Category Archives: Konsultasi-Tanya Jawab

100 Pertanyaan Puasa : Hukum Fiqih Membaca Niat Puasa

Pertanyaan:
Saya lupa berniat puasa pada waktu malam. Kemudian saya teringat setelah fajar bahwa saya belum berniat. Apakah puasa saya sah?

Jawaban:

Niat merupakan sesuatu yang mesti ada dalam puasa, puasa tidak sah tanpa adanya niat. Mayoritas ulama mensyaratkan agar setiap hari mesti berniat puasa, sebagian ulama mencukupkan satu niat saja pada awal malam bulan Ramadhan untuk niat satu bulan secara keseluruhan. Waktu berniat adalah sejak tenggelam matahari hingga terbit fajar. Jika seseorang berniat melaksanakan puasa di malam hari, maka niat itu sudah cukup, ia boleh makan atau minum setelah berniat, selama sebelum fajar. Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ لََْ جيُْمِعِ ال صيَامَ قَ بْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَه ج

“Siapa yang tidak menggabungkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”.

Tidak disyaratkan melafalkan niat, karena tempat niat itu di hati. Jika seseorang sudah bertekad di dalam hatinya untuk melaksanakan puasa, maka itu sudah cukup. Meskipun hanya sekedar bangun pada waktu sahur dan berniat akan melaksanakan puasa, itu sudah cukup, atau minum agar tidak merasakan haus pada siang hari, maka niat itu sudah cukup. Siapa yang tidak melakukan itu pada waktu malam, maka puasanya tidak sah, ia mesti meng-qadha’ puasanya. Ini berlaku pada puasa Ramadhan. Sedangkan puasa sunnat, niatnya sah dilakukan pada waktu siang hari sebelum zawal (matahari tergelincir).

Bagaimana Menonton TV Menurut Agama Islam

Bagaimana Menonton TV Menurut Agama Islam

  • Televisi adalah media informasi, edukasi dan hiburan yang sulit ditinggalkan oleh manusia mkdern. Di dalamnya ada kebaikan dan hal yang tidak baik. Semua sarana mengandung hukum tujuan. Televisi sama seperti radio dan sarana informasi lainnya, di dalamnya ada yang baik dan ada yang tidak baik. 
  • Seorang muslim mesti mengambil manfaat dari yang baik dan menjauhkan diri dari yang tidak baik, apakah ia dalam keadaan berpuasa atau pun tidak sedang berpuasa. 
  • DALAM keadaan berpuasa umat muslim  mesti lebih hati-hati, agar puasanya tidak rusak, agar pahalanya tidak hilang sia-sia dan tidak mendapatkan balasan dari Allah Swt.
  • Menonton TV, tidak dikatakan halal secara mutlak dan tidak pula haram secara mutlak. Akan tetapi mengikut apa yang ditonton, jika baik, maka boleh dilihat dan didengar, seperti acara-acara agama Islam, berita, acara-acara yang membawa kepada kebaikan. Jika tidak baik, seperti acara tarian yang tidak menutup aurat dan hal-hal seperti itu, maka haram untuk dilihat di setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadhan.
  • Sebagian acara makruh ditonton, meskipun tidak sampai ke tingkat haram. Semua sarana yang menghalangi diri dari mengingat Allah Swt, maka haram hukumnya. Jika menonton TV, atau mendengar radio dan lain sebagainya dapat melalaikan dari suatu kewajiban yang diwajibkan Allah Swt, seperti shalat, maka dalam kondisi seperti ini hukumnya haram. Semua perbuatan yang melalaikan shalat maka hukumnya haram. 

Sumber: 

  • Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

    Jawaban Ustdz Abdul Somad Lc MA:  Apakah pendapat ulama dan dalil hadits tentang adanya Qunut Shubuh?

    Apakah pendapat ulama dan dalil hadits tentang adanya Qunut Shubuh?


    Pendapat ulama tentang Qunut

    • KMazhab Hanafi dan Hanbali: Tidak ada Qunut pada shalat Shubuh.
    • Mazhab Maliki: Ada Qunut pada shalat Shubuh, dibaca sirr, sebelum ruku’.
    • Mazhab Syafi’i: Ada Qunut pada shalat Shubuh, setelah ruku’.

    Hadits Pertama:

    • عَنْ تُػَ لَّا مدٍ قَاؿَ قُػلْتُ لأَ سٍ ىَلْ قَػنَتَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- صَلاَةِ الصُّبْحِ قَاؿَ ػعََمْ بػعَْدَ ال وعِ سِيرًا.
    • Dari Muhammad, ia berkata: “Saya bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah Saw membaca Qunut pada shalat Shubuh?”. Ia menjawab: “Ya, setelah ruku’, sejenak”. (HR. Muslim).

    Hadits Kedua:

    • عَنْ أَ سِ بْنِ مَالِكٍ قَاؿَ مَا زَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- ػ نُتُ الْفَ لَّاتَّ فَارَؽَ الدُّ ػيَا.
    • Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Hadits ini riwayat Imam Ahmad, ad-Daraquthni dan al-Baihaqi.

