak manusiawi dan sangat kasar. Ibu Saeni yang berdalih buta huruf itu mengaku tidak tahu aturan yang telah ditempelkan disekitar rumahnya. Tayangan televisi yang diulang ulang tersebut mengoyak emosi juataan mata masyarakat Indonesia. Tetapi bila dicermati bila dilakukan dengan cara yang halus dan sopan dalam menertibkannya mungkin tindakan para Satpol PP tersebut tidak bersalah karena dalam rangka penertiban aturan hukum Pemda Serang yang ditaati oleh siapapun masyarakatnya. Bila dicermati Ibu Saeni bukan hanya melanggar aturan Pemda tetapi juga etika kearifan lokal yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat yang mayoritas beragama muslim. Mengapa seorang ibu Saeni pelanggar aturan Pemda dan pelanggar etika kearifan lokal tersebut mendapatkan dukungan dari masyarakat dan pejabat tinggi negeri ini. Tetapi para pedagang Monas dan tanah Abang yang hanya melanggar hukum tersebut tidak mendapat perhatian seperti ibu Saeni.

    Anomali emosi masyarakat  itu tampaknya tersihir oleh media masa dan media sosial bahwa pelanggar hukum dan pelanggar etika kerifan lokal masyarakat menjadi pahlawan tetapi para penurut hukum dan para toleran etika msyarakat tidak pernah mendapat apresiasi. Tragisnya anomali pola pikir masyarakat itu juga didukung oleh mendagri dan presiden. Bahwa para pelanggar hukum yang dibuat aturan oleh bawahannya malah diberi penghargaan dan apresiasi. Bila tidak disadari hal ini akan membuat preseden buruk bahwa aturan hukum dibuat untuk dilanggar dan untuk diberikan simpati.

    Bila masyarakat, presiden dan mendagri tidak setuju dengan fenomena Ibu Saeni seharusnya menegur atau masyarakat membully lewat para Satpol PP yang bertindak kasar. Bila tidak setuju dengan fenomena ibu Saeni para petinggi negeri ini  bisa melakukan evaluasi hukum Perda yang mengakomodasi kearifan lokal dan sudah disepakati Bupati, ulama atau kalangan wakil rakyat itu. Bukan malah kesannya memberikan simpati dan penghargaan pada pelanggar hukum dan etika. Kalau bersimpati kepada nasib ibu Saeni tidak ada yang menyalahkan dan itu harus dilakukan oleh umat yang peka sosial. Tetapi jangan berkesan bahwa pelanggar hukum perda dan pelanggar etika masyarakat harus mendapat hadiah ratusan juta rupiah.