ISLAM ISLAMI

Tata bahasa Bahasa Arab dan Sejarahnya

Tata bahasa Arab (نحو عربي, naḥw ʻarabiyy atau قواعد اللغة العربية qawāʻidu al-lughati al-ʻarabiyyah) atau dikenal juga dengan istilah nahwu adalah tata bahasa Arab Klasik dan Piawai Modern. Bahasa Arab merupakan bahasa Semitik dan tata bahasanya banyak kesamaan dengan tata bahasa bahasa Semitik lain. Pada dasarnya, penyusunan mendalam bahasa Arab sampai ke sisi pembagian ilmunya, ialah kepastian, dan keharusan, untuk orang yang ingin betul menguasai menulis, pidato, dan belajar sejarah sastera Arab.

Ilmu an-Nahwu (bahasa Arab: ﻋﻠﻢ اﻟﻦحو‎; bahasa Indonesia: nahu, sintaksis; bahasa Inggris: syntax) merupakan salah satu bagian dasar dari ilmu tata bahasa bahasa Arab untuk mengetahui jabatan kata dalam kalimat dan bentuk huruf/harakat terakhir dari suatu kata.

Menurut Bahasa Arab Pengertian Ilmu nahwu adalah:

  • Ilmu yang mempelajari tentang jabatan kata dalam kalimat dan harakat akhirnya, baik berubah (i’rab) atau tetap (bina). kaidah-kaidah yang dengannya diketahui hukum-hukum akhir-akhir kata bahasa arab dalam keadaan tersusun.
    Ilmu yang menunjukan kepada kita bagaimana cara untuk menggabungkan kata benda (ismun), kata kerja (fi’lun), atau partikel (huruf/harfun) untuk membentuk kalimat yang bermanfaat (jumlah mufidah) juga untuk mengetahui keadaan (i’rab) huruf akhir dari sebuah kata
  • Menurut KBBI. Ilmu nahu ilmu tt susunan dan bentuk kalimat; sintaksis;
    nahu /na·hu/ n Ling 1 tata bahasa (menyangkut tata kalimat dan tata bentuk); gramatika; 2 sintaksis; — bentuk nahu yg mengkaji bentuk kata dan kata jadiannya; ilmu tt tata bentuk kata; morfologi; — saraf gramatika

Subjek

  • Subjek pembahasan dari ilmu nahwu adalah huruf (harf), kata (kalimah) dan kalimat (jumlah).

Tujuan

  • Tujuan pelajaran Ilmu nahwu adalah sebagai penjagaan lisan dari kesalahan dalam pengucapan lafal bahasa arab dan untuk memahami alquran serta hadits Nabi S.A.W. dengan pemahaman yang benar, yang mana Al-Qur’an dan As-Sunnah inilah asal syariat Islam dan di atas kedua hal tersebut pembahasan seputar syariat islam terjadi.

Sejarah Tata Bahasa Arab

  • Sejarah permulaan terciptanya ilmu gramatikal bahasa Arab berasal dari kisah Abu Aswad Ad-Duali ketika ia datang ke kota Irak untuk menemui Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Abu Aswad melihat Sayyidina Ali sedang merenungkan sesuatu yang dipikirnya sangatlah penting, kemudian dengan memberanikan diri Abu Aswad menanyakan kepadanya “Wahai Amiirul Mu’minin, apakah yang sedang engkau pikirkan saat ini?”, lantas Sayyidina Ali menjawab: “Sesungguhnya aku mendengar di daerahmu terjadi kekeliruan dalam pengucapan bahasa Arab, oleh karenanya aku ingin membuat sebuah kitab yang bersifat pragmatis dan dapat dijadikan sebagai rujukan serta pondasi dalam melestarikan bahasa Arab.”
  • Siapakah tokoh yang pertama kali menyusun tata bahasa Arab masih diperdebatkan. Beberapa sumber menyatakan bahwa Abu al-Aswad ad-Du’ali adalah yang pertama kali memberikan tanda diakritik dan vokal pada penulisan bahasa Arab pada pertengahan 600-an, meskipun tidak ada karyanya yang tersisa saat ini. Ada pula yang menyatakan bahwa ahli tata bahasa yang pertama adalah Ibnu Abi Ishaq (wafat 735-6 M/117 H). Namun ahli hadits kontemporer Muhammad Mustafa al-A’zami mengutip Jalaluddin as-Suyuthi, yang menyatakan pendapat Ibnu Abbas bahwa abjad dan tata bahasa Arab dibuat oleh Nabi Isma’il.
  • Setelah mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Sayyidina Ali, Abu Aswad tidak menyangka perspektif beliau ternyata sama dengan apa yang menjadi ekspektasinya selama ini, lalu ia berkata “Wahai Amiirul Mu’minin, jika engkau melakukannya sungguh engkau telah menghidupkan hasrat yang menjadi keinginan kami selama ini.” Setelah berjalan beberapa hari, Sayyidina Ali menyerahkan sebuah lembaran kepada Abu Aswad yang berisikan di dalamnya:“بسم الله الرحمن الرحيم، الكلام كله لسم وفعل وحرف، والاسم ما أنبأ عن المسمى، والفعل ما أنبأ عن حركة المسمى، والحرف ما أنبأ عن معنى ليس باسم ولا فعل. واعلم أن الأسماء ثلاثة ظاهر ومضمر وشيء ليس بظاهر ولا مضمر.” Seusai Abu Aswad membacanya, beliau diperintahkan untuk meneruskan dan mengembangkan ilmu yang telah diajarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. Dari kisah ini, jumhur Ulama menyatakan bahwa penggagas utama yang sangat berdedikasi dalam pembentukan ilmu Nahwu ialah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Abu Aswad ia merupakan tokoh yang mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu Nahwu.
BACA  Dialek dalam Bahasa Arab

Siapakah Abu Aswad Ad-Duali?

  • Abu Aswad adalah seorang ulama sekaligus hakim di negeri Basrah, ia memiliki nama asli Dzalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal bin Ya’mar bin Halbas bin Nufasah bin Adi’ bin Ad-dail bin Bakr bin Abdu Manah bin Kinanah Al-kanani. Adapula yang berpendapat bahwa namanya ialah Amr bin Dzalim, atau Uwaimir bin Dzalim, atau Amr bin Imran, atau Usman bin Umar. Namun yang paling mashyur ialah Dzalim bin Amr.
  • Imam Jahif mengatakan bahwa Abu Aswad adalah seorang tokoh ulama masyrakat yang sangat terpadang karena keluasan ilmunya, dan ia selalu dikedepankan dalam segala hal. Ia merupakan seorang tabi’in yang sholeh, faqih, ahli sastra, hafidz, mulia, ahli dalam ilmu firasah, pemimpin yang adil, serta orang yang paling paham akan ilmu Nahwu. Dan ia terkenal juga sebagai orang pertama yang memberikan harakat pada Al-Qur’an.
  • Abu Aswad Ad-Duali telah masuk ke dalam agama Islam semenjak zaman Rasulullah masih hidup, akan tetapi beliau belum pernah bertemu dengan Rasulullah sama sekali. Denga demikian itu, ia dikategorikan sebagai Tabi’in, karena sebagaimana yang di jelaskan oleh Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba’atiyah dalam kitabnya Mujazul Kalam Syarah Aqidatul Awwam bahwa syarat untuk menjadi seorang Sahabat ialah harus bertemu dan berkumpul dengan Rasulullah SAW secara langsung di dunia, beriman kepadanya setelah diutusnya menjadi seorang nabi dan rasul, walaupun ia belum pernah meriwayatkan sesuatu, atau belum tamyiz dan wafat dalam keadaan muslim.
  • Abu Aswad bertempat tinggal di negeri Bashrah semenjak kekhalifahan Sayyidina Umar bin Al-Khattab r.a dan menjadi seorang penguasa pada zaman Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yaitu ketika negeri Bashrah dipimpin oleh Abdullah bin Abbas yang pada saat itu Ibnu Abbas diharuskan pergi ke negeri Hijaz untuk suatu keperluan. Oleh karenanya kepemimpinan negeri Bashrah diserahkan kepada Abu Aswad Ad-Duali, dan masa pemerintahannya berlanjut hingga wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. Selain itu, Abu Aswad juga merupakan pengikut setia dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahkan ia pernah ikut berpartisipasi dalam perang Jamal atau Shiffin.
BACA  Tata Bahasa Arab atau Ilmu Nahwu

 

  • Risalah tentang tata bahasa Arab pertama bermula pada zaman kepemimpinan Umar bin Khattab. Ibnu Abi Mulaikah meriwayatkan bahwa pada masa itu, ada seorang badui belajar membaca Qur’an dengan seorang bimbingan guru, tetapi guru itu berbuat salah. Berita ini sampai kepada Umar, yang menunjuk orang yang mapan bahasa Arabnya untuk mengajari si badui, dan menyuruh Abu al-Aswad ad-Du’ali untuk mengarang satu risalah kecil tentang nahwu. Buku itu diceritakan terdiri atas 4 folio, didapati di perpustakaan Abu Ba’ra, dikutip oleh Yahya bin Ya’mar, dan ditandatangani ‘Allan an-Nahwi, dan Nadhr bin Syumail, ahli nahwu lain.
  • Riwayat lain sebagaimana penuturan As-Suyuthi dalam “Tarikh Khulafa'” mengutip Abu Al-Qasim Az-Zujaji dalam kitab “Amali” menyebut bahwa buku risalah itu mula-mula dibuat pada zaman Ali bin Abi Thalib di mana ia mendapati sebagian penduduknya mengalami kesalahan dalam mengucapkan bahasa Arab. Sehingga Abu al-Aswad ad-Du’ali dipanggil Ali untuk mengarang risalah tatabahasa tersebut. Dalam waktu 3 hari, risalah itu dibuat. Terdiri atas isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan hurf (huruf, bukan termasuk keduanya, dan bisa berbentuk kata bantu, dan kata gabung). Di situ, diterangkan pula tentang kaidah bahasa Arab.
  • Seiring dengan semakin pesatnya penyebaran Islam, aturan tata bahasa Arab dikembangkan lebih lanjut pada akhir abad ke-8 oleh para ahli bahasa dari Aliran Basrah dan Aliran Kufah. Abu ‘Amru bin al-‘Ala umumnya dianggap sebagai pendiri Aliran Basrah; sedangkan dua tokoh terkenalnya adalah Al-Farahidi yang mengarang kamus bahasa Arab pertama dan kitab kajian persajakan Arab (prosodi), serta muridnya Sibawaih yang mengarang kitab pertama tentang teori tata bahasa Arab. Abu Ja’far ar-Ru’asi umumnya dianggap sebagai pendiri Aliran Kufah, meski karya-karyanya tidak lagi dapat ditemukan, dan aliran tersebut dikembangkan terutama oleh para penerusnya. Upaya-upaya Al-Farahidi dan Sibawaih mengukuhkan reputasi Basrah dalam tata bahasa analitik, sedangkan Kufah dianggap sebagai pelestari puisi dan budaya Arab. Perbedaan keduanya dalam beberapa kasus menyebabkan polarisasi, misalnya Muhammad bin Isa at-Tirmidzi yang cenderung kepada Aliran Kufah karena penekanannya pada puisi sebagai sumber rujukan utama.

Pembagian

Menurut ahli bahasa Syekh Musthafa al-Ghulayaini, tata bahasa Arab klasik terbagi menjadi 13 cabang ilmu, yaitu:

  1. ilmu sharaf (pembentukan kata)
  2. ilmu i’rab (perubahan akhir kalimat)
  3. ilmu rasam (tulisan)
  4. ilmu ma’ani
  5. ilmu bayan
  6. ilmu badi’
  7. ilmu ‘arudh
  8. ilmu qawafi
  9. ilmu menyusun syair
  10. ilmu insya’ (karang-mengarang)
  11. ilmu khithabah (retorika)
  12. ilmu sejarah kesusasteraan
  13. ilmu matan bahasa

Tata bahasa dari beragam bentuk bahasa Arab kontemporer digolongkan secara berbeda. Ahli tata bahasa Arab Said M. Badawi membagi tata bahasa kontemporer menjadi lima golongan kefasihan (dua bentuk “klasik”, tiga bentuk “tak resmi/percakapan”); yang berdasarkan pada kemampuan melek aksara penutur, serta sejauh mana penyimpangan pengucapannya dari tata bahasa Arab klasik. Penggolongan tersebut yaitu:

  1. Bahasa Arab Lisan Tuna Aksara (عامية الأميين ‘āmmīyat al-ummīyīn)
  2. Bahasa Arab Lisan Semi-Terdidik (عامية المتنورين ‘āmmīyat al-mutanawwirīn)
  3. Bahasa Arab Lisan Terdidik (عامية المثقفين ‘āmmīyat al-muthaqqafīn)
  4. Bahasa Arab Piawai Modern (فصحى العصر fuṣḥá al-‘aṣr)
  5. Bahasa Arab Klasik (فصحى التراث fuṣḥá at-turāth).
BACA  Hadits Nabi: Salat Sunah Rawatib, Ghairu dan Ghairu Muakkad

Kata kerja

  • Pembentukan kata kerja bahasa Arab (فعل, fi’il) terbagi dalam dua kelompok; yaitu yang terbentuk dari akar kata trikonsonan (فعل الثلاثي, fi’il ats-tsulatsi), serta yang terbentuk dari akar kata caturkonsonan (فعل الرُّبَاعِيُّ, fi’il ar-ruba’i), yang memiliki makna dasar semantik tertentu. Sebagai contoh, konsonan كـتـب kataba bermakna dasar “tulis”, قـرـء (atau قرأ) qara’a bermakna dasar “baca”, serta ءـكـل (atau أكل) ‘akala bermakna dasar “makan”.
  • Perkataan dibentuk dengan menambahkan akar kata tersebut dengan struktur vokal dan imbuhan. Secara tradisional, ahli tata bahasa Arab menggunakan akar kata فـعـل fa’ala (“buat”) sebagai pola dasar (wazan) untuk membahas tentang beragam contoh dalam pembentukan kata.

Sintaksis Arab

  • Ilmu yang menunjukan kepada kita bagaimana cara untuk menggabungkan kata benda (isim), kata kerja (fi’il), atau partikel (huruf/harf) untuk membentuk kalimat sempurna (jumlah mufidah) juga untuk mengetahui keadaan (irab) huruf akhir dari sebuah kata.
  • Ilmu an-Nahwu merupakan salah satu bagian dasar dari ilmu tata bahasa bahasa Arab untuk mengetahui jabatan kata dalam kalimat dan bentuk huruf/harakat terakhir dari suatu kata.

Morfologi Arab

  • Di dalam bahasa Arab, kata-kata dibahas berdasar 2 keadaan: bersendirian, atau tergabung dengan kata lain. Mengenai hal ini, ada 2 ilmu yang membahasnya: sharaf dan i’rab. Sharaf ialah ilmu yang membahas kedudukan perubahan bentuk kata. Sedang i’rab ialah ilmu yang membahas perubahan bentuk harakat akhir suatu kata, bisa nashab (harakat fathah), bisa rafa’ (dhammah), jarr (kasrah), dan juga majdzum (sukun).
  • Ilmu Saraf (Ilmu Linguistik) (variasi ejaan: sharaf, shorof) adalah salah satu cabang dalam Ilmu tata bahasa Arab yang membahas permasalahan bentuk suatu kalimah atau kata, baik tentang perubahan bentuk, penambahan huruf, susunan huruf yang membentuk kata. Ilmu Sharaf tidak membahas ikrab atau baris di ujung kalimah atau kata. Ilmu Sharaf membahas secara khusus tentang huruf-huruf ‘Ilah, Idgam, Ibdal dan Susanan huruf yang membentuk suatu kata.
  • I’rab (إﻋﺮﺍﺏ) adalah aspek tata bahasa Arab yang mengatur perubahan bunyi kata (biasanya bunyi vokal terakhir), akibat perubahan kasus atau fungsi kata tersebut dalam kalimat. I’rab berlaku dalam dua kategori kata yaitu ‘ism (kata benda) maupun fi’l (kata kerja).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *