ISLAM ISLAMI

Ulama Ramai Ramai Menolak dan Mengharamkan Liberalisme, Karena Rusak Aqidah Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengharamkan liberalisme sebagaimana dalam “Fatwa MUI Tentang Haramnya Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama” yang ditandatangani langsung oleh ketua bidang Fatwa MUI Prof Dr Maruf Amin yang sekarang menjabat wakil presiden.  Sebagian besar ulama dari ormas besar Islam baik dari Muhammadiyah, NU, Persis, FPI juga sepakat bahwa paham liberalisme agama akan menggerus aqidah generasi muda Islam. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Fatwa MUI No 7 tahun 2005 telah mengharamkan Liberalisme yang ditanda tangani oleh Ktua bidang Fatwa Maruf Amin yang saat ini menjabat Wakil Presiden Indonesia. Hal tersebut untuk menyikapi berbagai persoalan saat ini seperti munculnya disertasi seks di luar nikah, film The Santri, RUU P-KS, RUU KUHP dan lainnya.

Fatwa tersebut telah mengharamkan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari ajaran agama khususnya Liberalisme. Seperti liberalisme, pemahamanan yang memuja kebebasan sehingga tidak jarang menabrak aturan agama. Coba bayangkan, zina sudah sedemikian bebas, itu akan menyebabkan hancur anak-anak ke depan, tidak jelas siapa orang tuanya. Apa kita ingin negara kita hancur karena undang-undang yang diproduksi dari satu aspek saja. Dosa besar jika menyetujui undang-undang yang bertentangan agama. Bagaimana orang boleh hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, asal suka sama suka, itukan seperti binantang,,

Latar belakang fatwa tersebut diungkapkan karena MUI menilai bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat. MUI juga mencermati bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. dengan latar belakang itu maka MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

Para Pengusung Liberalisme dan Pluralisme ini juga sangat menentang penerapan Syari’at Islam, karena akan mendeskriditkan penganut agama lain, akan menzalimi kaum wanita, banyak syari’at Islam yang dinilainya bertentangan dengan HAM, Demokrasi, Gender Equality  (Kesetaraan Gender) dan Pluralisme. . Ulil Absar Abdalla pengerek bendera JIL pernah mengatakan :  “ Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami “ dan “ mereka “ , antara Hizbullah ( golongan Allah ) dan Hizbus Syaithan ( golongan syetan) adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia.”  Dia juga mengatakan bahwa amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan ‘baju’ yang dipakai, sementara mereka lupa  inti ‘memakai baju’  adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yanga Maha Benar. Dengan pemikiran ini berarti dia ingin menganulir firman Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan, Hizbullah dan Hizbus syaithan seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an : “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.  QS. Al-Maidah : 56. Firman Allah lainnya “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”.  QS. Al-Mujadilah : 19

Bagi kaum pluralis  dan liberalis , semua manusia sama, tidak ada mukmin tidak ada kafir, tidak ada manusia tha’at dan tidak ada manusia bejat, mereka telah mengangkat kesesatan dan kekufuran  dan kemusyrikan sejajar dengan hidayah, tauhid dan ketakwaan. Dan pada akhirnya sikap antipati terhadap segala mecam kesesatan dan kemunkaran akan sirna. Menurut slogan kaum pluralis : “ Agama-agama seperti Yahudi, Nashrani dan Islam , ibaratnya seperti keberadaan empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semuanya pada hakikatnya menuju kepada Allah. Dampaknya lainnya dari pemahaman seperti ini, ketika semua agama dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang “ sendiko dawuh “ dengan paham pluralisme ini tidak akan memiliki ghirah atau kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada keistimewaan pada Islam jika dibanding dengan Kristen misalnya. Karena semua agama sama, dengan tuhan yang sama hanya beda cara memanggil atau menyebut dengan baju dan cara yang beda. Pada saat yang bersamaan , secara finansial para missionaris Kristen yang banyak melakukan pendekatan dakwah dengan finansial, secara logika manusia normal, ketika seseorang harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar, tentunya variable lain yang akan dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Mereka akan dengan ringan melepas ‘baju ‘ Islam untuk mendapatkan duit atau materi dengan memakai ‘ baju ‘ Kristen. Dan ini akan merupakan kontribusi atau sumbangan sangat berharga kaum pluralis dan Liberalis bagi suksesnya missi kristenisasi.

