October 14, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Cara Mentadaburi Al-Quran

7 min read

Cara Mentadaburi Al-Quran

Tadabbur Al-Quran adalah memikirkan ayat-ayat Al-Quran dan merenunginya dalam rangka memahami dan mencari makna, hikmah dan artinya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa mentadabburi Al-Quran dan merenungi makna dari ayat-ayatnya yang agung adalah suatu hal yang sulit. Tentu saja, ini adalah anggapan yang salah, karena anggapan ini akan menggiring seseorang untuk menjauhi tujuan dari diturunkannya Al-Quran. Padahal, Al-Quran adalah buku yang berisi tentang pendidikan dan pelajaran, petunjuk dan lentera bagi kehidupan manusia, memberikan rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Allah ﷻ telah memudahkannya bagi siapa saja yang hendak memahami dan mentadabburinya, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?.” (QS. Al-Qamar: 17) Ketika seseorang mencukupkan diri dengan hanya membaca lafaz-lafaz al-Qur’an saja tanpa mentadabburinya dengan alasan karena tidak mengetahui tafsirnya, sejatinya dia telah terjatuh ke dalam perangkap setan agar dia jauh dari cahaya petunjuk.

 

Di antara kunci/cara agar mudah membaca Al-Quran dengan tadabbur adalah:

  1. Mencintai Al-Quran.Sesungguhnya sebab seseorang tidak mengetahui begitu mulianya Al-Quran adalah karena tidak mencintai Al-Quran dan tidak memuliakannya. Mintalah kepada Allah agar mencintai al-Qur’an. Hal ini karena hati manusia berada dibawah kekuasaan Allah ﷻ. Dengan hikmah dan ilmu-Nya, Allah ﷻ membukakan dan menutup hati bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Allah ﷻ berfirman,

    وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

    “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Adapun tanda-tanda seseorang mencintai Al-Quran adalah sebagai berikut :

    • Senang jika memandangnya, apalagi membacanya
    • Menghabiskan seluruh waktunya untuk membaca Al-Quran dan tidak merasa bosan.
    • Merasa rindu untuk memandang atau membacanya ketika lama berpisah atau berhalangan darinya
    • Selalu mencari solusi dan mengembalikan permasalahan hidupnya -baik yang kecil maupun yang besar- kepada Al-Quran.

    Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

    لَا يَسْأَلْ عَبْدٌ عَنِ نَفْسِهِ إِلَّا الْقُرْآنَ فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ وَيُعْجِبُهُ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَه

    “Tidaklah seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang Al-Quran. Jika dia mencintai dan mengagumi Al-Quran, maka dia mencintai Allah dan rasul-Nya.”

  2. Menghadirkan hati terhadap tujuan membaca Al-Quran. Sebagian orang ketika membaca al-Qur’an tujuannya adalah untuk memperkuat dan memertahankan hapalannya. Sebagian yang lain tujuannya adalah untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Tentu ini adalah tujuan-tujuan yang mulia, akan tetapi janganlah seseorang hanya membatasi tujuannya membaca al-Qur’an pada itu saja, akan tetapi hendaknya dia mengumpulkan 6 niat dan tujuan yang mulia berikut ini :
    • Mengharapkan pahala, dan pahala membaca al-Qur’an sangatlah banyak
    • Bermunajat, yaitu ketika membaca al-Qur’an dalam kondisi seakan-akan sedang bermunajat kepada Allah. Hal ini menjadikan bacaan al-Qur’an kita terasa hidup. Maksud dari bermunajat adalah kita membaca al-Qur’an dalam kondisi sadar bahwasanya Allah sedang melihat kita, sedang mendengar bacaan kita, sedang berbicara dengan kita, karena sesungguhnya al-Qur’an adalah surat yang Allah tujukan kepada kita melalui lisan Rasulullah. Ibnul Qoyyim berkata :

      إِذا أردْت الِانْتِفَاع بِالْقُرْآنِ فاجمع قَلْبك عِنْد تِلَاوَته وسماعه وأَلْقِ سَمعك, واحضر حُضُور من يخاطبه بِهِ من تكلّم بِهِ سُبْحَانَهُ مِنْهُ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ خِطَابٌ مِنْهُ لَك عَلَى لِسَان رَسُوله

      “Jika engkau ingin mendapatkan manfaat dari al-Qurán maka fokuskanlah hatimu ketika membaca al-Qurán dan ketika mendengarkannya. Fokuskan pendengaranmu, hadirlah sebagaimana hadirnya seseorang yang diajak berbicara oleh Allah, dariNya dan kepadaNya, karena sesungguhnya al-Qurán itu adalah berita dari Allah untukmu melalui lisan RasulNya” (Al-Fawaid hal 1)

    • Berdoa. Yaitu ketika melewati ayat-ayat yang berkaitan dengan rahmat maka hendaknya kita berhenti sejenak lalu memohon rahmat Allah, dan ketika kita melewati ayat-ayat adzab maka hendaknya kita berhenti sejenak dan memohon kepada Allah agar terhindar dari adzab-adzab tersebut. Demikian pula ketika kita melewati ayat-ayat tentang sifat-sifat orang bertakwa maka hendaknya kita berdoa agar dikarunai sifat-sifat tersebut, dan sebaliknya jika kita melewati ayat-ayat tentang sifat-sifat orang yang buruk maka hendaknya kita berdoa memohon perlindungan kepada Allah agar jangan sampai memiliki sifat-sifat tersebut.
    • Menambah ilmu, yaitu hendaknya membaca al-Qur’an dengan niat menambah ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah seluruh ilmu yang ada dalam al-Qur’an yang menambah rasa takut dan ketakwaan kepada Allah. Bukan hanya ilmu yang terbatas pada permasalahan fikih (halal dan haram) semata. Dalal al-Qur’an terkandung banyak sekali ilmu dan tidak hanya terbatas pada halal dan haram semata. Cara yang paling mudah untuk bisa meraih ilmu dengan membaca al-Qur’an adalah dengan membaca per-ayat lalu membaca tafsirnya. Tafsir yang singkat seperti tafir as-Sa’di, atau al-Muyassar. Adapun jika ingin berdalam-dalam maka silahkan membaca tafsir yang panjang-panjang. Diantara tafsir terbaik di zaman sekarang -yang ditulis dengan metode penulisan modern- adalah at-Tafsir al-Muharror yang diterbitkan oleh Ad-Duror as-Saniyyah.
    • Mengamalkan, yaitu membaca untuk mengamalkan kandungannya Ketika kita membacanya dalam rangka untuk mengamalkannya, untuk memperbaiki diri, maka kita akan membacanya dengan tadabbur. Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata :

      إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآَنُ لِيُعْمَلَ بِهِ, فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمَلًا

      “Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang menjadikan bacaannya sebagai amalan”. (Akhlak Ahli Al-Qur’an hal 102 No. 37) Suatu perkara yang menggembirakan menyaksikan orang-orang mulai bersemangat untuk mempelajari dan menekuni bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik. Mereka mempelajari hukum-hukum tajwidnya dan juga makharijul huruf (cara yang benar dalam mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an). Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika hanya mencukupkan diri sekedar mempelajari hukum-hukum tajwid saja tanpa mempelajari kandungan isi dari al-Qur’an itu sendiri. Karena tujuan utama diturunkannya al-Qur’an bukan semata dibaca tetapi membacanya adalah sarana untuk bisa mengamalkan Al Qur’an. Tidak mungkin seseorang mengamalkan Al-Quran dengan baik kecuali setelah memahami tafsir dan kandungan Al Quran tersebut. Al-Aajurri berkata :

      يَتَصَفَّحُ الْقُرْآنَ لِيُؤَدِّبَ بِهِ نَفْسَهُ, هِمَّتُهُ مَتَى أَكُوْنُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ?, مَتَى أَكُوْنُ مِنَ الْخَاشِعِيْنَ?, مَتَى أَكُوْنُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ?, مَتَى أَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا?, مَتَى أَنْهَى نَفْسِي عَنِ الْهَوَى?

      “Membaca al-Qurán halaman-demi halaman dalam rangka untuk mendidik dirinya sendiri. Tujuannya fokus kepada, “Kapan aku menjadi termasuk orang-orang yang bertakwa?, kapan aku menjadi termasuk orang-orang yang khusyu?, kapan aku menjadi termasuk orang yang sabar?, kapan aku bisa zuhud terhadap dunia?, kapankah aku bisa melarang jiwaku dari menghikuti hawa nafsu?” (Akhlaq Hamalatil Qurán hal 40)

    • Berobat, yaitu ketika membaca al-Qurán kita niatkan untuk berobat, karena al-Qurán adalah obat. Allah berfirman :

      يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

      Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS Yunus : 57)

      وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

      Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS al-Isroo’ : 82) Yaitu ketika kita membaca kita niatkan agar al-Qurán manjadi :

      • Obat bagi hati dari penyakit syahwat
      • Obat bagi akal dari penyakit syubhat
      • Obat bagi hati dari kesedihan, kekawatiran, dan kegelisahan
      • Obat bagi tubuh dari penyakit-penyakit
  3. Menghidupkan Al-Quran dengan shalat malam

    Membaca al-Qur’an di waktu malam, apalagi sambil dibaca dalam shalat malam atau shala tahajjud maka akan sangat membantu seseorang mentadabburi al-Qur’an.

  4. Membaca Al-Quran dengan mengeraskan suara dan melanggamkannya
    1. Mengeraskan suara artinya mengangakat suara ketika membaca Al-Quran. Sedangkan melanggamkannya artinya melagukan dan menghiasi suara ketika membaca Al-Quran sebagaimana ajaran Nabi ﷺ dan para sahabat radhiallahu ‘anhum.
    2. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

      مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالقُرْآنِ

      “Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu seperti mendengarkan Nabi ketika melanggamkan Al-Quran.”

    3. c- Diantara faedah mengeraskan bacaan Al-Quran adalah; malaikat mendengarkan bacaan orang yang sedang membaca Al-Quran, setan lari dan menjauh dari orang yang membaca Al-Quran dan tempat tersebut dan tempat yang dibacakan Al-Quran akan menjadi bersih dari gangguan dan lingkungan yang tepat untuk pendidikan dan pembelajaran.
  5. Tartil
    1. Artinya pelan dan lambat ketika membaca Al-Quran. Akan tetapi, sebagian ulama menyebutnya dengan membaguskan dan menghiasi suara ketika membaca Al-Quran, dan ini yang seringkali disebut dengan langgam.
    2. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

      وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

      “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

  6. Mengulang-ulangi bacaan
    1. Artinya berhenti ketika membaca suatu ayat atau mengulang-ulanginya, hingga mampu menghadirkan makna-makna ayat yang dibaca dan mendalami artinya. Setiap kali selesai membaca satu ayat, lalu berhenti lama atau terus menerus diulang-ulang, maka akan semakin bertambah makna-makna ayat yang dipahami, dengan syarat tidak ada yang mengganggu konsentrasi pikiran.
    2. Pentingnya dua hal ini dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

      ‎لَا تَنْثُرُوهُ نَثْرَ الرَّمْلِ وَلَا تَهْذُّوهُ هَذَّ الشِّعْرِ, قِفُوا عِنْدَ عَجَائِبِهِ وَحَرِّكُوا بِهِ الْقُلُوبَ, وَلَا يَكُنْ هَمُّ أَحَدِكُمْ آخِرَ السُّورَةِ

      “Janganlah kalian membaca al-Qurán seperti menabur pasir, dan janganlah membacanya dengan cepat seperti membaca syaír. Berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, gerakanlah hati-hati kalian !. Janganlah fokus pada akhir surat (agar cepat selesai)”

Refrensi

  • Musnad Ibnu Al-Ja’d no.1956 1/290
  • H.R. Bukhari no.5024
  • Diriwayatkan oleh Al-Baghowi dalam tafsirnya 8/251
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.