January 23, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Cara Agar Shalat Khusyu’

7 min read

Khusyuk menjadi bukti keikhlasan seorang hamba. Karena hanya mereka yang ikhlas beribadah karena Allah dan sholat karena-Nya yang dapat melakukan khusyuk secara sempurna. Tanpa keikhlasan, maka seseorang hanya melakukan kekhusyukan palsu atau yang sering disebut kekhusyukan dusta. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S Al-Mu’minuun: 1-2).

Ketika Rasulullah SAW masuk masjid. Lalu, seorang lelaki masuk dan melakukan sholat. Setelah selesai, ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda, “Ulangilah sholatmu karena sesungguhnya engkau belum sholat.” Lelaki itu kembali sholat seperti sholat sebelumnya. Setelah sholatnya yang kedua, ia mendatangi Nabi dan memberi salam. Rasulullah menjawab, Kemudian beliau bersabda lagi, “Ulangilah sholatmu karena sesungguhnya engkau belum sholat.” Sehingga, orang itu mengulangi sholatnya lagi, total jadi tiga kali. Lelaki itu berkata, “Demi Zat yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya!”

Rasul yang mulia itu lalu bersabda, “Bila engkau melakukan sholat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu, rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh sholatmu.”

Dalil bolehnya mengulangi sholat sampai merasakan kekhusyukan. Sungguh sholat yang yakin ditatap Allah dan sadar bahwa sedang berhadapan dengan Allah (QS asy-Syuaro: 218-220) sehingga setiap bacaan menjadi doa dan terasa sedang berdialog dengan-Nya akan membuat sholat kita thumakninah dan khusyuk, tenang, damai, sejuk, nyaman, nikmat, indah, bahagia dan buahnya adalah akhlak mulia (QS al-Ankabut: 45).

Cara Agar shalat khusyu’

Inti dari shalat adalah zikir mengingat Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt.
وَأَقِمِ ال لَّا صلَاةَ لِ ي “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (Qs. Thaha *20+: 14). Oleh sebab itu Allah Swt mengecam orang yang shalat tetapi tidak mengingat Allah:
( فَػوَ لٌ لِلْمُصَلدِّ ) 4( اللَّا نَ ىُمْ عَنْ صَلَاتِِِمْ سَاىُوفَ ) 5 “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (Qs. al-Ma’un *107+: 4-5).

Kekhusyuan Sejak berwudlu

Zikir mengingat Allah Swt dalam shalat tidak dibangun sejak Takbiratul-Ihram, akan tetapi jauh sebelum itu. Rasulullah Saw sudah mengajarkan kekhusyu’an hati sejak berwudhu’.

Dalam hadits disebutkan:
مَنْ تَػوَ لَّا ض فَمَضْمَضَ وَاسْتَػنْ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ فَمِوِ وَأَ فِوِ فَ ذَا اَسَلَ وَجْ وُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ وَجْ وِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْػنَػيْوِ فَ ذَا اَسَلَ دَ وِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ دَ وِ فَ ذَا مَسَحَ رَأْسَوُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رَأْسِوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ أُذُ ػيَْوِ فَ ذَا اَسَلَ رِجْلَيْوِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رِجْلَيْوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْوِ وَ ا تْ صَلاَتُوُ وَمَ يُوُ إِلَذ الْمَسْ دِ افِلَة
“Siapa yang berwudhu’, ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan”. (HR. Ibnu Majah).

Wudhu’ bukan sekedar kebersihan fisik, tapi juga telah mengajak hati untuk khusyu’ kepada Allah Swt dan meninggalkan semua keduniawian yang dapat melalaikan hati dari Allah Swt, meskipun hal kecil, oleh sebab itu Rasulullah Saw melarang menjalinkan jari-jemari dan membunyikannya setelah berwudhu’ menjelang shalat:

إِذَا تَػوَ لَّا ض أَ دُ مْ فَ سَنَ وُضُوءَهُ ثُُلَّا خَ جَ عَامِدًا إِلَذ الْمَسْ دِ فَلاَ « عَنْ عْبِ بْنِ عُ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ بدِّكَ لَّا ن بػ أَصَابِعِوِ فَ لَّاوُ صَلاَةٍ .
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu berwudhu’, ia berwudhu’ dengan baik, kemudian ia pergi ke masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam shalat”. (HR. at-Tirmidzi).

Menunggu dan menantikan kehadiran shalat dengan persiapan hati untuk memasukinya. Rasulullah Saw bersabda:
قَالُوا بػلََى ا . أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ pada saat tidak menyenangkan, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ikatan (dalam kebaikan)”. (HR. Muslim).
Menjawab seruan azan. Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا قَاؿَ الْمُ ذدِّفُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . فَػ اؿَ أَ دُ مُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ « – قَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاوُ ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . .» قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . مِنْ قَػلْبِوِ دَخَلَ اتصَْنلَّاةَ
Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Salah seorang kamu menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Kemudian mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Mu’adzin mengucapkan: * أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ia menjawab dengan: [ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة ] (Marilah melaksanakan shalat). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ ] (Marilah menuju kemenangan). Ia menjawab dengan: [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Ia menjawab dengan: [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] (Allah Maha Besar). Mu’adzin mengucapkan: * لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] (tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab: : [ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو + (tiada tuhan selain Allah), dari hatinya, maka ia masuk surga”. (HR. Muslim).

Menjawab ucapan mu’adzin dari hati membimbing hati ke dalam kekhusyu’an shalat. Menutup dengan doa wasilah. Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَاؿَ سْمَعُ الندِّدَاء الللَّا لَّا م رَ لَّا ب ىَ هِ اللَّادعْوَةِ التلَّاالَّامةِ وَال لَّا صلاَةِ الْ ائِمَةِ آتِ تُػَ لَّا مدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْػعَثْوُ مَ امًا تَػْمُودًا اللَّا ى وَعَدْتَو للَّاتْ لَوُ شَفَاعَتَِّ ػوََْ الْ يَامَةِ
Siapa yang ketika mendengar seruan azan mengucapkan:
“Ya Allah Rabb Pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad Saw al-Wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”. Maka layaklah ia mendapat syafaatku pada hari kiamat”. (HR. al-Bukhari.

Mengikuti Tata Cara dengan Benar

  • Cara khusyu sholat yang pertama adalah dengan mengerjakan sholat dengan benar. Ketika ingin mengerjakan ibadah sholat dengan khusyu, anda perlu mengerjakannya dengan benar. Dengan benar ini maksudnya anda mengerjakan sholat sesuai dengan tuntunan yang diajarkan, dikerjakan dengan tuma’ninah, tidak terburu-buru, dan dengan niat ikhlas.

Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat.

Cara khusyu sholat yang kedua adalah dengan memahami makna bacaan sholat. Jika anda ingin mendapatkan perasaan khusyu dalam sholat, anda bisa mencoba memahami arti bacaan sholat anda. Dengan memahami bacaan sholat, kita bisa menghayati setiap ucapan kita dan pikiran kita juga bisa lebih focus dalam sholat.

Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati.

  • Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya.
  • Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan:قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى – وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى – فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ
    Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.
  • Ketika hamba-Ku itu mengucapkan: [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab: [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab: [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] (hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ] (Raja di hari pembalasan). Allah menjawab: [ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ] (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] (hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] (kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong). Allah menjawab: [ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini antara Aku dan hamba-Ku, ia mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: [ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab: [ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] (ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).

Merasakan Seolah olah Shalat Terakhir

Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.

  • Cara khusyu sholat lain adalah  menganggap seolah olah ibadah sholat yang dilakukan adalah ibadah sholat yang terakhir di dunia. Setiap manusia maupun jin tidak ada yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang termasuk hari kematian.
  • Dengan selalu mengingat kematian, anda bisa lebih konsentrasi dalam menjalankan ibadah sholat.
  • Syeikh Ibnul Mulqin mengingatkan,”Bila kau sedang rukuk, jangan bayangkan usiamu panjang sampai i‘tidal. Bila kau sedang i’tidal, jangan bayangkan usiamu berlangsung sampai pada kondisi sujud. Bayangkan surga ada di sisi kananmu dan neraka di sisi kirimu sementara sirath di bawah kedua telapak kakimu. 




.


.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.