Category Archives: Ilmu Tajwid – Makhraj

Ilmu Tajwid:  Harakat

Ilmu Tajwid:  Harakat

Harakat (harakaat) atau tasykil adalah tanda baca atau diakritik yang ditempatkan pada huruf Arab untuk memperjelas gerakan dan pengucapan huruf tersebut.

Harakat dipakai untuk mempermudah cara membaca huruf Arab bagi orang awam, pemula atau pelajar dan biasanya dituliskan pada buku-buku pendidikan, buku anak-anak, dan kitab suci al-Quran, walaupun dalam penulisan sehari-hari tidak menggunakan harakat, karena pada umumnya orang Arab sudah paham dan mengerti akan tulisan yang mereka baca, namun kadang juga digunakan sebagai penekanan dari suatu kata terutama pada kata-kata yang kurang umum digunakan agar menghindari kesalahaan pembacaan.

Contoh tulisan arab tanpa harakat: قل اعوذ برب الناس. qul a’uudzu birabbin naasi

Contoh tulisan Arab berharakat:

  • قـُلْ ٲعُوْذ ُبـِرَبِّ ٱلنـّٰاسِ.  qul a’uudzu birabbin naasi

Macam harakat

Fathah. Fathah (فتحة) adalah harakat yang berbentuk layaknya garis horizontal kecil ( َ )yang berada di atas suatu huruf Arab yang melambangkan fonem /a/. Secara harfiah, fathah itu sendiri berarti membuka, layaknya membuka mulut saat mengucapkan fonem /a/. Ketika suatu huruf diberi harakat fathah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-a/, contonya huruf lam (ل) diberi harakat fathah menjadi /la/ (لَ).

Alif Khanjariah. Fathah juga ditulis layaknya garis vertikal seperti huruf alif kecil ( ٰ ) yang disebut dengan mad fathah atau alif khanjariah yang melambangkan fonem /a/ yang dibaca agak panjang. Sebuah huruf berharakat fathah jika diikuti oleh Alif (ا) juga melambangkan fonem /-a/ yang dibaca panjang. Contohnya pada kata /laa/ (لاَ)

Kasrah. Kasrah (كسرة) adalah harakat yang berbentuk layaknya garis horizontal kecil ( ِ )yang diletakkan di bawah suatu huruf arab, harakat kasrah melambangkan fonem /i/. Secara harfiah, kasrah bermakna melanggar. Ketika suatu huruf diberi harakat kasrah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-i/, contonya huruf lam (ل) diberi harakat kasrah menjadi /li/ (لِ).

Sebuah huruf yang berharakat kasrah jika bertemu dengan huruf ya (ي ) maka akan melambangkan fonem /-i/ yang dibaca panjang. Contohnya pada kata /lii/ ( لي)

Dammah. Dammah (ضمة) adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf waw (و) kecil yang diletakkan di atas suatu huruf arab ( ُ ), harakat dammah melambangkan fonem /u/. Ketika suatu huruf diberi harakat dammah, maka huruf tersebut akan berbunyi /-u/, contonya huruf lam (ل) diberi harakat dammah menjadi /lu/ (لُ).

Sebuah huruf yang berharakat dammah jika bertemu dengan huruf waw (و ) maka akan melambangkan fonem /-u/ yang dibaca panjang. Contohnya pada kata /luu/ (لـُو).

Sukun. Sukun (سکون) adalah harakat yang berbentuk bulat layaknya huruf ha (ه) yang ditulis di atas suatu huruf Arab. Harakat sukun melambangkan fonem konsonan atau huruf mati dari suatu huruf, misalkan pada kata mad (مـَدْ) yang terdiri dari huruf mim yang berharakat fathah (مَ) sehingga menghasilkan bunyi /ma/, dan diikuti dengan huruf dal yang berharakat sukun (دْ) yang menghasilkan konsonan /d/ sehingga menjadi /mad/.

Harakat sukun juga misa menghasilkan bunyi diftong, seperti /au/ dan /ai/, cotohnya pada kata (نـَوْمُ) yang berbunyi /naum(u)/ yang berarti tidur, dan juga pada kata (لَـيْن) yang berbunyi /lain/ yang berati lain atau berbeda.

Tasydid. Tasydid ( تشديد) atau syaddah ( شدة)adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf w atau seperti kepala dari huruf sin (س)yang diletakkan di atas huruf arab (ّ) . Harakat tasydid melambangkan penekanan pada suatu konsonan yang dituliskan dengan simbol konsonan ganda, sebagai contoh pada kata ( شـَـدَّةٌ) yang berbunyi /syaddah/ yang terdiri dari huruf syin yang berharakat fathah ( ش) sehingga menghasilkan bunyi /sya/, diikuti dengan huruf dal yang berharakat tasydid fathah ( دَّ) yang menghasilhan bunyi /dda/, diikuti pula dengan ta marbuta ( ةٌ) di akhir kata yang menghasilkan bunyi /h/, sehingga menjadi /syaddah/.

Tanwin. Tanwin (bahasa Arab: التنوين, “at tanwiin”) adalah tanda baca/diakritik/harakat pada tulisan Arab untuk menyatakan bahwa huruf pada akhir kata tersebut diucapkan layaknya bertemu dengan huruf nun mati. 

Wasal. Wasal (bahasa Arab: وصلة‎, washlat) adalah tanda baca atau diakritik yang dituliskan pada huruf Arab yang biasa dituliskan di atas huruf alif atau yang disebut juga dengan Alif wasal. Secara ilmu tajwid, wasal bermakna meneruskan tanpa mewaqafkan atau menghentikan bacaan.

Harakat wasal selalu berada di permulaan kata dan tidak dilafazkan manakala berada di tengah-tengah kalimat, namun akan berbunyi layaknya huruf hamzah manakala dibaca di mula kalimat. Contoh alif wasal: ٱهدنا ٱلصرط. “ihdinas shiraat”

Bacaan tersebut memiliki dua alif wasal, yang pertama pada lafaz ihdinaa dan as shiraat yang manakala kedua lafaz tersebut diwasalkan atau dirangkaikan dalam pembacaannya maka akan dibaca ihdinas shiraat dengan menghilangkan pembacaan alif wasal pada kata as shiraat.

  • Lihat pula contoh berikut: نستعين ٱهدنا ٱلصرط “nasta’iinuh dinas shiraat”

Bacaan di atas terdiri dari kata nasta’iin, ihdinaa dan as shiraat, dengan mewasalkan lafaz ihdina dengan lafaz sebelumnya, sehingga menghasilkan lafaz nasta’iinuh dinaa, dengan mewasalkan lafaz as shiraat dengan lafaz sebelumnya, maka akan menghasilkan lafaz “nasta’iinuh dinas shiraat”.

