Category Archives: Mualaf

Kisah Hidup si Mualaf Sarah Joseph, Pemilik Emel Majalah Terkemuka Di Eropa

Emel sebuah majalah yang mengupas seputar gaya hidup Muslim bisa dibilang satu-satunya majalah bernuansa Islam yang terbit di dataran Inggris Raya. Majalah itu pertama kali terbit pada 2003 dan hanya dijual di toko-toko buku yang khusus menjual buku-buku mengenai Islam.

Seiring waktu, warga non-Muslim di negeri Ratu Elizabeth pun menyukai majalah itu. Tak heran, sejak September 2005, distribusi dan sirkulasi Majalah Emel mulai diperluas untuk umum. Menurut catatan Wikipedia, kini Emel beredar di 30 negara.
Orang yang berada di belakang kesuksesan Majalah Emel adalah Sarah Joseph. Sarah adalah seorang Muslimah Inggris yang memeluk Agama Allah SWT bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Wanita yang kini berusia 39 tahun itu mulai mempelajari Islam dan bersyahadat pada usianya yang sangat belia, 16 tahun.
Sejak remaja, Sarah memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang Islam. Ia pun membaca berbagai literatur keislaman. Sebelum memeluk Islam, Sarah adalah pemeluk Katolik. Dia termasuk remaja yang aktif dalam berbagai kegiatan agama, sosial, dan politik.

Kesadaran beragamanya waktu itu benar-benar muncul dari dalam hatinya hingga berpengaruh dalam aktivitasnya di tengah masyarakat. Sang ibu, Valerie Askew, bahkan sering mengatakan putrinya itu sangat agamis, meski masih sangat kecil.
Tidak seperti Sarah, kedua orang tuanya justru tak peduli agama. Hari-hari sang ibu lebih banyak disibukkan untuk mengelola bisnis agensi modelingnya, Askew’s Modelling Agency. Sementara ayahnya disibukkan oleh pekerjaannya sebagai seorang akuntan ternama di Inggris.

Sarah dididik di St George’s School, Hanover Square, Mayfair and St Thomas More School, Sloane Square, Chelsea. Gelar sarjana muda diraihnya dari Department of Theology and Religious Studies, King’s College London.

Ketika usia Sarah menginjak 13 tahun, kakak laki-lakinya memutuskan masuk Islam karena alasan perkawinan. Terang saja saya benci dengan keputusannya. Waktu itu dia saya tuduh menjual keyakinan hanya karena wanita,” ujar Sarah dalam sebuah wawancara khusus dengan the Sunday Times edisi 9 Oktober 2005.
Kala itu, Sarah masih merasa asing dan takut dengan Islam. Terlebih lagi, dia banyak mendengar tentang sisi negatif agama Islam. Untuk membuktikan kebenaran informasi yang didengarnya itu, dia pun memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang Islam. Sungguh, saat itu saya benar-benar ingin tahu,” tuturnya.

Ia menghabiskan satu tahun untuk menyelami Alquran dan hadis. Berbeda dengan beberapa teman mualafnya, pada awal belajar Islam, dia justru menghindari untuk bertemu dengan sesama Muslim atau mereka yang telah bertukar agama menjadi Muslim. Ia ingin kesadaran berislam tumbuh dari dalam dirinya, bukan karena pengaruh orang lain.

Sarah mengaku sangat terkesan dengan tata cara shalat umat Islam. Jujur saja, satu hal yang membuat saya menerima Islam adalah saat melihat orang shalat. Kala mereka bersimpuh dalam sujud dengan penuh kerendahan diri. Saya kira, inilah yang disebut kepatuhan atau ketundukan sebagai seorang hamba,” kenang Sarah.
Dia juga mengaku terkesan dengan kesabaran, kejujuran, dan integritas yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Satu hal lagi yang juga membuatnya terkesan dengan agama Allah SWT itu karena Islam dinilainya telah membangun kesetaraan antara pria dan wanita. Dia mencontohkan, para pria dan wanita dalam masyarakat Madinah yang berjuang bersama-sama di jalan Allah
Dengan tekad bulat, ia pun memutuskan untuk meninggalkan ajaran Katolik. Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Secara perlahan, Islam menjawab semua pertanyaan saya yang telah mengendap sekian lama, terutama tentang Trinitas. Selain itu, Alquran tidak mengalami perubahan sama sekali, lain dengan Bibel.”
Awalnya memang berat bagi Sarah. Perlu beberapa waktu untuk merealisasikan Islam dalam diri dan kehidupannya, terutama membawanya ke dalam keluarga dan lingkungan sosial. Tapi, lama-kelamaan, keluarga melihat saya tetap dapat berkontribusi untuk masyarakat kendati sebagai seorang Muslim. Hal itu bikin mereka gembira dan dapat menerima saya kembali,” paparnya.
Awalnya, kedua orang tuanya menolak rencana Sarah untuk memeluk Islam. Bahkan, mereka mengucapkan kata “belangsungkawa” kala Sarah mulai mengenakan jilbab, setahun setelah memeluk Islam. Namun, dalam pandangan Sarah, mengenakan jilbab merupakan sebuah pilihan. Saya memang sangat ingin pakai jilbab. Saya ingin benar-benar menjadi seorang Muslimah.”(

Sumber: Oase Republika

Kehebatan Pemain Liverpool Muhammad Salah, Fan Liverpoolpun Masuk Islam karena Pejuang Dakwah Itu

Kehebatan Pemain Liverpool Muhammad Salah, Fan Liverpoolpun Masuk Islam karena Pejuang Dakwah Itu

Untuk mendapatkan hidayah masuk Islam ternyata Allah memilih cara yang bahyak dan beberapa ada yang unik. Demikian menjadi pejuang dakwah tidak harus sehebat DR Zakir Naik, tidak harus setenar Ustadz Abdul Somad, tidak harua sepintar Adi Hidayat. Ternyata melalui pemain sepakbola pun bisa menjadi pejuang dakwah di dunia. Mohamed Salah sepertinya mampu membuat banyak orang di Liverpool, terutama pendukung The Reds, masuk Islam! Seorang fans klub sepak bola Liverpool dilaporkan masuk Islam mengucapkan 2 kalimat syahadat usai klubnya menang besar 5-0 melawan Watford pada Minggu (18/03) dini hari. Bintang sepak bola asal Mesir, Mohamed Salah menjadi sosok yang menjembatani muallaf pendukung Liverpool usai mencetak empat gol ke gawang Watford, dan memecahkan sejumlah rekor. Sedangkan sedangkan satu gol lainnya dicetak Roberto Firmino. Dengan tambahan empat gol, Salah telah mencetak 36 gol di semua kompetisi untuk Liverpool sejak didatangkan dari AS Roma pada musim panas lalu. Itu adalah jumlah gol terbanyak yang pernah dicetak oleh seorang pemain di musim pertamanya bersama Liverpool. Dalam pertandingan semalam, Salah menorehkan rekor baru dengan mencetak empat gol cuma dari empat tembakan. Ini menjadikan pemain asal Mesir menjadi pemain pertama yang melakukan hal tersebut di Premier League sejak Andrey Arshavin (Arsenal) melakukannya ke gawang Liverpool di Anfield pada April 2009.

Puja-puji terhadap Mohamed Salah memang tidak salah. Pelatih Liverpool Juergen Klopp menyanjung Salah sebagai pemain fantastis dan luar biasa. “Tak ada kata-kata lagi untuk menuliskan dia,” kata Klopp. Mantan pemain Liverpool Phil Babb memuji setinggi langit bintang the Reds saat ini Mohamed Salah. Babb mengatakan, sudah lama Liverpool tak memiliki striker setajam Salah. Menurut sosok yang pernah memperkuat Liverpool dari 1994 sampai 2000 ini, Salah punya kualitas yang sangat diidamkan oleh semua klub di dunia. Babb pun yakin, striker asal Mesir itu layak dihargai dengan banderol 100 juta pound atau setara Rp 1,9 triliun. “Dengan kehebatannya di lini depan yang dengan fantastis bisa melewati pertahanan lawan sebelum mencetak gol, Salah layak dihargai sangat mahal, 100 juta pound,” kata Babb. Nilai 100 juta pound.

Babb pun yakin harga Salah bisa terus meroket sampai bursa musim panas Eropa mendatang. Mantan pesepakbola asal Inggris ini pun tak heran jika nanti klub raksasa kaya raya seperti Real Madrid akan memburu jasa Salah. Salah kini menjelma menjadi idola baru di Liverpool. Pemain yang didatangkan dari AS Roma tampil gemilang dan membawa Liverpool bersaing di papan atas Liga Inggris dan Liga Champions lewat gol-golnya.

Komentar pers Inggris menggambarkan Mohamed Salah sebagai pemain besar yang bergaya hidup baik dan rendah hati. Ia tak pernah sekali pun nongkrong di bar-bar melewatkan malam dengan bercinta dengan foto model-foto model setempat. Di dalam pesawat, di setiap perjalanan pulang ke Inggris setelah laga kemenangan ia tak berulah seperti rekan-rekannya yang mabuk-mabukan. Di dalam pesawat, ia membaca kitab suci Al-Qur’an sambil ditemani secangkir kopi susu panas. Demikian juga setiap acara kunjungan dari para istri atau teman wanita _(“sex bomb” )_ di hotel, Mohamed Salah selalu dikunjungi istrinya Magi yang selalu tampil cantik berhijab dan anaknya Makka (4 tahun).

Maka para fans Liverpool tidak hanya memuji Mohamed Salah sebagai penyerang hebat. Tapi mereka juga menyatakan diri bakal menjadi memeluk agama Islam dan ikut aktif bersama Mohamed Salah di masjid _(TEMPO_, 4/3/2018). Bahkan pelatihnya sekarang, Juergen Klopp, mengatakan bahwa Mohamed Salah adalah pemain bintang, yang membaca kitab suci agamanya dan konsisten mengamalkan tuntunannya.

Di Mesir, Mohamed Salah menjadi idola anak-anak muda. “Aku ingin seperti Mohamed Salah ketika besar nanti,” ujar Mohamed Abdel, bocah berusia 12 tahun dari desa Nagrig. Dan berkat bola, Mihamed Salah mampu membangun rumah sakit modern di desanya Nagrig serta memberikan bantuan untuk pendidikan kaum papa di desa asalnya Nagrig dan Mesir. Di Inggris, para fans Liverpool dengan riang berteriak bersama-sama: _Assalamu’allaikum_, Salah, _we need you!_

Sebuah dakwah riil, nyata, konkrit, membumi. Manakala dakwah dengan sikap dan tindakan lebih dibutuhkan dari pada dengan lisan dan tulisan, *maka, dakwah dengan ahlak dan adab yang luhur bisa mengalahkan 1.000 majelis ilmu (teori) tentang ahlak* Orang menyebutnya sebagai keteladanan. Satu teladan, bisa jadi akan lebih efektif dari seribu penataran. Membangun citra Islam dengan prestasi dan reputasi

Prestasi Fenomenal pemain muslim asal ini sontak membuat Fans Liverpool ada yang langsung mengikrarkan 2 kalimat Syahadat. Twit ikrar syahadat akun Liverpool Family @lfc_family hingga kini sudah di-Retwit sebanyak 31 ribu dengan ribuan komentar. Luarbiasa hanya dengan karisma kehebatan pemain sepakbola dalam menjebol gawang lawan, seorang Salah bisa jadi pejuang Dakwah untuk agama Islam.

IF HE SCORES ANOTHER FEW THEN ILL BE MUSLIM TOO pic.twitter.com/qYzdY06wGU— Sean Griffiths (@seangriff123) February 14, 2018 If he’s good enough for you / He’s good enough for me. If he scores another few / Then I’ll be Muslim too!

Pujian fan sepak bola di Inggris memang luar biasa. Mereka tidak pernah tanggung-tanggung memuji dan membuat nyanyian-nyanyian maupun ungkapan-ungkapan yang dahsyat. Begitu pun terhadap Salah. Ada satu potongan video nyanyian yang menjadi viral di dunia maya. Salah satu chant yang dibawakan suporter menyertakan status Salah sebagai seorang Muslim. Dalam liriknya mereka akan ‘masuk Islam’ jika dan datang ke masjid-masjid jika Salah mencetak gol lagi.
Ini potongan nyanyian untuk Salah dari fan Liverpool:

Mo Salah-lah-lah-lah. Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.
Jika dia mencetak beberapa gol lagi, maka aku akan menjadi seorang Muslim juga.
Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku.
Duduk di Masjid, itulah tempat di mana aku ingin berada.

Itulah lirik dari lagu tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka akan menjadi seorang muslim apabila Salah mencetak gol, dan melihat gelontoran gol mantan pemain AS Roma ini yang tak pernah surut, sepertinya semakin banyak pendukung Liverpool yang siap masuk Islam. Chant ini sendiri kabarnya dibuat setelah Kopites mengetahui kebiasaan Salah untuk pergi ke masjid pasca-pertandingan. Hal ini mendapat apresiasi dari Football Against Racism in Europe (FARE), sebuah badan non-profit yang bertujuan untuk membasmi diskriminasi di sepak bola.

“Ini adalah pertama kalinya saya melihat apresiasi yang begitu riang, terbuka, dan tentunya positif yang bersinggungan dengan kepercayaan satu pemain,” ungkap Direktur FARE, Piara Powar, dilansir dari Washington Post.

Hal ini juga tentunya membawa angin segar bagi sepak bola Inggris. Menurut data yang diungkapkan oleh FARE, suporter sepak bola di tanah Britania itu terkenal akan kelakuannya yang barbar dan diskriminatif. Dari 1.378 laga yang berlangsung di Eropa dari musim 2015/2016 dan 2016/2017, setidaknya ada 539 insiden yang menyangkut rasisme, anti-semitisme, homofobik, Islamofobik, dan 59 dari insiden itu dilakukan oleh suporter dari Inggris, yang terbanyak di antara negara lain di Eropa.

Chant terhadap Salah ini tentunya menyenangkan, dan apresiasi serupa pun harus kita berikan kepada suporter Liverpool yang begitu kreatif dalam menciptakan lagu bagi pemainnya. Salut!

Salah sempat diragukan akan bisa tampil bagus setelah dibeli dari AS Roma pada musim panas kemarin. Akan tetapi semua keraguan itu bisa langsung ditepis oleh pemain berusia 25 tahun tersebut. Salah bisa langsung nyetel dengan performa tim asuhan Jurgen Klopp tersebut. Ia juga langsung menjadi sumber gol bagi The Reds. Namanya kini sejajar dengan para bomber Liverpool terdahulu seperti Luis Suarez ataupun Fernando Torres. Performa apik Salah terus berlanjut hingga di pertandingan melawan Porto di leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Estadio do Dragao, Portugal, Kamis (15/02) dini hari WIB. Di laga itu ia berhasil mencetak satu gol yang cantik di menit 29. Pada akhirnya, Salah sukses membantu Liverpool memenangi pertandingan itu dengan skor telak 5-0. The Reds pun kemungkinan besar akan bisa melaju ke babak perempat final Liga Champions. Kecemerlangan Salah di pertandingan itu ternyata menginspirasi sejumlah fans Liverpool untuk membuat chants baru. Dalam syairnya, para fans itu mengaku ingin masuk Islam berkat Salah.

Untuk menjadi pejuang dakwah tidak harus sehebat Dr Zakir Naik, tidak harus setenar Ustadz Abul Somad Lc MA dan tidak harus sepintar Adi Hidayat, Lc MA. Tetapi jadilah inspirator Islam hanya dengan kehebatan yang ada pada diri kalian. Jadilah pejuang dakwah seperti Muhamaad Salah, kehebatan pemain Liverpool yang menginspirasi fan Liverpool masuk Islam

Misionaris kristen yang Memeluk Islam, Karena Pendetanya Melarang Membaca Injil Perjanjian Lama

Misionaris kristen yang Memeluk Islam, Karena Pendetanya Melarang Membaca Injil Perjanjian Lama

Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen. ‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin. ‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha. ‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’ Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca. Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab. Inilah awal mula kesadaran Yusha justru saat membaca injil lebih lengkap dan dalam yang justru merubah keyakinannya.

Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh Alaihissalam menyampaikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh Alaihissalam serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat. Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh Alaihissalam meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nabi Nuh Alaihissalam seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. ‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.

Semakin dalam baca Injil semakin banyak kesenjangan, Dilarang Pendeta Baca Perjanjian lama

Yusha kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal, yang justru dicari-cari polisi. Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’

Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka memintanya untuk membaca Perjanjian Baru. Tampaknya hal inilah puncak pengetahuan Yusha tentang kesenajngan kitab Injil

Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada yang lain.

Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.

Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.

Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.

Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.

‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.

Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat. Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.

Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.

Ketika berumur 15 tahun, nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM), sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.

Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televisi. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’

Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun, ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.

Suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu, ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.

Kejadian itu membuatnya sangat takut, sehingga hari itu juga Yusha kembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya, sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.

Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.

‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.

‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.

“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”

Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.

Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”

Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.

Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.

Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.

“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.

Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’Apa sedang kau lakukan di sini?’’

‘’Aku sedang menunggu Musa.’’

‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’

Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.

Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.

Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’

‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’’

Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’

Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Al-Quran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.

Ia terperangah dan terpesona dengan Al-Quran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Al-Quran. Hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”

‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’’

Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998, Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam.

‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’’

Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat. Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah.

Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan menyebarkan ajaran Islam.

Kisah Inspiratif Mualaf: Berbondong nondong Siswa Masuk Islam

Kisah Inspiratif Mualaf: Berbondong nondong Siswa Masuk Islam

Fenomena yang mengejutkan dari sekolah-sekolah di Inggris, baru-baru ini terdapat laporan yang menyebutkan bahwa ada peningkatan jumlah siswa yang memeluk Islam. Dan sebagian besar dari siswa di Inggris (serta siswa yang berasal dari negara lain seperti Brazil, Luxemburg, Panama dan Swedia) mengungkapkan “rahasia”, mengapa mereka memeluk Islam. Menurut Al-Jazerra.net, seorang siswa, Alexandra (12 tahun), yang memeluk Islam pada bulan Ramadhan 2013 lalu merupakan putri dari Lauren Booth, adik Istri mantan perdana menteri Inggris Tony Blair.

Ia mengatakan bahwa “Islam telah merubah hidup saya dan memberi saya kehormatan dan kerendahan hati, dan saya juga menjadi lebih menghormati diri sendiri setelah saya memutuskan untuk mengenakan Jilbab.”

Alexandra menambahkan,”saya beruntung setelah pindah ke sekolah menengah pada tahun ini, dimana manejmen Sekolah dan siswa lain memperlakukan saya dengan hormat, dan saya merasakan sangat senang setelah diberikan ruang khusus bagi saya untuk melaksanakan sholat.”

Bukan hanya Alexandra, George Radev (14 tahun) juga menyatakan hal yang hampir sama. Awalnya siswa asal Swedia itu sangat senang mengambil gambar menara masjid, dan ia juga mengaku bahwa mengalami perasaan yang aneh saat mendengar azan.

Hal itu mendorongnya untuk bertanya kepada teman sekolahnya Abdullah dan Tamer, dan mereka akhirnya membantu mencari penjelasan dan informasi lainnya melalui internet.

Lalu ia menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia ingin masuk Islam, keluarganya tidak keberatan dan menyuruhnya untuk mempelajari lagi keputusannya tersebut, dan akhirnya George memutuskan memeluk Islam bulan Agustus 2013 lalu di London.

Randev sampai saat ini masih bertanya-tanya,” mengapa hanya kontroversi bodoh tentang Islam yang memenuhi media kami?”

Begitu pula halnya dengan Sheila Rudd (15 tahun) yang berasal dari Eardenj selatan London. Ia mengatakan ,”Sesunggunya Islam adalah cinta sejati, ia bukanlah nafsu atau botol kaca (minuman keras) atau potongan candu (drugs) yang dijual dipasaran.”

Rudd juga menyatakan kebahagiaannya setelah memeluk Islam tahun 2012 lalu, ia melihat banyak orang di Inggris memeluk Islam, menurutnya propaganda Media gagal mencegah mereka untuk memeluk Islam.

Dalam konteks yang terkait, banyak pengamat di Inggris menunjukkan penurunan jumlah gereja-gereja tradisional di Inggris, dan “aturan” yahudi dan kristen serta prinsip hidup masyarakat Inggris dianggap menciptakan kekosongan spiritual yang hanya bisa ditutupi oleh ajaran Islam yang murni.

Menurut beberapa studi di Inggris yang menunjukkan bahwa jumlah muslim di Inggris selama 6 tahun terakhir bertambah sebesar 37% dan tercatat jumlah masjid mencapai 1500 masjid, sementara Institute Gatston Inggris menegaskan bahwa ada ratusan warga Inggris masuk Islam setiap bulannya. (Al-Jazerra.net)

Sebelum memeluk agama Islam, ia adalah seorang pastor agama Katolik Roma dan menjadi kepala bidan pendidikan agama di sekolah khusus anak laki-laki di selatan London. Bulan Ramadan menjadi bulan penuh kenangan bagi lelaki yang kemudian menggunakan nama Idris Tawfiq ini, karena pada bulan suci itulah ia menemukan Islam dan memeluk agama Islam hingga sekarang.

Di Inggris, kata Idris, semua siswa menerima pelajaran tentang enam agama utama yang dianut masyarakat dunia. Sebagai kepala bidang pendidikan agama, Idris yang ketika itu belum masuk Islam bertanggungjawab untuk memberikan mata pelajaran tentang agama Kristen, Yudaisme, Budha, Islam, Sikh dan Hindu. Ia hanya menjelaskan perbedaan keenam agama tersebut dan tidak mereferensikan siswanya untuk memeluk salah satu dari keenam agama tersebut.

Idris tentu saja harus membaca berbagai informasi tentang Islam sebelum memberikan pelajaran tentang agama Islam pada para siswanya. Karena pernah berkunjung ke Mesir dan melihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat Muslim, Idris mengaku respek dengan Muslim yang menurutnya ramah dan lembut. Di sekolahnya sendiri, sebagian siswanya adalah Muslim dan banyak dari mereka yang berasal dari negara-negara Arab.

Idris ingat, beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, beberapa siswanya yang Muslim mendekatinya dan bertanya apakah mereka bisa menggunakan kelas Idris untuk keperluan salat, kebetulan kelas tempat Idris mengajar berkarpet dan memiliki wastafel. Meski peraturan sekolah di Inggris saat itu tidak memberi ijin siswa untuk melaksanakan peribadahan di sekolah.

Idris mengijinkan permintaan siswanya itu. Tapi kepala sekolah mengharuskan seorang guru hadir untuk mengawasi kelasnya saat digunakan untuk salat. “Saya belum menjadi seorang muslim ketika itu, tapi Allah bekerja dengan caranya yang sangat istimewa, memberikan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan untuk membuat keajaiban dalam hidup kita,” tukas Idris.

Maka, selama bulan Ramadhan itu, pada waktu makan siang, Idris duduk di belakang menyaksikan siswanya yang Muslim salat dzuhur, ashar dan salat jumat berjamaah. Apa yang dilihatnya ternyata menjadi pembuka jalan bagi Idris untuk mengenal Islam. Idris jadi tahu bagaimana seorang Muslim shalat dan ia bisa mengingat beberapa bacaan salat meksi ia tak paham artinya. Oleh sebab itu, usai Ramadan, Ia tetap membolehkan siswanya yang Muslim untuk salat di dalam kelasnya sampai Ramadan tahun berikutnya.

Kali ini, Idris yang masih belum masuk Islam, ikut berpuasa sebagai bentuk solidaritas terhadap siswanya yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ketika itulah keinginannya untuk masuk Islam semakin kuat dan setelah bulan Ramadhan itu, Idris memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi seorang Muslim.

“Alhamdulillah, saya menjadi seorang muslim. Tapi itu cerita lain. Apa yang dicontohkan para siswa saya yang Muslim telah membawa saya menjadi seorang muslim. Sejak itu, saya ikut shalat berjamaah bersama mereka, sebagai soerang mualaf,” ungkap Idris.

Ramadhan tahun berikutnya adalah Ramadhan pertama bagi Idris sebagai seorang Muslim. “Ramadhan pertama itu sangat istimewa. Di akhir bulan Ramadhan, saya bersama para siswa menggelar buka puasa bersama. Untuk meraih malam Lailatul Qadar, saya bersama para siswa itikaf di sekolah,” kenang Idris tentang Ramadhan pertamanya.

Usai jam sekolah saat Ramadhan, sambil menunggu waktu berbuka, Idris dan para siswanya yang Muslim menyaksikan film bersama tentang kehidupan Rasulullah Saw. Usai shalat maghrib berjamaah, mereka membuka bekal makananan dan minuman masing-masing yang dibawa dari rumah dan saling berbagai dengan yang lainnya.

Saat Idris menjalankan ibadah puasa Ramadhan pertamanya sebagai Muslim, ketika itu masyarakat Inggris sedang dilanda Islamofobia karena baru saja terjadi peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. Banyak warga Inggris yang curiga pada Islam dan Muslim. Tapi alhamdulillah, beberapa guru non-Muslim di sekolahnya datang dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Kepala sekolah bahkan membawakan mereka kurma untuk berbuka, karena dari siswanya yang Muslim ia tahu bahwa Rasulullah Muhammad Saw selalu berbuka dengan makan kurma.

Idris mengakui, menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negara non-Muslim tidak mudah. “Seringkali kita menjadi satu-satunya orang yang berpuasa. Setelah berbuka, tidak ada kegiatan istimewa apalagi kalau letak masjid sangat jauh,” ujar Idris.

“Tapi, malam-malam di Ramadhan pertama saya sebagai muslim adalah malam yang sangat istimewa yang tidak akan saya lupakan. Saya bisa menyampaikan pesan Islam pada semua yang hadir disana bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh kegembiraan dan penuh persaudaraan yang sangat menyentuh hati kita, Alhamdulillah,” tukas Idris menutup kisah pengalaman Ramadhan pertamanya sebagai seorang yang baru masuk Islam –

VIVAnews – Teriakan takbir gemuruh di masjid Istiqlal, Jakarta, siang tadi selepas shalat Jumat. Duta Besar Paraguay untuk Indonesia, Cesar Esteban Grillon, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dikawal oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Musthafa Ya’qub, dan duduk di samping Menteri Agama Suryadharma Ali, Grillon lancar mengucapkan ikrar keislamannya. Sebenarnya, dia telah masuk Islam seminggu sebelumnya, acara kali ini adalah sebuah penegasan yang disaksikan langsung oleh umat Muslim di masjid tersebut.

“Saya yakin semua di dunia ini diciptakan punya tujuan. Ini adalah keputusan yang penting dalam hidup saya,” kata pria 56 tahun ini dalam pernyataan singkatnya.

Mengenakan jas, peci hitam, berdasi dan bersarung coklat, sebelumnya Grillon telah mengikuti shalat Jumat, di shaf terdepan.

Dia mengatakan, telah tertarik mengenal Islam sejak beberapa bulan lalu. Mengutip pernyataan SBY yang ditemuinya Agustus lalu, usai Ramadhan, Indonesia tidak hanya melalui sebuah reformasi, tapi juga transformasi.

“Saya sedang melakukan transformasi. Allahu Akbar!” teriaknya yang disambut riuh hadirin.

Dia mengatakan telah mengkaji Islam bersama beberapa tokoh, seperti Menag dan Quraish Shihab. Setelah matang, dia akhirnya memutuskan masuk Islam.

“Ini bukan hanya seremoni belaka, atau sekedar bule masuk Islam. Tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk menjadi Muslim panutan,” ujarnya lagi.

Usai seremoni, Grillon menerima ucapan selamat dari para jamaah yang hadir. Beberapa terlihat tidak mampu menahan haru. Mereka mengerubungi dan memelukinya, “Alhamdulillah, Insya Allah, Allahu Akbar,” sepertinya baru tiga kata ini yang dihafalnya.

Berawal Dari Buku

Sebagai seorang dari negara Barat, Grillon mengakui tidak terlalu mengenal Islam. Banyak kesalahpahaman masyarakat soal Islam, yang kemudian memicu Islamofobia, kebencian terhadap agama ini.

Dia sendiri mengakui bahwa masih salah memahami Islam saat pertama kali bertugas di Indonesia dua tahun lalu.

Sampai pada suatu saat, putranya, Andrew, 24, memberikannya sebuah buku yang membuka matanya. “‘Kau harus membaca ini,’ kata anak saya. Setelah saya baca, saya menemukan Islam yang sebenarnya. “Sebuah persaudaraan sejati,” ujar duda empat anak ini.

Bertemulah dia dengan Yulie Setyohadi, kawannya, seniman dan pemilik sebuah galeri seni di bilangan Cilandak. Kepadanya, dia mengatakan ingin mengenal Islam lebih jauh. Akhirnya, wanita ini menganjurkan dia mencoba menjalani dulu kehidupan sebagai seorang Muslim. “Bulan Ramadhan kemarin, saya ikut berpuasa. Sebulan saya hanya batal dua kali,” ujar Grillon.

Sampai suatu hari, dia mengunjungi Masjid Dian Al-Mahri atau yang terkenal dengan nama Masjid Kubah Emas di Depok. Saat sedang mengagumi arsitektur masjid yang megah, seorang tukang foto menghampirinya.

Dari dialah, Grillon mengaku terpanggil memeluk Islam. “Dia bertanya ‘Tuan, apakah anda Muslim?’. Dia bagaikan malaikat yang dikirimkan Allah untuk saya. Dia membimbing saya soal Islam. Disitulah keyakinan saya semakin kuat untuk menjadi seorang Muslim,” kata Grillon.

Ikut berbuka puasa di masjid itu, Grillon merasakan kehangatan. Dia mengatakan, orang-orang sangat ramah kepadanya, membuatnya tersentuh. Dia tidak merasa sebagai orang asing, padahal dia bule sendiri saat itu.

Sejak mengucapkan syahadat, dia berkomitmen akan menunjukkan pada negaranya, bahwa Islam tidaklah seperti yang diberitakan selama ini.

“Saya akan melakukan yang terbaik. Menunjukkan cara hidup Islam. Saya harus menjadi contoh,” ujarnya. Melalui Islam jugalah kisah cinta Grillon dan Yulie bermula. Rencananya, pasangan ini akan menikah November mendatang.

Julianne Scasny ~ Perjuangan Berat Julianne Scasny Menjadi Muslimah

Ia tak pernah berhenti berdoa agar diberi kesempatan untuk mendalami Islam ketika dewasa. Kini, doa itu terkabul.

Suatu hari, Julianne Scasny mengikuti kelas sejarah. Tema yang dipelajari hari itu tentang sejarah agama-agama besar di dunia. Di depan ruang kelas, sang guru tengah menjelaskan agama Islam. Saat guru itu tengah asyik bercerita tentang Islam, seorang teman Julianne protes.

Siswa yang berasal Mesir dan beragama Islam itu tak sependapat dengan penjelasan gurunya. Pelajar Muslim itu mengoreksi dan meluruskan informasi yang salah tentang Islam.

‘‘Wow, dia berani sekali membantah guru,’’ ujar Julianne. Sejak terjadi perdebatan antara temannya yang Muslim dengan guru sejarah itulah, wanita kelahiran Michigan, Amerika Serikat (AS) tersebut mulai tertarik pada Islam.

Julianne sangat penasaran dengan Islam. Pada suatu hari, ia pun bertanya kepada temannya yang beragama Islam tentang perbedaan antara Katolik — agama yang saat itu dianutnya — dan Islam. Sayangnya, temannya itu tak banyak memberi penjelasan. Rasa ingin tahunya tentang Islam pun tak terpenuhi.

Ia tak menyerah. Untuk mencari tahu tentang Islam, Julianne pun mengunjungi rumah teman sekelasnya yang Muslim itu. Ia lalu meminjam Alquran dari orangtua temannya. Tentu saja, Alquran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Hati Julianne bergetar saat membaca Alquran. Gadis pecinta sastra dan pemuja puisi itu sangat terpesona dengan bahasa kitab suci umat Islam yang amat indah. Ketertarikan pada keindahan bahasa Alquran mendorongnya untuk membaca seluruh ayat-ayat suci itu.

Dalam kalbunya terbesit sebuah keyakinan. ‘‘Andai kitab ini ditulis dalam bahasa Inggris, sekalipun, penulisnya tak mungkin seorang manusia. Ini firman Tuhan,’’ ujar Julianne dalam hati.

Ia begitu yakin dengan kebenaran dari Alquran. ‘‘Dan saya menjadi Muslim di dalam hati,’’ kata wanita pernah berkeinginan menjadi seorang biarawati itu.

Julianne pun mengucap dua kalimah syahadat. Ia bertekad menjadi seorang Muslimah, meski tantangan berat harus dihadapinya. Dalam hatinya telah tertanam sebuah keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling benar.

Julianne berasal dari keluarga keturunan Polandia-Suriah. Ia terlahir pada 25 April 1982. Ayahnya adalah seorang campuran Polandia dan Slovakia, sedang ibunya seorang Halab, Suriah yang lahir di Detroit. Julianne pun lahir sebagai Katolik di Detroit, Michigan.

Kedua orangtuanya murka begitu tahu bahwa Julianne telah memeluk Islam. Mereka tak bisa menerimanya, terutama sang ibu. Sebenarnya, ia amat berharap orangtuanya dapat menerima Islam sebagai agamanya, namun ternyata sebaliknya.

Ibunya berusaha melarangnya berteman dengan orang-orang Muslim. Sang ibu juga kerap menelepon orangtua temannya agar tak lagi mendakwahkan Islam kepada Julianne. Saat itu, ia begitu bingung. Namun, imannya tak goyah sedikitpun.

Setiap hari sang ayah membongkar kamarnya. Semua barang-barang bernuansa Islam yang ada di kamar Julianne seperti sajadah, hijab, dan Alquran disita ayahnya. Julianne terpaksa menyembunyikan Alquran di ventilasi pendingin udara agar tak dapat terjangkau ayahnya. Ia amat khawatir kedua orangtuanya akan membuang Alquran itu.

Berbagai upaya dilakukan kedua orangtuanya agar Julinanne melepas keyakinannya sebagai Muslim. Mereka berusaha mengajaknya ke gereja. Suatu hari ibunya berupaya mempertemukannya dengan seorang pendeta. Di hadapan pendeta, Juliane mengatakan amat cinta kepada Islam.

‘‘Aku tak habis piker. Bagaimana sesuatu yang indah ini (Islam) dianggap buruk oleh orang-orang,’’ ucap Julianne. Pendeta tersebut mengatakan bahwa mimpi Julianne yang pergi ke negara Muslim sambil berhijab adalah perbuatan setan. “Saya tidak dapat melupakan wajahnya, ia terlihat seperti setan ketika ia mengatakan itu,’’ ujarnya menggebu-gebu.

Julianne juga mengisahkan bagaimana ibunya sering berbohong. Sang ibu kerap menghidangkan masakan yang terbuat dari babi, namun mengaku terbuat dari daging sapi. Sebagai seorang Muslimah, Julianne amat selektif dalam memilih makanan. Ia harus memastikan hidangan yang disantapnya halal.

Ia pun memeriksa pembungkus makanan yang dihidangkan ibunya. Ternyata dugaannya benar, masakan yang disajikan itu terbuat dari daging babi. Ayahnya pun pernah membuatnya memilih untuk tinggal di rumah sebagai seorang Katolik atau meninggalkan rumah.

‘‘Shalat adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di rumah, mereka mengolok-olok ketika saya shalat,’’ ujarnya. Sejujurnya Julianne mengaku sangat sakit hati diperlakukan seburuk itu. Keluarganya selalu menghina Islam, agama yang dianutnya.

Julianne mengaku mempelajari shalat dalam bahasa Arab secara otodidak melalui video dan buku-buku. Ia juga mulai menjelaskan tentang Islam kepada adik perempuannya. Mengatui hal itu, kedua orangtua Julianne mengancam akan mengusirnya dari rumah.

Julianne pun berhenti mengajarkan Islam kepada adiknya. Meski begitu, ia sempat mengatakan banyak hal kepada adiknya tentang Islam. Adiknya pun mulai tertarik dan bahkan mulai mempertanyakan sejumlah hal tentang Islam.

Berada di bawah tekanan dari kedua orangtuanya, Julianne pun mulai kesulitan untuk menunaikan shalat. Ia sempat berhenti melakukan shalat. Ia tak pernah berhenti berdoa di dalam hati agar diberi kesempatan untuk mendalami Islam ketika dewasa.

Tidak seorang pun mendukung keislamannya, kecuali orangtua teman-temannya yang meminta Julianne agar mendengarkan nasihat kedua orangtuanya. Teman-teman Muslimnya juga tidak benar-benar mengerti apa yang dialaminya. Barangkali, mereka sendiri belum benar-benar dewasa dan mengerti tentang Islam secara baik.

Ketika usianya menginjak 20 tahun dan sudah berstatus sebagai mahasiswi, doa Julianne yang ingin mendalami Islam terkabul. Ia mendapat kabar di sekitar lingkungannya dibangun sebuah masjid. Untuk memastikan kabar itu, ia menelepon wanita yang memberinya Alquran dan menanyakan tentang masjid yang baru dibangun di dekat rumahnya.

Sebelum berdiri rumah ibadah itu, masjid terdekat di daerahnya tinggal harus ditempuh selama 45 menit hingga satu jam perjalanan. Berdirinya masjid itu membuatnya amat bahagia. Julianne pun memutuskan untuk mengulang syahadatnya sebagai seorang Muslim, tepat pada bulan Ramadhan.

Ia pun berkomitmen akan mendalami Islam dan tidak lagi peduli dengan larangan kedua orangtuanya. ‘‘Saya merasa seperti Nabi Yunus yang berada di perut ikan paus. Namun saya bertekad untuk keluar dari kebiasaan buruk itu,’’ kenangnya.

Julianne pun mulai memakai hijab, meski kedua orangtuanya melarang. Iman dalam hatinya sudah mantap. Islam adalah jalan hidupnya. Ia sudah tak lagi menghiraukan perintah kedua orangtuanya untuk meninggalkan Islam.

Agar bisa mengenakan jilbab, terkadang Julianne memakainnya di mobil. Ibunya sangat kecewa. ‘‘Ia mengatakan aku seperti seorang wanita tua, ketika aku mengenakan hijabku. Ketika ia berusaha mengambil hijab itu dari kepalaku, aku memukulnya. Astaghirullah,’’ tuturnya.

Julianne benar-benar mengalami kehidupan yang berat pada saat itu. Sang ibu menilai dirinya telah membuat malu keluarga. Ibunya mengatakan tidak ingin melihat Julianne di kota tempatnya tinggal.

Ia akhirnya tinggal di rumah neneknya. Lagi-lagi Julianne mengalami kesulitan. Ketika sedang menunaikan shalat, sang nenek berteriak padanya, “Tidakkah kau mendengarku ketika aku berbicara denganmu?”

Mereka menertawakan dan mengolok-oloknya ketika membaca Alquran. Kakeknya, bahkan tidak mau lagi berbicara dengannya. Ibunya sempat membawa Julianne ke seorang psikoterapi. Ia pun diberi obat psikotik. Tentu saja ia tidak mau memakannya, justru membuangnya.

‘‘Satu-satunya hal yang dapat ku lakukan agar keluar dari kesulitan ini adalah dengan menikah,’’ tuturnya. Julianne pun mengganti namanya menjadi Noora Alsamman. Pernikahannya pun dilalui dengan sejumlah hambatan.

Ia bertemu dengan seorang Muslim dari Damaskus, Suriah. Sang ibu tidak menyetujui pernikahannya dengan calon suaminya. Julianne memutuskan untuk menikah secara Islam. Hal inilah yang membuat ibunya tidak setuju. Selain itu, suaminya juga adalah seorang Muslim.

‘‘Ibu ingin aku menikah dengan seorang Kristen dan melaksanakannya di gereja,” tuturnya. Ia ingin melihat anaknya memakai gaun putih dan pernikahan tersebut disahkan di gereja.

Keteguhan hatinya pada Islam membuat pernikahan itu akhirnya berjalan dengan lancar, meskipun sang ibu terus berusaha membatalkannya. Sang ibu memaksa Julianne untuk berpacaran terlebih dahulu dengan suaminya agar mereka saling mengenal.

Setelah menikah, Julianne alias Noora pindah dari Atlanta ke Houston. Setahun kemudian mereka dikaruniai seorang putra bernama Yousuf. ‘‘Alhamdulillah, saya berharap, insyaallah bisa pindah ke Madinah,’’ katanya.

Di akun facebooknya, Noora memadukan nama asli dengan nama Islamnya menjadi Julianne Noora Scasny Alsamman. Status-statusnya diisi dengan pesan-pesan keislaman dan rasa syukurnya menjadi seorang Muslimah.

‘‘Kami bersyukur kepada Allah SWT untuk semuanya! Ya Allah, bantulah kami agar tetap bersyukur pada Ramadhan tahun ini. Terima kasih atas karunia dan rahmat Mu selama ini . Alhomdulileh wa shokerlileh,’’ tulisnya dalam status facebooknya. Kini, ia berkhidmat untuk Islam.

Musa Bangura, Kisah Misionaris Kristen Yang Masuk Islam

Musa Bangura, Kisah Misionaris Kristen Yang Masuk Islam

Dulu Memurtadkan Umat Islam, Sekarang Menjadi Pendakwah Islam

Musa Bangura, seorang misionaris Kristen berusia 45 tahun dari Sierra Leone, yang telah melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat di Afrika untuk mengajarkan agama Kristen serta Yesus Kristus telah menerima hidayah Allah dan saat ini telah menjadi mualaf dengan memeluk agama Islam.

Tentu saja ada konsekuensi yang harus diterimanya di dunia ini. Dirinya harus terpaksa ditinggalkan oleh istri dan keluarganya setelah ia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim, bahkan semua harta miliknya disita. Namun ganjaran yang Allah akan berikan di akhirat nanti tentu lebih besar dari semua yang ia miliki di dunia saat ini. Baginya Islam adalah sesuatu yang penting saat ini dibandingkan harta benda yang ia miliki.

Setelah menjadi Muslim, Musa Bangura sekarang menyerukan masyarakat untuk memilih Islam, lapor kantor berita Anadolu.

“Selama bertahun-tahun, saya mencoba membujuk umat Islam di negara saya untuk masuk kristen, justru pada suatu waktu saya bermimpi di mana saya diundang untuk masuk Islam,” ujarnya, menambahkan bahwa ia memiliki mimpi yang sama tiga kali secara berturut-turut.

Dia menyatakan bahwa hal pertama yang ia lakukan setelah masuk Islam adalah melakukan penelitian lebih lanjut tentang Islam.

“Saya mengungkapkan adanya kontradiksi dalam agama Kristen yang mengakibatkan saya berdiskusi dengan pendeta Kristen. Dan saya berhasil membuktikan kepada mereka bahwa Islam lah agama yang benar.”

Bangura mengatakan ia saat ini membuat sebuah situs web bernama ‘Why Islam’ di mana ia mengatakan kepada banyak orang mengapa Islam adalah agama yang benar dan mengungkapkan kontradiksi dalam ajaran kekristenan. Sampai saat ini, lebih dari 8.000 orang telah memeluk Islam berkat situs yang ia buat. “Saya sekarang bekerja untuk mendakwahkan orang Kristen di daerah saya dan mencoba untuk membantu mereka mewujudkan kebenaran dan sampai akhirnya mereka memilih Islam.”

Kisah Inspiratif Mualaf: Suara Azan Membuat Hati Maria Bergetar

Suara Azan Membuat Hati Maria Tergetar

Suara Azan Membuat Hati Maria Tergetar

Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam. Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya. Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah.

Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya. Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas.

Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya. Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

‘’Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,’’ ungkap Maria.

Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam

Anak Ajaib Ini Membuat 7-Juta Kristen menjadi Muslim

Subhanallah… sungguh benar-benar Anak Ajaib!! Memang dirinya penuh keajaiban sejak dilahirkan. Terlahir dari keluarga Kristen sebagai anak ke-9 (wow!), ia pun benar-benar terlahir secara ajaib, dari seorang ibu yang mengalami kelumpuhan anggota badan tangan dan kaki setelah usia kandungan 5 bulan. Ajaib pula, bahwa kelahiran dirinya menyertai kesembuhan ibunya. Alhamdulillah… Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkan ibunya, dan melalui sentuhan ilahi menjadikan dia lahir ke dunia dan menjadi seorang anak yang ajaib.

Dakwahnya dimulai sejak Bayi!

Saat usia 9-bulan, ia mengingatkan kepada orang tuanya untuk melaksanakan Aqiqah. Ia juga mengatakan ingin menjadi Muslim. Tentu saja orang tuanya yang saat itu masih Kristen menolaknya. Dan baru terlaksana di sebuah masjid lokal saat ia berusia 3-tahun.

Saat pelaksanaan Aqiqah di Masjid Gongoni, saat itulah terjadi kegemparan. Ia secara ajaib berkhotbah tentang Islam tanpa diajari oleh siapapun, di usia tiga tahun. Menyusul kejadian di masjid itu dan apa yang terjadi di dalamnya, kakaknya, Michael, saat itu juga menjadi Muslim bersama dirinya.

Bapaknya, seorang Inspektur Polisi menjadi murka. Ia secara khusus mengambil cuti untuk memaksa kedua anaknya menjadi Kristen kembali, bahkan siap membunuhnya dengan pistol polisinya.

Namun setelah berdiskusi, dan ia menyadari kalah dalam pertempuran argumen, ia kemudian merelakan anaknya menjadi Muslim. Bahkan ia sendiri berhasrat untuk belajar dan memahami Islam. Setelah itu, ia tidak bisa lagi menolak kebenaran dan menyatakan harus bergabung dengan anaknya di jalan yang benar. Ia kembali ke fitrah, menjadi Muslim, memeluk agama Islam bersama seluruh keluarganya.

Ia mengubah nama baptisnya dari Maurice Robert Matongo menjadi Mikidadi Matongo. Demikian juga istrinya, dari Clemencial Michael Isamaki menjadi Marriam; dari Monica Leonard Jomanga menjadi Mwanaisha. Semua anaknya juga telah menjadi Muslim: Sara-Sarah; Albert-Abubakar; Mesent-Abdillahi; Devother-Fadhila; Boniface-Ibrahim; Grace-Faudhia; Samwel-Hamza; Jane-Sharifa; dan Michael-Yussuf dan tentunya…

Ya, si Anak Ajaib itu!, Fidelis, yang lahir di Kiloleni (10/10/1986), kota Tabora, Tanzania Utara, Afrika Timur. Dikenal sebagai Sheikh Shariff sejak 22 Desember 1989 setelah khotbah hebohnya di Masjid Gongoni sekaligus saat itu ia menjadi Muslim.

Adapun “Fidelis” menurut cerita bapaknya bukan merupakan nama baptis, tetapi semata pemberian darinya untuk mengingat kelahirannya. Bahkan menurut penuturan dari beberapa sumber, Fidelis mengatakan: “Mama usinibibaptize, naamini kwa Alla na jumbe wake Muhammad SAW!” Artinya: “Ibu, tolong jangan baptis saya, saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW!”. Dan ajaib, itu diucapkan saat baru berusia sekitar 2-bulan! sebagai penolakkan ketika ia hendak dibaptiskan.

Dan melalui dirinya, sejauh ini telah menjadikan sekitar 7-juta orang Kristen, kembali ke-fitrahnya sebagaimana setiap orang dilahirkan, yakni menjadi Muslim.

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tua-nya lah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Al-Bukhari: 1358; Muslim: 2658; Ahmad: II/233).

Artikel tentang dirinya, tulisan Andrew England, juga pernah dimuat di surat kabar Skotlandia pada 8 Agustus 1999.

Didalamnya, disebutkan antara lain, bahwa pada usia empat bulan ia mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Pada usia satu tahun, ia mampu membaca seluruh Al-Qur’an dan mulai dapat berbicara dalam bahasa Arab, Swahili dan Perancis.

Saat usia lima tahun, ia dapat berkotbah dalam lima bahasa, Inggris, Perancis, Italia, Swahili dan bahasa Arab-meskipun ia benar-benar tidak melalui studi khusus. Ia adalah pengkhotbah yang menarik ribuan orang. Di usia ini juga, sebanyak seribu orang telah menjadi Muslim melalui dakwahnya.

Adapun dalam beberapa perjalanan dakwah selanjutnya, antara Mei 1994 sampai Desember 1994 Sheikh Shariff berkhotbah di Kota Dar es Salaam. Kawasan Pantai, Lushoto, di wilayah Tanga, Morogoro di wilayah Morogoro dan di Zanzibar. Dimana total 6870 orang kembali ke Islam.

Dari Maret 1995 sampai Desember 1995 ia berkhotbah di Dar es salaam, seluruh wilayah Pantai, wilayah Lindi. Di wilayah Mtwara dan Songea, Tunduma, Mbinga dan Ruvuma, dimana total 7.805 orang kembali ke Islam.

Dari Mei 1996 sampai Januari 1997, ia berkhotbah di wilayah Morogoro, wilayah Tanga, Iringa, Dodoma, Singida, Arusha, dan di wilayah Moshi Kilimanjaro. Ini adalah tahun yang sama dimana Sheikh Shariff mulai go internasional dengan pergi ke Kenya. Sementara di Kenya, ia berkhotbah di Mombasa, Malindi, dan Voi, di Kitui, Matinyani, dan Mwingi. Kemudian pindah ke Nairobi City. Selama kunjungan di Kenya, total 38.942 orang memeluk Islam, dst…

7 Juli 2004 ia pergi ke Uni Emirat Arab di Dubai selam

a satu minggu, kemudian kembali ke Oman hingga Agustus 2004, kemudian kembali ke Tanzania. Ia melanjutkan dakwah di semua wilayah dan provinsi Tanzania, dimana diperkirakan lebih dari 50.000 orang masuk Islam.

Sampai beberapa waktu yang lalu, Sheikh Sharrif bersama tim dakwahnya dan dukungan berbagai pihak; diantara kemudahan, halangan dan rintangan, alhamdulillah… sudah lebih dari 6.676.269 pria dan wanita telah menemukan kebenaran, telah berada diatas jalan lurus, memeluk Islam. Kembali ke fitrahnya sebagaimana semua orang terlahir sebagai Muslim Masuk Islam

KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

PASTUR,MISIONARIS,DAN JEMAAT GEREJA MASUK ISLAM setelah gagal membakar AL-QURAN

Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. Koran yang terbit setiap hari Rabu tersebut, dalam editorialnya telah menggoncangkan salah satu kota besar di Nigeria, kota Kajoula. Dalam berita tersebut dipaparkan bahwa seorang pimpinan pendeta Nasrani dengan sangat mengejutkan melempar mushaf Al-Qur’an ke tanah di depan para hadirin yang datang dalam majelisnya. Tidak hanya itu, ia kemudian menuangkan bensin dan berusaha membakar mushaf tersebut. Namun yang sangat mengherankan, mushaf tersebut sama sekali tidak terbakar dan api tidak sampai menyentuhnya. Bahkan, tangan pendeta tersebut yang justru terbakar oleh kobaran api. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Nasrani sedang melaksanakan kebaktian di gereja.

Setelah kejadian ini, Pendeta Froos seketika langsung menyatakan keislamannya dan diikuti oleh pemimpin gereja Ya’kub Musa, kemudian diikuti oleh para pendeta dan misionaris di sana, sehingga jumlah mereka mencapai 200 misionaris, kemudian pendeta Ya’kub Musa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen Organisasi Kependetaan di Kanjoula. Di hari berikutnya, pemimpin redaksi koran “Ukazh”, Haji Ibrahim Sulaiman menulis berita tentang aktifitas Ya’kub Musa pasca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen. la berdakwah menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri Nigeria, Ibrahim Sulaiman juga menulis kisah-kisah Ya’kub Musa yag bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Beliau adalah professor jurusan matematika University of Kansas. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia telah memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam. Bermula dari sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal selalu ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, dan bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinannya akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan para pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun. Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga kemudia akhirnya dia memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu: Kami (dalam mimpi Dr Jeffrey Lang bersama orang lainnya yang tak ia kenal) berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu. Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, sehingga ia tak peduli kendati mimpi itu terus berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu seorang murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati ia tak berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai coba-coba membuka-buka Alquran dan membacanya. Seketika itu kepalanya dipenuhi berbagai pergumulan.

“Anda tak bisa dengan hanya membaca Alquran, dan juga anda tidak bisa jika tidak menganggap ini sesuatu hal yang serius. yang anda harus lakukan, adalah , apakah anda menyerah kepada Alquran, atau, anda ‘menantang’, Al-Qur’an” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah perdebatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara personal. Alquran akan mendebat, akan mengkritik, dan membuat (Anda) malu, dan menantang anda. Sejak awal ‘ia’ (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di fihak yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergumulannya). Setelah saya baca menjadi jelas bahwa, Sang Penulis’ (Alquran) mengetahui diri saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati akan jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring dengan ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran berada jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus segala kegundahan yang telah saya rasakan selama bertahun-tahun dan menjawab pertanyaan saya.”. Jeffrey berusaha melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin ia buka Alquran semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Ketika itu awal 1980-an, dan tak banyak saat itu Muslim di University of San Fransisco, tempat ia mengajar. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement, tempat di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia menguatkan dirinya untuk mengucap syahadat untuk memasuki pintu Islam. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah untuk yang pertama kali

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya begitu tenang dan hening ia rasakan, “bagaikan semua suara di alam ini telah dimatikan”,tuturnya. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat itulah saya melihat ke depan, dan Saya melihat Ghassan, berada didepan sisi kiri saya(Imam), di tengah-tengah shaf jama’ah, tepat di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain berwarna merah.”

“Mimpi itu.. !?”. Teriak saya dalam hati. “Mimpi itu!, persis sekali” ! Saya mencoba untuk melupakannya, tapi kini saya tertegun dan takut. Apakah ini pun hanya sebuah mimpi? Apakah kemudian saya akan terbangun?? Saya mencoba fokus untuk memastikan apakah saya sedang tertidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. “Ya Tuhan, ini bukan mimpi, ini nyata!!” Batinnya. Lalu rasa dingin itu hilang, berganti dengan rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Teringat ucapan ayahnya sepuluh tahun silam “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” terjadi sudah. Ia kini berlutut, tertunduk dengan wajahnya menempel di lantai, Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah sujud penyerahan total kepada Tuhan, yang selama ini ia cari, Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan memberi kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujarnya.

Kisah Inspiratif Mualaf: Idolanya Jesus, Temukan Kebenaran Dalam Islam

Idolanya Jesus, Temukan Kebenaran dalam Islam

Brandon Toropov ~ Idolakan Yesus Sejak Kecil, Brandon Toropov Temukan Kebenaran Dalam Islam. Nama Brandon Toropov dikenal dunia Islam. Ialah penulis novel Jihadi yang mengisahkan dan menggambarkan terorisme bukanlah bagian dari Islam. Bukan hanya karena novelnya yang laris manis d ipasaran itu yang membuat namanya melambung, kefaqihannya dalam beragama juga menjadi sorotan publik karena ia seorang mualaf.

Brandon bersyahadat sekitar 10 tahun lalu. Tapi kecintaannya pada Islam mungkin melampaui muslimin yang sejak lahir telah mentauhidkan Allah. Perjalanannya hingga mendapat hidayah pun tak singkat. Ia menghadapi pencarian dengan semangat yang luar biasa hebat mengenai keesaan Allah. “Saya lahir sebagai muslim. Hanya saja aku baru menyadarinya di tahun 2003,” ujar Brandon Toropov menggambarkan sosok dirinya pasca-berislam. Tentu yang dikatakan Brandon ini benar adanya karena setiap jiwa yang lahir berada dalam kondisi fitrah.

Meski di tahun 2003 ia baru meninggalkan agama lamanya menuju Islam, namun ia merasakan telah lama menemukan kebenaran yang ia yakini bahkan sebelum lahir ke dunia.

Pria kelahiran Amerika itu telah memulai perjalanannya menuju hidayah sejak muda. Selama 30 tahun, ia mencari hakikat kebenaran Yesus atau Nabi Isa. Sejak kecil, Brandon yang lahir di tengah keluarga nashrani telah mengidolakan sosok Yesus.

Saat itu, pertanyaan belum banyak muncul dibenaknya. Ia sangat mengidolakan Yesus sejak kecil. “Saya masih menyimpan bilble King James yang saya beli saat masih remaja. Ada catatan tulisan tangan saya di halaman depan, tertulis 26 Juni 1974, tanggal saya memulai menjadikan Yesus sebagai juru selamat pribadi saya,” ujarnya mengisahkan pengalamannya, dikutip dari laman The Religion of Islam.

Kecintaannya pada Yesus inilah yang kemudian menghantarkannya dalam pencarian kebenaran sejati. Menjelang dewasa, Barandon mulai memikirkan banyak pertanyaan mengenai sosok idolanya tersebut.

Banyak hal yang tak dikabarkan jelas bahkan sebagain bertentangan mengenai Yesus. Namun sebagai penganut nasrani yang taat, ia buang jauh-jauh segala pertanyaan itu yang menurutnya adalah sebuah keraguan keimanan.

Namun semakin belajar, pertanyaan itu justru semakin bergulir. Brandon pun kemudian meninggalkan Kristen dan beralih ke Katholik. Saat itu ia telah menjadi mahasiswa, dan ia pun masih mengidolakan sosok Yesus.

Di kampus, ia bertemu seorang gadis Katholik yang kemudin menjadi pacarnya. Brandon juga banyak bergaul dengan seorang pemimpin gereja kampus. Keduanya membantu Brandon menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai sosok Yesus. Namun Brandon tak pernah merasa puas.

Hingga kemudian, Brandon menikah dengan pacarnya tersebut. Sang pemimpin gereja kampus itu pula yang menikahkan mereka. Dari pernikahan tersebut lahir tiga orang anak.

Sejenak, Brandon merasakan bahagia dengan kehidupan barunya dan mulai melupakan segala keresahan jiwa. Hingga kemudian di tahun 1990-an, Brandon dan istri merasakan kekecewaan yang sangat karena terjadi insiden dengan gereja. Akibatnya, keduanya beralih kembali ke Protestan. Brandon tak pernah beralih ke agama lain kecuali hanya nasrani, karena sangat mengagumi sosok Yesus.

Saat kembali ke Protestan, ia kembali membenahi apa yang ia sebut sebagai keimanan. Brandon bahkan menjadi pengajar kelas sekolah Minggu untuk anak-anak di gereja. Ia juga mengajarkan Injil untuk kalangan dewasa.

Namun hari demi hari, Brandon kembali memikirkan pertanyaan-pertanyaan tentang sosok idolanya, Yesus, yang tak pernah terjawab sejak ia muda hingga menjadi seorang bapak.

Menemukan Islam

Brandon dirundung keraguan keimanan akan Yesus hingga kemudian terjadi peristiwa bom 11 September di New York AS. Pascaperistiwa terorisme tersbut, Brandon mendapati fakta menarik. Ia membaca sebuah surat kabar Inggris pada tahun 2002 yang memberitakan jumlah mualaf yang mengalami lonjakan tajam.

Orang-prang berduyun-duyun memeluk agama Islam. “Ada bukti menarik dari lonjakan konversi ke Islam sejak 11 September, bukan hanya di Inggris, tetapi di seluruh Eropa dan Amerika. Salah satu pusat studi Islam Belanda mendata bahwa terjadi peningkatan sepuluh kali lipat,” tuturnya.

Brandon kemudian menjadi tertarik mempelajari Islam. Awalnya, ia hanya mengikuti kabar-kabar mualaf sejak insiden 9/11. Namun tak banyak yang menggerakkan hati Brandon, kecuali untuk membaca kitab suci umat Islam.

Ia pun membeli Alquran dan mempelajarinya. Menakjubkan, segala pertanyaan yang mengganggu hidup Brandon sejak muda itu terjawab seluruhnya. Ia mendapati jawaban atas sosok Yesus yang sangat ia idolakan.

Ia pun kemudian membandingkan kandungan kitab sucinya dengan Alquran. Dari situ, banyak hal yang didapatkan Brandon yang semuanya mengantarkannya pada kebenaran.

“Ayat Quran mengkonfirmasi penggambaran tentang Yesus sebagai nabi manusia. Ia mendapat mandat Ilahi yang kemudian diteruskan oleh Muhammad. Quran menunjukkan gambaran Yesus secara historis. Hingga saya kemudian menyadari, Yesus sebenarnya mengajak orang-orang kepada Islam,” tuturnya.

Ia pun memeluk Islam, tepatnya pada pada tanggal 20 Maret 2003.

Aktif Menyuarakan Antiterorisme

Setelah menjadi Muslim, Brandon pun giat mempelajari agama Islam. Dengan semangat, ia berkeinginan menjadi muslim sempurna, muslim yang kaffah. Ia pun terus mempelajari Islam, hingga pengetahuanya akan Islam amat luar biasa.

Jika membaca tulisan-tulisan Brandon, maka pembaca tak akan menyangka ia merupakan seorang mualaf. Ia amat faqih beragama sebagaimana muslimin yang lahir dan dibesarkan dalam pendidikan Islam.

Ia pun kemudian aktif menyuarakan antiterorisme. Brandon yang memang merupakan penulis itu kemudian membuat sebuah novel bertajuk “Jihadi”. Novel tersebut mengisahkan perjalanan seorang mantan teroris.

Dengan alur cerita yang apik dan bahasa yang menarik, jadilah novel Jihadi tersebut pantas dibaca sebagai rujukan mengenai aksi terorisme. Novel tersebut pun sebenarnya merupakan sebuah memoar dari transkripsi yang ditulis teroris Ali Lidell. Sehingga sedikit banyak kisah nyata lah yang diulas di dalam novel tersebut.

Kisah Inspiratif Mualaf: Veronique Cools, Islamkan Ribuan Warga Belgia

wp-1522370617420..jpgVeronique Cools, Islamkan Ribuan Warga Belgia

Seorang wanita muda mualaf Belgia, Veronique Cools mengubah rumahnya menjadi pusat kajian Islam bagi orang Belgia lainnya yang ingin belajar tentang Islam. Ia pun telah membantu seribu orang yang baru menerima ajaran Islam alias yang membutuhkan pembelajaran lebih lanjut soal Islam.

Veronique menjadi mualaf di usia yang sangat muda. Keputusannya memeluk Islam dipengaruhi penelitiannya soal agama dan terinspirasi teman-teman Muslimnya. Ia pun memutuskan mengubah rumahnya sendiri menjadi pusat Islam bagi umat Islam Belgia yang ingin belajar lebih banyak tentang agama yang baru saja mereka peluk.

Tempat Pusat Islam ini juga bekerja membantu orang-orang Belgia menjawab banyak prasangka ketika memandang Islam. “Prasangka buruk disebabkan mereka tidak mengenal Islam yang sesungguhnya,” katanya sambil mempersiapkan paket makanan buka puasa, seperti dilansir World Bulletin, Ahad (13/7). Menurutnya, umat Muslim harus menjelaskan tentang Islam kepada masyarakat agar tidak ada lagi kesalahpahaman.

Setelah delapan tahun bejalan, Rumah Pusat Islam Veronique telah memiliki seribu anggota. Sebagian dari mereka adalah wanita Belgia. Rumah Pusat Islam juga terbuka bagi semua Muslim Belgia yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang agama mereka.

Muslim Belgia diperkirakan mencapai 450 ribu juwa dari populasi sekitar 10 juta. Setengah dari mereka berasal dari Maroko, sementara 120 ribu Muslim berasal dari Turki. Lebih dari 20 persen populasi Brussels adalah Muslim asal Maroko, Turki, Pakistan, Bangladesh dan negara-negara Afrika lainnya. Terdapat 77 masjid atau mushala di Brussels, Ibu Kota Belgia dan lebih dari tiga ratus masjid di seluruh Belgia.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau salah satu pemain timnas Brasil merupakan seorang Muslim. Dia adalah Frederico Chaves Guedes atau biasa dipanggil Fred.

Pemain sepakbola Muslim ini dilahirkan di Teofilo Otoni, Minas Gerais, Brazil pada 3 October 1983. Eks pemain Cruzeiro ini mulai mengenal Islam ketika merumput di Eropa. Kepindahannya ke Prancis pada 2005, untuk membela Olympique Lyon membuatnya bersentuhan dengan Islam.

Selama empat musim di Lyon, dia mampu mengantarkan Lyon menjadi yang terbaik di Ligue 1. Sebagai ujung tombak klub, Fred mampu membuktikan kapasitasnya sebagai pemain berbahaya.

Pada musim pertama membela Lyon, dia menjadi runner up pencetak gol terbanyak di liga lokal. Setelah melewatkan dua bulan pada musim 2006/2007, dia mampu mencetak 11 gol dari 20 pertandingan.

Pada musim 2007/2008, Fred mengalami beberapa kali mengalami cedera. Namun dia mampu mempersembahkan gelar Copa America 2007 bagi Brasil pada pertengahan tahun. Dia melakukan come back di klub medio Oktober 2007, namun tidak mampu lagi bersaing di tempat utama.

Itu lantaran Lyon memiliki dua striker tajam, yaitu Milan Baros dan Karim Benzema, yang mulai bersinar. Sebelum musim 2008/2009 berakhir, dia meninggalkan Lyon untuk kembali ke kampung halamannya dengan membela Fluminense.

Tinggal di Kota Lyon yang banyak dihuni imigran Muslim, membuat Fred bersentuhan dengan budaya Islam. Bergumul dengan Karim Benzema menjadi bagian dia semakin mengenal ajaran Islam. Namun sangat minim informasi kapan tepatnya dan kepada siapa Fred mengucapkan kedua kalimat syahadat saat menjadi mualaf.

Momen keislaman Fred terbuka ke publik ketika dia mampu mencetak satu gol dalam Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika itu Brasil memukul Australia dengan skor 2-0, pada 18 Juni 2006.

Usai mencetak gol, penonton di stadion dan televisi dikejutkan dengan gaya Fred yang melakukan gaya merayakan gol dengan cara tidak biasa. Pasalnya dia bersujud syukur di lapangan.

Dalam video berdurasi lima detik itu yang bisa dilihat di dunia maya, Fred melakukan itu sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Sang Pencipta yang masih memberikannya kesempatan untuk bisa mengukir prestasi.

Kisah Inspirasi Mualaf: Ketika Abu Bakar Saudagar Kaya Raya Masuk Islam

Kisah Inspirasi Mualaf: Ketika Abu Bakar Saudagar Kaya Raya Masuk Islam

Abu Bakar adalah saudagar kaya raya, jujur dan berakhlak mulia. Setelah Nabi Muhammad SAW, dia adalah orang yang paling dipercaya di Makkah. Dikutip dari buku The Great Story of Muhammad, kisah masuk Islam Abu Bakar berawal ketika dia mendapat kabar dari tetangga-tetangganya tentang Muhammad menjadi nabi, setelah dia kembali ke Makkah usai berdagang.

Berita tentang dakwah Islam memang diketahui oleh orang-orang Quraisy meski Nabi Muhammad melakukannya dengan sembunyi. Itu terjadi setelah mereka melihat beberapa kejadian.

Menurut Muhammad Al Ghazali, kendati kabar tentang dakwah Islam telah menyebar, namun kaum Quraisy masih tak peduli. Mereka menduga bahwa Nabi Muhammad sama seperti Umayyah bin ash-Shallat, Qus bin Sa’idah, Amr bin Nufail dan lainnya yang peduli terhadap urusan agama. “Muhammad mengaku menjadi Nabi. Ia meminta kita untuk tidak menyembah berhala lagi, tapi kita tak akan pernah meninggalkan berhala-berhala kita,” kata para tetangga Abu Bakar.

Kemudian mereka meminta Abu Bakar untuk menemui Nabi Muhammad. “Kami telah menanti-nanti kedatangan mu. Temui Muhammad dan lakukan apa pun yang engkau sukai!”.

Abu Bakar tercengang mendengar itu. Dia bergegas pergi menuju kediaman sahabatnya, Rasulullah. Setiba di sana dia disambut Rasulullah dengan senyum mengembang. Abu Bakar langsung mencecar Beliau dengan pertanyaan.

“Wahai Abu Qasim, apa benar engaku telah mengaku sebagai nabi kepada orang-orang di sini? Apa benar engkay tidak mau menyembah berhala dan tidak aka memeluk agama penduduk Makkah?” tanya Abu Bakar. Dia biasa memanggil Nabi Muhammad dengan ‘Abu Qasim’ yang artinya ‘ayah Qasim’. Qasim adalah salah satu putra Rasulullah.

“Betul, Abu Bakar. Aku adalah nabi yang diutus untukmu dan semua manusia. Aku ingin semua manusia beriman dan menyembah Allah Yang Esa. Aku ingin engkau juga beriman,” jawab Rasulullah penuh kehangatan.

Abu Bakar menyimak dengan cermat apa yang diucapkan Rasulullah. Tidak sedikit pun keraguan ada di dalam dirinya. Dia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah tidak pernah bohong. Tanpa banyak bicara, Abu Bakar langsung bersyahadat.

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Rasulullah terlihat gembira usai Abu Bakar berikrar. Beliau peluk dengan erat tubuh Abu Bakar. Kini, bertambah lagi manusia yang memeluk Islam dan itu adalah Abu Bakar, sosok yang sangat dihormati di Makkah.

Abu Bakar sangat bersemangat mendakwahkan Islam. Dia sosok yang ramah, luwes, dan berbudi luhur. Para tokoh kaumnya sering datang berkunjung untuk menemui Abu Bakar.

Setelah satu minggu Abu Bakar masuk Islam, ada enam orang yang berhasil diislamkan olehnya. Mereka adalah enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk surga, yaitu Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Kisah Inspiratif Para Mualaf: Kenapa Tuhan Harus Disalib?

Kisah Inspiratif Para Mualaf: Kenapa Tuhan Harus Disalib?

Kenapa Tuhan Harus Disalib?

‘TUHAN ITU SIAPA DAN SEPERTI APA SIH , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?” Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, ”Tuhan itu yang kita sembah,” ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.

Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.

Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. ”Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,” ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui Republika akhir pekan lalu di Jakarta.

Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah ”Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?” Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.

Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.

Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. ”Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,” paparnya.

Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah .

Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.

Berikrar syahadat

Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, ”Ya.” Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.

”Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,” ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.

”Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,” tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.

Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.”Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,” sindirnya.

Beasiswa gereja

Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.

Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. ”Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,” ungkapnya.

Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam–Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ”Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,” ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.

Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak ‘hilang’ oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.

Biodata

Nama : Aria Desti Kristiana

TTL : Jakarta, 9 Desember 1991

Masuk Islam : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)

Aktivitas :

– Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II

– Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan

sumber,

republika /01-04-2009

Pemilik nama kecil Martin Thomson ini dikenal sebagai pengacara terkemuka di Inggris. Ia juga mengetuai Wynne Chambers, badan hukum Islam yang didirikannya pada 1994.

Berislam 38 tahun lalu, Thomson meyakini cara terbaik mengamalkan ajaran Islam adalah memahami dan meneladani sumbernya, yakni Alquran dan Sunah Rasulullah SAW.

“Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin dekat kita pada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum,” ujar pria kelahiran Afrika ini.

Dilahirkan di Rhodesia Utara (sekarang Zambia), Thomson menempuh pendidikan dasar serta menengahnya di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe). Masa awal hidupnya, ia lalui di daerah-daerah terpencil Afrika yang kala itu belum tersentuh peradaban modern, seperti listrik, gas, dan saluran air bersih.

Lahir dan besar di Afrika, Thomson muda merasa tidak puas pada ajaran Kristen. Ia mulai mempertanyakan banyak hal seperti, “Jika setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan, lalu mengapa kaum Afrika kulit putih seperti dia harus beribadah di gereja yang berbeda dengan kaum kulit hitam?”

Pertanyaan lain yang kerap mengganggunya sebagai pemeluk Kristen adalah soal ketuhanan Yesus.

“Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dahulu ia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan dan disalib, lalu siapa yang menghidupi surga dan dunia? Pertanyaan itu tak pernah terjawab selama aku memeluk ajaran Kristen,” ujar lulusan Exeter University, Inggris, ini.

Ketika berusia 12 tahun, Thomson sampai pada satu titik di mana ia memercayai Tuhan dan Yesus. “Hanya saja, aku tidak yakin pada gereja.” Terhenti pada berbagai pertanyaan itu, Thomson mulai membaca apa pun dan memikirkan kehidupan yang dijalaninya sejauh itu. Ia mengunjungi berbagai kelompok spiritual

dan mencoba meditasi selama beberapa bulan.

“Itu menenangkan, tapi sama sekali tak mengubah gaya hidupku.”

Hingga akhirnya, Thomson bertemu Syekh Abdalqadir as-Sufi (tokoh tarbiyah, penggagas Gerakan Dunia “Murabitun”). Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Islam, agama yang tak pernah terpikirkan oleh Thomson sebelumnya.

Saat berbicara dengan Syekh Abdalqadir dan mendengarkan berbagai hal yang disampaikannya, Thomson merasa telah menemukan jalan menuju transformasi yang ia butuhkan.

“Sejak itu, perlahan aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi otakku,” katanya.

Thomson pun rutin mengunjungi pusat kajian Islam Syekh Abdalqadir. Ia juga membaca The Book of Stranger yang ditulis Sang Syekh.

Thomson mantap mengakhiri pencariannya pada 13 Agustus 1973. Ia pun mengikrarkan syahadat dan berhaji empat tahun kemudian. Dan mengubah namanya menjadi Ahmad Thomson.

Sepulang haji, ia menyelesaikan pelatihannya sebagai pengacara. Lalu, pada 26 Juli 1979, ia dipanggil ke Pengadilan England & Wales dan mulai meniti karier di bidang advokasi dan hukum Islam.

Thomson pertama kali memperoleh perhatian publik pada 2001, saat tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul My Name is Ahmed yang menyabet sebuah penghargaan. Ia pun tampil di film dokumenter lainnya, Prince Naseem’s Guide to Islam. Kedua film itu ditayangkan di BBC2 pada Agustus 2001. Setelah itu, wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam berbagai program, terutama program-program Islam.

Kini, hari-harinya diisi dengan aneka kegiatan keislaman, mulai dari memberikan ceramah rutin tentang Islam di berbagai wilayah di Inggris, menulis untuk Jurnal al-Kala, sampai menjadi kontributor tetap dalam konferensi lintas agama yang digelar setiap tahun di Masjid Regents Park dan Pusat Kebudayaan.

Beberapa buku karyanya yang cukup menggemparkan dan sangat sulit dicari terjemahannya , buku yang membongkar apa dan bagaimana konspirasi Yahudi di dunia ini yang berjudul , yaitu Dajjal the Anti Christ.(ac)

Estanislao Soria, Pendeta Katolik Filipina yang Menemukan Cahaya Islam

Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.

“Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro,” kata Soria yang populer di panggil “Father Stan”. Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.

Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.

“Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit,” kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.

Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. “Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik,” ungkap Soria.

Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.

“Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah,” papar Soria.

“Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar,” tambah Soria.

Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya “Father Stan.”

Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.

Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.

“Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita,” tandas Soria.

Kisah Pendeta, Yesus dan Islam

Kisah Pendeta Yang Tersadar Pesan Allah 1400 Tahun Yang Lalu, Bahwa Yesus Bukanlah Tuhan

Kisah inspiratif ketika persaudaraan seorang umat muslim dan seorang pendeta tersohor di sebuah negeri mendapat inspirasi dari sebuah ayat Al Quran yang disampaikan Allah Tuhannya semua mahkluk di bumi ini. Baik umat Islam, Nasrani, Yahudi atau umat lainnya. Melihat persaudaran yang demikian kuat saudara muslim tampak kasihan dengan saudaranya yang seorang pendeta untuk mengetahui kebenaran pesan Allah kepada umatnya. 

Suatu hari ke dua saudara itu bertemu dan saudara muslim mengatakan kepada saudara Pendeta. Saya heran mengapa Allah menurunkan banyak kitab untuk setiap jaman dan banyak nabi untuk jaman yang berbeda. Maka karena keingintahuan itu dia ingin berdiskusi tentang perbandingam agama Nasrani dan agama Islam yang sama sama kitannya diturunkan Allah dan Nabinya diutus Allah. Allah yang sama bagi umat manusia. 

Maka saudara muslim berkata dengan bijak , “Saudaraku pendeta mari kita berdiskusi mengapa Allah menurunkan kitab yamg berbeda dan nabi yang berbeda untuk semua umat. Maka saya tertarik untu membandingkan Agama Kamu dan Kitab kamu dengan agamaku dan kitabku. Maukan kamu pelajari Quran dengan terjemahannya dan aku baca Injil dan terjemahannya . Dakam seminggu kita akan berdiskusi satu surat dalam Quran dan bebwrapa ayat dalam Injil. SURAT dalam Quran yang akan kita diskusikan Al Ikhlas 112 ayat 1-4. Sang pendetapun antusias dan menyetujuinya. 

Tetapi karena kesibukannya saudara muslim tidak sempat baca Injil dan saat hati ke tujuh yang dijanjikan sang Pendeta melalui telepon membatalkan janji pertemuan seminggu yang lalu untuk berdiskusi tentang Quran dan Injil. Dengan nada bergetar dan terharu sang pendeta mengatakan melalui telepun, ” Saudaraku, kita tidak usah berdiskusi lagi tentang Injil dan Quran dan kita batalkan diskusi kita. Saya akan masuk Islam dan bersyahadat untuk memeluk agama Islam. 

Saudara Islam terheran mengapa saudara pendeta mendadak berubah pikiran dan prinsip hidupnya selama ini. Sambil menanyakan itu kepada saudara pendeta. Sang Pendeta menjawab, begitu saya membaca berulang ulang hanya satu surat saja Al Ihklas dalam Al Quran menyadarkan saya bahwa Allah kita semua ternyata telah 1400 tahun lalu berpesan bahwa Allah itu satu, tunggal, pencipta segala sesuatu, tidak beranak juga tidak merupakan anak dzat lain. Akhirnya tidak terasa menetes air mata saya sambil membaca beberapa ayat dalam Quran lainnya saya semakin yakin bahwa Allah itu memang Esa bahwa Yesus itu bukan Tuhan seperti yang kami yakini selama ini dengan keras dan kami pertahankan dengan segala cara. Memang selama ini meski saya mengajarkan firman Tuhan tetapi dalam otak saya terus berkecamuk mengapa Tidak ada dalam satu ayatpun yang mengatakan sembahlah Aku. Mengapa Yesus minta pertolongan Allah saat di salib ? Mengapa Yesus sebagai Tuhan kok busa meninggal padahal Tuhan khan seharusnya kekal ? Dan berbagai misteri lainnya yang aneh tetapi saat ini terjawab bahwa memang benar Allah dalam Firman Terkahirnya pada kitab terakhirNya mengatakan bahwa Allah itu satu, tidak beranak dan tidak merupakan anak Dzat lainnya ? Ternyata kebenaran itu baru saya sadari saat ini . 

MENGAPA SANG PENDETA HANYA MEMBACA SATU AYAT SUDAH MERUBAH PRINSIP HIDUPNYA YANG SELAMA INI MENGUAT DALAM KEHIDUPANNYA. Itulah hidayah. Allah akan memberi jalan dan kebenaran kepada orang yang dikehendakiNya dengan jalan yang tidak terduga dengan kesadaran rasional berpikir yang selama ini tertutup. Bukan dengan paksaan, bujukan, atau intervensi ekonomi, harta dan iming iming kenikmatan dunia lainnya

Inilah Ayat Quran Yang Membuat Sang Pendeta merubah prinsip hidupnya

  • Pesan Allah untuk semua umat manusia di dunia baik muslim, Nasrani, Yahudi dan umat lainnya seperti disampaikan Nabi Muhammad dalam surat al ikhlas, Allah sebagai Tuhan umat Muslim bersifat esa. Adapun teologi atau kajian sufi dalam Islam juga menyatakan hal yang sama tentang keesaan Tuhan. Bentuk lain dari Tuhan bukanlah wujud asli, melainkan manifestasi atau cerminan dari sifat-sifat Allah. Misalnya, Nabi Muhammad adalah cerminan atau manifestasi sifat-sifat Allah di bumi untuk memberikan pengajaran dan menyampaikan kebenaran. Ini bukan berarti Nabi Muhammad adalah Allah atau bagian dari unsur Allah, melainkan sekadar manifestasi. Dan, keduanya jelas berbeda. Demikian pula Nabi Isa yang disebut Yesus oleh saudara kita umat Nasrani
  • Pada bagian ayat kedua, makna dari Allahu samad adalah bahwa tidak ada satu tempat pun untuk bersandar, berserah diri, memohon, dan bergantung kecuali Allah Swt. Jadi, jika ada umat muslim yang di dalam hatinya meyakini dzat atau makhluk lain untuk menyerahkan segala urusan dan menyandarkan diri kepada selain Allah, maka ia bukan lagi seorang Muslim karena Islam melalui surat al ikhlas mengajarkan bahwa Allah lah satu-satunya tempat bergantung, bertawakal dan memohon. Ayat kedua dalam surah al ikhlas ini secara makna kandungannya hampir sama atau bahkan serupa dengan kandungan makna Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir. Untuk mengetahui arti, makna dan kandungan ayat Hasbunallah wanikmal wakil silakan baca Arti dan Makna Hasbunallah Wanikmal Wakil
  • Pada ayat ketiga, makna lam yalid walam yulad adalah bahwa nabi Muhammad diminta Allah untuk memberikan kabar kebenaran kepada manusia dan segenap alam semesta untuk mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang maha esa, tidak beranak, tidak memiliki anak, maupun tidak diperanakkan oleh dzat atau makhluk tertentu. Makna lam yalid walam yulad mengandung arti dan makna yang sangat filosofis terkait dengan siapa sebenarnya eksistensi Tuhan. Banyak di antara filosof yang memikirkan tentang eksistensi Tuhan seperti asal-usul Allah, anak siapakah Allah atau siapa anak Allah itu? Namun, di dalam surah al ikhlas ditegaskan bahwa Allah itu satu, tunggal, pencipta segala sesuatu, tidak beranak juga tidak merupakan anak dzat lain.
  • Pada ayat terakhir, makna walam yakullahu kufuwan ahad artinya Allah sebagai Tuhan yang maha tinggi, yang maha merajai segala yang ada di alam semesta, baik dunia maupun akhirat tidak ada satu pun yang bisa setara dengan Allah sebagai Tuhan yang maha esa.

Demikian ulasan mengenai arti dan makna surat al ikhlas beserta terjemahannya lengkap. Pada prinsipnya, arti, makna, hakikat dan filosofi surat al ikhlas menjawab kegundahan filosofis manusia akan eksistensi Tuhan. Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, bahkan sebelumnya. Islam yang datang pada sekitar tahun 500 masehi melalui surat al ikhlas mengajarkan dan memberikan petunjuk kebenaran kepada manusia bahwa Tuhan itu bersifat esa (satu), tempat bergantung segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak beranak juga tidak diperanakkan, serta tidak ada satu mahkluk pun yang setara dan sebanding dengan Allah. 

Ketika Penjahat Meninggal Saat Perjalanan Menuju Tobat dan Berbuat Baik


Ketika Penjahat Meninggal Saat Perjalanan Menuju Tobat dan Berbuat Baik
Dari Abu Said Al Khudri RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, 

  • “Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukkan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus-terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? 
  • Ternyata rahib itu menjawab, ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. 
  • Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukkan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata, ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima?’ Orang alim itu menjawab, ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukkan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana, laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat rahmat dan malaikat adzab saling berbantahan. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat adzab membantah, ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata, ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki itu meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat rahmat.” Qatadah berkata, “Al Hasan berkata, ‘Seseorang telah berkata kepada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.” {Muslim 8/803-804}

Inilah Bukti Bahwa Yesus Adalah Muslim


Inilah Bukti Bahwa Yesus Adalah Muslim

Mantan pendeta yang dulu bernama Agustinus Christovel Kainama menjadi muslim, bukan karena ia mempelajari Al-Quran, melainkan karena ia memperdalam Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus.  Saat memahami Nabi Isa ternyata juga menjalankan puasa, shalat, disunat, wudhu, tahajud dan bersedekah. “Semua itu dilakukan pula oleh umat Islam,” ujarnya. Saat sudah begitu dalam mengkaji Injil, ia malah memutuskan menjadi muslim karena apa yang dilakukan oleh Yesus. Menurut ajaran agama Islampun sesuai yang di firmankan Allah dalam al Quran bahwa semua nabi adalah muslim termasuk nabi Isa atau Yesus

Muslim adalah secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”, termasuk segala makhluk yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut agama Islam saja, kemudian pemeluk pria disebut dengan Muslimin  dan pemeluk wanita disebut Muslimah adalah sebutan untuk wanita Islam. Al Qur’an menjelaskan tentang semua nabi dan rasul adalah sebagai Muslim, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Al Qur’an menyatakan bahwa mereka adalah Muslim karena mereka hanya berserah diri kepada Tuhan, memberikan firman, dan menegakkan agama Allah. Demikian pula dalam surah Al-Imran dalam Al-Qur’an. “Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) berkata kepada Isa: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Imran 3:52)”

Umat Muslim meyakini bahwa Allah adalah zat kekal, yang memiliki semua sifat ke-Maha-an, tidak tertandingi, mandiri, tidak melahirkan, dan tidak pula diperanakkan, mereka meyakini doktrin atau aqidah ketauhidan (monoteisme).

Menurut ajaran agama Islam Yesus atau Nabi Isa sebenarnya adalah muslim. 
Ini Adalah Bukti bahwa Yesus Muslim Menurut Kitab Injil

  • Yesus mengajarkan umatnya bersyahadat. Yohanes Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal dia, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.{ Yohanes 17:3 }
  • Yesus mengajarkan umatnya Sholat dan bertobat. Matius Sejak waktu itulah Yesus memberitakan : “Bertobatlah, sebab Surga sudah dekat!”. Maka Ia MAJU, lalu bersujud dan berdoa, Berkata: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan sebuah yang Engkau kehendaki.”{ Matius 4:17 }
  • Yesus sunat. Lukas ketika sudah genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.{ Lukas 2:21 }
  • Yesus puasa. Matius Matius Dan setelah berpuasa selama empat puluh hari dan malam, akhirnya laparlah Yesus.{ Matius Matius 4:2 }. Matius berkata “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya { Matius 6:16 }
  • Yesus mengajarkan untuk berbuat amal sholeh (berbuat baik). Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah engkau melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kanan dan kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam ke padamu. Kamu telah mendengar firman, bahawa: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.{ Matius 5:39 }
  • Yesus Mengucapkan Insya Allah. Dalam perencanaan berkaitan dengan hal-hal yang akan datang kita diajarkan untuk tidak mendahului kehendak yang diatas dengan memastikan segala sesuatunya namun hendaknya kita mengucapkan Insya Allah. Ajaran yang sama telah disampaikan oleh Nabi Isa Almasih as/Yesus Kristus kepada umatnya {Yakobus 4:13-17} (kalimat “JIKA TUHAN MENGHENDAKINYA” pada ayat ke-15,dalam ALKITAB EDISI BAHASA ARAB, tertulis “INSYA ALLAH”).
  • Yesus Mengajarkan Wanita Untuk memakai Jilbab PERINTAH MENUTUP AURAT BAGI PEREMPUAN. “Tetapi PEREMPUAN YANG BERDOA ATAU MENUDUNGI DENGAN KEPALA sedangkan yang TIDAK BERTUDUNG, iyalah menghina kepalanya karena ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab JIKA PEREMPUAN TIDAK MAU MENUDUNGI KEPALANYA,maka ia wajib menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya dipotong, MAKA HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.”{ 1Korintus 11:5-6 }
  • Yesus Mengajarkan Bersuci / Wudhu. “MUSA DAN HARUN serta anak-anaknya MEMBASUH TANGAN DAN KAKI MEREKA DENGAN AIR Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, MAKA MEREKA MEMBASUH KAKI DAN TANGAN – SEPERTI YANG DIPERINTAHKAN TUHAN KEPADA MUSA.” {Keluaran 40:31-32}
  • Mengajarkan Mengkafani Jenazah. Dan Yusufpun mengambil mayat itu, MENGKAPANINYA DENGAN KAIN LENAN YANG PUTIH BERSIH.”{Matius 27:59}

Diingkari

    Tetapi, entah mengapa kehidupan dan ajaran Nabi Isa  yang berperilaku muslim tersebut tidak diikuti umat Nasrani . Bahkan banyak hal perilaku kehidupan Yesus diingkari. Salah satunya pengingkaran dalam Yesus di Sunat adalah karena tradisi budaya Yahudi.

    Padahal banyak kitab Injil mengabarkan trntang Yesus di sunat.

    • Dan ketika genap delapan hari dan ia disunatkan.  Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat Ia dikandung ibu-Nya” (Lukas 2 : 21)
    • “Inilah perjanjianku yang harus kamu pegang, perjanjian antara aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara aku dan kamu.  Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun temurun, baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya, ia telah mengingkari perjanjianKu”  (Kejadian 17 : 10-14)
    • “Kemudian Abraham menyunat Ishak anak itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya” (Kejadian 21 : 4)
    • “Lalu Allah memberikan kepadanya perjanjian sunat; dan demikianlah Abraham meperanakkan Ishak, lalu menyunatkannya pada hari yang kedelapan; dan Ishak memperanakkan Yakub, dan Yakub memperanakkan keduabelas bapa leluhur kita” (Kisah Para Rasul 7 : 8) 
    • “Ketika genaplah delapan hari sesuai dengan hukum Allah, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Nabi Musa, mereka bopong anak itu dan membawanya ke rumah ibadat untuk mengkhitankannya.  Dan begitulah mereka sunatkan anak itu, lalu memberinya nama Yesus, sebagaimana malaikat utusan Allah telah mengatakan lebih dahulu setelah ia dikandang di dalam rahim” (Injil Barnabas pasal 5)

      Pasca Bom WTC Amerika Justru Warga Barat Masuk Islam Meningkat Luarbiasa

      Pasca Bom WTC Amerika Justru Warga Barat Masuk Islam Meningkat Pesat

      Pasca tragedi 11 September 2001, yang dilakukan oleh Al Qaidah, gejala Islamophobia mulai muncul di beberapa negara. Hanya saja, banyak pula warga Barat yang justru tertarik mempelajari Islam, dan menjadi mualaf.

      NBC News melaporkan, sekitar 20 ribu penduduk Amerika Serikat (AS), masuk Islam setiap tahun. Dilansir Washington Times, pada 2010, umat Islam diperkirakan melampaui jumlah kaum Yahudi. Tak hanya itu, CNN News pun pada 2012, melaporkan 1,5 juta warga AS yang memilih Islam sebagai keyakinannya.

      Direktur Pusat Islam dari wilayah pusat Washington, Muhammad Al Nassir, menyatakan lebih dari 170 orang AS dari berbagai usia dan jenis kelamin, masuk Islam pada 2010. Bertepatan saat terjadi pro kontra mengenai rencana pembangunan masjid, di lokasi Ground Zero, New York.

      Nassir menjelaskan, faktor terbesar tingginya mualaf di AS adalah, mereka sering membaca dan mempelajari Islam lewat biografi Nabi Muhammad SAW. Robert Spencer, warga AS yang masuk Islam, mengaku mengikuti Islam, karena mengikuti perkembangan pemeluknya yang begitu pesat di AS. “Islam memiliki ajaran yang luar biasa,” ujarnya.

      Seorang peneliti dari negara bagian Virginia, Moran, turut menegaskan, 20 ribu orang AS masuk Islam setiap tahun. Dimulai sejak peristiwa penabrakan gedung WTC oleh pesawat yang dibajak Al Qaeda, pada 13 tahun lalu.

      Perubahan signifkan dirasakan umat muslim Amerika pascakejadian 11 September 2001. Umat muslim di Amerika saat itu menjadi sasaran akibat pandangan yang keliru atau yang lebih dikenal dengan istilah Islamphobia. Pandangan negatif soal Islam ini menjadi tantangan tersendiri bagi dakwah di Amerika. Namun, pascakejadian tersebut, jumlah warga Amerika yang memutuskan masuk Islam semakin banyak.

      “Anehnya, banyak orang Amerika masuk Islam setelah itu. Estimasinya sebesar empat kali lipat,” terang Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali dalam Diskusi Publik bertajuk “Menilik Budaya dan Islam Nusantara di Negeri Paman Sam” yang digelar Dompet Dhuafa, Jumat (24/4) di Jakarta.

      Shamsi Ali mengatakan, bertambahnya jumlah warga Amerika yang masuk Islam lantaran sifat terbuka dan rasa ingin tahu yang tinggi orang Amerika. Kitab Suci Alquran setelah kejadian 11 September menjadi buku paling banyak diburu dan dibeli.

      Menurutnya, warga Amerika ingin mengetahui informasi sebenarnya tentang Islam. Dan mereka menemukan Islam merupakan agama yang agung dan jauh dari apa yang mereka pikirkan selama ini.

      Direktur Nusantara Foundation ini juga menambahkan, Islam harus mengubah mindset dengan apa yang bisa dilakukan bukan dengan apa yang bisa didapat. Hal ini sebagai cermin bahwa umat Islam harus aktif dan berkontribusi lebih.

      “Umat Islam jangan sampai kalah cepat. Kita jangan selalu mengeluh. Justru apabila ada pandangan yang miring tentang Islam kita harus bisa mengubah pandangan mereka dengan membuka dialog dan menunjukkan perilaku yang menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” jelasnya.

      Sylvester O. Dimunah, Jadi Muslim Karena Islam Meniadakan Kebencian dan Diskriminasi

      Sylvester O. Dimunah, Masuk Islam Karena Meniafakan Kebencian dan Diskriminasi
      Di masa lalu, Igbo merupakan salah satu wilayah berpengaruh secara politik di Nigeria. Di wilayah ini berdiri kerajaan besar yang pada akhirnya melebur dan menjadi bagian dari wilayah Nigeria modern.

      Secara tradisi, masyarakat wilayah ini menganut Kristen dan agama tradisional. Tradisi tersebut juga berlaku untuk keluarga kerajaan yang secara emosional mempersatukan wilayah ini.

      Belakangan masyarakat Igbo dikejutkan dengan satu kabar yang menyebutkan raja mereka, Sylvester O. Dimunah memutuskan untuk menjadi Muslim. “Saya tidak berpindah agama. Saya hanya kembali ke agama nenek moyang kami yang dianut dan dipraktekkan secara universal,” ungkap dia seperti dikutip onislam.net, Senin (28/1).

      Setelah menjadi Muslim, ia berganti nama menjadi Musa Dimunah. Musa mengaku sangat terkesan dengan ajaran Islam yang meniadakan kebencian dan diskriminasi. Saya tidak pernah menyesal karena menjadi Muslim terlepas dari stigma, pandangan negatif karena status saya sebagai orang Igbo, tegas dia.

      Ketika ditanya apakah ia menghadapi ancaman atau penolakan dari kerabat, Musa mengatakan ia tidak menghadapi tekanan dari keluarganya karena keluarganya justru menghormati keputusannya itu. Musa mengungkapkan semenjak tragedi 9/11 lalu, ia tertarik untuk mempelajari Islam.

      Dalam studi yang dikajinya, banyak orang mengatakan Islam dan Muslim itu berbahaya. Tapi hal itu tidak membuatnya mundur, sebaliknya ia semakin penasaran. Ia pun semakin kagum setelah mengetahui bagaimana generasi Muslim pertama dipimpin oleh Nabi Muhammad telah memperlihatkan wajah sesungguhnya umat Islam kepada dunia.

      “Di awal, Islam sangat menghindari kekerasan. Apa buktinya, itu terlihat bagaimana Nabi SAW hijrah,” ungkap Musa.

      Karena itulah, Musa menyimpulkan Islam merupakan agama damai yang mengajak umat manusia memiliki moral dan hubungan interpersonal yang baik. Keputusan Musa memeluk Islam bisa dikatakan satu tonggak sejarah penting dalam dakwah Islam.

      Apalagi, wilayah ini tidak memberikan pendidikan Islam kepada masyarakatnya, kendati ada populasi Muslim yang jumlahnya sangat sedikit. Praktis hanya Universitas Port Harcourt yang hanya menawarkan ajaran Islam.

      Kepala Dewan Tradisional Igbo, Sam Eze Ohiri mengatakan masyarakat Igbo tidak mempermasalahkan keputusan raja karena itu merupakan hak asasi yang tidak bisa diganggu gugat. “Siapapun punya cara masing-masing dalam upaya melayani Tuhannya,” kata dia.

      Ulama terkemuka Nigeria, Sheikh Shehu Ustman Anaga mengatakan masuk Islamnya Raja Igbo merupakan tanda yang baik. Ini juga menjadi bukti bahwa Islam sesungguhnya bukanlah agamanya yang mengajarkan kekerasan. Saya kira saudara-saudara kita di Igbo telah mencoba untuk belajar dan memahami ajaran Islam dengan baik, ucapnya.

      Anaga, yang merupakan juga seorang mualaf, meminta pemerintah untuk memperhatikan minoritas Muslim Igbo. Perhatian itu sangat penting dengan harapan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencapai keseteraan dengan suadara mereka yang non-Muslim.

      “Saya kira masalah yang terjadi di Nigeria saat ini adalah kurangnya informasi. Masalah itu jelas bersumber pada kurangnya kesempatan untuk memberikan informasi yang benar,” kata dia

      Insinyur Amerika Masuk Islam Karena Logika

      Insinyur Amerika Masuk Islam Karena Logika
      Yusuf Burke dibesarkan di New York. Sebagian besar hidupnya ia jalani sebagai penganut Kahtolik, mulai dari sekolah Katholik hingga universitas. Namun, saat itu ia pun sudah memahami sedikit tentang Islam.

      “Ayah saya dulu sempat bepergian ke Malaysia beberapa kali, jadi ia memiliki teman-teman Muslim,” tuturnya. Kadang keluarga Yusuf menerima mereka sebagai tamu.

      Yusuf selalu memiliki ketertarikan untuk melihat dunia luar, menyaksikan keragaman budaya, begitu pula perbedaan agama. Rasa ingin tahunya itu pun yang membuat ia mempelajari sedikit dasar-dasar Islam saat memeluk Katholik.

      “Saat itu saya bersiap mengambil mata kuliah agama dan saya mengenal dasar-dasar Islam. Namun saya tidak benar-benar paham banyak hingga saya pergi ke Indonesia,” ungkapya. “Saat itu adalah kali pertama saya pindah dan tinggal di negara bermayoritas Muslim,” akunya.

      Yusuf belajar kelistrikan di bangku kuliah dan 2 tahun setelah itu ia keluar lalu bergabung bersama tim energi dari General Electric sebagai ahli teknis lapangan. Ia pun mulai kerap bepergian ke luar negeri untuk mengerjakan proyek-proyek tenaga dan membangun pembangkit listrik.

      Saat pertama kali ke Indonesia pada 1994, ia pun pergi dalam rangka mengerjakan proyek pendirian pembangkit listrik. Di Indonesia ia mengaku menikmati bertemu dengan orang-orang lokal. “Mereka adalah orang-orang yang sangat ramah dan sangat terbuka serta antusias untuk terlibat obrolan dengan anda karena anda berbeda,” katanya menuturkan pengalamannya.

      Tinggal di Indonesia ia pun mulai belajar mengenai Islam. Dua tahun berselang, 1996, ia mengikrarkan keislamannya. Saya menikah tak lama setelah itu, kami bepergian lagi, lalu menetap kembali di New York pada 2002 setelah sempat tinggal sebentar di Malaysia, Singapura, Australia dan Thailand pula.

      MENGAPA IA TERTARIK ISLAM? “SAYA MEMILIKI PEMAHAMAN MENDALAM TENTANG KATHOLIK. SAYA PIKIR YANG MEMBAWA SAYA PADA ISLAM IALAH SIFATNYA YANG LOGIS. SEBAGAI INSINYUR, SAYA SANGAT MENGAPRESIASI SESUATU YANG LOGIS,” UNGKAP YUSUF.

      “Itulah yang saya rasakan ketika saya berdiskusi tentang Islam dan tinggal di antara Muslim. Saya merasakan pula persaudaran yang mereka bagi dan itu benar-benar mendorong saya pula.” tutur Yusuf.

      Ketika ia pergi ke Australia dan Malaysia setelah menjadi Muslim, ia pun mempelajari Islam lebih dalam. “Saya mengambil kelas dan belajar dari orang lain, dan cara mereka membawakan kepada saya benar-benar menusuk dan menggugah kesadaran bahwa seperti inilah cara yang benar.”

      Mengadvokasi dan membantu sesama Muslim jadi santapan rutin Setelah memeluk Islam, Yusuf Burke pun mengakui keluarganya begitu terkejut. “Namun saya pikir mereka bisa memahami keputusan saya,” ucapnya. Keluarga Yusuf memiliki pikiran terbuka dan mereka selalu menghormati semua orang, terutama dari keyakinan monotheis.

      “Saya pikir mereka memandang saya beribadah berdasar cara yang saya yakini dan mereka mengapresiasi itu,” ungkapnya. Namun Yusuf pun merasa perlu menjelaskan kepada keluarganya mengapa ia memutuskan memeluk Islam. “Mungkin itu bisa menyingkirkan pula selip pemahaman yang kita miliki di Amerika Serikat mengenai Islam, dan luar biasa mereka sangat mendukung.”

      Kini Yusuf tak hanya seorang Muslim, ia pun aktif dalam kegiatan dan organisasi Islam. Saat ini ia menjadi direktur salah satu cabang Dewan Hubungan Amerika-Israel (CAIR) di AS. “Kami, bagian dari grup advokasi untuk Muslim Amerika, pada dasarnya berupaya mencoba menghapus beberapa selip pemahaman sekaligus membantu Muslim dalam kasus kebebasan atau hak-hak sipil,” kata Yusuf. “Kami mencoba membawa Muslim duduk semeja dengan masyarakat AS dan mengenalkan mereka ke komunitas lebih luas.”

      Saat terjun berdakwah, ia mengakui bersama koleganya selalu berupaya mengusung cita rasa Islam ke Amerika. Perjuangan terhadap hak-hak dan kebebasan sipil warga Muslim adalah kegiatan utama. “Setiap Muslim yang didiskriminasi karena mereka Muslim baik di tempat kerja atau lembaga pemerintah, kami mencoba memantu mereka. Kini kami tengah menangani beberapa kasus semacam.”

      Meski ia mengakui diskriminasi terhadap minoritas kerap dijumpai, namun satu hal besar yang ia acungi jempol atas hidup di Amerika adalah hukum tentang kebebasan beragama dan akomodasi terhadap ibadah sesuai agamanya, terutama di tempat kerja.

      “Namun masalahnya, banyak pekerja tak tahu ini dan kami membuat mereka paham apa itu ibadah dan seperti apa bentuk akomodasi terhadap agama, seperti ibadah shalat atau jilbab atau jenggot untuk pria. Kami terus sosialisasikan itu untuk memastikan mereka memahami dan mereka boleh meminta hak itu di tempat kerja,” tutur Yusuf.

      Dalam pengertian lain, banyak Muslim yang menghadapi masalah di tempat kerja karena atasan tak mengizinkan mereka shalat, berjilbab, atau bahkan menumbuhkan jenggot. “Itulah yang terjadi, seperti mengenakan jilbab dalam lingkungan kerja yang memiliki kebijakan mengenakan seragam. Padahal undang-undang berpihak pada kita dan itulah yang coba kami edukasikan,” ujar Yusuf.

      Sumber: kisahmualaf.com

      Kisah Hidup Hidayah Jazon Cruz, Mantan Pendeta Yang Jadi Muslim

      Kisah Hidup Hidayah Jazon Cruz, Mantan Pendeta Yang Jadi Muslim

      Jazon Cruz mantan pendeta menceritakan kusah hidupanya saat berpindah menjadi muslim aeperti dilansir http://www.islamreligion.com. “Alhamdulillah, saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan masuk Islam sejak tahun 2006,”. “Saya sebenarnya agak ragu, ketika diminta berkisah tentang jalan hidup yang saya tempuh, dan bagaimana saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,”.

        Cruz tak mau terjebak pada ketenaran semu sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang, hanya karena mereka masuk Islam. Ia juga sadar, dirinya memiliki tantangan yang serupa. Apalagi mengingat statusnya sebagai seorang pendeta cukup kenamaan di kotanya.

        Jason Cruz lahir dalam keluarga Katolik Roma yang secara resmi tinggal di New York, AS. Sebenarnya, sang ibulah yang murni Katolik Roma. Sedangkan ayahnya seorang Presbiterian yang ‘terpaksa’ masuk Katolik hanya agar dapat menikahi sang bunda. “Kami selalu ke gereja tiap hari Minggu. Saya juga menjalani katekismus, komuni pertama, dan konfirmasi di Gereja Katolik Roma,” tuturnya.

        Ketika masih belia, Cruz sudah merasa mendapat panggilan Tuhan. Panggilan ini ia tafsirkan sebagai panggilan imamat Katolik Roma. Ia pun mengungkapkannya pada sang bunda, “Ibu sangat bahagia mendengarnya, dan langsung mengajak saya untuk bertemu pastor di paroki setempat,” ungkapnya.

        Sayangnya, si pastor tak terlalu senang diusik oleh kedatangan mereka. Ia bahkan menyarankan agar si bocah tidak terjun ke dunia imamat. Hal itu membuat Cruz sangat sedih. “Kejadian itu sangat menjengkelkan saya, bahkan hingga hari ini. Saya tak tahu bagaimana kondisinya akan berbeda, jika saja responsnya sedikit positif,” kata dia.

        Sejak ditolak memenuhi seruan Tuhan di paroki tersebut, Cruz menjalani kehidupan yang lain; tenggelam dalam dunia malam. Apalagi, tak lama setelah kejadian di paroki, kedua orang tuanya bercerai. Cruz sangat kehilangan sosok ayah yang tak lagi hadir di dekatnya.
        Sejak usia 15 tahunan, Cruz mulai lebih tertarik dengan klub malam ketimbang Tuhan.

        Usai lulus SMA dengan nilai yang memuaskan, ia pun masuk universitas dengan mudah. Namun, karena targetnya hidupnya yang tak jelas dan tak menentu, Cruz pun drop out (DO) dari bangku kuliah.

        Ia kemudian pindah ke Arizona—tempatnya menetap hingga kini—ketimbang menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana. “Inilah yang saya sesalkan hingga kini,” ujar Cruz. “Setelah tinggal di Arizona, kehidupannya saya malah jadi kian parah.”

        Ia mulai mengenal narkoba dan kian tenggelam dalam dunia malam dan pergaulan bebas. Demi mendapatkan obat-obat terlarang—dengan pendidikan yang pas-pasan, Cruz rela menjalani pekerjaan kasar dan hina. “Kalau tidak begitu, saya tidak dapat menikmati narkoba, pergaulan bebas, dan dunia malam,” ujarnya.

        Selama masa-masa kelam ini, Cruz sempat bertemu dan bergaul dengan orang Muslim. Si Muslim rupanya seorang mahasiswa asing yang kuliah di salah satu kampus di Arizona. “Dia mengencani salah seorang teman saya, dan kerap menemani kami ke pesta dan klub-klub malam,” ungkapnya.

        Cruz dan si Muslim memang tidak pernah bicara soal agama, apalagi tentang Islam. Namun demikian, ia kerap bertanya tentang ajaran dan budaya Islam kepada si Muslim. Si Muslim dengan senang hati menceramahi Cruz tentang Islam, walau yang bersangkutan tidak menunjukkan diri sebagai Muslim sejati. “Apa yang dia katakan, sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan,” kata Cruz.

        Gaya hidup Cruz yang buruk berlanjut selama beberapa tahun. Ia pun sempat trauma, karena beberapa orang yang dikenalnya meninggal. Ia juga pernah ditikam dalam sebuah tawuran.

        “Yang dapat saya katakan adalah walau bagaimana pun buruknya kondisi yang anda alami, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan membalikkan keadaan anda, insya Allah,” kata dia. Saya segera berubah setelah benar-benar bersih dari narkoba. Salah satu bagian proses menjauhkan diri dari narkoba adalah dengan menjalin hubungan dengan yang Mahakuasa.”

        Dalam upaya pencarian akan Tuhan ini, Cruz melewati sejumlah tahapan berliku sebelum mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sayang, ia tidak menemukan kebenaran (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pada awalnya. Sebaliknya, ia mencoba mempelajari Hinduisme karena dianggap dapat mengakhiri penderitaan yang ia alami.
        Cruz begitu serius mendalami ajaran Hindu. Ia bahkan mengubah namanya dengan nama Hindu.

        “Saat itu aku merasa terbebas dari kecanduan obat-obatan. Hidupku lebih positif. Tapi itu tidak bertahan lama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukan padaku bahwa Hindu bukanlah jalan menuju kebenaran hakiki,” kenang dia.

        Meninggalkan ajaran Hindu, Cruz kembali pada agama Katolik Roma. Oleh gereja, ia ditawarkan untuk menjadi menetap di sebuah gereja di New Mexico. Bertepatan dengan tawaran itu, keluarganya—Ibu, kakak dan adiknya—memutuskan untuk pindah ke Arizona. Saat itu, ia mulai memiliki hubungan dekat dengan orang banyak.

        Cruz pun mulai menjalani program seminari. Bertahun-tahun ia ikuti pogram tersebut sehingga akhirnya berhasil menjadi pastor. Ia ditugaskan gereja untuk mempelajari tradisi agama lain di daerah Metro Phoenix. “Peran baru saya adalah menjalin hubungan antaragama,” kata dia.

        Sembari menjalankan tugasnya itu, Cruz juga menyambi sebagai pekerja di Biro Kesehatan Perilaku. Ia kunjungi sejumlah tempat ibadah agama lain, termasuk masjid. Dalam kunjungannya ke masjid, Cruz merasa ada kesempatan emas untuk belajar tentang Islam. Oleh seorang Muslim, ia diminta untuk mendatangi Masjid di Tempe, Arizona.

        Sesampainya di masjid itu, Cruz segera membaca buku-buku tentang Islam. Setelah membaca, ia begitu terkejut. “Saya belum tahu, kalau rasa terkejutku itu merupakan bentuk hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pun kembali mengunjungi masjid itu dan banyak berdialog dengan Imam Ahmad Al-Akoum,” tuturnya.

        Al-Akoum, adalah Direktur Regional Masyarakat Muslim Amerika. Ia seorang yang begitu terbuka bagi penganut agama lain untuk berdiskusi tentang Islam. Banyak warga AS yang mencari informasi tentang Islam dari Al-Akoum. “Mengikuti kelas bimbingan Akoum, saya melihat Islam adalah kebenaran hakiki. Beberapa waktu kemudian, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid yang sering saya kunjungi, Alhamdulillah,” kata dia.

        Menjadi Muslim, Cruz banyak mengalami perubahan. Keluarganya sedih, sebab Cruz memeluk agama yang ditakuti anak-anaknya. Ia pun berusaha memberikan pemahaman yang baik tentang Islam kepada mereka.

        Tidak mudah memang bagi Cruz untuk menjalani identitas barunya sebagai Muslim. Ia sempat mengalami stres, lalu memutuskan untuk kembali berdiskusi dengan Al-Akoum tentang masalah yang dialaminya. “Al-Akoum mengatakan padaku bahwa tahun pertama sebagai Muslim tentu merupakan masa yang paling sulit. Ia lalu menyarankan untuk banyak berkomunikasi dengan Muslim lainnya,” kata dia.

        Benar saja, saran Al-Akoum itu membuat iman Cruz semakin mantap. Ia mulai mendapatkan pekerjaan, yakni sebagai manajer pada sebuah program pencegahan penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta HIV dan hepatitis untuk populasi berisiko.

        Selama itu pula, Cruz mulai menikmati identitasnya sebagai Muslim. Ia sangat aktif menjadi sukarelawan. Bahkan, ia dinominasikan menjadi kepala Dewan Masjid Tempe. “Insya Allah, jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan, saya ingin mendalami ilmu fikih guna memajukan kepentingan Islam dan umat yang saya cintai. Semua ini adalah karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkasnya.
        Sumber: http://www.islamreligion.com

        Pendeta Masuk Islam, Setelah Tahu Kehidupan Yesus Juga Dilakukan Umat Muslim

        Mantan pendeta itu sekarang bernama Ahmad Kainama. Dia memeluk  Islam sejak tahun lalu, tepatnya pada tanggal 26 Agustus, bulan suci Ramadhan. Ia mengucapakan syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa. Seluruh keluarganya yang keturunan Ambon memeluk agama Kristen tidak ada satupun yang beragama Islam. Ternyata prinsip “Semua agama sama” sekali lagi terpatahkan karena ia tidak diakui lagi oleh keluarga besarnya baik di Ambon maupun yang tinggal di Tanjung Priok, Jakarta hingga kini, karena keputusannya memeluk Islam. 

        Mantan pendeta yang dulu bernama Agustinus Christovel Kainama menjadi muslim, bukan karena ia mempelajari Al-Quran, melainkan karena ia memperdalam Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus. Banyak para mualaf dan para pendeta berpindah menjadi Islam justru bukan karena belajar Quran. Tetapi setelah mempelajari kitab injil yang sebenarnya dan lebih mendalam. Ternyata banyak ketidakbenaran dan keganjilan dalam kitabnya yang akhirnya berpaling pada kebenaran pada Quran. Banyak kasus mantan pendeta berpindah menjadi muslim karena mempelajari injil secara mendalam. Justru lebih mendalam pengetahuan tentang Yesus yang sebenarnya ternyata semakin yakin bahwa ajaran dalam Islam lebih rasional. Saat semakin mendalami kehidupan Yesus di dunia ternyata semakin banyak ketidak benaran yang selama ini disampaikan pada jamaahnya banyak ketidakbenaran.

        Ia bahkan pernah ke Yerussalem hingga ke Leiden untuk kuliah jurusan Liturgi Teologi, itu semua ia lakukan dengan biaya gratis yang ditanggung oleh Gereja Zebaot, Bogor, gereja di mana ia bertugas menjadi pendeta. Sekolah teologinya dibiayai oleh gereja itu mulai dari S1 di STT (Sekolah Tinggi Teologi) Jakarta, sampai menjadi orang sukses.

        wp-1522370617420..jpgTitik Balik Sebuah Hidayah

        Titik balik kehidupan sang mantan pendeta terjadi setelah mempelajari Injil. Saat memahami Nabi Isa ternyata juga menjalankan puasa, shalat, disunat, wudhu, tahajud dan bersedekah. “Semua itu dilakukan pula oleh umat Islam,” ujarnya. Saat sudah begitu dalam mengkaji Injil, ia malah memutuskan menjadi muslim karena apa yang dilakukan oleh Yesus. Semakin dalam pengetahuan tentang Yesus yang sebenarnya semakin kuat dia ingin memeluk agama Islam.

        Baginya itu adalah keputusan yang tepat. Apalagi sejak tahun 2000 pondasi keimanannya sebenarnya mulai runtuh lantaran ia memahami surat Yohanes 21 ayat 15 yang menjelaskan “sesudah sarapan, Yesus berkata kepada Petrus. Petrus apakah engkau mengasihi aku”. Bagi beliau, Yesus seorang Tuhan seharusnya tidak makan, karena ia bukan manusia. Tapi dalam ayat tadi disebutkan Yesus makan. Akhirnya Kainama mengambil kesimpulan bahwa Yesus bukan Tuhan.

        wp-1522370617420..jpg


        Keyakinan Nashrani yang sesat tersebut nampak jelas pada firman Allah Ta’ala,

        لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

        Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. ” (QS. Al Maidah: 73).

        Nabi Isa pun membantah akidah trinitas sebagaimana disebut dalam ayat,

        وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

        Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”  (QS. Al Maidah: 116)

        Agama Nashrani yang ada saat ini bukanlah agama yang murni dari Isa. Umatlah yang merubah ajaran yang menyesatkan

        wp-1521930487666..jpg

        Nabi Isa atau Yesua adalah Muslim

        Muslim adalah secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”, termasuk segala makhluk yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut agama Islam saja, kemudian pemeluk pria disebut dengan Muslimin  dan pemeluk wanita disebut Muslimah adalah sebutan untuk wanita Islam.

        Al Qur’an menjelaskan tentang semua nabi dan rasul adalah sebagai Muslim, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Al Qur’an menyatakan bahwa mereka adalah Muslim karena mereka hanya berserah diri kepada Tuhan, memberikan firman, dan menegakkan agama Allah. Demikian pula dalam surah Al-Imran dalam Al-Qur’an. “Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) berkata kepada Isa: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Imran 3:52)”

        Bukti Yesus Berperilaku Muslim Menurut Kitab Injil

        • Yesus mengajarkan umatnya bersyahadat. Yohanes Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal dia, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.{ Yohanes 17:3 }
        • Yesus mengajarkan umatnya Sholat dan bertobat. Matius Sejak waktu itulah Yesus memberitakan : “Bertobatlah, sebab Surga sudah dekat!” Maka Ia MAJU, lalu bersujud dan berdoa, Berkata: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan sebuah yang Engkau kehendaki.”{ Matius 4:17 }
        • Yesus sunat. Lukas ketika sudah genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.{ Lukas 2:21 }
        • Yesus puasa. Matius Matius Dan setelah berpuasa selama empat puluh hari dan malam, akhirnya laparlah Yesus.{ Matius Matius 4} Matius berkata “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya { Matius 6:16 }
        • Yesus mengajarkan untuk berbuat amal sholeh. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah engkau melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kanan dan kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam ke padamu. Kamu telah mendengar firman, bahawa: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.{ Matius 5:39 }
        • Yesus Mengucapkan Insya Allah. Dalam perencanaan berkaitan dengan hal-hal yang akan datang kita diajarkan untuk tidak mendahului kehendak yang diatas dengan memastikan segala sesuatunya namun hendaknya kita mengucapkan Insya Allah. Ajaran yang sama telah disampaikan oleh Nabi Isa Almasih as/Yesus Kristus kepada umatnya {Yakobus 4:13-17} (kalimat “JIKA TUHAN MENGHENDAKINYA” pada ayat ke-15,dalam ALKITAB EDISI BAHASA ARAB, tertulis “INSYA ALLAH”).
        • Yesus Mengajarkan Wanita Untuk memakai Jilbab. “Tetapi PEREMPUAN YANG BERDOA ATAU MENUDUNGI DENGAN KEPALA sedangkan yang TIDAK BERTUDUNG, iyalah menghina kepalanya karena ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab JIKA PEREMPUAN TIDAK MAU MENUDUNGI KEPALANYA,maka ia wajib menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya dipotong, MAKA HARUSLAH IA MENUDUNGI KEPALANYA.”{ 1Korintus 11:5-6 }
        • Yesus Mengajarkan Bersuci / Wudhu. “MUSA DAN HARUN serta anak-anaknya MEMBASUH TANGAN DAN KAKI MEREKA DENGAN AIR Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, MAKA MEREKA MEMBASUH KAKI DAN TANGAN – SEPERTI YANG DIPERINTAHKAN TUHAN KEPADA MUSA.” {Keluaran 40:31-32}
        • Mengajarkan Mengkafani Jenazah. “Dan Yusufpun mengambil mayat itu, MENGKAPANINYA DENGAN KAIN LENAN YANG PUTIH BERSIH.”{Matius 27:59} Tetapi, yg terjadi sekarang adalah umat Nasrani tdk meneladani Kesederhanaan Pemimpinnya sendiri.