September 27, 2022

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Love, Truth and Tolerance

Kisah Kurafat Dalam Wali Allah Yang Dinobatkan Umat

15 min read

Kisah Kurafat Dalam Wali Allah Yang Dinobatkan Umat

Para wali-wali Allah itu tidaklah melepaskan diri dari syariat Nabi Muhammad. Wali-wali Allah Swt adalah orang-orang bertaqwa yang sangat memegang teguh syariat Allah dan Rasul-Nya. Sehingga barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah  namun tidaklah memiliki sifat-sifat tersebut, maka dia adalah seorang pendusta atau didustai dengan khurafat atau cerita tahayul atau rekaan yang tak jelas kebenarannya dengan memakai istilah tasawuf atau ilmu lain dengan berbagai penjelasannya yang tidak rasional dan tidak berdasarkan dalil Quran dan Sunah sedikitpun hanya berdasarkan alam pikir dan rekaan seseorang. Khurafat adalah keyakinan yang batil karena tidak didasari dalil atau bukti ilmiah, dengan keyakinan irasional atau praktik irasional. Biasanya berupa cerita-cerita dusta, Mengandung perkara yang aneh-aneh dan ajaib dan dibumbui cerita agar tampak baik dan menarik

Fenomena dan cerita wali Allah mulai menjamur bahkan cenderung menjadi cerita tahayul di tengah-tengah kita. Secara etimologi wali adalah lawan dari aduwwu (musuh) dan muwâlah lawan dari muhâdah (permusuhan). Dengan demikian wali-wali Allah Swt adalah orang yang mendekat dan menolong agama Allah Swt, atau orang yang didekati atau orang yang ditolong oleh Allah Swt.

Hampir di setiap daerah bahkan pelosok-pelosok negeri kita ini memiliki walinya masing-masing dengan karakter yang unik, aneh dan berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman sebagian masyarakat bahkan pemuka agamanya bahwa wali Allah Swt itu adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya. Hal tersebut berupa hal-hal yang ajaib atau aneh bagi akal sehat, yang sering disebut oleh masyarakat sebagai karomah para wali. Sehingga apabila ada seseorang yang memiliki ilmu syar’i begitu luasnya disertai dengan pengamalan-pengamalan yang begitu khusyuknya, namun apabila tidak memilki suatu kekhususan ini, maka orang ini masih tidak bisa dipandang sebagai wali Allah Swt. Sebaliknya, meski seseorang itu tidak memiliki ilmu syar’i sama sekali, bahkan kerap kali melanggar perintah Allah Swt dan meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, akan tetapi dia mampu menunjukkan sesuatu yang ajaib di luar nalar akal sehat manusia, maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah Swt.

Fenomena ini bisa terjadi karena sejak kecil hingga sekarang sudah diberi pengajaran yang keliru tentang wali-wali Allah Swt. Terlebih hal ini dengan adanya media sosial yang mempertontonkan khurafat atau cerita tahayaul yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Khurafat ialah semua cerita atau rekaan, khayalan, ajaran-ajaran tentang pantangan atau larangan, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam. Cerita khurafat terseperti seperti kesaktian wali-wali yang bisa terbang, bisa berjalan di atas air, dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. Bahkan ada beberapa orang aneh dan nyeleneh bahkan dianggap gila telah dinobatkan oleh masyarakat dan pemuka agama di suatu daerah  jadi wali Allah. Seorang yang gila tidak berbaju, sering bicara sendiri, berteriak teriak, mengobrak abrik makanan di tempat hajatan juga dianggap wali Allah. Penobatan wali Allah ini dibuhuhi cerita tahayul yang beredarn di masyarakat yang tidak diketahui sumbernya itu.  Bahkan seorang gila yang dianggap wali Allah itu saat diusir dari masjid karena berteriak teriak tidak jelas saat adzan, saat dipegang untuk didiamkan berubah jadi wali Alah melihat kabah dan mekah di wajahnya. Ada juga cerita khurafat masyur  yang tidak jelas kebenarnnya ketika seorang nyleneh dan diangbap tak waras dianggap wali ketika mengatakan saat di suatu tempat jauh dari masjid diajak ke masjid tapi ngga mau dengan mengatakan saya nanti akan dukuan dqn tahu tahu sudah muncul di depan masjid secara cepat. Cerita khurafat lain ketika seorang wali Allah tidak lernah shalat jumat karena dari kanarnya ada pintu untuk tembuhs ke mekah sehingga shakatnya jumatanya tidak dimasjid di sekitar rumah tapi di mekah langsung. Maka cerita kurafat dan tontonan semacam ini menjadi pola pikir yang tertanam di setiap pola fikir kaum muslimin hingga dia dewasa bahkan sampai usia senja sehingga menobatkan seorang wali hanya berdasarkan cerita tahayul tadi

Pemahaman sebagian masyarakat yang meluas seperti ini sungguh sangat berbahaya bagi aqidah kaum muslimin. Karena tak sedikit kaum muslimin yang percaya, takjub bahkan diviralkan oleh seorang penceramah agama sehinggn umat berusaha untuk mempelajari ilmu kewalian itu. Dikatakan berbahaya bagi aqidah kaum muslimin adalah karena kebanyakan orang-orang yang mengaku sebagai wali ini ternyata mereka bersekutu dengan jin saat melakukan aksi ajaibnya tersebut. Sehingga kaum muslimin yang telah terlanjur takjub dengan keajaiban-keajaiban tersebut sudah tidak lagi mempertimbangkan aspek-aspek kesyirikan yang dapat membatalkan keislamannya tatkala mempelajari ilmu tersebut. Yakni bersekutu dengan jin dalam memohon pertolongan, bantuan, dan lain-lain yang seharusnya hal tersebut hanyalah dihadapkan kepada Allah Swt semata. Padahal hakikatnya karomah para wali Allah Swt itu tidaklah dapat dipelajari. Sebagaimana kata seorang alim yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa “karomah wali adalah sebuah pemberian dari Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang shalih tanpa ia bersusah payah darinya. Berbeda dengan seorang yang menggunakan ilmu hasil dari persekutuannya dengan syaitan, maka ia akan bersusah payah untuk melakukannya”.

Khurafat

  • Khurafat adalah suatu perbuatan yang dilarang dalam Islam karena tidak sesuai dengan perspektif Islam, khurafat termasuk perbuatan syirik yang harus di jauhi, karena cenderung mempercayai ada yang dapat memberi manfaat dan mudharat selain Allah SWT. karena Islam hanya memerintahkan hambahambanya hanya beribadah dan menyembah Allah saja dan tiada kemudharatan yang berlaku melainkan dengan dengan Qodho’ dan Qodar Allah. Fenomena khurafat kadang terjadi dalam masyarakat dengan kondisi keagamaan masyarakat tersebut kurang agamis dan cenderung tidak peduli dengan yang salah dan yang benar padahal Islam sudah memberikan pedoman hidup agar selamat di dunia maupun di akhirat melalui Al- Qur’an dan Sunah Nabi Muhamad SAW.
  • Secara bahasa, khurafat berasal dari kata kharaf yang berarti rusak akal karena tua. Sedangkan secara istilah, khurafat berarti kepercayaan yang bukan berasal dari ajaran Islam, termasuk cerita rekayasa, ramalan, dan pemujaan. Tahayul dan khurafat memiliki arti yang sama, yakni kepercayaan akan hal yang tidak masuk akal dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Contoh khurafat yang akrab di masyarakat Indonesia ialah mitos dan pamali. Dua hal ini diwariskan secara turun menurun melalui adat istiadatnya. Khurafat atau percaya pada sesuatu yang tidak logis biasanya bermula dari zaman nenek moyang dan masih diyakini hingga sekarang. Misalnya, ada burung yang masuk ke rumah dipercaya sebagai tanda ada tamu yang akan datang, duduk di pintu dapat menghalangi jodoh, dan lain sebagainya . Khurafat terlarang dalam syari’at karena bisa termasuk kesyirikan dan ini yang paling banyaknya. Atau bisa jadi termasuk bid’ah dalam keyakinan dan kedustaan.
  • Isu khurafat memang isu yang tidak pernah luput ditelan zaman, seiring perkembangan pasca modern. khurafat ini merupakan kepercayaan yang bukan berasal dari ajaran Islam, yang meliputi cerita yang di rekayasa, yang mengandung dusta, seperti pantangan-pantangan, ramalan-ramalan, adat istiadat, pemujaan dan segala kepercayaan yang bertentangan dengan aqidah serta Al qur’an dan Hadist Kepercayaan yang bersifat khurafat dapat membahayakan aqidah, dan menyebabkan kita terjatuh pada dosa syirik.
  • Sumber khurafat  adalah dinamisme dan animisme. Dinamisme adalah kepercayaan adanya kekuatan dalam diri manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda, dan kata-kata. Sedangkan Animisme adalah kepercayaan adanya jiwa dan ruh yang dapat mempengaruhi alam manusia Khurafat diartikan sebagai cerita-cerita yang mempesonakan yang dicampuradukkan dengan perkara dusta, atau semua cerita rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantangan, adat-istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam. Apabila dimaknai dari istilahnya dalam Islam, khurafat adalah keberadaan cerita yang direkayasa, ramalan, dan bentuk pemujaan. Ibnul Masud dalam buku berjudul Khurafat dalam Persepektif Al-Qur’an dan Hadist oleh Shalul Hamid bin Seeni menjelaskan, khurafat adalah berita yang dibumbui kedustaan.
  • Khurafat adalah bid’ah dalam bidang akidah, yakni kepercayaan atau keyakinan kepada sesuatu perkara yang menyalahi ajaran Islam. Misalnya, meyakini kuburan orang saleh dapat memberikan berkah, memuja atau memohon kepada makhluk halus (jin), meyakini sebuah benda –tongkat, keris, batu, dll.—memikiki kekuatan ghaib yang bisa diandalkan, dan sebagainya. Khurafat adalah budaya masyarakat Jahiliyah. Di antara khurafat mereka ialah mempercayai kepada arah burung yang berterbangan, memberi kesan kepada nasib mereka. Masyarakat Jahiliah percaya, jika burung hantu menghinggapi dan berbunyi di atas sesebuah rumah, maka artinya salah seorang dari penghuni rumah itu akan meninggal dunia. Kepercayaan sebegini mengakibatkan penghuni rumah akan berdukacita.
BACA SELENGKAPNYA :  Musik Menurut Islam, Haramkah ?

Kisah khurafat tokoh nyeleneh atau tidak waras yang dianggap wali Allah

Di setiap daerah di Indonesia ada hal unik dan aneh ketika seorang yang tidak waras dianggap sebagai wali Allah karena dibumbuhi cerita khurafat atau dongeng yang tidak jelas kebenarannya. Meski terkadang keberadaan mereka menuai pro dan kontra di masyarakat soal, figur para wali Majdub atau yang tidak waras penampilannya itu tersebut telah dikenal dan sangat dihormati oleh banyak orang. Selain dianggap memiliki kelebihan tertentu, anggapan sebagai seorang wali membuat para tokoh di atas membuat mereka dikenal khalayak luas.

  • Suatu ketika sebut saja Si A bersama Jama’ah mau berangkat ke acara Maulidan lalu sambil lewat menyapa sang habib: “Habib ayo kita ke Maulidan nanti kemaleman”. maka Si Habib Syechan menjawab sambil marah-marah. ”Sudah sana berangkat, Heh Kyai ente aja duluan ! nanti ane nyusul, berisik aja loe..!” Tapi Begitu Si A tiba di majelis betapa kagetnya, ternyata entah lewat mana sang Habib Syechan itu, ternyata beliau sudah berada dideretan jama’ah terdepan bersama para Habaib dan Ulama lainnya. Si A hanya berkata dalam Hati. “Subhanallah..” Sambil senyum senyum dan geleng geleng kepala. Kemudian sang habib itu menyalami para jemaah sambil peluk, sambil berkata. “Ahlan Wa Sahlan Hehehe… barokah afwan ane sampe duluan ente belakangan, kikikik… semuanya ayo… mari, tafaddhol…”
  • Setelah Selesai acara doa, dan hindangan sudah keluar, keunikan lagi terjadi. Semua hidangan Yang ada diacak-acak oleh beliau, semua makanan dicomot dicobain. Bagi yg belum tahu siapa beliau hanya bisa tercengang campur kaget.  Si A sempat memberitahu kepada mereka agar dibiarkan tingkahnya itu, dan para Ulama dan Habaib yang Hadir Saat itu hanya bisa tersenyum. Lalu Habib Syechan berdoa komat kamit… terdengar sebait. “barakallah… Insyaallah”
  • Ada Sebuah rumah dari seorang keluarga miskin, dia hanya pedagang kecil di siang hari, tiba tiba didatangi oleh sang habib Syechan, maka tanpa permisi terdahulu beliau langsung nyelonong masuk kerumahnya tampa minta izin terdahulu, beliau langsung menyantap makanan yang ada dimeja makanNya.
    Akhirnya sang Tuan Rumah hanya bisa melongo tanpa berkata apapun. kemudian setelah selesai Menyantapnya sang Habib pun pamit, sambil berkata. “Teeerimaksih ya, assalamu’alaikum…” . Heran dan tak habis fikir tuan rumah hanya bisa melongo. “Subhanallah”. AnehNya tak berapa lama kemudia Si keluarga Miskin pedagang lecil itu mendapatkan rezeki yang tak disangka sangka dan kini Mereka menjadi pedagang besar dan Kaya Raya.
  • Sosok  Kiai Haji Mustofa itu, terlihat sangat dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa santri yang terlihat menghampiri bahkan mencium tangan sang kiai seraya membungkuk. Layaknya adab seorang murid terhadap guru yang lazim ditemui di pondok pesantren.
  • Sosok Gus Jakfar yang berasal dari Pasuruan, Jawa Timur. Dilansir NU Online, Gus Jakfar merupakan putera bungsu Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin”. Keberadaannya sangat dihormati penduduk setempat karena diyakini memiliki kelebihan berupa ucapannya yang mudah terkabul. Meski demikian, Gus Jakfar tak berpenampilan seperti kebanyakan tokoh agama atau anak kiai (gus). Sama seperti Kiai Haji Mustofa di Sampang, Jawa Timur, ia hanya mengenakan celana pendek tanpa memakai baju dalam kesehariannya. Rambutnya yang terlihat panjang dan berwarna merah, membuat sosok Gus Jakfar terlihat mencolok.
  • Sosok Wan Sehan bisa dibilang merupakan figur yang sangat dikenal di Indonesia. Meski kerap melakukan perbuatan nyeleneh atau hilang akal atau jaszb, banyak orang yang menghormatinya dan menganggap Wan Sehan sebagai Waliyullah Majdub. Sosok yang dikenal dekat dengan Allah subhanahu wa ta ala namun memiliki tingkah yang unik. Dalam beberapa video yang beredar di internet, Wan Sehan kerap terlihat melakukan beberapa hal yang unik, seperti mencoret-coret mobil mewah dengan pilox, menyobek uang kertas, mengacak-acak makanan di sebuah majelis Maulid, hingga mencampur nasi dengan kopi. Hal-hal tersebut dinilai memiliki isyarat tertentu bagi mereka yang percaya. Ada suatu kejadian yang lebih mengherankan lagi Di waktu Adzan maghrib berkumandang tepat di depan Musholla, Sang Habib Syechan itu membawa Gitar dan teriak teriak disaat jama’ah akan melangsungkan sholat maghrib. Maka tentu saja hal ini membuat marah sang Marbot Mushollah, maka dengan lantangnya sang Marbot itu mencaci maki Habib Syechan habis habisan. Tiba tiba Habib Syechan menjepit leher Marbot tersebut dan di benamkan kedalam ketiaknya. Dan tiba tiba Sang marbot itu menangis sambil mengatakan ”Saya lihat Masjidil Haram Di Makkah… Saya lihat Baitullah dan Ka’bah di Mekkah…”. dan akhirnya si Marbot tersebut segera meminta maaf kepada Sang Habib Syechan.
  • Kiai Kholilurrahman atau yang lebih dikenal dengan ‘Ra Lilur’, dikenal akan kewaliannya bagi masyarakat Madura, Jawa Timur. Pria yang dikenal sebagai cicit Syaikhona Kholil Bangkalan tersebut, diyakini merupakan seorang yang nyleneh, hilabng akal, seperti orang tidak waras atau ‘jadzab’ atau yang sering melakukan hal-hal yang tak dapat dicerna pikiran manusia biasa. Di mata orang secara umum, sosok Ra Lilur terlihat sederhana seperti masyarakat pada umumnya, yakni hanya mengenakan baju singlet putih, celana hitam setinggi lutut, dan sebuah senter kecil yang ia bawa ke mana-mana. Menurut salah seorang keponakan Ra Lilur, Ismael Amin Kholil yang dikutip dari NU Online mengatakan, Ra Lilur pernah ‘bertapa’ di tengah lautan dan dikenal fasih berbahasa Arab.
  • Seorang tamu KH Hamid yang merasa ragu, apakah Gus Miek melaksanakan shalat lantaran tidak pernah melihat secara langsung. Sang tamu lantas diajak hingga akhirnya bertemu dengan Gus Miek yang tengah menjalankan shalat di pucuk pohon mangga, beralaskan dedaunan. “Lihat, itu siapa yang shalat,” ucap KH. Hamid yang dikutip dari Dnk.id (18/01) Sang tamu pun kaget bukan kepalang.
BACA SELENGKAPNYA :  Mengapa Syiah Dianggap Menyimpang dan Sesat ?

Para wali-wali Allah tidaklah melepaskan diri dari syariat Nabi Muhammad. Wali-wali Allah Swt adalah orang-orang bertaqwa yang sangat memegang teguh syariat Allah dan Rasul-Nya. Sehingga barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah atau dinobatkan masyarakat sebagai wali Allah  namun tidaklah memiliki sifat-sifat tersebut, maka dia adalah seorang pendusta atau didustai dengan khurafat atau cerita tahayul atau rekaan yang tak jelas kebenarannya dengan memakai istilah tasawuf, ilmu tarekat atau ilmu lain dengan berbagai penjelasannya yang tidak rasional dan tidak berdasarkan dalil Quran dan Sunah sedikitpun hanya berdasarkan alam pikir dan rekaan seseorang. Khurafat adalah keyakinan yang batil karena tidak didasari dalil atau bukti ilmiah, dengan keyakinan irasional atau praktik irasional. Biasanya berupa cerita-cerita dusta, Mengandung perkara yang aneh-aneh dan ajaib dan dibumbui cerita agar tampak baik dan menarik

Dalil Quran, Hadits dan Pendapat Ulama

  • Jika khurafat tersebut berupa menyandarkan manfaat atau bahaya kepada selain Allah, maka ini kesyirikan. Karena manfaat atau bahaya, itu semata-mata karena ketetapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ “Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).
  • Allah Ta’ala juga berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53)
  • Nabi Shallallahu’alaihi wasallam juga melarang menyandarkan sial dan bencana kepada pertanda-pertanda, disebut dengan thiyarah. Jika khurafat yang dilakukan berupa thiyarah, ini juga termasuk kesyirikan. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ “Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
  • Ajaran agama Islam memandang, mempercayai dan melakukan tindak khurafat adalah bagian dari syirik yang dekat pada bid’ah. Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud menjaskan Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa saja yang menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Imam Ahmad).
  • Terdapat sebuah hadits, dari Aisyah radhiallahu’anha, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: أتدرون ما خرافةُ ؟ إنَّ خُرافةَ كان رجلًا من عذرةٍ أسرَتْه الجنُّ في الجاهليةِ ، فمكث فيهم دهرًا ، ثم ردُّوه إلى الإنسِ ، فكان يُحدِّثُ الناسَ بما رأى فيهم من الأعاجيبِ ، فقال الناسُ : حديثُ خُرافَةَ “Apakah kalian tahu kisah tentang khurafah? Sesungguhnya khurafah adalah seorang lelaki dari Bani Udzrah, yang disenangi oleh kaum jin di masa Jahiliyah. Khurafah tinggal bersama para jin beberapa waktu. Kemudian para jin mengembalikannya ke tengah manusia. Kemudian si Khurafah ini menceritakan kisah-kisah ajaib yang ia lihat. Maka setelah itu manusia punya istilah baru yaitu: cerita khurafah” (HR. Ahmad no. 25283, dinilai sebagai hadits yang dhaif oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1712). Hadits ini lemah, namun memiliki makna yang sejalan dengan perkataan para ulama, bahwa khurafah adalah cerita tentang hal-hal yang ajaib dan aneh yang merupakan kedustaan. Disebutkan dalam kamus Lisanul Arab: والخُرافةُ الحديثُ الـمُسْتَمْلَحُ من الكذِبِ. “Khurafah adalah cerita dusta yang dibumbui”. Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab juga menjelaskan makna khurafah dalam hadits dhaif di atas, beliau berkata: أَن يريد به الخُرافاتِ الموضوعةَ من حديث الليل، أَجْرَوْه على كل ما يُكَذِّبُونَه من الأَحاديث، وعلى كل ما يُسْتَمْلَحُ ويُتَعَجَّبُ منه “Yang dimaksud khurafat dalam hadits di atas adalah cerita-cerita malam yang dibuat-buat. Istilah khurafah ini (yang awalnya merupakan nama seorang lelaki) menjadi identik dengan semua cerita yang dusta, yang mengandung kisah-kisah ajaib yang dibumbui”.

Pendapat Ulama

  • Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : التطـيُّر: هو التشاؤم من الشيء المرئي أو المسموع “at tathayyur artinya merasa sial karena suatu pertanda yang dilihat atau didengar” (Miftah Daris Sa’adah, 3/311).
  • Namun andaikan khurafat tidak berupa kesyirikan, biasanya ia terkait dengan keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar. Seperti keyakinan tentang malaikat, tentang ruh orang mati, tentang wali, tentang para Nabi, dan semisalnya berupa cerita-cerita yang ajaib-ajaib tanpa ada landasan dalil dan tidak dibuktikan secara ilmiah. Maka minimalnya ini adalah bid’ah dalam keyakinan. Dan termasuk berkata-kata tentang sesuatu yang tidak Allah turunkan penjelasannya. Allah Ta’ala berfirman: وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabnya”. (QS. Al-Isra’: 36)
  • Ibnu Katsir menjelaskan: أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال “Allah Ta’ala melarang untuk bicara tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (Tafsir Ibnu Katsir).
  • Maka tidak boleh kita mempercayai khurafat sama sekali, atau bahkan menjadikan khurafat sebagai landasan dari keyakinan dan amalan “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia mem- berikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107).
  • Mengutip buku Menabur Iman di Dada Anak oleh Wulan Mulya, khurafat umumnya berupa cerita-cerita yang dicampurkan dengan perkara dusta, atau berdasarkan rekaan dan khayalan manusia semata. Seperti berupa pantangan, ramalan, adat istiadat yang tidak masuk akal dan ajaran-ajaran yang berbau syirik serta bertentangan dengan ajaran Islam
  • Definisi yang lain, disebutkan Dr. Ghalib bin Ali ‘Awaji: الخرافة هي الاعتقاد بما لا ينفع ولا يضر ولا يلتئم مع المنطق السليم والواقع الصحيح “Khurafah adalah keyakinan tentang sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan manfaat atau mudharat, dan tidak sesuai dengan akal yang sehat dan realita yang ada” (Madzahib al Fikriyyah al Mu’ashirah, hal. 1186).
  • Ali Mahfuz seorang ahli teologi Islam dalam buku berjudul Garis Panduan Khurafat dan Azimat oleh Jakim, khurafat adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Orang yang membawa hal-hal yang bersifat khurafat biasanya suka memutar balikkan fakta, memberikan hal-hal yang bersifat dusta, dan menonjolkan hal-hal yang batil.
  • Sebagian ulama menyebutkan definisi khurafah secara ringkas: الخرافة المعتقدات الباطلة “Khurafah adalah semua akidah (keyakinan) yang batil”.
BACA SELENGKAPNYA :  Kumpulan Doa Pilihan Sehari hari

 

Referensi

  • Al-Zarkali, Khair al-Din (1980), “A Myth”, Encyclopedia of Information, Arab Library, diarsipkan dari aslinya pada 18 Desember 2019, diakses pada 21 Oktober 2011.
  • Dr. Said Alloush, Said (1405-1985), A Dictionary of Contemporary Literary Terms, Libanon Book House.
  • Ensiklopedia media, Khair Al-Din Al-Zarkali, 1980
  • Sumber: Al Mawred Encyclopedia, Mounir Baalbaki, 1991

Leave a Reply

Your email address will not be published.

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.