Category Archives: Jalan Menuju Surga

Siapa Orang Munafik dan Apa Dalil Dalam Quran ?

    Dalam Islam terdapat 3 ciri-ciri orang munafik seperti yang disampaikan oleh baginda Rasulullah SAW dalam sabdanya yang berbunyi.

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat (HR. Al- Bukhari)

    Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Al-Iman hadist nomer 33. Hadist tersebut masuk kedalam bab berjudul Baabu Alaamati Munaafiq yang artinya Bab Tanda-tanda Orang Munafiq.

    Penjelasan Hadist

    • Kata munafik berarti orang-orang yang nifak. Nifak secara bahasa maknanya adalah berbeda antara apa yang tampak (lahir) dan tidak tampak (batin). Apabila perbedaan itu menyangkut perkara iman maka orang tersebut tersebut termasuk nifaq i’tiqad. Contohnya orang yang berkata “Kami beriman” tetapi mengingkari di dalam hati.
    • Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ketika berdakwah di Madinah terdapat orang-orang munafik seperti itu. Nama orang yang terkenal dengan sifat kemunafikannya tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.
    • Menurut Ibnu Katsir, nifak adalah memperlihatkan kebaikan dan menyembunyikan kejelekan. Sementara itu, Ibnu Juraij berkata bahwa orang munafik itu adalah orang yang perkataanya berlawanan dengan apa yang ia kerjakan dan batinnya menyelisihi lahiriahnya.

    Dalil Dalam Quran Tentang Orang Munafik

    • Surat Ali ‘Imran Ayat 156. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan“.
    • Surat An-Nisa’ Ayat 81. Artinya: “Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung“.
    • Surat An-Nisa’ Ayat 138. Artinya: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih“.
    • Surat An-Nisa’ Ayat 140. Artinya: “…Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam“.
    • Surat An-Nisa’ Ayat 142. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali“.
    • Surat An-Nisa’ Ayat 145. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.
    • Surat Al-Anfal Ayat 49. Artinya: “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang beriman) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“.
    • Surat At-Taubah Ayat 56. Artinya: “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu)“.
    • Surat At-Taubah Ayat 63. Artinya: “Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka jahannamlah baginya, mereka kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar“.
    • Surat At-Taubah Ayat 67. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik“.
    • Surat At-Taubah Ayat 68. Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal“.
    • Surat At-Taubah Ayat 79. Artinya: “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih“.
    • Surat Hud Ayat 5. Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati“.
    • Surat Al-Ahzab Ayat 12. Artinya: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya“.
    • Surat Al-Ahzab Ayat 48. Artinya: “Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung“.
    • Surat Al-Munafiqun Ayat 1. Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta“.
    • Surat At-Tahrim Ayat 9. Artinya: “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”.

    SOMBONG PENGHALANG KE SURGA

    SOMBONG PENGHALANG KE SURGA

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

    Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, baginda bersabda: “Tidak akan masuk syurga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan kasutnya bagus – cantik (apakah ini termasuk kesombongan)?” Baginda menjawab: “Sesungguhnya Allah itu cantik dan menyukai yang cantik, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

    (HR Muslim No: 131) Status: Hadis Sahih

    Kandungan hadits

    1. Sifat sombong adalah turunan iblis, merasa dirinya lebih baik dari yang lain.

    2. Imam Nawawi berkata: Hadis ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merasa diri sendiri lebih benar, paling lurus, paling khusuk, disertai merendahkan orang lain, serta merasa bosan, jenuh, bahkan menolak kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

    3. Tidak masuk syurga orang yang memiliki sifat sombong dalam dirinya walaupun sebesar biji sawi.

    4. Sifat sombong, adalah merasa dia saja yang betul dan benar, kondisi demikian akan mendorong seseorang menolak kebenaran dan merendah serta menyepelekan orang lain.

    5. Dalam kitab Riyadusshalihin, Sombong itu adalah menolak kebenaran dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apa dan melihat dirinya lebih dibandingkan dengan orang lain.

    6. Suka kepada keindahan pakaian tidak termasuk kepada sifat kesombongan.

    Rasulullah SAW dalam hadis menjelaskan definisi sombong :

    الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

    Sombong ialah tidak menerima kebenaran dan menghina sesama manusia. HR Muslim 131

    Menurut Raghib Al Asfahani Ia mengatakan, “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri . Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatanataupun mengesakan-Nya”. Fathul Bari 10 hal 601

    Dalam buku ihya’ ulumuddin Al-Ghazali nendefinisikan sombong adalah suatu sifat yang ada didalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu dan tampak dalam perbuatan lahir. Mutiara Ihya Ulumuddin 1997:293

    Secara universal maka, perbuatan sombong dapat dipahami dengan membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya lebih dari orang lain. perbuatan sombong dibagi beberapa tingkatan yaitu:

    Kesombongan terhadap Allah SWT, yaitu dengan cara tidak tunduk terhadap perintahnya, enggan menjalankan perintahnya

    Sombong terhadap rasul, yaitu perbuatan enggan mengkuti apa yang diajarkannya dan menganggap Rasulullah sama sebagaimana dirinya hanya manusia biasa.

    Sombong terhadap sesama manusia dan hamba ciptaanya, yaitu menganggap dirinya lebih dari orang lain dan makhluk ciptaan Allah yang lain dengan kata lain menghina orang lain atau ciptaan Allah lainya.

    Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Isra’: 37

    وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا (٣٧)

    dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

    مَرَحًا :
    Kesombongan dan kecongkakan. dalam tafsir Al-Qurtubi pengertiannya adalah kegembiraan yang sangat, sombong dalam berjalan.

    لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ :
    Kamu takkan dapat menjadikan jalan di bumi dengan pijakanmu dan jejakmu yang hebat.[

    Dalam ayat ini Allah SWT melarang hambanya berjalan dengan sikap congkak dan sombong di muka bumi. Sebab kedua sikap ini adalah termasuk memuji diri sendiri yang tidak disukai oleh Allah dan orang lain.

    Almaraghi dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini bahwa, seorang manusia hendaknya jangan berjalan dengan sikap sombong, bergoyang-goyang seperti jalannya raja yang angkuh. Sebab dibawahnya terdapat bumi yang tidak akan mampu manusia menembusnya dengan hentakkan dan injakkan kakinya yang keras terhadapnya. sedang diatasnya terdapat gunung yang takkan mampu manusia menggapai, menyamai dengan ketinggian atau kesombongannya.

    Dalam tafsir Al-Qurtubi maksud menyamai gunung adalah manusia dengan dengan kemampuanya ia tidak akan bisa mencapai ukuran seperti itu. Sebab manusia adalah hamba yang sangat hina yang dibatasi dari bawah dan atasnya. Sedang sesuatu yang dibatasi itu terkungkung dan lemah. Dan yang dimaksud dengan bumi, adalah engkau menembusnya dan bukan menempuh jaraknya. Jadi manusia dilingkupi oleh dua benda mati yang kamu lemah dari keduanya. Maka bagi orang yang lemah dan terbatas, tak patut baginya bersikap sombong.

    Riyadhus Sholihin: SABAR, Jalan Menggapai Surga. Dalil Quran dan Haditsnya

    n: SABAR, Jalan Menggapai Surga

    قال الله تعالى ‏:‏ ‏ ‏}‏ ‏(‏‏(‏آل عمران ‏:‏ 200‏)‏ وقال تعالى ‏{‏ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر لصابرين‏}‏ ‏(‏‏(‏ البقرة ‏:‏ 155‏)‏‏)‏ وقال تعالى ‏:‏ ‏{‏إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب‏}‏ ‏(‏‏(‏الزمر‏: ‏10‏)‏‏)‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور‏}‏ ‏(‏‏(‏الشورى ‏:‏ 43‏)‏‏)‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين‏}‏ ‏(‏‏(‏محمد ‏:‏ 31‏)‏‏)‏ والآيات في الأمر بالصبر وبيان فضله كثيرة معروفة‏.‏

    Allah Ta’ala berfirman:

    • “Hai sekalian orang yang beriman, bersabarlah dan cukupkanlah kesabaran itu.” (ali-lmran: 200)
    • “Nescayalah Kami akan memberikan cubaan sedikit kepadamu semua seperti ketakutan, ketaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, kemudian sampaikaniah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)
    • “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya – kerana amat banyaknya.” (az-Zumar: 10)
    • “Orang yang bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu nescayalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang teguh.” (as-Syura: 43)
    • “Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)
    • “Dan sesungguhnya Kami hendak menguji kepadamu semua, sehingga Kami dapat mengetahui siapa di antara engkau semua itu yang benar-benar berjihad dan siapa pula orang-orang yang bersabar.” (Muhammad: 31)

    Hadits Yang

    1. Pertama

    وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏الطهور شطر الإيمان، والحمد لله تملأ الميزان، وسبحان الله والحمد لله تملآن -أو تملأ- ما بين السماوات والأرض، والصلاة نور، والصدقة برهان، والصبر ضياء، والقرآن حجة لك أو عليك‏.‏ كل الناس يغدو، فبائع نفسه فمعتقها، أو موبقها‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏Artinya : Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi imbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada di antara langit-langit dan bumi. Shalat adalah pahala, sedekah adalah sebagai tanda – keimanan bagi yang memberikannya – sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu – jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya – dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu – jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya – kepada Allah – bererti ia memerdekakan dirinya sendiri – dari siksa Allah Ta’ala itu – dan ada yang merosakkan dirinya sendiri pula – kerana tidak menginginkan keredhaan Allah Ta’ala.” (Riwayat Muslim)

    Artinya : Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi imbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada di antara langit-langit dan bumi. Shalat adalah pahala, sedekah adalah sebagai tanda – keimanan bagi yang memberikannya – sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu – jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya – dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu – jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya – kepada Allah – bererti ia memerdekakan dirinya sendiri – dari siksa Allah Ta’ala itu – dan ada yang merosakkan dirinya sendiri pula – kerana tidak menginginkan keredhaan Allah Ta’ala.” (Riwayat Muslim)

    Keterangan:

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Hadis ini ialah:

    1. Bersuci yakni menyucikan diri dari hadas dan kotoran.
    2. Memenuhi neraca kerana sangat besar pahalanya, hingga neraca akhirat penuh dengan ucapan itu saja.
    3. Artinya andaikata pahalanya itu dibentuk menjadi jisim yang nampak, pasti dapat memenuhi langit dan bumi.
    4. Shalat adalah cahaya yakni cahaya yang menerangi kita ke jalan yang diredhai Allah. Sebab orang yang tidak suka bersembahyang pasti hati nuraninya tertutup daripada kebenaran yang sesungguh-sungguhnya.
    5. Sedekah yang sunnah atau wajib (zakat) itu merupakan kenyataan yang menunjukkan bahawa orang itu benar-benar telah melakukan perintah Allah.
    6. Al-Quran itu hujjah (keterangan) bagimu yakni membela dirimu kalau engkau suka melakukan isinya. Atau juga keterangan atasmu yakni mencelakakan dirimu iaitu kalau engkau menyalahi apa-apa yang menjadi perintah Allah.
    7. Kita di dunia ini ibarat orang yang sedang dalam berpergian ke lain tempat yang hanya terbatas sekali waktunya. Di tempat itu kita menjual diri yakni memperjuangkan nasib untuk hari depan seterusnya yang kekal iaitu di akhirat. Tetapi di dalam memperjuangkan itu, ada di antara kita yang memerdekakan diri sendiri yakni melakukan semua amat baik dan perintah-perintah Allah, sehingga diri kita merdeka nanti di syurga. Tetapi ada pula yang merosak dirinya sendiri kerana melakukan larangan-larangan Allah hingga rosaklah akhirnya nanti di dalam neraka, amat pedih seksa yang ditemuinya.
    • Ke Dua

    وعن أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رضي الله عنهما‏:‏ ‏”‏أن ناساً من الأنصار سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاهم، ثم سألوه فأعطاهم ، حتى نفد ما عنده، فقال لهم حين أنفق كل شيء بيده ‏:‏ ‏”‏ما يكن عندي من خير فلن أدخره عنكم ، ومن يستعفف يعفه الله، ومن يستغن يغنه الله، ومن يتصبر يصبره الله‏.‏ وما أعطي أحد عطاءً خيراً وأوسع من الصبر‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

    Artinya : Dari Abu Said iaitu Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ‘anhuma bahawasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta – sedekah – kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda:”Apa saja kebaikan – yakni harta – yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan ku simpan sehingga tidak ku berikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barangsiapa yang menjaga diri – dari meminta-minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah – kaya hati dan jiwa – dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikurniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya – daripada kurnia kesabaran itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke Tiga

    وعن أبي يحيى صهيب بن سنان رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏”‏عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن ‏ إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya : Dari Abu Yahya, iaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Amat menghairankan sekali keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorang pun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka, iaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur-lah, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran – yakni yang merupakan bencana – ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)

    • Ke Empat

    وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ لما ثقل النبي صلى الله عليه وسلم جعل يتغشاه الكرب فقالت فاطمة رضي الله عنها‏:‏ واكرب أبتاه‏.‏ فقال ‏:‏ ‏”‏ليس على أبيك كرب بعد اليوم‏”‏ فلما مات قالت ‏:‏ يا أبتاه أجاب رباً دعاه، يا أبتاه جنة الفردوس مأواه، يا أبتاه إلى جبريل ننعاه، فلما دفن قالت ‏:‏ فاطمة رضي الله عنها‏:‏ أطابت أنفسكم أن تحثوا على رسول الله صلى الله عليه وسلم التراب‏؟‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a. katanya: “Ketika Nabi s.a.w. sudah berat sakitnya, maka beliau pun diliputi oleh kedukaan – kerana menghadapi sakaratulmaut, kemudian Fathimah radhiallahu ‘anha berkata: ”Aduhai kesukaran yang dihadapi ayahanda.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Ayahmu tidak akan memperolehi kesukaran lagi sesudah hari ini.”Selanjutnya setelah beliau s.a.w. wafat, Fathimah berkata: “Aduhai ayahanda, beliau telah memenuhi panggilan Tuhannya. Aduhai ayahanda, syurga Firdaus adalah tempat kediamannya. Aduhai ayahanda, kepada Jibril kita sampaikan berita wafatnya.”

    Kemudian setelah beliau dikebumikan, Fathimah radhiallahuanha berkata pula: “Hai Anas, mengapa hatimu semua merasa tenang dengan menyebarkan tanah di atas makam Rasulullah s.a.w itu?”

    Maksudnya: Melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada beliau s.a.w. itu tentunya akan merasa tidak sampai hati mereka untuk menutupi makam Rasulullah s.a.w. dengan tanah. Mendengar ucapan Fathimah radhiallahu ‘anha ini, Anas r.a. diam belaka dan tentunya dalam hati ia berkata: “Hati memang tidak sampai berbuat demikian, tetapi sudah demikian itulah yang diperintahkan oleh beliau s.a.w. sendiri.” (Riwayat Bukhari)

    • Ke Lima

    وعن أبي زيد أسامة بن زيد بن حارثة مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم وحبه وابن حبه، رضي الله عنهما، قال‏:‏ أرسلت بنت النبي صلى الله عليه وسلم ‏:‏ إن ابني قد احتضر فاشهدنا، فأرسل يقرئ السلام ويقول‏:‏ ‏”‏إن لله ما أخذ، وله ما أعطى، وكل شيء عنده بأجل مسمى، فلتصبر ولتحتسب‏”‏ فأرسلت إليه تقسم عليه ليأتينها‏.‏ فقام ومعه سعد بن عبادة، ومعاذ بن جبل، وأبي بن كعب، وزيد بن ثابت، ورجال رضي الله عنهم، فرفع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصبي فأقعده في حجره ونفسه تقعقع، ففاضت عيناه، فقال سعد‏:‏ يا رسول الله ماهذا‏؟‏ فقال‏:‏ ‏”‏هذه رحمة جعلها الله تعالى في قلوب عباده‏”‏ وفى رواية ‏:‏ ‏”‏في قلوب من شاء من عباده وإنما يرحم الله من عباده الرحماء‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏ ‏ومعنى ‏ ‏تقعقع‏ ‏ ‏:‏ تتحرك وتضطرب‏. ‏

    Artinya :

    Dari Abu Zaid, iaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah, sahaya Rasulullah s.a.w. serta kekasihnya serta putera kekasihnya pula radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita kepada Nabi s.a.w. -bahawa anakku sudah hampir meninggal dunia, maka dari itu diminta supaya menyaksikan keadaan kita.” Kita: yakni yang akan meninggal serta yang sedang menungguinya. Beliau lalu mengirimkan khabar sambil menyampaikan salam, katanya: “Sesungguhnya bagi Allah adalah apa yang Dia ambil dan bagiNya pula apa yang Dia berikan dan segala sesuatu di sampingnya itu adalah dengan ajal yang telah ditentukan, maka hendaklah bersabar dan berniat mencari keredhaan Allah.”

    Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita lagi serta bersumpah nadanya supaya beliau suka mendatanginya dengan sungguh-sungguh. Beliau s.a.w. lalu berdiri dan disertai oleh Sa’ad bin Ubadah, Mu’az bin Jabal, Ubai bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lelaki lain radhiallahu ‘anhum.

    Anak kecil itu lalu disampaikan kepada Rasulullah s.a.w., kemudian diletakkannya di atas pangkuannya sedang nafas anak itu termengah-mengah. Kemudian melelehlah airmata dari kedua mata beliau s.a.w. itu. Sa’ad berkata: “Hai Rasulullah, apakah itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Airmata ini adalah sebagai kesan dari kerahmatan Allah Ta’ala dalam hati para hambaNya.”

    Dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam hati siapa saja yang disukai olehNya daripada hambaNya. Hanya saja Allah itu merahmati dari golongan hamba-hambaNya yakni orang-orang yang menaruh belas kasihan – pada sesamanya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Makna Taqa’qa’u ialah bergerak dan bergoncang keras (berdebar-debar).

    • Ke Enam

    وعن صهيب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ كان ملك فيمن كان قبلكم، وكان له ساحرٌ، فلما كبر قال للملك ‏:‏ إني قد كبرت فابعث إلى غلاماً أعلمه السحر؛ فبعث إليه غلاماً يعلمه، وكان في طريقه إذا سلك راهبٌ، فقعد إليه وسمع كلامه فأعجبه، وكان إذا أتى الساحر مر بالراهب وقعد إليه، فإذا أتى الساحر ضربه، فشكا ذلك إلى الراهب فقال‏:‏ إذا خشيت الساحر فقال‏:‏ حبسني أهلي، وإذا خشيت أهلك فقل‏:‏ حبسني الساحر‏.‏

    فبينما هو على ذلك إذ أتى على دابةٍ عظيمةٍ قد حبست الناس فقال‏:‏ اليوم أعلم آلساحر أفضل أم الراهب أفضل‏؟‏ فآخذ حجراً فقال‏:‏ اللهم إن كان أمر الراهب أحب إليك من أمر الساحر فاقتل هذه الدابة حتى يمضي الناس، فرماها فقتلها ومضى الناس، فأتى الراهب فأخبره‏.‏ فقال له الراهب‏:‏ أي بني أنت اليوم أفضل مني، قد بلغ أمرك ما أرى، وإنك ستبتلى، فإن ابتليت فلا تدل علي؛ وكان الغلام يبرئ الأكمه والأبرص، ويداوي الناس من سائر الأدواء‏.‏ فسمع جليس للملك كان قد عمي، فأتاه بهدايا كثيرةٍ فقال‏:‏ ما هاهُنا لك أجمع إن أنت شفيتنى، فقال‏:‏ إني لا أشفي أحداً إنما يشفى الله تعالى، فإن آمنت بالله دعوت الله فشفاك، فآمن بالله تعالى فشفاه الله تعالى، فأتى الملك فجلس إليه كما كان يجلس فقال له الملك‏:‏ من ردّ عليك بصرك‏؟‏ فقال‏:‏ ربي قال‏:‏ ولك رب غيري ‏؟‏‏(‏ قال‏:‏ ربي وربك الله، فأخذه فلم يزل يعذبه حتى دل على الغلام، فجئ بالغلام فقال له الملك‏:‏ أى بني قد بلغ من سحرك ما تبرئ الأكمه والأبرص وتفعل وتفعل فقال‏:‏ إني لا أشفي أحداً، إنما يشفي الله تعالى، فأخذه فلم يزل يعذبه حتى دل على الراهب؛ فجيء بالراهب فقيل له‏:‏ ارجع عن دينك، فأبى ، فدعا بالمنشار فوضع المنشار في مفرق رأسه، فشقه حتى وقع شقاه، ثم جيء بجليس الملك فقيل له‏:‏ ارجع عن دينك فأبى، فوضع المنشار في مفرق رأسه، فشقه به حتى وقع شقاه، ثم جيء بالغلام فقيل له ارجع عن دينك فأبى، فدفعه إلى نفر من أصحابه فقال‏:‏ اذهبوا به إلى جبل كذا وكذا فاصعدوا به الجبل فقال‏:‏ اللهم اكفنيهم بما شئت، فرجف بهم الجبل فسقطوا، وجاء يمشي إلى الملك، فقال له الملك‏:‏ ما فعل أصحابك‏؟‏ فقال‏:‏ كفانيهم الله تعالى، فدفعه إلى نفر من أصحابه فقال ‏:‏ اذهبوا به فاحملوه في قرقور وتوسطوا به البحر، فإن رجع عن دينه وإلا فاقذفوه، فذهبوا به فقال‏:‏ اللهم اكفنيهم بما شئت، فانكفأت بهم السفينة فغرقوا، وجاء يمشي إلى الملك‏.‏ فقال له الملك ‏:‏ ما فعل أصحابك‏؟‏ فقال‏:‏ كفانيهم الله تعالى‏.‏ فقال الملك إنك لست بقاتلي حتى تفعل ما آمرك به‏.‏ قال ‏:‏ ما هو‏؟‏ قال ‏:‏ تجمع الناس في صعيد واحد، وتصلبني على جذع ، ثم خذ سهماً من كنانتي، ثم ضع السهم في كبد القوس ثم قل‏:‏ بسم الله رب الغلام ثم ارمني، فإنك إن فعلت ذلك قتلتني ‏.‏ فجمع الناس في صعيد واحد، وصلبه على جذع، ثم أخذ سهما من كنانته، ثم وضع السهم في كبد القوس، ثم قال‏:‏ بسم الله رب الغلام، ثم رماه فوقع السهم في صدغه، فوضع يده في صدغه فمات‏.‏ فقال الناس آمنا برب الغلام، فأتى الملك فقيل له‏:‏ أرأيت ما كنت تحذر قد والله نزل بك حذرك‏.‏ قد آمن الناس‏.‏ فأمر بالأخدود بأفواه السكك فخدت وأضرم فيها النيران وقال‏:‏ من لم يرجع عن دينه فأقحموه فيها أو قيل له ‏:‏ اقتحم ، ففعلوا حتى جاءت امرأة ومعها صبى لها، فتقاعست ان تقع فيها، فقال لها الغلام‏:‏ يا أماه اصبري فإنك على الحق‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.

    ‏‏ ‏ذروة الجبل‏ ‏ ‏:‏ أعلاه، وهى بكسر الذال المعجمة وضمها و‏ ‏القرقور‏ ‏ بضم القافين ‏:‏ نوع من السفن و‏ ‏ الصعيد‏ ‏ هنا ‏:‏ الأرض البارزة و‏ ‏الأخدود‏ ‏ ‏:‏ الشقوق في الأرض كالنهر الصغير و‏ ‏ أضرم‏ ‏ أوقد ‏ ‏وانكفأت‏ ‏ أي ‏:‏ انقلبت، ‏ ‏وتقاعست‏ ‏ ‏:‏ توقفت وجبنت ‏‏

    Artinya :

    30. Dari Shuhaib r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulu ada seorang raja dari golongan ummat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja: “Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir.”

    Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya apabila seseorang rahib -pendeta Nasrani – berjalan di situ, ia pun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Apabila ia telah datang di tempat penyihir – yakni dari pelajarannya, ia pun melalui tempat rahib tadi dan terus duduk di situ – untuk mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnya apabila datang di tempat penyihir, ia pun dipukul olehnya – kerana kelambatan datangnya. Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: “Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahawa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahawa engkau ditahan oleh penyihir.”

    Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang-halangi orang banyak – untuk berlalu di jalanan itu. Anak itu lalu berkata: “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?” Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: “Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisiMu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.” Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itu pun berkata: “Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya.Sesungguhnya engkau akan terkena cubaan, maka jikalau engkau terkena cubaan itu, janganlah menunjuk kepadaku.”

    Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengubati orang banyak dari segala macam penyakit. Hal itu didengar oleh kawan seduduk – yakni sahabat karib – raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: “Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku.” Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, hanyasanya Allah Ta’ala yang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau tuan suka beriman kepada Allah Ta’ala, saya akan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan tuan. Kawan raja itu lalu beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah. Raja kemudian bertanya: “Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?” Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: “Tuhanku.” Raja bertanya: “Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?” Ia menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Kawannya itu lalu ditindak oleh raja tadi dan terus-menerus diberikan seksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itu pun didatangkan. Raja berkata padanya: “Hai anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu.” Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seseorang pun, hanyasanya Allah Ta’ala jualah yang menyembuhkannya.” Anak itu pun ditindaknya, dan terus-menerus diberikan seksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendeta pun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu!” Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung. Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja dahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu itu!” Ia pun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pula lah gergaji itu di tengah kepalanya lalu dibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu. Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu.” la pun menolak ajakannya. Kemudian anak itu diberikan kepada sekeIompok sahabatnya lalu berkata: “Pergilah membawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu.” Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Kemudian gunung itu pun bergerak keras dan orang-orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menuju ke tempat raja. Raja berkata: “Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: “Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah tongkang dan belayarlah sampai di tengah lautan. Jikalau ia kembali dari agamanya – maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu.” Orang-orang bersama-sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Tiba-tiba tongkang itu terbalik, maka tenggelamlah semuanya. Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: “Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka.” Selanjutnya ia berkata pula pada raja: “Tuan tidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang ku perintahkan.” Raja bertanya: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini,” terus lemparkanlah anak panah itu. Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku.”

    Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan pada sebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalu meletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini.” Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia.

    Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: “Kita semua beriman kepada Tuhannya anak ini.” Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: “Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba – yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman.”

    Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi – yang bertebing dua kanan-kiri – iaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan dinyalakan api di situ, Ia berkata: “Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu,” atau dikatakan: “Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya.” Orang banyak melakukan yang sedemikian itu – sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: “Hai ibunda, bersabarlah, kerana sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran.” (Riwayat Muslim)

    Dzirwatul jabal artinya puncaknya gunung. Ini boleh dibaca dengan kasrahnya dzal mu’jamah atau dhammahnya. Alqurquur dengan didhammahkannya kedua qafnya, adalah suatu macam dari golongan perahu. Ashsha’id di sini artinya bumi yang menonjol (bukit). Al-ukhduud ialah beberapa belahan di bumi seperti sungai kecil. Adhrama artinya menyalakan. Inkafa-at artinya berubah. Taqaa-‘asat, artinya terhenti atau tidak berani maju dan pula merasa ketakutan.

    • Ke Tujuh

    31- وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ مر النبي صلى الله عليه وسلم بامرأة تبكي عند قبر فقال ‏:‏ ‏”‏اتقي الله واصبري‏”‏ فقالت ‏:‏ إليك عني ، فإنك لم تصب بمصيبتي ‍‍‍‏(‏ ولم تعرفه، فقيل لها ‏:‏ إنه النبي صلى الله عليه وسلم ، فأتت باب النبي صلى الله عليه وسلم، فلم تجد عنده بوابين، فقالت‏:‏ لم أعرفك، فقال‏:‏ ‏”‏إنما الصبر عند الصدمة الأولى‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏ ‏‏(‏‏(‏وفى رواية لمسلم‏)‏‏)‏‏:‏ ‏ ‏تبكي على صبي لها‏ ‏‏. ‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur. Beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Wanita itu berkata: “Ah, menjauhlah daripadaku, kerana Tuan tidak terkena mushibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Tuan tidak mengetahui mushibah apa itu.” Wanita tersebut diberitahu – oleh sahabat beliau s.a.w. – bahawa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di mukanya itu tidak didapatinya penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: “Saya memang tidak mengenai Tuan – maka itu maafkan pembicaraanku tadi.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Hanyasanya bersabar – yang sangat terpuji – itu ialah di kala mendadaknya kedatangan mushibah yang pertama.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Wanita itu menangisi anak kecilnya – yang mati.”

    Keterangan:

    Maksud “Mendadaknya kedatangan mushibah yang pertama,” bukan bererti ketika mendapatkan mushibah yang pertama kali dialami sejak hidupnya, tetapi di saat baru terkena mushibah itu ia bersabar, baik mushibah itu yang pertama kalinya atau keduanya, ketiganya dan selanjutnya.

    Jadi kalau sesudah sehari atau dua hari baru ia mengatakan: “Aku sekarang sudah berhati sabar tertimpa mushibah yang kelmarin itu,” maka ini bukannya sabar pada pertama kali, sebab sudah terlambat.

    • Ke Delapan

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ‏:‏ ‏”‏ يقول الله تعالى ‏:‏ ما لعبدي المؤمن عندي جزاء إذا قبضت صفيه من أهل الدنيا ثم احتسبه إلا الجنة‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman:

    “Tidak ada balasan bagi seseorang hambaKu yang mu’min di sisiKu, di waktu Aku mengambil – mematikan – kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keredhaan Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan syurga.” (Riwayat Bukhari)

    • Ke sembilan

    وعن عائشة رضي الله عنها أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون، فأخبرها أنه كان عذاباً يبعثه الله تعالى على من يشاء، فجعله الله تعالى رحمة للمؤمنين، فليس من عبد يقع في الطاعون فيمكث في بلده صابراً محتسباً يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahawasanya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal penyakit taun, lalu beliau memberi-tahukannya bahawa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala kepada kaum mu’minin. Maka tidak seorang hamba pun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keredhaan Allah serta mengetahui pula bahawa taun itu tidak akan mengenainya kecuali kerana telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperolehi seperti pahala orang yang mati syahid.” (Riwayat Bukhari)

    • Ke Sepuluh

    وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ‏:‏ ‏”‏إن لله عزوجل قال‏:‏ إذا ابتليت عبدي بحبيبتيه فصبر عوضته منهما الجنة‏” ‏‏يريد عينيه ‏، ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

    “Jikalau Aku memberi cubaan kepada hambaKu dengan melenyapkan kedua matanya – yakni menjadi buta, kemudian ia bersabar, maka untuknya akan Kuberi ganti syurga kerana kehilangan keduanya yakni kedua matanya itu.” (Riwayat Bukhari)

    • Ke sebelas

    وعن عطاء بن أبي رباح قال‏:‏ قال لي ابن عباس رضي الله عنهما‏:‏ ألا أريك امرأة من أهل الجنة ‏”‏ فقلت‏:‏ بلى، قال‏:‏ هذه المرأة السوداء أتتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ‏:‏ إني أصرع، و إني أتكشف، فادع الله تعالى لي قال‏:‏ ‏”‏إن شئت صبرت ولك الجنة، وإن شئت دعوت الله تعالى أن يعافيك‏”‏ فقالت‏:‏ أصبر، فقالت‏:‏ إني أتكشف ، فاد الله أن لا أتشكف ، فدمعا لها‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.

    Artinya :

    Dari ‘Atha’ bin Abu Rabah, katanya: “Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan padaku: “Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?” Saya berkata: “Baiklah.” Ia berkata lagi: “Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: “Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh kerananya haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah – agar saya sembuh.” Beliau s.a.w. bersabda: “Jikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga, tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta’ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya.” Wanita itu lalu berkata: “Saya bersabar,” lalu katanya pula: “Sesungguhnya kerana penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak sampai membuka aurat tubuh itu.” Nabi s.a.w. lalu mendoakan untuknya – sebagaimana yang dikehendakinya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke dua belas

    وعن أبي عبد الرحمن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال‏:‏ كأني انظر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحكي نبياً من الأنبياء، صلوات الله وسلامه عليهم، ضربه قومه فأدموه وهو يمسح الدم عن وجهه، يقول ‏:‏ ‏”‏اللهم اغفر لقومى فإنهم لا يعلمون‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.

    Artinya :

    Dari Abu Abdur Rahman, iaitu Abdullah bin Mas’ud r.a. katanya: “Seakan-akan saya melihat kepada Rasulullah s.a.w. sedang menceriterakan tentang seorang Nabi dari sekian banyak Nabi-nabi shalawatuliah wa salamuhu ‘alaihim. Beliau dipukuli oleh kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil mengucapkan: “Ya Allah ampunilah kaum hamba itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke tiga belas

    وعن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم، حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏. ‏‏و‏ ‏الوصب‏ ‏ ‏:‏ المرض ‏

    Artinya :

    Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

    “Tidak suatu pun yang mengenai seseorang muslim – sebagai mushibah – baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang atau pun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti – yakni sesuatu yang tidak menepatii kehendak hatinya, ataupun kesedihan – segala macam dan segala waktunya, sampai pun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya-yakni sesuai dengan mushibah yang diperolehinya- itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    Keterangan:

    Kesakitan apapun yang diderita oleh seseorang mu’min, ataupun bencana dalam bentuk bagaimana yang ditemui olehnya itu dapat membersihkan dosa-dosanya dan berpahalalah ia dalam keadaan seperti itu, tetap bersabar dan tabah. Sebaliknya jikalau tidak sabar dan uring-uringan serta mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka bukan pahala yang didapatkan, tetapi makin menambah besarnya dosa. Oleh sebab itu jikalau kita tertimpa oleh kesakitan atau malapetaka, jangan sampai malahan melenyapkan pahala yang semestinya kita peroleh.

    • Ke Empat belas

    وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال‏:‏ دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك فقلت‏:‏ يارسول الله إنك توعك وعكاً شديداً قال‏:‏ ‏”‏أجل إني أوعك كما يوعك رجلان منكم‏”‏ قلت‏:‏ ذلك أن لك أجرين ‏؟‏ قال‏:‏ ‏”‏أجل ذلك كذلك ما من مسلم يصيبه أذى؛ شوكة فما فوقها إلا كفر الله بها سيئاته ، وحطت عنه ذنوبه كما تحط الشجرة ورقها‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏‏‏والوعك ‏:‏ مغث الحمى، وقيل‏:‏ الحمى ‏ ‏

    Artinya :

    Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: Saya memasuki tempat Nabi s.a.w. dan beliau sedang dihinggapi penyakit panas. Saya lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan dihinggapi penyakit panas yang amat sangat.” Beliau kemudian bersabda: “Benar, sesungguhnya saya terkena panas sebagaimana panas dua orang dari engkau semua yang menjadi satu.” Saya berkata lagi: “Kalau demikian Tuan tentulah mendapatkan dua kali pahala.” Beliau bersabda: “Benar, demikianlah memang keadaannya, tiada seorang Muslim pun yang terkena oleh sesuatu kesakitan, baik itu berupa duri ataupun sesuatu yang lebih dari itu, melainkan Allah pasti menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab mushibah yang mengenainya tadi dan diturunkanlah dosa-dosanya sebagaimana sebuah pohon menurunkan daunnya – dan ini jikalau disertai kesabaran.”

    Alwa’ku iaitu sangatnya panas (dalam tubuh sebab sakit), tetapi ada yang mengatakan panas (biasa).

    • Ke lima belas

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏”‏ من يرد الله به خيراً يصب منه‏”‏ ‏:‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏. ‏‏‏وضبطوا ‏ ‏يصب‏ ‏ ‏:‏بفتح الصاد وكسرها ‏ ‏

    Artinya :

    Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperolehi kebaikan, maka Allah akan memberikan mushibah padanya-baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya.” (Riwayat Bukhari)

    Para ulama mencatat: Yushab, boleh dibaca fathah shadnya dan boleh pula dikasrahkan, (lalu dibaca yushib).

    • Ke Enam belas

    وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏ لا يتمنين أحدكم الموت لضر أصابه، فإن كان لابد فاعلاً فليقل‏:‏ اللهم أحيني ما كانت الحياة خيراً لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيراً لي‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Janganlah seseorang dari engkau semua itu mengharap-harapkan tibanya kematian dengan sebab adanya sesuatu bahaya yang mengenainya. Tetapi jikalau ia terpaksa harus berbuat demikian maka hendaklah mengatakan: “Ya Allah, tetapkanlah aku hidup selama kehidupanku itu masih merupakan kebaikan untukku dan matikanlah aku apabila kematian itu merupakan kebaikan untukku.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke Tujuh belas

    وعن أبي عبد الله خباب بن الأرت رضي الله عنه قال‏:‏ شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة، فقلنا ‏:‏ ألا تستنصر لنا ألا تدعو لنا‏؟‏ فقال‏:‏ قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها ثم يؤتى بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين، ويمشط بأمشاط من الحديد ما دون لحمه وعظمه، ما يصده ذلك عن دينه، والله ليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غنمه، ولكنكم تستعجلون‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏ ‏وفي رواية‏:‏ ‏ ‏ وهو متوسد بردة وقد لقينا من المشركين شدة‏ ‏‏ ‏

    Artinya :

    Dari Abu Abdullah, iaitu Khabbab bin Aratti r.a., katanya: “Kita mengadu kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka’bah, kita berkata: Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan – kepada Allah – untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?” Beliau lalu bersabda:

    “Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelum mu – yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, iaitu ada seorang yang diambil – oleh musuhnya, kerana ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu ia pun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah nescayalah Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini – yakni Agama Islam, sehingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau kerana takut pada serigala atas kambingnya – sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat saja.” (Riwayat Bukhari)

    Dalam riwayat lain diterangkan: “Beliau saat itu sedang berbantal burdahnya, padahal kita telah memperolehi kesukaran yang amat sangat dari kaum musyrikin.”

    • Ke Delapan belas

    وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال ‏:‏ لما كان يوم حنين آثر رسول الله صلى الله عليه وسلم ناساً في القسمة، فأعطى الأقرع بن حابس مائة من الإبل، وأعطى عيينة بن حصن مثل ذلك، وأعطى ناساً من أشراف العرب وآثرهم يومئذ في القسمة‏.‏ فقال رجل‏:‏ والله إن هذه قسمة ما عدل فيها، وما أريد فيها وجه الله، فقلت ‏:‏ والله لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأتيته فأخبرته بما قال‏:‏ فتغير وجههه حتى كان كالصرف ‏.‏ ثم قال ‏”‏ فمن يعدل إذا لم يعدل الله ورسوله‏؟‏ ثم قال‏:‏ يرحم الله موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر‏”‏‏.‏ فقلت‏:‏ لا جرم لا أرفع إليه بعدها حديثاً‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏وقوله ‏ ‏ كالصرف‏ ‏ هو بكسر الصاد المهملة ‏:‏ وهو صبغ أحمر ‏ ‏.‏

    Artinya

    Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Ketika hari peperangan Hunain, Rasulullah s.a.w. melebihkan – mengutamakan – beberapa orang dalam pemberian pembahagian – harta rampasan, lalu memberikan kepada al-Aqra’ bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada ‘Uyainah bin Hishn seperti itu pula – seratus ekor unta, juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan dalam cara pembahagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Demi Allah, pembahagian secara ini, sama sekali tidak ada keadilannya dan agaknya tidak dikehendaki untuk mencari keredhaan Allah.” Saya lalu berkata: “Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah s.a.w.” Saya pun mendatanginya terus memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam sumba merah – merah padam kerana marah – lalu bersabda:

    “Siapakah yang dapat dinamakan adil, jikalau Allah dan RasulNya dianggap tidak adil juga.” Selanjutnya beliau bersabda: “Allah merahmati Nabi Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih sangat dari ini, tetapi ia tetap sabar.” Saya sendiri berkata: “Ah, semestinya saya tidak memberitahukan dan saya tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraanpun setelah peristiwa itu kepada beliau lagi.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sabda Nabi s.a.w. Kashshirfi dengan kasrahnya shad muhmalah, ertinya sumba merah.

    • Ke Sembilan belas

    وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏‏”‏إذا أراد الله بعبده خيراً عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة‏”‏‏.‏

    وقال النبي صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحب قوماً ابتلاهم، فمن رضي فله الرضى، ومن سخط فله السخط‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه الترمذي وقال ‏:‏ حديث حسن‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a., berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan – penderitaan – sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan – siksaannya – hari kiamat.”

    Dan Nabi s.a.w. bersabda – juga riwayat Anas r.a.: “Sesungguhnya besarnya balasan – pahala – itu menilik besarnya bala’ yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cubaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela – menerima bala’ tadi, ia akan memperolehi keredhaan dari Allah dan barangsiapa yang marah-marah maka ia memperolehi kemurkaan Allah pula.”

    Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini Hadis hasan.

    • Ke Dua puluh

    وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ كان ابن لأبي طلحة رضي الله عنه يشتكي، فخرج أبو طلحة، فقبض الصبي، فلما رجع أبو طلحة قال‏:‏ ما فعل ابني‏؟‏ قالت أم سليم وهى أم الصبي ‏:‏ هو أسكن ما كان، فقربت إليه العشاء فتعشى، ثم أصاب منها، فلما فرغ قالت‏:‏ واروا الصبي، فلما أصبح أبو طلحة أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره، فقال‏:‏ ‏”‏أعرستم الليلة ‏؟‏‏”‏ قال‏:‏ نعم ، قال‏:‏ ‏”‏اللهم بارك لهما، فولدت غلاماً، فقال لي أبو طلحة‏:‏ احمله حتى تأتى به النبي صلى الله عليه وسلم، وبعث معه بتمرات، فقال‏:‏ ‏”‏أمعه شيء‏؟‏‏”‏ قال‏:‏ نعم، تمرات فأخذها النبي صلى الله عليه وسلم فمضغها ، ثم أخذها من فيه فجعلها في فيّ الصبي ، ثم حنكه وسماه عبد الله‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏. ‏وفى رواية للبخاري‏:‏ قال ابن عيينة ‏:‏ فقال رجل من الأنصار ‏:‏ فرأيت تسعة أولاد كلهم قد قرؤوا القرآن ، يعنى من أولا عبد الله المولود‏ ‏

    وفى رواية لمسلم‏:‏ مات ابن لأبي طلحة بن أم سليم ، فقالت لأهلها لا تحدثوا أبا طلحة بابنه حتى أكون أنا أحدثه، فجاء فقربت إليه عشاءً فأكل وشرب، ثم تصنعت له أحسن ما كانت تصنع قبل ذلك، فوقع بها، فلما أن رأت أنه قد شبع وأصاب منها قالت‏:‏ يا أبا طلحة، أرأيت لو أن قوماً أعاروا عاريتهم أهل بيت فطلبوا عاريتهم، ألهم أن يمنعوهم‏؟‏ قال‏:‏ لا، فقالت ‏:‏ فاحتسب ابنك‏.‏ قال‏:‏ فغضب، ثم قال‏:‏ تركتني حتى إذا تلطخت أخبرتني بابني‏؟‏‏!‏ فانطلق حتى أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره بما كان ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏.‏ ‏”‏بارك الله في ليلتكما‏”‏ قال‏:‏ فحملت، قال وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر وهي معه، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى المدينة من سفر لا يطرقها طروقاً فدنوا من المدينة، فضربها المخاض، فاحتبس عليها أبو طلحة، وانطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ يقول أبو طلحة‏:‏ إنك لتعلم يارب أنه يعجبني أن أخرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج، وأدخل معه إذا دخل، وقد احتبست بما ترى، تقول أم سليم‏:‏ يا أبا طلحة ما أجد الذى كنت أجد، انطلق، فانطلقنا، وضربها المخاض حين قدما فولدت غلاماً‏.‏ فقالت لي أمي ‏:‏ يا أنس لا يرضعه أحد حتى تغدو به على رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح احتملته فانطلقت به إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم‏.‏ وذكر تمام الحديث‏.‏ ‏

    Artinya :

    Dari Anas r.a., katanya: “Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi – menghadap Nabi s.a.w., kemudian anaknya itu dicabutlah rohnya – yakni meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: “Bagaimanakah keadaan anakku?” Ummu Sulaim, iaitu ibu anak tersebut – jadi isterinya Abu Thalhah – menjawab: “Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya.” Isterinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhi isterinya itu. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Makamkanlah anak itu.” Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut – kematiannya anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama isterinya. Kemudian Nabi bersabda: “Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?” Abu Thalhah menjawab: “Ya.” Beliau lalu bersabda pula: “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan isterinya. Selanjutnya Ummu Sulaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku – aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini: “Bawalah ia sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma. Nabi s.a.w. bersabda: “Adakah besertanya sesuatu benda?” Ia -Anas- menjawab: “Ya. ada beberapa biji buah kurma.” Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian:

    Ibnu ‘Uyainah berkata: “Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: “Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, iaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu. Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu isterinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: “Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti.” Abu Thalhah – yang saat itu berpergian – lalu datanglah, kemudian isterinya menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya isterinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi isterinya. Sewaktu isterinya telah mengetahui bahawa suaminya telah kenyang dan selesai menyetubuhinya, ia pun berkatalah pada Abu Thalhah: “Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?” Abu Thalhah menjawab: “Tidak boleh menolaknya – yakni harus menyerahkannya.” Kemudian berkata pula isterinya: “Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?” Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: “Engkau biarkan aku tidak mengetahui – kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran – maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku.”

    Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu.”

    Anas r.a. berkata: “Kemudian isterinya hamil.” Anas r.a. melanjutkan katanya: “Rasulullah s.a.w. sedang dalam berpergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula – bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari berpergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit kerana hendak melahirkan, maka oleh kerana Abu Thalhah tertahan – yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat.”

    Anas berkata: “Setelah itu Abu Thalhah berkata: “Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahawa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar berpergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar berpergian dan untuk masuk -tetap di negerinya – bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk. Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui.”

    Ummu Sulaim lalu berkata: “Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan – jikalau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kita pun – maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan isterinya – berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki. Ibuku – yakni ibu Anas r.a. – berkata padaku – pada Anas r.a.: “Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w.”

    Ketika waktu pagi menjelma, saya – Anas r.a. – membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan ceritera Hadis ini sampai selesainya.

    Keterangan:

    Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku isteri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu.

    Sementara itu Hadis di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seseorang isteri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama. Demikian pula isteri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran.

    Jadi salah sekali, apabila seseorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya. Juga salah pula apabila seorang isteri itu kurang memerhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, atau pun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan.

    • Ke dua puluh satu

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذى يملك نفسه عند الغضب‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏ ‏‏ ‏والصرعة‏ ‏ بضم الصاد وفتح الراء‏.‏ وأصله عند العرب من يصرع الناس كثيراً‏ ‏

    Artinya :

    Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukanlah orang yang keras – kuat – itu dengan banyaknya berkelahi, hanyasanya orang-orang yang keras – kuat – ialah orang yang dapat menguasai dirinya di waktu sedang marah-marah.” (Muttafaq ‘alaih)

    Ashshura-ah dengan dhammahnya shad dan fathahnya ra’, menurut asalnya bagi bangsa Arab, ertinya ialah orang yang suka sekali menyerang atau membanting orang banyak (sampai terbaring atau tidak sedarkan diri).

    • Ke Dua puluh dua

    وعن سليمان بن صرد رضي الله عنه قال‏:‏ كنت جالساً مع النبي صلى الله عليه وسلم، ورجلان يستبان، وأحدهما قد احمر وجهه، وانتفخت أوداجه‏.‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏ إني لأعلم كلمة لو قالها لذهب عنه ما يجد، لو قال‏:‏ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ذهب منه ما يجد‏”‏‏.‏ فقال له‏:‏ إن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ تعوذ بالله من الشيطان الرجيم‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

    Artinya :

    Dari Sulaiman bin Shurad r.a., katanya: “Saya duduk bersama Nabi s.a.w. dan di situ ada dua orang yang saling bermaki-makian antara seorang dengan kawannya. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sesungguhnya saja nescayalah mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang ditemuinya -kemarahannya, iaitu andaikata ia mengucapkan: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim,” tentulah lenyap apa yang ditemuinya itu. Orang-orang lalu berkata padanya – orang yang merah padam mukanya tadi: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang direjam.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke dua puluh tiga

    وعن معاذ بن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ من كظم غيظاً ، وهو قادر على أن ينفذه، دعاه الله سبحانه وتعالى على رؤوس الخلائق يوم القيامة حتى يخيره من الحور العين ما شاء‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه أبو داود، والترمذي وقال‏:‏ حديث حسن‏)‏‏)‏‏.‏

    Artinya :

    Dari Mu’az bin Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia kuasa untuk meneruskannya – melaksanakannya – maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengundangnya di hadapan kepala – yakni disaksikan -sekalian makhluk pada hari kiamat, sehingga disuruhnya orang itu memilih bidadari-bidadari yang membelalak matanya dengan sesuka hatinya.”

    Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

    • Dua puluh empat

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه ، أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم‏:‏ أوصني، قال‏:‏ ‏”‏لا تغضب‏”‏ فردد مراراً، قال‏:‏ ‏”‏ لاتغضب‏”‏ رواه البخاري‏.‏

    Artinya :

    Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: “Berilah wasiat padaku.” Beliau s.a.w. bersabda: “Jangan marah.” Orang itu mengulanginya berkali-kali tetapi beliau s.a.w. tetap bersabda: “janganlah marah.” (Riwayat Bukhari)

    Keterangan:

    Yang perlu dijelaskan sehubungan dengan Hadis ini ialah:

    1. Orang yang bertanya itu menurut riwayat ada yang mengatakan dia itu ialah Ibnu Umar, ada yang mengatakan Haritsah atau Abud Darda’. Mungkin juga memang banyak yang bertanya demikian itu.
    2. Kita dilarang marah ini apabila berhubungan dengan sesuatu yang hanya mengenai hak diri kita sendiri atau hawa nafsu. Tetapi kalau berhubungan dengan hak-hak Allah, maka wajib kita pertahankan sekeras-kerasnya, misalnya agama Allah dihina orang, al-Quran diinjak-injak atau dikencingi, alim ulama diolok-olok padahal tidak bersalah dan lain-lain sebagainya.
    3. Yang bertanya itu mengulangi berkali-kali seolah-olah meminta wasiat yang lebih penting, namun beliau tidak menambah apa-apa. Hal ini kerana menahan marah itu sangat besar manfaat dan faedahnya. Cubalah kalau kita ingat-ingat, bahawa timbulnya semua kerosakan di dunia ini sebahagian besar ialah kerana manusia ini tidak dapat mengekang hawa nafsu dan syahwatnya, tidak suka menahan marah, sehingga menimbulkan darah mendidih dan akhirnya ingin menghentam dan membalas dendam.
    • Ke Dua puluh lima

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏ ما يزال البلاء بالمؤمن والمؤمنة في نفسه وولده ة وماله حتى يلقى الله تعالى وما عليه خطيئة‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح‏)‏‏)‏ ‏.‏

    Artinya :

    Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak henti-hentinya bencana – bala’ – itu mengenai seseorang mu’min, lelaki atau perempuan, baik dalam dirinya sendiri, anaknya atau pun hartanya, sehingga ia menemui Allah Ta’ala dan di atasnya tidak ada lagi sesuatu kesalahan pun.”

    Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

    • Ke dua puluh enam

    وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال‏:‏ قدم عيينة بن حصن فنزل على ابن أخيه الحر بن قيس، وكان من النفر الذين يدنيهم عمر رضي الله عنه، وكان القراء أصحاب مجلس عمر رضي الله عنه ومشاورته كهولاً كانوا أو شباناً، فقال عيينة لابن أخيه ‏:‏ يا ابن أخي لك وجه عند هذا الأمير فاستأذن لي عليه، فاستأذن فأذن عمر‏.‏ فلما دخل قال‏:‏ هِىَ يا ابن الخطاب، فوالله ما تعطينا الجزل ولا تحكم فينا بالعدل، فغضب عمر رضي الله عنه حتى همّ أن يوقع به، فقال له الحر‏:‏ يا أمير المؤمنين إن الله تعالى قال لنبيه صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏{‏خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين‏}‏ ‏(‏‏(‏الأعراف ‏:‏198‏)‏‏)‏‏.‏ وإن هذا من الجاهلين، والله ما جاوزها عمر حين تلاها، وكان وقافاً عند كتاب الله تعالى‏.‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏ ‏.‏

    Artinya :

    Dari ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: ‘Uyainah bin Hishn datang – di Madinah, kemudian turun – sebagai tamu – pada anak saudaranya – sepupunya – iaitu Alhur bin Qais. Alhur ‘Adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang yang didekat-kan oleh Umar r.a. – yakni dianggap sebagai orang dekat dan sering diajak bermusyawarah, kerana para ahli baca al-Quran – yang pandai maknanya – adalah menjadi sahabat-sahabat yang menetap di majlis Umar r.a. serta orang-orang yang diajak bermusyawarah olehnya, baik orang-orang tua mahupun yang masih muda-muda usianya.

    ‘Uyainah berkata kepada sepupunya: “Hai anak saudaraku engkau mempunyai wajah – banyak diperhatikan – di sisi Amirul mu’minin ini. Cubalah meminta izin padanya supaya aku dapat menemuinya. Saudaranya itu memintakan izin untuk ‘Uyainah lalu Umar pun mengizinkannya. Setelah ‘Uyainah masuk, lalu ia berkata: “Hati-hatilah, hai putera Alkhaththab – iaitu Umar, demi Allah, tuan tidak memberikan banyak pemberian – kelapangan hidup – pada kita dan tidak pula tuan memerintah di kalangan kita dengan keadilan.” Umar r.a. marah sehingga hampir-hampir saja akan menjatuhkan hukuman padanya. Alhur kemudian berkata: “Ya Amirul mu’minin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya s.a.w. – yang ertinya:

    “Berilah maaf, perintahlah kebaikan dan berpalinglah – jangan menghiraukan – pada orang-orang yang bodoh.”

    Dan ini – yakni ‘Uyainah – adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh.

    Demi Allah, Umar tidak pernah melaluinya – melanggarnya – di waktu Alhur membacakan itu. Umar adalah seorang yang banyak berhentinya – amat mematuhi – di sisi Kitabullah Ta’ala. (Riwayat Bukhari)

    • Ke dua puluh tujuh

    وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏ إنها ستكون بعدي أثرة وأمور تنكرونها ‏!‏ قالوا‏:‏ يا رسول الله فما تأمرنا‏؟‏ قال‏:‏ تؤدون الحق الذى عليكم ، وتسألون الله الذى لكم‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏ ‏‏ ‏والأثرة‏ ‏ ‏:‏ الأنفراد بالشئ عمن له فيه حق ‏

    Artinya :

    Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sesungguhnya saja akan terjadi sesudahku nanti cara mementingkan diri sendiri – sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehinya – dan juga beberapa perkara yang engkau semua akan mengingkarinya. Orang-orang semua berkata: “Ya Rasulullah, maka apakah yang akan Tuan perintahkan pada kita – kaum Muslimin. Beliau s.a.w. bersabda:

    “Supaya engkau semua menunaikan hak yang menjadi kewajipanmu untuk dilaksanakan dan mohonlah kepada Allah akan hak yang memang menjadi milikmu semua.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke dua puluh delapan

    وعن أبي يحيى أسيد بن حضير رضي الله عنه أن رجلاً من الأنصار قال‏:‏ يا رسول الله ألا تستعملني كما استعملت فلاناً فقال‏:‏ ‏”‏إنكم ستلقون بعدي أثرة، فاصبروا حتى تلقوني على الحوض‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏ ‏‏ ‏وأسيد ‏ ‏ بضم الهمزة‏.‏ ‏ ‏وحضير‏ ‏ ‏:‏ بحاءٍ مهملة مضمومةٍ وضادٍ معجمةٍ مفتوحةٍ، والله أعلم‏ ‏

    Artinya :

    Dari Abu Yahya iaitu Usaid bin Hudhair r.a. bahawasanya ada seorang lelaki dari kaum Anshar berkata: “Ya Rasulullah, mengapakah tuan tidak menggunakan saya sebagai pegawai, sebagaimana tuan juga menggunakan si Fulan dan Fulan itu?” Beliau s.a.w. lalu bersabda:

    “Sesungguhnya engkau semua akan menemui sesudahku nanti suatu cara mementingkan diri sendiri – sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehinya, maka dari itu bersabarlah, sehingga engkau semua menemui aku di telaga – pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

    • Ke dua puluh sembilan

    وعن أبي إبراهيم عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أيامه التي لقي فيها العدو، انتظر حتى إذا مالت الشمس قام فيهم فقال‏:‏ ‏”‏ يا أيها الناس لا تتمنوا لقاء العدو، واسألوا الله العافية، فإذا لقيتموهم فاصبروا، واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف‏”‏ ثم قال النبي صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏ اللهم منزل الكتاب ومجري السحاب ، وهازم الأحزاب، اهزمهم وانصرنا عليهم‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ وبالله التوفيق‏.‏

    Artinya :

    Dari Abu Ibrahim, iaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ‘anhuma bahawa Rasulullah s.a.w. pada suatu hari di waktu beliau itu bertemu dengan musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong – hendak terbenam – beliau lalu berdiri di muka orang banyak kemudian bersabda:

    “Hai sekalian manusia, janganlah engkau semua mengharap-harapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Tetapi jikalau engkau semua menemui musuh itu, maka bersabarlah. Ketahuilah olehmu semua bahawasanya syurga itu ada di bawah naungan pedang.”

    Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda:

    “Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan,

    Yang menghancur-leburkan gabungan pasukan musuh. Hancur leburkanlah mereka itu dan berilah kita semua kemenangan atas mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

    Wabillahittaufiq (Dan dengan Allah itulah adanya pertolongan).

    Keterangan:

    Dalam mengulas sabda Rasulullah s.a.w. yang berbunyi:

    “Syurga itu ada di bawah naungan pedang.” Imam al-Qurthubi berkata:

    “Ucapan itu adalah suatu petanda betapa indahnya susunan kalimat yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w. Sedikit kata-katanya, tetapi luas pengertiannya. Maksudnya iaiah bahawa letak syurga itu dengan memberikan perlawanan kepada musuh, manakala mereka telah memulai menyerang kedudukan kita. Jika sudah dalam keadaan tersepit dan musuh sudah menyerbu dekat sekali dengan tempat pertahanan kita, maka tiada jalan lain, kecuali dengan beradu kekuatan, yakni pedanglah yang wajib digunakan untuk penyelesaian, menang atau kalah. Jika pedang kaum Muslimin sudah beradu dengan pedang musuh, masing-masing pihak menangkis serangan musuhnya, pedang meninggi dan merendah, sampai-sampai bayangannya nampak jelas. Naungan pedang itulah yang menyebabkan kaum Muslimin akan memperolehi kebahagiaan dalam dua keadaan:

    1. Jika kalah dan mati, gugurlah sebagai pejuang syahid dan pasti masuk syurga tanpa dihisab. Di kalangan ummat pun menjadi harum namanya.

    2. Jika menang dan selamat sampai dapat kembali ke rumah ia juga akan merasakan kenikmatan syurga dunia, hidup dalam keluhuran dan kejayaan.

    10 Pintu Pahala dan Penghapus dosa

    10 Pintu Pahala dan Penghapus dosa

    1. TAUBAT. “ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung “ (An Nur: 31).. “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang dan Dia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari kiamat-pent)“ (HR.Muslim). “Allah ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu apapun yang ada pada dirimu. Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu menjulang ke langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau mendatangi-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku sedikitpun maka aku akan memberimu ampunan sepenuh bumi “ (Shahih Turmudzi). “Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tidak punya dosa sama sekali“ (shahih Ibnu Majah).. “Seandainya kalian melakukan kesalahan-kesalahan sepenuh langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya taubat kalian akan diterima” (Shahih Ibnu Majah).
    2. MENUNTUT ILMU. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat“ (Al Mujadalah: 11). “Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga” (Shahih Al-Jami’). “Siapa di pagi hari berangkat ke masjid hanya untuk mempelajari kebaikan atau megajarkan kebaikan, maka baginya bagaikan pahala orang yang melakukan haji dengan sempurna.” (Shahih Targhib dan Tarhib). “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali” (Shahih Turmuzi).”Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah akan memberikannya pemahaman terhadap agama” (Shahih Ibnu Majah).
    3. HALAQAH ZIKIR DAN MENGAJI. “Suatu kaum yang duduk untuk berzikir kepada Allah ta’ala lalu mereka berdiri, niscaya akan dikatakan kepada mereka: Berdirilah kalian sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian, dan kesalahan-kesalahan kalian telah digantikan dengan kebaikan” (Shahih Al-Jami). “Suatu kaum yang berzikir kepada Allah niscaya malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat dicurahkan kepada mereka dan diturunkan kepada mereka sakinah dan Allah sebut-sebut mereka terhadap makhluk yang ada disisi-Nya” (Shahih Al Jami).
    4. ZIKIR. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu“ (Al Baqarah: 152).. “Sesungguhnya Aku berdasarkan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya saat dia mengingat-Ku, jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Akupun akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku di hadapan orang-orang maka Aku-pun akan mengingatnya dihadapan makhluk-makhluk yang lebih baik dari mereka, jika mereka mendekatiku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sehasta dan jika dia mendekati-Ku sehasta maka Aku mendekatinya sedepa dan siapa yang mendatangiku dengan berjalan maka aku mendatanginya dengan berlari.” (HR.Muslim).
    5. BERBUAT DAN MENGAJAK KEBAIKAN. “Setiap kebaikan adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan kepada kebaikan bagaikan orang yang melakukannya “ (Shahih Al Jami’). “Hendaklah kalian mengusahakan kebaikan, karena hal tersebut dapat melindungi dari mati secara buruk “ (Shahih Jami’)
    6. KEUTAMAAN BERDAKWAH DI JALAN ALLAH. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“ (Fushshilat: 33).. “Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui perantara kamu maka (ganjarannya) lebih baik bagi kalian daripada kalian mendapatkan seekor onta merah“ (HR.Muslim). Onta merah adalah harta benda yang paling tinggi nilainya pada saat itu.. “Siapa yang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan siapa yang mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun“ (HR.Muslim).
    7. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR. “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung “ (Ali Imran: 104). “Sesungguhnya ada dari ummatku yang diberikan pahala seperti pahalanya generasi pertama, (hal tersebut karena) mereka mencegah kemunkaran“ (Silsilah Shahihah)
    8. BELAJAR ALQURAN, MEMBACA DAN MENGHAFALNYA. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan yang mengajarkannya“ (HR.Bukhari) “Orang yang membaca Al Quran dan dia pandai membacanya maka (nanti di akhirat akan dikumpulkan) bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca Al Quran dan dia terbata-bata karenanya serta kesusahan maka baginya dua pahala“ (Muttafaq alaih). “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan lilipatkan gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan: alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR.Bukhari). “Siapa senang dirinya mencintai Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah dia membaca Mushhaf ini (Al Quran) “ (HR. Bukhari). “Dikatakan kepada orang yang suka membaca Al Quran: “Bacalah dan naik-lah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca “ (HR. Bukhari). “Inginkah salah seorang di antara kalian yang kembali ke keluarganya membawa tiga ekor unta yang sedang hamil dan gemuk-gemuk? Kami berkata: Ya, maka beliau bersabda: tiga ayat yang kalian baca dalam shalat kalian itu lebih baik dari tiga ekor unta hamil yang gemuk”. (HR.Muslim).
    9. BELAJAR AL QURAN DI MASJID. “Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah yang di dalamnya mereka membaca Al Quran dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dicurahkan rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka pada (makhluk) yang ada disisi-Nya.” (HR.Muslim).
    10. MEMBERI SALAM. “Sesungguhnya yang pasti mendatangkan ampunan adalah mengucapkan salam dan pembicaraan yang baik.” (Shahih Al-Jami’). “Tidak masuk syurga kecuali kalian beriman, dan tidak beriman sebelum kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan kalian akan saling mencintai, sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR.Muslim).

    KETIKA HIJRAH TAPI TAKUT DIKATAIN “SOK SUCI”

    KETIKA HIJRAH TAPI TAKUT DIKATAIN “SOK SUCI”

    Ketika ingin hijrah tapi takut dicemooh atau diejek dengan berbagai kata-kata misalnya, dibilang ‘sok alim’ / ‘sok suci’, maka perhatikan petunjuk diberikan oleh Allah melalui firmannya.

    Allah berfirman

    • خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
    • Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

    Bersabar dan berpaling dari orang yang bodoh tentang islam yang mengejek kita memang bukan hal yang mudah, karenanya Allah berfirman kepada Rasulullah

    • وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْراً جَمِيلاً
    • Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzamil: 10)

    Allah berpesan untuk bersabar menghadapi mereka karena menahan diri untuk tidak membalas ejekan bukanlah hal yang mudah. Setelah itu tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Cara ini lebih menyakitkan orang yang mencaci kita dibanding kita membalasnya dengan cacian.

    6 perkara Akan Dijamin Allah Surga

    6 perkara Akan Dijamin Allah Surga

    • اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ: اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ
    • ”Jaminlah aku dengan enam perkara, dan aku akan menjamin kalian dengan surga: 
    1. jujurlah (jangan berdusta) jika kalian berbicara
    2. tepatilah jika kalian berjanji
    3. tunaikanlah jika kalian dipercaya (jangan berkhianat)
    4. peliharalah kemaluan kalian
    5. tahanlah pandangan kalian
    6. tahanlah kedua tangan kalian.” 

    Sumber: HR. Ahmad no. 22757. Dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth

    Penyesalan Yang Terlambat, 6 Alasan Orang Mati Ingin Hidup Hanya Ingin Berbuat ini ?

    Penyesalan Yang Terlambat, 6 Alasan Orang Mati Ingin Hidup Hanya Untuk Berbuat Baik

    Penyesalan selalu datangnya terlambat. Banyak orang meninggal ingin hidup lagi karena hanya ingin sujud kepada Allah karena semasa hidup disiasiakannya. Lakukanlah jika memang kamu bisa. Karena kamu akan menyesal ketika kamu tidak melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Lakukan yang terbaik sekarang untuk beribadah, beraman shaleh dan bertagwa kepada Allah . Karena akan lebih buruk bila menyesali yang sudah berlalu bila saat manusiantidak bisa melakukan lagi apa apa. Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti diterima.

    Firman Allah dalam Quran

    1. Orang itu tidak ingin mendustakan ayat-ayat Allah SWT. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT berarti mereka orang kafir. Orang-orang seperti ini akan menyesal ketika sudah dipanggang di neraka. Mereka menyesal kenapa dulu semasa hidup tidak mau mengamalkan ayat-ayat aAllah SWT, malahan mendustakannya. Al Qur’an Surat Al An’aam Ayat ke 27, “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)”

    • Orang itu tidak ingin menjadi orang yang zalim. Al Qur’an Surat Asy Syuura Ayat ke 44, “Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”
    • Orang itu ingin beramal saleh. Orang yang sudah mati dan masuk neraka akan menyesal kenapa dulu mereka tidak beramal saleh, coba kalau beramal saleh, pasti mereka tidak akan dipanggang di neraka.  Al Qur’an Surat Faathir Ayat ke 37, “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”
    • Orang itu ingin mengikuti Rasul. Orang yang sudah mati dan tinggal di neraka akan menyesal karena semasa hidupnya tidak mengikuti Rasul, terutama sunnah-sunnah beliau. Al Qur’an Surat Ibrahim Ayat ke 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”
    • Orang itu ingin menjadi orang yang beriman. Orang yang sudah mati dan hidup di neraka akan menysal kenapa dulu tidak menjadi orang yang beriman. Andaikan mereka beriman, pasti hasilnya beda. Al Qur’an Surat Asy Syu’araa’ Ayat ke 102, “maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”
    • Orang itu ingin berbuat baik. Menjadi orang baik merupakan sebuah kaharusan kalau kita ingin bertemu dan bersendau gurau dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di surgaNya Allah SWT. Jika tidak, maka tempatnya ialah di neraka. Orang-orang yang sudah mati dan masuk neraka merasa menyesal karena semasa hidupnya tidak digunakan untuk berbuat baik. Al Qur’an Surat Az Zumar Ayat ke 58, “Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’”

    ​3 Macam Orang, Allah Tidak Berbicara, Tidak Melihat dan Tidak Mensucikannya


    3 Macam Orang Allah Tidak Berbicara, Tidak Melihat dan Tidak Mensucikannya

    Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih dalam bab ini meriwayatkan melalui hadis Al-A’masy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

    • “ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ [وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ] شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ”
    • Ada tiga macam orang, Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat mereka, serta tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih, yaitu: Orang tua yang berbuat zina, raja (penguasa) yang pendusta, dan orang miskin yang takabur.



    Umat Islam Yang Diusir Oleh Rasulullah Kelak Di hari Kiamat

    UMAT ISLAM YANG DIUSIR OLEH RASULULLAH KELAK DI HARI KIAMAT

    Ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir

    Sahabat Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu mengisahkan: 

    • Pada suatu hari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ.  “Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.

    Selanjutnya beliau bersabda: 

    • “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.
    • Mendengar ucapan ini, para sahabat keheranan, sehingga mereka bertanya: “bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. 
    • Rasulullah menjawab : أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ. “Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.

    Kembali para sahabat bertanya: 

    • “wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“. Beliau menjawab: أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ. “Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”

    Para sahabat menjawab : 

    • “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“. Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:  فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ. “Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.

    Aku akan menanti ummatku di pinggir telagaku di alam mahsyar. Dan ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir. Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudlu, maka aku memanggil mereka: “kemarilah“. 

    Namun para Malaikat yang mengusir mereka berkata:

    • فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ
    • “sejatinya mereka sepeninggalmu telah merubah-rubah ajaranmu“.

    Mendapat penjelasan semacam ini, maka aku (Rasulullah) berkata :

    • سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
    • “menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku merubah-rubah ajaranku” (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).*

    Anda tidak ingin bernasib seperti mereka? Tentu jawabannya: tidak.

    • Karena itu, mari kita menjaga kemurnian ajaran beliau dan mengamalkannya dengan seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallampada hari kiyamat kelak. Amiin.

    Sumber: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA. ( Dosen STDI Imam Syafi’i)

    .

    ​Renungan Luar Biasa Untuh Hari Ini Saja

    Renungan Luar Biasa Untuh Hari Ini Saja

    Ustad Bahtiar Nasir

    • Pertandingan bola : 90 menit
    • Film serial : 60 menit
    • Film : 130 menit 
    • Shalat : 5 menit
    • Neraka Jahannam : sepanjang hidup
    • Surga : sepanjang hidup

    Mari kita merenung

    • Whatsapp : 300 kawan
    • Kontak : 80 kawan
    • Kawan dikampung : 50 org
    • Kawan dimasa sulit : 1
    • Kawan di jenazahmu : keluargamu
    • Kawan di kubur : kau sendirian

    Jangan merasa aneh, inilah kehidupan

    • Hakikatnya : tak ada yang memberimu manfaat selain sholatmu
    • Jika kau mendapati debu di mushafmu ( Kitab Alqur’an ) 
    • Maka Tangisilah dirimu sendiri !

    Barangsiapa yg tdk membaca Al-Quran selama 3 hari tanpa ada udzur maka ia dinamakan Hajir / seorang yang meninggalkan Al-Quran

    Ulasan : aku tidak memaksamu untuk menyebar luaskan tulisan ini

    Akan tetapi sebagai kepatuhan pada Firman Allah Ta’ala :

    • “Peringatkan lah karena peringatan akan memberikan manfaat pada kaum mukminin”
    • Alam yang aneh,
    • Jenazah disusul dengan jenazah . . kematian disusul dengan kematian berikutnya.
    • Berita tentang kematian terus bermunculan ada yg mati karena kecelakaan ada krn sakit ada yang tiba2 mati tanpa diketahui sababnya semuanya tinggalkan dunia ini dan mereka semua kami kuburkan dan itu pasti.
    • Hariku dan harimu pasti akan tiba persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tak dapat kembali.
    • Wahai orang yang menunda Taubat dengan alasan karena masih muda
    • Maaf.. Kuburan bukanlah tempat untuk orang dewasa saja ( kuburan tempat manusia segala usia )

    Sungguh Dunia itu hanya 3 hari :

    • *Hari Kemarin* : kita hidup disitu, dan tidak akan kembali lagi
    • *Hari ini* : kita jalani namun tak berlangsung lama
    • *Besok:* kita tidak akan tahu apa yg akan terjadi

    Maka saling memaafkan dan sedekahlah

    • Karena: aku engkau dan mereka
    • — akan pergi — meninggalkan gemerlapnya dunia selamanya …

    Ya Allah kami memohon pada Mu husnulkhatimah dan beruntung dengan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka aamiin ya robbal alamiin

    • *Barangsiapa yang hidup dalam suatu kebiasaan maka ia akan mati dengan kebiasaan itu.*
    • *Dan barangsiapa yang mati dalam suatu keadaan maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut*

    *(Ust. Bachtiar nasir)*

    Hidup Sesudah Mati: Kriteria Allah Memilih Umat Yang Masuk Surga

    Inilah Kriteria Allah Memilih Umat Yang Masuk Surga

    Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang negeri Akhirat (kehidupan setelah mati) untuk orang yang selalu berbuat baik. Surga itu sendiri sering dijelaskan dalam berbagai surah di Al-Qur’an, sebagai tempat keabadian berupa jannah (taman yang indah/kebun) yang terdapat sungai-sungai mengalir di bawahnya:[

    • “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah seperti taman mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (QS.Ar-Ra’d 13:35)”
    • “perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (QS.Muhammad 47:15)”
    • “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Qasas: 83)”

    Setiap muslim percaya bahwa semua manusia dilahirkan suci. Surga tertinggi tingkatnya adalah Firdaus (فردوس) – Pardis (پردیس), di mana para nabi dan rasul, syuhada dan orang-orang saleh.

    Bahwa tidak semua manusia dapat masuk ke surga melainkan hanya orang-orang pilihan dengan berbagai kriteria tertentu yang Allah kehendaki:

    • “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS.Al-Baqarah: 214)”
    • “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS.Al-Imran: 142)”
    • “Apakah umat manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak dibuktikan? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang orang-orang yang terbukti dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui tentang orang-orang yang berbohong. (QS.Al-Ankabut: 2-3)”
    • “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS.An-Nisa 4: 122

      Hidup Sesudah Mati : Surga Yang Dijanjikan Allah 

      Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang negeri Akhirat (kehidupan setelah mati) untuk orang yang selalu berbuat baik. Surga itu sendiri sering dijelaskan dalam berbagai surah di Al-Qur’an, sebagai tempat keabadian berupa jannah (taman yang indah/kebun) yang terdapat sungai-sungai mengalir di bawahnya:[

      • “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah seperti taman mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (QS.Ar-Ra’d 13:35)”
      • “perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (QS.Muhammad 47:15)”
      • “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.Al-Qasas: 83)”

      Setiap muslim percaya bahwa semua manusia dilahirkan suci. Surga tertinggi tingkatnya adalah Firdaus (فردوس) – Pardis (پردیس), di mana para nabi dan rasul, syuhada dan orang-orang saleh.

      Tingkatan dan nama-nama surga ialah:

      • Jannatul Firdaus yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
      • Jannatul ‘Adn yaitu surga yang terbuat dari intan putih.
      • Jannatun Na’iim yaitu surga yang terbuat dari perak putih.
      • Jannatul Khuldi yaitu surga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
      • Jannatul Ma’wa yaitu surga yang terbuat dari zabarjud hijau.
      • Darul Jalal yaitu surga yang terbuat dari mutiara putih.
      • Darul Qarar yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
      • Darussalam, yaitu surga yang terbuat dari yaqut merah.“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS.Yunus: 25)”

      Beberapa surah dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang keadaan surga adalah sebagai berikut:

      • “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman, dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS.Al-Hijr:45-48)”
      • “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. (QS.Al-Hajj 23)”
      • “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS.Yasin 55—58)”
      • “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). (QS.Ad- Dukhaan: 51-55)”

      Bahwa tidak semua manusia dapat masuk ke surga melainkan hanya orang-orang pilihan dengan berbagai kriteria tertentu yang Allah kehendaki:

      • “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS.Al-Baqarah: 214)”
      • “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS.Al-Imran: 142)”
      • “Apakah umat manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak dibuktikan? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang orang-orang yang terbukti dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui tentang orang-orang yang berbohong. (QS.Al-Ankabut: 2-3)”
      • “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS.An-Nisa 4: 122

      Kisah Umat Yang Sangat Taat Beribadah, Ternyata Bukan Hamba Pecinta Allah

      Umat Yang Sangat Taat Beribadah, Ternyata Bukan Hamba Pecinta Allah
      Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun² dia nanti tak pernah absen melakukan sholat tahajud. 
      Pada suatu ketika saat hendak mengambil air wudhu utk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di bibir sumurnya. 

      Abu bertanya, “Wahai hamba Alloh, siapakah Engkau ?”. 

      Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Alloh” 

      Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia. 

      Dia lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini ?” 

      Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Alloh” 

      Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa ?” 

      Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Alloh.” 

      Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada disitu. 

      Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” 

      Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat kepada Alloh SWT di sepertiga malam. 

      “Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan ternyata Malaikat itu tak menemukan nama Abu di dalamnya. 

      Seakan Tak percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini !” kata Malaikat. 

      Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis sejadi²nya. 

      “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Alloh,” ratapnya. 

      Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Alloh menulis namamu.” 

      “Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim. 

      “Engkau memang bermunajat kepada Alloh, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana² dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak pernah engkau tengok dan beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Alloh kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba² yang diciptakan Alloh ?” kata Malaikat itu. 

      Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Alloh semata ( HablumminAlloh ), tetapi juga kepada sesama manusia ( Hablumminannaas ) dan alam.

      Apa makna wasilah ?

      Apa makna wasilah ?

      Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan,” (QS. Al-Maidah: 35).

      Dalam ayat tersebut mengandung makna sebuah wasilah. Dan wasilah dalam ayat tersebut berarti pendekatan kepada Allah SWT yang harus selalu diupayakan. Pendekatan yang paling utama dalam agama ini ialah dengan meraih pahala-pahala dari Allah SWT dan sepenuhnya taat kepada-Nya dengan amal shaleh dan dengan segala apa yang diridhai-Nya. Arti lain dari wasilah ialah derajat tinggi di surga. Makna ini hadir dari sabda Rasulullah SAW, “Bila kamu mendengar seruan muazzin tirukanlah ucapannya lalu mohonkan (kepada Allah) begiku derajat yang tinggi (kelak di akhirat).”
      Dalam hadis lain, “Barangsiapa memohon ampun (kepada Allah) derajat tinggi bagiku, patut baginya memperoleh syafaatku (kelak di akhirat).”

      Pendekatan diri kepada Allah ialah dengan apa yang sudah ditentukan dan disyariatkan-Nya. Sedangkan, pendekatan manusia dengan manusia lainnya lazimnya dengan cara yang disenangi orang yang didekati.

      Allah SWT berfirman dalam hadis Qudsi, “Tiada ada pendekatan bagi hamba-Ku kepada-Ku kecuali dengan apa yang Aku wajibkan baginya. Dan selama hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan nawafil (pengamalan sunnah) sehingga Aku menyukainya.”

      Jadi, kita bisa melakukan pendekatan kepada Allah itu bukan hanya dengan amalan-amalan wajib saja, seperti halnya melakukan shalat, puasa, zakat, haji, berjihad, amar makruf nahi mungkar, tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Bila kita ingin lebih dekat lagi, maka lakukan pula amalan-amalan sunnah, seperti sedekah dan lain-lain. Jika wasilah, yakni pendekatan kepada Allah dilakukan dengan penuh ketaatan dan kepatuhan kepada perintah dan larangan-Nya dan dengan amal shaleh, maka insya Allah ridha Allah akan mudah kita raih.

      5 Amalan “Sepele” Yang Bisa Membuka Pintu Surga ?

      5 Amalan “Sepele” Yang abisa Membuka Pintu Surga ?

      1. Memberi Minum Binatang. Jangankan memberi minum binatang. Kita saat ini rasanya sudah banyak yang tak peduli pada binatang. Padahal, memberi minum binatang ini menjadi salah satu amalan kebaikan yang dapat menghantarkan seseorang ke dalam surganya Allah. Masih ingatkah dengan cerita Rasullullah saat menceritakan seorang laki-laki yang memberi minum seekor anjing hingga kemudian Allah mengampuni dosa-dosa laki-laki itu dan memasukkannya ke dalam surga? Iya, dalam hadist yang diriwayahkan Bukhori dan Muslim, diceritakan dari Abu Hurairah,  Rasullullah SAW bersabda “Ketika sedang melakukan perjalanan, seorang laki-laki merasa haus, lalu ia menuju ke sebuah sumur dan minum air. Setelah ia keluar, ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan memakan pasir karena kehausan. Lelaki itu bergumam ‘Anjing ini telah merasa kehausan seperti yang telah aku rasakan’. Ia pun kembali menuju sumur dan memenuhi sepatunya dengan air, lalu memberikan minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni segala dosanya. Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rasullullah, apakah kita akan mendapatkan pahala dengan memberi minum binatang? Beliau menjawab: ‘Pada setiap limpa yang basah, terdapat pahala’”. 
      2. Menyingkirkan Gangguan dari Jalan. Jika kita sedang berjalan, entah itu naik kendaraan atau jalan kaki, dan kita menemukan rintangan di jalan berupa batu yang tergeletak di tengah jalan, bambu yang menghalang, atau mungkin kulit pisang yang dibuang sembarangan, lantas kemudian secara spontan kita menyingkirkan rintangan tersebut. Maka, itu akan dicatat sebagai amalan kebaikan di sisi Allah.  Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan, maka ia akan masuk surga” (HR. Bukhari).
      3. Menjenguk Orang Sakit . Sesibuk-sibuk apapun kita, sempatkanlah untuk menjenguk saudara, teman, dan kolega kita yang sedang sakit. Selain merupakan “panggilan kemanusiaan”, amalan kebaikan ini dicatat sebagai pahala yang tinggi di sisi Allah. Allah menjanjikan mereka yang menjenguk orang-orang sakit, posisi yang mulia di Surga-Nya kelak. Rasulullah bersabda: “Barang siapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru: ‘Engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapatkan suatu posisi di surga’”(HR Tirmidzi dari Abu Hurairah, r.a.) 
      4. Senyum dan Ceria . Menebar senyum dan salam pada semua orang merupakan sebuah kebajikan yang dijanjikan ganjaran pahala dan surga oleh Allah. Oleh sebab itu, muslim dan muslimah yang baik harus mengembangkan sikap yang ramah dan penuh ceria terhadap orang lain, sehingga Islam juga benar-benar dirasakan membawa rahmat bagi semua. “Kebaikan akhlak adalah keceriaan wajah dan menjauhi amarah,” kata Rasulullah. 
      5. Menutup Aib Orang Lain. Dalam Islam, Allah sangat membenci ghibah. Orang yang bergunjing tentang keburukan saudaranya sendiri, dianggap sama dengan memakai bangkai saudaranya tersebut. Menahan diri untuk tidak bergunjing dan menutup aib orang lain sangat dianjurkan bagi seorang muslim dan muslimah. Amalan kebaikan ini dijanjikan ganjaran surga oleh Allah. Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat” (H.R. Muslim).

      Referensi: 

      • “Amalan-Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga” Fakhruddin Nursyam, LC.