Category Archives: haji-umrah

Tata Cara Tawaf dan Doanya

Jamaah haji yang sedang tawaf mengelilingi Ka’bah

Tawaf

Tawaf adalah kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Tawaf adalah salah satu amal ibadah yang dilakukan oleh Muslim pada saat melaksanakan haji dan umrah. Tawaf hanya dilakukan di Masjidil Haram.

Syarat Tawaf

  1. Suci dari hadas.
  2. Suci dari najis pada badan dan pakaian.
  3. Menutup aurat.
  4. Dimulai dari tempat yang sejajar dengan Hajar Aswadyang ada disalah satu sudut Ka’bah. Apabila seseorang memulai tawafnya pada sudut Kaabah yang tidak sejajar dengannya, maka putaran itu tidak dihitung hingga sampai pada sudut Hajar Aswad untuk dihitung sebagai awal tawaf.
  5. Mengirikan Ka’bah dan berjalan ke depan.
  6. Dilakukan di dalam Masjidil Haram tetapi di luar bahagian Kaabah iaitu di luar Hijir Ismail (ﺣﺠﺮ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ) dan Syazarwan (ﺷﺎﺫﺭﻭﺍﻥ).
  7. Dilakukan tujuh putaran dengan yakin.

Sunah Tawaf

Berikut adalah amalan sunah dilakukan saat bertawaf:

  1. Bertawaf dengan berjalan kaki.
  2. Memendekkan langkah.
  3. Berjalan cepat dengan berlari anak.
  4. Istilam kepada Hajar Aswad saat awal tawaf sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.
  5. Beristilam dengan tangan kanan.
  6. Mencium Hajar Aswad dan meletakkan dahi ke atasnya.
  7. Beristilam di rukun Yamani.
  8. Berittibak.
  9. Solat sunah dua rakaat setelah tawaf di belakang Maqam Ibrahim.
  10. Bertawaf berdekatan dengan Ka’bah (untuk memudahkan istilam).

Istilam –

  • Mencium Hajar Aswad atau menyentuhnya dengan tangan.
  • Jika tidak mampu, memadai dengan isyarat atau melambai dengan tangan.
  • Lebih baik dilakukan setiap putaran jika mampu.

Ittibak –

  • Meletakkan pertengahan kain selendang/ihram di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya di atas kiri dengan menjadikan bahu kanan terbuka bagi kaum pria.

Jenis Tawaf

  • Tawaf Qudum (ﻗﺪﻭﻡ ) – tawaf “selamat datang” yang dilakukan ketika baru sampai di Mekah.
  • Tawaf Ifadhah (ﺇﻓﺎﺿﻪ) – tawaf yang menjadi rukun haji dan dilakukan bagi mereka yang telah pulang dari Wukuf di Arafah. Juga dinamakan bagi tawaf rukun umrah.
  • Tawaf Sunah (ﺳﻨﺔ) – tawaf yang dilakukan semata-mata mencari ridha Allah pada waktu kapanpun.
  • Tawaf Tahiyyat (ﺗﺤﻴﺔ) – tawaf sunah yang lazim dilakukan saat memasuki Masjidl Haram.
  • Tawaf Nazar (ﻧﺬﺭ) – melakukan tawaf untuk memenuhi nazar (janji)
  • Tawaf Wada’ (ﻭﺩﺍﻉ) – tawaf “selamat tinggal” yang dilakukan sebelum meninggalkan kota Mekkah sebagai tanda penghormatan dan memuliakan Baitullah

Doa yang wajib dilafalkan saat rangkaian Tawaf

1. Doa Sebelum Minum Air Zam-zam

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أْسْأَلُكَ عِلْمً نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَآءً مِنْ كُلِّ دَآءٍ وَسَقَمٍ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, aku mohon kepadaMu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizki yang luas dan sembuh dari segala sakit dan penyakit pikun dengan rahmatMu ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

2. Doa Setelah Salat Sunat di Hijir Ismail

Salat sunat di Hijir Ismail dilakukan setelah shalat sunat Thawaf, bacaan surat pendek yang dianjurkan sama dengan salat sunat thawaf, sesudah itu dianjurkan berdoa:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ أَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.

Ya Allah, Engkaulah pemeliharaku, tiada Tuhan selain Engkau yang menjadikan daku. Aku ini hambaMu, memenuhi janji dan ikatan padaMu sejauh kemampuanku, sedapat mungkin aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang telah aku perbuat,

aku kembali padaMu membawa nikmatMu dan membawa dosa-dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain dari Engkau.

Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh hamba-hambaMu yang shaleh kepadaMu, dan aku berlindung pula padaMu seperti hamba-hambaMu yang shaleh.

3. Doa Sesudah Salat Sunat Tawaf

Salat sunat tawaf sebaiknya dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, tapi apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan di mana saja asal di dalam Masjid Haram.

Pada rakaat pertama sebaiknya membaca Surat Al Kafirun, dan pada rakaat kedua Al Ikhlas.

Salat sunat thawaf sebaiknya dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, tapi apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan di mana saja asal di dalam Masjidil Haram.

Pada rakaat pertama sebaiknya membaca Surat Al Kafirun, dan pada rakaat kedua Al Ikhlas. Sesudah itu dianjurkan berdoa:

اَللّٰهمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَا نِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِيْ سُؤَاِلِيْ وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِي ذُنُوْبِيْ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ إِنَّكَ أَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْْتُ نَفْسِيْ فَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لآَ إِلٰهَ الَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku yang tersembunyi dan amal perbuatanku yang nyata, terimalah permohonanku, Engkau Maha Mengetahui hajatku, perkenankanlah harapanku.

Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci engkau dan Maha Terpuji namaMu. Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka rahmatilah aku karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rahmat. Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci dan Maha Terpuji namaMu.

Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku, maka terimalah tobatku, karena Engkaulah sebaik-baik penerima tobat dan lagi Maha Rahiim.

4. Doa di Multazam Setelah Tawaf

اَللّٰهُمَّ يَا رَبَّ الْبَيْتَ الْعَتِيْقِ أَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ اٰبَآئِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَوْلَادِنَا مِنَ النَّارِ يَاذَا اْلجُوْدِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَاْلمَنِّ وَالْعَطَاءِ وَاْلإِحْسَانِ. اَللّٰهُمَّ أَحْسِنْ عَا قِبَتَنَا فِى اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلاٰخِرَةِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَاقِفٌ تَحْتَ بَابِكَ مُلْتَزِمٌ بِِأَعْتَا بِكَ مُتَذَلِّلٌ بَيْنَ يَدَيْكَ أَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَأَخْشَى عَذَابَكَ يَا قَدِيْمَ اْلإِحْسَانِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ ذِكْرِيْ وَتَضَعَ وِزْرِيْ وَ تُصْلِحَ أَمْرِيْ وَتُطَهِّرَ قَلْبِيْ وَتُنَوِّرَ لِيْ فِى قَبْرِيْ وَتَغْفِرَ لِيْ ذَنْبِيْ وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى ىفِ الْجَنَّةِ.

Ya Allah Tuhanku yang memelihara Ka’bah ini, merdekakanlah diri kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, yang mempunyai keutamaan, kelebihan, anugerah dan kebaikan.

Ya Allah Tuhanku sesungguhnya aku ini hambaMu, anak dari hambaMu tegak berdiri di bawah pintu Ka’bahMu, menundukan diri di hadapanMu, sambil mengharapkan rahmatMu, kasih sayangMu, aku takut akan siksaMu, wahai Tuhan Yang Maha Tahu yang punya segala kebaikan.

Ya Allah, Tuhanku, aku mohon padaMu, agar engkau tinggikan namaku, hapuskan dosaku, perbaiki segala urusanku, bersihkan hatiku, berilah cahaya kelak dalam kuburku. Berilah ampun dosaku dan aku mohon padaMu martabat yang tinggi di dalam syurga. Amiin.

5. Doa Tawaf Putaran Ketujuh

Doa pada tawaf putaran ketujuh sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran VII)

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً مِنْ كُلِّ ذَنْبً فَاغْفِرْ لِيْ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

Ya Allah, aku bermohon kepadaMu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, rizki yang halal lagi luas, hati yang khusyuk, lidah yang selalu berdzikir dan taubat daripada segala dosa, maka berilah aku ampun, tidak ada yang dapat memberi ampun selain Engkau.

6. Doa Tawaf Putaran Kelima dan Keenam

Doa pada tawaf putaran kelima sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran V)

َاَللّٰهُمَّ إِنَّ بَيْتَكَ عَظِيْمٌ وَوَجْهَكَ كَرِيْمٌ وَأَنْتَ يَا اَللهُ حَلِيْمٌ كَرِيْمٌ عَظِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْو فَاعْفُ عَنِّيْ.

Ya Allah, sesungguhnya rumahMu (Baitullah) ini Agung, wajahMu pun Agung, Maha Pemurah dan Engkau Maha Bijak yang sangat suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.

7. Doa Tawaf Putaran Ketiga dan Keempat

Doa pada tawaf putaran ketiga sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran III)

اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيْمَهَا وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ.

Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW, dan aku berlindung padaMu dari kejahatan dan minta perlindunganMu daripada yang diminta Nabi Muhammad SAW.

Ya Allah, aku mohon padaMu surga serta nikmatNya dan apapun yang dapat mendekatkan aku padaNya dari perkataan atau perbuatan ataupun amal.

Dan aku berlindung padaMu dari neraka serta apapun yang mendekatkan aku kepadaNya, baik ucapan, perbuatan ataupun amal.

8. Doa Tawaf Putaran Kedua

Doa pada tawaf putaran kedua sama dengan doa tawaf putaran pertama kecuali pada doa dari rukun syami sampai rukun yamani:

Dari Rukun Syami sampai Rukun Yamani (putaran II)

اَللّٰهُمَّ إِنَّ هٰذَا اْلبَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمْنُكَ وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدُكَ وَهٰذَا مَقَامُ الْعَائِذِبِكَ مِنْ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَنَا وَبَشَرَتَنَا عَلَى النَّارِ. اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِى الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ.

Ya Allah, sesungguhnya Baitullah ini rumahMu, Mesjid Al Haram ini MesjidMu, Negeri aman ini NegeriMu, Hamba ini hambaMu dan tempat ini adalah tempat orang berlindung padaMu dari neraka, maka peliharalah daging dan kulit kami dari neraka.

Ya Allah, cintakanlah kami pada iman dan hiaskanlah hati kami dengan iman, bencikanlah kami pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat, dan durhaka, serta masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah, peliharalah aku dari azabMu di hari kelak Engkau membangkitkan hamba-hambaMu.

Ya Allah, anugerahilah aku surga tanpa dihisab. (*)

Lempar Jumrah Saat Haji: Tatacara dan Doanya

Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah; bahasa Arab: jamarah, jamak: jamaraat) yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan

Jumrah, di kota Mina yang terletak dekat Mekkah.
Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Kegiatan ini adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar (mencapai lebih dari sejuta jemaah).

Melempar jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah di lakukan di kompleks jembatan Jumrah di kota Mina. Melempar jumrah dilakukan dengan batu-batu kecil yang dikumpulkan di hamparan Muzdalifah.
Ketiga jumrah tersebut ada nilai sejarahnya pada masa Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, ketika diperintahkan oleh Allah Swt untuk berqurban, yaitu dengan menyembelih Nabi Ismail yang nantinya oleh Allah digantikan menjadi kambing, selalu dihalang-halangi oleh setan. Ketiga jumrah itulah sebagai tugu peringatan Nabi Ibrahim dan anaknya melempari setan dengan batu, mulai dari Jumratul Ula, Wustha, dan ‘Aqabah.

Imam Ghazali dalam Ihya mengatakan, saat melempar jumrah dianjurkan membaca doa berikut ini

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ رَجْمًا لِلشَّيَاطِينِ وَرِضًا لِلَّرْحْمَنِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْياً مَشْكُورًا

Bismillaahi wallahu akbar, rajman lisysyayaathiini wa ridhan lirrahmaani allhummaj’al hajjan mabruuran wa sa’yan masykuuran.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Laknat bagi setan dan keridhaan bagi Allah yang Maha Kasih. Ya Allah, jadikanlah hajiku ini diterima dan sa’iku ini disyukuri.

Doa ini dibaca setiap melempar jumrah, baik jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah.

Setelah melempar serangkaian jumrah, (Jumratul Ula, Wustha dan Aqabah), Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, dianjurkan bagi orang tersebut untuk memanjatkan doa berikut ini

الْحَمْدُ لَِّلهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتَ وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ َوإِلَيْكَ رَغِبْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتَ فَاقْبِلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحِمْ تَضَرُّعِي وَاقْبَلْ تَوْبَتِي وَأَِقلَّ عَثَرَتِي وَاسْتَجِبْ تَوْبَتِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِى. اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا

Alhamdu lillaahi hamdan kastiiran thayyiban mubaarakan fiih. Allahumma laa uhshii tsanaa’an ‘alaika arta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika. Allahumma ilaika afadhtu wa min ‘adzaabika asyfaqtu wa aqilla ‘atsaratii wastajib da’watii wa a’thinii su’lii. Allahummaj’alhu hajjan mabruuran wa sa’yan masykuuran

Artinya; Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkah di dalamnya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu mencakup segala macam pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah, dari siksa-Mu aku memohon belas kasihan, dan kepada-Mu aku berharap dan aku takut, terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, kasihanilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecillah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah, kabulkanlah, terimalah persembahan kami ini dan janganlah kami dijadikan orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hamba-Mu yang saleh. wahai Tuhan Yang Paling Pengasih. Ya Allah, Tuhanku, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur dan sa’iku ini sebagai sa’i yang diterima.

Tatacara Melempar Jumrah

  • Adapun cara melontar adalah sebanyak tujuh batu pada hari Id, yaitu Jumrah Aqabah saja.
  • Sedangkan pada hari-hari tasyriq maka sebanyak 21 batu setiap hari, masing-masing tujuh lontaran untuk Jumrah Ula, tujuh lontaran untuk Jumrah Wustha, dan tujuh lontaran untuk Jumrah ‘Aqabah.Bagi para jamaah yang ingin melontar jumrah diperbolehkan pula mengambil jumlah batu yang terdapat di sekitaran tempat melontar jumrah.

Bagi para jamaah yang ingin melontar jumrah diperbolehkan pula mengambil jumlah batu yang terdapat di sekitaran tempat melontar jumrah.

  • Adapun batu-batu yang terdapat dalam bak tempat melontar, tidak boleh digunakan untuk melontar.Selanjutnya adalah waktu, cara, dan jumlah lontaran yang harus diketahui.
  • Bagi para jamaah yang ingin melontar jumrah diperbolehkan pula mengambil jumlah batu yang terdapat di sekitaran tempat melontar jumrah.
  • Adapun batu-batu yang terdapat dalam bak tempat melontar, tidak boleh digunakan untuk melontar

Waktu, cara, dan jumlah lontaran yang harus diketahui.

  • Melontar pertama kali adalah lontar Jumrah ‘Aqabah pada hari Ied.
  • Tetapi jika seseorang melakukannya pada tengah malam bagian kedua dari malam Ied, maka demikian itu cukup baginya.
  • Sedangkan yang utama adalah melontar Jumrah ‘Aqabah antara waktu dhuha sampai terbenam matahari pada hari Ied.

  • Tapi jika terlewatkan dari waktu itu, maka dapat melontar setelah terbenamnya matahari pada hari Ied.
  • Caranya adalah dengan tujuh kali melontar dengan membaca takbir setiap kali melontar
  • Melontar pada hari-hari tasyriq adalah dilakukan setelah matahari condong ke barat (setelah dzuhur). Yaitu memulai dengan melontar Jumrah Ula yang dekat dengan masjid Al-Khaif sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap melontar.
  • Lalu Jumrah Wustha dengan tujuh kali melontar disertai takbir setiap kali melontar.
  • Kemudian melontar di Jumrah ‘Aqabah sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap kali melontar.
  • Dan demikian itu dilakukan pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah bagi orang yang tidak mempercepat pulang dari Mina.
  • Tapi bagi orang yang ingin mempercepat pulang dari Mina, maka hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.
  • Dan disunnahkan setelah melontar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar.
  • Tapi jika terlewatkan dari waktu itu, maka dapat melontar setelah terbenamnya matahari pada hari Ied.
  • Caranya adalah dengan tujuh kali melontar dengan membaca takbir setiap kali melontar
  • Melontar pada hari-hari tasyriq adalah dilakukan setelah matahari condong ke barat (setelah dzuhur).
  • Yaitu memulai dengan melontar Jumrah Ula yang dekat dengan masjid Al-Khaif sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap melontar.

  • Lalu Jumrah Wustha dengan tujuh kali melontar disertai takbir setiap kali melontar.

  • Kemudian melontar di Jumrah ‘Aqabah sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap kali melontar.

  • Dan demikian itu dilakukan pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah bagi orang yang tidak mempercepat pulang dari Mina.

  • Tapi bagi orang yang ingin mempercepat pulang dari Mina, maka hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.

  • Dan disunnahkan setelah melontar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar.

  • Di mana setelah melontar Jumrah Ula disunahkan berdiri di arah kanan tempat melontar dengan menghadap kiblat seraya berdo’a panjang kepada Allah.

  • Sedang sehabis melontar Jumrah Wustha disunnahkan berdiri disamping kiri tempat melontar dengan menghadap kiblat seraya berdo’a panjang kepada Allah.

  • Tapi sehabis melontar Jumrah ‘Aqabah tidak disunnahkan berdiri di sampingnya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah melontar Jumrah Aqabah tidak berdiri disampingnya.

Doa hendak pergi haji kepada yang hendak ditinggalkan.

Doa yang bisa dipanjatkan untuk orang yang hendak pergi haji kepada yang hendak ditinggalkan.

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

“Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu”

(Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).

Dalilnya adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” (HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Doa orang yang ditinggalkan pada orang yang hendak pergi haji

Doa orang yang ditinggalkan pada orang yang hendak pergi haji

  • أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

  • “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik”

  • (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah).

Dalilnya adalah:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا ادْنُ مِنِّى أُوَدِّعْكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوَدِّعُنَا.فَيَقُولُ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ »

Sesungguhnya Ibnu ‘Umar pernah mengatakan pada seseorang yang hendak bersafar, “Mendekatlah padaku, aku akan menitipkan engkau sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kami, lalu beliau berkata: “Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”.(HR. Tirmidzi no. 3443 dan Ahmad 2: 7. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Do’a pada orang yang pergi berhaji:

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta”

(Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).

Dalilnya adalah:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِى. قَالَ « زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ». قَالَ زِدْنِى. قَالَ « وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ». قَالَ زِدْنِى بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى. قَالَ « وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ »

Dari Anas, ia berkata, “Seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, aku ingin bersafar, bekalilah aku.” Beliau bersabda, “Zawwadakallahut taqwa (moga Allah membekalimu dengan ketakwaan).” “Tambahkan lagi padaku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa ghofaro dzanbaka (moga Allah ampuni dosamu).” “Tambahkan lagi padaku, demi ayah dan ibuku”, mintanya. Beliau bersabda, “Wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (moga Allah memudahkanmu di mana saja engkau berada).” (HR. Tirmidzi no. 3444. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Keutamaan Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah

Keutamaan Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah
BAB KEUTAMAAN HAJI DAN YANG BERKEWAJIBAN HAJI

بَابُ فَضْلِهِ وَبَيَانِ مَنْ فُرِضَ عَلَيْهِ

Hadits No. 276

  • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabruru kecuali surga.” Muttafaq Alaihi.
  • َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Hadits No. 727

  • Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad? Beliau menjawab: Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah.” Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan lafadz menurut riwayatnya. Sanadnya shahih dan asalnya dari shahih Bukhari-Muslim.
  • َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! عَلَى اَلنِّسَاءِ جِهَادٌ ? قَالَ: نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: اَلْحَجُّ, وَالْعُمْرَةُ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ. وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحِ

Hasita 728

  • Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, beritahukanlah aku tentang umrah, apakah ia wajib? Beliau bersabda: “Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu.” Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf. Ibnu Adiy mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah, dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu berupa hadits marfu’: Haji dan umrah adalah wajib.
  • َوَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَعْرَابِيٌّ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَخْبِرْنِي عَنْ اَلْعُمْرَةِ, أَوَاجِبَةٌ هِيَ? فَقَالَ: لَا وَأَنْ تَعْتَمِرَ خَيْرٌ لَكَ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: ( اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ فَرِيضَتَانِ )

Hadits No. 729

  • Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: “Bekal dan kendaraan.” Riwayat Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim. Hadits mursal menuru pendapat yang kuat.
  • َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ? قَالَ: اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ

Hadits No. 730

  • Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan.
  • َوَأَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْضًا, وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ

Hadits No. 731

  • Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha’, lalu beliau bertanya: “Siapa rombongan ini?” Mereka berkata: Siapa engkau? Beliau menjawab: “Rasulullah.” Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya: Apakah yang ini boleh berhaji? Beliau bersabda: Ya boleh, dan untukmu pahala.” Riwayat Muslim.
  • َوَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ: مَنِ اَلْقَوْمُ? قَالُوا: اَلْمُسْلِمُونَ. فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ? قَالَ: رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ اِمْرَأَةٌ صَبِيًّا. فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ? قَالَ: ” نَعَمْ: وَلَكِ أَجْرٌ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadits No. 732

  • Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah al-Fadl Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu duduk di belakang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu seorang perempuan dari Kats’am datang. Kemudian mereka saling pandang. Lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memalingkan muka al-Fadl ini ke arah lain. Perempuan itu kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: “Ya Boleh.” Ini terjadi pada waktu haji wada’. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
  • َوَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ اَلْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَتِ اِمْرَأَةٌ مَنْ خَثْعَمَ، فَجَعَلَ اَلْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَجَعَلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصْرِفُ وَجْهَ اَلْفَضْلِ إِلَى اَلشِّقِّ اَلْآخَرِ. فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا, لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ, أَفَأَحُجُّ عَنْهُ? قَالَ: نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ اَلْوَدَاعِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Hadits No. 733

  • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, dia belum berhaji lalu meninggal, apakah aku harus berhaji untuknya? Beliau bersabda: “Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu menanggung hutang, tidakkah engkau yang membayarnya? Bayarlah pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati.” Riwayat Bukhari.
  • َوَعَنْهُ: ( أَنَّ اِمْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ, فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ, أَفَأَحُجُّ عَنْهَا? قَالَ: نَعَمْ , حُجِّي عَنْهَا, أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ, أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ? اِقْضُوا اَللَّهَ, فَاَللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Hadits No. 734

  • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak yang haji kemudian setelah baligh, ia wajib haji lagi; dan setiap budak yang haji kemudian ia dimerdekakan, ia wajib haji lagi.” Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Baihaqi. Para perawinya dapat dipercaya, namun kemarfu’an hadits ini diperselisihkan. Menurut pendapat yang terjaga hadits ini mauquf.
  • َوَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ, ثُمَّ بَلَغَ اَلْحِنْثَ, فَعَلَيْهِ ]أَنْ يَحُجَّ[ حَجَّةً أُخْرَى, وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ, ثُمَّ أُعْتِقَ, فَعَلَيْهِ ] أَنْ يَحُجَّ [حَجَّةً أُخْرَى )  رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ, وَالْبَيْهَقِيُّ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ, إِلَّا أَنَّهُ اِخْتُلِفَ فِي رَفْعِهِ, وَالْمَحْفُوظُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ

Hadits No. 735

  • Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika khutbah bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.” Berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda: “Berangkatlah dan berhajilah bersama istrimu.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.
  • َوَعَنْهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ: ( ” لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ, وَلَا تُسَافِرُ اَلْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ ” فَقَامَ رَجُلٌ, فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ اِمْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً, وَإِنِّي اِكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا, قَالَ: اِنْطَلِقْ, فَحُجَّ مَعَ اِمْرَأَتِكَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Hadits No. 736

  • Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berkata: Labbaik ‘an Syubrumah (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah. Beliau bertanya: “Siapa Syubrumah itu?” Ia menjawab: Saudaraku atau kerabatku. Lalu beliau bersabda: “Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu?” Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. Pendapat yang kuat menurut Ahmad ia mauquf.
  • َوَعَنْهُ: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ, قَالَ:  مَنْ شُبْرُمَةُ?  قَالَ: أَخٌ ] لِي[ , أَوْ قَرِيبٌ لِي, قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ? قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ, ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالرَّاجِحُ عِنْدَ أَحْمَدَ وَقْفُهُ

Hadits No. 737

  • Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah di hadapan kami seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atasmu.” Maka berdirilah al-Aqra’ Ibnu Habis dan bertanya: Apakah dalam setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Jika aku mengatakannya, ia menjadi wajib. Haji itu sekali dan selebihnya adalah sunat.” Riwayat Imam Lima selain Tirmidzi.
  • َوَعَنْهُ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: ( إِنَّ اَللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اَلْحَجَّ فَقَامَ اَلْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كَلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اَللَّهِ? قَالَ: لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ, اَلْحَجُّ مَرَّةٌ, فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, غَيْرَ اَلتِّرْمِذِيِّ

Hadits No. 738

  • Asalnya dari riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah.
  • َوَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه

Sumber:

  • Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah

IBADAH HAJI: Doa Pilihan Saat Lempar Jumrah


IBADAH HAJI: Doa Lempar Jumrah

Jumrah merupakan bahasa Arab dari tiang. Dalam prosesi ini, jamaah haji akan melempar kerikil sebanyak 7 kali ke arah tiang batu yang disiapkan di kota Mina. Sebelumnya, batu-batuan ini telah lebih dulu dikumpulkan oleh jamaah haji dari tanah di hamparan Musdalifah. Proses pelemparan batu kerikil ini diiringi dengan doa-doa haji. Belum lagi, saat kegiatan ini dilakukan, Anda pasti sedang berdesakan dengan jutaan orang lainnya, sehingga akan lebih baik bila jauh-jauh hari sudah dihafalkan.

DOA SETELAH MELONTAR TIGA JUMRAH  

  • Alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi. Allaahumma laa uhshii tsanaa-an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika. Allaahumma ilaika afadhtu wamin ‘adzaabika asyfaqtu wa ilaika raghibtu waminka rahibtu faqbal nusukii wa a’zhim ajrii warham tadharru’ii waqbal taubatii wa aqilla ‘atsratii wastajib da’watii wa a’thinii su’lii. Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa walaa taj;alnaa minal mujrimiina, wa adkhilnaa fii ‘ibaadikash shaalihiina yaa arhamar raahimiin.
  • Artinya: “Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalamnya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu mencakup (segala macam) pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu.
  • Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan kepada-Mulah aku berharap dan aku takut, maka terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, kasihanilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecillah kekeliruanku, perkenankan permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabulkanlah, terimalah persembahan kami ini dan janganlah kami dijadikan orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hamba-Mu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih.

IBADAH HAJI: Doa Pilihan Saat Wukuf di Arafah

IBADAH HAJI: DOA SAAT WUKUF DI ARAFAH

  • اَللَّهُمَّ اِنِّي عَبْدُكَ فَلاَ تَجْعَلْنِي مِنْ اَخْيَبِ وَفْدِكَ، وَارْحَمْ مَسِيْرِي اِلَيْكَ مِنَ الْفَجِّ الْعَمِيْقِ. اَللَّهُمَّ رَبَّ الْمَشَاعِرِ كُلِّهَا فُكَّ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَاَوْسِعْ عَلَيَّ مِنْ رِزْقِكَ الْحَلاَلِ، وَادْرَأْ عَنِّي شَرَّ فَسَقَةِ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ. اَللَّهُمَّ لاَ تَمْكُرْبِي وَلاَتَخْدَعْنِي وَلاَ تَسْتَدْرِجْنِي. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ بِحَوْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ وَمِنْكَ وَفَضْلِكَ يَا اَسْمَعَ السَّامِعِيْنَ يَا اَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ يَا اَسْرَعَ الْحَاسِبِيْنَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَاَنْ تَرْزُقَنِي خَيْرَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
  • Artinya:  “Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, jangan jadikan aku tamu-Mu yang paling sia-sia, sayangi perjalananku menuju-Mu dari tempat yang jauh. Ya Allah, Tuhannya seluruh Masy‘ar (tempat ibadah haji), selamatkan daku dari api neraka, luaskan bagiku rizki-Mu yang halal, lindungi aku dari keburukan jin dan manusia yang fasik. Ya Allah, jangan makari daku, jangan tipudaya aku, jangan murkai aku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kekuatan-Mu, kedermawanan dan kemuliaan-Mu, karunia dan anugerah-Mu. Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar. Wahai Yang Maha Melihat dari semua yang melihat. Wahai Yang Paling cepat hisab-Nya. Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluargaMuhammad. Anugerahkan padaku kebaikan di dunia dan akhirat.”
  • اَللَّهُمَّ حَاجَتِي اِلَيْكَ الَّتِي اِنْ اَعْطَيْتَنِيْهَا لَمْ يَضُرَّنِي مَامَنَعْتَ، وَاِنْ مَنَعْتَنِيْهَا لَمْ يَنْفَعْنِي مَااَعْطَيْتَ، اَسْأَلُكَ خَلاَصَرَقَبَتِي مِنَ النَّارِ. اَللَّهُمَّ اِنِّي عَبْدُكَ وَمِلْكُ يَدِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، وَاَجَلِي بِعِلْمِكَ؛ أَسْأَلُكَ اَنْ تُوَفِّقَنِي لِمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي،وَاَنْ تُسَلِّمَ مِنِّي مَنَاسِكِي الَّتِي اَرَيْتَهَا خَلِيْلَكَ إِبْرَاهِيْمَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ، وَدَلَلْتَ عَلَيْهَا نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِوَآلِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ رَضِيْتَ عَمَلَهُ، وَاَطَلْتَ عُمْرَهُ، وَاَحْيَيْتَهُ بَعْدَ الْمَوْتِ حَيَاةً طَيِّبَةً
  • Artinya: “Ya Allah, hajatku kepada-Mu adalah hajat yang bila engkau berikan kepadaku tidak membahayakanku apa yang Kau tahan, dan bila Engkau menahannya dariku tidak bermanfaat bagiku apa yang Kau berikan. Aku memohon kepadamu keselamtan diriku dari api neraka. Ya Allah aku adalah hamba-Mu dan milik-Mu, ubun-ubunku ada ditangan-Mu, dan ajalku dalam pengetahuan-Mu. Aku memohon kepada-Mu, bimbinglah aku pada apa yang kau ridahai, tuntunlah aku pada manasik yang Kau perlihatkan kepada kekasih-Mu Ibrahim a.s dan Kau tunjukan pada Nabi-Mu Muhammad s.a.w. Ya Allah, jadikan aku orang yang amalanya Engkau Ridhai, yang umurnya Engkau panjangkan, dan Engkau hidupkan setelah kematian dengan kehidupan yang baik.
  • لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَالَّذِي تَقُوْلُ وَخَيْرًا مِمَّانَقُوْلُ وَفَوْقَ مَايَقُوْلُ الْقَائِلُوْنَ. اَللَّهُمَّ لَكَ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَلَكَ تُرَاثِي وَبِكَ حَوْلِي وَقُوَّتِي. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَمِنْ وَسَاوِسِ الصُّدُوْرِ وَمِنْ شَتَاتِ اْلأَمْرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ خَيْرَ الرِّيَاحِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَاتَجِيءُ بِهِ الرِّيَاحُ، فَاَسْأَلُكَ خَيْرَ اللَّيْلِ وَخَيْرَ النَّهَارِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلِْبي نُوْرًا، وَفِي سَمْعِي نُوْرًا، وَفِي بَصَرِي نُوْرًا، وَفِي لَحْمِي وَدَمِي وَعِظَامِي وَعُرُوْقِي وَمَقْعَدِي وَمَقَامِي وَمَدْخَلِي وَمَخْرَجِي نُوْرًا، وَاَعْظِمْ لِي نُوْرًا يَارَبِّ يَوْمَ اَلْقَاكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
  • Artinya:“Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Bagi-Nya semua kekuasaan dan bagi-Nya segala puji. Dia yang menghidupkan dan Dia yang mematikan. Dialah yang hidup dan tidak mati. Ditangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, bagi-Mu segala puji seperti yang kau firmankan, kebaikan yang kami ucapkan, dan diatas apa yang orang-orang ucapkan. Ya Allah, bagi-Mu shalatku dan ibadahku, hdupku dan matiku; bagi-Mu peninggalanku, dengan-Mu dayaku dan dari-Mu kekuatanku. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kefakiran, keraguan hati, bencana dari segala persoalan, dan dari siksa kubur. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kefakiran, keraguan hati, bencana dari segala persoalan, dan dari siksa kubur. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam dan kebaikan siang. Ya Allah, jadikan dalam hatiku cahaya, dalam pendengaranku cahaya, dalam pandanganku cahaya, pada daging dan darahku cahaya, tulang dan urat-uratku cahaya, tempat duduk dan berdiriku cahaya, tempat masuk dan keluarku cahaya. Ya Allah, besarkan semua cahaya itu bagiku pada hari aku menjumpai-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
  • -أَللهُمَّ اغْفِرْلِى مَاقَدَّمْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَماَأَسْرَفْتُ وَمَاأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ أَنْتَ الْمُقَدَّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَ خِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ
  • Artinya :“ Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lewat maupun yang akan datang, yang tampak maupun yang tersembunyi, dan apa-apa yang berlebihan dan yang Engkau mengetahuinya, Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau “. (HR. Muslim).
  • -أَللهُمَّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّاَنْتَ فَغْفِرْلِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْ رُالرَّحِيْمُ
  • Artinya :“Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku sendiri, dan tidak seorang pun yang dapat mengampuninya selain Engkau, maka ampunilah dosa-dosaku dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (HR. Bukhari & Muslim).
  • – أَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَاِلهَ اِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
  • Artinya :“Ya Allah sesusungguhnya aku mohon kepada-Mu, bahwa aku bersaksi sesungguhnya Engkau, Engkau adalah Allah tiada Tuhan kecuali Engkau satu, tempat bergantung segala sesuatu zat yang tidak beranak dan tidak pula diperanakan dan tidak ada bagi-Nya yang menyamai seseorang pun”. (HR. Tirmidzi).
  • – رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
  • Artinya :“Ya Tuhan kami, kami telah menganiya diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS.7:23).
  • – رَبِّيْ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلاً مُبَارَكًا وَاَنْتَ خَيْرُالْمُنْزِلِيْنَ
  • Artinya :“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baiknya  yang memberi tempat”. (QS.23:29)
  • – أَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ حَبُّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِيْ حُبَّكَ أَللهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ اَحَبَّ اِلَيَّ مِنْ نَفْسِى وَاَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
  • Artinya :“Ya Allah sesungguhnya aku mohon untuk senang pada-Mu dan senang kepada orang yang senang pada-Mu, dan senang amalnya orang-orang yang telah menyampaikan padaku untuk senang kepada-Mu. Ya Allah jadikanlah senang padamu sebagaimana senang pada saya dari diriku dan keluargaku dan dari air yang dingin” (HR. Tirmidzi).
  • – لاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّا لِمِيْنَ
  • Artinya :“Tiada Tuhan kecuali Allah Maha suci Engkau, sesungguhnya aku tergolong orang yang dzolim”. (HR. Tirmidzi).
  • – رَبِّ ا شْرَحْلِيْ صَدْرِى وَيَسِّرلِيْ اَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانىِ يَفْقَهُوْا قَوْلِى
  • Artinya :“Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” .(QS. 20: 25-28).
  • – اَللهُمَّ اِنْ كُنْتُ اَمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُوْلِكَ وَاَحْصَنْتُ فَرْجِى اِلاَّ عَلى زَوْجِى فَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيَّ الْكاَ فِرُ
  • Artinya :“Ya Allah jika aku telah beriman pada-Mu dan pada utusan-Mu, dan aku telah menjaga farjiku kecuali untuk suamiku, maka Engkau mengalahkan orang kafir padaku” (HR. Bukhori).
  • – رَبِّ ابْلِى عِنْدَكَ بَيْتًا فِىالْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظَّا لِمِيْنَ
  • Artinya :“ Ya Tuhanku buatkanlah rumah disisi-Mu didalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun  dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim”. (QS. 67:11).
  • – أَللهُمَّ اِنَّانَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّمَااسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَعَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَلاَحَوْلَ  وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ
  • Artinya : “Ya Allah kami mohon kepada-Mu kebaikan sebagaimana permohonan nabi-MU, Muhammad saw. Dan kami berlindung kepada-Mu dkejelekan sebagaimana berlindungnya nabi-Mu, Muhammad saw, dan hanya kepada Engkau tempat pertolongan, dan kepada-Mu temapt sampainya do’a, tiada daya upaya dan tidak kekuatan melainkan Allah”. (HR. Tirmidzi).
  • – أَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ الْفِردَوْسَ وَمَا قَرَّبَ اِلَيْنَامِنْ قَوْلٍ اَوْعَمَلٍ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَماقَرَّبَ اِلَيْهَا مِنْ قَولٍ اَوْ عَمَلٍ, أَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّةَ وَاَعُذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ, أَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ تَمَامَ النِّعْمَةِ
  • Artinya :“ Ya Allah, aku mohon padamu surga firdaus, dan ucapan, perbuatan yang dapat mendekatkan ke surga, dan aku berlindung pada-Mu dari siksa neraka dari perkataan atau perbuatan yang bisa mendekatkan ke neraka. Ya Allah aku mohon pada-Mu ridlo dan surga-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan siksa neraka. Ya Allah, aku mohon pada-Mu nikmat yang sempurna” .(HR. Tirmidzi).

Tata Cara Ibadah haji lengkap sesuai tuntunan Rasulullah 

Tata Cara Ibadah haji lengkap sesuai tuntunan Rasulullah 

Ihram. 

  • Ibadah Haji dimulai tanggal 8 Dzulhijjah (hari Tarwiah) yaitu diawali dengan memakai pakaian Ihram, dan mengucapkan ihlal (niat) haji: LABBAIKA HAJJAN Atau LABBAIKA ALLAHUMMA HAJJAN “Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah Haji.” (HR. Muslim)
  • Diteruskan dengan talbiyah: LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WALMULK. LAA SYARIKA LAK. “Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu: aku penuhi panggilan-Mu Tiada sekutu bagi-Mu, aku pnuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan ni’mat adalah kepunyaan-Mu; demikian pula segala kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.” (HR. Bukhari)

Mabit di Mina 

  • Setelah matahari terbit (masih tgl. 8 Dzulhijjah), berangkat ke Mina. Dan pada malamnya mabit (bermalam/menginap) disana sampai subuh. Di Mina kita melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh (di qasah tanpa di jamak).


Wukuf di Arafah 

  • Hari berikutnya yaitu tanggal 9 Dzulhijjah dan setelah terbit matahari, tinggalkan Mina menuju ke Arafah. Sebelum masuk areal wukuf di Arafah, mampir dulu di Namirah, menunggu Zawal tergelincir matahari (jika memungkinkan). Ba’da zawal, masuk ke Arafah menuju tenda yang telah ditentukan. Didalam tenda, mendengarkan khutbah Arafah kemudian dilanjutkan dengan shalat Dzuhur dan Ashar Jama’ takdim dan di qasar. 
  • Wukuf. Duduklah menghadap qiblat dan berdo’a dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, berdo’a sekehendak hati, bisa diselingi istighfar, dzikir, tilawah Al-Qu’an, makan-minum, dan mendengarkan nasehat-nasehat. Waktu wukuf adalah sesudah shalat Dzuhur sampai dengan terbenam matahari. Diantara do’a thawaf:
  • LA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR. “Tidak ada Ilah selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” (HR. At Tirmidzi)

Mabit di Muzdalifah. 

  • Begitu matahari terbenam, tinggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Sesampainya di Muzdalifah, shalat Maghrib dan Isya jama’ ta’khir dan di qasar. Kemudian tidur sampai Subuh (mabit).
  • Kumpulkan batu-batu kecil (sebesar kacang tanah) sebanyak 7 biji untuk melontar jumrah aqobah. Yang sakit dan lemah dapat meneruskan perjalanan ke Mina malam itu juga.
  • Selesai shalat Subuh berjama’ah, berdo’a di Masy’aril Haram. Seluruh Muzdalifah adalah Masy’aril Haram.

Melontar Jumrah Aqobah tgl. 10 Dzukhijjah

  • Dari Masy’aril Haram berangkat ke Mina. Istirahat sejenak di tenda Mina, lalu ketempat jamarat, untuk melontar. Bisa juga melakukan Thawaf Ifadah dulu ini tergantung situasi dan kondisi, mana yang lebih memungkinkan.
  • Cara melontar:
  1. Waktu: setelah matahari terbit (dhuha) atau dikala matahari agak sedikit tinggi.
  2. Cara:
  • Upayakan mendekati jumrah. Tapi ingat jangan sampai menyakiti sesama.
  • Ambil posisi dimana qiblat berada disebelah kiri. Sampai disini talbiyah dihentikan.
  • Lontar jumrah dengan 7 kerikil dan setiap lontaran diiringi takbir (Allahu Akbar)

Tahallul Awwal (ASGHAR)

  • Tahallul (potong rambut) boleh pilih:
  • Taqsir: memotong rambut sampai pendek, bagi wanita menggunting beberapa helai rambut.
  • Tahliq: mencukur rambut sampai gundul, dimulai dari kanan ke kiri (hanya bagi laki-laki). Bagi wanita cukup memotong beberapa helai saja.
  • Yang terbaik untuk laki-laki tahallul haji adalah tahliq. Setelah itu sudah boleh mengganti pakaian ihramnya dengan pakaian biasa dan semua larangan ihram halal kembali, kecuali jima’.

Hadyu (qurban)

  • Masih pada tanggal 10 Dzulhijjah, setelah berganti pakaian, menyembelih Hadyu, atau menyerahkan penyembelihan itu kepada yang amanah.
  • Bila tak sempat menyembelih, boleh dilaksanakan esoknya  yaitu tanggal 11 Dzulhijjah atau sampai dengan 13 Dzulhijjah. (hari-hari Tasyrik)

Thawaf Ifadah

  • Masih di hari yang sama (10 Dzulhijjah) utamanya berangkat ke Mekkah untuk Thawaf Ifadah dan dilanjutkan dengan Sa’i. Thawaf Ifadah bisa dilakukan pada hari-hari Tasyrik bila berhalangan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Bagi yang udzur, boleh dilaksanakan setelah udzurnya lepas, walau hari-hari Tasyrik telah berlalu.

Tahallul Tsani (akhir/Kubra)

  • Setelah Thawaf Ifadhah, maka hubungan suami istri enjadi halal kembali. Seusai Thawaf dan Sa’i tersebut, harus kembali lagi ke Mina, sebelum Maghrib. Tidak boleh menginap di Mekkah. Seandainya ada udzur/berhalangan, kemalaman kembali ke Mina tidak mengapa.
  • Melontar Tiga Jamarat pada tgl. 11, 12 dan 13 Dzulhijjah
  • Tiga jamarat yang dimaksud adalah Jumratul Ula, Jumratul Wustha, Jumratul Aqabah. Melontar jumrah dimulai setelah Dzuhur. Bagi yang udzur bisa sampai tengah malam.

Cara melakukan lontar jamarat sebagai berikut:

  • Ambil posisi dan melontar seperti yang kita lakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah, selesai melontar Jumrah Ula, kita bergeser kesebelah kiri, menghadap qiblat lalu berdo’a menurut kebutuhan masing-masing dengan mengangkat kedua tangan.
  • Hal yang sama kita lakukan setelah melontar Jumrah Wustha dan setelah melontar Jumrah Aqabah, seperti pada tanggal 10 Dzulhijjah. Tanpa berdiri lama untuk berdo’a sebagai mana pada dua jamarat terdahulu.
  • Nafar Awwal dan Nafar Tsani
  • Setelah selesai melempar jumrah pada tanggal 12 Dzulhijjah, kita sudah menyelesaikan hajinya dan bisa meninggalkan Mina dan pulang ke Mekkah dengan syarat sudah keluar dari Mina sebelum matahari terbenam. dan ini disebut Nafar Awwal. Namun jika matahari sudah terbenam dan masih berada di Mina maka tidak boleh meninggalkan Mina dan harus bermalam lagi di Mina untuk melontar jamarat pada hari berikutnya.
  • Yang ingin melakukan Nafar Tsani, maka ia harus mabit atau bermalam satu malam lagi di Mina dan melontar jamarat pada tanggal 13 Dzulhijjah ba’da Dzuhur, baru boleh ke Mekkah.

Thawaf Wada’

  • Thawaf Wada’ adalah ibadah terakhir dari rankaian ibadah haji. Persis seperi Thawaf Ifadah, tetapi tanpa Sa’i. Bagi wanita haidh tidak perlu Thawaf Wada’ dan hajinya tetap sah.


Ibadah Haji : Doa Tawaf Putaran 1 – 7


Doa Tawaf putaran satu sampai tujuh

Ada beberapa jenis Tawaf (Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran) yang biasanya dilakukan di Masjidil Haram antara lain;

  • Tawaf Haji, Tawaf Haji adalah tawaf yang dilakukan pada saat mengerjakan haji yang musimnya hanya sekali setiap tahun.
  • Tawaf Umroh, Tawaf Umroh adalah tawaf yang dilakukan pada saat  Melaksanakan umroh yang watunya tidak terbatas dalam setiap tahun.
  • Dan Tawaf Sunnah, Tawaf sunnah adalah tawaf yang dilakukan setiap kali memasuki Masjidil Haram (selain tawaf Haji dan Tawaf Umroh) sebagai pengganti Shalat Tahiyyatul Masjid.
  • Doa Tawaf Pada setiap awal putaran (pertama s/d ketujuh) berdiri menghadap Hajar Aswad dengan seluruh badan atau miring (sebagian badan) atau mengusap muka saja sambil mengangkat tangan dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”. Serta mengecupnya lalu mulailah bergerak dengan posisi Ka’bah berada disebelah kiri.

Do’a putaran ke 1 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani

  • ِسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُللهِ وَلآ إِلٰهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللّٰهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَآءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَوَالْعَافِيَةَ واْلمُعَافَاةَ الدَّآئِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا اْلٰاخِرَةِ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ
  • Artinya : “ Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, Tiada daya (untuk memperoleh manfaat ) dan tiada kemampuan ( untuk menolak bahaya ) kecuali bersumber dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Shalawat dan salam bagi Rasulullah SAW. Ya Allah, aku Tawaf ini karena beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, dan memenuhi janji-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kapada-Mu ampunan, kesehatan dan kesejahteraan yang kekal dalam menjalankan agama, di dunia dan di akhirat dari siksa neraka”
  • Pada setiap kali sampai di rukun Yamani mengusap tanpa mengecup, bila tidak mungkin mengangkat tangan sambil mengucapkan. بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ  Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Rabbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabannâr. Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha PengMPUN, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a putaran ke 2 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani   

  • Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar” lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri.
  • اَللّٰهُمَّ إِنَّ هٰذَا اْلبَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمْنُكَ وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدُكَ وَهٰذَا مَقَامُ الْعَائِذِبِكَ مِنْ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَنَا وَبَشَرَتَنَا عَلَى النَّارِ. اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِى الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ Artinya: “Ya Allah,sesungguhnya Baitullah ini rumah-Mu, Tanah mulia ini tanah haram-Mu, Negri aman ini Negri-Mu, hamba ini hamba-Mu, dan aku hamba-Mu anak dari hamba-Mu dan tempat ini tempat berlindung pada-Mu dari siksa neraka. Ya Allah cintakanlah kami pada iman dan peliharalah ia dari hati kami, bencikanlah kami pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka serta masukkanlah kami ini dalam golongan yang meandapat petunjuk. Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu di hari kelak Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu. Ya Allah, anugerahkanlah surga kepadaku tanpa hisab”. 
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:  بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a putaran ke 3 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani 

  • Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca;
  • بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ. Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اشَّكِّ وَالشِّرْكِ وَالشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ وَسُوٓءِاْلأَخْلَاقِ وَسُوٓءِاْلمَنْظَرِ وَاْلمُنْقَلَبِ فِى اْلمَالِ وَاْلأَهْلِ وَالْوَلَدِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ Artinya: Ya Allah, aku berlindung padaMu daripada syak was-was, syirik, cerai berai (bertengkar) muka dua, buruk budi pekerti, buruk pandangan (salah urus) terhadap harta benda dan keluarga. Ya Allah sesungguhnya aku mohon padaMu keridhaanMu dan syurga, dan aku berlindung padaMu daripada murkaMu dan neraka. Ya Allah, aku berlindung padaMu dari fitnah kubur serta dari fitnah kehidupan dan derita kematian.
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:   بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ  Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:   وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.  Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a putaran ke 4 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani  

  •  Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ. Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri.
  • اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ. يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنِيْ يَا اللهُ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ. اَللّٰهُمَ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَآئِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. رَبِّ قَنِّعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَنِيْ وَاخْلُفْ عَلٰى كُلِّ غَائِبَةٍ لِيْ مِنْكَ بِخَيْرٍ. Artinya: Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni dan amal shaleh yang dikabulkan dan perdagangan yang tidak akan mengalami rugi selamanya. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam dada. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah aku mohon padaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan segala ampunanMu selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat rupa-rupa kebaikan, berundung memperoleh surga, terhindar dari neraka. Tuhanku anugerahkan padaku dan gantilah apa-apa yang aku luput daripadanya dengan kebajikan dariMu. 
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:  بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ. Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a putaran ke 5 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani  

  • Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri. اَللّٰهُمَّ أَظِلَّنِيْ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلِّ اِلَّا ظِلُّكَ وَلَا بَاقِىَ اِلَّا وَجْهُكَ وَأَسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ شُرْبَةً هَنِيَْئَةً مَرِيْئَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَ هَا أَبَدًا اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيْمَهَا وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ.
  • Artinya:Ya Allah lindungilah aku dibawah lindunganMu pada hari yang tidak ada naungan selain dari naunganMu dan tidak ada yang tinggal kekal selain wajahMu. Dan berilah aku minuman dari telaga Nabi Muhammad SAW dengan suatu minuman yang lezat nyaman, sesudah itu aku tidak akan haus untuk selamanya. Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW, dan aku berlindung padaMu dari kejahatan dan minta perlindunganMu daripada yang diminta Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, aku mohon padaMu surga serta nikmatNya dan apapun yang dapat mendekatkan aku padaNya dari perkataan atau perbuatan ataupun amal. Dan aku berlindung padaMu dari neraka serta apapun yang mendekatkan aku kepadaNya, baik ucapan, perbuatan ataupun amal.
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:  بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ  Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”


Do’a putaran ke 6 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani  

  •  Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri. اللّهُمَّ إِنَّ لَكَ عَلَيَّ حُقُوْقًا كَثِيْرَةً فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَحُقُوْقًا كَثِيْرَةً فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَلْـقِكَ. اللّهُمَّ مَاكَانَ لَكَ مِنْهَا فَاغْفِرْهُ لِيْ وَمَاكَانَ لِخَلْقِكَ فَتَحَمَّلْهُ عَنِّيْ وَأَغْنِنِى بِحَلاَ لِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَا عَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَاوَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ. اَللّهُمَّ إِنَّ بَيْتَكَ عَظِيْمٌ وَوَجْهَكَ كِرَيْمٌ اَنْتَ يَااللهُ حَلِيْمٌ كَرِيْمٌ عَظِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mempunya hak yang banyak sekali atas diriku dalam hubungan antara aku dengan Mu. Dan Engkau juga mempunya hak yang banyak sekali dalam hubungan antara aku dengan makhlukMu. Ya Allah, apa yang menjadi hakMu atas diriku, maka ampunilah aku. Dan apa saja yang menjadi hak makhlukMu atas diriku, maka tanggungkanlah dariku. Cukupkanlah diriku dengan rizkiMu yang halal, terhindar dari yang haram. Dan dengan ta’at kepadaMu, terhindar dari kemaksiatan. Dan dengan anugerahMu terhindar daripada mengharap dari selain daripadaMu, wahai Tuhan Yang Maha Luas pengampunanNya. Ya Allah, sesungguhnya rumahMu ini agung, ZatMu pun sungguh mulia, dan Engkau ya Allah, Maha Penyabar, Maha Pemurah dan Maha Agung, Engkau suka memberi ampun, maka ampunilah aku” 
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a putaran ke 7 dibaca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani  

  • Menghadap Hajar Aswad dengan mengusap atau melambaikan tangan Serta mengecupnya dan membaca; بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • lanjutkan bergerak dengan posisi Ka’bah tetap berada disebelah kiri.اللّهُمَّ إِنِّيْ أسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَا مِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَحَلَالًا طَيِّبًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ بِرَ حْمَتِكَ يَاعَزِيْزُ تَاغَفَّارُ. رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَاَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِيْنَ”Ya Allah, aku mohon kepadaMu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, rizki yang luas, hati yang khusyu’, lidah yang selalu berdzikir, rizki yang halal dan baik, taubat yang diterima, taubat sebelum mati, ampunan dan rahmat sesudah mati, ampunan ketika dihisab, keberuntungan memperoleh surga dan selamat dari neraka, dengan kasih sayangMu, wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Pengampun. Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu pengetahuan dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”
  • Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:  بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ  Artinya: “Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar”
  • رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلٰاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka”. 
  • Dapat juga ditambah:  وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. Artinya: “Dan masukkanlah kami kedalam surge bersama bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengampun, Dan Tuhan yang menguasai seluruh Alam”

Do’a Sesudah Thawaf (di dibaca di Multazam) 

  • Setelah selesai 7 kali putaran Tawaf, bergeserlah sedikit ke kanan dari arah sudut Hajar Aswad menghadap bagian dinding Ka’bah yang di sebut Multazam, dan berdo’a sesuai harapan/keinginannya dengan bahasa apapun. Salah satu do’a di Multazam yang dianjurkan adalah sbb
  •  اللّهُمَّ يَارَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ اَعْتِقِ رِقَابَنَا وَرِقَابَ ابَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَوْلاَدِنَا مِنَ النَّارِ يَاذَا الْجُوْدِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالْمَنِّ وَالْعَطَاءِ وَالْاِحْسَانِ. اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَامِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الاَْخِرَةِ. اَللَّهُمَّ اِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَاقِفٌ تَحْتَ بَابِكَ مُلْتَزِمٌ بِأَعْتَابِكَ مُتَذَلِّلُ بَيْنَ يَدَيْكَ أَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَاَخْشَى عَدَابَكَ ياَقَدِيْمَ اْلِإحْسَانِ. اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَسْأَلُكَ اَنْ تَرْفَعَ ذِكْرِيْ وَتَضَعَ وِزْرِيْ. وَتُصْلِحَ اَمْرِيْ وَتُطَهِّرُ قَلْبِيْ وَتُنَوِّرَ لِيْ فِيْ قَبْرِيْ وَتَغْفِرَلِيْ ذَنْبِيْ وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ اْلعُلىَ مِنَ اْلجَنَّةِ.  Artinya: Ya Allah, yang memelihara Ka’bah ini, bebaskan diri kami, bapak-bapak dan ibu-ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka, wahai Tuhan yang maha Pemurah, Dermawan, dan yang mempunyai keutamaan, kemuliaan, kelebihan, anugerah, pemberian dan kebaikan. Ya Allah, perbaikilah kesudahan segenap urusan kami dan jauhkanlah dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, berdiri dibawah pintuMu, menundukkan diri di hadapanMu sambil mengharapkan rahmatMu, kasih-sayangMu, dan takut akan siksaMu. Wahai Tuhan pemilik kebaikan abadi, aku mohon kepadaMu agar Engkau tinggikan namaku, hapuskan dosaku, perbaiki segala urusanku, bersihkan hatiku, berilah cahaya didalam kuburku. Ampunilah dosaku dan aku mohon padaMu martabat yang tinggi didalam surga”.

Do’a sesudah shalat sunat di belakang Maqam Ibrahim 

  • Shalat sunat Tawaf di lakukan di belakang Maqam Ibrahim. Bila tidak memunglinkan, maka di lakukan di mana saja asal di dalam Masjidil Haram.
  • Pada shalat sunat tersebut setelah membaca Fatihah raka’at pertama sebaiknya membaca surat Al-Kafirun dan raka’at kedua setelah Fatihah sebaiknya membaca surat Al-Ikhlas. Sesudah shalat di anjurkan membaca do’a
  • Do’a di belakang Maqam Ibrahim اللّهُمَّ إِنَكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَا نِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَاعْطِنِيْ سُؤْلِيْ وَتَعْلَمُ مَا  فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ إِلَّامَا كَتَبْتَ لِيْ وَرَضِّنِيْ بِمَا قَسَمْتَهُ لِيْ يَاأَرْحَمَ الرَّا حِمِيْنَ. اَنْتَ وَلِيِّيْ فِى الدُّيْيَا وَالْاَخِرَةِ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِيْ بِالصَّا لِحِيْنَ اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا فِيْ مَقَامِنَا هَذَا ذَنْبًا اِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَاهَمًّا اِلَّا فَرّّجْتَهُ وَلَا حَاجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا فَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا وَاشْرَحْ صُدُوْرَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَاخْتِمْ بِالصَّا لِحَاتِ أَعْمَالَنَا. اللَّهُمَّ تَوُفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَاَحْيِنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّا لِحِيْنَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُوْنِيْنَ. Artinya “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku yang tersebunyi dan amal perbuatanku yang nyata, maka terimalah ratapanku. Engkau Maha Mengetahui keperluanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau Maha Mengetahui apapun yang terkandung dalam hatiku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah, aku mohon padaMu iman yang tetap melekat terus di hati, keyakinan yang sungguh-sungguh sehingga aku mengetahui bahwa tiada suatu yang menimpaku kecuali yang telah Engkau tetapkan bagiku, rela menerima apa yang telah Engkau bagikan kepadaku. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan masukkanlah kedalam orang-orang yang saleh. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di tempat kami ini suatu dosa kecuali Engkau ampuni, tiada kesusahan hati kecuali Engkau lapangkan, tiada suatu hajat kecuali Engkau penuhi dan mudahkan, maka mudahkanlah segenap urusan kami dan lapangkanlah dada kami, terangilah hati kami dan sudahilah semua amal kami dengan amal yang saleh. Ya Allah, matikan kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim dan masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang saleh, tanpa kenistaan dan fitnah” 
  • Lalu disunnahkan minum air Zam Zam.
  • Do’a Waktu Minum Air Zam-Zam  اَللَّهُمَّ إِنِيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمٍ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.  “Ya Allah, aku mohon padaMu ilmu pengetahun yang bermanfaat, rizqi yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit dan kepedihan dengan rahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segenap pengasih”.
  • Do’a Sesudah Salat Sunat Mutlak Di Hijir Ismail  اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَإِلَهَ اِلاَّاَنْتَ خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ. أَعُوْدُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرَ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَأَعُوْذُوبِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَالِحُوْنَ Artinya:  “Ya Allah, Engkaulah Pemeliharaku, tiada tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku, aku ini hambaMu dan aku terikat pada janji dan ikatan padaMu sejauh kemampuanku. Aku berlindung padaMu dari kejahatan yang telah kuperbuat, aku akui segala nikmat dariMu kepadaku, dan aku akui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau sendiri. Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang diminta oleh hamba-hambaMu yang saleh, dan aku berlindung padaMu dari kejahatan yang telah dimintakan perlindungan oleh hamba-hambaMu yang saleh”. 

Selesailah sudah rangkaian thawaf dan di lanjutkan Melaksanakan Sa’i yaitu berjalan-jalan dari Bukit Safa hingga Marwah sebanyak 7 kali

Foto Ibadah Haji 3 Hari di Mina


Foto Ibadah Haji 3 Hari di Mina

Mina adalah sebuah lembah di padang pasiryang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan salatDzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.

Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

.

Watch “Riad ul-Jannah and Rawdah, The Heart of Nabawi Mosque Medina” on YouTube

The heart of the mosque houses a very special but small area named Riad ul-Jannah (Gardens of Paradise) or Rawdah. It extends from Muhammad’s tomb (Rawdah) to his pulpit (minbar). Pilgrims attempt to visit the confines of the area, for there is a tradition that supplications and prayers uttered here are never rejected. Entrance into the area is not always possible, especially during the Hajj season, as the space can only accommodate a few hundred people. Riad ul-Jannah is considered to be a part Jannah (Paradise). It was narrated from Abu Hurayrah that Muhammad said, “The area between my house and my minbar is one of the gardens of Paradise, and my minbar is on my cistern (hawd).”

Watch “History The Green Dome of Nabawi Mosque Medina” on YouTube

The Rawdah (referred to as al-Rawdah al-Mutaharah), covered by the dome over the south-east corner of the mosque,[5] was constructed in 1817C.E. during the reign of Sultan Mahmud II. The dome was painted green in 1837 C.E. and came to be known as the “Green Dome“.

Foto Keindahan Madinah Di Subuh

Jika kau memerlukan nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmatmu. Jika kau memerlukan keasyikan, cukuplah taat pada Allah sebagai keasyikanmu. Dan jika kau memerlukan pengajaran, cukuplah maut itu sebagai pengajaran bagimu

(Ali ibn Abi Thalib)

Masjid al-Nabawi (Bahasa Arab: المسجد النبوي‎ al-Masjid al-Nabawīy), disebut “Masjid an Nabawi” atau “Masjid Nabi” ialah masjid yang kedua paling suci bagi umat Islam. Di sini juga terdapat Makam Rasullullah SAW. Masjidil Haram merupakan masjid paling suci dan Masjid al-Aqsa merupakan masjid ketiga paling suci dalam Islam.

Masjid ini asalnya dibina oleh Rasullullah sendiri, bersebelahan dengan rumah yang baginda diami selepas peristiwa Hijrah pada tahun 622 Masihi. Masjid pertama yang didirikan oleh Rasullullah semasa peristiwa Hijrah ialah Masjid Quba.

Ketika zaman Rasulullah SAW dan Khulafa al-Rasyidin, Masjid Nabawi tidak memiliki sebarang bentuk menara. Orang yang pertama sekali membina menara Masjid Nabawi ialah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 93 Hijrah, iaitu dengan mendirikan empat menara masjid yang tingginya lebih kurang 27.5 meter (90 ka) pada empat sudut.

Pembinaan menara Kemudian diikuti Qaitbay yang membangunkan menara kelima di Babur Rahmah. Kelima-lima menara Masjid Nabawi ini terus dipertahankan sehinggalah tiga buah menaranya diruntuhkan untuk memberi laluan kepada projek Perluasan Saudi Pertama. Kemudiannya tiga menara yang diruntuhkan telah diganti dengan dua buah menara baru setinggi 72 meter. Lalu pada Projek Perluasan Saudi Kedua ditambah lagi dengan 6 buah menara Masjid yang setiap satunya berketinggian 104 meter, tinggi hilal 6 meter dan beratnya mencecah 4.5 tan. Sehingga kini Masjid Nabawi mempunyai 10 buah menara masjid. Perlu juga diketahui bahawa tinggi menara Masjid utama ialah 44.53 meter, sedangkan menara di Pintu Salam (Babus Salam) adalah setinggi 38.85 meter.

Masjid al-Nabawi ketika matahari terbenam

Di dalam Masjid Nabawi terdapat satu kawasan yang digelar Raudhah, iaitu satu tempat yang sangat mulia di dalam Masjid Nabawi. Selain menjadi lokasi Rasulullah SAW dan para sahabatnya beribadah dan tempat turunnya wahyu kepada baginda, ia juga merupakan taman syurga berdasarkan hadis Nabi.

“Ruang antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman daripada taman-taman syurga. Dan mimbarku terletak di atas kolamku”

Kedudukan Raudhah adalah di antara rumah Rasulullah SAW dan Sayyidatina Aisyah RA dengan mimbarnya. Panjangnya ialah 26 meter jika diukur dari timur bermula dari rumah tersebut hingga ke mimbar di sebelah baratnya. Tetapi sekarang hanya tinggal 22 meter kerana telah disekat dengan pagar makam. Lebarnya pula 15 meter bermula dari Mihrab Rasulullah SAW di sebelah selatan hingga ke akhir rumah tersebut di sebelah utara mengikut pendapat yang masyhur di kalangan ulama’. Sebagai tanda, tempat ini dihampari dengan karpet berwarna putih hijau. 


Kisah Bersejarah dan Foto Keagungan Masjid Quba

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa masjid Quba adalah masjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108).


Allah s.w.t memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba’ dengan Firman-Nya:

Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri…….(At Taubah, 108).

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk daripada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.Tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam masjid


Ibadah Haji: Tatacara dan Makna Lempar Jumroh

Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dariibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah,Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah; bahasa Arab: jamarah, jamak: jamaraat) yang berada dalam satu tempat bernama kompleksJembatan Jumrah, di kota Mina yang terletak dekat Mekkah. Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Kegiatan ini adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar (mencapai lebih dari sejuta jemaah).

Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan. Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena selalu berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka dari jalan Allah SWT. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar yang menunjukkan sikap perlawanan terhadap setan.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa sewaktu Ibrahim membawa Ismail untuk disembelih, setan membujuk Hajar agar menghentikan langkah suaminya itu. Sebagi seorang ibu, menurut setan, Hajar tidak akan sampai hati mengetahui buah hatinya dikorbankan. Perkiraan setan ternyata meleset. Bukannya menuruti bisikan setan, Hajar malah mengambil batu dan melemparinya berkali-kali.

Ketika melempar tiang-tiang dalam jumrah, sesungguhnya terkandung di dalamnya kemarahan dan penghinaan kita kepada setan.

  • Waktu Pelaksanaan Jumrah Tanggal pelaksaan jumrah adalah tangga 10 Dzulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan.
  • Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam diMina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
  • Pada 11 Dzulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Tanggal 12 Dzulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Lama Pelaksaan Jumrah. Melontar jumrah sedikitnya dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijah. Ada tiga tugu jumrah yang harus dilontar masing-masing 7 kali lontaran dengan kerikil kecil yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
  • Esoknya pada tanggal 10 Dzulhijah yang juga merupakan hari Raya Qurban, jamaah haji cukup melontar satu tugu jumrah saja yaitu jumrah ketiga yang disebut Jumrah Aqobah dengan tujuh kali lontaran.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya.

Setidaknya ada 2 makna yang terkandung dalam melempar jumroh, yaitu

  1. Melempar jumrah menunjukkan secara simbolik perlawanan dan permusuhan kita kepada setan.
  2. Allah SWT berfirman Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Fathir 6)

    Foto Lengkap Suasana Kemah Mahtab Haji di Mina 

    Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

    Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan salatDzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.

    Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

    Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.


    Ibadah Haji Umroh: Doa Thawaf Wada’

    Doa Thawaf Wada’



    Sesudah selesai thawaf wada’ kemudian dianjurkan berdiri di Multazam yaitu antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah atau searah, lalu membaca doa sebagai berikut:

    بِسْمِ اللهِ أَللهُ أَكْبَرُ سُبْحاَنَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ , وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَللَّـهُمَّ إِيْماَناً بِكَ وَتَصْدِيْقاً بِكِتاَبِكَ وَوَفاَءً بِعَهْدِكَ وَاتِّباَعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , إِنَّ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ القُرْآنَ لَرَآدُّكَ إِلىَ مَعَادٍ , ياَ مُعِيْدُ أَعْدْنِى ياَ سَمِيْعُ أَسْمِعْنِى ياَجَبَّارُ اجْبُرْنِى ياَ سَتَّارُ اسْتُرْنِى ياَ رَحْمَنُ ارْحَمْنِى ياَ رَدَّادُ ارْدُدْنِى إِلىَ بَيْتِكَ هَذاَ وَارْزُقْنِىَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ كَرَّاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تاَئِبُوْنَ عاَبِدُوْنَ ساَئِحُوْنَ لِرَبِّناَ حاَمِدُوْنَ , صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ , أَللَّـهُمَّ احْفَظْنِى عَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ يَساَرِى وَمِنْ قُدَّامِى وَمِنْ وَراَءِ ظَهْرِى وَمِنْ فَوْقِى وَمِنْ تَحْتِى حَتَّى تُوَصِّلَنِى إِلىَ أَهْلِى وَبَلَدِى , أَللَّـهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْناَ السَّفَرَ وَاطْوِ لَناَ الأَرْضَ , أَللَّـهُمَّ أَصْحَبْناَ فىِ سَفَرِناَ وَاخْلُفْناَ فىِ أَهْلِناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ وَياَ رَبَّ العاَلَمِيْنَ .

    Latin:

    Bismillaahi Allaahu akbaru subhaanallaahi walhamdu lillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi. Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa rasuulillaahi shallallaahu ‘alaihi wasallama. Allaahumma iimanan bika wa tashdiiqan bikitaabika wawafaa-an bi’ahdika wattibaa’an lisunnati nabiyyika Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wasallama. Innal ladzii faradha ‘alaikal qur-aana laraadduka ilaa ma’aadin. Yaa mu’iidu a’idnii yaa samii’u asmi’nii 

    Doa Sesudah Thawaf Wada’



    أَللَّـهُمَّ إِنَّ البَيْتَ بَيْتُكَ وَالعَبْدَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَّتِكَ حَمَلْتَنِى عَلَى ماَ سَخَّرْتَ لىِ مِنْ خَلْقِكَ حَتَّى صَيَّرْتنَِى إِلىَ بِلاَدِكَ وَبَلَّغْتَنِى بِنِعْمَتِكَ حَتَّى أَعَنْتَنِى عَلَى قَضاَءِ مَناَسِكَكَ , فَإِنْ كُنْتَ عَنِّى فاَزْدَدْ عَنِّى رِضاً وَإِلاَّ فَمُنَّ الآنَ عَلَيَّ قَبْلَ تَبَاعُدِى عَنْ بَيْتِكَ هَذاَ أَواَنُ انْصِراَفىِ إِنْ أَذِنْتَ لىِ غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِكَ وَلاَ بِبَيْتِكَ وَلاَ راَغِبٍ عَنْكَ وَلاَ عَنْ بَيْتِكَ , أَللَّـهُمَّ أَصْحِبْنِى العاَفِيَةَ فىِ بَدَنِى وَالعِصْمَةَ فىِ دِيْنِى وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِى وَارْزُقْنِى طاَعَتَكَ أَبَداً ماَ أَبْقَيْتَنِى وَاجْمَعْ لىِ خَيْرَيِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , أَللَّـهُمَّ لاَ تَجْعَلْ هَذاَ أَخِرَ العَهْدِ بِبَيْتِكَ الحَراَمِ وَإِنْ جَعَلْتَهُ أَخِرَ العَهْدِ فَعَوِّضْنِى عَنْهُ الجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , آمِيْنَ ياَ رَبَّ العاَلَمِيْنَ .

    Latin:

    Allaahumma innal baita baituka wal-‘abda ‘abduka wabnu ‘abdika
    wabnu amatika hamaltanii ‘alaa maa sakhkharta lii min khalqika hattaa sayyartanii ilaa bilaadika
    wa balaghtanii bini’matika hattaa a’antanii ‘alaa qadhaa-i manaasikika.
    Fa-in kunta radhiita ‘annii fazdad ‘annii ridhaa, wa illaa famunnal aana ‘alayya
    qabla tabaa’udii ‘an baitika haadzaa awaanunshiraafii in adzinta lii ghaira mustabdilin bika
    walaa bibaitika walaa raaghibin ‘anka walaa ‘an baitika. Allaahumma ashhibniyal ‘aafiyata
    fii badanii wal-‘ishmata fii diinii wa ahsin munqalabii warzuqnii thaa’ataka abadan maa abqaitanii
    wajma’ lii khairayid dunyaa wal-aakhirati innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir. Allaahumma
    laa taj’al haadzaa aakhiral ‘ahda bibaitikal haraami wa ja’altahu aakhiral ‘ahda
    fa’awwidhnii ‘anhul jannata birahmatika yaa arhamar raahimiin. Aamina yaa rabbal ‘aalamiin.

    Masalah Kesehatan Saat Ibadah Haji dan Penanganannya

    Masalah-masalah kesehatan yang banyak terjadi adalah

    • Flu, infeksi tenggorok, infeksi saluran napas akut lainnya
    • Batuk, pilek berkepanjangan. Biasanya terjadi pada penderita dengan riwayat alergi atau asma.
    • Demam
    • Asma
    • Diare
    • Sakit Kepala
    • Maag, Lambung, GERD
    • Osteoartritis, nyeri tulang
    • Heat Stroke (dampak suhu atau cuaca panas)
    • Jantung
    • Stroke

    Tanda dan Gejala Bahaya Kesehatan yang harus segera menghubungi dokter dan di bawa ke Rumah Sakit

    • Kejang
    • Kesadaran menurun
    • Nyeri dada hebat
    • Nyeri kepala hebat
    • Nyeri perut hebat berkepanjangan
    • Muntah dan diare berlebihan disertai badan sangat lemas

    Obat dan Perlengkapan kesehatan yang dibawa

    Obat

      • Bagi calon jemaah yang menderita penyakit kronis, jangan lupa untuk membawa obat-obat yang memang harus dikonsumsi rutin : obat diabetes, darah tinggi, 
      • Obat Flu: Decolgen, Nalgestan, Fludane, 
      • Obat maag : Antasida, Polisilane, Promaag, Ranitidine, Omeprazole
      • Obat anti diare : Imodium, Diatabs, Norit, Oralit, lacto, Lbio
      • Obat sakit kepala dan obat demam : panadol, sanmol, tempra, novalgin, antalgin
      • Obat anti alergi: CTM, Cetirizin, Celestamine, Kenakort (obat ini mungkin perlu bagi penderita alergi  berat tertentu tetapi harus melalui petunjuk dokter), 
      • Obat anti mual muntah: vometa, narfos, 
      • Betadine : obat luka

      Vitamin dan suplemen

      • Multivitamin:
      • Madu
      • Enzym: Enzyplex, 
      • Probiotik: Lbio, lactob
      • Imunomodulator obat kekebalan tubuh. Meski vitamin ini aman bila digunakan jangka panjang sebaliknya berkonsultasi dengan dokter

      Obat atau multivitamin yang harus diwaspadai 

      • Multivitamin rasa jeruk, vitamin dengan rasa ini sebaiknya harus hati hati pada penderita sensitif atau alergi
      • Minuman berenergi: Extrajoss, Pharmaton, Krating Daeng. Hati hati pada penggunaan berlebihan beberapa orang menjadi gelisah dan berdebar debarq

        Perlengkapan 

        • Masker mulut
        • Tisu basah
        • Obat kumur
        • Plester, Tensoplast, Handyplast
        • Minyak kayu putih

          Dr Widodo Judarwanto

          Ibadah Haji: Dasar Hukum Tahalul dan Tatacaranya

          DEFINISI TAHALUL

          • Mencukur rambut. Tahalul ada 2 macam yaitu :
          • Tahalul awal, yaitu mencukur/ memotong rambut setelah melempar jumrah pada hari Nahar. Maka halallah bagi orang yang sedang ihram, apa-apa yang terlarang pada waktu ihram. Kita boleh berpakaian biasa, memakai parfum dll, kecuali hubungan dengan istri/suami.Tahalul akhir, yaitu mencukur/ memotong rambut setelah melakukan thawaf ifadhah(thawaf rukun haji), maka halal segala sesuatu larangan ihram termasuk hubungan dengan istri/suami.

          DASAR HUKUM TAHALUL

          • Tahalul dilakukan dalam rangka mentaati perintah Allah, agar kita menghilangkan kotoran (memotong rambut dan mengerat kuku) yang ada pada badan kita dan handaklah kita menunaikan nazar-nazar kita. Firman Allah :”Kemudian hendaklah mereka membersihkan kotoran dengan memotong rambut dan mengerat kuku, dan supaya mereka thawaf di Baitullah”.(QS.22:29) 

          KEUTAMAAN TAHALUL

          • Setiap rambut yang dicukur akan menghapus kesalahan.

          TATA CARA PELAKSANAAN TAHALUL

          • Bagi laki-laki tahalul sebaiknya dilakukan dengan mencukur gundul, namun bagi perempuan cukup dipotong sedikit ujung rambutnya.

          HAKEKAT TAHALUL DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

          • Setelah mengerjakan sai, kita memotong rambut dan kuku serta menanggalkan pakaian ihram, berarti kita telah merasa bebas dan dalam keadaan tangan hampa dan dahaga, kita tinggaalkan Marwa menuju ke Zam-zam untuk melepaskan dahaga yang bersandar pada cinta dan harapan. Cinta dan harapan akan membuat keajaiban seperti yang telah dilakukan oleh Hajar dan kita lakukan dalam sai.

          Ibadah Haji: Bermalam di Mina

          MABIT DI MINA

          Mabit di Mina adalah bermalam (singgah) di Mina, selama 2 hari atau 3 hari dan merupakan persinggahan terlama.

          DASAR HUKUM MABIT DI MINA

          • Bermalam di Mina bebas mamilih dapat sesudah 2 hari (nafar awal) atau menangguhkan keberangkatannya lebih dari 2 hari (nafar akhir). Firman Allah: “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang (11, 12, 13, Dzulhijah = hari tasyrik). Barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari 2 hari itu, tiada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa”. (QS.2: 203).
          • Mabit di Mina hukumnya wajib kecuali bagi orang yang uzur (Hadist Nabi riwayat Syarah Al Muhazzab). Yang termasuk golongan orang-orang yang uzur adalah orang yang takut hilang hartanya kalau menginap di Mina, atau takut bahaya dirinya, atau sakit yang sukar baginya untuk menginap di Mina, atau ada orang yang sakit yang harus di urusinya, atau mencari budak yang hilang, atau sibuk dengan urusan lain yang ia khawatir tidak akan terkejar lagi kalau ia Mabit di Mina, dan tidak diwajibkan membayar sesuatu. 

          KEUTAMAAN MABIT DI MINA

          • Bermalam di Mina dimaksudkan guna bertukar pikiran, berdiskusi dengan sesama jamaah haji dari berbagai negara perihal permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan agama, serta mencari solusinya.

          TATA CARA PELAKSANAAN MABIT DI MINA

          • Malam hari berkumpul beralaskan dengan tikar sampai melewati waktu tengah malam, berdiskusi antara sesama jamaah atau berdzikir.

          DO’A YANG DIPANJATKAN PADA SAAT MABIT DI MUDZDALIFAH

          • Memperbanyak dzikir kepada Allah

          HAKEKAT MABIT DI MINA DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

          • Persinggahan di Mina melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Cinta adalah tahap terakhir sesudah tahap pengetahuan dan kesadaran. Selama bermalam di Mina ini kita gunakan untuk merenungi pandangan hidup kita dan apa-apa yang telah kita lakukan serta untuk berdiskusi dengan orang lain berbagai negeri yang memiliki agama, kecintaan, kebutuhan dan ideologi yang sama dengan kita. 
          • Mina adalah lembah yang gersang, tidak ada pemandangan yang menarik, tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada taman-taman. Di Mina kita duduk bersama, membahas masalah-masalah kita dan pelajaran yang dapat dipetik dalam rangkaian ibadah thawaf, sai, wukuf di Arafah, bermalam di Mudzalifah dan melempar jumrah yang kita lakukan sebagai usaha mencari surga selalu disertai orang banyak dan bersama-sama dengan orang lain. 
          • Mina adalah negeri cinta, perjuangan dan syahid. Negeri tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah sebagai kaum yang bersatu untuk berpartisipasi dalam amal ““amal kebajikan dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini.
          • Selama 2 atau 3 hari bermalam di Mina berkumpul dengan orang banyak baik yang terpelajar maupun buta huruf, baik profesor maupun buruh pabrik, baik pemimpin spiritual termasyhur atau petani sederhana, berpatisipasi dan berhak berbicara secara terbuka karena perbedaan pangkat, jabatan, derajat dan warna kulit telah di tinggalkan di Miqat. Semuanya adalah sama sebagai hamba Allah dan mempunyai derajat yang sama sebagai haji.

          Kesalahan Aqidah Dalam Ibadah Haji di Mekah dan Madinah

          Kesalahan Aqidah Disekitar Masjid Nabawi

          • Keyakinan Ziarah Masjid Nabawi Teramasuk Bagian Haji dan Umrah. Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa berziarah ke Masjid Nabawi memiliki kaitan dengan ibadah haji dan bahwa ibadah haji tidak boleh dilakukan tanpa berziarah ke sana. Ketahuilah bahwa menunaikan ibadah haji dapat terlaksana sempurna tanpa berziarah ke Masjid Nabawi sebagaimana berziarah ke Masjid Nabawi dapat terlaksana tanpa haji. Adapun riwayat yang konon berasal dari Nabi shallalalhu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda

          مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِيْ فَقَدْ جَفَانِي

          • Siapa yang berhaji tapi tidak berziarah kepadaku, maka sungguh dia telah berlaku kasar kepadaku.” Ini adalah hadits dusta atas nama Rasulullah yang bertentangan dengan perkara yang sudah diketahui dalam agama. Seandainya hadits ini shahih, maka berziarah ke kuburan beliau merupakan kewajiban yang sangat besar.


          • Thawah dikuburan Rasulillah. Sebagian penziarah Masjid Nabawi melakukan thawaf di kuburan Rasulullah, mereka mengusap-usap lobang dan dindinnya, kadang mereka cium dengan bibir mereka atau mereka tempelkan pipi mereka di sana, semua itu adalah bid’ah yang munkar. Karena thawaf di selain Ka’bah adaha bid’ah yang diharamkan. Begitu juga dengan sebagian penziarah mengusap mihrab, mimbar serta dinding Majid Nabawi. Semua itu adalah bid’ah.
          • Berdoa di kuburan Rasulullah. Sebagian penziarah memohon dan berdoa kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar diangkat kesulitannya atau dipenuhi keinginannya. Ini merupakan syirik besar dan dapat mengeluarkan seseorang dari agama serta tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

          وَأَنَّ المَسَاجِدَ لِلهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

          • Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” QS. Al-Jin: 18
          • Al-Qadhi Iyad ditanya tentang orang penduduk Madinah yang berdiri di depan kuburan dalam sehari sekali atau lebih dari itu. Dan memberikan salam serta berdoa selama satu jam. Beliau mengatakan: “Saya tidak dapati seorangpun dari ulama’ fiqih. Dan generasi akhir umat ini tidak akan baik kecuali generasi pertamanya baik. Dan tidak saya dapati generasi umat pertama dan permulaannya mereka melakukan hal itu.
          • Sholat ‘Arbain. Benarkah anggapan sebagian orang bahwa siapa yang shalat di Masjid Nabawi selama empat puluh kali shalat dicatat baginya kebebasan dari nifaq (munafik) ?!. Ketahuilah Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, no. 12173, dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda,

          مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً لا يَفُوتُهُ صَلاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ ، وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ ، وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ Siapa yang shalat di Masjidku selama empat puluh kali shalat, tidak ketinggalan satu shalat sekalipun, akan dicatat baginya kebebasan dari api neraka dan keselamatan dari azab serta kebebasan dari nifaq (sifat munafiq).” Ini adalah haidts dhaif. Hal tersebut disampaikan oleh Syekh Al-Albany dalam Silsilah Adh-Dhaifah, no. 364, dengan mengatakan, “Dhaif”, sedangkan dalam kitab  “Dhaif At-Targhib”, no. 755, beliau mengatakan, “Munkar”. Hadits dhaif tersebut dapat digantikan dengan hadits hasan riwayat Tirmizi, no. 241 tentang keutamaan mendapatkan takbiratul ihramnya imam dalam shalat berjamaah. Dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah bersabda,

          مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

          Siapa yang shalat empat puluh hari bersama jamah dan mendapatkan takbiratul pertama (takbiratul ihram  imam) akan dicatat baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi, no. 200) Keutamaan yang terkandung dalam hadits ini berlaku umum bagi seluruh shalat jamaah di masjid, di negeri manapun, tidak khusus dengan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

          • Membungkukkan di depan kuburan atau bersujud atau perbuatan lain yang tidak diperkenankan untuk dilakukan melainkan hanya kepada Allah. Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak diperkenankan seseorang bersujud untuk orang lain.

          Kesalahan Aqidah di MekahKemungkaran Disekitar Kota Makkah Begitu juga dengan banyaknya kemungkaran dan keyakinan-keyakinan yang salah dilakukan beberapa jamaah haji dan umroh disekitar kota makkah, masuk didalamnya Masjidil Haram.

          • Menghidupkan Peninggalan Islam yang Bersejarah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya tentang hukum menghidupkan peninggalan-peninggalan Islam bersejarah untuk mengambil pelajaran, seperti; Gua Tsur, Gua Hira, perbukitan Ummu Ma’bad, dan membuat jalan untuk mencapai tempat-tempat tersebut sehingga diketahui jihadnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberikan kesan tersendiri? Beliau menjawab, “Memelihara peninggalan-peniggalan dalam bentuk menghormati dan memuliakan bisa menyebabkan syirik, karena jiwa manusia itu lemah dan cenderung menggantungkan diri kepada yang diduganya berguna, sementara mempersekutukan Allah itu banyak macamnya, dan mayoritas orang tidak mengetahuinya. Orang yang berdiri di hadapan peninggalan-peninggalan tersebut akan melihat orang jahil yang mengusap-usapnya untuk meraih debunya dan shalat di sana serta berdoa kepada orang yang meninggal di sana, karena ia mengira bahwa hal itu bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan bisa menjadi perantara kesembuhannya. Kemudian hal ini ditambah pula dengan banyaknya para penyeru kesesatan, akibatnya mereka semakin menambah volume kunjungannya, sehingga dengan begitu bisa dijadikan pencaharian. Maka berhati-hatilah dalam masalah ini.”
          • Potong Kiswah untuk Jimat. Masih banyaknya jamaah haji Indonesia secara khusus, yang mana mereka memiliki kebiasaan memotong kiswah ka’bah dengan cara mengguntingnya lalu dijadkan jimat agar dagangannya laris atau niat lainnya. Maka kita harus luruskan niat saat beribadah haji sehingga bisa terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Ketahuilah kiswah ka’bah tidaklah bisa mendatangkan madharat atau manfaat. Ingatlah apa kata sahabat Umar bin Khattab yang di riwayatkan dalam shohih muslim no 1270

          إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

          Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.

          Ibadah Haji & Umroh: Doa Saat Ziarah di Madinah

          Doa masuk Kota Madinah

          اَللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُ رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْهُ وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَاَمَانَةً مِنَ اْلعَذَابِ وَسُوءِ اْلحِسَابِ

          Allaahumma haadzaa haramu rasuulika faj’alhu wiqaayatan minan naari wa amaanatan minal ‘adzaabi wasuu’il hisaabi.

          Artinya:

          “Ya Allah, negeri ini adalah tanah haram Rasul-Mu Muhammad SAW, maka jadikanlah penjaga bagiku dari neraka, aman dari siksa dan buruknya hisab (perhitungan di hari kemudian).”

          Doa masuk Masjid Nabawi

           

          بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ , رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لىِ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطاَناً نَصِيْراً , أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ , وَاغْفِرْ لىِ ذُنُوْبِى وَافْتَحْ لىِ أَبْواَبَ رَحْمَـِكَ وَأَدْخِلْنِى فِيْهاَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

          Bismillaahi wa’alaa millati rasuulillaahi.
          Rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin waj’al lii min ladukna sulthaanan nashiiraa.
          Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa Muhammadin,
          waghfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika wa adkhilnii fiihaa yaa arhamar raahimiin.

          Artinya:

          “Dengan nama Allah dan atas agama rasulullah.
          Ya Allah, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah pula aku dengan cara keluar yang benar,
          dan berikanlah padaku jalan keluar yang benar, dan berikanlah padaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong.
          Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya.
          Ampunilah dosaku, bukalah pintu rahmat-Mu bagiku dan masukkanlah aku ke dalamnya, wahai Tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang pengasih.”

          Doa salam ketika berada di Makam Rasulullah SAW



          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَرَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَنَبِيَّ اللهِ , ياَصَفْوَةَ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَحَبِيْبَ اللهِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّكَ بَلَّغْتَ الرِّساَلَةَ وَأَدَّيْتَ الأَماَنَةَ وَنَصَحْتَ الأُمَّةَ وَجاَهَدْتَ فىِ سَبِيْلِ اللهِ فَصَلَّى اللهُ عَلَيْكَ صَلاَةً داَئِمَةً إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ . أَللَّـهُمَّ آتِهِ الوَسِيْلَةَ وَألفَضِيْلَةَ وَألدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقاَماً مَحْمُوْداً نِالَّذِى وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَ تُخْلِيْفُ المِيْعاَدَ .

          Assalaamu ‘alaika yaa rasuulallaahi warahmatullaahi wabarakaatuhu.
          Assalaamu ‘alaika yaa nabiyyallaahi. Assalaamu ‘alaika yaa shafwatallaahi.
          Assalaamu ‘alaika yaa habiiballaahi.

          Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu
          wa annaka ‘abdahu warasuuluhu, wa asyhadu annaka ballaghtar risaalata
          wa addaital amaanata wa nashahtal ummata wajaahadta fii sabiilillaahi fashallallaahu
          ‘alaika shalaatan daa-imatan ilaa yaumid diin.

          Allaahumma aatihil wasiilata wal-fashiilata wad-darajatar rafii’ata
          wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtahu innaka laa tukhliful mii’aad.

          Artinya:

          “Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu.
          Selamat sejahtera atasmu wahai Nabiyullah. Selamat sejahtera atasmu wahai makhluk pilihan Allah.
          Selamat sejahtera atasmu wahai kekasih Allah.
          Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah satu-satunya.
          Tiada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya engkau telah benar-benar menyampaikan risalah,
          engkau telah menunaikan amanat, engkau telah memberi nasehat kepada umat,
          engkau telah berjihad di jalan Allah, maka shalawat yang abadi dan salam sempurna untukmu sampai hari kiamat.
          Ya Allah, berikanlah pada beliau kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan dia di tempat yang terpuji
          yang telah Engkau janjikan padanya, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.”

          Doa salam kepada Abu Bakar As-Sidiq r.a.



          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَخَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَصاَحِبَ رَسُوْلِ اللهِ فىِ الغاَرِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمَنْ أَنْفَقَ ماَلَهُ كُلَّهُ فىِ حُبِّ اللهِ وَحُبِّ رَسُوْلِهِ . جَزاَكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُوْلِ اللهِ خَيْرَ الجَزاَءِ , وَلَقَدْ خَلَفْتَ رَسُوْلَ اللهِ أَحْسَنَ الخَلَفِ , وَسَلَكْتَ طَرِيْقَهُ وَمِنْهاَجَهُ خَيْرَ سُلُوْكٍ وَنَصَرْتَ الإِسْلاَمَ وَوَصَلْتَ الأَرْحاَمَ وَلأَمْ تَزَلْ قاَئِماً بِالحَقِّ حَتَّى أَتاَكَ اليَقِيْنُ , فاَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ

          Assalaamu ‘alaika yaa khaliifata rasuulillaahi, assalaamu ‘alaika yaa shaahiba rasuulillaahi fil-ghaari.
          Assalaamu ’alaika yaa shaahiba rasuulillaahi fil-ghaari.
          Assalaamu ’alaika yaa man anfaqa maalahu kullahu fii hubbillaahi wahubbi rasuulihi.
          Jazaakallaahu ‘an ummati rasuulillaahi khairal jazaa-i.
          Walaqad khalafta rasuulallaahi ahsanal khalafa.
          Wa salakta thariiqahu wa minhaajahu khaira suluukin wa nashartal islaama
          wawashaltal arhaama walam tazal qaa-iman bilhaqqi hattaa ataakal yaqiinu.
          Fassalaamu ‘alaika warahmatullaahi wabarakaatuhu.

          Artinya:

          “Selamat sejahtera padamu wahai khalifah Rasulullah selamat sejahtera padamu wahai teman Rasulullah dalam gua,
          selamat sejahtera padamu wahai orang yang mendermakan semua hartanya karena cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
          Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya.
          Balasan dari umat Rasulullah dan sungguh engkau telah menggantikan Rasulullah sebagai khalifah yang baik,
          dan engkau telah menempuh jalan dan jejaknya dengan sebaik-baiknya, engkau telah membela Islam, engkau telah menghubungkan silaturrahim
          dan engkau senantiasa menegakkan kebenaran sampai akhir hayat. Maka selamat sejahtera padamu dan rahmat serta berkat Allah juga untukmu.”

          Doa salam kepada Umar bin Khathab r.a.

          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمُظْهِرَ الإِسْلاَمِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَفَرُوْقُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمَنْ نَطَقَتْ بِالصَّواَبِ وَكَفَلْتَ الأَيْتاَمَ وَوَصَلْتَ الأَرْحاَمَ وَقَوِيَ بِكَ الإِسْلاَمُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ .

          Assalaamu ‘alaika yaa muzhhiral islaami, assalaamu ‘alaika yaa faaruuqu.
          Assalaamu ‘alaika yaa man nathaqat bish-shawaabi wakafaltal aytaama wawashaltal arhaama wa qawiya bikal islaamu.
          Assalaamu ‘alaika warahmatullaahi.

          Artinya:

          “Salam sejahtera padamu wahai penyebar Islam.
          Selamat sejahtera padamu wahai orang yang tegas memisahkan yang benar dengan yang salah.
          Selamat sejahtera wahai orang yang senantiasa berkata dengan benar, engkau telah menjamin anak yatim,
          engkau telah menghubungkan silaturrahim dan denganmulah Islam telah teguh dan kuat.
          Selamat sejahtera dan rahmat Allah jua padamu

           ketika di Raudhah

          بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ حَمْداً يُواَفِى نِعمَهُ وَيُكاَفئُ مَزِيْدَهُ , ياَرَبَّناَ لَكَ الحَمْدُ كَماَ يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطاَنِكَ , وَصلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لىِ ذُنُوْبِى وَلِوَلِدَيَّ وَأَجْداَدِى وَجَدَّتِى وَأَقاَرِبِى وَإِخْواَنِى وَمَشاَيِخِى وَلِجَمِيْعِ المُؤْمِنيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ الأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فاَسْتَغْفَرُوْا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ أَنْ تُشَفِّعَ فِيَّ نَبِيَّكَ وَرَسُوْلَكَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ لاَيَنْفَعُ ماَلٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ , وَأَنْ تُوْجِبَ لِيَ المَغْفِرَةَ كَماَ أَوْجَبْتَهاَ لِمَنْ جَآءَهُ فىِ حَياَتِهِ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ أَوَّلَ الشَّافِعِيْنَ وَأَنْجَحَ السَّائِلِيْنَ وَأَكْرَمَ الأَوَّلِيْنَ وَالأَخِرْيِنَ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ ياَ أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْماَناً كاَمِلاً وَيَقِيْناً صاَدِقاً حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لاَ يُصِيْبُنِى إِلاَّ ماَكَتَبْتَ لىِ وَعِلْماً ناَفِعاً وَقَلْباً خاَشِعاً وَلِساَناً ذَاكِراً وَرِزْقاً واَسِعاً وَحَلاَلاً طَيِّباً وَعَمَلاً صاَلِحاً مَقْبُوْلاً وَتِجاَرَةً لَنْ تَبُوْرَ . أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ صُدُوْرَناَ وَاسْتُرْ عُيُوْبَناَ وَاغْفِرْ ذُنُوْبَناَ وَآمِنْ خَوْفَناَ وَاخْتِمْ بِالصَّالِحاَتِ أَعْماَلَناَ وَتَقَبَّلْ زِياَرَتَناَ وَرُدَّناَ مِنْ غُرْبَتِناَ إِلىَ أَهْلِناَ وَأَوْلاَدِناَ ساَلِمِيْنَ غاَنِمِيْنَ غَيْرَ خَزاَياَ وَلاَ مَفْتُوْنِيْنَ وَاجْعَلْناَ مِنْ عِباَدِكَ

          Doa salam waktu berziarah ke Baqi’

          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ داَرَ قَوْمٍِ مُؤْمِنِيْنَ , وَأَتاَكُمْ ماَتُوْعَدُوْنَ غَذاً مُؤَجِّلِيْنَ وَإِناَّ إِنْ شاَءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ ِلأَهْلِ البَقِيْعِ .

          Assalaamu ‘alaikum daara qaumim mu’miniina, wa ataakum maa tuu’aduuna ghadan mu-ajjaliina wa innaa in syaa-allaahu bikum laahiquun. Allaahummaghfir li-ahlil baqii’il gharqadi.

          Artinya: “Salam sejahtera atas kamu hai (penghuni) tempat kaum yang beriman!
          Apa yang dijanjikan kepadamu yang masih ditangguhkan besok, pasti akan datang kepadamu, dan kami Insya Allah akan menyusulmu.
          Ya Tuhan! Ampunilah ahli Baqi’ al-gharqad.

          Doa salam kepada Sayyidina Utsman bin Affan

           

          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَذاَ النُّوْرَيْنِ عُثْماَنَ بِنْ عَفَّانَ , أَلسَّلاَمُ عَليْكَ ياَثاَلِثَ الخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمُجَهِّزَ جَيْشِ العُسْرَةِ بِالنَّقْدِ وَالعَيْنِ وَجاَمِعَ القُرْآنِ بَيْنَ الدَّفْتَيْنِ , جَزاَكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ الجَزاَءِ , أَللَّـهُمَّ ارْضَ عَنْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ وَأَكْرِمْ مَقاَمَهُ وَأَجْزِلْ ثَواَبَهُ , آمِيْنَ .

          Latin:

          Assalaamu ‘alaika yaa dzan nuuraini ‘utsmaanabni ‘affaan. Assalaamu ‘alaika yaa tsaalitsul khulafaa-ir raasyidiina. Assalaamu ‘alaika yaa mujahhiz jaisyil ‘usrati bin-naqdi wal-‘aini wajaami’al qur-aani bainad dafataini jazaakallaahu ‘an ummati rasuulillaahi shallallaahu ‘alaihi wasallama khairal jazaa-i. Allaahummardha ‘anhu warfa’ darajatahu wa-akrim maqaamahu wa ajzil tsawaabahu. Aamiin.

          Artinya:

          “Salam dan sejahtera atasmu wahai Utsman bin Affan yang memiliki dua cahaya.
          Salam sejahtera atasmu wahai khalifah yang ketiga.
          Salam sejahtera atasmu wahai orang yang mempersiapkan, membiayai bala tentara di masa perang yang sulit (perang Tabuk) dengan harta dan peralatan, yang telah menghimpun Al-Qur’an dalam satu lembaran (kitab tersusun). Mudah-mudahan Allah memberikan balasan dengan sebaik-baik balasan kepadamu dari umat Rasulullah SAW. Ya Allah, ridhailah dia, tinggikan derajatnya, muliakanlah kedudukannya dan berilah imbalan pagala. Amin.”

          Salam kepada sayyidina Hamzah r.a. dan Mus’ab bin Umair r.a. di Uhud

           

          أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَعَمَّ النَّبِيِّ سَيِّدَناَ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ المُطَلِّبِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَ أَسَدَ اللهِ وَأَسَدَ رَسُوْلِ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَسَيِّدَ الشُّهَداَءِ .

          Latin:

          Assalaamu ‘alaika yaa ‘amman nabiyyi sayyidinaa hamzatabna ‘abdil muththalibi, assalaamu ‘alaika yaa asadallaahi wa asada rasuulillaahi, assalaamu ‘alaika yaa sayyidasy syuhadaa-i. Assalaamu ‘alaika yaa mash’aba bin ‘umair yaa qaa’idal mukhtaari, yaa man atsbata qadamaihi ‘alar rimaahi hattaa ataahul yaqiin.

          Artinya:

          “Salam Sejahtera atasmu wahai paman Nabi Sayyidina hamzah bin Abdul Mutthalib.
          Salam sejahtera atasmu wahai singa Allah dan singa Rasulullah.
          Salam sejahtera atasmu wahai penghulu syuhada.
          Salaamsejahtera atasmu wahai Mus’ab bin Umair wahai pahlawan pilihan, yang meneguhkan kedua kakinya di atas bukit Rimah sampai ia gugur.

          Ibadah Haji: Doa Ketika Sampai di Musdalifah

           

          Doa ketika sampai di Muzdalifah



          أَللَّـهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهاَ أَلْسِنَةٌ تَسْأَلُكَ حَواَئِجَ مُتَنَوِّعَةً فاَجْعَلْنِى مِمَّنْ دَعاَكَ فاَسْتَجَبْتَ لِهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَّيْتَهُ ياَ اَرْحَمَ الرَّحِمْيْنَ .

          Latin:

          Allaahumma inna haadizihi muzdalifatu jumi’at fiihaa alsinatun mukhtalifatun
          tas-aluka hawaa-ija mutanawwi’atan faj’alnii mimman da’aaka fastajabta lahu watawakkal
          ‘alaika fakafaitahu yaa arhamar raahimiin.

          Artinya:

          “Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu
          hajat/keperluan yang aneka ragam. Maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu,
          lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri pada-Mu lalu Engkau lindungi dia,
          wahai Tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang pengasih.

          Ibadah Haji: Doa Sampai Di Mina dan Musdalifah

          Doa ketika sampai di Mina


          أَللَّـهُمَّ هَذاَ مِنَى فاَمْنُنْ عَلَيَّ بِماَ مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِياَئِكَ وَأَهْلِ طاَعَتِكَ.

          Latin:

          Allaahumma haadzaa minaa famnun ‘alayya bimaa mananta bihi ‘alaa auliyaa-ika wa ahli thaa’atika.

          Artinya:

          “Ya Allah, tempat ini adalah Mina, maka anugerahkanlah aku apa yang Engkau telah anugerahkan kepada orang-orang yang dekat dan taat kepada-Mu

          Doa ketika sampai di Muzdalifah



          أَللَّـهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهاَ أَلْسِنَةٌ تَسْأَلُكَ حَواَئِجَ مُتَنَوِّعَةً فاَجْعَلْنِى مِمَّنْ دَعاَكَ فاَسْتَجَبْتَ لِهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَّيْتَهُ ياَ اَرْحَمَ الرَّحِمْيْنَ .

          Latin:

          Allaahumma inna haadizihi muzdalifatu jumi’at fiihaa alsinatun mukhtalifatun
          tas-aluka hawaa-ija mutanawwi’atan faj’alnii mimman da’aaka fastajabta lahu watawakkal
          ‘alaika fakafaitahu yaa arhamar raahimiin.

          Artinya:

          “Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu
          hajat/keperluan yang aneka ragam. Maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu,
          lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri pada-Mu lalu Engkau lindungi dia,
          wahai Tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang pengasih.


          Doa Melontar Jumrah



          بِسْمِ اللهِ أَللهُ اَكْبَرُ رَجْماً لِلشَّياَطِيْنِ وَرِضاً لِلرَّحْمَنِ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْراً وَسَعْياً مَشْكُوْراً .

          Latin:

          Bismillaahi Allaahu akbaru rahman lisy-syayaathiini waridhan lir-rahmaani. 
          Allaahummaj’alhu hajjan mabruuran wa sa’yan masykuuran.

          Artinya:

          “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, kutukan bagi segala syetan dan ridha bagi Allah Yang Maha Pengasih.
          Ya Allah Tuhanku, jadikanlah ibadah hajiku ini haji yang mabrur dan sa’i yang diterima.”

           Doa setelah melontar tiga jumrah

          أَلحَمْدُ ِللهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُباَرَكاً فِيْهِ .أَللَّـهُمَّ لاَ أُحْصِى ثَناَءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَماَ أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ , أَللَّـهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ وَمِنْ عَذاَبِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَغِبْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ فاَقْبَلْ نُسُكِى وَأَعْظِمْ أَجْرِى وَارْحَمْ تَضَرُّعِى وَاقْبَلْ تَوْبَتِى وَأَقِلَّ عَثْرَتِى وَاسْتَجِبْ دَعْوَتِى وَأَعْطنِى سُؤْلِى , أَللَّـهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّـا وَلاَ تَجْعَلْناَ مِنَ المُجْرِمِيْنَ وَأَدْخِـلْناَ فىِ عِباَدِكَ الصَّالِحِيْنَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

          Latin:

          Alhamdu lillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi. Allaahumma laa uhshii tsanaa-an ‘alaika
          anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika. Allaahumma ilaika afadhtu wamin ‘adzaabika asyfaqtu 
          wa ilaika raghibtu waminka rahibtu faqbal nusukii wa a’zhim ajrii warham tadharru’ii 
          waqbal taubatii wa aqilla ‘atsratii wastajib da’watii wa a’thinii su’lii. Allaahumma rabbanaa
          taqabbal minnaa walaa taj;alnaa minal mujrimiina, wa adkhilnaa fii ‘ibaadikash shaalihiina 
          yaa arhamar raahimiin.

          Artinya:

          “Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalamnya. 
          Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu mencakup (segala macam) pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu
          atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan,
          dan kepada-Mulah aku berharap dan aku takut, maka terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku,
          kasihanilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecillah kekeliruanku, perkenankan permohonanku
          dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabulkanlah, terimalah persembahan kami ini
          dan janganlah kami dijadikan orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hamba-Mu
          yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih.

          Ibadah Haji : Doa Ketika Wukuf

          Doa Wukuf

          (1) أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِى لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 100× 
          (2) لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَألمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ . 
          (3) أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ , 3× 
          (4) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, 100× 
          (5) لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ أَشْهَدُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحاَطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً . 
          (6) أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ, إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ 3× 
          (7) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , أَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ , الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ , إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ , إِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ , صِراَطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ . آمِيْنَ . 3× 
          (8) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ , أَللهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ , وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ. 100× 
          (9) صَلَّى اللهُ وَمَلاَئِكَتُهُ عَلَى النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَعَلَى أَلِهِ وعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ , 100× 
          (10) أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِوَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَجُوْدِكَ القَدِيْمِ وَبِاِسْمِكَ الأَعْظَمِ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَأَنْ تَغْفِرَ لَناَ وَلِواَلِدَيْناَ وَأَوْلاَدِناَ وَإِخْواَنِناَ وَأَقْرِباَئِناَ وَمَشاَيِخِناَ وَأَصْحاَبِناَ وَأَزْوَاجِناَ وَأَصْدِقاَئِناَ وَلِمَنْ أَوْصاَناَ بِالدُّعاَءِ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْناَ وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْناَ وَلِمَنْ ظَلَمْناَهُ أَوْ أَسَأْناَ إِلَيْهِ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ أَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ وَإِيَّاهُمْ خَيْراَتِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَنْ تَحْفَظَناَ وَإِيَّاهُمْ مِنْ جَمِيْعِ بَلاِءِ الدُّنْياَ وَأَهْواَلِ يَوْمِ القِياَمَةِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ العُلُوْمَ النَّافِعَةَ وَالأَعْماَلَ الصَّالِحَةَ وَأَنْ تَعْصِمَناَ مِنْ جَمْيِعِ المَعاَصِى الظَّاهِرَةِ وَالباَطِنَةِ وَأَنْ تُسَهِّلَ لَناَ رِزْقاً حَلاَلاً واَسِعاً وَأَنْ تَكِفِيَناَ شَرَّ الأَشْراَرِ مِنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ وَالدَّواَبِّ وَغَيْرِهاَ وَأَنْ تَخْتِمَناَ وَإِيَّاهُمْ بِحُسْنِ الخاَتِمَةِ , آمِيْنَ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

          Latin:

          1. Astaghfirullaahal ‘azhiimalladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi 100 x
          2. Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulka laa syariika laka.
          3. Allaahu akbaru Allaahu akbarau Allaahu akbaru laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru Allaahu akbaru walillaahil hamdu 3 x
          4. Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu biyadihil khairu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun 100 x
          5. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Asyhadu annallaaha ‘alaa kulli syai-in qadiirun wa annallaaha qad ahaatha bikulli syai-in ‘ilmaa.
          6. A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, innallaaha huwas samii’ul ‘aliimu 3 x
          7. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumid diin. 
            Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalliin. Aamiin 3x.
          8. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qul huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid walam yuulad.
            Walam yakun lahu kufuwan ahad 100x.
          9. Shallallaahu wa malaa-ikatuhu ‘alan nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa ‘alaihis salaamu warahmatullaahi wabarakaatuh 100x
          10. Allaahumma innii as-aluka biwajhikal kariimi wajuudikal qadiimi wabismika a’zhami an tushalliya ‘alaa
            sayyidinaa Muhammadin wa antaghfira lanaa waliwaalidainaa wa aulaadinaa wa ikhwaaninaa wa aqribaa-inaa
            wa masyaayikhinaa wa ashhaabinaa wa azwaajinaa wa ashdiqaa-inaa waliman aushaanaa bid-du’aa-i
            waliman ahsana ilainaa waliman lahu haqqun ‘alainaa waliman zhalamnaahu au asa’naa ilaihi
            walijamii’il muslimiina wal-muslimaati al-ahyaa-I minhum wal-amwaati wa an tarzuqanaa
            wa iyyaahum khairayid dunyaa wal aakhirati wa an tahfazhanaa wa iyyaahum min jamii-I balaa-id dunyaa
            wa ahwaali yaumil qiyaamati wa an tarzuqanal ‘uluuman naafi’ata wal-a’maalash shaalihaata
            wa an ta’shimanaa min jamii’il ma’aashii azh-zhaahirati wal-baathinati
            wa an tusahhila lanaa rizqan halaalan waasi’an wa an takfiyanaa syarral asraari minal insi
            wal-jinni wad-dawaabbi waghairihaa wa an takhtimanaa wa iyyaahum bihusnil khaatimati aamiin.
            Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wasallama.

           

          Artinya:

          1. Aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan yang mengatur segala makhluk-Nya dan kepada-Nya aku bertaubat. 100 x
          2. Aku datang memnuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.
          3. Allah Maha Besar, Allah Maha Beasr, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah. Allah-lah Yang Maha Besar, Allah-lah Yang Maha Besar dan hanya milik Allah segala pujian. 3 x
          4. Tiada Tuhan selain Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah-lah kerajaan dan milik Allah-lah pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 100 x
          5. Tiada daya (untuk memperoleh manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Aku bersaksi sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
          6. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. 3 x
          7. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Raja di hari kemudian. Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya ke[ada-Mu lah kami minta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Amin. 3 x.
          8. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah hai Muhammad Allah itu Maha Esa. Allah itu tempat meminta. Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak satupun yang setara dengan Dia. 100 x.
          9. Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi yang ummi serta kepada segenap keluarganya. Semoga shalawat, rahmat dan berkah dari Allah tercurah kepadanya. 100 x.
          10. Ya Allah, kami mohon dengan Dzat-Mu Yang Maha Mulia dan dengan kemurahan-Mu dan dengan nama-Mu Yang Maha Agung,
            limpahkanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Muhammad SAW. Ampunilah kami, ayah bunda kami, anak-anak kami,
            saudara-saudara kami, kaum kerabat kami, guru-guru kami, sahabat-sahabat kami, pasangan kami, teman-teman kami,
            dan orang-orang yang berpesan untuk didoakan dan semua orang yang berbuat baik kepada kami, 
            orang-orang yang pernah kami zalimi ataupun orang yang pernah kami berbuat jahat kepadanya, 
            semua orang-orang muslim dan muslimat yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Dan berilah kami rezeki, 
            juga mereka dengan kebaikan dunia dan bencana pada hari kiamat. Berilah kami ilmu yang bermanfaat
            amal perbuatan yang baik, lindungilah kami dari semua perbuatan maksiat yang nyata dan tersembunyi,
            mudahkanlah kepada kami rizki yang halal yang melimpah, lindungilah kami dari segala kejahatan manusia,
            jin, serta binatang dan lainnya, dan akhirilah hidup kami dan mereka dengan husnul khatimah. Amin.
            Semoga rahmat dan keselamatan tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

          Selain doa wukuf tersebut di atas, ada juga doa wukuf yang lazim dibaca sebagai berikut:

          لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْ فىِ قَلْبِى نُوْراً وَفىِ سَمْعِى نُوْراً وَفىِ بَصَرِى نُوْراً وَفىِ لِساَنِى نُوْراً وَعَنْ يَمِيْنِى نُوْراً وَعَنْ يَساَرِى نُوْراً وَمِنْ فَوْقِى نُوْراً وَمِنْ أَماَمِى نُوْراً وَمِنْ خَلْفِى نُوْراً , أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِى أَمْرِى , أَللَّـهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كاَلَّذِى نَقُوْلُ وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ , أَللَّـهُمَّ لَكَ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْياَيَ وَمَماَتِى وَإِلَيْكَ مَأَبِى وَإِلَيْكَ ثَواَبِى , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَساَوِسِ الصَّدْرِ وَشَتاَتِ الأَمْرِ وَعَذاَبِ القَبْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ النَّهاَرِ وَشَرِّ ماَ تَهُبُّ بِهِ الرِّياَحُ وَمِنْ شَرِّ بَواَئِقِ الدَّهْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ تَحَوُّلِ عاَفِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ , أَللَّـهُمَّ اهْدِنِى بِالهُدَى وَاغْفِرْلىِ فىِ الأَخِرَةِ وَالأُوْلَى ياَ خَيْرَ مَقْصُوْدٍ وَأَسْنَى مَنْزُوْلٍ بِهِ وَأَكْرَمَ مَسْئُوْلٍ ماَلَدَيْهِ أَعْطِنِى العَشِيَّةَ أَفْضَلَ ماَ أَعْطَيْتَ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ وَحُجَّاجِ بَيْتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ياَراَفِعَ الدَّراَجاَتِ وَمُنَزِّلَ البَرَكاَتِ وَياَفَطِرَ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَواَتِ , ضَجَّتْ إِلَيْكَ الأَصْواَتُ بِصُنُوْفِ اللُّغاَتِ يَسْأَلُوْنَكَ الحاَجاَتِ وَحاَجَاتِى أَنْ لاَ تَنْساَنِيَ فىِ داَرِ البَلاَءِ إِذْنَسِيَنِى أَهْلُ الدُّنْياَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلاَمِى وَتَرَى مَكاَنِى وَتَعْلَمُ سِرِّى وَعَلاَنِيَّتِى وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِى , أَناَ البَائِسُ الفَقِيْرُ المُسْتَغِيْثُ المُسْتَجِيْرُ الوَجِلُ المُشْفِقُ المُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ , أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ المِسْكَيْنِ وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهاَلَ المُذْنِبِ الذَّلِيْلِ وَأَدْعُوْكَ دُعاَءَ الخاَئِفِ الضَّرِيْرِ مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ وَفاَضَتْ لَكَ عَبْرَتُهُ وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ وَرَغَمَ لَكَ أَنْفُهُ أَللَّـهُمَّ لاَ تَجْعَلْ بِدُعاَئِكَ رَبِّ شَقِيّاً وَكُنْ بِى رَءُوْفاً رَحِيْماً ياَ خَيْرَ المَسْئُوْلِيْنَ وَأَكْرَمُ المُعْطِيْنَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ ضَيْفٍ قِرًى وَنَحْنُ أَضْياَفُكَ فاَجْعَلْ قِراَناً مِنْكَ الجَنَّةَ , أَللّـهُمَّ إِنَّ لِكُلِّ وَفْدٍ جاَئِزَةً وَلِكُلِّ زاَئِرٍ كَراَمَةً وَلِكُلِّ ساَئِلٍ عَطِيَّةً وَلِكُلِّ راَجٍ ثَواَباً وَلِكُلِّ مُلْتَمِسٍ لِماَ عِنْدَكَ جَزاَءً وَلِكُلِّ مُسْتَرْحِمٍ رَحْمَةً وَلِكُلِّ راَغِبٍ إِلَيْكَ زُلْفًى وَلِكُلِّ مُتَوَسِلٍ إِلَيْكَ عَفْواً وَقَدْ وَفَدْناَ إِلىَ بَيْتِكَ الحَراَمِ وَقَفْناَ بِهَذاَ المَشاَعِرِ العِظَمِ وَشَهِدْناَ هَذاَ المَشاَهِدَ الكِراَمَ رَجاَءً لِماَعِنْدَكَ فَلاَتُخَيِّبْ رَجاَءَناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ الأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْواَتِ وَياَقَاضِيَ الحاَجاَتِ , أَللَّـهُمَّ انْتَصِرْ لَناَ انْتِصاَرَكَ ِلأَحْباَبِكَ عَلَى أَعْداَئِكَ , أَللَّـهُمَّ لاَتُمَكِّنِ الأَعْداَءَ فِيْناَ وَلاَ مِنَّا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْناَ بِذُنُوْبِناَ , أَللَّـهُمَّ أَمِنْ فىِ أَوْطاَنِناَ وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَناَ وَاجْعَلْ وُلاَةَ أُمُوْرِناَ فِيْمَنْ خاَفاَكَ وَاتَّقَاكَ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ المُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ بَلْدَةً أَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَساَئِرَ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالبَلاَءَ وَالوَباَءَ وَالفَحْشاَءَ وَالمُنْكَرَ وَألبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّداَئِدَ وَالمِحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهاَ وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَ ِلإَخْواَنِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ , رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخاَسِرِيْنَ رَبَّناَ هَبْ لَناَ مِنْ أَزْواَجِناَ وَذُرِّياَّتِناَ قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِماَماً , رَبَّناَ أَتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وِفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وِقِناَ عَذاَبَ النَّارِ , آمِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ .

          Latin:

          Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu lahul mulku walahul hamdu yuhyii
          wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil khaitu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.
          Allaahummaj’al fii qalbii nuuran wafii sam’ii nuuran wafii basharii nuuran 
          wafii lisaanii nuuranwa ‘an yamiinii nuuran wa ‘an yasaarii nuuran wamin fauqii nuuran
          wamin tahtii nuuran wamin amaamii nuuran wamin khalfii nuuran.

          Allaahummasyrah lii shadrii wayassir lii amrii. Allaahumma lakal hamdu kalladzii naquulu
          wakhairan mimmaa naquulu. Allaahumma laka shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii
          wa ilaika ma-aabii wa ilaika tsawaabii. Allaahumma innii a’uudzu bika min wasaawisish shadri
          wasyataatil amri wa ‘adzaabil qabri. Allaahumma innii a’uudzu bika min syarri 
          maa yaliju fil-laili wamin syarri maa yaliju fin-nahaari wasyarri maa tahubbu bihir riyaahu
          wamin syarri bawaa-iqid dahri. Allaahumma innii as’uudzu bika min tahawwuli ‘aafiyatika
          wa fuj-ati niqmatika wajamii’I sakhathika.

          Allaahummahdinii bil-hudaa waghfir lii fil-aakhirati wal-uulaa yaa khaira maqshuudin
          wa asnaa manzuulin bihi wa akrama mas-uulin maa ladaihi a’thinil ‘asyiyyata afdhala
          maa a’thaita ahadan min khalqika wa hijjaaji baitika yaa arhamar raahimiin. 
          Allaahumma yaa rafii’ad darajaati wamunazzilal barakaati wayaa faathiral aradhiina was-samaawaati.
          Dhajjat ilaikal ashwaatu bishunuufil lughaati yas-aluunakal haajaati wa haajatii an laa tansaanii
          fii daaril balaa-i idz nasiyanii ahlud dunyaa.


          Allaahumma innaka tasma’u kalaamii wataraa makaanii
          wata’lamu sirrii wa’alaaniyatii walaa yakhfaa ‘alaika syai-un min amrii. Anal baa-isal
          faqiirul mustaghiitsul mustajiirul wajilul musyfiqul mu’tarifu bidzanbihi as-aluka mas-alatal miskiini
          wa abtahilu ilaika ibtihaalal mudznibidz dzaliili wa ad’uuka du’aa-l khaa-ifidh dhariiri 
          man khadha’at laka raqabatuhu wafaadhat laka ‘abratuhu wadzalla laka jasaduhu
          waraghima laka anfuhu. Allahumma laa taj’al bidu’aa-ika rabbi syaqiyyan wakun bii ra-uufan
          rahiiman yaa khairal mas-uuliina wa akramal mu’thiin.

          Allaahumma innaka ja’alta likulli dhaifin qiran wanahnu adhyaafuka faj’al qiraanaa minkal jannata.
          Allaahumma inni likulli wafdin jaa-izatan walikulli zaa-irin karaamatan walikulli saa-ilin ‘athiyyatan
          walikulli raajin tsawaaban walikulli multamisin lima ‘indaka jazaa-an walikulli mustarhimin rahmatan
          walikulli raaghibin ilaika zulfaa walikulli mutawassilin ilaika ‘afwan waqad wafadnaa ilaa baitikal haraami
          waqafnaa bihaadzal masyaa’iril ‘izhaami wasyahidnaa haadzal masyaahidal kiraama raja-an lima
          ‘indaka falaa tukhayyib raja-anaa yaa arhamar raahimiin. Allaahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaati
          wal-mu’miniina wal-mu’minaati al-ahyaa-i minhum wal-amwaati innaka samii’un qariibun mujiibud
          da’awaati wayaa qaadhiyal haajaati.

          Allaahummantashir lanaa intishaaraka li-ahbaabika ‘alaa a’daa-ika. Allaahumma laa tumakkinil
          a’daa-a fiinaa walaa minnaa walaa tusallithhum ‘alainaa bidzunuubinaa.

          Allaahumma aamin fii authaaninaa wa ashlih a-immatanaa waj’al wulaata umuurinaa fiiman khaafaka
          wattaqaaka yaa rabbil ‘aalamiin.

          Allaahumma ashlih jamii’a wulaatil muslimiina wanshuril islaama wal-muslimiina wa-a’
          li kalimataka ilaa yaumid diin.

          Waj’al baldatanaa induniisiyaa baldatan aaminatan muthma-innatan wasaa-iral buldaanil muslimiin.
          Allaahummadfa’ ‘annal ghalaa-a wal-balaa-a wal-wabaa-a wal-fahsyaa-a wal-munkara wal-baghya
          was-suyuufal mukhtalifata wasy-syadaa-ida wal-mihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa
          induniisiyaa khaashshatan wamin buldaanil muslimiina ‘aammatan innaka ‘alaa kulli syainin qadiir.
          Rabbanaghfir lanaa wa li-ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan
          lilladziina aamanuu rabbanaa innaka ra-uufur rahiim. Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa
          watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriina. Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata
          a’yunin waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa. Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil aakhirati
          hasanatan waqinaa ‘adzaaban naari. Aamiin. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin
          wa’alaa aalihi washshbihi wasallama wal-hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

          Artinya:

          “Tidak ada Tuhan selain Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan
          dan milik-Nya semua pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha hidup tidak mati. 
          Di tangan-Nyalah segala kebajikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

          Ya Allah, jadikanlah cahaya terang di kalbuku, di pendengaranku, di penglihatanku, di lidahku,
          di sisi kanan dan di sisi kiriku, di atas dan di bawahku, di hadapan dan di belakangku.

          Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah segala urusanku. Ya Allah hanya milik-Mulah
          segala puji seperti yang Kau ucapkan, dan sebaik-baiknya apa yang kami katakan. Ya Allah,
          hanya untuk-Mu shalatku, ibadahku, hidupku, matiku dan kepada Engkaulah kepulanganku 
          dan kepada Engkau pulalah tumpuan harapanku. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu 
          dari segala godaan-godaan bisikan, dalam hati kekacau balauan segala urusan dan dari siksa kubur.

          Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang menyelinap di gelap malam, dari kejahatan
          di waktu siang hari dan dari kejahatan yang dihembuskan angin serta dari kejahatan bencana masa.

          Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari berubahnya kesehatan pemberian-Mu dan dari bencana
          yang datang tiba-tiba dan dari segala murka-Mu.

          Ya Allah, tunjukilah aku dengan petunjuk Al-Qur’an. Ampunilah dosaku di dunia dan di akhirat.

          Wahai Tuhan yang sebaik-baik yang dimaksud dan sebaik-baik yang memberi tempat
          semurah-murah yang memnuhi permintaan. Anugerahkanlah kepadaku di sore hari ini
          sebaik-baiknya yang telah Engkau anugerahkan kepada salah seorang makhluk-Mu 
          dan pengunjung rumah-Mu (jamaah haji). Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, 
          lebih dari segala yang pengasih.

          Ya Allah, Maha Pengangkat derajat serta yang menurunkan berkah.
          Ya Allah, Pencipta bumi dan langit gemuruhlah suara-suara aduan kepada Engkau
          dengan aneka ragam bahasa. Mereka memohon kepada-Mu berbagai keperluan, dan keperluanku.
          Ya Allah, kiranya Engkau tidak melupakanku di tempat tujuan ketika penduduk dunia melupakanku.

          Ya Allah, Engkau Pasti mendengar perkataanku dan Engkau melihat tempatku, Engkau mengetahui
          apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku lahirkan, tiada sesuatu yang rahasia bagi Engkau
          dari urusanku, aku ini seorang yang menderita dan memerlukan bantuan, yang gemetar minta dilindungi,
          yang mengakui dosanya.

          Aku mohon kepada Engkau dengan permohonan orang-orang yang minta dikasihani, mengharap kepada Engkau
          dengan harapan orang-orang yang berdosa lagi hina. Aku mohon kepada Engkau, dengan permohonan
          orang yang sangat takut dan khawatir, ialah orang yang menundukkan kepala di hadapan Engkau,
          berlinang air matanya, lunglai jasadnya, dan dipasrahkan seluruh tubuhnya.

          Ya Allah, janganlah Engkau jadikan doaku kepada-Mu menjadikan aku sial dan celaka, 
          dan jadikanlah doaku sebagai harapan agar Engkau tetap sayang kepadaku, wahai Tuhan
          yang sebaik-baik tempat meminta dan semurah-murah pemberi. Ya Allah, Engkau telah 
          menetapkan memberi anugerah penghormatan untuk para tamu, kami ini tamu-Mu maka tetapkanlah
          surga itu anugerah penghormatan buat kami. 

          Ya Allah, Engkau sesungguhnya bagi setiap tamu
          berhak mendapatkan penghormatan dan setiap pengunjung mendapatkan kemuliaan (karomah)
          dan setiap pemohon mendapatkan pemberian dan setiap pengharap mendapatkan pahala 
          dan setiap orang yang mengharapkan sesuatu pada-Mu mendapatkan balasan 
          dan setiap pemohon kasih mendapatkan rahmat, dan setiap orang yang mempunyai keinginan
          ke hadapan-Mu mendekapatkan kedekatan dan setiap orang yang bertawassul kepada-Mu mendapatkan ampunan.
          Sekarang kami ini telah datang ziarah ke Baitullah, kami wukuf di tempat yang agung 
          dan kami telah menyaksikan pemandangan-pemandangan yang mulia karena mengharapkan sesuatu pada-Mu,
          maka janganlah menghampakan harapan kami wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

          Ya Allah, ampunilah dosa muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup
          atau sudah wafat, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar; Maha dekat lagi mengabulkan permintaan
          wahai Dzat yang mencukupi kebutuhan. Ya Allah tolonglah kami, seperti pertolongan yang Engkau
          berikan kepada orang-orang yang Engkau cintai untuk mengalahkan musuh-Mu. Ya Allah, 
          janganlah msusuh-musuh kami baik yang di luar maupun yang di dalam diberi kesempatan 
          untuk menguasai kami dengan sebab dosa-dosa kami. Ya Allah, stabilkanlah keamanan negeri kami,
          damaikanlah para pemimpin negara kami, jadikanlah mereka golongan orang yang takut 
          dan takwa kepada-Mu wahai Tuhan alam semesta.

          Ya Allah, rukunkanlah dan damaikanlah semua pemimpin umat islam, tolonglah islam dan kaum muslimin
          dan tinggikanlah kalimat-Mu sampai hari kiamat. Jadikanlah negara kami Indonesia negara yang aman
          sentosa danb penuh berkah demikian pula negara-negara Islam lainnya.

          Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana dan wabah, perbuatan keji dan munkar,
          kezaliman, serangan dan ancaman yang beraneka ragam, keganasan dan segala ujian baik yang nampak
          maupun yang tersembunyi dari negara kami Indonesia khususnya dan negara-negara Islam pada umumnya.
          Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.

          Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,
          dan janganlah Engkau menjadikan dengki dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. 
          Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, 
          kami telah menganiaya diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni 
          dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. 
          Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri/suami dan keturunan kami sebagai buah hati
          dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

          Ya Allah ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di akhirat dan hindarkan kami dari api neraka.
          Semoga salam dan sejahtera tercurah pada njunjungan kami nabi Muhammad SAW, keluarga 
          dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

          Ibadah Haji & Umroh: 


          Doa Melihat Jabal Rahmah

          أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لىِ وَتُبْ عَلَيَّ وَأَعْطِنِى سُؤْلِى وَوَجِّهْ لِيَ الخَيْرَ أَيْنَماَ تَوَجَّهْتُ . سُبْحاَنَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ .

          Latin:

          Allaahummaghfir watub ‘alayya wa-a’thinii su’lii
          wawajjih liyal khaira ainamaa tawajjahtu. Subhaanallaahu walhamdu lillaahi
          walhamdu lillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru.

          Artinya:

          “Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, 
          penuhilah segala permintaanku dan hadapkanlah kebaikan kepadaku dimanapun aku menghadapkan diri. 
          Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. 
          Dan Allah itu Maha Agung.”

          Ibadah Haji: Doa Ketika Berangkat Ke Arafah

          Do’a ketika berangkat ke Arafah

          أَللَّـهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وَإِلىَ وَجْهِكَ الكَرِيْمِ أَرَدْتُ فاَجْعَلْ ذَنْبِى مَغْفُوْراً وَحَجِّى مَبْرُوْراً وَارْحَمْنِى وَلاَ تُخَيِّبْنِى إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ .

          Latin:

          Allaahumma ilaika tawajjahtu wa ilaa wajhikal kariimi aradtu faj’al dzanbii maghfuuran
          wahajjii mabruuran warhamnii walaa tukhayyibnii innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir.

          Artinya:

          “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu Yang Maha Murah aku mengharapkan,
          maka jadikanlah dosaku terampuni, hajiku diterima, kasihanilah aku dan jangan Engkau mengabaikanku.
          Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

          Doa Haji & Umroh: Niat Haji

          Niat Haji

          1. Niat Haji

          لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ حَجًّا

          Latin:

          Labbaikallaahumma hajjan.

          Artinya:

          “Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.”

          نَوَيْتُ الحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ ِللهِ تَعاَلىَ

          Latin:

          Nawaitul hajja wa ahramtu bihaa lillaahi ta’aalaa.

          Artinya:

          “Aku naik haji dengan berihram karena Allah Ta’ala.”

          2. Bacaan Talbiyah

          لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَك

          Latin:

          Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbarika, 
          innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulka laa syariika laka.

          Artinya:

          “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu,
          aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, 
          tidak ada sekutu bagi-Mu.”

          3. Bacaan Shalawat

          أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

          Latin:

          Allaahumma shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad.

          Artinya:

          “Ya Allah limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.”

          4. Do’a sesudah shalawat

          أَللَّـهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ رِضاَكَ وَالجَنَّةَ وَنعُوْذُ بِكَ مِنْ سُخْطِكَ وَالنَّارَ , رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ .

          Latin:

          Allaahumma innaa nas-aluka ridhaaka wal-jannata wana’uudzu bika min sakhathika wan-naari,
          rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar.

          Artinya:

          Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhaan-Mu dan surga, kami berlindung pada-Mu
          dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,
          dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

          Ibadah Haji & Umroh: Doa Salat di Hijir ISMAIL

          Doa sesudah shalat Sunat Mutlak di Hijir Ismail

          أَللَّـهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِى وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ماَاسْتَطَعْتُ , أَعُوزْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِى فاَغْفِرْلىِ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنوُبَ إِلاَّ أَنْتَ , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ ماَ سَأَلَكَ بِهِ عِباَدُكَ الصَّالِحُوْنَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ اسْتَعاَذَكَ مِنْهُ عِباَدُكَ الصَّالِحُوْنَ .

          Latin:

          Allaahumma anta rabbi laa ilaaha illaa anta khalaqtanii
          wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatha’tu.

          A’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu-u laka bini’matika ‘alayya
          wa abuu-u bidzanbii faghfirlii fa-innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta. 


          Allaahumma innii as-aluka min khairi maa sa-alaka bihi ‘ibaadukash shaalihuuna
          wa a’uudzu bika min syarri masta’aadzaka minhu ‘ibaadukash shaalihuun.

          Artinya:

          “Ya Allah, Engkaulah Pemeliharaku, tiada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku,
          aku ini hamba-Mu, dan aku terikat pada janji dan ikatan pada-Mu sejauh kemampuanku.

          Aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang telah ku perbuat, aku akui segala nikmat dari-Mu kepadaku
          dan aku akui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa
          selain Engkau Sendiri.

          Ya Allah aku mohon pada-Mu, kebaikan yang diminta oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh.

          Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang telah dimintakan perlindungan oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

          Ibadah Haji & Umroh: Doa TAWAF Putaran ke Enam

          Doa Haji dan Umrah

          Selanjutnya

          Doa putaran 4

          4. Putaran keempat membaca:

          أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ حَجّاً مَبْرُوْراً وَسَعْياً مَشْكُوْراً وَذَنْباً مَغْفُوْراً وَعَمَلاً صاَلِحاً مَقْبُوْلاً وَتِجاَرَةً لَنْ تَبُوْرَ . ياَعاَلِمَ ماَفىِ الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنِى ياَ أَللهُ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلىَ النُّوْرِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوْجِباَتِ رَحْمَتِكَ وَعَزاَئِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلاَمَةِ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالفَوْزَ بِالجَنَّةِ وَالنَّجاَةَ مِنَ النَّارِ . رَبِّ قَنِّعْنِى بِماَرَزَقْتَنِى وَباَرِكْ لىِ فِيْماَ أَعْطَيْتَنِى وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غاَئِبَةٍ لىِ مِنْكَ بِخَيْرٍ

          Latin:

          Allaahummaj’alhu hajjan mabruuran wasa’yan masykuuran
          wadzanban maghfuuran wa’amalan shaalihan maqbuulan watijaaratan lan tabuura. 
          Yaa ‘aalimu maa fish-shuduuri akhrijnii ya Allaahu minazh zhulumaati ilan nuuri. 
          Allaahumma innii as-aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa-ima maghfiratika 
          was-salaamata min kulli itsmin wal-ghaniimata min kulli birrin wal-fauza biljannati 
          wan-najaata minan naari. Rabbi qanni’nii bimaa razaqtanii 
          wabaarik lii fiimaa a’thaitanii wakhluf ‘alayya kulla ghaaibatin lii minka bikhairin.

          Artinya:

          “Ya Allah, karuniakanlah haji yang mabrur, sa’i yang diterima,
          dosa yang diampuni, amal yang saleh, yang diterima dan usaha yang tidak akan mengalami rugi.
          Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam hati sanubari. 
          Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. 
          Ya Allah aku mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan rahmat-Mu dan keteguhan ampunan-Mu,
          selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat berbagai kebaikan, beruntung memperoleh surga,
          terhindar dari siksa neraka. Tuhanku, puaskanlah aku dengan anugerah yang telah Engkau berikan,
          berkatilah untukku atas semua yang Engkau anugerahkan kepadaku dan gantilah apa-apa yang ghaib dari pandanganku
          dengan kebajikan darimu.”

          Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:

          رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

          Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar.

          Artinya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

          Dapat ditambah:

          وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ

          Wa adkhilnal jannata ma’al abraari. Yaa ‘aziizu yaa ghaffaru yaa rabbal ‘aalamiina.

          Artinya: “Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik,
          wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

          Ibadah Haji  & Umroh: Doa Setelah Minum Air Zam Zam

          Doa Haji dan Umrah

          Selanjutnya

          Doa Waktu Minum Air Zamzam

          Doa yang diajarkan Nabi sebagai berikut:

          أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْئَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

          Latin:

          Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an warizqan waasi’an
          wasyifaa-an min kulli daa-in wasaqamin birahmatika yaa arhamar raahimiin.

          Artinya:

          “Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizki yang luas
          dan kesembuhan dari segala penyakit dan kepedihan dengan rahmat-Mu
          ya Allah Tuhan Yang maha pengasih dari segenap yang pengasih.”

          Ibadah Haji & Umroh: Doa TAWAF Putaran Ke Empat

          Doa Haji dan Umrah

          Selanjutnya

          Doa putaran 4

          4. Putaran keempat membaca:

          أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ حَجّاً مَبْرُوْراً وَسَعْياً مَشْكُوْراً وَذَنْباً مَغْفُوْراً وَعَمَلاً صاَلِحاً مَقْبُوْلاً وَتِجاَرَةً لَنْ تَبُوْرَ . ياَعاَلِمَ ماَفىِ الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنِى ياَ أَللهُ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلىَ النُّوْرِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوْجِباَتِ رَحْمَتِكَ وَعَزاَئِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلاَمَةِ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالفَوْزَ بِالجَنَّةِ وَالنَّجاَةَ مِنَ النَّارِ . رَبِّ قَنِّعْنِى بِماَرَزَقْتَنِى وَباَرِكْ لىِ فِيْماَ أَعْطَيْتَنِى وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غاَئِبَةٍ لىِ مِنْكَ بِخَيْرٍ

          Latin:

          Allaahummaj’alhu hajjan mabruuran wasa’yan masykuuran
          wadzanban maghfuuran wa’amalan shaalihan maqbuulan watijaaratan lan tabuura. 
          Yaa ‘aalimu maa fish-shuduuri akhrijnii ya Allaahu minazh zhulumaati ilan nuuri. 
          Allaahumma innii as-aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa-ima maghfiratika 
          was-salaamata min kulli itsmin wal-ghaniimata min kulli birrin wal-fauza biljannati 
          wan-najaata minan naari. Rabbi qanni’nii bimaa razaqtanii 
          wabaarik lii fiimaa a’thaitanii wakhluf ‘alayya kulla ghaaibatin lii minka bikhairin.

          Artinya:

          “Ya Allah, karuniakanlah haji yang mabrur, sa’i yang diterima,
          dosa yang diampuni, amal yang saleh, yang diterima dan usaha yang tidak akan mengalami rugi.
          Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam hati sanubari. 
          Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. 
          Ya Allah aku mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan rahmat-Mu dan keteguhan ampunan-Mu,
          selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat berbagai kebaikan, beruntung memperoleh surga,
          terhindar dari siksa neraka. Tuhanku, puaskanlah aku dengan anugerah yang telah Engkau berikan,
          berkatilah untukku atas semua yang Engkau anugerahkan kepadaku dan gantilah apa-apa yang ghaib dari pandanganku
          dengan kebajikan darimu.”

          Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:

          رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

          Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar.

          Artinya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

          Dapat ditambah:

          وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ

          Wa adkhilnal jannata ma’al abraari. Yaa ‘aziizu yaa ghaffaru yaa rabbal ‘aalamiina.

          Artinya: “Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik,
          wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

          Ibadah Haji Umroh: Doa Tawaf Putaran Ke Dua

          Doa Haji dan Umrah

          Selanjutnya


          DOA PUATARAN KE DUA

          2. Putaran kedua, dibaca mulai dari hajar Aswad sampai Rukun Yamani:

          أَللَّـهُمَّ إِنَّ هَذاَ ابَيْتَ بَيْتُكَ وَالحَرَمَ حَرَمُكَ وَالأَمْنَ أَمْنُكَ وَالعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَهَذاَ مَقاَمُ العَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَناَ وَبَشَرَتَناَ عَلَى النَّارِ . أَللَّـهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْناَ الإِيْماَنَ وَزَيِّنْهُ فىِ قُلُوْبِناَ وَكَرِّهْ إِلَيْناَ الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْياَنَ وَاجْعَلْناَ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ , أَللَّـهُمَّ قِنِى عَذاَبِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِباَدَكَ , أَللَّـهُمَّ ارْزُقْنِىَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِساَبٍ .

          Latin:

          Allaahumma inna haadzal baita baituka wal-harama haramuka wal-amna amnuka wal-‘abda ‘
          abduka wa ana ‘abduka wabnu ‘abdika wahaadzaa maqaamul ‘aa-idzi bika minan naari faharrim luhuumanaa
          wabasyaratanaa ‘alan naari. Allaahumma habbib ilainal iimaana wazayyinhu fii quluubinaa wakarrih ilainal kufra
          wal-fusuuqa wal-‘ishyaana waj’alnaa minar raasyidiina. 
          Allaahumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadaka,
          Allaahummarzuqnil jannata bighairi hisaabin.

          Artinya:

          “Ya Allah, sesungguhnya Bait ini rumah-Mu, tanah mulia ini tanah-Mu, negeri aman ini negeri-Mu, 
          hamba ini hamba-Mu anak dari hamba-Mu, dan tempat ini adalah tempat orang berlindung pada-Mu dari siksa neraka,
          maka haramkanlah daging dan kulit kami dari siksa neraka. 
          Ya Allah, cintakanlah kami pada iman dan biarkanlah ia menghias hati kami, 
          tanamkanlah kebencian pada diri kami pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka
          serta masukkanlah kami dalam golongan orang yang mendapat petunjuk.
          Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu di hari Engkau kelak membangkitkan hamba-hamba-Mu.
          Ya Allah anugerahkanlah surga kepadaku tanpa hisab.”

          Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca:

          رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

          Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wafil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar.

          Artinya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

          Dapat ditambah:

          وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ

          Wa adkhilnal jannata ma’al abraari. Yaa ‘aziizu yaa ghaffaru yaa rabbal ‘aalamiina.

          Artinya: “Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, 
          wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

           

          « Entri Lama
          %d blogger menyukai ini: