Category Archives: shalat

Shalat Qabliyah dan Ba’diyah Shalat Jumat

Perbedaan pendapat tentang shalat Qabliyah Jumat banyak terjadi di kalangan ulama.  Disunnahkan ketika menghadiri shalat Jumat adalah memperbanyak shalat sunnah. Selain shalat tahiyatul masjid, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sambil menunggu datangnya Imam atau Khatib. Namun sebagian kalangan menganggap shalat ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, layaknya shalat sunnah waktu Dhuhur. 

wp-1558654958315..jpgDalam kitab Al-Jumu’ah; Âdâb Wa Ahkâm, Syaikh Abu Al-Mundzir As-Sa’idi berkata; Berkenaan dengan shalat Sunah sebelum (qabliyah) shalat Jumat, shalat tersebut tidak ada menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat di kalangan para ulama, yaitu pendapat Imam Malik, Ahmad dalam pendapat yang masyhur, dan salah satu pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i. Akan tetapi, yang disunahkan ialah melakukan perkara-perkara sunah yang bersifat umum.

Yang demikian ini selaras dengan hadits Salman Al-Farisi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
  • ”Tidaklah seorang muslim mandi pada hari Jumat, bersuci dengan sebaik-baiknya, mengoleskan minyak, atau memakai wangi-wangian yang ada di rumahnya. Lalu berangkat menuju masjid dan ia tidak menceraiberaikan hubungan baik dua orang saudaranya. Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya, dan ketika imam membacakan khutbah ia diam, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara satu Jumat ke Jumat berikutnya’.” (HR. Bukhari)

Yang dijadikan dalil dari hadits ini ialah lafal, “Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya.” Maknanya adalah shalat sunnah secara mutlak. Artinya shalat sunnah yang dikerjakan semampu mungkin dengan bilangan yang tidak terbatas.

Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa contoh yang dipraktekkan oleh ulama salaf. Sebuah riwayat dari Naafi’ menyebutkan bahwa Dahulu Ibnu Umar mengerjakan shalat sunnah sebelum Jum’at sebanyak 12 raka’at.” (Fathul Bari, 8/329).

Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata:

  • وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء
  • “Adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2/426)

Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad,

  • وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟
  • “Jika Bilal telah mengumandangkan adzan Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti Shalat ‘Ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qabliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jumat tersebut)?”(Zaadul Ma’ad, 1/422)

 

Jika kita melihat hadits, begitu pula atsar sahabat disebutkan mengenai adanya empat raka’at shalat sunnah atau selain itu. Namun hal ini bukan menunjukkan bahwa raka’at-raka’at tadi termasuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at sebagaimana halnya dalam shalat Zhuhur. Dalil-dalil tadi hanya menunjukkan adanya shalat sunnah sebelum Jum’at, namun bukan shalat sunnah rawatib, tetapi shalat sunnah mutlak. Artinya, kita melakukan shalat sunnah dengan dua raka’at salam  tanpa dibatasi, boleh dilakukan berulang kali hingga imam naik mimbar.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah shalat sunnah mutlak,

عن سَلْمَانَ الْفَارِسِي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم : ( لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ) رواه البخاري (883) .

Dari Salmaan Al Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jama’ah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang lainnya.” (HR. Bukhari no. 883)

وعن ثعلبة بن أبي مالك أنهم كانوا في زمان عمر بن الخطاب يصلون يوم الجمعة حتى يخرج عمر . أخرجه مالك في “الموطأ” (1/103) وصححه النووي في “المجموع” (4/550).

Dari Tsa’labah bin Abi Malik, mereka di zaman ‘Umar bin Al Khottob melakukan shalat (sunnah) pada hari Jum’at hingga keluar ‘Umar (yang bertindak selaku imam). (Disebutkan dalam Al Muwatho’, 1: 103. Dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu’, 4: 550).

وعن نافع قَال : كان ابن عمر يصلي قبل الجمعة اثنتي عشرة ركعة . عزاه ابن رجب في “فتح الباري” (8/329) لمصنف عبد الرزاق .

Dari Naafi’, ia berkata, “Dahulu Ibnu ‘Umar shalat sebelem Jum’at 12 raka’at.” (Dikeluarkan oleh ‘Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya 8: 329, dikuatkan oleh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari).

Tidak benar jika dalil-dalil di atas dimaksudkan untuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at. Karena seandainya yang dimaksud adalah shalat rawatib tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah punya kesempatan melakukannya. Ketika shalat Jum’at, kebiasaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau keluar dari rumah, lalu langsung naik mimbar (tanpa ada shalat tahiyyatul masjid bagi beliau), lalu beliau berkhutbah di mimbar, lantas turun dari mimbar dan melaksanakan shalat Jum’at.

Jika ada yang menyatakan adanya shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka kami katakan, “Kapan waktu melakukan shalat tersebut di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Jika dijawab, setelah adzan. Maka tidaklah benar karena tidak ada dalil yang mendukungnya. Yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adzan Jum’at hanya sekali.

Jika dijawab, sebelum adzan. Maka seperti itu bukanlah shalat sunnah rawatib. Itu disebut shalat sunnah mutlak.

Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata,

وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء

Adapun shalat sunnah rawatib sebelumm Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2: 426)

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan,

” وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟

“Jika bilal telah mengumandangkan adzan Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti shalat ‘ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qobliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jum’at tersebut)?”

Sumber https://rumaysho.com/2818-adakah-shalat-sunnah-qobliyah-jumat.html

HADITS

203. Bab Shalat Sunnah Jumat

  • فِيْهِ حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ السَّابِقُ أنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
  • Dalam bab ini terdapat hadits Ibnu ‘Umar yang telah lalu uraiannya, bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat setelah Jumat. (Muttafaqun ‘alaih)

 

Catatan:

Hadits yang dimaksudkan oleh Imam Nawawi di sini adalah:

Hadits #1098 dari Riyadhus Sholihin

  • وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتْينِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ المَغْرِبِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ العِشَاءِ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
  • Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Jumat, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1172 dan Muslim, no. 729]

 

Hadits #1126

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم الجُمُعَةَ ، فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبعاً )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
  • Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian shalat Jumat, maka lakukanlah shalat setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim no. 881]

 

Hadits #1127

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengerjakan shalat bada Jumat sampai beliau pulang, lalu beliau melaksanakan shalat sunnah di rumahnya dua rakaat. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 882]

Faedah Hadits

  • Pertama: Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah badiyah Jumat dan dorongan untuk melakukannya, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah empat rakaat.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
  • Imam Nawawi rahimahullah juga berkata, “Disebutkan empat rakaat karena keutamaannya. Sedangkan disebutkan dua rakaat untuk menjelaskan bahwa shalat sunnah badiyah Jumat minimalnya adalah dua rakaat. Sudah dimaklumi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat badiyah Jumat empat rakaat karena beliau sendiri yang memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya. Empat rakaat ini lebih banyak mendapatkan kebaikan dan lebih utama.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
  • Kedua: Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa boleh mengerjakan dua atau empat rakaat. Namun empat rakaat lebih afdal karena tegas dari sabda Rasul. Dan sebaik-baik shalat sunnah adalah di rumah, baik dua atau empat rakaat yang dilakukan. (Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 122)
  • Ketiga: Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Jika seseorang mau, ia bisa melaksanakan shalat badiyah Jumat di masjid. Bisa pula ia melaksanakannya di rumah jika ia mau. Shalat sunnah di rumah itu lebih afdal karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  • أَفْضَلَ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
  • Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). (Khutob Al-‘Amm minal Kitab was Sunnah, hlm. 76)

Catatan Shalat Sunnah Qabliyah Jumat

  • Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Al-Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa shalat sunnah qabliyah Jumat tidak ada dengan shalat tertentu. Yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya dan ada dalil yang mendukung hal ini. Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 121.
  • Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya. Menurut Ibnu Hajar pula yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya. Lihat Fath Al-Bari, 2:426

Yang ada sebelum khutbah Jumat adalah shalat sunnah mutlak,

  • عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
  • Dari Salmaan Al-Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jamaah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jumat yang satu dan Jumat yang lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883)

Menurut pendapat jumhur,

  • Memperbanyak shalat sunnah yang dimaksud adalah sunnah secara mutlak, bukan sunnah rawatib qabliyah Jumat. Jumlahnya pun tidak terbatas dua rakaat, tapi boleh dilakukan semampu mungkin selagi khatib belum naik ke atas mimbar.

Tuntunan Rasulullah Angkat Tangan Saat Shalat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengangkat tangan saat shalat dilakukan 4 kali kesempatan, yaitu

  1. pada waktu takbiratul ihram
  2. Pada waktu akan ruku`
  3. Pada bangkit dari ruku`
  4. pada waktu berdiri dari raka’at ke dua.

‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

  • أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ
  • Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya

Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari tasyahhud awal, ialah sebagai berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Nâfi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allâhu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari raka’at kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Namun juga disunahkan kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada waktu setelah takbir bangkit dari raka’at ketiga menuju keempat. Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata:

  • وَكاَنَ n يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ هَذَا التَّكْبِيْرِ أَحْيَانًا
  • (Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini).

Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa mengangkat tangan dalam shalat dilakukan pada setiap turun dan bangkit. Imam Ibnul-Qayyim mengatakan di dalam al-Badâi’, juz 4, hlm. 89: “Al-Atsram menukilkan dari Imam Ahmad yang ditanya tentang mengangkat kedua tangan, beliau menjawab: ‘Pada setiap turun dan bangkit’.”

Al-Atsram mengatakan: “Aku melihat Abu ‘Abdullah (Imam Ahmad) mengangkat kedua tangannya dalam shalat pada setiap turun dan bangkit”. Hal ini juga merupakan pendapat Ibnul-Mundzir dan Abu ‘Ali dari Syafi’iyyah, dan juga satu pendapat dari Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tharhut-Tatsrîb.

Mengangkat tangan ke raka’at ke empat ini juga shahîh dari Anas, Ibnu ‘Umar, Nâfi’, Thawus, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sîrîn, dan Ayyub as-Sikh-tiyâni, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mushannaf, karya Ibnu Abi Syaibah, juz 1, hlm. 106, dengan sanad-sanad yang shahîh dari mereka.

Sumber :

  • majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

Sebelum Shalat Idul Fitri Disunahkan Makan Dulu

Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri justru disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits Annas radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri, sampai beliau memakan beberapa kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil”. (HR.Al-Bukhari)

Kurma adalah satu makanan pokok bangsa Arab, dan makan dan minum sbelum salat Idul Fitri memang disunnahkan oleh Rasulullah. Jumlah kurma yang beliau makan pun ganjil, dan ini pun disunnahkan.

Namun, bagaimana jka seseorang belum sempat sarapan di rumah, tetapi sudah tergesa untuk berangkat salat Idul Fitri? Seseorang boleh makan di tempat salat Idul Fitri sebelum salat dilaksanakan. Jadi, berangkat ke tempat salat bisa membawa bekal. Kita bisa makan atau sarapan dahulu sambil menunggu pelaksanaan salat Idul Fitri. Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri juga menjadi pembeda dengan bulan Ramadan.

Jika umat Muslim dilarang penuh untuk makan dan minum saat pagi hari di bulan Ramadan, maka pada Hari Raya Idul Fitri umat Muslim diharamkan untuk berpuasa.
Imam juga mengatakan, Rasulullah mengharamkan puasa di dua Hari Raya, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Jika seseorang berpuasa di dua hari tersebut, maka ia akan merugi.
Hal itu karena kita dianjurkan untuk makan dan minum, tetapi kita menahan diri darinya. Inilah pembeda bahwa ini sudah Idul Fitri. Waktunya kita berbuka, tidak lagi berpuasa. Idul Fitri dan makan pagi adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Imam menyebutkan, Fitri dalam bahasa Arab adalah “Futur”, yang artinya sarapan. Jadi, Fitri dalam bahasa Arab bermakna makan. Itulah kenapa Idul Fitri dianjurkan untuk sarapan. Secara tidak langsung menyiratkan pembeda antara yang sebelumnya tidak boleh sarapan di bulan Ramadan, kemudian boleh sarapan lagi di Hari Raya Idul Fitri.
Namun, meskipun kita belum sempat sarapan karena sedang terburu-buru menyiapkan perlengkapan salat Idul Fitri, atau tergesa-gesa untuk berangkat salat, maka tidak apa-apa, karena memang hukumnya hanya sunnah.

Salat Id Idul Fitri, Tatacara dan Keutamaannya

1528938453339.jpgSalat Id adalah ibadah salat sunahyang dilakukan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah namun sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Niat Salat

  • Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karenaAllah semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya.

Waktu dan tata cara pelaksanaan

  • Waktu salat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari.

Syarat, rukun dan sunahnya sama seperti salat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunah sebagai berikut :

  • Berjamaah
  • Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
  • Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
  • Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
  • Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
  • Imam menyaringkan bacaannya.
  • Khutbah dua kali setelah salat sebagaimana khutbah jum’at
  • Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum – hukum Qurban.
  • Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
  • Makan terlebih dahulu pada salat Idul Fitri pada Salat Idul Adha sebaliknya.

1528938601307.jpgHaditst

  • Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi SAW. pada hari raya idul fitri dan idul adha keluar ke mushalla (padang untuk salat), maka pertama yang dia kerjakan adalah salat, kemudian setelah selesai dia berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shaf mereka, lalu dia memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila dia hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah dia putuskan,dia perintahkan setelah selesai dia pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
  • Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan salat Id bersama Nabi Muhammad SAW. dia memulai salat sebelum khutbah tanpa adzandan tanpa iqamah, setelah selesai dia berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah selesai dia turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya dia memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
  • Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah SAW. memerintahkan kami keluar pada ‘idul fitri dan ‘idul adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari mushalla tempat salat Id, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Dia bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)
  • Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi SAW. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali dia memakan beberapa biji kurma, dan dia memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
  • Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi Muhammad SAW. Mendirikan salat Id, kemudian dia memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan salat Jumat, kemudian dia bersabda : Barang siapa yang mau salat jumat, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
  • Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW. bertakbir pada salat Id dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak salat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya.(H.R : Amad dan Ibnu Majah)
  • Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)
  • Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan salat Id pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
  • Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat salat Id sampai mereka tiba di musala (tempat salat Id) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

HUKUM SHALAT ID. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id menjadi 3 pendapat:

  1. Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
  2. Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.
  3. Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)

Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga dengan dalil berikut:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)

Perhatikanlah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi menuju tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbabpun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.

Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang diberi sarana (yakni shalat). Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul Minnah, hal. 344)

Shalat Id Bagi Musafir

  • Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim (tidak sedang bepergian)?
  • Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan, tidak disyaratkan mukim.”
  • Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)

MANDI SEBELUM PERGI SHALAT ID

عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)

Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

MEMAKAI WEWANGIAN

Disunnahkan memakai wewangian untuk shalat berjama’ah:

عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَغْتَسِلُ وَيَتَطَيَّبُ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)

Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

Perlu diingat bahwa memakai wewangian ini dikhususkan untuk para lelaki, dan tidak diperbolehkan bagi para wanita, lihat pembahasannya disini.

MEMAKAI PAKAIAN YANG BAGUS

  • Disunnahkan memakai pakaian yang terbaik tetapi tidak berlebih-lebihan ketika hari raya:
  • عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ
  • Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Umar radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)
  • Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)
  • Yakni Umar radhiyallahu ‘anhu menyarankan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk memakai pakaian yang bagus ketika berhari raya. Akan tetapi, Umar radhiyallahu ‘anhu saat itu, belum mengetahui bahwasanya sutera diharamkan bagi laki-laki muslim.

MAKAN SEBELUM BERANGKAT ID

  • Yakni disunnahkan makan sebelum berangkat menuju shalat ‘iedul fitri:
  • عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
  • Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)
  • Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.”

Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama adalah:

  1. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai mereka pulang.
  2. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
  3. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/89)

Berbeda dengan shalat iedul adha, disunnahkan makan sesudah shalat iedul adha. Pembahasannya tersendiri, Insya-Allah.

BERTAKBIR KETIKA KELUAR MENUJU TEMPAT SHALAT

  • Disunnahkan bertakbir dengan lantang sejak malam ied hingga ditunaikannya shalat ied:
  • كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
  • “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
  • Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan mereka dan karena rasa malu untuk menampilkan sunnah serta terang-terangan dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara sebagaimana dilakukan sebagian manusia (karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja-red) …” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal. 331)
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: ”Dan disyariatkan bagi siapa saja untuk melantunkan takbir ketika keluar menuju sholat Ied, dan ini kesepakatan Imam yang empat. “
  • Boleh menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Al Imam Al Bukhori berkata: ”Bab Berjalan dan Berkendaraan Menuju Sholat Ied …”.
  • Ketika tiba di tempat sholat, hendaknya terus bertakbir hingga imam memulai sholat.

Lafadz Takbir

  • Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa lafadz. Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
  • أَنَّهُ كَانَ يُكَبِرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
  • Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:
  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
  • (HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/27/2 dan sanadnya shahih)
  • Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.
  • Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:
  • اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلَّ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

TEMPAT SHALAT ‘IED

  • Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla. Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.
  • عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أَضْحًى إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِنَا فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نَبْدَأَ بِالصَّلاَةِ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan: ‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)
  • Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’ dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah menyebutkan dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id di luar Madinah sampai di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)
  • عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ “Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
  • Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.”
  • Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)
  • Namun bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan yang sejenisnya, maka boleh dilakukan di masjid. Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sunnah nabi sesuai dengan hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa beliau selalu mengerjakan dua sholat ied di tanah lapang pinggiran kampung, dan ini terus berkelanjutan di masa generasi pertama (ummat ini), mereka tidak melaksanakan di masjid-masjid kecuali bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan sejenisnya. Inilah madzhab Imam yang empat dan selain mereka dari para Imam“. (Sholatul ‘Iedaini fil Musholla Hiyas Sunnah, hal. 35).
  • Sehingga sangat berlebihan orang yang mengatakan bahwa sholat Ied tidak boleh dilaksanakan di masjid walaupun ada udzur yang darurat, demikian pula orang yang mengatakan bahwa tidak ada sholat kalau tidak di tanah lapang.

WAKTU PELAKSANAAN SHALAT

Waktu Awal Pelaksanaan Shalat adalah setelah Beberapa Waktu setelah Terbitnya Matahari

يَزِيْدُ بْنُ خُمَيْرٍ الرَّحَبِيُّ قَالَ: خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ اْلإِمَامِ. فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ

“Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata: ‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.

Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. (Al-Fath, 2/457)

Namun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah bila terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/104)

Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah lewatnya waktu larangan shalat.”

1528938153430.jpg1528939346706.jpg

Bila Shalat Idul Fitri Jatuh Pada Hari Jumat

1528938786571.jpg

Bila Hari Idul Fitri Jatuh pada Hari Jumat

Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam

Bagi umat yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini. Bagi yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

Bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied maka kewajiban Shalat Jum’at gugur darinya. Artinya dia tidak lagi wajib menghadiri Shalat Jum’at. Dia punya pilihan antara ikut menghadirinya atau tidak. Jika tidak, maka dia melaksanakan Shalat Dzuhur sesuai dengan keumuman dalil atas wajibnya Shalat Dzuhur bagi yang tidak Shalat Jum’at.

Sedangkan bagi Imam, dianjurkan agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at bersama jamaah yang ingin mengerjakannya, baik mereka yang telah ikut Shalat Ied maupun yang tidak. Kacuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan Shalat Jum’at bersamanya, maka dia Shalat Dzuhur.

Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah asy-Sya’bi, an-Nakha’i, dan al-Auza’i. Ini merupakan pendapat Umar, Utsman, Ali, Sa’id, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, ridlwanullah ‘alihim dan orang para ulama yang sependapat dengan mereka.

1528938453339.jpgDalil dalil pendapat ulama

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syaami, dia berkata: “Aku menyaksikan Mu’awiayah bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Apakah kamu pernah mengalami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dua hari raya (Shalat Ied dan Shalat Jum’at,-red) yang berkumpul dalam satu hari?’ Dia menjawab: ‘ya.’ Mu’awiyah bertanya, ‘bagaimana beliau melakukan?.’ Dia menjawab: صّلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ. Beliau shalat Ied lalu memberi rukhshah untuk jum’atnya.’ Beliau bersabda: siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat’.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad).. Imam ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil pelaksanaan Shalat Jum’at setelah Shalat Ied adalah rukhshah (keringanan). Boleh dilaksanakan dan boleh juga ditinggalkan. Ini khusus bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied, bukan untuk orang yang tidak shalat.”. Imam ‘Atha berpendapat bahwa kewajiban shalat Jum’at gugur berdasarkan sabda Nabi di atas, “Siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat.”
  2. Dalam Sunan Abi Dawud, dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عَيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجْمِعُوْنَ “Sungguh telah berkumpul pada harimu ini dua hari raya, maka siapa yang berkehendak maka telah mencukupinya dari (shalat) Jum’at, sedangkan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.” Maka hal itu menunjukkan atas rukhshah (keringanan) dalam berjum’at bagi orang yang telah shalat Ied pada hari itu. Dan diberitahukan tidak adanya rukhshah (keringanan) bagi Imam, karena sabdanya dalam hadits: وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “Sedangkan kami adalah orang-orang yang Shalat Jum’at.”
  3. Hadits riwayat Muslim dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam Shalat Jum’at dan Ied dengan surat Sabbihis (Surat Al-A’la) dan Al-Ghasyiyah. Barangkali dua hari raya itu berkumpul dalam satu hari maka beliau membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) dalam kedua Shalat (Ied dan Jum’at).”
  4. Dalam Majma’ az-Zawaid wa Mamba’ al-Fawaid, Bab fi al-Jum’ah Wa al-Ied Yakunaani fi Yaum (Bab: Jum’at dan Ied dalam satu hari),  Juz 2, hal. 230, Imam al-Haitsami  menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar Radliyallah ‘Anhuma, berkata: “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah terjadi dua hari raya, idul fitri dan Jum’at, dalam satu hari. Setelah selesai shalat Ied bersama para jama’ah, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke mereka dan bersabda:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْراً وَأَجْراً وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ مَعَنَا فَلْيُجَمِّعْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ “Wahai sekalian manusia, kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala. Sesungguhnya kami melaksanakan shalat Jum’at. Maka barangsiapa yang ingin shalat jum’at bersama kami hendaknya dia melaksanakan dan barangsiapa yang ingin kembali ke keluarganya hendaknya dia pulang”.” (HR. Thabrani dalam al-Kabiir dari riwayat Ismail bin Ibrahim at-Turki, dari Ziyad bin Rasyid Abi Muhammad as-Sammaak)..
  5. Lajnah Daimah juga memberi fatwa yang serupa, “Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam. Kewajiban Jum’at tidak gugur darinya. Kacuali tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at bersamanya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyah, Bab: Hukm al-Jum’ah wa Shalah al-Jum’ah Yaum al-‘Ied, Juz 10, hal. 164) Baca Link Fatwa: Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jumat?

Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.

Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878)

Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

  • Bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum.
  • Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’)
  • Terdapat perbedaan pendapat bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Ied pada hari itu (Jum’at) ia wajib shalat Jum’at pada hari itu juga. Karenanya bagi yang meyakini bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu tidak boleh memberikan harga mati. Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah.
  • Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah. . .
  • Arahan ini juga berlaku bagi yang berpendapat bahwa shalat Jum’at tetap wajib atas orang yang telah mengerjakan shalat Iedul Adha di hari Jum’at. Bahwa dalam pendekatan fikih terdapat pendapat yang berbeda dengan yang diyakininya. Bahkan oleh para peneliti, pendapat gugurnya kewajiban Jum’at dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu adalah lebih kuat.

1528939346706.jpg

Posisi Shaf Anak Kecil Di Masjid

Posisi Shaf Anak Kecil Di masjid

دِِّبِلَّانلا َفْلَخ اَنِتْيَػب ِ ٌميِتَ َو اَ َأ ُتْيلَّالَص َؿاَق ٍكِلاَم ِنْب ِسَ َأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – اَنَفْلَخ ٍمْيَلُس ُّـُأ ىدِّمُأَو. Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Saya shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami, kami di belakang Rasulullah Saw, ibu saya Ummu Sulaim di belakang kami”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Komentar al-Hafizh Ibnu Hajar tentang pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini: اَىْيرَا ةَأَ ْمِا اَ َعَم ْنُكَ َْلد اَذِإ اَىدْ َو اًّفَص ةَأْ َمْلا ـاَيِقَو ، ؿاَجدِّ لا ؼوُفُص ْنَع ءاَسدِّنلا يرِخْ َتَو ، اًّفَص لُجلَّا لا َعَم ِّبِلَّاصلا ـاَيِقَو

Anak kecil bersama lelaki baligh berada satu shaf. Perempuan berada di belakang shaf laki-laki. Perempuan berdiri sati shaf sendirian, jika tidak ada perempuan lain bersamanya. Akan tetapi, jika dikhawatirkan anak kecil tersebut tidak suci, maka diposisikan pada shaf di belakang lelaki baligh: عم اوفصيلف ؿاج لا فص لمتك لد وأ لصتظا ؿا شإ م نم ي ُخ اذإ نكلو ،ؿاج لا فلخ فوفص ؿافطلأا فأ وى لضفلأا فأ ؿافطلأا وبن فأ ـاملإل ي بن و ،ديعب ن طتم يرا منهو ؿامت او ،ن طتم ن ليتؽ او ا اذإ ؼوفصلل عطق كلذ في سيلو ،ؿاج لاد ستظا في اتِاعا م بتج تيلا بادلآاو ةلاصلاو ةرا طلا ةفص لذإ .ملعأ للهاو.

Sebaiknya shaf anak-anak diposisikan di belakang shaf lelaki yang telah baligh, akan tetapi jika dikhawatirkan mereka mengganggu orang yang shalat atau shaf lelaki baligh tidak sempurna, maka anak-anak itu satu shaf dengan shaf lelaki baligh, itu tidak memutuskan shaf jika mereka telah mumayyiz dan suci, kemungkinan mereka tidak suci sangat jauh, imam mesti mengingatkan anak-anak tentang kesucian, shalat dan adab yang mesti dijaga di dalam masjid

Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

Posisi duduk pada Tasyahhud, apakah duduk Iftirasy atau Tawarruk?

لد ـأ وتلاص خآ فا أ ءاوس ،انفصو ام ًاشترفم فوك ، تد سلا ب سولتصا ةفص ،ةيفنتضا دنع يرخلأا د تلل سولتصا ةفص ملسو ويلع للها ىّلص للها ؿوسر ةلاص ةفص في يدعاسلا ديتز بيأ ث د ليلدب ،نك « نيع ػ سلج ملسو ويلع للها ىّلص بِنلا فأوتلبق ىلع نِميلا ردصب لبقأو ،ى سيلا ولجر شترفاف ػ د تلل »( نس حيحص ث د وىو ،يراخبلا هاور(راطولأا لي :2/275 ) نب لئاو ؿاقو :« ولجر شترفا ػ د تلل نيع ػ سلج املف ، ملسو ويلع للها ىّلص لله ا ؿوسر ةلاص لذإ ف ظ لأ ،ةن دتظا تمدقنِميلا ولجر بص و ،ى سيلا ه خف ىلع ى سيلا هد عضوو ،ى سيلا »(ؿاقو ،ي مترلا وج خأ : حيحص نس ث د (ة ا لا بص :1/419راطولأا لي ، :2/273)

ةيكلاتظا ؿاقو : يرخلأاو ؿولأا د تلا في ًا روتم سليَ(ير صلا ح لا :1/329اىدعبامو ) دوعسم نبا ىور اتظ ،« للها ىّلص بِنلا فأ ًا روتم اى خآو ةلاصلا طسو في سليَ فا ملسو ويلع »(ني تظا :1/533 . )ةيعفا لاو ةلبانتضا ؿاقو: ليلدب ،ضرلأاب و رو صل و ونييَ ة ج نم ها س ج نكلو ،شاترفلاا وىو ،يرخلأا د تلا في ؾروتلا نس يدعاسلا ديتز بيأ ث د في ءاج ام :« ،ًا روتم و ش ىلع دعقو ،ى سيلا ولجر لَّا خأ ،وتلاص ا يف يض نت تيلا ةع لا ت ا اذإ تَّ ملَّالس ثُ »( ًا صتتؼ يراخبلا هاورو ،ي مترلا وححصو ،يئاسنلا لاإ ةسمتطا هاور(راطولأا لي :2/184) ةلاصلا في ؾروتلاو : دوع لافا رولاو ،ى سيلا ؾرولا ىلع :ن دضعلا ؽوف بعكلا ن خفلا ؽوف .ةلبانتضا ؿاق نكل : ٍد تب سيل و لأ ؛حبصلا د ت في ؾروت لا ،ويف هابتشا لا د او د ت لاإ ويف سيل امو ،ن د تلا ب ؽ فلل نياثلا د تلا وى ديتز بيأ ث دبِ بِنلا ويف ؾروت ي

لاو ،ٍفاثؽ فلا لذإ ةجا لاف .ةصلاتطاو :ةيفنتضا دنع ةنسب سيلو ،رو متصا دنع ةنس نياثلا د تلا في ؾروتلا فإ .Mazhab Hanafi: Bentuk duduk Tasyahhud Akhir menurut Mazhab Hanafi seperti bentuk duduk antara dua sujud, duduk Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), apakah pada Tasyahhud Awal atau pun pada Tasyahhud Akhir.

Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi dalam sifat Shalat Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk –maksudnya duduk Tasyahhud-, Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, ujung kaki kanan ke arah kiblat”. (Hadits riwayat Imam al-Bukhari, hadits shahih hasan (Nail al-Authar: 2/275). Wa’il bin Hujr berkata: “Saya sampai di Madinah untuk melihat Rasulullah Saw, ketika beliau duduk –maksudnya adalah duduk Tasyahhud- Rasulullah Saw duduk di atas telapak kaki kiri, Rasulullah Saw meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri, Rasulullah Saw menegakkan (telapak) kaki kanan”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan shahih”. (Nashb ar-Rayah: 1/419) dan Nail al-Authar: 2/273).

Menurut Mazhab Maliki: Duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Awal dan Akhir. (Asy-Syarh ash-Shaghir: 1/329 dan setelahnya). Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya Rasulullah Saw duduk di tengah shalat dan di akhir shalat dengan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai). (al-Mughni: 1/533).

Menurut Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Disunnatkan duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Akhir, seperti Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri), akan tetapi dengan mengeluarkan kaki kiri ke arah kanan dan pantat menempel ke lantai. Berdasarkan dalil hadits Abu Humaid as-Sa’idi: “Hingga ketika pada rakaat ia menyelesaikan shalatnya, Rasulullah Saw memundurkan kaki kirinya, Rasulullah Saw duduk di atas sisi kirinya dengan pantat menempel ke lantai, kemudian Rasulullah Saw mengucapkan salam”. (diriwayatkan oleh lima Imam kecuali an-Nasa’i. Dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas. (Nail al-Authar: 2/184). Duduk Tawarruk (menempelkan pantat ke lantai) dalam shalat adalah: duduk dengan sisi pantat kiri menempel ke lantai. Makna al-Warikan adalah: bagian pangkal paha, seperti dua mata kaki di atas dua otot.

Pendapat Mazhab Hanbali: Akan tetapi tidak duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada duduk Tasyahhud dalam shalat Shubuh, karena duduk itu bukan Tasyahhud Kedua. Rasulullah Saw duduk Tawarruk berdasarkan hadits Abu Humaid adalah pada Tasyahhud Kedua, untuk membedakan antara dua Tasyahhud (Tasyahud Pertama dan Tasyahhud Kedua/Akhir). Adapun shalat yang hanya memiliki satu Tasyahhud, maka tidak ada kesamaran di dalamnya, maka tidak perlu perbedaan.

Kesimpulan:

duduk Tawarruk (pantat menempel ke lantai) pada Tasyahhud Kedua adalah Sunnat menurut jumhur ulama, tidak sunnat menurut Mazhab Hanafi

Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Tidak sah, karena Rasulullah Saw memerintahkan agar orang yang tidak thuma’ninah mengulangi shalatnya. ِولَّاللا ُؿوُسَرَو ىدِّلَصُ َدِ ْسَمْلا َلَخَد ًلاُجَر لَّافَأ َةَ ْػ َ ُى ِبََأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – ُوَل َؿاَ َػف ِوْيَلَع َملَّالَسَف َءاَ َف ، ِدِ ْسَمْلا ِةَيِ اَ ِ « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا » . َؿاَ َػف َملَّالَس لَّاُثُ ، ىلَّالَصَف َعَجَ َػف « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا ، َكْيَلَعَو » . ِنِْمِلْعَ َف ِةَثِلالَّاثلا ِ َؿاَق . َؿاَق « ، اًعِ اَر لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْعَ ْرا لَّاُثُ ، ِفآْ ُ ْلا َنِم َكَعَم َ لَّاسَيَػت اَِبِ ْأَ ْػقاَو ، ْ دِّػبَكَف َةَلْػبِ ْلا ِلِبْ َػتْسا لَّاُثُ ، َءوُضُوْلا ِغِبْسَ َف ِةَلالَّاصلا َلذِإ َتْمُق اَذِإ لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًسِلاَج لَّانِئَمْطَتَو َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ اًدِجاَس ، لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َؿِدَتْعَػت لَّاتََّ َكَسْأَر ْعَفْرا لَّاُثُ اَ دِّلُ َكِتَلاَص ِ َكِلَذ ْلَعْػفا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ ، اًدِجاَس ».

Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, ia melaksanakan shalat, Rasulullah Saw berada di sudut masjid. Rasulullah Saw datang, mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Kembalilah, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Ia kembali dan melaksanakan shalat.

Rasulullah Saw berkata: “Engkau mesti kembali, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Pada kali yang ketiga, ia berkata: “Ajarkanlah kepada saya”.

Rasulullah Saw berkata: “Jika engkau akan melaksanakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, kemudian menghadaplah ke kiblat, bertakbirlah. Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkat kepalamu hingga engkau tegak sempurna. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau thuma’ninah duduk. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau duduk sempurna. Kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua shalatmu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Shalat Thuma’ninah

ةني مطلاو :و وى نع وعفر ًلاثم لصفن ثيبِ ت ب فوكس وأ ،ة دعب فوكس.ا لقأو : ًلاثم عو لا في ءاضعلأا تست فأةيعفا لا ؿاق ام يوتعا نع عف لا لصفن ثيبِ . ضعب ؿاق ام ،فوكس نِّدأ رد بف يسانلا امأو ،ه ا ل بجاولا لا رد ب كلذوبى تظا نم حيحصلاو ،ةلبانتضا :لق فإو فوكسلا انهأ . ام ،ام نم عف لاو ،دو سلاو عو لا في ةحيبست ردق حراوتصا كست يى وأةيفنتضا ؿاق. ةيكلاتظا ؿاق ام ،ةلاصلا فا رأ عيتر في ام ًانمز ءاضعلأا را تسا يى وأ .Thuma’ninah adalah tenang setelah satu gerakan. Atau tenang setelah dua gerakan, kira-kira terpisah antara naik dan turun. Minimal Thuma’ninah adalah anggota tubuh merasa tenang, misalnya ketika ruku’, kira-kira terpisah antara naik dan turun, sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i. Dapat diukur dengan kadar ingatan wajib bagi orang yang mengingat. Adapun orang yang lupa kira-kira pada kadar minimal tenang, sebagaimana pendapat sebagian Mazhab Hanbali. Pendapat Shahih menurut mazhab adalah: tenang, meskipun sejenak. Atau tenangnya anggota tubuh kira-kira satu sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi. sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi.

Dua Batasan Menurut Sunnah

Dua Batasan Menurut Sunnah

Pertama: Mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan daun telinga, berdasarkan hadits: ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ ِثِ ْ َوُْتضا ِنْب ِكِلاَم ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – لَّاتََّ ِوْ َدَ َعَفَر َعَ َر اَذِإَو ِوْيَػ ُذُأ اَمِِ َىِذاَُ لَّاتََّ ِوْ َدَ َعَفَر َ لَّاػبَ اَذِإ َفاَ َؿاَ َػف ِعوُ ُّ لا َنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِإَو ِوْيَػ ُذُأ اَمِِ َىِذاَُ « ُهَدَِتز ْنَمِل ُولَّاللا َعَِتش» . َكِلَذ َلْثِم َلَعَػف.

Dari Malik bin al-Huwairit Apabila Rasulullah Saw bertakbir, ia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan telinganya, Ketika ruku’ Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya,

Ketika bangkit dari ruku’ Rasulullah Saw mengucapkan: sami’allahu liman hamidahu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) beliau melakukan seperti itu (mengangkat tangan hingga sejajar dengan telinga). (HR. Muslim).

Kedua: Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu, berdasarkan hadits: ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ – ملسو ويلع للها ىلص – َةَلالَّاصلا َحَتَتْػفا اَذِإ ِوْيَػبِكْنَم َوْ َ ِوْ َدَ ُعَفْ َػ َفاَ “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya keika ia membuka (mengawali) shalat”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pilihan Ayat Quran Dalam Bacaan Shalat

Bacaan Ayat Dalam Shalat

Rasulullah Saw memilih surat atau ayat tertentu pada shalat lima waktu atau shalat sunnat

  • Subuh dan Dzuhur. Dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi disebutkan bahwa sunnat dibaca –setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mushhaf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
  • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adhDhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas.
  • Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan).
  • Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).
  • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama pada hari Jum’ar surat Alif Lam Mim asSajadah, pada rakaat kedua surat al-Insan. Pada rakaat pertama shalat Jum’at sunnah dibaca surat alJumu’ah dan rakaat kedua surat al-Munafiqun. Atau pada rakaat pertama surat al-A’la dan rakaat kedua surat al-Ghasyiyah.
  • Sunnah dibaca pada shalat Shubuh rakaat pertama surat al-Baqarah ayat 136 dan rakaat kedua surat Al ‘Imran ayat 64. Ada pada rakaat pertama surat al-Kafirun dan rakaat kedua surat al-Ikhlas, keduanya shahih. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw melakukan itu.
  • Dalam shalat sunnat Maghrib, dua rakaat setelah Thawaf dan shalat Istikharah Rasulullah Saw membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  • Pada shalat Witir, Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua, surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat ketiga. Imam Nawawi berkata, “Semua yang kami sebutkan ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan selainnya adalah haditshadits masyhur”.

Adapun standar panjang dan pendeknya, surat-surat tersebut terbagi tiga:

  1. Thiwal al-mufashshal, dari surah Qaf/al-Hujurat ke surah an-Naba’, dibaca pada Shubuh dan Zhuhur.
  2. Ausath al-mufashshal, dari surah an-Nazi’at ke surah adh-Dhuha, dibaca pada ‘Ashar dan Isya’.
  3. Qishar al-Mufashshal, dari surah al-Insyirah ke surah an-nas, dibaca pada shalat Maghrib.
  • Keterangan lengkapnya dapat dilihat dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi: Sunnat dibaca -setelah al-Fatihah- pada shalat Shubuh dan Zhuhur adalah Thiwal al-Mufashshal artinya surat-surat terakhir dalam mush-haf. Diawali dari surat Qaf atau al-Hujurat, berdasarkan khilaf yang ada, mencapai dua belas pendapat tentang penetapan surat-surat al-Mufashshal.
  • Surat-surat al-Mufashshal ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang panjang hingga surat ‘Amma (an-Naba’), ada yang pertengahan hingga surat adh-Dhuha dan ada pula yang pendek hingga surat an-Nas. Pada shalat ‘Ashar dan ‘Isya’ dibaca Ausath al-Mufashshal (bagian pertengahan). Pada shalat Maghrib dibaca Qishar al-Mufashshal (bagian pendek).

Perlu diketahui bahwa pahala sunnat membaca ayat al-Qur’an diperoleh dengan membaca ayat ayat yang difahami atau sebagian ayat dari suatu surat, atau membaca satu surat atau membaca sebagian surat.

Surat yang pendek lebih afdhal daripada beberapa ayat yang dibaca dari surat yang panjang. Sunnah membaca surat menurut urutan mush-haf, jika tidak sesuai menurut urutan mush-haf maka hukumnya boleh, akan tetapi makruh. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Saya tidak menemukan dalil yang menyatakan demikian”.

Referensi

  • Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 166 [Maktabah Syamilah]
  • Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

wp-1503155526196.Kapan Mengangkat Tangan Takbir Saat Shalat ?

Para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:

  1. Pada takbîratul ihram dirakaat yang pertama
  2. Ketika hendak ruku’
  3. Ketika mengucapkan Samiallâhu liman hamidah setelah ruku’
  4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.

Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allâhu liman hamidah”  juga mengangkat kedua tangannya. Jika berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Al-Bukhâri, no. 739 dan Muslim no. 390]

Sedangkan Sâlim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya Radhiyallahu anhu yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat dan ketika bertakbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala dari ruku’ Beliau juga mengangkat keduanya dan mengucapkan, “Sami’allâhu liman hamidah rabbanâ wa lakal hamdu” dan Beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhâri]

Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:

  1. ketika takbiratul ihram dirakaat yang pertama.
  2. ketika hendak ruku’
  3. ketika bangun dari ruku’
  4. Ketika berdiri dari tasyahud awal ”

[Lihat Syarh Manhajus Sâlikîn wa Taudhîhil Fiqh Fid Din  1/87].

Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan, “Inilah empat tempat dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu :

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ (HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahîh Fiqh Sunnah menilai hadits ini shahih). [Lihat Shahîh Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]

wp-1467639852014.jpg

Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam sholat pada 4 keadaan :

  1. Ketika hendak memulai shalat,
  2. Ketika hendak ruku’
  3. Ketika mengucapkan “sami’allâhu liman hamidah
  4. Ketika hendak berdiri dari rakaat ked

Sujud Tilawah, Dalil dan 10 Ayat Sajadah

Sujud Tilawah, Dalil dan 10 Ayat Sajadah

Dalil Sujud tilawah,

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)
  • Begitu juga keutamaan sujud tilawah dijelaskan dalam hadits yang membicarakan keutamaan sujud secara umum.  Dalam hadits tentang ru’yatullah (melihat Allah) terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ.“Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba-Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)
  • Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”. Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,  عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً “Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”. Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu Abud Darda, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Abud Darda’ pun menjawab semisal jawaban Tsauban kepadaku.” (HR. Muslim no.488)
  • Juga hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat Sajadah

  • Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadits, namun tidak sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Shahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)
  • Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah
  1. QS. Al A’rof ayat 206
  2. QS. Ar Ro’du ayat 15
  3. QS. An Nahl ayat 49-50
  4. QS. Al Isro’ ayat 107-109
  5. QS. Maryam ayat 58
  6. QS. Al Hajj ayat 18
  7. QS. Al Furqon ayat 60
  8. QS. An Naml ayat 25-26
  9. QS. As Sajdah ayat 15
  10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama),
  11. QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
  • Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya
  1. QS. Shaad ayat 24
  2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
  3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21
  4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)
  • Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.

Ibnu Qudamah mengatakan,

  • لَمْ نَعْرِفْ لَهُمْ مُخَالِفًا فِي عَصْرِهِمْ ، فَيَكُونُ إجْمَاعًا
  • “Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat telah berijma’ (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)


Fiqih Shalat Taraweh : Dalil Jumlah Rakaat Shalat Taraweh

Fiqih Shalat Taraweh : Dalil Jumlah Rakaat Shalat Taraweh

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Dan Witir

Ulama fikih berbeda pendapat tentang jumlah shalat taraweh. Ada yang berpendapat 20 rakaat, 8 rakaat, bahkan ada yang 36 rakaat dan 40 rakaat. Perbedaan ini ditimbulkan oleh tidak adanya ketentuan yang pasti dari Rasulullah tentang jumlahnya. Dengan kata lain, Nabi memberi keleluasaan umatnya untuk memilih. Hal yang penting adalah beribahadah pada bulan Ramadhan akan mendapat pahala yang besar.

Hadits dan Atsar Sahabat tentang Jumlah Tarawih

  • Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah

ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة

Artinya: Nabi tidak pernah shalat sunnah melebihi 11 rakaat baik di bulan Ramadan atau lainnya Ramadhan.

  • Hadits sahih riwayat Baihaqi dari Saib bin Yazid As-Shahabi

عن السائب بن يزيد الصحابي رضي الله عنه قال: [كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وكانوا يقومون بالمئتين …

Artinya: Dari Saib bin Yazid berkata: Mereka melakukan shalat tarawih pada masa Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan 20 rakaat. Mereka terdiri dari 200 jamaah. (Lihat: Imam Nawawi, Al-Majmuk, IV/32)

  • Hadits riwayat Malik dari Yazin bin Rouman ia berkata:

. وهذا كالإجماع.

: (أنه أمر رجلاً يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة)

وروى مالك عن يزيد بن رومان قال: كان الناس يقومون في زمن عمر في رمضان بثلاث وعشرين ركعة. وعن علي رضي الله عنه

Artinya: Orang-orang biasa shalat taraweh pada zaman Khalifah Umar 23 rakaat (20 rokaat taraweh dan 3 rokaat witir). (Lihat, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/ 456)

  • Hadits riwayat Malik dari Ali bin Abu Tolib

أنه أمر رجلاً يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة

Artinya: Ali bin Abu Thalib menyuruh seseorang (sebagai imam) untuk shalat taraweh berjamaah di bulan Ramadhan 20 rakaat. (Lihat, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/ 456)

Jumlah Rakaat Tarawih Menurut Madzhab Empat

  • Madzhab Syafi’i menentukan rakaat shalat tarawih adalah 20 rokaat.
  • Madzhab Maliki menyatakan bahwa jumlah tarawih adalah 36 rakaat.
  • Madzhab Hanbali sama dengan madzhab Syafi’i yaitu 20 rakaat.
  • Madzhab Hanafi mengatakan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 rakaat.

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Jumlah Rakaat Tarawih

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa XXII/272 menyatakan:

[كما أن نفس قيام رمضان لم يوقت النبي صلى الله عليه وسلم فيه عدداً معيناً بل كان هو صلى الله عليه وسلم لا يزيد في رمضان ولا غيره على ثلاثة عشرة ركعة لكن كان يطيل الركعات فلما جمعهم عمر على أبي بن كعب كان يصلي بهم عشرين ركعة لأن ذلك أخف على المأمومين من تطويل الركعة الواحدة ثم كان طائفة من السلف يقومون بأربعين ركعة ويوترون بثلاث وآخرون قاموا بست وثلاثين وأوتروا بثلاث وهذا كله سائغ فكيفما قام في رمضان من هذه الوجوه فقد أحسن.

والأفضل يختلف باختلاف أحوال المصلين فإن كان فيهم احتمال لطول القيام فالقيام بعشر ركعات وثلاث بعدها كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي لنفسه في رمضان وغيره هو الأفضل وإن كانوا لا يحتملونه فالقيام بعشرين هو الأفضل وهو الذي يعمل به أكثر المسلمين فإنه وسط بين العشر وبين الأربعين وإن قام بأربعين وغيرها جاز ذلك ولا يكره شيء من ذلك وقد نص على ذلك غير واحد من الأئمة كأحمد وغيره. ومن ظن أن قيام رمضان فيه عدد مؤقت عن النبي صلى الله عليه وسلم لا يزاد فيه ولا ينقص منه فقد أخطأ

Nabi tidak menentukan jumlah rakaat shalat tarawih di bulan Ramadan bahkan Nabi tidak pernah shalat sunnah melebihi 13 rakaat baik di bulan Ramadan atau di lainnya. Namun, Nabi biasanya memperpanjang rakaatnya. Ketika Umar mengumpulkan jamaah untuk bermakmum pada Ubay bin Kaab, Ubay shalat dengan 20 (dua puluh) rakaat karena hal itu lebih meringankan bagi makmum daripada memanjangkan satu rakaat.

Ada juga golongan salaf yang shalat tarawih 40 (empat puluh) rakaat dan witir 3 rakaat. Sedangkan yang lain shalat tarawih 36 (tiga puluh enam) rakaat dan shalat witir 3 rakaat. Ini semua sudah maklum. Jadi, berapapun jumlah rakaatnya, itu semua baik.

Yang utama adalah hendaknya shalat tarawih sesuai situasi dan kondisi makmum. Apabila mereka merasa kuat untuk melaksanakan shalat yang lama, maka shalat tarawih dengan 10 rakaat dan 3 rakaat setelahnya itu lebih utama sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi. Namun, apabila jamaah tidak tahan dengan shalat yang lama, maka tarawih 20 rakaat plus 3 rakaat witir itu lebih baik sebagaimana praktik yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam. Karena, taraweh 20 rakaat itu adalah pertengahan di antara 10 dan 40 rakaat. Apabila melakukan tarawih 40 rakaat, itu juga boleh dan tidak makruh berdasarkan sejumlah riwayat dari Imam Ahmad dan lainnya.

Barangsiapa yang mengira bahwa shalat tarawih itu jumlah rakaatnya ditentukan oleh Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi, maka pandangan itu tidak tepat.

Dalil Sunnah-Nya Shalat Tarawih

  • Hadits sahih riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه

Artinya: Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah k, niscaya diampuni dosa yang telah lalu.

  • Hadits sahih riwayat Bukhari

عن عبد الرحمن بن عبد القاري، قال: خرجت مع عمر بن الخطاب في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل ثم عزم فجمعهم على أبيّ بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم، فقال عمر: نعمت البدعة هذه والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون. يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

Artinya: Dari Abdurrahman bin Abdul Qori ia berkata: Aku pernah keluar bersama Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan ke mesjid. Di sana para jamaah shalat tarawih berpencar-pencar (tidak berjamaah). Umar berkata: “Aku berpendapat kalau mereka shalat secara berjamaah niscaya itu lebih baik.” Lalu Umar memerintahkan jamaah untuk shalat bersama di bawah imam Ubay bin Kaab. Lalu aku keluar bersama Umar pada malam yang lain sedangkan para jamaah shalat (tarawih) secara berjamaah. Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Mereka yang tidur di akhir malam itu lebih baik daripada yang bangun. Umat Islam bangun (shalat tarawih) pada awal malam.

  • Ibnu Rajab dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menuturkan hadits dari Nakhai di mana Nabi bersabda:

إنَّ صوم يوم من رمضان أفضل من ألف يوم ، وتسبيحة فيه أفضل من ألف تسبيحة ، وركعة فيه أفضل من

ألف ركعة

Artinya: Puasa sehari bulan Ramadhan lebih utama dari seribu hari, satu kali tasbih di bulan Ramadhan lebih utama dari 1000 tasbih, satu rakaat di bulan Ramadan lebih utama dari 1000 rokaat (di bulan yanglain). (Lihat: Yahya Az-Zahrani dalam Kitab As-Shiyam Adillah wa Ahkam I/67)

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya :

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam


30 Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan

30 Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah yang dinanti umat muslim seluruh dunia.Tak luput rasa gembira turut menyertai datangnya bulan suci ramadhan.Karena didalam bulan suci ramadhan umat muslim wajib menjalankan puasa selama 1 bulan penuh.Tak kalah penting dari itu, selama bulan suci ini pun umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat tarawih.

Sholat tarawih hukumnya Sunnah Muakad dan bisa dilaksanakan sendirian atau berjamaah. Pada umumnya, sholat tarawih dilaksanakan dengan rakaat sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat sholat witir dan dilaksanakan pada waktu setelah sholat Isya’.

Sholat tarawih juga membawa banyak sekali kemanfaatan.Dilihat dari segi kesehatan, sholat tarawih bisa dianggap sebagai olah raga ringan yang dilakukan malam hari karena pagi harinya orang yang menjalankan ibadah puasa pada umumnya mengurangi aktifitasnya, sehingga orang yang melakukan sholat tarawih pada malam hari tubuhnya tetap fit dan segar bugar meskipun dalam keadaan berpuasa.

Disisi lain, sholat tarawih juga memiliki keutamaan yang sangat mulia, didalam setiap malam sholat tarawih yang dilaksanakan memiliki masing-masing keutamaan yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

30 keutamaan sholat tarawih :

  1. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -1: Dosa-berinya pahala seperti orang yangshalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.
  2. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -2: Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman.
  3. HIKMAH TARAWIH MALAM ke 3: Malaikat memanggil dari bawah ‘Arsy: Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu!’
  4. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -4: Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan (Al Qur’an).
  5. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -5: Allah memberinya pahala seperti orang yangshalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.

  6. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -6 Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi Baitul Makmur
  7. HIKMAH TARAWIH MALAM ke 07:Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman. Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman.
  8. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -8:Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim ‘Alaihis Salam.Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah berikan-Nya kepada Ibrahim ‘Alaihis Salam.
  9. HIKMAH TARAWIH MALAM ke-9 :Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  10. HIKMAH TARAWIH MALAM ke-10:Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.
  11. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -11:Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya. Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya.
  12. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -12:Pada hari kiamat dirinya akan dating seperti bulan di malam purnama. Pada hari kiamat dirinya akan dating seperti bulan di malam purnama.
  13. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -13:Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan. Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan.
  14. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -14:Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnyapada hari kiamat. Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnyapada hari kiamat.
  15. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -15:Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya. Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya.
  16. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -16:Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.
  17. HIKMAH T ARAWIH MALAM ke -17:Diberikan pahala seperti pahala para Nabi. Diberikan pahala seperti pahala para Nabi.
  18. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -18:Para malaikat memanggil, ‘Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.’ Para malaikat memanggil, ‘Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.’
  19. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -19:Allah mengangkat derajatnya di surge Firdaus. Allah mengangkat derajatnya di surge Firdaus.
  20. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -20:Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh. Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh.
  21. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -21:Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga. Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga.
  22. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -22Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan. Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan.
  23. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -23:Allah membangun baginya sebuah kota di surga. Allah membangun baginya sebuah kota di surga.
  24. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -24:Dikatakan kepadanya, ‘Ada 24 doa yang dikabulkan.’ Dikatakan kepadanya, ‘Ada 24 doa yang dikabulkan.’
  25. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -25:Allah mengangkat siksa kubur darinya. Allah mengangkat siksa kubur darinya.
  26. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -26:Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama. Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama.
  27. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -27:Pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar. Pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar
  28. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -28:Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga. Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga.
  29. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -29:Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima. Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima.
  30. HIKMAH TARAWIH MALAM ke -30 :SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku. SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

Sumber

  • Teladan Nabi muhammad S.A.W yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib yang di kutib dari kitab Durrotun Nasihin (kitab kuning).

Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

Dalil Hukum Wanita Shalat Tarawih

Shalat Taraweh hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dan yang lebih utama bagi para wanita dalam qiyamul lail adalah melakukannya di rumah.

Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ. (رواه أبو داود في سننه باب ما جاء في خروج النساء إلى المسجد : باب التشديد في ذلك . وهو في صحيح الجامع 7458)
“Jangan kalian melarang isteri-isteri kalian ke masjid. Akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Daud, dalam sunannya, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami, 7458)

Asbabul Wurud Hadits: Berjalan atau Berlari Menuju Shalat

Berjalan dan Berlari Menuju Shalat

Dikeluarkan oleh imam yang enam dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَلَكِنْ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

‘Apabila iqamat shalat telah dikumandangkan maka janganlah engkau mendatanginya dalam keadaan engkau berlari-Iari kecil, tetapi datangilah dengan berjalan. Berjalan dengan penuh ketenangan, seberapa yang kamu dapati (beserta imam), kamu laksanakan. Dan yang tidak kamu dapati (beserta imam) maka sempurnakanlah.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-13:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Qatadah dari bapaknya ia berkata: “Ketika kami sedang shalat bersama Nabi saw, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari beberapa orang. Setelah Nabi selesai shalat beliau memanggil mereka lalu berkata: “Apa yang membuat kalian seperti itu?” Mereka menjawab: “Kami terburu-buru mendatangi shalat.” Rasulullah saw, bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, apabila kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan berjalan tenang. Seberapa yang kamu dapati beserta imam, kamu laksanakan. Dan seberapa imam mendahuluimu maka sempurnakanlah.”

Tahqiq ke-13

Hadits 13:

  • Hadits tersebut lafazh milik at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shalah bab: Ma Ja’afi al-Masyyi ila al-Masjid (Hadits-hadits tentang Berjalan Menuju ke Masjid, (1/205));
  • Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: La Yas’a ila ash-Shalah Musta ‘jilan walyaqum bi as-Sakinah wa al-Waqar (Tidak Diperkenankan Menuju Shalat (Berjamaah) dalam Keadaan Terburu-buru dan Hendaknya Datang dengan Tenang dan Bersikap Wajar, (1/164));
  • Muslim dalam kitab al-Masajid bab: Istihbab Ityani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah wa an-Nahyu ‘an Itaniha Sa’ya (Anjuran Mendatangi Shalat (Berjamaah) dengan Sikap Wajar, Tenang, dan Larangan Mendatanginya dengan Tergesa-gesa, (2/245));
  • Abu Dawud dalam kitab ash-Shalah, bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat, (1/135));
  • An-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat);
  • Ibnu Majah dalam kitab al-Masajid wa al-Jama’at, bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/255)) semuanya dengan lafazh-lafazh yang hampir berdekatan;
  • Ad-Darimi dalam kitab ash-Shalah bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/236);
  • Ahmad 5/310 dari hadits Abu Qatadah dari bapaknya;
  • Malik dalam kitab ash-Shalah bab: Ma Ja’a fi an-Nida’ li ash-Shalah (Tentang Hadits Seruan untuk Shalat, (1/68)), dan Ahmad 2/460, dengan lafazh yang beragam.

Kosa Kata:

Al-jalabah: suara-suara. Dikatakan ajlabu alaihi apabila mereka berkumpul dan berhimpun. Dan Ajlaba Alaihi apabila ia berteriak dan menghasungnya. Lihat an-Nihayah 1/169.

Abu Isa berkata: “Ahli ilmu berbeda pendapat dalam hal berjalan menuju masjid. Sebagian di antara mereka berpendapat agar bersegera (tergesa-gesa) jika khawatir luput dari takbir yang pertama (takbiratul ihram), bahkan sebagian ada yang berpendapat agar ia berlari untuk itu. Dan sebagian lagi ada yang berpendapat makruhnya tergesa-gesa. Dan aku memilih agar seseorang itu berjalan dengan tenang dan bersikap wajar.

Sababul Wurud Hadits Ke-13:

  • Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/306;
  • Dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: Qaulu Man Qad Fatatna ash-Shalah (Perkataan Seseorang ‘Kita Telah Luput dari Shalat, (1/163));
  • Muslim dalam kitab: al-Masajid bab: Istihbab I’tani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah (Anjuran Mendatangi Shalat dengan Sikap Wajar dan Tenang, (2/244)).

Kisah Sejarah Rasulullah: Sejarah Adzan dan Iqamat

Azan (ejaan KBBI) atau adzan (Arab: أذان) merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat lima waktu. Azan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dam mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah.

Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu salat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang rang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun berada di tempat yang jauh. Yang melihat api itu, hendaklah datang menghadiri salat berjamaah.

Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Nabi. Tetapi, dia menukar lafal itu dengan assalatu jami’ah (marilah salat berjamaah). (KYP3095) Lantas, ada usul dari Umar bin Khattab jika ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk salat pada setiap masuknya waktu salat. Kemudian saran ini bisa diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad juga menyetujuinya.

Asal muasal azan dan iqamat
Lafal azan tersebut diperoleh dari hadis tentang asal muasal adzan dan iqamah:

“Abu Daud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut: “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk salat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, “apakah ia bermaksud akan menjual lonceng itu? Jika memang begitu, aku memintanya untuk menjual kepadaku saja”. Orang tersebut justru bertanya,” Untuk apa?” Aku menjawabnya, “Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan salat”. Orang itu berkata lagi, “Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik? dan aku menjawab, “ya” dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang:

Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash sholah (2 kali)
Hayya ‘alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad , dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi Muhammad , berkata, “Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal.” Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar. Ia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad .

Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan azan, dia diam sejenak, lalu berkata: “Kau katakan jika salat akan didirikan:

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasullulah
Hayya ‘alash sholah
Hayya ‘alal falah
Qod qomatish sholah (2 kali), artinya “Salat akan didirikan”
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La ilaha illallah
Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah kemudian kuberitahu dia apa yang kumimpikan. Diapun bersabda: “Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diadzankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu.” Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang berazan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Maka bagi Allah-lah segala puji.”


Kejadian dalam hadits tersebut terjadi di Madinah pada tahun pertama Hijriah atau 622 M.

Tatacara Shalat Gerhana Sesuai Tuntunan Rasulullah

Tatacara Shalat Gerhana Sesuai Tuntunan Rasulullah

Sesungguhnya terjadinya gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Kalaupun seandainya kita mengkatakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan hal ini kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya, maka pendapat ini, perlu ditilik ulang. Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen sangat kuat. Dan Syaikh ‘Utsaimin mengingatkan, jika ada orang yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu mereka tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang, maka semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita semua diperintah untuk mewaspdainya. Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah.

Terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang shalat sat muncul fenomena alam gerhana. Shalat dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435-437)

Hal ini berdasarkan hadits-hadits :

  • “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at. (HR. Muslim no. 901)
  • “Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)
  • Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.
  • Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân dan Syaikh al-Albâni rahimahullah. Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam إِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوْا (jika kalian melihat, maka shalatlah -muttafaqun ‘alaih).
  • Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja?
  • Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di lading; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah

Shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.

  1. Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy-Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas. Dalil mereka: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمَا فَادْعُوْاالله وَصَلُّوْا حَتَّى يَنْجَلِيَ . Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. [Muttafqun ‘alaihi].
  2. Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari. 
  • Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan).
  • Sebagaimana di dalam hadits disebutkan: فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى المَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ … Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. (Muttafaqun ‘alaihi).
  • Ibnu Qudamah juga berkata: “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri, namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.

WAKTU SHALAT GERHANA

  • Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمَا فَادْعُوْاالله وَصَلُّوْا حَتَّى يَنْجَلِيَ Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. [Muttafaqun ‘alaihi].

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI

  • Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) gerhana terjadi takala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) saat terbit matahari.

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA :

  • Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : فَإِذا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوْااللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا … Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. [Muttafaqun ‘alaihi].
  • Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits: فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى المَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ … Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. [Muttafaqun ‘alaihi].
  • Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr berkata: أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ7سَلَّمَ حِينَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ وَإِذَا هِيَ قَائِمَةٌ تُصَلِّي Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… [Muttafaqun ‘alaihi].
  • Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalatu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: لَمَّاكَسَفَتِ الشَّمْسُ غَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُوْدِيَ :إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). [HR Bukhâri].
  • Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah berkata: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ قَامَ وَخَطَبَ النَّاسَ Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. [HR Bukhâri].

DALIL TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

  1. Pendapat Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata: كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ والنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيْلاً نَحْوًا مِنْ سُوْرَةِ البَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيْلاً وَهُوَ دُوْنَ القِيَامِ الأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً وَهُوَ دُوْنَ الرُّكُوْعِ الأَوَّلِ . Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama. [Muttafaqun ‘alaihi].  Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: أَنَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّىيَوْمَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فَقَامَ فَكَبَّرَ فَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيْلَةً ثُمَّ رَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ :سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ،وَقَامَ كَمَا هُوَ، ثُمَّ قَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيْلَةً وَهِيَ أَدْنَى مِنَ القِرَاءَةِ الأُوْلَى ثُمَّ رَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً وَهِيَ أَدْنَى مِنَ الرَّكْعَةِ الأُوْلَى ثُمَّ سَجَدَ سُجُوْداً طَوِيْلاً ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ،ثُمَّ سَلَّمَ … Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam… [Muttafaqun ‘alaihi].
  2. Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata: خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى المَسْجِدِ وَثَابَ النَّاسُ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ رَكْتَيْنِ. Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama mereka dua raka’at. [HR Bukhâri, an-Nasâ`i].
  • Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Adapun pendapat Abu Hanifah dan orang-orang yang sependapat dengannya, bahwasanya riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sehingga riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad.
  • Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata:[11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Tata Cara shalat Gerhana Bulan

  1. Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.
  2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
  3. Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901) Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.
  4. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’
  5. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
  6. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
  7. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
  8. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
  9. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
  10. Tasyahud.
  11. Salam.

Khutbah Setelah Shalat

  • Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1: 438)

Referensi

  • Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
  • Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
  • Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
  • Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
  • Syarhul-Mumti’, Syaikh ‘Utsaimin, 5/237-240.
  • Al-Umm (1/214), al-Mughni (2/420), al-Inshaf (2/442), Bidayatul-Mujtahid (1/160), dan Muhalla (5/95).
  • Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
  • Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
  • Al-Mughni, 3/323.
  • Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
  • Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
  • Irwâ`ul Ghalil, 3/132.
  • Syarhul-Mumti’, Syaikh ‘Utsaimin, 5/237-240.

Mengepalkan Tangan atau Membuka tangan ketika Bangun dari Sujud

Mengepalkan Tangan atau Membuka tangan ketika Bangun dari Sujud

Disunahkan bagi orang yang shalat ketika bangun atau bangkit dari sujud atau duduk untuk bertumpu di atas kedua tangannya.

Alasan yang bisa dikemukan dalam hal ini adalah bahwa hal tersebut mengacu kepada praktik Rasulullah SAW itu sendiri. Di samping alasan lain adalah lebih merupakan sebagai simbol ketawadlu’an (asybah lit tawadhu’) dan lebih dapat membantu orang yang shalat.

  •  يُسَنُّ ( أَنْ يَعْتَمِدَ فِي قِيَامِهِ مِنْ السُّجُودِ وَالْقُعُودِ عَلَى يَدَيْهِ ) ؛ لِأَنَّهُ أَشْبَهُ بِالتَّوَاضُعِ ، وَأَعْوَنُ لِلْمُصَلِّي ، وَلِثُبُوتِهِ فِي الصَّحِيحِ عَنْ فِعْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
  • Artinya, “Sunah untuk bertopang kepada kedua tangannya ketika bangun dari sujud dan duduk karena hal tersebut lebih tampak sebagai simbol ketawadlu’an, lebih bisa membantu orang yang shalat, dan karena telah dipraktikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana ditetapkan dalam hadits sahih,” (Lihat Muhammad Khathib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, juz I, halaman 182).

Cara dan posisi tangan

BERTUMPU PADA TANGAN DAN TELAPAK JARI DI ATAS LANTAI

  • Menurut Muhammad Khathib asy-Syarbini, baik orang kuat maupun yang lemah caranya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jari di atas tanah.
  • وَكَيْفِيَّةُ الِاعْتِمَادِ أَنْ يَجْعَلَ بَطْنَ رَاحَتَيْهِ ، وَبُطُونَ أَصَابِعِهِ عَلَى الْأَرْضِ وَسَوَاءٌ فِيهِ الْقَوِيُّ وَالضَّعِيفُ
  • Artinya, “Sedang cara bertumpunya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jarinya di atas tanah baik orang yang kuat maupun yang lemah,” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

BERTUMPU DENGAN TANGAN MENGGENGNGGAAM

Sedang kalangan yang berpendapat bahwa orang yang shalat ketika bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangannya didasarkan salah satu hadits berikut ini:

  • إذَا قَامَ مِنْ الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ
  • Artinya, “Ketika Rasulullah SAW bangkit dalam shalatnya Beliau meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang adonan roti meletakan tangannya (al-‘ajin).”

Sebab, praktik yang dilakukan Rasulullah SAW itu sendiri ketika bangkit dari sujud tidak mengepalkan tanggannya, tetapi dengan menjadikan kedua telapak tanggan dan telapak jari-jarinya di atas tanah, sebagaimana yang dijelaskan di atas mengetahui tata-caranya.

  • وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي فِي الْوَسِيطِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا قَامَ مِنْ الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ فَلَيْسَ بِصَحِيحٍ وَإِنْ صَحَّ حُمِلَ عَلَى ذَلِكَ وَيَكُونُ الْمُرَادُ بِالْعَاجِنِ الشَّيْخَ الْكَبِيرَ لَا عَاجِنَ الْعَجِينِ
  • Artinya, “Adapun hadits yang terdapat dalam kitab al-Wasith dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw ketika berdiri dalam shalat meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang pembuat adonan roti, bukan termasuk hadits sahih. Dan jika hadits ini sahih maka mesti ditafsirkan dengan penafsiran di atas (menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari di atas tanah), dan yang dimaksud dengan al-‘ajin adalah orang yang tua renta bukan tukang pembuat adonan roti (‘ajin al-‘ajn),” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

    Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

     

    Gerakan, Bacaan dan Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Sesuai Tuntunan Rasulullah

    NIAT SHALAT FARDHU

    1. Gerakan Berdiri Tegak untuk Salat,

    Berdiri tegak pada salat fardu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan
    salah satu rukun salat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbiratul
    ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.

    1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
    2. Tangan rapat di samping badan.
    3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
    4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
    5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
    6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetapberniat menghadap kiblat.

    2. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan 

    ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan
    ulama caranya adalah sebagai berikut.

    1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
    2. Ujung jarijari sejajar dengan puncak telinga.
    3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
    4. Jarijari direnggangkan
    5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
    6. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
    7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.

    Catatan: Mengangkat tangan ketika salat terdapat pada empat tempat,
    yaitu saat takbiratulihram, saat hendak rukuk, saat iktidal (bangun dari
    rukuk), dan saat bangun dari rakaat kedua (selesai tasyahud awal) untuk
    berdiri meneruskan rakaat ketiga.

    3. Gerakan Sedekap dalam Salat

    Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbiratulihram. Adapun
    caranya adalah sebagai berikut.

    • Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
    • Meletakkan tangan boleh di dada. Boleh juga meletakkannya di atas pusar. Boleh juga meletakkannya di bawah pusar. Ketika bersedekap, doa yang pertama dibaca adalah doa iftitah. Setelah selesai iftitah, kemudian membaca surat Al Fatihah. Sesudah membaca surat Al Fatihah, kemudian membaca surat pendek seperti Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.

    Adapun Bacaan ada di bawah ini :

    • DOA IFTITAH: ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA..  Allah Maha Besar, Maha Sempurna KebesaranNya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang SebanyakBanyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi DanPetang.
    • INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. ..Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk OrangOrang Yang Musyrik.
    • INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN. Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
    • LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN. Tidak Ada Sekutu BagiNya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk OrangOrang Islam.

    ALFATIHAH

    • BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
    • AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
    • ARRAHMAANIR RAHIIM. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
    • MAALIKIYAUMIDDIIN. Penguasa Hari Pembalasan. 
    • IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU. Hanya KepadaMu lah Aku Menyembah Dan Hanya KepadaMu lah Aku Memohon Pertolongan.
    • IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
    • SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN. Yaitu Jalannya OrangOrang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya OrangOrang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya OrangOrang Yang Sesat.

    Setelah baca surat pendek seperti An Nas, Al Ihlas, dll

    4. Gerakan Rukuk Dalam Sholat. Rukuk artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.

    1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbiratulihram.
    2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
    3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha.
    4. Jarijari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
    5. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongah ke atas.
    6. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk
    7. Pinggang direnggangkan dari paha.
    8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
    9. Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu doa rukuk.
    10. Adapun bacaan Rukuk Sebagai Berikut : R U K U’: SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan MemujiNya.

    5. Gerakan Iktidal dalam Sholat. Iktidal adalah bangkit dari rukuk. Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan seperti ketika takbiratulihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat “sami’allahu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri. Tangan rapat di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena beda pemaknaan terhadap hadis dalilnya. Padahal dalil yang digunakan sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat iktidal itu menyimpan tangan rapat di samping badan. Sesudah badan mantap tegak berdiri, barulah membaca salah satu doa iktidal.

    Doa I’TIDAL: 

    • SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH. Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang MemujiNya ( DanMembalasnya ).
    • RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU. Wahai Tuhan Kami ! Hanya UntukMu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.

    6. Gerakan Sujud dalam Sholat. Sujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadis riwayat Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud, yaitu:

    1. wajah (kening dan hidung),
    2. dua telapak tangan,
    3. dua lutut, dan dua ujung telapak kaki.

    Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.

    1. Turunkan badan dari posisi iktidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
    2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
    3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
    4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
    5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jarijarinya dirapatkan, dan ini satusatunya gerakan di mana jarijari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jarijari ini selalu direnggangkan.
    6. Jarijari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
    7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi lakilaki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
    8. Renggangkan pinggang dari paha.
    9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
    10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud. Ketika bangkit dari sujud untuk berdiri ke rakaat berikutnya, disunahkan wajah lebih dulu dianggkat dari lantai, kemudian tangan, dan disusul dengan mengangkat lutut hingga berdiri tegak.

    Bacaan pada waktu sujud :

    SUJUD

    • SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan MemujiNya.

    7. Gerakan Duduk antara Dua Sujud

    Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:

    1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
    2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
    3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
    4. Badan tegak lurus.
    5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
    6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
    7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
    8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
    9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.

    Bacaannya Sebagai Berikut :

    DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

    • RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
    • Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan)Ku, Angkatlah ( Derajat )Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )Ku.

    8. Gerakan Tasyahud (Tahiyat) Awal. Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sama seperti duduk antara dua sujud. Ini pada salat yang lebih dari dua rakaat, yaitu pada salat zuhur, asar, magrib, dan isya. Caranya adalah sebagai berikut.

    1. Bangkit dari sujud kedua rakaat kedua sambil membaca takbir.
    2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
    3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
    4. Badan tegak lurus.
    5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
    6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
    7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud.

    Doà TASYAHUD AWAL

    • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
    • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
    • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas HambaHamba Allah Yang Saleh.
    • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
    • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !


    9. Gerakan Tasyahud Akhir. Tasyahud akhir adalah duduk tawaruk. Caranya adalah.

    1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
    2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
    3. Telapak kaki kanan tegak. Jarijarinya menghadap ke arah kiblat.
    4. Badan tegak lurus.
    5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
    6. Telapak tangan dibuka. Jarijarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
    7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
    8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.

    Bacaannya TASYAHUD AKHIR

    • ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
    • ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.. Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan BerkahNya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
    • ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.. Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba Hamba Allah Yang Saleh.
    • ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
    • ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.
    • KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
    • WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.
    • KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM. Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
    • FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK. Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada AgamaMu



    10. Gerakan salam . Gerakan salam adalah menengok ke arah kanan dan kiri. Menengok dilakukan sampai kirakira searah dengan bahu. Jika jadi imam dalam salat berjamaah, salam dilakukan sampai terlihat hidung oleh makmum. Menengok dilakukan sambil membaca salam.

    Adapun bacaan salam sebagai berikut :

    • salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan: “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH, ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH (Semoga keselamatan dan rahmat Allah limpahkan kepadamu)

    Bacaan dan Jumlah Tasbih Yang Dibaca Ketika Ruku’ dan Sujud 

    Jumlah Tasbih Yang Dibaca Ketika ruku’ dan sujud 

    Bacaan dan Jumlah Tasbih Yang Dibaca Ketika Ruku’ dan Sujud

    • Imam Ibnu Qudamah menyebutkan satu riwayat dari Imam Ahmad:
    • قَاؿَ أَتزَْدُ فِي رِسَالَتِوِ : جَاءَ اتضَْدِ ثُ عَنْ اتضَْسَنِ الْبَصْ دِّ ي أَ لَّاوُ قَاؿَ : التلَّاسْبِيحُ التلَّااُّ سَبْعٌ ، وَالْوَسَطُ تسَْسٌ ، وَأَدْ اهُ ثَلَاثٌ .
    • Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam Risalahnya, “Terdapat riwayat dari al-Hasan al-Bashri bahwa ia berkata: “Tasbih yang sempurna itu tujuh, pertengahan itu lima dan yang paling sedikit itu tiga”19.

    Bacaan pada Ruku’

    • وَ افَ رَسُوؿُ الللَّاوِ صَللَّاى الللَّاوُ عَلَيْوِ وَسَللَّامَ إِذَا رَ عَ قَاؿَ : “سُبْحَافَ رَدِّبيَ الْعَظِيمِ ” ثَلاثَ مَلَّا اتٍ Rasulullah Saw ketika ruku’ mengucapkan: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung” tiga kali. (HR. Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Majah, ad-Daraquthni dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir). 19 Imam Ibnu Qudamah, al-Mughni: 2/373.
    • ثَلاَثًا .» سُبْحَافَ رَدِّبََ الْعَظِيمِ وَبَِِمْدِه « فَكَافَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- إِذَا رَ عَ قَاؿَ. Rasulullah Saw ketika ruku’ mengucapkan: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan Pujian- Nya”. Tiga kali. (Hadits riwayat Abu Daud, ad-Daraquthni dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra).
    • عَنْ عَائِ ةَ قَالَتْ افَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- كْثِ أَفْ ػ وؿَ رُ وعِوِ وَسُ ودِه .» سُبْحَا كَ الللَّا لَّا م وَبَِِمْدِؾَ الللَّا لَّا م ااْفِ لِذ « Dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah Saw banyak membaca pada ruku’ dan sujudnya: “Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan pujian-Mu Ya Allah ampunilah aku”. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad bin Hanbal).
    • عَنْ مُطَدِّ ؼِ بْنِ عَبْدِ الللَّاوِ بْنِ ال دِّ دِّ خيرِ أَ لَّا ف عَائِ ةَ ػبَلَّا تْوُ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- افَ ػ وؿُ رُ وعِوِ وَسُ ودِهِ .» سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَال وحِ « Dari Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir, sesungguhnya Aisyah memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah Saw mengucapkan pada ruku’ dan sujudnya: “Maha Suci, Maha Memberi berkah, Tuhan para malaikat dan Jibril”. (HR. Muslim).
    • الللَّا لَّا م لَكَ رَ عْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَ عَ لَكَ تشَْعِى وَبَصَ ى وَتُؼدِّى وَعَظْمِى وَعَصَبِِ « وَإِذَا رَ عَ قَاؿَ  Ketika ruku’ Rasulullah Saw membaca: “Ya Allah kepada-Mu aku ruku’, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah, kepada-Mu khusyu’ telingaku, pandanganku, otakku, tulangku dan urat sarafku”. (HR. Muslim).

    Cara Agar Syalat Khusyu’


    Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat. Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati. Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:

    • إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ
    • “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya. 
    • Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى – وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى – فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ
    • Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan. Ketika hamba-Ku itu mengucapkan: [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab: [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab: [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] (hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ] (Raja di hari pembalasan). Allah menjawab: [ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] (hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] (kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong). Allah menjawab: [ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini antara Aku dan hamba-Ku, ia mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab: [ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).
    • Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.


    Adab Berpakaian Saat Shalat Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Adab Berpakaian Saat Shalat Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Berpakaian dalam shalat

    • Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian dan Firman Allah Ta’ala, “Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid.” (al-A’raaf: 31), dan Orang yang Mendirikan Shalat dengan Memakai Satu Helai Pakaian
    • Salamah bin Akwa’ meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Hendaknya ia mengancingnya meskipun dengan duri.” Akan tetapi, isnad-nya perlu mendapatkan perhatian.
    • Diterangkan pula mengenai orang yang shalat dengan pakaian yang dipergunakan untuk melakukan hubungan seksual (adalah diperbolehkan) asalkan dia melihat tidak ada kotoran di situ.
    • Nabi Muhammad saw memerintahkan agar seseorang tidak melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) dengan telanjang.

    Mengikatkan Kain pada Leher pada Waktu Shalat

    • Abu Hazim berkata mengenai hadits yang diterima dari Sahl sebagai berikut: “Para sahabat melakukan shalat bersama Nabi Muhammad saw. sambil mengikatkan sarung ke leher mereka.”
    • ÀMuhammad al-Munkadir berkata, “Jabir shalat dengan mengenakan kain yang ia ikatkan di tengkuknya (dalam satu riwayat: kain yang ia selimutkan, 1/97), sedangkan pakaiannya ia letakkan di atas gantungan. [Setelah selesai], ada orang yang bertanya, ‘Mengapa Anda melakukan shalat dengan mengenakan selembar kain saja [sedang pakaianAnda dilepas]?’ Jabir menjawab, ‘Aku melakukannya untuk memperlihatkannya kepada orang tolol seperti kamu, [aku melihat Nabi Muhammad saw melakukan shalat seperti ini]. Mana ada di antara kita yang mempunyai dua helai pakaian di masa Nabi Muhammad saw.?'”

    Shalat dalam Selembar Pakaian dengan Cara Menyelimutkannya

    • Az-Zuhri berkata mengenai haditsnya, “Orang yang menyelimutkan itu maksudnya ialah menyilangkan antara kedua ujung pakaiannya pada lehernya dan ini meliputi kedua pundaknya.”
    • Ummu Hani’ berkata, “Nabi Muhammad saw menutupi tubuhnya dengan sehelai pakaian dan menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.'”
    • Umar bin Abu Salamah berkata bahwa dia pernah melihat Nabi Muhammad saw. shalat dengan mengenakan sehelai pakaian di rumah Ummu Salamah dan beliau menyilangkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya.
    • Ummu Hani’ binti Abi Thalib r.a. berkata, “Aku pergi ke tempat Rasulullah saw. pada tahun dibebaskannya Mekah, lalu aku menemui beliau sedang mandi [di rumahnya, 2/38] dan Fatimah menutupinya, lalu aku memberi salam kepada beliau. Beliau bertanya, ‘Siapa itu?’ Aku menjawab, ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abu Thalib.’ Beliau berkata, ‘Selamat datang, Ummu Hani’.’ Setelah selesai mandi (dan dari jalan Ibnu Abi Laila: Tidak ada seorang pun yang menginformasikan kepada kami bahwa dia melihat Rasulullah saw melakukan shalat dhuha selain Ummu Hani’ karena ia menyebutkan bahwa beliau, 5/93) berdiri lalu shalat delapan rakaat dengan berselimut satu kain. Ketika beliau berpaling (salam/selesai), aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, putra ibuku [Ali bin Abi Thalib] menduga bahwa dia membunuh seseorang yang telah aku beri upah, yaitu Fulan bin Huraibah.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Kami telah memberi upah orang yang telah kamu beri upah, wahai Ummu Hani’.’ Ummu Hani’ berkata, ‘Itulah pengorbanan.'”
    • 199. Abu Hurairah berkata bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang shalat dalam satu kain. Rasulullah saw bersabda, “Apakah masing-masing dari kamu mempunyai dua kain?”

    Apabila Seseorang Shalat dengan Mengenakan Selembar Pakaian, Hendaknya Mengikatkan Pada Lehernya

    • Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Salah seorang di antaramu janganlah shalat di dalam satu kain yang di bahunya tidak ada apa-apanya.'”
    • Abu Hurairah berkata, “Aku bersaksi bahwasanya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa shalat dengan selembar kain, hendaklah ia mengikatkan antara kedua ujungnya.'”

    Apabila Pakaian Sempit

    • Sa’id bin Harits berkata, “Kami bertanya kepada Jabir bin Abdullah perihal shalat dengan mengenakan selembar pakaian, lalu Jabir berkata, ‘Aku keluar bersama Nabi Muhammad saw dalam sebagian perjalanan beliau. Pada suatu malam, aku datang karena suatu urusanku, maka aku mendapatkan beliau sedang shalat dan aku hanya memakai selembar kain, maka aku melipatnya dan aku shalat di samping beliau. Setelah beliau selesai, beliau bersabda, ‘Ada apakah engkau pergi malam-malam, hai Jabir?’ Aku lalu memberitahukan tentang keperluanku. Ketika aku selesai, beliau bertanya, ‘Lipatan apakah yang aku lihat ini?’ Aku menjawab, ‘Kain, yakni sempit.’ Beliau bersabda, ‘Jika luas, selimutkanlah, dan jika sempit, bersarunglah dengannya!'”
    • Sahl bin Sa’ad berkata, “Orang-orang yang shalat bersama Nabi Muhammad saw mengikatkan kain mereka [karena sempit, 2/63] pada tengkuk-tengkuk mereka seperti keadaan anak-anak. Beliau bersabda kepada para wanita, ‘Janganlah kamu mengangkat kepalamu sehingga orang-orang laki-laki benar-benar duduk.'”

    Shalat dengan Mengenakan Jubah Buatan Syam

    • Al-Hasan berkata bahwa tidak apa apa shalat dengan mengenakan pakaian-pakaian yang ditenun oleh kaum Majusi (yakni para penyembah api).
    • Ma’mar berkata, “Aku melihat az-Zuhri memakai pakaian Yaman yang dicelup dengan air kencing.”

    Ali shalat dengan pakaian baru yang belum dicuci.

    • Mughirah bin Syu’bah berkata, “Aku bersama Nabi Muhammad saw. [pada suatu malam, 7/37] dalam suatu perjalanan (dalam satu riwayat: dan aku tidak mengetahui melainkan dia berkata, ‘dalam Perang Tabuk’, 5/136), [lalu beliau bertanya, ‘Apakah engkau membawa air?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Beliau lalu turun dari kendaraannya], kemudian bersabda, ‘Wahai Mughirah, ambillah bejana kecil (terbuat dari kulit)!’ Aku lalu mengambilnya. Rasulullah saw pergi sehingga beliau tertutup dariku [pada malam yang gelap gulita], kemudian beliau menunaikan hajatnya [Beliau lalu datang dan aku temui beliau dengan aku bawakan air, 3/231], dan beliau mengenakan jubah buatan negeri Syam [dari kulit/wol]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari lengannya, namun sempit, [maka beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengan beliau darinya]. Beliau lalu mengeluarkan tangan dari bawahnya dan aku menuangkan atasnya [bejana itu] [ketika beliau telah selesai menunaikan hajatnya, 1/85]. Beliau lalu berwudhu seperti berwudhu untuk shalat, [maka beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali, membasuh mukanya] [dan kedua tangannya] (dalam satu riwayat: kedua lengannya), [kemudian beliau mengusap kepalanya], [lalu aku menunduk untuk melepaskan khuf beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Biarkanlah, karena aku memasukkannya dalam keadaan suci,’] dan beliau mengusap khuf (semacam sepatu) beliau kemudian shalat”

    Tidak Disukai Telanjang Sewaktu Shalat dan Lainnya

    • Jabir bin Abdullah r.a. menceritakan bahwasanya Rasulullah saw. memindahkan batu Ka’bah bersama mereka dan beliau mengenakan kain (sarung). Abbas, paman beliau, berkata kepada beliau, “Wahai anak saudaraku, bagaimana kalau engkau lepaskan kain engkau dan engkau kenakan atas kedua bahu karena ada batu.” Jabir berkata, “Beliau lalu melepaskannya dan mengenakannya di atas kedua bahu beliau. Beliau lalu jatuh pingsan. Sesudah itu, beliau tidak pernah telanjang. Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada beliau dan memberikan keselamatan.”*1*)

    Shalat dengan Baju, Celana, Celana Tak Berkaki (Selongsongan), dan Pakaian Luar (Mantel dan Sebagainya)

    • Abu Hurairah berkata, “Seorang laki-laki pergi ke tempat Nabi Muhammad saw., lalu bertanya kepada beliau mengenai shalat dengan mengenakan selembar pakaian saja. Beliau bersabda, ‘Apakah masing-masing kamu mempunyai dua helai pakaian?'”
    • Bertanya pula seorang laki-laki kepada Umar ibnul Khaththab mengenai shalat dengan sehelai pakaian juga. Umar berkata, “Kalau Allah memberi kamu kelapangan (kekayaan), manfaatkanlah kelapangan itu dengan memakai pakaian secukupnya. Shalatlah dengan memakai sarung dan baju, memakai sarung dan kemeja, celana dan mantel, celana agak pendek dan kemeja.” Aku kira beliau juga mengatakan, “Boleh mengenakan kain di bawah lutut dan selendang.”

    Apa yang Menutupi Aurat

    • (Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tersebut pada nomor 89 di muka.”)
    • Bab Ke-11: Shalat Tanpa Mengenakan Selendang
    • (Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Jabir yang tersebut pada nomor 196 di muka.”)

    10 Hadits Shahih Pilihan Tentang Perintah Berpegang Teguh Pada Ad-Diin-Nya

    10 Hadits Shahih Pilihan Tentang Perintah Berpegang Teguh Pada Ad-Diin-Nya

    1. Sesungguhnya agama ini mudah dan tiada seorang yang mempersulit agama, kecuali pasti dikalahkannya. Bertindaklah tepat, lakukan pendekatan, sebarkan berita gembira, permudahlah dan gunakan siang dan malam hari serta sedikit waktu fajar sebagai penolongmu. (HR. Bukhari)
    2. Tiada manusia mengabaikan sesuatu dari urusan agama untuk kepentingan keduniaan mereka, kecuali Allah menimbulkan bagi mereka perkara-perkara yang lebih membahayakan mereka. (HR. Ahmad)
    3. Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat ini pada penghujung tiap seratus tahun orang yang memperbaharui (ajaran) agama mereka. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim)
    4. Akan datang satu masa, hati seorang mukmin cair sebagaimana cairnya timah dalam api disebabkan melihat bala dan peristiwa yang merugikan agamanya tetapi dia tidak mampu merubahnya. (Aththusi)
    5. Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak dan jangan sampai timbul dalam dirimu kejenuhan beribadah kepada Robbmu. (HR. Al-Baihaqi)
    6. Yang menyebabkan agama cacat ialah hawa nafsu. (HR Asysyihaab)
    7. Umatku dibebaskan (dari tuntutan) disebabkan kesalahan (yang tidak disengaja), lupa dan terhadap apa yang dipaksakan kepada mereka. (HR. Ath Thobari)
    8. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk diampuni dan kembali kepada jalan Allah yang telah Allah tangguhkan ajalnya sehingga dia sudah mencapai usia enam puluh tahun. (HR. Bukhari) Penjelasan: Jadi bila sudah mencapai usia 60 tahun dan belum mau bertobat atas perbuatan dosanya maka tidak ada lagi alasan baginya pada saat menghadapi perhitungan Allah.
    9. Allah menyukai akan rukhsah-rukhsah-Nya [1] diterima dan diamalkan sebagaimana seorang hamba menyukai pengampunan-Nya. (HR. Ath Thobari)
    10. Sesungguhnya Allah akan mendukung (mengokohkan) agama ini (Islam) dengan perantaraan seorang yang durhaka. (Mutafaq’alaih)

    Tata Cara Shalat Jama’

    Tata Cara Shalat Jama’

    Menjama’ sholat adalah melakukan sholat Dhuhur dan Ashar dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut, atau melaksanakan sholat Maghrib dan Isya’ dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut. Maka sholat dengan cara jama’ ada dua macam:

    1. Jama’ taqdim. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu dhuhur, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu maghrib.
    2. Jama’ ta’khir. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu ashar, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu isya’.

    Kondisi di bolehkannya shalat jama’

    Ketentuan jama’ dan atas adalah mengacu kepada pendapat mazhab Syafii. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang diperbolehkan melakukan sholat dengan jama’ dari berbagai mazhab:

    1. Perjalanan panjang lebih dari 80,64km (Syafii dan Hambali).
    2. Perjalanan mutlak meskipun kurang 80km (Maliki).
    3. Hujan lebat sehingga menyulitkan melakukan sholat berjamaah khusus untuk sholat maghrib dan isya’ (Maliki, Hambali). Termasuk kategori ini adalah jalan yang becek, banjir dan salju yang lebat. Mazhab Syafii untuk kondisi seperti ini hanya memperbolehkan jama’ taqdim. Dalil dari pendapat ini adalah hadist Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. sholat bersama kita di Madina dhuhur dan ashar digabung dan maghrib dan isya’ digabung, bukan karena takut dan bepergian” (h.r. Bukhari Muslim).
    4. Sakit (menurut Maliki hanya boleh jama’ simbolis, yaitu melakukan solat awal di akhir waktunya dan melakukan sholar kedua di awal waktunya. Menurut Hambali sakit diperbolehkan menjama’ sholat).
    5. Saat haji yaitu di Arafah dan Muzdalifah.
    6. Menyusui, karena sulit menjaga suci, bagi ibu-ibu yang anaknya masih kecil dan tidak memakai pampers (Hambali).
    7. Saat kesulitan mendapatkan air bersih (Hambali).
    8. Saat kesulitan mengetahu waktu sholat (Hambali).
    9. Saat perempuan mengalami istihadlah, yaitu darah yang keluar di luar siklus haid. (Hambali). Pendapat ini didukung hadist Hamnah ketika meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. saat menderita istihadlah, Rasulullah s.a.w. bersabda:”Kalau kamu mampu mengakhirkan dhuhur dan menyegerakan ashar, lalu kamu mandi dan melakukan jama’ kedua sholat tersebut maka lakukanlah itu” (h.r. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
    10. Karena kebutuhan yang sangat mendesak, seperti khawatir keselamatan diri sendiri atau hartanya atau darurat mencari nafkah dan seperti para pekerja yang tidak bisa ditinggal kerjaannya. (Hambali).

    Para pekerja di kota-kota besar yang pulang dengan tansportasi umum setelah sholat ashar sering menghadapi kondisi sulit untuk melaksanakan sholat maghrib secara tepat waktu karena kendaraan belum sampai di tujuan kecuali setelah masuk waktu isya’, sementara untuk turun dan melakukan sholat maghrib juga tidak mudah. Pada kondisi ini dapat mengikuti mazhab Hambali yang relatif fleksibel memperbolehkan pelaksanaan sholat jama’. Menurut mazhab Hambali asas diperbolehkannya qashar sholat adalah karena bepergian jauh, sedangkan asas diperbolehkannya jama’ adalah karena hajah atau kebutuhan. Maka ketentuan jama’ lebih fleksibel dibandingkan dengan ketentuan qashar.

    Syarat sah jama’ taqdim

    Syarat-Syarat Jama’ Taqdim

    Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan sholat jama’ taqdim, dengan syarat sebagai berikut :

    1. Bukan berpergian maksiat.
    2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab Syafii)
    3. Berniat jama’ taqdim dalam sholat yang pertama ( Dhuhur / Maghrib).
    4. Tartib, yakni mendahulukan sholat dhuhur sebelum sholat ashar dan mendahulukan sholat maghrib sebelum sholat isya’.
    5. Wila, yakni setelah salam dari sholat pertama, segera cepat-cepat melakukan sholat kedua, tenggang waktu anatara sholat pertama dengan sholat kedua, selambat-lambatnya, kira-kira tidak cukup untuk mengerjakan dua roka’at singkat.

    Cara jama’ taqdim

    • Yang dimaksud dengan sholat jama’ taqdim adalah, melakukan sholat ashar dalam waktunya sholat dhuhur, atau melakukan sholat isya’ dalam waktunya sholat maghrib. Sholat shubuh t idak dapat dijama’ dengan sholat isya’. Pelaksanaan sholat dengan jama’ taqdim antara sholat dhuhur dengan ashar, dilakukan dengan cara, setelah masuk waktu dhuhur, terlebih dahulu melakukan sholat dhuhur, dan ketika takbirotul ihram, berniat menjama’ sholat dhuhur dengan ashar. Contoh : Usholli fardlod-dhuhri jam’an bil ‘ashri taqdiman lillahi ta’ala. Artinya : “Saya berniat sholat dhuhur dengan dijama’ taqdim dengan ashar karena Allah” Niat jama’ taqdim, dapat juga dilakukan di tengah-tengah sholat dhuhur sebelum salam, dengan cara berniat didalam hati tanpa diucapkan, menjama’ taqdim antara ashar dengan dhuhur.
    • Kemudian setelah salam dari sholat dhuhur, cepat-cepat melakukan sholat ashar. Demikian juga cara sholat jama’ taqdim antara sholat maghrib dengan sholat isya’, sama dengan cara jama’ taqdim antara sholat dhuhur dengan ashar, dan lafadz dhuhur diganti dengan maghrib, lafadz ashar diganti dengan isya’.
    • Jika sholat jama’ taqdim dilakukan dengan qashar, maka sholat yang empat raka’at, yaitu dhuhur, ashar, dan isya’, diringkas menjadi dua rokaat. Contoh niat jama’ taqdim serta qashar: Usholli fardlod-dhuhri rok’ataini jam’an bil ‘ashri taqdiman wa qoshron lillahi ta’ala Artinya : “Saya berniat sholat dhuhur dua roka’at dengan dijama’ taqdim dengan ashar dan diqashar karena Allah 

    7 Syarat Shalat Qosor


    7 Syarat Shalat Qosor
    Orang yang sedang bepergian (musafir), diperbolehkan melakukan sholat dengan qashar, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

    1. Bukan bepergian maksiat, seperti bepergian dengan tujuan mencuri, dan lain-lain.
    2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak kurang lebih 80,64 km. Muslim sahaat Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. ketika bepergian sejauh tiga mil atau tiga farsakh, beliau melakukan shalat dua rakaat. Hadist lain meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:”Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian melakkan qashar pada perjalanan kurang dari empat bard, yaitu dari Makkah ke Usfan”. (H.r. Dar Quthni dari Ibnu Abbas. Hadist ini juga diriwayatkan sebagai statemen Ibu Abbas). Para ulama pada zaman dahulu memperkirakan jarak tersebut dengan durasi perjalanan selama dua hari menggunakan kuda atau onta. Dan para ulama sekarang memperkirakan sejauh 80,64 km atau dibulatkan 80 km. perbedaan kurang atau lebih sedikit tidak masalah karena al-Qur’an tidak secara jelas memberikan batasan jarak dan hadist-hadist dan perhitungan jarak mil dan farsakh versi lama masih mengalami perbedaan. Imam Syafii sangat ketat memberlakukan hitungan tersebut, yakni harus melebih minimal 80,6 km tidak boleh kurang.
    3. Mengetahui hukum diperbolehkannya qashar.
    4. Sholat yang di qashar berupa sholat empat roka’at. Yakni Dhuhur, Ashar dan Isya’
    5. Niat qashar pada saat takbirotul ihram.
    6. Tidak bermakmum/berjama’ah kepada orang yang tidak sedang melakukan qashar sholat.
    7. Tidak berniat mukim untuk jangka waktu lebih dari tiga hari tiga malam di satu tempat. Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa lama seorang musafir masih diperbolehkan melakukan qashar ketika transit di satu tempat. Mayoritas ulama dan mazhab empat kecuali Hanafi mengatakan maksimum transit yang diperbolehkan melakukan qashar adalah tiga hari. Kalau seorang musafir menetap di satu tempat telah melebihi tiga hari maka ia tidak boleh lagi melakukan qashar dan harus menyempurnakan sholat. Pendapat kedua diikuti imam Hanafi dan Sofyan al-Tsauri mengatakan maksimum waktu transit yang dipernolehkan jama’ adalah 15 hari. Pendapat ketiga diikuti sebagian ulama Hanbali dan Dawud mengatakan maksimum 4 hari.

    Tata Cara Shalat Jama’


    Tata Cara Shalat Jama’

    Menjama’ sholat adalah melakukan sholat Dhuhur dan Ashar dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut, atau melaksanakan sholat Maghrib dan Isya’ dalam salah satu waktu kedua sholat tersebut secara berturut-turut. Maka sholat dengan cara jama’ ada dua macam:

    1. Jama’ taqdim. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu dhuhur, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu maghrib.
    2. Jama’ ta’khir. Yaitu mengumpulkan sholat dhuhur dan sholat ashar dalam waktu ashar, atau sholat maghrib dan sholat isya’ dalam waktu isya’.

    Kondisi di bolehkannya shalat jama’

    Ketentuan jama’ dan atas adalah mengacu kepada pendapat mazhab Syafii. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang diperbolehkan melakukan sholat dengan jama’ dari berbagai mazhab:

    1. Perjalanan panjang lebih dari 80,64km (Syafii dan Hambali).
    2. Perjalanan mutlak meskipun kurang 80km (Maliki).
    3. Hujan lebat sehingga menyulitkan melakukan sholat berjamaah khusus untuk sholat maghrib dan isya’ (Maliki, Hambali). Termasuk kategori ini adalah jalan yang becek, banjir dan salju yang lebat. Mazhab Syafii untuk kondisi seperti ini hanya memperbolehkan jama’ taqdim. Dalil dari pendapat ini adalah hadist Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. sholat bersama kita di Madina dhuhur dan ashar digabung dan maghrib dan isya’ digabung, bukan karena takut dan bepergian” (h.r. Bukhari Muslim).
    4. Sakit (menurut Maliki hanya boleh jama’ simbolis, yaitu melakukan solat awal di akhir waktunya dan melakukan sholar kedua di awal waktunya. Menurut Hambali sakit diperbolehkan menjama’ sholat).
    5. Saat haji yaitu di Arafah dan Muzdalifah.
    6. Menyusui, karena sulit menjaga suci, bagi ibu-ibu yang anaknya masih kecil dan tidak memakai pampers (Hambali).
    7. Saat kesulitan mendapatkan air bersih (Hambali).
    8. Saat kesulitan mengetahu waktu sholat (Hambali).
    9. Saat perempuan mengalami istihadlah, yaitu darah yang keluar di luar siklus haid. (Hambali). Pendapat ini didukung hadist Hamnah ketika meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. saat menderita istihadlah, Rasulullah s.a.w. bersabda:”Kalau kamu mampu mengakhirkan dhuhur dan menyegerakan ashar, lalu kamu mandi dan melakukan jama’ kedua sholat tersebut maka lakukanlah itu” (h.r. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
    10. Karena kebutuhan yang sangat mendesak, seperti khawatir keselamatan diri sendiri atau hartanya atau darurat mencari nafkah dan seperti para pekerja yang tidak bisa ditinggal kerjaannya. (Hambali).

    Para pekerja di kota-kota besar yang pulang dengan tansportasi umum setelah sholat ashar sering menghadapi kondisi sulit untuk melaksanakan sholat maghrib secara tepat waktu karena kendaraan belum sampai di tujuan kecuali setelah masuk waktu isya’, sementara untuk turun dan melakukan sholat maghrib juga tidak mudah. Pada kondisi ini dapat mengikuti mazhab Hambali yang relatif fleksibel memperbolehkan pelaksanaan sholat jama’. Menurut mazhab Hambali asas diperbolehkannya qashar sholat adalah karena bepergian jauh, sedangkan asas diperbolehkannya jama’ adalah karena hajah atau kebutuhan. Maka ketentuan jama’ lebih fleksibel dibandingkan dengan ketentuan qashar.

    Syarat jama’ takhir

    Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan jama’ ta’khir apabila memenuhi syarat sebagai berikut :

    1. Bukan bepergian maksiat.
    2. Jarak yang ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab Syafii)
    3. Berniat jama’ ta’khir didalam waktu dhuhur atau waktu maghrib.

    Cara jama’ takhir


    • Jama’ ta’khir adalah, melakukan sholat dhuhur dalam waktunya sholat ashar, atau melakukan sholat maghrib dalam waktunya sholat, isya’. Sholat shubuh tidak dapat dijama’ dengan sholat dhuhur.
    • Pelaksanaan sholat jama’ ta’khir antara sholat dhuhur dan ashar, dilakukan dengan cara, apabila telah masuk waktu dhuhur, maka dalam hati niat mengakhirkan sholat dhuhur untuk dijama’ dengan sholat ashar dalam waktu sholat ashar. Kemudian setelah masuk waktu ashar, melakukan sholat dhuhur dan sholat ashar (atau kalau dapat berjamaah, kerjakan ashar dulu kemudian dilanjutkan shalat zuhur) seperti biasa tanpa harus mengulangi niat jama’ ta’khir.



    Dalil dan Cara Shalat Qosor


    Dalil Shalat Qosor

    Dalil sholat secara sempurna atau qosor

    Para ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih utama dalam melaksanakan sholat saat bepergian, apakah dengan sempurnya seperti biasa ataukah dengan qashar.

    1. Pendapat pertama mengatakan qashar shalat saat bepergian hukumnya wajib. Pendapat ini diikuti mazhab Hanafiyah, Shaukani, Ibnu Hazm dan dari ulama kontemporer Albani. Bahkan Hamad bin Abi Sulaiman mengatakan barangsiapa melakukan sholat 4 rakaat saat bepergian, maka ia harus mengulanginya. Imam Malik juga diriwayatkan mengatakan mereka yang tidak melakukan qashar harus mengulangi sholatnya selama masih dalam waktu sholat tersebut. Pendapat ini menyandar kepada dalil hadist riwayat Aisyah r.a. berkata:”Pada saat pertama kali diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian itu ditetapkan pada shalat bepergian, dan untuk sholat biasa disempurnakan” (Bukhari Muslim). Dalil ini juga diperkuat oleh riwayat Ibnu Umar r.a. beliau berkata:”Aku menemani Rasulullah s.a.w. dalam bepergian, beliau tidak pernah sholat lebih dari dua rakaat sampai beliau dipanggil Allah” (Bukhari Muslim). Dalil lain dari pendapat ini adalah riwayat Ibnu Abbas r.a. juga pernah berkata:”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian s.a.w. bahwa untuk orang bepergian dua rakaat, untuk orang yang menetap empat rakaat dan dalam keadaan ketakutan satu rakaat.”(H.R. Muslim).
    2. Pendapat kedua mengatakan bahwa melakukan sholat dengan cara qashar saat bepergian hukumnya sunnah. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Syafii dan Hanbali dan mayoritas ulama berbagai mazhab. Dalil pendapat ini adalah ayat al-Qur’an: “وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا” (Annisa:101). “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Ayat ini dengan jelas menyatakan “tidak mengapa” yang berarti tidak keharusan. Dalil tersebut juga diperkuat oleh riwayat dari beberapa orang sahabat yang melakukan sholat sempurna pada saat bepergian. Sekiranya qashar wajib, tentu tidak akan ada seorang sahabat yang meninggakannya. Beberapa sahabat yang diriwayatkan tidak melakukan qashar saat bepergian adalah Usman, Aisyah dan Saad bin Abi Waqqas r.a.. Dalil lain adalah bahwa tatkala seorang musafir bermakmum dengan orang yang mukim, maka wajib baginya menyempurnakan sholat mengikuti tata cara shalat imam yang mukim. Imam Syafii mengatakan telah terjadi konsensus (Ijma’) ulama mengenai hal tersebut. Seandainya sholat musafir wajib qashar dan dua rakaat maka tentu sholatnya musafir tadi tidak sah karena melebihi dua rakaat. Ini menunjukan bahwa qashar bukan keharusan, tetapi anjuran atau sunnah.
    3. Pendapat ketiga mengatakan bahwa makruh hukumnya menyempurnakan sholat saat bepergian dan sangat disunnahkan untuk melakukan qashar. Alasannya, bahwa qashar merupakan kebiasaan Rasulullah s.a.w. dan merupakan sunnah, meninggakan sunnah merupakan perkara makruh. Rasulullah s.a.w. juga mengatakan dalam sebuah hadist yang sangat masyhur:” Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melakukannya sholat”.


    Cara shalat qoshor

    • Pelaksanaan sholat qashar sama seperti sholat biasa, hanya saja, sholat yang semestinya empat roka’at yaitu dhuhur, ashar, dan isya’, di ringkas menjadi dua roka’at dengan niat qashar pada waktu takbirotul ihram.
    • Contoh lafadz niat qashar : Usholli fardlod-dhuhri rok’ataini qoshron lillahi ta’ala. Artinya : saya niat sholat dhuhur dengan diqashar dua roka’at karena Allah.

    Sujud Tilawah, Keutamaan dan Tata caranya

    wp-1513731113210..jpgTata cara Sujud Tilawah

    Sujud adalah bagian dari ibadah dalam agama Islam. Sujud ada empat macam, yaitu sujud dalam salat, sujud sahwi, sujud syukur, dan sujud tilawah. Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan disebabkan adanya bacaan Alquran, yaitu bacaan ayat-ayat sajdah. Sujud Tilawah adalah gerakan sujud yang dilakukan ketika membaca ayat-ayat sajadah dalam Quran. Barangsiapa membaca suatu ayat sajadah atau mendengarnya, disunnatkan untuk sujud satu kali. Caranya: bertakbir – sujud – bertakbir lagi untuk bangun dari sujudnya itu. Inilah yang disebut Sujud Tilawah, tetapi tidak perlu membaca tasyahud (bacaan tahiyat) ataupun salam. Pengertian ayat Sajadah adalah ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an yang bila dibaca disunnahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah.

    wp-1513730953477..jpgTata cara sujud tilawah

    1. Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.
    2. Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.
    3. Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, وَسُجُودُ الْقُرْآنِ لَا يُشْرَعُ فِيهِ تَحْرِيمٌ وَلَا تَحْلِيلٌ : هَذَا هُوَ السُّنَّةُ الْمَعْرُوفَةُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ عَامَّةُ السَّلَفِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْ الْأَئِمَّةِ الْمَشْهُورِينَ “Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)
    4. Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Wa-il bin Hujr, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir. Beliau pun bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit dari sujud.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, Ath Thoyalisiy. Hasan)
    5. Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.  Dalil mereka adalah: إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّداً
    6. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isro’: 107).
      • Kata mereka, yang namanya yakhirru (menyungkur) adalah dari keadaan berdiri.
      • Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)

    Bacaan Dalam Sujud Tilawah

    • Boleh membaca do’a apa saja sekehendaknya, sementara yang diakui berasal dari tuntunan Rasulullah saw. misalnya sebuah hadits dari ‘Aisyah r.a., katanya: ‘Rasulullah saw. di dalam sujud Tilawah membaca ayat al-Qur’an: سجد وجهي للذي خلقه وشق بصره وسمعه بحوله وقوته ، فتبارك الله أحسن الخالقين Sujudlah wajahku kepada Allah. Dzat yang menciptakannya, yang membuka pendengaran serta penglihatannya dengan daya dan Kuasa-Nya. Maka Maha Mulialah Allah, sebaik-baik Dzat Yang Mencipta’.”[1].
    • Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: “Subhaana robbiyal a’laa”. Artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi. [2].

    wp-1513730872657..jpg

    Keutamaan Sujud Tilawah

    • Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah saw. bersabda:’Apabila seorang anak Adam membaca ayat sajadah, maka menyingkirlah setan sambil menangis dan berkata: Celakalah aku! ia diperintah bersujud lalu sujud, maka untuknyalah surga, sedang saya diperintah bersujud, tetapi saya menolak, maka untukku adalah neraka,'”
    • Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar r.a., katanya: “Rasulullah saw. membacakan al-Qur’an untuk kami. Jikalau melalui ayat sajadah terus saja beliau bertakbir dan sujud dan kami pun sujud pula.”. Menurut Abu Daud ia pun tertarik pula oleh sebab itu ia pun bertakbir pula.
    • Abdullah bin Mas’ud berkata: “Apabila Anda membaca ayat sajadah, maka bertakbirlah dan sujudlah. Kemudian di waktu mengangkat kepala, maka bertakbirlah sekali lagi.”

    1514021292123_crop_611x193.jpg

    Dalil dan Hukum

    • Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa sujud Tilawah itu sunat dilakukan oleh orang yang membaca atau yang mendengarkan.
    • Ini berdasarkan keterangan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Umar r.a., bahwa ia pada hari Jum’at membaca surat An-Nahl di atas mimbar. Ketika sampai pada ayat as-Sajadah, ia pun turunlah dan sujud, kemudian orang-orang lain pun sujud pula. Pada hari Jum’at berikutnya dibacanya pula surat itu sekali lagi dan ketika sampai pada ayat sajadah, ia berkata: “Wahai manusia, kita bukanlah diwajibkan untuk sujud Tilawah itu, maka barang siapa yang sujud, benarlah ia, sedang yang tidak sujud, tidak pula berdosa.”
    • Riwayat lain: “Bahwa Allah tidak memfardhukan kita untuk sujud, maka baiknya kita melakukan sekehendak kita saja.”
    • Jama’ah selain Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Zaid bin Tsabit, katanya: “Saya membaca surat Wan-Najmi di hadapan Nabi saw. tetapi pada ayat sajadah, beliau tidak sujud.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dan ia berkata: “Juga tidak seorang pun yang sujud di antara hadirin.”
    • Dan dalam kitab Al-Fath, Hafidz menguatkan pendapat bahwa ditinggalkan sujud itu adalah suatu tanda bolehnya. Demikian pula pendapat Syafi’i. Dikuatkan pula oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bazzar dan Daruquthni dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi saw. sujud dalam surat Wan-Najmi dan kami pun sujud pula bersama-sama.” Hafizh berkata bahwa hadits ini perawi-perawinya dapat dipercaya.

    Letak Ayat-Ayat Sajadah

    Di dalam al-Qur’an, ada 15 tempat – atau ada yang berpendapat 10 – ayat yang memuat ayat-ayat sajadah, untuk mengetahui tulisan dan bunyinya, klik Al-Qur’an Online.
    1. Q.S Al-A’raf ayat 206
    2. QS Ar-Ra’d ayat 15
    3. QS An-Nahl ayat 49
    4. QS Al-Isra ayat 107
    5. QS Maryam ayat 58
    6. QS Al-Haj ayat 18
    7. QS An-Naml ayat 25
    8. QS As-Sajadah ayat 15
    9. QS Al-Furqan ayat 60
    10. QS Fussilat ayat 38
    11. QS Al-Haj ayat 77
    12. QS An-Najm ayat 62
    13. QS Al-Insyiqaq ayat 21
    14. QS Al-Alaq ayat 19
    15. QS Shad ayat 28.

    wp-1513730843004..jpgwp-1513731113210..jpg

    Mengakhirkan Shalat Isya’ atau menunda shalat Isya’

    Mengakhirkan Shalat Isya’ atau menunda shalat Isya’

    • عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ ». Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Kalaulah bukan karena memberatkan bagi ummatku, pastilah aku perintahkan mereka menunda shalat Isya’ hingga sepertiga atau setengah malam”. (HR. at-Tirmidzi).

    • عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَعْتَمَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ « إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى ». وَفِى حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ « لَوْلاَ أَنْ يَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى ». Dari Aisyah, ia berkata: “Pada suatu malam Rasulullah Saw mengakhirkan shalat Isya’ hingga sebagian besar malam telah berlalu dan hingga jamaah telah tertidur, kemudian Rasulullah Saw keluar dan melaksanakan shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya inilah waktunya, kalaulah bukan karena memberatkan bagi ummatku”. Dalam hadits riwayat Abdurrazzaq: “Kalaulah bukan karena memberatkan bagi ummatku”. (Hadits riwayat Imam Muslim).
    • وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ Dan shalat Isya’, terkadang Rasulullah Saw mengakhirkannya dan terkadang menyegerakannya. (Hadits riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, penjelasan tentang waktu shalat).

    Pendapat Imam at-Tirmidzi:

    • وَهُوَ الَّذِى اخْتَارَهُ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَالتَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ رَأَوْا تَأْخِيرَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ.

    • (Mengakhirkan shalat Isya’), Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama dari kalangan shahabat nabi, tabi’in dan selain mereka. Menurut mereka pelaksanaan Isya’ diakhirkan, demikian menurut pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq. (Sumber: Kitab Sunan at-Tirmidzi).

     Pendapat ulama Arab Saudi Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid:

    • وقد اعتاد الناس في بعض البلاد تأخير صلاة العشاء في رمضان نصف ساعة أو نحواً من هذا عن أول وقتها ، حتى يفطر الناس على مهل ويستعدوالصلاة العشاء والتراويح .وهذا العمل لا بأس به ، بشرط ألا يؤخر الإمام الصلاة إلى حد يشق على المأمومين كما سبق .والأولى في هذا الرجوع إلى أهل المسجد ، والاتفاق معهم على وقت الصلاة ، فهم أعلم بما يناسبهم .والله أعلم .
    • Banyak orang terbiasa mengakhirkan shalat Isya di sebagian negeri pada bulan Ramadhan hingga setengah jam atau sekitar itu dari waktunya, agar orang banyak dapat berbuka dengan nyaman dan bersiap-siap melaksanakan shalat Isya’ dan Tarawih. Perbuatan seperti ini boleh dilakukan dengan syarat imam tidak boleh mengakhirkan shalat Isya’ hingga memberatkan ma’mum. Masalah ini kembali kepada jamaah masjid, kesepakatan mereka, mereka lebih mengerti waktu yang sesuai bagi mereka, wallahu a’lam. (Sumber: Fatawa al-Islam, juz.1, hal.3882).


    « Entri Lama