ISLAM ISLAMI

Kisah Menarik Wanita Muslim Taat Jadi Murtad

Dulu, saya seorang Islam yang taat. Pengalaman saya mirip dengan Samina Ali, yang menulis: “Saya dan teman-teman wanita saya berbincang-bincang dengan serius mengenai betapa beruntungnya kami terlahir dalam agama kami, karena semua orang di luar sana terlahir ‘buta’ dan lantaran pilihan mereka sendiri akan mati dalam keadaan ‘buta’.”

Masa kanak-kanak saya indah. Sedangkan masa remaja saya, walau terkadang merasa kesepian dan depresi, penuh dengan impian. Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.

Di hampir sepanjang hidup, saya mencintai Allah dan bertaqwa kepada-Nya sebagaimana berulangkali diperintahkan oleh Al-Qur’an. Saya berbicara langsung kepadanya dan yakin bahwa Dia Mahatahu.

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga muslim yang beribadah. Kedua orangtua saya berpandangan moderat. Dengan dibesarkan di masyarakat Amerika, mereka sadar akan kenyataan hidup di tengah-tengah kaum non-muslim. Ayah saya mendalami hukum Islam, tetapi beliau tidak hendak menciptakan kembali Arabia abad-ketujuh. Ada banyak diantara teman-teman muslim kami yang penasaran mengapa kami mencoba menganut vegetarianisme dan menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman nonmuslim. Ketika saya dan ibu saya menutupi kepala kami dengan kerudung dan memakai baju yang longgar di depan umum, ayah dan saudara-saudara lelaki saya biasanya mengenakan kopiah untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai muslim juga. Ayah saya memakai jenggot untuk menutupi wajah beliau, tetapi meminta ibu saya untuk tidak lagi mengenakan cadar (penutup wajah) sejak pernikahan mereka lantaran mengundang banyak perhatian yang negatif. Kami menonton televisi, mendengarkan musik, dan memanfaatkan foto.

Kami juga beribadah secara teratur, dengan berpuasa sepenuhnya, bershalat sekhusyuk-khusyuknya, dan berzakat. Dari kedua orangtua, saya mendengar mengenai orang-orang muslim “gila” yang melakukan kekerasan di jalanan karena mereka telah memasuki Islam dengan segala kekasaran dan kebodohan pra-Islam mereka; orang-orang muslim penindas yang memandang istri dan putri mereka sebagai hak milik mereka; orang-orang muslim kaya yang memandang rendah kaum mualaf Amerika dan yakin bahwa semakin putih kulit seseorang, semakin baiklah orang itu. Saya telah mendengar semua itu, tetapi jarang menyaksikannya dengan mata saya sendiri. Ketika semasa dewasa-awal, saya mulai berhubungan dengan sebagian dari orang-orang semacam itu, sedangkan kedua orangtua saya mengingatkan saya untuk berhati-hati.

Pelarangan muslim terhadap musik, gambar makhluk hidup, dan gerakan pembebasan perempuan menyebabkan saya sedih. Walau kedua orangtua saya mendorong saya untuk bepergian ke segala penjuru sewaktu saya masih lajang dan belum beranak, orang-orang muslim lainnya memberi tahu saya bahwa seorang wanita seharusnya tidak pernah bepergian tanpa dijaga oleh pria [muhrimnya]. Mereka memuji pemakaian jilbab saya, tetapi mempersoalkan mengapa saya tinggal sendirian di apartemen saya sendiri. Bahkah setelah saya jelaskan bahwa saya tinggal sendirian itu supaya lebih dekat dengan komunitas muslim, mereka masih bla bla bla kepada saya. Saya dihargai lantaran menjadi muslimah yang sopan dan santun, tetapi saya saksikan bahwa wanita-wanita di komunitas saya disingkirkan lantaran mempertanyakan atau mengkritik pandangan seorang pria pemimpin [kami]. Lagi dan lagi, saya mulai melihat bahwa kepemimpinan muslim saya kurang peduli perihal merangkul [saudara sesama] muslim. Ia lebih cenderung memperkokoh kekuasaannya dan menyingkirkan orang lain yang dianggap mengancam kekuasaannya.

Sampai waktu yang lama, keluar dari Islam bukanlah opsi bagi saya. Sepengetahuan saya selama itu, tidak ada orang keluar dari Islam yang tidak dizalimi. Walau benar bahwa banyak orang tidak lagi beribadah, semua muslim kenalan saya bersikeras bahwa tidak ada yang benar-benar keluar dari agama ini kecuali jika mereka ditipu atau dipaksa oleh para misionaris. Segala hal yang saya baca mengenai pemurtadan merupakan kebenaran yang tak bisa disangkal saat itu.

Menjadi muslim di masyarakat tampaknya berbeda dengan menjadi muslim di keluarga saya, dan saya tidak tahu apakah komunitas saya ini benar-benar pas untuk saya. Saya tidak merasa bebas untuk berbicara menentang kebusukan-kebusukan di komunitas saya. Saya bahkan merasa takut meluruskan prasangka dan fitnah yang saya saksikan di kalangan pemimpin—meskipun semua orang tahu bahwa itu merupakan salah satu dosa besar dalam Islam, yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai “memakan bangkai saudaranya” (49: 12). Mengapa saya begitu takut? Secara bertahap, saya menjadi sadar akan adanya jurang pemisah antara menjadi muslim yang baik dan menjadi dianggap baik oleh orang-orang muslim.

Living Islam Out Loud mencakup limabelas esai dan sejumlah puisi yang merambah apa yang dimaksud dengan menjadi wanita yang dibesarkan sebagai muslimah dan sebagai orang Amerika. Beberapa esai itu hebat dalam melaporkan keamanan dan kenyamanan pengasuhan muslim dan peralihan kasar menuju masyarakat muslim dewasa yang jauh dari sempurna.

Bagi wanita-wanita yang diajar untuk percaya bahwa pernikahan yang baik merupakan prestasi terbesar mereka, tidaklah mengherankan bahwa retaknya hubungan mereka dengan suami mereka membuat mereka mempertanyakan makna kehidupan mereka. Para wanita ini mengungkapkan kekecewaan dan merasa dikhianati oleh Tuhan dan komunitas mereka, tetapi lambat-laun mereka memperbarui karakter mereka. Mereka mulai menyadari bahwa menjadi muslim yang baik bukanlah jaminan akan bahagia. Dalam upaya pembaruan diri itu, mereka harus membuka kembali hubungan mereka yang langsung dengan Tuhan dan saling bekerja sama, sehingga merintis jalur alternatif menuju impian muslim Amerika.

BACA  Kuliah Islam Prof Dr HA Thib Raya MA: Quran

Sebagaimana wanita-wanita dalam Living Islam Out Loud, saya bangkit untuk mengatasi noda-noda yang mencemari keindahan Islam yang telah diajarkan oleh kedua orangtua saya. Impian saya adalah menjadi muslim sampai nafas terakhir, tetapi impian ini berangsur-angsur lenyap. Dari waktu ke waktu, saya menjumpai orang-orang muslim yang menakjubkan, yang memeluk iman mereka dengan benar, tetapi hampir semua diantara mereka menjauh dari “komunitas” muslim. Kalau begitu, apakah saya harus membesarkan anak-anak saya kelak dengan menjauh dari orang-orang Islam supaya iman mereka terpelihara? Ada sesuatu yang sungguh keliru dengan gambaran itu.

Tidak seperti wanita-wanita dalam Living Islam Out Loud, saya kehilangan iman saya. Perilaku orang-orang Islam yang berlebihan dan kontradiktif yang saya ketahui itu tidak dengan sendirinya menyebabkan saya keluar dari Islam. Namun, perilaku tersebut membuat saya mempertanyakan eksklusifitas Islam dalam mempengaruhi orang-orang secara transformatif. Saya telah membaca Tao Te Ching selama beberapa tahun dan mulai membawa buku tersebut di dompet saya, berdampingan dengan Al-Qur’an berukuran-saku saya. Buku tersebut menjadi pelipur lara saya juga. Saya sudah tahu bahwa orang-orang non-muslim bisa juga memiliki hikmah atau kearifan, tetapi yang paling membuat saya terpukul adalah temuan bahwa Al-Qur’an itu baru dihimpun menjadi satu pada beberapa tahun selepas wafatnya Rasul. Saya belajar bagaimana tradisi Rasul dihimpun–dan kini ada lebih banyak keraguan mengenai kesempurnaannya.

Karena saya kehilangan iman, saya memilih untuk tidak lagi tinggal di dalam Islam berjuang melawan Status Quo. Hal-hal yang saya inginkan untuk saya sendiri—yang saya mohonkan dari Tuhan sejak masa kanak-kanak saya—merupakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan keadaan menjadi muslim pada khususnya. Akhirnya, saya melompat ke Universalisme Tauhid seraya mencari suatu filsafat yang memungkinkan saya untuk mengenali dan menghidupkan nilai-nilai terdalam saya.

Yang paling saya ingat dari masa kanak-kanak saya adalah suara-suara di penghujung hari. Ibu-ibu memanggil anak-anak mereka yang sedang bermain, lalu saya berlambat-lambat di trotoar seraya melambaikan tangan pertanda berpamitan. Orangtua saya berseru, “Saatnya shalat!” Saat melintasi halaman, saya dapat mendengar suara air mengucur di bak, tutup periuk bergemerincing, dan ayah saya melantunkan azan shalat Maghrib.

Ruang shalat merupakan ruang terbesar di rumah kami. Lantainya merupakan kayu keras yang licin, tetapi saya, saudara saya, dan ibu saya berdiri untuk shalat di atas sehampar permadani Oriental di tengah. Ayah saya menjadi imam di depan kami, di atas selembar sajadah. Di sebelah kiri saya adalah dinding dengan buku-buku islami. Tanaman-tanaman ibu saya memenuhi sudut-sudut ruang. Kami menghadap ke timur; di musim panas, yang bisa saya lihat melalui jendela lebar hanyalah dedaunan pohon-pohon di halaman-belakang kami.

Ruang shalat tersebut selalu terjaga bersih dan wangi dengan dupa. Di situlah tempat shalat harian, pembacaan dan percakapan mengenai agama, dan doa. Duduk di atas permadani bersama-sama dan berbincang-bincang sebagai sebuah keluarga itu bagus. Saya sangat menyukai bunyi gemerisik dedaunan di luar sana dan hembusan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela.

Sewaktu masih sebagai anak kecil, saya yakin sepenuhnya bahwa Islam merupakan sirat al-mustaqim, jalan lurus menuju keberhasilan dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang. Saya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan senang menyimak cerita tentang para nabi, sahabat mereka, dan Hari Akhir. Keimanan saya kepada Allah semasa remaja saya masih kukuh, tetapi pada masa itulah pandangan-pandangan non-Islami mulai tertanam di dalam diri saya. Walau novel-novel karya Louisa May Alcott kesukaan saya (tokoh-tokoh utamanya ialah orang Kristen yang bijaksana, patuh kepada orangtua) tidak terlalu bertentangan dengan ajaran agama saya, acara televisi favorit saya ialah Star Trek: The Next Generation.

Saya dididik untuk percaya bahwa masa terbaik adalah zaman Muhammad yang kemudian memburuk dan terus memburuk hingga tiba Hari Kiamat. Ayah saya berbicara tentang akan datangnya [masa] kelaparan, wabah penyakit, gempa bumi, dan kebejatan di jalanan: Akan ada perang besar, lalu seorang imam agung muncul, kemudian Yesus kembali untuk menuntaskan kehidupannya di bumi dan mengalahkan Antikristus (ya, begitulah keyakinan seorang muslim), dan tercapailah kedamaian. Lalu sangkakala dibunyikan, dan Allah mengakhiri dunia ini. Kemudian semua jiwa dipanggil untuk menjalani pengadilan.

Walau itu semua sangat mengesankan, tidak tersedia banyak ruang bagi prospek perjalanan luar angkasa yang progresif, yang ditawarkan di film The Next Generation. Acara ini mengilhamkan suatu hasrat akan masa depan yang di dalamnya segala hal bisa terjadi, termasuk yang kini belum diketahui. Dengan berwatak optimistik, saya tidak tahu bagaimana menanggapi skenario kiamat dalam hadits Muhammad. Jika harus memilih antara [1] planet yang luluh-lantak akibat perang dan dirundung kekacauan dan [2] kehidupan sebagai direktur perusahaan besar [dalam dunia yang normal], tentu saja saya takkan kesulitan untuk memilih. Namun, tidakkah ini melecehkan Tuhan? Sebagai seorang remaja belia, saya tidak tahu bagaimana mengkompromikan harapan saya (bahwa manusia bisa belajar dari kesalahannya) dengan kebenaran yang dikatakan kepada saya: Umat manusia ditakdirkan mengalami kemunduran tanpa intervensi langsung dari Allah.

BACA  Hebohnya Injil Barnabas Berusia 1500 Yang Mengguncang Iman Manusia

Kadang-kadang saya merasa penasaran apakah saya meninggalkan Islam hanya karena saya kekurangan imajinasi. Mungkin memang begitu, tetapi saya juga tahu saat itu bahwa saya tidak ingin menghabiskan sisa umur saya dengan berdebat—untuk membela diri saya sendiri menghadapi kaum muslim konservatif dan membela Islam menghadapi nonmuslim.

Islam kelihatannya meletakkan saya ke dalam sebuah kota, dengan label-label yang berlainan di setiap sisi bagi mereka yang memandang saya dari sudut-sudut pandang yang berlainan. Apakah Universalisme Tauhid meletakkan saya ke dalam sebuah kotak juga? Islam yang saya alami tidak selalu menghargai saya selaku seorang anak gadis Amerika berkulit hitam yang mualaf: Saya dipandang dengan sebelah mata oleh semua orang Islam yang merasa pasti lebih baik daripada saya lantaran mereka berasal dari suatu masyarakat muslim yang berbicara dalam bahasa Arab, atau lantaran tidak berkulit hitam.

[Saya pun bertanya-tanya:] Mengapa semua rasul itu laki-laki? Mengapa saya harus meminta izin kepada pria-pria yang diberi wewenang? Mengapa kedua orangtua saya yang merupakan buruh kurang dihargai oleh keluarga teman-teman saya yang “berkerah-putih”?

Kini saya harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah Universalisme Tauhid (UT)  (agama liberal kristen) menghargai saya? Dapatkah agama ini menghargai saya, seorang Latin berkulit hitam yang tidak banyak percaya kepada Tuhan? Di manakah pahlawan-pahlawan [penolong] saya? Di manakah tradisi UT yang melestarikan kebudayaan saya, leluhur saya?

Akan tetapi, sekarang saya tidak lagi berharap untuk menjadi “normal”. Menjadi pemeluk agama UT tidak memecahkan masalah-masalah saya, tetapi memungkinkan saya untuk menjalani hidup dengan harapan. Universalisme Tauhid adalah agama yang dapat berubah. Masa lalunya bukanlah pencetak masa depannya. Ajarannya dapat berkembang. Bila saya merasa ganjil dalam komunitas [UT] yang saya ikuti, saya dapat berbicara dengan terus terang. Kemungkinan-kemungkinan selalu terbuka; masa depan terbuka bagi kita. Itulah keimanan yang dapat saya peluk.

 

Sumber:  M Shodiq Mustika dari Hafidha Acuay, “From Islam to Unitarian Universalism” dalam UU World, Summer 2006.

Pendekatan Ilmiah Kasus Beralihnya Agama

  • Dalam pengamatan ilmiah melalui pendekatan sosial, psikologis, ekonomi dan pendekatan ilmiah lainnya. Ternyata kegoyahan iman seseorang saat berpindah keyakinan tidak bediri sendiri dalam satu faktor.
  • Pada kasus diatas terdapat multi faktorial mengapa sesorang goyah keimanannya dan mudah digoyahkan imannya. Jarang sekali atau bahkan hampir dikatakan tidak pernah terjadi korban pemurtadan berasal dari kesadaran diri sendiri. Masalah genetik psikologis dan lingkungan merupakan faktor utama yang sering terjadi pindahnya keyakinann seseorang. Ternyata masalah lemahnya pendidikan agama bukan yang utama sesorang pindah keyakinan keluar dari agama Islam. Karena sebagian besar korban pindah agama justru mempunyai latar belakang orngtua yang taat agama, pendidikan selolah agama dan aktifitas beragama yang baik.
  • Faktor psikologis tampaknya menjadi faktor utama yang dialami korban pindah agama karena kristenisasi. Faktor psikologis itu yang palng sering adalah masalah depresi tersamar yang tak disadari. Gejala yang dialami dalam gangguan depresi tersebut adalah  sulit tidur, merasa kesepian, merasa dijauhkan keluarga, merasa sering disalahkan, selalu curiga, selalu berpikiran negatif pada orang lain, emosi tinggi, suka memberontak di dalam keluarga, suka melawan orangtua, paranoid berlebihan bahkan hingga keinginan bunuh diri, Dalam keadaan psikologis seperti inilah maka strategis kristenisasi sering dilakukan dan lebih mudah masuk. Dalam kasus diatas tampak si wanita megeluh depresi dan kesepian, karena hal tersebut termasuk gangguan depresi. Saat gangguan terebut muncul sering terjadi penolakan, kecurigaan, dan berpikiran negatif yang berlebihan , Saat kondisi tersebut timbul bila disertai faktor lingkungan maka akan mempudah goyah keyakinan dan keprcayaan terhadap Islam. Dalam hal ini faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah faktor liberalisasi yang dibentuk orangtua khususnya anaknya dari kecil tidak disadarimempengaruhi anaknya membuat keyakinan dan kebencian bukan hanya terhadap umat islam lainnya tetapi juga terhadap aqidah Islam jadi berkurang bahkan anti pati terhadap Islam.pengaruh ajaran liberalisme tampak dari sakap ayak dan anaknya seperti Namun di masa dewasa-awal, ketika saya menjadi terbuka terhadap pengakuan bahwa semakin banyak orang Islam dan terhadap munculnya aliran Islam yang keras yang dikenal sebagai Wahhabisme di Amerika Serikat, hati saya mulai tertusuk dan semakin tertusuk.  Kedua orangtua saya berpandangan moderat. Dengan dibesarkan di masyarakat Amerika, mereka sadar akan kenyataan hidup di tengah-tengah kaum non-muslim. Ayah saya mendalami hukum Islam, tetapi beliau tidak hendak menciptakan kembali Arabia abad-ketujuh. Dari kedua orangtua, saya mendengar mengenai orang-orang muslim “gila” yang melakukan kekerasan di jalanan karena mereka telah memasuki Islam dengan segala kekasaran dan kebodohan pra-Islam mereka; orang-orang muslim penindas yang memandang istri dan putri mereka sebagai hak milik mereka; orang-orang muslim kaya yang memandang rendah kaum mualaf Amerika dan yakin bahwa semakin putih kulit seseorang, semakin baiklah orang itu. Saya telah mendengar semua itu, tetapi jarang menyaksikannya dengan mata saya sendiri. Saya mulai melihat bahwa kepemimpinan muslim saya kurang peduli perihal merangkul [saudara sesama] muslim. Ia lebih cenderung memperkokoh kekuasaannya dan menyingkirkan orang lain yang dianggap mengancam kekuasaannya. Walau Islam semua sangat mengesankan, tidak tersedia banyak ruang bagi prospek perjalanan luar angkasa yang progresif, yang ditawarkan di film The Next Generation. Tetapi saya juga tahu saat itu bahwa saya tidak ingin menghabiskan sisa umur saya dengan berdebat—untuk membela diri saya sendiri menghadapi kaum muslim konservatif dan membela Islam menghadapi nonmuslim. Semua pendapat dan pemikiran itu semua sebagian mungkin saja adalah pengaruh liberalisme atau muslim moderat yang menganggap Islam harus diperbaruhi sudah tidak konstektual dan sering menyalahkan umat muslim lainnya. Isu wahabi, intoleransi, radikal, dan kekerasan yang selama ini dihembuskan kaum non muslim dan kaum liberalisme selain memecah umat muslim juga secara perlahan mengaburkan aqidahnya terhadap ajaran Islam. Hal ini yang membuat bahwa liberalisme adalah ajaran yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia
BACA  Puasa Nifsu Sya’ban Tata Cara dan Kelebihannya

 

 

Материалы по теме:

Quran Az Zukhruf 63 Diselewengkan Oknum Kristenisasi, inilah Tafsir yang Benar
Semakin meningkatnya penggunaan internet, tampak semakin banyak bermunculan situs-situs yang berisikan upaya dugaan kristenisasi yang dilakukan oleh oknum agama lain. Sebelumnya hal itu seringkali ...
Gawat, Waspadai Oknum Kristenisasi: Situs Non Muslim Berlabel Islam
Semakin meningkatnya penggunaan internet, tampak semakin banyak bermunculan situs-situs yang berisikan upaya dugaan kristenisasi yang dilakukan oleh oknum agama lain. Sebelumnya hal itu seringkali ...
Ketua PGI dan Sebagian Besar Umat Kristen Tidak Setuju Kristenisasi.
Semakin meningkatnya penggunaan internet khususnya situs-situs yang berisikan upaya dugaan kristenisasi semakin nyata terlihat yang dilakukan oleh oknum agama lain. Sebelumnya hal itu seringkali ...
Kesamaan Quran-Injil Tentang Muhammad, Isa atau Yesus. Umat Non Muslim Jangan Panik dan Heboh, Teruslah Cari Kebenaran Ilahi?
Ternyata terdapat banyak kesamaan baik dalam ajaran islam maupun kristen. Aspek penting itulah yang kurang diketahui banyak orang. Ketika hal itu disampaikan oleh para ...
Quran Digital Tafsir Al Anbiya 105-107 : Peringatan Kaum Menyembah Allah, Muhammad Untuk Rahmat Bagi Semesta Alam
Al-Anbiya, ayat 105-107 {وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ (106) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *