Category Archives: Budaya dan Islam

Inilah Sunah Kegiatan Yang Dilakukan Rasulullah Setelah Shalat Idul Adha

  • Tidak ada sholat sunnah sesudah salat Ied. Dari Ibn abbas,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lapangan ketika Idul Fitri, kemudian shalat dua rakaat. Tidak shalat sunah sebelum maupun sesudahnya. Dan beliau bersama Bilal. (HR. Bukhari dan al-baihaqi).
  • Mendengarkan khutbah setelah salat Ied. Mendengarkan khutbah setelah salat Id adalah sunah, ini didasarkan pada hadits shahih, bahwasanya Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya kami berkhutbah, barang siapa yang mendengarkannyamaka duduklah dan barang siapa yang ingin pergi maka pergilah.”[H.R. Abu Dawud, An Nasai Dan Ibnu Majah]. Seusai shalat Id, dibacakan khutbah. Hukum pelaksanaan khutbah ini sunnah. Meskipun tidak wajib, saking dianjurkannya, Nabi menyuruh orang-orang untuk bisa turut menyimak khutbah hari raya. Khutbah ini dilakukan dua kali, sebagaimana khutbah Jumat. Rukunnya pun sama: hamdalah, shalawat, wasiat taqwa, serta berturut antara khutbah pertama dan kedua. Untuk khutbah hari raya, dianjurkan pula untuk dibuka dengan membaca takbir. Begitu pula untuk para jamaah, jangan keburu pulang. Mari kita simak dahulu penjelasan khatib saat berkhutbah.
  • Pulang lewat jalan yang Berbeda Dalam sebuah hadis disebutkan: عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ. Artinya: Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: “Seusai shalat Id, Nabi biasa pulang lewat jalan yang berbeda.” (HR. at-Tirmidzi). Mengapa mesti lewat jalan yang berbeda? Imam an-Nawawi memaparkan dalam Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab bahwa hikmah pulang lewat jalan yang berbeda ini agar saat berangkat lewat jalan yang sedikit lebih jauh, dan pulang lewat jalan yang lebih cepat. Hemat beliau, berangkat itu lebih baik dari pulang, dan semakin banyak langkah akan lebih baik. Kendati begitu, ini adalah anjuran yang bisa disesuaikan tergantung situasi dan kondisi yang ada. Ada pula ulama yang menilai bahwa toh hitungan pahala langkah ke masjid, itu dihitung seluruhnya: baik pergi dan pulangnya.
  • Bersilaturahmi. Seusai shalat hari raya, Anda bisa sejenak bertamu dan bersalaman dengan orang-orang sekitar Anda. Barang tentu jamaah sebelah Anda adalah sanak kerabat atau tetangga yang lama tak berjumpa. Nabi sendiri menyuruh umat muslim untuk menyambung silaturahim. Dalam hadis lain, yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, disebutkan bahwa pada hari Id ada seorang sahabat yang mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada Rasul saat hari raya. Nabi pun membalas doa dengan hal yang sama. Saling mendoakan inilah yang bisa menjadikan kita lebih rukun dan akrab, dan silaturahim tetap terjaga. Itulah sunnah yang bisa Anda lakukan seusai shalat Id. Jangan lupa berkunjung ke tetangga, menyambung silaturahmi serta saling memaafkan – plus barangkali sekalian mencicipi suguhan camilan saat bertandang ke rumah tetangga.
  • Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad selalu berkurban setiap setiap tahun. Mulai dari kambing hingga puluhan ekor unta, Nabi Muhammad menyembelih hewan kurbannya dengan tangannya sendiri. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnumajah. “Nabi menyembelih dua ekor kambing belang (putih hitam) dan bertanduk, lalu beliau membaca basmallah dan bertakbir. Sungguh aku telah melihat beliau menyembelih hewan kurbannya dengan tangannya sendiri sambil meletakkan kakinya di atas leher hewan kurbannya”. [HR. Ibnumajah]. Hewan kurban Nabi Muhammad biasanya adalah kambing kibasy bertanduk, jantan, dan berwarna putih hitam namun lebih dominan warna putihnya. Pada satu waktu, Nabi Muhammad menyembelih hewan kurban untuk umatnya seperti diriwayatkan Jabir bin ‘Abdillah RA. Dia berkata “Saya menghadiri salat Idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhotbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku”. Pada lain waktu, Nabi Muhammad juga pernah berkurban 100 ekor unta. Hal ini dilakukan pada tahun terakhir pelaksanaan haji sebelum beliau meninggal. Beliau menyembelih 63 ekor unta sesuai dengan umurnya saat itu. Sedangkan sisanya disembelih oleh Ali bin Abi Thalib RA. Selain menyembelih hewan kurban untuk umatnya semasa hidup, Nabi Muhammad juga menyembelih kurban sapi atas nama istri-istrinya. Daging dari hewan-hewan kurban itu pun kemudian dibagikan kepada para umat yang membutuhkan.

12 Tuntunan Rasulullah Sebelum Melaksanakan Shalat ‘IDUL ADHA

12 Tuntunan Rasulullah Sebelum Melaksanakan Shalat ‘Ied Adha

  1. Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”
  2. Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”
  3. Tidak makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul adha. Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”. Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.
  4. Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan, كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”
  5. Takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan: Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.
  6. Di antara lafazh takbir adalah, اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan.
  7. Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.
  8. Anak kecil ikut shalat. Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab, نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ “Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”
  9. Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.”
  10. Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.”
  11. Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.”
  12. Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied. Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata, صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.. “Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”. Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”

Video”Tatacara Shalat Idul Adha Sesuai Tuntunan Rasulullah” Islam on YouTube

Salat Id adalah ibadah salat sunah yang dilakukan setiap hari Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah, tetapi sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Waktu Berkurban, Kapan Sebaiknya dan Seharusnya ?

Awal waktu

Waktu untuk menyembelih kurban bisa di ‘awal waktu’ yaitu setelah salat Id langsung dan tidak menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan salat Id, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran salat Id. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib menggantinya .

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut:

Hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى “Barangsiapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih hewan kurban seperti kami, maka telah benar kurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum salat maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553) Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552).

Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu yang menyembelih sebelum salat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan: وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ شَيْءٌ “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum salat), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.”

Akhir waktu

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan Al-Bashri (imam penduduk Bashrah), ‘Athabin Abi Rabah (imam penduduk Makkah), Al-Auza’i (imam penduduk Syam), dan Asy-Syafi'i (imam fuqaha ahli hadits). Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Daimah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412).
Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Adapun hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ يَشْرِي أَحَدُهُمُ اْلأُضْحِيَّةَ فَيُسَمِّنُهَا فَيَذْبَحُهَا بَعْدَ اْلأضْحَى آخِرَ ذِي الْحِجَّةِ “Dahulu kaum muslimin, salah seorang mereka membeli hewan kurban lalu dia gemukkan kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Baihaqi, 9/298) Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengingkari hadits ini dan berkata: “Hadits ini aneh.” Demikian yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/193). Wallahu a’lam.

Menyembelih di waktu siang atau malam?

Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih kkurban di waktu pagi, siang, atau sore, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)
Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih kurban di malam hari. Yang rajih adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti kurang terkoordinasi pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa.
Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan tidak menyebutkan malam), tidaklah menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja.
Adapun hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الذَبْحِ بِاللَّيْلِ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari.” Al-Haitsami rahimahullahu dalam Al-Majma’ (4/23) menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk.” Sehingga hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

Fiqih Kurban: Daging Qurban Untuk Siapa ?

Fiqih Kurban: Daging Qurban Untuk Siapa ?

Siapakah yang berhak (mustahiq) menerima daging qurban? Sembelihan qurban berbeda dengan zakat. Zakat harus ada mustahiq. Jadi, pertanyaan yang tepat adalah : Daqing qurban itu boleh diberikan dimakan atau diberikan kepada siapa ? Daging qurban dianjurkan dimakan oleh mudhahhi sekedarnya untuk mengambil barakah. Selebihnya dihadiahkan atau disedekahkan kepada siapa saja, terutama faqir miskin. Kafir dzimmi boleh diberi daging qurban dengan syarat muslimin disekitarnya sudah diberikan terlebih dahulu. Untuk qurban nadzar yang bersifat wajib, maka Mudhahhi tidak boleh memakannya.

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Al-Hajj : 28)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untu-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. (Al-Hajj : 36)

عَن ابنِ عَبَّاسٍ – رضي الله عنه – في صِفَةِ أُضحِية النبي – صلى الله عليه وسلم – قاَلَ : [ وَيُطعِمُ أَهلَ بَيتِهِ الثُّلُثَ وَيُطعِمُ فُقَرَاءَ جِيرَانِهِ الثُّلُثَ وَيَتَصَدَّقُ عَلَى الُّسؤَالِ بِالُّثلُثِ ] رواه الحافظ أبو موسى الأصفهاني في الوظائف وقال : حديث حسن

Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA tentang cara berqurbannya nabi SAW, dia berkata : Beliau SAW memberikan makan (dengan daging qurban tersebut ) keluarga Beliau SAW sepertiganya, juga memberikan kepada para tetangga beliau yang faqir sepertiganya dan menyedekahkan sepertiganya lagi kepada para peminta-minta. (HR. Al-Hafizh Abu Musa Al-Isfahani dalam kitabnya AlWazha’if dan mengatakan bahwa hadis ini baik derajatnya) Mayoritas ulama madzhab Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa orang yang berqurban karena nadzar tidak boleh memakan daging sembelihannya. Sedangkan untuk keluarganya diperbolehkan jika ingin memakannya. Para ulama kedua madzhab ini beralasan bahwa qurban nadzar adalah janji bersedekah kepada Allah dalam bentuk hewan qurban. Yang namanya sedekah tentu tidak boleh memakan sedekahnya itu sendiri.

Adab Menyembelih Qurban Sesuai Tuntunan Rasulullah

Adab Menyembelih Qurban Sesuai Tuntunan Rasulullah

  1. Niat

  2. Memastikan bahwa pisau untuk menyembelih setajam mungkin

عَنْ شَدَّادِ بْنِ اَوْسٍ قَالَ: ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. قَالَ: اِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلاِحْسَانَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ. فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوا اْلقِتْلَةَ وَ اِذَا ذَبَحْتُمْ فَاَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَ لْيُحِدَّ اَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ. مسلم (رواه مسلم)

Dari Syaddad bin Aus, ia berkata : Dua hal yang aku hafal dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh, bunuhlah dengan baik. Dan apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan baik, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya, dan menyenangkan binatang sembelihannya”. (HR. Muslim)
3. Tidak mengasah atau memperlihatkan pisau kepada hewan yang akan disembelih.

  1. Mengkondisikan agar hewan yang akan disembelih tidak melihat hewan yang sedang disembelih.

  2. Menginjakkan kaki di leher hewan yang akan disembelih. Kondisi ini jika memungkinkan.

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ ص بِكَبْشَيْنِ اَمْلَحَيْنِ اَقْرَنَيْنِ. قَالَ: وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَ رَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا، قَالَ: وَ سَمَّى وَ كَبَّرَ

Anas RA berkata : “Rasulullah SAW telah menyembelih qurban dengan dua ekor domba yang bagus dan bertanduk”. Ia (Anas) berkata, “Saya melihat beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri. Dan saya lihat beliau meletakkan kaki beliau diatas lambung/batang leher binatang itu”. Ia (Anas) berkata, “Beliau membaca Basmalah dan bertakbir (HR. Muslim).
6. Memutuskan tenggorokan kerongkongan dan dua urat leher.

  1. Memutuskan leher dari badan hewan ketika hewan tersebut dipastikan sudah mati.

Penyembelihan Qurban Sesuai Tuntunan Rasulullah

Penyembelihan Qurban Sesuai Tuntunan Rasulullah

  1. Mudhahhi (yang berqurban) disarankan tidak memotong rambut atau kuku sampai sampai hewannya tersebut disembelih
    عَن أُم سَلَمَةَ أَنَّ النَّبي صلى الله عليه وسلم قال : إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ (رواه مسلم)

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih (kurban) maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya” (HR Muslim).
2. Menyembelih sendiri hewannya. Jika tidak mampu boleh mewakilkan kepada orang lain. Adapun untuk wanita lebih afdhal mewakilkan kepada laki-laki walaupun ia mampu menyembelih sendiri
3. Hadir saat pemyembelihan jika mewakilkan
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا فَاطِمَةُ قُومِي إِلَى أُضْحِيَّتِكِ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا أَنْ يُغْفَرَ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِكِ (أخرجه الحاكم)

Dari Said Al-Khudri RA dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan qurbanmu, sesungguhnya dengan darah pertama yang jatuh dari hewan qurban tadi, maka akan diampuni dosamu yang telah berlalu .“ (HR. Al-Hakim).
4. Menyembelih dengan membaca basmalah, shalawat, menghadap qiblat, bertakbir sebelum atau sesudah menyembelih dan membaca do’a :
أَللَّهُمَّ هَذَا مِنكَ وَ اِلَيكَ فَتَقَبَّل مِن …

Ya Allah (qurban) ini dari-Mu dan untuk-Mu maka terimalah (qurban) dari… (sebutkan nama yang berqurban)
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ ص بِكَبْشَيْنِ اَمْلَحَيْنِ اَقْرَنَيْنِ. قَالَ: وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَ رَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا، قَالَ: وَ سَمَّى وَ كَبَّرَ (رواه مسلم)

Anas RA berkata : “Rasulullah SAW telah menyembelih qurban dengan dua ekor domba yang bagus dan bertanduk”. Ia (Anas) berkata, “Saya melihat beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri. Dan saya lihat beliau meletakkan kaki beliau diatas lambung/batang leher binatang itu”. Ia (Anas) berkata, “Beliau membaca Basmalah dan bertakbir (HR. Muslim).

Fiqih QURBAN: Persyaratan Syah Hewan Qurban

Fiqih QURBAN: Persyaratan Syah Hewan Qurban

  1. Matanya tidak buta, baik satu atau kedua-duanya
  2. Hewan tidak sakit
  3. Kakinya tidak pincang
  4. Tidak kurus (sumsumnya terlihat)

وَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا : الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا ، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا ، وَالْكَبِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ)

Dari Al-Bara’ Ibn Azib RA berkata : “ Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami lalu Beliau bersabda : ”Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu: hewan yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersumsum.” (HR. Ahmad dan Imam Empat, Hadis ini dishahihkan oleh Ibn Hibban dan Tirmidzi).

Syarat dan pembagian daging kurban

Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :

  • Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal tanpa berutang.
  • Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.
  • Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan kuping serta ekor harus utuh.
  • Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing berumur lebih dari 1 tahun.
  • Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.
  • Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.

Sejarah Qurban

Qurban ( قربان ) artinya dekat. Dalam literatur Fiqh, Qurban juga disebut dengan Udhiyah ( أضحية), yang artinya binatang sembelihan. Adalah menyembelih hewan khusus dengan niat mendekatkan diri kepada Allah yang dikerjakan pada waktu khusus, atau menyembelih hewan ternak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah yang dilaksanakan pada hari-hari penyembelihan.

Sejarah Qurban

Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur’an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual kurban yakni oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra Nabi Adam alaihis salam, serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas perintah Allah.

Habil dan Qabil

Kisah Habi dan Qabil di kisahkan pada al-Qur’an:
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.(Al Maaidah: 27)”

Ibrahim dan Ismail

Disebutkan dalam Al Qur’an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur’an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya dengan domba. Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan hal tersebut.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffaat: 102-107)

Qurban Merupakan Syariat Para Nabi dan Rasul

Selain di zaman Nabi Adam AS, ternyata qurban juga disyari’atkan kepada para Nabi dan Rasul yang lain.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ

Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (Al-Hajj : 34).

Sejarah yang paling masyhur adalah qurban Nabi Ibrahim AS melalui perintah menyembelih putra beliau yaitu Nabi Ismail AS.

وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ ﴿٩٩﴾ رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّى أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰإِبْرَٰهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰؤُا ٱلْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَٰمٌ عَلَىٰ إِبْرَٰهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿١١٠﴾ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ ﴿١١١﴾

(99). Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (100). ”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (101). Maka Kami beri kabar gembira kepadanyadengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). (102). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusahabersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimanapendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akanmendapatiku termasuk orang yang sabar.” (103). Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya ataspelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). (104). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (105). Sungguh, engkau telah membenarkanmimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106). Sesungguhnya ini benar-benar suatuujian yang nyata. (107).Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (108). Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (109). Selamat sejahtera bagi Ibrahim. (110). Demikianlah Kami memberi balasan kepadaorang-orang yang berbuat baik. (111). Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (As-Shaffat : 99-111).

Qurban disyari’atkan pada tahun ke 2 Hijriyah. Banyak hadis-hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW seringkali melaksanakan Qurban. Binatang qurban yang disembelih pada masa Nabi SAW adalah kambing atau domba, unta dan sapi. Untuk unta dan sapi bisa berserikat sebanyak tujuh orang. Sedangkan untuk kambing atau domba berlaku satu orang.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي (رواه أحمد)

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Aku ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘Idul Adha di Mushalla(lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanyaseekor kambing kibasy, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata,”Dengan menyebut nama Allah, Allahuakbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.” (HR. Ahmad)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحُدَيْبِيَةَ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir ibn Abdullah, ia berkata: “Kami menyembelih hewan qurban bersama Rasulullah saw pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuktujuh orang, dan sapi untuk tujuh orang.”(HR. Muslim)

Qurban Pada Masa Rasulullah SAW

Qurban disyari’atkan pada tahun ke 2 Hijriyah. Banyak hadis-hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW seringkali melaksanakan Qurban. Binatang qurban yang disembelih pada masa Nabi SAW adalah kambing atau domba, unta dan sapi. Untuk unta dan sapi bisa berserikat sebanyak tujuh orang. Sedangkan untuk kambing atau domba berlaku satu orang.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي (رواه أحمد)

Dari Jabir Radhiyallahu anhu , ia berkata: “Aku ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘Idul Adha di Mushalla(lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanyaseekor kambing kibasy, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata,”Dengan menyebut nama Allah, Allahuakbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.” (HR. Ahmad)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحُدَيْبِيَةَ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir ibn Abdullah, ia berkata: “Kami menyembelih hewan qurban bersama Rasulullah saw pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuktujuh orang, dan sapi untuk tujuh orang.”(HR. Muslim)

DOA PILIHAN: Doa Sewaktu Wukuf Di Padang Arafah

DOA PILIHAN: Doa Sewaktu Wukuf Di Padang Arafah

بِسۡـــــــــمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

wukuf di arafah 1.

Doa Arafah ini elok dibaca oleh para Jemaah Haji sewaktu berwukuf di Padang Arafah atau boleh diberikan kepada ahli keluarga, saudara mara dan para sahabat yang akan pergi menunaikan haji.

A’UUDZU BILLAAHI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIM.

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.

Daku berlindung kepada Allah daripada syaitan yang terkutuk.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL-‘AALAMIIN. SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LAILAHA ILALLAHU WALLAHUAKBAR.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.

LAA ILAAHA ILLALLAHU WALLAAHU AKBARU, LAA ILLAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA ILAAHA ILLALLAAHU WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Tiada yang berhak disembah melainkan Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, untuk-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya kepujian dan Dia berkuasa ke atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada daya dan upaya serta aka da kekuatan selain dengan Allah jua.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa-dosa kami dan maafkanlah kesilapan kami zahir dan batin.

Ya Allah! Ampunkanlah dosa-dosa kami, dosa kedua ibu bapa kami, dosa masyarakat kami dan dosa seluruh umat Islam yang telah mati dan yang masih hidup.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Kami pohonkan apa yang telah dipohonkan oleh Rasulullah ﷺ, dan kami meminta perlindungan dari apa yang pernah dimita perlindungan oleh Rasulullah ﷺ.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Kami pohonkan syurga tanpa hisab, dan berilah kekuatan taufiq dan hidayah kepada kami, supaya kami dapat melakukan sebab-sebab yang membawa kami ke arahnya, selamatkan kami ya Allah dari sebab-sebab yang membawa kami ke neraka.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYUL’AZIM.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Dikau sahajalah yang mengetahui kelemahan diri kami zahir dan batin, berilah kekuatan, taufiq dan hidayah kepada kami supaya kami dapat memperbaiki kelemahan diri kami ya Allah.

Tambahkanlah ya Allah kepada kami ilmu, iman dan amal, hidupkanlah kami dalam Islam dan matikanlah kami dalam Islam.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Kami pohonkan kepadaMu iman yang sempurna, ilmu yang memberi manfaat, rezeki yang halal, anak yang soleh, rumahtangga yang bahagia, usia yang berkat, doa yang mustajab, hajat yang tertunai, kesihatan yang berterusan, hutang yang terbayar, keselamatan di dunia ini dan di akhirat nanti.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Dikau sahajalah yang mengetahui segala yang berlaku di hati kami, hidupkan hati ini dan sampaikanlah hati ini kepada Dikau, sembuhkanlah segala penyakit yang ada di dalam hati kami, selamatkanlah hati kami dari sifat-sifat yang keji dan jauhi kami dari perkara-perkara yang boleh mematikan hati kami.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYUL AZIM.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Jadikanlah hati kami yang sentiasa menyedari akan hakikat ketuhanan dan keagungan kerajaanMu dan masa depan kami di akhirat nanti.

Ya Allah! Jadikanlah kami ini hambaMu yang hanya mengabdikan diri kepadaMu dengan sebaik-sebaiknya, berilah kekuatan taufiq dan hidayah kepada kami supaya dapat kami lakukan apa-apa yang diperintahkan olehMu dan meninggalkan segala apa yang dilarang olehMu.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Jadikanlah hati kami ini hati yang sentiasa menyedari masa depan kami di akhirat nanti dan jadikanlah kami hambaMu yang sentiasa bersedia untuk menghadapi masa depan kami selepas kematian kami.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Hidupkanlah kami dalam iman dan matikanlah kami dalam iman, selamatkanlah iman kami dari segala gangguan syaitan semasa kami menghembuskan nafas yang akhir nanti.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Selamatkanlah kami semasa berada dalam kubur, jadikanlah kubur kami satu taman dari taman-taman syurga, selamatkanlah kami dari segala angkara azab kubur dan jangan Dikau jadikan kubur kami itu salah satu lubang dari lubang-lubang neraka.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Selamatkanlah kami semasa dalam perjalanan menuju Mahsyar, selamatkanlah kami ya Allah, semasa berada di padang mahsyar dan masukkanlah kami ke dalam tujuh golongan orang yang mendapat bayangan naungan arasyMu ya Allah.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Selamatkanlah dosa kami dan maafkanlah kesilapan kami zahir dan batin semasa kami dijalankan hisab, hisabkanlah kami ya Allah dengan hisab yang sedikit, berilah peluang kepada kami untuk mendapat syafaat nabi kami Muhammad ﷺ.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Jadikanlah kami orang yang berjaya dalam hidup ini dan berjaya menerima suratan amal dengan tangan kanan.

Ya Allah! Berilah kesempatan kepada kami meminum air kolam nabi kami ‘al-Kauthar’. Selamatkan kami semasa menyeberangi titian sirital mustaqim dan masukkanlah kami ke syurgaMu bersama-sama orang-orang yang mulia di sisiMu ya Allah.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILAHIL ALIYYUL AZIM

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Apakah agaknya yang Dikau akan lakukan pada petang, saat dan ketika ini kepada seorang hambaMu yang hina yang mengaku berdosa dan bersalah, yang merayu kepadaMu di atas kejahatan, yang bertaubat kepadaMu kerana dosanya, yang memohon keampunan kepadaMu kerana kezalimannya, yang mengharap kemaafanMu kerana kesilapannya, yang merayu kepadamu supaya tercapai segala hajatnya, yang mengharapkan limpahan rahmatMu pada tempat wuquf ini, walaupun dengan dosa yang begitu banyak laksana buih di lautan.

Ya Allah! Kami sekelian keluar menuju kepadaMu dan berhenti di perkarangan rumahMu, kepadaMulah kami meletakkan segala harapan kami, kepadaMulah kami memohon kemurahan rahmat, kami takut kepada dosa kami, oleh itu kepadaMulah kami berlindung dari bencana dosa kami.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Dikaulah yang memiliki seluruh hajat orang-orang yang memohon, yang mengetahui seluruh kandungan hati orang-orang yang tidak merayu.

Ya Allah! Dikau telah sediakan sajian kepada setiap tetamu dan kami sekelian adalah tetamu kepadaMu, oleh itu kurniakanlah syurga sebagai sajianMu kepada kami.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Setiap rombongan dikurniakan hadiah, setiap pelawat dikurniakan cenderahati, setiap pemohon dikurniakan pemberian, setiap yang berharap dikurniakan habuan, setiap yang memohon rahmat mendapat rahmatMu, maka kami sekelian datang berkunjung ke rumahMu yang mulia ini dan berada di tempat ibadah yang agong ini dengan harapan mendapat rahmat dan keampunanMu, oleh itu janganlah hampakan harapan kami semua ya Allah.

Ya Allah Ya Tuhan Kami! Perkenankanlah permohonan kami ini, mustajabkanlah doa kami ini ya Allah, dengan berkat nabi kami Muhammad ﷺ. Dan dengan berkat amalan kami yang paling ikhlas kepadaMu ya Allah.

Allahhumma Ya Allah! Wahai yang maha mendengar

Tidak mungkin kaki kami mampu melangkah ke tempat ini kecuali Dikau yang menguatkan

Tidak mungkin tergerak di hati kami ingin menunaikan haji kecuali Dikau yang menggerakkan

Tidak mungkin seringgit pun kami miliki kecuali Dikau yang memberikan

Tidak mungkin kami sihat kecuali Dikau yang menyihatkan

Tidak mungkin kami dapat membantu tubuh ini berwuduk kecuali Dikau yang mengajarkan

Tidak mungkin lidah ini dapat menyebut namamu kecuali Dikau yang membimbing ya Allah

Betapa ramai makhluk yang Dikau ciptakan

Betapa sedikit yang berada di Arafah ini ya Allah

Ya Rabbi!

Dengan apa kami mensyukuri nikmat haji ini ya Allah kecuali berharap kepadaMu

Terimalah haji kami ini ya Allah

Terimalah haji kami ini ya Allah

Terimalah haji kami ini ya Allah

ALLAHUMMAJ’ALHAJJAN MABRURAA, WA SA’YAN MASYKUURA WA DZANBAN MAGHFUURA.

RABBANA ZOLAMNA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNA LANA KUUNANNA MINAL KHOSIRIN.

Ya Allah! Ampuni seluruh dosa-dosa kami

Dikau menjanjikan haji yang mabrur

Bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan

Alangkah indahnya jika kami Dikau pilih demikian ya Allah

Ya Allah! Dikau Maha Mengetahui betapa menderitanya diri kami dengan lumuran dosa

Betapa sengsaranya hidup kami dengan menutupi aib

Betapa hinanya diri kami dengan maksiat.

Bersihkan kami ya Allah

Bersihkan dosa kami ya Allah.

Ampuni dosa kami kepada orang tua kami

Ampuni jikalau mereka menyesal melahirkan kami

Ampuni dosa kami kepada keluarga kami ya Allah,

Kepada anak-anak kami, jangan biarkan mereka menuntut kami di akhirat

Berikan kesempatan bagi kami memperbaiki segalanya.

RABBANA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNAA LILMUTTAQIINA IMAMA.

Ampuni Ya Allah! Jika di sekujur tubuh kami ada harta haram, di rumah kami banyak barang haram

Padahal Dikau mengharamkan ke syurga bagi yang ditubuhnya ada daging haram

Berikan kesempatan kami untuk menyucikan diri dari harta haram ya Allah

Jauhkan sejauh-jauhnya ya Allah

Cukupi diri kami dengan rezekiMu yang halal

Ya Allah! Ampuni jikalau kami sering menzalimi hamba-hambaMu yang lemah

Berikan kesanggupan bagi kami untuk terpelihara dari kezaliman.

YA SAMIUL ALIM!

Wahai Yang Maha Mendengar!

Hanya Dikaulah tumpuan harapan kami

Jadikan kaum muslimin ini menjadi suami yang benar

Menjadi ayah yang jujur

Menjadi lelaki yang soleh

Jadikan kaum muslimah ini menjadi isteri yang solehah

Menjadi ibu yang solehah

Menjadi muslimah yang terpelihara

Kurniakan kepada kami ya Allah, keturunan yang lebih baik dari kami

Lindungi dari kederhakaan dan kehinaan dunia dan akhirat

Ya Allah! Berkatilah sisa umur kami

Berkatilah rezeki yang Dikau kurniakan kepada kami

Berkatilah ilmu yang Dikau kurniakan

Berkatilah sisa umur ini

ALLAHUMMAGHFIR LILMU’MININ WAL MU’MINAT MUSLIMIN WAL MUSLIMAT, AL AHYAAI MINHUM WAL AMWAAT..

Ya Allah! Selamatkan umat Islam ya Allah

Selamatkan umat Islam ya Allah

Jangan biarkan Dikau saksikan kami terhina seperti ini

Persatukan hati kami ya Allah

Bangkitkan para pemimpin yang mencintaiMu dan mencintai umatMu

Tolonglah saudara kami yang teraniaya di penjuru mana pun ya Allah

Jangan biarkan kaum zalimin erjaya atas kaum beriman ya Allah

Jangan biarkan kaum yang ingkar kepadaMu menzalimi kaum yang bersujud kepadaMu

Bantulah saudara kami pejuang-pejuang Islam dan umat Islam di Palestin, Iraq, Afghanistan dan seluruh pejuang agamaMu.

Ya Allah! Mereka dalam genggamanMu ya Allah

Ya Allah! Cegahlah kezaliman ke atas umatMu ya Allah.

Ya Allah! Selamatkan negara kami ya Allah

Dikaulah Yang Maha Mengetahui keadaan negara kami

Jangan biarkan umatMu seramai ini ditindas dan dihina

Bangkitkan ya Allah

Jadikan negara kami negara yang memancarkan cahaya Islam

Menjadi negara yang rahmatan lil’alamin

Ya Allah! Kurniakan kepada kami pemimpin yang soleh

Para pemimpin yang mencintai umatMu

Para pemimpin yang teguh hidup di jalanMu

Para pemimpin yang benar-benar menjadi suri tauladan bagi kami.

Ya Allah Yang Maha Agung!

Undanglah kami, keluarga kami dan keturunan kami,

Dengan orang-orang yang berbuat baik kepada kami.

Ya Allah! Izinkan kelak kami bertemu denganMu Ya Allah

Bertemu dengan RasulMu

Bertemu dengan kekasih-kekasihMu.

RABBANA AATINA FIDDUNYA HASNAH WAFIL AKHIRATI HASANAH WAQINA A’ZABANNAR.

RABBANA TAQOBBAL MINNA INNAKA ANTA SAMIUL’ALIM WATUB ALAYNA INNAKA ANTATTAWABURRAHIM. SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YAASHIFUUN WASALAMUN ALAL MURSALIN WALHAMDULILLAHI RABBIL ALAMIN.

Lafadz Lengkap Takbir Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha

Lafadz Takbir Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha

Takbir 1
اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ
لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ
اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
“Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar,
Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar
Allaahu akbar walillaahil hamd’.”

Artinya :

” Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah. ”

Takbir 2

اللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا
وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا.
.لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن,
وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن
لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه,
لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر,
اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد
” Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,
Wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiillaa.
Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin,
Walau karihal kaafiruun, walau karihal musyrikun, walau karihal munafiqun.
Laa ilaaha illallaahu wahdah, shodaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundahu wahazamal ahzaaba wahdah.
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil hamd.”

Artinya:

“Allah maha besar dan juga sempurna kebesaran-Nya, Segala puji bagi-Nya dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada yang kami sembah selain kepada-Nya, Kami memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, musrik, dan munafiq membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya. Dia Maha menepati janji. Dan menolong hamba-hamba-Nya, Memuliakan bala tentara-Nya dan menghancurkan musuh-musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan Segala Puji hanya bagi Allah.”

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

  • روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

  • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا

احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

  1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
    Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

  1. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
    Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي
“Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

  1. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
    Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

  1. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
    Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

  1. Banyak Beramal Shalih.
    Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

  2. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
    Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

  3. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
    Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما
“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].

  1. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
    Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره
“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain :

فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه
“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

  1. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
    Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

  2. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
    Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya

Al-Fajr ayat 1-3, Kehebatan Ibadah Sunah 10 Hari Dzulhijah

Al-Fajr ayat 1-3, Kehebatan Ibadah Sunah 10 Hari Dzulhijah

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu.

Al-Fajr merupakan suatu hal yang telah dimaklumi, yaitu subuh, menurut Ali, Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujaliid, dan As-Saddi. Diriwayatkan pula dari Masruq dan Muhammad ibnu Ka’b, bahwa makna yang dimaksud dengan fajr ialah fajar Hari Raya Idul Ad-ha, yaitu sepuluh malam terakhir.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah salat yang dikerjakan di saat fajar (salat fajar), sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah. Dan menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah seluruh siang hari; ini menurut suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Mengenai sepuluh malam, makna yang dimaksud ialah tanggal sepuluh bulan Zul Hijjah; sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf.
Di dalam kitab Sahih Bukhari telah disebutkan dari Ibnu Abbas secara marfu’:
“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ” -يَعْنِي عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ -قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: “وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ”
Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama dari bulan Zul Hijjah. Mereka (para sahabat) bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama dari bulan Muharam, menurut apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ibnu Jarir, tetapi tidak menisbatkannya kepada siapa pun sumber yang mengatakannya.
Abu Kadinah telah meriwayatkan dari Qabus ibnu Abu Zabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam yang sepuluh. (Al-Fajr: 2) Bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam yang pertama dari bulan Ramadan; tetapi pendapat yang benar adalah yang pertama tadi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنَا عَيَّاش بْنُ عُقْبَةَ، حَدَّثَنِي خَير بْنُ نُعَيم، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ الْعَشْرَ عَشْرُ الْأَضْحَى، وَالْوَتْرُ يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّفْعُ يَوْمُ النَّحْرِ”.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Iyasy ibnu Uqbah, telah menceritakan kepadaku Khair ibnu Na’im, dari Abuz Zubair. dari Jabir. dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Sesungguhnya malam yang sepuluh itu adalah malam yang sepuluh bulan Zul Hijjah, dan al-watr (ganjil) adalah hari ‘Arafah, sedangkan asy-syaf’u (genap) adalah Hari Raya Kurban.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Raff dan Abdah ibnu Abdullah, masing-masing dari keduanya dari Zaid ibnul Habbab dengan sanad yang sama. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Zaid ibnul Habbab dengan sanad yang sama. Semua perawi yang disebutkan dalam sanad ini tidak mempunyai cela; tetapi menurut hemat penulis, predikat marfu’ dari matan hadis ini tidak dapat diterima begitu saja; Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

  • Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
  • {وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ}
  • dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)

Dalam hadis di atas telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-watr ialah hari ‘Arafah karena jatuh pada tanggal sembilan Zul Hijjah, dan yang dimaksud dengan asy-syaf’u ialah Hari Raya Kurban karena ia jatuh pada tanggal sepuluh. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Ad-Dahhak.
Pendapat kedua. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepadaku Uqbah ibnu Khalid, dari Wasil ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Ata tentang makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Apakah yang dimaksud adalah salat witir yang biasa kita kerjakan? Ata menjawab, “Bukan, tetapi yang dimaksud dengan asy-syaf’u ialah hari ‘ Arafah, dan yang dimaksud dengan al-watru adalah Hari Raya Ad-ha.”
Pendapat ketiga. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir ibnu Ibrahim Al-Asbahani, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari An-Nu’man ibnu Abdus Salam, dari Abu Sa’id ibnu Auf yang menceritakan kepadaku di Mekah, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnuz Zubair berkhotbah, lalu berdirilah seorang lelaki mengatakan, “Wahai Amirul Mu’minin, terangkanlah kepadaku makna syaf’u dan watru. Maka Abdullah ibnuz Zubair menjawab, bahwa yang dimaksud dengan asy-syaf’u ialah apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. (Al-Baqarah: 203) Dan yang dimaksud dengan al-watru ialah apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosapula baginya. (Al-Baqarah: 203)
Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Murtafi”, ia pernah mendengar Ibnuz Zubair mengatakan bahwa asy-syaf’u adalah pertengahan hari-hari tasyriq, sedangkan al-watru ialah akhir hari-hari tasyriq.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui riwayat Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:
«إِنْ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ»
Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yakni seratus kurang satu; barang siapa yang menghafalnya, maka ia masuk surga; Dia adalah Esa dan menyukai yang esa.
Pendapat keempat. Al-Hasan Al-Basri dan Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa semua makhluk adalah genap dan ganjil; Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut makhluk-Nya. Pendapat ini merupakan suatu riwayat yang bersumber dari Mujahid. Tetapi pendapat terkenal yang bersumber dari Mujahid menyebutkan sebagaimana pendapat yang pertama.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah Esa, sedangkan kamu adalah genap. Dan dikatakan bahwa asy-syaf’u adalah salat Isya (genap rakaatnya), sedangkan salat yang witir (ganjil) adalah salat Magrib.
Pendapat kelima. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Yahya, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Bahwa yang dimaksud dengan asy-syaf’u ialah sejodoh, dan yang dimaksud dengan al-watru adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Abu Abdullah telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah adalah al-watru; sedangkan makhluk-Nya adalah asy-syaf’u alias genap, yakni laki-laki dan perempuan (jantan dan betina).
Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah disebut asy-syaf’u(genap), langit dan bumi, daratan dan lautan, jin dan manusia, matahari dan rembulan, demikianlah seterusnya. Mujahid dalam hal ini mengikuti pendapat yang dikatakan oleh mereka sehubungan dengan makna firman-Nya:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz-Dzariyat: 49)
Yakni agar kamu mengetahui bahwa yang menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Pendapat keenam. Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Bahwa bilangan itu ada yang genap dan ada yang ganjil.
Pendapat yang ketujuh sehubungan dengan makna ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir melalui jalur Ibnu Juraij. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam suatu hadis yang menguatkan pendapat yang telah kami sebutkan dari Ibnuz Zubair.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Ziyad Al-Qatwani, telah menceritakan kepada kami Zaid Al-Habbab, telah menceritakan kepadaku Iyasy ibnu Uqbah, telah menceritakan kepadaku Khair ibnu Na’ im, dari Abuz Zubair, dari Jabir, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:
«الشَّفْعُ الْيَوْمَانِ وَالْوَتَرُ الْيَوْمُ الثَّالِثُ»
Asy-syaf’u adalah dua hari dan al-watru adalah hari yang ketiganya.
Demikianlah hadis ini dikemukakan, yakni dengan lafaz tersebut. tetapi bertentangan dengan lafaz yang telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Imam Ahmad, Imam Nasai, dan Ibnu Abu Hatim, juga apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sendiri; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abul Aliyah dan Ar-Rabi’ ibnu Anas serta selain keduanya mengatakan bahwa salat itu ada yang rakaatnya genap —seperti empat rakaat dan dua rakaat— ada juga yang ganjil —seperti salat Magrib yang jumlah rakaatnya ada tiga, yang boleh dibilang salat witir di (penghujung) siang hari—. Demikian pula salat witir yang dilakukan di akhir tahajud yang terbilang witir malam hari.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah. dan Imran ibnu Husain sehubungan dengan firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)
Bahwa yang dimaksud adalah salat-salat fardu, yang antara lain ada yang genap bilangan rakaatnya dan ada pula yang ganjii. Tetapi asar ini munqathi lagi mauquf, lafaznya hanya khusus menyangkut salat fardu. Sedangkan menurut yang diriwayatkan secara muttasil lagi marfu’ sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan dengan lafaz yang umum (yakni salat fardu dan juga salat sunat).
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ -هُوَ الطَّيَالِسِيُّ-حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ عِصَامٍ: أَنَّ شَيْخًا حَدَّثَهُ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، عَنْ عِمْرَانِ بْنِ حُصَيْنٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِل عَنِ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ، فَقَالَ: “هِيَ الصَّلَاةُ، بَعْضُهَا شَفْعٌ، وَبَعْضُهَا وَتْرٌ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Hammam. dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, bahwa seorang syekh dari ulama Basrah pernah menceritakan kepadanya sebuah hadis dari Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya tentang makna asy-syaf’u dan al-watru. Maka beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab: Maksudnya adalah salat, sebagian darinya ada yang genap (rakaatnya) dan sebagian yang lain ada yang ganjil.
Demikianlah yang tertera di dalam kitab musnad.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Bandar, dari Affan dan dari Abu Kuraib alias Ubaidillah ibnu Musa, keduanya dari Hammam ibnu Yahya, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari seorang syekh, dari Imran ibnu Husain.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Isa alias Imam Turmuzi, dari Amr ibnu Ali, dari Ibnu Mahdi dan Abu Daud, keduanya dari Hanimam, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari seorang ulama Basrah, dari Imran ibnu Husain dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui hadis Qatadah. Dan Khalid ibnu Qais telah meriwayatkannya pula dari Qatadah. Telah diriwayatkan pula dari Imran ibnu Isam, dari Imran ibnu Husain sendiri; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Menurut hemat penulis, Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula, ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam Ad-Dab”i seorang syekh dari kalangan penduduk Basrah, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu disebutkan hal yang semisal. Demikianlah yang penulis lihat di dalam kitab tafsirnya, dia menjadikan syekh dari Basrah itu adalah Imran ibnu Isam sendiri.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Khalid ibnu Qais, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sehubungan dengan makna asy-syaf’u dan al-watru. Beliau Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda: Maksudnya ialah salat, di antaranya ada yang genap dan di antaranya ada yang ganjil (rakaatnya).
Dalam riwayat ini tidak disebutkan syekh yang tidak dikenal itu, dan hanya disebutkan Imran ibnu Isam Ad-Dab’i sendiri, dia adalah Abu linarah Al-Basri Imam masjid Bani Dabi’ah. Dia adalah orang tua dari Abu Jamrah Nasr ibnu Imran Ad-Dab’i. Qatadah dan putranya (yaituAbu Jamrah) dan Al-Musanna ibnu Sa’id serta Abut Tayyah alias Yazid ibnu Humaid telah mengambil riwayat darinya.
Ibnu Hibban menyebutkannya di dalam Kitabus Siqat sebagai salah seorang yang berpredikat siqah, dan Khalifah ibnu Khayyat menyebutkannya di kalangan para tabi’in dari kalangan penduduk Basrah. Dia adalah seorang yang terhormat, mulia, dan mempunyai kedudukan di sisi Al-Hajjaj ibnu Yusuf. Kemudian Al-Hajjaj membunuhnya di dalam Perang Ar-Rawiyah pada tahun 82 Hijriah, karena ia bergabung dengan Ibnul Asy’as. Pada Imam Turmuzi tiada lagi hadisnya selain dari hadis ini; tetapi menurut hemat penulis, predikat mauquf hadis ini hanya sampai kepada Imran ibnu Husain, lebih mendekati kepada kebenaran; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Dan Ibnu Jarir tidak memutuskan dengan tegas mana yang dipilihnya di antara pendapat-pendapat tersebut di atas mengenai masalah genap dan ganjil ini.

Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

Amalan Paling Dicintai Allah, Bukan Jihad Fi Sabilillah Tapi Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.

Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“.

Amalan Paling Dicintai Allah, Amalan 10 Hari Bulan Dzulhijah

1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“.

2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. [Muttafaqun ‘Alaihi].

8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“.

Dalam riwayat lain :

فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Sebelum Shalat Idul Fitri Disunahkan Makan Dulu

Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri justru disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits Annas radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri, sampai beliau memakan beberapa kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil”. (HR.Al-Bukhari)

Kurma adalah satu makanan pokok bangsa Arab, dan makan dan minum sbelum salat Idul Fitri memang disunnahkan oleh Rasulullah. Jumlah kurma yang beliau makan pun ganjil, dan ini pun disunnahkan.

Namun, bagaimana jka seseorang belum sempat sarapan di rumah, tetapi sudah tergesa untuk berangkat salat Idul Fitri? Seseorang boleh makan di tempat salat Idul Fitri sebelum salat dilaksanakan. Jadi, berangkat ke tempat salat bisa membawa bekal. Kita bisa makan atau sarapan dahulu sambil menunggu pelaksanaan salat Idul Fitri. Makan dan minum sebelum salat Idul Fitri juga menjadi pembeda dengan bulan Ramadan.

Jika umat Muslim dilarang penuh untuk makan dan minum saat pagi hari di bulan Ramadan, maka pada Hari Raya Idul Fitri umat Muslim diharamkan untuk berpuasa.
Imam juga mengatakan, Rasulullah mengharamkan puasa di dua Hari Raya, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Jika seseorang berpuasa di dua hari tersebut, maka ia akan merugi.
Hal itu karena kita dianjurkan untuk makan dan minum, tetapi kita menahan diri darinya. Inilah pembeda bahwa ini sudah Idul Fitri. Waktunya kita berbuka, tidak lagi berpuasa. Idul Fitri dan makan pagi adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Imam menyebutkan, Fitri dalam bahasa Arab adalah “Futur”, yang artinya sarapan. Jadi, Fitri dalam bahasa Arab bermakna makan. Itulah kenapa Idul Fitri dianjurkan untuk sarapan. Secara tidak langsung menyiratkan pembeda antara yang sebelumnya tidak boleh sarapan di bulan Ramadan, kemudian boleh sarapan lagi di Hari Raya Idul Fitri.
Namun, meskipun kita belum sempat sarapan karena sedang terburu-buru menyiapkan perlengkapan salat Idul Fitri, atau tergesa-gesa untuk berangkat salat, maka tidak apa-apa, karena memang hukumnya hanya sunnah.

Doa Rasulullah menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan

Doa Rasulullah menjelang akhir Bulan Suci Ramadhan :

للَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَ لْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku.
Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi.

Ya Rahman terimalah seluruh amal ibadahku di Bulan Ramadhan ini

Ya Wasi’al Magfirah ampunilah seluruh dosa-dosaku, dosa ibu bapakku dan dosa orang-orang yang aku cintai dan sayangi karena Allah.

Ya Mujiib, kabulkanlah seluruh doa-doaku.
Taqabalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum wa Ahalahullah Alaik

Semoga amalanku dan amalan kita semua, puasaku dan puasa kita semua diterima-Nya serta disempurnakan-Nya.
آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

Hadits Bukhari Pilihan: Kitab Dua Hari Raya

Bab Ke-1: Mengenai Dua Hari Raya dan Mengenakan yang Indah-Indah pada Hari Raya

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang tercantum pada nomor 475 di muka.”)

Bab Ke-2: Bermain dengan Tombak dan Perisai pada Hari Raya

508. Aisyah berkata, “Rasulullah masuk padaku, dan di sisiku ada dua anak wanita (dari gadis-gadis Anshar 2/3, dan dalam satu riwayat: dua orang biduanita 4/266) pada hari Mina. Lalu, keduanya memukul rebana (4/161). Mereka menyanyi dengan nyanyian (dalam satu riwayat: dengan apa yang diucapkan oleh wanita-wanita Anshar pada hari) Perang Bu’ats[1] sedang keduanya bukan penyanyi. Beliau berbaring di atas hamparan dan memalingkan wajah beliau. Abu Bakar masuk, sedang Nabi
menutup wajah dengan pakaian beliau (2/11), lalu Abu Bakar menghardik saya (dan dalam satu riwayat: menghardik mereka) dan mengatakan, ‘Seruling setan di (dalam satu riwayat: Pantaskah ada seruling setan di rumah) Rasulullah? Dia mengucapkannya dua kali. Lalu, Nabi menghadap Abu Bakar (dalam satu riwayat: lalu Nabi membuka wajahnya) lantas bersabda, ‘Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar! Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.’ Maka, ketika beliau lupa, saya mengisyaratkan kepada kedua anak wanita itu, lalu keduanya keluar.”

509. “Hari itu adalah hari raya, di mana orang Sudan (dalam satu riwayat: orang-orang Habasyah 1/117) bermain perisai dan tombak di dalam masjid. Barangkali saya yang meminta kepada Nabi atau barangkali beliau sendiri yang mengatakan kepadaku, ‘Apakah engkau ingin melihat?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Saya disuruhnya berdiri di belakang beliau di depan pintu kamarku. Beliau melindungiku dengan selendang beliau, sedang aku melihat permainan mereka di dalam masjid. Lalu, Umar[2] menghardik mereka. Kemudian Nabi bersabda, ‘Biarkanlah mereka.’ (4/162) Maka, saya terus menyaksikan (6/147) sedang pipiku menempel pada pipi beliau, dan beliau berkata, ‘Silakan (dan dalam satu riwayat: aman) wahai bani Arfidah!’ Sehingga, ketika aku sudah merasa bosan, beliau bertanya, ‘Sudah cukup?’ Aku menjawab, ‘Cukup.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, pergilah.'” (Maka, perkirakanlah sendiri wanita yang masih muda usia, yang senang sekali terhadap permainan. 6/159)

Bab Ke-3: Berdoa pada Hari Raya

Bab Ke-4: Makan pada Hari Raya Fitri Sebelum Keluar

510. Anas berkata, “Rasulullah tidak pergi (ke tempat shalat) pada hari raya Fitri sehingga beliau memakan beberapa buah kurma. (Dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.)”[3]

Bab Ke-5: Makan pada Hari Raya Nahar Atau Idul Adha

511. Al-Bara’ bin Azib r.a. berkata, “Nabi berpidato kepada kami pada hari raya kurban (Idul Adha) setelah shalat. Lalu beliau bersabda.” (Dalam satu riwayat al-Bara’ berkata, “Pada hari Adha Nabi keluar, lalu mengerjakan shalat Id dua rakaat. Kemudian menghadap kepada kami, seraya bersabda, ‘Sesungguhnya kurban kita pada hari ini harus kita mulai dengan mengerjakan shalat Id, kemudian kita pulang, lalu kita sembelih kurban. 2/8) Barangsiapa yang shalat dengan shalat kita dan menyembelih dengan sembelihan kita, maka ia telah benar dalam berkurban (dalam riwayat lain: sesuai dengan Sunnah kami). Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat, maka sesungguhnya sembelihan itu (menyembelih biasa) dan tidak ada kurban baginya.” (Dalam satu riwayat: maka sesungguhnya yang demikian itu adalah daging yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan kurban sedikit pun 2/6). (Dan dalam riwayat lain: barangsiapa yang mengerjakan shalat seperti shalat kita dan menghadap kiblat kita, maka janganlah ia menyembelih kurban sebelum selesai shalat. 6/238). Abu Burdah bin Niyar, paman Bara’, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkurban dengan kambing saya sebelum shalat dan saya mengetahui bahwa hari raya ini adalah hari makan dan minum. Saya senang kambing saya itu sebagai kambing pertama yang disembelih di rumahku. Karena itu, saya sembelih kambing saya dan saya makan sebelum mendatangi shalat (dan saya beri makan keluargaku dan tetanggaku.” 2/10). Dalam riwayat lain, al-Bara’ berkata, “Mereka mempunyai tamu di rumahnya, lalu Abu Burdah menyuruh keluarganya menyembelih sebelum ia pulang, agar tamunya dapat makan. Maka, mereka menyembelih kambing sebelum shalat. Kemudian peristiwa itu dilaporkan kepada Nabi, lalu beliau menyuruhnya untuk menyembelih kurban lagi. (7/227). Beliau bersabda, “Kambingmu adalah kambing daging.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai kambing kecil betina, kami mempunyai anak binatang ternak (dalam satu riwayat: anak kambing betina yang jinak 6/237) yang lebih saya sukai daripada dua ekor kambing (dalam satu riwayat: saya mempunyai anak kambing betina, anak kambing penghasil susu, yang lebih baik daripada dua ekor kambing daging. Dalam riwayat lain: daripada seekor kambing yang lebih tua. Dan, dalam riwayat lain lagi: daripada dua ekor kambing yang lebih tua). Apakah itu mencukupi bagi saya?” Beliau menjawab, “Ya, tetapi tidak akan mencukupi bagi seorang pun sesudahmu.”

Bab Ke-6: Keluar ke Tempat Shalat Tanpa Mimbar

512. Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Rasulullah keluar pada hari raya Fitri dan hari raya Adha ke mushalla.[4]Yang pertama-tama beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berdiri dan menghadap manusia, dan manusia duduk di shaf-shaf mereka masing-masing. Beliau memberi nasihat, wasiat, dan perintah kepada mereka. Jika beliau mau menetapkan utusan, maka beliau mengutusnya; atau menyuruh sesuatu, maka beliau menyuruhnya, kemudian beliau pergi.” Abu Sa’id berkata, “Orang-orang senantiasa berbuat demikan itu. Sehingga, saya keluar bersama Marwan, Gubernur Madinah, pada hari raya Adha atau Fitri. Ketika kami sampai di Mushalla, ternyata di sana ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Tiba-tiba Marwan mau naik mimbar sebelum shalat, maka saya menarik pakaiannya. Tetapi, ia menarikku, lantas ia naik dan berkhutbah sebelum shalat. Maka, saya katakan kepadanya, ‘Demi Allah kamu telah mengubah.’ Ia berkata, ‘Wahai Abu Sa’id, apa yang kamu ketahui telah ketinggalan (usang).’ Saya berkata kepadanya, ‘Demi Allah, apa yang saya ketahui lebih baik daripada apa yang tidak saya ketahui.’ Lalu ia (Marwan) melanjutkan perkataannya, ‘Sesungguhnya orang-orang tidak lagi mau duduk bersama-sama kita sesudah shalat, maka saya jadikan khutbah itu sebelum shalat.'”

Bab Ke-7: Berjalan dan Berkendaraan ke Tempat Shalat Hari Raya serta Bab Tidak Adanya Azan dan Iqamah

513. Atha’ mengatakan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas berkirim surat kepada Ibnu Zubair pada hari pertama ia dibai’at (yang isi suratnya), “Sesungguhnya shalat Idul Fitri itu tidak diazani sebagaimana shalat fardhu,[5] dan sesungguhnya khutbah Id itu dilakukan sesudah shalat.”

514. Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah berkata, ‘Tidak diadakan azan pada shalat hari raya Idul Fitri dan tidak pula pada Idul Adha.”[6]

515. Jabir bin Abdullah berkata, “Sesungguhnya Nabi berdiri (dan dalam satu riwayat: keluar pada hari Idul Fitri), lalu memulai shalat. Kemudian berkhutbah di muka orang banyak sesudah shalat itu. Setelah Nabi selesai khutbah, beliau turun.[7] Kemudian mendatangi para wanita, memberi nasihat kepada mereka dan pada waktu itu beliau bersandar pada tangan Bilal. Bilal menggelar bajunya dan di baju itulah para wanita itu meletakkan sedekah mereka.” Aku (perawi) bertanya kepada Atha’, “Zakat pada hari raya Fitri?” Dia menjawab, ‘Tidak, tetapi sedekah biasa yang mereka berikan pada waktu itu. Mereka lepas cincin mereka dan mereka lemparkan (ke baju bilal).” Saya bertanya (2/9), “Apakah Anda berpendapat bahwa di zaman kita sekarang ini imam boleh mendatangi kaum wanita, lalu memberi nasihat kepada mereka jika telah selesai shalat dan berkhutbah?” Atha’ berkata, “Yang demikian itu sebenarnya adalah hak baginya. Kalau tidak boleh, maka apakah sebabnya tidak boleh mengerjakan demikian?”

Bab Ke-8: Berkhotbah Sesudah Shalat Hari Raya

516. Ibnu Umar berkata, “Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar biasa mengerjakan shalat hari raya sebelum khutbah.”

Bab Ke-9: Dimakruhkan Membawa Senjata pada Hari Raya dan ketika Berada di Tanah Suci

Al-Hasan berkata, “Manusia dilarang membawa senjata pada hari raya, kecuali jika mereka dalam keadaan takut kepada musuh.”[8]

517. Sa’id bin Jubair berkata, “Aku bersama Ibnu Umar ketika ia tertusuk oleh ujung tombak yang tajam di tapak kakinya bagian dalam, maka menempellah tapak kakinya itu pada sanggurdi. Lalu aku turun dan mencopotnya. Peristiwa itu terjadi di Mina. Hal itu didengar oleh Hajjaj, kemudian ia menjenguknya. Hajjaj berkata, ‘Bagaimana keadaannya?’ Jawab Ibnu Umar, ‘Baik.’ Hajjaj berkata, “Alangkah baiknya kalau kita mengetahui siapa orang yang menyebabkan Anda terkena bencana itu.’ Ibnu Umar berkata, ‘Andalah yang telah menimpakan bencana kepadaku.’ Hajjaj menimpali, ‘Bagaimana hal itu bisa terjadi?’ Ibnu Umar menjawab, ‘Anda membawa senjata pada hari yang tidak diperbolehkan membawa senjata, dan Anda memasukkan senjata ke tanah suci, padahal senjata itu tidak boleh dimasukkan ke tanah suci.'”

Bab Ke-10: Bersegera Mengerjakan Shalat Hari Raya

Abdullah bin Busr berkata, “Sesungguhnya kami selesai melakukannya pada saat ini, yaitu ketika bertasbih.”

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits al-Barra’ pada nomor 511 di muka.’)

Bab Ke- 11: Keutamaan Beramal pada Hari-Hari Tasyrik[9]

Ibnu Abbas berkata, “‘Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (al-Hajj: 28),’ ialah sepuluh hari (yang pertama dalam bulan Dzulhijjah); dan ‘beberapa hari yang berbilang[10](al-Baqarah: 203) ialah hari-hari tasyrik.”[11]

Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa pergi ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil bertakbir, dan orang-orang yang di belakangnya turut bertakbir mengikuti takbirnya.[12]

Muhammad bin Ali bertakbir di belakang kafilah.[13]

518. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak ada amalan pada hari-hari lain yang lebih utama daripada sepuluh hari ini?” Mereka menjawab, “Tidakkah jihad (lebih utama)?” Beliau bersabda, “Bukan pula jihad, kecuali orang yang keluar dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan sesuatu pun.”

Bab Ke-12: Bertakbir Pada Hari-Hari Mina dan Ketika Pergi Ke Arafah

Umar r.a. biasa bertakbir di kubahnya di Mina. Lalu, terdengar oleh orang-orang yang di masjid, kemudian mereka bertakbir (mengikutinya). Bertakbir pula orang-orang yang di pasar-pasar, sehingga Mina gemuruh dengan takbir.[14]

Ibnu Umar biasa bertakbir di Mina pada hari-hari itu, ketika selesai shalat-shalat wajib, di tempat tidur, di tendanya, di majelisnya, dan di jalan, pada semua hari itu.[15]

Maimunah biasa bertakbir pada hari nahar (10 Dzulhijjah).[16]

Orang-orang wanita biasa bertakbir di belakang Aban bin Utsman, dan Umar bin Abdul Aziz, pada malam-malam hari tasyrik bersama kaum laki-laki di masjid.[17]

519. Muhammad bin Abu Bakar ats-Tsaqafi berkata, “Saya bertanya kepada Anas bin Malik ketika kami bersama-sama pergi dari Mina ke Arafah, tentang talbiah, ‘Bagaimana Anda melakukan bersama Nabi?’ Ia menjawab, ‘Seseorang membaca talbiah tidak diingkari (oleh Nabi), dan seseorang bertakbir juga tidak diingkari (oleh Nabi).'”

Bab Ke-13: Shalat dengan Menggunakan Tombak (Sebagai Sutrah) Pada Hari Raya

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian hadits Ibnu Umar yang tertera pada nomor 279 yang lalu.”)

Bab Ke-14: Membawa Tombak Kecil atau Tombak Biasa di Muka Imam pada Hari Raya

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian lain dari hadits Ibnu Umar yang diisyaratkan di atas.”)

Bab Ke-15: Keluarnya Kaum Wanita dan Orang-Orang yang Sedang Haid ke Tempat Shalat

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dan hadits Ummu Athiyah yang tertera pada nomor 180.”)

Bab Ke-16: Keluarnya Anak-Anak ke Tempat Shalat

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang disebutkan sesudah bab ini nanti.”)

Bab Ke-17: Imam Menghadap Makmum ketika Khutbah Hari Raya

Abu Said berkata, “Nabi berdiri menghadap manusia (yakni ketika berkhutbah)”[18]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits al-Barra’ yang tertera pada nomor 511 di muka.”)

Bab Ke-18: Bendera yang Berada di Tempat Shalat

520. Abdurrahman bin Abis berkata, “Aku mendengar Ibnu Abbas ditanya, ‘Apakah Anda pernah menghadiri shalat hari raya bersama Nabi? Ia menjawab, ‘Ya, tetapi andaikata bukan sebab dekatnya kedudukanku kepada Nabi, tentulah aku tidak menghadirinya, sebab aku masih kecil. Aku menyaksikan Nabi (1/33) keluar pada hari raya Fitri (2/5) bersama Bilal (1/33) hingga beliau tiba pada bendera yang diletakkan di tempat Katsir bin Shalt. Lalu, beliau shalat dua rakaat, tanpa melakukan shalat sebelumnya dan sesudahnya. Kemudian beliau berkhotbah (dan tidak menyebut-nyebut azan dan iqamah 2/162). Selasai berkhotbah, beliau mendatangi kaum wanita (dan dalam riwayat lain: maka Ibnu Abbas melihat bahwa beliau tidak memperdengarkan kepada kaum wanita, lalu beliau datang kepada mereka 2/122) bersama Bilal yang membentangkan kainnya. Nabi memberikan nasihat dan peringatan kepada mereka, dan menyuruh mereka agar mengeluarkan sedekah. Lalu beliau menyuruh Bilal darang kepada mereka. Maka, aku melihat kaum wanita itu mengulurkan tangan mereka ke telinga dan leher mereka. Lalu, mereka melemparkannya (dan dalam satu riwayat: maka orang-orang wanita itu melemparkan gelang dan anting-anting emas 2/118, dan dalam riwayat lain: anting-anting emas dan kalungnya. Ayyub mengisyaratkan kepada telinganya dan lehernya) pada kain Bilal. Kemudian beliau pulang ke rumahnya bersama Bilal.”

Bab Ke-19: Imam Memberikan Nasihat kepada Kaum Wanita pada Hari Raya

521. Ibnu Abbas berkata, “Aku menghadiri shalat Idul Fitri bersama Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, semuanya mengerjakan shalat sebelum berkhotbah. Nabi keluar (lalu turun 6/62) seakan-akan aku masih melihat beliau ketika menyuruh orang banyak duduk dengan mengisyaratkan tangannya. Kemudian menghadapi mereka dan membelah barisan kaum lelaki (dan ini dilakukan sehabis berkhotbah). Sehingga, beliau mendatangi kaum wanita bersama Bilal, lalu beliau mengucapkan, ‘Yaa ayyuhan nabiyyu idzaa jaa-akal mu’minaatu yubbaayi’naka [‘alaa an laa yusyrikna billaahi syaian wa laa yasriqna wa laa yazniina wa laa yaqtulna aulaadahunna wa laa ya’tiina bi buhtaanin yaftariinahu baina aidiihinna wa arjulihinna]‘ ‘Hai Nabi, jika kamu didatangi oleh kaum wanita hendak mengadakan bai’at atau berjanji setia kepadamu (untuk tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, dan tidak membuat-buat tuduhan perzinaan kepada orang lain dengan tuduhan palsu.’ Hingga selesai 6/62) membaca ayat itu semuanya. Kemudian beliau bersabda setelah membaca ayat tersebut, ‘Hai kaum wanita, apakah Anda sekalian seperti itu?’ Seorang wanita di kalangan mereka menjawab, dan tiada seorang pun dari kaum wanita itu yang menjawab selainnya. Ia berkata, ‘Benar wahai Rasulullah.’ Al-Hasan (yang meriwayatkan hadits itu) tidak mengetahui siapa wanita yang menjawab itu. Nabi bersabda lagi, ‘Kalau begitu, maka bersedekahlah kalian!’ Kemudian Bilal membeberkan pakaiannya, lalu dia berkata, ‘Marilah, Anda sekalian adalah penebus ayahku dan ibuku.’ Kemudian orang-orang wanita itu meletakkan cincin besar-besar dari emas (yang biasa dipakai pada zaman jahiliah dulu), juga meletakkan cincin ukuran biasa di atas pakaian Bilal itu.”[19]
Abdur Razzaq berkata, “Al Fatakh ialah cincin-cincin besar yang biasa dipakai pada zaman jahiliah.”

Bab Ke-20: Jika Seorang Wanita Tidak Mempunyai Baju Kurung pada Hari Raya

(Saya katakan, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ummu Athiyah yang baru saja diisyaratkan di muka.”)

Bab Ke-21: Menyendirinya Wanita yang Sedang Haid dan Menjauh Sedikit dari Tempat Shalat

(Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ummu Athiyah yang disebutkan di muka.)

Bab Ke-22: Menyembelih (Dzabah dan Nahar) pada Hari Raya Kurban di Tempat Shalat

522. Ibnu Umar r.a mengatakan bahwa Nabi saw biasa menyembelih (binatang kurban) di mushalla (tanah lapang tempat shalat Id).

Bab Ke-23: Pembicaraan Imam dan Orang Banyak dalam Khotbah Hari Raya dan Jika Imam Ditanya Mengenai Sesuatu, dan Ia Sedang Berkhotbah

523. Anas bin Malik berkata, “Sesungguhnya Rasulullah melakukan shalat pada hari raya kurban, kemudian berkhotbah. Lalu, menyuruh orang yang menyembelih kurban sebelum shalat, supaya mengulangi penyembelihannya (menyembelih kurban lagi). Kemudian ada seorang lelaki dari kaum Anshar, berkata, ‘Wahai Rasulullah, (hari ini adalah hari yang orang menyukai daging 2/3), aku mempunyai beberapa orang tetangga-mungkin dia berkata-yang sangat membutuhkan’. Mungkin dia berkata, ‘Mereka itu dalam keadaan fakir’ (lalu Nabi saw. membenarkannya). ‘Sebenarnya aku telah menyembelih sebelum shalat hari raya, dan aku mempunyai seekor kambing yang umurnya kurang dari setahun (dan dalam satu riwayat: masih muda). Tetapi, lebih aku sukai daripada daging dua ekor kambing biasa.’ Nabi kemudian memberikan kelonggaran kepadanya dengan menyembelih kambing yang umurnya belum setahun dan disembelih sebelum shalat hari raya dilakukan. Tetapi saya tidak mengetahui apakah kelonggaran itu sampai kepada orang lain atau tidak.”

524. Jundub berkata, “Nabi melakukan shalat Idul Adha, kemudian beliau berkhothah. Sesudah itu beliau menyembelih kurban, lalu bersabda, ‘Barangsiapa yang menyembelih kurban sebelum shalat, hendaklah menyembelih lagi yang lain (sesudah shalat) sebagai gantinya. Dan, barangsiapa yang belum menyembelih, hendaklah menyembelih dengan nama Allah.'”

Bab Ke-24: Orang yang Berbeda Jalan Ketika Pulang pada Hari Raya dari Tempat Shalat

525. Jabir r.a. berkata, “Nabi apabila hari raya, beliau menyelisihi jalan (yakni menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan ketika pulang dari menunaikan shalat Id- penj.).”

Bab Ke-25: Apabila Terluput dari Shalat Hari Raya dengan Berjamaah, Bolehlah Shalat Dua Rakaat, Begitu Pula Kaum Wanita, Orang yang Ada di Rumah dan di Desa, Mengingat sabda Nabi saw., “Ini adalah hari raya kita umat Islam.”[20]

Anas bin Malik memerintahkan mantan budaknya dan sahabatnya Ibnu Abi Utbah yang ada di pelosok supaya mengumpulkan keluarganya dan anak anaknya, dan melakukan shalat hari raya sebagaimana orang kota serta bertakbir seperti mereka.[21]

Ikrimah berkata, “Orang-orang pelosok berkumpul pada hari raya menunaikan shalat dua rakaat sebagaimana yang dilakukan imam.”[22]

Atha’ berkata, “Apabila seseorang terluput menunaikan shalat Id (dengan berjamaah), maka hendaklah ia menunaikannya dua rakaat.”[23]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tersebut pada nomor 508 di muka.”)

Bab Ke-26: Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Hari Raya

Abul Mu’alla berkata, “Saya mendengar Said dari Ibnu Abbas membenci shalat Sunnah sebelum shalat Id.”[24]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 520 di muka.”)


Catatan Kaki:

[1] Demikian lafat bu’ats dibaca sebagai isim munsharif (dengan tanwin kasrah; isim munsharif atau isim munawwan adalah isim yang dapat diberi tanda tanwin dan dapat diberi harkat kasrah) dan sebagai isim ghairu munsharif (tidak bertanwin dan tidak dapat diberi harkat kasrah, dan alamat jar-nya dengan fat-hah, kecuali kalau kemasukan alif lam yakni al-… atau dalam kedudukan sebagai mudhaf-penj.). Bu’ats adalah nama sebuah benteng yang di sisinya terjadi peperangan antara suku Aus dan Khazraj tiga tahun sebelum hijrah.

[2] Demikianlah dalam riwayat Karimah yang menyebutkan nama pelakunya (Umar) secara jelas. Demikian pula di dalam riwayat Imam Ahmad (2/540) dan Nasa’i (1/236) dari hadits Abu Hurairah dengan sanad sahih.

[3] Demikian tambahan dari penyusun secara mu’allaq, dan di-maushul-kan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Ismaili dan lain-lainnya.

[4] Mushalla ini adalah suatu tempat yang terkenal di Madinah, yang jarak antaranya dengan Masjid Nabawi seribu hasta sebagaimana dikutip al-Hafizh Ibnu Hajar dari al-Kanani, sahabat Imam Malik.

[5] Abdur Razzaq menambahkan di dalam al Mushannaj (2/77/5628) dari jalan periwayatan Imam Bukhari dengan tambahan, “Maka tidak diazani untuknya.” Kata Atha’, “Ibnu Zubair tidak mengadakan azan pada hari itu. Ibnu Abbas berkirim surat kepadanya yang isinya, ‘Sesungguhnya khutbah itu dilakukan setelah shalat Id.’ Ibnu Zubair pun melaksanakannya.” Kata Atha’, “Maka, Ibnu Zubair shalat Id sebelum khutbah. Kemudian Ibnu Shafwan dan sahabat-sahabatnya bertanya kepadanya, mereka berkata, “Mengapa engkau tidak berazan untuk kami? Kemudian datanglah waktu shalat kepada mereka pada hari itu. Maka, ketika hubungan antara dia dan Ibnu Abbas memburuk, Ibnu Zubair tidak berani melanggar perintah Ibnu Abbas.” Saya (al-Albani) katakan, “Zahir perkataan Ibnu Abbas kepada Ibnu Zubair, ‘Maka, janganlah engkau berazan untuk shalat Id’, adalah karena Ibnu Zubair biasa mengadakan azan sebelum itu, maka ini berarti Ibnu Abbas melarangnya dari perbuatan itu. Hal ini diperkuat dengan perkataan Atha’ pada akhir perkataannya, ‘Ketika hubungannya memburuk, maka Ibnu Zubair tidak berani melanggar perintah Ibnu Abbas.’ Riwayat yang lebih kuat dari itu menerangkan bahwa Shafwan dan sahabat-sahabatnya ketinggalan (terluput) melakukan shalat Id, dan hal itu disebabkan-wallahu a’lam-mereka tidak mendengar azan yang biasa mereka dengarkan sebelumnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa orang yang pertama kali mengadakan azan dalam shalat Id. Ada yang mengatakan bahwa yang mula-mula mengadakannya adalah Muawiyah, dan terdapat riwayat yang sahih bahwa dia melakukan hal itu, dan masih ada pendapat-pendapat lain lagi. Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Abu Qilabah, katanya, “Orang yang mula-mula mengadakannya adalah Ibnu Zubair.” Saya (al-Albani) katakan, “Kalau riwayat ini sahih dari Ibnu Zubair, maka dia adalah orang pertama yang mengadakannya di Hijaz, sedang Muawiyah adalah orang yang pertama kali mengadakannya di Syam. Wallahu a’lam.” Mengenai hal ini terdapat ungkapan yang bagus untuk dipegangi, yaitu bahwa apabila terdapat sunnah yang sahih, maka tidak boleh bertaklid kepada orang yang menyelisihinya, meskipun dia seorang sahabat. Maka, Muawiyah dan Ibnu Zubair-mudah-mudahan Allah meridhai keduanya-telah mengadakan azan shalat Id yang tidak pernah terjadi pada zaman Nabi saw., barangkali dari segi ini, maka orang-orang yang shalat di belakang Ibnu Zubair membaca amin dengan keras sehingga riuh rendah suaranya di masjid, sebagaimana diriwayatkan secara mu’allaq di muka (1/193). Di antaranya lagi ialah shalat gerhana yang dilakukan Ibnu Zubair dengan cara seperti melakukan shalat subuh. Maka, saudara Zubair yang bernama Urwah ketika ditanya tentang hal itu, dia menjawab, “Menyalahi Sunnah”, sebagaimana akan disebutkan pada kitab al-Kusuf bab keempat. Di antara tindakannya lagi ialah mengusap dengan tangannya pada tiang-tiang Baitullah yang empat, sedangkan menurut Sunnah ialah mengusap dua rukun Yamani saja, sebagaimana akan disebutkan pada “25 – AL-HAJJ / 59 – BAB”.

[6] Hadits Ibnu Abbas akan disebutkan sebentar lagi pada nomor 520, karena itu di sini tidak saya beri nomor tersendiri.

[7] Nabi saw. tidak pernah khutbah Id di atas mimbar sebagaimana ditunjuki hadits Abu Sa’id di muka tadi. Kemungkinan beliau berada di tempat yang tinggi, kemudian turun. Wallahu a’lam.

[8] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mendapatinya maushul, tetapi terdapat riwayat seperti ini secara marfu dan muqayyad ‘dengan ada persyaratan’ serta ada yang tidak muqayyad. Kemudian disebutkannya yang muqayyad dari riwayat Ibnu Majah dengan isnad yang dhaif dari Ibnu Abbas, dan yang lain disebutkan dari riwayat Abdur Razzaq dengan isnad yang mursal.

[9] Sudah populer bahwa hari-hari tasyrik sesudah hari nahar (tangga110 Dzulhijjah) itu diperselisihkan, apakah dua hari atau tiga hari. Akan tetapi, beberapa atsar memberikan kesaksian bahwa hari Idul Adha itu termasuk hari tasyrik, dan pendapat ini dikuatkan oleh Abu Ubaid berdasarkan apa yang dikutip dan ditahqiq oleh al-Hafizh dalam al-Fath.

[10] Bunyi teks bacaannya ialah “Wayadzkurullaaha fii ayaamin ma’luumaat” atau “Wadzkurullaaha fii ayyaamin ma’duudaat”. Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas bukan bacaannya, tetapi penafsiran kata “ma’duudaat” dan “ma’luumaat”.

[11] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas.

[12] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mendapatinya secara maushul dari mereka.”

[13] Muhammad bin Ali adalah Abu Ja’far al-Baqir, dan di-maushul-kan oleh ad-Daruquthni darinya dalam al-Mu’talif.

[14] Di-maushul-kan oleh Abu Ubaid, dan di-maushul-kan pula dari jalannya oleh al-Baihaqi (3/312) dari Umar, dan di-maushul-kan oleh Said bin Manshur dari jalan lain darinya.

[15] Di-maushul-kan oleh Ibnul Mundzir dan al-Fakihi dalam Akhbaaru Makkah dengan sanad sahih dari Ibnu Umar.

[16] AI-Hafizh berkata, “Saya tidak mendapatinya secara maushul.”

[17] Di-maushul-kan oleh Abu Bakar Ibnu Abid Dun-ya dalam Kitab al-Idain. Al-Hafizh berkata, “Hadits Ummu Athiyah dalam bab ini mendahului mereka dalam hal itu.”

[18] Ini adalah bagian dari hadits yang di-maushul-kan oleh penyusun pada nomor 512 di muka..

[19] Kisah ini telah disebutkan dari jalan lain dari Ibnu Abbas secara ringkas. Maka, kemungkinan cerita ini dua macam, dan mungkin juga hanya satu, dan sebagian perawi meringkasnya. Wallahu a’lam.

[20] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mengetahuinya demikian. Sesungguhnya bagian pertamanya terdapat di dalarn hadits Aisyah tentang kisah dua wanita yang menyanyi -yakni hadits yang baru disebutkan di muka (2-BAB). Adapun sisanya, kemungkinan diambil dari hadits Uqbah bin Amir secara marfu, ‘Hari Mina adalah hari raya kita umat Islam'”, yang mana hadits ini diriwayatkan dalam As-Sunan dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah.

[21] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/183) yang seperti itu.

[22] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/191) yang sama dengannya dengan sanad sahih.

[23] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Faryabi dengan sanad sahih.

[24] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak menjumpainya yang maushul.” Saya (Al-Albani) berkata, “Abdur Razzaq meriwayatkannya (5624) dengan sanad sahih dari maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Tidak boleh mengerjakan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya.'”

Sumber: PeM Media

Salat Id Idul Fitri, Tatacara dan Keutamaannya

1528938453339.jpgSalat Id adalah ibadah salat sunahyang dilakukan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah namun sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Niat Salat

  • Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karenaAllah semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya.

Waktu dan tata cara pelaksanaan

  • Waktu salat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari.

Syarat, rukun dan sunahnya sama seperti salat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunah sebagai berikut :

  • Berjamaah
  • Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
  • Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
  • Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
  • Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
  • Imam menyaringkan bacaannya.
  • Khutbah dua kali setelah salat sebagaimana khutbah jum’at
  • Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum – hukum Qurban.
  • Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
  • Makan terlebih dahulu pada salat Idul Fitri pada Salat Idul Adha sebaliknya.

1528938601307.jpgHaditst

  • Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi SAW. pada hari raya idul fitri dan idul adha keluar ke mushalla (padang untuk salat), maka pertama yang dia kerjakan adalah salat, kemudian setelah selesai dia berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shaf mereka, lalu dia memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila dia hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah dia putuskan,dia perintahkan setelah selesai dia pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
  • Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan salat Id bersama Nabi Muhammad SAW. dia memulai salat sebelum khutbah tanpa adzandan tanpa iqamah, setelah selesai dia berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah selesai dia turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya dia memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
  • Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah SAW. memerintahkan kami keluar pada ‘idul fitri dan ‘idul adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari mushalla tempat salat Id, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan da’wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Dia bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama’ah)
  • Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi SAW. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali dia memakan beberapa biji kurma, dan dia memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
  • Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi Muhammad SAW. Mendirikan salat Id, kemudian dia memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan salat Jumat, kemudian dia bersabda : Barang siapa yang mau salat jumat, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
  • Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW. bertakbir pada salat Id dua belas kali takbir. dalam raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at yang kedua lima kali takbir dan tidak salat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya.(H.R : Amad dan Ibnu Majah)
  • Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)
  • Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan salat Id pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
  • Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat salat Id sampai mereka tiba di musala (tempat salat Id) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

HUKUM SHALAT ID. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id menjadi 3 pendapat:

  1. Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
  2. Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.
  3. Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)

Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga dengan dalil berikut:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)

Perhatikanlah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi menuju tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbabpun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.

Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang diberi sarana (yakni shalat). Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul Minnah, hal. 344)

Shalat Id Bagi Musafir

  • Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim (tidak sedang bepergian)?
  • Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan, tidak disyaratkan mukim.”
  • Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)

MANDI SEBELUM PERGI SHALAT ID

عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)

Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

MEMAKAI WEWANGIAN

Disunnahkan memakai wewangian untuk shalat berjama’ah:

عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ يَغْتَسِلُ وَيَتَطَيَّبُ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)

Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

Perlu diingat bahwa memakai wewangian ini dikhususkan untuk para lelaki, dan tidak diperbolehkan bagi para wanita, lihat pembahasannya disini.

MEMAKAI PAKAIAN YANG BAGUS

  • Disunnahkan memakai pakaian yang terbaik tetapi tidak berlebih-lebihan ketika hari raya:
  • عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ
  • Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Umar radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)
  • Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)
  • Yakni Umar radhiyallahu ‘anhu menyarankan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk memakai pakaian yang bagus ketika berhari raya. Akan tetapi, Umar radhiyallahu ‘anhu saat itu, belum mengetahui bahwasanya sutera diharamkan bagi laki-laki muslim.

MAKAN SEBELUM BERANGKAT ID

  • Yakni disunnahkan makan sebelum berangkat menuju shalat ‘iedul fitri:
  • عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ: حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
  • Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal ‘Idain Qablal Khuruj)
  • Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.”

Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama adalah:

  1. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai mereka pulang.
  2. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
  3. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/89)

Berbeda dengan shalat iedul adha, disunnahkan makan sesudah shalat iedul adha. Pembahasannya tersendiri, Insya-Allah.

BERTAKBIR KETIKA KELUAR MENUJU TEMPAT SHALAT

  • Disunnahkan bertakbir dengan lantang sejak malam ied hingga ditunaikannya shalat ied:
  • كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
  • “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
  • Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan mereka dan karena rasa malu untuk menampilkan sunnah serta terang-terangan dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara sebagaimana dilakukan sebagian manusia (karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja-red) …” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal. 331)
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: ”Dan disyariatkan bagi siapa saja untuk melantunkan takbir ketika keluar menuju sholat Ied, dan ini kesepakatan Imam yang empat. “
  • Boleh menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Al Imam Al Bukhori berkata: ”Bab Berjalan dan Berkendaraan Menuju Sholat Ied …”.
  • Ketika tiba di tempat sholat, hendaknya terus bertakbir hingga imam memulai sholat.

Lafadz Takbir

  • Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa lafadz. Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
  • أَنَّهُ كَانَ يُكَبِرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
  • Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:
  • اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهٌ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
  • (HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/27/2 dan sanadnya shahih)
  • Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315) dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga kali takbir.
  • Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:
  • اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلَّ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

TEMPAT SHALAT ‘IED

  • Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla. Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.
  • عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أَضْحًى إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ: إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِنَا فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نَبْدَأَ بِالصَّلاَةِ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan: ‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)
  • Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’ dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah menyebutkan dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id di luar Madinah sampai di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)
  • عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ “Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
  • Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.”
  • Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)
  • Namun bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan yang sejenisnya, maka boleh dilakukan di masjid. Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sunnah nabi sesuai dengan hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa beliau selalu mengerjakan dua sholat ied di tanah lapang pinggiran kampung, dan ini terus berkelanjutan di masa generasi pertama (ummat ini), mereka tidak melaksanakan di masjid-masjid kecuali bila ada udzur yang darurat seperti hujan dan sejenisnya. Inilah madzhab Imam yang empat dan selain mereka dari para Imam“. (Sholatul ‘Iedaini fil Musholla Hiyas Sunnah, hal. 35).
  • Sehingga sangat berlebihan orang yang mengatakan bahwa sholat Ied tidak boleh dilaksanakan di masjid walaupun ada udzur yang darurat, demikian pula orang yang mengatakan bahwa tidak ada sholat kalau tidak di tanah lapang.

WAKTU PELAKSANAAN SHALAT

Waktu Awal Pelaksanaan Shalat adalah setelah Beberapa Waktu setelah Terbitnya Matahari

يَزِيْدُ بْنُ خُمَيْرٍ الرَّحَبِيُّ قَالَ: خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ اْلإِمَامِ. فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ

“Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata: ‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.

Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu Hajar. (Al-Fath, 2/457)

Namun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah bila terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/104)

Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab: “Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah lewatnya waktu larangan shalat.”

1528938153430.jpg1528939346706.jpg

100 Ucapan Selamat Idul Fitri Dalam Bahasa Inggris

wp-1558248245319..jpg

100 Ucapan Selamat Idul Fitri Dalam Bahasa Inggris

  • This time is the best time for us to be the best people in this world. Hope every people had the right way to be apologized by you. Happy Idul Fitri.
  • Kali ini adalah waktu yang terbaik untuk kita untuk menjadi orang terbaik di dunia ini. Semoga setiap orang memiliki jalan kebaikan untuk dimaafkan oleh kamu. Selamt Hari Raya Idul Fitri.
  • Idul Fitri is not the end of our story to be better in this world. So, let this time guide us to see the right way to be better. Happy Idul Fitri.
  • Idul fitri bukanlah  akhir dari cerita kita untuk menjadi lebih baik di dunia ini. Jadi, biarkan waktu ini menuntun kita untuk melihat jalan terbaik menjadi lebih baik. Selamat idul fitri.
  • Although we can not meet face to face, but let me say happy idul fitri.
  • Meskipun kita tidak dapat  berjumpa dan bertatap muka, tapi izinkan saya mengucapkan selamt hari raya idul fitri.
  • Idul Fitri is the best ways for us to remember the past time. If the last idul fitri we can meet each others, but this time we can not. Although like that, our heart never separated, let me say Happy idul Fitri.
  • Idul Fitri adalah jalan terbaik untuk kita untuk mengingat waktu lampau. Jika idul fitri tahun lalu kita dapat berjumpa satu sama lainnya, tapi kali ini tidak. Meskipun begitu, hati kita tak pernah terpisah, selamat hari raya idul fitri.

wp-1558248245319..jpg

  • Happy Idul Fitri in this year, hope we meet ramadhan again in the next year.
  • Selamat Hari raya idul fitri pada tahun ini, semoga kita berjumpa bulan suci ramadhan lagi pada tahun depan.
  • Happy Idul Fitri dear, hope our relationship become better than before, sorry if I made mistakes in the past time. But, I will be the best in the next.
  • Selamat Hari raya Idul Fitri Sayang, semoga hubunga kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Maaf jika Aku telah membuat kesalahan di masa lampau. Tapi, aku akan menijadi yang terbaik pada waktu yang akan datang.
  • Sorry for all of my bad manners, Happy Idul Fitri for you. Hope we get the best inspiration from this Ramadhan.
  • Maaf untuk semua kebiasaan kebiasaan burukku, Selamat Hari raya idul fitri dan semoga kita mendapatkan inspirasi terbaik dari ramadhan kali ini.
  • Sometimes my hand makes mistakes, my mouth speaks wrong words, and my manner is bad for you. But, let this time I say sorry and Happy Idul Fitri.
  • Terkadang tanganku membuat kesalahan kesalahan, mulutku mengucapkan kata kata yang salah, dan kebiasaanku yang buruk terhadapmu. Tapi, izinkanlah kali ini aku mengucapkan maaf dan selamat hari raya idul fitri.

wp-1558247991708..jpg

  • Warm greetings to you! May this Eid be as wonderful as you. Eid Mubarak!
  • With all the love an sms can hold, and happy wishes too.. This comes to say! May this Eid day be wonderful for you Eid Mubarak.
  • May Allah blessings be with you today, tomorrow, and always. To my sweet sister may all bless you on this auspicious day of Eid, and may it be a new beginning of greater prosperity, success and happiness, wish you a happy Eid Mubarak
  • I wish you all a very happy Eid. Like the colour of silver in the night sky, the new moon rises, the holy month has past, the fasting is over, tomorrow is the great feast of Eid-ul-Azha. EID MUBARAK!
  • Hope Love and Laugher, Warmth, Wishes, Joy and a bouquet of Eid wishes, May jubilation become a part of your Eid and Your Life.
  • May Eid Ul Fitr bring abundant joy and happiness in your life. Eid Mubarak!
  • May eid be a special day that’s filled with warmth and love, and may it hold the happiness You’re so deserving of. Some words can left unsaid, some feeling can be left unexpressed, but a person like you can never be forgotten on this day.
  • May this year Eid gives, you all the happiness and joy of this world and hope that the blessing of the AL-Mighty be with you. EID MUBARAK!
  • May God send his Love like Sunshine in his warm and gentle ways to fill every corner of your heart and filled your Life with a lot of happiness like this EID day. Wishing you EID MUBARAK!
  • May this day bring peace and smoothness in your life, may it provide you the best time of your life. Happy Eid day!!!
  • Sending you warm wishes on Eid and wishing that it brings your way ever joys and happiness. Remember me in your prayers.
  • EID IS AN AUSPICIOUS OCCASION OF GIVING AND SHARING, A TIME WHEN WHOLE ATMOSPHERE IS FILLED WITH MIRTH.
  • I hope you enjoy each and every moment of Eid. May God accept our fasts and prayers. My well wishes, my good wishes for you are the just prayers for your long happy life from God on this noble event. Wish you a very Happy Eid Mubarak My Dear.
  • Eid Mubarak to the love of my life. I wish Allah will continue to bless our bond all the days of our lives. I love you. Enjoy this day. On this holy and joyous occasion, may the blessings of almighty Allah come down and rest upon your shoulders and upon those whom you love and treasure and may you enjoy a very happy Eid this year and in the years to come. Eid Mubarak!
  • Wishing you an Eid that brings with it the love and protection of Allah to say always!  .
  • EID MUBARAK” TO U & UR ALL FAMILY MEMBERS. HAVE A JOYFUL EID…
  • All the loving wishes for you today to bring much happiness your way. Eid greetings! eid mubarak.
  • May ALLAH Flood Your Life With Happiness Your Heart With Love, Your Soul With Spiritual Your Mind With Wisdom, Happy Eid MubarakMay God give you the happiness of heaven above. Happy Eid Mubarak To You All. eid mubarak 2017
  • May God give you the happiness of heaven above. Happy Eid Mubarak To You All.
  • THANK THE ALL MIGHTY, FOR BLESSING US WITH SO MANY GIFTS OF NATURE, GRATITUDE TO THE ALL MIGHTY FOR BRINGING US THIS DAY OF JOY AND FORGIVENESS, THIS DAY OF HAPPINESS AND RIPEN FRUIT HAPPY EID WISHESMay this day bring peace and smoothness in your life, may it provide you the best time of your life. Happy Eid day!!!
  • May this day bring peace and smoothness in your life, may it provide you the best time of your life. Happy Eid day!!!On Eid ul-Fitr, wish that Allah’s blessings light up the path and lead to happiness. eid mubarak 2017.
  •  Eid ul-Fitr, wish that Allah’s blessings light up the path and lead to happiness, peace and success. Happy Eid!Eid days are meant to celebrate the goals and the achievements that make you happiest. The ideals you believe in, the dream you love the best. Eid Mubarak.
  • As Allah waters HIS Creation, may HE also sprinkle his wonderous blessings over you and your beloved ones.MAY ALLAH BRING YOU JOY, HAPPINESS. Eid Mubarak in advance.
  • MAY ALLAH BRING YOU JOY, HAPPINESS, PEACE AND PROSPERITY ON THIS BLESSED OCCASION WISHING YOU AND YOUR FAMILY ON THIS HAPPY OCCASION OF EID! EID MUBARAK!It’s a day of rejoicing and bliss; it’s a day of blessing and peace; it’s a day to reflect and ponder; it’s a day to celebrate together!.   

wp-1558247991708..jpg

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.

No Card, No Ketupat, No Parcel, Just SMS Represents Everything …Sins… Laugh.. Tears.. Happy ‘Iedul Fitrie.

Although Eid is still a few days. but what’s wrong with sms (short message service) start typing in the mobile phone or cell phone or perhaps in a draft email friends a beautiful set of words for eid greeting the soothing and out of the bosom of the most deep and sincere. Send as he approached the day H yes. Not bad if you still want to be typed as Eid 2017 going home and sent the way back home:)

One day ago, I could see you anxious waiting for this day
One week ago, I saw you longing for the dusk to end the day
One month ago, you were there waiting for the Ramadhan to stand
And right one year ago, you were beside me rejoicing on the day of grande
It’s me your friend with the rest of my family
Wishing you another blessed Idul Fitri.

I’d like to wish you a holy Iedul Fitri and express my cincerest apology. I beg your mercy for all of my sins. May Us be fitri.

I met Iman, Taqwa, Patience, Peace, Joy, Love, Health & Wealth today.
They need a permanent place to stay.
I gave them your address.
Hope they arrived safely to celebrate Idul Fitri with you.
May Allah bless you and family

Time 2 share, Time 2 love, Time 2 pray, Time 2 forgive, Time 2 joy, Time 2 cheer, Time 2 gather, Time 2 back, Back 2 fitri

Purify your hearts with the remembrance
Enlightened soul with love
Through the day with a smile
Set step with gratitude
Purify the heart with an apology
congratulations Idul Fitri
Minna wa Minkum TaqobbaLallaHu
Minal aidzin wal faidzin
Please forgive Born n Batin

Allahu Akbar..!
Ied al-fitri is approaching.
Let’s embrace it with pure heart.
From the bottom of my heart,
I would like to ask an apology.
Minal Aidin Wal Faizin.

If words could kill,
I think many people have died because of mine.
And if that’s including you,
I would like to apologize for all that I’ve done..
Happy Idul Fitri!

Potato chip without salt is on the table. Relationship without fault is impossible. Minal aidin wal faizin.

wp-1558247991708..jpg

  • Happy Eid Mubarak to everyone. Hope you all have a very happy Eid and blessed. Enjoy a typical day and remember those who need our help. Eid Mubarak .. ! Forgive me body and soul”
  • “Selamat Idul Fitri untuk semua . Semoga Anda semua memiliki Idul Fitri sangat bahagia dan diberkati. Nikmati hari-hari biasa dan mengingat mereka yang membutuhkan bantuan kita. selamat lebaran .. ! mohon maaf lahir batin”
  • “Eid Al-Fitr Mubarak. May God always gives blessing to you today, tomorrow, and always. Aamiin”
  • “Selamat Idul Fitri. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan untuk Anda hari ini, besok, dan selalu. Aamiin”
  • I wanted to be the first one to say Eid Mubark to everyone around the world. I hope you enjoy each and every moment of it. May God accept our fasts and prayers.Happy Eid Mubarak “
  • “Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan Eid Mubarak untuk semua orang di seluruh dunia. Saya harap Anda menikmati masing-masing dan setiap saat itu. Semoga Tuhan menerima puasa dan doa-doa kita.Selmat Lebaran. “
  • “Eid is coming soon so I wish you a very happy Eid to all who celebrating! May this special day brings peace, happiness and prosperity to everyone. HAPPY EID MUBARAK “
  • “Hari Raya Idul fitri akan segera datang jadi saya berharap Anda sangat bahagia untuk merayakan! Semoga hari istimewa ini membawa kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan untuk semua orang. SELAMAT IDUL FITRI”
  • Hopefully this happy day be bright and Eid al-Fitr miliki.Mohon best you ever apologize for any mistake I’ve ever done. Minal aidin wal faizin .. Happy Eid”
  • “Semoga hari bahagia ini menjadi terang dan Hari Raya Idul fitri terbaik yang pernah Anda miliki.Mohon maaf atas segala khilaf yang pernah saya lakukan. Minal aidin wal faizin .. selamat Lebaran”
  • “Some words can be uttered, some feelings can be left buried, but an error will never be forgotten. The day of this holy, please forgive any mistake. Congratulations to celebrate Eid”
  • “Beberapa kata dapat terucapkan, beberapa perasaan dapat dibiarkan terpendam, Tapi sebuah kesalahan tidak akan pernah terlupakan. Dihari yang suci ini, mohon maafkan segala khilaf. Selamat merayakan hari lebaran “
  • “Eid Mubarak To All Muslims Around The WorldMay God be with you all the time & bless your dreams Amen”
  • “Selamat Hari Raya Idul fitri Mubarak Untuk Semua Muslim di Seluruh Dunia Semoga Tuhan bersama Anda sepanjang waktu & memberkati impian Anda Amin”
  • “The most noble man is human to forgive the mistakes of others.
    The day of this glorious, I apologize for any wrong.
    purify your hearts purify themselves
    Eid Mubarak
  • “Manusia paling mulia adalah manusia yang dapat memaafkan kesalahan orang lain.
    Dihari yang mulia ini, saya mohon maaf atas segala salah.
    bersihkan hati sucikan diri
    Selamat lebaran “
  • “Do err is nature
    apologizing is an obligation
    and the return of nature is the goal
    beg for forgiveness, congratulations Eid may we return to pure”
  • “Berbuat khilaf adalah sifat
    meminta maaf adalah kewajiban
    dan kembalinya fitrah adalah tujuan
    mohon maaf lahir batin, selamat lebaran semoga kita kembali ke fitri”
  • “With the passage of the holy month of Ramadan
    Come the day of victory
    so let’s clearance of our hearts and souls from sin gelimang
    Forgive me body and soul”
  • “Dengan berlalu nya bulan suci Ramadhan
    Datanglah hari kemenangan
    untuk itu mari kita bersihan hati dan jiwa kita dari gelimang dosa
    Mohon Maaf Lahir dan Batin”
  • “When no time shaking hands
    and the body can not be met
    when said imprint wound
    I hope the door is always open apology
    Eid Al-Fitr Mubarak
    Forgive me body and soul”
  • “Ketika tangan tak sempat berjabat
    dan raga tak dapat berjumpa
    bila ada kata membekas luka
    semoga pintu maaf selalu terbuka
    Selamat Idul Fitri
    Mohon Maaf Lahir dan Batin”
  • “When the interpretation was pulsing
    Ramadan marks will be passed
    Forgiveness is hoped, can be a blessing in
    Tqobalallahu minna wa minkum
    Sorry spiritually”
  • “Ketika takbir telah berkumandang
    tanda Ramadhan akan berlalu
    ampunan diharap, berkah di dapat
    Tqobalallahu minna wa minkum
    Mohon maaf lahir batin”
  • “If not able to shake hands
    at least there is still the spoken word
    setuluh heart utter
    Eid congratulations, sorry inner and outer”
  • “Andai tangan tak mampu untuk berjabat
    setidaknya masih ada kata yang terucap
    setuluh hati mengucapkan
    selamat idul fitri, Mohon maaf lahir dan batin”
  • “When the imprint step lara
    No word of a lie a lie stringing
    no indication incise wound
    moohon inner and outer
    happy Eid 1437 H”
  • “Bila langkah membekas lara
    ada kata dusta merangkai dusta
    ada tingkah menoreh luka
    moohon lahir dan batin
    selamat hari idul fitri 1437 H”
  • “Ramadan has passed
    Victory day has come
    Time to grab grace and forgiveness
    please opened the door sorry
    Happy Eid al-Fitr”
  • “Ramadhan telah berlalu
    Hari kemenangan telah datang
    Saatnya meraih rahmat dan ampunan
    mohon dibukakan pintu maaf
    Selamat hari raya idul fitri”
  • OF ALL THE DAYS TO CELEBRATE THIS OUT SHINES THE REST, HERE IS HOPING THAT, THIS EID IS HAPPIEST AND BEST. EID MUBARAK.
  • HOPE LOVE AND LAUGHER, WARMTH, WISHES, JOY AND A BOUQUET OF EID WISHES, MAY JUBILATION BECOME A PART OF YOUR EID AND YOUR LIFE.
  • LOOK OUTSIDE. ITS SO PLEASANT! SUN SMILING FOR YOU. TREES DANCING FOR YOU. BIRDS SINGING FOR YOU. BECAUSE I REQUESTED THEM ALL TO WISH YOU EID MUBARAK

wp-1558248245319..jpg

  • “O you who have believed, decreed upon you is fasting as it was decreed upon those before you that you may become righteous -” — Surat Al-Baqarah 2:183
  • “…And eat and drink until the white thread of dawn becomes distinct to you from the black thread [of night]. Then complete the fast until the sunset…” — Surat Al-Baqarah 2:187
  • “Allah is with those who restrain themselves.” — Quran 16: 128
  •  “O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that ye may (learn) self-restraint.” — al-Baqarah, 2:183
  • “The recompense for an injury is an injury equal thereto: but if a person forgets and makes reconciliation, his reward is due from Allah.” [62:40]
  • “Have patience with what they say, and leave them with noble (dignity).” [73:10]
  • He is the One GOD; the Creator, the Initiator, the Designer. To Him belong the most beautiful names. Glorifying Him is everything in the heavens and the earth. He is the Almighty, Most Wise. [59:24]
  • Hold to forgiveness, command what is right; but turn away from the ignorant.” [7:199]
  • “The recompense for an injury is an injury equal thereto: but if a person forgets and makes reconciliation, his reward is due from Allah.” [62:40]
  • “Allaah has made Laylat al-Qadr in this month, which is better than a thousand months, as Allaah says…The Night of Al-Qadr is better than a thousand months. Therein descend the angels and the Rooh [Jibreel (Gabriel)] by Allaah’s Permission with all Decrees, there is peace until the appearance of dawn.” — al-Qadar 97:1-5
  • It’s a day of rejoicing and bliss; it’s a day of blessing and peace; it’s a day to reflect and ponder; it’s a day to celebrate together!
  • May this Eid-Ul-Fitr be a special one for you and may it bring you many happy moments to cherish forever!
  • Eid Mubarak: Together with friends full of fun. Here’s wishing your Eid celebration is truly a special one. 2017 Eid Mubarak
  • Eid days are meant to celebrate the goals and the achievements that make you happiest. The ideals you believe in, the dream you love the best. Eid Mubarak!
  • On this Eid-ul-Fitr, may all your prayers be answered by Allah. Believe on him and he will grant you your heart’s desire.
  • May you be guided to your faith. Let this EID be happiest for you. Wish you EID Mubarak!
  • Being with you makes me very moment of mine a celebration. EID Mubarak! 18) May the Choicest Blessings of Allah fill your life with Peace, Joy and Prosperity!
  • With petals of roses, palm full of holy water, light of sunshine, fragrance of flowers & grass with the dew I wish a very HAPPY EID TO YOU!
  • Wish you a very happy and peaceful Eid Mubarak to you and all Muslims brothers and sisters around the world.
  • I wish you the gift of faith, the blessing of hope and the peace of His love at Eid and always.
  • May the good times and treasures of the present become the golden memories of tomorrow. Wish you lots of love, joy and happiness.
  • Wishing each other on Eid, strengthens the bond of love and brotherhood and hugging reflects forgiveness. A very blessed Eid ul-Fitr to all of you.
  • May Allah accept your good deeds, forgive your transgressions and Sins and ease the suffering of all peoples around the globe.
  • Eid days are meant to celebrate the goals and the achievements that make you happiest. The ideals you believe in, the dream you love the best. Eid Mubarak.
  • May Allah bless you on this auspicious day of Eid, and May it be a new beginning of greater prosperity, success and happiness. Many are the wishes that are being sent your way, but this is a special one for a very happy Eid Day.
  • AS ALLAH WATERS HIS CREATION, MAY HE ALSO SPRINKLE HIS WONDEROUS BLESSINGS OVER YOU AND YOUR BELOVED ONES. (AAMEEN).
  • I wish you all a very happy and peaceful Eid. May Allah accept your good deeds. forgive your transgressions and ease the suffering of all peoples around the globe. Eid Mubarak!
  • May The Blessing Of Allah Fill Your Life With Happiness, Success, And Good Health, Eid Mubarak.
  • May the magic of this Eid brings lots of happiness in your life and may you celebrate it with all your close friends and may it fill your heart with love. #EidMubaarak to you and your loved ones.
  • May all your prayers be answered. Have a blessed one Wish you all the joy and happiness! Happy Ramadan Eid May Allah accept your good deeds, forgive your transgressions and ease the suffering of all peoples around the globe.
  • NO SHADOWS TO DEPRESS U, ONLY JOYS TO SURROUND U, ALLAH HIMSELF TO BLESS U, THESE R OUR WISHES FOR U, TODAY, TOMORROW, AND EVERY DAY…. EID MUBARAK.
  • I hope you enjoy each and every moment of it. May God accept our fasts and prayers. Of all the days to celebrate this outshines the rest, here is hoping that this EID is happiest and best. Eid Mubarak..
  • May this day bring peace and smoothness in your life, may it provide you the best time of your life. Happy Eid day!!!
  • Eid spreads the message of brotherhood and togetherness. May Allah bless you and bring happiness in Life. Eid Ul Fitr wishes to you and your Family!
  • The moon has sighted, The sweets are ready, Here Eid is Come So Celebrate. Happy Eid Mubarak Allah sees all your sacrifice. Wishing you blessings and rewards of hundred folds for your family. Have a blessed Eid-ul-Fitr!
  • No great verses, No pieces of art. Just two special words straight from the core of the heart. EID MUBARAK!
  • Eid days are meant to celebrate the goals and the achievements that make you happiest. The ideals you believe in, the dream you love the best. Eid Mubarak.
  • MAY THE ANGELS PROTECT U.. MAY THE SADNESS FORGET U.. MAY GOODNESS PROTECT U… MAY THE SADNESS FORGET U.. MAY ALLAH ALWAYS BLESS U EID MUBARAK
  • Friends, Advance Eid Mubarak to all of you enjoy these holidays with your loved ones, my special gratitude for those who will be performing their duties over Eid away from their families, God bless you all. Eid Mubarak to all Muslims around the world and may the blessings of Allah be with you today, tomorrow and always. On Eid al-Fitr,
  • I wish you a joyous celebration and showers of Allah’s blessings. May the noor of this EID illuminate your heart, mind, soul and may all you pray be answered. Remember me in your prayers. Happy Eid Mubarak!
  • May the blessings of Allah fill your life with happiness and open all the doors of success now and always.

wp-1558248369742..jpg

Bila Shalat Idul Fitri Jatuh Pada Hari Jumat

1528938786571.jpg

Bila Hari Idul Fitri Jatuh pada Hari Jumat

Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam

Bagi umat yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini. Bagi yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

Bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied maka kewajiban Shalat Jum’at gugur darinya. Artinya dia tidak lagi wajib menghadiri Shalat Jum’at. Dia punya pilihan antara ikut menghadirinya atau tidak. Jika tidak, maka dia melaksanakan Shalat Dzuhur sesuai dengan keumuman dalil atas wajibnya Shalat Dzuhur bagi yang tidak Shalat Jum’at.

Sedangkan bagi Imam, dianjurkan agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at bersama jamaah yang ingin mengerjakannya, baik mereka yang telah ikut Shalat Ied maupun yang tidak. Kacuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan Shalat Jum’at bersamanya, maka dia Shalat Dzuhur.

Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah asy-Sya’bi, an-Nakha’i, dan al-Auza’i. Ini merupakan pendapat Umar, Utsman, Ali, Sa’id, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, ridlwanullah ‘alihim dan orang para ulama yang sependapat dengan mereka.

1528938453339.jpgDalil dalil pendapat ulama

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syaami, dia berkata: “Aku menyaksikan Mu’awiayah bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Apakah kamu pernah mengalami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dua hari raya (Shalat Ied dan Shalat Jum’at,-red) yang berkumpul dalam satu hari?’ Dia menjawab: ‘ya.’ Mu’awiyah bertanya, ‘bagaimana beliau melakukan?.’ Dia menjawab: صّلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ. Beliau shalat Ied lalu memberi rukhshah untuk jum’atnya.’ Beliau bersabda: siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat’.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad).. Imam ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil pelaksanaan Shalat Jum’at setelah Shalat Ied adalah rukhshah (keringanan). Boleh dilaksanakan dan boleh juga ditinggalkan. Ini khusus bagi orang yang sudah melaksanakan Shalat Ied, bukan untuk orang yang tidak shalat.”. Imam ‘Atha berpendapat bahwa kewajiban shalat Jum’at gugur berdasarkan sabda Nabi di atas, “Siapa yang mau shalat (Jum’at), maka hendaklah ia shalat.”
  2. Dalam Sunan Abi Dawud, dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عَيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجْمِعُوْنَ “Sungguh telah berkumpul pada harimu ini dua hari raya, maka siapa yang berkehendak maka telah mencukupinya dari (shalat) Jum’at, sedangkan kami adalah orang-orang yang shalat Jum’at.” Maka hal itu menunjukkan atas rukhshah (keringanan) dalam berjum’at bagi orang yang telah shalat Ied pada hari itu. Dan diberitahukan tidak adanya rukhshah (keringanan) bagi Imam, karena sabdanya dalam hadits: وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “Sedangkan kami adalah orang-orang yang Shalat Jum’at.”
  3. Hadits riwayat Muslim dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam Shalat Jum’at dan Ied dengan surat Sabbihis (Surat Al-A’la) dan Al-Ghasyiyah. Barangkali dua hari raya itu berkumpul dalam satu hari maka beliau membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah) dalam kedua Shalat (Ied dan Jum’at).”
  4. Dalam Majma’ az-Zawaid wa Mamba’ al-Fawaid, Bab fi al-Jum’ah Wa al-Ied Yakunaani fi Yaum (Bab: Jum’at dan Ied dalam satu hari),  Juz 2, hal. 230, Imam al-Haitsami  menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar Radliyallah ‘Anhuma, berkata: “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah terjadi dua hari raya, idul fitri dan Jum’at, dalam satu hari. Setelah selesai shalat Ied bersama para jama’ah, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke mereka dan bersabda:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْراً وَأَجْراً وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ مَعَنَا فَلْيُجَمِّعْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ “Wahai sekalian manusia, kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala. Sesungguhnya kami melaksanakan shalat Jum’at. Maka barangsiapa yang ingin shalat jum’at bersama kami hendaknya dia melaksanakan dan barangsiapa yang ingin kembali ke keluarganya hendaknya dia pulang”.” (HR. Thabrani dalam al-Kabiir dari riwayat Ismail bin Ibrahim at-Turki, dari Ziyad bin Rasyid Abi Muhammad as-Sammaak)..
  5. Lajnah Daimah juga memberi fatwa yang serupa, “Jika Ied jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied, kecuali Imam. Kewajiban Jum’at tidak gugur darinya. Kacuali tidak ada orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at bersamanya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyah, Bab: Hukm al-Jum’ah wa Shalah al-Jum’ah Yaum al-‘Ied, Juz 10, hal. 164) Baca Link Fatwa: Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jumat?

Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.

Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim no. 878)

Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

  • Bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum.
  • Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’)
  • Terdapat perbedaan pendapat bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Ied pada hari itu (Jum’at) ia wajib shalat Jum’at pada hari itu juga. Karenanya bagi yang meyakini bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu tidak boleh memberikan harga mati. Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah.
  • Hendaknya sikap toleran dan menghargai pendapat saudara seiman lainnya dijaga. Karena terjaganya Ukhuwah Islamiyah adalah lebih besar daripada mempertahankan pendapat yang dianggap kuat dari masail khilafiyah. . .
  • Arahan ini juga berlaku bagi yang berpendapat bahwa shalat Jum’at tetap wajib atas orang yang telah mengerjakan shalat Iedul Adha di hari Jum’at. Bahwa dalam pendekatan fikih terdapat pendapat yang berbeda dengan yang diyakininya. Bahkan oleh para peneliti, pendapat gugurnya kewajiban Jum’at dari orang yang sudah mengerjakan shalat Ied di hari itu adalah lebih kuat.

1528939346706.jpg

Sejarah Asal Muasal Idul Fitri

Idul Fitri merupakan salah satu hari raya yang diperingati umat Muslim di seluruh dunia pada tanggal 1 Syawal di kalender Hijriah. Hari raya ini juga diberi sebutan sebagai hari kemenangan, karena pada hari ini umat Muslim sudah berhasil melawan hawa nafsu selama sebulan penuh. Sejarah hari raya Idul Fitri sendiri bisa ditelusuri kembali pada jaman Rasulullah SAW.

Sejarah Asal Muasal

Ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri disyari’atkan pada tahun pertama bulan hijriyah, namun baru dilaksanakan pada tahun kedua Hijriyah. Pada masa Rasulullah SAW, di sebuah kota yang terletak di Madinah ada dua hari yang di dalamnya terdapat kaum-kaum Yasyrik yang menggunakan dua hari tersebut dengan berpestapesta dan bersenang-senang semata, yang terkesan lebih berfoya-foya. Ke-dua hari tersebut dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan[1] dan konon hari itu sudah ada sejak zaman Jahiliyah dulu sehingga menjadi sebuah tradisi yang melekat pada orang Madinah kaum Yasyrik.

Ketika hal tersebut menjadi sebuah tradisi dan budaya kaum Yasyrik, sampailah kabar tersebut pada Rasulullah SAW. Sehingga Rasulullah ingin mencari tahu, bahwa apa yang sedang mereka lakukan dengan kedua hari tersebut. Kemudian orang-orang Madinah pun menjawab:

“Wahai Rasul pada hari ini kami sedang merayakan pesta untuk kesenangan dan kepuasan kita, dan kita akan menjadikan hari ini menjadi sebuah tradisi kita karena hari ini suda ada
sejak zaman kaum Jahiliyah”.

Mendengar hal tersebut Rasulullah kaget dan tersentak hatinya untuk menyuruh mereka berhenti melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sehingga kemudian Rasulullah berkata kepada kaum Yasyrik tersebut, kalian harus tahu bahwa sesungguhnya Allah menggantikan kedua hari tersebut dengan hari yang lebih baik daripada sekedar berpesta-pesta dan berfoya-foya saja yang hanya akan menjadikan kalian umat yang bodoh yang akan menggunakan waktu dan harta kalian dengan Mubazir atau sia-sia.

Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti kedua hari tersebut dengan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri, yang penuh dengan makna dan hikmah-hikmahnya. Peristiwa tersebut menjadi sebuah riwayat yang menjadi Hadist yang terdapat dalam kitab Fiqh Madzahib Al-Arbaah.

Dalam kitab Bulugh Al-Marrom, ada sebuah hadis pula yang hampir sama dengan hadis di atas tentang sejarah terjadinya Hari Raya Idul Fitri. Hal ini untuk memperkuat sumber-sumber tentang sejarah asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri. Sejarah asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri tersebut, dijadikan sebagai landasan dasar theologi yaitu untuk merubah hari yang tidak baik menjadi hari yang sangat baik yang di dalamnya penuh dengan keberkahan.

idul fitri

Sumber:

[1] Kedua hari tersebut ditentukan oleh pemimpin yang berkuasa pada masa itu. Penyebab ditentukannya hari itu sebagai hari raya buat mereka adalah karena pada kedua hari tersebut adanya kestabilan situasi kondisi dan suhu udara dan selain itu dari keistimewaan yang sangat nyata bagi orang yang memperhatikan perkara itu. Hannan Hoesin Bahannan Dkk, Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya(Maktabah Salafy Press, 2002), h. 214.
[2] Hannan Hoesin Bahannan Dkk, h. 213.
[3] Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh Madzahib al-Arba’ah-Dalilun Masyru’iyyatun Sholat al- ‘Idain (Kairo: Daar Al-Hadist, Tt), h. 271.

[4]. wikipedia.org,

Benarkah Ucapan Minal ‘Aidin wal-Faizin di Hari Lebaran ? Bagaimana tuntunan Rasulullah ?

Idulfitri, atau juga ditulis dengan Idul Fitri, atau Lebaran di Indonesia adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda.

Do’a atau ucapan pada Idulfitri

Di Indonesia sering mengucapkan doa Minal ‘Aidin wal-Faizin, sebenarnya itu adalah tradisi masyarakat Asia Tenggara. Menurut sebagian besar ulama ucapan tersebut ditidaklah berdasar dari ucapan dari Nabi Muhammad. Perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya.[1]

Adapun ucapan yang disunnahkan olehnya adalah Taqabbalallahu minna wa minkum(“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”) atau Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik (“Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu” dan semisalnya.”) dan semisalnya.[2][3][4][5]

Referensi

  1. Dawawin Asy-Syi’ri Al-’Arabi ‘ala Marri Al-Ushur, 19:182.
  2. ^ Muhammad bin Ziyad, berkata: “Ketika itu aku bersama Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu dan sebagian sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang lain, lalu apabila mereka pulang sebagian mengucapkan kepada sebagian lainnya: (Taqabbalallahu minna waminkum) (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian), Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Sanadnya baik.” Dari Ibnu At-Turkimani dalam kitabnya Al-Jauhar An-Naqiy Hasyiah Al-Baihaqi (3/320-321).
  3. Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Tamamul Minnah (356).
  4. Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni (2/259).
  5. Al-Ashbahani dalam kitabnya At-Targhib Wa At-Tarhib (1/251).

100 Ucapan Idul Fitri Terbaik

100 Ucapan Idul Fitri Terbaik

SELAMAT IEDUL FITRI 1438H”, teriring do’a  Taqobballahu Minna wa Minkum, Taqobbal Ya Karim. Minal Aidin wal Faizin Kullu Amin wa Antum Bi Khoir. Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan dan kekhilafan kami. 
Jangan pernah memutuskan persaudaraan hanya karena sepatah kata yang tak sengaja terucap. Sengaja atau tidak sengaja, mohon keikhlasan untuk dimaafkan

  •  Menuju kesucian yang hakiki tak lengkap rasanya jika belum memaafkan dan dimaafkan. Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faidzin

Bahwa kita memaafkan orang lain bukan untuk mereka melainkan untuk diri kita, maka jangan pernah segan dan malu untuk sekedar memaafkan

  •  Kesedihan meninggalkan ramadhan telah diganti dengan kebahagiaan akan datangnya idul fitri sebagai puncak ibadah menuju kemenangan

 Tiada kemenangan tanpa zikrullah. Tiada amal tanpa keikhlasan. Tiada ampunan tanpa maaf dari sesama. Minal aidin wal faidzin

  •  Jika jemari tak mampu berjabat. Saat batin kotor ini rindu akan keikhlasan maaf. Hanya lewat kata ini jemariku bersilaturahmi memohon keikhlasan atas segala khilaf yang pernah ku perbuat

 Menghilangkan sifat dengki pada diri kita akan membantu kita menuju kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Selamat dan sukses kawan di hari yang fitri ini

  •  Tersenyumlah untuk menjemput kebahagiaan, jangan menunggu bahagia untuk bisa tersenyum. Hiasi hari bahagia ini dengan senyuman

Langit berdecak kagum mendengar dentuman suara takbir yang begitu dahsyat. Inilah hari kemenangan dan hari kebahagiaan tiada tara

  •  Seindah indah tulisan adalah alquran dan sehina-hina tulisan adalah khayalan. Mari hiasi hari fitri anda dengan menyuarakan takbir dan tahmid
  • Meskipun kita telah meninggalkan Ramadhan, namun hari lebaran atau idul fitri ini kita semuanya merayakan kemenangan atas kesungguhan selama menjalankan puasa ramadhan. Baiklah berikut ungkapan yang bisa kita bagikan berupa ucapan selamat hari raya idul fitri 2017 (1438 H).
  •  Inilah hari yang penuh kesucian dan kesukacitaan. Hari kemenangan dan hari untuk saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin dan selamat hari raya idul fitri
  •  Harta paling berharga adalah sabar. Teman paling setia adalah amal. Ibadah paling indah adalah ikhlas. Identitas paling tinggi adalah iman. Pekerjaan paling berat adalah memaafkan. Mohon maaf atas segala khilaf dan salah
  •  Masih ada salah yang tersirat, terucap dan terlakukan. Di hari penuh kesucian ini, Mohon dimaafkan. Karena sesungguhnya tiada manusia yang tak luput dari salah, tiada manusia yang sempurna
  •  Selamat hari raya idul fitri, raih kemenangan dan kembali ke fitrah. Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir dan batin
  •  Meski wajah tak mampu berjumpa. Tangan tak bisa saling menjabat. Semoga coretan kata ini mampu menjadi jembatan di hari penuh kemenangan. Minal aidin wal faidzin
  •  Satukan tangan dan teguhkan hati di hari penuh kemenangan ini untuk saling memaafkan dengan ikhlas
  •  Sunset Ramadhan beranjak pergi, berganti fajar syawal dipagi hari. Membawa cahaya kedamaian dipenghujung ramadhan. Menebar berkah di hari kemenangan. Selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin
  •  Takbir berkumandang, kedamaian bertebaran, keharuan menghiasi setiap jiwa, dan kebahagiaan atas rahmat yang sangat indah. Allahu akbar..Allahu akbar..Allahu akbar
  •  Mari bersihkan hati dan jiwa dari gelimangan dosa di hari penuh kemenangan ini
    • Ketika langkahku membekas lara
    • Kataku merangkai dusta
    • Laku tingkahku menoreh luka
    • Dari jeritan lubuk hatiku yang terdalam
    • Kumohonkan maaf atas segala ucapku
    • Taqabalallahu minna wa minkum
    • Minal ‘Aidin Wal Faizin
    • Mohon Maaf Lahir Dan Batin
    Selamat Hari Raya Idul Fitri
    • Untuk lisan yang tak terjaga
    • Untuk janji yang diabaikan
    • Untuk hati yang berprasangka
    • Untuk sikap yang menyakitkan rasa
    • Di hari yang fitri, dengan tulus hati
    • Ku ucapkan mohon maaf lahir dan batin
    Semoga Allah membimbing kita menuju ridhoNya
    • Dosa kecil padamu
    • Jika ditumpuk akan menjadi besar
    • Kebaikan kecilmu kepadaku
    • Jika ditumpuk hutang budiku besar
    • Sahabat, satu pintaku di hari raya
    • Maafkan segala dosa dan
    Jangan pernah berhenti menjadi sahabatku
    • Sambut kemenangan dengan bahan yang terBAIK
    • Berbahan KESABARAN dengan benang dari KESUCIAN
    • Serta berhiaskan KEIKHLASAN yang terjahit sebulan lamanya
    Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Dan Batin
    • Pas Idul Fitri datang
    • Saat Ramadhan pun pergi
    • Sebelum operator telepon sibuk
    • Sebelum SMS pending terus
    • Kuucapkan Minal Aidin Wal FaizinTiada pemberian yang terindah dan perbuatan termulia
    • Selain maaf dan saling memaafkan
    • SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
    • Minal Aidin Wal Faizin
    Mohon Maaf Lahir Dan Batin
    • Ucapan Idul Fitri 2017Kata Kata Idul Fitri 2017Membeli es di warungnya bu Rima
    • Taruh di piring eh disantap bersama
    • SMS sudah saya terima
    • Teriring pula maksud yang sama
    • MINAL AIDIN WAL FAIZINUntuk lisan yang tak terjaga
    • Untuuk janji yang belum terpenuhi
    • Hati yang kerap berprasangka
    • Dengan penuh keikhlasan kumohon maaf lahir dan batin

Bila Idul Fitri adalah lentera
Biarkan ia membuka tabirnya
Cahaya maaf menembus jiwa
Dari segala khilaf dan kesalahan
Selamat Hari Raya Idul Fitri

Bila ada kata yang terselip dusta
Ada sikap yang membekas lara dan torehkan luka
Semoga masih ada ruang maaf yang terisa
Minal Aidin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Di kantor kita adalah teman
Meski kadang ada persaingan
Di rumah kita adalah teman
Meski kadang ada perselisihan
Di hari yang fitri kita perkokoh rasa pertemanan
Dengan saling maaf memaafkan

Ramadhan akan segera berlalu
Jiwa bersih berbalut kalbu
Dengan segala kerendahan hati
Mohon diberi maaf yang setulus hati
Selamat Idul Fitri
Minal Aidin Wal Faizin

Sayup terdengar suara takbir berkumandang
Tanda Ramadhan telahlah lewat
Ampunan diharap dan barokah didapat
Taqabalallahu Minnaa Wa Minkum
Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Sebelum takbir berkumandang
Sebelum ajal menjemput
Sebelum jaringan over load
Ijinkan ku mohon maaf lahir dan batin

Si Mamat makan ketupat
Makan ketupatnya sambil lompat-lompat
Ngirim katu ucapan ga sempat
P1528938968491.jpgake SMS pun “No What What”
Minal Aidin Wal Faizin
Met Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Mata kadang salah melihat
Mulut kadang salah berucap
Hati kadang salah menduga
Dengan niat yang tulus dan ikhlas
Mohon dibukakan segala maaf

 

  •  Kemuliaan seseorang dilihat dari keikhlasannya dalam memaaafkan setiap salah dan khilaf atas dirinya. Maka maafkanlah keluarga, sahabat, bahkan musuh sekalipun di hari suci ini
  •  Sungguh mulia mereka yang bersabar dan saling memaafkan, selamat hari lebaran dan tebarlah kebaikan
  •  Bersyukur diri ini karena masih diberikan kesempatan untuk memperbanyak amal di bulan ramadhan dan melakukan kebaikan di hari yang fitrah
  •  Jadilah pemuda idaman yang bukan hanya bisa berkarya tetapi memiliki nurani yang hebat untuk memaafkan setiap kesalahan dan kekhilafan
  •  Hidup hanya sekali, namun kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan idul fitri berkali-kali. Masih adakah keegoan untuk tidak memaafkan saudara kita?
  •  Mari menjadikan momen idul fitri sebagai agenda untuk saling berkunjung dan bersilaturahim untuk mempererat persahabatan dan persaudaraan
  •  Untuk hati yang pernah terluka oleh tajamnya lidah. Untuk jiwa yang tersakiti oleh buruknya sikap dan perilaku. Selamat idul fitri dan mohon maaf lahir dan batin

Kaki tak dapat melangkah
Hanya Hati yang mampu berbisik
Mohon Maaf atas segala kesalahan
“Selamat Hari Raya Idul Fitri”

  • Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
  • Kemenangan akan kita gapai
  • Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
  • Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
  • Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
  • Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT

Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H 2017
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin

Apabila ada langkah membekas lara
Ada kata merangkai dusta
Ada tingkah menoreh luka
Mohon maaf lahir serta bathin
Selamat hari raya Idul Fitri 1438 H 2017

Bulan ramadhan telah berlalu
Dan hari kemenangan telah datang
Untuk itu mari kita bersihkan hati dan jiwa kita
Sari gelimang dosa
Mohon maaf lahir dan bathin

Mata dapat salah lihat
Kuping dapat salah dengar
Mulut dapat salah bicara
Hati dapat salah sangka
Di hari yang fitri ini
Mohon maaf lahir serta bathin

Besok adalah harapan
Saat ini adalah kenyataan
Hari Lalu adalah kenangan, khilaf dan kesalahan pasti selalu ada
Bila tangan tak mampu berjabat,
Kaki tidak sempat melangkah.

Tulus dari hati ku ucapkan
Mohon maaf lahir batin
Maafkan khilaf dan salah
Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Hanya hati mampu berbisik indah.

Idul Fitri adalah Cahaya.

Izinkan untuk merasakan sinarnya

Saat kata tak mampu berucap
Hanya bisa mengirim pasan
Maafkan bila selama ini banyak salah
Kami Sekeluarga mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul fitri.

Ramadhan Ibarat Padang Pasir
Dosa Ibarat Sebuat Tulisan
Ibarat Tulisan diatas Pasir
Idul Fitri seperti angin yang akan menghapus semua tulisan
Tetelah itu akan bersih kembali fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin

 Saya Uzumaki Naruto
Hateke Kakasih
Tsunade
Dan Saya Riko Wijaya
Kami segenap Ninja Konoha dan Negara Api
Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri
Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Ramadhan Menyuci hati yang penuh dosa
Mendapatkan kesempatan meraih rahmat dan ampunan-Nya
Lisan dan sikap yang tidak terjaga
Membuat banyak salah dan dosa
Mohon dibukakan segala pintu maaf yang sebesar-besarnya.
Selamat Lebaran Ya.
Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.

 Apabila jemari tidak sempat berjabat tangan,
Apabila ada kata membakar luka lara, merobek kalbu,
Berdoa agar pintu maaf masih terbuka lebar.
Selamat Lebaran Hari Raya Idul Fitri,
Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir Batin.

Mementa Maaf Adalah kewajiban
Memaafkan adalah pilihan
Dimaafkan adalah Harapan
Banyak salah dan Dosa Mohon dimaafkan
Bila berkenan agar maafnya diterema.
Minal aidin walfaizini mohon maaf lahir batin
Sekeluarga.

 Kadang Kala cinta, bisa membuat orang berubah total.
Kadang juga cintamembuat orang jadi sakit hati.
Sering  terucap kata kata manis.
Tidak jarang berujung pedih.
Setiap awal pasti ada akhir
Bukan berarti semua sudah berakhir
Semua kata ku ucapkan maaf
Selamat Hari Raya
Maafkan salah yang pernah ada

Lantunan syair takbir berkumandang didalam dada
Idul Fitri tinggal hitungan hari.
Sucikan Hati bersama embun pagi
Menyongsong mentari sore hati
Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf
Hanya seutas kata berbalut doa
Selamat Hari Raya Idul Fitri

 Manusia Tak sesempurna Pencipta
Penuh Salah dan Dosa
Seandainya ada kata-kata  saya yang menyakiti hati,
Seandainya status saya yang tidak sedap dipandang mata,
Seandainya sikap saya seperti lupa usia,
Saya sepenuh hati memohon maaf
Minali Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir Batin

Segala yang aku lakukan adalah untuk kebahagianmu.
1528938968491.jpgSemuanya adalah untukmu.
Aku bukan lelaki/wanita yang sempurna
Terus saja ada ucapan salah
Mungkin bisa menyakiti hatimu.
Dihari ini aku meminat segala keiklasan
Untuk memaafkan semua kesalahan
Selamat hari raya Idul Fitri.

 Lebaran yang agung,Seagung kalimat Tayyibah
Semegah dinul Islam kaffah,
Sebesar silaturrahim mendatangkan cinta dan kedamaian.
Bila ada kelakukan yang salam,
Mohon Sekiranya dimaafkan.
Happy Idul Fitri

Open hati dapat cinta,
Open buku dapat ilmu,
Open hp dapat sms,
Open sms dapat ucapan “Selamat Lebaran Idul Fitri”
Minal Aidin Walfaizin
Mohon Maaf Lahir Batin

 Tidak Ada Kata seindah zikir
Alunan merdu bagaikan adzan,
berbaris rapi dalam antrian,
bagain bebek tertip rapi,
Kini tiba hari kemenangan
keihklasan perhiasan terindah hati untuk saling memaafkan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Dear Hari Ini segalanya terasa indah
Seandainya keseluruhan salah & khilaf dapat terhapus dengan ikhlas.
Dengan saling berjabat tangan
Sembari mengucapkan minal aidin walfaizini mohon maaf lahir dan batin.

 Perkataan yang paling baik adalah “Allah”,
Syair yang paling indah adalah “Adzan”,
Buku terbaik terlengkap adalah “Al-Qur’an”,
Olahraga palig sehat adalah “Shalat”,
Diet paling bagus adalah “Puasa”,
Cuci Muka menyegarkan adalah “Wudhu”,
Perilaku paling mulia adalah “Memaafkan”,
Minal Aidin Walfaizin mohon maaf lahir batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Fajar surya berseri indah dipagi penuh berkah ini,
Kami Sekeluarga mohon dbukakan pintu maaf
Apabila ada kata dan tindak yang tidak berkenan dihati.
Segala perilaku kami.
Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan bantin.

 Sebening hati pasti ada keruhnya prasangka buruk,
Diikat sapa ada celanya kata yang terlontar.
Ada salah disetiap kata, berangkai maaf berisi doa
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

Ya Rob, Limpakanlah umur kami hingga Ramadhan ditahun depan.
Bersihkan hati kami untuk bisa saling memaafkan sesama saudara muslim.
Minal Aidin Walfaizini mohon maaf halir dan batin

 Mari Program ulang NIAT,Full upgrade IMAN,
undah SABAR,
hapus DOSA,
Saling MAAF dan Memaafkan,
Cek PAHALA Supaya kita getting GUEST LIST masuk surga..
Untuk Semua Minal Aidin Walfaizini
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

RESEP SPECIAL IDUL FITRI
Bahan yg disediakan:
2 potong rasa bersalah
3 siung kasih sayang
4 sendok rasa menyesal d+
1 gelas saling memaafkan
BUMBU:
1 kg ikhlas
2 kg tawakal
1 kg kebaikan
Ditambah 2 lembar daun assalam, rasa hormat, tenggang rasa, saling menghargai.
Tuangkan kasih sayang, hiasi dengan “perasaan” cinta sesama mukmin dan ketulusan hati
diracik sampai semua tercampur rata,
Terakhir, hidangkan dengan “kejujuran hati”
Selamat Menikmati Menu Special Idul Fitri
Mohom Maaf Lahir Batin

 Satu harapan untuk perubahan,
Satu cinta untuk pengabdian,
Satu asa untuk berkarya,
Ayo Bangun bersama peradaban islam gemilang.
Dimulai di hari  fitri, diawali dengan maaf ikhlas hati.
Mohon MAAF jika ada perkataan & sikap yang kurang berkenan dihati
Untuk Semua khilaf.
Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kita Semua akan menuju dan kembali ke fitrah masing2
Fitrah adalah bawaan sejak lahir
Hal tersebut adalah “Laa ilaha Illallah”
Sucikan hati kembali kepada tauhid
Mohon Maaf Lahir Batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri

 Puasa Ini akan kembali berlalu,
Pergi Menjauh meninggalkan kisah haru
Semua akan sia-sia jika hati masih terbalut noda.
Bersikan jiwa sucikan hati
Selamat Hari Raya Idul Fitri

Hidup ini tidak lama hanya sebentar..
Sebentar marah, Sebentar ketawa
Sebentar berduit, Sebentar buntu
Sebentar senang, Sebentar susah
Sebentar Lagi Lebaran
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri

 Aku memang bukan mentari yang bisa membuatmu perbedaan pagi dan malam
Namun setidaknya cahaya kecil ini bisa berarti di hari raya idul fitri…
Untuk Mu minal aidzin walfaidzin

Bulan penuh berkah dan hikmah telah berlalu..
Harapan menitis kehidupan baru
Membuka ribuan pintu maaf,
Kami bisa menjadi dari bagian yang termaafkan,
Mohon Maaf Lahir dan Batin

 L : ive is go on,
E : verything reborn again,
B : ut
A : ll of d sin &
R : egret still inside in me,
A: nd I wanna say
N : othing but Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir batin..

Sayup terdengar suara takbir berkumandang
Tanda Ramadhan telahlah lewat
Ampunan diharap dan barokah didapat
Taqabalallahu Minnaa Wa Minkum
Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Sebelum takbir berkumandang
Sebelum ajal menjemput
Sebelum jaringan over load
Ijinkan ku mohon maaf lahir dan batin

Si Mamat makan ketupat
Makan ketupatnya sambil lompat-lompat
Ngirim katu ucapan ga sempat
Pake SMS pun “No What What”
Minal Aidin Wal Faizin
Met Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Mata kadang salah melihat
Mulut kadang salah berucap
Hati kadang salah menduga
Dengan niat yang tulus dan ikhlas
Mohon dibukakan segala maaf

Sudah ramai orang di pasar
Dipenuhi sesak orang di warung makan
Shopping baju di pasar besar
Belum puasa udah mikir lebaran
Lebih baik minta maaf sebelum lebaran
Minal aidini walfaizin
Mohon Maaf Lahir batin

 Melakukan khilaf adalah sifat
Meminta maaf adalah kewajiban
Kembali ke Fitrah adalah tujuan
Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir batin
Kami Sekeluarga Selamat Hari Raya Idul Fitri

Maaf dan memaafkan bukan adalah kewajiban
Bukan karena hari ini Lebaran
Namun karena Ridho Allah SWT
Mumpung Semua Pintu Maaf Terbuka Lebar
Mohon Maaf atas segala khilaf dan alpa

Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini
Kemenangan akan kita gapai
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT
Kami sekeluarga menghaturkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H
Taqobalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir Dan batin

Melati semerbak harum mewangi,
Sebagai penghias di Hari fitri,
SMS ini hadir pengganti diri,
Ulurkan tangan silaturahmi.
Selamat Idul Fitri

Sebelas bulan Kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh Kita gelar puasa,
Kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah Ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Andai jemari tak sempat berjabat.
Jika raga tak bisa bersua.
Bila Ada kata membekas luka.
Semoga pintu maaf masih terbuka.
Selamat Idul Fitri

Bila kata merangkai dusta..
Bila langkah membekas lara
Bila hati penuh prasangka
Dan bila Ada langkah yang menoreh luka.
Mohon bukakan pintu maafâ
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah Ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

One day before ied,… I wanna say forgive my sins,
may our hearts purified from all mistakes,
happy iedul fitri minal aidin wal faidzin

Selepas ramadhan semoga mutiara kesabaran, keimanan
& mahabbah pada Allah selalu terpatri dalam diri,
seharmoni dengan gelombang kehidupan yang tak selalu datar.,
maaf lahir batin.

Bila Idul Fitri adalah lentera,
izinkan membuka tabirnya dengan maaf
agar cahayanya menembus jiwa fitrah dari tiap khilaf
Selamat Hari Raya Idul Fitri

Bila ada kata terselip dusta, ada sikap membekas lara & langkah menoreh luka,
semoga masih ada maaf tersisa.
minal aidin wal faidzin

Tiada pemberian terindah & perbuatan termulia selain maaf
dan salin memaafkan SELAMAT IDUL FITRI minal aidin wal faidzin.
Teriring salam dari dan tuk keluarga

Bahagia terasa bila segala khilaf & salah dapat saling dimaafkan,
sebagai syukur menyambut IDUL FITRI walau jemari tak kuasa menjabat,
kata menjadi jembatan “mohon maaf lahir batin”
Pas Idul Fitri datang,
pas Ramadhan pergi,
sebelum operator sibuk,
sebelum sms pending melulu…
minal aidin wal faidzin.

Untuk lisan yang tak terjaga
janji yang tak terpenuhi
hati yang kerap berprasangka
dengan penuh keikhlasan
mohon maaf lahir batin
Beli es diwarung Bu Rima.
Taruh di piring santap bersama.
Sms sudah saya terima.
Teriring pula maksud yang sama.

Ketupat udah dipotong
Opor udah dibikin
Nastar udah dimeja
Kacang udah digaremin
Gak afdhol kalo gak Minal Aidin wal Faizin
Taqobalallahu minna wa minkum

Barangsiapa minta maaf lewat sms,
maka kamu akan tersiksa di hari pembayaran pulsa.
Mohon maaf tidak bisa kirim parsel karena dilarang KPK.
Mohon maaf atas segala kekhilafan.
samBut kmEnanGan dG mEmaKai paKa!an tbaEk,BrbaHan ksabaRan,
brbEnang ksuCian&brhiaSkan keiKhlasn yG trjahiT sBulan laMany
Met idul fiTri mHon mAAf lahiR baTinw.

SiMaMaT MaKaN KeTuPaT, MaKaN KeTuPaT SaMBiL MeLoMpAt,
NgiRiM KaRtU uDaH Ga’
SeMpAT,Pake SMS PuN
NO WHAT-WHAT’ MìNàl AiDìÑ WàL fAidZiÑ,
met’ IEdUL Fitri

Walau Hati `gak sebening XL dan secerah MENTARI.
Banyak khilaf yang buat FREN kecewa,
kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS-kan diri dari ROAMING dosa,
kita hanya bisa angkat JEMPOL padaNya
yang selalu buat kita HOKI dalam mencari kartu AS
dan STAR ONE selama hidup, kita harus FLEXI-bel untuk menerima semua pemberianNYA
dan menjalani MATRIX kehidupan ini… dan semoga amal kita tidak ESIA-ESIA.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

10 Kisah Rasulullah dan Lailatul Qadar

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam qadar.” (QS al-Qadar [97]: 1).

  1. Suatu hari, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkisah kepada para sahabat tentang seorang seorang yang saleh dari Bani Israil. Orang tersebut menghabiskan waktunya selama 1.000 bulan untuk berjihad fisabilillah. Mendengar kisah itu, para sahabat merasa iri karena tak bisa memiliki kesempatan untuk beribadah selama itu.
  2. Usia umat Nabi Muhammad SAW memang lebih pendek dari umat terdahulu. Dalam riwayat lainnya disebutkan, Rasulullah SAW pernah merenungi hal itu. Nabi SAW pun bersedih karena mustahil umatnya dapat menandingi amal ibadah umat-umat terdahulu. “Dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga, Allah SWT lalu mengaruniakan lailatul qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW,” ungkap Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam kitab Fadha’il Ramadhan. Menurutnya, lailatul qadar adalah suatu malam karunia Allah yang sangat besar kebaikan dan keberkahannya.
  3. Lalu, apa sebenarnya lailatul qadar itu? Lailatul qadar berarti malam yang penuh dengan kemuliaan. Pada malam itu, kata dia, diturunkan Alquran yang memiliki kemuliaan melalui seorang malaikat yang juga sangat mulia dan diterima seorang nabi yang juga sangat mulia. Qadar bisa bermakna ukuran. Ukuran segala sesuatu itu ditetapkan pada malam itu, rezeki seseorang, apakah dia bahagia atau tidak? Sampai setahun ke depan ditetapkan pada malam itu. Lailatul qadar memiliki sejumlah keistimewaan. Betapa tidak. Pada malam itu Alquran diturunkan. Selain itu, lailatul qadar itu lebih baik dari 1.000 bulan.
  4. Pada malam itu para malaikat dan ar-Ruh (yang dimaksud adalah Malaikat Jibril) turun ke bumi. Para malaikat itu turun dengan membawa rahmat dan keberkahan. Yang tak kalah penting, malam yang istimewa itu membawa kedamaian dan rasa aman kepada siapa saja yang menjumpainya sampai terbit fajar.
  5. Dalam sebuah riwayat, yang dimaksud fajar adalah terbit fajar di keesokan harinya. Tapi, hatta mathla’il fajr berarti sampai tiba saatnya fajar kehidupannya yang baru di akhirat nanti. Lalu, seperti apa ciri-ciri akan datangnya lailatul qadar? Tanda-tanda fisik-seperti yang populer di kalangan masyarakat-bahwa malam itu tenang, angin sepoi-sepoi, kemudian matahari di keesokan harinya berawan dan tidak terlalu panas. Namun, riwayat-riwayatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.
  6. Tanda-tanda fisik semacam itu secara logika memang sulit diterima. Karena, sangat relatif, bergantung pada musim. Kalau musim hujan, ya pasti mendung. Apalagi dengan perubahan iklim sekarang. Jadi, tanda-tanda fisik itu tidak bisa dijadikan ukuran. Tanda yang pasti adalah salaamun hiya hatta mathla’il fajr.
  7. Yang utama, salah satu tanda yang pasti dari lailatul qadar adalah orang selalu merasa damai, selalu menebar kedamaian dalam hidupnya sampai dia meninggal dunia bahkan sampai dibangkitkan kembali menyongsong fajar kehidupan yang baru.
  8. Tak ada seorang pun yang tahu kapan tamu agung itu akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu akan menghampiri hambanya. Terlebih, sebagai tamu agung, lailatul qadar hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat taufik dan beramal saleh pada malam itu. Mengapa begitu? Supaya kita semakin giat mencarinya sepanjang hari, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.
  9. Sesungguhnya, lailatul qadar itu memiliki banyak makna. Lailatul qadar bisa diartikan secara fisik bahwa betul-betul memang malam itu ada sesuatu yang istimewa. Pada malam itu, Malaikat turun berbondong-bondong sangat luar biasa, dan hanya detik itu, menit itu, atau jam itu. Ada lagi yang memaknai lailatul qadar simbolis sesungguhnya. Laila artinya malam. Malam bisa berarti keheningan, kesyahduan, kepasrahan, tawakal, kerinduan, kehangatan, termasuk juga kekhusyukan.
  10. Sebagaimana banyak dijelaskan dalam berbagai buku sejarah, termasuk Sirah Nabawiyyah, lailatul qadar itu hanya terjadi sekali dalam setahun, yakni hanya pada bulan Ramadhan. Dan itu pun waktunya tidak ditentukan. Ada yang berpendapat, terjadi di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Tafsir Ibnu Katsir Al-Qadar, ayat 1-5 : Malam Kemuliaan Malam Seribu Bulan

Tafsir Ibnu Katsir Al-Qadar, ayat 1-5 : Malam Kemuliaan Malam Seribu Bulan

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit yang terdekat. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai malam diturunkan-Nya Al-Qur’an di dalamnya. Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 2-3)

Abu Isa At-Turmuzi sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani, dari Yusuf ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa seorang lelaki bangkit menuju kepada Al-Hasan ibnu Ali sesudah membaiat Mu’awiyah. Lalu lelaki itu berkata, “Engkau telah mencoreng muka kaum mukmin,” atau, “Hai orang yang mencoreng muka kaum mukmin.”

Maka Al-Hasan ibnu Ali menjawab, “Janganlah engkau mencelaku, semoga Allah merahmatimu, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah diperlihatkan kepadanya Bani Umayyah berada di atas mimbarnya, hal itu membuat diri beliau merasa berdukacita. Maka turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا أَعْطَيْناكَ الْكَوْثَرَ

‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar’ (Al-Kautsar: 1)

hai Muhammad, yakni sebuah sungai (teiaga) di dalam surga. Dan turunlah pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}

‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan’ (Al-Qadar: 1-3).

yang akan dimilikkan sesudahmu kepada Bani Umayyah, hai Muhammad.” Al-Qasim mengatakan bahwa lalu kami menghitung-hitungnya, dan ternyata masa pemerintahan Bani Umayyah adalah seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui jalur ini, yaitu melalui hadis Al-Qasim ibnul Fadl. Dia adalah seorang yang berpredikat siqah, dinilai siqah oleh Yahya Al-Qattan dan Abdur Rahman ibnu Mahdi.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa gurunya bernama Yusuf ibnu Sa’d yang dikenal dengan nama Yusuf ibnu Mazin, dia adalah seorang yang tidak dikenal. Dan hadis dengan lafaz yang seperti ini tidaklah dikenal melainkan hanya melalui jalur ini.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin dengan sanad yang sama. Dan mengenai perkataan (penilaian) Imam Turmuzi yang menyebutkan bahwa Yusuf ibnu Sa’d seorang yang tidak dikenal, masih perlu diteliti. Karena sesungguhnya telah meriwayatkan darinya sejumiah ulama yang antara lain ialah Hammad ibnu Salamah, Khalid Al-Hazza dan Yunus ibnu Ubaid. Yahya ibnu Mu’in menilainya sebagai seorang yang masyhur (terkenal). Dan menurut suatu riwayat dari Ibnu Mu’in, Yusuf ibnu Sa’d adalah seorang yang siqah (dipercaya).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin, demikianlah menurutnya, dan ini menimbulkan idtirab dalam hadis ini; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian hadis ini dengan hipotesis apa pun berpredikat munkar sekali. Guru kami Imam Al-Hafiz Al-Hujjah Abul Hajjaj Al-Maziy mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar.

Menurut hemat kami, ucapan Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani yang menyebutkan bahwa ia menghitung-hitung masa pemerintahan Bani Umayyah, maka ternyata ia menjumpainya seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun, pendapat ini tidaklah benar. Karena sesungguhnya Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan Radhiyallahu Anhu baru memegang tampuk pemerintahan saat Al-Hasan ibnu Ali menyerahkannya kepada dia pada tahun empat puluh Hijriah, lalu semua baiat sepakat ‘tertuju kepada Mu’awiyah, maka tahun itu dinamakan dengan tahun Jama’ah.

Kemudian Bani Umayyah terus-menerus memegang kendali pemerintahan berturut-turut di negeri Syam dan negeri lainnya. Tiada suatu kawasan pun yang memberontak terhadap mereka kecuali hanya di masa pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair di kedua tanah suci (Mekah dan Madinah), dan Al-Ahwaz serta negeri-negeri yang terdekat selama sembilan tahun. Akan tetapi, kesatuan dan persatuan mereka tetap berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah secara keseluruhan terkecuali hanya pada sebagian kawasan yang tertentu. Hingga pada akhirnya kekhalifahan direbut dari tangan mereka oleh Banil Abbas pada tahun seratus tiga puluh dua.

Dengan demikran, berarti jumlah masa pemerintahan Bani Umayyah seluruhnya adalah sembilan puluh dua tahun, dan ini berarti lebih dari seribu bulan, yang kalau dijumlahkan berarti hanya delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

Kalau begitu, berarti Al-Qasim ibnul Fadl menggugurkan masa pemerintahan mereka di masa-masa Ibnuz Zubair (yang hanya sembilan tahun itu). Jika demikian, berarti jumlah ini mendekati kebenaran dari apa yang dikatakannya; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Bukti lain yang menunjukkan ke-daif-an hadis ini ialah karena hadis ini sengaja diutarakan hanya untuk mencela pemerintahan Bani Umayyah. Seandainya dimaksudkan untuk mencela mereka, tentulah bukan dengan konteks seperti itu. Mengingat keutamaan LailatuI Qadar di masa-masa pemerintahan mereka bukanlah menunjukkan tercelanya hari-hari mereka. Sesungguhnya malam LailatuI Qadar itu sangat mulia, dan surat yang mulia ini diturunkan hanya semata-mata memuji malam LailatuI Qadar. Lalu mengapa ayat ini memuji keutamaannya di masa-masa pemerintahan Bani Umayyah yang dinilai oleh hadis ini tercela. Hal ini tiada lain hanyalah seperti apa yang dikatakan oleh penyair:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ السَّيْفَ يَنْقُصُ قَدْرُهُ … إِذَا قِيلَ إِنَّ السَّيْفَ أَمْضَى مِنَ الْعَصَا

Tidakkah engkau lihat, bahwa pedang itu turun pamornya bila dikatakan bahwa ia lebih tajam daripada tongkat?

Penyair lainnya mengatakan:

إِذَا أَنْتَ فَضَّلْتَ امْرَأً ذَا بَرَاعَةٍ … عَلَى نَاقِصٍ كَانَ الْمَدِيحُ مِنَ النَّقْصِ

Jika engkau mengutamakan seseorang yang mempunyai keahlian di atas orang yang tidak mempunyai keahlian, maka sama saja dengan merendahkan martabat orang yang dipujinya.

Kemudian bila-dipahami dari ayat ini bahwa seribu bulan yang disebutkan dalam ayat menunjukkan masa pemerintahan Bani Umayyah, sedangkan suratnya sendiri adalah Makkiyyah. Lalu bagaimana bisa dibelokkan dengan pengertian seribu bulan masa pemerintahan Bani Umayyah, padahal baik lafaz maupun makna ayat tidak menunjukkan kepada pengertian itu. Dan lagi mimbar itu hanyalah baru dibuat di Madinah sesudah hijrah. Semua bukti tersebut menunjukkan kelemahan dan kemungkaran hadis di atas; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maka kaum muslim merasa kagum dengan perihal lelaki Bani Israil itu. Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1-3) Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari Mujahid yang meHgatakan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari. Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 3) Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu); mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun. Beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya’ ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam merasa kagum dengan amalan mereka. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan berkata, “Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu.”

Kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissalam membacakan kepadanya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi. Maka bergembiralah karenanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan. Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di’amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Amr ibnu Qais Al-Mala’i telah mengatakan bahwa melakukan suatu amalan di malam kemuliaan lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

Pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan:

«رِبَاطُ لَيْلَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ لَيْلَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ الْمَنَازِلِ»

Berjaga-jaga selama semalam di jalan Allah (jihad) lebih baik daripada seribu malam di tempat-tempat yang lainnya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Sebagaimana pula yang disebutkan berkenaan dengan keutamaan seseorang yang datang ke salat Jumat dengan penampilan yang baik dan niat yang saleh, bahwa dicatatkan baginya amal selama satu tahun, berikut pahala puasa dan qiyamnya. Dan masih banyak lagi nas-nas lainnya yang semakna.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلابَة، عَنْ أَبِي هُريرة قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قد جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهَرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرم خَيرَها فَقَدْ حُرم”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkati, Allah telah memfardukan bagimu melakukan puasa padanya. Di dalamnya dibukakan semua pintu surga dan ditutup rapat-rapat semua pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti dia telah terhalang (dari semua kebaikan).

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ayyub dengan sanad yang sama.

Mengingat melakukan ibadah di dalam malam Lailatul Qadar sebanding pahalanya dengan melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Barang siapa yang melakukan qiyam (salat sunat) di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dan ridaAllah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (Al-Qadar: 4)

Yakni banyak malaikat yang turun di malam kemuliaan ini karena berkahnya yang banyak. Dan para malaikat turun bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat, sebagaimana mereka pun turun ketika Al-Qur’an dibacakan dan mengelilingi halqah-halqah zikir serta meletakkan sayap mereka menaungi orang yang menuntut ilmu dengan benar karena menghormatinya.

Adapun mengenai ar-ruh dalam ayat ini, menurut suatu pendapat makna yang dimaksud adalah Jibril ‘alaihissalam, yang hal ini berarti termasuk ke dalam Bab “Ataf khusus kepada umum.” Menurut pendapat lain menyebutkan, ar-ruh adalah sejenis malaikat tertentu, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya di dalam surat An-Naba. Hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}

untuk mengatur segala urusan. (Al-Qadar: 4)

Mujahid mengatakan bahwa selamatlah malam kemuliaan itu dari semua urusan.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Malam itu (penuh) kesejahteraan. (Al-Qadar: 5) Bahwa malam itu penuh keselamatan, setan tidak mampu berbuat keburukan padanya atau melakukan gangguan padanya.

Qatadah dan yang lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah semua urusan ditetapkan di dalamnya dan semua ajal serta rezeki ditakdirkan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فِيها يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad’ Dukhan: 4)

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ}

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadar: 5)

Sa’id ibnu Mansur mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Ishaq, dari Asy-Sya’bi sehubungan dengan makna firman-Nya: untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al-Qadar: 4-5) Makna yang dimaksud ialah salamnya para malaikat di malam Lailatul Qadar kepada orang-orang yang ada di dalam masjid sampai fajar terbit.

Dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Min kulli imri’in, yang artinya menjadi seperti berikut: Kepada setiap orang (malaikat memberi salam) di malam Lailatul Qadar sampai terbit fajar, yang dimaksud adalah ahli masjid.

Imam Baihaqi telah meriwayatkan sebuah asar yang garib yang menceritakan turunnya para malaikat dan lewatnya mereka kepada orang-orang yang sedang salat di malam itu (malam kemuliaan) sehingga orang-orang yang salat mendapat berkah karenanya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan sebuah asar yang garib dari Ka’bul Ahbar cukup panjang menceritakan turunnya para malaikat dari Sidratul Muntaha dipimpin oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam ke bumi di malam kemuliaan dan doa mereka bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا عِمْرَانُ -يَعْنِي الْقَطَّانَ-عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ أَبِي هُريرة: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: “إنها ليلة سابعة -أو: تاسعة -وعشرين، وإن الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عدد الحصى”

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran Al-Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda sehubungan dengan malam kemuliaan (Lailatul Qadar): Sesungguhnya malam kemuliaan itu jatuh pada malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan (Ramadan), dan sesungguhnya para malaikat di bumi pada malam itu jumlahnya lebih banyak daripada bilangan batu kerikil.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Al-Minhal, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila sehubungan dengan makna firman-Nya: untuk mengatur segala urusan, yang (penuh) kesejahteraan. (Al-Qadar: 4-5) Yakni tiada suatu urusan pun yang terjadi di malam itu.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: malam itu (penuh) kesejahteraan. (Al-Qadar: 5) Yaitu semuanya baik belaka, tiada suatu keburukan pun yang terjadi di malam itu sampai matahari terbit.

Pengertian ini didukung oleh apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

حَدَّثَنَا حَيْوَة بْنُ شُرَيح، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، حَدَّثَنِي بَحير بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَان، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْبَوَاقِي، مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَهِيَ لَيْلَةٌ وِتْرٍ: تِسْعٍ أَوْ سَبْعٍ، أَوْ خَامِسَةٍ، أَوْ ثَالِثَةٍ، أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ”. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إن أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَة، كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا، سَاكِنَةٌ سَجِيَّةٌ، لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ، وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ يُرمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ. وَأَنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً، لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ”

telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah. telah menceritakan kepadaku Bujair ibnu Sa’d dan Khalid ibnu Ma’dan: dari Ubadah ibnus Samit, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Lailatul Qadar terdapat di malam sepuluh yang terakhir (dari bulan Ramadan); barang siapa yang melakukan qiyam padanya karena mengharapkan pahala di malam-malam tersebut, maka Allah memberi ampunan baginya atas semua dosanyayang terdahulu dan yang kemudian. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang ganjil, yang jatuh pada malam dua puluh sembilan, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh lima, atau dua puluh tiga, atau malam yang terakhir. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda pula: Sesungguhnya pertanda Lailatul Qadar ialah cuacanya bersih lagi terang seakan-akan ada rembulannya, tenang, lagi hening; suhunya tidak dingin dan tidak pula panas, dan tiada suatu bintang pun yang dilemparkan pada malam itu sampai pagi hari. Dan sesungguhnya pertanda Lailatul Qadar itu dipagi harinya matahari terbit dalam keadaan sempurna, tetapi tidak bercahaya seperti biasanya melainkan seperti rembulan di malam purnama, dan tidak diperbolehkan bagi setan ikut muncul bersamaan dengan terbitnya matahari di hari itu.

Sanad hadis ini hasan dan di dalam matannya terdapat garabah, dan pada sebagian lafaznya terdapat yang hal munkar.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ، حَدَّثَنَا زَمْعَة، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرام، عَنْ عِكْرِمة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: “لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، وَتُصْبِحُ شَمْسُ صَبِيحَتِهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ”

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zam’ah, dari Salamah ibnu Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda sehubungan dengan malam Lailatul Qadar: (Yaitu) malam yang sedang lagi terang, tidak panas dan tidak dingin, dan pada keesokan harinya cahaya mataharinya lemah kemerah-merahan.

Ibnu Abu Asim An-Nabil telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

«إِنِّي رَأَيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيتُهَا وَهِيَ فِي العشر الأواخر من لياليها وهي طَلْقَةٌ بِلُجَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا لَا يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يُضِيءَ فَجْرُهَا»

Sesungguhnya aku telah melihat malam Lailatul Qadar, lalu aku dijadikan lupa kepadanya; malam Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh terakhir (bulan Ramadan), pertandanya ialah cerah dan terang, suhunya tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan padanya terdapat rembulan; setan tidak dapat keluar di malam itu hingga pagi harinya.

Para ulama berbeda pendapat, apakah di kalangan umat-umat terdahulu ada Lailatul Qadar, ataukah memang Lailatul Qadar hanya khusus bagi umat ini? Ada dua pendapat di kalangan mereka mengenainya.

Abu Mus’ab alias Ahmad ibnu Abu Bakar Az-Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepada kami Malik, telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diperlihatkan kepadanya usia-usia manusia yang sebelumnya dari kalangan umat terdahulu, atau sebagian dari hal tersebut menurut apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seakan-akan menganggap pendek usia umatnya bila dibandingkan dengan mereka yang berusia sedemikian panjangnya dalam hal beramal, dan beliau merasa khawatir bila amal umatnya tidak dapat mencapai tingkatan mereka. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.

Hadis ini telah disandarkan melalui jalur lain, dan apa yang dikatakan oleh Malik ini memberikan pengertian bahwa Lailatul Qadar hanya dikhususkan bagi umat ini. Dan pendapat ini telah dinukil oleh penulis kitab Al-Iddah, salah seorang ulama dari kalangan mazhab Syafii dari jumhur ulama; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Khattabi telah meriwayatkan adanya kesepakatan dalam hal ini, dan’Al-Qadi telah menukilnya secara pasti dari mazhab Syafii. Akan tetapi, pengertian yang ditunjukkan oleh hadis memberikan pengertian bahwa Lailatul Qadar terdapat pula di kalangan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat di kalangan umat kita sekarang.

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ: حَدَّثَنِي أَبُو زُمَيل سِمَاك الحَنَفي: حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ مَرْثَد بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنِي مَرْثَد قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا ذَرٍّ قُلْتُ: كَيْفَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ؟ قَالَ: أَنَا كُنْتُ أَسْأَلُ النَّاسَ عَنْهَا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، أَفِي رَمَضَانَ هِيَ أَوْ فِي غَيْرِهِ؟ قَالَ: “بَلْ هِيَ فِي رَمَضَانَ”. قُلْتُ: تَكُونُ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ مَا كَانُوا، فَإِذَا قُبِضُوا رُفِعَتْ؟ أَمْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: “بَلْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”. قُلْتُ: فِي أَيِّ رَمَضَانَ هِيَ؟ قَالَ: “الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ، وَالْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ”. ثُمَّ حَدّثَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وحَدّث، ثُمَّ اهْتَبَلْتُ غَفْلَتَهُ قُلْتُ: فِي أَيَّ الْعَشْرَيْنِ هِيَ؟ قَالَ: “ابْتَغَوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، لَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا”. ثُمَّ حَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ اهْتَبَلْتُ غَفْلَتَهُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ بِحَقِّي عَلَيْكَ لَمَا أَخْبَرْتَنِي فِي أَيِّ الْعَشْرِ هِيَ؟ فَغَضِبَ عَلَيَّ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ مِثْلَهُ مُنْذُ صَحِبْتُهُ، وَقَالَ: “الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، لَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا”

Imam Ahmad Ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepadaku Abu Zamil alias Sammak Al-Hanafi, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Marsad ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Marsad yang telah mengatakan bahwa aku bertanya kepada Abu Zar, “Apakah yang pernah engkau tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang Lailatul Qadar?” Abu Zar menjawab, bahwa dirinyalah orang yang paling gencar menanyakan tentang Lailatul Qadar kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang Lailatul Qadar, apakah terdapat di dalam bulan Ramadan ataukah di bulan yang lain?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Tidak, bahkan ia terdapat di dalam bulan Ramadan.” Aku bertanya lagi, “Apakah Lailatul Qadar itu hanya ada di masa para nabi saja? Apabila mereka telah tiada, maka Lailatul Qadar dihapuskan, ataukah masih tetap ada sampai hari kiamat?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Tidak, bahkan Lailatul Qadar tetap ada sampai hari kiamat.” Aku bertanya lagi, “Di bagian manakah Lailatul Qadar terdapat dalam bulan Ramadan?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: Carilah Lailatul Qadar dalam sepuluh malam terakhirnya, jangan kamu bertanya lagi mengenai apapun sesudah ini. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melanjutkan perbincangannya, dan beliau terus berbincang-bincang, lalu aku memotong pembicaraannya dan bertanya, “Di malam dua puluh berapakah Lailatul Qadar itu?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: Carilah ia di malam-malam sepuluh terakhir, dan jangan engkan bertanya lagi mengenainya sesudah ini. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melanjutkan pembicaraannya, kemudian aku memotong lagi pembicaraannya dan kukatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku bersumpah kepada engkau demi hakku atas dirimu setelah engkau menceritakannya kepadaku, di malam dua puluh berapakah Lailatul Qadar itu?” Maka beliau Shalallahu’alaihi Wasallam kelihatan marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah seperti itu sejak aku menjadi sahabatnya, lalu beliau bersabda: Carilah ia di malam-malam tujuh terakhir, dan jangan lagi engkau menanyakannya kepadaku sesudah ini.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Al-Fallas, dari Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan dengan sanad yang sama.

Di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan seperti apa yang telah kami sebutkan di atas, yaitu bahwa Lailatul Qadar masih tetap ada sampai hari kiamat, tiap tahunnya sesudah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tiada. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian golongan Syi’ah yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar telah diangkat secara keseluruhan, sesuai dengan pemahaman mereka terhadap hadis yang akan kami kemukakan sehubungan dengan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan:

«فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ»

Maka diangkatlah (dihapuskanlah) LailatuI Qadar dan mudah-mudahan hal ini baik bagi kalian.

Karena sesungguhnya makna yang dimaksud ialah hanya penghapusan mengenai pengetahuan malamnya secara tertentu.

Juga dalam hadis di atas menunjukkan bahwa LailatuI Qadar itu hanya khusus terjadi di dalam bulan Ramadan, bukan bulan-bulan lainnya. Tidak sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan ulama ahli Kufah yang mengikutinya, mereka mengatakan bahwa LailatuI Qadar itu terdapat di sepanjang tahun dan diharapkan terdapat di setiap bulannya secara merata.

Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya telah menukil hadis ini dalam Bab “Penjelasan LailatuI Qadar” terdapat di semua Ramadan, untuk itu ia mengatakan bahwa:

حَدَّثَنَا حُمَيد بْنُ زَنْجُويه النَّسَائِيُّ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: سُئِل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَالَ: “هِيَ فِي كُلِّ رَمَضَانَ”

telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Zanjawaih As-Sami, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Uqbah, dari Abu Ishaq, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai LailatuI Qadar, sedangkan ia mendengarkannya. Maka beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab: LailatuI Qadar terdapat di semua Ramadan.

Sanad ini semua perawinya berpredikat siqah; hanya saja Abu Daud mengatakan bahwa Syu’bah dan Sufyan telah meriwayatkan hadis ini dari Abu Ishaq, dan keduanya me-mauquf-kan hadis ini hanya sampai kepadanya. Dan telah diriwayatkan dari Abu Hanifah rahimahullah, bahwa LailatuI Qadar itu diharapkan terdapat di setiap bulan Ramadan. Ini merupakan suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Gazali dan dinilai garib sekali oleh Ar-Rafi’i.

Kemudian dikatakan bahwa LailatuI Qadar itu terdapat di malam pertama bulan Ramadan, pendapat ini diriwayatkan dari Abu Razin.

Menurut pendapat yang lain, LailatuI Qadar terdapat pada malam tujuh belas Ramadan. Sehubungan dengan hal ini Abu Daud telah meriwayatkan sebuah hadis marfu’ dari Ibnu Mas’ud. Sebagaimana telah diriwayatkan pula hal yang sama secara mauquf hanya sampai pada Ibnu Mas’ud, Zaid ibnu Arqam, dan Usman ibnu Abul As. Dan hal ini merupakan suatu pendapat yang bersumber dari Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dan diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri. Mereka mengemukakan alasannya, bahwa LailatuI Qadar terjadi di malam Perang Badar, yang jatuh pada hari Jumat tanggal tujuh belas Ramadan. Dan di pagi harinya terjadi Perang Badar, yaitu hari yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya dengan sebutan Yaumul Furqan, alias hari pembeda antara perkara yang hak dan perkara yang batil.

Menurut pendapat lain, LailatuI Qadar jatuh pada tanggal sembilan belas bulan Ramadan; pendapat ini bersumber dari Ali dan juga Ibnu Mas’ud. Menurut pendapat yang lainnya lagi, LailatuI Qadar jatuh pada tanggal dua puluh satu berdasarkan hadis Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf di malam-malam sepuluh pertama bulan Ramadan, dan kami pun ikut i’tikaf bersamanya. Lalu datanglah Jibril dan mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya yang engkau cari berada di depanmu.” MakaNabi Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf pada malam-malam pertengahan (sepuluh kedua) bulan Ramadan, dan kami ikut beri’tikaf bersamanya.

Dan Jibril datang lagi kepadanya, lalu berkata, “Yang engkau cari berada di depanmu.” Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri dan berkhotbah di pagi hari tanggal dua puluh Ramadan, antara lain beliau bersabda:

«مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَرْجِعْ فَإِنِّي رَأَيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي أُنْسِيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأواخر في وِتْرٍ وَإِنِّي رَأَيْتُ كَأَنِّي أَسْجُدُ فِي طِينٍ وَمَاءٍ»

Barang siapa yang telah melakukan i’tikaf bersamaku, hendaklah ia pulang, karena sesungguhnya aku telah melihat malam kemuliaan itu. Dan sesungguhnya aku telah dibuat lupa terhadapnya, sesungguhnya malam kemuliaan itu berada di sepuluh terakhir bulan Ramadan pada malam-malam ganjilnya, dan sesungguhnya aku telah bermimpi seakan-akan diriku sedang sujud di tanah dan air (karena cuacanya hujan).

Sedangkan atap masjid terbuat dari pelepah daun kurma, pada mulanya kami tidak melihat sepotong awan pun di langit. Lalu tiba-tiba terjadilah pelangi, dan terjadilah hujan, dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membawa kami salat sehingga aku melihat bekas tanah dan air menempel di kening beliau, hal ini membuktikan kebenaran dari mimpi yang dilihatnya.

Menurut riwayat yang lain, kejadian itu terjadi pada pagi hari tanggal dua puluh satu Ramadan; diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing. Imam Syafii mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang sanadnya paling sahih.

Menurut pendapat lainnya, malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh tiga Ramadan berdasarkan hadis Abdullah ibnu Unais dalam kitab Sahih Muslim, dan hadis ini konteksnya mendekati hadisnya Abu Sa’id; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh empat Ramadan.

Sehubungan dengan hal ini Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari A.bu Sa’id, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

«لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ»

Lailatul Qadar adalah malam dua puluh empat (bulan Ramadan).

Sanad hadis ini semua perawinya berpredikat siqah.

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيب، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ، عَنْ بِلَالٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ”

Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair As-Sanabiji, dari Bilal yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Lailatul Qadar adalah malam dua puluh empat (Ramadan).

Ibnu Lahi’ah orangnya daif.

Hadis ini bertentangan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Asbag, dari Ibnu Wahb, dari Arar ibnul Haris, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair, dari Abu Abdullah As-Sanabiji yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Bilal juru azan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa malam kemuliaan itu terdapat pada malam tujuh terakhir dari bulan Ramadan. Hadis ini mauquf hanya sampai kepada Bilal, dan inilah yang paling sahih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Al-Hasan, Qatadah, dan Abdullah ibnu Wahb, bahwa malam kemuliaan terdapat pada malam dua puluh empat Ramadan. Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis Wasilah ibnul Asqa’ secara marfu’, yaitu dalam tafsir surat Al-Baqarah, berbunyi demikian:

«إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ لَيْلَةَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ»

Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan pada malam dua puluh empat (Ramadan).

Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terdapat dalam malam dua puluh lima Ramadan, berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

«الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى»

Carilah malam kemuliaan di malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadan, yaitu bila tinggal sembilan malam lagi atau bila tinggal tujuh malam lagi, atau bila tinggal lima malam lagi.

Kebanyakan ulama menakwilkan makna hadis ini dengan malam-malam yang ganjil, dan pendapat inilah yang kuat dan yang terkenal. Sedangkan ulama lainnya menakwilkannya terjadi pada malam-malam yang genap dari malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Ini berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id, bahwa ia menakwilkannya demikian; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terdapat dalam malam dua puluh tujuh Ramadan, berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Ubay ibnu Ka’b, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh tujuh.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan yang telah mendengar dari Abdah dan Asim, dari Zur yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’b, “Hai Abul Munzir, engkau pernah berkata bahwa saudaramu Ibnu Mas’ud pernah mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan qiyaimil lail sepanjang tahun, niscaya akan menjumpai Lailatul Qadar.”

Ubay ibnu Ka’b menjawab, “Semoga Allah merahmatinya, sesungguhnya dia telah mengetahui bahwa malam kemuliaan itu terdapat di dalam bulan Ramadan dan tepatnya di malam dua puluh tujuh.” Kemudian Ubay ibnu Ka’b bersumpah untuk menguatkan perkataannya. Dan aku bertanya, “Bagaimanakah kamu mengetahuinya?” Ubay ibnu Ka’b menjawab, “Melalui alamat atau tandanya yang telah diberitahukan kepada kami oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa pada siang harinya mentari terbit di pagi harinya, sedangkan cahayanya lemah.”

Imam Muslim telah meriwayatkan ini melalui jalur Sufyan ibnu Uyaynah, Syu’bah, dan Al-Auza’i, dari Abdah, dari Zur, dari Ubay, lalu disebutkan hal yang semisal. Yang di dalamnya disebutkan bahwa Ubay ibnu Ka’b mengatakan, “Demi Allah, yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya malam kemuliaan itu benar-benar berada di bulan Ramadan.” Ubay ibnu Ka’b bersumpah tanpa mengucapkan pengecualian, lalu ia melanjutkan, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui di tanggal berapakah Lailatul Qadar itu berada, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah memerintahkan kami untuk melakukan qiyam padanya, yaitu tanggal dua puluh tujuh. Dan pertandanya ialah di pagi harinya mentari terbit dengan cahaya yang redup.”

Dalam bab yang sama telah disebutkan dari Mu’awiyah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas serta selain mereka, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda bahwa Lailatul Qadar itu adalah malam dua puluh tujuh. Dan inilah pendapat yang dipegang oleh segolongan ulama Salaf, dan merupakan pendapat yang dianut di kalangan mazhab Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah, juga menurut suatu riwayat yang bersumber dari Imam Abu Hanifah menyebutkan hal yang sama. Telah diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf, bahwa Imam Abu Hanifah berupaya menyimpulkan keadaan Lailatul Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tujuh dari Al-Qur’an melalui firman-Nya, “Hiya (malam itu),” dengan alasan bahwa kalimat ini merupakan kalimat yang kedua puluh tujuh dari surat yang bersangkutan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim Ad-Dubri, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah dan Asim; keduanya pernah mendengar Ikrimah mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab Radhiyallahu Anhu mengundang semua sahabat, lalu menanyakan kepada mereka tentang Lailatul Qadar, maka mereka sepakat mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar berada di malam sepuluh terakhir bulan Ramadan.

Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa lalu ia berkata kepada Umar, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui —atau merasa yakin— di malam ke berapakah Lailatul Qadar berada?” Umar bertanya, “Kalau begitu, katakanlah di malam ke berapakah ia berada?” Ibnu Abbas menjawab, bahwa Lailatul Qadar adanya pada sepuluh malam terakhir Ramadan bila telah berlalu tujuh malam, atau bila tinggal tujuh malam lagi.

Umar bertanya, “Dari manakah kamu mengetahui hal itu?” Ibnu Abbas menjawab, bahwa Allah telah menciptakan langit tujuh lapis, bumi tujuh lapis, hari-hari ada tujuh, dan bulan berputar pada tujuh (manzilah). Manusia diciptakan dari tujuh (lapis bumi), makan dengan tujuh anggota, sujud dengan tujuh anggota, tawaf tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, dan lain sebagainya. Maka Umar berkata, “Sesungguhnya engkau mempunyai pandangan yang jeli yang kami tidak menyadarinya.” Dan tersebutlah bahwa menurut riwayat Qatadah, ia menambahkan dalam perkataan Ibnu Abbas sesudah mengatakan bahwa manusia makan dengan tujuh anggota, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan: lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran. (‘Abasa: 27-28), hingga akhir ayat.

Sanad hadis ini Jayyid lagi kuat, tetapi matannya garib sekali; hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, Lailatul Qadar terdapat di malam dua puluh sembilan.

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، عَنْ عُمرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فِي رَمَضَانَ، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَإِنَّهَا فِي وتْر إِحْدَى وَعِشْرِينَ، أَوْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، [أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ] أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ”

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Umar ibnu Abdur Rahman, dari Ubadah ibnus Samit, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang Lailatul Qadar bilakah adanya. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: Dalam bulan Ramadan, carilah dalam malam-malam sepuluh terakhirnya, dan sesungguhnya ia terdapat pada malam yang ganjil, yaitu dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau di malam yang terakhirnya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ -وَهُوَ: أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ-حَدَّثَنَا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي ليلة القدر: “إنها ليلة سابعة أو تاسعة وَعِشْرِينَ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud (yakni Abu Daud At-Tayalisi), telah menceritakan kepada kami Imran Al-Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda sehubungan dengan malam kemuliaan: Sesungguhnya ia berada di malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan (Ramadan), dan sesungguhnya para malaikat di malam itu di bumi jumlahnya lebih banyak daripada bilangan kerikil.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara tunggal, sanadnya tidak ada celanya.

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadar terdapat di malam terakhir bulan Ramadan, berdasarkan hadis yang telah disebutkan di atas tadi, juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai melalui hadis Uyaynah ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Bakrah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

فِي تِسْعٍ يَبْقَيْنَ، أَوْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ، أَوْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ، أَوْ ثَلَاثٍ، أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ”

di malam duapuluh satu, atau duapuluh tiga, atau duapuluh lima, atau duapuluh tujuh, atau di malam terakhir.

Yakni carilah malam kemuliaan tersebut di malam-malam itu. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini kalau tidak hasan, sahih. Dan di dalam kitab musnad disebutkan melalui jalur Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sehubungan dengan malam kemuliaan ini:

“إِنَّهَا آخِرُ لَيْلَةٍ”

Sesungguhnya malam kemuliaan itu berada di malam terakhir (Ramadan).

[FASAL]

Imam Syafii mengatakan sehubungan dengan riwayat-riwayat ini, bahwa semuanya merupakan jawaban Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap pertanyaan orang yang bertanya kepadanya, “Apakah kita mencari malam kemuliaan di malam anu?” Maka beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Ya.” Padahal sesungguhnya malam kemuliaan itu adalah malam tertentu yang tidak berpindah-pindah. Demikianlah menurut apa yang telah dinukil oleh Imam Turmuzi secara garis besarnya.

Telah diriwayatkan pula dari Abu Qilabah, bahwa ia telah mengatakan, “Lailatul Qadar itu berpindah-pindah di malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.” Dan apa yang diriwayatkan dari Abu Qilabah ini dicatat sebagai nas oleh Malik, As-Sauri, Ahmad ibnu Hambal, Ishaq ibnu Rahawaih, Abu Saur, Al-Muzani, dan Abu Bakar ibnu Khuzaimah, dan lain-lainnya. Imam Syafii telah mengatakan hal yang sama pula menurut apa yang dinukil oleh Al-Qadi darinya; dan pendapat inilah yang lebih mirip kepada kebenaran; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Dan senada dengan pendapat ini apa yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu Umar, bahwa beberapa orang laki-laki dari sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diperlihatkan kepada mereka Lailatul Qadar dalam malam-malam tujuh terakhir Ramadan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتحريها فَلْيَتَحرها فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ”

Aku juga telah melihat hal yang sama seperti kalian dalam mimpiku, malam kemuliaan itu berada di tujuh malam terakhir Ramadan. Maka barang siapa yang mencarinya, hendaklah ia mencarinya di tujuh malam terakhir.

Sehubungan dengan hal ini telah disebutkan pula melalui Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”

Carilah Lailatul Qadar di malam yang ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Sedangkan lafaz hadis ini ada pada Imam Bukhari.

Imam Syafii dalam pendapatnya yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar itu tidak berpindah-pindah melainkan ada di malam tertentu dari bulan Ramadan beralasan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya melalui -Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam muncul untuk memberitahukan kepada kami tentang malam kemuliaan, maka tiba-tiba muncul pula dua orang dari kalangan kaum muslim (menemuinya). Setelah itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ، فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ”

Aku keluar untuk memberitahukan kepada kamu tentang malam kemuliaan, maka muncullah si Fulan dan si Fulan sehingga (pengetahuan mengenai) malam kemuliaan itu terhapuskan (dari ingatanku), dan barangkali hal ini baik bagi kamu. Maka carilah ia di malam (dua puluh) sembilan, (dua puluh) tujuh, dan (dua puluh) lima.

Yang tersimpulkan dari makna hadis ini menunjukkan bahwa seandainya malam kemuliaan tidak tertentu secara berkesinambungan, tentulah tidak akan diperoleh bagi mereka pengetahuan mengenai ketentuannya di setiap tahunnya. Sebab jika malam kemuliaan itu memang berpindah-pindah, niscaya mereka tidak mengetahui ketentuan malamnya terkecuali hanya tahun itu saja. Terkecuali jika dikatakan bahwa sesungguhnya beliau keluar hanya untuk memberitahukan kepada mereka mengenainya di tahun itu saja, dan hal ini ternyata tidak disebutkan. Sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan: maka muncullah si Fulan dan si Fulan, sehingga (pengetahuanku mengenainya) terhapuskan (dari ingatanku).

Terkandung suatu rujukan yang menjadi sumber dari suatu peribahasa yang mengatakan bahwa sesungguhnya berbelit-belit itu dapat memutuskan faedah dan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana pula halnya yang disebutkan dalam hadis yang mengatakan:

“إِنَّ الْعَبْدَ ليُحْرَم الرزقَ بالذَّنْبِ يُصِيبه”

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dikerjakannya.

Dan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan: maka dihapuslah (pengetahuan tentang malam kemuliaan dari ingatanku). Yakni dihapuskan pengetahuan mengenai ketentuan malamnya dari kalian, dan bukan berarti bahwa malam kemuliaan itu dihapuskan seluruhnya, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang kurang akalnya dari golongan Syi’ah. Karena sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda sesudahnya: Maka carilah malam kemuliaan itu di malam (dua puluh) sembilan, (dua puluh) tujuh, dan (dua puluh) lima.

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengatakan: Dan barangkali hal itu lebih baik bagi kamu. Yakni ketiadaan ketentuan malamnya lebih baik bagimu, karena sesungguhnya jika malam kemuliaan dimisterikan ketentuannya, maka orang-orang yang mencarinya akan mengejarnya dengan penuh kesungguhan guna mendapatkannya dalam seluruh bulan Ramadan. Dengan demikian, berarti ibadah yang dilakukannya lebih banyak. Berbeda halnya jika ketentuan malamnya disebutkan dan mereka mengetahuinya, maka semangat menjadi pudar untuk mencarinya dan hanya timbul di malam itu saja, sedangkan pada malam lainnya mereka tidak mau melakukan qiyam padanya. Sesungguhnya hikmah disembunyikannya ketentuan malam kemuliaan ini dimaksudkan agar ibadah meramaikan seluruh bulan Ramadan untuk mencarinya, dan kesungguhan makin meningkat bila Ramadan mencapai sepuluh terakhirnya.

Untuk itulah maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf di malam sepuluh terakhir Ramadan sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya, kemudian sesudah beliau istri-istri beliau mengikuti jejaknya dalam melakukan i’tikaf ini. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Aisyah Radhiyallahu Anhu

Dan masih dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, telah disebutkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selalu melakukan i’tikaf di malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Dan Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu telah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam apabila telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadan, maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamul lail), dan membangunkan istri-istrinya (untuk melakukan hal yang sama), dan beliau mengencangkan ikat pinggangnya (yakni tidak melakukan senggama dengan istri-istri beliau di malam-malam tersebut). Diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Menurut riwayat Imam Muslim melalui Aisyah, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mencurahkan semua kesibukannya untuk ibadah di malam (sepuluh terakhir Ramadan) tidak sebagaimana kesungguhannya di malam-malam lainnya. Dan hal ini semakna dengan apa yang dikatakan oleh Aisyah, “Mengencangkan ikat pinggangnya.”

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan mengencangkan ikat pinggang ialah memisahkan diri dari istri-istrinya. Akan tetapi, dapat juga ditakwilkan dengan pengertian mengikat pinggang sesungguhnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam apabila Ramadan tinggal sepuluh hari lagi, maka beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menjauhi istri-istrinya. Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad secara tunggal.

Telah diriwayatkan pula dari Malik rahimahullah, bahwa dianjurkan mencari malam kemuliaan pada semua malam sepuluh terakhir Ramadan secara sama rata, tidak ada perbedaan antara satu malam dengan malam lainnya. Penulis mengatakan bahwa ia melihat pendapat ini dalam syarah Ar-Rafi’i rahimahullah.

Hal yang dianjurkan dalam semua waktu ialah memperbanyak doa, dan dalam bulan Ramadan hal yang lebih banyak membacanya ialah bila telah mencapai sepuluh terakhir darinya, kemudian yang lebih banyak lagi ialah di witir-witirnya. Dan hal yang disunatkan ialah hendaknya seseorang memperbanyak doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf suka memberi maaf, maka maafkanlah daku.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Juwairi alias Sa’id ibnu Iyas, dari Abdullah ibnu Buraidah, bahwa Aisyah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai malam kemuliaan, apakah yang harus aku ucapkan?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab:

«قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Ucapkanlah olehmu, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah daku.”

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui jalur Kahmas ibnul Hasan, dari Abdullah ibnu Buraidah, dari Aisyah yang telah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika aku mengetahui malam kemuliaan, lalu apakah yang harus aku ucapkan padanya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab:

«قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»

Ucapkanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.”

Hadis ini menurut lafaz yang ada pada Imam Turmuzi. Kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain.

Imam Nasai telah meriwayatkannya pula melalui jalur Sufyan As-Sauri, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Suiaiman ibnu Buraidah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu jika aku menjumpai malam kemuliaan, apakah yang harus aku ucapkan padanya?” Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab:

“قولي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُو تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي”

Ucapkanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.”

Asar yang aneh dan berita yang mengherankan berkaitan dengan malam kemuliaan (Lailatul Qadar) ini.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibnu Abu Hatim dalam tafsir ayat ini. Untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ziyad Al-Qatwani, telah menceritakan kepada kami Sayyar ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Sa’id Ar-Rasi, dari Hilal ibnu Abu Jabalah, dari Abu Abdus Salam, dari ayahnya, dari Ka’b.

Ka’bul Ahbar mengatakan bahwa sesungguhnya Sidratul Muntaha itu berada di perbatasan langit ketujuh dekat dengan surga, udaranya adalah campuran antara udara dunia dan udara akhirat. Dahan dan ranting-rantingnya berada di bawah Al-Kursi. Padanya terdapat malaikat-malaikat yang bilangannya tiada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Mereka selalu melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di semua dahannya dan di setiap tempat bulu pohon itu terdapat seorang malaikat, sedangkan kedudukan Malaikat Jibril berada di tengah-tengahnya.

Allah memanggil Jibril untuk turun di setiap malam kemuliaan bersama dengan para malaikat yang menghuni Sidratul Muntaha. Tiada seorang malaikat pun dari mereka melainkan telah dianugerahi rasa lembut dan kasih sayang kepada orang-orang mukmin.

Maka turunlah mereka di bawah pimpinan Jibril ‘alaihissalam di malam kemuliaan di saat matahari terbenam. Maka tiada suatu tempat pun di bumi di malam kemuliaan melainkan telah terisi oleh malaikat; ada yang sedang sujud, ada pula yang sedang berdiri mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.Terkecuali jika tempat itu berupa gereja, atau sinagog (tempat peribadatan orang-orang Yahudi), atau tempat pemujaan api, atau tempat pemujaan berhala, atau sebagian tempat kalian yang dipakai oleh kalian membuang kotoran, atau rumah yang di dalamnya terdapat orang mabuk, atau rumah yang ada minuman yang memabukkan, atau rumah yang di dalamnya ada berhala yang terpasang, atau rumah yang di dalamnya ada lonceng yang tergantung atau tempat sampah, atau tempat sapu.

Mereka terus-menerus sepanjang malam itu mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Jibril tidak sekali-kali mendoakan seseorang dari kaum mukmin melainkan ia menyalaminya. Dan sebagai pertandanya ialah bila seseorang yang sedang melakukan qiyam bulunya merinding (berdiri) dan hatinya lembut serta matanya menangis, maka itu akibat salam Jibril kepadanya (jabat tangan Jibril kepadanya).

Ka’bul Ahbar menyebutkan bahwa barang siapa yang di malam kemuliaan membaca kalimah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah” sebanyak tiga kali, Allah memberikan ampunan baginya dengan salah satunya, dan menyelamatkannya dari neraka dengan satunya lagi, dan dengan yang terakbir Allah memasukkannya ke dalam surga.

Maka kami bertanya kepada Ka’bul Ahbar, “Hai Abu Ishaq, benarkah ucapanmu itu?” Ka’bul Ahbar menjawab, “Tiada yang mengucapkan kalimah ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah’ kecuali hanyalah orang yang benar. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya Lailatul Qadar itu benar-benar terasa berat bagi orang kafir dan orang munafik, sehingga seakan-akan beratnya seperti bukit di punggungnya.”

Ka’bul Ahbar melanjutkan, bahwa para malaikat itu terus-menerus dalam keadaan demikian hingga fajar terbit. Dan malaikat yang mula-mula naik ke langit adalah Malaikat Jibril; manakala sampai di ufuk yang tinggi di dekat matahari, maka ia membuka lebar-lebar sayapnya. Ia memiliki sepasang sayap yang berwarna hijau, dan dia belum pernah membukanya kecuali hanya di saat itu. Karenanya maka cahaya matahari kelihatan redup.

Kemudian Jibril memanggil malaikat demi malaikat, maka naiklah yang dipanggilnya sehingga berkumpullah nur para malaikat dan nur kedua sayap Jibril. Maka matahari di hari itu terus-menerus kelihatan cahayanya pudar. Dan Jibril beserta para malaikat bermukim di antara bumi dan langit di hari itu dalam keadaan berdoa dan memohonkan rahmat serta ampunan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan bagi orang-orang yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala Allah. Dan Jibril mendoakan orang yang hatinya mengatakan bahwa jika dia hidup sampai Ramadan tahun depan, maka ia akan puasa lagi karena Allah.

Bila hari telah petang, mereka memasuki perbatasan langit yang terdekat, lalu mereka duduk dan membentuk lingkaran-lingkaran dan bergabung dengan mereka semua malaikat yang ada di langit terdekat. Maka para malaikat langit yang terdekat menanyakan kepada mereka tentang perihal laki-laki dan perempuan dari penduduk dunia, lalu para malaikat Sidratul Muntaha menceritakan keadaan orang-orang yang ditanyakan mereka kepada mereka. Hingga mereka bertanya, “Apakah yang dikerjakan oleh si Fulan dan bagaimanakah engkau menjumpainya di tahun ini?” Maka para malaikat yang bam datang itu menjawab, “Kami jumpai si Fulan di permulaan malam tahun lalu sedang ibadah, dan kami jumpai dia tahun ini dalam keadaan mengerjakan perbuatan bid’ah. Dan kami telah menjumpai si Fulan di tahun kemarin dalam keadaan berbuat bid’ah, sedangkan di tahun ini kami menjumpainya dalam keadaan beribadah.”

Maka para malaikat langit yang terdekat tidak lagi mendoakan ampunan bagi orang yang berbuat bid’ah dan memohonkan ampunan bagi orang yang beribadah. Dan mereka memberitahukan bahwa kami jumpai si Fulan dan si Anu dalam keadaan berzikir kepada Allah, dan kami jumpai si Fulan sedang rukuk, dan kami jumpai si Fulan sedang sujud, dan kami jumpai si Anu sedang membaca Kitabullah.

Ka’bul Ahbar melanjutkan, bahwa mereka di siang dan malam hari itu tetap dalam keadaan demikian, hingga naiklah mereka ke langit yang kedua. Dan di setiap langit mereka singgah selama sehari semalam, hingga sampailah mereka ke tempat semula di Sidratul Muntaha.

Maka Sidratul Muntaha menyambut mereka dan berkata, “Hai para pendudukku, ceritakanlah kepadaku tentang manusia dan sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku, karena sesungguhnya aku mempunyai hak atas kalian, dan sesungguhnya aku menyukai orang-orang yang menyukai Allah.”

Ka’bul Ahbar menceritakan bahwa mereka menyebutkan kepada Sidratul Muntaha apa yang diinginkannya dengan menyebutkan nama tiap laki-laki dan perempuan yang diceritakannya, juga nama orang tua-orang tua mereka. Kemudian surga datang kepada Sidratul Muntaha dan mengatakan, “‘Ceritakanlah kepadaku apa yang telah diceritakan oleh malaikat-malaikat yang menghunimu,” lalu Sidratul Muntaha menceritakan hal itu kepadanya.

Ka’bul Ahbar melanjutkan, bahwa setelah itu surga mengatakan, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada si Fulan dan semoga Allah melimpahkan pula rahmat-Nya kepada si Fulanah. Ya Allah, segerakanlah mereka kepadaku.”

Jibril lebih dahulu sampai di tempatnya sebelum para malaikat yang menyertainya, lalu Allah mengilhamkan kepadanya untuk berbicara, maka Jibril berkata, “Aku telah menjumpai si Fulan sedang sujud, maka ampunilah dia,” kemudian Allah memberikan ampunan bagi si Fulan yang bcsangkutan. Suara Jibril terdengar oleh para malaikat pemikul ‘Arasy, maka mereka memohon, “Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada si Fulan, dan semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada si Fulanah, dan semoga ampunan Allah diberikan kepada si Fulan.”

Jibril berkata, “Ya Tuhanku, aku menjumpai hamba’-Mu si Fulan yang telah kujumpai di tahun kemarin dalam keadaan menempuh jalan sunnah dan beribadah, sekarang di tahun ini aku menjumpainya telah melakukan suatu perbuatan bid’ah,” lalu Jibril menolak untuk memohonkan ampunan dan rahmat bagi orang itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai Jibril, jika dia bertobat dan kembali ke jalan-Ku tiga jam sebelum dia mati, Aku memberikan ampunan baginya.”

Maka Jibril berkata, “Bagi-Mu segala puji, ya Tuhanku, Engkau lebih penyayang daripada semua makhluk-Mu, dan Engkau lebih penyayang kepada hamba-hamba-Mu daripada hamba-hamba-Mu terhadap diri mereka sendiri.”

Ka’bul Ahbar mengatakan bahwa lalu ‘Arasy berguncang berikut semua yang ada di sekitarnya dan juga semua hijab (tirai). Semua langit dan para penghuninya mengatakan, “Segala puji bagi Allah Yang Maha Penyayang.”

Perawi mengatakan bahwa Ka’bul Ahbar telah mengatakan, “Barang siapa yang melakukan puasa Ramadan, sedangkan dalam dirinya ia berbicara bahwa apabila ia berbuka (yakni telah selesai dari puasa Ramadannya) ia bertekad untuk tidak akan berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya orang itu masuk surga tanpa pertanyaan dan tanpa hisab.”

Demikianlah akhir tafsir surat Al-Qadar, segala puji bagi Allah atas segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya.

Panduan I’tikaf Sesuai Tuntunan Rasulullah

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. I’tikaf (Itikaf, iktikaf, iqtikaf, i’tiqaf, itiqaf), berasal dari bahasa Arab akafa[1] yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islamadalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang sedang beriktikaf disebut juga mutakif.

Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua macam: iktikaf sunat dan wajib.

  • Iktikaf sunnat adalah iktikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.
  • Iktikaf wajib adalah iktikaf yang dikarenakan bernazar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf

  • Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.” Dari Abu Hurairah, ia berkata,كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

Waktu I’tikaf

  • Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang beri’tikaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Muslim
  • Niat
  • Baligh/Berakal
  • Suci dari hadats (junub), haid dan nifas
  • Dilakukan di dalam masjid.
  • Oleh karena itu, iktikaf tidak sah bagi orang yang bukan muslim, anak-anak yang belum dewasa, orang yang terganggu kewarasannya, orang yang dalam keadaan junub, wanita dalam masa haid dan nifas

wp-1558918201380..jpgRukun-rukun iktikaf

  • Niat
  • Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187) Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang digunakan untuk salat berjamaah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan salat jamaah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk membuat salat Jumat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk salat Jumat. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang utama yaitu iktikaf di masjid jami’, kerana Rasulullah saw iktikaf di masjid jami’. Lebih utama di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa.

Tempat I’tikaf

  • I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid
  • Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”[6] Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.[7]
  • I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja
  • Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.
  • Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”
  • Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksud. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?
  • Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.[12] Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.
  • Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”

Wanita Boleh Beri’tikaf

  • Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”
  • Dari ‘Aisyah, ia berkata,أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
  • Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.

Lama Waktu Berdiam di Masjid

  • Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf.
  • Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.
  • Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[20] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”
  • Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
    Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf.”

Yang Membatalkan I’tikaf

  • Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.
  • Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)

Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf

  • Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
  • Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
  • Mandi dan berwudhu di masjid.
  • Membawa kasur untuk tidur di masjid.
  • Mulai Masuk dan Keluar Masjid
  • Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”
  • Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Adab I’tikaf

  • Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat

wp-1558918397680..jpg

3 Amalan Jika Berhalangan I’tikaf

3 Amalan Jika Berhalangan I’tikaf

Setiap kali memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf di dalam masjid. Beliau meninggalkan semua pekerjaan duniawi dan menyibukkan diri dalam ibadah mahdhah. Seluruh waktu, pikiran, dan tenaganya dicurahkan untuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau juga melibatkan anak dan istri-istri beliau dalam kekhusyu’an ibadah.
I’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah amal kebajikan yang senantiasa dijaga oleh Rasulullah SAW. Pada tahun beliau wafat, beliau bahkan beri’tikaf selama dua puluh hari. Tidak heran apabila para ulama menjelaskan bahwa hokum I’tikaf adalah sunnah muakkadah. I’tikaf sudah semestinya menjadi amalan andalan orang-orang shalih, sebagai satu sarana utama untuk meraih lailatul qadar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ .

Dari Aisyah RA berkata: “Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, sampai Allah SWT mewafatkan beliau. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau juga melakukan I’tikaf.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ في كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً .

Dari Abu Hurairah RA berkata: “Dalam setiap bulan Ramadhan, Nabi SAW melakukan I’tikaf selama sepuluh hari. Namun pada tahun kewafatannya, beliau SAW melakukan I’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044)

Banyak kaum muslimin yang telah mengetahui kesunahan dan keutamaan I’tikaf. Mereka juga memiliki niat yang tulus untuk melakukannya. Hanya saja, berbagai kendala menghalangi mereka dari I’tikaf. Ada yang harus bekerja keras untuk menafkahi keluarganya. Ada yang harus pergi kesana kemari untuk mengajar dan berdakwah. Ada yang harus masuk sekolah. Ada yang sakit keras atau bepergian jauh. Ada yang memanggul senjata di medan ribath dan jihad. Dan kendala-kendala lainnya.
Islam adalah agama yang mudah dan memberi kemudahan kepada umatnya. I’tikaf di masjid memang sunah muakkadah yang sangat efektif untuk taqarrub dan meraih lailatul qadar. Sungguh beruntung dan berbahagialah orang yang mampu melakukannya. Namun bagi orang-orang yang tidak mampu beri’tikaf karena ada udzur syar’i, Islam juga telah memberi banyak alternatif amalan yang tak kalah keutamaannya dari I’tikaf.

3 Amalan Pengganti bila Berhalangan Itikaf

Pertama, menyediakan makanan berbuka atau makanan sahur untuk orang yang beri’tikaf.
Jika kita menyediakan makanan berbuka atau makanan sahur untuk orang yang melakukan shaum dan I’tikaf, niscaya kita akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala shaum dan I’tikafnya. Berdasar hadits shahih,

عن زيد بن خالد الجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ فَطَّرَ صَائِماً ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أجْرِهِ ، غَيْرَ أنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ ))

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani RA dari Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang melakukan shaum, maka baginya seperti pahala orang yang shaum, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang shaum.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, Ahmad, dan Ibnu Hibban. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih)

Kedua, memenuhi kebutuhan sesama muslim yang mengalami kesulitan hidup.
Banyak saudara kita, umat Islam, yang lemah dan miskin. Mereka kekurangan makanan, kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan, sakit keras namun tidak mampu berobat, dan mengalami kesusahan lainnya. Menolong mereka dengan memenuhi kebutuhan mereka adalah amal kebajikan yang pahalanya begitu besar. Pahalanya bahkan lebih utama dari I’tikaf selama sebulan penuh. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا

Dari Ibnu Umar RA bahwasanya ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah SWT? Dan apakah amalan yang paling dicintai Allah SWT?” Beliau SAW menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesama manusia. Adapun amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid Nabawi) selama satu bulan penuh.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Qadha-u Hawaij no. 36, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath no. 6204, Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. 862, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13472. Dinyatakan hasan li-ghairih dalam tahqiq Al-Mu’jam Al-Kabir dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2623. Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 906)

Ketiga, memanggul senjata dalam ibadah ribath, yaitu berjaga-jaga di daerah perbatasan kaum muslimin dengan daerah musuh, untuk menjaga keamanan kaum muslimin dari serangan musuh-musuh Islam.
Berbahagialah kaum muslimin yang berjihad di Afghanistan, Pakistan, Kashmir, Chechnya, Dagestan, Irak, Palestina, Yaman, Somalia, Tajikistan, dan tempat-tempat lainnya. Kaum muslimin yang lain merasakan ketenangan suasana tarawih, witir, tadarus Al-Qur’an, dan i’tikaf. Pada saat yang sama, mujahidin harus senantiasa memeluk erat senjatanya dan berjaga setiap saat. Mereka melalui waktu mereka dalam ribath dan jihad demi menegakkan syariat Allah dan membela kaum muslimin dari tentara Yahudi, Nashrani, musyrikin, dan murtadin.
Demikian beratnya tugas mereka, sehingga nyawa mereka setiap saat menjadi taruhannya. Allah Yang Maha Pemurah menilai setiap malam yang mereka lalui dalam ribath dan jihad tersebut sebagai malam yang lebih baik dari lailatul qadar. Allahu Akbar wa lillahi al-hamdu! Sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِلَيْلَةٍ أَفْضَلَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ؟ حَارِسٌ حَرَسَ فِي أَرْضِ خَوْفٍ ، لَعَلَّهُ أَنْ لَا يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ .

Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian satu malam yang lebih utama dari lailatul qadar? Itulah (malam yang dilalui oleh) seorang (mujahid) yang berjaga di daerah (perbatasan dengan daerah musuh) yang ditakuti. Boleh jadi, dengan berjaga itu ia tidak bisa kembali kepada keluarganya lagi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 18962, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 7637, Al-Hakim no. 2382, dan Al-Baihaqi no.16918. Dinyatakan shahih oleh Al-Hakim dan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2811)

Kisah Inspiratif Ramadhan: Cibta Sejati Abu Bakar RA

Cinta Sejati Abu Bakar RA

Orang-orang muslim dan musyrik tahu, bahwa Abu Bakar dalam membelanjakan hartanya ke jalan Allah bukanlah semata-mata karena kehormatan dan cita-cita dunia atau kebesaran yang dibanggakan manusia. Sifat inilah yang menghiasi orang-orang muslim, seperti sahabat Abu Bakar R.a.

Suatu ketika baginda Rasulullah S.a.w. berdiri di depan Ka`bah, beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada orang-orang musyrik. Mereka lalu berdiri dan hendak memukul Nabi, namun kedahuluan Abu Bakar melihat peristiwa itu, sehingga dia buru-buru melindungi Rasulullah seraya berkata, “Apakah kalian akan membunuh setiap orang yang mengatakan, “Allah adalah Tuhanku?”

Melihat ada orang yang membela Nabi, orang-orang musyrik lalu meninggalkan Nabi S.a.w., dan mereka malah menyerang dan memukul Abu Bakar, namun Abu Bakar menerimanya dengan sabar, hingga wajahnya membengkak dan lebam.

Orang-orang musyrik tidak mengetahui lagi mana mata dan hidungnya, karena bentuk wajahnya tidak tampak secara sempurna. Mereka menyangka bahwa Abu Bakar telah tewas, lalu mereka meninggalkannya.

Kemudian Bani Taim yang merupakan kaum atau kabilah Abu Bakar datang dan membawa Abu Bakar ke rumahnya, Bani Taim bersumpah akan membunuh orang yang telah melukai Abu Bakar ini jika Abu Bakar meninggal karena luka tersebut.

Sampai di rumah Abu Bakar tersadar, dan di saat ia tersadar dari pingsannya, pertayaan yang pertama kali ditanyakannya adalah, “Apa yang terjadi pada diri Rasulullah.”

Keluarganya menjadi marah dengan pertanyaan Abu Bakar itu, karena mereka termasuk orang-orang kafir. Keluarganya berkata pada ibunya, “Suapilah ia dengan makanan dan berilah ia minuman.”

Abu Bakar berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan minum dan merasakan makanan sampai aku tahu apa yang terjadi dengan diri Rasulullah.”

Mendengar jawaban dari puteranya seperti itu, ibunya memandanginya dengan rasa sakit dan iba. Tak lama setelah itu, sang ibu pun berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang menimpa sahabatmu itu.”

Abu Bakar berkata, “Pergilah ke rumah Fatimah binti Al-Khathab dan tanyakan kepadanya apa yang terjadi dengan Rasulullah.”

Ibunya lalu beranjak pergi untuk mencari tahu keadaan Rasulullah dari Fatimah binti Al-Khathab, walaupun ia sedih karena keadaan anaknya yang darahnya selalu bercucuran dan wajahnya bengkak. Dengan langkah yang gontai, sampailah sang ibu di rumah Fatimah binti Al-Khathab. Dan di saat Fatimah melihatnya, Fatimah menyangka bahwa wanita yang mendatanginya adalah mata-mata kaum Quraisy.

Sang ibu yang sedang menginginkan kesembuhan anaknya itu berkata, “Pergilah bersamaku untuk menemui anakku.”

Mereka berdua lalu pergi untuk menemui Abu Bakar. Setelah Fatimah sampai kepada Abu Bakar dan mendapati wajahnya yang berlumuran darah dan penuh dengan luka, Fatimah berteriak dan berkata, “Aku memohon kepada Allah, semoga Allah membalaskanmu.”

Dalam benak Abu Bakar tak pernah terbesit sesuatu kecuali keadaan Rasulullah S.a.w., ia lalu bertanya kepada Fatimah, “Bagaimana keadaan Rasulullah S.a.w.?”

Fatimah menjawab, “Beliau selamat.”

Saat ibunya mendengar jawaban dari Fatimah, ia buru-buru menyodorkan minuman kepada anaknya. Saat Abu Bakar melihat ibunya menyodorkan minuman kepadanya, ia buru-buru berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan makan dan minum sampai aku melihat baginda Rasulullah dengan mataku sendiri.”

Abu Bakar lalu keluar rumah ingin menemui Rasulullah, akan tetapi ia tidak mampu membawa dirinya yang penuh luka, lalu ia bersandar pada ibunya dan dengan bantuan Fatimah sampai ia di rumah Rasulullah.

Setelah sampai dan bertatapan muka dengan Rasulullah ia berkata, “Demi ayah dan ibuku aku korbankan untukmu wahai Rasulllah, dan ini adalah seorang ibu yang telah mengasuh anaknya dengan baik, wahai Rasulullah do`akanlah dia agar Allah memberinya petunjuk.”

Mendengar ucapan Abu Bakar, hati Rasulullah S.a.w. terenyuh sampai kedua mata beliau mengeluarkan air mata, dan Abu Bakar pun menangis, mereka lalu berpelukan karena terharu.

Kisah Inspiratif Ramadhan: Abu Bakar RA dan Peminta Maaf

Suatu hari, terjadi pertengkaran antara Abu Bakar RA dan seseorang yang juga beragama Islam bernama Rabi’ah Al-Aslami.

Dalam pertengkaran tersebut Abu Bakar mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaannya. Maka Abu Bakar menyesali ucapannya itu sehingga ia berkata, “Wahai Rabi`ah balaslah kata-kata yang telah membuatmu tersinggung.”

Rabi`ah menjawab, “Aku tidak mau melakukannya.”

Abu Bakar berkata lagi, “Balaslah kata-kata itu, atau aku pergi kepada Rasulullah.”

Abu Bakar pun pergi menemui Rasulullah. Kepergiannya ini diikuti kaum dan keluarga Rabi`ah. Kaum Rabi`ah berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Bakar atas apa yang telah diucapkannya, lalu mengadukannya pada Rasulullah.”

Melihat hal itu, Rabi`ah berkata, “Apakah kalian tidak mengetahui, siapakah Abu Bakar ini? Dia adalah salah seorang dari dua orang yang berada dalam gua, orang yang mempunyai kematangan dalam agama, jagalah ucapan kalian jangan sampai dia marah padaku dan mengadukannya kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah marah sebab kemarahan Abu Bakar. Karena Allah akan murka sebab kemarahan Rasulullah dan kemarahan Abu Bakar.”

Sampailah Abu Bakar di hadapan Rasulullah dan menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Rabi’ah. Tak lama kemudian Rabi’ah pun datang di tempat itu. Melihat kedatangan Rabi’ah, Rasulullah pun lantas bersabada kepadanya, “Wahai Rabi’ah apa yang terjadi antara kamu dan Ash-Shiddiq?”

Rabi’ah menjawab, “Wahai Rasulullah, Abu Bakar telah berkata kepadaku begini dan begini, sampai ia mengatakan satu kata yang membuatku tersinggung. Kemudian ia mengatakan kepadaku, “Katakan sebagaimana apa yang aku katakan kepadamu.” Namun, aku menolaknya.”

Mendengar itu Rasulullah bersabda, “Jangan balas, akan tetapi katakanlah Allah telah mengampunimu wahai Abu Bakar.”

Kejadian di atas menunjukkan penghormatan Nabi kepada Abu Bakar dan bahwasanya beliau lebih mengutamakan Abu Bakar dari sahabat-sahabat yang lain. Karena beliau tahu bahwasanya Abu Bakar selalu menolongnya setelah Allah. Nabi juga pernah bersabda, “Tidak ada harta yang menyamai kemanfaatannya bagiku dari kemanfaatan harta Abu Bakar terhadapku.”

Hikmah :

Dari kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang muslim yang baik adalah apabila ia melakukan kesalahan ia akan langsung meminta maaf atas kesalahannya. Dan seorang muslim yang baik adalah apabila ia disakiti, ia tidak akan membalas dengan pembalasan yang serupa tapi justru memintakan ampunan kepada Allah SWT.

Betapa mulia sahabat-sahabat Rasulullah SAW, “Ya Allah berikanlah kepada kami kemampuan untuk meneladani akhlak-akhlak mulia mereka. Amin…”

Benarkah Saat Ini Pemeluk Islam Terbanyak di Dunia ?

    • Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, Indiadan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
    • Pada laporan  yang berjudul “Masa Depan Populasi Muslim Global” itu dikatakan bahwa 20 tahun yang lalu jumlah pemeluk agama Islam di dunia mencapai 1,1 miliar jiwa. Dalam 20 tahun kedepan, angka itu akan meningkat hingga dua kali lipatnya, menjadi seperempat dari jumlah manusia di dunia.
    • Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, Indiadan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
    •  Pew Research Center memperkirakan bahwa ada sekitar 3,3 juta Muslim dari segala usia yang tinggal di Amerika Serikat pada 2015. Ini berarti bahwa umat Islam terdiri sekitar 1% dari total penduduk AS (sekitar 322 juta orang pada tahun 2015), dan kami memperkirakan bahwa share akan berlipat ganda pada tahun 2050. Perkiraan baru jumlah war Muslim dan agama lain didasarkan pada proyeksi demografis bahwa pertumbuhan model dalam populasi Muslim Amerika sejak perkiraan kami 2011 dan meliputi baik orang dewasa dan anak-anak. proyeksi menggunakan data usia, fertilitas, mortalitas, migrasi dan switching agama yang diambil dari berbagai sumber, termasuk 2.011 survei Muslim Amerika. Menurut perkiraan saat ini, ada lebih sedikit Muslim dari segala usia di AS daripada ada orang-orang Yahudi oleh agama (5,7 juta), tetapi lebih dari ada orang Hindu (2,1 juta) dan lebih banyak dari ada Sikh. Di beberapa kota Muslim terdiri signifikan lebih dari 1% dari masyarakat. Dan bahkan pada umat Islam tingkat negara tidak merata: negara tertentu, seperti New Jersey, memiliki dua atau tiga kali lebih banyak orang dewasa Muslim per kapita rata-rata nasional. Debat politik baru-baru ini di AS lebih dari imigrasi Muslim dan isu-isu terkait telah mendorong banyak bertanya berapa banyak umat Islam benar-benar tinggal di Amerika Serikat. Tapi datang dengan jawaban tidak mudah, sebagian karena AS Biro Sensus tidak bertanya tentang agama, yang berarti bahwa tidak ada hitungan resmi pemerintah dari penduduk AS Muslim. Sejak estimasi pertama  ukuran populasi Muslim Amerika pada tahun 2007, kita telah melihat pertumbuhan yang stabil di kedua jumlah Muslim di AS dan persentase penduduk AS yang Muslim. Selain itu, proyeksi penduduk AS Muslim akan tumbuh lebih cepat daripada populasi Hindu dan jauh lebih cepat daripada populasi Yahudi di dekade mendatang. Memang, bahkan sebelum 2040, Muslim diproyeksikan untuk menjadi kelompok agama terbesar kedua di AS, setelah Kristen. Pada tahun 2050, populasi Muslim Amerika diproyeksikan mencapai 8,1 juta orang, atau 2,1% dari total penduduk. Lebih dari setengah dari proyeksi pertumbuhan penduduk Muslim Amerika 2010-2015 adalah karena imigrasi. Selama 20 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan jumlah imigran Muslim yang datang ke AS Jumlah imigran Muslim saat ini mewakili sekitar 10% dari semua imigran legal tiba di AS, dan persentase signifikan lebih kecil dari imigran tidak sah.

Penyebab utama lain dari pertumbuhan baru-baru Islam adalah peningkatan alami. Muslim Amerika cenderung memiliki lebih banyak anak daripada orang Amerika dari agama-agama lain. Muslim juga cenderung lebih muda dari masyarakat umum, sehingga bagian yang lebih besar dari umat Islam akan segera berada di titik dalam hidup mereka ketika orang-orang mulai memiliki anak.

Ada sedikit perubahan bersih dalam ukuran populasi Muslim Amerika dalam beberapa tahun terakhir karena konversi. Sekitar satu-di-lima orang dewasa Muslim Amerika yang dibesarkan dalam iman atau tidak berbeda sama sekali. Pada saat yang sama, jumlah yang sama dari orang yang dibesarkan Muslim tidak lagi mengidentifikasi dengan iman. Sekitar sebagai banyak orang Amerika menjadi Muslim meninggalkan Islam

  • Jumlah penduduk dunia  tahun 2013 adalah 7.021.836.029. Sebaran menurut agama adalah: Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Orthodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Buddhist 7.13%, Sikh 0.36%, Jewish 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non Agama 9.42%, dan Atheists 2.04% (www.30 days.net).
  • Bahkan dikatakan bahwa jumlah pemeluk Islam pada 2012 adalah 2.1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk Kristen dan Protestan adalah 2 milyar . Sehingga Islam saat ini, kendati dibandingkan dengan pemeluk Kristen dan Protestan sekalipun, sudah menjadi agama terbesar di dunia (www.religiouspopulation). Subhanallah.
  • Penduduk dunia tahun 2011 tumbuh 137% dalam satu dekade terakhir, di mana Kristen tumbuh sebanyak hanya 46%, sebaliknya, Islam tumbuh sebanyak 5 kali lipatnya: 235%. (The Almanac Book of Facts, 2011). Dikatakan, bila tren pertumbuhan ini terus berlangsung, diperkirakan pada tahun 2030, 1 dari 3 penduduk dunia adalah orang Islam. (www.muslimpopulation.com).
  • Dilihat per benua, menurut data UN (2012), sejak tahun 1989 sampai tahun 2012, perkembangan jumlah pemeluk agama Islam yang paling cepat terjadi di Australia dan Oceania/Pacific 257.01%; kemudian berturut-turut diikuti oleh Eropa 142.35%; Amerika 25%; Asia 12.57%; Afrika 2.15%; dan Amerika Latin 4.73% (www.30-days.net).
  • Menurut The Almanac Book of Facts tahun 2011, dalam sepuluh tahun terakhir, penduduk dunia bertambah sebanyak 137%. Di mana pemeluk agama Kristen bertambah sebanyak 46%. Sedangkan pemeluk agama Islam bertambah sebanyak 235% (www.geocities.com).
  • Sehingga disimpulkan bahwa Islam adalah agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tertinggi di dunia, setiap tahunnya. Antara 1990 sampai 2000, diperkiraan sekitar 12.5 juta orang dari berbagai agama, pindah ke agama Islam. (Guinness Book of World Records,2011).
  • Perkembangan Islam yang sangat cepat ini disebabkan oleh dua faktor penting. Pertama, oleh tingkat kelahiran (fertility rate) yang tinggi di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
  • Kedua, oleh jumlah orang-orang yang pindah (conversion) dari agama lain ke agama Islam yang juga tinggi, terutama di Amerika, Eropa dan Australia dalam 20 tahun terakhir (The Almanac Book of Facts, 2011).
  • Menurut hasil poll (2012) di Amerika, diketahui sekitar 200.000 orang setiap tahunnya pindah dari agama Kristen ke agama Islam. (www.usislam.org)
  • Sebuah studi oleh Faith Matters (2011) di Inggris, diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir, diperkirakan jumlah orang Inggris yang pindah dari agama lain (Kristen) menjadi pemeluk agama Islam adalah sebanyak 5.000 orang setiap tahun (http://insideislam.wisc.edu).
  • Terkait dengan perkembangan Islam yang cepat ini, menurut CNN, pemeluk Kristen semakin tidak meyakini kebenaran ajaran agama mereka. Sebaliknya pemeluk Islam, keyakinan terhadap kebenaran agama mereka semakin meningkat.
  • Di Indonesia tidak diketahui dengan pasti jumlah semua muallaf. Namun pemeluk agama lain yang pindah ke agama Islam merupakan fenomena sosial yang nyata dan trennya terus meningkat. Diperkirakan setiap tahun muallaf bertambah 10 sampai 15% (Syafii Antohio).
  • Sebagai contoh, dari sekian banyak muallaf di Indonesia, 7 orang terkenal yang sudah pindah ke agama Islam adalah: Sandrina Malakiano, Marini, Chicha Koeswoyo, Syafii Antonio, Bob Hasan, W. S. Rendra, dan El Manik. Di dunia, 7 orang di antara jutaan muallaf yang namanya relatif dikenal adalah: Yusuf Islam (Penyanyi Inggris), Muhammad Ali (petintu Amerika), Yusuf Estes (Penghotbah Kristen, Amerika), Murad Hofmann (Diplomat, Jerman), Muhammad Assad (Wartawan Internasional, Austria), Selma A. Cook (Penulis, Australia), dan Jeffery lang (Profesor matimatika, Amerika). Tingginya jumlah orang yang menjadi muallaf, memfasilitasi berkembangnya Islam menjadi lebih pesat lagi. Di Jeman, pernah terjadi sebanyak 1.250 orang non-Muslim yang menghadiri dakwah muallaf Amerika, Yusuf Estes, mengambil keputusan untuk menjadi Muslim dan bersyahadat langsung dihadapan beliau.

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Apakah Pentingnya Jadwal Imsyak, Mengapa Hanya di Indonesia ?

Assalammu”alaikum Ustadz

  • Di saat bulan ramadhan terdapat jadwal Imsak tetapi di beberapa negara tidak mengumumkan atau bahkan memakainya kecuali di Indonesia? Apa maksuda jadwal Imsak itu, pentingkH digunakan dalan beribadah puasa ?

Wassalammu”alaikum

Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  • Istilah ”imsak” yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan ”bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi”. Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak terlalu penting amat, setidaknya buat sebagian orang. Penting untuk diluruskan bahwa waktu ”imsak”bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.
  • Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ”imsak”, melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.
  • Mengapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara di mana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini. Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksdunya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ”imsak” yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu. Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.
  • Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.
  • Salah satu istilah yang unik saat ramadhan di Indonesia adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti merasa asing mendengar istilah ini. Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini.

Wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh

wp-1557098166849..jpg

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bagi Musafir Apakah Berbuka atau Terus Berpuasa


  • Apa yang lebih utama bagi musafir, berbuka atau terus berpuasa? 
  • Terutama pada safar (bepergian) yang tak ada kepenatan, seperti dalam pesawat atau alat-alat transportasi modern lainnya?

  • Yang afdhal bagi orang berpuasa adalah berbuka saat bepergian, bagaimana pun keadaannya. Tetapi orang yang tetap berpuasa maka tidak ada dosa baginya, karena rasulullah pernah melakukan ini dan itu, demikian pula para sahabatnya.
  • Jika panas sangat menyengat, dan kecapaian semakin meningkat, maka berbuka di saat ini sangat diharuskan. Adapun alasan kenapa berpuasa bagi seorang musafir sangat dimakruhkan (dibenci), yaitu karena rasulullah pernah melihat seorang lelaki dalam safar yang sangat kecapaian dan tetap berpuasa, beliau berkata kepadanya, ((لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ)) “Bukan termasuk kebaikan, jika tetap berpuasa saat bepergian.”
  • Juga karena sabda beliau yang berbunyi, (إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَماَ يُكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ))  “Sesungguhnya Allah senang jika rukhsahnya dikerjakan, sebagaimana Dia Membenci jika kemaksiatan dikerjakan.”
  • Dalam lafadh lain, ((كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ)) “Sebagaimana Dia senang jika azimah-azimahnya[3] dikerjakan.”
  • Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara para musafir, apakah itu yang bepergian dengan mobil, unta, perahu, kapal, atau orang yang bepergian dengan pesawat. Karena semua orang diatas, tetap dinamakan sebagai musafir, sehingga berhak mendapatkan keringanan yang diberikan Allah kepada mereka.
  • Allah Subhaanahu wa Ta`ala telah mensyariatkan hukum safar (bepergian) dan iqamah (menetap) bagi para hamba-Nya di zaman nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam, dan hukum ini terus berlaku bagi hamba lainnya setelah masa itu hingga hari kiamat. Dia (Allah) Maha tahu apa yang bakal terjadi dari berbagai perubahan dan menjadi bermacam-macamnya jenis alat tranportasi. Seandainya hukum akan berbeda, tentunya Allah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya, sebagaimana Ia Menjelaskan dalam surat An-Nahl yang berbunyi,
  • “Kami telah menurunkan al-Qur`an kepadamu sebagai penjelas atas berbagai hal, juga petunjuk, rahmat dan pemberi kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An-Nahl: 89)
  • Juga berfirman dalam surat yang sama, “Dan Dia Menciptakan kuda, bagal[4] dan keledai, agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8)

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bolehkah wanita Hamil atau Menyusui Tidak Berpuasa ?

100 PERTANYAAN RAMADHAN: Bolehkah wanita Hamil atau Menyusui Tidak Berpuasa ?

  • Bolehkah seorang wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa? Apakah mereka wajib mengqadha`, atau ada kaffarat (penebus) saat mereka tidak berpuasa itu?

  • Wanita hamil dan menyusui hukumnya seperti orang sakit, jika puasa menyebabkan mereka menderita, maka disyariatkan berbuka bagi mereka. Dan mereka wajib mengqadha` jika mampu melakukannya, persis seperti orang sakit.
  • Tetapi ada sebagian ulama` yang berpendapat, bahwa cukup bagi mereka berdua (wanita hamil dan menyusui) untuk memberi makan orang miskin pada setiap hari yang mereka tidak berpuasa pada hari tersebut. Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak rajih. Yang benar, mereka harus mengqadha` seperti halnya seorang musafir dan orang sakit. Allah Berfirman, “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”(QS. Al-Baqarah: 184)
  • Juga menunjukkan hal di atas, hadits Anas bin Malik Al-Ka`biy, bahwa rasulullah bersabda, ((إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ، وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ)) (رواه الخمسة) “Sesungguhnya Allah telah meringankan puasa dan separuh shalat bagi seorang musafir, dan meringankan puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui.” (HR. Al-Khamsah.)

    Sejarah Islam Di Bulan Ramadhan : Pembebasan Makkah (Fathul Makkah)

    Pembebasan Makkah (Fathul Makkah)

    Apa itu Fathul Makkah? Peristiwa Fathul Makkah adalah sebuah peristiwa di mana akhirnya Nabi Muhammad dan para sahabat berhasil menguasai Makkah dan menghancurkan berhala-berhala di sekitarnya. Sehingga Ka’bah kembali suci. Peristiwa ini bermula dari perjanjian Hudaibiyah tahun 628 M. Ini adalah perjanjian antara kaum muslimin dan kaum Quraisy. Perjanjian ini terjadi ketika satu rombongan yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad hendak melaksanakan haji di Baitullah. Namun, pihak Quraisy melihatnya sebagai sebuah ancaman. Jika orang-orang dari Madinah, yang notabene adalah rival dari kafir Quraisy datang ke Makkah, maka apa tanggapan orang-orang nanti? Untuk itulah, pemuka-pemuka Quraisy dengan segala daya upaya menyusun sebuah strategi, yaitu mengikat kaum muslimin dalam suatu perjanjian agar tidak dapat leluasa mengunjungi Makkah. Dan terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Ketakutan kaum kafir Quraisy ini wajar muncul, sebab setelah Nabi saw dan beberapa ratus sahabat hijrah dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah), antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy hampir selalu terjadi peperangan yang tak terelakkan. Dalam pengepungan selama 20 hari oleh 10 ribu pasukan Quraisy terhadap Madinah pada tahun 627 M, Nabi Muhammad saw dan 3.000 umat Islam berhasil mempertahankan Madinah.

    Isi perjanjian Hudaibiyah antara lain:

    1. Pertama, gencatan senjata selama sepuluh tahun

    2. Kedua, orang Islam dibenarkan memasuki Makkah pada tahun berikutnya, tinggal di sana selama tiga hari saja dengan hanya membawa sebilah senjata.

    3. Ketiga, bekerja sama dalam perkara yang membawa kepada kebaikan.

    4. Keempat, orang Quraisy yang lari ke pihak Islam harus dikembalikan ke Makkah.

    5. Kelima, orang Islam yang lari ke Makkah tidak dikembalikan ke Madinah,

    6. keenam, kedua belah pihak boleh membangun kerja sama dengan kabilah lain tapi tidak boleh membantu dalam hal peperangan.

    Akhirnya pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kemudian menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikit pun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

    « Entri Lama