Category Archives: KISAH INSPIRATIF

Kisah Inspiratif Keteladanan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu

Kisah Inspiratif Keteladanan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu

Menyebut nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT.

Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.

Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.

Dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, dipaparkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya di jemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah.

Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kepada para penyiksanya, kecuali hanya memohon kepada Allah. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, Bilal tetap teguh pendirian.

Ia selalu mengucapkan, “Ahad-Ahad.” Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah). Abu Bakar as-Sidiq lalu memerdekakannya. Umar bin Khattab berujar, “Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.”

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Azan pertama

Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum Muslim lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyariatkan azan. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan azan karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan azan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam.

Setelah sekian lama tinggal di Madinah, Bilal senantiasa menjadi pengumandang azan. Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya berseru, “Hayya ‘alashshalaati hayya ‘alashshalaati (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan).” Lalu, ketika Rasulullah SAW keluar dari rumah dan Bilal melihatnya, ia segera melantunkan iqamat sebagai tanda shalat berjamaah akan segera dimulai.

Ketika menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW berjalan di depan pasukan Muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah.

Tak lama kemudian, waktu shalat Zuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan.

Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Azan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan azan pertama di Makkah.

Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Saat sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Sejak saat itu, Bilal pun terkenal sebagai muazin Rasul. Bahkan, ia menjadi muazin tetap saat Rasul masih hidup. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal. Yang lain pun tak keberatan Bilal melakukannya.

Namun, saat Rasul SAW wafat dan ketika shalat akan dikumandangkan, Bilal pun segera berdiri untuk melaksanakan kewajibannya. Saat itu, jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.

Maka, ketika Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),” tiba-tiba suaranya terhenti. Bilal menangis. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh manusia yang paling dicintainya. Tak hanya kaum Muslim, Allah pun mencintai Rasulullah SAW. Seperti dikomando, tangisan Bilal itu diiringi oleh kaum Muslim yang hadir. Mereka semua menangis karena ditinggal pergi sang kekasih.

Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra’fat Basya, dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi,” ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslim yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Kemudian, Bilal mendatangi Abu Bakar as-Sidiq, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam, agar dia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan azan lagi. Ia seakan tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal tak pernah lagi menjadi muazin bagi seseorang.

Pernah Bilal melakukannya ketika Khalifah Umar mengunjunginya di Damaskus. Namun, itu pun hanya sampai kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuluullaahi.” Ia lagi-lagi menangis mengingat Rasulullah SAW. Bahkan, Umar pun turut menangis. Azan yang dikumandangkan Bilal mengingatkan Umar ketika bersama-sama dengan Rasulullah SAW, orang yang paling dicintainya.

Kini, sang muazin Rasulullah SAW ini sudah berpulang sejak 14 abad silam, tepatnya tahun ke-20 H. Namun, namanya masih harum hingga kini. Bahkan, di sejumlah masjid di Indonesia, mungkin juga di negara lainnya, nama muazin selalu tercantum dengan tulisan bilal. Ini menunjukkan sebagai penghormatan kepada sang muazin Rasulullah, pengumandang azan pertama di dunia. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya.

Tak Pernah Meninggalkan Wudhu

Nama Bilal memang kerap dikaitkan dengan azan. Sebab, dia adalah orang pertama yang menjadi muazin pada zaman Rasul SAW. Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena azannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah SAW di dalam surga. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi bagi setiap orang yang beriman.

Suatu hari, pada waktu Subuh, Rasulullah SAW berbincang-bincang dengan Bilal bin Rabah. Rasul berkata, “Wahai, Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya, yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara telapak langkah (jalan)-mu di hadapanku di surga.”

Bilal menjawab, “Wahai, Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya.”

Jadi, setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat, yakni shalat sunat wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara (dawam) wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu.

Semasa hidupnya, Bilal telah meriwayatkan 44 hadis dari Nabi SAW. Di antaranya, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian menunaikan shalat malam (tahajud) karena shalat malam adalah tradisi (kebiasaan) orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya, shalat malam adalah amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dapat mencegah dari perbuatan dosa, mengampuni dosa-dosa kecil, dan menghilangkan penyakit dari badan.” (HR Tirmidzi).

Selain sebagai muazin, Bilal juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di baitul mal. Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Tentang Bilal, Rasulullah SAW mengatakan, “Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah.” (HR Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir).

Bilal meninggal dunia di Damaskus pada 20 H. Jasadnya dimakamkan di sana. Namun, ada riwayat yang menyebutkan bahwa jasad Bilal dimakamkan di wilayah Halb.

Kisah Sahabat Nabi : Ja’far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Nabi Muhammad SAW

Ja’far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Nabi Muhammad SAW

Ja’far Bin Abi Thalib merupakan satu diantara lima sahabat Nabi SAW yang memiliki kemiripan dengan Rasulullah SAW. Namun diantara kelimanya Ja’far tercatat paling mirip dengan Rasulullah SAW. Hingga diriwayatkan, jika dilihat dari belakang, sulit membedakan antara Ja’far dan Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya tampilan fisik, karakter Ja’far juga mirip dengan Rasulullah SAW.

Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far “Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlak ku karena kamu berasal dari ku dan merupakan keturunanku.”

Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam. Bagaimanakah perjalanan seorang Ja’far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?

Ja’far yang merupakann sepupu Nabi Muhammad SAW ini langsung menyatakan Keislamannya begitu mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada sang Istri, istrinya Asma bin Umais.Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.

Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja’far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Meski kebahagiaan Islam telah menyelimti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah SAW dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar sang ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.

Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin berang dan tidak terima. Mereka membuat banyak gangguan untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah SAW lantaran sang Nabi mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.

Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.

Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.

Rasulullah SAW memilih Ja’far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja’far sepertit mengenal dirinya sendiri. Ja’far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari Nabi mereka.

Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat berang kaum musrik Quraisy. Mereka tidak tenang pengikut Nabi Muhammad SAW beribadah dengan nyaman. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling jago berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi

Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar memprofokasi raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.

Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal dinegerinya.

Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja. Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’fat dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.

Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.

Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Sang raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.

Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah SAW. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidakk beriman.

Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah SAW, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun ke delapan hijriyah, Rasulullah SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Beliau mengangkat Zait bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Jika Zait bin Haritsah gugur, maka digantikan oleh Ja’far Bin Abi Thalib, jika Ia cidera dan tewas pula, Ia digantikan oleh Abdullah bin Rawaha dan apabila Abdullah Bin Rawaha cidera dan gugur pula, hendaklah kaum muslimin memilih komandan diantara mereka.

Sampai di Mut’ah, sebuah kota dekat Syam daerah Yordania mereka mendapati pasukan Romawi dengan 100 ribu pasukan yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab, sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan peperangan dahsyat pun terjadi. Komandan Muslimin, Zait Bin Haritsah gugur sebagai shahid, melihat Zait gugur, Ja’far kemudian melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah SAW dari tangan Zaid. Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kekiri dengan hebat.

Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang puntung, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syahid di medan Mut’ah.

Rasulullah SAW sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar beliau pergi kerumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah SAW.

“Ketika Rasulullah SAW mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami,”

Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah SAW. Rasulullah SAWA langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Beliau berlinang membasahi pipi mereka.

Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thalib, Seorang Yang Kuat Lagi Dapat Dipercaya

Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thalib, Seorang Yang Kuat Lagi Dapat Dipercaya

Pada suatu hari, Rasulullah S.a.w. keluar dari rumahnya bersama Ali hingga perjalanan mereka berdua sampai di Ka’bah. Kemudian Rasulullah S.a.w. memerintahkan Ali dengan bersabda, “Jongkoklah”, kemudian Ali pun jongkok. Setelah itu Rasulullah S.a.w. lalu memanjat kedua pundak Ali untuk naik ke atas Ka’bah. Namun karena Usia Ali masih kanak-kanak dan fisiknya lemah, maka ia tidak mampu berdiri menanggung beban badan beliau. Setelah Nabi S.a.w. turun lagi dan berkata kepada Ali, “Kamu naiklah ke kedua pundakku.” Mendapatkan perintah ini, Ali pun lalu naik ke pundak beliau dan beliau kemudian bangkit dengan posisi mengangkat Ali hingga Ali dapat naik di atas Ka’bah yang telah dipenuhi berbagai macam patung yang terbuat dari tembaga. Kemudian ia memporak-porandakan patung-patung tersebut.

Setelah patung-patung di atas Ka’bah porak-poranda, Ali bergegas turun dan mereka berdua dengan segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka berjalan mengendap-endap lalu menyelinap agar tidak ada orang yang melihat mereka. Mereka berdua kemudian bersembunyi di rumah karena khawatir langkah mereka diketahui orang banyak.

Namun melaksanaan perintah Nabi S.a.w. yang lain, tidur menempati ranjang beliau di malam hijrah, adalah satu hal yang paling berresiko dilaksanakan Ali sepanjang hidupnya. Akan tetapi, mari kita simak bersama secara seksama peristiwa apa yang sedang berlangsung pada malam itu.

Pada malam itu, jagoan orang-orang musyrik Makkah berdatangan dari segala penjuru sedang mengelilingi rumah Rasulullah S.a.w. membentuk pagar betis karena hendak membunuh beliau. Dalam kondisi mereka sedang berjaga-jaga ini, Allah kemudian membuat mereka semua tertidur sejenak sehingga Rasulullah S.a.w. dapat keluar dari rumahnya tanpa ada seorang pun dari mereka yang dapat melihat beliau. Kemudian beliau menebar pasir di kepala mereka. Setelah sampai di tempat Ali, beliau bersabda kepada Ali,

“Kamu tidurlah di ranjangku dan tutupilah dirimu dengan selimut tidur yang biasa aku kenakan. Sesungguhnya tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu.”

Ali pun lalu masuk dan tidur di ranjang beliau dengan mengenakan selimut sebagaimana yang dikenakan beliau sebelumnya sewaktu tidur.

Dari sini dapat dipahami bahwa Ali telah memperoleh kehormatan yang mulia. Ia tidur di ranjang beliau tanpa merasa takut sedikit pun dari orang-orang kafir Quraisy yang tengah bersiaga penuh di depan pintu rumah Rasulullah S.a.w. hendak membunuh beliau dengan pedang di tangan mereka. Dalam kondisi semacam ini, jiwa Ali merasa tenang tanpa merasa gentar pada keganasan Abu Jahal berikut teman-temannya karena Nabi S.a.w. telah berjanji bahwasanya mereka semua tidak akan mampu menyakiti Ali.

Setelah Rasulullah S.a.w. meninggalkan rumah untuk berhijrah, orang-orang musyrik lalu masuk ke rumah beliau itu. Namun tatkala mereka membuka selimut badan orang yang berbaring di ranjang incaran mereka, betapa terkejutnya mereka. Karena bukannya menemukan orang yang mereka targetkan, yaitu Nabi S.a.w., tetapi mereka justeru mendapati Ali. Dengan geram mereka kemudian bertanya kepada Ali, “Dimana Muhammad?” Ali pun menjawabnya dengan tenang dan percaya diri, “Aku tidak mengetahuinya.”

Sesungguhnya jawaban yang diberikan Ali ini merupakan tehnik yang ia pelajari dari Rasulullah S.a.w.. Hal ini bisa terjadi karena adanya perasaan percaya akan janji Allah kepada Nabi-Nya bahwasanya dirinya tidak akan mendapatkan penganiayaan sedikit pun. Dan yang demikian ini adalah termasuk sifat kaum mukminin yang benar-benar beriman.

Sementara itu, di luar sana, Nabi S.a.w. telah berangkat menuju Madinah. Sedang Ali tetap tinggal di Makkah untuk mengembalikan barang titipan dan amanat kepada pemiliknya yang ditinggalkan oleh Nabi S.a.w.. Dan sungguh, Ali adalah seorang yang kuat lagi dapat dipercaya.

Kisah Inspiratif Abu Bakar R.a dan Umar R.a: Berlomba dalam Kebaikan

Kisah Inspiratif Abu Bakar R.a dan Umar R.a: Berlomba dalam Kebaikan

Sahabat Abu Bakar R.a. dan Umar R.a. adalah dua menteri Rasulullah dan keduanya juga merupakan ayah mertua dari Rasulullah. Mereka berdua adalah orang yang pertama kali diperintah oleh Rasulullah dalam setiap urusan, sehingga di antara mereka berdua saling mencintai dan mengasihi dan saling berlomba dalam kebaikan, masing-masing ingin mengungguli yang lain.

Dalam persaingan tersebut Abu Bakarlah yang selalu jadi pemenangnya. Dalam perang Tabuk, Umar berkata, “Hari ini aku pasti bisa mengungguli Abu Bakar.” Dia pergi dengan membawa separoh hartanya kepada Rasulullah S.a.w.. Maka Rasulullah S.a.w. bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?”

Umar menjawab, “Aku telah menyisakan separoh harta bendaku untuk keluargaku.”

Tiba–tiba Abu Bakar datang membawa harta bendanya, lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar menjawab, “Aku telah menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Umar pun sadar bahwa pada saat itu kebaikan Abu Bakar telah mengungguli kebaikannya. Bukan hanya pada kali ini saja Abu Bakar selalu mengalahkan Umar dalam masalah kebaikan.

Pada suatu hari setelah melaksanakan shalat subuh, Rasul bertanya, “Siapakah di antara kalian yang melakukan puasa di hari ini?”

Umar berkata, “Wahai Rasulullah, malam tadi aku tidak berniat puasa sehingga sekarang aku tidak berpuasa.”

Abu Bakar berkata, “Aku wahai Rasulullah, malam tadi aku berniat berpuasa sehingga sekarang aku berpuasa.”

Rasulullah S.a.w. bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”

Umar berkata, “Sekarang kita hanya melakukan shalat, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, lalu aku menjenguknya kemudian baru aku datang ke masjid.”

Nabi S.a.w. lalu melanjutkan pertanyaannya, “Siapakah di antara kalian yang telah berderma di hari ini?”

Umar berkata, “Wahai Rasulullah S.a.w., kami masih selalu bersamamu, bagaimana kami bershadaqah?”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, di saat aku akan masuk ke masjid tiba-tiba ada orang yang meminta-minta, saat itu juga aku melihat putera Abdurrahman bin Abu Bakar membawa sepotong roti, roti itu kemudian aku ambil dan aku berikan kepada peminta-minta tersebut.”

Maka Nabi S.a.w. berkata, “Bergembiralah dengan surga, bergembiralah dengan surga.”

Di belakang Rasulullah S.a.w. yang berada di barisan terdepan dalam meraih kebaikan adalah Abu Bakar tidak terkecuali yang dikalahkan adalah Umar bin Al-Khathab R.a..

Suatu hari, dari kejauhan Umar melihat wanita tua renta yang membutuhkan pertolongan. Maka dia bergegas ingin menolongnya. Namun ternyata ada seorang lelaki yang lebih dahulu menolong wanita tua renta itu.

Pada hari berikutnya, peristiwa tersebut terulang kembali sehingga Umar bertanya kepada wanita tersebut, “Siapakah yang telah memberikan bantuan kepadamu?”

Wanita tua itu menjawab, “Seorang lelaki yang selalu datang kepadaku setiap hari.”

Dari kejauhan ia lalu menanti datangnya laki-laki tersebut ke rumah wanita tua tersebut, ternyata laki-laki yang datang ke rumah wanita itu adalah Abu Bakar. Melihat kenyataan yang seperti itu Umar berkata, “Aku tidak berlomba dengan Abu Bakar dalam sesuatu, kecuali dialah yang memenangkannya.”

Inspirasi Luarbiasa Hebat Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Inspirasi Luarbiasa Hebat Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa, Nabi SAW memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat. Beliau menawarkan kalau ada yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu. Berdirilah satu orang Anshar, yakni Abbad bin Bisyr, dan seorang Muhajirin, yakni Ammar bin Yasir. Rasulullah SAW menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.

Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”

“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.

Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim.

Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat. Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”

Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”

“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surattersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”

Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi.

Hari-hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”

“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.

Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya. Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang-orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!”

Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan. Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra
Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa, Nabi SAW memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat. Beliau menawarkan kalau ada yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu. Berdirilah satu orang Anshar, yakni Abbad bin Bisyr, dan seorang Muhajirin, yakni Ammar bin Yasir. Rasulullah SAW menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.
Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”
“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.
Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim.
Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat. Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”
Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”
“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surattersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”
Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi.
Hari-hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”
“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.
Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya. Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang-orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!”
Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan. Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.

Kisah Inspiratif Ramadhan: Cibta Sejati Abu Bakar RA

Cinta Sejati Abu Bakar RA

Orang-orang muslim dan musyrik tahu, bahwa Abu Bakar dalam membelanjakan hartanya ke jalan Allah bukanlah semata-mata karena kehormatan dan cita-cita dunia atau kebesaran yang dibanggakan manusia. Sifat inilah yang menghiasi orang-orang muslim, seperti sahabat Abu Bakar R.a.

Suatu ketika baginda Rasulullah S.a.w. berdiri di depan Ka`bah, beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada orang-orang musyrik. Mereka lalu berdiri dan hendak memukul Nabi, namun kedahuluan Abu Bakar melihat peristiwa itu, sehingga dia buru-buru melindungi Rasulullah seraya berkata, “Apakah kalian akan membunuh setiap orang yang mengatakan, “Allah adalah Tuhanku?”

Melihat ada orang yang membela Nabi, orang-orang musyrik lalu meninggalkan Nabi S.a.w., dan mereka malah menyerang dan memukul Abu Bakar, namun Abu Bakar menerimanya dengan sabar, hingga wajahnya membengkak dan lebam.

Orang-orang musyrik tidak mengetahui lagi mana mata dan hidungnya, karena bentuk wajahnya tidak tampak secara sempurna. Mereka menyangka bahwa Abu Bakar telah tewas, lalu mereka meninggalkannya.

Kemudian Bani Taim yang merupakan kaum atau kabilah Abu Bakar datang dan membawa Abu Bakar ke rumahnya, Bani Taim bersumpah akan membunuh orang yang telah melukai Abu Bakar ini jika Abu Bakar meninggal karena luka tersebut.

Sampai di rumah Abu Bakar tersadar, dan di saat ia tersadar dari pingsannya, pertayaan yang pertama kali ditanyakannya adalah, “Apa yang terjadi pada diri Rasulullah.”

Keluarganya menjadi marah dengan pertanyaan Abu Bakar itu, karena mereka termasuk orang-orang kafir. Keluarganya berkata pada ibunya, “Suapilah ia dengan makanan dan berilah ia minuman.”

Abu Bakar berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan minum dan merasakan makanan sampai aku tahu apa yang terjadi dengan diri Rasulullah.”

Mendengar jawaban dari puteranya seperti itu, ibunya memandanginya dengan rasa sakit dan iba. Tak lama setelah itu, sang ibu pun berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang menimpa sahabatmu itu.”

Abu Bakar berkata, “Pergilah ke rumah Fatimah binti Al-Khathab dan tanyakan kepadanya apa yang terjadi dengan Rasulullah.”

Ibunya lalu beranjak pergi untuk mencari tahu keadaan Rasulullah dari Fatimah binti Al-Khathab, walaupun ia sedih karena keadaan anaknya yang darahnya selalu bercucuran dan wajahnya bengkak. Dengan langkah yang gontai, sampailah sang ibu di rumah Fatimah binti Al-Khathab. Dan di saat Fatimah melihatnya, Fatimah menyangka bahwa wanita yang mendatanginya adalah mata-mata kaum Quraisy.

Sang ibu yang sedang menginginkan kesembuhan anaknya itu berkata, “Pergilah bersamaku untuk menemui anakku.”

Mereka berdua lalu pergi untuk menemui Abu Bakar. Setelah Fatimah sampai kepada Abu Bakar dan mendapati wajahnya yang berlumuran darah dan penuh dengan luka, Fatimah berteriak dan berkata, “Aku memohon kepada Allah, semoga Allah membalaskanmu.”

Dalam benak Abu Bakar tak pernah terbesit sesuatu kecuali keadaan Rasulullah S.a.w., ia lalu bertanya kepada Fatimah, “Bagaimana keadaan Rasulullah S.a.w.?”

Fatimah menjawab, “Beliau selamat.”

Saat ibunya mendengar jawaban dari Fatimah, ia buru-buru menyodorkan minuman kepada anaknya. Saat Abu Bakar melihat ibunya menyodorkan minuman kepadanya, ia buru-buru berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan makan dan minum sampai aku melihat baginda Rasulullah dengan mataku sendiri.”

Abu Bakar lalu keluar rumah ingin menemui Rasulullah, akan tetapi ia tidak mampu membawa dirinya yang penuh luka, lalu ia bersandar pada ibunya dan dengan bantuan Fatimah sampai ia di rumah Rasulullah.

Setelah sampai dan bertatapan muka dengan Rasulullah ia berkata, “Demi ayah dan ibuku aku korbankan untukmu wahai Rasulllah, dan ini adalah seorang ibu yang telah mengasuh anaknya dengan baik, wahai Rasulullah do`akanlah dia agar Allah memberinya petunjuk.”

Mendengar ucapan Abu Bakar, hati Rasulullah S.a.w. terenyuh sampai kedua mata beliau mengeluarkan air mata, dan Abu Bakar pun menangis, mereka lalu berpelukan karena terharu.

Kisah Inspiratif Ramadhan: Abu Bakar RA dan Peminta Maaf

Suatu hari, terjadi pertengkaran antara Abu Bakar RA dan seseorang yang juga beragama Islam bernama Rabi’ah Al-Aslami.

Dalam pertengkaran tersebut Abu Bakar mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya. Maka Abu Bakar menyesali ucapannya itu sehingga ia berkata, “Wahai Rabi`ah balaslah kata-kata yang telah membuatmu tersinggung.”

Rabi`ah menjawab, “Aku tidak mau melakukannya.”

Abu Bakar berkata lagi, “Balaslah kata-kata itu, atau aku pergi kepada Rasulullah.”

Abu Bakar pun pergi menemui Rasulullah. Kepergiannya ini diikuti kaum dan keluarga Rabi`ah. Kaum Rabi`ah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Bakar atas apa yang telah diucapkannya, lalu mengadukannya pada Rasulullah.”

Melihat hal itu, Rabi`ah berkata, “Apakah kalian tidak mengetahui, siapakah Abu Bakar ini? Dia adalah salah seorang dari dua orang yang berada dalam gua, orang yang mempunyai kematangan dalam agama, jagalah ucapan kalian jangan sampai dia marah padaku dan mengadukannya kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah marah sebab kemarahan Abu Bakar. Karena Allah akan murka sebab kemarahan Rasulullah dan kemarahan Abu Bakar.”

Sampailah Abu Bakar di hadapan Rasulullah dan menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Rabi’ah. Tak lama kemudian Rabi’ah pun datang di tempat itu. Melihat kedatangan Rabi’ah, Rasulullah pun lantas bersabada kepadanya, “Wahai Rabi’ah apa yang terjadi antara kamu dan Ash-Shiddiq?”

Rabi’ah menjawab, “Wahai Rasulullah, Abu Bakar telah berkata kepadaku begini dan begini, sampai ia mengatakan satu kata yang membuatku tersinggung. Kemudian ia mengatakan kepadaku, “Katakan sebagaimana apa yang aku katakan kepadamu.” Namun, aku menolaknya.”

Mendengar itu Rasulullah bersabda, “Jangan balas, akan tetapi katakanlah Allah telah mengampunimu wahai Abu Bakar.”

Kejadian di atas menunjukkan penghormatan Nabi kepada Abu Bakar dan bahwasanya beliau lebih mengutamakan Abu Bakar dari sahabat-sahabat yang lain. Karena beliau tahu bahwasanya Abu Bakar selalu menolongnya setelah Allah. Nabi juga pernah bersabda, “Tidak ada harta yang menyamai kemanfaatannya bagiku dari kemanfaatan harta Abu Bakar terhadapku.”

Hikmah :

Dari kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang muslim yang baik adalah apabila ia melakukan kesalahan ia akan langsung meminta maaf atas kesalahannya. Dan seorang muslim yang baik adalah apabila ia disakiti, ia tidak akan membalas dengan pembalasan yang serupa tapi justru memintakan ampunan kepada Allah SWT.

Betapa mulia sahabat-sahabat Rasulullah SAW, “Ya Allah berikanlah kepada kami kemampuan untuk meneladani akhlak-akhlak mulia mereka. Amin…”

Kisah Paling Inspiratif : Umar Bin Khattab Tolak Kenaikkan Gaji Sebagai Khalifah

Ketika Umar ibn Khattab diangkat sebagai khalifah, maka ditetapkanlah baginya gaji yang setara dengan nilai yang diterima pendahulunya, yakni Abu Bakar As-Shidiq. Sayangnya, di saat bersamaan harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik. Para sahabat prihatin, mereka berkumpul untuk merumuskan ulang apa yang telah diputuskan sebelumnya. Turut dalam pertemuan itu; Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Thalhah, serta Zubair.

“Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada Umar agar tunjangan hidupnya dinaikkan. Jika Umar menerima usulan ini, kita naikkan tunjangan hidup beliau,” ujar salah satu di antara para sahabat yang hadir.

Para sahabat bersepakat. Mereka langsung bergegas menuju rumah sang khalifah. Ketika baru separuh perjalanan, tiba-tiba Utsman menyela, ” Sebaiknya usulan ini jangan langsung disampaikan kepada Umar. Lebih baik kita beri isyarat lebih dulu melalui putrinya, Hafsah. Saya khawatir, khalifah justru akan murka.”

Tujuan pun berbelok, ditemuinya Hafsah istri Rasulullah. Namun ketika putri kesayangannya itu menyampaikan usulan para sahabat, Umar marah. Kepada Hafsah ia berkata, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?”

Hafshah menjawab, “Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum ayah memberitahukan pendapat tentang usulan itu.”

Umar menghela napas, lalu bertanya, “Demi Allah, ketika Rasulullah Muhammad masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki beliau di rumahnya?”

“Rasulullah hanya memiliki dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi dipakai sehari-hari,” jawab Hafsah.

Umar kembali bertanya, “Bagaimana dengan makanan yang dimiliki Rasulullah?”

Hafshah menjawab, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin.”

“Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?” tanya Umar, lagi.

“Tidak,” jawab Hafsah. “Beliau hanya memiliki selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur saat musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di atas tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur.”

Sang khalifah pun akhirnya berkata, “Wahai Hafsah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW senantiasa hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu dibagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku pun akan mengikuti jejaknya. Perumpamaanku dengan kedua sahabatku, yakni Rasulullah dan Abu Bakar adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkan yang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yang terdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya dan bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat.”

Kisah Inspiratif Ramadhan : Abu Bakar As-Shiddiq Memeluk Agama Islam

Abu Bakar As-Shiddiq Memeluk Agama Islam

Orang-orang arab pada masa jahiliyah kebanyakan memiliki profesi sebagai pedagang, salah satunya adalah Abu Bakar. Suatu ketika saat beliau berada di kota Syam untuk berdagang, di sana beliau bermimpi ketika sedang tidur. Dalam mimpi tersebut, beliau melihat matahari dan bulan yang berada di kamar beliau. Kemudian beliau memegang dan memeluk keduanya lalu menyelimuti keduanya dengan selendang beliau.

Saat terbangun dari mimpi, Abu Bakar merasakan ada sesuatu yang istimewah dalam mimpi itu yang membuat beliau penasaran. Tak kuasa menahan rasa penasaran itu, beliau segera pergi menemui seorang rohib nasrani (pendeta) untuk menanyakan arti dari mimpi aneh itu.

Setelah Abu Bakar menceritakan mimpi beliau, sang rohib bertanya “Dari mana kamu berasal ?”, beliau menjawab “Dari Kota Mekkah”. Sang rohin bertanya kembali “Dari qobilah (suku) mana ?”, beliau menjawab “Dari qobilah Bani Taim”. Sang rohib bertanya lagi “Apa pekerjaanmu ?”, beliau menjawab “Seorang pedagang”.

Kemudian sang rohib menjelaskan kepada beliau arti mimpi tersebut “Ada seorang dari qobilah Bani Hasyim yang bernama Muhammad Al-Amin (Al-Amin adalah julukan bagi Rosulullah SAW sebagai seorang yang dapat dipercaya sebelum beliau menjadi Rosul), ia adalah seorang nabi terakhir yang diutus. Jika tidak karena Muhammad, maka Allah tidak akan menciptakan langi bumi seisinya, dan Allah tidak akan menciptakan Adam, para nabi, dan para rosul lainnya. Ia adalah sayyidul anbiya’ wal mursalin sekaligus sebagai penutup dari para nabi. Dan kamu akan memeluk agamanya, menjadi pendamping baginya, dan menjadi kholifah sesudahnya. Ini adalah arti dari mimpimu”.

Sang rohib juga menambahi perkataannya “Aku telah menemui sifat-sifatnya dalam kitab Taurot, Injil, dan Zabur. Sesunggunya aku juga sudah memeluk agamanya, dan menyimpan keislamanku karena takut kepada orang-orang nasrani”.

Setelah Abu Bakar mendapati arti dari mimpi anehnya dan mengetahui sifat-sifat Rosulullah SAW, hati beliau menjadi luluh terenyuh. Tak kunjung beliau pun semakin rindu untuk berkunjung menemui Rosulullah SAW. Setelah beliau sampai di Mekkah, beliau segera mencari seseorang yang bernama Muhammad Al-Amin.
Waktu pun berjalan menghiasi indahnya persahabatan, dan semakin hari, Abu Bakar semakin akrab dengan Rosulullah SAW. Beliau sering berkunjung menemui Rosullulah SAW dan menghabiskan waktunya bersama Rosulullah SAW, ini seolah beliau tidak kuasa tanpa melihat Rosulullah SAW.

Hingga pada suatu hari, Rosulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar “Wahai Abu Bakar, setiap hari kamu datang kepadaku dan duduk bersanding denganku, tapi mengapa kamu masih belum mau memeluk agama islam ?”. Beliau pun menjawab pertanyaan Rosulullah SAW “Jika kamu memang seorang nabi, pasti kamu memiliki mu’jizat”.
Dengan ringan, Rosulullah SAW menjawab “Apakah belum cukup bagimu mu’jizat yang kamu lihat di kota Syam, kemudian seorang rohib mengartikan mimpimu dan menceritakan keislamannya kepadamu ?”. Setelah mendengar perkataan Rosulullah, serentak Abu Bakar pun mengucapkan ikrar “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah”.

Sejak saat Abu Bakar memeluk agama islam, beliau selalu menjadi pendamping bagi Rosulullah SAW kemanapun beliau pergi, menanggung suka dan duka bersama-sama. Abu Bakar bahkan selalu membenarkan setiap perkataan Rosulullah SAW, itulah mengapa beliau mendapatkan julukan As-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan Rosulullah SAW”.
Demikian kisah tentang Abu Bakar As-Shiddiq memeluk agama islam, semoga dengan kisah ini, kita bisa mendapatkan inspirasi dan hati yang baru untuk lebih yakin kepada agama islam. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan rohmat-Nya kepada Rosulullah SAW, sahabat, keluarga, dan umat beliau.

Kisah Inspiratif Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur Setelah Shalat Subuh

Kisah Inspiratif Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur Setelah Subuh

Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Aku pergi ke tempat Uwais Al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat subuh.”

Aku berkata, “Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu zuhur, beliau mengerjakan shalat zuhur, dan begitu masuk waktu ashar, beliau shalat ashar. Selesai shalat ashar, beliau duduk sambil berzikir hingga tiba waktu maghrib. Setelah shalat maghrib, beliau menunggu waktu isya’, kemudian shalat isya’. Selesai shalat isya’, beliau mengerjakan shalat hingga menjelang subuh. Setelah shalat subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.’” (Az-Zuhdul Awa’il, Musthafa Hilmi, 84)

Sumber:

  • 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan â430/2009.

Kisah Inspiratif Mualaf: Suara Azan Membuat Hati Maria Bergetar

Suara Azan Membuat Hati Maria Tergetar

Suara Azan Membuat Hati Maria Tergetar

Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam. Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya. Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah.

Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya. Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas.

Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya. Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

‘’Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,’’ ungkap Maria.

Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam

Anak Ajaib Ini Membuat 7-Juta Kristen menjadi Muslim

Subhanallah… sungguh benar-benar Anak Ajaib!! Memang dirinya penuh keajaiban sejak dilahirkan. Terlahir dari keluarga Kristen sebagai anak ke-9 (wow!), ia pun benar-benar terlahir secara ajaib, dari seorang ibu yang mengalami kelumpuhan anggota badan tangan dan kaki setelah usia kandungan 5 bulan. Ajaib pula, bahwa kelahiran dirinya menyertai kesembuhan ibunya. Alhamdulillah… Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkan ibunya, dan melalui sentuhan ilahi menjadikan dia lahir ke dunia dan menjadi seorang anak yang ajaib.

Dakwahnya dimulai sejak Bayi!

Saat usia 9-bulan, ia mengingatkan kepada orang tuanya untuk melaksanakan Aqiqah. Ia juga mengatakan ingin menjadi Muslim. Tentu saja orang tuanya yang saat itu masih Kristen menolaknya. Dan baru terlaksana di sebuah masjid lokal saat ia berusia 3-tahun.

Saat pelaksanaan Aqiqah di Masjid Gongoni, saat itulah terjadi kegemparan. Ia secara ajaib berkhotbah tentang Islam tanpa diajari oleh siapapun, di usia tiga tahun. Menyusul kejadian di masjid itu dan apa yang terjadi di dalamnya, kakaknya, Michael, saat itu juga menjadi Muslim bersama dirinya.

Bapaknya, seorang Inspektur Polisi menjadi murka. Ia secara khusus mengambil cuti untuk memaksa kedua anaknya menjadi Kristen kembali, bahkan siap membunuhnya dengan pistol polisinya.

Namun setelah berdiskusi, dan ia menyadari kalah dalam pertempuran argumen, ia kemudian merelakan anaknya menjadi Muslim. Bahkan ia sendiri berhasrat untuk belajar dan memahami Islam. Setelah itu, ia tidak bisa lagi menolak kebenaran dan menyatakan harus bergabung dengan anaknya di jalan yang benar. Ia kembali ke fitrah, menjadi Muslim, memeluk agama Islam bersama seluruh keluarganya.

Ia mengubah nama baptisnya dari Maurice Robert Matongo menjadi Mikidadi Matongo. Demikian juga istrinya, dari Clemencial Michael Isamaki menjadi Marriam; dari Monica Leonard Jomanga menjadi Mwanaisha. Semua anaknya juga telah menjadi Muslim: Sara-Sarah; Albert-Abubakar; Mesent-Abdillahi; Devother-Fadhila; Boniface-Ibrahim; Grace-Faudhia; Samwel-Hamza; Jane-Sharifa; dan Michael-Yussuf dan tentunya…

Ya, si Anak Ajaib itu!, Fidelis, yang lahir di Kiloleni (10/10/1986), kota Tabora, Tanzania Utara, Afrika Timur. Dikenal sebagai Sheikh Shariff sejak 22 Desember 1989 setelah khotbah hebohnya di Masjid Gongoni sekaligus saat itu ia menjadi Muslim.

Adapun “Fidelis” menurut cerita bapaknya bukan merupakan nama baptis, tetapi semata pemberian darinya untuk mengingat kelahirannya. Bahkan menurut penuturan dari beberapa sumber, Fidelis mengatakan: “Mama usinibibaptize, naamini kwa Alla na jumbe wake Muhammad SAW!” Artinya: “Ibu, tolong jangan baptis saya, saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW!”. Dan ajaib, itu diucapkan saat baru berusia sekitar 2-bulan! sebagai penolakkan ketika ia hendak dibaptiskan.

Dan melalui dirinya, sejauh ini telah menjadikan sekitar 7-juta orang Kristen, kembali ke-fitrahnya sebagaimana setiap orang dilahirkan, yakni menjadi Muslim.

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tua-nya lah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Al-Bukhari: 1358; Muslim: 2658; Ahmad: II/233).

Artikel tentang dirinya, tulisan Andrew England, juga pernah dimuat di surat kabar Skotlandia pada 8 Agustus 1999.

Didalamnya, disebutkan antara lain, bahwa pada usia empat bulan ia mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Pada usia satu tahun, ia mampu membaca seluruh Al-Qur’an dan mulai dapat berbicara dalam bahasa Arab, Swahili dan Perancis.

Saat usia lima tahun, ia dapat berkotbah dalam lima bahasa, Inggris, Perancis, Italia, Swahili dan bahasa Arab-meskipun ia benar-benar tidak melalui studi khusus. Ia adalah pengkhotbah yang menarik ribuan orang. Di usia ini juga, sebanyak seribu orang telah menjadi Muslim melalui dakwahnya.

Adapun dalam beberapa perjalanan dakwah selanjutnya, antara Mei 1994 sampai Desember 1994 Sheikh Shariff berkhotbah di Kota Dar es Salaam. Kawasan Pantai, Lushoto, di wilayah Tanga, Morogoro di wilayah Morogoro dan di Zanzibar. Dimana total 6870 orang kembali ke Islam.

Dari Maret 1995 sampai Desember 1995 ia berkhotbah di Dar es salaam, seluruh wilayah Pantai, wilayah Lindi. Di wilayah Mtwara dan Songea, Tunduma, Mbinga dan Ruvuma, dimana total 7.805 orang kembali ke Islam.

Dari Mei 1996 sampai Januari 1997, ia berkhotbah di wilayah Morogoro, wilayah Tanga, Iringa, Dodoma, Singida, Arusha, dan di wilayah Moshi Kilimanjaro. Ini adalah tahun yang sama dimana Sheikh Shariff mulai go internasional dengan pergi ke Kenya. Sementara di Kenya, ia berkhotbah di Mombasa, Malindi, dan Voi, di Kitui, Matinyani, dan Mwingi. Kemudian pindah ke Nairobi City. Selama kunjungan di Kenya, total 38.942 orang memeluk Islam, dst…

7 Juli 2004 ia pergi ke Uni Emirat Arab di Dubai selam

a satu minggu, kemudian kembali ke Oman hingga Agustus 2004, kemudian kembali ke Tanzania. Ia melanjutkan dakwah di semua wilayah dan provinsi Tanzania, dimana diperkirakan lebih dari 50.000 orang masuk Islam.

Sampai beberapa waktu yang lalu, Sheikh Sharrif bersama tim dakwahnya dan dukungan berbagai pihak; diantara kemudahan, halangan dan rintangan, alhamdulillah… sudah lebih dari 6.676.269 pria dan wanita telah menemukan kebenaran, telah berada diatas jalan lurus, memeluk Islam. Kembali ke fitrahnya sebagaimana semua orang terlahir sebagai Muslim Masuk Islam

KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

PASTUR,MISIONARIS,DAN JEMAAT GEREJA MASUK ISLAM setelah gagal membakar AL-QURAN

Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. Koran yang terbit setiap hari Rabu tersebut, dalam editorialnya telah menggoncangkan salah satu kota besar di Nigeria, kota Kajoula. Dalam berita tersebut dipaparkan bahwa seorang pimpinan pendeta Nasrani dengan sangat mengejutkan melempar mushaf Al-Qur’an ke tanah di depan para hadirin yang datang dalam majelisnya. Tidak hanya itu, ia kemudian menuangkan bensin dan berusaha membakar mushaf tersebut. Namun yang sangat mengherankan, mushaf tersebut sama sekali tidak terbakar dan api tidak sampai menyentuhnya. Bahkan, tangan pendeta tersebut yang justru terbakar oleh kobaran api. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Nasrani sedang melaksanakan kebaktian di gereja.

Setelah kejadian ini, Pendeta Froos seketika langsung menyatakan keislamannya dan diikuti oleh pemimpin gereja Ya’kub Musa, kemudian diikuti oleh para pendeta dan misionaris di sana, sehingga jumlah mereka mencapai 200 misionaris, kemudian pendeta Ya’kub Musa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen Organisasi Kependetaan di Kanjoula. Di hari berikutnya, pemimpin redaksi koran “Ukazh”, Haji Ibrahim Sulaiman menulis berita tentang aktifitas Ya’kub Musa pasca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen. la berdakwah menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri Nigeria, Ibrahim Sulaiman juga menulis kisah-kisah Ya’kub Musa yag bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Beliau adalah professor jurusan matematika University of Kansas. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia telah memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam. Bermula dari sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal selalu ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, dan bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinannya akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan para pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun. Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga kemudia akhirnya dia memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu: Kami (dalam mimpi Dr Jeffrey Lang bersama orang lainnya yang tak ia kenal) berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu. Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, sehingga ia tak peduli kendati mimpi itu terus berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu seorang murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati ia tak berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai coba-coba membuka-buka Alquran dan membacanya. Seketika itu kepalanya dipenuhi berbagai pergumulan.

“Anda tak bisa dengan hanya membaca Alquran, dan juga anda tidak bisa jika tidak menganggap ini sesuatu hal yang serius. yang anda harus lakukan, adalah , apakah anda menyerah kepada Alquran, atau, anda ‘menantang’, Al-Qur’an” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah perdebatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara personal. Alquran akan mendebat, akan mengkritik, dan membuat (Anda) malu, dan menantang anda. Sejak awal ‘ia’ (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di fihak yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergumulannya). Setelah saya baca menjadi jelas bahwa, Sang Penulis’ (Alquran) mengetahui diri saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati akan jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring dengan ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran berada jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus segala kegundahan yang telah saya rasakan selama bertahun-tahun dan menjawab pertanyaan saya.”. Jeffrey berusaha melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin ia buka Alquran semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Ketika itu awal 1980-an, dan tak banyak saat itu Muslim di University of San Fransisco, tempat ia mengajar. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement, tempat di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia menguatkan dirinya untuk mengucap syahadat untuk memasuki pintu Islam. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah untuk yang pertama kali

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya begitu tenang dan hening ia rasakan, “bagaikan semua suara di alam ini telah dimatikan”,tuturnya. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat itulah saya melihat ke depan, dan Saya melihat Ghassan, berada didepan sisi kiri saya(Imam), di tengah-tengah shaf jama’ah, tepat di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain berwarna merah.”

“Mimpi itu.. !?”. Teriak saya dalam hati. “Mimpi itu!, persis sekali” ! Saya mencoba untuk melupakannya, tapi kini saya tertegun dan takut. Apakah ini pun hanya sebuah mimpi? Apakah kemudian saya akan terbangun?? Saya mencoba fokus untuk memastikan apakah saya sedang tertidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. “Ya Tuhan, ini bukan mimpi, ini nyata!!” Batinnya. Lalu rasa dingin itu hilang, berganti dengan rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Teringat ucapan ayahnya sepuluh tahun silam “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” terjadi sudah. Ia kini berlutut, tertunduk dengan wajahnya menempel di lantai, Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah sujud penyerahan total kepada Tuhan, yang selama ini ia cari, Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan memberi kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujarnya.

Kisah Inspiratif Mualaf: Idolanya Jesus, Temukan Kebenaran Dalam Islam

Idolanya Jesus, Temukan Kebenaran dalam Islam

Brandon Toropov ~ Idolakan Yesus Sejak Kecil, Brandon Toropov Temukan Kebenaran Dalam Islam. Nama Brandon Toropov dikenal dunia Islam. Ialah penulis novel Jihadi yang mengisahkan dan menggambarkan terorisme bukanlah bagian dari Islam. Bukan hanya karena novelnya yang laris manis d ipasaran itu yang membuat namanya melambung, kefaqihannya dalam beragama juga menjadi sorotan publik karena ia seorang mualaf.

Brandon bersyahadat sekitar 10 tahun lalu. Tapi kecintaannya pada Islam mungkin melampaui muslimin yang sejak lahir telah mentauhidkan Allah. Perjalanannya hingga mendapat hidayah pun tak singkat. Ia menghadapi pencarian dengan semangat yang luar biasa hebat mengenai keesaan Allah. “Saya lahir sebagai muslim. Hanya saja aku baru menyadarinya di tahun 2003,” ujar Brandon Toropov menggambarkan sosok dirinya pasca-berislam. Tentu yang dikatakan Brandon ini benar adanya karena setiap jiwa yang lahir berada dalam kondisi fitrah.

Meski di tahun 2003 ia baru meninggalkan agama lamanya menuju Islam, namun ia merasakan telah lama menemukan kebenaran yang ia yakini bahkan sebelum lahir ke dunia.

Pria kelahiran Amerika itu telah memulai perjalanannya menuju hidayah sejak muda. Selama 30 tahun, ia mencari hakikat kebenaran Yesus atau Nabi Isa. Sejak kecil, Brandon yang lahir di tengah keluarga nashrani telah mengidolakan sosok Yesus.

Saat itu, pertanyaan belum banyak muncul dibenaknya. Ia sangat mengidolakan Yesus sejak kecil. “Saya masih menyimpan bilble King James yang saya beli saat masih remaja. Ada catatan tulisan tangan saya di halaman depan, tertulis 26 Juni 1974, tanggal saya memulai menjadikan Yesus sebagai juru selamat pribadi saya,” ujarnya mengisahkan pengalamannya, dikutip dari laman The Religion of Islam.

Kecintaannya pada Yesus inilah yang kemudian menghantarkannya dalam pencarian kebenaran sejati. Menjelang dewasa, Barandon mulai memikirkan banyak pertanyaan mengenai sosok idolanya tersebut.

Banyak hal yang tak dikabarkan jelas bahkan sebagain bertentangan mengenai Yesus. Namun sebagai penganut nasrani yang taat, ia buang jauh-jauh segala pertanyaan itu yang menurutnya adalah sebuah keraguan keimanan.

Namun semakin belajar, pertanyaan itu justru semakin bergulir. Brandon pun kemudian meninggalkan Kristen dan beralih ke Katholik. Saat itu ia telah menjadi mahasiswa, dan ia pun masih mengidolakan sosok Yesus.

Di kampus, ia bertemu seorang gadis Katholik yang kemudin menjadi pacarnya. Brandon juga banyak bergaul dengan seorang pemimpin gereja kampus. Keduanya membantu Brandon menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya mengenai sosok Yesus. Namun Brandon tak pernah merasa puas.

Hingga kemudian, Brandon menikah dengan pacarnya tersebut. Sang pemimpin gereja kampus itu pula yang menikahkan mereka. Dari pernikahan tersebut lahir tiga orang anak.

Sejenak, Brandon merasakan bahagia dengan kehidupan barunya dan mulai melupakan segala keresahan jiwa. Hingga kemudian di tahun 1990-an, Brandon dan istri merasakan kekecewaan yang sangat karena terjadi insiden dengan gereja. Akibatnya, keduanya beralih kembali ke Protestan. Brandon tak pernah beralih ke agama lain kecuali hanya nasrani, karena sangat mengagumi sosok Yesus.

Saat kembali ke Protestan, ia kembali membenahi apa yang ia sebut sebagai keimanan. Brandon bahkan menjadi pengajar kelas sekolah Minggu untuk anak-anak di gereja. Ia juga mengajarkan Injil untuk kalangan dewasa.

Namun hari demi hari, Brandon kembali memikirkan pertanyaan-pertanyaan tentang sosok idolanya, Yesus, yang tak pernah terjawab sejak ia muda hingga menjadi seorang bapak.

Menemukan Islam

Brandon dirundung keraguan keimanan akan Yesus hingga kemudian terjadi peristiwa bom 11 September di New York AS. Pascaperistiwa terorisme tersbut, Brandon mendapati fakta menarik. Ia membaca sebuah surat kabar Inggris pada tahun 2002 yang memberitakan jumlah mualaf yang mengalami lonjakan tajam.

Orang-prang berduyun-duyun memeluk agama Islam. “Ada bukti menarik dari lonjakan konversi ke Islam sejak 11 September, bukan hanya di Inggris, tetapi di seluruh Eropa dan Amerika. Salah satu pusat studi Islam Belanda mendata bahwa terjadi peningkatan sepuluh kali lipat,” tuturnya.

Brandon kemudian menjadi tertarik mempelajari Islam. Awalnya, ia hanya mengikuti kabar-kabar mualaf sejak insiden 9/11. Namun tak banyak yang menggerakkan hati Brandon, kecuali untuk membaca kitab suci umat Islam.

Ia pun membeli Alquran dan mempelajarinya. Menakjubkan, segala pertanyaan yang mengganggu hidup Brandon sejak muda itu terjawab seluruhnya. Ia mendapati jawaban atas sosok Yesus yang sangat ia idolakan.

Ia pun kemudian membandingkan kandungan kitab sucinya dengan Alquran. Dari situ, banyak hal yang didapatkan Brandon yang semuanya mengantarkannya pada kebenaran.

“Ayat Quran mengkonfirmasi penggambaran tentang Yesus sebagai nabi manusia. Ia mendapat mandat Ilahi yang kemudian diteruskan oleh Muhammad. Quran menunjukkan gambaran Yesus secara historis. Hingga saya kemudian menyadari, Yesus sebenarnya mengajak orang-orang kepada Islam,” tuturnya.

Ia pun memeluk Islam, tepatnya pada pada tanggal 20 Maret 2003.

Aktif Menyuarakan Antiterorisme

Setelah menjadi Muslim, Brandon pun giat mempelajari agama Islam. Dengan semangat, ia berkeinginan menjadi muslim sempurna, muslim yang kaffah. Ia pun terus mempelajari Islam, hingga pengetahuanya akan Islam amat luar biasa.

Jika membaca tulisan-tulisan Brandon, maka pembaca tak akan menyangka ia merupakan seorang mualaf. Ia amat faqih beragama sebagaimana muslimin yang lahir dan dibesarkan dalam pendidikan Islam.

Ia pun kemudian aktif menyuarakan antiterorisme. Brandon yang memang merupakan penulis itu kemudian membuat sebuah novel bertajuk “Jihadi”. Novel tersebut mengisahkan perjalanan seorang mantan teroris.

Dengan alur cerita yang apik dan bahasa yang menarik, jadilah novel Jihadi tersebut pantas dibaca sebagai rujukan mengenai aksi terorisme. Novel tersebut pun sebenarnya merupakan sebuah memoar dari transkripsi yang ditulis teroris Ali Lidell. Sehingga sedikit banyak kisah nyata lah yang diulas di dalam novel tersebut.

Kisah Inspiratif Mualaf: Veronique Cools, Islamkan Ribuan Warga Belgia

wp-1522370617420..jpgVeronique Cools, Islamkan Ribuan Warga Belgia

Seorang wanita muda mualaf Belgia, Veronique Cools mengubah rumahnya menjadi pusat kajian Islam bagi orang Belgia lainnya yang ingin belajar tentang Islam. Ia pun telah membantu seribu orang yang baru menerima ajaran Islam alias yang membutuhkan pembelajaran lebih lanjut soal Islam.

Veronique menjadi mualaf di usia yang sangat muda. Keputusannya memeluk Islam dipengaruhi penelitiannya soal agama dan terinspirasi teman-teman Muslimnya. Ia pun memutuskan mengubah rumahnya sendiri menjadi pusat Islam bagi umat Islam Belgia yang ingin belajar lebih banyak tentang agama yang baru saja mereka peluk.

Tempat Pusat Islam ini juga bekerja membantu orang-orang Belgia menjawab banyak prasangka ketika memandang Islam. “Prasangka buruk disebabkan mereka tidak mengenal Islam yang sesungguhnya,” katanya sambil mempersiapkan paket makanan buka puasa, seperti dilansir World Bulletin, Ahad (13/7). Menurutnya, umat Muslim harus menjelaskan tentang Islam kepada masyarakat agar tidak ada lagi kesalahpahaman.

Setelah delapan tahun bejalan, Rumah Pusat Islam Veronique telah memiliki seribu anggota. Sebagian dari mereka adalah wanita Belgia. Rumah Pusat Islam juga terbuka bagi semua Muslim Belgia yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang agama mereka.

Muslim Belgia diperkirakan mencapai 450 ribu juwa dari populasi sekitar 10 juta. Setengah dari mereka berasal dari Maroko, sementara 120 ribu Muslim berasal dari Turki. Lebih dari 20 persen populasi Brussels adalah Muslim asal Maroko, Turki, Pakistan, Bangladesh dan negara-negara Afrika lainnya. Terdapat 77 masjid atau mushala di Brussels, Ibu Kota Belgia dan lebih dari tiga ratus masjid di seluruh Belgia.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau salah satu pemain timnas Brasil merupakan seorang Muslim. Dia adalah Frederico Chaves Guedes atau biasa dipanggil Fred.

Pemain sepakbola Muslim ini dilahirkan di Teofilo Otoni, Minas Gerais, Brazil pada 3 October 1983. Eks pemain Cruzeiro ini mulai mengenal Islam ketika merumput di Eropa. Kepindahannya ke Prancis pada 2005, untuk membela Olympique Lyon membuatnya bersentuhan dengan Islam.

Selama empat musim di Lyon, dia mampu mengantarkan Lyon menjadi yang terbaik di Ligue 1. Sebagai ujung tombak klub, Fred mampu membuktikan kapasitasnya sebagai pemain berbahaya.

Pada musim pertama membela Lyon, dia menjadi runner up pencetak gol terbanyak di liga lokal. Setelah melewatkan dua bulan pada musim 2006/2007, dia mampu mencetak 11 gol dari 20 pertandingan.

Pada musim 2007/2008, Fred mengalami beberapa kali mengalami cedera. Namun dia mampu mempersembahkan gelar Copa America 2007 bagi Brasil pada pertengahan tahun. Dia melakukan come back di klub medio Oktober 2007, namun tidak mampu lagi bersaing di tempat utama.

Itu lantaran Lyon memiliki dua striker tajam, yaitu Milan Baros dan Karim Benzema, yang mulai bersinar. Sebelum musim 2008/2009 berakhir, dia meninggalkan Lyon untuk kembali ke kampung halamannya dengan membela Fluminense.

Tinggal di Kota Lyon yang banyak dihuni imigran Muslim, membuat Fred bersentuhan dengan budaya Islam. Bergumul dengan Karim Benzema menjadi bagian dia semakin mengenal ajaran Islam. Namun sangat minim informasi kapan tepatnya dan kepada siapa Fred mengucapkan kedua kalimat syahadat saat menjadi mualaf.

Momen keislaman Fred terbuka ke publik ketika dia mampu mencetak satu gol dalam Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika itu Brasil memukul Australia dengan skor 2-0, pada 18 Juni 2006.

Usai mencetak gol, penonton di stadion dan televisi dikejutkan dengan gaya Fred yang melakukan gaya merayakan gol dengan cara tidak biasa. Pasalnya dia bersujud syukur di lapangan.

Dalam video berdurasi lima detik itu yang bisa dilihat di dunia maya, Fred melakukan itu sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Sang Pencipta yang masih memberikannya kesempatan untuk bisa mengukir prestasi.

Kisah Inspirasi Mualaf: Ketika Abu Bakar Saudagar Kaya Raya Masuk Islam

Kisah Inspirasi Mualaf: Ketika Abu Bakar Saudagar Kaya Raya Masuk Islam

Abu Bakar adalah saudagar kaya raya, jujur dan berakhlak mulia. Setelah Nabi Muhammad SAW, dia adalah orang yang paling dipercaya di Makkah. Dikutip dari buku The Great Story of Muhammad, kisah masuk Islam Abu Bakar berawal ketika dia mendapat kabar dari tetangga-tetangganya tentang Muhammad menjadi nabi, setelah dia kembali ke Makkah usai berdagang.

Berita tentang dakwah Islam memang diketahui oleh orang-orang Quraisy meski Nabi Muhammad melakukannya dengan sembunyi. Itu terjadi setelah mereka melihat beberapa kejadian.

Menurut Muhammad Al Ghazali, kendati kabar tentang dakwah Islam telah menyebar, namun kaum Quraisy masih tak peduli. Mereka menduga bahwa Nabi Muhammad sama seperti Umayyah bin ash-Shallat, Qus bin Sa’idah, Amr bin Nufail dan lainnya yang peduli terhadap urusan agama. “Muhammad mengaku menjadi Nabi. Ia meminta kita untuk tidak menyembah berhala lagi, tapi kita tak akan pernah meninggalkan berhala-berhala kita,” kata para tetangga Abu Bakar.

Kemudian mereka meminta Abu Bakar untuk menemui Nabi Muhammad. “Kami telah menanti-nanti kedatangan mu. Temui Muhammad dan lakukan apa pun yang engkau sukai!”.

Abu Bakar tercengang mendengar itu. Dia bergegas pergi menuju kediaman sahabatnya, Rasulullah. Setiba di sana dia disambut Rasulullah dengan senyum mengembang. Abu Bakar langsung mencecar Beliau dengan pertanyaan.

“Wahai Abu Qasim, apa benar engaku telah mengaku sebagai nabi kepada orang-orang di sini? Apa benar engkay tidak mau menyembah berhala dan tidak aka memeluk agama penduduk Makkah?” tanya Abu Bakar. Dia biasa memanggil Nabi Muhammad dengan ‘Abu Qasim’ yang artinya ‘ayah Qasim’. Qasim adalah salah satu putra Rasulullah.

“Betul, Abu Bakar. Aku adalah nabi yang diutus untukmu dan semua manusia. Aku ingin semua manusia beriman dan menyembah Allah Yang Esa. Aku ingin engkau juga beriman,” jawab Rasulullah penuh kehangatan.

Abu Bakar menyimak dengan cermat apa yang diucapkan Rasulullah. Tidak sedikit pun keraguan ada di dalam dirinya. Dia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah tidak pernah bohong. Tanpa banyak bicara, Abu Bakar langsung bersyahadat.

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Rasulullah terlihat gembira usai Abu Bakar berikrar. Beliau peluk dengan erat tubuh Abu Bakar. Kini, bertambah lagi manusia yang memeluk Islam dan itu adalah Abu Bakar, sosok yang sangat dihormati di Makkah.

Abu Bakar sangat bersemangat mendakwahkan Islam. Dia sosok yang ramah, luwes, dan berbudi luhur. Para tokoh kaumnya sering datang berkunjung untuk menemui Abu Bakar.

Setelah satu minggu Abu Bakar masuk Islam, ada enam orang yang berhasil diislamkan olehnya. Mereka adalah enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk surga, yaitu Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Kisah Inspiratif Nabi Muhammad: Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak Rasulullah

Kisah Keteladanan Nabi: Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan kafilah bangsa Arab menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara orang bicara orang yang sudah beradab, berkat kekuatan datang dari Ilahi dan dilantarkan lewat wahyu.

Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan ketika memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan Allah.

Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tetapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambah kesabaran beliau. Tingkah pola orang-orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan dosa. Jika suatu dosa, maka beliaulah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu beliau membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”

Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan bahwa beliau memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau paling menonjol adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Alquran kepada beliau. Beliau benar-benar orang yang paling murah hati untuk hal-hal yang baik lebih hebat.”

Jabir berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebenaran, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur dan tidak terlalu sulit untuk diketahui di mana keberadaannya. Beliau adalah orang yang paling pemberani mendatangi tempat-tempat yang paling sulit. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami sedang dikepung ketakutan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”

Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang sudah kembali dari sumber suara tersebut. Beliau lebih dahulu datang ke sana daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada pedang. Beliau bersabda, “Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah gentar!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.”

Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke arah langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau dengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya, “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?” Beliau memang pas seperti yang dikatakan Al-Farazdaq dalam syairnya,

“Menunduk karena malu dan menunduk karena enggan tiada berbiacara dengan seseorang kecuali saat tersenyum.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijuluki Al-Amin (orang yang dipercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai pengadil. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahl pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang mendustakan itu.

فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِئَايَاتِ اللهِ يَجْحَدُونَ

Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)

Heraklius mengajukan pertanyaan kepada Abu Sufyan, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum mengatakan apa yang dia katakan?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tawadhu’ (rendah hati) dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya (sandal), menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.”

Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak yang buruk, tidak pernah berbuat kekejian dan menganjurkan kepada kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, bukan termasuk orang yang suka membuat hiruk pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli hamba sayaha dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak pernah membentak pembantunya yang tidak beres atau tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai orang-orang miskin dan suka duduk-duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.” Yang lain berkata, “Akulah yang akan memasaknya.” Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.” Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”

Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tetapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah-tengah rekan-rekannya. Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.”

Kita beri kesempatan kepada Hindun bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti tampak berduka, terus menerus berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak berbicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, tidak terlalu keras dan tidak terlau pelan, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang kagum beliau dapat membalik kekagumannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan pandangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumnya mirip dengan butir-butir salju.

Beliau menahan lidahnya kecuali untuk hal-hal yang dibutuhkan, mempersatukan para sahabat dan tidak memecah belah mereka, menghormati orang-orang yang memang dihormati di setiap kaum dan memberikan kekuasaan kepadanya atas kaumnya, memperingatkan manusia, bersikap waspada terhadap mereka, tanpa menyembunyikan kabar gembira yang memang harus diberitahukan kepada mereka.

Beliau mengawasi para sahabat, menanyakan apa yang terjadi di antara manusia, membaguskan yang bagus dan membenarkannya, memburukkan yang buruk dan melemahkannya, sederhana dan tidak macam-macam, tidak lalai karena takut jika mereka lalai dan bosan, setiap keadaan bagi beliau adalah normal, tidak kikir terhadap kebenaran, tidak berlebih-lebihan kepada orang lain, berbuat lemah lembut kepada orang yang paling baik. Orang yang paling baik di mata beliau adalah orang yang paling banyak nasihatnya, dan orang yang paling besar kedudukannya di mata beliau adalah orang yang paling baik perhatian dan pertolongannya.

Beliau tidak duduk dan tidak bangkit kecuali dengan dzikir, tidak membatasi berbagai tempat dan memilih tempat yang khusus bagi beliau, jika tiba di suatu pertemuan beberapa orang, beliau duduk di tempat yang paling akhir di dalam pertemuan itu dan beliau memerintahkan yang demikian itu, memberikan tempat kepada setiap orang yang hadir dalam pertemuan beliau sehingga tidak ada orang yang hadir di situ bahwa seseorang merasa lebih terhormat dari beliau. Siapa pun yang duduk bersama beliau atau mengajaknya bangkit untuk keperluan, maka dengan sabar beliau melayaninya sehingga orang itulah yang beranjak dari hadapan beliau. Siapa pun yang meminta suatu keperluan, maka beliau tidak pernah menolaknya. Beliau selalu membuka diri kepada manusia, sehingga beliau layaknya bapak bagi mereka. Mereka selalu berdekatan dengan beliau dalam masalah kebenaran, menjadi utama di sisinya karena takwa. Majelisnya adalah majelis yang dipenuhi kemurahan hati, malu, sabar, dan amanat, tidak ada suara yang melengking, tidak dikhawatirkan ada pelanggaran terhadap kehormatan, mereka saling bersimpati dalam masalah ketakwaan, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, dan mengasihi orang asing.

Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak suka memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: riya, banyak bicara, dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya. Beliau tidak berbicara kecuali dalam hal-hal yang beliau mengharapkan pahalanya. Jika beliau berbicara, orang-orang yang hadir di majelisnya diam, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Jika beliau diam, maka mereka baru bicara. Mereka tidak berdebat di hadapan beliau. Jika ada seseorang berbicara saat beliau berbicara, mereka menyuruhnya diam sehingga beliau selesai berbicara. Beliau tersenyum jika ada sesuatu yang membuat mereka tersenyum, mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum, sabar mengahadapi kekasaran orang asing. Beliau bersabda, ‘Jika kalian melihat orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, maka bantulah ia.’ Beliau tidak mencari pujian kecuali dari orang yang memang pantas.”

Kharijah binti Zaid berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tidak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya terinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”

Secara umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari tandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya sampai-sampai Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4)

Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat jiwa manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pimpinan yang menjadi tumpuan harapan hati. Bahkan orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga detil-detilnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabbnya sehingga akhlaknya pun adalah Alquran?

Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Sumber: Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahma al-Mubarakfuri, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan 2 2009

Kisah Orang Shalih: Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur

Kisah Orang Shalih: Wais Alqarni Tidak Sengaja Tidur

Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Aku pergi ke tempat Uwais Al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat subuh.”

Aku berkata (pada diriku, pent), “Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu zuhur, beliau mengerjakan shalat zuhur, dan begitu masuk waktu ashar, beliau shalat ashar. Selesai shalat ashar, beliau duduk sambil berzikir hingga tiba waktu maghrib. Setelah shalat maghrib, beliau menunggu waktu isya’, kemudian shalat isya’. Selesai shalat isya’, beliau mengerjakan shalat hingga menjelang subuh. Setelah shalat subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur.

Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.’” (Az-Zuhdul Awa’il, Musthafa Hilmi, 84)

Sumber:

  • 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan 5, Shafar 1430/2009.

Kisah Para Tabiin: Inspirasi Para Pemimpin Berilmu

Kisah Pemimpin Berilmu

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ilmu agama adalah bagaikan simpanan harta yang Allah bagikan kepada siapa saja yang Allah cintai. Seandainya ada segolongan manusia yang berhak untuk diistimewakan untuk menjadi ulama tentu keluarga Nabi-lah yang paling berhak mendapatkan pengistimewaan. Atha’ bin Abi Rabah adalah orang Etiopia. Yazid bin Abu Habib itu orang Nobi yang berkulit hitam. Al Hasan Al Bashri adalah bekas budak milik kalangan Anshar. Sebagaimana Muhammad bin Sirin adalah mantan budak dari kalangan Anshar.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Diantara ulama besar Islam di zaman tabiin yang berdomisili di Mekah adalah Abu Muhammad Atha’ bin Aslam Abu Rabah yang terkenal dengan sebutan Atha’ bin Abi Rabah.

Diantara bukti ketinggian ilmu Atha’ adalah pujian Ibnu Umar untuk beliau.

Dari ‘Amr bin Said dari ibunya, sang ibu bertutur bahwa ketika Ibnu Umar tiba di Mekah para penduduk Mekah tanya-tanya soal agama kepada beliau. Mendapati fenomena tersebut Ibnu Umar mengatakan, “Wahai penduduk Mekah mengapa kalian berkumpul menanyaiku padahal di tengah-tengah kalian terdapat Atha bin Abi Rabah.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Diantara sisi menarik dari hidup beliau adalah kisah berikut ini,

Dari Ibrahim bin Ishaq Al Harbi, beliau bercerita bahwa Atha’ adalah budak berkulit hitam yang dimiliki oleh seorang perempuan dari penduduk Mekah. Disamping berkulit hitam, Atha’ adalah seorang yang sangat pesek sehingga digambarkan bahwa hidung Atha’ itu hanya seakan-akan biji kacang yang ada di wajahnya. Suatu hari Khalifah ketika itu yang bernama Sulaiman bin Abdul Malik datang menemui Atha’ bersama kedua anaknya. Mereka bertiga duduk di dekat Atha’ yang saat itu sedang mengerjakan shalat sunnah di masjid. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau memalingkan muka dari mereka bertiga. Mereka bertiga tidak henti-henti bertanya tentang berbagai hukum mengenai ibadah haji dan Atha’ menjawab pertanyaan mereka sambil membelakangi mereka. Setelah selesai bertanya di jalan pulang Khalifah Sulaiman berkata kepada kedua anaknya,
Wahai kedua anakku, janganlah kalian kendor dalam belajar agama karena aku tidak akan melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Ada beberapa petikan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas:

1). Ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Lihatlah bagaimana seorang khalifah mendatangi seorang ulama untuk bertanya tentang masalah agama.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin ‘Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, ‘Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.’

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, ‘Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama muridmuridmu.’ Respon balik Imam Malik, ‘Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk dimana ada tempat yang longgar saat pengajian.’ Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

2). Seorang yang rendah di mata manusia dapat menjadi mulia karena ilmu. Lihatlah seorang kepala negara dengan kekuasaan nan luas nampak hina dihadapan seorang mantan budak yang berkulit hitam legam. Seorang budak yang tentu tidak punya kelas istimewa di mata manusia dan seorang yang buruk rupa nampak mulia di depan seorang kepala negara. Realita ini adalah diantara bukti benarnya sabda Nabi,

قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْصلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ « إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Umar mengatakan “Sesungguhnya Nabi kalian pernah mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu memuliakan dengan sebab Alquran (baca:ilmu agama) sebagian orang dan menghinakan sebagian orang dengan sebab Alquran(baca: berpaling dari ilmu agama).” (HR. Muslim, no. 1934).

3). Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah seorang penguasa yang memiliki kualitas agama yang cukup baik. Ini dibuktikan dengan tidak canggung untuk bertanya kepada ulama sambil merendah-rendah di hadapan ulama dan kepergian beliau ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. al Munafiqun:10).

Yang dimaksud dengan ‘aku termasuk orang-orang yang shalih’ adalah aku akan berhaji. Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah ada orang yang berkewajiban untuk membayar zakat dan berhaji namun tidak melakukannya melainkan saat kematian pastilah dia akan memohon kepada Allah agar bisa kembali ke dunia” (Tafsir al Jalalain, hal. 566, terbitan Darus Salam Riyadh cet. kedua 1422 H).

4). Orang yang hendak mempraktikkan prilaku salaf dalam ‘menyikapi orang lain’-bukan dalam masalah praktik salaf dalam menjelaskan ibadah mahdhah-hendaknya menimbang perubahan dan perbedaan kondisi masyarakat, mulia dan tidaknya ilmu agama dan ulama ahli sunnah di masyarakat saat ini dan baik buruknya dampak perilaku tersebut terhadap citra Islam dan kaum muslimin secara umum dan citra dai, penuntut ilmu, ahli sunnah dan orang-orang shalih secara khusus. Kita tentu sepakat bahwa jika perbuatan Atha’ di atas (menjawab pertanyaan dengan membelakangi penanya) ditiru mentah-mentah oleh seorang ulama atau dai saat ini terhadap para penguasa saat ini, tentu yang terjadi adalah salah faham, buruk sangka dan citra buruk untuk Islam, dakwah Islam, ulama, dai bahkan umumnya kaum muslimin.

Sungguh tidak tepat praktik dakwah sebagian orang yang bersemangat meniru ulama salaf dalam rangka menyikapi orang lain tanpa menimbang adanya berbagai faktor yang melingkupi praktik ulama salaf sehingga praktik mereka di zaman mereka adalah praktik yang tepat, bijak dan tepat sasaran saat itu.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, M.A.

KISAH PARA TABIIN: Pengangkatan Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

KISAH PARA TABIIN: Pengangkatan Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

Di antara kebaikan-kebaikan Sulaimana bin Abdul Malik adalah bahwa dia berkenan menerima nasihat dari seorang ulama ahli fikih, Raja’ bin Haiwah al-Kindi, yang mengusulkan ketika Sulaiman dalam keadaan sakit dan akhirnya wafat, agar mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya. Akhirnya Sulaiman menetapkan surat wasiat yang tidak memberi celah bagi setan sedikit pun (Ashr ad-Daulatain al-Umawiyah wa al-Abbasiyah, Hal: 37). Ibnu Sirin mengatakan, “Semoga Allah merahmati Sulaiman, dia mengawali kekhalifahannya dengan menghidupkan shalat dan mengakhirinya dengan menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya.”

Khalifah Sulaiman wafat tahun 99H, Umar bin Abdul Aziz menshalatkan jenazahnya, tertulis dalam stempelnya, “Aku beriman kepada Allah dengan ikhlas.” (Siyar A’lam Nubala, 5: 11-12).

Ada beberapa riwayat tentang pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah yang dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat dari Suhail bin Abu Suhail, dia berkata, Aku mendengar Raja’ bin Haiwah berkata, “Di hari Jumat, Sulaiman bin Abdul Malik memakai baju berwarna hijau dari wol, dia bercermin dan berkata, ‘Aku adalah raja muda’. Lalu dia keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama rakyat, dia langsung sakit begitu pulang, manakala sakitnya semakin keras dia menulis wasiat untuk anaknya Ayyub. Ayyub adalah anak yang belum dewasa, aku berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin? Di antara kebaikan seseorang yang mengalir ke kuburnya adalah bahwa dia mengangkat orang shaleh sesudahnya’. Sulaiman berkata, ‘Surat wasiat ini, aku masih beristikharah kepada Allah, masih mempertimbangkan, dan belum memutuskan dengan pasti.’

Satu atau dua hari setelah itu Sulaiman membakar surat tersebut, kemudian dia mengundangku. Dia bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?’ Aku menjawab, ‘Dia berada di Konstantinopel, Anda sendiri tidak tahu dia masih hidup atau telah mati’. Sulaiman bertanya, ‘Siapa menurutmu wahai Raja’?’ Aku menjawab, ‘Terserah Anda wahai Amirul Mukminin’. Aku berkata demikian karena aku sendiri masih mempertimbangkan. Sulaiman berkata, ‘Bagaimana menurutmu Umar bin Abdul Aziz?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, yang aku tahu bahwa dia adalah laki-laki yang utama, muslim pilihan’. Sulaiman berkata, ‘Benar, dialah orangnya, tetapi jika aku mengangkatnya dan tidak mengangkat seorang pun dari anak-anak Abdul Malik, maka hal itu bisa memicu perpecahan, mereka tidak akan membiarkannya memimpin selama-lamanya, kecuali jika aku menetapkan seseorang dari mereka setelah Umar. Aku akan mengangkat Yazid bin Abdul Malik sesudah Umar. –Pada saat itu Yazid sedang tidak berada di tempat, dia menjadi Amirul Haj- Hal itu akan membuat anak-anak Abdul Malik tenang dan menerima’. Aku berkata, ‘Terserah Anda’.

Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat tangannya, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat wasiat Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku menyerahkan khilafah kepadanya sesudahku dan sesudahnya kepada Yazid bin Abdul Malik, dengarkanlah dan taatilah, bertakwalah kepada Allah, janganlah berselisih, karena musuh-musuh kalian akan berharap mengalahkan kalian’. Lalu Sulaiman menstempel surat tersebut.

Sulaiman kemudian meminta Ka’ab bin Hamid, kepala pasukan pengawal khalifah, agar mengumpulkan keluarganya. Ka’ab melaksanakan dan mengumpulkan mereka. Setelah mereka berkumpul, Sulaiman berkata kepada Raja’, bawalah surat wasiatku kepada mereka, katakan kepada mereka bahwa itulah surat wasiatku, minta mereka untuk membaiat orang yang aku tunjuk’. Raja’ melaksanakannya, ketika Raja menyampaikan hal itu, mereka berkata, ‘Kami mendengarkan dan menaati siapa yang tercantum di dalamnya’. Mereka berkata, ‘Bolehkah kami menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam?’ Raja’ menjawab, ‘Silahkan’. Mereka pun masuk, Sulaiman berkata kepada mereka, ‘Itu adalah wasiatku, -Sulaiman menunjuk kepada surat yang ada di tangan Raja’ dan mereka melihat surat tersebut- Itu adalah pesan terakhirku, dengarkanlah, taatilah dan baiatlah orang yang aku sebutkan namanya dalam surat wasiat tersebut’. Raja’ berkata, ‘Maka mereka membaiatnya satu per satu’. Kemudian Raja’ membawa surat yang berstempel itu keluar’.”

Raja’ berkata, “Manakala mereka telah meninggalkan tempat itu, Umar datang kepadaku, dia berkata, ‘Wahai Abu al-Miqdam, sesungguhnya Sulaiman sangat menghormati dan menyayangiku, dia bersikap lembut dan baik, aku khawatir dia menyerahkan sebagian perkara ini kepadaku, maka aku meminta kepadamu dengan nama Allah kemudian dengan kehormatan dan kasih sayangku, agar engkau memberitahuku jika perkaranya demikian, sehingga aku bisa mengundurkan diri saat ini sebelum datangnya suatu keadaan dimana aku tidak mampu merubahnya lagi’. Raja’ menjawab, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan mengabarkan satu huruf pun kepadamu’. Maka Umar pergi dengan kesal.”

Raja’ berkata, “Maka Hisyam bin Abdul Malik menemuiku dan berkata, ‘Sesungguhnya antara diriku dengan dirimu terdapat hubungan baik dan kasih sayang lama, aku pun tahu berterima kasih, katakan kepadaku apakah aku orang yang disebut dalam surat tersebut? Jika aku adalah orangnya, maka aku tahu. Jika orang lain, maka aku akan berbicara, orang sepertiku tidak patut dipandang sebelah mata, perkara seperti ini tidak pantas dijauhkan dari orang sepertiku, katakan kepadaku. Aku berjanji dengan nama Allah kepadamu tidak akan menyebutkan namamu selama-lamanya’.”

Raja’ berkata, “Aku menolak permintaan Hisyam, aku berkata, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan membuka satu huruf pun kepadamu dari apa yang telah dirahasiakan Sulaiman kepadaku’. Hisyam pun pergi sambil menepukkan satu tangannya ke tangan yang lain, dia berkata, ‘Kepada siapa perkara ini diserahkan jika tidak kepadaku, apakah kami ini dianggap bukan anak Abdul Malik? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah putra Bani Abdul Malik yang sebenarnya’.”

Raja’ berkata, “Aku menemui Sulaiman bin Abdul Malik, ternyata dia sudah wafat, namun aku masih mendapati saat-saat sakratul mautnya, setiap kali dia menghadapinya, maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, Sulaiman mengucapkan dengan tersendat-sendat, ‘Wahai Raja’, saatnya belum tiba sekarang’. Sampai aku mengulangnya dua kali, pada kali ketiga Sulaiman berkata, ‘Sekarang wahai Raja’, jika kamu ingin sesuatu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’.”

Raja’ berkata, “Maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, dan Sulaiman wafat. Aku memejamkan kedua matanya, aku menyelimutinya dengan sebuah kain hijau, aku menutup pintu, istrinya mengutus seorang utusan untuk meminta izin melihat keadaannya, aku berkata kepadanya, ‘Dia telah tidur dan berselimut’. Utusan itu telah melihat Sulaiman yang telah berselimut kain, dia pulang menyampaikannya kepada istrinya, istrinya tenang karena dia mengira bahwa Sulaiman tidur.”

Raja’ berkata, “Aku meminta seseorang yang kupercayai untuk berdiri di pintu, aku berpesan kepadanya untuk tidak beranjak sampai aku sendiri yang datang kepadanya dan tidak memperkenankan siapa pun untuk masuk menemui khalifah. Lalu aku memanggil Ka’ab bin Hamid al-Ansi, aku memintanya untuk mengumpulkan keluarga Amirul Mukminin, mereka pun berkumpul di masjid Dabiq, aku berkata kepada mereka, ‘Berbaiatlah kalian’. Mereka menjawab, ‘Kami telah berbaiat, sekarang berbaiat lagi?’ Aku berkata, ‘Ini adalah pesan Amirul Mukminin, berbaiatlah untuk mematuhi perintahnya, mengakui siapa yang disebutkan namanya dalam surat wasiat yang distempel ini’. Mereka pun satu per satu membaiat untuk kedua kalinya.”

Raja’ berkata, “Ketika mereka bersedia membaiat untuk kedua kalinya, maka aku yakin telah menata urusan ini sebaik mungkin, aku mengucapkan, ‘Jenguklah Khalifah Sulaiman, karena beliau telah wafat’. Mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Kemudian aku membacakan isi surat wasiat Sulaiman, ketika aku menyebut nama Umar bin Abdul Aziz, Hisyam berkata, ‘Kami tidak akan membaiatnya selama-lamanya’. Raja’ mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan memenggal lehermu, berdiri dan berbaiatlah’. Lalu Hisyam berdiri dengan “menyeret” kedua kakinya.

Raja’ melanjutkan, “Aku memegang pundak Umar bin Abdul Aziz, aku mendudukkannya di atas mimbar, sementara Umar bin Abdul Aziz mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Ia menyesali apa yang didapatkannya. Sementara Hisyam juga mengucapkan ucapan yang sama karena bukan dia yang ditunjuk oleh Sulaiman bin Abdul Malik sebagai penggantinya. Hisyam bertemu Umar bin Abdul Aziz, dia berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena kekhalifahan telah berpindah tangan dari anak-anak Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Maka Umar menjawab, ‘Ya, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena perkara itu sampai ke tangannya padahal dia tidak menyukainya.” (Tarikh ath-Thabari, 7: 445).

Abu al-Hasan an-Nadawi berkata tentang sikap Raja’, “Raja’ telah melakukan sebuah jasa besar yang tidak akan dilupakan oleh Islam. Aku tidak mengetahui seorang laki-laki dari kalangan sahabat raja dan orang-orangnya, yang bisa memberi manfaat (dengan kedekatan dan kedudukannya) seperti manfaat yang diberikan oleh Raja’. (Rijal al-Fikr wa ad-Da’wah, 1: 40).

Umar naik mimbar, dan dalam tatap muka pertama dengan rakyat, dia mengatakan, “Jamaah sekalian, sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidak pernah ditanya dan tidak pula ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telah membatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.” Orang-orang serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Di saat itulah Umar merasa bahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawa khalifah, maka Umar menambahkan kata-katanya untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya dalam menata umat Islam (Umar bin Abdul Aziz wa Siyasatuhu fi Radd al-Mazhalim, Hal: 102), “Amma ba’du, tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak ada kitab selain kitab yang diturunkan kepadanya. Ketahuilah bahwa apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan aku adalah pengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’alamemberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.

Kaum muslimin, siapa yang mendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka janganlah mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untuk mengadukannya, kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya, ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalan tersebut, keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.

Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikan akibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak ada takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah (jaga) rahasia (yang ada pada diri kalian), semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari (amal perbuatan) kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah dengan baik sebelum kematian itu menghampiri kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”

Kemudian Umar meninggikan suaranya agar orang-orang mendengar, “Jamaah sekalian, barangsiapa yang menaati Allah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa mendurhakai Allah, maka tidak wajib taat kepadanya dalam permasalahan tersebut. Taatilah aku selama aku (memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya, maka kalian tidak boleh taat dalam hal itu…” kemudian Umar turun dari mimbar.

Begitulah prosesi pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah umat Islam, salah seorang khalifah Daulah Umawiyah. Ia diangkat pada hari Jumat, 11 Shafar 99 H (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 667).

Sumber: Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz

Apakah dan Siapakah Sebenarnya Salafi Itu? 

Apakah dan Siapakah Sebenarnya Salafi Itu? Waspadai Fitnah.

Salafi (Salaf, Salafiyah, Salafiyun) adalah sebutan bagi generasi pertama kaum Muslim, yakni para sahabat Nabi Muhammad Saw. Gerasi awal umat Islam ini dalam Al-Quran disebut “Assabiqunal Awwalun”, yakni orang-orang yang paling awal berlomba-lomba dalam beriman-Islam.

“Orang–orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah “ (QS. At Taubah 100)

  • Namun, entah kenapa Kamus Bahasa Indonesia mengartikan SALAF sebagai “sifat angkuh, sombong, dsb (pada seseorang atau golongan). KBBI menyebutkan makna kedua Salaf adalah “sesuatu atau orang yang terdahulu”.
  • KBBI juga menyebutkan arti “salaf saleh” sebagai “ulama-ulama terdahulu yang saleh” dan “ulama salaf” sebagai (1) para ahli ilmu agama mulai dari para sahabat Nabi Muhammad Saw. sampai ke pengikut terdekat sesudahnya; (2) ulama yang mendasarkan pandangannya pada paham kemurnian ortodoks.

Pengertian Salaf yang Sebenarnya

  • Pengertian Salaf yang sebenarnya adalah orang-orang terdahulu, yakni generasi awal kaum Muslim pada masa sahabat dan dua generasi sesudahnya yang mengikuti cara hidup Islami mereka (tabi’in dan tabi’it ta’bi’in).
  • Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush shalih (orang-orang terdahulu yang shalih).

Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

  • “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).

Kata Salafi berasal dari bahasa Arab, Salafa Yaslufu Salfan yang artinya “telah berlalu”. Dari arti tersebut kita dapati kalimat Al-Qoum As-Sallaaf yaitu orang-orang yang terdahulu.

Salafi Generasi Terbaik Islam

  • Salafi, dengan demikian, adalah tiga generasi terbaik umat Muslim dan memberikan contoh bagaimana seharusnya Islam dilaksanakan dalam kehidupan.
  • Para sahabat digelar “khairu ummah”, sebaik-baik manusia. Mereka paling paham agama dan paling baik amalannya.

Salaf atau kelompok Salafi adalah mereka berkomitmen di atas Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Istilah Salafi juga biasa dialamatkan kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kelompok Salafi, pasca generasi awal kaum Muslim itu, tidaklah dibatasi atau ditujukan kepada jamaah organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya.

Di zaman ini istilah oleh kelompok tertentu  Salafi dimaknai hal negatif, ketika dikaitkan dengan kelompok Muslim tertentu yang “tegas” dalam menegakkan ajaran Islam. Umat Islam harus mencermati penyimpangan pengertian salafi ini, mengingat berbagai cara dilakukan kalangan kafir dan munafik untuk menenggelamkan Islam sebagai jalan hidup. Di sisi lain, umat Islam yang dijuluki kelompok Salafi, sebaiknya juga mempraktikkan ajaran Islam yang santun, lembut, menentramkan, dan menebar kedamaian –rahmatan lil ‘alamin. Jangan sampai gara-gara perilaku salah segelintir orang, malah membuat citra Salaf/Salafi menjadi buruk. Padahal, salafi adalah teladan umat Islam sepanjang masa.

Kisah Sahabat Nabi: Bersabarlah, Segera Muncul Kebahagiaan Setelah Penderitaan


Kisah Sahabat Nabi: Bersabarlah, Segera Muncul Kebahagiaan Setelah Penderitaan

Salah seorang sahabat imam Ja’far al-Shadiq mengatakan kepada beliau, “Putra-putra pamanku mengusik ketenangan rumah tanggaku sehingga kami hanya diperkenankan hidup dalam satu ruangan. Apabila saya mengadukan tindakan mereka kepada hakim dan membalas perbuatan mereka, maka mereka mengancam akan merampas semua harta yang kumiliki,”

    Imam Ja’far al-Shadiq mengatakan, “Bersabarlah! kamu akan segera mengalami kebahagiaan setelah penderitaan,”

    Lelaki itu mengisahkan, “Saya pun mengurungkan niat membalas keburukan mereka. Tak lama setelah kejadian itu, tepatnya pada tahun 131 H, semua orang yang menyakiti saya meninggal dunia.”

    Selang beberapa masa, lelaki itu datang ke tempat imam Ja’far al-Shadiq. Beliau bertanya, “Bagaimana keadaan orang-orang yang mengusik ketenanganmu?”

    Lelaku itu mengatakan, “Semuanya telah meninggal dunia.”

    Imam Ja’far mengatakan, “Mereka meninggalkan dunia disebabkan mereka mengganggumu yang merupakan bagian dari keluarga mereka, dan akibat buruk tindakan mereka, yaitu memutuskan hubungan kekeluargaan denganmu. Apakah kamu ingin merekan hidup kembali dan mengusik ketenanganmu?”

    Lelaki itu mengatakan, “Tidak, demi Allah.”

Kisah Inspiratif tentang kesetiaan dan pengorbanan seorang istri pejuang, NA-ILAH BINTI AL-FARAFISHAH

Kisah tentang kesetiaan dan pengorbanan seorang istri pejuang, NA-ILAH BINTI AL-FARAFISHAH

Seorang gadis kristen cantik dari negeri Kufah, berkulit putih, berparas jelita,  berfikiran jernih dan  berakhlak penuh pesona. Laksana bunga harum lagi mekar yang menjadi incaran “para” kumbang.

Keelokan dan keindahannya telah sampai ke telinga sang khalifah amirul mukminiin  Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, maka beliau pun meminang gadis idaman, dan sang khalifah pun menikahinya setelah dia masuk Islam.

Taukah engkau terpautnya umur di antara  keduanya, seorang khalifah Islam berumur senja, menikahi seorang gadis yang masih belia… sebagian riwayat mengatakan umur khalifah 81 tahun sedang umur Nailah masih 18 tahun, sebagian lagi mengatakan  umur Utsman 76 tahun sedang umur Nailah 16 tahun. Dan masih ada riwayat lainnya.

Apakah anda mengira ini pernikahan ala siti nurbaya atau pernikahan yang terpaksa? Tidak, sekali lagi tidak, tapi ini adalah pernikahan karena cinta, pernikahan yang sejarah akan gagal menggoreskan tintanya untuk menulis kisah semisalnya, cinta seorang gadis muslimah dengan seorang ksatria Islam di zamannya..

Di Malam pertama, khalifah menyapa lembut kekasihnya: “wahai Nailah, kenapa  engkau mau menikah dengan lelaki tua seperti aku?”, Nailahpun menjawab: “aku suka dengan lelaki yang lebih tua”, khalifah pun berkata: ” tapi masa tuaku telah melampaui masa tua yang ada” …  Nailah-pun menjawab: TETAPI MASA MUDAMU TELAH ENGKAU HABISKAN BERSAMA RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allahu Akbar…

lihatlah…. Dia telah memilih pemilik sepasang mata yang dulu pernah melihat dan bersua dengan Rasulullah, Dia telah memilih lelaki ksatria yang menghabiskan masa mudanya demi membela Nabi yang Mulia.

Biduk pernikahanpun berjalan, Utsman bin Affan diperlakukan dengan penuh cinta dan akhlak yang mulia, Nailah pun dianugrahi oleh Allah keberkahan cinta sang Khalifah.

Hari-Hari berjalan, sang Khalifah menaklukkan negeri-negeri kafir, menundukkan dan mengislamkan penduduknya, hingga negeri islam terbentang dari timur hingga ke barat, terbentang dari marocco hingga ke azerbaijan. Semua itu tidak lepas dari peran istri pejuang, istri seorang ksatria yang menemani sang suami dalam suka dan duka….tentunya setelah taufik dari Rabb semesta alam.

Hingga tibalah hari-hari kelam dalam sejarah islam, mucullah ribuan manusia-manusia durjana berhati syetan berkumpul di kota Madinah di saat para sahabat senior beribadah haji di tanah haram, kaum munafikin pengikut Abdullah bin Saba’ mengepung rumah sang khalifah, ingin menjatuhkannya dan mengobarkan api revolusi dan melengserkannya dari tampuk kekhalifahan. 

Para anak2 shahabat yang kalah jumlah bergegas dan segera menuju rumah sang khalifah, menghunuskan pedang dan membela sang khalifah.,,akan tetapi sang Khalifah memerintahkan mereka untuk pulang dan menyarungkn pedang-pedang mereka,  hingga akhirnya manusia-manusia syetan itu berhasil mendobrak pintu rumah sang khalifah, sedang sang khalifah dalam keadaan berpuasa lagi khusyu’ melantunkan Al-Qur’an….Ditemani Nailah sang istri yang tidak sejengkalpun mundur dari menjaga dan melayani sang khalifah ustman bin Affan.

Hingga takdir Allah berjalan, Datang lah manusia terlaknat masuK ke rumah sang KHALIFAH, Mengayunkan pedang ke arah tubuh sang khalifah yang sedang membaca al-Qur’an,….maka dengan cepat Nailah maju menangkis mata pedang yang tajam, hingga jari-jari Nailah terputus demi membela suaminya utsman bin Affan. Namun apalah daya seorang wanita lemah yang sedang melawan manusia iblis yang penuh dengan amarah dan kebencian, tatkala Utsman melihat Na’ilah belum sempat mengenakan hijab demi membelanya, maka Utsman pun berkata: “masuklah ya Na’ilah demi Allah aku terbunuh lebih aku cintai dari pada  auratmu dilihat oleh manusia-manusia ini”,  hingga akhirnya gugurlah sang khalifah Utsman bin Affan sebagai martir Islam, darah Nailah bercampur dengan darah syahid sang khalifah.

Madinah pun bergejolak membara, dalam riwayat  tiada manusia yang berani mengubur ustman karena banyaknya para syetan berkeliaran, hingga Nailah setia mendampingi jenazah sang suami….Nailah meminta bantuan Jubair bin Muth’im untuk mengubur jenazah khalifah, tapi karena bergejolaknya Madinah, maka pemakaman-pun ditunda hingga waktu malam….

Ketika malam tiba, Nailah membewa lentera bersama Jubair bin Muth’im dan beberapa wanita dan lelaki lainnya, Jubair meminta agar Nailah mematikan lentera agar syetan syetan itu tidak mengacaukan pemakaman sang khalifah, Utsman dimakamkan sedangkan Nailah diterpa kesedihan yang mendalam…

Sambil mengubur jenazah sang suami Nailah berkata:

 “ya ustmaaanaaahhhh…. ya amiral mukminiiinah, bagaimana aku tidak bersedih dengan kepergianmu……”

NAILAH pun memperjuangkan hak Qishas suaminya, Ia mendatangi manusia2 di kota madinah akan tetapi usahanya tak berbuah…akhirnya Nailah menulis surat kepada Mu’awiyah selaku Amir negeri Syam dan sebagai keluarga dekat ustman bin Affan.

HINGGA TERJADILAH APA YANG TERJADI…ANTARA ALI DAN MU’AWIYAH.

waktu terus berjalan, Nailah menjanda ditinggal suami tercinta, hari- harinya dipenuhi dengan kerinduan dengan sang khalifah, hingga cinta itu  tak usang di makan zaman tak lapuk dimakan waktu….

Status janda belumlah memudarkan kecantikannya, hingga datanglah lelaki rupawan, bangsawan bahkan bergelar amirul mukminin khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan datang  melamar Nailah, …maka Nailah pun bertanya ke wanita yang ada di dekatnya: “apa yang membuat lelaki tertarik denganku padahal aku adalah seorang wanita janda yang terputus jari-jarinya? Wanita itu menjawab: Gigi serimu…maka Nailah-pun memecahkan gigi serinya dan berkata: “demi Allah aku tak akan pernah mengganti cinta Utsman bin Affan”

Masya Allah…lihatlah wanita ini, dilamar seorang lelaki yang memiliki dunianya, tapi dia menolaknya dan lebih berharap menjadi istrinya Utsman bin Affan di dunia dan di akherat…padahal dia seorang janda yang membutuhkan perlindungan.

Waktu telah berlalu Nailah si cantik ini, senyap dari keramaian, dia mengurus putra-putrinya Utsman…membesarkannya dengan penuh cinta, dan dia tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya….innaa lillaahi wainnaa ilaihi raji’uun….

Semoga Allah merahmatimu wahai Nailah…

Semoga Allah mempertemukanmu kembali dengan kekasihmu Utsman bin Affan

Di syurga Utsman akan menjadi pemuda gagah dan engkau menjadi bidadari jelita..insya Allah

Dan semoga wanita2 muslimah setelahmu bisa meneladani kesetiaanmu dan pengorbananmu demi agama dan cintamu…

Dari berbagai sumber.

Inspirasi Reuni 212: Kisah Keihlasan Para Ihklas ketika Difitnah Pasukan Nasi Bungkus

Keihlasan Para Ihlas 212, Di tengah fitnah Pasukan Nasi bungkus 

  • Keikhlasan bisa tergerak bagi orang yang merasakan emosi paling dalamnya diusik terlalu keras ketika keadilan dan keyakinan diusik terlalu keras tetapi tidak semua umat merasakannya. 
  • IHKLAS itu sungguh mengharukan. Mengharukan ketika nenek uzur dengan sisa napasnya tertatih tatih membela agamanya. 
  • Mengenaskan ketika tubuh yang tidak sempurna berusaha mengikuti langkah cepat umat membela kita sucinya. 
  • Mengharukan ketika umat tanpa pamrih memberikan bantuan makanan, minuman atau apapun yang bisa membantu saudaranya yg sedang berjuang. 
  • Mengenaskan ketika sisa seluruh harta yang tidak seberapa itu  dihibahkan untuk aksi damai itu. 

  • Mengherankan ketika para veteran dan sesepuh bangsa yg dalam sisa pengabdiannya pada bangsa itu berani mengorbankan kebebasannyan demi membela keadilan negeri. 
  • Manusia tidak bisa menghukum orang iklas dalam bentuk apapun, karena tidak membuatnya menderita tetapi semakin bersyukur. 
  • IKHLAS menjadikan seorang yg mulia dan terhormat di dunia sekalipun kamu bukan apa-apa.
  •  IKHLAS itu berberkah. Akhirnya Tangan Allah ikut bekerja. Si penista agama dihukum meski dilindungi penguasa dan kekuatan besar negeri ini sebelum aksi itu berlangsung


Kisah 10 Sahabat Nabi Yang Dijamin Masuk Surga, AL-ZUBAIR IBN AL’AWWAM 

Kisah 10 Sahabat Nabi Yang Dijamin Masuk Surga, AL-ZUBAIR IBN AL’AWWAM (35 SH-36 H/586-656 M)

    Sahabat dan saudara sepupu Nabi Muhammad Saw, yang bernama lengkap Abu Abdullah Al-Zubair ibn Al-‘Awwam ibn Khuwailid ibn Asad ibn Abdul Uzza ibn Qushai ibn Kilab. bunya, Shafiyyah binti Abdul Muththalib, adalah bibi Nabi Saw., kemenakan Kha dijah binti Khuwailid. Al-Zubair lahir sekitar 35 tahun Sebelum Hijriah atau 586 M dan memeluk Islam ketika masih anak-anak di bawah bimbingan Abu Bakar AI-Shiddiq. Ketika sebagian kaum Muslim angkatan pertama hijrah ke Habasyah, Al-Zubair ikut dalam rombongan tersebut. Ia hijrah ke Madinah dan dipersaudarakan oleh Nabi Saw. dengan Salmah ibn Salamah. Suami Asma’ binti Abu Bakar AI-Shiddiq ini dikenal sebagai pengusaha dermawan dan penunggang kuda yang piawai. Karenanya, Al-Zubair terlibat dalam seluruh peperangan pada masa Nabi Muhammad Saw. Sikap serupa ditunjukkannya pada masa Khulafa Al-Rasyidin.

    Saat Utsman ibn Affan terbunuh, Al-Zubair sedang berada di Madinah. Al-Zubair membaiat Ah ibn Abu Thalib sebagai khahifah. Namun, segera ia bergabung dengan Aisyah binti Abu Bakar Al Shiddiq dan pergi ke Kufah serta terlibat dalam Perang Unta Al Zubair menyesahi langkahnya tersebut dan kembali ke Madrnah Di tengah perjalanan ia ditusuk dan belakang oleh lbn Jurmuz hingga tewas Peristiwa ni terjadi pada 36 H/656 M.

Kisah 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga: SA’AD IBN ABU WAQQASH (20 SH-54 H/601-673 M)

Kisah 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga: SA’AD IBN ABU WAQQASH (20 SH-54 H/601-673 M)

  •  Sahabat Nabi Muhammad Saw, yang terkenal sebagai komandan pasukan kaum Muslim. Ia bernama lengkap Sa’ad ibn Malik (yang juga dipanggil Abu Waqqash) ibn Wuhaib ibn Abdul Manaf ibn Zuhra ibn Kilab ibn Murrah. Tokoh suku Quraisy dan Bani Zuhrah ini ahir sekitar 20 tahun Sebelum Hijriah Nahi Saw. atau 601 M. la memeluk Islam pada usia 17 tahun dan menjadi orang ketujuh yang memeluk Islam.
  • Selama bersama Muhammad Saw., Sa’ad ibn Abu Waqqash selalu ikut serta dalam perang yang terjadi pada masanya hingga dikenal sebagai anak muda pemberani. la ter libatdalam PerangQadisiyyah untuk menaklukan Persia yang terjadi pada paruh pertama 16 H atau musim panas 637 M. Sebelum bertolak ke medan pertempuran bersama 4 ribu mujâhid, Umar ibn Al-Khaththab berpesan kepadanya, “Sa’ad! Aku menaruh kepercayaan kepadamu untuk memimpin pasukan ini. Karena itu, pegang teguhlah pesanku. Engkau akan berjuang menghadapi persoalan yang tidak menyenangkan yang engkau tidak akan terlepas d&inya, kecuali dengan kebenaran. Karena itu, biasakanlah dirimu dan orang orang yang bersamamu dengan kebajikan dan janganlah terkecoh. Demi Allah! Dengan orang yang mengaku sebagai paman atau sahabat Rasulullah Saw,! Sebab di antara Allah dan siapa pun tiada kaitan, kecuali dengan ketaatannya. Orang yang berpangkat tinggi maupun rendah, sama dalam pandangan Allah. Allah tuhan mereka. Sebaliknya, mereka adalah para hamba-Nya yang mengharapkan keselamatan dan ingin meraih apa yang berasal dari-Nya dengan kepatuhan. Karena itu, renungkanlah dan laksanakan hal yang dilaksanakan Nabi Saw. semenjak beliau diutus sampai kita berpisah. Inilah pesanku dan jangan sekali-kali engkau lalaikan!”
  • Dalam Perang Qadisiyyah tersebut, pasukan kaum Muslim yang dipimpin oleh Sa’ad ibn Abu Waqqash berhasil mengalahkan pasukan Persia di bawah pimpinan Jenderal Rustam. Setahun kemudian, setelah berhasil menaklukkan Al-Mada’in (Ctesiphon), pa sukan Sa’ad juga berhasil memasuki istana Khusra Yazdegerd. Nama Sa’ad ibn Abu Waq qash juga dikenal sebagai pendiri Kota Kufah pada 17 H/638 M. Di samping itu, Sa’ad termasuk 6 orang yang diberi wewenang dalam memilih Utsman ibn Affan sebagai kha lifah. Setelah Utsman tewas dan Ah ibn Abu Thahib menjadi khahifah, Sa’ad ibn Abu Waq qash menjauhi dunia pohitik. Sa’ad ibn Abu Waqqash wafat pada usia 70 tahun pada 54 H/673 M. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Baqi AI-Gharqad, Madinah AI-Mu nawwarah.

Kisah 10 Sahabat Nabi Yang dijamin Masuk Surga: ABU UBAIDAH AL-JARRAH

Kisah 10 Sahabat Nabi Yang dijamin Masuk Surga: ABU UBAIDAH AL-JARRAH (40 SH-18 H/581-639 M)

    Sahabat Nabi Muhammad Saw. yang terkenal sebagai jenderal yang tangguh di medan pertempuran dan salah satu dan 10 sahabat Nabi Saw, yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Bernama lengkap Abu Ubaidah Amir ibn Abdullah ibn Al-Jarrah ibn Al-Hilal ibn Dabbah ibn Al-Harits ibn Fihr, lahir di Makkah 40 tahun Sebelum Hijriah atau 581 M.

    Setelah memeluk Islam di Makkah, ja hijrah ke Habasyah, kemudian menuju Madinah Al-Munawwarah. Di Kota Nabi tersebut ia dipersaudarakan oleh Rasulullah Saw. dengan Abu Thalhah Al-Anshari. Selain ikut dalam berbagai peperangan pada masa Rasulullah Saw., tokoh yang mendapat gelar AmIn Al-Ummah Al-Islami)yah (Orang Kepercayaan Umat Islam) dan Nabi Muhammad Saw. ini juga ikut serta dalam pasukan Muslim yang dikirim Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar ibn Al-Khaththab untuk mengatasi berbagai gejolak yang terjadi saat itu. Bahkan, selama 6 tahun la mendapat kepercayaan sebagai panglima pasukan yang dikirirn Umar ke Syarn (Suriah) untuk mengadang pasukan Romawi.

    Meski menduduki jabatan sebagai panglima, Abu Ubaidah Al-Jarrah tétap sederhana dan senantiasa berlapang dada dalam menerima kritik. Dia pernah mengatakan kalimat yang paling inspiratif: “Betapa banyak orang yang mencuci bajunya, tapi mengotori agamanya. Betapa banyak orang yang mernuliakan dirinya, tapi sejatinya la tidak ada artinya. Karena itu, bersegeralah kalian memperbaiki keburukan-keburukan lama dengan kebaikan-kebaikan baru. Sebab, sekiranya di antara kalian ada yang berbuat keburukan sebanyak apa yang ada di antara dirinya dan langit, lalu la berbuat suatu kebajikan, kebajikannya itu akan membumbung tinggi di atas keburukan-keburukannya sehingga yang kuasa mengubahnya.”

    Abu Ubaidah berhasil menaklukkan sejumlah kota di Suriah dan Palestina, antara lain Damaskus, Horns, Halb, dan Bait Al-Maqdis, ini meninggal dunia pada usia 58 tahun di medan pertempuran karena terkena wabah penyakit yang rnenghajar pasukannya di Syam. Peristiwa ini terjadi pada 18 H/639 M di Arnwas (sekitar 4 kilometer dan Bait Al Maqdis), pada masa pemerintahan Umar ibn Al-Khaththab.

Inspirasi Pidato Jabatan Pertama Kali Yang Luarbiasa Abu Bakar AI-Shiddiq, inspirasi Pemimpin Indonesia


Pidato Jabatan Pertama kali Yang Luarbiasa Abu Bakar AI-Shiddiq, inspirasi Pemimpin Indonesia

Khalifah pertama dalam sejarah Islam sejak 11 -13 H/632-634 M, bernama Iengkap Abdullah ibn Abu Quhafah Utsman ibn Amir ibn Umar ibn Kab ibn Sa’ad ibn Taim ibn Murrah ibn Kab ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn Nadr ibn Malik Al-Taimi Al-Qurasyi. Sebelum Islam, ia dikenal dengan nama Abdul Kabah. Setelah Abu Bakar lahir dan besar, ia diberi nama lain, yakni Atiq. Nama ini diambil dan nama lain Ka’bah, Baitul Atiq, yang berarti rumah purba. Setelah Islam, Rasulullah memanggilnya menjadi Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dan predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal. Sementara ibunya, Ummu Khair Salma binti Sakhr, adalah perempuan suku Quraisy. Abu Bakar lahir pada 49 SH/573 M, yakni 2 tahun setelah Tahun Gajah atau le bih muda 2 tahun dan Nabi Muhammad Saw.

Pidato Paling Inspiratif Seorang Pemimpin Islam Saat 

    Setelah Rasulullah Saw. dimakamkan di rumah ‘A’isyah pada Selasa menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar AI-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar yang menjadi fondasi kekuatan Isam saat itu, 

  • “Wahai umat Islam sekalian! Aku diangkat sebagai pemimpin kalian, meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Karena ¡tu, apabila aku melakukan kebaikan, dukunglah! Sebaliknya, apabila aku melakukan kesalahan, Iuruskanlah! Ketahuilah, kebenaran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan. 
  • Menurutku, yang terlemah di antara kalian adalah yang terkuat, sampai aku mengembalikan haknya. Janganlah seorang pun di antara kalian meninggalkan jihad. Ketahuilah, orang-orang yang meninggalkan jihad akan ditimpa kehinaan dan Tuhan. 
  • Patuhlah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, tiada kewajiban bagi kalian untuk patuh kepadaku. Kini, marilah kita melaksanakan shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian.”

    Khalifah yang berasal dan Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib Rasulullah sejak behiau belum diangkat menjadi nabi. Bahkan, Rasulullah pula yang mengubah namanya menjadi Abdullah. Ketika Muhammad diutus sebagai nabi, pedagang yang jujur dan berada ini merupakan pria dewasa pertama yang mengakui kenabian Muhammad dan ajaran Islam yang disampaikannya. Keislamannya ini mampu mendorong sejumlah tokoh Qu raisy mengikuti jejaknya. Di antaranya adalah Utsman ibn Affan, Al-Zubair ibn Al-Awwam, Sa’ad ibn Abu Waqqash, dan Abdurrahman ibn Auf. Ketika Nabi Muhammad Saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah pada malam 12 Rabi’ AI-Awwal tahun pertama Hijriah/28 Juni 622 M, Abu Bakar dipilih untuk menyertai beliau, dan saat Rasulullah Saw. wafat, Abu Bakar yang diangkat sebagai khalifah memimpin umat Islam. Jabatan itu ¡a duduki lewat sebuah pemilihan dalam pertemuan yang dilangsungkan pada han kedua setelah Rasulullah Saw. wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Penyelenggaraan pertemuan tersebut didorong kepentingan memilih pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Saw.

Kisah 10 Sahabat Nabi Yang dijamin Masuk Surga: ABU BAKAR AL-SHIDDIQ, Sang Kulafaur Rasyidin Pertama

ABU BAKAR AL-SHIDDIQ (49 SH-13 H/573-634 M)

    Khalifah pertama dalam sejarah Islam sejak 11 -13 H/632-634 M, bernama Iengkap Abdullah ibn Abu Quhafah Utsman ibn Amir ibn Umar ibn Kab ibn Sa’ad ibn Taim ibn Murrah ibn Kab ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn Nadr ibn Malik Al-Taimi Al-Qurasyi. Sebelum Islam, ia dikenal dengan nama Abdul Kabah. Setelah Abu Bakar lahir dan besar, ia diberi nama lain, yakni Atiq. Nama ini diambil dan nama lain Ka’bah, Baitul Atiq, yang berarti rumah purba. Setelah Islam, Rasulullah memanggilnya menjadi Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dan predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal. Sementara ibunya, Ummu Khair Salma binti Sakhr, adalah perempuan suku Quraisy. Abu Bakar lahir pada 49 SH/573 M, yakni 2 tahun setelah Tahun Gajah atau le bih muda 2 tahun dan Nabi Muhammad Saw.

    Khalifah yang berasal dan Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib Rasulullah sejak behiau belum diangkat menjadi nabi. Bahkan, Rasulullah pula yang mengubah namanya menjadi Abdullah. Ketika Muhammad diutus sebagai nabi, pedagang yang jujur dan berada ini merupakan pria dewasa pertama yang mengakui kenabian Muhammad dan ajaran Islam yang disampaikannya. Keislamannya ini mampu mendorong sejumlah tokoh Qu raisy mengikuti jejaknya. Di antaranya adalah Utsman ibn Affan, Al-Zubair ibn Al-Awwam, Sa’ad ibn Abu Waqqash, dan Abdurrahman ibn Auf.

    Ketika Nabi Muhammad Saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah pada malam 12 Rabi’ AI-Awwal tahun pertama Hijriah/28 Juni 622 M, Abu Bakar dipilih untuk menyertai beliau, dan saat Rasulullah Saw. wafat, Abu Bakar yang diangkat sebagai khalifah memimpin umat Islam. Jabatan itu ¡a duduki lewat sebuah pemilihan dalam pertemuan yang dilangsungkan pada han kedua setelah Rasulullah Saw. wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Penyelenggaraan pertemuan tersebut didorong kepentingan memilih pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Saw.

    Setelah Rasulullah Saw. dimakamkan di rumah ‘A’isyah pada Selasa menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar AI-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar yang menjadi fondasi kekuatan Isam saat itu, “Wahai umat Islam sekalian! Aku diangkat sebagai pemimpin kalian, meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Karena ¡tu, apabila aku melakukan kebaikan, dukunglah! Sebaliknya, apabila aku melakukan kesalahan, Iuruskanlah! Ketahuilah, kebenaran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan. Menurutku, yang terlemah di antara kalian adalah yang terkuat, sampai aku mengembalikan haknya. Janganlah seorang pun di antara kalian meninggalkan jihad. Ketahuilah, orang-orang yang meninggalkan jihad akan ditimpa kehinaan dan Tuhan. Patuhlah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, tiada kewajiban bagi kalian untuk patuh kepadaku. Kini, marilah kita melaksanakan shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian.”

    Selama Abu Bakar menjadi khalifah, Islam mulai berkembang memasuki kawasan yang berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi dan Persia. Namun, karena masa peme rintahannya yang pendek, perluasan ke kedua kawasan tersebut baru benar-benar terlak sana pada masa pemerintahan Umar ibn Al-Khaththab.

    Sebelum wafat, ia berpesan agar umat Islam mengangkat Umar ¡bn Al-Khaththab se bagai penggantinya. Pesan ini diterima oleh hampir semua sahabat. Pemberian wasiat dilakukan oleh Abu Bakar karena ia khawatir akan terulang lagi pertikaian seperti pada hari-hari setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, sehingga jenazah beliau baru dimakamkan setelah dua hari, suatu hal yang menyalahi pesan beliau sendiri agar jenazah selekasnya di kebumikan.

    Tokoh yang bergelar Al-Shiddîq karena membenarkan perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. mi meninggal dunia pada Senin, 22 Jumada Al-Tsaniyah 13 H/22 Agustus 634 M, dengan meninggalkan 6 putra-putri: Abdullah (wafat pada tahun pertama kekhalifahan sang ayah), Asma’ (istri Al-Zubair ibn AI-Awwam), Abdurrahman, ‘A’isyah (istri Nabi Muhammad Saw.), Muhammad (Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Ah ibn Abu Thalib), dan Ummu Kaitsum (lahir setelah Abu Bakar wafat).

Kisah 10 Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga: ABDURRAHMAN IBN AUF 

Kisah 10 Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga: ABDURRAHMAN IBN AUF 

ABDURRAHMAN IBN AUF (44 SH 31 H/581-652 M)
    Sahabat Nabi Muhammad Saw. yang juga seorang pengusaha sukses, dan termasuk salah satu dan 10 orangyang diberi kabar gembira akan masuk surga. Orang ke-8 yang memeluk Islam ini bernama lengkap Abu Muhammad Abdurrahman ibn Aul ibn Abd Auf ibn Abdul Harits Zurah ibn Kilab ibn Murrah.

    aat lahir path 44 Sebelum Hijriah atau 581 M (10 tahun lebih muda dan Nabi Saw.), ¡a diberi nama Abd ‘Amr yang berarti Budak Amr atau Abd Ka’bah yang berarti Hamba Ka’bah. Karena ¡tu, ketika menyatakan keislamannya lewat ajakan Abu Bakar Al-Shiddiq, Nabi Muhammad Saw. mengganti namanya menjadi Abdurrahman yang berarti Hamba Yang Maha Pengasih.

    Ketika Nabi Muhammad Saw. memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Haba syah, Abdurrahman menjual seluruh harta kekayaannya demi keperluan hijrah angkatan pertama tu. Setelah beberapa lama di Habasyah, ia kembali ke Makkah dengan harapan ikap kaum musyrik Quraisy akan melunak.’ Namun, harapannya bertolak belakang de ngan kenyataan, ja pun kembali ke Madinah. Di Kota Nabi, Abdurrahman yang banyak menuturkan hadis Nabi ini dipersaudarakan dengan seorang Anshar, Sa’ad ibn Al-Rabi’ Al-Khazraji.

    Di Kota Nabi, suami dan Ummu Kultsum binti Uqbah ibn Rabi’ah ibn Abd Syams, Ummu Kuitsum binti Abu Mu’aith, Sahlah binti Ashim, dan Bahriyyah binti Hani’ ini kern- bali menggeluti dunia bisnis sebagai pengusaha. Pada Sya’ban 6 H/Desember 627 M, ja diangkat oleh Nabi Saw. sebagai komandan pasukan kaum Muslim ke Dumah Al-Jandal untuk menghadapi Bani KaIb. Di kota inilah Abdurrahrnan bertemu dengan Tumadhir binti Al-Asbagh, putri dan tokoh suku itu, yang kemudian la sunting menjadi istrinya. Se- lain itu, Abdurrahman juga ikut serta dalam seluruh perang yang dihadiri Rasul Saw., ikut menyaksikan Perjanjian Hudaibiyah, serta mendampingi istri-istri Nabí Saw. dalam menu naikan ibadah haji.

    Pada 13 H/634 M, sahabat yang dikenal bersikap zuhud terhadap jabatan dan pang kat ¡ni, ditunjuk oleh Umar ibn AI-Khaththab sebagai pemimpin rombongan jamaah haji. Sebelas tahun kemudian, salah satu dan 6 calon pengganti Umar ini ditunjuk kembali oleh Utsman ibn Affan sebagai pemimpin jamaah haji. Tugas mi merupakan yang terakhir bagi tokoh yang juga dikenal pemurah dan dermawan ini, karena pada 31 H/652 M, la wafat di Madinah pada usia 75 tahun dan dikebumikan di Makam Baqi’ Al-Gharqad de ngan meninggalkan 28 putra dan 8 putri.

Inspirasi Dari WS Rendra: Makna Sebuah Titipan

Inspirasi Dari WS Rendra: Makna Sebuah Titipan

Makna Sebuah Titipan

WS.Rendra

Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Kisah Dalam Quran Surah Al Kahfi: Ashabul Kahfi dan Raja Digyanus di Romawi


Kisah Dalam Quran Surah Al Kahfi: Ashabul Kahfi dan Raja Digyanus di Romawi 

Dalam Al qur’an, Surat Al Kahfi, Allah menceritakan tentang Ashabul Kahfi, mereka adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-’Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Allah Swt. menceritakan tentang para pemuda yang melarikan diri dengan membawa agamanya agar agama mereka selamat dari gangguan kaum­nya yang pasti akan memfitnah mereka. Mereka lari memisahkan diri dari kaumnya, lalu berlindung di dalam gua yang berada di suatu bukit, sebagai tempat persembunyian mereka agar kaumnya tidak tahu keber­adaan mereka. Ketika hendak memasuki gua itu, mereka memohon kepa­da Allah agar rahmat dan kelembutan-Nya dilimpahkan kepada diri mere­ka. Mereka mengatakan dalam doanya seperti yang disitir oleh firman-Nya:

  • رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
  • Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi­Mu. (Al-Kahfi: 10)
  • Yakni anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu rahmat yang dengannya Engkau merahmati kami dan menyembunyikan kami dari kaum kami.
  • وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
  • dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urus­an kami (ini). (Al-Kahfi: 10)
  • Maksudnya, berikanlah kami petunjuk ke jalan yang lurus dalam urusan kami ini. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwajadikanlah bagi akibat urusan kami ini jalan yang lurus. 

Seperti pengertian yang terdapat di da­lam sebuah hadis, yaitu:

  • “وَمَا قَضَيْتَ لَنَا مِنْ قَضَاءٍ، فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رَشَدًا”
  • Dan segala apa yang Engkau putuskan bagi kami, kami memo­hon agar sudilah engkau menjadikan akibatnya bagi kami jalan yang lurus.

Di dalam kitab “Musnad disebutkan melalui hadis Busr ibnu Artah, dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah mengatakan dalam doanya:

  • “اللَّهُمَّ، أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ”
  • Ya Allah, berikanlah akhir yang baik bagi semua urusan kami, dan lindungilah kami dari kehinaan di dunia dan azab akhirat.

    ​Debat Tercepat Sepanjang Masa


    Debat Tercepat Sepanjang Masa

    Seorang dukun datang kepada ULama besar abad ini syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani rahimahullah. Dia mengklaim bahwa dirinya mengetahui hal ghaib. Maka dia meminta untuk berdebat dengan syaikh Al-Albani.

    Maka syaikh Al-Albani berkata:

    • “Engkau boleh berdebat denganku akan tetapi dengan satu syarat”

    Maka dukun tadi berkata:

    “Apa syaratmu itu?”

    Syaikh Al-Albani berkata:

    • “Bagaimana kamu mengetahui hal ghaib akan tetapi tidak mengetahui syaratku”.

    Sang dukun terbungkam dan selesailah debat.

    sumber 

    • http kulalsalafiyeen.com

    Muhjizat Nabi Ibrahim

    Muhjizat Nabi Ibrahim
    Ibrahim merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia bergelar Khalilullah (خلیل اللہ, Kesayangan Allah). Ibrahim bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai para pendiri Baitullah. Ia diangkat menjadi nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di negeri Ur, yang sekarang dikenal sebagai Iraq. Ibrahim merupakan sosok teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai hal. Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adhamerupakan beberapa perayaan untuk memperingati sikap berbakti Ibrahim terhadap Allah. Ibrahim termasuk golongan manusia pilihan di sisi Allah, serta termasuk golongan Ulul Azmi. Nama Ibrahim diabadikan sebagai nama sebuah surah, serta disebut sebanyak 69 kali di Al-Qur’an.

    Dalam buku yang berjudul “Muhammad Sang Nabi – Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail,” karya Omar Hashem, dikatakan bahwasanya nama Ibrahim berasal dari dua suku kata, yaitu ib/ab (إب) dan rahim (راهيم). Jika disatukan maka nama itu memiliki arti “ayah yang penyayang.”

    Ibrahim merupakan putra Azar (Tarikh) bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin Faligh bin Abir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Al-Hafidz ibnu Asakir meriwayatkan bahwasanya ibu kandung nabi Ibrahim bernama Amilah. Sementara menurut al-Kalbiy, ibu kandung nabi Ibrahim bernama Buna binti Karbina bin Kartsi, yang berasal dari Bani Arfakhsyad.

    Azar memiliki tiga putra: Ibrahim, Haran, dan Nahor. Ibrahim dilahirkan di sebuah wilayah bernama Faddam Aram, yang terletak di kerajaan Babilonia. Ibnu Asakir meriwayatkan dalam kitab at-Tarikh dari Ishaq bin Basyar al-Kahiliy bahwasanya nabi Ibrahim dijuluki sebagai “Abu adh-Dhaifan.” Ibrahim memiliki dua putra yang termasuk golongan nabi, yakni nabi Ismail dan nabi Ishaq, sementara nabi Ya’qub merupakan cucu Ibrahim. Haran juga memiliki seorang putra yang termasuk golongan nabi, yakni nabi Luth.

    Mukjizat

    • Melihat burung dihidupkan kembali. Sewaktu Ibrahim telah bertekad memerangi perilaku syirik dan penyembahan berhala, ia masih ingin meneguhkan keimanan terlebih dahulu sehingga dapat menenteramkan kalbu. Maka Ibrahim memohon kepada Allah, agar diperlihatkan kepada dirinya tentang cara Allah menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. “…dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepada diriku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap.” Allah berfirman, “Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”— Al-Baqarah 2:260
    • Diselamatkan ketika berada di Perapian. Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan diri kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan.[5] Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair bahwasanya Malaikat Ar-Ra’d (malaikat pengatur awan dan hujan) mengatakan: “Kapan saja aku diperintah, maka aku akan menurunkan hujan” namun Firman Allah hadir lebih cepat, “Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”— Al-Anbiya’ 21:69. Ka’ab al-Ahbar meriwayatkan, “Saat itu seluruh penduduk bumi tidak bisa menyalakan api, sedangkan Ibrahim tidak terbakar sedikitpun selain tali yang mengikat dirinya.” Sedangkan menurut As-Suddiy, “Saat itu Ibrahim didampingi oleh Malaikat Azh-Zhil (malaikat pemberi naungan), sehingga sewaktu Ibrahim berada di kobaran api, sebenarnya ia berada di taman hijau. Orang-orang melihatnya namun tidak mampu memahami keadaan itu dan ia pun tidak keluar untuk menemui mereka.” Ibnu Majah meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim dilempar ke dalam kobaran api besar; semua hewan di muka bumi berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha membuat api membesar.
    • Pasir berubah menjadi makanan. Abdur Razzaq meriwayatkan bahwasanya ketika Namrudz memiliki banyak persediaan makanan, terdapat orang-orang yang hadir untuk memperoleh kebutuhan makanan, termasuk Ibrahim yang turut hadir. Menurut kitab “Qashash al-Anbiyaa”, pada sebuah hari ketika persediaan makanan telah habis, Ibrahim mengambil gundukan pasir, yang kemudian berubah menjadi bahan makanan tatkala ia sampai di rumah.

    Kisah Sahabat Nabi Utusan Bani Harits Bin Ka’ab

    Kisah Sahabat Nabi Utusan Bani Harits Bin Ka’ab

    Bani Harits bin Ka’ab merupakan kabilah terkemuka yang tinggal di Najran, Yaman, suatu daerah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Nashrani. Mereka juga ahli dalam peperangan, dan jarang terkalahkan dalam pertempuran yang diterjuninya, karena itu mereka cenderung memiliki kesombongan dan merasa lebih tinggi dari kabilah lainnya.

    Pada tahun 10 hijriah, Nabi SAW mengirim suatu pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid kepada kabilah tersebut. Beliau berpesan agar menyeru mereka untuk memeluk Islam selama tiga hari, kalau mereka menolak barulah boleh diperangi. Khalid melaksanakan tugas tersebut, dan ternyata kabilah Bani Harits bin Ka’ab menerima seruan Khalid untuk memeluk Islam. Maka ia tinggal beberapa hari di sana mengajarkan beberapa pokok ajaran Islam.

    Setelah merasa cukup memberikan pengajaran dan mereka telah melaksanakan pokok-pokok peribadatan yang ditentukan, Khalid mengirim surat kepada Nabi SAW, mengabarkan keislaman kabilah tersebut, dan juga menjelaskan beberapa karakteristik Bani Harits bin Ka’ab itu. Nabi SAW mengirim surat balasan, yang memerintahkan agar mereka mengirimkan utusan menghadap Nabi SAW, termasuk Khalid bin Walid.

    Berselang beberapa hari, Nabi SAW melihat suatu rombongan memasuki kota Madinah menuju Masjid Nabi, beliau berkata, “Siapakah kaum ini, yang wajahnya seperti orang-orang India…!!”

    Salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, mereka adalah Bani Harits bin Ka’ab..!”

    Khalid dan beberapa utusan itu, yang merupakan para pemimpin Bani Harits bin Ka’ab ini segera menghadap Rasulullah SAW. Mereka ini adalah Qais bin Hushain, Yazid bin Abdul Madan, Yazid bin Mahjal, Abdullah bin Qirad, Syaddad bin Abdullah al Qinany, dan Amr bin Abdullah adh Dhibaby. Tiba di hadapan beliau, mereka mengucap salam dan berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah Utusan Allah, dan kami juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.”

    Nabi SAW yang telah mengenali karakter kabilah ini, termasuk informasi dari surat Khalid bin Walid, memberi reaksi yang tidak seperti biasanya, yakni menyambut gembira keislamannya. Beliau justru berkata, “Aku juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah…!!”

    Beberapa detik kemudian beliau berkata lagi, “Kaliankah orang-orang yang bila dicegah, justru kalian terus maju….??” Mereka tidak menjawab. Beliau mengulanginya sampai tiga kali, tetapi tetap saja mereka tidak menjawab. Baru setelah beliau mengulang untuk ke empat kalinya, Yazid bin Abdul Madan menjawab, bahkan ia mengulang-ulangnya sampai empat kali, “Benar, ya Rasulullah, kami adalah orang-orang yang bila dicegah, justru akan maju terus…!!”

    Setelah itu Nabi SAW bersabda, “Jika saja Khalid tidak menulis surat kepadaku bahwa kalian telah memeluk Islam tanpa perlawanan, niscaya aku akan melemparkan kepala kalian di bawah telapak-telapak kaki kalian…”

    Tentu tidak benar-benar seperti itu maksud Nabi SAW kalau saja mereka tidak memeluk Islam. Tetapi beliau menyampaikan perkataan tersebut untuk mengobati dan menawarkan (menetralisir) kesombongan dan arogansi mereka. Namun demikian, Yazid bin Abdul Madan, mewakili rekan-rekannya berkata, “Ketahuilah, demi Allah kami tidak berterima kasih kepadamu, dan tidak juga kepada Khalid…!!”

    Nabi SAW berkata, “Kepada siapa kalian berterima kasih?”

    “Wahai Rasulullah, kami hanya berterima kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada kami dengan perantaraan engkau…!!” Walaupun sebenarnya “tidak pantas” untuk tidak berterima kasih kepada Nabi SAW atas hidayah Allah yang telah mereka terima, tetapi beliau tidak mempermasalahkannya, bahkan membenarkan jawaban mereka. Kemudian beliau bertanya lagi, “Dengan sebab apakah kalian mengalahkan siapa saja yang memerangi kalian?”

    Kali ini mereka memberikan jawaban dengan nada yang berbeda. Pertanyaan yang agak memuji ini justru menimbulkan “rasa malu” untuk menonjolkan diri di hadapan Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Kami tidak pernah mengalahkan siapapun..!!”

    Tetapi Nabi SAW mengulangi dan menegaskan pertanyaan beliau, “Tidak, bahkan kalian selalu saja mengalahkan mereka yang memerangi kalian…!!” Dengan sikap merendah, mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami selalu mengalahkan siapa saja yang memerangi kami, karena kami selalu bersatu padu, tidak berpecah belah, dan kami tidak pernah mendahului melakukan kedzaliman kepada siapapun…!!”

    Nabi SAW merasa puas dengan jawaban tersebut. Beliau menerima syahadat dan ba’iat mereka dengan baik dan menetapkan Qais bin Hushain sebagai amir (pemimpin) kabilah Bani Harits bin Ka’ab ini.

    « Entri Lama