    Bagaimana dengan hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw membaca Qunut shubuh selama satu bulan, kemudian setelah itu Rasulullah Saw meninggalkannya. Berarti dua riwayat ini kontradiktif?

    Tidak kontradiktif, karena yang dimaksud dengan meninggalkannya, bukan meninggalkan Qunut, akan tetapi meninggalkan laknat dalam Qunut. Laknatnya ditinggalkan, Qunutnya tetap dilaksanakan. Demikian riwayat al-Baihaqi:

    • عن عبد ال تزن بن م دى في د ث ا س قنت ش ا ثُ ت و قاؿ عبد ال تزن رتزو الله ا ا ت ؾ اللعن
    • Dari Abdurrahman bin Mahdi, tentang hadits Anas bin Malik: Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan, kemudian beliau meninggalkannya. Imam Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Yang ditinggalkan hanya laknat”59.

    Yang dimaksud dengan laknat dalam Qunut adalah:

    • عَنْ أَ سِ بْنِ مَالِكٍ أَ لَّا ف النلَّا لَِّا بِ -صلى الله عليو وسلم- قَػنَتَ شَ ا ػلَْعَنُ رِعْلاً وَذ وَافَ وَعُصَيلَّاةَ عَصَوُا الللَّاوَ وَرَسُولَو .
    • Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan beliau melaknat (Bani) Ri’lan, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Qunut Shubuh Menurut Mazhab Syafi’i:

    • وأما ال نوت فيستحب في اعتداؿ الثا ية في الصبح تظا رواه أ س رضي الله عنو قاؿ: }ما زاؿ رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم نت في الصبح تَّ فارؽ الد يا{ رواه الإما أتزد وايره قاؿ ابن الصلاح: قد كم بصحتو اير وا د من اتضفاظ: من م اتضا م والبي ي والبلخي قاؿ البي ي: العمل بِ تضاه عن اتطلفاء الأربعة، Adapun Qunut, maka dianjurkan pada I’tidal kedua dalam shalat Shubuh berdasarkan riwayat Anas, ia berkata: “Rasulullah Saw terus menerus membaca doa Qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan imam lainnya. Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Banyak para al-Hafizh (ahli hadits) yang menyatakan hadits ini adalah hadits shahih. Diantara mereka adalah Imam al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Balkhi”. Al-Baihaqi berkata, “Membaca doa Qunut pada shalat Shubuh ini berdasarkan tuntunan dari empat Khulafa’ Rasyidin”.
    • و وف ال نوت في الثا ية رواه البخاري في صحيحو و و و بعد رفع ال أس من ال وع فلما رواه ال يخاف عن أبي ى ة رضي الله عنو أف رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم: }تظا قنت في قصة قتلى بئ معو ة قنت بعد ال وع ف سنا عليو قنوت الصبح{ عم في الصحيح عن أ س رضي الله عنو أف رسوؿ الله صلى الله عليو وسلم } اف نت قبل ال فع من ال وع{ قاؿ البي ي: لكن رواة ال نوت بعد ال فع أ ث وأ فظ ف ا أولذ فلو قنت قبل ال وع قاؿ في ال وضة: لد يَلئو على الصحيح و س د للس و على الأصح. Bahwa Qunut Shubuh itu pada rakaat kedua berdasarkan riwayat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Bahwa doa Qunut itu setelah ruku’, menurut riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa ketika Rasulullah Saw membaca doa Qunut pada kisah korban pembunuhan peristiwa sumur Ma’unah, beliau membaca Qunut setelah ruku’. Maka kami Qiyaskan Qunut Shubuh kepada riwayat ini. Benar bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw membaca doa Qunut sebelum ruku’. Al-Baihaqi berkata: “Akan tetapi para periwayat hadits tentang Qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih hafizh, maka riwayat ini lebih utama”. Jika seseorang membaca Qunut sebelum ruku’, Imam Nawawi berkata dalam kitab ar-Raudhah, “Tidak sah menurut pendapat yang shahih, ia mesti sujud sahwi menurut pendapat al-Ashahh”.
    • ولفظ ال نوت }الل م اىدني فيمن ىد ت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارؾ لر فيما أعطيت وقني ش ما قضيت ف ك ت ضي ولا ضى عليك وإ و لا ؿ من واليت تبار ت ربنا وتعاليت{ ىك ا رواه أبو داود والترم ي والنسائي وايرىم ب سناد صحيح أعني ب ثبات الفاء في ف ك وبالواو في وإ و لا ؿ. قاؿ ال افعي: وزاد العلماء }ولا عل من عاد ت{ قبل }تبار ت ربنا وتعاليت{، وقد جاءت في روا ة البي ي، وبعده }فلك اتضمد على ما قضيت أست ف ؾ وأتوب إليك{. واعلم أف الصحيح أف ى ا الدعاء لا تع تَّ لو قنت بآ ة تتضمن دعاء، وقصد ال نوت ت دت السنة ب لك، Lafaz Qunut: “Ya Allah, berilah hidayah kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri hidayah. Berikanlah kebaikan kepadaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri kebaikan. Berikan aku kekuatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kekuatan. Berkahilah bagiku terhadap apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari kejelekan yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau menetapkan dan tidak ada sesuatu yang ditetapkan bagi-Mu. Tidak ada yang merendahkan orang yang telah Engkau beri kuasa. Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung”. Demikian diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan lainnya dengan sanad sahih. Maksud saya, dengan huruf Fa’ pada kata: ف ك dan huruf Waw pada kata: .وإ و لا ؿ Imam ar-Rafi’i berkata: “Para ulama menambahkan kalimat: ولا عل من عاد ت (Tidak ada yang dapat memuliakan orang yang telah Engkau hinakan). Sebelum kalimat: تبار ت ربنا وتعاليت (Maka Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Engkau Maha Agung).

    Dalam riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan, setelah doa ini membaca doa:

    • فلك اتضمد على ما قضيت أست ف ؾ وأتوب إليك
    • (Segala puji bagi-Mu atas semua yang Engkau tetapkan. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada- Mu). Ketahuilah bahwa sebenarnya doa ini tidak tertentu. Bahkan jika seseorang membaca Qunut dengan ayat yang mengandung doa dan ia meniatkannya sebagai doa Qunut, maka sunnah telah dilaksanakan dengan itu.
    • و نت الإما بلفظ اتصمع بل ك ه تخصيص فسو بالدعاء ل ولو صلى الله عليو وسلم }لا عبد قوم اً فيخص فسو بدعوة دونهم ف ف فعل ف د خانهم{ رواه أبو داود والترم ي وقاؿ: د ث سن، ثُ سائ الأدعية في الإما لك أي ك ه لو إف اد فسو ص ح بو ال لالر في الإ ياء وىو م تضى لا الأذ ار للنووي.
    • Imam membaca Qunut dengan lafaz jama’, bahkan makruh bagi imam mengkhususkan dirinya dalam berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Janganlah seorang hamba mengimami sekelompok orang, lalu ia mengkhususkan dirinya dengan suatu doa tanpa mengikutsertakan mereka. Jika ia melakukan itu, maka sungguh ia telah mengkhianati mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi. Imam at63 Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”. Kemudian demikian juga halnya dengan semua doa-doa, makruh bagi imam mengkhususkan dirinya saja. Demikian dinyatakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Demikian juga makna pendapat Imam Nawawi dalam al-Adzkar.
    • والسنة أف فع د و ولا يَسح وج و لأ و لد ثبت قالو البي ي ولا ستحب مسح الصدر بلا خلاؼ بل ص تراعة على اىتو قالو في ال وضة. و ستحب ال نوت في آخ وت ه وفي النصف الثاني من رمضاف ا رواه الترم ي عن علي رضي الله عنو وأبو داود عن أبي بن عب، وقيل نت ل السنة في الوت قالو النووي في التح ي ف اؿ: إ و مستحب في تريع السنة، قيل نت في تريع رمضاف، و ستحب فيو قنوت عم رضي الله عنو و كوف قبل قنوت الصبح قالو ال افعي وقاؿ النووي: الأصح بعده لأف قنوت الصبح ثابت عن النبِ صلى الله عليو وسلم في الوت فكاف ت ديَو أولذ، والله أعلم.
    • Sunnah mengangkat kedua tangan dan tidak mengusap wajah, karena tidak ada riwayat tentang itu. Demikian dinyatakan oleh al-Baihaqi. Tidak dianjurkan mengusap dada, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Bahkan sekelompok ulama menyebutkan secara nash bahwa hukum melakukan itu makruh, demikian disebutkan Imam Nawawi dalam ar-Raudhah. Dianjurkan membaca Qunut di akhir Witir dan pada paruh kedua bulan Ramadhan. Demikian diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Imam Ali dan Abu Daud dari Ubai bin Ka’ab. Ada pendapat yang mengatakan dianjurkan membaca Qunut pada shalat Witir sepanjang tahun, demikian dinyatakan Imam Nawawi dalam at-Tahqiq, ia berkata: “Doa Qunut dianjurkan dibaca (dalam shalat Witir) sepanjang tahun”. Ada pendapat yang mengatakan bahwa doa Qunut dibaca di sepanjang Ramadhan. Dianjurkan agar membaca doa Qunut riwayat Umar, sebelum Qunut Shubuh, demikian dinyatakan oleh Imam ar-Rafi’i. Imam Nawawi berkata, “Menurut pendapat al-Ashahh, doa Qunut rirwayat Umar dibaca setelah doa Qunut Shubuh. Karena riwayat Qunut Shubuh kuat dari Rasulullah Saw pada shalat Witir. Maka lebih utama untuk diamalkan. Wallahu a’lam



    Jawaban Ustadz Abdul Somad: Puasa Wanita Hamil dan Menyusui.


    Jawaban Ustadz Abdul Somad: Puasa Wanita Hamil dan Menyusui.

    Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

     

    Kami membaca di beberapa buku bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan wajib membayar Fidyah, tidak wajib meng-qadha’ puasa. Apakah benar demikian?

     

    Allah Swt berfirman:

    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini; pendapat pertama mengatakan bahwa pada awalnya puasa itu adalah ibadah pilihan, siapa yang mampu untuk melaksanakan puasa maka dapat melaksanakan puasa atau tidak berpuasa, bagi yang tidak berpuasa maka sebagai gantinya membayar fidyah memberi makan orang miskin. Dengan pilihan ini, berpuasa lebih utama. Kemudian hukum ini di-nasakh, diwajibkan berpuasa bagi yang mampu, tidak boleh meninggalkan puasa dan memberikan makanan kepada orang miskin, berdasarkan firman Allah Swt:
    • Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Yang me-nasakh hukum diatas adalah ayat ini, demikian diriwayatkan para ulama kecuali Imam Ahmad. Dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Ketika ayat ini (al-Baqarah: 183) turun, sebelumnya orang yang tidak mau berpuasa boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah, sampai ayat setelahnya turun dan menghapus hukumnya”
    • Satu pendapat mengatakan bahwa puasa itu diwajibkan bagi orang-orang yang mampu saja. Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit, musafir dan orang yang berat melakukannya. Mereka menafsirkan makna al-Ithaqah dengan berat melaksanakan puasa, yaitu orang-orang yang telah lanjut usia. Bagi orang yang sakit dan musafir diwajibkan qadha’. Sedangkan bagi orang yang lanjut usia diwajibkan membayar fidyah saja, tanpa perlu melaksanakan puasa qadha’, karena semakin tua maka semakin berat mereka melaksanakannya, demikian juga orang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak akan mampu melaksanakan puasa qadha’, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’, ia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:
    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ia berkata, “Ayat ini tidak di-nasakh. Akan tetapi ayat ini bagi orang yang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa
    • Sebagian ulama moderen seperti Syekh Muhammad Abduh meng-qiyas-kan para pekerja berat yang kehidupan mereka bergantung pada pekerjaan yang sangat berat seperti mengeluarkan batubara dari tempat tambangnya, mereka di-qiyas-kan kepada orang tua renta yang lemah dan orang yang menderita penyakit terus menerus. Demikian juga dengan para pelaku tindak kriminal yang diwajibkan melaksanakan pekerjaan berat secara terus menerus, andai mereka mampu melaksanakan puasa, maka mereka tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar fidyah, meskipun mereka memiliki harta untuk membayar fidyah
    • Sedangkan wanita hamil dan ibu menyusui, jika mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri mereka, atau karena anak mereka, maka menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah saja, tidak wajib melaksanakan puasa qadha’, mereka disamakan dengan orang yang telah lanjut usia. Abu Daud dan ‘Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat:
    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ibnu Abbas berkata, “Ini keringanan bagi orang yang telah lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib memberi fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan anaknya, maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah”. Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan tambahan di akhir riwayat: Ibnu Abbas berkata kepada seorang ibu hamil, “Engkau seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah, tidak wajib qadha’ bagiku”. Sanadnya dinyatakan shahih oleh ad-Daraquthni. Imam Malik dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil jika mengkhawatirkan anaknya, ia menjawab, “Ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah satu orang miskin untuk satu hari, membayar satu Muddgandum”. 

    Falam hadits disebutkn

    • إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ
    • Sesungguhnya Allah Swt tidak mewajibkan puasa bagi musafir dan menggugurkan setengah kewajiban shalat (shalat Qashar). Allah Swt menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Diriwayatkan oleh lima imam, Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan.


                    Berdasarkan dalil diatas maka wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa. Apakah wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah?

    • Menurut Ibnu Hazm: tidak wajib qadha’ dan fidyah.
    • Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: wajib membayar fidyah saja tanpa kewajiban qadha’.
    • Menurut Mazhab Hanafi: wajib qadha’ saja tanpa kewajiban fidyah.
    • Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali: wajib qadha’ dan fidyah, jika yang dikhawatirkan anaknya saja. Jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja, atau yang dikhawatirkan itu diri dan anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib melaksanakan qadha’ saja, tanpa wajib membayar fidyah. (Nail al-Authar, juz. 4, hal. 243 – 245).

    Dalam Fiqh empat mazhab dinyatakan:

    1. Menurut Mazhab Maliki: wanita hamil dan ibu menyusui, jika melaksanakan puasa dikhawatirkan akan sakit atau bertambah sakit, apakah yang dikhawatirkan itu dirinya, atau anaknya, atau dirinya saja, atau anaknya saja. Mereka boleh berbuka dan wajib melaksanakan qadha’, tidak wajib membayar fidyah bagi wanita hamil, berbeda dengan ibu menyusui, ia wajib membayar fidyah. Jika puasa tersebut dikhawatirkan menyebabkan kematian atau mudharat yang sangat parah bagi dirinya atau anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib tidak berpuasa.
    2. Menurut Mazhab Hanafi: jika wanita hamil dan ibu menyusui mengkhawatirkan mudharat, maka boleh berbuka, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja. Wajib melaksanakan qadha’ketika mampu, tanpa wajib membayar fidyah.
    3. Menurut Mazhab Hanbali: wanita hamil dan ibu menyusui boleh berbuka, jika mengkhawatirkan mudharat terhadap diri dan anak, atau diri saja. Dalam kondisi seperti ini mereka wajib melaksanakan qadha’ tanpa membayar fidyah. Jika yang dikhawatirkan itu anaknya saja, maka wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah.
    4. Menurut Mazhab Syafi’i: wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan mudharat, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja, mereka wajib berbuka dan mereka wajib melaksanakan qadha’ pada tiga kondisi diatas. Jika yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wajib melaksanakan qadha’ dan membayar fidyah.

                    Pendapat Mazhab Syafi’i sama seperti Mazhab Hanbali dalam hal qadha’dan fidyah, hanya saja Mazhab Hanbali membolehkan berbuka jika mengkhawatirkan mudharat, sedangkan Mazhab Syafi’i mewajibkan berbuka. Dalam salah satu pendapatnya Imam Syafi’i mewajibkan fidyah bagi wanita menyusui, tidak wajib bagi ibu hamil, seperti pendapat Mazhab Maliki.

                    Penutup: hadits yang diriwayatkan lima imam dari Anas bin Malik al-Ka’bi. Al-Mundziri berkata, “Ada lima perawi hadits yang bernama Anas bin Malik: dua orang shahabat ini, Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari pembantu Rasulullah Saw, Anas bin Malik ayah Imam Malik bin Anas, ia meriwayatkan satu hadits, dalam sanadnya perlu diteliti. Keempat, seorang Syekh dari Himsh. Kelima, seorang dari Kufah, meriwayatkan hadits dari Hamad bin Abu Sulaiman, al-A’masy dan lainnya. Imam asy-Syaukani berkata, “Selayaknya Anas bin Malik al-Qusyairi yang disebutkan Ibnu Abi Hatim adalah Anas bin Malik yang keenam, jika ia bukan al-Ka’bi”.

     

    Sumber: 

    • Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 291  [Maktabah Syamilah].

    Jawaban Ustadz Abdul Somad Lc MA: Bagaimanakah cara shalat khusyu’?



    Bagaimanakah cara shalat khusyu’?


    Inti dari shalat adalah zikir mengingat Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt.

    • وَأَقِمِ ال لَّا صلَاةَ لِ ي
    • “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (Qs. Thaha *20+: 14).

    Oleh sebab itu Allah Swt mengecam orang yang shalat tetapi tidak mengingat Allah:

    • ) فَػوَ لٌ لِلْمُصَلدِّ ) 4( اللَّا نَ ىُمْ عَنْ صَلَاتِِِمْ سَاىُوفَ ) 5
    • “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (Qs. al-Ma’un *107+: 4-5).

    Zikir mengingat Allah Swt dalam shalat tidak dibangun sejak Takbiratul-Ihram, akan tetapi jauh sebelum itu. Rasulullah Saw sudah mengajarkan kekhusyu’an hati sejak berwudhu’. Dalam hadits disebutkan:

    • مَنْ تَػوَ لَّا ض فَمَضْمَضَ وَاسْتَػنْ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ فَمِوِ وَأَ فِوِ فَ ذَا اَسَلَ وَجْ وُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ وَجْ وِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْػنَػيْوِ فَ ذَا اَسَلَ دَ وِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ دَ وِ فَ ذَا مَسَحَ رَأْسَوُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رَأْسِوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ أُذُ ػيَْوِ فَ ذَا اَسَلَ رِجْلَيْوِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رِجْلَيْوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْوِ وَ ا تْ صَلاَتُوُ وَمَ يُوُ إِلَذ الْمَسْ دِ افِلَة
    • “Siapa yang berwudhu’, ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan”. (HR. Ibnu Majah).

    Wudhu’ bukan sekedar kebersihan fisik, tapi juga telah mengajak hati untuk khusyu’ kepada Allah Swt dan meninggalkan semua keduniawian yang dapat melalaikan hati dari Allah Swt, meskipun hal kecil, oleh sebab itu Rasulullah Saw melarang menjalinkan jari-jemari dan membunyikannya setelah berwudhu’ menjelang shalat:

    • إِذَا تَػوَ لَّا ض أَ دُ مْ فَ سَنَ وُضُوءَهُ ثُُلَّا خَ جَ عَامِدًا إِلَذ الْمَسْ دِ فَلاَ « عَنْ عْبِ بْنِ عُ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ بدِّكَ لَّا ن بػ أَصَابِعِوِ فَ لَّاوُ صَلاَةٍ .
    • Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu berwudhu’, ia berwudhu’ dengan baik, kemudian ia pergi ke masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam shalat”. (HR. at-Tirmidzi).

    Menunggu dan menantikan kehadiran shalat dengan persiapan hati untuk memasukinya. Rasulullah Saw bersabda:

    • قَالُوا بػلََى ا .» أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ « رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ
    • Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ pada saat tidak menyenangkan, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ikatan (dalam kebaikan)”. (HR. Muslim).

    Menjawab seruan azan. Rasulullah Saw bersabda:

    • إِذَا قَاؿَ الْمُ ذدِّفُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . فَػ اؿَ أَ دُ مُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ « – قَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاوُ ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . .» قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . مِنْ قَػلْبِوِ دَخَلَ اتصَْنلَّاةَ

    Rasulullah Saw bersabda:

    • “Apabila mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Salah seorang kamu menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Kemudian mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة ] (Marilah melaksanakan shalat). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ ] (Marilah menuju kemenangan). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Ia menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Mu’adzin mengucapkan: * لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab: : [ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو + (tiada tuhan selain Allah), dari hatinya, maka ia masuk surga”. (HR. Muslim).

    Menjawab ucapan mu’adzin dari hati membimbing hati ke dalam kekhusyu’an shalat. Menutup dengan doa wasilah. Rasulullah Saw bersabda:

    • مَنْ قَاؿَ سْمَعُ الندِّدَاء الللَّا لَّا م رَ لَّا ب ىَ هِ اللَّادعْوَةِ التلَّاالَّامةِ وَال لَّا صلاَةِ الْ ائِمَةِ آتِ تُػَ لَّا مدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْػعَثْوُ مَ امًا تَػْمُودًا اللَّا ى وَعَدْتَو للَّاتْ لَوُ شَفَاعَتَِّ ػوََْ الْ يَامَةِ

    Siapa yang ketika mendengar seruan azan mengucapkan:

    • “Ya Allah Rabb Pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad Saw al-Wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”. Maka layaklah ia mendapat syafaatku pada hari kiamat”. (HR. al-Bukhari.

    Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat. Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati. Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:

    • إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ
    • “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan:
    • قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى – وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى – فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ
    • Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.

    Ketika hamba-Ku itu mengucapkan: [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab: [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab: [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] (hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ] (Raja di hari pembalasan). Allah menjawab: [ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] (hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] (kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong). Allah menjawab: [ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini antara Aku dan hamba-Ku, ia mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab: [ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).

    Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.

    Jawaban  Ustadz Abdul Somad Lc MA: Shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?

    Jika terlambat melaksanakan shalat Qabliyah Shubuh, apakah bisa diqadha’?


    قضاء سنة الف بعد صلاة الف لا ب س بو على ال وؿ ال اجح، ولا عارض ذلك د ث الن ي عن الصلاة بعد صلاة الف ؛ لأف اتظن ي عنو الصلاة التي لا سبب تعا، ولكن إف أخ قضاءىا إلذ الضحى، ولد ش من سيانها، أو الا اؿ عن ا ف و أولذ.

    Qadha’ sunnat Fajar (Qabliyah Shubuh) setelah shalat Shubuh hukumnya boleh menurut pendapat yang kuat (rajih). Tidak bertentangan dengan hadits larangan melaksanakan shalat setelah shalat Shubuh, karena yang dilarang adalah shalat yang tidak ada sebabnya. Akan tetapi jika qadha’, sunnat fajar tersebut ditunda pelaksanaannya hingga waktu Dhuha, tidak khawatir terlupa, atau sibuk, maka itu lebih baik


    Jawaban Ustadz H Abdul Somad Lc MA: Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib

    Jawaban Ustadz H Abdul Somad Lc MA: Shalat Dua Rakaat Sebelum Maghrib

    • Adakah dua rakaat shalat sunnat Qabliyah maghrib?

    Dalam tanya jawab Mufti Syekh ‘Athiyyah Shaqar (Ketua Majlis Fatwa Al-Azhar Mesir pernah juga ditanya hal ini

    Ada beberapa hadits yang bersifat umum yang mengandung makna bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan, juga ada beberapa hadits yang bersifat khusus yang menyatakan bahwa shalat sunnat dua rakaat Qabliyah Maghrib itu disyariatkan.

    Diantara hadits-hadits yang bersifat umum tersebut adalah:

    • Hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Diantara adzan dan iqamat itu ada shalat (Qabliyah), bagi yang mau melaksanakannya”
    • Hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, “Setiap shalat fardhu itu didahului shalat (Qabliyah) dua rakaat”.

    Diantara hadits-hadits yang bersifat khusus:

    • Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwa para shahabat nabi melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib sebelum Rasulullah SAW keluar rumah menemui mereka. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Anas berkata, “Rasulullah SAW melihat kami, beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami”. ‘Uqbah berkata, “Kami melaksanakannya pada masa Rasulullah SAW”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Ahmad dan Abu Daud, “Shalatlah kamu dua rakaat sebelum Maghrib, bagi yang mau melaksanakannya”.
    • Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu disyariatkan berdasarkan ucapan dan Iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Bahwa Rasulullah SAW tidak melaksanakannya, itu tidak menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakannya. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib disyariatkan berdasarkan perbuatan Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban.
    • Sebagian ulama ahli Fiqh tidak menganggap shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa beliau tidak pernah melihat ada shahabat nabi yang melaksanakannya. Akan tetapi riwayat yang menetapkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu ada adalah riwayat Anas. Riwayat Anas ini lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Umar yang menafikannya. Disamping itu terdapat beberapa hadits lain sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Tidak ada hadits yang menghapuskan hukumnya, oleh sebab itu tetap dijadikan dasar hukum pelaksanaannya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu menyebabkan terlambat melaksanakan shalat Maghrib, pendapat ini ditolak, karena Rasulullah SAW memerintahkan agar melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, juga berdasarkan iqrar (ketetapan) Rasulullah SAW. Lagi pula waktu untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu singkat, tidak menyebabkan pelaksanaan shalat Maghrib tertunda dari awal waktunya. (Nail al-Authar, Imam Asy-Syaukani, juz. 2, hal. 8).
    • Disebutkan dalam kitab Al-Mawahib Al-Ladunniyyah karya Imam Al-Qasthallani, juz. 2, hal. 272-273. Shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan menurut Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan para ulama ahli hadits. Diriwayatkan dari Khulafa’ Rasyidin yang empat dan dari sekelompok shahabat nabi bahwa mereka tidak melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, yang meriwayatkan riwayat ini adalah Muhammad bin Nashr dan lainnya dari jalur riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari mereka, riwayat ini terputus, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az-Zarqani pensyarah kitab Al-Mawahib. Sebagian ulama Mazhab Maliki menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib telah mansukh, akan tetapi pendapat ini ditolak karena pendapat yang menyatakan mansukh tidak berdasarkan dalil.
    • Dari Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata, “Merupakan kebenaran bagi setiap mukmin, apabila mu’azin telah mengumandangkan adzan, maka melaksanakan shalat dua rakaat. Imam Al-Qasthallani menyambung pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, “Diriwayatkan pendapat lain dari Imam Malik bahwa beliau menyatakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan untuk dilaksanakan. Menurut pendapat dari kalangan ulama Mazhab Syafi’i ada satu pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi dan ulama yang mengikutinya. Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarh Muslim, “Semua dalil menunjukkan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan”. Al-Muhibb Ath-Thabari berkata, “Tidak ada dalil yang menafikan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu dianjurkan, karena tidak mungkin Rasulullah SAW memerintahkan sesuatu yang tidak dianjurkan. Bahkan hadits ini adalah dalil pertama yang menyatakan bahwa shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu sunnat untuk dilaksanakan”.
    • Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, “Kami di Madinah, apabila mu’adzin mengumandangkan adzan shalat Maghrib, maka kaum muslimin segera mendekat ke tiang masjid, mereka melaksanakan shalat dua rakaat, hingga ada seorang musafir yang memasuki masjid, ia menyangka bahwa shalat Maghrib telah dilaksanakan, karena banyaknya kaum muslimin yang melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib itu”.
    • Akhirnya, saya mengharapkan kepada kaum muslimin agar tidak mengobarkan fitnah disebabkan fanatisme terhadap masalah-masalah khilafiyahyang bersifat furu’. Siapa yang mau melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib, silahkan untuk melaksanakannya, dan bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya saya harap jangan terlalu tergesa-gesa menghukum terhadap sesuatu sebelum mengkajinya secara mendalam dan mengetahui pendapat para ulama tentang masalah tersebut. Agar seruan yang diserukan itu berdasarkan hikmah dan suri tauladan yang baik.

     

    Jawaban Ustadz Abdul Somad Lc MA: Bagaimana Posisi Duduk Imam Setelah Shalat ?

    • Ke arah manakah arah duduk imam setelah salam?


    Sisi kanan tubuh mengarah ke ma’mum, sisi kiri ke arah kiblat, berdasarkan hadits:

    • عَنِ الْبَػ اءِ قَاؿَ نلَّاا إِذَا صَللَّايْػنَا خَلْفَ رَسُوؿِ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- أَ بَبْػنَا أَفْ كُوفَ عَنْ يََِينِوِ ػ بِلُ عَلَيْػنَا بِوَجْ وِ – قَاؿَ – فَسَمِعْتُوُ .» رَ دِّ ب قِنِِ عَ ابَكَ ػوََْ تَػبْػعَثُ – أَوْ تَجْمَعُ – عِبَادَؾَ « ػ وؿُ
    • Dari al-Barra’, ia berkata: “Apabila kami shalat di belakang Rasulullah Saw, kami ingin agar kami berada di sebelah kanan beliau, maka beliau menghadap ke arah kami dengan wajahnya. Saya mendengar

    Rasulullah Saw mengucapkan:

    • رَ دِّ ب قِنِِ عَ ابَكَ ػوََْ تَػبْػعَثُ – أَوْ تَجْمَعُ – عِبَادَؾَ
    • “Ya Tuhanku, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau bangkitkan –kumpulkan- hamba-hamba- Mu”. (HR. Muslim).



    Jawaban Ustadz Abdul Somad Lc MA: Ketika Shalat  akan tegak berdiri, Posisi telapak tangan ke lantai atau tangan mengepal?

    Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?


    • فَ ذَا رَفَعَ رَأْسَوُ مِنْ ال لَّا س دَةِ الثلَّاا يَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُُلَّا قَاَ
    • Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

    Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas:

    • أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاوُ عَلَيْوِ وَسَللَّامَ افَ إذَا قَاَ فِي صَلَاتِوِ وَضَعَ دَ وِ عَلَى الْأَرْضِ مَا ضَعُ الْعَاجِنُ
    • “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini:
    • قَاؿَ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ فِي لَامِوِ عَلَى الْوَسِيطِ : ىَ ا اتضَْدِ ثُ لَا صِحُّ وَلَا ػعُْ ؼُ وَلَا يََُوزُ أَفْ تَ لَّا ج بِوِ . وَقَاؿَ النلَّاػوَوِيُّ فِي شَ حِ الْمُ لَّا بِ : ىَ ا دِ ثٌ ضَعِيفٌ ، أَوْ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَوُ ، وَقَاؿَ فِي التلَّاػنْ يحِ : ضَعِيفٌ بَاطِلٌ ، وَقَاؿَ فِي شَ حِ الْمُ لَّا بِ : لَ عَنْ الْ لَا دِِّ لر أَ لَّاوُ قَاؿَ فِي دَرْسِوِ ، وَىُوَ بِاللَّالايِ وَبِالنُّوفِ أَصَحُّ وَىُوَ اللَّا ي ػ بِضُ دَ وِ وَ ػ وُ مُعْتَمِدًا عَلَيْػ ا ، قَاؿَ : وَلَوْ صَ لَّا ح اتضَْدِ ثُ لَكَافَ مَعْنَاهُ قَاَ مُعْتَمِدًا بِبَطْنِ دَ وِ مَا ػعَْتَمِدُ الْعَاجِلُ ، وَىُوَ ال لَّا يْخُ الْكَبِيرُ ، وَلَيْسَ الْمُ ادُ عَاجِنَ الْعَ ثُُلَّا قَاؿَ : ػعَْنِي مَا ذ هُ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ ، أَ لَّا ف . الْ لَا لَِّا لر كَى فِي دَرْسِوِ ىَلْ ىُوَ الْعَاجِنُ بِالنُّوفِ ، أَوْ الْعَاجِلُ بِاللَّالايِ ، فَ لَّاما إذَا قُػلْنَا : إ لَّاوُ بِالنُّوفِ فَػ وَ عَاجِنُ اتطُْبْلِ ػ بِضُ أَصَابِعَ لَّافيْوِ وَ ضُمُّ ا وَ ػتَلَّاكِئُ عَلَيْػ ا ، وَ ػ تَفِعُ وَلَا ضَعُ رَا تَػيْوِ عَلَى الْأَرْضِ ، قَاؿَ ابْنُ ال لَّا صلَاحِ : وَعَمِلَ ا ثِيرٌ مِنْ الْعَ مِ ، وَىُوَ إثْػبَاتُ ىَيْئَةٍ شَ عِيلَّاةٍ فِي ال لَّا صلَاةِ لَا عَ دَ ا ، بَِِدِ ثٍ لدَْ ػثَْبُتْ ، وَلَوْ ثػبََتَ لدَْ كُنْ ذَلِكَ مَعْنَاهُ ، فَ لَّا ف الْعَاجِنَ فِي اللُّ ةِ : ىُوَ اللَّا جُلُ الْمُسِنُّ ، قَاؿَ ال لَّا اعِ : فَ لَّا خِصَاؿِ الْمَ ءِ نْتَ وَعَاجِنَ قَاؿَ : فَ فْ افَ وَصْفُ الْكِبَرِ بِ لِكَ مَ خُوذًا مِنْ عَاجِنِ الْعَ فَالتلَّا بِيوُ فِي شِلَّادةِ الِاعْتِمَادِ عِنْدَ وَضْعِ الْيَدَ نِ لَا فِي يْفِيلَّاةِ ضَ دِّ م أَصَابِعِ ا
    • Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ الْعَاجِلُ ] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ الْعَاجِنُ ] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ الْعَاجِنُ ] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ الْعَاجِلُ ] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ الْعَاجِنَ ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * عَاجِنِ الْعَ ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari26.

    Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini:

    • و مالك بن و ث -أ ض اً- ذ أف النبِ صلى الله عليو وسلم ] اف إذا أراد أف و اعتمد على د و[ ولكن ىل ىو على صفة العاجن أ لا؟ ف ا نبني على صحة اتضد ث الوارد في ذلك، وقد أ ك النووي رتزو الله في المجموع صحة ى ا اتضد ث، أي: أ و و العاجن، وبعض اتظت خ ن صححو. وعلى لٍ فال ي ظ من اؿ النبِ صلى الله عليو وعلى آلو وسلم أ و يَلس؛ لأ و بر وأخ ه اللحم، فكاف لا ستطيع الن وض تداماً من الس ود إلذ ال يا، فكاف يَلس ثُ إذا أراد أف ن ض و و اعتمد على د و ليكوف ذلك أس ل لو، ى ا ىو الظاى من اؿ النبِ صلى الله عليو وعلى آلو وسلم، وتع ا اف ال وؿ ال اجح في ى ه اتصلسة -أعني: جلسة الاسترا ة- أ و إف ا تاج إلي ا لكبر أو ث ل أو م ض أو ألد في ر بتيو أو ما أشبو ذلك فلي لس، ثُ إذا ا تاج إلذ أف عتمد عند ال يا على د و فليعتمد على أي صفة ا ت، سواء اعتمد على ظ ور الأصابع، عني: ترع أصابعو ىك ا واعتمد علي ا أو على را تو، أو اير ذلك، اتظ م إذا ا تاج إلذ الاعتماد فليعتمد، وإف لد تج فلا عتمد.
    • Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih. Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw. Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu27.


    Sumber:

    • 99 Tanya Jawab Shalat Abdul Somad Lc Ma


    %d blogger menyukai ini: