Author Archives: Umat Indonesia

Pengurusan jenazah pasien dan Shalat Jenzah yang terkena Covid19

wp-1584263363290.jpg

Pengurusan jenazah pasien yang terkena Covid19

  • Pertama-tama kita doakan dahulu agar si mayit mendapatkan pahala mati syahid karena wabah. Ini pahala yang sangat besar. Jenazah pasien yang terkena masih bisa menularkan terutama cairan-cairan dari jenazah tersebut, sehingga dalam bentuk kehati-hatian jenazah pasien covid19 diperlakukan berbeda yaitu dibungkus plastik untuk melindungi agar tidak ada cairan yang keluar.
  • Apabila keadaannya darurat seperti ini jika jezanah dishalatkan, dimandikan dan dikafankan oleh petugas yang terlatih dan memakai APD. Apabila tidak ada dan dalam keadaan darurat jenazah boleh tidak dimandikan tetapi ditayamumkan saja.
  • MUI telah mengeluarkan fatwa terkait hal ini, silahkan merujuk pada fatwa MUI.
    Silahkan download: https://mui.or.id/produk/fatwa/27752/fatwa-no-18-tahun-2020-pedoman-pengurusan-jenazah-tajhiz-al-janaiz-muslim-yang-terinfeksi-covid-19/

Shalat ghaib bagi jenazah yang terkena covid19

  • Shalat jezanah hukumnya fardhu kifayah artinya apabila sudah dishalatkan oleh tim penyelanggara jezanah khusus covid19, maka ini sudah mencukupi.
  • An-Nawawi menjelaskan hal ini adalah ijma’,
    الصلاة علي الميت فرض كفاية بلا خلاف عندنا وهو إجماع
    “Shalat jenazah terhadap mayit hukumnya fardhu klfayah dan tidak ada perselisihan dalam mazhab kami, ini adalah ijma’” [Al-Majmu’ 5/167]

  • Lalu, apakah boleh shalat ghaib? Dalam hal ini bisa memilih pendapat bahwa shalat ghaib itu khusus bagi jenazah yang tidak dishalatkan sama sekali sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang melakukan shalat ghaib bagi raja Najasyi yang meninggal ditengah rakyatnya yang tidak beriman. Tentu tidak ada yang menshalatkan jenazah raja Najasyi. Begitu juga dengan kasus jenazah kapal tenggelam atau pesawat tenggelam yang tidak ditemukan jezanahnya.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan,
    الصواب أن الغائب إن مات ببلدٍ لم يصلَّ عليه فيه، صلي عليه صلاة الغائب، كما صلى النبي صلى الله عليه وسلم على النجاشي
    “Pendapat yang benar adalah shalat ghabi dilakukan bagi mayit berada di daerah yang tidak ada yang menshalatkannya, maka kita shalat ghaib baginya sebagaimana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam shalat ghaib untuk raja Najasyi.” [Zadul Ma’ad 1/301]
  • Kita masih bisa melakukan kebaikan yang banyak untuk si mayit selain shalat ghaib yaitu dengan mendoakannya atau bersedekah atas namanya.

wp-1584263363361.jpg

Hukum Hand Sanitizer Alkohol

wp-1584263363250.jpgHukumnya Hand Sanitizer alkohol

Karena alkohol itu secara zatnya tidak memabukkan. Yang memabukkan itu adalah “minuman beralkohol”, jadi bedakan antara alkohol dan “minuman beralkohol” kita ambil contoh misalnya alkohol 70% yang dipakai untuk hand sanitizer, apabila diminum tidak menyebabkan mabuk tetapi menyebabkan kematian. Jadi ‘iilat atau alasannya bukan karena ada alkoholnya tapi apakah menyebabkan mabuk atau tidak sebagaimana hadits dan kaidahnya:

  • كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ“Setiap yang memabukan adalah khamr (HR. Muslim)

wp-1584263363361.jpg

Menjamak Shalat Tenaga Medis Sedang Berjaga Di Ruang Isolasi data Memakai APD

wp-1584263363290.jpgMenjamak shalat bagi tenaga medis yang sedang berjaga di ruang isolasi dan memakai APD (Alat Pelindung Diri)

Di mana pemakaian APD terkadang ini tidak boleh dilepas dalam jangka waktu shit semisal 8 atau 12 jam. Petugas medis boleh menjamak shalat baik itu shalat jamak taqdim atau jamak takhir yang memudahkan mereka, karena ketika sudah memakai APD sulit untuk berwudhu dan tayammum. Hanya boleh jamak saja, tidak boleh diqashar karena qashar itu hanya hak orang yang musafir saja.

Apabila masuk waktu subuh dan shalat subuh tidak bisa dijamak, dan saat itu petugas tidak bisa wudhu maupun tayammum, maka ia boleh shalat dalam keadaan tanpa wudhu dan tayammum. Sebagaimana shalat ketika perang sedang berkecamuk di bawah kilatan pedang, ia shalat semampunya tanpa wudhu dan tayammum. Hal ini adalah kemudahan dari Allah

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”

[QS. At-Tagabun: 16.]

wp-1584263363332.jpg

 

 

Hukum shalat mengunakan masker ketika ada wabah Corona adalah boleh/muba

 

wp-1584263363250.jpgHukum shalat mengunakan masker ketika ada wabah Corona adalah boleh/mubah

Memang hukum asalnya menutup mulut adalah makruh karena ada ada hadits larangannya.

Dari Abu Hurairah,

  • أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ.
  • “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat.”[HR, Tirmidzi & Ibnu Majah]

Tetapi ketika ada hajat penting karena wabah, maka hukumnya menjadi boleh. Sebagaimana kaidah

  • فكل مكروه عند الحاجة يُباح،
  • “Semua hal makruh ketika ada hajat menjadi mubah”

wp-1584263363361.jpg

 

Dzikir dan Doa Pilihan Saat Panik Hadapi Wabah

wp-1584263363332.jpg

Dzikir dan Doa Pilihan Saat Panik Hadapi Wabah

Hanya dalam 2-3 bulan Allah menurunkan 1 virus berukuran 125 nanometer seketika umat dunia kocar kacir tak berdaya. Dunia sudah kerahkan pakar kedokteran paling pintar di segala bidang, teknologi kesehatan paling canggih sudah digunakan, jumlah dana yang fantastis sudah digelontorkan, kekuatan militer paling sangar sudah ditaruh di garda terdepan dan daerah wabah sudah ditutup rapat. Tetapi ratusan ribu korban sakit tetap tak terhindarkan dan puluhan ribu nyawa tetap tak tertolong sesuai kurva “Herd immunity”. Mungkin inspirasi positif dari pengalaman dunia yang telah lebih dahulu diberi cobaan Allah yang luarbiasa ini adalah terus berusaha lebih dahsyat, berdoa dan berdzikir lebih hebat dan bantu sesama lebih ikhlas. Siapapun dia, 2 bulan ke depan waktunya ?

Saat umat panik dan cemas menghadapi wabah dianjurkan agar kita memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Sebab inilah terapi pasti di saat hati merasa panik!

  • Allah Azza wa Jalla berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh, ketahuilah dengan mengingat Allâh hati menjadi tenang” [Ar-Ra’d/ 13: 28].

Amalan  dzikir ini agar hati kita semua tidak lagi dilanda cemas, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin.

  1. Dzikir “Hasbunallah wa Ni’mal Wakil”, (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami).
    • Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rasul dan sahabat dalam firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron: 173).
    • Kata sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (HR Bukhari no. 4563)
    • Doa ini dibaca oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam saat hendak dilempar ke dalam api. Tidak ada yang membela dan menolongnya saat itu. Ketika ia berpasrah diri dan membaca doa ini, Allah jadikan api yang membakar menjadi dingin terasa.
    • Doa ini juga dibaca oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam saat peperangan. Meski jumlah tentara sedikit dan persenjataan terbatas, doa ini menambah keyakinan dan keimanan dan berujung kemenangan yang Allah Ta’ala berikan.
  2. Dzikir “Laa ilaha illa Anta Subhanaka inni kuntu minaz zholimin,” (Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang zhalim).
    • Allah ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya(menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap (di dalam perut ikan) : (“Laa ilaha illa Anta Subhanaka inni kuntu minaz zholimin”)
    • ”Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” ( QS al-Anbiya’ : 87).
      Nabi Yunus Alaihis Salam pernah dalam kondisi kepanikan yang tak terbayangkan. Ditelan ikan paus, di dalam air dan di malam yang gelap. Kegelapan di dalam kegelapan di dalam kegelapan. Panik & ketakutan. Namun selama masa kepanikan itu, ia terus mengulang doa, “Laa ilaha illa Anta Subhanaka inni kuntu minaz zholimin”.
    • Sebab doa tersebut Allah Ta’ala selamatkan ia sebagaimana dalam QS Al ‘Anbiya ayat 88: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”
    • Apakah doa ini bisa kita amalkan untuk menghilangkan kepanikan akibat virus corona? Jawabannya adalah pasti! Sebab inilah doa yang digaransi oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam dalam haditsnya yang berbunyi, “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: “LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya” (HR Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

wp-1584263363250.jpgwp-1584263363361.jpg

Doa Berlindung Dari Wabah Penyakit Diajarkan Rasulullah

wp-1584263363361.jpgDoa Berlindung Dari Wabah Seperti Yang Diajarkan Rasulullah

Pada tanggal 27 Maret 2020, COVID-19 telah dikonfirmasi pada lebih dari 551.000 orang di seluruh dunia dan telah mengakibatkan lebih dari 24.000 kematian. Lebih dari 170 negara telah melaporkan kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium di semua benua kecuali Antartika. Di Amerika Serikat, 86.012 kasus COVID-19 telah dikonfirmasi pada 27 Maret 2020, yang mengakibatkan 1.301 kematian. Pada tanggal 26 Maret 2020, Amerika Serikat memiliki infeksi yang lebih pasti daripada negara lain di dunia, termasuk Cina dan Italia. Cluster saat ini dari peningkatan transmisi lokal dapat ditemukan di seluruh Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Iran. Tingkat infeksi baru yang dilaporkan di Cina telah menurun drastis.

Hanya dalam 2-3 bulan Allah menurunkan 1 virus berukuran 125 nanometer seketika umat dunia kocar kacir tak berdaya. Dunia sudah kerahkan pakar kedokteran paling pintar di segala bidang, teknologi kesehatan paling canggih sudah digunakan, jumlah dana yang fantastis sudah digelontorkan, kekuatan militer paling sangar sudah ditaruh di garda terdepan dan daerah wabah sudah ditutup rapat. Tetapi ratusan ribu korban sakit tetap tak terhindarkan dan puluhan ribu nyawa tetap tak tertolong sesuai kurva “Herd immunity”. Mungkin inspirasi positif dari pengalaman dunia yang telah lebih dahulu diberi cobaan Allah yang luarbiasa ini adalah terus berusaha lebih dahsyat, berdoa lebih hebat dan bantu sesama lebih ikhlas. Siapapun dia, 2 bulan ke depan waktunya ?

Agar terhindar dari wabah penyakit seperti virus corona, umat Islam dianjurkan memperbanyak berdoa kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa agar terhindar dari wabah penyakit yang sedang berlangsung, seperti wabah virus corona penyebab pneumonia China atau pneumonia Wuhan.

Doa berlindung dari wabah penyakit diajarkan Rasulullah kepada para sahabat. Doa ini bersumber dari hadis sahih riwayat Abu Daud yang didapatkan dari Anas Radhiyallahu’anhu yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah mengucapkan doa tersebut.

Ketika itu, Nabi memohon perlindungan kepada Allah dari penyakit yang saat itu sedang mewabah.

Doa agar terhindar dari wabah penyakit, termasuk virus corona, dikutip dari buku kumpulan Do’a & Wirid karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

  • اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

  • Allaahumma innii’auudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa sayyi il asqoom

  • Artinya: “Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan keburukan segala macam penyakit.”

Doa tersebut sesuai dengan Hadis Riwayat Abu Dawud nomor 1554.

Doa agar terhindar dari wabah penyakit ini dapat dibaca kapan saja, misalnya saat sedang duduk atau pun selesai salat.

Berdoa mengajarkan setiap Muslim untuk bersabar, tidak mengeluh, dan berserah diri kepada Allah.

wp-1584263363332.jpg

Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

wp-1584275330484.jpg

wp-1580102152557.jpg

Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

Widodo judarwanto, Audi Yudhasmara

Virus coronavirus 2019 (COVID-19), muncul pada bulan Desember 2019, telah menyebar dengan cepat, dengan kasus-kasus yang sekarang dikonfirmasi di beberapa negara. Pada 16 Februari 2020, virus telah menyebabkan 70.548 infeksi dan 1.770 kematian di Cina daratan dan 413 infeksi di Jepang. Bagi masyarakat Indonesia semakin meresahkan ketika presiden Jokowi baru mengumumkan kasus pertamanya di Indonesia. Seperti pada infeksi virus pada umumnya faktor kekebalan tubuh adalah faktor utama. Hal inilah juga yang mungkin menjelaskan mengapa penderita sehat tanpa gejala bisa menularkan virus tersebut, karena saat kekebalan tubuh kuat bisa timbul tanpa gejala. Kekebalan tubuh manusia banyak dipengaruhi berbagai faktor. Tetapi hal penting yang dilupakan masyarakat awam dan klinisi adalah prinsip ilmiah bahwa kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di dalam saluran cerna. Sehingga saat fungsi saluran cerna sering terganggu pada penderita hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna maka kekebalan tubuh menurun dan akan mudah tertular sakit khususnya virus Corona atau berbagai virus lainnya. Ternyata pengetahuan ilmu pengetahuan modern seudah pernah diajarkan Rasulullah 1400 tahun yang lalu pada umatnya. Bahwa umumnya penyakit bersumber dari perut sehingga kita harus menjaga kondisi lambung. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ( أصل كل داء البردة ) البردة : التخمة : أخرجه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير”Sumber segala penyakit adalah al-baradah.” Al-baradah: at-Tukhmah (buruknya pencernaan dan makanan) (diriwayatkan Imam al-Hafizh as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Jaami’ ash-Shaghiir.

المعدة بيت الداء ”Lambung adalah rumah penyakit.” Riwayat ini menurut sebagian ulama bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ucapan Al-harits bin Kaldah salah seorang thabib (dokter) dari Arab, sebagaimana disebukan dalam Maqashidul Hasanah

Sistem kekebalan tubuh manusia adalah serangkaian sel, jaringan, dan organ yang, sepanjang hidup manusia, melindungi dari berbagai patogen penyerang dan membuat kita tetap sehat dan mampu melawan banyak infeksi berulang. Ketika bayi masih bayi, mereka mendapatkan sel imun dari ibu melalui plasenta dan ASI, jika mereka menyusui. Seiring waktu, sistem bayi menjadi dewasa dan dapat melawan infeksi. Saat ini semua pendapat para ahli kesehatan selalu mengungkapkan kekebalan tubuh harus dilakukan dengan gaya hidup sehat yang meliputi cukup istirahat, stres rendah,makanan bergizi dan diet seimbang plus olahraga membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh pada orang-orang dari segala usia.

Menjadi masalah dan pertanyaan masyarakat dan sebagian ahli kesehatan ketika banyak orang mengaku sudah hidup sehat, makan bergizi, sering olahraga, tidak stress, cukup istirahat tetapi masih juga sering sakit. Setelah dicermati ternyata banyak orang dan klinisi sering tidak mencermati bahwa kekebalan tubuh utama seorang manusia sebagian besar terbentuk di saluran cerna. Saat saluran cerna sering terganggu maka kekebalan tubuh juga terganggu. Sehingga banyak data menunjukkan pada penderita dengan kekebalan tubuh menurun sering sakit serimngkali mengalami hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna.

wp-1583202102235.jpg

Presentasi kasus Infeksi berulang

Jamal anak sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit. Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Penderita ini sering mengalami overdiagnosis TBC atau divonis sebagai TBC atau “Flek” padahal tidak menderita penyakit tersebut. Tanpa disadari ternyata salah satu orangtuanya atau kakaknya berpotensi sebagai sumber penularan yang juga sering mengalami gejala sering sakit, batuk dan pilek. Kontak sekolah sering dianggap sebagai biang keladinya. Padahal penyebab utamanya adalah karena daya tahan tubuh menurun. Ternyata penyebab daya tahan tubuh yang tidak optimal ini sering terjadi pada orang dengan saluran cerna yang sensitif. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar atau sekitar 70% mekanisme pertahanan tubuh terdapat dalam saluran cerna. Biasanya hal ini sering terjadi pada penderita alergi, asma dan sensitif pencernaan. Saat penderita dilakukan eliminasi provokasi makanan pencernaan membaik ternyata daya tahan tubuhnya juga membaik sehingga anak lebih jarang sakit.

Infeksi Berulang

Infeksi berulang adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang khususnya infeksi saluran napas akut. Seringhkali keadaan ini dianggap sebagai penyakit batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Padahal sebenarnya gangguan batuk pilek tersebut hilang karena infeksi berulang mudah terkena sakit atau istilah awamnya “on and off”. Manifestasinya timbul kadang keras berkurang sedikit kemudian meningkat lagi berulang dalam jangka panjang. Sebenarnya infeksi batuk pilek tersebut penyebabnya utamanya virus yang biasanya akan membaik dalam 5-7 hari. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.

Seseorang mengalami infeksi berulang bila infeksi sering dialami secara berulang kali dalam waktu tertentu. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.

Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa pada anak normal usia < 1 tahun rata-rata mengalami infeksi 6 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 7-8 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 5-7 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun mengalami 4-5 kali pertahun.

Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih 39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, spesis, ensefalitis dan meningitis.

wp-1584275330484.jpg

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH DAN SAKURAN CERNA

  • Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis. Pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lender sedangkan kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung. Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan selaput lender. Pertahanan fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
  • Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.
  • Mukosa usus adalah penghalang utama antara berbagai macam antigen potensial dan manusia atau hewan. Selain mekanisme pertahanan yang tidak spesifik, ada sistem limfoid terkait usus (GALT) yang bereaksi secara independen, yang pertama kali dijelaskan oleh Bienenstock. GALT dipandang sebagai bagian dari sistem imun mukosa umum (MALT), yang independensinya didasarkan pada alasan morfologis, fungsional, dan ontogenik. Dua bagian fungsional utama GALT adalah tambalan Peyer (dengan sel-T dan sel-B) dan jaringan limfoid difus (DLT). Yang terakhir ditemukan di seluruh mukosa usus di dua kompartemen, di lamina propria dan intraepitel. Namun ada jaringan antara sistem kekebalan lokal yang berbeda dan sistem kekebalan humoral yang ditunjukkan oleh fenomena “homing” limfosit dan stimulasi “tempat-jauh”. Meskipun banyak mekanisme dasar imunitas usus saat ini tidak sepenuhnya dipahami, imunoprofilaksis terhadap agen enteropatogenik yang berbeda berhasil digunakan baik dengan metode imunisasi aktif maupun pasif.
  • Selama 15 tahun terakhir rincian dasar dari respon imun mukosa telah dijelaskan. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di saluran pencernaan. Sekarang jelas bahwa IgA sekretori adalah imunoglobulin utama yang diproduksi oleh mukosa. Lebih lanjut, kita tahu bahwa priming oral daripada parenteral secara istimewa merangsang respon IgA sekretori. IgA melindungi terutama dengan mengikat mikroorganisme intraluminal atau toksin dan dengan demikian mengganggu penyerapannya di seluruh epitel usus. Basis seluler untuk respons IgA juga telah dijelaskan sampai batas tertentu. Jelas bahwa responsnya sangat bergantung pada sel T dan membutuhkan sel T helper dan mengganti sel T. Dengan penggunaan antibodi monoklonal, kami telah mulai belajar tentang fungsi yang diperantarai sel dalam usus. Limfosit penekan / sitotoksik sebagian besar diasingkan di epitel sedangkan limfosit penolong / induser terutama berada di lamina propria. Pada penyakit seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus, beberapa perubahan dalam sistem kekebalan pencernaan telah dijelaskan. Beberapa, seperti temuan antibodi terhadap gliaden, mungkin terkait dengan penyakit ini. Lainnya, seperti antibodi terhadap bakteri luminal, kemungkinan adalah peristiwa sekunder. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di sepanjang saluran pencernaan.
  • Interaksi antara usus dan kelainan imun tampaknya menjadi perpanjangan logis dari tesis bahwa IgA sekretori adalah garis pertahanan imunologis utama antara lingkungan luar dan tuan rumah. Jadi defisiensi imunologis, terutama IgA dan gabungan abnormalitas T- dan B-limfosit, sangat memengaruhi integritas usus. Sebaliknya, patologi usus terikat untuk mengganggu fungsi imunologis, sehingga imunitas humoral dan seluler dapat terganggu. Akhirnya, fenomena hipersensitivitas dalam usus, yang mengakibatkan gangguan kekebalan tubuh, dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Ketika alat diagnostik yang lebih baik telah tersedia, lebih banyak bukti langsung dari gangguan kekebalan hipersensitivitas telah dijelaskan.
  • Mekanisme pertahanan mukosa usus melibatkan imunitas humoral dan seluler. Keunggulan limfosit T penekan / sitotoksik dalam lapisan epitel menunjukkan bahwa limfosit interepitel berperan dalam pertahanan terhadap infeksi dalam lapisan ini. IgA sekretori merupakan respons imun humoral utama di sepanjang saluran pencernaan dan di sepanjang permukaan mukosa lainnya (saluran pernapasan, kelenjar susu, kelenjar air liur, dan kelenjar lakrimal). Sementara fungsi sekretori IgA tidak sepenuhnya dipahami, jelas bahwa itu mencegah perlekatan mikroorganisme dan racun (toksin kolera, toksin shiga, dll.) Ke sel epitel permukaan. Selanjutnya, IgA sekretori dapat berkolaborasi dengan eosinofil atau limfosit pembunuh untuk memediasi reaksi sitotoksik terhadap enteropatogen. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang respons imun mukosa, kita harus dapat memahami hubungan antara lamina propria plasmacytosis pada penyakit radang usus dan peningkatan jumlah limfosit interepitel yang kita lihat dalam enteropati yang peka terhadap gluten, alergi atau hipersensitif salurancerna dan mekanisme patogenik yang mendasarinya.

FAKTOR PENYEBAB

  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan) atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini.
  • Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.
  • Pada bayi dan anak pra sekolah infeksi berulang biasanya disebabkan karena kontak dengan seseorang yang sering sakit di dalam rumah. Infeksi berulang pada orang dewasa selama ini dianggap karena terlalu lelah, masuk angin, asma, alergi atau sinusitis. Memang biasanya penderita alergi mudah terkena infeksi batuk dan pilek. Tetapi seringkali gejala infeksi ini dianggap sebagai gejala alergi. Gejala umum yang sering dialami adalah badan sering pegal dan capek, nyeri tenggorok, badan meriang dan sakit kepala. Bila gangguannya ringan pada orang dewasa gangguan ini terjadi hanya dalam 2-3 hari saja, tetapi sering berulang timbul. Sehingga istilah yang sering diberikan adalah “mau flu tidak jadi”.
  • Pada anak usia sekolah seringkali orangtua menyalahkan karena teman di sekolah sering sakit. Sebenarnya bila dicermati di lingkungan sekolah memang tidak akan pernah bebas anak sakit. Dalam lingkungan kelas memang mungkin terdapat 30% anak yang mudah sakit karena daya tahan tubuhnya buruk, Tetapi sebagian besar lainnya relatif jarang sakit karena daya tahan tubuhnya baik. Sehingga yang harus diperhatikan adalah daya tahan tubuh anak bukan di salahkan sekolahnya

SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI SALURAN CERNA

  • Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.
  • Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.
  • Tampilan klinis penderita alergi atau hipersensitifitas saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor. Gangguan saluran cerna pada orang dewasa selama ini disebut sebagai penyakit mag, asam lambung, telat makan, masuk angin atau panas dalam. Biasanya sebagian klinisi mendiagnosisnya dengan berbagai spektrum gangguan seperti GERD, IBS, Dispepsia, Seliak, Tukak Lambung atau Gastritis.
  • Pada anak tertentu gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan dan gangguan alergi lainnya.
  • Bila gangguan cerna terjadi ternyata dapat meningkatkan perilaku anak seperti anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, agresif, gangguan tidur malam, ”ngompol” malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak-balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh, terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara.
  • Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.

Diagnosis

  • Diagnosis orang yang mengelamai daya tahan menurun yang disebabkan karena alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Beberepa klinik alergi melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

Komplikasi

  • Penderita infeksi berulang sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), otitis media (infeksi telinga), gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis. Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

wp-1584275330484.jpg

13 Kondisi Menunjukkan Kekebalan Tubuh Tidak Bagus dan Beresiko Mudah Tertular Virus Corona dan virus lainnya

  1. Mudah mengalami infeksi virus batuk, pilek, sesak dan nyeri tenggorokan berulang pada anak usia < 1 tahun mengalami infeksi lebih dari 10 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami lebih dari 12 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami lebih dari 8 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun dan dewasa mengalami lebih dari 6-7 kali pertahun.
  2. Sering dirawat di Rumah Sakit, dalam usia < 1 tahun dirawat 3 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 4 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 3 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun atau dewasa mengalami lebih 1 kali pertahun.
  3. Infeksi virus yang berulang hilang timbul berkepanjangan berupa sering batuk, asma, pilek, nyeri tenggorokan, suara parau, mudah lemas, badan sering ngilu atau pegal atau mudah badan teraba hangat atau meriang dan kadang demam. Berbagai gejala itu sering sulit dibedakan dengan gangguan alergi padahal lebih sering terinfeksi virus
  4. Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  5. Mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis atau sinusitis. Penderita yang mengalami tonsillitis atau sinusitis hamper semuanya sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang
  6. Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang
  7. Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  8. Mengalami infeksi berat seperti pnemonis, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  9. Mengalami overdiagnosis TBC dan sering menerima overdiagnosis penyakit Tifus padahal tidak mengalami infeksi tersebut, karena penyakit infeksi virus berulang gejalanya mirip TBC dan Tifus kadang bila tidak cermat sulit dibedakan
  10. Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan terlalu sering, padahal sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  11. Sering mengalami overtreatment penyakit Tifus. karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nailainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus. Sehingga beberapa penderita sering mengaku mudah terkena penyakit tifus padahal bukan lkarena infeksi tifus.
  12. Bila sakit berulang akan terjadi demam tinggi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 15.ooo
  13. Orang dengan kekebalan tubuh menurun secara alamiah usia bayi 3 bulan, lansia dan penyakit system imun seperti HIV, AIDS, Diabetes, Kanker dan sebagainya.

PENCEGAHAN

  • Pencegahan terbaik pada penderita seperti ini bukan sekedar pemberian ASI, makan bergizi, isatirahat cukup, berolahraga, pemberian vitamin dan imunisasi influenza. Banyak kasus semua tips kesehatan tersebut dilakukan tetapi tetap saja keluhan tersebut hilang timbul.
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran alergi makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat mungkin akan memperparah masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi

Referensi

  • Keren DF. Gastrointestinal immune system and its disorders. Monogr Pathol. 1990;(31):247-85.
  • Keren DF. Intestinal mucosal immune defense mechanisms. Am J Surg Pathol. 1988;12 Suppl 1:100-5.
  • Wiad Lek. Immunologic aspects of digestive tract diseases. 1972 Feb 15;25(4):335-9.
  • Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-14
  • Nafstad P, Hagen JA, Pie L, Magnus P, Jaakkola JJK. Day care centers and respiratory health. Pediatrics 1999;103:753-8
  • Heikkinen T, Ruuskanen O, Ziegler T, Waris M, Puhakka H. Short-term use of amoxicillin clavulanate during upper respiratory tract infection for prevention of acute otitis media. J Pediatr 1995;126:313-6
  • Uhari M, Kontiokari T, Koskela M, Niemelä M. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis media: double blind randomised trial. BMJ 1996;313:1180–4
  • American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7
  • Straetemans M, Sanders EAM, Veenhoven RH, Schilder AGM, Damoiseaux RAMJ, Zielhuis GA. Pneumococcal vaccines for preventing otitis media. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(1):CD001480
  • Palmu AA, Verho J, Jokinen J, Karma P, Kilpi TM. The seven-valent pneumococcal conjugate vaccine reduces tympanostomy tube placement in children. Ped Inf Dis J 2004;23(8):732-8. In: The Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL) 2005, Issue 1.
  • Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230
  • Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding.
  • Morris P. Antibiotics for persistent nasal discharge (rhinosinusitis) in children. Cochrane Database Syst Rev. 2002;(3):CD001094
  • Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54.
  • Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10.
  • Fielding JE, Phenow KJ. Health effects of involuntary smoking. N Engl J Med 1988;319:1452-60.
  • Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med 1995;332:133-8.
  • Boyce WT, Chesterman EA, Martin N, Folkman S, Cohen F, Wara D. Immunologic changes occurring at kindergarten entry predict respiratory illnesses after the Loma Prieta earthquake. J Dev Behav Pediatr 1993;14:296-303.
  • Conley ME, Stiehm ER. Immunodeficiency disorders: general considerations. In: Stiehm ER, ed. Immunologic disorders in infants and children. 4th ed. Philadelphia: Saunders, 1996:201-52.
  • Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21.

wp-1584263363361.jpg

 

Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

wp-1584275330484.jpg

wp-1580102152557.jpg

Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

Widodo judarwanto, Audi Yudhasmara

Virus coronavirus 2019 (COVID-19), muncul pada bulan Desember 2019, telah menyebar dengan cepat, dengan kasus-kasus yang sekarang dikonfirmasi di beberapa negara. Pada 16 Februari 2020, virus telah menyebabkan 70.548 infeksi dan 1.770 kematian di Cina daratan dan 413 infeksi di Jepang. Bagi masyarakat Indonesia semakin meresahkan ketika presiden Jokowi baru mengumumkan kasus pertamanya di Indonesia. Seperti pada infeksi virus pada umumnya faktor kekebalan tubuh adalah faktor utama. Hal inilah juga yang mungkin menjelaskan mengapa penderita sehat tanpa gejala bisa menularkan virus tersebut, karena saat kekebalan tubuh kuat bisa timbul tanpa gejala. Kekebalan tubuh manusia banyak dipengaruhi berbagai faktor. Tetapi hal penting yang dilupakan masyarakat awam dan klinisi adalah prinsip ilmiah bahwa kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di dalam saluran cerna. Sehingga saat fungsi saluran cerna sering terganggu pada penderita hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna maka kekebalan tubuh menurun dan akan mudah tertular sakit khususnya virus Corona atau berbagai virus lainnya. Ternyata pengetahuan ilmu pengetahuan modern seudah pernah diajarkan Rasulullah 1400 tahun yang lalu pada umatnya. Bahwa umumnya penyakit bersumber dari perut sehingga kita harus menjaga kondisi lambung. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ( أصل كل داء البردة ) البردة : التخمة : أخرجه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير”Sumber segala penyakit adalah al-baradah.” Al-baradah: at-Tukhmah (buruknya pencernaan dan makanan) (diriwayatkan Imam al-Hafizh as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Jaami’ ash-Shaghiir.

المعدة بيت الداء  ”Lambung adalah rumah penyakit.” Riwayat ini menurut sebagian ulama bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ucapan Al-harits bin Kaldah salah seorang thabib (dokter) dari Arab, sebagaimana disebukan dalam Maqashidul Hasanah

Sistem kekebalan tubuh manusia adalah serangkaian sel, jaringan, dan organ yang, sepanjang hidup manusia, melindungi dari berbagai patogen penyerang dan membuat kita tetap sehat dan mampu melawan banyak infeksi berulang. Ketika bayi masih bayi, mereka mendapatkan sel imun dari ibu melalui plasenta dan ASI, jika mereka menyusui. Seiring waktu, sistem bayi menjadi dewasa dan dapat melawan infeksi. Saat ini semua pendapat para ahli kesehatan selalu mengungkapkan kekebalan tubuh harus dilakukan dengan gaya hidup sehat yang meliputi cukup istirahat, stres rendah,makanan bergizi dan diet seimbang plus olahraga membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh pada orang-orang dari segala usia.

Menjadi masalah dan pertanyaan masyarakat dan sebagian ahli kesehatan ketika banyak orang mengaku sudah hidup sehat, makan bergizi, sering olahraga, tidak stress, cukup istirahat tetapi masih juga sering sakit. Setelah dicermati ternyata banyak orang dan klinisi sering tidak mencermati bahwa kekebalan tubuh utama seorang manusia sebagian besar terbentuk di saluran cerna. Saat saluran cerna sering terganggu maka kekebalan tubuh juga terganggu. Sehingga banyak data menunjukkan pada penderita dengan kekebalan tubuh menurun sering sakit serimngkali mengalami hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna.

wp-1583202102235.jpg

Presentasi kasus Infeksi berulang

Jamal anak sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit. Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Penderita ini sering mengalami overdiagnosis TBC atau divonis sebagai TBC atau “Flek” padahal tidak menderita penyakit tersebut.  Tanpa disadari ternyata salah satu orangtuanya atau kakaknya berpotensi sebagai sumber penularan yang juga sering mengalami gejala sering sakit, batuk dan pilek.  Kontak sekolah sering dianggap sebagai biang keladinya. Padahal penyebab utamanya adalah karena daya tahan tubuh menurun. Ternyata penyebab daya tahan tubuh yang tidak optimal ini sering terjadi pada orang dengan saluran cerna yang sensitif. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar atau sekitar 70% mekanisme pertahanan tubuh terdapat dalam saluran cerna. Biasanya hal ini sering terjadi pada penderita alergi, asma dan sensitif pencernaan. Saat  penderita dilakukan eliminasi provokasi makanan pencernaan membaik ternyata daya tahan tubuhnya juga membaik sehingga anak lebih jarang sakit.

Infeksi Berulang

Infeksi berulang adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang  khususnya infeksi saluran napas akut. Seringhkali keadaan ini dianggap sebagai penyakit batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Padahal sebenarnya gangguan batuk pilek tersebut hilang karena infeksi berulang mudah terkena sakit atau istilah awamnya “on and off”. Manifestasinya timbul kadang keras berkurang sedikit kemudian meningkat lagi berulang dalam jangka panjang. Sebenarnya infeksi batuk pilek tersebut penyebabnya utamanya virus yang biasanya akan membaik dalam 5-7 hari.  Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif  jarang terjadi.

Seseorang mengalami infeksi berulang bila infeksi sering dialami secara berulang kali dalam waktu tertentu. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.

Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa pada anak normal usia < 1 tahun rata-rata mengalami infeksi 6 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 7-8 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 5-7 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun mengalami 4-5 kali pertahun.

Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih  39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, spesis, ensefalitis dan meningitis.

wp-1584275330484.jpg

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH DAN SAKURAN CERNA

  • Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat  dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis.  Pertahanan fisik berupa kulit dan  selaput lender sedangkan  kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung.  Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan  selaput lender. Pertahanan  fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
  • Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.
  • Mukosa usus adalah penghalang utama antara berbagai macam antigen potensial dan manusia atau hewan. Selain mekanisme pertahanan yang tidak spesifik, ada sistem limfoid terkait usus (GALT) yang bereaksi secara independen, yang pertama kali dijelaskan oleh Bienenstock. GALT dipandang sebagai bagian dari sistem imun mukosa umum (MALT), yang independensinya didasarkan pada alasan morfologis, fungsional, dan ontogenik. Dua bagian fungsional utama GALT adalah tambalan Peyer (dengan sel-T dan sel-B) dan jaringan limfoid difus (DLT). Yang terakhir ditemukan di seluruh mukosa usus di dua kompartemen, di lamina propria dan intraepitel. Namun ada jaringan antara sistem kekebalan lokal yang berbeda dan sistem kekebalan humoral yang ditunjukkan oleh fenomena “homing” limfosit dan stimulasi “tempat-jauh”. Meskipun banyak mekanisme dasar imunitas usus saat ini tidak sepenuhnya dipahami, imunoprofilaksis terhadap agen enteropatogenik yang berbeda berhasil digunakan baik dengan metode imunisasi aktif maupun pasif.
  • Selama 15 tahun terakhir rincian dasar dari respon imun mukosa telah dijelaskan. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di saluran pencernaan. Sekarang jelas bahwa IgA sekretori adalah imunoglobulin utama yang diproduksi oleh mukosa. Lebih lanjut, kita tahu bahwa priming oral daripada parenteral secara istimewa merangsang respon IgA sekretori. IgA melindungi terutama dengan mengikat mikroorganisme intraluminal atau toksin dan dengan demikian mengganggu penyerapannya di seluruh epitel usus. Basis seluler untuk respons IgA juga telah dijelaskan sampai batas tertentu. Jelas bahwa responsnya sangat bergantung pada sel T dan membutuhkan sel T helper dan mengganti sel T. Dengan penggunaan antibodi monoklonal, kami telah mulai belajar tentang fungsi yang diperantarai sel dalam usus. Limfosit penekan / sitotoksik sebagian besar diasingkan di epitel sedangkan limfosit penolong / induser terutama berada di lamina propria. Pada penyakit seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus, beberapa perubahan dalam sistem kekebalan pencernaan telah dijelaskan. Beberapa, seperti temuan antibodi terhadap gliaden, mungkin terkait dengan penyakit ini. Lainnya, seperti antibodi terhadap bakteri luminal, kemungkinan adalah peristiwa sekunder. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di sepanjang saluran pencernaan.
  • Interaksi antara usus dan kelainan imun tampaknya menjadi perpanjangan logis dari tesis bahwa IgA sekretori adalah garis pertahanan imunologis utama antara lingkungan luar dan tuan rumah. Jadi defisiensi imunologis, terutama IgA dan gabungan abnormalitas T- dan B-limfosit, sangat memengaruhi integritas usus. Sebaliknya, patologi usus terikat untuk mengganggu fungsi imunologis, sehingga imunitas humoral dan seluler dapat terganggu. Akhirnya, fenomena hipersensitivitas dalam usus, yang mengakibatkan gangguan kekebalan tubuh, dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Ketika alat diagnostik yang lebih baik telah tersedia, lebih banyak bukti langsung dari gangguan kekebalan hipersensitivitas telah dijelaskan.
  • Mekanisme pertahanan mukosa usus melibatkan imunitas humoral dan seluler. Keunggulan limfosit T penekan / sitotoksik dalam lapisan epitel menunjukkan bahwa limfosit interepitel berperan dalam pertahanan terhadap infeksi dalam lapisan ini. IgA sekretori merupakan respons imun humoral utama di sepanjang saluran pencernaan dan di sepanjang permukaan mukosa lainnya (saluran pernapasan, kelenjar susu, kelenjar air liur, dan kelenjar lakrimal). Sementara fungsi sekretori IgA tidak sepenuhnya dipahami, jelas bahwa itu mencegah perlekatan mikroorganisme dan racun (toksin kolera, toksin shiga, dll.) Ke sel epitel permukaan. Selanjutnya, IgA sekretori dapat berkolaborasi dengan eosinofil atau limfosit pembunuh untuk memediasi reaksi sitotoksik terhadap enteropatogen. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang respons imun mukosa, kita harus dapat memahami hubungan antara lamina propria plasmacytosis pada penyakit radang usus dan peningkatan jumlah limfosit interepitel yang kita lihat dalam enteropati yang peka terhadap gluten, alergi atau hipersensitif salurancerna dan mekanisme patogenik yang mendasarinya.

FAKTOR PENYEBAB

  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan)   atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini.
  • Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.
  • Pada bayi dan anak pra sekolah infeksi berulang biasanya disebabkan karena kontak dengan seseorang yang sering sakit di dalam rumah. Infeksi berulang pada orang dewasa selama ini dianggap karena terlalu lelah, masuk angin, asma, alergi atau sinusitis. Memang biasanya penderita alergi mudah terkena infeksi batuk dan pilek. Tetapi seringkali gejala infeksi ini dianggap sebagai gejala alergi. Gejala umum yang sering dialami adalah badan sering pegal dan capek, nyeri tenggorok, badan meriang dan sakit kepala. Bila gangguannya ringan pada orang dewasa gangguan ini terjadi hanya dalam 2-3 hari saja, tetapi sering berulang timbul. Sehingga istilah yang sering diberikan adalah “mau flu tidak jadi”.
  • Pada anak usia sekolah seringkali orangtua menyalahkan karena teman di sekolah sering sakit. Sebenarnya bila dicermati di lingkungan sekolah memang tidak akan pernah bebas anak sakit. Dalam lingkungan kelas memang mungkin terdapat 30% anak yang mudah sakit karena daya tahan tubuhnya buruk, Tetapi sebagian besar lainnya relatif jarang sakit karena daya tahan tubuhnya baik. Sehingga yang harus diperhatikan adalah daya tahan tubuh anak bukan di salahkan sekolahnya

SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI SALURAN CERNA

  • Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.
  • Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.
  • Tampilan klinis penderita alergi atau hipersensitifitas saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor. Gangguan saluran cerna pada orang dewasa selama ini disebut sebagai penyakit mag, asam lambung, telat makan, masuk angin atau panas dalam. Biasanya sebagian klinisi mendiagnosisnya dengan berbagai spektrum gangguan seperti GERD, IBS, Dispepsia, Seliak, Tukak Lambung atau Gastritis.
  • Pada anak tertentu gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan dan gangguan alergi lainnya.
  • Bila gangguan cerna terjadi ternyata dapat meningkatkan perilaku anak seperti  anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, agresif, gangguan tidur malam, ”ngompol” malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak-balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh, terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut  adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara.
  • Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.

Diagnosis

  • Diagnosis orang yang mengelamai daya tahan menurun yang disebabkan karena alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Beberepa klinik alergi melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi.  Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

Komplikasi

  • Penderita infeksi berulang sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), otitis media (infeksi telinga), gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis. Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan  mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

wp-1584275330484.jpg

13 Kondisi Menunjukkan Kekebalan Tubuh Tidak Bagus dan Beresiko Mudah Tertular Virus Corona dan virus lainnya

  1. Mudah mengalami infeksi virus batuk, pilek, sesak dan nyeri tenggorokan berulang pada anak usia < 1 tahun  mengalami infeksi lebih dari 10 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami lebih dari 12 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami lebih dari 8 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun dan dewasa mengalami lebih dari 6-7 kali pertahun.
  2. Sering dirawat di Rumah Sakit, dalam usia < 1 tahun dirawat 3 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 4 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 3 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun atau dewasa mengalami lebih 1 kali pertahun.
  3. Infeksi virus yang berulang hilang timbul berkepanjangan berupa sering batuk, asma, pilek, nyeri tenggorokan, suara parau, mudah lemas, badan sering ngilu atau pegal atau mudah badan teraba hangat atau meriang dan kadang demam. Berbagai gejala itu sering sulit dibedakan dengan gangguan alergi padahal lebih sering terinfeksi virus
  4. Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  5. Mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis atau sinusitis. Penderita yang mengalami tonsillitis atau sinusitis hamper semuanya sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang
  6. Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang
  7. Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  8. Mengalami infeksi berat seperti pnemonis, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  9. Mengalami overdiagnosis TBC dan sering menerima overdiagnosis penyakit Tifus padahal tidak mengalami infeksi tersebut, karena penyakit infeksi virus berulang gejalanya mirip TBC dan Tifus kadang bila tidak cermat sulit dibedakan
  10. Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan terlalu sering, padahal sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  11. Sering mengalami overtreatment penyakit Tifus. karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nailainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus. Sehingga beberapa penderita sering mengaku mudah terkena penyakit tifus padahal bukan lkarena infeksi tifus.
  12. Bila sakit berulang akan terjadi demam tinggi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 15.ooo
  13. Orang dengan kekebalan tubuh menurun secara alamiah usia bayi 3 bulan, lansia dan penyakit system imun seperti HIV, AIDS, Diabetes, Kanker dan sebagainya.

PENCEGAHAN

  • Pencegahan terbaik pada penderita seperti ini bukan sekedar pemberian ASI, makan bergizi, isatirahat cukup, berolahraga, pemberian vitamin dan imunisasi influenza. Banyak kasus semua tips kesehatan tersebut dilakukan tetapi tetap saja keluhan tersebut hilang timbul.
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran alergi makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan  penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat  mungkin akan memperparah  masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter  yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri  Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi

Referensi

  • Keren DF. Gastrointestinal immune system and its disorders. Monogr Pathol. 1990;(31):247-85.
  • Keren DF. Intestinal mucosal immune defense mechanisms. Am J Surg Pathol. 1988;12 Suppl 1:100-5.
  • Wiad Lek. Immunologic aspects of digestive tract diseases. 1972 Feb 15;25(4):335-9. 
  • Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-14
  • Nafstad P, Hagen JA, Pie L, Magnus P, Jaakkola JJK. Day care centers and respiratory health. Pediatrics 1999;103:753-8
  • Heikkinen T, Ruuskanen O, Ziegler T, Waris M, Puhakka H. Short-term use of amoxicillin clavulanate during upper respiratory tract infection for prevention of acute otitis media. J Pediatr 1995;126:313-6
  • Uhari M, Kontiokari T, Koskela M, Niemelä M. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis media: double blind randomised trial. BMJ 1996;313:1180–4
  • American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7
  • Straetemans M, Sanders EAM, Veenhoven RH, Schilder AGM, Damoiseaux RAMJ, Zielhuis GA. Pneumococcal vaccines for preventing otitis media. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(1):CD001480
  • Palmu AA, Verho J, Jokinen J, Karma P, Kilpi TM. The seven-valent pneumococcal conjugate vaccine reduces tympanostomy tube placement in children. Ped Inf Dis J 2004;23(8):732-8. In: The Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL) 2005, Issue 1.
  • Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230
  • Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding.
  • Morris P. Antibiotics for persistent nasal discharge (rhinosinusitis) in children. Cochrane Database Syst Rev. 2002;(3):CD001094
  • Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54.
  • Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10.
  • Fielding JE, Phenow KJ. Health effects of involuntary smoking. N Engl J Med 1988;319:1452-60.
  • Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med 1995;332:133-8.
  • Boyce WT, Chesterman EA, Martin N, Folkman S, Cohen F, Wara D. Immunologic changes occurring at kindergarten entry predict respiratory illnesses after the Loma Prieta earthquake. J Dev Behav Pediatr 1993;14:296-303.
  • Conley ME, Stiehm ER. Immunodeficiency disorders: general considerations. In: Stiehm ER, ed. Immunologic disorders in infants and children. 4th ed. Philadelphia: Saunders, 1996:201-52.
  • Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21.

wp-1584263363361.jpg

Ketika Wabah Corona Mengancam, Ikuti Tuntunan Nabi Ini

wp-1584275330484.jpg

wp-1584263363361.jpgWabah Corona Mengancam, Ikuti Tuntunan Rasulullah

Audi Yudhasmara, Sandiaz

Penyakit koronavirus 2019 atau COVID19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis koronavirus. Penyakit ini mengakibatkan pandemi koronavirus 2019–2020. Penderita COVID-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas. Sakit tenggorokan, pilek, atau bersin-bersin lebih jarang ditemukan. Pada penderita yang paling rentan, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multiorgan. Sampai saat ini Indonesia

Infeksi menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan saat batuk atau bersi

Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 1–14 hari dengan rata-rata 5 hari. Metode standar diagnosis adalah uji reaksi berantai polimerase transkripsi-balik (rRT-PCR) dari usap nasofaring atau sampel dahak dengan hasil dalam beberapa jam hingga 2 hari. Pemeriksaan antibodi dari sampel serum darah juga dapat digunakan dengan hasil dalam beberapa hari. Infeksi juga dapat didiagnosis dari kombinasi gejala, faktor risiko, dan pemindaian tomografi terkomputasi pada dada yang menunjukkan gejala pneumonia.

Mencuci tangan, menjaga jarak dari orang yang batuk, dan tidak menyentuh wajah dengan tangan yang tidak bersih adalah langkah yang disarankan untuk mencegah penyakit ini. Disarankan untuk menutup hidung dan mulut dengan tisu atau siku yang tertekuk ketika batuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan kepada orang-orang yang menduga bahwa mereka telah terinfeksi untuk memakai masker bedah dan mencari nasihat medis dengan memanggil dokter dan tidak langsung mengunjungi klinik. Masker juga direkomendasikan bagi mereka yang merawat seseorang yang diduga terinfeksi tetapi tidak untuk digunakan masyarakat umum. Belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk COVID-19; tata laksana yang diberikan meliputi pengobatan terhadap gejala, perawatan suportif, dan tindakan eksperimental. Angka fatalitas kasus diperkirakan antara 1–3%.

Rasulullah SAW sendiri mengajarkan banyak ilmu kesehatan dan pengobatan. Beberapa hadits menyebutkan beberapa tuntunan saat dalam musibah sakit atau adanya wabah penyakit.

wp-1584263363250.jpg

Tuntunan Nabi Saat Ada wabah

Penyebaran virus corona semakin meluas. Menurut data Johns Hopkins University (JHU), virus corona sudah menyebar hingga ke 119 negara. Di Indonesia sendiri jumlahnya semakin bertambah, namun pemerintah belum berencana melakukan lockdown (penguncian) suatu kawasan.

WHO telah mengumumkan wabah corona sebagai pandemi. Karena belum ditemukan obat serta metode penularannya secara pasti terhadap kasus Covid-19. Salah satu upaya yang efektif dan sudah dilakukan di beberapa negara adalah untuk menghentikan laju wabah virus corona dengan penguncian (lockdown). Lockdown memiliki arti yang sama dengan isolasi. Isolasi terkait pencegahan suatu wabah ternyata pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Isolasi terhadap orang yang sedang menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah.

wp-1584263363332.jpg

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dikutip dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadith-hadith Nabi’ oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Selain Rasulullah, di zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Dalam sebuah hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan ke Syam lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit.

Hadist yang dinarasikan Abdullah bin ‘Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya:

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏”‏‏

Artinya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Dalam hadits yang sama juga diceritakan Abdullah bin Abbas dan diriwayatkan Imam Malik bin Anas, keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar.

Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.

wp-1584263363290.jpg

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sumber segala penyakit adalah al-baradah.” Al-baradah: at-Tukhmah (buruknya pencernaan dan makanan)

  • Virus coronavirus 2019 (COVID-19), muncul pada bulan Desember 2019, telah menyebar dengan cepat, dengan kasus-kasus yang sekarang dikonfirmasi di beberapa negara. Pada 16 Februari 2020, virus telah menyebabkan 70.548 infeksi dan 1.770 kematian di Cina daratan dan 413 infeksi di Jepang. Bagi masyarakat Indonesia semakin meresahkan ketika presiden Jokowi baru mengumumkan kasus pertamanya di Indonesia. Seperti pada infeksi virus pada umumnya faktor kekebalan tubuh adalah faktor utama. Hal inilah juga yang mungkin menjelaskan mengapa penderita sehat tanpa gejala bisa menularkan virus tersebut, karena saat kekebalan tubuh kuat bisa timbul tanpa gejala. Kekebalan tubuh manusia banyak dipengaruhi berbagai faktor. Tetapi hal penting yang dilupakan masyarakat awam dan klinisi adalah prinsip ilmiah bahwa kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di dalam saluran cerna. Sehingga saat fungsi saluran cerna sering terganggu pada penderita hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna maka kekebalan tubuh menurun dan akan mudah tertular sakit khususnya virus Corona atau berbagai virus lainnya. Ternyata pengetahuan ilmu pengetahuan modern seudah pernah diajarkan Rasulullah 1400 tahun yang lalu pada umatnya. Bahwa umumnya penyakit bersumber dari perut sehingga kita harus menjaga kondisi lambung. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ( أصل كل داء البردة ) البردة : التخمة : أخرجه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير” Sumber segala penyakit adalah al-baradah.” Al-baradah: at-Tukhmah (buruknya pencernaan dan makanan) (diriwayatkan Imam al-Hafizh as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Jaami’ ash-Shaghiir.
    المعدة بيت الداء ”Lambung adalah rumah penyakit.” Riwayat ini menurut sebagian ulama bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ucapan Al-harits bin Kaldah salah seorang thabib (dokter) dari Arab, sebagaimana disebukan dalam Maqashidul Hasanah
  • Sistem kekebalan tubuh manusia adalah serangkaian sel, jaringan, dan organ yang, sepanjang hidup manusia, melindungi dari berbagai patogen penyerang dan membuat kita tetap sehat dan mampu melawan banyak infeksi berulang. Ketika bayi masih bayi, mereka mendapatkan sel imun dari ibu melalui plasenta dan ASI, jika mereka menyusui. Seiring waktu, sistem bayi menjadi dewasa dan dapat melawan infeksi. Saat ini semua pendapat para ahli kesehatan selalu mengungkapkan kekebalan tubuh harus dilakukan dengan gaya hidup sehat yang meliputi cukup istirahat, stres rendah,makanan bergizi dan diet seimbang plus olahraga membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh pada orang-orang dari segala usia.
  • Menjadi masalah dan pertanyaan masyarakat dan sebagian ahli kesehatan ketika banyak orang mengaku sudah hidup sehat, makan bergizi, sering olahraga, tidak stress, cukup istirahat tetapi masih juga sering sakit. Setelah dicermati ternyata banyak orang dan klinisi sering tidak mencermati bahwa kekebalan tubuh utama seorang manusia sebagian besar terbentuk di saluran cerna. Saat saluran cerna sering terganggu maka kekebalan tubuh juga terganggu. Sehingga banyak data menunjukkan pada penderita dengan kekebalan tubuh menurun sering sakit serimngkali mengalami hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna.

Segera berobat ketika merasakan sakit

  • Rasulullah SAW bersabda: “Berobatlah kalian maka sesungguhnya Allah tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya. Selain satu yang tidak ada obatnya yaitu tua.” (HR. At Tirmidzi)
  • Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah telah menurunkan pula obatnya, baik obat yang telah diketahui maupun yang belum diketahui orang, kecuali penyakit maut.” (HR. Hakim).
  • Dua hadis diatas menjelaskan kepada  kita bahwa setiap penyakit yang Allah berikan kepada manusia pasti ada obatnya. Manusia telah mengembangkan berbagai obat yang cocok untuk mengatasi berbagai penyakit sesuai dengan perkembangan zaman. Obat-obat tersebut berasal dari bahan-bahan alami, buatan, ataupun perpaduan keduanya. Selain itu, masih banyak obat-obatan yang belum diketahui oleh banyak orang sehingga berbagai upaya penelitian dapat dilakukan untuk mengembangkan obat yang baru. Hadis tersebut juga menjelaskan kepada kita bahwa tua dan kematian tidak dapat dihambat dengan obat.

Jangan berobat dengan sesuatu yang haram

  • Meskipun berobat itu diperintahkan oleh agama, tetapi penggunaan obat dibatasi pada hal-hal yang halal. Tidak dibenarkan menjadikan sesuatu yang haram atau najis menjadi obat. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala tidaklah menjadikan obat untuk penyembuhanmu, pada apa-apa yang diharamkan atasmu.” (HR. Thabrani dari Ummu Salamah).

Sakit adalah cobaan dari Allah SWT

  • Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan, sehingga menumpuk pada dirinya banyaknya, kecuali Allah hapuskan akan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberitahukan kepada kita bahwa penyakit adalah suatu cobaan yang Allah SWT berikan kepada seorang muslim. Allah SWT akan menghapus dosa-dosa seorang muslim yang mengalami penyakit. Hal ini merupakan motivasi dan semangat kita untuk dapat pulih dari penyakit yang menimpa kita. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya bila Allah mencintai suatu kaum, diujinya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, akan memperoleh keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka (tidak ridha), dia akan memperoleh kemurkaan Allah.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Berbaik sangka kepada Allah

  • Allah SWT berfirman: “Dan bila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.” (QS. Asy Syu’ara ayat 80). Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi: “Aku senantiasa berada di samping hamba-Ku yang berbaik sangka dan aku tetap bersamanya selama dia tetap ingat pada-Ku (HR. Bukhari Muslim).

wp-1584275330484.jpg

wp-1584263363361.jpg

Proses Pembuahan Kehamilan: Antara Ilmu Kedokteran dan Al Quran

Proses pembuahan dimulai ketika sel sperma bertemu dengan sel telur di dalam rahim. Tidak ada orang yang tahu pasti saat pembuahan terjadi, hingga akhirnya muncul tanda-tanda kehamilan. Sel telur dalam tubuh wanita, matang pada periode tertentu setiap bulannya. Sementara tubuh pria senantiasa memproduksi jutaan sperma. Namun dari sekitar 350 juta sperma yang diproduksi saat ejakulasi, paling tidak hanya satu sperma yang berhasil membuahi sel telur.

Proses Pembuahan

  • Saat mencapai orgasme, pria mengeluarkan cairan mani yang kaya akan sperma. Cairan ini melesat ke dalam rahim mencari jalan untuk bertemu dengan sel telur.
  • Kontraksi lembut pada rahim membantu sperma dalam saluran reproduksi wanita hingga mencapai sel telur. Sperma-sperma akan melakukan perjalanan sepanjang kurang lebih 18 cm dari leher rahim ke tuba falopi, yaitu lokasi sel telur berada. Sperma pertama yang bertemu dengan sel telur akan berusaha menembus cangkang sel telur agar terjadi pembuahan.
  • Umumnya sperma-sperma ini dapat berenang dengan kecepatan 2,5 cm tiap 15 menit. Sebagian sperma dapat menghabiskan waktu setengah hari untuk mencapai tujuan. Waktu paling cepat sperma mencapai sel telur dalam waktu 45 menit
  • Pembuahan harus terjadi dalam waktu 24 jam setelah sel telur dihasilkan. Setelah salah satu sperma berhasil menembus sel telur, maka sel telur akan berubah bentuk dan membentuk lapisan sehingga sperma lain tidak bisa menembus masuk. Inilah yang disebut proses pembuahan, dan akan berlanjut menjadi proses kehamilan.
  • Namun, jika sperma tidak juga menemukan sel telur untuk dibuahi, mereka dapat tetap bertahan dalam tuba falopi hingga tujuh hari setelah hubungan seksual. Jika dalam tujuh hari tersebut wanita mengalami ovulasi, maka masih ada kemungkinan akan terjadi pembuahan dan kehamilan. Ovulasi adalah pelepasan sel telur dari salah satu indung telur di dalam rahim untuk dibuahi oleh sperma.

Setelah Sel Telur Dibuahi

  • Setelah proses pembuahan, materi genetik dalam sperma dan sel telur yang telah dibuahi atau zigot berkombinasi membentuk sel-sel baru. Sel-sel yang terbentuk kemudian akan menuruni tuba falopi menuju rahim.
  • Dalam perjalanan menuju rahim, sel-sel tersebut terus membelah diri hingga menjadi lebih dari 100 sel saat tiba di rahim, menjadi embrio. Kehamilan baru akan terjadi ketika embrio telah menanamkan diri pada dinding rahim untuk kemudian berkembang. Proses ini disebut implantasi.
  • Sebagian wanita mengalami pendarahan ringan saat implantasi, yaitu sekitar 1-2 hari. Saat dinding rahim menguat, leher rahim juga tertutup dengan cairan, sehingga menjadi tempat yang layak sebagai tempat bayi berkembang.

Ayat Quran Tentang Pembuhan hingga Kehamilan

QS 3 ayat 6.
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَ رْحَا مِ كَيْفَ يَشَآءُ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
huwallazii yushowwirukum fil-ar-haami kaifa yasyaaa`, laaa ilaaha illaa huwal-‘aziizul-hakiim

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 6)

QS 7 ayat 189. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّـفْسٍ وَّا حِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَا ۚ فَلَمَّا تَغَشّٰٮهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيْفًا فَمَرَّتْ بِهٖ ۚ فَلَمَّاۤ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ اٰتَيْتَـنَا صَا لِحًا لَّـنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ
huwallazii kholaqokum min nafsiw waahidatiw wa ja’ala min-haa zaujahaa liyaskuna ilaihaa, fa lammaa taghosysyaahaa hamalat hamlan khofiifan fa marrot bih, fa lammaaa asqolad da’awalloha robbahumaa la`in aataitanaa shoolihal lanakuunanna minasy-syaakiriin

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 189)

QS 22 ayat 5.

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اِنْ كُنْـتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَـعْثِ فَاِ نَّـا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَا بٍ ثُمَّ مِنْ نُّـطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمْ ۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَ رْحَا مِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْۤا اَشُدَّكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ وَتَرَى الْاَ رْضَ هَا مِدَةً فَاِ ذَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَ نْۢبَـتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
yaaa ayyuhan-naasu ing kuntum fii roibim minal-ba’si fa innaa kholaqnaakum min turoobin summa min nuthfatin summa min ‘alaqotin summa mim mudhghotim mukhollaqotiw wa ghoiri mukhollaqotil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-ar-haami maa nasyaaa`u ilaaa ajalim musamman summa nukhrijukum thiflan summa litablughuuu asyuddakum, wa mingkum may yutawaffaa wa mingkum may yuroddu ilaaa arzalil-‘umuri likai laa ya’lama mim ba’di ‘ilmin syai`aa, wa tarol-ardho haamidatan fa izaaa anzalnaa ‘alaihal-maaa`ahtazzat wa robat wa ambatat ming kulli zaujim bahiij

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.”

(QS. Al-Hajj 22: Ayat 5)

.

QS 23 ayat 12, 13, 14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ
wa laqod kholaqnal-insaana min sulaalatim min thiin

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 12)

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ ۖ
summa ja’alnaahu nuthfatan fii qoroorim makiin

“Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ ۗ
summa kholaqnan-nuthfata ‘alaqotan fa kholaqnal-‘alaqota mudhghotan fa kholaqnal-mudhghota ‘izhooman fa kasaunal-‘izhooma lahman summa ansya`naahu kholqon aakhor, fa tabaarokallohu ahsanul-khooliqiin

“Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 14)

Qs 32 ayat 8, 9

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّآءٍ مَّهِيْنٍ ۚ
summa ja’ala naslahuu min sulaalatim mim maaa`im mahiin

“kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 8)

ثُمَّ سَوّٰٮهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصَا رَ وَا لْاَ فْــئِدَةَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
summa sawwaahu wa nafakho fiihi mir ruuhihii wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af`idah, qoliilam maa tasykuruun

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 9)

Qs 35 ayat 11

Qs 36 ayat 77

Qs 39 ayat 6

Qs 53 ayat 46

Qs 70 ayat 39

Qs 71 ayat 14

Qs 75 ayat 37,38

Qs 76 ayat 2

Tafsir Quran 7-26: Adab Pakaian Dunia dan Pakaian Akhirat Menurut Quran

Al-A’raf, ayat 26

{يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) }

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan anugerah yang telah diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, antara lain Dia telah menjadikan untuk mereka pakaian dan perhiasan. Pakaian untuk menutupi aurat, sedangkan perhiasan untuk memperindah penampilan lahiriah. Pakaian termasuk kebutuhan pokok, sedangkan perhiasan termasuk keperluan sampingan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ar-riyasy menurut istilah bahasa Arab ialah perabotan rumah tangga dan aksesori pakaian.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Imam Bukhari meriwayatkan pula darinya, bahwa ar-riyasy ialah harta benda.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Urwah ibnuz Zubair, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ar-risy artinya pakaian, sedangkan al-disy artinya kemewahan.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ar-riyasy artinya kecantikan.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا أصْبَغُ، عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ الشَّامِيِّ قَالَ: لَبِسَ أَبُو أُمَامَةَ ثَوْبًا جَدِيدًا، فَلَمَّا بَلَغَ تَرْقُوَتَه قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي، وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي. ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنِ اسْتَجَدَّ ثَوْبًا فَلَبِسَهُ فَقَالَ حِينَ يَبْلُغُ تَرْقُوَتَهُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي، وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي ثُمَّ عَمَدَ إِلَى الثَّوْبِ الَّذِي خَلُقَ أَوْ: أَلْقَى فَتَصَدَّقَ بِهِ، كَانَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ، وَفِي جِوَارِ اللَّهِ، وَفِي كَنَفِ اللَّهِ حَيًّا وَمَيِّتًا، [حَيًّا وَمَيِّتًا، حَيًّا وَمَيِّتًا] “

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Asbag, dari Abul Ala Asy-Syami yang menceritakan bahwa Abu Umamah memakai pakaian baru, ketika pakaiannya sampai pada tenggorokannya, ia mengucapkan doa berikut: Segala puji bagi Allah yang telah memberi saya pakaian untuk menutupi aurat saya dan untuk memperindah penampilan dalam hidup saya. Kemudian Abu Umamah mengatakan, ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab bercerita bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Barang siapa memakai pakaian baru dan di saat memakainya hingga sampai pada tenggorokannya ia mengucapkan doa berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi saya pakaian untuk menutupi aurat saya dan untuk memperindah penampilan dalam hidup saya,” kemudian ia menuju ke pakaian bekasnya dan menyedekahkannya, maka ia berada di dalam jaminan Allah dan berada di sisi Allah serta berada di dalam pemeliharaan Allah selama hidup dan mati(nya).

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui riwa­yat Yazid ibnu Harun, dari Asbag (yaitu Ibnu Zaid Al-Juhani) yang dinilai siqah oleh Yahya ibnu Mu’indan lain-lainnya. Gurunya bernama Abul Ala Asy-Syami, ia tidak dikenal melainkan hanya melalui hadis ini, tetapi hadis ini tidak ada seorang pun yang mengetengahkannya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُخْتَارُ بْنُ نَافِعٍ التَّمَّارُ، عَنْ أَبِي مَطَرٍ؛ أَنَّهُ رَأَى عَلِيًّا، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَتَى غُلَامًا حَدَثًا، فَاشْتَرَى مِنْهُ قَمِيصًا بِثَلَاثَةِ دَرَاهِمَ، وَلَبِسَهُ إِلَى مَا بَيْنَ الرُّسْغَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، يَقُولُ وَلَبِسَهُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَزَقَنِي مِنَ الرِّيَاشِ مَا أَتَجَمَّلُ بِهِ فِي النَّاسِ، وَأُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي. فَقِيلَ: هَذَا شَيْءٌ تَرْوِيهِ عَنْ نَفْسِكَ أَوْ عَنْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: هَذَا شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ الْكِسْوَةِ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَزَقَنِي مِنَ الرِّيَاشِ مَا أَتَجَمَّلُ بِهِ فِي النَّاسِ، وَأُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي “

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Mukhtar ibnu Nafi’, dari Abu Matar, bahwa ia melihat Ali Radhiyallahu Anhu mendatangi seorang penjual kain, kemudian ia membeli sebuah baju gamis darinya dengan harga tiga dirham. Lalu ia memakainya di antara persendian tangan dan kedua mata kakinya. Ketika memakainya, ia mengucapkan doa berikut: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rezeki pakaian kepadaku untuk memperindah penampilanku di kalangan manusia dan untuk menutupi auratku. Ketika ditanyakan kepadanya, “Apakah doa ini darimu sendiri, ataukah engkau riwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?” Ali Radhiyallahu Anhu menjawab bahwa doa itu ia dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang membacakannya di saat memakai jubah, yaitu: Segala puji bagi Allah yang telah memberiku rezeki berupa per­hiasan untuk memperindah penampilan diriku di kalangan orang-orang lain dan untuk menutupi auratku.

Hadis riwayat Imam Ahmad.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ}

Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. (Al-A’raf: 26)

Sebagian ulama membacanya libasat taqwa dengan harakat nasab, sedangkan sebagian yang lain membacanya rafa’ sebagai mubtada, dan zalika khair berkedudukan menjadi khabar-nya. Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya.

Ikrimah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan libasut taqwa ialah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang bertakwa kelak di hari kiamat. Demikian menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Zaid ibnu Ali, As-Saddi, Qatadah, dan Ibnu Juraij mengatakan bahwa libasut taqwa ialah iman. Sedangkan menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, libasut taqwa ialah amal saleh.

Ad-Dayyal ibnu Amr meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud ialah pertanda baik yang ada pada wajah. Disebutkan dari Urwah ibnuz Zubair bahwa libasut taqwa ialah takut kepada Allah.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa libasut taqwa ialah bertakwa kepada Allah; dengan pakaian itu seseorang menutupi auratnya, demikianlah pengertian libasut taqwa.

Pengertian semua pendapat tersebut mirip. Hal ini diperkuat dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir; ia mengatakan bahwa:

حَدَّثَنِي الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَجَّاجِ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَرْقَمَ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَمِيصٌ قُوهي مَحْلُولُ الزِّرِّ، وَسَمِعْتُهُ يَأْمُرُ بِقَتْلِ الْكِلَابِ، وَيَنْهَى عَنِ اللَّعِبِ بِالْحَمَامِ. ثُمَّ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ فِي هَذِهِ السَّرَائِرِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، مَا عَمِلَ أَحَدٌ قَطُّ سِرًّا إِلَّا أَلْبَسُهُ اللَّهُ رِدَاءً عَلَانِيَةً، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ”. ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: “وَرِيَاشًا” وَلَمْ يَقْرَأْ: وَرِيشًا – {وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ} قَالَ: “السَّمْتُ الْحَسَنُ”.

telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Ismail, dari Sulaiman ibnu Arqam, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah melihat Khalifah Usman ibnu Affan Radhiyallahu Anhu berada di atas mimbar Rasulullah dengan memakai baju gamis berkancing yang terbuka kancing-kancingnya. Lalu ia mendengarnya memerintahkan agar semua anjing dibunuh, dan ia melarang bermain burung merpati. Kemudian Khalifah Usman berkata, “Hai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dalam lubuk hati kalian, karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Demi Tuhan yang jiwa Muhammad ada pada genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali seseorang memendam sesuatu dalam lubuk hatinya, melainkan Allah akan memakaikan kepadanya hal itu dalam bentuk kain selendang secara lahiriah (kelak di hari kiamat). Jika apa yang dipendamnya itu baik, maka pakaiannya baik; dan jika yang dipendamnya itu jahat, maka pakaiannya jahat (buruk) pula’.” Kemudian Khalifah Usman membacakan firman-Nya: dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. (Al-A’raf: 26); Khalifah Usman mengatakan, libasut taqwa ialah tanda yang baik.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui riwayat Sulaiman ibnu Arqam, tetapi di dalamnya terkandung ke-daif-an (kelemahan).

Imam Syafii, Imam Ahmad, dan Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Kitabul Adab (Pembahasan Etika) melalui berbagai jalur yang sahih dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa ia pernah mendengar Amirul Mukminin Usman ibnu Affan memerintahkan untuk membunuh semua anjing dan menyembelih burung-burung merpati. Hal ini dikemukakan-nya pada hari Jumat di atas mimbarnya.

Adapun mengenai hadis marfu’ yang melaluinya, telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani di dalam kitab Mu’jamul Kabir­nya. Hadisnya ini mempunyai syahid dari jalur lain, yang menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami.

Menkopolhukam: Tidak Ada Islamofobia, Sekjen PBB: Islamofobja Meningkat Pesat Memprihatinkan

Ketika dalam acara ILC TV one, Selasa 11/2/20120 Menkopolhukam Prof Mahfud MD mengatakan dengan lantang bahwa tidak ada islamofobia di Indonesia. Justru sebaliknya sekjen PBB mengatakan Islamofobia meningkat pesat di dunia. Tampakhya umat muslim mungkin akan lebih percaya dengan pendapat sekjen PBB, karena di dunia medsos Indonesia tiada hari tanpa ujaran kebencian Islamofobia

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya Islamofobia di seluruh dunia. Dia menyebut tidak ada toleransi bagi pihak-pihak yang kerap menyuarakan Islamofobia. “Kita melihat hari ini bahwa migran atau pengungsi diserang oleh politisi populis atau pembenci agama lainnya. Bagi saya, ini sangat jelas bahwa kita perlu memerangi Islamofobia,” ujar Gutteres dilansir Anadolu Agency, Senin (17/2).

Gutteres mengatakan, ujaran kebencian merupakan salah satu instrumen yang kerap memunculkan Islamofobia. Menurut dia, belum lama ini PBB telah meluncurkan inisiatif untuk melawan ujaran kebencian terhadap umat Islam. “Kami sepenuhnya berkomitmen dalam tindakan kami di seluruh dunia untuk memerangi semua bentuk populisme yang mencoba menggunakan Islamofobia dan bentuk kebencian nlainnya sebagai alat untuk memenangkan suara. Ini sama sekali tidak dapat diterima,” kata Guterres.

Gutteres tiba di Pakistan pada Ahad pagi. Dalam kunjungannya selama empat hari, Gutteres akan menyampaikan pidato dalam konferensi internasional tentang pengungsi Afghanistan di Pakistan. Selain itu, Guterres juga akan melakukan serangkaian pertemuan dengan Presiden Pakistan Arif Alvi, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, dan Menteri Luar Negeri Pakistan Makhdoom Shah Mahmood Qureshi.

Menteri Luar Negeri Pakistan Makhdoom Shah Mahmood Qureshi juga menyatakan keprihatinannya terhadap pertumbuhan Islamofobia di dunia. Dia menyatakan dampak Islamofobia sudah dirasakan pada politik di Eropa.
“Ini sangat berbahaya. Ini sudah mulai berdampak pada politik Eropa, karena Anda telah melihat bagaimana kaum kanan mengambil keuntungan dari itu,” ujar Qureshi.

MUI : Umat Islam Haram Rayakan Hari Valentine

Fatwa MUI : Umat Islam Haram Rayakan Hari Valentine

MUI : Umat Islam Haram Rayakan Hari Valentine

MUI Jawa Timur (Jatim) menyarankan umat Islam yang berada di daerahnya tidak merayakan hari Valentine. Fatwa haram merayakan hari Valentine itu tertuang dalam fatwa MUI Jatim Nomor: Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017 tentang Hukum Merayakan Hari Valentine Bagi Orang Islam. Di dalam fatwa tersebut disebutkan bahwa umat Islam haram mengikuti merayakan hari Valentine. Isi fatwanya seperti itu.

Terdapat empat alasan utama yang menjadi pertimbangan MUI mengharamkan umat Islam merayakan hari Valentine.

  1. Pertama, kegiatan Valentine bukan tradisi Islam.
  2. Kedua, di dalam kegiatan Valentine banyak hal yang bisa mengarah pada perbuatan tidak baik. “Jadi misalnya ada praktik pergaulan bebas dan sebagainya, berarti kita mendorong ke sana,” kata dia.
  3. Ketiga, kata Ainul, MUI harus berperan ikut menutup segala hal yang berpotensi pada keburukan pada perayaan Valentine.
  4. Keempat tidak boleh ikut menyiarkan sesuatu yang menimbulkan keburukan tadi,” lanjutnya.

Oleh karena itu, pihaknya menganjurkan umat Islam tidak turut serta merayakan dan ikut dalam nuansa kegembiraan perayaan hari Valentine.
“Orang Islam enggak usah ikut-ikutan lah. Di sini disebutkan mengikuti dan berpartisipasi dalam perayaan hari Valentine bagi orang Islam hukumnya haram,” jelasnya

MUI Pusat Haramkan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menyatakan, perayaan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang, hukumnya haram. Pasalnya, momentum yang dirayakan setiap 14 Februari itu, lebih banyak diisi dengan hal-hal buruk dan tidak bermanfaat, seperti, pesta dan mabuk-mabukkan. Pernyataan tersebut ditegaskan Ketua Komis Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/2/2008). “Kalau dilihat perayaannya, tidak mengelurkan fatwa secara khusus pun, itu sudah haram karena banyak yang pesta-pesta, mabuk-mabukan. Jadi, menurut saya, perayaan tersebut sudah haram,” ujar Kiai Ma’ruf.

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu, hukum haram bukan pada Valentine Day-nya, melainkan perayaan yang dilakukan masyarakat. “Bukan valentine-nya. Namun, cara memperingatinya yang haram karena sudah banyak yang menyimpang,” terangnya. Ia menambahkan, MUI akan membicarakan secara khusus tentang permasalahan tersebut, terutama berkaitan dengan apakah pihaknya perlu mengeluarkan fatwa secara khusus atau tidak. “Orang pasti tahu kalau perayaan sudah di luar aturan agama, pasti itu haram. Namun, untuk menjaganya, kita akan lakukan kajian terlebih dahulu,” tandasnya.

MUI Pakanbaru haramkan

Pendapat senada dikemukakan Ketua MUI Pekanbaru, Ilyas Husti. Ia mengimbau kepada masyarakat Riau agar tidak merayakan Valentine Day. “Kita mengimbau kepada umat muslim yang ada di Riau agar tidak merayakan hari valentine itu. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran Islam,” terangnya. Ilyas meminta agar masyarakat, terutama generasi muda Islam tidak terjebak kepada budaya Barat itu. Apalagi, selama ini, generasi penerus bangsa, dalam merayakan hari Valentine itu, dirayakan dengan melakukan hal maksiat. Untuk menghindari perbuatan yang bertentangan dengan hukum Islam, MUI mengajak seluruh lapisan masyarakat agar bersama-sama membentengi diri dengan iman dan takwa kepada Allah.

MUI Gresik : Dukung Haramkan Valentine

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik, Jawa Timur, melarang perayaan hari kasih sayang atau “Valentine Day” yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Larangan yang ditujukan kepada umat islam di Gresik ini disampaikan langsung oleh Ketua MUI Gresik K.H. Mansoer Sodiq selepas acara dialog tentang sertifikasi ulama bersama Kapolres Gresik dan Dandim Gresik, Selasa (7/2/2017).
Kiai Mansoer mengatakan, bahwa larangan itu meneruskan fatwa haram MUI Jawa

Timur pada 27 Januari 2017. Alasannya, perayaan hari Valentine buka budaya umat Islam, tapi budaya barat yang seharusnya tidak dirayakan oleh masyarakat Gresik.
“Saya sepakat mendukung fatwa dari MUI Jatim, bagaimana pun juga tidak boleh ada atribut yang biasa digunakan oleh umat agama lain, kemudian umat Islam ikut menggunakan itu sama saja dengan kita menyerupai mereka akhirnya jatuhnya ya haram,” kata Kiai Mansoer.
Selain melarang umat Islam di Gresik merayakan Valentine, pihak MUI Gresik juga menghimbau agar masyarakat terutama para pedagang di Kabupaten Gresik agar tidak ikut menjual pernak pernik dan atribut bernuansa Valentine.
“Bagi pedagang yang yang beragama Islam ya lebih baik tidak menjual dan mempromosikan, sebab hukumnya juga sama yaitu haram,” tegasnya

MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Jombang menyatakan pandangan keagamaannya bahwa perayaan hari valentine (valentine’s day) yang jatuh pada 14 Februari setiap tahunnya tidak perlu dirayakan. Bahkan MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk memperingati hari tersebut.

“Tidak perlu dirayakan, MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa bahwa perayaan valentine itu haram,” kata KH Cholil Dahlan, Ketua MUI Kabupaten Jombang ditemui di kantor Yayasan Darul Ulum Rejoso, Rabu (8/2/2017).

MUI menyatakan bahwa valentine itu bukan budaya asli Indonesia yang cenderung menjerumuskan pada kebiasaan melanggar norma. Di samping itu, perayaan valentine yang identik dengan bertemunya pasangan sejoli (laki-laki dan perempuan) dinilai hanya akan menimbulkan perbuatan maksiat.

“Segala perbuatan yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan, hukumnya tetap haram. Seperti zina, mendekati zina saja kita dilarang. Apalagi melakukannya. Begitu juga dengan valentine yang termasuk perbuatan mendekati zina,” jelas Kiai Cholil.

Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso ini mengimbau supaya masyarakat tidak merayakan hari valentine tersebut. Terutama kalangan muda-mudi yang biasanya merayakan momentum ini. “Jangan, ini tidak usah dirayakan. Ini bukan budaya kita,” ujarnya.

Kiai Cholil juga berharap lembaga pendidikan terlibat dalam memberikan pemahaman kepada pelajar supaya tidak merayakan valentine. “Kami memang belum mengirimkan surat resmi tentang fatwa haram peringatan valentine ini, tapi kami berharap semua pihak ikut aktif mensosialisasikan. Termasuk sekolah dan pemerintah daerah,” pungkasnya

Jangan Ajari Umat Muslim Masalah Toleransi. Toleransi Menurut Islam

Dalam beberapa tahun terakhir ini khususnya saat era pemerintahan Jokowi, umat muslim khususnya selalu menjadi sasaran fitnah tentang radikalisme, intoleransi, anarkis dan kekerasan. Padahal Agama Islam tidak pernah mengajarkan sekalipun masalah itu. Bahkan umat selalu diajarkan untuk menjauhi hal hal buruk tersebut. Tetapi semakin umat muslim menjauhi hal buruk itu itu tampaknya semakin banyak fitnah banyak menyerangnya. Padahal toleransi juga telah banyak diajarkan secara rinci dan tegas dalam Quran dan hadits.

Toleransi adalah sifat atau sikap menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya sendiri. Dalam pandangan Barat toleransi (tolerance) dimaknai menahan perasaan tanpa protes (to endure without protest), meskipun gagasannya itu salah (Lihat; The New International Webster Comprehensive Dictionary of The English Language, 1996:1320).

Seringkali masyarakat Indonesia dan sebagian umat muslim khususnya sering memaknai hal yang berbeda tentang toleransi. Bahkan ada yang menganggap toleransi yang dipahami sebagian umat keblablasan seperti ikut menghadiri kebaktian di gereja atau ikut bernyanyi lagu rokhani di gereja

ISLAM secara bahasa dimaknai tunduk, patuh dan pasrah, keselamatan, keamanan dan kedamaian. Berdasarkan makna tersebut, sebagai seorang muslim dalam konteks berkehidupan adalah pemberi keselamatan, menciptakan kerukunan dan pemberi rasa aman bagi orang lain, yang disebut dengan toleran. Islam toleran atau intoleran semakin menguatkan isunya ke publik di abad 21 ini.

Toleransi dalam Islam

  • Berbeda dengan Islam, Islam menyebut toleransi dengan tasamuh. Tasamuh memiliki tasahul (kemudahan). Artinya, Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia yakini sesuai dengan ajaran masing-masing, tanpa ada tekanan dan tidak mengusik ketauhidan (Lihat; Kamus al-Muhit, Oxford Study Dictionary English Arabic, 2008:1120).
  • Dalam konteks sosial dan agama, toleransi dimaknai, sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat, seperti “toleransi beragama” di mana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.
  • Toleransi dikenal dengan istilah “tasamuh”, yang berasal dari kata “sa-ma-ha” memiliki arti tasahul (kemudahan). Artinya bisa bermakna memperbolehkan, bisa bermakna memberikan.
  • Konsep tasamuh dalam Islam mengandung konsep rahmatan lil ‘alamin. Sekalipun Alquran tidak secara tegas menjelaskan tentang tasamuh, namun ditemui beberapa terma yang terkait dengan ini, di antaranya: Rahmah atau kasih sayang (QS. al-Balad: 17), al-‘Afw atau memaafkan (QS. al-Nur: 22), al-Safh atau berlapang dada (QS. al-Zukhruf: 89), al Salam atau keselamatan (QS. al-Furqan: 63), al-‘Adl atau keadilan, al-Ihsan atau kebaikan (QS. al-Nahl: 90) dan al-Tawhid yang bermakna menuhankan Allah Swt (QS. al-Ikhlas: 1-4)
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda, “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau bersabda, “Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran).”
  • Dari definisi itulah kemudian dijadikan dasar toleransi dalam Islam, bahwasanya Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia mampu termasuk menjalankan apa yang diyakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa ada tekanan dan tidak mengusik ketauhidan.
  • Meski begitu, tasamuh bukanlah menjadi alasan untuk meyakini bahwa semua agama sama benarnya seperti yang dipopulerkan oleh tokoh-tokoh pluralis. Berdasarkan ayat, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” Sebagian orang salah dalam memahami ayat ini sehingga terjebak dalam pemahaman pluralisme agama. Yaitu bahwa semua agama itu benar, dan Islam bukanlah agama yang paling benar.
  • Paham ini juga mengajarkan bahwa Islam memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama apa saja, dan agama apapun dapat mengantarkan pemeluknya kepada Surga.
  • Tasamuh justru mengajarkan kita untuk meyakini kebenaran hanya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, atau dengan kata lain tasamuh menghendaki adanya pluralitas bukan pluralisme.
  • Tasamuh mengandung konsep yang rahmatan lil ‘alamin. Berdasarkan surat an-Nahl ayat 90 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Bentuk toleransi

  • Sikap toleransi dan menghargai tidak hanya berlaku terhadap orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri, bahkan sikap toleran harus dimulai dari diri sendiri. Rasulullah saw mengingatkan agar ia memperhatikan dirinya dan memberi hak yang proporsional: “Sesungguhnya tubuhmu punya hak (untuk kamu istirahatkan) matamu punya hak (untuk dipejamkan) dan istrimu juga punya hak (untuk dinafkahkan).” (HR. Bukhari).
  • Terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Alquran menetapkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama (QS. al-Baqarah: 256). Sebab kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak-hak manusia yang sangat mendasar.
  • Tugas seorang Nabi, demikian juga seorang ulama, da’i, hanyalah menyampaikan risalah, bukan untuk memaksa dan menguasai. Dalam sejarahnya Rasulullah saw, tidak pernah memaksa orang lain (non muslim) untuk memeluk agama Islam, dan sebaliknya. Bahkan, melalui Piagam Madinah, Rasulullah saw telah memberikan jaminan kebebasan beragama kepada setiap orang.
  • Bentuk lain dari toleransi Islam yang terkait kebebasan beragama adalah tidak cepat-cepat menghukum kafir kepada orang yang masih menyisakan sedikit celah untuk disebut sebagai muslim. Imam Malik mengatakan, orang yang perbuatan dan pernyataannya mengarah kepada kekufuran dari sembilan puluh sembilan arah, tetapi masih menyisakan keimanan walau dari satu arah, maka dihukumi sebagai orang beriman
  • Sampai batas ini, toleransi masih bisa dibawa kepada pengertian syari’ah Islamiyah. Tetapi setelah itu berkembanglah pengertian toleransi bergeser semakin menjauh dari batasan-batasan Islam, sehingga cenderung mengarah kepada sinkretisme agama; agama berpijak dengan prinsip yang berbunyi: “semua agama sama baiknya”. Prinsip ini menolak kemutlakan doktrin agama yang menyatakan bahwa kebenaran hanya ada di dalam Islam (Innad dina ‘indallahi al-Islam). Lalu bagaimana Islam memandang toleran? Seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Islam melalui tasamuh, menghargai, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain.
  • Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan tahbisul haq bil batil, mencampur adukan antara hak dan batil, suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi, padahal itu merupakan sikap sinkretis yang dilarang oleh Islam. Harus kita bedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalah membenarkan semua keyakinan/agama. Hal ini dilarang oleh Islam karena termasuk syirik.
  • Sinkretisme mengandung tahbisul haq bil bathil (mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil), sedangkan toleran toleransi tetap memegang prinsip al-furqan bainal haq wal bathil (memilah atau memisahkan antara hak dan batil). Toleransi yang disalahpahami seringkali mendorong pelakunya pada alam sinkretisme. Gambaran yang salah ini ternyata lebih dominan dan bergaung hanya demi kepentingan kerukunan agama.
  • Dalam pandangan Islam, toleransi bukanlah fatamorgana atau bersifat semu. Tapi ia memiliki dasar yang kuat dan memiliki tempat utama, sesuai nash Alquran yang antara lain tercermin dalam firman-firman Allah berikut ini: “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19). “Barang siapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidak akan diterima daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85). Selanjutnya firman Allah Swt: “Lakum dinukum waliyadin” (Bagimu agamamu, bagiku agamaku).” (QS. Al-Kafirun: 5).

Islam Melarang Menyakiti Non-Muslim

  • Dalam Hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari sahabat Abdullah bin Amr, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari juga dari sahabat Abdullah bin Amr, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.”
  • Hadits yang menekankan pentingnya toleransi itu diarahkan kepada umat Islam untuk menjadi baik dan ramah kepada orang-orang non-Muslim yang telah membuat perdamaian dan kerjasama di bidang sosial, sipil, kemanusiaan, kegiatan ekonomi, politik, dan sebagainya. Dalam hadist lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang kewajiban setiap muslim untuk memberikan perlindungan terhadap kelompok minoritas non-Muslim di bawah kekuasaan Muslim (dzimmi dan mu’ahad).
  • Dalam Al Quran sendiri terdapat larangan menghina agama di luar Islam. Dalam surat Al-An’am ayat 108 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”
  • Kemudian dalam surat yang sangat popular Al-Kafirun ayat 6, “untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” Ayat ini turun ketika kaum kafir Quraisy mengajak Nabi Muhammad untuk menyembah tuhan-tuhan mereka.
  • Kaum kafir Quraisy mengatakan bahwa mereka akan mengikuti Islam asalkan Muhammad mau menyembah tuhan-tuhan mereka. Begitu turun ayat ini, Nabi Muhammad bersikap enggan mengikuti agama mereka, sembari mempersilahkan mereka beribadah.
  • Bahkan, pada saat wafatpun baju besi Nabi Muhammad masih tergadai di tangan salah seorang yahudi.
  • Aisyah radhiyallahu ‘anhaa mengatakan “Rasulullah wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum. ”
  • Bukankah jika butuh, nabi Muhammad bisa meminjam uang terhadap para sahabatnya yang kaya raya? Tetapi, disinilah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepada ummatnya bagaimana bergaul dengan non-Muslim.

Jenis Toleransi Yang diperbolehkan dalam islam

  • Prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)
  • Berbuat baik dan adil kepada setiap agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247)
  • Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244). Lihatlah Islam masih mengajarkan peduli sesama.
  • Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua.
  • Tetap berbuat baik kepada orag tua dan saudara Lihat contohnya pada Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).
  • Boleh memberi hadiah pada non muslim. Lebih-lebih lagi untuk membuat mereka tertarik pada Islam, atau ingin mendakwahi mereka, atau ingin agar mereka tidak menyakiti kaum muslimin. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari no. 2619). Lihatlah sahabat mulia ‘Umar bin Khottob masih berbuat baik dengan memberi pakaian pada saudaranya yang non muslim.
  • Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin. Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6).
  • Sesuai keadaan masing masing. Prinsip sesuai dengan keadaan, yakni tetap bertahan pada akidah, “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84) “Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)
  • Jangan mengorbankan agama. Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425).
  • Tidak berhubungan dengan perayaan non muslim. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724.
  • Tidak berhubungan dengan acara maksiat. Juga sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana.
  • Tidak memaksakan kehendak. Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita; Tidak mencela/ menghina agama lain dengan alasan apapun; serta Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya.
  • Menghargai orang lain. Antara lain : menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan.
  • Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah.
  • Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah. Islam adalah agama yang menyadari pentinganya interaksi, maka dalam islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda nabi, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah.

Tafsir Quran Ali Imran 55-58: Hai Isa, sesungguhnya Aku mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir.

Ali Imran, ayat 55-58
{إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (55) فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (56) وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (57) ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَليْكَ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ (58) }

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembali kalian, lalu Aku memutuskan di antara kalian tentang hal-hal yang selalu kalian berselisih padanya.” Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kusiksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur’an yang penuh hikmah.

Ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan firman-Nya:

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرافِعُكَ إِلَيَّ

Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajal mu dan mengangkat kamu kepada-Ku. (Ali Imran: 55)

Qatadah dan lain-lainnya mengatakan bahwa ungkapan ini termasuk versi ungkapan muqaddam dan mu’akhkhar, yakni mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang dahulu. Bentuk lengkapnya ialah, “Sesungguhnya Aku akan mengangkat kamu kepada-Ku dan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu, sesudah diangkat.”

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan mutawaffika ialah mematikan kamu.

Muhammad ibnu Ishak telah meriwayatkan dari orang yang tidak dicurigai, dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa Allah mematikannya selama tiga saat (jam) pada permulaan siang hari, yaitu ketika Allah mengangkatnya kepada Dia.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang Nasrani menduga bahwa Allah mematikannya selama tujuh jam, kemudian menghidupkannya kembali.

Ishaq ibnu Bisyr meriwayatkan dari Idris, dari Wahb, bahwa Allah mematikannya selama tiga hari, kemudian menghidupkannya dan mengangkatnya.

Matar Al-Waraq mengatakan, yang dimaksud ialah sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu dari dunia, tetapi bukan wafat dalam arti kata mati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir, bahwa yuwaffihi artinya mengangkatnya.

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wafat dalam ayat ini ialah tidur, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ

Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari. (Al-An’am: 60)

Juga dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِها وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنامِها

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. (Az-Zumar: 42)

Disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam apabila terbangun dari tidurnya selalu membaca doa berikut, yaitu:

“الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أحْيَانَا بَعْدَمَا أمَاتَنَا وإلَيْهِ النُّشُورُ”

Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami sesudah menidurkannya.

Makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلى مَرْيَمَ بُهْتاناً عَظِيماً. وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَما قَتَلُوهُ وَما صَلَبُوهُ وَلكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ

Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, ” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. (An-Nisa: 156-157)

sampai dengan firman-Nya:

وَما قَتَلُوهُ يَقِيناً بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً. وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً

mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, tetapi (sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (An-Nisa: 157-159)

Damir yang terdapat di dalam firman-Nya, “Qabla mautihi,” kembali (merujuk) kepada Isa ‘alaihissalam Dengan kata lain, tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa. Hal ini terjadi di saat Nabi Isa turun ke bumi sebelum hari kiamat, seperti yang akan diterangkan kemudian. Maka saat itu semua ahli kitab pasti beriman kepadanya karena menghapuskan jizyah dan tidak mau menerima kecuali agama Islam (yakni ia memerangi ahli kitab yang tidak mau masuk Islam).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ja’far, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Al-Hasan, bahwa ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu. (Ali Imran: 55), Yaitu wafat dengan pengertian tidur. Maksudnya, Allah mengangkatnya dalam tidurnya. Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkata kepada orang-orang Yahudi:

“إنَّ عِيسَى لم يَمُتْ، وَإنَّه رَاجِع إلَيْكُمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقَيامَةِ”

Sesungguhnya Isa itu belum mati, dan sesungguhnya dia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. (Ali Imran: 55)

Yakni dengan mengangkatmu ke langit oleh-Ku.

{وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ}

dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. (Ali Imran: 55)

Dan memang demikianlah kejadiannya, karena sesungguhnya ketika Al-Masih diangkat oleh Allah ke langit, semua sahabatnya berpecah-belah menjadi berbagai macam golongan dan sekte sesudah ia tiada. Di antara mereka ada yang tetap beriman kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, yaitu bahwa dia adalah hamba Allah, rasul-Nya, dan anak dari hamba perempuan-Nya. Ada yang berlebih-lebihan dalam menganggapnya, lalu mereka menjadikannya sebagai anak Allah. Golongan yang lainnya mengatakan bahwa dia adalah Allah, dan golongan yang lainnya lagi mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari tuhan yang tiga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan pendapat mereka di dalam Al-Qur’an dan sekaligus membantah tiap-tiap pendapat tersebut. Mereka terus-menerus dalam keadaan demikian selama masa kurang lebih tiga ratus tahun.

Kemudian muncullah bagi mereka seorang raja negeri Yunani yang dikenal dengan julukan Konstantin. Ia masuk ke dalam agama Nasrani. Menurut suatu pendapat, dia masuk ke dalam agama Nasrani sebagai siasat untuk merusaknya dari dalam, karena sesungguhnya dia adalah seorang ahli filsafat. Menurut pendapat yang lainnya lagi, dia orang yang tidak mengerti tentang agama Nasrani, tetapi dia mengubah agama Al-Masih buat mereka dan menyelewengkannya; serta melakukan penambahan dan pengurangan pada agama tersebut, lalu ia membuat kaidah-kaidah dan amanat yang besar, yang hal ini adalah merupakan pengkhianatan yang rendah. Di masanya daging babi dihalalkan, dan mereka salat menurutinya dengan menghadap ke arah timur, membuat gambar-gambar dan patung-patung di gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka atas perintahnya. Dan. dia menambahkan ke dalam puasa mereka sepuluh hari untuk menebus dosa yang telah dilakukannya, menurut dugaan mereka. Sehingga agama Al-Masih bukan lagi agama yang asli, melainkan agama Konstantin, hanya saja dia sempat membangun buat mereka banyak gereja dan tempat-tempat kebaktian yang jumlahnya lebih dari dua belas ribu rumah ibadat. Lalu ia membangun sebuah kota yang namanya diambil dari nama dirinya. Alirannya ini diikuti oleh keluarga raja dari kalangan mereka. Keadaan mereka yang demikian itu dapat mengalahkan orang-orang Yahudi. Semoga Allah membantu Yahudi dalam melawan mereka, karena Yahudi lebih dekat kepada kebenaran ketimbang mereka, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir. Semoga tetap atas mereka laknat Allah.

Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, maka orang-orang yang beriman kepadanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya dengan iman yang benar. Mereka adalah pengikut semua nabi yang ada di bumi ini, mengingat mereka percaya kepada Rasul, Nabi yang Ummi dari Arab, penutup para rasul dan penghulu Bani Adam secara mutlak. Beliau Shalallahu’alaihi Wasallam menyeru mereka untuk percaya kepada semua perkara yang hak. Oleh karena itu, mereka lebih berhak kepada setiap nabi daripada umat nabi itu sendiri yang menduga bahwa mereka berada dalam agama dan tuntunannya, padahal mereka telah mengubah dan menyelewengkannya. Kemudian seandainya tidak ada perubahan dan tidak diselewengkan, sesungguhnya Allah telah me-nasakh syariat semua rasul dengan diutus-Nya Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam yang membawa agama yang hak yang tidak akan berubah dan tidak akan diganti lagi sampai hari kiamat nanti. Agamanya tetap tegak, menang, dan unggul di atas agama lainnya. Karena itulah maka Allah membukakan bagi sahabat-sahabatnya belahan timur dan barat dari dunia ini. Mereka menjelajah semua kerajaan, dan semua negeri tunduk kepada mereka. Kerajaan Kisra mereka patahkan, dan kerajaan kaisar mereka hancurkan serta semua perbendaharaannya mereka jarah, lalu dibelanjakan untuk kepentingan jalan Allah. Seperti yang diberitakan kepada mereka oleh Nabi mereka dari Tuhannya, yaitu di dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا} الْآيَةَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. (An-Nur: 55), hingga akhir ayat.

Karena itulah, mengingat mereka adalah orang-orang yang sungguh beriman kepada Al-Masih, maka mereka dapat merebut negeri Syam dari tangan orang-orang Nasrani; dan mengusir mereka ke negeri Romawi, lalu orang-orang Nasrani kembali ke kota mereka, yaitu Konstantinopel. Islam dan para pemeluknya masih tetap berada di atas mereka sampai hari kiamat.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah memberitakan kepada umatnya bahwa akhirnya mereka kelak akan mengalahkan Konstantinopel dan memperoleh banyak ganimah darinya serta banyak sekali pasukan Romawi yang terbunuh hingga orang-orang belum pernah melihat korban perang yang banyak seperti itu, baik sebelum ataupun sesudahnya. Kami telah menulis sehubungan dengan hal ini dalam sebuah kitab yang tersendiri.


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَجاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلى يَوْمِ الْقِيامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيما كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذاباً شَدِيداً فِي الدُّنْيا وَالْآخِرَةِ وَما لَهُمْ مِنْ ناصِرِينَ

dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembali kalian, lalu Aku memutuskan di antara kalian tentang hal-hal yang selalu kalian berselisih padanya.” Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kusiksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (Ali Imran: 55-56)

Demikian pula dilakukan terhadap orang-orang yang kafir kepada Al-Masih dari kalangan orang-orang Yahudi atau berlebih-lebihan menilainya atau menyanjung-nyanjungnya secara kelewat batas dari kalangan pemeluk Nasrani. Allah pasti mengazab mereka di dunia dengan pembunuhan dan ditawan serta harta benda mereka dirampas, dan kekuasaan mereka dicabut serta di akhirat kelak azab yang diterima mereka lebih keras dan lebih berat.

وَما لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ واقٍ

dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah. (Ar-Ra’d: 34)


Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala mereka. (Ali Imran: 57)

Yakni di dunia dan di akhirat. Di dunia dengan mendapat pertolongan dan kemenangan, sedangkan di akhirat dengan mendapat surga yang tinggi.

{وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ}

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 57)


Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآياتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Demikian (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur’an yang penuh hikmah. (Ali Imran: 58)

Apa yang telah Kami ceritakan kepadamu, hai Muhammad, mengenai perkara Isa —permulaan kelahirannya dan urusan yang dialaminya— merupakan sebagian dari apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diwahyukan-Nya kepadamu. Ia diturunkan kepadamu dari lauh mahfuz, maka tiada kebimbangan dan tiada keraguan padanya. Perihalnya sama dengan makna firman-Nya yang terdapat di dalam surat Maryam, yaitu:

ذلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ مَا كانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحانَهُ إِذا قَضى أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Demikianlah kisah Isa putra Maryam, kisah yang sesungguhnya, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah.” Maka jadilah ia. (Maryam: 34-35)

Tafsir Ali Imran 52-54: Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Ali Imran, ayat 52-54
{فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (52) رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (53) وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (54) }

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil), berkatalah dia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul. Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).” Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى}

Maka tatkala Isa mengetahui. (Ali Imran: 52),

Yakni Isa ‘alaihissalam merasakan kebulatan tekad mereka dalam kekufurannya dan keberlangsungan mereka dalam kesesatan, maka ia berkata:

{مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ}

Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? (Ali Imran: 52)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ‘siapakah yang akan mengikutiku menegakkan agama Allah?’.

Sufyan As-Sauri dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah ‘siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku bersama dengan Allah?’. Pendapat Mujahid lebih dekat kepada kebenaran.

Menurut makna lahiriahnya, Nabi Isa bermaksud siapakah orang-orang yang mau menjadi penolong-penolongku untuk menyeru manusia menyembah Allah. Perihalnya sama dengan apa yang pernah dikatakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam musim-musim haji sebelum hijrah, yaitu:

“مَنْ رَجُل يُؤْوِيني عَلى [أَنْ] أُبَلِّغَ كلامَ رَبِّي، فإنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أنْ أُبَلِّغَ كَلامَ رَبِّي”

Siapakah orangnya yang mau membantuku hingga aku dapat menyampaikan kalam Tuhanku, karena sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Tuhanku!

Hingga beliau Shalallahu’alaihi Wasallam bersua dengan orang-orang Ansar, lalu mereka memberinya perlindungan dan pertolongan. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berhijrah kepada mereka, lalu mereka semuanya yang terdiri atas berbagai bangsa —ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit merah— membantunya dan melindunginya; semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepada mereka (orang-orang Ansar) dan semoga Allah memberi pahala yang memuaskan mereka.

Demikian pula halnya Nabi Isa ‘alaihissalam Ia dibantu oleh segolongan orang-orang dari kalangan Bani Israil, lalu mereka beriman kepadanya, membela dan menolongnya serta mengikuti cahaya yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ. رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ}

Para hawariyyin menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul. Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). (Ali Imran: 52-53)

Al-hawariyyun, menurut suatu pendapat mereka adalah orang-orang yang bertubuh pendek. Menurut pendapat yang lainnya, mereka dinamakan hawariyyin karena pakaian yang selalu mereka kenakan berwarna putih. Menurut’ pendapat yang lainnya lagi, mereka adalah para pemburu.

Menurut pendapat yang sahih, arti hawari ialah penolong. Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan kaum muslim dalam Perang Ahzab untuk bersiap-siap menghadapi peperangan, maka sahabat Az-Zubair membantu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan mengambil alih tugas ini, lalu Az-Zubair menyerukan hal tersebut kepada mereka. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“إنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَاريًا وَحَوَارِيي الزُّبَيْرُ”

Setiap nabi mempunyai penolong, dan penolongku adalah Az-Zubair.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami israil, dari Samak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu sehubungan dengan firman-Nya: Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi. (Ali Imran: 53) Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ialah menjadi saksi bersama-sama umat Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam

Sanad asar ini jayyid.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal segolongan orang-orang terkemuka Bani Israil dalam rencana mereka yang hendak membinasakan Nabi Isa ‘alaihissalam Mereka bertujuan ingin menimpakan kejahatan terhadapnya dan menyalibnya. Mereka semuanya bergabung untuk menentangnya dan menghasutnya ke hadapan raja di masa itu yang kafir. Mereka menyampaikan berita hasutan kepada si raja bahwa di sana ada seorang lelaki yang menyesatkan orang-orang banyak, menghalang-halangi mereka untuk taat kepada raja, merusak rakyat serta memecah-belah antara seorang ayah dan anaknya; dan hasutan-hasutan lainnya yang biasa mengakibatkan sanksi yang berat bagi pelakunya. Mereka melemparkan tuduhan terhadap Nabi Isa sebagai seorang pendusta, dan bahwa dia adalah anak zina. Hal tersebut membangkitkan kemarahan si raja, lalu ia mengirimkan orang-orangnya untuk menangkap dan menyalibnya serta menyiksanya.

Ketika mereka mengepung rumah Nabi Isa dan mereka menduga pasti dapat menangkapnya, maka Allah menyelamatkan Nabi Isa dari sergapan mereka. Allah mengangkatnya dari atap rumah tersebut ke langit. Kemudian Allah memiripkan rupa seorang lelaki yang ada di dalam rumah tersebut dengan Nabi Isa ‘alaihissalam

Ketika mereka masuk ke dalam rumah itu, mereka menduga lelaki tersebut sebagai Nabi Isa dalam kegelapan malam, lalu mereka menangkapnya dan menghinanya serta menyalibnya, lalu meletakkan duri di atas kepalanya.

Hal tersebut merupakan tipu daya dari Allah terhadap mereka, karena Dia akan menyelamatkan Nabi-Nya dan mengangkatnya dari hadapan mereka ke langit, serta meninggalkan mereka bergelimangan di dalam kesesatan. Mereka menduga bahwa mereka telah berhasil mencapai sasarannya. Dan Allah menempatkan di dalam hati mereka kekerasan dan keingkaran terhadap perkara yang hak. Hal ini melekat di hati mereka, dan Allah menimpakan kepada mereka kehinaan yang tidak pernah lekang dari diri mereka sampai hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ}

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali Imran: 54)

Tafsir Al Kahfi: Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.

Al-Kahfi, ayat 1-5
{الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (5) }

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebeng­kokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk mem­peringatkan akan siksaan yang sangat pedih di sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk sela­ma-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang kelu­ar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecua­li dusta.

Dalam pembahasan terdahulu pada permulaan kitab tafsir telah disebut­kan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diri-Nya sendiri Yang Mahasuci pada permulaan semua urusan dan pungkasannya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Terpuji dalam semua keadaan; bagi-Nya sesala puji, baik di dunia maupun di akhirat. Maka dalam permulaan surat ini Dia memulainya de­ngan pujian terhadap diri-Nya sendiri, bahwa Dia telah menurunkan Kitab­Nya (Al-Qur’an) yang mulia kepada rasul-Nya yang mulia, yaitu Muham­mad Shalallahu’alaihi Wasallam Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah nikmat yang paling besar yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada penduduk bumi, karena berkat Al-Qur’an mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju kepada cahaya yang terang. Kitab Al-Qur’an adalah kitab yang iurus, tiada kebengkokan dan tiada penyimpangan di dalamnya, bahkan Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia ke jalan yang lurus. Kitab Al-Qur’an adalah kitab yang jelas, terang, dan gamblang, memberikan peringatan terhadap orang-orang kafir dan menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا}

dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (Al- Kahfi: 1)

Artinya. Allah tidak menjadikannya mengandung kebengkokan, tidak pula kesesatan, tidak pula penyimpangan, bahkan Al-Qur’an dijadikan-Nya pertengahan lagi lurus. Seperti yang disebutkan firman-Nya:

{قَيِّمًا}

sebagai bimbingan yang lurus. (Al-Kahfi: 2)

Yakni lurus tidak bengkok.

{لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ}

untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2)

terhadap orang-orang yang menentang-Nya dan mendustakan-Nya serta tidak beriman kepada-Nya. A!-Qur’an memperingatkan mereka akan pembalasan yang keras dan siksaan yang disegerakan di dunia serta yang ditangguhkan sampai hari akhirat nanti.

{مِنْ لَدُنْهُ}

dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2)

Yaitu dari sisi Allah yang berupa siksaan yang tiada seorang pun dapat mengazab seperti azab yang ditimpakan oleh-Nya, dan tiada seorang pun dapat mengikat seperti ikatan-Nya.

{وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ}

dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Al-Kahfi: 2)

Maksudnya, dengan Al-Qur’an ini mereka yang imannya dibuktikan de­ngan amal saleh mendapat berita gembira.

{أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا}

bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. (Al-Kahfi: 2)

Yakni balasan pahala yang baik dari sisi Allah.

{مَاكِثِينَ فِيهِ}

mereka kekal di dalamnya. (Al-Kahfi: 3)

Mereka mendapat pahala yang kekal di sisi Allah, yaitu surga mereka kekal di dalamnya.

{أَبَدًا}

untuk selama-lamanya. (Al-Kahfi: 3)

Yakni mereka kekal dan abadi di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak pernah hilang dan tidak pernah habis nikmat yang diperolehnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا}

Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” (Al-Kahfi: 4)

Ibnu Ishaq mengatakan, makna yang dimaksud ialah orang-orang musyrik Arab, karena mereka mengatakan, “Kami menyembah malaikat-malaikat, mereka adalah anak-anak perempuan Allah.”

{مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ}

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan. (Al-Kahfi: 5)

Yaitu dengan ucapan yang mereka buat-buat dan mereka dustakan dari diri mereka sendiri itu.

{وَلا لآبَائِهِمْ}

begitu pula nenek moyang mereka. (Al-Kahfi: 5)

Yakni para pendahulu mereka,

{كَبُرَتْ كَلِمَةً}

Alangkah jeleknya kata-kata. (Al-Kahfi: 5)

Lafaz kalimatan di-nasab-kan sebagai tamyiz, bentuk lengkapnya ialah ‘Alangkah buruknya kalimat mereka yang ini’. Menurut pendapat yang lain, ungkapan ini adalah sigat (bentuk) ta’ajjub, bentuk lengkapnya ialah ‘Alangkah buruknya kata-kata mereka itu’, seperti kalimat, “Akrim bizaidin rajutan,” yakni alangkah mulianya Zaid sebagai seorang laki-laki. Demikianlah menurut sebagian ulama Basrah, dan sebagian ahli Qiraat Mekah membacanya demikian, yaitu kaburat kalimatan. Perihal­nya sama dengan kalimat kabura syanuka dan azuma qauluka, yakni ‘alangkah buruknya keadaanmu’ dan ‘alangkah buruknya ucapanmu’.

Makna yang dimaksud menurut qiraat jumhur ulama lebih jelas, bah­wa sesungguhnya ungkapan ini dimaksudkan kecaman terhadap ucapan mereka, dan bahwa apa yang mereka katakan itu merupakan kebohongan yang besar. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ}

Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. (Al-Kahfi: 5)

Yakni tidak berdasarkan kepada suatu bukti pun melainkan hanya semata-mata dari ucapan mereka sendiri yang dibuat-buat oleh mereka sebagai suatu kedustaan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا}

mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (Al-Kahfi: 5)

Muhammad ibnu Ishaq telah menyebutkan tentang latar belakang turun­nya ayat ini. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang syekh (guru) dari kalangan ulama Mesir yang telah tinggal bersa­ma kaumnya sejak empat puluh tahun yang lalu, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengutus An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu’h kepada orang-orang alim Yahudi di Madinah. Kaumnya berpesan kepada mereka, “Tanyakan­lah kepada orang-orang Yahudi itu tentang Muhammad, dan ceritakanlah kepada mereka tentang sifatnya serta beritahukanlah kepada mereka tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya mereka adalah Ahli Kitab yang terdahulu. Mereka mempunyai pengetahuan yang tidak kita miliki tentang para nabi.”

Keduanya berangkat meninggalkan kota Mekah menuju Madinah. Setelah sampai di Madinah, keduanya bertanya kepada ulama Yahudi tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan menceritakan kepada mereka sifat-sifatnya serta sebagian dari ucapannya. Untuk itu keduanya mengatakan, “Se­sungguhnya kalian adalah Ahli Kitab Taurat, kami datang kepada kalian untuk memperoleh informasi tentang teman kami ini (maksudnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam)”

Ulama Yahudi itu menjawab, “Tanyakanlah oleh kalian kepada dia tentang tiga perkara yang akan kami terangkan ini. Jika dia dapat menja­wabnya, berarti dia benar-benar seorang nabi yang diutus. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, berarti dia adalah seseorang yang mengaku-aku dirinya menjadi nabi; saat itulah kalian dapat memilih pendapat sendiri terhadapnya. Tanyakanlah kepadanya tentang beberapa orang pemuda yang pergi meninggalkan kaumnya di masa silam, apakah yang dialami oleh mereka? Karena sesungguhnya kisah mereka sangat menakjubkan. Dan tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang melanglang buana sampai ke belahan timur dan barat, bagaimanakah kisahnya. Dan tanyakanlah kepadanya tentang roh, apakah roh itu? Jika dia mencerita­kannya kepada kalian, berarti dia adalah seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. Tetapi jika dia tidak menceritakannya kepada kalian, maka sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang mengaku-aku saja. Bila demikian, terserah kalian, apa yang harus kalian lakukan terhadapnya.”

Maka An-Nadr dan Uqbah kembali ke Mekah. Setelah tiba di Me­kah, ia langsung menemui orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada mereka, “Hai orang-orang Quraisy kami datang kepada kalian dengan membawa suatu kepastian yang memutuskan antara kalian dan Muham­mad. Ulama Yahudi telah menganjurkan kepada kami untuk menanyakan kepadanya beberapa perkara,” lalu keduanya menceritakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada mereka.

Mereka datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan berkata, “Hai Muham­mad, ceritakanlah kepada kami!’ Lalu mereka menanyainya dengan per­tanyaan-pertanyaan yang dianjurkan oleh para pendeta Yahudi tadi. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab mereka, “Aku akan menceritakan jawaban dari pertanyaan kalian itu besok,” tanpa menentukan batas waktunya.

Mereka bubar meninggalkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tinggal selama lima belas hari tanpa ada wahyu dari Allah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Malaikat Jibril pun tidak turun kepadanya selama itu, hingga penduduk Mekah ramai membicarakannya. Mereka mengatakan, “Muhammad telah menjanjikan kepada kita besok, tetapi sampai lima belas hari dia tidak menjawab sepatah kata pun tentang apa yang kami tanyakan kepadanya.”

Karenanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersedih hati, wahyu terhenti darinya dan beliau merasa berat terhadap apa yang diperbincangkan oleh pendu­duk Mekah tentang dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril kepadanya dengan membawa surat yang di dalamnya terkandung kisah Ashabul Kahfi (para penghuni gua), dan surat itu mengandung teguran pula terhadap diri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang bersedih hati atas sikap mere­ka. Surat itu juga mengandung jawaban dari pertanyaan mereka tentang kisah para pemuda yang menghuni gua serta lelaki yang melanglang buana (Zul Qarnain), juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah, “Roh itu, (Al-Isra: 85), hingga akhir ayat.”

Benarkah Jilbab Tidak Wajib ?

Istri Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah menyampaikan sambutan pada peringatan Haul ke-10 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Sabtu malam, 28 Desember 2019. Gus Dur berpulang pada 30 Desember 2009, setelah dirawat karena komplikasi sejumlah penyakit. ANTARA/Asprilla Dwi Adha. Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab. Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. “Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup,” kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. “Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar,” kata Sinta. Selama ini ia berusaha mengartikan ayat-ayat Al Quran secara kontekstual bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Al Quran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi. “Dipengaruhi oleh adat budaya setempat, cara berpikir dia juga itu mempengaruhi pemahaman terhadap ayat-ayat agama yang bukan menjadi bahasanya, yang sama bahasanya pun bisa salah juga mengartikannya,” kata Sinta.

Perintah Jilbab

Perintah mengenakan jilbab sebagaimana diterangkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Pengertian Jilbab Menurut Madzhab Syafi’i

Imam Nawawi rahimahullahberkata, “Disebutkan dalam Al-Bayan, jilbab adalah khimar (penutup kepala) dan izar (kain penutup badan). Al-Khalil berkata, “Jilbab itu lebih lebar dari khimar dan lebih tipis dari izar.” Al-Mahamili berkata, “Jilbab adalah izar (kain penutup badan) itu sendiri.” Penulis kitab Al-Matholi’ berkata bahwa An-Nadhr bin Syamil berkata, “Jilbab adalah kain yang lebih pendek dari khimar, yang lebih lebar dan menutup kepala wanita.” Penulis Matholi’ mengatakan, ulama lainnya berkata bahwa jilbab adalah kain yang lebar selain rida’ (mantel) yang di mana kain tersebut menutupi punggung dan dada wanita. Ibnul A’robi juga mengatakan bahwa jilbab adalah izar (kain penutup badan). Ada pula ulama yang mengatakan, “Jilbab adalah baju panjang.”

Ulama lainnya berkata bahwa jilbab adalah baju panjang yang menyelimuti baju bagian dalam wanita. Pendapat terakhir inilah yang dimaksud oleh Imam Syafi’i, Imam Asy-Syairozi dan ulama Syafi’iyah lainnya. Itulah yang dimaksud dengan izar oleh para ulama yang diungkapkan di atas seperti dari Al-Mahamili dan lainnya. Izar yang dimaksud di sini bukanlah kain sarung.” (Al-Majmu’, 3:125).

Kemudian Imam Nawawi membawakan dalil mengenai masalah penutup aurat wanita di atas dengan membawakan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ia bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengenai apakah boleh wanita shalat dengan dengan gamis (yang menutupi badan hingga kaki) dan khimar (penutup kepala), ia tidak memakai izar (sarung). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab,

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّى ظُهُورَ قَدَمَيْهَا

“Boleh jika gamis tersebut menutupi punggung telapak kakinya.” (HR. Abu Daud, no. 640. Imam Nawawi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid). Imam Nawawi menyatakan bahwa kebanyakan perowi meriwayatkan dari Ummu Salamah secara mauquf, berarti hanya perkataan Ummu Salamah saja. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits tersebut shahih sesuai syarat Al-Bukhari.

Ada hadits pula dari Ibnu ‘Umar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَكَيْفَ يَصْنَعْنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ قَالَ « يُرْخِينَ شِبْرًا ». فَقَالَتْ إِذًا تَنْكَشِفَ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Siapa yang menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena sombong, maka Allah pasti tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” Ummu Salamah lantas berkata, “Lalu bagaimana para wanita menyikapi ujung pakaiannya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hendaklah mereka menjulurkannya sejengkal.” Ummu Salamah berkata lagi, “Kalau begitu, telangkap kakinya masih tersingkap.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Turunkan satu hasta, jangan lebih dari itu.” (HR. Tirmidzi, no. 1731 dan An-Nasa’i, no. 5338. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Lihat Al-Majmu’, 3:124.

Tafsir Surah An-Nuur

Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖوَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ …

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….” (QS. An-Nuur: 31)

Jilbab itu Biar Tidak Digoda

Syaikh As-Sa’di rahimahullahberkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 711)

Tiga Sifat Wanita yang Tidak Akan Mencium Bau Surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128).

Apa yang dimaksud dengan sifat kedua dari wanita yang disebutkan dalam hadits di atas?

(1) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.
wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.
(2) Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat

Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:

Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.
Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya.
Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggak lenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.
(3) Wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring

Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14:98-99).

Insya Allah akan dilanjutkan pada bahasan berikut dengan “12 Syarat Pakaian Wanita” disertai dengan dalil yang lebih lengkap. Semoga bermanfaat, moga Allah beri taufik dan hidayah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : Rumaysho.Com

Tafsir Quran An Nur 31: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya

An-Nur ayat 31
{وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31) }

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “

Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya

. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.

Tafsir Quran An Nur 31: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya

Ini adalah perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ditujukan kepada kaum wanita mukmin, sebagai pembelaan Allah buat suami-suami mereka yang terdiri dari hamba-hamba-Nya yang beriman, serta untuk membedakan wanita-wanita yang beriman dari ciri khas wanita Jahiliah dan perbuatan wanita-wanita musyrik.

Disebutkan bahwa latar belakang turunnya ayat ini seperti yang disebutkan oleh Muqatil ibnu Hayyan, telah sampai kepada kami bahwa Jabir ibnu Abdullah Al-Ansari pernah menceritakan bahwa Asma binti Marsad mempunyai warung di perkampungan Bani Harisah, maka kaum wanita mondar-mandir memasuki warungnya tanpa memakai kain sarung sehingga perhiasan gelang kaki mereka kelihatan dan dada mereka serta rambut depan mereka kelihatan. Maka berkatalah Asma, “Alangkah buruknya pakaian ini.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (An-Nur: 31), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ}

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (An-Nur: 31)

Yakni dari apa yang diharamkan oleh Allah bagi mereka, yaitu memandang kepada selain suami mereka. Karena itulah kebanyakan ulama berpendapat bahwa wanita tidak boleh memandang lelaki lain yang bukan mahramnya, baik dengan pandangan berahi ataupun tidak, secara prinsip.

Sebagian besar dari mereka berdalilkan kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Imam Turmuzi melalui hadis Az-Zuhri dari Nabhan maula Ummu Salamah yang menceritakan kepadanya bahwa Ummu Salamah pernah bercerita kepadanya bahwa pada suatu hari dia dan Maimunah berada di hadapan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, “Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum. Ibnu Ummi Maktum masuk menemui Rasulullah. Kejadian ini sesudah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kepada kami agar berhijab. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“احْتَجِبَا مِنْهُ”

‘Berhijablah kamu berdua darinya!’

Maka saya (Ummu Salamah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah dia buta tidak dapat melihat kami dan tidak pula mengetahui kami?’ maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“أَوَ عَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا؟ أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ”

‘Apakah kamu berdua juga buta? Bukankah kamu berdua dapat melihatnya?’.”

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Ulama lainnya berpendapat bahwa kaum wanita diperbolehkan memandang lelaki lain tanpa berahi. Seperti yang disebutkan di dalam kitab sahih, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyaksikan orang-orang Habsyah sedang memainkan atraksi dengan tombak mereka di hari raya di dalam masjid, sedangkan Aisyah Ummul Mu’minin menyaksikan pertunjukan mereka dari balik tubuh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menutupinya dari pandangan mereka hingga Aisyah bosan, lalu pulang.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ}

dan memelihara kemaluannya. (An-Nur: 31)

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, maksudnya yaitu memelihara kemaluannya dari perbuatan keji.

Menurut Qatadah dan Sufyan, dari perbuatan yang tidak dihalalkan baginya.

Sedangkan menurut Muqatil, dari perbuatan zina.

Abul Aliyah mengatakan bahwa semua ayat Al-Qur’an yang menyebutkan perintah memelihara kemaluan maksudnya adalah memeliharanya dari perbuatan zina, kecuali ayat ini yang mengatakan: dan memelihara kemaluannya. (An-Nur: 31) Yang dimaksud ialah agar jangan sampai kelihatan oleh seorang pun.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا}

dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (An-Nur: 31)

Yaitu janganlah mereka menampakkan sesuatu dari perhiasannya kepada lelaki lain, kecuali apa yang tidak bisa disembunyikan.

Menurut Ibnu Mas’ud, hal yang dimaksud adalah seperti kain selendang dan pakaiannya; yakni sesuai dengan pakaian tradisi kaum wanita Arab yang menutupi seluruh tubuhnya, sedangkan bagian bawah pakaian yang kelihatan tidaklah berdosa baginya bila menampakkannya, sebab bagian ini tidak dapat disembunyikan. Hal yang sama berlaku pula pada pakaian wanita lainnya yang bagian bawah kainnya kelihatan karena tidak dapat ditutupi. Pendapat yang sama dikatakan oleh Al-Hasan, Ibnu Sirin, Abul Jauza, Ibrahim An-Nakha’i dan lain-lainnya.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya, (An-Nur: 31) Yakni wajahnya, kedua telapak tangannya, dan cincinnya.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ata, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abusy Sya’sa, Ad-Dahhak, dan Ibrahim An-Nakha’i serta lain-lainnya.

Pendapat ini dapat dijadikan tafsir terhadap pengertian perhiasan yang dilarang bagi kaum wanita menampakkannya, seperti apa yang dikatakan oleh Abu Ishaq As-Subai’i, dari Abul Ahwas, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya. (An-Nur: 31) Yaitu anting-anting, kalung, gelang tangan, dan gelang kaki.

Menurut riwayat lain yang bersumber dari Ibnu Mas’ud dalam sanad yang sama, perhiasan itu ada dua macam, yaitu perhiasan yang tidak boleh diperlihat­kan kecuali hanya kepada suami, seperti cincin dan gelang. Dan perhiasan yang boleh terlihat oleh lelaki lain, yaitu bagian luar dari pakaiannya.

Az-Zuhri mengatakan bahwa tidak boleh ditampakkan kepada mereka yang disebutkan nama-namanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala selain gelang, kerudung dan anting-anting tanpa membukanya. Adapun bagi orang lain secara umum, maka tidak boleh ada yang tampak dari perhiasannya kecuali hanya cincin.

Malik telah meriwayatkan dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya: kecuali yang (biasa) tampak darinya. (An-Nur: 31) Yakni cincin dan gelang kaki.

Dapat pula dikatakan bahwa Ibnu Abbas dan para pengikutnya bermaksud dengan tafsir firman-Nya yang mengatakan, “Kecuali apa yang biasa tampak darinya,” adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Pendapat inilah yang terkenal di kalangan jumhur ulama. Hal ini diperkuat oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ka’b Al-Intaki dan Muammal ibnul Fadl Al-Harrani; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Walid, dari Sa’id ibnu Basyir, dari Qatadah, dari Khalid ibnu Duraik, dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke dalam rumah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan memakai pakaian yang tipis (cekak) Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memalingkan muka darinya seraya bersabda:

“يَا أَسْمَاءُ، إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا” وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Hai Asma, sesungguhnya wanita itu apabila telah berusia balig, tidak boleh ada yang terlihat dari tubuhnya kecuali hanya ini. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda demikian seraya mengisyaratkan ke arah wajah dan kedua telapak tangannya.

Akan tetapi, Abu Daud dan Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa hadis ini mursal karena Khalid ibnu Duraik belum pernah mendengar dari Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ}

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (An-Nur: 31)

Yakni kain kerudung yang panjang agar dapat menutupi dada dan bagian sekitarnya, agar berbeda dengan pakaian wanita Jahiliah. Karena sesungguhnya wanita Jahiliah tidak berpakaian seperti ini, bahkan seseorang dari mereka lewat di hadapan laki-laki dengan membusungkan dadanya tanpa ditutupi oleh sehelai kain pun. Adakalanya pula menampakkan lehernya dan rambut yang ada di dekat telinganya serta anting-antingnya. Maka Allah memerintahkan kepada wanita yang beriman agar menutupi seluruh tubuhnya, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ}

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. (Al-Ahzab: 59)

Dan dalam ayat berikut ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ}

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya. (An-Nur: 31)

Al-khumur adalah bentuk jamak dari khimar, artinya kain kerudung yang dipakai untuk menutupi kepala; dikenal pula dengan sebutan muqani’.

Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firmannya: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya. (An-Nur: 31) Maksudnya, menutupi bagian leher dan dadanya; maka tidak boleh ada sesuatu pun dari bagian tersebut yang tampak.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Yunus, dari ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisysah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan, “Semoga Allah merahmati kaum wanita Muhajirin pertama. Ketika Allah menurunkan firman-Nya: ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya.’ (An-Nur: 31) maka mereka membelah kain sarinya, lalu mereka jadikan sebagai kerudung.”

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Nafi’, dari Al-Hasan ibnu Muslim, dari Safiyyah binti Syaibah, bahwa Aisyah Radhiyallahu Anhu pernah mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya. (Ah-Nur: 31) Maka mereka melepaskan kain sarungnya, lalu mereka robek dari pinggirnya, kemudian robekan itu mereka jadikan kain kerudung (pada saat itu juga).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdullah ibnu Yunus, telah menceritakan kepadaku Az-Zunji ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Safiyyah binti Syaibah yang menceritakan, “Ketika kami sedang berada di rumah Aisyah, dan kami memperbincangkan tentang wanita Quraisy serta ke­utamaan mereka; maka Siti Aisyah berkata, “Sesungguhnya kaum wanita Quraisy memang mempunyai suatu keutamaan, dan sesungguhnya demi Allah, aku belum pernah melihat wanita yang lebih utama daripada wanita Ansar dalam hal keimanan dan kepercayaannya kepada kitabullah dan wahyu yang diturunkan. Sesungguhnya ketika diturunkan firman-Nya: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya. (An-Nur: 31) Maka kaum lelaki mereka berbalik kepada kaum wanitanya seraya membacakan kepada mereka apa yang baru diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Seorang lelaki dari mereka membacakannya kepada istrinya, anak perempuannya, saudara perempuannya, dan kaum kerabatnya yang wanita. Sehingga tiada seorang wanita pun melainkan bangkit melepaskan kain sarinya, lalu dipakainya sebagai kerudung karena membenarkan dan iman kepada wahyu dari Allah Swt. yang baru diturunkan. Sehingga mereka di belakang Rasulullah memakai kerudung semua, seakan-akan pada kepala mereka terdapat burung gagak’.”

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dari Safiyyah binti Syaibah dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, bahwa Qurrah ibnu Abdur Rahman pernah menceritakan kepadanya dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa semoga Allah merahmati kaum wanita Muhajirin pertama, ketika Allah menurunkan firman-Nya: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya. (An-Nur: 31) Maka mereka membelah kain sari mereka, lalu mereka jadikan sebagi kerudungnya. Abu Daud telah meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Wahb dengan sanad yang sama.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ}

dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka. (An-Nur: 31)

Ba’lun yang bentuk jamaknya adalah bu’ul artinya suami.

{أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ}

atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka. (An-Nur: 31)

Mereka yang disebutkan di atas adalah mahram wanita, mereka diperbolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada orang-orang tersebut, tetapi bukan dengan cara tabarrujj.

Ibnul Munzir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Asy-Sya’bu, dari Ikrimah sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka. (An-Nur: 31), hingga akhir ayat. Lalu ia berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan paman dari pihak ayah, tidak pula paman dari pihak ibu; karena keduanya dinisbatkan kepada anak keduanya. Untuk itu seorang wanita tidak boleh meletakkan kain kerudungnya di hadapan pamannya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Demikian itu karena dikhawatirkan keduanya akan menggambarkan keadaannya kepada anak-anak keduanya.

Adapun terhadap suami, sesungguhnya hal tersebut hanyalah untuk suaminya. Karena itu, seorang wanita dianjurkan merias dan mempercantik dirinya di hadapan suaminya, yang hal seperti itu tidak boleh dilakukannya di hadapan lelaki lain.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أَوْ نِسَائِهِنَّ}

atau wanita-wanita Islam. (An-Nur: 31)

Yakni seorang wanita diperbolehkan menampakkan perhiasannya kepada wanita muslimat, bukan wanita kafir Ummi agar mereka tidak menceritakan keadaan kaum wanita muslimat kepada kaum laki-laki mereka. Perbuatan ini sekalipun dilarang terhadap semua wanita, hanya terhadap wanita kafir zimmi lebih berat larangannya, mengingat tiada suatu norma pun yang melarang mereka untuk menceritakan hal tersebut. Adapun wanita muslimah, sesungguhnya ia mengetahui bahwa perbuatan menceritakan perihal wanita lain (kepada lelaki) adalah haram sehingga ia menahan dirinya dari melakukan hal tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“لَا تُبَاشِرُ المرأةَ المرأةَ، تَنْعَتُهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا”

Janganlah seorang wanita menceritakan (menggambarkan) keadaan wanita lain kepada suaminya, (hingga) seakan-akan suaminya memandang ke arahnya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui Ibnu Mas’ud.

Sa’id ibnu Mansur telah meriwayatkan di dalam kitab sunannya, telah menceritakan kepada kami Isma’il ibnu Ayyasy, dari Hisyam ibnul Gazi, dari Ubadah ibnu Nissi, dari ayahnya, dari Al-Haris ibnu Qais, bahwa Khalifah Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah yang isinya sebagai berikut: Amma Ba’du, sesungguhnya telah sampai berita kepadaku yang mengatakan bahwa sebagian dari kaum wanita muslimat sering memasuki tempat mandi sauna bersama wanita-wanita musyrik, dan hal itu terjadi di daerah wewenangmu. Maka tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian memperlihatkan auratnya kepada wanita lain kecuali wanita yang seagama dengannya.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: atau wanita-wanita Islam. (An-Nur: 31) Yakni kaum wanita muslimat, bukan kaum wanita musyrik. Wanita muslimat tidak diperbolehkan memperlihatkan auratnya di hadapan wanita musyrik.

Abdullah telah meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: atau wanita-wanita Islam. (An-Nur: 31) Yaitu kaum wanita muslimat; wanita muslimat tidak boleh menampakkan perhiasannya kepada wanita Yahudi, juga kepada wanita Nasrani. Perhiasan yang dimaksud ialah bagian leher, anting-anting, bagian yang ditutupi oleh kain kerudung, dan anggota lainnya yang tidak halal dilihat kecuali hanya oleh mahramnya.

Sa’id telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Lais, dari Mujahid yang mengatakan bahwa wanita muslimat tidak boleh menanggalkan kain kerudungnya di hadapan wanita musyrik, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: atau wanita-wanita Islam. (An-N ur:31) Sedangkan wanita musyrik bukan termasuk mereka.

Telah diriwayatkan dari Makhul dan Ubadah ibnu Nissi, bahwa keduanya telah menghukumi makruh bila ada wanita Nasrani, wanita Yahudi, dan wanita Majusi menyambut wanita muslimat.

Adapun mengenai apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Umair, telah menceritakan kepada kami Damrah, bahwa Ata telah meriwayatkan dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tiba di Baitul Maqdis, maka yang menyambut kedatangan istri-istri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah wanita-wanita Yahudi dan Nasrani. Riwayat ini jika sahih, maka ditakwilkan karena keadaan darurat, atau dianggap sebagai suatu pekerjaan, kemudian dalam peristiwa tersebut tidak ada aurat yang terbuka, dan hal itu merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dielakkan. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ}

atau budak-budak yang mereka miliki. (An-Nur: 31)

Ibnu Jarir mengatakan, yang dimaksud adalah budak perempuan yang musyrik. Dalam kasus ini wanita muslimat diperbolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada budak-budak perempuannya, sekalipun mereka musyrik, karena mereka adalah budaknya. Demikianlah menurut pendapat yang dianut oleh Sa’id ibnul Musayyab.

Tetapi menurut kebanyakan ulama, bahkan wanita muslimat diperbolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada budak-budaknya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Mereka mengatakan demikian dengan berdalilkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَبُو جُمَيْعٍ سَالِمُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى فَاطِمَةَ بِعَبْدٍ قَدْ وَهَبَهُ لَهَا. قَالَ: وَعَلَى فَاطِمَةَ ثَوْبٌ إِذَا قَنَّعت بِهِ رَأْسَهَا لَمْ يَبْلُغْ رِجْلَيْهَا، وَإِذَا غَطَّتْ بِهِ رِجْلَيْهَا لَمْ يَبْلُغْ رَأْسَهَا، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَلْقَى قَالَ: “إِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكِ بَأْسٌ، إِنَّمَا هُوَ أَبُوكِ وَغُلَامُكِ”

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abu Jami’ Salim ibnu Dinar, dari Sabit, dari Anas, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang kepada Fatimah dengan membawa seorang budak laki-laki yang telah diberikan kepadanya. Sedangkan saat itu Fatimah memakai pakaian yang apabila digunakan untuk menutupi kepalanya, maka bagian kedua kakinya tidak tertutupi semua; dan apabila digunakan untuk menutupi kedua kakinya, maka bagian kepalanya tidak tertutupi. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melihat keadaan Fatimah kebingungan, maka beliau bersabda: Sesungguhnya tidak mengapa bagimu (berpakaian seperti itu) karena yang datang hanyalah ayahmu dan budakmu.

Al-Hafiz ibnu Asakir menyebutkan di dalam kitab tarikhnya mengenai biografi Khudaij Al-Himsi maula Mu’awiyah, bahwa Abdullah ibnu Mas’adah Al-Fazzari adalah seorang budak yang berkulit sangat hitam; dia adalah seorang budak yang dihadiahkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada putrinya Siti Fatimah, lalu Siti Fatimah memeliharanya dan memerdekakannya. Kemudian sesudah itu ia melakukan perang tanding dengan Mu’awiyah dalam Perang Siffin; dia adalah orang yang paling keras dalam membela Ali ibnu Abu Talib Radhiyallahu Anhu

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَة، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ نَبْهَان، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، ذَكَرَتْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِذَا كَانَ لِإِحْدَاكُنَّ مُكَاتَب، وَكَانَ لَهُ مَا يُؤَدِّي، فَلْتَحْتَجِبْ مِنْهُ”.

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Nabhan, dari Ummu Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu (hai kaum wanita) mempunyai budak yang mukatab, dan dia mempunyai kemampuan untuk melunasi transaksi kitabahnya, maka hendaklah kamu berhijab darinya.

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui Musaddad, dari Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ}

atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita). (An-Nur: 31)

Yakni seperti orang-orang sewaan dan para pelayan yang tidak sepadan. Selain dari itu akal mereka kurang dan lemah, tiada keinginan terhadap wanita pada diri mereka dan tidak pula berselera terhadap wanita.

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah lelaki dungu yang tidak mempunyai nafsu syahwat.

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lelaki yang tolol.

Sedangkan menurut Ikrimah, yang dimaksud adalah laki-laki banci yang kemaluannya tidak dapat berereksi. Hal yang sama dikatakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Di dalam kitab sahih disebutkan melalui hadis Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa dahulu ada seorang lelaki banci yang biasa masuk menemui istri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan mereka menganggapnya termasuk orang lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. Pada suatu hari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke dalam rumahnya, sedangkan lelaki tersebut sedang menggambarkan perihal seorang wanita. Lelaki itu mengatakan bahwa wanita tersebut apabila datang, maka melangkah dengan langkah yang lemah gemulai; dan apabila pergi, ia melangkah dengan lemah gemulai disertai dengan goyangan pantatnya. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“أَلَا أَرَى هَذَا يَعْلَمُ مَا هَاهُنَا، لَا يدخلَنّ عليكُنَ”

Bukankah kulihat orang ini mengetahui apa yang ada di sini? Jangan biarkan orang ini masuk menemui kalian!

Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengusir lelaki itu, kemudian lelaki itu tinggal di padang sahara, ia masuk (ke dalam kota) setiap hari Jumat untuk mengemis meminta makanan.

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari Ummu Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke dalam rumahnya, sedangkan saat itu di hadapan Ummu Salamah terdapat seorang lelaki banci, juga Abdullah ibnu Abu Umayyah (saudara laki-laki Ummu Salamah). Lelaki banci itu berkata, “Hai Abdullah, jika Allah memberikan kemenangan kepadamu atas negeri (kota) Taif besok, maka boyonglah anak perempuan Gailan. Karena sesungguhnya dia bila datang menghadap melangkah dengan langkah yang lemah gemulai, dan bila pergi, ia melangkah dengan lemah gemulai disertai dengan goyangan pantatnya.” Perkataannya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maka beliau bersabda kepada Ummu Salamah:

“لَا يَدْخُلَنَّ هَذَا عَلَيْكِ”.

Jangan biarkan orang ini masuk menemuimu!

hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Sahihain, melalui hadis Hisyam ibnu ‘Urwah.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az-Zuhri, dari Urwah ibnuz Zubair, dari Aisyah Radhiyallahu Anhu yang telah menceritakan: Dahulu ada seorang waria biasa menemui istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan mereka menganggapnya termasuk orang-orang yang tidak mempunyai keinginan kepada wanita. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk sedang waria itu berada pada salah seorang dari istri-istrinya sedang menceritakan perihal seorang wanita seraya mengatakan, “Bahwa sesungguhnya dia kalau datang seakan-akan datang dengan memperlihatkan empat anggota tubuhnya dan bila pergi seakan-akan pergi dengan memperlihatkan kedelapan anggota tubuhnya.” Maka Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“أَلَا أَرَى هَذَا يَعْلَمُ مَا هَاهُنَا؟ لَا يدخلَنَّ عَلَيْكُمْ هَذَا”

Ingatlah, menurutku orang ini mengetahui apa yang ada di sana, jangan biarkan orang ini masuk menemuimu lagi!

Maka mereka menghalanginya (untuk masuk).

Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui Abdur Razzaq dengan sanad yang sama dari Ummu Salamah:


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ}

atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (An-Nur: 31)

Yakni anak-anak kecil mereka yang masih belum mengerti keadaan wanita dan aurat mereka seperti perkataannya yang lemah lembut lagi merdu, lenggak-lenggoknya dalam berjalan, gerak-gerik, dan sikapnya. Apabila anak lelaki kecil masih belum memahami hal tersebut, maka ia boleh masuk menemui wanita.

Adapun jika seorang anak lelaki menginjak masa pubernya atau dekat usia pubernya yang telah mengenal hal tersebut dan ia dapat membedakan wanita yang jelek dan wanita yang cantik, maka tidak diperkenankan lagi baginya masuk menemui wanita (lain).

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda:

“إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ الحَمْو؟ قَالَ: “الحَمْو الْمَوْتُ”

“Janganlah kalian masuk menemui wanita.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang (masuk menemui) saudara ipar?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “(Masuk menemui) saudara ipar artinya maut.”


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ}

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya. (An-Nur: 31), hingga akhir ayat.

Di masa Jahiliah bila seorang wanita berjalan di jalan, sedangkan ia memakai gelang kaki; jika tidak ada laki-laki yang melihat dirinya, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga kaum lelaki mendengar suara keroncongan gelangnya (dengan maksud menarik perhatian mereka). Maka Allah melarang kaum wanita mukmin melakukan hal semacam itu. Demikian pula halnya bila seseorang wanita memakai perhiasan lainnya yang tidak kelihatan, bila digerakkan akan menimbulkan suara dan dapat menarik perhatian lawan jenisnya; hal ini pun termasuk ke dalam apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Dan janganlah mereka memukulkan kakinya. (An-Nur: 31), hingga akhir ayat.

Termasuk ke dalam apa yang dilarang ialah memakai parfum bila keluar rumah, sebab kaum laki-laki akan mencium baunya.

Abu Isa At-Tirmizi mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القَّطَّان، عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُمَارة الْحَنَفِيِّ، عَنْ غُنَيْم بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ، وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فمرَّت بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا” يَعْنِي زَانِيَةً

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, dari Sabit ibnu Imarah Al-Hanafi, dari Ganim ibnu Qais, dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Setiap mata ada zinanya. Seorang wanita bila memakai wewangian, lalu melewati suatu majelis, maka dia (akan memperoleh dosa) anu dan anu. Yakni dosa zina mata.

Dalam bab yang sama telah diriwayatkan hadis yang sama melalui Abu Hurairah. Hadis ini hasan sahih. Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Sabit ibnu Imarah dengan sanad yang sama.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ عُبَيْدٍ مَوْلَى أَبِي رُهْم، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لقيتْه امْرَأَةٌ وَجَدَ مِنْهَا رِيحَ الطِيبِ، وَلِذَيْلِهَا إِعْصَارٌ فَقَالَ: يَا أَمَةَ الْجَبَّارِ، جِئْتِ مِنَ الْمَسْجِدِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ لَهَا: [وَلَهُ] تَطَيَّبتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ حِبِّي أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ تَطَيبت لِهَذَا الْمَسْجِدِ، حَتَّى تَرْجِعَ فَتَغْتَسِلَ غُسلها مِنَ الْجَنَابَةِ”

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Asim ibnu Ubaidillah, dari Ubaid maula Abu Rahm, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang menceritakan bahwa ia bersua dengan seorang wanita yang terendus darinya bau parfum yang wangi, sedangkan kepangan rambutnya menjulur kelihatan. Maka Abu Hurairah berkata kepadanya, “Hai Umayyah, tersia-sialah amalmu, bukankah kamu baru datang dari masjid?” Umayyah menjawab, “Ya.” Abu Hurairah bertanya, “Apakah engkau memakai wewangian?” Umayyah menjawab, “Ya.” Abu Hurairah berkata bahwa ia pernah mendengar kekasihnya, yaitu Abul Qasim Shalallahu’alaihi Wasallam (nama julukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam) telah bersabda: Allah tidak akan menerima salah seorang wanita yang memakai wewangian dalam masjid ini sebelum ia kembali, lalu mandi seperti mandi jinabahnya (untuk membersihkan wewangian yang menempel di tubuhnya).

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ عُبَيدة، عَنْ أَيُّوبَ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ مَيْمُونَةَ بِنْتِ سَعْدٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قَالَ: “الرَّافِلَةُ فِي الزِّينَةِ فِي غَيْرِ أَهْلِهَا، كَمَثَلِ ظُلْمَةِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا نُورَ لَهَا”

Imam Turmuzi meriwayatkannya pula melalui hadis Musa ibnu Ubaidah, dari Ayyub ibnu Khalid, dari Maimunah binti Sa’d, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Wanita yang berdandan secara mencolok bukan untuk suaminya, perihalnya sama dengan kegelapan di hari kiamat, tiada nur (cahaya) baginya.

Termasuk ke dalam bab ini disebutkan bahwa mereka (kaum wanita) dilarang berjalan di tengah jalan, karena hal seperti ini mengandung pengertian tabarruj (memamerkan diri atau mengundang perhatian lawan jenis).

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا القَعْنَبِيّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ -يَعْنِي: ابْنَ مُحَمَّدٍ -عَنْ أَبِي الْيَمَانِ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَبِي عَمْرِو بْنِ حِمَاسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ -وَقَدِ اخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ -فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ: “اسْتَأْخِرْنَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْققْن الطَّرِيقَ، عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ”، فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تُلْصَقُ بِالْجِدَارِ، حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لِيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ، مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami At-Taglabi. telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz (yakni Ibnu Muhammad), dari Ibnu Abul Yaman,dari Syaddad ibnu Abu Amr ibnu Hammas, dari ayahnya, dari Hamzah ibnu Abu Usaid Al-Ansari, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam saat beliau berada di luar masjid, sedangkan kaum lelaki dan kaum wanita bercampur di jalanan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada kaum wanita: Minggirlah kalian (hai kaum wanita), karena sesungguhnya tidak diperkenankan bagi kalian menutupi tengah jalan; kalian harus mengambil sisi jalan (trotoar). Setelah itu pinggiran jalan dipakai untuk jalan wanita, sehingga kain mereka menyentuh tembok karena dekatnya mereka dengan tembok yang ada di sisi jalan.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung. (An-Nur: 31)

Artinya, kerjakanlah segala sesuatu yang telah Aku perintahkan kepada kalian, yaitu dengan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia ini. Tinggalkanlah tradisi masa lalu di zaman Jahiliyah, yaitu dengan meninggalkan sifat dan akhlaknya yang rendah, karena sesungguhnya keberuntungan yang paling prima berada dalam jalan mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya,dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh keduanya. Hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan.

Tafsir Quran Al Baqarah 13: Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?

Al-Baqarah, ayat 13
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13) }

Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti.

Tafsir Quran Al Baqarah 13: Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Waiza qila” (apabila dikatakan), yakni kepada orang-orang munafik. Aminu kama amanan nasu, berimanlah kamu sekalian sebagaimana orang-orang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari berbangkit sesudah mati, surga dan neraka serta lain-lainnya yang telah diberitakan oleh Allah kepada orang-orang mukmin. Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dalam mengerjakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.

Qalu anuminu kama amanas sufaha-u; mereka menjawab, “Akankah kami disuruh beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Yang mereka maksudkan dengan “orang-orang yang bodoh” adalah para sahabat Rasul Shalallahu’alaihi Wasallam, semoga laknat Allah atas orang-orang munafik. Demikian menurut Abul Aliyah dan As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya berikut sanadnya dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas. Sedangkan menurut Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam dan lain-lainnya, makna ayat adalah “apakah kami dan mereka sama derajat dan jalannya, sedangkan mereka adalah orang-orang yang bodoh?”

As-sufaha adalah bentuk jamak dari lafaz safihun, sama wazan-nya dengan lafaz hukama, bentuk tunggalnya adalah hakimun dan hulama yang bentuk tunggalnya adalah halimun. As-safih artinya orang yang bodoh, lemah pendapatnya, dan sedikit pengetahuannya tentang hal yang bermaslahat dan yang mudarat, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً

Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan kalian) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. (An-Nisa: 5)

Menurut kebanyakan ulama, yang dimaksud dengan sufaha dalam ayat ini ialah kaum wanita dan anak-anak.

Kemudian Allah membantah semua yang mereka tuduhkan itu melalui firman selanjutnya, “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh” (Al-Baqarah: 13). Allah Subhanahu wa Ta’ala membalikkan tuduhan mereka, sesungguhnya yang bodoh itu hanyalah mereka sendiri. Pada firman selanjutnya disebutkan, “Tetapi mereka tidak tahu” (Al-Baqarah: 13). Dengan kata lain, kebodohan mereka sangat keterlaluan hingga tidak menyadari kebodohannya sendiri, bahwa sebenarnya keadaan mereka dalam kesesatan dan kebodohan. Ungkapan ini lebih kuat untuk menggambarkan kebutaan mereka dan kejauhan mereka dari hidayah.

Tafsir Quran Al Baqarah 11-12: Janganlah Kalian Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Al-Baqarah, ayat 11-12
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) }

Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi:” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.

As-Sadi di dalam kitab Tafsirnya meriwayatkan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah At-Tabib Al Hamdani, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sehubungan dengan firman-Nya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’ (Al-Baqarah: 11), “bahwa mereka adalah orang-orang munafik. Sedangkan yang dimaksud dengan kerusakan di muka bumi ialah melakukan kekufuran dan perbuatan maksiat.

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidu fil ard” artinya janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka timbulkan disebabkan perbuatan maksiat mereka terhadap Allah. Karena orang yang durhaka kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan kepada kedurhakaan (kemaksiatan) berarti telah menimbulkan kerusakan di muka bumi, mengingat kebaikan bumi dan langit adalah karena perbuatan taat. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid tentang makna firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidufil ardi.” Menurutnya, apabila mereka mengerjakan maksiat, dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan maksiat ini dan maksiat itu.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami berada di jalan hidayah dan sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Waki’, Isa ibnu Yunus, dan Assam ibnu Ali mengatakan dari Al-A’masy, dari Minhal ibnu Amr ibnu Abbad ibnu Abdullah Al-Asadi, dari Salman Al-Farisi, sehubungan dengan firman-Nya: Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab, Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al-Baqarah: 11) Menurut Salman Al-Farisi, orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini masih belum ada (di masanya).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Usman ibnu Hakim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Syarik, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Al-A’masy, dari Zaid ibnu Wahb dan lain-lainnya, dari Salman Al-Farisi sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa mereka masih belum ada.

Ibnu Jarir mengatakan, barangkali Salman Radhiyallahu Anhu bermaksud bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang disebut dalam ayat ini melakukan kerusakan yang jauh lebih besar daripada mereka yang memiliki sifat yang sama di zaman Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam Makna yang dikemukakannya bukan berarti bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut masih belum ada.

Ibnu Jarir mengatakan pula, orang munafik adalah mereka yang melakukan kerusakan di muka bumi karena perbuatan maksiat mereka terhadap Tuhannya dan pelanggaran-pelanggaran yang mereka kerjakan terhadap hal-hal yang dilarang oleh Tuhan. Mereka pun menyia-nyiakan hal-hal yang difardukan-Nya, mereka ragu terhadap agama Allah yang tidak mau menerima amal seorang pun kecuali dengan beriman kepadanya dan meyakini hakikatnya. Selain itu mereka berdusta terhadap kaum mukmin melalui pengakuan mereka yang me-yatakan bahwa dirinya beriman, padahal di dalam batin mereka dipenuhi oleh keraguan dan kebimbangan. Mereka juga membantu orang-orang yang mendustakan Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kekasih-kekasih-Nya bila mereka menemukan jalan ke arah itu. Yang demikian itulah kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang munafik di muka bumi, dan mereka menduga bahwa perbuatan mereka itu dinamakan perbaikan di muka bumi. Makna inilah yang dimaksud oleh Hasan, bahwa sesungguhnya termasuk menimbulkan kerusakan di muka bumi bila orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal: 73)

Maka Allah memutuskan (meniadakan) saling tolong antara kaum mukmin dan orang-orang kafir, sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya yang lain, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطاناً مُبِيناً

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (An-Nisa: 144)

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:

إِنَّ الْمُنافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada bagian yang paling bawah dari neraka, dan kalian tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (An-Nisa: 145)

Mengingat orang munafik dalam sikap lahiriahnya menunjukkan beriman, perihal yang sebenarnya dapat mengelabui kaum mukmin. Kerusakan yang diakibatkan oleh orang munafik mudah terjadi, mengingat dia dengan mudah dapat membujuk kaum mukmin melalui hasutan yang dilancarkannya. Dengan sembunyi-sembunyi orang-orang munafik bersahabat dengan orang-orang kafir untuk memusuhi kaum mukmin. Padahal seandainya orang-orang munafik tersebut tetap pada pendirian kafirnya, niscaya kejahatan yang ditimbulkannya lebih ringan. Seandainya mereka ikhlas dalam amalnya karena Allah, niscaya mereka beruntung dan beroleh kebahagiaan. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman: Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi Mereka menjawab.”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al-Baqarah: 11)

Dengan kata lain mereka mengatakan, “Kami bermaksud menjadi juru penengah perdamaian antara kedua golongan, yakni kaum mukmin dan kaum kuffar.” Pengertian ini dikatakan oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidufil ardi qalu innama nahnu muslihuna,” yakni sesungguhnya kami bermaksud melakukan perdamaian di antara kedua golongan, yaitu golongan kaum mukmin dan ahli kitab. Akan tetapi, anggapan mereka itu dibantah oleh firman-Nya: Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah: 12)

Dengan kata lain, dapat diartikan “hanya saja hal yang mereka duga sebagai perbaikan dan perdainaian itu justru merupakan kerusakan itu sendiri; tetapi karena kebodohan mereka, mereka tidak merasakan hal itu sebagai kerusakan.

Kelelawar Haram Dikonsumsi, Ternyata Penyebab Penularan Virus SARS, Corona dan 137 Penyakit

Sekali lagi untuk kesekian kalinya dalam 15 tahun terakhir ini, dunia selalh dikejutkan dengan adahya pandemi virus baru yang menakutkan. Belum hilang dalam ingatan dunia dikejutkan dengan ganasnya virus SARS, kali ini juncul virus Corona yang tak kalah menakutkan. Kedua penyakit tersebut awalnya dianggap sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yamg menukar dari hewan ke manusia. Kelelawar adalah hewan yang paling banyak disebut sebagai penyebab berbagai sumber penularan infeksi virus ganas tersebut. Seiring dengan itu ternyata hewan di dalam agama Islam binatang kelelawar adalah binatang yang diharamkan untuk dikonsumsi.

Virus corona yang tersebar di China dan wabah SARS di tahun 2003 memiliki dua kesamaan. Keduanya berasal dari keluarga virus corona dan ditularkan melalui hewan ke manusia. Virus corona merupakan penyakit zoonosis. Artinya, mereka disebarkan ke manusia dari hewan. Pasar-pasar yang menempatkan manusia dengan hewan mati atau hidup di tempat yang sama, dapat menjadi kondisi di mana virus mudah tersebar. “Pasar hewan hidup yang diatur dengan buruk, dicampur dengan perdagangan satwa liar ilegal menjadi peluang bagi virus untuk menyebar dari inang satwa liar ke populasi manusia,” kata Wildlife Conservation Society, sebagaimana dikutip Business Insider.

Dalam kasus SARS, dan mungkin juga di wabah virus corona ini, kelelawar menjadi inang. Kemudian, mereka menginfeksi hewan lain melalui kotoran atau saliva dan perantara pun tanpa disadari menularkan virus tersebut kepada manusia. ” Kelelawar dan burung dianggap sebagai spesies reservoir untuk virus dengan potensi pandemi,” ungkap ahli virus di Pusat Medis Erasmus Rotterdam Belanda, Bart Haagmans.

Dalam 45 tahun terakhir, setidaknya ada tiga pandemi lainnya (selain SARS) yang ditelusuri penyebabnya dari kelelawar. Hewan-hewan tersebut juga merupakan sumber asli dari penyakit Ebola yang telah menewaskan 13.500 orang pada tahun 1976. Selain itu, juga sindrom pernapasan Timur Tengah yang lebih dikenal dengan MERS. Virus ini ditemukan di 28 negara. Kemudian, juga virus Nipah, yang memiliki tingkat kematian sebesar 78 persen.

Ilmuwan di China membandingkan kode genetik dari virus corona Wuhan dengan virus corona lainnya. Hasilnya, terdapat kesamaan paling besar pada sampel virus corona dari dua kelelawar. “Ada indikasi bahwa ini adalah virus kelelawar,” kata ilmuwan Rocky Mountain Laboratories, Vincent Munster. Sementara, menurut kelompok ilmuwan lainnya yang menyunting Journal of Medical Virology, spesies perantara dalam kasus ini diduga adalah kobra China. Alasannya, analisis genetik lebih lanjut menunjukkan bahwa blok pembangun genetik virus corona Wuhan sangat mirip dengan ular. Jadi, para peneliti berpikir bahwa populasi kelelawar dimungkinkan menginfeksi ular, yang kemudian menularkan virus tersebut kepada manusia. Namun, satu-satunya cara untuk memastikan dari mana virus ini berasal adalah dengan mengambil sampel DNA dari hewan-hewan yang dijual di pasar dan dari ular serta kelelawar di daerah tersebut.

Ancaman kelelawar Berdasarkan sebuah studi tahun 2017, kelelawar memiliki proporsi virus zoonosis yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mamalia lain. Para ahli berfikir bahwa kondisi ini disebabkan oleh kemampuan kelelawar terbang melintasi jarak geografis yang luas dengan membawa penyakit tertentu. Kelelawar menyebarkan virus melalui kotorannya. Jika mereka menjatuhkan kotoran di buah yang akan dimakan oleh hewan, hewan pemakan pun menjadi pembawa penyakit. “Kami mengetahui cukup banyak virus dalam cetak biru WHO yang memiliki kaitan langsung ataupun tidak langsung dengan kelelawar,” kata Munster.

Maret lalu, sebuah penelitian pun memprediksi bahwa kelelawar dapat menjadi sumber wabah jenis virus corona baru di China. Pencegahan Di pasar, kedekatan antara pembeli dengan kios penjual serta hewan, baik hidup atau mati, menciptakan tempat perkembangbiakkan untuk penyakit zoonosis. “Untuk alasan budaya di wilayah ini, orang ingin melihat hewan yang mereka beli disembelih di depan mereka, sehingga mereka tahu persis produk yang mereka bayar,” tutur dokter spesialis penyakit menular di Universitas Kedokteran Chicago, Emily Langdon sebagaimana dikutip Business Insider.

Saat ini, pihak berwenang di Wuhan telah melarang perdagangan hewan hidup di pasar ini. Mereka menutup pasar hewan laut tempat diduga bermulanya wabah virus corona. Para ahli mendukung hal tersebut untuk membantu pencegahan penyebaran virus. Namun, menurut ilmuwan senior di John Hopkins University, Eric Toner, wabah dari hewan ke manusia tetap akan meningkat tanpa adanya pasar tersebut. “Saya berpikir cukup lama bahwa virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi baru adalah virus corona,” kata Toner. Namun demikian, wabah virus corona Wuhan tidak dianggap sebagai pandemi. Sejauh ini, WHO belum menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat global. Sebab, China telah mengarantina Wuhan dan kota-kota terdekat lainnya untuk menghentikan penyebaran virus ini.

Hubungan manusia dan kelelawar tampaknya makin meregang akibat wabah virus corona. Ada dugaan bahwa inang alami virus corona Wuhan adalah kelelawar.

Penyakit zoonotik adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang tersebar antara hewan dan manusia. Ambil contoh, urine tikus menimbulkan penyakit pes dan gigitan anjing atau monyet bisa berisiko menimbulkan penyakit rabies.

Kelelawar Pembawa 137 Penyakit

Di antara hewan lain, kelelawar merupakan pembawa penyakit paling banyak. Dari total 137 penyakit, sekitar 60 penyakit bisa ‘ditransfer’ langsung atau tidak langsung dari kelelawar ke manusia. Penyakit-penyakit ini antara lain, virus corona, virus hanta, virus lyssa, virus corona SARS, virus rabies, virus lassa, virus henipah, virus ebola dan virus marburg.

Satu teori mengapa mereka begitu penuh dengan penyakit adalah karena mereka cenderung hidup dalam koloni dalam jarak dekat membuat penyebaran penyakit tidak terhindarkan.

Yang aneh mengapa hewan ini tak mati ketika memiliki virus dalam tubuhnya? Salah satu studi menunjukkan kelelawar hanya menderita sedikit dari virus yang mereka bawa karena mereka ‘membocorkan’ DNA ketika mereka terbang. Terbang adalah hal yang sangat sulit dan berat dibanding mamalia lain. Saat terbang, kelelawar akan mengeluarkan DNA ke dalam sel. Pada kebanyakan mamalia, DNA yang bocor ini akan dianggap sebagai virus dan akan diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Untuk menghindari menyerang jaringan mereka sendiri, para peneliti percaya kelelawar telah berevolusi untuk memiliki reaksi yang lebih ringan terhadap virus. Hal ini yang dianggap peneliti akan memungkinkan virus dan kelelawar hidup bersama dengan ‘damai’ dalam satu tubuh

Hayman mengatakan ada perdebatan seputar topik tersebut tetapi jelas respon imun mereka terhadap virus berbeda dengan manusia. “Mereka tidak memasang sistem kekebalan yang memungkinkan mereka untuk sepenuhnya membunuh virus, tetapi hewan ini juga tak membuat virus bermutasi ke tingkat yang sangat tinggi.”

David Hayman, profesor dengan spesialisasi penyakit zoonotik di Massey University berkata peluang penyakit dari kelelawar ke manusia meningkat seiring pertambahan populasi manusia. “Ini benar-benar berhubungan. Pada akhirnya akan berasal dari kelelawar, hanya apakah itu berasal dari spesies lain antara kelelawar dan manusia,” kata dia seperti dilansir dari Newsroom.

Berbeda dengan peneliti lain, menurut dia, virus corona tipe baru ini tidak datang dari kelelawar, melainkan dari perantara atau vektor lainnya. “Virus-virus ini telah berada dalam kelelawar selama ribuan tahun, dan tidak menyebabkan masalah tetapi apa yang terjadi di lingkungan mengarah pada peningkatan peluang penyebaran virus,” kata Hayman.

Misalnya, daging kelelawar yang dijual untuk konsumsi di pasar basah, di mana mereka sering dibunuh di tempat dan ada kemungkinan virus melompat langsung dari kelelawar ke manusia. “Ini seperti melempar dadu. Ketika ada momen di mana ada kelelawar yang terinfeksi yang bersentuhan dengan orang yang rentan dan mereka benar-benar menularkan [virus] dan orang atau hewan itu terinfeksi dan mulai mereplikasi sel-sel itu, ada banyak peristiwa kebetulan.”

Berbagi penyakit dengan hewan lainnya

Kelelawar menyebar penyakit dengan berbagai cara. Buah yang digigit kelelawar meninggalkan saliva (liur) dan kemudian terbawa spesies lain. Urine atau kotoran yang jatuh di rumput bisa termakan hewan lain, atau kelelawar itu sendiri baru kemudian termakan hewan lain.

Di Australia, kelelawar buah menularkan virus hendra ke kuda melalui urine dan kotoran. Middle East Respiratory Syndrome (MERS) sebenarnya dari kelelawar sebelum ‘melompat ke unta lalu manusia. Virus corona di China terpusat di sekitar pasar ikan yang juga menjual hewan lain. Tampaknya kecil kemungkinan virus berpindah dari kelelawar ke boga bahari alias seafood.

Melihat hal ini, bukan berarti membunuh semua kelelawar bakal menyelesaikan persoalan. Kelelawar punya banyak peran di alam seperti membantu proses penyerbukan bunga, menyebar benih, kotorannya jadi pupuk dan mereka memakan banyak serangga. Di Madagaskar, kelelawar menyerbuki pohon baobab dan di Meksiko mereka menyerbuki agave, bahan utama tequila. Bisa dibayangkan ekosistem bisa hancur jika mereka musnah.

Makan Kelelawar Haram

Menurut Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Maulana Hasanuddin, MA dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs H Sholahudin al-Aiyubi, MSi melalui Jurnal Halal No. 105 edisi Januari-Februari 2014 belum ada keterangan yang jelas mengenai hukum makan kelelawar dalam Al Quran. Tetapi Imam Syihabuddin asy-Syafi’i dalam kitab ‘at-Tibyan li Maa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayawan’ serta Imam Nawawi dalam ‘Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab’ mengatakan dalam mazhab Syafi’i, kelelawar haram dikonsumsi.

Berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW melarang manusia untuk membunuh kelelawar. Imam Syihabuddin pun menyimpulkan bahwa apa yang tak boleh dibunuh, berarti tidak boleh dimakan. Selain itu, dalam hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW melarang mengonsumsi makanan dari binatang buas pemangsa yang memiliki taring, dan semua burung yang memiliki cakar, seperti elang, gagak, dan juga kelelawar.

Hanya saja, terdapat perbedaan pendapat hukum memakan kelelawar untuk obat. Ulama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengharamkan kelelawar untuk dikonsumsi, termasuk untuk pengobatan. Berdasarkan hadist riwayat Bukhari dan Baihaqi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkan Allah atasmu.”
Namun, sebagian ulama seperti Yusuf al-Qaradhawi berpendapat hukum makan kelelawar dalam Islam untuk obat diperbolehkan jika dalam kondisi darurat. Artinya, tidak ada lagi obat halal yang ampuh mengatasi penyakit yang diderita.

Kalau tidak menggunakan makanan haram, penyakitnya akan semakin parah, tak bisa sembuh, atau berakibat kematian. Namun, kalau masih ada alternatif (halal), tidak ada keringanan maupun toleransi. Komisi Fatwa MUI mengingatkan agar masyarakat selalu mengonsumsi obat atau makanan yang telah jelas kehalalannya.

Perbedaan Hijab, Jilbab, dan Kerudung.

Perbedaan Hijab, Jilbab, dan Kerudung.

  • Hijab. Hijab berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti penghalang atau penutup. Seperti yang kita tahu, para cewek muslimah diwajibkan untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajah. Apapun yang digunakan untuk menutupi aurat inilah yang disebut dengan hijab. Tidak semua hijab itu bisa disebut jilbab, tapi jilbab itu merupakan hijab. Hijab dalam Alquran selalu digunakan dalam konsep pembatas ruang. Maka hijab dimaknai sebagai pembatas antara ahli surga dan ahli neraka. Jadi, kalau kita lihat dalam Alquran, hijab itu merupakan pembatas atau pembeda ruang antara laki-laki dan perempuan.
  • Jilbab. Jilbab juga merupakan penutup aurat untuk para muslimah. Bedanya dengan hijab, jilbab ini biasanya merupakan outfit terusan yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh dari atas hingga bawah kecuali wajah dan telapak tangan. Biasanya, jilbab ini merupakan outfit yang lebih longgar, panjang, dan lebar sehingga enggak membentuk lekuk tubuh.
  • Kerudung. Berbeda dengan hijab dan jilbab yang merupakan penutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah, kerudung ini cuma sebagai penutup kepala aja. Apapun yang bisa menutupi kepala bisa disebut kerudung, meskipun enggak sampai menutupi seluruh rambut dan juga bagian leher. Karena hanya untuk menutupi bagian kepala, kerudung biasanya memiliki panjang yang lebih pendek. Kalau penutup kepala yang panjang hingga bisa menutupi sampai bagian dada, kita mengenalnya dengan istilah khimar.

Perbedaan Hijab dan Jilbab

Jilbab itu adalah pakaian luar tertutup, ada juga yang kemudian memaknainya seperti sarung, ada juga yang memaknai seperti penutup kepala, dan ada juga yang memaknainya menutupi seluruh tubuh.

Dengan melihat makna asli dari jilbab dan hijab, sebagaimana disebutkan dalam Alquran dan kemudian ditafsirkan oleh para ulama, kita bisa mengatakan bahwa hijab dan jilbab adalah dua konsep yang berbeda.

Namun saat ini, secara sosiologis, secara realitas, kita menganggap ini dua hal yang sama. Kemudian ada pertanyaan muncul, bagaimanakah batasan berhijab yang benar menurut syariat?

Menjawab pertanyaan ini, kita tentu saja kembali pada Alquran dan hadis serta akwal atau pendapat para ulama.

Dalam Alquran, batasan berpakaian muslimah dalam Surat An-Nur disebutkan di situ, yaitu dengan mengenakan kerudung yang menutupi hingga ke dada. Dalam hadis yang menjelaskan dialog Rasulullah SAW dengan Asma’ binti Abu Bakar disebutkan bahwa tidak patut ketika seorang muslimah sudah balig maka terlihat kecuali wajah dan dua telapak tangannya.

Dari hadis ini kemudian juga dimaknai bahwa pakaian syar’i tidak boleh ketat dan tidak boleh transparan. Dan ketika kita merujuk lagi pada ayat-ayat mengenai pakaian dalam Alquran, dalam hal ini Surat Al-A’raf ayat 26 dan Al-A’raf ayat 31, kita akan mendapati kembali batasan berpakaian menurut syariat.

Berhijab yang sesuai dengan ketentuan syariat yaitu, ketika kita beribadah, gunakan pakaian yang baik, tapi jangan sampai berlebihan. Dan pakaian yang terbaik, yang substantif, sesungguhnya adalah pakaian takwa.

Kemudian dalam hadis Nabi juga disebutkan:

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Imam Bukhari meriwayatkan hadits secara ta’liq)

Jadi, dengan demikian, kalau kita simpulkan sesuai dengan ketentuan syariat:

  1. Menutup aurat
  2. Tidak ketat
  3. Tidak transparan
  4. Tidak berlebihan
  5. Tidak menunjukkan kesombongan.

Perbedaan 4 Mazhab Dalam Pengucapan Niat Shalat

4 perbedaan dalam hal mengucapkan niat. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abu Bakar al-Jaza’iri dalam “al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah”:

  1. Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali: Niat itu ibadah hati, ucapan lidah bukanlah niat, akan tetapi membantu untuk mengingatkan hati, kekeliruan pada lidah tidak memudharatkan selama niat hati itu benar.
  2. Mazhab Maliki dan Hanafi: Melafazkan niat tidak disyariatkan dalam shalat, kecuali jika orang yang shalat itu merasa was-was.
  3. Mazhab Maliki: Tidak melafalkan niat itu lebih utama bagi orang yang tidak merasa was-was, tapi dianjurkan melafazkan niat bagi orang yang was-was.
  4. Mazhab Hanafi: Melafazkan niat itu bid’ah, tapi dianggap baik untuk menghilangkan was-was

Pestasi Bersejarah Luar Biasa, 3 Sekolah Islam Menjadi Sekolah Terbaik Di Inggris

Sekolah-sekolah Islam di Inggris menorehkan prestasi bersejarah dengan menempati rangking tertinggi dan terbaik di Inggris. Prestasi luar biasa bersejarah itu ditorehkan lembaga Muslim di negara tersebut. Kementerian Pendidikan Inggris menetapkan 3 sekolah Islam menempati posisi teratas dalam rangking sekolah terbaik. 8 sekolah Islam lainnya juga berada di deretan 20 sekolah terbaik, Rassd melaporkan,Sabtu (02/10/2019).

Berdasarkan keterangan Kementerian Pendidikan, Tauheedul Islam Girls’ School (TIGHT) di Blackburn menempati rangking satu, disusul Eden Boys’ School di Birmingham yang menduduki rangking ke dua. Sementara posisi ketiga di tempati Aden Girls’s School di Coventry.

Lima institusi pendidikan Islam juga masuk dalam jajaran 20 besar sebagai lembaga terbaik di Inggris.

Perlu disebutkan bahwa penilaian ini dikeluarkan oleh badan pemerintah yang dikenal dengan standar ilmiah akurat dan objektif untuk mengukur kualitas semua lembaga pendidikan di Inggris.

Kementerian Pendidikan mengatakan bahwa penilaian tersebut diukur dari berbagai aspek dan kriteria, seperti level siswa dalam mata pelajaran yang diberikan, hasil ujian akhir, pengembangan kemampuan siswa di ruang kelas, jumlah siswa yang lulus dari sekolah serta akses mereka untuk mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan pendidikan tinggi.

Sementara itu, Abdul Salam Basu, guru di sebuah sekolah Islam di London yang didirikan oleh Cat Stevens, mengatakan hasil ini merupakan buah yang telah ditanam selama setahun terakhir dimana siswa muslim berhasil menorehkan rangking tertinggi.

“Semua orang bekerja dengan rasa bahwa mereka memiliki tanggung jawab berat untuk mendidik anak-anak Muslim di Inggris,” tambahnya seperti dilansir Aljazera.

Dominasi sekolah Islam sebagai yang terbaik di Inggris menjadi angin segar bagi komunitas muslim.

Hal ini juga dapat mengubah stereotip terhadap lembaga-lembaga tersebut serta kurikulum yang diadopsi di dalamnya.

Sumber: suarapalestina.com

Apakah Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar ?

Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qu’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda?

Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan itu adalah sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.

Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qu’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda?

Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan itu adalah sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.

Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qu’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda?

Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan itu adalah sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.

Tanggal Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar yang Bikin Bingung

Tidak semua muslim merayakan Nuzulul Quran atau peringatan turunnya Al-Quran pada 17 Ramadan. Di beberapa negara, Nuzulul Quran dirayakan pada 27 Ramadan dan dianggap sama dengan Lailatur Qadar. Lho, kok beda-beda?

Ternyata muslim sedunia tidak satu suara tentang tanggal persis ayat Al-Quran turun untuk pertama kali. Persoalan menarik ini diulas dalam buku Ramadan di Jawa karangan André Möller. Ada beberapa pendapat tentang tanggal Nuzulul Quran ini.

  1. Pendapat pertama: Nuzulul Quran jatuh pada 17 Ramadan

Bagi yang mempercayai Nuzulul Quran jatuh pada 17 Ramadan, dasarnya adalah Surah Al-Anfaal ayat 41.

“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan….”

Menurut tafsir ayat ini, “apa yang kami turunkan” maksudnya adalah Al-Quran. Lalu apa itu hari Furqaan?

Menurut catatan kaki dalam Al Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama Indonesia, hari Furqaan adalah

“hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari jum’at tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijrah. Sebahagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Quraanul Kariem pada malam 17 Ramadan.”

  1. Nuzulul Quran jatuh pada Lailatul Qadar (‘malam kemuliaan’)

Pendapat ini berdasar pada Surah Al-Qadr ayat 1,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadr).”

Lalu, kapan Lailatul Qadar itu? Al-Quran nggak nyebut angka. Untuk perkara kapan tanggal Lailatul Qadar itu, ada beberapa pendapat lagi.

2.a. Lailatul Qadar jatuh pada 17 Ramadan

Menurut Nurcholish Madjid, pendapat di Indonesia bahwa Quran turun pada 17 Ramadan adalah hasil ijtihad K.H. Agus Salim. Ia mengawinkan Surah Al-Anfaal 41 dan Surah Al-Qadr 1 yang ia anggap membicarakan peristiwa yang sama.

Dengan demikian, menurut pendapat ini, Nuzulul Quran = Lailatul Qadar = 17 Ramadan.

2.b. Lailatul Qadar jatuh pada 27 Ramadan

Buku Ramadan di Jawa tidak banyak membahas alasan mengapa tanggal ini dipilih. Möller hanya menyinggung bahwa ada golongan orang yang percaya tanggal 27 karena sesuai dengan jumlah perkalian huruf dalam kata Lailatul Qadar (9 kata) dan jumlah kata itu muncul dalam Quran (3).

2.c. Tanggal pasti Lailatul Qadar adalah rahasia Allah

Pendapat ini berdasar pada beberapa hadis.

“Diriwayatkan dari Abu Salamah RA, bahwa dia bertanya kepada Abu Sa’id ra mengenai Lailatul Qadr, kemudian Abi Sa’id mengatakan: Kami pernah beriktikaf bersama Nabi Saw pada sepuluh hari yang tengah di bulan Ramadan, kemudian pada pagi hari yang kedua puluh beliau keluar dan memberi tahu kami, ‘Aku telah diberi tahu tentang tanggal Lailatul Qadr, namun aku lupa, maka carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam yang gasal di akhir Ramadan. Aku bermimpi bahwa aku bersujud di tanah yang berair dan berlumpur, maka siapa yang telah beriktikaf dengan Rasulullah SAW, hendaklah ia kembali beriktikaf lagi (pada sepuluh malam yang akhir dan gasal tersebut).’ Kata Abu Sa’id RA: Kami kembali beriktikaf lagi tanpa melihat segumpal awan pun di langit, tiba-tiba awan muncul dan hujan pun turun sehingga air mengalir melalui atap masjid yang ketika itu terbuat dari pelepah pohon kurma, kemudian salat dilaksanakan. Saya melihat Rasulullah SAW bersujud di atas tanah yang berair dan berlumpur sehingga saya melihat bekas lumpur di dahi Rasulullah SAW.” (Hadis Riwayat Bukhari Nomor 2.016)

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA, dalam riwayat lain: Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam Ramadan yang akhir, yaitu pada sembilan malam yang pertama (malam ke 21 sampai dengan 29) atau tujuh malam yang akhir (malam ke 23 sampai dengan akhir Ramadan).” (Hadis Riwayat Bukhari Nomor 2.022)

“Dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh akhir bulan Ramadan.” (Hadis Riwayat Bukhari, I, kitab Al-Tarawih, hlm. 225)

“Dari Ibnu Umar RA, bahwa beberapa orang laki-laki diberi tahu Lailatul Qadr dalam mimpi pada tujuh terakhir (Ramadan), lalu Rasulullah SAW bersabda: Saya melihat mimpimu sekalian bertepatan dengn malam tujuh terakhir, barangsiapa mencarinya, maka carilah ia pada malam tujuh terakhir.” (Hadis Riwayat Muslim Nomor 205/1.165)

Atas tuntunan hadis-hadis ini, sebagian orang meyakini Lailatul Qadar hadir di malam-malam ganjil di akhir Ramadan, sehingga mereka harus mencarinya. Yang hendak ditekankan di sini, tentu saja Lailatul Qadar adalah salah satu dari malam-malam tersebut, bukan semuanya.

Mengapa Lailatul Qadar Penting bagi Orang Islam?

Jawabannya ada pada Surah Al-Qadr ayat 2 sampai 5.

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Shalat Taubat Nasuha, Tatacara dan Doanya

Tobat yang paling baik yakni taubat nasuha. Sholat taubat nasuha adalah tobat yang semurni-murninya. Hal ini untuk memohon ampunan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Dalam surat At-Tahrim ayat 8, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Ulama menyarankan sholat taubat nasuha pada malam hari. Sholat taubat nasuha sebaiknya dikerjakan secara sendirian. Tata cara sholat taubat nasuha sama seperti sholat sunnah lainnya. Sholat taubat nasuha dilakukan dua rakaat dengan sekali salam.

Tata cara sholat taubat nasuha:

  1. Niat Sholat Taubat Nasuha

Bacaan niat sholat taubah nasuha yakni usholli sunnatat taubati rokaataini lillahi ta’aala.

Artinya: Saya niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah.

  1. Takbirotul Ihram

  2. Membaca doa Istiftah/iftitah

  3. Membaca surat Al Fatihah

  4. Membaca surat dari Alquran

  5. Rukuk

  6. I’tidal (Membaca doa i’tidal)

  7. Sujud (Membaca tasbih sujud tiga kali)

  8. Duduk di antara dua sujud (Membaca doa ‘Robbighfirlii warhamnii…’)

  9. Sujud kedua (Membaca tasbih sujud tiga kali)

  10. Bangun melanjutkan rakaat kedua seperti urutan di atas sampai 10.

  11. Tasyahud akhir (Membaca bacaan tasyahud akhir)

  12. Salam

  13. Berdoa mohon ampunan

Bacaan Sholat Taubat Nasuha

  • Pada dasarnya tidak ada ketentuan yang mewajibkan kita membaca bacaan sholat taubat nasuha khusus setelah membaca Al Fatihah.

Doa Sholat Taubat Nasuha

  • Setelah mengerjakan sholat taubat nasuha, dianjurkan memperbanyak baca istighfar yang ditujukan untuk memohon ampunan Allah SWT.
  • Bacaan istighfar setelah sholat taubat nasuha adalah astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaihi.
  • Artinya: Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.
  • Bacaan tersebut diucapkan 100 kali dengan setulus-tulusnya. Setelah itu baru membaca doa sholat taubat nasuha seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
  • Allahumma anta robbi laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa ana abduka wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A ‘udzu bika min syarri maa shona’tu abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii, faghfirlii fainnahuu alaa yaghfirudz dzunuuba illa anta.
  • Artinya: Ya Allah Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku di atas ikatan janjimu dan akan menjalankannya dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakuimu atas nikmatmu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau.

Tafsir Quran Al Fath 29: Kamu Lihat Ruku dan Sujud Mereka Mencari Karunia Allah

Al-Fath, ayat 29

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) }

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam bahwa dia adalah benar utusan-Nya tanpa diragukan lagi. Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ}

Muhammad itu adalah utusan Allah. (Al-Fath: 29)

Ini merupakan mubtada, sedang khabar-nya termuat di dalam semua sifat yang terpuji lagi baik. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para sahabatnya yang bersama dia:

{وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ}

dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Al-Fath: 29)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ}

maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. (Al-Maidah: 54)

Inilah sifat orang-orang mukmin, seseorang dari mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesamanya lagi kasih sayang. Dia bersikap pemarah dan bermuka masam di hadapan orang-orang kafir, tetapi murah senyum dan murah tertawa di hadapan orang-orang mukmin saudara seimannya. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً}

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, (At-Taubah: 123)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الواحد، إذا اشتكى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحمَّى والسَّهر”

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka adalah seperti satu tubuh; apabila ada salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh hingga terasa demam dan tidak dapat tidur.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda pula:

“الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا”

Orang mukmin itu sama halnya dengan bangunan-bangunan, yang satu sama lainnya saling menguatkan

Hal ini diutarakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam seraya merancangkan jari jemari kedua tangannya. Kedua hadis ini terdapat di dalam kitab sahih.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا}

kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. (Al-Fath: 29)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati mereka sebagai orang-orang yang banyak beramal dan banyak mengerjakan salat yang merupakan amal yang terbaik, dan Allah menggambarkan bahwa mereka lakukan hal itu dengan tulus ikhlas dan memohon pahala yang berlimpah dari sisi-Nya, yaitu surga yang merupakan karunia dari-Nya. Karunia dari Allah itu adalah rezeki yang berlimpah bagi mereka dan rida-Nya kepada mereka, yang hal ini jauh lebih banyak daripada nikmat yang pertama, yakni surga. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ}

Dan keridaan Allah adalah lebih besar. (At-Taubah: 72)

*******************

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ}

tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (Al-Fath: 29)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa yang dimaksud dengan tanda-tanda ialah tanda yang baik yang ada pada wajah mereka. Mujahid dan yang lain-lainya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah penampilannya khusyuk dan rendah diri.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Ju’fi, dari Zaidah, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (Al-Fath: 29) Bahwa yang dimaksud adalah khusyuk; menurut hemat saya tiada lain yang dimaksud adalah tanda ini yang terdapat di wajah dari bekas sujud. Tetapi ia menyanggah bahwa bisa saja tanda itu terdapat di antara dua mata (kening) seseorang yang hatinya lebih keras daripada Fir’aun. Lain halnya dengan As-Saddi, ia mengatakan bahwa salat itu dapat memperindah penampilan muka. Sebagian ulama Salaf mengatakan, “Barang siapa yang banyak salatnya di malam hari, maka wajahnya kelihatan indah di siang hari.”

Hal ini telah disandarkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab sunannya, dari Ismail ibnu Muhammad As-Salihi, dari Sabit, dari Syarik, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“مَنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ”

Barang siapa yang banyak salatnya di malam hari, maka di siang hari wajahnya tampak indah.

Tetapi yang benar hadis ini mauquf. Sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya keindahan ini mempunyai cahaya dalam hati dan kecerahan pada roman muka, keluasan dalam rezeki serta kecintaan di hati orang lain.

Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang menyembunyikan suatu rahasia, melainkan Allah menampakkannya melalui roman mukanya dan keterlanjuran lisannya. Dengan kata lain, sesuatu yang terpendam di dalam jiwa tampak kelihatan pada roman muka yang bersangkutan. Seorang mukmin apabila hatinya tulus ikhalas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki penampilan lahiriahnya di mata orang lain, seperti apa yang diriwayatkan dari Umar ibnul Khattab Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa barang siapa yang memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya.

وَقَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِيُّ، حدثنا حامد بن آدم المروزي، حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ العَرْزَمي، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْل، عَنْ جُنْدَب بْنِ سُفْيَانَ البَجَلي قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا أَسَرَّ أَحَدٌ سَرِيرَةً إِلَّا أَلْبَسُهُ اللَّهُ رِدَاءَهَا، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ”،

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Muhammad Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Hamid ibnu Adam Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kam. Al-Fall ibnu Musa, dari Muhammad ibnu Ubaidillah Al-Arzam dan Salamah ibnu Kahil, dari Jundub ibnu Sufyan Al-Bajali Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Tidaklah seseorang menyembunyikan suatu rahasia, melainkan Allah mengenakan kepadanya pakaian (lahiriah) dan rahasianya itu. Jika baik, maka lahiriahnya baik; dan jika buruk, maka lahiriahnya buruk pula.

Al-Arzami adalah orang yang matruk (tidak terpakai hadisnya).

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا دَرَّاجٍ، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: “لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ يَعْمَلُ فِي صَخْرَةٍ صَمَّاءَ لَيْسَ لَهَا بَابٌ وَلَا كُوَّةٌ، لَخَرَجَ عَمَلُهُ لِلنَّاسِ كَائِنًا مَا كَانَ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Darij, dari Abul Hasam, dari Abu Sa’id Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Seandainya seseorang di antara kalian beramal di dalam sebuah batu besar yang tiada celah pintunya dan tiada pula lubang udaranya, niscaya amalnya itu akan keluar menampakkan diri kepada manusia seperti apa adanya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ [أَيْضًا]: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا زُهَيْر، حَدَّثَنَا قَابُوسُ بْنُ أَبِي ظَبْيَان: أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: “إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ، وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ، وَالِاقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kam. Oabus ibnu AbuZabyan, bahwa ayahnya telah menceritakan kepadanya dar. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Sesungguhnya petunjuk yang baik, tanda (ciri) yang baik, dan sikap pertengahan merupakan seperdua puluh lima kenabian.

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini dari Abdullah ibnu Muhammad An-Nufaili, dari Zuhair dengan sanad yang sama. Para sahabat radiyallahu ‘anhum niat mereka ikhlas dan amal perbuatan mereka baik, maka setiap orang yang memandang mereka pasti akan terpesona dengan penampilan dan petunjuk yang mereka kemukakan.

Imam Malik mengatakan, telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa orang-orang Nasrani, manakala mereka melihat para sahabat yang telah menaklukkan negeri Syam, mereka mengatakan, “Demi Allah, orang-orang ini (yakni para sahabat) benar-benar lebih baik daripada kaum Hawariyyin (pendukung Nabi Isa) menurut sepengetahuan kami.” Dan mereka memang benar dalam penilaiannya, karena sesungguhnya umat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ini dimuliakan di dalam kitab-kitab samawi sebelumnya, terlebih lagi sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah menuturkan pula perihal mereka di dalam kitab-kitab yang diturunkan oleh-Nya dan berita-berita yang telah tersebar di masa dahulu. Karena itulah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini melalui firman-Nya:

{ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ}

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. (Al-Fath: 29)

Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ

dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya. (Al-Fath: 29)

Yakni demikian pula halnya sahabat-sahabat Rasulullah. Mereka membelanya, membantunya serta menolongnya, dan keadaan mereka bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sama dengan tunas beserta tanaman.

{لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ}

karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) orang-orang mukmin. (Al-Fath: 29)

Berdasarkan ayat ini Imam Malik rahimahullah menurut riwayat yang bersumber darinya menyebutkan bahwa kafirlah orang-orang Rafidah itu karena mereka membenci para sahabat, dan pendapatnya ini disetujui oleh sebagian ulama.

Hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan para sahabat dan larangan mencela keburukan mereka cukup banyak, dan sebagai dalil yang menguatkannya cukuplah dengan adanya pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka melalui ayat ini.

*******************

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ}

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka. (Al-Fath: 29)

Huruf min dalam ayat ini adalah kata keterangan jenis, yakni mencakup mereka semua (dan bukan tab’id atau sebagian dari mereka).

{مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا}

ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath: 29)

Yakni ampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala yang berlimpah, serta rezeki yang mulia. Janji Allah itu pasti dan benar, Dia tidak akan menyalahi janji-Nya dan tidak akan menggantinya. Barang siapa yang mengikuti jejak para sahabat, maka ia termasuk dari mereka hukumnya. Para sahabat memiliki keutamaan dan kepioniran serta kesempurnaan yang tidak dapat disaingi oleh seorang pun dari umat ini. Semoga Allah melimpahkan rida­Nya kepada mereka dan membuat mereka puas, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat menetap mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenuhinya.

قَالَ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أحدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah. dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya seseorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, tidaklah hal itu dapat menyamai satu mud seseorang dari mereka dan tidak pula separonya.

آخِرُ تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَتْحِ، وَلِلَّهِ الحمد والمنة.

Bagaimana Memilih Ceramah Agama, Ambil Kebaikan Quran Dan As Sunnah, Tinggal Yang Tidak Sepakat

Semakin peaat informasi di dunia maya khususnya ceramah para ulama, kadang2 bukannya membuat manusia lebih paham ilmu agama tetapi membuat semakin bingung karena beragamnya pendapat yang diterima. Umat muslim Indonesia tidak berbeda jauh dengan umat muslim dunia akan yerpecha menjadi berberapa kelompok. Hal ini pernah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun yang lalu. “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” HR Imam Tirmizi

Bukan hanya umat muslim, demikian juga dengan ulama akan terpecah menjadi berbagai kelompok. Ulama dengan berbagai mahrifat ilmu juga mempunyai karakteristik tersendiri. Perbedaan tersebut dilatarbelakangi oleh latar belakang keilmuan dalam bidang agama, latar belakang pendidikan, pemikiran politik, hukum, sosial dan budaya. Hal itu juga selaras dengan perbedaan latar belakang umat. Perbedaan itu membuat perbedaan pandangan dan pendapat dalam berbagai permasalahan kehidupan beragama. Sehingga tidak salah bahwa umat tertentu biasanya hanya mau mendengarkan ulama tertentu tanpa mau mendengarkan kebaikkan ulama yang lain.

Sikap umat menyikapi perbedaan

Bila terjadi perbedaan diantara ulama maka sebaiknya, umat harus kembali pada Al Quran dan As Sunnah. Bila hal itu masih belum menyatukan pendapat maka umat harus merujuk pada jumhur ulama atau kesepakatan ulama dalam hal ini di Indonesia mungkin merujuk pada fatwa MUI. MUI adalah kumpulan ulama ahli agama dati bernagai golongan dan mahdzab di Indonesia.

Semua ulama pasti akan menyampaikan ajaran Islam tegapi ambil kebaikan dari Al Quran dan As Suunah. Untuk mengenali itu maka bila terjadi perbedaan pedapat harus memahami dalil dan hukum yang diajukan ulam tersebut. Bila terdapat perbedaan maka sebaiknya ambil kebaikkan ulama yang Quran dan Sunah

Ceramah agama yang ideal harus didominasi olah dalil Quran, Sunnah, perbedaan ilama atau jumhur ulama. Biasanya tidak akan lepas dari sedikit latar belakang pikiran politik, sosial, hukum, budaya dan disiplin ilmu pengetahuan yang ada. Sebaliknya ada juga ceramah agama yang dominasi oleh akal pikir penceramah yang sebagian besar didominasi pemikiran budaya atau kebangsaan tetapi hanya sedikit mereferensikan Quran dan Sunnah. Maka bila seperti itu maka umat harus memilih dominasi kebaikan Quran dan Sunnah bukan dominasi pemikiran individu penceramah dalam politik, sosial, hukum dan budaya. Bila bertentangan dan tidak berdasarkan dalil Quran dan Sunnah, maka dipilih kebaikan Quran dan Sunnah.

Keterbatasan umat dalam strata pendidikan atau pengetahuan, serta kuatnya keterikatan latar belakang pola pemikiran politik, sosial dan budaya membuat umat terbatas menerima kebenaran dan mudah menolak kebenaran Quran dan Sunnah yang disampaikan berbagai ulama. Semakin mudah menerima masukan berbagai ulama maka wawasan umat dalam menerima kebaikkan Quran dan Sunnah semakin kuat.

Tanda tanda tidak salah menerima ceramah

Tanda tanda bahea seseorang umat tidak salah menerima ceramah bila setelah mendengarkan itu bukan hanya mendapatkan kelucuan dalam ceramah, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan beragama . Sehingga umat lebih khusyuk dan tekun dalam beribadah yang baik dan benar sesuai teladan nabi. Biasanya umat akan mendapatkan banyak kekeliruan dan kesalahan dalam kehidupan beragama dan beribadah. Selain itu mendapatkan ilmu agama yang baru dan semakin banyak dari sebelumnya yang belum banyak diketahui.

Umat akan salah memilih mendengarkan ceramah ulama bila tidak mendapatkan perubahan peningkatan dalam kualitas kehidupan beragama dan beribadah. Bila itu terjadi kita hanya mengambil manfaat dari kelucuan dan ketertarikan individu ulama bukan manfaat kebaikkan Quran dan Hadits. Bila tidak banyak koreksi atau perbaikan perubahan dalam beribadah dan berperilaku biasanya ada yang salah dalam masukan ceramah yang diterima. Karena pada dasarnya umat manusia itu penuh kekurangan dan banyak kekilafan.

Semakin banyak masalah kehidupan yang dibahas oleh ulama menunjukkan semakin banyak ajaran Quran dan Sunnah yang disampaikan. Semakin sedikit masalah kehidupan yang dibahas maka semakin sedikit kebaikan Quran dan Sunnah yang dibahas. Kareja pada sasarnya Islam itu adalah rahmatan lilalamin pada semua aspek kehidupan manusia termasuk politik, sosial, hukum, ekonomi dan budaya.

Sebaiknya umat tidak membatasi mendengarkan ceramah hanya dari ulama latar belakang golongan tertentu. Semua ulama yang menyuarakan kebaikkan dan kebenaran Quran dan Sunnah patut didengar tanpa harus diawali dengan prasangka buruk. Vonis radikal, intoleran dan anti NKRI yang difitnahkan pada ulama tertentu yang dilakukan oleh kelompok trtentu sebaiknya jangan terburu buru dipercaya. Berpikirlah positif demi mencari mahrifat kebaikkan Quran dan Hadits. Kalau umat sudah terlanjur percaya pada hadits Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, padahal menurut Imam Ibn Hibban mengatakan, Hadits ini bathil la ashla lahu (batil, palsu dan tak ada dasarnya). Mengapa untuk mendengarkan ulama yang berbeda pendapat, umat dipaksa takut mendengarnya. Maka akhirnya umat semua akan tersadar bahwa kebenaran itu bukan milik manusia tapi milik Allah semata. Maka akhirnya umat akan menyadari bahwa kebenaran Quran dan Sunnah itu sangat luas. Kita akan tersadar bahwa selama ini otak kita terkungkung oleh rasa ketakutan dan kecurigaan yang besar pada ulama tertentu dan agama Islam sendiri. Cobalah membiasakan mendengarkan ceramah agama semua ulama, ambil kebaikkan Quran dan As Sunnah yang tidak sepakat tinggalkan.

Menuntut Ilmu Ke Negeri China, Hadits Palsu Yang Terus Disebarkan, Apa Tujuannya ?

Hadits Palsu Tentang Menuntut Ilmu Ke Negeri China

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China!”

Hadits ini dikeluarkan oleh :
1. Imam al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ’ (2/230)
2. Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fidh Dhu’afâ’” (4/118)
3. Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Târîkh Ashbahan (2/106)
4. al-Baihaqi dalam al-Madkhal ilas Sunanil Kubra (1/244) dan Syu’abul Îmân (no. 1612)
5. al-Khathib al-Bagdadi dalam Târîkh Bagdad (9/363),
6. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’u Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih (1/14-15)
7. Ibnul Jauzi dalam al-Maudhû’ât” (1/215)

Dengan sanad mereka semua dari jalur Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Hadits ini adalah hadits yang palsu dan batil (rusak), karena rawi yang bernama Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman adalah rawi yang disepakati kelemahannya, bahkan sebagian dari Ulama ahli hadits menyifatinya sebagai pemalsu hadits.
  • Imam al-Bukhâri rahimahullah dan Abu Hâtim ar-Râzi rahimahullah menyatakan bahwa hadits riwayatnya sangat lemah[1] .
  • Imam as-Sulaimani menyatakan bahwa rawi ini dikenal sebagai pemalsu hadits[2].
  • Imam al-‘Uqaili rahimahullah berkata, “Dia ditinggalkan haditsnya (karena kelemahannya yang fatal).”[3]
  • Imam Ibnu Hibbân rahimahullah berkata, “Haditsnya sangat mungkar (karena kelemahannya yang fatal)[4]
  • Para Ulama ahli hadits telah menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits palsu atau minimal sangat lemah. Imam al-Bazzar berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya (palsu).”[5] Imam Ibnu Hibban berkata, “Hadits ini batil (palsu) dan tidak ada asal-usulnya.”[6] Demikian pula para Imam lainnya menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu atau sangat lemah, seperti al-‘Uqali, Ibnu ‘Adi, al-Baihaqi[7] , as-Sakhawi[8] , asy-Syaukani[9] dan al-Albani[10] .
  • Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari jalur lain dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’u Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih (1/21). Tapi hadits ini juga palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ya’qûb bin Ishâq bin Ibrâhîm al-‘Asqalani, Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya, “Dia pendusta.”[11]
  • Juga diriwayatkan dari shahabat lain, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fidh Dhu’afâ’” (4/177). Hadits ini juga palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ahmad bin Abdillah al-Juwaibari. Imam an-Nasa-i dan ad-Daraquthni berkata tentangnya, “Dia pendusta.”[12] Imam Ibnu ‘Adi menyifatinya sebagai pemalsu hadits.[13]
  • Imam Ibnu ‘Adi berkata, setelah membawakan hadits ini, “Hadits ini dengan sanad ini adalah batil (palsu).”[14]

Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits palsu atau minimal sangat lemah dari semua jalur periwayatannya.

  • Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur dan semuanya lemah”[15] . Demikian pula Syaikh al-Albâni rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini palsu dan batil dari semua jalur periwayatannya.[16]
  • Kemudian, dari segi makna, hadits ini juga mengandung makna yang patut dipertanyakan. Karena negeri China bukanlah negeri yang dikenal sebagai negeri Islam dan tempat menuntut ilmu agama. Kalaupun ada ilmu di sana, maka hanyalah ilmu-ilmu dunia yang tidak mungkin diperintahkan dan diwajibkan untuk menuntutnya dengan bersusah payah dan menempuh perjalanan jauh, seperti yang disebutkan dalam hadits ini.[17]
  • Pada asalnya, ilmu yang diperintahkan untuk dituntut dalam Islam dan ditekankan kewajibannya adalah ilmu agama, yaitu ilmu tentang petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘laihi wa sallam untuk memperbaiki iman dan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Inilah ilmu yang dipuji dan diperintahkan dalam Islam.[18]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يٌفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa Allâh Azza wa Jalla hendaki kebaikan baginya maka Allâh akan menjadikannya paham tentang agama Islam[19]

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإنَّ الأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewariskan uang emas atau uang perak, tapi yang mereka wariskan hanyalah ilmu (agama Islam), maka barangsiapa mengambil (warisan tersebut) berarti sungguh dia telah mengambil bagian yang sempurna.[20]

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari dan menjadi rujukan dalam Islam, pada asalnya, adalah ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allâh Azza wa Jalla dan dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Adapun ilmu-ilmu dunia, maka kedudukan dan hukumnya mengikuti apa yang dijelaskan dalam ilmu agama. Artinya ilmu-ilmu tersebut dianjurkan atau diperintahkan untuk dipelajari jika digunakan untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi kaum Muslimin, tapi sebaliknya, jika tidak demikian, maka ilmu-ilmu tersebut dilarang dalam Islam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]


Footnote
[1]. Kitab Tahdzîbut Tahdzîb (12/158).
[2]. Ibid.
[3]. Kitab adh-Dhu’afâ’ (2/230).
[4]. Kitab al-Majrûhîn (1/382).
[5]. Kitab Musnad al-Bazzar (1/175).
[6]. Dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudû’ât (1/216).
[7]. Dalam kitab-kitab mereka di atas.
[8]. Kitab al-Maqâshidul Hasanah (hlm. 121)
[9]. Kitab al-Fawâ’idul Majmâ’ah (hlm. 272)
[10]. Kitab Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati wal Maudhû’ah (1/600, no. 416).
[11]. Kitab Mîzânul I’tidâl (4/449).
[12]. Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Lisânul Mîzân (1/193).
[13]. Kitab al-Kâmil fidh Dhu’afâ’ (1/177).
[14]. Ibid.
[15]. Kitab Syu’abul Îmân (4/174).
[16]. Kitab Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati wal Maudhû’ah (1/604).
[17]. Lihat penjelasan makna hadits ini dalam kitab Faidhul Qadîr (1/542).
[18]. Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam kitab al-‘Ilmu (hlm. 9).
[19]. HSR al-Bukhâri (no. 71) dan Muslim (no. 1037).
[20]. HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Majah (no. 223), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban (no. 88) dan Syaikh al-Albani.

Sumber:

  • Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni

15 bidang ilmu dalam menafsirkan Quran

15 bidang ilmu dalam menafsirkan Quran

  1. Ilmu Lughat (filologi)
    Yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.

  2. Ilmu Nahwu (tata bahasa)
    Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.

  3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71) Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.

  4. Imu Isytiqaq (akar kata).
    Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.

  5. Ilmu Ma’ani
    Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.

  6. Ilmu Bayaan
    Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.

  7. Ilmu Badi’
    Yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.

  8. Ilmu Qira’at
    Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.

  9. Ilmu Aqa’id
    Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat: “Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)

  10. Ushul Fiqih
    Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hukum dari suatu ayat.

  11. Ilmu Asbabun-Nuzul
    Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzulnya.

  12. Ilmu Nasikh Mansukh
    Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah di hapus dan hukum yang masih tetap berlaku.

  13. Ilmu Fiqih
    Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.

  14. Ilmu Hadist
    Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.

  15. Ilmu Wahbi
    Ilmu khusus yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.” Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali r.a. pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak di berikan kepada orang lain?” Maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman Al Quran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Abi Dunya berkata, “Ilmu al Quran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tak bertepi.
    Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir al Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menafsirkan al Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah di sebutkan dalam banyak hadist.

Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah.

Iman Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada di luar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”

Tertulis dalam Kimia’us Sa’aadah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan al Quran:
(1) Orang yang tidak memahami bahasa Arab.
(2) Orang yang berbuat dosa besar atau ahli bid’ah, karena perbuatan itu akan membuat hatinya menjadi gelap dan menutupi pemahamannya terhadap al Quran.
(3) Orang yang dalam aqidahnya hanya mengakui makna zhahir nash. Jika ia membaca ayat-ayat al Quran yang tidak sesuai dengan pikirannya (logikanya), maka ia akan gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami al Quran dengan benar. “Ya Allah, lindungi kami dari mereka”

14 CABANG ILMU DALAM ISLAM

14 CABANG ILMU DALAM ISLAM

1. ILMU SYAHADAT
Sumber dari segala ilmu agama yaitu ilmu yang mempelajari syarat, rukun, batal, dll dari syahadatain dan menjadi tolak ukur aqidah islam serta jembatan untuk mengenal seluruh ilmu-ilmu agama.
Kitab : Al-Aurad.
2. ILMU TAUHID / ILMU AQIDAH
Ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang sifat – sifat allah swt dan sifat – sifat para utusanya yang terdiri dari sifat yang wajib, sifat jaiz dan sifat yang mustahil. selain dari itu juga menerangkan segala yang memungkinkan dan dapat diterima oleh akal, untuk menjadikan bukti dan dalil, dengan dibantu oleh masalah sam’iyat agar dapat mempercayai dalil itu dengan yakin tanpa keraguan di hati.
Kitab : Aqidatul awwam, Jauhar Tauhid, Sifat 20, Addurunnaifs (Permata Yang Indah) dll.
3. ILMU TASAWUF
Ilmu yang mempelajari cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Secara umum terbagi 4 tingkatan yaitu syari’at berkenaan dengan hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT, thoriqot berkenaan dengan jalan yang ditempuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, haqiqot berkenaan dengan hasil kebenaran yang sesungguhnya setelah menjalankan thoriqot, ma’rifat berkenaan dengan mengenal dan berhadap-hadapan langsung dengan Allah SWT tanpa hijab atau tirai.
4. ILMU AL-QURAN/ULUMUL QURAN
Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnaya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasmil Qur’an, ilmu I’jazil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, dan ilmu-ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari ulumul Qur’an.
lmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya.
5. ILMU AKHLAQ
Ilmu akhlak adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia agar mempunyai adab dan sopan santun dalam pergaulan baik pergaulan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta. Kita dibina untuk mengetahui peraturan dan prosedur yang sesuai agar tidak bertindak sesuka hati. Bila kita mampu mengimplementasikan ilmu ini maka pergaulan akan menjadi indah dan sangat disayang baik oleh manusia, hewan maupun Sang Pencipta seperti akhlak Nabi Muhammad SAW. Nabi sendiri diutus, yang pertama tugasnya adalah memperbaiki akhlak manusia yang saat itu semua menjurus akhlak Jahiliyah.
Kitab : Akhlaqul Libanin.
6. ILMU HADITS
Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits yang mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Kitab : Fathul Bari, Subulus Salam, Bulughul Maram dll.
7. ILMU USHUL FIQIH
Kata ushul fiqh adalah kata ganda yang berasal dari kata “ushul” dan “fiqh” yang secara etimologi mempunyai arti “faham yang mendalam”. Sedangkan ushul fiqh dalam definisinya secara termologi adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya yang terperinci. Kitab : Al-Ushul min Ilmil Ushul.
8. ILMU FIQIH
Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.
Kitab : Kifayatul Akhyar, Safinatun Najah.
9. ILMU FARAIDH
Faroidh adalah bentuk kata jamak dari kata faridhoh. Sedangkan Faridhoh diambil dari kata fardh yang artinya taqdir (ketentuan). Ilmu Faraidh merupakan bagian dari Ilmu Fiqih yaitu Ilmu yang Membahas hukum-hukum waris dan ketentua-ketentuan serta pembagian-pembagiannya.
Kitab : Matan Ar-Rahbiyah.
10. ILMU TAJWID
Pengertian Tajwid menurut bahasa (ethimologi) adalah: memperindah sesuatu.Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu kifayah, sedang membaca Al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardlu ‘Ain. Kitab : Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid dll.
11. ILMU SIRAH / TARIKH
Ilmu yang mempelajari tentang sejarah Islam.
12. ILMU BALAGHOH
Ilmu cara berdialog dengan orang lain.
13. ILMU FALAQ
Ilmu yang mempelajari cara mencari arah kiblat, menentukan waktu sholat dan awal bulan. Di dalamnya dipelajari juga ilmu berhitung dan ilmu tentang alam.
14. ILMU ALAT
Ilmu Alat adalah ilmu untuk mengetahui cara membaca arab gundul atau kitab gundul (huruf yang tanpa fathah, dhomah kasarah dan tanda baca lainnya). 12 nama ilmu tersebut antara lain :

Tafsir Al Ahqaf 15: Berbuat Baik Untuk Orangtua

Al-Ahqaf, ayat 15-16
{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (16) }

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Setelah dalam ayat-ayat terdahulu disebutkan tentang tauhid ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, dan istiqamah, lalu disebutkan perintah Allah yang memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal seperti ini sering disebutkan secara bergandengan di dalam Al-Qur’an, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

{وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا}

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra: 23)

{أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang senada.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا}

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya dan mengasihi keduanya.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus’ab ibnu Sa’d menceritakan berita ini dari Sa’d r.a yang telah mengatakan bahwa Ummu Sa’d berkata kepada Sa’d, “Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk menaati kedua orang tuanya? Maka sekarang aku tidak mau makan dan, minum lagi sebelum kamu kafir kepada Allah.” Ternyata Ummu Sa’d tidak mau makan dan minum sehingga keluarganya terpaksa membuka mulutnya dengan memakai tongkat (lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya). Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15), hingga akhir ayat.

Imam Muslim dan para penulis kitab sunan -kecuali Ibnu Majah- telah meriwayatkan hadis ini melalui Syu’bah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang lebih panjang.

{حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا}

ibunya mengandungnya dengan susah payah. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu mengalami kesengsaraan karena mengandungnya dan kesusahan serta kepayahan yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil.

{وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا}

dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf: 15)

Yakni dengan penderitaan pula saat melahirkan bayinya lagi sangat susah dan masyaqqat.

{وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا}

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)

Sahabat Ali Radhiyallahu Anhu menyimpulkan dalil dari ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Luqman. yaitu firman-Nya:

{وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ}

Dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)

Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al-Baqarah: 233)

Bahwa masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman Radhiyallahu Anhu dan sejumlah sahabat lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma’mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah mengawini seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman Radhiyallahu Anhu dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku.”

Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman Radhiyallahu Anhu, maka Usman Radhiyallahu Anhu memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali Radhiyallahu Anhu, maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?” Usman menjawab, “Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?” Maka Ali Radhiyallahu Anhu bertanya kepada Usman, “Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Usman menjawab, “Benar.” Ali Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan Usman r a berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu.” Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.

Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma’mar berkata “Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi’.”

Ma’mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 81); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)


{حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ}

sehingga apabila dia telah dewasa. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni telah kuat dan menjadi dewasa.

{وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً}

dan umurnya sampai empat puluh tahun. (Al-Ahqaf. 15)

Yaitu akalnya sudah matang dan pemahaman serta pengendalian dirinya sudah sempurna.

Menurut suatu pendapat, biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia empat puluh tahun.

Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan dan Al-A’masy, dan Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, “Bilakah seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Masruq menjawab, “Bila usiamu mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”

وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيد اللَّهِ الْقَوَارِيرِيُّ، حَدَّثَنَا عَزْرَة بْنُ قَيْسٍ الْأَزْدِيُّ -وَكَانَ قَدْ بَلَغَ مِائَةَ سَنَةٍ-حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ السَّلُولِيُّ عَنْهُ وَزَادَنِي قَالَ: قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ عُثْمَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً خَفَّفَ اللَّهُ حِسَابَهُ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِينَ سَنَةً ثَبَّتَ اللَّهُ حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِينَ سَنَةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وشفَّعه اللَّهُ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ، وَكُتِبَ فِي السَّمَاءِ: أَسِيرَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ”

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Qais Al-Azdi yang usianya mencapai seratus tahun, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Kufi alias Umar ibnu Aus, bahwa Muhammad ibnu Amr ibnu Usman telah meriwayatkan dan Usman Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah bersabda: Seorang hamba yang muslim apabila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila usianya mencapai enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki Inabah (kembali ke jalan-Nya). Dan apabila usianya mencapai tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kebaikan-kebaikannya dan menghapuskan keburukan-keburukannya. Dan apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan mengizinkannya untuk memberi syafaat buat ahli baitnya dan dicatatkan (baginya) di langit, bahwa dia adalah tawanan Allah di bumi-Nya.

Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu di dalam kitab Musnad Imam Ahmad.

Al-Hajjaj ibnu Abdullah Al-Hakami, salah seorang amir dari kalangan Bani Umayyah di Dimasyq telah mengatakan, “Aku telah meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa selama empat puluh tahun karena malu kepada manusia, kemudian aku meninggalkannya (sesudah itu) karena malu kepada Allah.” Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:

صَبَا مَا صَبَا حَتى عَلا الشَّيبُ رأسَهُ … فلمَّا عَلاهُ قَالَ لِلْبَاطِلِ: ابطُل

Diturutinya semua yang disukainya sehingga uban telah menghiasi kepalanya.

Dan manakala uban telah memenuhi kepalanya, ia berkata kepada kebatilan, “Menjauhlah dariku!”


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي}

Ya Tuhanku, tunjukilah aku. (Al-Ahqaf: 15)

Maksudnya, berilah aku ilham, atau bimbinglah aku.

{أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ}

untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. (Al-Ahqaf: 15)

Yakni di masa mendatang.

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي}

berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (Al-Ahqaf: 15)

Yaitu keturunanku.

{إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf: 15)

Ini adalah panduan bagi yang sudah berusiah empat puluh tahun untuk memperbaharui tobat dan berserah diri kepada Allah.

Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah SAW mengajari doa tasyahhud, yaitu:

“اللَّهُمَّ، أَلِّفْ بَيْنِ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سبُل السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجَعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْنَا”

selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ}

Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka yang menyandang predikat yang telah kami sebutkan yaitu orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah lagi menanggulangi apa yang telah mereka lewatkan dengan bertobat dan memohon ampun merekalah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal baiknya dan Kami maafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan Kami ampuni dosa-dosa mereka serta Kami terima amal mereka walaupun sedikit.

{فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ}

bersama penghuni-penghuni surga. (Al-Ahqaf: 16)

Yakni mereka termasuk penghuni-penghuni surga. Demikianlah status mereka d. s.si Allah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya kepada orang-orang yang bertobat dan kembali ke jalan-Nya, oleh karena itu Allah berfirman:

{وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}

Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا المُعْتَمِر بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ أَبَانَ، عَنْ الغطْرِيف، عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الرُّوحِ الْأَمِينِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ: “يُؤْتَى بِحَسَنَاتِ الْعَبْدِ وَسَيِّئَاتِهِ ، فَيَقْتَصُّ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، فَإِنْ بَقِيَتْ حَسَنَةٌ وَسَّعَ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ” قَالَ: فدخلتُ عَلَى يَزْدَادَ فَحُدّث بِمِثْلِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ: قُلْتُ: فَإِنْ ذَهَبَتِ الْحَسَنَةُ؟ قَالَ: {أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ}.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Al-Gatrif, dari Jabir ibnu Yard, dan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari Ar-Ruhul Amin ‘alaihissalam yang telah mengatakan: Seorang hamba akan didatangkan kebaikan dan keburukannya, lalu dilakukanlah penghapusan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Jika masih tersisa suatu kebaikan, Allah memberikan keluasan kepadanya di dalam surga. Ibnu Jarir mengatakan, bahwa lalu ia datang kepada Ali Yazdad dan ternyata dia pun meriwayatkan hadis yang semisal. Aku bertanya, “Bagaimana jika kebaikannya habis?” Ali menjawab dengan membacakan firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Muhammad ibnu Abdul Ala As-San’ani, dari Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman berikut sanadnya yang semisal, tetapi ditambahkan ‘dan Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril ‘alaihissalam)’. Disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan kepada seorang hamba amal-amal baiknya dan amal-amal buruknya, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya. Hadis ini garib, tetapi sanadnya baik dan tidak mengandung cela.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ma’bad telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr Ja’far ibnu Abu Wahsyiyyah dan Abu Wahsyiyyah, dari Yusuf ibnu Sa’d, dari Muhammad ibnu Hatib bahwa ketika Al. beroleh kemenangan atas kota Al-Basrah, Muhammad ibnu Hatib tinggal di rumahku. Dan pada suatu hari ia mengatakan kepadaku, bahwa sesungguhnya ia menyaksikan Khalifah Ali r a yang sedang bersama dengan Ammar, Sa’sa’ah, Asytar, dan Muhammad ibnu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Lalu mereka menceritakan perihal Khalifah Usman r a dan pada akhirnya pembicaraan mereka mendiskreditkannya. Saat itu Ali r a. sedang berada di atas dipannya, sedangkan tangannya memegang tongkat. Lalu seseorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian ada seorang yang akan memutuskan hal ini di antara kalian. Maka mereka menanyakannya kepada Ali Radhiyallahu Anhu Lalu Ali menjawab bahwa Usman Radhiyallahu Anhu termasuk salah seorang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16) Kemudian Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Demi Allah, Usman dan teman-temannya ” Hal ini diulanginya sebanyak tiga kali.

Yusuf ibnu Sa’d berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada Muhammad ibnu Hatib, “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Ali r.a?” Muhammad ibnu Hatib menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar mendengarnya dari Ali Radhiyallahu Anhu secara langsung.”

12 GOLONGAN MANUSIA YANG DI DOAKAN MALAIKAT.

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (Q.S. Al-Anbiya: ayat 26-28)
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: ayat 43)

12 GOLONGAN MANUSIA YANG DI DOAKAN MALAIKAT.

  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.. “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)
  2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat. “Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Imam Muslim dariAbu Hurairah, Shahih Muslim 469).
  3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan.” (Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib) Orang yang menyambung shaf shalat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf).
  4. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu berselawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah)
  5. Para malaikat mengucapkan ‘aamiin‘ ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)
  6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat “Para malaikat akan selalu berselawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,(para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.’” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)
  7. Orang-orang yang melakukan shalat Shubuh dan Ashar secara berjamaah. ” Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.’” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 9140)
  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikatyang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR. Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)
  9. Orang-orang yang berinfak. “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).’” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari1442 dan Shahih Muslim 1010)
  10. Orang yang sedang makan sahur “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)
  11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” (HR. Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Musnad no. 754)
  12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahil)

« Entri Lama