Alif wasal lebih sering dijumpai bersamaan dengan huruf lam atau yang disebut juga dengan alif lam makrifah pada lafaz dalam bahasa Arab yang mengacu kepada kata yang bersifat isim atau nama. Contoh alif wasal dalam alif lam makrifah: ٱلصرط”as shiraat”ٱلبقرة”al baqarah”ٱلإنسان”al insaan”

Waqaf. Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:

  1. ﺗﺂﻡّ (taamm) – waqaf sempurna – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya;
  2. ﻛﺎﻒ (kaaf) – waqaf memadai – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya;
  3. ﺣﺴﻦ (Hasan) – waqaf baik – yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa memengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya;
  4. ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) – waqaf buruk – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda-tanda Wakaf

  • Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Wakaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf “Tāmm” (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya;
  • tanda tha’ ( ﻁ ) adalah tanda Wakaf Mutlak dan haruslah berhenti.
  • tanda jim ( ﺝ ) adalah Wakaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.
  • tanda dzal ( ﻇ ) bermaksud lebih baik tidak berhenti;
  • tanda shad ( ﺹ ) disebut juga dengan Wakaf “Murakhkhash”, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda dzal dan shad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada wakaf shad;
  • tanda shad-lam-ya’ ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan dari “Al-washlul-aulā” yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewakafkannya adalah lebih baik;
  • tanda qaf ( ﻕ ) merupakan singkatan dari “Qīla ‘alaihil-waqf” yang bermakna “telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwakafkan;
  • tanda shad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari “Qad yūshal” yang bermakna “kadang kala boleh diwasalkan”, maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan;
  • tanda qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti;
  • tanda sin ( س ) atau tanda saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika (dengan panjang 1 alif/2 harokat (ketukan)) tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan;
  • tanda waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas;
  • tanda lā ( ﻻ ) bermaksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadangkala pada penghujung maupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak;
  • tanda kaf ( ﻙ ) merupakan singkatan dari “Kadzālik” yang bermakna “serupa”. Dengan kata lain, makna dari wakaf ini serupa dengan wakaf yang sebelumnya muncul;
  • tanda bertitik tiga ( … …) yang disebut sebagai Wakaf “Muraqabah” atau Wakaf “Ta’anuq” (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya

Ilmu Tajwid: Makhraj Huruf

Ilmu Tajwid: Makhraj Huruf

Makhraj Huruf – Makhraj secara bahasa Arab berarti Tempat Keluar (Kharaja), sehingga makhraj huruf dapat diartikan tempat keluarnya huruf-hufur Hijaiyyah atau dalam melantunkan Al-Quran. Mengetahui tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyyah adalah sangat penting karena hal ini menjadi dasar dalam melafadzkan huruf hijaiyyah secara benar.

Menurut Syekh Kholil bin Ahmad an-Nahwiy Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah itu ada 17 tempat, dan bila diringkas ada 5 tempat, yatu; Al-Jauf (lubang /rongga mulut), Al-Halqu (tenggorokan / kerongkongan), Al-Lisanu (lidah), Asy-Syafatain (dua bibir) dan Al-Khoisyum (janur hidung). 

Al-Jauf (الجوف), artinya rongga mulut dan rongga tenggorokan. Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada rongga mulut dan rongga tenggorokan. Bunyi huruf yang keluar dari rongga mulut dan rongga tenggorokan ada tiga macam, yaitu ; alif ( ا), wawu mati ( وْ ) dan ya’ mati ( يْ ) dengan penjelasan sebagai berikut :

  1. Alif dan sebelumnya ada huruf yang difathah Contoh : مَالَا غَوَى
  2. Wawu mati dan sebelumnya ada huruf yang didhommah. Contoh : قُوْلُوْا
  3. Ya’ mati dan sebelumnya ada huruf yang dikasrah. Contoh : حَامِدِيْنَ

  • Al-Halqu (الحلق), artinya tenggorokan / kerongkongan. Yaitu tempat keluar bunyi huruf hijaiyah yang terletak pada kerongkongan / tenggorokan. Dan berdasarkan perbedaan teknis pelafalannya, huruf-huruf halqiyah (huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan) dibagi menjadi tiga bagian yaitu ;
  1. Aqshal halqiy (pangkal tenggorokan), yaitu huruf hamzah ( ء )dan ha’ ( ه )
  2. Wasthul halqiy (pertengahan tenggorokan), yaitu huruf ha’ ( ح ) dan ’ain ( ع )
  3. Adnal halqiy (ujung tenggorokan), yaitu huruf ghoin ( غ ) dan kho’ ( خ ) 

Al-Lisan (اللسان), artinya lidah. Bunyi huruf hijaiyah dengan tempat keluarnya dari lidah ada 18 huruf, yaitu : Berdasarkan delapan belas huruf itu dapat dikelompokkan menjadi 10 makhraj, yaitu sebagai berikut :

  1. Pangkal lidah dan langit-langit mulut bagian belakang, yaitu huruf Qof (ق). Maksudnya bunyi huruf qof ini keluar dari pangkal lidah dekat dengan kerongkongan yang dihimpitkan ke langit-langit mulut bagian belakang.
  2. Pangkal lidah bagian tengah dan langit-langit mulut bagian tengah, yaitu huruf Kaf (ك). Maksudnya bunyi huruf kaf ini keluar dari pangkal lidah di depan makhraj huruf qof, yang dihimpitkan ke langit-langit bagian mulut bagian tengah. “Dua huruf tersebut ( ق ) dan ( ك ), lazimnya disebut huruf LAHAWIYAH ( لهويّة), artinya huruf-huruf sekitar anak mulut atau sekitar pangkal  lidah.”
  3. Tengah-tengah lidah, yaitu huruf Jim ( ج), Syin ( ش ) dan Ya’ ( ي ). Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari tengah-tengah lidah tepat, serta menepati langit-langit mulut yang tepat di atasnya. “Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf SYAJARIYAH ( شجريّة ), artinya huruf-huruf sekitar tengah lidah.”
  4. Pangkat tepi lidah, yaitu huruf Dlod ( ض).. Maksudnya bunyi huruf Dlod ( ض ) keluar dari tepi lidah (boleh tepi lidah kanan atau kiri) hingga sambung dengan makhrojnya huruf lam, serta menepati graham. “Huruf Dlod ( ض ) ini lazimnya disebut huruf JAMBIYAH (حنبيّة), artinya huruf sekitar tepi lidah.”
  5. Ujung tepi lidah, yaitu huruf Lam (ل). Maksudnya bunyi huruf Lam (ل) keluar dari tepi lidah (sebelah kiri/kanan) hingga penghabisan ujung lidah, serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
  6. Ujung lidah, yaitu huruf Nun (ن).. Maksudnya bunyi huruf Nun (ن) keluar dari ujung lidah (setelah makhrojnya Lam (ل), lebih masuk sedikit ke dasar lidah dari pada Lam (ل)), serta menepati dengan langit-langit mulut atas.
  7. Ujung lidah tepat, yaitu huruf Ro’ (ر).. Maksudnya bunyi huruf Ro’ (ر) keluar dari ujung lidah tepat (setelah makhrojnya Nun dan lebih masuk ke dasar lidah dari pda Nun), serta menepati dengan langit-langit mulut atas. “Tiga huruf tersebut di atas (Lam, Nun dan Ro’), lazimnya disebut huruf DZALQIYAH (ذلقية), artinya huruf-huruf sekitar ujung lidah.”
  8. Kulit gusi atas, yaitu Dal (د), Ta’ (ت) dan Tho’ (ط).. Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepat i dengan pangkal dua gigi seri yang atas. “Tiga huruf tersebut lazimnya disebut NATH’IYAH (نطغية), artinya huruf-huruf sekitar kulit gusi atas.”
  9. Runcing lidah, yaitu huruf Shod (ص), Sin (س) dan Za’ (ز).  Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepati ujung dua gigi seri yang bawah. “Tiga huruf tersebut lazimnya disebut huruf ASALIYAH (أسلية), artinya huruf-huruf sekitar ujung lidah.”
  10. Gusi, yaitu huruf Dho’ (ظ), Tsa’ (ث) dan Dzal (ذ).. Maksudnya huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah, serta menepati dengan ujung dua gigi seri yang atas. “Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf LITSAWIYAH (لثوية), artinya huruf sekitargusi.” 

  • Al-Syafatain, artinya dua bibir. Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada kedua bibir. Yang termasuk huruf-huruf syafatain ialah wawu (و), fa’ (ف), mim (م) dan ba’ (ب) dengan perincian sebagai berikut :
  1. Fa’ (ف) keluar dari dalamnya bibir yang bawah, serta menepati dengan ujung dua gigi seri yang atas.
  2. Wawu, Ba, Mim (و , ب , م) keluar dari antara dua bibir (antara bibir atas dan bawah). Hanya saja untuk Wawu bibir membuka, sedangkan untuk Ba dan Mim bibir membungkam. “Empat huruf tersebut di atas lazimnya disebut huruf SYAFAWIYAH, artinya huruf-huruf sekitar bibir.” 

  • Al-Khaisyum, artinya pangkal hidung. Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada janur hidung. Dan jika kita menutup hidung ketika membunyikan huruf tersebut, maka tidak dapat terdengar. Adapun huruf-hurufnya yaitu huruf-huruf ghunnah mim dan nun dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Nun bertasydid (نّ)
  2. Mim bertasydid (مّ)
  3. Nun sukun yang dibaca idghom bigunnah, iqlab dan ikhfa’ haqiqiy
  4. Mim sukun yang bertemu dengan mim (م) atau ba (ب)

Tempat-tempat keluarnya huruf secara rinci ada 17 :

1. Rongga mulut (huruf mad yang tiga :ا،و،ي
2. Pangkal tenggorokan ء،ه
3.  Tengah tenggorokan ع،ح
4. Ujung tenggorokan غ،خ
5. Pangkal lidah paling belakang ق
6. Pangkal lidah sedikit ke depan ك
7. Tengah lidah dengan langit-langit ج،ش،ي
8. Sisi lidah bertemu geraham atas ض
9. Dibawah sisi lidah setelah dhad ل
10. Ujung lidah setelah lam ن
11. Ujung lidah setelah nun ر
12 .Ujung lidah bertemu gusi atas ط،د،ت
13. Ujung lidah bertemu ujung gigi depan yang atas ظ،ذ،ث
14. Ujung lidah diantara gigi atas dan gigi bawah (lebih dekat ke bawah) ص،س،ز
15. Bibir bawah bagian dalam bertemu ujung gigi atas ف
16. Dua bibir و،ب،م
17. Rongga hidung (ghunnah/ dengung) 

Ilmu Tajwid: Sifat huruf

Ilmu Tajwid: Sifat huruf

Sifat huruf adalah salah satu dari hal tajwid dalam bacaan Al-Qur’an. Sifat huruf adalah sifat yang menjelaskan perihal suatu huruf. Melalui sifatnya, seseorang itu akan mampu membedakan suatu huruf itu dengan kondisi sebutannya seperti tertahan, berdesing, melantun dan sebagainya.

Kelebihan memahami sifat huruf ini adalah sebagai pelengkap kepada makhraj. Dengan mengetahui sifatnya, kita dapat membedakan lafal sebutan untuk huruf yang makhrajnya sama. Adisi pula, kita akan dapat mengidentifikasi huruf yang kuat dan lemah atau huruf yang dilafazkan secara tebal dan tipis karena sifat yang ada pada hurufnya. Sifat huruf juga membantu memperkemaskan akurasi sebutan suatu huruf agar dapat dilafazkan dengan benar, terutama untuk huruf yang hampir sama sebutannya seperti huruf tsa (ث) dengan sin (س), ha’ (ح) dengan ha (ﻫ).

Pendapat ulama tentang jumlah sifat huruf

Ulama berselisih pendapat tentang jumlah sifat huruf, namun biasanya pendapat yang dipakai adalah pendapat Ibn Jazari; yaitu ada 17 sifat huruf semuanya.

Pembagian sifat huruf

Sifat huruf terbagi menjadi dua:

  1. Sifat lazimah (ﻻﺯﻣﻪ) — sifat tetap yang pasti ada untuk setiap sebutan huruf dalam semua kondisi, tidak terpisah dari suatu huruf itu sama ada pada kondisi berbaris maupun mati. Sifat ini juga dikenali sebagai “sifat yang berlawanan”. Ada sepuluh sifat yang tergolong dalam kategori ini:

Hams lawannya jahr

Syiddah lawannya rakhawah (pertengahan untuk kedua-dua sifat ini dinamakan tawasut)

Isti’la’ lawannya istifal

Itbaq lawannya infitah

Idzlaq lawannya ismat

Sifat ‘aridhah; (ﻋﺎﺭﻀﻪ) adalah sifat mendatang yang berubah-ubah untuk suatu huruf yang adakalanya terpisah dari huruf dan menyertainya pula pada kondisi yang lain seperti tarqiq (tipis), tafkhim (tebal), ghunnah, idgham, atau ikhfa’, panjang atau pendek dan seumpamanya. Sifat ini juga dikenali sebagai “sifat yang tidak berlawanan”. Ada tujuh sifat yang tergolong dalam kategori ini:

  • Shafir (ﺻﻔﺮ) – Suara dari ujung mulut seakan-akan bersimpul
  • Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) – melantun
  • Lin (ﻟﻴﻦ) – lembut
  • Inhiraf (ﺇﻧﺤﺮﺍﻑ) – berbelok
  • Takrir (ﺗﻜﺮﻳﺮ) – berulang
  • Tafasysyi (ﺗﻔﺸﻰ) – bertebaran
  • Istitolah (ﺇﺳﺘﻂﺎﻟﻪ) – panjang

Tiap-tiap huruf itu termasuk dalam lima sifat suara yang memiliki lawanan. Suara-suara tidak berlawanan pula terkadang-kadang termasuk datu atau dua sifat daripadanya, terkadang-kadang tidak termasuk suatupun. Selebihnya terkumpul pada satu huruf itu tujuh sifat suara yaitu sepet, berulang-ulang dan lima sifat yang berlawanan.

Perincian sifat huruf

Hams

Hams (Arab: همس) dari segi bahasa berarti menyembunyikan; cara menyebutnya adalah dengan menyembunyikan huruf dan melarikan nafas bersamanya. Ada sepuluh huruf yang bersifat hams dan dikelompokkan dalam lafal (فَحَثُّهُ شَخْصٌ سَكَتْ), yaitu fā’ (ف), ḥā’ (ح), tsā’ (ث), hā’ (ه), syīn (ش), khā’ (خ), sīn (س), kāf (ك), dan tā’ (ت).

Jahr

Jahr (Arab: جهر) dari segi bahasa berarti terang dan nyata; cara menyebutnya adalah dengan menjelaskan huruf dan menahan nafas bersamanya. Terdapat 19 huruf yang tersisa dari huruf-huruf hams.

Beda sifat hams dengan sifat jahr adalah huruf hams disebut dengan melarikan nafas, sedangkan huruf jahr disebut dengan menahan nafas.

Syiddah

Syiddah (Arab: شدة) dari segi bahasa berarti kuat; cara menyebutnya adalah dengan memperkuat huruf dan menahan suara ketika menyebutnya. Ada delapan huruf yang bersifat syiddah dan dikelompokkan dalam lafal (أَجِدْ قَطٍ بَكَتْ), yaitu hamzah (ء), jīm (ج), dāl (د), qāf (ق), ṭha (ط), ba (ب), kāf (ك), dan ta (ت).

Rakhawah

Rakhawah (الرخاوة) berarti lembut; ia disebut dengan membunyikan suara. Huruf-huruf rakhawah ada 15 yang tersisa dari huruf-huruf syiddah dan tawasut.

Tawasut

Tawasut dari segi bahasa berarti pertengahan; dari segi istilah berarti pertengahan suara

Isti’la

Isti’la’ (الإستــعلاء) berarti mengangkat atau meninggi. Cara menyebutnya adalah dengan mengangkat lidah sampai ke langit-langit. Huruf-huruf isti’la’ ada tujuh, dan dikelompokkan dalam lafal خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ (transliterasi: khuṣṣa ḍaghṭin qiẓ), yaitu kha’ (خ), ṣad (ص), ḍad (ض), ghayn (غ), ṭha (ط), qaf (ق), dan zha (ظ).

Istifal

Artinya rendah saat menyebutnya adalah kondisi lidah tenang, tidak terangkat ke langit-langit

Itbaq

Itbaq berarti menutup atau mendempik. Saat menyebut hurufnya, harus melengkung keliling lidah ke langit-langit.

Infitah

Infitah berarti membuka. Saat menyebut hurufnya, harus tidak melengkung keliling lidah ke langit-langit.

Idzlaq

Idzlaq menurut bahasa adalah tergelincir atau terlepas. Secara terperincinya adalah menyebut hurufnya dengan mudah dan lancar. Disebabkan sebagiannya keluar dari ujung lidah dan sebagian lagi keluar dari dua bibir mulut, maka ia dapat disebut dengan cepat dan lancar.

Ismat

Ismat secara bahasanya adalah terlarang yaitu dilarang hanya menggunakan hurufnya untuk menyusun kalimat Bahasa Arab yang lebih dari tiga huruf yang menjadi huruf akar pada kalimat. Maka kalimat yang tersebut susah disebut dengan cepat dan ada dua puluh tiga huruf.

Safir

Safir adalah suara yang menyerupai suara unggas atau hewani karena menyebut hurufnya dengan suara berdesir dan kuat dari antara dua bibir mulut. Hurufnya ada tiga, yaitu sād (ص), zāy (ز), dan sīn (س). Suara desiran yang terjadi pada huruf sād paling kuat dibandingkan zāy dan berikutnya. Perbedaan sifat safir dengan hams adalah desiran nafas yang lebih kuat dibandingkan dengan hams yang sekedar membunyikan hurufnya dengan hembusan nafas yang lebih ringan.

  • Saat menyebut “ص” Kedengarannya seperti suara angsa.
  • Saat menyebut “ز” Kedengarannya seperti suara lebah.
  • Saat menyebut “س” Kedengarannya seperti suara belalang.

Qalqalah

Qalqalah (قلقلة) adalah melantunkan suara sehingga terdengar sedikit irama, khusus hanya ketika huruf itu mati. Ketika waqaf, irama itu dibunyikan dengan lebih kuat. Ada lima huruf qalqalah, yaitu qaf (ق), tha (طْ), ba (ب), jim (ج), dan dal (د); dan dikelompokkan dalam lafal (قُطْبُ جَدٍّ).

Lin

Lin (لين) berarti lembut; disebut dengan lembut dan mudah. Hurufnya ada dua, yaitu waw (و) dan ya (ي). Pembunyian dengan sifat lin hanya terjadi ketika huruf itu mati, dan di sebelumnya ada huruf berbaris atas. Misalnya waw dalam kalimat khawf (خَوْف) dan ya dalam kalimat bayt (بَيْت).

Inhiraf

Takrir

Takrir (تكرير) berarti berulang. Hurufnya satu saja, yaitu ra (ر). Dinamakan takrir karena suara unik ra yang bergetar secara berulang. Namun bagaimanapun, vibrasi yang dibenarkan adalah sekali saja, lebih-lebih lagi pada kondisi sabdu.

Tafasysyi

Tafasysyi (تفشي) berarti tersebar atau bertebaran. Hurufnya satu saja, yaitu syin (ش). Dinamakan tafasysyi karena suara unik syin yang tersebar di daerah ujung lidah.

Istitalah

Istitalah (استطالة) berarti memanjang. Hurufnya satu saja, yaitu ḍad (ض). Dinamakan istitalah karena makhraj ḍad yang memanjang di sebelah kiri atau kanan lidah.

Tabel huruf dan sifat-sifatnya

mencantumkan semua sifat yang dimiliki oleh huruf-huruf hija’iyah.

Huruf Rumi Sifat Jumlah sifat
1 2 3 4 5 6 7
ء Hamzah Jahr Syiddah Istifal Infitah Ismat 5
ب Ba’ Jahr Syiddah Istifal Infitah Idhlaq Qalqalah 6
ت Ta’ Hams Syiddah Istifal Infitah Ismat 5
ج Jim Jahr Syiddah Istifal Infitah Ismat Qalqalah 6
ح Ha’ Hams Rakhawah Istifal Infitah Ismat 5
خ Kha’ Hams Rakhawah Isti’la’ Infitah Ismat 5
د Dal Jahr Syiddah Istifal Infitah Ismat Qalqalah 6
ذ Dhal Jahr Rakhawah Istifal Infitah Ismat 5
ر Ra’ Jahr Tawasut Istifal Infitah Idhlaq Inhiraf Takrir 7
ز Zay Jahr Rakhawah Istifal Infitah Ismat Safir 6
س Sin Hams Rakhawah Istifal Infitah Ismat Safir 6
ش Syin Hams Rakhawah Istifal Infitah Ismat Tafasysyi 6
ص Sad Hams Rakhawah Isti’la’ Itbaq Ismat Safir 6
ض Dad Jahr Rakhawah Isti’la’ Itbaq Ismat Istitalah 6
ط Ta’ Jahr Syiddah Istifal Itbaq Ismat Qalqalah 6
ظ Za’ Jahr Rakhawah Isti’la’ Itbaq Ismat 5
ع Ayn Jahr Tawasut Isti’la’ Infitah Ismat 5
غ Ghayn Jahr Rakhawah Isti’la’ Infitah Ismat 5
ف Fa’ Hams Rakhawah Istifal Infitah Idhlaq 5
ق Qaf Jahr Syiddah Isti’la’ Infitah Ismat Qalqalah 6
ك Kaf Hams Syiddah Istifal Infitah Ismat 5
ل Lam Jahr Tawasut Istifal Idhlaq Inhiraf 6
م Mim Jahr Tawasut Istifal Infitah Idhlaq Inhiraf 6
ن Nun Jahr Tawasut Istifal Infitah Idhlaq 5
هـ Ha’ Hams Rakhawah Istifal Infitah Ismat 5
و Waw Jahr Rakhawah Istifal Infitah Ismat Lin 6
ي Ya’ Jahr Rakhawah Istifal Infitah Ismat Lin 6

Sumber: wikipedia

Ilmu Tajwid: Hukum mim mati

Ilmu Tajwid: Hukum mim mati

Hukum mim mati adalah salah satu tajwid yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hukum ini berlaku jika mim mati bertemu huruf-huruf tertentu.

Hukum ini terdiri dari tiga jenis, yaitu:

  1. Ikhfa’ Syafawi (ﺇﺧﻔﺎﺀ ﺷﻔﻮﻱ). Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan ba (ب), maka cara membacanya harus dibunyikan samar-samar di bibir dan didengungkan. Contoh: (فَاحْكُم بَيْنَهُم) (تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ) (وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ)
  2. Idgham Mithlain ( إدغام ميمى) = Idgham Mimi/Mitsliy. Apabila mim sukun(مْ) bertemu dengan mim (م), maka cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau ditasyidkan dan wajib dibaca dengung. Idgham mithlain juga dikenali sebagai idgham mimi atau mutamasilain. Contoh: (أَم مَنْ) (كَمْ مِن فِئَةٍ
  3. Idzhar Syafawi (ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻔﻮﻱ). Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain huruf mim (مْ) dan ba (ب), maka cara membacanya dengan jelas di bibir dan mulut tertutup. Contoh: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (تَمْسُونَ)

Sumber: wikipedia

Ilmu Tajwid: Hukum taawuz dan basmalah

Hukum taawuz dan basmalahSunting

Isti’azah atau taawuz (تعوذ) adalah lafaz: “A’uzubillahi minasy syaitaanir rajiim” (ﺍﻋﻮﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ الشيطان ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ)

manakala basmalah adalah lafaz: “Bismillahir rahmaanir rahiim” (ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺤﻤﻦ ﺍﻟﺮﺤﻴﻢ).

  1. Terdapat empat cara membaca iati’azah, basmalah dan suramemutuskan isti’azah (berhenti) kemudian baru membaca basmalah,
  2. menyambungkan basmalah dengan surah tanpa berhenti,
  3. membaca isti’azah dan basmalah terus-menerus tanpa henti,
  4. membaca isti’azah, basmalah dan awal surat terus-menerus tanpa berhenti.

Terdapat empat cara membaca basmalah di antara dua surat. Tiga daripadanya adalah harus dan satu lagi adalah tidak harus. Yang harus adalah

  1. memisahkan basmalah dengan surat,
  2. menghubungkan basmalah dengan awal surat,
  3. menghubungkan kesemuanya.

Bacaan bagi yang tidak harus pula adalah

  • menghubungkan akhir surat dengan basmalah lalu berhenti. Kemudian, barulah membaca surat yang seterusnya tanpa basmalah. Walau bagaimana pun, tidak harus membaca demikian karena ditakuti bahwa ada yang menganggap basmalah adalah salah satu ayat daripada surat yang sebelumnya.

Ilmu Tajwid: Hukum nun mati dan tanwin

Ilmu Tajwid: Hukum nun mati dan tanwin

Hukum Nun Mati (sukun) dan tanwin adalah salah satu tajwid yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hukum ini berlaku jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf tertentu.

Hukum ini terdiri dari 4 jenis, yaitu:

  • Izhar. Jika nun mati atau tanwin bertemu/menghadap salah satu huruf izhar yaitu ح,خ,ع,غ,أ,ھ cara membacanya jelas, dan terang tidak diperbolehkan untuk mendengung.
  • Idgam. Hukum bacaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
  1. Idgam bigunnah. Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf huruf seperti: mim (م), nun (ن) wau (و), dan ya’ (ي), ia harus dibaca dengan dengung. Contoh: فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ harus dibaca Fī ʿamadim mumaddadah.
  2. Idgam bilagunnah. Jika nun mati atau tanwin bertemu huruf-huruf seperti ra’ (ر) dan lam (ل), maka ia harus dibaca tanpa dengung. Contoh: مَنْ لَمْ harus dibaca Mal lam. 

Pengecualian: Jika nun mati atau tanwin bertemu dengan keenam huruf idgam tersebut tetapi ditemukan dalam satu kata, seperti بُنْيَانٌ, اَدُّنْيَا,قِنْوَانٌ, dan صِنْوَانٌ, maka nun mati atau tanwin tersebut dibaca jelas.

  • Iqlab. Hukum ini terjadi apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ba’ (ب). Dalam bacaan ini, bacaan nun mati atau tanwin berubah menjadi bunyi mim. Contoh: لَيُنۢبَذَنَّ harus dibaca Layumbażanna
  • Ikhfa’ haqiqi. Jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ta'(ت), tsa’ (ث), jim (ج), dal (د), żal (ذ), zai (ز), sin (س), syin (ش), sad (ص), dad (ض), tha (ط), zha (ظ), fa’ (ﻑ), qaf (ق), dan kaf (ك), ia harus dibaca samar-samar (antara Izhar dan Idgam)

Ilmu Tajwid : Waqaf 


Ilmu Tajwid : Waqaf 

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:

  1. ﺗﺂﻡّ (taamm) – waqaf sempurna – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya;
  2. ﻛﺎﻒ (kaaf) – waqaf memadai – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya;
  3. ﺣﺴﻦ (Hasan) – waqaf baik – yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa memengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya;
  4. ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) – waqaf buruk – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda-tanda waqaf

  1. Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya;
  2. tanda tho ( ﻁ ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
  3. tanda jim ( ﺝ ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.
  4. tanda zha ( ﻇ ) bermaksud lebih baik tidak berhenti;
  5. tanda sad ( ﺹ ) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad;
  6. tanda sad-lam-ya’ ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan dari “Al-washl Awlaa” yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik;
  7. tanda qaf ( ﻕ ) merupakan singkatan dari “Qiila alayhil waqf” yang bermakna “telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan;
  8. tanda sad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari “Qad yuushalu” yang bermakna “kadang kala boleh diwasalkan”, maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan;
  9. tanda Qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti;
  10. tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan;
  11. tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas;
  12. tanda Laa ( ﻻ ) bermaksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung mahupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak;
  13. tanda kaf ( ﻙ ) merupakan singkatan dari “Kadzaalik” yang bermakna “serupa”. Dengan kata lain, makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul;
  14. tanda bertitik tiga ( … …) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Ilmu Tajwid Al Quran

Ilmu Tajwid Al Quran

Ilmu Tajwid Tajwīd (تجويد) secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf) , shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.

Dalil kedua diambil dari As-Sunnah atau ( Hadist ) yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a. yaitu istri Nabi Muhammad SAW, ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Quran dan sholat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda Nabi muhammad S.A.W. Sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah S.A.W. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).

GHUNNAH

Ghunnah artinya mendengung. Hal ini berarti bahwa setiap ada huruf Nun atau Mim yang bertasydid maka hukum bacaannya dinamakan Ghunnah.

Contoh:
اِ نَّ       ثُمَّ        اِ نَّمَا       فَلَمَّا
HUKUM NUN SUKUN/TANWIN

Perbedaan Nun sukun atau Tanwin adalah sama dalam lafadz tetapi lain dalam tulisan. Adapun hukum Nun sukun atau Tanwin adalah sebagai berikut:

  1. Idgham Bighunnah

Idghom     : memasukkan
Bighunnah : dengan mendengung
Idgham Bighunnah mempunyai arti (dilebur dengan disertai dengung) Yaitu memasukkan atau meleburkan salah satu huruf nun mati atau tanwin (ـًـٍـٌ / نْ) kedalam huruf sesudahnya dgn disertai (ber)dengung, jika bertemu dgn salah satu huruf empat ini  yaitu :ي  ن م و atau biasa di singkat dengan bunyi يَنْمُوْ

Contoh:
مَنْ يَقُوْ لُ ( نْ- ي )           فَلَنْ نَِّزيْدَ كُمْ ( نْ- ن )
فَتْحًا مُبِيْنًا ( _ً  – م)           مِنْ وَّرَائِهِمْ ( نْ- و )

  • Idghom Bilaghunnah

Idghom         : memasukkan
Bilaghunnah : dengan tanpa mendengung
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 2 huruf, antara lain: ل dan ر

Contoh:
مِنْ لَدُ نْكَ ( نْ- ل )                   غَفُوْرٌرَحِيْمٌ ( _ٌ – ر)

  • Idzhar

Idzhar berarti: jelas atau terang
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 6 huruf, antara lain: ﻫ  أ ح خ ع غ

Contoh:
كُفُوًا اَحَدٌ ( _ً – ا)              مِنْ حَيْثُ ( نْ – ح )           مَنْ خَفَّتْ ( نْ – خ )
خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( ٍ – ع )          قَوْ مًا غَيْرَ كُمْ ( _ً -غ)        لَكُمُ اْلاَ نْهَا َر ( نْ – ﻫ )

  • Iqlab

Iqlab berarti:
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan satu huruf dari huruf hijaiyyah yaitu: ب

Contoh:
مَنْ بَخِلَ ( نْ – ب )                 عَوَا نٌ بَيْنَ ( _ٌ – ب)

  • Ikhfa’

Ikhfa’ berarti: samar-samar
Artinya: apabila ada Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 15 huruf, antara lain:
ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك

Contoh:
مِنْ تَحْتِهَا ( نْ – ت )             مَاءً ثَجَا جًا ( _ً – ث)            اَنْجَيْنَا كُمْ ( نْ – ج )
قِنْوَانٌ دَانِيَةٍ ( _ٌ – د)             مَنْ ذَالَّذِ يْ ( نْ – ذ)             يَوْمَئِذٍ زُرْقًا ( ٍ – ز )
اِنَّ اْلاِ نْسَا نَ ( نْ – س )        عَذَا بٌ شَدِ يْدٌ ( _ٌ – ش)        قَوْ مًا صَا لِحِيْنَ ( _ً – ص)
مُسْفِرَ ةٌ ضَا حِكَةٌ ( _ٌ – ض)    وَمَا يَنْطِقُ ( نْ – ط)             عَنْ ظُهُوْرِهِمْ ( نْ – ظ)
عُمْيٌ فَهُمْ ( _ٌ – ف)               رِزْقًا قَا لُوْا ( _ً – ق)          مَنْ كَا نَ يَرْجُوْا ( نْ – ك)

HUKUM MIM SUKUN

Hukum Mim sukun dibagi menjadi 3 macam, antara lain:

  1. Idghom Mitsli (Idghom Mimi). Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Mim. Contoh:  كُنْتُمْ مُسْلِمِيْنَ ( مْ – م )
  2. Ikhfa’ Syafawi. Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Ba’ contoh:  تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ ( مْ – ب )
  3. Idzhar Syafawi.  Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain Mim dan Ba’  Contoh: هُمْ نَا ئِمُوْنَ ( مْ – ن )                   اَمْ لَمْ تُنْدِ رْ هُمْ ( مْ – ت )  الخ ……..

HUKUM IDGHAM

Hukum Idgham dibagi menjadi 3 macam, antara lain:

  1. Idghom Mutamatsilain. Artinya: jika ada huruf yang sama, yang pertama sukun dan yang kedua hidup. Contoh: اِضْرِ بْ بِعَصَا كَ ( بْ – بِ )
  2. Idghom Mutajanisain. Dinamakan Idghom Mutajanisain jika TA sukun bertemu THA, THA sukun bertemu TA, TA sukun bertemu DAL, DAL sukun bertemu TA, LAM sukun bertemu RA, DZAL sukun bertemu ZHA.  Contoh:  (تْ- ط )   قَالَتْ طَا ئِفَة ٌ         ( طْ- ت )  لَئِنْ بَسَطْتَ            ( تْ- د )  اَثْقَلَتْ دَ عَوَا. ( دْ- ت )   قَدْ تَبَيَّنَ                ( لْ- ر )  قُلْ رَبِّ                  ( ذْ- ظ )   اِذْ ظَلَمُوْا
  3. Idghom Mutaqorribain. Dinamakan Idghom Mutaqorribain jika TSA sukun bertemu DZAL, QAF sukun bertemu KAF, BA sukun bertemu MIM. Contoh: ( ثْ- ذ )  يَلْهَثْ ذ لِكَ             ( قْ- ك )  اَلَمْ نَخْلُقْكُمْ             ( بْ- م ) يبُنَيَّ ارْ كَبْ مَعَنَا

QALQALAH

Qalqalah artinya memantul. Huruf Qalqalah ada lima, antara lain:
ق ط ب ج د biasa disingkat dengan bunyi   قَطْبُ جَدٍّ.  Contoh: ق- يَقْرَ أُ          ط- يَطْهَرُ           ب- يَبْخَل        ج- يَجْعَلُ           د- يَدْ خُلُ

Qalqalah dibagi dua:

  1. Qalqalah Sughra. Adalah: huruf Qalqalah yang matinya asli, sebagaimana contoh diatas.
  2. Qalqalah Kubra
  3.  Adalah: huruf Qalqalah yang matinya disebabkan waqaf. Contoh:  خَلَقَ dibaca   خَلَقْ               اَحَدٌ dibaca اَحَدْ

LAFADZ ALLAH

Hukum lafadz Allah dibagi dua, yaitu: Dibaca tafkhim, jika lafadz Allah didahului harakat fathah atau dhummah. Contoh: وَاللهُ           نَصْرُ اللهِ  Dibaca tarqiq, jika lafadz Allah didahului harakat kasroh. Contoh: بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمنِ ا لرَّ حِيْمِ

HURUF SYAMSIYAH DAN QAMARIYAH

Huruf Syamsiyah dan huruf Qamariyah jumlahnya sama yaitu masing-masing ada 14 huruf.

Huruf Syamsiyah: jika ada  ال bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 14, antara lain:  ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن.   Contoh:وَالتِّيْنِ         اَلدُّ نْيَا         وَالشَّمْسِ           النِّعْمَةِ

الخ……

Huruf Qamariyah: jika ada ال   bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah yang berjumlah 14, antara lain:  ب ج ح خ ع غ ف ق ك م و ﻫ ء ي. Contoh:اَلْجُمُعَةُ           اَلْخَيْرُ           اَلْفِيْلُ            اَلْكَبِيْرُ

الخ……

IDZHAR WAJIB

Dinamakan Idzhar Wajib, jika ada Nun sukun atau Tanwin bertemu huruf YA atau WAWU dalam satu kalimat. Cara membacanya: terang atau jelas. Namun, didalam Al-Qur’an bacaan Idzhar Wajib ini hanya ada 4, yaitu:اَلدُّ نْيَا              بُنْيَانٌ                 صِنْوَ                 قِنْوَانٌ

HUKUM RA’. Hukum Ro’ ada dua: 

  1. Ro’ yang dibaca Tafkhim Ciri-ciri:
  •    Ro’ fathah, Ro’ fathah tanwin.
  •     Ro’ dhummah, Ro’ dhummah tanwin.
  •     Ro’ sukun didahului fathah atau dhummah.
  •     Ro’ sukun didahului kasrah ada hamzah washal.
  •     Ro’ sukun didahului kasrah bertemu huruf isti’la’.

Contoh:
a)      رَ- رًا        رَبَّنَا                  خَيْرًا
b)      رُ- رٌ         رُوَيْدًا                كَبِيْرٌ
c)      _َ _ُ  _ْ      اَرْ سَلَ              قُرْ ا نٌ
d)     _ِ ا رْ        اَ مِرْ تَا بُوْا         اِ رْ جِعُوْ ا
e)      _ِ رْ – خ ص ض ط ظ غ ق   مِرْ صَا دٌ         قِرْ طَا سٌ

   2.  Ro’ yang dibaca Tarqiq

Ciri-ciri:

  • Ro’ kasrah, Ro’ kasrah tanwin.
  • Ro’ sukun didahului kasrah.
  • Ro’ hidup didahului Ya’ dibaca waqaf.

Contoh:
a)      رِ- رٍ         رِجْسٌ            خُسْرٍ
b)      _ِ  رْ         فِرْ عَوْ نَ        فَكَبِّرْ
c)      _َِ ي  ُِ ر ٌٍ    خَيْرٌ              بَصِيْرٍ

HUKUM MAD

Hukum Mad dibagi dua:

  • Mad Thabii. Yang dinamakan dengan mad Thabi’i, adalah: jika fathah diikuti ALIF, kasrah diikuti YA, dhummah diikuti WAWU. Panjang bacaannya: satu alif (dua harakat). Contoh:  دَا – دِيْ – دُوْ       نُوْ حِيْهَا
  • Mad Far’i. Mad Far’i dibagi menjadi 13, antara lain:
  1.     Mad wajib muttashil. Ialah: Mad Thabii bertemu hamzah dalam satu kalimat. panjang bacaannya: 2,5 alif (5 harakat). Contoh:  جَاءَ               لِقَاءَ نَا             نِدَاء
  2. Mad jaiz munfashil. ialah:   Mad Thabii bertemu hamzah (bentuknya huruf alif) di lain kalimat. Panjang bacaannya: 2,5 alif (5 harakat).  Contoh:  اِنَّا اَعْطَيْنَا                   اِنَّا اَ نْزَلْنَا
  3. Mad ‘aridh lissukun. ialah:  Mad Thabii bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjang bacaannya:  3 alif (6 harakat). Contoh: اَبُوْكَ = اَبُوْكْ                عِقَا بِ = عِقَا ب
  4. Mad ‘iwadh. ialah:  jika ada fathah tanwin yang dibaca waqaf, selain TA’ marbuthah. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat). Contoh:  عَلِيْمًا = عَلِيْمَ
  5. Mad shilah, ialah: setiap dhomir HU dan HI apabila didahului huruf hidup. Mad shilah dibagi dua, yaitu: Mad shilah qashirah dan Mad shilah thawilah. Yang dinamakan Mad shilah thawilah, adalah Mad shilah qashirah bertemu huruf hamzah (bentuknya alif). Panjang bacaan Mad shilah qashirah: 1 alif (2 harakat). Contoh: لَه‘-  بِه. Panjang bacaan Mad shilah thawilah: 2,5 alif (5 harakat).  Contoh: اَنَّ مَا لَه اَخْلَدَه
  6. Mad badal, ialah:   setiap Aa, Ii, Uu yang dibaca panjang. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat). Contoh: امَنُوْا              اِيْتُوْ نِيْ                  اُوْ تِيَ
  7. Mad tamkin, ialah:  YA kasrah bertasydid bertemu YA sukun. Panjang bacaannya: 1 alif (2 harakat). Contoh:اُمِّيِّيْنَ                   حُيِّيْتُمْ                 نَبِيِّنَ
  8. Mad lin. ialah:  fathah diikuti WAWU atau YA sukun bertemu huruf hidup dibaca waqaf. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat). Contoh: خَوْ فٌ = خَوْفْ                   اِلَيْهِ = اِلَيْهْ
  9. Mad lazim mutsaqqal kalimi. ialah: Mad Thabii bertemu tasydid. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat). Contoh: وَ لاَ الضَا لِّيْنَ
  10. Mad lazim mukhaffaf kalimi. ialah: Mad badal bertemu sukun. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat). Contoh: ا لاْنَ
  11. Mad lazim musyabba’ harfi. ialah:  huruf hijaiyyah yang dibaca panjangnya 3 alif (6 harakat). Jumlah hurufnya ada 8, yaitu: ن ق ص ع س ل ك م. Contoh: ن   ق   ص    ا لمّ      ا لمّص
  12. Mad lazim mukhaffaf harfi. ialah:  huruf hijaiyyah yang dibaca panjangnya 1 alif (2 harakat). Jumlah hurufnya ada 5, yaitu: ح ي ط ﻫ ر Contoh:طه          يس           عسق         كهيعص            ا لمّر
  13. Mad farq. ialah: Mad badal bertemu tasydid. Panjang bacaannya: 3 alif (6 harakat). Contoh:  قُلْ اْلا للهُK. 

Waqaf

Hukum bacaan Waqaf dari sudut bahasa mempunyai arti berhenti atau menahan, apabila dari sudut istilah tajwid mempunyai arti menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara diakhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Terdapat empat jenis waqaf yaitu:

  • – ﺗﺂﻡّ (taamm) – waqaf sempurna yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak mempengaruhi arti dari bacaan tersebut karena tidak mempunyai kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya.
  • – ﻛﺎﻒ (kaaf) – waqaf memadai yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan ditengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya.
  • – ﺣﺴﻦ (Hasan) – waqaf baik yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa mempengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya
  • – ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) – waqaf buruk yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang di waqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda waqaf lainnya

  1. Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya;
  2. tanda tho ( ﻁ ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
  3. tanda jim ( ﺝ ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun di perbolehkan juga untuk tidak berhenti.
  4.  tanda zha ( ﻇ ) mempunyai makna lebih baik tidak berhenti
  5. tanda sad ( ﺹ ) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa merubah maknanya. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad
  6.  tanda sad-lam-ya’ ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan dari “Al-washl Awlaa” yang mempunyai arti “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, oleh karena itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik
  7. tanda qaf ( ﻕ ) merupakan singkatan dari “Qiila alayhil waqf” mempunyai makna “telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, oleh karena itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan
  8. tanda sad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari “Qad yuushalu” yang mempunyai makna “kadang kala boleh diwasalkan”, oleh karena itu lebih baik berhenti walaupun kadang kala boleh diwasalkan
  9. tanda Qif ( ﻗﻴﻒ ) mempunyai maksud berhenti! yaitu lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya sipembaca akan meneruskannya tanpa berhenti
  10. tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, si pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan
  11. tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) mempunyai maksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas
  12. tanda Laa ( ﻻ ) mempunyai maksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadang-kadang pada akhir maupun pertengahan ayat. Apabila tanda laa ( ﻻ) muncul dipertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada diakhir ayat, boleh berhenti atau tidak
  13. tanda kaf ( ﻙ ) merupakan singkatan dari “Kadzaalik” yg mempunyai arti “serupa”. dengan kata lain, arti dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul.
  14. tanda bertitik tiga ( … …) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Ilmu Tajwid Dasar Bagi Pemula

Ilmu Tajwid Dasar Bagi Pemula

Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tata cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Ilmu tajwid sangat penting, karena kalau kita tidak bisa memahami ilmu jadwid ini maka kemungkinan kita salah arti sangat besar. Sebenarnya kegunaan tajwid ini adalah untuk mengetahui panjang atau pendek, melafazkan dan hukum dalam membaca al quran.

Pengertian Tajwid (تجويد) secara harfiah mempunyai arti melakukan sesuatu dengan baik dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid ini berasal dari kata bahasa arab yaitu ” Jawwada ” (جوّد-يجوّد-تجويدا). Tajwid dalam ilmu Qiraah mempunyai arti mengeluarkan huruf dari tempatnya dgn memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi kesimpulan dari ilmu tajwid ini adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara melafazkan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran maupun Hadist dan lainnya.

hukum tajwid

Di dalam ilmu tajwid ini terdapat beberapa istilah yang harus kita perhatikan dan kita ketahui ketika  membaca Al Quran, diantaranya adalah:

  1. Makharijul huruf  yaitu tempat keluar masuknya huruf
  2. Shifatul huruf  yaitu cara melafalkan atau mengucapkan huruf
  3. Ahkamul huruf  yaitu hubungan antara huruf
  4. Ahkamul maddi wal qasr  yaitu panjang dan pendeknya dalam melafazkan ucapan dalam tiap ayat Al-Quran
  5. Ahkamul waqaf wal ibtida’ yaitu mengetahui huruf yang harus mulai dibaca dan berhenti pada bacaan bila ada tanda huruf tajwid
  6. dan Al-Khat dan Al-Utsmani

Berikut ini adalah dalil atau pernyataan shahih dari Allah SWT yang mewajibkan setiap HambaNya untuk membaca Al-Quran dengan memahami tajwid, diantaranya :

  • Dalil yang pertama di ambil dari ayat suci Al Quran. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Muzzammil (73) yang artinya adalah “Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”. Pada Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca Al Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
  • Dalil kedua diambil dari As-Sunnah atau ( Hadist ) yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a. yaitu istri Nabi Muhammad SAW, ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Quran dan sholat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda Nabi muhammad S.A.W. Sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah S.A.W. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).