ISLAM ISLAMI

Kontroversi Tokoh Islam Liberal di Indonesi dan Penolakannya

Jaringan Islam Liberal adalah forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia. Prinsip yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Kaum liberal modern saat ini selalu dipelopori intelektual muda yang cerdas dan pintar yang berilmu tinggi dari perguruan tinggi Barat. Kaum Islam liberal atau islam progresif ini pada umumnya selalu memicu pertentangan dengan tokoh Islam lainnya karena dalam berbeda pendapat sering menyindir, memperolok bahkan mengejek dengan nada paling benar sendiri. Para kaum liberal ini dalam melakukan opini selalu berorientasi pada rasio pola pikir kecerdasannya tanpa menggunakan landasan rasionalitas Al Quran dan hadist. Bahkan rasio pemikiran mereka cenderung didominasi dengan pemikiran bahwa ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis). Pemikiran progresif Islam Liberal seringkali dilandasi dengan ajaran sekularisme dan pluralisme. Sejarah Konsepsi dan Penyimpangan tiga agenda JIL yang disorot adalah pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah, isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global dan upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel. Tak pelak lagi hal yang dianggap sebagai penyimpangan ajaran itulah yang membuat MUI, Organisasi Islam di Dunia dan berbagai negara beramai ramai menolak Islam Liberal karena dianggap dapat meracuni akidah umat muslim di lingkungannya.

Penolakan gerakan liberal memiliki pandangan yang melenceng dari Islam dan ajaran syariah. Dalam kepercayaan Islam Liberal tersebut, ada konsep pluralisme, percaya bahwa isi pikiran manusia adalah ilham, dan meragukan keaslian Alqur’an, mempertanyakan interpretasi Alqur’an dan hadist. Ajaran liberal tersebut mendorong munculnya interpretasi baru dalam konsep beragama, mempertanyakan ajaran Nabi dan Rasul, hingga menimbulkan metode berbeda mengenai fiqih.

Kontroversi dan Konflik  Tokoh Islam Liberal

Tokoh muda Islam Liberal ini pada umumnya adalah para intelektualislam muda yang berguru S2 dan S3 di Dunia Barat. Pada umumnya karateristik mereka selalu memperolok ajaran, pendapat dan perilaku tokoh islam lainnya sehingga hal inilah yang menambah kontroversi semakin membumbung. Adapun di antara tokoh mudah liberal yang kontroversial dan memicu pertentangan di kalangan umat Islam adalah:

  1. Ulil Abshar Abdalla, Ulil Abshar Abdalla seorang tokoh Islam Liberal di Indonesia, menolak penafsiran agama yang tidak pluralis atau bertentangan dengan demokrasi yang menurutnya berpotensi merusak pemikiran Islam. Ia mengkritik MUI telah memonopoli penafsiran Islam di Indonesia, terutama karena fatwa yang menyatakan bahwa Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme adalah ideologi sesat. Hal kontroversial yang pernah diungkapkan adalah “Ulil Abshar juga pernah menyebutkan kalau mukjizat Nabi Musa membelah laut sebagaimana yang disebut dalam Al-Quran adalah dongeng, paham seperti itu yang ingin disebarkan disini?. Perilaku kontroversial Ulil yang terbaru adalah Melalui akun resminya, aktivis dan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla berkicau tentang pembenci kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dalam akun resminya tersebut Ulil berkicau, “Kalian yangg benci LGBT, setidaknya mesti ingat: komputer yangg kalian pakai adalah hasil temuan Alan Turing, seorang gay dari Inggris.” Namun, beberapa pemilik akun lainnya ada yang pro-kontra terhadap pernyataan Ulil itu. Beberapa orang membantah dengan berkicau melalui akun ekose85: “Penemu komputer PERTAMA KALI adalah Charles Babbage (lahir 26 Desember 1791 – meninggal 18 Oktober 1871).” Kemudian, ada yang berkicau tentang LGBT-nya. Salah satunya pemilik akun raynurhaq63: “Saya benci lgbt bukan karena takdirnya untuk menjadi lgbt, tetapi karena orientasi seksualnya yang ngajak orang normal, remaja dan anak-anak.”
  2. Sumanto al-Qurtubi Tokoh Islam liberal atau “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal” Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Sumanto adalah doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University Amerika Serikat. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi al-Quran”.Meskipun sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaanTokoh liberalisme Sumanto al-Qurtubi penulis buku penistaan terhadap agama “Lubang Hitam Agama” kini sudah resmi menjadi pengajar di negara wahabi. Buku “Lubang Hitam Agama” yang menyesatkan sendiri juga mendapatkan pengantar dari Ulil Abshar Abdalla. Sumanto al-Qurtubi melalui akun facebooknya menyatakan kebanggaannya menjadi staf pengajar di Saudi negeri wahabi tepatnya kampus King Fahd University of Petroleum and Minerals. Pria yang mengaku bercita -cita “MengIndonesiakan Arab” ini mengaku menolak mengajar di kampus barat dan memilih Saudi. Sementara itu, website JIL sendiri sudah berubah bentuk menjadi Islam Nusantara. Tokoh -tokohnya juga banyak yang mulai mengobok -obok NU langsung dari jantungnya. sehingga NUpun secara tidak kasat mata sudah ada kelompok NU garis lurus yang menolak ajaran kaum intelektual liberal ini
  3. Abdul Moqsith Ghazali yang ikut menyusun “Khosois Aswaja” dalam muktamar NU di Jombang ke 33. Kontroversi paling hangat dengan Mantan Menkominfo Tifatul Sembiring. Akhmad Sahalpun mencibir Tifatul dengan mengatakan bahwa ulama yang alim justru tak gegabah memakai satu atau dua hadis untuk berhukum. Karena untuk bisa menggali hukum dari hadis, syarat keilmuannya berat.”Kalau mengutip hadis untuk hal-hal yang jelas dalam Islam, ibadah, kebaikan, oke aja. Tapi kalo soal hukum, apalagi hukuman mati, kita jangan sok tau,” ujarnya menjelaskan.Tifatulpun menjawab soal cibiran tentang homoseksual. Hadits itu ia unggah dalam sebuah renungan Jumat pekan lalu. . Tifaul menegaskan, hadits yang ia unggah adalah sahih atau benar. Ini adalah pandangan seluruh Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah. “Kultwit mas Akhmad Sahal, yang sedang kuliah di Amerika Serikat, bahkan mengutip 1 hadits itu pikiran sempit, mengaitkannya dengan ISIS?” Mantan Presiden PKS ini mengaku hanya mengutip satu hadits lalu ia sampaikan di Twitter. “Bukan menulis buku atau tesis tentang homoseks, bagaimana langsung Anda berkonklusi seperti itu?” tanyanya lewat kicauan di Twitter, Senin. Tifatul mempernyatanyakan premis, latar belakang, signifikansinya, hipotesis dan QQuestion-nya. “Analisisnya, Kok langsung ke kesimpulan mas?” tanyanya kembali. Ia juga mempertanyakan kritikan apa yang hendak disampaikan Sahal terhadap Abdullah bin Abbbas, Imam Ahmad dan empat perawi lainnya terkait hadits tersebut. Apakah sanadnya bersambung, perawinya adil, perawinya dhabith, maqbbul dan illath (tidak ada cacat). Ini cara mengkritisi sebuah hadits. Ia menilai Akhmad Sahal tidak mengkritisi hadits tersebut secara ‘ulumul mustalahul hadits’atau Metode yang digunakan para ulama hadits. “Maaf, mungkin mas Akhmad Sahal tidak mendalami ilmu hadits di sana, sebab belajar Ilmu Hadits, setahu saya bukan ke Amerika tempatnya,”

Penolakan Ajaran Liberalisme

  • Indonesia Tolak Islam Liberal. Perkembangan JIL di Indonesia bukan tanpa halangan. Karena pemikiran yang bersifat liberal, dibentuklah sebuah komunitas Indonesia yang bernama Indonesia Tanpa JIL atau disingkat ITJ. Demikian juga terdapay sekelompok kaum yang peduli NU juga membentuk kemunitas dengan nama NU garis lurus yang berusaha menolak adanya ajaran tokoh muda liberalisme ini. Misi utama komunitas ini adalah untuk melawan arus ideologi liberalisme dan sekularisme yang disebarkan oleh tokoh-tokoh JIL seperti Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, Sumanto dan lain-lain.
  • KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA. Fatwa MUI tentang Pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
  • NU Tolak Islam Liberal. NU tetap menolak pandangan maupun ajaran Jaringan Islam Liberal (JIL). Juru Bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan dengan tegas bahwa NU secara institusi tidak sepakat dengan ajaran JIL yang diajarkan oleh Penggerak JIL Ulil Abshar Abdalla. “Terdapat tiga poin ajaran Ulil yang tidak sesuai dengan konteks ideologi NU. Ketiga ajaran tersebut antara lain, 1. Pernyataan bahwa semua agama itu benar, 2. Desakralisasi Al Qur’an, 3. Deuniversalisasi Al Qur’an. Kami sangat bertolak belakang dengan ajaran JIL karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. NU tidak memiliki kaitan apapun dengan JIL. Ajaran yang dianut pun jauh berbeda. Sikap tegas NU terhadap JIL sudah terlihat nyata saat diadakannya Muktamar NU 2004 di Boyolali dan Munas NU 2006. NU menganggap ajaran JIL telah menyimpang dari Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Ajaran yang disampaikan para tokoh Islam Liberal merupakan wacana kosong belaka. Sebab saat ditanyai mengenai tiga poin ajarannya tersebut, para tokoh Islam Liberal tidak bisa menjelaskan dalil-dalil yang dipakainya dengan baik dan lengkap. Tokoh Islam Liberal hanya mengutip dalil itu sepotong-sepotong untuk mendukung pemikirannya saja. Ada dalil yang dikutip tidak lengkap. Terkait dengan adanya kabar yang mengatakan bahwa terdapat anggota NU yang juga anggota JIL, Abdullah mengatakan, secara ideologi jika ada anggota NU yang masuk JIL berarti dia sudah keluar dari NU.
  • Muhamadiyah Secara Tersirat Tolak Islam Liberal. Mantan pemimpin Muhamadiyah Din Syamsuddin dalam buku berjudul “Pemikiran Muhammadiyah: Respons Terhadap Liberalisasi Islam, (Surakarta: UMS, 2005), Din menyatakan, bahwa Muhammadiyah “tidak sejalan dengan paham ekstrem rasional dikembangkan Islam Liberal, meski beberapa oknum terutama di kalangan muda atau yang merasa muda ikut-ikut berkubang di jurang “liberalisme Islam”. Dalam buku ini menegaskan sikap Muhammadiyah yang ingin mengambil “posisi tengahan” yang secara teologis merujuk kepada al-Aqidah al-Wasithiyah. Secara tegas, mengkritik penjiplakan membabi buta terhadap paham rasionalisme dan liberalisme, termasuk di kalangan Muhammadiyah. Begitu juga ketika datang tawaran pemikiran rasionalisme dan liberalisme, tidak sedikit generasi muda Muhammadiyah, dan mereka yang masih merasa muda, terseret dalam arus liberalisme dan rasionalisme tersebut. Muncul di sementara generasi Muhammadiyah yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah produk budaya lokal (Arab), sehingga seluruh isinya adalah zhanni. Dakwah Islam, bukanlah mengajak manusia untuk ber-Islam, baik kepada yang sudah muslim apalagi yang belum muslim, dakwah tidak mengurusi keyakinan dan iman seseorang, tetapi hanya menata kehidupan yang harmonis diantara berbagai keyakinan dan mengatasi berbagai problem kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Itulah sebagian kritik yang pernah disampaikan oleh Din Syamsuddin terhadap ide-ide liberalisme yang berkembang di tubuh Muhammadiyah. Kaum Islam Liberal di tubuh Muhammadiyah menjerit, karena misi mereka gagal. Semula, mereka berharap, Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang akan menjadi momentum penting untuk semakin leluasa menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan penyebaran ide-ide liberal ke umat Islam Indonesia. Sukidi Mulyadi, aktivis Islam Liberal di Muhammadiyah yang juga mahasiswa Teologi di Harvard University, menulis di majalah TEMPO edisi 17 Juli 2005, bahwa “Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dari formatur 13 juga dapat dibaca sebagai kemenangan anti-liberalisme dalam muktamar.”
  • Dunia Tolak Islam Liberal Begitu juga di belahan dunia lainnya gerakan JIL kerap dilarang negara-negara islam. Pasalnya, mereka berpendapat jika ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks dengan menggunakan rasio dan selera. Karenanya pemikiran JIL dianggap tidak sejalan dengan akidah.
  • Malaysia Tolak keras Islam Liberal. Pemerintah Malaysia akan mengawasi pergerakan Muslim liberal. Dilansir dari The Star, Jumat (18/3), kewenangan Malaysia akan meningkatkan langkah untuk mengembalikan mereka ke ajaran tradisional Islam. Menteri dalam Departemen Perdana Menteri bagian hubungan Islam, Jamil Khir Baharom, menyatakan kelompok-kelompok liberal tersebut akan diawasi. Publikasi mereka di media massa juga akan disensor jika mereka mencoba menembus ranah publik. Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi menegaskan bahwa pemerintah Malaysia melarang tokoh Islam Liberal Indonesia Ulil Abshar Abdalla masuk ke Malaysia sebab dikhawatirkan akan menyesatkan aqidah Muslim Malaysia Ulil akan menyesatkan umat Islam di negara ini jika diperbolehkan untuk menyebarkan pemikiran liberalisme di sini. Bahkan penolakan Islam liberal tersebut juga dilakukan oleh para ulama Ulama Malaysia , UMNO dan kepolisian Malasia Larang Tokoh Liberal. Persatuan Ulama Malaysia, UMNO dan Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) menyatakan menolak kedatangan tokoh Jaringan Islam Liberal Indonesia, JIL, Ulil Abshar Abdalla untuk mengisi ceramah diskusi yang bertajuk “Tantangan Fundamentalisme Agama Abad ini” yang digelar oleh LSM Front Kebangkitan Islam (IRF) pada 18 Oktober di Kuala Lumpur. Presiden ISMA Abdullah Zaik Abd Rahman medesak umat Islam Malaysia untuk menolak paham asing yang diakuinya mempromosikan atheisme, kekufuran, dan sistem hidup anti agama. Presiden ISMA mengungkapkan bahwa tokoh liberal lslam mencoba mengambil keuntungan atas kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pengalaman hidup masyarakat Islam sebagai cara untuk mempertanyakan Islam, oleh karena itu ini harus ditentang tegas,” Ujar Zaik, seperti dilansir dalam situs ISMA. Anggota Dewan Tertinggi UMNO Datuk Puad Zarkasi menegaskan jika diskusi yang menampilkan Ulil Abshar tersebut tidak layak diselenggarakan karena akan mengganggu akidah.Senada dengan UMNO dan Isma, Persatuan Ulama Malaysia (PUM), juga menolak keras kehadiran ulil di Malaysia, Sekretaris Jenderal PUM Mohd Roslan Mohd Nor mengatakan kehadiran Ulil tidak layak dan terlihat menantang otoritas Islam di Malaysia. Dalam Pernyataannya, Mohd Roslan juga menyatakan kalau Ulil terlalu banyak mempertanyakan ketentuan agama yang bersifat hakiki dan merendahkan agama islam. Politisi Malaysia Zulkifli Noordin dalam maklumatnya bahkan menuntut agar Ulil diusir dengan tidak hormat jika datang ke Malaysia untuk berceramah. “Saya meminta agar pihak berkuasa mengeluarkan perintah “persona non-grata” terhadap Dr. Ulil Abshar Abdalla dan melarang beliau daripada memasuki negara ini bagi tujuan itu,” kata Zulkifli.
  • Arab Saudi penjarakan Tokoh Jaringan Liberal Saudi. Sebuah pengadilan Arab Saudi baru saja menjatuhkan hukuman penjara selama 10 tahun dan 1.000 cambukan atas pendiri Jaringan Liberal Saudi, Raef Badawi karena dinilai menghina Islam dan melecehkan ulama. Raef Badawi juga didenda lebih US$250.000 atau Rp2,8 miliar.Menurut dokumen pengadilan, pria itu dinyatakan bersalah menghina ulama, mengkritik polisi syariah dan dianggap dapat mendatangkan dampak buruk bagi umat Islam. Pengacara Raef mengatakan hukuman ini terlalu keras meskipun pihak jaksa meminta hukuman yang lebih keras lagi, lapor laman Sabq. Amnesty International menggambarkan keputusan pengadilan tersebut sebagai “berlebihan” dan mendesak penguasa untuk membatalkannya. Tetapi akhirnya bulan Juli 2013 Badawi dihukum tujuh tahun penjara dan 600 cambukan.
BACA  Berbagai Penolakan Terhadap Islam Liberal

MUI dan Sebagian Besar Ulama Indonesia Tolak dan haramkan Liberalisme Agama islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengharamkan liberalisme sebagaimana dalam “Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama” yang ditandatangani langsung oleh ketua bidang Fatwa MUI Prof Dr Maruf Amin yang sekarang menjabat wakil presiden.  Sebagian besar ulama dari ormas besar Islam baik dari Muhammadiyah, NU, Persis, FPI juga sepakat bahwa paham liberalisme agama akan menggerus aqidah generasi muda Islam. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Fatwa MUI No 7 tahun 2005 telah mengharamkan Liberalisme yang ditanda tangani oleh Ktua bidang Fatwa Maruf Amin yang saat ini menjabat Wakil Presiden Indonesia. Hal tersebut untuk menyikapi berbagai persoalan saat ini seperti munculnya disertasi seks di luar nikah, film The Santri, RUU P-KS, RUU KUHP dan lainnya.

Fatwa tersebut telah mengharamkan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari ajaran agama khususnya Liberalisme. Seperti liberalisme, pemahamanan yang memuja kebebasan sehingga tidak jarang menabrak aturan agama. Coba bayangkan, zina sudah sedemikian bebas, itu akan menyebabkan hancur anak-anak ke depan, tidak jelas siapa orang tuanya. Apa kita ingin negara kita hancur karena undang-undang yang diproduksi dari satu aspek saja. Dosa besar jika menyetujui undang-undang yang bertentangan agama. Bagaimana orang boleh hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, asal suka sama suka, itukan seperti binantang,,

Latar belakang fatwa tersebut diungkapkan karena MUI menilai bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat. MUI juga mencermati bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. dengan latar belakang itu maka MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

BACA  Zaman Membingungkan, Bila Bingung IkutiUlama Warosatul Anbiya

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, mengatakan bahwa liberalisasi budaya dan pemikiran yang dihadapi bangsa Indonesia telah mengancam kehidupan sosial bangsa Indonesia. Kasus kekerasan seksual pada anak dan perempuan serta meningkatnya penganut LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) menjadi bukti jelas bagaimana liberalisme telah merusak moral bangsa. Lebih memprihatinkan lagi anak-anak dan remaja menjadi korban yang paling rentan. Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam pidatonya di depan ribuan kader ‘Aisyiyah pada pembukaan Sidang Tanwir ke II ‘Aisyiyah di Gedung Bathari, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat 6 Juni, demikian laporan muhammadiyah.or.id.

Ketua umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini dalam pidato sebelumnya mengungkapkan langkah ‘Aisyiyah yang telah mendesak pemerintahn untuk dapat melakukan langkah strategis demi menyelamatkan generasi bangsa dari kejahatan seksual yang semakin merajalela. Pemikiran liberal memberikan kebebasan tak terbatas bagi manusia terutama dalam makanan, minuman, pakaian, dan pola interaksi mereka. Seringkali pemahaman liberal ini menentang ajaran agama (Islam), sehingga akibatnya berimbas pada anak-anak dan remaja. Maraknya kasus kekerasan seksual pada anak-anak dan remaja serta meningkatnya penganut LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) merupakan bukti nyata dampak paham liberalisme

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, NU tetap menentang kelompok liberal dan ekstrimis. Keduanya bertentangan dengan semangat moderasi NU. NU menganut faham tawassut, bukan liberal. Menurut NU definisi Islam liberal itu kalau meninggalkan Qur’an dan hadist. Demikian juga mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi mengimbau umat Islam untuk meninggalkan paham liberalisme. Paham liberal dianggap paham yang tidak sejalan dengan semangat Islam.”Saya mengimbau umat Islam untuk meninggalkan liberalisme,” ujar Hasyim Muzadi kepada wartawan di sela-sela acara Silaturrahmi Tokoh Nasional Lintas Agama, di Gedung ICIS Kebayoran, Jakarta Selatan, (14/10).

Mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi menilai paham liberal merupakan paham yang tanggung, dan bahkan ia menyebut sebagai setengah kafir. “Kalau di negara muslim dianggap setengah kafir. Kalau dinegara Eropa dianggap kurang sempurna kafirnya,” katanya.

Imam Besar Umat Islam Dr Habib Rizieq Shihab menyebutkan bahwa Islam Liberal adalah ” Penjiplak pemikiran”, karena gagasannya hanya meniru gagasan orientalis sebelumnya yang memulai reformasi , terutama dalam memahami dan menilai Islam. Menurut Habib Rizieq, Gerakan Islam Liberal Indonesia dengan semangat mengoceh dengan penerapan Hermeneutika dalam kajian Alquran.

sumber: wikipedia dan berbagai sumber lainnya

BACA  Ketika Raja Salman Membuat Heboh Perancis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *