ISLAM ISLAMI

Kisah Kekejaman PKI terhadap Ulama dan santri

TELINGA, tangan, dan kemaluan mereka dipotong. Mutilasi itu bagian dari penyiksaan dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Yang dimutilasi itu dua mahasiswa binaan KH Amir, yaitu Baharun dan Miftah. Kamis, 30 September 1965, tragedi pembantaian dan pemberontakan oleh PKI dan para anteknya terjadi di berbagai daerah, termasuk di Ngruki, Jawa Tengah, kediaman Kiai Amir.

Hari itu sebelum kejadian, tuturnya, banyak anggota Pemuda Rakyat datang dari Solo ke Ngruki. Malamnya, sekitar pukul 11 waktu setempat, sayap organisasi pemuda PKI itu rapat. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Kiai Amir dan sejumlah orang lainnya pada pukul 1 dinihari.

Malang tak bisa ditolak, mujur tak dapat diraih. Dua dari 9 orang mahasiswa yang selama ini mengaji kepada Kiai Amir itu, tewas di tangan aktivis komunis. Mereka disergap di asrama mahasiswa milik Kiai.

“Dua orang (mahasiswa) itu kecekel pemuda PKI, dibunuh dengan cara yang sadis. Dipotong kemaluannya, dipotong telinganya, lalu dikubur,” tuturnya kepada Suara Hidayatullah-hidayatullah.com, Juli 2020.

Kiai Amir juga nyaris jadi korban kekejaman PKI. “Tapi istrinya Ketua PKI baik dengan saya, memberitahu saya, ‘Bapak pergi saja sebab nanti pukul 1 malam bapak mau diambil untuk dibunuh.’ Saya itu walaupun banyak tetangga yang PKI, saya berbuat baik terus kepada mereka,” tuturnya.

Kiai Amir pun segera memboyong keluarganya meninggalkan Ngruki menuju Solo, tempat kakak kandungnya. Mereka menyusuri sungai.

Selain dirinya, ayahnya juga nyaris dibunuh PKI. Syukur alhamdulillah, sang ayah selamat.

“Ayah saya masuk ke sungai kemudian tidak terkejar sama PKI. Rumah saya dulu dekat dengan sungai, bapak saya lari, masuk ke sungai hingga bisa aman,” tutur kiai yang kini berusia 85 tahun, beristri satu dan 14 anak ini.

BACA  Islam dan Pancasila Menurut Pakar

Sebelum menetap di Ngruki, Kiai Amir merupakan Lurah (Ketua Pengurus Harian) Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta, dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia.

Setelah menikah pada 1963, ia pindah ke Ngruki, menempati rumah dan tanah pemberian mertuanya. Ternyata banyak pendukung komunis di situ sehingga disebut kampung PKI. “Orang Islam kira-kira tidak lebih dari 15 orang.”

Sebagai dai, Kiai Amir aktif mengajak masyarakat untuk memegang teguh tauhid dan menjauhi syirik. Aktif pula membina banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kiprah dakwahnya rupanya tak disukai kaum komunis.

“Saya dimusuhi oleh orang-orang PKI. Saya kan dikenal sebagai mubaligh di sekitar Solo, sehingga saya diancam dibunuh,” tuturnya.

Meski tahu akan diculik pada tragedi pemberontakan G30S/PKI itu, Kiai Amir tak sempat menolong dua mahasiswanya. Sedangkan 7 mahasiswa lainnya berhasil menyelamatkan diri.

“Karena belum ada telepon, belum ada apa-apa, sehingga saya tidak bisa memberi kabar (akan ada penculikan),” tuturnya.

Menurut Kiai Amir, saat itu daerah di sekitar Solo banyak dikuasai PKI, termasuk Wali Kota Solo Oetomo Ramelan. “Tentaranya juga banyak PKI. Jadi mereka kuat,” tuturnya.

Pasca peristiwa pemberontakan G30S/PKI, pasukan dari Divisi Siliwangi datang ke Solo untuk menumpas PKI. Kiai Amir pun melaporkan semua tokoh-tokoh PKI di daerahnya kepada pasukan Siliwangi.

Meskipun bersyukur selamat dari upaya pembunuhan oleh PKI, Kiai Amir tak kuasa menahan getirnya saat melihat jenazah dua mahasiswanya yang dibunuh PKI secara keji.

“Ketika kita buka kuburannya, (mayat-mayat) itu keadaannya kasihan sekali,” ungkap Ketua Majelis Pembina Yayasan Al-Mukmin Ngruki ini.

 

sumber: replubika

 

DAFTAR INDEKS HADITS, klik di bawah ini

§  AGAMA ISLAM §  AKAL MANUSIA
§  AL QURAN §  ADZAN SEBELUM SHALAT
§  DAJAL §  UMPATAN, CACI MAKI DAN GHIBAH
§  BALA’ §  SIFAT BURUK IRI DAN DENGKI
§  AZAB ALLAH §  DZIKIR KEPADA ALLAH
§  AMPUNAN ALLAH §  HAL YANG DIBENCI DAN DIMURKAI ALLAH
§  AMAL MANUSIA §  HAL YANG DISAYANGI, DICINTAI DAN DISUKAI ALLAH
BACA  Mukjizat Luar Biasa Muhammad Saat Usia Anak dan Remaja

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *