Category Archives: Puasa

Tuntunan Rasulullah TENTANG puasa Senin Kamis

Hadits Tentang Puasa Senin Kamis

Puasa adalah amalan yang sangat utama. Dengan puasa seseorang akan terlepas dari berbagai godaan syahwat di dunia dan terlepas dari siksa neraka di akhirat. Puasa pun ada yang diwajibkan dan ada yang disunnahkan. Setelah kita menunaikan yang wajib, maka alangkah bagusnya kita bisa menyempurnakannya dengan amalan yang sunnah. Ketahuilah bahwa puasa sunnah nantinya akan menambal kekurangan yang ada pada puasa wajib.

Keutamaan Orang yang Berpuasa

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)

Dalam riwayat lain dikatakan,

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)

Dalam riwayat Ahmad dikatakan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Di antara ganjaran berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

-Pahala yang tak terhingga bagi orang yang berpuasa
-Amalan puasa khusus untuk Allah
-Sebab pahala puasa, seseorang memasuki surga
-Dua kebahagiaan yang diraih orang yang berpuasa yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.
-Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kasturi.

Lakukanlah Puasa dengan Ikhlas dan Sesuai Tuntunan Nabi

Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:

-Ikhlas karena Allah.
-Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).

Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.

Dalil dari dua syarat di atas adalah firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Lalu Al Fudhail berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)

Dalil Anjuran Puasa Senin-Kamis

[Dalil pertama]

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”

[Dalil kedua]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”

[Dalil ketiga]

Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.”

Keutamaan Puasa Senin-Kamis

-Beramal pada waktu utama yaitu ketika catatan amal dihadapkan di hadapan Allah.
-Kemaslahatan untuk badan dikarenakan ada waktu istirahat setiap pekannya.

Catatan: Puasa senin kamis dilakukan hampir sama dengan puasa wajib di bulan Ramadhan. Dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Untuk masalah niat, tidak ada lafazh niat tertentu. Niat cukup dalam hati.

Amalan yang Terbaik adalah Amalan yang Bisa Dirutinkan

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”
’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Keutamaan Puasa Arafah dan Puasa Tarwiyah

PUASA ARAFAH

adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.

Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

Puasa Tarwiyah

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia seperti terjadi pada tahun (Dzulhijjah 1427 H), dimana Saudi menetapkan Awal Dzulhijjah pada hari Kamis (21 Desember 2006) dan Indonesia menetapkan hari Jum’at (22 Desember 2006) maka untuk umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat, yakni tanggal 8-9 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim)

Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.

Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“.

Amalan Paling Dicintai Allah, Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“.

2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. [Muttafaqun ‘Alaihi].

8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“.

Dalam riwayat lain :

فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

3 Ibadah Besar Di Penghujung Ramadhan

FIQIH PUASA

Tiga Ibadah Agung Di Penghujung Ramadhan

Mengakhiri bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Allâh Azza wa Jalla mensyari’atkan kepada kita beberapa ibadah agung yang bisa menambah keimanan kita kepada Allâh Azza wa Jalla dan bisa menyempurnakan ibadah kita serta bisa semakin melengkapi nikmat Allâh Azza wa Jalla kepada kita.

Ibadah-ibadah terebut adalah

  1. zakat Fithri,
  2. takbîr pada malam Îd dan
  3. shalat Îd.

Zakat Fithri diwajibkan atas setiap kaum Muslimin.

Zakat ditunaikan dengan mengeluarkan satu Sha’ (kurang lebih 3 kg) bahan makanan pokok, sebagai pembersih bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa dan sebagai bahan makanan bagi orang-orang miskin. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat Fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.[1]
Karena zakat Fithri ini merupakan kewajiban kita semua, maka hendaklah kita melaksanakannya dengan benar dalam rangka mentaati perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Hendaklah kita mengeluarkan zakat untuk diri kita dan orang-orang yang berada dalam tanggungan kita. Hendaklah kita memilih bahan makanan pokok yang terbaik yang kita mampu dan yang paling bermanfaat, karena zakat ini hanya satu sha’ dalam setahun. Dan dikarenakan juga tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu dan bisa menjamin bahwa dia akan bisa melaksanakan zakat ini lagi pada tahun yang akan datang.

Apakah kita mau dan rela berbuat bakhil untuk diri kita sendiri yaitu dengan mengeluarkan zakat dari bahan makan pokok yang jelek atau yang lebih jelek dari yang kita makan atau yang paling jelek? Jawabannya, tentu tidak.
Marilah kita berantusias untuk menunaikan ibadah zakat ini dengan benar sebagaimana yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat Radhiyallahu anhum. Janganlah kita menunaikannya dengan membayarkan atau mengeluarkan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal saat itu alat tukar yang sejenis dengan uang sudah ada, namun mereka tidak membayar zakat Fithri mereka dengan dinar dan dirham yang mereka miliki. Ini menunjukkan hal itu tidak disyari’atkan.

Barangsiapa menunaikan zakat ini dengan menggunakan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, maka ibadah zakatnya dikhawatirkan tidak diterima oleh Allâh Azza wa Jalla, karena menyelisihi apa yang diwajibkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Hendaklah kita menunaikan zakat Fithri dan memberikannya kepada orang-orang miskin sekitar kita, terutama kepada orang-orang miskin yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan kita sementara dia tidak termasuk orang-orang yang wajib kita nafkahi.

Tidak apa-apa, jika satu orang miskin diberi dua zakat Fithri atau lebih atau sebaliknya satu zakat Fithri dibagikan kepada dua orang miskin. Berdasarkan ini, jika ada satu keluarga yang mengumpulkan zakat Fithri mereka lalu diberikan kepada satu orang miskin, maka itu tidak apa-apa. Jika zakat yang kita berikan itu dipergunakan lagi oleh si penerima zakat untuk membayar zakat dirinya dan keluarganya, maka itu juga tidak apa-apa.

Tunaikanlah zakat Fithri pada hari raya sebelum shalat karena itu yang terbaik. Namun diperbolehkan juga mengeluarkan zakat Fithri sehari atau dua hari sebelum hari raya. Juga tidak boleh menunda zakat Fithri sampai setelah shalat hari raya kecuali karena ada udzur syar’i, misalnya berita tentang hari raya datang mendadak dan tidak memungkinkan dia untuk mengeluarkannya sebelum shalat, karena waktunya yang sangat singkat.

Apabila kita telah berniat hendak mengeluarkan dan menyerahkan zakat Fithri kita untuk seseorang lalu orang tersebut tidak kunjung kita temukan sementara shalat sudah akan dilaksanakan, maka hendaknya kita memberikannya kepada orang lain. Jangan sampai kita kehilangan waktu tersebut! Jika kita sudah berniat hendak menyerahkannya kepada orang tertentu yang kita pandang paling berhak namun tak kunjung kita temukan orangnya, maka kita bisa meminta kepada orang lain untuk mewakili orang tersebut dan menyerahkan zakat tersebut kepada orang yang kita maksudkan jika sudah bertemu.

Ibadah kedua yaitu ibadah Takbîr. Allâh Azza wa Jalla telah jelaskan dalam firman-Nya:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allâh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.[Al-Baqarah/2:185]
Maka hendaklah kita bertakbir dengan mengucapkan :
اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Takbir ini diucapkan dengan suara keras oleh kaum laki-laki namun bagi kaum wanita maka takbîr ini dilakukan dengan suara perlahan.
Ibadah ketiga yaitu Shalat Îd. Dalam rangka pelaksanaan ibadah ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada para lelaki dan wanita hingga para wanita perawan dan pingitan serta orang yang tidak memiliki kebiasaan keluar rumah untuk keluar melaksanakannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka semua termasuk wanita yang sedang haidh diperintahkan untuk keluar agar dapat menyaksikan kebaikan dan doanya kaum Muslimin. Para wanita yang sedang haidh ini tentu harus menjauh dari tempat shalat sehingga tidak duduk di tempat shalat ‘Îd.
Wahai kaum Muslimin! Hendaklah kita keluar semua laki dan perempuan untuk shalat hari raya dalam rangka beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan melaksankan perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berharap kebaikan dan doanya kaum Muslimin. Berapa banyak kebaikan yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan betapa banyak doa-doa yang diijabahi (dikabulkan) oleh Allâh Azza wa Jalla kala itu.

Hendaknya para lelaki keluar dalam keadaan bersih dan memakai minyak wangi serta mengenakan pakaian terbaik mereka! Namun bagi kaum wanita, hendaknya keluar tanpa berhias dan menggunakan wewangian.
Disunnahkan, saat berangkat shalat Îd dengan berjalan kaki kecuali ada udzur seperti tidak mampu berjalan dan tempatnya jauh.

Termasuk amalan sunnah pada hari itu juga adalah makan sebelum berangkat shalat beberapa biji kurma dalam jumlah ganjil ; tiga, lima atau lebih. Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata:
أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari Îdul Fithri hingga makan beberapa kurma dan memakannya dengan bilangan ganjil. [HR al-Bukhâri]

Inilah tiga ibadah yang disyari’atkan dipenghujung bulan Ramadhan. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua sehingga bisa melaksanakannya ketiga ibadah ini dengan baik dan benar.

Sumber:

  • //almanhaj.or.id/4176-tiga-ibadah-agung-di-penghujung-ramadhan.html

Hadits Bukhari Pilihan: Kitab I’tikaf

Hadits Bukhari Pilihan: Kitab I’tikaf

Bab 1: I’tikaf pada Sepuluh Hari Terakhir (Bulan Ramadhan) dan I’tikaf dalam Semua Masjid, Firman Allah, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikian Allah menerangkan aya-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (al-Bagarah: 187)

992. Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Rasulullah biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.”

993. Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.

Bab 2: Wanita yang Sedang Haid Menyisir Rambut Orang yang Sedang Beri’tikaf

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang tertera pada nomor 167 di muka.”)

Bab 3: Orang yang Beri’tikaf Tidak Boleh Masuk Rumah Kecuali karena Ada Keperluan

994. Aisyah r.a. berkata, “Sungguh Rasulullah memasukkan kepala beliau kepadaku ketika beliau sedang beri’tikaf di masjid, lalu saya menyisirnya. Apabila beliau beri’tikaf, maka beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena ada keperluan.”

Bab 4: Membasuh atau Mencuci Orang yang Sedang Beri’tikaf

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang diisyaratkan di muka.”)

Bab 5: Mengerjakan I’tikaf pada Waktu Malam

995. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Umar bertanya kepada Nabi saw. (dalam satu riwayat: dari Ibnu Umar dari Umar ibnul Khaththab bahwa dia 2/259) berkata, “(Wahai Rasulullah! Pada zaman jahiliah dulu, saya bernazar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Beliau bersabda, “Penuhilah nazarmu.” (Lalu Umar beri’tikaf semalam 2/260).

Bab 6: I’tikafnya Kaum Wanita

996. Aisyah r.a. berkata, “Nabi beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari (dalam satu riwayat: setiap 2/259) bulan Ramadhan. Maka, saya buatkan untuk beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dalam tenda itu. (Apakah Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf? Lalu Nabi memberinya izin, lantas dia membuat kubah di dalamnya. Maka, Hafshah mendengarnya). Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah untuk membuat sebuah tenda pula, maka Aisyah mengizinkannya. Kemudian Hafshah membuat tenda (dalam satu riwayat: kubah). Ketika Zainab binti Jahsy melihat tenda itu, maka ia membuat tenda untuk dirinya. Ketika hari telah subuh, Nabi melihat tenda-tenda itu (dalam satu riwayat: melihat empat buah kubah). Lalu, Nabi bertanya, ‘Tenda-tenda apa ini?’ Maka, diberitahukan orang kepada beliau (mengenai informasi tentang mereka). Lalu, Nabi bersabda, ‘Apakah yang mendorong mereka berbuat begini? Bagaimanakah sebaiknya menurut pikiran kamu mengenai mereka? (Aku tidak melakukan i’tikaf sekarang 2/260).’ Lalu, beliau menghentikan i’tikafnya dalam bulan itu. Kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Syawwal.”

Bab 7: Beberapa Tenda di dalam Masjid

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Aisyah di atas.”)

Bab 8: Apakah Dibolehkan Orang yang Beri’tikaf Itu Keluar ke Pintu Masjid Sebab Ada Keperluan

997. Shafiyyah istri Nabi mengatakan bahwa ia datang mengunjungi Rasulullah pada saat beliau i’tikaf di masjid pada sepuluh (malam) yang akhir pada bulan Ramadhan. (Pada waktu itu di sisi beliau ada istri-istri beliau, lalu mereka bubar 2/285). Lalu, ia bercakap-cakap kepada beliau sesaat, kemudian ia berdiri hendak pulang. (Beliau berkata kepada Shafiyyah binti Huyai, “Janganlah tergesa-gesa sehingga aku pulang bersamamu.” Dan rumah Shafiyyah berada di kampung Usamah bin Zaid 4/203). Kemudian Nabi berdiri bersama untuk mengantarkannya pulang. Sehingga, ketika sampai di (sekat 4/45) pintu masjid yang ada di pintu (dalam satu riwayat: tempat tinggal) Ummu Salamah (istri Nabi), lewatlah dua orang laki-laki kalangan Anshar. Lalu, mereka memberi salam kepada Rasulullah (Dalam satu riwayat: lalu mereka memandang kepada Rasulullah, kemudian keduanya berlalu. Dalam riwayat lain: bergegas). Maka, Nabi bersabda kepada keduanya, “Tunggu! (Kemarilah), dia adalah Shafiyyah binti Huyyai.” Kemudian mereka berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Hal itu berat dirasa oleh kedua orang itu, maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya setan itu dapat mencapai pada manusia pada apa yang dicapai oleh (dalam satu riwayat: mengalir di dalam tubuh anak Adam pada tempat mengalirnya) darah. Aku khawatir setan itu melemparkan (suatu keburukan, atau beliau bersabda:) sesuatu ke dalam hatimu berdua.” (Aku bertanya kepada Sufyan, “Apakah Shafiyyah datang kepada Nabi pada waktu malam?” Dia menjawab, “Bukankah ia tidak lain kecuali malam hari?” 2/259).

Bab 9: Nabi Keluar Mengerjakan I’tikaf pada Pagi Hari Tanggal Dua Puluh

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits Abu Sa’id yang tertera pada nomor 442 di muka.”)

Bab 10: I’tikafnya Wanita Istihadhah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada nomor 174 di muka.”)

Bab 11: Kunjungan Seorang Wanita Kepada Suaminya yang Sedang Beri’tikaf

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Shafiyyah di muka.”)

Bab 12: Apakah Orang yang Beri’tikaf Itu Boleh Membela Dirinya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Shafiyyah di atas.”)

Bab 13: Orang Yang Keluar dari I’tikaf ketika Subuh

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Sa’id yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 14: Mengerjakan I’tikaf dalam Bulan Syawwal

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah (nomor 996 -penj.) di muka.”)

Bab 15: Orang yang Tidak Memandang Harus Berpuasa Jika Hendak Mengerjakan I’tikaf

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar pada dua hadits sebelumnya [yakni nomor 995 penj.].”)

Bab 16: Apabila Seseorang Bernazar pada Zaman Jahiliah untuk Beri’tikaf, Kemudian Ia Masuk Islam

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar tadi.”)

Bab 17: Beri’tikaf dalam Sepuluh Hari Pertengahan Bulan Ramadhan

998. Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi biasa beri’tikaf dalam setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Kemudian setelah datang tahun yang pada tahun itu beliau dicabut ruhnya (yakni wafat), beliau itikaf selama dua puluh hari.”

Bab 18: Orang Yang Hendak Beritikaf, Kemudian Terlintas dalam Hatinya untuk Keluar

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang disebutkan pada dua hadits sebelum ini.”)

Bab 19: Orang yang Itikaf Memasukkan Kepalanya ke Rumah untuk Dibasuh atau Dicuci

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang tertera pada nomor 167 di muka.”)

Hadits Pilihan Bukhari: Kitab Puasa

Bab 1: Wajibnya Puasa Ramadhan Dan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(al-Baqarah: 183)
917. Ibnu Umar r.a. berkata, “Nabi puasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan supaya orang berpuasa padanya.” (Dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Pada hari Asyura itu orang-orang jahiliah biasa berpuasa 5/154). Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, ditinggalkannya puasa Asyura.’ (Dan, dalam satu riwayat: Ibnu Umar berkata, ‘Orang yang mau berpuasa, ia berpuasa; dan barangsiapa yang tidak hendak berpuasa, maka dia tidak berpuasa.’) Biasanya Abdullah (Ibnu Umar) tidak puasa pada hari itu, kecuali kalau bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa pada hari itu.”

Bab 2: Keutamaan Puasa

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada ‘9 – BAB’.”)

Bab 3: Puasa Itu Adalah Kafarat (Penghapus Dosa)

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Hudzaifah yang tertera pada nomor 293 di muka.”)

Bab 4: Pintu Rayyan Itu Khusus Untuk Orang-Orang yang Berpuasa

918. Sahl r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana 4/88) ada pintu yang disebut Rayyan, yang besok pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, ‘Dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya.”

919. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi nafkah dua istri (dengan apa pun 4/193) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini lebih baik.’ (Dan dalam satu riwayat: Ia akan dipanggil oleh para penjaga surga, yakni oleh tiap-tiap penjaga pintu surga, ‘Hai kemarilah.’ 2/213). Barangsiapa yang ahli shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang ahli jihad, maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang ahli puasa, maka ia dipanggil dari (pintu puasa dan) pintu Rayyan. Dan, barangsiapa yang ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar berkata, “(Tebusan) engkau adalah dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Apakah ada keperluan bagi yang dipanggil dari seluruh pintu itu? Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu itu?” (Dalam satu riwayat: “Wahai Rasulullah, itu yang tidak binasa?”) Beliau bersabda, “Ya, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka.”

Bab 5: Apakah Boleh Disebut Ramadhan Saja ataukah Bulan Ramadhan? Dan, Orang yang Berpendapat bahwa Hal Itu Sebagai Kelonggaran

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan.”[1]

Beliau juga pernah, “Janganlah kamu semua mendahului Ramadhan (yakni sebelum tibanya).”[2]

920. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit (dalam satu riwayat: pintu-pintu surga) dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai.”

Bab 6: Orang yang Berpuasa Ramadhan Karena Iman dan Mengharapkan Pahala dari Allah Serta Keikhlasan Niat

Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Orang-orang akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan niatnya.”[3]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 26 di muka.”)

Bab 7: Nabi Paling Dermawan pada Bulan Ramadhan

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 4 di muka.”)

Bab 8: Orang yang Tidak Meninggalkan Kata-kata Dusta dan Pengamalannya di Dalam Puasa

921. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minunmya.'”

Bab 9: Apakah Seseorang Itu Perlu Mengucapkan, “Sesungguhnya Aku Ini Sedang Berpuasa”, Jika Ia Dicaci Maki?

922. Abu Hurairah r.a, berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, (dalam satu riwayat: dari Nabi, beliau meriwayatkan dari Tuhanmu, Dia berfirman 8/212), “Setiap amal anak Adam itu untuknya sendiri selain puasa, sesungguhnya puasa itu untuk Ku (dalam satu riwayat: Tiap-tiap amalan memiliki kafarat, dan puasa itu adalah untuk Ku 8/212), dan Aku yang membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila ada seseorang di antaramu berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak (dan dalam satu riwayat: jangan bertindak bodoh 2/226). Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau memeranginya (mengajaknya bertengkar), maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ (dua kali 2/226) Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum daripada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu.”

Bab 10: Berpuasa untuk Orang yang Takut Terjatuh dalam Perzinaan Kalau Membujang

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Mas’ud yang tertera pada ’67-AN-NIKAH / 2 – BAB’.”)

Bab 11: Sabda Nabi, “Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Ramadhan), maka berpuasalah. Apabila kamu sudah melihat bulan sabit (1 Syawwal), maka berbukalah (jangan berpuasa).”[4]

Shilah berkata dari Ammar, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang meragukan, maka sesungguhnya dia telah melanggar ajaran Abul Qasim (Nabi).”[5]

923. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah pernah berbicara perihal Ramadhan. Beliau bersabda, “Sebulan itu dua puluh sembilan malam. (Dalam satu riwayat: ‘Sebulan itu seperti ini dan ini’, dan beliau menggenggam ibu jarinya pada kali yang ketiga. Dalam riwayat lain: ‘Sebulan itu seperti ini dan seperti ini dan seperti ini’, yakni tiga puluh hari. Kemudian beliau bersabda, ‘Seperti ini dan seperti ini dan seperti ini”, yakni dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda sekali tiga puluh hari, dan sekali dua puluh sembilan hari. 6/78). Maka, janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan sabit (tanggal 1 Ramadhan), dan janganlah kamu berbuka sehingga kamu melihatnya (tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, kira-kirakanlah bilangannya (buatlah perhitungan bagi harinya).” (Dan dalam satu riwayat: “Maka, sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban tiga puluh hari.”)

924. Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi (Abul Qasim) bersabda, ‘Berpuasalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal satu Ramadhan), dan berbukalah bila kamu melihatnya (bulan sabit tanggal 1 Syawal). Jika bulan itu tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari.'”

925. Ummu Salamah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw meng-ila’ sebagian istri beliau (dalam satu riwayat: bersumpah tidak akan mencampuri sebagian istri beliau 6/152) selama satu bulan. Ketika telah lewat dua puluh sembilan hari, beliau pergi kepada mereka pada waktu pagi atau sore. Maka, dikatakan kepada beliau, “(Wahai Nabiyyullah), sesungguhnya engkau bersumpah tidak akan memasuki (mereka) selama satu bulan?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya satu bulan itu dua puluh sembilan hari.”

Bab 12: Dua Bulan Hari Raya Itu Tidak Berkurang[6]

Abu Abdillah (Imam Bukhari) berkata, “Ishaq berkata, ‘Jika ia kurang, maka ia sempurna.'”[7]

Muhammad berkata, “Kedua bulan itu tentu tidak sama, mesti ada yang kurang.”[8]

926. Abu Bakrah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Dua bulan tidak berkurang (secara bersamaan), yaitu dua bulan hari raya, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”

Bab 13: Sabda Nabi, “Kami tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung) bulan).”

927. Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan menghisab (menghitung bulan). Sebulan itu demikian dan demikian, yakni sekali waktu dua puluh sembilan hari, dan sekali waktu tiga puluh hari.”

Bab 14: Tidak Boleh Mendahului Bulan Ramadhan dengan Puasa Sehari atau Dua Hari

928. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu.”

Bab 15: Firman Allah, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan campurilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (al-Baqarah: 187)

929. Al-Bara’ r.a. berkata, “Para sahabat Nabi Muhammad apabila ada seorang yang berpuasa, dan datang waktu berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan di malam dan siang harinya sampai sore. Sesungguhnya Qais bin Shirmah al-Anshari berpuasa. Ketika datang waktu berbuka, ia datang kepada istrinya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah kamu mempunyai makanan? Istrinya menjawab, ‘Tidak, tetapi saya berangkat untuk mencarikan (makanan) untukmu.’ Pada siang harinya ia bekerja, lalu tertidur. Kemudian istrinya datang kepadanya. Ketika istrinya melihatnya, si istri berkata, ‘Rugilah engkau.’ Ketika tengah hari ia pingsan. Kemudian hal itu diberitahukan kepada Nabi, lalu turun ayat ini, ‘Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa menggauli istrimu.’ Maka, mereka bergembira, dan turunlah ayat, ‘Makan dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam.'”

Bab 16: Firman Allah, “Makan dan minumlah hingga jelas begimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (al-Baqarah: 187)

Dalam hal ini terdapat riwayat al-Bara’ dari Nabi saw..

930. Adi bin Hatim r.a. berkata, “Ketika turun ayat, ‘Sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam; saya sengaja mengambil tali hitam dan tali putih. Saya letakkan di bawah bantalku dan saya lihat (sebagian 5/156) malam hari, maka tidak jelas bagiku. Keesokan harinya saya datang kepada Rasulullah dan saya ceritakan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya bantalmu itu terlalu panjang kalau benang putih dan benang hitam itu di bawah bantalmu!’ (Dan dalam satu riwayat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya lehermu terlalu panjang untuk melihat kedua benang itu.’ Kemudian beliau bersabda, Tidak demikian), sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya malam dan putihnya siang hari.'”

931. Sahl bin Sa’ad berkata, “Diturunkan ayat, ‘wakuluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi’ ‘Makan dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam;’ dan belum turun lafal, ‘minal fajri.’ Maka, orang yang bermaksud hendak puasa mengikatkan benang putih dan benang hitam di kakinya. Ia senantiasa makan sehingga jelas kelihatan baginya kedua macam benang itu. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, ‘minal fajri ‘yaitu fajar’,’ barulah mereka tahu bahwa yang dimaksudkan adalah malam dan siang.”

Bab 17: Sabda Nabi, “Janganlah menghalang-halangi sahurmu azan yang diucapkan Bilal.”

932 & 933. Ibnu Umar dan Aisyah r.a. mengatakan bahwa Bilal biasa berazan pada malam hari. Maka, Rasulullah bersabda, “Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan. Karena Ibnu Ummi Maktum tidak berazan sebelum terbit fajar.” Al-Qasim berkata, “Antara azan keduanya tidak ada sesuatu (peristiwa) melainkan yang ini naik, dan yang itu turun.”

Bab 18: Mengakhirkan Sahur[9]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Sahl yang tertera pada nomor 323 di muka.”)

Bab 19: Kadar Waktu Antara Sahur dan Shalat Subuh

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tertera pada nomor 322 di muka.”)

Bab 20: Keberkahan Sahur, Tetapi Tidak Diwajibkan

Karena Nabi saw. dan para sahabat beliau pernah melakukan puasa wishal (bersambung dua hari), dan tidak disebut-sebut tentang sahur.[10]

934. Abdullah Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi melakukan puasa wishal, lalu orang-orang melakukan puasa wishal. Tetapi, kemudian mereka merasa keberatan, lalu dilarang oleh beliau. Mereka berkata, ‘Tetapi engkau melakukan puasa wishal (terus-menerus)?” Beliau bersabda, “Aku tidak seperti kamu, aku senantiasa (dalam satu riwayat: pada malam hari) diberi makan dan minum.”

935. Anas bin Malik r.a. berkata, “Nabi bersabda, ‘Makan sahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.'”

Bab 21: Apabila Berniat Puasa pada Siang Hari

Ummu Darda’ berkata, “Abud Darda’ biasa bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai makanan?’ Jika kami jawab, ‘Tidak’, dia berkata, ‘Kalau begitu, saya berpuasa hari ini.'”[11]

Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah.[12]

936. Salamah ibnul Akwa’ r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. mengutus seseorang untuk mengumumkan kepada manusia pada hari Asyura, (dalam satu riwayat: Beliau bersabda kepada seorang laki-laki dari suku Aslam, “Umumkanlah kepada kaummu atau kepada masyarakat 8/136) bahwa orang yang sudah makan bolehlah ia meneruskannya atau hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Sedangkan, yang belum makan, maka janganlah makan.” (Dalam satu riwayat: “Hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.”)

Bab 22: Orang yang Puasa Pagi-Pagi dalam Keadaan Junub (Menanggung Hadats Besar)

937&938. Abu Bakar bin Abdur Rahman berkata, “Saya dan ayah ketika menemui Aisyah dan Ummu Salamah. (Dalam satu riwayat: dari Abu Bakar bin Abdur Rahman, bahwa al-Harits bin Hisyam bahwa ayahnya Abdur Rahman memberitahukan kepada Marwan) Aisyah dan Ummu Salamah memberitahukan bahwa Rasulullah pernah memasuki waktu fajar sedang beliau dalam keadaan junub setelah melakukan hubungan biologis (2/234) dengan istrinya, bukan karena mimpi. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” Marwan berkata kepada Abdur Rahman bin Harits, “Aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa engkau harus mengkonfirmasikannya kepada Abu Hurairah.” Marwan pada waktu itu sedang berada di Madinah. Abu Bakar berkata, “Abdur Rahman tidak menyukai hal itu. Kemudian kami ditakdirkan bertemu di Dzul Hulaifah, dan Abu Hurairah mempunyai tanah di sana. Lalu Abdur Rahman berkata kepada Abu Hurairah, ‘Saya akan menyampaikan kepadamu suatu hal, yang seandainya Marwan tidak bersumpah kepadaku mengenai hal ini, niscaya saya tidak akan mengemukakannya kepadamu.’ Lalu, Abdur Rahman menyebutkan perkataan Aisyah dan Ummu Salamah. Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Demikian pula yang diinformasikan al-Fadhl bin Abbas kepadaku, sedangkan mereka (istri-istri Rasulullah) lebih mengetahui tentang hal ini.'”

Hammam dan Ibnu Abdillah bin Umar berkata dari Abu Hurairah, “Nabi menyuruh berbuka.”[13]

Akan tetapi, riwayat yang pertama itu lebih akurat sanadnya.[14]

Bab 23: Memeluk[15] Istri Bagi Orang Yang Berpuasa

Aisyah berkata, “Haram kemaluan istri bagi suami (ketika sedang berpuasa).”[16]

939. Aisyah r.a. berkata, “Nabi mencium dan menyentuh/memeluk (istri beliau) padahal beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling menguasai di antaramu sekalian terhadap hasrat (seksual) nya.”

Ibnu Abbas berkata, “Ma-aarib, artinya hasrat.”[17]

Thawus berkata, “Ghairu ulil-irbah, maksudnya tidak mempunyai hasrat terhadap wanita.”[18]

Bab 24: Mencium Bagi Orang Yang Berpuasa

Jabir bin Zaid berkata, “Jika seseorang memandang (wanita) lalu keluar spermanya, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya.”[19]

940. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau, sedangkan beliau berpuasa.” Kemudian Aisyah tertawa.[20]

Bab 25: Mandinya Orang yang Berpuasa

Ibnu Umar r. a. pernah membasahi pakaiannya lalu mengenakannya, sedangkan dia berpuasa (karena kehausan).[21]

Asy-Sya’bi pernah masuk pemandian, sedangkan dia berpuasa.[22]

Ibnu Abbas berkata, ‘Tidak mengapa seseorang mencicipi makanan atau sesuatu di periuk (dengan tidak menelannya).”[23]

Al-Hasan berkata, “Tidak mengapa orang yang berpuasa berkumur-kumur dan mendinginkan badan.”[24]

Ibnu Mas’ud berkata, “Jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka hendaklah pada pagi harinya ia dalam keadaan berharum-haruman serta rambut yang tersisir rapi.”[25]

Anas berkata, “Saya mempunyai telaga dan saya suka menceburkan diri di dalamnya, sedang saya saat itu sedang berpuasa.”[26]

Disebutkan dari Nabi saw. bahwa beliau menggosok giginya dengan siwak, sedangkan beliau pada saat itu berpuasa.[27]

Ibnu Umar berkata, “Orang yang berpuasa boleh bersiwak pada permulaan hari dan akhir hari (yakni pada pagi hari dan sore hari) dan tidak boleh menelan ludahnya.”[28]

Atha’ berkata, “Jika ia menelan ludahnya, saya tidak mengatakan bahwa puasanya batal.”[29]

Ibnu Sirin berkata, “Tidak mengapa seseorang yang berpuasa bersiwak dengan menggunakan siwak yang basah.” Ibnu Sirin ditanya, “Jika siwak yang dipergunakan itu ada rasanya, bagaimana?” Ia menjawab, “Air pun ada rasa nya, dan engkau berkumur-kumur dengan air pula.”[30]

Anas, Hasan, dan Ibrahim berpendapat bahwa orang yang berpuasa tidak terlarang memakai celak.[31]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah dan Ummu Salamah yang tertera pada nomor 937 dan 938 di muka.”)

Bab 26: Orang yang Berpuasa Jika Makan atau Minum karena Lupa

Atha’ berkata, “Jika seseorang memasukkan air ke hidung dan hendak menyemprotkannya, lalu airnya ada yang masuk ke dalam tenggorokannya, maka puasanya tidak batal, jika ia tidak mampu menolaknya.”[32]

Hasan berkata, “Manakala tenggorokan orang yang berpuasa itu kemasukan lalat, maka puasanya tidak batal.”[33]

Hasan dan Mujahid berkata, “Jika orang yang berpuasa itu bersetubuh karena lupa, maka puasanya tidak batal.”[34]

941. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Apabila (orang yang berpuasa) lupa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah memberinya makan dan minum.”

Bab 27: Menggunakan Siwak Yang Basah dan Kering untuk Orang yang Berpuasa

Amir bin Rabi’ah berkata, “Saya melihat Nabi bersiwak dan beliau pada saat itu sedang berpuasa. Karena seringnya, maka saya tidak dapat membilang dan menghitungnya.”[35]

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya mereka kuperintahkan bersiwak pada setiap kali berwudhu.”

Riwayat serupa disebutkan dari Jabir dan Zaid bin Khalid dari Nabi, dan beliau tidak mengkhususkan orang yang berpuasa dari lainnya.[36]

Aisyah mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Bersiwak itu menyucikan mulut dan menyebabkan keridhaan Tuhan.”[37]

Atha’ dan Qatadah berkata, “Orang yang berpuasa boleh menelan ludahnya.”[38]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Utsman yang tertera pada nomor 105.”)

Bab 28: Sabda Nabi, “Jika seseorang berwudhu, maka hendaklah menghirup air dengan lubang hidungnya”,[39] Dan Beliau Tidak Membedakan Antara Orang yang Berpuasa dan yang Tidak[40]

Hasan berkata, “Tidak batal orang yang berpuasa memasukkan obat tetes ke dalam hidungnya, asal tidak sampai masuk ke kerongkongannya. Tidak batal pula orang yang mempergunakan celak.”[41]

Atha’ berkata, “Jika orang yang berpuasa berkumur-kumur lalu membuang air yang ada di mulutnya, maka tidak membatalkan puasa, jika ia tidak menelan ludahnya beserta sisanya. Orang yang berpuasa jangan mengunyah sesuatu yang ada rasanya. Apabila ludahnya bercampur kunyahannya dan tertelan, maka saya tidak mengatakan batal puasanya, tetapi dilarang. Apabila orang yang berpuasa menyedot air ke dalam hidungnya kemudian menyemprotkannya, tiba-tiba air itu masuk ke dalam kerongkongannya dan tidak mampu membuangnya, maka tidak membatalkan puasanya.”[42]

Bab 29: Jika Orang Yang Berpuasa Bersetubuh pada Siang Hari Bulan Ramadhan

Disebutkan dari Abu Hurairah sebagai hadits marfu (yakni diangkat sampai Rasulullah), “Barangsiapa yang tidak puasa sehari dalam bulan Ramadhan tanpa adanya uzur dan bukan karena sakit, maka tidak dapat diganti dengan puasa setahun penuh, sekalipun ia mau berpuasa setahun penuh.”[43]

Ibnu Mas’ud juga berpendapat demikian.[44]

Sa’id bin Musayyab, Sya’bi, Ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, dan Hammad berkata, “Orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan itu wajib mengqadha setiap hari yang ditinggalkan.”[45]

924. Aisyah r.a. berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu ia mengatakan bahwa dirinya terbakar. Lalu, Nabi bertanya, ‘Mengapa kamu?’ Dia menjawab, ‘Saya telah mencampuri istri saya pada siang bulan Ramadhan.’ Kemudian didatangkan kepada Nabi sekantong (bahan makanan), lalu beliau bertanya, ‘Di mana orang yang terbakar itu?’ Orang itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Bersedekahlah dengan ini.'”

Bab 30: Apabila Orang Mencampuri Istrinya pada Siang Hari Bulan Ramadhan dan Tidak Ada Sesuatu Pun yang Dapat Dipergunakan Membayar Kafarat, Maka Ia Boleh Diberi Sedekah Secukupnya untuk Membayar Kafarat

943. Abu Hurairah r.a. berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya binasa.’ Beliau bertanya, ‘Mengapa engkau?’ Ia berkata, ‘Saya telah menyetubuhi istri saya padahal saya sedang berpuasa (pada bulan Ramadhan).’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah kamu mempunyai budak yang kamu merdekakan?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda, ‘(Duduklah!’ Kemudian ia duduk. 7/236), lalu berdiam di sisi Nabi. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba dibawakan satu ‘araq (satu kantong besar) yang berisi kurma kepada Nabi. (Dalam satu riwayat: maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar 3/137). Beliau bertanya, ‘Manakah orang yang bertanya tadi?’ Orang itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan sedekahkanlah.’ Ia berkata kepada beliau, ‘Apakah kepada orang yang lebih fakir (dalam satu riwayat: lebih membutuhkan) daripadaku wahai Rasulullah? Demi Allah di antara dua batu batas (dalam satu riwayat: dua tepian kota Madinah 7/111) (ia maksudkan dua tanah tandus Madinah) tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku.’ Maka, Nabi tertawa sehingga gigi seri beliau tampak. Kemudian beliau bersabda, ‘(Pergilah, dan) berikanlah kepada keluargamu.'”

Bab 31: Orang yang Mencampuri Istrinya pada Siang Hari Bulan Ramadhan, Apakah Boleh Memberikan Makanan kepada Keluarganya dari Kafarat Itu, Jika Keluarganya Tergolong Orang-Orang yang Membutuhkan?

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Hurairah sebelumnya.”)

Bab 32: Berbekam dan Muntah bagi Orang yang Berpuasa

944. Abu Hurairah r.a. berkata, “Jika seseorang muntah pada waktu puasa, maka puasanya tidak batal. Sebab, ia mengeluarkan dan bukannya memasukkan.”

Disebutkan dari Abu Hurairah bahwa muntah itu mambatalkan puasa, namun riwayat yang pertama itu lebih tepat.[46]

Ibnu Abbas dan Ikrimah berkata, “Puasa itu bisa batal dengan sebab adanya sesuatu yang masuk dan bukan karena sesuatu yang keluar.”[47]

Ibnu Umar r.a. berbekam, padahal ia sedang berpuasa. Kemudian dia tidak lagi berbekam pada siang hari, dan dia berbekam pada waktu malam.[48]

Abu Musa berbekam pada malam hari.[49]

Disebutkan dari Sa’d, Zaid bin Arqam, dan Ummu Salamah bahwa mereka berbekam pada waktu berpuasa.[50]

Bukair berkata dari Ummi Alqamah, “Kami berbekam di sisi Aisyah, tetapi dia tidak melarangnya.”[51]

Diriwayatkan dari al-Hasan dari beberapa orang secara marfu, katanya, “Batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam.”[52]

945. Hadits serupa diriwayatkan dari al-Hasan. Ditanyakan kepadanya, “Dari Nabi?” Dia menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata lagi, “Allah lebih mengetahui.”

946. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi berbekam (di kepala beliau 7/5) karena suatu penyakit yang menimpa beliau,[53] padahal beliau sedang ihram. (Karena suatu penyakit yang menimpa beliau, dengan air yang disebut lahyu Jamal), beliau berbekam padahal beliau sedang berpuasa.”

947. Syu’bah berkata, “Saya mendengar Tsabit al-Bunani bertanya kepada Anas bin Malik, ia berkata, ‘Apakah engkau memakruhkan berbekam untuk orang yang berpuasa (pada zaman Nabi [54])?’ Anas menjawab, ‘Tidak, kecuali karena melemahkan tubuh.'”

Bab 33: Berpuasa dan Berbuka pada Waktu Bepergian

948. Aisyah r.a. istri Nabi saw mengatakan bahwa Hamzah bin Anir al-Aslami berkata kepada Nabi, “(Wahai Rasulullah, saya suka berpuasa), apakah saya boleh berpuasa dalam bepergian?” Dan, ia banyak berpuasa. Beliau bersabda, “Jika mau, berpuasalah; dan jika kamu mau, maka berbukalah!”

Bab 34: Jika Seseorang Berpuasa Beberapa Hari dalam Bulan Ramadhan Lalu Bepergian

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada ’64 AL-MAGHAZI / 79 – BAB’.”)

Bab 35:

949. Abud Darda’ r.a. berkata, “Kami berangkat bersama Nabi dalam suatu perjalanan beliau pada hari yang panas. Sehingga, seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena sangat panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Nabi dan Ibnu Rawahah.”

Bab 36: Sabda Nabi kepada Orang yang Tidak Dinaungi Sedang Hari Sangat Panas

950. Jabir bin Abdullah r.a. berkata, “Rasulullah dalam suatu perjalanan, beliau melihat kerumunan dan seseorang sedang dinaungi. Beliau bertanya, ‘Apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Seseorang yang sedang berpuasa.’ Maka, beliau bersabda, ‘Tidak termasuk kebajikan, berpuasa dalam bepergian.'”

Bab 37: Para Sahabat Nabi Tidak Saling Mencela dalam Hal Berpuasa dan Berbuka (Tidak Berpuasa)

951. Anas bin Malik berkata, “Kami bepergian bersama Nabi, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.”

Bab 38: Orang yang Berbuka Dalam Bepergian Supaya Dilihat oleh Orang Banyak

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada ’64-AL-MAGHAZI / 49 – BAB’.”)

Bab 39: Firman Allah, “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah.” (al-Baqarah: 184)

Ibnu Umar dan Salamah ibnul Akwa’ berkata, “Ayat di atas itu telah dimansukh (dihapuskan) oleh ayat, ‘Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak dari hari yang ia tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.'” (al-Baqarah: 185)[55]

Ibnu Abi Laila berkata, “Kami diberi tahu oleh para sahabat Nabi, ‘Diturunkan kewajiban berpuasa dalam bulan Ramadhan, lalu para sahabat merasa berat melakukannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang dapat memberikan makanan setiap harinya kepada seorang miskin, orang itu boleh meninggalkan puasa. Yaitu, dari golongan orang yang sangat berat melakukannya. Mereka diberi kemurahan untuk meninggalkan puasa. Kemudian hukum di atas ini dimansukh (dihapuskan) dengan adanya ayat, ‘wa an tashuumuu khairul lakum’ ‘Dan berpuasa itu lebih baik bagimu’.’ Lalu, mereka diperintahkan berpuasa.'”[56]

952. Dari Ibnu Umar r.a. (bahwa ia 5/155) membaca potongan ayat, “fidyatun tha’aamu masaakiin’ ‘Membayar fidyah, yaitu memberi makan kepada orang-orang miskin’.” Ibnu Umar mengatakan, “Ia (ayat) itu dihapuskan hukumannya.”

Bab 40: Kapankah Dilakukannya Qadha Puasa Ramadhan

Ibnu Abbas berkata, “Tidak mengapa jika mengqadha puasa itu dipisah-pisah, karena firman Allah, ‘fa’iddatun min ayyamin ukhar’ ‘Maka, wajiblah baginya berpuasa sebanyak yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain’.'”[57]

Sa’id ibnul-Musayyab berkata mengenai berpuasa sepuluh hari yang pertama pada bulan Dzulhijjah, “Hal itu tidak baik, sehingga dia memulai puasa bulan Ramadhan (yang ditinggalkannya).”[58]

Ibrahim berkata, “Jika seseorang teledor dalam mengqadha puasa Ramadhan, sehingga datang lagi bulan Ramadhan berikutnya, maka dia wajib berpuasa untuk Ramadhan yang lalu dan untuk Ramadhan yang satunya. Dia tidak diwajibkan memberi makan kepada orang miskin.”[59]

Masalah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal.[60]

Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang yag teledor diwajibkan memberi makan.[61]

Namun, Allah tidak menyebutkan kewajiban memberi makan. Dia hanya berfirman, “fa’iddatun min ayyaamin ukhar’ ‘Maka, wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari hari yang lain’.”[62]

953. Aisyah r.a. berkata, “Saya biasa mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, dan saya tidak dapat mengqadhanya melainkan di bulan Sya’ban.” Yahya berkata, “(Hal itu karena) sibuk dengan urusan Nabi.”

Bab 41: Wanita yang Haid Meninggalkan Puasa dan Shalat
Abu Zinad berkata, “Sesungguhnya sunnah-sunnah Nabi (yakni ucapan-ucapan dan perbuatan Nabi) dan sesuatu yang dibenarkan agama (syariat Islam) banyak yang diperselisihan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak ada jalan bagi umat Islam kecuali mengikuti salah satunya. Di antaranya adalah bahwa orang yang haid wajib mengqadha puasa, tetapi tidak wajib mengqadha shalat.”[63]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Abu Sa’id yang tertera pada nomor 725 di muka.”)

Bab 42: Orang yang Meninggal Dunia Sedang Ia Masih Punya Kewajiban Puasa

Al-Hasan berkata, “Jika ada tiga puluh orang yang mengerjakan puasa sehari untuk orang yang meninggal dunia, maka hal itu sudah boleh (cukup).”[64]

954. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal sedang ia masih menanggung kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.”

955. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu riwayat: seorang wanita[65]) datang kepada Nabi. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku (dalam riwayat kedua: saudara wanitaku[66]) meninggal, sedang ia masih mempunyai kewajiban puasa satu bulan (dalam riwayat kedua itu disebutkan: puasa nazar) (dan dalam riwayat ketiga: puasa lima belas hari[67]), apakah saya mengqadha untuknya?” Beliau bersabda, “Ya, utang Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.”

Bab 43: Kapankah Orang yang Berpuasa Itu Boleh Berbuka?

Abu Sa’id al-Khudri berbuka puasa ketika bulatan matahari telah tenggelam.[68]

956. Umar ibnul Khaththab dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila malam datang dari sini, dan siang berlalu dari sini, sedang matahari telah terbenam, maka sesungguhnya orang yang berpuasa boleh berbuka.'”

957. Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata, “Kami bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Ketika matahari terbenam, beliau bersabda kepada sebagian kaum (seseorang dari mereka), ‘Wahai Fulan, berdirilah, campurlah sawiq (tepung gandum) dengan air untuk kita.’ Orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah baiknya kalau sampai tiba sore hari.’ (Dalam satu riwayat: Alangkah baiknya kalau engkau menunggu sampai sore hari.’ Dan dalam riwayat lain: Cahaya matahari masih tampak.[69] 2/237) Beliau bersabda, ‘Turunlah, campurlah sawiq dengan air untuk kita.’ Orang itu menjawab, ‘Sesungguhnya engkau masih mempunyai waktu siang yang cukup.’ Beliau bersabda, ‘Turunlah, campurlah sawiq dengan air untuk kita.’ Lalu orang itu turun, kemudian membuat minuman untuk mereka (setelah diperintahkan ketiga kalinya). Lalu, Nabi minum,[70] kemudian melemparkan isyarat (Dalam satu riwayat berisyarat dengan tangan beliau ke sini. Dan dalam satu riwayat: berisyarat dengan jarinya ke arah timur), lalu beliau bersabda, ‘Apabila kamu melihat malam datang dari sini, maka orang yang berpuasa sudah diperbolehkan berbuka.'”

Bab 44: Orang yang Berpuasa Berbuka dengan Apa yang Mudah Didapatkan, Baik Berupa Air Maupun Lainnya

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Abdullah bin Abi Aufa di atas.”)

Bab 45: Menyegerakan Berbuka

958. Sahl bin Sa’ad mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Bab 46: Apabila Orang Berpuasa Sudah Berbuka dalam Bulan Ramadhan, Kemudian Matahari Kelihatan Lagi

959. Asma’ binti Abu Bakar r.a. berkata, “Kami berbuka pada masa Nabi pada hari yang berawan, kemudian matahari tampak lagi.” Kemudian ditanyakan kepada Hisyam, “Apakah para sahabat disuruh mengqadha?” Hisyam berkata, “Harus mengqadha?”

Ma’mar berkata, “Saya mendengar Hisyam berkata, ‘Aku tidak mengetahui, apakah mereka itu mengqadha atau tidak.'”[71]

Bab 47: Puasa Anak-Anak

(Saya [Sofyan Efendi] tidak menemukan bab 48 dan 49 pada kitab sumber, dan saya belum memahami relevansi hadits no.964 dibawah ini dengan bab 47 ini. Menurut saya semestinya hadits no.964 ini disimpan pada bab 50.)

964. Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi melarang melakukan wishal (Dalam satu riwayat: ‘Janganlah kamu melakukan wishal’, beliau ucapkan dua kali) dalam berpuasa. Salah seorang (dalam satu riwayat: Beberapa orang 8/32) dan kaum muslimin berkata, ‘Sesungguhnya engkau berwishal, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Siapakah diantara kamu yang seperti aku? Sesungguhnya aku bermalam dengan diberi makan dan minum oleh Tuhanku.’ (Lalu mereka tetap memaksakan diri melakukan semampu mungkin). Ketika mereka enggan menghentikan wishal, beliau mewishalkan mereka sehari, kemudian sehari. Kemudian mereka melihat tanggal, lalu beliau bersabda, ‘Seandainya tanggal itu mundur, niscaya aku tambahkan kepadamu.’ Beliau bersabda begitu seakan-akan hendak menghukum mereka ketika mereka enggan menghentikan (wishal).”

Bab 50: Melakukan Wishal Sampai Waktu Sahur

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Abu Sa’id yang tertera pada nomor 962 di muka.”)

(Saya [Sofyan Efendi] tidak menemukan hadits no.962 pada kitab sumber)

Bab 51: Orang yang Bersumpah kepada Saudaranya Supaya Tidak Meneruskan Puasa Sunnahnya dan Dia Berpendapat Tidak Wajib Mengqadhanya Jika yang Bersangkutan Menyetujuinya

965. Abu Juhaifah berkata, “Nabi mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda’. Maka, Salman mengunjungi Abud Darda’, lantas ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda) mengenakan pakaian kerja (pakaian yang jelek), lalu ia bertanya kepada Ummu Darda’, ‘Mengapa engkau begitu?’ Ia menjawab, ‘Saudaramu Abud Darda’ tidak membutuhkan dunia.’ Kemudian Abud Darda’ datang, lantas Salman membuatkan makanan untuknya, dan berkata, ‘Makanlah.’ Abud Darda’ berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sehingga kamu makan.’ Maka, Abud Darda’ makan. Ketika malam hari Abud Darda’ hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, ‘Tidurlah.’ Maka, ia pun tidur. Kemudian ia hendak melakukan shalat, lalu Salman berkata, ‘Tidurlah!’ Kemudian pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah sekarang!’ Kemudian keduanya melakukan shalat. Setelah itu Salman berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu (istrimu) mempunyai hak atasmu. Maka, berikan kepada setiap yang mempunyai hak akan haknya.’ Lalu Abud Darda’ datang kepada Nabi, dan menuturkan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, ‘Benar Salman.'”

(Abu Juhaifah adalah Wahb as-Suwai, ada yang mengatakan: Wahb al-Khair 7/105).

Bab 52: Puasa dalam Bulan Sya’ban

966. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah melakukan puasa (sunnah) sehingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak pernah berbuka.’ Dan, beliau berbuka (tidak berpuasa) sehingga kami mengatakan, ‘Beliau tidak pernah berpuasa.’ Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Saya tidak melihat beliau berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada puasa dalam bulan Sya’ban. (Dan dalam satu riwayat: ‘Nabi tidak pernah melakukan puasa (sunnah) dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Karena, beliau sering berpuasa dalam bulan Sya’ban sebulan penuh.’) Beliau bersabda, ‘Lakukan amalan menurut kemampuanmu, karena Allah tidak pernah merasa bosan terhadap amal kebaikanmu sehingga kamu sendiri yang bosan.’ Dan, shalat (sunnah) yang paling dicintai Nabi adalah yang dilakukan secara kontinu, meskipun hanya sedikit. Apabila beliau melakukan suatu shalat (sunnah), maka beliau melakukannya secara kontinu.”

Bab 53: Perihal Puasa Nabi dan Berbukanya

967. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Beliau melakukan puasa (sunnah) sehingga ada orang yang mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berbuka (yakni tidak pernah tidak berpuasa). Dan beliau juga berbuka (yakni tidak melakukan puasa sunnah), sampai ada orang yang mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa (sunnah).'”

968. Humaid berkata, “Saya bertanya kepada Anas tentang puasa Nabi, lalu ia berkata, ‘Tidaklah beliau berpuasa di suatu bulan melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau berbuka melainkan saya melihatnya. Tidaklah beliau berjaga malam melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau tidur melainkan saya melihatnya. Saya tidak pernah menyentuh kain wool campur sutra atau sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah. Saya tidak pernah mencium minyak kasturi dan bau harum yang lebih harum daripada bau Rasulullah.'”

Bab 54: Hak Tamu Dalam Puasa

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Amr yang tertera pada ’66-fadhaailul qur’an / 34-Bab’.”)

Bab 55: Hak Tubuh dalam Berpuasa

Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 56: Berpuasa Setahun

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan tadi.”)

Bab 57: Hak Keluarga (Istri) dalam Puasa

Hal itu diriwayatkan oleh Abu Juhaifah dari Nabi saw.[72]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Amr yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 58: Berpuasa Sehari dan Berbuka Sehari

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits yang diisyaratkan di atas.”)

Bab 59: Puasa Nabi Dawud a.s.

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits yang diisyaratkan di atas.’)

Bab 60: Berpuasa Pada Hari-hari Putih Yaitu Tanggal 13, 14, dan 15

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 608 di muka.”)

Bab 61: Orang yang Berziarah di Tempat Suatu Kaum, Tetapi Tidak Berbuka di Sisi Mereka

969. Anas r.a. berkata, “Nabi masuk pada Ummu Sulaim, lalu dia menghidangkan kepada beliau kurma dan samin. Beliau bersabda, ‘Kembalikanlah saminmu dan kurmamu ke dalam tempatnya, karena aku sedang berpuasa.’ Kemudian beliau berdiri di sudut rumah, lalu melakukan shalat yang bukan fardhu. Kemudian beliau memanggil Ummu Sulaim dan keluarganya. Ummu Sulaim berkata, ‘Sesungguhnya ada sedikit kekhususan bagi saya.’ Beliau bertanya, ‘Apakah itu?’ Ia berkata, ‘Pembantumu Anas, tidaklah ia meninggalkan kebaikan dunia akhirat melainkan ia mendoakan untukku, ‘Ya Allah, berilah ia harta dan anak, dan berkahilah ia padanya.’ Sesungguhnya saya termasuk orang Anshar yang paling banyak hartanya. Anakku Umainah menceritakan kepadaku bahwa dimakamkan untuk selain keturunan dan cucu-cucu saya sebelum Hajjaj di Bashrah selang seratus dua puluh lebih.'”

Bab 62: Mengerjakan Puasa pada Akhir Bulan

970. Imran bin Hushain r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bertanya kepada nya atau bertanya kepada seorang lelaki dan Imran mendengar. Beliau bersabda, “Hai ayah Fulan, tidakkah kamu berpuasa pada akhir bulan ini?” Imran berkata, “Saya kira yang beliau maksudkan itu Ramadhan.” Orang itu menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apabila kamu berbuka (tidak berpuasa),[73] maka berpuasalah dua hari.”[74] Shalt tidak mengatakan, “Saya mengira bahwa yang dimaksudkan itu adalah bulan Ramadhan.” (Dalam satu riwayat: “Di akhir Sya’ban.”)

Bab 63: Puasa Pada Hari Jumat (Saja). Apabila Seseorang Memasuki Pagi Hari Jumat dengan Berpuasa, Maka Hendaklah Ia Berbuka

971. Muhammad bin Abbad berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, ‘Betulkah Nabi melarang berpuasa pada hari Jumat? (Yakni, mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja)?’[75] Ia menjawab. ‘Betul.'”

972. Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Jangan sekali-kali kamu berpuasa pada hari Jumat, melainkan bersama dengan satu hari sebelumnya atau sesudahnya.'”

973. Juwairiyah bin Harits r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. masuk padanya pada hari Jumat di mana ia sedang berpuasa. Beliau bersabda, “Apakah kemarin engkau berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Apakah besok engkau berpuasa?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Berbukalah!” (Maka, ia berbuka/tidak berpuasa).

Bab 64: Bolehkah Mengkhususkan Sesuatu Dari Hari-Hari Yang Ada

974. Alqamah bertanya kepada Aisyah, “(Wahai Ummul Mu’minin! Bagaimanakah amalan Nabi? 7/182) Apakah beliau mengkhususkan hari-hari dengan sesuatu?” Ia menjawab, “Tidak, amal beliau itu kekal. Siapakah di antara kalian yang kuat (mampu) terhadap sesuatu yang Rasulullah mampu melakukannya?”

Bab 65: Puasa pada Hari Arafah

975. Maimunah mengatakan bahwa orang-orang ragu-ragu terhadap puasa nya Nabi pada hari Arafah. Maka, Maimunah mengirimkan susu yang telah diperah kepada beliau. Pada saat itu beliau sedang berhenti di mauqif (yakni tempat wuquf di Arafah). Kemudian beliau meminumnya, sedangkan orang-orang melihatnya.

Bab 66: Puasa pada Hari Idul Fitri

Bab 67: Puasa Pada Hari Nahar (Hari Raya Kurban)

976. Abu Hurairah r.a. berkata, “Dilarang melakukan dua macam puasa dan dua macam jual beli. Yaitu, puasa pada hari raya Fitri dan hari raya kurban, jual beli mulamasah dan munabadzah.”[76]

Bab 68: Puasa pada Hari-Hari Tasyriq

977. Hisyam berkata, “Aku diberitahu oleh ayahku bahwa Aisyah berpuasa pada hari-hari tasyriq di Mina, dan ayahnya (Abu Bakar) juga berpuasa pada hari-hari itu.”

978 & 979. Aisyah dan Ibnu Umar r.a. berkata, “Hari-hari Tasyriq itu tidak diperbolehkan orang berpuasa padanya selain bagi orang-orang yang tidak mempunyai binatang hadyu.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, “Mengerjakan puasa itu boleh bagi orang yang bertamattu’ dengan umrah sampai ke haji sehingga pada hari Arafah. Jika orang itu tidak mendapatkan hadyu dan tidak berpuasa, maka dia boleh berpuasa pada hari-hari Mina.”

Riwayat serupa juga diriwayatkan dari Aisyah.

Bab 69: Puasa pada Hari Asyura

980. Aisyah r.a. berkata, “Pada hari Asyura orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada masa jahiliah, dan Rasulullah berpuasa juga. Ketika itu tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura itu (sebelum difardhukannya puasa Ramadhan, dan pada hari itu Ka’bah diberi kelambu 2/159). Ketika (puasa) Ramadhan difardhukan (dalam satu riwayat: turun ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan 5/155), maka puasa Ramadhan itulah yang wajib, dan beliau meninggalkan hari Asyura. Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh meninggalkannya.” (Dan dalam satu riwayat: “Sehingga diwajibkan puasa Ramadhan, dan Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh berbuka.'” 2/226).

981. Humaid bin Abdurrahman mengatakan bahwa ia mendengar Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a pada hari Asyura, pada tahun haji, berkata di atas mimbar, “Wahai penduduk Madinah, manakah ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan mengerjakan puasa atasmu. Tetapi, aku berpuasa. Barangsiapa yang menghendaki puasa, bolehlah berpuasa. Barangsiapa yang tidak menghendaki berpuasa, maka boleh tidak berpuasa.'”

982. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, beliau bertanya, ‘Apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Hari yang baik (dalam satu riwayat hari besar 4/126). Ini adalah hari yang Allah pada hari itu menyelamatkan bani Israel dari musuh mereka. (Dalam satu riwayat: Hari yang pada saat itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel atas musuh mereka). Maka, Musa berpuasa pada hari itu sebagai pernyataan syukur kepada Allah, (dan kita berpuasa pada hari itu untuk menghormatinya’ 4/269). Beliau bersabda, ‘Aku lebih berhak (dalam satu riwayat: ‘Kita lebih lebih layak) terhadap Musa daripada kamu sekalian (kaum Yahudi).’ Lalu, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan berpuasa pada hari itu.” (Dalam riwayat lain: “Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka (kaum Yahudi), maka berpuasalah kalian.” 5/212)

983. Abu Musa r.a. berkata, “Hari Asyura itu dianggap oleh kaum Yahudi sebagai hari raya.” (Dalam satu riwayat: Abu Musa berkata, “Nabi memasuki Madinah, tahu-tahu orang-orang Yahudi mengagungkan hari Asyura dan berpuasa padanya. Lalu, Nabi bersabda, ‘Kita lebih berhak untuk berpuasa pada hari itu. 4/269). Maka, berpuasalah kamu semua pada hari Asyura itu.'”

984. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi mengerjakan puasa pada suatu hari yang oleh beliau lebih diutamakan atas hari-hari yang lain, kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan.”


Catatan Kaki:

[1] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam bab berikutnya.

[2] Di-maushul-kan oleh penyusun dari hadits Abu Hurairah secara marfu yang seperti itu pada delapan bab lagi (yakni “BAB – 8”).

[3] Akan disebutkan secara maushul dengan lengkap pada permulaan kitab AL-BUYU’.

[4] Nama judul ini adalah lafal Muslim dari hadits Abu Hurairah secara marfu, dan di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dalam bab ini dengan lafal yang hampir sama dengan ini.

[5] Di-maushu!-kan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan lain-lainnya dengan sanad yang perawi-perawinya tepercaya hingga Shilah, dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah (1914), Ibnu Hibban (878) dan lainnya. Hadits ini mempunyai pendukung dari Ammar dengan lafal yang hampir sama dengannya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/72) dengan sanad sahih. Juga memiliki syahid dari jalan lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1912).

[6] Ini adalah lafal sebagian hadits bab ini di sisi Tirmidzi.

[7] Ishaq ini adalah Ibnu Rahawaih, menurut keterangan yang kuat dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh al-Hafizh. Silakan periksa Masaail al-Maruzi Mahthuthat azh Zhahiriyah. Maksud hadits ini ialah tidak berkurang pahalanya, meskipun usia bulan itu hanya dua puluh sembilan hari.

[8] Muhammad adalah Imam Bukhari penyusun kitab Shahih Bukhari itu sendiri (yakni Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari -penj.). Maksud hadits ini, kedua bulan itu tidak mungkin berkurang secara bersama-sama (yakni masing-masing secara bersamaan berjumlah dua puluh sembilan hari). Jika yang satu berjumlah dua puluh sembilan hari, maka bulan yang satunya tentu tiga puluh hari. Inilah yang biasa terjadi. Dan yang tidak demikian, jarang sekali terjadi. Demikian kesimpulan al-Hafizh.

[9] Demikianlah judul yang asli. Di dalam naskah al-Hafizh disebutkan Bab Ta’jilis-Sahur, dan ia berkata, “Ibnu Baththal berkata, ‘Kalau bab ini diberi judul Bab Ta’khiris Sahur, niscaya bagus. Maghlathay memberi komentar bahwa dia menjumpai di dalam naskah lain dari al-Bukhari Bab Ta’khiris-Sahur. Tetapi, saya sama sekali tidak melihat hat itu di dalam naskah at Bukhari yang ada pada kami.”

[10] Menunjuk kepada hadits Ibnu Umar yang disebutkan dalam bab ini, dan yang sama dengannya adalah hadits Anas yang akan disebutkan pada “48 – BAB” dan hadits Abu Hurairah sesudahnya.

[11] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dari jalan Ummu Darda’ dengan sanad yang sahih.

[12] Atsar Thalhajh di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah dari dua jalan dari Anas, sanadnya sahih. Atsar Abu Hurairah di-maushul-kan oleh Baihaqi. Atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Thahawi dengan sanad yang bagus (jayyid), dan atsar Hudzaifah di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah.

[13] Hammam adalah Ibnu Munabbih. Riwayatnya ini di-maushul-kan oleh Ahmad (2/314) dengan isnadnya darinya dari Abu Hurairah secara marfu dengan lafal, “Apabila telah dikumandangkan azan subuh, sedangkan salah seorang dari kamu dalam keadaan junub, maka janganlah ia berpuasa pada hari itu.” Adapun riwayat Ibnu Abdullah bin Umar di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq. Akan tetapi, namanya diperselisihkan sebagaimana dipaparkan dalam al-Fath. Namun, riwayatnya didukung oleh banyak orang, antara lain Abdullah bin Umar bin Abdul Qari darinya, diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (7399) dan Ahmad (2/248).

[14] Yakni, hadits Aisyah dan Ummu Salamah lebih kuat, karena hadits ini diriwayatkan dari mereka dari jalan yang banyak sekali yang semakna, sehingga Ibnu Abdil Barr berkata, “Sesungguhnya riwayat ini sah dan mutawatir. Adapun Abu Hurairah, maka kebanyakan riwayat darinya adalah berupa fatwanya sendiri. Diriwayatkan darinya dari dua jalan ini bahwa ia merafakannya kepada Nabi. Akan tetapi, kemudian Abu Hurairah meralat fatwanya itu. Silakan baca perinciannya di dalam Fathul Bari.”

[15] Asal arti kata “mubasyarah” ialah bertemunya dua kulit, juga dapat berarti bersetubuh. Tetapi, bukan ini yang dimaksudkan dalam judul ini, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari. Lafal ini ditafsirkan oleh sebagian orang yang bodoh dengan pengertian bersetubuh. Dengan didasarkan atas kebodohannya itu dia menghukumi hadits ini sebagai hadits maudhu ‘palsu’ di dalam makalah yang dipublikasikan oleh majalah al-Arabi terbitan Kuwait, dengan penuh kebohongan dan kepalsuan. Hanya kepada Allahlah tempat mengadu.

[16] Di-maushul-kan oleh Thahawi dan lainnya dengan sanad yang sahih sebagaimana telah saya jelaskan dalam Silsilatul Ahaditsish Sahihah (221).

[17] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang terputus.

[18] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih.

[19] Di-rnaushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih.

[20] Al-Hafizh berkata, “Boleh jadi tertawa Aisyah ini karena merasa heran terhadap orang yang menentang kebolehan perbuatan ini. Ada yang mengatakan bahwa ia menertawakan dirinya sendiri karena menceritakan hal ini, yang biasanya seorang wanita merasa malu menceritakannya kepada kaum laki-laki. Tetapi, ia terpaksa menyampaikannya demi menyampaikan ilmu. Boleh jadi ia tertawa karena geli menceritakan dirinya sendiri yang melakukan hal itu dan dia teringat bahwa sebenarnya dialah pelaku cerita itu. Penyampaiannya dengan kalimat begitu supaya menambah kepercayaan orang yang mendengarnya. Dan, boleh jadi ia tertawa karena gembira terhadap kedudukannya di sisi Nabi dan karena cinta beliau kepadanya yang sedemikian rupa.”

[21] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam at-Tarikh dan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Abdullah bin Abu Utsman bahwa dia melihat Utsman berbuat begitu.

[22] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih.

[23] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Baghawi dalam al Ja’diyyat.

[24] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq yang semakna dengannya. Imam Malik dan Imam Dawud meriwayatkan yang semakna dengannya secara marfu.

[25] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya.

[26] Di-maushul-kan oleh as-Sarqasthi di dalam Gharibul Hadits.

[27] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya di sini, dan dimaushulkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad yang lemah dari Amir bin Rabi’ah, dan akan disebutkan oleh penyusun secara mu’allaq sebentar lagi. Telah saya jelaskan dan saya takhrij di dalam al-Irwa’ nomor 68.

[28] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/47) dengan riwayat yang semakna dengannya.

[29] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih.

[30] Di-maushul-kan juga oleh Ibnu Abi Syaibah.

[31] Atsar Anas diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dilemahkannya riwayat yang marfu dari Anas. Atsar Hasan di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah (3/47) dengan sanad yang sahih. Sedangkan, atsar Ibrahim di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, dan Abu Dawud dari Ibrahim dengan sanad yang sahih.

[32] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (7379) dan Ibnu Abi Syaibah (3/70) dengan sanad yang sahih.

[33] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/107) dengan isnad yang sahih.

[34] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan dua isnad dari al-Hasan dan Mujahid, dan riwayat Mujahid adalah sahih.

[35] Hadits yang semakna dengannya sudah disebutkan di muka beserta takhrijnya pada nomor 300.

[36] Hadits Jabir di-maushul-kan oleh Abu Nu’aim dalam Kitab as-Siwak dengan sanad yang hasan. Hadits Yazid bin Khalid di-maushul-kan oleh Ahmad, Ashhabus Sunan, dan lain-lainnya, dan sudah ditakhrij pada sumber di atas.

[37] Di-maushul-kan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad sahih, dan hadits ini sudah saya takhrij di dalam Irwa-ul Ghalil (65).

[38] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dari Atha’, dan oleh Abd bin Humaid dari Qatadah.

[39] Di-maushul-kan oleh Muslim dan Ahmad (2/316) dari hadits Abu Hurairah.

[40] Ini merupakan perkataan Imam Bukhari sendiri sebagai hasil ijtihad fiqihiahnya, demikian pula mengenai masalah istinsyaq ‘menghirup air ke dalam hidung’. Akan tetapi, terdapat riwayat yang membedakan antara orang yang berpuasa dan yang tidak berpuasa, yaitu mengenai istinsyaq yang dilakukan secara bersangatan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ashhabus-Sunan dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya dari jalan Ashim bin Laqith bin Shabrah dari ayahnya, bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah kamu dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” Tampaknya penyusun (Imam Bukhari) mengisyaratkan hal ini dengan mengemukakan atsar al-Hasan sesudahnya. Demikian keterangan al-Fath. Saya katakan bahwa hadits Ashim tersebut adalah sahih, dan telah saya takhrij di dalam Shahih Abu Dawud (130) dan al-Irwa. (90).

[41] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah.

[42] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dan Abdur Razzaq. Akan tetapi, di dalam riwayat Abdur Razzaq (7487) terdapat tambahan, “Jika dia menelannya padahal sudah dikatakan kepadanya bahwa hal itu terlarang”, Atha’ menjawab, “Kalau begitu batal puasanya.” Ia mengucapkan demikian beberapa kali. Sanadnya sahih.

[43] Di-maushul-kan oleh Ashhabus-Sunan dengan isnad yang lemah sebagairnana saya jelaskan di dalam Takhrij at-Targhib (2/74).

[44] Di-maushul-kan oleh Baihaqi (4/228) dari dua jalan dari Ibnu Mas’ud.

[45] Atsar Sa’id bin Musayyab di-maushul-kan oleh Musaddad dan lainnya, dan diriwayatkan oleh Abdur Razzaq (7469) dan Ibnu Abi Syaibah (3/105) dengan lafal, “Hendaklah ia berpuasa menggantikan setiap hari puasa yang ditinggalkannya itu dalam sebulan.”, dan sanadnya sahih. Atsar asy-Sya’bi diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad yang sahih juga, dan Abdur Razzaq (7476), dan Ibnu Abi Syaibah (3/105). Atsar Ibnu Jubair yaknai Sa’id bin Jubair di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih. Atsar Ibrahim yakni Ibnu Yazid an-Nakha’i di-maushul-kan oleh Said bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih. Atsar Qatadah di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang sahih. Dan, atsar Hammad yakni Ibnu Abi Sulaiman diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Abu Hanifah darinya.

[46] Saya melihat riwayat ini bukan riwayat mauquf dari Abu Hurairah, tetapi merupakan riwayat marfu dengan lafal, “Barangsiapa yang terdorong muntah sedangkan dia berpuasa, maka dia tidak wajib mengqadha; dan jika dia sengaja muntah, maka hendaklah ia mengqadha.” Hadits ini sudah saya takhrij di dalam al-Irwa’ (915).

[47] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan dua isnad yang sahih (3/51/39).

[48] Di-maushul-kan oleh Malik dengan isnad yang sahih.

[49] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih, dan oleh Nasa’i dan Hakim.

[50] Atsar Sa’ad di-maushul-kan oleh Imam malik dengan sanad yang terputus. Atsar Zaid di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang lemah. Atsar Ummu Salamah dimaushulkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang di dalamnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya. Oleh karena itu, penyusun membawakan riwayat ini dengan menggunakan kata kerja pasif.

[51] Di-maushul-kan oleh penyusun di dalam kitab at-Tarikh. Ummu Alqamah ini namanya Mirjanah, dan keadaannya tidak dikenal (majhub).

[52] Di-maushul-kan oleh Nasai dari jalan Abu Hurairah dari al-Hasan. Diperselisihkan pensanadannya kepada al-Hasan sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh dalam al-Fath. Akan tetapi, hadits ini diriwayatkan secara sah dari selain jalan ini dari lebih dari seorang sahabat, dan telah saya takhrij di dalam al-Irwa’. Namun, hadits ini mansukh (dihapuskan hukumnya), dan nasikhnya atau penghapusnya ialah hadits Ibnu Abbas yang akan datang (nomor 946), juga oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri yang mengatakan, “Nabi telah memberikan kemurahan untuk berbekam bagi orang yang berpuasa”, dan sanad hadits ini juga sahih sebagaimana saya jelaskan di situ.

[53] Tambahan ini secara mu’allaq pada penyusun, tetapi di-maushul-kan oleh al-Isma’ili.

[54] Tambahan ini adalah mu’allaq pada penyusun, tetapi di-maushul-kan oleh Ibnu Mandah di dalam Gharaaibi Syu’bah, namun isnadnya diperselisihkan. Silakan baca al-Fath.

[55] Di-maushul-kan oleh penyusun pada akhir bab ini dari Ibnu Umar. Sedangkan, riwayat Salamah di-maushul-kannya pada “65 -TAFSIRU AL-BAQARAH / 26 – BAB”.

[56] Riwayat ini disebutkan secara mu’allaq oleh penyusun, dan di-maushul-kan oleh Baihaqi di dalam Sunannya (4/200) dengan sanad sahih. Di-maushul-kan juga oleh Abu Dawud dan lainnya dengan redaksi yang mirip dengan itu. Silakan periksa Shahih Abu Dawud (523)

[57] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Daruquthni dengan sanad yang sahih. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/32).

[58] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafal yang hampir sama (3/74) dengan isnad yang sahih.

[59] Di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur dengan isnad yang sahih.

[60] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq secara mauquf pada Abu Hurairah dengan isnad yang sahih. Inilah yang dimaksud dengan “mursal’ di sini, dan ini merupakan istilah khusus. Karena, pengertian “mursal” yang sebenarnya ialah periwayatan di mana seorang tabi’i berkata, “Rasulullah bersabda ” (dengan tidak menyebutkan nama sahabat), sebagaimana istilah yang sudah dimaklumi.

[61] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq, Sa’id bin Manshur, dan Baihaqi dengan sanad yang sahih.

[62] Ini adalah perkataan Imam Bukhari sendiri sebagai hasil ijtihad fiqihiah.

[63] Al-Hafizh tidak mentakhrijnya.

[64] Di-maushul-kan oleh Daruquthni dalam Kitab adz-Dzabh dengan sanad sahih.

[65] Riwayat ini adalah mu’allaq di sisi penyusun dari beberapa jalan. Tetapi, sebagian jalannya di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya sebagaimana sudah saya jelaskan di dalam Ash-Shahihah (pada nomor sebelum 2000).

[66] Riwayat ini juga mu’allaq, tetapi di-maushul-kan oleh Ahmad.

[67] Di-maushul-kan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hasan bin Sufyan, dan al-Baihaqi (3/265), dan di dalam sanadnya terdapat Abu Haris sedangkan dia itu lemah.

[68] Di-mausltu!-kan oleh Said bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah (3/12) dengan sanad yang sahih.

[69] Seakan-akan dia berkata, “Cahaya matahari masih tampak, maka alangkah baiknya kalau engkau tunggu sehingga cahayanya lenyap dan malam tiba.” Dengan ucapannya ini ia mengisyaratkan kepada firman Allah, ‘Dan sempurnakanlah puasa hingga malam tiba.’ Seolah-olah dia mengira bahwa malam itu belum datang sehingga dengan jelas matahari telah tenggelam secara langsung, sesudah kegelapan merata ke timur dan barat. Maka, Nabi memberikan pengertian kepadanya bahwa malam itu dianggap sudah tiba apabila permulaan gelap telah terjadi dari arah timur dan persis setelah matahari tenggelam.

[70] Abdur Razzaq menambahkan (4/226/7594) bahwa orang itu berkata, “Kalau seseorang mau melihat-lihatnya di atas kendaraannya, niscaya dia dapat melihatnya, yakni melihat matahari.” Sanadnya sahih menurut syarat Shahih Bukhari dan Muslim.

[71] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid, dia berkata, “Kami diberi tahu oleh Ma’mar tentang hal itu.” Sanadnya sahih.

[72] Menunjuk kepada hadits yang baru saja disebutkan di muka “51- BAB” nomor 965.

[73] Muslim menambahkan (3/168): “dan puasa Ramadhan”.

[74] Muslim juga menambahkan: “sebagai gantinya”.

[75] Tambahan ini diriwayatkan secara mu’allaq oleh penyusun, dan di-maushul-kan oleh Nasa’i dengan sanad yang sahih.

[76] Jual beli mulamasah ialah dengan menyentuh kain tanpa melihatnya. Dengan cara demikian jual beli pun terjadi dan tidak ada hak khiyar ‘menentukan pilihan’. Demikian pula dengan munabadzah, di sini si pembeli tidak punya hak untuk melihat barangnya. Larangan jual beli mulamasah dan munabadzah ini sudah disebutkan dari jalan lain pada nomor 328 dengan ditegaskan sebagai hadits marfu dari Nabi saw. Sedangkan, larangan puasanya itu tidak saya lihat secara tegas sebagai hadits marfu dalam kitab ini. Karena itulah saya tidak memasukkannya ke jalan periwayatan yang lalu, dan saya memberinya nomor tersendiri.

Sumber : PeM Media

Puasa Dalam Berbagai Agama

Puasa Dalam Berbagai Agama

Puasa sering dilakukan dalam rangka menunaikan ibadah dalam suatu agama atau sesuatu kewajiban yang harus di lakukan Manusia menurut kepercayaan Agamanya. Berdasarkan beberapa sumber bacaan, ternyata ibadah puasa dijalankan oleh beberapa agama yang ada di dunia. Walaupun cara yang dilakukan berbeda, inti dari maksud dan tujuan puasa itu adalah pengekangan diri dari sebuah keinginan untuk mencapai sebuah tujuan.

  • Puasa dalam Yahudi. Dalam Yahudi Puasa untuk umat Yahudi bermakna menahankan diri keseluruhannya dari makanan dan minuman, termasuk air. Gosok gigi diharamkan pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B’Av, tetapi dibenarkan pada puasa hari kecil. Umat Yahudi yang mengamalkan berpuasa sampai ke enam hari pada satu tahun. Dengan pengecualian Yom Kippur, puasa tidak dibenarkan pada hari Sabat, karena rukun menyimpan hari Sabat itu adalah menurut Alkitab(injil) ditentukan dan mengatasi hari-ari puasa berinstitusi rabbi kemudian. Yom Kippur adalah satu-satunya rukun yang mana ditentukan dalam Torah.
  • Puasa dalam Kristen. Dalam Kristen Pada umumnya, Ajaran Puasa Umat Kristen Intinya adalah pertobatan, melawan keinginan duniawi, keinginan daging yang di maksud arti daging dalam arti kristen daging adalah manusia itu sendiri karna manusia berdaging maka umat kristen lebih sering menyebutkan manusia dalam kata-kata tertentu sebagai daging jadi artinya keinginan daging yaitu keinginan manusia itu sendiri, dan juga mengajarkan berpuasa agar sebisa mungkin tidak memberitahukan atau di ketahui kepada sesamanya yang sedang berpuasa atau sesamanya yang sedang tidak berpuasa termasuk merahasiakan hari apa dia akan mulai berpuasa, menyamarkan tubuhnya agar tidak terlihat sedang berpuasa dari orang lain bahkan sesama keyakinan sendiri, itu sebabnya Puasa Kristen pada Umumnya banyak yang tidak diketahui keberadaanya oleh keyakinan non Kristen dan media publik. Dalam beberapa aliran Kristen hanya pelaksanaan dan tata caranya saja yang berbeda inti dan tujuanya sama.
  • Puasa dalam Katolik. Dalam Katolik Roma, puasa biasanya dilakukan dengan makan kenyang satu kali sehari (dalam waktu 24 jam), wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung; masing-masing uskup dapat mengatur rincian ketentuan atas hal tersebut disesuaikan dengan keadaan di keuskupannya. Minum air tidak termasuk soal puasa. Namun saat sekarang ini lebih ditekankan makan kenyang satu kali sehari menahan hal-hal dari keinginan dunia dan keinginan daging (manusia), seperti tidak makan tidak minum termasuk menahan nafsu, sikap, dan juga hal-hal yang paling disukai. Ini dilakukan selama 40 hari menjelang Paskahatau di kenal sebagai masa Prapaskah. Di samping puasa resmi, secara pribadi umat Katolik disarankan untuk berpuasa pada hari-hari lain yang dipilihnya sendiri sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Selain berpuasa, Gereja juga mempunyai kebiasaan berpantang. Pantangdiharapkan untuk dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan hari raya gerejawi. Pada hari-hari puasa dan pantang, Umat Katolik diharapkan dapat meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal. (Kan. 1249-1253)
  • Puasa dalam Protestan. Dalam Protestan, keyakinan puasa Kristen Protestan tidak ada bedanya dengan katolik melawan keinginan dunia keinginan daging(manusia) yaitu puasa makan minum dan hal-hal yang tidak baik dalam tingka laku juga pikiran, dalam perotestan dan aliran protestan yang lain ada juga Cara Puasa dalam hal-hal tertentu selain puasa makan dan minum yaitu berpuasa mengenai rutinitas yang sering dilakukan yg paling disukainya Contohnya: Puasa Tidak menonton Tv atau puasa mendegarkan lagu selama 1 minggu, 1 bulan atau dalam jangka waktu tertentu, ada juga contoh-contoh lain yaitu rutinitas dimana kalau sedang tidak berpuasa itu sulit di hindari Rutinitas seperti itulah yang di puasakan dalam Protestan, umat katolik juga biasa melakukan puasa ini, karna inti dalam puasa Kristen ialah menahan hawa nafsu, keinginan duniawi. Tujuan berpuasa juga sama dengan Katolik sesuai ajaran dalam alkitab (injil), yang membedakanya hanya pelaksanaan dan tatacarannya. Puasa protestan tidak berpatokan pada hari-hari tertentu harus berpuasa, tetapi dalam keyakinan Protestan Pribadi masing-masing yaitu manusia itu sendiri yang menentukan hari untuk berpuasa yang dipilihnya sendiri selama 1 minggu, 1 bulan dan jangka waktu tertentu yang dipilihnya di harapkan bisa lagi berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Dalam melaksanakanya Pribadi yang berpuasa sebisa mungkin tidak di ketahui oleh kerabat, sanak soudara, dan orang-orang di sekitarnya di saat berpuasa, oleh sebab itu puasa Protestan tidak di umumkan secara resmi. Agama Kristen Protestan secara resmi tidak mewajibkan untuk berpuasa yang berarti tidak memiliki bulan khusus untuk berpuasa, tetapi Ketua masing- masing Gereja mengajarkan pada umatnya menyempatkan diri agar sesering mungkin Berdoa dan Berpuasalah dengan keinginan, ketulusannya sendiri bukan karena paksaan. Patokan berpuasa Umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan sama-sama mengambil dasar dalam ajaran Alkitab.
  • Puasa dalam Islam. Dalam Islam, puasa (disebut juga Shaum) yang bersifat wajib dilakukan pada bulan Ramadhan selama satu bulan penuh dan ditutup dengan Hari Raya Idul Fitri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat sesuai perintah dalam kitab suci umat Islam Al Quran. Puasa juga menolong menanam sikap yang baik dan kesemuanya itu diharapkan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya dan tidak hanya pada bulan puasa. Jika didasarkan pada ritual puasa itu sendiri, maka jika kita hendak mengakhirinya atau berbuka, maka terasa bertolak belakang jika kita tidak berbuka sekedarnya saja.

8 Permasalahan Dalam Puasa Yang Sering Terjadi

1. Suami-Istri

Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodho puasanya serta wajib membayar denda kaffarah udzma yaitu:

Membebaskan budak perempuan yang islam.
Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
Jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (sekitar 6,5 ons) dari makanan pokok.
Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki saja, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.

2. Hukum Menelan Dahak.

Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasanya.
Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasanya.
Yang dimaksud batas luar tenggorokan menurut pendapat Imam Nawawi (yang mu’tamad) adalah makhroj huruf ha’ (ح) dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama, batas luar adalah makhroj huruf kho’ (خ) dan dibawahnya adalah batas dalam.

3. Menelan Ludah Tidak Membatalkan Puasa dengan Syarat:

Murni (tidak tercampur benda lain)
Suci
Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan dalam mulut, sedangkan menelan ludah yang sudah berada pada bibir luar membatalkan puasa.
4. Hukum Masuknya Air Mandi ke Dalam Rongga Tanpa Sengaja:

Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib (janabat) maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau dengan menyelam.
Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan, maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.
5. Hukum Air Kumur yang Tertelan Tanpa Sengaja:

Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’, tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh).
Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.
6. Muntah atau Dalam Mulut Berdarah

Orang yang muntah atau dalam mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci. Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya dari sisa muntah, maka puasanya batal.

7. Membatalkan Puasa atau Tidak Niat

Orang yang sengaja membatalkan puasanya (alasan syar’i) atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (selayaknya orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodho puasanya.

8. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:

A. WAJIB QODHO’ DAN MEMBAYAR DENDA

Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
Mengakhirkan qodho’ puasanya hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada uzur.
B. WAJIB QODHO’ TANPA DENDA

Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari
Orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh)
Perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.
C. WAJIB DENDA TANPA QODHO’

Berlaku bagi orang lanjut usia tidak mampu berpuasa.
Orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, ia tidak mampu berpuasa.
D. TIDAK WAJIB QODHO’ DAN TIDAK WAJIB DENDA

Berlaku bagi orang yang kehilangan akal/ gila yang permanen atau tidak mengalami kesembuhan.
Yang dimaksud DENDA di sini adalah FIDYAH, 1 mud (6,5 ons) makanan pokok daerah setempat (beras) untuk setiap harinya.

Penelitian Medis Tentang Puasa dan Kesehatan Jantung

Penelitian Medis Tentang Puasa dan Kesehatan Jantung

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam. Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Jantung Manusia Berdasarkan penelitian Medis

  • Meskipun bradikardia dan hipotensi dapat terjadi selama puasa yang berkepanjangan, denyut jantung dan tekanan darah tetap normal selama beberapa hari pertama puasa. Perubahan pada elektrokardiogram, termasuk penurunan ketinggian kompleks QRS dan deviasi gelombang-T dan kanan yang terlihat pada puasa yang berkepanjangan, tidak terlihat dalam puasa pendek.
  • Tampaknya tidak ada kontraindikasi untuk mengamati puasa pada pasien dengan masalah katup atau subjek dengan ringan. penyakit arteri koroner. Tidak diketahui apakah dehidrasi ringan dan hemokonsentrasi dapat membahayakan mereka dengan penyakit arteri koroner sedang sampai berat. Namun, satu penelitian berspekulasi bahwa puasa Ramadhan tidak meningkatkan kejadian penyakit arteri koroner akut
  • Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

Referensi

  • Theorell T, Kjelberg J, Patmblad J. Electrocardiographic changes during total energy deprivation (fasting). Acta Med Scand 1978;203:13-9.
  • Temizhan A, Donderici O, Ouz D, Demirbas B. Is there any effect of Ramadan fasting on acute coronary health disease events? Int J Cardiol 1999;31:149-53.

Penelitian Puasa Pada Penderita Diabetes

Penelitian Puasa Pada Penderita Diabetes

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam. Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Tubuh Manusia Berdasarkan Penelitian Medis Pada Penderita Diabetes

  • Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.
  • Tidak ada masalah besar yang dihadapi dengan diabetes tipe 2 dan bahkan pasien tipe 1 yang dikendalikan selama puasa Ramadhan. Sebagian besar pasien tidak menunjukkan perubahan dalam kontrol glukosa mereka. Pada beberapa pasien, konsentrasi glukosa serum dapat turun atau naik, yang mungkin disebabkan oleh jumlah atau jenis makanan yang dikonsumsi, perubahan berat badan dan kebiasaan olahraga, keteraturan minum obat, atau makan setelah puasa rusak. Dalam sebagian besar penelitian, nilai HbAlc menunjukkan sedikit atau tidak ada perubahan selama Ramadhan. Jumlah fructosamine, insulin dan C-peptide telah dilaporkan tidak memiliki perubahan signifikan sebelum dan selama puasa Ramadhan.
  • Kreatinin serum, asam urat, nitrogen urea darah, protein, albumin, alanin amino-transferase, dan nilai amino-transferase aspartat tidak menunjukkan perubahan signifikan selama periode puasa. Jumlah asupan energi (kalori) telah dilaporkan dalam beberapa literatur, menunjukkan penurunan asupan energi. Sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2 dan diabetes tipe 1 tidak menunjukkan perubahan atau sedikit penurunan konsentrasi total kolestrol dan trigliserida. Namun, peningkatan kadar kolesterol total selama bulan Ramadhan jarang terjadi.
  • Disarankan bahwa pasien berikut harus disarankan untuk tidak berpuasa: semua pasien diabetes tipe 1 yang rapuh dan tidak terkontrol; pasien diabetes yang diketahui tidak patuh; mereka dengan komplikasi serius seperti angina tidak stabil; pasien dengan riwayat ketoasidosis diabetikum; pasien diabetes hamil; pasien lanjut usia dengan tingkat masalah kewaspadaan; dan pasien dengan episode hipoglikemia dan / atau hiperglikemia selama bulan Ramadhan.
  • Selama puasa Ramadhan, penderita diabetes harus menghindari goresan berlebihan dan harus melanjutkan olahraga yang biasa mereka lakukan terutama selama periode non-puasa. Banyak dokter menyarankan agar pasien tipe 1 tidak boleh berpuasa. Namun, dalam bentuk IDDM ringan ketika pasien bersikeras mengamati puasa, layak untuk memberikan satu dosis insulin kerja menengah sebelum Sahur, dan jika perlu, satu lagi sebelum berbuka puasa (Fatur, Iftar). Kontrol glikemik dapat meningkat dan hipoglikemia dikurangi dengan menggunakan insulin lispro. Pada pasien dengan diabetes tipe 2, dosis sulfonylurea kerja pendek harus dikurangi menjadi setengah selama Ramadhan, dan diberikan sebagai dosis tunggal sebelum Iftar atau dua dosis sebelum Sahur dan Iftar. Para penulis dari serangkaian pasien terbesar yang diobati dengan glibenclamide selama Ramadan merekomendasikan untuk mengganti dosis pagi (bersama dengan dosis tengah hari) dari obat ini dengan yang diminum saat matahari terbenam.

Referensi

  • Al-Hader AFA, Abu-Farsakh NA, Khatib SY, Hasan ZA. The effects of Ramadan fasting on certain biochemical parameters in normal subjects and in type 2 diabetic patients. Ann Saudi Med 1994; 14:139-41.
  • Bekhadir J, El Ghomari H, Klicken N, Mikou A, Sabri M. Muslims with non-insulin dependent diabetes fasting during Ramadan:treatment with glibenclamide. BMJ 1993;307:292-5.
  • Chandalia HB, Bhargav A, Kataria V. Dietary pattern during Ramadan fasting and its effect on the metabolic control of diabetes. Pract Diabetes 1987;4:287-90.
  • Sulimani RA, Laajam M, Al-Attas O, Famuyiwa FO, Bashi S, Mekki MO, et al. The effect of Ramadan fasting on diabetes control in type II diabetic patients. Nutr Res 1991;11:261-4.
  • Laajam MA. Ramadan fasting and non-insulin-dependent diabetes:effect on metabolic control. East Afr Med J 1990;67:732-6.
  • Salman H, Abdallah MA, Al Howasi M. Ramadan fasting in diabetic children in Riyadh. Diabet Med 1992;9:583-4.
  • Dehghan MR, Nafarabadi MT, Navai L, Azizi F. The effect of Ramadan fasting on blood glucose and lipids in type 2 diabetics. J Facult Med SBUMS 1994;18:42-7.
  • Mafauzy M, Mohammad WB, Anum MY, Zulkifli A, Ruhani AH. A study of fasting diabetic patients during the month of Ramadan. Med J Malaya 1990;45:14-7.
  • Latif AH, Gharieba MY, Al-Qassab HK, Sartani OM. Changes in serum lipids and electrolytes in type 2 diabetes mellitus during Ramadan. Saudi Med J 1993;14:532-5.
  • Omar MAK, Motala AA. Fasting in Ramadan and the diabetic patient. Diabetes Care 1997;20:1925-6.
  • Azizi F, Siahkolah B. Ramadan fasting and diabetes mellitus. Int J Ramadan Fast 1998;2:6-10.
  • Sulimani RA, Famuyiwa FO, Laajam M. Diabetes mellitus and Ramadan fasting:the need for a critical appraisal. Diabetes Med 1988;5:589-91.
  • Kadiri A, Al-Nakhi A, El-Ghazali S, et al. Treatment of type 1 diabetes with insulin lispro during Ramadan. Diabetes Med 2001; 27:482-6.

Penelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Metabolisme Tubuh Manusia

Penelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Metabolisme Karbohidrat

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam. Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Tubuh Manusia Berdasarkan Penelitian Medis

Keseimbangan Anabolisme dan katabolisme

  • Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

Metabolisme Karbohidrat.

  • Efek puasa jangka pendek eksperimental pada metabolisme karbohidrat telah ditinjau secara ekstensif. Masa puasa pasca-absorpsi didefinisikan sebagai 8 hingga 16 jam setelah makan, periode adaptasi yang sangat awal terhadap kelaparan. Prioritas metabolisme utama periode ini adalah penyediaan glukosa yang memadai untuk sel-sel otak, sel darah merah, saraf perifer, dan medula ginjal. Sedikit penurunan glukosa serum menjadi sekitar 3,3-3,9 mmol / L (60-70 mg / dL) terjadi beberapa jam setelah puasa pada orang dewasa normal. Namun, penurunan glukosa serum akan berhenti karena pemecahan glikogen dan peningkatan glukoneogenesis, serta penurunan sintesis glikogen dan glikolisis di hati. Perubahan-perubahan ini terjadi karena penurunan insulin dan peningkatan glukagon dan aktivitas simpatik
  • Pada tahap awal periode pasca-aborpsi, penurunan glukosa dikaitkan dengan penipisan simpanan glikogen hati. Namun, toko-toko ini tidak terbatas. Hanya ada 1.200 kalori yang disimpan sebagai karbohidrat dalam glikogen hati dan otot, dan sel-sel otot rangka kekurangan glukosa-6 fosfatase dan tidak melepaskan glukosa dari glikogen yang disimpan langsung ke dalam sirkulasi. Akhirnya, setelah sekitar 24 jam kelaparan, simpanan glikogen menjadi menipis dan satu-satunya sumber glukosa tetap menjadi glukoneogenesis, Substrat untuk glukoneogenesis adalah laktat (dan piruvat), gliserol dan asam amino. Kortisol adalah stimulus utama untuk katabolisme protein musle. Mekanisme ini akan menyediakan kebutuhan glukosa harian SSP (100-125 g) dan RBC (45-50 g). Sementara itu, penurunan insulin yang bersirkulasi dan kenaikan konsentrasi katekolamin menghasilkan lipolisis dalam jaringan adiposa dan peningkatan kadar asam lemak bebas, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar alih-alih glukosa oleh jaringan lain dari tubuh.
  • Hanya beberapa penelitian yang menunjukkan efek puasa Ramadhan terhadap glukosa serum. Satu studi menunjukkan sedikit penurunan glukosa serum pada hari-hari pertama Ramadhan, diikuti oleh normalisasi pada hari ke-20, dan sedikit peningkatan pada hari ke-29. Level glukosa serum terendah dalam penelitian ini adalah 63 mg / dL. Studi lain telah menunjukkan peningkatan ringan 8,9 atau variasi dalam konsentrasi glukosa serum. Dari studi-studi ini, orang dapat berasumsi bahwa selama hari-hari puasa yang mengikuti makan yang agak besar diambil sebelum fajar (Sahur), simpanan glikogen, bersama dengan beberapa derajat glukoneogenesis, mempertahankan glukosa serum dalam batas normal. Namun, sedikit perubahan glukosa serum dapat terjadi secara individual sesuai dengan kebiasaan makanan dan perbedaan individu dalam mekanisme yang terlibat dalam metabolisme dan regulasi energi.

Metabolisme Lipid

  • Studi tentang efek puasa Ramadhan pada lipid darah telah menghasilkan hasil yang bervariasi. Kolesterol serum dapat menurun pada hari-hari pertama puasa dan naik ke nilai sebelum puasa. Beberapa penelitian telah melaporkan peningkatan konsentrasi kolesterol, yang mungkin terkait dengan penurunan berat badan selama puasa Ramadhan. Namun, yang lain tidak menemukan perubahan, atau hanya penurunan kadar kolesterol selama puasa. Bukti terbaru bahwa peningkatan nyata kolesterol HDL plasma terjadi setelah puasa Ramadhan menjanjikan. Peningkatan Ramadhan dan konsentrasi APo A-1 pasca-Ramadhan baik normal dan penderita diabetes, dengan penurunan kadar APo B telah dilaporkan. Secara keseluruhan, perubahan lipid darah tampaknya bervariasi dan tergantung pada kualitas dan kuantitas konsumsi makanan dan tingkat perubahan berat. Perubahan-perubahan ini mungkin juga terkait dengan mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar, karena telah ditunjukkan bahwa peningkatan lipid pada individu yang mengambil satu makanan besar setiap hari, meskipun, ini tidak dikonfirmasi dalam satu studi selama puasa di bulan Ramadhan.

Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah

  • Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

Referensi

  • Azizi F. Medical aspects of Islamic fasting. Med J Islamic Rep Iran 1996;10:241-6.
  • Proceedings of the First International Congress on Health and Ramadan. 19-22 January 1994, Casablanca, Morocco.
  • Proceedings of the Second International Congress on Health and Ramadan. 1-3 December 1997, Istanbul, Turkey.
  • Chill GF, Jr. Starvation in man. N Engl J Med 1970;282:668-75.
  • Heber D. Starvation and nutrition therapy. In:DeGroot LJ, Jameson JL, editors. Endocrinology. Fourth edition, Vol. 1. Philadelphia: WB Saunders, 2001:642-5.
  • Azizi F. Rasouli HA. Serum glucose, bilirubin, calcium, phosphorus, protein and albumin concentrations during Ramadan. Med J Islamic Rep Iran 1987;1:38-41.
  • Scott TG. The effect of Muslim fast of Ramadan on routine laboratory investigation. King Abdulaziz Med J 1981;1:23-35.
  • Temizhan A, Tandogan I, Donderici O, Demirbas B. The effects of Ramadan fasting on blood lipid levels. Am J Med 2000;109:341-2.
  • Khogheer, Y, Sulaiman MI, Al-Fayez SF. Ramadan fasting state of controls. Ann Saudi Med 1987;7(Suppl.):5-6.
  • Davidson JC. Muslims, Ramadan and diabetes melitus. BMJ 1979; 2:1511-2.
  • El-Hazmi MAF, Al-Faleh FZ, Al-Mofleh IB. Effect of Ramadan fasting on the values of hematological and biochemical parameters. Saudi Med J 1987;8:171-6.
  • Gumaa KA, Mustafa KY, Mahmoud NA, Gader AM. The effect of fasting in Ramadan. 1. Serum uric acid and lipid concentration. Br J Nutr 1978;40:573-81.
  • Fedail SS, Murphy D, Salih SY, Bolton CH, Harvey RF. Changes in certain blood constituents during Ramadan. Am J Clin Nutr 1982; 36:350-3.
  • Shoukry MI. Effect of fasting in Ramadan on plasma lipoproteins and apoproteins. Saudi Med J 1986;7:561-5.
  • Hallak MH, Nomani MZA. Body weight loss and changes in blood lipid levels in normal men on hypocaloric diets during Ramadan fasting. Am J Clin Nutr 1988;48:1197-210.
  • Maislos M, Khamaysi N, Assali A, Abou-Rabiah Y, Zvili I, Shany S. Marked increase in plasma high-density lipoprotein cholesterol after prolonged fasting during Ramadan. Am J Clin Nutr 1993;57:640-2.
  • Maislos M, Abou-Rabiah Y, Zuili I, Iordash S, Shany S. Gorging and plasma HDL-cholesterol:The Ramadan model. Europ J Clin Nutr 1998;52:127-30.
  • Adlouni A, Ghalim N, Benslimane A, Lecery JM, Saile R. Fasting during Ramadan induces a marked increase in HDL and decrease in LDL-cholesterol. Ann Nutr Metab 1997;41:242-9.
  • Adlouni A, Ghalim N, Saile R, Hda N, Para HJ, Benslimane A. Beneficial effect of serum Apo Al, Apo B and LP Al levels of Ramadan fasting. Clin Chim Acta 1998;271:179-89.
  • Akanji AO, Mojiminiyi OA, Abdella N. Beneficial changes in serum Apo A-l and its ratio Apo B and HDL in stable hyperlipidemia subjects after Ramadan fasting in Kwait. Europ J Clin Nutr 2000; 54:508-13.
  • Gwinup G, Byron RC, Roush WH, et al. Effect of nibbling versus gorging on serum lipids in man. Am J Clin Nutr 1963;13:209-13.

100 Tanya Jawab Puasa: Televisi dan Puasa

Televisi dan Puasa

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.

Pertanyaan:

Apa pendapat agama Islam tentang menonton TV bagi orang yang sedang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan?

Jawaban:

Televisi adalah salah satu sarana, di dalamnya ada kebaikan dan hal yang tidak baik. Semua sarana mengandung hukum tujuan. Televisi sama seperti radio dan sarana informasi lainnya, di dalamnya ada yang baik dan ada yang tidak baik. Seorang muslim mesti mengambil manfaat dari yang baik dan menjauhkan diri dari yang tidak baik, apakah ia dalam keadaan berpuasa atau pun tidak sedang berpuasa. Akan tetapi dalam keadaan berpuasa ia mesti lebih hati-hati, agar puasanya tidak rusak, agar pahalanya tidak hilang sia-sia dan tidak mendapatkan balasan dari Allah Swt. Menonton TV, saya tidak katakan halal secara mutlak dan tidak pula haram secara mutlak. Akan tetapi mengikut apa yang ditonton, jika baik, maka boleh dilihat dan didengar, seperti acara-acara agama Islam, berita, acara-acara yang membawa kepada kebaikan. Jika tidak baik, seperti acara tarian yang tidak menutup aurat dan hal-hal seperti itu, maka haram untuk dilihat di setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Sebagian acara makruh ditonton, meskipun tidak sampai ke tingkat haram.

Semua sarana yang menghalangi diri dari mengingat Allah Swt, maka haram hukumnya. Jika menonton TV, atau mendengar radio dan lain sebagainya dapat melalaikan dari suatu kewajiban yang diwajibkan Allah Swt, seperti shalat, maka dalam kondisi seperti ini hukumnya haram. Semua perbuatan yang melalaikan shalat maka hukumnya haram. Ketika Allah Swt menyebutkan sebab diharamkannya khamar dan judi, Allah Swt sebutkan sebabnya:                      

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (Qs. Al-Ma’idah [5]: 91). Maka bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap acara televisi agar bertakwa kepada Allah Swt tentang apa yang layak untuk dipersembahkan kepada khalayak ramai, khususnya di bulan Ramadhan, untuk menjaga kemuliaan bulan yang penuh berkah, menolong kaum muslimin untuk taat kepada Allah Swt dan menambah amal kebaikan, agar tidak memikul dosa mereka dan dosa para penonton, seperti yang difirmankan Allah Swt:                   “(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (Qs. An-Nahl [16]: 25). 27

wp-1557098166849..jpg

Fiqih Puasa : Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

FIQIH PUASA

Orang-orang yang dibolehkan tidak berpuasa

Orang sakit yang bisa membahayakan dirinya jika berpuasa.

  • Jumhur ulama mengatakan bahwa orang sakit yang boleh meninggalkan puasa adalah yang jika berpuasa itu dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan serius pada kesehatannya.
  • Adapun orang yang sakit ringan yang jika berpuasa tidak ada pengaruhnya sama sekali atau pengaruhnya kecil, seperti pilek, sakit kepala, maka ulama empat madzhab sepakat orang yang demikian wajib tetap berpuasa dan tidak boleh meninggalkan puasa.
  • Terkait adanya kewajiban qadha atau tidak, orang sakit dibagi menjadi 2 macam:
  1. Orang yang sakitnya diperkirakan masih bisa sembuh, maka wajib meng-qadha ketika sudah mampu untuk menjalankan puasa. Ulama ijma akan hal ini.
  2. Orang yang sakitnya diperkirakan tidak bisa sembuh, maka membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Diqiyaskan dengan keadaan orang yang sudah tua renta tidak mampu lagi berpuasa. Ini disepakati oleh madzhab fikih yang empat.

Musafir.

  • Orang yang bersafar boleh meninggalkan puasa Ramadhan, baik perjalanannya sulit dan berat jika dilakukan dengan berpuasa, maupun perjalanannya ringan dan tidak berat jika dilakukan dengan berpuasa.
  • Namun jika orang yang bersafar itu berniat bermukim di tempat tujuan safarnya lebih dari 4 hari, maka tidak boleh meninggalkan puasa sejak ia sampai di tempat tujuannya.
  • Para ulama khilaf mengenai musafir yang perjalanannya ringan dan tidak berat jika dilakukan dengan berpuasa, semisal menggunakan pesawat atau kendaraan yang sangat nyaman, apakah lebih utama berpuasa ataukah tidak berpuasa. Yang lebih kuat, dan ini adalah pendapat jumhur ulama, lebih utama tetap berpuasa.
  • Orang yang hampir selalu bersafar setiap hari, seperti pilot, supir bus, supir truk, masinis, dan semacamnya, dibolehkan untuk tidak berpuasa selama bersafar, selama itu memiliki tempat tinggal untuk pulang dan menetap. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al Utsaimin.

Orang yang sudah tua renta

  • Orang yang sudah tua renta dan tidak lagi mampu untuk berpuasa dibolehkan untuk tidak berpuasa Ramadhan. Ulama ijma akan hal ini.
  • Wajib bagi mereka untuk membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.

Wanita hamil dan menyusui

  • Wanita hamil atau sedang menyusui boleh meninggalkan puasa Ramadhan, baik karena ia khawatir terhadap kesehatan dirinya maupun khawatir terhadap kesehatan si bayi.
  • Ulama berbeda pendapat mengenai apa kewajiban wanita hamil dan menyusui ketika meninggalkan puasa.
  • Sebagian ulama berpendapat bagi mereka cukup membayar fidyah tanpa qadha, ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albani.
  • Sebagian ulama berpendapat bagi mereka cukup meng-qadha tanpa fidyah, ini dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Al Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan, Al Lajnah Ad Daimah, juga pendapat Hanafiyah dan Malikiyah.
  • Sebagian ulama madzhab juga berpendapat bagi mereka qadha dan fidyah jika meninggalkan puasa karena khawatir akan kesehatan si bayi.
  • Yang lebih rajih –insya Allah– adalah pendapat kedua, bagi mereka wajib qadha saja tanpa fidyah.

Orang yang memiliki sebab-sebab yang membolehkan tidak berpuasa, diantaranya:

  • Orang yang pekerjaannya terasa berat. Orang yang demikian tetap wajib meniatkan diri berpuasa dan wajib berpuasa. Namun ketika tengah hari bekerja lalu terasa sangat berat hingga dikhawatirkan dapat membahayakan dirinya, boleh membatalkan puasa ketika itu, dan wajib meng-qadha-nya di luar Ramadhan.
  • Orang yang sangat kelaparan dan kehausan sehingga bisa membuatnya binasa. Orang yang demikian wajib berbuka dan meng-qadha-nya di hari lain.
  • Orang yang dipaksa untuk berbuka atau dimasukan makanan dan minuman secara paksa ke mulutnya. Orang yang demikian boleh berbuka dan meng-qadha-nya di hari lain dan ia tidak berdosa karenanya.
  • Mujahid fi sabilillah yang sedang berperang di medan perang. Dibolehkan bagi mereka untuk meninggalkan berpuasa. Berdasarkan hadits:
  • إنكم قد دنوتم من عدوكم، والفطر أقوى لكم، فكانت رخصة
  • “sesungguhnya musuh kalian telah mendekati kalian, maka berbuka itu lebih menguatkan kalian, dan hal itu merupakan rukhshah” (HR. Muslim).

:

100 Tanya Jawab Puasa: Apakah Hukumnya Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa ? Benarkah Tidur Ibadah ?

Tidur Sepanjang Hari di Bulan Ramadhan, Benarkah Tidur Ibadah ? Apakah Hukumnya ?

Apakah hukum tidur sepanjang hari di bulan Ramadhan? BENARKAH HUKUMNYA MENURUT HADITS NABI TIDUR ADALAH IBADAH DI BULAN PUASA ?

Jawaban:

  • Barang siapa yang menghabiskan waktu puasanya dengan tidur seharian maka puasanya sah jika dia berniat untuk puasa sebelum terbitnya fajar. Namun dia berdosa karena tidak mengerjakan shalat di waktu-waktunya dan berdosa karena tidak shalat jamaah jika ia memang termasuk orang yang wajib melaksanakan shalat jamaah. Orang tersebut telah meninggalkan dua kewajiban sehingga dosanya sangat besar. Kecuali jika hal tersebut bukan merupakan kebiasaannya dan orang tersebut berniat bangun untuk menegakkan shalat (namun ia ketiduran, pent), ketiduran ini sangat jarang terjadi, maka orang tersebut tidak berdosa.
  • Terkait dengan hal di atas, satu hal yang patut disayangkan, yaitu banyak orang yang biasa untuk bergadang di bulan Ramadhan, ketika mendekati fajar mereka makan sahur kemudian tidur sepanjang hari atau sebagian besarnya. Mereka meninggalkan shalat, padahal shalat lebih ditekankan dan lebih wajib daripada puasa. Bahkan puasa tidak sah bagi orang yang tidak shalat. Tentu, hal ini merupakan perkara yang sangat berbahaya sekali. Oleh sebab itu bergadang yang menyebabkan orang tidak bisa bangun untuk menunaikan shalat adalah bergadang yang hukumnya haram. Lebih-lebih jika bergadang tersebut di isi dengan perbuatan yang sia-sia, main-main atau perbuatan yang haram tentu perkaranya lebih berbahaya lagi. Perbuatan dosa akan lebih besar dosanya dan lebih parah bahayanya ketika dikerjakan di bulan Ramadhan, demikian juga ketika dikerjakan di waktu-waktu atau tempat-tempat yang memiliki keutamaan.
  • Hadis tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadis yang tidak benar. Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadis ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks hadisnya,
  • نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
  • “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”
  • Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadis di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”
  • Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadis ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadis dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.
  • Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadis sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,
  • إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
  • “Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Sumber:

Penelitian Membuktikan Puasa Dapat Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.


Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim:“Berpuasalah maka kamu akan sehat.”Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

Inilah 20 Mukizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia

Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh

Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui

Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

6. Pengaruh pada janin saat ibu hami berpuasa

Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total,low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein(VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

7. Penurunan glukosa dan berat badan

Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok

Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

9. Pengaruh pada hormon virgisteron

Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

10. Bermanfaat Bagi Jantung

Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel

Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin

Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang

Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma

Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis

Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual

Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya

18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna

Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia

Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

20. Menurunkan adrenalin

Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

Penulis : Dr. Widodo Judarwanto pediatrician

1525943757195-12.jpg1525939949072-20.jpg

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

Assalammu”alaikum Ustadz

  • Di saat bulan ramadhan terdapat jadwal Imsak tetapi di beberapa negara tidak mengumumkan atau bahkan memakainya kecuali di Indonesia? Apa maksuda jadwal Imsak itu, pentingkH digunakan dalan beribadah puasa ?

Wassalammu”alaikum

Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  • Istilah ”imsak” yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan ”bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi”. Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak terlalu penting amat, setidaknya buat sebagian orang. Penting untuk diluruskan bahwa waktu ”imsak”bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.
  • Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ”imsak”, melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.
  • Mengapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara di mana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini. Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksdunya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ”imsak” yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu. Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.
  • Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.
  • Salah satu istilah yang unik saat ramadhan di Indonesia adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti merasa asing mendengar istilah ini. Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini.

Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh

wp-1557098166849..jpg

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bagi Musafir Apakah Berbuka atau Terus Berpuasa


  • Apa yang lebih utama bagi musafir, berbuka atau terus berpuasa? 
  • Terutama pada safar (bepergian) yang tak ada kepenatan, seperti dalam pesawat atau alat-alat transportasi modern lainnya?

  • Yang afdhal bagi orang berpuasa adalah berbuka saat bepergian, bagaimana pun keadaannya. Tetapi orang yang tetap berpuasa maka tidak ada dosa baginya, karena rasulullah pernah melakukan ini dan itu, demikian pula para sahabatnya.
  • Jika panas sangat menyengat, dan kecapaian semakin meningkat, maka berbuka di saat ini sangat diharuskan. Adapun alasan kenapa berpuasa bagi seorang musafir sangat dimakruhkan (dibenci), yaitu karena rasulullah pernah melihat seorang lelaki dalam safar yang sangat kecapaian dan tetap berpuasa, beliau berkata kepadanya, ((لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ)) “Bukan termasuk kebaikan, jika tetap berpuasa saat bepergian.”
  • Juga karena sabda beliau yang berbunyi, (إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَماَ يُكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ))  “Sesungguhnya Allah senang jika rukhsahnya dikerjakan, sebagaimana Dia Membenci jika kemaksiatan dikerjakan.”
  • Dalam lafadh lain, ((كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ)) “Sebagaimana Dia senang jika azimah-azimahnya[3] dikerjakan.”
  • Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara para musafir, apakah itu yang bepergian dengan mobil, unta, perahu, kapal, atau orang yang bepergian dengan pesawat. Karena semua orang diatas, tetap dinamakan sebagai musafir, sehingga berhak mendapatkan keringanan yang diberikan Allah kepada mereka.
  • Allah Subhaanahu wa Ta`ala telah mensyariatkan hukum safar (bepergian) dan iqamah (menetap) bagi para hamba-Nya di zaman nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam, dan hukum ini terus berlaku bagi hamba lainnya setelah masa itu hingga hari kiamat. Dia (Allah) Maha tahu apa yang bakal terjadi dari berbagai perubahan dan menjadi bermacam-macamnya jenis alat tranportasi. Seandainya hukum akan berbeda, tentunya Allah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya, sebagaimana Ia Menjelaskan dalam surat An-Nahl yang berbunyi,
  • “Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu sebagai penjelas atas berbagai hal, juga petunjuk, rahmat dan pemberi kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An-Nahl: 89)
  • Juga berfirman dalam surat yang sama, “Dan Dia Menciptakan kuda, bagal[4] dan keledai, agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8)

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bolehkah wanita Hamil atau Menyusui Tidak Berpuasa ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bolehkah wanita Hamil atau Menyusui Tidak Berpuasa ?

  • Bolehkah seorang wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa? Apakah mereka wajib mengqadha`, atau ada kaffarat (penebus) saat mereka tidak berpuasa itu?

  • Wanita hamil dan menyusui hukumnya seperti orang sakit, jika puasa menyebabkan mereka menderita, maka disyariatkan berbuka bagi mereka. Dan mereka wajib mengqadha` jika mampu melakukannya, persis seperti orang sakit.
  • Tetapi ada sebagian ulama` yang berpendapat, bahwa cukup bagi mereka berdua (wanita hamil dan menyusui) untuk memberi makan orang miskin pada setiap hari yang mereka tidak berpuasa pada hari tersebut. Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak rajih. Yang benar, mereka harus mengqadha` seperti halnya seorang musafir dan orang sakit. Allah Berfirman, “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”(QS. Al-Baqarah: 184)
  • Juga menunjukkan hal di atas, hadits Anas bin Malik Al-Ka`biy, bahwa rasulullah bersabda, ((إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ، وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ)) (رواه الخمسة) “Sesungguhnya Allah telah meringankan puasa dan separuh shalat bagi seorang musafir, dan meringankan puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui.” (HR. Al-Khamsah.)

    Tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan

    Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa.
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

    Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66).
    Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar.
    Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34).
    Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
    إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
    ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224)

    Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan:

    1- Waktu sahur

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
    “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

    2- Saat berpuasa

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
    “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)
    Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

    3- Ketika berbuka puasa

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
    “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

    Sumber

    Daftar Lengkap Menu Takjil dan Buka Puasa Lezat dan Bergizi Selama 30 Hari

    Daftar Lengkap menu takjil dan berbuka selama puasa

    1. Menu takjil Kolak Pisang, labu Kolang Kaling, menu berbuka Tumis labu Pedas dan Sup bakso.
    2. Menu takjil Es Alpukat Susu, menu berbuka cah kangkung dan ikan patin goreng dan sambal dan lalapan.
    3. Menu takjil Es Dawet, menu berbuka Sup kacang merah dan empal Goreng.
    4. Menu takjil Bubur Sumsum Nangka, menu berbuka Sayur Bening Bayam dan Dendeng Daging.
    5. Menu takjil sup buah dan kolang kaling, menu berbuka mi goreng dan Ayam Lada Hitam.
    6. Menu takjil Kolak Pisang labu, menu berbuka sup jagung dan Bakwan daging.
    7. Menu takjil, Es Tape kolang kaling, menu berbuka Sayur Kohlrabi (Labu Siam) dan Ayam Suwir Bumbu Rujak
    8. Menu takjil Es Buah Kolang Kaling, menu berbuka Soto Daging dan Perkedel Ayam.
    9. Menu takjil Bubur Ketan Hitam, menu berbuka Tumis Taoge Ikan Asin dan Udang Bakar Madu.
    10. Menu takjil Kolak Labu Kuning, menu berbuka Jengkol Balado dan Bola-Bola Daging Bumbu Lada Hitam.
    11. Menu takjil Es Kelapa Muda, menu berbuka Tumis Sayur Pare. pete Pedas dan Tumis Ayam Sayur Campur.
    12. Menu takjil Es Blewah, menu berbuka Sup Gurame Pedas dan Pepes Patin Mangga Muda.
    13. Menu takjil Kolak Biji Salak, menu berbuka Sayur Pepaya Muda dan Sambal Goreng Daging.
    14. Menu takjil Jus Timun Segar, menu berbuka Tumis Sayur dan labu Muda dan gurame Masak Tinta.
    15. Menu takjil Es Pisang Ijo, menu berbuka Sup Ayam dan Ayam Goreng Serundeng.
    16. Menu takjil Kolak Bola Bola Talas, menu berbuka Tumis Kacang Panjang dan Telur Puyuh Masak Kecap.
    17. takjil Bubur Candil, menu berbuka Buncis Saus Teriyaki dan Ikan Asin Balado Hijau.
    18. Menu takjil Es Teler, menu berbuka Tumis Sawi Putih Pedas dan Daging Masak Kecap.
    19. Menu takjil Es Buah Pepaya Nanas, menu berbuka Sayur Asem, Tahu Tempe dan Empal Goreng, lalapan dan sambel.
    20. Menu takjil Kolak Pisang, menu berbuka Tumis labu Hijau dan Ikan Bandeng presto, sambel bawang dan lalapan.
    21. Menu takjil Salad Buah, menu berbuka Rawon Daging Sapi dan Empal Suwir.
    22. Menu takjil Bubur Ketan Hitam Saus Santan, menu berbuka Tumis Taoge Tahu, Tumis Buncis Udang, Perkedel Kentang Goreng.
    23. Menu takjil Es Buah Spesial, menu berbuka cap jay kuah, ikan lele goreng, sambal dan lalalapan
    24. Menu takjil Bubur Sumsum, menu berbuka Terong Balado dan Ayam Bumbu Sambal Petai.
    25. Menu takjil Es Teh Manis, menu berbuka Tumis Kangkung Terasi dan Telur Bumbu Bali. Memu takjil Jus Apel Tomat, menu berbuka Capcay Goreng Bakso dan Dendeng Sapi Balado
    26. Menu takjil Kolak Ubi, menu berbuka Tumis Jamur Tiram dan Ayam Asam Manis.
      Menu takjil Bubur Kacang Hijau, menu berbuka Urap Matang dan Kerang Tumis Asam Pedas.
    27. Menu takjil Es Cincau Nutrijel, menu berbuka Sup Bihun dan Resep Chicken Karaage.
    28. Menu takjil Es Kopyor, menu berbuka Tumis Jamur Tiram Cabai Hijau, Telur Puyuh Tumis Saus Tiram.

    FREEDOWNLOAD : Kumpulan Ceramah Terhebat Ustadz Adi Hidayat

    1556178985085.jpg

    Ustadz Adi Hidayat dikenal sebagai salah satu Ustadz yang lagi populer di kalangan netizen Muslim. Popularitasnya sebagai seorang pendakwah sedang menanjak. Video-video ceramahnya banyak di tonton oleh jutaan kaum muslim di Indonesia.

    FREEDOWNLOAD: KUMPULAN CERAMAH TERHEBAT ADI HIDAYAT

    Biodata Ustadz Adi Hidayat

    • Nama : Adi Hidayat, Lc, MALahir : Pandeglang, Banten, 11 September 1984, Orang Tua : Warso Supena (Ayah), Hj.Rafiah Akhyar (Ibu), Saudara : Ade Rahmat, Neng Inayatin, Ima Rakhmawati, Ita Haryati, Istri : (Belum Diketahui), Anak : 2 Orang

    Biografi Ustadz Adi Hidayat

    • Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA dilahirkan pada tanggal 11 September 1984 di Pendeglang, Banten. Ayahnya bernama Warso Supena dan ibunya bernama Hj.Rafiah Akhyar. Adi Hidayat memiliki 4 orang saudara.
    • Masa Kecil. Ustadz Adi Hidayat mengenyam pendidikan awal di TK Pertiwi Pandeglang di tahun 1989. Setelahnya, orang tuanya memasukkannya di SDN Karaton 3 Pandeglang hingga ke jenjang kelas 3 SD.
    • Saat kelas 4 SD, Adi Hidayat pindah ke SDN III Pandeglang hingga ia tamat SD. Semasa kecilnya, Adi Hidayat merupakan siswa yang cerdas.

    Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

    • Terbukti ia berhasil masuk dalam kelas unggulan disekolah tersebut sekabupaten Pandeglang. Dalam Biografi Ustadz Adi Hidayat seperti dilansir dari detik.com, Sebenarnya Adi Hidayat ketika itu akan masuk ke sekolah unggulan SMP 1 Pandeglang, Banten.
    • Namun karena ia menceritakan mimpinya yang bertemu Rasulullah SAW kepada orang tuanya, maka kemudian orang tuanya memasukkan anaknya ke sekolah agama.
    • Adi Hidayat akhirnya melanjutkan pendidikannya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang. Disini Adi Hidayat dikenal sebagai siswa berprestasi yang pernah menjadi penceramah cilik ketika wisuda santri.
    • Setelah tamat Madrasah, Adi Hidayat melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyyah Garut di tahun 1997.
    • Di Ponpes ini, Adi Hidayat banyak memperoleh bekal ilmu agama secara lebih mendalam serta pengetahuan lainnya. Di Ponpes ini juga Adi Hidayat meraih sejumlah prestasi. Ia lulus dengan predikat Santri Teladan.
    • Kuliah UIN Syarif Hidayatullah
      Prestasinya yang cemerlang membuat ia diterima masuk jalur PMDK di Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2003.
      Belajar di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya
      Namun dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, Adi Hidayat mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya di Kuliyya Dakwah Islamiyyah di Tripoli, Libya.
    • Di Libya, Adi Hidayat sangat intensif belajar mengenai agama islam mulai dari al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tarikh, Lughah dan lain-lain.
    • Ia juga semakin mendalami makna Alquran dan Hadist dengan mengambil program khusus bernama Lughah Arabiyyah wa Adabuha.

    Belajar ke Berbagai Syaikh

    • Dalam Biografi Ustadz Adi Hidayat seperti yang dilansir dari akhyar.tv, Ustadz Adi Hidayat juga banyak bertalaqqi atau belajar mengenai Alquran dengan para ulama atau Syaikh yang ia temui di Libya dan negara lain yang pernah ia kunjungi.
    • Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (muqri internasional), Syaikh Ali al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri) mengajarkan Adi Hidayat mengenai Alquran.
    • Sementara Syaikh Usamah dari Libya mengajarkan ia ilmu tajwid. Adapun syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh al-Azhar) dan Dr. Bajiqni (Libya) mengajarkan Adi Hidayat mengenai ilmu tafsir.
    • Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya) menjarkannya mengenai ilmu hadist. Dan Syaikh ar-Rabithi (mufti Libya) dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama Syiria) mengajarkannya mengenai ilmu fiqh dan ushul fiqh.
    • Mengenai Ilmu bahasa, Adi Hidayat memperolehnya dari syaikh Abdul Lathif as-Syuwairif (Pakar bahasa Dunia, anggota majma’ al-lughah), Dr. Muhammad Djibran (Pakar Bahasa dan Sastra), Dr. Abdullâh Ustha (Pakar Nahwu dan Sharaf), Dr. Budairi al-Azhari (Pakar ilmu Arudh), juga masyayikh lainnya. dan ilmu tarikh, ia peroleh dari Ust. Ammar al-Liibiy (Sejarawan Libya).
    • Di akhir tahun 2009, Adi Hidayat diangkat sebagai ketua dewan khatib jami Dakwah Islamiyyah Tripoli atau disebut amînul khutabâ. Dengan posisi ini, Adi Hidayat mempunyai hak berhak menentukan para khatib dan pengisi di Masjid Dakwah Islamiyyah di Tripoli, Libya.
    • Selama menimba ilmu di Tripoli, Libya, Ustadz Adi Hidayat menyelesaikan pendidikan S1 nya dalam kurun waktu 2.5 tahun. Dan jenjang pascasarjana ia selesaikan dalam waktu 2 tahun di Islamic Call College Tripoli, Libya. Ia juga aktif di saluran televisi at-tawâshul TV Libya dalam acara tsaqafah Islâmiyyah.

    Kembali Ke Indonesia

    • Setelah hampir 6 tahun di Libya, Adi Hidayat kemudian kembali ke Indonesia dan berhasil membawa membawa gelar L.c (License), gelar sarjana di kawasan Timur Tengah.
    • Di Indonesia, Ustadz Adi Hidayat kemudian menjadi pengasuh Ponpes al-Qur’an al-Hikmah di wilayah Lebak bulus, Banten. Setelah itu di tahun 2013, Ustadz Adi Hidayat mendirikan Quantum Akhyar Institute sebuah lembaga bimbingan dan kajian islam di Bekasi, jawa Barat. Ia juga melanjutkan pendidikan masternya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
    • Hingga saat ini Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA banyak mengisi ceramah ceramah agama di berbagai tempat. Jamaah yang mengikuti kajiannya sangat banyak dikarenakan ceramahnya mengenai keislaman sangat mudah dipahami oleh banyak orang. Selain itu video ceramahnya juga banyak ditonton oleh jutaan netizen di Youtube maupun di sosial media seperti Facebook.

    wp-1521930487666..jpg

     

    TINJAUAN KEPUSTAKAAN: Penelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Kesehatan

    1525939949072-20.jpgPenelitian Meta Analisis Tentang Puasa dan Kesehatan

    dr Widodo Judarwanto, pediatrician

    Umat ​​Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam selama bulan Ramadhan. Durasi puasa umat  muslim di dunia bervariasi dari 13 hingga 18 jam / hari. Berpuasa adalah menghindari minum cairan dan makan makanan. Sebuah penelitian meta analisis meninjau aspek puasa Ramadhan yang berhubungan dengan kesehatan. Penelitian itu di ambil dari tahun 1960 hingga 2009 diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam.  Artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas ditinjau secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian materi terkait. Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Puasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban agama bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Ramadhan adalah bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Banyak agama besar di dunia merekomendasikan periode puasa atau pantang. Puasa Islam selama bulan Ramadhan di mana satu bulan didedikasikan untuk puasa adalah khusus untuk Islam, dan secara ketat diamati oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia mengikuti agama Islam, diasumsikan bahwa ratusan juta orang menjalankan puasa Ramadhan setiap tahun. Pengalaman puasa mengajarkan orang Muslim disiplin diri dan menahan diri, dan mengingatkan mereka tentang perasaan orang miskin. Berpuasa tidak wajib untuk anak-anak. Wanita yang mengalami menstruasi serta orang sakit dan bepergian dibebaskan, dan wanita hamil dan menyusui diizinkan untuk menunda puasa selama bulan Ramadhan, namun, mereka harus berpuasa selama satu bulan lagi tahun ini, ketika mereka tidak memiliki alasan untuk pembebasan.

    Selama Ramadhan, mayoritas Muslim memiliki dua makanan berukuran besar; satu segera setelah matahari terbenam dan yang lainnya sesaat sebelum fajar. Umat muslim diizinkan untuk makan dan minum antara matahari terbenam dan fajar, tetapi tidak setelah fajar. Karena kalender Islam berasal dari siklus lunar, tahun Islam mengandung 354 hari. Oleh karena itu, bulan Ramadhan terjadi 11 hari lebih awal setiap tahun, dan dapat terjadi di salah satu dari empat musim, membuat panjang variabel waktu puasa dari 11 hingga 18 jam di negara tropis. Bulan Ramadhan adalah 29 atau 30 hari.

    Dari sudut pandang fisiologis, puasa Islam menyediakan model puasa yang unik. Ini berbeda dari puasa sukarela atau eksperimental biasa oleh fakta bahwa jeli puasa tidak minum selama jam puasa. Selain itu, puasa Ramadhan tidak hanya mendisiplinkan tubuh untuk menahan makan dan minum. Mata, telinga, lidah, dan bahkan seluruh tubuh, sama-sama wajib untuk dikendalikan. Oleh karena itu, orang dapat berasumsi bahwa perubahan fisiologis yang terjadi selama puasa Islam akan berbeda dari yang dicatat selama puasa percobaan. Tulisan ini membahas temuan penelitian yang dilakukan pada berbagai aspek puasa Ramadhan dan dampaknya pada beberapa proses penyakit. Perbandingan dengan efek puasa eksperimental diupayakan sedapat mungkin. Penelitian metaanalisis itu dilakukan dengan melakukan pencarian Medline, meninjau jurnal lokal di beberapa negara Islam, serta beberapa temuan penelitian dari dua kongres internasional tentang kesehatan dan Ramadhan.

    1557191281365.jpgDampak Puasa Ramadhan pada Tubuh Manusia Berdasarkan penelitian Medis

    Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

    • Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

    Metabolisme Karbohidrat.

    • Efek puasa jangka pendek eksperimental pada metabolisme karbohidrat telah ditinjau secara ekstensif. Masa puasa pasca-absorpsi didefinisikan sebagai 8 hingga 16 jam setelah makan, periode adaptasi yang sangat awal terhadap kelaparan. Prioritas metabolisme utama periode ini adalah penyediaan glukosa yang memadai untuk sel-sel otak, sel darah merah, saraf perifer, dan medula ginjal. Sedikit penurunan glukosa serum menjadi sekitar 3,3-3,9 mmol / L (60-70 mg / dL) terjadi beberapa jam setelah puasa pada orang dewasa normal. Namun, penurunan glukosa serum akan berhenti karena pemecahan glikogen dan peningkatan glukoneogenesis, serta penurunan sintesis glikogen dan glikolisis di hati. Perubahan-perubahan ini terjadi karena penurunan insulin dan peningkatan glukagon dan aktivitas simpatik
    • Pada tahap awal periode pasca-aborpsi, penurunan glukosa dikaitkan dengan penipisan simpanan glikogen hati. Namun, toko-toko ini tidak terbatas. Hanya ada 1.200 kalori yang disimpan sebagai karbohidrat dalam glikogen hati dan otot, dan sel-sel otot rangka kekurangan glukosa-6 fosfatase dan tidak melepaskan glukosa dari glikogen yang disimpan langsung ke dalam sirkulasi. Akhirnya, setelah sekitar 24 jam kelaparan, simpanan glikogen menjadi menipis dan satu-satunya sumber glukosa tetap menjadi glukoneogenesis, Substrat untuk glukoneogenesis adalah laktat (dan piruvat), gliserol dan asam amino. Kortisol adalah stimulus utama untuk katabolisme protein musle. Mekanisme ini akan menyediakan kebutuhan glukosa harian SSP (100-125 g) dan RBC (45-50 g). Sementara itu, penurunan insulin yang bersirkulasi dan kenaikan konsentrasi katekolamin menghasilkan lipolisis dalam jaringan adiposa dan peningkatan kadar asam lemak bebas, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar alih-alih glukosa oleh jaringan lain dari tubuh.
    • Hanya beberapa penelitian yang menunjukkan efek puasa Ramadhan terhadap glukosa serum. Satu studi menunjukkan sedikit penurunan glukosa serum pada hari-hari pertama Ramadhan, diikuti oleh normalisasi pada hari ke-20, dan sedikit peningkatan pada hari ke-29. Level glukosa serum terendah dalam penelitian ini adalah 63 mg / dL. Studi lain telah menunjukkan peningkatan ringan 8,9 atau variasi dalam konsentrasi glukosa serum. Dari studi-studi ini, orang dapat berasumsi bahwa selama hari-hari puasa yang mengikuti makan yang agak besar diambil sebelum fajar (Sahur), simpanan glikogen, bersama dengan beberapa derajat glukoneogenesis, mempertahankan glukosa serum dalam batas normal. Namun, sedikit perubahan glukosa serum dapat terjadi secara individual sesuai dengan kebiasaan makanan dan perbedaan individu dalam mekanisme yang terlibat dalam metabolisme dan regulasi energi.

    Metabolisme Lipid

    • Studi tentang efek puasa Ramadhan pada lipid darah telah menghasilkan hasil yang bervariasi. Kolesterol serum dapat menurun pada hari-hari pertama puasa dan naik ke nilai sebelum puasa. Beberapa penelitian telah melaporkan peningkatan konsentrasi kolesterol, yang mungkin terkait dengan penurunan berat badan selama puasa Ramadhan. Namun, yang lain tidak menemukan perubahan,  atau hanya penurunan kadar kolesterol selama puasa. Bukti terbaru bahwa peningkatan nyata kolesterol HDL plasma terjadi setelah puasa Ramadhan menjanjikan.  Peningkatan Ramadhan dan konsentrasi APo A-1 pasca-Ramadhan baik normal dan penderita diabetes, dengan penurunan kadar APo B telah dilaporkan. Secara keseluruhan, perubahan lipid darah tampaknya bervariasi dan tergantung pada kualitas dan kuantitas konsumsi makanan dan tingkat perubahan berat. Perubahan-perubahan ini mungkin juga terkait dengan mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar, karena telah ditunjukkan bahwa peningkatan lipid pada individu yang mengambil satu makanan besar setiap hari,  meskipun, ini tidak dikonfirmasi dalam satu studi selama puasa di bulan Ramadhan.

    Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah

    • Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    Diabetes

    • Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.
    • Tidak ada masalah besar yang dihadapi dengan diabetes tipe 2 dan bahkan pasien tipe 1 yang dikendalikan selama puasa Ramadhan. Sebagian besar pasien tidak menunjukkan perubahan dalam kontrol glukosa mereka. Pada beberapa pasien, konsentrasi glukosa serum dapat turun atau naik, yang mungkin disebabkan oleh jumlah atau jenis makanan yang dikonsumsi, perubahan berat badan dan kebiasaan olahraga, keteraturan minum obat, atau makan setelah puasa rusak. Dalam sebagian besar penelitian, nilai HbAlc menunjukkan sedikit atau tidak ada perubahan selama Ramadhan. Jumlah fructosamine, insulin dan C-peptide telah dilaporkan tidak memiliki perubahan signifikan sebelum dan selama puasa Ramadhan.
    • Kreatinin serum, asam urat, nitrogen urea darah, protein, albumin, alanin amino-transferase, dan nilai amino-transferase aspartat tidak menunjukkan perubahan signifikan selama periode puasa. Jumlah asupan energi (kalori) telah dilaporkan dalam beberapa literatur, menunjukkan penurunan asupan energi. Sebagian besar pasien dengan diabetes tipe 2 dan diabetes tipe 1 tidak menunjukkan perubahan atau sedikit penurunan konsentrasi total kolestrol dan trigliserida. Namun, peningkatan kadar kolesterol total selama bulan Ramadhan jarang terjadi.
    • Disarankan bahwa pasien berikut harus disarankan untuk tidak berpuasa: semua pasien diabetes tipe 1 yang rapuh dan tidak terkontrol; pasien diabetes yang diketahui tidak patuh; mereka dengan komplikasi serius seperti angina tidak stabil; pasien dengan riwayat ketoasidosis diabetikum; pasien diabetes hamil; pasien lanjut usia dengan tingkat masalah kewaspadaan; dan pasien dengan episode hipoglikemia dan / atau hiperglikemia selama bulan Ramadhan.
    • Selama puasa Ramadhan, penderita diabetes harus menghindari goresan berlebihan dan harus melanjutkan olahraga yang biasa mereka lakukan terutama selama periode non-puasa. Banyak dokter menyarankan agar pasien tipe 1 tidak boleh berpuasa. Namun, dalam bentuk IDDM ringan ketika pasien bersikeras mengamati puasa, layak untuk memberikan satu dosis insulin kerja menengah sebelum Sahur, dan jika perlu, satu lagi sebelum berbuka puasa (Fatur, Iftar). Kontrol glikemik dapat meningkat dan hipoglikemia dikurangi dengan menggunakan insulin lispro. Pada pasien dengan diabetes tipe 2, dosis sulfonylurea kerja pendek harus dikurangi menjadi setengah selama Ramadhan, dan diberikan sebagai dosis tunggal sebelum Iftar atau dua dosis sebelum Sahur dan Iftar. Para penulis dari serangkaian pasien terbesar yang diobati dengan glibenclamide selama Ramadan merekomendasikan untuk mengganti dosis pagi (bersama dengan dosis tengah hari) dari obat ini dengan yang diminum saat matahari terbenam.

    Jantung

    • Meskipun bradikardia dan hipotensi dapat terjadi selama puasa yang berkepanjangan, denyut jantung dan tekanan darah tetap normal selama beberapa hari pertama puasa. Perubahan pada elektrokardiogram, termasuk penurunan ketinggian kompleks QRS dan deviasi gelombang-T dan kanan yang terlihat pada puasa yang berkepanjangan, tidak terlihat dalam puasa pendek.
    • Tampaknya tidak ada kontraindikasi untuk mengamati puasa pada pasien dengan masalah katup atau subjek dengan ringan. penyakit arteri koroner. Tidak diketahui apakah dehidrasi ringan dan hemokonsentrasi dapat membahayakan mereka dengan penyakit arteri koroner sedang sampai berat. Namun, satu penelitian berspekulasi bahwa puasa Ramadhan tidak meningkatkan kejadian penyakit arteri koroner akut
    • Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

    Saluran pencernaan

    • Dalam puasa eksperimental, ada penurunan sekresi lambung. Gerakan saluran pencernaan terjadi setiap dua jam. Dimulai dari lambung dan bergerak menuju duodenum, jejunum, dan ileum, mengevakuasi semua sisa makanan, sel yang diuraikan dan sekresi GI. Kantung empedu mengosongkan lebih jarang daripada di negara yang diberi makan, satu hingga tiga kali setiap 4 jam. Fungsi GI selama Ramadan masih harus diselidiki.
    • Meskipun komplikasi ulkus pada pasien puasa telah dilaporkan, 43 studi lain yang menggunakan inhibitor pompa proton telah menemukan bahwa pasien dengan ulkus duodenum memiliki tingkat penyembuhan yang sama dan tidak ada komplikasi dengan atau tanpa puasa. Oleh karena itu, pasien dengan tukak lambung yang rumit mungkin disarankan untuk menentang puasa. Namun, pasien tanpa gejala dapat mencoba berpuasa, dan menggunakan simetidin atau ranitidin, atau dosis kecil penghambat pompa proton di Iftar dan Sahur, jika hiperakiditas tetap menjadi masalah. Karena kontraktilitas usus menurun selama puasa menjadi kira-kira sekali setiap dua jam, puasa dapat bermanfaat bagi pasien dengan kolitis spastik dan beberapa gangguan motilitas usus lainnya.

    Hati

    • Kenaikan adalah bilirubin serum setelah 10 hari puasa Ramadhan telah dilaporkan, 7 namun, penelitian lain dari Riyadh tidak menunjukkan hasil yang sama.12 Dalam puasa eksperimental, peningkatan bilirubin tidak langsung terjadi 15 jam setelah puasa.45,46 Pengembalian dengan makanan normal atau karbohidrat saja, tetapi tidak dengan protein atau diet lemak, mengembalikan konsentrasi bilirubin ke nilai normal. Dalam pengamatan kami, rata-rata bilirubin meningkat pada hari ke 10, 20 dan 29 Ramadhan, namun, peningkatan puncaknya adalah pada hari ke 10, ketika kadar glukosa darah adalah yang terendah. Penurunan bilirubin yang diamati pada sepertiga terakhir bulan Ramadhan terjadi bersamaan dengan peningkatan konsentrasi glukosa darah. Hasil ini mungkin menunjukkan bahwa konsentrasi bilirubin selama puasa entah bagaimana mungkin terkait dengan metabolisme karbohidrat. Tidak ada perubahan signifikan dalam serum SGOT, SGPT, protein dan konsentrasi albumin terjadi selama Ramadhan

    Ginjal

    • Selama Ramadhan, volume urin, pH osmolalitas, nitrogen, ekskresi zat terlarut dan elektrolit tetap normal. Perubahan urea serum dan kreatinin biasanya kecil dan tidak signifikan secara statistic. Dalam puasa yang berkepanjangan, asam urat serum meningkat ke nilai abnormal. Ini mungkin karena penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) dan pembersihan asam urat. Namun, dalam puasa Islam, hanya ada sedikit peningkatan asam urat,  karena sifat puasa yang berlangsung singkat dan terputus-putus.
    • Puasa Ramadhan tidak menyebabkan perubahan signifikan dalam natrium dan kalium serum. Dalam puasa berkepanjangan eksperimental, ekskresi urin sebesar 25 meq kalium per hari telah terlihat, namun kalium serum tetap normal.
    • Pasien dengan gagal ginjal kronis harus diberitahu tentang potensi hiperkalemia, dan jika mereka bersikeras puasa, fungsi ginjal dan elektrolit mereka harus dipantau dan mereka harus berhenti berpuasa jika terjadi kerusakan. Subjek pada hemodialisis dapat mengalami peningkatan serum kalium, berat badan dan kelebihan cairan antara sesi dialisis, karena peningkatan konsumsi makanan pada malam hari. Penerima transplantasi ginjal pada terapi imunosupresif yang memiliki fungsi allograft normal tidak mengalami efek berbahaya dari puasa dan kemampuan konsentrasi ginjal mereka tetap tidak berubah.
    • Sebuah studi dalam frekuensi batu kemih sepanjang tahun di Arab Saudi tidak menemukan peningkatan yang signifikan dalam kaitannya dengan puasa Ramadhan.
    • Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

    Profil Hematologi

    • Tidak ada perubahan signifikan dalam hemoglobin, indeks sel darah merah, jumlah sel darah putih atau tingkat sedimentasi telah dicatat. Penurunan kadar besi serum dan total kapasitas pengikatan besi telah dilaporkan,  menunjukkan bahwa simpanan zat besi tidak terganggu secara signifikan.
    • Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

    Fungsi Neuropsikiatri

    • Tidak ada perubahan dalam EEG telah dilaporkan, bahkan dalam kelaparan yang berkepanjangan. Satu laporan telah menemukan bahwa parasitoid secara signifikan lebih sedikit terjadi selama Ramadhan di Yordania. Dalam puasa eksperimental, nafsu makan berkurang setelah 1 sampai 4 hari puasa,  mungkin karena ketosis. Betaendorphin juga dapat berperan dalam mengurangi nafsu makan selama puasa.57 Penurunan signifikan dalam frekuensi makan terjadi selama Ramadhan dibandingkan dengan periode kontrol. Kronologis yang dievaluasi oleh skala Horn dan Ostberg berubah secara signifikan selama bulan Ramadhan: peningkatan jenis malam dan penurunan jenis subjek pagi hari diamati. Kantuk di siang hari sebagaimana dievaluasi oleh Skala Kantuk Epworth meningkat secara signifikan. Suhu oral, kewaspadaan subyektif dan suasana hati menurun selama siang hari dan meningkat pada 23.00 jam selama puasa Ramadhan.61 Tekanan yang ditemui selama periode puasa ini, seperti yang digambarkan dalam respon agregasi trombosit , kurang dari yang ditemui pada hari biasa yang tidak berpuasa. Sakit kepala dilaporkan oleh 41% dari 91 orang yang berpuasa, dibandingkan dengan 8% dari mereka yang tidak berpuasa. Sakit kepala adalah tipe ketegangan di 78% dari kasus. Frekuensi sakit kepala meningkat dengan durasi puasa dan memengaruhi terutama mereka yang rentan terhadap sakit kepala, dan faktor yang berhubungan dengan eksogen yang paling penting adalah penarikan kafein.
    • Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.
    • Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya.
    • Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.
    • Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
    • Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

    Perubahan Berat Badan

    • Penurunan berat badan berkisar 1,7-3,8 kg telah dilaporkan pada individu dengan berat badan normal setelah puasa di bulan Ramadhan. Dalam satu penelitian yang diwakili oleh wanita, tidak ada perubahan dalam berat badan yang terlihat. juga telah dilaporkan bahwa subjek yang kelebihan berat badan kehilangan lebih banyak berat daripada subyek normal atau kurus
    • Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia

    Persendiaan

    • Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita rdang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

    Kelenjar endokrin

    • Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.
    • Telah dilaporkan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam konsentrasi serum dari respon T4, T3, TSH, dan TSH terhadap injeksi TRH intravena pada pria selama Ramadan. Pada wanita, total serum T4 dan T3 dapat menurun pada hari-hari terakhir Ramadhan; namun, penurunan ini terutama disebabkan oleh perubahan TBG, karena indeks tiroid bebas tetap tidak berubah. Peningkatan kecil tetapi signifikan dalam serum T4 pada hari-hari terakhir Ramadhan telah dilaporkan oleh beberapa penulis,  tetapi tidak didukung oleh yang lain.Dalam percobaan cepat yang berlangsung lebih dari 48 jam, banyak peneliti telah melaporkan penurunan serum T3, bersama dengan peningkatan serum rT3,  akibat inaktivasi 5′-monodeiodinase dan penurunan konversi T4 ke T3. Respons TSH terhadap TRH telah dilaporkan menurun atau tidak berubah. Mengisi ulang dengan karbohidrat tetapi bukan protein atau lemak menyebabkan peningkatan serum T3.
    • Dalam puasa Islam, panjang puasa tidak cukup untuk menyebabkan perubahan pada poros hipofisis-tiroid atau konversi perifer T4. Pada puasa yang berkepanjangan, testosteron serum dan FSH mungkin tidak berubah atau menurun. Konsentrasi LH serum dan responsnya terhadap injeksi GnRH tetap tidak berubah, tetapi respons FSH terhadap GnRH mungkin dilemahkan. Serum prolaktin normal dan responsnya terhadap injeksi TRH mungkin tetap normal. atau berkurang. Dalam puasa Islam, tidak ada perubahan dalam konsentrasi serum testosteron, FSH, LH dan respons prolaktin dan prolaktin terhadap TRH telah terdeteksi pada pria normal. Pengamatan kami yang tidak dipublikasikan menunjukkan tidak ada perubahan konsentrasi serum PTH selama Ramadhan. Berarti konsentrasi serum kalsium dapat sedikit menurun 10 hari setelah dimulainya puasa, namun, tidak ada nilai-nilai subnormal yang terlihat. Pada paruh terakhir Ramadhan, kalsium serum tetap normal, namun, mungkin sedikit meningkat, dibandingkan dengan sebelum Nilai -Ramadan.  Serum fosfor tidak berubah pada bulan Ramadan. Dalam puasa eksperimental yang berkepanjangan, serum fosfor normal, kalsium serum normal atau menurun dan peningkatan ekskresi kalsium dan fosfor urin, telah dilaporkan.
    • Pergeseran ritme kortisol telah dilaporkan selama bulan Ramadhan. Dalam sebuah studi rinci tentang subyek puasa Ramadhan; puncak malam hari melatonin berkurang dan tertunda; ada pergeseran dalam permulaan kortisol dan sekresi testosteron; puncak malam prolaktin ditingkatkan; Pola ritme FSH dan GH dipengaruhi sedikit atau tidak sama sekali oleh puasa, dan hanya ritme TSH serum yang tumpul.
    • Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.
    • Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.
    • Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya
    • Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

    Kehamilan dan Menyusui

    • Kelaparan akut pada wanita hamil menyebabkan penurunan glukosa darah, namun, setelah 20 jam puasa, glukosa darah tetap dalam batas normal, di atas 2,8 mmol / L (50 mg / dL).  Percobaan pada hewan juga berkonotasi bahwa bahkan dalam kelaparan jangka panjang , energi janin diberikan melalui mekanisme kompensasi.
    • Hasil kehamilan pada wanita Gambia yang berpuasa selama bulan Ramadhan tidak memuaskan; Namun, tidak ada kelompok kontrol yang digunakan. Penurunan glukosa, insulin, laktat dan karnitin yang signifikan dan peningkatan trigliserida dan hidroksibutirat dilaporkan pada akhir hari puasa pada wanita hamil,  namun, hasil kehamilan sebanding dengan mereka yang tidak berpuasa.
    • Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.
    • Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.
    • Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein (VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

    Ringkasan

    Selama hari-hari puasa, homeostasis glukosa Ramadhan dikelola oleh makanan yang diambil sebelum fajar dan oleh toko glikogen hati. Perubahan serum lipid (lemak) bervariasi dan tergantung pada kualitas dan kuantitas konsumsi makanan dan perubahan berat badan. Penderita diabetes tipe 2 yang patuh dan terkontrol dengan baik dapat melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi puasa tidak dianjurkan untuk penderita diabetes tipe 1 yang tidak patuh, kurang terkontrol, dan hamil.

    Tidak ada efek buruk puasa Ramadhan pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, mata, profil hematologi, fungsi endokrin dan neuropsikiatri. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua individu yang sehat, mereka yang memiliki berbagai penyakit harus berkonsultasi dengan dokter mereka dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    Referensi

    • Fereidoun Azizi. Islamic Fasting and Health, Literature Review in Annals of Nutrition and Metabolism 56(4):273-82 · June 2010 with 55 Reads
      DOI: 10.1159/000295848 ·
    • Aslam M, Wilson JV. Clinical problems during the fast of Ramadan. Lancet 1989; 2: 955.
    • Cocks DA, Critchley EMR, Hayward HW, et al. Control of epilepsy with a single daily dose of phenytoin sodium. Br J Clin Pharmacol 1975;2:449-53.
    • Garcia-Bunuel L. Clinical problems during the fast of Ramadan. Lancet 1989; 2: 396.
    • Al-Haider AA, Al-Balaa SR. Effects of short-term use of piroxicam and ketoprofen (sustained release) on renal function during Ramadan fasting. In: Fourth Drug Symposium Proceedings, Riyadh, Saudi Arabia, 8-10, January 1989.
    • Saour JN, Sieck JO, Khan M, Mammo L. Does Ramadan fasting complicate anticoagulation therapy. Ann Saudi Med 1989; 9: 538-40.
    •  Sakr AH. Fasting in Islam. J Am Diet Assoc 1975;67:17-21.
    • Azizi F. Medical aspects of Islamic fasting. Med J Islamic Rep Iran 1996;10:241-6.
    • Proceedings of the First International Congress on Health and Ramadan. 19-22 January 1994, Casablanca, Morocco.
    • Proceedings of the Second International Congress on Health and Ramadan. 1-3 December 1997, Istanbul, Turkey.
    • Chill GF, Jr. Starvation in man. N Engl J Med 1970;282:668-75.
    • Heber D. Starvation and nutrition therapy. In:DeGroot LJ, Jameson JL, editors. Endocrinology. Fourth edition, Vol. 1. Philadelphia: WB Saunders, 2001:642-5.
    • Azizi F. Rasouli HA. Serum glucose, bilirubin, calcium, phosphorus, protein and albumin concentrations during Ramadan. Med J Islamic Rep Iran 1987;1:38-41.
    • Scott TG. The effect of Muslim fast of Ramadan on routine laboratory investigation. King Abdulaziz Med J 1981;1:23-35.
    • Temizhan A, Tandogan I, Donderici O, Demirbas B. The effects of Ramadan fasting on blood lipid levels. Am J Med 2000;109:341-2.
    • Khogheer, Y, Sulaiman MI, Al-Fayez SF. Ramadan fasting state of controls. Ann Saudi Med 1987;7(Suppl.):5-6.
    • Davidson JC. Muslims, Ramadan and diabetes melitus. BMJ 1979; 2:1511-2.
    • El-Hazmi MAF, Al-Faleh FZ, Al-Mofleh IB. Effect of Ramadan fasting on the values of hematological and biochemical parameters. Saudi Med J 1987;8:171-6.
    • Gumaa KA, Mustafa KY, Mahmoud NA, Gader AM. The effect of fasting in Ramadan. 1. Serum uric acid and lipid concentration. Br J Nutr 1978;40:573-81.
    • Fedail SS, Murphy D, Salih SY, Bolton CH, Harvey RF. Changes in certain blood constituents during Ramadan. Am J Clin Nutr 1982; 36:350-3.
    • Shoukry MI. Effect of fasting in Ramadan on plasma lipoproteins and apoproteins. Saudi Med J 1986;7:561-5.
    • Hallak MH, Nomani MZA. Body weight loss and changes in blood lipid levels in normal men on hypocaloric diets during Ramadan fasting. Am J Clin Nutr 1988;48:1197-210.
    • Maislos M, Khamaysi N, Assali A, Abou-Rabiah Y, Zvili I, Shany S. Marked increase in plasma high-density lipoprotein cholesterol after prolonged fasting during Ramadan. Am J Clin Nutr 1993;57:640-2.
    • Maislos M, Abou-Rabiah Y, Zuili I, Iordash S, Shany S. Gorging and plasma HDL-cholesterol:The Ramadan model. Europ J Clin Nutr 1998;52:127-30.
    • Adlouni A, Ghalim N, Benslimane A, Lecery JM, Saile R. Fasting during Ramadan induces a marked increase in HDL and decrease in LDL-cholesterol. Ann Nutr Metab 1997;41:242-9.
    • Adlouni A, Ghalim N, Saile R, Hda N, Para HJ, Benslimane A. Beneficial effect of serum Apo Al, Apo B and LP Al levels of Ramadan fasting. Clin Chim Acta 1998;271:179-89.
    • Akanji AO, Mojiminiyi OA, Abdella N. Beneficial changes in serum Apo A-l and its ratio Apo B and HDL in stable hyperlipidemia subjects after Ramadan fasting in Kwait. Europ J Clin Nutr 2000; 54:508-13.
    • Gwinup G, Byron RC, Roush WH, et al. Effect of nibbling versus gorging on serum lipids in man. Am J Clin Nutr 1963;13:209-13.
    • Al-Hader AFA, Abu-Farsakh NA, Khatib SY, Hasan ZA. The effects of Ramadan fasting on certain biochemical parameters in normal subjects and in type 2 diabetic patients. Ann Saudi Med 1994; 14:139-41.
    • Bekhadir J, El Ghomari H, Klicken N, Mikou A, Sabri M. Muslims with non-insulin dependent diabetes fasting during Ramadan:treatment with glibenclamide. BMJ 1993;307:292-5.
    • Chandalia HB, Bhargav A, Kataria V. Dietary pattern during Ramadan fasting and its effect on the metabolic control of diabetes. Pract Diabetes 1987;4:287-90.
    • Sulimani RA, Laajam M, Al-Attas O, Famuyiwa FO, Bashi S, Mekki MO, et al. The effect of Ramadan fasting on diabetes control in type II diabetic patients. Nutr Res 1991;11:261-4.
    • Laajam MA. Ramadan fasting and non-insulin-dependent diabetes:effect on metabolic control. East Afr Med J 1990;67:732-6.
    • Salman H, Abdallah MA, Al Howasi M. Ramadan fasting in diabetic children in Riyadh. Diabet Med 1992;9:583-4.
    • Dehghan MR, Nafarabadi MT, Navai L, Azizi F. The effect of Ramadan fasting on blood glucose and lipids in type 2 diabetics. J Facult Med SBUMS 1994;18:42-7.
    • Mafauzy M, Mohammad WB, Anum MY, Zulkifli A, Ruhani AH. A study of fasting diabetic patients during the month of Ramadan. Med J Malaya 1990;45:14-7.
    • Latif AH, Gharieba MY, Al-Qassab HK, Sartani OM. Changes in serum lipids and electrolytes in type 2 diabetes mellitus during Ramadan. Saudi Med J 1993;14:532-5.
    • Omar MAK, Motala AA. Fasting in Ramadan and the diabetic patient. Diabetes Care 1997;20:1925-6.
    • Azizi F, Siahkolah B. Ramadan fasting and diabetes mellitus. Int J Ramadan Fast 1998;2:6-10.
    • Sulimani RA, Famuyiwa FO, Laajam M. Diabetes mellitus and Ramadan fasting:the need for a critical appraisal. Diabetes Med 1988;5:589-91.
    • Kadiri A, Al-Nakhi A, El-Ghazali S, et al. Treatment of type 1 diabetes with insulin lispro during Ramadan. Diabetes Med 2001; 27:482-6.
    • Mehdi A, Ajmi S. Effect of the observance of diurnal fast of Ramadan on duodenal ulcer healing with lansoprazole. Results of a prospective controlled study. Gastroentrol Clin Bull 1997;21:820-2.
    • Barret PVD. Effects of caloric and noncaloric materials in fasting hyperbilirubinemia. Gastroenterology 1975;68:361-9.
    • Owens D, Sherlock S. Diagnosis of Gilbert’s syndrome:role of reduced caloric intake test. BMJ 1973;3:559-63.
    • Cheah SH, Ch’ng SL, Hussein R, Ducan MT. Effects of fasting during Ramadan on urinary excretion in Malaysian Muslims. Br J Nutr 1990;63:329-37.
    • Sliman NA, Khatib FA. Effect of fasting Ramadan on body weight and some blood constituents of healthy Muslims. Nutr Rep Intern 1988;38:1299-306.
    • Murphy R, Shipman KH. Hyperuricemia during total fasts. Arch Intern Med 1963;112:659-62.
    • Azizi F, Amir Rasouli H. Evaluation of certain hormones and blood constituents during Islamic fasting month. J Med Assoc Thailand 1986;69:(Suppl):57A.
    • Kerndt PR, Naughton JL, Driscoll C, Loxterkamp DA. Fasting:The History, pathophysiology and complications. West J Med 1982; 137:379-99.
    • Gifford JD Rutsky EA, Kirk KA, McDaniel HG. Control of serum potassium during fasting in patient with end stage renal disease. Kindney Int 1989; 35:90-4.
    • Al-Khader AA, Al-Hasani M, Dhar JM, Al-Sulaiman M. Effect of diet during Ramadan on patients on chronic haemodialysis. Saudi Med J 1991; 12:30-1.
    • Abdalla AH, Shaheen FA, Rassoul Z. Effect of Ramadan fasting on Muslim kidney transplant recipients. Am J Nephrol 1998; 18:101-4.
      55. Al-Hadramy MS. Seasonal variations of urinary stone colic in Arabia. J Pak Med Assoc 1997; 47:281-4.
      5
    • Owen OE, Morgan AP, Kemp HG, et al. Brain metabolism during fasting. J Clin Invest 1967; 46:1589-1595.
      57. Daradkeh TK. Parasuicide during Ramadan in Jordan. Acta Psychiatr Scand 1992; 3:253-4.
      5
    • Duncan GG, Jenson WK, Cristofori FC, Schless GL. Intermittent fast in the correction and control of intractable obesity. Am J Med Sci 1963;245:515-20.
    • Gambert SR, Grathwaite TL. Pontzer CH, et al. Fasting associated with decrease in hypothalamic -endorphin. Science 1980; 210:1271-2.
    • Taoudi M, Rocky R, Toufiq J, Benaji B, Hakkou F. Epidemiological study: Chronotype and daytime sleepiness before and during Ramadan. Therapie 1999; 54:567-72.
    • Roky R, Iraki L, Hajikhlifa R, Ghazal N, Hakkou F. Daytime alertness, mood, psychomotor performances, and oral temprature during Ramadan fasting. Ann Nutr Metab 2000; 44:101-7.
    • Kordy MT, Abdel AM. The effect of fasting in Ramadan on hemostatic variables. Ann Saudi Med 1991; 11:23-7.
    • Awada A, Jumah M. The first-of-Ramadan headache. Headache 1999;39:490-3.
    • Sajid KM, Akhtar M, Malik GQ. Ramadan fasting and thyroid hormone profile. JPMA 1991; 41:213-6.
    • Takruri HR. Effect of fasting in Ramadan on body weight. Saudi Med J 1989; 10:491-4.
    • Sulimani RA. Effect of Ramadan fasting on thyroid function in healthy male individuals. Nutr Res 1988; 8:549-52.
    • Azizi F, Nafarabadi M, Amini M. Serum thyroid hormone and thyrotropin concentrations during Ramadan in healthy women. Emirates Med J 1994; 12:140-3.
    • Azizi F. Serum levels of prolactin, thyrotropin, thyroid hormones, TRH responsiveness and male reproductive function in intermittent Islamic fasting. Med J IRI 1991; 5:145-8.
    • Azizi F. Effect of dietary composition on fasting induced changes in serum thyroid hormones and thyrotropin. Metabolism 1978; 27:935-45.
    • Borst GC, Osburne RC, O’Brian JT, Georges LP, Burman KD. Fasting decreases thyrotropin responsiveness to thyrotropin-releasing hormone:A potential cause of misinterpretation of thyroid function test in the critically ill. J Clin Endocriol Metab 1983;57:380-3.
    • Spencer CA, Lum SM, Wilber JF, Kapten EM, Nicoloff JT. Dynamics of serum thyrotropin and thyroid hormone changes in fasting. J Clin Endocrinol Metab 1983;56:883-8.
    • Suryanarayana BV, Kent JR, Meister L, Parlow AF. Pituitary-gonadal axis during prolonged total starvation in obese men. Am J Clin Nutr 1969;22:767-70.
    • Klibanski, A, Beitins IZ, Badger T, Little R, McArthur JW. Reproductive function during fasting in man. J Clin Endocrinol Metab 1981;53 258-63.
    • Carlson HE, Drenick EJ, Chopra IJ, Hershman JM. Alterations in basal and TRH-stimulated serum levels of thyrotropin, prolactin, and thyroid hormones in starved obese men. J Clin Endocrinol Metab 1977;45:707-713.
    • Al-Hadramy MS, Zawawi TH, Abdelwahab SM. Altered cortisol levels in relation to Ramadan. Eur J Clin Nutr 1988; 42:359-62.
    • Bogdan A. Bouchareb B, Touitou Y. Ramadan fasting alters endocrine and neuroendocrine circadian patterns. Meal-time as a synchronizer in humans? Life Sci 2001;68:1607-15.
    • Tyson JE, Austin K, Farinholt J. Endocrine-metabolic response to acute starvation in human gestation. Am J Obsted gynecol 1976;125:1073-76.
    • Simmons MA, Meschia G, Makowski EL, Battaglia FC. Fetal metabolic response to maternal starvation. Pediatr Res 1974;8:830-5.
    • Prentice AM, Prentice A, Lamb WH, Lunn PG, Austin S. Metabolic consequences of fasting during Ramadan in pregnant and lactating women. Hum Nutr Clin Nutr 1983; 37: 283-94.
    • Malhotra A, Scott PH, Scott J, Gee H, Wharton BA. Metabolic changes in Asian Muslim pregnant mothers observing the Ramadan fast in Britain. Br J Nutr 1989; 61: 663-712.
    • Cross JH, Eminson J, Wharton BA. Ramadan and birth weight at full term in Asian Moslem pregnant women in Birmingham. Arch Dis Child 1990; 65: 1053-6.
    • Prentice AM, Lamb WH, Prentice A, Coward WA. The effect of water abstention on milk synthesis in lactating women. Clin Sci 1984;66:291-8.
    • Stephan JK. The permanent effect of prenatal dietary restriction on the brain of the progeny. Nutr Rep Int 1971; 4: 257-61.
    • Azizi F. Fegh va Tebb. Tehran: Daftar Nashr Farhang Eslami, 1992; pp 29-32.
    • Drenick EJ. Weight reduction by prolonged fasting. In Bray GA, editor. Obesity in Perspective. Fogarty International Center Series on Preventive Medicine (Vol II, Part I and Part II). Washington, DC:US Government Printing Office, 1975.
    • Theorell T, Kjelberg J, Patmblad J. Electrocardiographic changes during total energy deprivation (fasting). Acta Med Scand 1978;203:13-9.
    • Temizhan A, Donderici O, Ouz D, Demirbas B. Is there any effect of Ramadan fasting on acute coronary health disease events? Int J Cardiol 1999;31:149-53.
    • Duncan MT, Husain R, Raman A, Cheah SH, Ch’ang SL. Ventilatory function in Malay Muslims during normal activity and the Ramadan fast. Singapore Med J 1990;31:543-7.
    • Rashed AH. The fast of Ramadan. No problems for the well:the sick should avoid fasting. BMJ 1992;302:521-2.
    • Sana SK. Cyclic motor activity, migrating motor complex. Gastroenterology 1985;89:894-9.
    • Ellenbogen S Jenkins SA, Grime JS, Critchley M, Mackie CR, Baxter JN. Preduodenal mechanisms in initiating gallbladder emptying in man. Br J Surg 1988;75:940-5.
    • Donderici O, Temizhan A, Kucukbas T, Eskioglu E. Effect of Ramadan on peptic ulcer complications. Scand J Gastroenterol 1994; 7:603-6.

    Puasa Tingkatkan Metabolisme dan Lawan Penuaan

    1526351966150-11.jpg

    Puasa Tingkatkan Metabolisme dan Lawan Penuaan

    Studi terbaru untuk mengeksplorasi dampak puasa pada tubuh manusia menyimpulkan puasa meningkatkan aktivitas metabolisme lebih dari yang disadari sebelumnya. Selain itu, puasa juga dapat memberikan manfaat anti-penuaan. Penelitian menunjukkan puasa selang-seling dapat membantu orang-orang tertentu menurunkan berat badan. Namun, peneliti masih dalam perdebatan terkait cara efektif puasa untuk menurunkan berat badan. Penelitian baru ini memberi petunjuk pada manfaat lain.

    Misalnya pada tikus, studi menunjukkan puasa dapat meningkatkan umur. Meskipun menarik, bukti ini pada manusia belum terlihat. Studi terbaru, yang penulis sekarang telah terbitkan dalam jurnal Scientific Reports, mendapatkan fakta baru dengan diet puasa pada manusia. “Baru-baru ini penelitian penuaan telah menunjukkan pembatasan kalori dan puasa memperpanjang efek pada umur dalam model hewan, tapi mekanisme secara rinci tetap misteri,” kata penulis studi pertama Takayuki Teruya, dilansir di Medical News Today, Selasa (5/2).

    Secara khusus, para ilmuwan di Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University di Jepang memeriksa dampaknya terhadap metabolisme. Dengan memahami proses metabolisme yang terlibat, tim berharap menemukan cara memanfaatkan puasa.

    Dalam investigasi, empat relawan berpuasa selama 58 jam. Menggunakan metabolomik, atau pengukuran metabolit, para peneliti menganalisis seluruh sampel darah pada interval selama periode puasa. Apa yang terjadi selama puasa?

    Tubuh pastinya kekurangan makanan. Ada beberapa yang perlu dicatat terkait perubahan metabolisme yang terjadi. Biasanya, ketika karbohidrat tersedia, tubuh akan menggunakannya sebagai bahan bakar. Tapi sekali mereka pergi, terlihat di tempat lain untuk energi. Dalam proses yang disebut glukoneogenesis, tubuh berasal glukosa dari sumber non-karbohidrat seperti asam amino.

    Ilmuwan dapat menemukan bukti glukoneogenesis menilai tingkat tertentu metabolit dalam darah, termasuk carnitines, dan butirat. Seperti yang diharapkan, setelah puasa tingkat metabolit hadir dalam darah. Namun, para ilmuwan juga mengidentifikasi banyak lagi perubahan metabolik, beberapa di antaranya terkejut. Sebagai contoh, mereka melihat ditandai peningkatan produk dari siklus asam sitrat.

    Puasa mempromosikan senyawa antipenuaan

    Kadar purin dan pirimidin yang lebih tinggi adalah petunjuk tubuh mungkin meningkatkan kadar antioksidan tertentu. Para peneliti mencatat peningkatan substansial antioksidan tertentu, termasuk ergothioneine dan carnosine.

    Dalam studi sebelumnya, tim peneliti yang sama menunjukkan seiring bertambahnya usia, sejumlah metabolit menurun. Metabolit ini termasuk leusin, isoleusin, dan asam oftalmik.

    Dalam studi terbaru, mereka menunjukkan puasa meningkatkan ketiga metabolit ini. Mereka menjelaskan ini mungkin membantu menjelaskan bagaimana puasa memperpanjang umur pada tikus.

    Dalam keempat subjek, para peneliti mengidentifikasi 44 metabolit yang meningkat selama puasa, beberapa diantaranya meningkat 60 kali lipat. Dari 44 ini, para ilmuwan telah menghubungkan hanya 14 dengan puasa sebelumnya.

    Para penulis menyimpulkan secara efektif, puasa tampaknya memprovokasi keadaan yang jauh lebih aktif secara metabolisme, daripada yang disadari sebelumnya. Para ilmuwan percaya kenaikan antioksidan mungkin merupakan respons kelangsungan hidup. Selama kelaparan, tubuh dapat mengalami tingkat stres oksidatif yang tinggi. Dengan memproduksi antioksidan, mungkin membantu menghindari beberapa kerusakan potensial yang disebabkan radikal bebas.

    Selanjutnya, ilmuwan ingin mereplikasi hasil dalam sampel yang lebih besar. Mereka juga ingin mengidentifikasi cara-cara yang mungkin untuk memanfaatkan efek menguntungkan dari puasa, dan mencari tahu apakah berpuasa dapat memicu efek pembatasan kalori, tanpa harus membatasi asupan kalori.

    Sumber: Medical News Today

    1525939949072-20.jpg

    20 Hadits Pilihan Kitab Shahih Bukhari Tentang Puasa Ramadhan

    20 Hadits Pilihan Kitab Shahih Bukhari Tentang Puasa Ramadhan

    Kitab Shahih Bukhari merupakan kitab (buku) koleksi hadis yang disusun oleh Imam Bukhari yang hidup antara 194 hingga 256 hijriah. Kitab ini juga dikenal dengan al-Jami al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulilah SAW wa Sunanihi wa Ayyamihi. Koleksi hadis ini di kalangan muslim Sunni adalah salah satu dari yang terbaik karena Bukhari menggunakan kriteria yang sangat ketat dalam menyeleksi hadis. Ia menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyusun koleksi ini dan menghasilkan 2.602 hadis dalam kitabnya (9.802 dengan perulangan).

    1. Pintu Rayyan di Surga Bagi Orang-orang Yang Berpuasa: Diriwayatkan dari Sahl r.a bahwa Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “Di surga ada sebuah pintu bernama Ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa, tanpa ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan pada hari itu, “mana orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun bangkit untuk memasuki pintu itu tanpa seorangpun selain dari mereka yang memasukinya. Ketika mereka sudah masuk semua, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi seorangpun yang memasukinya. [Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1896]
    2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Puasa adalah perisai diri (dari api neraka)”. Maka seseorang yang sedang berpuasa janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci hendaklah dia mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Rasulullah Saw mengulanginya dua kali. “Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya! sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT lebih harum daripada bau misik/kesturi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena aku. Puasa itu bagi-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali.[Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1894].
    3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang memberikan dua macam harta dijalan Allah akan dipanggil untuk memasuki pintu-pintu surga, Hai hamba Allah! inilah balasan harta yang kau infaqkan untuk kebaikan. Orang yang melaksanakan shalat akan dipanggil dari pintu shalat, orang yang berjihad akan dari pintu jihad, orang yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan dan orang yang bersedekah shalat akan dipanggil dari pintu sedekah”. Abu Bakar r.a mengatakan : “Saya pertaruhkan ayah dan ibu saya kepada anda (ungkapan untuk memohon izin bertanya atau berbicara), ya Rasulullah! sungguh tidak ada kesedihan sedikitpun bagi orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut, dan apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu ?” Rasullah Saw menjawab : “Ya, ada, dan aku berharap kaulah salah satunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis : 1897].
    4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu surga terbuka.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1898].
    5. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Apabila bulan Ramadhan tiba, semua pintu langit/surga terbuka, semua pintu neraka tertutup dan setan-setan dibelenggu”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1899].
    6. Apakah Ramadhan atau bulan Ramadhan perlu disebutkan dan orang yang melihat hilal (bulan sabit di awal tanggal) ? Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasullah Saw bersabda : “Apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Ramadhan), maka berpuasalah dan apabila kamu melihat hilal (pada awal malam Syawal), maka hentikan puasa, dan apabila di langit diselimuti awan (sehingga hilal tidak terlihat), maka genapkan Ramadhan (30 hari)”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1900].
    7. Dua bulan Id tidak berkurang keutamaannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah berkata : “Dua bulan Id, Ramadhan dan Dzul Hijjah tidaklah berkurang keutamaannya (meskipun kadang-kadang 29 hari).” (Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1912]
    8. Sabda Nabi Saw :”Kami tidak pandai menulis dan berhitung” Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Nabi Saw bersabda : “Kami adalah umat ummiy. Kami tidak pandai menulis dan berhitung. Satu bulan itu sekian dan sekian”. Maksudnya : Kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1913]
    9. Orang berpuasa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek: Diriwaytkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata : Rasulullah Saw pernah bersabda : “Siapa yang berpuasa tanpa meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta / jelek, maka Allah tidak membutuhkan puasa”. [Hadits ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadits : 1903].
    10. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, “Semua amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Pada bagian akhir hadis disebutkan : “Orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan, dia merasa senang ketika bertemu dengan Tuhannya, dia juga merasa senang dengan pahala puasanya.” [Hadis ini diriwayatkan oleh AL-Bukhari, nomor hadist 1904].
    11. Puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menikah untuk mengendalikan syahwat Diriwayatkan dari ‘Alqamah bahwa Abdullah r.a mengatakan : Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau bersabda : “Laki-laki yang sudah mampu menikah hendaklah ia menikah, karena menikah akan membuat pandangan matanya lebih merunduk dan membuat kemaluannya lebih terjaga. Siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan melerai nafsunya.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1906]
    12. Mengenai hitungan hari puasa bulan Ramadhan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, bahwa Rasulullah bersabda : “Satu bulan itu bisa 29 hari, maka janganlah kamu berpuasa Ramadhan sebelum kamu melihat hilal dan apabila langit berawan (sehingga kamu tidak melihat hilal), maka genapkanlah Sya’ban 30 hari.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1907]
    13. Diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a, bahwa Nabi Saw pernah bersumpah untuk menjauhi istri-istrinya selama sebulan. Setelah berlalu 29 hari beliau datang pada pagi atau sore hari, lalu ditanyakan kepada beliau : “Anda telah bersumpah menjauhi istri-istri Anda selama satu bulan (mengapa sekarang anda datang ?)”. Rasulullah Saw menjawab : “Satu bulan itu kadang-kadang 29 hari.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadist : 1910]
    14. Memeluk istri bagi orang yang berpuasa Diriwayatkan dari Aisyah r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah mencium dan memeluk istrinya ketika beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan diri dibanding kalian semua. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1927]
    15. Makan dan minum karena lupa pada saat berpuasa Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Apabila seseorang lupa (bahwa ia sedang berpuasa) kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena demikian itu berarti ia diberi makan dan minum oleh Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1933]
    16. Larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi Saw pernah bersabda : “Janganlah seseorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa sunnat yang kebetulan waktunya pada hari itu, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1914]
    17. Firman Allah SWT (yang artinya : “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Quran, Surah Al-Baqarah : 187) Diriwayatkan dari Adiy bin Hatim r.a, dia berkata : Ketika turun ayat (yang artinya :”…. hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam”, saya mengambil dua utas tali pengikat masing-masing hitam dan putih, kemudian saya meletakkannya di bawah bantal saya. Pada malam hari saya melihat tali tersebut namun tidak tampak jelas pebedaan keduanya. Pada pagi hari saya menemui Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah saya lakukan itu, kemudian beliau bersabda : “Benang hitam maksudnya gelapnya malam dan benang putih maksudnya terangnya siang (yakni fajar).” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1916]
    18. Perkiraan jeda antara sahur dengan shalat subuh Diriwayatkan dari Anas r.a bahwa Zaid bin Tsabit r.a mengatakan : Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan shalat (Subuh). Ditanyakan kepada Zaid : Berapa lama kira-kira antara azan dengan sahur ? Dia menjawab : Kira-kira bacaan 50 ayat Al-Quran. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits 1921]
    19. Sahur tidak wajib tetapi mengandung berkah Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata : Nabi Saw pernah bersabda : “Makan sahurlah, karena makan sahur itu mengandung berkah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1923]
    20. Orang yang berpuasa dalam keadaan junub ketika subuh Diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah r.a bahwa ketika fajar tiba, Rasulullah Saw pernah dalam keadaan junub sehabis menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits : 1925]

    Batasan Minimal Waktu I’tikaf, Menurut Jumhur Ulama

    Batasan Minimal Waktu I’tikaf, Menurut Jumhur Ulama

    Batasan minimal waktu i’tikaf.

    • Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.” Lihat Al-Majmu’ 6: 489. Sehingga jika ada yang bertanya, bolehkah beri’tikaf di akhir-akhir Ramadhan hanya pada malam hari saja karena pagi harinya mesti kerja? Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di malam atau di siang hari. Misalnya sehabis shalat tarawih, seseorang berniat diam di masjid dengan niatan i’tikaf dan kembali pulang ke rumah ketika waktu makan sahur, maka itu dibolehkan.

    Dalil Jangka Waktu Minimal I’tikaf

    Mengenai waktu minimal disebut i’tikaf terdapat empat pendapat di antara para ulama.

    1. Pendapat pertama: Yang dianut oleh jumhur (mayoritas) ulama hanya disyaratkan berdiam di masjid. Jadi telah dikatakan beri’tikaf jika berdiam di masjid dalam waktu yang lama atau sebentar walau hanya beberapa saat atau sekejap (lahzhoh). Imam Al Haromain dan ulama lainnya berkata, “Tidak cukup sekedar tenang seperti dalam ruku’ dan sujud atau semacamnya, tetapi harus lebih dari itu sehingga bisa disebut i’tikaf.”
    2. Pendapat kedua: Sebagaimana diceritakan oleh Imam Al Haromain dan selainnya bahwa i’tikaf cukup dengan hadir dan sekedar lewat tanpa berdiam (dalam waktu yang lama). Mereka analogikan dengan hadir dan sekedar lewat saat wukuf di Arofah. Imam Al Haromain berkata, “Menurut pendapat ini, jika seseorang beri’tikaf dengan sekedar melewati suatu tempat seperti ia masuk di satu pintu dan keluar dari pintu yang lain, ketika itu ia sudah berniat beri’tikaf, maka sudah disebut i’tikaf. Oleh karenanya, jika seseorang berniat i’tikaf mutlak untuk nadzar, maka ia dianggap telah beri’tikaf dengan sekedar lewat di dalam masjid.”
    3. Pendapat ketiga: Diceritakan oleh Ash Shoidalani dan Imam Al Haromain, juga selainnya bahwa i’tikaf dianggap sah jika telah berdiam selama satu hari atau mendekati waktu itu.
    4. Pendapat keempat: Diceritakan oleh Al Mutawalli dan selainnya yaitu disyaratkan i’tikaf lebih dari separuh hari atau lebih dari separuh malam. Karena kebiasaan mesti dibedakan dengan ibadah. Jika seseorang duduk beberapa saat untuk menunggu shalat atau mendengarkan khutbah atau selain itu tidaklah disebut i’tikaf, haruslah ada syarat berdiam lebih dari itu sehingga terbedakanlah antara ibadah dan kebiasaan (adat). Demikian disebutkan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 6: 513.

    Pendapat Jumhur Ulama

    • Sebagaimana dikemukakan di atas, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.
    • Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.” Lihat Al Majmu’ 6: 489.

    Alasan jumhur ulama:

    1. I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Berdiam di sini bisa jadi dalam waktu lama maupun singkat. Dalam syari’at tidak ada ketetapan khusus yang membatasi waktu minimal I’tikaf. Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). … Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang membatasi waktu minimalnya dengan bilangan tertentu atau menetapkannya dengan waktu tertentu.” Lihat Al Muhalla, 5; 179.
    2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,إني لأمكث في المسجد الساعة ، وما أمكث إلا لأعتكف “Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.” Demikian menjadi dalil Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 5: 179. Al Hafizh Ibnu Hajr juga menyebutkannya dalam Fathul Bari lantas beliau mendiamkannya
    3. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.” Lihat Al Muhalla, 5: 180. Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al Inshof, 6: 17)

    7 Hal Yang Membatalkan Puasa Berdasarkan Tuntunan Rasulullah

    7 Hal Yang Membatalkan Puasa Berdasarkan Hadits
    Makan dan minum dengan sengaja. Orang yang makan dan atau minum karena lupa, puasanya tidak batal.” Barang siapa yang lupa bahwa ia sedang berpuasa, lantas makan atau minum, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Sebab sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum”(HR.Al-Jama’ah)

    Melakukan hubungan seksual disiang hari. Orang yang melakukan hubungan seksual suami istri pada siang hari maka harus membayar kafarah, berupa membebaskan hamba sahaya dengan niat karena Allah SWT. Apabila tidak mampu, mereka harus menggantinya dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut.dan tidak boleh batal seharipun. Apabila tidak mampu, harus memberi makan 60 fakir miskin selama dua bulan tersebut. Jika tidak mampu, maka bebaslah mereka dari kafarah tersebut.. Orang yang melakukan hubungan seksual suami istri pada siang hari maka harus membayar kafarah, berupa membebaskan hamba sahaya dengan niat karena Allah SWT. Apabila tidak mampu, mereka harus menggantinya dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut.dan tidak boleh batal seharipun. Apabila tidak mampu, harus memberi makan 60 fakir miskin selama dua bulan tersebut. Jika tidak mampu, maka bebaslah mereka dari kafarah tersebut.Memasukan jenis nutrisi apapun kedalam tubuh/berbekam. Seperti suntikan cairan ke dalam pembuluh darah, suntikan di otot, hidung atau tempat lainnya. Dari Syaddad Ibnu Aus bahwa Nabi SAW. pernah melewati seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan di Baqi’, lalu beliau bersabda: “Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam.” (HR.Imam lima Kecuali Tirmidzi)Datang bulan atau haid bagi wanita. Apabila seorang wanita mengeluarkan darah haid atau nifas pada pagi hari atau sore hari sebelum matahari tebenam, puasanya menjadi batal, dan ia wajib menggantinya pada hari lain.

    Darah yang keluar dari kemaluan perempuan dengan cirri-ciri seperti di atas, apabila keluar di saat seorang perempuan sedang menjalankan ibadah puasa maka puasanya batal. “Kami (kaum perempuan) diperintahkan untuk mengganti puasa yang ditinggalkan, tetapi tidak diperintahkan untuk mengganti shalat yang ditinggalkan”. (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 508)

    Muntah dengan sengaja. “Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak wajib mengqadha’ dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib mengqadha,”(HR.Ahmad, AbuDaud, Ibnu Majah Dan At-Turmudzi)Murtad dari Islam (keluar dari Islam)

    Muntah dengan sengaja. “Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka tidak wajib mengqadha’ dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib mengqadha,”(HR.Ahmad, AbuDaud, Ibnu Majah Dan At-Turmudzi)

    PENELITIAN ILMIAH PUASA: Pengaruh Pada Janin Saat Ibu HamiL Berpuasa

    1525938555026-7.jpgPENELITIAN ILMIAH PUASA: Pengaruh Pada Janin Saat Ibu HamiL Berpuasa

    Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

    Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total,low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein(VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    Penelitian Ilmiah Kedokteran terhadap Puasa

    Berbagai penelitian lainnya juga telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri. Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    1525939949072-7.jpg

    Ayat Quran dan Hadits Pilihan dalam Bulan Ramadhan

    ”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah: 185)
    صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا
    “Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari, jika ada dua orang saksi, berpuasa dan berbukalah kalian.”[3] Dalam hadits ini dipersyaratkan dua orang saksi ketika melihat hilal Ramadhan dan Syawal. Namun untuk hilal Ramadhan cukup dengan satu saksi karena hadits ini dikhususkan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat.[4]
    فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ
    “Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah: 183]

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

    “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” [Al-Baqarah: 185]

    20 Mukzizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

    20 Mukzizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

    Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

    Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri. Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009. Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait.

    Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia. Meskipun puasa Ramadhan aman untuk semua orang sehat dan beberapa kondisi sakit tertentu, namun dalam keadaan penyakit tertentu seseorang harus berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Semua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan

    Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

    Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau kelaparan (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

    Inilah 20 Mukizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia

    1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme

    Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

    2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

    3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia

    Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

    4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh

    Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

    5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui

    Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

    6. Pengaruh pada janin saat ibu hami berpuasa

    Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

    Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), very Low density lipoprotein (VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

    7. Penurunan glukosa dan berat badan

    Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

    8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok

    Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

    9. Pengaruh pada hormon virgisteron

    Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

    10. Bermanfaat Bagi Jantung

    Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

    11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel

    Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

    12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin

    Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

    13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh

    Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

    14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang

    Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

    15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma

    Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

    16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis

    Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

    17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual

    Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya

    18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna

    Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

    19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia

    Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

    20. Menurunkan adrenalin

    Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

    Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjukkan bahwa ternyata puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Sebaliknya banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa berbeda dengan starvasi biasa, secara umum tidak akan mengganggu tubuh manusia. Dalam mencermati temuan ilmiah tersebut akan lebih diyakini bahwa berkah kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa ternyata bukan sekedar teori dan opini. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah terbukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang paling dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manusia.

    5 Keutamaan Bulan Ramadhan

    5 Keutamaan Bulan Ramadhan

    1) Bulan Bertebaran Amal Shaleh
    Dalam bulan ini semua jenis pahala kebaikan (amal shaleh) akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sehingga seorang muslim sebaiknya benar-benar memanfaatkan bulan ini untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyak ibaratnya ia menjadi pedagang yakni pedagang akhirat dengan mencari keuntungan yang berlipatganda karena memang Allah SWT akan membeli barang dagangan seseorang (amal shaleh ) dengan harga yang bukan hanya dengan harga sama atau dua kali lipatnya tapi sampai tujuh ratus kali lipat.

    • Rosulullah SAW. Bersabda “ setiap amalan anak adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tuju ratus kali. Allah SWT berfirman:”kecuali shaum, karena shaum adalah untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya, karena orang yang shaum meninggalkan hasrat seksualnya serta makam dan minum demi mencari keridhaan-Ku….”(HR. Bhukhori dan Muslim).
    • Rosulullah SAW. Bersabda. “Barangsiapa memberi sesuatu untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dengan makanan ataupun minuman dari yang halal, maka para malaikat mendoa’akannya pada waktu-waktu bulan itu, demikian juga jibril mendoa’akannya di malam lailatul qadr.”(H.R. Thabrani).
    • Rosulullah SAW. Bersabda. ” Barangsiapa yang memberikan makanan berbuka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi dari pahalanya itu sedikit pun.”(H.R. Ahmad dan An-Nasai)
    • Rosulullah SAW. Bersabda kepada Ibnu Abid Ad-dunya ” andai kata manusia itu tahu kebaikan-kebaikan yang ada di bulan Ramadhan, mereka tentu menginginkan bulan ini terjadi sepanjang tahun.”

    2) Bulan Maghfirah

    • Rosulullah SAW. Bersabda ……” Bulan Ramadhan permulaanya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, penghabisannya adalah pembebasan api neraka….”(khutbah rosulullah SAW)
    • “ Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”(H.R. Bukhari- Muslim)
    • “Barang siapa melakukan qiyamul lail pada bulan ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”
    • Rosulullah SAW.bersabda” Shalat lima waktu, shalat jum’at hingga jum’at berikutnya, Ramadhan ke ramadhan adalah penghapus (dosa) antara keduanya selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”(H.R. Muslim)
    • “ Dan aku melihat salah seorang dari ummatku terengah-engah kehausan setiap kali ia tiba di kolam air, ia dilarang meminumnya, kemudian puasa ramadhan datang padanya, memberinya air minum, dan membuatnya tidak kehausan lagi.”(H.R.Thabrani)
    • “Setiap ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.”(H.R. Muttafaqqun’alaih).

    3) Bulan Turunnya Al-Qur’anul Karim dan Lailatul Qadr

    • “Bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil.”(Q.S Albaqarah[2]:185
    • Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia ibaratnya ketika seseorang membeli mobil baru maka akan diberi buku petunjuk penggunaanya ketika orang tersebut menggunakan petunjuk yang ada maka semakin baik di dalam penggunakan mobil baru itu dan tidak akan menimbulkan kerusakan atau terjadi yang tidak diinginkan sama halnya dengan Al-Qur’an ini ketika seluruh ummat islam ini benar-benar menggunakan petunjuk yang ada berupa Al-Qur’an untuk seluruh aspek kehidupan maka akan memperoleh kehidupan yang baik dan hidupnya penuh dengan kebahagiaan apalagi Al-Qur’an itu bukan petunjuk biasa seperti buatan manusia akan tetapi sang pembuat adalah Allah SWT. Sang Maha Penguasa dan Maha pengatur alam raya ini.
    • Pada bulan ramadhan ini pula terdapat satu malam yang sangat utama yaitu malam laitul qadr. Rosulullah dan para sahabat sangat menantikan kedatangan malam ini sehingga rosulullah SAW. Dalam menyambut bulan ramadhan itu dua bulan sebelum datang ramadhan secara khusus berdo’a supaya bisa dipertemukan dengan ramadhan.
    • Rosulullah SAW. Bersabda “Bulan ini telah datang kepadamu di dalamnya terdapat satu malam yan lebih baik ketimbang seribu bulan. Barang siapa yang mengabaikannya, maka ia terabaikan dari segala kebaikan. Tidak ada yang mengabaikannya kecuali orang yang diabaikan.”(H.R Ibnu Majah)
    • “Sesungguhnya (Al-Qur’an) diturunkan pada malam Al-Qadr. Dan tahukan kamu apakah Al-Qadr itu? Malam Al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Robb-Nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”(QS.Al-Qadr:1-5)

    4) Bulan saat do’a diijabah

    • Rosulullah SAW. Bersabda” sesungguhnya bagi orang yang shaum tatkala berbuka itu benar-benar ada do’a yang tidak akan ditolak.”(HR Ibnu Majah).
    • “Tiga orang yang doa mereka tidak akan tertolak; orang yang shaum tatkala (hingga berbuka), pemimpin yang adil, dan do’a orang yang didzolimi; do’a mereka diangkat Allah ke atas awan serta dibukakan baginya pinti-pintu langit. Rabb berfirman:”Demi kemuliaan dan keagungan-ku, aku benar-benar akan menolongmu sekalipun telah sekian saat.” (H.R Ahmad,Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

    5) Bulan kemenangan Ummat Islam

    • Hampir seluruh peperangan ummat Islam dengan kaum kafir saat itu dimenangkan pada bulan Ramadhan seperti Fath Al-Makkah, ditaklukannya kota Makkah oleh tentara muslim dan dimusnaknnya berhala-berhala yang ada dikota itu yang terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Perang badar Kubro yang diabadikan dalam Al-Qur’an yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 hijriyah terbunuhnya raja kebatilan saat itu yakni Abu Jahal. Perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan pada tahun 9 Hijriyah, penaklukan Andalus (spanyol sekarang) dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad terjadi pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriyah.

    Puasa Pada Wanita Hamil dan Menyusui

    Puasa Pada Wanita Hamil dan Menyusui

    Allah Swt berfirman:

    وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183).

    Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini; pendapat pertama mengatakan bahwa pada awalnya puasa itu adalah ibadah pilihan, siapa yang mampu untuk melaksanakan puasa maka dapat melaksanakan puasa atau tidak berpuasa, bagi yang tidak berpuasa maka sebagai gantinya membayar fidyah memberi makan orang miskin. Dengan pilihan ini, berpuasa lebih utama. Kemudian hukum ini di-nasakh, diwajibkan berpuasa bagi yang mampu, tidak boleh meninggalkan puasa dan memberikan makanan kepada orang miskin, berdasarkan firman Allah Swt:

    مَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

    “Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Yang me-nasakh hukum diatas adalah ayat ini, demikian diriwayatkan para ulama kecuali Imam Ahmad. Dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Ketika ayat ini (al-Baqarah: 183) turun, sebelumnya orang yang tidak mau berpuasa boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah, sampai ayat setelahnya turun dan menghapus hukumnya”.

    Satu pendapat mengatakan bahwa puasa itu diwajibkan bagi orang-orang yang mampu saja. Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit, musafir dan orang yang berat melakukannya. Mereka menafsirkan makna al-Ithaqah dengan berat melaksanakan puasa, yaitu orang-orang yang telah lanjut

    7 Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 291 [Maktabah Syamilah].

    usia. Bagi orang yang sakit dan musafir diwajibkan qadha’. Sedangkan bagi orang yang lanjut usia diwajibkan membayar fidyah saja, tanpa perlu melaksanakan puasa qadha’, karena semakin tua maka semakin berat mereka melaksanakannya, demikian juga orang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak akan mampu melaksanakan puasa qadha’, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’, ia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:

    وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 184). Ia berkata, “Ayat ini tidak di-nasakh. Akan tetapi ayat ini bagi orang yang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa”.

    Sebagian ulama moderen seperti Syekh Muhammad Abduh meng-qiyas-kan para pekerja berat yang kehidupan mereka bergantung pada pekerjaan yang sangat berat seperti mengeluarkan batubara dari tempat tambangnya, mereka di-qiyas-kan kepada orang tua renta yang lemah dan orang yang menderita penyakit terus menerus. Demikian juga dengan para pelaku tindak kriminal yang diwajibkan melaksanakan pekerjaan berat secara terus menerus, andai mereka mampu melaksanakan puasa, maka mereka tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar fidyah, meskipun mereka memiliki harta untuk membayar fidyah.

    Sedangkan wanita hamil dan ibu menyusui, jika mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri mereka, atau karena anak mereka, maka menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah saja, tidak wajib melaksanakan puasa qadha’, mereka disamakan dengan orang yang telah lanjut usia. Abu Daud dan ‘Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat:

    وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ

    “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 184). Ibnu Abbas berkata, “Ini keringanan bagi orang yang telah lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib memberi fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan anaknya, maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah”. Diriwayatkan oleh

    al-Bazzar dengan tambahan di akhir riwayat: Ibnu Abbas berkata kepada seorang ibu hamil, “Engkau seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah, tidak wajib qadha’ bagiku”. Sanadnya dinyatakan shahih oleh ad-Daraquthni. Imam Malik dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil jika mengkhawatirkan anaknya, ia menjawab, “Ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah satu orang miskin untuk satu hari, membayar satu Mudd gandum”. Dalam hadits disebutkan:

    إِ الَّلََّ تَ عَالََ وَضَعَ عَنِ الْ ج مسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الحَْامِلِ أَوِ الْ ج مرْضِعِ الصَّوْم “Sesungguhnya Allah Swt tidak mewajibkan puasa bagi musafir dan menggugurkan setengah kewajiban shalat (shalat Qashar). Allah Swt menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Diriwayatkan oleh lima imam, Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan.

    Berdasarkan dalil diatas maka wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa. Apakah wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah?

    • Menurut Ibnu Hazm: tidak wajib qadha’ dan fidyah.
    • Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: wajib membayar fidyah saja tanpa kewajiban qadha’.
    • Menurut Mazhab Hanafi: wajib qadha’ saja tanpa kewajiban fidyah.
    • Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali: wajib qadha’ dan fidyah, jika yang dikhawatirkan anaknya saja. Jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja, atau yang dikhawatirkan itu diri dan anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib melaksanakan qadha’ saja, tanpa wajib membayar fidyah. (Nail al-Authar, juz. 4, hal. 243 – 245).

    Dalam Fiqh empat mazhab dinyatakan:

    Menurut Mazhab Maliki: wanita hamil dan ibu menyusui, jika melaksanakan puasa dikhawatirkan akan sakit atau bertambah sakit, apakah yang dikhawatirkan itu dirinya, atau anaknya, atau dirinya saja, atau anaknya saja. Mereka boleh berbuka dan wajib melaksanakan qadha’, tidak wajib membayar fidyah bagi wanita hamil, berbeda dengan ibu menyusui, ia wajib membayar fidyah. Jika puasa tersebut dikhawatirkan menyebabkan kematian atau mudharat yang sangat parah bagi dirinya atau anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib tidak berpuasa.

    • Menurut Mazhab Hanafi: jika wanita hamil dan ibu menyusui mengkhawatirkan mudharat, maka boleh berbuka, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja. Wajib melaksanakan qadha’ ketika mampu, tanpa wajib membayar fidyah.
    • Menurut Mazhab Hanbali: wanita hamil dan ibu menyusui boleh berbuka, jika mengkhawatirkan mudharat terhadap diri dan anak, atau diri saja. Dalam kondisi seperti ini mereka wajib melaksanakan qadha’ tanpa membayar fidyah. Jika yang dikhawatirkan itu anaknya saja, maka wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah.
    • Menurut Mazhab Syafi’i: wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan mudharat, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja, mereka wajib berbuka dan mereka wajib melaksanakan qadha’ pada tiga kondisi diatas. Jika yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wajib melaksanakan qadha’ dan membayar fidyah.
    • Pendapat Mazhab Syafi’i sama seperti Mazhab Hanbali dalam hal qadha’ dan fidyah, hanya saja Mazhab Hanbali membolehkan berbuka jika mengkhawatirkan mudharat, sedangkan Mazhab Syafi’i mewajibkan berbuka. Dalam salah satu pendapatnya Imam Syafi’i mewajibkan fidyah bagi wanita menyusui, tidak wajib bagi ibu hamil, seperti pendapat Mazhab Maliki.

    Hadits yang diriwayatkan lima imam dari Anas bin Malik al-Ka’bi. Al-Mundziri berkata, “Ada lima perawi hadits yang bernama Anas bin Malik: dua orang shahabat ini, Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari pembantu Rasulullah Saw, Anas bin Malik ayah Imam Malik bin Anas, ia meriwayatkan satu hadits, dalam sanadnya perlu diteliti. Keempat, seorang Syekh dari Himsh. Kelima, seorang dari Kufah, meriwayatkan hadits dari Hamad bin Abu Sulaiman, al-A’masy dan lainnya. Imam asy-Syaukani berkata, “Selayaknya Anas bin Malik al-Qusyairi yang disebutkan Ibnu Abi Hatim adalah Anas bin Malik yang keenam, jika ia bukan al-Ka’bi”.

    Jawaban Ustadz Abdul Somad: Puasa Wanita Hamil dan Menyusui.


    Jawaban Ustadz Abdul Somad: Puasa Wanita Hamil dan Menyusui.

    Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar.

     

    Kami membaca di beberapa buku bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan wajib membayar Fidyah, tidak wajib meng-qadha’ puasa. Apakah benar demikian?

     

    Allah Swt berfirman:

    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini; pendapat pertama mengatakan bahwa pada awalnya puasa itu adalah ibadah pilihan, siapa yang mampu untuk melaksanakan puasa maka dapat melaksanakan puasa atau tidak berpuasa, bagi yang tidak berpuasa maka sebagai gantinya membayar fidyah memberi makan orang miskin. Dengan pilihan ini, berpuasa lebih utama. Kemudian hukum ini di-nasakh, diwajibkan berpuasa bagi yang mampu, tidak boleh meninggalkan puasa dan memberikan makanan kepada orang miskin, berdasarkan firman Allah Swt:
    • Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Yang me-nasakh hukum diatas adalah ayat ini, demikian diriwayatkan para ulama kecuali Imam Ahmad. Dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata, “Ketika ayat ini (al-Baqarah: 183) turun, sebelumnya orang yang tidak mau berpuasa boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah, sampai ayat setelahnya turun dan menghapus hukumnya”
    • Satu pendapat mengatakan bahwa puasa itu diwajibkan bagi orang-orang yang mampu saja. Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit, musafir dan orang yang berat melakukannya. Mereka menafsirkan makna al-Ithaqah dengan berat melaksanakan puasa, yaitu orang-orang yang telah lanjut usia. Bagi orang yang sakit dan musafir diwajibkan qadha’. Sedangkan bagi orang yang lanjut usia diwajibkan membayar fidyah saja, tanpa perlu melaksanakan puasa qadha’, karena semakin tua maka semakin berat mereka melaksanakannya, demikian juga orang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak akan mampu melaksanakan puasa qadha’, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Atha’, ia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:
    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ia berkata, “Ayat ini tidak di-nasakh. Akan tetapi ayat ini bagi orang yang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa
    • Sebagian ulama moderen seperti Syekh Muhammad Abduh meng-qiyas-kan para pekerja berat yang kehidupan mereka bergantung pada pekerjaan yang sangat berat seperti mengeluarkan batubara dari tempat tambangnya, mereka di-qiyas-kan kepada orang tua renta yang lemah dan orang yang menderita penyakit terus menerus. Demikian juga dengan para pelaku tindak kriminal yang diwajibkan melaksanakan pekerjaan berat secara terus menerus, andai mereka mampu melaksanakan puasa, maka mereka tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar fidyah, meskipun mereka memiliki harta untuk membayar fidyah
    • Sedangkan wanita hamil dan ibu menyusui, jika mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri mereka, atau karena anak mereka, maka menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah saja, tidak wajib melaksanakan puasa qadha’, mereka disamakan dengan orang yang telah lanjut usia. Abu Daud dan ‘Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat:
    • Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)”. (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Ibnu Abbas berkata, “Ini keringanan bagi orang yang telah lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib memberi fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan anaknya, maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah”. Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan tambahan di akhir riwayat: Ibnu Abbas berkata kepada seorang ibu hamil, “Engkau seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah, tidak wajib qadha’ bagiku”. Sanadnya dinyatakan shahih oleh ad-Daraquthni. Imam Malik dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil jika mengkhawatirkan anaknya, ia menjawab, “Ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah satu orang miskin untuk satu hari, membayar satu Muddgandum”. 

    Falam hadits disebutkn

    • إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ
    • Sesungguhnya Allah Swt tidak mewajibkan puasa bagi musafir dan menggugurkan setengah kewajiban shalat (shalat Qashar). Allah Swt menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Diriwayatkan oleh lima imam, Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan.


                    Berdasarkan dalil diatas maka wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa. Apakah wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah?

    • Menurut Ibnu Hazm: tidak wajib qadha’ dan fidyah.
    • Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: wajib membayar fidyah saja tanpa kewajiban qadha’.
    • Menurut Mazhab Hanafi: wajib qadha’ saja tanpa kewajiban fidyah.
    • Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali: wajib qadha’ dan fidyah, jika yang dikhawatirkan anaknya saja. Jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja, atau yang dikhawatirkan itu diri dan anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib melaksanakan qadha’ saja, tanpa wajib membayar fidyah. (Nail al-Authar, juz. 4, hal. 243 – 245).

    Dalam Fiqh empat mazhab dinyatakan:

    1. Menurut Mazhab Maliki: wanita hamil dan ibu menyusui, jika melaksanakan puasa dikhawatirkan akan sakit atau bertambah sakit, apakah yang dikhawatirkan itu dirinya, atau anaknya, atau dirinya saja, atau anaknya saja. Mereka boleh berbuka dan wajib melaksanakan qadha’, tidak wajib membayar fidyah bagi wanita hamil, berbeda dengan ibu menyusui, ia wajib membayar fidyah. Jika puasa tersebut dikhawatirkan menyebabkan kematian atau mudharat yang sangat parah bagi dirinya atau anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib tidak berpuasa.
    2. Menurut Mazhab Hanafi: jika wanita hamil dan ibu menyusui mengkhawatirkan mudharat, maka boleh berbuka, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja. Wajib melaksanakan qadha’ketika mampu, tanpa wajib membayar fidyah.
    3. Menurut Mazhab Hanbali: wanita hamil dan ibu menyusui boleh berbuka, jika mengkhawatirkan mudharat terhadap diri dan anak, atau diri saja. Dalam kondisi seperti ini mereka wajib melaksanakan qadha’ tanpa membayar fidyah. Jika yang dikhawatirkan itu anaknya saja, maka wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah.
    4. Menurut Mazhab Syafi’i: wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan mudharat, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja, mereka wajib berbuka dan mereka wajib melaksanakan qadha’ pada tiga kondisi diatas. Jika yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wajib melaksanakan qadha’ dan membayar fidyah.

                    Pendapat Mazhab Syafi’i sama seperti Mazhab Hanbali dalam hal qadha’dan fidyah, hanya saja Mazhab Hanbali membolehkan berbuka jika mengkhawatirkan mudharat, sedangkan Mazhab Syafi’i mewajibkan berbuka. Dalam salah satu pendapatnya Imam Syafi’i mewajibkan fidyah bagi wanita menyusui, tidak wajib bagi ibu hamil, seperti pendapat Mazhab Maliki.

                    Penutup: hadits yang diriwayatkan lima imam dari Anas bin Malik al-Ka’bi. Al-Mundziri berkata, “Ada lima perawi hadits yang bernama Anas bin Malik: dua orang shahabat ini, Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari pembantu Rasulullah Saw, Anas bin Malik ayah Imam Malik bin Anas, ia meriwayatkan satu hadits, dalam sanadnya perlu diteliti. Keempat, seorang Syekh dari Himsh. Kelima, seorang dari Kufah, meriwayatkan hadits dari Hamad bin Abu Sulaiman, al-A’masy dan lainnya. Imam asy-Syaukani berkata, “Selayaknya Anas bin Malik al-Qusyairi yang disebutkan Ibnu Abi Hatim adalah Anas bin Malik yang keenam, jika ia bukan al-Ka’bi”.

     

    Sumber: 

    • Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 291  [Maktabah Syamilah].

    Yesus dan Para Nabi Berpuasa. Benarkah Yesus dan Para Nabi Seorang Muslim

    Yesus dan Para Nabi Berpuasa. Benarkah Yesus dan Para Nabi Seorang Muslim

    Firman Allah “kama kutiba ‘alal-ladzina min qablikum” ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa telah dilakukan oleh orang-orang beriman sebelum Nabi Muhammad SAW, dengan syariat yang berbeda-beda.

    …Dalam Bibel sendiri, bertebaran kisah puasa para nabi terdahulu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru…

    Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, jauh sebelumnya, Nabi Adam telah diperintahkan untuk berpuasa tidak memakan buah khuldi (Qs. Al-Baqarah 35). Maryam bunda Nabi Isa pun berpuasa hingga tidak bicara kepada siapapun (Qs. Maryam 26). Nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari. Nabi Isa pun berpuasa. Nabi Daud berpuasa selang-seling (sehari berpuasa dan sehari berikutnya berbuka). Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain.

    Dalam Bibel sendiri, bertebaran kisah puasa para nabi terdahulu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Perhatikan ayat-ayat berikut:

    • Puasa pada masa Nabi Musa: “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu” (Imamat 16:29)
    • “Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya” (Imamat 16:31)
    • “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa…” (Imamat 23:27, Bilangan 29:7).
    • “Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa…” (Imamat 23:32).
    • Puasa pada bulan kesembilan: “Pada bulan sembilan tahun kelima pemerintahan Yoyakim raja Yehuda, rakyat disuruh berpuasa untuk memperoleh belas kasihan dari TUHAN. Penduduk Yerusalem dan orang-orang yang datang dari kota-kota Yehuda, semuanya berpuasa” (Yeremia 36:9, BIS). Dalam penanggalan lunar (komariyah), bulan kesembilan hijriyah itu adalah bulan Ramadhan.
    • Nabi Daud berpuasa dengan tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Samuel 12:16). Bahkan ia bertaqarrub kepada Allah dengan puasa sampai badannya kurus: “Lututku melentuk oleh sebab berpuasa, dan badanku menjadi kurus, habis lemaknya” (Mazmur 109:24).
    • Nabi Yunus berpuasa selama 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17). Pada masanya, orang-orang Niniwe berpuasa selama 40 hari 40 malam dengan tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:1-10).
    • Orang-orang Israel pada massa Samuel berpuasa untuk bertaubat kepada Tuhan (I Samuel 7:6) dan berkabung (I Samuel 31:13; II Samuel 1:12).
    • Ester berpuasa selama 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Ester 4:16); Nabi Zakharia diperintah Tuhan untuk berpuasa (Zakharia 7:5); Nehemia berpuasa ketika berkabung (Nehemia 1:4); Daniel juga berpuasa (Daniel 9:3); Yoel berpuasa bersama penduduk negerinya (Yoel 1:14).
    • Selain berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum, Bibel juga mencatat puasa dengan cara lain: Nabi Ayub berpuasa 7 hari 7 malam tidak bersuara (Ayub 2:13); Puasa Elia berpuasa dengan berjalan kaki selama 40 hari 40 malam ke gunung Horeb (1 Raja-raja 19:8); Daniel berpuasa dengan hanya makan sayur dan minum air putih selama sepuluh hari (Dan 1:12).
    • Kitab Perjanjian Baru juga banyak mencatat amalan puasa, antara lain: Puasa Senin-Kamis setiap pekan yang dilakukan oleh orang Farisi pada masa Yesus (Lukas 18:12); Yohanes pembabtis berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum (Matius 11:18); Hana seorang nabi perempuan tidak pernah meninggalkan ibadah puasa dalam rangka bertaqarrub kepada Tuhan (Lukas 2:36-37); Paulus berpuasa selama 3 hari 3 malam dengan cara tidak makan, tidak minum dan tidak melihat (Kisah Para Rasul 9:9); Jemaat mula-mula berpuasa untuk menguatkan Paulus dan Barnabas dalam pelayanan (Kisah Para Rasul 13:2-3); dan lain-lain.
    • Yesus dan Musa, karena dalam kitab Bibel sendiri mengabadikan puasa yang mereka lalukan. Bukankah Nabi Musa dan Yesus sama-sama berpuasa jasmani dan rohani selama 40 hari 40 malam nonstop? Musa berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam pada saat menerima Sepuluh Firman/Dasatitah (The Ten Commandments):
    • “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan Tuhan empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Keluaran 34:28).
    • Sementara Yesus berpuasa 40 hari 40 malam hingga kelaparan pada saat dicobai iblis di padang gurun: “Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus” (Matius 4:2).

    Tidak ada petunjuk puasa secara jelas dan rinci

    • Bila puasa dalam Islam telah diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi, sebaliknya Bibel tidak punya aturan yang jelas tentang amalan puasa.
    • Yesus dalam Bibel tak pernah memberikan penjelasan normatif mengenai waktu, syarat, dan amalan-amalan puasa secara detil. Akibatnya umat Kristen melakukan puasa secara variatif.  Berbagai aliran/denominasi gereja yang melakukan puasa dengan tatacara yang disusun oleh pendetanya masing-masing. Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik mewajibkan untuk berpuasa  pada masa pra-paskah.
    • Keuskupan Surabaya mengeluarkan peraturan puasa tahun 2004 bahwa puasa Katolik adalah bebas makan apa saja, tapi hanya boleh makan kenyang sekali sehari. Peraturan yang ditandatangani oleh Romo Julius Haryanto CM itu menyatakan bahwa berdasarkan Kitab Hukum Kanonik nomor 1249-1253 dan Statuta Keuskupan Regio Jawa No. 111, ditetapkan: Semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60 wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Dalam arti yuridis, puasa orang Katolik ini berarti makan kenyang hanya sekali sehari.
    • Kristen Ortodoks Syria (KOS) berpuasa “shaumil kabir” selama 40 hari berturut-turut pada tiap tahun sekitar bulan April, tanpa makan sahur. Puasa KOS lainnya adalah puasa Rabu dan Jum’at dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus.
    • Ada pula denominasi gereja yang berpuasa hanya menahan hal-hal yang disenanginya, misalnya: berpuasa merokok, berpuasa tidak makan nasi dan daging, berpuasa tidak nonton televisi dan lain sebagainya. Semuanya dijalankan dalam kurun waktu tertentu, bisa 40 hari seperti yang Yesus Kristus pernah lakukan, bisa genap sebulan, ada pula yang melakukan bersamaan waktu puasa kaum Muslim.
    • Frustasi dengan ketidakjelasan syariat puasa, sebuah lembaga kristiani dalam amarannya berjudul “Puasa dalam Agama Kristen” mengimbau agar jemaat berpuasa terserah sesuai seleranya:
    • “Bagaimana cara kita berpuasa? Terserah pribadi masing-masing. Tentukan sendiri jangka waktunya: 8 jam, 1 hari, 1  hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari, dst. Tentukan jenis puasanya: hanya makan sayur, tidak makan, tidak makan dan tidak minum, atau puasa kebiasaan  jelek seperti nonton tv, baca koran, majalah, menahan rasa marah/benci, tidak merokok, tidak berjudi, tidak  masturbasi, dll

    Bukti Bahwa Yesus Adalah Muslim

    Mantan pendeta yang dulu bernama Agustinus Christovel Kainama menjadi muslim, bukan karena ia mempelajari Al-Quran, melainkan karena ia memperdalam Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus.  Saat memahami Nabi Isa ternyata juga menjalankan puasa, shalat, disunat, wudhu, tahajud dan bersedekah. “Semua itu dilakukan pula oleh umat Islam,” ujarnya. Saat sudah begitu dalam mengkaji Injil, ia malah memutuskan menjadi muslim karena apa yang dilakukan oleh Yesus. Menurut ajaran agama Islampun sesuai yang di firmankan Allah dalam al Quran bahwa semua nabi adalah muslim termasuk nabi Isa atau Yesus

    Muslim adalah secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”, termasuk segala makhluk yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut agama Islam saja, kemudian pemeluk pria disebut dengan Muslimin  dan pemeluk wanita disebut Muslimah adalah sebutan untuk wanita Islam. Al Qur’an menjelaskan tentang semua nabi dan rasul adalah sebagai Muslim, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Al Qur’an menyatakan bahwa mereka adalah Muslim karena mereka hanya berserah diri kepada Tuhan, memberikan firman, dan menegakkan agama Allah. Demikian pula dalam surah Al-Imran dalam Al-Qur’an. “Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) berkata kepada Isa: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Imran 3:52)”

    Umat Muslim meyakini bahwa Allah adalah zat kekal, yang memiliki semua sifat ke-Maha-an, tidak tertandingi, mandiri, tidak melahirkan, dan tidak pula diperanakkan, mereka meyakini doktrin atau aqidah ketauhidan (monoteisme).

    Tatacara  dan Keutamaan Puasa Syawal

    Tatacara  dan Keutamaan Puasa Syawal

    • Puasa sunnah Syawal dilakukan selama enam hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari. Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).
    • Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).
    • Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” 
    • Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh. Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).  Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).
    • Boleh melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu.. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309). Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan. Adapun berpuasa Syawal pada hari Sabtu juga masih dibolehkan sebagaimana puasa lainnya yang memiliki sebab masih dibolehkan dilakukan pada hari Sabtu, misalnya jika melakukan puasa Arafah pada hari Sabtu. Ada fatwa dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berikut ini.

    KEUTAMAAN PUASA SYAWAL

    HADITS SHAHIH

    • عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه
    • Dari Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun”. [Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasaa-i dan Ibnu Majah].
    • عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه :
    • Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun. [Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya – QS al An’am/6 ayat 160-]”.
    • Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Nasaa-i dengan lafazh :
    • جَعَلَ اللهُ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَشَهْرٌ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ تَمَامُ السَّنَةَ
    • “Allah menjadikan (ganjaran) kebaikan itu sepuluh kali lipat, satu bulan sama dengan sepuluh bulan; dan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri merupakan penyempurna satu tahun”.
    • Diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dengan lafazh :
    • صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ
    • “Puasa bulan Ramadhan, (ganjarannya) sepuluh bulan dan puasa enam hari (sama dengan) dua bulan. Itulah puasa satu tahun”.
    • Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan lafazh :
    • مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَقَدْ صَامَ السَّنَةَ
    • “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan enam hari pada bulan Syawwal, berarti sudah melaksanakan puasa satu tahun”.
    • وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَه بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ رواه البزار وأحد طرقه عنده صحيح
    • Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seakan dia sudah berpuasa satu tahun”. [Diriwayatkan oleh al Bazzar, dan salah satu jalur beliau adalah shahih].
    • Semua hadits di atas dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, sebagaimana terdapat pada kitab Shahihut Targhibi wat Tarhib, no. 1006, 1007 dan 1008.

    HADITS DHAIF

    • مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَشَوَّالاً وَالأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيْسَ وَالْجُمْعَةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ
    • “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, Syawwal, hari Rabu, Kamis dan Jum’at, maka dia akan masuk surga”.
    • Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 3/416, dari Hilal bin Khabbab dari Ikrimah bin Khalid, dia mengatakan : Aku diberitahu oleh salah satu dari orang pandai Quraisy, aku diberitahu oleh bapakku bahwasanya dia mendengar dari belahan bibir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam … lalu dia membawakan hadits di atas.
    • Syaikh al Albani mengatakan :
    • Ini merupakan sanad yang lemah, karena orang pandai dari kalangan Quraisy ini tidak diketahui jati dirinya. Dan Hilal, orangnya shaduq (jujur dan terpercaya), tetapi dia berubah pada masa tuanya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab at Taqriib.
    • Dan hadits ini diriwayatkan oleh al Haitsami dalam al Majma’, 3/190 tanpa ada kalimat “wal Jum’ah,” lalu beliau rahimahullah mengatakan : Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan di dalam sanadnya terdapat orang yang tidak disebutkan, sementara para perawi lainnya adalah tsiqah (bisa dipercaya, Red).
    • Begitu juga dibawakan oleh Imam as Suyuthi dalam al Jami’, dari riwayat Imam Ahmad dari seseorang, akan tetapi dengan menggunakan lafazh : سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ sebagai ganti dari kalimat Syawwal.
    • Syaikh Al Albani mengatakan :
    • Aku tidak tahu, apakah perbedaan ini karena perbedaan naskah kitab Musnad atau karena kekeliruan si penukil. [Lihat Silsilah adh Dha’ifah, no. 4612, 10/124-125].

    HADITS MAUDHU (PALSU)

    • مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
    • “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat dilahirkan dari perut ibunya”.
    • Syaikh al Albani mengatakan :
    • Maudhu’ (palsu). Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam kitab al Ausath melalui jalur Imran bin Harun, kami diberitahu oleh Maslamah bin Ali, kami diberitahu oleh Abu Abdillah al Hamsh dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar secara marfu’, dan beliau rahimahullah (Ath Thabrani) mengatakan : Hadits ini tidak diriwayatkan, kecuali oleh Abu Abdillah, dan Maslamah menyendiri dalam membawakan riwayat ini.
    • Syaikh al Albani mengatakan :
    • Orang ini (yakni Maslamah, Red) muttaham (tertuduh), ada beberapa riwayat maudhu’nya sudah dibawakan di depan, yaitu hadits no. 141, 145 dan 151.
    • Sedangkan Abu Abdillah al Hamsh, saya cenderung memandang bahwa orang ini adalah Muhammad bin Sa’id al Asdiy al Mashlub al Kadzdzab (banyak berdusta) al waddha’ (sering memalsukan hadits). Mereka merubah nama orang ini menjadi sekitar seratus nama, untuk menutupi jati dirinya. Ada yang memberinya kunyah Abu Abdirrahman, Abu Abdillah, Abu Qais. Tentang nisbahnya, ada yang mengatakan, dia itu Dimasqiy (orang Damaskus), al Urduni (orang Urdun). Dan ada yang mengatakan ath Thabariy.
    • Maka saya (Syaikh al Albani, Red) tidak menganggap mustahil, jika kemudian orang yang tertuduh, yaitu Maslamah mengatakan tentang orang ini : Abu Abdillah al Hamshy.
    • Tidak menutup kemungkinan bahwa Abu Abdillah al Hamshy ini adalah orang yang dinamakan Marzuq. Ad Daulabiy membawakannya dalam kitab al Kuna seperti ini. Orang ini termasuk perawi Imam Tirmidzi, akan tetapi, mereka tidak pernah menyebutkan bahwa orang ini memiliki riwayat dari Nafi’. Berbeda dengan al Mashlub. Wallahu a’lam.
    • Hadits ini diberi isyarat dhaif oleh al Mundziri, 2/75. Al Haitsami menyatakan illat hadits ini ialah Maslamah al Khasyani. [Lihat Silsilah adh Dha’ifah, no. 5190, 11/309
    • Muslim yang menunaikan puasa Syawal, maka ia meraih nilai puasa  setahun penuh.
    • Ia dicintai Allah dan  meraih ampunan dosa. Allah menegaskan,  “Katakanlah! Jika memang kalian benar benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).
    • Muslim yang menegakkan puasa Syawal, maka ia meraih syafaat Rasulullah dan  bersama beliau karena menghidupkan sunnah beliau. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW,  “Siapa yang menghidupkan sunnahku,  maka sungguh ia mencintaiku dan  siapa yang mencintaiku bersamaku di surga.”
    • Orang yang melaksanakan puasa Syawal tanda iman dan takwanya  meningkat. “Karena  itulah disebut “Syawal” yang artinya bulan peningkatan,” 
    • Puasa Syawal menutupi kekurangan selama shaum Ramadhan.
    • Di antara tanda ikhlas, gemar dengan  amal sunnah, kalau wajib ya kewajiban tetapi kalau sunnah adalah kerelaan seorang hamba mengabdi kepada Allah. “Termasuk di antaranya adalah puasa Syawal,” kata Arifin.
    • Puasa Syawal adalah cara terbaik memupuk keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada Nabi-Nya.
    • Hamba Allah yang beriman cerdas adalah semua sunnah dihidupkan sebagai  bekal di akhirat kelak. 
    • Muslim yang melaksanakan puasa Syawal insya Allah meraih surge-Nya. Hal itu karena ia termasuk sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. “Orang yang puasa Syawal melewati pintu Surga  Ar-Rayan, yang disediakan  spesial hanya untuk hamba-Nya yg berpuasa

    Sumber :

    • majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta
    • https://muslim.or.id

      « Entri Lama