ISLAM ISLAMI

KISAH PARA NABI : NABI YUSUF, PERKASA, TAMPAN DAN TERHORMAT

Nabi Yusuf adalah tokoh dalam Al-Qur’an, Alkitab, dan Tanakh. Dia adalah putra dari Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim (Abraham). Dalam kitab agama samawi disebutkan bahwa Yusuf adalah sosok saleh yang terkenal akan ketampanannya. Dia dibuang oleh kakak-kakaknya yang iri padanya, kemudian dipungut kafilah yang lewat dan dijadikan budak. Dia akhirnya dijual pada salah satu pejabat Mesir. Secara bertahap, Yusuf akhirnya menjadi salah satu tokoh penting di Mesir setelah berhasil menafsirkan mimpi raja. Al-Qur’an menyebutkan perjalanan hidup Yusuf sebagai “kisah terbaik.”

“ Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.—Yusuf (12): 7

Dalam Al-Qur’an (kitab suci Islam), nama Yusuf disebutkan sebanyak 27 kali.[a] Kisah Yusuf sendiri terpusat di Surah Yusuf, surah kedua belas dalam Al-Qur’an. Hal ini berbeda dengan para nabi lain yang biasanya kisahnya tersebar di beberapa surah. Dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen), kisah Yusuf tercantum dalam Kitab Kejadian pasal 37, 39-50.

Secara alur kejadian, kisah Yusuf yang terdapat pada Surah Yusuf dan Kitab Kejadian memiliki garis besar yang sama, meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam rincian tertentu.

Yusuf dipandang sebagai nabi dan rasul dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, para nabi yang kisahnya cukup panjang akan diceritakan dalam beberapa surah yang berbeda. Dalam kasus Yusuf, kisahnya terkumpul menjadi satu dalam satu surah panjang, yakni surah kedua belas. Al-Qur’an menyebutkan Yusuf sebagai sosok yang diberi petunjuk oleh Allah dan hamba Allah yang terpilih. Sebagai seorang rasul, Yusuf juga digambarkan menyeru manusia untuk kembali ke jalan Allah. Hal ini terlihat dari dakwahnya pada penghuni penjara. Pada masa Musa, ada salah seorang keluarga Fir’aun yang beriman. Dia memperingatkan kaumnya akan datangnya azab Allah, juga menyebutkan bahwa Yusuf sudah membawa bukti-bukti yang nyata pada masa sebelumnya.

Dalam hadits isra’ mi’raj disebutkan Nabi Muhammad bersabda bahwa Yusuf dikaruniai separuh ketampanan. Maknanya adalah bahwa Yusuf memiliki separuh ketampanan Adam. Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri dan meniupkan ruh kepadanya sehingga Adam adalah manusia yang paling tampan, sedangkan Yusuf memiliki separuh ketampanan Adam.

Di akhir surah Yusuf disebutkan, “Sungguh, pada kisah-kisah mereka (para rasul) itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) ini bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Yusuf di Mesir disebut Al-‘Aziz yang berarti  “Yang Perkasa”, “Terhormat”. Setelah keluar dari penjara dan mendapat kedudukan tinggi, Yusuf juga disebut Al-‘Aziz. Sebagian sumber Muslim non-Qur’an menyebutkan bahwa nama majikan Yusuf adalah Qithfir, Qatafir, Qittin, atau Isthafir bin Ruhaib. Sumber Alkitab menyebutkan bahwa namanya adalah Potifar. Dalam Al-Qur’an, penguasa Mesir pada masa Yusuf disebut malik.

Yusuf adalah putra kesebelas dari dua belas putra Ya’qub. Ibunya adalah Rahel, istri kedua Ya’qub. Anak-anak Ya’qub yang disebutkan Alkitab berdasar urutan kelahiran adalah: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Dina, Yusuf, dan Benyamin. Di antara nama-nama yang disebut, hanya Dina yang perempuan. Benyamin adalah satu-satunya saudara kandung Yusuf, sedangkan yang lainnya adalah saudara seayah berbeda ibu. Yusuf dan kakak-kakaknya lahir di Mesopotamia.

Setelah beberapa tahun bekerja di peternakan ayah mertuanya di Haran (Mesopotamia utara), Ya’qub kemudian pulang ke Palestina bersama istri-istri dan anak-anaknya. Lantaran tidak memiliki hubungan yang baik dengan kakak kembarnya, Esau, Ya’qub khawatir kalau dia akan dibunuh olehnya. Ya’qub mengutus seseorang terlebih dahulu untuk menemui Esau, tetapi saat kembali, utusan tersebut menyatakan bahwa Esau sedang dalam perjalanan menemui Ya’qub diiringi empat ratus orang. Merasa takut, Ya’qub kemudian membagi kafilahnya menjadi dua rombongan, agar bila yang satu diserang, yang lain dapat selamat.

Saat benar-benar bertemu Esau dan rombongannya, Ya’qub kemudian bersujud sebagai tradisi penghormatan zaman itu. Esau kemudian memeluk Ya’qub dan mereka saling bertangisan. Para istri, selir, dan anak-anak Ya’qub juga ikut memberikan sujud penghormatan. Ya’qub kemudian memberikan sebagian hewan ternaknya pada Esau sebagai hadiah. Rombongan Esau dan Ya’qub kemudian berpisah. Ya’qub kemudian membeli tanah di Sikhem (sudah masuk kawasan Palestina) dan tinggal di sana untuk sementara.

Kemudian rombongan Ya’qub bertolak menuju Hebron, kediaman Ishaq. Di tengah perjalanan, Rahel melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian dinamai Benyamin. Namun persalinan tersebut sangat sulit dan Rahel kemudian meninggal. Dia dikuburkan di daerah dekat Bethlehem.

Mimpi Dari Allah

  • Al-Qur’an menyebutkan bahwa Yusuf bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Saat Yusuf menceritakan mimpi itu pada Ya’qub, Ya’qub berpesan agar jangan menceritakan mimpi itu pada saudara-saudaranya karena ditakutkan mereka akan iri dan dengki padanya. Ya’qub kemudian menjelaskan bahwa Allah memilih putranya tersebut menjadi seorang nabi dan memberikan ilmu mengenai takwil mimpi. Sebelas bintang itu merupakan perlambang saudara-saudara Yusuf, sementara matahari dan bulan adalah perlambang kedua orangtuanya.
  • Dalam Alkitab dijelaskan bahwa Yusuf menceritakan mimpi itu pada ayah dan saudara-saudaranya. Ya’qub kemudian menegur Yusuf, “Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” Saudara-saudara Yusuf kemudian iri padanya. Alkitab juga menyebutkan bahwa sebelum memimpikan hal tersebut, Yusuf bercerita pada saudara-saudaranya bahwa dia bermimpi mereka sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum. Kemudian berkas gandum Yusuf berdiri tegak, sedang berkas gandum milik saudaranya mengelilingi miliknya dan bersujud padanya. Kakak-kakak Yusuf menanggapi, “Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?” Mereka jadi semakin membenci Yusuf karena mimpi tersebut.
  • Al-Qur’an tidak menyebutkan umur Yusuf saat itu, tetapi para ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa mimpi itu terjadi saat Yusuf belum baligh,[ sedangkan Alkitab menyebutkan bahwa Yusuf berusia sekitar tujuh belas tahun.

Sumur

  • Di sisi lain, kakak-kakak Yusuf merasa bahwa Ya’qub lebih mencintai Yusuf dan Benyamin dari mereka. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa mereka kemudian berusaha membunuh Yusuf, tetapi salah satu dari mereka menolak rencana itu dan mengusulkan agar Yusuf dibuang ke sumur saja agar dipungut kafilah yang lewat, dan lainnya sepakat dengan usulan tersebut.
  • Sebagian ulama menafsirkan bahwa putra Ya’qub yang menolak membunuh Yusuf adalah Simeon, pendapat lain adalah Yehuda, pendapat lain adalah putra sulung Ya’qub, Ruben.
  • Setelahnya, mereka membujuk Ya’qub agar mengizinkan Yusuf keluar bersama mereka agar dapat bermain bersama-sama. Ya’qub awalnya ragu karena takut Yusuf dimakan serigala, meski akhirnya dia mengizinkan. Setelah mereka keluar bersama-sama, Yusuf dimasukkan ke dalam sumur sesuai rencana mereka. Saat itu Allah mewahyukan pada Yusuf, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”
  • Kakak-kakak Yusuf kemudian pulang membawa pakaian Yusuf yang dilumuri darah. Sembari menangis, mereka mengatakan bahwa Yusuf dimakan serigala saat mereka lengah dan meninggalkan Yusuf di belakang bersama barang-barang. Mendengar pengakuan mereka, Ya’qub hanya pasrah kepada Allah dan mengatakan, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik. Dan kepada Allah saja aku memohon pertolongan-Nya terhadap yang kamu ceritakan.”
  • Setelahnya, rombongan musafir lewat dan saat seseorang dari mereka mencari air di sumur, dia kegirangan karena menemukan seorang anak, kemudian menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Al-Qur’an kemudian menyebutkan bahwa mereka kemudian menjual Yusuf dengan harga yang rendah karena mereka tidak tertarik kepadanya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa saat kakak-kakak Yusuf tahu Yusuf dibawa rombongan musafir, mereka mengejar rombongan tersebut dan mengatakan kalau Yusuf adalah budak mereka yang melarikan diri. Kakak-kakaknya kemudian menjual Yusuf dengan harga rendah pada para musafir tersebut.
  • Ya’qub memerintahkan Yusuf menyusul saudara-saudaranya yang sedang menggembala kambing dan domba dan Yusuf mematuhinya. Saat Yusuf terlihat dari jauh, kakak-kakaknya kemudian berencana untuk membunuhnya. Namun Ruben mencegah mereka dan mengusulkan agar Yusuf dimasukkan saja ke dalam sumur, sebenarnya dengan niat agar dia nanti dapat memulangkan kembali Yusuf. Saudaranya yang lain menyetujui usulan tersebut. Saat Yusuf tiba, mereka melucuti jubahnya, kemudian memasukkannya ke dalam sumur. Kemudian datanglah kafilah dagang ke tempat itu. Yehuda kemudian mengusulkan agar Yusuf dijual saja ke rombongan tersebut. Yusuf akhirnya diangkat dari sumur dan kakak-kakaknya menjualnya seharga dua puluh syikal perak. Mereka kemudian menyembelih kambing dan mencelupkan baju Yusuf dengan darah kambing tersebut. Baju tersebut kemudian diserahkan kepada Ya’qub. Ya’qub kemudian berkata, “Ini jubah anakku, binatang buas telah memakannya. Tentulah Yusuf telah diterkam.” Ya’qub sangat berduka dan tidak bersedia dihibur anak-anaknya.
BACA  Kisah Nabi Adam 

Mesir

  • Pada akhirnya Yusuf dijual pada seorang lelaki Mesir dan dia diperlakukan dengan baik di rumah tangga lelaki tersebut. Al-Qur’an menyebutkan bahwa lelaki tersebut berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.”Muhammad bin Ishaq menyatakan bahwa musafir yang menjual Yusuf ke Mesir bernama Malik bin Daghir yang masih merupakan keturunan Madyan bin Ibrahim, sehingga dia masih kerabat jauh Yusuf. Sebagian ulama berpendapat bahwa laki-laki Mesir tersebut membeli Yusuf seharga dua puluh dinar, sebagian menyatakan seharga minyak kasturi, yang lain menyebutkan senilai satu pakaian sutra. Dalam Al-Qur’an, lelaki ini mendapat julukan Al-‘Aziz (Yang Perkasa, Terhormat), tetapi tidak disebutkan mengenai posisinya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dia adalah seorang menteri.
  • Lelaki Mesir yang membeli Yusuf bernama Potifar, seorang kepala pengawal raja. Potifar sangat menyukai dan mempercayai Yusuf sehingga dia menyerahkan urusan rumah tangganya pada Yusuf.
  • Al-Qur’an menyebutkan bahwa saat Yusuf sudah cukup dewasa, dia dianugerahi hikmah dan ilmu. Disebutkan dalam tafsir bahwa yang dimaksud adalah kenabian. Beberapa ulama berbeda pendapat mengenai usia Yusuf saat itu. Ada yang berpendapat 25 tahun, 30 tahun, 33 tahun, dan 40 tahun.

Zulaikha

  • Yusuf kemudian tumbuh menjadi pria yang sangat tampan dan itu membuat istri Potifar jatuh cinta padanya. Sebagian pendapat menyatakan bahwa namanya Ra’il atau Fakka. Pendapat lain menyebutkan, dan ini yang paling masyhur, bahwa namanya adalah Zulaikha. Ibnu Ishaq berpendapat bahwa Zulaikha adalah keponakan raja Mesir.
  • Yusuf dan Zulaikha, miniatur karya Kamāluddīn Behzād, 1488.
    Al-Qur’an menyebutkan bahwa Zulaikha kemudian menutup pintu-pintu di kediamannya dan merayu Yusuf, “Marilah mendekat kepadaku.” Namun Yusuf menolak ajakan zina tersebut. Para ulama menyebutkan bahwa Zulaikha adalah wanita yang sangat cantik, kaya, dan masih muda. Dia mengenakan pakaian terbaik yang paling mewah untuk menggoda Yusuf.
  • Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “perempuan itu telah berkehendak kepadanya dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya.” Sebagian ulama menyebutkan bahwa tanda yang dimaksud dari ayat tersebut adalah munculnya sosok Ya’qub yang memperingatkan Yusuf untuk tidak terlibat dengan perempuan tersebut.
  • Selanjutnya Yusuf berlari menuju pintu untuk keluar demi menghindari godaan Zulaikha, tetapi Zulaikha mengejarnya dan sempat menarik bagian belakang baju Yusuf sampai koyak. Keduanya kemudian mendapati Potifar berada di depan pintu. Dengan cepat, Zulaikha melayangkan tuduhan bahwa Yusuf yang berusaha melakukan hal buruk kepadanya. Yusuf membela diri dan menyatakan bahwa Zulaikha yang merayu dirinya. Di tengah perdebatan, seorang dari keluarga Zulaikha memberi kesaksian, “Jika baju gamisnya (Yusuf) koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia termasuk orang yang benar.” Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang memberi kesaksian itu adalah seorang bocah yang masih menyusu yang secara ajaib dapat bicara. Makna dari kesaksiannya adalah bahwa jika memang Yusuf yang berniat memperkosa, Zulaikha akan melawan dan menyebabkan baju Yusuf koyak di sisi depan. Namun jika baju Yusuf koyak di belakang, berarti Yusuf berlari menghindari Zulaikha.
  • Potifar kemudian memeriksa dan mendapati bahwa pakaian Yusuf koyak di bagian belakang. Dia kemudian mengatakan pada Zulaikha, “Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat.” Potifar juga meminta Yusuf untuk melupakan kejadian ini.
  • Skandal di kediaman Potifar kemudian menyebar, membuat para perempuan kota menggunjing dan merendahkan Zulaikha lantaran bisa tergila-gila dengan seorang pelayan. Menyadari gunjingan mereka, Zulaikha kemudian mengundang mereka di kediamannya untuk menghadiri suatu jamuan. Di sana disediakan pula pisau untuk memotong hidangan. Zulaikha kemudian memerintahkan Yusuf mengenakan pakaian yang sangat bagus dan menyuruhnya menemui para perempuan tersebut. Melihat Yusuf, para tamu undangan sangat terpesona hingga tak sadar melukai jemari mereka sendiri saat memotong hidangan dan berujar, “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.”
  • Dengan menunjukkan Yusuf pada mereka, Zulaikha berusaha mencari pembenaran atas tindakannya. Dia juga mengancam Yusuf untuk memenjarakan atau menghinakannya jika tidak menuruti keinginannya. Para wanita yang semula menggunjing Zulaikha kini berbalik mendukungnya. Yusuf akhirnya berdoa, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.” Pada akhirnya, Potifar kemudian memenjarakan Yusuf selama beberapa waktu tertentu meski dia tahu bahwa Yusuf tidak bersalah. Hal ini untuk meminimalisir omongan-omongan orang yang membicarakan masalah ini berlarut-larut dan menyembunyikan kesalahan istrinya.
  • Sumber Alkitab mengisahkan bahwa saat rumah kosong, Zulaikha memegang baju Yusuf dan mengajaknya berzina. Yusuf kemudian meninggalkan bajunya dan berlari keluar, kemudian Zulaikha berteriak bahwa Yusuf hendak memperkosanya. Saat Potifar kembali, dia mendengar pengaduan istrinya dan itu membuatnya sangat marah sehingga Yusuf dipenjara. Alkitab tidak menyebutkan mengenai Zulaikha yang mengundang para perempuan di kediamannya atau saat mereka melukai jemarinya karena terpesona melihat Yusuf.

Penjara

Al-Qur’an menyebutkan bahwa saat Yusuf masuk penjara, masuk pula dua orang pemuda bersamanya. Suatu hari mereka berdua bermimpi. Salah seorang dari mereka bermimpi sedang memeras anggur, sedangkan yang satunya lagi bermimpi bahwa dia membawa roti di atas kepalanya dan burung memakan sebagian roti tersebut. Mereka menceritakan mimpi tersebut kepada Yusuf lantaran memandang Yusuf sebagai orang yang baik. Para ulama menyebutkan bahwa mereka berdua adalah para pelayan raja, yang satu pelayan yang biasa memberi minum raja bernama Banuwa, yang satunya adalah pelayan yang biasanya membuat roti yang bernama Majlats.

Yusuf kemudian menyatakan bahwa dia mengetahui makna mimpi tersebut, kemudian menegaskan bahwa ilmu takwil mimpi yang dimilikinya adalah sebagian ilmu yang diajarkan Allah padanya. Yusuf menyatakan bahwa dia telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman pada Allah, dan menegaskan bahwa dia mengikuti agama leluhurnya: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Yusuf juga menjelaskan bahwa bermacam-macam tuhan selain Allah yang disembah orang-orang hanyalah buatan nenek moyang mereka. Setelah menjelaskan dan mengajak mereka ke jalan Allah, Yusuf kemudian menjelaskan tafsir mimpi mereka. Pemuda yang satu akan kembali bertugas memberikan khamr bagi tuannya, sedangkan pemuda yang lain akan dihukum salib dan burung memakan sebagian kepalanya. Yusuf kemudian meminta pemuda yang tidak dihukum mati untuk memberi tahu pada tuannya mengenai keadaan Yusuf di penjara, tapi pemuda tadi lupa sehingga Yusuf harus tetap di penjara selama beberapa tahun lagi. Beberapa ulama ada yang menyatakan bahwa maksud ‘beberapa tahun’ ini adalah tiga hingga sembilan tahun.

Di dalam penjara, Yusuf dipercaya kepala penjara untuk mengurus narapidana lainnya. Yusuf dikisahkan menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan juru roti istana, tetapi tidak disebutkan bahwa Yusuf menyeru mereka ke jalan Allah sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Mimpi raja

Al-Qur’an menjelaskan bahwa suatu hari Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan tujuh ekor sapi betina yang kurus, juga ada tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum yang kering. Raja berusaha mencari makna mimpi tersebut, tapi para ahli hanya menyebut mimpi Raja sebagai mimpi kosong dan tidak dapat menakwilkan mimpi itu. Juru minuman istana kemudian teringat dengan Yusuf dan pergi ke penjara untuk menanyakan makna mimpi tersebut. Yusuf menjawab bahwa agar mereka bercocok tanam seperti biasa selama tujuh tahun, sedangkan hasil panen yang telah dituai agar dibiarkan di tangkainya, kecuali sebagian kecil yang akan digunakan untuk makan. Yusuf melanjutkan bahwa setelahnya akan datang masa sulit selama tujuh tahun yang akan menghabiskan persediaan makanan. Setelah masa sulit itu berlalu, akan datang hujan dan manusia akan memeras anggur.

Mendengar jawaban tersebut, Raja mengutus orang agar Yusuf dihadirkan di hadapannya. Namun Yusuf, melalui utusan tersebut, meminta agar Raja terlebih dahulu menanyakan para perempuan mengenai masalah Yusuf. Saat Raja menanyai mereka, para perempuan itu menjawab, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Zulaikha membenarkan mereka, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.”

BACA  Kisah Hidup Nabi Daud

Al-Qur’an selanjutnya menyebutkan, “Yang demikian itu agar dia (Potifar Al-‘Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada, dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa itu perkataan Yusuf. Maknanya adalah bahwa Yusuf bukanlah seorang pengkhianat seperti yang dituduhkan. Sebagian menyatakan bahwa itu adalah ucapan Zulaikha. Maksudnya adalah bahwa Zulaikha mengaku agar suaminya tahu bahwa dia hanya merayu Yusuf, tidak sampai berkhianat dan berbuat nista.

Al-Qur’an tidak menjelaskan mengenai identitas penguasa Mesir saat itu dan hanya menyebutnya malik atau raja. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa nama dan silsilah raja tersebut adalah Ar-Rayyan bin Al-Walid bin Tsarwan yang merupakan keturunan Sem bin Nuh. Penguasa Mesir tersebut disebut fir’aun, gelar yang biasanya digunakan untuk merujuk penguasa Mesir kuno. Dalam Al-Qur’an, gelar fir’aun hanya digunakan untuk penguasa Mesir pada zaman Musa dan Harun.

Berkuasa

Al-Qur’an menyebutkan bahwa setelah nama baiknya dipulihkan, Yusuf dihadapkan pada Raja. Setelah mereka bercakap-cakap, Raja menyatakan bahwa Yusuf akan diberi kedudukan yang tinggi dan kepercayaan. Yusuf menyatakan, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri, karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.”

Beberapa ulama memberikan keterangan tambahan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Ats-Tsa’labi menyebutkan bahwa Yusuf kemudian diberi kedudukan yang sebelumnya dipegang oleh Potifar. Muhammad bin Ishaq menyatakan bahwa kemudian Raja beriman kepada ajaran Yusuf.

Paceklik

Saat tujuh tahun masa subur berakhir, datanglah masa paceklik sebagaimana yang dikatakan Yusuf. Paceklik ini tidak hanya melanda Mesir, tetapi juga kawasan Palestina, tempat tinggal Ya’qub dan keluarganya. Putra-putra Ya’qub selain Benyamin pergi ke Mesir untuk membeli gandum. Di sana mereka bertemu dengan Yusuf. Yusuf mengenali kakak-kakaknya tersebut, tetapi mereka tidak mengenal Yusuf. Saat gandum mereka sedang dipersiapkan, Yusuf berkata kepada mereka, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu, tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” Maka putra-putra Ya’qub tersebut membalas bahwa mereka akan membujuk ayah mereka. Setelah itu, Yusuf memerintahkan para pelayannya agar barang-barang yang digunakan kakak-kakaknya untuk membeli gandum dimasukkan ke karung gandum mereka, berharap agar kakak-kakaknya dapat kembali lagi.

Yusuf dan kakak-kakaknya bertemu. Yusuf mengenal mereka, tapi mereka tidak mengenal Yusuf. Yusuf menuduh bahwa mereka mata-mata, tetapi mereka menolak dakwaan tersebut dan menyebutkan bahwa mereka adalah dua belas bersaudara dari satu ayah yang tinggal di tanah Kan’an (Palestina), yang bungsu bersama ayahnya, sedangkan yang satu hilang. Yusuf kemudian mengurung mereka selama tiga hari. Setelahnya, mereka dibebaskan dengan persyaratan bahwa salah satu dari mereka tetap ditahan di sini, sementara sisanya harus membawa adik mereka pada kedatangan berikutnya ke Mesir. Diputuskan bahwa Simeon yang tetap ditahan. Yusuf kemudian memerintahkan agar tempat gandum mereka diisi gandum dan uang mereka dimasukkan ke dalam karung.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah kembali, kakak-kakak Yusuf mengatakan bahwa mereka tidak akan mendapat jatah lagi jika tidak membawa Benyamin pada kedatangan mereka berikutnya. Namun Ya’qub enggan mengabulkannya dan berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya kepada kamu dahulu?” Ya’qub mengungkit kembali masalah hilangnya Yusuf sebagai alasan untuk tidak melepaskan Benyamin. Saat mereka membuka karung-karung, mereka menemukan barang-barang penukar mereka ada di sana. Mengetahui hal tersebut, Ya’qub akhirnya luluh dan bersedia mempercayakan Benyamin pada mereka pada kepergian mereka berikutnya ke Mesir. Namun Ya’qub meminta sumpah mereka, “Bersumpahlah kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Setelah mereka mengucap sumpah, Ya’qub melanjutkan, “Allah adalah saksi terhadap yang kita ucapkan.”

Kepergian kembali

Pada saat kakak-kakak Yusuf pergi ke Mesir untuk kedua kalinya, mereka membawa Benyamin. Sebelumnya Ya’qub telah berpesan pada mereka agar masuk dari pintu gerbang yang berbeda-beda saat di Mesir dan mereka mematuhinya.[64] Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk menghindarkan dari sihir ‘ain karena mereka memiliki fisik dan rupa yang sangat bagus. Setelah kafilah putra-putra Ya’qub tiba di Mesir, Yusuf membawa Benyamin di tempat pribadinya dan mengungkapkan jati dirinya.

Alkitab menerangkan bahwa kemudian Yusuf membuat jamuan dan mengundang saudara-saudaranya. Simeon dibebaskan dan turut bergabung. Persembahan yang dibawa putra-putra Ya’qub juga kemudian diserahkan kepada Yusuf. Yusuf juga menanyakan keadaan ayah mereka dan mereka menjawab bahwa ayah mereka masih hidup. Dalam jamuan, dihidangkan makanan untuk Yusuf sendiri, untuk saudara-saudaranya sendiri, dan untuk orang Mesir sendiri. Hal ini dilakukan karena makan bersama orang Ibrani dipandang sebagai hal yang keji bagi orang Mesir. Namun putra-putra Ya’qub duduk di depan Yusuf dan itu membuat mereka saling berpandangan karena heran. Lalu disajikan pada mereka hidangan dari meja Yusuf dan Benyamin mendapat lima kali lebih banyak dari orang lain. Mereka semua bersuka ria pada jamuan tersebut. Tidak disebutkan bahwa Yusuf mengungkapkan jati dirinya pada Benyamin.

Saat gandum mereka dipersiapkan, Yusuf memasukkan piala (cawan minum) ke karung Benyamin. Saat kafilah putra-putra Ya’qub dalam perjalanan pulang, Yusuf dan rombongannya menghentikan mereka dan meneriakkan, “Wahai kafilah! Sesungguhnya kamu pasti pencuri!” Putra-putra Ya’qub berhenti dan bertanya, “Kamu kehilangan apa?” Dijawab, “Kami kehilangan piala raja dan yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan seberat beban unta dan aku jamin itu.”[68]

Putra-putra Ya’qub menjawab, “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah para pencuri.” Dijawab, “Tetapi apa hukumannya jika kamu dusta?” Para putra Ya’qub menjawab, “Maka dia sendirilah yang menerima hukumannya. Demikianlah kami memberi hukuman kepada orang-orang zalim.” Dalam syariat mereka, hukuman bagi seorang pencuri adalah dirinya harus diserahkan kepada pihak yang barangnya dicuri.

Maka setelah digeledah, ditemukanlah piala raja tersebut di karung Benyamin. Putra-putra Ya’qub yang lain mengatakan, “Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maksud mereka adalah bahwa Yusuf juga pernah mencuri sebelumnya. Para ulama memiliki beberapa pendapat terkait ucapan mereka. Sebagian menyatakan bahwa maksudnya adalah Yusuf dulu pernah mencuri patung kakek dari pihak ibunya, kemudian menghancurkannya. Ada yang berpendapat bahwa bibi Yusuf pernah menggantungkan ikat pinggang Ishaq di baju Yusuf, sehingga nantinya Yusuf akan dituduh mencuri dan ditahan di rumah bibinya lebih lama lagi sebagai hukuman. Hal ini karena bibinya sangat mencintai Yusuf dan enggan berpisah dengannya. Pendapat lain menyebutkan bahwa Yusuf pernah mencuri makanan untuk diberikan kepada fakir miskin. Mendengar perkataan mereka, Yusuf merasa jengkel, tetapi menyembunyikannya dalam hati.

Putra-putra Ya’qub yang lain memohon pada Yusuf, “Wahai Al-‘Aziz. Dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, karena itu, ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” Meski demikian, Yusuf menolak penawaran tersebut karena menahan orang tak bersalah sebagai ganti pelaku yang sebenarnya merupakan sebuah kezaliman. Setelah putus asa karena tidak bisa membawa Benyamin pulang, mereka kemudian berunding. Putra tertua Ya’qub, Ruben, memutuskan untuk tetap tinggal di Mesir sampai ayah mereka mengizinkan kembali atau Allah memberi keputusan padanya. Putra Ya’qub yang lain kemudian pulang dan memberitahukan yang terjadi pada mereka kepada Ya’qub. Mereka juga meminta Ya’qub bertanya pada penduduk Mesir atau kafilah lain yang datang bersama mereka untuk menguatkan pendapat mereka.

Mendengar penuturan mereka, Ya’qub sangat berduka dan berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan itu. Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh Dialah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” Ibnu Katsir menyebutkan bahwa maksudnya adalah Ya’qub percaya bahwa Benyamin tidak mencuri karena itu bukan wataknya sehingga mengatakan sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan itu. Makna yang lain adalah mereka kehilangan Benyamin akibat dari yang mereka lakukan kepada Yusuf dahulu, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama, “Sesungguhnya keburukan akan mendatangkan keburukan yang lain setelahnya.”

Ya’qub juga bersedih kembali terkait Yusuf, “Aduhai duka citaku kepada Yusuf.” Kesedihan yang baru menimpanya menyebabkan terungkitnya kesedihan yang lama. Disebutkan bahwa mata Ya’qub menjadi putih karena kesedihan dan diam menahan amarah. Putra-putranya mengkhawatirkan ayah mereka yang selalu mengingat Yusuf, menyebabkan dirinya sakit berat. Meski demikian, Ya’qub hanya menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah yang tidak kamu ketahui.”

BACA  Usia Para Nabi

Yusuf mengungkapkan diri

Al-Qur’an melanjutkan bahwa setelahnya Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Ya’qub yang tiba-tiba menyuruh anak-anaknya mencari Yusuf yang telah hilang sekian lama disebutkan lantaran Allah mengabarkan Ya’qub banyak hal yang membuatnya berharap untuk bertemu Yusuf.[80] Hal ini sejalan dengan perkataan Ya’qub di ayat sebelumnya, “Aku mengetahui dari Allah yang tidak kamu ketahui.”[81]

Putra-putra Ya’qub kemudian kembali ke Mesir. Saat bertemu Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-‘Aziz. Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah untuk kami dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.” Para ulama menyebutkan bahwa maksud “barang-barang yang tidak berharga” yang mereka bawa adalah dirham-dirham yang jumlahnya sangat sedikit. Ada yang mengatakan biji-bijian dan semacamnya. Ibnu ‘Abbas menyebutkan kendi yang sudah usang, tali-temali, dan semacamnya.

Kemudian Yusuf berkata, “Tahukah kamu keburukan yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari akibat perbuatanmu itu?”[84] Disebutkan bahwa Yusuf tiba-tiba menanyakan itu lantaran merasa iba melihat saudara-saudaranya yang tampak lemah tersebut sehingga dia tidak tahan lagi menahan perasaannya.

Mereka kebingungan ditanyai seperti itu lantaran seorang pembesar Mesir dapat mengetahui soal Yusuf dan bahkan perlakuan mereka padanya.[86] Hal itu yang kemudian mereka bertanya sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, “Apakah engkau Yusuf?” Pada akhirnya Yusuf membuka jati dirinya pada mereka. Kakak-kakaknya kemudian mengakui diri mereka sebagai orang yang bersalah, tetapi Yusuf membalas, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Pertemuan keluarga

Yusuf bersama ayah dan saudara-saudaranya di Mesir, dari Zubdat-al Tawarikh dalam Museum Seni Islam dan Turki, Istanbul. Dipersembahkan kepada Sultan Murad III pada 1583.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Yusuf kemudian meminta saudara-saudaranya agar membawa bajunya saat pulang dan diusapkan ke wajah Ya’qub sehingga dapat melihat kembali. Saat kafilah mereka keluar Mesir, Ya’qub yang tinggal di Palestina mengatakan, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf,” tetapi keluarganya menanggapi, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” Para ulama menyebutkan bahwa saat rombongan putra-putra Ya’qub keluar Mesir, bertiuplah angin dan mendatangi Ya’qub dengan membawa bau baju Yusuf.

Saat rombongan putra-putra Ya’qub tiba dan pakaian Yusuf diusapkan ke wajah Ya’qub, Ya’qub dapat melihat kembali. Dia berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa aku mengetahui dari Allah hal yang tidak kamu ketahui.” Kemudian putra-putranya meminta ayah mereka memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka. Ya’qub menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Sebagian ulama menyebutkan bahwa Ya’qub menunda permohonan ampun untuk mereka hingga waktu sahur.

Tahun-tahun selanjutnya

Al-Qur’an menyebutkan bahwa sebelum meninggal, Ya’qub bertanya pada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, Tuhan Yang Maha Esa dan kami berserah diri kepada-Nya.”

Ya’qub wafat pada usia 147 tahun. Saat Ya’qub meninggal, Yusuf mendekap muka ayahnya dan menciumnya. Jenazahnya kemudian dirempah-rempahi selama empat puluh hari dan bangsa Mesir berkabung selama tujuh puluh hari. Yusuf meminta izin pada Fir’aun agar dapat memakamkan ayahnya di Kan’an sebagaimana wasiatnya dan Fir’aun memberikan izin. Setelahnya, jenazah Ya’qub diantar ke Palestina dan diiringi Yusuf dan saudara-saudaranya, para pegawai Fir’aun, dan para sesepuh istana dan negeri Mesir. Penduduk Palestina yang melihat prosesi itu menyebutkan bahwa perkabungan orang Mesir amat riuh. Ya’qub kemudian dikebumikan di Gua Makhpela di Hebron, tempat jenazah Sarah, Ibrahim, Ishaq, Ribka, dan Lea juga dikebumikan. Setelah menjadi wilayah kekhalifahan, didirikanlah sebuah masjid di tempat itu yang bernama Masjid Ibrahimi.

Yusuf wafat pada usia 110 tahun dan dia hidup sampai Efraim beranak-cucu. Mayatnya dirempah-rempahi dan diletakkan di dalam peti mati di Mesir. Meski demikian, dia berwasiat pada keturunan Ya’qub bahwa mereka akan membawa jenazahnya saat mereka kelak keluar untuk kembali ke Palestina. Di kemudian hari, Musa membawa tulang-belulang Yusuf saat hijrah keluar Mesir bersama rombongan Bani Israil.

Yusuf dan Zulaikha

Tradisi populer pada kaum Muslim menyebutkan bahwa pada akhirnya Zulaikha menikah dengan Yusuf. Terdapat narasi yang berbeda-beda terkait tema ini, tetapi poin penting yang kerap disebutkan adalah bahwa setelah Zulaikha bertobat dan Potifar wafat, dia menikah dengan Yusuf. Ternyata didapati Zulaikha masih dalam keadaan perawan lantaran Potifar tidak tertarik dengan perempuan. Yusuf dan Zulaikha kemudian dianugerahi dua putra.

Meski sangat dikenal, kisah ini tidak memiliki landasan dalam Al-Qur’an maupun hadits.Disebutkan bahwa keterangan mengenai pernikahan Yusuf dan Zulaikha disadur dari kisah israiliyat, yakni kisah yang dinukil dari Bani Israil, umumnya berasal dari masyarakat Yahudi. Hanya saja Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen) sendiri secara jelas menyebutkan bahwa Yusuf dinikahkan dengan Asnat, anak perempuan dari seorang pendeta dari On bernama Potifera.

Makam

Secara tradisi, disepakati bahwa jenazah Yusuf telah dipindahkan dan dikebumikan ulang di Palestina. Ada beberapa tempat yang dipandang sebagai makamnya: Daerah Sikhem, di tempat Ya’qub dulunya berdiam setelah kembali dari Mesopotamia. Para rabbi berpendapat bahwa Yusuf meminta saudara-saudaranya memakamkan dirinya di Sikhem lantaran itu adalah tempat dia dijual sebagai budak. Safed, menurut sebagian sumber Yahudi. Masjid Ibrahimi atau Gua Makhpela di Hebron yang juga merupakan makam Ibrahim, Sarah, Ishaq, Ribka, Ya’qub, dan Lea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *