Category Archives: Asmaul Husna

Makna dan Kehebatan Takbir Kalimah ALLAHUAKBAR

Sesungguhnya takbir itu masalah penting dan pahalanya sangat besar di sisi Allah. Terdapat banyak nash yang mendorong, menganjurkan dan menyebut-nyebut pahalanya.

  • Allah berfirman, “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS al-Isra: 111)
  • Allah berfirman tentang puasa, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah: 185)
  • Allah berfirman tentang haji dan ibadah-ibadah di dalamnya yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj: 37)
  • Allah juga berfirman, “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (QS al-Mudatstsir: 1-3)

Keutamaan Takbir

  • Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu mencoba menerangkan tentang keutamaan takbir, “Takbir dikumandangkan saat adzan, saat-saat hari raya dan acara-acara ritual lainnya. Takbir adalah salah satu kalimat terbaik selain al-Qur’an, yakni kalimat subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, seperti yang telah disebutkan dalam sebuah riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Tidak ada satu pun atsar yang mengganti kalimat Allahu Akbar dengan kalimat Allahu A’zham, kendatipun artinya identik. Karena itulah sebagian besar ulama ahli fiqih menetapkan bahwa shalat tidak sah kalau yang dibaca adalah kalimat Allahu A’zham, bukan Allahu Akbar. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam,
  • “Kunci shalat adalah bersuci, permulaannya adalah takbir dan penutupnya adalah salam.” Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Yusuf, Imam Abu Daud dan yang lain. Jadi kalau orang membaca selain itu, seperti kalimat dzikir subhanallah atau walhamdulillah, maka shalatnya tidak sah.
  • Takbir selalu menyertai seorang muslim dalam banyak ibadah dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang muslim akan bertakbir membesarkan Allah ketika ia telah berhasil menyempurnakan hitungan puasa Ramadhan. Ia pun bertakbir membesarkan Allah dalam ibadah haji, seperti yang telah diisyaratkan oleh dalil al-Qur’an dalam pembicaraan sebelumnya. Di dalam shalat, takbir adalah sangat penting dan punya kedudukan cukup tinggi. Ketika menyerukan shalat, dianjurkan membaca takbir. Ketika iqamat harus membaca takbir. Dan ketika memulainya juga harus membaca takbir. Bahkan takbiratul ihram merupakan salah satu rukun shalat. Ia terus menyertai seorang muslim dalam setiap gerakannya, gerakan naik dan gerakan turun.
  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ketika berdiri hendak shalat beliau bertakbir hingga berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika akan ruku’, kemudian membaca sami’allahu liman hamidah ketika bangkit dari ruku’, kemudian membaca rabbanaa lakal hamdu, kemudian beliau bertakbir ketika akan turun, kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepala, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepala. Begitulah yang ia lakukan dalam setiap shalat sampai selesai, dan bertakbir lagi ketika bangkit raka’at kedua setelah duduk tasyahhud.” [Shahih al-Bukhari no 789, Shahih Muslim no 392]
  • Dengan demikian takbir itu terus terulang beberapa kali bersama seorang muslim dalam shalatnya. Dalam shalat fardhu yang empat raka’at terdapat dua puluh dua kali takbir. Dalam shalat fardhu yang dua raka’at terdapat sebelas kali takbir. Dan setiap raka’at ada lima kali takbir. Jadi selama sehari semalam dalam shalat fardhu lima waktu saja seorang muslim bertakbir mengagungkan Allah sebanyak 94 kali takbir. Itu belum termasuk takbir yang dibaca dalam shalat sunnat rawatib dan shalat-shalat sunnat yang lain. Belum lagi takbir yang dibaca setiap selesai shalat fardhu sebanyak 33 kali. Jadi total keseluruhannya selama sehari semalam seorang membaca takbir sebanyak 342 kali. Ini jelas merupakan keutamaan takbir yang oleh Allah dijadikan sebagai bagian yang menonjol dan penting dari shalat. Jumlah sebanyak itu belum memasukan takbir yang dibacanya dalam adzan dan dalam iqamah yang sehari semalam saja sebanyak 50 kali, ditambah ketika menjawabi muadzin. Tentunya jumlahnya akan bertambah banyak lagi.
  • Tetapi kalau seorang muslim dalam bertakbir tidak terikat oleh waktu, maka selama sehari semalam ia bisa membacanya dalam jumlah yang tak terhitung. Hanya Allah saja yang mengetahuinya.
  • Menafsiri firman Allah dalam surat al-Isra ayat 111 berbunyi “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya” Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan, “Allah berfirman, ‘Muhammad, agungkanlah Tuhanmu dengan ucapan atau perbuatan yang Aku perintahkan kamu untuk mengagungkan-Nya. Taatlah kepada-Nya terhadap apa yang Dia perintahkan dan Dia larang.” [Jami’ al-Bayan IX/179]
  • Sementara Syaikh Muhammad Amin asy-Syanqithi rahimahullahu dalam menafsiri ayat tersebut mengatakan, “Agungkanlah Allah dengan seagung-agungnya. Perlihatkan pengagunganmu kepada-Nya itu dengan cara selalu mentaati perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan bergegas melakukan setiap amal yang diridhai-Nya.”[Adhwa al-Bayan III/635]
  • Ini mengandung isyarat bahwa seluruh ajaran agama itu dianggap sebagai uraian atau penjabaran kalimat Allahu Akbar. Seorang muslim yang melakukan semua bentuk ketaatan dan ibadah, pada hakikatnya ia mengagungkan Allah dan memenuhi hak serta kewajibannya.

Makna dan Kehebatan Takbir

  1. Dalam “Allahu Akbar” ada penyebutan Allah Ta’ala pada diriNya Sendiri, pentauhidan, pengagungan dan penghormatan ataskeagunganNya, yang lebih agung dan lebih besar dibanding penyebutan makhlukNya yang lemah, sangat butuh, dan pentauhidan makhluk kepadaNya. Karena Allah swt-lah Yang Maha Mencukupi dan Maha Terpuji.
  2. Dzikir dengan Nama tersebut lebih agung dibanding dzikir dengan Asma’-asma’Nya yang lain.
  3. Bahwa Dzikirnya Allah Ta’ala pada hambaNya di zaman Azali sebelum hambaNya ada, adalah Dzikir teragung dan terbesar, yang menyebabkan dzikirnya hamba saat ini.Dzikirnya Allah Ta’ala tersebut lebih dahulu, lebih sempurna, lebih luhur, lebih tinggi, lebih mulia dan lebih terhormat. Dan Allah Ta’ala berfirman : “Niscaya Dzikirnya Allah itu lebih besar.”
  4. Sebenarnya mengingat Allah swt, di dalam sholat lebih utama dan lebih besar dibanding mengingatNya di luar sholat. Menyaksikan (musyahadah) pada Allah Ta’ala (Yang Diingat) di dalam sholat lebih agung dan lebih sempurna serta lebih besar ketimbang sholatnya.
  5. Bahwa mengingat Allah atas berbagai nikmat yang agung dan anugerah mulia, serta doronganNya kepadamu melalui ajakanNya kepadamu agar taat kepadaNya, adalah nikmat paling besar dibanding dzikir anda kepadaNya, dengan mengingat nikmat-nikmat itu, karena anda semua tidak akan pernah mampu mensyukuri nikmatNya.

Hadits

  • Nabi Muhammad saw, bersabda: “Aku tidak mampu memuji padaMu, Engkau, sebagaimana Engkau memujiMu atas DiriMu.” Artinya, “aku tidak mampu,” padahal beliau adalah makhluk paling tahu, paling mulia, dan paling tinggi derajatnya dan paling utama. Justru Nabi saw, menampakkan kelemahannya, padahal beliau adalah paling tahu dan paling ma’rifat – semoga sholawat dan salam Allah melimpah padanya dan keluarganya -.
  • Setelah kita mentauhidkan Allah swt, yang dinilai lebih agung ketimbang sholat, sehingga sholat menjadi rukun islam yang kedua. Dalam sabda Rasulullah saw:”Islam ditegakkan atas lima: Hendaknya menunggalkan Allah dan menegakkan sholat dst”. Takbiratul Ihram dijadikan sebagai pembukanya, Allahu Akbar.
  • Allah tidak menjadikan salah satu Asma-asma’Nya yang lain, untuk Takbirotul Ihrom, kecuali hanya Allahu Akbar. Karena Nabi saw, melarangnya , demikian juga untuk Lafadz Adzan, tetap menggunakan Takbir tersebut, begitu pun setiap takbir dalam gerakan sholat. Jadi Nama agung tersebut lebih utama dibanding Nama-nama lainnya, lebih dekat bagi munajat-munajat, bukan hanya dalam sholat atau lainnya.
  • Dalam hadits disebutkan:”Aku berada pada dugaan hambaKu apabila hamba berdzikir padaKu. Maka apabila ia berdzikir kepadaKu dalam jiwanya, Aku mengingatnya dalam JiwaKu. Dan jika ia berdzikir padaKu dengan kesendirianNya, maka Aku pun mengingat dengan KemahasendirianKu. Dan jika ia berdzikir di tengah padang (keramaian) maka Aku pun mengingatnya di keramaian lebih baik darinya.”
  • Yang walau demikian merupakan dzikir teragung, namun Dzikir “Allah” itu lebih besar daripada sholat dan dibanding setiap ibadah Abu Darda’ meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ingatlah, maukah aku beri kabar kalian tentang amal terbaikmu dan lebih luhur dalam derajatmu, lebih bersih di hadapan Sang Rajamu, dan lebih baik bagimu ketimbang memberikan emas dan perak, dan lebih baik ketimbang kalian bertemu musuhmu lalu bertempur di mana kalian memukul leher mereka dan mereka pun membalas memukul lehermu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mau..” Rasulullah saw, bersabda, “Dzikrullah.”
  • Juga dalam hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal : “Tak ada amal manusia mana pun yang lebih menyelamatkan baginya dari azdab Allah, dibanding dzikrullah.” Makna Dzikrullah bagi hambaNya adalah bahwa yang berdzikir kepadaNya itu disertai Tauhid, maka Allah mengingatnya dengan syurga dan pahala. Lalu Allah swt berfirman :”Maka Allah memberikan balasan kepada mereka atas apa yang mereka katakana, yaitu syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”
  • Dengan dzikir melalui Ismul Mufrad, yaitu “Allah”, dan berdoa dengan ikhlas kepadaNya, Allah swt berfirman : “Dan apabila hambaKu bertanya kepadaKu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat”
  • Siapa yang berdzikir dengan rasa syukurnya, Allah memberikan tambahan ni’mat berlimpah : “Bila kalian bersyukur maka Aku bakal menambah (ni’matKu) kepadamu”
  • Tak satu pun hamba Allah yang berdzikir melainkan Allah mengingat mereka sebagai imbalan padanya. Bila sang hamba adalah seorang ‘arif (orang yang ma’rifat) berdzikir dengan kema’rifatannya, maka Allah swt, mengingatnya melalui penyingkapan hijab untuk musyahadahnya sang ‘arif.
  • Bila yang berdzikir adalah mukmin dengan imannya, Allah swt, mengingatnya dengan rahmat dan ridloNya.
  • Bila yang berdzikir adalah orang yang taubat dengan pertaubatannya, Allah swt, mengingatnya dengan penerimaan dan ampunanNya.
  • Bila yang berdzikir adalah ahli maksiat yang mengakui kesalahannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan tutup dan pengampunanNya.
  • Jika yang berdzikir adalah sang penyimpang dengan penyimpangan dan kealpaannya, maka Allah swt mengingatnya dengan adzab dan laknatNya.
  • Bila yang berdzikir adalah si kafir dengan kekufurannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan azab dan siksaNya.
  • Siapa yang bertahlil padaNya, Allah swt, menyegerakan DiriNya padanya
  • Siapa yang bertasbih, Allah swt, membagusinya
  • Siapa yang memujiNya Allah swt, mengukuhkannya.
  • Siapa yang mohon ampun padaNya, Allah swt mengampuninya.
  • Siapa yang kembali kepadaNya, Allah swt, menerimanya.

Kondisi sang hamba itu berputar pada empat hal :

  • Ketika dalam keadaan taat, maka Allah swt, mengingatkannya dengan menampakkan anugerah dalam taufiqNya di dalam taat itu.
  • Ketika si hamba maksiat, Allah swt mengingatkannya melalui tutup dan taubat.
  • Ketika dalam keadaan meraih nikmat, Allah swt mengingatkannya melalui syukur kepadaNya.
  • Ketika dalam cobaan, Allah mengingatkannya melalui sabar.

Karena itu dalam Dzikrullah ada lima anugerah :

  1. Adanya Ridlo Allah swt.
  2. Adanya kelembutan qalbu.
  3. Bertambahnya kebaikan.
  4. Terjaga datri godaan syetan.
  5. Terhalang dari tindak maksiat.

Siapa pun yang berdzikir, Allah pasti mengingat mereka.

Tak ada kema’rifatan bagi kaum a’rifin, melainkan karena pengenalan Allah swt kepada mereka.Dan tak seorang pun dari kalangan Muwahhidun (hamba yang manunggal) melainkan karena ilmunya Allah kepada mereka.Tak seorang pun orang yang taat kepadaNya, kecuali karena taufiqNya kepada mereka.Tak ada rasa cinta sang pecinta kepadaNya, kecuali karena anugerah khusus CintaNya kepada mereka.

Tak seorang pun yang kontra kepada Allah swt, kecuali karena kehinaan yang ditimpakan Allah swt, kepada mereka.Setiap nikmat dariNya adalah pemberian. Dan setiap cobaan dariNya adalah ketentuan. Sedangkan setiap rahasia tersembunyi yang mendahului, akan muncul secara nyata di kemudian hari.

Perlu diketahui bahwa kalimat tauhid merupakan sesuatu antara penafiaan dan penetapan. Awalnya adalah “Laa Ilaaha”, yang merupakan penafian, pembebasan, pengingkaran, penentangan, dan akhinya adalah “Illallah”, sebagai kebangkitan, pengukuhan, iman, tahid, ma’rifat, Islam, syahadat dan cahaya-cahaya.

“Laa” adalah menafikan semua sifat Uluhiyah dari segala hal yang tak berhak menyandangnya dan tidak wajib padanya. Sedangkan “Illallah” merupakan pengukuhan Sifat Uluhiyah bagi yang berhak dan wajib secara hakikat.

Secara maknawi terpadu dalam firman Allah swt : “Siapa yang kufur pada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka benar-bvenar telah memegang teguh tali yang kuat.”

“Laa Ilaaha Illallah”, untuk umum berarti demi penyucian terhapad pemahaman mereka,.dari kejumbuhan khayalan imajiner mereka, untuk suatu penetapan atas Kemaha-Esaan, sekalgus menafikan dualitsme.

Sedangkan bagi kalangan khusus sebagai penguat agama mereka, menambah cahaya harapan melalui penetapan Dzat dan Sifat, menyucikan dari perubahan sifat-sifat baru dan membuang ancaman bahayanya.Untuk kalangan lebih khusus, justru sebagai sikap tanzih (penyucian) terhadap perasaan mampu berdzikir, mampu memandang anugerah serta fadhal dan mampu berssyukur, atas upaya syukurnya.

Pemahaman As Salaam, Sifat Allah Dalam Asmaul Husna


Pemahaman As Salaam, Sifat Allah Dalam Asmaul Husna

  • As Salaam Yang Memiliki Mutlak sifat Kesejahteraan. Keselamatan ini adalah sesuatu yang dimiliki oleh Allah yang sangat dibutuhkan oleh segenap makhluk-Nya. Sifat ini terutama sangat dibutuhkan agar dapat terhindar dari azab, siksa, malapetaka dan kerugian.
  • Adanya pemahaman bahwa selamat dari keadaan untuk mengharapkan imbalan dan adanya maksud kepada yang diberi, hal ini memperkuat sendi-sendi keikhlasan dalam beribadah. Bila dikatakan kita selamat dari selalu tergantung kepada mahluk maka akan sempurnalah pemahaman tawakal kepada Allah ta’ala semata.
  • Dari kata As Salaam ini, ada istilah surga yang dinamakan Daarus Salaam. Ini bermakna nama Allah sangat besar hikmah dan manfaatnya untuk kita ketahui dan pahami

    Pemahaman Al Qudus, Sifat Allah Dalam Asmaul Husna

    Pemahaman Al Qudus, Sifat Allah Dalam Asmaul Husna

    • Al Quddus sifatNya Dzat Allah Yang Memiliki Mutlak sifat Suci. Kata dasar dari Al Quddus adalah Qaddasa yang artinya menyucikan dan menjauhkan dari kejahatan, bisa pula diartikan membesarkan dan meagungkan.
    • Kesucian-Nya Allah ta’ala sangat bersih dari perasaan keji, jahat, negatif dan yang lainnya.
    • Bentuk pengamalan akan asma Allah adalah dengan mengucapkan Subhanallaah atau Taqaddasallah atau Ta’alallah.




    Pemahaman Al Malik Sebagai Sifat Allah Merajai Seluruh Alam

    • Al Malik adalah SifatNya Dzat Allah Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah seluruh alam. Jadi yang memerintah di seluruh alam ini walaupun ia sangat berkuasa adalah tetap mutlak milik Allah semata. Semua keuasaan akan tunduk kepada Rabb yang mulia.
    • QS Al Mukminuun : 116 “Sesungguhnya Allah ta’ala adalah Pemilik Sifat-sifat yang tinggi lagi Pemilik Kerajaan yang sebenarnya, Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan sebenarnya melainkan Dia. Dia-lah yang memilki Arsy yang Mulia.
    • Milik-Nya seluruh alam, yang di atas (langit) dan yang di bawah (bumi), semua adalah hamba dan sangat berhajat kepada-Nya.

    Pemaknaan Ar Rahim Sebagai Nama Allah Atau Asmaul Husna

    • Ar Rahiim artinya Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang.
    • Beda sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) dengan Ar Rahiim (Maha Penyayang) adalah sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) meliputi seluruh makhluk Allah baik yang beriman mau pun yang kafir. Allah memberikan alam semesta ini seperti air, udara, bumi dan sebagainya ke semua makhluknya tanpa pandang bulu.
    • Ada pun sifat Ar Rahiim (Maha Penyayang) itu adalah khusus bagi hamba-hamba Allah yang beriman. Hamba Allah yang saleh:
    • “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya” (HR Bukhari dan Muslim)
    • “Dan Dia Yang Memiliki Sifat Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS Al Ahzab 33:43)

    Pemahaman Ar Rahman Sifat Allah Maha Pengasih dan Penyayang 

    Pemahaman Ar Rahman Sifat Allah Maha Pengasih dan Penyayang 

    Ar Rahman asma Dzat Allah yang memiliki mutlak nikmat panjang dari dunia dan akhirat. Berdasarkan pengertian ini siapa yang diterapkan ilmu dan akal mengandung iman dan Islam maka disebut nikmat panjang. Nikmat ini langgeng dari dunia hingga akhirat. Jadi siapapun orangnya apabila ilmu dan akal dipergunakan untuk menjalankan dan melaksanakan Iman dan Islam maka ia dapat dikatakan memperoleh nikmat besar dari dunia dan akhirat, walaupun orangnya itu jelek rupanya dan miskin. Apakah ada nikmat yang lebih besar apabila dibandingkan dengan Iman dan Islam.

    Pemahaman atas asma Ar Rahmaan dan Ar RahiimSunting

    • Ar Rahmaan dan Ar Rahim mempunyai banyak penafsiran sehingga tidak sedikit pula yang mengalami kebingungan yang manakah yang benar dan manakah yang paling tepat.
    • Tidak jarang akhirnya berpendapat semua pendapat adalah benar, atau berpendapat yang paling benar hanyalah Allah semata atau dengan istilah Wallohu ‘alam. Apabila sudah demikian maka akan menjadi mandek dan orang kadang menjadi cenderung tidak peduli yang penting hanya Allah yang paling tahu. Pemahaman kita jadi tidak berkembang. Kita akhirnya menjadi berhenti mencari tahu hakekat sebenarnya dan tetap dalam ketidaktahuan bahkan tetap dalam kebimbangan, makna yang manakah yang sesuai dengan yang diajarkan Allah melalui lisan Rasul-Nya. Yang lebih menakutkan adalah disaat kita tidak tidak tahu dan dalam keadaan bimbang tentu saja setan dan iblis akan merasa senang karena akan mendapatkan mangsa baru. Ketidak tahuan dan kebimbangan hati kita dalam memahami Asma Ar Rahmaan dan Ar Rahiim dapat di atasi dengan cara mempelajari secara langsung dan memahaminya dengan benar sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
    • Dalam Al qur’an diperintahkan untuk bertanya kepada Ahli Dzikri atau ulama. Berarti ada perbedaan yang mengetahui dan memahami secara teori saja dengan yang mengetahui dan memahai secara ahli dzikir langsung dengan mengamalkannya.
    • Asma Ar Rahmaan dan Ar Rahiim menjadi sangat krusial karena ia merupakan bagian dari ayat pertama dalam Al Qur’an dan termasuk yang paling sering diulang dan segala sesuatu tanpanya disebut oleh Rasulullah saw menjadi terputus tiada berkah.

    Beberapa pendapat tentang Ar Rahmaan dan Ar Rahiim

    1. Sifat Dzat Allah yang memiliki nikmat panjang dari dunia hingga akhirat dan yang memilki nikmat pendek hanya di dunia saja
    2. Yang mengartikan sebaliknya.
    3. Yang mengartikan sebagai Maha Kasih dan Maha Penyayang
    4. Yang Maha Luas Kasih sayangnya dan Maha Kekal kasih sayangnya
    5. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Ar Rahmaan diartikan sebagai Maha PengasihSunting

    • Pengasih apabila dipahami sebagai Pemberian
    • Pertama, harus dipahami apabila Maha Pengasih maka maknanya ialah segala sesuatunya diberi atau dikasih oleh Allah. Sesuatu yang sudah diberikan akan menjadi milik si penerima. Sebagai contoh bila A memberikan Kue kepada B, maka kue tersebut menjadi milik B. Terserah pada B apakah kue itu hendak dimakan, B mempunyai kebebasan atas kue tersebut (karena kue tersebut sudah menjadi miliknya). A tidak dapat turut campur lagi atas kepemilikan kue tersebut dan tidak berhak mengambil kembali apalagi dilakukan secara paksa.
    • Ilustrasi di atas apabila diterapkan pada kenyataan dalam kehidupan kita bahwa dikatakan Allah memberi nyawa sehingga manusia dapat hidup dengan adanya nyawa tersebut, semestinya Allah tidak perlu peduli akan dipergunakan apakah nyawa itu oleh manusia, akan tetapi dalam kenyataanya manusia diatur bagaimanakah cara menggunakan nyawa itu.
    • Kedua, apabila manusia dikasih nyawa berarti nyawa menjadi milik manusia, lalu mengapakah nyawa tersebut diambil kembali oleh-Nya dan harus dikembalikan kepada-Nya? Kenapakah bila nyawa itu diambil tidak meminta izin dulu dahulu kepada manusia selaku ‘pemilik nyawa’ (karena telah telah dikasih nyawa oleh Allah, katanya telah di kasih kok di ambil kembali tanpa peringatan dan kenapa pula manusia harus mempertanggung jawabkannya diakhirat kelak? Jadi bila Ar Rahmaan diterjemahkan Maha Pengasih menjadi kurang tepat karena ada sekit kerancuan, apakah dibenarkan bila pada Allah ada kerancuan?

    Kaidah-kaidah dalam mengasih/ atau memberi adalah :

    1. Ada yang memberi/mengasih?
    2. Ada yang diberi/dikasih?
    3. Apa yang diberinya/dikasihnya?
    4. Dimanakah tempat diberinya/dikasihnya?
    5. Kapankah waktu diberikannya/dikasihnya?
    6. Siapakah saksi untuk kejadian mengasih itu?
    7. Bagaimanakah ucapan/ikrar dari yang mengasih kepada yang dikasih, bagaimana tepatnya?
    8. Bila Allah dikatakan sebagai yang mengasih, Bukankah sudah dikasih pada kita dan menjadi milik kita mengapa pulakah Dia mengambilnya kembali?
    9. Kenapakah harus ada pertanggung jawaban di akhirat kelak atas barang yang dikasih tersebut?

    Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang harus diselesaikan apabila dipergunakan Maha Pengasih sebagai terjemahan Ar Rahmaan. Sehingga kadang orang langsung berkata pusing dan tidak usah dipikirkan, pokoknya begini. Yang berakhir kepada taklid buta bukanya berdasarkan pemahaman yang sempurna. Bukankah Al Qur’an memerintahkan kita untuk memahaminya? Bagaimana akan benar dikatakan ibadah ke Allah apabila tidak diketahui, rancu, bingung dan sesat dalam pemahamannya?

    Akan lain halnya apabila mengatakan Ar Rahmaan berarti yang memiliki nikmat panjang/besar dari dunia hingga akhirat. Semua adalah milik Allah maka kita diwajibkan ibadah kepadaNya dengan sebenar-benarnya ibadah. Apabila ibadahnya sesuai dengan kaidah Iman dan Islam maka tergolong dalam yang menjadaptkan sifat Ar Rahmaan yaitu sebagai pewaris nikmat panjang dari dunia hingga akhirat kelak.

    Pengasih apabila diartikan sebagai Perasaan sayang atau perasaan cinta.

    • Bila seseorang meng-kasihi seseorang atau sesuatu maka Ia akan melakukan apa saja bahkan memberikan apa saja untuk orang yang dikasihinya. Apabila dikatakan bahwa Allah itu maha pengasih (tiada bandingannya dalam mengkasihi manusia) mengapakah pula harus ada siksa di dunia dan akhirat? mengapakah harus ada susah dan sedih, repot dan gembira? Biasanya bila kita mengasihi sesuatu maka kita tidak ingin yang kita kasihi itu disiksa bukan? sementara di Al Qur’an jelas jelas diterangkan siksa neraka itu bagaimana dasyat dan pedihnya. Mengapakah Allah tega untuk menyiksa manusia sementara Dia yang dikatakan Maha Pengasih dari semua yang Pengasih? Apakah layak sesuatu disebut pengasih akan tetapi sebenarnya merupakan penghukum atau penyiksa?
    • Biasanya orang berargumentasi bahwa selain Maha Pengasih juga Maha Adil, itulah yang menyebabkan adanya hari pembalasan yang adil diakhirat kelak. Hal inipun memunculkan suatu pertanyaan lain manakah yang lebih kuat perasaan Maha Kasihnya atau Maha Adilnya? karena memberikan kelebihan sesuatu atas sesuatu sudah tidak mencerminkan sifat adil. Apabila dikatakan seimbang kadar kasih dan adilnya akan memunculkan pula pemikiran-pemikiran lainnya sehingga sifat kasihnya akan tertelan oleh sifat adil baik secara samar maupun nyata. Pada umumnya orang memakai Maha Pengasih sebagai terjemahan kata Ar Rahmaan.


    Ar Rahmaan apabila dipahami sebagai asma Dzat yang memiliki nikmat panjang atau besar dari dunia hingga akhirat dan Ar Rahiim sebagai asma Dzat yang memiliki nikmat pendek sebatas di dunia saja. 
    Tentu banyak yang bertanya-tanya mengapakah diartikan sebagai pemilik nikmat panjang dari dunia hingga akhirat? Banyak sekali alasannya di antara adalah

    1. Penjelasan dengan Al Qur’an sendiri. Al Qur’an menjelaskan dirinya sendiri dengan keindahan serta keagungan ayat-ayatnya.
    2. Penjelasan melalui hikmah penamaan surat dalam Al Qur’an. Bahwa nama-nama surat dalam Al Qur’an mempunyai hikmah yang sangat banyak dan hanya dapat kita selami apabila kita benar-benar ditaqdirkan untuk memahaminya
    3. Penyebutan asma Allah yang dikombinasikan dengan nama yang lainnya dalam Al Qur’an tentu mempunyai makna, hikmah dan penjelasan yang bermanfaat dalam menjalani Iman dan Islam. contoh : Ar Rahmaan dan Ar Rohiim akan mempunyai makna sir/rahasia yang berbeda dengan Ar Rahmaan dan Ar Rosyiid, dsb.
    4. Hikmah dan pelajaran bagi ulil albab dalam Al Qur’an sangat banyak semakin ditafakuri dan semakin di-imani semakin banyak pula penjelasan yang didapat apalagi apabila di akhir diayat tersebut sebutkan komposisi asma Alloh yang tertentu maka akan memiliki hikmah, makna dan penjelasan bagi ulil albab atau bagi kaum yang mau bertafakkur.

    Pemahaman asma atau asma Ar Rahmaan ini didapatkan dari hal tersebut di atas, sehingga dalam pembahasan ini Insya Allah akan disebutkan semua ayat ayat Al Qur’an yang mengandung asma Ar Rahmaan Ar Rahim

    Pemahaman atas asma Ar RahmaanSunting

    • Dalam asma Ar Rahmaan ada 4 hal yang menjadi indikator bahwa sesuatu dapat digolongkan menteladani Ar Rahmaan atau tidak yaitu : Ilmu, Akal, Iman dan Islam
    • Dalam pemaknaan Ar Rahmaan adalah sebuah nama/asma kepada Dzat yang memiliki nikmat panjang atau nikmat besar. Sementara nikmat besar atau nikmat pajang adalah siapa saja yang diterapan ilmu dan akal dipergunakan untuk mengamalkan iman dan islam maka termasuk nikmat panjang atau nikmat besar langgeng/ abadi dari dunia hingga akhirat Dengan menggunakan 4 unsur di atas diketahui pula bahwa Ar Rahiim adalah sebuah nama/asma kepada Dzat yang memiliki nikmat pendek atau nikmat kecil yang hanya sebatas kehidupan di dunia saja. Ciri nikmat kecil atau nikmat pendek adalah siapa saja yang diterapan ilmu dan akal akan tetapi ilmu dan akalnya tidak dipergunakan untuk mengamalkan iman dan islam, jadi kesenangannya hanya sebatas di dunia saja.
    • Dengan pemaknaan Ar Rahmaan dan Ar Rahiim seperti di atas maka sangat jelaslah kontras mana-mana yang mendapatkan nikmat panjang/ besar dan mana-mana yang mendapatkan nikmat kecil. Oleh karena itu dalam Bismillaahir rohmaanir rohiim benar bila dikatakan merupakan inti dari Al-Quran, sebab seharusnya hanya dengan Bismillaahir rohmaanir rohiim dapat menjelaskan secara global dan jelas dari kehidupan dunia hingga akhirat.
    • Ar Rahman ini memegang peranan yang sangat besar dalam usaha manusia mencapai ma’rifat yang sebenarnya kepada Allah SWT, oleh karenanya disarankan seorang muslim yang ingin menyempurnakan iman dan islamnya sebaiknya memahami dengan mendalami serta mengamalkan apa-apa yang dimaksud dalam Asma’ul Husna ini.

    PeneranganSunting

    Asma Allah ta’ala yang penting setelah nama Allah adalah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, akan tetapi banyaknya perbedaan pendapat dalam menafsirkannya sehingga dianggap dapat membahayakan akidah, karena apabila memahami Bismillaahirrohmaanirrohiim kurang tepat apalagi bila memahami yang lain.Oleh karena itu ada baiknya apabila dilihat masing-masing kekhususannya.

    Bukti yang memperkuat bahwa Ar Rahmaan ini berbeda apabila di bandingkan Ar Rahiim adalah :

    1. QS Ar Rahmaan : 1 dan 2 ; Ar Rahmaan; yang mengajarkan (yang mengilmukan) Al Qur’an. Dari arti di atas sangatlah jelas bahwa Ar Rahmaan yang mengilmukan atau mengajarkan Al Qur’an sementara kita mengetahui bahwa Al Qur’an meliputi seluruh aspek dari dunia hingga akhirat jadi dapat disimpulkan bahwa Ar Rahmaan itu adalah pemilik nikmat besar dan panjang dari dunia hingga akhirat. Sangat jelas disini tidak di sebutkan Ar Rahiim karena Ar Rohiim adalah Dzat Allah yang mutlak memiliki nikmat pendek hanya sebatas di dunia saja. Oleh karena itu dalam menerangkan akherat atau keabadian serta tentang ibadah yang dipergunakan adalah asma Ar Rahmaan bukannya Ar Rahiim. Al qur’an penuh muzizat dalam menerangkan dirinya sendiri, lalu mengapakah kita tidak bisa mengambil hikmah darinya?
    2. Asma atau nama Ar Rahmaan ini juga ditekankan secara khusus di dalam Al Qur’an surat Al Israa surat ke 17 ayat 110, ditekankan nama Ar Rahmaan adalah termasuk Asma’ul Husna yang disarankan secara khusus untuk diseru, mempergunakannya, mempelajari dan mengamalkannya.
    3. Asma Ar Rahmaan ini dipergunakan oleh Allah swt dengan dipergunakannya sebagai nama surat di Al Qur’an yang ke 55, sementara Ar Rahiim tidak dipergunakan sebagai nama surat dalam Al Qur’an. Terlihat bahwa ini merupakan suatu ke khususan asma Ar Rahmaan dibandingkan Ar Rahiim. Pasti ada hikmah yang sangat mendalam mengapakah Ar Rahmaan dipergunakan sebagai nama surat sementara Ar Rahiim tidak.
    4. Ada pembelajaran bahwa pada zaman jahiliyyah orang-orang musyrikpun sudah mengenal nama-nama Tuhan seperti Ar Rohiim dan lain sebagainya, akan tetapi mereka belum mengetahui atau belum pernah mendengar nama Allah swt Ar Rahmaan, sehingga mereka memperolok Rasululloh saw yang mulia pada saat berdoa menggunakan Asma ul Husna Ar Rahmaan, sehingga Allah swt ta’ala, menurunkan wahyu surat Al Isra ayat 110.
    5. Banyak ayat Al Qur’an yang bila dilihat secara keseluruhan bahwa perintah beribadah, bersujud, berzikir di kaitkan dengan asma Ar Rahmaan, dan sangat jarang dengan asma Ar Rahiim.
    6. Menurut Al Ghazali dalam Al Maqshad al A’la, Asma Ar Rahmaan tidak dapat dipergunakan kepada manusia karena ke khususannya sementara asma Ar Rahiim dipergunakan untuk manusia. Ada beberapa ulama lama sesudahnya yang berusaha melemahkan pendapat Imam Al Ghazali dengan berbagai alasan yang ‘nampak’ masuk akal tetapi sebenarnya adalah berdasarkan anggapan-anggapan yang disusupkan oleh orang-orang yang dengki kepada Islam. Pendapat Imam Al Ghazalipun semakna dengan Imam Al Qusyairi.
    7. Berdasarkan hadits Abu Dawud dan At Tirmidzi, ” Aku adalah Ar Rahmaan, aku menciptakan Ar Rahiim…. (bila diresapi semakin terasa akan kekhususan, keglobal-an dan kebesaran serta keistimewaan asma Ar Rahmaan sehingga asma Ar Rahiim adalah hasil dari penciptaan Ar Rahmaan. Berdasarkan hal hadis ini asma Ar Rahmaan lebih dahulu di bandingkan dengan asma Ar Rahiim, sehingga sewajarnya sajalah bila cakupan himah dan makna yang tersembunyinyapun akan berbeda.
    8. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rosululloh Saw bersabda, ” Allah ta’ala memiliki seratus bagian rahmat. Hanya satu bagian yang dicurahkanNya kepada alam semesta, dibagikanNya kepada seluruh mahlukNya. Rasa kasih sayang (Ar Rahiim) yang ada pada mahlukNya di antara sesama berasal dari bagian itu. Adapun 99 bagian lainnya disimpaNya untuk hari akhirat ketika Dia akan memberikan kepada orang yang beriman”

    Jadi jelaslah rahmat terbesar ada diakherat, sehingga Ar Rahmaan adalah Dzat yang memiliki Mutlak Nikmat panjang atau besar dari dunia hingga di akherat.

    Akar kata Ar RahmaanSunting

    Ar Rahmaan apabila di bagi dalam tulisan Arab menajadi Alif Lam Ra Ha Mim Nun, Ke enam huruf Hijaiyyah ini apabila kita teliti dalam Al Qur’an merupakan Ismun Jami’, yaitu Alif Lam Ra, Ha Mim dan Nun

    Ar Rahmaan adalah sejenis ism ‘alam, karena tidak ada yang menyandang sifat itu selain Allah ta’ala. Mengapakah kita bersikeras memahami bahwa Ar Rahmaan hanya ‘pengasih di dunia saja’? Lalu bagaimana di akherat? Begitu banyak penjelasan dari Al Qur’an yang begitu jelas, mengapakah hati kita susah menerimanya? Bila dikatakan Iman kepada Kitab-Kibat Allah ta’ala tentu akan segera mengimani bahwa Ar Rahmaan adalah yang memiliki nikmat besar dari dunia hingga akhirat. Rahmat, Nikmat, karunia yang terkandung dalam asma Ar Rahmaan itu pasti mencakup, meliputi dari dunia hingga akhirat. (lihat hikmah, rahasia pemahaman asma Ar Rahmaan dalam Al Qur’an).

    Ar Rahmaan ini tidak mempunyai akar kata dalam bahasa Arab, dan dianggap baru oleh kaum musyrikin. Dengan alasan :

    1. QS Al Furqaan : 60, ” Dan apabila diperintahkan kepada mereka, ‘Sujudlah kepada Ar Rahmaan’, mereka akan bertanya, ‘Siapakah Ar Rahmaan itu? Apakah kami bersujud kepada sesuatu yang engkau perintahkan kepada kami?’. Perintah ini menambah mereka menjauh dari keimanan”. Hikmah dan keagunan Al Qur’an menggunakan kata atau asma Ar Rahmaan tentu bukannya tidak ada maksud yang ditujukan kepada kaum yang berakal dan kaun yang memahami serta mentadaburi hikmah rahasia yang tersembunyi.
    2. Ketika Terjadi perjanjian Hudaibiyah, orang musyrik tidak mengerti kata Rahmaan sementara Ar Rohiim telah diketahui artinya oleh mereka. (Semakin menambah bukti keistimewaan Asma Ar Rahmaan, bahwa asama Ar Rahmaan ini tidak diketahui oleh orang musyrik seperti halnya Ilmu akan Iman dan Islam belum atau tidak dipahami oleh orang-orang yang musryik, oleh karena itu sebaiknyalah kita menghisab diri segera kembali kepada Alloh Ar Rahmaan dengan sebenar-benarnya pemahaman).
    3. Asma Ar Rahmaan dianggap asma baru bagi kaum musyrikin, tentu saja membawa makna yang sangat khusus sehingga diharapkan bagi yang memahami serta mengamalkan asma ini tidak digolongkan kepada kaum musyrik.

    Akan tetapi asma Ar Rahmaan ini bagi Maryaam, Nabi Ibrahim dan seluruh Nabi dan Rosul bukan merupakan hal yang baru, hal ini dapat dilihat dalam penjelasan Ar Rahmaan dalam Al Qur’an

    Ar Rahmaan dalam Al Qur’anSunting

    Kata Ar Rahmaan di dalam Al Qur’an terdapat sebanyak 57 kali dan menjadi nama surat dalam Al Qur’an yang ke 55.

    1. Al Fatihah 1 : 1
    2. Al Fatihah 1 : 3
    3. Al Baqoroh 2 : 163
    4. Al Isra 17 : 110
    5. Ar Rahmaan : 1
    6. Ar Rad 13 :30
    7. Maryam 19 : 18
    8. Maryam 19 : 26
    9. Maryam 19 : 44
    10. Maryam 19 : 45
    11. Maryam 19 : 58
    12. Maryam 19 : 61
    13. Maryam 19 : 69
    14. Maryam 19 : 75
    15. Maryam 19 : 78
    16. Maryam 19 : 85
    17. Maryam 19 : 87
    18. Maryam 19 : 88
    19. Maryam 19 : 91
    20. Maryam 19 : 92
    21. Maryam 19 : 93
    22. Maryam 19 : 96
    23. Thahaa 20 : 5
    24. Thahaa 20 : 90
    25. Thahaa 20 : 108
    26. Thahaa 20 : 109
    27. Al Anbiya 21 : 26
    28. Al Anbiya 21 : 36
    29. Al Anbiya 21 : 42
    30. Al anbiya 21 : 112
    31. Al Furqaan 25 : 26
    32. Al Furqaan 25 : 59
    33. Al Furqaan 25 : 60
    34. Al Furqaan 25 : 63
    35. Asy Syu’araa 26 : 5
    36. An Naml 27 : 30
    37. Yasiin 36 : 11
    38. Yasiin 36 : 15
    39. Yasiin 36 : 23
    40. Yasiin 36 : 52
    41. Fushshilat 42 : 2
    42. Az Zukhruf 43 : 17
    43. Az Zukhruf 43 : 19
    44. Az Zukhruf 43 : 20
    45. Az Zukhruf 43 : 33
    46. Az Zukhruf 43 : 36
    47. Az Zukhruf 43 : 45
    48. Az Zukhruf 43 : 81
    49. Qaaf 50 : 33
    50. Ar Rahmaan 55 : 1
    51. Al Hasyr 59 : 22
    52. Al Mulk 67 : 3
    53. Al Mulk 67 : 19
    54. Al Mulk 67 : 20
    55. Al Mulk 67: 29
    56. An Naba’ 78 : 37
    57. An Naba’ 78 : 38

    Perbedaan Asma Ar Rahmaan dan Ar RahiimSunting

    1. Ar Rahmaan adalah isim ‘alam, tiada yang dapat menyandang nama tersebut selain Alloh ta’ala sendiri. Sehingga dapat dipahami bahwa ruang lingkup asma ini sangat luas dan besar serta waktu yang sangat panjang mencakup kehidupan dari dari dunia hingga kehidupan di akhirat. Sedangkan asma Ar Rahiim dapat ditujukan kepada Allah dan kepada selainnya, sementara diketahui selain Allah akan hancur, binasa dan hanya sebatas di dunia saja tidak mencakup ke akhirat kelak. Jadi asma Ar Rahiim ini dengan halus Alloh mengatakan bahwa Dia-lah pemilik nikmat pendek yang hanya terbatas di dunia saja.

    2. Ar Rahmaan adalah Asma Dzat Alloh yang memiliki nikmat pajang dari dunia hingga akhirat sementara Ar Rahiim adalah asma Dzat Allah yang memiliki nikmat pendek sebatas kehidupan didunia saja.

    3. Isim atau nama Ar Rahmaan terdiri dari gabungan Ismul jami’ yaitu Aliif Laam Raa, Haa Miim, dan Nuun, sementara Ism Ar Rahiim, Aliif Laam Raa, Haa kemudian terputus dengan huruf yaa dan miim. Bagi yang mendalami ilmu hikmah, ilmu alat serta rahasia huruf dan terbuka cahaya pemahamannya akan Ilmu Allah pasti tidak akan memandang remeh dari rahasia hurufnya ini.

    4. Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa yang diibadahi, yang berkuasa diakhirat, yang bersemayam di atas Arsy, yang memegang teguh perjanjian, yang tiada dapat berkata-kata sesuatupun dihadapannya menggunakan asma Ar Rahmaan. Sementara asma Ar Rahiim dalam Al Qur’an banyak menjelaskan suatu kondisi yang dianggap salah oleh Al Qur’an kemudian dia bertobat atau berubah menjadi lebih baik. Kondisi melakukan kesalahan adalah nikmat kecil tidak akan langgeng nikmatnya hingga akhirat. Oleh karena itu hikmah dalam Al Qur’an dipergunakan asma Ar Rahiim

    5. Ar Rahmaan di dalam ayat Al Qur’an disebutkan bahwa ‘Ar Rohmaanu alal arsy istawaa’

    6. Dalam Al Quran bahwa ta’awudz itu dengan lafadz Audzu billaahi….. dan dalam Surat Maryaam (18:19)…. Audzu bir rohmaan minka…… sehingga silahkan ditafakuri lafadz Alloh ta’ala diajarkan oleh Al Qur’an dapat di subtitusikan dengan Asma Ar Rahmaan sementara nama Ar Rohiim tidak diajarkan atau dianjurkan dalam Al Qur’an

    7. Sebenarnya walau satu ayat saja dari Al Qur’an adalh memadai untuk dijadikan sebagai hujjah, jadi tinggal keimanan kita saja untuk berserah diri kepada Alloh ta’ala