December 2, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Love, Truth and Tolerance

Apakah Kaum Salafi

7 min read

Salafiyah atau Salafisme adalah salah satu metode dalam agama Islam yang mengajarkan syariat Islam secara murni tanpa adanya tambahan dan pengurangan, berdasarkan syariat yang ada pada generasi Muhammad dan para sahabat kemudian setelah mereka (murid para sahabat) dan setelahnya (murid dari murid para sahabat).

Seseorang yang mengikuti salafiyah ini disebut dengan salafi (as-salafy), jamaknya adalah salafiyyun (as-salafiyyun). Ada seorang syekh yang mengatakan bahwa siapa saja yang berpendapat sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah mengenai aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman salaf, maka ia disebut salafi, jika pendapat mereka sebaliknya maka, mereka itu bukan salafi meskipun mereka hidup pada zaman sahabat, tabi’in & tabi’ut tabi’in.

Kata salafiyah diambil dari kata “Salaf” adalah kependekan dari “Salaf al-Ṣāliḥ” (Arab: السلف الصالح), yang berarti “pendahulu yang sholih”. Dalam terminologi Islam, secara umum digunakan untuk menunjuk kepada tiga generasi terbaik umat muslim yaitu sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in. Ketiga generasi inilah dianggap sebagai contoh terbaik dalam menjalankan syariat Islam.

Penggunaan istilah salafiyah

  • Istilah salafy ini telah digunakan sejak zaman Rasulullah sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadis yang shahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa penyakit yang menyebabkan kematiannya, beliau berkata kepada Fathimah Radhiallahu ‘anha: “Bertakwalah kepada Allah (wahai Fathimah) dan bersabarlah. Dan aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu.”
  • Saat ini kata salafi sering dihubungkan dengan Wahhabisme (untuk sebagian umatnya nama Wahabi ini dianggap menghina, mereka lebih memilih istilah Salafisme), sehingga dua istilah ini sering dipandang sebagai sinonim. Wahabisme ini banyak diartikan dengan pengikut atau nisbah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, padahal jika dilihat dari cara penisbahan adalah suatu halyang tidak lazim. Karena jika menisbahkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab seharusnya menjadi Muhammadiyyah bukan wahabiyah karena Abdul Wahhab bukan namanya namun nama ayahnya. Para pengikut salafy meyakini bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengajarkan agama (aliran) baru dalam syariat Islam, ia hanya berusaha memurnikan Islam yang telah bercampur dengan adat istiadat lokal.
  • Para pengikut salafy menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sebagai seorang pemikir besar dalam agama Islam, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh mereka menutup ketaatan kepada ajaran doktrinal. Biasanya, penganutnya dari gerakan salafy menjelaskan dirinya sebagai “Muwahidin,” “Ahl Hadits,” atau “Ahl at-Tauhid.”
  • Istilah salafy ini juga muncul di dalam kitab Al-Ansab karangan Abu Sa’d Abd al-Kareem al-Sam’ani, yang meninggal pada tahun 1166 (562 dari kalender Islam). Di bawah untuk masuk dalam pemikiran al-salafi ujarnya, “Ini merupakan pemikiran ke salaf, atau pendahulu, dan mereka mengadopsi pengajaran pemikiran berdasarkan apa yang saya telah mendengar.”
  • Salafy melihat tiga generasi pertama dari umat Islam, yaitu Muhammad dan para sahabatnya, dan dua generasi berikut setelah mereka, tabi’in dan tabi ‘ut-tabi’in, sebagai contoh bagaimana Islam harus dilakukan. Prinsip ini berasal dari aliran Sunni, hadits (petunjuk) yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad:

“ “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para Shahabatku), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in)”. ”
Dalam hal akidah, Salafy mengikuti Imam 4 Mazhab yang semua adalah sama dalam hal akidah. Namun dalam hal furu’ (cabang) mereka mengikuti yang paling kuat dalilnya yang datang dari Nabi Muhammad.

Dahulu pada zaman Nabi dan para sahabat hanya ada nama “Islam” setelah adanya penyusup di dalam Islam yang membuat-buat ajaran baru sehingga membuat para sahabat ingin menjelaskan keadaan mereka kepada manusia maka dibuatlah nama Ahlusunnah Wal Jama’ah yang artinya pengikut sunnah yaitu mereka yang mempertahankan syariat Islam sesuai dengan petunjuk (sunnah) Nabi Muhammad, lawannya adalah Ahlul Bid’ah yaitu mereka yang membuat ajaran-ajaran baru dalam Agama Islam.

Pokok ajaran dari ideologi dasar salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada waktu masa Muhammad dan para sahabatnya, oleh karena itu tidak diperbolehkan adanya inovasi atau tambahan serta pengurangan dalam syariat Islam karena pengaruh adat dan budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang sesuai dengan agama Muhammad pertama kali berdakwah.

Salafisme juga telah digambarkan sebagai sebuah versi sederhana dan pengetahuan Islam, di mana penganutnya mengikuti beberapa perintah dan praktik yang hanya sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad.

Para Salafy sangat berhati-hati dalam agama, apalagi dalam urusan aqidah. Salafy sangat berpatokan kepada salaf as-shalih. Mereka juga memperhatikan masalah berpakaian yang itu juga merupakan bagian dari agama, seperti memelihara jenggot, memakai gamis bagi laki-laki atau memakai celana menggantung (tidak melebihi mata kaki),[dan juga memakai cadar bagi beberapa wanita salafy.

Penggunaan salafiyah masa kini

  • Pada zaman modern, kata salafy memiliki dua definisi yang kadang-kadang berbeda. Yang pertama, digunakan oleh akademisi dan sejarawan, merujuk pada “aliran pemikiran yang muncul pada paruh kedua abad sembilan belas sebagai reaksi atas penyebaran ide-ide dari Eropa,” dan “orang-orang yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang telah dibawa Rasulullah serta menjauhi berbagai ke-bid’ah-an, khurafat, syirik dalam agama Islam”[10]
  • Penggunaan “yang cukup berbeda” kedua yang lebih disenangi oleh para salafy kontemporer secara sepihak, mendefinisikan seorang salafi sebagai muslim yang mengikuti “perintah kitab suci … secara literal, tradisional” dan bukannya “penafsiran yang tampak tak berbatas” dari “salafi” awal. Para Salafi ini melihat ke Ibnu Taimiyah, bukan ke figur abad ke 19 Muhammad Abduh, Jamal al-Din, Rashid Rida.

Para ulama yang tergolong salaf dan pengikut salaf 

  • Imam Bukhari
  • Imam Muslim
  • Imam Abu Dawud
  • Imam At-Tirmidzi
  • Imam An-Nasa’i
  • Imam Hanbali
  • Imam Syafi’i
  • Imam Malik
  • Adz Dzahabi
  • imam abu Hanifah
  • Imam ibnu Katsir
  • imam ibnu hajar al asqalani
  • Ibnu Taimiyah
  • Ibnu Qayyim
  • Nashiruddin al albani
  • Al Utsaimin

Pesantren Salafi

‘pesantren Salafi’ agaknya baru populer di Indonesia dalam waktu dua atau tiga dasawarsa terakhir. Bangkitnya popularitas itu lazimnya terkait dengan fenomena pesantren Salafi yang dianggap kalangan masyarakat Indonesia dan internasional sebagai mengajarkan doktrin dan praksis Islam yang puritan dan keras—jika tidak ekstrem atau radikal.

Lebih jauh, popularitas itu, baik di lingkungan nasional maupun internasional, terkait dengan tuduhan kalangan Barat (Amerika Serikat dan Eropa) pasca-9/11 (2001). Mereka menganggap ‘madrasah’ di Afganistan sebagai ‘pusat Talibanisme alias radikalisme bahkan terorisme. Persepsi ini kemudian secara gebyah uyah diterapkan pada madrasah lain di berbagai negara di dunia Muslim.

Selanjutnya, persepsi itu mencakup lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam lain, khususnya pesantren. Karena lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren kini hanya terdapat di Indonesia—tidak di negara-negara Muslim lain — akibatnya sering pesantren juga terkena persepsi semacam itu.

Kaum Muslim Indonesia pada tempatnya menolak anggapan keliru tersebut. Alasannya sederhana, pesantren tradisional adalah lembaga pendidikan sangat tua, yang berkembang sejak masa awal Islamisasi masif pada paruh kedua abad ke-13. Konsolidasi lembaga pendidikan ini sehingga menghasilkan pesantren tradisional seperti diwarisi Indonesia modern bermula sejak perempatan pertama abad ke-19.

Karena itu, radikalisme yang dikaitkan dengan pesantren umumnya jelas jauh panggang dari api. Pesantren tradisional tumbuh dan berkembang justru sebagai pusat penanaman dan penguatan Islam wasathiyah dengan warna dan nuansa distingtif.

Sebab itulah istilah pesantren Salafi tidak selalu dipahami masyarakat Muslim Indonesia, baik awam maupun terpelajar. Gejala ini terlihat dari kerancuan istilah atau nomenklatur terkait, misalnya ‘pesantren Salafiyah’ dengan ‘pesantren Salafi’. Kerancuan itu juga mencakup substansi pendidikan di berbagai pesantren yang berbeda.

Istilah ‘pesantren Salafiyah’ mengacu pada pesantren ‘tradisional’ yang telah berusia berabad-abad. Biasanya, istilah ‘pesantren Salafiyah’ dikontraskan dengan ‘pesantren Khalafiyah’— pesantren ‘modern’. Secara ideologis keagamaan, baik ‘pesantren Salafiyah’ maupun ‘pesantren Khalafiyah’ berpusat pada doktrin dan praksis Ahlus Sunnah wal-Jama’ah dengan sedikit perbedaan penekanan di sana sini.

Sebaliknya, ‘pesantren Salafi’ mengacu pada paham Salaf atau Salafisme (ideologi Salafiyah) yang kembali kepada kaum Salaf, yaitu generasi sahabat (juga thabi’in senior) Nabi Muhammad SAW. Acuan ini berdasarkan pandangan pemikir dan aktivis Salafi klasik dan kontemporer, Islam yang dipahami dan diamalkan kaum Salaf atau para sahabat adalah Islam sempurna, yang murni dari tambahan (bid’ah) atas praktik Rasulullah. Bagi mereka, Islam Salafi tegasnya adalah Islam murni yang tidak tercampur dengan tradisi keagamaan dan budaya lokal.

Pandangan Salafi seperti itu adalah idealisasi dan romantisasi terhadap para sahabat dan thabi’in. Generasi awal Islam itu tentu memiliki peran besar dalam penyiaran Islam juga memiliki harkat dan martabat mulia. Tetapi, kaum Salaf dan thabi’in bukanlah Nabi yang ma’shum, bebas dari kealpaan, dan kesalahan.

Pada masa pasca-Nabi ada kalangan sahabat (atau kelompok sahabat) yang terlibat kontestasi kekuasaan. Ini bermula dengan pertikaian antara kaum Muhajirun (Muslim yang hijrah dari Makkah ke Madinah) dengan kaum Anshar (Muslim asli Madinah yang menolong Muhajirun) mengenai siapa pengganti Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat—bukan sebagai nabi. Pertikaian di antara kedua belah pihak ini tercatat sebagai Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah (12 Rabiul Awal 11H/8 Juni 632M).

Konflik yang berujung pada kekerasan dan perang juga terjadi di antara Aisyah (janda Nabi), dengan Ali bin Abi Talib (menantu Nabi) pada Jumadil Akhir 36H/Desember 657M. Perang antara kedua belah pihak beserta pendukung masing-masing terkenal sebagai Perang Jamal (Perang Berunta) karena Aisyah memimpin perang di atas unta.

Konflik dan perang yang lebih dahsyat terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Inilah Perang Siffin (1-3 Safar 37H/26-28 Juli 657M) yang disebut ‘al-fitnat al-kubra’—perang saudara besar. Konflik politik yang berujung perang ini memunculkan paham dan kelompok yang eksistensinya berlanjut sampai sekarang: Khawarij, Mu’tazilah (dalam batas tertentu diadopsi Syi’ah), dan Asy’ariyah serta Maturidiyah (kemudian menjadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah/Sunni).

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.