Category Archives: Doa – Dzikir

Doa Pilihan Quran dan Tafsirnya : Saat Sudah Berumur 40 Tahun

Doa Saat Sudah Berumur 40 Tahun

  • Qs.Al-‘Ahqaf: 15
  • رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
  • Rabbi aw zi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fi dzurriyyatii. Innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.
  • Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang

Al-Ahqaf, ayat 15-16

{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (16) }

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Setelah dalam ayat-ayat terdahulu disebutkan tentang tauhid ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, dan istiqamah, lalu disebutkan perintah Allah yang memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal seperti ini sering disebutkan secara bergandengan di dalam Al-Qur’an, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

{وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا}

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra: 23)

{أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang senada.

************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا}

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya dan mengasihi keduanya.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus’ab ibnu Sa’d menceritakan berita ini dari Sa’d r.a yang telah mengatakan bahwa Ummu Sa’d berkata kepada Sa’d, “Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk menaati kedua orang tuanya? Maka sekarang aku tidak mau makan dan, minum lagi sebelum kamu kafir kepada Allah.” Ternyata Ummu Sa’d tidak mau makan dan minum sehingga keluarganya terpaksa membuka mulutnya dengan memakai tongkat (lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya). Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan para penulis kitab sunan -kecuali Ibnu Majah- telah meriwayatkan hadis ini melalui Syu’bah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang lebih panjang.

{حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا}

ibunya mengandungnya dengan susah payah. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu mengalami kesengsaraan karena mengandungnya dan kesusahan serta kepayahan yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil.

{وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا}

dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf: 15)

Yakni dengan penderitaan pula saat melahirkan bayinya lagi sangat susah dan masyaqqat.

{وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا}

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

Sahabat Ali Radhiyallahu Anhu menyimpulkan dalil dari ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Luqman. yaitu firman-Nya:

{وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ}

Dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)

Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al-Baqarah: 233)

Bahwa masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman Radhiyallahu Anhu dan sejumlah sahabat lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma’mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah mengawini seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman Radhiyallahu Anhu dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku.”

Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman Radhiyallahu Anhu, maka Usman Radhiyallahu Anhu memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali Radhiyallahu Anhu, maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?” Usman menjawab, “Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?” Maka Ali Radhiyallahu Anhu bertanya kepada Usman, “Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Usman menjawab, “Benar.” Ali Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan Usman r a berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu.” Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.

Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma’mar berkata “Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi’.”

Ma’mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 81); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

*******************

{حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ}

sehingga apabila dia telah dewasa. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni telah kuat dan menjadi dewasa.

{وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً}

dan umurnya sampai empat puluh tahun. (Al-Ahqaf. 15)

Yaitu akalnya sudah matang dan pemahaman serta pengendalian dirinya sudah sempurna.

Menurut suatu pendapat, biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia empat puluh tahun.

Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan dan Al-A’masy, dan Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, “Bilakah seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Masruq menjawab, “Bila usiamu mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”

وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيد اللَّهِ الْقَوَارِيرِيُّ، حَدَّثَنَا عَزْرَة بْنُ قَيْسٍ الْأَزْدِيُّ -وَكَانَ قَدْ بَلَغَ مِائَةَ سَنَةٍ-حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ السَّلُولِيُّ عَنْهُ وَزَادَنِي قَالَ: قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ عُثْمَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً خَفَّفَ اللَّهُ حِسَابَهُ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِينَ سَنَةً ثَبَّتَ اللَّهُ حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِينَ سَنَةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وشفَّعه اللَّهُ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ، وَكُتِبَ فِي السَّمَاءِ: أَسِيرَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ”

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Qais Al-Azdi yang usianya mencapai seratus tahun, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Kufi alias Umar ibnu Aus, bahwa Muhammad ibnu Amr ibnu Usman telah meriwayatkan dan Usman Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Seorang hamba yang muslim apabila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila usianya mencapai enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki Inabah (kembali ke jalan-Nya). Dan apabila usianya mencapai tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kebaikan-kebaikannya dan menghapuskan keburukan-keburukannya. Dan apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan mengizinkannya untuk memberi syafaat buat ahli baitnya dan dicatatkan (baginya) di langit, bahwa dia adalah tawanan Allah di bumi-Nya.

Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu di dalam kitab Musnad Imam Ahmad.

Al-Hajjaj ibnu Abdullah Al-Hakami, salah seorang amir dari kalangan Bani Umayyah di Dimasyq telah mengatakan, “Aku telah meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa selama empat puluh tahun karena malu kepada manusia, kemudian aku meninggalkannya (sesudah itu) karena malu kepada Allah.” Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:

صَبَا مَا صَبَا حَتى عَلا الشَّيبُ رأسَهُ فلمَّا عَلاهُ قَالَ لِلْبَاطِلِ: ابطُل

Diturutinya semua yang disukainya sehingga uban telah menghiasi kepalanya.

Dan manakala uban telah memenuhi kepalanya, ia berkata kepada kebatilan, “Menjauhlah dariku!”

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي}

Ya Tuhanku, tunjukilah aku. (Al-Ahqaf: 15)

Maksudnya, berilah aku ilham, atau bimbinglah aku.

{أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ}

untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni di masa mendatang.

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي}

berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu keturunanku.

{إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf: 15)

Ini adalah panduan bagi yang sudah berusiah empat puluh tahun untuk memperbaharui tobat dan berserah diri kepada Allah.

Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah SAW mengajari doa tasyahhud, yaitu:

“اللَّهُمَّ، أَلِّفْ بَيْنِ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سبُل السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجَعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْنَا”

selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ}

Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka yang menyandang predikat yang telah kami sebutkan yaitu orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah lagi menanggulangi apa yang telah mereka lewatkan dengan bertobat dan memohon ampun merekalah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal baiknya dan Kami maafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan Kami ampuni dosa-dosa mereka serta Kami terima amal mereka walaupun sedikit.

{فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ}

bersama penghuni-penghuni surga. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka termasuk penghuni-penghuni surga. Demikianlah status mereka d. s.si Allah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya kepada orang-orang yang bertobat dan kembali ke jalan-Nya, oleh karena itu Allah berfirman:

{وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}

Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا المُعْتَمِر بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ، عَنْ الغطْرِيف، عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الرُّوحِ الْأَمِينِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ: “يُؤْتَى بِحَسَنَاتِ الْعَبْدِ وَسَيِّئَاتِهِ ، فَيَقْتَصُّ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، فَإِنْ بَقِيَتْ حَسَنَةٌ وَسَّعَ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ” قَالَ: فدخلتُ عَلَى يَزْدَادَ فَحُدّث بِمِثْلِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: قُلْتُ: فَإِنْ ذَهَبَتِ الْحَسَنَةُ؟ قَالَ: {أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Al-Gatrif, dari Jabir ibnu Yard, dan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari Ar-Ruhul Amin ‘alaihissalam yang telah mengatakan: Seorang hamba akan didatangkan kebaikan dan keburukannya, lalu dilakukanlah penghapusan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Jika masih tersisa suatu kebaikan, Allah memberikan keluasan kepadanya di dalam surga. Ibnu Jarir mengatakan, bahwa lalu ia datang kepada Ali Yazdad dan ternyata dia pun meriwayatkan hadis yang semisal. Aku bertanya, “Bagaimana jika kebaikannya habis?” Ali menjawab dengan membacakan firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Muhammad ibnu Abdul Ala As-San’ani, dari Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman berikut sanadnya yang semisal, tetapi ditambahkan ‘dan Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril ‘alaihissalam)’. Disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan kepada seorang hamba amal-amal baiknya dan amal-amal buruknya, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya. Hadis ini garib, tetapi sanadnya baik dan tidak mengandung cela.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ma’bad telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr Ja’far ibnu Abu Wahsyiyyah dan Abu Wahsyiyyah, dari Yusuf ibnu Sa’d, dari Muhammad ibnu Hatib bahwa ketika Al. beroleh kemenangan atas kota Al-Basrah, Muhammad ibnu Hatib tinggal di rumahku. Dan pada suatu hari ia mengatakan kepadaku, bahwa sesungguhnya ia menyaksikan Khalifah Ali r a yang sedang bersama dengan Ammar, Sa’sa’ah, Asytar, dan Muhammad ibnu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Lalu mereka menceritakan perihal Khalifah Usman r a dan pada akhirnya pembicaraan mereka mendiskreditkannya. Saat itu Ali r a. sedang berada di atas dipannya, sedangkan tangannya memegang tongkat. Lalu seseorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian ada seorang yang akan memutuskan hal ini di antara kalian. Maka mereka menanyakannya kepada Ali Radhiyallahu Anhu Lalu Ali menjawab bahwa Usman Radhiyallahu Anhu termasuk salah seorang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16) Kemudian Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Demi Allah, Usman dan teman-temannya ” Hal ini diulanginya sebanyak tiga kali.

Yusuf ibnu Sa’d berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada Muhammad ibnu Hatib, “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Ali r.a?” Muhammad ibnu Hatib menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar mendengarnya dari Ali Radhiyallahu Anhu secara langsung.”

Doa Pilihan Dalam Quran : Doa Mohon Ampun Orang Bertakwa Qs.Ali ‘Imran: 16 dan Tafsir Qurannya

Doa Pilihan Dalam Quran : Doa Mohon Ampun Orang Bertakwa Qs.Ali ‘Imran: 16 dan Tafsir Qurannya

  • رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
  • Rabbanaa innanaa aamannaa faghfirlanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzaaban naar.
  • Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.,
  • My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small

Ali Imran, ayat 16-17

{الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ (17) }
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu orang-orang yang telah dijanjikan beroleh pahala yang berlimpah. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنا إِنَّنا آمَنَّا
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman.” (Ali Imran: 16)

Yakni beriman kepada-Mu dan kitab-kitab-Mu serta rasul-rasul-Mu.
فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا
maka ampunilah segala dosa kami. (Ali Imran: 16)

Yaitu karena iman kami kepada Engkau, juga kepada apa yang telah Engkau syariatkan buat kami, maka kami memohon semoga Engkau mengampuni kami atas dosa-dosa dan kelalaian kami dalam urusan kami berkat anugerah dan rahmat-Mu.
{وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 16)

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الصَّابِرِينَ
(yaitu) orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 17)
Maksudnya, sabar dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan semua hal yang diharamkan.
وَالصَّادِقِينَ
orang-orang yang benar. (Ali Imran: 17)
Yakni percaya kepada apa yang diberitakan kepada mereka berkat iman mereka, yang hal ini direalisasikan oleh mereka dalam sikap berteguh hati dalam mengerjakan amal-amal yang berat.
وَالْقانِتِينَ
Orang-orang yang tetap taat. (Ali Imran: 17)
Al-qunut artinya taat dan patuh, yakni orang-orang yang tetap dalam ketaatannya.
وَالْمُنْفِقِينَ
orang-orang yang menafkahkan hartanya. (Ali Imran: 17)
Yaitu menafkahkan sebagian dari harta mereka di jalan-jalan ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, silaturahmi, amal taqarrub, memberikan santunan, dan menolong orang-orang yang membutuhkannya.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحارِ
dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur. (Ali Imran: 17)
Ayat ini menunjukkan keutamaan beristigfar di waktu sahur.
Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika berkata kepada anak-anaknya, yang perkataannya disitir oleh firman-Nya:
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي
Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku. (Yusuf: 98)
Maka Nabi Ya’qub menangguhkan doanya itu sampai waktu sahur.
Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain dan kitab-kitab sunnah serta kitab-kitab musnad yang lain diriwayatkan melalui berbagai jalur dari sejumlah sahabat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
«يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثلث الليل الأخير، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟
(Rahmat) Allah Subhanahu wa Ta’ala turun pada tiap malam ke langit dunia, yaitu di saat malam hari tinggal sepertiganya lagi, lalu Dia berfirman, “Apakah ada orang yang meminta, maka Aku akan memberinya? Apakah ada orang yang berdoa, maka Aku memperkenankannya? Dan apakah ada orang yang meminta ampun, maka Aku memberikan ampunan kepadanya,” hingga akhir hadis.

Al-Hafiz Abul Hasan Ad-Daruqutni mengkhususkan bab ini dalam sebuah juz tersendiri. Ia meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur.

Di dalam kitab Sahihain dari Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu disebutkan bahwa setiap malam Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selalu melakukan salat witir, mulai dari awal, pertengahan, dan akhir malam; dan akhir dari semua witir ialah di waktu sahur.

Disebutkan bahwa sahabat Abdullah ibnu Umar melakukan salat (sunat di malam hari), kemudian bertanya, “Hai Nafi’, apakah waktu sahur telah masuk?” Apabila dijawab, “Ya,” maka ia mulai berdoa dan memohon ampun hingga waktu subuh.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hurayyis ibnu Abu Matar, dari Ibrahim ibnu Hatib, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki yang berada di salah satu bagian dalam masjid mengucapkan doa berikut: Ya Tuhanku, Engkau telah memerintahkan kepadaku, maka aku taati perintah-Mu; dan inilah waktu sahur, maka berikanlah ampunan bagiku. Ketika ia melihat lelaki itu, ternyata dia adalah sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu
Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa kami (para sahabat) bila melakukan salat (sunat) di malam hari diperintahkan untuk melakukan istigfar di waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.

Tafsir Quran Surat At Tahrim 11: Doa selamatkan dari Kaum Dzalim dan Diberi Bangunan Indah Di Surga

1532557707159.jpgDoa Dalam Al Quran: Doa Agar Diberi Bangunan Indah di Surga

  • رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

  • Rabibni lii indaka baitan fil jan nati wa naj jini min firauna wa amalihi wa naj jini minal qaumiz zaalimin

  • Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam sorga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim

QS. At-Tahrim 11

Penjelasan:
Doa di atas baik sekali dibaca oleh para pejuang yang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Karena doa tersebut adalah doanya Asiyah binti Mujahim, isteri Fir’aun. Dan Allah membuat isteri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-MU dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim Maksudnya: sebaliknya sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah

wp-1558247991708..jpg

At-Tahrim, ayat 11-12

{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11) وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (12) }

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika ia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, ” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk kaum mukmin bahwa tiada membahayakan mereka pergaulan mereka dengan orang-orang kafir, jika mereka mempunyai keperluan dengan orang-orang kafir, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً}

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. (Ali Imran: 28)

Qatadah mengatakan bahwa Fir’aun adalah orangyang paling melampaui batas dari kalangan penduduk bumi dan paling kafir di antara mereka.

Tetapi demi Allah, kekafiran suaminya itu tidak membahayakan istrinya karena ia selalu taat kepada Tuhannya, agar mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakim Yang Mahaadil, dia tidak menghukum seseorang melainkan karena dosanya sendiri.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Hafs Al-Aili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Salman yang menceritakan bahwa istri Fir’aun disiksa di bawah terik matahari; apabila Fir’aun beranjak meninggalkannya, maka para malaikat menaunginya dengan sayap mereka, dan tersebutlah bahwa dalam siksaan yang dialaminya itu ia dapat melihat rumahnya di dalam surga. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ubaid ibnu Muhammad Al-Muharibi, dari Asbat ibnu Muhammad, dari Sulaiman At-Taimi dengan sanad yang sama.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Hisyam Ad-Dustuwa-i, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Abu Buzah yang mengatakan bahwa istri Fir’aun bertanya, “Siapakah yang menang (dalam pertandingan itu)?” Maka dikatakan kepadanya, “Yang menang adalah Musa dan Harun.” Lalu ia berkata, “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Maka Fir’aun memerintahkan agar istrinya itu ditangkap seraya berpesan kepada para prajuritnya, “Carilah batu besar oleh kalian yang kalian jumpai. Jika dia tetap pada pendapatnya, lemparkanlah batu besar itu kepadanya. Dan jika dia mencabut kembali ucapannya, maka dia tetap menjadi istriku.” Ketika mereka mendatanginya, ia mengarahkan pandangannya ke langit dan dapat melihat calon tempat tinggalnya di surga, maka ia tetap teguh memegang pendapatnya. Kemudian roh di cabut dari jasadnya dan meninggal dengan tenang, lalu batu besar itu ditimpakan di atas tubuhnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyitir ucapan istri Fir’aun:

{رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ}

Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. (At-Tahrim: 11)

Menurut para ulama, istri Fir’aun memilih tetangga sebelum memilih rumah. Hal yang semakna telah disebutkan dalam suatu hadis yang berpredikat marfu’.

{وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ}

dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya. (At-Tahrim: 11)

Yakni bebaskanlah aku darinya, karena sesungguhnya aku berlepas diri kepada Engkau dari semua perbuatannya.

{وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}

dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim. (At-Tahrim: 11)

Wanita ini bernama Asiah binti Muzahim Radhiyallahu Anhu

Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa imannya istri Fir’aun melalui iman istri bendahara Fir’aun. Kisahnya bermula ketika istri bendahara duduk menyisiri rambut anak perempuan Fir’aun, lalu sisir yang digunakannya itu terjatuh, dan ia berkata, “Celakalah orang yang kafir kepada Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun bertanya kepadanya, “Apakah engkau punya Tuhan selain ayahku?” Istri bendahara menjawab, “Tuhanku, Tuhan ayahmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun menamparnya dan memukulnya, lalu ia melaporkan hal itu kepada ayahnya.

Fir’aun memerintahkan agar istri bendahara ditangkap, lalu ia menanyainya, “Apakah engkau menyembah Tuhan lain selain aku?” Istri bendahara menjawab, “Ya. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, dan hanya kepada-Nya aku menyembah.” Lalu Fir’aun menyiksanya dengan mengikat kedua tangan dan kedua” kakinya pada pasak-pasak dan melepaskan ular-ular berbisa untuk mengerumuninya. Istri bendahara dalam keadaan demikian hingga pada suatu hari Fir’aun datang dan berkata, “Apakah kamu mau menghentikan keyakinanmu itu?” Tetapi istri bendahara itu justru menjawab, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.”

Fir’aun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku akan menyembelih anak laki-lakimu yang terbesar di hadapanmu jika kamu tidak mau melakukan apa yang kuperintahkan.” Ia menjawab, “Laksanakanlah apa yang ingin engkau putuskan.” Akhirnya Fir’aun menyembelih anak laki-lakinya di hadapannya; dan sesungguhnya roh anak laki-lakinya menyampaikan berita gembira kepadanya dan mengatakan, “Hai Ibu, bergembiralah, sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala anu dan anu.” Akhirnya ia tetap bersabar dan teguh dalam menghadapi siksaan itu.

Di hari yang lain Fir’aun datang, lalu mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya, maka ia menjawabnya dengan kata-kata yang sama. Kemudian Fir’aun menyembelih lagi putranya yang lain di hadapannya. Dan roh putranya itu menyampaikan berita gembira pula kepada ibunya seraya berkata, “Hai Ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala yang besar sekali.”

Ternyata istri Fir’aun mendengar pembicaraan roh kedua putra istri bendahara itu, akhirnya ia beriman. Lalu Allah mencabut nyawa istri bendahara Fir’aun itu dan menampakkan pahala dan kedudukannya serta kemuliaannya di sisi Allah di mata istrinya Fir’aun, sehingga keimanan istri Fir’aun bertambah kuat dan begitu pula keyakinannya.

Lalu Allah menampakkan keimanan istri Fir’aun kepada suaminya, maka Fir’aun berkata kepada para pemimpin kaumnya, “Bagaimanakah pengetahuan kalian tentang Asiah binti Muzahim?” Ternyata mereka memujinya. Maka Fir’aun berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia sekarang menyembah selainku.” Mereka berkata kepada Fir’aun, “Kalau begitu, bunuh saja dia.” Maka dibuatkanlah untuknya empat buah pasak, kemudian kedua tangan dan kaki Asiah diikatkan pada masing-masing pasak, lalu Asiah berdoa kepada Allah yang disitir oleh firman-Nya: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. (At-Tahrim: 11)

Fir’aun datang menyaksikan ucapannya itu, lalu Asiah tertawa ketika menyaksikan rumahnya di surga. Maka Fir’aun berkata, “Tidakkah kalian heran dengan kegilaannya ini. Sesungguhnya kita menyiksanya, sedangkan dia tertawa.” Maka Allah mencabut nyawa Asiah dan menempatkannya di dalam surga, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepadanya.

wp-1558248245319..jpg

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا}

dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (At-Tahrim: 12)

Yakni memelihara dan menjaga kehormatannya. Al-ihsan artinya memelihara kesucian dirinya dan kehormatannya.

{فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا}

maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami. (At-Tahrim: 12)

Yaitu melalui Malaikat Jibril, karena sesungguhnya Allah mengutus Jibril kepadanya dalam rupa seorang manusia yang sempurna, dan memerintahkan kepada Jibril agar meniupkan ke dalam baju kurungnya sekali tiup dengan mulutnya. Maka tiupan itu turun ke bawah dan memasuki farjinya, lalu terjadilah kehamilan karenanya, yaitu mengandung Isa ‘alaihissalam Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ}

maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya. (At-Tahrim: 12)

yakni beriman kepada takdir dan syariat-Nya.

{وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ}

dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 12)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ، عَنْ عِلْباء، عَنْ عِكْرِمة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: خَطّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ خُطُوطٍ، وَقَالَ: “أَتُدْرُونَ مَا هَذَا؟ ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ: خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, dari Alba, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: (ini menggambarkan) wanita-wanita ahli surga yang paling utama. (yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ”

Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya keutamaan Aisyah di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya.

Kami telah menyebutkan jalur-jalur hadis-hadis ini berikut lafaz-lafaznya, dan telah kami bahas pula mengenainya dalam kisah Isa putra Maryam ‘alaihissalam dalam kitab kami yang berjudul Al-Bidayah wan Niyahah; segala puji dan anugerah adalah milik Allah.

Telah kami sebutkan pula berita yang disebutkan di dalam hadis yang menyatakan bahwa Maryam dan Asiah binti Muzahim kelak akan menjadi istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di dalam surga, yaitu pada tafsir firman-Nya:

{ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا}

yang janda dan yang perawan. (At-Tahrim: 5)

Demikianlah akhir tafsir surat At-Tahrim, segala puji dan anugerah bagi Allah semata.

wp-1558248369742..jpg

Doa Rasulullah menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan

Doa Rasulullah menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan :

للَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَ لْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku.
Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi.

Ya Rahman terimalah seluruh amal ibadahku di Bulan Ramadhan ini

Ya Wasi’al Magfirah ampunilah seluruh dosa-dosaku, dosa ibu bapakku dan dosa orang-orang yang aku cintai dan sayangi karena Allah.

Ya Mujiib, kabulkanlah seluruh doa-doaku.
Taqabalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik

Semoga amalanku dan amalan kita semua, puasaku dan puasa kita semua diterima-Nya serta disempurnakan-Nya.
آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

Tatacara, Doa dan Tuntunan Mencukur Rambut Bayi

DOA MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN HADISTNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين اللهم نور السموات ونور الشمس والقمر ، اللهم سر الله نور النبوة رسول الله صلى الله عليه وسلم والحمد لله رب العالمين

bismillahirrohmanirrohim alhamdulillahirobbil ‘alamin allohumma nurus samawati wa nurus syamsi wal qomari allohumma sirrulloh nurun nubuwwati rosulullohi shollallohu alaihi wasallama walhamdulillahi robbil ‘alamin

Doa meniup ubun2 setelah dicukur:
اللهم انى أعيذها وذرياتها من الشيطان الرجيم
“Allohumma innii u’idzuha bika wa duriyyatiha minasyaithonirrojim…

Dasar Hukum:
hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi Hasan dengan kambing, dan beliau menyuruh Fatimah,

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الحسن بشاة، وقال: يا فاطمة احلقي رأسه وتصدقي بزنة شعره فضة

‘Cukur rambutnya, dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut itu.’

Fatimah pun menimbang rambut itu, dan ternyata beratnya sekitar satu dirham atau kurang dari satu dirham. (HR. Turmudzi 1519, Ibnu Abi Syaibah dalam
Mushanaf

24234, dishahihkan al-Hakim dalam
Mustadrak

7589 dan didiamkan azd-Dzahabi).

Catatan: satu dirham = 2,975 gr perak

Kemudian, dalam karyanya Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyim menyebutkan beberapa riwayat dan keterangan ulama yang menganjurkan bersedekah dengan perak seberat rambut bayi.

Pertama, Imam Ahmad mengatakan

إن فاطمة رضي الله عنها حلقت رأس الحسن والحسين وتصدقت بوزن شعرهما ورقا

“Sesungguhnya Fatimah
radhiyallahu ‘anha

mencukur rambut Hasan dan Husain, dan bersedekah dengan wariq (perak) seberat rambutnya.

Kedua, Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, beliau mengatakan,

وزنت فاطمة شعر حسن وحسين وزينب وأم كلثوم فتصدقت بزنة ذلك فضة

Fatimah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, dan beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.

Ketiga, Imam Malik juga menyebutkan dalam al-Muwatha’ dari Muhammad bin Ali bin Husain, bahwa beliau mengatakan,

وزنت فاطمة بنت رسول الله شعر حسن وحسين فتصدقت بزنته فضة

Fatimah bintu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam

menimbang rambut Hasan dan Husain, kemudian beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.

Doa Quran: Doa Berlindung dari Setan

My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small,,,,,, ,,,,,,,,

Doa Berlindung dari Setan

Qs.Al-Mu’minun: 97-98


رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Rabbi a’uudzubika min hamazaatis syayaathiin. Wa a’uudzubika rabbi ayyahdhuruun.


Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.,,

Dzikir Sebelum Terbit Matahari


Dzikir Sebelum Terbit Matahari

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Kami dan seluruh kerajaan memasuki waktu pagi hanya karena Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan hanya milik-Nya dan segala pujian hanya untuk-Nya, Dia maha berkuasa atas segala sesuatu… Wahai Tuhanku, aku memohon kebaikan yang ada di hari ini dan setelahnya, (sebaliknya) aku memohon perlindungan dari keburukan yang ada di hari ini dan setelahnya… Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan buruknya hari tua… Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka dan adzab kubur.

Ibnu Mas’ud mengatakan: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika pagi membaca dzikir ini. (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Ya Allah dengan (rahmat dan pertolongan)-Mu kami memasuki waktu pagi dan dengan-Mu kami memasuki waktu sore, dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati, serta kepada-Mu-lah kebangkitan (semua makhluk).

Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dahulu mengajarkan dzikir ini kepada para sahabatnya, beliau mengatakan: “Jika masuk waktu pagi, bacalah dzikir ini!”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ، أُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Ya Allah, sungguh aku memasuki waktu pagi ini (dengan) mempersaksikan kepada Engkau… kepada para malaikat pemikul Arsy-Mu… kepada para malaikat-Mu (yang lain)… dan kepada seluruh makhluk ciptaan-Mu… bahwa sesungguhnya Engkau-lah Allah, yang tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Engkau, (aku juga mempersaksikan kepada mereka semua) bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa ketika pagi atau sore membaca dzikir ini satu kali, maka Allah membebaskan 1/4 dirinya dari neraka. Barangsiapa membacanya dua kali, maka Allah membebaskan 1/2 dirinya dari neraka. Barangsiapa membacanya tiga kali, maka Allah membebaskan 3/4 dirinya dari neraka. Dan barangsiapa membacanya empat kali, maka Allah membebaskannya dari neraka. (HR. Abu Dawud, Ibnus Sunni dan lainnya, di-hasan-kan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Ibnu Baz)

أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا، وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ

Aku memasuki waktu pagi ini dengan berpegang teguh pada ajaran Islam, kalimat ikhlas (yakni kalimat tauhid laa ilaaha illalloh), ajaran Nabi kita Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dan agama ayah kita Ibrohim, seorang yang muslim (pasrah), selalu tunduk pada Allah, dan tidak tergolong orang-orang musyrik.

Abdurrohman bin Abza mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dahulu ketika pagi dan sore membaca doa ini. (HR. Ahmad dan lainnya, di-shohih-kan oleh Albani)

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Maha suci Allah, aku memujiNya dengan pujian sebanyak makhlukNya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan arsyNya dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya.

Dari Juwairiyah (ummul mukminin), ia mengisahkan: Suatu hari saat Shubuh tiba, ia sudah (duduk berdzikir) di tempat sholat dalam rumahnya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggalkannya keluar (untuk sholat di masjid), kemudian beliau kembali ketika sudah masuk waktu dhuha, sedangkan dia masih tetap duduk (ditempat sholat itu sambil dzikir). Maka beliau mengatakan: “Kamu masih seperti itu, sejak kutinggal tadi?!”. Ia mengatakan: “Ya”. Lalu beliau mengatakan: “Aku akan membaca empat kalimat sebanyak tiga kali, seandainya ia ditimbang dengan dzikir yang kamu ucapkan hari ini, tentu akan melebihi dzikirmu hari ini” lalu beliau membaca dzikir ini… (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً, وَرِزْقاً طَيِّباً, وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah… sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amalan yang maqbul (diterima oleh-Nya)

Ummu Salamah mengatakan: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca doa ini setelah sholat fajar”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Thobaroni, Al-Haitsami dan Albani mengatakan: Sanadnya Jayyid)

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa membaca dzikir ini 100 kali, maka baginya (pahala) memerdekakan 10 budak, dicatat 100 kebaikan baginya, dihapus 100 keburukan darinya, dzikir ini akan menjaganya dari (gangguan) setan pada hari itu hingga sore, dan tidak ada seorang pun yang amalannya melebihinya kecuali orang yang melakukan amalan lebih banyak dari itu. (HR. Bukhori dan Muslim)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَباًّ، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِياًّ

Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai Agamaku dan Muhammad sebagai Nabiku.

Dari Munaidzir -seorang sahabat-, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa saat pagi membaca dzikir ini, maka akulah penjaminnya, aku akan menggandengnya hingga kumasukkan ke surga”. (HR. Thobaroni dan Ibnu Mandah, Albani mengatakan: Hadits ini tsabit)

Doa Afdol : Tatacara Berdoa, Waktu dan Tempat Terbaik Berdoa

Tata Cara Berdoa

1. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan

Dari Jabir RA, bahwa Nabi SAW ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.r. Muslim)

Dari Salman RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (H.r. Abu Daud & Turmudzi dan beliau hasankan)

Cara mengangkat tangan dalam berdoa:

Ibn Abbas RA mengatakan, bahwa Nabi SAW ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r. Thabrani)

2. Didahului hamdalah atau pujian, Istighfar dan Shalawat

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid RA berkata : “Tatkala Nabi SAW duduk di masjid, tiba-tiba seorang laki-laki masuk, lalu shalat, setelah selesai ia membaca doa : “Allaahummaghfirlii warhamnii”. Maka Rasulullah saw pun berkata : “Wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah karena Dia yang memilikinya, lalu kau baca shalawat kepadaku dan lalu berdoa. Berkata pula Fadhalah : “Kemudian datang pula seorang lain, setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi saw dan setelah itu Nabi bersabda : “Berdoalah, akan dipenuhi !”.(HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’I dan Tirmidzi)

3. Dengan suara lembut dan rasa takut

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. : “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” “(QS. Al-A’raaf, 7:55-56)

4. Yakin akan dipenuhi

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku akan mengikuti persangkaan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepadaKu”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku mengikuti sangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya sepanjang ia ingat kepadaKu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika kamu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadhiratNya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.”(HR. Ahmad)

5. Tidak Berlebih-lebihan

Baik dalam ucapan, maupun sikap ataupun isi permintaan. Sabda Rasulullah saw :Akan datang suatu kaum yang keterlaluan dalam berdoa. (h.r. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Malik)

6. Banyak bertaubat dan Istighfar

Allah SWT berfirman,

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ketika menjelaskan surat Nuh di atas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika kalian meminta ampun (beristigfar) kepada Allah dan mentaati-Nya, niscaya kalian akan mendapatkan banyak rizki, akan diberi keberkahan hujan dari langit, juga kalian akan diberi keberkahan dari tanah dengan ditumbuhkannya berbagai tanaman, dilimpahkannya air susu, dilapangkannyaharta, serta dikaruniakan anak dan keturunan. Di samping itu, Allah juga akan memberikan pada kalian kebun-kebun dengan berbagai buah yang di tengah-tengahnya akan dialirkan sungai-sungai.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 388)

7. Jangan mendoakan keburukan

Dari Jabir RA, Nabi SAW bersabda,

“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.” (H.r. Abu Daud)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.” (H.R. Muslim dan Abu Daud)

Waktu yang paling baik untuk berdo’a

1. Antara azan dan Iqamat.
2. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya.
3. Waktu sepertiga malam yang terakhir.
4. Sepanjang hari jum’at
5. Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib
6. Ketika Khatam membaca Al-Qur’an
7. Ketika Turun hujan.
8. Ketika melakukan Tawaf.
9. Ketika menghadapi musuh dimedan perang.
10. Dalam berdo’a sebaiknya di ulang 3 (tiga) kali.
11. Ketika berpuasa hingga berbuka
12. Di bulan Ramadhan

Tempat-tempat yang baik untuk berdo’a

1. Didepan dan didalam Kabah.
2. Dimasjid Rasulullah saw.
3. Di belakang makam Nabi Ibrahim as.
4. Diatas bukit Safa dan Marwah.
5. Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga.
6. Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid atau Mushalla.

22 Doa Pilihan Dalam Hadits Nabi

Doa Mohon Ampunan Dosa

Allahummaghfirlii khathi’athii wajahlii wa israfii fii amrii wamaa anta a’lamu bihi minni allahummaghfirlii hazlii wajiddii wakhathayaaya wa’amdi wakullu dzaalika ‘indi

Artinya : Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, perbuatanku yang melampaui batas di setiap urusanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku, canda tawaku, kesungguhanku, kesalahanku, kesengajaanku dan setiap perkara yang ada padaku. (HR. Bukhari No.5920)

Doa Mohon Curahan Rahmat dan Ampunan

Allahumma inii zhalamtu nafsii zhulman katsiiran walaa yaghfirudzdzunuuba illaa anta fahghfirlii min indika maghfiratan innaka antal ghafuururrahiim

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dgn kezhaliman yg banyak, & tak ada yg bisa mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah bagiku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (HR. Bukhari No.6839)

Doa Sayyidul Istighfar

Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta khalaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu’u laka bidzanbi wa abuu’u laka bini’matika ‘alayya faghfirli fa innahu laa yaghfiru adz dzunuuba illa anta

Artinya : Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tak ada Tuhan yg berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku & aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu & janji-Mu sesuai dgn kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu & aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tak ada yg dapat mengampuni dosa selain-Mu. (HR. Nasai No.5427)

Doa Kebaikan Dunia Akhirat

Allahumma ashlih lii diinii alladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaaya allatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhiratiillatii fiihaa ma’aadzii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khairin, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarrin

Artinya : Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yg menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yg menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan & jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim No.4897)

Doa Mohon Petunjuk Allah

Allahumma innii as-aluka rahmatan min ‘indika tahdii bihaa qalbii wa tajma’u bihaa amrii, wa talummu bihaa sya’atsii, wa tushlihu bihaa ghaaibii, wa tarfa’u bihaa syaahidii, wa tuzakkii bihaa ‘amalii, wa tulhimunii bihaa rusydii, wa taruddu bihaa ulfatii, wa ta’shimunii bihaa min kulli suuin.

Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, & dengannya Engkau kumpulkan urusanku, dengannya Engkau cela kekacauanku, & dengannya Engkau perbaiki apa yg tak nampak dariku, & dengannya Engkau angkat apa yg nampak padaku, dengannya Engkau mensucikan amalanku, dengannya Engkau mengilhami pikiranku, & dengannya Engkau kembali kelembutanku, dengannya Engkau melindungiku dari segala keburukan. (HR. Tirmidzi No.3341)

Doa Mohon Kesehatan, Berlindung dari Kefakiran&Adzab Kubur

Allahumma ‘aafini fi badani, Allahumma ‘aafini fi sam’iy, Allahumma ‘aafini fi bashariy. (3X)
Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri, wa a’udzubika min ‘adzabil qabri, laa ilaha illa anta. (3X)

Artinya : Ya Allah berikanlah kesehatan bagi badanku, bagi pendengaranku, bagi penglihatanku, dan tidak ada Ilah kecuali Engkau . (3x)
Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefaqiran, Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, tidak ada Ilah kecuali Engkau (3x)

[Diriwayatkan oleh (1) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 20430, (2)Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 701, (3) Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 5090, (4) Imam An Nasa’i No. 22, 572, 651, (5) Imam Ibnus Sunni No. 69, (6) Imam Ibnu Abi Syaibah 7/26.]

Doa Berlindung dari Keburukan

Allaahumma innaa nas-aluka min khairi maa sa-alaka minhu nabiyyuka muhammadin wa na’uudzu bika min syarri mas ta’aadza minhu nabiyyuka muhammadun shallallahu ‘alaihi wasallam wa antal musta’aanu wa ‘alaikal balaagh, wa laa haula wa laa quwwata illaa billah

Artinya: Ya Allah, kami memohon diantara kebaikan apa yang diminta NabiMu Muhammad, dan kami berlindung dari keburukan yang NabiMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepadanya, Engkau Tempat meminta pertolongan, dan Engkaulah tempat mengadu, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali karena pertolonganMu. (HR. Tirmidzi No. 3443)

Doa Teguh Pendirian

Allahumma innii as alukats tsabaata fil amr, wal aziimata ‘alar rusyd, wa as aluka syukra ni’matik, wahusna ‘ibaadatik, wa as aluka qalban saliiman, wa as aluka lisaa-nan shaadiqan. Wa as aluka min khairi maa ta ‘lam, wa a ‘uudzu-bika min syarrimaa talam, wa astaghfiruka limaa talam, innaka anta ‘allamul ghuyuub

Artinya : Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam menghadapi semua urusan, dan tekad yang kuat dalam mencari kebenaran, aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, Saya meminta kepada-Mu kebagusan ibadah kepada-Mu, waya meminta kepada-Mu hati yang bersih, saya meminta kepada-Mu lidah yang benar, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang engkau ketahui dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang engkau ketahui, aku memohon ampun-Mu terhadap segala kesalahan yang engkau ketahui, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib. (HR. Tirmidzi No. 3329, HR. Nasa’i No. 1287, HR. Ahmad No. 16491)

Doa Menjenguk Orang Yang Sakit

Allahumma rabban naasi mudzhibil ba`sa isyfii anta syaafi laa syaafiya illa anta syifaa`an laa yughaadiru saqama

Artinya: Ya Allah Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit. (HR. Bukhari No.5301)

Doa Mohon Hajat Dikabulkan

Laa ilaaha illa allahu al haliimul kariimu subhaanaallahu rabbal ‘arsyil azhiimi al hamdulillahi rabbil ‘aalamiin allahumma inni as`aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa`imi maghfiratika wa ghaniimati min kulli birrin was salaamata min kulli itsmin as`aluka alla tada’a lii illa ghafarta wa laa hamman illa farrajta wa laa haajatan hiya laka ridlan illa qadlaita lii

Artinya : Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah Yang Maha Lembut dan Maha Pemberi. Maha Suci Allah, pemilik ‘Arsy yang agung, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sesuatu yang mewajibkan datangnya rahmat-Mu dan hal-hal yang menguatkan datangnya ampunan-Mu, mendapatkan semua kebaikan, bersih dari segala dosa. Aku memohon kepada-Mu agar tidak meninggalkan dosa bagiku kecuali Engkau ampuni, dan kesedihan kecuali Engkau hapuskan, dan hajat yang Engkau ridlai kecuali engkau penuhi. (HR. Ibnumajah No. 1374)

Jika berkeinginan sesuatu, maka hendaknya berwudhu, kemudian shalat dua rakaat. Setelah selesai shalat, baca doa di atas, dilanjutkan memohon apa yang diinginkan kepada Allah Swt.

Doa Berlindung dari Kepikunan dan Fitnah Dunia

Allahumma innii a’uudzu bika minal jubni, wa a’uudzu bika minal bukhli, wa a’uudzu bika min an uradda ilaa ardzalil ‘umur wa a’uudzu bika min fitnatid dunya wa ‘adzaabil qabri

Artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu kepikunan, aku berlindung dari fitnah dunia & siksa kubur. (HR. Bukhari No. 5897)

Doa Melihat Orang Mendapat Musibah

Alhamdulillaahilladzii ‘afaafii mimmabtalaaka bihii wa fadldlalanii ‘alaa katsiirin mimman khalaqa tafdliila.

Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diberikan kepadamu, dan melebihkanku atas kebanyakan orang yang Dia ciptakan. (HR. Tirmidzi No. 3354)

Doa Meminta Ketakwaan dan Sifat Qona‘ah

Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.

Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina. (HR. Muslim No. 2721)

Doa Mohon Dilimpahkan Harta Halal dan Dijauhkan yang Haram

Allahumak-finii bi halaalika ‘an haraamik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak

Artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3563)

Doa Mohon Ilmu bermanfaat

Allahumma inni as`aluka ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan

Artinya : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yg bermanfaat, rizki yg baik & amal yg diterima. (HR. Ibnumajah No.915)

Doa Mohon Panjang Umur dan Banyak Harta

Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thaitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii

Artinya: Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku. (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Doa Terhindar dari Lilitan Hutang

Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghram

Artinya : Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa & terlilit hutang. (HR. Bukhari No. 2222)

Allahumma inni a’uudzu bika min ghalabatid daini wa ghalabatid ‘aduwwi wa syamaatatil a’da’

Artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang, penindasan musuh dan kehabagiaan musuh. (HR. Nasai No. 5393)

Doa Saat Kesusahan

Laa ilaaha illallaahul haliimul hakiim, laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim, laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wal ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim

Artinya : Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Lembut, Maha Bijaksana, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Pemilik ‘arsy yang agung, tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi dan Tuhan Pemilik ‘arsy yang mulia.

Doa Saat Gundah Dan Berduka

Allahumma inni ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu ammatika, nashiyati biyadika madlin fi hukmika ‘adlun fi qadla`uka, as`aluka bikulli ismin huwa laka sammaituka bihi nafsaka au anzaltahu fi kitabika au ‘allamtahu ahadan min khalqika au ista`tsarta bihi fi ‘ilmil ghaib ‘indaka an taj’alal qur`an rabi’a qalbi wa nura shadri wa jila`a huzni wa dzahaaba hammi

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa), ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadlaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan. (HR. Ahmad 1/391)

Doa Mohon Perlindungan Untuk Anak

U’iidzukumaa bikalimaatillaahitaammah min kulli syaithaanin wa hammah, wa min kulli ‘ainin laammah

Aku melindungi kalian dengan kalimat Allah -Al quran atau asma’ dan sifat-Nya- yang sempurna dari setiap syetan dan binatang berbisa serta ‘Ain yang dengki. (HR. Tirmidzi No. 1986)

Doa Menolak Firasat/Merasa Sial

Allahumma la khaira illa khairuka, wa la thaira illa thairuka wa la ilaha ghairuka

Artinya : Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Kau tetapkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. (HR Ahmad no 7045, dinilai hasan oleh Syeikh Syuaib al Arnauth).

Doa Lailatul Qadar

Allahumma innaka affuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

Artinya : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau mencintai seorang pemaaf, maka ampunilah aku. (HR. Ahmad No. 24320)

Tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan

Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66).
Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar.
Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34).
Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224)

Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan:

1- Waktu sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

2- Saat berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

3- Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Sumber

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya :

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam


Doa Pilihan Dalam Quran : Untuk Berlindung Dari Kejahatan Setan

Doa Berlindung dari Setan
Qs.Al-Mu’minun: 97-98

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

  • Rabbi a’uudzubika min hamazaatis syayaathiin. Wa a’uudzubika rabbi ayyahdhuruun.
  • Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.

Doa Berlindung dari Kejahatan Setan
Qs.An-Naas: 1-6

* قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ * مَلِكِ ٱلنَّاسِ * إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ * مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ * ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ * مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

  • Qul a’uudzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas. Minal jinnati wan naas.
  • Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia.

Doa Berlindung dari Kejahatan Makhluk
Qs.Al-Falaq: 1-5

أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ * وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

  • A’uudzu bi rabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wa min syarrin naffaatsaatifil ‘uqad. Wa min syarri haasidin idzaa hasad.
  • Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

Doa Setelah Shalat Tarawih (Doa Kamilin)

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya :

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam


DOA PILIHAN QURAN: Doa Mohon Ampunan dan Rahmat Allah

DOA PILIHAN QURAN: Doa Mohon Ampunan dan Rahmat Allah

  • rabbanaa aamannaa faaghfir lanaa waarhamnaa wa-anta khairurraahimiin(a)
  • Artinya : Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik (QS. Al Mu’minun: 109).
  • rabbiighfir waarham wa-anta khairurraahimiin(a)
  • Artinya : Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik (QS. Al Mu’minun: 118).
  • rabbanaaaghfir lanaa dzunuubanaa wa-israafanaa fii amrinaa watsabbit aqdaamanaa wa-anshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin(a)
  • Artinya : Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. Al Imran: 147).

  • rabbi innii zhalamtu nafsii faaghfir lii faghafara lahu
  • Artinya : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. (QS. Al Qashash: 16).
  • rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahu ‘alaal-ladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi waa’fu ‘annaa waaghfir lanaa waarhamnaa anta maulaanaa faanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin(a)
  • Artinya : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. Al Baqarah: 286).

Doa Pilihan Hari Jumat: Doa Quran Terdahsyat, Al Kahfi 10

  • Firman Allah Swt.:
  • {إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا}

  • (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, beri­kanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Al-Kahfi: 10)

Allah Swt. menceritakan tentang para pemuda yang melarikan diri dengan membawa agamanya agar agama mereka selamat dari gangguan kaum­nya yang pasti akan memfitnah mereka. Mereka lari memisahkan diri dari kaumnya, lalu berlindung di dalam gua yang berada di suatu bukit, sebagai tempat persembunyian mereka agar kaumnya tidak tahu keber­adaan mereka. Ketika hendak memasuki gua itu, mereka memohon kepa­da Allah agar rahmat dan kelembutan-Nya dilimpahkan kepada diri mere­ka. Mereka mengatakan dalam doanya seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً}

Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi­Mu. (Al-Kahfi: 10)

Yakni anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu rahmat yang dengannya Engkau merahmati kami dan menyembunyikan kami dari kaum kami.

{وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا}

dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urus­an kami (ini). (Al-Kahfi: 10)

Maksudnya, berikanlah kami petunjuk ke jalan yang lurus dalam urusan kami ini. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwajadikanlah bagi akibat urusan kami ini jalan yang lurus. Seperti pengertian yang terdapat di da­lam sebuah hadis, yaitu:

“وَمَا قَضَيْتَ لَنَا مِنْ قَضَاءٍ، فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رَشَدًا”

Dan segala apa yang Engkau putuskan bagi kami, kami memo­hon agar sudilah engkau menjadikan akibatnya bagi kami jalan yang lurus.

Di dalam kitab “Musnad disebutkan melalui hadis Busr ibnu Artah, dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah mengatakan dalam doanya:

“اللَّهُمَّ، أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ”

Ya Allah, berikanlah akhir yang baik bagi semua urusan kami, dan lindungilah kami dari kehinaan di dunia dan azab akhirat.


10 Doa Pilihan Di Bulan Ramadhan

  • اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ فِيْهِ عَلَى صِيَامِهِ وَ قِيَامِهِ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَ آثَامِهِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ بِتَوْفِيْقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّيْنَ
  • Allahumma a’inii fiihi ‘alaa shiyaamihi wa qiyamihi wa jannibnii fiihi min hafawatihi wa aatsmihi warzuqnii fiihi dzikrika bidawaamihi bitaufiiqika yaa haa diyal nudhilliin
  • “Ya Allah, Bantulah aku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya. Jauhkanlah aku dari kelalaian dan dosa-dosanya. Dan berikanlah aku zikir berupa zikir mengingatMu secara berkesinambungan, dengan taufiq Mu, wahai Pemberi Petunjuk Orang-Orang Yang Sesat.”
  • اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُتَوَكِّلِيْنَ عَلَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْفَائِزِيْنَ لَدَيْكَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ إِلَيْكَ بِإِحْسَانِكَ يَا غَايَةَ الطَّالِبِيْنَ
  • Allahummaj’alnii fiihi minal mutawakkiliina ‘alaika waj’alnii fiihi minal faa-iziin ladaka waj’alnii fiihi minal muqarrabiina ilaika bi-ihsaanika ya ghaayatath-thaalibiina
  • “Ya Allah, Jadikanlah aku diantara orang-orang yang bertawakkal kepadaMu, dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang menang di sisiMu, dan jadikanlah aku di antara orang-orang yang dekat kepadaMu dengan ihsanMu, Wahai Tujuan Orang-Orang Yang Memohon.”
  • اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ نَصِيْبًا مِنْ رَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةِ وَ اهْدِنِيْ فِيْهِ لِبَرَاهِيْنِكَ السَّاطِعَةِ وَ خُذْ بِنَاصِيَتِيْ إِلَى مَرْضَاتِكَ الْجَامِعَةِ بِمَحَبَّتِكَ يَا أَمَلَ الْمُشْتَاقِيْنَ
  • Allahummaj’al lii fiihi nashiiban min rahmatikal waasi’ati wahdinii fiihi libaraahiinikas sathi’ati wa khudz binaashiyatii ila mardhaatikal jaami’ati bimahabbatika yaa amalal musytaaqiin
  • “Ya Allah, Sediakanlah untukku sebagian dari rahmatMu yang luas, dan berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaranMu yang terang, dan bimbinglah aku menuju kepada kerelaanMu yang penuh dengan kecintaanMu, Wahai Harapan Orang-Orang Yang Rindu.”
  • اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ رَحْمَةَ الأَيْتَامِ وَ إِطْعَامَ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءَ السَّلاَمِ وَ صُحْبَةَ الْكِرَامِ بِطَوْلِكَ يَا مَلْجَأَ الآمِلِيْنَ
  • Allahummar zuqnii fiihi rahmatal aytaami wa ith’aamath-th’aami wa ifsyaa-ass salaami wa shuhbatal kiraami bithaulika yaa malja-al aamiliin
  • “Ya Allah, Berilah aku rezeki berupa kasih sayang terhadap anak-anak yatim dan pemberian makan, serta penyebaran salam, dan pergaulan dengan orang-orang mulia, dengan kemuliaanMu, wahai Tempat Berlindung Bagi Orang-Orang Yang Berharap.”
  • اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
  • Allaahumma laa takhdzulnii fiihi litu’arrudhi ma’shiyatika wa laa tadhribnii bisiyathi naqiimatika wa zahzihnii fiihi min muujibaati sakhatika bimannika wa ayaadiika yaa muntahaa ragbatir raaghibiin
  • “Ya Allah, Janganlah Engkau hinakan aku kerana perbuatan maksiat terhadapMu, dan janganlah Engkau pukul aku dengan cambuk balasanMu. Jauhkanlah aku dari hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaanMu, dengan anugerah dan bantuanMu, wahai puncak keinginan orang-orang yang berkeinginan.”

  • اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْقَانِتِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مِنْ أَوْلِيَائِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَأْفَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

  • Allaahummaj’alnii fiihi minal mustaghfiriina waj’alnii fiihi min ‘ibadikash-shaalihiinal qoonitiina waj’alnii fiihi min awliyaa-ikal muqorrobiin birahmatika yaa arhamar raahimiin

  • “Ya Allah, Jadikanlah aku diantara orang-orang yang memohon keampunan, dan jadikanlah aku sebagai hambaMu yang soleh dan setia serta jadikanlah aku diantara auliya’Mu yang dekat disisi Mu, dengan kelembutanMu, wahai Zat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.”

  • اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَ قِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ وَ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ وَ هَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَ اعْفُ عَنِّيْ يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ
  • Allahummaj’al shiyaamii fiihi shiyaamash-sho’imiin, wa qiyaamii fiihi wa qiyaamal qoo’imiin, wa nabbihnii fiihi an-naumatil ghoofiliin, wa hablii jurmii fiihi yaa ilahal aalamiin, wa’fu annii yaa aafiyaan anil mujrimiin.
  • “Ya Allah, Jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. Dan jagalah aku dari tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosaku, Wahai Tuhan sekalian alam. Dan ampunilah aku, wahai pengampun para pembuat dosa.”
  • اَللَّهُمَّ قَوِّنِيْ فِيْهِ عَلَى إِقَامَةِ أَمْرِكَ وَ أَذِقْنِيْ فِيْهِ حَلاَوَةَ ذِكْرِكَ وَ أَوْزِعْنِيْ فِيْهِ لأدَاءِ شُكْرِكَ بِكَرَمِكَ وَ احْفَظْنِيْ فِيْهِ بِحِفْظِكَ وَ سِتْرِكَ يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ
  • Allaahuma Qowwinii fiihi ‘ala iqomati amrika wa adziqnii fiihi halawata dzikrika wa awzi’nii fiihi li-adaa-I syukrika bikaromika wahfazhnii fiihi bihifzhika wa sitrika yaa absharon naazhiriin
  • “Ya Allah, Berikanlah kekuatan kepadaku, untuk menegakkan perintah-perintahMu, dan berilah aku manisnya berzikir mengingatMu. Berilah aku kekuatan untuk menunaikan syukur kepada Mu, dengan kemuliaanMu. Dan jagalah aku dengan penjagaanMu dan perlindunganMu, wahai Zat Yang Maha Melihat.”
  • اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ الذِّهْنَ وَ التَّنْبِيْهَ وَ بَاعِدْنِيْ فِيْهِ مِنَ السَّفَاهَةِ وَ التَّمْوِيْهِ وَ اجْعَلْ لِيْ نَصِيْبًا مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُ فِيْهِ، بِجُوْدِكَ يَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ
  • Allahumar zuqnii fiihi dzihna wat-tanbiiha wa baa’idnii fiihi minas-safaahati wat-tamwiihi waj’al lii nashiibaan min kulli khoiron tunzilu fiihi, bijuudika yaa ajwadal ajwadiin.
  • “Ya Allah, Berikanlah aku rezeki akal dan kewaspadaan dan jauhkanlah aku dari kebodohan dan kesesatan. Sediakanlah bahagian untukku dari segala kebaikan yang Kau turunkan, demi kemurahan-Mu, wahai Zat Yang Maha Dermawan dari semua dermawan!.”
  • اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
  • Allahumma qorribnuu fiihi ila mardhootika wa jannibnii fiihi min sakhothika wa naqimaatika wa waffiqnii fiihi li qoroo-ati aayaatika birohmatika yaa arhamar-roohimiin.
  • “Ya Allah, Dekatkanlah aku kepada KeridhoanMu dan jauhkanlah aku dari kemurkaan serta balasanMu. Berilah aku kemampuan untuk membaca ayat-ayatMu dengan rahmatMu, wahai Maha Pengasih kepada semua pengasih.”

Asbabul Wurud Hadits: Berjalan atau Berlari Menuju Shalat

Berjalan dan Berlari Menuju Shalat

Dikeluarkan oleh imam yang enam dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَلَكِنْ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

‘Apabila iqamat shalat telah dikumandangkan maka janganlah engkau mendatanginya dalam keadaan engkau berlari-Iari kecil, tetapi datangilah dengan berjalan. Berjalan dengan penuh ketenangan, seberapa yang kamu dapati (beserta imam), kamu laksanakan. Dan yang tidak kamu dapati (beserta imam) maka sempurnakanlah.”‘

Sababul Wurud Hadits Ke-13:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Qatadah dari bapaknya ia berkata: “Ketika kami sedang shalat bersama Nabi saw, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari beberapa orang. Setelah Nabi selesai shalat beliau memanggil mereka lalu berkata: “Apa yang membuat kalian seperti itu?” Mereka menjawab: “Kami terburu-buru mendatangi shalat.” Rasulullah saw, bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, apabila kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan berjalan tenang. Seberapa yang kamu dapati beserta imam, kamu laksanakan. Dan seberapa imam mendahuluimu maka sempurnakanlah.”

Tahqiq ke-13

Hadits 13:

  • Hadits tersebut lafazh milik at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shalah bab: Ma Ja’afi al-Masyyi ila al-Masjid (Hadits-hadits tentang Berjalan Menuju ke Masjid, (1/205));
  • Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: La Yas’a ila ash-Shalah Musta ‘jilan walyaqum bi as-Sakinah wa al-Waqar (Tidak Diperkenankan Menuju Shalat (Berjamaah) dalam Keadaan Terburu-buru dan Hendaknya Datang dengan Tenang dan Bersikap Wajar, (1/164));
  • Muslim dalam kitab al-Masajid bab: Istihbab Ityani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah wa an-Nahyu ‘an Itaniha Sa’ya (Anjuran Mendatangi Shalat (Berjamaah) dengan Sikap Wajar, Tenang, dan Larangan Mendatanginya dengan Tergesa-gesa, (2/245));
  • Abu Dawud dalam kitab ash-Shalah, bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat, (1/135));
  • An-Nasa’i kitab: as-Shalah bab: as-Sa’yu ila ash-Shalah (Tergesa-gesa Menuju Shalat);
  • Ibnu Majah dalam kitab al-Masajid wa al-Jama’at, bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/255)) semuanya dengan lafazh-lafazh yang hampir berdekatan;
  • Ad-Darimi dalam kitab ash-Shalah bab: al-Masyyu ila ash-Shalah (Berjalan Menuju Shalat, (1/236);
  • Ahmad 5/310 dari hadits Abu Qatadah dari bapaknya;
  • Malik dalam kitab ash-Shalah bab: Ma Ja’a fi an-Nida’ li ash-Shalah (Tentang Hadits Seruan untuk Shalat, (1/68)), dan Ahmad 2/460, dengan lafazh yang beragam.

Kosa Kata:

Al-jalabah: suara-suara. Dikatakan ajlabu alaihi apabila mereka berkumpul dan berhimpun. Dan Ajlaba Alaihi apabila ia berteriak dan menghasungnya. Lihat an-Nihayah 1/169.

Abu Isa berkata: “Ahli ilmu berbeda pendapat dalam hal berjalan menuju masjid. Sebagian di antara mereka berpendapat agar bersegera (tergesa-gesa) jika khawatir luput dari takbir yang pertama (takbiratul ihram), bahkan sebagian ada yang berpendapat agar ia berlari untuk itu. Dan sebagian lagi ada yang berpendapat makruhnya tergesa-gesa. Dan aku memilih agar seseorang itu berjalan dengan tenang dan bersikap wajar.

Sababul Wurud Hadits Ke-13:

  • Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/306;
  • Dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab: al-Adzan bab: Qaulu Man Qad Fatatna ash-Shalah (Perkataan Seseorang ‘Kita Telah Luput dari Shalat, (1/163));
  • Muslim dalam kitab: al-Masajid bab: Istihbab I’tani ash-Shalah bi Waqar wa Sakinah (Anjuran Mendatangi Shalat dengan Sikap Wajar dan Tenang, (2/244)).

KETELADANAN RASULULLAH: Ibadah Nabi Setelah Shalat Jumat

wp-1521930487666..jpgKETELADANAN RASULULLAH: Inilah Aktifitas Nabi Setelah Shalat Jumat

Dalam beberapa riwayat, Nabi SAW dikisahkan melakukan aktivitas tertentu pada hari Jumat. Al-Suyuthi dalam kitabnya, Amal Yaum wa Lailah, mengatakan,

  • Nabi SAW membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas (kulfaqnas) setelah shalat Jumat sebanyak tujuh kali.
  • Beliau juga memperbanyak shalawat pada hari Jumat dan malamnya.
  • Rasulullah juga mengerjakan shalat sunah setelah shalat Jumat di rumahnya, tidak di masjid.
  • Beliau mengunjungi saudaranya, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, atau menghadiri akad nikah. Hari Jumat juga dijadikan Rasulullah SAW sebagai momentum untuk silaturahim kepada sanak saudara, seperti mengunjungi orang-orang yang sedang sakit ataupun ditimpa musibah, membantu proses penyelenggaraan jenazah, atau menghadiri akad nikah.
  • Nabi SAW mengajarkan kepada umatnya agar membiasakan membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas sebanyak tujuh kali setelah shalat Jumat serta memperbanyak shalawat. Kemudian, dilanjutkan dengan memanjatkan doa dan melakukan sholat sunah di rumahnya.

Tata Cara, Tempat dan Waktu  Terbaik Untuk Berdoa Sesuai Tuntunan Rasulullah

Tata Cara, Tempat dan Waktu Terbaik Untuk Berdoa Sesuai Tuntunan Rasulullah

  1. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan. Dari Jabir RA, bahwa Nabi SAW ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.r. Muslim). Dari Salman RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (H.r. Abu Daud & Turmudzi dan beliau hasankan)
  2. Cara mengangkat tangan dalam berdoa: Ibn Abbas RA mengatakan, bahwa Nabi SAW ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r. Thabrani)
  3. Didahului hamdalah atau pujian, Istighfar dan Shalawat. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid RA berkata : “Tatkala Nabi SAW duduk di masjid, tiba-tiba seorang laki-laki masuk, lalu shalat, setelah selesai ia membaca doa : “Allaahummaghfirlii warhamnii”. Maka Rasulullah saw pun berkata : “Wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah karena Dia yang memilikinya, lalu kau baca shalawat kepadaku dan lalu berdoa. Berkata pula Fadhalah : “Kemudian datang pula seorang lain, setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi saw dan setelah itu Nabi bersabda : “Berdoalah, akan dipenuhi !”.(HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’I dan Tirmidzi)
  4. Dengan suara lembut dan rasa takut. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. : “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” “(QS. Al-A’raaf, 7:55-56)
  5. Yakin akan dipenuhi. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku akan mengikuti persangkaan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepadaKu”.(HR. Bukhari dan Muslim) Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Aku mengikuti sangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya sepanjang ia ingat kepadaKu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Dan jika kamu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadhiratNya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.”(HR. Ahmad)
  6. Tidak Berlebih-lebihan. Baik dalam ucapan, maupun sikap ataupun isi permintaan. Sabda Rasulullah saw :Akan datang suatu kaum yang keterlaluan dalam berdoa. (h.r. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Malik)
  7. Banyak bertaubat dan Istighfar. Allah SWT berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12) Ketika menjelaskan surat Nuh di atas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika kalian meminta ampun (beristigfar) kepada Allah dan mentaati-Nya, niscaya kalian akan mendapatkan banyak rizki, akan diberi keberkahan hujan dari langit, juga kalian akan diberi keberkahan dari tanah dengan ditumbuhkannya berbagai tanaman, dilimpahkannya air susu, dilapangkannyaharta, serta dikaruniakan anak dan keturunan. Di samping itu, Allah juga akan memberikan pada kalian kebun-kebun dengan berbagai buah yang di tengah-tengahnya akan dialirkan sungai-sungai.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 388)
  8. Jangan mendoakan keburukan. Dari Jabir RA, Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.” (H.r. Abu Daud). Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.” (H.R. Muslim dan Abu Daud)

Waktu yang paling baik untuk berdo’a
1. Antara azan dan Iqamat.
2. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya.
3. Waktu sepertiga malam yang terakhir.
4. Sepanjang hari jum’at
5. Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib
6. Ketika Khatam membaca Al-Qur’an
7. Ketika Turun hujan.
8. Ketika melakukan Tawaf.
9. Ketika menghadapi musuh dimedan perang.
10. Dalam berdo’a sebaiknya di ulang 3 (tiga) kali.
11. Ketika berpuasa hingga berbuka
12. Di bulan Ramadhan

Tempat-tempat yang baik untuk berdo’a
1. Didepan dan didalam Kabah.
2. Dimasjid Rasulullah saw.
3. Di belakang makam Nabi Ibrahim as.
4. Diatas bukit Safa dan Marwah.
5. Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga.
6. Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid atau Mushalla.

Doa Pilihan Dalam Quran: Doa Agar diberi Cahaya dan Ampunan

Doa Pilihan Dalam Quran: Doa Agar diberi Cahaya dan Ampunan

  • Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waaghfir lanaa innaka ‘ala kulli syai-in qadiirun
  • Artinya: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah dosa-dosa kami. Sungguh Engkau Maha Kuasa alas segala sesuatu.” (Al-Tahrim: 8)

DOA DALAM QURAN PILIHAN: Doa Mohon Ampun dan Rahmat Dari Nabi Musa a.s.

DOA DALAM QURAN PILIHAN: Doa Mohon Ampun dan Rahmat Dari Musa a.s.

Qs.Al-A’raaf: 151
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِين

  • Rabbighfirlii wa liakhii wa adkhilnaa fii rahmatik; wa anta arhamur raahimiin.
  • Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau; dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang
  • My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small

Tafsir Al-A’raf, ayat 150-151

{وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (150) قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (151) }

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, berkatalah dia, “Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhan kalian?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” Musa berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang.”

Allah Swt. menceritakan bahwa ketika Musa a.s. kembali kepada kaumnya setelah bermunajat kepada Tuhannya, ia kembali dalam keadaan marah dan bersedih hati. Abu Darda mengatakan, al-asaf artinya sangat marah.

{قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي}

Musa berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah kepergianku.” (Al-A’raf: 150)

Musa mengatakan, “Seburuk-buruk perbuatan adalah apa yang telah kalian lakukan, yaitu karena kalian menyembah patung anak lembu setelah aku pergi meninggalkan kalian.”

Firman Allah Swt,:

{أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ}

Apakah kalian hendak mendahului janji Tuhan kalian? (Al-A’raf: 150)

Musa mengatakan, “Kalian membuatku tergesa-gesa kembali kepada kalian lebih cepat daripada waktu yang sebenarnya yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.”

Firman Allah Swt.:

{وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ}

Dan Musa pun melemparkan lempengan-lempengan (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. (Al-A’raf: 150)

Menurut suatu pendapat, lempengan-lempengan tersebut dari batu Jamrud; sedangkan menurut pendapat yang lain dari batu yaqut. Ada yang mengatakan dari es, ada pula yang mengatakan dari daun sidr. Sehubungan dengan kisah pelemparan luh-luh ini, ada sebuah hadis yang mengatakan bahwasanya berita itu tidaklah seperti menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Kemudian menurut makna lahiriahnya dapat dikatakan bahwa konteks kalimat menunjukkan, ‘adakalanya Musa melemparkan luh-luh karena marah kepada kaumnya’, seperti apa yang dikatakan oleh jumhur ulama Salaf dan Khalaf.

Sehubungan dengan hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan suatu pendapat dari Qatadah yang isinya garib, bila dinilai tidak sah penyandarannya kepada hakayat (periwayatan) Qatadah.

Ibnu Atiyyah dan ulama lainnva yang bukan hanya seorang telah membantah pendapat ini, dan memang pendapat ini layak dibantah. Di dalamnya terkandung pengertian seakan-akan Qatadah menerimanya dari sebagian ahli kitab, padahal dikalangan ahli kitab banyak terdapat pendusta, pembuat kisah palsu, pembohong, suka membuat-buat, dan zindiq.

Firman Allah Swt.:

{وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ}

dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. (Al-A’raf: 150)

Musa a.s. bersikap demikian karena merasa khawatir bila saudaranya itu berbuat kelalaian dalam melarang mereka, seperti yang diungkapkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي. قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي}

Berkata Musa, “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pulai) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 92-94)

Sedangkan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}

Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim. (Al-A’raf: 150)

Maksudnya, janganlah engkau masukkan aku ke dalam golongan mereka, jangan pula engkau anggap aku salah seorang dari mereka.

Dan sesungguhnya Harun menyebutnya dengan panggilan ‘anak ibuku’ dengan maksud agar lebih menyentuh hati Musa, karena sesungguhnya Musa adalah saudara sekandung Harun.

Setelah terbukti bagi Musa bahwa saudaranya —Harun— tidak terlibat dengan mereka dan dirinya bersih dari perbuatan kaumnya, seperti yang diungkapkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي}

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” (Thaha: 90)

Maka saat itu Musa berkata:

{رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ}

Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Al-A’raf: 151)

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَاحِ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانة، عَنْ أَبِي بِشْر، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَيْسَ الْمُعَايِنُ كَالْمُخْبَرِ؛ أَخْبَرَهُ رَبُّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنَّ قَوْمَهُ فُتِنُوا بَعْدَهُ، فَلَمْ يُلْقِ الْأَلْوَاحَ، فَلَمَّا رَآهُمْ وَعَايَنَهُمْ أَلْقَى الْأَلْوَاحَ”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah. dari Abu Bisyr. dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda : Semoga Allah merahmati Musa, orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tidaklah sama dengan orang yang diberi tahu. Tuhannya memberi tahu kepadanya bahwa kaumnya teperdaya sesudah kepergiannya, dan ternyata ia tidak melemparkan luh-luh itu. Tetapi setelah ia melihat mereka dan menyaksikan perbuatan mereka, maka barulah ia melemparkan luh-luh itu.

Doa Pilihan: Qunut Nazilah

Doa Pilihan Qunut Nazilah

Qunut Nazilah sunat dibacakan ketika umat Islam didatangi bala bencana atau ditimpa musibah seperti peperangan, wabah, kemarau dan sebagainya.

ﺍﻟﻣﺟﺎﻫﺩﻳﻥ ﻭ ﺍﻟﻣﺳﻠﻣﻳﻥ ﺍﺧﻭﺍﻧَﻧَﺎﺍﻧْﺻُﺭْ ﺃﻟﻠﻬﻡ ,ﺍﻟﻣُﺷﺭِﻛِﻳﻥﺭﻙَﻭﺍﻟﺷﺃَﺫِﻝَ◌َ◌ّ ﺍﻟﻠﻬﻡﺍﻟﻣﺳﻠﻣﻳﻥ, ﻭ ﺍﻹﺳﻼﻡَ ﺃَﻋِﺯﱠ ﺍﻟﻠﻬﻡ ﺯﻣﺎﻥ. ﻛﻝ ﻓﻰ ﻭ ﻣﻛﺎﻥ ﻛﻝ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻌﺭﺍﻕ ﻓﻰ ﻭ ﻟُﺑْﻧَﺎﻥ ﻓﻰ ﻭ ﻓﻠﺳﻁﻳﻥﺍﻟﻣُﺳْﺗَﺿْﻌَﻔِﻳﻥﻓﻰ,

Ya Allah! Muliakan Islam dan orang islam. Ya Allah! Hinakan Syirik dan musyrikin. Ya Allah! Tolonglah saudara-saudara kami yang muslim dan mujahidin dan golongan-golongan lemah, di Palestine, di Lubnan, di Iraq dan di semua tempat dan di semua masa.

ﻧَﻌُﻭﺫُﻭ ﺃﻋﺩﺍءِﻧَُﺣُﻭﺭِﺎﻓﻰﻧَﺟْﻌَﻝُ ﺍِﻧﱠﻧﺎ ﺍﻟﻠﻬﻡﺍﻟﻣُﻧَﺎﻓﻘﻳﻥ, ﻭ ﺍﻟﺷِﺭْﻙَﻭﺍﻟﻛَﻔَﺭَﺓَﺃﻫْﻠِﻙِ ﺍﻟﻠﻬﻡﺍﻟﺩِّﻳﻥ, ﺃﻋﺩﺍءَﺃﻋﻙْﺩََﻣِّﺭْﺍﺋ ﺍﻟﻠﻬﻡ ﻛِﻼَﺑِﻙﻥﻣِﻛَﻠْﺑًﺎﻋﻠﻳﻬﻡ ﺳَﻠِّﻁْﻭﺃَﻗْﺩَﺍﻣَﻬﻡﺯَﻟْﺯِﻝْﻭﻛَﻠِﻣَﻡﺗَﻬﺷَﺗِّﺕْﻭﺟَﻣْﻌﻬﻡﻓَﺭِّﻕْﻭﺷَﻣْﻠَﻬُﻡﺑَﺩِّﺩْ ﺍﻟﻠﻬﻡﺷُﺭُﻭﺭِﻫِ,ﻡ ﻣِﻥ ﺑِﻙ

Ya Allah! Binasakan musuh kamu, Musuh agama (Islam). Ya Allah! Hancurkan kekufuran, Syirik dan Munafiq, Ya Allah! Sesungguhnya kami jadikan pada leher-leher musuh kami (kami serah kepada Mu) dan kami berlindung dengan-Mu dari kejahatan-kejahatan mereka. Ya Allah! Cerai beraikan himpunan mereka, pisahkan kesatuan mereka, selerakkan kalimah-kalimah mereka, gegarkan ketetapan mereka, Kalahkan mereka dengan anjing dari anjing-anjing kamu.

ﺍﻟﻌﺎﻟﻣﻳﻥ ﺭﺏ ﻳﺎ , ﷲ ﻳﺎ , ﷲ ﻳﺎ , ﷲ ﻣُﻧْﺗَﻘِﻡﻳﺎ, ﻳﺎ ,ﺟﺑﱠﺎﺭ ﻳﺎ ,ﻗﻬﱠﺎﺭ ﻳﺎ

Wahai Tuhan yang maha gagah, Wahai Tuhan yang maha keras, Wahai Tuhan yang maha membalas, Wahai Allah!!

ﺍﻟﻬﻧﻭﺩ ﺍﻫﺯﻡ , ﺍﻟﻳﻬﻭﺩ ﺍﻫﺯﻡ ,ﺍﻟﻛﻔﺎﺭ ﺍِﻫﺯِﻡ ,ﺍﻷﺣﺯﺍﺏ ﻫَﺎﺯِﻡَﻳﺎﺣﺎﺏﻭﻣُﺟْﺭِﻯَﺍﻟﺳ ﻳﺎ ﻭ ﺍﻟﻛﺗﺎﺏ ﻣُﻧْﺯِﻝَ ﻳﺎ ﺍﻟﻠﻬﻡ ﻋﻠﻳﻬﻡ ﻭﺍﻧﺻُﺭْﻧﺎ ,ﻫُﻡﻭَﻻﱠ ﻭﻣﻥ ﺃﻣﺭﻳﻛﺎ ﺍﻫﺯﻡ

Wahai Allah, tuhan yang menurunkan kitab (al- Quran), tuhan yang menggerakan langit, tuhan yang mengalahkan tentera ahzab, kalahkan kuffar, kalahkan yahudi, kalahkan hindu, kalahkan amerika dan sekutu-sekutu mereka, dan tolonglah kami atas mereka.

ﻋﺑﺎﺩﻙ ﻧﺣﻥ ﻭ ﺭﺑﻧﺎ ﺍﻧﺕ ﺍﻟﻠﻬﻡﻧﺎ ﺿُﻌْﻑَ,ﻗﻭﺗِ ﻧَﺷْﻛُﻭﺍﺿُﻌَﻔَﺎء,ﻧَﺣْﻥُ ﻭ ﻗَﻭِﻯﱞ ﺍﻧﺕ ﺍﻟﻠﻬﻡ

Ya Allah, Engkau berkuasa, kami lemah, kami mengadu kelemahan kami. Ya Allah! Engkau Tuhan kami dan kami adalah hamba-hamba kamu.

ﺍﻟﻧﺎﺭ ﻋﺫﺍﺏ ﻭﻗﻧﺎ , ﺣﺳﻧﺔ ﺍﻷﺧﺭﺓ ﻓﻰ ﻭ ﺣﺳﻧﺔ ﺍﻟﺩﻧﻳﺎ ﻓﻰ ﺃﺗﻧﺎ ﺭﺑﻧﺎ ,ﺳﺑﻳﻠﻙ ﻓﻰ ﺷﻬﺎﺩﺓًﺍﺭْﺯُﻗْﻧﺎ ﺍﻟﻠﻬﻡ

Ya Allah! Rezekikan kepada kami Syahid di jalan kamu. Ya Allah! Berikan kepada kami kehidupan di dunia ini baik dan di akhirat juga baik, dan selamatkan kami dari Azab neraka.

ﺍﻟﻌﺎﻟﻣﻳﻥ ﺭﺏ ﻪ ﻠ ﻟ ﺍﻟﺣﻣﺩ ﻭ , ﺃﺟﻣﻌﻳﻥ ﺻﺣﺑﻪ ﻭ ﺃﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻭ , ﺍﻟﻛﺭﻳﻡ ﺭﺳﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﷲ ﻭﺻﻠﻰ

Doa Pilihan: DZIKIR SELESAI SHALAT

Doa Pilihan: DZIKIR SELESAI SHALAT
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثَلاَثاً) اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَـا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku minta ampun kepada Allah “(dibaca tiga kali), “ Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia “.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya Kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Nasib baik seseorang tiada berguna untuk menyelamatkan ancaman dari-Mu“

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Baginya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya “.

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ (ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar“ (di-baca 33 kali), “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu“.

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (٣) وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ ڪُفُوًا أَحَدٌ (٤)

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ (١) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلۡعُقَدِ (٤) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ (٣) مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ (٤) ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦)

Dibaca setiap selesai shalat fardhu’.

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ (٢٥٥)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ (عَشْرَ مَرَّاتٍ بَعْدَ صَلَاةِ اْلمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ)

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, Dia Menghidupkan dan Mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”, Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Subuh.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً( بَعْد السَّلاَمِ مِنْ صَلاَةِ الفَجْر)

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amal yang diterima“. (Diucapkan setelah salam khusus shalat Subuh)

Referensi

  • Muslim: 1/414.
  • Bukhari: 1/225, Muslim: 1/414.
  • Muslim: 1/415.
  • Muslim: 1/418, “Siapa yang mengucapkannya selesai shalat, Aku (Allah) ampuni kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan”.
  • Abu Daud: 2/68, lihat Shahih Tirmidzi: 2/8, ketiga surat tersebut disebut juga “Al Mu’awwizaat”, lihat Fathul baari: 9/62.
  • “Siapa yang membacanya sehabis shalat tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian”, Nasa’i dalam Amalul Yaumi Walailah, no: 100, Ibnu Sunny, no. 121, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Jami’: 5/339, dan Silsilah Hadits Shahih: 2/697, no. 972.
  • HR. Tirmidzi: 5/515, Ahmad: 4/227, lihat takhrijnya dalam Zadul Ma’aad: 1/300.
  • Ibnu Majah dan lainnya. Lihat Shahih Ibnu Majah: 1/152 dan Majmauzzawa’id: 10/111.

DOA PILIHAN Ketika Bangun Tidur

DOA PILIHAN Ketika Bangun Tidur
1.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah Yang membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”. [11]

2.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ

“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku”. [12]

3.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepada-ku, mengembalikan ruh dan merestuiku untuk berdzikir kepada-Nya”. [13]

4.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١) رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ (١٩٢) رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (١٩٣) رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (١٩٤) فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ (١٩٥) لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (١٩٦) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (١٩٧) لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ (١٩٨) وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩٩) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah bagi kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. [14]

11. HR. Bukhari dalam Fathul Bari: 11/113 dan Muslim: 4/2083.
12. Siapa yang membacanya akan diampuni, jika dia berdo’a akan dikabulkan, dan jika dia bangun untuk berwudhu’ lalu shalat, maka shalatnya diterima, Imam Bukhari dalam Fathul Bari: 3/39 dan lainnya. Lafadz diatas dari Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah: 2/335.
13. H.R: Tirmidzi: 5/473, lihat Shahih Tirmidzi: 3/144.
14. Ayat dari surah Ali Imran: 190-200, shahih Bukhari dalam Fathul Bari 8/237, Muslim 1/530.

Doa Pilihan : Doa Pergi, Masuk dan Keluar MASJID

Doa Pilihan : Doa Pergi, Masuk dan Keluar MASJID

DO’A PERGI KE MASJID
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شِمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. (اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ ) (وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا) (وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ)

“Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untuk-ku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku” [29][Ya Allah, ciptakan-lah cahaya untukku dalam kuburku … dan cahaya dalam tulangku”] [30] , [“Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku”] [31] , [“dan karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya”] [32]

DO’A MASUK MASJID

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ) (وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ) اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk. [33] Dengan nama Allah dan semoga shalawat [34] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah [35] Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” [36]

DO’A KELUAR DARI MASJID

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. [37]


29. Hal ini semuanya disebutkan dalam Bukhari: 11/116 no.6316, dan Muslim: 1/526, 529, 530, no. 763.
30. HR. At-Tirmidzi no.3419, 5/483.
31. HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 695, hal.258. Al-Albani menyatakan isnadnya shahih, dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, no. 536.
32. Disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, dengan menisbatkannya kepada Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Ad-Du’a. Lihat Fathul Bari: 11/118. Katanya: “Dari berbagai macam riwayat, maka terkumpullah sebanyak dua puluh lima pekerti”.

33. HR. Abu Dawud, lihat Shahih Al-Jami’ no.4591
34. HR. Ibnu As-Sunni no.88, dinyatakan Al-Albani “hasan”.
35. HR. Abu Dawud, lihat Shahih Al-Jami’ 1/528.
36. HR. Muslim: 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, Al-Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.

37. Tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah: 129.

Inilah Keutamaan Berdzikir Menurut Quran dan Hadits

Inilah Keutamaan Berdzikir Menurut Quran dan Hadits

Allah SWT berfirman:

فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al Baqarah: 152)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرً۬ا كَثِيرً۬ا

“Hai orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)” (QS. Al Ahzaab: 41)

وَٱلذَّٲڪِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا وَٱلذَّٲڪِرَٲتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةً۬ وَأَجۡرًا عَظِيمً۬ا

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al Ahzaab: 35).

وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِى نَفۡسِكَ تَضَرُّعً۬ا وَخِيفَةً۬ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَـٰفِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al A’raf: 205)

Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”. [1]

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ الله َفِيْهِ وَ الْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”. [2]

Rasulullah SAW juga bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فيِ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا بَلَى.قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Tinggi”. [3]

Allah SWT Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. [4]

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَاِئعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Dari Abdullah bin Busr RA dia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah banyak aku terima, oleh karena itu, beri tahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”. [5]

مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ لَكَ ((آلـم)) حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif Laaam Miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf ”. [6]

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ الله وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: أَيـُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِي مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلىَ الْمَسْجِدِ فَيُعَلِّم، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

“Dari Uqbah bin Amir RA berkata: “Rasulullah SAW keluar, sedangkan kami berada di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah diantara kamu yang senang berangkat pagi setiap hari ke Buthan atau Al Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya tanpa mengerjakan dosa dan memutus silaturrahmi?” kami (yang hadir) berkata: “Yaa kami senang ya Rasulullah!”, lalu beliau bersabda: “Seseorang di antara kamu berangkat pagi ke mesjid, lalu mengajar atau membaca dua ayat Al Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta. Dan (bila mengajar atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila membaca atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta) dan dari seluruh bilangan unta”. [7]

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَـتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَــــعَ مَضْجَـعاً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ

“Siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka dia akan mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Barang siapa yang berbaring di suatu tempat, lalai tidak berdzikir kepada Allah, maka dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi dari Allah”. [8]

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِساً لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Apabila suatu kaum duduk di majlis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi-Nya, niscaya mereka mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Apabila Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksa mereka; dan apabila tidak, Allah akan mengampuni dosa mereka”. [9]

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةٌ

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majlis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan mereka akan menyesal (di hari kiamat) ”. [10]

1. HR. Bukhari dalam Fathul bari: 11/208.
2. HR. Muslim; 1/539.
3. Shahih Tirmidzi: 3/139, Ibnu Majah: 2/316.
4. HR. Bukhari: 8/171 dan Muslim: 4/2061, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari.
5. Shahih Tirmidzi: 3/139 dan shahih Ibnu Majah: 2/317.
6. HR.Tirmidzi 5/458, lihat Shahih Tirmidzi 3/9.
7. HR. Muslim: 1/553.
8. HR. Abu Daud: 4/264, Lihat Shahih Jami’ :5/342
9. Shahih Tirmidzi: 3/140.
10. Riwayat Abu Daud 4/264 dan Ahmad 2/389, lihat Shahih Jami’ 5/176

DOA PILIHAN MENURUT QURAN DAN HADITS: Doa Pembuka Rezeki

DOA PILIHAN MENURUT QURAN DAN HADITS: Doa Pembuka Rezeki

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hambaNya yang berdoa kepada-Nya,
bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada
hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’).

Dan doa adalah suatu bentuk ibadah agung yang Alloh Ta’ala perintahkan :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ

يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ

دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(Q.S:Ghaafir: 60)

Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa
sesuai dengan aturan syariat maka tidak ada penghalang diterima doa tersebut. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا

رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Di antara doa doa yang berkaitan dengan Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist adalah sebagai berikut ini:

1. Diturunkannya rezeki dengan memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ

بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ

أَنْهَاراً”

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Di antara lafadz istighfar yang ada terdapat dalam hadist adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Astaghfirullâh. (HR. Muslim)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ

الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih. (HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا

عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا

اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ

لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي

فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa
anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ
shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî
fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.

Lafaz yang terakhir ini merupakan sayyidul istighfar yaitu sebaik-baiknya istigfar. Karena barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan
dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan
meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.(HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 1197)

2. Doa memohon limpahan rezeki

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ

لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً

مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya :

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang orang yang bersama kami dan yang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling
utama.” (QS. Al-Maidah5: 114)

3. Do’a Meminta Kesehatan dan Kelapangan Rizki

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاهْدِني

وَعَافِني ، وَارْزُقْنِي

“Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.”

Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk
padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.

Keutamaan meminta rizki yaitu agar dimudahkan oleh Allah untuk memperolehnya sehingga tidak sampai lalai dari melakukan ketaatan. Rizki itu ada dua macam yaitu yang bisa menegakkan badan dan bisa menguatkan hati.

Menguatkan badan yaitu melalui makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Menguatkan hati yaitu melalui ilmu bermanfaat (ilmu diin) dan amalan sholih. Permintaan rizki tersebut mencakup dua macam rizki ini.

4. Doa minta kecukupan rezeki

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ

بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Artinya :

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain
diri-Mu.” (HR. Ahmad)

5. Doa agar terlepas dari jeratan hutang

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, pada suatu hari Rasulullah saw. hendak memasuki masjid. Ketika itu beliau mendapati seorang sahabat dari Anshar yang bernama Abu Umamah yang sedang duduk merenung di dalam masjid.

Rasulullah saw. bersabda: “Ada apakah gerangan engkau duduk di dalam masjid ketika bukan waktu shalat?” Dia menjawab “Kegelisahan dan pikiran atas hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasul.” Beliau berkata “Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila engkau ucapkan maka Allah Azza wa Jalla akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Ia
menjawab “Iya ya Rasulullah” kemudian Rasul bersabda “Apabila kamu berada di pagi dan sore hari maka ucapkanlah :

اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزْنِ وَأَعُوْذُبِكَ

مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ

وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ

الرِّجَالِ.

Artinya :

“Ya Allah aku berlindung kepa-Mu dari kegundahan dan kesedihan dan aku
berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR. Abu Dawud).

Dan Abu Umamah berkata : “Kemudian aku melaksanakannya dan ternyata Allah Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunaskan hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)

6. Doa agar menghilangkan kefakiran dan melunaskan hutang

اللّٰهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ

الْعَظِيْـمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ

التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيْلَ وَالقُرْآنَ، فَالِقَ الْحَبِّ

وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ

آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَالْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ

شَيْءٌ، اِقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَاغْنِنِيْ مِنَ الْفَقْرِ.

Artinya :

“Ya Allah, Tuhan bagi tujuh lapisan langit, juga Tuhan ‘Arasy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan
buah-buahan. Aku mohon berlindung denganMu daripada kejahatan segala
suatu yang jahat yang ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu.

Engkaulah yang awal, tiada suatu pun yang sebelum Engkau. Engkaulah yang akhir, tiada suatu pun yang selepas Engkau. Engkaulah yang zahir, tiada suatu pun yang di atas Engkau. Engkaulah yang batin, tiada suatu pun yang di bawah Engkau. Tunaikanlah hutangku dan berilah aku kekayaan daripada
kefakiran.” (HR. At-Tirmizi dan dinilai Hasan Sahih).

7. Doa Mudah Rezeki dan Terhindar Dari Kekufuran

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ

الْقَبْرِ

Artinya :

“Ya Allah, aku berlindung dari kekufuran, kemiskinan dan siksa kubur.”
(HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abi Syaibah).

Bacaan DOA Tahlil

Bacaan DOA Tahlil

Tahlil atau tahlilan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Indonesia, utamanya warga Nahdlatul Ulama (NU) sebagai penganut paham Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) sebagai upaya bertawashul kepada Allah SWT untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia atau ahli kubur pada umumnya,

Tahlil secara lughat berarti bacaan

لاإله إلاالله
(Lailaha illallah)

seperti halnya Tasbih berarti bacaan

سبحان الله

(Subhanallah)

Tahmid bacaan

الحمد لله
(Alhamdulillah) dan lain sebagainya.

Bahasa Arab kebanyakan selain mempunyai arti secara lughowi (bahasa) juga mempunyai arti secara istilahi atau urfi. Tasbih misalnya
pengertian secara urfi ialah mengagumi dan mensucikan Allah sang Maha pencipta dari segala kekurangan dan kelemahan, yang direfleksikan dengan bersyukur, rasa takjub dan lain sebagainya yang diiringi dengan mengucapkan Subhanallah.

Demikian pula Tahlil dalam pengertiannya secara urfi atau islitahi ialah mengesakan Allah dan tidak ada pengabdian yang tulus kecuali hanya
kepada Allah, tidak hanya mengkui Allah sebagai Tuhan tetapi juga untuk mengabdi, sebagimana dalam pentafsiran kalimah thayyibah

لاإله إلاالله أي لامعبود بحق إلاالله

Artinya: Tiada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, atau tidak ada pengabdian yang tulus kecuali kepada Allah

Kemudian di dalam melaksanakan bentuk pengabdian manusia sebagai hamba kepada Allah SWT, sudah barang tentu tidak cukup hanya dengan menyebut-nyebut asma Allah akan tetapi harus disertai prilaku-prilaku seorang hamba yang mentaati perintah perintah Allah serta menjauhi larangan larangan-Nya, dan perilaku tersebut digambarkan dalam rangkaian
bacaan-bacaan pada tahlilan.

Jadi Tahlil dengan serangkaian bacaannya yang lebih akrab disebut dengan tahlilan tidak hanya berfungsi hanya untuk mendoakan sanak kerabat yang telah meninggal, akan tetapi lebih dari pada itu Tahlil dengan serentetan bacaannya mulai dari surat Al-ikhlas, Shalawat, Istighfar,
kalimat thayyibah dan seterusnya memiliki makna dan filosofi kehidupan manusia baik yang bertalian dengan i’tiqad Ahlus Sunnah wal jamaah, maupun gambaran prilaku manusia jika ingin memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di Dunia dan di akhirat kelak.

Tahlilan dari susunan bacaannya terdiri dari dua unsur yang disebut dengan syarat dan rukun, yang dimaksud dengan syarat ialah bacaan :
1. Surat al-Ikhlas
2. Surat al-Falaq
3. Surat an-Nas
4. Surat al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5

الم ذلك الكتاب …….

5. Surat al-Baqarah ayat 163

والهكم إله واحد ……..

6. Surat al-Baqarah ayat 255

الله لاإله إلا هو الحي القيوم ……..

7. Surat al-Baqarah ayat dari ayat 284 samai ayat 286

لله مافي السموات……

8. Surat al-Ahzab ayat 33

إنما يريد الله ……..

9. Surat al-Ahzab ayat 56

إن الله وملائكته يصلون على النبي ……..

10. Dan sela-sela bacaan antara Shalawat, Istighfar, Tahlil dan Tasbih.

Adapun bacaan yang dimaksud dengan rukun tahlil ialah bacaan :
1. Surat al-Baqarah ayat 286 pada bacaan :

واعف عنا واغفر لنا وارحمنا

2. Surat al-Hud ayat 73:

ارحمنا ياأرحم الراحمين

3. Shalawat Nabi
4. Istighfar
5. Kalimat Thayyibah لاإله إلاالله
6. Tasbih.

Doa Tahlil Arwah Dan Ziarah Kubur Singkat Lengkap Bahasa Arab Dan
Terjemahannya

Berdoa termasuk salah satu sarana yang baik bagi seorang muslim yang
mesti di lakukan sebelum atau sesudah melakukan berbagai aktivitas,
Karena hal tersebut menunjukan bahwa sekecil apapun yang kita kerjakan
semuanya di serahkan kepada alloh swt sang maha kuasa.

Namun alangkah lebih baiknya jika aktivitas berdoa ini selalu di lakukan
sebelum atau sesudah melaksanakan peribadahan, baik itu peribadahan yang
telah di wajibkan hingga yang memiliki hukum sunat, sebagai contoh
setelah selesai mengerjakan sholat jenazah atau
peribadah lainnya.

Lalu kapan doa tahlil ini di bacakan?. Doa tahlil bisa di bacakan
setelah sholat atau ketika berziarah kubur atau setelah membaca surat
yasin. Seperti yang kita tahu doa ini selalu di baca di akhir acara
tahlilan yang mana dalam acara tersebut sebelum membaca surat yasin atau
bacaan-bacaan lainnya.

Untuk bacaannya sendiri akan kita bahas di bawah ini, namun di sini kami
akan menyajikan bacaan doa tahlil singkat, meski sebenarnya ada lagi
bacaan yang lebih panjang dari ini, sebagai permulaan sebaiknya kita
pelajari dulu kalimat doa ini.

Doa Tahlil Arwah Dan Ziarah Kubur Singkat Lengkap Bahasa Arab Dan Terjemahannya

 

Doa Tahlil Arwah Dan Ziarah Kubur Singkat Lengkap Bahasa Arab Dan
Terjemahannya

Bacaan Doa Tahlil Arwah Dan Ziarah Kubur Atau Setelah Baca Yasin

اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَالنَّاعِمِيْنَ، حَمْدًايُوَافِيْ نِعَمَه وَيُكَافِئُ
مَزِيْدَه، يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا
وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً
نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ
وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ
خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ

ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ
مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَآءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا
وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا مَنِ اجْتَمَعْنَاههُنَا بِسَبَبِه وَلِاَجْلِه

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُم

اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ

اَللهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

اَلْفَاتِحَةْ

A’UUDZU BILLAHI MINASY YAITHOONIR ROJIIM. BISMILLAAHIR ROHMAANIRROHIIM.

ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL’AALAMIIN. HAMDASY SYAAKIRIIN, HANDAN NAA’IMIIN,
HAMDAY YUWAAFII NI’AMAHUU WA YUKAAFI’U MAZZIDAH, YAA ROBBANAA LAKALHAMDU
KAMAA YAN BAGHII LIJALAALI WAJ-HIKA WA ‘AZHIIMI SULTHOONIK. ALLOOHUMMA
SHALLI WA SHALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD, WA’ALAA AALI SAYIIDINAA
MUHAMMAD.

ALLAAHUMMA TAQOBBAL WA AUSHIL TSAWABA MAA QORO’NAAHU MINAL QUR’AANIL
‘AZHIIMI WAMAA HALLALNAA WA MAA SABBAHNAA WA MASTAGHFARNAA WA MAA
SHOLLAINAA ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WA SALLAMA
HADIYYATAN WAASHILATAN WA ROHMATAN NAAZILATAN WA BAROKATAN SYAAMILATAN
ILAA HADHROTIN HABIIBINAA WA SYAFII’INAA WA QURROTI A’YUNINAA SAYYIDINAA
WA MAULAANAA MUHAMMADIN SHOLLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, WA ILAA JAMII’I
IKHWAANIHII MINAL ANBIYAA’I WALMURSALIINA WAL AULIYAA’I WASY-SYUHADAA’I
WASH-SHOOLIHIINA WASH SHOHAABATI WATTAABI’IINA WAL ‘ULAMAA’IL ‘AAMILIINA
WAL MUSHONNIFIINAL MUKHLISHIINA WA JAMII’IL MUJAAHIDIINA FII
SABIILILLAAHI ROBBIL’AALAMIIN, WA MALAA’IKATIL MUQORROBIIN, KHUSHUUSHON
ILAA SAYYIDINASY SYAIKH ‘ABDIL QOODIR ALJAILAANI,

TSHUMMA ILAA JAMII’I AHLIL QUBUURI MINAL MUSLIMIINA WALMUSLIMAATI
WALMU’MINIINA WALMU’MINAATI MIM MASYAARIQIL ARDHI ILAA MAGHOORIBIHAA
BARRIHAA WABAHRIHAA KHUSHUSHON ILAA AABAAINAA WA-UMMAHAATINAA
WA-AJDAADINAA WAJADDAATINAA WANAKHUSH-SHU KHUSHUUSON MANIJTAMA’NAA
HAAHUNAA BISABABIHII WALI-AJLIHII

ALLAAHUMMAGHFIR LAHUM WARHAMHUM WA ‘AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM

ALLAAHUMMA ANZILIR ROHMATA WALMAGHFIROTA ‘ALAA AHLILQUBUURI MIN AHLI LAA
ILAAHA ILLALLAAHU MUHAMMADUR RASUULULLAAH

ALLAAHUMMA ARINAL HAQQO HQAAON WARZUQNAT TIBAA’AHU, WA ARINAL BAATHILA
BAATHILAN WARZUQNAJ TINAABAHU

ROBBANAA AATINAA FIDDUNYAA HASANAH, WAFIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA
‘ADZAABAN NAAR.

SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WASALAAMUN ‘ALAL
MURSALIINA WALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. AL-FAATIHAH :

AL FATIHAH

Artinya : Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, sebagaimana orang-orang
yang bersyukur dan orang-orang yang mendapat banyak kenikmatan
memuji-Nya. dengan pujian yang sepadan dan nikmat-Nya dan memungkinkan
pertambahannya. Wahai Tuhan kami, pujian hanyalah untuk-Mu, sebagaimana
yang layak akan kemuliaan Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Ya Allah,
limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad
junjungan kami dan kepada keluarga beliau.

Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur’an yang kami baca,
tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang
turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong
kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad
SAW, juga kepada seluruh kawan-kawan beliau dari kalangan para Nabi dan
Rasul, para wali, para syuhada’, orang-orang shalih, para sahabat, para
tabi’in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas
dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah Tuhan semesta alam, serta
para malaikat yang selalu beribadah, khususnya ditujukan kepada Syekh
Abdul Qadir Jailani.

Kemudian kepada seluruh penghuni kubur dari kalangan orang-orang islam
laki-laki dan perempuan, orang mukmin laki-laki dan perempuan, dari
belahan bumi timur dan barat, di laut dan di darat, terutama keapda
bapak-bapak dan ibu-ibu kami, kakek dan nenek kami, lebih utamakan lagi
kepada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.

Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, berilah mereka
kesejahteraan dan maafkanlah mereka

Ya Allah, turunkanlah rahmat dan ampunan kepada ahli kubur yang selalu
mengucapkan “Laailaaha illallaah muhammadur rasuulullaah” (Tidak ada
Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah)

Ya Allah, tunjukanlah kepada kami kebenaran adalah suatu kebenaran dan
anugerahilah kami untuk mengikkutinya dan tunjukkanlah kepada kami
kebatilan adalah suatu kebatilan dan anugerahilah kami untuk menjauhinya.

Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan didunia dan kebaikan di
akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka

Masa suci Tuhanmu, Tuham pemilik kemuliaan, dari sifat-sifat yang mereka
(musuh-musuhNya) berikan. Keselamatan selalu tertuju kepada Rasul, dan
segala puji bagi Allah penguasa alam semesta

9XPQ7-T7TGY-TKPD

7 Tempat Berdoa Paling Disukai Rasulullah

7 Tempat Paling Disukai Rasulullah

  1. Masjidil Haram. Nabi (saw) mengajarkan bahwa satu doa di Al-Masjid Al-Haram bernilai 100.000 doa di masjid lainnya. Nabi (saw) berkata, “Aku bersumpah demi Allah, kamu (Makkkah) adalah yang terbaik dari tanah Allah dan kamu adalah tanah tercinta bagi Allah.”
  2. Al-Masjid An-Nabawi di Al-Madinah Al-Munawwarah. Nabi (saw) berkata, “Ya Allah! Jadikan kita mencintai Madinah sama seperti kita mencintai Makkah atau bahkan lebih. ” Ketika Nabi (saw) akan kembali dari perjalanan dan melihat-lihat tembok Madinah, dia akan mempercepat untanya keluar karena cintanya kepada Madinah.
  3. Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Nabi Muhammad SAW memimpin semua nabi dalam shalat di Masjid Al-Aqsa pada malam perjalanan yang menakjubkan dari Al Israa ‘dan Mi’raaj. Allah berfirman di dalam Al Qur’an, “Yang mulia adalah Dia yang membawa Hamba-Nya [Nabi Muhammad] pada malam hari dari Al-Masjid Al-Haram ke Al-Masjid Al-Aqsa, yang lingkungannya kita telah memberkati.” (Al Qur’an 17 -1)
  4. Masjid Quba di Madinah. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun dalam Islam oleh Nabi Muhammad SAW. Hadiah untuk satu doa adalah disana sama dengan pahala untuk menjalankan umrah.
  5. Gunung Uhud di Madinah. Sambil berdiri di Gunung Uhud bersama teman-temannya, Nabi (saw) berkata, “Gunung ini mencintai kita dan kita menyukainya.”
  6. Tempat pemakaman di Madinah. Al-Baqi. Al-Baqi` adalah tempat pemakaman sekitar 10.000 sahabat Nabi (saw). Dia (saw) biasa mengunjungi makam mereka dan membuat doa untuk orang-orang yang dikuburkan di sana. Nabi (saw) biasa berkata, “Semoga selamat, hai tempat beriman. Apa yang telah dijanjikan telah sampai kepada Anda. “Dia (saw) juga berkata,” Ya Allah, maafkan penduduk Baqee ‘Al-Gharqad. “
  7. Di Ar-Raudah di Masjid An-Nabawi di Madinah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Antara rumah dan mimbar saya ada taman kebun surga, dan mimbar saya ada di tangki air mancur saya (yaitu Al-Kauthar).”
  • 7 Keutamaan Doa dan Dzikir Al Ma’tsurat Yang maha Dahsyat

    7 Keutamaan Doa dan Dzikir Al Ma’tsurat Yang maha Dahsyat

    • Al ma’tsurat merupakan kumpulan dzikir dan doa yang dikumpulkan oleh Imam Hasan Al Banna yang diambil dari hadits-hadits Nabi saw untuk dibaca oleh setiap anggota jama’ah Ikhwanul Muslimin khususnya atau seluruh kaum muslimin pada umumnya agar senantiasa mengingat Allah swt dan berada dalam ketaatan kepada-Nya.

    Berikut adalah keutamaan membaca doa al ma’tsurat:

    1. Rumah terlindung dari gangguan setan Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Thabrani menerangkan bahwa barang siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di dalam rumahnya maka setan tidak akan mampu masuk kedalam rumah tersebut hingga keesokan harinya. Kesepuluh ayat itu adalah empat ayat pertama surat Al-baqarah, satu ayat kursi, dua ayat setelah ayat kursi, dan ditutup dengan tiga ayat terakhir surat al-baqarah.
    2. Dicukupi segala kebutuhan di dunia. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi dijelaskan bahwa barang siapa yang membaca bacaan surat Al Ma’tsurat yaitu surat al-falaq dan an-nass dipagi dan sore hari sebanyak tiga kali maka Allah SWT akan mencukupkan segala kebutuhannya di dunia. Sehingga seseorang tidak akan merasa kekurangan selama hidup di dunia.
    3. Disempurnakan nikmat Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Saunni telah dijelaskan bahwa barang siapa yang membaca ‘Allahumma inniasbahtu minka fi nikmati’ sebanyak tiga kali saat pagi dan sore hari maka Allah SWT akan menyempurnakan nikmat atas dirinya, sehingga seseorang akan mendapat banyak limpahan kenikmatan baik itu dari segi rohani maupun jasmani.
    4. Tanda syukur kepada Allah SWT. Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud telah diterangkan bahwa jika seorang muslim membaca ‘Allahumma ashbaha…’ pada sore hari maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kehidupan malamnya.
    5. Mendapat keridhaan dari Allah SWT. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Turmudzi telah dijelaskan bahwa jika seorang muslim membaca ‘radhitubillahi rabba…’ di waktu sore hari dengan ikhlas maka Allah SWT akan memberikan keridhaan kepadanya atas semua pekerjaan yang dilakukannya. Inilah salah satu manfaat dan keutamaan dalam membaca doa Al Ma’tsurat.
    6. Mendapat pahala lebih banyak. Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Muslim telah diterangkan bahwa Rosulullah menemui Juwariyah yang berada dalam mushollanya. Beliau bertanya kepadanya mengapa dia berlama-lama berada di dalam musholla, padahal jika Juwariyyah membaca ‘Subhanallahu wabihandihi…’ sebanyak tiga kali maka pahalanya lebih berat dari apa yang telah dilakukan Juwariyah yaitu berlama-lama berada dalam musholla.
    7. Terhindar dari segala bahaya yang dapat mengancam. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Turmudzi telah diterangkan bahwa jika seorang muslim membaca ‘Bismillahilladzi laa yaadzurru…’ sebanyak tiga kali di waktu pagi dan sore hari maka Allah SWT akan menjaganya dari segala bahaya yang dapat datang kepadanya.


    Doa Shalawat Dzikir Istigfar Sebelum dan Sesudah Tidur Sesuai Tuntunan Rasulullah

    Doa Shalawat Dzikir Istigfar Sebelum dan Sesudah Tidur
    Dzikir Paling Utama

    • Laa ilaaha illallaah.
    • Artinya: Tiada tuhan selain Allah.

    • Dasar Hadits: Dari Jabir bin Abdullah ra., “Rasulullah saw bersabda: Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah” (HR. Tirmidzi)

    Dzikir Bangun Tidur

    • Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai in qadiir. Artinya: Tiada Ilah (Tuhan) melainkan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.
    • Ali Imran: 190-200 (sepuluh ayat terakhir)
    • Dasar Hadits: Dari Aisyah ra, dari Nabi saw, Beliau bersabda,”Tidaklah seorang hamba yang pada saat Allah mengembalikan ruhnya (sesudah tidur) kemudian mengucapkan Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai in qadiir melainkan pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ibnu Sunni) Dari Abdullah bin Abbas ra,” kemudian Rasulullah saw bangun, lalu duduk sambil mengusap wajah dengan tangan agar hilang rasa kantuknya, lalu membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imran.” (HR Bukhari)

    Dzikir Sebelum Tidur

    • Surat Al-Ikhlas: Qul huwallahu ahad, dst (1-4)
    • Surat Al-Falaq: Qul a’uudzu birabbil falaq, dst (1-5)
    • Surat An-Naas: Qul a’uudzu birabbin naas, dst (1-6)
    • Diulang sampai 3x

    Ayat Kursi (Al Baqarah: 255):

    •  Allaahulaa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum, . . . Al Baqarah: 285-286: Aamanar rasuulu bimaa undzila ilaihi mir rabbihi wal mu’minuun, dst
    • Dasar Hadits: Dari Aisyah, “Sesungguhnya Nabi saw jika akan tidur, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya, lalu membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Sesudah itu beliau mengusap kedua tangannya ke badan, bermula kepala, wajah, lalu bagian depan badan. Demikian itu beliau lakukan 3x” (HR Bukhari).
    • Dari Abu Hurairah ra, ia berkata:  Rasulullah saw bertanya kepadaku: “Apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, ia mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang katanya Allah akan memberi manfaat kepadaku. Oleh karena itu, aku membiarkannya.” Rasulullah bertanya,”Kalimat apa itu?” Jawabku,”Ia berkata kepadaku, Apabila engkau hendak tidur, bacalah Ayat Kursi dari awala hingga akhir ayat Dan dia melanjutkan, Engkau akan senantiasa dalam perlindungan Allah dan setan tidak akan mendekat sampai pagi, dan biasanya para sahabat sangat menginginkan kebaikan.” Lalu Rasulullah saw bersabda,”Ketahuilah, sesungguhnya ia telah berkata benar kepadamu, meskipun dia itu pendusta. Tahukah kamu dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?” Jawabku,”Tidak.” Beliau bersabda,”Dia itu adalah setan.” (HR Bukhari)
    • Dari Abu Mas’ud ra, ia berkata,”Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka hal itu telah mencukupinya.” (HR Bukhari)

    40 Doa Paling Dahsyat Dalam Quran

    wp-1503155124306.Doa Agar Dicintai Ummat

    • “Ya Tuhan kami sungguh aku telah menempatkan sebagian
      keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu
      (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka
      mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
      (cinta) kepada mereka, dan berilah mereka rizki dari buah-buahan.
      Mudah-mudahan mereka senantiasa bersyukur.” (QS. Ibrâhîm: 37).
    • Penjelasan:
      Doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim a.s. la mendambakan keluarga yang
      senantiasa rajin mendirikan shalat sekalipun dihimpit permasalahan
      rizqi. Dengan ketabahan menghadapi realita hidup, pada akhirnya Allah
      mengabulkan doanya. Makkah menjadi kota yang makmur, dan keluarga
      Ibrahim senantiasa dicintai oleh setiap manusia. Kisah ini bisa dilihat
      dalam Al-Quran Surah Ibrahim ayat 35-41.

    Doa Agar Diberi Kedudukan yang Mulia

    • “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan
      Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. Al-Mukminûn: 29)
    • Penjelasan:
      Baik sekali doa diatas dibaca bagi setiap orang yang menginginkan
      kedudukan, baik pangkat, jabatan, atau kedudikan lainnya. Karena doa
      tersebut merupakan doanya Nabi Nuh a.s. ketika berada dalam perahu. Ia
      memohon kepada Allah Swt. agar diberi kedudukan yang lebih mulia
      daripada kedudukan sebelumnya. Kemudian Allah Swt. mengabulkan doanya
      Nabi Nuh tersebut, dan menjadikannya ummat yang taat kepada Allah Swt.
      http:www.adhinbusro.com201402download-gratis-magis-7.html

    Doa Agar Diberi Hikmah

    • “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku
      dengan orang-orang yang shalih, serta jadikanlah aku buah tutur yang
      baik bagi orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk
      golongan orang-orang yang mewarisi sorga yang penuh nikmat.” (QS.
      Al-Syu’ârâ’: 83-85).
    • Penjelasan:
      Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim
      a.s. setelah berhasil mendakwahkan misi dasar Islam kepada kaumnya,
      yaitu ajakan meniadakan sesembahan selain Allah. Kisah Nabi Ibrahim dan
      kaumnya yang kafir dapat dibaca dalam Al-Quran Surah Al-Su’ârâ’ ayat 69-85.

    Doa Agar Diberi Bangunan Indah di Surga

    • “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam
      sorga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta
      selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (OS. Al-Tahrîm: 11).
    • Penjelasan:
      Doa di atas baik sekali dibaca oleh para pejuang yang menegakkan
      kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Karena doa tersebut
      adalah doanya Asiyah binti Mujahim, isteri Fir’aun. Ia memohon kehadapan
      allah Swt. agar ditempatkan dalam surga dan selamat dari kezhaliman
      Fir’aun, suaminya.

    Doa Agar Dibinasakannya orang-orang Zhalim

    • “Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang
      ibu-bapakku, serta dosa orang yang masuk ke rumahku dengan membawa iman,
      dan orang beriman laki-laki maupun perempuan. Dan janganlah Engkau
      tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan.” (QS.
      Nûh: 28).
    • Penjelasan:
      Doa di atas baik sekali oleh setiap muslim agar diberi kemenangan dalam
      berdakwah. Karena doa tersebut merupaka doanya Nabi Nuh a.s ketika
      selesai menghadapi banjir besar yang merupakan siksa dari Allah Swt.
      kepada kaumnya yang kafir. Kisah nabi Nuh as dapat dibaca dalam Al-Quran
      surah Nûh ayat 25-28.

    Doa Agar Terlepas dari Kesulitan *

    • “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku
      adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiyâ’: 87).
    • Penjelasan:
      Doa diatas hendaknya dibaca pada setiap kesempatan dan waktu, agar
      dihindarkan dari rasa frustasi dalam menghadapi perjuangan. Karena doa
      tersebut merupakan doanyan Nabi Yunus as sebagai penyesalan atas
      kelancangannya meninggalkan dakwah. Ia merasa berat menghadapi kaumnya
      yang membangkang, hingga kemudian ia tinggalkan. Kisah ini dapat dilihat
      dalam Al-Ouran surah Al-Anbiyâ’ ayat 87-88.

    Doa Agar Kesempurnaan Cahaya

    • “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
      ampunilah dosa-dosa kami. Sungguh Engkau Maha Kuasa alas segala
      sesuatu.” (Al-Tahrîm: 8).
    • Penjelasan:
      Doa di atas baik sekali dibaca dalarn berbagai kesempatan. Karena doa
      ini merupakan doanya orang mukmin yang memperoleh kebahagiaan sempurna,
      mendapatkan keridhaan Allah pada hari kiamat.
    • “Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah:201). Penjelasan Dalarn Al-Quran dijelaskan bahwa doa ini dibaca oleh orang-orang muslim yang tulus setelah selesai melaksanakan haji. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan pula bahwa doa ini mengandung seluruh kebaikan di dunia dan akhirat serta menghindarkan dari segala kejelekan. Oleh karena baik sekali doa ini dibaca pada setiap kesempatan.

     

    wp-1495319929694.

    Doa Tabah Menghadapi Lawan

    • “Ya Tuhan, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami, serta tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250).
    • Penjelasan Dijelaskan dalam Al-Quran, bahwa doa ini dibaca oleh sekelompok mukmin yang bergabung dengan pasukan Thalut melawan jalut. Sehingga dengan doa tersebut dan izin Allah Swt. pasukan Thalut dapat mengalahkan Jalut, dan Dâud membunuh Jalut.

    Doa Keselamatan

    • “Ya Tuhan, janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya Tuhan, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286).
    • Penjelasan: Ibnu Katsir dalarn kitab tafsirnya merangkum sepuluh hadis tentang keutamaan membaca doa diatas. Diantaranya hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ûd, bahwa Nabi Saw. telah bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat yang akhir surah Al-Baqarah (ayat 285-286) setiap malam, maka dia akan mendapatkan keselamatan.” (Tafsir Ibnu Katsîr Juz, I, hal.340).

    Doa Menghindari Kesesatan

    • Artinya: “Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi karunia.” (QS. Âli ‘Imrân: 8).
    • Penjelasan Dalam Al-Quran dijelaskan, baliwa doa ini dibaca oleh orang-orang ahli ilmu yang beriman kepada keagungan Al-Quran. Dan mereka berdoa kepada Allah Swt. agar tetap ada dalam jalan kebenaran, hatinya tidak condong kepada kesesatan setelah mendapatkan petunjuk, serta memohon curahan rahmat-Nya.

    Doa Kekuatan Iman

    • “Ya Tuhan, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami, dan selamatkanlah kami dan siksa neraka:” (QS. Âli ‘Imrân: 16).
    • Penjelasan: Dikisahkan dalam Al-Quran, bahwa doa ini dibaca oleh orang bertaqwa yang rajin melaksankan perintah Allah Swt., sehingga ia lupa pada kesenangan dunia. Baik sekali doa ini dibaca juga untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

    Husnul Khâtimah (akhir yang baik)

    • “Ya Tuhan sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada iman: “Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ya Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan pernah menyalahi janji.” (QS. Âli Imrân: 193-294).
    • Penjelasan: Baik sekali doa di atas dibaca pada setiap kesempatan, tapi lebih utama pada waktu tengah malam (sepertiga malam) sampai menjelang shubuh. Karena ayat ini pula yang dibaca Nabi Saw. ketika bangun dari tidurnya sambil memandang langit. Demikian peielasan Al-Bukhârî dari Ibnu ‘Abbâs.

    Doa Penyesalan

    • “Ya Tuhan, kami telah menganiaya dm kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’râf 23).
    • Penjelasan : Doa ini merupakan doanya Nabi Adam a.s. dan isterinya Hawa, ketika keduanya terlanjur memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah Swt., sehingga mereka berdua dikeluarkan dari surga. Karena penyesalannya atas melanggar larangan Allah Swt., maka mereka berdoa agar diampuni dosanya. Lebih detailnya tentang Adam dan Hawa dapat dilihat dalam Al-Quran surah Al-A’râf ayat 11-25.

    Doa Tolak Neraka

    • “Ya Tuhan, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama dengan orang-orang zhalim.” (Al-A’râf 47).
    • Penjelasan: Doa dia atas dibaca oleh Ahl al-A’râf, yakni orang-orang yang amal kebajikan dan kejahatannya seimbang. Ketika mereka melihat ahli surga dengan berbagai kenikmatanya, mereka berkata: “Kesejahteraan semoga tercurah buat kalian, wahai ahli surga.” Dan ketika mereka melihat ahli neraka dengan berbagai siksanya, mereka berkata: “Kami berlindung kepada Allah dari apa yang sedang kalian alami, Wahai ahli neraka.” Lalu mereka berdoa dengan doa diatas, yaitu memohon agar tidak disatukan dengan orang-orang zhalim.

    Doa Mohon Keadilan

    • “Ya Tuhan, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq (adil). Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’râf 89).
    • Penjelasan: Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa doa ini dibaca oleh Nabi Syu’aib a.s. ketika beliau diusir oleh kaumnya lantaran inkar terhadap agama yang dibawanya dan menolak ajakan kaumnya untuk kembali kepada ajaran agama merekaketika itulah Nabi Syu’aib a.s. memohon kepada Allah agar diberi keadilan antara agama Allah dan agama kaumnya. Lebih detailnya kisah Nabi Syu’aib ini bisa dilihat dalam Surah Al-A’râf ayat 89-91, dan tafsir Kurtubi Juz, VII, hal.251.

    wp-1495319929694.

    Doa Mohon Keselamatan

    • “Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi
      kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan rahmat-Mu dari
      tipu daya orang- orang yang kafir.” (Qs. Yûnus: 85-86).
    • Penjelasan: Doa ini dibaca oleh kelompok minoritas yang beriman kepada Nabi Musa a.s., setelah mereka menyaksikan kemukjizatannya dihadapan Fir’aun.
      Ketika itu, kaum Nabi Musa as yang terdiri dari pemuda-pemuda dalam
      keadaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemukanya akan menyiksa mereka.
      Maka pada waktu itu pula Nabi Musa as memerintahkan kepada kaumnya agar
      tidak takut dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Swt., seraya berdoa
      dengan lafazh doa diatas. Bisa dilihat dalam Surah Yûnus ayat 83-86.

    Doa Mohon Perlindungan

    • “Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon
      sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak
      memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku
      akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Hûd: 47).
    • Penjelasan:
      Doa ini merupakan doanya Nabi Nuh a.s., yaitu ketika kaumnya termasuk
      anaknya (kan’an) ikut dihancurkan oleh Allah Swt. melalui banjir besar.
      Nabi Nuh a.s. perotes kepada Allah Swt., “kenapa anaknya (kan’an) ikut
      dihancurkan padahal dia adalah bagian dari keluargaku, dan Engkau
      sendiri berjanji akan menyelamatkan keluargaku dan menenggelamkan
      kaumku.” (QS. Hûd ayat 45).
      Kemudian Allah memberikan jawaban: “bahwa dia (Kan’an) bukan termasuk
      keluargamu yang dijanjikan akan diselamatkan, karena dia tidak shalih
      dan beriman kepada Allah. Padahal yang akan diselamatkan dari banjir
      besar adalah mereka-mereka yang beriman kepada Allah.(Hûd ayat 46).
      Setelah diperingatkan Allah, Nabi Nuh a.s. berdoa dengan lafazh doa
      diatas. Kemudian Allah mengabulkan doanya. (QS. Hûd ayat 48).
      http:rahasiakuncisukses.com?id=wahyu

    Doa Keluarga Maslahah

    • “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang
      tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan
      kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan
      sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
      (QS. Ibrâhîm: 41-42).
    • Penjelasan:
      Doa diatas baik sekali dibaca dalam berbagai kesempatan, agar diri kita
      dan keluarga kita serta turunan kita senantiasa taat dan rajin beribadah
      kepada Allah Swt., khususnya ibadah shalat yang telah diwajibkan.
      Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim
      a.s., ketika ia baru saja memohon agar kota Mekkah dijadikan kota
      tentram, aman dan anak turunannaya diselematkan dari menyembah berhala.
      Lebih detail tentang kisah nabi ibrahim bisa dilihat dalam Al-Ouran
      Surah Ibâhîm ayat 35-42.

    Doa Mohon Tempat yang Baik

    • “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan
      keluarkanlah pula aku secara keluar yang benar. Dan berikanlah kepadaku
      dari sisi-Mu kekuasaan (pemimpin) yang menolong.” (Al-Isrâ’: 80).
    • Penjelasan:
      Doa di atas dibaca bukan hanya dikhususkan ketika kita akan pergi.
      Tetapi dalam berbagai keadaan yang sering kali berubah sangat dianjurkan
      untuk dibacanya seperti akan melaksanakan pemilihan umum untuk memilih
      pemimpin. Doa di atas dibaca agar kita mendapatkan pemimpin yang jujur
      dan bijaksana. Baik juga doa di atas dibaca ketika kita akan
      meninggalkan tempat yang kita huni (dunia), memohon agar ditempatkan
      pada tempat yang layak setelah meninggal. Demikian Al-Qurthubi
      menjelaskan dalam tafsirnya.

    Doa Mohon diberi Kemudahan

    • “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
      sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.”
      (QS. Al-Kahfi: 10).
    • Penjelasan:
      Doa diatas baik sekali dibaca oleh para pejuang muda yang menegakkan
      agama Allah agar mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan. Karena doa
      tersebut adalah doa yang dibaca pemuda Ashhâb al-Kahfi, yakni sekelompok
      pemuda yang beriman kepada Allah Swt. hingga mendapatkan petunjuk yang
      sempurna dari sisi-Nya. Doa ini dibaca oleh mereka ketika akan masuk gua
      sebagai persembunyiannya untuk menyelamatkan agama yang hak, agama yang
      mereka pegangi dari fitnah-fitnah dan orang-orang zhalim. Dan Allah Swt.
      mengabulkan doa mereka Kisah Ashhâbu al-Kahfi dapat dibaca dalam Surah
      Al-Kahfi dari ayat 9-26.

    Doa Kelapangan hati

    • “Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku,
      dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
      (QS. Thâha: 27)
    • Penjelasan:
      Doa di atas balk sekali dibaca ketika menghadapi kezhaliman seseorang,
      kelompok, dan penguasa. Juga dibaca agar mendapatkan kelancaran,
      kemudahan dalam berdakwah. Doa ini pula yang sering dibaca oleh para
      mubaligh.
      Al-Quran mengisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Musa a.s.
      ketika mendapat perintah dari Allah Swt. agar menyampaikan risalah
      kepada Fir’aun. Dan akhirnya Allah Swt. mengabulkan permintaan Nabi Musa
      a.s., bisa dilihat dalam Al-Quran Surah Al-kahfi dari ayat 24-36.

    Doa Mohon Jodoh dan Keturunan yang Baik

    • “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang
      diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiyâi’: 89).
    • “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik.
      Sungguh Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Âli ‘Imrân: 38).
    • Penjelasan:
      Doa di atas baik sekali dibaca oleh orang-orang yang belum mempunyai
      keturunan dan pasangan hidup. Juga baik sekali dibaca oleh setiap muslim
      agar diberi keturunan yang shalih.
      Kedua ayat diatas merupakan doanya Nabi Zakariya a.s. agar diberi
      keturunan sebagai pelenjut perjuangannya menegakkan agama Allah. Kisah
      Nabi Zakaria bisa dilihat dalam Al-Our’an Surah Al-Anbiyâ’ ayat, 89-90;
      Âli-‘Imrân, 38-41.

    Doa Mohon Terlepas dari Musibah

    • “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan
      setan. Dan aku berlindung pula kepada-Mu, ya Tuhan kami dari kedatangan
      mereka kepadaku.” (OS. Al-Mukminûn: 97-98).
    • Penjelasan:
      Doa di atas dibaca dalam berbagai keadaan agar selamat dari tipu daya
      syathan, baik dalam beramal maupun dalam pergaulan. Dan doa diatas
      merupakan perintah Allah agar kita memperbanyak membacanya ketika
      terjadi musibah. (QS. Al-Mukminûn ayat 93-94).

    Doa Mohon Kemuliaan

    • “Ya Tuhan kami, jauhkanlah adzab Jahanam dari kami, Sungguh
      ‘adzab itu adalah kebinasaan yang kekal.” (QS. Al-Furqân: 65).
    • “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan
      keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam
      (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqân: 74).
    • Penjelasan:
      Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh orang-orang
      yang senantiasa memuji dan menyucikannya. Mereka senantiasa berpegang
      teguh pada etika Islam, beramal shalih, memperbanyak dzikir dan doa
      dalam segala kesempatan.

    Doa Mensyukuri Ni’mat

    • “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
      nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang
      ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta
      masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang
      shalih.” (QS. Al-Naml: 19).
    • Penjelasan:
      Doa di atas baik sekali dibaca agar kita mendapatkan ilham untuk
      mensyukuri nikmat serta dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang
      beramal shalih di dunia” hingga kemudian mendapatkan kebaghagiaan di
      dunia dan akhirat. Doa tersebut pula yang dibaca Nabi Sulaiman a.s. yang
      kaya raya tidak ada bandingannya.
    • “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
      nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang
      ibu-bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, serta
      berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku.
      Sungguh aku bertaubat kepada-Mu, dan sungguh aku adalah termasuk
      golongan orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqâf. 15).
    • Penjelasan:
      Doa diatas dibaca oleh orang-orang mukmin yang jujur agar mereka diberi
      ilham untuk tetap mensyukuri nikmat, berbakti kepada orang tua, beramal
      sahalih, diberi keturunan yang mulia dan tobatnya diterima.
      Ahli Tafsir yang lain menjelaskan bahwa doa tersebut berkati dengan Abu
      Bakar Shiddik, ketika kedua orangtuanya menyatakan masuk Islam.

    Doa Mohon Keluasan Rahmat

    • Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
      maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti
      jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala
      Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam sorga yang telah Engkau
      janjikan kepada mereka dari orang-orang shalih di antara bapak-bapak
      mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sungguh
      Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka
      dari balasan kejahatan. Sebab orang-orang yang Engkau pelihara dari
      pembalasan kejahatan pada hari itu, sungguh telah Engkau anugerahkan
      rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Mukmin: 7-9)
    • Penjelasan:
      Doa di atas dibaca oleh para malaikat penjaga ‘arasy Allah sebagai
      tasbih kepada-Nya. Mereka mendoakan kaum mukminin dengan doa di atas.

    wp-1495319929694.

    Doa Selamat dari Kedengkian *

    • “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosadosa
      saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa iman, dan
      janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap
      orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun
      lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
    • Penjelasan:
      Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa di atas dibaca oleh orang-orang
      beriman yang mengikuti perjuangan salaf as-Shalih dari kalangan
      Muhajirin dan Anshar. Mereka memohon agar tetap melanjutkan serta
      meneladani keshalihan, semangat jihad dan kesucian hati mereka.

    Doa Bertawakkal Kepada Allah

    • “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, hanya
      kepada Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami
      kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah
      bagi orang-orang kafir. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami. Sungguh
      hanya Engkau Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5).
    • Penjelasan:
      Doa di atas dibaca pada setiap kesempatan dan waktu. Dan menyerahkan
      sepenuhnya apa yang telah kita lakukan, usahakan kepada Allah Swt.
      semata karena hal ini pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s., dan
      kaum-kaumnya yang beriman. Sehingga Allah menyebutnya Ibrahim dan
      kaumnya sebagai teladan yang baik bagi kita.

    Doa Diberi Pemimpin Agama

    • “Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari
      kalangan mereka yang akan membacakan ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan
      kepada mereka Al-Quran dan hikmah serta menyucikan mereka. Sungguh
      Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129).
    • Penjelasan:
      Doa ini pula yang dibaca Nabi Ibrahim a.s. sebelum diangkat menjadi
      rasul, ketika itu Ibrahim melihat kenyataan bahwa ummatnya telah dilanda
      krisis moral dan krisis tauhid. Sehingga Ibrahim mendambakan pemimpin
      yang dapat membimbing mereka kepada jalan yang benar. Kemudian Allah
      mengabulkan permohonan Ibrahim, hingga kemudian dirinya diangkat meniadi
      rasul bagi ummatnya.

    Doa Melihat Keajaiban Alam

    • “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan alam ni dengan
      sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka.”
      (QS. Âli ‘Imrân: 191).
    • Penjelasan:
      Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa di atas dibaca oleh orang-orang
      berakal dan berpengatahuan, yang senantiasa menyeimbangkan antara dzikir
      dan fikir. Hasil kerja akal selalu dijadikan sebagai sarana bersyukur
      dan berdzikir kepada Allah Swt., bukan untuk mengkufuri nikmat dan
      anugerah yang telah diberikannya.

    Doa Lingkungan yang baik

    • Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negert yang zhalim
      penduduknya ini, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu serta berilah
      kami penolong dari sisi-Mu.” (QS. Al-Nisâ’: 75).
    • Penjelasan:
      Agar selamat dari kezhaliman dan ketertindasan suatu kelompok atau
      golongan, maka baca doa di atas setiap saat. Baik juga dibaca agar
      diberi ketentraman dan disatukan dengan orang-orang yang beriman.

    Doa Curahan Rizqi

    • “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan
      dari langit yang pada hari turunnya hidangan itu akan menjadi hari raya
      bagi kami, bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah
      kami, serta menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rizki, dan
      Engkaulah Pemberi rizki yang paling utama.” (OS. Al-Mâ’idah: 114).
    • Penjelasan:
      Doa diatas merupakan doanya Nabi Isa a.s. ketika ditantang oleh para
      pengikutnya yang menginginkan bukti konkrit atas kemukjizatan yang
      dimiliki oleh seorang rasul.
      Bagi setiap muslim yang mendambakan limpahan rizqi dari sisi allah,
      sudah selayaknyalah memperbanyak membaca doa ini dalam setiap
      kesempatan. Kisah Nabi Isa tersebut dapat dilihat dalam Al-Quran surah
      Al-Mâ’idah ayat 111-115.

    Doa Menghadapi Kegagalan Berdakwah

    • “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku serta masukkanlah
      kami ke dalam rahmat-Mu. Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para
      penyayang.” (QS. Al-A’râf 151).
    • Penjelasan:
      Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa di atas dibaca oleh Nabi Musa as
      ketika melihat kaumnya kembali kepada kekufuran setelah ditinggal
      bermunajat di gunung Sinai (Thurisina). Kisah Nabi Musa tersebut bisa
      dilihat dalam Al-Quran Surah Al-A’râf ayat 150-154.

    wp-1495319929694.

    wp-image-2022533804

    Inilah Kisah Kehebatan Doa Sapu Jagad

    Doa Sapu Jagad

    • Rabbana atinafiddun-ya hasanah, wafil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. 
    • “Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah: 201).

    • Al-Qur’an mengisahkan, bahwa doa di atas dibaca oleh orang-orang mukmin yang tulus setelah selesai pelaksanakan ibadah haji. Mereka memohon kepada Allah kebaikan di dunia dan akhirat, hingga kemudian Allah memuji mereka dengan mengadakan: “Bagi mereka adalah bagian (balasan) dari apa yang mereka kerjakan.”
    • Imam Ibnu Katsir menegaskan, bahwa doa di atas mengandung keseluruhan kebaikan dunia serta menghindarkan diri dari segala bentuk kejelekan. Kebaikan di dunia mencakup seluruh ke­butuhan duniawi, baik kesehatan, kelayakan hidup, istri shalihah, rizki lapang, ilmu manfaat, amal saleh, kendaraan layak, ke dudukan terhormat maupun jabatan tinggi. Menurut para ahli tafsir, hal-hal tersebut merupakan sarana prasarana kehidupan yang baik di dunia. Sedang kebaikan di akhirat adalah mendapatkan nikmat kubur, selamat dari goncangan kiamat, dimudahkan dalam menghadapi hisab, selamat dari ne­raka, puncaknya adalah dimasukkan ke dalam sorga yang paling tinggi derajatnya.
    • Mengingat pentingnya doa di atas, maka ke­pada setiap muslim dianjurkan untuk membaca­nya pada setiap kesempatan, agar dapat meraih kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Dalam hal ini sahabat Anas bin Malik telah menegaskan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membiasakan diri membaca doa: “Ya Allah ya Tuhan kami. berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik).
    •  Ibnu Abi Hatim mengetengahkan sebuah ri­wayat bersumber dari Abdus-Salam bin Syadad, dia berkata: Suatu ketika aku berada di rumah Anas bin Malik, lalu Tsabit berkata: “Ya Anas, teman-temanmu sangat mengharapkan doamu. Maka doakanlah mereka.” Anas kemudian ber­doa dengan membaca: “Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” Lalu mereka berbincang-bincang sejenak. Dan ketika mereka hendak meninggalkan tempat duduk, Tsabit kembali memohon kepada Anas agar berkenan sekali lagi mendoakan mereka. Ia berkata: “Ya Aba Hamzah, teman- temanmu akan meninggalkan ruangan ini, maka doakanlah me­reka.” Jawab Anas: “Saudara, adakah kalian akan memperberat permasalahan! Apabila Allah memberimu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, serta menyelamatkan dirimu dari siksa neraka, maka berarti Allah telah memberikan se­luruh kebaikan kepadamu.” Memang sudah men­jadi kebiasaan Anas bin Malik, apabila dimintai doa oleh seseorang, dia selalu mendoakannya dengan membaca doa sapu jagad. Jarang sekali dia berdoa dengan doa yang lain.
    • Anas bin Malik menerangkan, bahwa pada suatu waktu Rasulullah menjenguk seorang lelaki yang sedang sakit. Dia sangat lemah, tidak ber­daya. Lalu Rasulullah bertanya: “Saudara, ada­kah engkau telah memanjatkan suatu doa kepada Allah?” Jawabnya: “Ya Sudah. Aku berdoa: “Ya Allah, bila Engkau menghendaki untuk menyik­saku di akhirat, maka segerakanlah siksaan itu di dunia saja.” Rasulullah kemudian bersabda: “Subhanallah. Kamu tidak akan kuasa meneri­ma siksa Allah. Sebaiknya bacalah doa: “Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan ke­baikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” Anas menerangkan, bahwa lelaki itu kemudian membaca doa yang dianjurkan Rasulullah, lalu dia pun sembuh dari sakitnya. (Tafsir Ibnu Katsir Juz: 1, halaman: 244).

    « Entri Lama
    %d blogger menyukai ini: