Category Archives: Islamofobia

Kisah Inspiratif Mualaf: Temukan Islam Dalam Bible, Bibel Antarkan Lopez Casanova Pada Kebenaran Islam

Kisah Inspiratif Mualaf: Temukan Islam Dalam Bible, Bibel Antarkan Lopez Casanova Pada Kebenaran Islam

Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.

Namun, Allah Subhana Wa Ta’ala memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.

“Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.

Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. “Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?

Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.

Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.

“Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.

Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”

Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.

Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.

“Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. “Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”

Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.

Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.

“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.

Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.

Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.

Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.

Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.

Pernah Mengkristenkan 55 Ribu Orang

Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.

Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.

Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.

“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.

Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.

“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.

Perasaan ‘Aneh’ Saat Mendengar Ayat Al-Qur’an

Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”

Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.

“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.

Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.

“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”

Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”

Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.

Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.

“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”

Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.

Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.

“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”

Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”

Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.

“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”

Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”

Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.

Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”

Sumber: replubika

Kaum Penggugat dan Pembela Puisi Sukmawati: Kenali Rekam Jejak Mereka Selama Ini ?

Kaum Penggugat dan Pembela Puisi Sukmawati: Kenali Rekam Jejak Mereka Selama Ini ?

Puisi Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan oleh Sukmawati sendiri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018 kembali membuat heboh negeri ini. Menarik untuk dicermati saat sebuah senjata keras menghunjam menyerang cahaya Islam dan menusuk jantung hati umat Islam maka lihatlah berbagai respon yang muncul baik dalam obrolan sehari hari, opini di media masa, media online dan berbagai profile picture FB , status FB, cuitan di twitter atau komentar di FB atau twitter . Baik tokoh masyarakat, tokoh agama, elit ormas, elit politik, selebritis, teman, sahabat atau saudara kita. Secara personal dan substansi alasan untuk menggugat dan membela puisi Sukmawati mempunyai karakteristik yang khas dan unik sejak terjadi berbagai pergolakan dan perseteruan masalah hukum, politik dan sosial yang ada dalam masyarakat. Kelompok penggugat dan pendukung itu tidak jauh berbeda mulai dari kasus pergolakan penistaan Agama Ahok, Pilkada DKI 2017, Masalah reklamasi, Meikarta dan Pilpres 2019. Seperti berbagai kasus sebelumnya adanya letupan puisi Sukmawati secara alamiah akan tampak mengerucut dalam dua kutub besar siapa berdiri di belahan bumi utara dan siapa berdiri di belahan sebaliknya. Kelompok tersebut secara alamaiah akan menyatu dalam dua kelompok besar dengan berbagi kepentingan individu, partai dan kelompoknya. Meskipun sangat kompleks tetapi apapun alasan dan latar belakang berbagai dua kelompok besar itu pada ujung ujungnya dapat dikenali bahwa salah satu kelompok yang peduli agama dan bangsa secara ikhlas dan jujur tanpa kepentingan individu, partai atau kelompok bersiri pada sisi yang sama. Bisa juga diketahui kaum yang paranoid dengan Islam, islamofobia dan musuh Islam berdiri pada kelompok yang sama. Menarik untuk dicermati bahwa kelompok Islam berpaham liberal, pluralis dan sekular yang telah diharamkan MUI akan berdiri pada sisi yang sama. Penting untuk dilihat bahwa kelompok politik tertentu pendukung Capres tertentu juga akan mengelompok dalam sisi yang sama. Secara sederhana pelajaran hidup yang bisa dimaknai bahwa guncangan kasus besar di negeri ini mudah diketahui siapa kawan dan siapa lawan dari opini dan respon mereka. Letupan kasus besar itu akan membuka topeng kemunafikan siapa saja pembela agama dan pembela NKRI yang jujur dan ihklas demi Allah dan bangsanya

Sepertinya halnya kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok kontroversipun segera merebak. Ada pihak yang menganggap puisi itu jelas jelas ada unsur penistaan agama bahkan ada yang menganggap puisi itu penghinaan terhadap agama Islam lebih parah dibandingkan yang dilakukan Ahok. Tetapi ada pihak yang mengatakan bahwa puisi itu tidak unsur penistaan agama. Puisi itu biasa saja, hanya tidak paham syariat, tidak menista agama bahkan banyak penista agama lainnya.

Para penggugat Puisi Sukmawati

  • Prof Sukron Kamil, Guru Besar Sastra Banding dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta puisi yang ditulis Sukmawati tidak tepat apabila harus menyandingkan antara budaya nusantara dengan syariat Islam. “Ada kecenderungan islamophobia ketika dia membandingkan antara kidung Indonesia dengan azan. Ini problematik secara antologi seni Islam atau kebudayaan Islam. Itu nampak sekali di dalam soal itu,” ujar Sukron kepada Republika.co.id, Selasa (3/4).
  • Meskipun belum secara resmi tetapi MUI saat ini juga sudah cenderung menyebut terdapat unsur penistaan, “Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyesalkan terhadap puisi yang dikarang dan dibacakan oleh Ibu Sukmawati. MUI menilai puisi tersebut dinilai mengandung unsur SARA. Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, seharusnya beliau (Sukmawati) lebih bijak memilih diksi dalam mengungkapkan narasi puisinya. Sehingga tidak membuka ruang interpretasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan pihak lain khususnya umat Muslim.”Karena masalahnya menyangkut hal yang sangat sensitif yaitu tentang ajaran agama,” kata Zainut seperti yang dilansir Republika.co.id, Rabu (4/4). Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis seperti dilansir CNN Indonesia TV, Selasa (3/4) mengatakan “Secara rasa, perasaan subjektivitas pemeluk agama Islam itu merasa dinistakan, merasa dilukai, atau minimal tersinggung oleh puisi ini,” imbuhnya. Buktinya, kata dia, ada laporan masyarakat terhadap Sukmawati.
  • Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), Tengku Zulkarnain, menilai, puisi Sukmawati Soekarnoputri yang menyinggung syariat Islam, cadar, dan adzan masuk ke ranah penghinaan agama. Dalam puisinya, Sukmawati membandingkan antara adzan dengan kidung. “Ini menghina adzan namanya, ini udah ranahnya udah ranah penghinaan agama, melanggar pasal 156 a (KUHP) yang dilakukan oleh Ahok kemarin,” ujar Tengku di Jakarta seperti dilansir hidayatullah.com, Selasa (03/04/2018) saat dihubungi. Tengku mengingatkan akan kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang divonis bersalah sebagai terpidana penghinaan agama setelah menyinggung al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51, beberapa waktu lalu.
  • Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Maneger Nasution, menilai anak Proklamator Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri, telah menistakan syariat Islam lewat puisinya di Jakarta yang menyinggung syariat Islam, cadar, dan suara adzan baru-baru ini. Maneger menilai, kalau Sukmawati tidak tahu soal syariat Islam, jangan berbicara tentang hal tersebut. Jangan juga kemudian menghinakan keyakinan orang lain, meskipun dalam membaca puisi. Berpuisi itu menyampaikan ekspresi dan hal tersebut hak asasi menurutnya, tapi jangan kemudian malah menghinakan perasaan apalagi keyakinan seseorang. “Itu tidak boleh,” ujarnya kepada hidayatullah.com saat dihubungi, Senin (02/04/2018). Direktur Pusdikham Uhamka ini menambahkan, orang besar ataupun seorang pemimpin bukan hanya merasa bisa, tapi juga bisa merasa. Terutama perasaan akan agama orang lain. Ia pun mengatakan, kepolisian harus memproses ujaran Sukmawati lewat puisinya tersebut.
  • Wakil Ketua DPR Fadli Zon ikut angkat bicara terhadap puisi kontroversial Sukmawati Soekarnoputri. Dia mengatakan, syair putri Bung Karno itu bukan metafora, melainkan komparasi. “Kalau tahu takaran bisa menimbulkan sebuah kegaduhan, harusnya tahu risikonya seperti apa,” ujar Fadli menanggapi pertanyaan wartawan, Selasa (3/4/2018). “Saya pikir memang meskipun itu adalah sebuah ekspresi, tetapi memang kalau secara spesifik menyebutkan azan, ini kan hal-hal sensitif. Apalagi bukan dalam sebuah metafor tapi satu bentuk komparasi,” ujar Fadli di Gedung DPR, Senayan seperti dilansir dari Okezone.com. Menurut Fadli, tak semua orang menerima komparasi keberagaman yang disampaikan Sukmawati dalam puisinya. Sehingga, Fadli berharap Sukmawati segera memberikan klarifikasinya. “Saya kira mestinya bisa diklarifikasi oleh Sukma karena tentu akan menimbulkan interpretasi yg berbeda-beda. Terutama dari umat islam karena yang disebutkan syariat Islam dan azan dan cadar dan seterusnya,” jelasnya.
  • Wakil Ketua DPR dari PAN Taufik Kurniawan ikut menyayangkan puisi Sukmawati. Menurut Taufik, isinya berpotensi menaikkan tensi publik setelah kondusif pasca-kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.”Kemungkinan untuk potensi konfliknya akan bisa terjadi lagi. Hal yang sudah relatif dingin reda akan membangkitkan semangat kegaduhan lagi,” ucap Taufik.
  • Gatot Nurmantyo menuliskan tentang Ibu Pertiwi melalui unggahan akun instagram pribadinya, Rabu 4 April 2018 sekitar pukul 11.00 WITA diduga sebagai jawaban puisi Sukmawati Soekarnoputri, Ibu Indonesia. Berikut petikan kata-kata yang diposting Gatot Nurmantyo: “Ibu Pertiwi nan cantik dan ayu, bukan kiasan wajah sesungguhnya. Tapi karena pancaran nur cahaya Nusantara yang mengagungkan keelokannya. dengan lantunan puja puji dan petunjuk Al Quran serta panggilan Ilahi. Azan di segala penjuru Nusantara”, tulisan di postingan Gatoy Nurmantyo. Sementara itu Gatot Nurmantyo menuliskan caption, “Azan di segala penjuru Nusantara #satukanhatiuntukindonesia #gatotnurmantyo #jagaindonesia”.
  • Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memerintahkan badan otonom yaitu Anshor untuk menyampaikan surat aduan ke Polda terkait puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. PWNU mengadukan Sukmawati lantaran puisi yang dibacakannya tersebut dianggap tidak menghormati agama Islam. “Yang sangat kami sayangkan substansi daripada puisi itu. Di mana di situ menyebut idiom-idiom agama Islam seperti syariat, cadar, dan azan yang dibandingkan dengan budaya, terutama budaya Jawa. Dan isi daripada puisi itu tidak menghormati agama Islam,” kata Ketua PWNU Jatim Hasan Mutawakkil Alallah, saat menggelar konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Rabu (3/4). Hasan menjelaskan, kasus tersebut diadukan ke Polda Jatim agar bisa diproses secara hukum, sehingga tidak malah menimbulkan gejolak di masyarakat. Apalagi ini merupakan tahun politik, kasus tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan kampanye hitam.
  • Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jawa Timur. Sukmawati dilaporkan terkait videonya pembacaan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang mendadak viral. “Saya mewakili Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menindaklanjuti pernyataan tentang penyampaian puisi dari Sukmawati,” kata Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim, Rudi Tri Wahid, didampingi Banser dan lima perwakilan Ansor di Mapolda Jatim di Surabaya. Demikian dikutip dari Antara, Selasa (3/4). Rudi mengatakan, laporan ini dibuat agar kepolisian menindaklanjuti dan diproses guna mengantisipasi keributan dan mengakhiri kegaduhan yang sedang terjadi di masyarakat. “Bentuknya laporan atau pengaduan. Kita lebih mengantisipasi keributan yang ada di masyarakat, perkara kemudian dikategorikan apa itu perkara polisi,” ujar Rudi. Dia menjelaskan, PWNU tidak menginginkan adanya kegaduhan dan keresahan terjadi di Jawa Timur. Sebab, video pembacaan puisi itu kini tengah viral di media sosial.
  • Ketua Bidang Tarbiyah PP Persatuan Islam (Persis), Irfan Saprudin menanggapi soal puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri tentang budaya Indonesia. Ia menilai, dalam konteks puisi tersebut, Sukmawati telah gagal memahami arti budaya yang berkembang di Indonesia. Menurutnya, jika putri dari Proklamator Kemerdekaan bangsa Indonesia Soekarno itu berbicara di Barat, tidak akan ada reaksi seperti halnya sekarang yang membuat puisinya menjadi viral. Karena menurutnya, hal demikian di Barat sudah terbiasa. Namun di Indonesia, Irfan mengatakan bahwa Sukmawati harus mengerti tradisi dan budaya yang berkembang. “Kalau lah yang bersangkutan bisa paham dan mengerti serta menghormati, terutama terhadap nilai-nilai Islam yg menjadi anutan mayoritas Umat Islam, maka Mba Sukmawati menjadi Budayawan atau seniman yang sejati. Melihat kejadian sekarang, Mba Sukma salah dan tidak tepat mengekspresikan pembacaan puisinya dengan kalimat-kalimat yang meresahkan bahkan cenderung penghinaan,” kata Irfan, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Rabu (4/4).

wp-1520130056675..jpg

Para Pembela Puisi Sukmawati

  • Menteri Agama Lukman Hakim. Lukman Hakim menyakini puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dengan judul Ibu Indonesia, tidak bermaksud melecehkan agama Islam. “‎Saya yakin, saya menyakini betul, saya mengenal Ibu Sukma cukup baik, dan saya yakin betul tidak ada itikad atau niatan sedikitpun dari beliau untuk melecehkan atau menghina, katakanlah menyakiti umat Islam, beliau itu beragama Islam,” ujar Lukman di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/4/2018). ‎Lukman yang mengaku telah berkomunikasi secara khusus kepada Sukmawati, melihat puisi tersebut hanya bersifat ekspresi dari yang dipikirkan, rasakan, dan pengetahuan ataupun wawasan Sukmawati itu sendiri. ‎”Jadi sama sekali tidak ada tendensi atau niatan atau yang negatif kepada umat Islam. Sekarang faknya ada sebagian kita merasa puisi itu bermasalah, saya menyarankan lebih baik dan dengan jiwa besar, beliau bisa menyampaikan permohonan maaf, khususnya bagi mereka yang merasa tidak nyaman,” papar Lukman.
  • Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak membesar-besarkan kontroversi puisi Sukmawati Soekarnoputri bertajuk Ibu Indonesia. “Habis energi. Jangan dibesar-besarkan,” kata Buya Syafii ketika dihubungi Tempo, Rabu, 4 April 2018. Menurut Buya Syafii, polemik puisi Sukmawati tidak patut dibawa ke ranah hukum. Yang perlu dilakukan adalah mengingatkan Sukmawati agar bersikap arif dalam menyampaikan sesuatu di hadapan publik pada tahun politik seperti sekarang.
  • Seword. Situs online yang selama ini dianggap sebagai pendukung utama Jokowi melakukan pembelaan terhadap kasus puisi Sukmawati. Heboh!!! Puisi Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan oleh Sukmawati sendiri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018 menuai polemik. Puisi itu dianggap kontroversi karena menyinggung cadar dan adzan. Padahal kalau mau ditelaah kata demi kata, Sukmawati dengan jelas menyebutkan kata “cadarmu” dan “adzanmu”. Bukan kata “cadar” dan “adzan” saja. Ada “mu” nya. Ikuti pembahasannya dalam artikel ini. Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu. Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya. Dari pembacaan puisi di atas yang sudah seharusnya kita baca secara lengkap, jangan sepenggal-sepenggal, bisa kita simpulkan bahwa Sukmawati sangat mengagumi budaya bangsanya sendiri, bangsa Indonesia. Jika Sukmawati sampai membawa-bawa kata cadar dan adzan, perhatikan baik-baik, ada kata “mu” yang menyertai. Cadarmu dan adzanmu. Mengacu pada kata “mu” jelas ada oknum di situ. Oknum yang bagaimana??? Oknum yang ingin mengganti budaya Indonesia dengan budaya Arab yang memang fakta sedang marak terjadi akhir-akhir ini. Semoga sampai di bagian ini bisa dipahami dengan jelas oleh semuanya. Kata “cadar” dan “cadarmu” adalah dua hal yang berbeda. Kata “adzan” dan “adzanmu” juga dua hal yang berbeda. Itulah yang Sukmawati kritisi. S ukmawati muak dengan oknum-oknum yang ingin mengganti budaya Indonesia dengan budaya Arab. Bukan muak dengan cadar dan adzannya.
  • Ustadz Abu Janda Arya Permadi. Tidak ketinggalan tokoh kontroversial Abu Janda alias Permadi Arya yang juga membuat video puisi untuk Sukmawati. Namun puisinya tersebut ditujukan untuk membela Sukmawati.
  • Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Gus Yaqut sapaan akrabnya, mengatakan bahwa puisi tersebut memang kontroversial, Namun dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi karena sesungguhnya puisi membutuhkan penafsiran. “Puisi ibu Sukmawati memang kontroversial. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang mengalami gairah Islamisme demikian kuat. Saya menduga, Sukmawati hanya ingin mengatakan bahwa kita berindonesia itu harus utuh, tidak mempertentangkan antara agama dan kebudayaan,” kata Yaqut, pada Selasa (3/4/2018) kemarin. Menurut Gus Yaqut, mungkin karena keterbatasan pengetahuannya tentang syariat Islam, seperti diakui sendiri dalam puisinya, maka pilihan diksi bahasanya terdengar tidak tepat. “Menggunakan azan sebagai pembanding langgam kidung tentu bukan pilihan diksi yang baik,” jelasnya. Gus Yaqut menjelaskan, GP Ansor menganut prinsip yang diajarkan para kiai untuk tasamuh (toleran) dan tawazun (berimbang). Dengan begitu, tidak menghakimi dengan cara pandang sendiri yang belum tentu benar. “Saya berharap, jika memang puisi Sukmawati dianggap keliru, para kiai turun tangan, panggil Sukmawati, nasehati dan berikan bimbingan. Bukan buru-buru melaporkan ke polisi. Langkah ini menurut hemat GP Ansor akan lebih bijaksana dan efektif meredam kegaduhan-kegaduhan yang tidak perlu,” pungkasnya.
  • Tokoh Islam Liberal Sumanto Qurtubi. Sebagian umat Islam Indonesia itu aneh. Giliran berpuluh-puluh ribu umat Islam ditipu pake umroh oleh rombongan kentiwul bodong, cangkeme pada mingkem pura-pura pikun dan rabun. Tapi giliran ada puisi soal cadar & azan, mereka ramai bengak-bengok kayak toa dol. Bagaimana umat Islam mau maju wong membedakan antara cokelat dan telek ayam saja belum bisa.
  • Ade Armando. Dosen komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando memberikan tanggapan soal kasus azan yang sedang marak jadi perbincangan. Ia menilai azan bukanlah panggilan suci. “Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah,” kata Ade melalui laman media sosial, Rabu (5/4/2018). Saat diminta untuk berhati-hati berkata oleh komentator di lamannya, ia justru meminta orang tersebut belajar agama dengan baik. “Azan itu hukumnya bahkan tidak wajib.. Belajar Islam dulu ah baru debat,” balasnya. Ketika ditanya soal dasar hukum ucapan tersebut, suami dari Nina Armando itu menjawab, “Azan itu kan pemberitahuan bahwa waktu sholat sudah tiba,” kata dia.

  • Deni Siregar

  • Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini mengatakan puisi yang dibaca oleh Sukmawati Soekarnoputri belum tentu berniat menghina Islam. Helmy juga mengimbau para tokoh bisa secara tepat dan hati-hati dalam menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi. “Saya berkeyakinan tidak ada niatan dari Sukmawati untuk melecehkan Islam. Terkait puisi Sukmawati Sukarnoputri, hendaknya kita mengedepankan ‘tabayyun’ karena sangat mungkin pemahaman atau penyampaian Bu Sukmawati terhadap makna syariat Islam tidak utuh,” kata Helmy kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/4). Helmy mengatakan verifikasi terhadap perkara merupakan langkah penting sebagai bagian dari kehati
  • -hatian dan juga agar lebih jernih melihat persoalan. Terhadap adanya upaya beberapa pihak agar masalah itu dibawa ke ranah hukum, Sekjen PBNU mengimbau agar masalah itu dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu melakukan dialog dan silaturahim. Kendati demikian, Helmy berpendapat hendaknya para tokoh bisa secara tepat dan lebih hati-hati ketika menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi, utamanya dalam ruang publik. Para tokoh hendaknya tidak menggunakan kalimat yang dapat berpotensi mengganggu bangunan ke-Indonesiaan, kata dia. “Menjadi Indonesia seutuhnya adalah bagian dari bersyariah. Seluruh nilai Pancasila adalah Islami. Maka, tak perlu dipertentangkan. Banyak yang tidak utuh memahami makna syariah. Syariah tidak identik dengan khilafah (negara agama). Menjadi warga negara Indonesia yang taat itu juga sudah bersyariah,” tuturnya. Maka, kata dia, Pancasila yang indah jangan diganggu dengan akrobat kata-kata yang berpotensi mengganggu kerukunan. Seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak mengambil tindakan-tindakan yang justru akan memperkeruh keadaan. “Mari tetap kita sikapi dengan tenang dan kepala dingin,” katanya.
  • Ketua GP Ansor. Gus Yaqut sapaan akrabnya, mengatakan bahwa puisi tersebut memang kontroversial, Namun dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi karena sesungguhnya puisi membutuhkan penafsiran. “Puisi ibu Sukmawati memang kontroversial. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang mengalami gairah Islamisme demikian kuat. Saya menduga, Sukmawati hanya ingin mengatakan bahwa kita berindonesia itu harus utuh, tidak mempertentangkan antara agama dan kebudayaan,” kata Yaqut, pada Selasa (3/4/2018) kemarin. Menurut Gus Yaqut, mungkin karena keterbatasan pengetahuannya tentang syariat Islam, seperti diakui sendiri dalam puisinya, maka pilihan diksi bahasanya terdengar tidak tepat.

Siapakah Yang Benar ?

  • Sangat menarik dicermati sosok individu dan substansi opini dan komentar dalam pembicaraan sehari hari atau di berbagai media masa dan media sosial. Substansi alasan gugatan dan belaan ada tajam berargumentasi cerdas berdasarkan data dan fakta tetapi ada juga yang dangkal dengan alasan yang menggelikan hanya berdasarkan ilusi semata. Uniknya sosok individu penggugat dan pendukung Sukmawati itu orang orangnya sudah bisa ditebak yang bisa dikenali rekam jejak opini, perilaku dan ucapan ucapannya selama ini. Menariknya sosok pendukung dan pembela Puisi Sukmawati selma ini selalu berdiri dalam barisan yang sama.
  • Siapakah sosok individu yang paling benar ? Tidak mudah untuk menilai tergantung dari siapa yang menilai dan apa niat kepentingan untuk menilainya. Sehingga akan sama sulitnya untuk menilai apakah puisi Sukmawati adalah penistaan agama. Bagi para pembela biasanya secara kasat mata akan mudah memastikan apakah puisi itu sebagai penistaan agama. Tetapi bagi para pembelanya kadang tidak mudah untuk memberikan argumentasi pembelaan. Kadang alasan pembelaan keluar dari substansi dengan menyalahkan budaya Arab, menyalahkan ketidaktahuan syariat, nasionalisme, demi persatuan NKRI dan berbagai argumentasi lain yang justru menohok pikah lainnya.
  • Ketika nusantara terbelah kasus hukum, sosial dan politik yang besar, dari respon rakyat secara alamiah akan memunculkan siapakah lawan dan siapakah kawan dalam dunia dan akhirat. Saat Indonesia terguncang oleh peristiwa ketidakadilan ekonomi, hukum dan politik dari komentar masyarakat akan terdeteksi dengan jelas siapakah sejatinya penegak NKRI dan pembela Pancasila yang tulus. Ketika negeri ini terporak perandakan oleh kasus penistaan agama dari berbagaimopini atau komentar akan tersaring siapakah sesungguhnya pembela Islam sejati dan kaum munafik atau kaum ihklas. Saat NKRI terkoyak oleh penghinaan agama tertentu akan bermunculan kaum fobia agama tertentu dan tidak penyuka agama.
  • Mungkin tidak penting menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tampaknya tidak perlu menentukan siapa yang paling pintar syariat atau yang tidak karena bila hal itu diperdebtkan tidak akan pernah berakhir. Saat fenomena ini terjadi umat Islam Indonesia bisa mengetahui secara jelas siapa saja sebenarnya tokoh atau elit politik yang dikenal luas oleh masyarakat. Yang mana pembela agama sejati dan yang mana pembela NKRI sesungguhnya rakyat yang paling tahu.

Surat Ustadz Bahar untuk SUKMAWATI: Aku Tak Tahu Syariat

Surat Ustadz Bahar untuk SUKMAWATI: Aku Tak Tahu Syariat

“Aku tak tau syariat islam”
wahai ibu indonesia ku
apakah kau tak tau dengan ibu yg melahirkan indonesia mu? RAHIM ISLAM lah yg melahirkan indonesia mu…

“suara kidung lebih merdu dari azan”
wahai ibu indonesia ku..
apakah kau tak tau pembakar semangat kemerdekaan indonesia mu ?
kalimat ALLAHU AKBAR yg ada dalam AZAN lah yg meruntuhkan kerajaan kezaliman penjajah mu…

“sari konde lebih cantik dari cadar “
wahai ibu indonesia ku
apakah kau tak tau HIJAB DAN NIQAB bukan sekedar kain pembungkus rambut dan wajah..tapi HIJAB DAN NIQAB adalah lambang kehormatan dan ketaatan wanita islam indonesia mu..

wahai ibu indonesia ku..

apakah kau tak tau ISLAM ada tanpa merubah budaya yg tidak bertentangan dengan nya bagi pemeluk nya..
SYARIAT ada tanpa merubah adat yg tidak bertentangan dengan nya bagi pemeluknya.. wahai SUKMAWATI….
Ibu indonesia yg berhijab dan bercadar itu adalah istri2 dari guru2 bapak mu SOEKARNO..

jikalau kau tak tau itu semua maka kau tak pantas di sebut ibu indonesia…
kau hanyalah seseorg yg telah menzinahi indonesia mu sendiri…

Surat ini dari seseorg yg terlahir dari ibu Indonesia

Sayyid bahar bin ali bin sumaith

Puisi Ustadz Felix Siaw Untuk Rahmawati: Kamu Tak Tahu Syariat

Puisi Ustadz Felix Siaw Untuk Rahmawati: Kamu Tak Tahu Syariat

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti
Bila engkau mau mengkaji, engkau akan memahami bahwa hijab itu bukan hanya pembungkus wujud, tapi bagian ketaatan, sebagaimana saat engkau ruku dan sujud
Engkau juga akan mengerti, bahwa membandingkan konde dan cadar itu perkara menggelikan, sebab yang satu ingin terjaga, yang lain malah mengumbar

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, hal paling pintar yang engkau lakukan adalah diam. Sebab bicara tanpa ilmu itu menyesatkan, berjalan tanpa pelita di gelap malam
Pastinya juga engkau tak tahu bahwa negeri ini dibangkitkan darah perlawanannya oleh kalimat takbir, yang enam kali dilantangkan dalam azan yang engkau tuduh tak lebih merdu dibanding kidung ibu

Tanpa Islam tak ada artinya Indonesia, maka dimulakan negeri ini dengan “Atas berkat rahmat Allah”. Islam adalah ruh Indonesia, nyawa Indonesia
Takkan berdaya wanita Indonesia tanpa Islam, yang telah menuntun mereka dari gelapnya penjajahan menuju cahaya kemerdekaan. Dari sekeder pelengkap jadi tiang peradaban

Dan kini aku menggugat dirimu, mempertanyakan dirimu, siapa kamu sebenarnya? Mengapa cadar dan azan begitu mengganggu dirimu, membuat engkau resah? Yang kutahu, hanya penjajah yang begitu

Tak paham konde, tak mampu berkidung, tak jadi masalah. Tapi tak tahu syariat mana bisa taat? Tak Indonesia tetap bisa menghuni surga, tak Islam maka tak ada lagi penolong di satu masa yang tak ada keraguan di dalamnya

Kalau engkau tak tahu syariat. Mari sini ikut melingkar dan merapat. Akan aku sampaikan biar engkau pahami, bagi mereka yang beriman, tak ada yang lebih penting dari Allah dan Rasul-Nya

Cc @yukngajiid @hijabalila (elz/fjp)

KISAH PENYAIR BERKONDE: Saat Pintu Maaf Dilapangkan, Mengapa Hukum Tidak Bisa Memaafkan ?

wp-1521930466270..jpgSaat Pintu Maaf Dilapangkan, Mengapa Hukum Tidak Bisa Memaafkan ?

ketika pintu insyaf dilapangkan
maka Al Ghaaffar dan Al Ghafuur akan tetap Maha Pengampun
maka umat yang ikhlas akan tetap memaafkan

setelah pintu maaf dibukakan
mengapa masih saja barisan kepala kepala kaku katakan tidak bersalah
bukankah pernyataan maaf adalah kosa kata bermakna salah

saat pintu maaf dilebarkan
mengapa masih saja berlembar lembar ujaran tak rasional bertebaran
mengapa sang penyair dan kaumnya masih saja sebar berjuta alasan
katakan si penyair tidak bersalah
sebutkan si sastrawan hanya sekedar ungkapkan seni
ungkapkan si seniman tidak tahu syariat
ujarkan si penyair hanya katakan muadzin suaranya parau
hinakan umat yang meradang lebay

setelah pintu maaf dilebarkan
mengapa masih saja beralasan berlindung dibalik seni
puisi itu indah bila tidak dibalut kebencian
puisi itu cantik bila tidak diselimuti kecurigaan
syair itu halal di mata hukum bila tidak disampuli penistaan
para penista jangan lagi bersembunyi di balik ketiak seni

kalau sudah merengek ampunan
mengapa ketidaktahuan syariat terus jadi alasan
bukankah banyak sahabat yang tidak tahu syariat selalu dimuliakan umat
kalau mereka selalu menghormati keyakinan rakyat mayoritas
bukankah banyak saudara yang tidak paham syariat akan dilebihkan Allah
kalau mau belajar meski baca Quran terbata bata
bukankah banyak kawan yang tidak pintar syariat tetap menjadi sahabat
kalau kebencian tidak tertutur dari verbalnya
para penista janganlah berlindung di balik ketidahtahuan syariat

kalau sudah menetes airmata tanda insyaf
mengapa terus katakan bukan adzan yang tidak bagus tetapi muadzin suaranya buruk
saat kamu gelisah mendengar indahnya adzan, tetapi jangan nista suara langit itu
bagi umat seburuk buruk suara muadzin, adzan tetap suara yang paling indah di jagat raya
saat kamu gerah memakai baju putih, tetapi jangan hina baju warisan Ilahi
bagi umat selusuh lusuh kain panjang, baju putih muslim adalah pakaian paling anggun di bumi ini

kalau hukum tidak beradil
kalau hukum hanya milik para fobia
maka kebencian senantiasa diumbar, kegaduhan terus mengoyak bangsa
maka kebencian selalu memanasi ubun ubun, penista penista baru akan terus terlahir dari rahim para munafih pengoyak bangsa
para fobia berdalih dibalik kata kata
para fobia berkelit di balik punggung penguasa
para fobia bersembunyi di balik ketiak pengayom rakyat
bila itu senantiasa terjadi maka bangsa akan terberai sebelum 2030
bila itu selalu terkooptasi maka negeri akan terbelah sebelum ramalan pakar
inilah alasan sejarah bangsa
mengapa hukum tidak bisa memaafkan penista

 

https://www.kompasiana.com/sandiazyudhasmara/5ac6d90ef13344367d55fa43/kisah-penyair-berkonde-ketika-pintu-maaf-dilapangkan-mengapa-hukum-tidak-bisa-memaafkan

Menghina Umat Islam Berjenggot dan Bergamis, Termasuk Penistaan Agama ?

Menghina dan Memperolok Umat Islam Berjenggot dan Bergamis, Menista Agama ?

Saat ini di media masa dan medis sosial mulai sering terdengar olokan dan hinaan pada umat Islam yang berjenggot dan bergamis. Saat seorang tokoh agama yang dihormati memperolok umat Islam yang berjenggot dan bergamis sepintas hal tersebut adalah hal yang biasa. Tetapi ternyata gelombang untuk menghina dan memperolok umat Islam yang memelihara jenggot dan bergamis semakin luar biasa kencang dan sering dilakukan. Bukan hanya tokoh yang terhormat itu ternyata hinaan dan olokan itu secara bersamaan diikuti umat kelompok lain untuk menghina umat Islam. Apakah hinaan dan olokan pada umat Islam yang berjenggot dan bergamis termasuk penistaan agama atau ujaran kebencian atau hanya perbuatan yang tidak menyenangkan ? Bila hal itu termasuk salah satu pelanggaran hukum maka bisa saja umat Islam atau penegak hukum segera bertindak secara hukum atas maraknya penghinaan dan ujaran kebencian pada umat Rasulullah yang sangat mulia ketika mengikuti ajaran nabi untuk berjenggot dan bergamis.

Bila disadari dengan pemahaman agama, pemahaman budaya dan sejarah agama Islam maka berjenggot dan bergamis adalah salah satu perintah rasulullah yang seperti termuat dalam hafits shohih

DARI Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

  • أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
  • “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 623)

Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga bersabda:

  • عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَه صحيح البخاري، 5442)
  • “Tampillah kalian berbeda dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis. Dan ketika Ibn Umar melaksanakan haji atau umrah, beliau memegang jenggotnya, dan ia pun memotong bagian yang melebihi genggamannya.” (Shahih al-Bukhari, 5442)

Memelihara dan membiarkan jenggot merupakan ajaran Nabi SAW. Sahabat Anas bin Malik –pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam– menceritakan ciri fisik junjungan kita. ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih.” Nabi Muhammad SAW dalam riwayat di atas dengan sangat jelas terlihat memiliki jenggot. Lalu apakah pantas kita mencela orang yang berjenggot meski itu bergurau?

Bergamis

Memakai gamis adalah suatu yang disunnahkan. Namun kadang memakainya melihat keadaan masyarakat, jangan sampai terjerumus dalam pakaian yang tampil beda (pakaian syuhroh).

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

  • كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ
  • “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Hadits di atas disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin di mana hadits tersebut menunjukkan bahwa pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian gamis.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
Karena gamis di sini lebih menutupi diri dibanding dengan pakaian yang dua pasang yaitu izar (pakaian bawah) dan rida’ (pakaian atas). Namun para sahabat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memakai pakaian atas dan bawah seperti itu. Terkadang mereka mengenakan gamis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyukai gamis karena lebih menutupi. Karena pakaian gamis hanyalah satu dan mengenakannya pun hanya sekali. Memakai gamis di sini lebih mudah dibanding menggunakan pakaian atas bawah, di mana yang dipakai adalah bagian celana terlebih dahulu lalu memakai pakaian bagian atas.
Namun ada catatan yang diberikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin,

  • Akan tetapi jika engkau berada di daerah (negeri) yang terbiasa memakai pakaian atasan dan bawahan, memakai semisal mereka tidaklah masalah. Yang terpenting adalah jangan sampai menyelisihi pakaian masyarakat di negeri kalian agar tidak terjerumus dalam larangan memakai pakaian yang tampil beda. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang pakaian syuhroh (pakaian yang tampil beda). (Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 284-285, terbitan Madarul Wathon).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ
  • “Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” (HR. Abu Daud no. 4029 dan Ibnu Majah no. 360. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin menerangkan,

  • أن موافقة العادات في غير المحرم هي السنة؛ لأن مخالفة العادات تجعل ذلك شهرة، والنبي صلّى الله عليه وسلّم نهى عن لباس الشهرة ، فيكون ما خالف العادة منهياً عنه.
  • وبناءً على ذلك نقول: هل من السنة أن يتعمم الإنسان؟ ويلبس إزاراً ورداءً؟
  • الجواب: إن كنا في بلد يفعلون ذلك فهو من السنة، وإذا كنا في بلد لا يعرفون ذلك، ولا يألفونه فليس من السنة.
  • “Mencocoki kebiasaan masyarakat dalam hal yang bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yang ada berarti menjadi hal yang syuhroh (suatu yang tampil beda). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian syuhroh. Jadi sesuatu yang menyelishi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan.
  • Berdasarkan hal itu, apakah yang disunnahkan mengikuti kebiasaan masyarakat lantas memakai pakaian atasan dan bawahan? Jawabannya, jika di negeri tersebut yang ada adalah memakai pakaian seperti itu, maka itu bagian dari sunnah. Jika mereka di negeri tersebut tidak mengenalnya bahkan tidak menyukainya, maka itu bukanlah sunnah.” (Syarhul Mumthi’, 6: 109, terbitan Dar Ibnul Jauzi).
  • Menyesuaikan dengan tradisi setempat itu boleh selama tidak melanggar ketentuan syari’at. Sehingga tidak tepat ada yang berpendapat bahwa berpakaian bagi orang yang dikenal komitmen dengan agama adalah harus berjubah, bergamis dan berpecis putih. Kalau dianggap bahwa berpakaian seperti itulah yang paling “nyunnah”, itu jelas klaim tanpa dalil. Jadi sah-sah saja berpakaian koko, sarungan dan memakai pecis hitam, untuk menyesuaikan dengan masyarakat agar tidak dianggap aneh. Wallahu a’lam.
  • Untuk wanita sendiri, tetap mengenakan pakaian yang dituntunkan dalam Islam. Jika masyarakat punya kebiasaan memakai pakaian ketat, berjilbab kecil dan memakai celana panjang, tentu saja tidak dianjurkan untuk mengikuti mereka. Bahkan tetap berpakaian syar’i sebagaimana yang diperintahkan.

Sumber : https://rumaysho.com/6920-sunnah-memakai-gamis-bagi-pria.html

Mengapa Di Era Jokowi Istilah Islam Radikal Lebih Sering Dilontarkan ?

Banyak pengamat dan tokoh politik di Indonesia heran ketika isu Islam Radikal semakin kencang terdengar dalam beberapa tahun belakangan ini. Bila dicermati dalam  periode  paska reformasi, tampaknya dalam era pemerintah Jokowi istilah Islam Radikal lebih sering disebut dan diucapkan dibandingkan era pemerintahan sebelumnya. Bukan hanya masyarakat, pejabat negara bahkan presiden Jokowipun saat ini getol menyebut Islam Radikal dengan mudahnya. Meski istilah Islam Radikal berkonotasi luas tetapi sebagian besar pengamat dan tokoh Islam menganggap sebagai bagian untuk untuk melemahkan Umat Islam. Mengapa fenomena ini lebih sering dilontarkan saat sekarang ini?

Saat ini sebagian anggota masyarakat kelompok tertentu, pejabat negara hingga kepala negara dengan mudah dan cepat mengucapkan kata Islam Radikal. Sebenarnya istilah Islam Radikal sudah dikenal luas sejak lama tetapi mengapa baru sekarang ini lebih sering terdengar di bumi Indonesia ini. Hal ini bisa dibuktikan saat googling di dunia maya sangat jarang bahkan tidak ada keluar artikel atau berita saat di search kata “SBY Islam radikal”. Tapi saat kata “Jokowi Islam Radikal” di googling maka banyak sekali bermunculan istilah tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa selama era pemerintah Jokowi kata Islam Radikal lebih sering diucapkan. Padahal pemerintahan Jokowi baru berlangsung 3 tahun sedangkan SBY sudah 10 tahun. Seperti sebelumnya Istilah itu terus dilontarkan oleh presiden Jokowi. Terakhir dalam acara Halaqah Nasional Alim Ulama Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 13 Juli 2017. Jokowi mengatakan kerukunan dan persatuan yang terbangun di negara ini terjadi karena kemampuan muslim Indonesia mewujudkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan sehari-hari. “Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia, bukan Islamnya bangsa Indonesia,” katanya . Mengapa dalam era pemerintahan Jokowi istilah Islam Radikal sering bergema diucapkan ?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. Dalam pengertian lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok, dan esensial. Sedangkan istilah radikalisme, dalam Kamus ilmiah popular karya M. Dahlan al Barry diartikan sebagai faham politik kenegaraan yang menghendaki perubahan dan perombakan besar sebagai jalan untuk mencapai kemajuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, cet. th. 1995, Balai Pustaka didefinisikan sebagai faham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Menurut Wikipedia radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Dari sisi bahasa, istilah radikal sebenarnya netral, bisa positif bisa negatif. Mitsuo Nakamura misalnya, dalam sebuah tulisannya yang dipublikasikan di Asian Southeast Asian Studies Vo. 19, No. 2 th. 1981 menyebut bahwa Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang berwatak tradisionalisme radikal. Istilah radikal dipilih oleh Mitsuo Nakamura untuk menggambarkan bahwa NU adalah organisasi yang otonom dan independen, bukan derivasi dari organisasi yang lain. NU juga mempunyai sikap politik yang kritis, terbuka, dan mendasar menghadapi status quo penguasa ketika itu yaitu presiden Soeharto. NU juga memperlihatkan dengan karakteristik keagamaan yang tetap konsisten. Dengan karakteristiknya yang bersifat mendasar inilah NU disebut radikal.

Sebaliknya, radikal berarti secara konsisten mempertahankan ide secara utuh ketika dihadapkan pada konflik dengan ide lain, atau dengan kata lain non-kooperatif. Sikap radikal dan moderat keduanya mempunyai contoh konkrit dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Istilah Radikal juga sering digunakan pada sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia, dikenal dua strategi politik organisasi kebangsaan dalam kaitannya untuk mewujudkan Indonesia merdeka yaitu pergerakan non-kooperatif (radikal) dan pergerakan kooperatif (moderat). Pergerakan radikal adalah satu aksi penentangan secara keras terhadap kebijakan pemerintah kolonial serta tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Kaum radikal berpendapat bahwa untuk mencapai Indonesia merdeka haruslah dengan jerih payah anak bangsa sendiri dan bukan atas adanya campur tangan dari bangsa asing (Belanda). Sebaliknya kaum moderat artinya sebagai satu sikap lunak dan kompromistik terhadap kebijakan pemerintah kolonial di Indonesia. Kelompok moderat berpendapat bahwa untuk mencapai Indonesia merdeka tidak dapat lepas dari kerja sama dengan berbagai bangsa yang ada di Indonesia saat itu, tidak terkecuali dengan pemerintah kolonial Belanda. Dua pergerakan tersebut mempunyai tujuan mulia yang sama yaitu untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dalam konteks tersebut istilah radikal dan moderat mempunyai arti yang berkonotasi baik. 

Tetapi saat ini istilah radikalisme yang sering dihembuskan oleh pihak tertentu sering dimaknai lebih sempit. Muncul label seperti Islam radikal, Ormas Radikal, Salafi radikal, atau yang agak umum radikalisme agama yang hampir semuanya berkonotasi ditujukan pada umat Islam. Ketika tujuh juta umat Islam melakukan aksi damai yang aman, damai dan berakhir indah itu sebagian masyarakat, sebagian pejabat bahkan media barat. menuduh pelakunya sebagian besar adalah Islam Radikal. Media Wall Street Journal dalam ulasannya artikel yang berjudul “Hard-Line Strain of Islam Gains Ground in Indonesia, World’s Largest Muslim Country” mengungkapkan uajaran yang berkonotasi negatif dengan mengatakan terjadi kebangkitan Islam garis keras dan radikal dalam Pilkada Jakarta untuk menggulingkan gubernur beragama Kristen. Demikian juga  SBS Australia, menulis: “Jakarta election: Radical Islam tested ‘if Ahok wins'” yang melabeli Islam Radikal dalam peristiwa Pilkada Dki Jakarta. Kantor berita Reuters pun demikian. Beberapa tulisannya sebelum, saat dan sesudah pilkada DKI Jakarta menggambarkan soal kebangkitan ekstremisme dan radikalisme Islam dalam perhelatan politik itu. Reuters juga mengatakan bahwa kelompok radikalisme Islam telah menjadi kekuatan yang besar di Jakarta, dan akan digunakan untuk pemilihan presiden 2019 mendatang. Media Amerika Serikat, USA Today, CNN dan New York Times, yang bernada sama ketika memberitakan pilkada DKI Jakarta. Bahkan kemenangan Pilkada DKI Jakarta Anis Sandi juga dianggap oleh beberapa media Barat dan sekelompok golongan di Indonesia adalah kemenangan Islam Radikal. Salah satunya adalah media Wall Street Journal dalam tulisannya yang berjudul “Hard-Line Strain of Islam Gains Ground in Indonesia, World’s Largest Muslim Country” yang mengulas tentang kebangkitan Islam garis keras dalam Pilgub Jakarta untuk menggulingkan gubernur beragama Kristen. Padahal saat itu bila kita berpikir jernih dan obyektif saat itu masyarakat bukan hanya terpengaruh suhu politik tetapi juga dipengaruhi  status psikologis emosional yang tinggi saat Ahok melakukan penistaan terhadap kitab suci agama mayoritas di Indonesia.

Istilah Islam Radikal Lemahkan Umat Islam

Ketua MUI Pusat dan Rais Aam NU, KH Ma’ruf Amin pernah mengatakan bahwa Islam itu satu, tak ada yang namanya Islam radikal, Islam Fundamentalis atau Islam moderat. Islam ya Islam, seperti yang digariskan Al-Quran, Islam yang hanifan samhah atau Islam itu lembut, ramah, toleran. Istilah radikal hanya diciptakan kelompok tertentu untuk mendiskriditkan umat Islam. Menurut ketua MUI itu tujuan utama terbesar pencitraan dan penamaan Islam Radikal adalah agar umat Islam tidak utuh, terpecah-pecah dan dengan begitu kekuatannya menjadi lemah. Karena lemah, maka akan mudah diadu domba, dipermainkan, dan dijadikan kambing hitam berbagai tindakan. Demikan juga tokoh Islam Indonesia lainnya seperti Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid juga mengkritisi munculnya isu radikalisme dalam kontestasi pilkada Jakarta. Menurutnya, isu tersebut tidak benar, dan menyesatkan. Karena Islam radikal yang dituduhkan muncul pada pilkada Jakarta sesungguhnya tidak pernah ada. Isu tersebut hanya untuk mendiskreditkan umat Islam, semata-mata demi kepentingan politik sesaat saja. Bahkan partai pendukung pemerintah PAN melalui ketuanya Zulkifli Hasan mengatakan bahwa kemenangan Anies-Sandi di Pilgub DKI merupakan kemenangan demokrasi. Dia tidak sepakat bila kemenangan keduanya diidentikkan dengan Islam radikal. Bahkan Wakil Presiden, Jusuf Kalla juga sempat tidak terima dengan fitnah media Barat itu. JK dengan keras mengatakan hal itu sama sekali tidak benar dan pemberitaan tidak adil kepada pasangan itu. “Soal Pilkada, tadi saya ketemu Wakil Presiden Amerika. Saya bilang ndak (tidak) adil ini media luar, karena yang menang banyak didukung oleh teman-teman dari sisi Islam malah dianggap garis keras yang menang,” kata JK seperti dilansir Replubika (20/4/2017). Bahkan panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pun merasa tersinggung dengan adanya fitnah yang mengaitkan aksi umat Islam dengan radikalisme, upaya kekerasan dan aksi kudeta pemerintahan. Dengan keras sang Jenderal mengatakan “Saya agak tersinggung kata-kata itu, karena saya umat Islam juga,” ujar Gatot dalam talkshow “Rosi” yang tayang di Kompas TV, Kamis (4/5/2017) malam. 

Tetapi saat ini istilah Islam Radikal ini digunakan oleh sebagian kelompok masyarakat atau kelompok tertentu yang sedang panik akan adanya ancaman kebangkitan umat Islam. Ternyata bukan hanya media Barat para pejabat bahkan Kepala Negarapun saat ini menyebut terlalu cepat dan terlalu sering tentang istilah Islam Radikal. Tetapi tidak pernah sekalipun menyebut dengan spesifik siapa sebenarnya Islam Radikal itu. Saat ini bukan hanya ujaran Islam Radikal. Ujaran Anti NKRI, Anti Pancasila dan Anti Kebinekaan juga dengan mudahnya dilontarkan pada umat Islam dan Ormas Islam.

Konotasi Islam Radikal atau Islam garis keras yang difitnahkan Media Barat ternyata 100% tidak terbukti. Hal ini dibuktikan bahwa Aksi Bela Islam yang diikuti jutaan Umat Islam yang dianggap Islam Radikal atau Islam Garis Keras itu berlangsung mulus dan aman. Jangankan kekerasan atau anarkisme, menginjak rumput tamanpun tidak dilakukan.  Jangankan keonaran, secuil sampahpun tidak ada yang berceceran. Dunia pendukung Islampun terkagum kagum ketika aksi berakhir, hanya dalam hitungan jam kemunculan 7 juta umat Islam itu hilang dalam sekejap seperti ditelan bumi. Jakarta rapi dan bersih seperti tidak terjadi apa apa. Tetapi sebaliknya tetap saja sebagian kelompok masyarakat dan media Barat skeptis atau apatis terhadap kehebatan umat Islam dalam berbangsa, bernegara dan beragama meski terus difitnah radikal, anti NKRI dan anti Pancasila. Para Tokoh Islam, Pimpinan TNI dan Wapres juga dengan keras mengatakan bahwa keadilan informasi yang ada membuat istilah Islam Radikal, Anti NKRI, Anti Pancasila, Anti Kebinekaan terlalu mudah diucapkan dan terlalu keras didengungkan pada kelompok Islam Indonesia.

Sebagian masyarakat kelompok tertentu atau pejabat negeri ini sebaiknya lebih berpikir seribu kali bila hendak melontarkan ujaran yang kontroversial seperti Islam Radikal, Anti NKRI, Anti Pancasila pada kelompok tertentu khususnya Umat Islam.  Panglima TNI tidak henti hentinya memperingatkan, “Di saat para ulama menggalang kekuatan bersama berbagai lapisan masyarakat, saat itu Tentara Nasional Indonesia (TNI) belum ada. “Apakah sejak perjuangan itu, yang mayoritas dilakukan umat Islam, lalu dipertahankan umat Islam dan kemudian umat Islam yang merusaknya? Tidak mungkin!” ucap Gatot Nurmantyo. “Buktinya aksi 411, 212, aman, damai, dan tertib,” kata Jenderal berpangkat tertinggi di Indonesia itu . Gatot yang berpikiran dan berawasan Nasionalis yang kuat serta Islami itu mengatakan,  “Adanya kabar soal upaya makar dalam aksi unjuk rasa bela agama itu adalah berita bohong (hoax). Berita hoax itu ditujukan untuk menakuti rakyat Indonesia.

Mengapa saat ini presiden Jokowi sering menyebutkan Istilah Islam Radikal pada kelompok tertentu, yang bisa menjawab beliau sendiri ? Rakyat dan para pemimpin negeri ini harus memahami pendapat para pengamat bahwa kondisi NKRI saat ini cenderung diambang perpecahan dahsyat. Bangsa ini harus paham psikologis sosial masyarakat yang tampaknya saat ini bertensi tinggi apalagi mendekati Pilpres 2019. Saat ini bukan hanya umat Islam, sebagian masyarakat dan para pemimpin negeri ini sedang sensitif otaknya. Ketika sebuah ujaran itu berkonotasi buruk maka emosi pemimpin atau umatpun bergelora. Sebaiknya semua pihak harus menjaga diri dalam menyebutkan istilah yang kontroversial yang bisa menyinggung kelompok tertentu. Sebaiknya tidak perlu lagi menganggap diri sendiri adalah paling tidak radikal, paling pancasila dan paling NKRI. Ujaran itu justru akan menjerumuskan pada perpecahan yang menyinggung kelompok lain yang dianggap tidak pancasilais, dianggap radikal dan dianggap tidak cinta NKRI. 

Pancasilais sejati tidak pernah teriak Aku Pancasila. Tetapi selalu hormati saudara sebangsa meski berbeda. Pahlawan sejati tidak pernah berkoar paling Indonesia. Tapi paling berani pertaruhkan nyawa demi negara. Prajurit sejati tidak pernah jumawa paling NKRI. Tetapi paling luarbiasa jaga kedaulatan negeri. Yang nobatkan pahlawan atau prajurit sejati bukan diri kita tapi orang lain. Yang tentukan Aku Pancasila dan aku Indonesia bukan diri kita, tapi orang lain. Aku pancasila dan Aku Indonesia bukan kata tetapi tindakan. Pahlawan adalah aksi tanpa kata. Pecundang adalah kata tanpa aksi.

Seharusnya kita menggelorakan: Kita Pancasila, Kita Indonesia dan Kita Tidak Radikal. BUKAN AKU atau BUKAN KAMU tapi KITA. Semakin tinggi ego kita maka Indonesia akan terus dirongrong kebencian dan permusuhan yang terus menggerus keutuhan NKRI. 

Video Unggahan Polri Langgar UU ITE dan Penodaan Agama ? Sudah Layak Masuk Ranah Meja Hijau ?

Video Unggahan Polri Langgar UU ITE ? Sudah Layak Masuk Ranah Hukum ?

Ketidakpuasan umat Islam terhadap Polri muncul lagi untuk kesekian kalinya. Belum hilang diingatan hebohnya kasus Ahok, aksi damai 212 dan kasus kriminalIsasi ulama kembali Polri memperlihatkan kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah aktifitas profesionalitasnya belakangan ini. Sikap Polri itu dipandang para tokoh Islam dan pengamat sosial politik sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif, berbagai ucapan dan aktifitas yang dianggap melukai hati kalangan masyarakat tertentu.  Kali ini yang sangat menghebohkan adalah peristiwa diunggahnya Film “Kau adalah Aku yang Lain” lewat akun media sosial oleh Divisi Humas Polri menimbulkan kontroversi dan gejolak luarbiasa umat Islam Indonesia. Film ini dianggap mendiskreditkan kelompok agama tertentu. Banyak pengamat mengatakan kejadian itu busa masuk ranah pelanggaran UU ITE karena menimbulkan keresahan SARA dan banyak pengamat mengatakan bahwa kasus tersebut sudah layak diajukan pada ranah hukum. Film pendek ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ (KAAL) karya sutradara Anto Galon bisa dikategorikan sebagai penodaan terhadap suatu golongan dan/atau penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156 dan 156a KUHP.

Video berdurasi pendek tersebut berpotensi mendiskriditkan Islam dan Umat Islam. Ketua Dewan Pertimbangan dan Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyayangkan beredarnya video atau film pendek berbau sara yang disebarkan oleh Divisi Humas Polri. Demgan tegas Din menyatakan bahwa Video tersebut berpotensi mendeskreditkan islam dan umat muslim. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode mengatakan, video berdurasi tujuh menit itu jelas menyakiti hati umat Islam.Dia menganggap video tersebut memberi penggambaran bahwa umat islam adalah agama yang intoleran. Demikian juga Dewan Pakar ICMI Anton Tabah Digdoyo menilai film berjudul “Aku Adalah Kau Yang Lain” merupakan bentuk fitnah terhadap Islam. Anton menilai Polri seharusnya tidak menayangkan film tersebut karena bertentangan dengan fakta. Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Nasir Djamil berpendapat, film tersebut sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Menurutnya sangat wajar jika film tersebut mengundang reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam “Jelas film itu sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Wajar kalau kemudian menimbulkan reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam,” ujar Nasir. Demikuan juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simajuntak mengatakan, Polri justru terkesan memperkuat stigmatisasi memprovokasi dan bersikap intoleran. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid sangat menyayangkan film tersebut bisa memenangkan Festival Film Polisi 2017. Film yang kemudian ditayangkan sehari sebelum Idul Fitri pada melalui media sosial Divisi Humas Polri ini kemudian menjadi polemik baru. Karena faktanya pesan yang ditangkap umat Islam dari film bukan pesan toleransi yang diterima. Tapi justru memojokkan umat Islam. Mencitraburukkan umat Islam dan justru membuat umat Islam menjadi tidak mudah diterima oleh warga yang lain, seolah umat Islam intoleran.

Pendapat beberapa tokoh agama itu menunjukkan bahwa video yang mengandung penghinaan SARA yang telah membuat resah dan kemarahan umat muslim Indonesia. 

Meski pembuat film sudah minta maaf dan melakukan pembelaan dengan berbagai dalih apapun. Tetapi diduga kuat telah terjadi tindak pidana yang dilakukan oleh sekumpulan orang, terstruktur, terorganisir dan masif, yang dilakukan secara sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Agama. Div Humas Mabes Polri mengunggah video yang pada pokoknya berisi adegan orang kristen yang sedang sekarat di dalam ambulan, tidak perkenankan lewat oleh jamaah pengajian orang Islam, padahal orang yang sekarat itu sangat membutuhkan pertolongan dan akses menuju rumah sakit. Konten informasi dalam video tersebut jelas mendiskriditkan dan fitnah yang sangat kejam terhadap umat Islam. Dalam video tersebut beberapa pengamat mengatakan bahwa tampak sekali bertujuan untuk membuat kelompok tertentu adalah pecundang dan kelompok tertentu adalah pahlawan. Hal ini diperkuat dengan sosok pahlawan yang memegang kartu antrian RS yang dianggap pahlawan adalah sosok dengan wajah ras tertentu. Video itu membuat gejolak yang luar biasa di kalangan umat muslim yang dapat merupakan sarana untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Agama.

Film pendek KAAL tersebut bisa dikategorikan sebagai penodaan terhadap suatu golongan dan/atau penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156 dan 156a KUHP. Penilaian ini disampaikan Rocky Marbun, SH, MH, ahli hukum pidana dari Universitas Pancasila. “Kasus (film pendek karya Anto Galon) ini secara substansif sudah masuk ke Pasal 156 dan 156a. Sama persis seperti kasus (penistaan agama) Ahok. Rocky beralasan, isi dari film pendek tersebut bertentangan dengan hukum Islam dan tak sesuai dengan kenyataannya. “Pertama, isi dari film itu jelas bertentangan dengan konsep hukum Islam. Antara konsep dan fakta konkret itu dua hal yang berbeda. Kedua, apakah memang ada fakta konkret seperti yang digambarkan (dalam film) tersebut? Atau hanya hasil imajinasi si pembuat? Kalau pun ada, ya kembali ke alasan pertama yaitu bertentangan dengan konsep hukum Islam.” Siapa yang bisa dibidik dengan Pasal 156 dan 156a dalam kasus film pendek ini? Polri yang telah dengan sengaja menyiarluaskan pemenang PMF ke-4 atau si pembuat film? “Polisi secara absolut tidak bisa dijerat sebab mereka bertindak sebagai penyelenggara. Tapi bisa sebagai penyertaan lantaran telah mempublikasikan film tersebut. Pembuat film itu lah sebagai pelaku utamanya

Video tersebut oleh berbagai pengamat hukum juga sudah layak diajukan di meja hijau karena melanggar ketentuan Pasal 28 ayat (2) UU ITE: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)”. Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Berdasarkan ketentuan pasal 21 ayat 4 KUHAP, semua Tersangka pengedar video SARA yang diunggah div humas Polri dapat langsung ditahan, karena ancaman pidana pasal 28 ayat 2 UU ITE diatas 5 (lima) tahun. Unsur “Setiap Orang” dalam pasal 28 UU ITE dapat meliputi siapa saja yang memiliki andil dalam penyebaran video SARA yang diunggah div humas Mabes Polri. Secara institusi yang wajib bertanggung jawab adalah : Divisi humas Polri, Lembaga Penjurian Video, Lembaga/rumah produksi Pembuat Video dan seluruh lembaga sponsor.

Mengingat pertanggungjawaban pidana hanya diberikan kepada orang bukan lembaga, maka yang wajib diperiksa dalam kasus video SARA adalah Sutradara Film, Seluruh Aktor dan Kru, kepala Div humas Mabes Polri, penanggung jawab Sponsorship dari mitra bahkan bisa saja menyasar papada pimpinan tertinggi institusi di belakang Mabes Polri dalam. Tindak pidana tidak saja diberlakukan kepada para pelaku utama tetapi juga terhadap siapa saja yang menyuruh, membantu, atau turut serta melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Kelompok masyarakat dan para pengamat mungkin juga akan berdebat apakah pimpinan tertinggi Polri juga harus diperiksa untuk memastikan ada atau tidaknya keterlibatan baik secara aktif maupun secara pasif berupa persetujuan, hingga akhirnya video SARA tersebut beredar luas di masyarakat.

Unsur “dengan sengaja” dalam Kasus video SARA yang diunggah div humas Mabes Polri dapat dibuktikan dengan teori sengaja kemungkinan. Meskipun sengaja dengan maksud maupun tujuan, dapat ditepis pihak Sutradara dengan berdalih tidak ada niat dan maksud untuk memfitnah umat Islam dan memecah belah kelompok individu dan masyarakat. Tetapi secara kemungkinan, pihak Sutradara patut melihat kuat adanya kemungkinan ketersinggungan umat Islam dan potensi pecah belah masyarakat dari video yang di produksi.

Unsur “tanpa hak menyebarkan informasi” harus dimaknai dalam konteks tanpa hak mendeskreditkan persepsi umat Islam dalam video yang digambarkan intoleran dan sadis. Seharusnya, sang Sutradara harus meminta izin terlebih dahulu kepada seluruh umat Islam sebelum mendistribusikan video SARA tersebut atau setidak-setidaknya meminta izin untuk menggunakan hak mendistribusikan video SARA melalui perwakilan umat Islam di Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi umat Islam.

Unsur “menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)” adalah unsur objektif bukan subjektif. Unsur ini dikembalikan kepada dua hal. Pertama, keterangan saksi fakta dari masyarakat yang merasa tersinggung dan tidak terima dengan video SARA tersebut. Kedua, keterangan dari saksi ahli yang menjelaskan bahwa video SARA tersebut memang tidak layak disebarluaskan. Mengenai adanya ketersinggungan umat Islam, ini merupakan fakta yang sangat jelas dan tidak dapat dipungkiri.

Merujuk pada unsur “Barang Siapa” yang secara nyata melibatkan banyak pihak, maka semua pihak yang terlibat dalam proses produksi, penjurian, evaluasi, penentuan kemenangan, pendistribusian via jejaring sosial, seluruh sponsor, hingga admin akun div humas Polri harus diperiksa dan di dalami keterlibatannya mulai proaea pembuatan hingga sampai tersebarnya video itu. Permintaan maaf Sutradara termasuk penghapusan video dari akun Soamed Div Humas Polri tidak dapat menghilangkan unsur yang ditimbulkannya. 

Masalah saat ini para terduga pelaku pelanggaran UU ITE adalah sutradara dan institusi Mabes Polri. Maka bila hal itu dilakukan pelaporan pada polisi tentang dugaan pelanggaran UU ITE maka bisa dibayangkan sendiri merupakan sesuatu yang menarik untuk ditunggu akhir kisah yang menghebohkan ini. 

Saat ini upaya upaya untuk merendahkan kelompok tertentu dengan mengangkat kelompok lainnya semakin terasa kuat. Hal sangat mungkin dipengaruhi oleh kepentingan politik menejelang Pilpres 2019. Ternyata kepentingan kekuatan besar di belakang kelompok tertentu sedang memainkan peran untuk membuat skenario itu semua. Alih alih berdalih berteriak sekencang kencangnya aku Pancasila dan Aku Indonesia tetapi ternyata perilaku intoleran dengan mendiskriditkan kelompok tertentu terus dilakukan secara semena mena yang membuat luka yang sempat pulih saat kasus penghinaan agama seperti kasus Ahok semakin menganga lagi. Apakah kasus ini bisa berakhir seperti kasus Ahok ? Apakah kasus ini dianggap angin lalu saja ? Tidak salah bila sebagian umat akan terus memperjuangkan kebenaran ketika keadilan bukan milik semua umat Indonesia. Aksi jutaan umat yang memperjuangkan keadilan seperti  pada kasus penghinaan agama oleh Ahok akankah terulang lagi ? Mudah mudahan hal itu tidak terjadi lagi karena menyita energi bangsa demikian besar. Sebaliknya penguasa dan penegak hukumnya harus terus berlaku adil agar bangsa ini tidak terus bergejolak karena yang terus disalahkan adalah umat yanh terdzalimi.

ISLAMOFOBIA Muncul Ketika Islam Bangkit

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim,” dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di “Stockholm International Forum on Combating Intolerance”. Di sana Islamofobia dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan Antisemitisme .
Berbagai sumber telah mensugestikan adanya kecenderungan peningkatan dalam Islamofobia, sebagian diakibatkan serangan 11 September, sementara yang lainnya berhubungan dengan semakin banyaknya Muslim di dunia barat. Dalam bulan Mei 2002 European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) mengeluarkan laporan berjudul “Summary report on Islamophobia in the EU after 11 September 2001”, yang menggambarkan peningkatan Islamofobia di Eropa setelah 11 September.

Para penyanggah mengkritik konsep itu, diduga ada penyalahgunaan saat menggali kritik Islam yang sah, dan menyebutnya sebagai “mitos”. Penulis novel Salman Rushdie dan teman-temannya menandatangani manifesto berjudul Together facing the new totalitarianism di bulan Maret 2006 menyebut Islamofobia a “konsep yang buruk yang mencampurkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi terhadap para penganutnya.”

Sepeninggalnya Rasulullah, pengaruh Islam semakin berkembang hingga ke luar Jazirah Arab. Beberapa penaklukan yang berlangsung selama pemerintahan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Ottoman, memberi kontribusi besar dalam membentuk peradaban Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Namun demikian, proses ekspansi di bawah dinasti-dinasti Islam itu bukannya tanpa hambatan. Sikap kebencian dan permusuhan yang mulai tumbuh di tengah-tengah masyarakat Barat, menjadi satu tantangan tersendiri yang dihadapi kaum Muslimin selama periode tersebut.

Ketakutan terhadap pengaruh Islam yang semakin meluas mulai tertanam di kalangan masyarakat Barat untuk pertama kalinya semasa Perang Salib (antara 1095–1291) yang melibatkan tentara Muslim dan Kristen Eropa. Pada masa-masa itu, Kekaisaran Bizantium dan Gereja Roma menggunakan propaganda sentimen anti-Islam untuk merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. “Para sejarawan mencatat, jumlah orang Islam dan Yahudi yang terbunuh di al-Quds (Yerusalem) selama berlangsungnya Perang Salib tidak kurang dari 70 ribu jiwa,” ungkap A Said Gul dalam tulisannya, History of Islamophobia and Anti-Islamism yang dimuat the Pen Magazine (2011).

Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol), beberapa jenis pertikaian yang terjadi antara penduduk Kristen dan Muslim  juga didasari oleh fobia terhadap Islam. Puncak dari konflik itu adalah Reconquista, yakni penaklukan kembali Semenanjung Iberia oleh kaum Kristen Eropa yang ditandai dengan runtuhnya Emirat Granada pada 1492. Setelah runtuhnya Emirat Granada, penindasan yang dilakukan rezim Kristen terhadap penduduk Muslim meningkat di Eropa. Umat Islam yang tersisa di Andalusia diusir ke Afrika Utara atau dipaksa memeluk agama Kristen. Kebebasan mereka sebagai warga negara benar-benar juga dibatasi sejak itu.

Menurut catatan sejarah, Raja Philip III dari Spanyol mengusir 300 ribu Muslim Andalusia antara 1610 dan 1614 lewat titah yang ia keluarkan pada 22 September di 1609. Melalui praktik tersebut, rezim Barat berusaha melenyapkan semua jejak peradaban Islam yang nyata-nyata telah banyak memberikan kontribusi dalam proses pencerahan Eropa. “Semua peristiwa yang dialami kaum Muslimin sejak Perang Salib hingga Reconquista jelas-jelas merupakan bagian dari wajah anti-Islamisme atau Islamofobia yang terus berevolusi di tengah-tengah masyarakat Barat, bahkan sampai hari ini,”.

Sikap kebencian yang dialamatkan kepada Islam dan kaum Muslimin (yang kini lebih populer dengan sebutan Islam. sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa tersebut, permusuhan terhadap Islam justru muncul di tengah-tengah masyarakat Arab yang notabene adalah saudara sebangsa Rasulullah sendiri.
Selama periode Makkiyah (610–622 Masehi), Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin menghadapi ujian yang hebat dari kelompok kafir Makkah. Masyarakat Arab jahiliyah ketika itu melakukan perlawanan habis-habisan terhadap dakwah risalah yang dibawakan Rasulullah. Sejumlah tokoh Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab gencar memprovokasi orang-orang Makkah untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikutnya. 

Sejumlah sahabat pun menjadi korban kekejaman musuh-musuh Islam. Sebut saja Ammar ibn Yasir, Khabbab ibn al-Arat, dan Bilal ibn Rabah yang disiksa dengan cara yang amat sadis oleh kaum kafir Makkah, hanya lantaran mereka gigih mempertahankan imannya.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW sendiri bahkan juga tak luput menjadi sasaran dari aksi kebencian orang-orang kafir Quraisy. Dalam beberapa riwayat disebutkan, Nabi SAW pernah dihina, diludahi, bahkan disakiti oleh orang-orang yang memusuhi beliau. Namun, selama berada di Makkah, semua perlakuan itu dihadapi Rasulullah dengan penuh kesabaran.

Setelah Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah, kaum kafir Makkah masih saja menunjukkan sikap permusuhannya terhadap Islam. Situasi semacam itu terus berlangsung selama beberapa tahun. Hingga terjadinya peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah oleh kaum Muslimin) pada 8 Hijriyah atau bertepatan dengan 630 Masehi, barulah Islam mulai diterima secara luas oleh masyarakat Arab.