Category Archives: shalat

12 Tuntunan Rasulullah Sebelum Melaksanakan Shalat ‘IDUL ADHA

12 Tuntunan Rasulullah Sebelum Melaksanakan Shalat ‘Ied Adha

  1. Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”
  2. Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”
  3. Tidak makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul adha. Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”. Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.
  4. Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan, كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”
  5. Takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan: Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.
  6. Di antara lafazh takbir adalah, اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan.
  7. Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.
  8. Anak kecil ikut shalat. Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab, نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ “Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”
  9. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.”
  10. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.”
  11. Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.”
  12. Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied. Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.. “Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”. Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”

Video”Tatacara Shalat Idul Adha Sesuai Tuntunan Rasulullah” Islam on YouTube

Salat Id adalah ibadah salat sunah yang dilakukan setiap hari Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah, tetapi sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

HADITS NABI MUHAMMAD SAW: Tentang Waktu Shalat

Hadits No. 163

  • Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim.
  • َعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ  وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ  مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ  وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ  وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadits No. 164

  • Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. “Dan matahari masih putih bersih.”
  • َوَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: ( وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ )

    Hadits No. 165

    • Dari hadits Abu Musa: “Dan matahari masih tinggi.”
    • َوَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ )

    Hadits No. 166

    • Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya’ tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ  فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ  وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ  وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ  وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا  وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا  وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ  وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    Hadits No. 167

    • Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.
    • َوَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ  وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ )

    Hadits No. 168

    • Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.
    • َوَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا )

    Hadits No. 169

    • Rafi’ Ibnu Kharij Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian salah seorang di antara kami pulang dan ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah miliknya. Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: ( كُنَّا نُصَلِّي اَلْمَغْرِبَ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    Hadits No. 170

    • ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya’ hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat dan bersabda: “Sungguh inilah waktunya jika tidak memberatkan umatku.” Riwayat Muslim.
    • َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَعْتَمَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعَشَاءِ  حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اَللَّيْلِ  ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي” )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ 

    Hadits No. 171

    • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila panas sangat menyengat maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا اِشْتَدَّ اَلْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ اَلْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    Hadits No. 172

    • dari Rafi’ Ibnu Khadij Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
    • َوَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم (أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ 

    Hadits No. 173

    • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.
    • َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

    Hadits No. 174

    • Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”
    • َوَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ:وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ 

    Hadits No. 175

    • Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” Muttafaq Alaihi. Dalam lafadz Riwayat Muslim: “Tidak ada shalat setelah shalat fajar.”
    • َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ اَلشَّمْسُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ اَلْفَجْرِ )

    Hadits No. 176

    • Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan ketika matahari hampir terbenam.
    • َوَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ  اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ )

    Hadits No. 177

    • Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.
    • َوَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )

    Hadits No. 178

    • Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.
    • َوَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ 

    Hadits No. 179

    • Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
    • َوَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ]أَ] وْ نَهَارٍ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ 

    Hadits No. 180

    • Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaq ialah awan merah.” Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.
    • َوَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ)  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ 

    Hadits No. 181

    • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya.
    • َوَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ )  رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ 

    Hadits No. 182

    • Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia seperti ekor serigala.”
    • َوَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ )  وَفِي اَلْآخَرِ: (إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )

    Hadits No. 183

    • Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.
    • َوَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ. وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ

    Hadits No. 184

    • Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Permulaan waktu adalah ridlo Allah pertengahannya adalah rahmat Allah dan akhir waktunya ampunan Allah.” Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.
    • َوَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ )  أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا 

    Hadits No. 185

    • Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.
    • َوَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ دُونَ اَلْأَوْسَطِ وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا 

    Hadits No. 186

    • Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).” Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: “Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.”
    • َوَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ )  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ. وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ )

    Hadits No. 187

    • Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul ‘Ash r.a.
    • َوَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ 

    Hadits No. 188

    • Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad.
    • َوَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ 

    Hadits No. 189

    • Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari ‘Aisyah r.a.
    • َوَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ  

    Sumber : Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

    Shalat Hajat, Dalil dan Tata Caranya

    Hukum Shalat Hajat

    Hukum mengerjakan shalat hajat adalah sunnah, berdasarkan hadits berikut,

    عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اُدْعُ اللهَ أَنْ يُعَافِيْنِيْ، قَالَ: إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوْئَهُ وَيَدْعُوْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اَلَّلهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّيْ فِيْ حَاجَتِيْ هَذِهِ لِتَقْضَى لِيْ اَللَّهُمَّ فَشَفَعْهُ فِيْ. قَالَ: فَفَعَلَ الرَّجُلُ فَبَرَأَ.

    Dari Utsman bin Hunaif, bahwasanya ada seorang laki-laki buta yang pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau menginginkan demikian, saya akan doakan, tetapi jika engkau mau bersabar, itu lebih baik bagimu.” Lelaki itu menjawab, “Berdoalah!” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya supaya berwudhu dengan sempurna dan shalat dua rakaat lalu berdoa dengan doa ini, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu, Nabi rahmat. Sesungguhnya, saya menghadap denganmu kepada Rabbku agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, berilah syafaat kepadanya untukku.” Dia berkata, “Lelaki itu kemudian mengerjakan (saran Nabi) lantas dia menjadi sembuh.”

    Takhrij hadits:
    Shahih. Diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya, 4:138, Tirmidzi:3578, Ibnu Majah:1384, Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya:1219, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, 3:2, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak:1221.
    Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih gharib.” Abu Ishaq berkata, “Hadits ini shahih.” Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih,” dan hal ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Syekh Al-Albani juga menilai bahwa hadits ini shahih, dalam buku beliau At-Tawassul, hlm. 75–76.

    Waktu Pelaksanaan Shalat Hajat

    Sholat hajat berbeda dengan sholat sunnah pada umumnya. Jika sholat dhuha misalnya, hanya dapat dikerjakan pada waktu dhuha atau sholat tahajud hanya bisa dikerjakan saat sepertiga malam terakhir, sholat hajat justru dapat dikerjakan pada setiap saat kita sempat melaksanakannya, boleh siang, boleh pula malam.
    Kendati dapat dikerjakan kapanpun, beberapa ulama menganjurkan kita untuk dapat melaksanakan sholat hajat pada waktu yang mustajab. Waktu sholat hajat yang mustajab adalah waktu yang sama dengan pelaksanaan sholat tahajud, yakni sepertiga malam terakhir atau tepatnya sekitar pukul 01.00 sampai waktu shubuh tiba. Perlu diingat pula bahwa jangan mengerjakan sholat hajat pada waktu-waktu yang dilarang untuk sholat, seperti saat terbit matahari, saat tengah hari, dan saat terbenamnya matahari.

    Rakaat dan Niat Shalat Hajat


    Rakaat Sholat Hajat

    Sholat hajat dapat dikerjakan dalam 2 rakaat, 4 rakaat, 6 rakaat, 8 rakaat, dan atau 12 rakaat, dengan setiap 2 rakaatnya diakhiri salam. Pelaksanaan sholat hajat di siang hari juga dapat dilakukan dalam 4 rakaat sekaligus dengan 1 kali salam.

    Tata Cara Menunaikan Sholat Hajat
    Cara sholat hajat sama dengan cara sholat sunnah pada umumnya, yakni diawali dengan niat dan diakhiri dengan salam. Yang membedakan sholat hajat dengan sholat lainnya hanya terletak pada bacaan niatnya saja. Untuk niat sholat hajat Anda dapat membaca lafal berikut :

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
    Latinnya : “Usholli sunnatalhaajati, Rok’ataini Lillahi Ta’aalaa.”

    Artinya “Saya berniat menunaikan shalat hajat dua rakaat karena Alloh Ta’ala.”
    Setelah membaca niat dan dilanjut takbiratul ihram, setiap gerakan dan bacaan yang dilafalkan dalam sholat hajat persis sama dengan bacaan dan gerakan sholat pada umumnya. Hanya saja, dalam sholat hajat disunahkan bagi Anda untuk membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat pertama dan Ayat Kursi pada rakaat kedua setiap selesai membaca surat Al-Fatihah.

    Doa setelah Shalat Hajat


    Doa sholat hajat adalah doa wirid yang dibacakan setelah pelaksanaan sholat hajat. Doa wirid ini mencakup beberapa doa yang antara lain istighfar, sholawat nabi, doa sholat hajat, dan doa nabi Yunus. Secara lengkap berikut ini adalah pemaparan dari doa-doa tersebut.

    1. Membaca Istighfar 100 Kali

    Setelah menunaikan sholat hajat, kita dianjurkan untuk membaca banyak istighfar. Istighfar dibaca sebanyak 100 kali. Adapun lafadznya adalah sebagai berikut:

    اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

    “Astaghfirullohaladziim.”

    Artinya

    “Aku memohon ampunan kepada Alloh yang Maha Agung.”

    2. Membaca Shalawat Nabi 100 Kali

    Setelah membaca istighfar, doa setelah sholat hajat dilanjutkan dengan membaca sholawat nabi sebanyak 100 kali. Sholawat nabi ada bermacam-macam lafadznya. Ada yang pendek, ada pula yang panjang. Jika ingin ringkas, baiknya Anda membaca solawat yang pendek saja dengan lafadz berikut:

    اَللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

    “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid”

    Artinya

    “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

    3. Membaca Doa Sholat Hajat 1 Kali

    Setelah membaca sholawat, kemudian bacalah doa sholat hajat dengan bacaan berikut ini sebanyak 1 kali saja.

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ لاَتَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِىَ لَكَ رِضَا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    “Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.”

    Artinya

    “Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.” Setelah membaca doa sholat hajat di atas, selanjutnya mohonkanlah apa yang menjadi keinginan Anda. Jika ingin segera dapat jodoh, getarkanlah dalam hati keinginan itu. Begitupun jika ingin segera dapat pekerjaan, terbebas dari masalah, atau keiginan-keinginan lainnya.

    4. Doa Nabi Yunus Sebanyak-banyaknya

    Perbanyak pula membaca doa nabi Yunus berikut ini setelah permohonan Anda terucapkan. Doa ini terbilang mustajab. Berikut lafal bacaannya.

    لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    “Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kungtum Minadz Dzolimiin”

    Artinya

    “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang dzolim.”

    Shalat Ghaib, Dalil dan Tatacaranya

    Shalat Ghaib, Dalil dan Tatacara


    ”Ghaib” artinya tidak ada. Shalat Ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan seseorang ketika jasad si mayit sudah dimakamkan, atau shalat yang dilakukan dari jarak yang jauh dari si mayit.

    Shalat Ghaib ini termasuk shalat yang unik. Pada Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin tahun 1936, telah diambil keputusan lewat pendapat Imam Ibnu Hajar yang menyatakan: “Tak perlu Shalat Ghaib bagi seorang yang meniggal di dalam satu negeri.” Sementara fakta yang berlaku di masyarakat NU, biasanya pada hari Jum’at sebelum khotbah ada pengumuman untuk mengerjakannya secara bersama-sama; seorang imam berdiri dan diikuti jama’ah untuk mengerjakan Shalat Ghaib.
    Dua kubu yang kami sebutkan tadi tampil dengan argumen masing-masing. Bagi kubu yang tidak perlu Shalat Ghaib (Keputusan Muktamar ke 11) dalilnya adalah:
    ”Bahwa tak sah shalat jenasah atas mayit yang ghaib yang tidak berada di tempal seorang yang hendak menyalatinyaa, sementara ia berada di negeri (daerah) di mana mayit itu berada walaupun negeri tersebut luas karena dimungkinkan untuk bisa mendatanginya. Para ulama menyamakannya dengan qadha atas seorang yang berada di suatu negeri sementara ia bisa menghadirinya. Yang menjadi pedoman adalah ada tidaknya kesulitan untuk mendatangi tempat si mayit. Jika sekiranya sulit untuk mendatanginya walaupun berada di negerinya, misalnya karena sudah tua atau sebab lain maka shalat hgaibnya sah. Sedangkan jika tidak ada kesulitan maka shalatnya tidak sah walau berada di luar batas negeri yang bersangkutan.” (dalam kitab I’anatut Thalibin)
    Dalil kedua: Keterangan yang ada di dalam kitab Tuhfah dapat dijadikan pedoman bahwa seseorang tidak boleh melakukan shalat ghaib atas mayit yang meninggal dalam satu negeri, sedang ia tidak hadir karena sakit atau ditahan.
    Sedangkan dari kubu yang membolehkan dilakukan shalat ghaib dalilnya adalah, pertama, shalat ghaib boleh diselenggarakan karena lain negara. Rasulullah pernah menyalati seorang muslim Najasyi yang meninggal sewaktu berada di Madinah (HR Bukhari dan Muslim).
    Jika seorang menyalati jenasah di hari meninggalnya setelah dimandikan, hukumnya adalah sah, sebagaimana pendapat Imam Ar-Rayani. Juga menyalati jenasah yang telah dimakamkan, hukumnya juga sah karena Rasulullah pernah menyalati jenasah yang sudah dikubur (HR Bukhari dan Muslim dan Imam Darul-Quthni). (Lihat dalam kitab Kifayatul Ahyar I hlm 103-104)
    Dalil kedua: Jelas tertera dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim: Ada seorang Najasi meninggal Rasulullah segera memberi tahu para sahabatnya, sabdanya: ”Saudara kita di negeri Habasyah telah meninggal shalatlah kalian untuknya.” Mereka pun keluar menuju lapangan, membuat barisan, dan mengerjakan shalat untuknya. (Tafsir Ibnu Katsir I hlm. 443)
    Dalil ketiga: ”Boleh menyalati beberapa jenasah dengan sekali shalat dan niat untuk semua secara global.” Disebutkan juga boleh dengan niat ”ijmal” artinya seperti dalam kalimat saya niat shalat untuk para jenazah muslim… atau, berniat shalat seperti sang imam menyalati saja. (dalam kitab Fathul Mu’in, juga Ianatut Thalibin II, 132-135).
    Dalil keempat: ”Batasan ”ghaib” adalah bila seseorang berada di sebuah tempat di mana panggilan adzan sudah tak terdengar. Di dalam kitab Tuhfah disebutkan: Jika sudah di luar jangkauan pertolongan.” (Bughyatul Musytarsyidin, hlm 95)
    Dalil Kelima, Keputusan bahtsul masail Syuriah NU se-Jateng 1984. Ketentuan jarak untuk Shalat Ghaib ada tiga versi: (1) Jarak 44 meter, (2) Jarak 1666 meter (1 mil), (3) Jarak 2000 – 3000 meter.

    Hukum Shalat Ghaib

    • Pengertian Shalat Ghaib ialah Shalat yg dilakukan ketika ada salah satu keluarga anda atau kerabat atau siapapun seorang Muslim yg meninggal dunia tetapi meninggalnya tersebut di tempat yg jauh dari anda maupun sanak keluarganya maka disunahkan kita untuk melakukan Shalat ini atas mayat tersebut walaupun meninggal-nya sang mayat sudah lewat seminggu atau lebih.

    Hukum Mengerjakan Shalat Ghaib ini adalah sunah yg jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika tidak melakukan maka tak dosa. Sedangkan untuk Waktu Shalat Ghaib tersebut bisa dilakukan kapan saja baik siang dan malam baik sendiri maupun secara Mak’mum, tetapi lebih Shalat ini lebih baik dilakukan atau dikerjakan secara bersama – sama sehingga pahala yg di dapatkan oleh sang mayat menjadi lebih banyak.


    Takbir Pertama Bembaca Surat al-Fatihah

    Takbir Kedua Membaca Sholawat
    Membaca bacaan Shalawat ketika sedang tahiyat. Yaitu membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW seperti dibawah ini.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

    Takbir Ketiga Membaca Do’a
    Membacakan doa untuk si Jenazah, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW pada hadist berikut:

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ باالْمَاءٍ وَالثَّلْجِ والْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَاراً خَيْراً مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجاً خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ اْلجَنَّة وَأَعِدْهُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَعَذَابِ الناَّرِ
    Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia, luaskanlah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau mebersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.

    Sedangkan doa untuk anak-anak adalah:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطاً ِلأَبْوَيهِ وَسَلَفاً وَذُخْراً، وَعِظٰةً وَاعْتِبَاراً وَشَفِيْعاً، وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلٰى قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنَّهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ

    Takbir Keempat Membaca Do’a

    اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِااْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّـلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُفٌ الرَّحِيْمٌ

    Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.

    Kemudian Salam
    Setelah membaca doa takbir ke empat, dilanjutkan dengan membaca salam ke kanan dan ke kiri.

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh(u)

    Artinya :
    “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua”

    Shalat Tahiyatul Masjid, Dalil, Tata Cara dan Keutamaannya

    Hukum Shalat Tahiyatul Masjid
    Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tahiyyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan sebanyak dua Roka’at, dan dikerjakan oleh seseorang ketika masuk ke masjid. Adapun hukumnya termasuk sunnah berdasarkan konsensus karena hal itu merupakan hak setiap orang yang akan masuk ke masjid, sebagaimana dalil-dalil yang telah disebutkan.” (Fathul Bari: 2/407)
    Shalat tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap saat, ketika seseorang masuk masjid dan bermaksud duduk di dalamnya. Ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i & Ahmad bin Hambal, yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz, & Ibnu Al-Utsaimin –rahimahumullah.
    Dalam hadis yang diriwayatkanoleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,

    إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

    “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)
    Jabir bin Abdillah –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

    جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

    Artinya,“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875)
    Para ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat 2 rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid & mau duduk di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya. Mayoritas ulama berpendapat shalat Tahiyatul Masjid adalah sunnah & sebagian berpendapat wajib. Yang jelas tidak sepantasnya seorang muslim meninggalkan syariat ini.
    Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat tahiyatul masjid adalah sunnah karena ada indikasi lain yang menyoal pada status hukum sunnah dan tidak wajib. Di antaranya,
    Pertama, hadis Abdullah bin Busr,

    حديث أبي داود والنسائي: أن رجلاً تخطى رقاب الناس والنبي صلى الله عليه وسلم يخطب فقال له: أجلس فقد آذيت

    Artinya,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang melangkahi pundak-pundak manusia sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkhutbah, maka beliau berkata, “Duduklah, sungguh engkau telah menyakiti mereka.” (Shahih, HR Abu Dawud (1118), di shahihkan oleh Syeikh Al-Albani)
    Kedua, hadis Thalhah bin Ubaidullah radhiyallahu Anhu, beliau berkata,

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

    Artinya, “Seorang laki-laki dari penduduk Nejd yang rambutnya berdiri datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mendengar gumaman suaranya, namun kami tidak dapat memahami sesuatu yang dia ucapkan hingga dia dekat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,‘Islam adalah shalat lima waktu siang dan malam.‘ Dia bertanya lagi, ‘Apakah saya masih mempunyai kewajiban selain-Nya? ‘ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali kamu melakukan shalat sunnah.” (HR. Bukhari (46), Muslim (11/76))
    Ketiga, hadis AbuWaqid Al Laitsi radhiyallahu Anhu, beliau berkata,

    عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

    Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (di depan), sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?”Adapun salah seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.”(HR. Bukhari (66) Muslim (2176))

    Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat Tahiyatul Masjid


    Pertama:

    Disyari’atkannya untuk shalat Tahiyatul Masjid di setiap waktu (tidak ada waktu yang terlarang), karena ia termasuk shalat yang berkaitan dengan sebab (yaitu karena masuk ke masjid). Inilah pendapat yang dipilih oleh Syeikhul islam ibnu Thaimiyyah, majduddin Abul Barakat, Ibnul Jauzi, dan yang lain. (Al-inshof : 2/802, Al-Muharrar : 1/86, Nailul Authar : 3/62, Fatawa li ibni Thaimiyyah : 23/219)
    Pendapat ini juga dipilih oleh Syeikh Muhammad bin Utsaimin (Syarah Mumthi’ ” (4/179)) dan juga Syeikh Ibnu Baz dalam kitab fatawa.

    Kedua:
    Waktu/pelaksanaan shalat Tahiyatul Masjid adalah ketika masuk ke masjid dan sebelum duduk. Adapun jika ia sengaja duduk, maka tidak di syari’atkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Hal itu dikarenakan telah kehilangan kesempatan (yaitu ketika masuk masjid dan sebelum duduk). (Ahkam Tahiyatul Masjid, 5)

    Ketiga:
    Adapun jikalau ia masuk masjid dan langsung duduk karena tidak tahu atau lupa dan belum mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, maka ia tetap disyari’atkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid, karena orang yang diberi uzur (karena lupa atau tidak tahu) tidak hilang kesempatan untuk megerjakan shalat tahiyatul masjid, dengan syarat jarak antara duduk dengan waktunya tidak terlalu lama. (Fathul Bari, 2/408)

    Keempat:
    Apabila ada orang yang masuk ke Masjid sedangkan azan dikumandangkan, maka yang sesuai syari’at adalah menjawab adzan dan menunda sebentar untuk shalat Tahiyatul Masjid, karena saat itu menjawab adzan lebih penting. Kecuali kalau ia masuk ke masjid pada hari jum’at, sedangkan adzan untuk khutbah tengah dikumandangkan, maka dalam kondisi seperti ini mendahulukan shalat tahiyatul masjid daripada menjawab azan (agar bisa mendengarkan khutbah). Karena mendengarkan khutbah lebih penting.” (Al-Inshaf, 1/427)

    Kelima:
    Apabila ada orang yang masuk ke masjid sedangkan imam saat itu sedang berkhutbah, maka tetap disunnahkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, dan hendaknya meringankannya/mempercepatnya (Al-Fatawa li Ibni Taimiyyah, 23/219). Hal ini sebagaimana dalam hadits Nabi, “Maka janganlah ia duduk kecuali telah mengerjakan dua raka’at” (HR Bukhari (1163) dan Muslim (714)). Begitu pula dalam hadits yang lain,´“Hendaklah ia kerjakan dua raka’at, dan hendaklah meringankanya.” (HR Bukhari (931), Muslim (875)). Jika seorang khatib hampir selesai khutbah, dan menurut dugaan kuat jika ia mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid akan ketinggalan shalat wajib (shalat jum’at), maka hendaknya ia berdiri untuk mengerjakan shalat jum’at, dan setelah selesai shalat Jumat hendaknya ia jangan sampai langsung duduk tanpa mengerjakan shalat tahiyatul masjid.

    Keenam:
    Penghormatan di Masjidil Haram adalah Thawaf, hal ini sebagaimana dikemukakan Jumhur Fuqaha’. Imam Nawawi berkata, “Shalat Tahiyyatul Masjidil untuk Masjidil Haram adalah Thawaf, yang dikhususkan bagi pendatang. Adapun orang yang Muqim/menetap disitu maka hukumnya sama seperti masjid-masjid yang lain (yaitu disunnahkan shalat Tahiyatul Masjid)” (Fathul Bari: 2/412)
    Namun sebagai catatan, hadits yang dijadikan rujukan dalam masalah ini adalah hadits yang tidak shahih/benar. Bahkan tidak ada asalnya dari Nabi. Lafaz hadits tersebut adalah:

    تحية البيت الطواف

    “Tahiyat bagi Al-Bait (Ka’bah) adalah thawaf,” (Lihat Adh-Dhaifah no. 1012 karya Al-Albani –rahimahullah-),
    Jadi kesimpulannya shalat Tahiyatul Masjid berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. Sehingga orang yang masuk masjidil haram tetap dianjurkan baginya untuk melakukan tahiyatul masjid jika dia ingin duduk.

    Ketujuh:
    Shalat qabliyah dapat menggantikan tahiyatul masjid, karena maksud dari shalat tahiyatul masjid adalah agar orang yang masuk masjid memulai dengan shalat, sedangkan ia telah melaksanakan shalat sunnah rawatib. Jika ia berniat shalat sunnah rawatib sekaligus shalat tahiyatul masjid atau berniat shalat fardhu maka ia telah mendapat pahala secara bersamaan. (Kasyful Qana’: 1/423)

    Kedelapan:
    Adapun seorang imam, maka cukup baginya untuk mendirikan shalat fardhu tanpa shalat Tahiyatul Masjid. Hal itu dikarenakan imam datang di akhir dan kedatangannya dijadikan sebagai tanda untuk mengumandangkan iqamat. (Subulus Salam: 1329)
    Adapun jikalau imam telah datang sejak awal waktu, maka tetap disyari’atkan bagi imam untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, sebagaimana makmum. Hal itu sebagaimana keumuman dalil, “Jika salah seorang dari kalian masuk ke Masjid, maka janganlah duduk sehingga ia shalat dua raka’at terlebih dahulu.” (HR Bukhari (444), Muslim (764))
    Mengenai shalat di tanah lapang (seperti shalat ied, istisqa’), maka tidak disyari’atkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, (Al-Fawakihul Adidah : 1/99)
    Namun sebagian ulama’ ada yang membolehkan shalat tahiyatul Masjid di tanah lapang karena di tinjau dari segi hukumnya sama seperti shalat berjama’ah di dalam masjid. (Al-inshaf: 1/246). Namun yang lebih rajih insya Allah pendapat yang pertama, karena berbeda dari sisi tempatnya dan juga dzahirnya hadits : “Jika salah seorang dari kalian masuk ke Masjid…. (HR Bukhari dan Muslim)

    Kesembilan:
    Tidak dipungkiri bahwa shalat tahiyatul masjid berlaku utk siapa saja, laki-laki & perempuan yang hendak melakukan shalat berjama’ah di masjid. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib Jum’at, dimana tak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu Alaihi wassalam- shalat tahiyatul masjid sebelum beliau khutbah. Akan tetapi beliau datang & langsung naik ke mimbar (Al-Majmu’: 4/448).

    Yang Dikecualikan Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid


    1. Khatib Jum’at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tidak disunnahkan sholat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.

    2. Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
    3. Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin sholat berjamaah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan sholat berjama’ah. Karena sholat fardhu telah mencukupi dari melaksanakan tahiyatul masjid. (Lihat Subulus Salam, Imam al-Shan’ani: 1/320).

    Waktu dan Rakaat Shalat Tahiyatul Masjid


    Waktu Pelaksanaan
    Pelaksanaan shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan kapan saja selagi memasuki masjid. Sebelum duduk atau shalat lainnya, maka shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan. Ibaratnya seperti pertama masuk masjid, maka hal pertama setelah berwudhu yang bisa dilakukan adalah shalat tahiyatul masjid.

    Jumlah Rakaat
    Shalat tahiyatul masjid disyariatkan hanya 2 rakaat saja. Selebihnya tidak dijelaskan lagi dalam hadist, dan bisa melaksanakan shalat lainnya di shalat wajib atau sunnah selain tahiyatul masjid.

    Keutamaan dan Tata Cara Shalat Dhuha

    Hukum Shalat Dhuha

    Sholat Dhuha hukumnya sunnah muakkad ( Majmu’ Fatawa Imam Abdul Aziz bin Baz, 11:399 ) . Karena Nabi melakukannya, menganjurkan para sahabat beliau untuk melakukannya dengan menjadikannya sebagai wasiat.Wasiat yang diberikan untuk satu orang oleh beliau, berarti juga wasiat untuk seluruh umat, kecuali bila ada dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut.
    Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan : “Kekasihku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi wasiat kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal dunia : Puasa tiga hari dalam sebulan, dua rakat’at shalat Dhuha, dan hanya tidur setelah melakukan shalat Witir” ( Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Oleh Al-Bukhari no. 1981. Diriwayatkan oleh Muslim no. 721, telah ditahrij sebelum ini ).
    Imam An-Nawawi Rahimahullah mengunggulkan pendapat bahwa shalat Dhuha itu hukumnya sunnah muakkad, setelah beliau membeberkan hadits-hadits dalam persoalan itu. Beliau menyatakan : “Hadits-hadits itu semuanya sejalan, tidak ada pertentangan diantaranya bila diteliti. Alhasil, bahwa shalat Dhuha itu adalah sunnah muakkad” ( Syarah An-Nawawi atas Shahih Muslim 5/237 dan lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar 3/57 )

    Keutamaan Shalat Dhuha

    Ada banyak sekali keutamaan sholat dhuha. Semua keutamaan tersebut bisa kamu temukan di beberapa hadits Rasulullah SAW. Adapun keutamaan mengerjakan sholat dhuha adalah sebagai berikut.

    Sholat Dhuha adalah Sedekah
    Rasulullah pernah menjelaskan bahwa sholat dhuha merupakan salah satu bentuk sedekah orang muslim. Penjelasannya ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bunyi haditsnya adalah sebagai berikut.
    “Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, menyuruh kebaikan merupakan sedekah, dan mencegah kemungkaran merupakan sedekah. Dan semua itu bisa disetarakan dengan mengerjakan Sholat Dhuha dua rakaat”. (H.R Muslim dari Abu Dzar)
    Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan kembali bahwa sholat dhuha adalah sedekah. “Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang, hendaklah ia mengeluarkan satu sedekah untuk setiap ruas itu. Para sahabat bertanya, ‘Siapa yang mampu mengerjakan hal tersebut wahai Nabi Allah?’ Nabi berkata, ‘Dahak di masjid yang engkau pendam, suatu aral yang engkau singkirkan dari jalan. Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang sepadan, maka cukuplah bagimu sholat Dhuha dua rakaat”. (H.R. Abu Daud dan Ahmad dari Abu Buraidah)

    Sholat Dhuha sebagai Simpanan Amal Cadangan
    Sholat dhuha bisa dijadikan sebagai simpanan amal cadangan yang bisa kamu dapat pahalanya di hari akhir. Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya; “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya. Jika benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan jika rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka Allah berfirman, ‘Perhatikanlah, jikalau hamba-Ku memiliki sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunahnya sekadar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya.” (H.R. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA)

    Ghanimah (Keuntungan) yang Besar
    Sholat dhuha memiliki keutamaan salah satunya adalah di dalamnya terdapat keuntungan yang besar. Hal ini terlihat dari penjelasan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Barangsiapa sholat Dhuha 2 rakaat, ia tidak akan termasuk golongan pelupa/lalai. Barangsiapa sholat Dhuha 4 rakaat, akan dimasukkan kepada golongan orang-orang yang taubat (kembali kepada Allah). Barangsiapa sholat Dhuha 6 rakaat, akan dicukupi kebutuhannya hari itu. Barangsiapa sholat Dhuha 8 rakaat, termasuk golongan hamba-hamba yang patuh. Dan barangsiapa sholat Dhuha 12 rakaat maka Allah akan membangun baginya rumah di surga”. (H.R. Thabrani dari Abu Darda’)

    Tercukupi Kebutuhan Hidupnya
    Orang yang rajin mengerjakan sholat dhuha karena Allah akan diberikan kelapangan rezeki oleh-Nya. Dalam hadits Qudsi dari Abu Darda’ Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman: “Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) karena Aku pada awal siang (sholat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari”. (H.R. Tirmidzi)

    Memperoleh Pahala Haji dan Umrah
    Keutamaan lain dari sholat dhuha adalah menmperoleh pahala haji dan umrah bagi siapa saja yang mengerjakannya. Dalam hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang sholat shubuh berjamaah kemudian duduk berzikir untuk Allah hingga matahari terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan sholat dhuha dua rakaat, maka baginya seperti memperoleh pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya”. (H.R. Tirmidzi)

    Diampuni Semua Dosanya meskipun Sebanyak Buih di Laut
    Orang yang sering mengerjakan sholat dhuha, Allah akan mengampuni semua dosanya walaupun sebanyak buih di laut. Dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menjaga sholat dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan”. (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

    Dibangunkan Istana di Surga
    Keutamaan yang terdapat dalam sholat dhuha sangatlah banyak dan istimewa. Adapun salah satu keutamaannya adalah Allah akan membangunkan istana di surga bagi orang yang sering mengerjakan sholat dhuha. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa sholat Dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangun baginya istana dari emas di surga”. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

    Disebut Dhuha yaitu mulai dari waktu setelah matahari meninggi hingga dekat dengan waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). ( Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 342 )
    Dari sini kita dapat bagi waktu Dhuha menjadi tiga:

    1. Awal waktu yaitu setelah matahari terbit dan meninggi hingga setinggi tombak
    Dalilnya adalah hadits dari ‘Amr bin ‘Abasah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

    Artinya “Kerjakan shalat shubuh kemudian tinggalkan shalat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim no. 832). (Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 347).
    Kapan itu? Awal waktu shalat Dhuha kita-kira 15 menit setelah matahari terbit.
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Awal waktu shalat Dhuha adalah ketika matahari meninggi setinggi tombak ketika dilihat yaitu 15 menit setelah matahari terbit.” (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 289)

    2. Akhir waktu yaitu dekat dengan waktu zawal saat matahari akan tergelincir ke barat.
    Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Sekitar 10 atau 5 menit sebelum waktu zawal (matahari tergelincir ke barat).”

    3. Waktu terbaik yaitu dikerjakan di akhir waktu.
    Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu, yaitu keadaan yang semakin panas. Dalilnya adalah

    أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

    Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748).
    Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu.
    Imam Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 28)

    Rakaat dan Niat Shalat Dhuha

    Beberapa hadits shahih menerangkan jumlah raka’at sholat dhuha yang biasa dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Ada yang menyebutkan cukup 2 (dua) raka’at. Ada pula yang menyebutkan 4 raka’at dan 8 raka’at. Bahkan ada juga yang mengisahkan bahwa Rasulullah mengerjakan sholat dhuha sebanyak 12 raka’at.

    Niat sholat Dhuha
    Semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Niat dengan hanya mengucapkan di lisan belum dianggap cukup. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat. Artinya, tidak harus melafalkan niat. Namun menurut jumhur ulama selain madzhab Maliki, hukumnya sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat.
    Sedangkan dalam madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Dalam madzhab Syafi’i, lafal niat sholat dhuha sebagai berikut:

    أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

    (Usholli sunnatadh dhuhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa)

    Artinya “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah Ta’ala”

    Doa Setelah Shalat Dhuha

    Berikut ini merupakan bacaan doa sholat dhuha dalam bahasa arab

    اَللَّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللَّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

    allahumma innadhdhuha-a dhuha-uka, walbahaa-abahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwaatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ‘ishmata ishmatuka. allahuma inkaana rizqii fissamma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’siron fayassirhu, wainkaana harooman fa thohhirhu, wa inkaana ba’idan fa qoribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudrotika, aatini maa ataita ‘ibaadakash shoolihiin.

    Artinya “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

    Keutamaan dan Tata Cara Shalat Awwabin atau Shalat Dhuha

    Shalat Awwabin adalah shalat Dhuha
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ

    “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164).
    Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).

    Shalat Awwabin adalah shalat sunnah enam raka’at setelah maghrib


    Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ عُدِلَتْ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَىْ عَشْرَةَ سَنَةً

    “Siapa yang shalat enam raka’at ba’da Maghrib, dan ia tidak berbicara kejelekan di antaranya, maka ia dicatat seperti ibadah 12 tahun.” (HR. Ibnu Majah, no. 1167; Tirmidzi, no. 435. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if jiddan)
    Al-Mawardi mengatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tersebut dan mengatakan,

    هَذِهِ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ

    “Ini adalah shalat awwabin.” (HR. Ibnu ‘Abidin, 1: 453. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui)
    Kalau kita telusuri, ternyata hadits yang membicarakan shalat awwabin untuk shalat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya itu dha’if dari sisi periwayatan hadits. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih melakukan shalat antara Maghrib dan Isya.
    Dari Hudzaifah, ia berkata,

    جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ

    “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melaksanakan shalat bersama beliau yaitu shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu melaksanakan shalat lagi (shalat sunnah). Beliau terus menerus shalat hingga datang shalat ‘Isya’.”
    Juga ada pemahaman dari sebagian sahabat mengenai shalat antara Maghrib dan ‘Isya’. Mengenai firman Allah Ta’ala,

    تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16). Disebutkan, “Mereka (sifat orang shalih) melaksanakan shalat sunnah.” Yang dimaksud di sini adalah shalat sunnah antara Maghrib dan Isya. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat itu dengan menyatakan, mereka melakukan shalat malam. (HR. Abu Daud, no. 1321. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini shahih)
    Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai ayat di atas, mereka melakukan shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, sebagaimana dinukil dari ‘Aunul Ma’bud.
    Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (3: 68) berkata, “Ayat dan hadits yang disebutkan dalam bab menyebutkan akan disyari’atkannya memperbanyak shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Hadits-hadits yang ada walaupun dha’if namun bisa menguatkan satu dan lainnya. Apalagi hadits tersebut membicarakan tentang fadhilah amal. Al-‘Iraqi berkata bahwa ada sahabat yang melakukan shalat antara Maghrib dan Isya yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Amr, Salman Al-Farisi, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik dan beberapa kalangan Anshar. Dari kalangan tabi’in, ada juga yang berpendapat seperti itu, contohnya Al-Aswad bin Yazid, Abu ‘Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hatim, ‘Abdullah bin Sakhbarah, ‘Ali bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahman Al-Habli, Syuraih Al-Qadhi, ‘Abdullah bin Mughaffal dan selain mereka. Sedangkan dari kalangan ulama setelah itu ada Sufyan Ats-Tsauri.”
    Dari kalangan ulama Syafi’iyah, mereka bersendirian mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat sunnah antara shalat Maghrib dan shalat ‘Isya. Shalat tersebut dinamakan pula shalat ghaflah. Karena shalat tersebut dilakukan saat orang-orang ghaflah (lalai), kebanyakan orang di waktu tersebut disibukkan dengan makan malam, tidur, dan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa jumlah raka’at shalat tersebut adalah 20 raka’at. Dalam pendapat lainnya disebutkan hanya enam raka’at. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 135)

    Tata Cara Shalat Awwabin


    Shalat ini dianjurkan untuk dikerjakan sendirian, tanpa berjemaah. Ulama berbeda pendapat terkait jumlah rakaat paling banyak dari shalat ini, sebagian mengatakan 20 rakaat, ada yang mengatakan 6 rakaat, 4 rakaat dan 2 rakaat. Menurut Syaikh Zainudin Al-Malibari, jumlah rakaat paling banyak dari shalat Awwabin adalah 20 rakaat, sementara paling sedikit adalah 2 rakaat.

    Dalam kitab Fathul Muin, Syaikh Zainudin Al-Malibari berkata;

    ﻭﻣﻨﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻷﻭﺍﺑﻴﻦ ﻭﻫﻲ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﺭﻛﻌﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀﻭﺭﻭﻳﺖ ﺳﺘﺎ ﻭﺃﺭﺑﻌﺎ ﻭﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻭﻫﻤﺎ ﺍﻷﻗﻞ

    “Di antara shalat yang tidak disunahkan berjemaah adalah shalat Awwabin. Ia berjumlah 20 rakaat dan dilakukan antara shalat Maghrib dan Isya’. Diriwayatkan bahwa ia berjumlah 6 rakaat, 4 rakaat dan 2 rakaat, dan 2 rakaat ini adalah jumlah rakaat paling sedikit.”
    Adapun tata cara melakukan shalat Awwabin adalah sebagai berikut;
    Pertama, niat shalat Awwabin pada saat takbiratul ihram. Lafadz niatnya sebagai berikut;

    اُصَلِّى سُنَّةَ الأَوَّابِينَ رَكَعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى

    Usholli sunnatal awwabina rak’ataini lillahi ta’ala.
    “Saya niat shalat sunah awwabin dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
    Kedua, pada setiap rakaat setelah membaca surah Al-Fatihah disunahkan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 6 kali, surah Al-Falaq sekali dan surah Al-Nas sekali. Begitu juga pada rakaat kdua.
    Ketiga, setelah salam disunahkan untuk membaca doa berikut;

    ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﺳْﺘَﻮْﺩِﻋُﻚَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧِﻲْ ﻓِﻰْ ﺣَﻴَﺎﺗِﻲْ ﻭَﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻤَﺎﺗِﻲْ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻣَﻤَﺎﺗِﻲْ ﻓَﺎﺣْﻔَﻈْﻪُ ﻋَﻠَﻲَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ شيْئٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ

    Allohumma inni astawdi’uka imani fi hayati wa ‘inda mamati wa ba’da mamati fahfadzhu ‘alayya innaka ‘ala kulli syai-in qodir.
    “Ya Allah, saya titipkan imanku baik ketika aku masih hidup, pada saat meninggal dan setelah meninggal. Jagalah iman tersebut untukku, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Tata Cara Shalat Jenazah Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Hukum Shalat Jenazah
    Shalat Jenazah adalah merupakan Shalat sunnah yang dikerjakan dengan 4 kali takbir, Shalat Jenazah ini dilaksanakan ketika ada seorang muslim yang Wafat (Meninggal dunia). Dan Sebelum Jazad atau Jenazahnya di makamkan maka orang muslim yang meninggal dunia tersebut perlu dimandikan, dan perlu di Shalati terlebih dahulu.
    Adapun Hukum Shalat Jenazah ini adalah Fardhu Kifayah atau kewajiban yang ditunjuk-kan bagi orang banyak (umat islam), akan tetapi apabila sebagian dari kita umat islam sudah melaksanakan Shalat Jenazah tersebut maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya.

    Syarat, Rukun dan Sunnah Shalat Jenazah


    Posisi Sholat Jenazah
    Jika jenazah wanita imam berada ditengah Jenazah / Mayit.
    Jika jenazahnya laki-laki maka imam lurus dengan kepala.

    Syarat Shalat Jenazah
    1. Jenazah harus tertutup auratnya.
    2. Mayit harus di mandikan dan disucikan dari najis / hadas besar.
    3. Mayit sudah dikafani.
    4. Letak Mayit / Jenazah sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali jika shalat dikerjakan di atas kubur atau Sholat Ghaib.

    Rukun Sholat Jenazah
    1. Niat
    2. Berdiri bagi yang mampu.
    3. Takbir 4 kali.
    4. Membaca surat Al Fatihah.
    5. Membaca sholawat kepada Nabi.
    6. Mendo’akan mayat.
    7. Memberi salam.

    Sunnah Sholat Jenazah
    1. Mengangkat tangan pada tiap-tiap takbir (4 takbir)
    2. Merendahkan suara bacaan (sirr)
    3. Membaca ta’awudz
    4. Disunnahkan banyak pengikutnya
    5. Memperbanyak shaf

    Bacaan dan Niat Shalat Jenazah


    1.a) Bacaan niat sholat jenazah untuk jenazah Laki-laki

    Niat Untuk Imam

    اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

    usholli ‘alaa hadzal mayyiti arba’a takhbiratin fardhal kifayaati imaaman lillahi ta’alaa
    Artinya :
    “Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi imam karena Allah Ta’ala.”

    Niat Untuk Makmum

    اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

    usholli ‘alaa hadzal mayyiti arba’a takhbiratin fardhal kifayaati ma’muuman lillahi ta’alaa
    Artinya :
    “Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

    1.b) Bacaan niat sholat jenazah untuk jenazah Perempuan

    Niat Untuk Imam

    اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

    usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takhbiratin fardhal kifayaati imaaman lillahi ta’alaa
    Artinya :
    “Saya niat shalat atas mayit perempuan ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi imam karena Allah Ta’ala.”

    Niat Untuk Makmum

    اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

    usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takhbiratin fardhal kifayaati ma’muuman lillahi ta’alaa
    Artinya :
    “Saya niat shalat atas mayit perempuan ini empat kali takbir fardhu kifayah karena menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”

    2. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir pertama
    Sebelum membaca basmallah pada Surat Al Fatihah, membaca Ta’awudz terlebih dahulu

    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ

    a’uudzubillahi minasy syaithaanirrajiim(i)
    Artinya :
    “Aku berlindung dari syaitan yang terkutuk”

    3. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Kedua

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
    allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shallaita ‘alaa ibraahimm(a) wa ‘alaa aali ibrahimm(a) wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraahimm(a) wa ‘alaa aali ibraahimm(a) fiil’aalamiina innaka hamiidun mjiidu(un)

    Artinya : “Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

    4. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Ketiga

    Untuk Jenazah Laki-Laki

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وأَكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَى الثَوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وأََهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ القَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
    allahumma agfirlahuu warhamhuu wa ‘aafihii waa’fu ‘anhuu wa akrim nuzuulahuu wa wassi’ madkhalahuu waagsilhu bimaa-in wa tsaljin wa baradin wa naqqihii minal khathaayaa kamaa yunaqiits tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil-hu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa qihi fitnatal qabri wa ‘adazaabannaar(i)

    Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan istri yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

    Untuk Jenazah Perempuan

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا وأَكْرِمْ نُزُوْلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا وَاغْسِلْهَا بِمَاءٍ وثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهَا مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَى الثَوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وأََهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْراً مِنْ زَوْجِهَا وَقِهِهَا فِتْنَةَ القَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
    allahumma agfirlahaa warhamhaa wa ‘aafihaa waa’fu ‘anhaa wa akrim nuzuulahaa wa wassi’ madkhalahaa waagsilhaa bimaa-in wa tsaljin wa baradin wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa yunaqiits tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil-haa daaran khairan min daarihiaa wa ahlan khairan min ahlihaa wa zaujan khairan min zaujihaa wa qihi haa fitnatal qabri wa ‘adazaabannaar(i)

    Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah suaminya dengan suami yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

    5. Bacaan Sholat Jenazah setelah takbir Keempat

    اَللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنا أَجْرَهُ وَلاَتَفْتِِنَّا بَعْدَهُ

    allahumma laa tahrimnaa ajrahuu wa laa taftinnaa ba’dah(u)
    Artinya : “Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.”

    اَللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنا أَجْرَهَا وَلاَتَفْتِِنَّا بَعْدَهَا

    allahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa laa taftinnaa ba’dahaa
    Artinya : “Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.”

    6. Salam
    Setelah membaca doa takbir ke empat, dilanjutkan dengan membaca salam ke kanan

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh(u)

    Artinya :
    “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua”

    Shalat Tasbih, Hukum, Tata Cara dan Keutamaannya

    Hukum Shalat Tasbih

    Hukum shalat tasbih adalah sunnah menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Namun, ada juga yang berpendapat shalat tasbih tidak sunnah karena hadits yang mendasarinya dianggap tidak sahih bahkan maudhu’.
    Al-Khatib Ash-Sharbini mengatakan bahwa pendapat yang menganggap sunnah adalah pendapat yang muktamad (yang paling sahih). Madzhab Hanbali mengatakan tidak sunnah tapi boleh dikerjakan karena menganggap haditsnya dhaif dan boleh mengamalkan hadits dhaif dalam fadhilah amal.
    Madzhab Syafi’i berpendapat shalat tasbih hukumnya sunnah.
    Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk III/547-548 mengatakan
    Arti kesimpulan: Shalat tasbih hukumnya sunnah karena ada hadits dalam soal ini walaupun ada beberapa pendapat tentang status hadits .
    Shalat tasbih termasuk salah satu shalat sunat yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Kalau bisa dilakukan setiap malam, jika tidak mampu seminggu sekali, jika tidak mampu juga sebulan sekali, jika tidak mampu juga setahun sekali atau tidak mampu juga seumur hidup sekali. Demikianlah anjuran agama Islam yang tidak memaksa untuk melakukan ibadah secara ikhlas.
    Shalat sunat tasbih semua riwayat sepakat dengan empat rokaat, jika pada siang hari dengan satu kali salam (langsung niat empat rakaat), sedang di malam hari dua rokaat-dua rokaat dengan dua kali salam (dua kali shalat dengan masing-masing 2 rakaat) dengan tasbih sebanyak 75 kali tiap raka’atnya, jadi keseluruhan bacaan tasbih dalam shalat tasbih 4 rokaat tersebut 300 kali tasbih.
    Kata Syaikh Ali al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih dilakukan sebelum shalat hajat, karena shalat tasbih ini menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab terkabulnya hajat’

    Tatacara Shalat Tasbih


    Niat untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam (2 rakaat):

    أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Sedang untuk yang satu kali salam (4 rakaat) sebagai berikut:

    أُصَلِّى سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

    Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

    Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut :
    1. Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,
    2. Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
    3. Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
    4. Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,
    5. Ketika duduk diantara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali,
    6. Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
    7. Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali. (Terus baru berdiri tuk rakaat yang kedua).
    Demikianlah rinciannya, bahwa shalat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam (jika dilakukan pagi hari). Bisa juga dilakukan dengan cara dua raka’at-dua raka’at (jika dilakukan malam hari), Sesuai yang diterangkan oleh Rasulullah SAW: “Shalat malam itu, dua-dua” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam.Waktu shalat tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallâhu A’lam.

    Doa Setelah Shalat Tasbih


    Doa merupakan ibadah yang mengiringi di hampir seluruh jenis ibadah lainnya. Apalagi dengan sembahyang. Hubungan keduanya sulit dipisahkan. Demikian juga dengan sembahyang tasabih atau lebih lazim disebut sembahyang tasbîh.

    Berikut ini merupakan doa sembahyang tasbih. Selain membaca tasbih sebanyak 300 kali, kita juga dianjurkan membaca doa berikut ini.

    اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك تَوْفِيقَ أَهْلِ الْهُدَى وَأَعْمَالَ أَهْلِ الْيَقِينِ وَمُنَاصَحَةَ أَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ أَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ أَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ أَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ أَهْلِ الوَرَعِ وَعِرْفَانَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى أَخَافَك،

    اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ مَخَافَةً تَحْجِزُنِي عَنْ مَعَاصِيكَ حَتَّى أَعْمَلَ بِطَاعَتِك عَمَلًا أَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاك وَحَتَّى أُنَاصِحَكَ بِالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْك حَتَّى أَخْلُصَ لَك النَّصِيحَةَ حَيَاءً مِنْكَ وَحَتَّى أَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَحَتَّى أَكُونَ أُحْسِنَ الظَنَّ بِكَ، سُبْحَانَ خَالِقِ النُّورِ. ا هـ وَفِي رِوَايَةٍ خَالِقِ النُّورِ

    Allahumma innî as’aluka taufîqa ahlil huda, wa a‘mala ahlil yaqîn, wa munashahata ahlit taubah, wa ‘azma ahlis shabri, wa wajala ahlil khasyyah, wa thalaba ahlir raghbah, wa ta‘abbuda ahlil wara‘i, wa ‘irfana ahlil ‘ilmi hatta akhafak.
    Allahumma innî as’aluka makhafatan tahjizunî ‘an ma‘ashîka hatta a‘mala bi tha‘atika ‘amalan astahiqqu bihî ridhaka wa hatta unashihaka bit taubah, khaufan minka hatta akhlusha lakan nashîhata haya’an minka wa hatta atawakkala ‘alaika fil ’umûri kulliha wa hatta akûna ’uhsinuz zhanna bika, subhana khaliqin nûr (lain riwayat khaliqin nar).

    Artinya
    “Ya Allah, kepada-Mu aku meminta petunjuk mereka yang terima hidayah, amal-amal orang yang yakin, ketulusan mereka yang bertobat, keteguhan hati mereka yang bersabar, kekhawatiran mereka yang takut (kepada-Mu), doa mereka yang berharap, ibadah mereka yang wara’, dan kebijaksanaan mereka yang berilmu agar aku menjadi takut kepada-Mu.
    Ya Allah, masukkanlah rasa takut di kalbuku yang dapat menghalangi diri ini untuk mendurhakai-Mu. Dengan demikian aku dapat beramal saleh yang mengantarkanku pada ridha-Mu, dan aku bertobat setulusnya karena takut kepada-Mu. Dengan itu pula aku beribadah secara tulus karena malu kepada-Mu. Dengan rasa takut itu aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Karena itu juga aku dapat berbaik sangka selalu kepada-Mu. Mahasuci Engkau Pencipta cahaya (lain riwayat, Pencipta api).”

    Keistimewaan Shalat Tasbih


    1. Tasbih merupakan Kalimat yang paling dipilih Allah.
    “Suatu hari Rasulullah ditanya apakah ucapan yang paling unggul? Rasulullah menjawab:‘Yang dipilih Allah swt terhadap para malaikat-Nya dan hamba-Nya adalah ucapan: Subhanallahi wa bihamdihi” (HR. Muslim)

    2. Memberatkan amal timbangan
    Rasulullah bersabda,
    ‘Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di lidah namun memberatkan timbangan amal dan keduanya disukai oleh Allah, yaitu: Subhanallahi wa bi hamdihi subhanallahil azhim’ (HR. Bukhari dan Muslim).

    3. Akan Menghapuskan semua dosa
    Rasulullah bersabda,
    “Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bi hamdihi 100 kali, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya meskipun kesalahannya itu sebanyak buih dilautan’’ (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Punya perkebunan kurma di surga nanti
    Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahil azhimi wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga (HR. Tirmidzi)

    5. Terhindar dari penyakit-penyakit berat
    “Suatu kali Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa kalimat (ucapan) yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku, karena sungguh umurku sudah tua dan aku merasa lemah untuk melakukan apapun’. Lalu Rasulullah SAW berkata : Adapun untuk duniamu, maka ketika engkau selesai shalat Shubuh, maka ucapkanlah tasbeh sebanyak tiga kali. Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, lumpuh akibat pendarahan otak atau stroke.” (HR. Ibnu as-Sunni dan Ahmad).

    6. Senjata menghadapi persoalan besar
    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, RA bahwa jika Rasulullah SAW menghadapi persoalan penting, maka beliau mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan: Subhanallahil azhim, dan jika beliau bersungguh-sungguh dalam berdoa, maka beliau mengucapkan: Ya hayyu ya qoyyum”. (HR.Tirmidzi)

    Shalat Sunah Rawatib Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Hukum Shalat Rawatib


    Hukum shalat rawatib adalah sunah. Dengan demikian, jika kita mengerjakan ibadah ini mendapatkan pahala, tetapi jika kita tinggalkan tidak berdosa. Shalat sunah rawatib dimaksudkan
    sebagai pelengkap atau penyempurna shalat fardu. Oleh karena hanya sebagai pelengkap, kita tidak diharuskan melaksanakan.

    Jika kamu sedang melaksanakan shalat sunah rawatib di masjid dan pada saat yang sama iqamah shalat fardu dikumandangkan, kamu sebaiknya menghentikan shalat sunah itu dan mengikuti shalat fardu. Kita harus mendahulukan shalat fardu dibandingkan shalat sunah.
    Hukum Sholat sunnah rawatib dibagi menjadi 2 :

    Shalat Sunnah Rawatib Muakad
    Muakkad artinya dikuatkan. Shalat sunah rawatib muakkad yaitu sunah rawatib yang sangat dikuatkan atau dianjurkan untuk kita laksanakan karena Rasulullah pun selalu melaksanakannya.
    sebagaimana disampaikan dalam hadits Bukhari dan Muslim
    Dari Abdullah bin Umar berkata, ’Saya hafal Rasulullah saw. (selalu mengerjakan) dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat
    sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh’. (H.R. Bukhari dan Muslim).
    Berdasarkan hadis tersebut dapat kita ketahui bahwa jumlah rakaat shalat sunah rawatib muakkad meliputi sebagai berikut.
    a) Dua rakaat sebelum shalat Subuh.
    b) Dua rakaat sebelum shalat Zuhur.
    c) Dua rakaat sesudah shalat Zuhur.
    d) Dua rakaat sesudah shalat Magrib.
    e) Dua rakaat sesudah shalat Isya.

    Shalat Rawatib Ghairu Muakad
    Gairu muakkad artinya kurang dikuatkan. Shalat sunah rawatib gairu muakkad berarti shalat sunah rawatib yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah. Rasulullah menganjurkan untuk melaksanakan shalat sunah ini, tetapi anjurannya tidak sekuat shalat sunah rawatib muakkad.
    Shalat sunah rawatib gairu muakkad meliputi sebagai berikut.
    a) Dua rakaat sebelum dan sesudah shalat Zuhur, selain yang telah disebutkan dalam shalat sunah rawatib muakkad.
    b) Empat rakaat sebelum shalat Asar.
    c) Dua rakaat sebelum shalat Magrib.
    d) Dua rakaat sebelum shalat Isya.

    Waktu Pelaksanaan Shalat Rawatib


    Dari segi waktu pelaksanaannya, shalat sunah rawatib dapat kita bagi menjadi dua, yaitu qabliyah dan ba‘diyah. Shalat sunah rawatib qabliyah dilaksanakan sebelum shalat fardu, sedangkan shalat sunah rawatib ba‘diyah dilaksanakan setelah shalat fardu.

    Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni 2/544)

    Keutamaan Shalat Rawatib


    Pahala yang Lebih Besar

    Seperti yang disampaikan di atas, bahwa salah satu keutamaan shalat sunnah Rawatib mendatangkan pahala yang besar hingga dibangunkan Allah rumah di surga. Untuk itu, sangat besar ganjaran dan pahalanya bagi umat islam yang menjalankan. Tentu, semuanya ingin mendapatkan surga. Untuk itu, salah satu amalan yang bisa membuat kita masuk ke surga setelah melakukan hal yang wajib adalah menjalankan sunnah Rasul yang bisa kita lakukan. Yaitu dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib.

    Pengondisian Diri yang Lebih

    Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib, maka kita akan mendapatkan pengondisian diri yang lebih. Secara umum shalat adalah aktivitas yang mendatangkan kekuatan atau energi positif terhadap diri kita. Hal ini dikarenakan spiritual kita terisi dengan shalat yang khusuk. Dengan shalat sunnah rwatib maka, kita juga akan mendapatkan charger yang lebih terhadap spiritual ketuhanan diri kita. Hal ini membantu menjaga diri kita agar selalu awas diri dan sadar akan Allah SWT.

    Melaksanakan Sunnah Rasulullah SAW

    Untuk bisa menjadi ummat Rasulullah SAW, tentunya bukan hanya identitas saja kita bisa tergolong sebagai ummatnya. Melaksanakan ibadah sunnah, mencontoh perilaku Rasul, dan meneladani apa yang dilakukannya adalah hal yang membuat kita menjadi seorang yang mengikuti Rasulullah. Mengaku saja sebagai ummat Rasulullah tentu saja tidak cukup, namun harus konsisten dan terus menerus mengikuti Sunnah Rasullullah.

    Untuk itu, shalat sunnah Rawatib yang dicontohkan Rasulullah secara konsisten adalah salah satu jalan membuat kita bisa tergolong sebagai ummatnya. Untuk itu, teruslah konsisten malaksanakannya agar bisa mendapatkan keutamaan ini.

    Perilaku Seperti Sahabat Rasulullah

    Yang melakukan sallah sunnah rawatib ini, bukan hanya Rasulullah melainkan sahabat-sahabat Rasul pun melaksanakannya. Untuk itu, Shalat Sunnah ini sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah. Dengan menjalankannya, kita akan memiliki kesamaan dengan para sahabat Rasulullah yg shalih dan penuh amalan kebaikan.

    Lebih Banyak Doa dan Mendekatkan pada Allah SWT

    Setiap shalat yang kita lakukan adalah membaca surat dan tentunya doa. Untuk itu, dengan menambah shalat dengan shalat sunnah rawatib maka kita akan lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Di waktu-waktu tertentu kita bisanya sering melupakan Allah SWT dan lupa untuk memanjatkan doa kepada-Nya. Untuk itu, dengan shalat yang ditambah maka doa-doa kita pun akan bertambah, munajat kepada Allah akan semakin banyak, dan kita akan semakin merasa dekat dengan Allah SWT. Dengan begitu, kita akan terbaisakan menjadi hamba yang senantiasa mengingat aturan, perintah, dan hukum Allah pada manusia.

    Tidak Banyak Terlena dengan Dunia

    Shalat seperti alarm yang mengingatkan kita akan hakikat hidup di dunia. Bacaan yang kita baca, dzikir yang kita lakukan membuat kita terkondisikan dengan amalan yang mengarahkan kepada akhirat, bukan hanya hal duniawi saja. Untuk itu, dengan tambahan shalat sunnah rawatib semakin banyak mengingatkan kita pada akhirat, sehingga kita tidak mudah untuk terlena dengan duniawi.

    Lebih Banyak Menghayati Islam

    Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib kita juga akan lebih banyak menghayati tentang islam. Islam adalah seperangkat aturan Allah. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita sering melupakan dan melalaikan hal ini. Untuk itu, dengan tambahan shalat sunnah rawatib maka kita akan mendapatkan penghayatan akan islam yang lebih tinggi lagi dibanding hanya dengan shalat wajib.

    Lebih Banyak Bersyukur

    Dengan memperbanyak shalat sunnah rawatib, maka kita juga akan semakin banyak bersyukur lewat dizkir dan bacaan yang kita lantunkan. Bersyukur dalam hal ini adalah kita masih diberi waktu di dunia dan juga menjalankan perintah-perintah Allah dengan sebaik-sebaiknya. Di luar shalat, manusia sering kali lalai untuk bersyukur, untuk itu dalam shalat adalah hal yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya untuk bersyukur.

    Takut Akan Hukum Allah SWT

    Dengan memperbanyak shalat sunnah rawatib, kita juga akan mendapatkan rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut ini muncul karena bentuk ketaatan dan ketundukan kita kepada Allah. Semakin sering kita berinteraksi dengan shalat, maka kita akan semakin menyadari bahwa Allah adalah Tuhan yang harus kita taati dan takuti segala siksaan-nya. Untuk itu, rasa takut ini muncul jika dalam shalat sering kita ingat dan khusuk menjalankannya. Salah satunya melalui shalat sunnah rawatib yang dilakukan.

    Menjauhi Sifat Sombong dan Riya

    Shalat sunnah rawatib sebagaimana shalat wajib, membuat kita menjauhi sifat sombong dan riya. Hal ini sebagaimana dilakukan saat shalat, kita akan selalu rukuk dan sujud kepada Allah. Saat itulah kita menjadi seseorang yang benar-benar menghambakan diri kepada Allah SWT. Kita akan menjadi seorang hamba atau budak yang sujud kepada Allah. Tidak ada apa-apanya kita dibandingkan Allah yang Menguasai segala jagat raya ini.

    Shalat Sunah Rawatib Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Hukum Shalat Rawatib


    Hukum shalat rawatib adalah sunah. Dengan demikian, jika kita mengerjakan ibadah ini mendapatkan pahala, tetapi jika kita tinggalkan tidak berdosa. Shalat sunah rawatib dimaksudkan
    sebagai pelengkap atau penyempurna shalat fardu. Oleh karena hanya sebagai pelengkap, kita tidak diharuskan melaksanakan.

    Jika kamu sedang melaksanakan shalat sunah rawatib di masjid dan pada saat yang sama iqamah shalat fardu dikumandangkan, kamu sebaiknya menghentikan shalat sunah itu dan mengikuti shalat fardu. Kita harus mendahulukan shalat fardu dibandingkan shalat sunah.
    Hukum Sholat sunnah rawatib dibagi menjadi 2 :

    Shalat Sunnah Rawatib Muakad
    Muakkad artinya dikuatkan. Shalat sunah rawatib muakkad yaitu sunah rawatib yang sangat dikuatkan atau dianjurkan untuk kita laksanakan karena Rasulullah pun selalu melaksanakannya.
    sebagaimana disampaikan dalam hadits Bukhari dan Muslim
    Dari Abdullah bin Umar berkata, ’Saya hafal Rasulullah saw. (selalu mengerjakan) dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat
    sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh’. (H.R. Bukhari dan Muslim).
    Berdasarkan hadis tersebut dapat kita ketahui bahwa jumlah rakaat shalat sunah rawatib muakkad meliputi sebagai berikut.
    a) Dua rakaat sebelum shalat Subuh.
    b) Dua rakaat sebelum shalat Zuhur.
    c) Dua rakaat sesudah shalat Zuhur.
    d) Dua rakaat sesudah shalat Magrib.
    e) Dua rakaat sesudah shalat Isya.

    Shalat Rawatib Ghairu Muakad
    Gairu muakkad artinya kurang dikuatkan. Shalat sunah rawatib gairu muakkad berarti shalat sunah rawatib yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah. Rasulullah menganjurkan untuk melaksanakan shalat sunah ini, tetapi anjurannya tidak sekuat shalat sunah rawatib muakkad.
    Shalat sunah rawatib gairu muakkad meliputi sebagai berikut.
    a) Dua rakaat sebelum dan sesudah shalat Zuhur, selain yang telah disebutkan dalam shalat sunah rawatib muakkad.
    b) Empat rakaat sebelum shalat Asar.
    c) Dua rakaat sebelum shalat Magrib.
    d) Dua rakaat sebelum shalat Isya.

    Waktu Pelaksanaan Shalat Rawatib


    Dari segi waktu pelaksanaannya, shalat sunah rawatib dapat kita bagi menjadi dua, yaitu qabliyah dan ba‘diyah. Shalat sunah rawatib qabliyah dilaksanakan sebelum shalat fardu, sedangkan shalat sunah rawatib ba‘diyah dilaksanakan setelah shalat fardu.

    Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni 2/544)

    Keutamaan Shalat Rawatib


    Pahala yang Lebih Besar

    Seperti yang disampaikan di atas, bahwa salah satu keutamaan shalat sunnah Rawatib mendatangkan pahala yang besar hingga dibangunkan Allah rumah di surga. Untuk itu, sangat besar ganjaran dan pahalanya bagi umat islam yang menjalankan. Tentu, semuanya ingin mendapatkan surga. Untuk itu, salah satu amalan yang bisa membuat kita masuk ke surga setelah melakukan hal yang wajib adalah menjalankan sunnah Rasul yang bisa kita lakukan. Yaitu dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib.

    Pengondisian Diri yang Lebih

    Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib, maka kita akan mendapatkan pengondisian diri yang lebih. Secara umum shalat adalah aktivitas yang mendatangkan kekuatan atau energi positif terhadap diri kita. Hal ini dikarenakan spiritual kita terisi dengan shalat yang khusuk. Dengan shalat sunnah rwatib maka, kita juga akan mendapatkan charger yang lebih terhadap spiritual ketuhanan diri kita. Hal ini membantu menjaga diri kita agar selalu awas diri dan sadar akan Allah SWT.

    Melaksanakan Sunnah Rasulullah SAW

    Untuk bisa menjadi ummat Rasulullah SAW, tentunya bukan hanya identitas saja kita bisa tergolong sebagai ummatnya. Melaksanakan ibadah sunnah, mencontoh perilaku Rasul, dan meneladani apa yang dilakukannya adalah hal yang membuat kita menjadi seorang yang mengikuti Rasulullah. Mengaku saja sebagai ummat Rasulullah tentu saja tidak cukup, namun harus konsisten dan terus menerus mengikuti Sunnah Rasullullah.

    Untuk itu, shalat sunnah Rawatib yang dicontohkan Rasulullah secara konsisten adalah salah satu jalan membuat kita bisa tergolong sebagai ummatnya. Untuk itu, teruslah konsisten malaksanakannya agar bisa mendapatkan keutamaan ini.

    Perilaku Seperti Sahabat Rasulullah

    Yang melakukan sallah sunnah rawatib ini, bukan hanya Rasulullah melainkan sahabat-sahabat Rasul pun melaksanakannya. Untuk itu, Shalat Sunnah ini sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah. Dengan menjalankannya, kita akan memiliki kesamaan dengan para sahabat Rasulullah yg shalih dan penuh amalan kebaikan.

    Lebih Banyak Doa dan Mendekatkan pada Allah SWT

    Setiap shalat yang kita lakukan adalah membaca surat dan tentunya doa. Untuk itu, dengan menambah shalat dengan shalat sunnah rawatib maka kita akan lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Di waktu-waktu tertentu kita bisanya sering melupakan Allah SWT dan lupa untuk memanjatkan doa kepada-Nya. Untuk itu, dengan shalat yang ditambah maka doa-doa kita pun akan bertambah, munajat kepada Allah akan semakin banyak, dan kita akan semakin merasa dekat dengan Allah SWT. Dengan begitu, kita akan terbaisakan menjadi hamba yang senantiasa mengingat aturan, perintah, dan hukum Allah pada manusia.

    Tidak Banyak Terlena dengan Dunia

    Shalat seperti alarm yang mengingatkan kita akan hakikat hidup di dunia. Bacaan yang kita baca, dzikir yang kita lakukan membuat kita terkondisikan dengan amalan yang mengarahkan kepada akhirat, bukan hanya hal duniawi saja. Untuk itu, dengan tambahan shalat sunnah rawatib semakin banyak mengingatkan kita pada akhirat, sehingga kita tidak mudah untuk terlena dengan duniawi.

    Lebih Banyak Menghayati Islam

    Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib kita juga akan lebih banyak menghayati tentang islam. Islam adalah seperangkat aturan Allah. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita sering melupakan dan melalaikan hal ini. Untuk itu, dengan tambahan shalat sunnah rawatib maka kita akan mendapatkan penghayatan akan islam yang lebih tinggi lagi dibanding hanya dengan shalat wajib.

    Lebih Banyak Bersyukur

    Dengan memperbanyak shalat sunnah rawatib, maka kita juga akan semakin banyak bersyukur lewat dizkir dan bacaan yang kita lantunkan. Bersyukur dalam hal ini adalah kita masih diberi waktu di dunia dan juga menjalankan perintah-perintah Allah dengan sebaik-sebaiknya. Di luar shalat, manusia sering kali lalai untuk bersyukur, untuk itu dalam shalat adalah hal yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya untuk bersyukur.

    Takut Akan Hukum Allah SWT

    Dengan memperbanyak shalat sunnah rawatib, kita juga akan mendapatkan rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut ini muncul karena bentuk ketaatan dan ketundukan kita kepada Allah. Semakin sering kita berinteraksi dengan shalat, maka kita akan semakin menyadari bahwa Allah adalah Tuhan yang harus kita taati dan takuti segala siksaan-nya. Untuk itu, rasa takut ini muncul jika dalam shalat sering kita ingat dan khusuk menjalankannya. Salah satunya melalui shalat sunnah rawatib yang dilakukan.

    Menjauhi Sifat Sombong dan Riya

    Shalat sunnah rawatib sebagaimana shalat wajib, membuat kita menjauhi sifat sombong dan riya. Hal ini sebagaimana dilakukan saat shalat, kita akan selalu rukuk dan sujud kepada Allah. Saat itulah kita menjadi seseorang yang benar-benar menghambakan diri kepada Allah SWT. Kita akan menjadi seorang hamba atau budak yang sujud kepada Allah. Tidak ada apa-apanya kita dibandingkan Allah yang Menguasai segala jagat raya ini.

    Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

    Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

    روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

    وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

    وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.

    Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“.

    Amalan Paling Dicintai Allah, Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

    1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
    Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

    Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“.

    2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
    Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

    الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

    Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

    Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

    Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

    “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

    3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
    Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

    وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

    “…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

    Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

    فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

    Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].

    Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

    الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

    “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

    Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

    وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

    Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

    Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

    Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

    4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
    Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

    Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

    Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

    5. Banyak Beramal Shalih.
    Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

    6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
    Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

    7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
    Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

    Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. [Muttafaqun ‘Alaihi].

    8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
    Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

    Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“.

    Dalam riwayat lain :

    فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

    Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.

    Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

    وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

    “….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

    Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

    9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
    Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

    10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
    Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

    Pahala Berhaji dan Umrah, Subuh Berjamaah Duduk Bersila di Masjid Hingga Shalat Dhuha

    Hadits #821

    وَعَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى الفَجْرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسْنَاء . حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ ، رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ صَحِيْحَةٍ

    Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu apabila telah melakukan shalat Shubuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari yang putih indah sinarnya.” (HR. Abu Daud dan selainnya sanadnya shahih) [HR. Muslim, no. 4851; Abu Daud, no. 4850]

    Keutamaan hadits

    Disunnahkan bagi yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah untuk duduk di tempat hingga matahari meninggi, lalu melaksanakan shalat Dhuha di awal waktu (shalat isyraq).

    Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha (subhah adh-dhuha),, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8:174, 181, 209. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1: 189 mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, no. 586. Syaikh Muhammad Bazmul menyatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lain)

    Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah sebagai mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, “Jika wanita duduk di tempat shalatnya setelah shalat Shubuh lalu berdzikir pada Allah, membaca Al-Qur’an, sampai matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia mendapatkan pahala yang dijanjikan dalam shalat isyraq, yaitu akan dicatat mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna.”

    Arti kata Isyraq dan Syuruq

    Sebenarnya Isyraq dan Syuruq merupakan dua hal berbeda, ini adalah arti dari masing-masing istilah itu:

    • Syuruq berarti akhir waktu Subuh.
    • Isyraq merupakan awal waktu Sholat Dhuha yang dimulai sekitar 15 hingga 20 menit setelah matahari terbit / Syuruq.

    Dalil mengerjakan Shalat Syuruq

    Shalat Syuruq / Israq merupakan Shalat Sunnah yang amat dianjurkan dan sebagai tambahan (Nafilah) ibadah kita selain mendirikan Sholat Fardhu.

    Dalil untuk melaksanakan Shalat Isyraq adalah sebagai berikut:

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ (رواه الترمذي هذا حديث حسن غريب)

    Dari Sahabat Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang shalat pagi hari (subuh) secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah SWT hingga terbitnya matahari, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala mengerjakan haji dan umrah. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sempurna, sempurna, sempurna.’ (HR. Tirmidzi no HR. Tirmidzi no. 586, beliau berkata bahwa hadits ini hasan gharib).

    Waktu mengerjakan Sholat Isyraq

    Berdasarkan al-Hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam adalah sebagai berikut:

    صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

    “Shalat orang-orang yang gemar bertobat adalah ketika anak-anak onta kepanasan dari teriknya matahari.” (HR. Muslim no. 1743).

    Shalat Isyraq merupakan Sholat Sunnah yang dikerjakan di awal masuknya waktu Sholat Dhuha, yaitu di saat matahari telah meninggi dan teriknya terasa amat panas, menurut penjelasan hadits diatas.

    Sekali lagi saya tekankan bahwa Sholat Syuruq juga disebut sebagai Shalat yang dikerjakan pada awal masuk waktu Sholat Dhuha.

    • Menurut mazhab Syafi’iyah adalah 20 menit setelah terbitnya matahari.
    • Menurut mazhab Hanafiyah adalah 40 menit setelah terbitnya matahari.

    Jumlah Rakaat Sholat Syuruq

    • Seperti penjelasan dari al-Hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bahwa jumlah rakaat Sholat Syuruq adalah 2 rakaat dan satu salam saja (HR. Tirmidzi, no. 586).

    Shalat Qabliyah dan Ba’diyah Shalat Jumat

    Perbedaan pendapat tentang shalat Qabliyah Jumat banyak terjadi di kalangan ulama.  Disunnahkan ketika menghadiri shalat Jumat adalah memperbanyak shalat sunnah. Selain shalat tahiyatul masjid, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sambil menunggu datangnya Imam atau Khatib. Namun sebagian kalangan menganggap shalat ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, layaknya shalat sunnah waktu Dhuhur. 

    wp-1558654958315..jpgDalam kitab Al-Jumu’ah; Âdâb Wa Ahkâm, Syaikh Abu Al-Mundzir As-Sa’idi berkata; Berkenaan dengan shalat Sunah sebelum (qabliyah) shalat Jumat, shalat tersebut tidak ada menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat di kalangan para ulama, yaitu pendapat Imam Malik, Ahmad dalam pendapat yang masyhur, dan salah satu pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i. Akan tetapi, yang disunahkan ialah melakukan perkara-perkara sunah yang bersifat umum.

    Yang demikian ini selaras dengan hadits Salman Al-Farisi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    • لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
    • ”Tidaklah seorang muslim mandi pada hari Jumat, bersuci dengan sebaik-baiknya, mengoleskan minyak, atau memakai wangi-wangian yang ada di rumahnya. Lalu berangkat menuju masjid dan ia tidak menceraiberaikan hubungan baik dua orang saudaranya. Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya, dan ketika imam membacakan khutbah ia diam, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara satu Jumat ke Jumat berikutnya’.” (HR. Bukhari)

    Yang dijadikan dalil dari hadits ini ialah lafal, “Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya.” Maknanya adalah shalat sunnah secara mutlak. Artinya shalat sunnah yang dikerjakan semampu mungkin dengan bilangan yang tidak terbatas.

    Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa contoh yang dipraktekkan oleh ulama salaf. Sebuah riwayat dari Naafi’ menyebutkan bahwa Dahulu Ibnu Umar mengerjakan shalat sunnah sebelum Jum’at sebanyak 12 raka’at.” (Fathul Bari, 8/329).

    Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata:

    • وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء
    • “Adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2/426)

    Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad,

    • وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟
    • “Jika Bilal telah mengumandangkan adzan Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti Shalat ‘Ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qabliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jumat tersebut)?”(Zaadul Ma’ad, 1/422)

     

    Jika kita melihat hadits, begitu pula atsar sahabat disebutkan mengenai adanya empat raka’at shalat sunnah atau selain itu. Namun hal ini bukan menunjukkan bahwa raka’at-raka’at tadi termasuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at sebagaimana halnya dalam shalat Zhuhur. Dalil-dalil tadi hanya menunjukkan adanya shalat sunnah sebelum Jum’at, namun bukan shalat sunnah rawatib, tetapi shalat sunnah mutlak. Artinya, kita melakukan shalat sunnah dengan dua raka’at salam  tanpa dibatasi, boleh dilakukan berulang kali hingga imam naik mimbar.

    Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah shalat sunnah mutlak,

    عن سَلْمَانَ الْفَارِسِي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم : ( لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ) رواه البخاري (883) .

    Dari Salmaan Al Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jama’ah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang lainnya.” (HR. Bukhari no. 883)

    وعن ثعلبة بن أبي مالك أنهم كانوا في زمان عمر بن الخطاب يصلون يوم الجمعة حتى يخرج عمر . أخرجه مالك في “الموطأ” (1/103) وصححه النووي في “المجموع” (4/550).

    Dari Tsa’labah bin Abi Malik, mereka di zaman ‘Umar bin Al Khottob melakukan shalat (sunnah) pada hari Jum’at hingga keluar ‘Umar (yang bertindak selaku imam). (Disebutkan dalam Al Muwatho’, 1: 103. Dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu’, 4: 550).

    وعن نافع قَال : كان ابن عمر يصلي قبل الجمعة اثنتي عشرة ركعة . عزاه ابن رجب في “فتح الباري” (8/329) لمصنف عبد الرزاق .

    Dari Naafi’, ia berkata, “Dahulu Ibnu ‘Umar shalat sebelem Jum’at 12 raka’at.” (Dikeluarkan oleh ‘Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya 8: 329, dikuatkan oleh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari).

    Tidak benar jika dalil-dalil di atas dimaksudkan untuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at. Karena seandainya yang dimaksud adalah shalat rawatib tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah punya kesempatan melakukannya. Ketika shalat Jum’at, kebiasaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau keluar dari rumah, lalu langsung naik mimbar (tanpa ada shalat tahiyyatul masjid bagi beliau), lalu beliau berkhutbah di mimbar, lantas turun dari mimbar dan melaksanakan shalat Jum’at.

    Jika ada yang menyatakan adanya shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka kami katakan, “Kapan waktu melakukan shalat tersebut di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

    Jika dijawab, setelah adzan. Maka tidaklah benar karena tidak ada dalil yang mendukungnya. Yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adzan Jum’at hanya sekali.

    Jika dijawab, sebelum adzan. Maka seperti itu bukanlah shalat sunnah rawatib. Itu disebut shalat sunnah mutlak.

    Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata,

    وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء

    Adapun shalat sunnah rawatib sebelumm Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2: 426)

    Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan,

    ” وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟

    “Jika bilal telah mengumandangkan adzan Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti shalat ‘ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qobliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jum’at tersebut)?”

    Sumber https://rumaysho.com/2818-adakah-shalat-sunnah-qobliyah-jumat.html

    HADITS

    203. Bab Shalat Sunnah Jumat

    • فِيْهِ حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ السَّابِقُ أنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    • Dalam bab ini terdapat hadits Ibnu ‘Umar yang telah lalu uraiannya, bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat setelah Jumat. (Muttafaqun ‘alaih)

     

    Catatan:

    Hadits yang dimaksudkan oleh Imam Nawawi di sini adalah:

    Hadits #1098 dari Riyadhus Sholihin

    • وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتْينِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ المَغْرِبِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ العِشَاءِ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
    • Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Jumat, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1172 dan Muslim, no. 729]

     

    Hadits #1126

    • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم الجُمُعَةَ ، فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبعاً )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
    • Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian shalat Jumat, maka lakukanlah shalat setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim no. 881]

     

    Hadits #1127

    وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengerjakan shalat bada Jumat sampai beliau pulang, lalu beliau melaksanakan shalat sunnah di rumahnya dua rakaat. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 882]

    Faedah Hadits

    • Pertama: Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah badiyah Jumat dan dorongan untuk melakukannya, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah empat rakaat.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
    • Imam Nawawi rahimahullah juga berkata, “Disebutkan empat rakaat karena keutamaannya. Sedangkan disebutkan dua rakaat untuk menjelaskan bahwa shalat sunnah badiyah Jumat minimalnya adalah dua rakaat. Sudah dimaklumi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat badiyah Jumat empat rakaat karena beliau sendiri yang memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya. Empat rakaat ini lebih banyak mendapatkan kebaikan dan lebih utama.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
    • Kedua: Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa boleh mengerjakan dua atau empat rakaat. Namun empat rakaat lebih afdal karena tegas dari sabda Rasul. Dan sebaik-baik shalat sunnah adalah di rumah, baik dua atau empat rakaat yang dilakukan. (Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 122)
    • Ketiga: Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Jika seseorang mau, ia bisa melaksanakan shalat badiyah Jumat di masjid. Bisa pula ia melaksanakannya di rumah jika ia mau. Shalat sunnah di rumah itu lebih afdal karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    • أَفْضَلَ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
    • Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). (Khutob Al-‘Amm minal Kitab was Sunnah, hlm. 76)

    Catatan Shalat Sunnah Qabliyah Jumat

    • Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Al-Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa shalat sunnah qabliyah Jumat tidak ada dengan shalat tertentu. Yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya dan ada dalil yang mendukung hal ini. Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 121.
    • Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya. Menurut Ibnu Hajar pula yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya. Lihat Fath Al-Bari, 2:426

    Yang ada sebelum khutbah Jumat adalah shalat sunnah mutlak,

    • عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
    • Dari Salmaan Al-Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jamaah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jumat yang satu dan Jumat yang lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883)

    Menurut pendapat jumhur,

    • Memperbanyak shalat sunnah yang dimaksud adalah sunnah secara mutlak, bukan sunnah rawatib qabliyah Jumat. Jumlahnya pun tidak terbatas dua rakaat, tapi boleh dilakukan semampu mungkin selagi khatib belum naik ke atas mimbar.

    Tuntunan Rasulullah Angkat Tangan Saat Shalat

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengangkat tangan saat shalat dilakukan 4 kali kesempatan, yaitu

    1. pada waktu takbiratul ihram
    2. Pada waktu akan ruku`
    3. Pada bangkit dari ruku`
    4. pada waktu berdiri dari raka’at ke dua.

    ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

    • أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ
    • Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya

    Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari tasyahhud awal, ialah sebagai berikut:

    عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Dari Nâfi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allâhu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Namun juga disunahkan kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada waktu setelah takbir bangkit dari raka’at ketiga menuju keempat. Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata:

    • وَكاَنَ n يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ هَذَا التَّكْبِيْرِ أَحْيَانًا
    • (Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini).

    Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa mengangkat tangan dalam shalat dilakukan pada setiap turun dan bangkit. Imam Ibnul-Qayyim mengatakan di dalam al-Badâi’, juz 4, hlm. 89: “Al-Atsram menukilkan dari Imam Ahmad yang ditanya tentang mengangkat kedua tangan, beliau menjawab: ‘Pada setiap turun dan bangkit’.”

    Al-Atsram mengatakan: “Aku melihat Abu ‘Abdullah (Imam Ahmad) mengangkat kedua tangannya dalam shalat pada setiap turun dan bangkit”. Hal ini juga merupakan pendapat Ibnul-Mundzir dan Abu ‘Ali dari Syafi’iyyah, dan juga satu pendapat dari Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tharhut-Tatsrîb.

    Mengangkat tangan ke raka’at ke empat ini juga shahîh dari Anas, Ibnu ‘Umar, Nâfi’, Thawus, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sîrîn, dan Ayyub as-Sikh-tiyâni, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mushannaf, karya Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hlm. 106, dengan sanad-sanad yang shahîh dari mereka.

    Sumber :

    • majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

    Sebelum Shalat Idul Fitri Disunahkan Makan Dulu

    Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri justru disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits Annas radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri, sampai beliau memakan beberapa kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil”. (HR.Al-Bukhari)

    Kurma adalah satu makanan pokok bangsa Arab, dan makan dan minum sbelum salat Idul Fitri memang disunnahkan oleh Rasulullah. Jumlah kurma yang beliau makan pun ganjil, dan ini pun disunnahkan.

    Namun, bagaimana jka seseorang belum sempat sarapan di rumah, tetapi sudah tergesa untuk berangkat salat Idul Fitri? Seseorang boleh makan di tempat salat Idul Fitri sebelum salat dilaksanakan. Jadi, berangkat ke tempat salat bisa membawa bekal. Kita bisa makan atau sarapan dahulu sambil menunggu pelaksanaan salat Idul Fitri. Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri juga menjadi pembeda dengan bulan Ramadan.

    Jika umat Muslim dilarang penuh untuk makan dan minum saat pagi hari di bulan Ramadan, maka pada Hari Raya Idul Fitri umat Muslim diharamkan untuk berpuasa.
    Imam juga mengatakan, Rasulullah mengharamkan puasa di dua Hari Raya, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Jika seseorang berpuasa di dua hari tersebut, maka ia akan merugi.
    Hal itu karena kita dianjurkan untuk makan dan minum, tetapi kita menahan diri darinya. Inilah pembeda bahwa ini sudah Idul Fitri. Waktunya kita berbuka, tidak lagi berpuasa. Idul Fitri dan makan pagi adalah dua hal yang tak terpisahkan.
    Imam menyebutkan, Fitri dalam bahasa Arab adalah “Futur”, yang artinya sarapan. Jadi, Fitri dalam bahasa Arab bermakna makan. Itulah kenapa Idul Fitri dianjurkan untuk sarapan. Secara tidak langsung menyiratkan pembeda antara yang sebelumnya tidak boleh sarapan di bulan Ramadan, kemudian boleh sarapan lagi di Hari Raya Idul Fitri.
    Namun, meskipun kita belum sempat sarapan karena sedang terburu-buru menyiapkan perlengkapan salat Idul Fitri, atau tergesa-gesa untuk berangkat salat, maka tidak apa-apa, karena memang hukumnya hanya sunnah.

    Salat Id Idul Fitri, Tatacara dan Keutamaannya

    1528938453339.jpgSalat Id adalah ibadah salat sunahyang dilakukan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah namun sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

    Niat Salat

    • Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karenaAllah semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya.

    Waktu dan tata cara pelaksanaan

    • Waktu salat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari.

    Syarat, rukun dan sunahnya sama seperti salat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunah sebagai berikut :

    • Berjamaah
    • Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
    • Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
    • Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
    • Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
    • Imam menyaringkan bacaannya.
    • Khutbah dua kali setelah salat sebagaimana khutbah jum’at
    • Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum – hukum Qurban.
    • Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
    • Makan terlebih dahulu pada salat Idul Fitri pada Salat Idul Adha sebaliknya.

    1528938601307.jpgHaditst

    • Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi SAW. pada hari raya idul fitri dan idul adha keluar ke mushalla (padang untuk salat), maka pertama yang dia kerjakan adalah salat, kemudian setelah selesai dia berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shaf mereka, lalu dia memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila dia hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah dia putuskan,dia perintahkan setelah selesai dia pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    • Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan salat Id bersama Nabi Muhammad SAW. dia memulai salat sebelum khutbah tanpa adzandan tanpa iqamah, setelah selesai dia berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah selesai dia turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya dia memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
    • Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah SAW. memerintahkan kami keluar pada ‘idul fitri dan ‘idul adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari mushalla tempat salat Id, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Dia bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)
    • Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi SAW. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali dia memakan beberapa biji kurma, dan dia memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
    • Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi Muhammad SAW. Mendirikan salat Id, kemudian dia memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan salat Jumat, kemudian dia bersabda : Barang siapa yang mau salat jumat, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
    • Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW. bertakbir pada salat Id dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak salat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya.(H.R : Amad dan Ibnu Majah)
    • Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)
    • Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan salat Id pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
    • Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat salat Id sampai mereka tiba di musala (tempat salat Id) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

    HUKUM SHALAT ID. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id menjadi 3 pendapat:

    1. Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
    2. Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.
    3. Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)

    Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga dengan dalil berikut:

    عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

    Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)

    Perhatikanlah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi menuju tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbabpun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.

    Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang diberi sarana (yakni shalat). Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul Minnah, hal. 344)

    Shalat Id Bagi Musafir

    • Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim (tidak sedang bepergian)?
    • Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan, tidak disyaratkan mukim.”
    • Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)

    MANDI SEBELUM PERGI SHALAT ID

    عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

    “Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)

    Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

    MEMAKAI WEWANGIAN

    Disunnahkan memakai wewangian untuk shalat berjama’ah:

    عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَغْتَسِلُ وَيَتَطَيَّبُ يَوْمَ الْفِطْرِ

    “Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)

    Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

    Perlu diingat bahwa memakai wewangian ini dikhususkan untuk para lelaki, dan tidak diperbolehkan bagi para wanita, lihat pembahasannya disini.

    MEMAKAI PAKAIAN YANG BAGUS

    • Disunnahkan memakai pakaian yang terbaik tetapi tidak berlebih-lebihan ketika hari raya:
    • عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ
    • Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Umar radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)
    • Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)
    • Yakni Umar radhiyallahu ‘anhu menyarankan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk memakai pakaian yang bagus ketika berhari raya. Akan tetapi, Umar radhiyallahu ‘anhu saat itu, belum mengetahui bahwasanya sutera diharamkan bagi laki-laki muslim.

    MAKAN SEBELUM BERANGKAT ID

    • Yakni disunnahkan makan sebelum berangkat menuju shalat ‘iedul fitri:
    • عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
    • Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)
    • Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.”

    Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama adalah:

    1. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai mereka pulang.
    2. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
    3. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/89)

    Berbeda dengan shalat iedul adha, disunnahkan makan sesudah shalat iedul adha. Pembahasannya tersendiri, Insya-Allah.

    BERTAKBIR KETIKA KELUAR MENUJU TEMPAT SHALAT

    • Disunnahkan bertakbir dengan lantang sejak malam ied hingga ditunaikannya shalat ied:
    • كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
    • “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
    • Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan mereka dan karena rasa malu untuk menampilkan sunnah serta terang-terangan dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara sebagaimana dilakukan sebagian manusia (karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja-red) …” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal. 331)
    • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: ”Dan disyariatkan bagi siapa saja untuk melantunkan takbir ketika keluar menuju sholat Ied, dan ini kesepakatan Imam yang empat. “
    • Boleh menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Al Imam Al Bukhori berkata: ”Bab Berjalan dan Berkendaraan Menuju Sholat Ied …”.
    • Ketika tiba di tempat sholat, hendaknya terus bertakbir hingga imam memulai sholat.

    Lafadz Takbir

    • Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa lafadz. Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
    • أَنَّهُ كَانَ يُكَبِرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
    • Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:
    • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
    • (HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/27/2 dan sanadnya shahih)
    • Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.
    • Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:
    • اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلَّ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

    TEMPAT SHALAT ‘IED

    • Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla. Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.
    • عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أَضْحًى إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِنَا فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نَبْدَأَ بِالصَّلاَةِ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan: ‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)
    • Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’ dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah menyebutkan dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id di luar Madinah sampai di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)
    • عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ “Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
    • Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.”
    • Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)
    • Namun bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan yang sejenisnya, maka boleh dilakukan di masjid. Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sunnah nabi sesuai dengan hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa beliau selalu mengerjakan dua sholat ied di tanah lapang pinggiran kampung, dan ini terus berkelanjutan di masa generasi pertama (ummat ini), mereka tidak melaksanakan di masjid-masjid kecuali bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan sejenisnya. Inilah madzhab Imam yang empat dan selain mereka dari para Imam“. (Sholatul ‘Iedaini fil Musholla Hiyas Sunnah, hal. 35).
    • Sehingga sangat berlebihan orang yang mengatakan bahwa sholat Ied tidak boleh dilaksanakan di masjid walaupun ada udzur yang darurat, demikian pula orang yang mengatakan bahwa tidak ada sholat kalau tidak di tanah lapang.

    WAKTU PELAKSANAAN SHALAT

    Waktu Awal Pelaksanaan Shalat adalah setelah Beberapa Waktu setelah Terbitnya Matahari

    يَزِيْدُ بْنُ خُمَيْرٍ الرَّحَبِيُّ قَالَ: خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ اْلإِمَامِ. فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ

    “Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata: ‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

    Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.

    Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. (Al-Fath, 2/457)

    Namun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah bila terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/104)

    Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah lewatnya waktu larangan shalat.”

    1528938153430.jpg1528939346706.jpg

    Bila Shalat Idul Fitri Jatuh Pada Hari Jumat

    1528938786571.jpg

    Bila Hari Idul Fitri Jatuh pada Hari Jumat

    Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam

    Bagi umat yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini. Bagi yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

    Bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied maka kewajiban Shalat Jum’at gugur darinya. Artinya dia tidak lagi wajib menghadiri Shalat Jum’at. Dia punya pilihan antara ikut menghadirinya atau tidak. Jika tidak, maka dia melaksanakan Shalat Dzuhur sesuai dengan keumuman dalil atas wajibnya Shalat Dzuhur bagi yang tidak Shalat Jum’at.

    Sedangkan bagi Imam, dianjurkan agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at bersama jamaah yang ingin mengerjakannya, baik mereka yang telah ikut Shalat Ied maupun yang tidak. Kacuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan Shalat Jum’at bersamanya, maka dia Shalat Dzuhur.

    Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah asy-Sya’bi, an-Nakha’i, dan al-Auza’i. Ini merupakan pendapat Umar, Utsman, Ali, Sa’id, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, ridlwanullah ‘alihim dan orang para ulama yang sependapat dengan mereka.

    1528938453339.jpgDalil dalil pendapat ulama

    1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syaami, dia berkata: “Aku menyaksikan Mu’awiayah bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Apakah kamu pernah mengalami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dua hari raya (Shalat Ied dan Shalat Jum’at,-red) yang berkumpul dalam satu hari?’ Dia menjawab: ‘ya.’ Mu’awiyah bertanya, ‘bagaimana beliau melakukan?.’ Dia menjawab: صّلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ. Beliau shalat Ied lalu memberi rukhshah untuk jum’atnya.’ Beliau bersabda: siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat’.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad).. Imam ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil pelaksanaan Shalat Jum’at setelah Shalat Ied adalah rukhshah (keringanan). Boleh dilaksanakan dan boleh juga ditinggalkan. Ini khusus bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied, bukan untuk orang yang tidak shalat.”. Imam ‘Atha berpendapat bahwa kewajiban shalat Jum’at gugur berdasarkan sabda Nabi di atas, “Siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat.”
    2. Dalam Sunan Abi Dawud, dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عَيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجْمِعُوْنَ “Sungguh telah berkumpul pada harimu ini dua hari raya, maka siapa yang berkehendak maka telah mencukupinya dari (shalat) Jum’at, sedangkan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.” Maka hal itu menunjukkan atas rukhshah (keringanan) dalam berjum’at bagi orang yang telah shalat Ied pada hari itu. Dan diberitahukan tidak adanya rukhshah (keringanan) bagi Imam, karena sabdanya dalam hadits: وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “Sedangkan kami adalah orang-orang yang Shalat Jum’at.”
    3. Hadits riwayat Muslim dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam Shalat Jum’at dan Ied dengan surat Sabbihis (Surat Al-A’la) dan Al-Ghasyiyah. Barangkali dua hari raya itu berkumpul dalam satu hari maka beliau membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) dalam kedua Shalat (Ied dan Jum’at).”
    4. Dalam Majma’ az-Zawaid wa Mamba’ al-Fawaid, Bab fi al-Jum’ah Wa al-Ied Yakunaani fi Yaum (Bab: Jum’at dan Ied dalam satu hari),  Juz 2, hal. 230, Imam al-Haitsami  menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar Radliyallah ‘Anhuma, berkata: “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah terjadi dua hari raya, idul fitri dan Jum’at, dalam satu hari. Setelah selesai shalat Ied bersama para jama’ah, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke mereka dan bersabda:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْراً وَأَجْراً وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ مَعَنَا فَلْيُجَمِّعْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ “Wahai sekalian manusia, kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala. Sesungguhnya kami melaksanakan shalat Jum’at. Maka barangsiapa yang ingin shalat jum’at bersama kami hendaknya dia melaksanakan dan barangsiapa yang ingin kembali ke keluarganya hendaknya dia pulang”.” (HR. Thabrani dalam al-Kabiir dari riwayat Ismail bin Ibrahim at-Turki, dari Ziyad bin Rasyid Abi Muhammad as-Sammaak)..
    5. Lajnah Daimah juga memberi fatwa yang serupa, “Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam. Kewajiban Jum’at tidak gugur darinya. Kacuali tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at bersamanya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyah, Bab: Hukm al-Jum’ah wa Shalah al-Jum’ah Yaum al-‘Ied, Juz 10, hal. 164) Baca Link Fatwa: Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jumat?

    Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.

    Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    • كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
    • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878)

    Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

    • Bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum.
    • Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’)
    • Terdapat perbedaan pendapat bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Ied pada hari itu (Jum’at) ia wajib shalat Jum’at pada hari itu juga. Karenanya bagi yang meyakini bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu tidak boleh memberikan harga mati. Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah.
    • Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah. . .
    • Arahan ini juga berlaku bagi yang berpendapat bahwa shalat Jum’at tetap wajib atas orang yang telah mengerjakan shalat Iedul Adha di hari Jum’at. Bahwa dalam pendekatan fikih terdapat pendapat yang berbeda dengan yang diyakininya. Bahkan oleh para peneliti, pendapat gugurnya kewajiban Jum’at dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu adalah lebih kuat.

    1528939346706.jpg

    Posisi Shaf Anak Kecil Di Masjid

    Posisi Shaf Anak Kecil Di masjid

    دِِّبِلَّانلا َفْلَخ اَنِتْيَػب ِ ٌميِتَ َو اَ َأ ُتْيلَّالَص َؿاَق ٍكِلاَم ِنْب ِسَ َأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – اَنَفْلَخ ٍمْيَلُس ُّـُأ ىدِّمُأَو. Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Saya shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami, kami di belakang Rasulullah Saw, ibu saya Ummu Sulaim di belakang kami”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar tentang pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini: اَىْيرَا ةَأَ ْمِا اَ َعَم ْنُكَ َْلد اَذِإ اَىدْ َو اًّفَص ةَأْ َمْلا ـاَيِقَو ، ؿاَجدِّ لا ؼوُفُص ْنَع ءاَسدِّنلا يرِخْ َتَو ، اًّفَص لُجلَّا لا َعَم ِّبِلَّاصلا ـاَيِقَو

    Anak kecil bersama lelaki baligh berada satu shaf. Perempuan berada di belakang shaf laki-laki. Perempuan berdiri sati shaf sendirian, jika tidak ada perempuan lain bersamanya. Akan tetapi, jika dikhawatirkan anak kecil tersebut tidak suci, maka diposisikan pada shaf di belakang lelaki baligh: عم اوفصيلف ؿاج لا فص لمتك لد وأ لصتظا ؿا شإ م نم ي ُخ اذإ نكلو ،ؿاج لا فلخ فوفص ؿافطلأا فأ وى لضفلأا فأ ؿافطلأا وبن فأ ـاملإل ي بن و ،ديعب ن طتم يرا منهو ؿامت او ،ن طتم ن ليتؽ او ا اذإ ؼوفصلل عطق كلذ في سيلو ،ؿاج لاد ستظا في اتِاعا م بتج تيلا بادلآاو ةلاصلاو ةرا طلا ةفص لذإ .ملعأ للهاو.

    Sebaiknya shaf anak-anak diposisikan di belakang shaf lelaki yang telah baligh, akan tetapi jika dikhawatirkan mereka mengganggu orang yang shalat atau shaf lelaki baligh tidak sempurna, maka anak-anak itu satu shaf dengan shaf lelaki baligh, itu tidak memutuskan shaf jika mereka telah mumayyiz dan suci, kemungkinan mereka tidak suci sangat jauh, imam mesti mengingatkan anak-anak tentang kesucian, shalat dan adab yang mesti dijaga di dalam masjid

    Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

    Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

    لد ـأ وتلاص خآ فا أ ءاوس ،انفصو ام ًاشترفم فوك ، تد سلا ب سولتصا ةفص ،ةيفنتضا دنع يرخلأا د تلل سولتصا ةفص ملسو ويلع للها ىّلص للها ؿوسر ةلاص ةفص في يدعاسلا ديتز بيأ ث د ليلدب ،نك « نيع ػ سلج ملسو ويلع للها ىّلص بِنلا فأوتلبق ىلع نِميلا ردصب لبقأو ،ى سيلا ولجر شترفاف ػ د تلل »( نس حيحص ث د وىو ،يراخبلا هاور(راطولأا لي :2/275 ) نب لئاو ؿاقو :« ولجر شترفا ػ د تلل نيع ػ سلج املف ، ملسو ويلع للها ىّلص لله ا ؿوسر ةلاص لذإ ف ظ لأ ،ةن دتظا تمدقنِميلا ولجر بص و ،ى سيلا ه خف ىلع ى سيلا هد عضوو ،ى سيلا »(ؿاقو ،ي مترلا وج خأ : حيحص نس ث د (ة ا لا بص :1/419راطولأا لي ، :2/273)

    ةيكلاتظا ؿاقو : يرخلأاو ؿولأا د تلا في ًا روتم سليَ(ير صلا ح لا :1/329اىدعبامو ) دوعسم نبا ىور اتظ ،« للها ىّلص بِنلا فأ ًا روتم اى خآو ةلاصلا طسو في سليَ فا ملسو ويلع »(ني تظا :1/533 . )ةيعفا لاو ةلبانتضا ؿاقو: ليلدب ،ضرلأاب و رو صل و ونييَ ة ج نم ها س ج نكلو ،شاترفلاا وىو ،يرخلأا د تلا في ؾروتلا نس يدعاسلا ديتز بيأ ث د في ءاج ام :« ،ًا روتم و ش ىلع دعقو ،ى سيلا ولجر لَّا خأ ،وتلاص ا يف يض نت تيلا ةع لا ت ا اذإ تَّ ملَّالس ثُ »( ًا صتتؼ يراخبلا هاورو ،ي مترلا وححصو ،يئاسنلا لاإ ةسمتطا هاور(راطولأا لي :2/184) ةلاصلا في ؾروتلاو : دوع لافا رولاو ،ى سيلا ؾرولا ىلع :ن دضعلا ؽوف بعكلا ن خفلا ؽوف .ةلبانتضا ؿاق نكل : ٍد تب سيل و لأ ؛حبصلا د ت في ؾروت لا ،ويف هابتشا لا د او د ت لاإ ويف سيل امو ،ن د تلا ب ؽ فلل نياثلا د تلا وى ديتز بيأ ث دبِ بِنلا ويف ؾروت ي

    لاو ،ٍفاثؽ فلا لذإ ةجا لاف .ةصلاتطاو :ةيفنتضا دنع ةنسب سيلو ،رو متصا دنع ةنس نياثلا د تلا في ؾروتلا فإ .Mazhab Hanafi: Bentuk duduk Tasyahhud Akhir menurut Mazhab Hanafi seperti bentuk duduk antara dua sujud, duduk Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), apakah pada Tasyahhud Awal atau pun pada Tasyahhud Akhir.

    Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi dalam sifat Shalat Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk –maksudnya duduk Tasyahhud-, Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, ujung kaki kanan ke arah kiblat”. (Hadits riwayat Imam al-Bukhari, hadits shahih hasan (Nail al-Authar: 2/275). Wa’il bin Hujr berkata: “Saya sampai di Madinah untuk melihat Rasulullah Saw, ketika beliau duduk –maksudnya adalah duduk Tasyahhud- Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, Rasulullah Saw meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri, Rasulullah Saw menegakkan (telapak) kaki kanan”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”. (Nashb ar-Rayah: 1/419) dan Nail al-Authar: 2/273).

    Menurut Mazhab Maliki: Duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Awal dan Akhir. (Asy-Syarh ash-Shaghir: 1/329 dan setelahnya). Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk di tengah shalat dan di akhir shalat dengan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai). (al-Mughni: 1/533).

    Menurut Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Disunnatkan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Akhir, seperti Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), akan tetapi dengan mengeluarkan kaki kiri ke arah kanan dan pantat menempel ke lantai. Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi: “Hingga ketika pada rakaat ia menyelesaikan shalatnya, Rasulullah Saw memundurkan kaki kirinya, Rasulullah Saw duduk di atas sisi kirinya dengan pantat menempel ke lantai, kemudian Rasulullah Saw mengucapkan salam”. (diriwayatkan oleh lima Imam kecuali an-Nasa’i. Dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas. (Nail al-Authar: 2/184). Duduk Tawarruk (menempelkan pantat ke lantai) dalam shalat adalah: duduk dengan sisi pantat kiri menempel ke lantai. Makna al-Warikan adalah: bagian pangkal paha, seperti dua mata kaki di atas dua otot.

    Pendapat Mazhab Hanbali: Akan tetapi tidak duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada duduk Tasyahhud dalam shalat Shubuh, karena duduk itu bukan Tasyahhud Kedua. Rasulullah Saw duduk Tawarruk berdasarkan hadits Abu Humaid adalah pada Tasyahhud Kedua, untuk membedakan antara dua Tasyahhud (Tasyahud Pertama dan Tasyahhud Kedua/Akhir). Adapun shalat yang hanya memiliki satu Tasyahhud, maka tidak ada kesamaran di dalamnya, maka tidak perlu perbedaan.

    Kesimpulan:

    duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Kedua adalah Sunnat menurut jumhur ulama, tidak sunnat menurut Mazhab Hanafi

    Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

    Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

    Tidak sah, karena Rasulullah Saw memerintahkan agar orang yang tidak thuma’ninah mengulangi shalatnya. ِولَّاللا ُؿوُسَرَو ىدِّلَصُ َدِ ْسَمْلا َلَخَد ًلاُجَر لَّافَأ َةَ ْػ َ ُى ِبََأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – ُوَل َؿاَ َػف ِوْيَلَع َملَّالَسَف َءاَ َف ، ِدِ ْسَمْلا ِةَيِ اَ ِ « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا » . َؿاَ َػف َملَّالَس لَّاُثُ ، ىلَّالَصَف َعَجَ َػف « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا ، َكْيَلَعَو » . ِنِْمِلْعَ َف ِةَثِلالَّاثلا ِ َؿاَق . َؿاَق « ، اًعِ اَر لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْعَ ْرا لَّاُثُ ، ِفآْ ُ ْلا َنِم َكَعَم َ لَّاسَيَػت اَِبِ ْأَ ْػقاَو ، ْ دِّػبَكَف َةَلْػبِ ْلا ِلِبْ َػتْسا لَّاُثُ ، َءوُضُوْلا ِغِبْسَ َف ِةَلالَّاصلا َلذِإ َتْمُق اَذِإ لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًسِلاَج لَّانِئَمْطَتَو َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ اًدِجاَس ، لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َؿِدَتْعَػت لَّاتََّ َكَسْأَر ْعَفْرا لَّاُثُ اَ دِّلُ َكِتَلاَص ِ َكِلَذ ْلَعْػفا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ ، اًدِجاَس ».

    Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, ia melaksanakan shalat, Rasulullah Saw berada di sudut masjid. Rasulullah Saw datang, mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Kembalilah, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Ia kembali dan melaksanakan shalat.

    Rasulullah Saw berkata: “Engkau mesti kembali, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Pada kali yang ketiga, ia berkata: “Ajarkanlah kepada saya”.

    Rasulullah Saw berkata: “Jika engkau akan melaksanakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, kemudian menghadaplah ke kiblat, bertakbirlah. Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkat kepalamu hingga engkau tegak sempurna. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau thuma’ninah duduk. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau duduk sempurna. Kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua shalatmu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Shalat Thuma’ninah

    ةني مطلاو :و وى نع وعفر ًلاثم لصفن ثيبِ ت ب فوكس وأ ،ة دعب فوكس.ا لقأو : ًلاثم عو لا في ءاضعلأا تست فأةيعفا لا ؿاق ام يوتعا نع عف لا لصفن ثيبِ . ضعب ؿاق ام ،فوكس نِّدأ رد بف يسانلا امأو ،ه ا ل بجاولا لا رد ب كلذوبى تظا نم حيحصلاو ،ةلبانتضا :لق فإو فوكسلا انهأ . ام ،ام نم عف لاو ،دو سلاو عو لا في ةحيبست ردق حراوتصا كست يى وأةيفنتضا ؿاق. ةيكلاتظا ؿاق ام ،ةلاصلا فا رأ عيتر في ام ًانمز ءاضعلأا را تسا يى وأ .Thuma’ninah adalah tenang setelah satu gerakan. Atau tenang setelah dua gerakan, kira-kira terpisah antara naik dan turun. Minimal Thuma’ninah adalah anggota tubuh merasa tenang, misalnya ketika ruku’, kira-kira terpisah antara naik dan turun, sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i. Dapat diukur dengan kadar ingatan wajib bagi orang yang mengingat. Adapun orang yang lupa kira-kira pada kadar minimal tenang, sebagaimana pendapat sebagian Mazhab Hanbali. Pendapat Shahih menurut mazhab adalah: tenang, meskipun sejenak. Atau tenangnya anggota tubuh kira-kira satu sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi. sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi.

    Dua Batasan Menurut Sunnah

    Dua Batasan Menurut Sunnah

    Pertama: Mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan daun telinga, berdasarkan hadits: ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ ِثِ ْ َوُْتضا ِنْب ِكِلاَم ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – لَّاتََّ ِوْ َدَ َعَفَر َعَ َر اَذِإَو ِوْيَػ ُذُأ اَمِِ َىِذاَُ لَّاتََّ ِوْ َدَ َعَفَر َ لَّاػبَ اَذِإ َفاَ َؿاَ َػف ِعوُ ُّ لا َنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِإَو ِوْيَػ ُذُأ اَمِِ َىِذاَُ « ُهَدَِتز ْنَمِل ُولَّاللا َعَِتش» . َكِلَذ َلْثِم َلَعَػف.

    Dari Malik bin al-Huwairit Apabila Rasulullah Saw bertakbir, ia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan telinganya, Ketika ruku’ Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya,

    Ketika bangkit dari ruku’ Rasulullah Saw mengucapkan: sami’allahu liman hamidahu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) beliau melakukan seperti itu (mengangkat tangan hingga sejajar dengan telinga). (HR. Muslim).

    Kedua: Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu, berdasarkan hadits: ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ – ملسو ويلع للها ىلص – َةَلالَّاصلا َحَتَتْػفا اَذِإ ِوْيَػبِكْنَم َوْ َ ِوْ َدَ ُعَفْ َػ َفاَ “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya keika ia membuka (mengawali) shalat”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Pilihan Ayat Quran Dalam Bacaan Shalat

    Bacaan Ayat Dalam Shalat

    Rasulullah Saw memilih surat atau ayat tertentu pada shalat lima waktu atau shalat sunnat

    • Subuh dan Dzuhur. Dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi disebutkan bahwa sunnat dibaca –setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mushhaf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
    • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adhDhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas.
    • Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan).
    • Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).
    • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama pada hari Jum’ar surat Alif Lam Mim asSajadah, pada rakaat kedua surat al-Insan. Pada rakaat pertama shalat Jum’at sunnah dibaca surat alJumu’ah dan rakaat kedua surat al-Munafiqun. Atau pada rakaat pertama surat al-A’la dan rakaat kedua surat al-Ghasyiyah.
    • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama surat al-Baqarah ayat 136 dan rakaat kedua surat Al ‘Imran ayat 64. Ada pada rakaat pertama surat al-Kafirun dan rakaat kedua surat al-Ikhlas, keduanya shahih. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw melakukan itu.
    • Dalam shalat sunnat Maghrib, dua rakaat setelah Thawaf dan shalat Istikharah Rasulullah Saw membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua.
    • Pada shalat Witir, Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat ketiga. Imam Nawawi berkata, “Semua yang kami sebutkan ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan selainnya adalah haditshadits masyhur”.

    Adapun standar panjang dan pendeknya, surat-surat tersebut terbagi tiga:

    1. Thiwal al-mufashshal, dari surah Qaf/al-Hujurat ke surah an-Naba’, dibaca pada Shubuh dan Zhuhur.
    2. Ausath al-mufashshal, dari surah an-Nazi’at ke surah adh-Dhuha, dibaca pada ‘Ashar dan Isya’.
    3. Qishar al-Mufashshal, dari surah al-Insyirah ke surah an-nas, dibaca pada shalat Maghrib.
    • Keterangan lengkapnya dapat dilihat dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi: Sunnat dibaca -setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mush-haf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
    • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adh-Dhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas. Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan). Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).

    Perlu diketahui bahwa pahala sunnat membaca ayat al-Qur’an diperoleh dengan membaca ayat ayat yang difahami atau sebagian ayat dari suatu surat, atau membaca satu surat atau membaca sebagian surat.

    Surat yang pendek lebih afdhal daripada beberapa ayat yang dibaca dari surat yang panjang. Sunnah membaca surat menurut urutan mush-haf, jika tidak sesuai menurut urutan mush-haf maka hukumnya boleh, akan tetapi makruh. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Saya tidak menemukan dalil yang menyatakan demikian”.

    Referensi

    • Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 166 [Maktabah Syamilah]
    • Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

    Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

    wp-1503155526196.Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

    Para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:

    1. Pada takbîratul ihram dirakaat yang pertama
    2. Ketika hendak ruku’
    3. Ketika mengucapkan Samiallâhu liman hamidah setelah ruku’
    4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga

    Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:

    أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.

    Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allâhu liman hamidah”  juga mengangkat kedua tangannya. Jika berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Al-Bukhâri, no. 739 dan Muslim no. 390]

    Sedangkan Sâlim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya Radhiyallahu anhu yang berkata:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “

    Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat dan ketika bertakbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala dari ruku’ Beliau juga mengangkat keduanya dan mengucapkan, “Sami’allâhu liman hamidah rabbanâ wa lakal hamdu” dan Beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhâri]

    Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

    “Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:

    1. ketika takbiratul ihram dirakaat yang pertama.
    2. ketika hendak ruku’
    3. ketika bangun dari ruku’
    4. Ketika berdiri dari tasyahud awal ”

    [Lihat Syarh Manhajus Sâlikîn wa Taudhîhil Fiqh Fid Din  1/87].

    Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan, “Inilah empat tempat dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu :

    أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

    Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ (HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahîh Fiqh Sunnah menilai hadits ini shahih). [Lihat Shahîh Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]

    wp-1467639852014.jpg

    Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam sholat pada 4 keadaan :

    1. Ketika hendak memulai shalat,
    2. Ketika hendak ruku’
    3. Ketika mengucapkan “sami’allâhu liman hamidah
    4. Ketika hendak berdiri dari rakaat ked

    Sujud Tilawah, Dalil dan 10 Ayat Sajadah

    Sujud Tilawah, Dalil dan 10 Ayat Sajadah

    Dalil Sujud tilawah,

    • Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)
    • Begitu juga keutamaan sujud tilawah dijelaskan dalam hadits yang membicarakan keutamaan sujud secara umum.  Dalam hadits tentang ru’yatullah (melihat Allah) terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ.“Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba-Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)
    • Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”. Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,  عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً “Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”. Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu Abud Darda, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Abud Darda’ pun menjawab semisal jawaban Tsauban kepadaku.” (HR. Muslim no.488)
    • Juga hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ayat Sajadah

    • Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadits, namun tidak sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Shahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)
    • Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah
    1. QS. Al A’rof ayat 206
    2. QS. Ar Ro’du ayat 15
    3. QS. An Nahl ayat 49-50
    4. QS. Al Isro’ ayat 107-109
    5. QS. Maryam ayat 58
    6. QS. Al Hajj ayat 18
    7. QS. Al Furqon ayat 60
    8. QS. An Naml ayat 25-26
    9. QS. As Sajdah ayat 15
    10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama),
    11. QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
    • Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya
    1. QS. Shaad ayat 24
    2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
    3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21
    4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)
    • Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.

    Ibnu Qudamah mengatakan,

    • لَمْ نَعْرِفْ لَهُمْ مُخَالِفًا فِي عَصْرِهِمْ ، فَيَكُونُ إجْمَاعًا
    • “Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat telah berijma’ (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)


    Fiqih Shalat Taraweh : Dalil Jumlah Rakaat Shalat Taraweh

    Fiqih Shalat Taraweh : Dalil Jumlah Rakaat Shalat Taraweh

    Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Dan Witir

    Ulama fikih berbeda pendapat tentang jumlah shalat taraweh. Ada yang berpendapat 20 rakaat, 8 rakaat, bahkan ada yang 36 rakaat dan 40 rakaat. Perbedaan ini ditimbulkan oleh tidak adanya ketentuan yang pasti dari Rasulullah tentang jumlahnya. Dengan kata lain, Nabi memberi keleluasaan umatnya untuk memilih. Hal yang penting adalah beribahadah pada bulan Ramadhan akan mendapat pahala yang besar.

    Hadits dan Atsar Sahabat tentang Jumlah Tarawih

    • Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah

    ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة

    Artinya: Nabi tidak pernah shalat sunnah melebihi 11 rakaat baik di bulan Ramadan atau lainnya Ramadhan.

    • Hadits sahih riwayat Baihaqi dari Saib bin Yazid As-Shahabi

    عن السائب بن يزيد الصحابي رضي الله عنه قال: [كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وكانوا يقومون بالمئتين …

    Artinya: Dari Saib bin Yazid berkata: Mereka melakukan shalat tarawih pada masa Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan 20 rakaat. Mereka terdiri dari 200 jamaah. (Lihat: Imam Nawawi, Al-Majmuk, IV/32)

    • Hadits riwayat Malik dari Yazin bin Rouman ia berkata:

    . وهذا كالإجماع.

    : (أنه أمر رجلاً يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة)

    وروى مالك عن يزيد بن رومان قال: كان الناس يقومون في زمن عمر في رمضان بثلاث وعشرين ركعة. وعن علي رضي الله عنه

    Artinya: Orang-orang biasa shalat taraweh pada zaman Khalifah Umar 23 rakaat (20 rokaat taraweh dan 3 rokaat witir). (Lihat, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/ 456)

    • Hadits riwayat Malik dari Ali bin Abu Tolib

    أنه أمر رجلاً يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة

    Artinya: Ali bin Abu Thalib menyuruh seseorang (sebagai imam) untuk shalat taraweh berjamaah di bulan Ramadhan 20 rakaat. (Lihat, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/ 456)

    Jumlah Rakaat Tarawih Menurut Madzhab Empat

    • Madzhab Syafi’i menentukan rakaat shalat tarawih adalah 20 rokaat.
    • Madzhab Maliki menyatakan bahwa jumlah tarawih adalah 36 rakaat.
    • Madzhab Hanbali sama dengan madzhab Syafi’i yaitu 20 rakaat.
    • Madzhab Hanafi mengatakan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 rakaat.

    Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Jumlah Rakaat Tarawih

    Ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa XXII/272 menyatakan:

    [كما أن نفس قيام رمضان لم يوقت النبي صلى الله عليه وسلم فيه عدداً معيناً بل كان هو صلى الله عليه وسلم لا يزيد في رمضان ولا غيره على ثلاثة عشرة ركعة لكن كان يطيل الركعات فلما جمعهم عمر على أبي بن كعب كان يصلي بهم عشرين ركعة لأن ذلك أخف على المأمومين من تطويل الركعة الواحدة ثم كان طائفة من السلف يقومون بأربعين ركعة ويوترون بثلاث وآخرون قاموا بست وثلاثين وأوتروا بثلاث وهذا كله سائغ فكيفما قام في رمضان من هذه الوجوه فقد أحسن.

    والأفضل يختلف باختلاف أحوال المصلين فإن كان فيهم احتمال لطول القيام فالقيام بعشر ركعات وثلاث بعدها كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي لنفسه في رمضان وغيره هو الأفضل وإن كانوا لا يحتملونه فالقيام بعشرين هو الأفضل وهو الذي يعمل به أكثر المسلمين فإنه وسط بين العشر وبين الأربعين وإن قام بأربعين وغيرها جاز ذلك ولا يكره شيء من ذلك وقد نص على ذلك غير واحد من الأئمة كأحمد وغيره. ومن ظن أن قيام رمضان فيه عدد مؤقت عن النبي صلى الله عليه وسلم لا يزاد فيه ولا ينقص منه فقد أخطأ

    Nabi tidak menentukan jumlah rakaat shalat tarawih di bulan Ramadan bahkan Nabi tidak pernah shalat sunnah melebihi 13 rakaat baik di bulan Ramadan atau di lainnya. Namun, Nabi biasanya memperpanjang rakaatnya. Ketika Umar mengumpulkan jamaah untuk bermakmum pada Ubay bin Kaab, Ubay shalat dengan 20 (dua puluh) rakaat karena hal itu lebih meringankan bagi makmum daripada memanjangkan satu rakaat.

    Ada juga golongan salaf yang shalat tarawih 40 (empat puluh) rakaat dan witir 3 rakaat. Sedangkan yang lain shalat tarawih 36 (tiga puluh enam) rakaat dan shalat witir 3 rakaat. Ini semua sudah maklum. Jadi, berapapun jumlah rakaatnya, itu semua baik.

    Yang utama adalah hendaknya shalat tarawih sesuai situasi dan kondisi makmum. Apabila mereka merasa kuat untuk melaksanakan shalat yang lama, maka shalat tarawih dengan 10 rakaat dan 3 rakaat setelahnya itu lebih utama sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi. Namun, apabila jamaah tidak tahan dengan shalat yang lama, maka tarawih 20 rakaat plus 3 rakaat witir itu lebih baik sebagaimana praktik yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam. Karena, taraweh 20 rakaat itu adalah pertengahan di antara 10 dan 40 rakaat. Apabila melakukan tarawih 40 rakaat, itu juga boleh dan tidak makruh berdasarkan sejumlah riwayat dari Imam Ahmad dan lainnya.

    Barangsiapa yang mengira bahwa shalat tarawih itu jumlah rakaatnya ditentukan oleh Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi, maka pandangan itu tidak tepat.

    Dalil Sunnah-Nya Shalat Tarawih

    • Hadits sahih riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)

    من قام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه

    Artinya: Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah k, niscaya diampuni dosa yang telah lalu.

    • Hadits sahih riwayat Bukhari

    عن عبد الرحمن بن عبد القاري، قال: خرجت مع عمر بن الخطاب في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل ثم عزم فجمعهم على أبيّ بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم، فقال عمر: نعمت البدعة هذه والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون. يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

    Artinya: Dari Abdurrahman bin Abdul Qori ia berkata: Aku pernah keluar bersama Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan ke mesjid. Di sana para jamaah shalat tarawih berpencar-pencar (tidak berjamaah). Umar berkata: “Aku berpendapat kalau mereka shalat secara berjamaah niscaya itu lebih baik.” Lalu Umar memerintahkan jamaah untuk shalat bersama di bawah imam Ubay bin Kaab. Lalu aku keluar bersama Umar pada malam yang lain sedangkan para jamaah shalat (tarawih) secara berjamaah. Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Mereka yang tidur di akhir malam itu lebih baik daripada yang bangun. Umat Islam bangun (shalat tarawih) pada awal malam.

    • Ibnu Rajab dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menuturkan hadits dari Nakhai di mana Nabi bersabda:

    إنَّ صوم يوم من رمضان أفضل من ألف يوم ، وتسبيحة فيه أفضل من ألف تسبيحة ، وركعة فيه أفضل من

    ألف ركعة

    Artinya: Puasa sehari bulan Ramadhan lebih utama dari seribu hari, satu kali tasbih di bulan Ramadhan lebih utama dari 1000 tasbih, satu rakaat di bulan Ramadan lebih utama dari 1000 rokaat (di bulan yanglain). (Lihat: Yahya Az-Zahrani dalam Kitab As-Shiyam Adillah wa Ahkam I/67)

    Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

    Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

    اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    Artinya :

    Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

    Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam


    30 Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan

    30 Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan

    Bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah yang dinanti umat muslim seluruh dunia.Tak luput rasa gembira turut menyertai datangnya bulan suci ramadhan.Karena didalam bulan suci ramadhan umat muslim wajib menjalankan puasa selama 1 bulan penuh.Tak kalah penting dari itu, selama bulan suci ini pun umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat tarawih.

    Sholat tarawih hukumnya Sunnah Muakad dan bisa dilaksanakan sendirian atau berjamaah. Pada umumnya, sholat tarawih dilaksanakan dengan rakaat sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat sholat witir dan dilaksanakan pada waktu setelah sholat Isya’.

    Sholat tarawih juga membawa banyak sekali kemanfaatan.Dilihat dari segi kesehatan, sholat tarawih bisa dianggap sebagai olah raga ringan yang dilakukan malam hari karena pagi harinya orang yang menjalankan ibadah puasa pada umumnya mengurangi aktifitasnya, sehingga orang yang melakukan sholat tarawih pada malam hari tubuhnya tetap fit dan segar bugar meskipun dalam keadaan berpuasa.

    Disisi lain, sholat tarawih juga memiliki keutamaan yang sangat mulia, didalam setiap malam sholat tarawih yang dilaksanakan memiliki masing-masing keutamaan yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

    30 keutamaan sholat tarawih :

    1. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -1: Dosa-berinya pahala seperti orang yangshalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.
    2. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -2: Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman.
    3. HIKMAH TARAWIH MALAM ke 3: Malaikat memanggil dari bawah ‘Arsy: Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu!’
    4. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -4: Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan (Al Qur’an).
    5. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -5: Allah memberinya pahala seperti orang yangshalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.

    6. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -6 Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi Baitul Makmur
    7. HIKMAH TARAWIH MALAM ke 07:Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman. Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman.
    8. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -8:Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim ‘Alaihis Salam.Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah berikan-Nya kepada Ibrahim ‘Alaihis Salam.
    9. HIKMAH TARAWIH MALAM ke-9 :Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    10. HIKMAH TARAWIH MALAM ke-10:Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.
    11. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -11:Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya. Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya.
    12. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -12:Pada hari kiamat dirinya akan dating seperti bulan di malam purnama. Pada hari kiamat dirinya akan dating seperti bulan di malam purnama.
    13. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -13:Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan. Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan.
    14. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -14:Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnyapada hari kiamat. Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnyapada hari kiamat.
    15. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -15:Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya. Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya.
    16. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -16:Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.
    17. HIKMAH T ARAWIH MALAM ke -17:Diberikan pahala seperti pahala para Nabi. Diberikan pahala seperti pahala para Nabi.
    18. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -18:Para malaikat memanggil, ‘Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.’ Para malaikat memanggil, ‘Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.’
    19. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -19:Allah mengangkat derajatnya di surge Firdaus. Allah mengangkat derajatnya di surge Firdaus.
    20. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -20:Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh. Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh.
    21. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -21:Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga. Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga.
    22. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -22Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan. Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan.
    23. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -23:Allah membangun baginya sebuah kota di surga. Allah membangun baginya sebuah kota di surga.
    24. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -24:Dikatakan kepadanya, ‘Ada 24 doa yang dikabulkan.’ Dikatakan kepadanya, ‘Ada 24 doa yang dikabulkan.’
    25. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -25:Allah mengangkat siksa kubur darinya. Allah mengangkat siksa kubur darinya.
    26. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -26:Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama. Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama.
    27. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -27:Pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar. Pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar
    28. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -28:Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga. Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga.
    29. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -29:Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima. Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima.
    30. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -30 :SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku. SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

    Sumber

    • Teladan Nabi muhammad S.A.W yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib yang di kutib dari kitab Durrotun Nasihin (kitab kuning).

    Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

    Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

    Shalat Taraweh hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dan yang lebih utama bagi para wanita dalam qiyamul lail adalah melakukannya di rumah.

    Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
    لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ. (رواه أبو داود في سننه باب ما جاء في خروج النساء إلى المسجد : باب التشديد في ذلك . وهو في صحيح الجامع 7458)
    “Jangan kalian melarang isteri-isteri kalian ke masjid. Akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Daud, dalam sunannya, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami, 7458)

    Asbabul Wurud Hadits: Berjalan atau Berlari Menuju Shalat

    Berjalan dan Berlari Menuju Shalat

    Dikeluarkan oleh imam yang enam dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda,

    إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَلَكِنْ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

    ‘Apabila iqamat shalat telah dikumandangkan maka janganlah engkau mendatanginya dalam keadaan engkau berlari-Iari kecil, tetapi datangilah dengan berjalan. Berjalan dengan penuh ketenangan, seberapa yang kamu dapati (beserta imam), kamu laksanakan. Dan yang tidak kamu dapati (beserta imam) maka sempurnakanlah.”‘

    Sababul Wurud Hadits Ke-13:

    Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Qatadah dari bapaknya ia berkata: “Ketika kami sedang shalat bersama Nabi saw, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari beberapa orang. Setelah Nabi selesai shalat beliau memanggil mereka lalu berkata: “Apa yang membuat kalian seperti itu?” Mereka menjawab: “Kami terburu-buru mendatangi shalat.” Rasulullah saw, bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, apabila kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan berjalan tenang. Seberapa yang kamu dapati beserta imam, kamu laksanakan. Dan seberapa imam mendahuluimu maka sempurnakanlah.”

    Tahqiq ke-13

    Hadits 13:

    • Hadits tersebut lafazh milik at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shalah bab: Ma Ja’afi al-Masyyi ila al-Masjid (Hadits-hadits tentang Berjalan Menuju ke Masjid, (1/205));
    • Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: La Yas’a ila ash-Shalah Musta ‘jilan walyaqum bi as-Sakinah wa al-Waqar (Tidak Diperkenankan Menuju Shalat (Berjamaah) dalam Keadaan Terburu-buru dan Hendaknya Datang dengan Tenang dan Bersikap Wajar, (1/164));
    • Muslim dalam kitab al-Masajid bab: Istihbab Ityani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah wa an-Nahyu ‘an Itaniha Sa’ya (Anjuran Mendatangi Shalat (Berjamaah) dengan Sikap Wajar, Tenang, dan Larangan Mendatanginya dengan Tergesa-gesa, (2/245));
    • Abu Dawud dalam kitab ash-Shalah, bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat, (1/135));
    • An-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat);
    • Ibnu Majah dalam kitab al-Masajid wa al-Jama’at, bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/255)) semuanya dengan lafazh-lafazh yang hampir berdekatan;
    • Ad-Darimi dalam kitab ash-Shalah bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/236);
    • Ahmad 5/310 dari hadits Abu Qatadah dari bapaknya;
    • Malik dalam kitab ash-Shalah bab: Ma Ja’a fi an-Nida’ li ash-Shalah (Tentang Hadits Seruan untuk Shalat, (1/68)), dan Ahmad 2/460, dengan lafazh yang beragam.

    Kosa Kata:

    Al-jalabah: suara-suara. Dikatakan ajlabu alaihi apabila mereka berkumpul dan berhimpun. Dan Ajlaba Alaihi apabila ia berteriak dan menghasungnya. Lihat an-Nihayah 1/169.

    Abu Isa berkata: “Ahli ilmu berbeda pendapat dalam hal berjalan menuju masjid. Sebagian di antara mereka berpendapat agar bersegera (tergesa-gesa) jika khawatir luput dari takbir yang pertama (takbiratul ihram), bahkan sebagian ada yang berpendapat agar ia berlari untuk itu. Dan sebagian lagi ada yang berpendapat makruhnya tergesa-gesa. Dan aku memilih agar seseorang itu berjalan dengan tenang dan bersikap wajar.

    Sababul Wurud Hadits Ke-13:

    • Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/306;
    • Dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: Qaulu Man Qad Fatatna ash-Shalah (Perkataan Seseorang ‘Kita Telah Luput dari Shalat, (1/163));
    • Muslim dalam kitab: al-Masajid bab: Istihbab I’tani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah (Anjuran Mendatangi Shalat dengan Sikap Wajar dan Tenang, (2/244)).

    « Entri Lama