Author Archives: Umat Indonesia

YOUTUBE PILIHAN: Alunan Suara Dahsyat Surat Al Haqaah (Kiamat). Tangisan miris takut hukuman Allah

Surah Al-Haqqah adalah surah ke-69 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 52 ayat. Dinamakan Al Haaqqah yang berarti hari kiamat diambil dari perkataan Al-Haaqqah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Terjemahan

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

  • Kemutlakan, apakah Kemutlakan itu? dan tahukah dirimu tentang Kemutlakan itu? Samud serta ‘Aad mendustakan sebuah Kemutlakan;
    Terhadap kaum Samud, mereka dipunahkan guntur yang mengguncang.
    Terhadap kaum ‘Aad, mereka dipunahkan angin kencang yang menerjang mereka selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus; hingga kamu mendapati mereka mati bergelimpangan serupa tunggul-tunggul pohon kurma yang layu, lalu apakah sekarang kamu melihat seorang pun dari mereka?
    dan sebagaimana Fir’aun serta umat-umat sebelumnya maupun kaum yang dijungkirbalikkan akibat kedurjanaan; yang mereka itu telah mendustakan Rasul Tuhan mereka sehingga Dia timpakan hukuman kepada mereka berupa Hantaman pedih. (Ayat:1-10)
  • Bahwasanya Kamilah; tatkala air bah telah membanjiri, yang telah mengangkut kalian ke dalam sebuah bahtera, supaya Kami jadikan peristiwa itu sebagai peringatan untuk kalian; serta agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Ayat:11-12)
  • Tatkala sangkakala telah ditiup melalui sekali tiupan, dan diangkatlah bumi beserta gunung-gunung, lalu keduanya diremukkan sekali bentur, maka pada Hari itu terjadilah perkara yang mutlak, serta langit terbelah, sebab pada Hari itu langit dalam keadaan goyah. Serta para malaikat berada di berbagai penjuru langit; serta pada Hari itu terdapat delapan sosok menopang Arsy Tuhanmu yang berada di atas mereka. Pada Hari itulah kalian diperkarakan, tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi.
    Bahwasanya orang yang diserahkan kitabnya dari sebelah kanannya, maka orang tersebut berkata: “Inilah, bacalah kitabku.” :”sungguh aku memahami bahwa aku pasti akan menghadapi perhitungan tentang diriku” lalu orang itu menempati alam kesejahteraan di Surga yang dimuliakan, yang buah-buahannya dekat, : “Makan dan minumlah dipenuhi suka cita disebabkan hal-hal yang telah kalian perbuat pada hari-hari terdahulu.”
    Adapun orang yang diserahkan kitabnya dari sebelah kirinya, maka orang itu berkata: “Andai saja tidak diserahkan kitabku ini kepada diriku sehingga aku tidak menanggung perhitungan terhadap diriku,
    andai saja waktu yang telah berlalu sebagai akhir segala sesuatu, harta kekayaanku tiada lagi berguna untuk diriku, telah lenyap kuasaku terhadap diriku sendiri.” : “Cengkeramlah orang itu lalu belenggulah kemudian campakkan orang itu menuju Gejolak Api lalu belitlah orang itu dengan rantai sepanjang tujuh puluh hasta; sebab dahulunya orang itu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Luhur,
    bahwa orang itu tidak tergugah untuk merawat golongan miskin; maka tiada seorang teman pun untuk dirinya disana pada hari ini, sungguh tiada makanan untuk orang itu selain nanah, tiada yang memakan hal tersebut selain orang-orang berdosa. (Ayat:13-37)
  • Maka Aku bersaksi tentang perkara yang kalian ketahui maupun tentang perkara yang tidak kalian ketahui; bahwasanya hal yang demikian benar-benar merupakan pesan seorang Rasul yang mulia; bahwa hal yang demikian bukanlah pesan seorang penyair, betapa lemah kalian mengimani! bukan pula pesan seorang petenung; betapa buruk cara kalian memahami! melainkan risalah yang berasal dari Tuhannya semesta alam.
    Dan sekiranya ia mengada-adakan sebagian perkataan dengan mengatasnamakan Kami, tentulah Kami cengkeram dirinya pada tangan kanannya kemudian Kami robek nadi jantungnya sementara tiada seorangpun dari kalian yang dapat melindungi ia.
    Sungguh hal yang demikian merupakan pelajaran bagi golongan yang bertakwa; serta tentu Kami ketahui bahwa di antara kalian terdapat golongan yang membantah, maka hal yang demikian merupakan kesesakan bagi golongan kafir,
    bahwa hal yang demikian merupakan kebenaran sejati; maka sanjunglah Nama Tuhanmu yang Maha Luhur. (Ayat:38-52)

 

YOUTUBE PILIHAN: Alunan Suara Dahsyat Surat Al Haqaah (Kiamat). Tangisan miris takut hukuman Allah

Surah Al-Haqqah adalah surah ke-69 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 52 ayat. Dinamakan Al Haaqqah yang berarti hari kiamat diambil dari perkataan Al-Haaqqah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Terjemahan

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

  • Kemutlakan, apakah Kemutlakan itu? dan tahukah dirimu tentang Kemutlakan itu? Samud serta ‘Aad mendustakan sebuah Kemutlakan;
    Terhadap kaum Samud, mereka dipunahkan guntur yang mengguncang.
    Terhadap kaum ‘Aad, mereka dipunahkan angin kencang yang menerjang mereka selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus; hingga kamu mendapati mereka mati bergelimpangan serupa tunggul-tunggul pohon kurma yang layu, lalu apakah sekarang kamu melihat seorang pun dari mereka?
    dan sebagaimana Fir’aun serta umat-umat sebelumnya maupun kaum yang dijungkirbalikkan akibat kedurjanaan; yang mereka itu telah mendustakan Rasul Tuhan mereka sehingga Dia timpakan hukuman kepada mereka berupa Hantaman pedih. (Ayat:1-10)
  • Bahwasanya Kamilah; tatkala air bah telah membanjiri, yang telah mengangkut kalian ke dalam sebuah bahtera, supaya Kami jadikan peristiwa itu sebagai peringatan untuk kalian; serta agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Ayat:11-12)
  • Tatkala sangkakala telah ditiup melalui sekali tiupan, dan diangkatlah bumi beserta gunung-gunung, lalu keduanya diremukkan sekali bentur, maka pada Hari itu terjadilah perkara yang mutlak, serta langit terbelah, sebab pada Hari itu langit dalam keadaan goyah. Serta para malaikat berada di berbagai penjuru langit; serta pada Hari itu terdapat delapan sosok menopang Arsy Tuhanmu yang berada di atas mereka. Pada Hari itulah kalian diperkarakan, tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi.
    Bahwasanya orang yang diserahkan kitabnya dari sebelah kanannya, maka orang tersebut berkata: “Inilah, bacalah kitabku.” :”sungguh aku memahami bahwa aku pasti akan menghadapi perhitungan tentang diriku” lalu orang itu menempati alam kesejahteraan di Surga yang dimuliakan, yang buah-buahannya dekat, : “Makan dan minumlah dipenuhi suka cita disebabkan hal-hal yang telah kalian perbuat pada hari-hari terdahulu.”
    Adapun orang yang diserahkan kitabnya dari sebelah kirinya, maka orang itu berkata: “Andai saja tidak diserahkan kitabku ini kepada diriku sehingga aku tidak menanggung perhitungan terhadap diriku,
    andai saja waktu yang telah berlalu sebagai akhir segala sesuatu, harta kekayaanku tiada lagi berguna untuk diriku, telah lenyap kuasaku terhadap diriku sendiri.” : “Cengkeramlah orang itu lalu belenggulah kemudian campakkan orang itu menuju Gejolak Api lalu belitlah orang itu dengan rantai sepanjang tujuh puluh hasta; sebab dahulunya orang itu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Luhur,
    bahwa orang itu tidak tergugah untuk merawat golongan miskin; maka tiada seorang teman pun untuk dirinya disana pada hari ini, sungguh tiada makanan untuk orang itu selain nanah, tiada yang memakan hal tersebut selain orang-orang berdosa. (Ayat:13-37)
  • Maka Aku bersaksi tentang perkara yang kalian ketahui maupun tentang perkara yang tidak kalian ketahui; bahwasanya hal yang demikian benar-benar merupakan pesan seorang Rasul yang mulia; bahwa hal yang demikian bukanlah pesan seorang penyair, betapa lemah kalian mengimani! bukan pula pesan seorang petenung; betapa buruk cara kalian memahami! melainkan risalah yang berasal dari Tuhannya semesta alam.
    Dan sekiranya ia mengada-adakan sebagian perkataan dengan mengatasnamakan Kami, tentulah Kami cengkeram dirinya pada tangan kanannya kemudian Kami robek nadi jantungnya sementara tiada seorangpun dari kalian yang dapat melindungi ia.
    Sungguh hal yang demikian merupakan pelajaran bagi golongan yang bertakwa; serta tentu Kami ketahui bahwa di antara kalian terdapat golongan yang membantah, maka hal yang demikian merupakan kesesakan bagi golongan kafir,
    bahwa hal yang demikian merupakan kebenaran sejati; maka sanjunglah Nama Tuhanmu yang Maha Luhur. (Ayat:38-52)

Alunan Surat Al Adiyat Paling Dahsyat dan Tafsirnya

Surah Al-‘Adiyat terdiri atas 11 ayat dan tergolong surah makkiyah, surat ini diturunkan setelah surah Al-‘Asr. Nama Al ‘Aadiyat diambil dari kata Al ‘Aadiyaat yang artinya berlari kencang yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya: Ancaman Allah SWT kepada manusia yang ingkar dan yang sangat mencintai harta benda bahwa mereka akan mendapat balasan yang setimpal di kala mereka dibangkitkan dari kubur dan di kala isi dada mereka ditampakkan.

wp-1558247991708..jpg

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (1) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (4) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (5) إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8) أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (11)
Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu di tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah diat tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
Allah Swt. bersumpah dengan menyebut kuda apabila dilarikan di jalan Allah (jihad), maka ia lari dengan kencangnya dan suara dengus napasnya yang keras saat lari.
{فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا}
dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku teracaknya). (Al-‘Adiyat: 2)
Yakni suara detak teracaknya ketika menginjak batu-batuan, lalu keluarlah percikan api darinya.
{فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا}
dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. (Al-‘Adiyat: 3)
Yaitu mengadakan serangan di waktu pagi hari, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Beliau mengadakan serangan di waktu subuh; maka apabila beliau mendengar suara azan di kabilah yang akan diperanginya, beliau mengurungkan niatnya. Dan apabila beliau Saw. tidak mendengar suara azan di kabilah tersebut, maka dilangsungkanlah niatnya.
Firman Allah Swt.:
{فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا}
maka ia menerbangkan debu. (Al-‘Adiyat: 4)
Maksudnya, debu di tempat kuda-kuda mereka sedang beraksi di kancah peperangan.
{فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا}
dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-‘Adiyat: 5)
Yakni kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah kancah peperangan (mengobrak-abrik barisan musuh).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. (Al-‘Adiyat: l) Yaitu unta; menurut Ali disebutkan unta, dan menurut Ibnu Abbas disebutkan kuda. Dan ketika apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas itu sampai ke telinga Ali, maka ia berkata, “Dalam Perang Badar kami tidak memiliki kuda.” Ibnu Abbas menjawab, bahwa sesungguhnya hal tersebut hanyalah berkenaan dengan pasukan khusus yang dikirimnya.
Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, dari Abu Mu’awiyah Al-Bajali, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan kepadanya bahwa ketika aku sedang berada di Hijir Isma’il, tiba-tiba datanglah kepadaku seorang lelaki yang bertanya mengenai makna firman-Nya: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. (Al-‘Adiyat: 1) Maka aku menjawab, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika digunakan untuk menyerang di jalan Allah, kemudian di malam hari diistirahatkan dan mereka membuat makanan (memasak makanan)nya, dan untuk itulah maka mereka menyalakan api (dapur)nya buat masak. Setelah itu lelaki tersebut pergi meninggalkan diriku menuju ke tempat Ali berada, yang saat itu berada di tempat minum air zamzam (dekat sumur zamzam). Lalu lelaki itu menanyakan kepada Ali makna ayat tersebut, tetapi Ali r.a. balik bertanya, “Apakah engkau pernah menanyakannya kepada seseorang sebelumku?” Lelaki itu menjawab, “Ya, aku telah menanyakannya kepada Ibnu Abbas, dan ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika menyerang di jalan Allah.”wp-1558248369742..jpg
Ali berkata, “Pergilah dan panggillah dia untuk menghadap kepadaku.” Ketika Ibnu Abbas telah berada di hadapan Ali, maka Ali r.a. berkata, “Apakah engkau memberi fatwa kepada manusia dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu mengenainya. Demi Allah, sesungguhnya ketika mula-mula perang terjadi di masa Islam (yaitu Perang Badar), tiada pada kami pasukan berkuda kecuali hanya dua ekor kuda. Yang satu milik Az-Zubair dan yang lainnya milik Al-Miqdad. Maka mana mungkin yang dimaksud dengan al-‘adiyati dabhan adalah kuda. Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-‘adiyati dabhan ialah bila berlari dari ‘Arafah ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina.”
Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu ia mencabut ucapannya itu dan mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ali r.a. Dan berdasarkan sanad ini dari Ibnu Abbas dapat disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa menurut Ali, al-‘adiyati dabhan bila jarak yang ditempuhnya dari ‘Arafah ke Muzdalifah; dan apabila mereka beristirahat di Muzdalifah, maka mereka menyalakan apinya (untuk memasak makanannya).
Al-Aufi dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda. Dan ada sejumlah ulama yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kumpulan unta (yang digunakan untuk kendaraan perang di jalan Allah), di antara mereka adalah Ibrahim dan Ubaid ibnu Umair. Sedangkan ulama lainnya mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, antara lain ialah Mujahid, Ikrimah, Ata, Qatadah, dan Ad-Dahhak; dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Abbas dan Ata mengatakan bahwa tiada yang mengeluarkan suara dengusan napas saat berlari kecuali hanya kuda dan anjing. Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas memperagakan tentang makna ad-dabhu, yaitu suara dengusan napas.
Kebanyakan ulama mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (kuku kakinya). (Al-‘Adiyat: 2) Yakni dengan teracaknya, dan menurut pendapatyang lain menyebutkan bila kuda-kuda itu menyalakan peperangan di antara para penunggangnya, menurut Qatadah.
Telah diriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (teracaknya). (Al-‘Adiyat: 2) Yaitu menyalakan api untuk tipu muslihat dalam peperangan. Menurut pendapat yang lain, menyalakan api bila kembali ke tempat tinggal mereka di malam hari. Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah apinya para kabilah. Dan menurut orang yang menafsirkannya dengan kuda mengartikannya dengan pengertian menyalakan api di Muzdalifah.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah yang pertama. Yaitu yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kuda ketika memercikkan bunga api dari kaki teracaknya saat berlari kencang dan beradu dengan batu-batuan.
Firman Allah Swt.:
{فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا}
dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. (Al-‘Adiyat: 3)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pasukan berkuda yang menyerang di pagi hari buta di jalan Allah. Dan menurut ulama yang menafsirkannya dengan unta, makna yang dimaksud ialah berangkat di waktu subuh dari Muzdalifah ke Mina. Dan mereka semuanya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
{فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا}
maka ia menerbangkan debu. (Al-‘Adiyat: 4)
Yakni tempat yang kuda-kuda dan unta-unta itu berada, baik dalam ibadah haji maupun dalam jihad, debu-debu beterbangan karenanya.
Firman Allah Swt.:
{فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا}
dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-‘Adiyat: 5)
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ata, Ikrimah, Qatadah, dan Ad-Dahhak (yang semuanya dari Ibnu Abbas), bahwa makna yang dimaksud ialah kumpulan pasukan musuh yang kafir. Dapat pula ditakwilkan dengan pengertian bahwa kuda-kuda itu berkumpul di tengah-tengah tempat medan pertempuran. Dengan demikian, berarti lafaz jam’ah di-nasab-kan menjadi hal (kata keterangan keadaan) yang menguatkan makna wasata.
Abu Bakar Al-Bazzar sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah hadis yang garib sekali. Untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Jami’, telah menceritakan kepada kami Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan pasukan berkuda, maka berlalulah masa satu bulan tanpa ada kabar beritanya. Lalu turunlah firman Allah Swt.: Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. (Al-‘Adiyat: 1) Yakni menghentak-hentakkan kakinya dengan cepat dalam larinya. dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (teracaknya). (Al-‘Adiyat: 2) Artinya, teracaknya memercikkan bunga-bunga api karena menginjak bebatuan, seperti halnya batu pemantik api apabila diadukan. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. (Al-‘Adiyat: 3) Yaitu menyerang musuh di pagi buta dengan serangan yang mengejutkan. maka ia menerbangkan debu. (Al-‘Adiyat: 4) Yakni debu beterbangan karena injakan teracak-teracaknya. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. (Al-‘Adiyat: 5) Maksudnya, menyerbu ke tengah-tengah kantong musuh semuanya di waktu pagi buta.
Firman Allah Swt:
{إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ}
sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Al-‘Adiyat: 6)
Inilah subjek sumpahnya, dengan pengertian bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.
Ibnu Abbas, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Abul Jauza, Abul Aliyah, Abud Duha, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Qais, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Ibnu Zaid telah mengatakan bahwa al-kanud artinya pengingkar. Al-Hasan mengatakan bahwa al-kanud artinya orang yang mengingat-ingat musibah dan melupakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Israil, dari Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Al-‘Adiyat: 6)
Beliau bersabda, bahwa al-kanud artinya orang yang makan sendirian dan memukul budaknya serta menolak kehadirannya. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula melalui jalur Ja’far ibnuz Zubair, tetapi dia orangnya tidak terpakai hadisnya, dan sanad hadis ini lemah. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui hadis Hirriz ibnu USmam, dari Hamzah ibnu Hani’, dari Abu Umamah secara mauquf.
Firman Allah Swt.:
{وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ}
dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. (Al-‘Adiyat: 7)
Qatadah dan Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menyaksikan hal tersebut. Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada merujuk kepada manusia, ini menurut Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Dengan demikian, berarti maknanya ialah sesungguhnya manusia itu benar-benar menyaksikan sendiri (mengakui) akan keingkaran dirinya melalui sepak terjangnya, yakni terlihat jelas hal itu dari ucapan dan perbuatannya, sebagaimanayangdisebutkan dalam firman-Nya:
مَا كانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَساجِدَ اللَّهِ شاهِدِينَ عَلى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At-Taubah: 17)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ}
dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (Al-‘Adiyat: 8)
Yakni sesungguhnya kecintaannya kepada harta benda benar-benar sangat berat. Sehubungan dengan makna ayat ini, ada dua pendapat; pendapat pertama mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta, dia menjadi seorang yang kikir. Kedua makna sama-sama benarnya.
Kemudian Allah Swt. menganjurkan kepada manusia untuk berzuhud terhadap duniawi dan menganjurkan mereka untuk menyukai pahala akhirat. Yang hal ini diungkapkan-Nya melalui peringatan terhadap mereka tentang apa yang akan terjadi sesudah kehidupan dunia ini, yaitu banyak peristiwa yang menakutkan yang akan dihadapinya.
{أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ}
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur? (Al-‘Adiyat: 9)
Maksudnya, dikeluarkan orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya.
{وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ}
dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. (Al-‘Adiyat: 10)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah apabila dilahirkan dan ditampakkan apa yang selama itu mereka sembunyikan dalam diri dan hati mereka.
{إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ}
sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itn Maha Mengetahui keadaan mereka. (Al-‘Adiyat: 11)
Tuhan mereka benar-benar mengetahui semua yang diperbuat dan yang dikerjakan oleh mereka, dan Dia kelak akan membalaskannya terhadap mereka dengan balasan yang sempurna; Dia tidak akan berbuat aniaya barang seberat zarrah pun terhadap seseorang.
wp-1558248369742..jpg

 

Malaikat Arham: Meniup Ruh Janin dan Kebahagaian Dalam Rahim

Malaikat Arham: Meniup Ruh Janin dan Kebahagaian Dalam Rahim

Malaikat al-Arham (Arab: ملاك الأرحام) adalah para malaikat yang diserahi tugas untuk meniupkan ruh kedalam janin, mengatur rezeki, kematian, amal, sengsara atau kebahagiaan di dalam rahim. Malaikat Arham memiliki tugas meniupkan debu bumi kepada janin, dimana calon makhluk itu nanti akan tercabut nyawanya oleh Malaikat Maut.

Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah akan mengutus malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk melaksanakan kesemua ketetapan yang telah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh.

Dalam hadits Muhammad bersabda:

“Allah mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, ia masih berupa air mani’. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa darah beku’. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa segumpal daging’. Apabila Allah membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, orang ini akan diciptakan laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia? bagaimana rezekinya? serta bagaimana pula ajalnya?. Segala-galanya dicatat sewaktu dalam perut ibunya.” [Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.]

Pada saat Sakrat al-Maut, Allah akan membukakan tabir yang menyelubungi pandangan seseorang sehingga akan menembus akhirat. Tercantum di dalam Al Qur’an surah Qaaf, yang berbunyi:

“Sehingga bagi orang mukmin, ketersingkapan penglihatan ini menambah ringan bebannya menempuh kematian, tetapi orang kafir justru akan semakin membuatnya berat dan sulit untuk melampaui tahapan kematian itu. (Qaaf 50:22)

Tugas Malaikat As-Sijili

Tugas Malaikat As-Sijili

As-Sijilli – Malaikat yang memberitahukan kepada Harut dan Marut tentang makhluk yang pernah membuat kerusakan dan pertumpahan darah dibumi.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja’far al-Baqir. Kisah ini ditulis pada kitab ’’Qashash al-Anbiyaa’’ (Kisah Para Nabi dan Rasul), Kisah Penciptaan Adam, hal. 20. Karya Ibnu Katsir, tahqiq hadits Syekh Al-Albani

Puisi Taufik Ismail untuk SAUDARAKU PALESTINA, Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

oleh Tufiq Ismail

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer 
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir 
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran 
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan 
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas 
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan tim-
pukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan
tangan dan lengannya, siapakah yang tak 
menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang
dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulur
kan rantai amat panjangnya, pembelit leher
lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika     kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika    pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan 
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, 
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

 


Kalimat Super: Kata Bijak Imam Al Ghazali

Kalimat Super: Kata Bijak Imam Al Ghazali

“Sesungguhnya kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan sesuatu
bergantung pada kondisi dasarnya. Kondisi dasar sesuatu adalah
menyangkut untuk apa ia diciptakan. Oleh karena itu, kenikmatan mata
adalah dengan melihat yang indah-indah. Kenikmatan telinga adalah
dengan mendengar suara-suara merdu. Begitulah seterusnya untuk
anggota badan lainnya. Namun, khusus berkaitan dengan hati,
kenikmatannya hanyalah manakala ia dapat mengenal Allah swt., karena
hati diciptakan untuk itu. Jika manusia mengetahui apa yang tidak
diketahuinya, maka senanglah ia. Begitu juga dengan hati. Manakala
hati mengenal Allah swt., maka senanglah ia, dan ia tidak sabar
untuk ‘menyaksikan-Nya’. Tidak ada yang maujud yang lebih mulia
dibanding Allah, karena setiap kemuliaan adalah dengan-Nya dan
berasal dari-Nya. Setiap ketinggian ilmu adalah jejak yang
dibuat-Nya, dan tidak ada pengetahuan yang lebih digdaya dibanding
pengetahuan tentang diri-Nya.’

Apabila bertemu dengan orang tua – bahawa dia lebih mulia daripada kita
kerana dia sudah lama beribadat.
Apabila melihat orang jahil – mereka lebih mulia daripada kita kerana
mereka membuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita membuat dosa dalam keadaan mengetahui.

Bantulah sekuat tenaga temanmu yang sedang memerlukan sebelum dia
meminta batuan.

Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada
di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat
besar. (Imam Al Ghazali)

Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk
mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya
orang yang miskin. (Imam Al Ghazali)

Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada
jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang
menentang saya. (Imam Al Ghazali)

Berani adalah sifat mulia kerana berada di antara pengecut dan
membuta tuli. (Imam Al Ghazali)

Berikan contoh dan teladan yang baik kepada murid dengan melaksanakan
perintah agama dan meninggalkan larangan agama, agar demikian apa yang
engkau katakana mudah diterima dan diamalkan oleh murid.

Berpikirlah selalu tentang nikmat nikmat dan keagunga-Nya.

Bersikap lemah lembut terhadap murid dan hendaklah dapat menyesuaikan
diri atau mengukur kemampuan murid.

Bersikap tawadduklah dalam segala bidang pergaulan.

Bersikaplah lemah lembut dan sopan santun dengan menundukan kepala.

Bersikaplah sopan santun, ramah tamah dan merendah diri terhadap
orang tuamu.

Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan
dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya
kesesatan. (Imam Al Ghazali)

Bila mencari teman untuk mencapai kebahagian akhirat, perhatikanlah
benar benar urusan agamanya. Dan bila mencari teman untuk keperluan
duniawi, maka perhatikanlah ia tentang kebaikan budi pekertinya.

Carilah hatimu di tiga tempat. Temui hatimu sewaktu bangun membaca
al-quran. tetapi jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan
solat. Jika tidak kau temui juga, carilah hatimu ketika duduk tafakur
mengingati mati. Jika kau tidak temui juga, maka berdoalah kepada ALLAH,
pinta hati yang baru kerana hakikatnya pada ketika itu kau tidak
mempunyai hati!

carilah teman untuk menenangkan hati dan fikiran, maka perhatikanlah
baik baik tentang keselamatanmu dan kesejahteraannya.

Cepat cepatlah memenuhi panggilan agama.

Cinta merupakan sumber kebahagiaan dan cinta terhadap Allah harus
dipelihara dan dipupuk, suburkan dengan shalat serta ibadah yang
lainnya. (Imam Al Ghazali)

Ciri yang membedakan manusia dan hewan adalah ilmu. Manusia adalah
manusia mulia yang mana ia menjadi mulia kerana ilmu, tanpa ilmu
mustahil ada kekuatan. (Imam Al Ghazali)

Dahulukanlah temanmu dari pada dirimu sendiri dalam masalah duniawi,
atau atau paling tidak hendaklah bersedia memberikan bantuan materi
kepada temanmu yang memerlukannya.

Dengarkan dan perhatikan segala yang dikatakan oleh ibu bapakmu, selama
masih dalam batas batas agama.

Do’akanlah temanmu, baik selagi hidup maupun sesudah dia meninggal dunia

Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan
kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan
menampakkan sikap angkuh dan sombong. (Imam Al Ghazali)

Hendaklah sabar dan teliti dalam mendidik muridnya yang kurang cerdas.
Hendaklah seseorang menerima masalah masalah yang dikemukakan oleh muridnya.

Barangsiapa yang meyombongkan diri kepada salah seorang daripada
hamba – hamba Allah, sesungguhnya ia telah bertengkar dengan Allah
pada haknya. (Imam Al Ghazali)

Hiduplah sebagai mana yang kau sukai tetapi ingat bahawasanya engkau
akan mati , cintailah pada sesiapa yang engkau kasihi tetapi jangan lupa
bahawasanya engkau akan berpisah dengannya dan buatlah apa yang engkau
kehendaki tetapi ketahuilah bahawasanya engkau akan menerima balasan
yang setimpal dengannya.

Hindarilah segala tipu daya yang tidak terpuji dalam mencari nafkah,
dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT selalu melimpahkan segala
usaha kebaikan apapun sertailah dengan tawakkal kepadanya.

Ibadah dan pengetahuan sambil makan haram adalah seperti konstruksi pada
kotoran. (Imam Al Ghazali)

Ibu segala akhlak ialah tempat kebijaksanaan, keberanian, kesucian
diri dan keadilan.

Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada
kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al Ghazali)

Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan
daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. (Imam Al
Ghazali)

Ilmu yang pertama disebut ilham dan hembusan dalam hati, ilmu yang kedua
disebut wahyu dan khusus untuk para Nabi.

Ilmu yang tidak disertakan dengan amal itu namanya gila dan amal
yang tidak disertai ilmu itu akan sia-sia.

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap
masa. (Imam Al Ghazali)

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap
masa.

Jadikan kematian itu hanya pada badan kerana tempat tinggalmu ialah
liang kubur dan penghuni kubur sentiasa menanti kedatanganmu setiap
masa. (Imam Al Ghazali)

Jadikanlah “kemahuan yang bersungguh-sungguh” itu menjadi mahkota
roh, “kekalahan” menjadi belenggu nafsu dan “mati” menjadi pakaian
badan, kerana yang akan menjadi tempat diammu adalah kubur, dan ahli
kubur setiap saat menunggu, bilakah engkau akan sampai kepada mereka.

Jagalah rahasia temanmu, tutupilah keburukannya dan diamlah jangan
memperbesar keselahannya yang sedang dibicarakan oleh orang lain.

Jangan berkeberatan menjawab, “aku kurang mengerti,” jika memeang
belum mampu menjawab sesuatu masalah.


Jangan segan segan kembali kepada yang benar, manakala terlanjur salah
dalammemberikan keterangan

Janganlah anda menjadi muflis dari sudut amalan dan jangan jadikan
dirimu itu kosong daripada perkara yang berfaedah. Yakinlah semata-
mata dengan memiliki ilmu belum tentu lagi menjamin keselamatan di
akhirat kelak

Janganlah engkau meyimpan harta benda melebihi dari apa yang dibutuhkan.
Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad
itu sekadar untuk mencukupi kebutuhan”

Janganlah menentang terhadap takdir Allah SWT.

Janganlah sombong terhadap sesama mahluk, kecuali terhadap mereka yang
zalim.

Janganlah suka bergurau dan bercanda

Jauhilah larangan larangan agama.

Jika berjumpa dengan kanak-kanak – bahwa kanak-kanak itu lebih mulia
daripada kita, kerana kanak-kanak ini belum banyak melakukan dosa
daripada kita.

Jika berjumpa dengan orang alim – dia lebih mulia daripada kita kerana
banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.

Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia kerana
mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.

Jika nafsu itu tiddak engkau kalahkan dengan jihad yang
bersungguh-sungguh, maka sekali-kali hatimu tidak akan hidup dengan bur
ma’rifat.

Jika sekiranya sekadar ilmu sahaja telah memadai bagimu, dan tidak
ada lagi hajatmu kepada amal di belakang itu, tentulah seruan dari
sisi Allah yang berbunyi : “Apakah ada yang memohon? Apakah ada yang
meminta ampun? Dan apakah ada yang bertaubat?” itu akan percuma
sahaja, tidak ada gunanya.

Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah melaluinya,
panjang jalannya dan banyak rintangannya. (Imam Al Ghazali)

Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah
melaluinya, panjang jalannya dan banyak rintangannya. (Imam Al Ghazali)

Kata-kata wasiat Lukman al- Hakim, ” Wahai anakku yang tercinta,
janganlah sampai ayam jantan itu lebih bijak daripada engkau. Ia
berkokok di waktu sahur sedangkan engkau masih tidur lagi”.

Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan
menahan kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam Al Ghazali)

Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan
kehendak yang berlebih-lebihan. (Imam Al Ghazali)

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing
hati dan bahkan merambah ke segala hal. (Imam Al Ghazali)

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati
dan bahkan merambah ke segala hal. (Imam Al Ghazali)

Kematian kita sadar bahwa kematian adalah susuati yang pasti dan
dirasakan oleh setiap orang ,kematian tidak bisa ditawar tawar
,tidak bisa dimajukan atau dimundurkan kapan dan dimana saja sperti
firaman Allah dalam surat Alimran yang artinya : Setiap manusia
pasti akan merasakan kematian .

Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa
membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah- celah tanamannya.

Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara
keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita.
Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan
dan kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa. (Imam Al Ghazali)

Kita tidak akan sanggup mengekang amarah dan hawa nafsu secara
keseluruhan hingga tidak meninggalkan bekas apapun dalam diri kita.
Namun jika mencoba untuk mengendalikan keduanya dengan cara latihan dan
kesungguhan yang kuat, tentu kita akan bisa. (Imam Al Ghazali)

Kita tidak dapat mengakui bahawa setiap orang yang mengaku beragama
itu pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.

Ku letakkan arwah ku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasad ku dilipat
bumi yang sunyi senyap. Nama ku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan
buah bibir ummat manusia di masa depan.

Lidah yang lepas dan hati yang tertutup dan penuh dengan kelalaian
itu alamat kemalangan besar

Maafkanlah temanmu yang sedang berbat kesalahan dan jangan sekali sekali
mencelannya

Menangkanlah yang hak dan gugurkanlah yang batil.

Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah.
Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam Al
Ghazali)

Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah.
Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. (Imam
Al Ghazali)

Nafsu adalah suatu keingininan untuk melakukan hal hal yang berlawanan
dengan ajaran agama, hukum, apabila dalam kehidupan ini sudah dikuasai
nafsu maka kehidupan ini akan semerawut , kita tidak tahu lagi mana yang
halal , mana yang haram , mana yang jadi milik kita , mana hak orang
lain . Orang orang yang dikuasai hawa nafsu dalam kehidupan nya
dikatakan dalam firman Allah dalam surat Araaf ayat 179 yang artinya
:Dan kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan
manusia , mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan ,mereka
mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat ( tanda tanda
kekuasaan allah ) mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk
mendengar ( ayat ayat Allah )mereka itu sebagai binatang ternak ,bahkan
mereka lebih sesat lagi . Mereka itulah orang orang yang lelai . Inilah
gambaran kehidupan yang di kuasai nafsu .

Nasehat itu mudah, yang musykil ialah menerimanya kerana ia pahit
terasa kepada si hamba hawa nafsu, sebab barang yang terlarang
sangat disukainya.

Pati ilmu yang sebenar ialah mengetahui sedalam-dalamnya apa erti taat
dan ibadat.

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah s.w.t
dan juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat
nanti.

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan
juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat nanti.
(Imam Al Ghazali)

Pelajari ilmu syariat untuk menunaikan segala perintah Allah SWT dan
juga ilmu akhirat yang dapat menjamin keselamatanmu di akhirat
nanti. (Imam Al Ghazali)

Pemurah itu juga suatu kemuliaan kerana berada di antara bakhil dan
boros. (Imam Al Ghazali)

Pusatkanlah perhatian kepada murid yang sedang bertanya, dan
memahami benar isi pertanyaanya.

Rendahkanlah hatimu kepada Allah SWT.

Sabar dan tabahlah dalaml menghadpi segala persoalan.

Sampaikanlah berita gembira kepada temanmu tentang perbuatan
perbuatannya yang mendapat sambutan baik dari orang lain, dan
perhatikanlah pembicaraannya dengan baik tanpa membantah.

Seboleh- bolehnya jangan bertengkar dengan seseorang dalam apa jua
masalah kerana pertengkaran itu mengandungi pelbagai penyakit dan
dosanya jauh lebih besar daripada faedahnya, riak, takbur, hasad dan
dengki.

Selalulah berusaha mencari keredhaan orang tuamu.

Sesalilah segala perbuatan yang tercela dan merasa malulah dihadapan
Allah SWT.

Sesiapa yang berumur melebihi empat puluh tahun sedangkan kebaikannya
masih belum melebihi kejahatannya, maka layaklah ia mempersiapkan
dirinya untuk memasuki neraka.

Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati. (Imam Al Ghazali)

Sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati. (Imam Al Ghazali)

Terimalah alasan yang benar, sekalipun dari pihak lawan

Waktu akan terasa jauh apabila kita tidak pandai untuk memanatkan dengan
baik ,waktu akan berjalan terus sesuai dangan perputaran dari, dari
detik ke menit,. dari hari ke minggu dari minggu ke bulan , dari bulan
ketahun .Apabila sudah berlalu tidak akan mungkin kembali lagi.seperti
pepata arab mengatakan waktu bagaikan pedang.

Yang jauh itu waktu, Yang dekat mati, Yang besaar itu nafsu , Yang
berat itu amanah ,Yang mudah berbuat dosa ,Yang panjang itu amal
saleh ,Yang indah saling memaafkan.

Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa
nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni
neraka. (Imam Al Ghazali)

Itulah Kumpulan Kata-Kata Bijak Imam Al Ghazali
yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan
hikmah dari kata-kata bijak tersebut.aamin.


Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Wujud dan Tugas Malaikat Jundallah

Jundallah (Arab: جند الله ) adalah para malaikat perang yang membantu nabi Muhammad dan pasukannya di dalam peperangan.

Wujud Jundallah

Menurut kisah Islam, ketika Muhammad sedang melihat-lihat suasana alam Langit Pertama (ar-Rafii’ah), dikatakan bahwa ia telah melihat sosok malaikat yang sangat besar sekali ukurannya, malaikat itu sedang menunggangi kuda yang berasal dari cahaya dan berbusana cahaya. Malaikat yang besar itu dikelilingi oleh 70 ribu malaikat yang berbusanakan berbagai busana dan perhiasan, masing-masing mereka memegang tombak yang tebuat dari cahaya dan mereka itulah yang disebut sebagai Jundallah (Tentara Allah).

Sebuah hadits dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, menuliskan kisah Sa’ad bin Abi Waqqas yang telah melihat melihat dua sosok pria asing yang mengenakan pakaian putih, berada di sisi kanan dan kiri Muhammad. Kedua pria asing itu membantunya pada perang Uhud, mereka adalah Malaikat Jibril dan Mikail.[1]

Membantu peperangan

Menurut kisah Islam, pada saat itu para muslimin mendapatkan keadaan pada bulan yang sangat berat, dimana para muslim memperoleh kemenangan besar, pertempuran pertama adalah pada saat Perang Badr, yang terjadi pada 17 Ramadhan, pada saat diturunkannya Al Qur’an. “Membuat sebuah norma untuk membedakan mana yang benar dan salah.” Hari dimana dua kekuatan bertemu.

Dalam pertempuran ini, ketika jumlah para muslimin tidaklah banyak, tidak bersenjatakan dengan lengkap dan tidak ada persiapan sama sekali. Ketika itu mereka ingin menangkap sebuah kafilah Quraisy yang dalam perjalanannya kembali dari Syria, yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Penangkapan ini bertujuan untuk mengambil harta-harta yang telah dirampas oleh pihak Quraisy dan menggantikannya, secara terpaksa mereka keluar dari kampung halaman mereka dan mereka hanya percaya dengan bantuan Allah.

Ketika Abu Sufyan mengetahui bahwa para muslimin datang, dia mengubah arah kafilahnya dan melarikan diri, kemudian mengerahkan penduduk Mekkah sebanyak 950 pasukan dan 700 unta dan langsung bergerak ke arah Madinah, untuk berhadapan langsung dengan para muslimin di Badr, dengan tujuan untuk menyerang para muslimin dan menghentikan penyebaran Islam.

Ketika itu para muslimin tidak memiliki persiapan untuk perang dan Muhammad sedang berunding dengan mereka, ia mendengar kalimat-kalimat yang membuatnya senang dari pihak Muhajirin dan Anshar. Said bin Muadz seorang pemimpin Anshar berkata, “Saya bersumpah kepada Zat menggenggam jiwa ku di tangan-Nya, jika senandainya engkau (Muhammad) menyeberangi lautan, maka kami akan mengikutimu, dan jika engkau bergerak ke Barkil Ghimad (negeri yang jauh), kami akan mengikutimu dan tidak ada satupun dari kami yang akan menetap disini. Kami selalu sabar selama peperangan, serius dan jujur dalam konfrontasi dan kami berharap untuk menunjukkan niat baik kami untuk menyenangkan anda, majulah dengan rahmat Allah.”

Al Miqdad bin Amr, “Ya Rasulallah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti perkataan Bani Israel kepada Musa.” “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu, sementara kami akan duduk disini saja.” “Tetapi kami akan mengatakan, “Pergilah bertarung dengan Tuhanmu dan kami akan bertarung disampingmu pula.”

Menurut syariat Islam, akhirnya pertempuran itu dimulai dengan persekutuan antara Tentara Bumi (muslimin) dengan bantuan Tentara Surga (malaikat Allah) dan banyak kejadian-kejadian yang diluar masuk akal. Para malaikat ini disebutkan dalam firman Allah diantaranya dalam surah berikut dibawah ini, yang berbunyi:

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Al-Imran 3: 125)”

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Al-Anfaal 8: 9 – 12)”

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (At-Taubah 9: 26)”

“…Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri… (Al-Mudatsir 74: 31)”

Seorang prajurit muslim berkata kepada Muhammad bahwa ia telah melihat malaikat sedang bertempur disisinya, sambil menunggang kuda tetapi kaki kuda itu tidak pernah menyentuh tanah. Menurut kisah Islam, kemenangan ada dipihak tentara Islam, jatuh korban dipihak tentara Islam dinyatakan hanya 14 jiwa, sementara itu dipihak Quraisy telah jatuh korban sebanyak 70 jiwa dan 70 jiwa ditangkap sebagai tawanan perang.

Sumber

  1. Kisah dari Sa’d bin Abi Waqqash, beliau berkata: “Aku melihat dua orang laki-laki memakai baju putih di sebelah kanan dan sebelah kiri Rasulullah pada perang Uhud. Aku sama sekali belum pernah melihat kedua orang itu sebelum maupun sesudahnya, yaitu Jibril dan Mikail.” HR. Al-Bukhari no. 4054 dan Muslim no. 2306.

  2. Jatuhnya korban jiwa pihak Muslim sebanyak 14 jiwa.

Wujud dan Tugas Malaikat Arham

Wujud dan Tugas Malaikat Arham

Malaikat al-Arham (Arab: ملاك الأرحام) adalah para malaikat yang diserahi tugas untuk meniupkan ruh kedalam janin, mengatur rezeki, kematian, amal, sengsara atau kebahagiaan di dalam rahim. Malaikat Arham memiliki tugas meniupkan debu bumi kepada janin, dimana calon makhluk itu nanti akan tercabut nyawanya oleh Malaikat Maut.

Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah akan mengutus malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk melaksanakan kesemua ketetapan yang telah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh.

Dalam hadits Muhammad bersabda:

“Allah mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, ia masih berupa air mani’. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa darah beku’. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: ‘Wahai Tuhan!, ia sudah berupa segumpal daging’. Apabila Allah membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan!, orang ini akan diciptakan laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia? bagaimana rezekinya? serta bagaimana pula ajalnya?. Segala-galanya dicatat sewaktu dalam perut ibunya.” [Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.]

Pada saat Sakrat al-Maut, Allah akan membukakan tabir yang menyelubungi pandangan seseorang sehingga akan menembus akhirat. Tercantum di dalam Al Qur’an surah Qaaf, yang berbunyi:

“Sehingga bagi orang mukmin, ketersingkapan penglihatan ini menambah ringan bebannya menempuh kematian, tetapi orang kafir justru akan semakin membuatnya berat dan sulit untuk melampaui tahapan kematian itu. (Qaaf 50:22)

Khotbah Jum’at Masjid Nabaqi Maddinah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Keutamaan Istighfar

Khotbah Jum’at Masjid Nabaqi Maddinah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Keutamaan Istighfar

Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ تَقْوَاهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسَاسُ الْفَلَاحِ وَالسَّعَادَةِ وَالْفَوْزُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . عِبَادَ اللهِ : وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ ، وَتَرْكُ مَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Ibadallah,
Suatu hari, al-Khalifah al-Rasyid, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu keluar di hari yang diliputi kemarau yang panjang. Umar keluar untuk melaksanakan shalat istisqa (meminta hujan) berjamaah bersama kaum muslimin dan saat itu ia senantiasa beristighfar kepada Allah. Ia berkata,
لقد طلبتُ الغيثَ بمجاديح السماء التي يُستنزَل بها المطر
Aku telah meminta hujan dengan “Majaadiihus Samaa’” yang dengannya hujan diturunkan.
Kemudian Umar membaca firman Allah Ta’ala,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
Ma’asyiral mukminin,
Istighfar memiliki kedudukan yang agung dan posisi yang utama dalam agama Allah. Ia adalah pondasi untuk memperoleh kebaikan dan keberkahan, mendapatkan kenikmatan, dan menghilangkan hukuman. Istighfar meninggikan derajat seseorang dari derajat yang rendah ke derajat yang lebih mulia, dari derajat yang penuh kekurang menjadi sempurna.
Istighfar menyucikan dosa dan menghapus menghapus catatan kesalahan, mengangkat derajat dan meninggikan kedudukan di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam hadits yang lain, beliau bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرُّهُ صَحِيفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيهَا مِنَ الِاسْتِغْفَار
“Siapa yang ingin buku catatan amalnya membuatnya senang (tatkala melihatnya), maka perbanyaklah catatan istighfar di dalamnya.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak istighfarnya, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah. Sesungguhnya aku beristighfar seratus kali dalam sehari.”
Dan dalam hadits lainnya, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ : رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kami pernah menghitung bacaan dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis. Beliau ucapkan, ‘Robbighfirlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabul ghofuur” (Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan ampunan)’, sebanyak 100 kali.”
Bahkan lebih dari itu, ada sebuah riwayat yang membuat kita lebih merasa terheran-heran. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ أَنْ يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ الله وَأتوبُ إِلَيْهِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang mengucapkan ‘Astaghfirullah wa atubu ilaih’ (Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya) lebih banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Abu Hurairah melihat sahabat-sahabat yang sangat rajin beribadah, sebaik-baik orang yang beriman, dan sahabat-sahabat yang banyak beristighfar, tapi ia tidak menjumpai satu pun dari mereka yang beristighfar dan bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penuh dengan istighfar setiap waktunya, sampai di akhir hayatnya beliau tutup dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia mengisahkan akhir hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ
“Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat (menjelang wafat) bersandar kepadaku, beliau berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang shaleh’.”
Sebagaimana kehidupan beliau dipenuhi dengan istighfar dan ketaatan, akhir hayatnya pun ditutup dengan istighfar. Hal ini sekaligus memberikan pelajaran kepada kita tentang kedudukan istighfar yang begitu agung di dalam agama Islam, dan betapa kita sangat membutuhkan istighfar.
Wajib bagi kita untuk memperbanyak istighfar di sepanjang waktu kita dan aktifitas kita. terlebih lagi di waktu-waktu yang memang ditekankan untuk beristighfar, seperti: selesai shalat fardhu, di sepertiga malam terakhir, dll. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memohon ampun kepada Allah ketika sujud dan juga mencontohkan doa iftitah yang mengandung kalimat-kalimat taubat. Beliau juga melakukan hal yang sama ketika hendak salam selesai dari shalatnya. Dan setelah salam pun beliau mengucapkan dzikir berupa kalimat istighfar. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلاِقْتِدَاءِ بِنَبِيِّكَ وَحُسْنِ الْاِتِّبَاعِ لَهُ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ التَّوَابِيْنَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ .
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أما بعد عباد الله :
Banyak orang mengeluhkan akan keringnya bumi karena kemarau panjang, kekurangan hujan, dan mendapatkan banyak kemudharatan lantaran kemarau yang berkepanjangan. Mengapa keadaan ini terjadi dan apa solusinya. Tidak lain dan tidak bukan karena sedikitnya taubat kita dan kurangnya kita beristighfar kepada Allah. Alangkah butuhnya kita akan istighfar dan senantiasa memperbanyaknya.
Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Hasan al-Bashri rahimahullah. Ia mengadukan akan kemarau yang panjang. Hasan al-Bashri berkata kepadanya, “Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang laki-laki lainnya mengadukan tentang kemiskinannya. Hasan al-Bashri member saran yang sama, “Memohon ampunlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang ketiga mengeluhkan bahwa ia belum juga dikaruniai anak. Hasan al-Bashri tetap pada jawabannya, “Memohon ampunlah kepada Allah”.
Lalu orang-orang pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Aku tidak menambahkan suatu saran kecuali seperti yang terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا كُلَّهَا دِقَّهَا وَجُلَّهَا أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا سِرَّهَا وَعَلَّنَهَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنت المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا جِدَّنَا وَهَزلَنَا وَخَطَأَنَا وَعَمَدَنَا . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .
اَللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَا وَالْوَبَا وَالْزَلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا . اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا ، وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا ، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِّيَ أَمْرِنَا لِهُدَاك ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى مِنْ سَدِيْدِ الأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِ محمد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ , وَبَارِكْ عَلَى محمد وَعَلَى آلِ محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .

Siapakah Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

Kalimat Bijak Islami Yang Paling Inspiratif Bagi Umat Manusia


Kalimat Bijak Islami Yang Paling Inspiratif Bagi Umat Manusia

  • “Waspadalah terhadap tiga orang: pengkhianat, pelaku zalim, dan pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu. Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.”
  • “Tiga manusia adalah sumber kebaikan: manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara), manusia yang tidak melakukan ancaman, dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”
  • “Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.”
  • Seorang laki-laki seringkali mendatangi Imam Ja‘far as, kemudian dia tidak pernah lagi datang. Tatkala Imam as menanyakan keadaannya, seseorang menjawab dengan nada sinis, “Dia seorang penggali sumur.” Imam as membalasnya, “Hakekat seorang lelaki ada pada akal budinya, kehormatannya ada pada agamanya, kemuliannya ada pada ketakwaannya, dan semua manusia sama-sama sebagai Bani Adam.”
  • “Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.”
  • “Ulama adalah kepercayaan para rasul. Dan bila kau temukan mereka telah percaya pada penguasa, maka curigailah ketakwaan mereka.”
  • “Tiga perkara dapat mengeruhkan kehidupan: penguasa zalim, tetangga yang buruk, dan perempuan pencarut. Dan tiga perkara yang tidak akan damai dunia ini tanpanya, yaitu keamanan, keadilan, dan kemakmuran.”
  • “Kuwasiatkan lima hal kepadamu: (1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, (2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, (3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, (4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan (5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”.
  • “Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya”.
  • “Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu”.
  • “Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya”.
  • “(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”.
  • “Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”.
  • “Tiga hal adalah kemuliaan dunia dan akhirat: memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, dan sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh”.
  • “Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang meminta-minta kepada orang lain berkenaan dengan kebutuhannya, dan menyukai hal itu (jika ia meminta kepada)-Nya. Sesungguhnya Ia suka untuk diminta setiap yang dimiliki-Nya”.
  • “Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”.
  • “Seorang hamba bisa dikatakan alim jika ia tidak iri kepada orang yang berada di atasnya dan tidak menghina orang yang berada di bawahnya”.
  • “Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”.
  • “Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”.
  • “Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya”.
  • “Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba”.
  • “Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu”.
  • “Allah akan memberikan hadiah bala` kepada hamba-Nya yang mukmin sebagaimana orang yang bepergian akan selalu membawa hadiah bagi keluarganya, dan menjaganya dari (godaan) dunia sebagaimana seorang dokter menjaga orang yang sakit”.
  • “Bersikaplah wara’, berusahalah selalu, jujurlah, dan berikanlah amanat kepada orangnya, baik ia adalah orang baik maupun orang fasik. Seandainya pembunuh Ali bin Abi Thalib a.s. menitipkan amanat kepadaku, niscaya akan kuberikan kepadanya”.
  • “Ghibah adalah engkau membicarakan aib (yang dimiliki oleh saudaramu) yang Allah telah menutupnya (sehingga tidak diketahui oleh orang lain), dan menuduh adalah engkau membicarakan aib yang tidak dimiliki olehnya”.
  • “Allah membenci pencela yang tidak memiliki harga diri”.
  • “(Engkau dapat dikatakan rendah hati jika) engkau rela duduk di sebuah majelis yang lebih rendah dari kedudukanmu, mengucapkan salam kepada orang yang kau jumpai, dan menghindari debat meskipun engkau benar”.
  • “Ibadah yang terbaik adalah menjaga perut dan kemaluan”.
  • “Tidak akan bermaksiat kepada Allah orang yang mengenal-Nya”.
  • “Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku tertuju kepadamu”.
  • “Sesungguhnya Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya pada hari kiamat sesuai dengan kadar akal yang telah dianugerahkan kepada mereka di dunia.”
  • “Sesungguhnya pahala orang yang mengajarkan ilmu adalah seperti pahala orang yang belajar darinya, dan ia masih memiliki kelebihan darinya. Oleh karena itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya dan ajarkanlah kepada saudara-saudaramu sebagaimana ulama telah mengajarkannya kepadamu”.
  • “Barang siapa yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang cukup, maka ia akan dilaknat oleh malaikat rahmat dan azab serta dosa orang yang mengamalkan fatwanya akan dipikul olehnya”.
  • “Orang yang mencari ilmu dengan tujuan mendebat ulama (lain), mempermalukan orang-orang bodoh atau mencari perhatian manusia, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. Kepemimpinan tidak berhak dimiliki kecuali oleh ahlinya”.
  • “Faqih yang sebenarnya adalah orang yang zahid terhadap dunia, rindu akhirat dan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAWW”.
  • “Sesungguhnya Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang suka bergurau dengan orang lain dengan syarat tanpa cela-mencela”.
  • “Tiga kriteria yang penyandangnya tidak akan meninggal dunia kecuali ia telah merasakan siksanya: kezaliman, memutuskan tali silaturahmi dan bersumpah bohong, yang dengan sumpah tersebut berarti ia telah berperang melawan Allah”.
  • “Sesuatu yang paling utama di sisi Allah adalah engkau meminta segala yang dimiliki-Nya”.
  • “Demi Allah, seorang hamba tidak berdoa kepada-Nya terus menerus kecuali Ia akan mengabulkannya”.
  • “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak berdoa. Oleh karena itu, berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan”
  • Berdoa untuk orang lain
  • “Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya”.
  • Mata-mata yang tidak akan menangis
  • “Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”.

  • Orang yang tamak bak ulat sutra
  • “Perumpamaan orang yang tamak bagaikan ulat sutra. Ketika sutra yang melilitnya bertambah banyak, sangat jauh kemungkinan baginya untuk bisa keluar sehingga ia akan mati kesedihan di dalam sarangnya sendiri”.
  • Jangan berwajah dua
  • “Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”.
  • Perbanyaklah kamu mengingat mati, karena hal itu bisa membersihkan dosa dan menyebabkan kamu zuhud atau tidak cinta kepada dunia.(Rasulullah)
  • Keluarlah dari dirimu dan serahkanlah semuanya pada Allah, lalu penuhi hatimu dengan Allah. Patuhilah kepada perintahNya, dan larikanlah dirimu dari laranganNya, supaya nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu, setelah itu keluar, untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bgaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga.(Syekh Abdul Qodir al-Jaelani)
  • Berteman dengan orang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya adalah lebih baik bagi kalian, daripada berteman dengan orang alim tapi selalu suka terhadap hawa nafsunya.(Ibnu Attailllah as Sakandari)
  • Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu : KEPERCAYAN, CINTA dan RASA HORMAT (Sayidina Ali bin Abi Thalib)
  • Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.
  • (Sayidina Ali bin Abi Thalib)
  • Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan pula adalah sebuah akhlaq ular, dan kalau kebajikan dibalas dengan kejahatan itulah akhlaq buaya, lalu bila kebajikan dibalas dengan kebajkan adalah akhlaq anjing, tetapi kalau kejahatan dibalas dengan kebajikan itulah akhlaq manusia.(Nasirin)
  • Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) sedangkan harta terhukum. Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah apabila dibelanjakan.(Sayidina Ali bin Abi Thalib)
  • Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. (Ibnu Mas’ud)
  • Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib)
  • Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.(Umar bin Khattab)
  • Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. (Imam An Nawawi)
  • Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Kattab)

Wujud dan Tugas Malaikat Ridwan

Wujud dan Tugas Malaikat Ridwan

Malaikat Ridwan adalah Malaikat Penjaga Pintu Surga

Namun masih ada perselisihan mengenai nama penjaga pintu surga yang sebenarnya mengingat ada empat hadits yang menyebutkan bahwa nama malaikat penjaga surga adalah Ridwan. Akan tetapi semua hadits tersebut adalah hadits yang sangat lemah dan tidak bisa saling menguatkan.

  1. Hadits Ubai bin Ka’ab

Diriwayatkan oleh Al-Qadhai dalam Musnad Asy-Syihab (1036) dari jalan Mukhallad bin Abdil Wahid dari Ali bin Zaid bin Jud’an dan Atha` bin Abi Maimunah dari Zirr bin Hubaisy dari Ubai secara marfu’, “Tidak ada seorang muslim pun yang membaca Yasin sedang dia berada dalam sakaratul maut, maka tidaklah malaikat maut mencabut nyawanya sampai Ridwan penjaga surga memberinya minuman.”

Di dalam sanadnya ada Ali bin Zaid bin Jud’an yang sudah masyhur sebagai rawi yang lemah. Ditambah lagi dengan adanya Mukhallad bin Abdil Wahid, yang Ibnu Hibban berkata tentangnya -dalam Al-Majruhin (1096), “Mungkarul hadits jiddan (orang yang sangat mungkar haditsnya).”

  1. Hadits Abdullah bin Abbas.

Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam kitab Ats-Tsawab dan Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman tentang kisah berhiasnya surga setiap memasuki ramadhan, dan di dalamnya tersebut: “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga.”

Hadits ini datang dari jalan Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas secara marfu’. Haditsnya lemah karena Adh-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

  1. Hadits Abdullah bin Abi Aufa.

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Lalu saya berkata (di dalam surga), “Wahai Ridwan, punya siapa istana ini?”
As-Suyuthi menyatakan dalam Al-Jami’ Al-Kabir -sebagaimana dalam Kunzul Ummal-, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abdullah bin Abi Aufa, sedang di dalam sanadnya ada Abdurrahman bin Muhammad Al-Maharibi dan Ammar bin Saif, keduanya sering meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar.” Lihat Mizan Al-I’tidal (2/585) dan (3/165)

  1. Hadits Anas bin Malik.

Diriwayatkan oleh Al-Uqaili dalam Adh-Dhuafa (1/313) dari jalan Hamzah bin Washil Al-Minqari dari Qatadah dari Anas secara marfu’ dengan lafazh, “Rabbul Izzah -Tabaraka wa Ta’ala- memanggil Ridhwan -dan dia adalah penjaga surga-.”

Al-Uqaili berkata setelahnya, “Hamzah bin Washil Al-Minqari, seorang dari Bashrah, majhul dalam periwayatan dan haditsnya tidak terjaga.”

sumber : al-atsariyyah.com

Kata Mutiara Abu Bakar Ash Siddiq Yang Luarbiasa dan Paling Inspiratif 

Kata Mutiara Abu Bakar Ash Siddiq Yang Luarbiasa dan Paling Inspiratif 

Abu Bakar Ash-Shiddiq  termasuk di antara orang-orang yang paling awal memeluk agama Islam atau yang dikenal dengan sebutan as-sabiqun al-awwalun. Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 Masehi. Lahir dengan nama asli Abdul ka’bah bin Abi Quhafah. ia adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun, 2 bulan, dan 14 hari setelah meninggal terkena penyakit.

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah al-kadzdzab dalam perang Riddah atau juga dikenal dengan perang yamamah, banyak para penghafal Al Qur’an yang terbunuh dalam pertempuran. Umar lantas meminta Abu Bakar untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, dikumpulkan lembaran al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya,setelah lengkap penulisan ini maka kemudian disimpan oleh Abu Bakar. setelah Abu Bakar meninggal maka disimpan oleh Umar bin Khaththab dan kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al-Qur’an yang dikenal saat ini.

Kalimat Super dan Kata Mutiara Abu Bakar Ash Siddiq Yang Luarbiasa

  • Patuhilah Aku selama Aku patuh kepada Allah swt dan Rasulullah saw, bila Aku tidak mematuhi Allah swt dan Rasulullah saw, maka jangan patuhi Aku lagi.
  • Kami diuji dengan kesusahan, maka kami sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kemewahan), hampir-hampir kami tidak sabar.
  • Tidak ada pembicaraan yang baik, jika tidak diarahkan untuk memperoleh ridha Allah swt.
  • Semenjak aku masuk Islam, belum pernah kukenyangkan perutku, demi dapat merasakan segarnya beribadah; dan belum pernah pula aku puas minum, karena sangat rindunya aku kepada Ilahi.
  • Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya. Dan jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, Allah swt tidak akan ridha kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam hatinya.
  • Ah, ingin aku jadi rumput saja, supaya dimakan oleh kuda (karena sangat ngerinya akan siksaan Allah).
  • Kita menemukan kedermawanan dalam Taqwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam Yaqin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.
  • Bila telah masuk waktu salat, berdirilah kalian menuju ketempat apimu yang sedang menyala dan padamkanlah ia.
  • Waspadalah terhadap kebanggaan, sebab kalian akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing.
  • Tidak boleh seorang muslim menghina muslim yang lain.Yang kecil pada kaum muslimin, adalah besar pada sisi Allah.

Wujud dan Tugas Malaikat mu’aqqibat

Wujud dan Tugas Malaikat mu’aqqibat

Al-Mu’aqqibat (Arab:المعقبات) adalah para malaikat yang menjaga setiap makhluk pada waktu bermukim, bepergian, waktu tidur atau ketika terjaga dari kematian sampai datang waktu kematian yang telah ditetapkan. Para malaikat ini termasuk dalam golongan Hafazhah (Para Penjaga).

Kata al-mu’aqqibat adalah bentuk jamak dari kata al-mua’qqibah. Kata tersebut diambil dari kata ‘aqiba yang berarti tumit, dari sini kata tersebut dipahami dalam arti mengikuti seakan-akan yang mengikuti itu meletakkan tumitnya di tempat tumit yang diikutinya. Pola kata yang digunakan di sini mengandung makna penekanan bahasa dan dimaksud adalah para malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah mengikuti setiap makhluk secara sungguh-sungguh.

Mu’aqqibat dalam Al-Qur’an dan Hadits

Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya, tercantum dalam Al Qur’an Ar-Ra’du 10-11, yang berbunyi:

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Raad: 10-11)”

Ibnu Abbas menjelaskan, “Mereka adalah para malaikat yang menjaga manusia dengan perintah Allah, jika ada takdir yang akan menimpanya maka malaikat ini menyingkir darinya.” [1]

Hal yang sama juga dijelaskan ahli tafsir dari kalangan Tabi’in, yang bernama Imam Mujahid. Ia menjelaskan ayat ini,

“Pada masing-masing manusia ada seorang malaikat penjaga, mereka menjaga orang tersebut dengan perintah Allah.”[2]

Kemudian surat Al-An’am yang berbunyi:

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya, dan diutusNya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…(Al-An’am: 61)”

Dalam hadits shahih dari Abdullah, yang dicatat oleh Imam Ahmad, Muhammad pun pernah bersabda tentang adanya makhluk malaikat dan jin yang menyertai setiap manusia. Menurut kisah Islam, hanya saja jin yang menyertai Muhammad telah dikalahkan olehnya.[3]

Dalam hadits lain dikatakan bahwa “Para malaikat bergiliran untukmu pada malam dan siang hari. Mereka berkumpul dalam salat subuh dan salat ashar. Kemudian malaikat malam naik kepada Allah. Allah bertanya, kepada para malaikat sedang Dia lebih mengetahui tentang kamu, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kamu tinggalkan?” Para malaikat berkata, “Kami mendatangi mereka sedang mengerjakan salat dan kami meninggalkan mereka sedang salat pula.””

Dari Abu Hurairah r.a. Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', Mereka menjawab,Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Imam Ahmad dalam Al Musnad no. 9140)

FootNote

  1. Tafsir At-Thabari, no.20217.
  2. Tafsir Ath-Thabari, no. 20214.
  3. Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bahwa, Rasullah saw. bersabda, “Tiada seorang pun di antara kamu melainkan Allah menyertakan untuk mendampinginya seorang jin dan seorang malaikat.” Para sahabat bertanya, “Juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Juga aku, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkan jin. Maka dia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.” Hadits riwayat Muslim.

Tafsir Quran Maryam, ayat 34-37: Tidak layak Bagi Allah Punya anak

Tafsir Quran Maryam, ayat 34-37: Tidak layak Bagi Allah Punya anak

{ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (35) وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (36) فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ (37) }

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah, ” maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian,maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad, Rasul-Nya, bahwa kisah yang Kami ceritakan kepadamu merupakan sebagian dari kisah tentang Isa ‘alaihissalam

{قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ}

adalah kisah yang sebenarnya, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (Maryam: 34)

Yakni orang-orang yang batil dan orang-orang yang hak dari kalangan orang-orang yang beriman kepadanya dan orang-orang yang kafir kepada­Nya, berbantah-bantahan mengenai kebenarannya. Karena itulah sebagian besar ulama membacanya qaulul haq dengan di-raya’-kan. Tetapi Asim dan Abdullah ibnu Amir membacanya qaulul haqqi. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia membacanya dengan bacaan ‘isabna maryama.

Penulis mengatakan Irab yang lebih jelas adalah bacaan rafa’ yang diperkuat oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah: 147)

Setelah Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan Isa sebagai hamba dan nabi-Nya, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan dari-Nya Yang Maha suci melalui firman-Nya.

{مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ}

Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha suci Dia. (Maryam: 35)

Artinya, Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang bodoh lagi zalim dan melampaui batas itu dengan kesucian yang sebesar-besarnya.

{إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ}

Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia. (Maryam: 35)

Dengan kata lain, apabila Allah menghendaki sesuatu, sesungguhnya Dia hanya berkata kepadanya; maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya itu sesuai dengan keinginan-Nya. Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

{إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ}

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah “ (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Ali Imran: 59-60)

*******************

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}

Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sem­bahlah Dia oleh kalian. Ini adalah jalan yang lurus. (Maryam : 36)

Yaitu di antara perintah yang dianjurkan oleh Isa kepada kaumnya saat ia masih dalam ayunan ialah memberitahukan kepada mereka bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan mereka. Lalu Isa memerintahkan kepada mereka untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk itu ia berkata:

{فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}

maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (Maryam: 36)

Yakni agama yang aku sampaikan kepada kalian dari Allah merupakan jalan yang lurus; Barang siapa yang mengikutinya, dibenarkan dan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang menentangnya, disalahkan dan tersesat.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ}

Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. (Maryam: 37)

Yaitu Ahli Kitab berselisih pendapat tentang eksistensi Isa, padahal perkaranya sudah jelas dan gamblang, bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diciptakan melalui perintah-Nya yang ditujukan kepada Maryam, dan diciptakan melalui roh ciptaan-Nya. Sebagian dari mereka yang terdiri atas orang-orang Yahudi telah sepakat mengatakannya sebagai anak zina; semoga laknat Allah menimpa mereka. Mereka mengatakan pula bahwa perkataan Isa yang masih ada dalam usia ayunan itu adalah sihir. Segolongan lainnya dari kalangan mereka mengatakan, sesungguhnya yang berbicara itu adalah Tuhan. Segolongan lainnya lagi mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah. Golongan lainnya lagi mengatakan, Isa adalah salah satu dari ketiga Tuhan. Dan golongan yang lainnya mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang benar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman.

Kisah yang semisal telah diriwayatkan melalui Amr ibnu Maimun, Ibnu Juraij, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, baik dari kalangan ulama Salaf maupun dari kalangan ujama Khalaf.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (Maryam: 34) Bahwa kaum Bani Israil mengadakan pertemuan, lalu mereka mengemukakan empat orang yang paling alim di antara mereka sebagai juru bicara dari masing-masing kelompoknya, kemudian mereka berdebat tentang Isa ketika Isa dinaikkan. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Isa adalah tuhan yang turun ke bumi, lalu menghidupkan orang-orang yang dihidupkannya dan mematikan orang-orang yang dimatikannya, setelah itu Isa naik ke langit. Mereka yang berpendapat demikian adalah golongan Ya’qubiyah. Pendapat tersebut ditolak oleh ke tiga orang lainnya karena di anggap dusta dan tidak benar. Kemudian orang yang kedua dari mereka berkata kepada orang yang ketiga, “Bagaimanakah pendapatmu? Kemukakanlah.” Orang yang ketiga berkata bahwa Isa adalah anak Allah. Mereka yang mengatakan demikian adalah golongan Nusturiyah. Orang yang kedua menyangkal seraya mengatakan, “Kamu dusta.” Kemudian salah seorang dari dua orang lainnya berkata kepada yang lainnya, “Kemukakanlah pendapatmu tentang dia.” Ia berkata bahwa Isa adalah salah satu dari tiga tuhan; Allah Tuhan yang pertama, dia tuhan kedua, dan ibunya tuhan ketiga. Mereka yang berpendapat demikian adalah golongan Israili, raja-raja nasrani, semoga laknat Allah menimpa mereka semua. Orang yang keempat berkata, “Kamu dusta, bahkan Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, roh yang diciptakan oleh-Nya dan diciptakan melalui firman-Nya.” Mereka yang berpendapat demikian adalah orang-orang muslim.

Disebutkan bahwa masing-masing dari keempat orang itu mempunyai pengikutnya sendiri-sendiri yang mendukung pendapatnya. Akhirnya mereka berperang di antara sesama mereka dan mereka beroleh kemenangan atas orang-orang muslim yang beriman bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya:

{وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ}

dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. (Ali Imran: 21)

Qatadah mengatakan, mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. (Maryam: 37) Mereka berselisih pendapat tentang Isa, akhirnya terpecahlah mereka menjadi beberapa golongan.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Urwah Ibnuz Zubair melalui sebagian ahlul ‘ilmi suatu kisah yang isinya hampir sama dengan riwayat di atas.

Ahli sejarah dari kalangan Ahli Kitab dan lain-lainnya telah menyebutkan bahwa Kaisar Konstantinopel pernah mempertemukan kaum Ahli Kitab dalam suatu pertemuan besar di ketiga tempat perkumpulan mereka yang terkenal di kalangan mereka. Golongan uskup dari kalangan mereka terdiri atas dua ribu seratus tujuh puluh orang, lalu mereka berselisih pendapat tentang Isa putra Maryam dengan perselisihan yang tajam sekali. Masing-masing golongan mempunyai pendapat sendiri. Seratus orang mempunyai pendapat sendiri; begitu pula tujuh puluh orang dari mereka; lima puluh orang berpendapat berbeda dengan lainnya, dan seratus enam puluh orang mempunyai pendapat sendiri pula. Tiada suatu pendapat pun yang disepakati oleh lebih dari tiga ratus delapan orang.

Di antara mereka ada sejumlah uskup yang sepakat memegang suatu pendapat dan mempertahankannya mati-matian; pendapat ini disetujui oleh Kaisar. Kaisar adalah seorang ahli filsafat, maka golongan tersebut dijadikan sebagai pemuka agama dan didukungnya, serta mengusir golongan lainnya. Maka para uskup yang didukungnya memberikan kepada Kaisar amanat yang besar yang lebih layak disebut sebagai pengkhianatan terbesar.

Kemudian para uskup yang didukung oleh Kaisar ini membuatkan untuk Kaisar kitab undang-undang dan menetapkan baginya hukum-hukum syariat serta membuat banyak bid’ah dan penyimpangan di dalam agama Al-Masih; mereka telah merubahnya dari aslinya.

Sebagai imbalannya Kaisar Konstantinopel membangunkan buat mereka gereja-gereja yang besar di wilayah kekaisarannya; semuanya tersebar di negeri Syam, Jazirah Arabia, dan Romawi sehingga jumlah gereja di masa pemerintahannya kurang lebih dua belas ribu gereja. Sedangkan ibu kaisar membangun tempat pembuangan sampah di tempat penyaliban yang diduga oleh orang-orang Yahudi bahwa yang disalib itu adalah Al-Masih. Mereka dusta, bahkan Allah-lah yang menaikannya ke langit.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ}

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksi­kan hari yang besar. (Maryam: 37)

Ayat ini mengandung ancaman dan peringatan yang keras terhadap orang-orang yang mendustakan Allah dan melakukan tuduhan keji serta menganggap bahwa Allah beranak. Akan tetapi, Allah menangguhkan mereka sampai hari kiamat dan membiarkan mereka berkat sifat Penyantun-Nya dan kekuasaan-Nya untuk menyiksa mereka. Sesungguh­nya Dia tidak menyegerakan orang-orang yang berbuat durhaka terhadap­Nya. Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui salah satu hadisnya:

“إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي ِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ” ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ}

Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan tangguh kepada orang yang zalim; tetapi apabila Dia menyiksanya, pastilah orang yang zalim itu tidak akan luput dari siksa-Nya. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membacakan firman-Nya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Hud : 102)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ، إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا، وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِمْ”

Tiada seorang pun yang lebih sabar terhadap berita yang menyakitkan hatinya selain dari Allah. Sesungguhnya mereka menganggap bahwa Allah beranak, padahal Allah-lah yang memberi mereka rezeki dan kesehatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

{وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ}

Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu). (Al-Hajj : 48)

{وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ}

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim: 42)

Dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

{فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ}

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksi­kan hari yang besar. (Maryam: 37)

Yakni hari kiamat. Di dalam hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya diriwayatkan melalui Ubadah ibnus Samit r.a disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ [وَرَسُولُهُ] وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حُقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”

Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul­nya, yang diciptakan melalui kalimat-Ny ayang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan roh dari-Nya, dan bahwa surga itu hak dan neraka itu hak (benar ada), niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatan yang dikerjakannya.

Tafsir Quran Al-Maidah, ayat 72-75: Maka Kafirlah Yang Menyebut Yesus itu Allah

Tafsir Quran Al-Maidah, ayat 72-75: Maka Kafirlah Yang Menyebut Yesus itu Allah

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesung­guhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam,” padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepada­nya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwa Allah salah seorang dari yang tiga “padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu se­belumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman menjatuhkan keputusan kafir terhadap beberapa golongan dari kaum Nasrani —yaitu golongan Malakiyah, Ya’qubiyah, dan Nusturiyah— karena sebagian dari mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah tuhan. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dan Mahasuci dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Dalam keterang­an sebelumnya telah disebutkan, mereka telah diberi tahu bahwa Al-Masih itu adalah hamba dan utusan Allah. Kalimat yang mula-mula diucapkannya selagi ia masih berada dalam buaian ialah, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah!’ Dan ia tidak mengatakan bahwa dirinya adalah Allah, tidak pula sebagai anak Allah, melainkan dia mengatakan:

{إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا} إِلَى أَنْ قَالَ: {وإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}

Sesungguhnya aku ini hamba Allah; Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. (Maryam: 30) Sampai dengan beberapa ayat berikutnya, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (Maryam: 36)

Demikian pula di saat masa dewasanya dan telah diangkat menjadi nabi, dia mengatakan kepada mereka seraya memerintahkan agar mereka menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan mereka semata, tiada sekutu bagi-Nya. Karena itulah dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

{وَقَالَ الْمَسِيح ُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ}

padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. (Al-Maidah: 72)

yaitu menyembah selain Allah bersama Dia.

{فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ}

maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka (Al Maidah : 72)

Yakni Allah memastikannya menjadi penghuni neraka dan mengharam­kan surga atasnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman lainnya, yaitu:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ}

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa: 48)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

{وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ}

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepada kalian.” Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.”(Al-A’raf: 50)

Di dalam kitab Sahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallampernah memerintah­kan seorang juru penyeru untuk menyerukan di kalangan khalayak ramai, bahwa sesungguhnya surga itu tiada yang dapat masuk ke dalamnya kecuali jiwa yang muslim. Menurut lafaz yang lain disebutkan jiwa yang mukmin. Dalam pembahasan sebelumnya, yaitu pada permulaan tafsir surat An-Nisa, tepatnya pada pembahasan firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ}

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (An-Nisa: 48)

Disebutkan sebuah hadis melalui Yazid ibnu Babnus, dari Siti Aisyah, bahwa diwan (catatan amal) itu ada tiga macam. Lalu disebutkan salah satunya, yaitu suatu diwan yang Allah tidak mau memberikan ampunan padanya, yaitu dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan selain-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga. (Al-Maidah: 72)

Hadis ini terdapat di dalam kitab Musnad Imam Ahmad. Karena itu, dalam surat ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,, menceritakan keadaan Al-Masih, bahwa dia telah mengatakan kepada kaum Bani Israil:

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ}

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tem­patnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (Al-Maidah: 72)

Yakni di hadapan Allah dia tidak memperoleh seorang penolong pun, tiada yang membantunya dan tiada pula yang dapat menyelamatkan dia dari apa yang dialaminya.

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ}

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahw Allah salah satu dari yang tiga. (Al-Maidah: 73)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnul Hakam ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl, telah menceritakan kepada kami Abu Sakhr sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga. (Al-Maidah; 73). Hat itu seperti perkataan orang-orang Yahudi, bahwa Uzair adalah anak Allah; dan orang-orang Nasrani mengatakan Al-Masih adalah putra Allah. Mereka menjadikan Allah sebagai salah satu dari yang tiga (yakni ada tuhan ayah, tuhan ibu, dan tuhan anak).

Tetapi pendapat ini bila dikaitkan dengan tafsir ayat ini berpredikat garib, mengingat pendapat ini mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Nasrani saja secara khusus. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Kemudian mereka berselisih pendapat mengenainya. Menurut suatu pendapat, yang dimaksud ialah orang-orang yang kafir dari kalangan mereka (kaum Ahli Kitab), yaitu mereka yang mengatakan ajaran trinitas, yaitu tuhan ayah, tuhan anak, dan tuhan ibu yang melahirkan tuhan anak. Mahatinggi Allah dari perkataan mereka dengan ketinggian yang Setinggi-tingginya.

Ibnu Jarir dan lain-lainnya mengatakan, ketiga sekte itu —yakni sekte Malakiyah, sekte Ya’qubiyah, dan sekte Nusturiyah— semuanya mengatakan ajaran trinitas ini, sekalipun mereka berbeda pendapat mengenainya dengan perbedaan yang sangat mencolok; pembahasan mengenainya bukan dalam kitab ini. Setiap golongan dari mereka mengafirkan golongan yang lain, tetapi pada prinsipnya ketiga golongan itu semuanya kafir.

As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap mereka yang menjadikan Al-Masih dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Mereka menjadikan Allah sebagai salah satu dari yang tiga itu.

As-Saddi mengatakan bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam akhir surat ini melalui firman-Nya:

{وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ}

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’?” Isa menjawab, “Mahasuci Engkau.” (Al-Maidah: 116), hingga akhir ayat.

Pendapat inilah yang terkuat.

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ}

padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. (Al-Maidah: 73)

Dengan kata lain, Tuhan itu tidak berbilang, melainkan Maha Esa, tiada yang menyekutui-Nya, Tuhan semua yang ada, dan Tuhan semua makhluk.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman seraya mengancam dan menekan mereka:

{وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ}

Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu. (Al-Maidah: 73)

Yakni tidak mau berhenti dari kebohongan dan kedustaan itu.

{لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maidah: 73)

Yaitu kelak di hari kemudian, berupa belenggu-belenggu dan berbagai macam siksaan.

*****

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Maidah : 74)

Demikianlah kemurahan, kedermawanan, kelapangan, kelembutan, dan rahmat Allah Swt. kepada makhluk-Nya. Sekalipun mereka melakukan dosa yang paling besar melalui kebohongan dan kedustaan yang mereka buat-buat terhadap Allah, Allah tetap menyeru mereka untuk bertobat dan memohon ampun; karena setiap orang yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya.

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ}

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. (Al-Maidah: 75)

Yakni sama halnya seperti semua rasul yang mendahuluinya. Dengan kata lain, dia adalah salah seorang dari hamba-hamba Allah dan salah seorang dari rasul-rasul-Nya yang mulia. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain:

{إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ}

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (Az-Zukhruf: 59)

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ}

dan ibunya seorang yang sangat benar. (Al-Maidah: 75)

Yaitu beriman kepada Isa dan membenarkannya. Hal ini merupakan kedudukan yang paling tinggi baginya, dan hal ini menunjukkan bahwa Maryam bukanlah seorang nabi perempuan; tidak seperti apa yang diduga oleh Ibnu Hazm dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa ibu Nabi Ishaq (Sarah), ibu Nabi Musa, dan ibu Nabi Isa semuanya adalah nabi wanita.

Ibnu Hazm mengatakan demikian dengan berdalilkan bahwa para malaikat berbicara dengan Sarah dan Maryam, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ}

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susukanlah dia.” (Al-Qashash: 7)

Pengertian lafaz wa auhaina ini menunjukkan derajat kenabian.

Tetapi menurut pendapat jumhur ulama, Allah belum pernah mengutus seorang nabi melainkan dari kalangan kaum laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)

Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari telah meriwayatkan adanya kesepakatan para ulama akan ketetapan ini.

****

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ}

kedua-duanya biasa memakan makanan. (Al-Maidah: 75)

Yakni mereka memerlukan makanan dan mengeluarkan kotorannya, dan merupakan dua orang hamba, sama dengan manusia lainnya, sama sekali bukan tuhan, tidak seperti apa yang didakwakan oleh orang-orang Nasrani yang bodoh; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ}

Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan Kami. ( Al-Maidah: 75)

Yaitu ayat-ayat yang telah Kami jelaskan dan kami tampakkan kepada mereka.

{ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ}

Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Al-Maidah: 75)

Yakni kemudian perhatikanlah sesudah penjelasan dan keterangan itu, ke manakah mereka akan pergi, pendapat apakah yang mereka pegang, serta aliran sesat manakah yang mereka tempuh?

Doa Pilihan Quran dan Tafsirnya : Saat Sudah Berumur 40 Tahun

Doa Saat Sudah Berumur 40 Tahun

  • Qs.Al-‘Ahqaf: 15
  • رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
  • Rabbi aw zi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fi dzurriyyatii. Innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.
  • Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang

Al-Ahqaf, ayat 15-16

{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (16) }

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Setelah dalam ayat-ayat terdahulu disebutkan tentang tauhid ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, dan istiqamah, lalu disebutkan perintah Allah yang memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal seperti ini sering disebutkan secara bergandengan di dalam Al-Qur’an, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

{وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا}

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra: 23)

{أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang senada.

************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا}

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya dan mengasihi keduanya.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus’ab ibnu Sa’d menceritakan berita ini dari Sa’d r.a yang telah mengatakan bahwa Ummu Sa’d berkata kepada Sa’d, “Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk menaati kedua orang tuanya? Maka sekarang aku tidak mau makan dan, minum lagi sebelum kamu kafir kepada Allah.” Ternyata Ummu Sa’d tidak mau makan dan minum sehingga keluarganya terpaksa membuka mulutnya dengan memakai tongkat (lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya). Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan para penulis kitab sunan -kecuali Ibnu Majah- telah meriwayatkan hadis ini melalui Syu’bah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang lebih panjang.

{حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا}

ibunya mengandungnya dengan susah payah. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu mengalami kesengsaraan karena mengandungnya dan kesusahan serta kepayahan yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil.

{وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا}

dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf: 15)

Yakni dengan penderitaan pula saat melahirkan bayinya lagi sangat susah dan masyaqqat.

{وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا}

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

Sahabat Ali Radhiyallahu Anhu menyimpulkan dalil dari ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Luqman. yaitu firman-Nya:

{وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ}

Dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)

Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al-Baqarah: 233)

Bahwa masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman Radhiyallahu Anhu dan sejumlah sahabat lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma’mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah mengawini seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman Radhiyallahu Anhu dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku.”

Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman Radhiyallahu Anhu, maka Usman Radhiyallahu Anhu memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali Radhiyallahu Anhu, maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?” Usman menjawab, “Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?” Maka Ali Radhiyallahu Anhu bertanya kepada Usman, “Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Usman menjawab, “Benar.” Ali Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan Usman r a berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu.” Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.

Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma’mar berkata “Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi’.”

Ma’mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 81); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

*******************

{حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ}

sehingga apabila dia telah dewasa. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni telah kuat dan menjadi dewasa.

{وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً}

dan umurnya sampai empat puluh tahun. (Al-Ahqaf. 15)

Yaitu akalnya sudah matang dan pemahaman serta pengendalian dirinya sudah sempurna.

Menurut suatu pendapat, biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia empat puluh tahun.

Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan dan Al-A’masy, dan Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, “Bilakah seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Masruq menjawab, “Bila usiamu mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”

وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيد اللَّهِ الْقَوَارِيرِيُّ، حَدَّثَنَا عَزْرَة بْنُ قَيْسٍ الْأَزْدِيُّ -وَكَانَ قَدْ بَلَغَ مِائَةَ سَنَةٍ-حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ السَّلُولِيُّ عَنْهُ وَزَادَنِي قَالَ: قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ عُثْمَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً خَفَّفَ اللَّهُ حِسَابَهُ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِينَ سَنَةً ثَبَّتَ اللَّهُ حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِينَ سَنَةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وشفَّعه اللَّهُ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ، وَكُتِبَ فِي السَّمَاءِ: أَسِيرَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ”

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Qais Al-Azdi yang usianya mencapai seratus tahun, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Kufi alias Umar ibnu Aus, bahwa Muhammad ibnu Amr ibnu Usman telah meriwayatkan dan Usman Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Seorang hamba yang muslim apabila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila usianya mencapai enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki Inabah (kembali ke jalan-Nya). Dan apabila usianya mencapai tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kebaikan-kebaikannya dan menghapuskan keburukan-keburukannya. Dan apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan mengizinkannya untuk memberi syafaat buat ahli baitnya dan dicatatkan (baginya) di langit, bahwa dia adalah tawanan Allah di bumi-Nya.

Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu di dalam kitab Musnad Imam Ahmad.

Al-Hajjaj ibnu Abdullah Al-Hakami, salah seorang amir dari kalangan Bani Umayyah di Dimasyq telah mengatakan, “Aku telah meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa selama empat puluh tahun karena malu kepada manusia, kemudian aku meninggalkannya (sesudah itu) karena malu kepada Allah.” Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:

صَبَا مَا صَبَا حَتى عَلا الشَّيبُ رأسَهُ فلمَّا عَلاهُ قَالَ لِلْبَاطِلِ: ابطُل

Diturutinya semua yang disukainya sehingga uban telah menghiasi kepalanya.

Dan manakala uban telah memenuhi kepalanya, ia berkata kepada kebatilan, “Menjauhlah dariku!”

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي}

Ya Tuhanku, tunjukilah aku. (Al-Ahqaf: 15)

Maksudnya, berilah aku ilham, atau bimbinglah aku.

{أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ}

untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni di masa mendatang.

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي}

berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu keturunanku.

{إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf: 15)

Ini adalah panduan bagi yang sudah berusiah empat puluh tahun untuk memperbaharui tobat dan berserah diri kepada Allah.

Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah SAW mengajari doa tasyahhud, yaitu:

“اللَّهُمَّ، أَلِّفْ بَيْنِ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سبُل السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجَعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْنَا”

selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ}

Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka yang menyandang predikat yang telah kami sebutkan yaitu orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah lagi menanggulangi apa yang telah mereka lewatkan dengan bertobat dan memohon ampun merekalah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal baiknya dan Kami maafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan Kami ampuni dosa-dosa mereka serta Kami terima amal mereka walaupun sedikit.

{فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ}

bersama penghuni-penghuni surga. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka termasuk penghuni-penghuni surga. Demikianlah status mereka d. s.si Allah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya kepada orang-orang yang bertobat dan kembali ke jalan-Nya, oleh karena itu Allah berfirman:

{وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}

Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا المُعْتَمِر بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ، عَنْ الغطْرِيف، عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الرُّوحِ الْأَمِينِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ: “يُؤْتَى بِحَسَنَاتِ الْعَبْدِ وَسَيِّئَاتِهِ ، فَيَقْتَصُّ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، فَإِنْ بَقِيَتْ حَسَنَةٌ وَسَّعَ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ” قَالَ: فدخلتُ عَلَى يَزْدَادَ فَحُدّث بِمِثْلِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: قُلْتُ: فَإِنْ ذَهَبَتِ الْحَسَنَةُ؟ قَالَ: {أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Al-Gatrif, dari Jabir ibnu Yard, dan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari Ar-Ruhul Amin ‘alaihissalam yang telah mengatakan: Seorang hamba akan didatangkan kebaikan dan keburukannya, lalu dilakukanlah penghapusan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Jika masih tersisa suatu kebaikan, Allah memberikan keluasan kepadanya di dalam surga. Ibnu Jarir mengatakan, bahwa lalu ia datang kepada Ali Yazdad dan ternyata dia pun meriwayatkan hadis yang semisal. Aku bertanya, “Bagaimana jika kebaikannya habis?” Ali menjawab dengan membacakan firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Muhammad ibnu Abdul Ala As-San’ani, dari Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman berikut sanadnya yang semisal, tetapi ditambahkan ‘dan Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril ‘alaihissalam)’. Disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan kepada seorang hamba amal-amal baiknya dan amal-amal buruknya, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya. Hadis ini garib, tetapi sanadnya baik dan tidak mengandung cela.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ma’bad telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr Ja’far ibnu Abu Wahsyiyyah dan Abu Wahsyiyyah, dari Yusuf ibnu Sa’d, dari Muhammad ibnu Hatib bahwa ketika Al. beroleh kemenangan atas kota Al-Basrah, Muhammad ibnu Hatib tinggal di rumahku. Dan pada suatu hari ia mengatakan kepadaku, bahwa sesungguhnya ia menyaksikan Khalifah Ali r a yang sedang bersama dengan Ammar, Sa’sa’ah, Asytar, dan Muhammad ibnu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Lalu mereka menceritakan perihal Khalifah Usman r a dan pada akhirnya pembicaraan mereka mendiskreditkannya. Saat itu Ali r a. sedang berada di atas dipannya, sedangkan tangannya memegang tongkat. Lalu seseorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian ada seorang yang akan memutuskan hal ini di antara kalian. Maka mereka menanyakannya kepada Ali Radhiyallahu Anhu Lalu Ali menjawab bahwa Usman Radhiyallahu Anhu termasuk salah seorang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16) Kemudian Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Demi Allah, Usman dan teman-temannya ” Hal ini diulanginya sebanyak tiga kali.

Yusuf ibnu Sa’d berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada Muhammad ibnu Hatib, “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Ali r.a?” Muhammad ibnu Hatib menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar mendengarnya dari Ali Radhiyallahu Anhu secara langsung.”

Asbabul Nuzul Al Maidah 11 : Ingatlah Nikmat Allah Kepada Kamu

  • Allah SWT berfirman:
  • يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّبْسُطُوْۤا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
  • yaaa ayyuhallaziina aamanuzkuruu ni’matallohi ‘alaikum iz hamma qoumun ay yabsuthuuu ilaikum aidiyahum fa kaffa aidiyahum ‘angkum, wattaqulloh, wa ‘alallohi falyatawakkalil-mu`minuun
  • “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”
  • (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 11)

Asbabun Nuzul

Ibnu Jarir meriwayatkan dari lkrimah dan Yazid bin Abi Ziyad—dan lafazhnya dari Yazid—bahwa pada suatu hari Nabi saw. pergi bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf ke tempat Ka’ab ibnul-Asyraf dan tempat orang-orang Yahudi Bani Nadhir. Beliau mendatangi mereka untuk meminta bantuan dalam melunasi diyat yang harus beliau bayar. Lalu mereka berkata,,”Baiklah. Sekarang duduklah dulu dan kami akan menjamumu. Setelah itu kami akan memberikan apa yang engkau minta.” Rasulullah pun duduk menunggu. Diam-diam Huyai bin Akhthab berkata kepada teman-temannya, “Kalian tidak pernah melihat dia sedekat sekarang ini. Timpakanlah batu ke tubuhnya, maka kalian akan dapat membunuhnya. Setelah itu, kalian tidak akan pernah melihat keburukan lagi untuk selamanya.” Teman-teman Huyai pun mengambil batu gilingan yang besar untuk ditimpakan ke tubuh Nabi saw.. Tapi Allah menahan tangan mereka hingga Jibril datang dan menyuruh Nabi saw. meninggalkan tempat itu. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya,…”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan kisah yang serupa dengan di atas dari Abdullah bin Abi Bakar, Ashim bin Umair bin Qatadah, Mujahid, Abdullah bin Katsir, dan Abu Malik.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Kami mendengar bahwa ayat ini diturunkan kepada Rasulullah ketika beliau berada di tengah kebun kurma ketika perang ketujuh. Ketika itu orang-orang Bani Tsa’labah dan Bani Muharib ingin membunuh Nabi saw.. Mereka mengutus seorang lelaki dari Arab pedalaman. Orang Arab pedalaman itu mendatangi Nabi saw. ketika beliau sedang tertidur di sebuah rumah. Lalu dia mengambil senjata beliau dan membangunkan beliau. Lalu dia berkata, ‘Sekarang siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu?’ Rasulullah dengan tenang menjawab, ‘Allah.’ Lalu orang Arab pedalaman itu pun menyarungkan kembali pedangnya dan Rasulullah tidak menghukumnya.”

Abu Nu’aim dalam kitab Dalaa’ilun Nubuwwah meriwayatkan dari Hasan al-Bashri dari Jabir bin Abdillah bahwa seorang lelaki dari kalangan orang-orang yang memerangi Islam yang bernama Ghauts ibnul-Harits berkata kepada kaumnya, “Saya akan membunuh Muhammad untuk kalian.” Dia pun mendatangi Rasulullah, yang ketika itu sedang duduk sambil memangku pedang beliau. Lalu Ghauts berkata, “Wahai Muhammad, bolehkah saya melihat pedangmu itu?” Rasulullah menjawab, “Ya silakan.” Lalu Ghauts mengambil pedang itu dan menghunusnya. Kemudian dia mengibas-ngibaskan pedang itu dan ingin membunuh Nabi saw.. Namun Allah menahannya. Lalu dia berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau tidak takut?” Dengan tenang Rasulullah menjawab, “Tidak.” Ghauts kembali bertanya, “Apakah engkau tidak takut kepadaku sedangkan pedangmu ada di tanganku?” Rasulullah menjawab kembali, “Tidak, saya tidak takut. Allah akan menghalangimu untuk berbuat buruk terhadapku.” Kemudian Ghauts menyarungkan pedang itu dan mengembalikannya kepada Rasulullah. Lalu Allah menurunkan ayat 11 surah al-Maa’idah.

Kisah Inspiratif Keteladanan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu

Kisah Inspiratif Keteladanan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu

Menyebut nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT.

Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.

Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.

Dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, dipaparkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya di jemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah.

Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kepada para penyiksanya, kecuali hanya memohon kepada Allah. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, Bilal tetap teguh pendirian.

Ia selalu mengucapkan, “Ahad-Ahad.” Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah). Abu Bakar as-Sidiq lalu memerdekakannya. Umar bin Khattab berujar, “Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.”

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

Azan pertama

Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum Muslim lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyariatkan azan. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan azan karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan azan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam.

Setelah sekian lama tinggal di Madinah, Bilal senantiasa menjadi pengumandang azan. Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya berseru, “Hayya ‘alashshalaati hayya ‘alashshalaati (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan).” Lalu, ketika Rasulullah SAW keluar dari rumah dan Bilal melihatnya, ia segera melantunkan iqamat sebagai tanda shalat berjamaah akan segera dimulai.

Ketika menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW berjalan di depan pasukan Muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah.

Tak lama kemudian, waktu shalat Zuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan.

Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Azan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan azan pertama di Makkah.

Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Saat sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Sejak saat itu, Bilal pun terkenal sebagai muazin Rasul. Bahkan, ia menjadi muazin tetap saat Rasul masih hidup. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal. Yang lain pun tak keberatan Bilal melakukannya.

Namun, saat Rasul SAW wafat dan ketika shalat akan dikumandangkan, Bilal pun segera berdiri untuk melaksanakan kewajibannya. Saat itu, jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.

Maka, ketika Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),” tiba-tiba suaranya terhenti. Bilal menangis. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh manusia yang paling dicintainya. Tak hanya kaum Muslim, Allah pun mencintai Rasulullah SAW. Seperti dikomando, tangisan Bilal itu diiringi oleh kaum Muslim yang hadir. Mereka semua menangis karena ditinggal pergi sang kekasih.

Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra’fat Basya, dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi,” ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslim yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Kemudian, Bilal mendatangi Abu Bakar as-Sidiq, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam, agar dia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan azan lagi. Ia seakan tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal tak pernah lagi menjadi muazin bagi seseorang.

Pernah Bilal melakukannya ketika Khalifah Umar mengunjunginya di Damaskus. Namun, itu pun hanya sampai kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuluullaahi.” Ia lagi-lagi menangis mengingat Rasulullah SAW. Bahkan, Umar pun turut menangis. Azan yang dikumandangkan Bilal mengingatkan Umar ketika bersama-sama dengan Rasulullah SAW, orang yang paling dicintainya.

Kini, sang muazin Rasulullah SAW ini sudah berpulang sejak 14 abad silam, tepatnya tahun ke-20 H. Namun, namanya masih harum hingga kini. Bahkan, di sejumlah masjid di Indonesia, mungkin juga di negara lainnya, nama muazin selalu tercantum dengan tulisan bilal. Ini menunjukkan sebagai penghormatan kepada sang muazin Rasulullah, pengumandang azan pertama di dunia. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya.

Tak Pernah Meninggalkan Wudhu

Nama Bilal memang kerap dikaitkan dengan azan. Sebab, dia adalah orang pertama yang menjadi muazin pada zaman Rasul SAW. Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena azannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah SAW di dalam surga. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi bagi setiap orang yang beriman.

Suatu hari, pada waktu Subuh, Rasulullah SAW berbincang-bincang dengan Bilal bin Rabah. Rasul berkata, “Wahai, Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya, yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara telapak langkah (jalan)-mu di hadapanku di surga.”

Bilal menjawab, “Wahai, Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya.”

Jadi, setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat, yakni shalat sunat wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara (dawam) wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu.

Semasa hidupnya, Bilal telah meriwayatkan 44 hadis dari Nabi SAW. Di antaranya, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian menunaikan shalat malam (tahajud) karena shalat malam adalah tradisi (kebiasaan) orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya, shalat malam adalah amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dapat mencegah dari perbuatan dosa, mengampuni dosa-dosa kecil, dan menghilangkan penyakit dari badan.” (HR Tirmidzi).

Selain sebagai muazin, Bilal juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di baitul mal. Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Tentang Bilal, Rasulullah SAW mengatakan, “Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah.” (HR Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir).

Bilal meninggal dunia di Damaskus pada 20 H. Jasadnya dimakamkan di sana. Namun, ada riwayat yang menyebutkan bahwa jasad Bilal dimakamkan di wilayah Halb.

Inilah Wujud dan Tugas Malaikat Disekitar Arsy Allah

Inilah Malaikat Disekitar Arsy Allah

Hamalat al ‘Arsy – Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan.

Para malaikat pemikul ‘Arsy terkenal dengan nama Hamalat al-‘Arsy (Arab: حملة العرش) berjumlah empat malaikat, setelah kiamat akan bertambah menjadi delapan malaikat yaitu; Israfil, Mikail, Jibril, Izrail dan Hamalat al-‘Arsy. Didalam Al-Qur’an juga disebutkan para malaikat ini, dalam surah Al Haqqah 69 ayat 17:

“…dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al Haqqah, 69:17)”

Wujud Hamalat al-‘Arsy

Berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari seorang sahabat Jabir bin Abdillah, wujud para malaikat pemikul singgahsana Allah sangatlah besar dan jarak antara pundak malaikat tersebut dengan telinganya sejauh perjalanan burung terbang selama 700 tahun.

Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari seorang sahabat Jabir bin Abdillah hadist shahih, Muhammad bersabda: “Telah diizinkan bagiku untuk bercerita tentang sosok Malaikat dari Malaikat-Malaikat Allah yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun.”

Dikatakan pula dalam hadits, bahwa Hamalat al-‘Arsy memiliki sayap lebih besar dan banyak dibandingkan dengan Jibril dan Israfil. Dikatakan bahwa Hamalat al-‘Arsy memiliki sayap sejumlah 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil, sedangkan Israfil mempunyai 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril.

Rasulullah SAW pernah melihat akan rupa sebenar Malaikat JIbril sebanyak 2 kali, iaitu ketika peristiwa Isra’ Mikraj. Ketika Rasulullah melihat Malaikat Jibril dalam keadaan rupanya yang sebenar,Baginda lantas memuji Malaikat Jibril akan kehebatannya. Malaikat Jibril mempunyai 600 sayap, apabila dibuka satu sayap maka gelaplah seluruh bumi ini. Namun begitu, Malaikat Jibril mengatakan kepada Rasulullah bahawa jangan memujinya kerana Rasulullah masih belum melihat Malaikat lain yang lebih hebat kejadiannya. Lalu Rasulullah bertanya kepada Malaikat Jibril, “Ya Jibril, adakah masih ada Malaikat yang lebih hebat daripada kamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Ya, ada.” Malaikat Israfil mempunyai 1200 sayap,dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Malaikat Jibril Sesudah itu, Rasulullah bertanya lagi,” Adakah Malaikat Israfil paling hebat?” Jawab Malaikat Jibril, “Tidak, Malaikat yang memikul Arasy Allah. Malaikat ini mempunyai 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Malaikat Israfil”.

Sedangkan Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar bin ‘Arabi Al-Jawi Al-Bantani, seorang wali besar dari tanah Jawa, mengatakan bahwa, “Mereka adalah tingkatan tertinggi para Malaikat dan Malaikat yang pertama kali diciptakan, dan mereka berada di dunia sebanyak 4 malaikat, pada saat qiyamat akan berjumlah 8 malaikat. Jarak antara telapak kakinya sampai lututnya sejauh perjalanan 70 tahun burung yang terbang paling cepat. Adapun sifat dari ‘Arsy, dikatakan bahwa bahwa ‘Arsy adalah permata berwarna hijau dan ‘Arsy adalah makhluk yang paling besar dalam penciptaan. Dan setiap harinya ‘Arsy dihiasi dengan 1000 warna daripada cahaya, tidak ada satu makhlukpun dari makhluk Allah ta’ala yang sanggup memandangnya.. Dan segala sesuatu seluruhnya di dalam ‘Arsy seperti lingkaran ditanah lapang…Dikatakan sesungguhnya ‘Arsy merupakan kiblat para penduduk langit.. sebagaimana Ka’bah sebagai kiblat penduduk bumi

Doa Pilihan Dalam Quran : Doa Mohon Ampun Orang Bertakwa Qs.Ali ‘Imran: 16 dan Tafsir Qurannya

Doa Pilihan Dalam Quran : Doa Mohon Ampun Orang Bertakwa Qs.Ali ‘Imran: 16 dan Tafsir Qurannya

  • رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
  • Rabbanaa innanaa aamannaa faghfirlanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzaaban naar.
  • Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.,
  • My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small

Ali Imran, ayat 16-17

{الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ (17) }
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu orang-orang yang telah dijanjikan beroleh pahala yang berlimpah. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنا إِنَّنا آمَنَّا
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman.” (Ali Imran: 16)

Yakni beriman kepada-Mu dan kitab-kitab-Mu serta rasul-rasul-Mu.
فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا
maka ampunilah segala dosa kami. (Ali Imran: 16)

Yaitu karena iman kami kepada Engkau, juga kepada apa yang telah Engkau syariatkan buat kami, maka kami memohon semoga Engkau mengampuni kami atas dosa-dosa dan kelalaian kami dalam urusan kami berkat anugerah dan rahmat-Mu.
{وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 16)

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الصَّابِرِينَ
(yaitu) orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 17)
Maksudnya, sabar dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan semua hal yang diharamkan.
وَالصَّادِقِينَ
orang-orang yang benar. (Ali Imran: 17)
Yakni percaya kepada apa yang diberitakan kepada mereka berkat iman mereka, yang hal ini direalisasikan oleh mereka dalam sikap berteguh hati dalam mengerjakan amal-amal yang berat.
وَالْقانِتِينَ
Orang-orang yang tetap taat. (Ali Imran: 17)
Al-qunut artinya taat dan patuh, yakni orang-orang yang tetap dalam ketaatannya.
وَالْمُنْفِقِينَ
orang-orang yang menafkahkan hartanya. (Ali Imran: 17)
Yaitu menafkahkan sebagian dari harta mereka di jalan-jalan ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, silaturahmi, amal taqarrub, memberikan santunan, dan menolong orang-orang yang membutuhkannya.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحارِ
dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur. (Ali Imran: 17)
Ayat ini menunjukkan keutamaan beristigfar di waktu sahur.
Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika berkata kepada anak-anaknya, yang perkataannya disitir oleh firman-Nya:
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي
Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku. (Yusuf: 98)
Maka Nabi Ya’qub menangguhkan doanya itu sampai waktu sahur.
Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain dan kitab-kitab sunnah serta kitab-kitab musnad yang lain diriwayatkan melalui berbagai jalur dari sejumlah sahabat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
«يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثلث الليل الأخير، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟
(Rahmat) Allah Subhanahu wa Ta’ala turun pada tiap malam ke langit dunia, yaitu di saat malam hari tinggal sepertiganya lagi, lalu Dia berfirman, “Apakah ada orang yang meminta, maka Aku akan memberinya? Apakah ada orang yang berdoa, maka Aku memperkenankannya? Dan apakah ada orang yang meminta ampun, maka Aku memberikan ampunan kepadanya,” hingga akhir hadis.

Al-Hafiz Abul Hasan Ad-Daruqutni mengkhususkan bab ini dalam sebuah juz tersendiri. Ia meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur.

Di dalam kitab Sahihain dari Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu disebutkan bahwa setiap malam Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selalu melakukan salat witir, mulai dari awal, pertengahan, dan akhir malam; dan akhir dari semua witir ialah di waktu sahur.

Disebutkan bahwa sahabat Abdullah ibnu Umar melakukan salat (sunat di malam hari), kemudian bertanya, “Hai Nafi’, apakah waktu sahur telah masuk?” Apabila dijawab, “Ya,” maka ia mulai berdoa dan memohon ampun hingga waktu subuh.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hurayyis ibnu Abu Matar, dari Ibrahim ibnu Hatib, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki yang berada di salah satu bagian dalam masjid mengucapkan doa berikut: Ya Tuhanku, Engkau telah memerintahkan kepadaku, maka aku taati perintah-Mu; dan inilah waktu sahur, maka berikanlah ampunan bagiku. Ketika ia melihat lelaki itu, ternyata dia adalah sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu
Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa kami (para sahabat) bila melakukan salat (sunat) di malam hari diperintahkan untuk melakukan istigfar di waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.

Kisah Hidup si Mualaf Sarah Joseph, Pemilik Emel Majalah Terkemuka Di Eropa

Emel sebuah majalah yang mengupas seputar gaya hidup Muslim bisa dibilang satu-satunya majalah bernuansa Islam yang terbit di dataran Inggris Raya. Majalah itu pertama kali terbit pada 2003 dan hanya dijual di toko-toko buku yang khusus menjual buku-buku mengenai Islam.

Seiring waktu, warga non-Muslim di negeri Ratu Elizabeth pun menyukai majalah itu. Tak heran, sejak September 2005, distribusi dan sirkulasi Majalah Emel mulai diperluas untuk umum. Menurut catatan Wikipedia, kini Emel beredar di 30 negara.
Orang yang berada di belakang kesuksesan Majalah Emel adalah Sarah Joseph. Sarah adalah seorang Muslimah Inggris yang memeluk Agama Allah SWT bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Wanita yang kini berusia 39 tahun itu mulai mempelajari Islam dan bersyahadat pada usianya yang sangat belia, 16 tahun.
Sejak remaja, Sarah memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang Islam. Ia pun membaca berbagai literatur keislaman. Sebelum memeluk Islam, Sarah adalah pemeluk Katolik. Dia termasuk remaja yang aktif dalam berbagai kegiatan agama, sosial, dan politik.

Kesadaran beragamanya waktu itu benar-benar muncul dari dalam hatinya hingga berpengaruh dalam aktivitasnya di tengah masyarakat. Sang ibu, Valerie Askew, bahkan sering mengatakan putrinya itu sangat agamis, meski masih sangat kecil.
Tidak seperti Sarah, kedua orang tuanya justru tak peduli agama. Hari-hari sang ibu lebih banyak disibukkan untuk mengelola bisnis agensi modelingnya, Askew’s Modelling Agency. Sementara ayahnya disibukkan oleh pekerjaannya sebagai seorang akuntan ternama di Inggris.

Sarah dididik di St George’s School, Hanover Square, Mayfair and St Thomas More School, Sloane Square, Chelsea. Gelar sarjana muda diraihnya dari Department of Theology and Religious Studies, King’s College London.

Ketika usia Sarah menginjak 13 tahun, kakak laki-lakinya memutuskan masuk Islam karena alasan perkawinan. Terang saja saya benci dengan keputusannya. Waktu itu dia saya tuduh menjual keyakinan hanya karena wanita,” ujar Sarah dalam sebuah wawancara khusus dengan the Sunday Times edisi 9 Oktober 2005.
Kala itu, Sarah masih merasa asing dan takut dengan Islam. Terlebih lagi, dia banyak mendengar tentang sisi negatif agama Islam. Untuk membuktikan kebenaran informasi yang didengarnya itu, dia pun memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang Islam. Sungguh, saat itu saya benar-benar ingin tahu,” tuturnya.

Ia menghabiskan satu tahun untuk menyelami Alquran dan hadis. Berbeda dengan beberapa teman mualafnya, pada awal belajar Islam, dia justru menghindari untuk bertemu dengan sesama Muslim atau mereka yang telah bertukar agama menjadi Muslim. Ia ingin kesadaran berislam tumbuh dari dalam dirinya, bukan karena pengaruh orang lain.

Sarah mengaku sangat terkesan dengan tata cara shalat umat Islam. Jujur saja, satu hal yang membuat saya menerima Islam adalah saat melihat orang shalat. Kala mereka bersimpuh dalam sujud dengan penuh kerendahan diri. Saya kira, inilah yang disebut kepatuhan atau ketundukan sebagai seorang hamba,” kenang Sarah.
Dia juga mengaku terkesan dengan kesabaran, kejujuran, dan integritas yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Satu hal lagi yang juga membuatnya terkesan dengan agama Allah SWT itu karena Islam dinilainya telah membangun kesetaraan antara pria dan wanita. Dia mencontohkan, para pria dan wanita dalam masyarakat Madinah yang berjuang bersama-sama di jalan Allah
Dengan tekad bulat, ia pun memutuskan untuk meninggalkan ajaran Katolik. Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Secara perlahan, Islam menjawab semua pertanyaan saya yang telah mengendap sekian lama, terutama tentang Trinitas. Selain itu, Alquran tidak mengalami perubahan sama sekali, lain dengan Bibel.”
Awalnya memang berat bagi Sarah. Perlu beberapa waktu untuk merealisasikan Islam dalam diri dan kehidupannya, terutama membawanya ke dalam keluarga dan lingkungan sosial. Tapi, lama-kelamaan, keluarga melihat saya tetap dapat berkontribusi untuk masyarakat kendati sebagai seorang Muslim. Hal itu bikin mereka gembira dan dapat menerima saya kembali,” paparnya.
Awalnya, kedua orang tuanya menolak rencana Sarah untuk memeluk Islam. Bahkan, mereka mengucapkan kata “belangsungkawa” kala Sarah mulai mengenakan jilbab, setahun setelah memeluk Islam. Namun, dalam pandangan Sarah, mengenakan jilbab merupakan sebuah pilihan. Saya memang sangat ingin pakai jilbab. Saya ingin benar-benar menjadi seorang Muslimah.”(

Sumber: Oase Republika

Kisah Lengkap Wali Songo Dalam Penyebaran Agama islam Di Indonesia

wp-1558248245319..jpg
Kisah Wali Songo Dalam Penyebaran Agama islam Di Indonesia

Walisongo atau sembilan orang wali adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik
Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti
juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan
abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa
Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.
Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada
masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian,
kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Ilam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

  1. Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
  2. Sunan Ampel. Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang) Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
  3. Sunan Giri Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma). Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit-konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
  4. Sunan Bonang Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
  5. Sunan Kalijaga Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
  6. Sunan Gunung Jati. Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
  7. Sunan Drajat Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
  8. Sunan Kudus. Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
  9. Sunan Muria Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

wp-1558248369742..jpg

Kisah Sahabat Nabi : Ja’far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Nabi Muhammad SAW

Ja’far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Nabi Muhammad SAW

Ja’far Bin Abi Thalib merupakan satu diantara lima sahabat Nabi SAW yang memiliki kemiripan dengan Rasulullah SAW. Namun diantara kelimanya Ja’far tercatat paling mirip dengan Rasulullah SAW. Hingga diriwayatkan, jika dilihat dari belakang, sulit membedakan antara Ja’far dan Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya tampilan fisik, karakter Ja’far juga mirip dengan Rasulullah SAW.

Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far “Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlak ku karena kamu berasal dari ku dan merupakan keturunanku.”

Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam. Bagaimanakah perjalanan seorang Ja’far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?

Ja’far yang merupakann sepupu Nabi Muhammad SAW ini langsung menyatakan Keislamannya begitu mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada sang Istri, istrinya Asma bin Umais.Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.

Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja’far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Meski kebahagiaan Islam telah menyelimti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah SAW dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar sang ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.

Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin berang dan tidak terima. Mereka membuat banyak gangguan untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah SAW lantaran sang Nabi mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.

Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.

Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.

Rasulullah SAW memilih Ja’far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja’far sepertit mengenal dirinya sendiri. Ja’far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari Nabi mereka.

Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat berang kaum musrik Quraisy. Mereka tidak tenang pengikut Nabi Muhammad SAW beribadah dengan nyaman. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling jago berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi

Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar memprofokasi raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.

Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal dinegerinya.

Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja. Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’fat dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.

Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.

Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Sang raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.

Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah SAW. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidakk beriman.

Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah SAW, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun ke delapan hijriyah, Rasulullah SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Beliau mengangkat Zait bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Jika Zait bin Haritsah gugur, maka digantikan oleh Ja’far Bin Abi Thalib, jika Ia cidera dan tewas pula, Ia digantikan oleh Abdullah bin Rawaha dan apabila Abdullah Bin Rawaha cidera dan gugur pula, hendaklah kaum muslimin memilih komandan diantara mereka.

Sampai di Mut’ah, sebuah kota dekat Syam daerah Yordania mereka mendapati pasukan Romawi dengan 100 ribu pasukan yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab, sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan peperangan dahsyat pun terjadi. Komandan Muslimin, Zait Bin Haritsah gugur sebagai shahid, melihat Zait gugur, Ja’far kemudian melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah SAW dari tangan Zaid. Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kekiri dengan hebat.

Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang puntung, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syahid di medan Mut’ah.

Rasulullah SAW sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar beliau pergi kerumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah SAW.

“Ketika Rasulullah SAW mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami,”

Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah SAW. Rasulullah SAWA langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Beliau berlinang membasahi pipi mereka.

Shalat Qabliyah dan Ba’diyah Shalat Jumat

Perbedaan pendapat tentang shalat Qabliyah Jumat banyak terjadi di kalangan ulama.  Disunnahkan ketika menghadiri shalat Jumat adalah memperbanyak shalat sunnah. Selain shalat tahiyatul masjid, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sambil menunggu datangnya Imam atau Khatib. Namun sebagian kalangan menganggap shalat ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, layaknya shalat sunnah waktu Dhuhur. 

wp-1558654958315..jpgDalam kitab Al-Jumu’ah; Âdâb Wa Ahkâm, Syaikh Abu Al-Mundzir As-Sa’idi berkata; Berkenaan dengan shalat Sunah sebelum (qabliyah) shalat Jumat, shalat tersebut tidak ada menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat di kalangan para ulama, yaitu pendapat Imam Malik, Ahmad dalam pendapat yang masyhur, dan salah satu pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i. Akan tetapi, yang disunahkan ialah melakukan perkara-perkara sunah yang bersifat umum.

Yang demikian ini selaras dengan hadits Salman Al-Farisi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
  • ”Tidaklah seorang muslim mandi pada hari Jumat, bersuci dengan sebaik-baiknya, mengoleskan minyak, atau memakai wangi-wangian yang ada di rumahnya. Lalu berangkat menuju masjid dan ia tidak menceraiberaikan hubungan baik dua orang saudaranya. Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya, dan ketika imam membacakan khutbah ia diam, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara satu Jumat ke Jumat berikutnya’.” (HR. Bukhari)

Yang dijadikan dalil dari hadits ini ialah lafal, “Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya.” Maknanya adalah shalat sunnah secara mutlak. Artinya shalat sunnah yang dikerjakan semampu mungkin dengan bilangan yang tidak terbatas.

Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa contoh yang dipraktekkan oleh ulama salaf. Sebuah riwayat dari Naafi’ menyebutkan bahwa Dahulu Ibnu Umar mengerjakan shalat sunnah sebelum Jum’at sebanyak 12 raka’at.” (Fathul Bari, 8/329).

Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata:

  • وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء
  • “Adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2/426)

Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad,

  • وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟
  • “Jika Bilal telah mengumandangkan adzan Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti Shalat ‘Ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qabliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jumat tersebut)?”(Zaadul Ma’ad, 1/422)

 

Jika kita melihat hadits, begitu pula atsar sahabat disebutkan mengenai adanya empat raka’at shalat sunnah atau selain itu. Namun hal ini bukan menunjukkan bahwa raka’at-raka’at tadi termasuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at sebagaimana halnya dalam shalat Zhuhur. Dalil-dalil tadi hanya menunjukkan adanya shalat sunnah sebelum Jum’at, namun bukan shalat sunnah rawatib, tetapi shalat sunnah mutlak. Artinya, kita melakukan shalat sunnah dengan dua raka’at salam  tanpa dibatasi, boleh dilakukan berulang kali hingga imam naik mimbar.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah shalat sunnah mutlak,

عن سَلْمَانَ الْفَارِسِي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم : ( لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ) رواه البخاري (883) .

Dari Salmaan Al Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jama’ah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang lainnya.” (HR. Bukhari no. 883)

وعن ثعلبة بن أبي مالك أنهم كانوا في زمان عمر بن الخطاب يصلون يوم الجمعة حتى يخرج عمر . أخرجه مالك في “الموطأ” (1/103) وصححه النووي في “المجموع” (4/550).

Dari Tsa’labah bin Abi Malik, mereka di zaman ‘Umar bin Al Khottob melakukan shalat (sunnah) pada hari Jum’at hingga keluar ‘Umar (yang bertindak selaku imam). (Disebutkan dalam Al Muwatho’, 1: 103. Dishahihkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu’, 4: 550).

وعن نافع قَال : كان ابن عمر يصلي قبل الجمعة اثنتي عشرة ركعة . عزاه ابن رجب في “فتح الباري” (8/329) لمصنف عبد الرزاق .

Dari Naafi’, ia berkata, “Dahulu Ibnu ‘Umar shalat sebelem Jum’at 12 raka’at.” (Dikeluarkan oleh ‘Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya 8: 329, dikuatkan oleh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari).

Tidak benar jika dalil-dalil di atas dimaksudkan untuk shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at. Karena seandainya yang dimaksud adalah shalat rawatib tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah punya kesempatan melakukannya. Ketika shalat Jum’at, kebiasaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau keluar dari rumah, lalu langsung naik mimbar (tanpa ada shalat tahiyyatul masjid bagi beliau), lalu beliau berkhutbah di mimbar, lantas turun dari mimbar dan melaksanakan shalat Jum’at.

Jika ada yang menyatakan adanya shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka kami katakan, “Kapan waktu melakukan shalat tersebut di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Jika dijawab, setelah adzan. Maka tidaklah benar karena tidak ada dalil yang mendukungnya. Yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adzan Jum’at hanya sekali.

Jika dijawab, sebelum adzan. Maka seperti itu bukanlah shalat sunnah rawatib. Itu disebut shalat sunnah mutlak.

Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata,

وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء

Adapun shalat sunnah rawatib sebelumm Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2: 426)

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan,

” وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟

“Jika bilal telah mengumandangkan adzan Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti shalat ‘ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qobliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jum’at tersebut)?”

Sumber https://rumaysho.com/2818-adakah-shalat-sunnah-qobliyah-jumat.html

HADITS

203. Bab Shalat Sunnah Jumat

  • فِيْهِ حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ السَّابِقُ أنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
  • Dalam bab ini terdapat hadits Ibnu ‘Umar yang telah lalu uraiannya, bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat setelah Jumat. (Muttafaqun ‘alaih)

 

Catatan:

Hadits yang dimaksudkan oleh Imam Nawawi di sini adalah:

Hadits #1098 dari Riyadhus Sholihin

  • وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتْينِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمُعَةِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ المَغْرِبِ ، وَرَكْعَتَينِ بَعدَ العِشَاءِ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
  • Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Jumat, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1172 dan Muslim, no. 729]

 

Hadits #1126

  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم الجُمُعَةَ ، فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبعاً )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
  • Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian shalat Jumat, maka lakukanlah shalat setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim no. 881]

 

Hadits #1127

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengerjakan shalat bada Jumat sampai beliau pulang, lalu beliau melaksanakan shalat sunnah di rumahnya dua rakaat. (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 882]

Faedah Hadits

  • Pertama: Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah badiyah Jumat dan dorongan untuk melakukannya, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah empat rakaat.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
  • Imam Nawawi rahimahullah juga berkata, “Disebutkan empat rakaat karena keutamaannya. Sedangkan disebutkan dua rakaat untuk menjelaskan bahwa shalat sunnah badiyah Jumat minimalnya adalah dua rakaat. Sudah dimaklumi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat badiyah Jumat empat rakaat karena beliau sendiri yang memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya. Empat rakaat ini lebih banyak mendapatkan kebaikan dan lebih utama.” (Syarh Shahih Muslim, 6:151)
  • Kedua: Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa boleh mengerjakan dua atau empat rakaat. Namun empat rakaat lebih afdal karena tegas dari sabda Rasul. Dan sebaik-baik shalat sunnah adalah di rumah, baik dua atau empat rakaat yang dilakukan. (Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 122)
  • Ketiga: Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Jika seseorang mau, ia bisa melaksanakan shalat badiyah Jumat di masjid. Bisa pula ia melaksanakannya di rumah jika ia mau. Shalat sunnah di rumah itu lebih afdal karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  • أَفْضَلَ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
  • Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781). (Khutob Al-‘Amm minal Kitab was Sunnah, hlm. 76)

Catatan Shalat Sunnah Qabliyah Jumat

  • Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Al-Bazmul hafizhahullah menjelaskan bahwa shalat sunnah qabliyah Jumat tidak ada dengan shalat tertentu. Yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya dan ada dalil yang mendukung hal ini. Lihat Bughyah Al-Mutathawwi’ fi Shalat At-Tathowwu’, hlm. 121.
  • Salah seorang ulama besar Syafi’iyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya. Menurut Ibnu Hajar pula yang ada hanyalah shalat sunnah mutlak sebelumnya. Lihat Fath Al-Bari, 2:426

Yang ada sebelum khutbah Jumat adalah shalat sunnah mutlak,

  • عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
  • Dari Salmaan Al-Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jamaah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jumat yang satu dan Jumat yang lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883)

Menurut pendapat jumhur,

  • Memperbanyak shalat sunnah yang dimaksud adalah sunnah secara mutlak, bukan sunnah rawatib qabliyah Jumat. Jumlahnya pun tidak terbatas dua rakaat, tapi boleh dilakukan semampu mungkin selagi khatib belum naik ke atas mimbar.

Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thalib, Seorang Yang Kuat Lagi Dapat Dipercaya

Kisah Inspiratif Ali Bin Abi Thalib, Seorang Yang Kuat Lagi Dapat Dipercaya

Pada suatu hari, Rasulullah S.a.w. keluar dari rumahnya bersama Ali hingga perjalanan mereka berdua sampai di Ka’bah. Kemudian Rasulullah S.a.w. memerintahkan Ali dengan bersabda, “Jongkoklah”, kemudian Ali pun jongkok. Setelah itu Rasulullah S.a.w. lalu memanjat kedua pundak Ali untuk naik ke atas Ka’bah. Namun karena Usia Ali masih kanak-kanak dan fisiknya lemah, maka ia tidak mampu berdiri menanggung beban badan beliau. Setelah Nabi S.a.w. turun lagi dan berkata kepada Ali, “Kamu naiklah ke kedua pundakku.” Mendapatkan perintah ini, Ali pun lalu naik ke pundak beliau dan beliau kemudian bangkit dengan posisi mengangkat Ali hingga Ali dapat naik di atas Ka’bah yang telah dipenuhi berbagai macam patung yang terbuat dari tembaga. Kemudian ia memporak-porandakan patung-patung tersebut.

Setelah patung-patung di atas Ka’bah porak-poranda, Ali bergegas turun dan mereka berdua dengan segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka berjalan mengendap-endap lalu menyelinap agar tidak ada orang yang melihat mereka. Mereka berdua kemudian bersembunyi di rumah karena khawatir langkah mereka diketahui orang banyak.

Namun melaksanaan perintah Nabi S.a.w. yang lain, tidur menempati ranjang beliau di malam hijrah, adalah satu hal yang paling berresiko dilaksanakan Ali sepanjang hidupnya. Akan tetapi, mari kita simak bersama secara seksama peristiwa apa yang sedang berlangsung pada malam itu.

Pada malam itu, jagoan orang-orang musyrik Makkah berdatangan dari segala penjuru sedang mengelilingi rumah Rasulullah S.a.w. membentuk pagar betis karena hendak membunuh beliau. Dalam kondisi mereka sedang berjaga-jaga ini, Allah kemudian membuat mereka semua tertidur sejenak sehingga Rasulullah S.a.w. dapat keluar dari rumahnya tanpa ada seorang pun dari mereka yang dapat melihat beliau. Kemudian beliau menebar pasir di kepala mereka. Setelah sampai di tempat Ali, beliau bersabda kepada Ali,

“Kamu tidurlah di ranjangku dan tutupilah dirimu dengan selimut tidur yang biasa aku kenakan. Sesungguhnya tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu.”

Ali pun lalu masuk dan tidur di ranjang beliau dengan mengenakan selimut sebagaimana yang dikenakan beliau sebelumnya sewaktu tidur.

Dari sini dapat dipahami bahwa Ali telah memperoleh kehormatan yang mulia. Ia tidur di ranjang beliau tanpa merasa takut sedikit pun dari orang-orang kafir Quraisy yang tengah bersiaga penuh di depan pintu rumah Rasulullah S.a.w. hendak membunuh beliau dengan pedang di tangan mereka. Dalam kondisi semacam ini, jiwa Ali merasa tenang tanpa merasa gentar pada keganasan Abu Jahal berikut teman-temannya karena Nabi S.a.w. telah berjanji bahwasanya mereka semua tidak akan mampu menyakiti Ali.

Setelah Rasulullah S.a.w. meninggalkan rumah untuk berhijrah, orang-orang musyrik lalu masuk ke rumah beliau itu. Namun tatkala mereka membuka selimut badan orang yang berbaring di ranjang incaran mereka, betapa terkejutnya mereka. Karena bukannya menemukan orang yang mereka targetkan, yaitu Nabi S.a.w., tetapi mereka justeru mendapati Ali. Dengan geram mereka kemudian bertanya kepada Ali, “Dimana Muhammad?” Ali pun menjawabnya dengan tenang dan percaya diri, “Aku tidak mengetahuinya.”

Sesungguhnya jawaban yang diberikan Ali ini merupakan tehnik yang ia pelajari dari Rasulullah S.a.w.. Hal ini bisa terjadi karena adanya perasaan percaya akan janji Allah kepada Nabi-Nya bahwasanya dirinya tidak akan mendapatkan penganiayaan sedikit pun. Dan yang demikian ini adalah termasuk sifat kaum mukminin yang benar-benar beriman.

Sementara itu, di luar sana, Nabi S.a.w. telah berangkat menuju Madinah. Sedang Ali tetap tinggal di Makkah untuk mengembalikan barang titipan dan amanat kepada pemiliknya yang ditinggalkan oleh Nabi S.a.w.. Dan sungguh, Ali adalah seorang yang kuat lagi dapat dipercaya.

Kisah Inspiratif Abu Bakar R.a dan Umar R.a: Berlomba dalam Kebaikan

Kisah Inspiratif Abu Bakar R.a dan Umar R.a: Berlomba dalam Kebaikan

Sahabat Abu Bakar R.a. dan Umar R.a. adalah dua menteri Rasulullah dan keduanya juga merupakan ayah mertua dari Rasulullah. Mereka berdua adalah orang yang pertama kali diperintah oleh Rasulullah dalam setiap urusan, sehingga di antara mereka berdua saling mencintai dan mengasihi dan saling berlomba dalam kebaikan, masing-masing ingin mengungguli yang lain.

Dalam persaingan tersebut Abu Bakarlah yang selalu jadi pemenangnya. Dalam perang Tabuk, Umar berkata, “Hari ini aku pasti bisa mengungguli Abu Bakar.” Dia pergi dengan membawa separoh hartanya kepada Rasulullah S.a.w.. Maka Rasulullah S.a.w. bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?”

Umar menjawab, “Aku telah menyisakan separoh harta bendaku untuk keluargaku.”

Tiba–tiba Abu Bakar datang membawa harta bendanya, lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar menjawab, “Aku telah menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Umar pun sadar bahwa pada saat itu kebaikan Abu Bakar telah mengungguli kebaikannya. Bukan hanya pada kali ini saja Abu Bakar selalu mengalahkan Umar dalam masalah kebaikan.

Pada suatu hari setelah melaksanakan shalat subuh, Rasul bertanya, “Siapakah di antara kalian yang melakukan puasa di hari ini?”

Umar berkata, “Wahai Rasulullah, malam tadi aku tidak berniat puasa sehingga sekarang aku tidak berpuasa.”

Abu Bakar berkata, “Aku wahai Rasulullah, malam tadi aku berniat berpuasa sehingga sekarang aku berpuasa.”

Rasulullah S.a.w. bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”

Umar berkata, “Sekarang kita hanya melakukan shalat, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit?”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, lalu aku menjenguknya kemudian baru aku datang ke masjid.”

Nabi S.a.w. lalu melanjutkan pertanyaannya, “Siapakah di antara kalian yang telah berderma di hari ini?”

Umar berkata, “Wahai Rasulullah S.a.w., kami masih selalu bersamamu, bagaimana kami bershadaqah?”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, di saat aku akan masuk ke masjid tiba-tiba ada orang yang meminta-minta, saat itu juga aku melihat putera Abdurrahman bin Abu Bakar membawa sepotong roti, roti itu kemudian aku ambil dan aku berikan kepada peminta-minta tersebut.”

Maka Nabi S.a.w. berkata, “Bergembiralah dengan surga, bergembiralah dengan surga.”

Di belakang Rasulullah S.a.w. yang berada di barisan terdepan dalam meraih kebaikan adalah Abu Bakar tidak terkecuali yang dikalahkan adalah Umar bin Al-Khathab R.a..

Suatu hari, dari kejauhan Umar melihat wanita tua renta yang membutuhkan pertolongan. Maka dia bergegas ingin menolongnya. Namun ternyata ada seorang lelaki yang lebih dahulu menolong wanita tua renta itu.

Pada hari berikutnya, peristiwa tersebut terulang kembali sehingga Umar bertanya kepada wanita tersebut, “Siapakah yang telah memberikan bantuan kepadamu?”

Wanita tua itu menjawab, “Seorang lelaki yang selalu datang kepadaku setiap hari.”

Dari kejauhan ia lalu menanti datangnya laki-laki tersebut ke rumah wanita tua tersebut, ternyata laki-laki yang datang ke rumah wanita itu adalah Abu Bakar. Melihat kenyataan yang seperti itu Umar berkata, “Aku tidak berlomba dengan Abu Bakar dalam sesuatu, kecuali dialah yang memenangkannya.”

Paul Pogba si Bintang Manchester United, Ungkapkan Alasannya Masuk Islam

Bintang Manchester United, Paul Pogba, mengaku bahwa Islam telah telah membuka pikirannya dan menjadikan dirinya lebih baik. Paul Pogba adalah salah satu pesepak bola ternama yang memeluk agama Islam di Manchester, Inggris. Menjadi kaum minoritas, Paul Pogba bercerita alasan kuat yang membuat dirinya memeluk agama Islam ketika hadir dalam sebuah acara podcast bertajuk Life Times.

Pogba mengaku telah banyak merenung atas apa yang ia capai selama ini, sebelum memilih memeluk agama Islam. Menurut gelandang Manchester United itu, ia merasa lebih damai sejak memutuskan untuk menjadi mualaf.
Perasaan damai itu didapat Pogba setelah ia mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Pemain timnas Prancis itu kemudian meneliti agama dan mengikuti sejumlah temannya yang taat melaksanakan perintah ajaran Islam. Pogba mengatakan, bahwa keputusannya menjadi seorang mualaf telah mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih baik.

Paul Pogba

Paul Labilé Pogba adalah seorang pemain sepak bola profesional Prancis yang bermain untuk klub Liga Utama Inggris, Manchester United dan tim nasional Prancis. Ia berposisi sebagai gelandang tengah dan nyaman dalam bermain baik menyerang dan bertahan.

Pogba digambarkan oleh klubnya Manchester United sebagai pemain yang “kuat, terampil, dan kreatif”.[4] Setelah ia pindah ke Juventus F.C. ia mendapatkan julukan Il Polpo Paul (merujuk kepada “Paul si Gurita”) karena kakinya yang panjang dan terlihat seperti tentakel ketika melakukan tackle ataupun saat berlari. Selama berkarier di Italia, Pogba menjadi salah satu pemain muda paling menjanjikan di dunia, dan menerima penghargaan Golden Boy pada 2013 dan Penghargaan Bravo pada 2014. Pada 2016, Pogba masuk ke dalam UEFA Team of the Year 2015, serta FIFA FIFPro World XI 2015, setelah membantu Juventus mencapai Final Liga Champions UEFA 2015 untuk pertama kalinya setelah 12 tahun sebelumnya.
Setelah penampilannya yang baik bersama Juventus, dia kembali ke Manchester United pada 2016 dengan rekor biaya transfer tertinggi pada saat itu, yakni senilai €105 juta (£89,3 juta).[6] Biaya tersebut masih menjadi biaya tertinggi yang dibayar oleh suatu klub dari Inggris.[7]Pada musim pertamanya setelah kembali, dia memenangkan Piala Liga dan Liga Europa.

Pogba telah mewakili negaranya pada semua tingkatan umur tim nasional. Bersama tim nasional U-16, dia menjadi kapten bagi negaranya dalam kemenangan di Piala Aegea dan Tournoi du Val-de-Marne, dan pada level tim nasional U-17 ia bermain pada Kejuaraan Sepak Bola U-17 Eropa UEFA 2010. Dia melakukan debut untuk tim nasional senior Prancis pada 22 Maret 2013 dalam kemenangan 3–1 melawan Georgia. Dia kemudian tampil dengan baik di Piala Dunia FIFA 2014 dan memenangkan Penghargaan Pemain Muda Terbaik. Dia kemudian mewakili negaranya pada Piala Eropa 2016 yang bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara dan menjadi juara kedua, sebelum memenangkan Piala Dunia FIFA 2018 setelah mencetak gol dalam pertandingan final.

Kembali ke Manchester United

Musim 2016–2017

Pada 8 Agustus 2016, Pogba kembali ke klub lamanya, Manchester United, dengan kontrak lima tahun dan memecahkan rekor biaya transfer tertinggi pada saat itu senilai €105 juta (£89,3 juta) ditambah dengan bonus €5 juta, melampaui pemegang rekor sebelumnya Gareth Bale. Agen Paul Pogba, Mino Raiola, menerima €27 juta dari Juventus saat Pogba bergabung kembali ke Manchester United; Juventus mengungkapkan bahwa biaya tersebut merupakan biaya tambahan, sebesar €26,154 juta. The Football Associationmengumumkan bahwa Pogba terkena suspensi dari laga pembuka Premier League musim 2016–2017 melawan Bournemouth karena akumulasi dua kartu kuning dari musim sebelumnya di Coppa Italia saat membela Juventus. Pada 19 Agustus, dia memulai debutnya sejak kembali ke klub dalam pertandingan Premier League melawan Southamptondengan kemenangan kandang 2–0.

Setelah kekalahan kandang 2–1 dalam derby Manchester pertama musim ini pada 10 September, Pogba dikritik karena kurang disiplin dalam memanfaatkan posisi oleh pakar Jamie Carragher. Akan tetapi, Pogba kembali dalam kondisi terbaiknya dan mencetak gol pertama di Premier League melalui sundulan kepala ke gawang juara bertahan Leicester Citydengan kemenangan kandang 4–1 pada 24 September. Dia kemudian mencetak dua gol, yakni gol pertama dari titik penalti dan gol kedua dengan sepakan dari jauh, dalam pertandingan Liga Europa melawan Fenerbahçe dengan hasil imbang pada 20 Oktober. Manajer José Mourinho membela Pogba setelah pertandingan dan mengkritik “Einstein” sepak bola karena terlalu cepat menilai pemain.

Pogba bermain melawan FC Rostov di Rusia, Maret 2017

Pada 26 Januari 2017, Pogba mencetak gol di leg kedua melawan Hull City dengan kekalahan tandang 2–1 dalam babak semi-final, tetapi membuat Manchester United lolos ke babak final dengan skor agregat 3–2. Pada 24 Mei, Pogba mencetak gol pada menit ke-18 dalam pertandingan final Liga Europa melawan klub Belanda AFC Ajax, yang menjadi gol kemenangan saat Manchester United mengalahkan Ajax 2–0 sekaligus memenangkan trofi kontinental pertama bagi United setelah sembilan tahun terakhir. Manchester United mengakhiri musim Premier League 2016–2017 di peringkat keenam, sementara Pogba terlibat dalam 30 pertandingan, mencetak lima gol, dan memberikan empat assist.

Musim 2017–2018

Pogba mencetak gol keempat dalam kemenangan 4–0 atas West Ham United di laga pembuka musim Permier League 2017–2018.[108] Selama pertandingan Babak grup Liga Champions UEFA 2017–2018 melawan Basel dengan mengalahkan Basel 3–0, Pogba mengalami cedera hamstring kiri dan diperkirakan akan melewatkan delapan pertandingan. Dia kembali bertanding pada 18 November saat Manchester United menang 4–1 atas Newcastle United, memberi assist kepada Anthony Martial melalui umpan silang dari samping dan mencetak gol ketiga untuk United. Dalam pertandingan pertamanya pada tahun 2018, yakni pada 1 Januari, Pogba memberikan assist untuk dua gol saat Manchester United mengalahkan Everton dengan skor 2–0. Sepanjang bulan berikutnya, Pogba menjadi subjek kritikan karena kurang disiplin dan tidak menjalankan tugasnya dalam pertahanan. Dia absen dari beberapa pertandingan penting demi Scott McTominay, termasuk kemenangan 2–1 atas Liverpool dan hanya digunakan sebagai pemain pengganti saat timnya tersingkir dari Liga Champions di babak 16 besar oleh Sevilla pada bulan Maret.

Sehari sebelum derby Manchester, manajer Manchester City Pep Guardiola mengklaim bahwa agen Pogba, Mino Raiola, telah menawarkan Pogba untuk bermain di pihak Manchester City, tetapi Raiola menyangkalnya.[114] Dalam pertandingan derby di Etihad Stadium pada 7 April, Pogba mencetak dua gol segera setelah Manchester United kebobolan dua gol di babak pertama, yang berakhir dengan kemenangan Manchester United 3–2 atas rivalnya. Kemenangan ini juga mencegah Manchester City mengamankan gelar juara Premier League, walau pada akhirnya Manchester City menjadi juara Premier League dan Manchester United mengakhiri musim sebagai runner-up. Pada pertandingan Final FA Cup 2018melawan Chelsea, timnya dikalahkan 1–0. Pada saat itu, Pogba gagal memanfaatkan peluang menyeimbangkan kedudukan melalui sundulan kepala di dalam kotak penalti.

Musim 2018–2019

Karena absennya kapten tim Antonio Valencia, Pogba mengambil alih jabatan kapten tim untuk sementara waktu dalam pertandingan pembuka musim 2018–2019. Setelah serangkaian hasil pertandingan yang mengecewakan, Mourinho mengumumkan bahwa Pogba tidak akan menjadi kapten tim lagi. Di akhir September, Pogba dan Mourinho diketahui terlibat pertengkaran selama sesi latihan, meski Mourinho menyatakan bahwa “tidak ada masalah” di antara keduanya

Tafsir Quran Surat At Tahrim 11: Doa selamatkan dari Kaum Dzalim dan Diberi Bangunan Indah Di Surga

1532557707159.jpgDoa Dalam Al Quran: Doa Agar Diberi Bangunan Indah di Surga

  • رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

  • Rabibni lii indaka baitan fil jan nati wa naj jini min firauna wa amalihi wa naj jini minal qaumiz zaalimin

  • Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam sorga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim

QS. At-Tahrim 11

Penjelasan:
Doa di atas baik sekali dibaca oleh para pejuang yang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Karena doa tersebut adalah doanya Asiyah binti Mujahim, isteri Fir’aun. Dan Allah membuat isteri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-MU dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim Maksudnya: sebaliknya sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah

wp-1558247991708..jpg

At-Tahrim, ayat 11-12

{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11) وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (12) }

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika ia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, ” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk kaum mukmin bahwa tiada membahayakan mereka pergaulan mereka dengan orang-orang kafir, jika mereka mempunyai keperluan dengan orang-orang kafir, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً}

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. (Ali Imran: 28)

Qatadah mengatakan bahwa Fir’aun adalah orangyang paling melampaui batas dari kalangan penduduk bumi dan paling kafir di antara mereka.

Tetapi demi Allah, kekafiran suaminya itu tidak membahayakan istrinya karena ia selalu taat kepada Tuhannya, agar mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakim Yang Mahaadil, dia tidak menghukum seseorang melainkan karena dosanya sendiri.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Hafs Al-Aili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Salman yang menceritakan bahwa istri Fir’aun disiksa di bawah terik matahari; apabila Fir’aun beranjak meninggalkannya, maka para malaikat menaunginya dengan sayap mereka, dan tersebutlah bahwa dalam siksaan yang dialaminya itu ia dapat melihat rumahnya di dalam surga. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ubaid ibnu Muhammad Al-Muharibi, dari Asbat ibnu Muhammad, dari Sulaiman At-Taimi dengan sanad yang sama.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Hisyam Ad-Dustuwa-i, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Abu Buzah yang mengatakan bahwa istri Fir’aun bertanya, “Siapakah yang menang (dalam pertandingan itu)?” Maka dikatakan kepadanya, “Yang menang adalah Musa dan Harun.” Lalu ia berkata, “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Maka Fir’aun memerintahkan agar istrinya itu ditangkap seraya berpesan kepada para prajuritnya, “Carilah batu besar oleh kalian yang kalian jumpai. Jika dia tetap pada pendapatnya, lemparkanlah batu besar itu kepadanya. Dan jika dia mencabut kembali ucapannya, maka dia tetap menjadi istriku.” Ketika mereka mendatanginya, ia mengarahkan pandangannya ke langit dan dapat melihat calon tempat tinggalnya di surga, maka ia tetap teguh memegang pendapatnya. Kemudian roh di cabut dari jasadnya dan meninggal dengan tenang, lalu batu besar itu ditimpakan di atas tubuhnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyitir ucapan istri Fir’aun:

{رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ}

Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. (At-Tahrim: 11)

Menurut para ulama, istri Fir’aun memilih tetangga sebelum memilih rumah. Hal yang semakna telah disebutkan dalam suatu hadis yang berpredikat marfu’.

{وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ}

dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya. (At-Tahrim: 11)

Yakni bebaskanlah aku darinya, karena sesungguhnya aku berlepas diri kepada Engkau dari semua perbuatannya.

{وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}

dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim. (At-Tahrim: 11)

Wanita ini bernama Asiah binti Muzahim Radhiyallahu Anhu

Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa imannya istri Fir’aun melalui iman istri bendahara Fir’aun. Kisahnya bermula ketika istri bendahara duduk menyisiri rambut anak perempuan Fir’aun, lalu sisir yang digunakannya itu terjatuh, dan ia berkata, “Celakalah orang yang kafir kepada Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun bertanya kepadanya, “Apakah engkau punya Tuhan selain ayahku?” Istri bendahara menjawab, “Tuhanku, Tuhan ayahmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.” Maka anak perempuan Fir’aun menamparnya dan memukulnya, lalu ia melaporkan hal itu kepada ayahnya.

Fir’aun memerintahkan agar istri bendahara ditangkap, lalu ia menanyainya, “Apakah engkau menyembah Tuhan lain selain aku?” Istri bendahara menjawab, “Ya. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, dan hanya kepada-Nya aku menyembah.” Lalu Fir’aun menyiksanya dengan mengikat kedua tangan dan kedua” kakinya pada pasak-pasak dan melepaskan ular-ular berbisa untuk mengerumuninya. Istri bendahara dalam keadaan demikian hingga pada suatu hari Fir’aun datang dan berkata, “Apakah kamu mau menghentikan keyakinanmu itu?” Tetapi istri bendahara itu justru menjawab, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah.”

Fir’aun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku akan menyembelih anak laki-lakimu yang terbesar di hadapanmu jika kamu tidak mau melakukan apa yang kuperintahkan.” Ia menjawab, “Laksanakanlah apa yang ingin engkau putuskan.” Akhirnya Fir’aun menyembelih anak laki-lakinya di hadapannya; dan sesungguhnya roh anak laki-lakinya menyampaikan berita gembira kepadanya dan mengatakan, “Hai Ibu, bergembiralah, sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala anu dan anu.” Akhirnya ia tetap bersabar dan teguh dalam menghadapi siksaan itu.

Di hari yang lain Fir’aun datang, lalu mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya, maka ia menjawabnya dengan kata-kata yang sama. Kemudian Fir’aun menyembelih lagi putranya yang lain di hadapannya. Dan roh putranya itu menyampaikan berita gembira pula kepada ibunya seraya berkata, “Hai Ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala yang besar sekali.”

Ternyata istri Fir’aun mendengar pembicaraan roh kedua putra istri bendahara itu, akhirnya ia beriman. Lalu Allah mencabut nyawa istri bendahara Fir’aun itu dan menampakkan pahala dan kedudukannya serta kemuliaannya di sisi Allah di mata istrinya Fir’aun, sehingga keimanan istri Fir’aun bertambah kuat dan begitu pula keyakinannya.

Lalu Allah menampakkan keimanan istri Fir’aun kepada suaminya, maka Fir’aun berkata kepada para pemimpin kaumnya, “Bagaimanakah pengetahuan kalian tentang Asiah binti Muzahim?” Ternyata mereka memujinya. Maka Fir’aun berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia sekarang menyembah selainku.” Mereka berkata kepada Fir’aun, “Kalau begitu, bunuh saja dia.” Maka dibuatkanlah untuknya empat buah pasak, kemudian kedua tangan dan kaki Asiah diikatkan pada masing-masing pasak, lalu Asiah berdoa kepada Allah yang disitir oleh firman-Nya: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. (At-Tahrim: 11)

Fir’aun datang menyaksikan ucapannya itu, lalu Asiah tertawa ketika menyaksikan rumahnya di surga. Maka Fir’aun berkata, “Tidakkah kalian heran dengan kegilaannya ini. Sesungguhnya kita menyiksanya, sedangkan dia tertawa.” Maka Allah mencabut nyawa Asiah dan menempatkannya di dalam surga, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepadanya.

wp-1558248245319..jpg

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا}

dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (At-Tahrim: 12)

Yakni memelihara dan menjaga kehormatannya. Al-ihsan artinya memelihara kesucian dirinya dan kehormatannya.

{فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا}

maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami. (At-Tahrim: 12)

Yaitu melalui Malaikat Jibril, karena sesungguhnya Allah mengutus Jibril kepadanya dalam rupa seorang manusia yang sempurna, dan memerintahkan kepada Jibril agar meniupkan ke dalam baju kurungnya sekali tiup dengan mulutnya. Maka tiupan itu turun ke bawah dan memasuki farjinya, lalu terjadilah kehamilan karenanya, yaitu mengandung Isa ‘alaihissalam Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ}

maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya. (At-Tahrim: 12)

yakni beriman kepada takdir dan syariat-Nya.

{وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ}

dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 12)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ، عَنْ عِلْباء، عَنْ عِكْرِمة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: خَطّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ خُطُوطٍ، وَقَالَ: “أَتُدْرُونَ مَا هَذَا؟ ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ: خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, dari Alba, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, “Tahukah kalian apakah ini?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: (ini menggambarkan) wanita-wanita ahli surga yang paling utama. (yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.

Telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ”

Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya keutamaan Aisyah di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya.

Kami telah menyebutkan jalur-jalur hadis-hadis ini berikut lafaz-lafaznya, dan telah kami bahas pula mengenainya dalam kisah Isa putra Maryam ‘alaihissalam dalam kitab kami yang berjudul Al-Bidayah wan Niyahah; segala puji dan anugerah adalah milik Allah.

Telah kami sebutkan pula berita yang disebutkan di dalam hadis yang menyatakan bahwa Maryam dan Asiah binti Muzahim kelak akan menjadi istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di dalam surga, yaitu pada tafsir firman-Nya:

{ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا}

yang janda dan yang perawan. (At-Tahrim: 5)

Demikianlah akhir tafsir surat At-Tahrim, segala puji dan anugerah bagi Allah semata.

wp-1558248369742..jpg

Kontroversi Jaringan Islam Liberal di Indonesia

Kontroversi Jaringan Islam Liberal di Indonesia

Jaringan Islam Liberal adalah forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia. Prinsip yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Kaum liberal modern saat ini selalu dipelopori intelektual muda yang cerdas dan pintar yang berilmu tinggi dari perguruan tinggi Barat. Kaum Islam liberal atau islam progresif ini pada umumnya selalu memicu pertentangan dengan tokoh Islam lainnya karena dalam berbeda pendapat sering menyindir, memperolok bahkan mengejek dengan nada paling benar sendiri. Para kaum liberal ini dalam melakukan opini selalu berorientasi pada rasio pola pikir kecerdasannya tanpa menggunakan landasan rasionalitas Al Quran dan hadist. Bahkan rasio pemikiran mereka cenderung didominasi dengan pemikiran bahwa ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis). Pemikiran progresif Islam Liberal seringkali dilandasi dengan ajaran sekularisme dan pluralisme. Sejarah Konsepsi dan Penyimpangan tiga agenda JIL yang disorot adalah pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah, isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global dan upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel. Tak pelak lagi hal yang dianggap sebagai penyimpangan ajaran itulah yang membuat MUI, Organisasi Islam di Dunia dan berbagai negara beramai ramai menolak Islam Liberal karena dianggap dapat meracuni akidah umat muslim di lingkungannya.

Penolakan gerakan liberal memiliki pandangan yang melenceng dari Islam dan ajaran syariah. Dalam kepercayaan Islam Liberal tersebut, ada konsep pluralisme, percaya bahwa isi pikiran manusia adalah ilham, dan meragukan keaslian Alqur’an, mempertanyakan interpretasi Alqur’an dan hadist. Ajaran liberal tersebut mendorong munculnya interpretasi baru dalam konsep beragama, mempertanyakan ajaran Nabi dan Rasul, hingga menimbulkan metode berbeda mengenai fiqih.

Manifesto Jaringan Islam Liberalimage

NAMA “Islam liberal” menggambarkan prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Kami percaya, Islam selalu dilekati kata sifat, sebab kenyataannya Islam ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir –dengan demikian juga memilih satu kata sifat– yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam liberal, kami membentuk “Jaringan Islam Liberal”. Landasan penafsiran kami adalah:

  1. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kami percaya, ijtihad (penalaran rasional atas teks-teks keislaman) adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan. Kami percaya ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), maupun ilahiyyat (teologi).
  2. Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks. Ijtihad yang kami kembangkan berdasarkan semangat religio-etik Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal.
  3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Kami mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung konteks tertentu; terbuka, sebab setiap penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran adalah cermin kebutuhan penafsir pada masa dan ruang yang terus berubah.
  4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas. Kami berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas minoritas berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas dipahami dalam makna luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, dan ekonomi.
  5. Meyakini kebebasan beragama. Kami yakin, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Kami tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar pendapat atau kepercayaan.
  6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Kami yakin, kekuasaan agama dan politik harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus

Ada dua kelompok yang dikategorikan “musuh” utama Islam liberal. Pertama, konservatisme yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya. Aktivis JIL Ahmad Sahal, menariknya pada periode sahabat. Rujukannya Umar bin Khattab. Dialah figur yang kerap melakukan terobosan ijtihad. Umar beberapa kali meninggalkan makna tekstual Al-Quran demi kemaslahatan substansial. Munawir Sjadzali juga kerap merujukkan pikirannya kepada Umar ketika memperjuangkan kesetaraan hak waris anak laki-laki dan perempuan. Umar menjadi inspirator berkembangnya mazhab rasional dalam bidang fikih yang dkenal sebagai madrasatu ra’yi. Dengan demikian, Sahal menyimpulkan, Islam liberal memiliki genealogi yang kukuh dalam Islam. Akhirnya, Islam liberal adalah juga anak kandung yang sah dari Islam.

Bahkan terdapat Hadis Nabi yang sangat tinggi kesahiannya menegaskan hal yang membuat umat muslim terperanjat. “Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya.Mereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.” KUTIPAN bernada provokatif di atas terpampang sebagai moto sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: Bahaya Islam Liberal. Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”. Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadis Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadis hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah. Buku itu terbit Januari 2002, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang komunitas anak muda yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal (JIL). Penempatan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib tersebut sebagai moto buku mengundang pertanyaan: apakah Islam liberal yang dikupas buku itu, dengan demikian, sudah masuk kriteria kelompok yang dimaksud isi hadis, sehingga wajib dibunuh? Namun haris lebih dipahami bahwa Hadis tersebut  masih bersifat umum. Karena itu, Hartono menyadari, penerapannya bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Maka perlu pelibatan aparat hukum untuk meredam sengketa. Sesuai dengan kaidah fikih: hukum al-hakim yarfa’u al-khilaf (putusan pihak berwenang berfungsi menyudahi polemik).

Sejarah Islam Liberal

Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 saat kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada di gerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan pemurnian, kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi di kalangan Syiah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Islam liberal pada mulanya diperkenalkan oleh buku “Liberal Islam : A Source Book” yang ditulis oleh Charles Kuzman (London, Oxford University Press, 1988) dan buku “Islamic Liberalism : A Critique of Development Ideologies ” yang ditulis oleh Leonard Binder (Chicago, University of Chicago Press, 1998). Walaupun buku ini terbit tahun 1998, tetapi idea yang mendukung liberalisasi telah muncul terlebih dahulu seperti gerakan modernisasi Islam, gerakan sekularisasi dan sebagainya.

Asaf ‘Ali Asghar Fyzee, intelektual muslim India. Fyzee  adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Islam liberal” dan “Islam Protestan” untuk merujuk kecenderungan tertentu dalam Islam. Yakni Islam yang nonortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi masa depan, bukan masa silam. “Liberal” dalam istilah itu, menurut Luthfi Assyaukanie, ideolog JIL, harus dibedakan dengan liberalisme Barat. Istilah tersebut hanya nomenklatur (tata kata) untuk memudahkan merujuk kecenderungan pemikiran Islam modern yang kritis, progresif, dan dinamis. Dalam pengertian ini, “Islam liberal” bukan hal baru. “Fondasinya telah ada sejak awal abad ke-19, ketika gerakan kebangkitan dan pembaruan Islam dimulai. Periode liberasi itu oleh Albert Hourani (1983) disebut dengan “liberal age” (1798-1939). “Liberal” di sana bermakna ganda. Satu sisi berarti liberasi (pembebasan) kaum muslim dari kolonialisme yang saat itu menguasai hampir seluruh dunia Islam. Sisi lain berarti liberasi kaum muslim dari cara berpikir dan berperilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan.

Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai figur penting gerakan liberal pada awal abad ke-19. Hassan Hanafi, pemikir Mesir kontemporer, menyetarakan Abduh dengan Hegel dalam tradisi filsafat Barat. Seperti Hegel, Abduh melahirkan murid-murid yang terbagi dalam dua sayap besar: kanan (konservatif) dan kiri (liberal).

Gerakan liberalisme ini sebenarnya adalah pengaruh dari pada falsafah liberalisme yang berkembang di negara Barat yang telah masuk ke dalam seluruh bidang kehidupan seperti liberalisme ekonomi, liberalism budaya, liberalisme politik, dan liberalisme agama. Gerakan Liberalisme di Barat bermula dengan gerakan reformasi yang bertujuan menentang kekuasaan Gereja, menghadkan kekuasaan politik, mempertahankan pemilikan serta menetapkan hak asasi manusia. Gerakan liberalisme tersebut masuk ke dalam bidang agama, sebagai contoh gerakan reformasi Inggris bertujuan untuk menghapuskan ketuanan dan kekuasaan golongan agama (papal jurisdiction) dan menghapuskan cukai terhadap gereja (clerical taxation). Oleh sebab itu gerakan liberalisme berkait rapat dengan penentangan terhadap agama dan sistem pemerintahan yang dilakukan oleh golongan agama (gereja) atau raja-raja yang memerintah atas nama Tuhan.

image

Gerakan liberalisasi agama ini telah lama meresap ke dalam agama Yahudi dan Kristian. Contohnya, Gerakan Yahudi Liberal (Liberal Judaism) telah muncul pada abad ke-19 sebagai usaha menyesuaikan dasar-dasar agama yahudi dengan nilai-nilai zaman pencerahan (Enlightenment) tentang pemikiran rasional dan bukti-bukti sains. Organisasi Yahudi Liberal diasaskan pada tahun 1902 oleh orang yahudi yang memiliki komitmen terhadap falsafah liberal dengan tujuan mempercayai kepercayaan dan tradisi Yahudi dalam dunia kontemporer. Akibatnya daripada pemahaman liberal tersebut maka daripada 31 pemimpin agama yang tergabung dalam persatuan Rabbi Yahudi Liberal (Liberal Judaism’s Rabbinic Conference) terdapat empat orang rabbi lesbian dan dua orang rabbi gay.

Dalam agama Kristian juga terdapat golongan Kristian Liberal, di mana mereka melakukan rekonstruksi keimanan dan hukum dengan menggunakan metode sosio-historis dalam agama (mengubah prinsip iman dan hukum agama sesuai dengan perkembangan masyarakat), sehingga Charles A. Briggs, seorang Kristian Liberal menyatakan : “It is sufficient that Bibel gives us the material for all ages, and leaves to an the noble task of shaping the material so as to suit the wants of his own time”

Akhir-akhir ini pengaruh liberalisme yang telah terjadi dalam agama Yahudi dan Kristian mulai diikuti oleh sekumpulan sarjana dan pemikir muslim seperti yang dilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir), Muhammad Arkoun (Al Jazair), Abdulah Ahmed Naim (Sudan), Asghar Ali Enginer (India), Aminah Wadud (Amerika), Noorkholis Madjid, Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, Ulil Absar Abdalla (Indonesia), Muhamad Shahrour (Syria), Fetima Mernisi (Marocco) Abdul Karim Soroush (Iran), Khaled Abou Fadl (Kuwait) dan lain-lain. Di samping itu terdapat banyak kelompok diskusi, dan institusi seperti Jaringan Islam Liberal (JIL – Indonesia), Sister in Islam (Malaysia) hampir di seluruh negara Islam.

Golongan Islam Liberal tidak menzahirkan diri mereka sebagai orang yang menolak agama, tetapi berselindung di sebalik gagasan mengkaji semula agama, mentafsir semula al-Quran, menilai semula syariat dan hukum- hukum fiqih. Mereka menolak segala tafsiran yang dianggap lama dan kolot mengenai agama termasuk hal yang telah menjadi ijmak ulama, Termasuk tafsiran dari pada Rasulullah dan sahabat serta ulama mujtahid. Bagi mereka agama hendaklah disesuaikan kepada realita semasa, sekalipun terpaksa menafikan hukum-hukum dan peraturan agama yang telah sabit dengan nas-nas syara’ secara putus (qat’ie). Jika terdapat hukum yang tidak menepati zaman, kemodenan, hak-hak manusia, dan tamadun global, maka hukum itu hendaklah ditakwilkan atau sebolehnya digugurkan.

Gerakan Islam Liberal sebenarnya adalah lanjutan dari pada gerakan modernisme Islam yang muncul pada awal abad ke-19 di dunia Islam sebagai suatu konsekuensi interaksi dunia Islam dengan tamaddun barat. Modernisme Islam tersebut dipengaruhi oleh cara berfikir barat yang berasaskan kepada rasionalisme, humanisme, sekularisme dan liberalisme. Konsep ini mencerminkan jiwa yang tidak beriman kerana kecewa dengan agama. Konsep tragedi ini mengakibatkan mereka asyik berpandu kepada keraguan, dan dalam proses ini falsafah telah diiktiraf sebagai alat utama menuntut kebenaran yang tiada tercapai.

Oleh sebab itu walaupun Jaringan Islam Liberal di Indonesia bermula tahun 2001, tetapi idea-idea Islam Liberal di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970 dengan munculnya idea sekularisasi dan modernisasi Islam yang dibawa oleh Nurkholis Majid, Harun Nasution, Mukti Ali, dan kawan- kawannya, Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton. Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun 1970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh di atas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama.

Kemunculan JIL di Indonesia  berawal dari kongko-kongko antara Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Tempat ini kemudian menjadi markas JIL. Para pemikir muda lain, seperti Lutfi Asyyaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung. Dalam perkembangannya, Ulil disepakati sebagai koordinator. Gelora JIL banyak diprakarsai anak muda, usia 20-35-an tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis. Tujuan utamanya: menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik,” tulis situs islamlib.com. JIL mendaftar 28 kontributor domestik dan luar negeri sebagai “juru kampanye” Islam liberal. Mulai Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Said Agiel Siradj, Azyumardi Azra, Masdar F. Mas’udi, sampai Komaruddin Hidayat. Di antara kontributor mancanegaranya: Asghar Ali Engineer (India), Abdullahi Ahmed an-Na’im (Sudan), Mohammed Arkoun (Prancis), dan Abdallah Laroui (Maroko). Jaringan ini menyediakan pentas –berupa koran, radio, buku, booklet, dan website– bagi kontributor untuk mengungkapkan pandangannya pada publik. Kegiatan pertamanya: diskusi maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran segrup. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal.

image

Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan gender, jilbab, atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi. Dalam situs islamlib.com dinyatakan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia. Seperti munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi “Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil kekerasan. JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya, juga lugas mengungkapkan ide-ide “gila”-nya. Gaya kampanyenya menggebrak, menyalak-nyalak, dan provokatif. Akumulasi gaya ini memuncak pada artikel kontroversial Ulil di Kompas yang dituding  telah menghina lima pihak sekaligus: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.

Konflik

Tokoh muda Islam Liberal ini pada umumnya adalah para intelektualislam muda yang berguru S2 dan S3 di Dunia Barat. Pada umumnya karateristik mereka selalu memperolok ajaran, pendapat dan perilaku tokoh islam lainnya sehingga hal inilah yang menambah kontroversi semakin membumbung. Adapun di antara tokoh mudah liberal yang kontroversial dan memicu pertentangan di kalangan umat Islam adalah:

  1. Ulil Abshar Abdalla, Ulil Abshar Abdalla seorang tokoh Islam Liberal di Indonesia, menolak penafsiran agama yang tidak pluralis atau bertentangan dengan demokrasi yang menurutnya berpotensi merusak pemikiran Islam. Ia mengkritik MUI telah memonopoli penafsiran Islam di Indonesia, terutama karena fatwa yang menyatakan bahwa Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme adalah ideologi sesat. Hal kontroversial yang pernah diungkapkan adalah “Ulil Abshar juga pernah menyebutkan kalau mukjizat Nabi Musa membelah laut sebagaimana yang disebut dalam Al-Quran adalah dongeng, paham seperti itu yang ingin disebarkan disini?. Perilaku kontroversial Ulil yang terbaru adalah Melalui akun resminya, aktivis dan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla berkicau tentang pembenci kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dalam akun resminya tersebut Ulil berkicau, “Kalian yangg benci LGBT, setidaknya mesti ingat: komputer yangg kalian pakai adalah hasil temuan Alan Turing, seorang gay dari Inggris.” Namun, beberapa pemilik akun lainnya ada yang pro-kontra terhadap pernyataan Ulil itu. Beberapa orang membantah dengan berkicau melalui akun ekose85: “Penemu komputer PERTAMA KALI adalah Charles Babbage (lahir 26 Desember 1791 – meninggal 18 Oktober 1871).” Kemudian, ada yang berkicau tentang LGBT-nya. Salah satunya pemilik akun raynurhaq63: “Saya benci lgbt bukan karena takdirnya untuk menjadi lgbt, tetapi karena orientasi seksualnya yang ngajak orang normal, remaja dan anak-anak.”
  2. Sumanto al-Qurtubi Tokoh Islam liberal atau “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal” Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Sumanto adalah doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University Amerika Serikat.  Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi al-Quran”.Meskipun sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaanTokoh liberalisme Sumanto al-Qurtubi penulis buku penistaan terhadap agama “Lubang Hitam Agama” kini sudah resmi menjadi pengajar di negara wahabi. Buku “Lubang Hitam Agama” yang menyesatkan sendiri juga mendapatkan pengantar dari Ulil Abshar Abdalla. Sumanto al-Qurtubi melalui akun facebooknya menyatakan kebanggaannya menjadi staf pengajar di Saudi negeri wahabi tepatnya kampus King Fahd University of Petroleum and Minerals. Pria yang mengaku bercita -cita “MengIndonesiakan Arab” ini mengaku menolak mengajar di kampus barat dan memilih Saudi. Sementara itu, website JIL sendiri sudah berubah bentuk menjadi Islam Nusantara. Tokoh -tokohnya juga banyak yang mulai mengobok -obok NU langsung dari jantungnya. sehingga NUpun secara tidak kasat mata sudah ada kelompok NU garis lurus yang menolak ajaran kaum intelektual liberal ini
  3. Abdul Moqsith Ghazali yang ikut menyusun “Khosois Aswaja” dalam muktamar NU di Jombang ke 33. Kontroversi paling hangat dengan Mantan Menkominfo Tifatul Sembiring. Akhmad Sahalpun mencibir Tifatul dengan mengatakan bahwa  ulama yang alim justru tak gegabah memakai satu atau dua hadis untuk berhukum. Karena untuk bisa menggali hukum dari hadis, syarat keilmuannya berat.”Kalau mengutip hadis untuk hal-hal yang jelas dalam Islam, ibadah, kebaikan, oke aja. Tapi kalo soal hukum, apalagi hukuman mati, kita jangan sok tau,” ujarnya menjelaskan.Tifatulpun menjawab soal cibiran tentang homoseksual. Hadits itu ia unggah dalam sebuah renungan Jumat pekan lalu.  . Tifaul menegaskan, hadits yang ia unggah adalah sahih atau benar. Ini adalah pandangan seluruh Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah. “Kultwit mas Akhmad Sahal, yang sedang kuliah di Amerika Serikat, bahkan mengutip 1 hadits itu pikiran sempit, mengaitkannya dengan ISIS?” Mantan Presiden PKS ini mengaku hanya mengutip satu hadits lalu ia sampaikan di Twitter. “Bukan menulis buku atau tesis tentang homoseks, bagaimana langsung Anda berkonklusi seperti itu?” tanyanya lewat kicauan di Twitter, Senin.  Tifatul mempernyatanyakan premis, latar belakang, signifikansinya, hipotesis dan QQuestion-nya. “Analisisnya, Kok langsung ke kesimpulan mas?” tanyanya kembali. Ia juga mempertanyakan kritikan apa yang hendak disampaikan Sahal terhadap Abdullah bin Abbbas, Imam Ahmad dan empat perawi lainnya terkait hadits tersebut. Apakah sanadnya bersambung, perawinya adil, perawinya dhabith, maqbbul dan illath (tidak ada cacat). Ini cara mengkritisi sebuah hadits. Ia menilai Akhmad Sahal tidak mengkritisi hadits tersebut secara ‘ulumul mustalahul hadits’atau Metode yang digunakan para ulama hadits. “Maaf, mungkin mas Akhmad Sahal tidak mendalami ilmu hadits di sana, sebab belajar Ilmu Hadits, setahu saya bukan ke Amerika tempatnya,”

Penolakan Ajaran Liberalisme

image

 

  • Indonesia Tolak Islam Liberal. Perkembangan JIL di Indonesia bukan tanpa halangan. Karena pemikiran yang bersifat liberal, dibentuklah sebuah komunitas Indonesia yang bernama Indonesia Tanpa JIL atau disingkat ITJ. Demikian juga terdapay sekelompok kaum yang peduli NU juga membentuk kemunitas dengan nama NU garis lurus yang berusaha menolak adanya ajaran tokoh muda liberalisme ini. Misi utama komunitas ini adalah untuk melawan arus ideologi liberalisme dan sekularisme yang disebarkan oleh tokoh-tokoh JIL seperti Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, Sumanto dan lain-lain.
  • KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA. Fatwa MUI tentang Pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
  • NU Tolak Islam Liberal. NU tetap menolak pandangan maupun ajaran Jaringan Islam Liberal (JIL). Juru Bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan dengan tegas bahwa NU secara institusi tidak sepakat dengan ajaran JIL yang diajarkan oleh Penggerak JIL Ulil Abshar Abdalla. “Terdapat tiga poin ajaran Ulil yang tidak sesuai dengan konteks ideologi NU. Ketiga ajaran tersebut antara lain, 1. Pernyataan bahwa semua agama itu benar, 2. Desakralisasi Al Qur’an, 3. Deuniversalisasi Al Qur’an. Kami sangat bertolak belakang dengan ajaran JIL karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. NU tidak memiliki kaitan apapun dengan JIL. Ajaran yang dianut pun jauh berbeda. Sikap tegas NU terhadap JIL sudah terlihat nyata saat diadakannya Muktamar NU 2004 di Boyolali dan Munas NU 2006. NU menganggap ajaran JIL telah menyimpang dari Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Ajaran yang disampaikan para tokoh Islam Liberal  merupakan wacana kosong belaka. Sebab saat ditanyai mengenai tiga poin ajarannya tersebut, para tokoh Islam Liberal tidak bisa menjelaskan dalil-dalil yang dipakainya dengan baik dan lengkap. Tokoh Islam Liberal hanya mengutip dalil itu sepotong-sepotong untuk mendukung pemikirannya saja. Ada dalil yang dikutip tidak lengkap. Terkait dengan adanya kabar yang mengatakan bahwa terdapat anggota NU yang juga anggota JIL, Abdullah mengatakan, secara ideologi jika ada anggota NU yang masuk JIL berarti dia sudah keluar dari NU.
  • Muhamadiyah Secara Tersirat Tolak Islam Liberal. Mantan pemimpin Muhamadiyah Din Syamsuddin dalam buku berjudul “Pemikiran Muhammadiyah: Respons Terhadap Liberalisasi Islam, (Surakarta: UMS, 2005), Din menyatakan, bahwa Muhammadiyah “tidak sejalan dengan paham ekstrem rasional dikembangkan Islam Liberal, meski beberapa oknum terutama di kalangan muda atau yang merasa muda ikut-ikut berkubang di jurang “liberalisme Islam”. Dalam buku ini menegaskan sikap Muhammadiyah yang ingin mengambil “posisi tengahan” yang secara teologis merujuk kepada al-Aqidah al-Wasithiyah. Secara tegas, mengkritik penjiplakan membabi buta terhadap paham rasionalisme dan liberalisme, termasuk di kalangan Muhammadiyah. Begitu juga ketika datang tawaran pemikiran rasionalisme dan liberalisme, tidak sedikit generasi muda Muhammadiyah, dan mereka yang masih merasa muda, terseret dalam arus liberalisme dan rasionalisme tersebut. Muncul di sementara generasi Muhammadiyah yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah produk budaya lokal (Arab), sehingga seluruh isinya adalah zhanni. Dakwah Islam, bukanlah mengajak manusia untuk ber-Islam, baik kepada yang sudah muslim apalagi yang belum muslim, dakwah tidak mengurusi keyakinan dan iman seseorang, tetapi hanya menata kehidupan yang harmonis diantara berbagai keyakinan dan mengatasi berbagai problem kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Itulah sebagian kritik yang pernah disampaikan oleh Din Syamsuddin terhadap ide-ide liberalisme yang berkembang di tubuh Muhammadiyah. Kaum Islam Liberal di tubuh Muhammadiyah menjerit, karena misi mereka gagal. Semula, mereka berharap, Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang akan menjadi momentum penting untuk semakin leluasa menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan penyebaran ide-ide liberal ke umat Islam Indonesia. Sukidi Mulyadi, aktivis Islam Liberal di Muhammadiyah yang juga mahasiswa Teologi di Harvard University, menulis di majalah TEMPO edisi 17 Juli 2005, bahwa “Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dari formatur 13 juga dapat dibaca sebagai kemenangan anti-liberalisme dalam muktamar.”
  • Dunia Tolak Islam Liberal Begitu juga di belahan dunia lainnya gerakan JIL kerap dilarang negara-negara islam. Pasalnya, mereka berpendapat jika ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks dengan menggunakan rasio dan selera. Karenanya pemikiran JIL dianggap tidak sejalan dengan akidah.
  • Malaysia Tolak keras Islam Liberal. Pemerintah Malaysia akan mengawasi pergerakan Muslim liberal. Dilansir dari The Star, Jumat (18/3), kewenangan Malaysia akan meningkatkan langkah untuk mengembalikan mereka ke ajaran tradisional Islam. Menteri dalam Departemen Perdana Menteri bagian hubungan Islam, Jamil Khir Baharom, menyatakan kelompok-kelompok liberal tersebut akan diawasi. Publikasi mereka di media massa juga akan disensor jika mereka mencoba menembus ranah publik. Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi menegaskan bahwa pemerintah Malaysia melarang tokoh Islam Liberal Indonesia Ulil Abshar Abdalla masuk ke Malaysia sebab dikhawatirkan akan menyesatkan aqidah Muslim Malaysia Ulil akan menyesatkan umat Islam di negara ini jika diperbolehkan untuk menyebarkan pemikiran liberalisme di sini. Bahkan penolakan Islam liberal tersebut juga dilakukan oleh para ulama Ulama Malaysia , UMNO dan kepolisian Malasia Larang Tokoh Liberal. Persatuan Ulama Malaysia, UMNO dan Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) menyatakan menolak kedatangan tokoh Jaringan Islam Liberal Indonesia, JIL, Ulil Abshar Abdalla untuk mengisi ceramah diskusi yang bertajuk “Tantangan Fundamentalisme Agama Abad ini” yang digelar oleh LSM Front Kebangkitan Islam (IRF) pada 18 Oktober di Kuala Lumpur. Presiden ISMA Abdullah Zaik Abd Rahman medesak umat Islam Malaysia untuk menolak paham asing yang diakuinya mempromosikan atheisme, kekufuran, dan sistem hidup anti agama. Presiden ISMA mengungkapkan bahwa tokoh liberal lslam mencoba mengambil keuntungan atas kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pengalaman hidup masyarakat Islam sebagai cara untuk mempertanyakan Islam, oleh karena itu ini harus ditentang tegas,” Ujar Zaik, seperti dilansir dalam situs ISMA. Anggota Dewan Tertinggi UMNO Datuk Puad Zarkasi menegaskan jika diskusi yang menampilkan Ulil Abshar tersebut tidak layak diselenggarakan karena akan mengganggu akidah.Senada dengan UMNO dan Isma, Persatuan Ulama Malaysia (PUM), juga menolak keras kehadiran ulil di Malaysia, Sekretaris Jenderal PUM Mohd Roslan Mohd Nor mengatakan kehadiran Ulil tidak layak dan terlihat menantang otoritas Islam di Malaysia. Dalam Pernyataannya, Mohd Roslan juga menyatakan kalau Ulil terlalu banyak mempertanyakan ketentuan agama yang bersifat hakiki dan merendahkan agama islam. Politisi Malaysia Zulkifli Noordin dalam maklumatnya bahkan menuntut agar Ulil diusir dengan tidak hormat jika datang ke Malaysia untuk berceramah.  “Saya meminta agar pihak berkuasa mengeluarkan perintah “persona non-grata” terhadap Dr. Ulil Abshar Abdalla dan melarang beliau daripada memasuki negara ini bagi tujuan itu,” kata Zulkifli.
  • Arab Saudi penjarakan Tokoh Jaringan Liberal Saudi. Sebuah pengadilan Arab Saudi baru saja menjatuhkan hukuman penjara selama 10 tahun dan 1.000 cambukan atas pendiri Jaringan Liberal Saudi, Raef Badawi karena dinilai menghina Islam dan melecehkan ulama. Raef Badawi juga didenda lebih US$250.000 atau Rp2,8 miliar.Menurut dokumen pengadilan, pria itu dinyatakan bersalah menghina ulama, mengkritik polisi syariah dan dianggap dapat mendatangkan dampak buruk bagi umat Islam. Pengacara Raef mengatakan hukuman ini terlalu keras meskipun pihak jaksa meminta hukuman yang lebih keras lagi, lapor laman Sabq. Amnesty International menggambarkan keputusan pengadilan tersebut sebagai “berlebihan” dan mendesak penguasa untuk membatalkannya. Tetapi akhirnya bulan Juli 2013 Badawi dihukum tujuh tahun penjara dan 600 cambukan.

sumber: wikipedia dan berbagai sumber lainnya

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:

www.islamislami.com

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online https://www.facebook.com/pages/Islamislamicom TWITTER: @audiyudhasmara FACEBOOK: facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara . –www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Copyright © 2016, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Wujud dan Tugas Malaikat Harut dan Marut

Wujud dan Tugas Malaikat Harut dan Marut

Harut dan Marut (Bahasa Arab: هاروت وماروت, transliterasi: Hārūt dan Mārūt) adalah dua malaikat yang diutus oleh Allah ke negeri Babilonia. Nama mereka disebutkan di dalam Al Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 102:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya, dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah, dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah 102) ”

Para mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti Malaikat.

Khotbah Jum’at Pilihan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim

Khotbah Jum’at Pilihan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim

Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْوَلِيِ الْحَمِيْدِ ، اَلْعَظِيْمِ الْمَجِيْدِ ، اَلْفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ ، ذِيْ الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةٌ مُقِرّ لَهُ بِالتَّوْحِيْدِ ، مُنَـزِّهٌ لَهُ عَنِ الشَرِيْكِ وَالنَّدِيْدِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أُوْلِي الْفَضَائِلِ وَالمَكَارِمِ وَكُلِّ خُلِقَ حَمِيْدِ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَالْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ ، وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَ عَلَا : عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Ibadallah,
Ketahuilah tujuan yang paling utama dari syariat adalah mengesakan pengatur alam semesta langit dan bumi ini. kita realisasikan pengesaan Allah Jalla wa ‘Ala ini dengan merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya. Demikian juga dengan menghadapkan diri kepada-Nya dengan takut dan penuh harap, sujud dan rukuk, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya dan berlepas diri dari kesyirikan baik yang kecil ataupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi. Inilah tujuan penciptaan kita manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Inilah tujuan Allah Jalla wa ‘Ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36).
Firman-Nya juga,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya: 25).
Ibadallah,
Dengan tauhid seorang hamba akan hidup dengan kehidupan yang sebenarnya. Ia akan mendapatkan ridha dari yang Yang Maha Pengasih, akan berhasil dengan kemuliaan dan kenikmatan surga. Sebaliknya, tanpa tauhid seseorang akan hidup layaknya hidupnya hewan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“…Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon: 44).
Orang yang tidak bertauhid, hakikatnya mereka adalah mayit, walaupun mereka berjalan di bumi. Hanya orang-orang yang bertauhidlah yang hidup dengan sepenuhnya dan hidup dalam arti yang sebenarnya. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَ مَن كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan…” (QS. Al-An’am: 122).
Maksudnya, kami hidupkan dengan keimanan dan tauhid. Dalam ayat yang lain Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfal: 24).
Dengan tauhid, sebuah negara akan menjadi negeri yang aman aman, tenang dan bahagia rakyatnya.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).
Dan firman-Nya,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55).
Dengan tauhid kebahagiaan dan ketenangan individu pun diperoleh. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Dan firman-Nya,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123-124).
Petunjuk tersebut akan membahagiakan seseorang dan orang-orang yang mengikutinya.
Ibadallah,
Dengan tauhid hati seseorang akan bersih dari keragu-raguan, kebimbangan, was-was, dan pemikiran-pemikiran yang hina. Tauhid akan membuat seseorang tenang, nyaman, dan merasakan ketentraman. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.” (QS. An-Nas: 1-3).
Tiga ayat ini menjelaskan tentang tauhid. Kemudian ayat berikutnya adalah buahnya.
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas” 4-6).
Dengan tauhid setan-setan akan terusir. Mereka tidak akan bertahan di tempat dimana tauhid dipraktikkan. Ketika adzan berkumandang setan akan berlari terkentut-kentut. Dan kalimat-kalimat adzan adalah pengesaan Allah (tauhid) dan pengagungan-Nya. Ayat kursi adalah ayat tentang tauhid, apabila ayat kursi dibaca oleh seorang mukmin ketika ia hendak tidur, maka ia akan senantiasa berada dalam penjagaan Allah hingga pagi hari, dan setan tidak mampu walaupun hanya sekedar mendekatinya.
Dengan tauhid seorang hamba akan selamat –biidznillah- dari tipu daya kejahatan, seperti kejahatan sihir dan para dukun. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Hajj: 38).
وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)
Ibadallah,
Dengan tauhid seorang hamba akan memperoleh seluruh kebaikan, dan kebahagian di dunia juga akhirat. Dan Allah Jalla wa ‘Ala telah menetapkan bahwasanya kebahagiaan di dunia, di alam kubur, dan akhirat hanya akan diperoleh orang-orang yang beriman dan bertauhid. Dia berfirman,
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithar: 13).
Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertauhid, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, beriman kepada-Nya, mengagungkan-Nya. Dan kita juga memohon agar Allah melindungi kita semua dari semua bentuk kejelekan baik yang tersembunyi maupun yang tampak, baik yang kecil maupun yang besar.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ
Sesungguhnya mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala adalah perintah pertama dan perintah yang paling agung yang harus selalu diingatkan kepada manusia. Allah Ta’ala berfiman,
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (55) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 55-56).
Seseorang sangat butuh untuk selalu memperbarui dan terus mempertebal keimanannya. Terus mempererat hubungannya dengan Rabb-nya Jalla wa ‘Ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الخَلِق ، فَاسْألُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sungguh, iman itu dapat usang sebagaimana pakaian dapat menjadi usang. Karenanya mohonlah selalu kepada Allah agar memperbaharui iman yang ada dalam jiwamu.”
Pada masa dimana fitnah begitu dahsyat dan seruan kepada hawa nafsu begitu kencang tentu kita sangat butuh untuk terus menguatkan tauhid kita. Dan anak-anak sangat butuh tumbuh besar dalam pengarahan dan pendidikan yang mulia. Sebagaimana Lukman mendidik anaknya,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah sebesar-besar kezaliman.” (QS. Lukman: 13).
Ibadallah,
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang pasti berlalu, bukan kehidupan yang kekal abadi. Dan balasan dari apa yang kita perbuat ada pada hari perjumpaan kita dengan Allah.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).
Bersih dari syirik dan bersih dari segala yang membuat Allah Jalla wa ‘Ala benci dan murka.
Ibadallah,
Orang yang cerdas adalah mereka yang menundukkan jiwanya untuk beramal sebagai bekal kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya serta panjang angan-angannya.
Ketahuilah, perkataan yang paling benar adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang baru dan dibuat-buat dalam agama. Dan sesuatu yang dibuat-buat dalam agama, adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan. Dan kesesatan tempatnya di neraka.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَيَخْشَاكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا ، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ ، لَكَ شَاكِرِيْنَ ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ لَكَ مُطِيْعِيْنَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا ، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا ، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا ، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا ، وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا ، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا. اَللَّهُمَّ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Siapakah Syaikh Abdurrazzab bin Abdul Muhsin al-Abbad : Kedudukan Tauhid ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

  • Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:
  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

wp-1560153827661..jpg

 

Khotbah Jum’at Pilhan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Bukti Cinta Kepada Nabi

Khotbah Jum’at Pilhan Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad : Bukti Cinta Kepada Nabi

Khutbah Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَعَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، أَمَّا بَعْدُ :
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .
Ibadallah,
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia mengutus seorang rasul yang amin, menasihati umat, dan sayang kepada hamba-hamba Allah. Dialah Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Tabaraka wa Ta’ala memilihnya sebagai seorang rasul untuk manusia dan rahmat bagi alam semesta. Allah melapangkan dada beliau, mengangkat kedudukanya, dan menjadikan hina orang-orang yang menyelisihi risalahnya.
Allah mengutusnya di akhir zaman sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan sebagai penyeru kepada Allah bak lentera yang menerangi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya dengan penjelasan yang terang, sebagaimana dia shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلا هَالِكٌ
“Aku tinggalkan kalian pada suatu yang putih cerah, malamnya bagaikan siang. Tidak ada orang yang berpaling darinya kecuali ia binasa.”
Ibadallah, sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencintai beliau berarti mencintai Allah dan menaatinya berarti menaati Allah Tabaraka wa Ta’ala. Banyak sekali dalil baik dari Alquran maupun sunnah, yang menjelaskan tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mencintai beliau akan berdampak pada kehidupan yang berkah baik di dunia maupun di akhirat.
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia-manusia lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْآنَ يَا عُمَرُ
“Wahai Rasulullah, sungguh Anda adalah seorang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku.” Maka, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak (demikian), demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih kamu cintai dibandingkan dirimu.” Lalu Umar berkata kepada beliau, “Sesungguhnya sekarang, demi Allah, Anda adalah orang yang paling aku cintai (bahkan) dari diriku”, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang, wahai Umar”. (HR. Bukhari).
Yakni sekarang engkau telah beriman dengan keimanan yang sempurna.
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، قَالَ صلى الله عليه وسلم أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ )) . قال أنس: ((فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ . قَالَ أَنَسٌ : فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
“Ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan masih banyak hadits-hadits semisal ini. Banyaknya hadits-hadits semisal ini menunjukkan penekakan akan wajibnya bagi setiap muslim dan mukmin untuk mencitai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta yang melebihi cinta terhadap dirinya sendiri, orang tuanya, anak-anaknya, dan manusia manapun selain beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab: 6)
Ayat ini mempertegas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama dari diri kita, sehingga wajib bagi kita mencintai beliau lebih dari mencintai diri kita sendiri.
Ibadallah,
Berikut ini permasalahan agung yang berkaitan dengan mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: Bagaimana kita mengekspresikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau dengan kata lain apa wujud dari cinta kepada Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Ibadallah,
Yang pertama dan yang paling penting dalam mengekspresikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengikuti beliau dengan ketulusan, meneladani petunjuknya, mencontoh sunnahnya, dan berpegang teguh dengan apa yang ia bawa. Ini adalah tanda cinta yang nyata dan jujur atas kecintaan kita kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. (QS. Ali Imran: 31).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini adalah hakim bagi orang-orang yang mengaku mencintai Allah, namun mereka tidak menempuh jalan petunjuk Nabi Muhammad. Yang demikian adalah pengakuan yang dusta. Sampai mereka buktikan dengan mengikuti Syariat Nabi Muhammad, bergaya hidup dengannya baik dalam perkataan maupun perbuatan.”
Oleh karena itu, para ulama mengatakan, ayat ini adalah ayat ujian. Maksudnya, bagi siapa yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus ukur dirinya dengan ayat ini. Apabila ia mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenar-benarnya, maka ini adalah tanda yang nyata dari kebenaran cintanya. Lantaran inilah banyak hadits-hadits yang memperingatkan kita dari membuat-buat amalan dalam agama (bid’ah). Hal ini menutup kemungkinan agar seseorang yang mengaku mencintai Nabi tidak menempuh jalan yang tidak semestinya. Nab shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka ia tertolak.”
Ibadallah,
Di antara tanda cinta yang jujur kepada Nabi adalah menjaga adab terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63).
Firman-Nya yang lain,
لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
“janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi” (QS. Al-Hujurat: 2).
Dan ayat-ayat yang lainnya yang menjelaskan bahwa kita harus beradab terhadap Nabi, mengetahui kedudukannya, dan mengangungkannya. Tentu saja dengan pengagungan yang selayaknya (tidak meremehkan dan tidak berlebihan). Mengagungkan dengan hati dengan mencintai dan mengetahui kedudukan beliau. Mengagungkan dengan lisan dengan memujinya dengan tidak berlebihan dan bershalawat kepadanya. Mengagungkannya dengan anggota tubuh yaitu dengan mengikuti petunjuk beliau. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Tanda kesempurnaan cinta kepada beliau yang lainnya adalah dengan banyak menyebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengharapkan perjumpaan dengan beliau. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta.” (HR. Muslim).
Sebagian sahabat mengatakan,
غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّهْ ؛ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهْ
“Esok kita akan berjumpa dengan orang yang paling dicinta, Muhammad dan orang-orang yang bersamanya.”
Termasuk tanda cinta kepada beliau adalah banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama saat menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di hari Jumat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الجُمُعَة
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat.”
Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku menyukai bershalawat kepada Nabi dalam setiap keadaan. Dan pada hari Jumat dan malam Jumat, aku lebih menyukainya lagi.”
Ibadallah,
Termasuk tanda cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencintai keluarganya, istri-istrinya, dan para sahabatnya. Allah Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab: 6)
Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
“Atas nama Allah, aku ingatkan kalian akan keluargaku.” (HR. Muslim). Beliau mengulang sabdanya ini tiga kali.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengatakan,
ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ
“Perhatikanlah (jagalah) oleh kalian hak Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah ahli bait (keluarga) beliau.” (Riwayat Bukhari).
Sabdanya,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Sekiranya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu mud atau setengah mud dari salah seorang mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Wujud ekspresi kecintaan yang lainnya adalah mencintai sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencintai orang-orang yang berpegang teguh dengannya dan mendakwahkannya. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, ‘Wahau Rasulullah, bagaimana pendapat Anda terhadap seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum namun mereka tidak berjumpa dengannya”? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai’.”
Inilah di antara tanda-tanda yang benar terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita memohon kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, agar ia menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cinta yang hakiki dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti beliau. Dan kita memohon kepada-Nya agar kita dikumpulkan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Ibadallah,
Di tengah keasingan agama ini dan sedikitnya orang yang mempelajari serta mengenal petunjuk sayyidul anbiya wal mursalin shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada suatu permasalahan yang mengherankan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebuah permasalahan yang masyarakat menganggapnya sebagai ekspresi kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai suatu perayaan, demikian juga hari isra dan mi’raj beliau, dan hari hijrah beliau.
Berkumpulnya orang untuk merayakan hari ini, membaca pujian dan sanjungan-sanjungan kepada beliau yang kata mereka sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang demikian ini –ibadallah- walaupun diniatkan untuk mencintai beliau, tidaklah dibenarkan. Karena ini termasuk bentuk kekeliruan dalam mengekspresikan cinta kepada beliau. Yang tidak pernah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya mengekspresikan kecintaan kepada Nabi dalam bentuk yang demikian.
Ibadallah,
Tidak ada satu orang pun dari para sahabat radhiallahu ‘anhu yang mengekspresikan kecintaan dalam bentuk demikian. Dan para sahabat adalah mereka yang mengekspresikan cinta kepada Nabi dengan tanpa membuat amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Karena itu, dalam mengekspresikan kecintaan kita kepada Nabi haruslah mencontoh bagaiamana sahabat mengekspresikan kecintaan mereka kepada beliau.
Orang yang cerdas adalah mereka yang berpegang kepada teguh kepada sunnah dan meneladani jalannya para sahabat. Dan mereka mawas diri dari sesuatu yang baru dalam agama atau perkara bid’ah yang sama sekali tidak Allah turunkan tuntunannya mengenai hal itu, baik di dalam Alquran maupun sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:56] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةِ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وُلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَقْوَى ، وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ محمد صلى الله عليه وسلم .
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَةَ وَالغِنَى. . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ ؛ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَ المُذْنِبِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَتُبْ عَلَى التَّائِبِيْنَ وَاكْتُبْ الصِحَّةَ وَالعَافِيَةَ وَالسَّلَامَةَ لِعُمُوْمِ المُسْلِمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Siapakah Abdur Razaq Bin Abdul Muhsin ?

Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad (lahir 22 Dzulqaidah 1382H di Zulfi, Riyadh, Saudi Arabia) adalah seorang ulama kenamaan di Saudi Arabia yang menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi, Madinah, Saudi Arabia. Dia adalah putra dari ulama senior, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad.

Nama lengkap dia Abdurrazaq bin Abdil Muhsin bin Hamd bin Abdil Muhsin bin Abdillah bin Hamd bin ‘Utsman Al Abbad Alu Badr. Adapun Al Abbad adalah laqb dari kakek buyut dia, Abdullah bin Hamd, dia ber-intisab kepadanya. Sedangkan Alu Badr merupakan sebutan untuk keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah Al-‘Adnaniyah. Nenek dia adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.
Dia dilahirkan pada tanggal 22/11/1382 H di desa Zulfi (300 km dari utara Riyadh), Provinsi Riyadh, Saudi Arabia. Dia tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah dia sendiri. Keluarga dia adalah keluarga ‘alim yang sangat perhatian pada ilmu agama. Ayah dia, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, adalah ulama besar ahli hadits yang diakui keilmuannya di zaman ini.

Pendidikan dan guru

Dia menuntut ilmu di jenjang universitas khususnya dalam bidang Aqidah sampai meraih gelar Doktoral. Dia juga menimba ilmu dari para ulama besar Saudi Arabia, di antaranya:

  • Ayah dia, al-Allâmah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh
  • Al-Allamah Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
  • Al-Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Alî Nâshir Faqîhî hafizhahullâh
  • Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdullâh al-Ghunaimân hafizhahullâh

Aktifitas

  • Dia adalah salah satu tim pengajar dan guru besar bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi tetap pengajian di Masjid Nabawi, yang tidak sembarang ulama diizinkan mengajar di sana.
  • Dia pun aktif menjadi narasumber di majelis pengajian yang disiarkan televisi dan radio Saudi Arabia. Dia juga menjadi pengisi kajian rutin di Radio Rodja 756 AM yang diterjemahkan oleh para asatidz Indonesia yang belajar di Saudi Arabia.

Sumber : KhotbahJumat.com dan sumber lainnya

« Entri Lama