Category Archives: ceramah

Khotbah Jum’at Masjid Nabaqi Maddinah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Keutamaan Istighfar

Khotbah Jum’at Masjid Nabaqi Maddinah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Keutamaan Istighfar

Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ تَقْوَاهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسَاسُ الْفَلَاحِ وَالسَّعَادَةِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . عِبَادَ اللهِ : وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ ، وَتَرْكُ مَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Ibadallah,
Suatu hari, al-Khalifah al-Rasyid, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu keluar di hari yang diliputi kemarau yang panjang. Umar keluar untuk melaksanakan shalat istisqa (meminta hujan) berjamaah bersama kaum muslimin dan saat itu ia senantiasa beristighfar kepada Allah. Ia berkata,
لقد طلبتُ الغيثَ بمجاديح السماء التي يُستنزَل بها المطر
Aku telah meminta hujan dengan “Majaadiihus Samaa’” yang dengannya hujan diturunkan.
Kemudian Umar membaca firman Allah Ta’ala,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
Ma’asyiral mukminin,
Istighfar memiliki kedudukan yang agung dan posisi yang utama dalam agama Allah. Ia adalah pondasi untuk memperoleh kebaikan dan keberkahan, mendapatkan kenikmatan, dan menghilangkan hukuman. Istighfar meninggikan derajat seseorang dari derajat yang rendah ke derajat yang lebih mulia, dari derajat yang penuh kekurang menjadi sempurna.
Istighfar menyucikan dosa dan menghapus menghapus catatan kesalahan, mengangkat derajat dan meninggikan kedudukan di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam hadits yang lain, beliau bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرُّهُ صَحِيفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيهَا مِنَ الِاسْتِغْفَار
“Siapa yang ingin buku catatan amalnya membuatnya senang (tatkala melihatnya), maka perbanyaklah catatan istighfar di dalamnya.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak istighfarnya, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah. Sesungguhnya aku beristighfar seratus kali dalam sehari.”
Dan dalam hadits lainnya, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ : رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kami pernah menghitung bacaan dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis. Beliau ucapkan, ‘Robbighfirlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabul ghofuur” (Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan ampunan)’, sebanyak 100 kali.”
Bahkan lebih dari itu, ada sebuah riwayat yang membuat kita lebih merasa terheran-heran. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ أَنْ يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ الله وَأتوبُ إِلَيْهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang mengucapkan ‘Astaghfirullah wa atubu ilaih’ (Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya) lebih banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Abu Hurairah melihat sahabat-sahabat yang sangat rajin beribadah, sebaik-baik orang yang beriman, dan sahabat-sahabat yang banyak beristighfar, tapi ia tidak menjumpai satu pun dari mereka yang beristighfar dan bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penuh dengan istighfar setiap waktunya, sampai di akhir hayatnya beliau tutup dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia mengisahkan akhir hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ
“Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat (menjelang wafat) bersandar kepadaku, beliau berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang shaleh’.”
Sebagaimana kehidupan beliau dipenuhi dengan istighfar dan ketaatan, akhir hayatnya pun ditutup dengan istighfar. Hal ini sekaligus memberikan pelajaran kepada kita tentang kedudukan istighfar yang begitu agung di dalam agama Islam, dan betapa kita sangat membutuhkan istighfar.
Wajib bagi kita untuk memperbanyak istighfar di sepanjang waktu kita dan aktifitas kita. terlebih lagi di waktu-waktu yang memang ditekankan untuk beristighfar, seperti: selesai shalat fardhu, di sepertiga malam terakhir, dll. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memohon ampun kepada Allah ketika sujud dan juga mencontohkan doa iftitah yang mengandung kalimat-kalimat taubat. Beliau juga melakukan hal yang sama ketika hendak salam selesai dari shalatnya. Dan setelah salam pun beliau mengucapkan dzikir berupa kalimat istighfar. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلاِقْتِدَاءِ بِنَبِيِّكَ وَحُسْنِ الْاِتِّبَاعِ لَهُ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ التَّوَابِيْنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ .
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أما بعد عباد الله :
Banyak orang mengeluhkan akan keringnya bumi karena kemarau panjang, kekurangan hujan, dan mendapatkan banyak kemudharatan lantaran kemarau yang berkepanjangan. Mengapa keadaan ini terjadi dan apa solusinya. Tidak lain dan tidak bukan karena sedikitnya taubat kita dan kurangnya kita beristighfar kepada Allah. Alangkah butuhnya kita akan istighfar dan senantiasa memperbanyaknya.
Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Hasan al-Bashri rahimahullah. Ia mengadukan akan kemarau yang panjang. Hasan al-Bashri berkata kepadanya, “Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang laki-laki lainnya mengadukan tentang kemiskinannya. Hasan al-Bashri member saran yang sama, “Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang ketiga mengeluhkan bahwa ia belum juga dikaruniai anak. Hasan al-Bashri tetap pada jawabannya, “Memohon ampunlah kepada Allah”.
Lalu orang-orang pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Aku tidak menambahkan suatu saran kecuali seperti yang terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا كُلَّهَا دِقَّهَا وَجُلَّهَا أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا سِرَّهَا وَعَلَّنَهَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنت المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا جِدَّنَا وَهَزلَنَا وَخَطَأَنَا وَعَمَدَنَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .
اَللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَا وَالْوَبَا وَالْزَلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا ، وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِّيَ أَمْرِنَا لِهُدَاك ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى مِنْ سَدِيْدِ الأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِ محمد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ , وَبَارِكْ عَلَى محمد وَعَلَى آلِ محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .

Siapakah Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

Khotbah Jum’at Pilihan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim

Khotbah Jum’at Pilihan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim

Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْوَلِيِ الْحَمِيْدِ ، اَلْعَظِيْمِ الْمَجِيْدِ ، اَلْفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ ، ذِيْ الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةٌ مُقِرّ لَهُ بِالتَّوْحِيْدِ ، مُنَـزِّهٌ لَهُ عَنِ الشَرِيْكِ وَالنَّدِيْدِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أُوْلِي الْفَضَائِلِ وَالمَكَارِمِ وَكُلِّ خُلِقَ حَمِيْدِ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَالْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ ، وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَ عَلَا : عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Ibadallah,
Ketahuilah tujuan yang paling utama dari syariat adalah mengesakan pengatur alam semesta langit dan bumi ini. kita realisasikan pengesaan Allah Jalla wa ‘Ala ini dengan merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya. Demikian juga dengan menghadapkan diri kepada-Nya dengan takut dan penuh harap, sujud dan rukuk, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya dan berlepas diri dari kesyirikan baik yang kecil ataupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi. Inilah tujuan penciptaan kita manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Inilah tujuan Allah Jalla wa ‘Ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36).
Firman-Nya juga,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya: 25).
Ibadallah,
Dengan tauhid seorang hamba akan hidup dengan kehidupan yang sebenarnya. Ia akan mendapatkan ridha dari yang Yang Maha Pengasih, akan berhasil dengan kemuliaan dan kenikmatan surga. Sebaliknya, tanpa tauhid seseorang akan hidup layaknya hidupnya hewan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“…Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon: 44).
Orang yang tidak bertauhid, hakikatnya mereka adalah mayit, walaupun mereka berjalan di bumi. Hanya orang-orang yang bertauhidlah yang hidup dengan sepenuhnya dan hidup dalam arti yang sebenarnya. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَ مَن كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan…” (QS. Al-An’am: 122).
Maksudnya, kami hidupkan dengan keimanan dan tauhid. Dalam ayat yang lain Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfal: 24).
Dengan tauhid, sebuah negara akan menjadi negeri yang aman aman, tenang dan bahagia rakyatnya.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).
Dan firman-Nya,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55).
Dengan tauhid kebahagiaan dan ketenangan individu pun diperoleh. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Dan firman-Nya,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123-124).
Petunjuk tersebut akan membahagiakan seseorang dan orang-orang yang mengikutinya.
Ibadallah,
Dengan tauhid hati seseorang akan bersih dari keragu-raguan, kebimbangan, was-was, dan pemikiran-pemikiran yang hina. Tauhid akan membuat seseorang tenang, nyaman, dan merasakan ketentraman. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.” (QS. An-Nas: 1-3).
Tiga ayat ini menjelaskan tentang tauhid. Kemudian ayat berikutnya adalah buahnya.
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas” 4-6).
Dengan tauhid setan-setan akan terusir. Mereka tidak akan bertahan di tempat dimana tauhid dipraktikkan. Ketika adzan berkumandang setan akan berlari terkentut-kentut. Dan kalimat-kalimat adzan adalah pengesaan Allah (tauhid) dan pengagungan-Nya. Ayat kursi adalah ayat tentang tauhid, apabila ayat kursi dibaca oleh seorang mukmin ketika ia hendak tidur, maka ia akan senantiasa berada dalam penjagaan Allah hingga pagi hari, dan setan tidak mampu walaupun hanya sekedar mendekatinya.
Dengan tauhid seorang hamba akan selamat –biidznillah- dari tipu daya kejahatan, seperti kejahatan sihir dan para dukun. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Hajj: 38).
وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)
Ibadallah,
Dengan tauhid seorang hamba akan memperoleh seluruh kebaikan, dan kebahagian di dunia juga akhirat. Dan Allah Jalla wa ‘Ala telah menetapkan bahwasanya kebahagiaan di dunia, di alam kubur, dan akhirat hanya akan diperoleh orang-orang yang beriman dan bertauhid. Dia berfirman,
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13).
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertauhid, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, beriman kepada-Nya, mengagungkan-Nya. Dan kita juga memohon agar Allah melindungi kita semua dari semua bentuk kejelekan baik yang tersembunyi maupun yang tampak, baik yang kecil maupun yang besar.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ
Sesungguhnya mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala adalah perintah pertama dan perintah yang paling agung yang harus selalu diingatkan kepada manusia. Allah Ta’ala berfiman,
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (55) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 55-56).
Seseorang sangat butuh untuk selalu memperbarui dan terus mempertebal keimanannya. Terus mempererat hubungannya dengan Rabb-nya Jalla wa ‘Ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الخَلِق ، فَاسْألُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sungguh, iman itu dapat usang sebagaimana pakaian dapat menjadi usang. Karenanya mohonlah selalu kepada Allah agar memperbaharui iman yang ada dalam jiwamu.”
Pada masa dimana fitnah begitu dahsyat dan seruan kepada hawa nafsu begitu kencang tentu kita sangat butuh untuk terus menguatkan tauhid kita. Dan anak-anak sangat butuh tumbuh besar dalam pengarahan dan pendidikan yang mulia. Sebagaimana Lukman mendidik anaknya,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah sebesar-besar kezaliman.” (QS. Lukman: 13).
Ibadallah,
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang pasti berlalu, bukan kehidupan yang kekal abadi. Dan balasan dari apa yang kita perbuat ada pada hari perjumpaan kita dengan Allah.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).
Bersih dari syirik dan bersih dari segala yang membuat Allah Jalla wa ‘Ala benci dan murka.
Ibadallah,
Orang yang cerdas adalah mereka yang menundukkan jiwanya untuk beramal sebagai bekal kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya serta panjang angan-angannya.
Ketahuilah, perkataan yang paling benar adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang baru dan dibuat-buat dalam agama. Dan sesuatu yang dibuat-buat dalam agama, adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan. Dan kesesatan tempatnya di neraka.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَيَخْشَاكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا ، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ ، لَكَ شَاكِرِيْنَ ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ لَكَ مُطِيْعِيْنَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا ، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا ، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا ، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا ، وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا ، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا. اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Siapakah Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

  • Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:
  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

wp-1560153827661..jpg

 

Khotbah Jum’at Pilhan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Bukti Cinta Kepada Nabi

Khotbah Jum’at Pilhan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Bukti Cinta Kepada Nabi

Khutbah Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَعَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ :
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia mengutus seorang rasul yang amin, menasihati umat, dan sayang kepada hamba-hamba Allah. Dialah Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Tabaraka wa Ta’ala memilihnya sebagai seorang rasul untuk manusia dan rahmat bagi alam semesta. Allah melapangkan dada beliau, mengangkat kedudukanya, dan menjadikan hina orang-orang yang menyelisihi risalahnya.
Allah mengutusnya di akhir zaman sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan sebagai penyeru kepada Allah bak lentera yang menerangi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya dengan penjelasan yang terang, sebagaimana dia shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلا هَالِكٌ
“Aku tinggalkan kalian pada suatu yang putih cerah, malamnya bagaikan siang. Tidak ada orang yang berpaling darinya kecuali ia binasa.”
Ibadallah, sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencintai beliau berarti mencintai Allah dan menaatinya berarti menaati Allah Tabaraka wa Ta’ala. Banyak sekali dalil baik dari Alquran maupun sunnah, yang menjelaskan tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mencintai beliau akan berdampak pada kehidupan yang berkah baik di dunia maupun di akhirat.
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia-manusia lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْآنَ يَا عُمَرُ
“Wahai Rasulullah, sungguh Anda adalah seorang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku.” Maka, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak (demikian), demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih kamu cintai dibandingkan dirimu.” Lalu Umar berkata kepada beliau, “Sesungguhnya sekarang, demi Allah, Anda adalah orang yang paling aku cintai (bahkan) dari diriku”, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang, wahai Umar”. (HR. Bukhari).
Yakni sekarang engkau telah beriman dengan keimanan yang sempurna.
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، قَالَ صلى الله عليه وسلم أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ )) . قال أنس: ((فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ . قَالَ أَنَسٌ : فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
“Ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan masih banyak hadits-hadits semisal ini. Banyaknya hadits-hadits semisal ini menunjukkan penekakan akan wajibnya bagi setiap muslim dan mukmin untuk mencitai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta yang melebihi cinta terhadap dirinya sendiri, orang tuanya, anak-anaknya, dan manusia manapun selain beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab: 6)
Ayat ini mempertegas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama dari diri kita, sehingga wajib bagi kita mencintai beliau lebih dari mencintai diri kita sendiri.
Ibadallah,
Berikut ini permasalahan agung yang berkaitan dengan mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: Bagaimana kita mengekspresikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau dengan kata lain apa wujud dari cinta kepada Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Ibadallah,
Yang pertama dan yang paling penting dalam mengekspresikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengikuti beliau dengan ketulusan, meneladani petunjuknya, mencontoh sunnahnya, dan berpegang teguh dengan apa yang ia bawa. Ini adalah tanda cinta yang nyata dan jujur atas kecintaan kita kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. (QS. Ali Imran: 31).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini adalah hakim bagi orang-orang yang mengaku mencintai Allah, namun mereka tidak menempuh jalan petunjuk Nabi Muhammad. Yang demikian adalah pengakuan yang dusta. Sampai mereka buktikan dengan mengikuti Syariat Nabi Muhammad, bergaya hidup dengannya baik dalam perkataan maupun perbuatan.”
Oleh karena itu, para ulama mengatakan, ayat ini adalah ayat ujian. Maksudnya, bagi siapa yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus ukur dirinya dengan ayat ini. Apabila ia mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenar-benarnya, maka ini adalah tanda yang nyata dari kebenaran cintanya. Lantaran inilah banyak hadits-hadits yang memperingatkan kita dari membuat-buat amalan dalam agama (bid’ah). Hal ini menutup kemungkinan agar seseorang yang mengaku mencintai Nabi tidak menempuh jalan yang tidak semestinya. Nab shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka ia tertolak.”
Ibadallah,
Di antara tanda cinta yang jujur kepada Nabi adalah menjaga adab terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63).
Firman-Nya yang lain,
لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
“janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi” (QS. Al-Hujurat: 2).
Dan ayat-ayat yang lainnya yang menjelaskan bahwa kita harus beradab terhadap Nabi, mengetahui kedudukannya, dan mengangungkannya. Tentu saja dengan pengagungan yang selayaknya (tidak meremehkan dan tidak berlebihan). Mengagungkan dengan hati dengan mencintai dan mengetahui kedudukan beliau. Mengagungkan dengan lisan dengan memujinya dengan tidak berlebihan dan bershalawat kepadanya. Mengagungkannya dengan anggota tubuh yaitu dengan mengikuti petunjuk beliau. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Tanda kesempurnaan cinta kepada beliau yang lainnya adalah dengan banyak menyebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengharapkan perjumpaan dengan beliau. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta.” (HR. Muslim).
Sebagian sahabat mengatakan,
غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّهْ ؛ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهْ
“Esok kita akan berjumpa dengan orang yang paling dicinta, Muhammad dan orang-orang yang bersamanya.”
Termasuk tanda cinta kepada beliau adalah banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama saat menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di hari Jumat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الجُمُعَة
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat.”
Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku menyukai bershalawat kepada Nabi dalam setiap keadaan. Dan pada hari Jumat dan malam Jumat, aku lebih menyukainya lagi.”
Ibadallah,
Termasuk tanda cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencintai keluarganya, istri-istrinya, dan para sahabatnya. Allah Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab: 6)
Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
“Atas nama Allah, aku ingatkan kalian akan keluargaku.” (HR. Muslim). Beliau mengulang sabdanya ini tiga kali.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengatakan,
ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ
“Perhatikanlah (jagalah) oleh kalian hak Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah ahli bait (keluarga) beliau.” (Riwayat Bukhari).
Sabdanya,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Sekiranya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu mud atau setengah mud dari salah seorang mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Wujud ekspresi kecintaan yang lainnya adalah mencintai sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencintai orang-orang yang berpegang teguh dengannya dan mendakwahkannya. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, ‘Wahau Rasulullah, bagaimana pendapat Anda terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum namun mereka tidak berjumpa dengannya”? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai’.”
Inilah di antara tanda-tanda yang benar terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita memohon kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, agar ia menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cinta yang hakiki dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti beliau. Dan kita memohon kepada-Nya agar kita dikumpulkan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Ibadallah,
Di tengah keasingan agama ini dan sedikitnya orang yang mempelajari serta mengenal petunjuk sayyidul anbiya wal mursalin shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada suatu permasalahan yang mengherankan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebuah permasalahan yang masyarakat menganggapnya sebagai ekspresi kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai suatu perayaan, demikian juga hari isra dan mi’raj beliau, dan hari hijrah beliau.
Berkumpulnya orang untuk merayakan hari ini, membaca pujian dan sanjungan-sanjungan kepada beliau yang kata mereka sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang demikian ini –ibadallah- walaupun diniatkan untuk mencintai beliau, tidaklah dibenarkan. Karena ini termasuk bentuk kekeliruan dalam mengekspresikan cinta kepada beliau. Yang tidak pernah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya mengekspresikan kecintaan kepada Nabi dalam bentuk yang demikian.
Ibadallah,
Tidak ada satu orang pun dari para sahabat radhiallahu ‘anhu yang mengekspresikan kecintaan dalam bentuk demikian. Dan para sahabat adalah mereka yang mengekspresikan cinta kepada Nabi dengan tanpa membuat amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Karena itu, dalam mengekspresikan kecintaan kita kepada Nabi haruslah mencontoh bagaiamana sahabat mengekspresikan kecintaan mereka kepada beliau.
Orang yang cerdas adalah mereka yang berpegang kepada teguh kepada sunnah dan meneladani jalannya para sahabat. Dan mereka mawas diri dari sesuatu yang baru dalam agama atau perkara bid’ah yang sama sekali tidak Allah turunkan tuntunannya mengenai hal itu, baik di dalam Alquran maupun sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَقْوَى ، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ محمد صلى الله عليه وسلم .
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى. . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ؛ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَ المُذْنِبِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَتُبْ عَلَى التَّائِبِيْنَ وَاكْتُبْ الصِحَّةَ وَالعَافِيَةَ وَالسَّلَامَةَ لِعُمُوْمِ المُسْلِمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Siapakah Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

Sumber : KhotbahJumat.com dan sumber lainnya

Khotbah Jum’at: Kebahagiaan Mana Yang Ingin Anda Raih?

Khotbah Jum’at Pilihan: Kebahagiaan Mana Yang Ingin Anda Raih?

Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، وَمَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا تَرَكَ شَرّاً إِلَّا حَذَّرَ الْأُمَّةَ مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ:
مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ. وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا: عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ.

Ibadallah,
Sebagian orang berkata, ‘Hidup itu yang penting happy’. Dari situ kemudian mereka berbuat semaunya. Mereka tidak peduli dengan segala macam aturan. Mereka ingin hidup bahagia, tapi melakukan perbuatan maksiat yang membahayakan dirinya di akhirat. Mereka tertipu dengan kebahagiaan sesaat yang mereka rasakan di dunia ini, sehingga mereka tetap berani dan tetap nekad melakukan perbuatan yang dilarang agama. Memang, hidup bahagia merupakan dambaan setiap makhluk. Namun banyak orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Ankabut: 64).
Ketika menjelaskan maksud ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam rangka) memberitakan betapa dunia itu hina, akan hancur dan akan sirna (pada saat yang telah ditentukan). Dan dunia ini tidak kekal, dan sekedar mendatangkan kelalaian dan bersifat permainan. Dia berfirman, “dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan”, maksudnya (akhirat itu) adalah kehidupan yang kekal, yang haq, yang tidak akan binasa dan tidak sirna. Kehidupan akhirat berlangsung terus-menerus selama-lamanya. Firman-Nya (yang artinya,) “kalau mereka mengetahui”, maksudnya, jika manusia tahu, maka sungguh mereka akan lebih mengutamakan sesuatu yang bersifat baqa’ (kekal) daripada yang fana (akan binasa).”
Oleh karena itu, agar tidak salah langkah, tujuan dan prioritas dalam mengejar kebahagiaan yang kita inginkan, di sini akan khotib sampaikan beberapa hal terkait kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pertama: Bahagia di dunia dan Akhita
Ibadallah,
Inilah puncak kebahagiaan. Inilah yang selalu dimohon oleh hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jallayang shalih, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١﴾ أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. al-Baqarah: 201-202).
Ini juga merupakan doa dan permohonan Nabi Musa ‘alaihissallam dan kaumnya yang shalih, sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla beritakan dalam kitab-Nya:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ

(Mereka juga berdoa), “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada-Mu”. (QS. al-A’raf: 156).
Derajat tertinggi ini akan diraih oleh orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan, sebagaimana kita ketahui bahwa ihsan adalah derajat agama yang tertinggi, berdasarkan kandungan hadits Jibril ‘alaihissallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat ihsan (sebaik-baiknya) di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. an-Nahl: 30).

Kedua: Sengsara di dunia dan bahagia di akhirat.
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Ada lagi orang yang meraih kebahagiaan di akhirat, walaupun di dunia mendapatkan berbagai macam musibah dan ujian, bahkan kesusahan dan kecelakaan. Jenis manusia ini diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku”.

Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. (HR. Muslim dan lainnya).

Ketiga: Bahagia di dunia dan celaka di akhirat.
Ibadallah,
Hadits shahih dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas juga menjelaskan adanya jenis manusia yang berbahagia –secara lahiriyah- di dunia, namun di akhirat akan mengalami kesengsaraan yang sangat berat. Kita lihat bahwa kebanyakan tokoh masyarakat yang berharta dan berpangkat adalah penentang dakwah para rasul. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ ﴿٣٤﴾ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿٣٥﴾قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui.” (QS. Saba’: 34-36).
Cobalah perhatikan, orang kafir di bawah ini, bagaimana dia bergembira dan berbahagia di dunia, namun di akhirat dia mendapatkan penderitaan yang tidak akan tertahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا ﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢﴾ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا ﴿١٣﴾ إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ
“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya”. (QS. al-Insyiqaq: 10-15).

Lihatlah tokoh-tokoh kafir zaman dahulu dan sekarang. Lihatlah Firaun, Haman, Qorun, dan lainnya. Janganlah kita tidak silau dengan kebahagiaan mereka yang bersifat sementara, tidak terperangah dengan limpahan harta yang mereka miliki, karena tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka.
Oleh karena itu, jangan sampai seseorang bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia saja. Karena dunia itu bersifat sementara, akan hancur dan sangat hina di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jallamencela orang-orang yang berdoa dan memohon kepada-Nya hanya untuk mendapatkan kebaikan dunia. Allah ‘Azza wa Jallaberfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. al-Baqarah: 200).

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ، لَهُ الْحَمْدُ أَمَرَ بِالفْضَائِلِ وَالصَّالِحَاتِ، وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ وَالعُدْوَانِ وَالرَّذَائِلِ وَالْمُنْكَرَاتِ، أَحْمَدُ رَبِّي عَلَى نِعَمِهِ الظَاهِرَاتِ وَالْبَاطِنَةِ الَّتِي أَسْبَغَهَا عَلَيْنَا وَعَلَى المَخْلُقَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَفْعَالِ وَالإِرَدَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَ اللهُ بِالْبَيِّنَاتِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ السَّابِقِيْنَ إِلَى الخَيْرَاتِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا اللهَ –عَزَّوَجَلَّ- وَأَطِيْعُوْهُ، وَكُوْنُوْا دَائِمًا عَلَى حَذْرٍ وَخَوْفٍ مِنَ المَعَاصِي، فَإِنَّ بَطْشَ اللهُ شَدِيْدٌ.

Keempat: Celaka di dunia dan celaka di akhirat.
Ibdallah,
Jenis manusia terakhir, adalah orang yang celaka di dunia dan akhirat. Nas`alullah as-salamah wal ‘afiyah. Orang yang tidak memahami dan jauh dari ajaran Islam yang benar dan jauh dari kemudahan rezeki di dunia, hidup sengsara, namun anehnya ia memiliki cita-cita dan keinginan yang sangat buruk (seperti berbuat maksiat atau merusak bila memiliki kekayaan).
Sesungguhnya keempat jenis manusia ini dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau sebagai berikut:
وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:
Hamba yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allah padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allah).
Hamba yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allah) tidak memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama.
Hamba yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allah) tidak memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allah padanya. Jadilah hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allah).
Hamba yang Allah tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.(2)
Inilah berbagai jenis kebahagiaan yang ada, jangan sampai kita salah langkah dalam memilih dan menggapai hakekat kebahagiaan. Karena sesungguhnya orang yang berakal akan lebih mengutamakan akhirat yang kekal abadi ketimbang kenikmatan duniawi yang fana. Hanya Allah yang memberikan taufik. Wallahu a’lam…

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Sumber: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari, majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010).

Khotbah Jum’at Mekah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Amal Itu Tergantung Niatnya

Khotbah Jum’at Mekah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Amal Itu Tergantung Niatnya

Khutbah Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَعَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ :
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فَإِنَّ تَقْوَاهُ خَيْرُ زَادٍ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى :  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ  [ البقرة : 197].
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. AL-Baqarah: 197).
Ayyuhal mukminun,

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahih-nya, dari al-Khalifatu ar-Rasyid, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tujukan.”

Hadits ini ditempatkan Imam Bukhari rahimahullah di beberapa halaman dalam kitab Shahih-nya dari jalur al-Qamah bin Waqqash al-Laitsi.

Riwayat pertama adalah sebagai berikut:
قاَلَ عَلْقَمَةُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : ” سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ يَقُوْلُ عَلَى المِنْبَرِ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : ((إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.. ))
Al-Qamah rahimahullah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khattab yang sedang berada di atas mimbar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya…’”.
Di halaman lainnya haditsnya adalah sebagai berikut:
قَالَ عَلْقَمَةُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : ” سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ يَخْطُبُ قَالَ : سَمِعْتُ النَبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ..))
Al-Qamah rahimahullah berkata, “Aku mendengar Umar bin al-Khattab berkata, ‘Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya…’”.
Dua riwayat dari hadits yang mulia ini semuanya memiliki derajat shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah. Dan hadits ini adalah hadits yang sangat penting kedudukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya di hadapan khalayak di atas mimbar beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyampaikan itu dalam rangka memperingatkan umat dan agar umat sadar betapa mulianya kedudukan hadits ini. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab pun menyampaikannya di atas mimbar, mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar memperingatkan umat akan pentingnya dan tingginya kedudukan niat. Dan senantiasa ada para da’i, ulama, dan orang-orang yang shaleh memberikan nasihat kepada umat dengan menyebutkan hadits ini di setiap kesempatan karena betapa pentingnya hadits ini.

Kemudian ibadallah,
Imam Bukhari menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama dalam kitabnya. Jika kita membaca Shahih al-Imam al-Bukhari, maka akan kita dapati hadits pertama yang membuka kitab beliau adalah hadits yang diriwayatkan Umar bin Khattab ini (إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ). Dan banyak para ulama yang melakukan hal serupa dengan yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari. Mereka memulai karya tulis mereka dengan hadit ini, sebagai pengingat kepada umat bahwa substansi niat sangatlah penting dan merupakan kebutuhan yang sangat dibutuhkan dalam mempelajari ilmu, beribadah, dll.

Mengapa? Karena amalan itu diukur dengan niatnya. Allah tidak akan menganggap suatu shalat, puasa, haji, sedekah, dan segala bentuk perbuatan baik, kecuali jika niatnya benar yaitu berharap wajah Allah Ta’ala.
Mari kita kaji sebagian demi sebagian dari hadits ini.

Bagian pertama:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya.”
Suatu amalan akan dianggap oleh Allah Jalla wa ‘ala berdsarkan niatnya. Apabila niat dari amalan tersebut ikhlas karena Allah, maka ia akan diterima. Namun apabila niatnya tidak demikian, maka ia kan ditolak. Walaupun amalan tersebut banyak, bevariasi, dan beragama amalan. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا * وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 18-19).
Firman-Nya yang lain,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Firman-Nya juga,
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)…” (QS. Az-Zumar: 3).
Dan masih banyak ayat-ayat yang semisal dengan ayat-ayat di atas.
Ayyuhal mukminun,
Karena itulah banyak nukilan dari para ulama yang menunjukkan pemuliaan mereka terhadap hadts ini. Sampai-sampai Imam asy-Syafii dan ulama lainnya mengatakan, “Hadits ini sama dengan sepertiga ilmu”. Dalam kesempatan lainnya Imam asy-Syafii mengatakan, “Hadits ini mencakup 70 bab dari bab pembahasan fikih”. Yakni masuk dalam bab shalat, puasa, sedekah, haji, dan berbagai amalan ketaatan lainnya. Yang kesemua amalan itu dipandang berdasarkan niatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah contoh dalam hadits ini, yang bisa dianalogikan dengan amalan ketaatan lainnya.
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya”.
Jadi, bagi siapa yang niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka balasan dan pahalanya pun di sisi Allah dan bersama Rasul-Nya. Niat yang benar akan berbuah pahala dan balasan dari Allah. Namun apabila niatnya rusak, maka ia tertolak dan tidak diterima. Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amalan kecuali ikhlas berharap wajah-Nya Jalla wa ‘ala.
Terkait perkataan Imam asy-Syafii bahwa hadits ini adalah sepertiga ilmu Islam senada dengan perkataan Imam Ahmad atau bahkan sebagai penjelasnya. Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,
أصول الإسلام تدور على ثلاثة أحاديث حديث عمر :(( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)) ، وحديث أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها: ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)) ، وحديث النعمان ابن بشير ((إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ))
“Inti ajaran Islam tercakup dalam tiga hadits: (1) Hadits Umar (( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)) “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”, (2) Hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)) “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan (agama), yang bukan bagian dari kami, maka ia tertolak, (3) Hadits Nu’man bin Basyir ((إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal yang masih samar”.
Maksudnya adalah agama Islam ini mencakup melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga diri dari hal yang masih samar-samar. Ketiga hal ini tercakup dalam hadits Nu’man. Dalam melaksanakan ketiga hal ini, tidak akan sempurna kecuali dengan dua faktor pendukung. Pertama, melaksanakan ketiga hal tersebut harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara praktek. Sebagaimana telah disampaikan dalam hadits Aisyah ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)) “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan (agama), yang bukan bagian dari kami, maka ia tertolak”. Dan amalan tersebut harus ikhlas secara batinnya, hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah yang terkandung dalam hadits Umar (( إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ)) “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”.
Ayyuhal mukminun,
Alangkah butuhnya kita dengan benar dan baiknya niat kita, terus memperbaiki maksud dan tujuan, dan senantiasa membersihkan semua niat peribadatan kita. Dalam shalat, puasa, haji, dan seluruh amalan ketaatan lainnya harus kita niatkan hanya untuk wajah Allah. Karena tidak ada yang menyebabkan amalan kita diterima kecuali karena Allah semata.
Yakinlah wahai orang-orang yang beriman,
Amalan baikmu tidak akan turut serta ke dalam kuburmu kecuali amalan baik yang engkau niatnkan hanya berharap wajah Allah Ta’ala. Adapun amalan ketaatan yang dilakukan seseorang karena ingin tenar, atau ingin didengar orang lain, atau ingin dilihat orang lain, atau karena menginginkan dunia yang fana, atau menginginkan kedudukan dan jabatan, dan sejenisnya, semua itu tidak akan diterima di sisi Allah dan tidak akan diridhai oleh-Nya. Karena salah satu syarat diterimanya amal adalah ikhlas hanya untuk Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19).
Ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, alangkah butuhnya kita senantiasa memperbaiki niat kita dalam setiap waktu dan kesempatan. Imam Sufyan ats-Tauri rahimahullah mengatakan,
مَا عَالَجْتُ شَيْئاً أَشَدُّ عَلَيَّ مِنْ نِيَتِيْ
“Tidaklah ada suatu hal yang paling berat untuk aku perbaiki kecuali niatku.”
Yahya bin Abi Katsir mengatakan,
تَعَلَّمُوْا النِّيَّةَ ، فَإِنَّهَا أَبْلَغُ مِنَ العَمَلِ
“Pelajarilah niat, karena niat lebih penting dari amalan”.
Karena dengan niatlah amalan akan menjadi baik dan perkataan menjadi benar. Dengan niat yang buruk, maka hilanglah keutamaan keduanya.
Ya Allah, kami memohon dengan nama-nama dan sifat-sifat-Mu bahwasanya Engkaulah Yang Maha Esa, tiada sesembahan yang benar kecuali hanya Engkau, ajarilah kami untuk ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Jadikan niat kami hanya tulus untuk-Mu ya Allah. Jadikanlah amalan kami adalah amalan yang tidak berharap sesuatu apapun kecuali perjumpaan dengan-Mu.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ؛مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمْ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.
Ayyuhal mukminun,
Di antara contoh profil dalam keikhlasan bisa kita jumpai dalam perjalanan hidup Rasul dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh kehidupan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ikhlas mengharap perjumpaan dengan Allah Jalla wa ‘ala. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan haji wada’, saat beliau di miqat Dzi Hulaifah, beliau mengenakan izar dan rida yang putih dan bersih lalu menunaikan haji qiran. Di tempat itu beliau mengatakan,
اللَّهُمَّ حَجَّة لاَ رِيَاءَ فِيهَا وَلاَ سُمْعَةَ
“Ya Allah, (hamba mohon) haji yang tidak mengandung riya’ dan sum’ah.”
Demikianlah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang demikian sangat layak dicontoh oleh seorang muslim dalam setiap amalannya. Hendaknya ia sertakan saat ia belajar menimba ilmu, shalat, puasa, haji, dan amalan ketaatan yang lainnya, doa untuk memperbaiki niat. Seorang muslim hendaknya senantiasa memperbaiki niatnya. Karena niat senantiasa berbolak-balik dan berubah.
Hal-hal yang dapat merubah niat seseorang sangatlah banyak. Karena itu sangat dibutuhkan kesungguhan dalam menetapkannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).
Oleh karena itu, bersungguh-sungguh memperbaiki niat agar ikhlas karena Allah diperintahkan sepanjang hidup kita.

Sesuatu yang menyedihkan, apa yang kita lihat di tengah masyarakat kita saat ini, terutama di saat-saat umrah dan haji. Banyak para jamaah dalam beberapa kesempatan mereka memfoto diri mereka sendiri sedangn berdzikir, berdoa mengangkat kedua tangannya, berpose dalam keadaan khusyuk. Kemudian mereka sebarkan foto tersebut.

Lalu dimana letak keikhlasan?! Mana niat yang baik?! Mana harapan yang hanya menginginkan perjumpaan dengan Allah?! Kalau ia berfoto sengaja berpose demikian dengan alas an untuk kenang-kenangan agar dilihat si fulan dan si fulan, tentu saja ini adalah bentuk berharap pujian manusia.

Dengan demikian, ketidak-tahuan seseorang akan hakikat ikhlas dan lemahnya niat mereka untuk berharap pertemuan dengan Allah sangatlah tampak dan menyebar di masyarakat. Oleh karena itu, sangat perlu kita membaca berulang-ulang hadits
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tujukan.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ ، اَللَّهُمَّ وَاجْعَلْ أَعَمَالَهُ كُلَّهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً وَلِعِبَادِكَ نَافِعَةً يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . وَوَفِّقْنَا أَجْمَعِيْنَ لِلإِخْلَاصِ فِي الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ وَالنِّيَاتِ ، وَوَفِّقْنَا يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيْدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الأَعْمَالِ .
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَدَادَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا ، وَاجْعَلْ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ؛ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا ، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ .
اَللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنَا بِمَا فَعَلَهُ السُّفَهَاءُ مِنَّا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمِ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا محمد وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Siapakah Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

FREEDOWNLOAD : CERAMAH USTADZ KHALID BASALAMAH

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal Khalid Basalamah adalah seorang pendakwah (ustadz) Indonesia yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Disamping sebagai pendakwah, Khalid juga menekuni beberapa aktivitas bisnis, seperti sebagai direktur PT. Ajwad (bergerak di bidang bisnis kayu gaharu, Ajwad Gold, Ajwad Restoran Timur Tengah, Ajwad Souvenir Timur Tengah atau buah tangan haji) yang terletak di Kalibata City Square dan penerbitan buku-buku Islam. Selain itu ia juga menekuni aktivitas lembaga sebagai Ketua Umum Yayasan Ats-Tsabat Jakarta Timur, Ketua Forum Pengiriman Dai Irian dan Penasehat Wesal TV Jakarta.

Ustadz Khalid Basalamah dikenal sebagai salah satu penceramah atau pendakwah yang kerap memberikan ceramahnya dibeberapa tempat. Ceramah-ceramah agamanya banyak beredar di Youtube dan banyak di tonton oleh netizen.

Ustadz Khalid Basalamah termasuk salah satu ustadz dengan jumlah subscriber terbanyak di Youtube sejak ia bergabung tahun 2013. Isi cermahnya pun banyak mengkaji persoalan-persoalan dalam islam dengan rujukan alquran dan sunnah serta pemahaman para ulama.

1556178985085.jpgFREEDOWNLOAD : CERAMAH USTADZ DR KHALID BASALAMAH Lc MA

cropped-wp-1557191947285..jpgBiografi dan Profil Ustadz Khalid Basalamah

  • Untuk mengetahui biografi dan profil Ustadz Khalid Basalamah lebih jelas, beliau lahir pada tanggal 01 Mei 1975 di Makassar. Nama Lengkapnya adalah Khalid Zeed Abdullah Basalamah. Keturunan Arab dari daerah Hadramaut, Yaman dilihat dari nama belakangnya yang memiliki marga Basalamah.
  • Belajar di Arab Saudi
    Beliau menghabiskan kecilnya ia habiskan di Makassar, setelah menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah pertama, Khalid Basalamah kemudian bernagkat ke Madinah, Saudi Arabia dan melanjutkan pendidikannya SMA nya disana di tahun 1990an.
  • Setiap harinya yang ia lakukan adalah belajar agama seperti belajar tentang ayat-ayat alquran serta hadist nabi. Kegiatan lain yang Khalid Basalamah lakukan hanyalah pergi ke sekolah ataupun pergi ke masjid Nabawi untuk beribahadah. ia juga biasa mengunjungi orang-orang Indonesia yang menetap disana.
  • Khalid Basalamah menyelesaikan pendidikannya S1 nya di Universitas Madinah. Setelah itu ia kembali ke Makassar. Pada tahun 2000an. Istri Khalid Basalamah diketahui merupakan seorang muallaf seperti yang ia katakan dalam sebuah video di youtube
  • Dari pernikahannya tersebut, beliau dikauniai empat orang anak. Untuk pendidikan tingkat master, ia selesaikan di Universitas Muslim Indonesia di Makassar. Dan gelar doktor atau S3 ia selesaikan di Universitas Tun Abdul Razak, Malaysia.
  • Menjadi Penceramah. Ustadz Khalid Basalamah saat ini lebih banyak mengisi waktunya dengan menjadi seorang penceramah. Mengisi kajian islam dari masjid ke masjid.
    Dalam menyampaikan dakwahnya beliau selalu berdasarkan dari alquran dan hadist serta dari pemahaman pemahaman para sahabat dan serta ulama.
  • Adapun beberapa kitab yang sering dikaji oleh ustadz Khalid Basalamah dalam setiap ceramahnya adalah yaitu Kitab Bulughul Marom yang berisikan kumpulan hadist mengenai masalah fiqih (hukum) serta kitab Minhajul Muslim yang berisikan penggambaran mengenai ajaran islam secara menyeluruh.
  • Cara penyampaian dakwahnya pun mudah dimengerti sehingga tak mengeherankan bila jamaah yang hadir selalu ramai saat ia membawakan kajian, meskipun banyak tuduhan-tuduhan negatif yang dialamatkan kepadanya.

Berbisnis Restoran

  • Selain sibuk dalam aktivitas dakwah, Ustadz Khalid Basalamah juga menjalankan usaha bisnis. Adapun salah satu usahanya adalah bisnis restoran makanan khas Arab bernama Ajwad Resto yang kini berada di bilangan Kramatjati, Jakarta.
  • Beliau juga berbisnis souvenir khas timur tengah, travel umroh dan haji, serta penerbitan buku-buku islam. Disamping itu Ustadz Khalid Basalamah juga menjadi ketua Yayasan Ats Tsabat di Jakarta Timur, ia juga sebagai ketua dalam pengiriman dai ke Irian dan penasehat di saluran tv dakwah WesalTV.

Apa Hubungan Ustadz Khalid Basalamah dan Ustadz Reza Basalamah?

  • Banyak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Ustadz Khalid Basalamah dan Ustadz Reza Syafiq Basalamah. Apakah mereka bersaudara? Keduanya bukanlah saudara kandung.
  • Khalid Basalamah dan Reza Syafiq Basalamah, keduanya hanya memiliki kesamaan marga yakni sama-sama bermarga Basalamah yakni marga keturunan Arab yang berasal dari daerah Hadramaut, Yaman.
  • Mereka berdua juga merupakan alumni Universitas Madinah bedanya Khalid Basalamah menyelesaikan pendidikan sampai S1 dan Reza Syafiq Basalamah menyelesaikan pendidikannya hingga S3 atau doktor di Universitas Madinah.

wp-1557191947285..jpg

KUMPULAN CERMAH MP3 USTADZ KHALID BASALAMAH

  • Khalid Basalamah – 20 Kiat Mempertahankan Rumah Tangga [1]
  • Khalid Basalamah – 20 Kiat Mempertahankan Rumah Tangga [2]
  • Khalid Basalamah – 1000 Amalan Sunnah dalam Sehari Semalam -Sunnah dalam Memakai Sandal dan Sepatu
  • Khalid Basalamah – Akibat Makanan yang Haram [1]
  • Khalid Basalamah – Akibat Makanan yang Haram [2]
  • Khalid Basalamah – At-Tadzkirah – Bab Proses Kematian Membaca Al-Quran Doa-Doa di Sisi Kubur
  • Khalid Basalamah – Bahaya Riba
  • Khalid Basalamah – Berprasangka Baik Kepada Allah
  • Khalid Basalamah – Bertambahnya Saudara Muslim – Saudara Andi
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Bab Itiqaf & Qiyam
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Bab Shalat Khauf, Bab Shalat Dua Hari Raya, Hadits Ke 378-399
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Haji Bab Miqat Hadits Ke-590
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jenazah Bab Jenazah Hadits Ke-461-481
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jual Beli – Bab Perdamaian Hadits 734-749
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jual Beli – Bab Qiradh (Bagi Hasil)
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jual Beli Bab Kelonggaran Dalam Jual Beli atau Araya
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jual Beli Bab Syarat yang Dilarang Dalam Jual Beli Hadits 673-693
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Jual Beli Riba Hadits 694-710
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Shalat Bab Masjid Hadits 195
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Shalat Bab Shalat Berjamaah Imammah Hadits 314
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Shalat Bab Shalat Gerhana Istisqa Bab Pakaian. Hadits 400
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Thaharah Bab Wudhu
  • Khalid Basalamah – Bulughul Maram – Kitab Zakat Bab Zakat Hadits 482
  • Khalid Basalamah – Dahsyatnya Taqwa
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar 82 – Tidak Bersuci dari Hadast
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar 84 – Membenarkan Pertengkaran yang Haram
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar 88 Tidak Membaiat Pemimpinyang Sah
  • Khalid Basalamah – Dosa besar 89 – Mengambil Hak Mengganggudan Merusak Citra Seorang Muslim
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar Ke 78 Menolak Ajaran Nabi Sallallahu -AlaihiWassalam
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar Ke-79 – Menyakiti Tetangga
  • Khalid Basalamah – Dosa Besar Ke-83 – Mengadu Domba
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Dosa Orang yang Memusuhi para Kekasih Allah
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits 6-8 Bahaya Syirik
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits Ke 5 – Neraka Bagi Orang yang Rusak Niatnya
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits ke 12 Keutamaan Tauhid
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits Ke 15 Keutamaan LaaIllaaha Ilallah
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits ke 20 Makruh Seseorang Mengucapkan Semoga Orang-Orang Binasa
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits ke 28 Keutamaan Dzikir dan Bergaul dengan Orang-Orang Shalih
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits Ke 34 Siapa yang Suka Berjumpa Dengan Allah
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Hadits ke 37 Anjuran Berbelas Kasih dan Menyayangi Sesama Umat Islam
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Keutamaan Dzikir & Mendekatkan Diri Kepada Allah Dengan Amal-Amal Shaleh
  • Khalid Basalamah – Hadits Qudsi – Kufur Orang yang Mengatakan Hujan Turun Karena Bintang Ini Itu
  • Khalid Basalamah – Inilah 10 Rahasia Bertambahnya Rizki
  • Khalid Basalamah – Jadi Istri Harus Punya Prinsip
  • Khalid Basalamah – Kado Istimewa Untuk Suami Istri [1]
  • Khalid Basalamah – Kado Istimewa Untuk Suami Istri [2]
  • Khalid Basalamah – Kedatangan Syaikh Abdul Azis
  • Khalid Basalamah – Kemukjizatan
  • Khalid Basalamah – Khutbah Jumat – Dahsyatnya Sedekah
  • Khalid Basalamah – Kitab Tauhid – Bab 10 Menyembelih Binatang Dengan Niat Bukan Karena Allah
  • Khalid Basalamah – Kitab Tauhid – Sikap Keras Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam Terhadap
  • Khalid Basalamah – Konsep Hidup Ideal Seorang Muslim (1)
  • Khalid Basalamah – Konsep Hidup Ideal Seorang Muslim (2)
  • Khalid Basalamah – Laki-laki harus punya prinsip
  • Khalid Basalamah – Mari kita siapkan kematian
  • Khalid Basalamah – Mengenal Karakter Pasangan
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Adab dan Hak-HakSesama Muslim
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Sesama Muslim Part14
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Diri Sendiri Part 2
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Hewan
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Kalamullah
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap OrangKafir
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Orang Tua
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Rasulullah
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Adab Terhadap Saudara
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Akhlak yang Baik danPenjelasannya
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Adab Berpakaian
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-2 Adab terhadap Allah Azza wa Jalla
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-8 9 Adab Duduk dan Majelis Adab Makandan Minum
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-10 Adab Bertamu
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-11 Adab Bepergian Jauh (Safar)
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-13 Adab-Adab Fitrah
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Adab Pasal Ke-14 Adab Tidur
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Akhlak – Bertawakal Kepada Allah
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Ibadah – Tayamum
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Bab Ibadah Pasal Ke-8 Shalat Shalat Jumat
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Mengutamakan Orang Laindan Cinta Kebaikan
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Pasal Ke-12 Akhlak Tercela – Menipu
  • Khalid Basalamah – Minhajul Muslim – Sikap Terhadap Para Pemimpin Kaum Muslimin Part 3
  • Khalid Basalamah – Munafik Memilih Ahok
  • Khalid Basalamah – Perang Badar
  • Khalid Basalamah – Perang Khandaq [a]
  • Khalid Basalamah – Perang Khandaq [b]
  • Khalid Basalamah – Perang Uhud 1
  • Khalid Basalamah – Perang Uhud 2
  • Khalid Basalamah – Perang Uhud 3
  • Khalid Basalamah – Perang Uhud 4
  • Khalid Basalamah – Rasul Bercerita tentang Surga Neraka – Wanita Ahli Surga Permadaninya Perhiasannya
  • Khalid Basalamah – Rasul Bercerita Tentang Surga, Kajian Ke 1
  • Khalid Basalamah – Rasul Bercerita Tentang Surga, Kajian Ke 2
  • Khalid Basalamah – Rasulullah SAW Bercerita Tentang Neraka (1)
  • Khalid Basalamah – Rasulullah SAW Bercerita Tentang Neraka (2)
  • Khalid Basalamah – Rasulullah SAW Bercerita Tentang Neraka (3)
  • Khalid Basalamah – Riyadhush Shalihin – Bab 8 – Istiqamah
  • Khalid Basalamah – Riyadhush Shalihin – Bab Merasa Selalu Diawasi Oleh Allah – Hadits 66
  • Khalid Basalamah – Riyadhush Shalihin – Bab Merasa Selalu Diawasi Oleh Allah [part 1]
  • Khalid Basalamah – Riyadhush Shalihin – Bab Sabar Part 10
  • Khalid Basalamah – Riyadhush Shalihin – Yakin dan Tawakkal
  • Khalid Basalamah – Riyadush Shalihin – Bab Taqwa
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Abu Ubaidah bin JarrahRA [a]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Abu Ubaidah bin JarrahRA [b]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Khabab bin Al-Arat RA[a]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Khabab bin Al-Arat RA[b]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Said bin Zaid RA [a]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Said bin Zaid RA [b]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Talhah Ibn Ubaidillah[a]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Talhah Ibn Ubaidillah[b]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Zubair Bin Awwam [a]
  • Khalid Basalamah – Sahabat Nabi SAW, Zubair Bin Awwam [b]
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat – Abdullah bin Amir binHaram
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat – -Amr Bin Al Jamuh (1)
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat – -Amr Bin Al Jamuh (2)
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat ke 31 – Saad Bin Ar Rabi Radhiallahuanhu
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat ke 32 – Haritsah bin An Numan Radhiallahuanhum (1)
  • Khalid Basalamah – Sirah Sahabat ke 33 – Muawiyah Bin Abi Sufyan
  • Khalid Basalamah – Sunnah dalam Memakai Sandal dan Sepatu
  • Khalid Basalamah – Sirah Nabawiyyah – Imbas Peperangan-Peperangan Rasulullah
  • Khalid Basalamah – Sirah Nabawiyyah – Wafatnya Nabi Sallallahu Alaihi Wasalam
  • Sirah Nabawiyyah ke 1 – Pengantar Sirah Nabawiyyah
  • Sirah Nabawiyyah ke 2 – Sejarah Terbentuknya Kota Mekkah
  • Sirah Nabawiyyah ke 3 – Masuknya Agama Yahudi dan Nasrani ke Jazirah Arab
  • Sirah Nabawiyyah ke 4 – Kelahiran Nabi Muhammad Salallahu alaihi Wassalam
  • Sirah Nabawiyyah ke 5 – Fase Fase Sebelum Kenabian Prosesi Penobatan Kenabian
  • Sirah Nabawiyyah ke 6 – Dakwah Sembunyi-Sembunyi dan Terang-Terangan
  • Sirah Nabawiyyah ke 7 – Kisah Kedatangan Nabi Shalalluhu Alahi Wassalam Ke Madinah
  • Sirah Nabawiyyah ke 8 – Perang Badar Part 1
  • Sirah Nabawiyyah ke 9 – Perang Badar part 2
  • Sirah Nabawiyyah ke 10 – Perang Uhud
  • Sirah Nabawiyyah ke 11 – Perang Hamrad Asad
  • Sirah Nabawiyyah ke 12 – Penyerangan Beberapa Suku Arab yang Ada Di Sekitar Kota Madinah
  • Sirah Nabawiyyah ke 13 – Perang Khandaq
  • Sirah Nabawiyyah ke 14 – Upaya Nabi Menghukum Suku-suku yang Berpartisipasi dalam Perang Ahzab
  • Sirah Nabawiyyah ke 15 – Ghazwah Bani Mustaliq
  • Sirah Nabawiyyah ke 16 – Kesepakatan Hudaibiyyah
  • Sirah Nabawiyyah ke 17 – Perang Khaibar | Baru
  • Sirah Nabawiyyah ke 18 – Kejadian Kejadian Setelah Perang Khaibar
  • Sirah Nabawiyyah ke 19 – Surat Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam Kepada Raja-raja Dunia
  • Sirah Nabawiyyah ke 20 – Syariah Syariah yang Diutus Oleh Nabi Alaihi Wassalam
  • Sirah Nabawiyyah ke 21 – Pembebasan Kota Makkah Part 1
  • Sirah Nabawiyyah ke 21 – Pembebasan Kota Makkah Part 2
  • Sirah Nabawiyyah ke 22 – Perang Hunain
  • Sirah Nabawiyyah ke 23 – Perang Tabuk part 1
  • Sirah Nabawiyyah ke 23 – Perang Tabuk Part 2
  • Sirah Nabawiyyah ke 23 – Perang Tabuk Part 3

1557191281365.jpg

Akun-akun resmi Ustadz Khalid Basalamah :

Didukung oleh:

wp-1557190382277..jpg

​Tempat Majelis Ilmu di JABODETABEK Setiap Sabtu

Tempat Majelis Ilmu di JABODETABEK Setiap Sabtu

SABTU Ke-4 Tanggal 28-29 SYAWWAL 1438 H / 22 JULI 2017

  • Tempat: Masjid Abu Bakar Ash – Shiddiq, Jl. Akasia-Tajur depan pompa bensin Perumahan Pondok Maharta Ciledug – Tangerang Pemateri: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putera, MA. Tema: Mengenal Tanda-Tanda Hari Kiamat. Waktu: Ba’da Shubuh – selesai. Informasi: 0812 1052 064
  • Tempat: Masjid Mu’adz Bin Jabal, Jl. Pojong Iping RT 03/01 Kav. Bulog Blok B No.10 Desa Bojong Kulur Kec. Gunung Putri Kab. Bogor. Pemateri: Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA. Tema: Al-Wabilush Shayyib. Waktu: Ba’da Shubuh – Selesai. Informasi: 0812 9605 0383 (i) / 0813 1114 8158 
  • Tempat: Masjid Al-Ikhlas, Perum Dukuh Bima, Jl. Bima Utara Raya, Kota Legenda, Lambangsari, Tambun Selatan, Bekasi. Pemateri : Ustadz Abu Jarir, MA. Tema: Syarah Jami’ Bulughul Maram. Waktu: Ba’da Shubuh – selesai. Informasi: 0817 922 2219 / 0813 989 290 49
  • Tempat: Masjid Salman Al Farisi, Jl. H. Ten, Komp. BULOG Kampung Ambon, Jakarta Timur. Pemateri: Ustadz Ali Akbar bin Ahmad. Tema: Perusak Hati. Waktu: Ba’da Shubuh – 06.30. Informasi: 0811 133 397 (i) / 0812 9685 0019 
  • Tempat : Masjid Ar Rahmat, Jl. Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta Barat. SESI I: Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawi Tema : Dahsyatnya Hari Kiamat (lanjutan). Waktu : 08.00 – 10.00. SESI 2: Pemateri : Ustadz Muhammad Haikal Ali Basyarahil, Lc Tema : Mengenali Tipu Daya Syaithan. Waktu : 10.00 – 12.00. Informasi: 0856 9725 5134 (WA)
  • Tempat : Masjid Al-Fatah, Jl. Swadaya Raya No.1, Kav. DKI, Duren Sawit Jakarta Timur. Pemateri : Ustadz Zainal Abidin, Lc. Tema : At Tadzkiroh. Waktu : 08.30 – selesai. Informasi: 0812 1266 8565 (i) / 0812 1302 322 (a)
  • Tempat: Masjid Syaikh Hamad al Hamad/Imam Asy-Syafi’i, Jl. Raden Saleh-studio Alam TVRI (Gg. Persahabatan No. 69), Sukmajaya Depok. Pemateri : Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc Tema: Tafsir surat Al-Faathihah, Nama al-Faathihah, Makna, serta Faawaidnya. Waktu: 09.00 – 11.30. Informasi: 0812 8236 9649 (i) / 0877 8249 5379 
  • Tempat: Masjid Tuanku Imam Bonjol, Perum Bumi Arya Sena, Jl. Dr. Ratna, Jatibening, Jati Kramat, Jatiasih, Bekasi. Pemateri : Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA. Tema: Kitab Ad Daa’ Wa Ad Dawaa’. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0812-8231-5854
  • Tempat: Masjid Jami’ Al Hidayah, Komplek Raflesia / Bank of Tokyo, Jl. Papandayan no. C33, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi. Pemateri : Ustadz DR. Erwandi Tarmizi, MA. Tema: Solusi Islam Menghindari Jerat Hutang dan Riba. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0813 8221 4488 / 0812 8199 9941
  • Tempat: Masjid Baiturrahman, Jl Buana, Pondok Pinang Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc. Tema: Inilah Dakwah Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam. Waktu: 09.00 – 11.00
  • Tempat: IQAL Centre, Jl. Acordion Blok L 10, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading BCS, Jakarta Utara. Pemateri: Ustadz Ali Akbar bin Ahmad. Tema: Kenapa Ummat Islam Dihinakan Oleh Dunia. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0811 967 869 / 0812 8977 4541
  • Tempat: Masjid Ar Rahman, Perum Cibubur City, Jl. Alternatif Transyogi KM 5 (Dekat Giant Mitra), Cibubur. Pemateri: Ustadz Sofyan Chalid Ruray. Tema: Hilangnya Iman di Akhir Zaman. Waktu: 09.00 – 11.30. Informasi: 0811 948 411 (i) / 0821 1450 9515 (a)
  • Tempat: Masjid Alumni IPB, Komplek Mal Botani Square, Jl. Padjajaran, Bogor. Pemateri: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putera, MA. Tema: 4 Kaidah Dalam Memahami Tauhid. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0815 8415 7540
  • Tempat: Masjid As Salam, Jl. Raya Ragunan (Jl. Sebret 2, samping SMAN 28), Jati Padang, Pasar Minggu – Jakarta Selatan. Pemateri: Ustadz Ishom Aini, MA. Tema: Keutamaan 10 Hari Pertama Zhulhijjah Waktu: 09.30 – selesai. Informasi: 0816 1125 287 (i) / 0821 1248 3749 (a)
  • Tempat : Masjid Nurul Iman, Blok M Square Lt. 7, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz DR. Firdaus Sanusi, MA. Tema : Kitab Bulughul Maram – Bab Nikah. Waktu : 09.30 – Selesai. Informasi: 0811 100 147 / 0821 1261 4999
  • Tempat: Kediaman Bpk Agus Rosyidin, Jl. Indojati 1 no 45, RC Veteran, Tanah Kusir, Jakarta Selatan.Pemateri : Ustadz Sofyan Chalid Ruray. Tema: Kitab Tauhid. Waktu: 13.00 – ‘Ashar. Informasi: 0878 8003 0819 / 0878 7757 4234
  • Tempat: Masjid Al-Ikhlas Grand Cibubur – Perum. Grand Cibubur, Jl. Alternatif Cibubur km.04, Gg. Masjid At-Taqwa, Jatisampurna, Bekasi. Pemateri: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putera, MA. Tema: Mengerti Tentang Ahlussunnah. Waktu: Ba’da ‘Ashar – selesai. Informasi: 0877-8116-0422 (i) / 0858-8210-7464
  • Tempat: Masjid Nurul Ikhlas, Trikora Halim, Jl. Gintoro No. 17, Trikora, Halim Perdanakusauma, Jakarta Timur. Pemateri: Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA. Tema: Bersama Keluarga Masuk Surga. Waktu: Ba’da Maghrib – selesai. Informasi: 0815 5576 9572 (i) / 0813 1570 9239 (a)
  • Tempat : Masjid Hijau Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap No.1 B Cilangkap – Jakarta Timur. Pemateri : Ustadz Abu Usaamah, Lc. Tema : Tafsir Ibnu Katsir. Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai. Informasi : 0857-1747-9878 / 0812-8281-1692
  • Tempat : Masjid Nuur Alaa Nuur (MASNAN), Jl. Buwek Jaya No. 2B Sumber Jaya, Tambun Selatan – Bekasi. Pemateri : Ustadz Syahrul Fatwa bin Lukman, Lc. Tema : Hadits Arba’in Nawawi. Waktu : Ba’da Maghrib – selesai. Informasi : 0813 9940 9524 / 0813 1472 8688
  • Tempat: Musholla Al-Ikhlas, Area Perumahan Puri Nirwana II, Cibinong, Bogor. Pemateri: Ustadz Abu Faris Yudi Kurnia, Lc. Tema: Manhaj Dakwah Salaf. Waktu: Ba’da Maghrib – 20.30. Informasi: 0812 1212 0040 (i) / 0812 8209 4812 . Tempat: Masjid Al Huda, JL. Musik Raya, RT. 03/09, Kelapa Gading BCS, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara. Pemateri: Ustadz Ali Akbar bin Ahmad. Tema: 3 Wasiat Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallam. Waktu: Ba’da Maghrib – selesai. Informasi: 0813 1937 1672 (i) / 0812 8709 3033 
  • Tempat: Masjid Syifa Budi Lippo Cikarang (sebelah timur Pasar Central Lippo Cikarang). Pemateri: Ustadz Musabbih Lc. Tema: Syarah Riyadush Shalihin – Bab : Banyak Jalan Kebaikan. Waktu: Ba’da Maghrib – selesai. Informasi: 0856 1705 023 / 0857 4541 8792

​Tempat dan Jadwal Ceramah Agama Islam di JABODETABEK Setiap Hari AHAD

​Tempat dan Jadwal Ceramah Agama Islam di JABODETABEK Setiap Hari AHAD

Khusus : AHAD Ke-3 Tanggal 24-25 SYA’BAN 1438 H / 21 MEI 2017

  • Masjid Baiturrahman, Jl. Griya Timur Indah, Jatimulya, Tambun Selatan, Bekasi Timur. Ceramah: Ustadz Sofyan Chalid Ruray. Tema: Dosa – Dosa Melemahkan Semangat Ibadah. Waktu: Ba’da Shubuh – selesai
  • Masjid Al-Fatah, Jl. Swadaya Raya No.1, Kav. DKI, Duren Sawit Jakarta Timur. Pemateri : Ustadz Ali Hasan Bawazier, Lc. Tema : Tafsir Al Qur’an. Waktu : Ba’da Shubuh – selesai. Informasi: 0812 1266 8565 (i) / 0812 1302 322 (a)
  • Masjid Baiturrahman, Jl Chrysan VI, Perum Mediterania Regency Cikunir, Jakamulya, Bekasi Selatan. Pemateri: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, MA. Tema: Tafsir Ibn Katsir. Waktu: Ba’da Shubuh – Selesai. Informasi: 081213718320
  • Masjid Mu’adz Bin Jabal, Jl. Pojong Iping RT 03/01 Kav. Bulog Blok B No.10 Desa Bojong Kulur Kec. Gunung Putri, Bogor. Pemateri: Ustadz Abu Hanif, MA. Tema: Hisnul Muslim. Waktu: Ba’da Shubuh – selesai. Informasi: 0812 9605 0383 (i) / 0813 1114 8158 (a)
  • Masjid Az Zahrah, Blok E No.134, Jl. Gudang Peluru Utara No.2, Tebet, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA. Tema: Ketika Nikmat Dipertanyakan. Waktu: Ba’da Shubuh – selesai. Informasi: 0818 0828 1575 / 0813 8155 5966
  • Musholla Jami’atul Makmur, Cluster Griya JM 2 Jl Swatantra V, Jatiasih Bekasi. Pemateri: Ustadz Abu Ja’far Cecep Rahmat, Lc. Tema: 3 Landasan Utama Dalam Islam. Waktu: 07.00 – 08.00. Informasi: 0812 1840 5600
  • Rumah di Jl. Kecapi No. 1, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz Azhar Khalid bin Seff, MA. Tema: Dahsyatnya Ramadhan. Waktu: 08.00 – selesai. Informasi: 0812 1077 217
  • Masjid Al Ihsan, Jl. Majapahit No. 9, Jaka Permai, Jaksampurna, Bekasi Barat. Pemateri : Ustadz Nizar Sa’ad Jabal, Lc. Mpd. Tema: Fiqih Seputar Bulan Ramadhan. Waktu: 08.00 – selesai. Informasi: 0812 1231 072 (i) / 0856 7184 104 (a)
  • Masjid Al Kautsar, Perum Griya Telaga Permai, Jl. Raya Bogor KM 40,7, Cilangkap, Depok. SESI 1:. Pemateri : Ustadz Amri Azhari Lc. Tema: Tafsir Surat Al Kahfi. Waktu: 08.00 – 10.00. SESI 2: pemateri : Ustadz Mas’ud Mahmud Lc tema: Dosa – Dosa Besar. Waktu: 10.00 – 11.30. Informasi: 0812-9006-3451 (i) / 0812-9694-5674 (a)
  • Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jl. Bintaro Permai Raya III, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA. Tema: Kenangan Indah Nan Menakjubkan. Waktu: 08.30 – 11.00. Informasi: 0811 8720 24 (i) / 0812 8012 9964 (a)
  • Masjid Al Ikhlas, Jl. Mutiara, Komplek Permata, (Masuk dari Jembatan Gantung) Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Pemateri: Ustadzah Ummu Ihsan Choiriyah Al Maidani, M.Psi. Tema: Pengurusan Jenazah (Khusus MUSLIMAH). Waktu: 08.30 – 11.00. Informasi: 0812 8129 1906
  • Masjid Al Muttaqin, Jalan Pandu Raya, Perum Indraprasta 2, Bogor Utara. (Lokasi ± 500 meter ke ARAH UTARA dari Masjid Imam Ahmad bin Hanbal). Pemateri: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Materi: Kitab Syarhus Sunnah (Khusus IKHWAN). Waktu: 09.00 – Zhuhur. Informasi: 0856 933 05 222 (SMS) / 0812 9070 1950 (TELP)
  • Masjid Nurul Jannah, Kampung Selang Jati, RT 03 / 03, Desa Wanajaya, Cibitung, Bekasi. Pemateri : Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA. Tema: Taubat Sebelum Terlambat. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0813 1660 5479 / 0812 9633 7369
  • Masjid Nurul Islam (Nuris), Jl. Mawar Merah Raya no. 1, Perumnas Klender, Jakarta Timur (belakang RS Islam Pondok Kopi). Pemateri: Ustadz Abu Usamah, Lc.. Tema: Tafsir Ibnu Katsir. Waktu: 09.00 – Zhuhur. Informasi: 081-1818-0055
  • Masjid Nur ‘Ala Nur, Jl. Matraman Dalam III, Pegangsaan, Jakarta Pusat .Pemateri: Ustadz Muhammad Wasitho, MA. Tema: Bersemilah Ramadhan. Waktu: 09.00 – 11.00. Informasi: 085210224680
  • Masjid Al Barkah, Jl. Pahlawan Kampung Tengah (belakang kantor Polsek Cileungsi), Cileungsi, Bogor. Pemateri: Syaikh Abdul Karim As-Silmi Al-Jazairy. Penterjemah : Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc / Ustadz Cecep Nurrahman, Lc. Daurah Ulumul Qur’an ke-2 Waktu: 09.00 – 11.30. Informasi: 08128001556
  • Masjid Al Muhajirin, Perum Taman Permata Cikunir, Jl. Koala Selatan, Jaka Mulya, Bekasi Selatan **(CK)**. Pemateri: Ustadz Abu Thohir Jones Vendra, MA. Tema: Kitab Tafsir Ibnu Katsir **(CK)**. Waktu: 09.00 – Selesai. Informasi: 08179827597
  • Masjid Syaikh Hamad al Hamad/Imam Asy-Syafi’i, Jl. Raden Saleh-studio Alam TVRI (Gg. Persahabatan No. 69), Sukmajaya Depok. Pemateri: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember). Tema: 70 Masalah Pokok Puasa Untuk Meraih Taqwa. Waktu: 09.00 – 11.30. Informasi: 0812 8236 9649 (i) / 0877 8249 5379 (a)
  • Masjid Jami’ Al Hidayah, Perumnas 3, Jl. Pulau Selayar, Aren Jaya, Bekasi Timur, Bekasi. Pemateri: Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc. Tema: Bekal Puasa Ramadhan. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0896 5948 6386 (i) / 0812 2171 6991 (a).
  • Masjid Jannatul Firdaus, Jl. Taman Soka II/III Blok N 3, Belakang Sekolah PB Sudirman, Taman Galaxy, Bekasi Selatan. Pemateri: Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc. Tema: Ramadhan Bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Waktu: 09.00 – selesai. Informasi: 0821 1460 5001
  • MT Asy Syakirin, Jl. KH Hasyim Ashari , Perumahan Alam Indah, blok I 22, Cipondoh, Tangerang. Pemateri: Ustadz Hamzah Abbas,Lc. Tema: Kitab Syarah Tauhid. Waktu: 09.30 – selesai
  • Masjid Al Huda, Jl.Damai Raya RT008/005 Petukangan Selatan, Pesanggrahan Jakarta Selatan. Pemateri: Ustadz Fuad Mubarok Lc. Tema: Lanjutan Ushul Tsalaatsah waktu: 09.30 – Selesai. Informasi: 0812 9697 7739
  • Masjid Al Ittihad, Komplek DPR RI Kemanggisan, Jakarta Barat. Pemateri: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Tema: Bagaimana Memahami Dalil Dalam Islam. Waktu: 09.30 – Selesai. Informasi: 0878 8003 0819 (i) / 0838 7537 9585 (a)
  • Masjid Nurul Iman, Blok M Square Lt. 7, Jakarta Selatan. SESI 1: lemateri: Ustadz Haryanto Abdul Hadi, MA. Tema: Bagaimana Para Salaf Dalam Beragama, Pemahaman, Beramal dan Berdakwah. Waktu: 09.30 – Selesai. SESI 2:. Pemateri : Ustadz Abu Ihsan Al Maidany, MA. Tema: Akhlak Salaf. Waktu: 12.45 – 15.00. Informasi: 0838 0615 1538
  • Masjid Al Bakrie, Epicentrum area, Kompleks Apartemen Taman Rasuna – Jakarta Selatan. Pemateri: Ustadz Sofyan Chalid Ruray. Tema: Taqdir. Waktu: 09.30 – 11.30. Informasi: 081290680003 (i) / 081282289882 (a)
  • Masjid As Sunnah, Jl. Nusa Jaya, Bintaro Sektor 3A, Belakang Bintaro Plaza, Tangerang Selatan. Pemateri : Ustadz Aep Saepullah Ahmad, Lc. Tema : Keutamaan Tauhid. Waktu : 10.00 – Zhuhur. Informasi : 0878 0806 8279 / 0878 7113 9106
  • Masjid Adz Dzikri, Perumahan Pesona Khayangan Depok Blok CK 7A, Depok. Pemateri : Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA. Tema: Istiqomah Di Zaman Fitnah. Waktu: Ba’da Zhuhur – selesai. Informasi: 0858 8857 1605
  • Masjid Al Hidayah, Jl. Deposito 1, Belakang Menara Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. Tema: Pembatal-Pembatal Puasa Kontemporer. Waktu: Ba’da Zhuhur – selesai. Informasi: 0878 8133 1958
  • Rumah Bp. Agus Rasyidin di Jl. Indojati 1 no. 45, RC Veteran, Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pemateri : Ustadz Azhar Khalid bin Seff, MA. Tema: Adab dan Amalan Terbaik Bulan Ramadhan. Waktu: 13.00 – selesai. Informasi: 0878 7757 4234
  • Masjid Jami’ Ibnu Majah, SDIT-SMPI Ibnu Majah Boarding School, Jl Raya Pondok Timur Indah 1, Blok B, Bekasi Timur. Pemateri : Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc. Tema : Ya Allah, Sampaikan Ramadhan Untukku… Lukul : 13.00 – Selesai.. Informasi : 085778196453 (i) / 085770468427 (a)
  • Masjid Ar-Rauf, Green Andara Residence, Jl Andara, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Pemateri: Ustadz Abu Yahya Adrial. Tema: Kitab Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Waktu: 13.00 – 14.30. Informasi: 085881552250 (i) / 08161839591 (a)
  • Aula Masjid Baitul Jabbaar, Jl. Kepodang Raya Jatibening Estate, Jl.Caman, Jl.Ratna, Bekasi. Pemateri: Ustadz (Kak) Abu Luqman (Pembawa Acara Anak di Radio Rodja). Tema: Menyambut Bulan Ramadhan (Kajian Anak SD kelas 1 hingga SMP kelas 1). Waktu: Ba’da ‘Ashar – Selesai
  • Masjid Al Ikhlas, Perum Dukuh Bima, Jl. Bima Utama Raya, Lambang Sari, Tambun Selatan, Bekasi. Pemateri : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. Tema : Pernik-Pernik Ramadhan. Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai. Informasi : 0813 989 290 49 (i) / 0813 1515 0290 (a)
  • Musholla Arroyan, Jl. Ngarai No. 78, Komplek Hankam, Kelapa Dua – Depok. Pemateri : Ustadz Najmi Umar Bakkar. Tema : Semangat Ramadhan Salafush Shalih. Waktu : Ba’da Maghrib – selesai. Informasi : 0812 8613 4789 / 0857 7118 3538
  • Masjid Nurul Iman, Jl. Kesehatan, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Pemateri : Ustadz Ali Hasan Bawazier, MA. Tema : Adab – Adab Di Bulan Ramadhan. Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai. Informasi : 0813 8688 5533 (i) / 0821 2522 2717 (a)
  • Untuk Jadwal yang diberi tanda **(CK)** setelah “TEMPAT” dan setelah “TEMA”, ini adalah jadwal rutin namun sangat disarankan untuk cek kembali jadwal langsung ke panitia sebelum hadir (informasi).

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]
Sumber : http://bbg-alilmu.com/

Free Download: Kumpulan Video Lengkap Ceramah Islam Dr Zakir Naik

 wp-1491252728175.jpgZakir Abdul Karim Naik adalah seorang Da’i, pembicara umum, dan penceramah internasional Muslim dari India. Ia juga penulis hal-hal tentang Islam dan Ilmu Perbandingan Agama. Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar “Sarjana Kedokteran dan Bedah” (Bachelor of Medicine and Surgery, MBBS) dari Maharashtra, tetapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang pembicara Islam dan ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah antara lain untuk berbicara mengenai Islam kepada non-muslim dan mengklarifikasikan segala macam kesalahpahaman tentang agama Islam itu sendiri, terutama labeling “terroris” dan “radikalisme”. Ia juga sebagai pembicara mengenai agama Islam sebagai agama yang sesuai secara fakta ialah agama yang masuk akal dan cocok dengan ilmu Sains modern untuk bisa meyakinkan non muslim tentang kebenaran agama tersebut. Zakir Naik adalah pendiri dan presiden Islamic Research Foundation (IRF)[5], sebuah organisasi nirlaba Islam yang khusus dalam penelitian Islam dan Perbandingan agama yang juga memiliki dan menyiarkan jaringan saluran TV gratis Peace TV dari Mumbai, India.

Free Download Kumpulan Video Ceramah islam Dr Zakir Nai

10 Langkah Toleransi Menurut Islam

10  TOLERANSI ISLAM MENURUT HABIB RIZIEQ SYIHAB 

  1. Jangan hina agama apapun baik Tuhannya maupun ajarannya.
  2. Jangan lecehkan pemuka agama manapun.
  3. Jangan ganggu ibadah umat agama apapun.
  4. Jangan rusak tempat ibadah agama manapun.
  5. Jangan paksa atau ancam atau teror atau jebak umat agama lain untuk masuk Islam tapi cukup mengajaknya kepada Islam melalui dakwah yang berakhlaqul karimah.
  6. Bantu umat agama manapun yang terkena bencana.
  7. Tolong umat agama manapun yang terzalimi.
  8. Berniagalah dengan umat agama apapun dengan cara yang halal.
  9. Bekerjasamalah dengan umat agama manapun untuk kebaikan dan kemajuan.
  10. Berikanlah semua hak umat agama apapun tanpa dikurangi.

5 BATASAN TOLERANSI ISLAM.

  1. Jangan campur adukkan aqidah mau pun syariat dengan agama lain.
  2. Jangan membenarkan agama lain.
  3. Jangan mengikuti perayaan besar agama lain, apalagi ibadahnya.
  4. Jangan lakukan kawin beda agama.
  5. Jangan jadikan umat agama lain sebagai pemimpin di wilayah muslim.

AA GYM: Orang Mukmin Paling Utama

Dalam satu riwayat, Ibnu Umar ra. berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rosululloh Saw., tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshor, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi Saw. dan bertanya, “Wahai Rosululloh, siapakah orang mukmin yang paling utama?” Rosululloh Saw. menjawab, “Yang paling baik akhlaqnya.” Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Thobroni)

Saudaraku, seringkali kita menilai bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak gelarnya. Atau sering juga kita menganggap bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak menguasai bahasa asing. Tidak jarang juga kita menganggap bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang terampil mengembangkan teknologi tinggi.

Orang-orang dengan kemampuan seperti ini memang cerdas dalam pandangan kita. Akantetapi semua itu bukanlah kecerdasan sejati. Karena kecerdasan sejati adalah sebagaimana yang Rosululloh Saw. pesankan kepada kita dalam hadits di atas. Bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling mengingat kematian dan menyibukkan diri untuk mempersiapkan kematiannya.

Tidak ada seorangpun, sehebat apapun, sepintar apapun, yang bisa mengetahui kapan, di mana dan bagaimana ia meninggal dunia. Oleh karena itu, orang yang menyikapi misteri kematian dengan cara beramal sholih, memaksimalkan waktu yang ia miliki untuk mengerjakan hal-hal yang penuh manfaat bagi dirinya dan bagi banyak orang, inilah orang yang cerdas sesungguhnya.

Karena orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan dirinya menghadapi kematian akan banyak melahirkan karya-karya bernilai. Ia termotivasi untuk menjadikan usianya yang misterius itu agar penuh arti. Orang yang banyak mengingat kematian tidak akan membiarkan waktunya terbuang sia-sia, ia akan menggunakannya untuk beribadah, mengukir banyak prestasi di kehidupan dunia dan husnul khotimah. Maasyaa Alloh!

Saudaraku, semoga kita tergolong hamba-hamba Alloh yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat dengan amal-amal terbaik. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

Renungan Kehidupan Manusia


Renungan Kehidupan Manusia

Pertandingan bola : 90 menit
Film serial : 60 menit
Film : 130 menit
Shalat : 5 menit

Neraka Jahannam : sepanjang hidup
Surga : sepanjang hidup

Mari kita merenung
Whatsapp : 300 kawan
Kontak : 80 kawan
Kawan dikampung : 50 org
Kawan dimasa sulit : 1
Kawan di jenazahmu : keluargamu
Kawan di kubur : kau sendirian

Jangan merasa aneh, inilah kehidupan
Hakikatnya : tak ada yang memberimu manfaat selain *sholat*mu

Jika kau mendapati debu di mushafmu
Maka Tangisilah dirimu sendiri !

Barangsiapa yg tdk membaca *Al-Quran* selama 3 hari tanpa ada udzur maka ia dinamakan Hajir / seorang yang meninggalkan Al-Quran

Alam yang aneh,
Jenazah disusul dengan jenazah . . kematian disusul dengan kematian berikutnya.
Berita tentang kematian terus bermunculan ada yg mati karena kecelakaan ada krn sakit ada yang tiba2 mati tanpa diketahui sababnya semuanya tinggalkan dunia ini dan mereka semua kami kuburkan dan itu pasti.

Hariku dan harimu pasti akan tiba persiapkanlah bekal untuk perjalanan yang tak dapat kembali.

Wahai orang yang menunda taubat dengan alasan karena masih muda
Maaf.. Kuburan bukanlah tempat untuk orang dewasa saja

Sungguh Dunia itu hanya 3 hari :
Hari Kemarin : kita hidup disitu, dan tidak akan kembali lagi
Hari ini: kita jalani namun tak berlangsung lama
Besok: kita tidak akan tahu apa yg akan terjadi
Maka saling memaafkan dan sedekahlah
Karena: aku engkau dan mereka akan pergi

Ya Allah kami memohon pada Mu husnul khatimah dan beruntung dengan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka aamiin ya robbal ‘alamiin

Saudara ku yang mulia:
Barangsiapa yang hidup dalam suatu kebiasaan maka ia akan mati dengan kebiasaan itu.
Dan barangsiapa yang mati dalam suatu keadaan maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut

Jika kau sudah membaca tulisan ini kau sudah mendapatkan pahala nya, namun bila kau menyebarkannya dan orang lain mendapakan manfaat juga maka akan dilipat gandakan pahala mu Insya Allah.

Sumber Bachtiar nasir

Pesan Damai Untuk Saudaraku Non Muslim

​PESAN DAMAI PERSAUDARAAN UNTUK SAUDARAKU NON MUSLIM
Saudaraku
Saat ini kerukunan yang telah diperjuangkan leluhur kita
HANCUR, sehingga kita saling memusuhi dan membenci
Padahal kita bersaudara
Saat ini kesantunan yang diajarkan orang tua kita
HILANG, sehingga kita saling mencaci dan memaki
Padahal kita bersaudara

Saudaraku
Kebangkitan jutaan umat hanya karena keyakinan kami diinjak injak, BUKAN politik, BUKAN  anti NKRI, BUKAN radilkalisme,
Kebangkitan jutaan umat hanya karena kekuatan besar baik dari dalam dan luar yang mencengkeram NKRI membuat keadilan tidak berpihak pada kami, BUKAN rasis, BUKAN SARA

Saudaraku
Kami tidak pernah marah pada saudaraku beragama kristen, meski PEMBUAT MASALAH beragama itu
Kami tidak pernah benci pada saudaraku beretnis Tionghoa, meski PEMBUAT MASALAH beretnis itu
Kami tidak peduli pada saudaraku berbendera politik apapun meski PEMBUAT MASALAH berbendera politik itu

Saudaraku
Kami maklum anda takut, padahal jutaan umat itu tidak pernah mendukung pendirian negara Islam
Kami maklum anda panik, padahal jutaan umat itu akan terus melindungi agama minoritas
Kami maklum anda cemas, padahal jutaan umat itu tidak akan mencampuri urusan pilihan politik idola anda
Kami maklum anda gusar, padahal jutaan umat itu memilih pemimpinnya harus muslim karena tuntunan agama, seperti anda dinasehatkan pendeta anda harus memilih pemimpin seiman
Kami maklum

Saudaraku
Coba lihat dan dengar aksi damai 212
Jangankan anarkis, menginjak rumputpun tidak kami lakukan
Jangankan mengganyang etnis, melotot mata pada merekapun kami tidak tega
Jangankan menggusur agama, melihat halaman depan gereja kotorpun kami bersihkan
Jangankan bermain mata dengan politik, memakai bendera bahkan lambang politik sekecil apapun kami tidak pikirkan
Jangankan menganggu kebinekaan, meski berseragam putih ternyata barisan itu berbeda suku dan etnis dari ujung Sabang hingga Merauke

Saudaraku
Bila ada segelintir umat yang tidak bermoral terhadap anda
Itu bukan sikap kami

Saudaraku
Kami dan anda semua saatnya introspeksi
Kita saling mencela KERENA kita merasa paling benar sendiri
Kita saling menghakimi KARENA kita merasa tidak ada yang salah
KARENA memang kita tidak dapat disamakan karena kita berbeda akal pikiran, berbeda keyakinan, berbeda politik, berbeda tokoh idola dan berbeda kepentingan pribadi

KITA BISA DISATUKAN karena kita berdiri di bumi pertiwi yang sama
KITA BISA DISATUKAN karena kita bercita cita NKRI yang sama
KITA BISA DISATUKAN, karena musuh kita sama, musuh NKRI
KITA BISA DISATUKAN ketika kita saling menjunjung tinggi prinsip UNTUKMU KEYAKINANMU, UNTUKKU KEYAKINANKU

Saudaraku
Bila kita terus mencampuri keyakinan orang lain, maka terus saja kita saling curiga
Bila kita terus mencampuri pilihan politik orang lain, maka terus saja perseteruan tidak pernah mereda
Bila kita terus saling menyebar kebencian, maka kita akan mengorbankan sekelompok golongan kita masing masing yang polos dan tidak tahu apa apa

Saudaraku
Kami tidak akan pernah merendahkan pendeta anda meski sebagian dari anda terus menghina ulama kami
Kami tidak akan pernah mencampuri urusan agama anda meski sebagian dari anda terus menggunakan agama kami sebagai komoditas kepentingan politik mereka
Kami tidak akan merecoki pilihan idola anda, meski sebagian dari anda terus membunuhi karakter pilihan idola kami

Saudaraku
Bila hal itu terus anda lakukan kepada umat mayoritas, kami hanya bisa SABAR dan BERDOA

Berdoa agar kita tidak saling menyebar kebencian
Berdoa agar kita semua saling menghormati dan menghargai
Berdoa agar pemimpin kita mendapatkan kekuatan agar tidak bertekuk lutut pada kekuatan besar yang sedang mencengkeram NKRI
Berdoa agar semua sadar bahwa kita sedang diadu domba dan terseret kepentingan pribadi segelintir elit politik, sekelompok kecil pemodal  tajir, sekelompok ideologi tidak bertuhan dan kekuatan besar dari luar yang mengincar NKRI

Saudaraku untukku keyakinanku, untukmu keyakinanmu
Saudaraku, jangan korbankan persaudaraan kita
Saudaraku, kita tetap saudara

Saudaraku, salam persaudaran

Ceramah Agama H Ridwan Kamil Paling Inspiratif

Mochamad Ridwan Kamil, ST. MUD. adalah Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Sebelum menjadi pejabat publik, pria yang akrab dipanggil Kang Emil ini memiliki karier sebagai seorang arsitek dan dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung. Emil merupakan putra dari pasangan Dr. Atje Misbach, S.H (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih. Pada tahun 2013 Emil yang dari kalangan profesional dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai GERINDRA sebagai walikota Bandung dengan didampingi oleh Oded Muhammad Danial sebagai calon wakil walikota. Dalam Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum Kota Bandung pada 28 Juni 2013, pasangan ini unggul telak dari tujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara sehingga Pasangan Ridwan Kamil – Oded Muhammad Danial (RIDO) ditetapkan menjadi pemenang dalam Pemilihan umum Wali Kota Bandung 2013.

image