ISLAM ISLAMI

Kisah Nabi Muhammad Berkunjung Ke Gaza

Pada tahun-tahun sebelum kenabiannya, Muhammad diyakini pernah mengunjungi Gaza lebih dari sekali. Pada awal usia 20 tahun, Muhammad tiba di Gaza saat musim panas sembari membawa barang dagangan

Gaza menjadi kota terakhir di Pantai Levantine yang tunduk kepada Kristen. Sekitar 63 tahun setelah Kaisar Romawi Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara, Uskup Porphyrius tiba di Gaza dan melihat kenyataan bahwa pedagang di kota itu masih menganut Helenistik di sebuah kuil kubah yang terkenal. Pada akhir pecahnya kekuasaan Romawi, Gaza mulai dikuasai pedagang Arab dari Makkah.

Pada tahun-tahun sebelum kenabiannya, Muhammad diyakini pernah mengunjungi Gaza lebih dari sekali. Pada awal usia 20 tahun, Muhammad tiba di Gaza saat musim panas sembari membawa barang dagangan. Lalu, 30 tahun kemudian, ketika Bizantium mulai menyerang pinggiran jazirah Arab, Nabi mengetahui bahwa Gaza memegang kunci untuk menguasai Palestina dan Mesir.

Sejarah Gaza

Gaza yang juga disebut sebagai Kota Gaza, adalah sebuah kota Palestina di Jalur Gaza, dengan populasi 515,556, menjadikannya kota terbesar di Negara Palestina. Ditinggali sejak sekitar abad ke-15 SM, Gaza didominasi oleh beberapa suku bangsa dan kekaisaran yang berbeda sepanjang sejarahnya. Filistin menjadikannya bagian dari pentapolis mereka setelah bangsa Mesir Kuno menguasainya selama sekitar 350 tahun.

Di bawah kekuasaan Romawi dan kemudian Bizantium, Gaza mengalami perdamaian dan pelabuhannya berkembang. Pada 635 Masehi, kota tersebut menjadi kota pertama di Palestina yang ditaklukan oleh tentara Rashidun dan dengan cepat menjadi pusat hukum Islam. Namun, pada saat tentara Salib menginvasi kota tersebut pada akhir abad ke-11, kota tersebut runtuh. Gaza mengalami beberapa masa sulit—dari serangan Mongol sampai banjir dan belalang, membuatnya turun menjadi desa pada abad ke-16, saat dimasukkan ke dalam Kesultanan Utsmaniyah. Pada paruh pertama masa pemerintahan Utsmaniyah, dinasti Ridwan mengendalikan Gaza dan di bawah kepemimpinannya, kota tersebut mengalami masa komersial dan perdamaian yang besar. Munisipalitas Gaza didirikan pada 1893.

Gaza jatuh ke tangan pasukan Inggris pada Perang Dunia I, menjadikannya sebuah bagian dari Mandat Palestina. Akibat Perang Arab–Israel 1948, Mesir memerintah teritorial Jalur Gaza yang baru dibentuk dan beberapa penanganan dilakukan di kota tersebut. Gaza ditaklukan oleh Israel saat Perang Enam Hari pada 1967, tetapi pada 1993, kota tersebut diserahkan kepada Otoritas Nasional Palestina. Pada bulan-bulan setelah pemilihan 2006, sebuah konflik bersenjata pecah antara faksi politik Palestina Fatah dan Hamas, yang mengakibatkan Hamas mengambil kekuasaan atas Gaza. Mesir dan Israel kemudian melakukan blokade di Jalur Gaza.

BACA  Hadits Nabi Muhammad SAW Pilihan: Doa Yang Tidak Ditolak

Aktivitas ekonomi utama Gaza adalah pertanian dan industri berskala kecil. Namun, blokade dan konflik terkini membaut konominya berada di bawah tekanan. Mayortias penduduk Gaza adalah Muslim, meskipun terdapat juga minoritas Kristen. Gaza memiliki populasi penduduk yang sangat muda dengan sekitar 75% berada di bawah usia 25 tahun. Kota tersebut sekarang diurus oleh dewan munisipal beranggotakan 14 orang.

Gaza menjadi kota terakhir di Pantai Levantine yang tunduk kepada Kristen. Sekitar 63 tahun setelah Kaisar Romawi Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara, Uskup Porphyrius tiba di Gaza dan melihat kenyataan bahwa pedagang di kota itu masih menganut Helenistik di sebuah kuil kubah yang terkenal. Pada akhir pecahnya kekuasaan Romawi, Gaza mulai dikuasai pedagang Arab dari Makkah.

Gaza pun dikuasai pasukan yang dipimpin Amr ibn al-Ash pada 634 M saat kekhalifahan dipegang Umar bin Khattab. Islam secara bertahap menambahkan dimensi baru pada perdagangan Gaza, yaitu menjadi jalur ibadah haji. Muslim dari Afrika Utara menemukan perjalanan yang aman di sepanjang Via Maris, rute dagang kuno antara Mesir dan Suriah. Jamaah haji dari utara Palestina menyukai rute pesisir melalui Gaza ke Jalan Raja di sepanjang Sungai Yordan. Para peziarah dan jamaah haji juga memilih Gaza sebagai tempat transit.

Para peziarah Kristen juga melewati dan menelusuri kembali jejak Bunda Maria, Yusuf, dan bayi Yesus sepanjang Via Maris di Gaza menuju Mesir. Sedangkan, jamaah haji melalui jalur yang sama untuk mengunjungi makam kakek buyut dari Nabi Muhammad SAW, Hasyim, yang meninggal di Gaza. Hingga hari ini, Gaza kadang-kadang disebut sebagai Ghazza Hashim.

Namun, kehidupan politik di Gaza tidak stabil, menjadi perebutan antara kekuatan di Mesir, Suriah, dan Arab Badui. Pada 985 M, penulis sejarah Arab al-Maqdisi melaporkan, Gaza adalah kota utama Distrik Filistin. Tetapi, perdagangan Mediterania merosot dengan mundurnya pengaruh Bizantium.

BACA  Sejarah Islam di Indonesia

Tentara Salib menguasai Gaza pada 1100 M, setahun setelah mereka berhasil menguasai Yerusalem. Masjid kota dihancurkan dan dibangun sebuah gereja baru di sekitar situs kuil kuno Marna. Ketika Salahuddin al-Ayyubi mencoba menguasai Gaza pada 1170 M, ia hanya memenangkan daerah kecil. Setelah kemenangan di Galilea dan Yerusalem 17 tahun kemudian, ia kembali ke Gaza. Tetapi, dalam perjanjian dengan Raja Inggris Richard pada 1191, Salahuddin melepaskan Gaza dengan syarat benteng dan temboknya dihancurkan.

Sebagian besar bangunan tua di Gaza yang tersisa saat ini adalah peninggalan Dinasti Mamluk di Mesir. Untuk melindungi perdagangan mereka, Mamluk membangun khan atau hostel kafilah berbenteng di seluruh Palestina. Abad ke-14 M, khan al-Zayt dibangun oleh Sanjar al-Jawali. Al-Jawali juga mengubah gereja yang besar menjadi Masjid Umar. Ia membangun rumah sakit, sekolah, dan arena pacuan kuda.

Ketika Ottoman mengambil Palestina dari Mamluk pada 1516 M, Gaza tetap menjadi wilayah prioritas. Pada 1660 M, seorang pelancong Prancis membandingkan Gaza dengan Paris dan mencatat bahwa bahasa Arab, Turki, dan Yunani diucapkan oleh para penduduk Gaza ketika itu.

Napoleon memasuki Gaza tanpa perlawanan pada 1799. Seperti Cambyses, Aleksander, dan Tentara Salib, ia mengambil Gaza sebagai batu loncatan menuju Mesir. Napoleon tinggal tiga hari di istana di Gaza yang disebut Kastil Napoleon. Pada Perang Dunia I, Angkatan Laut Inggris memanfaatkan bukit Gaza sebagai benteng pertahanan.

 

 

Материалы по теме:

Sejarah Tafsir Quran
Al-Qur’an adalah kitab suci dalam agama Islam, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi terakhir sepanjang kehidupan manusia yaitu Nabi Muhammad SAW. Quran tediri dari ...
Sejarah Al-Qur’an hingga berbentuk mushaf
 
BACA  Kisah Inspiratif Fatimah binti Muhammad, Puteri Kesayangan Nabi Muhammad SAW
Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak. Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari ...
Tuntunan Rasulullah mengangkat tangan ketika berdoa
Tuntunan Rasulullah mengangkat tangan ketika berdoa Imam al-Bukhari menulis satu Bab dalam Shahih al-Bukhari: باب رَفْعِ الأَ دِى الدُّعَاءِ Bab: Mengangkat Tangan Ketika Berdoa. Imam an-Nawawi berkata dalam ...
6 Tempat Bersejarah Direkomendasikan Dikunjungi Saat Haji dan Umroh
  Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelahsyahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu ...
Sejarah Penyebaran Masjid di Seluruh Dunia
  Menara-menara, serta kubah masjid yang besar, seakan menjadi saksi betapa jayanya Islam pada kurun abad pertengahan. Masjid telah melalui serangkaian tahun-tahun terpanjang di sejarah hingga sekarang. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *