Category Archives: Fatwa Ulama

Ucapan, PP, dan Pesan SMS Pilihan Untuk Sahabat atau Keluarga di Bulan Ramadhan

  • Welcome the month of Ramadhan with the heart filled with peace, harmony and joy. May the divine blessings of Allah protect and guide you.
  • Sambutlah bulan Ramadhan dengan hati yang penuh dengan kedamaian, harmoni dan sukacita. Semoga rahmat ilahi dari Allah senantiasa melindungi dan membimbingmu.

  • May this Ramadhan enlighten you and clear your understanding and judgment between the right and wrong, between the truths and false. Wishing you a Ramadhan Mubarak.

  • Semoga Ramadhan kali ini mencerahkanmu dan memperjelas pemahaman serta penilaianmu untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil. Semoga kamu menjalani Ramadhan yang penuh berkah.

Kata Mutiara Islami Tentang Bulan Ramadhan

Bagai hujan

  • Ramadhan is like the rain… It nourishes the seeds of good deeds.

    • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.
  • Ramadhan itu ibarat hujan… ia memelihara dan menyuburkan benih-benih perbuatan baik.

Saat ramadhan tiba

  • When the month of Ramadhan starts, the gates of the heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained. – Hadits

  • Ketika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. – Hadis

Pahala puasa

  • Every deed of the son of Adam is for him except fasting; it is for Me and i will reward it. – Hadits

  • Seluruh amal perbuatan anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya. – Hadis

Manual ramadhan

  • RAMADHAN MANUAL – turn TV off, eat moderately, use SOCIAL MEDIA wisely, read QURAN daily, Pray more, increase dua.

  • MANUAL RAMADHAN – matikan TV, makan secukupnya, gunakan SOSIAL MEDIA dengan bijak, baca QURAN sehari-hari, lebih banyak BERIBADAH, tingkatkan DOA.

Sedekah buka puasa

  • Whoever feeds a fasting person will have a reward like that of the fasting person, without any reduction in his reward. – Hadits

  • Barang siapa memberi makan orang yang sedang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga. –hadits

Pasca ramadhan

  • If you are going back to sinful life after Ramadhan, then you gained nothing but hunger.
  • Jika setelah bulan Ramadhan kamu kembali menjalani kehidupan yang penuh dosa, maka sesungguhnya kamu tidak mendapatkan apapun dari puasamu kecuali hanya rasa lapar.

Bukan sementara

  • Ramadhan is not about giving up bad habits temporarily. Ramadhan is a starting point to become a better Muslim and give them up for good.
  • Ramadhan bukanlah tentang berhenti dari kebiasaan buruk untuk sementara waktu. Ramadhan adalah titik awal untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik dan berusaha untuk terus selamanya menjadi baik.

Dua Kebahagiaan

  • There are two pleasures for the fasting person, one at the time of breaking his fast, and the other at the time when he will meet his Lord, then he will be pleased because of his fasting. – Hadits
  • Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagiaan ketika nanti bertemu dengan Tuhannya. – Hadis

Keutamaan puasa

  • Whoever fasts Ramadhan out of faith and with the hope of (Allah’s) reward, all his previous sins will be forgiven. – Hadits
  • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. – Hadis

Ibarat teman

  • Ramadhan is like a friend. You have seen it today, you might not see it again.
  • Ramadhan itu seperti teman. Kamu mungkin berjumpa dengannya hari ini, tapi belum tentu kamu bisa berjumpa lagi dengannya di lain waktu.

Presentase puasa

  • Fasting is only 1% of not eating and drinking, the rest of the 99% is bringing your heart and soul closer to the Allah.
  • Puasa itu hanya 1% untuk menahan diri dari makan dan minum, 99% sisanya untuk membawa hati dan jiwamu semakin dekat kepada Allah.

Perisai

  • Fasting is a shield, it will protect you from the hellfire and prevent you from sins. – Hadits
  • Puasa adalah perisai, yang akan melindungimu dari api neraka dan menjagamu dari perbuatan dosa. – Hadis

Mengosongkan perut

  • Ramadhan is time to empty your stomach to feed your soul.
  • Ramadhan adalah waktunya mengosongkan perut untuk memberi makan ruhanimu.

Mohon maaf

  • Amat merdu suara adzan, ayo shalat disegerakan. Sebentar lagi akan ramadhan, segala salah mohon dimaafkan.
  • Kata Bijak Islami Tentang Puasa dan Ramadhan

Empat kesalahan

  • 4 Mistakes to avoid in Ramadan: getting angry, sleeping all day, fasting without prayer, bad language.
  • 4 Kesalahan yang harus dihindari di bulan Ramadan: marah, tidur sepanjang hari, berpuasa tapi tidak shalat, tutur kata yang buruk.

Berdoalah

  • Make Dua.. its Ramadan, the month of forgiveness.
  • Berdoalah.. ini adalah Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan.

Titik balik

  • Make this Ramadan the turning point in your life. Break free from the deceptions of this world and indulge into the sweetness of iman.
  • Jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik balik dalam kehidupanmu. Bebaskan diri dari tipu daya dunia ini dan nikmati manisnya iman.

Bukan hamba ramadhan

  • Don’t be a servant of Ramadan, be a servant of Allah, be consistent.
  • Jangan menjadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah, dan beristiqamahlah.

Aku sedang berpuasa

  • When one of you is fasting, he should abstain from indecent acts and unnecessary talk, and if someone begins an obscene conversation or tries to pick an argument, he should simply tell him, ‘I am fasting’. – Hadits
  • Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, janganlah ia berkata kotor/keji dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. – Hadis

Bukan untuk diet

  • Ramadan is about losing sins, not weight.
  • Ramadhan itu waktunya untuk membersihkan diri dari dosa, bukan untuk menurunkan berat badan.

Izinkan kami

  • O Allah, allow us to witness Ramadan, benefit from it, use it to earn Your pleasure and mercy, and earn emancipation from the Fire. – dr. Bilal Philips
  • Ya Allah, izinkan kami untuk menjumpai bulan Ramadhan, memanfaatkannya, menggunakannya untuk mendapatkan ridha dan rahmat-Mu, dan mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka. – dr. Bilal Philips

Doa yang tidak tertolak

  • Three prayers (supplications) are not rejected: the prayer of a father, the prayer of a fasting person, and the prayer of a traveller. – Hadits
  • Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir. – Hadis

Membangun iman

  • Ramadan is a chance to build your iman.
  • Ramadhan adalah kesempatan untuk membangun imanmu.

Bunga langka

  • Ramadan is like a rare flower, that blossoms once a year, and just as you begin to smell its fragrance, it disappears for another year.
  • Ramadhan bagaikan bunga yang sangat langka, yang mekar hanya setahun sekali, dan saat kamu mulai mencium harumnya, ia menghilang selama satu tahun lagi.

Berhenti dari kemaksiatan

  • Ramadan is the ideal time to break bad habits.
  • Ramadhan adalah waktu yang sangat baik untuk berhenti dari kebiasaan buruk.

Istimewanya ramadhan

  • 4 weeks of mercy, 30 days of worship, 720 hours of spirituality, 43.000 minutes of forgiveness, 2.592.000 seconds of happiness.
  • 4 minggu yang penuh rahmat, 30 hari yang bernilai ibadah, 720 jam yang penuh nuansa keagamaan, 43.000 menit yang penuh ampunan, 2.592.000 detik yang penuh kebahagiaan.

Terimalah

  • Dear Allah, please accept our fasts in this beautiful month of Ramadan. Ameen.
  • Ya Allah, terimalah puasa kami di bulan Ramadhan yang indah ini. Amiin.

Menyembuhkan

  • Ramadhan, let this month heal you.
  • Ramadhan, biarkan bulan ini menyembuhkanmu.

Tuhan yang sama

  • The Lord you worship in Ramadan is the same Lord you turn away from in all the other months. – Sheikh Abu Abdisalam
  • Tuhan yang engkau sembah di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang engkau berpaling di bulan-bulan selainnya. – Sheikh Abu Abdisalam

Bulan al-Qur’an

  • The month of Ramadhan is that in which was revealed the Qur’an, a guidance for the people and clear proofs of guidance and criterion. – (QS. Al-Baqarah: 185)
  • Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan yang bathil). – (QS. Al-Baqarah: 185)

Orang miskin

  • Poor is he who leaves ramadan the way he was before.
  • Orang miskin adalah dia yang meninggalkan ramadhan masih sama seperti sebelumnya.

Kewajiban puasa

  • O you who believe, Fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you so that hopefully you will gain taqwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)
  • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. – (QS. Al-Baqarah: 183)

Menggapai takwa

  • TAQWA is the ultimate goal of our Ramadan preparations, to be among the righteous for now and forever.
  • TAQWA adalah tujuan akhir dari persiapan Ramadhan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, untuk saat ini dan selamanya.

Memperkokoh iman

  • Ramadan: strengthen your iman, heal your heart.
  • Ramadhan: mengokohkan imanmu, menyembuhkan hatimu.

Bukan akhir

  • For a true muslim ,end of Ramadan is not the end, but start of a new journey leading towards the jannah.
  • Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan baru menuju surga.

Tiap hari ramadhan

  • Live your life like everyday is Ramadan, and the Akhirah will become your Eid.
  • Jalani hidupmu seperti seolah-olah setiap harinya adalah Ramadhan, maka Akhirat akan menjadi hari rayamu.

Terus berusaha

  • Allah never expect us to be perfect during Ramadan, but He expects us to keep trying.
  • Allah tidak pernah mengharapkan kita menjadi sempurna selama Ramadhan, tetapi Dia mengharapkan kita untuk tetap terus berusaha.

Agen kebersihan

  • Fasting is a cleansing agent for the body and soul.
  • Puasa adalah agen pembersihan untuk tubuh dan jiwa.

Makna perisai

  • Puasa adalah perisai dan bukan pedang. Digunakan untuk menahan diri, bukan untuk menyerang.

Sama saja

  • Kalau puasa cuma menahan lapar dan haus, maka sama saja seperti mengganti waktu makan.

Fenomena akhir ramadhan

  • Ramadhan semakin berlalu, akan tetapi masjid semakin kelabu, pusat perbelanjaan dan restoran semakin laku.

Belum tentu berjumpa lagi

  • Meski sekarang zaman sedang edan, namun ibadah di bulan ramadhan harus tetap habis-habisan, karena tahun depan belum tentu merasakan.
  • Kata Kata Islami Tentang Sahur

Ada berkah

  • Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat barakah. – Hadis

Sesuai waktunya

  • Jangan sahur sesudah waktunya, jangan berbuka sebelum waktunya, jangan menikah sebelum ada calonnya.

Memulai dengan basmalah

  • Mulailah makan sahurmu dengan ucapan bismillah agar semua makanan yang kau makan dan minuman yang kau minum menjadi berkah dan memberimu kekuatan untuk beribadah kepada Allah.

Tanpa sahur

  • Ada orang bangga berkata tanpa sahur pun dia gagah berpuasa. Padahal sahur itu sunnah dan berkah, dan dia telah rugi.

Hanya seteguk air

  • Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air. – (HR. Ahmad)

Selamat sahur

  • Kukirimkan senyum syukur, lewat doa yang tak terukur, semoga yang di sana sudah bangun tidur, sebelum waktu imsak menegur. Selamat makan sahur.

Waktunya buka

  • Sehari sudah kita menahan lapar dan dahaga, kini tibalah waktu maghrib untuk kita berbuka puasa. Selamat berbuka puasa, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Syukur dan sabar

  • Nikmatnya bersyukur, indahnya bersabar. Selamat berbuka puasa.
  • Ekspresi kebahagiaan
  • Orang berbuka memang benar mendapat kebahagiaan, tetapi jangan sampai salah mengekspresikannya dengan berbuka yang berlebihan.

Nikmat makan

  • Tiada nikmat makan yang lebih dari saat berbuka puasa. Selamat menikmati hidangan berbuka puasa.
  • Selamat berbuka untukmu
  • Jangan lupa berdoa sebelum makan, sudah kenyang ucapkan alhamdulillah. Selamat berbuka puasa kuucapkan, untukmu dengan senyumku terindah.

Menyegerakan berbuka

  • Manusia akan senantiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka senantiasa menyegerakan berbuka puasa. – (HR. Bukhari)

Meraih ridha-Mu

  • Dari pagi sampai sore-Mu, ku menahan segala rasa dan nafsu hanya untuk meraih ridha-Mu, semoga kita mendapatkan berkah di puasa hari ini. Selamat berbuka puasa.

Ucapan selamat berbuka

  • Santapan lezat sudah tersedia di atas meja, setulus hati aku ingin mengucapkan ‘Selamat berbuka puasa’.

Untuk yang dirindu

  • Gula memang manis rasanya, tapi lebih manis lagi rasa madu, ku ucapkan selamat berbuka puasa, untuk kamu yang selalu ku rindu.
  • Halal lebih baik
  • Berbukalah dengan yang halal, karena yang manis dan sayang belum tentu halal.

Kata Kata Perpisahan dengan Ramadhan

  • Kulihat ramadhan sedang berkemas. Aku tanya ia, “Hendak kemana engkau?”. Dengan lembut ia menjawab, “Aku akan pergi jauh, sangat jauh. Selama sebelas bulan ke depan aku akan menghilang darimu. Sampaikan pesanku pada semua. Terimakasih karena telah menyambut kehadiranku dengan gembira serta menghiasi hari-hariku dengan sabar dan istiqamah. Jika engkau merindukanku, maka perbanyaklah doa semoga kita bertemu lagi pada ramadhan yang akan datang.”
  • Itulah beberapa koleksi kata-kata mutiara islam terbaik, kata bijak islami, dan caption islami tentang bulan Ramadhan yang semoga bisa menjadi motivasi diri dalam menjalankan ibadah puasa dan semakin bersemangat untuk meraih kebaikan selama bulan ramadhan.

Anis Sandi Gelar Pertemuan Da’i dan Ulama Se Dunia Di Jakarta

Anis Sandi Gelar Pertemuan Da’i dan Ulama Se Dunia Di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta dan Wagub Sandiaga Uno bersama Syaikh Khalid (asal Saudi Arabia) akan menggelar Multaqha Dai Ulama Global 2018 atau Pertemuan Da’i dan Ulama se-Dunia, yang rencananya akan digelar pada tanggal 3-7 Juli 2018 mendatang di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat.

Bertajuk Ulama bersatu di Tanah tercinta Indonesia, Ukhuwah dan dakwah menjadi pembahasan dalam pertemuan dai dan ulama tersebut. Direncanakan akan dihadiri oleh 43 dai Indonesia, diantaranya: Ustadz Khallid Bassalamah, Ustadz Syafiq Reza Bassalamah, Ustadz Firanda, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Bachtiar Nassir, Ustadz Zaitun Rasmin, Ustadz Subhan Bawazier, Ustadz Yazid Jawas, Ustadz A’a Gym, Ustadz Yusuf Mansyur, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Fadlan Garamatan, Ustadz Zulkifli Ali, Ustadz Felix Siaw dan ulama lainnya.

Dari beberapa negara yang turut diundang antara lain: Syaikh Abdurahman Lee (Korea), Syaikh Washeem (Australia), Syaikh Abduraheem Cruzz (Phillipina), Syaikh Aamiya (Sudan), Ustadz Dawuud (UK), Ustadz Abdullah Taki (Japan), dan lainnya dari China (penerjemah kitab hadith Bukhari dan Muslim ke bahasa mandarin). Juga Insyaa Allah akan dihadiri beberapa Imam Masjid al Haraam Mekkah maupun Masjid an-Nabawiy Madinah, juga syaikh khibar dari Jeddah. (ass)

Siapakah Ulama Su’, Jauhilah Dia Tanpa Harus Menghinanya

Siapakah Ulama Su’, Jauhilah Dia Tanpa Harus Menghinanya

Ulama Su’, Siapakah Dia ?

ulama su’ atau ulama dunia adalah ulama hitam
ulama akhirat atau ulama agama adalah ulama putih

ulama su’ bukan hanya menguasai ilmu agama
ulama su’ bisa menguasai ilmu di luar ilmu agama
ulama su’ juga ilmuwan dalam bidang apapun

Allah sudah memfirmankan “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)

Rasulullahpun sudah mengatakan
ada sesuatu yang aku khawatirkan pada kalian daripada selain Dajjal
yakni ulama yang jahat
tujuan Dajjal hanya menyesatkan orang lain
ulama su’ memalingkan orang lain daripada dunia melalui ucapan dan perkataannya
ulama su’ mengajak orang mencintai dunia melalui perbuatan dan perilaku kesehariannya.

Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi berpesan ulama jahat adalah dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan

kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim)

Rasulullah mengingatkan
ulama akhirat adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia
ulama dunia bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul
karena itu, jauhilah mereka. (HR al-Hakim) .

Rasulullah berpesan
ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan
sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama. (HR ad-Darimi) .

Nabi Muhammad bersabda
siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu
Allah membutakan ke dua matanya dan neraka lebih layak untuknya. (HR Abu Nu‘aim dan ad-Dailami)

Imam Syafi’i berwasiat
perhatikanlah panah-panah musuh ditujukan kepada siapa
maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran
nanti di akhir zaman akan banyak ulama yang membingungkan umat
sehingga umat bingung memilih mana ulama warosatul anbiya dan
mana ulama Suu’ yang menyesatkan umat
ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik
jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik
karena ia ia akan menyesatkan mu, menjauhi mu dari keridhoan Allah

Imam Ghazali berpesan
bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’
ulama su’ dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan
ulama su’ adalah tawanan setan
ulama su’ telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya
ulama su’ membahayakan umat dari beberapa sisi
ulama su’ menjerumuskan umat karena mengikuti ucapan- ucapan dan perbuatan-perbuatannya.
ulam su’, pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan
ulama su’ sombong, mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui

Sayyidina Umar Bin Khoththob ra berkata
sesungguhnya paling mengkhawatirkannya yang aku khawatirkan dari umat ini
adalah para munafiq yang berilmu
bagaimana orang munafiq tapi ia alim?
ulama dunia itu alim dalam lisannya tapi tidak dalam hati dan amaliahnya

Imam Al-Ghazali mengingatkan
ulama dunia karena kerendahan kedudukan mereka
ulama dunia menggunakan sesuatu yang terpuji untuk sesuatu yang tercela
Mereka meraih ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia
hidup senang dengan perhiasan dunia, menghias rumah dengan permadani mewah, menggantungkan gorden padanya, menghiasi diri dengan pakaian indah, dan
memperindah rumah dengan kasur yang elok
mendapatka dengan ilmunya (pangkat dan kedudukan) yang tinggi (pada penduduk) dunia
ulama dunia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri
ulama dunia menyombongkan diri dengan kedudukan
ulama dunia membanggakan diri dengan banyaknya pengikut.
ulama dunia terperosok lubang tipu daya karena ilmunya itu dengan tujuan hajat duniawinya terpenuhi.
ulama dunia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulai di sisi Allah
ulama dunia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama
ulama dunia secara lahir batin menerkam dunia semata.
Orang ini termasuk mereka yang celaka dan mereka yang dungu lagi terpedaya.
Tiada harapan untuk pertobatannya karena ia sendiri merasa sebagai orang baik (muhsinin).

Imam Ghazali berwasiat
bahasa tubuh lebih efektif daripada bahasa verbal
tabiat manusia menurut tabiatnya lebih cenderung membantu pada perbuatan dibanding mengikuti perkataan
mafsadat yang ditimbulkan oleh perilaku ulama jahat yang terpedaya ini lebih banyak dibanding kemaslahatan yang ditimbulkan oleh perkataannya
orang awam takkan nekat mencintai dunia tanpa sebab kenekatan dari ulamanya
ulama dunia, ilmunya menjadi sebab atas kenekatan hamba Allah yang lain dalam bermaksiat
ulama dunia, nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah
ulama dunia memberinya ilusi bahwa ia lebih baik daripada sekian banyaknya hamba Allah yang lain

ulama su’ tidak memiliki integritas pribadi
ulama su’tidak memiliki tanggung jawab intelektual.
ulama su’ memiliki niat duniawi
ulama su’ menyalahgunaan ilmu pengetahuan

ulama kaya belum tentu ulama su’
agama tidak membatasi ulama untuk miskin atau sederhana.
Ulama boleh memiliki rumah, pakaian, dan kendaraan yang bagus.

kita harus berbaik sangka pada ulama akhirat
tanpa berburuk sangka pada ulama dunia lainnya
kita harus mencari ulama akhirat
tanpa menghina ulama dunia lainnya

tanpa perlu memperolok ulama dunia
tetapi harus meninggalkannya

Apakah Pluralisme Itu ? MENGAPA Diharamkan MUI ?

Apakah Pluralisme Itu ? MENGAPA Diharamkan MUI ?

Saat mendekati hajatan politik pilpres dan Pilkada, suara masyarakat umat muslim selalu menjadi incaran parpol dan politikus. Fenomena inilah ternyata yang mendasari perpecahan dan pertentangan yang luas di antara sesama umat mualim dan antar umat beragama lainnya. Hal ini diperparah dengan adanya paham yang berkembang dipelopori oleh tokoh Islam Indonesia melalui paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama serta paham-paham sejenis lainnya dikalangan masyarakat. Berkembangnya paham pluralisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan di tengah pertarungan politik yang memperebutkan suara muslim. Paham paham tersebut saat ini dipakai senjata untuk meredam suara umat muslim yang akan berpartisipasi di dalam bidang politik. Paham pluralisme itu pada umumnya dianut dan disebarkan oleh tokoh agama yang berpaham liberalisme Islam. Melihat dampak yang buruk bagi umat muslim Indonesia tersebut maka sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. Pada tahun 2005 MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme dan liberalisme agama tersebut adalah haram untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam. MUI dalam memutuskan bahwa paham liberal, sekuler dan pluralisme haram berdasarkan dalil Quran dan Hadits.

Pada tanggal 28 Juli 2005, MUI menerbitkan fatwa yang melarang pluralisme. Dalam fatwa tersebut, pluralisme agama,sebagai objek persoalan yang ditanggapi, didefinisikan sebagai: “Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”.

Dengan demikian, MUI menyatakan bahwa Pluralisme dalam konteks yang tertera tersebut bertentangan dengan ajaran Agama Islam. Dengan adanya definisi pluralisme yang berbeda tersebut, timbul polemik panjang mengenai pluralisme di Indonesia.

Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai ‘terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan makna istilah ‘toleransi’, ‘saling menghormati’ (mutual respect), dan sebagainya. Sebagai satu paham (isme), yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah ‘Pluralisme Agama’ telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama agama (religious studies).

Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleran kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan, sebagai bagian dari keberagaman(pluralitas). Namun anggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme) tidak diperkenankan, dengan kata lain tidak menganggap bahwa Tuhan yang ‘kami’ (Islam) sembah adalah Tuhan yang ‘kalian’ (non-Islam) sembah. Pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwamelarang paham pluralisme dalam agama Islam. Dalam fatwa tersebut, pluralisme didefiniskan sebagai “”Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”.

Paham pluralisme ini banyak dijalankan dan kian disebarkan oleh kalangan Muslimitu sendiri. Solusi Islam terhadap adanya pluralisme agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin). Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada.

Di Indonesia, salah satu kelompok Islam yang dianggap mendukung pluralisme agama adalah Jaringan Islam Liberal. Di halaman utama situsnya terulis: “Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan segala agama.

Dalil Quran Yang Menentang Paham Pluralisme

  • Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Imram [3] : 85)
  • “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Al-Imran [3] : 19)
  • “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agama-ku”. (QS. Al-Kafirun [109] : 6)
  • “Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetpkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab [33] : 36)
  • “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dai negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlakuk adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memernagi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mreka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahinah [60] : 8-9)
  • “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamju melupakan bahagaianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash [28] : 77)
  • “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am [6] : 116)
  • “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 71)

Dalil Hadits Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

  • Imam Muslim (wafat 262) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
  • Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi, yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang berama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).
  • Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal Najran, bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi dari Ban Quraizhah (Sayyid Quraizhah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Apakah Sekularisme Itu ? Mengapa Diharamkan MUI ?

Apakah Sekularisme Itu ? Mengapa Diharamkan MUI ?

Saat mendekati hajatan politik pilpres dan Pilkada, suara masyarakat umat muslim selalu menjadi incaran parpol dan politikus. Fenomena inilah ternyata yang mendasari perpecahan dan pertentangan yang luas di antara sesama umat mualim dan antar umat beragama lainnya. Hal ini diperparah dengan adanya paham yang berkembang dipelopori oleh tokoh Islam Indonesia melalui paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama serta paham-paham sejenis liannya dikalangan masyarakat, berkembangnya paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan di tengah pertarungan politik yang memperbutkan suara muslim. Paham paham tersebut saat ini dipakai senjata untuk meredam suara umat muslim yang akan berpartisipasi di dalam bidang politik. Biasanya paham sekularisem itu dikembangkan oleh para tokoh Islam Indonesia yang berpaham Islam Liberal. Melihat dampak yang buruk bagi umat muslim Indonesia tersebut maka sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. Pada tahun 2005 MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham sekulerisme agama dan Liberalisme agama tersebut adalah haram untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam. Untuk memutuskan bahwa paham liberal, sekuler dan pluralisme haram berdasarkan dalil Quran dan Hadits.

Sekularisme atau sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragamadan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.

Sekularisme juga merujuk ke pada anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutamanya yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan.

Negara sekuler adalah salah satu konsep sekularisme, di mana sebuah negara menjadi netral dalam permasalahan agama, dan tidak mendukung orang beragama maupun orang yang tidak beragama. Negara sekuler juga mengklaim bahwa mereka memperlakukan semua penduduknya sederajat, meskipun agama mereka berbeda-beda, dan juga menyatakan tidak melakukan diskriminasi terhadap penduduk beragama tertentu. Negara sekuler juga tidak memiliki agama nasional. Negara sekuler didefinisikan melindungi kebebasan beragama. Negara sekuler juga dideskripsikan sebagai negara yang mencegah agama ikut campur dalam masalah pemerintahan, dan mencegah agama menguasai pemerintahan atau kekuatan politik.

Sekularisme dalam kehidupan bernegara

  • Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.
  • Sekularisme, seringkali dikaitkan dengan Era Pencerahan di Eropa, dan memainkan peranan utama dalam perdaban barat. Prinsip utama Pemisahan gereja dan negara di Amerika Serikat, dan Laisisme di Perancis, didasarkan dari sekularisme.
  • Kebanyakan agama menerima hukum-hukum utama dari masyarakat yang demokratis namun mungkin masih akan mencoba untuk memengaruhi keputusan politik, meraih sebuah keistimewaan khusus atau. Aliran agama yang lebih fundamentalis menentang sekularisme. Penentangan yang paling kentara muncul dari Kristen Fundamentalis dan juga Islam Fundamentalis. Pada saat yang sama dukungan akan sekularisme datang dari minoritas keagamaan yang memandang sekularisme politik dalam pemerintahan sebagai hal yang penting untuk menjaga persamaan hak.
  • Negara-negara yang umumnya dikenal sebagai sekuler di antaranya adalah Kanada, India, Perancis, Turki, dan Korea Selatan, walaupun tidak ada dari negara ini yang bentuk pemerintahannya sama satu dengan yang lainnya.

Masyarakat Sekuler

  • Dalam kajian keagamaan, masyarakat dunia barat pada umumnya dianggap sebagai sekuler. Hal ini dikarenakan kebebasan beragama yang hampir penuh tanpa sanksi legal atau sosial, dan juga karena kepercayaan umum bahwa agama tidak dapat menentukan keputusan politis. Tentu saja, pandangan moral yang muncul dari tradisi keagamaan tetap penting di dalam sebagian dari negara-negara ini.
  • Sekularisme juga dapat berarti ideologi sosial. Di sini kepercayaan keagamaan atau supranatural tidak dianggap sebagai kunci penting dalam memahami dunia, dan oleh karena itu dipisahkan dari masalah-masalah pemerintahan dan pengambilan keputusan.
  • Sekularisme tidak dengan sendirinya adalah Ateisme, banyak para Sekularis adalah seorang yang religius dan para Ateis yang menerima pengaruh dari agama dalam pemerintahan atau masyarakat. Sekularime adalah komponen penting dalam ideologi Humanisme Sekuler.
  • Beberapa masyarakat menjadi semakin sekuler secara alamiah sebagai akibat dari proses sosial alih-alih karena pengaruh gerakan sekuler, hal seperti ini dikenal sebagai Sekularisasi

Alasan-alasan pendukungan dan penentangan sekularisme

  • Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakkan dari Pencerahan yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauhi takhayul. Namun hal tersebut juga menjaga persamaan hak-hak sipil dalam kebebasan memeluk suatu kepercayaan dan berkeyakinan baik individu ataupun kelompok, dengan kata lain sekularisme justru menjadi ideologi yang mendukung kebebasan beragama tanpa ada agama superior yang dapat mefonis kepercayaan lain adalah salah dan sesat dan mendaat konsekwensi hukum.
  • Penentang sekularisme melihat pandangan di atas sebagai arogan, mereka membantah bahwa pemerintaan sekuler menciptakan lebih banyak masalah daripada menyelesaikannya, dan bahwa pemerintahan dengan etos keagamaan adalah lebih baik. Penentang dari golongan Kristiani juga menunjukkan bahwa negara Kristen dapat memberi lebih banyak kebebasan beragama daripada yang sekuler. Seperti contohnya, mereka menukil Norwegia, Islandia, Finlandia, dan Denmark, yang kesemuanya mempunyai hubungan konstitusional antara gereja dengan negara namun mereka juga dikenal lebih progresif dan liberal dibandingkan negara tanpa hubungan seperti itu. Seperti contohnya, Islandia adalah termasuk dari negara-negara pertama yang melegal kan aborsi, dan pemerintahan Finlandia menyediakan dana untuk pembangunan masjid.
  • Namun pendukung dari sekularisme juga menunjukkan bahwa negara-negara Skandinavia di atas terlepas dari hubungan pemerintahannya dengan agama, secara sosial adalah termasuk negara yang palng sekuler di dunia, ditunjukkan dengan rendahnya persentase mereka yang menjunjung kepercayaan beragama.
  • Komentator modern mengkritik sekularisme dengan mengacaukannya sebagai sebuah ideologi antiagama, ateis, atau bahkan satanis. Kata Sekularisme itu sendiri biasanya dimengerti secara peyoratif oleh kalangan konservatif. Walaupun tujuan utama dari negara sekuler adalah untuk mencapai kenetralan di dalam agama.
  • Beberapa filsafat politik seperti Marxisme, biasanya mendukung bahwasanya pengaruh agama di dalam negara dan masyarakat adalah hal yang negatif. Di dalam negara yang mempunyai kepercayaan seperti itu (seperti negara Blok Komunis), institusi keagamaan menjadi subjek di bawah negara sekuler. Kebebasan untuk beribadah dihalang-halangi dan dibatasi, dan ajaran gereja juga diawasi agar selalu sejalan dengan hukum sekuler atau bahkan filsafat umum yang resmi. Dalam demokrasi barat, diakui bahwa kebijakan seperti ini melanggar kebebasan beragama.
  • Beberapa sekularis menginginkan negara mendorong majunya agama (seperti pembebasan dari pajak, atau menyediakan dana untuk pendidikan dan pendermaan) tetapi bersikeras agar negara tidak menetapkan sebuah agama sebagai agama negara, mewajibkan ketaatan beragama atau melegislasikan akaid. Pada masalah pajak Liberalisme klasik menyatakan bahwa negara tidak dapat “membebaskan” institusi beragama dari pajak karena pada dasarnya negara tidak mempunyai kewenangan untuk memajak atau mengatu agama. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kewenangan duniawi dan kewenangan beragama bekerja pada ranahnya sendiri-sendiri dan ketka mereka tumpang tindih seperti dalam isu nilai moral, kedua- duanya tidak boleh mengambil kewenangan namun hendaknya menawarkan sebuah kerangka yang dengannya masyarakat dapat bekerja tanpa menundukkan agama di bawah negara atau sebaliknya.

Dalil Quran Yang Menentang Paham Sekularisme

  • Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Imram [3] : 85)
  • “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Al-Imran [3] : 19)
  • “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agama-ku”. (QS. Al-Kafirun [109] : 6)
  • “Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetpkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab [33] : 36)
  • “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dai negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlakuk adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memernagi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mreka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahinah [60] : 8-9)
  • “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamju melupakan bahagaianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash [28] : 77)
  • “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am [6] : 116)
  • “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 71)

Dalil Hadits Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

  • Imam Muslim (wafat 262) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
  • Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi, yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang berama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).
  • Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal Najran, bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi dari Ban Quraizhah (Sayyid Quraizhah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Apakah Jumhur Ulama Itu ?

Jumhur ulama artinya pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para pakar hukum islam yang bisa di pertanggung jawabkan ke mujtahidannya dan merupakan ulama yang jujur dan tidak pernah berdusta. dan menguasai bidang hukum masing2, seperti ilmu fikih. ilmu tauhid dan bidang ilmu yang lainnya.

Madzhab Jumhur Ulama memang bukan ijma’, tapi satu tingkat di bawah ijma’ karena bukan kesepakatan bulat, tetapi pendapat mayoritas ulama. Madzhab Jumhur didefinisikan sebagai sebuah pendapat yang tetap, tsabit, dari mayoritas ulama setelah terjadinya khilaf. Jumhur memang tidak “berisi” sejumlah ulama’ tertentu yang selalu sama dalam setiap masalah. Jika, madzhab Sunni yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) dijadikan sebagai ukuran, sering ada anggapan bahwa jika dikatakan madzhab Jumhur, maka itu bermakna selain madzhab Hanafi. Anggapan ini muncul karena madzhab Hanafi memang dikenal dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh Hanafiah (Ahlul Fiqh) dengan metode induktif, yang berbeda dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh selain Hanafiah dengan metode deduktifnya, yang dikenal dengan aliran Mutakallimin atau Jumhur. Walaupun saat ini kedua metode tersebut sudah dipadukan oleh para ulama ushul fiqh, bahkan muncul akiran-aliran baru dalam pemikiran Ushul Fiqh, akan tetapi klasifikasi kedua aliran tadi ternyata masih tetap melekat.

Jumhur di sini adalah para imam madzhab yang empat selain Syafi’iyyah. Jika kami mengatakan “Hanafiyyah berpendapat…“, lalu setelah itu kami mengatakan “Jumhur berpendapat …“, maka yang dimaksud jumhur di sini adalah para imam madzhab yang empat selain Hanafiyyah.

Demikian juga jika dalam suatu masalah ada tiga pendapat. Misalnya saya berkata “pendapat Asy Syafi’i begini, pendapat Abu Hanifah begitu, dan pendapat dua imam yang lain adalah begini..“. Maka di sini ada pendapat Asy Syafi’i, Abu Hanifah dan pendapat jumhur, dua imam yang lain yaitu Ahmad dan Malik di sini menjadi jumhur terhadap masing-masing pendapat Asy Syafi’i dan Abu Hanifah. Demikian perkaranya jika kita menemukan istilah jumhur di kitab-kitab perbandingan madzhab yang bertujuan menjelaskan khilaf diantara madzhab yang empat.

Sedangkan pada kitab-kitab yang bertujuan menjelaskan fiqih salaf yaitu pendapat para sahabat Nabi dan juga tabi’in, maka ketika disebut ‘jumhur‘ artinya adalah ‘ulama selain dari yang sudah disebutkan‘. Misalnya dikatakan “pendapat jumhur salaf begini…” lalu setelah itu dikatakan “pendapat Asy Sya’bi, Qatadahk, dan Al Hasan adalah begitu…“, maka maksud ‘jumhur’ di sini adalah selain Asy Sya’bi, Qatadah, dan Al Hasan tidak diketahui adanya khilaf. Atau misalnya dikatakan “pendapat jumhur sahabat adalah begini…” lalu setelah itu dikatakan “pendapat Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah adalah begitu…“, maka maksud ‘jumhur’ di sini adalah selain Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah tidak diketahui adanya khilaf. Sehingga para sahabat selain Abu Bakar, Umar, dan Al Mughirah termasuk dalam jumhur. Demikian, wallahu’alam.

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah: Orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam. Muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan ”as-Sunnah” Menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Dasar Penetapan dan Peranan Dalam Sistem Hukum Di Indonesia

Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Dasar Penetapan dan Peranan Dalam Sistem Hukum Di Indonesia

Islam mengatur segala aspek kehidupan baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Islam adalah agama yang terbangun di atas dasar ilmu. Ia mendidik pemeluknya untuk tidak berkeyakinan maupun beramal dalam urusan agama, melainkan dengan ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan, memiliki pondasi dan dasar yang sah, dan dapat dipastikan melalui jalur wahyu. Argumen dan alasan beragama tersebut dikenal sebagai dalil. Dalil dalam islam dasarnya adalah wahyu Alquran dan Sunnah Rasulullah (sabda, perbuatan, dan pengakuannya) yang telah dikukuhkan oleh Alquran sebagai dasar agama yang sepadan dan seiring dengannya, dan sama sekali tak bertentangan. Di bawah itu terdapat dalil-dalil lain yang diakui oleh Alquran dan Sunnah. Sebagian besarnya diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama, namun ada yang disepakati, yaitu ijma’, Jumhur ulama dan Fatwa Ulama

ISLAM mengatur segala aspek kehidupan baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan muamalah, diatur dalam fiqh muamalah. Dalam fiqh pada umumnya dikenal istilah fatwa. Secara etimologi berasal dari kata al-fatwa yang berarti petuah, nasehat, jawaban atas pertanyaan yang bertalian dengan hukum Islam. Pengertian Fatwa menurut istilah adalah jawaban suatu kejadian (memberikan jawaban yang tegas terhadap segala peristiwa yang terjadi dalam masyarakat).

Fatwa secara syariat bermakna, penjelasan hukum syariat atas suatu permasalahan dari permasalahan-permasalah yang ada, yang didukung oleh dalil yang berasal dari al-Quran, Sunnah Nabawiyyah, dan ijtihad. Fatwa merupakan perkara yang sangat urgen bagi manusia, dikarenakan tidak semua orang mampu menggali hukum-hukum syariat

Majelis Ulama Indonesia adalah wadah atau majelis yang menghimpun para ulama, zuama dan cendekiawan muslim Indonesia untuk menyatukan gerak dan untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air.

Antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Propinsi di Indonesia, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, AD, AU, AL dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.

Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama, zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah PIAGAM BERDIRINYA MUI”, yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

MUI sebagai sebuah lembaga yang mewadahi ulama, zu’ama dan cendekiawan Islam di Indonesia, dan beranggotakan para ulama dari berbagai kalangan, baik kalangan tradisionalis maupun modernis yang mempunyai tugas untuk memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah SWT, memberikan nasehat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat.

Maka apabila melihat komposisi personalia dan tugas MUI tersebut, MUI adalah sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan fatwa. Hal ini terlihat dari fakta, bahwa sejak pendiriannya hingga sekarang, MUI telah mengeluarkan banyak fatwa, baik berkaitan dengan masalah ritual keagamaan, pernikahan, kebudayaan, politik, ilmu pengetahuan, maupun transaksi ekonomi.

Pihak yang terkait dengan Fatwa MUI:

  1. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap fatwa, seperti Pemerintah, Bank Indonesia, Lembaga Keuangan Syariah (Lembaga Perbankan Syariah) dan masyarakat sebagai pengguna jasa lembaga keuangan syariah;
  2. Masalah atau persoalan yang diperlukan ketetapan hukumnya dikarenakan belum jelas hukumnya;
  3. Para ulama yang mengerti hukum syariat, mempunyai otoritas mengeluarkan fatwa, dalam hal ini adalah Majelis Ulama Indonesia.
  • Masalah atau persoalan yang diperlukan ketetapan hukumnya dikarenakan belum jelas hukumnya;
  • Para ulama yang mengerti hukum syariat, mempunyai otoritas mengeluarkan fatwa, dalam hal ini adalah Majelis Ulama Indonesia.

Proses Penentuan Fatwa dan dasar Penetapan

  • Sesuai dengan Pedoman Fatwa Majelis Ulama Indonesia ditetapkan dalam Surat Keputusan Nomor: U-596/MUI/X/1997, terdapat tiga bagian proses dalam menentukan fatwa. Yaitu dasar hukum penetapan fatwa, prosedur fatwa, teknik serta kewenangan organisasi dalam menetapkan fatwa.
  • Dasar umum penetapan fatwa didasarkan kepada al-adillah al-ahkam yang paling kuat dan membawa kemaslahatan bagi umat. Selain itu dasar fatwa adalah al-Qur’an, Hadis, ijma’, qiyas dan dalil-dalil hukum lainnya. Sedangkan prosedur penetapan fatwa dilakukan dengan tahapan dan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
  • Dasar umum penetapan fatwa didasarkan kepada al-adillah al-ahkam yang paling kuat dan membawa kemaslahatan bagi umat. Selain itu dasar fatwa adalah al-Qur’an, Hadis, ijma’, qiyas dan dalil-dalil hukum lainnya. Sedangkan prosedur penetapan fatwa dilakukan dengan tahapan dan langkah-langkah yang telah ditetapkan.

Kedudukan Fatwa MUI dalam Sistem Hukum Indonesia

  • Berdasarkan sumber hukum yang berlaku dalam sistem hukum di Indonesia, terdapat 5 sumber hukum formal yaitu perundang-undangan, putusan hakim (yurisprudensi), traktat, doktrin (pendapat pakar pakar/ahli hukum), dan kebiasaan / hukum adat. Kemudian, tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, maka bisa dilihat dalam undang-undang no 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, tidak memasukkan fatwa sebagai bagian dari sumber hukum di Indonesia, sehingga fatwa tidak dapat dijadikan sebagai landasan hukum positif, dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dengan sanksi hukum.
  • Majelis Ulama Indonesia (“MUI”) menurut Peraturan Presiden Nomor 151 Tahun 2014 Tentang Bantuan Pendanaan Kegiatan Majelis Ulama Indonesia (“Perpres 151/2014”) adalah wadah musyawarah para ulama, pemimpin dan cendekiawan muslim dalam mengayomi umat dan mengembangkan kehidupan yang Islami serta meningkatkan partisipasi umat Islam dalam pembangunan nasional.
  • Fatwa sebagai suatu pendapat atau nasehat yang disampaikan oleh para ahli hukum Islam dalam hukum positif dapat dapat dikorelasikan dengan sumber hukum dalam sistem hukum nasional, yakni kedudukan fatwa sama dengan doktrin yang merupakan pendapat pakar atau pendapat para ahli di bidang hukum positif. Fatwa MUI menjadi landasan bagi pembentukan banyak perundang-undangan, sehingga meskipun tidak menjadi salah satu sumber hukum positif di Indonesia

Fatwa MUI YANG JADI perundang undangan di Indonesia.

Fatwa MUI dapat dikodifikasikan menjadi suatu peraturan perundang-undangan, sehingga substansinya akan memiliki kekuatan hukum, seperti diantaranya:

  • Pada Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Pengadilan Agama disebutkan bahwa Pengadilan Agama berwenang untuk menyelesaikan sengketa ekonomi syari’ah, maka sebelum adanya perundang-undangan tentang ekonomi syariah, pengadilan menggunakan fatwa MUI dijadikan sebagai dasar untuk memutus, misalnya fatwa MUI no 21 tahun 2001 tentang pedoman umum asuransi syari’ah, fatwa MUI no 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan, dan fatwa-fatwa lain tentang ekonomi yang berbasis syariah.
  • SEBI No. 5/4/BPPP bahwa bank syariah wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang penunjukan anggotanya dilakukan setelah melakukan konsultasi dengan MUI. DPS bertugas mengawasi kegiatan usaha yang dilakukan bank syariah agar sesuai dengan prinsip syariah dan harus senantiasa melakukan konsultasi dengan MUI. MUI kemudian membentuk DSN dengan menerbitkan SK MUI No. Kep-754/MUI/II/99 tentang Pembentukan Dewan Syariah Nasional. Salah satu tugas DSN adalah mengeluarkan fatwa tentang jenis-jenis kegiatan keuangan dan fatwa tentang produk dan jasa keuangan syariah. DSN MUI selanjutnya mengeluarkan fatwa-fatwa di bidang Ekonomi Syariah yang digunakan Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah lainnya hingga saat ini.
  • Undang-Undang No 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Indonesia yang berdasar pada Fatwa MUI.
  • Undang-undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang berdasar pada Fatwa MUI. Sebelum dikeluarkan Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah, Bank Indonesia telah menggunakan Fatwa DSN MUI sebagai rujukan perbankan syariah diantaranya. Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh), Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham, Dewan Syariah Nasional No: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), dll.
  • Undang-undang No. 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal yang substansinya berdasar pada Fatwa MUI.
  • Selain menjadi dasar pembentukan peraturan perundang-undangan Fatwa MUI juga menjadi suatu landasan pendapat ahli yang digunakan dalam proses peradilan. Fatwa MUI dalam penegakan hukum selalu membantu penyidik, jaksa dan bukti di pengadilan dalam berbagai kasus, seperti kasus Arswendo, Lia Eden Tajul Muluk, Musadek, Ghafatar. Fatwa MUI selalu menjadi rujukan penyidik dalam melakukan penyidikan dalam Tindak Pidana Penistaan Agama.
  • Disamping itu Fatwa MUI juga digunakan bagi para hakim dalam pertimbangan putusan pengadilan, dan juga digunakan para advokat dalam mewakili klien dalam perkara perdata dan/atau perkara di pengadilan agama dan Fatwa MUI juga digunakan para advokat dalam melakukan pembelaan terhadap terdakwa di persidangan dalam perkara pidana.
  • Dalam sistem hukum tata negara Indonesia saat ini, posisi Fatwa MUI mempunyai kekuatan moral bagi kelompok yang mempunyai aspirasi untuk melaksanakannya, tetapi tidak dapat dijadikan alat paksa bagi kelompok lain yang berbeda pendapat atasnya. Karena Fatwa MUI bukan hukum positif negara yang memiliki kekuatan memaksa. Meski demikian, kedudukan Fatwa MUI di masyarakat terutama umat Islam adalah penting bagi tegaknya ajaran-ajaran agama Islam, yang mana mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Fatwa MUI menjadi hukum yang dicita-citakan, hukum yang diangankan berlaku, atau disebut ius constituendum.
  • SEBI No. 5/4/BPPP bahwa bank syariah wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang penunjukan anggotanya dilakukan setelah melakukan konsultasi dengan MUI. DPS bertugas mengawasi kegiatan usaha yang dilakukan bank syariah agar sesuai dengan prinsip syariah dan harus senantiasa melakukan konsultasi dengan MUI. MUI kemudian membentuk DSN dengan menerbitkan SK MUI No. Kep-754/MUI/II/99 tentang Pembentukan Dewan Syariah Nasional. Salah satu tugas DSN adalah mengeluarkan fatwa tentang jenis-jenis kegiatan keuangan dan fatwa tentang produk dan jasa keuangan syariah. DSN MUI selanjutnya mengeluarkan fatwa-fatwa di bidang Ekonomi Syariah yang digunakan Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah lainnya hingga saat ini.
  • Undang-Undang No 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Indonesia yang berdasar pada Fatwa MUI.
  • Undang-undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang berdasar pada Fatwa MUI. Sebelum dikeluarkan Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah, Bank Indonesia telah menggunakan Fatwa DSN MUI sebagai rujukan perbankan syariah diantaranya. Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito, Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh), Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No: 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham, Dewan Syariah Nasional No: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), dll.
  • Undang-undang No. 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal yang substansinya berdasar pada Fatwa MUI.
  • Selain menjadi dasar pembentukan peraturan perundang-undangan Fatwa MUI juga menjadi suatu landasan pendapat ahli yang digunakan dalam proses peradilan. Fatwa MUI dalam penegakan hukum selalu membantu penyidik, jaksa dan bukti di pengadilan dalam berbagai kasus, seperti kasus Arswendo, Lia Eden Tajul Muluk, Musadek, Ghafatar. Fatwa MUI selalu menjadi rujukan penyidik dalam melakukan penyidikan dalam Tindak Pidana Penistaan Agama.
  • Disamping itu Fatwa MUI juga digunakan bagi para hakim dalam pertimbangan putusan pengadilan, dan juga digunakan para advokat dalam mewakili klien dalam perkara perdata dan/atau perkara di pengadilan agama dan Fatwa MUI juga digunakan para advokat dalam melakukan pembelaan terhadap terdakwa di persidangan dalam perkara pidana.
  • Dalam sistem hukum tata negara Indonesia saat ini, posisi Fatwa MUI mempunyai kekuatan moral bagi kelompok yang mempunyai aspirasi untuk melaksanakannya, tetapi tidak dapat dijadikan alat paksa bagi kelompok lain yang berbeda pendapat atasnya. Karena Fatwa MUI bukan hukum positif negara yang memiliki kekuatan memaksa. Meski demikian, kedudukan Fatwa MUI di masyarakat terutama umat Islam adalah penting bagi tegaknya ajaran-ajaran agama Islam, yang mana mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Fatwa MUI menjadi hukum yang dicita-citakan, hukum yang diangankan berlaku, atau disebut ius constituendum.

Ijma Ulama, Jumhur Ulama dan Fatwa Ulama

Islam mengatur segala aspek kehidupan baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Islam adalah agama yang terbangun di atas dasar ilmu. Ia mendidik pemeluknya untuk tidak berkeyakinan maupun beramal dalam urusan agama, melainkan dengan ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan, memiliki pondasi dan dasar yang sah, dan dapat dipastikan melalui jalur wahyu. Argumen dan alasan beragama tersebut dikenal sebagai dalil. Dalil dalam islam dasarnya adalah wahyu Alquran dan Sunnah Rasulullah (sabda, perbuatan, dan pengakuannya) yang telah dikukuhkan oleh Alquran sebagai dasar agama yang sepadan dan seiring dengannya, dan sama sekali tak bertentangan. Di bawah itu terdapat dalil-dalil lain yang diakui oleh Alquran dan Sunnah. Sebagian besarnya diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama, namun ada yang disepakati, yaitu ijma’, Jumhur ulama dan Fatwa Ulama

IJMA

Ijma’ didefinisikan oleh para ulama dengan beragam ibarat. Namun, secara ringkasnya dapatlah dikatakan sebagai berikut: ”Kesepakatan seluruh ulama mujtahid pada satu masa setelah zaman Rasulullah atas sebuah perkara dalam agama.” Dan ijma’ yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang terjadi di zaman sahabat, tabiin (setelah sahabat), dan tabi’ut tabiin (setelah tabiin). Karena setelah zaman mereka para ulama telah berpencar dan jumlahnya banyak, dan perselisihan semakin banyak, sehingga tak dapat dipastikan bahwa semua ulama telah bersepakat.

Syarat Ijma’

Berdasarkan definisi di atas dapatlah disebutkan syarat-syarat sebuah ijma’ itu bisa disahkan dan berlaku:

  • Terjadinya kesepakatan. Kesepakatan seluruh ulama islam
  • Waktu kesepakatan setelah zaman Rasulullah, meskipun hanya sebentar saja kesepakatan terjadi
  • Yang disepakati adalah perkara agama Bila seluruh perkara di atas terpenuhi maka ia menjadi ijma’ yang tak boleh diselisihi setelahnya, dan menjadi landasan hukum dalam Islam. Siapa yang menyelisihinya maka ia menyimpang, meskipun berasal dari mereka yang dulunya ikut bersepakat di dalamnya.

Keabsahan Ijma’Dalil Alquran

1. Allah Ta’ala berfirman:

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Saksi di atas bersifat umum mencakup kesaksian akan apa yang diperbuat manusia, dan kesaksian akan hukum perbuatan mereka. Di akhirat kelak umat islam bersaksi bahwa manusia telah melakukan perbuatan begini dan begitu, dan juga bersaksi bahwa perbuatan tersebut salah ataupun benar. Sedangkan saksi ucapannya mesti diterima.

2. Allah Ta’ala juga berfirman:

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مسيرا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa pada kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kesesatan ada di luar ajaran Rasul dan jalan orang-orang beriman. Maka jika ajaran Rasul (wahyu) atau kesepakatan kaum mukmin diikuti mestilah akan terhindar dari kesesatan.

3. Allah Ta’ala juga berfirman:

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله ورسوله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Ayat di atas memerintahkan agar mengembalikan segala yang diperselisihkan kepada Alquran dan Assunnah. Jika tidak ada perselisihan maka tentu tak ada kelaziman untuk harus mencari-cari dalil teksnya.

Dalil Assunnah

1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا تجتمع أمتي على ضلالة “Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, derajatnya hasan menurut Syeikh Albani)

2. Dan juga sabdanya:

فمن رأيتموه فارق الجماعة أو يريد أن يفرق بين أمة محمد صلى الله عليه وسلم، وأمرهم جميع، فاقتلوه كائنا من كان، فإن يد الله مع الجماعة “Siapa saja yang kalian pandang meninggalkan jama’ah atau ingin memecah belah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam perkara tersebut mereka sepakat, maka bunuhlah ia siapapun gerangannya, karena sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya, derajatnya sahih menurut Syeikh Albani)

Dalil di atas meskipun berbicara mengenai pemberontak pemerintahan yang sah, namun ia menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh ijma’ dalam islam.

Tujuan Ijma

  • Karena terkadang ada permasalahan yang dalilnya tersembunyi atau tak dinukilkan kepada kita karena sebab tertentu, maka sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap syariatnya Dia mencukupkan bagi hamba-Nya untuk berbuat hanya dengan berasaskan ijma’.Terkadang dalam sebuah permasalahan yang sudah terdapat dalil padanya masih terdapat perselisihan, bisa karena perbedaan pemahaman terhadap dalil tersebut atau karena faktor lainnya, maka ijma’ berfungsi untuk menutup perselisihan tersebut dan memastikan satunya pemahaman.Macam-Macam Ijma’

Berdasarkan kejelasan perkara yang disepakati, ijma’ terbagi dua:

  • Ijma’ qath’i, yaitu yang berupa perkara maklum dan jamak diketahui oleh seluruh kalangan dari umat islam, tidak ada yang tak mengetahuinya dalam kondisi wajar, dan tidak ada uzur untuk tidak mengetahuinya. Seperti ijma’ tentang wajibnya salat lima waktu dan haramnya minuman keras.
  • Ijma’ dzanni, yaitu ijma’ yang tidaklah diketahui kecuali oleh para ulama. Karena diperlukan pencarian dan pembedahan terhadap teks-teks kitab klasik dan ucapan-ucapan ulama terdahulu.

Berdasarkan metode terjadinya, ijma’ terbagi dua:

  • Ijma’ bayani / sharih, yaitu ijma’ yang terjadi baik dengan perkataan maupun perbuatan. Semisal dengan perbuatan para salaf dalam berbisnis model mudharabah, sehingga dapatlah dikatakan bahwa mudharabah tersebut boleh menurut ijma’, begitu juga jika ada seorang ulama yang berbicara suatu hukum lalu para ulama lainnya berpendapat sama. Inilah dia asalnya ijma’, dan ketika disebut kata ijma’ secara mutlak maka yang terbetik dalam benak adalah ijma’ sharih.
  • Ijma’ sukuti, berlawanan dengan yang pertama, bilamana terdapat perkataan ataupun perbuatan ulama, sedang ulama lainnya diam tanpa mengomentari, maka apakah itu ijma’? Berdasarkan cara pandang bahwa ulama lainnya tidak mengingkari, maka bisa dikatakan ijma’. Namun, berdasarkan pandangan bahwa diam bukan berarti setuju, bisa jadi karena faktor-faktor tertentu seperti segan atau memaklumi ijtihad orang lain misalnya, maka tak dapat disebut ijma’.

Dalam masalah ini bisa kita golongkan sebagai ijma’, berdasarkan pendapat yang kita pilih, dengan syarat perkara tersebut masyhur dan diketahui oleh seluruh ulama mujtahid pada zaman itu. Namun, ijma’ ini lemah derajatnya, terlebih bilamana terdapat indikasi yang menunjukkan sebaliknya, maka saat itu tidak dapat dianggap. Selain itu sangatlah sulit mengklaim ijma’ macam ini karena syarat masyhur tersebut.

Berdasarkan jumlah pendapat yang ada, ijma’ terbagi dua:

  • Ijma’ basith, jika ijma’ tersebut merupakan kesepakatan terhadap sebuah pendapat maka inilah yang disebut dengan basith ataupun sederhana. Dan inilah yang dimaksud dengan ijma’ bila disebut secara mutlak.
  • Ijma’ murakkab, adapun jika ijma’ para ulama berselisih pendapat berlawanan dengan jenis yang pertama, maka di sana terdapat ijma’ yang murakkab alias tersusun dari beberapa pendapat tersebut. Sisi kesepakatannya adalah mereka telah mufakat untuk tidak berselisih kecuali menjadi dua atau tiga pendapat tersebut, maka tidak boleh untuk membuat pendapat berikutnya yang bertentangan atau menafikan pendapat yang telah ada.

Para ulama berselisih mengenai niat dalam bersuci, sebagian berpendapat harus berniat ibadah dalam setiap bersuci; wudu, tayamum, dan mandi junub, sebagian lagi berpendapat hanya dalam tayamum saja, maka jika dikatakan tidak harus maka inilah yang disebut membuat pendapat baru bertentangan yang sudah ada, yaitu yang mengharuskan niat tersebut pada ketiganya sekaligus.

Adapun yang diperbolehkan seperti misalnya membuat pendapat jalan tengah di antara pendapat-pendapat yang berselisih, atau membuat pendapat yang merinci, bila kondisi begini maka pendapat ini berlaku, bila kondisi begitu maka pendapat itu berlaku.

Berdasarkan metode untuk mengetahuinya, ijma’ terbagi dua:

  • Ijma’ mahshul, yaitu ijma’ yang didapat dengan usaha seorang mujtahid mengeluarkan kesimpulan ijma’ dari kitab-kitab para ulama terdahulu, dimulai dari mendata ucapan-ucapan mereka, pendapat-pendapat mazhab, dan seterusnya hingga sampai pada kesimpulan bahwa dalam masalah ini tidak terdapat perselisihan.
  • Ijma’ manqul, yaitu ijma’ yang diketahui dengan nukilan dari ulama terdahulu yang mengatakan bahwa dalam perkara ini terdapat ijma’. Selama nukilan itu sahih dan dapat dipertanggung jawabkan maka ijma’ dengan cara ini pun dapat dianggap, dan tak perlu untuk meneliti apakah banyak yang meriwayatkannya atau hanya satu orang.

Ijma’ Pada Suatu Permasalahan

  • Ijma’ dapat diketahui dengan menyaksikan sendiri terjadinya ijma’ bilamana ijma’ tersebut terjadi pada zamannya. Adapun bila ijma’ tersebut telah berlalu masanya, maka dapat diketahui dengan dua cara:
  • Mencari teks nukilan dari para ulama yang menyatakan bahwa ijma’ terdapat dalam masalah ini dan ini, atau yang semacam itu. Dan itu bisa didapat dalam buku-buku berikut:
  • Menelaah buku-buku yang menghimpun masalah ijma’ ataupun masalah khilaf (perselisihan). Seperti Al-Ijma’ karya Imam Ibnul Mundzir, atau Marotibul Ijma’ karya Imam Ibnu Hazm,
  • Menelaah buku-buku fikih yang menghimpun pendapat-pendapat lintas mazhab. Biasa akan disebutkan dalam permasalahan ini para ulama bersepakat bahwa hukumnya begini, atau para ulama berselisih menjadi sekian pendapat.
  • Melakukan penelitian dan pencarian sendiri guna menyimpulkan bahwa suatu masalah terdapat ijma’ ataukah perselisihan. Hal ini tentunya membutuhkan keahlian, kelengkapan referensi, dan waktu yang tak sedikit. Dan tak bisa dilakukan segenap orang.

Masalah Ijma’ Parsial

Yaitu ijma’ yang terjadi dalam lingkup sempit, tidak mencakup seluruh umat. Apakah dapat disahkan dan dianggap sebagai dalil ijma’? Dalam masalah ini terdapat empat macam:

  • Ijma’ Khulafaurrasyidin
  • Ijma’ Abu Bakar dan Umar Bin Khattab
  • Ijma’ Penduduk Madinah
  • Ijma’ Ahlul Bait

Ijma’-ijma’ di atas adalah yang kerap kali dipergunakan oleh mazhab-mazhab tertentu dalam argumentasinya. Namun secara ringkas, kembali kepada apa yang telah disebutkan, selama bukan merupakan kesepakatan seluruh mujtahid maka tak dapat dianggap sebagai dalil ijma’. Kecuali Abu Bakar dan Umar, begitu juga khulafaurrasyidin. Karena terdapat dalil lainnya yang cukup kuat berupa sabda-sabda Nabi yang melegitimasi dan membenarkan berhukum dengan pendapat mereka, hanya saja ini tidak masuk dalam bab ijma’ yang tak bisa diselisihi, namun merupakan bab berargumen dengan pendapat sahabat, maka mereka dapat dijadikan dalil selama tak berbenturan dengan dalil yang lebih kuat semacam Alquran ataupun Sunnah.

FATWA ULAMA

  • Islam mengatur segala aspek kehidupan baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan muamalah, diatur dalam fiqh muamalah. Dalam fiqh pada umumnya dikenal istilah fatwa. Secara etimologi berasal dari kata al-fatwa yang berarti petuah, nasehat, jawaban atas pertanyaan yang bertalian dengan hukum Islam.
  • Pengertian Fatwa menurut istilah adalah jawaban suatu kejadian (memberikan jawaban yang tegas terhadap segala peristiwa yang terjadi dalam masyarakat).>Fatwa secara syariat bermakna, penjelasan hukum syariat atas suatu permasalahan dari permasalahan-permasalah yang ada, yang didukung oleh dalil yang berasal dari al-Quran, Sunnah Nabawiyyah, dan ijtihad.
  • Fatwa merupakan perkara yang sangat urgen bagi manusia, dikarenakan tidak semua orang mampu menggali hukum-hukum syariat

Referensi:

  • Al Ijma’ fis Syari’ah Al Islamiyyah, Rusydi ‘Ulyan, Majalah Univeritas Islam Madinah (tahun 10, edisi 1)Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi, 1426HAl ‘Aqidah Al Qashithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimyyah, penerbit Adwaus Salaf Riyadh, cetakan kedua 1420H
  • Fatwa Ulama, RMOL, M Kapitra

Dalil Quran dan Hadits Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

Dalil Quran dan Hadits Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

Saat mendekati hajatan politik pilpres dan Pilkada, suara masyarakat umat muslim selalu menjadi incaran parpol dan politikus. Fenomena inilah ternyata yang mendasari perpecahan dan pertentangan yang luas di antara sesama umat mualim dan antar umat beragama lainnya. Hal ini diperparah dengan adanya paham yang berkembang dipelopoti oleh tokoh Islam Indonesia melalui paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama serta paham-paham sejenis liannya dikalangan masyarakat, berkembangnya paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan di tengah pertarungan politik yang memperbutkan suara muslim. Paham paham tersebut saat i i dipakai senjata untuk meredam suara umat muslim yang akan berpartisipasi di dalam bidang politik. Melihat dampak yang buruk bagi umat muslim Indonesia tersebut maka sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. Pada tahun 2005 MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama tersebut adalah haram untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam. Untuk memutuskan bahwa paham liberal, sekuler dan pluralisme haram berdasarkan dalil Quran dan Hadits.

Dalil Quran Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

  • Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Imram [3] : 85)
  • “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Al-Imran [3] : 19)
  • “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agama-ku”. (QS. Al-Kafirun [109] : 6)
  • “Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetpkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab [33] : 36)
  • “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dai negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlakuk adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memernagi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mreka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahinah [60] : 8-9)
  • “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamju melupakan bahagaianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash [28] : 77)
  • “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am [6] : 116)
  • “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 71)

Dalil Hadits Yang Menentang Paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme

  • Imam Muslim (wafat 262) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
  • Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi, yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang berama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).
  • Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal Najran, bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi dari Ban Quraizhah (Sayyid Quraizhah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

AA GYM: Orang Mukmin Paling Utama

Dalam satu riwayat, Ibnu Umar ra. berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rosululloh Saw., tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshor, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi Saw. dan bertanya, “Wahai Rosululloh, siapakah orang mukmin yang paling utama?” Rosululloh Saw. menjawab, “Yang paling baik akhlaqnya.” Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Thobroni)

Saudaraku, seringkali kita menilai bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak gelarnya. Atau sering juga kita menganggap bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak menguasai bahasa asing. Tidak jarang juga kita menganggap bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang terampil mengembangkan teknologi tinggi.

Orang-orang dengan kemampuan seperti ini memang cerdas dalam pandangan kita. Akantetapi semua itu bukanlah kecerdasan sejati. Karena kecerdasan sejati adalah sebagaimana yang Rosululloh Saw. pesankan kepada kita dalam hadits di atas. Bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling mengingat kematian dan menyibukkan diri untuk mempersiapkan kematiannya.

Tidak ada seorangpun, sehebat apapun, sepintar apapun, yang bisa mengetahui kapan, di mana dan bagaimana ia meninggal dunia. Oleh karena itu, orang yang menyikapi misteri kematian dengan cara beramal sholih, memaksimalkan waktu yang ia miliki untuk mengerjakan hal-hal yang penuh manfaat bagi dirinya dan bagi banyak orang, inilah orang yang cerdas sesungguhnya.

Karena orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan dirinya menghadapi kematian akan banyak melahirkan karya-karya bernilai. Ia termotivasi untuk menjadikan usianya yang misterius itu agar penuh arti. Orang yang banyak mengingat kematian tidak akan membiarkan waktunya terbuang sia-sia, ia akan menggunakannya untuk beribadah, mengukir banyak prestasi di kehidupan dunia dan husnul khotimah. Maasyaa Alloh!

Saudaraku, semoga kita tergolong hamba-hamba Alloh yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat dengan amal-amal terbaik. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

Fatwa Haram Rokok Di Dunia

LEMBAGA FATWA YORDANIA

  • Dalam fatwa yang dikeluarkan pada 2008, lembaga yang kini di pimpin oleh Mufti Agung Syauqi Ibrahim Abdul Karim Allam itu menyatakan, telah terbukti bahwa berbagai macam rokok membahayakan kesehatan manusia, karena itu hukumnya haram.
  • Lembaga ini mengutarakan dalil di antaranya pertama Islam mengharamkan segala perkara yang membahayakan baik fisik atau nonfisik. Ini seperti penegasan surah al-A’raf ayat ke-157.
  • “Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”
  • Ayat lainnya, yang tertuang dalam surah al-Baqarah ayat ke-195, menyatakan, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
  • Sedangkan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA, ditegaskan bahwa Islam menegasikan segala hal yang mengandung usur celaka atau mencelakakan. 

LEMBAGA FATWA EROPA

  • Lembaga ini menegaskan bahaya rokok yang mematikan berdasarkan  kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
  • Kajian tersebut menjadi rujukan dunia internasional untuk mempersempit ruang gerak peredaran rokok.
  • Dan tak kalah penting adalah, merokok juga mengancam kesehatan para perokok pasif. Hal ini, tentu sangat bertentangan dengan ajaran agama.
  •  “Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS al-A’raf: 157)
  • Lembaga ini juga berpendapat, merokok adalah bentuk penghambur-hamburan uang dan tidak memberikan manfaat baik di dunia atau akhirat. Atas dasar ini pulalah, lembaga mengharamkan jual beli rokok. 

LEMBAGA FATWA YORDANIA

  • Seperti termaktub dalam fatwa yang dirilis pada 2006, lembaga yang saat itu dipimpin oleh Syekh Ahmad Muhammad Halil itu, mengimbau masyarakat tidak menjual rokok, tembakau, bahkan hingga menyewakan lokasi jual beli/ produksi tembakau atau jual beli rokok.
  • Meski lembaga ini memberikan penjelasan memang, secara para ulama berbeda pendapat terkait hukum rokok antara yang memperbolehkan, makruh, hingga mengharamkan, tergantung dengan teori mereka tentang tingkat bahaya yang diakibatkan rokok.  
  • Ini berangkat antara lain dari fakta bahwa, rokok atau tembakau belum dikenal pada masa Rasulullah SAW, para sahabat, dan para imam mazhab. Rokok baru dikenal pada abad ke-11 hijriyah.
  • Hal itulah yang memicu mengapa tak ditemukan teks agama yang secara gamblang mengharamkan atau menyebutnya termasuk perkara yang memabukkan.
  • Akan tetapi, lembaga ini berpendapat, banyak kajian tentang bahaya rokok terhadap kesehatan dan dampak ekonomi akibat menghambur-hamburkan uang tanpa manfaat.
  • Dampak negatif tersebut berseberangan dengan anjuran agama seperti larangan berbuat mubazir (QS al-An’am :141). Di Yordania sendiri lebih dari 1,5 miliar dinar pertahun uang yang dibelanjakan untuk rokok. 
  • Atas dasar inilah, hukum rokok haram bagi mereka yang terbukti rokok bisa membahayakan kesehatannya, atau menunda kesembuhannya (QS an-Nisa’ : 29).
  • Rokok juga haram bagi mereka yang semestinya memberikan nafkah kepada keluarga. Mestinya yang pembelian rokok dibelanjakan untuk kepentingan sehari-hari yang lebih urgen.
  • Dalam hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr, ditegaskan seseorang akan berdosa bila menelantarkan keluarga yang wajib dinafkahi.
  • Lembaga ini juga mengharamkan rokok di tempat atau fasilitas umum seperti rumah sakit, transportasi publik, sekolah, dan lainnya.
  • Dan pada pengujung fatwanya lembaga ini mengajak untuk melawan kampanye rokok dengan cara yang elegan.

Inilah Nasehat Ulama: Dalam perpecahan di antara umat muslim

​Fitnah perpecahan kalangan Ahlus Sunnah saat ini tampaknya diredam dan mendapat siraman rohani oleh nasihat guru Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur Ahmad Dairobi tiba-tiba menyentak kalangan Muslim di Indonesia.

  • “Diam diam ternyata saya menyukai semangat FPI dalam memberantas kemunkaran. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam aksi mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang takut dan tak peduli dengan kemunkaran yang merajalela.
  • Diam-diam ternyata saya menyukai semangat dan ketulusan Jamaah Tabligh dalam meramaikan salat berjemaah di masjid. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam tindakan sebagian mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang tidak melakukan apa- apa saat tetanggaku banyak yang tidak salat.
  • Diam-diam ternyata saya menyukai semangat Hizbut Tahrir dalam membangun khilafah. Saya tahu, ada yang salah dalam sebagian konsep khilafah mereka. Namun, kesalahakanku yang tak mau berbuat apa-apa untuk penegakan syariat Islam, jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
  • Diam-diam ternyata saya menyukai cara berpolitik orang-orang PKS. Saya tahu, mereka banyak dihuni oleh tokoh-tokoh di luar Nahdlatul Ulama; dan yang namanya partai politik pasti cukup banyak kesalahan oknum mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku memilih partai yang cenderung sekuler dan anti penerapan syariat Islam.
  • Bahkan, diam-diam ternyata saya juga suka dengan keberanian Al-Qaidah dalam melawan kezaliman politik Amerika dan Israel. Aku tahu, mereka melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahanku yang tidak peduli dengan nasib umat Islam jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
  • Dan, dengan terang-terangan saya menyatakan sangat mengagumi Nahdlatul Ulama. Yakni, NU yang sesuai dengan pandangan Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari. 
  • Bukan NU yang menjadi kendaraan politik. 
  • Bukan NU yang dipenuhi kepentingan pragmatis. 
  • Bukan NU yang menjadi pembela Syiah dan Ahmadiyah. 
  • Bukan NU yang melindungi liberalisme. 
  • Dan, bukan NU yang menjadikan Rahmatan Lil Alamin sebagai justifikasi untuk ketidakpeduliannya terhadap perjuangan penegakan syariat,”

Fatwa MUI: Pluralisme/Islam Liberal Sesat

Fatwa MUI – Pluralisme/Islam Liberal Sesat

Berikut adalah Fatwa MUI yang menyatakan paham Pluralisme yang diusung kelompok Islam Liberal sesat.

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONEISA
Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005
Tentang
PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1246 H. / 26-29 Juli M.;

MENIMBANG :

  1. Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme agama, liberalisme dan sekularisme serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat;
  2. Bahwa berkembangnya paham pluralisme agama, liberalisme dan sekularisme serta dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan Fatwa tentang masalah tersebut;
  3. Bahwa karena itu , MUI memandang perlu menetapkan Fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk di jadikan pedoman oleh umat Islam.


MENGINGAT :

  1. Firman Allah :
    Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan terima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imaran [3]: 85)


Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran [3]: 19)


Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. al-Kafirun [109] : 6).

 

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Azhab [33:36).

  1. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahinah [60]: 8-9).

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenimatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan. (QS. al-Qashash [28]: 77).


Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. (terhadap Allah). (QS. al-An’am [6]: 116).


Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Q. al-Mu’minun [23]: 71).

  1. Hadis Nabi saw :
    1. Imam Muslim (w. 262 H) dalam Kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah saw :
      ”Demi Dzat yang mengu
      asai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka.” (HR Muslim).
    2. Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-Muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, al-Najasyi Raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, dimana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
    3. Nabi saw melakukan pergaulan social secara baik dengan komunitas-komunitas non-Muslim seperti Komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Aththab adalah tokoh Yahudi Bani Quradzah (Sayyid Bani Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).


MEMPERHATIKAN : Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas  VII MUI 2005.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PLURALISME AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM
Pertama : Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan

  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
  2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
  3. Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
  4. sekualisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesame manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Kedua : Ketentuan Hukum

  1. pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam.
  2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama.
  3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
  4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M

 

MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

 

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:

 

www.islamislami.com

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online https://www.facebook.com/pages/Islamislamicom TWITTER: @audiyudhasmara FACEBOOK: facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara . –www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Copyright © 2016, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});