Category Archives: Wisata Arab-Timur Tengah

4 Tempat Bersejarah dan Tujuan Wisata Di Arafah

4 Tempat Bersejarah dan Tujuan Wisata Di Arafah

  • Jabal Rahmah. Bukit kecil yang terletak di bagian timur Arafah, dinamai Jabal Rahmah karena kasih sayang Allah SWT kepada seluruh hambanya. Dinamai juga an-Nabitah yang berarti tertanam, seolah-olah bukit ini tertanam di bumi. Dinamai juga Jabal ad-Du’a (Gunung Pengharapan). Di bawah kaki bukit tersebut terdapat bebatuan besar dan terjal. Ketinggian bukit ini sekitar 65 meter, panjang lingkaran 640 meter, lebar sebelah timur 170 meter, lebar sebelah barat 100 meter, panjang sebelah utara 200 meter, panjang sebelah selatan 17 meter, tinggi dari permukaan laut 132 meter. Bukit ini berada di antara Jalan Nomor 7 dan 8, kurang lebih dari 1,5 kilometer dari arah Masjid Namirah. Di bagian puncaknya dikelilingi dinding dengan ukuran 57 sentimeter, di tengahnya terdapat teras tinggi (dekkah) sekitar 40 sentimeter. Sedangkan, di bagian bawah masjid ini terdapat Masjid Shakhrat, di sana terdapat mata air Zubaidah yang menyemprotkan air dengan ketinggian empat meter, berfungsi sebagai penyejuk udara di sekitar lokasi. Jabal Rahmah berada di bagian timur Padang Arafah di kota Makkah. Sesuai dengan namanya, jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang. Sesuai namanya, bukit ini diyakini sebagai pertemuan antarar Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari Syurga oleh Allah SWT. Selama bertahun-tahun Nabi Adam dan Siti Hawa setelah melakukan kesalahan memakan buah khuldi yang terlarang diturunkan oleh Allah ke dunia. Berdasarkan kajian para Ulama, dilasir dari ‘Haji dari Masa ke Masa’, kemungkinan Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Hawa diturunkan di Irak. Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas ijin Allah SWT mereka dipertemukan di Puncak Bukit Jabal Rahmah ini. Setelah pertemuan tersebut, Nabi Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang. Jabal Rahmah sendiri merupakan bukit batu. Tingginya hanya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga sampai ke monumen Adam dan Hawa biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja. Di Puncak Jabal Rahmah, saat ini dibangun sebuah monumen dari beton persegi empat dengan lebar kurang lebih 1,8 meter dan tingginya delapan meter. Menuju puncak bukit ini, dibangun infrastruktur yang memadai sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk mencapainya. Infrasktruktur ini berupa jalanan berbentuk tangga dengan 168 anak tangga menuju puncak Jabal Rahmah. Jabal Rahmah juga merupakan tempat wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW, tatkala melakukan wukuf. Wahyu tersebut termuat dalam Al Quran surah Al Maidah ayat 3, “…Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Meski Ulama Saudi sendiri sudah menegaskan berziarah ke Jabal Rahmah bukanlah hal yang disunnahkan apalagi diwajibkan, nyatanya banyak peziarah berdatangan dan berdoa menengadahkan tangan di sana saat wukuf. Jamaah haji dari berbagai dunia termasuk Indonesia, selain memadati bukit ini saat wukuf 9 Dzulhijjah. Tidak sedikit mereka menulis nama-nama agar diberikan kelancaran jodoh dan dan kelanggengan pasangan. Selain itu, tempat ini juga digunakan untuk bermunajat dan berdo’a, serta sebagai tempat wisata sejarah dan keislaman. Di sini juga terdapat pedagang suvenir berbagai barang, mulai batu cincin, peci, tasbih, sorban dan pernak-pernik lain. Umumnya para pedagang ini adalah para pendatang yang berasal dari Afrika. Di lokasi Jabal Rahmah ini juga terdapat unta bagi para wisatawan yang ingin mencoba menaiki unta. Para pemilik unta akan mendatangi para wisatawan untuk menawarkan unta mereka sambil befoto. Tarif menaiki unta ini anta lima sampai 10 real.
  • Masjid Namirah. Masjid Namirah pada mulanya adalah sebuah masjid kecil yang dinamai Masjid Arafah atau Masjid Ibrahim. Masjid ini pernah menjadi tempat shalat oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW. Dinamai Namirah atau Namrah, dinisbatkan kepada sebuah gunung yang berada di sebelah barat masjid. Pada saat itu Rasulullah SAW membangun kemah. Setelah tergelincir matahari, beliau berpindah ke lembah Uranah untuk berkhutbah dan melakukan shalat Zhuhur dan Ashar di sana. Selanjutnya, beliau berkhutbah di masjid yang terletak di perbatasan tanah Arafah dan tanah di luar Arafah (hanya bagian belakangnya saja yang termasuk Padang Arafah, sedangkan bagian depan Masjid Namirah bukan bagian dari Arafah). Sejarah mencatat, perluasan masjid dilakukan secara terus-menerus. Pada masa Pemerintahan Raja Qatyinbay 873-901 Hijriyah, masjid ini diperluas dan terus direnovasi. Sampai kini, masjid tersebut dapat menampung 350 ribu jamaah. Luas area masjid sekitar 124 ribu meter persegi. Bagian belakang masjid ini terdiri atas dua lantai, luasnya sekitar 27 ribu meter persegi. Masjid ini mempunyai enam menara, masing-masing berketinggian 60 meter dan mempunyai tiga kubah, 10 jalan masuk utama, 64 buah pintu, serta terdapat sekitar 1.000 kamar mandi dan toilet.
  • Wadi Uranah Lokasi lembah berada di perbatasan antara tanah Arafah dan di luar Arafah. Tepatnya di sebelah barat Arafah. Lembah ini menjadi lokasi Khutbah Wada.
  • Masjid Shukhairat. Letaknya di kaki Jabal rahmah. Sebelah kanan jalan naik menuju puncaknya. Di sinilah tempat Rasulullah SAW wukuf di Arafah. Lokasi ini merupakan tempat berhentinya unta Quswa milik Rasulullah SAW. Beliau menghadap ke arah kiblat sampai terbenam matahari, lalu bergerak ke arah Muzdalifah.

13 Features abd Architecture of Kaaba Mecca of Saudi Arabia

13 Features of Kaaba Mecca of Saudi Arabia
Edit

The Kaaba is a stone cube structure made of granite. The Kaaba is approximately 13.1 m (43 ft) high (some claim 12.03 m (39.5 ft)), with sides measuring 11.03 m (36.2 ft) by 12.86 m (42.2 ft). Inside the Kaaba, the floor is made of marble and limestone. The interior walls, measuring 13 m (43 ft) by 9 m (30 ft), are clad with tiled, white marble halfway to the roof, with darker trimmings along the floor. The floor of the interior stands about 2.2 m (7.2 ft) above the ground area where tawaf is performed.

The wall directly adjacent to the entrance of the Kaaba has six tablets inlaid with inscriptions, and there are several more tablets along the other walls. Along the top corners of the walls runs a green cloth embroidered with gold Qur’anic verses. Caretakers anoint the marble cladding with the same scented oil used to anoint the Black Stone outside. Three pillars (some erroneously report two) stand inside the Kaaba, with a small altar or table set between one and the other two. (It has been claimed that this table is used for the placement of perfumes or other items.) Lamp-like objects (possible lanterns or  censers) hang from the ceiling. The ceiling itself is of a darker colour, similar in hue to the lower trimming. A golden door—the Babut Taubah (also romanized as Baabut Taubah, and meaning “Door of Repentance”)—on the right wall (right of the entrance) opens to an enclosed staircase that leads to a hatch, which itself opens to the roof. Both the roof and ceiling (collectively dual-layered) are made of stainless steel-capped teak wood.

A technical drawing of the Kaaba showing dimensions and elements

Pilgrims performing Tawaf

Each numbered item in the following list corresponds to features noted in the diagram image

  1. Al-Ḥajaru al-Aswad, “the Black Stone“, is located on the Kaaba’s eastern corner. Its northern corner is known as the Ruknu l-ˤĪrāqī, “the Iraqi corner”, its western as the Ruknu sh-Shāmī, “the Levantine corner”, and its southern as Ruknu l-Yamanī, “the Yemeni corner”. The four corners of the Kaaba roughly point toward the four cardinal directions of the compass. Its major (long) axis is aligned with the rising of the star Canopus toward which its southern wall is directed, while its minor axis (its east-west facades) roughly align with the sunrise of summer solstice and the sunset of winter solstice.
  2. The entrance is a door set 2.13 m (7 ft) above the ground on the north-eastern wall of the Kaaba, which acts as the façade. In 1979 the 300 kg gold doors made by chief artist Ahmad bin Ibrahim Badr, replaced the old silver doors made by his father, Ibrahim Badr in 1942. There is a wooden staircase on wheels, usually stored in the mosque between the arch-shaped gate of Banū Shaybah and the Zamzam Well
  3. Meezab-i Rahmat, rainwater spout made of gold. Added in the rebuilding of 1627 after the previous year’s rain caused three of the four walls to collaps
  4. Gutter, added in 1627 to protect the foundation from groundwater
  5. Hatim (also romanized as hateem), a low wall originally part of the Kaaba. It is a semi-circular wall opposite, but not connected to, the north-west wall of the Kaaba known as the hatīm. This is 90 cm (35 in) in height and 1.5 m (4.9 ft) in width, and is composed of white marble. At one time the space lying between the hatīm and the Kaaba belonged to the Kaaba itself, and for this reason it is not entered during the tawaf
  6. Al-Multazam, the roughly 2 meter space along the wall between the Black Stone and the entry door. It is sometimes considered pious or desirable for a hajji to touch this area of the Kaaba, or perform dua here
  7. The Station of Abraham (Maqam Ibrahim), a glass and metal enclosure with what is said to be an imprint of Abraham‘s feet. Abraham is said to have stood on this stone during the construction of the upper parts of the Kaaba, raising Ismail on his shoulders for the uppermost parts.[
  8. Corner of the Black Stone (East)
  9. Corner of Yemen (South-West). Pilgrims traditionally acknowledge a large vertical stone that forms this corner.
  10. Corner of Syria (North-West)
  11. Corner of Iraq (North-East). This inside corner, behind a curtain, contains the Babut Taubah, Door of Repentance, which leads to a staircase to the roof.
  12. Kiswah, the embroidered covering. Kiswa is a black silk and gold curtain which is replaced annually during the Hajj pilgrimage. Two-thirds of the way up is a band of gold-embroidered Quranic text, including the Shahada, the Islamic declaration of faith
  13. Marble stripe marking the beginning and end of each circumambulation.

History of Kaabah Muhammad’s era and After

History of Kaaba Muhammad’s era and After

An illustration from the early 14th-century Persian Jami al-Tawarikh, inspired by the story of Muhammad and the Meccan clan elders lifting the Black Stone into place when the Kaaba was rebuilt in the early 600s

During Muhammad’s time (570–632 CE), the Kaaba was considered a holy and sacred site by the local Arabs and later Islam recognized it. Muhammad took part in the reconstruction of the Kaaba after its structure was damaged due to floods around 600 CE. Ibn Ishaq’s Sirat Rasūl Allāh, one of the biographies of Muhammad (as reconstructed and translated by Guillaume), describes Muhammad settling a quarrel between Meccan clans as to which clan should set the Black Stone cornerstone in place.

According to Ishaq’s biography, Muhammad’s solution was to have all the clan elders raise the cornerstone on a cloak, after which Muhammad set the stone into its final place with his own hands. Ibn Ishaq says that the timber for the reconstruction of the Kaaba came from a Greek ship that had been wrecked on the Red Sea coast at Shu’ayba and that the work was undertaken by a Coptic carpenter called Baqum. Muhammad’s night journey is said to have taken him from the Kaaba to the Temple Mount and heavenwards from there.

Muslims initially considered Jerusalem as their qibla and faced that direction while offering prayers; however, pilgrimage to the Kaaba was considered a religious duty though its rites were not yet finalized. During the first half of Muhammad’s time as a prophet while he was at Mecca, he and his followers were severely persecuted which eventually led to their migration to Yathrib in 622 CE. In 624 CE the direction of the Qiblah (Prayer Direction) was changed from Jerusalem to the Kaabah in Mecca. In 628CE Muhammad led a group of Muslims towards Mecca with the intention of performing the minor pilgrimage (Umrah) at the Kaaba, though he wasn’t allowed by the people of Mecca to do so, he secured a peace treaty with them called the Treaty of Hudaybiyyah, which allowed the Muslims to freely perform pilgrimage at the Kaaba from the following year.

At the culmination of his mission, in 629 CE, Muhammad conquered Mecca with a Muslim army. His first action was to remove statues and images from the Kaaba. According to reports collected by Ibn Ishaq and al-Azraqi, Muhammad spared a painting of Mary and Jesus, and a fresco of Abraham; but according to Ibn Hisham all pictures were erased.

Narrated Abdullah: 

  • When the Prophet entered Mecca on the day of the Conquest, there were 360 idols around the Ka’bah. The Prophet started striking them with a stick he had in his hand and was saying, “Truth has come and Falsehood has Vanished.. (Qur’an 17:81)” — Sahih Al-Bukhari, Book 59, Hadith 583
  • After the conquest Muhammad restated the sanctity and holiness of Mecca and the Masjid ul Haram in Islam. He performed a lesser Pilgrimage (Umrah) in 629 CE, followed by the Greater Pilgrimage(Hajj) in 632 CE called the Farewell Pilgrimage since Muhammad prophesied his impending death on this event.

After Muhammad

  • The Kaaba has been repaired and reconstructed many times since Muhammad’s day. The structure was severely damaged by fire on 3 Rabi I (Sunday, 31 October 683 CE), during the first siege of Mecca in the war between the Umayyads and Abd-Allah ibn al-Zubayr, an early Muslim who ruled Mecca for many years between the death of ʿAli and the consolidation of Umayyad power. Ibn al-Zubayr rebuilt it to include the hatīm. He did so on the basis of a tradition (found in several hadith collections) that the hatīm was a remnant of the foundations of the Abrahamic Kaaba, and that Muhammad himself had wished to rebuild so as to include it.
  • The Kaaba was bombarded with stones in the second siege of Mecca in 692, in which the Umayyad army was led by al-Hajjaj ibn Yusuf. The fall of the city and the death of Ibn al-Zubayr allowed the Umayyads under ʿAbdu l-Malik ibn Marwan to finally reunite all the Islamic possessions and end the long civil war. In 693 CE, ʿAbdu l-Malik had the remnants of al-Zubayr’s Kaaba razed, and rebuilt on the foundations set by the Quraysh. The Kaaba returned to the cube shape it had taken during Muhammad’s time.
  • During the Hajj of 930 CE, the Qarmatians attacked Mecca, defiled the Zamzam Well with the bodies of pilgrims and stole the Black Stone, taking it to the oasis region of Eastern Arabia known as al-Aḥsāʾ, where it remained until the Abbasids ransomed it in 952 C. The basic shape and structure of the Kaaba have not changed since then.
  • After heavy rains and flooding in 1629, the walls of the Kaaba collapsed and the Masjid was damaged. The same year, during the reign of Ottoman Emperor Murad IV, the Kaaba was rebuilt with granite stones from Mecca and the Masjid was renovated. The Kaaba’s appearance has not changed since then. The Kaaba is depicted on the reverse of 500 Saudi Riyal, and the 2000 Iranian rial banknotes.

Modern independent views on origin of Kaaba

Modern independent views on origin of Kaaba

  • Ptolemy. Writing in the Encyclopedia of Islam, Wensinck identifies Mecca with a place called Macoraba mentioned by Ptolemy and found in a 3rd-century BC map which suggests that Macoraba was Mecca. G. E. von Grunebaum states: “Mecca is mentioned by Ptolemy. The name he gives it allows us to identify it as a South Arabian foundation created around a sanctuary. In Meccan Trade and the Rise of Islam, Patricia Crone argues that the identification of Macoraba with Mecca is false and that Macoraba was a town in southern Arabia in what was then known as Arabia Felix. Her point of view was supported by some Islamic scholars and challenged by others.
  • Diodorus Siculus The Greek historian Diodorus Siculus is believed to have mentioned the Kaabah in 60–30 BC while describing the coast of Jeddah and its surrounding areas mentioned: The inhabitants of the land about the gulf, who are known as Banizomenes, find their food by hunting the land animals and eating their meat. And a temple has been set up there, which is very holy and exceedingly revered by all Arabians. *  Diodorus Siculus, Bibliotheca Historica, Book 3 Chapter 44[40]
  • Edward Gibbon suggested that the Kaaba was mentioned by ancient Greek writer, Diodorus Siculus, before the Christian era:
  • The genuine antiquity of Caaba ascends beyond the Christian era: in describing the coast of the Red sea the Greek historian Diodorus has remarked, between the Thamudites and the Sabeans, a famous temple, whose superior sanctity was revered by all the Arabians; the linen or silken veil, which is annually renewed by the Turkish emperor, was first offered by the Homerites, who reigned seven hundred years before the time of Mohammad. .Edward Gibbon, Decline And Fall Of The Roman Empire, Volume V, pp. 223–24

Others

  • Imoti contends that there were numerous such “Kaaba” sanctuaries in Arabia at one time, but this was the only one built of stone. The others also allegedly had counterparts of the Black Stone. There was a “red stone”, the deity of the south Arabian city of Ghaiman, and the “white stone” in the Kaaba of al-Abalat (near the city of Tabala, south of Mecca). Grunebaum in Classical Islam points out that the experience of divinity of that period was often associated with stone fetishes, mountains, special rock formations, or “trees of strange growth.”
  • The Kaaba was thought to be at the center of the world, with the Gate of Heaven directly above it. The Kaaba marked the location where the sacred world intersected with the profane; the embedded Black Stone was a further symbol of this as a meteorite that had fallen from the sky and linked heaven and earth.
  • According to Sarwar, about 400 years before the birth of Muhammad, a man named “Amr bin Lahyo bin Harath bin Amr ul-Qais bin Thalaba bin Azd bin Khalan bin Babalyun bin Saba”, who was descended from Qahtan and was the king of Hijaz had placed a Hubal idol onto the roof of the Kaaba. This idol was one of the chief deities of the ruling tribe Quraysh. The idol was made of red agate and shaped like a human, but with the right hand broken off and replaced with a golden hand. When the idol was moved inside the Kaaba, it had seven arrows in front of it, which were used for divination.
  • To maintain peace among the perpetually warring tribes, Mecca was declared a sanctuary where no violence was allowed within 20 miles (32 km) of the Kaaba. This combat-free zone allowed Mecca to thrive not only as a place of pilgrimage, but also as a trading center.
  • Many Muslim and academic historians stress the power and importance of the pre-Islamic Mecca. They depict it as a city grown rich on the proceeds of the spice trade. Crone believes that this is an exaggeration and that Mecca may only have been an outpost trading with nomads for leather, cloth, and camel butter. Crone argues that if Mecca had been a well-known center of trade, it would have been mentioned by later authors such as Procopius, Nonnosus, or the Syrian church chroniclers writing in Syriac. The town is absent, however, from any geographies or histories written in the three centuries before the rise of Islam.
  • According to the Encyclopædia Britannica, “before the rise of Islam it was revered as a sacred sanctuary and was a site of pilgrimage.” According to German historian Eduard Glaser, the name “Kaaba” may have been related to the southern Arabian or Ethiopian word “mikrab”, signifying a temple.[m Again, Crone disputes this etymology.
  • In Samaritan literature, the Samaritan Book of the Secrets of Moses (Asatir) claims that Ishmael and his eldest son Nebaioth built the Kaaba as well as the city of Mecca. “The Secrets of Moses” or Asatir book was suggested by some opinion to have been compiled in the 10th century, while another opinion in 1927 suggested that it was written no later than the second half of the 3rd century BCE.

Keutamaan Pemakaman Al-Baqi’

Keutamaan Pemakaman Al-Baqi’ di Madinah

  • Area pemakaman Al-Baqi’ adalah suatu area pemakaman para sahabzat Nabi, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, dan para ulama serta orang saleh sesudahnya.
  • Sering Nabi mengunjunginya pada waktu malam dan berdoa dan memohon ampunan untuk mereka yang dikebumikan di pemakaman ini
  • Di antara doa dia yang diajarkan kepada kita untuk Ahli al-Baqi’ : “Kesejahteraan atas kamu wahai penghuni-penghuni Makam dari kalangan mukminin dan muslimin. Allah merahmati mereka yang terdahulu dan kemudian dari kalangan kami dan sesungguhnya kami dengan izin Allah akan mengikuti kamu” “Kesejahteraan atas kamu tempat tinggal orang-orang yang beriman, dan telah datang pada kamu barang apa yang telah dijanjikan untukmu, kamu ditangguhkan hingga hari esok dan dengan izin Allah kami akan mengikuti kamu, wahai Allah, ampunilah penghuni-penghuni Baqi’ Al-Gharqod”
  • Jenazah yang dimakamkan di Baqi’ akan dibangkitkan pertama di Padang Mahsyar
  • 70.000 dari penghuni Baqi’ dibangkitkan dan masuk Surga tanpa hisab

    10 Kota Besar di Arab Saudi Yang Harus Dikunjungi


    Arab Saudi atau Saudi Arabia atau Kerajaan Arab Saudi adalah negara Arab yang terletak di Jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali. Orang Arab menyebut kata gurun pasir dengan kata sahara. Selain Mekkah, kota atau daerah yang digunakan dalam peribadatan haji yakni Mina, Muzdalifah dan Arafah, Madinah, kemudian terdapa kota atau daerah yang digunakan para jemaah haji untuk memulai prosesinya antara lain Bir Ali atau Dzulkulaifah yang berada di luar kota Madinah sebagai patokan jamaah yang berasal dari Madinah, serta Qarnul Manazil atau Yalamlam bagi jemaah haji yang masuk dari arah Yaman.

    Negara Arab Saudi ini berbatasan langsung (searah jarum jam dari arah utara) dengan Yordania, Irak, Kuwait, Teluk Persia, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, dan Laut Merah. Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa’ud—dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa‘ud—memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi atau Saudi Arabia (al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd (Nejed), Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz kemudian menjadi raja pertama pada kerajaan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami, nama Saudi berasal dari kata nama keluarga Raja Abdul Aziz as-Sa’ud

    Arab Saudi terkenal sebagai Negara kelahiran Nabi Muhammad SAW serta tumbuh dan berkembangnya agama Islam, sehingga pada benderanya terdapat dua kalimat syahadat yang berarti “Tidak ada tuhan (yang pantas) untuk disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusannya”.

    Kekayaan yang sangat besar yang didapat dari minyak, sangat membantu permainan dan pembentukan kekuatan peran dari keluarga Kerajaan Saudi baik di dalam maupun luar negeri. Wilayah ini dahulu merupakan wilayah perdagangan terutama di kawasan Hijaz antara Yaman-Mekkah-Madinah-Damaskus dan Palestina. Pertanian dikenal saat itu dengan perkebunan kurma dan gandum serta peternakan yang menghasilkan daging serta susu dan olahannya. Pada saat sekarang digalakkan sistem pertanian terpadu untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian.

    Perindustrian umumnya bertumpu pada sektor Minyak bumi dan Petrokimia terutama setelah ditemukannya sumber sumber minyak pada tanggal 3 Maret 1938. Selain itu juga untuk mengatasi kesulitan sumber air selain bertumpu pada sumber air alam (oase) juga didirikan industri desalinasi Air Laut di kota Jubail. Sejalan dengan tumbuhnya perekonomian maka kota-kota menjadi tumbuh dan berkembang. Kota-kota yang terkenal di wilayah ini selain kota suci Mekkah dan Madinah adalah Kota Riyadh sebagai ibukota kerajaan, Dammam, Dhahran, Khafji, Jubail, Tabuk dan Jeddah.

    Arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Hukum yang digunakan adalah hukum Syariat Islam dengan berdasar pada pengamalan ajaran Islam berdasarkan pemahaman sahabat Nabi terhadap Al Qur’an dan Hadits atau dengan kata lain pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Memiliki hubungan internasional dengan negara negara lain baik negara negara Arab, negara-negara anggota Organisasi Konfrensi Islam, maupun negara negara lain.

    Keluarga suku Qurays yang dikenal sebagai bangsawan dan pemimpin bangsa Arab, turunan pendiri dan pemelihara bangunan suci Ka’bah, Nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail, dimana Nabi Muhammad adalah salah satu dari Bani Hasyim Qurays, di wilayah Hijaz, sekarang merupakan salah satu suku penduduk di Saudi Arabia. Penduduk Arab Saudi adalah mayoritas berasal dari kalangan bangsa Arab sekalipun juga terdapat keturunan dari bangsa-bangsa lain serta mayoritas beragama Islam. Di daerah daerah industri dijumpai penduduk dari negara-negara lain sebagai kontraktor dan pekerja asing atau ekspatriat

    Inilah Kota Kota Penting di Arab Saudi

    MAKKAH

    Berkas:Mecca from Jabal Nur.JPGMekkah atau Makkah al-Mukarramah,  atau disingkat denganMakkah merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi. Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji dimana pada kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya. Dan bangunan Ka’bah ini yang menjadi patokan arah kiblat untuk ibadah salat umat Islam di seluruh dunia. Dan pada kota suci umat Islam ini tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, kota ini disebut juga dengan 11 nama yang berbeda

    Kota Mekkah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut kota Jeddah. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung gunung dengan bangunan Ka’bah sebagai pusatnya 21°25′24″N 39°49′24″E / 21.42333°LU 39.82333°BT / 21.42333; 39.82333 (Makkah Al Mukarramah). Dengan demikian, pada masa dahulu kota ini rawan banjir bila di musim hujan sebelum akhirnya pemerintah Arab Saudi memperbaiki kota ini dan merenovasi kota ini. Seperti pada umumnya kota kota di wilayah Arab Saudi, kota ini beriklim gurun.

    Perkembangan kota Mekkah tidak terlepas dari keberadaan Nabi Ismail dan Hajar sebagai penduduk pertama kota ini yang ditempatkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Pada perkembangannya muncul orang orang Jurhum yang akhirnya tinggal di sana. Pada masa berikutnya kota ini dipimpin oleh Quraisy yang merupakan kabilah atau suku yang utama di Jazirah Arab karena memiliki hak pemeliharaan terhadap Ka’bah. Suku ini terkenal dalam bidang perdagangan bahkan pada masa itu aktivitas dagang mereka dikenal hingga Damaskus, Palestina dan Afrika. Tokoh sebagai kepala kabilah Quraisy adalah Qussai yang dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.

    Pada tahun 571, Nabi Muhammad keturunan langsung dari Nabi Ismail serta Qussai, lahir di kota ini dan tumbuh dewasa. Pertama kali menerima wahyu dari Allah namun ajarannya ditolak kaumnya yang saat itu masih berada dalam kegelapan pemikiran (Jahilliyah) sehingga berpindah ke Madinah. Setelah Madinah berkembang, akhirnya nabi Muhammad kembali ke Mekkah dalam misi membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah yang dikenal dengan (Fathul Makkah).

    Pada masa selanjutnya Mekkah berada di bawah administrasi Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah, serta para Khalifah yang saat itu berkuasa di Damaskus (Dinasti Ummayyah), Bagdad (Dinasti Abbasiyah) dan Turki (Usmaniyah). Kemudian setelah hancurnya sistem kekhalifahan, kota ini disatukan di bawah pemerintahan Arab Saudi oleh Abdul Aziz bin Saud yang kemudian menjadi pelayan bagi kedua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah.

    Sebagai kota suci umat Islam dan tempat menunaikan ibadah haji, kota Mekkah setiap tahunnya menerima kunjungan dari umat islam dari berbagai negara, tentunya fasilitas kesehatan merupakan fasilitas pendukung utama yang menjadi perhatian khusus bagi pemerintah Arab Saudi.

    Masjidil Haram, kadangkala disebut juga dengan Masjid al-Haram ataupun Al-Masjid al-Ḥarām, merupakan masjid yang terletak di Kota Makkah Al Mukharamah, yang dibangun mengelilingi Ka’bah, yang menjadi arah kiblat umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat. Selain itu di masjid inilah salah satu rukun ibadah haji yang wajib dilakukan umat Islam yaitu tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

    Sebagai kota suci umat Islam, berdasarkan hukum yang berlaku di Arab Saudi, bagi Non-Muslim tidak diijinkan memasuki kota Mekkah ini[9].

     

    Rambu Petunjuk “Non-Muslim Bypass:” Non-Muslim tidak diizinkan memasuki kota Mekkah.

    Ka’bah  merupakan sebuah bangunan yang mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Kota Mekkah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi umat Islam. Dan bangunan ini yang menjadi patokan arah kiblat untuk ibadah salat, bagi umat Islam di seluruh dunia.

    Zamzam merupakan nama air yang diperoleh dari sebuah sumur mata air bawah tanah yang terletak dalam kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Ka’bah, dengan kedalaman sekitar 42 meter. Air zamzam ini merupakan sumber air bersih utama bagi kota Mekkah. Selain dikonsumsi untuk air minum, air ini juga digunakan sebagai air wuduk bagi jamaah yang akan melakukan ibadah salat di Masjidil Haram.

    MADINAH

    Madinah atau Madinah Al Munawwarah adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.

    Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah. Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

    Secara geografis, kota ini datar yang dikelilingi gunung dan bukit bukit serta beriklim gurun. Suhu tertinggi berkisar antara 30 °C sampai 45 °C pada waktu musim panas, dan suhu rata-rata berkisar antara 10 °C sampai 25 °C.

    Berkas:Madina Haram at evening .jpg

    Dari sektor ekonomi, terdapat sektor pertanian dan perkebunan terlebih perkebunan kurma yang sudah dikenal sejak masa lampau, peternakan selayaknya penduduk Arab serta perdagangan ditambah dengan sektor jasa terutama jasa pelayanan para peziarah di antaranya adalah usaha perhotelan dan penginapan.

    Selain dikenal sebagai kota pusat perkembangan Islam. Madinah juga merupakan pusat dari pendidikan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Juga banyak ulama-ulama dan Cendekiawan Islam yang muncul dari Madinah di antaranya adalah Imam Malik. Saat ini di Madinah terdapat berbagai Jami’ah (Universitas) dan perguruan perguruan tinggi Islam lainnya.

    RIYADH

    Riyadh adalah ibu kota Arab Saudi yang terletak di kawasan Nejd. Riyadh terletak di tengah semenanjung Arabia dan dihuni oleh lebih dari 4.500.000 orang (22% populasi nasional). Luas kota ini sekitar 1.554 km². Riyadh, Buraydah dan Al Kharj termasuk dalam pengembangan ‘koridor pusat’ Arab Saudi. Kawasan lain yang padat penduduknya ialah daerah pesisir — dekat Jeddah dan Mekkah di Laut Merah, dan dekat Hufur dan Dharan di Teluk Persia. Riyadh terbagi menjadi 17 kecamatan yang dikontrol oleh kotamadya pusat Riyadh dan Otoritas Pengembangan Riyadh.

    Walaupun terletak di area yang gersang, hujan kadang-kadang mengguyur Riyadh. Lima bendungan menampung air hujan. Selain itu, terdapat juga 96 sumur dan pipa sepanjang 467 km yang membawa air dari pusat desalinasi di Teluk Persia. Kebutuhan transportasi udara di Riyadh dilayani oleh Bandara Internasional Raja Khalid.

    Pada masa pra-Islam, pemukiman di Riyadh bernama Hajar. Lokasi ini dialiri oleh beberapa sungai (sekarang wadi) dan air tanah dapat diambil di sini. Tempat ini terkenal dengan buah kurma dan bunga orchard. Nama kota ini diambil dari kata Arab rowdhah (taman). Nama modern ini pertama-tama hanya merujuk pada sebagian pemukiman di mana terdapat banyak orchard. Perlahan-lahan nama “Riyadh” mencakup seluruh pemukiman. Hingga akhir abad ke-18, Riyadh merupakan bagian dari Negeri Saudi Pertama, dengan ibukota di Diriyah. Setelah kehancuran Diriyah pada tahun 1818 oleh Kekaisaran Ottoman, ibukotanya dipindahkan ke Riyadh. Sebagian kota Diriyah, kota yang terbuat dari bata lumpur, masih ada peninggalannya hingga kini.

    Riyadh dikuasai oleh Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud tahun 1902. Ia kemudian membangun Kerajaan Arab Saudi tahuhn 1932, dengan Riyadh sebagai ibukota. Namun ibukota diplomatik baru dipindahkan dari Jeddah tahun 1982. Riyadh kini mengalami tingkat pertumbuhan populasi yang tinggi yang dapat terlihat dari minimnya pengembangan kota ini sejak taun 1970-an.

    Jeddah

    Jeddah adalah kota pelabuhan utama di Arab Saudi baik pelabuhan laut maupun pelabuhan udara. Terletak di tepi Laut Merah dan sebagaimana kota-kota lainnya di Arab Saudi, Jeddah memiliki Iklim Gurun. Jeddah sebelumnya hanyalah sebagai desa nelayan pada 2500 tahun yang lalu. Didirikan pada tahun 647 M oleh Khalifah Utsman bin Affan yang akhirnya digunakan sebagai pelabuhan untuk kepentingan jamaah haji terutama pada masa-masa perjalanan jamaah haji dilakukan melaui laut, bukan melalui udara seperti sekarang ini.

    Sebagai kota dagang, Jeddah memiliki fasilitas kota yang cukup memadai. Pelabuhan lautnya merupakan pelabuhan utama yang merupakan sentral perdagangan menuju berbagai negara khususnya negara-negara di pesisir timur Afrika, serta Yaman. Pelabuhannya merupakan pelabuhan bebas.

    Di Jeddah terdapat Bandar udara yang cukup terkenal yakni Bandara King Abdul Aziz yang memiliki tingkat kesibukan tinggi terutama pada musim haji. Selain digunakan untuk melayani penerbangan haji, bandara Jeddah digunakan untuk kepentingan komersial biasa selain Dammam dan Riyadh.

    Belum jelas asal usul jeddah, namun dari sumber sumber yang umumnya dibawa oleh jamaah haji, kata Jeddah berasal dari kata dalam bahasa Arab Jaddah yang berarti nenek sebab disana ada makam yang diyakini sebagai makam Hawa istri Nabi Adam yang merupakan nenek moyang manusia. Sumber lain mengatakan bahwa Jeddah berasal dari kata Jiddah dalam bahasa Arab yang berarti lepas pantai.

    Dhahran

    Dhahran merupakan sebuah kota di Arab Saudi. Kota ini terletak di Provinsi Timur dan merupakan pusat administrasi industri minyak Arab Saudi. Pada tahun 2004, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 11.300 jiwa dan memiliki luas wilayah 100 km². Di wilayah metropolitan, berjumlah 97.446 jiwa.

    MINA

    Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer dari kota Mekkah, Arab Saudi. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lontar jumrah dalam ibadah haji tahunan, yang berlangsung sejak matahari terbit hingga terbenam pada hari terakhir ibadah haji. Selain itu, di Mina juga terdapat tenda-tenda yang menjadi akomodasi bagi ratusan ribu jemaah haji.

    ARAFAH

    Arafah adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang luas ini, pada satu hari (siang hari) tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah berkumpullah lebih dari dua juta umat Islam dari berbagai pelosok dunia untuk melaksanakan inti ibadah haji, ibadah Wukuf. Ada beberapa tempat utama di Arafah yang selalu dijadikan kunjungan jamaah haji: Jabal Rahmah, sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang tempat bertemunya nenek moyang manusia Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi. Masjid Namira

     

    New Articles

    This Page Under Construction

    This Page Under Construction

    This Page Under Construction

     

    Supported By :

     

    KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

    “PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

     Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

    email : judarwanto@gmail.com  http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

         

       

      Copyright 2010. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved