September 27, 2022

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Love, Truth and Tolerance

Ar-Rahiq-ul-Makhtum Buku Sirah Nabawiyah Terbaik

7 min read

 

Ar-Rahiq-ul-Makhtum Buku Sirah Nabawiyah terbaik

Dr Zakir Naik  menyarankannya untuk mempelajari tentang Nabi Muhammad dengan  membaca sejarah Nabi Muhammad di antaranya Ar Rakhiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury. Ar-Rahiq-ul-Makhtum adalah buku Sirah (biografi) nabi Islam, Muhammad, yang ditulis dalam bahasa Arab dan Urdu oleh Safi-ur-Rahman Mubarakpuri. Versi bahasa Arabnya dianugerahi juara pertama oleh Liga Muslim Dunia, dalam Islamic Conference on Seerah, bersaing dengan 170 manuskrip lainnya, 84 dalam bahasa Arab, 64 dalam bahasa Urdu, 21 dalam bahasa Inggris satu dalam bahasa Prancis dan satu dalam bahasa Hausa.

Ar-Rahiq-ul-Makhtum adalah buku Sirah (biografi) nabi Islam, Muhammad, yang ditulis dalam bahasa Arab dan Urdu oleh Safi-ur-Rahman Mubarakpuri. Versi bahasa Arabnya dianugerahi juara pertama oleh Liga Muslim Dunia, dalam Islamic Conference on Seerah, menyusul kompetisi terbuka untuk buku Sirah Rasul Allah (kehidupan Muhammad) pada tahun 1979 (1399 H). Buku ini bersaing dengan 170 manuskrip lainnya, 84 dalam bahasa Arab, 64 dalam bahasa Urdu, 21 dalam bahasa Inggris satu dalam bahasa Prancis dan satu dalam bahasa Hausa.

Buku ini menceritakan berbagai fase kehidupan Muhammad. Buku ini juga menyediakan rujukan otentik yang menjadikannya lebih tepercaya dan tidak terlalu kontroversial. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Sealed Nectar. Judul buku ini diambil dari ayat Quran Yusqawna mirrahiq-(in)-makhtum-in (Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya)), yang merupakan ayat ke-25 dalam surah Al-Mutaffifin (Orang-orang yang Curang).

Buki ini adalah sejarah kehidupan Rasulullah yang sudah di tahqiq, sehingga kita bisa mengetahui derajat kisah yang disebutkan dalam buku tersebut. Juga dapat menjadi wawasan tambahan agar tidak terjebak dalam kebingungan; mana kisah yang memiliki sumber periwayatan, mana kisah yang diperdebatkan kebenarannya, dan mana kisah yang tidak ada sumbernya sama sekali.

Sejatinya adalah gabungan dari dua buku : Pertama, buku sejarah yang fenomenal karena menjuarai lomba penulisan Sirah An-Nabawiyah tingkat internasional; Ar-Rahiq Al-Makhtum, Bahtsun Fi As-Sirah An-Nabawiyyah ‘Ala Shahibiba Afdhal Ash-Shalahatu Was-Salam, tulisan Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Kedua, buku berjudul At-Tha’liq ‘Ala Ar-Rahiq Al-Makhtum, tulisan Syaikh Abdurrahman Mahmud bin Muhammad Al-Mallah, dan sudah dikoreksi ulang oleh Prof. Dr. Nasir bin Abdul Karim Al-‘Aql, Syaikh Abdullah bin Mani’ Ar-Ruqiy, dan Syaikh Muhammad bin Abdulah Al-‘Ausyan.

Metode penulisan yang digunakan oleh pentahiq adalah dengan mencantumkan beberapa kisah tentang Rasulullah yang ada di dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum yang perlu dikritisi, kemudian beliau sematkan koreksi tersebut di bawahnya. Namun, untuk memudahkan pembaca dalam memahami alur kisah sekaligus koreksi yang ada, kami menggabungkannya dengan buku pokoknya secara langsung. Kemudian kami sematkan koreksi itu di bagian footnote, tepat di bagian akhir setiap kisah yang dikoreksi oleh pentahqiq.

Waspadai Pemikiran Barat Pengaruhi Penulisan Sirah Nabawiyah Rasulullah

BACA SELENGKAPNYA :  Alasan Madinah Dipilih Sebagai tempat Hijrah

Kebudayaan Eropa (Barat) turut memengaruhi studi penulisan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW atau Sirah Nabawiyah. Hal itu mulai kian terasa sejak abad ke-19 M. Waktu itu, berbagai pemikiran Barat mulai merambah kegiatan intelektual kaum Muslimin. Syekh Dr Said Ramadhan Al Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah (2009) menjelaskan, gagasan psikoanalisis dari Sigmund Freud. Pendiri aliran psikoanalisis yang berasal dari  Austria keturunan Yahudi  itu mengajukan ide tentang penulisan biografi yang berdasarkan pada tendensi individu. Menurutnya, seorang sejarawan boleh saja memasukkan kecenderungan pribadi, ideologi, atau pandangan politiknya dalam menyusun narasi tentang seseorang. Dengan metode baru tersebut, para penulis sesat itu lalu menyingkirkan semua hal yang mereka anggap tidak masuk akal (dalam Sirah Nabawiyah), seperti mukjizat (Nabi SAW) dan kejadian luar biasa. Mereka hanya mencitrakan Rasulullah SAW sebagai sosok pemimpin jenius yang hebat, heroik, dan sebagainya, tutur Al Buthy.  Untuk itu Dr Dzakir Naik ernah merekomendasikan membaca sejarah Nabi Muhammad di antaranya adalah buku Ar Rakhiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury.

Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi lahir di Turki, 1929, wafat di Damaskus, Suriah pada 21 Maret 2013 adalah seorang ilmuwan Suriah di bidang ilmu-ilmu agama Islam, dan merupakan salah satu ulama rujukan tingkat dunia, dan dihormati oleh banyak ulama besar di dunia Islam. Mohammed Said Ramadan Al-Bouti adalah seorang cendekiawan Muslim Sunni terkemuka yang juga dikenal sebagai “Syekh Levant”. Dia tewas pada 21 Maret 2013, selama perang saudara Suriah, dilaporkan dalam ledakan bom,  meskipun “banyak pertanyaan tentang kematian” telah diajukan oleh video dari tempat kejadian. Disebut sebagai “penulis produktif yang khotbahnya disiarkan secara teratur di televisi”, dan “lebih akrab bagi pemirsa TV Suriah daripada siapa pun selain Presiden Bashar al-Assad”, Al-Bouti menulis lebih banyak dari enam puluh buku tentang berbagai masalah Islam, dan dianggap sebagai sarjana penting dari pendekatan berdasarkan empat sekolah Islam Sunni dan kredo Asy’ariyah ortodoks. Selain karya-karya keagamaan, ia juga telah bekerja di bidang sastra. Misalnya, ia menerjemahkan Mam dan Zin, cerita Kurdi yang terkenal, ke bahasa Arab.

Ulama besar itu menyebut corak Freudian ini sebagai aliran individualis dalam sejarah sirah. Itu bertolak belakang dengan aliran objektif yang telah muncul sejak pertama kali disiplin Sirah Nabawiyah mengemuka, yakni sekira lima abad pertama Hijriyah. Disebut objektif karena para penulis Muslim tidak hanya mengandalkan karya-karyanya untuk memotret peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Mereka pun mengukuhkan informasi yang ada dengan riwayat-riwayat sahih dari beliau. Ini tak mengherankan, sebab penyusunan sirah dimulai setelah penulisan hadits. Bahkan, banyak metode yang dipakai para pembuat biografi Nabi SAW mengikuti kaidah-kaidah mustholah hadits. Penulis Al-La Mazhabiyyah itu menerangkan, bagi kalangan pendukung aliran individualis, di dalam sebuah biografi tidak hanya boleh terselip pandangan-pandangan politik atau ideologi penyusunnya.

BACA SELENGKAPNYA :  Pendapat Nasrani Tentang Muhammad: Kisah Pendeta Nasrani, Tahu Muhammad Akan Jadi Nabi Terbesar

Bahkan, interpretasi subjektif menjadi hal yang wajib dilakukan kaum sejarawan. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penutur-ulang atau pengumpul catatan berbagai peristiwa sejarah.Hasil kerjanya seakan-akan kreasi seni atau sastra, bukan karya ilmiah yang disusun secara cermat. Alhasil, penganut aliran ini menjadikan usaha penulisan sejarah sebagai `karya seni,’ simpul mubaligh wafat di Suriah itu.

Penyebab

Al-Buthy memerinci penyebab masuknya pengaruh Barat dalam ranah sirah. Menurutnya, tonggak awalnya ialah pendudukan Britania Raya atas Mesir yang bermula pada 1882.  Menurutnya, Negeri Piramida pada abad ke-19 menjadi wajah terdepan dari dunia Islam. Kaum Muslim terpelajar menjadikannya sebagai kiblat dalam bidang intelektualitas dan pemikiran keagamaan. Inggris mampu menduduki Mesir dengan pendekatan militer. Berbagai wilayah strategis di sana pun dapat dicaploknya. Bagaimanapun, penjajahan yang dilakukan Negeri Albion tidak berlangsung adem-ayem. Banyak kalangan Muslimin setempat yang berupaya melawan. Termasuk di antara mereka ialah para cerdik cendekia Universitas Al Azhar Mesir.

Alih-alih mengisolasi Al Azhar, pemerintah kolonial Inggris memilih untuk menyusupkan gagasan-gagasan pro-Barat ke kampus itu. Yang ditanamkan ialah perasaan kalah terhadap Barat.  Para sarjana Muslim dipertontonkan dengan pelbagai pencapaian teknologi dan pemikiran sekuler dari Eropa. Lewat infiltrasi itu, sebagian pemikir Mesir mulai terpengaruh sekulerisme. Mereka meyakini bahwa kemajuan yang dinikmati Barat terjadi lantaran agama ditundukkan di bawah kuasa ilmu pengetahuan dan sains.

Agama dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dan terpisahkan dari ilmu pengetahuan. Keduanya tidak mungkin dipertemukan,kata al-Buthy menggambarkan.  Dalam waktu singkat, bisikan para penjajah itu menguasai orang-orang Islam yang pandangannya silau terhadap progres Eropa modern. Barat saat itu mengedepankan rasionalisme dan empirisisme. Dengan demikian, wahyu atau hal-hal yang transenden tidak dianggap.  Alhasil, sirah Nabi SAW sejak zaman klasik ditinjaunya kembali. Legasi dari generasi salaf itu dilihatnya dengan perspektif sekuler Barat. Maka buku-buku tentang riwayat kehidupan Rasulullah SAW mulai bermunculan.

Berbeda dengan sebelumnya, kitab-kitab itu tidak lagi menggunakan riwayat, sanad, dan prinsip sebagaimana yang berlaku dalam ilmu hadis (mustholah hadits). Wahyu tak lagi menjadi tolok ukur kebenaran.

Dengan metode baru tersebut, para penulis sesat itu lalu menyingkirkan semua hal yang mereka anggap tidak masuk akal (dalam Sirah Nabawiyah), seperti mukjizat (Nabi SAW) dan kejadian luar biasa. Mereka hanya mencitrakan Rasulullah SAW sebagai sosok pemimpin jenius yang hebat, heroik, dan sebagainya, tutur Al Buthy.

Sementara itu, akademisi Mesir yang juga penulis Hayyatu Muhammad(1933), M Husain Haekal menganggap perkara tidak dimuatnya mukjizat dalam sirat sebagai perbedaan perspektif belaka.  Dalam arti, itu tak ada kaitannya dengan anggapan- anggapan semisal terpukau oleh sekulerisme Barat. Dalam kata pengantarnya untuk buku itu, tokoh yang pernah menjadi menteri pendidikan Mesir itu mengutip Syekh Mustafa al-Maragi yang berkata, Kekuatan mukjizat Nabi SAW hanyalah pada Alquran, dan mukjizat ini sungguh rasional.

BACA SELENGKAPNYA :  Kisah Nabi Muhammad: Umat Islam Yang Diusir di Hari Kiamat

Sejarah tidak menyebutkan bahwa mukjizat-mukjizat itu (kejadian yang di luar jangkauan nalar, Red) pernah membuat orang jadi beriman. Malah, bukti mukjizat Tuhan terbesar ialah wahyu yang diturunkan melalui Nabi-Nya, dan perihidup Nabi sendiri dengan akhlaknya yang begitu tinggi, tulis Haekal.

Kemasan Buku Ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah,

  • Ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah,
  • Karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri
  • Penerbit Insan Kamil, 996 hlm.
  • uk 17 x 24 cm/Hc 1500 gram,
  • Harga normal 225.000 Diskon 20% Hanya 180.000

Leave a Reply

Your email address will not be published.

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.