December 2, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Love, Truth and Tolerance

Surat Maryam 27-35: Isa atau Yesus Berkata Aku hamba Allah, Allah memberiku Al Kitab (Injil), memerintahkan salat dan zakat

10 min read

Ketika ajaran Trinitas tidak tercantum dalam Injil justru diungkapkan dalam Quran. Dalam Quran terdapat istilah ajaran Trinitas, tetapi ajaran Allah untuk memperingatkan manusia sebagai perintah larangan. Karena Yesus Bukan Tuhan dan Dilarang Untuk Disembah. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, Maryam dipanggil “saudara perempuan Harun”, karena ia seorang wanita yang shaleh seperti keshalehan Nabi Harun a.s. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (Surat Maryam:27-35)

 TafsirvSurat Maryam:27-35

Allah berfirman mengabarkan tentang Maryam saat diperintahkan puasa pada hari itu, yaitu tidak berbicara dengan seorang pun, karena urusannya sudah cukup dikatakan dengan hujjahnya itu. la telah serahkan urusannya kepada Allah, dan menerima seluruh qadha-Nya. Lalu, ia menggendong anaknya dan mendatangi kaumnya. Tatkala mereka melihatnya seperti itu, mulailah mereka besarkan masalahnya serta amat mengingkarinya.

Mereka berkata: “Hai Maryam! Engkau datang dengan membawa masalah besar.” Hal itu dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain.
“Hai saudara perempuan Harun,” yaitu, hai wanita yang menyerupai Harun dalam beribadah, “Ayahmu bukanlah seorang penjahat dan ibumu bukanlah seorang penzina,” yaitu engkau lahir dari keluarga baik dan suci yang dikenal keshalihan, ibadah dan zuhudnya. Maka, bagaimana ini bisa terjadi?

`Ali bin Abi Thalhah dan as-Suddi berkata: “Dikatakan kepadanya, `Wahai saudara perempuan Harun,’ yaitu saudara Musa.” Karena Maryam berasal dari keturunan Harun. Sebagaimana orang-orang keturunan Tamimi dipanggil dengan hai saudara Tamim dan orang-orang keturunan Mudharri dengan panggilan hai saudara Mudharr.

Satu pendapat mengatakan bahwa Maryam digolongkan kepada laki-laki shalih di kalangan mereka yang bernama Harun. Beliau diukur dengan laki-laki itu dari segi kezuhudan dan ibadahnya. Ibnu Jarir menceritakan dari sebagian ulama bahwa mereka menyerupakan Maryam dengan laki-laki yang suka berbuat dosa yang bernama Harun. Dahulu mereka diberi nama dengan nama-nama para Nabi dan orang-orang shalih di kalangan mereka.

Imam Ahmad berkata bahwa al-Mughirah bin Syu’bah berkata: “Rasulullah mengutusku ke Najran, lalu mereka berkata: ‘Apa pendapatmu tentang apa yang kalian baca: ‘Hai saudara perempuan Harun,’ padahal Musa sebelum ‘Isa sekian tahun jaraknya?’ Aku kembali dan menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah lalu beliau bersabda: `Maukah kuberitahukan tentang mereka, bahwa dahulu mereka diberi nama dengan nama para Nabi dan orang-orang yang shalih sebelum mereka.’”
Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Ibnu Idris.”

Firman-Nya: fa asyaarat ilaiHi qaaluu kaifa nukallimu man kaana fil maHdi shabiyyan (“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan?’”) Yaitu tatkala mereka meragukan Maryarn dan mengingkari kejadian pada dirinya itu serta mereka berkata kepadanya seperti perkataan orang-orang yang berupaya menuduhnya dengan cacian, padahal saat itu ia dalam keadaan puasa dan berdiam diri.

Maka Maryam mengalihkan pembicaraan kepada `Isa dan mengisyaratkan mereka untuk berbicara dan berdialog dengannya. Lalu mereka berbicara dengan penuh murka kepadanya karena menyangka Maryam mengejek dan bermain-main dengan mereka: kaifa nukallimu man kaana fil maHdi shabiyyan (“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan?”) Yaitu, anak yang ada dalam gendongan dalam keadaan bayi dan kecil, bagaimana ia dapat berbicara? `Isa menjawab: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.”

Kalimat pertama yang diucapkan adalah menyucikan Rabbnya dan membebaskan-Nya dari tuduhan memiliki anak serta menetapkan`ubudiyah itu hanya milik Allah.

Firman-Nya: aataaniyal kitaaba wa ja’alanii nabiyyan ( “Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”) Membebaskan ibunya dari tuduhan keji yang dilontarkan kepadanya.

Nauf al-Bakkali berkata: “Di saat mereka menuduh ibunya seenaknya, dia menyusu pada tetek ibunya, lalu ia cabut mulutnya dan bersandar di atas lambungnya yang kiri dan berkata: innii ‘abdullaaHi aataaniyal kitaaba wa ja’alanii nabiyyaw wa ja’alanii mubaarakan aina maa kuntu wa aushaanii bish shalaati waz zakaati maa dumtu hayyan (“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab [Injil] dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku [mendirikan] shalat dan [menunaikan] zakat selama aku hidup.”)

`Ikrimah berkata: aataaniyal kitaaba (“Dia memberiku al-Kitab,”) yaitu Dia menetapkan, bahwa Dia memberiku al-Kitab tentang apa yang Dia putuskan. Firman-Nya: wa ja’alanii mubaarakan aina maa kuntu (“Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.”)

Mujahid, ‘Amr bin Qais, dan ats-Tsauri berkata: “Dia menjadikanku pengajar kebaikan.” Di dalam satu riwayat, Mujahid mengatakan: “Berfaedah.” Ibnu Jarir berkata, Sulaiman bin `Abdul Jabbar berkata: “Seorang alim bertemu dengan orang alim yang lebih tinggi ilmunya, dia berkata, `Semoga Allah memberi rahmat kepadamu, apa yang harus aku tampakkan dari amal-
ku?’” Orang alim yang lebih tinggi ilmunya menjawab: ‘Amar ma’ruf dan nahi munkar di mana saja ia berada, maka itulah agama Allah yang Dia telah mengutus para Nabi kepada para hamba-Nya untuk beragama dengannya.”

Para ulama fiqih telah sepakat tentang firman Allah: wa ja’alanii mubaarakan aina maa kuntu; dikatakan: “Apa keberkahannya?” Seorang di antara ulama itu berkata: “Amar ma’ruf dan nahi munkar dimana pun `Isa berada.”

Firman-Nya: wa aushaanii bish shalaati waz zakaati maa dumtu hayyan (“Dia memerintahkan aku mendirikan shalat dan menunaikan zakai selama aku hidup,”) seperti firman Allah kepada Muhammad saw: wa’bud rabbaka hattaa ya’tiyakal yaqiin (“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini [ajal].”)

`Abdurrahman bin al-Qasim dari Malik bin Anas berkata tentang firman Allah: wa aushaanii bish shalaati waz zakaati maa dumtu hayyan (“Dan Dia memerintahkan aku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup,”) Dia mengabarkan kepadanya tentang sesuatu yang menjadi urusannya hingga hari kematiannya, sesuatu yang telah ditetapkan-Nya untuk ahli qadar.

Firman-Nya: wa barram biwaalidatii (“Berbakti kepada ibuku,”) yaitu Dia memerintahkanku untuk berbakti kepada ibuku. Hal itu disebutkan setelah ketaatan kepada Rabbnya. Karena, Allah banyak menyertakan perintah beribadah kepada-Nya dengan taat kepada kedua orang tua. Sebagaimana firman Allah: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tua ibu bapakmu, hanya kepada-Kul-ah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Firman-Nya: wa lam yaj’alnii jabbaaran syaqiyyan (“Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”) Yaitu Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi takabbur (enggan) beribadah dan taat kepada-Nya, serta enggan berbakti kepada ibuku, hingga menyebabkan aku celaka karenanya.

Sufyan ats-Tsauri berkata: “Lafazh al Jabbarasy-Syaqiy artinya adalah orang yang membunuh karena murka.” Sedangkan sebagian ulama Salaf berkata: “Tidak ada seorang pun yang ditemukan dalam keadaan durhaka kepada orang tuanya kecuali pasti ia adalah seorang yang sombong lagi celaka.” Kemudian ia membaca: wa barram biwaalidatii wa lam yaj’alnii jabbaaran syaqiyyan (“Berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”) Dan tidak ditemukan seorang pun yang buruk akhlaknya kecuali pasti ia adalah seorang yang sombong lagi membangakan diri, kemudian ia membaca: wa maa malakat aimaanukum innallaaHa laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuran (“Dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”)”

Qatadah berkata, telah diceritakan kepada kami bahwa seorang wanita pernah melihat `Isa bin Maryam mampu menghidupkan orang yang mati serta menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit kusta sebagai tanda-tanda yang diberikan dan diizinkan Allah. Wanita itu berkata: “Beruntunglah perut yang mengandungmu dan tetek yang menyusuimu.” Lalu `Isa as. menjawab: “Beruntunglah bagi orang yang membaca Kitab Allah lalu mengikuti isinya dan tidak menjadi orang yang sombong lagi celaka.”

Firman-Nya: was salaamu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma ab’atsu hayyan (“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”) Hal ini merupakan ikrar darinya tentang kehambaannya kepada Allah dan dirinya adalah satu ciptaan Allah yang dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan seperti makhluk lainnya. Akan tetapi, ia memperoleh kesejahteraan di saat kondisi mencekam menyelimuti hamba-hamba lainnya. ShalawatullaH wa salamuhu alaiHi.

5 Ayat Quran Yang sebutkan Isa atau Yesus Bukan Tuhan

  • Dalam akidah Islam, Isa putra Maryam adalah hamba, Nabi dan Rasul Allah Ta‘āla. Dia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan Allah Ta‘āla telah membantah di banyak ayat-Nya bahwa Dia menjadikan Isa sebagai putra-Nya:“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS al-Jinn [72]: 3).
  • Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kaya tidak butuh kepada yang lainnya. Dia tidak butuh mengangkat seorang anak dari makhluk-Nya.“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)
  • Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hampir-hampir langit dan bumi pecah. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS Maryam [19]: 88–93).
  • Dan secara tegas Allah telah menyatakan “kafir” para penganut ajaran Trinitas tersebut. “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).
  • “Dan (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah Kami beri karunia (kenabian) atasnya dan Kami menjadikannya sebagai teladan bagi Bani Israil.” (Qs 43 Az Zuhkruf 59).

MENGAPA MEREKA MENOLAK KEBENARAN QURAN YANG JUSTRU MEREKA KETAHUI BAHWA NABI ISA ATAU YESUS BUKAN TUHAN DAN TIDAK BOLEH DISEMBAH, TERNYATA ALLAH SUDAH MENGINGATKAN

QS. Al-‘An`am [6] : 25. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.