ISLAM ISLAMI

Maryam, Perempuan Terbaik Sepanjang Masa, Dilebihkan Di Atas Segala Perempuan

Maryam (Maryam‎, Maryam atau Mariam) adalah ibu ‘Isa. Tradisi Islam dan Kristen meyakini Maryam mengandung ‘Isa secara mukjizat, yakni dalam keadaan perawan dan tanpa campur tangan laki-laki. Maryam termasuk tokoh yang dihormati dalam Islam dan Kristen. Dia adalah satu-satunya perempuan yang namanya disebutkan dalam Al-Qur’an dan termasuk orang yang namanya dijadikan nama surah. Riwayat hadits menyebutkan bahwa Maryam termasuk salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang masa.

 Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam.’— Ali ‘Imran (3): 42 ”

Nama Maryam disebutkan dalam Al-Qur’an (kitab suci Islam) sebanyak 34 kali, menjadikannya sebagai satunya-satunya perempuan yang namanya disebutkan dalam Al-Qur’an dan manusia yang namanya disebutkan terbanyak keempat. Dia juga satu-satunya perempuan yang namanya dijadikan nama surah dalam Al-Qur’an, yakni surah ke-19. Surah ke-3 dinamai Ali ‘Imran (keluarga ‘Imran) yang merupakan keluarga Maryam.

Kisahnya disebutkan dalam Surah Ali ‘Imran (3): 42-48 dan Maryam (19): 16-34. Dalam Alkitab (kitab suci Kristen), kisahnya disebutkan dalam Matius pasal 1-2, Lukas pasal 1-2, Yohanes pasal 2, dan Kisah Para Rasul pasal 1. Maryam lebih sering disebutkan dalam Al-Qur’an daripada dalam Alkitab

Maryam termasuk salah satu tokoh yang dihormati dalam Islam. Dia merupakan satu-satunya perempuan yang namanya disebut dalam Al-Qur’an. Namanya juga dijadikan nama surah ke-19. Surah ke-3 dinamai Ali ‘Imran (keluarga ‘Imran) yang merupakan keluarga Maryam.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Maryam merupakan sosok yang dipilih, disucikan, dan dilebihkan Allah atas semua perempuan di seluruh alam, taat, menjaga kehormatan, dan membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab. Dia dan ‘Isa juga disebut sebagai bukti kebesaran Allah. Riwayat hadits juga menyebutkan bahwa Maryam merupakan salah satu dari empat perempuan terbaik. Tiga yang lain adalah Asiyah ibu angkat Musa, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.

Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras kepada pihak yang mengangkat Maryam sampai derajat ketuhanan. Terkait permasalahan ini, tidak ada ajaran Kristen arus utama yang menyatakan keilahian Maryam. Meski demikian, sebagian aliran Kristen (utamanya Protestan) memandang bahwa penghormatan pada Maryam yang dilakukan aliran Kristen yang lain (utamanya Katolik) sudah masuk bentuk penyembahan dan penuhanan.

Maryam binti Imran merupakan salah seorang wanita terbaik yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kisahnya pun banyak kita temui dalam ayat-ayat Alquran. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menyebutkan Maryam dalam golongan Muslimah terbaik yang masuk surga.

Dia adalah keturunan keluarga Imran, salah satu keluarga terbaik yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Allah adalah ketika nama Maryam diabadikan dalam salah satu surat Alquran. Maryam sejak kecil memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Membiasakan dirinya dengan banyak beribadah. Munajat dan doa tidak pernah ia lupakan. Ketakwaannya juga begitu sempurna. Dia pun biasa puasa sehari dan berbuka dua hari. Tak heran mukjizat diberikan berupa makanan yang berasal langsung dari sisi Allah.

Hal tersebut dikisahkan dalam Alquran:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

”Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana kau memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab’.” (QS Ali ‘Imran: 37).

Kelebihan lain Maryam adalah sifat-sifat keibuannya yang dapat diteladani. Ketika dia mengetahui hamil tanpa seorang laki-laki, ia mengasingkan diri. Hal ini dilakukannya demi keselamatan bayinya. Ia pun seorang beriman yang malu, karena hamil padahal dia belum menikah. Dia masih memiliki perasaan yang peka.

Katanya: قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا ”Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23).

Seorang wanita hamil sendirian dinilai tidak akan mampu menggoyangkan pohon kurma hingga menjatuhkan buahnya. Akan tetapi, Maryam melakukannya sebagai tugas seorang ibu. Allah pun berkenan pada usahanya sehingga dia dan calon bayinya dapat menikmati buah kurma tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, dari rahimnya lahirlah Nabi Isa yang mulia.

BACA  Kisah Lengkap Hidup Nabi Musa

Kelahiran

  • Al-Qur’an menyebutkan bahwa istri ‘Imran bernazar anak yang dikandungnya akan menjadi abdi Allah. Dia melahirkan anak perempuan yang dinamai Maryam. Zakariyya kemudian menjadi wali dan pemelihara Maryam.
  • Para ulama memberikan keterangan tambahan terkait ayat tersebut. Disebutkan bahwa ‘Imran dan istrinya, bernama Hannah dalam sebagian tradisi, sudah berusia lanjut. Saat melihat burung yang memberi makan anaknya, dia berkeinginan memiliki anak dan berdoa pada Allah agar mengabulkan permohonannya. Hannah kemudian mengandung dan dia menazarkan anaknya untuk menjadi abdi di Baitul Maqdis. Namun saat melahirkan, ternyata dia melahirkan anak perempuan, padahal hanya anak laki-laki yang bisa menjadi abdi. Namun Allah menerima nazar Hannah dan dia menamai anaknya Maryam.
  • Ja’far ash-Shadiq memberikan keterangan bahwa Allah mewahyukan pada ‘Imran bahwa dia akan dikaruniai keturunan laki-laki yang dapat menyembuhkan orang buta dan membangkitkan orang mati dengan izin Allah. Saat ‘Imran mengabarkan hal tersebut, Hannah mengira bahwa bayi yang dikandungnya adalah laki-laki sehingga dia menazarkan bayi tersebut untuk menjadi abdi di Baitul Maqdis. Saat ternyata melahirkan anak perempuan, Hannah berkata, “Ya Rabb, aku telah melahirkan anak perempuan.” Saat Maryam akhirnya melahirkan ‘Isa, janji Allah pada ‘Imran terpenuhi.
  • Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa setiap bayi yang dilahirkan pasti akan menangis karena disentuh setan, kecuali Maryam dan putranya.

Pengasuhan

  • Setelah disapih, Hannah menyerahkan Maryam ke Baitul Maqdis. Zakariyya menghendaki agar dia menjadi wali Maryam karena istrinya, Elisyeba, adalah saudari Hannah. Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Hannah adalah bibi Elisyeba dari pihak ibu. Alkitab menyebutkan bahwa Zakariyya merupakan seorang imam atau pendeta (kohen).
  • Dalam Yahudi, imam di antaranya bertugas menjadi pelayan di Baitul Maqdis dan mengadakan ibadah kurban harian dan hari besar keagamaan. Para imam yang lain juga menginginkan hak asuh atas Maryam sehingga diadakanlah undian. Zakariyya dan para imam yang lain mengumpulkan pena mereka masing-masing di sebuah wadah, kemudian menyuruh seorang anak kecil mengambil salah satu pena. Ternyata pena Zakariyya yang diambil. Namun masih ada ketidakpuasan sehingga diadakan undian ulang dengan melemparkan pena mereka ke sungai. Pemilik dari pena yang tidak terbawa arus sungai akan menjadi pengasuh Maryam. Setelah pena mereka dilemparkan, semua pena hanyut kecuali pena milik Zakariyya. Masih ada ketidakpuasan dan diadakan undian ulang. Pemilik dari pena yang terbawa arus sungai akan menjadi pengasuh Maryam. Setelah pena mereka dilemparkan, hanya pena Zakariyya yang hanyut. Zakariyya kemudian ditetapkan sebagai wali Maryam.
  • Al-Qur’an menyebutkan bahwa saat mengunjungi Maryam di ruang khusus ibadahnya, Zakariyya melihat makanan. Saat ditanya asal makanan ini, Maryam menjawab bahwa itu dari Allah. Kemudian Zakariyya berdoa agar juga dikaruniai keturunan. Setelahnya, Allah mengabulkan doa Zakariyya dan Elisyeba mengandung seorang putra yang bernama Yahya.
  • Para ulama menjelaskan bahwa Maryam mendapatkan buah-buahan yang bukan musimnya sebagai bentuk mukjizat. Zakariyya yang melihat kesalehan Maryam dan karunia Allah yang dikaruniakan padanya menjadi ingin memiliki keturunan sendiri, agar anak tersebut bisa menjadi penerus spiritualnya dan melanjutkan tugasnya membimbing Bani Israil
BACA  Asbabul nuzul quran: qs ali imran 1-3

Mengandung

  • Al-Qur’an dan keterangan para ulama menyebutkan bahwa Maryam keluar dari Baitul Maqdis ketika haid atau ada keperluan. Saat Maryam mengasingkan diri dari keluarganya ke sebelah timur, seorang laki-laki mendatanginya. Maryam yang sangat menjaga diri dari lelaki asing kemudian mengatakan, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” Laki-laki yang ternyata adalah jelmaan Malaikat Jibril tersebut mengabarkan bahwa Maryam akan memiliki seorang putra. Maryam terheran-heran lantaran dia belum bersuami, juga menyatakan bahwa dirinya bukan pezina. Malaikat Jibril menyebutkan bahwa hal itu mudah bagi Allah dan sudah menjadi ketetapan-Nya.
  • Yusuf yang mengetahui bahwa Maryam telah mengandung, padahal mereka belum hidup sebagai suami istri, berniat menceraikannya secara diam-diam demi memelihara nama baik Maryam. Namun malaikat mendatanginya dalam mimpi dan menyatakan bahwa anak yang dikandung Maryam berasal dari Allah. Setelahnya, Yusuf membatalkan niatnya semula dan tetap mengambil Maryam sebagai istrinya.
  • Alkitab tidak menyebutkan usia Yusuf dan Maryam saat itu. Sumber-sumber apokrifa menerangkan bahwa saat bertunangan dengan Yusuf, Maryam berusia sekitar 12-14 tahun, sedangkan Yusuf sendiri berusia 90 tahun.
  • Pendapat lain, Uskup Epifanius dalam Panarion menjelaskan bahwa dari pernikahan sebelumnya, Yusuf memiliki empat putra dan dua putri. Setelah istri pertamanya meninggal, Yusuf yang berusia 80 tahun mengambil Maryam sebagai istrinya.

Kelahiran perawan

Maryam menggoyangkan pohon kurma

  • Al-Qur’an menjelaskan bahwa saat merasa sakit karena melahirkan, Maryam bersandar pada pohon kurma dan berujar, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Kemudian ada yang menyeru Maryam dari tempat yang rendah, mengatakan agar dia tidak bersedih dan Allah telah menjadikan anak sungai mengalir di bawahnya. Maryam juga diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon kurma supaya buah kurma akan jatuh pada Maryam. Maryam juga diperintahkan untuk tidak berbicara pada siapapun pada hari ini. Terkait sosok yang menyeru Maryam, sebagian penafsir menyebutkan bahwa dia adalah Jibril, sedangkan tafsiran lain menyebutkan bahwa dia adalah ‘Isa.

‘Isa

  • Diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa saat Maryam kembali dengan menggendong ‘Isa, kaumnya mencelanya, menyatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Mereka juga menyatakan, “Hai saudari Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang pezina!” Namun Maryam tidak menjawab cercaan mereka dan memberi isyarat pada bayinya. Kaumnya terheran-heran karena diminta bicara dengan seorang bayi. Namun ‘Isa yang masih bayi berbicara pada mereka, menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diangkat sebagai nabi, dianugerahi kitab, dan diberkahi oleh Allah.
  • Terdapat beberapa pendapat mengenai makna “saudari Harun”. Sebagian menyatakan bahwa Harun di sini adalah Nabi Harun, saudara Musa. Lantaran kesalehannya, Maryam disandingkan dengan Harun. Harun dan Musa sendiri juga memiliki kakak perempuan yang bernama Miryam. Disebutkan bahwa dalam bahasa Arab, kata “saudari” atau “putri” dapat merujuk pada hubungan kekerabatan dan keturunan yang lebih jauh dan luas, juga untuk pertalian spiritual  Pendapat lain menyebutkan bahwa Maryam memang memiliki saudara bernama Harun, namanya sama dengan Nabi Harun.

Tahun-tahun setelahnya

  • Al-Qur’an tidak menerangkan kehidupan Maryam setelah kelahiran ‘Isa. Dalam Alkitab disebutkan bahwa Maryam muncul beberapa kali bersama ‘Isa, seperti saat menghadiri pesta pernikahan di Kana, di kawasan Galilea.

Latar belakang

  • Dari garis ayah, leluhur Maryam sampai kepada Nabi Daud Alaihissalam. Sementara Hannah adalah adik dari istri Nabi Zakaria. Sehingga Maryam adalah keponakan Nabi Zakaria alahissalam. Bahkan saat masih kecil disebutkan Maryam pernah diasuh oleh Nabi Zakaria.
  • Keluarga Imran menjadi salah satu yang terpilih oleh Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Ali imran ayat 33: Artinya : Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat
  • Di kalangan masyarakat Bani Israil ketika itu, keluarga Imran sangat terpandang. Namun sekian lama Imran menikah dengan Hannah binti Faqudha, mereka tak kunjung dikarunia seorang anak.
  • Imran dan istrinya yang salehah tetap bersabar sambil terus berdoa agar mendapatkan keturunan yang salehah. Doa Hannah diabadikan dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 35 berikut ini: (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
  • Allah SWT mengabulkan doa istri Ali Imran. Sayang sebelum sang anak lahir, Ali Imran sudah meninggal dunia. Tanpa didampingi sang suami, Hannah melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Maryam. Hannah berdoa agar Allah SWT melindungi Maryam dan keturunannya dari godaan syaithan yang terkutuk.
  • Sesuai nazarnya, Hannah kemudian mengirimkan Maryam ke Baitul Maqdis. Setelah dilakukan musyawarah oleh masyarakat kala itu, perawatan Maryam akhirnya jatuh ke Nabi Zakaria sang paman. Nabi Zakaria merawat Maryam di Baitul Maqdis.
  • Di Baitul Maqdis, Maryam tinggal di tempat khusus. Dia menghabiskan waktu untuk beribadah kepada Allah SWT. “Banyak berdoa, berdzikir, sholat, ketika malama ia melakukan sholat malam, ketika siang tiba dia berpuasa dan beribadah,” kata Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd., MA, dalam makalah yang berjudul Perempuan Suci, Pengabdi , Menjejak Langit Ilahi yang disampaikan di Aula Bruderan Budi Mulia Lawang Malang, pada tanggal 21 Mei 2017.
  • Dikutip dari buku berjudul Surga Kenikmatan yang Kekal karya Mahir Ahmad Ash-Shufiy, Dalam Musnad karya Ahmad, Musyikul Atsar karya Ath-Thahawiy dan Mustadrak karya Hakim diceritakan tentang keutamaan Maryam binti Imran. Maryam merupakan satu-satunya perempuan yang namanya diabadikan menjadi nama surat dalam Al Qur’an.
  • Maryam adalah seorang Bani Israil. Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Maryam adalah keturunan Dawud yang berasal dari suku Yehuda, suku yang menurunkan para raja. Pihak lain berpendapat bahwa Maryam adalah keturunan Harun yang merupakan suku Lewi, suku yang menurunkan para imam atau pemuka agama Bani Israil. Sebagai catatan, penentuan asal suku seseorang didasari atas silsilahnya dari garis ayah.
  • Al-Qur’an menyebutkan bahwa ayah Maryam adalah ‘Imran. Ja’far ash-Shadiq menyatakan bahwa ‘Imran adalah seorang nabi.
  • Sebagian ulama Muslim terdahulu, seperti Muhammad bin Ishaq dan Abul Qasim bin Asakir juga menyebutkan silsilah Maryam. Kedua silsilah tersebut dimulai dari ‘Imran dan berujung pada Sulaiman bin Dawud, tapi ada perbedaan nama dan jumlah orang di antara kedua versi ini.
  • Al-Qur’an menyebutkan Maryam sebagai “saudari Harun”. Lantaran kata “saudari” bisa digunakan untuk merujuk pada hubungan kekerabatan dan keturunan yang lebih jauh dan luas, beberapa cendekiawan Muslim seperti Yusuf Ali dan Muhammad Asad berpendapat bahwa Maryam berasal dari suku Lewi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *