September 19, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Tatacara Shalat Ied Idul Adha, Perbedaan Pendapat Dan Hukumnya

8 min read

Iduladha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Id bersama-sama di tanah lapang atau di masjid, seperti ketika merayakan Idulfitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya. Iduladha jatuh pada tanggal 10 bulan Zulhijah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idulfitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Pusat perayaan Iduladha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Makkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik haji. Iduladha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Iduladha disebut pula sebagai Idulkurban atau Lebaran Haji.

Makna utama Idul Adha adalah tentang keimanan dan ketakwaan. Lihat bagaimana teladan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan anak kesayangannya demi ketaatan pada Allah SWT. Beruntung kita tidak perlu sampai mengorbankan anak atau anggota keluarga tercinta demi pengabdian pada Tuhan. Butuh perenungan mendalam agar kita menemukan makna Idul Adha. Bagi setiap orang makna Idul Adha tentu berbeda-beda. Jangan sampai Idul Adha berlalu begitu saja tanpa menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

Makna utama Idul Adha bagi umat muslim pengorbanan seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, yaitu pengorbanan pribadi, pengorbanan keluarga, dan lainnya. Kita pun dituntut untuk siap berkorban demi kepentingan agama. Wajar untuk mendapatkan ridha Allah SWT maka diperlukan bukti pengorbanan dari tiap Muslim. Seorang Muslim, agar bisa mendapat keridhaan Allah SWT, maka tentu perlu mendalami tentang pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Makna penting lain Idul Adha adalah tentang doa Nabi Ibrahim, robbij’al haadzal balada aaminan. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT agar negeri ini berada dalam keadaan aman. Termasuk kita di Indonesia bagaimana mempersiapkan agar diri kita dan negara kita menjadi aman. Aman yang dimaksud terkait dengan iman, sebab iman itu menimbulkan rasa aman. “Itulah yang juga perlu kita ambil pelajaran. Bahwa kita harus sanggup memberikan keamanan terhadap masyarakat di sekitar kita. Dengan kata lain, tidak mungkin aman tanpa iman. Orang mukmin itu dituntut untuk memberikan keamanan kepada yang lain bahkan harus sanggup mencintai yang lain seperti mencintai dirinya sendiri.

Sejarah

Sejarah Idul Adha bermula sekitar 1000 tahun lalu. Ketika Nabi Ibrahim di usia 99 tahun diperintahkan Allah SWT menyembelih Ismail, putra kesayangannya yang berusia 13 tahun melalui mimpi. Perintah ini amat berat bagi Ibrahim AS, karena Ismail adalah putra semata wayang yang telah ia dambakan dan ia pinta dari Allah sejak muda. Namun Ismail kecil ternyata bersedia mengorbankan nyawanya demi menjalankan perintah Tuhan. Maka berangkatlah ayah-anak ini ke tempat penyembelihan.

Di perjalanan, mereka menjumpai jelmaan setan yang mencoba membujuk Nabi Ibrahim dan Ismail untuk mengurungkan niatnya. Sadar ini merupakan godaan setan, keduanya menimpuki setan ini dengan kerikil. Setan terus mencoba menggoda Nabi Ibrahim dan Ismail hingga tiga kali. Inilah yang kemudian menjadi jumratul aqobah dalam rangkaian ibadah haji. Sesampainya di tempat penyembelihan, Nabi Ibrahim menghunuskan pedangnya ke leher Ismail. Namun dengan kemurahan Allah SWT, seketika Dia menukar Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Inilah yang menjadi acuan penyembelihan hewan kurban hingga sekarang.

Tata cara Shalat

  • Pada rakaat pertama, hendaklah imam dan makmum bertakbir tujuh kali selain Takbiratul Ihram. Di antara masing-masing takbir itu disunnahkan membaca, ‘Subhaanallahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar’. Artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Mahabesar.
  • Pada rakaat pertama, setelah membaca surah Al-Fatihah, disunahkan bagi imam untuk membaca surah Al-A’la atau surah Qaf dengan suara yang keras. Kemudian melakukan rukuk dan sujud sebagaimana sholat lima waktu.
  • Pada rakaat kedua setelah bangkit dari sujud, takbir dilakukan sebanyak lima kali. Di antara takbir tersebut disunahkan membaca doa sebagaimana pada rakaat pertama.
  • Pada rakaat kedua, setelah membaca surah Al-Fatihah, disunahkan bagi imam untuk membaca surah Al-Ghasyiyah atau Asy-Syams dengan suara keras. Kemudian, melakukan ruku dan sujud sebagaimana sholat lima waktu dan diakhir dengan salam.
  • Setelah selesai mengerjakan sholat, hendaklah imam atau khatib berdiri untuk berkhutbah. Khutbah dilakukan dengan dua kali khutbah dan dan sekali duduk di antara dua khutbah. Di sela-sela khutbahnya, hendaklah khatib mengumandangkan takbir dan disunahkan baginya mengawali khutbah dengan takbir.

 

Beberapa pendapat tentang shalat Idul Adha

Tidak ada Shalat Sunnah Rawatib (Qobliyyah dan Ba’diyyah) ‘Ied

Sholat sunnah qobliyyah dan ba’diyyah Ied, maka tidak ada tuntunannya, sebagaimana hadits Ibnu Abbas:

… لم يُصَلِّ قبلها ولابعدها …

“… (Nabi ?) belum pernah sholat (sunnah) sebelum sholat Ied atau pun sesudahnya…”. (H.R. Al Bukhori no. 989).

Sutrah Bagi Imam

Sutrah adalah benda, bisa berupa tembok, tiang, tongkat atau yang lain yang diletakkan di depan orang shalat sebagai pembatas shalatnya, panjangnya kurang lebih 1 hasta. Telah terdapat larangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melewati orang yang shalat. Dengan sutrah ini, seseorang boleh melewati orang yang shalat dari belakang sutrah dan tidak boleh antara seorang yang shalat dengan sutrah. Sutrah ini disyariatkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian atau munfarid. Adapun makmum tidak perlu dan boleh lewat di depan makmum. Ini adalah Sunnah yang mayoritas orang meninggalkannya. Oleh karenanya, marilah kita menghidupkan sunnah ini, termasuk dalam Shalat Id.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيْدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوْضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا اْلأُمَرَاءُ

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila keluar pada hari Id, beliau memerintahkan untuk membawa tombak kecil, lalu ditancapkan di depannya, lalu beliau shalat ke hadapannya, sedang orang-orang di belakangnya. Beliau melakukan hal itu di safarnya dan dari situlah para pimpinan melakukannya juga.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabush Shalat Bab Sutratul Imam Sutrah liman Khalfah dan Kitabul ‘Idain Bab Ash-Shalat Ilal harbah Yaumul Id. Al-Fath, 2/463 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/136)

Dua Rakaat seperti Shalat-Shalat yang Lain

Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal.

Membaca Doa Iftiftah

Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama berpendapat setelah takbiratul ihram dan sebelum takbir tambahan. (Al-Umm, 3/234 dan Al-Majmu’, 5/26. Lihat pula Tanwirul ‘Ainain hal. 149)

Perbedaan Pendapat 7 Takbir Tambahan pada Rakaat Pertama

  • 7 takbir tambahan pada rakaat pertama adalah selain takbiratul ihram (menurut pendapat yang terkuat) dan takbir ketika hendak ruku’. Tentang 7 takbir pertama, apakah termasuk takbiratul ihram atau tidak? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat:
  • Pendapat Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad, Abu Tsaur dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa 7 takbir itu termasuk takbiratul ihram. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/178, Aunul Ma’bud, 4/6, Istidzkar, 2/396 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)
    Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, bahwa 7 takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram. (Al-Umm, 3/234 cet. Dar Qutaibah dan referensi sebelumnya)
  • Nampaknya yang lebih kuat adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal itu karena ada riwayat yang mendukungnya, yaitu:عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جِدِّهِ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيْدَيْنِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيْرَةً، سَبْعًا فِي اْلأُوْلَى وَخَمْسًا فِي اْلآخِرَةِ سِوَى تَكْبِيْرَتَيِ الصَّلاَةِ“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada 2 hari raya 12 takbir, 7 pada rakaat yang pertama dan 5 pada rakaat yang terakhir, selain 2 takbir shalat.”(Ini lafadz Ath-Thahawi)
  • Adapun lafadz Ad-Daruquthni:سِوَى تَكْبِيْرَةِ اْلإِحْرَامِ“Selain takbiratul ihram.” (HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 4/343 no. 6744 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Ad-Daruquthni, 2/47-48 no. 20)
  • Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperselisihkan bernama Abdullah bin Abdurrahman At-Tha‘ifi. Akan tetapi hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, ‘Ali Ibnul Madini dan Al-Imam Al-Bukhari sebagaimana dinukilkan oleh At-Tirmidzi. (lihat At-Talkhis, 2/84, tahqiq As-Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamani, At-Ta’liqul Mughni, 2/18 dan Tanwirul ‘Ainain, hal. 158)
  • Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah dalam riwayatnya:عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَتَيْ الرُّكُوْعِ“Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali selain 2 takbir ruku’.” (HR. Abu Dawud dalam Kitabush Shalat Bab At-Takbir fil ’Idain. ‘Aunul Ma’bud, 4/10, Ibnu Majah no. 1280, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Abani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1149)

5 Takbir Tambahan pada Rakaat Kedua

  • 5 takbir tambahan pada rakaat kedua adalah selain takbir intiqal (takbir perpindahan dari sujud menuju berdiri) dan selain takbir ruku’. Tidak termasuk takbir ruku’ adalah sebagaimana hadits ‘Aisyahradhiyallahu ‘anhu di atas. Sedangkan tidak termasuk takbiratul intiqal (takbir perpindahan dari sujud menuju berdiri) adalah sebagaimana perkataan Ibnu Abdil Bar menukilkan kesepakatan para ulama bahwa lima takbir tersebut selain takbiratul intiqal. (Al-Istidzkar, 7/52 dinukil dari Tanwirul ‘Ainain)

Perbedaan Pendapat Mengangkat Tangan di Setiap Takbir Tambahan

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

  • Jumhur ulama berpendapat mengangkat tangan.
    Sementara salah satu dari pendapat Al-Imam Malik tidak mengangkat tangan, kecuali takbiratul ihram. Ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah (hal. 349). Lihat juga Al-Irwa‘ (3/113). Tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dalam hal ini.

Bacaan Shalat Ied

  • Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut yakni setelah takbir tambahan sebelum ruku’ pada tiap-tiap rakaan, semua surat yang ada boleh dan sah untuk dibaca. Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama “Sabbihisma” (Surat Al-A’la) dan pada rakaat yang kedua “Hal ataaka” (Surat Al-Ghasyiah) (HR Muslim no. 878). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat Al-Qamar (HR. Muslim no. 892). lihat Zadul Ma’ad, 1/427-428)

Bila Masbuq (Tertinggal) Shalat Id

  • Al-Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya berjudul: “Bila tertinggal shalat Id maka shalat 2 rakaat, demikian pula wanita dan orang-orang yang di rumah dan desa-desa berdasarkan sabda Nabi: ‘Ini adalah Id kita pemeluk Islam’.” Adalah ‘Atha` (tabi’in) bila ketinggalan Shalat Id beliau shalat dua rakaat.
    Menurut Al-Hasan, An-Nakha’i, Malik, Al-Laits, Asy-Syafi’i dan Ahmad dalam satu riwayat, shalat dengan takbir seperti takbir imam. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/169)
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.