Liberalisme Menurut Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah

Pada periode sahabat daerah yang dikuasai Islam bertambah luas, sedangkan masalah-masalah baru yang dihadapi umat muncul semakin menjamur, maka timbullah penafsiran penafsiran atau penjelasanpenjelasan tentang ajaran Islam Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah yang juga berasal dari ajaran-ajaran dasar tersebut. Hasil ijtihad para sahabat ini walaupun tidak ma’sum seperti Nabi Muhammad SAW, namun banyak membawa pengaruh pada zaman sekarang. Pada masa ulama-ulama besar, daerah Islam Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah  semakin luas yang mencakup berbagai bangsa, kebudayaan, dan adat istiadat.

BACA  Keutamaan Sedekah, Menurut Quran dan Hadits

Sejalan dengan berkembang pesatnya daerah Islam Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah tersebut, maka masalah yang dihadapi tentu semakin kompleks pula. Padahal, para ulama tidak hidup disuatu daerah, melainkan berpencar di daerah-daerah yang berbeda. Konsekwensi logisnya, muncullah penafsiran yang banyak tentang ajaran Islam, baik berbeda satu sama lain, bahkan ada yang berseberangan. Pada periode ini pula penafsiran-penafsiran dari ajaran Islam tersebut mengambil bentuk mazhab-mazhab dan aliran-aliran.

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa ijtihad para ulama tentang  ajaran dasar dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Qur’an terjadi sepanjang masa. Hasil ijtihad akan semakin banyak jumlahnya, bahkan jauh lebih banyak dari ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Perlu dipahami, karena ijtihad ini hasil pemikiran manusia, maka ia bersifat relatif dan termasuk sebuah kebudayaan. Pemikiran yang dilahirkan Islam Liberal memang termasuk sebuah ijtihad, tetapi prosedur penafsiran yang mereka lalui telah melenceng dari prinsip-prinsip ajaran Islam. Maka dari itu, perlu filterisasi atau tindakan preventif terhadap golongan ini supaya tidak terlalu menjalar di tubuh umat Islam. Kalau dibiarkan mengakibatkan ancaman yang sangat serius terhadap pemikiran umat Islam.

Dalam Islam sudah ada metode penafsiran yang baku, seperti Tahlili, Muqaran, dan Maudhu’i. Khusus metode yang terakhir ini dinilai oleh kalangan mufassir dapat menjawab persoalan-persoalan masyarakat. Harus diakui bahwa penafsiran tentu saja tidak sakral dan berpeluang untuk dibetulkan. Hal ini terkait dengan konteks zaman, apalagi yang ditafsirkan tersebut ada hubungannya dengan sains. Akan tetapi dalam menafsirkan itu, sekali lagi, ada rambu-rambunya, yakni selama tidak melanggar yang prinsip atau muhkamat.

Demikian juga islam Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah , tidak mengenal pluralisme agama. Betul agama itu banyak, namun masing-masing agama memiliki periodenya sesuai dengan masa agama itu diturunkan. Agama yang benar ialah agama Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW., dan periodenya sampai akhir zaman. Memang semua agama bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun dalam Islam menekankan bahwa jalan yang ditempuh juga harus benar. Beda antara kerukunan agama dengan Pluralisme. Kerukunan agama membuat jembatan keharmonisan antaragama, namun masing-masing agama terdapat perbedaan. Islam sesuai dengan yang disebutkan Al-Qur’an adalah satu-satunya agama yang benar dan agama yang lain (sekalipun Yahuni dan Nashara serumpun dengan Islam), namun sudah dirubah oleh penganutnya.

Ajaran islam Ahl Al-Sunnah Wa AlJama’ah tidak mengenal sekularisme atau pemisahan antara agama dan dunia. Ini adalah pengaruh Barat, yang agama mereka yang dogmatis tidak mampu menghadapi perkembangan iptek. Sejarah menuturkan, agama Barat dengan hebat menggempur iptek. Penggempuran ini dilanjutkan dengan kekejaman agamawan (baca: gerejawan) yang menganut geosentris kepada ilmuan yang menganut heleosentris.

Kejadian ini dikenal dengan sebutan inquisisi (dogmatisme melawan rasionalisme yang diwarisi dari Islam). Contoh terbaik dalam hal ini dapat dilihat pada praktek pemimpin Benedictine yang diangkat kelayar perak via film The Name of the Rose. Islam sebagai agama yang sempurna, telah mempunyai agenda mewujudkan kehidupan yang seimbang dunia dan akhirat, rohani dan jasmani. Karena itu, sekularisme tidak akan mendapat tempat dalam Islam dan umat Islam akan menjunjung tinggi ajaran Islam yang mulia.

Langkah yang harus dilakukan sesegera mungkin adalah dengan memantapkan akidah Islam dan tidak fanatisme (tekstualis) dalam memahami ajaran Islam serta mengadopsi hal-hal yang positif dari pemikiran Barat. Artinya, sebagai Islam , berada diposisi antara Islam Fundamentalis dengan Islam Liberal. Kalau Islam Fundamentalis yang berpaham kemutlakan terhadap Islam jelas bertentangan dengan sifat kedinamisan manusia dan berilmu pengetahuan (QS. Al-Baqarah: 31). Menurut Muhammad Iqbal, jika manusia bersifat dinamis, maka agama yang berfungsi mengatur hidup manusia tentu harus sesuai pula dengan kedinamisan manusia (M. Iqbal, 1983: 179).

Jika tidak demikian, tentu tidak ada kecocokan antara manusia dan agama, karenanya kemajuan agama akan terhambat. Maka tidak heran, agama seperti ini akan ditinggalkan manusia. Begitu juga halnya Islam Libral, yang terlalu ekstrem kiri, akan menggiring pemikiran manusia kearah kebebasan tanpa kendali dan ini akan membahayakan kehidupan manusia.

Akidah dalam Islam secara terminologi berarti sesuatu yang terbuhul kuat dalam hati. Ia adalah pendorong bagi manusia untuk mengembangkan diri menuju kesempurnaan (teoritis). Akidah yang paling utama dalam Islam ialah akidah tauhid yang terkandung dalam syahadat yang bermakna ’tidak ada yang ditaati selain Allah’ dan tidak ada yang tidak tunduk pada sunnatullah/takdir Allah. Akidah tauhid dalam Islam membawa kepada keyakinan bahwa hanya kehendak dan larangan Allah yang harus ditaati; bermohon langsung kepadanya tanpa perantara. Tauhid Islam menentang trinitas (QS. 5: 72-73).

Allah berfirman rahman dan rahim. Rahman Allah merata bagi seluruh makhluk, termasuk juga manusia yang jahat, seperti pemberian cahaya mentari, udara, air, dan lainnya. Sedangkan rahim Allah adalah manifestasi manusia ketika hidup di dunia ini. Adanya neraka bukanlah menghilangkan kasih sayang Allah, tetapi dikarenakan manusia itu sendiri yang enggan masuk surga

BACA  Kumpulan Doa Dalam Al Quran: Doa Diberi Pemimpin Agama

Muhammadiyah Tolak Liberalisme

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, mengatakan bahwa liberalisasi budaya dan pemikiran yang dihadapi bangsa Indonesia telah mengancam kehidupan sosial bangsa Indonesia. Kasus kekerasan seksual pada anak dan perempuan serta meningkatnya penganut LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) menjadi bukti jelas bagaimana liberalisme telah merusak moral bangsa. Lebih memprihatinkan lagi anak-anak dan remaja menjadi korban yang paling rentan. Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam pidatonya di depan ribuan kader ‘Aisyiyah pada pembukaan Sidang Tanwir ke II ‘Aisyiyah di Gedung Bathari, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat 6 Juni, demikian laporan muhammadiyah.or.id.

Menurut Din Syamsuddin, kejahatan pada anak dan perempuan jelas merupakan hasil dari liberalisasi budaya. Menurutnta hal ini tidak dapat dibiarkan, dan umat Islam perlu memberi perhatian besar pada hal ini. “Liberalisasi budaya hanya akan menyebabkan berkembangnya kebebasan budaya yang tentu saja jauh dari etika dan moral,” tegasnya. Selain liberalisasi budaya, menurut Din Syamsuddin, liberalisasi dalam bidang politik dan ekonomi juga telah mengacaukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini dalam pidato sebelumnya mengungkapkan langkah ‘Aisyiyah yang telah mendesak pemerintahn untuk dapat melakukan langkah strategis demi menyelamatkan generasi bangsa dari kejahatan seksual yang semakin merajalela. Pemikiran liberal memberikan kebebasan tak terbatas bagi manusia terutama dalam makanan, minuman, pakaian, dan pola interaksi mereka. Seringkali pemahaman liberal ini menentang ajaran agama (Islam), sehingga akibatnya berimbas pada anak-anak dan remaja. Maraknya kasus kekerasan seksual pada anak-anak dan remaja serta meningkatnya penganut LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) merupakan bukti nyata dampak paham liberalisme

Islam Liberal Ditolak Ketua PB Nahdatul Ulama

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, NU tetap menentang kelompok liberal dan ekstrimis. Keduanya bertentangan dengan semangat moderasi NU. NU menganut faham tawassut, bukan liberal. Menurut saya, definisi Islam liberal itu kalau meninggalkan Qur’an dan hadist. Kalau masih berpulang pada keduanya, Islam yang rasional. Golonan mu’tazilah. Kelompok liberal, menurutnya, bukan hanya ingin mempengaruhi kehidupan agama, tetapi juga aspek kehidupan lainnya, dalam ekonomi, social, politik dan lainnya.

Demikian juga mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi mengimbau umat Islam untuk meninggalkan paham liberalisme. Paham liberal dianggap paham yang tidak sejalan dengan semangat Islam.”Saya mengimbau umat Islam untuk meninggalkan liberalisme,” ujar Hasyim Muzadi kepada wartawan di sela-sela acara Silaturrahmi Tokoh Nasional Lintas Agama, di Gedung ICIS Kebayoran, Jakarta Selatan, (14/10).

Mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi menilai paham liberal merupakan paham yang tanggung, dan bahkan ia menyebut sebagai setengah kafir. “Kalau di negara muslim dianggap setengah kafir. Kalau dinegara Eropa dianggap kurang sempurna kafirnya,” katanya.

Ia menganggap pencekalan pemerintah Malaysia terhadap aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla sebagai sebuah sikap yang wajar yang diambil sebuah negara. “Karena dia (Ulil) sejarahnya aneh-aneh, ya nggak salah yang nyekal,” ucapnya.
Hasyim menimbau agar Ulil untuk tidak melakukan tindakan yang di luar kewajaran umat beragama. “Agama ya begitu itu, mau dibikin aneh-aneh gimana lagi. Yang wajar saja lah. Jangan aneh-aneh,” ujarnya. Sebelumnya, Ulil dikabarkan dicekal untuk Masuk negeri Jiran lantaran dikhawatirkan menyebarkan paham liberal dalam beragama. Paham liberal Ulil dianggap berpotensi merusak akidah. Ulil sebelumnya diundang ke Malaysia untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar.

Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yangg bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Liberal Diharamkan MUI

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesi (MUI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin menyatakan perlunya disosialisasikan kembali Fatwa MUI No 7 tahun 2005 tentang haramnya Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis). Hal tersebut untuk menyikapi berbagai persoalan saat ini seperti munculnya disertasi seks di luar nikah, film The Santri, RUU P-KS, RUU KUHP dan lainnya.

Fatwa MUI No 7 tahun 2005 mengharamkan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dari ajaran agama khususnya Liberalisme. Seperti liberalisme, pemahamanan yang memuja kebebasan sehingga tidak jarang menabrak aturan agama. “Coba bayangkan, zina sudah sedemikian bebas, itu akan menyebabkan hancur anak-anak ke depan, tidak jelas siapa orang tuanya. Apa kita ingin negara kita hancur karena undang-undang yang diproduksi dari satu aspek saja. Dosa besar jika menyetujui undang-undang yang bertentangan agama. Bagaimana orang boleh hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, asal suka sama suka, itukan seperti binantang,” ujar Kiai Didin.

Adapaun Fatwa Majelis Ulama Indonesia itu bernomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005  Latar belakang fatwa tersebut diungkapkan karena MUI menilai bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat. MUI juga mencermati bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut. dengan latar belakang itu maka MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

BACA  Malaikat al-Arham, Peniup Ruh Pada Janin Manusia

Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Umat Islam haram mengikuti paham pluralism, sekularisme dan liberalisme agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain

Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

KH Moh Chusnan Ali, Ketua MUI Kabupaten Gresik mengatakan bahwa banyaknya penyimpangan akidah di sebagian besar umat Islam tidak disadari bahkan banyak dikembangkan tokoh agama beraliran liberalisme. Sebab akidah yang semestinya menjadi pedoman, pengamalan hidup umat Islam berubah menjadi liberalisme, pluralisme, sekularisme, dan berbagai bentuk kebebasan berpikir termasuk hermineutika Alquran

Selain pemahaman ilmu agama yang salah, sebagian umat Islam ini sebenarnya ditunggangi kepentingan paham liberalisme barat. Pemicu utama adalah lemahnya ekonomi, munculnya ketidak adilan hukum, politik dan sosial kemudian lahir perilaku negatif kepada umat Islam, sehingga mereka mudah dimasuki paham-paham yang seakan benar. Dampaknya kepada perilaku negatif yang memuncakan emosional yang lepas kontrol. Kemiskinan dan ketidakadilan sosial, politik dan hukum terjadi secara struktural dan sistematis khususnya dalam 5 tahun belakangan ini. Hal ini adalah peluang untuk memasukkan paham Islam yang datang dari paham liberalisme. MUI juga mengingatkan bahwa sebenarnya yang mempunyai andil besar merusak akidah.

Para politisi yang berangkat dari partai-partai Islam ikut menjadi pejuang meluruskan akidah yang sudah melenceng dari ajaran Islam. Sebab sebelum mereka terpilih visi misi partai Islam selalu menggembar-gemborkan akan memperjuangkan Islam. Jangan malah menjual agama. Tohoh agama seharusnya banyak bicara tentang liberalisme yang sejatinya merongrong dan melencengkan akidah Islam, jangan hanya berbicara sekulerisme. Karena paham tersebut sebagai senjata untuk melemahkan umat Islam.

Masuknya HAM di Indonesia membawa misi merusak ajaran Alquran. Mereka secara sistematis melancarkan pemahaman kehidupan yang dibuat seolah-olah di Indoensia banyak terjadi pelanggaran hak manusia. Dicipatakanlah persoalan-persoalan untuk membenarkan argumenya. “Inilah liberalisme itu. Hentikan liberalisme jika tidak, para politisi dari partai Islam itu telah mengikuti irama yang mereka mainkan. Ulama  mengingatkan, seperti yang tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 20, musuh Islam akan selalu menyerang dan memerangi Islam dari berbagai sudut. Dalam surah tersebut terdapat kata ‘millah’ yang mengandung tiga pengertian, yaitu fikrah (ideologi), akhlaq (kebiasaan/ kebudayaan), dan diin (agama/ keyakinan). MUI mengingatkan bahwa liberalisme tidak sekadar ingin memindahkan keyakinan umat Islam (riddah/memurtadkan) saja. Tetapi umat Islam dimutadkan secara tidak sadar. Dengan menjauhkan ideologi dan kebudayaannya dari ideologi dan kebudayaan Islam menuju ideologi dan kebudayaan jahiliyah. Selain mendesak politisi dari partai Islam untuk membawa visi misi Islam, MUI akan segera melakukan penyelamatan akidah. Dengan menggelorakan semangat dan ruh Islam sebagai agama yang ‘rahmatan lil alamin’. Islam tidak mengenal radikalisme seperti yang ditudingkan oleh negara barat. MUI mempunyai tanggungjawab dunia dan akhirat.

Liberalisme Menurut Imam besar Habib Rizieq Shihab

Imam Besar Umat Islam Dr Habib Rizieq Shihab menyebutkan bahwa Islam Liberal adalah ” Penjiplak pemikiran”, karena gagasannya hanya meniru gagasan orientalis sebelumnya yang memulai reformasi , terutama dalam memahami dan menilai Islam.

Menurut Habib Rizieq, Gerakan Islam Liberal Indonesia dengan semangat mengoceh dengan penerapan Hermeneutika dalam kajian Alquran. Padahal, jauh sebelum JIL menggema, seorang pendeta Assyria bernama Alphonse Mingana (1881-1937), yang juga dosen Teologi Kristen di Universitas Birmingham , dalam bukunya “ Syriac Influence on The Style of The Alquran ” terbitan 1927 menyatakan: “Ini adalah waktunya untuk mengkritik teks Alquran, seperti yang telah kita lakukan pada Taurat Yahudi Aram dan Alkitab Kristen Yunani.” Rizieq juga mengatakan bahwa JIL hanyalah sekelompok orang inferior dengan penyakit “keterbelakangan intelektual”, yang menurutnya telah menjelaskan berbagai pernyataan dan tindakannya yang seringkali ngawur, cuek bahkan cenderung tersesat, seperti orang gila gila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *